Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — An-Nur 24:26 – Al-Furqan 25:67

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. An-Nur 24:26
  2. An-Nur 24:27
  3. An-Nur 24:28
  4. An-Nur 24:29
  5. An-Nur 24:30
  6. An-Nur 24:31
  7. An-Nur 24:32
  8. An-Nur 24:33
  9. An-Nur 24:34
  10. An-Nur 24:35
  11. An-Nur 24:36
  12. An-Nur 24:37
  13. An-Nur 24:38
  14. An-Nur 24:39
  15. An-Nur 24:40
  16. An-Nur 24:41
  17. An-Nur 24:42
  18. An-Nur 24:43
  19. An-Nur 24:44
  20. An-Nur 24:45
  21. An-Nur 24:46
  22. An-Nur 24:47
  23. An-Nur 24:48
  24. An-Nur 24:49
  25. An-Nur 24:50
  26. An-Nur 24:51
  27. An-Nur 24:52
  28. An-Nur 24:53
  29. An-Nur 24:54
  30. An-Nur 24:55
  31. An-Nur 24:56
  32. An-Nur 24:57
  33. An-Nur 24:58
  34. An-Nur 24:59
  35. An-Nur 24:60
  36. An-Nur 24:61
  37. An-Nur 24:62
  38. An-Nur 24:63
  39. An-Nur 24:64
  40. Al-Furqan 25:1
  41. Al-Furqan 25:2
  42. Al-Furqan 25:3
  43. Al-Furqan 25:4
  44. Al-Furqan 25:5
  45. Al-Furqan 25:6
  46. Al-Furqan 25:7
  47. Al-Furqan 25:8
  48. Al-Furqan 25:9
  49. Al-Furqan 25:10
  50. Al-Furqan 25:11
  51. Al-Furqan 25:12
  52. Al-Furqan 25:13
  53. Al-Furqan 25:14
  54. Al-Furqan 25:15
  55. Al-Furqan 25:16
  56. Al-Furqan 25:17
  57. Al-Furqan 25:18
  58. Al-Furqan 25:19
  59. Al-Furqan 25:20
  60. Al-Furqan 25:21
  61. Al-Furqan 25:22
  62. Al-Furqan 25:23
  63. Al-Furqan 25:24
  64. Al-Furqan 25:25
  65. Al-Furqan 25:26
  66. Al-Furqan 25:27
  67. Al-Furqan 25:28
  68. Al-Furqan 25:29
  69. Al-Furqan 25:30
  70. Al-Furqan 25:31
  71. Al-Furqan 25:32
  72. Al-Furqan 25:33
  73. Al-Furqan 25:34
  74. Al-Furqan 25:35
  75. Al-Furqan 25:36
  76. Al-Furqan 25:37
  77. Al-Furqan 25:38
  78. Al-Furqan 25:39
  79. Al-Furqan 25:40
  80. Al-Furqan 25:41
  81. Al-Furqan 25:42
  82. Al-Furqan 25:43
  83. Al-Furqan 25:44
  84. Al-Furqan 25:45
  85. Al-Furqan 25:46
  86. Al-Furqan 25:47
  87. Al-Furqan 25:48
  88. Al-Furqan 25:49
  89. Al-Furqan 25:50
  90. Al-Furqan 25:51
  91. Al-Furqan 25:52
  92. Al-Furqan 25:53
  93. Al-Furqan 25:54
  94. Al-Furqan 25:55
  95. Al-Furqan 25:56
  96. Al-Furqan 25:57
  97. Al-Furqan 25:58
  98. Al-Furqan 25:59
  99. Al-Furqan 25:60
  100. Al-Furqan 25:61
  101. Al-Furqan 25:62
  102. Al-Furqan 25:63
  103. Al-Furqan 25:64
  104. Al-Furqan 25:65
  105. Al-Furqan 25:66
  106. Al-Furqan 25:67

An-Nur 24:26

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu mendapat-kan azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, 'Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.' Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia pada sisi Allah adalah besar. Dan me-ngapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, 'Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha-suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.' Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti lang-kah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan per-buatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa me-reka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka mendapat-kan laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenar-nya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang di-tuduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Mereka mendapatkan ampunan dan rizki yang mulia (surga)." (An-Nur: 11-26). (11) Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu," yaitu kedustaan yang keji, berupa tuduhan kepada Ummul Mukminin, ﴾ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ ﴿ "adalah dari golongan kamu juga," maksudnya sekelompok orang yang menisbat-kan diri kepada kalian, wahai kaum Mukminin. Di antara mereka, ada seorang Mukmin yang sejati dalam keimanannya, akan tetapi termakan oleh isu yang dihembuskan oleh orang-orang munafik. Sebagian lagi adalah orang-orang munafik. ﴾ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu," karena mengandung (keterangan) tentang rehabilitasi nama Ummul Mukminin dari tuduhan keji, kesucian pribadi dan pengangkatan citranya. Pujian yang umum ini pun mencakup juga seluruh istri Nabi. (Kejadian ini baik buat kalian) lantaran memuat (juga) penge-tengahan ayat-ayat yang sangat dibutuhkan oleh para hamba, yang akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Ini semua merupakan kebaikan yang sungguh besar, seandai-nya tidak ada isu komentar yang dilontarkan penyulut berita dusta ini, niscaya kebaikan-kebaikan itu tidak teraih. Bilamana Allah menghendaki suatu perkara, maka Dia akan menciptakan sebab kausalitas ke arahnya. Oleh karena itu, Allah menjadikan arah pembicaraan bersifat umum bagi seluruh kaum Mukminin. Allah mengabarkan bahwa celaan kepada sebagian kaum Mukminin hakikatnya seperti mencela dirinya sendiri. Dalam ayat ini, terdapat keterangan bahwasanya kaum Muk-minin dalam kecintaan, kasih sayang, kelembutan dan kebersama-an mereka sesuai dengan kemaslahatan mereka ibarat jasad yang satu, dan seorang Mukmin dengan orang Mukmin lainnya, bak bangunan yang saling menguatkan. Sebagaimana seseorang tidak suka menodai kehormatannya sendiri, maka hendaknya dia tidak menyukai siapa pun melukai kehormatan saudaranya yang Mukmin yang sudah seperti dirinya sendiri. Bila ternyata seorang hamba belum sampai kepada keadaan ini, maka sesungguhnya itu terjadi karena imannya kurang dan tidak mau bersikap baik terhadap dirinya. ﴾ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ ﴿ "Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya." Ini adalah ancaman bagi orang-orang yang telah membawa cerita dusta, bahwa mereka akan dihu-kum sesuai dengan materi yang telah mereka katakan. Nabi telah menjatuhkan hukum had kepada sebagian mereka. ﴾ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ ﴿ "Dan siapa (di antara mereka) yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu," yakni penyulut berita dusta, seorang munafik yang keji, 'Abdullah bin Ubay bin Salul, semoga laknat Allah tertuju kepadanya, ﴾ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "baginya azab yang besar." Ketahuilah, azabnya adalah kekal abadi di neraka yang paling bawah. (12) Kemudian Allah memberikan petunjuk kepada para hambaNya bila mendengar perkataan seperti ini. FirmanNya, ﴾ لَّوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ظَنَّ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمۡ خَيۡرٗا ﴿ "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang Mukminin dan Mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri," maksudnya kaum Mukminin me-nyangka sebagian mereka dengan prasangka yang baik, yaitu bebas dari tuduhan mereka. Sesungguhnya keimanan yang mereka punya akan menyingkirkan tuduhan dusta yang batil tentang mereka. ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka mengatakan," karena prasangka tersebut, ﴾ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mahasuci Engkau," yakni untuk menyucikanMu dari segala keje-lekan serta menyucikanMu dari penetapan ujian kepada hamba-hambaMu yang setia dengan segala perbuatan yang keji. ﴾ هَٰذَآ إِفۡكٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata," maksudnya dusta dan kebohongan termasuk perkara yang paling besar dan paling jelas. Ini adalah prasangka yang wajib dilakukan tatkala seorang Mukmin mendengar saudaranya seiman tertimpa tuduhan sema-cam ini, menjauhkannya dari lisannya dan mendustakan orang yang telah melontarkan itu. (13) ﴾ لَّوۡلَا جَآءُو عَلَيۡهِ بِأَرۡبَعَةِ شُهَدَآءَۚ ﴿ "Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu?" maksudnya, mengapa orang-orang yang telah menuduh tidak mendatangkan empat orang saksi, yaitu saksi-saksi yang adil lagi dipercaya. ﴾ فَإِذۡ لَمۡ يَأۡتُواْ بِٱلشُّهَدَآءِ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi, maka mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," walaupun mereka itu yakin dengan hal tersebut, namun sesungguhnya mereka termasuk telah mendusta-kan hukum Allah. Karena Allah telah melarang mereka untuk mengatakan yang demikian tanpa ada empat saksi. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ عِندَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ﴿ "Mereka itu pada sisi Allah adalah orang-orang yang dusta," dan Allah tidak mengatakan, "Me-reka adalah para pendusta." Ini semua adalah untuk memuliakan kehormatan seorang Muslim, lantaran tidak boleh lancang untuk menuduh tanpa membawa saksi yang jujur. (14) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua di dunia dan akhirat," di mana kebaikan Allah telah melingkupi kalian di dunia dan akhirat pada urusan agama dan dunia kalian ﴾ لَمَسَّكُمۡ فِي مَآ أَفَضۡتُمۡ ﴿ "niscaya kamu ditimpa karena pembicaraan kamu," maksudnya karena kalian larut (dalam pembicaraan itu) ﴾ فِيهِ ﴿ "di dalamnya," berkaitan de-ngan berita bohong itu ﴾ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿ "azab yang besar," kalian pantas mendapatkannya disebabkan ucapan yang telah kalian katakan. Akan tetapi, karena karunia Allah dan rahmatNya atas kalian, maka Dia mensyariatkan taubat atas kalian dan menjadikan hukuman sebagai pembersih dosa kalian. (15) ﴾ إِذۡ تَلَقَّوۡنَهُۥ بِأَلۡسِنَتِكُمۡ ﴿ "(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut," maksudnya kalian menerima, meng-gunjingkannya antara kalian dan menggencarkan pembicaraan itu, padahal merupakan perkataan yang batil. ﴾ وَتَقُولُونَ بِأَفۡوَاهِكُم مَّا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Dan kamu katakan dengan mulutmu sesuatu yang tidak kamu ketahui sedikit pun juga." Dua perkara ini terlarang; pembicaraan yang batil dan berkata tanpa dasar ilmu. ﴾ وَتَحۡسَبُونَهُۥ هَيِّنٗا ﴿ "Dan kamu menganggap-nya suatu yang ringan saja." Oleh sebab itu, orang yang lancang telah berani melakukannya dari kalangan kaum Mukminin yang telah bertaubat darinya, dan mereka membersihkan diri setelahnya. ﴾ وَهُوَ عِندَ ٱللَّهِ عَظِيمٞ ﴿ "Padahal ia pada sisi Allah adalah besar." Ini mengan-dung peringatan yang keras tentang membiasakan berbuat seba-gian dosa dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang sepele. Sesungguhnya, persepsi seorang hamba tidak memberikan man-faat baginya sama sekali dan tidak (pula) meringankan hukuman dosanya, bahkan akan melipatgandakan dosanya dan dimudahkan untuk tergelincir melakukannya lagi. (16) ﴾ وَلَوۡلَآ إِذۡ سَمِعۡتُمُوهُ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak pada waktu men-dengar berita bohong itu," maksudnya, tidakkah kalian, wahai kaum Mukminin ketika mendengar berita bohong itu ﴾ قُلۡتُم ﴿ "kalian kata-kan," untuk mengingkari hal itu dan menganggapnya sebagai persoalan yang besar, ﴾ مَّا يَكُونُ لَنَآ أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَٰذَا ﴿ "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita mengatakan ini," maksudnya, tidak patut dan tidak layak bagi kami untuk mengucapkan perkataan yang sangat jelas kedusta-annya ini. Karena seorang Mukmin, keimanannya akan mencegah dirinya untuk melakukan kenistaan-kenistaan ini. ﴾ هَٰذَا بُهۡتَٰنٌ ﴿ "Ini adalah dusta," kebohongan ﴾ عَظِيمٞ ﴿ "yang besar." (17) ﴾ يَعِظُكُمُ ٱللَّهُ أَن تَعُودُواْ لِمِثۡلِهِۦٓ ﴿ "Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali melakukan yang seperti itu," yaitu perbuatan serupa, seperti menuduh kaum Mukminin dengan perbuatan jahat. Allah menasihati dan memperingatkan kalian dari perkara itu. Sebaik-baik nasihat dan peringatan adalah dari Rabb kita. Maka wajib atas kita untuk meresponnya dengan penuh penerimaan, tulus, tunduk, pasrah dan rasa syukur atas keterangan yang sudah dijelaskan kepada kita. Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Dzat yang memberi nasihat kepada kalian ﴾ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "jika kalian orang-orang yang beriman." Ini mengindikasikan bahwa keimanan yang benar akan menghalangi pemiliknya dari melakukan perbuatan haram. (18) ﴾ وَيُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۚ ﴿ "Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu," yang mencakup keterangan hukum-hukum, nasihat, ancaman, anjuran dan peringatan, dan menjelaskan kepada kalian dengan sejelas-jelasnya ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi (Mahabijaksana)[15]," maksudnya, ilmuNya sempurna dan sifat hikmahNya merata. Di antara (cerminan) ilmu dan hikmahNya, bahwa Allah mengajarkan kalian sebagian ilmuNya, walaupun hal ini, kembali pada maslahat yang akan kalian rasakan pada setiap waktu. (19) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar," yaitu perkara yang keji lagi buruk, lalu mereka menyukai kejelekan lebih menyebar ﴾ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "di kalangan orang-orang yang beriman, maka mereka mendapatkan azab yang pedih," yaitu, azab yang memedihkan hati dan badan, lantaran tipuan mereka terhadap saudaranya sesama kaum Muslimin, gembira dengan keburukan yang menimpa mereka dan lancang menodai kehormatan mereka. Bilamana ancaman ini ditujukan hanya atas perasaan senang agar kekejian tersebar dan menikmatinya dengan hati mereka, lalu bagaimana (hukumannya) atas perbuatan yang lebih parah dari itu, dengan memunculkan dan menyebarkannya? Sama saja, apa-kah kekejian itu terjadi ataupun tidak terjadi. Semua ini berasal dari rahmat Allah untuk para hambaNya yang beriman, menjaga kehormatan-kehormatan mereka, sebagaimana Allah telah menjaga harta dan darah mereka, menyuruh mereka untuk menjalin soli-daritas, agar salah seorang di antara mereka mencintai kebaikan untuk saudaranya yang dia sukai bagi dirinya, serta membenci keburukan untuk saudaranya yang dia benci buat dirinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." Oleh karena itu, Allah memberitahu kalian dan menerangkan ke-pada kalian dengan apa yang tidak kalian ketahui. (20) ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan sekiranya tidaklah karena karu-nia Allah kepada kamu semua," yang telah melingkupi kalian dari segala sisi ﴾ وَرَحۡمَتُهُۥ ﴿ "dan rahmatNya," atas kalian ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang," niscaya Allah tidak menerangkan hukum-hukum, nasihat-nasihat, hikmah-hikmah yang berharga, dan niscaya Dia tidak akan memberikan kesem-patan bagi orang-orang yang menyelisihi perintahNya, akan tetapi (semuanya) karena karunia dan rahmat Allah. Inilah sifat yang melekat pada Allah yang membuahkan kebaikan dunia dan akhirat bagi kalian yang tidak dapat kalian hitung dan kalian membilang-nya. (21) Setelah melarang dosa ini secara khusus, Allah juga melarang (kalian) dari dosa secara umum. Dia berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan," maksudnya jalan-jalan dan godaan-godaannya. Langkah-langkah setan ini mencakup seluruh perbuatan maksiat yang berhubungan dengan hati, lisan, dan badan. Di antara hikmah Allah تعالى, dalam menerangkan hukum ini –yakni larangan untuk mengikuti langkah-langkah setan– adalah, penjelasan mengenai kejelekan yang ditimbulkan dan motivator untuk meninggalkan larangan itu. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ ﴿ "Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya dia," yaitu setan ﴾ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ ﴿ "menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji," yaitu segala perbuatan yang dianggap jelek oleh akal dan syariat berupa dosa-dosa besar disertai adanya kecon-dongan hati kepadanya ﴾ وَٱلۡمُنكَرِۚ ﴿ "dan yang mungkar" yaitu segala yang diingkari oleh akal dan tidak dikenal (sebagai perbuatan baik). Jadi, perbuatan-perbuatan maksiat yang merupakan langkah-langkah setan, tidak keluar dari bingkai ini. Maka Allah melarang hambaNya dari hal tersebut sebagai wujud kenikmatanNya atas mereka, supaya bersyukur dan mengingatNya. Karena yang demi-kian merupakan tameng penjagaan bagi mereka dari noda, kenis-taan, dan kejelekan-kejelekan mereka. Dan termasuk dari kebaikan Allah atas mereka, adalah melarang mereka dari semua itu seba-gaimana Allah melarang mereka dari (makan) racun-racun pem-bunuh dan semacamnya. ﴾ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا ﴿ "Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak se-orang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya," maksudnya tidak ada seorang pun yang bersih (selamat) dari mengikuti langkah-langkah setan. Karena setan ber-sama tentaranya itu akan selalu berupaya untuk menyeru kepada-nya dan memolesnya menjadi indah. Sementara itu, jiwa selalu cenderung kepada keburukan dan menyeru kepadanya. Keku-rangan terus menguasai diri seorang hamba dari segala penjuru, sementara iman tidak kuat. Bila ia dibiarkan terpengaruh oleh faktor-faktor itu, niscaya tidak ada seorang pun yang suci dengan membersihkan diri dari dosa-dosa dan kejelekan-kejelekannya serta (tidak mampu) meningkatkan amal kebaikannya. Sesungguhnya penyucian diri itu memuat unsur pembersihan dan peningkatan diri. Akan tetapi, karunia dan rahmatNya-lah yang menjadikan seseorang menyucikan dirinya. Termasuk doa nabi, اَللّٰهُمَّ آتِ نَفْسِيْ تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا، أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. "Ya Allah, berikanlah kepada diriku ketakwaan, dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik yang menyucikannya. Engkau adalah pe-nolong dan penguasanya."[16] Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ ﴿ "Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendakiNya," yaitu orang yang Allah ketahui akan membersihkan diri dengan menyucikan jiwanya. Oleh sebab itu, Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (22) ﴾ وَلَا يَأۡتَلِ ﴿ "Dan janganlah bersumpah," maksudnya me-ngeluarkan sumpah ﴾ أُوْلُواْ ٱلۡفَضۡلِ مِنكُمۡ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤۡتُوٓاْ أُوْلِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ ﴿ "orang-orang yang mempunyai kelebihan dan ke-lapangan di antara kamu bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada." Di antara orang yang larut dalam berita dusta ini adalah Misthah bin Utsasah, dia masih kerabat Abu Bakar ash-Shiddiq. Misthah seorang yang fakir dari golongan Muhajirin di jalan Allah. Abu Bakar bersumpah untuk tidak memberikan nafkah lagi kepada Misthah, karena ia telah mengatakan kabar dusta. Maka turunlah ayat ini, [Allah melarangnya] dari sumpah (yang mengandung substansi) menghentikan pemberian nafkah baginya, menganjurkan Abu Bakar untuk memaafkan dan berlapang dada dan menjanjikan kepadanya ampunan bila ia berkenan mema-afkannya. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Bila kalian memperlakukan ham-baNya dengan sikap maaf dan lapang dada, niscaya Allah akan memperlakukan kalian seperti itu. Mendengar ayat ini, Abu Bakar berkata, "Ya, demi Allah, sungguh aku benar-benar senang bila Allah mengampuniku." Selanjutnya, Abu Bakar kembali memberi-kan nafkah kepada Misthah. Dalam ayat ini, termuat dalil tentang pemberian nafkah ke-pada kerabat, dan bahwa pemberian nafkah dan curahan kebaikan (dari seseorang) tidak boleh diputus disebabkan perbuatan maksiat yang dia lakukan, serta anjuran untuk memberikan maaf dan ber-lapang dada, walaupun para pelaku kejelekan tersebut (masih terus) melakukan kejelekannya. (23) Kemudian Allah menyebutkan ancaman yang keras atas tindakan penuduhan kepada para wanita Mukminah yang menjaga kehormatannya (dari zina). Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik," maksudnya wanita-wanita yang menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat (zina) ﴾ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ﴿ "yang lengah," yang tidak terlintas dalam hati mereka ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "lagi beriman (berbuat zina) mereka mendapat laknat di dunia dan akhirat," laknat tidak jatuh kecuali pada perbuatan dosa besar. Kemudian, Allah menegaskan jatuhnya laknat dengan (memberitahukan) bahwa laknat tersebut berlangsung kontinyu pada mereka di dunia dan akhirat, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٞ ﴿ "dan mereka mendapatkan azab yang besar." Ini sebagai tambahan atas laknat. Allah menjauhkan mereka dari rahmatNya dan menurunkan dahsyatnya hukumanNya kepada mereka. Inilah azab yang terjadi pada Hari Kiamat. (24) ﴾ يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap amal yang dahulu mereka kerjakan," maksudnya setiap anggota badan bersaksi atas amal yang telah dilakukannya. Dzat yang membuat-nya berbicara adalah Dzat yang memberikan kemampuan komuni-kasi kepada segala sesuatu (yaitu Allah), sehingga tidak mungkin ia dapat mengingkarinya. Allah telah berbuat adil kepada hamba-Nya dengan menjadikan saksi dari diri mereka sendiri. (25) ﴾ يَوۡمَئِذٖ يُوَفِّيهِمُ ٱللَّهُ دِينَهُمُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya," maksudnya Allah memberi balasan atas perbuatan mereka dengan penuh keadilan dan tidak berat sebelah. Mereka mendapatkan balasan yang penuh, sedikit pun tidak ada yang dirasa hilang oleh mereka. ﴾ وَيَقُولُونَ يَٰوَيۡلَتَنَا مَالِ هَٰذَا ٱلۡكِتَٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةً إِلَّآ أَحۡصَىٰهَاۚ وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا 49 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia (pasti) mencatat semuanya,' dan mereka mendapatkan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun." (Al-Kahfi: 49). ﴾ وَيَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan tahulah mereka," di tempat yang dahsyat itu ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "bahwa Allah-lah yang benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya)," mereka mengetahui bahwa kebenaran yang nyata terbatas pada Allah تعالى saja, sifat-sifatNya yang agung adalah benar, perbuatan-perbuatanNya merupakan kebenaran, peribadahan kepadaNya adalah kebenaran, pertemuan denganNya (juga) benar, [janjiNya] dan ancamanNya adalah benar, hukum agama dan ketetapan balasanNya benar, RasulNya adalah benar, dan tidaklah di sana ada kebenaran melainkan pada Dzat Allah dan segala sesuatu yang datang dariNya. (26) ﴾ ٱلۡخَبِيثَٰتُ لِلۡخَبِيثِينَ وَٱلۡخَبِيثُونَ لِلۡخَبِيثَٰتِۖ ﴿ "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wa-nita-wanita yang keji (pula)," maksudnya, setiap yang keji dari kaum lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan bersesuaian, sejalan dan serupa dengan yang keji. Dan setiap yang baik, dari kalangan lelaki dan wanita (berupa) kata-kata dan perbuatan-perbuatan akan selaras, bertalian dan menyerupai de-ngan kebaikan. Ini adalah ungkapan umum, dan pembingkaian yang tidak ada sesuatu pun yang keluar darinya. Dan komponen-nya yang paling agung adalah bahwa para nabi, (khususnya dari kalangan ulul 'azmi, terutama penghulu mereka, Nabi Muhammad, yang merupakan sebaik-baik insan secara mutlak) mereka tidak sederajat kecuali dengan wanita-wanita yang baik. Jadi, mencoreng kehormatan Aisyah dengan tuduhan ini (perzinaan) berarti telah mencoreng Nabi. Sebenarnya, beliaulah yang dibidik oleh orang-orang munafik dengan dusta mereka. Dengan status Aisyah sebagai istri Rasulullah semata sudah dapat diketahui bahwa Aisyah adalah wanita yang baik lagi bersih dari perkara nista itu. Bagaimana mungkin (fitnah) itu terjadi sedangkan dia adalah wanita yang paling besar kepercayaannya (kepada Nabi), paling utama, paling berilmu dan terbaik, seorang kekasih bagi utusan Allah yang tidak pernah terjadi wahyu ditu-runkan kepada beliau ketika berada dalam selimut bersama para istri-istri selain dia?![17] Kemudian Allah menegaskan hal ini, di mana tidak menyisa-kan komentar lagi bagi para penolak, dan tidak ada ruang untuk ragu-ragu dan syubhat. Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَۖ ﴿ "Me-reka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu)," pada asalnya, isyarat ini mengarah kepada Aisyah, sedangkan para wanita Mukminah yang baik-baik, yang tidak pernah berpikir untuk berbuat tak senonoh ikut masuk ke dalam konteksnya yaitu mendapatkan ﴾ مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "ampunan," yang meng-hapuskan semua dosa ﴾ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan rizki yang mulia," di surga, yang berasal dari Rabb Yang Mahamulia.

An-Nur 24:27

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sehingga meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sehingga kamu men-dapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atas-mu memasuki rumah yang disediakan tidak untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (An-Nur: 27-29). (27) Allah mengarahkan para hambaNya yang Mukmin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin, karena hal ini menyebabkan beberapa bahaya: Pertama, hadits yang disebutkan oleh Rasulullah, إِنَّمَا جُعِلَ الْاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. "Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (bagi kalian) untuk alasan (penjagaan) pandangan."[18] Lantaran meremehkan perkara ini, pandangan mata menge-nai aurat-aurat (hal-hal yang tidak patut diketahui) dalam rumah. Sesungguhnya rumah itu bagi seorang manusia dalam menjaga auratnya, seperti kedudukan baju dalam menjaga aurat tubuhnya. Kedua, orang yang masuk tanpa izin akan memunculkan kecurigaan, ia akan disangka buruk sebagai pencuri dan lainnya. Karena masuk dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan kejelekan. Allah melarang kaum Mukminin untuk memasuki selain rumah mereka ﴾ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ﴿ "sehingga kalian meminta izin." Meminta izin (untuk masuk) dinamakan isti`nas karena, melalui izin akan meng-hasilkan keramahan, sedangkan ketiadaannya akan mengakibatkan kekakuan. ﴾ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ﴿ "Dan memberi salam kepada penghuninya," mekanismenya sebagaimana yang tertuang dalam salah satu hadits, اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ "Assalamu alaikum, apakah saya boleh masuk?"[19] ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," izin yang telah disinggung ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat," karena me-ngandung beberapa maslahat, termasuk budi pekerti mulia yang wajib dilakukan. Bila diizinkan, maka orang yang meminta izin itu boleh masuk ke dalam. (28) ﴾ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا ﴿ "Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya," maka janganlah kalian masuk ke dalamnya ﴾ حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ ﴿ "sehingga kamu mendapat izin. Dan jika dikata-kan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali," mak-sudnya jangan kalian menampik untuk kembali dan jangan kalian marah karena tidak diizinkan. Karena, pemilik rumah tidak sedang menghalangi hak kalian yang harus dipenuhi. Pemberian izin sifat-nya sukarela. Terserah dia, mau memberi izin atau menolaknya. Maka, janganlah sampai terbawa oleh kesombongan dan perasaan antipati dengan keadaan seperti ini. ﴾ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ ﴿ "Itu lebih bersih bagimu," maksudnya lebih maksimal untuk membersihkan dari kejelekan dan menambah kebaikan-kebaikan kalian. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang diamalkannya, tergantung banyak atau sedikit, baik atau jeleknya. (29) Hukum ini berlaku di rumah yang dihuni, baik di da-lamnya terdapat perabotan seseorang ataupun tidak. Juga berlaku di rumah yang tidak dihuni yang di dalamnya tidak tersimpan barang miliknya. Adapun rumah yang tidak berpenghuni, yang di dalamnya terdapat barang keperluan orang yang masuk ke dalam-nya sementara tiada seorang pun yang dapat dimintai izin, –demi-kian ini seperti rumah-rumah yang kosong dan sejenisnya–. Maka Allah telah menyebutkannya dalam FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu," maksudnya (tidak ada) hukuman dan kesa-lahan. Hal ini menunjukkan bahwa memasuki rumah-rumah yang telah disebutkan sebelumnya (yang berpenghuni) tanpa izin hu-kumnya haram dan menimbulkan kesalahan. ﴾ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Memasuki rumah yang disedia-kan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu." Ini termasuk bentuk pengecualian yang mengagumkan dalam al-Qur`an, karena Firman Allah, ﴾ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu memasuki rumah selain rumah kamu," adalah lafazh umum, mencakup setiap rumah yang bukan hak milik seseorang. Allah mengecualikan dari rumah-rumah ini, rumah yang bukan hak milik seseorang, tetapi di dalamnya terdapat barang keperluannya, dan tidak berpenghuni. Allah memperbolehkan memasukinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan," yaitu keadaan kalian yang nampak ataupun tidak, dan mengetahui kemaslahatan kalian. Karenanya, Allah mensya-riatkan untuk kalian hukum-hukum syar'i yang kalian butuhkan dan perlukan.

An-Nur 24:28

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sehingga meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sehingga kamu men-dapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atas-mu memasuki rumah yang disediakan tidak untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (An-Nur: 27-29). (27) Allah mengarahkan para hambaNya yang Mukmin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin, karena hal ini menyebabkan beberapa bahaya: Pertama, hadits yang disebutkan oleh Rasulullah, إِنَّمَا جُعِلَ الْاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. "Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (bagi kalian) untuk alasan (penjagaan) pandangan."[18] Lantaran meremehkan perkara ini, pandangan mata menge-nai aurat-aurat (hal-hal yang tidak patut diketahui) dalam rumah. Sesungguhnya rumah itu bagi seorang manusia dalam menjaga auratnya, seperti kedudukan baju dalam menjaga aurat tubuhnya. Kedua, orang yang masuk tanpa izin akan memunculkan kecurigaan, ia akan disangka buruk sebagai pencuri dan lainnya. Karena masuk dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan kejelekan. Allah melarang kaum Mukminin untuk memasuki selain rumah mereka ﴾ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ﴿ "sehingga kalian meminta izin." Meminta izin (untuk masuk) dinamakan isti`nas karena, melalui izin akan meng-hasilkan keramahan, sedangkan ketiadaannya akan mengakibatkan kekakuan. ﴾ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ﴿ "Dan memberi salam kepada penghuninya," mekanismenya sebagaimana yang tertuang dalam salah satu hadits, اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ "Assalamu alaikum, apakah saya boleh masuk?"[19] ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," izin yang telah disinggung ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat," karena me-ngandung beberapa maslahat, termasuk budi pekerti mulia yang wajib dilakukan. Bila diizinkan, maka orang yang meminta izin itu boleh masuk ke dalam. (28) ﴾ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا ﴿ "Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya," maka janganlah kalian masuk ke dalamnya ﴾ حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ ﴿ "sehingga kamu mendapat izin. Dan jika dikata-kan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali," mak-sudnya jangan kalian menampik untuk kembali dan jangan kalian marah karena tidak diizinkan. Karena, pemilik rumah tidak sedang menghalangi hak kalian yang harus dipenuhi. Pemberian izin sifat-nya sukarela. Terserah dia, mau memberi izin atau menolaknya. Maka, janganlah sampai terbawa oleh kesombongan dan perasaan antipati dengan keadaan seperti ini. ﴾ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ ﴿ "Itu lebih bersih bagimu," maksudnya lebih maksimal untuk membersihkan dari kejelekan dan menambah kebaikan-kebaikan kalian. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang diamalkannya, tergantung banyak atau sedikit, baik atau jeleknya. (29) Hukum ini berlaku di rumah yang dihuni, baik di da-lamnya terdapat perabotan seseorang ataupun tidak. Juga berlaku di rumah yang tidak dihuni yang di dalamnya tidak tersimpan barang miliknya. Adapun rumah yang tidak berpenghuni, yang di dalamnya terdapat barang keperluan orang yang masuk ke dalam-nya sementara tiada seorang pun yang dapat dimintai izin, –demi-kian ini seperti rumah-rumah yang kosong dan sejenisnya–. Maka Allah telah menyebutkannya dalam FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu," maksudnya (tidak ada) hukuman dan kesa-lahan. Hal ini menunjukkan bahwa memasuki rumah-rumah yang telah disebutkan sebelumnya (yang berpenghuni) tanpa izin hu-kumnya haram dan menimbulkan kesalahan. ﴾ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Memasuki rumah yang disedia-kan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu." Ini termasuk bentuk pengecualian yang mengagumkan dalam al-Qur`an, karena Firman Allah, ﴾ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu memasuki rumah selain rumah kamu," adalah lafazh umum, mencakup setiap rumah yang bukan hak milik seseorang. Allah mengecualikan dari rumah-rumah ini, rumah yang bukan hak milik seseorang, tetapi di dalamnya terdapat barang keperluannya, dan tidak berpenghuni. Allah memperbolehkan memasukinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan," yaitu keadaan kalian yang nampak ataupun tidak, dan mengetahui kemaslahatan kalian. Karenanya, Allah mensya-riatkan untuk kalian hukum-hukum syar'i yang kalian butuhkan dan perlukan.

An-Nur 24:29

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sehingga meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sehingga kamu men-dapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tidak ada dosa atas-mu memasuki rumah yang disediakan tidak untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan." (An-Nur: 27-29). (27) Allah mengarahkan para hambaNya yang Mukmin untuk tidak memasuki rumah orang lain tanpa izin, karena hal ini menyebabkan beberapa bahaya: Pertama, hadits yang disebutkan oleh Rasulullah, إِنَّمَا جُعِلَ الْاِسْتِئْذَانُ مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ. "Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (bagi kalian) untuk alasan (penjagaan) pandangan."[18] Lantaran meremehkan perkara ini, pandangan mata menge-nai aurat-aurat (hal-hal yang tidak patut diketahui) dalam rumah. Sesungguhnya rumah itu bagi seorang manusia dalam menjaga auratnya, seperti kedudukan baju dalam menjaga aurat tubuhnya. Kedua, orang yang masuk tanpa izin akan memunculkan kecurigaan, ia akan disangka buruk sebagai pencuri dan lainnya. Karena masuk dengan sembunyi-sembunyi menunjukkan kejelekan. Allah melarang kaum Mukminin untuk memasuki selain rumah mereka ﴾ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ﴿ "sehingga kalian meminta izin." Meminta izin (untuk masuk) dinamakan isti`nas karena, melalui izin akan meng-hasilkan keramahan, sedangkan ketiadaannya akan mengakibatkan kekakuan. ﴾ وَتُسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَهۡلِهَاۚ ﴿ "Dan memberi salam kepada penghuninya," mekanismenya sebagaimana yang tertuang dalam salah satu hadits, اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ، أَأَدْخُلُ؟ "Assalamu alaikum, apakah saya boleh masuk?"[19] ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," izin yang telah disinggung ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ ﴿ "lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat," karena me-ngandung beberapa maslahat, termasuk budi pekerti mulia yang wajib dilakukan. Bila diizinkan, maka orang yang meminta izin itu boleh masuk ke dalam. (28) ﴾ فَإِن لَّمۡ تَجِدُواْ فِيهَآ أَحَدٗا ﴿ "Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya," maka janganlah kalian masuk ke dalamnya ﴾ حَتَّىٰ يُؤۡذَنَ لَكُمۡۖ وَإِن قِيلَ لَكُمُ ٱرۡجِعُواْ فَٱرۡجِعُواْۖ ﴿ "sehingga kamu mendapat izin. Dan jika dikata-kan kepadamu, 'Kembali (saja)lah,' maka hendaklah kamu kembali," mak-sudnya jangan kalian menampik untuk kembali dan jangan kalian marah karena tidak diizinkan. Karena, pemilik rumah tidak sedang menghalangi hak kalian yang harus dipenuhi. Pemberian izin sifat-nya sukarela. Terserah dia, mau memberi izin atau menolaknya. Maka, janganlah sampai terbawa oleh kesombongan dan perasaan antipati dengan keadaan seperti ini. ﴾ هُوَ أَزۡكَىٰ لَكُمۡۚ ﴿ "Itu lebih bersih bagimu," maksudnya lebih maksimal untuk membersihkan dari kejelekan dan menambah kebaikan-kebaikan kalian. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas setiap orang sesuai dengan apa yang diamalkannya, tergantung banyak atau sedikit, baik atau jeleknya. (29) Hukum ini berlaku di rumah yang dihuni, baik di da-lamnya terdapat perabotan seseorang ataupun tidak. Juga berlaku di rumah yang tidak dihuni yang di dalamnya tidak tersimpan barang miliknya. Adapun rumah yang tidak berpenghuni, yang di dalamnya terdapat barang keperluan orang yang masuk ke dalam-nya sementara tiada seorang pun yang dapat dimintai izin, –demi-kian ini seperti rumah-rumah yang kosong dan sejenisnya–. Maka Allah telah menyebutkannya dalam FirmanNya, ﴾ لَّيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu," maksudnya (tidak ada) hukuman dan kesa-lahan. Hal ini menunjukkan bahwa memasuki rumah-rumah yang telah disebutkan sebelumnya (yang berpenghuni) tanpa izin hu-kumnya haram dan menimbulkan kesalahan. ﴾ أَن تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ مَسۡكُونَةٖ فِيهَا مَتَٰعٞ لَّكُمۡۚ ﴿ "Memasuki rumah yang disedia-kan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu." Ini termasuk bentuk pengecualian yang mengagumkan dalam al-Qur`an, karena Firman Allah, ﴾ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "Janganlah kamu memasuki rumah selain rumah kamu," adalah lafazh umum, mencakup setiap rumah yang bukan hak milik seseorang. Allah mengecualikan dari rumah-rumah ini, rumah yang bukan hak milik seseorang, tetapi di dalamnya terdapat barang keperluannya, dan tidak berpenghuni. Allah memperbolehkan memasukinya. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تُبۡدُونَ وَمَا تَكۡتُمُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan," yaitu keadaan kalian yang nampak ataupun tidak, dan mengetahui kemaslahatan kalian. Karenanya, Allah mensya-riatkan untuk kalian hukum-hukum syar'i yang kalian butuhkan dan perlukan.

An-Nur 24:30

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, 'Hendak-lah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya,' yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (An-Nur: 30). (30) Maksudnya, berilah pengarahan dan katakan kepada kaum Mukminin, yang masih mempunyai keimanan yang dapat mencegah mereka terjerumus dalam perbuatan yang menodai keimanan mereka, ﴾ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "Hendaklah mereka menahan pandangannya," dari melihat aurat-aurat (hal-hal yang tak pantas dilihat) dan wanita-wanita asing (yang bukan mahram) dan anak-anak kecil yang rupawan, yang ditakutkan terjadi fitnah bila me-lihatnya, atau (menahan) dari melihat perhiasan dunia yang dapat memperdayai dan menjerumuskan pada perkara yang diharamkan ﴾ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ ﴿ "dan memelihara kemaluannya," dari perbuatan jimak yang haram, baik lewat jalan depan (qubul) ataupun jalan belakang (dubur) atau selainnya, dan usaha untuk memegang dan melihat kepadanya (kemaluan). ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yaitu menjaga pandangan dan ke-maluan ﴾ أَزۡكَىٰ لَهُمۡۚ ﴿ "adalah lebih suci bagi mereka," lebih suci, lebih baik serta lebih meningkatkan amal-amal mereka. Karena sesungguh-nya orang yang menjaga kemaluan dan pandangannya, akan ter-sucikan dari kejelekan yang mengotori para pelaku kemaksiatan, amalan-amalan mereka menjadi bersih lantaran telah meninggalkan sesuatu yang haram, yang disukai oleh hawa nafsu secara bawaan dan mengajak ke sana. Barangsiapa yang meninggalkan suatu kejelekan karena Allah, niscaya Allah akan memberikan ganti baginya dengan sesuatu yang lebih baik darinya. Barangsiapa yang menjaga pandangannya dari perkara haram, maka Allah akan menyinari mata hatinya. Dan lantaran seorang hamba jika dia berhasil menjaga kema-luan dan pandangannya dari perkara haram dan pencetus rang-sangan syahwat, maka penjagaannya terhadap perkara lainnya, akan lebih maksimal. Karenanya, Allah menyebutnya dengan istilah hifzh (penjagaan). Sesuatu yang terjaga, jika pemiliknya tidak serius dalam mengawasinya dan menjaganya, dan menempuh usaha-usaha yang akan membantu pemeliharaannya, maka tidak akan dapat terpelihara. Begitu pula pandangan dan kemaluannya, bila tidak ada usaha dari seorang hamba untuk menjaga keduanya, maka akan menjatuhkan dirinya kepada malapetaka dan musibah. Perhatikanlah, bagaimana Allah memerintahkan penjagaan kemaluan secara mutlak, karena ia tidak boleh (ditelantarkan) dalam keadaan apa pun. Sementara itu, berkaitan dengan pandangan, Allah berfirman, ﴾ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "Hendaklah mereka menahan seba-gian pandangannya." Allah menggunakan kata yang menunjukkan arti sebagian, karena dalam keadaan tertentu diperbolehkan untuk melihat (sesuatu yang diharamkan) untuk suatu kebutuhan, seperti melihatnya ketika menjadi saksi, orang yang mengoperasi, pemi-nang dan lain sebagainya. Kemudian Allah mengingatkan mereka tentang ilmuNya terhadap amal-amal mereka, supaya mereka berusaha secara maksimal dalam menjaga diri mereka dari hal-hal yang diharamkan.

An-Nur 24:31

"Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah me-reka menahan pandangannya, dan menjaga kemaluannya, dan ja-nganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudari perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pela-yan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui per-hiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu berun-tung'." (An-Nur: 31). (31) Setelah memerintahkan kaum Mukminin untuk me-nundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka, Allah pun memerintahkan para wanita Mukminah dengannya. Allah ber-firman, ﴾ وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ ﴿ "Katakanlah kepada wanita yang beriman, 'Hendaklah mereka menahan pandangannya'," dari melihat aurat-aurat dan lelaki dengan penuh syahwat dan pandangan lain yang terlarang. ﴾ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوجَهُنَّ ﴿ "Dan menjaga kemaluannya," dari (ke-sempatan) untuk dapat menyetubuhinya, menyentuh dan melihat yang diharamkan kepadanya. ﴾ وَلَا يُبۡدِينَ زِينَتَهُنَّ ﴿ "Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya," seperti pakaian yang indah, perhiasan-perhiasan dan seluruh tubuhnya termasuk dalam pengertian per-hiasan (zinah). Manakala baju luar harus mereka kenakan, maka Allah berfirman, ﴾ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَاۖ ﴿ "kecuali yang (biasa) nampak darinya," baju luar yang biasa dipakai, selama tidak memicu munculnya fitnah. ﴾ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ ﴿ "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya," demikian ini agar lebih sempurna dalam me-nutupi. Ini menunjukkan bahwa perhiasan yang haram untuk ditam-pakkan adalah mencakup seluruh tubuh wanita sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya. Kemudian Allah mengulang kembali larangan menampakkan perhiasan, guna mengecualikan sebagiannya. Firman Allah, ﴾ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ ﴿ "kecuali kepada suami mereka," terhadap para suami mereka ﴾ أَوۡ ءَابَآئِهِنَّ أَوۡ ءَابَآءِ بُعُولَتِهِنَّ ﴿ "atau ayah mereka, atau ayah suami mereka," yang mencakup bapak itu sendiri, kakek dan seterusnya ﴾ أَوۡ أَبۡنَآئِهِنَّ أَوۡ أَبۡنَآءِ بُعُولَتِهِنَّ ﴿ "atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka," termasuk anak laki-lakinya atau anak-anak suaminya dan seterus-nya dari keturunan mereka ﴾ أَوۡ إِخۡوَٰنِهِنَّ أَوۡ بَنِيٓ إِخۡوَٰنِهِنَّ ﴿ "atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka," saudara kandung, atau saudara seayah atau seibu, ﴾ أَوۡ بَنِيٓ أَخَوَٰتِهِنَّ أَوۡ نِسَآئِهِنَّ ﴿ "atau putra-putra saudari perempuan mereka, atau wanita-wanita mereka," maksudnya boleh bagi para wanita untuk melihat kepada wanita yang lain secara mutlak. Dimungkinkan juga idhafah (penyandaran) 'wanita mereka' menunjukkan pengertian jenis wanita tertentu, yaitu wanita Muslimah yang berasal dari jenis kalian. Di dalam-nya, terdapat dalil bagi ulama yang berpendapat: "Sesungguhnya (aurat) seorang wanita Muslimah tidak boleh dilihat oleh wanita dzimmiyah (non Muslim). ﴾ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُهُنَّ ﴿ "Atau budak-budak yang mereka miliki," se-hingga dibolehkan bagi budak lelaki (bila seluruh jiwanya milik seorang wanita), untuk melihat kepada tuan wanitanya selama wanita tersebut memilikinya secara keseluruhan. Namun, bila ke-pemilikannya hilang atau hanya sebagian saja, maka dia tidak di-perbolehkan untuk melihatnya. ﴾ أَوِ ٱلتَّٰبِعِينَ غَيۡرِ أُوْلِي ٱلۡإِرۡبَةِ مِنَ ٱلرِّجَالِ ﴿ "Atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita)," maksudnya [atau] orang-orang yang mengikuti kalian, bergantung kepada kalian, baik dari kaum lelaki yang tidak mem-punyai gejolak nafsu terhadap syahwat ini, semisal orang gila yang tidak sadar dengan apa yang terjadi, atau lelaki impoten yang sudah tidak mempunyai birahi lagi, baik pada kemaluan ataupun hatinya, semua jenis lelaki ini tidak dilarang untuk dilihat. ﴾ أَوِ ٱلطِّفۡلِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ ﴿ "Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita," maksudnya, anak-anak yang belum memasuki usia tamyiz (kurang dari tujuh tahunan. Pent.), mereka boleh melihat para wanita. Allah mengemukakan illatnya bahwa mereka ﴾ لَمۡ يَظۡهَرُواْ عَلَىٰ عَوۡرَٰتِ ٱلنِّسَآءِۖ ﴿ "belum mengerti tentang aurat wanita," maksudnya belum mengerti tentang aurat wanita, dan belum muncul nafsu syahwat pada mereka. Jadi, ini menunjukkan bahwa seorang wanita harus menutup auratnya dari pandangan seorang anak yang sudah memasuki usia tamyiz, karena ia telah memahami aurat wanita. ﴾ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِأَرۡجُلِهِنَّ لِيُعۡلَمَ مَا يُخۡفِينَ مِن زِينَتِهِنَّۚ ﴿ "Dan janganlah mereka me-mukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan," maksudnya janganlah mereka menghentakkan kaki mereka ke tanah agar perhiasan-perhiasan yang ada di kaki mereka bersuara semisal gelang kaki dan sejenisnya, hingga diketahui perhiasannya disebabkannya sehingga menjadi media menuju fitnah. Dapat dipetik dari ayat ini dan ayat lain yang serupa, kaidah Sadd al-Wasa`il (keharusan menutup akses kepada kejelekan). Se-sungguhnya sebuah perkara yang mubah, akan tetapi dapat meng-hantarkan kepada perbuatan haram atau ditakutkan akan terjadi perbuatan yang dilarang, maka perkara tersebut terlarang. Meng-hentakkan kaki ke tanah, pada asalnya boleh, namun lantaran ia menjadi jalan tersibaknya perhiasan, maka ia dilarang. Usai memerintahkan sekumpulan perintah yang baik dan mewasiatkan wasiat-wasiat yang indah, sudah tentu akan terjadi kelalaian dalam pelaksanaannya dari seorang Mukmin dalam masalah itu, maka Allah memerintahkan mereka untuk bertaubat. Allah berfirman, ﴾ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang beriman," [karena seorang Mukmin, keimanannya mengajak kepada taubat]. Kemudian Allah mengaitkan kebahagiaan dengannya. Allah berfirman, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "Supaya kamu beruntung," sehingga tidak ada jalan menuju kebe-runtungan kecuali dengan taubat, yaitu, kembali dari hal-hal yang dibenci oleh Allah, baik lahir atau yang batin menuju perkara-per-kara yang Dia cintai, baik secara lahir maupun batin. Keterangan ini menandakan bahwa setiap Mukmin membutuhkan taubat, lan-taran Allah telah mengarahkan pembicaraan kepada seluruh kaum Mukminin. Dalam ayat ini (juga) termuat anjuran untuk berbuat ikhlas dalam bertaubat pada FirmanNya, ﴾ وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "maka ber-taubatlah kamu sekalian kepada Allah," maksudnya bukan untuk tujuan selain wajahNya, berupa keselamatan dari gangguan-gangguan keduniaan, riya`, sum`ah, atau orientasi-orientasi rusak lain.

An-Nur 24:32

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perem-puan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendak-lah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keun-tungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka se-sungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu." (An-Nur: 32-33). (32) Allah تعالى memerintahkan para wali dan tuan-tuan untuk menikahkan orang-orang yang ada dalam perwaliannya dari golongan ayama (orang-orang yang sendirian). Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai pasangan, lelaki atau perem-puan, janda atau perawan. Maka, wajib bagi kerabatnya dan wali anak yatim itu untuk menikahkan orang yang membutuhkan per-nikahan dari orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggungan si wali. Bila mereka diperintahkan untuk menikahkan orang-orang yang berada di bawah tanggungan mereka, maka perintah kepada mereka untuk menikah lebih utama lagi. ﴾ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ ﴿ "Dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan." Dimungkin-kan bahwa maksud dari orang-orang yang layak (menikah) adalah yang baik agamanya. Yang dimaksud dengan "orang-orang yang shalih (layak menikah)" adalah kebaikan agama (mereka), dan bahwa orang shalih, baik dari budak lelaki atau budak wanita –yang tidak melakukan perbuatan jahat dan zina– pemiliknya diperintahkan untuk menikahkannya sebagai balasan atas kebaikannya dan an-juran kepadanya dalam perkara tersebut. Karena orang yang sudah rusak yang disebabkan zina, dilarang untuk dinikahi. Sehingga menjadi pendukung terhadap ketetapan yang telah disebutkan di permulaan surat, bahwasanya pernikahan lelaki pezina dan perem-puan pezina diharamkan sampai dia bertaubat. Jadi, pengkhususan sifat keshalihan (kelayakan) adalah pada diri budak lelaki dan budak wanita saja, bukan untuk orang yang merdeka, lantaran banyak ditemukan perzinaan di kalangan hamba. Dimungkinkan pula maksud dari 'orang-orang yang shalih' adalah orang-orang yang sudah pantas menikah, lagi membutuh-kannya, baik para budak laki-laki dan perempuan. Pengertian ini ditopang oleh realita bahwa seorang tuan tidak diperintahkan untuk menikahkan budaknya sebelum membutuhkan perkawinan. Tidak terlalu kabur cakupan dua makna ini sekaligus (pada ayat ini). Wallahu a'lam. Firman Allah, ﴾ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ ﴿ "Jika mereka miskin," yaitu para suami dan orang yang telah m e n i k a h ﴾ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "niscaya Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya," sehingga janganlah menjadi penghalang apa yang kalian dugakan bahwa bila dia me-nikah nanti, maka akan jatuh miskin sebab banyaknya tanggungan dan lainnya. Pada ayat ini terkandung anjuran untuk menikah dan janji Allah kepada orang yang menikah dengan kecukupan setelah kondisi kefakirannya. ﴾ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ ﴿ "Dan Allah Mahaluas," banyak ke-baikanNya dan agung karuniaNya, ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," tentang orang-orang yang berhak menerima karuniaNya, yang bersifat agama dan duniawi atau (berhak mendapat) salah satunya dari orang-orang yang tidak berhak. Maka masing-masing diberi-kan sesuai dengan apa yang diketahuiNya dan (sesuai) dengan tuntutan hukumNya. (33) ﴾ وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, se-hingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya." Hukum ini bagi orang yang tidak mampu untuk menikah. Allah memerintah-kannya menjaga kehormatan, menahan diri dari perbuatan yang haram, dan menempuh cara-cara yang menghalangi dirinya dari perbuatan buruk itu, seperti menepis dorongan-dorongan hatinya dari pikiran-pikiran yang terbetik untuk menjerumuskan dirinya ke dalamnya. (Hendaknya) juga mengerjakan seperti yang disam-paikan oleh Nabi, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. "Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup untuk me-nikah maka menikahlah, dan barangsiapa belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya."[20] Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mampu kawin," maksudnya tidak mampu menikah, karena miskin, atau kepapaan para wali atau tuan mereka, atau penolakan para wali dan sayyid untuk menikahkan mereka, sementara mereka tidak memiliki kemampuan untuk memaksa para wali dan tuan melakukannya. Penafsiran ini lebih baik daripada penafsiran mereka yang menafsirkannya 'tidak mendapatkan mahar nikah'. (Dengan kete-rangan ini) mereka telah menjadikan mudhaf 'ilaih (benda yang disandari) sebagai na`ib manab al-mudhaf (pengganti kedudukan mudhaf). Sesungguhnya dalam perlakuan ini mengandung dua larangan: Pertama, membuang (suatu bagian) dalam perkataan. Padahal, pada asalnya, tidak boleh terjadi pembuangan. Yang kedua: Makna (penafsiran itu) hanya terbatas pada orang yang mempunyai dua keadaan: Keadaan kecukupan harta, dan keadaan tiada berharta. Akibatnya, budak lelaki, perempuan dan orang-orang yang pernikahannya berada dalam hak wali tidak masuk dalam konteks ini, sebagaimana telah kami sebutkan, ﴾ حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya," seba-gai janji terhadap orang yang menjaga dirinya, bahwa Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya dan memudahkan urusannya, dan perintah baginya untuk menunggu jalan keluar agar keadaannya itu tidak membuatnya merasa keberatan. Firman Allah, ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ خَيۡرٗاۖ ﴿ "Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka," maksudnya barangsiapa ingin dan me-minta kepada kalian mukatabah (perjanjian pembebasan dengan syarat penebusan), budak lelaki atau perempuan, maka sambutlah permintaannya, dan buatlah perjanjian. ﴾ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ ﴿ "Jika kamu mengetahui pada mereka," yaitu orang-orang yang meminta untuk diadakan perjanjian ﴾ خَيۡرٗاۖ ﴿ "ada kebaikan," yaitu kemampuan untuk mencari penghasilan dan kebaikan aga-manya. Karena, pada proses perjanjian ini terdapat dua maslahat: Maslahat pembebasan dan kemerdekaan, dan maslahat transaksi yang akan ia berikan kepada sang pemilik untuk menebus dirinya. Barangkali ia akan giat dan bersungguh-sungguh dan mendapat-kan (sejumlah) uang untuk tuannya yang tidak dia peroleh (bagi tuannya) ketika masih menjadi budak, sehingga tidak merugikan pemiliknya dalam masalah perjanjian ini, disertai manfaat yang sangat besar yang diperoleh budak tersebut. Karenanya, Allah memerintahkan perjanjian ini dalam bentuk perintah yang wajib sebagaimana terlihat dari zahirnya, atau perintah tersebut bersifat sunnah menurut pendapat yang lain. Dan Allah memerintahkan untuk membantu mereka (menyelesaikan) perjanjiannya. Pasalnya, mereka itu termasuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan, lantaran tidak mempunyai harta. Allah berfirman, ﴾ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡۚ ﴿ "Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepada-mu." Masuk dalam kategori ini adalah perintah kepada tuannya yang mengadakan perjanjian agar memberinya sedikit (keringanan) dari perjanjiannya atau menggugurkan sebagian pembayarannya dan memerintahkan orang-orang untuk menolong mereka. Karena itu, Allah menetapkan bagian zakat bagi budak-budak yang telah membuat perjanjian dan menganjurkan penyerahannya dengan FirmanNya, ﴾ مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡۚ ﴿ "Dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu," maksudnya sebagaimana harta adalah milik Allah, kekayaan yang ada pada tangan kalian hanyalah anugerah dari Allah untuk kalian dan murni sebagai karuniaNya, maka berbuat baiklah kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Dia telah berbuat baik kepada kalian. Makna tersirat dari ayat yang mulia ini bahwa seorang budak apabila dia tidak meminta mukatabah (perjanjian kebebasan), maka tuannya tidak diperintahkan untuk memulai perjanjian tersebut, dan bahwa apabila dia tidak mengetahui kebaikan padanya, dengan cara, mengetahui latar belakangnya yang tidak baik, mengetahui si budak tidak dapat mencari uang, hingga menyebabkannya men-jadi benalu bagi orang lain dan terseok-seok. Atau dia khawatir bila dimerdekakan, maka (dalam kebebasannya ini) ia akan me-nyebabkan kerusakan. Maka si pemilik tidak diperintahkan untuk membuat perjanjian dengannya. Bahkan dilarang untuk melaku-kannya, karena mengandung bahaya yang telah disebutkan. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu," yakni, dari budak-budak pe-rempuan kalian ﴾ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ ﴿ "untuk melakukan pelacuran," maksudnya untuk menjadi wanita pezina ﴾ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنٗا ﴿ "sedang mereka sendiri menginginkan kesucian," karena pemaksaan terhadapnya tidak dapat dibayangkan kecuali dalam keadaan seperti ini. Namun bila tidak ada keinginan untuk menjaga dirinya, maka sesungguhnya wanita tersebut seorang pelacur yang wajib atas tuannya untuk melarang-nya dari perbuatan itu. Sesungguhnya larangan ini disebabkan kebiasaan yang mereka kerjakan di masa Jahiliyah, yaitu seorang pemilik budak memaksa budak wanitanya untuk melakukan zina, agar memperoleh upah dari perbuatan tersebut. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi," maka tidak pantas bagi kalian bila budak kalian lebih baik daripada diri kalian, dan lebih menjaga diri dari perbuatan zina daripada kalian. Sementara itu kalian melakukannya pada mereka demi meraih keuntungan duniawi dan kenikmatan sedikit yang datang lalu akan sirna. Penghasilan kalian dengan cara mulia, bersih dan baik, (terlepas dari keberadaan balasan akhirat) adalah lebih utama daripada usaha kalian memperoleh kenikmatan yang sepele yang akan menghasilkan kehinaan dan kerendahan bagi kalian. Kemudian Allah menyeru orang yang melakukan pemaksaan untuk bertaubat, seraya berfirman, ﴾ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٰهِهِنَّ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu." Hendaknya dia bertaubat kepada Allah, melepaskan diri dari segala yang muncul darinya yang menimbulkan kemurka-anNya. Bila dia melakukan hal ini, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan menyayanginya, sebagaimana dia telah menyayangi dirinya sendiri dengan membebaskannya dari azab, karena ia telah memberikan kasih sayang kepada budaknya de-ngan tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.

An-Nur 24:33

"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perem-puan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui. Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendak-lah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keun-tungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka se-sungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu." (An-Nur: 32-33). (32) Allah تعالى memerintahkan para wali dan tuan-tuan untuk menikahkan orang-orang yang ada dalam perwaliannya dari golongan ayama (orang-orang yang sendirian). Mereka adalah orang-orang yang tidak mempunyai pasangan, lelaki atau perem-puan, janda atau perawan. Maka, wajib bagi kerabatnya dan wali anak yatim itu untuk menikahkan orang yang membutuhkan per-nikahan dari orang-orang yang nafkahnya menjadi tanggungan si wali. Bila mereka diperintahkan untuk menikahkan orang-orang yang berada di bawah tanggungan mereka, maka perintah kepada mereka untuk menikah lebih utama lagi. ﴾ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَإِمَآئِكُمۡۚ ﴿ "Dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan." Dimungkin-kan bahwa maksud dari orang-orang yang layak (menikah) adalah yang baik agamanya. Yang dimaksud dengan "orang-orang yang shalih (layak menikah)" adalah kebaikan agama (mereka), dan bahwa orang shalih, baik dari budak lelaki atau budak wanita –yang tidak melakukan perbuatan jahat dan zina– pemiliknya diperintahkan untuk menikahkannya sebagai balasan atas kebaikannya dan an-juran kepadanya dalam perkara tersebut. Karena orang yang sudah rusak yang disebabkan zina, dilarang untuk dinikahi. Sehingga menjadi pendukung terhadap ketetapan yang telah disebutkan di permulaan surat, bahwasanya pernikahan lelaki pezina dan perem-puan pezina diharamkan sampai dia bertaubat. Jadi, pengkhususan sifat keshalihan (kelayakan) adalah pada diri budak lelaki dan budak wanita saja, bukan untuk orang yang merdeka, lantaran banyak ditemukan perzinaan di kalangan hamba. Dimungkinkan pula maksud dari 'orang-orang yang shalih' adalah orang-orang yang sudah pantas menikah, lagi membutuh-kannya, baik para budak laki-laki dan perempuan. Pengertian ini ditopang oleh realita bahwa seorang tuan tidak diperintahkan untuk menikahkan budaknya sebelum membutuhkan perkawinan. Tidak terlalu kabur cakupan dua makna ini sekaligus (pada ayat ini). Wallahu a'lam. Firman Allah, ﴾ إِن يَكُونُواْ فُقَرَآءَ ﴿ "Jika mereka miskin," yaitu para suami dan orang yang telah m e n i k a h ﴾ يُغۡنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "niscaya Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya," sehingga janganlah menjadi penghalang apa yang kalian dugakan bahwa bila dia me-nikah nanti, maka akan jatuh miskin sebab banyaknya tanggungan dan lainnya. Pada ayat ini terkandung anjuran untuk menikah dan janji Allah kepada orang yang menikah dengan kecukupan setelah kondisi kefakirannya. ﴾ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ ﴿ "Dan Allah Mahaluas," banyak ke-baikanNya dan agung karuniaNya, ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," tentang orang-orang yang berhak menerima karuniaNya, yang bersifat agama dan duniawi atau (berhak mendapat) salah satunya dari orang-orang yang tidak berhak. Maka masing-masing diberi-kan sesuai dengan apa yang diketahuiNya dan (sesuai) dengan tuntutan hukumNya. (33) ﴾ وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, se-hingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya." Hukum ini bagi orang yang tidak mampu untuk menikah. Allah memerintah-kannya menjaga kehormatan, menahan diri dari perbuatan yang haram, dan menempuh cara-cara yang menghalangi dirinya dari perbuatan buruk itu, seperti menepis dorongan-dorongan hatinya dari pikiran-pikiran yang terbetik untuk menjerumuskan dirinya ke dalamnya. (Hendaknya) juga mengerjakan seperti yang disam-paikan oleh Nabi, يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. "Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah sanggup untuk me-nikah maka menikahlah, dan barangsiapa belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu adalah perisai baginya."[20] Firman Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mampu kawin," maksudnya tidak mampu menikah, karena miskin, atau kepapaan para wali atau tuan mereka, atau penolakan para wali dan sayyid untuk menikahkan mereka, sementara mereka tidak memiliki kemampuan untuk memaksa para wali dan tuan melakukannya. Penafsiran ini lebih baik daripada penafsiran mereka yang menafsirkannya 'tidak mendapatkan mahar nikah'. (Dengan kete-rangan ini) mereka telah menjadikan mudhaf 'ilaih (benda yang disandari) sebagai na`ib manab al-mudhaf (pengganti kedudukan mudhaf). Sesungguhnya dalam perlakuan ini mengandung dua larangan: Pertama, membuang (suatu bagian) dalam perkataan. Padahal, pada asalnya, tidak boleh terjadi pembuangan. Yang kedua: Makna (penafsiran itu) hanya terbatas pada orang yang mempunyai dua keadaan: Keadaan kecukupan harta, dan keadaan tiada berharta. Akibatnya, budak lelaki, perempuan dan orang-orang yang pernikahannya berada dalam hak wali tidak masuk dalam konteks ini, sebagaimana telah kami sebutkan, ﴾ حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya," seba-gai janji terhadap orang yang menjaga dirinya, bahwa Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya dan memudahkan urusannya, dan perintah baginya untuk menunggu jalan keluar agar keadaannya itu tidak membuatnya merasa keberatan. Firman Allah, ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ خَيۡرٗاۖ ﴿ "Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka," maksudnya barangsiapa ingin dan me-minta kepada kalian mukatabah (perjanjian pembebasan dengan syarat penebusan), budak lelaki atau perempuan, maka sambutlah permintaannya, dan buatlah perjanjian. ﴾ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ ﴿ "Jika kamu mengetahui pada mereka," yaitu orang-orang yang meminta untuk diadakan perjanjian ﴾ خَيۡرٗاۖ ﴿ "ada kebaikan," yaitu kemampuan untuk mencari penghasilan dan kebaikan aga-manya. Karena, pada proses perjanjian ini terdapat dua maslahat: Maslahat pembebasan dan kemerdekaan, dan maslahat transaksi yang akan ia berikan kepada sang pemilik untuk menebus dirinya. Barangkali ia akan giat dan bersungguh-sungguh dan mendapat-kan (sejumlah) uang untuk tuannya yang tidak dia peroleh (bagi tuannya) ketika masih menjadi budak, sehingga tidak merugikan pemiliknya dalam masalah perjanjian ini, disertai manfaat yang sangat besar yang diperoleh budak tersebut. Karenanya, Allah memerintahkan perjanjian ini dalam bentuk perintah yang wajib sebagaimana terlihat dari zahirnya, atau perintah tersebut bersifat sunnah menurut pendapat yang lain. Dan Allah memerintahkan untuk membantu mereka (menyelesaikan) perjanjiannya. Pasalnya, mereka itu termasuk orang-orang yang membutuhkan pertolongan, lantaran tidak mempunyai harta. Allah berfirman, ﴾ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡۚ ﴿ "Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepada-mu." Masuk dalam kategori ini adalah perintah kepada tuannya yang mengadakan perjanjian agar memberinya sedikit (keringanan) dari perjanjiannya atau menggugurkan sebagian pembayarannya dan memerintahkan orang-orang untuk menolong mereka. Karena itu, Allah menetapkan bagian zakat bagi budak-budak yang telah membuat perjanjian dan menganjurkan penyerahannya dengan FirmanNya, ﴾ مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡۚ ﴿ "Dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu," maksudnya sebagaimana harta adalah milik Allah, kekayaan yang ada pada tangan kalian hanyalah anugerah dari Allah untuk kalian dan murni sebagai karuniaNya, maka berbuat baiklah kepada hamba-hamba Allah sebagaimana Dia telah berbuat baik kepada kalian. Makna tersirat dari ayat yang mulia ini bahwa seorang budak apabila dia tidak meminta mukatabah (perjanjian kebebasan), maka tuannya tidak diperintahkan untuk memulai perjanjian tersebut, dan bahwa apabila dia tidak mengetahui kebaikan padanya, dengan cara, mengetahui latar belakangnya yang tidak baik, mengetahui si budak tidak dapat mencari uang, hingga menyebabkannya men-jadi benalu bagi orang lain dan terseok-seok. Atau dia khawatir bila dimerdekakan, maka (dalam kebebasannya ini) ia akan me-nyebabkan kerusakan. Maka si pemilik tidak diperintahkan untuk membuat perjanjian dengannya. Bahkan dilarang untuk melaku-kannya, karena mengandung bahaya yang telah disebutkan. Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu," yakni, dari budak-budak pe-rempuan kalian ﴾ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ ﴿ "untuk melakukan pelacuran," maksudnya untuk menjadi wanita pezina ﴾ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنٗا ﴿ "sedang mereka sendiri menginginkan kesucian," karena pemaksaan terhadapnya tidak dapat dibayangkan kecuali dalam keadaan seperti ini. Namun bila tidak ada keinginan untuk menjaga dirinya, maka sesungguhnya wanita tersebut seorang pelacur yang wajib atas tuannya untuk melarang-nya dari perbuatan itu. Sesungguhnya larangan ini disebabkan kebiasaan yang mereka kerjakan di masa Jahiliyah, yaitu seorang pemilik budak memaksa budak wanitanya untuk melakukan zina, agar memperoleh upah dari perbuatan tersebut. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi," maka tidak pantas bagi kalian bila budak kalian lebih baik daripada diri kalian, dan lebih menjaga diri dari perbuatan zina daripada kalian. Sementara itu kalian melakukannya pada mereka demi meraih keuntungan duniawi dan kenikmatan sedikit yang datang lalu akan sirna. Penghasilan kalian dengan cara mulia, bersih dan baik, (terlepas dari keberadaan balasan akhirat) adalah lebih utama daripada usaha kalian memperoleh kenikmatan yang sepele yang akan menghasilkan kehinaan dan kerendahan bagi kalian. Kemudian Allah menyeru orang yang melakukan pemaksaan untuk bertaubat, seraya berfirman, ﴾ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٰهِهِنَّ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu." Hendaknya dia bertaubat kepada Allah, melepaskan diri dari segala yang muncul darinya yang menimbulkan kemurka-anNya. Bila dia melakukan hal ini, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan menyayanginya, sebagaimana dia telah menyayangi dirinya sendiri dengan membebaskannya dari azab, karena ia telah memberikan kasih sayang kepada budaknya de-ngan tidak memaksanya untuk melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.

An-Nur 24:34

"Dan sungguh Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (An-Nur: 34). (34) Ini merupakan bentuk pengagungan dan pemuliaan terhadap ayat-ayat yang telah dibacakan kepada para hambaNya, supaya mereka mengetahui kedudukannya dan menjalankan hak-nya. Allah berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ ءَايَٰتٖ مُّبَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan," yaitu petunjuk yang jelas terhadap setiap perkara yang kalian butuhkan, baik perkara yang ushul ataupun yang furu', sehingga tidak tersisa satu masalah rancu dan syubhat pun di dalamnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Kami turunkan kepada kalian juga ﴾ مَثَلٗا مِّنَ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۡ ﴿ "contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu," berupa kisah orang-orang terdahulu, baik yang shalih ataupun yang dur-haka, sifat-sifat amal perbuatan mereka, peristiwa baik yang terjadi pada mereka atau malapetaka yang menimpa mereka. Kalian me-renungkannya sebagai bahan permisalan dan sumber pelajaran bagi orang yang melakukan hal serupa dengan amal mereka sehingga akan dibalas dengan apa yang telah mereka terima. ﴾ وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa," maksudnya, Kami telah menurunkan buat kalian nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, berupa janji (baik), ancaman, anjuran dan peringatan, sebagai nasihat bagi orang yang bertakwa, sehingga mereka akan menahan diri dari sesuatu yang Allah benci kepada sesuatu yang Allah cintai.

An-Nur 24:35

"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpa-maan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing siapa yang Dia kehen-daki kepada cahayaNya, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nur: 35). (35) ﴾ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi," yang inderawi dan non inderawi. Demikian itu, karena Dzat Allah sendiri adalah cahaya, tiraiNya merupakan cahaya, bila Allah menyingkapnya, niscaya pancaran (sinar) wajah-Nya akan membakar makhluk-makhluk sejauh pandangan mata-Nya memandang. Dengan (cahaya)Nya, maka Arasy, al-Kursi, matahari dan bulan bercahaya. Surga menjadi terang dengan (ca-haya)Nya. Begitu pula [cahaya] yang non inderawi yang kembali bersumber kepada Allah. KitabNya adalah cahaya, syariatNya adalah cahaya, iman dan ma'rifah yang ada di dalam hati para Rasul dan para hambaNya yang beriman adalah cahaya. Sekiranya tidak ada cahaya Allah, maka kegelapan-kegelapan akan bertumpuk-tumpuk. Oleh karena itu, semua tempat yang kehilangan cahayaNya, maka di sanalah kegelapan dan pemasungan. ﴾ مَثَلُ نُورِهِۦ ﴿ "Perumpa-maan cahaya Allah," yang memandu kepadaNya; yaitu cahaya iman dan al-Qur`an dalam hati orang-orang Mukmin ﴾ كَمِشۡكَوٰةٖ ﴿ "seperti sebuah lubang (yang tak tembus)," lubang dinding ﴾ فِيهَا مِصۡبَاحٌۖ ﴿ "yang di dalamnya ada pelita besar," karena lubang dinding menghimpun cahaya dari lampu sehingga tidak tercerai-berai, membias. Hal itu karena ﴾ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ ﴿ "pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu," lantaran kejernihan dan keindahannya ﴾ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ ﴿ "seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara," maksudnya bersinar seperti batu mutiara ﴾ يُوقَدُ ﴿ "yang dinyalakan," lampu tersebut yang terdapat di dalam kaca yang bening dinyalakan ﴾ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ ﴿ "dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun," maksudnya dinyalakan dengan minyak zaitun yang cahayanya merupakan cahaya yang paling cemerlang ﴾ لَّا شَرۡقِيَّةٖ ﴿ "tidak di sebelah timur (se-suatu)," saja, hingga tidak terkena (pancaran) matahari di akhir siang ﴾ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ ﴿ "tidak pula di sebelah barat(nya)," saja, hingga tidak terkena matahari [di akhir][21] siang. Bila dua kondisi tersebut tidak ada, maka ia berada di tengah dari bumi, seperti zaitun dari wilayah Syam, yang terkena matahari pada permulaan siang dan penghujungnya, sehingga bertambah baik dan bagus serta berdampak pada perolehan minyaknya yang lebih jernih. Karena itu, Allah mengatakan, ﴾ يَكَادُ زَيۡتُهَا ﴿ "Yang mi-nyaknya (saja) hampir-hampir," karena kejernihannya ﴾ يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞۚ ﴿ "menerangi, walaupun tidak disentuh api," lalu bila terkena api, maka akan semakin menerangi. ﴾ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ ﴿ "Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis)," cahaya dari api dan cahaya dari minyak. Sisi (persamaan) dari permisalan ini yang mana Allah memi-salkan dan menerapkannya pada keadaan seorang Mukmin yang mana cahaya Allah yang berada dalam hatinya, bahwasanya fitrah Mukmin itu yang mana dia diciptakan dalam bentuknya adalah seperti kedudukan minyak yang sangat jernih. Fitrah Mukmin itu jernih, telah siap untuk (menerima) ajaran-ajaran ilahi dan amal yang disyariatkan. Lalu, apabila ilmu dan iman telah menembus hatinya, maka cahaya yang ada dalam hatinya akan menyala se-bagaimana nyala api di lentera yang ada di dalam lampu tersebut. Hatinya jernih dari tujuan jelek dan pemahaman yang jelek tentang Allah. Bila keimanan telah sampai kepadanya, niscaya akan menyi-nari dengan pancaran yang besar karena sterilitasnya dari kotoran-kotoran. Hal ini ibarat beningnya kaca yang bersinar, sehingga akan terkumpullah padanya cahaya fitrah, cahaya iman, cahaya ilmu dan beningnya ma'rifah, cahaya di atas cahaya yang lain. Tatkala ini berasal dari cahaya Allah, sementara tidak setiap orang pantas menerimanya, maka Allah berfirman, ﴾ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Allah membimbing siapa yang Dia kehendaki kepada cahayaNya," dari orang-orang yang diketahui kesucian dan kebersihannya, dia bersih dan tumbuh bersamaNya. ﴾ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ ﴿ "Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia," supaya mereka berpikir dan dapat memahami, sebagai (cerminan) kelembutan dari Allah dan kebaikanNya kepada mereka, supaya semakin jelas kebenaran dari kebatilan. Karena permisalan-permisalan dapat mendekatkan makna yang masih abstrak kepada makna yang dapat dicerna panca indera. Sehingga para hamba mengetahuinya de-ngan sejelas-jelasnya. ﴾ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Ilmunya mencakup segala sesuatu, supaya kalian mengetahui bahwa permisalan yang dipaparkan adalah permisalan oleh Dzat yang mengetahui hakikat-hakikat permasalahan dan perinciannya, dan itu merupakan kemaslahatan bagi para hamba. Maka hendaknya kesibukan kalian (diungkapkan) dengan cara menghayati dan selalu berhubungan dengannya, bukan dengan cara berpaling dan menentangnya. Karena sesungguhnya Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya. Tatkala cahaya iman dan al-Qur`an itu, kebanyakan faktor-faktornya teraih di dalam masjid, maka Allah menyebutkannya guna mengangkat arti pentingnya. Allah berfirman,

An-Nur 24:36

"(Cahaya itu) di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, di sana dia bertasbih kepada Allah, pada waktu pagi dan waktu petang. (Yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah me-nambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki ke-pada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas." (An-Nur: 36-38). (36) Maksudnya peribadahan karena Allah dilakukan ﴾ فِي بُيُوتٍ ﴿ "di masjid-masjid," yang agung dan penuh keutamaan, ia ada-lah tempat yang paling Allah cintai, yaitu masjid-masjid ﴾ أَذِنَ ٱللَّهُ ﴿ "yang telah Allah perintahkan," maksudnya Allah menyuruh dan memerintahkan ﴾ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya," dua hal ini merupakan himpunan hukum-hukum masjid. Termasuk tindakan memuliakannya adalah, mem-bangunnya, menyapunya, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, menjaganya dari orang-orang gila, anak-anak yang tidak bisa memelihara diri dari najis, dan dari orang kafir, serta harus dijaga dari perkara-perkara yang melalaikan, dan teriakan suara selain dzikir kepada Allah, ﴾ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "disebut namaNya di dalamnya," termasuk dalam maknanya adalah seluruh shalat, baik yang wajib ataupun yang sunnah, membaca al-Qur`an, bertasbih, tahlil, dan macam-macam dzikir yang lain, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, saling mendiskusikan ilmu, i'tikaf, dan ibadah-ibadah lain yang dilakukan di dalam masjid. Karenanya, memak-murkan masjid itu ada dua macam: Memakmurkan bangunan dan pemeliharaannya secara fisik, dan menyemarakkannya dengan cara berdzikir kepada Allah yaitu dengan cara shalat dan yang lain. Yang terakhir inilah yang paling baik di antara keduanya. Oleh sebab itu, telah disyariatkan pelaksanaan shalat lima waktu dan Shalat Jum'at di masjid, secara wajib menurut pendapat mayoritas para ulama, dan sunnah menurut ulama yang lainnya. (37) Kemudian Allah memuji hamba-hambaNya yang telah memakmurkan masjid-masjidNya dengan ibadah. Dia berfirman, ﴾ يُسَبِّحُ لَهُۥ ﴿ "Dia bertasbih kepada Allah," secara ikhlas ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ ﴿ "pada waktu pagi," yaitu pada permulaan hari ﴾ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "dan waktu petang," penghujung siang, (maksudnya, yang bertasbih itu adalah) ﴾ رِجَالٞ ﴿ "laki-laki." Allah mengkhususkan dua waktu ini karena kemuliaan keduanya, kemudahan dan kegampangan untuk beribadah kepada Allah pada dua waktu itu. Termasuk dalam hal ini, bertasbih ketika shalat dan lainnya. Oleh karena itu, disyariatkan dzikir pagi dan sore hari dan wirid-wiridnya yang dibaca di pagi hari dan sore hari. Pengertiannya, kaum lelaki bertasbih kepadaNya pada waktu itu. Siapakah kaum lelaki yang dimaksud? Mereka bukanlah orang-orang yang lebih memperhatikan dunia (daripada Rabb me-reka), yang memiliki kelezatan-kelezatan, perniagaan dan usaha-usaha yang menyibukkan (manusia) dari Allah, yaitu ﴾ رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ ﴿ "(laki-laki) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan." Ini mencakup setiap pekerjaan yang ditujukan untuk mencari timbal-balik, maka jadilah Firman Allah ﴾ وَلَا بَيۡعٌ ﴿ "dan tidak (pula) oleh jual beli," masuk dalam kategori 'Athf al-khash ala al-Am' (menghubungkan kata yang khusus dengan jenis umumnya), karena banyaknya kesibukan dalam perdagangan daripada yang lainnya. Walaupun, para laki-laki itu berdagang dan berjual-beli, yaitu menjalankan urusan yang tidak dilarang, akan tetapi perkara-per-kara itu tidak melalaikan mereka sampai menyebabkan mereka lebih mengutamakan dan mementingkannya daripada ﴾ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ﴿ "mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat," bahkan mereka menjadikan ketaatan dan ibadah kepada Allah sebagai sasaran bidikan dan penghujung tujuan mereka. Maka, setiap urusan yang menghalangi mereka dari tujuan mereka, niscaya akan mereka tampik. Tatkala mengenyampingkan dunia akan berat dirasa keba-nyakan jiwa manusia, sementara kecintaan kepada pekerjaan de-ngan berbagai perniagaannya menjadi urusan yang disukai, maka sangatlah sulit untuk melepaskannya pada umumnya dan tertun-tut untuk bekerja keras untuk mendahulukan hak Allah daripada itu, maka Allah menyebutkan sesuatu yang dapat merangsang ke-padanya, sebagai bentuk ajakan sekaligus ancaman dariNya. Allah berfirman, ﴾ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang," karena dahsyatnya kengerian dan membuat hati dan badan merinding dengan kejadian itu. Oleh sebab itu, mereka takut akan hari itu, hingga mudah bagi mereka untuk beramal dan meninggalkan se-suatu yang dapat menyibukkan dirinya. (38) ﮋ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "Supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," maksud dari ﮋ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," yaitu amal perbuatan mereka yang baik, karena itu merupakan amalan terbaik yang mereka kerjakan. Pasalnya, mereka (juga) melakukan hal-hal yang mubah dan sebagainya, dan pahala itu tidak berlaku kecuali atas amal per-buatan yang baik. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لِيُكَفِّرَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 35 ﴿ "Supaya Allah menghapuskan dari kejelekan yang telah mereka kerjakan dan Allah berikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Az-Zumar: 35). ﴾ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "Dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka," tambahan yang banyak dari balasan yang setimpal untuk amal-amal mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas," bahkan Allah akan memberikan pahala buat mereka (pahala yang banyak) yang tidak bisa dicapai oleh amalnya, bahkan tidak bisa dicapai oleh angan-angannya. Allah memberikan pahala tanpa hitungan dan takaran. Inilah permisalan mengenai jumlah yang sangat banyak sekali. Ini merupakan dua perumpamaan yang Allah permisalkan bagi amalan-amalan orang-orang kafir dalam aspek kebatilan dan kesirnaannya, ia menjelma menjadi benda yang tiada berujud serta penyesalan para pelakunya. Allah berfirman,

An-Nur 24:37

"(Cahaya itu) di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, di sana dia bertasbih kepada Allah, pada waktu pagi dan waktu petang. (Yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah me-nambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki ke-pada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas." (An-Nur: 36-38). (36) Maksudnya peribadahan karena Allah dilakukan ﴾ فِي بُيُوتٍ ﴿ "di masjid-masjid," yang agung dan penuh keutamaan, ia ada-lah tempat yang paling Allah cintai, yaitu masjid-masjid ﴾ أَذِنَ ٱللَّهُ ﴿ "yang telah Allah perintahkan," maksudnya Allah menyuruh dan memerintahkan ﴾ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya," dua hal ini merupakan himpunan hukum-hukum masjid. Termasuk tindakan memuliakannya adalah, mem-bangunnya, menyapunya, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, menjaganya dari orang-orang gila, anak-anak yang tidak bisa memelihara diri dari najis, dan dari orang kafir, serta harus dijaga dari perkara-perkara yang melalaikan, dan teriakan suara selain dzikir kepada Allah, ﴾ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "disebut namaNya di dalamnya," termasuk dalam maknanya adalah seluruh shalat, baik yang wajib ataupun yang sunnah, membaca al-Qur`an, bertasbih, tahlil, dan macam-macam dzikir yang lain, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, saling mendiskusikan ilmu, i'tikaf, dan ibadah-ibadah lain yang dilakukan di dalam masjid. Karenanya, memak-murkan masjid itu ada dua macam: Memakmurkan bangunan dan pemeliharaannya secara fisik, dan menyemarakkannya dengan cara berdzikir kepada Allah yaitu dengan cara shalat dan yang lain. Yang terakhir inilah yang paling baik di antara keduanya. Oleh sebab itu, telah disyariatkan pelaksanaan shalat lima waktu dan Shalat Jum'at di masjid, secara wajib menurut pendapat mayoritas para ulama, dan sunnah menurut ulama yang lainnya. (37) Kemudian Allah memuji hamba-hambaNya yang telah memakmurkan masjid-masjidNya dengan ibadah. Dia berfirman, ﴾ يُسَبِّحُ لَهُۥ ﴿ "Dia bertasbih kepada Allah," secara ikhlas ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ ﴿ "pada waktu pagi," yaitu pada permulaan hari ﴾ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "dan waktu petang," penghujung siang, (maksudnya, yang bertasbih itu adalah) ﴾ رِجَالٞ ﴿ "laki-laki." Allah mengkhususkan dua waktu ini karena kemuliaan keduanya, kemudahan dan kegampangan untuk beribadah kepada Allah pada dua waktu itu. Termasuk dalam hal ini, bertasbih ketika shalat dan lainnya. Oleh karena itu, disyariatkan dzikir pagi dan sore hari dan wirid-wiridnya yang dibaca di pagi hari dan sore hari. Pengertiannya, kaum lelaki bertasbih kepadaNya pada waktu itu. Siapakah kaum lelaki yang dimaksud? Mereka bukanlah orang-orang yang lebih memperhatikan dunia (daripada Rabb me-reka), yang memiliki kelezatan-kelezatan, perniagaan dan usaha-usaha yang menyibukkan (manusia) dari Allah, yaitu ﴾ رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ ﴿ "(laki-laki) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan." Ini mencakup setiap pekerjaan yang ditujukan untuk mencari timbal-balik, maka jadilah Firman Allah ﴾ وَلَا بَيۡعٌ ﴿ "dan tidak (pula) oleh jual beli," masuk dalam kategori 'Athf al-khash ala al-Am' (menghubungkan kata yang khusus dengan jenis umumnya), karena banyaknya kesibukan dalam perdagangan daripada yang lainnya. Walaupun, para laki-laki itu berdagang dan berjual-beli, yaitu menjalankan urusan yang tidak dilarang, akan tetapi perkara-per-kara itu tidak melalaikan mereka sampai menyebabkan mereka lebih mengutamakan dan mementingkannya daripada ﴾ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ﴿ "mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat," bahkan mereka menjadikan ketaatan dan ibadah kepada Allah sebagai sasaran bidikan dan penghujung tujuan mereka. Maka, setiap urusan yang menghalangi mereka dari tujuan mereka, niscaya akan mereka tampik. Tatkala mengenyampingkan dunia akan berat dirasa keba-nyakan jiwa manusia, sementara kecintaan kepada pekerjaan de-ngan berbagai perniagaannya menjadi urusan yang disukai, maka sangatlah sulit untuk melepaskannya pada umumnya dan tertun-tut untuk bekerja keras untuk mendahulukan hak Allah daripada itu, maka Allah menyebutkan sesuatu yang dapat merangsang ke-padanya, sebagai bentuk ajakan sekaligus ancaman dariNya. Allah berfirman, ﴾ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang," karena dahsyatnya kengerian dan membuat hati dan badan merinding dengan kejadian itu. Oleh sebab itu, mereka takut akan hari itu, hingga mudah bagi mereka untuk beramal dan meninggalkan se-suatu yang dapat menyibukkan dirinya. (38) ﮋ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "Supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," maksud dari ﮋ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," yaitu amal perbuatan mereka yang baik, karena itu merupakan amalan terbaik yang mereka kerjakan. Pasalnya, mereka (juga) melakukan hal-hal yang mubah dan sebagainya, dan pahala itu tidak berlaku kecuali atas amal per-buatan yang baik. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لِيُكَفِّرَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 35 ﴿ "Supaya Allah menghapuskan dari kejelekan yang telah mereka kerjakan dan Allah berikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Az-Zumar: 35). ﴾ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "Dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka," tambahan yang banyak dari balasan yang setimpal untuk amal-amal mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas," bahkan Allah akan memberikan pahala buat mereka (pahala yang banyak) yang tidak bisa dicapai oleh amalnya, bahkan tidak bisa dicapai oleh angan-angannya. Allah memberikan pahala tanpa hitungan dan takaran. Inilah permisalan mengenai jumlah yang sangat banyak sekali. Ini merupakan dua perumpamaan yang Allah permisalkan bagi amalan-amalan orang-orang kafir dalam aspek kebatilan dan kesirnaannya, ia menjelma menjadi benda yang tiada berujud serta penyesalan para pelakunya. Allah berfirman,

An-Nur 24:38

"(Cahaya itu) di masjid-masjid yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya, di sana dia bertasbih kepada Allah, pada waktu pagi dan waktu petang. (Yaitu) laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah me-nambah karuniaNya kepada mereka. Dan Allah memberi rizki ke-pada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas." (An-Nur: 36-38). (36) Maksudnya peribadahan karena Allah dilakukan ﴾ فِي بُيُوتٍ ﴿ "di masjid-masjid," yang agung dan penuh keutamaan, ia ada-lah tempat yang paling Allah cintai, yaitu masjid-masjid ﴾ أَذِنَ ٱللَّهُ ﴿ "yang telah Allah perintahkan," maksudnya Allah menyuruh dan memerintahkan ﴾ أَن تُرۡفَعَ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "untuk dimuliakan dan disebut namaNya di dalamnya," dua hal ini merupakan himpunan hukum-hukum masjid. Termasuk tindakan memuliakannya adalah, mem-bangunnya, menyapunya, membersihkannya dari segala najis dan kotoran, menjaganya dari orang-orang gila, anak-anak yang tidak bisa memelihara diri dari najis, dan dari orang kafir, serta harus dijaga dari perkara-perkara yang melalaikan, dan teriakan suara selain dzikir kepada Allah, ﴾ وَيُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ ﴿ "disebut namaNya di dalamnya," termasuk dalam maknanya adalah seluruh shalat, baik yang wajib ataupun yang sunnah, membaca al-Qur`an, bertasbih, tahlil, dan macam-macam dzikir yang lain, mempelajari ilmu dan mengajarkannya, saling mendiskusikan ilmu, i'tikaf, dan ibadah-ibadah lain yang dilakukan di dalam masjid. Karenanya, memak-murkan masjid itu ada dua macam: Memakmurkan bangunan dan pemeliharaannya secara fisik, dan menyemarakkannya dengan cara berdzikir kepada Allah yaitu dengan cara shalat dan yang lain. Yang terakhir inilah yang paling baik di antara keduanya. Oleh sebab itu, telah disyariatkan pelaksanaan shalat lima waktu dan Shalat Jum'at di masjid, secara wajib menurut pendapat mayoritas para ulama, dan sunnah menurut ulama yang lainnya. (37) Kemudian Allah memuji hamba-hambaNya yang telah memakmurkan masjid-masjidNya dengan ibadah. Dia berfirman, ﴾ يُسَبِّحُ لَهُۥ ﴿ "Dia bertasbih kepada Allah," secara ikhlas ﴾ بِٱلۡغُدُوِّ ﴿ "pada waktu pagi," yaitu pada permulaan hari ﴾ وَٱلۡأٓصَالِ ﴿ "dan waktu petang," penghujung siang, (maksudnya, yang bertasbih itu adalah) ﴾ رِجَالٞ ﴿ "laki-laki." Allah mengkhususkan dua waktu ini karena kemuliaan keduanya, kemudahan dan kegampangan untuk beribadah kepada Allah pada dua waktu itu. Termasuk dalam hal ini, bertasbih ketika shalat dan lainnya. Oleh karena itu, disyariatkan dzikir pagi dan sore hari dan wirid-wiridnya yang dibaca di pagi hari dan sore hari. Pengertiannya, kaum lelaki bertasbih kepadaNya pada waktu itu. Siapakah kaum lelaki yang dimaksud? Mereka bukanlah orang-orang yang lebih memperhatikan dunia (daripada Rabb me-reka), yang memiliki kelezatan-kelezatan, perniagaan dan usaha-usaha yang menyibukkan (manusia) dari Allah, yaitu ﴾ رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ ﴿ "(laki-laki) yang tidak dilalaikan oleh perniagaan." Ini mencakup setiap pekerjaan yang ditujukan untuk mencari timbal-balik, maka jadilah Firman Allah ﴾ وَلَا بَيۡعٌ ﴿ "dan tidak (pula) oleh jual beli," masuk dalam kategori 'Athf al-khash ala al-Am' (menghubungkan kata yang khusus dengan jenis umumnya), karena banyaknya kesibukan dalam perdagangan daripada yang lainnya. Walaupun, para laki-laki itu berdagang dan berjual-beli, yaitu menjalankan urusan yang tidak dilarang, akan tetapi perkara-per-kara itu tidak melalaikan mereka sampai menyebabkan mereka lebih mengutamakan dan mementingkannya daripada ﴾ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ ﴿ "mengingat Allah, menegakkan shalat, dan menunaikan zakat," bahkan mereka menjadikan ketaatan dan ibadah kepada Allah sebagai sasaran bidikan dan penghujung tujuan mereka. Maka, setiap urusan yang menghalangi mereka dari tujuan mereka, niscaya akan mereka tampik. Tatkala mengenyampingkan dunia akan berat dirasa keba-nyakan jiwa manusia, sementara kecintaan kepada pekerjaan de-ngan berbagai perniagaannya menjadi urusan yang disukai, maka sangatlah sulit untuk melepaskannya pada umumnya dan tertun-tut untuk bekerja keras untuk mendahulukan hak Allah daripada itu, maka Allah menyebutkan sesuatu yang dapat merangsang ke-padanya, sebagai bentuk ajakan sekaligus ancaman dariNya. Allah berfirman, ﴾ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ ﴿ "Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang," karena dahsyatnya kengerian dan membuat hati dan badan merinding dengan kejadian itu. Oleh sebab itu, mereka takut akan hari itu, hingga mudah bagi mereka untuk beramal dan meninggalkan se-suatu yang dapat menyibukkan dirinya. (38) ﮋ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "Supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," maksud dari ﮋ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﮊ "balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan," yaitu amal perbuatan mereka yang baik, karena itu merupakan amalan terbaik yang mereka kerjakan. Pasalnya, mereka (juga) melakukan hal-hal yang mubah dan sebagainya, dan pahala itu tidak berlaku kecuali atas amal per-buatan yang baik. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ لِيُكَفِّرَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 35 ﴿ "Supaya Allah menghapuskan dari kejelekan yang telah mereka kerjakan dan Allah berikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Az-Zumar: 35). ﴾ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ ﴿ "Dan supaya Allah menambah karuniaNya kepada mereka," tambahan yang banyak dari balasan yang setimpal untuk amal-amal mereka. ﴾ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "Dan Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa batas," bahkan Allah akan memberikan pahala buat mereka (pahala yang banyak) yang tidak bisa dicapai oleh amalnya, bahkan tidak bisa dicapai oleh angan-angannya. Allah memberikan pahala tanpa hitungan dan takaran. Inilah permisalan mengenai jumlah yang sangat banyak sekali. Ini merupakan dua perumpamaan yang Allah permisalkan bagi amalan-amalan orang-orang kafir dalam aspek kebatilan dan kesirnaannya, ia menjelma menjadi benda yang tiada berujud serta penyesalan para pelakunya. Allah berfirman,

An-Nur 24:39

"Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan mendapati (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, apabila dia mengeluarkan ta-ngannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun." (An-Nur: 39-40). (39) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang kafir," terhadap Rabb mereka dan mendustakan para RasulNya ﴾ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۭ بِقِيعَةٖ ﴿ "amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar," yaitu tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya ﴾ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡـَٔانُ مَآءً ﴿ "yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga," yaitu orang yang sangat dahaga, yang menghalusinasikan sesuatu yang tidak dihalusinasikan oleh orang lain, disebabkan rasa dahaganya. Pa-dahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu dia bermaksud untuk menghilangkan rasa dahaganya ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡـٔٗا ﴿ "hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun," maka dia benar-benar menyesal. Kehausannya semakin menjadi parah lan-taran harapannya terputus. Begitu pula amalan orang-orang kafir, ia ibarat fatamorgana, masih bisa dilihat lalu orang yang bodoh, (yang tidak mengerti perkara-perkara) menyangkanya merupakan amalan-amalan yang bermanfaat. Kemasan amalan-amalan itu menipu dirinya, fantasinya mempermainkannya, dia pun mengira hal itu adalah amalan-amalan yang bermanfaat bagi hawa nafsunya. Dia juga merasa butuh bahkan sangat memerlukannya, sebagai-mana kebutuhan orang yang dahaga terhadap air. Maka tatkala ia mendatangi amalannya pada Hari Pembalasan, dia merasa kehi-langan dan tidak menemukan sesuatu pun. Kondisi (sebenarnya) amalan-amalan itu tidak lenyap, tidak untuk kebaikannya atau mencelakainya. Bahkan ﴾ وَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ ﴿ "dia mendapati (kete-tapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup," yang tidak tersembunyi (walau) seringan partikel dan setipis kulit ari, tiada yang hilang dari amalan itu, sedikit ataupun banyak. ﴾ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya," maka janganlah orang-orang bodoh itu me-minta tunda (waktu kedatangan) janji itu, karena ia pasti akan tiba. Allah mempermisalkan amalan-amalan orang-orang kafir layaknya fatamorgana, yang ada ﴾ بِقِيعَةٖ ﴿ "di tanah datar," yang tidak ada pepohonan dan tanaman. Ini permisalan hati-hati mereka, tiada kebaikan dan kebajikan dalam amal perbuatan mereka, lantaran adanya faktor penghalang, yaitu kekafiran. (40) Perumpamaan kedua tentang kebatilan amalan orang-orang kafir ﴾ أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ ﴿ "atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam," dasarnya dalam dan jangkauannya l u a s ﴾ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ﴿ "yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih," kegelapan laut yang dalam, kemudian di permukaannya kegelapan gelombang yang bergulung-gulung, dan (dinaungi) di atasnya ke-gelapan awan yang hitam, lantas diselimuti kegelapan malam yang pekat. Maka, kegelapan semakin parah sekali, di mana keadaan seseorang pada saat itu ﴾ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ ﴿ "apabila dia mengeluar-kan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya," walaupun tangannya begitu dekat dengan dirinya. Lalu bagaimana dengan benda lain? Begitu pula kaum kafir, kegelapan telah bertumpuk-tumpuk dalam hati mereka; sebuah kegelapan sifat bawaan yang tidak mengandung kebaikan sama sekali, ditambah dengan kegelapan kekufuran(nya), disusul kegelapan kebodohan(nya), dan dilanjut-kan oleh kegelapan dari perbuatan yang muncul sebagaimana yang telah disebutkan. Mereka pun mengalami kebingungan dalam ke-gelapannya, tidak bisa melihat dalam kesesatan mereka, membela-kangi jalan yang lurus, mondar-mandir pada jalur-jalur kekeliruan dan kesesatan. Demikian ini, lantaran Allah telah menelantarkan mereka tanpa hidayah dan tidak memberikan bagian dari cahaya-Nya kepada mereka. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ ﴿ "(Dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun," karena dirinya zhalim lagi bodoh, tidak ada ke-baikan dan cahaya padanya kecuali apa yang telah Allah berikan dan anugerahkan. Dua permisalan ini mengandung kemungkinan berlaku untuk amalan seluruh orang kafir. Keduanya bersesuaian dengannya (hakikat amalan orang-orang kafir). Allah telah menyebutkannya secara terperinci lantaran perbedaan karakternya. Dimungkinkan juga, setiap perumpamaan itu diperuntukkan bagi kelompok dan golongan tertentu. Perumpamaan pertama untuk orang-orang yang diikuti dan permisalan yang kedua bagi para pengikutnya. Wallahu a'lam.

An-Nur 24:40

"Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun. Dan mendapati (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup, dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih, apabila dia mengeluarkan ta-ngannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun." (An-Nur: 39-40). (39) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang kafir," terhadap Rabb mereka dan mendustakan para RasulNya ﴾ أَعۡمَٰلُهُمۡ كَسَرَابِۭ بِقِيعَةٖ ﴿ "amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar," yaitu tanah datar yang tidak ada pepohonan dan tumbuhannya ﴾ يَحۡسَبُهُ ٱلظَّمۡـَٔانُ مَآءً ﴿ "yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga," yaitu orang yang sangat dahaga, yang menghalusinasikan sesuatu yang tidak dihalusinasikan oleh orang lain, disebabkan rasa dahaganya. Pa-dahal itu adalah halusinasi yang batil, lalu dia bermaksud untuk menghilangkan rasa dahaganya ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَهُۥ لَمۡ يَجِدۡهُ شَيۡـٔٗا ﴿ "hingga ketika dia mendatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun," maka dia benar-benar menyesal. Kehausannya semakin menjadi parah lan-taran harapannya terputus. Begitu pula amalan orang-orang kafir, ia ibarat fatamorgana, masih bisa dilihat lalu orang yang bodoh, (yang tidak mengerti perkara-perkara) menyangkanya merupakan amalan-amalan yang bermanfaat. Kemasan amalan-amalan itu menipu dirinya, fantasinya mempermainkannya, dia pun mengira hal itu adalah amalan-amalan yang bermanfaat bagi hawa nafsunya. Dia juga merasa butuh bahkan sangat memerlukannya, sebagai-mana kebutuhan orang yang dahaga terhadap air. Maka tatkala ia mendatangi amalannya pada Hari Pembalasan, dia merasa kehi-langan dan tidak menemukan sesuatu pun. Kondisi (sebenarnya) amalan-amalan itu tidak lenyap, tidak untuk kebaikannya atau mencelakainya. Bahkan ﴾ وَجَدَ ٱللَّهَ عِندَهُۥ فَوَفَّىٰهُ حِسَابَهُۥۗ ﴿ "dia mendapati (kete-tapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup," yang tidak tersembunyi (walau) seringan partikel dan setipis kulit ari, tiada yang hilang dari amalan itu, sedikit ataupun banyak. ﴾ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "Dan Allah adalah sangat cepat perhitunganNya," maka janganlah orang-orang bodoh itu me-minta tunda (waktu kedatangan) janji itu, karena ia pasti akan tiba. Allah mempermisalkan amalan-amalan orang-orang kafir layaknya fatamorgana, yang ada ﴾ بِقِيعَةٖ ﴿ "di tanah datar," yang tidak ada pepohonan dan tanaman. Ini permisalan hati-hati mereka, tiada kebaikan dan kebajikan dalam amal perbuatan mereka, lantaran adanya faktor penghalang, yaitu kekafiran. (40) Perumpamaan kedua tentang kebatilan amalan orang-orang kafir ﴾ أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ ﴿ "atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam," dasarnya dalam dan jangkauannya l u a s ﴾ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ ﴿ "yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang bertindih-tindih," kegelapan laut yang dalam, kemudian di permukaannya kegelapan gelombang yang bergulung-gulung, dan (dinaungi) di atasnya ke-gelapan awan yang hitam, lantas diselimuti kegelapan malam yang pekat. Maka, kegelapan semakin parah sekali, di mana keadaan seseorang pada saat itu ﴾ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ ﴿ "apabila dia mengeluar-kan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya," walaupun tangannya begitu dekat dengan dirinya. Lalu bagaimana dengan benda lain? Begitu pula kaum kafir, kegelapan telah bertumpuk-tumpuk dalam hati mereka; sebuah kegelapan sifat bawaan yang tidak mengandung kebaikan sama sekali, ditambah dengan kegelapan kekufuran(nya), disusul kegelapan kebodohan(nya), dan dilanjut-kan oleh kegelapan dari perbuatan yang muncul sebagaimana yang telah disebutkan. Mereka pun mengalami kebingungan dalam ke-gelapannya, tidak bisa melihat dalam kesesatan mereka, membela-kangi jalan yang lurus, mondar-mandir pada jalur-jalur kekeliruan dan kesesatan. Demikian ini, lantaran Allah telah menelantarkan mereka tanpa hidayah dan tidak memberikan bagian dari cahaya-Nya kepada mereka. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ ﴿ "(Dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun," karena dirinya zhalim lagi bodoh, tidak ada ke-baikan dan cahaya padanya kecuali apa yang telah Allah berikan dan anugerahkan. Dua permisalan ini mengandung kemungkinan berlaku untuk amalan seluruh orang kafir. Keduanya bersesuaian dengannya (hakikat amalan orang-orang kafir). Allah telah menyebutkannya secara terperinci lantaran perbedaan karakternya. Dimungkinkan juga, setiap perumpamaan itu diperuntukkan bagi kelompok dan golongan tertentu. Perumpamaan pertama untuk orang-orang yang diikuti dan permisalan yang kedua bagi para pengikutnya. Wallahu a'lam.

An-Nur 24:41

"Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepadaNya ber-tasbih apa yang di langit dan bumi dan (juga) burung dengan me-ngembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang me-reka kerjakan. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah (semua makhluk) kembali." (An-Nur: 41-42). (41) Allah mengingatkan hambaNya atas kebesaran dan kesempurnaan kekuasaanNya, dan kebutuhan seluruh makhluk kepadaNya dalam rububiyah dan peribadahan kepadaNya. Dia berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Tidakkah kamu tahu bah-wasanya Allah, kepadaNya bertasbih apa yang di langit dan bumi," dari bangsa hewan-hewan dan benda mati, ﴾ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ ﴿ "dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya," maksudnya mengepak-ngepakkan sayapnya di angkasa dengan bertasbih memuji Rabbnya. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," dari makhluk ini ﴾ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ ﴿ "telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya," maksudnya masing-masing mempunyai cara shalat dan ibadah sesuai dengan keadaannya yang pantas. Allah telah memberikan ilhamNya kepada mereka tentang cara shalat, bertasbih dan ibadah lainnya, baik dengan perantaraan para utusan, seperti jin, manusia serta malaikat. Atau melalui ilham dari Allah تعالى sebagaimana makhluk lainnya. Pengertian model ini lebih kuat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ﴿ "Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan," maksudnya, Dia mengetahui semua perbuatan mereka, tidak ada sesuatu yang tersembunyi dariNya, dan Allah akan membalas mereka dengan dasar amalan tersebut. Atas dasar ini, Allah telah menggabungkan antara ilmuNya tentang amal-amal mereka, –da-lam bentuk mengajarkannya– dengan ilmuNya tentang perbuatan-perbuatan mereka yang mendatangkan balasan. Dhamir (kata ganti ketiga) pada Firman Allah, ﴾ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ ﴿ "ia telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya," bisa diarahkan kepada Allah, dan bahwasanya Allah telah mengetahui ibadah-ibadah me-reka. Walaupun kalian wahai para hamba, tidak mengetahuinya kecuali apa yang telah Allah perlihatkan kepada kalian. Ayat ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 44 ﴿ "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertas-bih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesung-guhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Al-Isra`: 44). (42) Setelah menerangkan penghambaan diri mereka dan kebutuhan mereka kepadaNya dari sisi ibadah dan tauhid, Allah menjelaskan (bagaimana) kebutuhan mereka pada sisi kekuasaan, tarbiyah (pemeliharaan) dan pengaturan(Nya). Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Allah menciptakan, memberikan rizki dan Dzat pengatur langit dan bumi dalam hukum syar'i dan hukum qadariNya di dunia ini dan ketetapan balasanNya di akhirat kelak, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan kepada Allah-lah (semua makhluk) kembali," maksudnya tempat kembali dan tempat bergantung para makhluk untuk memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal-amal mereka.

An-Nur 24:42

"Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah, kepadaNya ber-tasbih apa yang di langit dan bumi dan (juga) burung dengan me-ngembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang me-reka kerjakan. Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah (semua makhluk) kembali." (An-Nur: 41-42). (41) Allah mengingatkan hambaNya atas kebesaran dan kesempurnaan kekuasaanNya, dan kebutuhan seluruh makhluk kepadaNya dalam rububiyah dan peribadahan kepadaNya. Dia berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Tidakkah kamu tahu bah-wasanya Allah, kepadaNya bertasbih apa yang di langit dan bumi," dari bangsa hewan-hewan dan benda mati, ﴾ وَٱلطَّيۡرُ صَٰٓفَّٰتٖۖ ﴿ "dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya," maksudnya mengepak-ngepakkan sayapnya di angkasa dengan bertasbih memuji Rabbnya. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Masing-masing," dari makhluk ini ﴾ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ ﴿ "telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya," maksudnya masing-masing mempunyai cara shalat dan ibadah sesuai dengan keadaannya yang pantas. Allah telah memberikan ilhamNya kepada mereka tentang cara shalat, bertasbih dan ibadah lainnya, baik dengan perantaraan para utusan, seperti jin, manusia serta malaikat. Atau melalui ilham dari Allah تعالى sebagaimana makhluk lainnya. Pengertian model ini lebih kuat, sebagaimana Firman Allah, ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ ﴿ "Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan," maksudnya, Dia mengetahui semua perbuatan mereka, tidak ada sesuatu yang tersembunyi dariNya, dan Allah akan membalas mereka dengan dasar amalan tersebut. Atas dasar ini, Allah telah menggabungkan antara ilmuNya tentang amal-amal mereka, –da-lam bentuk mengajarkannya– dengan ilmuNya tentang perbuatan-perbuatan mereka yang mendatangkan balasan. Dhamir (kata ganti ketiga) pada Firman Allah, ﴾ قَدۡ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسۡبِيحَهُۥۗ ﴿ "ia telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya," bisa diarahkan kepada Allah, dan bahwasanya Allah telah mengetahui ibadah-ibadah me-reka. Walaupun kalian wahai para hamba, tidak mengetahuinya kecuali apa yang telah Allah perlihatkan kepada kalian. Ayat ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا 44 ﴿ "Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertas-bih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesung-guhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Al-Isra`: 44). (42) Setelah menerangkan penghambaan diri mereka dan kebutuhan mereka kepadaNya dari sisi ibadah dan tauhid, Allah menjelaskan (bagaimana) kebutuhan mereka pada sisi kekuasaan, tarbiyah (pemeliharaan) dan pengaturan(Nya). Allah berfirman, ﴾ وَلِلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi." Allah menciptakan, memberikan rizki dan Dzat pengatur langit dan bumi dalam hukum syar'i dan hukum qadariNya di dunia ini dan ketetapan balasanNya di akhirat kelak, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan kepada Allah-lah (semua makhluk) kembali," maksudnya tempat kembali dan tempat bergantung para makhluk untuk memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal-amal mereka.

An-Nur 24:43

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka terlihatlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakanNya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pela-jaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (An-Nur: 43-44). (43) Maksudnya, apakah kamu tidak menyaksikan dengan penglihatanmu akan keagungan kemampuan Allah, bagaimana Dia ﴾ يُزۡجِي ﴿ "mengarak," maksudnya menggiring ﴾ سَحَابٗا ﴿ "awan," dalam bentuk potongan-potongan yang terpisah-pisah ﴾ ثُمَّ يُؤَلِّفُ ﴿ "kemudian menjadikannya bertindih-tindih," antara potongan-potongan tersebut. Kemudian Allah menjadikan awan bertumpuk-tumpuk seperti gunung ﴾ فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ ﴿ "maka terlihatlah olehmu hujan," yaitu gerimis air dan hujan yang muncul dari celah-celah awan dalam bentuk rintikan-rintikan yang terpisah agar dapat digunakan tanpa adanya unsur bahaya. Parit-parit menjadi penuh, sungai-sungai mengalir deras, lembah-lembah mengalirkan air, tanah-tanah ditumbuhi tumbuhan yang indah. Terkadang Allah menurunkan dari awan itu salju yang me-rusak obyek yang ditimpanya ﴾ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصۡرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُۖ ﴿ "maka di-timpakanNya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya," maksudnya sesuai dengan ketetapan takdirNya dan hikmah-hikmahNya yang terpuji. ﴾ يَكَادُ سَنَا بَرۡقِهِۦ ﴿ "Kilauan kilat awan itu hampir-hampir," mak-sudnya hampir saja kilatan cahaya awan karena dahsyatnya ﴾ يَذۡهَبُ بِٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "menghilangkan penglihatan," bukankah Dzat yang mengada-kan dan mengaraknya untuk para hambaNya yang membutuhkan dan menurunkannya dengan cara yang menyebabkannya mudah dimanfaatkan tanpa mendatangkan bahaya adalah (Dzat) Yang Mahasempurna kekuasaanNya, terlaksana setiap kehendakNya dan luas rahmatNya? (44) ﴾ يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Allah mempergantikan malam dan siang," dari cuaca panas ke hawa dingin, dan dari hawa dingin ke suasana panas, dari malam ke siang dan dari siang ke malam, dan memutar hari-hari di antara para hambaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan," yaitu para pemilik mata hati dan akal yang mampu menembus perkara-perkara yang diinginkan, sebagaimana pandangan mata mengenai obyek-obyek konkret inderawi. Orang yang memiliki penglihatan mata hati menyaksikan makhluk-makhluk ciptaan ini dengan pandangan perenungan, berpikir dan penghayatan tentang tujuan (penciptaan) dan (kegu-naan)nya. Sementara itu, orang yang berpaling lagi bodoh, pan-dangannya kepada ciptaan Allah adalah pandangan kelalaian, ibarat pandangan hewan-hewan ternak.

An-Nur 24:44

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka terlihatlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya, dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakanNya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan. Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pela-jaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan." (An-Nur: 43-44). (43) Maksudnya, apakah kamu tidak menyaksikan dengan penglihatanmu akan keagungan kemampuan Allah, bagaimana Dia ﴾ يُزۡجِي ﴿ "mengarak," maksudnya menggiring ﴾ سَحَابٗا ﴿ "awan," dalam bentuk potongan-potongan yang terpisah-pisah ﴾ ثُمَّ يُؤَلِّفُ ﴿ "kemudian menjadikannya bertindih-tindih," antara potongan-potongan tersebut. Kemudian Allah menjadikan awan bertumpuk-tumpuk seperti gunung ﴾ فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ ﴿ "maka terlihatlah olehmu hujan," yaitu gerimis air dan hujan yang muncul dari celah-celah awan dalam bentuk rintikan-rintikan yang terpisah agar dapat digunakan tanpa adanya unsur bahaya. Parit-parit menjadi penuh, sungai-sungai mengalir deras, lembah-lembah mengalirkan air, tanah-tanah ditumbuhi tumbuhan yang indah. Terkadang Allah menurunkan dari awan itu salju yang me-rusak obyek yang ditimpanya ﴾ فَيُصِيبُ بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَيَصۡرِفُهُۥ عَن مَّن يَشَآءُۖ ﴿ "maka di-timpakanNya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkanNya dari siapa yang dikehendakiNya," maksudnya sesuai dengan ketetapan takdirNya dan hikmah-hikmahNya yang terpuji. ﴾ يَكَادُ سَنَا بَرۡقِهِۦ ﴿ "Kilauan kilat awan itu hampir-hampir," mak-sudnya hampir saja kilatan cahaya awan karena dahsyatnya ﴾ يَذۡهَبُ بِٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "menghilangkan penglihatan," bukankah Dzat yang mengada-kan dan mengaraknya untuk para hambaNya yang membutuhkan dan menurunkannya dengan cara yang menyebabkannya mudah dimanfaatkan tanpa mendatangkan bahaya adalah (Dzat) Yang Mahasempurna kekuasaanNya, terlaksana setiap kehendakNya dan luas rahmatNya? (44) ﴾ يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Allah mempergantikan malam dan siang," dari cuaca panas ke hawa dingin, dan dari hawa dingin ke suasana panas, dari malam ke siang dan dari siang ke malam, dan memutar hari-hari di antara para hambaNya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَةٗ لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan," yaitu para pemilik mata hati dan akal yang mampu menembus perkara-perkara yang diinginkan, sebagaimana pandangan mata mengenai obyek-obyek konkret inderawi. Orang yang memiliki penglihatan mata hati menyaksikan makhluk-makhluk ciptaan ini dengan pandangan perenungan, berpikir dan penghayatan tentang tujuan (penciptaan) dan (kegu-naan)nya. Sementara itu, orang yang berpaling lagi bodoh, pan-dangannya kepada ciptaan Allah adalah pandangan kelalaian, ibarat pandangan hewan-hewan ternak.

An-Nur 24:45

"Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan sesuatu yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala se-suatu." (An-Nur: 45). (45) Allah mengingatkan para hambaNya tentang apa yang mereka lihat bahwasanya Dia menciptakan semua makhluk melata yang berada di permukaan bumi ﴾ مِّن مَّآءٖۖ ﴿ "dari air," semua media-nya berasal dari air, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۚ ﴿ "Kami jadikan setiap sesuatu yang hidup dari air." (Al-Anbiya`: 30). Hewan-hewan yang berkembang biak, bahan (penciptaan)nya berasal dari nuthfah ketika sel jantan membuahi betina. Hewan-hewan yang berkembang biak dari tanah tidaklah lahir kecuali dari benda cair, seperti serangga-serangga. Tidak (satu pun) dijumpai serangga yang tercipta selain dari air. Bahan (penciptaan) sama, akan tetapi rupa penciptaannya berbeda dengan perbedaan yang banyak. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰ بَطۡنِهِۦ ﴿ "Maka sebagian dari hewan itu ada yang berja-lan di atas perutnya," semisal ular dan sejenisnya ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰ رِجۡلَيۡنِ ﴿ "dan sebagian berjalan dengan dua kaki," seperti manusia dan keba-nyakan jenis burung. ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَمۡشِي عَلَىٰٓ أَرۡبَعٖۚ ﴿ "Sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki," misalnya hewan-hewan ternak dan lain-lain. Perbedaan yang ada –walaupun pada asalnya satu (bahan penciptaan)– menunjukkan (kepastian) terlaksananya kehendak Allah dan kekuasaanNya yang merata. Karena inilah Allah berfir-man, ﴾ يَخۡلُقُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Allah menciptakan sesuatu yang dikehendakiNya," maksudnya Dia menciptakan para makhlukNya sesuai bentuk-bentuk yang dikehendakiNya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu," sebagaimana Allah menurunkan hujan di bumi, bentuk penyerbukan yang satu jenis dan induknya satu yaitu tanah se-mentara keturunan-keturunannya memiliki jenis dan sifat yang berbeda-beda, ﴾ وَفِي ٱلۡأَرۡضِ قِطَعٞ مُّتَجَٰوِرَٰتٞ وَجَنَّٰتٞ مِّنۡ أَعۡنَٰبٖ وَزَرۡعٞ وَنَخِيلٞ صِنۡوَانٞ وَغَيۡرُ صِنۡوَانٖ يُسۡقَىٰ بِمَآءٖ وَٰحِدٖ وَنُفَضِّلُ بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فِي ٱلۡأُكُلِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ 4 ﴿ "Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang berca-bang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (Ar-Ra'd: 4).

An-Nur 24:46

"Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang men-jelaskan. Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehen-dakiNya kepada jalan yang lurus." (An-Nur: 46). (46) Maksudnya, sungguh Kami telah merahmati hamba-hamba Kami dan menurunkan kepada mereka ayat-ayat yang terang, yaitu begitu jelas petunjuknya tentang seluruh orientasi-orientasi syar'i dan adab-adab yang terpuji serta berbagai pengeta-huan yang sarat petunjuk sehingga menjadi jelaslah jalan-jalan tersebut, menjadi jelaslah (perbedaan) antara petunjuk dari kese-satan, dan hidayah dari kesesatan. Tiada tersisa sedikit syubhat pun untuk membatalkan hal yang berkaitan dengannya, sehingga tiada suatu syubhat sekecil apa pun (yang dapat dijadikan pegangan) oleh orang yang ingin merontokkannya dan tidak ada kerancuan bagi pencari kebenaran. Karena ia turun dari Dzat Yang Mahasem-purna ilmu, rahmat dan penjelasanNya, tidak ada penjelasan (yang lebih terang) setelah penjelasanNya. Tujuannya, agar binasalah orang yang binasa dengan keterangan yang nyata dan (supaya) tetap hiduplah orang yang hidup dengan bukti yang nyata. ﴾ وَٱللَّهُ يَهۡدِي مَن يَشَآءُ ﴿ "Dan Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya," dari kalangan orang-orang yang (sebelumnya) telah diputuskan ketetapan baik baginya dan berpijak b e n a r ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "kepada jalan yang lurus," yaitu jalan yang terang (yang pintas) yang menghantarkan kepada Allah dan kepada tempat kemuliaanNya (surga), jalan yang berisi ilmu tentang kebenaran dan pengutamaan serta pengamalan kebenaran. Allah memerata-kan keterangan yang sempurna bagi semua makhlukNya dan mengistimewakan dengan (pemberian) hidayah bagi orang-orang yang Dia kehendaki. Inilah karunia dan kebaikanNya. Dan karunia Allah tidak akan terputus. Itulah keadilanNya, memotong hujjah bagi orang yang berdalih. Allah lebih mengetahui di mana mele-takkan sumber-sumber kebaikanNya.

An-Nur 24:47

"Dan mereka berkata, 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak-datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (An-Nur: 47-50). (47) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penya-kit, kelemahan iman, nifak, keraguan dan kelesuan. Allah menge-tahui bahwa mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka, (berencana) berpegang teguh dengan beriman dan taat kepada Allah. Tapi, kemudian mereka tidak melaksanakan apa yang telah mereka katakan. Sekelompok dari mereka berpaling secara keter-laluan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling." Sesungguhnya orang yang berpaling terkadang punya niatan untuk kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan. Namun, orang yang telah berpaling ini (benar-benar) telah mem-belok, tidak ada (niat) untuk menoleh dan melihat apa yang telah dia campakkan. Anda memperhatikan keadaan ini bersesuaian dengan kondisi mayoritas orang yang mengklaim diri beriman dan taat kepada Allah, padahal dia seorang yang lemah imannya. Anda menyaksikannya tidak mau melaksanakan kebanyakan dari ibadah-ibadah, khususnya ibadah yang memberatkan banyak orang seperti membayar zakat, infak yang wajib dan sunnah, jihad di jalan Allah, dan lain-lain. (48) ﴾ وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka," maksudnya bila terjadi di antara mereka dengan seseorang tarik menarik tentang (kepastian) hukum, lalu mereka telah diseru untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasulnya ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang," maksudnya mereka menginginkan hukum-hukum jahiliyah dan lebih mengutamakan hukum undang-undang (konvensional) yang tidak sesuai dengan ajaran agama daripada hukum-hukum syar'i. Karena mereka tahu bahwa kebenaran akan menyalahkan mereka dan syariat Allah tidak menetapkan hukum kecuali yang selaras dengan fakta yang tejadi. (49) ﴾ وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Tetapi jika keputusan itu untuk (ke-maslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul," maksudnya kepada hukum syar'i ﴾ مُذۡعِنِينَ ﴿ "dengan patuh," bukan karena kete-tapan itu adalah hukum syar'i, akan tetapi hanyalah karena kepu-tusan tersebut selaras dengan hawa nafsu mereka. Dalam hal ini, mereka bukan termasuk orang-orang yang (patut) dipuji, walaupun mereka datang kepada beliau dengan patuh. Karena, hamba yang sejati, adalah insan yang mengikuti kebenaran, pada masalah yang dia suka atau yang dia benci, yang menyenangkan atau yang me-nyedihkannya. Adapun orang-orang yang mengikuti syariat ketika sejalan dengan hawa nafsunya dan mencampakkannya ketika bertentangan dengan dirinya, lebih mengedepankan nafsunya di atas syariat, maka dia bukanlah seorang hamba yang hakiki. (50) Allah berfirman dalam nada celaan terhadap mereka atas pembelokan mereka dari hukum syar'i ﴾ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Apakah dalam hati mereka ada penyakit," yaitu penyakit yang mengeluarkan hati dari kesehatannya, menghilangkan sensitivitasnya, sehingga dia bagaikan orang yang sakit yang menolak hal-hal yang ber-manfaat bagi dirinya dan (justru) mengarah kepada sesuatu yang dapat mencelakakannya ﴾ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ ﴿ "atau (karena) mereka ragu-ragu," maksudnya mereka ragu dan hati mereka bimbang mengenai hukum Allah dan RasulNya, dan mereka melancarkan tuduhan bahwa RasulNya tidak menghukumi secara benar, ﴾ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka," maksudnya menetapkan keputusan hukum atas mereka dengan hukuman yang zhalim dan curang. Sesung-guhnya, inilah sifat-sifat mereka, ﴾ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." Adapun hukum Allah dan RasulNya, pastilah berada di level puncak keadilan dan kebenaran serta selaras dengan hikmah. Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 50 ﴿ "Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Ma`idah: 50). Pada ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa iman tidaklah seke-dar ucapan (sehingga perlu disertai dengan amalan). Karena itu, Allah meniadakan keimanan dari seseorang yang telah berpaling dari ketaatan dan kewajiban tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya pada setiap keadaan, dan bahwasanya orang yang tidak patuh kepadanya (hukum itu), menandakan (eksistensi) penyakit pada hatinya dan keraguan dalam keimanannya, dan bahwa diha-ramkan berburuk sangka terhadap hukum-hukum syariat, dengan menyangka bahwa hukum syariat berseberangan dengan spirit keadilan dan hikmah. Dan setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang telah berpaling dari hukum syar'i, Dia lalu menyebut-kan keadaan orang-orangorang Mukmin yang terpuji. Allah berfirman,

An-Nur 24:48

"Dan mereka berkata, 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak-datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (An-Nur: 47-50). (47) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penya-kit, kelemahan iman, nifak, keraguan dan kelesuan. Allah menge-tahui bahwa mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka, (berencana) berpegang teguh dengan beriman dan taat kepada Allah. Tapi, kemudian mereka tidak melaksanakan apa yang telah mereka katakan. Sekelompok dari mereka berpaling secara keter-laluan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling." Sesungguhnya orang yang berpaling terkadang punya niatan untuk kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan. Namun, orang yang telah berpaling ini (benar-benar) telah mem-belok, tidak ada (niat) untuk menoleh dan melihat apa yang telah dia campakkan. Anda memperhatikan keadaan ini bersesuaian dengan kondisi mayoritas orang yang mengklaim diri beriman dan taat kepada Allah, padahal dia seorang yang lemah imannya. Anda menyaksikannya tidak mau melaksanakan kebanyakan dari ibadah-ibadah, khususnya ibadah yang memberatkan banyak orang seperti membayar zakat, infak yang wajib dan sunnah, jihad di jalan Allah, dan lain-lain. (48) ﴾ وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka," maksudnya bila terjadi di antara mereka dengan seseorang tarik menarik tentang (kepastian) hukum, lalu mereka telah diseru untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasulnya ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang," maksudnya mereka menginginkan hukum-hukum jahiliyah dan lebih mengutamakan hukum undang-undang (konvensional) yang tidak sesuai dengan ajaran agama daripada hukum-hukum syar'i. Karena mereka tahu bahwa kebenaran akan menyalahkan mereka dan syariat Allah tidak menetapkan hukum kecuali yang selaras dengan fakta yang tejadi. (49) ﴾ وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Tetapi jika keputusan itu untuk (ke-maslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul," maksudnya kepada hukum syar'i ﴾ مُذۡعِنِينَ ﴿ "dengan patuh," bukan karena kete-tapan itu adalah hukum syar'i, akan tetapi hanyalah karena kepu-tusan tersebut selaras dengan hawa nafsu mereka. Dalam hal ini, mereka bukan termasuk orang-orang yang (patut) dipuji, walaupun mereka datang kepada beliau dengan patuh. Karena, hamba yang sejati, adalah insan yang mengikuti kebenaran, pada masalah yang dia suka atau yang dia benci, yang menyenangkan atau yang me-nyedihkannya. Adapun orang-orang yang mengikuti syariat ketika sejalan dengan hawa nafsunya dan mencampakkannya ketika bertentangan dengan dirinya, lebih mengedepankan nafsunya di atas syariat, maka dia bukanlah seorang hamba yang hakiki. (50) Allah berfirman dalam nada celaan terhadap mereka atas pembelokan mereka dari hukum syar'i ﴾ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Apakah dalam hati mereka ada penyakit," yaitu penyakit yang mengeluarkan hati dari kesehatannya, menghilangkan sensitivitasnya, sehingga dia bagaikan orang yang sakit yang menolak hal-hal yang ber-manfaat bagi dirinya dan (justru) mengarah kepada sesuatu yang dapat mencelakakannya ﴾ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ ﴿ "atau (karena) mereka ragu-ragu," maksudnya mereka ragu dan hati mereka bimbang mengenai hukum Allah dan RasulNya, dan mereka melancarkan tuduhan bahwa RasulNya tidak menghukumi secara benar, ﴾ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka," maksudnya menetapkan keputusan hukum atas mereka dengan hukuman yang zhalim dan curang. Sesung-guhnya, inilah sifat-sifat mereka, ﴾ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." Adapun hukum Allah dan RasulNya, pastilah berada di level puncak keadilan dan kebenaran serta selaras dengan hikmah. Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 50 ﴿ "Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Ma`idah: 50). Pada ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa iman tidaklah seke-dar ucapan (sehingga perlu disertai dengan amalan). Karena itu, Allah meniadakan keimanan dari seseorang yang telah berpaling dari ketaatan dan kewajiban tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya pada setiap keadaan, dan bahwasanya orang yang tidak patuh kepadanya (hukum itu), menandakan (eksistensi) penyakit pada hatinya dan keraguan dalam keimanannya, dan bahwa diha-ramkan berburuk sangka terhadap hukum-hukum syariat, dengan menyangka bahwa hukum syariat berseberangan dengan spirit keadilan dan hikmah. Dan setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang telah berpaling dari hukum syar'i, Dia lalu menyebut-kan keadaan orang-orangorang Mukmin yang terpuji. Allah berfirman,

An-Nur 24:49

"Dan mereka berkata, 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak-datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (An-Nur: 47-50). (47) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penya-kit, kelemahan iman, nifak, keraguan dan kelesuan. Allah menge-tahui bahwa mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka, (berencana) berpegang teguh dengan beriman dan taat kepada Allah. Tapi, kemudian mereka tidak melaksanakan apa yang telah mereka katakan. Sekelompok dari mereka berpaling secara keter-laluan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling." Sesungguhnya orang yang berpaling terkadang punya niatan untuk kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan. Namun, orang yang telah berpaling ini (benar-benar) telah mem-belok, tidak ada (niat) untuk menoleh dan melihat apa yang telah dia campakkan. Anda memperhatikan keadaan ini bersesuaian dengan kondisi mayoritas orang yang mengklaim diri beriman dan taat kepada Allah, padahal dia seorang yang lemah imannya. Anda menyaksikannya tidak mau melaksanakan kebanyakan dari ibadah-ibadah, khususnya ibadah yang memberatkan banyak orang seperti membayar zakat, infak yang wajib dan sunnah, jihad di jalan Allah, dan lain-lain. (48) ﴾ وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka," maksudnya bila terjadi di antara mereka dengan seseorang tarik menarik tentang (kepastian) hukum, lalu mereka telah diseru untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasulnya ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang," maksudnya mereka menginginkan hukum-hukum jahiliyah dan lebih mengutamakan hukum undang-undang (konvensional) yang tidak sesuai dengan ajaran agama daripada hukum-hukum syar'i. Karena mereka tahu bahwa kebenaran akan menyalahkan mereka dan syariat Allah tidak menetapkan hukum kecuali yang selaras dengan fakta yang tejadi. (49) ﴾ وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Tetapi jika keputusan itu untuk (ke-maslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul," maksudnya kepada hukum syar'i ﴾ مُذۡعِنِينَ ﴿ "dengan patuh," bukan karena kete-tapan itu adalah hukum syar'i, akan tetapi hanyalah karena kepu-tusan tersebut selaras dengan hawa nafsu mereka. Dalam hal ini, mereka bukan termasuk orang-orang yang (patut) dipuji, walaupun mereka datang kepada beliau dengan patuh. Karena, hamba yang sejati, adalah insan yang mengikuti kebenaran, pada masalah yang dia suka atau yang dia benci, yang menyenangkan atau yang me-nyedihkannya. Adapun orang-orang yang mengikuti syariat ketika sejalan dengan hawa nafsunya dan mencampakkannya ketika bertentangan dengan dirinya, lebih mengedepankan nafsunya di atas syariat, maka dia bukanlah seorang hamba yang hakiki. (50) Allah berfirman dalam nada celaan terhadap mereka atas pembelokan mereka dari hukum syar'i ﴾ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Apakah dalam hati mereka ada penyakit," yaitu penyakit yang mengeluarkan hati dari kesehatannya, menghilangkan sensitivitasnya, sehingga dia bagaikan orang yang sakit yang menolak hal-hal yang ber-manfaat bagi dirinya dan (justru) mengarah kepada sesuatu yang dapat mencelakakannya ﴾ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ ﴿ "atau (karena) mereka ragu-ragu," maksudnya mereka ragu dan hati mereka bimbang mengenai hukum Allah dan RasulNya, dan mereka melancarkan tuduhan bahwa RasulNya tidak menghukumi secara benar, ﴾ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka," maksudnya menetapkan keputusan hukum atas mereka dengan hukuman yang zhalim dan curang. Sesung-guhnya, inilah sifat-sifat mereka, ﴾ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." Adapun hukum Allah dan RasulNya, pastilah berada di level puncak keadilan dan kebenaran serta selaras dengan hikmah. Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 50 ﴿ "Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Ma`idah: 50). Pada ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa iman tidaklah seke-dar ucapan (sehingga perlu disertai dengan amalan). Karena itu, Allah meniadakan keimanan dari seseorang yang telah berpaling dari ketaatan dan kewajiban tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya pada setiap keadaan, dan bahwasanya orang yang tidak patuh kepadanya (hukum itu), menandakan (eksistensi) penyakit pada hatinya dan keraguan dalam keimanannya, dan bahwa diha-ramkan berburuk sangka terhadap hukum-hukum syariat, dengan menyangka bahwa hukum syariat berseberangan dengan spirit keadilan dan hikmah. Dan setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang telah berpaling dari hukum syar'i, Dia lalu menyebut-kan keadaan orang-orangorang Mukmin yang terpuji. Allah berfirman,

An-Nur 24:50

"Dan mereka berkata, 'Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).' Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu. Sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (ketidak-datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (An-Nur: 47-50). (47) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang zhalim, (yaitu) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penya-kit, kelemahan iman, nifak, keraguan dan kelesuan. Allah menge-tahui bahwa mereka mengucapkan dengan lisan-lisan mereka, (berencana) berpegang teguh dengan beriman dan taat kepada Allah. Tapi, kemudian mereka tidak melaksanakan apa yang telah mereka katakan. Sekelompok dari mereka berpaling secara keter-laluan, berdasarkan Firman Allah, ﴾ وَّهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "sedang mereka berpaling." Sesungguhnya orang yang berpaling terkadang punya niatan untuk kembali kepada sesuatu yang telah dia tinggalkan. Namun, orang yang telah berpaling ini (benar-benar) telah mem-belok, tidak ada (niat) untuk menoleh dan melihat apa yang telah dia campakkan. Anda memperhatikan keadaan ini bersesuaian dengan kondisi mayoritas orang yang mengklaim diri beriman dan taat kepada Allah, padahal dia seorang yang lemah imannya. Anda menyaksikannya tidak mau melaksanakan kebanyakan dari ibadah-ibadah, khususnya ibadah yang memberatkan banyak orang seperti membayar zakat, infak yang wajib dan sunnah, jihad di jalan Allah, dan lain-lain. (48) ﴾ وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, agar Rasul itu menghukum (mengadili) di antara mereka," maksudnya bila terjadi di antara mereka dengan seseorang tarik menarik tentang (kepastian) hukum, lalu mereka telah diseru untuk berhukum dengan hukum Allah dan Rasulnya ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang," maksudnya mereka menginginkan hukum-hukum jahiliyah dan lebih mengutamakan hukum undang-undang (konvensional) yang tidak sesuai dengan ajaran agama daripada hukum-hukum syar'i. Karena mereka tahu bahwa kebenaran akan menyalahkan mereka dan syariat Allah tidak menetapkan hukum kecuali yang selaras dengan fakta yang tejadi. (49) ﴾ وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Tetapi jika keputusan itu untuk (ke-maslahatan) mereka, maka mereka datang kepada Rasul," maksudnya kepada hukum syar'i ﴾ مُذۡعِنِينَ ﴿ "dengan patuh," bukan karena kete-tapan itu adalah hukum syar'i, akan tetapi hanyalah karena kepu-tusan tersebut selaras dengan hawa nafsu mereka. Dalam hal ini, mereka bukan termasuk orang-orang yang (patut) dipuji, walaupun mereka datang kepada beliau dengan patuh. Karena, hamba yang sejati, adalah insan yang mengikuti kebenaran, pada masalah yang dia suka atau yang dia benci, yang menyenangkan atau yang me-nyedihkannya. Adapun orang-orang yang mengikuti syariat ketika sejalan dengan hawa nafsunya dan mencampakkannya ketika bertentangan dengan dirinya, lebih mengedepankan nafsunya di atas syariat, maka dia bukanlah seorang hamba yang hakiki. (50) Allah berfirman dalam nada celaan terhadap mereka atas pembelokan mereka dari hukum syar'i ﴾ أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Apakah dalam hati mereka ada penyakit," yaitu penyakit yang mengeluarkan hati dari kesehatannya, menghilangkan sensitivitasnya, sehingga dia bagaikan orang yang sakit yang menolak hal-hal yang ber-manfaat bagi dirinya dan (justru) mengarah kepada sesuatu yang dapat mencelakakannya ﴾ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ ﴿ "atau (karena) mereka ragu-ragu," maksudnya mereka ragu dan hati mereka bimbang mengenai hukum Allah dan RasulNya, dan mereka melancarkan tuduhan bahwa RasulNya tidak menghukumi secara benar, ﴾ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan RasulNya berlaku zhalim kepada mereka," maksudnya menetapkan keputusan hukum atas mereka dengan hukuman yang zhalim dan curang. Sesung-guhnya, inilah sifat-sifat mereka, ﴾ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zhalim." Adapun hukum Allah dan RasulNya, pastilah berada di level puncak keadilan dan kebenaran serta selaras dengan hikmah. Allah berfirman, ﴾ وَمَنۡ أَحۡسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكۡمٗا لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ 50 ﴿ "Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin." (Al-Ma`idah: 50). Pada ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa iman tidaklah seke-dar ucapan (sehingga perlu disertai dengan amalan). Karena itu, Allah meniadakan keimanan dari seseorang yang telah berpaling dari ketaatan dan kewajiban tunduk kepada hukum Allah dan RasulNya pada setiap keadaan, dan bahwasanya orang yang tidak patuh kepadanya (hukum itu), menandakan (eksistensi) penyakit pada hatinya dan keraguan dalam keimanannya, dan bahwa diha-ramkan berburuk sangka terhadap hukum-hukum syariat, dengan menyangka bahwa hukum syariat berseberangan dengan spirit keadilan dan hikmah. Dan setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang telah berpaling dari hukum syar'i, Dia lalu menyebut-kan keadaan orang-orangorang Mukmin yang terpuji. Allah berfirman,

An-Nur 24:51

" Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut ke-pada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (An-Nur: 51-52). (51) Maksudnya ﴾ إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin," yang hakiki, yang membenarkan iman me-reka dengan amal-amal mereka tatkala diseru ﴾ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di an-tara mereka," baik sesuai dengan nafsu mereka atau menyelisihinya, ﴾ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ ﴿ "ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh'." Maksudnya kami dengarkan hukum Allah dan RasulNya, kami menjawab orang yang menyeru kepadanya, kami menaati dengan ketaatan yang penuh tanpa rasa keberatan, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." Allah melingkupkan kemuliaan untuk mereka, karena (hakikat) kebahagiaan itu adalah mendapatkan sesuatu yang dipinta dan selamat dari hal-hal yang dibenci. Dan tidaklah berbahagia kecuali orang yang berhukum dan taat kepada Allah dan RasulNya. (52) Tatkala Allah menyebutkan keutamaan taat dalam berhukum secara khusus, maka Dia menyebutkan keutamaan taat secara umum pada seluruh keadaan. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya," lalu membenarkan al-khabar dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya ﴾ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ ﴿ "dan takut kepada Allah," maksudnya takut kepadaNya dengan ketakutan yang berkaitan dengan pengetahuan, sehingga dia meninggalkan apa yang dilarang, menahan dirinya dari apa yang diinginkan nafsunya ﴾ وَيَتَّقۡهِ ﴿ "dan bertakwa kepadaNya," dengan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang. Karena, hakikat takwa secara umum, mencakup melakukan perintah dan menjauhi larangan. Tatkala lafazh at-taqwa bersanding dengan lafazh al-birr (kebaikan) atau ath-tha'ah (ketaatan) –sebagaimana dalam pemba-hasan di sini– maka ditafsirkan dengan membentengi diri dari azab Allah dengan cara meninggalkan kemaksiatan kepadaNya. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Maka mereka," yang telah memadukan antara keta-atan kepada Allah dan RasulNya, rasa takut dan takwa kepadaNya ﴾ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang mendapat kemenangan," dengan selamatnya mereka dari azab karena mereka meninggalkan perkara-perkara pemicunya sehingga meraih pahala karena telah menem-puh sebab kausalitasnya. Kemenangan hanya terbatas bagi mereka (saja). Adapun orang yang belum menyandangi diri dengan sifat-sifat mereka, maka sungguh dia akan kehilangan kemenangan ini sesuai dengan kadar kekurangan untuk menyempurnakan sifat-sifat ini. Ayat ini mencakup hak kolektif antara Allah dan RasulNya. Yaitu, ketaatan yang berkonsekuensi kepada keimanan dan (me-ngandung) hak khusus untuk Allah yaitu rasa takut dan ketakwaan. Masih tersisa (jenis hak) ketiga yang khusus bagi RasulNya, yaitu pemberian dukungan dan pengagungan, sebagaimana Allah telah menggabungkan tiga hak ini dalam surat al-Fath, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ وَتُسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا 9 ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkan (agama)Nya, membesarkannya dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 9).

An-Nur 24:52

" Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut ke-pada Allah dan bertakwa kepadaNya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (An-Nur: 51-52). (51) Maksudnya ﴾ إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya jawaban orang-orang Mukmin," yang hakiki, yang membenarkan iman me-reka dengan amal-amal mereka tatkala diseru ﴾ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) di an-tara mereka," baik sesuai dengan nafsu mereka atau menyelisihinya, ﴾ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ ﴿ "ialah ucapan, 'Kami mendengar, dan kami patuh'." Maksudnya kami dengarkan hukum Allah dan RasulNya, kami menjawab orang yang menyeru kepadanya, kami menaati dengan ketaatan yang penuh tanpa rasa keberatan, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." Allah melingkupkan kemuliaan untuk mereka, karena (hakikat) kebahagiaan itu adalah mendapatkan sesuatu yang dipinta dan selamat dari hal-hal yang dibenci. Dan tidaklah berbahagia kecuali orang yang berhukum dan taat kepada Allah dan RasulNya. (52) Tatkala Allah menyebutkan keutamaan taat dalam berhukum secara khusus, maka Dia menyebutkan keutamaan taat secara umum pada seluruh keadaan. Allah berfirman, ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya," lalu membenarkan al-khabar dan mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya ﴾ وَيَخۡشَ ٱللَّهَ ﴿ "dan takut kepada Allah," maksudnya takut kepadaNya dengan ketakutan yang berkaitan dengan pengetahuan, sehingga dia meninggalkan apa yang dilarang, menahan dirinya dari apa yang diinginkan nafsunya ﴾ وَيَتَّقۡهِ ﴿ "dan bertakwa kepadaNya," dengan meninggalkan perkara-perkara yang dilarang. Karena, hakikat takwa secara umum, mencakup melakukan perintah dan menjauhi larangan. Tatkala lafazh at-taqwa bersanding dengan lafazh al-birr (kebaikan) atau ath-tha'ah (ketaatan) –sebagaimana dalam pemba-hasan di sini– maka ditafsirkan dengan membentengi diri dari azab Allah dengan cara meninggalkan kemaksiatan kepadaNya. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Maka mereka," yang telah memadukan antara keta-atan kepada Allah dan RasulNya, rasa takut dan takwa kepadaNya ﴾ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang mendapat kemenangan," dengan selamatnya mereka dari azab karena mereka meninggalkan perkara-perkara pemicunya sehingga meraih pahala karena telah menem-puh sebab kausalitasnya. Kemenangan hanya terbatas bagi mereka (saja). Adapun orang yang belum menyandangi diri dengan sifat-sifat mereka, maka sungguh dia akan kehilangan kemenangan ini sesuai dengan kadar kekurangan untuk menyempurnakan sifat-sifat ini. Ayat ini mencakup hak kolektif antara Allah dan RasulNya. Yaitu, ketaatan yang berkonsekuensi kepada keimanan dan (me-ngandung) hak khusus untuk Allah yaitu rasa takut dan ketakwaan. Masih tersisa (jenis hak) ketiga yang khusus bagi RasulNya, yaitu pemberian dukungan dan pengagungan, sebagaimana Allah telah menggabungkan tiga hak ini dalam surat al-Fath, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ وَتُسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا 9 ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkan (agama)Nya, membesarkannya dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 9).

An-Nur 24:53

"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah, 'Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal.' Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Katakanlah 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, sedangkan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidaklah kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang'." (An-Nur: 53-54). (53) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah ketika berjihad, dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang yang dalam hatinya terda-pat penyakit dan kelemahan iman bahwasanya mereka bersumpah atas nama Allah ﴾ لَئِنۡ أَمَرۡتَهُمۡ ﴿ "jika kamu suruh mereka," (melakukan) hal-hal yang akan dihadapi atau engkau mengeluarkan pernyataan kepada mereka ketika engkau akan keluar (berjihad), ﴾ لَيَخۡرُجُنَّۖ ﴿ "pas-tilah mereka akan pergi." Makna yang pertama lebih utama. Allah berfirman untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّا تُقۡسِمُواْۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ja-nganlah kamu bersumpah'," kami tidak butuh terhadap sumpah dan dalih alasan kalian. Karena Allah telah memberitahu kami tentang keadaan kalian. Ketaatan kalian telah jelas, tidak tersembunyi bagi kami. Kami mengetahui perasaan berat dan kemalasan pada kalian tanpa ada dalih alasan. Maka tidak perlu lagi alasan dan sumpah kalian. Sesungguhnya orang yang memerlukan sumpah ialah orang yang keadaan jati dirinya masih belum jelas dan kondisinya masih meragukan. Barangkali orang semacam ini alasannya bermanfaat baginya untuk berlepas diri (dari kesalahan). Adapun kalian, maka tidak (diterima) dan tidak (diterima). Perkara yang ditunggu buat kalian dan ditakutkan (terjadi) atas kalian adalah tibanya siksa dan murka Allah. Karena itu, Allah akan mengancam dengan Firman-Nya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," lalu Dia akan membalas kalian dengan balasan yang sempurna. (54) Beginilah keadaan mereka dalam aspek yang sama. Adapun tugas Rasulullah adalah memerintahkan dan melarang kalian. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۖ فَإِن ﴿ "Katakanlah, 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika'," mereka melaksanakannya, maka itu adalah keberuntungan dan kebahagian kalian. Dan bila ﴾ تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡهِ مَا حُمِّلَ ﴿ "kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepada-nya," berupa (penyampaian) risalah, sementara Rasulullah telah menunaikan tugasnya ﴾ وَعَلَيۡكُم مَّا حُمِّلۡتُمۡۖ ﴿ "dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu," dalam bentuk ketaatan. Keadaan kalian sudah jelas dan nyata. Kesesatan dan kekeliruan kalian serta azab yang berhak kalian terima (semuanya) telah jelas, ﴾ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ ﴿ "dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk," ke jalan yang lurus, dalam ucapan dan amalan. Maka, tidak ada jalan buat kalian menuju hidayah kecuali dengan cara menaatinya. Tidak mungkin itu terjadi tanpa ketaatan, bahkan merupakan sesuatu yang mustahil. ﴾ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan tidaklah kewajiban rasul itu melain-kan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," maksudnya me-nyampaikan kepada kalian secara jelas yang tiada menyisakan keraguan dan syubhat. Sungguh Rasulullah telah melakukannya. Beliau telah menyampaikan (risalah) dengan sejelas-jelasnya. Se-sungguhnya Dzat yang akan memperhitungkan (amalan) kalian dan memberikan balasan bagi kalian adalah Allah تعالى. Rasulullah tiada memiliki kekuasaan sedikit pun dalam hal ini. Dan beliau telah menunaikan tugasnya.

An-Nur 24:54

"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah sekuat-kuat sumpah, jika kamu suruh mereka berperang, pastilah mereka akan pergi. Katakanlah, 'Janganlah kamu bersumpah, (karena ketaatan yang diminta ialah) ketaatan yang sudah dikenal.' Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Katakanlah 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, sedangkan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidaklah kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang'." (An-Nur: 53-54). (53) Allah تعالى mengabarkan keadaan orang-orang yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah ketika berjihad, dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang yang dalam hatinya terda-pat penyakit dan kelemahan iman bahwasanya mereka bersumpah atas nama Allah ﴾ لَئِنۡ أَمَرۡتَهُمۡ ﴿ "jika kamu suruh mereka," (melakukan) hal-hal yang akan dihadapi atau engkau mengeluarkan pernyataan kepada mereka ketika engkau akan keluar (berjihad), ﴾ لَيَخۡرُجُنَّۖ ﴿ "pas-tilah mereka akan pergi." Makna yang pertama lebih utama. Allah berfirman untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّا تُقۡسِمُواْۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ja-nganlah kamu bersumpah'," kami tidak butuh terhadap sumpah dan dalih alasan kalian. Karena Allah telah memberitahu kami tentang keadaan kalian. Ketaatan kalian telah jelas, tidak tersembunyi bagi kami. Kami mengetahui perasaan berat dan kemalasan pada kalian tanpa ada dalih alasan. Maka tidak perlu lagi alasan dan sumpah kalian. Sesungguhnya orang yang memerlukan sumpah ialah orang yang keadaan jati dirinya masih belum jelas dan kondisinya masih meragukan. Barangkali orang semacam ini alasannya bermanfaat baginya untuk berlepas diri (dari kesalahan). Adapun kalian, maka tidak (diterima) dan tidak (diterima). Perkara yang ditunggu buat kalian dan ditakutkan (terjadi) atas kalian adalah tibanya siksa dan murka Allah. Karena itu, Allah akan mengancam dengan Firman-Nya, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," lalu Dia akan membalas kalian dengan balasan yang sempurna. (54) Beginilah keadaan mereka dalam aspek yang sama. Adapun tugas Rasulullah adalah memerintahkan dan melarang kalian. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ قُلۡ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۖ فَإِن ﴿ "Katakanlah, 'Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika'," mereka melaksanakannya, maka itu adalah keberuntungan dan kebahagian kalian. Dan bila ﴾ تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡهِ مَا حُمِّلَ ﴿ "kalian berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepada-nya," berupa (penyampaian) risalah, sementara Rasulullah telah menunaikan tugasnya ﴾ وَعَلَيۡكُم مَّا حُمِّلۡتُمۡۖ ﴿ "dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu," dalam bentuk ketaatan. Keadaan kalian sudah jelas dan nyata. Kesesatan dan kekeliruan kalian serta azab yang berhak kalian terima (semuanya) telah jelas, ﴾ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهۡتَدُواْۚ ﴿ "dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk," ke jalan yang lurus, dalam ucapan dan amalan. Maka, tidak ada jalan buat kalian menuju hidayah kecuali dengan cara menaatinya. Tidak mungkin itu terjadi tanpa ketaatan, bahkan merupakan sesuatu yang mustahil. ﴾ وَمَا عَلَى ٱلرَّسُولِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan tidaklah kewajiban rasul itu melain-kan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang," maksudnya me-nyampaikan kepada kalian secara jelas yang tiada menyisakan keraguan dan syubhat. Sungguh Rasulullah telah melakukannya. Beliau telah menyampaikan (risalah) dengan sejelas-jelasnya. Se-sungguhnya Dzat yang akan memperhitungkan (amalan) kalian dan memberikan balasan bagi kalian adalah Allah تعالى. Rasulullah tiada memiliki kekuasaan sedikit pun dalam hal ini. Dan beliau telah menunaikan tugasnya.

An-Nur 24:55

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 55). (55) Ini termasuk janjiNya yang benar, yang telah dapat disaksikan penafsiran dan kenyataannya, bahwasanya Dia telah menjanjikan orang yang menegakkan iman dan amal shalih dari umat ini, untuk menjadikan mereka penguasa di muka bumi. Me-reka akan menjadi para pemimpin di bumi, yang memegang kendali pengaturannya. Sesungguhnya Allah (juga) akan memantapkan ﴾ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ ﴿ "bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka," yaitu agama Islam yang mengungguli seluruh agama. Allah meridhainya untuk umat ini karena keutamaan umat ini, kemuliaan dan curahan kenikmatan bagi mereka, dalam wujud, mereka sanggup menegakkan agama Islam, syariatNya yang zahir atau yang batin, dalam diri-diri mereka dan orang lain. Pasalnya, orang-orang selain mereka, seperti para pemeluk agama-agama dan orang-orang kafir akan terkalahkan dan menjadi hina. Allah akan menggantikan (keadaan) mereka ﴾ مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ ﴿ "setelah ketakutan mereka." (Dahulu) salah seorang dari mereka tidak dapat menampakkan agamanya, tiada lain disebabkan gencarnya gangguan dari banyak orang kafir dan keberadaan jamaah kaum Muslimin yang berjumlah sedikit sekali bila dibandingkan jumlah mereka. Penduduk bumi telah sepakat memerangi kaum Muslimin. Mereka telah berbuat melampaui batas dengan berbagai macam kezhaliman. Allah menjanjikan kaum Mukminin peristiwa-peris-tiwa di atas ketika ayat ini turun. Padahal umat Islam belum me-nyaksikan pengendalian kekuasaan di bumi dan pendudukan posisi di sana, serta kesanggupan untuk menegakkan agama Islam dan stabilitas keamanan yang sempurna, lantaran mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apa pun tanpa merasa takut kepada seorang pun kecuali hanya kepada Allah saja. Generasi awal umat ini melaksanakan keimanan dan amal shalih yang mengungguli umat lain, maka Allah meneguhkan me-reka (untuk menguasai) negeri-negeri dan umat manusia. Penjuru timur dan barat bumi telah ditaklukkan, sehingga diperoleh sta-bilitas keamanan yang sempurna dan pendudukan yang kuat. Ini termasuk ayat-ayat Allah yang menakjubkan dan menawan. Per-kara ini akan terus berlaku sampai Hari Kiamat. Selama mereka menegakkan iman dan amal shalih, pasti janji Allah kepada me-reka akan terwujud. Orang-orang kafir dan munafik hanya mampu menguasai (kaum Muslimin) dan dimenangkan pada sebagian waktu lantaran kesalahan yang dilakukan kaum Muslimin terhadap keimanan dan amal shalih. ﴾ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu," yaitu kedudukan dan kekuasaan yang sempurna bagi kalian, wahai kaum Muslimin. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "Maka mereka itulah orang-orang yang fasik," orang-orang yang keluar dari ketaatan ke-pada Allah dan mengalami kerusakan (jiwa dan hati), mereka tidak pantas dengan kebaikan serta tidak ada kemampuan menerima perbaikan. Karena, seseorang yang meninggalkan keimanannya ketika dalam keadaan perkasa dan kuat serta tidak adanya sebab yang menghalanginya untuk beriman, ini menunjukkan kerusakan niat dan kejelekan jiwanya. Pasalnya, tidak ada faktor yang men-dorong untuk meninggalkan agama ini kecuali perkara-perkara tersebut. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah mendudukkan orang-orang sebelum kita dan menjadikan mereka pimpinan di bumi ini, sebagaimana yang dikatakan Musa kepada kaumnya, ﴾ وَيَسۡتَخۡلِفَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَيَنظُرَ كَيۡفَ تَعۡمَلُونَ 129 ﴿ "Dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Dia akan me-lihat bagaimana perbuatanmu." (Al-A'raf: 129). Dan Firman Allah, ﴾ وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ] وَنَجۡعَلَهُمۡ أَئِمَّةٗ وَنَجۡعَلَهُمُ ٱلۡوَٰرِثِينَ 5 [وَنُمَكِّنَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu [dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)], dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi." (Al-Qashash: 5-6).

An-Nur 24:56

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kalian diberi rahmat. Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini, sedang tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat kembali itu." (An-Nur: 56-57). (56) Allah تعالى memerintahkan penegakan shalat beserta (melengkapi) rukun, syarat dan adab-adabnya secara lahir dan batin, dan memberikan zakat dari harta-harta yang Allah titipkan dan berikan kepada para hamba dengan cara menyerahkannya kepada orang-orang fakir dan selain mereka yang disebutkan Allah termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Dua ibadah ini merupakan ketaatan yang paling agung dan mulia, yang mengga-bungkan antara hakNya dan hak makhlukNya, dan supaya ikhlas kepada Dzat yang disembah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Kemudian Allah menambahkan perintah umum setelah dua perkara tadi, seraya berfirman, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ ﴿ "Dan taatlah kamu kepada Rasul," dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, ﴾ مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ ﴿ "Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah me-naati Allah." (An-Nisa`: 80). ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kalian," ketika kalian melaksanakan perkara itu ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat," maka siapa yang menginginkan rahmat, inilah jalannya. Dan barangsiapa yang mengharapkannya tanpa menegakkan shalat dan membayarkan zakat serta taat kepada rasul, maka dia hanyalah seorang yang mengkhayal lagi berdusta. Nafsunya telah memberinya angan-angan dusta. (57) ﴾ لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini." Janganlah kalian terpedaya dengan kenikmatan yang telah mereka nikmati pada kehidupan dunia. Karena sesung-guhnya Allah hanya mengulur mereka tapi tidak melalaikan mereka. ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ 24 ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 34). Karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Sedang tem-pat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat kembali itu," maksudnya tempat kesudahan yang paling jelek adalah tempat kembali bagi orang-orang kafir, tempat kembali yang jelek, penuh derita dan hukuman yang abadi.

An-Nur 24:57

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kalian diberi rahmat. Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini, sedang tempat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat kembali itu." (An-Nur: 56-57). (56) Allah تعالى memerintahkan penegakan shalat beserta (melengkapi) rukun, syarat dan adab-adabnya secara lahir dan batin, dan memberikan zakat dari harta-harta yang Allah titipkan dan berikan kepada para hamba dengan cara menyerahkannya kepada orang-orang fakir dan selain mereka yang disebutkan Allah termasuk golongan yang berhak menerima zakat. Dua ibadah ini merupakan ketaatan yang paling agung dan mulia, yang mengga-bungkan antara hakNya dan hak makhlukNya, dan supaya ikhlas kepada Dzat yang disembah dan berbuat baik kepada sesama manusia. Kemudian Allah menambahkan perintah umum setelah dua perkara tadi, seraya berfirman, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ ﴿ "Dan taatlah kamu kepada Rasul," dengan melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya, ﴾ مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ ﴿ "Barangsiapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah me-naati Allah." (An-Nisa`: 80). ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kalian," ketika kalian melaksanakan perkara itu ﴾ تُرۡحَمُونَ ﴿ "diberi rahmat," maka siapa yang menginginkan rahmat, inilah jalannya. Dan barangsiapa yang mengharapkannya tanpa menegakkan shalat dan membayarkan zakat serta taat kepada rasul, maka dia hanyalah seorang yang mengkhayal lagi berdusta. Nafsunya telah memberinya angan-angan dusta. (57) ﴾ لَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Janganlah kamu kira bahwa orang-orang yang kafir itu dapat melemahkan (Allah dari mengazab mereka) di bumi ini." Janganlah kalian terpedaya dengan kenikmatan yang telah mereka nikmati pada kehidupan dunia. Karena sesung-guhnya Allah hanya mengulur mereka tapi tidak melalaikan mereka. ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ 24 ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 34). Karenanya, Dia berfirman, ﴾ وَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Sedang tem-pat tinggal mereka (di akhirat) adalah neraka. Dan sungguh amat jeleklah tempat kembali itu," maksudnya tempat kesudahan yang paling jelek adalah tempat kembali bagi orang-orang kafir, tempat kembali yang jelek, penuh derita dan hukuman yang abadi.

An-Nur 24:58

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (le-laki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh dari kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum Shalat Shubuh, ketika kalian menang-galkan pakaian (luar) kalian di tengah hari dan sesudah Shalat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kalian, sebagian kalian (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (An-Nur: 58-59). (58) Allah memerintahkan kaum Mukminin agar para budak dan anak-anak yang belum mencapai usia baligh meminta izin dari mereka. Allah telah menyebutkan hikmahNya. Ada tiga aurat (tiga waktu saat orang biasa membuka auratnya) bagi orang-orang yang seharusnya diminta izin kepada mereka, yaitu waktu tidur pada malam hari setelah Shalat Isya, waktu terjaga mereka sebelum Shalat Shubuh. Biasanya, orang yang tidur di malam hari mengenakan pakaian yang tidak biasa dipakai. Adapun tidur siang, [tatkala][22] umumnya jarang (dilakukan) seseorang memakai pakaian yang wajar pada waktu itu, maka Allah mengaitkannya dengan FirmanNya, ﴾ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ ﴿ "ketika kalian menanggal-kan pakaian (luar)mu di tengah hari," bagi yang tidur di tengah hari. Pada tiga kondisi ini para budak dan anak-anak kecil berkeduduk-an seperti orang-orang (pada umumnya) agar tidak masuk kecuali dengan izin. Adapun di luar keadaan ini, Allah berfirman, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu," maksudnya, (kedudukan) mereka tidaklah sama dengan selain mereka. Karena mereka selalu dibutuhkan, se-hingga menjadi beban bila mesti meminta izin setiap waktu. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Mereka melayani kalian, sebagian kalian (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)," maksudnya mondar-mandir untuk menyelesaikan kesibukan dan kebutuhan kalian. ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۗ ﴿ "Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian," yaitu sebagai penjelasan yang disertai dengan hikmah-Nya agar lebih meyakinkan dan menguatkan serta mengetahui rahmat dan hikmah Dzat yang telah membuat syariat. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." BagiNya ilmu yang meliputi perkara-perkara yang mesti ada, [hal-hal yang mustahil[23]], kemung-kinan-kemungkinan, dan hikmah yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Allah telah memberikan kepada para makhluk bentuk penciptaan yang sesuai. Dan memberikan kepada setiap hukum syar'i ketetapan hukum yang selaras. Termasuk hukum-hukum ini yang mana Allah sudah menerangkan dan menjelaskan sumber dan keelokannya. (59) ﴾ وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ ﴿ "Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh," yaitu keluarnya air mani, baik dalam keadaan terjaga atau ketika mimpi ﴾ فَلۡيَسۡتَـٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَـٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "maka hen-daklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin," yaitu pada setiap waktu. (Yang dimaksud dengan) 'orang-orang sebelum mereka' adalah mereka yang Allah sebutkan dalam FirmanNya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ...﴿ "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki ru-mah selain rumah kamu sampai kamu meminta izin terlebih dahulu…." (An-Nur: 27). ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦۗ ﴿ "Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya." Allah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukumNya secara rinci. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Ma-habijaksana." Pada dua ayat di atas terkandung beberapa faidah (pelajaran penting). Di antaranya: 1. Bahwa seorang tuan dan orang tua wali dari anak kecil di-perintahkan untuk mengajarkan ilmu dan adab-adab syar'i kepada budaknya dan orang-orang yang di bawah kekuasaannya. Karena Allah telah mengarahkan pembicaraan kepada mereka berdasarkan FirmanNya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسۡتَـٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh dari kalian…." Hal ini tidak mungkin (terwujud) kecuali melalui pengajaran dan pembinaan adab. Dan berdasarkan FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu" 2. Perintah untuk menjaga aurat dan berhati-hati dengannya dari segala sesuatu. Dan lokasi dan tempat yang diperkirakan aurat seseorang bisa terlihat, maka dilarang mandi dan cebok di sana. 3. Bolehnya membuka aurat bila diperlukan, seperti saat tidur, kencing, buang air besar dan lain-lain. 4. Kaum Muslimin dahulu terbiasa dengan tidur sebentar pada tengah hari, sebagaimana mereka terbiasa tidur di malam hari, karena Allah berbicara kepada mereka untuk menceritakan keadaan yang ada pada mereka. 5. Seorang anak kecil yang belum baligh tidak boleh diberi kesempatan melihat aurat, dan auratnya pun tidak boleh terlihat. Karena Allah tidaklah memerintahkan mereka untuk meminta izin melainkan pasti bertentangan dengan perkara yang dilarang. 6. Seorang budak juga tidak boleh melihat aurat tuannya, begitu pula tuannya tidak boleh melihat aurat budaknya. Sebagai-mana yang telah kita sebutkan di masalah anak kecil. 7. Hendaknya pemberi nasihat, guru, dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan yang berbicara tentang ilmu syar'i, hendaknya menghubungkan hukum dengan keterangan sumber dan sisi pengambilan hukum. Tidak sekedar menyebutkan hukum tanpa membawakan dalil dan alasannya. Karena Allah ketika menerangkan hukum yang dimaksud, selalu mengemuka-kan alasan-alasannya dengan FirmanNya, ﴾ ثَلَٰثُ عَوۡرَٰتٖ لَّكُمۡۚ ﴿ "(Itulah) tiga aurat bagi kamu." 8. Anak kecil dan budak sahaya menjadi obyek pengarahan aturan, sebagaimana halnya wali mereka menjadi obyek pengarah-an (aturan) berdasarkan Firman Allah, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu." 9. Sucinya air liur anak kecil, walaupun keluar setelah barang yang najis, seperti muntahannya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم ﴿ "Mereka melayani kamu" (diqiyaskan) dengan sabda Nabi ketika ditanya tentang kucing, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ وَالطَّوَّافَاتِ عَلَيْكُمْ. "Ia tidaklah najis, ia termasuk binatang jantan dan betina yang sering mondar-mandir bersama kalian."[24] 10. Bolehnya seseorang mempekerjakan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya sebagai pembantu, seperti anak-anak dengan cara yang yang wajar dan tidak memberatkan sang anak, berdasarkan FirmanNya, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم ﴿ "Mereka melayani kamu." 11. Bahwasanya hukum yang disebutkan di atas dengan terperinci ditujukan untuk anak-anak yang belum baligh. Adapun anak-anak yang sudah baligh, maka harus meminta izin. 12. Bahwasanya masa baligh (anak) terjadi dengan keluarnya mani. Setiap hukum syar'i dikaitkan dengan masa baligh. Masuk-nya (masa baligh) disebabkan keluarnya air mani. Ini telah disepa-kati para ulama. Sedangkan perbedaan yang terjadi adalah apakah masa baligh itu berdasarkan umur tertentu atau dengan tumbuhnya rambut kemaluan (atau tidak)? Wallahu a'lam.

An-Nur 24:59

"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (le-laki dan wanita) yang kalian miliki, dan orang-orang yang belum baligh dari kalian, meminta izin kepada kalian tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum Shalat Shubuh, ketika kalian menang-galkan pakaian (luar) kalian di tengah hari dan sesudah Shalat Isya. (Itulah) tiga aurat bagi kalian. Tidak ada dosa atas kalian dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kalian, sebagian kalian (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (An-Nur: 58-59). (58) Allah memerintahkan kaum Mukminin agar para budak dan anak-anak yang belum mencapai usia baligh meminta izin dari mereka. Allah telah menyebutkan hikmahNya. Ada tiga aurat (tiga waktu saat orang biasa membuka auratnya) bagi orang-orang yang seharusnya diminta izin kepada mereka, yaitu waktu tidur pada malam hari setelah Shalat Isya, waktu terjaga mereka sebelum Shalat Shubuh. Biasanya, orang yang tidur di malam hari mengenakan pakaian yang tidak biasa dipakai. Adapun tidur siang, [tatkala][22] umumnya jarang (dilakukan) seseorang memakai pakaian yang wajar pada waktu itu, maka Allah mengaitkannya dengan FirmanNya, ﴾ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ ٱلظَّهِيرَةِ ﴿ "ketika kalian menanggal-kan pakaian (luar)mu di tengah hari," bagi yang tidur di tengah hari. Pada tiga kondisi ini para budak dan anak-anak kecil berkeduduk-an seperti orang-orang (pada umumnya) agar tidak masuk kecuali dengan izin. Adapun di luar keadaan ini, Allah berfirman, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu," maksudnya, (kedudukan) mereka tidaklah sama dengan selain mereka. Karena mereka selalu dibutuhkan, se-hingga menjadi beban bila mesti meminta izin setiap waktu. Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم بَعۡضُكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ ﴿ "Mereka melayani kalian, sebagian kalian (ada keperluan) kepada sebagian (yang lain)," maksudnya mondar-mandir untuk menyelesaikan kesibukan dan kebutuhan kalian. ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۗ ﴿ "Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kalian," yaitu sebagai penjelasan yang disertai dengan hikmah-Nya agar lebih meyakinkan dan menguatkan serta mengetahui rahmat dan hikmah Dzat yang telah membuat syariat. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." BagiNya ilmu yang meliputi perkara-perkara yang mesti ada, [hal-hal yang mustahil[23]], kemung-kinan-kemungkinan, dan hikmah yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Allah telah memberikan kepada para makhluk bentuk penciptaan yang sesuai. Dan memberikan kepada setiap hukum syar'i ketetapan hukum yang selaras. Termasuk hukum-hukum ini yang mana Allah sudah menerangkan dan menjelaskan sumber dan keelokannya. (59) ﴾ وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ ﴿ "Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh," yaitu keluarnya air mani, baik dalam keadaan terjaga atau ketika mimpi ﴾ فَلۡيَسۡتَـٔۡذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَـٔۡذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "maka hen-daklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin," yaitu pada setiap waktu. (Yang dimaksud dengan) 'orang-orang sebelum mereka' adalah mereka yang Allah sebutkan dalam FirmanNya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَدۡخُلُواْ بُيُوتًا غَيۡرَ بُيُوتِكُمۡ حَتَّىٰ تَسۡتَأۡنِسُواْ ...﴿ "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki ru-mah selain rumah kamu sampai kamu meminta izin terlebih dahulu…." (An-Nur: 27). ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦۗ ﴿ "Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya." Allah menerangkan dan menjelaskan hukum-hukumNya secara rinci. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Ma-habijaksana." Pada dua ayat di atas terkandung beberapa faidah (pelajaran penting). Di antaranya: 1. Bahwa seorang tuan dan orang tua wali dari anak kecil di-perintahkan untuk mengajarkan ilmu dan adab-adab syar'i kepada budaknya dan orang-orang yang di bawah kekuasaannya. Karena Allah telah mengarahkan pembicaraan kepada mereka berdasarkan FirmanNya, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِيَسۡتَـٔۡذِنكُمُ ٱلَّذِينَ مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ وَٱلَّذِينَ لَمۡ يَبۡلُغُواْ ٱلۡحُلُمَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh dari kalian…." Hal ini tidak mungkin (terwujud) kecuali melalui pengajaran dan pembinaan adab. Dan berdasarkan FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu" 2. Perintah untuk menjaga aurat dan berhati-hati dengannya dari segala sesuatu. Dan lokasi dan tempat yang diperkirakan aurat seseorang bisa terlihat, maka dilarang mandi dan cebok di sana. 3. Bolehnya membuka aurat bila diperlukan, seperti saat tidur, kencing, buang air besar dan lain-lain. 4. Kaum Muslimin dahulu terbiasa dengan tidur sebentar pada tengah hari, sebagaimana mereka terbiasa tidur di malam hari, karena Allah berbicara kepada mereka untuk menceritakan keadaan yang ada pada mereka. 5. Seorang anak kecil yang belum baligh tidak boleh diberi kesempatan melihat aurat, dan auratnya pun tidak boleh terlihat. Karena Allah tidaklah memerintahkan mereka untuk meminta izin melainkan pasti bertentangan dengan perkara yang dilarang. 6. Seorang budak juga tidak boleh melihat aurat tuannya, begitu pula tuannya tidak boleh melihat aurat budaknya. Sebagai-mana yang telah kita sebutkan di masalah anak kecil. 7. Hendaknya pemberi nasihat, guru, dan orang-orang yang serupa dengan mereka dari kalangan yang berbicara tentang ilmu syar'i, hendaknya menghubungkan hukum dengan keterangan sumber dan sisi pengambilan hukum. Tidak sekedar menyebutkan hukum tanpa membawakan dalil dan alasannya. Karena Allah ketika menerangkan hukum yang dimaksud, selalu mengemuka-kan alasan-alasannya dengan FirmanNya, ﴾ ثَلَٰثُ عَوۡرَٰتٖ لَّكُمۡۚ ﴿ "(Itulah) tiga aurat bagi kamu." 8. Anak kecil dan budak sahaya menjadi obyek pengarahan aturan, sebagaimana halnya wali mereka menjadi obyek pengarah-an (aturan) berdasarkan Firman Allah, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ وَلَا عَلَيۡهِمۡ جُنَاحُۢ بَعۡدَهُنَّۚ ﴿ "Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu." 9. Sucinya air liur anak kecil, walaupun keluar setelah barang yang najis, seperti muntahannya, berdasarkan Firman Allah, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم ﴿ "Mereka melayani kamu" (diqiyaskan) dengan sabda Nabi ketika ditanya tentang kucing, إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ، إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِيْنَ وَالطَّوَّافَاتِ عَلَيْكُمْ. "Ia tidaklah najis, ia termasuk binatang jantan dan betina yang sering mondar-mandir bersama kalian."[24] 10. Bolehnya seseorang mempekerjakan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya sebagai pembantu, seperti anak-anak dengan cara yang yang wajar dan tidak memberatkan sang anak, berdasarkan FirmanNya, ﴾ طَوَّٰفُونَ عَلَيۡكُم ﴿ "Mereka melayani kamu." 11. Bahwasanya hukum yang disebutkan di atas dengan terperinci ditujukan untuk anak-anak yang belum baligh. Adapun anak-anak yang sudah baligh, maka harus meminta izin. 12. Bahwasanya masa baligh (anak) terjadi dengan keluarnya mani. Setiap hukum syar'i dikaitkan dengan masa baligh. Masuk-nya (masa baligh) disebabkan keluarnya air mani. Ini telah disepa-kati para ulama. Sedangkan perbedaan yang terjadi adalah apakah masa baligh itu berdasarkan umur tertentu atau dengan tumbuhnya rambut kemaluan (atau tidak)? Wallahu a'lam.

An-Nur 24:60

"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (An-Nur: 60). (60) ﴾ وَٱلۡقَوَٰعِدُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ ﴿ "Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung)," maksudnya para wanita yang telah berhenti dari persetubuhan dan syahwat. ﴾ ٱلَّٰتِي لَا يَرۡجُونَ نِكَاحٗا ﴿ "Yang tiada ingin kawin (lagi)," maksudnya tidak ingin menikah dan tidak menarik untuk dinikahi. Karena keadaannya yang sudah tua sehingga tidak memiliki hasrat atau lantaran fisiknya jelek sehingga tidak menarik lagi untuk dinikahi dan ia pun tidak punya hasrat. ﴾ فَلَيۡسَ عَلَيۡهِنَّ جُنَاحٌ ﴿ "Tiadalah atas mereka dosa," maksudnya salah dan dosa ﴾ أَن يَضَعۡنَ ثِيَابَهُنَّ ﴿ "menanggalkan pakaian mereka," yaitu baju yang nampak seperti khimar (penutup wajah) dan semisalnya, yang telah Allah perintahkan kepada para wanita, ﴾ وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّۖ ﴿ "Supaya mereka menurunkan khimar mereka di atas dada mereka," (An-Nur: 24), mereka diperbolehkan untuk membuka wajahnya karena aman dari kekhawatiran, baik yang muncul darinya atau mengarah ke-padanya. Tatkala diperbolehkannya menanggalkan pakaian, barang-kali terpahami darinya atas bolehnya memakai segala sesuatu, maka Allah mencegah kekhawatiran ini dengan berfirman, ﴾ غَيۡرَ مُتَبَرِّجَٰتِۭ بِزِينَةٖۖ ﴿ "dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan," maksud-nya tidak menampakkan perhiasannya kepada orang lain berupa tindakan menghiasi diri dengan baju yang tampak (mencolok), menutup wajahnya, dan (tidak) menghentakkan kaki ke tanah supaya diketahui perhiasan yang tersembunyi. Karena dengan perhiasan itu semata yang ada pada diri wanita, (walaupun ia sudah menutup dirinya, dan walaupun merupakan wanita yang sudah tidak diminati) dapat menimbulkan fitnah, dan menjerumus-kan orang yang melihatnya ke dalam dosa. ﴾ وَأَن يَسۡتَعۡفِفۡنَ خَيۡرٞ لَّهُنَّۗ ﴿ "Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka," kata isti'faf maknanya menciptakan 'iffah (kehormatan) dengan melakukan sebab kausalitas yang dapat merealisasikan-nya seperti menikah dan meninggalkan hal-hal yang ditakutkan menimbulkan fitnah. ﴾ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ ﴿ "Dan Allah Maha Mendengar," semua suara ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," niat-niat dan tujuan-tujuan. Hendaknya mereka mewaspadai setiap perkataan dan tujuan yang jelek, dan hendaknya mereka mengetahui bahwa Allah membalas perbuatan tersebut.

An-Nur 24:61

"Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, untuk makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sen-diri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang dite-tapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu, agar kamu memahami-nya." (An-Nur: 61). (61) Allah تعالى mengabarkan tentang kenikmatan yang di-karuniakan kepada hambaNya. Dia tidak menjadikan atas mereka dalam agama ini sesuatu yang memberatkan, bahkan telah memu-dahkannya dengan semaksimal mungkin. Dia berfirman, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلۡأَعۡمَىٰ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡأَعۡرَجِ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرِيضِ حَرَجٞ ﴿ "Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit," maksud-nya tidak ada dosa bagi mereka meninggalkan perkara-perkara yang wajib yang bergantung pada salah satu dari sebab-sebab di atas. Hal itu seperti berjihad dan ibadah serupa lainnya yang ter-gantung pada penglihatan orang yang buta, kenormalan orang cacat dan kesehatan orang yang sakit. Untuk tujuan makna umum ini yang telah kami sebutkan, Allah menyebutkan keterangan ini secara mutlak, tidak mengikatnya sebagaimana Allah mengikat FirmanNya, ﴾ وَلَا عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "Dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri," dosa ﴾ أَن تَأۡكُلُواْ مِنۢ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "untuk makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri," yaitu rumah anak-anak kalian. Hal ini senada dengan hadits shahih yang tsabit, أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيْكَ. "Kamu dan hartamu adalah milik bapakmu."[25] Dan dengan hadits yang lain, إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ. وَإِنَّ أَوْلَادَكُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ. "Sesungguhnya sebaik-baik yang kamu makan adalah dari jerih pa-yahmu, dan sesungguhnya anak-anakmu adalah dari jerih payahmu."[26] Bukan yang dimaksudkan dari Firman Allah, ﴾ مِنۢ بُيُوتِكُمۡ ﴿ "dari rumah-rumah kamu," rumah orang itu sendiri. Karena hal ini termasuk menyampaikan sesuatu yang sudah diketahui, yang tidaklah patut ada dalam Firman Allah, dan karena merupakan bentuk peniadaan dosa dari sesuatu yang diperkirakan timbulnya suatu dosa dari mereka yang telah disebutkan. Adapun rumah seseorang itu sendiri, tidak ada anggapan ke-liru sedikit pun tentangnya.﴾ أَوۡ بُيُوتِ ءَابَآئِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أُمَّهَٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ إِخۡوَٰنِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَخَوَٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَعۡمَٰمِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ عَمَّٰتِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ أَخۡوَٰلِكُمۡ أَوۡ بُيُوتِ خَٰلَٰتِكُمۡ ﴿ "atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perem-puan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan." Mereka adalah orang-orang yang telah diketahui. ﴾ أَوۡ مَا مَلَكۡتُم مَّفَاتِحَهُۥٓ ﴿ "Atau di rumah yang kamu miliki kuncinya," maksudnya rumah-rumah yang kalian urusi, baik disebabkan per-wakilan, pemberian wewenang atau hak lainnya. Adapun penafsiran ini dengan para budak, tidaklah tepat. Karena dua alasan: Pertama, (kepemilikan terhadap) seorang budak tidaklah dikatakan, "Kamu memiliki kunci-kuncinya." Bahkan di-katakan, "Apa-apa yang kalian miliki, apa-apa yang dimiliki tangan-mu." Karena mereka memilikinya secara utuh, tidak hanya sekedar kuncinya. Yang Kedua, bahwa rumah-rumah para budak tidak terlepas dari rumah orang itu sendiri (tuannya). Karena seorang budak dan sesuatu yang dimilikinya merupakan milik tuannya. Sehingga tidak ada alasan untuk menepiskan halangan darinya. ﴾ أَوۡ صَدِيقِكُمۡۚ ﴿ "Atau di rumah kawan-kawanmu," kesempitan yang dihilangkan adalah berupa makan di rumah-rumah ini. Semua itu berlaku bila tanpa izin. Hikmah yang terkandung telah jelas melalui redaksi ayat ini. Orang-orang yang disebutkan itu, berda-sarkan kebiasaan dan adat memiliki toleransi besar tentang masa-lah makan di rumah-rumah mereka, disebabkan adanya tali keke-rabatan yang dekat, wewenang yang sempurna, atau hubungan persahabatan. Kalau seandainya salah satu dari mereka ditakdirkan tidak punya toleransi, bakhil dalam masalah makan di rumahnya, maka tidak boleh makan di rumahnya dan kesempitan (dosa) pun belum hilang, dengan mempertimbangkan hikmah dan norma yang ada. Dan FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَأۡكُلُواْ جَمِيعًا أَوۡ أَشۡتَاتٗاۚ ﴿ "Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian." Setiap cara itu boleh, seluruh penghuni rumah itu boleh makan berbarengan atau mereka makan sendiri-sendiri. Hal ini hanya untuk menghilangkan rasa kesalahan, bukan untuk menafikan keutamaan. Jika tidak demikian, maka cara yang paling utama adalah berkumpul bersama ketika makan. ﴾ فَإِذَا دَخَلۡتُم بُيُوتٗا ﴿ "Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini)," kata nakirah (indefinite) pada susunan kalimat syarat, berarti mencakup rumah seseorang dan rumah lainnya, baik di rumah tersebut ada penghuninya atau tidak. Maka bila seorang memasukinya, ﴾ فَسَلِّمُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri," hendaknya sebagian kalian mengucapkan salam terhadap sebagian lainnya. Karena kaum Muslimin itu se-akan-akan pribadi yang satu, dalam rasa saling cinta, kasih sayang dan saling menolong, jadi, mengucap salam diperintahkan ketika akan masuk ke rumah orang lain, tanpa ada perbedaan antara rumah satu dengan lainnya. Sementara hukum meminta izin ada perincian pada hukum-hukumnya seperti pada penjelasan yang lalu. Kemudian Allah memuji ucapan salam ini dengan FirmanNya, ﴾ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُبَٰرَكَةٗ طَيِّبَةٗۚ ﴿ "Salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik," maksudnya ungkapan salam dengan mengucap "assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh" atau "as-salamu 'alaina wa'ala ibadillahish shalihin" ketika kalian memasuki rumah ﴾ تَحِيَّةٗ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ ﴿ "salam yang ditetapkan dari sisi Allah," mak-sudnya Allah telah mensyariatkannya buat kalian, dan Allah men-jadikan salam sebagai ungkapan selamat bagi kalian ﴾ مُبَٰرَكَةٗ ﴿ "penuh berkah," karena mencakup keselamatan dari kekurangan dan raihan rahmat, berkah, perkembangan dan pertambahan ﴾ طَيِّبَةٗۚ ﴿ "yang baik," karena salam ini berasal dari kalimat yang baik yang dicintai Allah, yang mengandung keramahan jiwa dan rasa sayang kepada orang yang menerima salam, dan melahirkan kecintaan. Sesudah menerangkan hukum-hukum yang mulia ini bagi kita, Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat(Nya) bagimu," yang menunjukkan kepada hukum-hukum syar'iNya dan hikmah-hikmahNya ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "agar kamu memahaminya," tentang hukum tersebut. Kalian mema-haminya dan mencernanya dengan hati kalian, supaya kalian men-jadi pemilik akal dan hati yang matang. Sesungguhnya mengenali hukum syar'iNya dengan benar akan menumbuhkan akal dan mengembangkan pikiran. Dikarena-kan nilai-nilainya merupakan nilai-nilai yang paling mulia dan adab-adabnya adalah adab yang sangat luhur, dan lantaran bentuk balasan itu berasal dari amalan sejenis, maka seseorang yang meng-gunakan akalnya untuk memikirkan Rabbnya dan merenungi ayat-ayat yang mana Allah menyerukan kepadanya, niscaya Allah akan menambahkan kemampuannya. Pada ayat-ayat ini, terdapat dalil tentang kaidah umum universal yaitu bahwa kebiasaan dan adat dapat mengkhususkan lafazh-lafazh, sebagaimana pengkhususan satu lafazh dengan lafazh lain. Pada asalnya, seseorang dilarang untuk mengambil makanan orang lain, sementara Allah membolehkan makan di rumah-rumah mereka berdasarkan norma kebiasaan dan adat. Setiap masalah ini tergantung dengan izin pemiliknya, bila diketahui dia memberikan izinnya, baik melalui kata-kata atau kebiasaan setempat, maka boleh melakukannya. Di dalamnya terdapat dalil bahwa seorang bapak boleh meng-ambil dan memiliki harta anaknya, selama tidak mengganggunya. Karena Allah menamakan rumah si anak sebagai rumah buat se-seorang. Ayat-ayat ini (juga) memuat dalil bahwa pemegang kewe-nangan dalam rumah seseorang semisal istri, saudara perempuan dan orang-orang yang semisal dengan mereka, boleh makan ber-dasarkan hukum kebiasaan dan memberi makan para peminta berdasarkan kebiasaan pula. Juga mengandung dalil atas bolehnya bergabung dalam masalah makan, baik mereka makan bersama atau secara terpisah. Walaupun hal itu mengakibatkan sebagian mereka makan lebih banyak daripada yang lainnya.

An-Nur 24:62

"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apa-bila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, niscaya mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sehingga meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keper-luan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi. Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepadaNya, lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nur: 62-64). (62) Ini adalah sebuah petunjuk dari Allah kepada para ham-baNya yang Mukmin, bahwa apabila mereka bersama Rasulullah dalam urusan yang memerlukan pertemuan, maksudnya termasuk bagian penting atau maslahat adalah hendaknya kalian bersatu-padu semuanya dalam masalah tersebut, semisal jihad, musyawa-rah dan urusan semisal yang menyertakan kaum Mukminin. Maka sesungguhnya aspek kemaslahatan yang ada mengharuskan ke-bersamaan mereka dan tidak boleh bercerai-berai. Seorang yang benar-benar beriman kepada Allah dan RasulNya, tidak pantas pergi untuk memenuhi keperluannya tanpa kembali ke keluarga-nya, atau melakukan sebagian keperluan yang membuatnya terpi-sah dari mereka kecuali setelah mendapatkan izin dari Rasulullah atau penggantinya. Allah menjadikan konsekuensi keimanannya dengan tidak pergi kecuali dengan izin dan memuji perbuatan dan sopan-santun mereka kepada Rasulullah dan para penguasa mereka. Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya," akan tetapi, apakah beliau memberikan izin kepada mereka atau tidak? Allah menyebutkan bahwa pemberian izin atas mereka dengan dua syarat pertama, untuk keperluan dan kepentingan mereka. Adapun orang yang meminta izin tanpa alasan tersebut, maka tidak diizinkan. Yang kedua, beliau berkehendak untuk memberi-kan izin, lalu kemaslahatan menuntutnya memberikan izin tanpa menimbulkan bahaya bagi pemberi izin. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا ٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِبَعۡضِ شَأۡنِهِمۡ فَأۡذَن لِّمَن شِئۡتَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka." Bila dia punya udzur dan meminta izin, maka bila pembatalan kepergiannya me-ngandung maslahat menurut kematangan cara berpikirnya atau karena keberanian yang dia miliki dan semacamnya, maka beliau (berhak) tidak mengizinkannya. Kendatipun demikian, bila dia meminta izin lalu Rasulullah memberikan izin dengan memenuhi dua syarat tersebut (dia meminta izin dan Rasulullah mengizinkan), maka Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk memohonkan ampun baginya, karena mungkin dia terlalu meremehkan dalam permintaan izin itu. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمُ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan menyayangi mereka dengan membolehkan izin bagi mereka karena ada suatu udzur. (63) ﴾ لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)," [maksudnya jangan kalian jadikan panggilan Rasul kepada kalian atau panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain]. Apabila beliau memanggil kalian, maka sambutlah sebagai bentuk kewajiban. Bahkan bila kalian shalat pun, wajib bagi kalian untuk menyambutnya. Tiada seorang pun yang mengatakan suatu perkataan yang menjadi kewajiban atas umat untuk menerima dan mengamalkan-nya kecuali perkataan Rasulullah, lantaran beliau terjaga dari kesa-lahan sementara kita diperintahkan untuk mengikuti beliau. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu." (Al-Anfal: 24). Demikian pula, janganlah kalian menjadikan panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian lainnya. Jangan kalian berkata, "Wahai Muhammad" saat kalian memanggil beliau atau "wahai Muhammad bin Abdillah!" sebagaimana kalian berkata kepada sesama kalian. Akan tetapi, karena kemuliaan dan keutamaan, serta keistimewaan Rasulullah dari orang lain, hendaklah dipanggil dengan, "Wahai Rasulullah, wahai Nabi Allah." ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah me-ngetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," ketika Allah memuji kaum yang beriman kepada Allah dan RasulNya yang mana apabila mereka bersama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan perte-muan, maka mereka tidak pergi (kecuali) setelah mereka meminta izin kepada beliau. Allah mengancam orang-orang yang tidak mau melakukannya dan pergi tanpa izin, walaupun kalian tidak menge-tahui kepergiannya (yang dilakukan) dengan sembunyi-sembunyi. Inilah yang dimaksudkan oleh FirmanNya, ﴾ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," maksudnya berlindung diri ketika mereka menyelinap keluar dan pergi dengan sesuatu yang dapat menghalangi pan-dangan mata, maka Allah mengetahui mereka dan akan memberi-kan balasan kepada mereka dengan balasan yang setimpal. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ ﴿ "Maka hendaklah orang-orang yang me-nyalahi perintahNya takut," yaitu mereka yang pergi untuk meme-nuhi sebagian keperluan mereka dengan berpaling dari Allah dan RasulNya, lalu bagaimana dengan orang-orang yang pergi tanpa ada urusan sama sekali? Ia meninggalkan urusan Allah tanpa ada kesibukan ﴾ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ ﴿ "mereka akan ditimpa cobaan," berupa kesyi-rikan dan kejahatan ﴾ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "atau ditimpa azab yang pedih." (64) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi," sebagai kerajaan dan hamba-hamba(Nya), Dia mengendalikan mereka dengan ketetapan hukum takdir dan hukum syar'iNya. ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang)," maksudnya ilmu Allah meliputi kondisi kalian, yang berbentuk kebaikan maupun kejelekan, dan mengetahui semua amal kalian. IlmuNya menghitungnya, penaNya (terus) mengalir berjalan bersama (berjalannya) amal hamba, para malaikat penjaga lagi penulis yang mulia mencatatnya (sebagai keburukan) atas kalian. ﴾ وَيَوۡمَ يُرۡجَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikem-balikan kepadaNya," yaitu pada Hari Kiamat ﴾ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْۗ ﴿ "lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." Dia mengabarkan kepada mereka seluruh amal perbuatan, yang kecil ataupun yang besar, sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, yang dipersaksikan oleh anggota tubuh mereka, sehingga mereka tidak bisa mengurangi dosanya dengan taubat dan tebusan. Tatkala Allah mengaitkan ilmuNya dengan amal perbuatan mereka, yaitu menyebut lafazh yang umum setelah perkara yang khusus, maka Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." 9

An-Nur 24:63

"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apa-bila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, niscaya mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sehingga meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keper-luan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi. Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepadaNya, lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nur: 62-64). (62) Ini adalah sebuah petunjuk dari Allah kepada para ham-baNya yang Mukmin, bahwa apabila mereka bersama Rasulullah dalam urusan yang memerlukan pertemuan, maksudnya termasuk bagian penting atau maslahat adalah hendaknya kalian bersatu-padu semuanya dalam masalah tersebut, semisal jihad, musyawa-rah dan urusan semisal yang menyertakan kaum Mukminin. Maka sesungguhnya aspek kemaslahatan yang ada mengharuskan ke-bersamaan mereka dan tidak boleh bercerai-berai. Seorang yang benar-benar beriman kepada Allah dan RasulNya, tidak pantas pergi untuk memenuhi keperluannya tanpa kembali ke keluarga-nya, atau melakukan sebagian keperluan yang membuatnya terpi-sah dari mereka kecuali setelah mendapatkan izin dari Rasulullah atau penggantinya. Allah menjadikan konsekuensi keimanannya dengan tidak pergi kecuali dengan izin dan memuji perbuatan dan sopan-santun mereka kepada Rasulullah dan para penguasa mereka. Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya," akan tetapi, apakah beliau memberikan izin kepada mereka atau tidak? Allah menyebutkan bahwa pemberian izin atas mereka dengan dua syarat pertama, untuk keperluan dan kepentingan mereka. Adapun orang yang meminta izin tanpa alasan tersebut, maka tidak diizinkan. Yang kedua, beliau berkehendak untuk memberi-kan izin, lalu kemaslahatan menuntutnya memberikan izin tanpa menimbulkan bahaya bagi pemberi izin. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا ٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِبَعۡضِ شَأۡنِهِمۡ فَأۡذَن لِّمَن شِئۡتَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka." Bila dia punya udzur dan meminta izin, maka bila pembatalan kepergiannya me-ngandung maslahat menurut kematangan cara berpikirnya atau karena keberanian yang dia miliki dan semacamnya, maka beliau (berhak) tidak mengizinkannya. Kendatipun demikian, bila dia meminta izin lalu Rasulullah memberikan izin dengan memenuhi dua syarat tersebut (dia meminta izin dan Rasulullah mengizinkan), maka Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk memohonkan ampun baginya, karena mungkin dia terlalu meremehkan dalam permintaan izin itu. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمُ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan menyayangi mereka dengan membolehkan izin bagi mereka karena ada suatu udzur. (63) ﴾ لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)," [maksudnya jangan kalian jadikan panggilan Rasul kepada kalian atau panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain]. Apabila beliau memanggil kalian, maka sambutlah sebagai bentuk kewajiban. Bahkan bila kalian shalat pun, wajib bagi kalian untuk menyambutnya. Tiada seorang pun yang mengatakan suatu perkataan yang menjadi kewajiban atas umat untuk menerima dan mengamalkan-nya kecuali perkataan Rasulullah, lantaran beliau terjaga dari kesa-lahan sementara kita diperintahkan untuk mengikuti beliau. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu." (Al-Anfal: 24). Demikian pula, janganlah kalian menjadikan panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian lainnya. Jangan kalian berkata, "Wahai Muhammad" saat kalian memanggil beliau atau "wahai Muhammad bin Abdillah!" sebagaimana kalian berkata kepada sesama kalian. Akan tetapi, karena kemuliaan dan keutamaan, serta keistimewaan Rasulullah dari orang lain, hendaklah dipanggil dengan, "Wahai Rasulullah, wahai Nabi Allah." ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah me-ngetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," ketika Allah memuji kaum yang beriman kepada Allah dan RasulNya yang mana apabila mereka bersama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan perte-muan, maka mereka tidak pergi (kecuali) setelah mereka meminta izin kepada beliau. Allah mengancam orang-orang yang tidak mau melakukannya dan pergi tanpa izin, walaupun kalian tidak menge-tahui kepergiannya (yang dilakukan) dengan sembunyi-sembunyi. Inilah yang dimaksudkan oleh FirmanNya, ﴾ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," maksudnya berlindung diri ketika mereka menyelinap keluar dan pergi dengan sesuatu yang dapat menghalangi pan-dangan mata, maka Allah mengetahui mereka dan akan memberi-kan balasan kepada mereka dengan balasan yang setimpal. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ ﴿ "Maka hendaklah orang-orang yang me-nyalahi perintahNya takut," yaitu mereka yang pergi untuk meme-nuhi sebagian keperluan mereka dengan berpaling dari Allah dan RasulNya, lalu bagaimana dengan orang-orang yang pergi tanpa ada urusan sama sekali? Ia meninggalkan urusan Allah tanpa ada kesibukan ﴾ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ ﴿ "mereka akan ditimpa cobaan," berupa kesyi-rikan dan kejahatan ﴾ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "atau ditimpa azab yang pedih." (64) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi," sebagai kerajaan dan hamba-hamba(Nya), Dia mengendalikan mereka dengan ketetapan hukum takdir dan hukum syar'iNya. ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang)," maksudnya ilmu Allah meliputi kondisi kalian, yang berbentuk kebaikan maupun kejelekan, dan mengetahui semua amal kalian. IlmuNya menghitungnya, penaNya (terus) mengalir berjalan bersama (berjalannya) amal hamba, para malaikat penjaga lagi penulis yang mulia mencatatnya (sebagai keburukan) atas kalian. ﴾ وَيَوۡمَ يُرۡجَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikem-balikan kepadaNya," yaitu pada Hari Kiamat ﴾ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْۗ ﴿ "lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." Dia mengabarkan kepada mereka seluruh amal perbuatan, yang kecil ataupun yang besar, sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, yang dipersaksikan oleh anggota tubuh mereka, sehingga mereka tidak bisa mengurangi dosanya dengan taubat dan tebusan. Tatkala Allah mengaitkan ilmuNya dengan amal perbuatan mereka, yaitu menyebut lafazh yang umum setelah perkara yang khusus, maka Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." 9

An-Nur 24:64

"Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, dan apa-bila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, niscaya mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sehingga meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keper-luan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi. Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepadaNya, lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An-Nur: 62-64). (62) Ini adalah sebuah petunjuk dari Allah kepada para ham-baNya yang Mukmin, bahwa apabila mereka bersama Rasulullah dalam urusan yang memerlukan pertemuan, maksudnya termasuk bagian penting atau maslahat adalah hendaknya kalian bersatu-padu semuanya dalam masalah tersebut, semisal jihad, musyawa-rah dan urusan semisal yang menyertakan kaum Mukminin. Maka sesungguhnya aspek kemaslahatan yang ada mengharuskan ke-bersamaan mereka dan tidak boleh bercerai-berai. Seorang yang benar-benar beriman kepada Allah dan RasulNya, tidak pantas pergi untuk memenuhi keperluannya tanpa kembali ke keluarga-nya, atau melakukan sebagian keperluan yang membuatnya terpi-sah dari mereka kecuali setelah mendapatkan izin dari Rasulullah atau penggantinya. Allah menjadikan konsekuensi keimanannya dengan tidak pergi kecuali dengan izin dan memuji perbuatan dan sopan-santun mereka kepada Rasulullah dan para penguasa mereka. Firman Allah, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَـٔۡذِنُونَكَ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya," akan tetapi, apakah beliau memberikan izin kepada mereka atau tidak? Allah menyebutkan bahwa pemberian izin atas mereka dengan dua syarat pertama, untuk keperluan dan kepentingan mereka. Adapun orang yang meminta izin tanpa alasan tersebut, maka tidak diizinkan. Yang kedua, beliau berkehendak untuk memberi-kan izin, lalu kemaslahatan menuntutnya memberikan izin tanpa menimbulkan bahaya bagi pemberi izin. Allah berfirman, ﴾ فَإِذَا ٱسۡتَـٔۡذَنُوكَ لِبَعۡضِ شَأۡنِهِمۡ فَأۡذَن لِّمَن شِئۡتَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki dari mereka." Bila dia punya udzur dan meminta izin, maka bila pembatalan kepergiannya me-ngandung maslahat menurut kematangan cara berpikirnya atau karena keberanian yang dia miliki dan semacamnya, maka beliau (berhak) tidak mengizinkannya. Kendatipun demikian, bila dia meminta izin lalu Rasulullah memberikan izin dengan memenuhi dua syarat tersebut (dia meminta izin dan Rasulullah mengizinkan), maka Allah memerintahkan kepada RasulNya untuk memohonkan ampun baginya, karena mungkin dia terlalu meremehkan dalam permintaan izin itu. Karenanya, Allah berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمُ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan menyayangi mereka dengan membolehkan izin bagi mereka karena ada suatu udzur. (63) ﴾ لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ ﴿ "Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain)," [maksudnya jangan kalian jadikan panggilan Rasul kepada kalian atau panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian yang lain]. Apabila beliau memanggil kalian, maka sambutlah sebagai bentuk kewajiban. Bahkan bila kalian shalat pun, wajib bagi kalian untuk menyambutnya. Tiada seorang pun yang mengatakan suatu perkataan yang menjadi kewajiban atas umat untuk menerima dan mengamalkan-nya kecuali perkataan Rasulullah, lantaran beliau terjaga dari kesa-lahan sementara kita diperintahkan untuk mengikuti beliau. Allah berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu." (Al-Anfal: 24). Demikian pula, janganlah kalian menjadikan panggilan kalian kepada Rasul sebagaimana panggilan sebagian kalian kepada sebagian lainnya. Jangan kalian berkata, "Wahai Muhammad" saat kalian memanggil beliau atau "wahai Muhammad bin Abdillah!" sebagaimana kalian berkata kepada sesama kalian. Akan tetapi, karena kemuliaan dan keutamaan, serta keistimewaan Rasulullah dari orang lain, hendaklah dipanggil dengan, "Wahai Rasulullah, wahai Nabi Allah." ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah telah me-ngetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," ketika Allah memuji kaum yang beriman kepada Allah dan RasulNya yang mana apabila mereka bersama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan perte-muan, maka mereka tidak pergi (kecuali) setelah mereka meminta izin kepada beliau. Allah mengancam orang-orang yang tidak mau melakukannya dan pergi tanpa izin, walaupun kalian tidak menge-tahui kepergiannya (yang dilakukan) dengan sembunyi-sembunyi. Inilah yang dimaksudkan oleh FirmanNya, ﴾ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ﴿ "orang-orang yang berangsur-angsur pergi dari kalian dengan berlindung (kepada kawannya)," maksudnya berlindung diri ketika mereka menyelinap keluar dan pergi dengan sesuatu yang dapat menghalangi pan-dangan mata, maka Allah mengetahui mereka dan akan memberi-kan balasan kepada mereka dengan balasan yang setimpal. Oleh karena itu, Allah mengancam mereka dengan Firman-Nya, ﴾ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ ﴿ "Maka hendaklah orang-orang yang me-nyalahi perintahNya takut," yaitu mereka yang pergi untuk meme-nuhi sebagian keperluan mereka dengan berpaling dari Allah dan RasulNya, lalu bagaimana dengan orang-orang yang pergi tanpa ada urusan sama sekali? Ia meninggalkan urusan Allah tanpa ada kesibukan ﴾ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ ﴿ "mereka akan ditimpa cobaan," berupa kesyi-rikan dan kejahatan ﴾ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "atau ditimpa azab yang pedih." (64) ﴾ أَلَآ إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Ketahuilah sesungguhnya kepunyaan Allah-lah segala sesuatu yang di langit dan bumi," sebagai kerajaan dan hamba-hamba(Nya), Dia mengendalikan mereka dengan ketetapan hukum takdir dan hukum syar'iNya. ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ مَآ أَنتُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Sungguh Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang)," maksudnya ilmu Allah meliputi kondisi kalian, yang berbentuk kebaikan maupun kejelekan, dan mengetahui semua amal kalian. IlmuNya menghitungnya, penaNya (terus) mengalir berjalan bersama (berjalannya) amal hamba, para malaikat penjaga lagi penulis yang mulia mencatatnya (sebagai keburukan) atas kalian. ﴾ وَيَوۡمَ يُرۡجَعُونَ إِلَيۡهِ ﴿ "Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikem-balikan kepadaNya," yaitu pada Hari Kiamat ﴾ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُواْۗ ﴿ "lalu diterangkanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." Dia mengabarkan kepada mereka seluruh amal perbuatan, yang kecil ataupun yang besar, sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, yang dipersaksikan oleh anggota tubuh mereka, sehingga mereka tidak bisa mengurangi dosanya dengan taubat dan tebusan. Tatkala Allah mengaitkan ilmuNya dengan amal perbuatan mereka, yaitu menyebut lafazh yang umum setelah perkara yang khusus, maka Allah berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمُۢ ﴿ "Dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu." 9

Al-Furqan 25:1

"Mahaberkah Allah yang telah menurunkan al-Furqan (yaitu al-Qur`an) kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (Al-Furqan: 1-2). Menurut Mayoritas Ulama Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan tentang keagunganNya yang sem-purna dan kemanunggalanNya di dalam keesaan dari segala sisi, banyaknya kebaikan dan karuniaNya, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahaberkah." Maksudnya Mahaagung, Mahasempurna sifat-sifat-Nya dan Mahabanyak kebaikanNya, yang di antara karunia dan nikmatNya yang terbesar adalah bahwa Dia telah menurunkan al-Qur`an ini, yang membedakan antara yang halal dengan yang haram, antara petunjuk dengan kesesatan, antara orang-orang yang berbahagia dengan orang-orang yang sengsara, ﴾ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," yaitu Muhammad a yang telah menyempurnakan urutan ubudiyah dan mengungguli seluruh rasul; ﴾ لِيَكُونَ ﴿ "agar ia menjadi," maksudnya penurunan al-Furqan kepada hambaNya itu agar menjadi ﴾ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ﴿ "pemberi peringatan kepada seluruh alam," yang memberikan mereka peringatan akan siksa Allah dan azab-Nya, menjelaskan kepada mereka letak-letak keridhaanNya dari kemurkaanNya, sehingga siapa saja yang menerima peringatannya dan mengamalkannya, niscaya (menjadi) termasuk orang-orang yang selamat di dunia dan akhirat, yaitu orang-orang yang meraih kebahagiaan abadi dan kerajaan nan kekal. Apakah ada sesuatu lagi di atas nikmat, karunia dan ihsan ini? Maka Mahaluhur Allah yang mana ini merupakan sebagian dari karunia dan berkahNya. (2) ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang kepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi" maksudnya kepunyaanNya semata hak pengen-dalian pada keduanya, apa saja yang ada pada keduanya adalah hamba dan budak bagiNya, tunduk kepada keagunganNya lagi patuh kepada rububiyahNya, dan mereka sangat butuh kepada belas kasihNya; Yang mana ﴾ لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ ﴿ "Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya)." Bagaimana mungkin Dia akan mempunyai anak atau sekutu, se-dangkan Dia adalah Yang Maha Raja (Kuasa) sedangkan selain Dia adalah budak-budakNya; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, sedang-kan selain Dia adalah di bawah keperkasaanNya; dan Dia-lah Yang Mahakaya dengan DzatNya dari segala sisi, sedangkan semua makhluk sangat tergantung [butuh] kepadaNya secara otomatis dari segala sisi? Dan bagaimana mungkin Dia akan mempunyai sekutu dalam kerajaan (kekuasaanNya), sedangkan ubun-ubun semua (makhluk) ada di TanganNya. Mereka tidak bergerak atau diam dan tidak pula berbuat kecuali dengan izinNya. Maka Maha-suci Allah dari semua itu dengan sesuci-suciNya. Sungguh orang yang mengatakan demikian (yaitu bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu. Pent.) sama sekali tidak menaruh hormat kepada Allah dengan penghormatan yang sebenar-benarnya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu," meliputi alam atas dan alam bawah, yang berupa hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati, ﴾ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ﴿ "lalu Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapi-nya." Maksudnya, Dia telah memberikan kepada setiap makhluk (ciptaan) itu segala sesuatu yang pantas dan sesuai dengannya sebagai ciptaan, dan sesuai dengan tuntutan kebijaksanaanNya dalam semua itu; sehingga setiap makhluk (ciptaanNya) menjadi sangat tidak masuk akal sehat kalau terbentuk berbeda dengan bentuk dan rupanya yang tampak, bahkan setiap bagian dan ang-gota dari satu makhluk (ciptaan) tidak akan cocok baginya selain tempat yang telah ditetapkan untuknya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى 1 ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ 2 وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ 3 ﴿ "Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) lalu memberi petunjuk." (Al-A'la: 1-3). Dan Dia berfirman, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (Thaha: 50). Setelah Allah menjelaskan kesempurnaanNya, keagungan dan berlimpahnya karuniaNya, dan hal itu mengharuskan agar (hanya) Dia semata yang pantas dicintai, diibadahi (disembah), diagung-kan, diesakan dengan tulus, tidak ada sekutu bagiNya, maka sangat tepat untuk dijelaskan kebatilan beribadah (menyembah) kepada selainNya, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:2

"Mahaberkah Allah yang telah menurunkan al-Furqan (yaitu al-Qur`an) kepada hambaNya, agar ia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. Yang kepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya." (Al-Furqan: 1-2). Menurut Mayoritas Ulama Makkiyah (1) Ini adalah penjelasan tentang keagunganNya yang sem-purna dan kemanunggalanNya di dalam keesaan dari segala sisi, banyaknya kebaikan dan karuniaNya, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahaberkah." Maksudnya Mahaagung, Mahasempurna sifat-sifat-Nya dan Mahabanyak kebaikanNya, yang di antara karunia dan nikmatNya yang terbesar adalah bahwa Dia telah menurunkan al-Qur`an ini, yang membedakan antara yang halal dengan yang haram, antara petunjuk dengan kesesatan, antara orang-orang yang berbahagia dengan orang-orang yang sengsara, ﴾ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ ﴿ "kepada hambaNya," yaitu Muhammad a yang telah menyempurnakan urutan ubudiyah dan mengungguli seluruh rasul; ﴾ لِيَكُونَ ﴿ "agar ia menjadi," maksudnya penurunan al-Furqan kepada hambaNya itu agar menjadi ﴾ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ﴿ "pemberi peringatan kepada seluruh alam," yang memberikan mereka peringatan akan siksa Allah dan azab-Nya, menjelaskan kepada mereka letak-letak keridhaanNya dari kemurkaanNya, sehingga siapa saja yang menerima peringatannya dan mengamalkannya, niscaya (menjadi) termasuk orang-orang yang selamat di dunia dan akhirat, yaitu orang-orang yang meraih kebahagiaan abadi dan kerajaan nan kekal. Apakah ada sesuatu lagi di atas nikmat, karunia dan ihsan ini? Maka Mahaluhur Allah yang mana ini merupakan sebagian dari karunia dan berkahNya. (2) ﴾ ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Yang kepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi" maksudnya kepunyaanNya semata hak pengen-dalian pada keduanya, apa saja yang ada pada keduanya adalah hamba dan budak bagiNya, tunduk kepada keagunganNya lagi patuh kepada rububiyahNya, dan mereka sangat butuh kepada belas kasihNya; Yang mana ﴾ لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٞ فِي ٱلۡمُلۡكِ ﴿ "Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya)." Bagaimana mungkin Dia akan mempunyai anak atau sekutu, se-dangkan Dia adalah Yang Maha Raja (Kuasa) sedangkan selain Dia adalah budak-budakNya; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa, sedang-kan selain Dia adalah di bawah keperkasaanNya; dan Dia-lah Yang Mahakaya dengan DzatNya dari segala sisi, sedangkan semua makhluk sangat tergantung [butuh] kepadaNya secara otomatis dari segala sisi? Dan bagaimana mungkin Dia akan mempunyai sekutu dalam kerajaan (kekuasaanNya), sedangkan ubun-ubun semua (makhluk) ada di TanganNya. Mereka tidak bergerak atau diam dan tidak pula berbuat kecuali dengan izinNya. Maka Maha-suci Allah dari semua itu dengan sesuci-suciNya. Sungguh orang yang mengatakan demikian (yaitu bahwa Allah mempunyai anak atau sekutu. Pent.) sama sekali tidak menaruh hormat kepada Allah dengan penghormatan yang sebenar-benarnya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ ﴿ "Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu," meliputi alam atas dan alam bawah, yang berupa hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati, ﴾ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا ﴿ "lalu Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapi-nya." Maksudnya, Dia telah memberikan kepada setiap makhluk (ciptaan) itu segala sesuatu yang pantas dan sesuai dengannya sebagai ciptaan, dan sesuai dengan tuntutan kebijaksanaanNya dalam semua itu; sehingga setiap makhluk (ciptaanNya) menjadi sangat tidak masuk akal sehat kalau terbentuk berbeda dengan bentuk dan rupanya yang tampak, bahkan setiap bagian dan ang-gota dari satu makhluk (ciptaan) tidak akan cocok baginya selain tempat yang telah ditetapkan untuknya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَبِّحِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ٱلۡأَعۡلَى 1 ٱلَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ 2 وَٱلَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ 3 ﴿ "Sucikanlah nama Rabbmu Yang Paling Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaanNya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) lalu memberi petunjuk." (Al-A'la: 1-3). Dan Dia berfirman, ﴾ رَبُّنَا ٱلَّذِيٓ أَعۡطَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ خَلۡقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ 50 ﴿ "Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." (Thaha: 50). Setelah Allah menjelaskan kesempurnaanNya, keagungan dan berlimpahnya karuniaNya, dan hal itu mengharuskan agar (hanya) Dia semata yang pantas dicintai, diibadahi (disembah), diagung-kan, diesakan dengan tulus, tidak ada sekutu bagiNya, maka sangat tepat untuk dijelaskan kebatilan beribadah (menyembah) kepada selainNya, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:3

"Kemudian mereka mengambil sembahan-sembahan selain-Nya (untuk disembah), yang tidak menciptakan sesuatu apa pun, sementara mereka sendiri pun diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan dan tidak kuasa memati-kan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan." (Al-Furqan: 3). (3) Maksudnya, di antara yang sangat aneh dan bukti yang paling pasti atas kedunguan mereka dan kepicikan akal mereka, bahkan paling menunjukkan kepada kezhaliman dan kelancangan mereka kepada Rabb mereka adalah mereka mengangkat sem-bahan-sembahan yang sifatnya benar-benar berada pada puncak ketidakberdayaan, yaitu mereka (sembahan-sembahan itu) sama sekali tidak mampu menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri adalah makhluk ciptaan, bahkan sebagian di antara sem-bahan-sembahan itu ada yang dibuat oleh tangan mereka (para penyembah itu)! ﴾ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا ﴿ "Dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudaratan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan," yakni kemanfaatan sedikit maupun banyak. Sebab kata (dharran dan naf`an. pent) berbentuk nakirah (indefinit noun) dalam bentuk nafi (kalimat negatif). ﴾ وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا ﴿ "Dan tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan." Maksudnya, menghidupkan kembali sesudah ke-matian. Maka ketetapan akal sehat yang paling mendasar menyata-kan kebatilan dan kerusakan ketuhanan dari sembahan-sembahan tersebut, dan kerusakan akal orang-orang yang menjadikannya sebagai sembahan dan sekutu bagi Sang Pencipta semua makhluk tanpa persekutuan bagiNya dalam menciptakannya, yaitu (Pencipta) yang di TanganNya-lah manfaat, bahaya, pemberian (sesuatu) dan pencegahan(nya), yang menghidupkan, mematikan dan membang-kitkan kembali orang-orang yang ada di dalam kubur serta meng-himpun mereka pada Hari Kebangkitan. Sesungguhnya Dia telah menciptakan bagi mereka dua tem-pat tinggal: tempat kesengsaraan, kehinaan dan hukuman bagi siapa saja yang menyembah sembahan selain Allah, dan tempat kemenangan, kebahagiaan dan kenikmatan abadi untuk siapa saja yang (hanya) menjadikan Allah semata sebagai sembahannya. Setelah Allah memutuskan dengan dalil (argumen) yang pasti lagi sangat jelas kebenaran tauhid dan kebatilan lawannya (syirik), maka Allah menegaskan kebenaran kerasulan (Nabi Muhammad a. Pent.) dan kebatilan perkataan orang yang menentang dan membangkang terhadapnya, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:4

"Dan orang-orang kafir berkata, 'Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.' Maka sungguh mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang.' Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Al-Furqan: 4-6). (4) Maksudnya, dan orang-orang yang kafir kepada Allah, yang kekafiran mereka telah memastikan mereka untuk mengata-kan tentang al-Qur`an dan Rasulullah, "Sesungguhnya al-Qur`an ini adalah kedustaan yang dibuat-buat oleh Muhammad, dan ke-bohongan yang diada-adakannya atas Nama Allah, dan dia ditolong oleh orang-orang lain untuk semua ini." Lalu Allah سبحانه وتعالى membantah mereka atas ungkapan itu, bahwa semua itu adalah sikap pembang-kangan mereka dan kelancangan mereka melakukan kezhaliman dan kedustaan besar yang tidak mungkin bisa masuk kepada akal sehat seseorang. Sebab, mereka adalah orang-orang yang sangat mengetahui kondisi Rasulullah a, kesempurnaan kejujurannya, amanahnya dan budi pekertinya yang sangat sempurna; dan bahwa tidak mungkin bagi Muhammad dan seluruh manusia membuat al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling mulia lagi paling tinggi; dan bahwa dia sama sekali tidak pernah berkumpul dengan siapa pun yang menolongnya untuk hal ini. ﴾ فَقَدۡ جَآءُو ﴿ "Maka sesungguhnya mereka telah berbuat," dengan perkataan seperti itu dengan ﴾ ظُلۡمٗا وَزُورٗا ﴿ "suatu kezhaliman dan dusta yang besar." (5) Di antara bagian dari perkataan mereka berkenaan dengan hal di atas adalah, mereka mengatakan, 'Yang dibawa oleh Muhammad ini adalah ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٱكۡتَتَبَهَا ﴿ "dongengan-dongeng-an orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan." Maksudnya, ini adalah cerita orang-orang terdahulu dan dongeng mereka yang diterima dari mulut ke mulut dan dituturkan oleh setiap orang, lalu Muhammad minta supaya disalin; ﴾ فَهِيَ تُمۡلَىٰ عَلَيۡهِ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang." Perkataan mereka ini mencakup sejumlah dosa besar, yaitu: -   Tuduhan mereka terhadap Rasulullah a (yang merupakan manusia paling mulia lagi paling jujur di tengah-tengah mereka), dengan tuduhan dusta dan kebohongan besar. -   Pemberitaan yang mereka lakukan tentang al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling benar, paling agung lagi paling mulia ini, bahwasanya al-Qur`an adalah kedustaan dan kebohongan. -   Sesungguhnya dalam perkataan mereka tersirat ungkapan bahwa mereka mampu mendatangkan (perkataan) yang semisal al-Qur`an, dan bahwa makhluk yang sangat lemah dari segala sisi-nya mampu menyaingi Allah, Sang Pencipta nan Mahasempurna dari seluruh sisi, dengan salah satu sifatNya, yaitu kalam. -   Sesungguhnya jati diri Rasulullah a telah diketahui, dan mereka sangat mengetahui akan hal itu, yaitu bahwa dia tidak bisa menulis dan tidak pernah berkumpul dengan orang yang akan menuliskan untuknya, namun mereka telah mengklaim hal itu. (6) Maka dari itu Allah membantah mereka dengan Firman-Nya, ﴾ قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi." Maksudnya, al-Qur`an itu diturunkan oleh Allah yang pe-ngetahuanNya meliputi semua apa yang ada di langit dan bumi, dari yang tidak tampak dan yang nampak, dari yang jelas dan yang tersembunyi. (Ini) seperti FirmanNya, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Sisi penegakan hujjah terhadap mereka (yang terkandung dalam ayat ini. Pent.) adalah bahwa yang telah menurunkan al-Qur`an ini adalah (Tuhan) yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Maka mustahil dan tidak masuk akal kalau seorang makhluk me-ngatakan atau mengada-adakan al-Qur`an ini, lalu mengatakan, "Ini berasal dari sisi Allah" padahal ia bukan dari sisiNya, lalu dia menghalalkan darah dan harta siapa saja yang menyalahinya, dan beranggapan bahwa Allah telah mengatakan hal itu kepadanya. Allah mengetahui segala sesuatu, maka dari itu Dia memberikan dukungan dan pertolongan kepadanya (Muhammad) dalam me-lawan musuh-musuhNya, serta menjadikannya dapat menguasai mereka dan negerinya. Maka tidak mungkin seseorang akan meng-ingkari al-Qur`an ini kecuali setelah dia mengingkari (luasnya) pengetahuan Allah. Ini sama sekali tidak pernah dikatakan oleh sekelompok anak cucu Adam, kecuali kaum filsafat Atheisme! Dan juga, sesungguhnya penjelasan tentang ilmu Allah a yang meliputi segala sesuatu mengingatkan dan mendorong me-reka untuk merenungkan al-Qur`an; dan bahwa kalau saja mereka merenungkannya, tentu mereka akan melihat ilmu dan hukum-hukumNya yang membuktikan dengan jelas lagi pasti bahwasanya al-Qur`an ini tidak mungkin ada kecuali berasal dari Dzat yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Sekalipun mereka mengingkari tauhid dan kerasulan, namun karena kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka, maka Dia tidak membiarkan mereka dan tidak membiarkan kezhaliman mereka, bahkan Dia menyeru dan mengajak mereka bertaubat dan ber-inabah (kembali) kepadaNya; dan Dia menjanjikan ampunan dan rahmat (kasih sayang) kepada mereka jika mereka bertaubat dan kembali (kepada Allah. Pent), seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Pengampun," maksudnya, sifatNya adalah memberikan ampunan kepada para pelaku kemaksiatan dan dosa apabila mereka melakukan sebab kausalitas ampunanNya, yaitu meninggalkan kedurhakaan dan bertaubat darinya; ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang" terhadap mereka, di mana Dia tidak segera me-nimpakan hukumanNya terhadap mereka, padahal mereka telah melakukan perbuatan yang semestinya dibalas dengan hukuman; dan di mana pula Dia menerima taubat mereka setelah sebelumnya mereka berbuat maksiat; dan di mana pula Dia menghapus dosa-dosa mereka yang telah lalu, serta menerima kebaikan-kebaikan mereka, dan di mana pula Dia mengembalikan orang yang kembali kepadaNya setelah dia terlantar, dan orang yang menghadap kepa-daNya setelah sebelumnya dia berpaling dariNya kepada kondisi orang-orang yang patuh dan berinabah kepadaNya.

Al-Furqan 25:5

"Dan orang-orang kafir berkata, 'Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.' Maka sungguh mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang.' Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Al-Furqan: 4-6). (4) Maksudnya, dan orang-orang yang kafir kepada Allah, yang kekafiran mereka telah memastikan mereka untuk mengata-kan tentang al-Qur`an dan Rasulullah, "Sesungguhnya al-Qur`an ini adalah kedustaan yang dibuat-buat oleh Muhammad, dan ke-bohongan yang diada-adakannya atas Nama Allah, dan dia ditolong oleh orang-orang lain untuk semua ini." Lalu Allah سبحانه وتعالى membantah mereka atas ungkapan itu, bahwa semua itu adalah sikap pembang-kangan mereka dan kelancangan mereka melakukan kezhaliman dan kedustaan besar yang tidak mungkin bisa masuk kepada akal sehat seseorang. Sebab, mereka adalah orang-orang yang sangat mengetahui kondisi Rasulullah a, kesempurnaan kejujurannya, amanahnya dan budi pekertinya yang sangat sempurna; dan bahwa tidak mungkin bagi Muhammad dan seluruh manusia membuat al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling mulia lagi paling tinggi; dan bahwa dia sama sekali tidak pernah berkumpul dengan siapa pun yang menolongnya untuk hal ini. ﴾ فَقَدۡ جَآءُو ﴿ "Maka sesungguhnya mereka telah berbuat," dengan perkataan seperti itu dengan ﴾ ظُلۡمٗا وَزُورٗا ﴿ "suatu kezhaliman dan dusta yang besar." (5) Di antara bagian dari perkataan mereka berkenaan dengan hal di atas adalah, mereka mengatakan, 'Yang dibawa oleh Muhammad ini adalah ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٱكۡتَتَبَهَا ﴿ "dongengan-dongeng-an orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan." Maksudnya, ini adalah cerita orang-orang terdahulu dan dongeng mereka yang diterima dari mulut ke mulut dan dituturkan oleh setiap orang, lalu Muhammad minta supaya disalin; ﴾ فَهِيَ تُمۡلَىٰ عَلَيۡهِ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang." Perkataan mereka ini mencakup sejumlah dosa besar, yaitu: -   Tuduhan mereka terhadap Rasulullah a (yang merupakan manusia paling mulia lagi paling jujur di tengah-tengah mereka), dengan tuduhan dusta dan kebohongan besar. -   Pemberitaan yang mereka lakukan tentang al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling benar, paling agung lagi paling mulia ini, bahwasanya al-Qur`an adalah kedustaan dan kebohongan. -   Sesungguhnya dalam perkataan mereka tersirat ungkapan bahwa mereka mampu mendatangkan (perkataan) yang semisal al-Qur`an, dan bahwa makhluk yang sangat lemah dari segala sisi-nya mampu menyaingi Allah, Sang Pencipta nan Mahasempurna dari seluruh sisi, dengan salah satu sifatNya, yaitu kalam. -   Sesungguhnya jati diri Rasulullah a telah diketahui, dan mereka sangat mengetahui akan hal itu, yaitu bahwa dia tidak bisa menulis dan tidak pernah berkumpul dengan orang yang akan menuliskan untuknya, namun mereka telah mengklaim hal itu. (6) Maka dari itu Allah membantah mereka dengan Firman-Nya, ﴾ قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi." Maksudnya, al-Qur`an itu diturunkan oleh Allah yang pe-ngetahuanNya meliputi semua apa yang ada di langit dan bumi, dari yang tidak tampak dan yang nampak, dari yang jelas dan yang tersembunyi. (Ini) seperti FirmanNya, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Sisi penegakan hujjah terhadap mereka (yang terkandung dalam ayat ini. Pent.) adalah bahwa yang telah menurunkan al-Qur`an ini adalah (Tuhan) yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Maka mustahil dan tidak masuk akal kalau seorang makhluk me-ngatakan atau mengada-adakan al-Qur`an ini, lalu mengatakan, "Ini berasal dari sisi Allah" padahal ia bukan dari sisiNya, lalu dia menghalalkan darah dan harta siapa saja yang menyalahinya, dan beranggapan bahwa Allah telah mengatakan hal itu kepadanya. Allah mengetahui segala sesuatu, maka dari itu Dia memberikan dukungan dan pertolongan kepadanya (Muhammad) dalam me-lawan musuh-musuhNya, serta menjadikannya dapat menguasai mereka dan negerinya. Maka tidak mungkin seseorang akan meng-ingkari al-Qur`an ini kecuali setelah dia mengingkari (luasnya) pengetahuan Allah. Ini sama sekali tidak pernah dikatakan oleh sekelompok anak cucu Adam, kecuali kaum filsafat Atheisme! Dan juga, sesungguhnya penjelasan tentang ilmu Allah a yang meliputi segala sesuatu mengingatkan dan mendorong me-reka untuk merenungkan al-Qur`an; dan bahwa kalau saja mereka merenungkannya, tentu mereka akan melihat ilmu dan hukum-hukumNya yang membuktikan dengan jelas lagi pasti bahwasanya al-Qur`an ini tidak mungkin ada kecuali berasal dari Dzat yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Sekalipun mereka mengingkari tauhid dan kerasulan, namun karena kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka, maka Dia tidak membiarkan mereka dan tidak membiarkan kezhaliman mereka, bahkan Dia menyeru dan mengajak mereka bertaubat dan ber-inabah (kembali) kepadaNya; dan Dia menjanjikan ampunan dan rahmat (kasih sayang) kepada mereka jika mereka bertaubat dan kembali (kepada Allah. Pent), seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Pengampun," maksudnya, sifatNya adalah memberikan ampunan kepada para pelaku kemaksiatan dan dosa apabila mereka melakukan sebab kausalitas ampunanNya, yaitu meninggalkan kedurhakaan dan bertaubat darinya; ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang" terhadap mereka, di mana Dia tidak segera me-nimpakan hukumanNya terhadap mereka, padahal mereka telah melakukan perbuatan yang semestinya dibalas dengan hukuman; dan di mana pula Dia menerima taubat mereka setelah sebelumnya mereka berbuat maksiat; dan di mana pula Dia menghapus dosa-dosa mereka yang telah lalu, serta menerima kebaikan-kebaikan mereka, dan di mana pula Dia mengembalikan orang yang kembali kepadaNya setelah dia terlantar, dan orang yang menghadap kepa-daNya setelah sebelumnya dia berpaling dariNya kepada kondisi orang-orang yang patuh dan berinabah kepadaNya.

Al-Furqan 25:6

"Dan orang-orang kafir berkata, 'Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad, dan dia dibantu oleh kaum yang lain.' Maka sungguh mereka telah berbuat suatu kezhaliman dan dusta yang besar. Dan mereka berkata, 'Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang.' Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Al-Furqan: 4-6). (4) Maksudnya, dan orang-orang yang kafir kepada Allah, yang kekafiran mereka telah memastikan mereka untuk mengata-kan tentang al-Qur`an dan Rasulullah, "Sesungguhnya al-Qur`an ini adalah kedustaan yang dibuat-buat oleh Muhammad, dan ke-bohongan yang diada-adakannya atas Nama Allah, dan dia ditolong oleh orang-orang lain untuk semua ini." Lalu Allah سبحانه وتعالى membantah mereka atas ungkapan itu, bahwa semua itu adalah sikap pembang-kangan mereka dan kelancangan mereka melakukan kezhaliman dan kedustaan besar yang tidak mungkin bisa masuk kepada akal sehat seseorang. Sebab, mereka adalah orang-orang yang sangat mengetahui kondisi Rasulullah a, kesempurnaan kejujurannya, amanahnya dan budi pekertinya yang sangat sempurna; dan bahwa tidak mungkin bagi Muhammad dan seluruh manusia membuat al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling mulia lagi paling tinggi; dan bahwa dia sama sekali tidak pernah berkumpul dengan siapa pun yang menolongnya untuk hal ini. ﴾ فَقَدۡ جَآءُو ﴿ "Maka sesungguhnya mereka telah berbuat," dengan perkataan seperti itu dengan ﴾ ظُلۡمٗا وَزُورٗا ﴿ "suatu kezhaliman dan dusta yang besar." (5) Di antara bagian dari perkataan mereka berkenaan dengan hal di atas adalah, mereka mengatakan, 'Yang dibawa oleh Muhammad ini adalah ﴾ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ٱكۡتَتَبَهَا ﴿ "dongengan-dongeng-an orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan." Maksudnya, ini adalah cerita orang-orang terdahulu dan dongeng mereka yang diterima dari mulut ke mulut dan dituturkan oleh setiap orang, lalu Muhammad minta supaya disalin; ﴾ فَهِيَ تُمۡلَىٰ عَلَيۡهِ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلٗا ﴿ "maka dongengan itu dibacakanlah kepadanya setiap pagi dan petang." Perkataan mereka ini mencakup sejumlah dosa besar, yaitu: -   Tuduhan mereka terhadap Rasulullah a (yang merupakan manusia paling mulia lagi paling jujur di tengah-tengah mereka), dengan tuduhan dusta dan kebohongan besar. -   Pemberitaan yang mereka lakukan tentang al-Qur`an yang merupakan perkataan yang paling benar, paling agung lagi paling mulia ini, bahwasanya al-Qur`an adalah kedustaan dan kebohongan. -   Sesungguhnya dalam perkataan mereka tersirat ungkapan bahwa mereka mampu mendatangkan (perkataan) yang semisal al-Qur`an, dan bahwa makhluk yang sangat lemah dari segala sisi-nya mampu menyaingi Allah, Sang Pencipta nan Mahasempurna dari seluruh sisi, dengan salah satu sifatNya, yaitu kalam. -   Sesungguhnya jati diri Rasulullah a telah diketahui, dan mereka sangat mengetahui akan hal itu, yaitu bahwa dia tidak bisa menulis dan tidak pernah berkumpul dengan orang yang akan menuliskan untuknya, namun mereka telah mengklaim hal itu. (6) Maka dari itu Allah membantah mereka dengan Firman-Nya, ﴾ قُلۡ أَنزَلَهُ ٱلَّذِي يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Katakanlah, 'Al-Qur`an itu diturunkan oleh (Allah) Yang mengetahui segala rahasia di langit dan bumi." Maksudnya, al-Qur`an itu diturunkan oleh Allah yang pe-ngetahuanNya meliputi semua apa yang ada di langit dan bumi, dari yang tidak tampak dan yang nampak, dari yang jelas dan yang tersembunyi. (Ini) seperti FirmanNya, ﴾ وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 192 نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ 193 عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ 194 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan." (Asy-Syu'ara`: 192-194). Sisi penegakan hujjah terhadap mereka (yang terkandung dalam ayat ini. Pent.) adalah bahwa yang telah menurunkan al-Qur`an ini adalah (Tuhan) yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Maka mustahil dan tidak masuk akal kalau seorang makhluk me-ngatakan atau mengada-adakan al-Qur`an ini, lalu mengatakan, "Ini berasal dari sisi Allah" padahal ia bukan dari sisiNya, lalu dia menghalalkan darah dan harta siapa saja yang menyalahinya, dan beranggapan bahwa Allah telah mengatakan hal itu kepadanya. Allah mengetahui segala sesuatu, maka dari itu Dia memberikan dukungan dan pertolongan kepadanya (Muhammad) dalam me-lawan musuh-musuhNya, serta menjadikannya dapat menguasai mereka dan negerinya. Maka tidak mungkin seseorang akan meng-ingkari al-Qur`an ini kecuali setelah dia mengingkari (luasnya) pengetahuan Allah. Ini sama sekali tidak pernah dikatakan oleh sekelompok anak cucu Adam, kecuali kaum filsafat Atheisme! Dan juga, sesungguhnya penjelasan tentang ilmu Allah a yang meliputi segala sesuatu mengingatkan dan mendorong me-reka untuk merenungkan al-Qur`an; dan bahwa kalau saja mereka merenungkannya, tentu mereka akan melihat ilmu dan hukum-hukumNya yang membuktikan dengan jelas lagi pasti bahwasanya al-Qur`an ini tidak mungkin ada kecuali berasal dari Dzat yang Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Sekalipun mereka mengingkari tauhid dan kerasulan, namun karena kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka, maka Dia tidak membiarkan mereka dan tidak membiarkan kezhaliman mereka, bahkan Dia menyeru dan mengajak mereka bertaubat dan ber-inabah (kembali) kepadaNya; dan Dia menjanjikan ampunan dan rahmat (kasih sayang) kepada mereka jika mereka bertaubat dan kembali (kepada Allah. Pent), seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Pengampun," maksudnya, sifatNya adalah memberikan ampunan kepada para pelaku kemaksiatan dan dosa apabila mereka melakukan sebab kausalitas ampunanNya, yaitu meninggalkan kedurhakaan dan bertaubat darinya; ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang" terhadap mereka, di mana Dia tidak segera me-nimpakan hukumanNya terhadap mereka, padahal mereka telah melakukan perbuatan yang semestinya dibalas dengan hukuman; dan di mana pula Dia menerima taubat mereka setelah sebelumnya mereka berbuat maksiat; dan di mana pula Dia menghapus dosa-dosa mereka yang telah lalu, serta menerima kebaikan-kebaikan mereka, dan di mana pula Dia mengembalikan orang yang kembali kepadaNya setelah dia terlantar, dan orang yang menghadap kepa-daNya setelah sebelumnya dia berpaling dariNya kepada kondisi orang-orang yang patuh dan berinabah kepadaNya.

Al-Furqan 25:7

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:8

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:9

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:10

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:11

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:12

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:13

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:14

"Dan mereka berkata, 'Mengapa Rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Mengapa tidak diturunkan kepada-nya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengannya, atau (mengapa tidak) diturunkan kepa-danya perbendaharaan, atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya.' Dan orang-orang yang zhalim itu berkata, 'Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir.' Perhatikanlah, bagaimana me-reka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu, lalu sesatlah mereka. Mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan. Ma-hasuci (Allah) Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian, (yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana. Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat. Dan Kami sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat. Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka), 'Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak'." (Al-Furqan: 7-14). (7) Ini bagian dari celotehan kaum yang mendustakan Rasulullah, [yang dengannya] mereka mencela risalahnya, yaitu: Mereka menolaknya dengan (mengatakan:) kenapa dia (rasul itu) bukan seorang malaikat, atau seorang raja atau dibantu oleh malai-kat, seraya berkata, ﴾ مَالِ هَٰذَا ٱلرَّسُولِ ﴿ "Mengapa Rasul ini," maksudnya mengapa orang yang mengklaim sebagai rasul ini, sebagai ung-kapan ejekan dan perolok-olokan mereka, ﴾ يَأۡكُلُ ٱلطَّعَامَ ﴿ "memakan makanan," padahal ini merupakan salah satu ciri manusia biasa. Kenapa dia bukan seorang malaikat yang tidak makan makanan dan tidak butuh kepada segala sesuatu yang dibutuhkan oleh ma-nusia, ﴾ وَيَمۡشِي فِي ٱلۡأَسۡوَاقِ ﴿ "dan berjalan di pasar-pasar," untuk berjual beli. Ini semua, menurut klaim mereka tidak pantas terjadi pada orang yang menjadi seorang rasul. Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." (Al-Furqan: 20). ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مَلَكٞ ﴿ "Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat," maksudnya, kenapa dia tidak diturunkan bersama se-orang malaikat yang membantu dan menolongnya, ﴾ فَيَكُونَ مَعَهُۥ نَذِيرًا ﴿ "agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-samanya," menurut anggapan mereka, dia tidak cukup (memadai) untuk mengemban kerasulan, dan bukan pada taraf kemampuan dan kekuatannya untuk menjalankan tugas kerasulan itu. (8) ﴾ أَوۡ يُلۡقَىٰٓ إِلَيۡهِ كَنزٌ ﴿ "Atau (mengapa tidak) diturunkan kepada-nya perbendaharaan," maksudnya, harta yang berlimpah yang diper-oleh tanpa susah payah, ﴾ أَوۡ تَكُونُ لَهُۥ جَنَّةٞ يَأۡكُلُ مِنۡهَاۚ ﴿ "atau (mengapa tidak) ada kebun baginya, yang dia dapat makan dari (hasil)nya" sehingga dengannya dia tidak perlu pergi ke pasar-pasar untuk mencari rizki. ﴾ وَقَالَ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang zhalim itu berkata" yaitu mereka yang kezhalimannya telah menyeret mereka untuk mengatakan perkataan tersebut, tanpa ada ketidakjelasan keran-cuan dari mereka, ﴾ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ﴿ "Kamu sekalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang lelaki yang terkena sihir." Demikian mereka mengatakan, padahal mereka sungguh benar-benar mengetahui kesempurnaan akalnya, indahnya tutur katanya, dan kebersihan-nya dari semua celaan. (9) Oleh karena perkataan-perkataan yang berasal dari mereka itu sangat mengherankan sekali, maka Allah berfirman, ﴾ ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَٰلَ ﴿ "Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan tentang kamu," yaitu: Kenapa dia tidak menjadi seorang malaikat dan terhapus darinya semua ciri khas kemanusiaan, atau ada seorang malaikat bersamanya karena dia tidak sanggup menerima apa yang dia katakan, atau diturunkan untuknya harta kekayaan, atau dia diberi sepetak kebun yang mencukupinya hingga tidak perlu pergi ke pasar, atau dia adalah seorang yang terkena sihir. ﴾ فَضَلُّواْ فَلَا [يَسۡتَطِيعُونَ] سَبِيلٗا ﴿ "Lalu sesatlah mereka, sehingga mereka tidak sanggup [mendapatkan] jalan[27]." Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang kontradiksi, semua merupakan kebodohan, ke-sesatan dan kepicikan, tidak ada secuil hidayah pun terkandung di dalamnya, bahkan tidak ada sedikit pun dari sebagian darinya suatu syubhat yang dapat mencemari kerasulan. Hanya dengan sekedar memperhatikan dan merenungkannya saja sudah pasti orang yang berakal memastikan kepalsuannya, dan cukuplah dia yang memberikan sanggahannya. Oleh karena itu, Allah memerin-tahkan untuk memperhatikan dan mencermatinya dan memikirkan, apakah perkataan mereka itu mengharuskan sikap abstain dari memastikan kerasulan dan kejujuran Rasulullah a? (10) Maka dari itu, Allah menginformasikan bahwasanya Dia Mahakuasa memberimu kebaikan yang berlimpah ruah di dunia, seraya berfirman, ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِيٓ إِن شَآءَ جَعَلَ لَكَ خَيۡرٗا مِّن ذَٰلِكَ ﴿ "Mahasuci Dzat Yang jika Dia menghendaki, niscaya dijadikanNya bagimu yang lebih baik dari yang demikian," maksudnya, yang lebih baik dari apa yang telah mereka katakan. Kemudian Allah menafsirkannya de-ngan FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ وَيَجۡعَل لَّكَ قُصُورَۢا ﴿ "(Yaitu) surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, dan dijadikanNya (pula) untukmu istana-istana" yang menjulang tinggi penuh hiasan. Jadi, kekuasaan dan kehendakNya tidak terbatas pada masalah itu. Akan tetapi, ketika dunia di sisi Allah سبحانه وتعالى benar-benar sangat jauh dan hina, maka Allah mengaruniakan kepada para waliNya dan para rasulNya sebagian darinya sesuai dengan tuntutan kebijak-sanaanNya. Sedangkan usulan musuh-musuh mereka, yaitu kenapa para rasul tidak diberi karunia rizki dunia yang banyak adalah kezhaliman dan kelancangan. (11) Ketika perkataan-perkataan yang mereka ucapkan itu sudah sangat jelas merusak, maka Allah menginformasikan bahwa sesungguhnya ucapan-ucapan tersebut tidak muncul dari mulut mereka untuk mencari kebenaran ataupun untuk mengikuti petun-juk, melainkan, sebenarnya ia keluar dari mulut mereka sebagai sikap keras kepala, zhalim dan pendustaan terhadap kebenaran. Dari itulah mereka mengutarakan apa yang ada di dalam hati me-reka itu. Oleh sebab itu, Allah berfirman, ﴾ بَلۡ كَذَّبُواْ بِٱلسَّاعَةِۖ ﴿ "Bahkan mereka mendustakan Hari Kiamat." Orang yang mendustakan lagi keras kepala yang tidak mempunyai niat untuk mengikuti kebe-naran itu, maka tidak ada jalan untuk memberinya hidayah, dan tidak ada gunanya mendebatnya. Baginya hanya satu jalan, yaitu turunnya azab terhadapnya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لِمَن كَذَّبَ بِٱلسَّاعَةِ سَعِيرًا ﴿ "Dan Kami telah sediakan neraka yang menyala-nyala bagi siapa yang mendustakan Hari Kiamat," yaitu, api yang sangat besar yang nyalanya menjulang, yang keadaannya sangat geram terhadap penghuninya serta gemuruh nyalanya amat dahsyat. (12) ﴾ إِذَا رَأَتۡهُم مِّن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh," yakni, sebelum mereka sampai kepadanya dan sebelum neraka itu sampai kepada mereka, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا تَغَيُّظٗا ﴿ "mereka mendengar kegeramannya" terhadap mereka ﴾ وَزَفِيرٗا 12 ﴿ "dan suara nyalanya," menyebabkan dada mereka berdebar dan hati mereka remuk, dan hampir saja setiap orang dari mereka mati karena ke-takutan terhadapnya. Neraka itu sangat murka terhadap mereka karena murka Allah Sang Penciptanya; dan kobarannya pun makin menjulang tinggi karena beratnya kekufuran dan kejahatan mereka. (13) ﴾ وَإِذَآ أُلۡقُواْ مِنۡهَا مَكَانٗا ضَيِّقٗا مُّقَرَّنِينَ ﴿ "Dan apabila mereka dilempar-kan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu" maksudnya, saat mereka diazab, sedang mereka berada di tengah-tengah neraka berkumpul di suatu tempat, antara kesempitan tempat itu dan ber-desak-desaknya para penghuni, dalam keadaan mereka dibelenggu dengan rantai dan belenggu. Lalu ketika mereka telah tiba ke tempat yang mencelakakan itu dan mereka ditawan dalam penawanan yang terburuk, maka ﴾ دَعَوۡاْ هُنَالِكَ ثُبُورٗا ﴿ "mereka di sana mengharapkan kebinasaan," maksudnya mereka mendoakan kebinasaan, kehinaan dan kekejian terhadap diri mereka sendiri, dan mereka menyadari bahwasanya mereka adalah manusia zhalim lagi melampaui batas. Allah telah berlaku adil terhadap mereka di mana Dia telah menem-patkan mereka berdasarkan amal perbuatan mereka pada tempat (yang sangat menghinakan) ini. (14) Doa dan permintaan keselamatan itu sama sekali tidak ada gunanya bagi mereka dan tidak pula melepaskan mereka dari azab Allah, bahkan dikatakan kepada mereka, " ﴾ لَّا تَدۡعُواْ ٱلۡيَوۡمَ ثُبُورٗا وَٰحِدٗا وَٱدۡعُواْ ثُبُورٗا كَثِيرٗا ﴿ "Janganlah kamu mengharapkan satu kebinasaan saja, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak." Maksudnya, kalau apa yang kalian katakan itu ditambah berlipat-lipat ganda lagi, niscaya sama sekali tidak berguna bagi kalian, kecuali kegelisahan, kegundahan dan kesedihan. Setelah Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang zhalim, maka sangat tepat kalau Dia menjelaskan balasan bagi orang-orang yang bertakwa, seraya berfirman,

Al-Furqan 25:15

"Katakanlah, 'Apakah (azab) yang demikian itu yang lebih baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan dan tempat kembali bagi mereka?' Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehen-daki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan (kepadaNya)." (Al-Furqan: 15-16). (15) Maksudnya, katakan kepada mereka untuk menjelas-kan kepicikan pikiran mereka dan pilihan mereka terhadap yang berbahaya daripada yang bermanfaat, ﴾ أَذَٰلِكَ ﴿ "Apakah (azab) yang demikian itu" yakni, azab yang telah Aku rincikan kepada kalian itu, ﴾ خَيۡرٌ أَمۡ جَنَّةُ ٱلۡخُلۡدِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۚ ﴿ "yang lebih baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" yang perbekalan-nya adalah takwa kepada Allah. Siapa saja yang bertakwa, maka Allah telah menjanjikan surga kepadanya, ﴾ كَانَتۡ لَهُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "sebagai balasan bagi mereka" atas ketakwaan mereka ﴾ وَمَصِيرٗا ﴿ "dan tempat kembali," yaitu tempat berlindung mereka. Mereka tinggal menetap di sana, dan mereka kekal selama-lamanya. (16) ﴾ لَّهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ ﴿ "Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki," maksudnya mereka mencari dan menggan-tungkan angan-angan dan kehendak padanya, berupa berbagai makanan dan minuman yang lezat, pakaian mewah, wanita-wanita cantik, istana-istana pencakar langit, kebun-kebun dan taman-taman yang luas lagi lapang, serta buah-buahan yang menyenangkan orang yang memandang dan akan memakannya karena baiknya, aneka macamnya dan berbagai jenis-jenisnya, dan sungai-sungai yang mengalir di dalam surga dan kebun-kebunnya, kapan dan bagaimana saja mereka suka menggunakannya, dan mereka meng-alirkannya sebagai sungai-sungai yang tidak berubah rasa dan warnanya berupa air susu yang tidak akan pernah berubah rasanya, sungai-sungai air khamar yang lezat bagi orang-orang yang me-minumnya dan sungai-sungai madu yang bersih, berbagai aroma harum, tempat-tempat tinggal yang indah, suara-suara merdu yang keindahannya menyentuh kalbu, saling mengunjungi saudara, kenikmatan berjumpa dengan orang-orang yang dicintai. Dan yang lebih tinggi dari itu semua adalah kenikmatan memandang Wajah Allah Yang Maha Pemurah, mendengar pembicaraanNya, melang-kah mendekat kepadaNya, dan bahagia mendapat keridhaanNya, aman dari murkaNya, serta kontinyuitas dan keabadian dari kenik-matan tersebut dan selalu bertambah sepanjang waktu dan setiap bergantinya masa. ﴾ كَانَ ﴿ "Ia adalah" masuk dan mencapai ke surga itu adalah ﴾ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعۡدٗا مَّسۡـُٔولٗا ﴿ "janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya)," dimohon oleh hamba-hambaNya yang bertakwa dengan lisan mereka dan dengan bahasa tingkah laku mereka. Lalu, negeri yang mana dari kedua negeri (yang disebutkan tadi) yang lebih pantas diutamakan? Orang-orang beramal yang mana yang merupakan orang-orang yang beramal untuk negeri kesengsaraan atau orang-orang yang beramal untuk negeri kebaha-giaan yang lebih pantas dengan keutamaan, akal sehat dan kebang-gaan, wahai orang-orang yang berakal? Sesungguhnya kebenaran sudah menjadi jelas dan jalan menjadi terang, hingga tidak ada satu alasan pun yang tersisa bagi orang yang berlebihan (melampaui batas) untuk mengabaikan dalil (bukti). Maka kami memohon kepadaMu, wahai Tuhan yang telah menetapkan kesengsaraan terhadap kelompok-kelompok manusia, dan kebahagiaan terhadap kelompok-kelompok manusia yang lain, (agar) berkenan menjadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau catat mendapat al-husna (pahala yang agung) dan surga. Kami memohon keselamatan kepadaMu, ya Allah dari kondisi orang-orang yang binasa, dan kami memohon kepadaMu selamat darinya.

Al-Furqan 25:16

"Katakanlah, 'Apakah (azab) yang demikian itu yang lebih baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan dan tempat kembali bagi mereka?' Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehen-daki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (Hal itu) adalah janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan (kepadaNya)." (Al-Furqan: 15-16). (15) Maksudnya, katakan kepada mereka untuk menjelas-kan kepicikan pikiran mereka dan pilihan mereka terhadap yang berbahaya daripada yang bermanfaat, ﴾ أَذَٰلِكَ ﴿ "Apakah (azab) yang demikian itu" yakni, azab yang telah Aku rincikan kepada kalian itu, ﴾ خَيۡرٌ أَمۡ جَنَّةُ ٱلۡخُلۡدِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَۚ ﴿ "yang lebih baik, atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" yang perbekalan-nya adalah takwa kepada Allah. Siapa saja yang bertakwa, maka Allah telah menjanjikan surga kepadanya, ﴾ كَانَتۡ لَهُمۡ جَزَآءٗ ﴿ "sebagai balasan bagi mereka" atas ketakwaan mereka ﴾ وَمَصِيرٗا ﴿ "dan tempat kembali," yaitu tempat berlindung mereka. Mereka tinggal menetap di sana, dan mereka kekal selama-lamanya. (16) ﴾ لَّهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ ﴿ "Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki," maksudnya mereka mencari dan menggan-tungkan angan-angan dan kehendak padanya, berupa berbagai makanan dan minuman yang lezat, pakaian mewah, wanita-wanita cantik, istana-istana pencakar langit, kebun-kebun dan taman-taman yang luas lagi lapang, serta buah-buahan yang menyenangkan orang yang memandang dan akan memakannya karena baiknya, aneka macamnya dan berbagai jenis-jenisnya, dan sungai-sungai yang mengalir di dalam surga dan kebun-kebunnya, kapan dan bagaimana saja mereka suka menggunakannya, dan mereka meng-alirkannya sebagai sungai-sungai yang tidak berubah rasa dan warnanya berupa air susu yang tidak akan pernah berubah rasanya, sungai-sungai air khamar yang lezat bagi orang-orang yang me-minumnya dan sungai-sungai madu yang bersih, berbagai aroma harum, tempat-tempat tinggal yang indah, suara-suara merdu yang keindahannya menyentuh kalbu, saling mengunjungi saudara, kenikmatan berjumpa dengan orang-orang yang dicintai. Dan yang lebih tinggi dari itu semua adalah kenikmatan memandang Wajah Allah Yang Maha Pemurah, mendengar pembicaraanNya, melang-kah mendekat kepadaNya, dan bahagia mendapat keridhaanNya, aman dari murkaNya, serta kontinyuitas dan keabadian dari kenik-matan tersebut dan selalu bertambah sepanjang waktu dan setiap bergantinya masa. ﴾ كَانَ ﴿ "Ia adalah" masuk dan mencapai ke surga itu adalah ﴾ عَلَىٰ رَبِّكَ وَعۡدٗا مَّسۡـُٔولٗا ﴿ "janji dari Rabbmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya)," dimohon oleh hamba-hambaNya yang bertakwa dengan lisan mereka dan dengan bahasa tingkah laku mereka. Lalu, negeri yang mana dari kedua negeri (yang disebutkan tadi) yang lebih pantas diutamakan? Orang-orang beramal yang mana yang merupakan orang-orang yang beramal untuk negeri kesengsaraan atau orang-orang yang beramal untuk negeri kebaha-giaan yang lebih pantas dengan keutamaan, akal sehat dan kebang-gaan, wahai orang-orang yang berakal? Sesungguhnya kebenaran sudah menjadi jelas dan jalan menjadi terang, hingga tidak ada satu alasan pun yang tersisa bagi orang yang berlebihan (melampaui batas) untuk mengabaikan dalil (bukti). Maka kami memohon kepadaMu, wahai Tuhan yang telah menetapkan kesengsaraan terhadap kelompok-kelompok manusia, dan kebahagiaan terhadap kelompok-kelompok manusia yang lain, (agar) berkenan menjadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau catat mendapat al-husna (pahala yang agung) dan surga. Kami memohon keselamatan kepadaMu, ya Allah dari kondisi orang-orang yang binasa, dan kami memohon kepadaMu selamat darinya.

Al-Furqan 25:17

"Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka beserta se-suatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), 'Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?' Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak-lah patut bagi kami mengambil selain Engkau sebagai pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak me-reka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa kepada dzikir; dan mereka adalah kaum yang binasa.' Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang sesuatu yang kalian katakan, maka kalian tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu). Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melain-kan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." (Al-Furqan: 17-20). (17) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keadaan kaum musy-rikin dan sekutu-sekutu mereka pada Hari Kiamat kelak, pernya-taan para sekutu itu untuk berlepas diri dari mereka serta kebatilan semua usaha mereka, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ ﴿ "Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka," yakni orang-orang musyrik yang mendustakan ﴾ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ﴿ "beserta sesuatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata," yakni kepada yang disembah dengan nada mencela terhadap orang-orang telah menyembah mereka, ﴾ ءَأَنتُمۡ أَضۡلَلۡتُمۡ عِبَادِي هَٰٓؤُلَآءِ أَمۡ هُمۡ ضَلُّواْ ٱلسَّبِيلَ ﴿ "Apakah kamu yang me-nyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan?" Apakah kalian yang menyuruh mereka menyembah kalian, dan kalian yang membuat perbuatan itu indah bagi mereka, atau-kah hal itu berasal dari kemauan diri mereka sendiri? (18) ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Ma-hasuci Engkau'." Mereka menyucikan Allah dari kesyirikan kaum musyrikin dan menyatakan kebebasan diri mereka dari semua itu. ﴾ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ ﴿ "Tidaklah patut bagi kami" maksudnya tidak layak bagi kami dan tidak baik bagi kami menjadikan selain Engkau sebagai pelindung yang mana kami menyembah, beribadah dan berdoa kepada mereka. Lalu apabila kami sangat membutuhkan untuk beribadah kepadaMu dan berlepas diri dari peribadahan kepada selainMu, maka bagaimana mungkin kami akan menyuruh sese-orang agar menyembah kami? Ini tidak mungkin! Atau: Mahasuci Engkau, kalau kami menjadikan, ﴾ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "selain Engkau sebagai pelindung." Ini sama dengan perkataan al-Masih Isa putra Maryam عليه السلام, ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ 116 مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu'." (Al-Ma`idah: 116-117). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, 'Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Mahasuci Engkau. Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba`: 40-41). ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 6). Setelah mereka menyatakan kebebasan diri mereka dari ajakan untuk beribadah kepada selain Allah, atau dari keberadaan mereka sebagai makhluk yang menyesatkan mereka, maka mereka menyebutkan sebab yang mengakibatkan kesesatan kaum musy-rikin, seraya berkata, ﴾ وَلَٰكِن مَّتَّعۡتَهُمۡ وَءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup," di dalam kelezatan dunia dan syahwat dan berbagai tuntutannya yang bersifat biologis, ﴾ حَتَّىٰ نَسُواْ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "sampai mereka lupa kepada dzikir," karena sibuk dengan kelezatan dunia dan tenggelam dalam gemer-lapnya, sehingga mereka hanya menjaga harta benda mereka dan menyia-nyiakan agama mereka, ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "dan mereka adalah kaum yang binasa," yakni orang-orang yang busuk, tidak ada ke-baikannya, tidak bisa menjadi shalih dan tidak cocok kecuali untuk dibinasakan dan dihancurkan. Jadi, mereka menjelaskan penghalang yang telah menghala-ngi mereka untuk mengikuti kebenaran, yaitu berfoya-foya dalam kehidupan dunia, yang telah memalingkan mereka dari petunjuk dan dari segala jalan menuju petunjuk, dan bahwasanya mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Lalu ketika penunjuk kebe-naran telah hilang dan penghalangnya muncul, maka tidak ada suatu keburukan dan kebinasaan yang kamu kehendaki melainkan pasti kamu temukan ada pada mereka. (19) Setelah sembahan-sembahan itu berlepas diri dari mereka, Allah berfirman dengan nada mencerca dan memojokkan orang-orang yang berkeras kepala itu, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُوكُم بِمَا تَقُولُونَ ﴿ "Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang apa yang kalian katakan," yaitu bahwa sesungguhnya mereka telah memerintahkan kalian untuk menyembahnya, dan mereka rela dengan perbuatan kalian, dan sesungguhnya mereka adalah para pemberi syafa'at bagi kalian di sisi tuhan kalian. Mereka telah mendustakan kalian dalam klaim itu. Mereka telah menjadi musuh utama kalian. Maka sangat pantaslah kalian mendapat azab. ﴾ فَمَا تَسۡتَطِيعُونَ صَرۡفٗا ﴿ "Maka kalian tidak akan dapat menolak" azab dari kalian dengan perbuatan kalian atau dengan suatu tebusan atau lain-lainnya, ﴾ وَلَا نَصۡرٗاۚ ﴿ "dan tidak pula menolong (diri kalian)" karena kerapuhan kalian dan tidak adanya penolong kalian. Inilah hukuman bagi orang-orang yang sesat, bodoh nan bertaklid buta, sebagaimana Anda ketahui, ia adalah seburuk-buruk hukuman dan neraka adalah sejelek-jelek tempat tinggal. Adapun orang yang menentang (keras kepala) dari mereka, yaitu orang yang telah mengetahui kebenaran namun berpaling darinya, maka Allah berfirman berkenaan dengan haknya, ﴾ وَمَن يَظۡلِم مِّنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim," sengaja meninggalkan kebenaran secara zhalim dan keras kepala, ﴾ نُذِقۡهُ عَذَابٗا كَبِيرٗا ﴿ "niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar," tidak dapat diukur besarnya dan tidak bisa dibayangkan keadaannya. (20) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai jawaban terha-dap perkataan kaum yang mendustakan, –"Kenapa rasul ini mema-kan makanan dan berjalan di pasar-pasar?"–, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." Kami sekali-kali tidak menjadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan Kami pun tidak menjadikan mereka sebagai malaikat, sehingga kamu dapat menjadikannya sebagai suri tauladan. Adapun masalah kaya atau fakir, ini semua adalah ujian dan kebijakan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٖ فِتۡنَةً ﴿ "Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain." Jadi, seorang rasul itu adalah ujian bagi umatnya dan cobaan bagi orang-orang yang taat dari orang-orang yang durhaka. Para rasul itu sendiri, Kami menguji mereka dengan dakwah (me-nyeru) manusia, orang yang kaya adalah cobaan bagi orang yang fakir, dan yang fakir adalah cobaan bagi yang kaya. Demikian pula berbagai jenis makhluk di dalam negeri ini, yaitu negeri cobaan, bala dan ujian. Dan tujuan dari cobaan itu adalah ﴾ أَتَصۡبِرُونَۗ ﴿ "sang-gupkah kalian bersabar," sehingga kalian tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas wajib kalian, kemudian Allah membalas kalian. Ataukah kalian tidak sanggup bersabar sehingga berhak mendapat hukuman? ﴾ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا ﴿ "Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." Dia mengetahui semua kondisi kalian, dan Dia memilih orang yang Dia ketahui layak dan pantas untuk mengemban risalahNya, dan Dia mengistimewakannya dengan memberinya keutamaan, dan Dia mengetahui semua perbuatan kalian, dan kelak Dia akan memberi-kan balasan yang setimpal atasnya. Jika baik, maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan pula.

Al-Furqan 25:18

"Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka beserta se-suatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), 'Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?' Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak-lah patut bagi kami mengambil selain Engkau sebagai pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak me-reka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa kepada dzikir; dan mereka adalah kaum yang binasa.' Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang sesuatu yang kalian katakan, maka kalian tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu). Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melain-kan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." (Al-Furqan: 17-20). (17) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keadaan kaum musy-rikin dan sekutu-sekutu mereka pada Hari Kiamat kelak, pernya-taan para sekutu itu untuk berlepas diri dari mereka serta kebatilan semua usaha mereka, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ ﴿ "Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka," yakni orang-orang musyrik yang mendustakan ﴾ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ﴿ "beserta sesuatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata," yakni kepada yang disembah dengan nada mencela terhadap orang-orang telah menyembah mereka, ﴾ ءَأَنتُمۡ أَضۡلَلۡتُمۡ عِبَادِي هَٰٓؤُلَآءِ أَمۡ هُمۡ ضَلُّواْ ٱلسَّبِيلَ ﴿ "Apakah kamu yang me-nyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan?" Apakah kalian yang menyuruh mereka menyembah kalian, dan kalian yang membuat perbuatan itu indah bagi mereka, atau-kah hal itu berasal dari kemauan diri mereka sendiri? (18) ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Ma-hasuci Engkau'." Mereka menyucikan Allah dari kesyirikan kaum musyrikin dan menyatakan kebebasan diri mereka dari semua itu. ﴾ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ ﴿ "Tidaklah patut bagi kami" maksudnya tidak layak bagi kami dan tidak baik bagi kami menjadikan selain Engkau sebagai pelindung yang mana kami menyembah, beribadah dan berdoa kepada mereka. Lalu apabila kami sangat membutuhkan untuk beribadah kepadaMu dan berlepas diri dari peribadahan kepada selainMu, maka bagaimana mungkin kami akan menyuruh sese-orang agar menyembah kami? Ini tidak mungkin! Atau: Mahasuci Engkau, kalau kami menjadikan, ﴾ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "selain Engkau sebagai pelindung." Ini sama dengan perkataan al-Masih Isa putra Maryam عليه السلام, ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ 116 مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu'." (Al-Ma`idah: 116-117). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, 'Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Mahasuci Engkau. Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba`: 40-41). ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 6). Setelah mereka menyatakan kebebasan diri mereka dari ajakan untuk beribadah kepada selain Allah, atau dari keberadaan mereka sebagai makhluk yang menyesatkan mereka, maka mereka menyebutkan sebab yang mengakibatkan kesesatan kaum musy-rikin, seraya berkata, ﴾ وَلَٰكِن مَّتَّعۡتَهُمۡ وَءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup," di dalam kelezatan dunia dan syahwat dan berbagai tuntutannya yang bersifat biologis, ﴾ حَتَّىٰ نَسُواْ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "sampai mereka lupa kepada dzikir," karena sibuk dengan kelezatan dunia dan tenggelam dalam gemer-lapnya, sehingga mereka hanya menjaga harta benda mereka dan menyia-nyiakan agama mereka, ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "dan mereka adalah kaum yang binasa," yakni orang-orang yang busuk, tidak ada ke-baikannya, tidak bisa menjadi shalih dan tidak cocok kecuali untuk dibinasakan dan dihancurkan. Jadi, mereka menjelaskan penghalang yang telah menghala-ngi mereka untuk mengikuti kebenaran, yaitu berfoya-foya dalam kehidupan dunia, yang telah memalingkan mereka dari petunjuk dan dari segala jalan menuju petunjuk, dan bahwasanya mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Lalu ketika penunjuk kebe-naran telah hilang dan penghalangnya muncul, maka tidak ada suatu keburukan dan kebinasaan yang kamu kehendaki melainkan pasti kamu temukan ada pada mereka. (19) Setelah sembahan-sembahan itu berlepas diri dari mereka, Allah berfirman dengan nada mencerca dan memojokkan orang-orang yang berkeras kepala itu, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُوكُم بِمَا تَقُولُونَ ﴿ "Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang apa yang kalian katakan," yaitu bahwa sesungguhnya mereka telah memerintahkan kalian untuk menyembahnya, dan mereka rela dengan perbuatan kalian, dan sesungguhnya mereka adalah para pemberi syafa'at bagi kalian di sisi tuhan kalian. Mereka telah mendustakan kalian dalam klaim itu. Mereka telah menjadi musuh utama kalian. Maka sangat pantaslah kalian mendapat azab. ﴾ فَمَا تَسۡتَطِيعُونَ صَرۡفٗا ﴿ "Maka kalian tidak akan dapat menolak" azab dari kalian dengan perbuatan kalian atau dengan suatu tebusan atau lain-lainnya, ﴾ وَلَا نَصۡرٗاۚ ﴿ "dan tidak pula menolong (diri kalian)" karena kerapuhan kalian dan tidak adanya penolong kalian. Inilah hukuman bagi orang-orang yang sesat, bodoh nan bertaklid buta, sebagaimana Anda ketahui, ia adalah seburuk-buruk hukuman dan neraka adalah sejelek-jelek tempat tinggal. Adapun orang yang menentang (keras kepala) dari mereka, yaitu orang yang telah mengetahui kebenaran namun berpaling darinya, maka Allah berfirman berkenaan dengan haknya, ﴾ وَمَن يَظۡلِم مِّنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim," sengaja meninggalkan kebenaran secara zhalim dan keras kepala, ﴾ نُذِقۡهُ عَذَابٗا كَبِيرٗا ﴿ "niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar," tidak dapat diukur besarnya dan tidak bisa dibayangkan keadaannya. (20) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai jawaban terha-dap perkataan kaum yang mendustakan, –"Kenapa rasul ini mema-kan makanan dan berjalan di pasar-pasar?"–, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." Kami sekali-kali tidak menjadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan Kami pun tidak menjadikan mereka sebagai malaikat, sehingga kamu dapat menjadikannya sebagai suri tauladan. Adapun masalah kaya atau fakir, ini semua adalah ujian dan kebijakan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٖ فِتۡنَةً ﴿ "Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain." Jadi, seorang rasul itu adalah ujian bagi umatnya dan cobaan bagi orang-orang yang taat dari orang-orang yang durhaka. Para rasul itu sendiri, Kami menguji mereka dengan dakwah (me-nyeru) manusia, orang yang kaya adalah cobaan bagi orang yang fakir, dan yang fakir adalah cobaan bagi yang kaya. Demikian pula berbagai jenis makhluk di dalam negeri ini, yaitu negeri cobaan, bala dan ujian. Dan tujuan dari cobaan itu adalah ﴾ أَتَصۡبِرُونَۗ ﴿ "sang-gupkah kalian bersabar," sehingga kalian tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas wajib kalian, kemudian Allah membalas kalian. Ataukah kalian tidak sanggup bersabar sehingga berhak mendapat hukuman? ﴾ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا ﴿ "Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." Dia mengetahui semua kondisi kalian, dan Dia memilih orang yang Dia ketahui layak dan pantas untuk mengemban risalahNya, dan Dia mengistimewakannya dengan memberinya keutamaan, dan Dia mengetahui semua perbuatan kalian, dan kelak Dia akan memberi-kan balasan yang setimpal atasnya. Jika baik, maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan pula.

Al-Furqan 25:19

"Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka beserta se-suatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), 'Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?' Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak-lah patut bagi kami mengambil selain Engkau sebagai pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak me-reka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa kepada dzikir; dan mereka adalah kaum yang binasa.' Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang sesuatu yang kalian katakan, maka kalian tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu). Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melain-kan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." (Al-Furqan: 17-20). (17) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keadaan kaum musy-rikin dan sekutu-sekutu mereka pada Hari Kiamat kelak, pernya-taan para sekutu itu untuk berlepas diri dari mereka serta kebatilan semua usaha mereka, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ ﴿ "Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka," yakni orang-orang musyrik yang mendustakan ﴾ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ﴿ "beserta sesuatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata," yakni kepada yang disembah dengan nada mencela terhadap orang-orang telah menyembah mereka, ﴾ ءَأَنتُمۡ أَضۡلَلۡتُمۡ عِبَادِي هَٰٓؤُلَآءِ أَمۡ هُمۡ ضَلُّواْ ٱلسَّبِيلَ ﴿ "Apakah kamu yang me-nyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan?" Apakah kalian yang menyuruh mereka menyembah kalian, dan kalian yang membuat perbuatan itu indah bagi mereka, atau-kah hal itu berasal dari kemauan diri mereka sendiri? (18) ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Ma-hasuci Engkau'." Mereka menyucikan Allah dari kesyirikan kaum musyrikin dan menyatakan kebebasan diri mereka dari semua itu. ﴾ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ ﴿ "Tidaklah patut bagi kami" maksudnya tidak layak bagi kami dan tidak baik bagi kami menjadikan selain Engkau sebagai pelindung yang mana kami menyembah, beribadah dan berdoa kepada mereka. Lalu apabila kami sangat membutuhkan untuk beribadah kepadaMu dan berlepas diri dari peribadahan kepada selainMu, maka bagaimana mungkin kami akan menyuruh sese-orang agar menyembah kami? Ini tidak mungkin! Atau: Mahasuci Engkau, kalau kami menjadikan, ﴾ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "selain Engkau sebagai pelindung." Ini sama dengan perkataan al-Masih Isa putra Maryam عليه السلام, ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ 116 مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu'." (Al-Ma`idah: 116-117). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, 'Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Mahasuci Engkau. Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba`: 40-41). ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 6). Setelah mereka menyatakan kebebasan diri mereka dari ajakan untuk beribadah kepada selain Allah, atau dari keberadaan mereka sebagai makhluk yang menyesatkan mereka, maka mereka menyebutkan sebab yang mengakibatkan kesesatan kaum musy-rikin, seraya berkata, ﴾ وَلَٰكِن مَّتَّعۡتَهُمۡ وَءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup," di dalam kelezatan dunia dan syahwat dan berbagai tuntutannya yang bersifat biologis, ﴾ حَتَّىٰ نَسُواْ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "sampai mereka lupa kepada dzikir," karena sibuk dengan kelezatan dunia dan tenggelam dalam gemer-lapnya, sehingga mereka hanya menjaga harta benda mereka dan menyia-nyiakan agama mereka, ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "dan mereka adalah kaum yang binasa," yakni orang-orang yang busuk, tidak ada ke-baikannya, tidak bisa menjadi shalih dan tidak cocok kecuali untuk dibinasakan dan dihancurkan. Jadi, mereka menjelaskan penghalang yang telah menghala-ngi mereka untuk mengikuti kebenaran, yaitu berfoya-foya dalam kehidupan dunia, yang telah memalingkan mereka dari petunjuk dan dari segala jalan menuju petunjuk, dan bahwasanya mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Lalu ketika penunjuk kebe-naran telah hilang dan penghalangnya muncul, maka tidak ada suatu keburukan dan kebinasaan yang kamu kehendaki melainkan pasti kamu temukan ada pada mereka. (19) Setelah sembahan-sembahan itu berlepas diri dari mereka, Allah berfirman dengan nada mencerca dan memojokkan orang-orang yang berkeras kepala itu, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُوكُم بِمَا تَقُولُونَ ﴿ "Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang apa yang kalian katakan," yaitu bahwa sesungguhnya mereka telah memerintahkan kalian untuk menyembahnya, dan mereka rela dengan perbuatan kalian, dan sesungguhnya mereka adalah para pemberi syafa'at bagi kalian di sisi tuhan kalian. Mereka telah mendustakan kalian dalam klaim itu. Mereka telah menjadi musuh utama kalian. Maka sangat pantaslah kalian mendapat azab. ﴾ فَمَا تَسۡتَطِيعُونَ صَرۡفٗا ﴿ "Maka kalian tidak akan dapat menolak" azab dari kalian dengan perbuatan kalian atau dengan suatu tebusan atau lain-lainnya, ﴾ وَلَا نَصۡرٗاۚ ﴿ "dan tidak pula menolong (diri kalian)" karena kerapuhan kalian dan tidak adanya penolong kalian. Inilah hukuman bagi orang-orang yang sesat, bodoh nan bertaklid buta, sebagaimana Anda ketahui, ia adalah seburuk-buruk hukuman dan neraka adalah sejelek-jelek tempat tinggal. Adapun orang yang menentang (keras kepala) dari mereka, yaitu orang yang telah mengetahui kebenaran namun berpaling darinya, maka Allah berfirman berkenaan dengan haknya, ﴾ وَمَن يَظۡلِم مِّنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim," sengaja meninggalkan kebenaran secara zhalim dan keras kepala, ﴾ نُذِقۡهُ عَذَابٗا كَبِيرٗا ﴿ "niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar," tidak dapat diukur besarnya dan tidak bisa dibayangkan keadaannya. (20) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai jawaban terha-dap perkataan kaum yang mendustakan, –"Kenapa rasul ini mema-kan makanan dan berjalan di pasar-pasar?"–, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." Kami sekali-kali tidak menjadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan Kami pun tidak menjadikan mereka sebagai malaikat, sehingga kamu dapat menjadikannya sebagai suri tauladan. Adapun masalah kaya atau fakir, ini semua adalah ujian dan kebijakan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٖ فِتۡنَةً ﴿ "Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain." Jadi, seorang rasul itu adalah ujian bagi umatnya dan cobaan bagi orang-orang yang taat dari orang-orang yang durhaka. Para rasul itu sendiri, Kami menguji mereka dengan dakwah (me-nyeru) manusia, orang yang kaya adalah cobaan bagi orang yang fakir, dan yang fakir adalah cobaan bagi yang kaya. Demikian pula berbagai jenis makhluk di dalam negeri ini, yaitu negeri cobaan, bala dan ujian. Dan tujuan dari cobaan itu adalah ﴾ أَتَصۡبِرُونَۗ ﴿ "sang-gupkah kalian bersabar," sehingga kalian tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas wajib kalian, kemudian Allah membalas kalian. Ataukah kalian tidak sanggup bersabar sehingga berhak mendapat hukuman? ﴾ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا ﴿ "Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." Dia mengetahui semua kondisi kalian, dan Dia memilih orang yang Dia ketahui layak dan pantas untuk mengemban risalahNya, dan Dia mengistimewakannya dengan memberinya keutamaan, dan Dia mengetahui semua perbuatan kalian, dan kelak Dia akan memberi-kan balasan yang setimpal atasnya. Jika baik, maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan pula.

Al-Furqan 25:20

"Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka beserta se-suatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah), 'Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?' Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak-lah patut bagi kami mengambil selain Engkau sebagai pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak me-reka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa kepada dzikir; dan mereka adalah kaum yang binasa.' Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang sesuatu yang kalian katakan, maka kalian tidak akan dapat menolak (azab) dan tidak (pula) menolong (dirimu). Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melain-kan mereka memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain. Sanggupkah kamu bersabar? Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." (Al-Furqan: 17-20). (17) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keadaan kaum musy-rikin dan sekutu-sekutu mereka pada Hari Kiamat kelak, pernya-taan para sekutu itu untuk berlepas diri dari mereka serta kebatilan semua usaha mereka, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ ﴿ "Dan suatu hari Allah menghimpunkan mereka," yakni orang-orang musyrik yang mendustakan ﴾ وَمَا يَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَقُولُ ﴿ "beserta sesuatu yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata," yakni kepada yang disembah dengan nada mencela terhadap orang-orang telah menyembah mereka, ﴾ ءَأَنتُمۡ أَضۡلَلۡتُمۡ عِبَادِي هَٰٓؤُلَآءِ أَمۡ هُمۡ ضَلُّواْ ٱلسَّبِيلَ ﴿ "Apakah kamu yang me-nyesatkan hamba-hambaKu itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan?" Apakah kalian yang menyuruh mereka menyembah kalian, dan kalian yang membuat perbuatan itu indah bagi mereka, atau-kah hal itu berasal dari kemauan diri mereka sendiri? (18) ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ ﴿ "Mereka (yang disembah itu) menjawab, 'Ma-hasuci Engkau'." Mereka menyucikan Allah dari kesyirikan kaum musyrikin dan menyatakan kebebasan diri mereka dari semua itu. ﴾ مَا كَانَ يَنۢبَغِي لَنَآ ﴿ "Tidaklah patut bagi kami" maksudnya tidak layak bagi kami dan tidak baik bagi kami menjadikan selain Engkau sebagai pelindung yang mana kami menyembah, beribadah dan berdoa kepada mereka. Lalu apabila kami sangat membutuhkan untuk beribadah kepadaMu dan berlepas diri dari peribadahan kepada selainMu, maka bagaimana mungkin kami akan menyuruh sese-orang agar menyembah kami? Ini tidak mungkin! Atau: Mahasuci Engkau, kalau kami menjadikan, ﴾ مِن دُونِكَ مِنۡ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "selain Engkau sebagai pelindung." Ini sama dengan perkataan al-Masih Isa putra Maryam عليه السلام, ﴾ وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِۖ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِيٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِي بِحَقٍّۚ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥۚ تَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِي وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِي نَفۡسِكَۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ 116 مَا قُلۡتُ لَهُمۡ إِلَّا مَآ أَمَرۡتَنِي بِهِۦٓ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمۡۚ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah.' Isa menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diriMu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu, 'Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu'." (Al-Ma`idah: 116-117). Dan Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعٗا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ أَهَٰٓؤُلَآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 40 قَالُواْ سُبۡحَٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِمۖ بَلۡ كَانُواْ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ 41 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, 'Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?' Malaikat-malaikat itu menjawab, 'Mahasuci Engkau. Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu'." (Saba`: 40-41). ﴾ وَإِذَا حُشِرَ ٱلنَّاسُ كَانُواْ لَهُمۡ أَعۡدَآءٗ وَكَانُواْ بِعِبَادَتِهِمۡ كَٰفِرِينَ 6 ﴿ "Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat) niscaya sembahan-sembahan mereka itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 6). Setelah mereka menyatakan kebebasan diri mereka dari ajakan untuk beribadah kepada selain Allah, atau dari keberadaan mereka sebagai makhluk yang menyesatkan mereka, maka mereka menyebutkan sebab yang mengakibatkan kesesatan kaum musy-rikin, seraya berkata, ﴾ وَلَٰكِن مَّتَّعۡتَهُمۡ وَءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan hidup," di dalam kelezatan dunia dan syahwat dan berbagai tuntutannya yang bersifat biologis, ﴾ حَتَّىٰ نَسُواْ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "sampai mereka lupa kepada dzikir," karena sibuk dengan kelezatan dunia dan tenggelam dalam gemer-lapnya, sehingga mereka hanya menjaga harta benda mereka dan menyia-nyiakan agama mereka, ﴾ وَكَانُواْ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "dan mereka adalah kaum yang binasa," yakni orang-orang yang busuk, tidak ada ke-baikannya, tidak bisa menjadi shalih dan tidak cocok kecuali untuk dibinasakan dan dihancurkan. Jadi, mereka menjelaskan penghalang yang telah menghala-ngi mereka untuk mengikuti kebenaran, yaitu berfoya-foya dalam kehidupan dunia, yang telah memalingkan mereka dari petunjuk dan dari segala jalan menuju petunjuk, dan bahwasanya mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan. Lalu ketika penunjuk kebe-naran telah hilang dan penghalangnya muncul, maka tidak ada suatu keburukan dan kebinasaan yang kamu kehendaki melainkan pasti kamu temukan ada pada mereka. (19) Setelah sembahan-sembahan itu berlepas diri dari mereka, Allah berfirman dengan nada mencerca dan memojokkan orang-orang yang berkeras kepala itu, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبُوكُم بِمَا تَقُولُونَ ﴿ "Maka sungguh mereka (yang disembah itu) telah mendustakan kalian tentang apa yang kalian katakan," yaitu bahwa sesungguhnya mereka telah memerintahkan kalian untuk menyembahnya, dan mereka rela dengan perbuatan kalian, dan sesungguhnya mereka adalah para pemberi syafa'at bagi kalian di sisi tuhan kalian. Mereka telah mendustakan kalian dalam klaim itu. Mereka telah menjadi musuh utama kalian. Maka sangat pantaslah kalian mendapat azab. ﴾ فَمَا تَسۡتَطِيعُونَ صَرۡفٗا ﴿ "Maka kalian tidak akan dapat menolak" azab dari kalian dengan perbuatan kalian atau dengan suatu tebusan atau lain-lainnya, ﴾ وَلَا نَصۡرٗاۚ ﴿ "dan tidak pula menolong (diri kalian)" karena kerapuhan kalian dan tidak adanya penolong kalian. Inilah hukuman bagi orang-orang yang sesat, bodoh nan bertaklid buta, sebagaimana Anda ketahui, ia adalah seburuk-buruk hukuman dan neraka adalah sejelek-jelek tempat tinggal. Adapun orang yang menentang (keras kepala) dari mereka, yaitu orang yang telah mengetahui kebenaran namun berpaling darinya, maka Allah berfirman berkenaan dengan haknya, ﴾ وَمَن يَظۡلِم مِّنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa dari kalian yang berbuat zhalim," sengaja meninggalkan kebenaran secara zhalim dan keras kepala, ﴾ نُذِقۡهُ عَذَابٗا كَبِيرٗا ﴿ "niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar," tidak dapat diukur besarnya dan tidak bisa dibayangkan keadaannya. (20) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai jawaban terha-dap perkataan kaum yang mendustakan, –"Kenapa rasul ini mema-kan makanan dan berjalan di pasar-pasar?"–, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ إِلَّآ إِنَّهُمۡ لَيَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَيَمۡشُونَ فِي ٱلۡأَسۡوَاقِۗ ﴿ "Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar." Kami sekali-kali tidak menjadikan mereka jasad yang tidak makan makanan, dan Kami pun tidak menjadikan mereka sebagai malaikat, sehingga kamu dapat menjadikannya sebagai suri tauladan. Adapun masalah kaya atau fakir, ini semua adalah ujian dan kebijakan dari Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَجَعَلۡنَا بَعۡضَكُمۡ لِبَعۡضٖ فِتۡنَةً ﴿ "Dan Kami jadikan sebagian kalian cobaan bagi yang lain." Jadi, seorang rasul itu adalah ujian bagi umatnya dan cobaan bagi orang-orang yang taat dari orang-orang yang durhaka. Para rasul itu sendiri, Kami menguji mereka dengan dakwah (me-nyeru) manusia, orang yang kaya adalah cobaan bagi orang yang fakir, dan yang fakir adalah cobaan bagi yang kaya. Demikian pula berbagai jenis makhluk di dalam negeri ini, yaitu negeri cobaan, bala dan ujian. Dan tujuan dari cobaan itu adalah ﴾ أَتَصۡبِرُونَۗ ﴿ "sang-gupkah kalian bersabar," sehingga kalian tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas wajib kalian, kemudian Allah membalas kalian. Ataukah kalian tidak sanggup bersabar sehingga berhak mendapat hukuman? ﴾ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرٗا ﴿ "Dan Rabbmu adalah Maha Melihat." Dia mengetahui semua kondisi kalian, dan Dia memilih orang yang Dia ketahui layak dan pantas untuk mengemban risalahNya, dan Dia mengistimewakannya dengan memberinya keutamaan, dan Dia mengetahui semua perbuatan kalian, dan kelak Dia akan memberi-kan balasan yang setimpal atasnya. Jika baik, maka dibalas dengan kebaikan dan jika buruk, maka dibalas dengan keburukan pula.

Al-Furqan 25:21

"Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemu-an dengan Kami, 'Mengapakah tidak diturunkan kepada kita ma-laikat, atau kita melihat Rabb kita.' Sungguh mereka menganggap besar diri mereka, dan mereka benar-benar sangat melampaui batas. Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa, dan mereka berkata, 'Hijran mahjura.'[28] Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beter-bangan." (Al-Furqan: 21-23). (21) Orang-orang yang mendustakan para rasul, yaitu yang mendustakan janji Allah dan ancamanNya, yang di dalam hati me-reka tidak ada rasa takut terhadap ancaman dan tidak mengharap pertemuan dengan sang Pencipta berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَوۡ نَرَىٰ رَبَّنَاۗ ﴿ "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat, atau kita melihat Rabb kita," maksudnya mengapa para malaikat tidak turun untuk memberikan kesaksian bagimu atas kerasulanmu dan memberikan dukungan kepadamu atasnya, atau mereka turun sebagai rasul-rasul khusus, atau kita langsung melihat Tuhan, agar Dia berbicara kepada kita dan mengatakan, 'Ini adalah utusanKu, maka ikutilah dia!" Ini adalah tindakan menentang Rasul dengan sesuatu yang bukan penentang, akan tetapi ia merupakan kesombongan, keang-kuhan, dan kecongkakan. ﴾ لَقَدِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Sungguh mereka menganggap besar diri mereka," di mana mereka mengajukan usulan ini dan telah lancang melakukan tindakan yang sangat tidak sopan ini. Siapa kalian wahai si kaum fakir, wahai si kaum hina, hingga kalian (berani-beraninya) meminta melihat Allah dan kalian beranggapan bahwa kebenaran dan kepastian kerasulan itu sangat tergantung kepada hal yang demikian? Sungguh, kesombongan apalagi yang lebih besar dari ini? ﴾ وَعَتَوۡ عُتُوّٗا كَبِيرٗا ﴿ "Dan mereka benar-benar sangat melampaui batas." Maksudnya, mereka bersikap keras hati dan beku terhadap kebe-naran dengan sekeras-kerasnya. Hati mereka lebih keras daripada batu, atau lebih liat daripada besi, sama sekali tidak mau lunak ter-hadap kebenaran dan tidak mau mendengar (nasihat) orang-orang yang memberi nasihat. Maka dari itu nasihat dan peringatan sama sekali tidak membekas pada mereka, dan mereka tidak mau meng-ikuti kebenaran ketika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menghadapi manusia yang paling jujur dan paling tulus, dan ayat-ayat Allah yang sangat jelas dengan sikap berpaling dan mendustakan [serta menentang]. Keangkuhan apalagi yang lebih besar daripada keangkuhan semacam ini? Maka dari itu, amal perbuatan mereka batal (hangus) dan sirna, dan mereka merugi dengan kerugian yang paling besar [dan terhalang sepenuhnya dari kebaikan]. (22) ﴾ يَوۡمَ يَرَوۡنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ﴿ "Pada hari mereka melihat malaikat" [yang mereka usulkan kedatangannya], ﴾ لَا بُشۡرَىٰ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa." Sebab, tidaklah me-reka melihatnya (beserta bergelimangnya dosa dan keras kepala) melainkan (pasti) untuk menyiksa mereka dan menimpakan azab terhadap mereka. Yang paling awal adalah pada saat kematian, di mana saat itu para malaikat turun kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ 93 ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkan-lah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghina-kan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya'." (Al-An'am: 93). Kemudian di dalam kubur, di saat Munkar dan Nakir men-datangi mereka, lalu menanyakan kepada mereka tentang tuhan, nabi, dan agama mereka. Maka pada saat itu mereka tidak bisa memberikan jawaban yang dapat menyelamatkan mereka, sehing-ga azab pun menimpa mereka dan rahmat Allah sirna dari mereka. Kemudian pada Hari Kiamat kelak, saat mereka digiring oleh para malaikat ke neraka, kemudian menyerahkannya kepada para malaikat petugas Jahanam yang bertugas menyiksa mereka dan langsung menghukum mereka. Inilah yang dahulu mereka usulkan, dan inilah yang dahulu mereka minta, jika mereka tetap dalam kejahatan (dosa), mereka pasti melihatnya dan menjumpainya, maka barulah saat itu mereka mencari perlindungan dari azab malaikat dan lari, namun mereka sama sekali tidak menemukan tempat pelarian. ﴾ وَيَقُولُونَ حِجۡرٗا مَّحۡجُورٗا ﴿ "Dan mereka berkata, 'Hijran Mahjura'." ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ 33 ﴿ "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan." (Ar-Rahman: 33). (23) ﴾ وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ ﴿ "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan." Maksudnya, (kami bersengaja kepada) amal per-buatan mereka yang mereka harapkan menjadi kebaikan dan me-reka telah bersusah payah mengerjakannya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ﴿ "lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan" maksudnya, batal lagi sirna. Mereka telah merugi dan tidak mendapatkan pahalanya (bahkan) mereka disiksa karenanya. Hal yang demikian itu karena amal tersebut tidak ada nilai imannya dan karena ber-sumber dari seorang yang mendustakan Allah dan para rasulNya. Sebab, amal kebaikan yang diterima Allah adalah yang bersumber dari seorang Mukmin nan tulus lagi membenarkan para rasul dan mengikuti mereka.

Al-Furqan 25:22

"Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemu-an dengan Kami, 'Mengapakah tidak diturunkan kepada kita ma-laikat, atau kita melihat Rabb kita.' Sungguh mereka menganggap besar diri mereka, dan mereka benar-benar sangat melampaui batas. Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa, dan mereka berkata, 'Hijran mahjura.'[28] Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beter-bangan." (Al-Furqan: 21-23). (21) Orang-orang yang mendustakan para rasul, yaitu yang mendustakan janji Allah dan ancamanNya, yang di dalam hati me-reka tidak ada rasa takut terhadap ancaman dan tidak mengharap pertemuan dengan sang Pencipta berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَوۡ نَرَىٰ رَبَّنَاۗ ﴿ "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat, atau kita melihat Rabb kita," maksudnya mengapa para malaikat tidak turun untuk memberikan kesaksian bagimu atas kerasulanmu dan memberikan dukungan kepadamu atasnya, atau mereka turun sebagai rasul-rasul khusus, atau kita langsung melihat Tuhan, agar Dia berbicara kepada kita dan mengatakan, 'Ini adalah utusanKu, maka ikutilah dia!" Ini adalah tindakan menentang Rasul dengan sesuatu yang bukan penentang, akan tetapi ia merupakan kesombongan, keang-kuhan, dan kecongkakan. ﴾ لَقَدِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Sungguh mereka menganggap besar diri mereka," di mana mereka mengajukan usulan ini dan telah lancang melakukan tindakan yang sangat tidak sopan ini. Siapa kalian wahai si kaum fakir, wahai si kaum hina, hingga kalian (berani-beraninya) meminta melihat Allah dan kalian beranggapan bahwa kebenaran dan kepastian kerasulan itu sangat tergantung kepada hal yang demikian? Sungguh, kesombongan apalagi yang lebih besar dari ini? ﴾ وَعَتَوۡ عُتُوّٗا كَبِيرٗا ﴿ "Dan mereka benar-benar sangat melampaui batas." Maksudnya, mereka bersikap keras hati dan beku terhadap kebe-naran dengan sekeras-kerasnya. Hati mereka lebih keras daripada batu, atau lebih liat daripada besi, sama sekali tidak mau lunak ter-hadap kebenaran dan tidak mau mendengar (nasihat) orang-orang yang memberi nasihat. Maka dari itu nasihat dan peringatan sama sekali tidak membekas pada mereka, dan mereka tidak mau meng-ikuti kebenaran ketika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menghadapi manusia yang paling jujur dan paling tulus, dan ayat-ayat Allah yang sangat jelas dengan sikap berpaling dan mendustakan [serta menentang]. Keangkuhan apalagi yang lebih besar daripada keangkuhan semacam ini? Maka dari itu, amal perbuatan mereka batal (hangus) dan sirna, dan mereka merugi dengan kerugian yang paling besar [dan terhalang sepenuhnya dari kebaikan]. (22) ﴾ يَوۡمَ يَرَوۡنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ﴿ "Pada hari mereka melihat malaikat" [yang mereka usulkan kedatangannya], ﴾ لَا بُشۡرَىٰ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa." Sebab, tidaklah me-reka melihatnya (beserta bergelimangnya dosa dan keras kepala) melainkan (pasti) untuk menyiksa mereka dan menimpakan azab terhadap mereka. Yang paling awal adalah pada saat kematian, di mana saat itu para malaikat turun kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ 93 ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkan-lah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghina-kan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya'." (Al-An'am: 93). Kemudian di dalam kubur, di saat Munkar dan Nakir men-datangi mereka, lalu menanyakan kepada mereka tentang tuhan, nabi, dan agama mereka. Maka pada saat itu mereka tidak bisa memberikan jawaban yang dapat menyelamatkan mereka, sehing-ga azab pun menimpa mereka dan rahmat Allah sirna dari mereka. Kemudian pada Hari Kiamat kelak, saat mereka digiring oleh para malaikat ke neraka, kemudian menyerahkannya kepada para malaikat petugas Jahanam yang bertugas menyiksa mereka dan langsung menghukum mereka. Inilah yang dahulu mereka usulkan, dan inilah yang dahulu mereka minta, jika mereka tetap dalam kejahatan (dosa), mereka pasti melihatnya dan menjumpainya, maka barulah saat itu mereka mencari perlindungan dari azab malaikat dan lari, namun mereka sama sekali tidak menemukan tempat pelarian. ﴾ وَيَقُولُونَ حِجۡرٗا مَّحۡجُورٗا ﴿ "Dan mereka berkata, 'Hijran Mahjura'." ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ 33 ﴿ "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan." (Ar-Rahman: 33). (23) ﴾ وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ ﴿ "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan." Maksudnya, (kami bersengaja kepada) amal per-buatan mereka yang mereka harapkan menjadi kebaikan dan me-reka telah bersusah payah mengerjakannya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ﴿ "lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan" maksudnya, batal lagi sirna. Mereka telah merugi dan tidak mendapatkan pahalanya (bahkan) mereka disiksa karenanya. Hal yang demikian itu karena amal tersebut tidak ada nilai imannya dan karena ber-sumber dari seorang yang mendustakan Allah dan para rasulNya. Sebab, amal kebaikan yang diterima Allah adalah yang bersumber dari seorang Mukmin nan tulus lagi membenarkan para rasul dan mengikuti mereka.

Al-Furqan 25:23

"Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemu-an dengan Kami, 'Mengapakah tidak diturunkan kepada kita ma-laikat, atau kita melihat Rabb kita.' Sungguh mereka menganggap besar diri mereka, dan mereka benar-benar sangat melampaui batas. Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa, dan mereka berkata, 'Hijran mahjura.'[28] Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beter-bangan." (Al-Furqan: 21-23). (21) Orang-orang yang mendustakan para rasul, yaitu yang mendustakan janji Allah dan ancamanNya, yang di dalam hati me-reka tidak ada rasa takut terhadap ancaman dan tidak mengharap pertemuan dengan sang Pencipta berkata, ﴾ لَوۡلَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَوۡ نَرَىٰ رَبَّنَاۗ ﴿ "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat, atau kita melihat Rabb kita," maksudnya mengapa para malaikat tidak turun untuk memberikan kesaksian bagimu atas kerasulanmu dan memberikan dukungan kepadamu atasnya, atau mereka turun sebagai rasul-rasul khusus, atau kita langsung melihat Tuhan, agar Dia berbicara kepada kita dan mengatakan, 'Ini adalah utusanKu, maka ikutilah dia!" Ini adalah tindakan menentang Rasul dengan sesuatu yang bukan penentang, akan tetapi ia merupakan kesombongan, keang-kuhan, dan kecongkakan. ﴾ لَقَدِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Sungguh mereka menganggap besar diri mereka," di mana mereka mengajukan usulan ini dan telah lancang melakukan tindakan yang sangat tidak sopan ini. Siapa kalian wahai si kaum fakir, wahai si kaum hina, hingga kalian (berani-beraninya) meminta melihat Allah dan kalian beranggapan bahwa kebenaran dan kepastian kerasulan itu sangat tergantung kepada hal yang demikian? Sungguh, kesombongan apalagi yang lebih besar dari ini? ﴾ وَعَتَوۡ عُتُوّٗا كَبِيرٗا ﴿ "Dan mereka benar-benar sangat melampaui batas." Maksudnya, mereka bersikap keras hati dan beku terhadap kebe-naran dengan sekeras-kerasnya. Hati mereka lebih keras daripada batu, atau lebih liat daripada besi, sama sekali tidak mau lunak ter-hadap kebenaran dan tidak mau mendengar (nasihat) orang-orang yang memberi nasihat. Maka dari itu nasihat dan peringatan sama sekali tidak membekas pada mereka, dan mereka tidak mau meng-ikuti kebenaran ketika seorang pemberi peringatan datang kepada mereka, bahkan mereka menghadapi manusia yang paling jujur dan paling tulus, dan ayat-ayat Allah yang sangat jelas dengan sikap berpaling dan mendustakan [serta menentang]. Keangkuhan apalagi yang lebih besar daripada keangkuhan semacam ini? Maka dari itu, amal perbuatan mereka batal (hangus) dan sirna, dan mereka merugi dengan kerugian yang paling besar [dan terhalang sepenuhnya dari kebaikan]. (22) ﴾ يَوۡمَ يَرَوۡنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ﴿ "Pada hari mereka melihat malaikat" [yang mereka usulkan kedatangannya], ﴾ لَا بُشۡرَىٰ يَوۡمَئِذٖ لِّلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa." Sebab, tidaklah me-reka melihatnya (beserta bergelimangnya dosa dan keras kepala) melainkan (pasti) untuk menyiksa mereka dan menimpakan azab terhadap mereka. Yang paling awal adalah pada saat kematian, di mana saat itu para malaikat turun kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ 93 ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkan-lah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghina-kan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar, dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya'." (Al-An'am: 93). Kemudian di dalam kubur, di saat Munkar dan Nakir men-datangi mereka, lalu menanyakan kepada mereka tentang tuhan, nabi, dan agama mereka. Maka pada saat itu mereka tidak bisa memberikan jawaban yang dapat menyelamatkan mereka, sehing-ga azab pun menimpa mereka dan rahmat Allah sirna dari mereka. Kemudian pada Hari Kiamat kelak, saat mereka digiring oleh para malaikat ke neraka, kemudian menyerahkannya kepada para malaikat petugas Jahanam yang bertugas menyiksa mereka dan langsung menghukum mereka. Inilah yang dahulu mereka usulkan, dan inilah yang dahulu mereka minta, jika mereka tetap dalam kejahatan (dosa), mereka pasti melihatnya dan menjumpainya, maka barulah saat itu mereka mencari perlindungan dari azab malaikat dan lari, namun mereka sama sekali tidak menemukan tempat pelarian. ﴾ وَيَقُولُونَ حِجۡرٗا مَّحۡجُورٗا ﴿ "Dan mereka berkata, 'Hijran Mahjura'." ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ 33 ﴿ "Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan." (Ar-Rahman: 33). (23) ﴾ وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٖ ﴿ "Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan." Maksudnya, (kami bersengaja kepada) amal per-buatan mereka yang mereka harapkan menjadi kebaikan dan me-reka telah bersusah payah mengerjakannya, ﴾ فَجَعَلۡنَٰهُ هَبَآءٗ مَّنثُورًا ﴿ "lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan" maksudnya, batal lagi sirna. Mereka telah merugi dan tidak mendapatkan pahalanya (bahkan) mereka disiksa karenanya. Hal yang demikian itu karena amal tersebut tidak ada nilai imannya dan karena ber-sumber dari seorang yang mendustakan Allah dan para rasulNya. Sebab, amal kebaikan yang diterima Allah adalah yang bersumber dari seorang Mukmin nan tulus lagi membenarkan para rasul dan mengikuti mereka.

Al-Furqan 25:24

"Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik tempat tinggalnya dan paling indah tempat istirahatnya." (Al-Furqan: 24). (24) Maksudnya, pada hari yang sangat menakutkan itu banyak sekali kekacauannya. ﴾ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "Penghuni-penghuni surga," yaitu orang-orang yang telah beriman kepada Allah dan beramal shalih serta bertakwa kepada Rabbnya ﴾ خَيۡرٞ مُّسۡتَقَرّٗا ﴿ "paling baik tempat tinggalnya," daripada penghuni neraka, ﴾ وَأَحۡسَنُ مَقِيلٗا ﴿ "dan paling indah tempat istirahatnya," maksudnya, tempat tinggal mereka di surga, dan istirahat mereka adalah tidur di siang hari. Itulah tempat istirahat yang berguna dan istirahat yang sempurna, karena meliputi segala kelengkapan kenikmatan yang sama sekali tidak tercemari kekeruhan. Sangat berbeda sekali dengan para penghuni neraka, karena tempat tinggal mereka adalah Jahanam yang me-rupakan seburuk-buruk tempat istirahat dan tempat tinggal. Ini merupakan salah satu bentuk penggunaan af`al tafdhil (superlatif) dalam kalimat yang pada bagian lain tidak ada sedikit pun darinya. Sebab, sama sekali tidak ada kebaikan di dalam tempat tinggal penghuni neraka dan tempat istirahat mereka. Sama dengan ung-kapan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ءَآللَّهُ خَيۡرٌ أَمَّا يُشۡرِكُونَ 59 ﴿ "Apakah Allah yang lebih baik, atau sesuatu yang mereka perseku-tukan?" (An-Naml: 59).

Al-Furqan 25:25

"Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia'." (Al-Furqan: 25-29). (25-26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kedahsyatan, ke-sengsaraan dan kesulitan pada Hari Kiamat serta hal-hal yang menakutkan hati, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ ﴿ "Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut." Dan kabut itu adalah kabut yang di dalamnya Allah turun; Dia turun dari atas langit, hingga langit terbelah dan pecah karenanya, dan turun pula [ma-laikat-malaikat][29] pada tiap-tiap langit, kemudian mereka berdiri dengan berbaris, baik satu baris yang mengelilingi semua makhluk (manusia), atau setiap satu langit mereka membentuk satu baris, lalu langit berikutnya satu baris.[30] Dan demikianlah maksudnya, yaitu bahwa para malaikat dengan sebegitu banyak dan kuatnya turun seraya meliputi manusia, mereka tunduk kepada perintah Rabbnya, tidak seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali dengan izin dari Allah. Lalu bagaimana menurutmu dengan se-orang manusia yang sangat lemah, terutama yang telah melawan Allah Sang Pemilik dengan berbagai dosa besar dan telah lancang melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya, lalu dia datang menghadapNya dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dan belum sempat bertaubat? Kemudian Sang Maha Raja lagi Pencipta memberikan kepu-tusan untuknya dengan keputusan yang di situ Dia tidak berbuat curang dan tidak pula zhalim sebesar biji sawi pun. Oleh karena-nya, Dia berfirman, ﴾ وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا ﴿ "Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir," karena kesulitan-nya yang sangat dan susahnya segala urusan baginya. Berbeda halnya dengan orang Mukmin, karena hari itu mudah baginya dan ringan ditanggung, ﴾ يَوۡمَ نَحۡشُرُ ٱلۡمُتَّقِينَ إِلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ وَفۡدٗا 85 وَنَسُوقُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرۡدٗا 86 ﴿ "(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pemurah sebagai utusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 85-86). Dan FirmanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ﴿ "Dan kekuasaan pada hari itu," yakni pada Hari Kiamat, ﴾ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "yang haq adalah milik Yang Maha Pemurah," tidak ada kekuasaan bagi seorang manusia pun saat itu, dan tidak pula gambaran kekuasaan, sebagaimana adanya dahulu di dunia. Bahkan para raja dan rakyatnya, orang-orang yang merdeka dan budak-budak, orang-orang yang terhormat dan lain-lain pada hari itu menjadi sama. Di antara hal yang melegakan hati dan menentramkan jiwa serta melapangkan dada adalah bahwa Dia menyandarkan "ke-kuasaan" saat Hari Kiamat itu kepada namaNya "ar-rahman" yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, mencakup segala yang hidup, memenuhi alam semesta, dan dengannya dunia dan akhirat men-jadi makmur, dan dengannya pula segala yang kurang menjadi sempurna, dan setiap kekurangan menjadi habis; dan nama-nama yang menunjukkan kepadanya mengalahkan nama-nama yang menunjukkan kepada kemurkaan, dan rahmatNya mendahului dan mengalahkan murkaNya. Maka milikNya-lah keunggulan dan kemenangan. Dan Dia telah menciptakan manusia nan rapuh ini, lalu memuliakan dan menghormatinya untuk menyempurna-kan nikmatNya terhadap manusia dan untuk meliputinya dengan rahmatNya. Mereka hadir dalam kondisi terhina, tunduk, dan tenang di hadapanNya. Mereka menunggu apa yang akan diputus-kan dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Sementara Dia lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka sendiri dan kedua orang tua mereka. Lalu bagaimana menurutmu dengan perlakuanNya terhadap mereka? Tidak binasa di hadapan Allah selain orang yang binasa, dan tidak akan keluar dari rahmatNya kecuali orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan dan ketetapan azab sudah ditetapkan atasnya. (27) ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ ﴿ "Dan hari ketika orang yang zhalim itu menggigit," disebabkan kesyirikan, kekafiran, dan pendustaannya terhadap para rasul ﴾ عَلَىٰ يَدَيۡهِ ﴿ "dua tangannya," karena pilu, sedih dan duka, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ﴿ "seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." Yakni jalan dengan ber-iman kepadanya, membenarkan dan mengikutinya. (28) ﴾ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا ﴿ "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan," yaitu setan dari bangsa manusia atau bangsa jin ﴾ خَلِيلٗا ﴿ "sebagai teman akrab," yakni kekasih yang sangat dicintai. Aku telah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, manusia yang paling baik kepadaku dan manusia yang paling sayang kepadaku, dan aku telah setia kepada musuh yang paling memusuhiku, yang kesetiaanku kepadanya sama sekali tidak berguna bagiku kecuali kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan. (29) ﴾ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ ﴿ "Sungguh dia telah menyesat-kanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku," di mana dia telah membuat kesesatannya menjadi indah baginya dengan tipudaya dan bujuk-rayuannya. ﴾ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ﴿ "Dan setan itu tidak akan menolong manusia." Maksudnya, setan itu men-jadikan yang batil menjadi indah baginya dan memburukkan yang haq baginya, bahkan dia menjanjikan berbagai angan-angan manis, kemudian setan meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Sebagaimana dia mengatakan kepada seluruh pengikutnya ketika semua perkara telah diputuskan dan setelah Allah selesai meme-riksa (amal perbuatan) seluruh manusia, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolong-ku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutu-kan aku (dengan Allah) sejak dahulu'." (Ibrahim: 22). Maka hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya di waktu senggang dan membenahi apa yang bisa dibenahi sebelum dia kelak tidak dapat membenahi diri, dan hendaklah dia berloya-litas kepada orang yang di dalam loyalitas (kesetiaan) kepadanya terdapat kebahagiaan bagi dirinya, dan hendaknya memusuhi orang yang permusuhan terhadapnya menguntungkan dirinya dan persahabatan dengannya membahayakannya. Wallahul Muwaffiq.

Al-Furqan 25:26

"Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia'." (Al-Furqan: 25-29). (25-26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kedahsyatan, ke-sengsaraan dan kesulitan pada Hari Kiamat serta hal-hal yang menakutkan hati, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ ﴿ "Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut." Dan kabut itu adalah kabut yang di dalamnya Allah turun; Dia turun dari atas langit, hingga langit terbelah dan pecah karenanya, dan turun pula [ma-laikat-malaikat][29] pada tiap-tiap langit, kemudian mereka berdiri dengan berbaris, baik satu baris yang mengelilingi semua makhluk (manusia), atau setiap satu langit mereka membentuk satu baris, lalu langit berikutnya satu baris.[30] Dan demikianlah maksudnya, yaitu bahwa para malaikat dengan sebegitu banyak dan kuatnya turun seraya meliputi manusia, mereka tunduk kepada perintah Rabbnya, tidak seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali dengan izin dari Allah. Lalu bagaimana menurutmu dengan se-orang manusia yang sangat lemah, terutama yang telah melawan Allah Sang Pemilik dengan berbagai dosa besar dan telah lancang melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya, lalu dia datang menghadapNya dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dan belum sempat bertaubat? Kemudian Sang Maha Raja lagi Pencipta memberikan kepu-tusan untuknya dengan keputusan yang di situ Dia tidak berbuat curang dan tidak pula zhalim sebesar biji sawi pun. Oleh karena-nya, Dia berfirman, ﴾ وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا ﴿ "Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir," karena kesulitan-nya yang sangat dan susahnya segala urusan baginya. Berbeda halnya dengan orang Mukmin, karena hari itu mudah baginya dan ringan ditanggung, ﴾ يَوۡمَ نَحۡشُرُ ٱلۡمُتَّقِينَ إِلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ وَفۡدٗا 85 وَنَسُوقُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرۡدٗا 86 ﴿ "(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pemurah sebagai utusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 85-86). Dan FirmanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ﴿ "Dan kekuasaan pada hari itu," yakni pada Hari Kiamat, ﴾ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "yang haq adalah milik Yang Maha Pemurah," tidak ada kekuasaan bagi seorang manusia pun saat itu, dan tidak pula gambaran kekuasaan, sebagaimana adanya dahulu di dunia. Bahkan para raja dan rakyatnya, orang-orang yang merdeka dan budak-budak, orang-orang yang terhormat dan lain-lain pada hari itu menjadi sama. Di antara hal yang melegakan hati dan menentramkan jiwa serta melapangkan dada adalah bahwa Dia menyandarkan "ke-kuasaan" saat Hari Kiamat itu kepada namaNya "ar-rahman" yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, mencakup segala yang hidup, memenuhi alam semesta, dan dengannya dunia dan akhirat men-jadi makmur, dan dengannya pula segala yang kurang menjadi sempurna, dan setiap kekurangan menjadi habis; dan nama-nama yang menunjukkan kepadanya mengalahkan nama-nama yang menunjukkan kepada kemurkaan, dan rahmatNya mendahului dan mengalahkan murkaNya. Maka milikNya-lah keunggulan dan kemenangan. Dan Dia telah menciptakan manusia nan rapuh ini, lalu memuliakan dan menghormatinya untuk menyempurna-kan nikmatNya terhadap manusia dan untuk meliputinya dengan rahmatNya. Mereka hadir dalam kondisi terhina, tunduk, dan tenang di hadapanNya. Mereka menunggu apa yang akan diputus-kan dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Sementara Dia lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka sendiri dan kedua orang tua mereka. Lalu bagaimana menurutmu dengan perlakuanNya terhadap mereka? Tidak binasa di hadapan Allah selain orang yang binasa, dan tidak akan keluar dari rahmatNya kecuali orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan dan ketetapan azab sudah ditetapkan atasnya. (27) ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ ﴿ "Dan hari ketika orang yang zhalim itu menggigit," disebabkan kesyirikan, kekafiran, dan pendustaannya terhadap para rasul ﴾ عَلَىٰ يَدَيۡهِ ﴿ "dua tangannya," karena pilu, sedih dan duka, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ﴿ "seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." Yakni jalan dengan ber-iman kepadanya, membenarkan dan mengikutinya. (28) ﴾ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا ﴿ "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan," yaitu setan dari bangsa manusia atau bangsa jin ﴾ خَلِيلٗا ﴿ "sebagai teman akrab," yakni kekasih yang sangat dicintai. Aku telah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, manusia yang paling baik kepadaku dan manusia yang paling sayang kepadaku, dan aku telah setia kepada musuh yang paling memusuhiku, yang kesetiaanku kepadanya sama sekali tidak berguna bagiku kecuali kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan. (29) ﴾ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ ﴿ "Sungguh dia telah menyesat-kanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku," di mana dia telah membuat kesesatannya menjadi indah baginya dengan tipudaya dan bujuk-rayuannya. ﴾ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ﴿ "Dan setan itu tidak akan menolong manusia." Maksudnya, setan itu men-jadikan yang batil menjadi indah baginya dan memburukkan yang haq baginya, bahkan dia menjanjikan berbagai angan-angan manis, kemudian setan meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Sebagaimana dia mengatakan kepada seluruh pengikutnya ketika semua perkara telah diputuskan dan setelah Allah selesai meme-riksa (amal perbuatan) seluruh manusia, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolong-ku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutu-kan aku (dengan Allah) sejak dahulu'." (Ibrahim: 22). Maka hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya di waktu senggang dan membenahi apa yang bisa dibenahi sebelum dia kelak tidak dapat membenahi diri, dan hendaklah dia berloya-litas kepada orang yang di dalam loyalitas (kesetiaan) kepadanya terdapat kebahagiaan bagi dirinya, dan hendaknya memusuhi orang yang permusuhan terhadapnya menguntungkan dirinya dan persahabatan dengannya membahayakannya. Wallahul Muwaffiq.

Al-Furqan 25:27

"Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia'." (Al-Furqan: 25-29). (25-26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kedahsyatan, ke-sengsaraan dan kesulitan pada Hari Kiamat serta hal-hal yang menakutkan hati, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ ﴿ "Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut." Dan kabut itu adalah kabut yang di dalamnya Allah turun; Dia turun dari atas langit, hingga langit terbelah dan pecah karenanya, dan turun pula [ma-laikat-malaikat][29] pada tiap-tiap langit, kemudian mereka berdiri dengan berbaris, baik satu baris yang mengelilingi semua makhluk (manusia), atau setiap satu langit mereka membentuk satu baris, lalu langit berikutnya satu baris.[30] Dan demikianlah maksudnya, yaitu bahwa para malaikat dengan sebegitu banyak dan kuatnya turun seraya meliputi manusia, mereka tunduk kepada perintah Rabbnya, tidak seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali dengan izin dari Allah. Lalu bagaimana menurutmu dengan se-orang manusia yang sangat lemah, terutama yang telah melawan Allah Sang Pemilik dengan berbagai dosa besar dan telah lancang melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya, lalu dia datang menghadapNya dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dan belum sempat bertaubat? Kemudian Sang Maha Raja lagi Pencipta memberikan kepu-tusan untuknya dengan keputusan yang di situ Dia tidak berbuat curang dan tidak pula zhalim sebesar biji sawi pun. Oleh karena-nya, Dia berfirman, ﴾ وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا ﴿ "Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir," karena kesulitan-nya yang sangat dan susahnya segala urusan baginya. Berbeda halnya dengan orang Mukmin, karena hari itu mudah baginya dan ringan ditanggung, ﴾ يَوۡمَ نَحۡشُرُ ٱلۡمُتَّقِينَ إِلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ وَفۡدٗا 85 وَنَسُوقُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرۡدٗا 86 ﴿ "(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pemurah sebagai utusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 85-86). Dan FirmanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ﴿ "Dan kekuasaan pada hari itu," yakni pada Hari Kiamat, ﴾ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "yang haq adalah milik Yang Maha Pemurah," tidak ada kekuasaan bagi seorang manusia pun saat itu, dan tidak pula gambaran kekuasaan, sebagaimana adanya dahulu di dunia. Bahkan para raja dan rakyatnya, orang-orang yang merdeka dan budak-budak, orang-orang yang terhormat dan lain-lain pada hari itu menjadi sama. Di antara hal yang melegakan hati dan menentramkan jiwa serta melapangkan dada adalah bahwa Dia menyandarkan "ke-kuasaan" saat Hari Kiamat itu kepada namaNya "ar-rahman" yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, mencakup segala yang hidup, memenuhi alam semesta, dan dengannya dunia dan akhirat men-jadi makmur, dan dengannya pula segala yang kurang menjadi sempurna, dan setiap kekurangan menjadi habis; dan nama-nama yang menunjukkan kepadanya mengalahkan nama-nama yang menunjukkan kepada kemurkaan, dan rahmatNya mendahului dan mengalahkan murkaNya. Maka milikNya-lah keunggulan dan kemenangan. Dan Dia telah menciptakan manusia nan rapuh ini, lalu memuliakan dan menghormatinya untuk menyempurna-kan nikmatNya terhadap manusia dan untuk meliputinya dengan rahmatNya. Mereka hadir dalam kondisi terhina, tunduk, dan tenang di hadapanNya. Mereka menunggu apa yang akan diputus-kan dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Sementara Dia lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka sendiri dan kedua orang tua mereka. Lalu bagaimana menurutmu dengan perlakuanNya terhadap mereka? Tidak binasa di hadapan Allah selain orang yang binasa, dan tidak akan keluar dari rahmatNya kecuali orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan dan ketetapan azab sudah ditetapkan atasnya. (27) ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ ﴿ "Dan hari ketika orang yang zhalim itu menggigit," disebabkan kesyirikan, kekafiran, dan pendustaannya terhadap para rasul ﴾ عَلَىٰ يَدَيۡهِ ﴿ "dua tangannya," karena pilu, sedih dan duka, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ﴿ "seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." Yakni jalan dengan ber-iman kepadanya, membenarkan dan mengikutinya. (28) ﴾ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا ﴿ "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan," yaitu setan dari bangsa manusia atau bangsa jin ﴾ خَلِيلٗا ﴿ "sebagai teman akrab," yakni kekasih yang sangat dicintai. Aku telah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, manusia yang paling baik kepadaku dan manusia yang paling sayang kepadaku, dan aku telah setia kepada musuh yang paling memusuhiku, yang kesetiaanku kepadanya sama sekali tidak berguna bagiku kecuali kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan. (29) ﴾ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ ﴿ "Sungguh dia telah menyesat-kanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku," di mana dia telah membuat kesesatannya menjadi indah baginya dengan tipudaya dan bujuk-rayuannya. ﴾ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ﴿ "Dan setan itu tidak akan menolong manusia." Maksudnya, setan itu men-jadikan yang batil menjadi indah baginya dan memburukkan yang haq baginya, bahkan dia menjanjikan berbagai angan-angan manis, kemudian setan meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Sebagaimana dia mengatakan kepada seluruh pengikutnya ketika semua perkara telah diputuskan dan setelah Allah selesai meme-riksa (amal perbuatan) seluruh manusia, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolong-ku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutu-kan aku (dengan Allah) sejak dahulu'." (Ibrahim: 22). Maka hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya di waktu senggang dan membenahi apa yang bisa dibenahi sebelum dia kelak tidak dapat membenahi diri, dan hendaklah dia berloya-litas kepada orang yang di dalam loyalitas (kesetiaan) kepadanya terdapat kebahagiaan bagi dirinya, dan hendaknya memusuhi orang yang permusuhan terhadapnya menguntungkan dirinya dan persahabatan dengannya membahayakannya. Wallahul Muwaffiq.

Al-Furqan 25:28

"Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia'." (Al-Furqan: 25-29). (25-26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kedahsyatan, ke-sengsaraan dan kesulitan pada Hari Kiamat serta hal-hal yang menakutkan hati, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ ﴿ "Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut." Dan kabut itu adalah kabut yang di dalamnya Allah turun; Dia turun dari atas langit, hingga langit terbelah dan pecah karenanya, dan turun pula [ma-laikat-malaikat][29] pada tiap-tiap langit, kemudian mereka berdiri dengan berbaris, baik satu baris yang mengelilingi semua makhluk (manusia), atau setiap satu langit mereka membentuk satu baris, lalu langit berikutnya satu baris.[30] Dan demikianlah maksudnya, yaitu bahwa para malaikat dengan sebegitu banyak dan kuatnya turun seraya meliputi manusia, mereka tunduk kepada perintah Rabbnya, tidak seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali dengan izin dari Allah. Lalu bagaimana menurutmu dengan se-orang manusia yang sangat lemah, terutama yang telah melawan Allah Sang Pemilik dengan berbagai dosa besar dan telah lancang melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya, lalu dia datang menghadapNya dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dan belum sempat bertaubat? Kemudian Sang Maha Raja lagi Pencipta memberikan kepu-tusan untuknya dengan keputusan yang di situ Dia tidak berbuat curang dan tidak pula zhalim sebesar biji sawi pun. Oleh karena-nya, Dia berfirman, ﴾ وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا ﴿ "Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir," karena kesulitan-nya yang sangat dan susahnya segala urusan baginya. Berbeda halnya dengan orang Mukmin, karena hari itu mudah baginya dan ringan ditanggung, ﴾ يَوۡمَ نَحۡشُرُ ٱلۡمُتَّقِينَ إِلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ وَفۡدٗا 85 وَنَسُوقُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرۡدٗا 86 ﴿ "(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pemurah sebagai utusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 85-86). Dan FirmanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ﴿ "Dan kekuasaan pada hari itu," yakni pada Hari Kiamat, ﴾ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "yang haq adalah milik Yang Maha Pemurah," tidak ada kekuasaan bagi seorang manusia pun saat itu, dan tidak pula gambaran kekuasaan, sebagaimana adanya dahulu di dunia. Bahkan para raja dan rakyatnya, orang-orang yang merdeka dan budak-budak, orang-orang yang terhormat dan lain-lain pada hari itu menjadi sama. Di antara hal yang melegakan hati dan menentramkan jiwa serta melapangkan dada adalah bahwa Dia menyandarkan "ke-kuasaan" saat Hari Kiamat itu kepada namaNya "ar-rahman" yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, mencakup segala yang hidup, memenuhi alam semesta, dan dengannya dunia dan akhirat men-jadi makmur, dan dengannya pula segala yang kurang menjadi sempurna, dan setiap kekurangan menjadi habis; dan nama-nama yang menunjukkan kepadanya mengalahkan nama-nama yang menunjukkan kepada kemurkaan, dan rahmatNya mendahului dan mengalahkan murkaNya. Maka milikNya-lah keunggulan dan kemenangan. Dan Dia telah menciptakan manusia nan rapuh ini, lalu memuliakan dan menghormatinya untuk menyempurna-kan nikmatNya terhadap manusia dan untuk meliputinya dengan rahmatNya. Mereka hadir dalam kondisi terhina, tunduk, dan tenang di hadapanNya. Mereka menunggu apa yang akan diputus-kan dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Sementara Dia lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka sendiri dan kedua orang tua mereka. Lalu bagaimana menurutmu dengan perlakuanNya terhadap mereka? Tidak binasa di hadapan Allah selain orang yang binasa, dan tidak akan keluar dari rahmatNya kecuali orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan dan ketetapan azab sudah ditetapkan atasnya. (27) ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ ﴿ "Dan hari ketika orang yang zhalim itu menggigit," disebabkan kesyirikan, kekafiran, dan pendustaannya terhadap para rasul ﴾ عَلَىٰ يَدَيۡهِ ﴿ "dua tangannya," karena pilu, sedih dan duka, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ﴿ "seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." Yakni jalan dengan ber-iman kepadanya, membenarkan dan mengikutinya. (28) ﴾ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا ﴿ "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan," yaitu setan dari bangsa manusia atau bangsa jin ﴾ خَلِيلٗا ﴿ "sebagai teman akrab," yakni kekasih yang sangat dicintai. Aku telah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, manusia yang paling baik kepadaku dan manusia yang paling sayang kepadaku, dan aku telah setia kepada musuh yang paling memusuhiku, yang kesetiaanku kepadanya sama sekali tidak berguna bagiku kecuali kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan. (29) ﴾ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ ﴿ "Sungguh dia telah menyesat-kanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku," di mana dia telah membuat kesesatannya menjadi indah baginya dengan tipudaya dan bujuk-rayuannya. ﴾ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ﴿ "Dan setan itu tidak akan menolong manusia." Maksudnya, setan itu men-jadikan yang batil menjadi indah baginya dan memburukkan yang haq baginya, bahkan dia menjanjikan berbagai angan-angan manis, kemudian setan meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Sebagaimana dia mengatakan kepada seluruh pengikutnya ketika semua perkara telah diputuskan dan setelah Allah selesai meme-riksa (amal perbuatan) seluruh manusia, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolong-ku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutu-kan aku (dengan Allah) sejak dahulu'." (Ibrahim: 22). Maka hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya di waktu senggang dan membenahi apa yang bisa dibenahi sebelum dia kelak tidak dapat membenahi diri, dan hendaklah dia berloya-litas kepada orang yang di dalam loyalitas (kesetiaan) kepadanya terdapat kebahagiaan bagi dirinya, dan hendaknya memusuhi orang yang permusuhan terhadapnya menguntungkan dirinya dan persahabatan dengannya membahayakannya. Wallahul Muwaffiq.

Al-Furqan 25:29

"Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. Kerajaan yang haq pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah. Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir. Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan jadi teman akrab(ku). Sungguh dia telah menyesatkan aku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku. Dan setan itu tidak akan menolong manusia'." (Al-Furqan: 25-29). (25-26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kedahsyatan, ke-sengsaraan dan kesulitan pada Hari Kiamat serta hal-hal yang menakutkan hati, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلسَّمَآءُ بِٱلۡغَمَٰمِ ﴿ "Dan hari ketika langit pecah belah mengeluarkan kabut." Dan kabut itu adalah kabut yang di dalamnya Allah turun; Dia turun dari atas langit, hingga langit terbelah dan pecah karenanya, dan turun pula [ma-laikat-malaikat][29] pada tiap-tiap langit, kemudian mereka berdiri dengan berbaris, baik satu baris yang mengelilingi semua makhluk (manusia), atau setiap satu langit mereka membentuk satu baris, lalu langit berikutnya satu baris.[30] Dan demikianlah maksudnya, yaitu bahwa para malaikat dengan sebegitu banyak dan kuatnya turun seraya meliputi manusia, mereka tunduk kepada perintah Rabbnya, tidak seorang pun dari mereka yang berbicara kecuali dengan izin dari Allah. Lalu bagaimana menurutmu dengan se-orang manusia yang sangat lemah, terutama yang telah melawan Allah Sang Pemilik dengan berbagai dosa besar dan telah lancang melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya, lalu dia datang menghadapNya dengan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan dan belum sempat bertaubat? Kemudian Sang Maha Raja lagi Pencipta memberikan kepu-tusan untuknya dengan keputusan yang di situ Dia tidak berbuat curang dan tidak pula zhalim sebesar biji sawi pun. Oleh karena-nya, Dia berfirman, ﴾ وَكَانَ يَوۡمًا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ عَسِيرٗا ﴿ "Dan hari itu adalah hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang yang kafir," karena kesulitan-nya yang sangat dan susahnya segala urusan baginya. Berbeda halnya dengan orang Mukmin, karena hari itu mudah baginya dan ringan ditanggung, ﴾ يَوۡمَ نَحۡشُرُ ٱلۡمُتَّقِينَ إِلَى ٱلرَّحۡمَٰنِ وَفۡدٗا 85 وَنَسُوقُ ٱلۡمُجۡرِمِينَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ وِرۡدٗا 86 ﴿ "(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang bertakwa kepada Yang Maha Pemurah sebagai utusan yang terhormat, dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka Jahanam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 85-86). Dan FirmanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ﴿ "Dan kekuasaan pada hari itu," yakni pada Hari Kiamat, ﴾ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "yang haq adalah milik Yang Maha Pemurah," tidak ada kekuasaan bagi seorang manusia pun saat itu, dan tidak pula gambaran kekuasaan, sebagaimana adanya dahulu di dunia. Bahkan para raja dan rakyatnya, orang-orang yang merdeka dan budak-budak, orang-orang yang terhormat dan lain-lain pada hari itu menjadi sama. Di antara hal yang melegakan hati dan menentramkan jiwa serta melapangkan dada adalah bahwa Dia menyandarkan "ke-kuasaan" saat Hari Kiamat itu kepada namaNya "ar-rahman" yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, mencakup segala yang hidup, memenuhi alam semesta, dan dengannya dunia dan akhirat men-jadi makmur, dan dengannya pula segala yang kurang menjadi sempurna, dan setiap kekurangan menjadi habis; dan nama-nama yang menunjukkan kepadanya mengalahkan nama-nama yang menunjukkan kepada kemurkaan, dan rahmatNya mendahului dan mengalahkan murkaNya. Maka milikNya-lah keunggulan dan kemenangan. Dan Dia telah menciptakan manusia nan rapuh ini, lalu memuliakan dan menghormatinya untuk menyempurna-kan nikmatNya terhadap manusia dan untuk meliputinya dengan rahmatNya. Mereka hadir dalam kondisi terhina, tunduk, dan tenang di hadapanNya. Mereka menunggu apa yang akan diputus-kan dan apa yang akan dilakukan terhadap mereka. Sementara Dia lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka sendiri dan kedua orang tua mereka. Lalu bagaimana menurutmu dengan perlakuanNya terhadap mereka? Tidak binasa di hadapan Allah selain orang yang binasa, dan tidak akan keluar dari rahmatNya kecuali orang yang telah dikuasai oleh kesengsaraan dan ketetapan azab sudah ditetapkan atasnya. (27) ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ ﴿ "Dan hari ketika orang yang zhalim itu menggigit," disebabkan kesyirikan, kekafiran, dan pendustaannya terhadap para rasul ﴾ عَلَىٰ يَدَيۡهِ ﴿ "dua tangannya," karena pilu, sedih dan duka, ﴾ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا ﴿ "seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." Yakni jalan dengan ber-iman kepadanya, membenarkan dan mengikutinya. (28) ﴾ يَٰوَيۡلَتَىٰ لَيۡتَنِي لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا ﴿ "Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan," yaitu setan dari bangsa manusia atau bangsa jin ﴾ خَلِيلٗا ﴿ "sebagai teman akrab," yakni kekasih yang sangat dicintai. Aku telah memusuhi manusia yang paling tulus kepadaku, manusia yang paling baik kepadaku dan manusia yang paling sayang kepadaku, dan aku telah setia kepada musuh yang paling memusuhiku, yang kesetiaanku kepadanya sama sekali tidak berguna bagiku kecuali kesengsaraan, kerugian, kehinaan, dan kebinasaan. (29) ﴾ لَّقَدۡ أَضَلَّنِي عَنِ ٱلذِّكۡرِ بَعۡدَ إِذۡ جَآءَنِيۗ ﴿ "Sungguh dia telah menyesat-kanku dari al-Qur`an ketika al-Qur`an telah datang kepadaku," di mana dia telah membuat kesesatannya menjadi indah baginya dengan tipudaya dan bujuk-rayuannya. ﴾ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِلۡإِنسَٰنِ خَذُولٗا ﴿ "Dan setan itu tidak akan menolong manusia." Maksudnya, setan itu men-jadikan yang batil menjadi indah baginya dan memburukkan yang haq baginya, bahkan dia menjanjikan berbagai angan-angan manis, kemudian setan meninggalkannya dan berlepas diri darinya. Sebagaimana dia mengatakan kepada seluruh pengikutnya ketika semua perkara telah diputuskan dan setelah Allah selesai meme-riksa (amal perbuatan) seluruh manusia, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنٍ إِلَّآ أَن دَعَوۡتُكُمۡ فَٱسۡتَجَبۡتُمۡ لِيۖ فَلَا تَلُومُونِي وَلُومُوٓاْ أَنفُسَكُمۖ مَّآ أَنَا۠ بِمُصۡرِخِكُمۡ وَمَآ أَنتُم بِمُصۡرِخِيَّ إِنِّي كَفَرۡتُ بِمَآ أَشۡرَكۡتُمُونِ مِن قَبۡلُۗ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu, dan kamu pun sekali-kali tidak dapat menolong-ku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutu-kan aku (dengan Allah) sejak dahulu'." (Ibrahim: 22). Maka hendaknya setiap orang memperhatikan dirinya di waktu senggang dan membenahi apa yang bisa dibenahi sebelum dia kelak tidak dapat membenahi diri, dan hendaklah dia berloya-litas kepada orang yang di dalam loyalitas (kesetiaan) kepadanya terdapat kebahagiaan bagi dirinya, dan hendaknya memusuhi orang yang permusuhan terhadapnya menguntungkan dirinya dan persahabatan dengannya membahayakannya. Wallahul Muwaffiq.

Al-Furqan 25:30

"Berkatalah Rasul, 'Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur`an ini sesuatu yang diabaikan.' Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kala-ngan) orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong." (Al-Furqan: 30-31). (30) ﴾ وَقَالَ ٱلرَّسُولُ ﴿ "Berkatalah Rasul, seraya menyeru kepada Rabbnya, mengadukan sikap kaumnya yang berpaling dari ajaran yang dibawanya serta sedih atas sikap yang mereka perlihatkan itu, ﴾ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku," yang kepada mereka Engkau mengutusku untuk memberi petunjuk dan me-nyampaikan (risalahMu. Pent.), ﴾ ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا ﴿ "telah menjadi-kan al-Qur`an ini sesuatu yang diabaikan," maksudnya, mereka telah berpaling darinya, mengabaikan dan meninggalkannya, padahal yang menjadi kewajiban mereka adalah patuh kepada hukumnya dan menerima aturan-aturannya serta mengikutinya. (31) Allah berfirman kepada RasulNya untuk menghibur dan mengabarkan kepadanya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ ﴿ "Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa." Yaitu dari golongan orang-orang yang tidak laik untuk kebaikan dan mereka tidak membersihkan diri dengannya; mereka menentang para rasul, menolak dan mendebat mereka dengan yang batil. Di antara sebagian manfaatnya adalah kebenaran menjadi unggul di atas kebatilan, kebenaran menjadi jelas dan menjadi sangat nyata. Sebab, perlawanan kebatilan ter-hadap kebenaran menjadikannya makin jelas, nyata dan penuh bukti, dan kita makin lebih mengetahui apa yang dilakukan Allah terhadap ahlul haq, berupa karamah (kemuliaan) dan terhadap ahlul batil, berupa azab. Maka jangan bersedih terhadap mereka, dan janganlah kamu menyesal karena sikap mereka. ﴾ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا ﴿ "Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk," yang memberi petunjuk kepadamu hingga kamu mendapatkan keinginanmu dan kebaikan agama serta duniamu, ﴾ وَنَصِيرٗا ﴿ "dan Penolong," yang me-nolongmu melawan musuh-musuhmu, mencegah darimu segala hal yang dibenci dalam perkara agama dan dunia. Maka bergantung dan berserah dirilah kepadaNya.

Al-Furqan 25:31

"Berkatalah Rasul, 'Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan al-Qur`an ini sesuatu yang diabaikan.' Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kala-ngan) orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong." (Al-Furqan: 30-31). (30) ﴾ وَقَالَ ٱلرَّسُولُ ﴿ "Berkatalah Rasul, seraya menyeru kepada Rabbnya, mengadukan sikap kaumnya yang berpaling dari ajaran yang dibawanya serta sedih atas sikap yang mereka perlihatkan itu, ﴾ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku," yang kepada mereka Engkau mengutusku untuk memberi petunjuk dan me-nyampaikan (risalahMu. Pent.), ﴾ ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا ﴿ "telah menjadi-kan al-Qur`an ini sesuatu yang diabaikan," maksudnya, mereka telah berpaling darinya, mengabaikan dan meninggalkannya, padahal yang menjadi kewajiban mereka adalah patuh kepada hukumnya dan menerima aturan-aturannya serta mengikutinya. (31) Allah berfirman kepada RasulNya untuk menghibur dan mengabarkan kepadanya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ ﴿ "Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa." Yaitu dari golongan orang-orang yang tidak laik untuk kebaikan dan mereka tidak membersihkan diri dengannya; mereka menentang para rasul, menolak dan mendebat mereka dengan yang batil. Di antara sebagian manfaatnya adalah kebenaran menjadi unggul di atas kebatilan, kebenaran menjadi jelas dan menjadi sangat nyata. Sebab, perlawanan kebatilan ter-hadap kebenaran menjadikannya makin jelas, nyata dan penuh bukti, dan kita makin lebih mengetahui apa yang dilakukan Allah terhadap ahlul haq, berupa karamah (kemuliaan) dan terhadap ahlul batil, berupa azab. Maka jangan bersedih terhadap mereka, dan janganlah kamu menyesal karena sikap mereka. ﴾ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا ﴿ "Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk," yang memberi petunjuk kepadamu hingga kamu mendapatkan keinginanmu dan kebaikan agama serta duniamu, ﴾ وَنَصِيرٗا ﴿ "dan Penolong," yang me-nolongmu melawan musuh-musuhmu, mencegah darimu segala hal yang dibenci dalam perkara agama dan dunia. Maka bergantung dan berserah dirilah kepadaNya.

Al-Furqan 25:32

"Berkatalah orang-orang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpamaan, melainkan pasti Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). (32) "Ini sebagian dari sederet usulan-usulan kaum kafir yang dibisikkan oleh jiwa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepada-nya sekali turun saja?" Maksudnya, sebagaimana kitab-kitab suci sebelumnya diturunkan. Apa salahnya kalau ia diturunkan seperti itu? Bahkan turunnya (secara bertahap) seperti itu lebih sempurna dan lebih baik. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," Kami menurunkannya secara berangsur-angsur, ﴾ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ ﴿ "supaya Kami memperkuat hatimu dengannya," sebab setiap kali bagian dari al-Qur`an turun kepadanya, maka dia makin bertambah tenang dan kokoh pendiriannya, terutama di saat adanya faktor-faktor penyebab kegelisahan. Karena sesung-guhnya turunnya al-Qur`an pada saat terjadinya moment (pen-ting) itu menjadi penawar yang sangat luar biasa dan menjadi peneguh hati yang sangat efektif daripada kalau ia telah ditu-runkan sebelumnya, kemudian mengingatnya ketika terjadi asbab nuzulnya. ﴾ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا ﴿ "Dan Kami membacakannya secara tartil," maksudnya, Kami menurunkannya kepadamu dengan pelan dan secara bertahap. Ini semua menunjukkan pada perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kitabNya, yaitu al-Qur`an dan terhadap RasulNya, yaitu Muhammad a, di mana Dia menjadikan penurunan kitabNya sesuai dengan kondisi Rasulullah dan kemaslahatan agama. (33) Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ ﴿ "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpama-an," yang dengannya mereka menentang kebenaran dan dengannya mereka menolak kerasulanmu, ﴾ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا ﴿ "melainkan (pasti) Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya," maksudnya Kami turunkan kepadamu al-Qur`an yang mengandung kebenaran di dalam makna-makna-nya, kejelasan dan penjelasan yang sempurna pada lafazh-lafazh-nya. Maka makna-makna (yang dikandungnya) semuanya hak dan benar, tidak dicemari oleh satu kebatilan ataupun satu syubhat (kerancuan) dari sisi manapun; lafazh-lafazhnya dan batasan-ba-tasannya terhadap segala sesuatu merupakan lafazh-lafazh yang paling jelas dan paling baik penjelasannya, menjelaskan makna-maknanya dengan penjelasan yang sempurna. Di dalam ayat di atas terdapat satu dalil (bukti) bahwa se-pantasnya bagi orang yang membicarakan ilmu, apakah dia sebagai muhaddits, pengajar, maupun penceramah, sepantasnya dia mene-ladani Rabbnya di dalam mengatur kondisi RasulNya. Demikian pula seorang alim mengatur permasalahan masyarakat. Setiap kali ada kesempatan atau datang suatu musim, maka hendaknya dia membawakan ayat-ayat al-Qur`an, hadits-hadits Nabi dan nasihat-nasihat yang sesuai dengan musim tersebut. Ini juga mengandung bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan, seperti kaum Jahmiyah dan semisal mereka yang ber-pendapat bahwa kebanyakan nash-nash al-Qur`an mengandung makna bukan literalnya (makna tersuratnya), dan ia mempunyai makna-makna selain dari maknanya yang dipahami secara lahir (literal). Jadi, berdasarkan pendapat mereka, al-Qur`an itu tidak lebih baik penjelasannya daripada yang lainnya. Dan yang lebih baik, menurut klaim mereka, adalah penafsiran mereka yang me-rubah makna-makna al-Qur`an dengan sejauh-jauhnya.

Al-Furqan 25:33

"Berkatalah orang-orang kafir, 'Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?' Demikianlah supaya Kami memperkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpamaan, melainkan pasti Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya." (Al-Furqan: 32-33). (32) "Ini sebagian dari sederet usulan-usulan kaum kafir yang dibisikkan oleh jiwa mereka, maka mereka berkata, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ ﴿ "Mengapa al-Qur`an itu tidak diturunkan kepada-nya sekali turun saja?" Maksudnya, sebagaimana kitab-kitab suci sebelumnya diturunkan. Apa salahnya kalau ia diturunkan seperti itu? Bahkan turunnya (secara bertahap) seperti itu lebih sempurna dan lebih baik. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," Kami menurunkannya secara berangsur-angsur, ﴾ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ ﴿ "supaya Kami memperkuat hatimu dengannya," sebab setiap kali bagian dari al-Qur`an turun kepadanya, maka dia makin bertambah tenang dan kokoh pendiriannya, terutama di saat adanya faktor-faktor penyebab kegelisahan. Karena sesung-guhnya turunnya al-Qur`an pada saat terjadinya moment (pen-ting) itu menjadi penawar yang sangat luar biasa dan menjadi peneguh hati yang sangat efektif daripada kalau ia telah ditu-runkan sebelumnya, kemudian mengingatnya ketika terjadi asbab nuzulnya. ﴾ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا ﴿ "Dan Kami membacakannya secara tartil," maksudnya, Kami menurunkannya kepadamu dengan pelan dan secara bertahap. Ini semua menunjukkan pada perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap kitabNya, yaitu al-Qur`an dan terhadap RasulNya, yaitu Muhammad a, di mana Dia menjadikan penurunan kitabNya sesuai dengan kondisi Rasulullah dan kemaslahatan agama. (33) Oleh karena itu, Dia berfirman, ﴾ وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ ﴿ "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) suatu perumpama-an," yang dengannya mereka menentang kebenaran dan dengannya mereka menolak kerasulanmu, ﴾ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا ﴿ "melainkan (pasti) Kami mendatangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya," maksudnya Kami turunkan kepadamu al-Qur`an yang mengandung kebenaran di dalam makna-makna-nya, kejelasan dan penjelasan yang sempurna pada lafazh-lafazh-nya. Maka makna-makna (yang dikandungnya) semuanya hak dan benar, tidak dicemari oleh satu kebatilan ataupun satu syubhat (kerancuan) dari sisi manapun; lafazh-lafazhnya dan batasan-ba-tasannya terhadap segala sesuatu merupakan lafazh-lafazh yang paling jelas dan paling baik penjelasannya, menjelaskan makna-maknanya dengan penjelasan yang sempurna. Di dalam ayat di atas terdapat satu dalil (bukti) bahwa se-pantasnya bagi orang yang membicarakan ilmu, apakah dia sebagai muhaddits, pengajar, maupun penceramah, sepantasnya dia mene-ladani Rabbnya di dalam mengatur kondisi RasulNya. Demikian pula seorang alim mengatur permasalahan masyarakat. Setiap kali ada kesempatan atau datang suatu musim, maka hendaknya dia membawakan ayat-ayat al-Qur`an, hadits-hadits Nabi dan nasihat-nasihat yang sesuai dengan musim tersebut. Ini juga mengandung bantahan terhadap orang-orang yang berlebihan, seperti kaum Jahmiyah dan semisal mereka yang ber-pendapat bahwa kebanyakan nash-nash al-Qur`an mengandung makna bukan literalnya (makna tersuratnya), dan ia mempunyai makna-makna selain dari maknanya yang dipahami secara lahir (literal). Jadi, berdasarkan pendapat mereka, al-Qur`an itu tidak lebih baik penjelasannya daripada yang lainnya. Dan yang lebih baik, menurut klaim mereka, adalah penafsiran mereka yang me-rubah makna-makna al-Qur`an dengan sejauh-jauhnya.

Al-Furqan 25:34

"Orang-orang yang dihimpunkan ke Neraka Jahanam dengan diseret di atas mukanya, mereka itulah orang-orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya." (Al-Furqan: 34). (34) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keadaan kaum musy-rikin yang mendustakan RasulNya dan (betapa) buruknya tempat akhir mereka, dan bahwa mereka ﴾ يُحۡشَرُونَ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ ﴿ "akan dihim-punkan dengan diseret di atas mukanya," dalam pemandangan yang paling buruk dan penglihatan yang paling keji; mereka diseret dan digelandang oleh para malaikat azab ﴾ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ﴿ "ke Neraka Jahanam" yang penuh dengan semua bentuk azab dan hukuman. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang yang sedemikian keadaannya itu ada-lah ﴾ شَرّٞ مَّكَانٗا ﴿ "orang-orang yang paling buruk tempatnya," daripada orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan RasulNya, ﴾ وَأَضَلُّ سَبِيلٗا ﴿ "dan paling sesat jalannya." Ini termasuk dalam kategori menggunakan af`al tafdhil (superlatif) pada kalimat yang pada bagian lain tidak ada sesuatu pun darinya. Sebab, sesungguhnya orang-orang Mukmin itu terbaik tempat tinggal dan tempat per-istirahatannya, dan mereka di dunia telah menelusuri petunjuk jalan yang lurus, sedangkan di akhirat dapat mencapai surga, negeri kenikmatan.

Al-Furqan 25:35

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:36

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:37

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:38

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:39

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:40

"Dan sesungguhnya Kami telah memberikan al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menjadikan Harun saudaranya, me-nyertainya sebagai wazir (pembantu). Kemudian Kami berfirman kepada keduanya, 'Pergilah kamu berdua kepada kaum yang men-dustakan ayat-ayat Kami.' Maka Kami binasakan mereka sehan-cur-hancurnya. Dan kaum Nuh tatkala mereka mendustakan rasul-rasul, Kami tenggelamkan mereka dan Kami jadikan mereka itu pelajaran bagi manusia. Dan Kami telah menyediakan bagi orang-orang zhalim azab yang pedih; dan (Kami binasakan) kaum 'Ad dan Tsamud dan penduduk Rass, dan banyak (lagi) generasi-gene-rasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan Kami jadikan bagi ma-sing-masing mereka tamsil ibarat; dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. Dan sesungguhnya mereka (kaum musyrik Makkah) telah melalui sebuah negeri (Sodom) yang (dulu) dihujani dengan hujan yang sejelek-jeleknya (hujan batu). Maka apakah mereka tidak menyak-sikan runtuhan itu; bahkan mereka itu tidak mengharapkan akan kebangkitan." (Al-Furqan: 35-40). (35-40) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan kepada kisah-kisah ini, dan Dia telah menguraikannya di dalam ayat-ayat yang lain, untuk mengingatkan orang-orang yang diajak bicara (Mukhathabin) supaya waspada diri dari tenggelam dalam mendustakan Rasul mereka, sehingga mereka bisa tertimpa azab sebagaimana yang telah menimpa umat-umat yang telah berlalu yang dekat dengan masa sebelum mereka, sedangkan mereka sendiri mengetahui cerita umat-umat tersebut karena sangat terkenal dan populer di kalangan me-reka. Di antara mereka ada yang telah melihat jejak-jejak (artefak) mereka dengan mata kepala, seperti kaum Nabi Shaleh di al-Hijr, dan seperti negeri yang diguyur dengan hujan buruk berupa batu sijjil; mereka melaluinya di pagi dan malam hari saat bepergian jauh. Sebab umat-umat tersebut tidaklah lebih jahat daripada mereka, dan para rasul mereka pun tidaklah lebih baik daripada Rasul kaum musyrikin itu; ﴾ أَكُفَّارُكُمۡ خَيۡرٞ مِّنۡ أُوْلَٰٓئِكُمۡ أَمۡ لَكُم بَرَآءَةٞ فِي ٱلزُّبُرِ 43 ﴿ "Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari-pada mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu?" (Al-Qamar: 43). Akan tetapi yang telah menghalangi mereka untuk beriman, meskipun mereka telah menyaksikan tanda-tanda, adalah bahwa mereka tidak mengharapkan kebangkitan dan kehidupan kembali setelah mati. Mereka sama sekali tidak mengharapkan perjumpaan dengan Rabb mereka, dan mereka tidak takut kepada ancaman-Nya. Maka dari itu mereka terus dalam sikap menentang. Sebab, jika tidak, maka sesungguhnya bukti-bukti telah sampai kepada mereka hingga tidak ada keraguan, tidak ada syubhat, tidak ada suatu kerancuan dan tidak ada kebimbangan.

Al-Furqan 25:41

"Dan apabila mereka melihat kamu, (maka) tidaklah mereka melihatmu melainkan sebagai ejekan, 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah dia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.' Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. Terang-kanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu." (Al-Furqan: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَإِذَا رَأَوۡكَ ﴿ "Dan apabila mereka melihat kamu" wahai Muhammad, mereka yang mendustakanmu, para penen-tang ayat-ayat Allah, yang menyombongkan diri di muka bumi, mereka memperolok-olokkanmu, menghinamu dan mengatakan dengan nada menghina dan menyepelekan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي بَعَثَ ٱللَّهُ رَسُولًا ﴿ "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?" Maksudnya, tidak pantas dan tidak layak kalau Allah mengutus si lelaki ini! Ini semua karena sangat memuncaknya kezhaliman dan keras kepala mereka. Mereka memutarbalikkan kenyataan. Sebab perkataan mereka ter-sebut memberikan pengertian bahwa Rasulullah a, –dan ini tidak mungkin–, berada dalam jurang kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kalau saja kerasulan itu diberikan kepada selainnya, maka yang demikian itu tentu lebih cocok. ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ 31 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha`if) ini'." (Az-Zukhruf: 31). Perkataan seperti ini tidak akan keluar kecuali dari (mulut) manusia yang paling bodoh, paling sesat atau paling keras kepala, dan dia berpura-pura bodoh yang tujuannya adalah mempropa-gandakan kebatilan yang dibawanya dengan mendiskriditkan (mencemoohkan) kebenaran dan orang yang membawanya. Kalau tidak demikian, maka siapa saja yang memperhatikan perihal keadaan Muhammad bin Abdillah a, niscaya dia menjum-painya sebagai sosok manusia alim, unggul di dalam kecerdasan akal, ilmu, kepribadian, ketangguhan, akhlak mulia, budi pekerti luhur, kehormatan diri, keberanian, kemurahan hati, dan segala akhlak mulia; sementara orang yang menghina dan mencercanya adalah orang yang penuh dengan sifat kedunguan, kebodohan, kesesatan, kontradiksi, zhalim dan melampaui batas yang tidak ada bandingannya. Cukup (untuk mewakili) kebodohan dan kese-satannya adalah sikapnya yang selalu mencemoohkan Rasul yang agung ini, rasul yang penuh semangat dan mulia. Tujuan cemoohan dan ejekan mereka terhadapnya adalah sikap keras mereka (berpe-gang teguh) pada kebatilan dan untuk memperdaya orang-orang yang kurang berakal. (42) Maka dari itu mereka mengatakan, ﴾ إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita." [Si lelaki ini] dengan menjadikan sembahan-sembahan itu hanya satu sembahan saja, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya," tentu dia telah menyesatkan kita. Mereka beranggapan, –semoga Allah memperburuk mereka–, bahwa kese-satan itu adalah tauhid, dan bahwa petunjuk (kebenaran) itu adalah kesyirikan yang mereka anut. Maka dari itu mereka saling meng-ingatkan agar selalu sabar dalam kesyirikan itu, ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), 'Pergi-lah kamu dan tetaplah (menyembah) ilah-ilahmu'." (Shad: 6). Dan di sini mereka mengatakan, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Seandai-nya kita tidak sabar (menyembah)nya," sabar itu terpuji dalam segala kondisi, kecuali dalam kondisi seperti ini. Sebab kondisi yang satu ini adalah sabar atas sebab kausalitas yang dapat menimbulkan murka, dan sabar atas perbuatan menumpuk kayu bakar Neraka Jahanam. Sedangkan orang-orang beriman, mereka seperti yang difir-mankan oleh Allah سبحانه وتعالى tentang mereka, ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 3 ﴿ "Nasihat menasihatilah supaya menaati kebenaran dan nasihat me-nasihatilah supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 3). Ketika ini merupakan klaim mereka bahwa merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk, sedangkan Rasulullah adalah sesat, padahal sudah pasti bahwa mereka sudah tidak mempunyai alasan lagi, maka Allah mengancam mereka dengan azab, dan Dia informasikan bahwa mereka pada saat itu ﴾ حِينَ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "di saat mereka melihat azab" mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang hakiki ﴾ مَنۡ ﴿ "siapa" dia ﴾ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿ "yang paling sesat jalannya." ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." (Al-Furqan: 27). (43) Apakah ada kesesatan yang lebih tinggi daripada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya, keinginan-nya selalu diaplikasikan? Maka dari itu Allah berfirman,﴾ أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya." Tidakkah kamu heran kepada ke-adaan orang itu, dan kamu perhatikan kesesatan yang ada padanya, sedangkan dia menilai dirinya dengan kedudukan-kedudukan tinggi, ﴾ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ﴿ "maka apakah kamu dapat menjadi peme-lihara atasnya?" Maksudnya, kamu bukanlah orang yang mengua-sainya, akan tetapi kamu adalah seorang pemberi peringatan, dan kamu telah melakukan tugasmu, sedangkan perkara orang itu di-serahkan kepada Allah. (44) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mencatat kesesatan mereka yang sangat jauh itu dengan menanggalkan akal dan pendengaran mereka; dan Allah juga menyamakan mereka di dalam kesesatan dengan binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran di pa-dang rumput, yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan, ﴾ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ 171 ﴿ "Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti." (Al-Baqarah: 171). Bahkan mereka lebih sesat daripada hewan ternak. Sebab binatang ternak digiring oleh sang penggembalanya lalu hewan-hewan itu menurut, dan mengetahui jalan kebinasaannya, maka ia menghindarinya. Dan hewan-hewan ternak itu juga lebih selamat akhir urusannya daripada mereka. Dengan demikian sudah jelas bahwa orang yang mencap Rasulullah a dengan kesesatan lebih berhak mendapat cap tersebut, dan bahwa setiap hewan ternak lebih mendapat petunjuk daripadanya.

Al-Furqan 25:42

"Dan apabila mereka melihat kamu, (maka) tidaklah mereka melihatmu melainkan sebagai ejekan, 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah dia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.' Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. Terang-kanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu." (Al-Furqan: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَإِذَا رَأَوۡكَ ﴿ "Dan apabila mereka melihat kamu" wahai Muhammad, mereka yang mendustakanmu, para penen-tang ayat-ayat Allah, yang menyombongkan diri di muka bumi, mereka memperolok-olokkanmu, menghinamu dan mengatakan dengan nada menghina dan menyepelekan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي بَعَثَ ٱللَّهُ رَسُولًا ﴿ "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?" Maksudnya, tidak pantas dan tidak layak kalau Allah mengutus si lelaki ini! Ini semua karena sangat memuncaknya kezhaliman dan keras kepala mereka. Mereka memutarbalikkan kenyataan. Sebab perkataan mereka ter-sebut memberikan pengertian bahwa Rasulullah a, –dan ini tidak mungkin–, berada dalam jurang kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kalau saja kerasulan itu diberikan kepada selainnya, maka yang demikian itu tentu lebih cocok. ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ 31 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha`if) ini'." (Az-Zukhruf: 31). Perkataan seperti ini tidak akan keluar kecuali dari (mulut) manusia yang paling bodoh, paling sesat atau paling keras kepala, dan dia berpura-pura bodoh yang tujuannya adalah mempropa-gandakan kebatilan yang dibawanya dengan mendiskriditkan (mencemoohkan) kebenaran dan orang yang membawanya. Kalau tidak demikian, maka siapa saja yang memperhatikan perihal keadaan Muhammad bin Abdillah a, niscaya dia menjum-painya sebagai sosok manusia alim, unggul di dalam kecerdasan akal, ilmu, kepribadian, ketangguhan, akhlak mulia, budi pekerti luhur, kehormatan diri, keberanian, kemurahan hati, dan segala akhlak mulia; sementara orang yang menghina dan mencercanya adalah orang yang penuh dengan sifat kedunguan, kebodohan, kesesatan, kontradiksi, zhalim dan melampaui batas yang tidak ada bandingannya. Cukup (untuk mewakili) kebodohan dan kese-satannya adalah sikapnya yang selalu mencemoohkan Rasul yang agung ini, rasul yang penuh semangat dan mulia. Tujuan cemoohan dan ejekan mereka terhadapnya adalah sikap keras mereka (berpe-gang teguh) pada kebatilan dan untuk memperdaya orang-orang yang kurang berakal. (42) Maka dari itu mereka mengatakan, ﴾ إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita." [Si lelaki ini] dengan menjadikan sembahan-sembahan itu hanya satu sembahan saja, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya," tentu dia telah menyesatkan kita. Mereka beranggapan, –semoga Allah memperburuk mereka–, bahwa kese-satan itu adalah tauhid, dan bahwa petunjuk (kebenaran) itu adalah kesyirikan yang mereka anut. Maka dari itu mereka saling meng-ingatkan agar selalu sabar dalam kesyirikan itu, ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), 'Pergi-lah kamu dan tetaplah (menyembah) ilah-ilahmu'." (Shad: 6). Dan di sini mereka mengatakan, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Seandai-nya kita tidak sabar (menyembah)nya," sabar itu terpuji dalam segala kondisi, kecuali dalam kondisi seperti ini. Sebab kondisi yang satu ini adalah sabar atas sebab kausalitas yang dapat menimbulkan murka, dan sabar atas perbuatan menumpuk kayu bakar Neraka Jahanam. Sedangkan orang-orang beriman, mereka seperti yang difir-mankan oleh Allah سبحانه وتعالى tentang mereka, ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 3 ﴿ "Nasihat menasihatilah supaya menaati kebenaran dan nasihat me-nasihatilah supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 3). Ketika ini merupakan klaim mereka bahwa merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk, sedangkan Rasulullah adalah sesat, padahal sudah pasti bahwa mereka sudah tidak mempunyai alasan lagi, maka Allah mengancam mereka dengan azab, dan Dia informasikan bahwa mereka pada saat itu ﴾ حِينَ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "di saat mereka melihat azab" mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang hakiki ﴾ مَنۡ ﴿ "siapa" dia ﴾ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿ "yang paling sesat jalannya." ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." (Al-Furqan: 27). (43) Apakah ada kesesatan yang lebih tinggi daripada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya, keinginan-nya selalu diaplikasikan? Maka dari itu Allah berfirman,﴾ أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya." Tidakkah kamu heran kepada ke-adaan orang itu, dan kamu perhatikan kesesatan yang ada padanya, sedangkan dia menilai dirinya dengan kedudukan-kedudukan tinggi, ﴾ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ﴿ "maka apakah kamu dapat menjadi peme-lihara atasnya?" Maksudnya, kamu bukanlah orang yang mengua-sainya, akan tetapi kamu adalah seorang pemberi peringatan, dan kamu telah melakukan tugasmu, sedangkan perkara orang itu di-serahkan kepada Allah. (44) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mencatat kesesatan mereka yang sangat jauh itu dengan menanggalkan akal dan pendengaran mereka; dan Allah juga menyamakan mereka di dalam kesesatan dengan binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran di pa-dang rumput, yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan, ﴾ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ 171 ﴿ "Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti." (Al-Baqarah: 171). Bahkan mereka lebih sesat daripada hewan ternak. Sebab binatang ternak digiring oleh sang penggembalanya lalu hewan-hewan itu menurut, dan mengetahui jalan kebinasaannya, maka ia menghindarinya. Dan hewan-hewan ternak itu juga lebih selamat akhir urusannya daripada mereka. Dengan demikian sudah jelas bahwa orang yang mencap Rasulullah a dengan kesesatan lebih berhak mendapat cap tersebut, dan bahwa setiap hewan ternak lebih mendapat petunjuk daripadanya.

Al-Furqan 25:43

"Dan apabila mereka melihat kamu, (maka) tidaklah mereka melihatmu melainkan sebagai ejekan, 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah dia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.' Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. Terang-kanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu." (Al-Furqan: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَإِذَا رَأَوۡكَ ﴿ "Dan apabila mereka melihat kamu" wahai Muhammad, mereka yang mendustakanmu, para penen-tang ayat-ayat Allah, yang menyombongkan diri di muka bumi, mereka memperolok-olokkanmu, menghinamu dan mengatakan dengan nada menghina dan menyepelekan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي بَعَثَ ٱللَّهُ رَسُولًا ﴿ "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?" Maksudnya, tidak pantas dan tidak layak kalau Allah mengutus si lelaki ini! Ini semua karena sangat memuncaknya kezhaliman dan keras kepala mereka. Mereka memutarbalikkan kenyataan. Sebab perkataan mereka ter-sebut memberikan pengertian bahwa Rasulullah a, –dan ini tidak mungkin–, berada dalam jurang kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kalau saja kerasulan itu diberikan kepada selainnya, maka yang demikian itu tentu lebih cocok. ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ 31 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha`if) ini'." (Az-Zukhruf: 31). Perkataan seperti ini tidak akan keluar kecuali dari (mulut) manusia yang paling bodoh, paling sesat atau paling keras kepala, dan dia berpura-pura bodoh yang tujuannya adalah mempropa-gandakan kebatilan yang dibawanya dengan mendiskriditkan (mencemoohkan) kebenaran dan orang yang membawanya. Kalau tidak demikian, maka siapa saja yang memperhatikan perihal keadaan Muhammad bin Abdillah a, niscaya dia menjum-painya sebagai sosok manusia alim, unggul di dalam kecerdasan akal, ilmu, kepribadian, ketangguhan, akhlak mulia, budi pekerti luhur, kehormatan diri, keberanian, kemurahan hati, dan segala akhlak mulia; sementara orang yang menghina dan mencercanya adalah orang yang penuh dengan sifat kedunguan, kebodohan, kesesatan, kontradiksi, zhalim dan melampaui batas yang tidak ada bandingannya. Cukup (untuk mewakili) kebodohan dan kese-satannya adalah sikapnya yang selalu mencemoohkan Rasul yang agung ini, rasul yang penuh semangat dan mulia. Tujuan cemoohan dan ejekan mereka terhadapnya adalah sikap keras mereka (berpe-gang teguh) pada kebatilan dan untuk memperdaya orang-orang yang kurang berakal. (42) Maka dari itu mereka mengatakan, ﴾ إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita." [Si lelaki ini] dengan menjadikan sembahan-sembahan itu hanya satu sembahan saja, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya," tentu dia telah menyesatkan kita. Mereka beranggapan, –semoga Allah memperburuk mereka–, bahwa kese-satan itu adalah tauhid, dan bahwa petunjuk (kebenaran) itu adalah kesyirikan yang mereka anut. Maka dari itu mereka saling meng-ingatkan agar selalu sabar dalam kesyirikan itu, ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), 'Pergi-lah kamu dan tetaplah (menyembah) ilah-ilahmu'." (Shad: 6). Dan di sini mereka mengatakan, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Seandai-nya kita tidak sabar (menyembah)nya," sabar itu terpuji dalam segala kondisi, kecuali dalam kondisi seperti ini. Sebab kondisi yang satu ini adalah sabar atas sebab kausalitas yang dapat menimbulkan murka, dan sabar atas perbuatan menumpuk kayu bakar Neraka Jahanam. Sedangkan orang-orang beriman, mereka seperti yang difir-mankan oleh Allah سبحانه وتعالى tentang mereka, ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 3 ﴿ "Nasihat menasihatilah supaya menaati kebenaran dan nasihat me-nasihatilah supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 3). Ketika ini merupakan klaim mereka bahwa merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk, sedangkan Rasulullah adalah sesat, padahal sudah pasti bahwa mereka sudah tidak mempunyai alasan lagi, maka Allah mengancam mereka dengan azab, dan Dia informasikan bahwa mereka pada saat itu ﴾ حِينَ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "di saat mereka melihat azab" mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang hakiki ﴾ مَنۡ ﴿ "siapa" dia ﴾ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿ "yang paling sesat jalannya." ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." (Al-Furqan: 27). (43) Apakah ada kesesatan yang lebih tinggi daripada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya, keinginan-nya selalu diaplikasikan? Maka dari itu Allah berfirman,﴾ أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya." Tidakkah kamu heran kepada ke-adaan orang itu, dan kamu perhatikan kesesatan yang ada padanya, sedangkan dia menilai dirinya dengan kedudukan-kedudukan tinggi, ﴾ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ﴿ "maka apakah kamu dapat menjadi peme-lihara atasnya?" Maksudnya, kamu bukanlah orang yang mengua-sainya, akan tetapi kamu adalah seorang pemberi peringatan, dan kamu telah melakukan tugasmu, sedangkan perkara orang itu di-serahkan kepada Allah. (44) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mencatat kesesatan mereka yang sangat jauh itu dengan menanggalkan akal dan pendengaran mereka; dan Allah juga menyamakan mereka di dalam kesesatan dengan binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran di pa-dang rumput, yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan, ﴾ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ 171 ﴿ "Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti." (Al-Baqarah: 171). Bahkan mereka lebih sesat daripada hewan ternak. Sebab binatang ternak digiring oleh sang penggembalanya lalu hewan-hewan itu menurut, dan mengetahui jalan kebinasaannya, maka ia menghindarinya. Dan hewan-hewan ternak itu juga lebih selamat akhir urusannya daripada mereka. Dengan demikian sudah jelas bahwa orang yang mencap Rasulullah a dengan kesesatan lebih berhak mendapat cap tersebut, dan bahwa setiap hewan ternak lebih mendapat petunjuk daripadanya.

Al-Furqan 25:44

"Dan apabila mereka melihat kamu, (maka) tidaklah mereka melihatmu melainkan sebagai ejekan, 'Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul? Sesungguhnya hampirlah dia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya.' Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya. Terang-kanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya dari binatang ternak itu." (Al-Furqan: 41-44). (41) Maksudnya, ﴾ وَإِذَا رَأَوۡكَ ﴿ "Dan apabila mereka melihat kamu" wahai Muhammad, mereka yang mendustakanmu, para penen-tang ayat-ayat Allah, yang menyombongkan diri di muka bumi, mereka memperolok-olokkanmu, menghinamu dan mengatakan dengan nada menghina dan menyepelekan, ﴾ أَهَٰذَا ٱلَّذِي بَعَثَ ٱللَّهُ رَسُولًا ﴿ "Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?" Maksudnya, tidak pantas dan tidak layak kalau Allah mengutus si lelaki ini! Ini semua karena sangat memuncaknya kezhaliman dan keras kepala mereka. Mereka memutarbalikkan kenyataan. Sebab perkataan mereka ter-sebut memberikan pengertian bahwa Rasulullah a, –dan ini tidak mungkin–, berada dalam jurang kehinaan dan kenistaan, dan bahwa kalau saja kerasulan itu diberikan kepada selainnya, maka yang demikian itu tentu lebih cocok. ﴾ وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ 31 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Mengapa al-Qur`an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha`if) ini'." (Az-Zukhruf: 31). Perkataan seperti ini tidak akan keluar kecuali dari (mulut) manusia yang paling bodoh, paling sesat atau paling keras kepala, dan dia berpura-pura bodoh yang tujuannya adalah mempropa-gandakan kebatilan yang dibawanya dengan mendiskriditkan (mencemoohkan) kebenaran dan orang yang membawanya. Kalau tidak demikian, maka siapa saja yang memperhatikan perihal keadaan Muhammad bin Abdillah a, niscaya dia menjum-painya sebagai sosok manusia alim, unggul di dalam kecerdasan akal, ilmu, kepribadian, ketangguhan, akhlak mulia, budi pekerti luhur, kehormatan diri, keberanian, kemurahan hati, dan segala akhlak mulia; sementara orang yang menghina dan mencercanya adalah orang yang penuh dengan sifat kedunguan, kebodohan, kesesatan, kontradiksi, zhalim dan melampaui batas yang tidak ada bandingannya. Cukup (untuk mewakili) kebodohan dan kese-satannya adalah sikapnya yang selalu mencemoohkan Rasul yang agung ini, rasul yang penuh semangat dan mulia. Tujuan cemoohan dan ejekan mereka terhadapnya adalah sikap keras mereka (berpe-gang teguh) pada kebatilan dan untuk memperdaya orang-orang yang kurang berakal. (42) Maka dari itu mereka mengatakan, ﴾ إِن كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita." [Si lelaki ini] dengan menjadikan sembahan-sembahan itu hanya satu sembahan saja, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "seandainya kita tidak sabar (menyembah)nya," tentu dia telah menyesatkan kita. Mereka beranggapan, –semoga Allah memperburuk mereka–, bahwa kese-satan itu adalah tauhid, dan bahwa petunjuk (kebenaran) itu adalah kesyirikan yang mereka anut. Maka dari itu mereka saling meng-ingatkan agar selalu sabar dalam kesyirikan itu, ﴾ وَٱنطَلَقَ ٱلۡمَلَأُ مِنۡهُمۡ أَنِ ٱمۡشُواْ وَٱصۡبِرُواْ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمۡۖ ﴿ "Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), 'Pergi-lah kamu dan tetaplah (menyembah) ilah-ilahmu'." (Shad: 6). Dan di sini mereka mengatakan, ﴾ لَوۡلَآ أَن صَبَرۡنَا عَلَيۡهَاۚ ﴿ "Seandai-nya kita tidak sabar (menyembah)nya," sabar itu terpuji dalam segala kondisi, kecuali dalam kondisi seperti ini. Sebab kondisi yang satu ini adalah sabar atas sebab kausalitas yang dapat menimbulkan murka, dan sabar atas perbuatan menumpuk kayu bakar Neraka Jahanam. Sedangkan orang-orang beriman, mereka seperti yang difir-mankan oleh Allah سبحانه وتعالى tentang mereka, ﴾ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ 3 ﴿ "Nasihat menasihatilah supaya menaati kebenaran dan nasihat me-nasihatilah supaya menetapi kesabaran." (Al-Ashr: 3). Ketika ini merupakan klaim mereka bahwa merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk, sedangkan Rasulullah adalah sesat, padahal sudah pasti bahwa mereka sudah tidak mempunyai alasan lagi, maka Allah mengancam mereka dengan azab, dan Dia informasikan bahwa mereka pada saat itu ﴾ حِينَ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "di saat mereka melihat azab" mereka akan mengetahui dengan pengetahuan yang hakiki ﴾ مَنۡ ﴿ "siapa" dia ﴾ أَضَلُّ سَبِيلًا ﴿ "yang paling sesat jalannya." ﴾ وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلٗا 27 ﴿ "Dan (ingatlah) hari (ketika) orang yang zhalim itu menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul'." (Al-Furqan: 27). (43) Apakah ada kesesatan yang lebih tinggi daripada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya, keinginan-nya selalu diaplikasikan? Maka dari itu Allah berfirman,﴾ أَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya." Tidakkah kamu heran kepada ke-adaan orang itu, dan kamu perhatikan kesesatan yang ada padanya, sedangkan dia menilai dirinya dengan kedudukan-kedudukan tinggi, ﴾ أَفَأَنتَ تَكُونُ عَلَيۡهِ وَكِيلًا ﴿ "maka apakah kamu dapat menjadi peme-lihara atasnya?" Maksudnya, kamu bukanlah orang yang mengua-sainya, akan tetapi kamu adalah seorang pemberi peringatan, dan kamu telah melakukan tugasmu, sedangkan perkara orang itu di-serahkan kepada Allah. (44) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mencatat kesesatan mereka yang sangat jauh itu dengan menanggalkan akal dan pendengaran mereka; dan Allah juga menyamakan mereka di dalam kesesatan dengan binatang-binatang ternak yang sedang berkeliaran di pa-dang rumput, yang tidak mendengar kecuali seruan dan panggilan, ﴾ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ 171 ﴿ "Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak mengerti." (Al-Baqarah: 171). Bahkan mereka lebih sesat daripada hewan ternak. Sebab binatang ternak digiring oleh sang penggembalanya lalu hewan-hewan itu menurut, dan mengetahui jalan kebinasaannya, maka ia menghindarinya. Dan hewan-hewan ternak itu juga lebih selamat akhir urusannya daripada mereka. Dengan demikian sudah jelas bahwa orang yang mencap Rasulullah a dengan kesesatan lebih berhak mendapat cap tersebut, dan bahwa setiap hewan ternak lebih mendapat petunjuk daripadanya.

Al-Furqan 25:45

"Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-ba-yang; dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-perlahan." (Al-Furqan: 45-46). (45-46) Maksudnya, tidaklah kamu menyaksikan dengan pandangan mata dan pandangan mata hatimu kesempurnaan kekuasaan Rabbmu dan keluasan rahmatNya, yaitu bahwasanya Dia telah memanjangkan bayang-bayang mengikuti manusia. Yaitu sebelum matahari terbit, ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنَا ٱلشَّمۡسَ عَلَيۡهِ ﴿ "kemudian Kami jadikan matahari atasnya." Maksudnya, atas bayang-bayang itu, ﴾ دَلِيلٗا ﴿ "se-bagai petunjuk." Kalau saja bukan karena adanya matahari, tentu bayang-bayang tidak diketahui. Sebab lawan itu hanya dapat dike-tahui dengan lawannya pula. ﴾ ثُمَّ قَبَضۡنَٰهُ إِلَيۡنَا قَبۡضٗا يَسِيرٗا ﴿ "Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-perlahan." Semakin tinggi matahari, semakin hilanglah bayang-bayang itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis secara total. Sehingga bayang-bayang dan matahari saling bergantian menerpa manusia, yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka. Per-bedaan siang dan malam yang menjadi akibatnya, lalu silih ber-gantinya siang dan malam, perubahan musim, serta terjadinya berbagai kemaslahatan yang disebabkannya adalah merupakan dalil yang kuat yang membuktikan kekuasaan Allah dan keagungan-Nya, kesempurnaan rahmatNya, perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, dan bahwa hanya Dia semata sembahan yang dipuji, dicintai, diagungkan, pemilik keagungan dan kemuliaan.

Al-Furqan 25:46

"Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Rabbmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-ba-yang; dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-perlahan." (Al-Furqan: 45-46). (45-46) Maksudnya, tidaklah kamu menyaksikan dengan pandangan mata dan pandangan mata hatimu kesempurnaan kekuasaan Rabbmu dan keluasan rahmatNya, yaitu bahwasanya Dia telah memanjangkan bayang-bayang mengikuti manusia. Yaitu sebelum matahari terbit, ﴾ ثُمَّ جَعَلۡنَا ٱلشَّمۡسَ عَلَيۡهِ ﴿ "kemudian Kami jadikan matahari atasnya." Maksudnya, atas bayang-bayang itu, ﴾ دَلِيلٗا ﴿ "se-bagai petunjuk." Kalau saja bukan karena adanya matahari, tentu bayang-bayang tidak diketahui. Sebab lawan itu hanya dapat dike-tahui dengan lawannya pula. ﴾ ثُمَّ قَبَضۡنَٰهُ إِلَيۡنَا قَبۡضٗا يَسِيرٗا ﴿ "Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan-perlahan." Semakin tinggi matahari, semakin hilanglah bayang-bayang itu sedikit demi sedikit hingga akhirnya habis secara total. Sehingga bayang-bayang dan matahari saling bergantian menerpa manusia, yang mereka saksikan dengan mata kepala mereka. Per-bedaan siang dan malam yang menjadi akibatnya, lalu silih ber-gantinya siang dan malam, perubahan musim, serta terjadinya berbagai kemaslahatan yang disebabkannya adalah merupakan dalil yang kuat yang membuktikan kekuasaan Allah dan keagungan-Nya, kesempurnaan rahmatNya, perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, dan bahwa hanya Dia semata sembahan yang dipuji, dicintai, diagungkan, pemilik keagungan dan kemuliaan.

Al-Furqan 25:47

"Dia-lah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pa-kaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha." (Al-Furqan: 47). (47) Maksudnya, di antara rahmatNya terhadap kalian dan kelembutanNya adalah Dia menjadikan malam untuk kalian laksana pakaian yang menutupi kalian hingga kalian dapat beristirahat di dalamnya dan merasa hangat dengan tidur serta mobilitas kalian menjadi terhenti, maksudnya, gerakan kalian terhenti saat tidur. Kalau saja tidak ada malam, niscaya manusia tidak akan bisa tenang, dan niscaya mereka terus dalam aktivitasnya, lalu pada akhirnya hal itu sangat membahayakan mereka. Dan kalau terjadi malam terus, tanpa berhenti, maka kehidupan dan berbagai kepentingan mereka terabaikan. Akan tetapi Allah menjadikan siang hari seba-gai kehidupan kembali, padanya mereka dapat bertebaran untuk perniagaan, bepergian jauh dan pekerjaan mereka, sehingga dengan begitu terciptalah berbagai maslahat.

Al-Furqan 25:48

"Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, sebelum kedatangan rahmatNya (hujan); dan Kami tu-runkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (darinya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)." (Al-Furqan: 48-50). (48-59) Maksudnya, Dia semata yang berbelas kasih ter-hadap hamba-hambaNya dan mencurahkan rizkiNya terhadap mereka, yaitu dengan meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira (dekat) sebelum kedatangan rahmatNya, yaitu hujan. Dengan angin itu, awan pun datang dan bergumpal, dan menjadi kepingan, lalu ia menjatuhkan dan mencurahkan hujan dengan izin Sang Maha Pemerintah, yang Maha Pengatur agar menjadi berita gembira bagi manusia dengan adanya hujan itu sebelum turun, dan agar mereka bisa bersiap-siap untuk menghadapinya sebelum ia datang secara mendadak sekaligus; ﴾ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ طَهُورٗا ﴿ "dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih" membersihkan dari hadats dan najis, dan menyucikan dari kekeruhan dan ber-bagai kotoran, dan di dalamnya terdapat berkah dari berkahNya, yaitu bahwa Allah menurunkannya untuk menghidupkan (menyu-burkan) kembali tanah yang gersang, sehingga tumbuh berbagai aneka macam tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon di atasnya, dari tanaman yang bisa dimakan oleh manusia dan hewan ternak. ﴾ وَنُسۡقِيَهُۥ مِمَّا خَلَقۡنَآ أَنۡعَٰمٗا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرٗا ﴿ "Dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak." Maksudnya, Kami memberi minum kalian (dengannya) dan binatang-binatang ternak kalian. Bukankah Dia yang telah meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira itu dan menjadikannya (memiliki) banyak fungsi, dan Dia menu-runkan air yang bersih penuh berkah dari langit, padanya terkan-dung rizki manusia dan hewan ternak mereka; Dia-lah semata yang berhak disembah, dan tidak ada sesuatu apa pun yang bisa diper-sekutukan denganNya. (50) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayat yang nampak dan kasat mata ini, dan mencurahkannya kepada manusia agar mereka mengenalNya, bersyukur (berterima kasih) kepadaNya dan selalu mengingatNya; namun demikian ﴾ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ﴿ "kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari," (nikmat Allah tersebut) karena akhlak dan tabiat mereka telah rusak.

Al-Furqan 25:49

"Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, sebelum kedatangan rahmatNya (hujan); dan Kami tu-runkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (darinya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)." (Al-Furqan: 48-50). (48-59) Maksudnya, Dia semata yang berbelas kasih ter-hadap hamba-hambaNya dan mencurahkan rizkiNya terhadap mereka, yaitu dengan meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira (dekat) sebelum kedatangan rahmatNya, yaitu hujan. Dengan angin itu, awan pun datang dan bergumpal, dan menjadi kepingan, lalu ia menjatuhkan dan mencurahkan hujan dengan izin Sang Maha Pemerintah, yang Maha Pengatur agar menjadi berita gembira bagi manusia dengan adanya hujan itu sebelum turun, dan agar mereka bisa bersiap-siap untuk menghadapinya sebelum ia datang secara mendadak sekaligus; ﴾ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ طَهُورٗا ﴿ "dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih" membersihkan dari hadats dan najis, dan menyucikan dari kekeruhan dan ber-bagai kotoran, dan di dalamnya terdapat berkah dari berkahNya, yaitu bahwa Allah menurunkannya untuk menghidupkan (menyu-burkan) kembali tanah yang gersang, sehingga tumbuh berbagai aneka macam tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon di atasnya, dari tanaman yang bisa dimakan oleh manusia dan hewan ternak. ﴾ وَنُسۡقِيَهُۥ مِمَّا خَلَقۡنَآ أَنۡعَٰمٗا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرٗا ﴿ "Dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak." Maksudnya, Kami memberi minum kalian (dengannya) dan binatang-binatang ternak kalian. Bukankah Dia yang telah meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira itu dan menjadikannya (memiliki) banyak fungsi, dan Dia menu-runkan air yang bersih penuh berkah dari langit, padanya terkan-dung rizki manusia dan hewan ternak mereka; Dia-lah semata yang berhak disembah, dan tidak ada sesuatu apa pun yang bisa diper-sekutukan denganNya. (50) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayat yang nampak dan kasat mata ini, dan mencurahkannya kepada manusia agar mereka mengenalNya, bersyukur (berterima kasih) kepadaNya dan selalu mengingatNya; namun demikian ﴾ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ﴿ "kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari," (nikmat Allah tersebut) karena akhlak dan tabiat mereka telah rusak.

Al-Furqan 25:50

"Dia-lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira, sebelum kedatangan rahmatNya (hujan); dan Kami tu-runkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (darinya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat)." (Al-Furqan: 48-50). (48-59) Maksudnya, Dia semata yang berbelas kasih ter-hadap hamba-hambaNya dan mencurahkan rizkiNya terhadap mereka, yaitu dengan meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira (dekat) sebelum kedatangan rahmatNya, yaitu hujan. Dengan angin itu, awan pun datang dan bergumpal, dan menjadi kepingan, lalu ia menjatuhkan dan mencurahkan hujan dengan izin Sang Maha Pemerintah, yang Maha Pengatur agar menjadi berita gembira bagi manusia dengan adanya hujan itu sebelum turun, dan agar mereka bisa bersiap-siap untuk menghadapinya sebelum ia datang secara mendadak sekaligus; ﴾ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ طَهُورٗا ﴿ "dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih" membersihkan dari hadats dan najis, dan menyucikan dari kekeruhan dan ber-bagai kotoran, dan di dalamnya terdapat berkah dari berkahNya, yaitu bahwa Allah menurunkannya untuk menghidupkan (menyu-burkan) kembali tanah yang gersang, sehingga tumbuh berbagai aneka macam tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon di atasnya, dari tanaman yang bisa dimakan oleh manusia dan hewan ternak. ﴾ وَنُسۡقِيَهُۥ مِمَّا خَلَقۡنَآ أَنۡعَٰمٗا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرٗا ﴿ "Dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak." Maksudnya, Kami memberi minum kalian (dengannya) dan binatang-binatang ternak kalian. Bukankah Dia yang telah meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira itu dan menjadikannya (memiliki) banyak fungsi, dan Dia menu-runkan air yang bersih penuh berkah dari langit, padanya terkan-dung rizki manusia dan hewan ternak mereka; Dia-lah semata yang berhak disembah, dan tidak ada sesuatu apa pun yang bisa diper-sekutukan denganNya. (50) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayat yang nampak dan kasat mata ini, dan mencurahkannya kepada manusia agar mereka mengenalNya, bersyukur (berterima kasih) kepadaNya dan selalu mengingatNya; namun demikian ﴾ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورٗا ﴿ "kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari," (nikmat Allah tersebut) karena akhlak dan tabiat mereka telah rusak.

Al-Furqan 25:51

"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihad-lah kepada mereka dengan al-Qur`an dengan jihad yang besar." (Al-Furqan: 51-52). (51) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang terlaksananya kehen-dakNya, dan kalau saja Dia berkehendak, niscaya Dia utus seorang pemberi peringatan pada tiap negeri. Yakni, seorang rasul yang memberi peringatan kepada mereka dan mewanti-wanti. Jadi, ke-hendak (masyi`ah) Allah itu tidak terbatas pada hal-hal itu saja. Akan tetapi kebijaksanaanNya dan rahmatNya kepadamu dan kepada manusia mengharuskanmu, wahai Muhammad untuk mengutus-mu kepada seluruh mereka, yang berkulit merah dan hitam, Arab dan bukan Arab, manusia dan jin. (52) ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir," di dalam mengabaikan sedikit pun dari ajaran yang de-ngannya kamu diutus, bahkan kerahkanlah segenap kemampuan-mu dalam rangka menyampaikan ajaran yang karenanya kamu diutus, ﴾ وَجَٰهِدۡهُم ﴿ "dan berjihadlah kepada mereka," dengan al-Qur`an, ﴾ جِهَادٗا كَبِيرٗا ﴿ "dengan jihad yang besar." Maksudnya, jangan engkau sisakan dari kemampuanmu dalam membela kebenaran dan me-madamkan kebatilan, melainkan engkau telah mengerahkannya, sekalipun kamu melihat bagaimanapun pendustaan dan kelancang-an mereka. Maka kerahkanlah kemampuanmu dan curahkanlah segenap tenagamu, dan jangan berputus asa untuk memberi mereka petunjuk, dan janganlah kamu meninggalkan tugas menyampaikan risalah kepada mereka karena hawa nafsu mereka.

Al-Furqan 25:52

"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul). Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihad-lah kepada mereka dengan al-Qur`an dengan jihad yang besar." (Al-Furqan: 51-52). (51) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang terlaksananya kehen-dakNya, dan kalau saja Dia berkehendak, niscaya Dia utus seorang pemberi peringatan pada tiap negeri. Yakni, seorang rasul yang memberi peringatan kepada mereka dan mewanti-wanti. Jadi, ke-hendak (masyi`ah) Allah itu tidak terbatas pada hal-hal itu saja. Akan tetapi kebijaksanaanNya dan rahmatNya kepadamu dan kepada manusia mengharuskanmu, wahai Muhammad untuk mengutus-mu kepada seluruh mereka, yang berkulit merah dan hitam, Arab dan bukan Arab, manusia dan jin. (52) ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir," di dalam mengabaikan sedikit pun dari ajaran yang de-ngannya kamu diutus, bahkan kerahkanlah segenap kemampuan-mu dalam rangka menyampaikan ajaran yang karenanya kamu diutus, ﴾ وَجَٰهِدۡهُم ﴿ "dan berjihadlah kepada mereka," dengan al-Qur`an, ﴾ جِهَادٗا كَبِيرٗا ﴿ "dengan jihad yang besar." Maksudnya, jangan engkau sisakan dari kemampuanmu dalam membela kebenaran dan me-madamkan kebatilan, melainkan engkau telah mengerahkannya, sekalipun kamu melihat bagaimanapun pendustaan dan kelancang-an mereka. Maka kerahkanlah kemampuanmu dan curahkanlah segenap tenagamu, dan jangan berputus asa untuk memberi mereka petunjuk, dan janganlah kamu meninggalkan tugas menyampaikan risalah kepada mereka karena hawa nafsu mereka.

Al-Furqan 25:53

"Dan Dia-lah yang membiarkan dua laut mengalir (berdam-pingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia menjadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (Al-Furqan: 53). (53) Maksudnya, ﴾ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah" semata, ﴾ ٱلَّذِي مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ ﴿ "yang membiarkan dua laut mengalir" keduanya bertemu, lautan yang tawar, yaitu sungai-sungai yang bertebaran di muka bumi, dan lautan yang asin, dan Dia menjadikan manfaat masing-masing sebagai kemaslahatan manusia. ﴾ وَجَعَلَ بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٗا ﴿ "Dan Dia menjadikan antara keduanya dinding," yakni, pembatas yang mencegah percam-puran yang satu dengan yang lain, sehingga bisa hilanglah fungsi yang diinginkan darinya, ﴾ وَحِجۡرٗا مَّحۡجُورٗا ﴿ "dan batas yang menghalangi," pembatas yang membentengi.

Al-Furqan 25:54

"Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia menjadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah (perbesanan) dan Rabbmu adalah Mahakuasa." (Al-Furqan: 54). (54) Maksudnya, Dia-lah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, yang telah menciptakan manusia dari air hina, kemudian darinya dikembangbiakkan anak keturunan yang banyak, dan menjadikan mereka bernasab dan berbesanan, berpisah-pisah dan berkelompok. Dan materi semua itu adalah berasal dari air yang hina. Ini semua menunjukkan kesempurnaan kekuasaanNya, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Rabbmu adalah Mahakuasa." Dan menunjukkan peribadahan kepada Allah adalah benar, se-dangkan peribadahan kepada selainNya adalah batil, berdasarkan FirmanNya,

Al-Furqan 25:55

"Dan mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak (dapat) memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudarat kepada mereka. Orang-orang kafir itu penolong (setan untuk durhaka) terhadap RabbNya." (Al-Furqan: 55). (55) Maksudnya, mereka menyembah patung-patung dan orang-orang mati yang tidak (dapat) membahayakan dan tidak pula memberi manfaat, dan mereka menjadikannya sebagai sekutu-sekutu bagi Maha Pemilik manfaat dan bahaya, (Pemilik) pem-berian dan pencegahan; padahal yang wajib atas mereka adalah agar mereka menjadi orang-orang yang mengikuti petunjuk dan arahan Rabb mereka, serta membela agamaNya, namun mereka menyalahi perintah itu. ﴾ وَكَانَ ٱلۡكَافِرُ عَلَىٰ رَبِّهِۦ ظَهِيرٗا ﴿ "Orang-orang kafir itu penolong (setan untuk durhaka) terhadap RabbNya." Jadi kebatilan itu adalah berhala-ber-hala dan sekutu-sekutunya yang menjadi musuh Allah. Orang kafir menolong dan membelanya melawan Rabbnya, dan ia menjadi musuh bagi Rabbnya dan menentangNya dalam permusuhan dan perang. Dia-lah Allah yang telah menciptakannya, memberinya rizki dan melimpahkan kepadanya berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak, sedangkan ia tidak keluar dari kekuasaan, kerajaan dan genggamanNya, dan Allah tidak pernah memutus kebaikan dan karuniaNya darinya, sedangkan dia dengan kebo-dohannya terus melakukan permusuhan dan penentangan.

Al-Furqan 25:56

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan (hanya) seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu dalam menyam-paikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya.' Dan berta-wakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Menge-tahui dosa-dosa hamba-hambaNya, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad). Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang,' mereka menjawab, 'Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya),' dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 56-60). (56) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidaklah mengutus Muhammad a sebagai penguasa atas manusia, dan tidak pula menjadikannya sebagai raja, dan tidak pula ia mempunyai perbendaharaan segala sesuatu; melainkan Dia mengutusnya se-bagai ﴾ مُبَشِّرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," yang menyampaikan kegem-biraan kepada siapa saja yang taat kepada Allah dengan balasan pahala di dunia dan akhirat. ﴾ وَنَذِيرٗا ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan," mengingatkan siapa saja yang durhaka terhadap Allah akan ditimpa siksaan di dunia dan akhirat. Dan yang demikian itu mengharuskan untuk menjelaskan apa yang dengannya menjadi berita gembira, dan tercapainya peringatan, berupa perintah dan larangan. (57) Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, jangan meminta upah kepada mereka dalam menyampaikan al-Qur`an dan hidayah, agar hal itu tidak menghalangi mereka untuk meng-ikutimu dan mereka merasa terbebani dengan hutang,﴾ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya," maksudnya, melainkan (meng-harapkan kepatuhan) orang yang mau memberikan suatu infak dalam mencari keridhaan Rabb dan jalanNya. Yang demikian ini, sekalipun aku menyarankan kalian, namun aku tidak memaksa kalian untuk itu. Dan bukan juga upah untukku menjadi kewajiban atas kalian. Sebenarnya itu semua kembali kepada kemaslahatan kalian dan upaya kalian untuk menempuh jalan yang dapat meng-antarkan kalian kepada Rabb kalian. (58) Kemudian Allah memerintahkannya untuk bertawakal kepadaNya dan meminta pertolongan kepadaNya seraya berfirman, ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup," Dzat yang memiliki kehidupan sempurna lagi absolut, ﴾ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ ﴿ "Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya." Maksud-nya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya dalam segala perkara yang berhubungan denganmu dan berhubungan dengan manusia. ﴾ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ﴿ "Dan cukuplah Dia Maha Mengeta-hui dosa-dosa hamba-hambaNya." Dia mengetahuinya dan akan mem-berikan balasannya. Jadi, engkau sama sekali tidak berkewajiban sedikit pun untuk memberi mereka hidayah, dan engkau juga tidak dibebani memelihara amal perbuatan mereka. Sesungguhnya se-mua itu di Tangan Allah. (59) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ ﴿ "Yang Men-ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam," sesudah itu ﴾ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, dan yang paling tinggi, paling luas dan paling indah. ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Yang Maha Pemurah," bersemayam di atas ArasyNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi dengan namaNya ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia bersemayam di atas makhluk terluas dengan sifatNya yang terluas. Melalui ayat ini Dia telah menetapkan (sifat) menciptaNya terhadap seluruh makhluk dan (sifat) mengetahuiNya yang nampak dan yang tidak nampak, dan (menetapkan pula) ketinggianNya di atas Arasy dan (sifat) keje-lasanNya tentang mereka. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ﴿ "Maka tanyakanlah tentang Allah kepada yang lebih mengetahui (Muhammad)," yang dimaksud ada-lah menanyakan tentang DiriNya yang mulia (kepada Rasulullah). Allah-lah yang mengetahui sifat-sifat, keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan sungguh Dia telah memberikan penjelasan(nya)kepada kalian tentang hal itu dan telah menjelaskan kepada kalian bagian dari keagungan yang dengannya kalian bisa [berbahagia] karena mengenalNya, sehingga diketahui oleh orang-orang yang menge-tahui (al-arifun) dan mereka tunduk kepada keagunganNya, dan orang-orang kafir enggan untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyukainya. (60) Oleh karenanya Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang'," yaitu (kepada Yang Maha Penyayang) se-mata yang telah mengaruniakan kepada kalian seluruh kenikmatan dan mencegah seluruh bencana dari kalian, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menja-wab," dengan sikap ingkar dan kufur, ﴾ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Siapakah Yang Maha Penyayang itu," dengan anggapan mereka yang rusak, bahwa mereka tidak mengenal "Yang Maha Pemurah." Dan mereka men-jadikan bagian dari cemoohan mereka terhadap rasul adalah ucapan mereka, "Dia melarang kita menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah, sedangkan dia menyeru sembahan yang lain ber-samaNya dengan mengatakan, 'Ya Rahman!'[31] dan lain-lain," seba-gaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma`ul Husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra`: 10). Jadi, nama-nama Allah سبحانه وتعالى itu banyak, karena banyaknya sifat-sifatNya, dan kuantitas jumlah kesempurnaanNya, dan setiap ma-sing-masing menunjukkan kepada sifat kesempurnaanNya. ﴾ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا ﴿ "Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya)," maksudnya, hanya ka-rena perintahmu kepada kami. Ungkapan ini berdasarkan atas pendustaan mereka terhadap Rasul dan keengganan mereka untuk menaatinya. ﴾ وَزَادَهُمۡ ﴿ "Dan (perintah sujud) menambah mereka," mak-sudnya, ajakanmu untuk bersujud kepada ar-Rahman membuat mereka bertambah ﴾ نُفُورٗا۩ ﴿ "lari (dari iman)," maksudnya lari dari kebenaran menuju kebatilan dan bertambah kafir dan sengsara. Allah سبحانه وتعالى berulang-ulang menyebutkan kata ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahasuci Allah," dalam Surat yang mulia ini sebanyak tiga kali, karena mak-nanya adalah, sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwasa-nya kata ini menunjukkan kepada keagungan Sang Pencipta dan banyaknya sifat-sifat dan kebaikan serta karuniaNya. Surat ini mengandung sebagian dari pengambilan dalil akan keagunganNya, luasnya kerajaanNya, luar biasanya kehendakNya, keuniversalan ilmu pengetahuanNya, kekuasaanNya, cakupan kerajaanNya dalam berbagai hukum perintah dan hukum-hukum balasan serta kesempurnaan kebijaksanaanNya. Dan di dalamnya terdapat bukti atas keluasan rahmatNya, keluasan kemurahanNya dan banyaknya kebaikanNya yang ber-sifat agama dan duniawi, hingga menjadi tuntutan untuk meng-ulang-ulang kata "sifat yang sangat indah" ini.

Al-Furqan 25:57

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan (hanya) seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu dalam menyam-paikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya.' Dan berta-wakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Menge-tahui dosa-dosa hamba-hambaNya, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad). Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang,' mereka menjawab, 'Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya),' dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 56-60). (56) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidaklah mengutus Muhammad a sebagai penguasa atas manusia, dan tidak pula menjadikannya sebagai raja, dan tidak pula ia mempunyai perbendaharaan segala sesuatu; melainkan Dia mengutusnya se-bagai ﴾ مُبَشِّرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," yang menyampaikan kegem-biraan kepada siapa saja yang taat kepada Allah dengan balasan pahala di dunia dan akhirat. ﴾ وَنَذِيرٗا ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan," mengingatkan siapa saja yang durhaka terhadap Allah akan ditimpa siksaan di dunia dan akhirat. Dan yang demikian itu mengharuskan untuk menjelaskan apa yang dengannya menjadi berita gembira, dan tercapainya peringatan, berupa perintah dan larangan. (57) Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, jangan meminta upah kepada mereka dalam menyampaikan al-Qur`an dan hidayah, agar hal itu tidak menghalangi mereka untuk meng-ikutimu dan mereka merasa terbebani dengan hutang,﴾ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya," maksudnya, melainkan (meng-harapkan kepatuhan) orang yang mau memberikan suatu infak dalam mencari keridhaan Rabb dan jalanNya. Yang demikian ini, sekalipun aku menyarankan kalian, namun aku tidak memaksa kalian untuk itu. Dan bukan juga upah untukku menjadi kewajiban atas kalian. Sebenarnya itu semua kembali kepada kemaslahatan kalian dan upaya kalian untuk menempuh jalan yang dapat meng-antarkan kalian kepada Rabb kalian. (58) Kemudian Allah memerintahkannya untuk bertawakal kepadaNya dan meminta pertolongan kepadaNya seraya berfirman, ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup," Dzat yang memiliki kehidupan sempurna lagi absolut, ﴾ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ ﴿ "Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya." Maksud-nya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya dalam segala perkara yang berhubungan denganmu dan berhubungan dengan manusia. ﴾ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ﴿ "Dan cukuplah Dia Maha Mengeta-hui dosa-dosa hamba-hambaNya." Dia mengetahuinya dan akan mem-berikan balasannya. Jadi, engkau sama sekali tidak berkewajiban sedikit pun untuk memberi mereka hidayah, dan engkau juga tidak dibebani memelihara amal perbuatan mereka. Sesungguhnya se-mua itu di Tangan Allah. (59) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ ﴿ "Yang Men-ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam," sesudah itu ﴾ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, dan yang paling tinggi, paling luas dan paling indah. ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Yang Maha Pemurah," bersemayam di atas ArasyNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi dengan namaNya ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia bersemayam di atas makhluk terluas dengan sifatNya yang terluas. Melalui ayat ini Dia telah menetapkan (sifat) menciptaNya terhadap seluruh makhluk dan (sifat) mengetahuiNya yang nampak dan yang tidak nampak, dan (menetapkan pula) ketinggianNya di atas Arasy dan (sifat) keje-lasanNya tentang mereka. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ﴿ "Maka tanyakanlah tentang Allah kepada yang lebih mengetahui (Muhammad)," yang dimaksud ada-lah menanyakan tentang DiriNya yang mulia (kepada Rasulullah). Allah-lah yang mengetahui sifat-sifat, keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan sungguh Dia telah memberikan penjelasan(nya)kepada kalian tentang hal itu dan telah menjelaskan kepada kalian bagian dari keagungan yang dengannya kalian bisa [berbahagia] karena mengenalNya, sehingga diketahui oleh orang-orang yang menge-tahui (al-arifun) dan mereka tunduk kepada keagunganNya, dan orang-orang kafir enggan untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyukainya. (60) Oleh karenanya Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang'," yaitu (kepada Yang Maha Penyayang) se-mata yang telah mengaruniakan kepada kalian seluruh kenikmatan dan mencegah seluruh bencana dari kalian, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menja-wab," dengan sikap ingkar dan kufur, ﴾ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Siapakah Yang Maha Penyayang itu," dengan anggapan mereka yang rusak, bahwa mereka tidak mengenal "Yang Maha Pemurah." Dan mereka men-jadikan bagian dari cemoohan mereka terhadap rasul adalah ucapan mereka, "Dia melarang kita menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah, sedangkan dia menyeru sembahan yang lain ber-samaNya dengan mengatakan, 'Ya Rahman!'[31] dan lain-lain," seba-gaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma`ul Husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra`: 10). Jadi, nama-nama Allah سبحانه وتعالى itu banyak, karena banyaknya sifat-sifatNya, dan kuantitas jumlah kesempurnaanNya, dan setiap ma-sing-masing menunjukkan kepada sifat kesempurnaanNya. ﴾ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا ﴿ "Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya)," maksudnya, hanya ka-rena perintahmu kepada kami. Ungkapan ini berdasarkan atas pendustaan mereka terhadap Rasul dan keengganan mereka untuk menaatinya. ﴾ وَزَادَهُمۡ ﴿ "Dan (perintah sujud) menambah mereka," mak-sudnya, ajakanmu untuk bersujud kepada ar-Rahman membuat mereka bertambah ﴾ نُفُورٗا۩ ﴿ "lari (dari iman)," maksudnya lari dari kebenaran menuju kebatilan dan bertambah kafir dan sengsara. Allah سبحانه وتعالى berulang-ulang menyebutkan kata ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahasuci Allah," dalam Surat yang mulia ini sebanyak tiga kali, karena mak-nanya adalah, sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwasa-nya kata ini menunjukkan kepada keagungan Sang Pencipta dan banyaknya sifat-sifat dan kebaikan serta karuniaNya. Surat ini mengandung sebagian dari pengambilan dalil akan keagunganNya, luasnya kerajaanNya, luar biasanya kehendakNya, keuniversalan ilmu pengetahuanNya, kekuasaanNya, cakupan kerajaanNya dalam berbagai hukum perintah dan hukum-hukum balasan serta kesempurnaan kebijaksanaanNya. Dan di dalamnya terdapat bukti atas keluasan rahmatNya, keluasan kemurahanNya dan banyaknya kebaikanNya yang ber-sifat agama dan duniawi, hingga menjadi tuntutan untuk meng-ulang-ulang kata "sifat yang sangat indah" ini.

Al-Furqan 25:58

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan (hanya) seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu dalam menyam-paikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya.' Dan berta-wakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Menge-tahui dosa-dosa hamba-hambaNya, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad). Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang,' mereka menjawab, 'Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya),' dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 56-60). (56) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidaklah mengutus Muhammad a sebagai penguasa atas manusia, dan tidak pula menjadikannya sebagai raja, dan tidak pula ia mempunyai perbendaharaan segala sesuatu; melainkan Dia mengutusnya se-bagai ﴾ مُبَشِّرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," yang menyampaikan kegem-biraan kepada siapa saja yang taat kepada Allah dengan balasan pahala di dunia dan akhirat. ﴾ وَنَذِيرٗا ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan," mengingatkan siapa saja yang durhaka terhadap Allah akan ditimpa siksaan di dunia dan akhirat. Dan yang demikian itu mengharuskan untuk menjelaskan apa yang dengannya menjadi berita gembira, dan tercapainya peringatan, berupa perintah dan larangan. (57) Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, jangan meminta upah kepada mereka dalam menyampaikan al-Qur`an dan hidayah, agar hal itu tidak menghalangi mereka untuk meng-ikutimu dan mereka merasa terbebani dengan hutang,﴾ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya," maksudnya, melainkan (meng-harapkan kepatuhan) orang yang mau memberikan suatu infak dalam mencari keridhaan Rabb dan jalanNya. Yang demikian ini, sekalipun aku menyarankan kalian, namun aku tidak memaksa kalian untuk itu. Dan bukan juga upah untukku menjadi kewajiban atas kalian. Sebenarnya itu semua kembali kepada kemaslahatan kalian dan upaya kalian untuk menempuh jalan yang dapat meng-antarkan kalian kepada Rabb kalian. (58) Kemudian Allah memerintahkannya untuk bertawakal kepadaNya dan meminta pertolongan kepadaNya seraya berfirman, ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup," Dzat yang memiliki kehidupan sempurna lagi absolut, ﴾ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ ﴿ "Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya." Maksud-nya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya dalam segala perkara yang berhubungan denganmu dan berhubungan dengan manusia. ﴾ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ﴿ "Dan cukuplah Dia Maha Mengeta-hui dosa-dosa hamba-hambaNya." Dia mengetahuinya dan akan mem-berikan balasannya. Jadi, engkau sama sekali tidak berkewajiban sedikit pun untuk memberi mereka hidayah, dan engkau juga tidak dibebani memelihara amal perbuatan mereka. Sesungguhnya se-mua itu di Tangan Allah. (59) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ ﴿ "Yang Men-ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam," sesudah itu ﴾ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, dan yang paling tinggi, paling luas dan paling indah. ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Yang Maha Pemurah," bersemayam di atas ArasyNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi dengan namaNya ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia bersemayam di atas makhluk terluas dengan sifatNya yang terluas. Melalui ayat ini Dia telah menetapkan (sifat) menciptaNya terhadap seluruh makhluk dan (sifat) mengetahuiNya yang nampak dan yang tidak nampak, dan (menetapkan pula) ketinggianNya di atas Arasy dan (sifat) keje-lasanNya tentang mereka. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ﴿ "Maka tanyakanlah tentang Allah kepada yang lebih mengetahui (Muhammad)," yang dimaksud ada-lah menanyakan tentang DiriNya yang mulia (kepada Rasulullah). Allah-lah yang mengetahui sifat-sifat, keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan sungguh Dia telah memberikan penjelasan(nya)kepada kalian tentang hal itu dan telah menjelaskan kepada kalian bagian dari keagungan yang dengannya kalian bisa [berbahagia] karena mengenalNya, sehingga diketahui oleh orang-orang yang menge-tahui (al-arifun) dan mereka tunduk kepada keagunganNya, dan orang-orang kafir enggan untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyukainya. (60) Oleh karenanya Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang'," yaitu (kepada Yang Maha Penyayang) se-mata yang telah mengaruniakan kepada kalian seluruh kenikmatan dan mencegah seluruh bencana dari kalian, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menja-wab," dengan sikap ingkar dan kufur, ﴾ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Siapakah Yang Maha Penyayang itu," dengan anggapan mereka yang rusak, bahwa mereka tidak mengenal "Yang Maha Pemurah." Dan mereka men-jadikan bagian dari cemoohan mereka terhadap rasul adalah ucapan mereka, "Dia melarang kita menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah, sedangkan dia menyeru sembahan yang lain ber-samaNya dengan mengatakan, 'Ya Rahman!'[31] dan lain-lain," seba-gaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma`ul Husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra`: 10). Jadi, nama-nama Allah سبحانه وتعالى itu banyak, karena banyaknya sifat-sifatNya, dan kuantitas jumlah kesempurnaanNya, dan setiap ma-sing-masing menunjukkan kepada sifat kesempurnaanNya. ﴾ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا ﴿ "Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya)," maksudnya, hanya ka-rena perintahmu kepada kami. Ungkapan ini berdasarkan atas pendustaan mereka terhadap Rasul dan keengganan mereka untuk menaatinya. ﴾ وَزَادَهُمۡ ﴿ "Dan (perintah sujud) menambah mereka," mak-sudnya, ajakanmu untuk bersujud kepada ar-Rahman membuat mereka bertambah ﴾ نُفُورٗا۩ ﴿ "lari (dari iman)," maksudnya lari dari kebenaran menuju kebatilan dan bertambah kafir dan sengsara. Allah سبحانه وتعالى berulang-ulang menyebutkan kata ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahasuci Allah," dalam Surat yang mulia ini sebanyak tiga kali, karena mak-nanya adalah, sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwasa-nya kata ini menunjukkan kepada keagungan Sang Pencipta dan banyaknya sifat-sifat dan kebaikan serta karuniaNya. Surat ini mengandung sebagian dari pengambilan dalil akan keagunganNya, luasnya kerajaanNya, luar biasanya kehendakNya, keuniversalan ilmu pengetahuanNya, kekuasaanNya, cakupan kerajaanNya dalam berbagai hukum perintah dan hukum-hukum balasan serta kesempurnaan kebijaksanaanNya. Dan di dalamnya terdapat bukti atas keluasan rahmatNya, keluasan kemurahanNya dan banyaknya kebaikanNya yang ber-sifat agama dan duniawi, hingga menjadi tuntutan untuk meng-ulang-ulang kata "sifat yang sangat indah" ini.

Al-Furqan 25:59

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan (hanya) seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu dalam menyam-paikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya.' Dan berta-wakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Menge-tahui dosa-dosa hamba-hambaNya, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad). Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang,' mereka menjawab, 'Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya),' dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 56-60). (56) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidaklah mengutus Muhammad a sebagai penguasa atas manusia, dan tidak pula menjadikannya sebagai raja, dan tidak pula ia mempunyai perbendaharaan segala sesuatu; melainkan Dia mengutusnya se-bagai ﴾ مُبَشِّرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," yang menyampaikan kegem-biraan kepada siapa saja yang taat kepada Allah dengan balasan pahala di dunia dan akhirat. ﴾ وَنَذِيرٗا ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan," mengingatkan siapa saja yang durhaka terhadap Allah akan ditimpa siksaan di dunia dan akhirat. Dan yang demikian itu mengharuskan untuk menjelaskan apa yang dengannya menjadi berita gembira, dan tercapainya peringatan, berupa perintah dan larangan. (57) Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, jangan meminta upah kepada mereka dalam menyampaikan al-Qur`an dan hidayah, agar hal itu tidak menghalangi mereka untuk meng-ikutimu dan mereka merasa terbebani dengan hutang,﴾ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya," maksudnya, melainkan (meng-harapkan kepatuhan) orang yang mau memberikan suatu infak dalam mencari keridhaan Rabb dan jalanNya. Yang demikian ini, sekalipun aku menyarankan kalian, namun aku tidak memaksa kalian untuk itu. Dan bukan juga upah untukku menjadi kewajiban atas kalian. Sebenarnya itu semua kembali kepada kemaslahatan kalian dan upaya kalian untuk menempuh jalan yang dapat meng-antarkan kalian kepada Rabb kalian. (58) Kemudian Allah memerintahkannya untuk bertawakal kepadaNya dan meminta pertolongan kepadaNya seraya berfirman, ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup," Dzat yang memiliki kehidupan sempurna lagi absolut, ﴾ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ ﴿ "Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya." Maksud-nya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya dalam segala perkara yang berhubungan denganmu dan berhubungan dengan manusia. ﴾ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ﴿ "Dan cukuplah Dia Maha Mengeta-hui dosa-dosa hamba-hambaNya." Dia mengetahuinya dan akan mem-berikan balasannya. Jadi, engkau sama sekali tidak berkewajiban sedikit pun untuk memberi mereka hidayah, dan engkau juga tidak dibebani memelihara amal perbuatan mereka. Sesungguhnya se-mua itu di Tangan Allah. (59) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ ﴿ "Yang Men-ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam," sesudah itu ﴾ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, dan yang paling tinggi, paling luas dan paling indah. ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Yang Maha Pemurah," bersemayam di atas ArasyNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi dengan namaNya ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia bersemayam di atas makhluk terluas dengan sifatNya yang terluas. Melalui ayat ini Dia telah menetapkan (sifat) menciptaNya terhadap seluruh makhluk dan (sifat) mengetahuiNya yang nampak dan yang tidak nampak, dan (menetapkan pula) ketinggianNya di atas Arasy dan (sifat) keje-lasanNya tentang mereka. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ﴿ "Maka tanyakanlah tentang Allah kepada yang lebih mengetahui (Muhammad)," yang dimaksud ada-lah menanyakan tentang DiriNya yang mulia (kepada Rasulullah). Allah-lah yang mengetahui sifat-sifat, keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan sungguh Dia telah memberikan penjelasan(nya)kepada kalian tentang hal itu dan telah menjelaskan kepada kalian bagian dari keagungan yang dengannya kalian bisa [berbahagia] karena mengenalNya, sehingga diketahui oleh orang-orang yang menge-tahui (al-arifun) dan mereka tunduk kepada keagunganNya, dan orang-orang kafir enggan untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyukainya. (60) Oleh karenanya Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang'," yaitu (kepada Yang Maha Penyayang) se-mata yang telah mengaruniakan kepada kalian seluruh kenikmatan dan mencegah seluruh bencana dari kalian, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menja-wab," dengan sikap ingkar dan kufur, ﴾ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Siapakah Yang Maha Penyayang itu," dengan anggapan mereka yang rusak, bahwa mereka tidak mengenal "Yang Maha Pemurah." Dan mereka men-jadikan bagian dari cemoohan mereka terhadap rasul adalah ucapan mereka, "Dia melarang kita menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah, sedangkan dia menyeru sembahan yang lain ber-samaNya dengan mengatakan, 'Ya Rahman!'[31] dan lain-lain," seba-gaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma`ul Husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra`: 10). Jadi, nama-nama Allah سبحانه وتعالى itu banyak, karena banyaknya sifat-sifatNya, dan kuantitas jumlah kesempurnaanNya, dan setiap ma-sing-masing menunjukkan kepada sifat kesempurnaanNya. ﴾ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا ﴿ "Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya)," maksudnya, hanya ka-rena perintahmu kepada kami. Ungkapan ini berdasarkan atas pendustaan mereka terhadap Rasul dan keengganan mereka untuk menaatinya. ﴾ وَزَادَهُمۡ ﴿ "Dan (perintah sujud) menambah mereka," mak-sudnya, ajakanmu untuk bersujud kepada ar-Rahman membuat mereka bertambah ﴾ نُفُورٗا۩ ﴿ "lari (dari iman)," maksudnya lari dari kebenaran menuju kebatilan dan bertambah kafir dan sengsara. Allah سبحانه وتعالى berulang-ulang menyebutkan kata ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahasuci Allah," dalam Surat yang mulia ini sebanyak tiga kali, karena mak-nanya adalah, sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwasa-nya kata ini menunjukkan kepada keagungan Sang Pencipta dan banyaknya sifat-sifat dan kebaikan serta karuniaNya. Surat ini mengandung sebagian dari pengambilan dalil akan keagunganNya, luasnya kerajaanNya, luar biasanya kehendakNya, keuniversalan ilmu pengetahuanNya, kekuasaanNya, cakupan kerajaanNya dalam berbagai hukum perintah dan hukum-hukum balasan serta kesempurnaan kebijaksanaanNya. Dan di dalamnya terdapat bukti atas keluasan rahmatNya, keluasan kemurahanNya dan banyaknya kebaikanNya yang ber-sifat agama dan duniawi, hingga menjadi tuntutan untuk meng-ulang-ulang kata "sifat yang sangat indah" ini.

Al-Furqan 25:60

"Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan (hanya) seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Katakanlah, 'Aku tidak meminta upah sedikit pun kepadamu dalam menyam-paikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya.' Dan berta-wakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya. Dan cukuplah Dia Maha Menge-tahui dosa-dosa hamba-hambaNya, Yang Menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad). Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang,' mereka menjawab, 'Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya),' dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman)." (Al-Furqan: 56-60). (56) Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidaklah mengutus Muhammad a sebagai penguasa atas manusia, dan tidak pula menjadikannya sebagai raja, dan tidak pula ia mempunyai perbendaharaan segala sesuatu; melainkan Dia mengutusnya se-bagai ﴾ مُبَشِّرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," yang menyampaikan kegem-biraan kepada siapa saja yang taat kepada Allah dengan balasan pahala di dunia dan akhirat. ﴾ وَنَذِيرٗا ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan," mengingatkan siapa saja yang durhaka terhadap Allah akan ditimpa siksaan di dunia dan akhirat. Dan yang demikian itu mengharuskan untuk menjelaskan apa yang dengannya menjadi berita gembira, dan tercapainya peringatan, berupa perintah dan larangan. (57) Sesungguhnya engkau, wahai Muhammad, jangan meminta upah kepada mereka dalam menyampaikan al-Qur`an dan hidayah, agar hal itu tidak menghalangi mereka untuk meng-ikutimu dan mereka merasa terbebani dengan hutang,﴾ إِلَّا مَن شَآءَ أَن يَتَّخِذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلٗا ﴿ "melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya," maksudnya, melainkan (meng-harapkan kepatuhan) orang yang mau memberikan suatu infak dalam mencari keridhaan Rabb dan jalanNya. Yang demikian ini, sekalipun aku menyarankan kalian, namun aku tidak memaksa kalian untuk itu. Dan bukan juga upah untukku menjadi kewajiban atas kalian. Sebenarnya itu semua kembali kepada kemaslahatan kalian dan upaya kalian untuk menempuh jalan yang dapat meng-antarkan kalian kepada Rabb kalian. (58) Kemudian Allah memerintahkannya untuk bertawakal kepadaNya dan meminta pertolongan kepadaNya seraya berfirman, ﴾ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡحَيِّ ﴿ "Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup," Dzat yang memiliki kehidupan sempurna lagi absolut, ﴾ ٱلَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِهِۦۚ ﴿ "Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memujiNya." Maksud-nya, sembahlah Dia dan bertawakallah kepadaNya dalam segala perkara yang berhubungan denganmu dan berhubungan dengan manusia. ﴾ وَكَفَىٰ بِهِۦ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرًا ﴿ "Dan cukuplah Dia Maha Mengeta-hui dosa-dosa hamba-hambaNya." Dia mengetahuinya dan akan mem-berikan balasannya. Jadi, engkau sama sekali tidak berkewajiban sedikit pun untuk memberi mereka hidayah, dan engkau juga tidak dibebani memelihara amal perbuatan mereka. Sesungguhnya se-mua itu di Tangan Allah. (59) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ ﴿ "Yang Men-ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam," sesudah itu ﴾ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, dan yang paling tinggi, paling luas dan paling indah. ﴾ ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Yang Maha Pemurah," bersemayam di atas ArasyNya yang luasnya meliputi seluruh langit dan bumi dengan namaNya ar-Rahman yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu. Dia bersemayam di atas makhluk terluas dengan sifatNya yang terluas. Melalui ayat ini Dia telah menetapkan (sifat) menciptaNya terhadap seluruh makhluk dan (sifat) mengetahuiNya yang nampak dan yang tidak nampak, dan (menetapkan pula) ketinggianNya di atas Arasy dan (sifat) keje-lasanNya tentang mereka. ﴾ فَسۡـَٔلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ﴿ "Maka tanyakanlah tentang Allah kepada yang lebih mengetahui (Muhammad)," yang dimaksud ada-lah menanyakan tentang DiriNya yang mulia (kepada Rasulullah). Allah-lah yang mengetahui sifat-sifat, keagungan dan kemuliaan-Nya. Dan sungguh Dia telah memberikan penjelasan(nya)kepada kalian tentang hal itu dan telah menjelaskan kepada kalian bagian dari keagungan yang dengannya kalian bisa [berbahagia] karena mengenalNya, sehingga diketahui oleh orang-orang yang menge-tahui (al-arifun) dan mereka tunduk kepada keagunganNya, dan orang-orang kafir enggan untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyukainya. (60) Oleh karenanya Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱسۡجُدُواْۤ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang'," yaitu (kepada Yang Maha Penyayang) se-mata yang telah mengaruniakan kepada kalian seluruh kenikmatan dan mencegah seluruh bencana dari kalian, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menja-wab," dengan sikap ingkar dan kufur, ﴾ وَمَا ٱلرَّحۡمَٰنُ ﴿ "Siapakah Yang Maha Penyayang itu," dengan anggapan mereka yang rusak, bahwa mereka tidak mengenal "Yang Maha Pemurah." Dan mereka men-jadikan bagian dari cemoohan mereka terhadap rasul adalah ucapan mereka, "Dia melarang kita menyembah sembahan-sembahan lain bersama Allah, sedangkan dia menyeru sembahan yang lain ber-samaNya dengan mengatakan, 'Ya Rahman!'[31] dan lain-lain," seba-gaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Katakanlah, 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Asma`ul Husna (nama-nama yang terbaik)." (Al-Isra`: 10). Jadi, nama-nama Allah سبحانه وتعالى itu banyak, karena banyaknya sifat-sifatNya, dan kuantitas jumlah kesempurnaanNya, dan setiap ma-sing-masing menunjukkan kepada sifat kesempurnaanNya. ﴾ أَنَسۡجُدُ لِمَا تَأۡمُرُنَا ﴿ "Apakah kami akan sujud kepada Rabb Yang kamu memerintahkan kami (bersujud kepadaNya)," maksudnya, hanya ka-rena perintahmu kepada kami. Ungkapan ini berdasarkan atas pendustaan mereka terhadap Rasul dan keengganan mereka untuk menaatinya. ﴾ وَزَادَهُمۡ ﴿ "Dan (perintah sujud) menambah mereka," mak-sudnya, ajakanmu untuk bersujud kepada ar-Rahman membuat mereka bertambah ﴾ نُفُورٗا۩ ﴿ "lari (dari iman)," maksudnya lari dari kebenaran menuju kebatilan dan bertambah kafir dan sengsara. Allah سبحانه وتعالى berulang-ulang menyebutkan kata ﴾ تَبَارَكَ ﴿ "Mahasuci Allah," dalam Surat yang mulia ini sebanyak tiga kali, karena mak-nanya adalah, sebagaimana telah disebutkan di muka, bahwasa-nya kata ini menunjukkan kepada keagungan Sang Pencipta dan banyaknya sifat-sifat dan kebaikan serta karuniaNya. Surat ini mengandung sebagian dari pengambilan dalil akan keagunganNya, luasnya kerajaanNya, luar biasanya kehendakNya, keuniversalan ilmu pengetahuanNya, kekuasaanNya, cakupan kerajaanNya dalam berbagai hukum perintah dan hukum-hukum balasan serta kesempurnaan kebijaksanaanNya. Dan di dalamnya terdapat bukti atas keluasan rahmatNya, keluasan kemurahanNya dan banyaknya kebaikanNya yang ber-sifat agama dan duniawi, hingga menjadi tuntutan untuk meng-ulang-ulang kata "sifat yang sangat indah" ini.

Al-Furqan 25:61

"Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (Al-Furqan: 61-62). (61) ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِي جَعَلَ فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Mahasuci Allah yang menjadi-kan di langit gugusan-gugusan bintang," maksudnya adalah bintang-bintang dan keseluruhannya, atau letak-letak garis orbit matahari dan bulan yang dilaluinya satu demi satu. Ia laksana bangunan tinggi dan benteng bagi perkotaan di dalam melindunginya. Demi-kian pula halnya bintang-bintang, laksana benteng-benteng men-julang tinggi yang dibuat untuk penjagaan. Karena sesungguhnya bintang-bintang itu adalah alat pelempar untuk setan-setan. ﴾ وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجٗا ﴿ "Dan Dia menjadikan juga padanya matahari," padanya terkandung cahaya dan panas yaitu matahari, ﴾ وَقَمَرٗا مُّنِيرٗا ﴿ "dan bulan yang bercahaya." Di dalamnya ada cahaya[32] yang tidak panas. Dan ini termasuk salah satu bukti keagunganNya dan betapa banyak ihsan (kebaikan)Nya, disebabkan penciptaan yang luar biasa yang terkandung di dalamnya, pengaturan yang rapi dan keindahan yang agung yang menunjukkan kepada keagungan Penciptanya di dalam seluruh sifat-sifatNya, dan berbagai kemas-lahatan yang terdapat di dalamnya bagi manusia dan berbagai manfaat yang merupakan bukti atau betapa banyaknya kebaikan dan karuniaNya. (62) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ خِلۡفَةٗ ﴿ "Dan Dia (pula) yang menjadi-kan malam dan siang silih berganti," maksudnya yang satu berlalu, lalu datang yang lain. Demikianlah seterusnya selama-lamanya tidak akan pernah bersatu dan tidak pernah hilang. ﴾ لِّمَنۡ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوۡ أَرَادَ شُكُورٗا ﴿ "Bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur," maksudnya bagi siapa saja yang ingin (melalui keduanya) mengambil pelajaran dan merenung dan berargumen dengan keduanya atas berbagai tuntutan-tuntutan ilahi, dan untuk bersyukur kepada Allah atas semua itu, dan bagi siapa saja yang ingin berdzikir, mengingat Allah dan bersyukur kepadaNya, dan bagiNya wirid malam hari atau siang hari. Maka siapa saja yang wiridnya tertinggal pada siang hari, maka dia menunaikannya pada malam hari. Sesungguhnya hati itu selalu berbolak-balik dan berubah-ubah pada waktu-waktu di malam dan siang hari, sehing-ga terjadi rasa giat, malas, ingat, lalai, pelit, memberi, menghadap dan berpaling. Maka Allah menjadikan malam dan siang berganti-an atas manusia dan selalu berulang-ulang, agar terjadi dzikir, giat dan syukur kepada Allah pada waktu yang lain, malam atau siang, karena waktu ibadah selalu berulang dengan berulangnya malam dan siang. Maka setiap kali waktu itu berulang, terjadilah suatu semangat baru bagi seseorang, bukan semangatnya yang telah mengendur pada waktu yang telah lalu, sehingga ia bisa makin menyadarinya dan makin mensyukurinya. Sesungguhnya tugas-tugas ketaatan itu laksana siraman iman yang menyiraminya. Kalau saja bukan karena itu, niscaya tanaman iman menjadi layu dan kering. Maka segala puji bagi Allah atas semua itu. Kemudian Allah menyebutkan di antara sejumlah kebaikan dan karunia atas hamba-hambaNya yang shalih dan taufikNya kepada mereka untuk bisa beramal shalih yang membuat mereka mampu meraih kedudukan tertinggi di istana surga, seraya berfir-man,

Al-Furqan 25:62

"Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (Al-Furqan: 61-62). (61) ﴾ تَبَارَكَ ٱلَّذِي جَعَلَ فِي ٱلسَّمَآءِ بُرُوجٗا ﴿ "Mahasuci Allah yang menjadi-kan di langit gugusan-gugusan bintang," maksudnya adalah bintang-bintang dan keseluruhannya, atau letak-letak garis orbit matahari dan bulan yang dilaluinya satu demi satu. Ia laksana bangunan tinggi dan benteng bagi perkotaan di dalam melindunginya. Demi-kian pula halnya bintang-bintang, laksana benteng-benteng men-julang tinggi yang dibuat untuk penjagaan. Karena sesungguhnya bintang-bintang itu adalah alat pelempar untuk setan-setan. ﴾ وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجٗا ﴿ "Dan Dia menjadikan juga padanya matahari," padanya terkandung cahaya dan panas yaitu matahari, ﴾ وَقَمَرٗا مُّنِيرٗا ﴿ "dan bulan yang bercahaya." Di dalamnya ada cahaya[32] yang tidak panas. Dan ini termasuk salah satu bukti keagunganNya dan betapa banyak ihsan (kebaikan)Nya, disebabkan penciptaan yang luar biasa yang terkandung di dalamnya, pengaturan yang rapi dan keindahan yang agung yang menunjukkan kepada keagungan Penciptanya di dalam seluruh sifat-sifatNya, dan berbagai kemas-lahatan yang terdapat di dalamnya bagi manusia dan berbagai manfaat yang merupakan bukti atau betapa banyaknya kebaikan dan karuniaNya. (62) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي جَعَلَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ خِلۡفَةٗ ﴿ "Dan Dia (pula) yang menjadi-kan malam dan siang silih berganti," maksudnya yang satu berlalu, lalu datang yang lain. Demikianlah seterusnya selama-lamanya tidak akan pernah bersatu dan tidak pernah hilang. ﴾ لِّمَنۡ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوۡ أَرَادَ شُكُورٗا ﴿ "Bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur," maksudnya bagi siapa saja yang ingin (melalui keduanya) mengambil pelajaran dan merenung dan berargumen dengan keduanya atas berbagai tuntutan-tuntutan ilahi, dan untuk bersyukur kepada Allah atas semua itu, dan bagi siapa saja yang ingin berdzikir, mengingat Allah dan bersyukur kepadaNya, dan bagiNya wirid malam hari atau siang hari. Maka siapa saja yang wiridnya tertinggal pada siang hari, maka dia menunaikannya pada malam hari. Sesungguhnya hati itu selalu berbolak-balik dan berubah-ubah pada waktu-waktu di malam dan siang hari, sehing-ga terjadi rasa giat, malas, ingat, lalai, pelit, memberi, menghadap dan berpaling. Maka Allah menjadikan malam dan siang berganti-an atas manusia dan selalu berulang-ulang, agar terjadi dzikir, giat dan syukur kepada Allah pada waktu yang lain, malam atau siang, karena waktu ibadah selalu berulang dengan berulangnya malam dan siang. Maka setiap kali waktu itu berulang, terjadilah suatu semangat baru bagi seseorang, bukan semangatnya yang telah mengendur pada waktu yang telah lalu, sehingga ia bisa makin menyadarinya dan makin mensyukurinya. Sesungguhnya tugas-tugas ketaatan itu laksana siraman iman yang menyiraminya. Kalau saja bukan karena itu, niscaya tanaman iman menjadi layu dan kering. Maka segala puji bagi Allah atas semua itu. Kemudian Allah menyebutkan di antara sejumlah kebaikan dan karunia atas hamba-hambaNya yang shalih dan taufikNya kepada mereka untuk bisa beramal shalih yang membuat mereka mampu meraih kedudukan tertinggi di istana surga, seraya berfir-man,

Al-Furqan 25:63

"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penya-yang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, niscaya mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) adalah di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melaku-kan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) de-ngan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penye-nang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana mungkin kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah men-dustakanNya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)." (Al-Furqan: 63-77). (63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini. (64) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ﴿ "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka," maksudnya, mereka banyak melakukan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah, menghinakan diri kepadaNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 16 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan ter-hadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 16-17). (65) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami," maksudnya, cegahlah ia dari kami dengan cara dijaga dari segala faktor penye-babnya dan dengan ampunan dari segala dosa yang terjadi dari kami, di mana hal itu merupakan penyebab azab, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿ "sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" maksudnya, mengharuskan pelakunya mendapatkan azab, sebagaimana kedu-dukan orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang. (66) ﴾ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ﴿ "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Ini adalah ungkapan doa dari mereka dengan nada mengemis kepada Allah, sebagai penjelasan betapa butuhnya mereka kepadaNya, dan pernyataan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menanggung azab tersebut; dan agar mereka bisa mengingat kembali karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebab, sesungguhnya tindakan (Allah) menghilangkan kedahsyatan azab sesuai dengan (kadar) kedahsyatan dan kehebatannya sangatlah menyentuh (kalbu) dan rasa gembira meluap bila kedahsyatan azab itu dijauhkan. (67) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila membelan-jakan," yaitu nafkah yang wajib dan yang sunnah, ﴾ لَمۡ يُسۡرِفُواْ ﴿ "mereka tidak berlebih-lebihan," tidak melebihi batas, sehingga akan berakibat akan termasuk ke dalam perbuatan tabdzir (menghambur-hambur), ﴾ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ ﴿ "dan tidak (pula) kikir" sehingga mengakibatkan mereka bisa terjerumus ke dalam sifat kikir dan pelit serta mengabaikan hak-hak yang wajib, ﴾ وَكَانَ ﴿ "dan ia adalah," maksudnya pembe-lanjaan itu, ﴾ بَيۡنَ ذَٰلِكَ ﴿ "antara yang demikian," antara sikap berlebih-lebihan dengan sikap kikir, ﴾ قَوَامٗا ﴿ "di tengah-tengah," mereka me-ngeluarkannya dalam hal-hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat (bayar denda) dan berbagai belanja wajib dan dalam hal-hal yang pantas, dengan cara yang pantas pula tanpa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Ini merupakan sikap keseimbangan dan kesederhanaan mereka. (68) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah," akan tetapi hanya me-nyembahNya semata, dengan menuluskan kepatuhan kepadaNya, cenderung dan murni menghadap kepadaNya, dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah," yaitu jiwa seorang Muslim dan orang kafir yang terikat perjanjian damai, ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "kecuali dengan (alasan) yang benar," seperti membunuh jiwa karena jiwa (yang lain), membunuh pezina muhshan, dan orang kafir yang halal dibunuh, ﴾ وَلَا يَزۡنُونَۚ ﴿ "dan tidak berzina," bahkan mereka selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak sahaya mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang melakukan demikian itu," yaitu memperse-kutukan Allah, atau membunuh jiwa yang tak berdosa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, atau berbuat zina, ﴾ يَلۡقَ أَثَامٗا ﴿ "niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa." (69) Kemudian Allah menguraikannya dengan FirmanNya, ﴾ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ ﴿ "Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam azab t e r s e b u t ﴾ مُهَانًا ﴿ "dalam keadaan terhina." Jadi, ancaman dengan (azab) yang kekal bagi yang melakukan dosa-dosa itu ada-lah pasti, tidak dapat diragukan lagi. Dan begitu pula bagi orang yang mempersekutukan Allah. Juga ancaman dengan azab yang dahsyat bagi setiap orang yang melakukan salah satu dari tiga dosa tersebut, sebab dosa-dosa tersebut adalah dosa syirik, atau kalau tidak, maka termasuk dosa-dosa yang paling besar. Adapun tentang kekekalan bagi pembunuh dan pelaku zina di dalam azab, maka sesungguhnya "kekekalan" itu tidak menca-kupnya. Sebab banyak dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan bahwa seluruh orang-orang Mukmin akan keluar dari neraka, tidak ada seorang Mukmin pun yang kekal di dalamnya, sekalipun dia telah melakukan kemaksiatan apa saja. Allah سبحانه وتعالى men-catat tiga dosa besar tersebut adalah karena keberadaannya sebagai dosa yang paling besar. Syirik mengandung pengrusakan terhadap agama, pembunuhan mengandung pengrusakan terhadap jasad, sedangkan zina mengandung pengrusakan terhadap kehormatan. (70) ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang yang bertaubat," dari kemak-siatan-kemaksiatan tersebut dan lain-lainnya, dengan cara mening-galkannya sama sekali saat itu juga, menyesali perbuatannya yang telah lalu, dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah dengan iman yang benar yang menuntut untuk meninggalkan segala maksiat dan mengerjakan berbagai ketaatan, ﴾ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," dari amal yang diperintahkan oleh asy-Syari' (Allah dan RasulNya) bila diniatkan mengharap keridhaan Allah. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ ﴿ "Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan," maksudnya segala perbuatan dan perkataan mereka yang disiapkan untuk amal keburukan akan di-ganti, yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan. Maka syirik me-reka berubah menjadi iman, kemaksiatan mereka diganti menjadi ketaatan, dan kejahatan-kejahatan yang sama yang pernah mereka lakukan diganti, kemudian ditumbuhkan bagi mereka satu taubat, inabat dan ketaatan untuk setiap dosa dari dosa-dosa tersebut. Yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan, sebagaimana tampak dari zahirnya ayat. Dalam hal ini ada sebuah hadits tentang seorang lelaki yang dihisab oleh Allah karena sebagian dosa-dosanya, lalu dihitung di hadapannya, kemudian Allah mengganti untuk setiap dosa dengan satu kebajikan. Lalu orang itu berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku mempunyai beberapa dosa lagi yang tidak aku lihat di sini."[33] Wallahu a'lam. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun," terhadap siapa saja yang bertaubat, Dia selalu mengampuni dosa besar, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," kepada hamba-hambaNya, di mana Dia mengajak mereka bertaubat setelah sebelumnya mereka menentangNya de-ngan dosa-dosa besar, lalu memberi mereka taufik untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka. (71) ﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertau-bat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya," maksudnya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa taubatnya benar-benar berada pada puncak kesempurnaan, sebab ia merupakan sikap kembali kepada jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagiaan seseorang dan kebe-runtungannya. Maka hendaklah dia tulus dalam bertaubat, dan hendaklah dia memurnikannya dari segala noda tujuan rusak. Yang dimaksud dari ini semua adalah anjuran untuk menyempurnakan taubat dan melaksanakannya sebaik dan sesempurna mungkin, agar Dia menerima siapa saja yang bertaubat kepadaNya, kemudian membalasnya sesuai dengan kesempurnaan taubatnya. (72) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-berikan persaksian palsu," maksudnya mereka tidak menghadiri ke-palsuan, yaitu perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Mereka menghindari majelis-majelis yang banyak mengandung perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti mempermasalahkan ayat-ayat Allah, debat batil, menggunjing, memfitnah (adu-domba), memaki, menuduh berbuat zina, mem-perolok-olok, lagu-lagu haram, minum khamar, alas-alas yang ter-buat dari kain sutra, gambar-gambar dan lain-lain. Kalaulah mereka tidak menyaksikan kepalsuan, maka lebih utama lagi mereka tidak mengatakannya dan mengerjakannya. Kesaksian palsu masuk ke dalam kategori ucapan palsu, dan masuk ke dalam maksud ayat ini secara lebih utama. ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," yaitu pembicaraan yang tidak me-ngandung kebaikan dan faidah religi ataupun duniawi, seperti pembicaraan orang-orang yang dungu dan yang serupa dengannya, ﴾ مَرُّواْ كِرَامٗا ﴿ "mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." Maksudnya mereka mencegah diri mereka dan memuliakan diri-nya dari tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya dan mereka berpendapat bahwa tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya (meskipun tidak mengandung dosa) tetapi ia merupakan tindakan bodoh yang mencemari kemanusiaan dan kewibawaan. Mereka menjaga kesucian diri mereka darinya. Dan pada FirmanNya, ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," terdapat sebuah isyarat bahwa mereka tidak bermaksud menghadirinya ataupun mendengarkannya, akan tetapi hal itu terjadi saat bertemu secara kebetulan tanpa kesengajaan. Mereka memuliakan diri mereka darinya. (73) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka," yang mana Dia me-merintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadi-kannya sebagai pedoman, ﴾ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ﴿ "mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta," maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, ber-sikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hati darinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ 15 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (As-Sajdah: 15). Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan men-jumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitif, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keya-kinannya karenanya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya. (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami," maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para saha-bat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, ﴾ وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ ﴿ "dan keturunan kami sebagai penyenang hati," maksudnya mata kami men-jadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa di antara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka [adalah bahwasanya mereka tidak merasa damai sebelum mata kepala mereka melihat anak keturunan mereka taat kepada Allah, berilmu lagi beramal. Demikianlah, sebagaimana doa ini adalah doa untuk istri-istri] dan anak keturunan mereka. Ia juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai pem-berian (anugerah) bagi mereka, seraya mengatakan, ﴾ هَبۡ لَنَا ﴿ "anu-gerahkanlah kepada kami." Bahkan doa mereka kembali kepada manfaat bagi segenap kaum Muslimin. Sebab, dengan keshalihan orang-orang yang disebutkan di dalam doa, akan menjadi sebab bagi keshalihan kebanyakan orang-orang yang berhubungan de-ngan mereka dan (sebab untuk) mengambil manfaat dari mereka. ﴾ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿ "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, sampaikanlah kami, ya Tuhan kami, kepada derajat luhur ini, yaitu derajat orang-orang shiddiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat kepemimpinan di dalam agama, dan hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang shalih berjalan di belakangnya (mengikuti). Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk. Sudah dimaklumi bahwa berdoa untuk mencapai sesuatu adalah merupakan doa untuk mencapai sesuatu yang tidak akan tercapai kecuali dengannya. Derajat kepemimpinan dalam agama ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan sabar dan keyakinan, sebagaimana Allah telah berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami menjadikan dari kalangan mereka itu pemimpin-pe-mimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Doa tersebut mengharuskan adanya amal usaha dan kesa-baran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dalam men-jauhi kemaksiatan terhadapNya serta keputusan takdirNya yang menyakitkan hati, dan juga mengharuskan adanya ilmu yang me-madai yang dapat mengantarkan orangnya kepada derajat al-yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah, dan mengharuskan mereka untuk berada di atas setinggi mungkin dari derajat manusia lain, di bawah derajat para rasul. (75-76) Oleh karena cita-cita luhur dan keinginan-keinginan mereka tinggi (mulia), maka balasannya adalah dari jenis amal itu sendiri. Maka Allah membalas mereka dengan kedudukan-kedu-dukan tertinggi, seraya berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka." Maksudnya, tingkatan-tingkatan yang tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat unik yang penuh dengan segala hal yang disukai dan sedap dipandang mata. Hal itu dise-babkan karena kesabaran mereka, maka mereka meraih apa yang semestinya mereka raih, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ 23 سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23-24). Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, ﴾ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ﴿ "Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," dari Tuhan mereka dan dari para malaikatNya yang mulia dan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan mereka selamat dari segala yang dapat mencemarkan dan mengotori. Walhasil, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyifati mereka dengan hikmat, tenang, merendahkan diri kepadaNya dan kepada hamba-hambaNya, beretika baik, santun, berakhlak mulia, memaaf-kan orang-orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas sikap buruk mereka dengan perbuatan baik, qiyamul lail (shalat malam), ikhlas dalam melakukan qiyamul lail, takut akan api neraka, memohon kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, me-ngeluarkan yang wajib dan yang sunnah dalam nafkah (pembelan-jaan harta), serta sederhana dalam membelanjakannya. Dan kalau mereka telah menjadi orang-orang yang sederhana di dalam ber-infak, di mana kebiasaan yang berlaku adalah mengabaikan atau berlebihan, maka kesederhanaan mereka dan keseimbangan mereka pada masalah-masalah yang lain tentu lebih utama; dan selamat dari dosa-dosa besar, bersikap ikhlas kepada Allah di dalam ber-ibadah kepadaNya (bertauhid. Pent), menjaga diri dari darah (jiwa yang tak berdosa) dan dari kehormatan, dan segera bertaubat di saat terjadinya perbuatan dosa itu, dan mereka tidak menghadiri majelis-majelis kemungkaran, kefasikan yang bersifat perkataan ataupun perbuatan, mereka menjaga diri mereka dari perkataan sia-sia dan perbuatan hina, yang tidak ada kebaikannya padanya. Semua itu memastikan wibawa dan kemanusiaan mereka, kesempurnaan dan kesucian mereka dari segala perkataan dan perbuatan tak bernilai. Sesungguhnya mereka serius merespon ayat-ayat Allah dengan menerima dan memahami makna-makna-nya, mengamalkannya dan bersungguh-sungguh di dalam mene-rapkan hukum-hukumnya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى dengan doa yang paling sempurna di dalam doa yang sangat berguna bagi mereka dan berguna bagi siapa pun yang mengikuti mereka, serta berguna bagi kaum Muslimin, karena keshalihan istri-istri mereka dan anak keturunan mereka. Konsekuensi dari itu semua adalah mereka berupaya keras di dalam mendidik, mengajar, menasihati dan membimbing mereka. Sebab, siapa saja yang serius untuk memperoleh sesuatu, pasti dia berdoa kepada Allah untuknya, dia pasti berusaha mendapatkan sebab kausalitasnya dan mereka berdoa kepada Allah untuk menca-pai derajat tertinggi yang mungkin bisa mereka capai, yaitu derajat kepemimpinan dan kejujuran. Sungguh demi Allah, betapa mulianya sifat-sifat tersebut, betapa tingginya cita-cita mereka, betapa agungnya harapan mereka dan betapa sucinya jiwa-jiwa itu, betapa bersihnya hati itu, betapa sucinya manusia-manusia pilihan itu, dan betapa bertakwanya para penghulu itu. Sungguh itu adalah karunia, nikmat, dan rahmat Allah ter-hadap mereka yang menjadikan mereka mulia, dan kelembutan-Nya yang telah mengantar mereka kepada derajat tertinggi ini. Sungguh termasuk karunia Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menjelaskan sifat-sifat mereka, dan mengilustrasikan karakteristik mereka. Dia menjelaskan cita-cita luhur mereka dan menjelaskan pula pahala yang diperoleh agar mereka rindu (ter-pacu) untuk mengamalkan sifat-sifat tersebut, dan agar mereka mencurahkan segenap kemampuan untuk itu, dan agar mereka memohon kepada Tuhan yang telah menganugerahkan semua itu kepada mereka dan yang telah memuliakan mereka, yaitu Tuhan yang karuniaNya ada pada setiap masa dan tempat, dan pada setiap saat (hendaklah dia memohon) agar Dia berkenan untuk membimbing mereka sebagaimana telah membimbing mereka (orang-orang yang disebut di dalam ayat-ayat di atas. Pent). Ya Allah, segala puji hanya untukMu, kepadaMu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat meminta, dan kepadaMu-lah tempat memohon keselamatan; tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganMu. Kami sama sekali tidak mampu memberikan manfaat atau mudarat kepada diri kami, kami tidak kuasa melakukan kebaikan sebesar biji sawi pun jika Engkau tidak memudahkannya bagi kami, karena sesungguhnya kami sangat lemah lagi rapuh dari segala sisi. Kami bersaksi bahwasanya Eng-kau, jika Engkau serahkan kami kepada diri kami (walau hanya) sekejap mata, maka berarti Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kerapuhan dan kesalahan. Maka kami tidak yakin, ya Rabb kami kecuali dengan rahmatMu, yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rizki, Engkau karuniakan kepada kami berbagai kenikmatan yang nampak dan yang tidak tampak, Engkau jauhkan dari kami berbagai bencana. Maka belas kasihilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak butuh kepada rahmat selainMu. Sesungguhnya tidak akan sia-sia orang yang memohon dan berharap kepadaMu. (77) Setelah Allah سبحانه وتعالى menisbatkan hamba-hamba tersebut kepada rahmatNya dan mengistimewakan mereka dengan (kriteria) ubudiyah karena kemuliaan dan keutamaan mereka, maka boleh jadi ada orang yang beranggapan bahwa dirinya dan selain mereka (mendapatkan rahmat), lalu kenapa dia tidak masuk ke dalam kriteria ubudiyah? Maka Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidak menghiraukan dan tidak peduli kepada selain mereka; dan bahwa kalau saja bukan karena doa kalian kepadaNya yang berupa doa ibadah dan doa permohonan, tentu Dia tidak menghiraukan kalian dan tentu Dia tidak mencintai kalian, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ﴿ "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah mendustakanNya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)'." Maksudnya, azab pasti menimpa kalian seperti pastinya (kewajiban membayar) bagi orang yang berhutang kepada yang berpiutang. Dan Allah سبحانه وتعالى pasti mem-berikan keputusan di antara kalian dan di antara hamba-hambaNya yang beriman. Selesailah tafsir surat al-Furqan. Segala puji dan sanjungan serta syukur (hanya) bagi Allah selama-lamanya.

Al-Furqan 25:64

"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penya-yang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, niscaya mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) adalah di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melaku-kan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) de-ngan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penye-nang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana mungkin kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah men-dustakanNya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)." (Al-Furqan: 63-77). (63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini. (64) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ﴿ "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka," maksudnya, mereka banyak melakukan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah, menghinakan diri kepadaNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 16 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan ter-hadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 16-17). (65) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami," maksudnya, cegahlah ia dari kami dengan cara dijaga dari segala faktor penye-babnya dan dengan ampunan dari segala dosa yang terjadi dari kami, di mana hal itu merupakan penyebab azab, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿ "sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" maksudnya, mengharuskan pelakunya mendapatkan azab, sebagaimana kedu-dukan orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang. (66) ﴾ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ﴿ "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Ini adalah ungkapan doa dari mereka dengan nada mengemis kepada Allah, sebagai penjelasan betapa butuhnya mereka kepadaNya, dan pernyataan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menanggung azab tersebut; dan agar mereka bisa mengingat kembali karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebab, sesungguhnya tindakan (Allah) menghilangkan kedahsyatan azab sesuai dengan (kadar) kedahsyatan dan kehebatannya sangatlah menyentuh (kalbu) dan rasa gembira meluap bila kedahsyatan azab itu dijauhkan. (67) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila membelan-jakan," yaitu nafkah yang wajib dan yang sunnah, ﴾ لَمۡ يُسۡرِفُواْ ﴿ "mereka tidak berlebih-lebihan," tidak melebihi batas, sehingga akan berakibat akan termasuk ke dalam perbuatan tabdzir (menghambur-hambur), ﴾ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ ﴿ "dan tidak (pula) kikir" sehingga mengakibatkan mereka bisa terjerumus ke dalam sifat kikir dan pelit serta mengabaikan hak-hak yang wajib, ﴾ وَكَانَ ﴿ "dan ia adalah," maksudnya pembe-lanjaan itu, ﴾ بَيۡنَ ذَٰلِكَ ﴿ "antara yang demikian," antara sikap berlebih-lebihan dengan sikap kikir, ﴾ قَوَامٗا ﴿ "di tengah-tengah," mereka me-ngeluarkannya dalam hal-hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat (bayar denda) dan berbagai belanja wajib dan dalam hal-hal yang pantas, dengan cara yang pantas pula tanpa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Ini merupakan sikap keseimbangan dan kesederhanaan mereka. (68) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah," akan tetapi hanya me-nyembahNya semata, dengan menuluskan kepatuhan kepadaNya, cenderung dan murni menghadap kepadaNya, dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah," yaitu jiwa seorang Muslim dan orang kafir yang terikat perjanjian damai, ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "kecuali dengan (alasan) yang benar," seperti membunuh jiwa karena jiwa (yang lain), membunuh pezina muhshan, dan orang kafir yang halal dibunuh, ﴾ وَلَا يَزۡنُونَۚ ﴿ "dan tidak berzina," bahkan mereka selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak sahaya mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang melakukan demikian itu," yaitu memperse-kutukan Allah, atau membunuh jiwa yang tak berdosa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, atau berbuat zina, ﴾ يَلۡقَ أَثَامٗا ﴿ "niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa." (69) Kemudian Allah menguraikannya dengan FirmanNya, ﴾ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ ﴿ "Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam azab t e r s e b u t ﴾ مُهَانًا ﴿ "dalam keadaan terhina." Jadi, ancaman dengan (azab) yang kekal bagi yang melakukan dosa-dosa itu ada-lah pasti, tidak dapat diragukan lagi. Dan begitu pula bagi orang yang mempersekutukan Allah. Juga ancaman dengan azab yang dahsyat bagi setiap orang yang melakukan salah satu dari tiga dosa tersebut, sebab dosa-dosa tersebut adalah dosa syirik, atau kalau tidak, maka termasuk dosa-dosa yang paling besar. Adapun tentang kekekalan bagi pembunuh dan pelaku zina di dalam azab, maka sesungguhnya "kekekalan" itu tidak menca-kupnya. Sebab banyak dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan bahwa seluruh orang-orang Mukmin akan keluar dari neraka, tidak ada seorang Mukmin pun yang kekal di dalamnya, sekalipun dia telah melakukan kemaksiatan apa saja. Allah سبحانه وتعالى men-catat tiga dosa besar tersebut adalah karena keberadaannya sebagai dosa yang paling besar. Syirik mengandung pengrusakan terhadap agama, pembunuhan mengandung pengrusakan terhadap jasad, sedangkan zina mengandung pengrusakan terhadap kehormatan. (70) ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang yang bertaubat," dari kemak-siatan-kemaksiatan tersebut dan lain-lainnya, dengan cara mening-galkannya sama sekali saat itu juga, menyesali perbuatannya yang telah lalu, dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah dengan iman yang benar yang menuntut untuk meninggalkan segala maksiat dan mengerjakan berbagai ketaatan, ﴾ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," dari amal yang diperintahkan oleh asy-Syari' (Allah dan RasulNya) bila diniatkan mengharap keridhaan Allah. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ ﴿ "Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan," maksudnya segala perbuatan dan perkataan mereka yang disiapkan untuk amal keburukan akan di-ganti, yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan. Maka syirik me-reka berubah menjadi iman, kemaksiatan mereka diganti menjadi ketaatan, dan kejahatan-kejahatan yang sama yang pernah mereka lakukan diganti, kemudian ditumbuhkan bagi mereka satu taubat, inabat dan ketaatan untuk setiap dosa dari dosa-dosa tersebut. Yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan, sebagaimana tampak dari zahirnya ayat. Dalam hal ini ada sebuah hadits tentang seorang lelaki yang dihisab oleh Allah karena sebagian dosa-dosanya, lalu dihitung di hadapannya, kemudian Allah mengganti untuk setiap dosa dengan satu kebajikan. Lalu orang itu berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku mempunyai beberapa dosa lagi yang tidak aku lihat di sini."[33] Wallahu a'lam. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun," terhadap siapa saja yang bertaubat, Dia selalu mengampuni dosa besar, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," kepada hamba-hambaNya, di mana Dia mengajak mereka bertaubat setelah sebelumnya mereka menentangNya de-ngan dosa-dosa besar, lalu memberi mereka taufik untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka. (71) ﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertau-bat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya," maksudnya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa taubatnya benar-benar berada pada puncak kesempurnaan, sebab ia merupakan sikap kembali kepada jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagiaan seseorang dan kebe-runtungannya. Maka hendaklah dia tulus dalam bertaubat, dan hendaklah dia memurnikannya dari segala noda tujuan rusak. Yang dimaksud dari ini semua adalah anjuran untuk menyempurnakan taubat dan melaksanakannya sebaik dan sesempurna mungkin, agar Dia menerima siapa saja yang bertaubat kepadaNya, kemudian membalasnya sesuai dengan kesempurnaan taubatnya. (72) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-berikan persaksian palsu," maksudnya mereka tidak menghadiri ke-palsuan, yaitu perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Mereka menghindari majelis-majelis yang banyak mengandung perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti mempermasalahkan ayat-ayat Allah, debat batil, menggunjing, memfitnah (adu-domba), memaki, menuduh berbuat zina, mem-perolok-olok, lagu-lagu haram, minum khamar, alas-alas yang ter-buat dari kain sutra, gambar-gambar dan lain-lain. Kalaulah mereka tidak menyaksikan kepalsuan, maka lebih utama lagi mereka tidak mengatakannya dan mengerjakannya. Kesaksian palsu masuk ke dalam kategori ucapan palsu, dan masuk ke dalam maksud ayat ini secara lebih utama. ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," yaitu pembicaraan yang tidak me-ngandung kebaikan dan faidah religi ataupun duniawi, seperti pembicaraan orang-orang yang dungu dan yang serupa dengannya, ﴾ مَرُّواْ كِرَامٗا ﴿ "mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." Maksudnya mereka mencegah diri mereka dan memuliakan diri-nya dari tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya dan mereka berpendapat bahwa tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya (meskipun tidak mengandung dosa) tetapi ia merupakan tindakan bodoh yang mencemari kemanusiaan dan kewibawaan. Mereka menjaga kesucian diri mereka darinya. Dan pada FirmanNya, ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," terdapat sebuah isyarat bahwa mereka tidak bermaksud menghadirinya ataupun mendengarkannya, akan tetapi hal itu terjadi saat bertemu secara kebetulan tanpa kesengajaan. Mereka memuliakan diri mereka darinya. (73) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka," yang mana Dia me-merintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadi-kannya sebagai pedoman, ﴾ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ﴿ "mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta," maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, ber-sikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hati darinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ 15 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (As-Sajdah: 15). Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan men-jumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitif, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keya-kinannya karenanya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya. (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami," maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para saha-bat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, ﴾ وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ ﴿ "dan keturunan kami sebagai penyenang hati," maksudnya mata kami men-jadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa di antara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka [adalah bahwasanya mereka tidak merasa damai sebelum mata kepala mereka melihat anak keturunan mereka taat kepada Allah, berilmu lagi beramal. Demikianlah, sebagaimana doa ini adalah doa untuk istri-istri] dan anak keturunan mereka. Ia juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai pem-berian (anugerah) bagi mereka, seraya mengatakan, ﴾ هَبۡ لَنَا ﴿ "anu-gerahkanlah kepada kami." Bahkan doa mereka kembali kepada manfaat bagi segenap kaum Muslimin. Sebab, dengan keshalihan orang-orang yang disebutkan di dalam doa, akan menjadi sebab bagi keshalihan kebanyakan orang-orang yang berhubungan de-ngan mereka dan (sebab untuk) mengambil manfaat dari mereka. ﴾ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿ "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, sampaikanlah kami, ya Tuhan kami, kepada derajat luhur ini, yaitu derajat orang-orang shiddiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat kepemimpinan di dalam agama, dan hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang shalih berjalan di belakangnya (mengikuti). Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk. Sudah dimaklumi bahwa berdoa untuk mencapai sesuatu adalah merupakan doa untuk mencapai sesuatu yang tidak akan tercapai kecuali dengannya. Derajat kepemimpinan dalam agama ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan sabar dan keyakinan, sebagaimana Allah telah berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami menjadikan dari kalangan mereka itu pemimpin-pe-mimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Doa tersebut mengharuskan adanya amal usaha dan kesa-baran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dalam men-jauhi kemaksiatan terhadapNya serta keputusan takdirNya yang menyakitkan hati, dan juga mengharuskan adanya ilmu yang me-madai yang dapat mengantarkan orangnya kepada derajat al-yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah, dan mengharuskan mereka untuk berada di atas setinggi mungkin dari derajat manusia lain, di bawah derajat para rasul. (75-76) Oleh karena cita-cita luhur dan keinginan-keinginan mereka tinggi (mulia), maka balasannya adalah dari jenis amal itu sendiri. Maka Allah membalas mereka dengan kedudukan-kedu-dukan tertinggi, seraya berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka." Maksudnya, tingkatan-tingkatan yang tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat unik yang penuh dengan segala hal yang disukai dan sedap dipandang mata. Hal itu dise-babkan karena kesabaran mereka, maka mereka meraih apa yang semestinya mereka raih, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ 23 سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23-24). Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, ﴾ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ﴿ "Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," dari Tuhan mereka dan dari para malaikatNya yang mulia dan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan mereka selamat dari segala yang dapat mencemarkan dan mengotori. Walhasil, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyifati mereka dengan hikmat, tenang, merendahkan diri kepadaNya dan kepada hamba-hambaNya, beretika baik, santun, berakhlak mulia, memaaf-kan orang-orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas sikap buruk mereka dengan perbuatan baik, qiyamul lail (shalat malam), ikhlas dalam melakukan qiyamul lail, takut akan api neraka, memohon kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, me-ngeluarkan yang wajib dan yang sunnah dalam nafkah (pembelan-jaan harta), serta sederhana dalam membelanjakannya. Dan kalau mereka telah menjadi orang-orang yang sederhana di dalam ber-infak, di mana kebiasaan yang berlaku adalah mengabaikan atau berlebihan, maka kesederhanaan mereka dan keseimbangan mereka pada masalah-masalah yang lain tentu lebih utama; dan selamat dari dosa-dosa besar, bersikap ikhlas kepada Allah di dalam ber-ibadah kepadaNya (bertauhid. Pent), menjaga diri dari darah (jiwa yang tak berdosa) dan dari kehormatan, dan segera bertaubat di saat terjadinya perbuatan dosa itu, dan mereka tidak menghadiri majelis-majelis kemungkaran, kefasikan yang bersifat perkataan ataupun perbuatan, mereka menjaga diri mereka dari perkataan sia-sia dan perbuatan hina, yang tidak ada kebaikannya padanya. Semua itu memastikan wibawa dan kemanusiaan mereka, kesempurnaan dan kesucian mereka dari segala perkataan dan perbuatan tak bernilai. Sesungguhnya mereka serius merespon ayat-ayat Allah dengan menerima dan memahami makna-makna-nya, mengamalkannya dan bersungguh-sungguh di dalam mene-rapkan hukum-hukumnya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى dengan doa yang paling sempurna di dalam doa yang sangat berguna bagi mereka dan berguna bagi siapa pun yang mengikuti mereka, serta berguna bagi kaum Muslimin, karena keshalihan istri-istri mereka dan anak keturunan mereka. Konsekuensi dari itu semua adalah mereka berupaya keras di dalam mendidik, mengajar, menasihati dan membimbing mereka. Sebab, siapa saja yang serius untuk memperoleh sesuatu, pasti dia berdoa kepada Allah untuknya, dia pasti berusaha mendapatkan sebab kausalitasnya dan mereka berdoa kepada Allah untuk menca-pai derajat tertinggi yang mungkin bisa mereka capai, yaitu derajat kepemimpinan dan kejujuran. Sungguh demi Allah, betapa mulianya sifat-sifat tersebut, betapa tingginya cita-cita mereka, betapa agungnya harapan mereka dan betapa sucinya jiwa-jiwa itu, betapa bersihnya hati itu, betapa sucinya manusia-manusia pilihan itu, dan betapa bertakwanya para penghulu itu. Sungguh itu adalah karunia, nikmat, dan rahmat Allah ter-hadap mereka yang menjadikan mereka mulia, dan kelembutan-Nya yang telah mengantar mereka kepada derajat tertinggi ini. Sungguh termasuk karunia Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menjelaskan sifat-sifat mereka, dan mengilustrasikan karakteristik mereka. Dia menjelaskan cita-cita luhur mereka dan menjelaskan pula pahala yang diperoleh agar mereka rindu (ter-pacu) untuk mengamalkan sifat-sifat tersebut, dan agar mereka mencurahkan segenap kemampuan untuk itu, dan agar mereka memohon kepada Tuhan yang telah menganugerahkan semua itu kepada mereka dan yang telah memuliakan mereka, yaitu Tuhan yang karuniaNya ada pada setiap masa dan tempat, dan pada setiap saat (hendaklah dia memohon) agar Dia berkenan untuk membimbing mereka sebagaimana telah membimbing mereka (orang-orang yang disebut di dalam ayat-ayat di atas. Pent). Ya Allah, segala puji hanya untukMu, kepadaMu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat meminta, dan kepadaMu-lah tempat memohon keselamatan; tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganMu. Kami sama sekali tidak mampu memberikan manfaat atau mudarat kepada diri kami, kami tidak kuasa melakukan kebaikan sebesar biji sawi pun jika Engkau tidak memudahkannya bagi kami, karena sesungguhnya kami sangat lemah lagi rapuh dari segala sisi. Kami bersaksi bahwasanya Eng-kau, jika Engkau serahkan kami kepada diri kami (walau hanya) sekejap mata, maka berarti Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kerapuhan dan kesalahan. Maka kami tidak yakin, ya Rabb kami kecuali dengan rahmatMu, yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rizki, Engkau karuniakan kepada kami berbagai kenikmatan yang nampak dan yang tidak tampak, Engkau jauhkan dari kami berbagai bencana. Maka belas kasihilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak butuh kepada rahmat selainMu. Sesungguhnya tidak akan sia-sia orang yang memohon dan berharap kepadaMu. (77) Setelah Allah سبحانه وتعالى menisbatkan hamba-hamba tersebut kepada rahmatNya dan mengistimewakan mereka dengan (kriteria) ubudiyah karena kemuliaan dan keutamaan mereka, maka boleh jadi ada orang yang beranggapan bahwa dirinya dan selain mereka (mendapatkan rahmat), lalu kenapa dia tidak masuk ke dalam kriteria ubudiyah? Maka Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidak menghiraukan dan tidak peduli kepada selain mereka; dan bahwa kalau saja bukan karena doa kalian kepadaNya yang berupa doa ibadah dan doa permohonan, tentu Dia tidak menghiraukan kalian dan tentu Dia tidak mencintai kalian, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ﴿ "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah mendustakanNya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)'." Maksudnya, azab pasti menimpa kalian seperti pastinya (kewajiban membayar) bagi orang yang berhutang kepada yang berpiutang. Dan Allah سبحانه وتعالى pasti mem-berikan keputusan di antara kalian dan di antara hamba-hambaNya yang beriman. Selesailah tafsir surat al-Furqan. Segala puji dan sanjungan serta syukur (hanya) bagi Allah selama-lamanya.

Al-Furqan 25:65

"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penya-yang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, niscaya mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) adalah di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melaku-kan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) de-ngan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penye-nang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana mungkin kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah men-dustakanNya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)." (Al-Furqan: 63-77). (63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini. (64) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ﴿ "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka," maksudnya, mereka banyak melakukan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah, menghinakan diri kepadaNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 16 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan ter-hadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 16-17). (65) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami," maksudnya, cegahlah ia dari kami dengan cara dijaga dari segala faktor penye-babnya dan dengan ampunan dari segala dosa yang terjadi dari kami, di mana hal itu merupakan penyebab azab, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿ "sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" maksudnya, mengharuskan pelakunya mendapatkan azab, sebagaimana kedu-dukan orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang. (66) ﴾ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ﴿ "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Ini adalah ungkapan doa dari mereka dengan nada mengemis kepada Allah, sebagai penjelasan betapa butuhnya mereka kepadaNya, dan pernyataan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menanggung azab tersebut; dan agar mereka bisa mengingat kembali karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebab, sesungguhnya tindakan (Allah) menghilangkan kedahsyatan azab sesuai dengan (kadar) kedahsyatan dan kehebatannya sangatlah menyentuh (kalbu) dan rasa gembira meluap bila kedahsyatan azab itu dijauhkan. (67) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila membelan-jakan," yaitu nafkah yang wajib dan yang sunnah, ﴾ لَمۡ يُسۡرِفُواْ ﴿ "mereka tidak berlebih-lebihan," tidak melebihi batas, sehingga akan berakibat akan termasuk ke dalam perbuatan tabdzir (menghambur-hambur), ﴾ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ ﴿ "dan tidak (pula) kikir" sehingga mengakibatkan mereka bisa terjerumus ke dalam sifat kikir dan pelit serta mengabaikan hak-hak yang wajib, ﴾ وَكَانَ ﴿ "dan ia adalah," maksudnya pembe-lanjaan itu, ﴾ بَيۡنَ ذَٰلِكَ ﴿ "antara yang demikian," antara sikap berlebih-lebihan dengan sikap kikir, ﴾ قَوَامٗا ﴿ "di tengah-tengah," mereka me-ngeluarkannya dalam hal-hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat (bayar denda) dan berbagai belanja wajib dan dalam hal-hal yang pantas, dengan cara yang pantas pula tanpa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Ini merupakan sikap keseimbangan dan kesederhanaan mereka. (68) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah," akan tetapi hanya me-nyembahNya semata, dengan menuluskan kepatuhan kepadaNya, cenderung dan murni menghadap kepadaNya, dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah," yaitu jiwa seorang Muslim dan orang kafir yang terikat perjanjian damai, ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "kecuali dengan (alasan) yang benar," seperti membunuh jiwa karena jiwa (yang lain), membunuh pezina muhshan, dan orang kafir yang halal dibunuh, ﴾ وَلَا يَزۡنُونَۚ ﴿ "dan tidak berzina," bahkan mereka selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak sahaya mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang melakukan demikian itu," yaitu memperse-kutukan Allah, atau membunuh jiwa yang tak berdosa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, atau berbuat zina, ﴾ يَلۡقَ أَثَامٗا ﴿ "niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa." (69) Kemudian Allah menguraikannya dengan FirmanNya, ﴾ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ ﴿ "Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam azab t e r s e b u t ﴾ مُهَانًا ﴿ "dalam keadaan terhina." Jadi, ancaman dengan (azab) yang kekal bagi yang melakukan dosa-dosa itu ada-lah pasti, tidak dapat diragukan lagi. Dan begitu pula bagi orang yang mempersekutukan Allah. Juga ancaman dengan azab yang dahsyat bagi setiap orang yang melakukan salah satu dari tiga dosa tersebut, sebab dosa-dosa tersebut adalah dosa syirik, atau kalau tidak, maka termasuk dosa-dosa yang paling besar. Adapun tentang kekekalan bagi pembunuh dan pelaku zina di dalam azab, maka sesungguhnya "kekekalan" itu tidak menca-kupnya. Sebab banyak dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan bahwa seluruh orang-orang Mukmin akan keluar dari neraka, tidak ada seorang Mukmin pun yang kekal di dalamnya, sekalipun dia telah melakukan kemaksiatan apa saja. Allah سبحانه وتعالى men-catat tiga dosa besar tersebut adalah karena keberadaannya sebagai dosa yang paling besar. Syirik mengandung pengrusakan terhadap agama, pembunuhan mengandung pengrusakan terhadap jasad, sedangkan zina mengandung pengrusakan terhadap kehormatan. (70) ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang yang bertaubat," dari kemak-siatan-kemaksiatan tersebut dan lain-lainnya, dengan cara mening-galkannya sama sekali saat itu juga, menyesali perbuatannya yang telah lalu, dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah dengan iman yang benar yang menuntut untuk meninggalkan segala maksiat dan mengerjakan berbagai ketaatan, ﴾ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," dari amal yang diperintahkan oleh asy-Syari' (Allah dan RasulNya) bila diniatkan mengharap keridhaan Allah. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ ﴿ "Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan," maksudnya segala perbuatan dan perkataan mereka yang disiapkan untuk amal keburukan akan di-ganti, yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan. Maka syirik me-reka berubah menjadi iman, kemaksiatan mereka diganti menjadi ketaatan, dan kejahatan-kejahatan yang sama yang pernah mereka lakukan diganti, kemudian ditumbuhkan bagi mereka satu taubat, inabat dan ketaatan untuk setiap dosa dari dosa-dosa tersebut. Yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan, sebagaimana tampak dari zahirnya ayat. Dalam hal ini ada sebuah hadits tentang seorang lelaki yang dihisab oleh Allah karena sebagian dosa-dosanya, lalu dihitung di hadapannya, kemudian Allah mengganti untuk setiap dosa dengan satu kebajikan. Lalu orang itu berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku mempunyai beberapa dosa lagi yang tidak aku lihat di sini."[33] Wallahu a'lam. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun," terhadap siapa saja yang bertaubat, Dia selalu mengampuni dosa besar, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," kepada hamba-hambaNya, di mana Dia mengajak mereka bertaubat setelah sebelumnya mereka menentangNya de-ngan dosa-dosa besar, lalu memberi mereka taufik untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka. (71) ﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertau-bat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya," maksudnya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa taubatnya benar-benar berada pada puncak kesempurnaan, sebab ia merupakan sikap kembali kepada jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagiaan seseorang dan kebe-runtungannya. Maka hendaklah dia tulus dalam bertaubat, dan hendaklah dia memurnikannya dari segala noda tujuan rusak. Yang dimaksud dari ini semua adalah anjuran untuk menyempurnakan taubat dan melaksanakannya sebaik dan sesempurna mungkin, agar Dia menerima siapa saja yang bertaubat kepadaNya, kemudian membalasnya sesuai dengan kesempurnaan taubatnya. (72) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-berikan persaksian palsu," maksudnya mereka tidak menghadiri ke-palsuan, yaitu perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Mereka menghindari majelis-majelis yang banyak mengandung perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti mempermasalahkan ayat-ayat Allah, debat batil, menggunjing, memfitnah (adu-domba), memaki, menuduh berbuat zina, mem-perolok-olok, lagu-lagu haram, minum khamar, alas-alas yang ter-buat dari kain sutra, gambar-gambar dan lain-lain. Kalaulah mereka tidak menyaksikan kepalsuan, maka lebih utama lagi mereka tidak mengatakannya dan mengerjakannya. Kesaksian palsu masuk ke dalam kategori ucapan palsu, dan masuk ke dalam maksud ayat ini secara lebih utama. ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," yaitu pembicaraan yang tidak me-ngandung kebaikan dan faidah religi ataupun duniawi, seperti pembicaraan orang-orang yang dungu dan yang serupa dengannya, ﴾ مَرُّواْ كِرَامٗا ﴿ "mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." Maksudnya mereka mencegah diri mereka dan memuliakan diri-nya dari tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya dan mereka berpendapat bahwa tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya (meskipun tidak mengandung dosa) tetapi ia merupakan tindakan bodoh yang mencemari kemanusiaan dan kewibawaan. Mereka menjaga kesucian diri mereka darinya. Dan pada FirmanNya, ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," terdapat sebuah isyarat bahwa mereka tidak bermaksud menghadirinya ataupun mendengarkannya, akan tetapi hal itu terjadi saat bertemu secara kebetulan tanpa kesengajaan. Mereka memuliakan diri mereka darinya. (73) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka," yang mana Dia me-merintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadi-kannya sebagai pedoman, ﴾ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ﴿ "mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta," maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, ber-sikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hati darinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ 15 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (As-Sajdah: 15). Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan men-jumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitif, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keya-kinannya karenanya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya. (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami," maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para saha-bat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, ﴾ وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ ﴿ "dan keturunan kami sebagai penyenang hati," maksudnya mata kami men-jadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa di antara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka [adalah bahwasanya mereka tidak merasa damai sebelum mata kepala mereka melihat anak keturunan mereka taat kepada Allah, berilmu lagi beramal. Demikianlah, sebagaimana doa ini adalah doa untuk istri-istri] dan anak keturunan mereka. Ia juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai pem-berian (anugerah) bagi mereka, seraya mengatakan, ﴾ هَبۡ لَنَا ﴿ "anu-gerahkanlah kepada kami." Bahkan doa mereka kembali kepada manfaat bagi segenap kaum Muslimin. Sebab, dengan keshalihan orang-orang yang disebutkan di dalam doa, akan menjadi sebab bagi keshalihan kebanyakan orang-orang yang berhubungan de-ngan mereka dan (sebab untuk) mengambil manfaat dari mereka. ﴾ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿ "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, sampaikanlah kami, ya Tuhan kami, kepada derajat luhur ini, yaitu derajat orang-orang shiddiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat kepemimpinan di dalam agama, dan hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang shalih berjalan di belakangnya (mengikuti). Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk. Sudah dimaklumi bahwa berdoa untuk mencapai sesuatu adalah merupakan doa untuk mencapai sesuatu yang tidak akan tercapai kecuali dengannya. Derajat kepemimpinan dalam agama ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan sabar dan keyakinan, sebagaimana Allah telah berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami menjadikan dari kalangan mereka itu pemimpin-pe-mimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Doa tersebut mengharuskan adanya amal usaha dan kesa-baran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dalam men-jauhi kemaksiatan terhadapNya serta keputusan takdirNya yang menyakitkan hati, dan juga mengharuskan adanya ilmu yang me-madai yang dapat mengantarkan orangnya kepada derajat al-yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah, dan mengharuskan mereka untuk berada di atas setinggi mungkin dari derajat manusia lain, di bawah derajat para rasul. (75-76) Oleh karena cita-cita luhur dan keinginan-keinginan mereka tinggi (mulia), maka balasannya adalah dari jenis amal itu sendiri. Maka Allah membalas mereka dengan kedudukan-kedu-dukan tertinggi, seraya berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka." Maksudnya, tingkatan-tingkatan yang tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat unik yang penuh dengan segala hal yang disukai dan sedap dipandang mata. Hal itu dise-babkan karena kesabaran mereka, maka mereka meraih apa yang semestinya mereka raih, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ 23 سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23-24). Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, ﴾ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ﴿ "Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," dari Tuhan mereka dan dari para malaikatNya yang mulia dan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan mereka selamat dari segala yang dapat mencemarkan dan mengotori. Walhasil, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyifati mereka dengan hikmat, tenang, merendahkan diri kepadaNya dan kepada hamba-hambaNya, beretika baik, santun, berakhlak mulia, memaaf-kan orang-orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas sikap buruk mereka dengan perbuatan baik, qiyamul lail (shalat malam), ikhlas dalam melakukan qiyamul lail, takut akan api neraka, memohon kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, me-ngeluarkan yang wajib dan yang sunnah dalam nafkah (pembelan-jaan harta), serta sederhana dalam membelanjakannya. Dan kalau mereka telah menjadi orang-orang yang sederhana di dalam ber-infak, di mana kebiasaan yang berlaku adalah mengabaikan atau berlebihan, maka kesederhanaan mereka dan keseimbangan mereka pada masalah-masalah yang lain tentu lebih utama; dan selamat dari dosa-dosa besar, bersikap ikhlas kepada Allah di dalam ber-ibadah kepadaNya (bertauhid. Pent), menjaga diri dari darah (jiwa yang tak berdosa) dan dari kehormatan, dan segera bertaubat di saat terjadinya perbuatan dosa itu, dan mereka tidak menghadiri majelis-majelis kemungkaran, kefasikan yang bersifat perkataan ataupun perbuatan, mereka menjaga diri mereka dari perkataan sia-sia dan perbuatan hina, yang tidak ada kebaikannya padanya. Semua itu memastikan wibawa dan kemanusiaan mereka, kesempurnaan dan kesucian mereka dari segala perkataan dan perbuatan tak bernilai. Sesungguhnya mereka serius merespon ayat-ayat Allah dengan menerima dan memahami makna-makna-nya, mengamalkannya dan bersungguh-sungguh di dalam mene-rapkan hukum-hukumnya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى dengan doa yang paling sempurna di dalam doa yang sangat berguna bagi mereka dan berguna bagi siapa pun yang mengikuti mereka, serta berguna bagi kaum Muslimin, karena keshalihan istri-istri mereka dan anak keturunan mereka. Konsekuensi dari itu semua adalah mereka berupaya keras di dalam mendidik, mengajar, menasihati dan membimbing mereka. Sebab, siapa saja yang serius untuk memperoleh sesuatu, pasti dia berdoa kepada Allah untuknya, dia pasti berusaha mendapatkan sebab kausalitasnya dan mereka berdoa kepada Allah untuk menca-pai derajat tertinggi yang mungkin bisa mereka capai, yaitu derajat kepemimpinan dan kejujuran. Sungguh demi Allah, betapa mulianya sifat-sifat tersebut, betapa tingginya cita-cita mereka, betapa agungnya harapan mereka dan betapa sucinya jiwa-jiwa itu, betapa bersihnya hati itu, betapa sucinya manusia-manusia pilihan itu, dan betapa bertakwanya para penghulu itu. Sungguh itu adalah karunia, nikmat, dan rahmat Allah ter-hadap mereka yang menjadikan mereka mulia, dan kelembutan-Nya yang telah mengantar mereka kepada derajat tertinggi ini. Sungguh termasuk karunia Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menjelaskan sifat-sifat mereka, dan mengilustrasikan karakteristik mereka. Dia menjelaskan cita-cita luhur mereka dan menjelaskan pula pahala yang diperoleh agar mereka rindu (ter-pacu) untuk mengamalkan sifat-sifat tersebut, dan agar mereka mencurahkan segenap kemampuan untuk itu, dan agar mereka memohon kepada Tuhan yang telah menganugerahkan semua itu kepada mereka dan yang telah memuliakan mereka, yaitu Tuhan yang karuniaNya ada pada setiap masa dan tempat, dan pada setiap saat (hendaklah dia memohon) agar Dia berkenan untuk membimbing mereka sebagaimana telah membimbing mereka (orang-orang yang disebut di dalam ayat-ayat di atas. Pent). Ya Allah, segala puji hanya untukMu, kepadaMu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat meminta, dan kepadaMu-lah tempat memohon keselamatan; tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganMu. Kami sama sekali tidak mampu memberikan manfaat atau mudarat kepada diri kami, kami tidak kuasa melakukan kebaikan sebesar biji sawi pun jika Engkau tidak memudahkannya bagi kami, karena sesungguhnya kami sangat lemah lagi rapuh dari segala sisi. Kami bersaksi bahwasanya Eng-kau, jika Engkau serahkan kami kepada diri kami (walau hanya) sekejap mata, maka berarti Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kerapuhan dan kesalahan. Maka kami tidak yakin, ya Rabb kami kecuali dengan rahmatMu, yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rizki, Engkau karuniakan kepada kami berbagai kenikmatan yang nampak dan yang tidak tampak, Engkau jauhkan dari kami berbagai bencana. Maka belas kasihilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak butuh kepada rahmat selainMu. Sesungguhnya tidak akan sia-sia orang yang memohon dan berharap kepadaMu. (77) Setelah Allah سبحانه وتعالى menisbatkan hamba-hamba tersebut kepada rahmatNya dan mengistimewakan mereka dengan (kriteria) ubudiyah karena kemuliaan dan keutamaan mereka, maka boleh jadi ada orang yang beranggapan bahwa dirinya dan selain mereka (mendapatkan rahmat), lalu kenapa dia tidak masuk ke dalam kriteria ubudiyah? Maka Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidak menghiraukan dan tidak peduli kepada selain mereka; dan bahwa kalau saja bukan karena doa kalian kepadaNya yang berupa doa ibadah dan doa permohonan, tentu Dia tidak menghiraukan kalian dan tentu Dia tidak mencintai kalian, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ﴿ "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah mendustakanNya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)'." Maksudnya, azab pasti menimpa kalian seperti pastinya (kewajiban membayar) bagi orang yang berhutang kepada yang berpiutang. Dan Allah سبحانه وتعالى pasti mem-berikan keputusan di antara kalian dan di antara hamba-hambaNya yang beriman. Selesailah tafsir surat al-Furqan. Segala puji dan sanjungan serta syukur (hanya) bagi Allah selama-lamanya.

Al-Furqan 25:66

"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penya-yang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, niscaya mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) adalah di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melaku-kan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) de-ngan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penye-nang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana mungkin kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah men-dustakanNya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)." (Al-Furqan: 63-77). (63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini. (64) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ﴿ "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka," maksudnya, mereka banyak melakukan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah, menghinakan diri kepadaNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 16 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan ter-hadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 16-17). (65) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami," maksudnya, cegahlah ia dari kami dengan cara dijaga dari segala faktor penye-babnya dan dengan ampunan dari segala dosa yang terjadi dari kami, di mana hal itu merupakan penyebab azab, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿ "sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" maksudnya, mengharuskan pelakunya mendapatkan azab, sebagaimana kedu-dukan orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang. (66) ﴾ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ﴿ "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Ini adalah ungkapan doa dari mereka dengan nada mengemis kepada Allah, sebagai penjelasan betapa butuhnya mereka kepadaNya, dan pernyataan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menanggung azab tersebut; dan agar mereka bisa mengingat kembali karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebab, sesungguhnya tindakan (Allah) menghilangkan kedahsyatan azab sesuai dengan (kadar) kedahsyatan dan kehebatannya sangatlah menyentuh (kalbu) dan rasa gembira meluap bila kedahsyatan azab itu dijauhkan. (67) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila membelan-jakan," yaitu nafkah yang wajib dan yang sunnah, ﴾ لَمۡ يُسۡرِفُواْ ﴿ "mereka tidak berlebih-lebihan," tidak melebihi batas, sehingga akan berakibat akan termasuk ke dalam perbuatan tabdzir (menghambur-hambur), ﴾ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ ﴿ "dan tidak (pula) kikir" sehingga mengakibatkan mereka bisa terjerumus ke dalam sifat kikir dan pelit serta mengabaikan hak-hak yang wajib, ﴾ وَكَانَ ﴿ "dan ia adalah," maksudnya pembe-lanjaan itu, ﴾ بَيۡنَ ذَٰلِكَ ﴿ "antara yang demikian," antara sikap berlebih-lebihan dengan sikap kikir, ﴾ قَوَامٗا ﴿ "di tengah-tengah," mereka me-ngeluarkannya dalam hal-hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat (bayar denda) dan berbagai belanja wajib dan dalam hal-hal yang pantas, dengan cara yang pantas pula tanpa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Ini merupakan sikap keseimbangan dan kesederhanaan mereka. (68) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah," akan tetapi hanya me-nyembahNya semata, dengan menuluskan kepatuhan kepadaNya, cenderung dan murni menghadap kepadaNya, dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah," yaitu jiwa seorang Muslim dan orang kafir yang terikat perjanjian damai, ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "kecuali dengan (alasan) yang benar," seperti membunuh jiwa karena jiwa (yang lain), membunuh pezina muhshan, dan orang kafir yang halal dibunuh, ﴾ وَلَا يَزۡنُونَۚ ﴿ "dan tidak berzina," bahkan mereka selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak sahaya mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang melakukan demikian itu," yaitu memperse-kutukan Allah, atau membunuh jiwa yang tak berdosa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, atau berbuat zina, ﴾ يَلۡقَ أَثَامٗا ﴿ "niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa." (69) Kemudian Allah menguraikannya dengan FirmanNya, ﴾ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ ﴿ "Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam azab t e r s e b u t ﴾ مُهَانًا ﴿ "dalam keadaan terhina." Jadi, ancaman dengan (azab) yang kekal bagi yang melakukan dosa-dosa itu ada-lah pasti, tidak dapat diragukan lagi. Dan begitu pula bagi orang yang mempersekutukan Allah. Juga ancaman dengan azab yang dahsyat bagi setiap orang yang melakukan salah satu dari tiga dosa tersebut, sebab dosa-dosa tersebut adalah dosa syirik, atau kalau tidak, maka termasuk dosa-dosa yang paling besar. Adapun tentang kekekalan bagi pembunuh dan pelaku zina di dalam azab, maka sesungguhnya "kekekalan" itu tidak menca-kupnya. Sebab banyak dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan bahwa seluruh orang-orang Mukmin akan keluar dari neraka, tidak ada seorang Mukmin pun yang kekal di dalamnya, sekalipun dia telah melakukan kemaksiatan apa saja. Allah سبحانه وتعالى men-catat tiga dosa besar tersebut adalah karena keberadaannya sebagai dosa yang paling besar. Syirik mengandung pengrusakan terhadap agama, pembunuhan mengandung pengrusakan terhadap jasad, sedangkan zina mengandung pengrusakan terhadap kehormatan. (70) ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang yang bertaubat," dari kemak-siatan-kemaksiatan tersebut dan lain-lainnya, dengan cara mening-galkannya sama sekali saat itu juga, menyesali perbuatannya yang telah lalu, dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah dengan iman yang benar yang menuntut untuk meninggalkan segala maksiat dan mengerjakan berbagai ketaatan, ﴾ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," dari amal yang diperintahkan oleh asy-Syari' (Allah dan RasulNya) bila diniatkan mengharap keridhaan Allah. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ ﴿ "Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan," maksudnya segala perbuatan dan perkataan mereka yang disiapkan untuk amal keburukan akan di-ganti, yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan. Maka syirik me-reka berubah menjadi iman, kemaksiatan mereka diganti menjadi ketaatan, dan kejahatan-kejahatan yang sama yang pernah mereka lakukan diganti, kemudian ditumbuhkan bagi mereka satu taubat, inabat dan ketaatan untuk setiap dosa dari dosa-dosa tersebut. Yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan, sebagaimana tampak dari zahirnya ayat. Dalam hal ini ada sebuah hadits tentang seorang lelaki yang dihisab oleh Allah karena sebagian dosa-dosanya, lalu dihitung di hadapannya, kemudian Allah mengganti untuk setiap dosa dengan satu kebajikan. Lalu orang itu berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku mempunyai beberapa dosa lagi yang tidak aku lihat di sini."[33] Wallahu a'lam. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun," terhadap siapa saja yang bertaubat, Dia selalu mengampuni dosa besar, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," kepada hamba-hambaNya, di mana Dia mengajak mereka bertaubat setelah sebelumnya mereka menentangNya de-ngan dosa-dosa besar, lalu memberi mereka taufik untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka. (71) ﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertau-bat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya," maksudnya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa taubatnya benar-benar berada pada puncak kesempurnaan, sebab ia merupakan sikap kembali kepada jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagiaan seseorang dan kebe-runtungannya. Maka hendaklah dia tulus dalam bertaubat, dan hendaklah dia memurnikannya dari segala noda tujuan rusak. Yang dimaksud dari ini semua adalah anjuran untuk menyempurnakan taubat dan melaksanakannya sebaik dan sesempurna mungkin, agar Dia menerima siapa saja yang bertaubat kepadaNya, kemudian membalasnya sesuai dengan kesempurnaan taubatnya. (72) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-berikan persaksian palsu," maksudnya mereka tidak menghadiri ke-palsuan, yaitu perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Mereka menghindari majelis-majelis yang banyak mengandung perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti mempermasalahkan ayat-ayat Allah, debat batil, menggunjing, memfitnah (adu-domba), memaki, menuduh berbuat zina, mem-perolok-olok, lagu-lagu haram, minum khamar, alas-alas yang ter-buat dari kain sutra, gambar-gambar dan lain-lain. Kalaulah mereka tidak menyaksikan kepalsuan, maka lebih utama lagi mereka tidak mengatakannya dan mengerjakannya. Kesaksian palsu masuk ke dalam kategori ucapan palsu, dan masuk ke dalam maksud ayat ini secara lebih utama. ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," yaitu pembicaraan yang tidak me-ngandung kebaikan dan faidah religi ataupun duniawi, seperti pembicaraan orang-orang yang dungu dan yang serupa dengannya, ﴾ مَرُّواْ كِرَامٗا ﴿ "mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." Maksudnya mereka mencegah diri mereka dan memuliakan diri-nya dari tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya dan mereka berpendapat bahwa tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya (meskipun tidak mengandung dosa) tetapi ia merupakan tindakan bodoh yang mencemari kemanusiaan dan kewibawaan. Mereka menjaga kesucian diri mereka darinya. Dan pada FirmanNya, ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," terdapat sebuah isyarat bahwa mereka tidak bermaksud menghadirinya ataupun mendengarkannya, akan tetapi hal itu terjadi saat bertemu secara kebetulan tanpa kesengajaan. Mereka memuliakan diri mereka darinya. (73) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka," yang mana Dia me-merintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadi-kannya sebagai pedoman, ﴾ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ﴿ "mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta," maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, ber-sikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hati darinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ 15 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (As-Sajdah: 15). Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan men-jumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitif, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keya-kinannya karenanya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya. (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami," maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para saha-bat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, ﴾ وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ ﴿ "dan keturunan kami sebagai penyenang hati," maksudnya mata kami men-jadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa di antara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka [adalah bahwasanya mereka tidak merasa damai sebelum mata kepala mereka melihat anak keturunan mereka taat kepada Allah, berilmu lagi beramal. Demikianlah, sebagaimana doa ini adalah doa untuk istri-istri] dan anak keturunan mereka. Ia juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai pem-berian (anugerah) bagi mereka, seraya mengatakan, ﴾ هَبۡ لَنَا ﴿ "anu-gerahkanlah kepada kami." Bahkan doa mereka kembali kepada manfaat bagi segenap kaum Muslimin. Sebab, dengan keshalihan orang-orang yang disebutkan di dalam doa, akan menjadi sebab bagi keshalihan kebanyakan orang-orang yang berhubungan de-ngan mereka dan (sebab untuk) mengambil manfaat dari mereka. ﴾ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿ "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, sampaikanlah kami, ya Tuhan kami, kepada derajat luhur ini, yaitu derajat orang-orang shiddiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat kepemimpinan di dalam agama, dan hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang shalih berjalan di belakangnya (mengikuti). Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk. Sudah dimaklumi bahwa berdoa untuk mencapai sesuatu adalah merupakan doa untuk mencapai sesuatu yang tidak akan tercapai kecuali dengannya. Derajat kepemimpinan dalam agama ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan sabar dan keyakinan, sebagaimana Allah telah berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami menjadikan dari kalangan mereka itu pemimpin-pe-mimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Doa tersebut mengharuskan adanya amal usaha dan kesa-baran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dalam men-jauhi kemaksiatan terhadapNya serta keputusan takdirNya yang menyakitkan hati, dan juga mengharuskan adanya ilmu yang me-madai yang dapat mengantarkan orangnya kepada derajat al-yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah, dan mengharuskan mereka untuk berada di atas setinggi mungkin dari derajat manusia lain, di bawah derajat para rasul. (75-76) Oleh karena cita-cita luhur dan keinginan-keinginan mereka tinggi (mulia), maka balasannya adalah dari jenis amal itu sendiri. Maka Allah membalas mereka dengan kedudukan-kedu-dukan tertinggi, seraya berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka." Maksudnya, tingkatan-tingkatan yang tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat unik yang penuh dengan segala hal yang disukai dan sedap dipandang mata. Hal itu dise-babkan karena kesabaran mereka, maka mereka meraih apa yang semestinya mereka raih, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ 23 سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23-24). Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, ﴾ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ﴿ "Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," dari Tuhan mereka dan dari para malaikatNya yang mulia dan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan mereka selamat dari segala yang dapat mencemarkan dan mengotori. Walhasil, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyifati mereka dengan hikmat, tenang, merendahkan diri kepadaNya dan kepada hamba-hambaNya, beretika baik, santun, berakhlak mulia, memaaf-kan orang-orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas sikap buruk mereka dengan perbuatan baik, qiyamul lail (shalat malam), ikhlas dalam melakukan qiyamul lail, takut akan api neraka, memohon kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, me-ngeluarkan yang wajib dan yang sunnah dalam nafkah (pembelan-jaan harta), serta sederhana dalam membelanjakannya. Dan kalau mereka telah menjadi orang-orang yang sederhana di dalam ber-infak, di mana kebiasaan yang berlaku adalah mengabaikan atau berlebihan, maka kesederhanaan mereka dan keseimbangan mereka pada masalah-masalah yang lain tentu lebih utama; dan selamat dari dosa-dosa besar, bersikap ikhlas kepada Allah di dalam ber-ibadah kepadaNya (bertauhid. Pent), menjaga diri dari darah (jiwa yang tak berdosa) dan dari kehormatan, dan segera bertaubat di saat terjadinya perbuatan dosa itu, dan mereka tidak menghadiri majelis-majelis kemungkaran, kefasikan yang bersifat perkataan ataupun perbuatan, mereka menjaga diri mereka dari perkataan sia-sia dan perbuatan hina, yang tidak ada kebaikannya padanya. Semua itu memastikan wibawa dan kemanusiaan mereka, kesempurnaan dan kesucian mereka dari segala perkataan dan perbuatan tak bernilai. Sesungguhnya mereka serius merespon ayat-ayat Allah dengan menerima dan memahami makna-makna-nya, mengamalkannya dan bersungguh-sungguh di dalam mene-rapkan hukum-hukumnya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى dengan doa yang paling sempurna di dalam doa yang sangat berguna bagi mereka dan berguna bagi siapa pun yang mengikuti mereka, serta berguna bagi kaum Muslimin, karena keshalihan istri-istri mereka dan anak keturunan mereka. Konsekuensi dari itu semua adalah mereka berupaya keras di dalam mendidik, mengajar, menasihati dan membimbing mereka. Sebab, siapa saja yang serius untuk memperoleh sesuatu, pasti dia berdoa kepada Allah untuknya, dia pasti berusaha mendapatkan sebab kausalitasnya dan mereka berdoa kepada Allah untuk menca-pai derajat tertinggi yang mungkin bisa mereka capai, yaitu derajat kepemimpinan dan kejujuran. Sungguh demi Allah, betapa mulianya sifat-sifat tersebut, betapa tingginya cita-cita mereka, betapa agungnya harapan mereka dan betapa sucinya jiwa-jiwa itu, betapa bersihnya hati itu, betapa sucinya manusia-manusia pilihan itu, dan betapa bertakwanya para penghulu itu. Sungguh itu adalah karunia, nikmat, dan rahmat Allah ter-hadap mereka yang menjadikan mereka mulia, dan kelembutan-Nya yang telah mengantar mereka kepada derajat tertinggi ini. Sungguh termasuk karunia Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menjelaskan sifat-sifat mereka, dan mengilustrasikan karakteristik mereka. Dia menjelaskan cita-cita luhur mereka dan menjelaskan pula pahala yang diperoleh agar mereka rindu (ter-pacu) untuk mengamalkan sifat-sifat tersebut, dan agar mereka mencurahkan segenap kemampuan untuk itu, dan agar mereka memohon kepada Tuhan yang telah menganugerahkan semua itu kepada mereka dan yang telah memuliakan mereka, yaitu Tuhan yang karuniaNya ada pada setiap masa dan tempat, dan pada setiap saat (hendaklah dia memohon) agar Dia berkenan untuk membimbing mereka sebagaimana telah membimbing mereka (orang-orang yang disebut di dalam ayat-ayat di atas. Pent). Ya Allah, segala puji hanya untukMu, kepadaMu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat meminta, dan kepadaMu-lah tempat memohon keselamatan; tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganMu. Kami sama sekali tidak mampu memberikan manfaat atau mudarat kepada diri kami, kami tidak kuasa melakukan kebaikan sebesar biji sawi pun jika Engkau tidak memudahkannya bagi kami, karena sesungguhnya kami sangat lemah lagi rapuh dari segala sisi. Kami bersaksi bahwasanya Eng-kau, jika Engkau serahkan kami kepada diri kami (walau hanya) sekejap mata, maka berarti Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kerapuhan dan kesalahan. Maka kami tidak yakin, ya Rabb kami kecuali dengan rahmatMu, yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rizki, Engkau karuniakan kepada kami berbagai kenikmatan yang nampak dan yang tidak tampak, Engkau jauhkan dari kami berbagai bencana. Maka belas kasihilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak butuh kepada rahmat selainMu. Sesungguhnya tidak akan sia-sia orang yang memohon dan berharap kepadaMu. (77) Setelah Allah سبحانه وتعالى menisbatkan hamba-hamba tersebut kepada rahmatNya dan mengistimewakan mereka dengan (kriteria) ubudiyah karena kemuliaan dan keutamaan mereka, maka boleh jadi ada orang yang beranggapan bahwa dirinya dan selain mereka (mendapatkan rahmat), lalu kenapa dia tidak masuk ke dalam kriteria ubudiyah? Maka Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidak menghiraukan dan tidak peduli kepada selain mereka; dan bahwa kalau saja bukan karena doa kalian kepadaNya yang berupa doa ibadah dan doa permohonan, tentu Dia tidak menghiraukan kalian dan tentu Dia tidak mencintai kalian, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ﴿ "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah mendustakanNya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)'." Maksudnya, azab pasti menimpa kalian seperti pastinya (kewajiban membayar) bagi orang yang berhutang kepada yang berpiutang. Dan Allah سبحانه وتعالى pasti mem-berikan keputusan di antara kalian dan di antara hamba-hambaNya yang beriman. Selesailah tafsir surat al-Furqan. Segala puji dan sanjungan serta syukur (hanya) bagi Allah selama-lamanya.

Al-Furqan 25:67

"Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penya-yang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, niscaya mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.' Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan (pembelanjaan itu) adalah di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melaku-kan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah, mereka lalui (saja) de-ngan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, maka mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penye-nang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.' Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana mungkin kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah men-dustakanNya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)." (Al-Furqan: 63-77). (63) Penghambaan kepada Allah itu ada dua: Pertama, penghambaan kepada rububiyahNya. Yang ini dimiliki oleh semua manusia, baik yang Muslim maupun yang kafir, yang shalih dan yang jahat. Jadi semua mereka adalah hamba Allah yang diciptakan dan diatur; ﴾ إِن كُلُّ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِي ٱلرَّحۡمَٰنِ عَبۡدٗا 93 ﴿ "Tidak ada seorang pun di langit dan bumi, melainkan pasti akan datang kepada Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba." (Maryam: 93). Yang kedua, penghambaan kepada uluhiyahNya, peribadatan kepadaNya dan rahmatNya. Ini adalah penghambaan para nabi dan para waliNya. Inilah yang dimaksud di sini. Oleh karena itu, Allah mengimbuhkannya (abd) kepada namaNya, 'ar-rahman," sebagai isyarat bahwa mereka telah mencapai kepada kedudukan ini disebabkan rahmatNya. Kemudian Dia menjelaskan [bahwa] sifat-sifat mereka merupakan sifat yang paling sempurna dan karakter-karakter mereka merupakan karakter yang paling utama. Allah menyifati mereka (dengan ungkapan) bahwasanya mereka ﴾ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا ﴿ "berjalan di atas bumi dengan rendah hati," maksud-nya dengan tenang, merendahkan diri kepada Allah dan kepada manusia. Ini adalah pernyataan untuk sifat mereka, yaitu hikmat, tenang dan tawadhu' (merendahkan diri) kepada Allah dan kepada hamba-hambaNya. ﴾ وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ ﴿ "Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka," dengan sapaan jahil; ini berdasarkan bukti pengimbuhan kata kerja dan penyandarannya kepada sifat tersebut, ﴾ قَالُواْ سَلَٰمٗا ﴿ "niscaya mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan," maksudnya mereka menjawab sapaan mereka dengan sapaan yang selamat dari dosa di dalamnya, dan mereka selamat dari balasan orang jahil dengan kejahilannya. Ini adalah pujian untuk mereka karena sikap santun mereka yang luar biasa, dan membalas orang yang jahat dengan kebaikan dan pemberian maaf terhadap si jahil, dan kematangan akal mereka yang telah mengantar mereka kepada tingkatan ini. (64) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمۡ سُجَّدٗا وَقِيَٰمٗا ﴿ "Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka," maksudnya, mereka banyak melakukan shalat malam dengan ikhlas kepada Allah, menghinakan diri kepadaNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ 16 فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17 ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan ter-hadap apa yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 16-17). (65) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahanam dari kami," maksudnya, cegahlah ia dari kami dengan cara dijaga dari segala faktor penye-babnya dan dengan ampunan dari segala dosa yang terjadi dari kami, di mana hal itu merupakan penyebab azab, ﴾ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ﴿ "sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal" maksudnya, mengharuskan pelakunya mendapatkan azab, sebagaimana kedu-dukan orang yang berhutang kepada orang yang berpiutang. (66) ﴾ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا ﴿ "Sesungguhnya Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman." Ini adalah ungkapan doa dari mereka dengan nada mengemis kepada Allah, sebagai penjelasan betapa butuhnya mereka kepadaNya, dan pernyataan bahwa mereka tidak mempunyai kemampuan untuk menanggung azab tersebut; dan agar mereka bisa mengingat kembali karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka. Sebab, sesungguhnya tindakan (Allah) menghilangkan kedahsyatan azab sesuai dengan (kadar) kedahsyatan dan kehebatannya sangatlah menyentuh (kalbu) dan rasa gembira meluap bila kedahsyatan azab itu dijauhkan. (67) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila membelan-jakan," yaitu nafkah yang wajib dan yang sunnah, ﴾ لَمۡ يُسۡرِفُواْ ﴿ "mereka tidak berlebih-lebihan," tidak melebihi batas, sehingga akan berakibat akan termasuk ke dalam perbuatan tabdzir (menghambur-hambur), ﴾ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ ﴿ "dan tidak (pula) kikir" sehingga mengakibatkan mereka bisa terjerumus ke dalam sifat kikir dan pelit serta mengabaikan hak-hak yang wajib, ﴾ وَكَانَ ﴿ "dan ia adalah," maksudnya pembe-lanjaan itu, ﴾ بَيۡنَ ذَٰلِكَ ﴿ "antara yang demikian," antara sikap berlebih-lebihan dengan sikap kikir, ﴾ قَوَامٗا ﴿ "di tengah-tengah," mereka me-ngeluarkannya dalam hal-hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat (bayar denda) dan berbagai belanja wajib dan dalam hal-hal yang pantas, dengan cara yang pantas pula tanpa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Ini merupakan sikap keseimbangan dan kesederhanaan mereka. (68) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah," akan tetapi hanya me-nyembahNya semata, dengan menuluskan kepatuhan kepadaNya, cenderung dan murni menghadap kepadaNya, dan berpaling dari selainNya. ﴾ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah," yaitu jiwa seorang Muslim dan orang kafir yang terikat perjanjian damai, ﴾ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "kecuali dengan (alasan) yang benar," seperti membunuh jiwa karena jiwa (yang lain), membunuh pezina muhshan, dan orang kafir yang halal dibunuh, ﴾ وَلَا يَزۡنُونَۚ ﴿ "dan tidak berzina," bahkan mereka selalu menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap istri-istri atau budak-budak sahaya mereka. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang melakukan demikian itu," yaitu memperse-kutukan Allah, atau membunuh jiwa yang tak berdosa yang Allah haramkan, kecuali dengan alasan yang benar, atau berbuat zina, ﴾ يَلۡقَ أَثَامٗا ﴿ "niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa." (69) Kemudian Allah menguraikannya dengan FirmanNya, ﴾ يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ ﴿ "Akan dilipatgandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam azab t e r s e b u t ﴾ مُهَانًا ﴿ "dalam keadaan terhina." Jadi, ancaman dengan (azab) yang kekal bagi yang melakukan dosa-dosa itu ada-lah pasti, tidak dapat diragukan lagi. Dan begitu pula bagi orang yang mempersekutukan Allah. Juga ancaman dengan azab yang dahsyat bagi setiap orang yang melakukan salah satu dari tiga dosa tersebut, sebab dosa-dosa tersebut adalah dosa syirik, atau kalau tidak, maka termasuk dosa-dosa yang paling besar. Adapun tentang kekekalan bagi pembunuh dan pelaku zina di dalam azab, maka sesungguhnya "kekekalan" itu tidak menca-kupnya. Sebab banyak dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah yang menjelaskan bahwa seluruh orang-orang Mukmin akan keluar dari neraka, tidak ada seorang Mukmin pun yang kekal di dalamnya, sekalipun dia telah melakukan kemaksiatan apa saja. Allah سبحانه وتعالى men-catat tiga dosa besar tersebut adalah karena keberadaannya sebagai dosa yang paling besar. Syirik mengandung pengrusakan terhadap agama, pembunuhan mengandung pengrusakan terhadap jasad, sedangkan zina mengandung pengrusakan terhadap kehormatan. (70) ﴾ إِلَّا مَن تَابَ ﴿ "Kecuali orang yang bertaubat," dari kemak-siatan-kemaksiatan tersebut dan lain-lainnya, dengan cara mening-galkannya sama sekali saat itu juga, menyesali perbuatannya yang telah lalu, dan bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak akan mengulangi kembali, ﴾ وَءَامَنَ ﴿ "dan beriman," kepada Allah dengan iman yang benar yang menuntut untuk meninggalkan segala maksiat dan mengerjakan berbagai ketaatan, ﴾ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," dari amal yang diperintahkan oleh asy-Syari' (Allah dan RasulNya) bila diniatkan mengharap keridhaan Allah. ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ ﴿ "Maka mereka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan," maksudnya segala perbuatan dan perkataan mereka yang disiapkan untuk amal keburukan akan di-ganti, yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan. Maka syirik me-reka berubah menjadi iman, kemaksiatan mereka diganti menjadi ketaatan, dan kejahatan-kejahatan yang sama yang pernah mereka lakukan diganti, kemudian ditumbuhkan bagi mereka satu taubat, inabat dan ketaatan untuk setiap dosa dari dosa-dosa tersebut. Yaitu diganti dengan kebajikan-kebajikan, sebagaimana tampak dari zahirnya ayat. Dalam hal ini ada sebuah hadits tentang seorang lelaki yang dihisab oleh Allah karena sebagian dosa-dosanya, lalu dihitung di hadapannya, kemudian Allah mengganti untuk setiap dosa dengan satu kebajikan. Lalu orang itu berkata, "Ya Rabbi, sesungguhnya aku mempunyai beberapa dosa lagi yang tidak aku lihat di sini."[33] Wallahu a'lam. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun," terhadap siapa saja yang bertaubat, Dia selalu mengampuni dosa besar, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," kepada hamba-hambaNya, di mana Dia mengajak mereka bertaubat setelah sebelumnya mereka menentangNya de-ngan dosa-dosa besar, lalu memberi mereka taufik untuk bertaubat, kemudian menerima taubat mereka. (71) ﴾ وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertau-bat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya," maksudnya, maka hendaklah dia mengetahui bahwa taubatnya benar-benar berada pada puncak kesempurnaan, sebab ia merupakan sikap kembali kepada jalan yang lurus yang dapat mengantarkan kepada Allah, yang merupakan inti dari kebahagiaan seseorang dan kebe-runtungannya. Maka hendaklah dia tulus dalam bertaubat, dan hendaklah dia memurnikannya dari segala noda tujuan rusak. Yang dimaksud dari ini semua adalah anjuran untuk menyempurnakan taubat dan melaksanakannya sebaik dan sesempurna mungkin, agar Dia menerima siapa saja yang bertaubat kepadaNya, kemudian membalasnya sesuai dengan kesempurnaan taubatnya. (72) ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak mem-berikan persaksian palsu," maksudnya mereka tidak menghadiri ke-palsuan, yaitu perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Mereka menghindari majelis-majelis yang banyak mengandung perkataan-perkataan atau perbuatan-perbuatan yang diharamkan, seperti mempermasalahkan ayat-ayat Allah, debat batil, menggunjing, memfitnah (adu-domba), memaki, menuduh berbuat zina, mem-perolok-olok, lagu-lagu haram, minum khamar, alas-alas yang ter-buat dari kain sutra, gambar-gambar dan lain-lain. Kalaulah mereka tidak menyaksikan kepalsuan, maka lebih utama lagi mereka tidak mengatakannya dan mengerjakannya. Kesaksian palsu masuk ke dalam kategori ucapan palsu, dan masuk ke dalam maksud ayat ini secara lebih utama. ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," yaitu pembicaraan yang tidak me-ngandung kebaikan dan faidah religi ataupun duniawi, seperti pembicaraan orang-orang yang dungu dan yang serupa dengannya, ﴾ مَرُّواْ كِرَامٗا ﴿ "mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya." Maksudnya mereka mencegah diri mereka dan memuliakan diri-nya dari tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya dan mereka berpendapat bahwa tindakan ikut serta tenggelam di dalamnya (meskipun tidak mengandung dosa) tetapi ia merupakan tindakan bodoh yang mencemari kemanusiaan dan kewibawaan. Mereka menjaga kesucian diri mereka darinya. Dan pada FirmanNya, ﴾ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ ﴿ "Dan apabila mereka bertemu dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaidah," terdapat sebuah isyarat bahwa mereka tidak bermaksud menghadirinya ataupun mendengarkannya, akan tetapi hal itu terjadi saat bertemu secara kebetulan tanpa kesengajaan. Mereka memuliakan diri mereka darinya. (73) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka," yang mana Dia me-merintahkan kepada mereka untuk mendengarnya dan menjadi-kannya sebagai pedoman, ﴾ لَمۡ يَخِرُّواْ عَلَيۡهَا صُمّٗا وَعُمۡيَانٗا ﴿ "mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta," maksudnya, mereka tidak meresponnya dengan sikap berpaling darinya, ber-sikap tuli untuk mendengarnya dan mengalihkan perhatian dan hati darinya, seperti yang dilakukan oleh orang yang tidak beriman dan tidak membenarkannya. Sesungguhnya sikap mereka di saat mendengarnya adalah seperti yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ 15 ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri." (As-Sajdah: 15). Mereka meresponnya dengan menerima ayat-ayat itu, rasa membutuhkannya, tunduk dan patuh kepadanya. Anda akan men-jumpai mereka memiliki telinga yang peka dan hati yang sensitif, hingga iman mereka bertambah karenanya, makin sempurna keya-kinannya karenanya, menimbulkan semangat pada diri mereka, dan mereka sangat riang dan berbahagia karenanya. (74) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا ﴿ "Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami," maksudnya, pendamping-pendamping kami, termasuk para saha-bat, orang-orang terdekat, dan istri-istri, ﴾ وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ ﴿ "dan keturunan kami sebagai penyenang hati," maksudnya mata kami men-jadi damai. Dan apabila kita meneliti lebih jauh keadaan dan ciri-ciri mereka, maka kita mengetahui bahwa di antara usaha keras mereka dan ketinggian martabat mereka [adalah bahwasanya mereka tidak merasa damai sebelum mata kepala mereka melihat anak keturunan mereka taat kepada Allah, berilmu lagi beramal. Demikianlah, sebagaimana doa ini adalah doa untuk istri-istri] dan anak keturunan mereka. Ia juga merupakan doa untuk diri mereka sendiri, karena manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri. Oleh karenanya mereka menjadikan semua itu sebagai pem-berian (anugerah) bagi mereka, seraya mengatakan, ﴾ هَبۡ لَنَا ﴿ "anu-gerahkanlah kepada kami." Bahkan doa mereka kembali kepada manfaat bagi segenap kaum Muslimin. Sebab, dengan keshalihan orang-orang yang disebutkan di dalam doa, akan menjadi sebab bagi keshalihan kebanyakan orang-orang yang berhubungan de-ngan mereka dan (sebab untuk) mengambil manfaat dari mereka. ﴾ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ﴿ "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, sampaikanlah kami, ya Tuhan kami, kepada derajat luhur ini, yaitu derajat orang-orang shiddiqin dan derajat orang-orang yang sempurna dari kalangan hamba-hamba Allah yang shalih, yaitu derajat kepemimpinan di dalam agama, dan hingga mereka bisa menjadi teladan bagi orang-orang yang bertakwa dalam ucapan dan perbuatannya. Perbuatan-perbuatan mereka diteladani, ucapan-ucapan mereka menjadi kesejukan hati dan orang-orang shalih berjalan di belakangnya (mengikuti). Mereka memberi petunjuk dan masyarakat pun mendapat petunjuk. Sudah dimaklumi bahwa berdoa untuk mencapai sesuatu adalah merupakan doa untuk mencapai sesuatu yang tidak akan tercapai kecuali dengannya. Derajat kepemimpinan dalam agama ini tidak akan pernah dicapai kecuali dengan sabar dan keyakinan, sebagaimana Allah telah berfirman, ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْۖ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ 24 ﴿ "Dan Kami menjadikan dari kalangan mereka itu pemimpin-pe-mimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24). Doa tersebut mengharuskan adanya amal usaha dan kesa-baran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan dalam men-jauhi kemaksiatan terhadapNya serta keputusan takdirNya yang menyakitkan hati, dan juga mengharuskan adanya ilmu yang me-madai yang dapat mengantarkan orangnya kepada derajat al-yakin sebagai kebaikan yang sangat banyak dan karunia yang berlimpah, dan mengharuskan mereka untuk berada di atas setinggi mungkin dari derajat manusia lain, di bawah derajat para rasul. (75-76) Oleh karena cita-cita luhur dan keinginan-keinginan mereka tinggi (mulia), maka balasannya adalah dari jenis amal itu sendiri. Maka Allah membalas mereka dengan kedudukan-kedu-dukan tertinggi, seraya berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُجۡزَوۡنَ ٱلۡغُرۡفَةَ بِمَا صَبَرُواْ ﴿ "Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka." Maksudnya, tingkatan-tingkatan yang tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat unik yang penuh dengan segala hal yang disukai dan sedap dipandang mata. Hal itu dise-babkan karena kesabaran mereka, maka mereka meraih apa yang semestinya mereka raih, sebagaimana Allah تعالى berfirman, ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ 23 سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan), 'Salam sejahtera atasmu karena kesabaranmu.' Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 23-24). Oleh karena itu, di sini Dia berfirman, ﴾ وَيُلَقَّوۡنَ فِيهَا تَحِيَّةٗ وَسَلَٰمًا ﴿ "Dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya," dari Tuhan mereka dan dari para malaikatNya yang mulia dan dari sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan mereka selamat dari segala yang dapat mencemarkan dan mengotori. Walhasil, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menyifati mereka dengan hikmat, tenang, merendahkan diri kepadaNya dan kepada hamba-hambaNya, beretika baik, santun, berakhlak mulia, memaaf-kan orang-orang yang bodoh, berpaling dari mereka, membalas sikap buruk mereka dengan perbuatan baik, qiyamul lail (shalat malam), ikhlas dalam melakukan qiyamul lail, takut akan api neraka, memohon kepada Tuhan mereka agar diselamatkan darinya, me-ngeluarkan yang wajib dan yang sunnah dalam nafkah (pembelan-jaan harta), serta sederhana dalam membelanjakannya. Dan kalau mereka telah menjadi orang-orang yang sederhana di dalam ber-infak, di mana kebiasaan yang berlaku adalah mengabaikan atau berlebihan, maka kesederhanaan mereka dan keseimbangan mereka pada masalah-masalah yang lain tentu lebih utama; dan selamat dari dosa-dosa besar, bersikap ikhlas kepada Allah di dalam ber-ibadah kepadaNya (bertauhid. Pent), menjaga diri dari darah (jiwa yang tak berdosa) dan dari kehormatan, dan segera bertaubat di saat terjadinya perbuatan dosa itu, dan mereka tidak menghadiri majelis-majelis kemungkaran, kefasikan yang bersifat perkataan ataupun perbuatan, mereka menjaga diri mereka dari perkataan sia-sia dan perbuatan hina, yang tidak ada kebaikannya padanya. Semua itu memastikan wibawa dan kemanusiaan mereka, kesempurnaan dan kesucian mereka dari segala perkataan dan perbuatan tak bernilai. Sesungguhnya mereka serius merespon ayat-ayat Allah dengan menerima dan memahami makna-makna-nya, mengamalkannya dan bersungguh-sungguh di dalam mene-rapkan hukum-hukumnya, dan mereka selalu berdoa kepada Allah سبحانه وتعالى dengan doa yang paling sempurna di dalam doa yang sangat berguna bagi mereka dan berguna bagi siapa pun yang mengikuti mereka, serta berguna bagi kaum Muslimin, karena keshalihan istri-istri mereka dan anak keturunan mereka. Konsekuensi dari itu semua adalah mereka berupaya keras di dalam mendidik, mengajar, menasihati dan membimbing mereka. Sebab, siapa saja yang serius untuk memperoleh sesuatu, pasti dia berdoa kepada Allah untuknya, dia pasti berusaha mendapatkan sebab kausalitasnya dan mereka berdoa kepada Allah untuk menca-pai derajat tertinggi yang mungkin bisa mereka capai, yaitu derajat kepemimpinan dan kejujuran. Sungguh demi Allah, betapa mulianya sifat-sifat tersebut, betapa tingginya cita-cita mereka, betapa agungnya harapan mereka dan betapa sucinya jiwa-jiwa itu, betapa bersihnya hati itu, betapa sucinya manusia-manusia pilihan itu, dan betapa bertakwanya para penghulu itu. Sungguh itu adalah karunia, nikmat, dan rahmat Allah ter-hadap mereka yang menjadikan mereka mulia, dan kelembutan-Nya yang telah mengantar mereka kepada derajat tertinggi ini. Sungguh termasuk karunia Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menjelaskan sifat-sifat mereka, dan mengilustrasikan karakteristik mereka. Dia menjelaskan cita-cita luhur mereka dan menjelaskan pula pahala yang diperoleh agar mereka rindu (ter-pacu) untuk mengamalkan sifat-sifat tersebut, dan agar mereka mencurahkan segenap kemampuan untuk itu, dan agar mereka memohon kepada Tuhan yang telah menganugerahkan semua itu kepada mereka dan yang telah memuliakan mereka, yaitu Tuhan yang karuniaNya ada pada setiap masa dan tempat, dan pada setiap saat (hendaklah dia memohon) agar Dia berkenan untuk membimbing mereka sebagaimana telah membimbing mereka (orang-orang yang disebut di dalam ayat-ayat di atas. Pent). Ya Allah, segala puji hanya untukMu, kepadaMu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat meminta, dan kepadaMu-lah tempat memohon keselamatan; tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolonganMu. Kami sama sekali tidak mampu memberikan manfaat atau mudarat kepada diri kami, kami tidak kuasa melakukan kebaikan sebesar biji sawi pun jika Engkau tidak memudahkannya bagi kami, karena sesungguhnya kami sangat lemah lagi rapuh dari segala sisi. Kami bersaksi bahwasanya Eng-kau, jika Engkau serahkan kami kepada diri kami (walau hanya) sekejap mata, maka berarti Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kerapuhan dan kesalahan. Maka kami tidak yakin, ya Rabb kami kecuali dengan rahmatMu, yang dengannya Engkau menciptakan kami, memberi kami rizki, Engkau karuniakan kepada kami berbagai kenikmatan yang nampak dan yang tidak tampak, Engkau jauhkan dari kami berbagai bencana. Maka belas kasihilah kami dengan rahmat yang membuat kami tidak butuh kepada rahmat selainMu. Sesungguhnya tidak akan sia-sia orang yang memohon dan berharap kepadaMu. (77) Setelah Allah سبحانه وتعالى menisbatkan hamba-hamba tersebut kepada rahmatNya dan mengistimewakan mereka dengan (kriteria) ubudiyah karena kemuliaan dan keutamaan mereka, maka boleh jadi ada orang yang beranggapan bahwa dirinya dan selain mereka (mendapatkan rahmat), lalu kenapa dia tidak masuk ke dalam kriteria ubudiyah? Maka Allah سبحانه وتعالى memberitakan bahwasanya Dia tidak menghiraukan dan tidak peduli kepada selain mereka; dan bahwa kalau saja bukan karena doa kalian kepadaNya yang berupa doa ibadah dan doa permohonan, tentu Dia tidak menghiraukan kalian dan tentu Dia tidak mencintai kalian, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا يَعۡبَؤُاْ بِكُمۡ رَبِّي لَوۡلَا دُعَآؤُكُمۡۖ فَقَدۡ كَذَّبۡتُمۡ فَسَوۡفَ يَكُونُ لِزَامَۢا ﴿ "Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), 'Rabbku tidak mengindahkanmu, kalau tidak karena ibadahmu (niscaya Dia tidak mengindahkanmu). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepadaNya), sementara kamu sungguh telah mendustakanNya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)'." Maksudnya, azab pasti menimpa kalian seperti pastinya (kewajiban membayar) bagi orang yang berhutang kepada yang berpiutang. Dan Allah سبحانه وتعالى pasti mem-berikan keputusan di antara kalian dan di antara hamba-hambaNya yang beriman. Selesailah tafsir surat al-Furqan. Segala puji dan sanjungan serta syukur (hanya) bagi Allah selama-lamanya.