Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Asy-Syu'ara' 26:87 – Asy-Syu'ara' 26:139

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Asy-Syu'ara' 26:87
  2. Asy-Syu'ara' 26:88
  3. Asy-Syu'ara' 26:89
  4. Asy-Syu'ara' 26:90
  5. Asy-Syu'ara' 26:91
  6. Asy-Syu'ara' 26:92
  7. Asy-Syu'ara' 26:93
  8. Asy-Syu'ara' 26:94
  9. Asy-Syu'ara' 26:95
  10. Asy-Syu'ara' 26:96
  11. Asy-Syu'ara' 26:97
  12. Asy-Syu'ara' 26:98
  13. Asy-Syu'ara' 26:99
  14. Asy-Syu'ara' 26:100
  15. Asy-Syu'ara' 26:101
  16. Asy-Syu'ara' 26:102
  17. Asy-Syu'ara' 26:103
  18. Asy-Syu'ara' 26:104
  19. Asy-Syu'ara' 26:105
  20. Asy-Syu'ara' 26:106
  21. Asy-Syu'ara' 26:107
  22. Asy-Syu'ara' 26:108
  23. Asy-Syu'ara' 26:109
  24. Asy-Syu'ara' 26:110
  25. Asy-Syu'ara' 26:111
  26. Asy-Syu'ara' 26:112
  27. Asy-Syu'ara' 26:113
  28. Asy-Syu'ara' 26:114
  29. Asy-Syu'ara' 26:115
  30. Asy-Syu'ara' 26:116
  31. Asy-Syu'ara' 26:117
  32. Asy-Syu'ara' 26:118
  33. Asy-Syu'ara' 26:119
  34. Asy-Syu'ara' 26:120
  35. Asy-Syu'ara' 26:121
  36. Asy-Syu'ara' 26:122
  37. Asy-Syu'ara' 26:123
  38. Asy-Syu'ara' 26:124
  39. Asy-Syu'ara' 26:125
  40. Asy-Syu'ara' 26:126
  41. Asy-Syu'ara' 26:127
  42. Asy-Syu'ara' 26:128
  43. Asy-Syu'ara' 26:129
  44. Asy-Syu'ara' 26:130
  45. Asy-Syu'ara' 26:131
  46. Asy-Syu'ara' 26:132
  47. Asy-Syu'ara' 26:133
  48. Asy-Syu'ara' 26:134
  49. Asy-Syu'ara' 26:135
  50. Asy-Syu'ara' 26:136
  51. Asy-Syu'ara' 26:137
  52. Asy-Syu'ara' 26:138
  53. Asy-Syu'ara' 26:139

Asy-Syu'ara' 26:87

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:88

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:89

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:90

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:91

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:92

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:93

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:94

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:95

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:96

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:97

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:98

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:99

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:100

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:101

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:102

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:103

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:104

"Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apakah yang kamu sembah?' Mereka menjawab, 'Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.' Berkatalah Ibrahim, 'Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?' Mereka menjawab, '(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami ber-buat demikian.' Ibrahim berkata, 'Maka apakah kamu telah mem-perhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek mo-yangmu yang dahulu? karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam, (yaitu Rabb) Yang telah menciptakanku, maka Dia-lah yang menunjukiku, dan Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan memati-kan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada Hari Kiamat.' (Ibrahim berdoa), 'Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat,' dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?' Maka mereka (sembah-an-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam.' Dan tia-dalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai seorang pun pemberi syafa'at, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia), niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.' Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 69-104). (69-71) Maksudnya, bacakanlah wahai Muhammad, kepada manusia berita tentang Ibrahim al-Khalil dan ceritanya yang sangat berharga, terutama dalam kondisi ini. Dan bila tidak demikian, dia masih mempunyai banyak berita lainnya. Akan tetapi di antara berita tentangnya yang sangat menarik dan sangat bagus adalah berita yang mencakup kerasulan dan dakwahnya kepada kaumnya serta perdebatannya dengan mereka tentang batilnya keyakinan yang mereka anut. Maka dari itu ungkapannya di sini diimbuhi dengan zharaf (keterangan waktu), seraya berfirman,﴾ إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا تَعۡبُدُونَ 70 قَالُواْ ﴿ "Ketika dia berkata kepada bapaknya dan kaumnya, 'Apa-kah yang kamu sembah?' Mereka menjawab," dengan nada bangga terhadap peribadatan mereka, ﴾ نَعۡبُدُ أَصۡنَامٗا ﴿ "Kami menyembah berhala-berhala," yang kami pahat dan kami buat dengan tangan kami sendiri, ﴾ فَنَظَلُّ لَهَا عَٰكِفِينَ ﴿ "dan kami senantiasa tekun menyembahnya." Maksudnya, kami selalu menyembahnya pada kebanyakan waktu kami. (72-74) Maka Ibrahim berkata kepada mereka untuk men-jelaskan bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak berhak di-sembah, ﴾ هَلۡ يَسۡمَعُونَكُمۡ إِذۡ تَدۡعُونَ ﴿ "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa?" Lalu mereka mengabulkan doa kalian, menghilangkan kesusahan kalian dan melenyapkan semua hal yang tidak kalian suka dari kalian, ﴾ أَوۡ يَنفَعُونَكُمۡ أَوۡ يَضُرُّونَ ﴿ "atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudarat?" Lalu me-reka mengakui bahwa semua itu tidak ada sama sekali padanya. Jadi, ia tidak dapat mendengar doa, tidak dapat memberikan man-faat dan tidak juga menimpakan bahaya! Oleh karenanya, setelah Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu, dia berkata, ﴾ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُواْ يَنطِقُونَ 63 ﴿ "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka ta-nyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 63). Mereka berkata kepadanya, ﴾ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ 65 ﴿ "Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." (Al-Anbiya`: 65). Maksudnya, ini adalah suatu perkara yang sudah pasti dari kondisi berhala, sudah tidak bisa dipermasalahkan dan tidak diragukan lagi. Lalu mereka kembali kepada taqlid (ikut secara membabi buta) kepada nenek moyang mereka yang sesat, maka mereka berkata, ﴾ بَلۡ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا كَذَٰلِكَ يَفۡعَلُونَ ﴿ "Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian," lalu kami mengikuti mereka dalam hal ini, dan kami menelusuri jalan mereka dan kami lestari-kan tradisi mereka. (75-82) Lalu Ibrahim berkata kepada mereka, "Kalian dan nenek moyang kalian semuanya adalah penentang dalam perkara [ini], dan pembicaraan bersama orang-orang di atas adalah sama, ﴾ أَفَرَءَيۡتُم مَّا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 75 أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمُ ٱلۡأَقۡدَمُونَ 76 فَإِنَّهُمۡ عَدُوّٞ لِّيٓ ﴿ "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya semua itu adalah musuhku," maka silahkan mereka menimpakan bahaya apa pun terhadapku, dan silahkan mereka melakukan tipu daya terhadapku, maka pasti mereka tidak akan mampu melakukannya, ﴾ إِلَّا رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 77 ٱلَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهۡدِينِ ﴿ "kecuali Rabb semesta alam, Yang telah menciptakan-ku, maka Dia-lah yang menunjukiku." Dia-lah [semata][34] yang membe-rikan nikmat penciptaan dan nikmat hidayah untuk kemaslahatan agama dan dunia. Lalu dia menyebutkan secara khusus sebagian dari hal-hal yang sudah pasti, seraya berkata, ﴾ وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81 وَٱلَّذِيٓ أَطۡمَعُ أَن يَغۡفِرَ لِي خَطِيٓـَٔتِي يَوۡمَ ٱلدِّينِ 82 ﴿ "Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah Yang menyembuhkanku, dan Yang akan mematikanku, kemudian akan menghidupkanku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan meng-ampuni kesalahanku pada Hari Kiamat." Dia-lah semata yang bisa melakukan itu semua sendirian, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah dan ketaatan, sedang-kan berhala-berhala yang tidak bisa menciptakan, tidak bisa mem-beri petunjuk, tidak bisa menyakitkan, tidak bisa menyembuhkan, tidak bisa memberi makan dan tidak bisa memberi minum, tidak dapat mematikan dan tidak dapat menghidupkan, tidak berguna bagi penyembahnya, baik dalam menghilangkan kesusahan atau pun memberikan ampunan dosa itu harus ditinggalkan. Ini adalah dalil yang sangat akurat dan hujjah yang mematahkan di mana kalian dan nenek moyang kalian tidak kuasa menantangnya, maka itu membuktikan keikutsertaan kalian dalam kesesatan dan dalam meninggalkan jalan hidayah dan jalan yang lurus. Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَحَآجَّهُۥ قَوۡمُهُۥۚ قَالَ أَتُحَٰٓجُّوٓنِّي فِي ٱللَّهِ وَقَدۡ هَدَىٰنِۚ ﴿ "Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku...." (Al-An'am: 80). (83-84) Dan Ibrahim عليه السلام berdoa kepada Rabbnya, seraya mengatakan, ﴾ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا ﴿ "Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hik-mah." Maksudnya, ilmu yang cukup yang dengannya aku dapat mengetahui hukum-hukum, halal dan haram, dan yang dengannya aku dapat memberikan keputusan di antara manusia, ﴾ وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih," ter-masuk saudara-saudaranya, para nabi dan para rasul. ﴾ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ ﴿ "Dan jadikanlah untukku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." Maksudnya, jadikanlah untukku pujian yang baik yang terus berlangsung hingga akhir masa. Dan Allah pun mengabulkan doanya, lalu Dia karuniakan kepadanya ilmu dan hikmah sehingga dengannnya dia menjadi rasul yang termulia, dan dimasukkanNya ke dalam kelompok saudara-sauda-ranya, yaitu para rasul. Allah telah menjadikannya sebagai manu-sia yang dicintai, diterima, dimuliakan dan dipuji di dalam semua agama pada setiap waktu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتَرَكۡنَا عَلَيۡهِ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ 108 سَلَٰمٌ عَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ 109 كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ 110 إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُؤۡمِنِينَ 111 ﴿ "Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim,' demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." (Ash-Shaffat: 108-111). (85) ﴾ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan," maksudnya termasuk penghuni surga yang diwariskan oleh Allah kepada me-reka. Maka Allah pun mengabulkan doanya, Dia pun mengangkat kedudukannya di dalam Surga Na'im. (86) ﴾ وَٱغۡفِرۡ لِأَبِيٓ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلضَّآلِّينَ 86 ﴿ "Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya dia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat." Ini adalah doa (yang) dia panjatkan disebabkan janjinya kepada ayahnya yang telah dia katakan kepadanya, ﴾ سَأَسۡتَغۡفِرُ لَكَ رَبِّيٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ بِي حَفِيّٗا 47 ﴿ "Aku akan meminta ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku." (Maryam: 47). Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya ke-pada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). (87-89) ﴾ وَلَا تُخۡزِنِي يَوۡمَ يُبۡعَثُونَ ﴿ "Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan," maksudnya, dengan dicaci karena beberapa dosa, dan dengan siksaan serta dengan dipermalukan karena dosa-dosa itu. Akan tetapi, bahagiakanlah aku pada hari itu, yaitu hari yang tidak berguna lagi harta dan anak laki-laki, ﴾ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ﴿ "kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Inilah yang akan berguna baginya saat itu, dan inilah orang yang selamat dari siksa dan yang berhak mendapat limpahan pahala. Hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang selamat dari syirik, keraguan, cinta kepada keburukan, suka melakukan bid'ah dan dosa, dan keselamatannya dari hal-hal tersebut mengharus-kannya berpegang teguh kepada lawan-lawannya, berupa ikhlas, ilmu, yakin, cinta kepada kebaikan dan menghiaskannya di dalam hati, dan mengharuskan kehendak dan kecintaannya mengikuti cinta Allah, dan hawa nafsunya mengikuti apa saja yang datang dari Allah. (90-95) Kemudian Allah menjelaskan sebagian keadaan pada hari yang sangat dahsyat itu dan pahala, serta hukuman yang ada padanya, seraya berfirman, ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "dan didekatkanlah surga" maksudnya dijadikan dekat, ﴾ لِلۡمُتَّقِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang bertakwa," maksudnya orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-perintahNya, menjauhi larangan-laranganNya dan takut terhadap murka dan siksaNya. ﴾ وَبُرِّزَتِ ٱلۡجَحِيمُ ﴿ "Dan diperlihatkan dengan jelas Neraka Jahim," maksudnya, Neraka Jahim ditampakkan dalam keadaan telah siap dengan segala siksanya, ﴾ لِلۡغَاوِينَ ﴿ "kepada orang-orang yang sesat," yaitu orang-orang yang tenggelam di dalam kemaksiatan kepada Allah dan lancang terhadap segala sesuatu yang diharamkanNya, mendustakan para rasulNya serta menolak ajaran kebenaran yang mereka bawa. ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡبُدُونَ 92 مِن دُونِ ٱللَّهِ هَلۡ يَنصُرُونَكُمۡ أَوۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "Dan dikatakan kepada mereka, 'Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu sembah, selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?" Maksudnya, sama sekali hal itu tidak akan terjadi sedikit pun, dan tampaklah kedustaan dan kenistaan mereka, dan jelas pulalah kerugian dan kehinaan mereka, penye-salan mereka nyata dan segala usaha mereka menjadi sia-sia. ﴾ فَكُبۡكِبُواْ فِيهَا ﴿ "Maka mereka dijungkirkan ke dalamnya." Maksudnya, diceburkan ke dalam neraka. ﴾ هُمۡ ﴿ "Mereka," maksudnya, segala sesuatu yang dahulu mereka sembah, ﴾ وَٱلۡغَاوُۥنَ ﴿ "bersama-sama orang-orang yang sesat," orang-orang yang menjadi penyembahnya, ﴾ وَجُنُودُ إِبۡلِيسَ أَجۡمَعُونَ ﴿ "dan bala tentara iblis semuanya" dari bangsa manusia dan bangsa jin, yaitu mereka yang telah diseret ke dalam kemaksiatan sekuat-kuatnya dan menguasai mereka karena kesyirikan dan ke-tidakberimanan mereka, hingga mereka menjadi para penyerunya dan menjadi para pengupaya untuk memperoleh keridhaannya. Di antara mereka ada yang menjadi penyeru untuk taat kepadanya, ada yang memenuhi seruannya dan ada pula yang menjadi pen-taklid buta kepada mereka dalam kesyirikan. (96-104) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata." Maksudnya adalah bala tentara iblis, para pemuja berhala dan patung-patung yang mereka sembah, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ 97 إِذۡ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita telah mem-persamakan kamu dengan Rabb semesta alam," dalam ibadah, mencintai, takut dan berharap, dan kami berdoa kepada kalian sebagaimana kami berdoa kepadaNya. Kesesatan mereka saat itu menjadi jelas bagi mereka. Mereka pun mengakui keadilan Allah dalam meng-hukum mereka, dan hukuman itu benar-benar tepat pada tempat-nya. Mereka tidak menyetarakan berhala-berhala itu dengan Allah, Rabb semesta alam kecuali dalam hal ibadah, bukan dalam hal menciptakan. Hal ini terbukti melalui ucapan mereka, ﴾ بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dengan Rabb semesta alam." Mereka mengakui bahwa Allah adalah Rabb semesta alam semuanya, yang termasuk di dalamnya adalah patung-patung dan semua berhala mereka. ﴾ وَمَآ أَضَلَّنَآ ﴿ "Dan tiadalah yang menyesatkan kami," dari jalan hi-dayah dan kebenaran, dan mengajak kami ke jalan kesesatan dan kefasikan, ﴾ إِلَّا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "kecuali orang-orang yang berdosa." Mereka adalah para pemuka yang menyeru kepada api neraka. ﴾ فَمَا لَنَا ﴿ "Maka kami tidak mempunyai," pada saat itu, ﴾ مِن شَٰفِعِينَ ﴿ "pemberi syafa'at seorang pun," yang dapat memberikan syafa'at ke-pada kami untuk menyelamatkan kami dari azabNya, ﴾ وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٖ ﴿ "dan tidak pula mempunyai teman yang akrab," maksudnya, seorang kerabat setia yang berguna bagi kami, sebagaimana biasanya da-hulu di dunia. Lalu mereka berputus asa dari segala kebaikan dan bersedih hati terhadap apa yang telah mereka lakukan, dan mereka berangan-angan untuk kembali ke dunia agar bisa melakukan amal shalih. ﴾ فَلَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ ﴿ "Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi," mak-sudnya, bisa kembali ke dunia, ﴾ فَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman," agar kami bisa selamat dari azab dan berhak mendapat pahala! Sama sekali tidak mungkin, sama sekali tidak mungkin! Apa yang mereka inginkan itu sudah tertutup dari mereka dan semua bentuk penggadaian sudah ditutup. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian," yaitu pada yang telah Kami jelaskan kepada kalian dan Kami uraikan, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda-tanda," bagi kalian, ﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "tetapi ke-banyakan mereka tidak beriman," sekalipun tanda-tanda (bukti-bukti kebenaran) itu diturunkan. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ 104 ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang."

Asy-Syu'ara' 26:105

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:106

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:107

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:108

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:109

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:110

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:111

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:112

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:113

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:114

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:115

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:116

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:117

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:118

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:119

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:120

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:121

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:122

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak ber-takwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.' Mereka berkata, 'Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?' Nuh menja-wab, 'Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.' Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.' Nuh berkata, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku.' Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 105-122). (105-110) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pendustaan kaum nabi Nuh terhadap rasul mereka, yaitu Nuh, dan (menjelaskan) jawabannya terhadap mereka dan jawaban mereka terhadapnya, serta kesudah-an semuanya, seraya berfirman, ﴾ كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Kaum Nuh telah mendustakan para rasul," semuanya. Sebab pendustaan mereka ter-hadap Nuh adalah sama dengan mendustakan semua rasul, karena mereka semua sepakat atas satu dakwah dan satu informasi. Maka mendustakan salah satunya sama dengan mendustakan semua ke-benaran yang mereka bawa. Mereka telah mendustakannya. ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "ketika saudara mereka berkata kepada mereka." Maksudnya, saudara senasab, yaitu ﴾ نُوحٌ ﴿ "Nuh." Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى hanya mengangkat para rasul itu dari nasab (keturunan, marga) kaum yang mana dia diutus ke-pada mereka, agar mereka tidak merasa jijik (segan) untuk tunduk kepadanya karena sudah mengetahui hakikat jati dirinya, sehingga mereka tidak perlu mencarinya. Maka Nuh berkata kepada mereka dengan ucapan yang paling santun, sebagaimana cara para rasul lainnya, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa," kepada Allah, lalu meninggalkan kebiasaan kalian menyembah berhala-berhala, dan memurnikan ibadah kepada Allah semata. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul keperca-yaan untuk kalian," maka keberadaan sebagai utusan (rasul) yang diutus kepada mereka secara khusus mewajibkan mereka mene-rima apa saja yang diajarkan kepada mereka, beriman kepadanya dan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas pengistimewaan yang dianu-gerahkan kepada mereka berupa seorang rasul yang mulia ini. Dan keberadaannya sebagai orang yang terpercaya itu berarti dia sama sekali tidak berdusta atas Nama Allah, tidak menambah wahyuNya dan tidak pula menguranginya. Hal ini mengharuskan mereka untuk membenarkan semua khabar yang diberitakannya dan mematuhi semua perintah-perintahnya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku," dalam hal apa saja yang dia perintahkan kepada kalian dan dia larang terhadap kalian. Inilah sebenarnya konsekuensi dari keberadaannya sebagai seorang rasul yang terpercaya yang diutus kepada mereka. Maka dari itu dia menyebutkan sebab akibatnya dengan huruf fa` (pada ungkapan فَاتَّقُوا اللّٰهَ) yang menunjukkan arti "sebab" lalu menyebutkan sebab yang mengharuskan kemudian menyebutkan tidak adanya peng-halang, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu," sehingga akan membuat kalian terbebani dengan beban yang berat. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb se-mesta alam." Aku berharap melalui seruan ini kedekatan dariNya dan pahala yang berlimpah. Adapun kalian, maka angan-angan dan puncak keinginanku dari kalian adalah memberi nasihat kepada kalian dan kalian mau menempuh jalan yang lurus. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah ke-padaku." Beliau mengulangi ungkapan ini karena beliau berulang-ulang mengajak kaumnya dan karena lamanya beliau dalam mela-kukan tugas ini, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "Lalu dia tinggal di tengah-tengah mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun." (Al-Ankabut: 14) Dan, ﴾ قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوۡتُ قَوۡمِي لَيۡلٗا وَنَهَارٗا 5 فَلَمۡ يَزِدۡهُمۡ دُعَآءِيٓ إِلَّا فِرَارٗا 6 ﴿ "Nuh berkata, 'Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)'." (Nuh: 5-6). (111) Maka mereka berkata sebagai jawaban terhadap dakwahnya dan penolakan terhadapnya dengan sesuatu yang tidak laik untuk dijadikan sebagai penolakan, ﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" Maksudnya, bagaimana mungkin kami akan mengikutimu sedangkan kami tidak melihat para pengikutmu melainkan orang-orang hina, rendah dan sampah masyarakat. De-ngan ini dapat diketahui kesombongan mereka terhadap kebenaran dan kebodohan mereka terhadap kenyataan. Sebab, sesungguhnya kalau saja tujuan mereka adalah kebe-naran tentu mereka akan mengatakan, (kalau seandainya mereka memiliki rasa ketidakjelasan dan keraguan terhadap dakwahnya), "Jelaskanlah kepada kami kebenaran apa yang engkau ajarkan ini dengan cara-cara yang bisa mengantarkan kepadanya!" Kalau seandainya mereka mengamati dengan sebenar-benarnya, tentu mereka mengetahui bahwa para pengikutnya adalah orang-orang yang mulia, sebaik-baik manusia, orang-orang yang memiliki akal yang matang dan akhlak mulia, dan bahwa sebenarnya orang-orang yang hina adalah mereka yang fungsi akalnya dicabut hingga menganggap baik penyembahan terhadap batu-batu, rela sujud dan berdoa kepadanya, serta enggan tunduk kepada dakwah para rasul yang mulia. Hanya dengan (mengetahui tema) pembicaraan batil yang diungkapkan oleh salah satu dari dua pendebat itu, maka sangat mudah diketahui rusaknya pembicaraan itu, dan akal sudah bisa memastikan kebenaran klaim lawannya. Maka tatkala kita telah mendengar tentang kaum Nuh, yaitu bahwa mereka telah berkata di dalam penolakan mereka terhadap dakwah Nuh,﴾ أَنُؤۡمِنُ لَكَ وَٱتَّبَعَكَ ٱلۡأَرۡذَلُونَ ﴿ "Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?" di mana mereka berpegang kepada prinsip yang setiap orang mengetahui ketidakbenarannya dalam penolakannya terhadap dakwah Nuh, maka kita dapat mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang sesat lagi salah, sekalipun kita belum menyaksikan bukti-bukti (mukjizat) dari Nuh dan dakwahnya yang mengindikasikan kepastian dan keyakian akan kejujurannya dan kebenaran ajaran yang dibawanya. (112-115) Lalu Nuh عليه السلام menjawab, ﴾ وَمَا عِلۡمِي بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 112 إِنۡ حِسَابُهُمۡ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّيۖ لَوۡ تَشۡعُرُونَ ﴿ "Bagaimana aku mengetahui apa yang telah me-reka kerjakan? Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Rabbku, kalau kamu menyadari." Maksudnya, amal perbuatan mereka dan perhitungannya adalah tanggung jawab Allah, sedang-kan kewajibanku hanyalah menyampaikan (tabligh), dan biarkan-lah mereka (jangan mencampuri urusan mereka). Jika ajaran yang aku bawa ini yang benar, maka tunduklah kepadanya, dan masing-masing mempunyai amal sendiri-sendiri. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Seakan-akan mereka, (semoga Allah memperburuk mereka), menuntut kepada Nuh agar mengusir orang-orang yang beriman itu karena kecongkakan dan kesombongan mereka (kaum yang tidak beriman) agar mereka mau beriman. Maka Nuh mengatakan, ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِطَارِدِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman." Sebab mereka tidak berhak diusir dan dihina, melainkan mereka lebih berhak dihormati, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan, sebagaimana difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا جَآءَكَ ٱلَّذِينَ يُؤۡمِنُونَ بِـَٔايَٰتِنَا فَقُلۡ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۖ كَتَبَ رَبُّكُمۡ عَلَىٰ نَفۡسِهِ ٱلرَّحۡمَةَ ﴿ "Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah, 'Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu.' Rabbmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang." (Al-An'am: 54). ﴾ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Tidaklah aku (ini) melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan." Maksudnya, aku ini hanyalah seorang pemberi peringatan dan penyampai dari Allah dan seorang yang bersung-guh-sungguh di dalam memberikan nasihat kepada manusia, dan aku sama sekali tidak memiliki urusan sedikit pun, karena sesung-guhnya urusannya adalah milik Allah. (116) Kemudian Nuh عليه السلام terus berdakwah kepada mereka siang dan malam, secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak bertambah kecuali makin jauh, dan ﴾ قَالُواْ لَئِن لَّمۡ تَنتَهِ يَٰنُوحُ ﴿ "Mereka berkata, 'Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh'," dari dakwahmu kepada kami agar kami hanya beribadah kepada Allah saja, ﴾ لَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡمَرۡجُومِينَ ﴿ "niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam." Maksudnya, niscaya kami akan membunuhmu dengan sekeji-kejinya, yaitu dilempar dengan batu hingga mati, sebagaimana anjing dibunuh. Sungguh celaka mereka! Betapa sangat buruknya respons mereka! Mereka merespons orang yang sangat tulus nan terpercaya yang sangat sayang kepada me-reka daripada diri mereka sendiri, dengan seburuk-buruk respon. (117-118) Sudah tidak diragukan lagi tatkala kezhaliman mereka memuncak dan kekufuran mereka makin dahsyat, maka Nabi mereka mendoakan mereka dengan suatu doa yang pasti menimpa mereka, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). Sedangkan di sini dia mengatakan, ﴾ رَبِّ إِنَّ قَوۡمِي كَذَّبُونِ 117 فَٱفۡتَحۡ بَيۡنِي وَبَيۡنَهُمۡ فَتۡحٗا ﴿ "Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku; maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka." Maksudnya, binasakanlah orang yang membangkang di antara kami, sedangkan dia tahu bahwa mereka adalah para pembangkang yang zhalim, maka dari itu dia berkata, ﴾ وَنَجِّنِي وَمَن مَّعِيَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang beriman besertaku." (119-122) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ فِي ٱلۡفُلۡكِ ﴿ "Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam bahtera," maksudnya, kapal; ﴾ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "yang penuh muatan," yang terdiri dari manusia dan ber-bagai macam hewan. ﴾ ثُمَّ أَغۡرَقۡنَا بَعۡدُ ﴿ "Kemudian sesudah itu Kami teng-gelamkan sesudahnya." Maksudnya, setelah Nuh dan orang-orang yang beriman bersamanya, ﴾ ٱلۡبَاقِينَ ﴿ "orang-orang yang tinggal." Mak-sudnya, kami menenggelamkan seluruh kaumnya. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu." Maksudnya, pada keselamatan Nuh dan para pengikutnya dan kebinasaan orang-orang yang mendustakannya, ﴾ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "benar-benar terdapat tanda," yang membuktikan kebenaran para rasul Kami dan kebe-naran ajaran yang mereka bawa dan kebatilan ajaran yang dianut oleh musuh-musuh mereka yang mendustakan itu. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang me-lumpuhkan musuh-musuhNya dengan keperkasaanNya, sehingga Dia menenggelamkannya dengan badai topan. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" kepada para waliNya (orang-orang yang setia kepadaNya), di mana Dia telah menyelamatkan Nuh beserta orang-orang yang bersamanya dari kaum yang ber-iman.

Asy-Syu'ara' 26:123

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:124

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:125

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:126

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:127

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:128

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:129

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:130

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:131

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:132

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:133

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:134

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:135

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:136

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:137

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:138

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.

Asy-Syu'ara' 26:139

{كَذَّبَتْ عَادٌ الْمُرْسَلِينَ (123) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ هُودٌ أَلَا تَتَّقُونَ (124) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (125) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (126) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (127) أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ (128) وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُونَ (129) وَإِذَا بَطَشْتُمْ بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ (130) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ (131) وَاتَّقُوا الَّذِي أَمَدَّكُمْ بِمَا تَعْلَمُونَ (132) أَمَدَّكُمْ بِأَنْعَامٍ وَبَنِينَ (133) وَجَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (134) إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (135) قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ (136) إِنْ هَذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ (137) وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ (138) فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (139) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (140). "Kaum Ad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, 'Mengapa kamu tidak bertak-wa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)? Dan apabila kamu menyik-sa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.' Mereka menjawab, 'Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diazab.' Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami membinasakan mereka. Sesungguhnya pada yang de-mikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (Asy-Syu'ara`: 123-140). (123-127) Qabilah yang disebut Ad telah mendustakan rasul mereka, yaitu Hud. Dan pendustaan mereka terhadapnya (juga) merupakan pendustaan terhadap para rasul lainnya karena kesamaan dakwah mereka, ﴾ إِذۡ قَالَ لَهُمۡ أَخُوهُمۡ ﴿ "Ketika berkata kepada mereka saudara mereka," senasab, yaitu ﴾ هُودٌ ﴿ "Hud" dengan lembut dan bahasa yang santun, ﴾ أَلَا تَتَّقُونَ ﴿ "Mengapa kamu tidak bertakwa" kepada Allah, (padahal) dulu kalian meninggalkan syirik dan peribadatan kepada selainNya. ﴾ إِنِّي لَكُمۡ رَسُولٌ أَمِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan kepadamu." Maksudnya, aku telah diutus oleh Allah kepada kalian sebagai rahmat dan perhatianNya terhadap kalian, sedangkan aku adalah orang kepercayaan, kalian mengetahui hal itu dariku. Setelah itu dilanjutkan dengan FirmanNya, ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُونِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku." Maksudnya, tunaikanlah hak-hak Allah سبحانه وتعالى, yaitu takwa, dan tunaikanlah hakku, yaitu menaati apa saja yang aku perintahkan kepada kalian dan apa-apa yang aku larang. Hal ini adalah kewajiban agar kalian mengikutiku dan taat kepadaku, dan sudah tidak ada penghalang yang dapat mencegah kalian untuk beriman. Sebab aku tidak me-minta upah apa pun atas penyampaian dan nasihatku kepada kalian, sehingga kalian tidak merasa terbebani dengan tanggungan,﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam," yang telah melimpahkan nikmat-nikmatNya kepada mereka dan mencurahkan berbagai karunia dan kemurahanNya kepada mereka, terutama sesuatu yang dilimpahkanNya kepada para wali dan para nabiNya. (128-135) ﴾ أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ﴿ "Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi," maksudnya, tempat masuk di antara perbukitan, ﴾ ءَايَةٗ ﴿ "bangunan," yaitu sebagai tanda (kemegahan) ﴾ تَعۡبَثُونَ ﴿ "untuk bermain-main." Maksudnya, kalian melakukan itu semua dengan sia-sia bukan untuk suatu manfaat yang kembali kepada kemas-lahatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَتَتَّخِذُونَ مَصَانِعَ ﴿ "dan kamu membuat bangunan-bangunan." Maksudnya, kolam-kolam air dan tempat-tempat mengalirkan air, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تَخۡلُدُونَ ﴿ "dengan maksud supaya kamu kekal." Padahal tidak ada jalan bagi siapa pun untuk bisa kekal. ﴾ وَإِذَا بَطَشۡتُم ﴿ "Dan apabila kamu menyiksa," manusia, ﴾ بَطَشۡتُمۡ جَبَّارِينَ ﴿ "maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis," dalam bentuk membunuh, mencambuk, dan merampas harta. Memang Allah سبحانه وتعالى telah memberikan kepada mereka suatu kekuatan yang hebat, dan semestinya yang wajib mereka lakukan adalah mempergunakan kekuatan ini untuk ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, akan tetapi mereka berlaku congkak dan sombong, dan mengatakan, "Siapa yang lebih kuat dari kami?" Mereka telah meng-habiskan kekuatan mereka dalam berbagai kedurhakaan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan dalam perbuatan sia-sia dan kebodohan. Maka dari itu mereka dilarang oleh Nabi mereka dari perbuatan tersebut. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah," tinggalkanlah kemusyrik-an dan kecongkakan kalian, ﴾ وَأَطِيعُونِ ﴿ "dan taatlah kepadaku," karena kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang utusan Allah kepada kalian, yang dipercaya lagi tulus. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱلَّذِيٓ أَمَدَّكُم ﴿ "Dan ber-takwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu," mak-sudnya, yang telah memberikan kepada kalian, ﴾ بِمَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "apa yang kamu ketahui." Maksudnya, yang telah mengaruniakan kepada ka-lian hal-hal yang sudah diketahui dan tidak bisa dipungkiri, yaitu berupa binatang-binatang ternak. ﴾ أَمَدَّكُم بِأَنۡعَٰمٖ ﴿ "Dia telah menganu-gerahkan kepadamu binatang-binatang ternak," yaitu berupa unta, sapi dan domba, ﴾ وَبَنِينَ ﴿ "dan anak-anak." Maksudnya, banyak anak keturunan. Dia telah memperbanyak harta kekayaan kalian dan memperbanyak anak-anak kalian, terutama anak-anak laki-laki yang merupakan yang terbaik dari dua jenis manusia. Ini adalah suatu bentuk tadzkir (mengingatkan kepada) mere-ka dengan berbagai kenikmatan. Lalu Allah mengingatkan mereka dengan akan datangnya azab Allah, seraya berfirman, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab yang besar." Maksudnya, sesungguhnya aku sangat kasihan kepada kalian, aku sangat baik kepada kalian, aku khawatir kalau kalian ditimpa azab yang sangat besar. Apabila azab itu menimpa, maka tidak ada yang bisa menolaknya jika kalian terus tenggelam di dalam kekafiran dan kecongkakan kalian. (136-138) Maka mereka berkata dengan menentang kebe-naran lagi mendustakan Nabi mereka, ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡنَآ أَوَعَظۡتَ أَمۡ لَمۡ تَكُن مِّنَ ٱلۡوَٰعِظِينَ ﴿ "Sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasihat atau tidak memberi nasihat." Maksudnya, semuanya sama! Ini adalah puncak kecongkakan. Karena suatu kaum (umat manusia) yang sampai pada keadaan di mana nasihat-nasihat Allah yang dapat mencairkan gunung-gunung yang tuli lagi keras dan dapat meremukkan hati orang-orang yang berakal, adanya nasihat itu dan ketiadaannya sama saja bagi mereka, adalah benar-benar merupakan kaum yang kezhalimannya telah memuncak, kesengsaraannya sudah amat sangat dahsyat dan sudah terputus harapan untuk bisa memberi mereka hidayah. Oleh karena itu, mereka mengatakan, ﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا خُلُقُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "Ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu." Maksudnya, semua keadaan dan kenikmat-an dan lain-lainnya itu adalah kebiasaan orang-orang terdahulu, yang kadang-kadang mereka tidak membutuhkan dan kadang-kadang mereka membutuhkan. Inilah keadaan (rutinitas) tahunan. Padahal semua keadaan tersebut adalan ujian dan cobaan dari Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya. ﴾ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ ﴿ "Dan kami sekali-kali tidak akan diazab." Ini adalah suatu pengingkaran mereka terhadap kebangkitan (kiamat), atau merupakan cemoohan mereka terhadap nabi, (yang berarti): Kalaupun kami dibangkitkan lagi, maka sesungguhnya kami, sebagaimana berbagai nikmat dilimpah-kan kepada kami di dunia, maka demikian pula, kenikmatan itu akan terus dilimpahkan kepada kami bila kami dibangkitkan. (139-140) ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," mak-sudnya, sikap mendustakan itu telah menjadi karakter dan moral mereka yang tidak dapat dicegah oleh siapa pun. ﴾ فَأَهۡلَكۡنَٰهُمۡۚ ﴿ "Lalu Kami membinasakan mereka," ﴾ بِرِيحٖ صَرۡصَرٍ عَاتِيَةٖ 6 سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 6-7). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗۖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda" yang membuktikan kebenaran Nabi kami, Hud عليه السلام dan kebenaran ajaran yang dibawanya, serta kebatilan agama yang dianut kaumnya, berupa kesyirikan dan kecongkakan.﴾ وَمَا كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Tetapi kebanyakan mereka tidak beriman," sekalipun sudah ada tanda-tanda yang bisa menunjukkan kepada iman. ﴾ وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Mahaperkasa," yang telah membinasakan kaum Hud dengan kekuatanNya di atas kekuatan dan kebringasan mereka, ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap NabiNya, Hud di mana Dia menyelamatkannya beserta para pengikutnya dari kalangan kaum Mukminin.