Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Mu'minun 23:81 – An-Nur 24:25
Daftar isi
- Al-Mu'minun 23:81
- Al-Mu'minun 23:82
- Al-Mu'minun 23:83
- Al-Mu'minun 23:84
- Al-Mu'minun 23:85
- Al-Mu'minun 23:86
- Al-Mu'minun 23:87
- Al-Mu'minun 23:88
- Al-Mu'minun 23:89
- Al-Mu'minun 23:90
- Al-Mu'minun 23:91
- Al-Mu'minun 23:92
- Al-Mu'minun 23:93
- Al-Mu'minun 23:94
- Al-Mu'minun 23:95
- Al-Mu'minun 23:96
- Al-Mu'minun 23:97
- Al-Mu'minun 23:98
- Al-Mu'minun 23:99
- Al-Mu'minun 23:100
- Al-Mu'minun 23:101
- Al-Mu'minun 23:102
- Al-Mu'minun 23:103
- Al-Mu'minun 23:104
- Al-Mu'minun 23:105
- Al-Mu'minun 23:106
- Al-Mu'minun 23:107
- Al-Mu'minun 23:108
- Al-Mu'minun 23:109
- Al-Mu'minun 23:110
- Al-Mu'minun 23:111
- Al-Mu'minun 23:112
- Al-Mu'minun 23:113
- Al-Mu'minun 23:114
- Al-Mu'minun 23:115
- Al-Mu'minun 23:116
- Al-Mu'minun 23:117
- Al-Mu'minun 23:118
- An-Nur 24:1
- An-Nur 24:2
- An-Nur 24:3
- An-Nur 24:4
- An-Nur 24:5
- An-Nur 24:6
- An-Nur 24:7
- An-Nur 24:8
- An-Nur 24:9
- An-Nur 24:10
- An-Nur 24:11
- An-Nur 24:12
- An-Nur 24:13
- An-Nur 24:14
- An-Nur 24:15
- An-Nur 24:16
- An-Nur 24:17
- An-Nur 24:18
- An-Nur 24:19
- An-Nur 24:20
- An-Nur 24:21
- An-Nur 24:22
- An-Nur 24:23
- An-Nur 24:24
- An-Nur 24:25
Al-Mu'minun 23:81
"Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata, 'Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!'" (Al-Mu`minun: 81-83).
(81-83) Maksudnya justru orang-orang yang mendustakan itu mengikuti jalan orang-orang terdahulu, dari kalangan orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan dan benar-benar menganggapnya mustahil terjadi. Mereka berkata, ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ﴿ "Apakah betul, apabila kami telah mati, dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?" Ini tidak bisa diimajinasikan dan tidak bisa dicerna oleh akal, menurut mereka. ﴾ لَقَدۡ وُعِدۡنَا نَحۡنُ وَءَابَآؤُنَا هَٰذَا مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu." Maksudnya, kami dan nenek-moyang kami masih saja dikabari dengan berita bahwa kebangkitan akan datang, padahal kami tidak menyaksikannya dan belum juga tiba. ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!" Maksudnya cerita-cerita dan hasil obrolan mereka di malam hari yang diperbincangkan dan melalaikan. Kalau tidak demikian, berarti tidak ada realitanya, dan mereka berdusta, semoga Allah menimpakan kejelekan kepada mereka. Sesungguhnya Allah telah menampakkan tanda-tanda kebe-saranNya kepada mereka yang lebih dahsyat dibandingkan kebang-kitan manusia. Seperti, ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada pencip-taan manusia." (Al-Mu`min: 57). ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kejadian-nya, dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah'." (Al-Hajj: 5).
Al-Mu'minun 23:82
"Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata, 'Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!'" (Al-Mu`minun: 81-83).
(81-83) Maksudnya justru orang-orang yang mendustakan itu mengikuti jalan orang-orang terdahulu, dari kalangan orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan dan benar-benar menganggapnya mustahil terjadi. Mereka berkata, ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ﴿ "Apakah betul, apabila kami telah mati, dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?" Ini tidak bisa diimajinasikan dan tidak bisa dicerna oleh akal, menurut mereka. ﴾ لَقَدۡ وُعِدۡنَا نَحۡنُ وَءَابَآؤُنَا هَٰذَا مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu." Maksudnya, kami dan nenek-moyang kami masih saja dikabari dengan berita bahwa kebangkitan akan datang, padahal kami tidak menyaksikannya dan belum juga tiba. ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!" Maksudnya cerita-cerita dan hasil obrolan mereka di malam hari yang diperbincangkan dan melalaikan. Kalau tidak demikian, berarti tidak ada realitanya, dan mereka berdusta, semoga Allah menimpakan kejelekan kepada mereka. Sesungguhnya Allah telah menampakkan tanda-tanda kebe-saranNya kepada mereka yang lebih dahsyat dibandingkan kebang-kitan manusia. Seperti, ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada pencip-taan manusia." (Al-Mu`min: 57). ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kejadian-nya, dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah'." (Al-Hajj: 5).
Al-Mu'minun 23:83
"Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala. Mereka berkata, 'Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!'" (Al-Mu`minun: 81-83).
(81-83) Maksudnya justru orang-orang yang mendustakan itu mengikuti jalan orang-orang terdahulu, dari kalangan orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan dan benar-benar menganggapnya mustahil terjadi. Mereka berkata, ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ ﴿ "Apakah betul, apabila kami telah mati, dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?" Ini tidak bisa diimajinasikan dan tidak bisa dicerna oleh akal, menurut mereka. ﴾ لَقَدۡ وُعِدۡنَا نَحۡنُ وَءَابَآؤُنَا هَٰذَا مِن قَبۡلُ ﴿ "Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu." Maksudnya, kami dan nenek-moyang kami masih saja dikabari dengan berita bahwa kebangkitan akan datang, padahal kami tidak menyaksikannya dan belum juga tiba. ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!" Maksudnya cerita-cerita dan hasil obrolan mereka di malam hari yang diperbincangkan dan melalaikan. Kalau tidak demikian, berarti tidak ada realitanya, dan mereka berdusta, semoga Allah menimpakan kejelekan kepada mereka. Sesungguhnya Allah telah menampakkan tanda-tanda kebe-saranNya kepada mereka yang lebih dahsyat dibandingkan kebang-kitan manusia. Seperti, ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada pencip-taan manusia." (Al-Mu`min: 57). ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا وَنَسِيَ خَلۡقَهُۥۖ قَالَ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ 78 ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kejadian-nya, dia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?'" (Yasin: 78). ﴾ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ ﴿ "Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah'." (Al-Hajj: 5).
Al-Mu'minun 23:84
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:85
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:86
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:87
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:88
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:89
"Katakanlah, 'Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh dan Pemilik Arasy yang besar?' Mereka akan menjawab, 'kepunyaan Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kamu tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Siapakah yang di TanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?' " (Al-Mu`minun: 84-89)
(84-85) Maksudnya, katakanlah kepada orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, yang berbelok arah dari Allah kepada sesembahan lain, sebagai pemberian hujjah kepada mereka melalui keyakinan yang mereka tetapkan dan akui, berupa tauhid rububiyah dan hak kepemilikan Allah atas tauhid itu secara prero-gatif (ditujukan) pada pengingkaran mereka terhadap tauhid ulu-hiyah dan ibadah, dan (pemberian hujjah) melalui penetapan mereka mengenai penciptaan segala makhluk yang besar (ditujukan) pada pengingkaran mereka tentang menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati yang hal ini lebih mudah dilakukan daripada itu. ﴾ لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ ﴿ "Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya." Maksudnya siapakah yang menciptakan bumi dan segala makhluk yang berada di atas permukaannya, berupa hewan, tumbuhan, benda mati, lautan, sungai-sungai dan gunung-gunung, Dzat Yang Memiliki dan Mengaturnya? Sesungguhnya bila engkau menanyai mereka tentang masalah itu, mereka pasti menyatakan, "Allah semata." Jika mereka mengaku ini, katakanlah kepada mereka, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ingat?" Maksudnya, tidakkah kalian kembali kepada (pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang di-sembah) yang kalian sudah diingatkan oleh Allah, yang sudah dimaklumi bersama, sudah mapan dalam fitrah-fitrah kalian yang mana sikap berpaling dapat berpotensi menyembunyikannya pada waktu tertentu? Padahal, pada prinsipnya, jika kalian itu merujuk ingatan kalian hanya dengan perenungan saja, niscaya kalian akan mengetahui bahwa Dzat Yang memilikinya, itulah Dzat yang patut disembah semata, sementara ketuhanan dari obyek yang berada dalam kepemilikan (mamluk) merupakan ketuhanan yang paling batil.
(86-87) Berikutnya, beralihlah kepada perkara yang lebih besar darinya. Allah berfirman, ﴾ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah Pemilik langit yang tujuh'," dan benda-benda yang berada di dalamnya, seperti benda yang bercahaya, bintang-bintang yang bergerak-gerak dan yang statis di tempatnya saja. ﴾ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Pemilik 'Arasy yang besar," yang merupakan makhluk yang tertinggi dan paling luas serta terbesar. Siapakah yang mencipta-kan dan mengatur serta menanganinya dengan berbagai macam aturan? ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Kepunyaan Allah'," maksudnya mereka akan mengakui bahwa Allah adalah Rabb (pemilik) itu semua. Bila mereka mengakuinya, katakanlah, ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak bertakwa," dari beribadah kepada makhluk-makhluk yang lemah dan (hanya) bertakwa kepada Rabb yang Mahaagung, sempurna kekuasaanNya dan agung kerajaan-Nya?! Ungkapan ini mengandung dengan jelas nada pembicaraan yang lembut (persuasif) dari Firman Allah, ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apa-kah kamu tidak ingat?" dan ﴾ أَفَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak ber-takwa?" Menasihati melalui metode pemaparan yang memikat hati manfaatnya tidak perlu diragukan lagi.
(88-89) Berikutnya, beralih kepada pengakuan mereka mengenai sesuatu yang lebih umum dari itu semuanya. Allah ber-firman, ﴾ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang di Tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu'." Maksudnya, segala kerajaan di wilayah atas maupun di wilayah bawah, yang dapat kita saksi-kan maupun tidak dapat kita tangkap. Kata malakut, merupakan bentuk mubalaghah (exaggeration), yang artinya kerajaan. ﴾ وَهُوَ يُجِيرُ ﴿ "Sedang Dia melindungi," para hambaNya dari ke-jelekan dan menyingkirkan hal-hal yang tidak mengenakkan, serta melindungi mereka dari marabahaya yang membahayakan mereka. ﴾ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ ﴿ "Tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya," maksudnya tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi Allah dan menyingkirkan keburukan yang telah Allah tetapkan. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa mengeluarkan syafa'at di sisiNya kecuali dengan izinNya. ﴾ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ ﴿ "Mereka akan menjawab, 'Ke-punyaan Allah'," mereka akan menyampaikan pengakuan bahwa Allah-lah Dzat Yang Memiliki segala sesuatu, Yang melindungi, tanpa ada kekuatan apa pun yang sanggup menghalangi (siksa)Nya. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka manakala mengakuinya untuk menuntut mereka ﴾ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ﴿ "maka dari jalan manakah kamu ditipu," kemana akal-akal kalian lenyap, saat kalian beribadah kepada obyek-obyek yang sudah kalian ketahui tidak mempunyai kerajaan, ataupun tidak mempunyai bagian dari kerajaan itu. Me-reka lemah dari seluruh segi, sementara kalian meninggalkan pe-murnian ibadah kepada Dzat Pemilik Yang Mahaagung, Mahakuasa, Yang Mengatur segala urusan? Akal-akal yang menuntun kalian kepada fakta ini, telah ter-sihir. Tidak syak lagi telah dirasuki sihir oleh setan melalui tipuan yang ia hiasi dengan indah pada pandangan mereka dan ia telah mempercantiknya dan memutarbalikkan fakta kepada mereka, hingga berhasil menyihir akal-akal mereka, sebagaimana para tu-kang sihir berhasil memperdayai pandangan manusia.
Al-Mu'minun 23:90
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicipta-kannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Mahatinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Al-Mu`minun: 90-92).
(90-92) Allah تعالى berfirman, "Bahkan Kami telah membawa kebenaran kepada orang-orang yang mendustakan itu, yang me-muat kejujuran dalam informasinya, keadilan dalam perintah dan larangannya. Kenapa mereka tidak mengakuinya? Padahal ia lebih pantas untuk diikuti. Sementara mereka tidak memiliki sesuatu yang menggantikannya melainkan kedustaan dan kezhaliman?! Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 90 مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya." Itu merupakan bentuk kebo-hongan yang dapat dideteksi melalui berita dari Allah dan Rasul-Nya serta dapat dikenal melalui akal yang sehat. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingatkan tentang sebuah teori logika mengenai ke-mustahilan eksistensi dua tuhan (di alam semesta ini). Allah berfirman, ﴾ إِذٗا ﴿ "Kalau ada tuhan bersamaNya," jika ada sesembahan bersama Allah seperti yang mereka u c a p k a n ﴾ لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ ﴿ "masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicip-takannya," maksudnya, maka masing-masing sesembahan itu akan menyendiri dengan ciptaan-ciptaannya dan membentuk komunitas sendiri dengannya, dan sudah tentu berantusias untuk mengham-bat dan mengalahkan sesembahan lainnya. ﴾ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan me-ngalahkan sebagian yang lain," pihak yang menang, akan menjadi sesembahan yang disembah. Dengan adanya unsur yang saling kontradiktif ini, maka alam semesta ini tidak mungkin ada. Dan tidak bisa dibayangkan bisa teratur dengan pengaturan yang men-cengangkan akal-akal manusia. Ambillah pelajaran melalui matahari, bulan, bintang-bintang yang diam maupun yang beredar. Sejak penciptaannya, benda-benda langit itu beredar berdasarkan satu kendali dan pengaturan. Masing-masing dikendalikan dengan kekuasaan, diatur dengan penuh hikmah demi kepentingan umat manusia, bukan sebatas untuk kepentingan satu individu dengan mengesampingkan orang lain. Engkau tidak akan menyaksikan kekeliruan, kontradiksi dan tabrakan dalam pengaturan sekecil apa pun. Apakah masih terba-yangkan keseragaman itu muncul dari pengaturan dua sesembahan dan dua pemilik? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifat-kan," alam semesta ini telah mengekspresikan dengan bahasa gerak-nya dan memberikan pemahaman melalui bentuknya yang indah, bahwa Dzat yang mengaturnya adalah Tuhan (sesembahan) yang satu, sempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Sungguh, seluruh makhluk membutuhkanNya dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya baginya.[11] Sebagaimana ia tidak mempunyai wujud dan keabadian kecuali berkat rububiyah Allah, begitu pula tidak ada kebaikan dan landasan kekuatan kecuali dengan sebab peribadahan kepadaNya dan mengesakanNya dengan ketaatan. Untuk itu, Allah mengingat-kan tentang keagungan sifat-sifatNya melalui beberapa permisalan. Misalnya, ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Allah berfirman, ﴾ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yang mengetahui semua yang ghaib," yaitu perkara-per-kara yang terlewatkan oleh indera-indera pandangan kita dan pe-ngetahuan kita, seperti hal-hal yang mesti terjadi (al-wajibat), perkara yang mustahil (al-Mustahilat) dan kemungkinan-kemungkinan yang timbul (al-Mumkinat). ﴾ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Dan semua yang nampak," yaitu segala yang bisa kita saksikan. ﴾ فَتَعَٰلَىٰ ﴿ "Mahatinggilah Allah," Mahatinggi lagi Mahaagung, ﴾ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "dari apa yang mereka persekutukan," denganNya, tiada ilmu yang mereka miliki kecuali yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka.
Al-Mu'minun 23:91
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicipta-kannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Mahatinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Al-Mu`minun: 90-92).
(90-92) Allah تعالى berfirman, "Bahkan Kami telah membawa kebenaran kepada orang-orang yang mendustakan itu, yang me-muat kejujuran dalam informasinya, keadilan dalam perintah dan larangannya. Kenapa mereka tidak mengakuinya? Padahal ia lebih pantas untuk diikuti. Sementara mereka tidak memiliki sesuatu yang menggantikannya melainkan kedustaan dan kezhaliman?! Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 90 مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya." Itu merupakan bentuk kebo-hongan yang dapat dideteksi melalui berita dari Allah dan Rasul-Nya serta dapat dikenal melalui akal yang sehat. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingatkan tentang sebuah teori logika mengenai ke-mustahilan eksistensi dua tuhan (di alam semesta ini). Allah berfirman, ﴾ إِذٗا ﴿ "Kalau ada tuhan bersamaNya," jika ada sesembahan bersama Allah seperti yang mereka u c a p k a n ﴾ لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ ﴿ "masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicip-takannya," maksudnya, maka masing-masing sesembahan itu akan menyendiri dengan ciptaan-ciptaannya dan membentuk komunitas sendiri dengannya, dan sudah tentu berantusias untuk mengham-bat dan mengalahkan sesembahan lainnya. ﴾ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan me-ngalahkan sebagian yang lain," pihak yang menang, akan menjadi sesembahan yang disembah. Dengan adanya unsur yang saling kontradiktif ini, maka alam semesta ini tidak mungkin ada. Dan tidak bisa dibayangkan bisa teratur dengan pengaturan yang men-cengangkan akal-akal manusia. Ambillah pelajaran melalui matahari, bulan, bintang-bintang yang diam maupun yang beredar. Sejak penciptaannya, benda-benda langit itu beredar berdasarkan satu kendali dan pengaturan. Masing-masing dikendalikan dengan kekuasaan, diatur dengan penuh hikmah demi kepentingan umat manusia, bukan sebatas untuk kepentingan satu individu dengan mengesampingkan orang lain. Engkau tidak akan menyaksikan kekeliruan, kontradiksi dan tabrakan dalam pengaturan sekecil apa pun. Apakah masih terba-yangkan keseragaman itu muncul dari pengaturan dua sesembahan dan dua pemilik? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifat-kan," alam semesta ini telah mengekspresikan dengan bahasa gerak-nya dan memberikan pemahaman melalui bentuknya yang indah, bahwa Dzat yang mengaturnya adalah Tuhan (sesembahan) yang satu, sempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Sungguh, seluruh makhluk membutuhkanNya dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya baginya.[11] Sebagaimana ia tidak mempunyai wujud dan keabadian kecuali berkat rububiyah Allah, begitu pula tidak ada kebaikan dan landasan kekuatan kecuali dengan sebab peribadahan kepadaNya dan mengesakanNya dengan ketaatan. Untuk itu, Allah mengingat-kan tentang keagungan sifat-sifatNya melalui beberapa permisalan. Misalnya, ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Allah berfirman, ﴾ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yang mengetahui semua yang ghaib," yaitu perkara-per-kara yang terlewatkan oleh indera-indera pandangan kita dan pe-ngetahuan kita, seperti hal-hal yang mesti terjadi (al-wajibat), perkara yang mustahil (al-Mustahilat) dan kemungkinan-kemungkinan yang timbul (al-Mumkinat). ﴾ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Dan semua yang nampak," yaitu segala yang bisa kita saksikan. ﴾ فَتَعَٰلَىٰ ﴿ "Mahatinggilah Allah," Mahatinggi lagi Mahaagung, ﴾ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "dari apa yang mereka persekutukan," denganNya, tiada ilmu yang mereka miliki kecuali yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka.
Al-Mu'minun 23:92
"Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya, kalau ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicipta-kannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu, Yang mengetahui semua yang ghaib dan semua yang nampak, maka Mahatinggilah Dia dari apa yang mereka persekutukan." (Al-Mu`minun: 90-92).
(90-92) Allah تعالى berfirman, "Bahkan Kami telah membawa kebenaran kepada orang-orang yang mendustakan itu, yang me-muat kejujuran dalam informasinya, keadilan dalam perintah dan larangannya. Kenapa mereka tidak mengakuinya? Padahal ia lebih pantas untuk diikuti. Sementara mereka tidak memiliki sesuatu yang menggantikannya melainkan kedustaan dan kezhaliman?! Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ 90 مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٖ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَٰهٍۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) besertaNya." Itu merupakan bentuk kebo-hongan yang dapat dideteksi melalui berita dari Allah dan Rasul-Nya serta dapat dikenal melalui akal yang sehat. Oleh sebab itu, Allah تعالى mengingatkan tentang sebuah teori logika mengenai ke-mustahilan eksistensi dua tuhan (di alam semesta ini). Allah berfirman, ﴾ إِذٗا ﴿ "Kalau ada tuhan bersamaNya," jika ada sesembahan bersama Allah seperti yang mereka u c a p k a n ﴾ لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهِۭ بِمَا خَلَقَ ﴿ "masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang dicip-takannya," maksudnya, maka masing-masing sesembahan itu akan menyendiri dengan ciptaan-ciptaannya dan membentuk komunitas sendiri dengannya, dan sudah tentu berantusias untuk mengham-bat dan mengalahkan sesembahan lainnya. ﴾ وَلَعَلَا بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan me-ngalahkan sebagian yang lain," pihak yang menang, akan menjadi sesembahan yang disembah. Dengan adanya unsur yang saling kontradiktif ini, maka alam semesta ini tidak mungkin ada. Dan tidak bisa dibayangkan bisa teratur dengan pengaturan yang men-cengangkan akal-akal manusia. Ambillah pelajaran melalui matahari, bulan, bintang-bintang yang diam maupun yang beredar. Sejak penciptaannya, benda-benda langit itu beredar berdasarkan satu kendali dan pengaturan. Masing-masing dikendalikan dengan kekuasaan, diatur dengan penuh hikmah demi kepentingan umat manusia, bukan sebatas untuk kepentingan satu individu dengan mengesampingkan orang lain. Engkau tidak akan menyaksikan kekeliruan, kontradiksi dan tabrakan dalam pengaturan sekecil apa pun. Apakah masih terba-yangkan keseragaman itu muncul dari pengaturan dua sesembahan dan dua pemilik? ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifat-kan," alam semesta ini telah mengekspresikan dengan bahasa gerak-nya dan memberikan pemahaman melalui bentuknya yang indah, bahwa Dzat yang mengaturnya adalah Tuhan (sesembahan) yang satu, sempurna dalam nama-nama dan sifat-sifatNya. Sungguh, seluruh makhluk membutuhkanNya dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya baginya.[11] Sebagaimana ia tidak mempunyai wujud dan keabadian kecuali berkat rububiyah Allah, begitu pula tidak ada kebaikan dan landasan kekuatan kecuali dengan sebab peribadahan kepadaNya dan mengesakanNya dengan ketaatan. Untuk itu, Allah mengingat-kan tentang keagungan sifat-sifatNya melalui beberapa permisalan. Misalnya, ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Allah berfirman, ﴾ عَٰلِمِ ٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Yang mengetahui semua yang ghaib," yaitu perkara-per-kara yang terlewatkan oleh indera-indera pandangan kita dan pe-ngetahuan kita, seperti hal-hal yang mesti terjadi (al-wajibat), perkara yang mustahil (al-Mustahilat) dan kemungkinan-kemungkinan yang timbul (al-Mumkinat). ﴾ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Dan semua yang nampak," yaitu segala yang bisa kita saksikan. ﴾ فَتَعَٰلَىٰ ﴿ "Mahatinggilah Allah," Mahatinggi lagi Mahaagung, ﴾ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "dari apa yang mereka persekutukan," denganNya, tiada ilmu yang mereka miliki kecuali yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka.
Al-Mu'minun 23:93
"Katakanlah, 'Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim.' Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." (Al-Mu`minun: 90-92).
(93-95) Setelah Allah سبحانه وتعالى menegakkan bukti-bukti kekuasa-anNya yang agung atas kaum pendusta, (tapi) mereka tidak meno-lehkan pandangan kepadanya, dan tidak tunduk kepadanya, maka menjadi pastilah siksa bagi mereka, lalu mereka diancam dengan turunnya azab, dan Allah memberikan petunjuk kepada RasulNya agar mengatakan, ﴾ رَّبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Ya Rabbku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancam-kan kepada mereka." Maksudnya kapankah Engkau memperlihatkan kepadaku siksaan mereka dan menghadirkanku saat itu, ﴾ رَبِّ فَلَا تَجۡعَلۡنِي فِي ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim." Maksudnya, lindungilah aku, kasihilah aku dari bencana yang Engkau ujikan kepada me-reka, berupa dosa-dosa yang akan mendatangkan azab. Peliharalah aku juga dari siksaan yang menghampiri mereka. Sebab hukuman yang menyeluruh, saat turun bisa menimpa orang yang bermaksiat dan lainnya secara umum. Allah berfirman untuk menerangkan dekatnya waktu siksaan mereka, ﴾ وَإِنَّا عَلَىٰٓ أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمۡ لَقَٰدِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepada-mu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." Akan tetapi, bila Kami menundanya, maka penundaan itu atas dasar hikmah. Kalau tidak demikian, maka kekuasaan Kami sudah sanggup untuk menjatuh-kannya [kepada mereka].
Al-Mu'minun 23:94
"Katakanlah, 'Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim.' Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." (Al-Mu`minun: 90-92).
(93-95) Setelah Allah سبحانه وتعالى menegakkan bukti-bukti kekuasa-anNya yang agung atas kaum pendusta, (tapi) mereka tidak meno-lehkan pandangan kepadanya, dan tidak tunduk kepadanya, maka menjadi pastilah siksa bagi mereka, lalu mereka diancam dengan turunnya azab, dan Allah memberikan petunjuk kepada RasulNya agar mengatakan, ﴾ رَّبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Ya Rabbku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancam-kan kepada mereka." Maksudnya kapankah Engkau memperlihatkan kepadaku siksaan mereka dan menghadirkanku saat itu, ﴾ رَبِّ فَلَا تَجۡعَلۡنِي فِي ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim." Maksudnya, lindungilah aku, kasihilah aku dari bencana yang Engkau ujikan kepada me-reka, berupa dosa-dosa yang akan mendatangkan azab. Peliharalah aku juga dari siksaan yang menghampiri mereka. Sebab hukuman yang menyeluruh, saat turun bisa menimpa orang yang bermaksiat dan lainnya secara umum. Allah berfirman untuk menerangkan dekatnya waktu siksaan mereka, ﴾ وَإِنَّا عَلَىٰٓ أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمۡ لَقَٰدِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepada-mu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." Akan tetapi, bila Kami menundanya, maka penundaan itu atas dasar hikmah. Kalau tidak demikian, maka kekuasaan Kami sudah sanggup untuk menjatuh-kannya [kepada mereka].
Al-Mu'minun 23:95
"Katakanlah, 'Ya Rabb, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka, ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim.' Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." (Al-Mu`minun: 90-92).
(93-95) Setelah Allah سبحانه وتعالى menegakkan bukti-bukti kekuasa-anNya yang agung atas kaum pendusta, (tapi) mereka tidak meno-lehkan pandangan kepadanya, dan tidak tunduk kepadanya, maka menjadi pastilah siksa bagi mereka, lalu mereka diancam dengan turunnya azab, dan Allah memberikan petunjuk kepada RasulNya agar mengatakan, ﴾ رَّبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Ya Rabbku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancam-kan kepada mereka." Maksudnya kapankah Engkau memperlihatkan kepadaku siksaan mereka dan menghadirkanku saat itu, ﴾ رَبِّ فَلَا تَجۡعَلۡنِي فِي ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ya Rabbku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zhalim." Maksudnya, lindungilah aku, kasihilah aku dari bencana yang Engkau ujikan kepada me-reka, berupa dosa-dosa yang akan mendatangkan azab. Peliharalah aku juga dari siksaan yang menghampiri mereka. Sebab hukuman yang menyeluruh, saat turun bisa menimpa orang yang bermaksiat dan lainnya secara umum. Allah berfirman untuk menerangkan dekatnya waktu siksaan mereka, ﴾ وَإِنَّا عَلَىٰٓ أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمۡ لَقَٰدِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepada-mu apa yang Kami ancamkan kepada mereka." Akan tetapi, bila Kami menundanya, maka penundaan itu atas dasar hikmah. Kalau tidak demikian, maka kekuasaan Kami sudah sanggup untuk menjatuh-kannya [kepada mereka].
Al-Mu'minun 23:96
"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakan-lah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepadaMu ya Rabbku, dari keda-tangan mereka kepadaku'." (Al-Mu`minun: 96-98).
(96) Ini termasuk budi pekerti luhur yang mana Allah me-merintahkan RasulNya untuk melaksanakannya. Allah berfirman, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ٱلسَّيِّئَةَۚ ﴿ "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik." Maksudnya, jika musuh-musuhmu telah berbuat buruk kepada dirimu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka janganlah engkau menyikapi mereka dengan tindakan buruk. Walaupun boleh untuk membalas orang yang telah berbuat buruk dengan tindakan serupa, akan tetapi, tolaklah sikap buruk mereka kepadamu dengan berbuat baik kepada mereka. Itu merupakan bentuk kemurahan hatimu kepada orang yang telah berbuat buruk itu. Di antara manfaatnya, ulah buruknya kepadamu akan ber-kurang, sekarang dan di masa datang. Sikap tersebut lebih efektif untuk menarik orang yang telah berbuat buruk tersebut ke jalan yang benar, lebih mempercepatnya untuk menyesal, sedih dan kembali dengan taubat dari apa yang pernah dilakukannya. Orang yang memberi maaf, berarti mempunyai sifat ihsan (kebaikan). De-ngan itu, dia mampu mempecundangi setan serta berhak menerima pahala dari Allah. Allah تعالى berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan," maksudnya, tidaklah diberi taufik untuk bersifat luhur seperti ini, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Melainkan (kepada) orang-orang yang sabar, dan tidaklah dianu-gerahkan melainkan (kepada) orang-orang yang mempunyai keberun-tungan yang besar." (Fushshilat: 34-35). FirmanNya, ﴾ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُونَ ﴿ "Dan Kami lebih mengetahui apa yang mereka bisikkan," yaitu ucapan-ucapan yang mereka lontarkan, berupa omongan-omongan yang memuat unsur kekufuran dan pendustaan kepada kebenaran. Sungguh ilmu Kami telah meliputi-nya. Kami telah lunak terhadap mereka, memberikan kesempatan bagi mereka serta menahan diri. Kebenaran milik Kami. Pendustaan mereka juga milik Kami. Engkau wahai Muhammad, sepatutnya bersabar atas lontaran yang keluar dari mulut mereka dan menyi-kapi mereka dengan tindakan baik. Inilah tugas seorang hamba dalam menyikapi orang yang telah berbuat tidak baik.
(97-98) Adapun bila pihak yang berbuat jahat berasal dari kalangan setan, sikap baik tidak berguna baginya. Tidaklah setan menyeru kelompoknya melainkan agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Strategi saat menghadapinya adalah, memohon pe-tunjuk dengan metode yang Allah ajarkan kepada RasulNya. Allah berfirman, ﴾ وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ ﴿ "Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu'." [Maksudnya aku memohon perlindungan dengan daya dan kekuatanMu, dengan berlepas diri dari daya dan kekuatanku]. ﴾ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ 97 وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ ﴿ "dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung kepadaMu ya Rabbku dari kedatangan mereka kepadaku," maksudnya, aku memohon perlindungan dari kejelekan yang menimpaku lantaran interaksi, bisikan dan pengaruh mereka, dan dari kejelekan yang muncul dari wujud dan tiupan was-was mereka. Ini merupakan permohonan perlindungan dari materi yang buruk secara keseluruhan dan sumbernya. Termasuk juga memohon per-lindungan dari bermacam godaan setan, yang berbentuk pengaruh dan tiupan was-wasnya. Bila Allah telah menjaga seorang hamba dari kejelekan ini dan menyambut doanya, maka dia selamat dari setiap kejelekan, dan memperoleh taufik untuk menjalankan ke-baikan.
Al-Mu'minun 23:97
"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakan-lah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepadaMu ya Rabbku, dari keda-tangan mereka kepadaku'." (Al-Mu`minun: 96-98).
(96) Ini termasuk budi pekerti luhur yang mana Allah me-merintahkan RasulNya untuk melaksanakannya. Allah berfirman, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ٱلسَّيِّئَةَۚ ﴿ "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik." Maksudnya, jika musuh-musuhmu telah berbuat buruk kepada dirimu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka janganlah engkau menyikapi mereka dengan tindakan buruk. Walaupun boleh untuk membalas orang yang telah berbuat buruk dengan tindakan serupa, akan tetapi, tolaklah sikap buruk mereka kepadamu dengan berbuat baik kepada mereka. Itu merupakan bentuk kemurahan hatimu kepada orang yang telah berbuat buruk itu. Di antara manfaatnya, ulah buruknya kepadamu akan ber-kurang, sekarang dan di masa datang. Sikap tersebut lebih efektif untuk menarik orang yang telah berbuat buruk tersebut ke jalan yang benar, lebih mempercepatnya untuk menyesal, sedih dan kembali dengan taubat dari apa yang pernah dilakukannya. Orang yang memberi maaf, berarti mempunyai sifat ihsan (kebaikan). De-ngan itu, dia mampu mempecundangi setan serta berhak menerima pahala dari Allah. Allah تعالى berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan," maksudnya, tidaklah diberi taufik untuk bersifat luhur seperti ini, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Melainkan (kepada) orang-orang yang sabar, dan tidaklah dianu-gerahkan melainkan (kepada) orang-orang yang mempunyai keberun-tungan yang besar." (Fushshilat: 34-35). FirmanNya, ﴾ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُونَ ﴿ "Dan Kami lebih mengetahui apa yang mereka bisikkan," yaitu ucapan-ucapan yang mereka lontarkan, berupa omongan-omongan yang memuat unsur kekufuran dan pendustaan kepada kebenaran. Sungguh ilmu Kami telah meliputi-nya. Kami telah lunak terhadap mereka, memberikan kesempatan bagi mereka serta menahan diri. Kebenaran milik Kami. Pendustaan mereka juga milik Kami. Engkau wahai Muhammad, sepatutnya bersabar atas lontaran yang keluar dari mulut mereka dan menyi-kapi mereka dengan tindakan baik. Inilah tugas seorang hamba dalam menyikapi orang yang telah berbuat tidak baik.
(97-98) Adapun bila pihak yang berbuat jahat berasal dari kalangan setan, sikap baik tidak berguna baginya. Tidaklah setan menyeru kelompoknya melainkan agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Strategi saat menghadapinya adalah, memohon pe-tunjuk dengan metode yang Allah ajarkan kepada RasulNya. Allah berfirman, ﴾ وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ ﴿ "Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu'." [Maksudnya aku memohon perlindungan dengan daya dan kekuatanMu, dengan berlepas diri dari daya dan kekuatanku]. ﴾ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ 97 وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ ﴿ "dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung kepadaMu ya Rabbku dari kedatangan mereka kepadaku," maksudnya, aku memohon perlindungan dari kejelekan yang menimpaku lantaran interaksi, bisikan dan pengaruh mereka, dan dari kejelekan yang muncul dari wujud dan tiupan was-was mereka. Ini merupakan permohonan perlindungan dari materi yang buruk secara keseluruhan dan sumbernya. Termasuk juga memohon per-lindungan dari bermacam godaan setan, yang berbentuk pengaruh dan tiupan was-wasnya. Bila Allah telah menjaga seorang hamba dari kejelekan ini dan menyambut doanya, maka dia selamat dari setiap kejelekan, dan memperoleh taufik untuk menjalankan ke-baikan.
Al-Mu'minun 23:98
"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakan-lah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu dari bisikan-bisikan setan. Dan aku berlindung (pula) kepadaMu ya Rabbku, dari keda-tangan mereka kepadaku'." (Al-Mu`minun: 96-98).
(96) Ini termasuk budi pekerti luhur yang mana Allah me-merintahkan RasulNya untuk melaksanakannya. Allah berfirman, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ٱلسَّيِّئَةَۚ ﴿ "Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik." Maksudnya, jika musuh-musuhmu telah berbuat buruk kepada dirimu dalam bentuk ucapan maupun perbuatan, maka janganlah engkau menyikapi mereka dengan tindakan buruk. Walaupun boleh untuk membalas orang yang telah berbuat buruk dengan tindakan serupa, akan tetapi, tolaklah sikap buruk mereka kepadamu dengan berbuat baik kepada mereka. Itu merupakan bentuk kemurahan hatimu kepada orang yang telah berbuat buruk itu. Di antara manfaatnya, ulah buruknya kepadamu akan ber-kurang, sekarang dan di masa datang. Sikap tersebut lebih efektif untuk menarik orang yang telah berbuat buruk tersebut ke jalan yang benar, lebih mempercepatnya untuk menyesal, sedih dan kembali dengan taubat dari apa yang pernah dilakukannya. Orang yang memberi maaf, berarti mempunyai sifat ihsan (kebaikan). De-ngan itu, dia mampu mempecundangi setan serta berhak menerima pahala dari Allah. Allah تعالى berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah." (Asy-Syura: 40). ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan," maksudnya, tidaklah diberi taufik untuk bersifat luhur seperti ini, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Melainkan (kepada) orang-orang yang sabar, dan tidaklah dianu-gerahkan melainkan (kepada) orang-orang yang mempunyai keberun-tungan yang besar." (Fushshilat: 34-35). FirmanNya, ﴾ نَحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَصِفُونَ ﴿ "Dan Kami lebih mengetahui apa yang mereka bisikkan," yaitu ucapan-ucapan yang mereka lontarkan, berupa omongan-omongan yang memuat unsur kekufuran dan pendustaan kepada kebenaran. Sungguh ilmu Kami telah meliputi-nya. Kami telah lunak terhadap mereka, memberikan kesempatan bagi mereka serta menahan diri. Kebenaran milik Kami. Pendustaan mereka juga milik Kami. Engkau wahai Muhammad, sepatutnya bersabar atas lontaran yang keluar dari mulut mereka dan menyi-kapi mereka dengan tindakan baik. Inilah tugas seorang hamba dalam menyikapi orang yang telah berbuat tidak baik.
(97-98) Adapun bila pihak yang berbuat jahat berasal dari kalangan setan, sikap baik tidak berguna baginya. Tidaklah setan menyeru kelompoknya melainkan agar mereka menjadi penghuni Neraka Sa'ir. Strategi saat menghadapinya adalah, memohon pe-tunjuk dengan metode yang Allah ajarkan kepada RasulNya. Allah berfirman, ﴾ وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ ﴿ "Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepadaMu'." [Maksudnya aku memohon perlindungan dengan daya dan kekuatanMu, dengan berlepas diri dari daya dan kekuatanku]. ﴾ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ 97 وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ ﴿ "dari bisikan-bisikan setan dan aku berlindung kepadaMu ya Rabbku dari kedatangan mereka kepadaku," maksudnya, aku memohon perlindungan dari kejelekan yang menimpaku lantaran interaksi, bisikan dan pengaruh mereka, dan dari kejelekan yang muncul dari wujud dan tiupan was-was mereka. Ini merupakan permohonan perlindungan dari materi yang buruk secara keseluruhan dan sumbernya. Termasuk juga memohon per-lindungan dari bermacam godaan setan, yang berbentuk pengaruh dan tiupan was-wasnya. Bila Allah telah menjaga seorang hamba dari kejelekan ini dan menyambut doanya, maka dia selamat dari setiap kejelekan, dan memperoleh taufik untuk menjalankan ke-baikan.
Al-Mu'minun 23:99
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (Al-Mu`minun: 99-100).
(99-100) Allah تعالى memberitahukan tentang kondisi orang-orang yang kedatangan ajalnya, dari kalangan orang-orang yang melalaikan kewajiban-kewajibannya (di dunia ini) lagi berbuat aniaya, bahwa dia merasa menyesal, saat menyaksikan tempat kesudahannya, melihat keburukan amalan-amalannya, hingga dia pun meminta untuk balik kembali ke dunia. Tujuannya bukan untuk menikmati kenikmatannya dan memenuhi nafsu-nafsu ke-inginannya, akan tetapi, dia mengatakan, ﴾ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ 99 لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ ﴿ "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan," yaitu amalan-amalan shalih yang kusepelekan di sisi Allah. ﴾ كـَلَّآۚ ﴿ "Sekali-kali tidak," tidak ada kesempatan untuk balik kembali dan tiada penundaan waktu (lagi). Allah sudah memutus-kan bahwa mereka tidak akan kembali lagi ke dunia. ﴾ إِنَّهَا ﴿ "Se-sungguhnya itu," maksudnya ucapan yang berisi harapannya untuk kembali ke alam dunia ﴾ كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ ﴿ "adalah perkataan yang diucapkan saja," hanya sekedar lontaran dengan mulut saja, tidak memberikan manfaat bagi pengucapnya kecuali kesedihan dan penyesalan. Begitu pula, dia sendiri sebenarnya tidak percaya pada pernyataan-nya. Sungguh, bila dia dikembalikan lagi ke kehidupan duniawi, niscaya dia pun kembali melanggar laranganNya. ﴾ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." Maksudnya, di depan dan di ha-dapan mereka terdapat barzakh yaitu dinding penghalang untuk dua kehidupan; kehidupan dunia dan akhirat. Di barzakh ini (alam kubur), orang-orang yang taat (kepada Allah) akan menikmati keadaan yang nikmat. Sedangkan orang-orang yang bermaksiat akan didera siksa sejak kematian mereka sampai hari mereka di-bangkitkan. Maksudnya, hendaklah mereka mempersiapkan bekal dan mencari persiapan untuknya.
Al-Mu'minun 23:100
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." (Al-Mu`minun: 99-100).
(99-100) Allah تعالى memberitahukan tentang kondisi orang-orang yang kedatangan ajalnya, dari kalangan orang-orang yang melalaikan kewajiban-kewajibannya (di dunia ini) lagi berbuat aniaya, bahwa dia merasa menyesal, saat menyaksikan tempat kesudahannya, melihat keburukan amalan-amalannya, hingga dia pun meminta untuk balik kembali ke dunia. Tujuannya bukan untuk menikmati kenikmatannya dan memenuhi nafsu-nafsu ke-inginannya, akan tetapi, dia mengatakan, ﴾ رَبِّ ٱرۡجِعُونِ 99 لَعَلِّيٓ أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ ﴿ "Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap yang telah aku tinggalkan," yaitu amalan-amalan shalih yang kusepelekan di sisi Allah. ﴾ كـَلَّآۚ ﴿ "Sekali-kali tidak," tidak ada kesempatan untuk balik kembali dan tiada penundaan waktu (lagi). Allah sudah memutus-kan bahwa mereka tidak akan kembali lagi ke dunia. ﴾ إِنَّهَا ﴿ "Se-sungguhnya itu," maksudnya ucapan yang berisi harapannya untuk kembali ke alam dunia ﴾ كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ ﴿ "adalah perkataan yang diucapkan saja," hanya sekedar lontaran dengan mulut saja, tidak memberikan manfaat bagi pengucapnya kecuali kesedihan dan penyesalan. Begitu pula, dia sendiri sebenarnya tidak percaya pada pernyataan-nya. Sungguh, bila dia dikembalikan lagi ke kehidupan duniawi, niscaya dia pun kembali melanggar laranganNya. ﴾ وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan." Maksudnya, di depan dan di ha-dapan mereka terdapat barzakh yaitu dinding penghalang untuk dua kehidupan; kehidupan dunia dan akhirat. Di barzakh ini (alam kubur), orang-orang yang taat (kepada Allah) akan menikmati keadaan yang nikmat. Sedangkan orang-orang yang bermaksiat akan didera siksa sejak kematian mereka sampai hari mereka di-bangkitkan. Maksudnya, hendaklah mereka mempersiapkan bekal dan mencari persiapan untuknya.
Al-Mu'minun 23:101
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:102
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:103
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:104
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:105
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:106
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:107
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:108
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:109
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:110
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:111
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:112
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:113
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:114
"Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya. Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendusta-kannya? Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Allah ber-firman, 'Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.' Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau ada-lah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.' Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan dahulu kamu selalu menertawakan mereka, sesungguhnya Aku memberi balasan ke-pada mereka di hari ini karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. Allah bertanya, 'Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi.' Mereka menjawab, 'Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakan-lah kepada orang-orang yang menghitung.' Allah berfirman, 'Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu me-ngetahui'." (Al-Mu`minun: 101-114).
(101) Allah تعالى mengabarkan mengenai kengerian Hari Kiamat, dan kejadian-kejadian yang memekakkan telinga dan men-debarkan hati [di hari itu], dan bahwa bila sudah ditiup sangkakala untuk tiupan kebangkitan, lalu orang-orang dihimpun secara kese-luruhan untuk pertemuan pada hari yang sudah ditentukan, maka Allah akan menimpakan kepada mereka rasa takut yang menye-babkan mereka melupakan pertalian nasab (yang merupakan faktor perekat hubungan yang paling kokoh), apalagi bentuk hubungan lainnya. Sungguh, tidak ada orang yang menanyakan kondisi orang lain lantaran kesibukan pribadinya, karena tidak tahu apakah ia akan selamat tanpa ada kesengsaraan setelahnya, atau akan men-jadi orang yang celaka tanpa ada unsur kebahagiaan sesudahnya. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ 33 يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ 34 وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ 35 وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ 36 لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ 37 ﴿ "Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua), pada hari ketika manusia lari dari saudaranya; dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya." (Abasa: 33-37).
(102) Pada Hari Kiamat, terdapat momen-momen yang ke-sengsaraannya begitu dahsyat dan pengaruhnya sangat berat dira-sakan. Misalnya, mizan (alat timbangan) yang diperuntukkan untuk membedakan amalan-amalan seorang hamba, dan berdasarkan asas keadilan, dimonitorlah amalannya yang akan membantunya dan merugikannya, serta akan menjadi jelas timbangan kebaikan dan keburukan seberat biji sawi sekalipun. ﴾ فَمَن ثَقُلَتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Barang-siapa yang berat timbangan (kebaikannya)," maksudnya kebaikan-kebaikannya lebih dominan daripada amalan-amalan buruknya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan," lantaran mereka selamat dari api neraka, dan ber-hak mendapatkan surga, serta menggenggam kemenangan dengan mendapat pujian yang baik.
(103) ﴾ وَمَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang ringan timbang-annya," maksudnya timbangan amalan-amalan buruknya lebih berat dari kebaikan-kebaikannya dan kesalahan-kesalahannya meling-kupinya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri," segala kerugian selain kerugian ini adalah sepele, bila dibandingkan dengan kerugian itu. Akan tetapi kerugian itu benar-benar berat. Akibat buruknya tidak bisa ditang-gulangi dan kebaikan yang lenyap tidak bisa dikejar lagi, sebuah kerugian yang abadi, dan kesengsaraan selama-lamanya. Sungguh dia telah merugikan jiwanya yang mulia yang seharusnya dia bisa meraih kebahagiaan yang abadi dengannya. Namun dia melewat-kan kenikmatan yang abadi ini bagi dirinya di sisi Rabb Yang Mahamulia. ﴾ فِي جَهَنَّمَ خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di dalam Neraka Jahanam." Mereka tidak bisa beranjak keluar darinya selamanya. Ancaman ini, –seperti yang sudah kami terangkan– hanyalah tertuju kepada orang-orang yang dosa-dosanya telah meliputi segala kebaikannya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang kafir. Atas dasar ini, mereka tidak menjalani perhitungan amalan sebagaimana orang-orang (pada umumnya) yang kebaikan dan kejelekannya ditim-bang. Sebab, sungguh tidak ada kebaikan pun bagi mereka. Akan tetapi, amalan mereka diperhitungkan dan dibilang, lalu mereka ditempatkan di hadapannya, tujuannya untuk dimintai pengakuan dan dihinakan dengannya. Adapun orang-orang yang masih mempunyai dasar keimanan, namun amalan-amalan buruknya begitu banyak, hingga menga-lahkan timbangan amalan kebaikannya, maka dia meskipun masuk ke dalam neraka, tidak akan kekal di dalamnya, sebagaimana di-tunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.
(104) Berikutnya, Allah تعالى memberitahukan tentang buruk-nya tempat kesudahan orang-orang kafir. Allah berfirman,﴾ تَلۡفَحُ وُجُوهَهُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "Muka mereka dibakar api neraka," maksudnya, api neraka menutupi mereka dari segala penjuru, sehingga mendera anggota-anggota tubuh mereka yang mulia, dan kobarannya mengoyak-oyak wajah-wajah mereka ﴾ وَهُمۡ فِيهَا كَٰلِحُونَ ﴿ "dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat," rona-rona muka mereka masam dan bibir-bibir mereka menyusut kering, karena dahsyatnya keadaan yang mengitari mereka dan beratnya kejadian yang mereka hadapi.
(105) Maka dilontarkan kepada mereka pertanyaan untuk memburukkan dan mencela mereka, ﴾ أَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian." Kalian diseru dengan-nya, supaya beriman dan ditawarkan kepada kalian agar kalian mau mencermatinya, ﴾ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ ﴿ "tetapi kamu selalu mendusta-kannya," karena sikap aniaya dan penentanganmu. Padahal itu merupakan ayat-ayat yang nyata, yang menunjukkan kepada ke-benaran dan kebatilan, menerangkan perkara-perkara yang lurus dan yang batil?
(106) Saat itulah mereka menyampaikan pengakuan atas tindakan aniaya, yang mana pengakuan itu sudah tidak lagi ber-guna ﴾ قَالُواْ رَبَّنَا غَلَبَتۡ عَلَيۡنَا شِقۡوَتُنَا ﴿ "Mereka berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami'." Maksudnya, kejahatan yang muncul dari ulah aniaya dan berpaling dari kebenaran dan menyambut yang berbahaya dan meninggalkan perkara yang bermanfaat, (sikap ini) telah mendominasi kami ﴾ وَكُنَّا قَوۡمٗا ضَآلِّينَ ﴿ "dan dahulu kami orang-orang yang tersesat," dalam amalan mereka. Walaupun me-reka telah mengetahui bahwa diri mereka berbuat zhalim. Artinya, kami mengerjakan perbuatan-perbuatan di dunia sebagaimana tindakan orang yang salah jalan, sesat lagi bodoh, sebagaimana yang mereka nyatakan dalam ayat lain, ﴾ وَقَالُواْ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memi-kirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-peng-huni neraka yang menyala-nyala'." (Al-Mulk: 10).
(107) ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ ﴿ "Ya Rabb kami, keluar-kanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim," mereka pun berbohong pada janji ini. Mereka itu, (tabiatnya) sebagaimana Firman Allah تعالى, ﴾ وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ ﴿ "Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya." (Al-An'am: 28)," maka Allah tidak menyisakan dalih apa pun bagi mereka dan lang-sung memangkas alasan-alasan mereka. Dia telah memberikan umur panjang kepada mereka di dunia, (waktu) yang bisa membuat orang sadar dan orang jahat menjadi jera.
(108) Allah berfirman untuk menjawab permintaan me-reka, ﴾ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." Ucapan ini –semoga Allah memberikan kita sekalian keselamatan dari neraka– merupakan perkataan yang paling berat secara mutlak yang didengar oleh orang-orang yang telah berbuat jahat untuk meluluhlantakkan harapan dan memburuk-burukkan mereka, menghinakan dan membuat rugi dan memutuskan asa mereka dari setiap kebaikan, dan merupakan kabar gembira datangnya setiap kejelekan. Per-kataan dan kemarahan dari Rabb Yang Maha Penyayang menjadi perkataan paling berat bagi mereka dan paling membekas untuk menyiksa mereka di azab Neraka Jahim.
(109) Selanjutnya, Allah menceritakan kondisi yang menye-ret mereka kepada siksa dan menghentikan curahan rahmat Allah dari mereka. Allah berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ فَرِيقٞ مِّنۡ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdoa (di dunia), 'Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik'." Orang-orang itu telah menggabungkan antara ke-imanan yang menuntut amalan-amalan baik dan pemanjatan doa kepada Rabb mereka untuk mendapatkan ampunan, rahmat dan perantaraan (tawasul) kepadaNya melalui keyakinan terhadap rububiyah Allah dan anugerahNya bagi mereka berupa iman serta pemberitahuan betapa luasnya rahmat dan meratanya curahan ke-baikanNya. Dalam ucapan mereka ini terkandung penjelasan yang menunjukkan ketundukan, kekhusyuan, ketidakberdayaan mereka dan rasa takut serta harapan mereka kepada Rabb mereka. Mereka itu adalah para pembesar dan tokoh-tokoh dari kalangan umat manusia.
(110) ﴾ فَٱتَّخَذۡتُمُوهُمۡ ﴿ "Lalu kamu menjadikan mereka," wahai orang-orang kafir yang nista lagi kerdil akal-akal dan pikiran-pikirannya ﴾ سِخۡرِيًّا ﴿ "buah ejekan." Kalian mengejek dan mengolok-olok mereka hingga kalian sibuk dengan ucapan-ucapan yang tolol. ﴾ حَتَّىٰٓ أَنسَوۡكُمۡ ذِكۡرِي وَكُنتُم مِّنۡهُمۡ تَضۡحَكُونَ ﴿ "Sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku." Inilah faktor penyebab me-reka lupa mengingat Allah; yaitu kesibukan mereka melancarkan olokan kepada orang-orang yang baik itu, sebagaimana halnya kelalaian mereka dari mengingat Allah memicu mereka untuk me-lontarkan ejekan. Masing-masing kejadian ini saling mendukung. Apakah ada sikap kesembronoan yang lebih fatal dari ini?
(111) ﴾ إِنِّي جَزَيۡتُهُمُ ٱلۡيَوۡمَ بِمَا صَبَرُوٓاْ ﴿ "Sesungguhnya Aku memberi ba-lasan kepada mereka di hari ini karena kesabaran mereka," atas ketaatan kepadaku dan gangguan yang kalian lancarkan (kepada mereka) hingga mereka berhasil sampai kepadaKu. ﴾ أَنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "Sesung-guhnya mereka itulah orang-orang yang menang," berhasil meraih ke-nikmatan yang lestari dan keselamatan dari Neraka Jahim. Seba-gaimana Allah berfirman dalam ayat lain, ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34 ﴿ "Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (Al-Muthaffifin: 34)
(112-114) ﴾ قَٰلَ ﴿ "Allah bertanya" dalam rangka untuk men-cela dan menetapkan bahwasanya mereka itu orang-orang yang dungu, dalam waktu yang sejenak saja mereka sudah membuku-kan setiap kejelekan yang mendorong mereka menuju kemurkaan dan hukumanNya. Mereka tidak menghasilkan kebaikan yang di-peroleh oleh kaum Mukminin yang mengantarkan mereka menuju kebahagiaan abadi dan keridhaan Rabb mereka, ﴾ كَمۡ لَبِثۡتُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ عَدَدَ سِنِينَ 112 قَالُواْ لَبِثۡنَا يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖ ﴿ "berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari." Jawaban mereka ini berlandaskan pada anggapan mereka begitu pendeknya masa tinggal mereka di dunia. Pernyataan ini sudah memperlihatkan sebuah manfaat. Akan tetapi, tidak menun-jukkan kadar sebenarnya dan tidak menentukannya. Karena itu, mereka berkata, ﴾ فَسۡـَٔلِ ٱلۡعَآدِّينَ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," yaitu orang-orang yang benar-benar menguasai hitungannya. Adapun mereka, berada dalam kesibukan yang sangat merepotkan dan siksa yang melupakan tentang hitungannya. Maka Allah berkata kepada mereka, ﴾ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلٗاۖ ﴿ "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja," baik kalian telah menetapkan jang-kanya atau tidak ﴾ لَّوۡ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "kalau kamu mengetahui."
Al-Mu'minun 23:115
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Rabb (Yang Mempunyai) Arasy yang mulia." (Al-Mu`minun: 115-116).
(115) Maksudnya, ﴾ أَفَحَسِبۡتُمۡ ﴿ "Maka apakah kamu mengira," wahai makhluk, ﴾ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا ﴿ "bahwa sesungguhnya Kami men-ciptakan kamu secara main-main (saja)," yaitu sia-sia dan batil, kalian makan dan minum, berjalan dan menikmati kelezatan dunia, se-mentara Kami membiarkan kalian tanpa memerintah dan melarang, tanpa memberi pahala dan hukuman. Oleh karena itu, Dia ber-firman, ﴾ وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami." Hal ini tidak terbetik di dalam hatimu. (116) ﴾ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka Mahatinggi Allah," maksudnya, Mahaagung dan Mahatinggi dari dugaan batil ini yang (berujung) kembali kepada celaan di dalam hikmahNya.﴾ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Raja Yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arasy yang mulia." KedudukanNya sebagai Raja bagi seluruh makhluk, yang benar di dalam kejujuran, janji, [dan] ancamanNya, sebagai sesembahan karena kesempurnaan yang dimilikiNya, sebagai Rabb dari Arasy yang mulia dan segala sesuatu yang di bawahnya, termasuk bab yang paling utama, yaitu tercegah menciptakanmu dalam keadaan sia-sia.
Al-Mu'minun 23:116
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Rabb (Yang Mempunyai) Arasy yang mulia." (Al-Mu`minun: 115-116).
(115) Maksudnya, ﴾ أَفَحَسِبۡتُمۡ ﴿ "Maka apakah kamu mengira," wahai makhluk, ﴾ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا ﴿ "bahwa sesungguhnya Kami men-ciptakan kamu secara main-main (saja)," yaitu sia-sia dan batil, kalian makan dan minum, berjalan dan menikmati kelezatan dunia, se-mentara Kami membiarkan kalian tanpa memerintah dan melarang, tanpa memberi pahala dan hukuman. Oleh karena itu, Dia ber-firman, ﴾ وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami." Hal ini tidak terbetik di dalam hatimu. (116) ﴾ فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ﴿ "Maka Mahatinggi Allah," maksudnya, Mahaagung dan Mahatinggi dari dugaan batil ini yang (berujung) kembali kepada celaan di dalam hikmahNya.﴾ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ ﴿ "Raja Yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Dia, Rabb (Yang mempunyai) Arasy yang mulia." KedudukanNya sebagai Raja bagi seluruh makhluk, yang benar di dalam kejujuran, janji, [dan] ancamanNya, sebagai sesembahan karena kesempurnaan yang dimilikiNya, sebagai Rabb dari Arasy yang mulia dan segala sesuatu yang di bawahnya, termasuk bab yang paling utama, yaitu tercegah menciptakanmu dalam keadaan sia-sia.
Al-Mu'minun 23:117
"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. Dan katakanlah, 'Ya Rabbku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik'." (Al-Mu`minun: 117-118).
(117) Maksudnya, dan barangsiapa menyembah tuhan lain bersama Allah tanpa ada bukti dari perintahNya dan tanpa ada petunjuk atas hal tersebut, maka ini menunjukkan atas sikap (syirik) yang mana dia berpegang teguh padanya. Ini adalah aturan yang melazimkan (syirik). Maka setiap orang yang menyembah tuhan selain Allah, lalu dia tidak mendapatkan petunjuk atas hal tersebut, bahkan bukti petunjuk itu menunjukkan kepada kebatilan sikap (syirik) yang dia pegang teguh, lalu dia berpaling darinya karena zhalim dan keras kepala, maka orang ini akan menghadap Rabb-nya, lalu Dia memberikan balasan atas perbuatannya. Dia tidak akan memberikan kepadanya keberuntungan sedikit pun, karena dia telah kafir. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." Kekafiran itu mencegah mereka dari keberun-tungan.
(118) ﴾ وَقُل ﴿ "Dan katakanlah" untuk menyembah Rabbmu dengan ikhlas kepada agama Islam, ﴾ رَّبِّ ٱغۡفِرۡ ﴿ "Ya Rabbku, berilah ampun" untuk kami hingga Engkau menyelamatkan kami dari (neraka) yang dibenci, dan berilah kami rahmat agar Engkau me-nyampaikan kami kepada segala kebaikan dengan rahmatMu. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik." Sehingga segala pemberi rahmat bagi hamba, maka Allah-lah yang lebih baik darinya untuk hamba, lebih memberi rahmat terhadap hambaNya daripada seorang ibu kepada anaknya, serta lebih memberi rahmat kepada dirinya daripada dirinya sendiri.
Selesailah surat al-Mu`minun karena keutamaan dan ihsan-Nya.
Al-Mu'minun 23:118
"Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. Dan katakanlah, 'Ya Rabbku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling baik'." (Al-Mu`minun: 117-118).
(117) Maksudnya, dan barangsiapa menyembah tuhan lain bersama Allah tanpa ada bukti dari perintahNya dan tanpa ada petunjuk atas hal tersebut, maka ini menunjukkan atas sikap (syirik) yang mana dia berpegang teguh padanya. Ini adalah aturan yang melazimkan (syirik). Maka setiap orang yang menyembah tuhan selain Allah, lalu dia tidak mendapatkan petunjuk atas hal tersebut, bahkan bukti petunjuk itu menunjukkan kepada kebatilan sikap (syirik) yang dia pegang teguh, lalu dia berpaling darinya karena zhalim dan keras kepala, maka orang ini akan menghadap Rabb-nya, lalu Dia memberikan balasan atas perbuatannya. Dia tidak akan memberikan kepadanya keberuntungan sedikit pun, karena dia telah kafir. ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung." Kekafiran itu mencegah mereka dari keberun-tungan.
(118) ﴾ وَقُل ﴿ "Dan katakanlah" untuk menyembah Rabbmu dengan ikhlas kepada agama Islam, ﴾ رَّبِّ ٱغۡفِرۡ ﴿ "Ya Rabbku, berilah ampun" untuk kami hingga Engkau menyelamatkan kami dari (neraka) yang dibenci, dan berilah kami rahmat agar Engkau me-nyampaikan kami kepada segala kebaikan dengan rahmatMu. ﴾ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ ﴿ "Dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik." Sehingga segala pemberi rahmat bagi hamba, maka Allah-lah yang lebih baik darinya untuk hamba, lebih memberi rahmat terhadap hambaNya daripada seorang ibu kepada anaknya, serta lebih memberi rahmat kepada dirinya daripada dirinya sendiri.
Selesailah surat al-Mu`minun karena keutamaan dan ihsan-Nya.
An-Nur 24:1
"(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan, dan Kami wa-jibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya." (An-Nur: 1).
Madaniyah
(1) Maksudnya, ini ﴾ سُورَةٌ ﴿ "satu surat" yang sangat besar keagungannya. ﴾ أَنزَلۡنَٰهَا ﴿ "Yang Kami turunkan," sebagai rahmat dari Kami bagi segenap hamba, dan Kami pelihara dari (campur tangan) semua setan. ﴾ وَفَرَضۡنَٰهَا ﴿ "Dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya," maksudnya Kami telah menentukan kadar ukuran dalam hal hukuman-hukuman pidana, persaksian dan lainnya. ﴾ وَأَنزَلۡنَا فِيهَآ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas" yakni hukum-hukum yang jelas, untaian perintah dan larangan serta hikmah-hikmah yang agung. ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "Agar kamu selalu mengingatinya," tatkala Kami menerangkannya kepada kalian dan mengajarkan kepada kalian hal-hal yang belum kalian mengerti.
Kemudian Allah mulai menjelaskan hukum-hukum yang telah dimaksud. Allah berfirman,
An-Nur 24:2
"Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan Hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh kumpulan orang-orang yang beriman." (An-Nur: 2).
(2) Ini adalah hukum mengenai pelaku zina lelaki dan perempuan yang lajang. Yaitu mereka berdua dipukul sebanyak seratus kali pukulan. Adapun orang yang pernah melewati masa pernikahan (lelaki ataupun wanita), menurut petunjuk kandungan Sunnah yang shahih lagi populer, hukumannya yaitu rajam.[12] Allah تعالى melarang kita terpengaruh oleh rasa iba kepada me-reka berdua di dalam menegakkan agama Allah, yang akan meng-hambat kita menjalankan hukuman pidana atas mereka berdua, baik rasa kasihan alami atau karena ada jalinan kekerabatan, per-sahabatan atau hubungan lainnya (dengan tertuduh). Hanya ke-imananlah yang dapat melenyapkan perasaan yang menghalangi pelaksanaan hukum Allah itu. Rasa sayang kepadanya yang hakiki itu adalah dengan menegakkan hukum kepadanya. Kita ini, ken-datipun merasa kasihan kepadanya lantaran terjadinya takdir semacam itu kepadanya, namun kita tidak boleh mengungkapkan belas kasih kepadanya dari sisi ini. Allah memerintahkan supaya proses penegakan hukum dua orang pezina itu dihadiri oleh ﴾ طَآئِفَةٞ ﴿ "sekumpulan orang-orang," Mukmin. Supaya diketahui oleh khalayak dan terpenuhilah sasaran untuk menghinakan (pelaku) dan menciptakan suasana kehati-hatian (dari tindakan itu), dan hendaklah mereka benar-benar menyaksi-kannya secara nyata. Sesungguhnya, menyaksikan pelaksanaan hukum syariat secara langsung termasuk faktor yang berpotensi menguatkan ilmu dan meresapkan pemahaman, serta akan men-dekatkan kepada kebenaran, tidak ditambah-tambah ataupun di-kurangi. Wallahu a'lam.
An-Nur 24:3
"Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perem-puan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin." (An-Nur: 3).
(3) Ini merupakan keterangan mengenai bejatnya perzinaan. Mengotori kehormatan pelakunya dan harga diri orang yang me-nyertai dan berinteraksi dengannya. Sebuah implikasi buruk yang tidak ditimbulkan oleh dosa-dosa yang lain. Allah mengabarkan bahwa seorang lelaki yang berzina tidak boleh menikahi wanita kecuali wanita yang berzina. Kondisi lelaki itu sejalan dengan seluk-beluk si wanita. Atau (menikahi) seorang wanita musyrik (yang menyekutukan Allah), tidak mengimani Hari Kebangkitan maupun Pembalasan, tidak konsisten dengan perintah Allah. Begitu pula,wanita yang berzina, tidak akan dinikahi kecuali oleh lelaki pezina atau lelaki musyrik. ﴾ وَحُرِّمَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang Mukmin," maksudnya, diharamkan atas mereka untuk menikahkan seorang lelaki yang berbuat zina (dengan anak perempuannya atau anak perempuan yang berada di bawah perwaliannya) maupun mengawini seorang perempuan pezina. Pengertian dari ayat ini, siapa saja yang menyandang sifat perzinaan, baik lelaki ataupun perempuan dan belum bertaubat dari tindakan itu, bahwa orang yang menikah dengannya, kendati ada larangan dari Allah, tidak lepas dari kondisi, tidak berpegang teguh dengan hukum Allah dan RasulNya, orang ini tidak lain seorang yang musyrik, atau orang itu sosok yang berpegang teguh dengan hukum Allah dan RasulNya, lalu melangkah untuk me-langsungkan pernikahan dengannya, padahal mengetahui tindak perzinaan yang dilakukan (calonnya), maka sesungguhnya per-nikahan ini merupakan perzinaan. Lelaki yang menikahi seorang (wanita) pezina lagi pengobral nafsu bejat, seandainya dia beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya dia tidak mau mencobanya. Keterangan ini merupakan bukti tegas atas pengharaman me-nikahi wanita pezina, sampai dia bertaubat. Begitu pula (larangan) menikahkan lelaki pezina, sehingga bertaubat. Sesungguhnya bentuk kebersamaan antara suami dengan istrinya atau istri dengan suaminya merupakan interaksi dan perpaduan yang sangat kuat. Allah تعالى berfirman, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "(Kepada malaikat diperintahkan), 'Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim beserta teman sejawat mereka'." (Ash-Shaffat: 22), yaitu para istri yang menemani mereka. Karena itu, Allah meng-haramkan praktik prostitusi ini. Melihat kandungan kejelekannya yang sangat besar. Dan pada perbuatan perzinaan terkandung sebagian dari minimnya kecemburuan (dari pasangan), serta me-nasabkan anak-anak yang bukan berasal dari suaminya, dan ke-adaan suami pezina yang tidak menjaga kehormatan istrinya karena sibuk dengan pelacur lain termasuk sebagian yang membuatnya diharamkan. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa seseorang yang melaku-kan perbuatan zina bukanlah seorang Mukmin (yang sempurna imannya). Senada dengan sabda Nabi, لَا يَزْنِي الزَّانِيْ حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ. "Tidaklah seorang pezina saat berzina dalam keadaan beriman (sem-purna)."[13]
An-Nur 24:4
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur: 4-5).
(4) Setelah membesarkan masalah perzinaan dengan (pe-netapan) kewajiban hukuman cambuk (seratus kali), dan dengan penegakan hukum rajam bila pelaku adalah muhshan (sudah pernah menikah), serta (larangan) tidak boleh mengadakan hubungan dan pergaulan bersamanya dalam bentuk apa pun yang mana seseorang tidak selamat dari (imbas) kejelekannya, Allah تعالى menerangkan bahaya besar yang muncul dari kelancangan menjatuhkan harga diri orang lain dengan tuduhan perzinaan. Allah berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik," yaitu wanita-wanita merdeka yang terjaga kehormatannya. Demikian juga berlaku pada lelaki-lelaki (yang baik-baik). Tidak ada bedanya antara kedua belah pihak. Yang dimaksudkan dengan kata menuduh (di sini) yakni tuduhan berzina. Berdasarkan susu-nan kalimat ayat ini yaitu, ﴾ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ ﴿ "kemudian mereka tidak menda-tangkan," atas tuduhan yang mereka lontarkan ﴾ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ ﴿ "empat orang saksi," yaitu para lelaki yang adil (bersih) yang mempersaksi-kannya secara meyakinkan ﴾ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ ﴿ "maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera," dengan cambuk ukuran sedang yang dapat membekaskan rasa sakit pada tubuhnya, (namun) tidak berlebihan dalam memukul, sehingga bisa membinasakan-nya. Pasalnya, tujuannya adalah mengenakan sanksi, bukan mem-binasakan. Dalam ayat ini tertuang penetapan hukuman atas tuduhan zina (yang dilancarkan kepada orang lain). Dengan catatan, pihak yang tertuduh sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, seorang yang berstatus muhshan (sudah pernah menikah) lagi Mukmin. Se-dangkan menuduh orang yang belum pernah menikah, maka me-nyebabkan hukuman ta'zir (sangsi yang ditetapkan penguasa). ﴾ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ ﴿ "Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya," maksudnya mereka dikenai hukuman lain-nya, yakni persaksian qadzif (orang yang menuduh) tidak diterima. Kendatipun dia telah menjalani hukuman atas tuduhannya se-hingga bertaubat, sebagaimana yang akan dipaparkan. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang fasik," yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang kejelekan mereka telah merajalela. Realita yang demikian ini di-sebabkan oleh pelanggaran mereka terhadap hal-hal yang diha-ramkan oleh Allah, penodaan terhadap kehormatan saudaranya, menggiring orang-orang untuk memperbincangkan apa yang dia katakan, pemutusan tali persaudaraan yang sudah Allah canang-kan di antara para kaum Mukminin, tendensitas terhadap penye-baran tindakan keji di tengah kaum Mukminin. Hal ini menjadi bukti bahwa perbuatan qadzaf (menuduh orang lain berzina) me-rupakan bagian dari dosa besar.
(5) FirmanNya, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya)," bertaubat dalam tema ini, dalam bentuk qadzif (penuduh) menyatakan dusta dirinya sendiri, dan mengungkapkan pengakuan bahwa dirinya (dahulu) telah berkata dusta tentang apa yang pernah disampai-kan. Dia wajib menyatakan kedustaan dirinya, meskipun dia yakin kebenaran peristiwanya. Lantaran dia tidak berkutik untuk meng-hadapkan empat orang saksi. Jika qadzif (penuduh) bertaubat dan mengoreksi amalannya serta merubah perbuatan buruknya dengan kebaikan, maka predikat kefasikan lepas darinya. Begitu pula, persaksiannya diterima (kembali) menurut pendapat yang paling shahih. ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," mengampuni dosa-dosa secara keseluruhan bagi orang yang bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar). Qadzif (pelaku tuduhan) dikenai hukuman dera bila tidak sanggup mendatangkan empat saksi dan ia bukan suami (wanita tertuduh). Tetapi bila si penuduh adalah suaminya, maka (hukum-nya) telah disebutkan dalam FirmanNya,
Persaksian-persaksian suami atas (tuduhan perzinaan) istri-istri berfungsi menahan (penegakan) hukum hudud atas dirinya, karena jamaknya, seorang suami tidak boleh lancang untuk menu-duh istri (berzina) yang mana perkara yang menodai citra istrinya akan menodai suami itu sendiri kecuali jika dia seorang yang jujur, dan karena dia juga mempunyai hak dalam masalah ini, serta ke-khawatiran terjadinya penisbatan anak-anak yang bukan berasal darinya, dan kekhawatiran lainnya dari hukum-hukum yang hilang pada selainnya. Allah berfirman,
An-Nur 24:5
"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) kemudian mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (An-Nur: 4-5).
(4) Setelah membesarkan masalah perzinaan dengan (pe-netapan) kewajiban hukuman cambuk (seratus kali), dan dengan penegakan hukum rajam bila pelaku adalah muhshan (sudah pernah menikah), serta (larangan) tidak boleh mengadakan hubungan dan pergaulan bersamanya dalam bentuk apa pun yang mana seseorang tidak selamat dari (imbas) kejelekannya, Allah تعالى menerangkan bahaya besar yang muncul dari kelancangan menjatuhkan harga diri orang lain dengan tuduhan perzinaan. Allah berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik," yaitu wanita-wanita merdeka yang terjaga kehormatannya. Demikian juga berlaku pada lelaki-lelaki (yang baik-baik). Tidak ada bedanya antara kedua belah pihak. Yang dimaksudkan dengan kata menuduh (di sini) yakni tuduhan berzina. Berdasarkan susu-nan kalimat ayat ini yaitu, ﴾ ثُمَّ لَمۡ يَأۡتُواْ ﴿ "kemudian mereka tidak menda-tangkan," atas tuduhan yang mereka lontarkan ﴾ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَ ﴿ "empat orang saksi," yaitu para lelaki yang adil (bersih) yang mempersaksi-kannya secara meyakinkan ﴾ فَٱجۡلِدُوهُمۡ ثَمَٰنِينَ جَلۡدَةٗ ﴿ "maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera," dengan cambuk ukuran sedang yang dapat membekaskan rasa sakit pada tubuhnya, (namun) tidak berlebihan dalam memukul, sehingga bisa membinasakan-nya. Pasalnya, tujuannya adalah mengenakan sanksi, bukan mem-binasakan. Dalam ayat ini tertuang penetapan hukuman atas tuduhan zina (yang dilancarkan kepada orang lain). Dengan catatan, pihak yang tertuduh sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, seorang yang berstatus muhshan (sudah pernah menikah) lagi Mukmin. Se-dangkan menuduh orang yang belum pernah menikah, maka me-nyebabkan hukuman ta'zir (sangsi yang ditetapkan penguasa). ﴾ وَلَا تَقۡبَلُواْ لَهُمۡ شَهَٰدَةً أَبَدٗاۚ ﴿ "Dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya," maksudnya mereka dikenai hukuman lain-nya, yakni persaksian qadzif (orang yang menuduh) tidak diterima. Kendatipun dia telah menjalani hukuman atas tuduhannya se-hingga bertaubat, sebagaimana yang akan dipaparkan. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang fasik," yaitu orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah, yang kejelekan mereka telah merajalela. Realita yang demikian ini di-sebabkan oleh pelanggaran mereka terhadap hal-hal yang diha-ramkan oleh Allah, penodaan terhadap kehormatan saudaranya, menggiring orang-orang untuk memperbincangkan apa yang dia katakan, pemutusan tali persaudaraan yang sudah Allah canang-kan di antara para kaum Mukminin, tendensitas terhadap penye-baran tindakan keji di tengah kaum Mukminin. Hal ini menjadi bukti bahwa perbuatan qadzaf (menuduh orang lain berzina) me-rupakan bagian dari dosa besar.
(5) FirmanNya, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ وَأَصۡلَحُواْ ﴿ "Kecuali orang-orang yang bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya)," bertaubat dalam tema ini, dalam bentuk qadzif (penuduh) menyatakan dusta dirinya sendiri, dan mengungkapkan pengakuan bahwa dirinya (dahulu) telah berkata dusta tentang apa yang pernah disampai-kan. Dia wajib menyatakan kedustaan dirinya, meskipun dia yakin kebenaran peristiwanya. Lantaran dia tidak berkutik untuk meng-hadapkan empat orang saksi. Jika qadzif (penuduh) bertaubat dan mengoreksi amalannya serta merubah perbuatan buruknya dengan kebaikan, maka predikat kefasikan lepas darinya. Begitu pula, persaksiannya diterima (kembali) menurut pendapat yang paling shahih. ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," mengampuni dosa-dosa secara keseluruhan bagi orang yang bertaubat dan kembali (ke jalan yang benar). Qadzif (pelaku tuduhan) dikenai hukuman dera bila tidak sanggup mendatangkan empat saksi dan ia bukan suami (wanita tertuduh). Tetapi bila si penuduh adalah suaminya, maka (hukum-nya) telah disebutkan dalam FirmanNya,
Persaksian-persaksian suami atas (tuduhan perzinaan) istri-istri berfungsi menahan (penegakan) hukum hudud atas dirinya, karena jamaknya, seorang suami tidak boleh lancang untuk menu-duh istri (berzina) yang mana perkara yang menodai citra istrinya akan menodai suami itu sendiri kecuali jika dia seorang yang jujur, dan karena dia juga mempunyai hak dalam masalah ini, serta ke-khawatiran terjadinya penisbatan anak-anak yang bukan berasal darinya, dan kekhawatiran lainnya dari hukum-hukum yang hilang pada selainnya. Allah berfirman,
An-Nur 24:6
"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihin-darkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijak-sana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)." (An-Nur: 6-10).
(6-7) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)," yaitu orang-orang yang merdeka, bukan para budak. ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ﴿ "padahal mereka tidak mempunyai," atas tuduhan mereka tentang perzinaan itu ﴾ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "saksi-saksi selain diri mereka sendiri," mereka tidak dapat menghadirkan para saksi atas apa yang mereka tuduhkan, ﴾ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar." Allah menyebutnya dengan persaksian karena dia menggantikan posisi para saksi. Dengan cara mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah, bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang jujur dalam perkara yang saya tuduhkan kepadanya." ﴾ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta," maksudnya dia menambahkan pada kali yang kelima, bersama persaksian yang telah disebutkan guna menguatkan persaksian-persaksian sebelumnya, dengan mendoakan (buruk) atas dirinya dengan laknat bila dia berdusta. Bila proses pelaknatannya (li'an) telah berlangsung, maka hukuman qadzaf (menuduh orang lain berzina) menjadi gugur darinya. Zahir ayat-ayat ini, walaupun sang suami menyebutkan nama lelaki yang mana dia menuduh istrinya (melakukan perzinaan) dengan lelaki itu, maka haknya pun menjadi gugur karena meng-ikuti keadaan si wanita. Apakah akan dijatuhkan hukuman terhadap wanita tersebut hanya dengan dasar tuduhan dan peringatan kepada si wanita atau ia harus dipenjarakan? Mengenai hal ini para ulama mempunyai dua pendapat: Pendapat yang ditunjukkan oleh dalil adalah bahwa hukuman pidana harus ditegakkan terhadap wanita tersebut, dengan dalil, ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ ....﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya…," sampai selesai. Kalau bukan karena azab itu –had– telah wajib dilaksanakan disebabkan laknatnya, niscaya lak-natnya (sang istri) tidak menjadi penolak laknat suami.
(8-9) ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari (hukuman)," hukuman pidana (yang akan ia terima) tertolak bila ia menandingi persaksian suaminya dengan kesaksian yang serupa ﴾ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "yaitu dia bersumpah empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta," dan pada sumpah yang kelima, guna meyakinkan, dia me-nambahkan panjatan doa (buruk) atas dirinya dengan kemurkaan Allah (akan menimpanya) jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Bila prosesi li'an antara mereka berdua telah terlak-sana, maka mereka berdua dipisahkan [untuk] selama-lamanya. Anaknya pun sudah tidak dinisbatkan lagi kepada laki-laki tersebut (mantan suaminya). Zahir dari ayat-ayat tersebut menandakan disyaratkannya penggunaan lafazh-lafazh ini dalam li'an , baik dari suami ataupun istri, dan disyaratkan tertib (pula) dalam melafazhkannya, tidak dikurangi dan tidak dirubah sebagian teksnya dengan ungkapan lain, dan sesungguhnya li'an ini khusus berlaku bagi suami bila dia menuduh istrinya melakukan perzinaan, bukan sebaliknya (istri menuduh suami). Keserupaan wajah pada jabang bayi tidak bisa dijadikan pedoman, sebagaimana tidak dijadikan pedoman lagi terjadinya hubungan badan (sebelumnya). Kemiripan (wajah) dijadikan pedoman saat tidak ada faktor penguat kecuali itu saja.
(10) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu, dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijaksana," jawaban dari syarat itu tersembunyi. Ia sudah ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, yakni, "Aku akan menimpakan kepada salah seorang yang telah berdusta dari keduanya sesuatu yang telah mereka doakan atas dirinya". Dan berkat rahmat Allah dan karuniaNya, terdapat pe-netapan hukum li'an ini khusus untuk suami istri, karena memang sangat dibutuhkan. Allah telah menerangkan kengerian praktik zina, dan kebe-jatannya serta buruknya menuduh orang lain berzina, dan Allah telah mensyariatkan bertaubat dari dosa besar ini dan dari dosa yang lain
Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.
An-Nur 24:7
"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihin-darkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijak-sana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)." (An-Nur: 6-10).
(6-7) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)," yaitu orang-orang yang merdeka, bukan para budak. ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ﴿ "padahal mereka tidak mempunyai," atas tuduhan mereka tentang perzinaan itu ﴾ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "saksi-saksi selain diri mereka sendiri," mereka tidak dapat menghadirkan para saksi atas apa yang mereka tuduhkan, ﴾ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar." Allah menyebutnya dengan persaksian karena dia menggantikan posisi para saksi. Dengan cara mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah, bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang jujur dalam perkara yang saya tuduhkan kepadanya." ﴾ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta," maksudnya dia menambahkan pada kali yang kelima, bersama persaksian yang telah disebutkan guna menguatkan persaksian-persaksian sebelumnya, dengan mendoakan (buruk) atas dirinya dengan laknat bila dia berdusta. Bila proses pelaknatannya (li'an) telah berlangsung, maka hukuman qadzaf (menuduh orang lain berzina) menjadi gugur darinya. Zahir ayat-ayat ini, walaupun sang suami menyebutkan nama lelaki yang mana dia menuduh istrinya (melakukan perzinaan) dengan lelaki itu, maka haknya pun menjadi gugur karena meng-ikuti keadaan si wanita. Apakah akan dijatuhkan hukuman terhadap wanita tersebut hanya dengan dasar tuduhan dan peringatan kepada si wanita atau ia harus dipenjarakan? Mengenai hal ini para ulama mempunyai dua pendapat: Pendapat yang ditunjukkan oleh dalil adalah bahwa hukuman pidana harus ditegakkan terhadap wanita tersebut, dengan dalil, ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ ....﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya…," sampai selesai. Kalau bukan karena azab itu –had– telah wajib dilaksanakan disebabkan laknatnya, niscaya lak-natnya (sang istri) tidak menjadi penolak laknat suami.
(8-9) ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari (hukuman)," hukuman pidana (yang akan ia terima) tertolak bila ia menandingi persaksian suaminya dengan kesaksian yang serupa ﴾ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "yaitu dia bersumpah empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta," dan pada sumpah yang kelima, guna meyakinkan, dia me-nambahkan panjatan doa (buruk) atas dirinya dengan kemurkaan Allah (akan menimpanya) jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Bila prosesi li'an antara mereka berdua telah terlak-sana, maka mereka berdua dipisahkan [untuk] selama-lamanya. Anaknya pun sudah tidak dinisbatkan lagi kepada laki-laki tersebut (mantan suaminya). Zahir dari ayat-ayat tersebut menandakan disyaratkannya penggunaan lafazh-lafazh ini dalam li'an , baik dari suami ataupun istri, dan disyaratkan tertib (pula) dalam melafazhkannya, tidak dikurangi dan tidak dirubah sebagian teksnya dengan ungkapan lain, dan sesungguhnya li'an ini khusus berlaku bagi suami bila dia menuduh istrinya melakukan perzinaan, bukan sebaliknya (istri menuduh suami). Keserupaan wajah pada jabang bayi tidak bisa dijadikan pedoman, sebagaimana tidak dijadikan pedoman lagi terjadinya hubungan badan (sebelumnya). Kemiripan (wajah) dijadikan pedoman saat tidak ada faktor penguat kecuali itu saja.
(10) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu, dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijaksana," jawaban dari syarat itu tersembunyi. Ia sudah ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, yakni, "Aku akan menimpakan kepada salah seorang yang telah berdusta dari keduanya sesuatu yang telah mereka doakan atas dirinya". Dan berkat rahmat Allah dan karuniaNya, terdapat pe-netapan hukum li'an ini khusus untuk suami istri, karena memang sangat dibutuhkan. Allah telah menerangkan kengerian praktik zina, dan kebe-jatannya serta buruknya menuduh orang lain berzina, dan Allah telah mensyariatkan bertaubat dari dosa besar ini dan dari dosa yang lain
Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.
An-Nur 24:8
"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihin-darkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijak-sana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)." (An-Nur: 6-10).
(6-7) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)," yaitu orang-orang yang merdeka, bukan para budak. ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ﴿ "padahal mereka tidak mempunyai," atas tuduhan mereka tentang perzinaan itu ﴾ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "saksi-saksi selain diri mereka sendiri," mereka tidak dapat menghadirkan para saksi atas apa yang mereka tuduhkan, ﴾ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar." Allah menyebutnya dengan persaksian karena dia menggantikan posisi para saksi. Dengan cara mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah, bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang jujur dalam perkara yang saya tuduhkan kepadanya." ﴾ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta," maksudnya dia menambahkan pada kali yang kelima, bersama persaksian yang telah disebutkan guna menguatkan persaksian-persaksian sebelumnya, dengan mendoakan (buruk) atas dirinya dengan laknat bila dia berdusta. Bila proses pelaknatannya (li'an) telah berlangsung, maka hukuman qadzaf (menuduh orang lain berzina) menjadi gugur darinya. Zahir ayat-ayat ini, walaupun sang suami menyebutkan nama lelaki yang mana dia menuduh istrinya (melakukan perzinaan) dengan lelaki itu, maka haknya pun menjadi gugur karena meng-ikuti keadaan si wanita. Apakah akan dijatuhkan hukuman terhadap wanita tersebut hanya dengan dasar tuduhan dan peringatan kepada si wanita atau ia harus dipenjarakan? Mengenai hal ini para ulama mempunyai dua pendapat: Pendapat yang ditunjukkan oleh dalil adalah bahwa hukuman pidana harus ditegakkan terhadap wanita tersebut, dengan dalil, ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ ....﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya…," sampai selesai. Kalau bukan karena azab itu –had– telah wajib dilaksanakan disebabkan laknatnya, niscaya lak-natnya (sang istri) tidak menjadi penolak laknat suami.
(8-9) ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari (hukuman)," hukuman pidana (yang akan ia terima) tertolak bila ia menandingi persaksian suaminya dengan kesaksian yang serupa ﴾ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "yaitu dia bersumpah empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta," dan pada sumpah yang kelima, guna meyakinkan, dia me-nambahkan panjatan doa (buruk) atas dirinya dengan kemurkaan Allah (akan menimpanya) jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Bila prosesi li'an antara mereka berdua telah terlak-sana, maka mereka berdua dipisahkan [untuk] selama-lamanya. Anaknya pun sudah tidak dinisbatkan lagi kepada laki-laki tersebut (mantan suaminya). Zahir dari ayat-ayat tersebut menandakan disyaratkannya penggunaan lafazh-lafazh ini dalam li'an , baik dari suami ataupun istri, dan disyaratkan tertib (pula) dalam melafazhkannya, tidak dikurangi dan tidak dirubah sebagian teksnya dengan ungkapan lain, dan sesungguhnya li'an ini khusus berlaku bagi suami bila dia menuduh istrinya melakukan perzinaan, bukan sebaliknya (istri menuduh suami). Keserupaan wajah pada jabang bayi tidak bisa dijadikan pedoman, sebagaimana tidak dijadikan pedoman lagi terjadinya hubungan badan (sebelumnya). Kemiripan (wajah) dijadikan pedoman saat tidak ada faktor penguat kecuali itu saja.
(10) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu, dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijaksana," jawaban dari syarat itu tersembunyi. Ia sudah ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, yakni, "Aku akan menimpakan kepada salah seorang yang telah berdusta dari keduanya sesuatu yang telah mereka doakan atas dirinya". Dan berkat rahmat Allah dan karuniaNya, terdapat pe-netapan hukum li'an ini khusus untuk suami istri, karena memang sangat dibutuhkan. Allah telah menerangkan kengerian praktik zina, dan kebe-jatannya serta buruknya menuduh orang lain berzina, dan Allah telah mensyariatkan bertaubat dari dosa besar ini dan dari dosa yang lain
Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.
An-Nur 24:9
"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihin-darkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijak-sana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)." (An-Nur: 6-10).
(6-7) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)," yaitu orang-orang yang merdeka, bukan para budak. ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ﴿ "padahal mereka tidak mempunyai," atas tuduhan mereka tentang perzinaan itu ﴾ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "saksi-saksi selain diri mereka sendiri," mereka tidak dapat menghadirkan para saksi atas apa yang mereka tuduhkan, ﴾ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar." Allah menyebutnya dengan persaksian karena dia menggantikan posisi para saksi. Dengan cara mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah, bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang jujur dalam perkara yang saya tuduhkan kepadanya." ﴾ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta," maksudnya dia menambahkan pada kali yang kelima, bersama persaksian yang telah disebutkan guna menguatkan persaksian-persaksian sebelumnya, dengan mendoakan (buruk) atas dirinya dengan laknat bila dia berdusta. Bila proses pelaknatannya (li'an) telah berlangsung, maka hukuman qadzaf (menuduh orang lain berzina) menjadi gugur darinya. Zahir ayat-ayat ini, walaupun sang suami menyebutkan nama lelaki yang mana dia menuduh istrinya (melakukan perzinaan) dengan lelaki itu, maka haknya pun menjadi gugur karena meng-ikuti keadaan si wanita. Apakah akan dijatuhkan hukuman terhadap wanita tersebut hanya dengan dasar tuduhan dan peringatan kepada si wanita atau ia harus dipenjarakan? Mengenai hal ini para ulama mempunyai dua pendapat: Pendapat yang ditunjukkan oleh dalil adalah bahwa hukuman pidana harus ditegakkan terhadap wanita tersebut, dengan dalil, ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ ....﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya…," sampai selesai. Kalau bukan karena azab itu –had– telah wajib dilaksanakan disebabkan laknatnya, niscaya lak-natnya (sang istri) tidak menjadi penolak laknat suami.
(8-9) ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari (hukuman)," hukuman pidana (yang akan ia terima) tertolak bila ia menandingi persaksian suaminya dengan kesaksian yang serupa ﴾ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "yaitu dia bersumpah empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta," dan pada sumpah yang kelima, guna meyakinkan, dia me-nambahkan panjatan doa (buruk) atas dirinya dengan kemurkaan Allah (akan menimpanya) jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Bila prosesi li'an antara mereka berdua telah terlak-sana, maka mereka berdua dipisahkan [untuk] selama-lamanya. Anaknya pun sudah tidak dinisbatkan lagi kepada laki-laki tersebut (mantan suaminya). Zahir dari ayat-ayat tersebut menandakan disyaratkannya penggunaan lafazh-lafazh ini dalam li'an , baik dari suami ataupun istri, dan disyaratkan tertib (pula) dalam melafazhkannya, tidak dikurangi dan tidak dirubah sebagian teksnya dengan ungkapan lain, dan sesungguhnya li'an ini khusus berlaku bagi suami bila dia menuduh istrinya melakukan perzinaan, bukan sebaliknya (istri menuduh suami). Keserupaan wajah pada jabang bayi tidak bisa dijadikan pedoman, sebagaimana tidak dijadikan pedoman lagi terjadinya hubungan badan (sebelumnya). Kemiripan (wajah) dijadikan pedoman saat tidak ada faktor penguat kecuali itu saja.
(10) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu, dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijaksana," jawaban dari syarat itu tersembunyi. Ia sudah ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, yakni, "Aku akan menimpakan kepada salah seorang yang telah berdusta dari keduanya sesuatu yang telah mereka doakan atas dirinya". Dan berkat rahmat Allah dan karuniaNya, terdapat pe-netapan hukum li'an ini khusus untuk suami istri, karena memang sangat dibutuhkan. Allah telah menerangkan kengerian praktik zina, dan kebe-jatannya serta buruknya menuduh orang lain berzina, dan Allah telah mensyariatkan bertaubat dari dosa besar ini dan dari dosa yang lain
Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.
An-Nur 24:10
"Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina), padahal mereka tidak mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar. Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta. Istrinya itu dihin-darkan dari hukuman oleh sumpahnya empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta, dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar. Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijak-sana, (niscaya kamu akan mengalami kesulitan-kesulitan)." (An-Nur: 6-10).
(6-7) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ أَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menuduh istrinya (berzina)," yaitu orang-orang yang merdeka, bukan para budak. ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ﴿ "padahal mereka tidak mempunyai," atas tuduhan mereka tentang perzinaan itu ﴾ شُهَدَآءُ إِلَّآ أَنفُسُهُمۡ ﴿ "saksi-saksi selain diri mereka sendiri," mereka tidak dapat menghadirkan para saksi atas apa yang mereka tuduhkan, ﴾ فَشَهَٰدَةُ أَحَدِهِمۡ أَرۡبَعُ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan Nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar." Allah menyebutnya dengan persaksian karena dia menggantikan posisi para saksi. Dengan cara mengatakan, "Saya bersaksi dengan Nama Allah, bahwa saya adalah termasuk orang-orang yang jujur dalam perkara yang saya tuduhkan kepadanya." ﴾ وَٱلۡخَٰمِسَةُ أَنَّ لَعۡنَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "Dan (sumpah) yang kelima: bahwa laknat Allah atasnya, jika dia termasuk orang-orang yang berdusta," maksudnya dia menambahkan pada kali yang kelima, bersama persaksian yang telah disebutkan guna menguatkan persaksian-persaksian sebelumnya, dengan mendoakan (buruk) atas dirinya dengan laknat bila dia berdusta. Bila proses pelaknatannya (li'an) telah berlangsung, maka hukuman qadzaf (menuduh orang lain berzina) menjadi gugur darinya. Zahir ayat-ayat ini, walaupun sang suami menyebutkan nama lelaki yang mana dia menuduh istrinya (melakukan perzinaan) dengan lelaki itu, maka haknya pun menjadi gugur karena meng-ikuti keadaan si wanita. Apakah akan dijatuhkan hukuman terhadap wanita tersebut hanya dengan dasar tuduhan dan peringatan kepada si wanita atau ia harus dipenjarakan? Mengenai hal ini para ulama mempunyai dua pendapat: Pendapat yang ditunjukkan oleh dalil adalah bahwa hukuman pidana harus ditegakkan terhadap wanita tersebut, dengan dalil, ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ٱلۡعَذَابَ أَن تَشۡهَدَ ....﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya…," sampai selesai. Kalau bukan karena azab itu –had– telah wajib dilaksanakan disebabkan laknatnya, niscaya lak-natnya (sang istri) tidak menjadi penolak laknat suami.
(8-9) ﴾ وَيَدۡرَؤُاْ عَنۡهَا ﴿ "Istrinya itu dihindarkan dari (hukuman)," hukuman pidana (yang akan ia terima) tertolak bila ia menandingi persaksian suaminya dengan kesaksian yang serupa ﴾ أَن تَشۡهَدَ أَرۡبَعَ شَهَٰدَٰتِۭ بِٱللَّهِ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ ﴿ "yaitu dia bersumpah empat kali atas Nama Allah, bahwa sesungguhnya suaminya itu benar-benar termasuk orang-orang yang dusta," dan pada sumpah yang kelima, guna meyakinkan, dia me-nambahkan panjatan doa (buruk) atas dirinya dengan kemurkaan Allah (akan menimpanya) jika suaminya termasuk orang-orang yang benar. Bila prosesi li'an antara mereka berdua telah terlak-sana, maka mereka berdua dipisahkan [untuk] selama-lamanya. Anaknya pun sudah tidak dinisbatkan lagi kepada laki-laki tersebut (mantan suaminya). Zahir dari ayat-ayat tersebut menandakan disyaratkannya penggunaan lafazh-lafazh ini dalam li'an , baik dari suami ataupun istri, dan disyaratkan tertib (pula) dalam melafazhkannya, tidak dikurangi dan tidak dirubah sebagian teksnya dengan ungkapan lain, dan sesungguhnya li'an ini khusus berlaku bagi suami bila dia menuduh istrinya melakukan perzinaan, bukan sebaliknya (istri menuduh suami). Keserupaan wajah pada jabang bayi tidak bisa dijadikan pedoman, sebagaimana tidak dijadikan pedoman lagi terjadinya hubungan badan (sebelumnya). Kemiripan (wajah) dijadikan pedoman saat tidak ada faktor penguat kecuali itu saja.
(10) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ وَأَنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan andaikata tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atas dirimu, dan (andaikata) Allah (bukan) Penerima Taubat lagi Mahabijaksana," jawaban dari syarat itu tersembunyi. Ia sudah ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, yakni, "Aku akan menimpakan kepada salah seorang yang telah berdusta dari keduanya sesuatu yang telah mereka doakan atas dirinya". Dan berkat rahmat Allah dan karuniaNya, terdapat pe-netapan hukum li'an ini khusus untuk suami istri, karena memang sangat dibutuhkan. Allah telah menerangkan kengerian praktik zina, dan kebe-jatannya serta buruknya menuduh orang lain berzina, dan Allah telah mensyariatkan bertaubat dari dosa besar ini dan dari dosa yang lain
Ketika secara umum telah disebutkan besarnya persoalan tuduhan berzina, maka penjelasan itu menjadi pembuka kisah ini yang menimpa wanita yang (termasuk) paling mulia, Ummul Mukminin (Aisyah) i. Ayat-ayat ini turun pada peristiwa ifki (dusta) yang sudah terkenal, termuat dalam kitab-kitab Shahih, Sunan dan Musnad.[14] Intinya, Nabi pada sebagian peperangan pergi bersama istrinya Aisyah, seorang wanita yang jujur, putri seorang yang jujur (Abu Bakar ash-Shiddiq). Kalung Aisyah hilang, maka dia pun (sibuk) berkutat untuk mencarinya. Sementara orang-orang telah memberangkatkan tunggangan dan sekedup yang ada di atasnya, tanpa merasa kehilangan Aisyah. Tentara pun terus berlalu. Kemudian Aisyah kembali ke tempat asalnya, dan yakin apabila mereka (pasukan kaum Muslimin) tidak mendapatkannya, maka mereka akan kembali (ke tempatnya). Mereka ternyata melanjutkan perjalanan. Sementara Shafwan bin al-Mu`aththal as-Sulami (termasuk pemuka sahabat), istirahat di belakang rombongan dan tertidur, lantas melihat Aisyah dan mengenalnya. Lalu dia merendahkan tunggangannya, dan Aisyah pun menaikinya tanpa ada pembicaraan di antara mereka berdua. Kemudian dia datang dengan menuntun untanya, setelah para tentara istirahat di siang hari. Tatkala sebagian orang munafik yang menyertai Nabi dalam perjalanan ini menyaksikan kedatangan Shafwan dalam kondisi demikian (bersama Aisyah), maka mereka menyebarkan isu hingga berkembang, menghembuskan pembicaraan, hingga mereka pun saling menyampaikan pembicaraan ini (kepada yang lain). Sampai berakibat sebagian kaum Mukminin terpengaruh, (bahkan) menjadi buah bibir mereka. Wahyu pun tak kunjung datang kepada Rasu-lullah dalam jangka waktu yang lama. Setelah beberapa waktu, barulah berita ini sampai kepada Aisyah. Dia sangat sedih sekali. Akhirnya, Allah menurunkan (ayat tentang) kesucian dirinya dengan turunnya ayat-ayat ini, memberikan nasihat kepada kaum Mukminin dan menganggap besar persoalan ini, serta menyampaikan pesan-pesan yang sangat bermanfaat.
An-Nur 24:11
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:12
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:13
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:14
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:15
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:16
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:17
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:18
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:19
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:20
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:21
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:22
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:23
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:24
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.
An-Nur 24:25
"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26).
(11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah.
(12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu.
(13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur.
(14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian.
(15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi.
(16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar."
(17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram.
(18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu.
(19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui.
(20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya.
(21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
(22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya.
(23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat.
(24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri.
(25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya.
(26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.