Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-'Ankabut 29:1 – Ar-Rum 30:60
Daftar isi
- Al-'Ankabut 29:1
- Al-'Ankabut 29:2
- Al-'Ankabut 29:3
- Al-'Ankabut 29:4
- Al-'Ankabut 29:5
- Al-'Ankabut 29:6
- Al-'Ankabut 29:7
- Al-'Ankabut 29:8
- Al-'Ankabut 29:9
- Al-'Ankabut 29:10
- Al-'Ankabut 29:11
- Al-'Ankabut 29:12
- Al-'Ankabut 29:13
- Al-'Ankabut 29:14
- Al-'Ankabut 29:15
- Al-'Ankabut 29:16
- Al-'Ankabut 29:17
- Al-'Ankabut 29:18
- Al-'Ankabut 29:19
- Al-'Ankabut 29:20
- Al-'Ankabut 29:21
- Al-'Ankabut 29:22
- Al-'Ankabut 29:23
- Al-'Ankabut 29:24
- Al-'Ankabut 29:25
- Al-'Ankabut 29:26
- Al-'Ankabut 29:27
- Al-'Ankabut 29:28
- Al-'Ankabut 29:29
- Al-'Ankabut 29:30
- Al-'Ankabut 29:31
- Al-'Ankabut 29:32
- Al-'Ankabut 29:33
- Al-'Ankabut 29:34
- Al-'Ankabut 29:35
- Al-'Ankabut 29:36
- Al-'Ankabut 29:37
- Al-'Ankabut 29:38
- Al-'Ankabut 29:39
- Al-'Ankabut 29:40
- Al-'Ankabut 29:41
- Al-'Ankabut 29:42
- Al-'Ankabut 29:43
- Al-'Ankabut 29:44
- Al-'Ankabut 29:45
- Al-'Ankabut 29:46
- Al-'Ankabut 29:47
- Al-'Ankabut 29:48
- Al-'Ankabut 29:49
- Al-'Ankabut 29:50
- Al-'Ankabut 29:51
- Al-'Ankabut 29:52
- Al-'Ankabut 29:53
- Al-'Ankabut 29:54
- Al-'Ankabut 29:55
- Al-'Ankabut 29:56
- Al-'Ankabut 29:57
- Al-'Ankabut 29:58
- Al-'Ankabut 29:59
- Al-'Ankabut 29:60
- Al-'Ankabut 29:61
- Al-'Ankabut 29:62
- Al-'Ankabut 29:63
- Al-'Ankabut 29:64
- Al-'Ankabut 29:65
- Al-'Ankabut 29:66
- Al-'Ankabut 29:67
- Al-'Ankabut 29:68
- Al-'Ankabut 29:69
- Ar-Rum 30:1
- Ar-Rum 30:2
- Ar-Rum 30:3
- Ar-Rum 30:4
- Ar-Rum 30:5
- Ar-Rum 30:6
- Ar-Rum 30:7
- Ar-Rum 30:8
- Ar-Rum 30:9
- Ar-Rum 30:10
- Ar-Rum 30:11
- Ar-Rum 30:12
- Ar-Rum 30:13
- Ar-Rum 30:14
- Ar-Rum 30:15
- Ar-Rum 30:16
- Ar-Rum 30:17
- Ar-Rum 30:18
- Ar-Rum 30:19
- Ar-Rum 30:20
- Ar-Rum 30:21
- Ar-Rum 30:22
- Ar-Rum 30:23
- Ar-Rum 30:24
- Ar-Rum 30:25
- Ar-Rum 30:26
- Ar-Rum 30:27
- Ar-Rum 30:28
- Ar-Rum 30:29
- Ar-Rum 30:30
- Ar-Rum 30:31
- Ar-Rum 30:32
- Ar-Rum 30:33
- Ar-Rum 30:34
- Ar-Rum 30:35
- Ar-Rum 30:36
- Ar-Rum 30:37
- Ar-Rum 30:38
- Ar-Rum 30:39
- Ar-Rum 30:40
- Ar-Rum 30:41
- Ar-Rum 30:42
- Ar-Rum 30:43
- Ar-Rum 30:44
- Ar-Rum 30:45
- Ar-Rum 30:46
- Ar-Rum 30:47
- Ar-Rum 30:48
- Ar-Rum 30:49
- Ar-Rum 30:50
- Ar-Rum 30:51
- Ar-Rum 30:52
- Ar-Rum 30:53
- Ar-Rum 30:54
- Ar-Rum 30:55
- Ar-Rum 30:56
- Ar-Rum 30:57
- Ar-Rum 30:58
- Ar-Rum 30:59
- Ar-Rum 30:60
Al-'Ankabut 29:1
"Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang se-belum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kesempurnaan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan bahwa hikmahNya tidak memas-tikan bahwa setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Mukmin dan mengklaim iman bagi dirinya, untuk tetap dalam kondisi selamat dari cobaan dan ujian, tidak menghadapi hal-hal yang mengganggu iman mereka atau cabang-cabangnya. Sebab, kalau perkaranya seperti itu, tentu tidak dapat dibedakan mana orang yang jujur (sejati) dari orang yang dusta (dalam ke-imanannya. Pent), antara orang yang berpegang kepada kebenaran dari orang yang berpegang kepada kebatilan. Akan tetapi, sunnah dan kebiasaannya terhadap umat-umat yang telah lalu dan terhadap umat ini adalah Dia akan menguji mereka dengan kesenangan dan kesengsaraan hidup, kesulitan dan kemudahan, hal-hal yang mem-buat semangat dan yang membuat benci, kekayaan dan kefakiran, dengan penguasaan musuh-musuh terhadap mereka pada saat-saat tertentu, dengan memerangi musuh dengan perkataan dan perbuatan serta dengan berbagai cobaan lainnya, yang semuanya kembali kepada cobaan syubhat yang melawan akidah, fitnah syahwat yang melawan kemauan. Maka siapa saja ketika munculnya berbagai syubhat itu iman-nya tetap kokoh, tidak goyah dan dia menolaknya dengan kebenar-an yang dimilikinya, dan di saat munculnya syahwat (rongrongan hawa nafsu) yang menyeret dan merangsang kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkan dari apa-apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya, dia berbuat sesuai dengan tuntutan iman dan ia bermujahadah (berupaya keras) melawan rongrongan nafsunya, maka hal itu membuktikan ketulusan dan kebenaran imannya. (Sebaliknya), siapa saja di saat munculnya berbagai syubhat, lalu syubhat itu menimbulkan keraguan dan kebimbangan di dalam hatinya, dan di saat munculnya rongrongan hawa nafsu, lalu nafsu itu menyeretnya kepada maksiat atau menghalanginya dari kewa-jiban-kewajiban agama, maka hal itu membuktikan bahwa imannya tidak benar dan tidak tulus. Manusia dalam posisi ini berbeda-beda derajatnya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Ada yang rendah dan ada yang tinggi. Maka kami memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga Dia mene-guhkan kami dengan al-Qaul ats-Tsâbit (tauhid) di dunia dan akhirat, dan meneguhkan hati kami pada agamaNya. Sesungguhnya cobaan dan ujian bagi jiwa tak ubahnya seperti alat tempa besi yang me-misahkan karat dari besi.
Al-'Ankabut 29:2
"Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang se-belum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kesempurnaan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan bahwa hikmahNya tidak memas-tikan bahwa setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Mukmin dan mengklaim iman bagi dirinya, untuk tetap dalam kondisi selamat dari cobaan dan ujian, tidak menghadapi hal-hal yang mengganggu iman mereka atau cabang-cabangnya. Sebab, kalau perkaranya seperti itu, tentu tidak dapat dibedakan mana orang yang jujur (sejati) dari orang yang dusta (dalam ke-imanannya. Pent), antara orang yang berpegang kepada kebenaran dari orang yang berpegang kepada kebatilan. Akan tetapi, sunnah dan kebiasaannya terhadap umat-umat yang telah lalu dan terhadap umat ini adalah Dia akan menguji mereka dengan kesenangan dan kesengsaraan hidup, kesulitan dan kemudahan, hal-hal yang mem-buat semangat dan yang membuat benci, kekayaan dan kefakiran, dengan penguasaan musuh-musuh terhadap mereka pada saat-saat tertentu, dengan memerangi musuh dengan perkataan dan perbuatan serta dengan berbagai cobaan lainnya, yang semuanya kembali kepada cobaan syubhat yang melawan akidah, fitnah syahwat yang melawan kemauan. Maka siapa saja ketika munculnya berbagai syubhat itu iman-nya tetap kokoh, tidak goyah dan dia menolaknya dengan kebenar-an yang dimilikinya, dan di saat munculnya syahwat (rongrongan hawa nafsu) yang menyeret dan merangsang kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkan dari apa-apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya, dia berbuat sesuai dengan tuntutan iman dan ia bermujahadah (berupaya keras) melawan rongrongan nafsunya, maka hal itu membuktikan ketulusan dan kebenaran imannya. (Sebaliknya), siapa saja di saat munculnya berbagai syubhat, lalu syubhat itu menimbulkan keraguan dan kebimbangan di dalam hatinya, dan di saat munculnya rongrongan hawa nafsu, lalu nafsu itu menyeretnya kepada maksiat atau menghalanginya dari kewa-jiban-kewajiban agama, maka hal itu membuktikan bahwa imannya tidak benar dan tidak tulus. Manusia dalam posisi ini berbeda-beda derajatnya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Ada yang rendah dan ada yang tinggi. Maka kami memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga Dia mene-guhkan kami dengan al-Qaul ats-Tsâbit (tauhid) di dunia dan akhirat, dan meneguhkan hati kami pada agamaNya. Sesungguhnya cobaan dan ujian bagi jiwa tak ubahnya seperti alat tempa besi yang me-misahkan karat dari besi.
Al-'Ankabut 29:3
"Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang se-belum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (Al-Ankabut: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-3) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kesempurnaan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan bahwa hikmahNya tidak memas-tikan bahwa setiap orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Mukmin dan mengklaim iman bagi dirinya, untuk tetap dalam kondisi selamat dari cobaan dan ujian, tidak menghadapi hal-hal yang mengganggu iman mereka atau cabang-cabangnya. Sebab, kalau perkaranya seperti itu, tentu tidak dapat dibedakan mana orang yang jujur (sejati) dari orang yang dusta (dalam ke-imanannya. Pent), antara orang yang berpegang kepada kebenaran dari orang yang berpegang kepada kebatilan. Akan tetapi, sunnah dan kebiasaannya terhadap umat-umat yang telah lalu dan terhadap umat ini adalah Dia akan menguji mereka dengan kesenangan dan kesengsaraan hidup, kesulitan dan kemudahan, hal-hal yang mem-buat semangat dan yang membuat benci, kekayaan dan kefakiran, dengan penguasaan musuh-musuh terhadap mereka pada saat-saat tertentu, dengan memerangi musuh dengan perkataan dan perbuatan serta dengan berbagai cobaan lainnya, yang semuanya kembali kepada cobaan syubhat yang melawan akidah, fitnah syahwat yang melawan kemauan. Maka siapa saja ketika munculnya berbagai syubhat itu iman-nya tetap kokoh, tidak goyah dan dia menolaknya dengan kebenar-an yang dimilikinya, dan di saat munculnya syahwat (rongrongan hawa nafsu) yang menyeret dan merangsang kepada maksiat dan dosa, atau yang memalingkan dari apa-apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya, dia berbuat sesuai dengan tuntutan iman dan ia bermujahadah (berupaya keras) melawan rongrongan nafsunya, maka hal itu membuktikan ketulusan dan kebenaran imannya. (Sebaliknya), siapa saja di saat munculnya berbagai syubhat, lalu syubhat itu menimbulkan keraguan dan kebimbangan di dalam hatinya, dan di saat munculnya rongrongan hawa nafsu, lalu nafsu itu menyeretnya kepada maksiat atau menghalanginya dari kewa-jiban-kewajiban agama, maka hal itu membuktikan bahwa imannya tidak benar dan tidak tulus. Manusia dalam posisi ini berbeda-beda derajatnya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Ada yang rendah dan ada yang tinggi. Maka kami memohon kepada Allah سبحانه وتعالى, semoga Dia mene-guhkan kami dengan al-Qaul ats-Tsâbit (tauhid) di dunia dan akhirat, dan meneguhkan hati kami pada agamaNya. Sesungguhnya cobaan dan ujian bagi jiwa tak ubahnya seperti alat tempa besi yang me-misahkan karat dari besi.
Al-'Ankabut 29:4
"Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu me-ngira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu." (Al-Ankabut: 4).
(4) Maksudnya, apakah orang-orang yang kemauan dan perhatiannya untuk melakukan dosa-dosa dan mengerjakan tin-dakan kriminal akan mengira bahwa amal perbuatan mereka akan diabaikan begitu saja, dan bahwa Allah akan melupakan mereka atau mereka akan mampu melewatiNya? Lalu karena itu mereka berani melakukannya dan mudah bagi mereka untuk melakukan-nya? ﴾ سَآءَ مَا يَحۡكُمُونَ ﴿ "Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu." Maksudnya, sungguh sangat buruk sekali keputusan mereka. Karena yang demikian itu adalah keputusan yang sangat zhalim, karena bermakna mengingkari kekuasaan Allah dan hikmahNya, dan (mengandung arti) bahwa mereka mempunyai kekuasaan yang dapat digunakan untuk melindungi diri mereka dari siksaan Allah, padahal mereka adalah makhluk yang paling lemah dan paling tidak berdaya.
Al-'Ankabut 29:5
"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan ba-rangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta." (Al-Ankabut: 5-6).
(5) Maksudnya, wahai orang yang mencintai Tuhannya, yang merindukan kedekatan dan perjumpaan denganNya, yang bergegas untuk memperoleh keridhaanNya! Bergembiralah dengan (sudah makin) dekatnya masa perjumpaan dengan Sang Kekasih. Sebab, ia pasti datang, dan segala sesuatu yang pasti datang itu berarti dekat. Maka berbekallah untuk perjumpaan denganNya, dan berjalanlah menujuNya dengan disertai jiwa optimis (rajâ`) sambil mengharapkan sampai kepadaNya.
(6) Akan tetapi tidak semua orang yang mengklaim itu diberi sesuatu yang diklaimnya, dan tidak pula setiap orang yang mendambakan (sesuatu) diberi sesuatu yang didambakannya. Sebab, Allah سبحانه وتعالى Maha mendengar semua suara (seruan, doa. Pent) lagi Maha mengetahui semua niat manusia. Maka siapa saja yang tulus dalam hal itu, niscaya Allah memberikan kepadanya apa yang dia harapkan. Dan siapa saja yang dusta, maka klaim apa pun tidak berguna baginya. Dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui siapa yang laik mendapatkan cintaNya, dan siapa yang tidak laik. ﴾ وَمَن جَٰهَدَ ﴿ "Dan barangsiapa yang berjihad," melawan nafsunya, setan dan musuhnya yang kafir, ﴾ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفۡسِهِۦٓۚ ﴿ "maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri," sebab manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, hasilnya kembali kepadanya, sedangkan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan seluruh semesta alam; Dia tidak pernah memerintahkan dengan sesuatu yang telah Dia perin-tahkan kepada mereka itu untuk mendapat manfaat darinya, dan tidak pula Dia melarang mereka dari sesuatu yang dilarangNya karena bakhil terhadap mereka. Sudah dimaklumi bahwa perintah dan larangan itu diperlu-kan adanya kesungguhan dari seorang mukallaf untuk bisa mela-kukannya, sebab nafsu (jiwa)nya berdasarkan tabiatnya selalu merasa berat untuk melakukan kebaikan, sedangkan setannya selalu mencegahnya untuk melakukan kebaikan itu, dan musuh-nya pun, yaitu orang kafir selalu menghalang-halanginya untuk menegakkan agamanya sebagaimana mestinya. Semua ini adalah rintangan-rintangan yang membutuhkan mujahadah-mujahadah (kesungguhan) dan usaha yang sangat kuat.
Al-'Ankabut 29:6
"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan ba-rangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta." (Al-Ankabut: 5-6).
(5) Maksudnya, wahai orang yang mencintai Tuhannya, yang merindukan kedekatan dan perjumpaan denganNya, yang bergegas untuk memperoleh keridhaanNya! Bergembiralah dengan (sudah makin) dekatnya masa perjumpaan dengan Sang Kekasih. Sebab, ia pasti datang, dan segala sesuatu yang pasti datang itu berarti dekat. Maka berbekallah untuk perjumpaan denganNya, dan berjalanlah menujuNya dengan disertai jiwa optimis (rajâ`) sambil mengharapkan sampai kepadaNya.
(6) Akan tetapi tidak semua orang yang mengklaim itu diberi sesuatu yang diklaimnya, dan tidak pula setiap orang yang mendambakan (sesuatu) diberi sesuatu yang didambakannya. Sebab, Allah سبحانه وتعالى Maha mendengar semua suara (seruan, doa. Pent) lagi Maha mengetahui semua niat manusia. Maka siapa saja yang tulus dalam hal itu, niscaya Allah memberikan kepadanya apa yang dia harapkan. Dan siapa saja yang dusta, maka klaim apa pun tidak berguna baginya. Dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui siapa yang laik mendapatkan cintaNya, dan siapa yang tidak laik. ﴾ وَمَن جَٰهَدَ ﴿ "Dan barangsiapa yang berjihad," melawan nafsunya, setan dan musuhnya yang kafir, ﴾ فَإِنَّمَا يُجَٰهِدُ لِنَفۡسِهِۦٓۚ ﴿ "maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri," sebab manfaatnya kembali kepada dirinya sendiri, hasilnya kembali kepadanya, sedangkan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan seluruh semesta alam; Dia tidak pernah memerintahkan dengan sesuatu yang telah Dia perin-tahkan kepada mereka itu untuk mendapat manfaat darinya, dan tidak pula Dia melarang mereka dari sesuatu yang dilarangNya karena bakhil terhadap mereka. Sudah dimaklumi bahwa perintah dan larangan itu diperlu-kan adanya kesungguhan dari seorang mukallaf untuk bisa mela-kukannya, sebab nafsu (jiwa)nya berdasarkan tabiatnya selalu merasa berat untuk melakukan kebaikan, sedangkan setannya selalu mencegahnya untuk melakukan kebaikan itu, dan musuh-nya pun, yaitu orang kafir selalu menghalang-halanginya untuk menegakkan agamanya sebagaimana mestinya. Semua ini adalah rintangan-rintangan yang membutuhkan mujahadah-mujahadah (kesungguhan) dan usaha yang sangat kuat.
Al-'Ankabut 29:7
"Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Ankabut: 7).
(7) Maksudnya, sesungguhnya orang-orang yang telah di-karunia iman dan amal shalih oleh Allah سبحانه وتعالى, niscaya Allah meng-ampuni dosa-dosa mereka; sebab amal-amal kebajikan itu dapat menghapuskan dosa-dosa, ﴾ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَحۡسَنَ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan," yaitu amal-amal kebajikan berupa berbagai kewajiban dan amal-amal sunnah. Itulah sebaik-baik amal yang dilakukan oleh seorang hamba; sebab dia pun melakukan amal-amal yang mubah dan lainnya.
Al-'Ankabut 29:8
"Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadaKu-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Al-Ankabut: 8).
(8) Maksudnya, Kami telah memerintahkan dan memesan-kan kepada manusia untuk berbuat baik (ihsan) kepada kedua ibu-bapaknya. Yaitu dengan cara berbakti dan berbuat baik kepada mereka berdua dalam bentuk perkataan dan perbuatan, dan hen-daklah selalu menjaga hal itu dan tidak mendurhakai dan berbuat buruk terhadap keduanya, baik dengan perkataan ataupun per-buatan. ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu" untuk memper-sekutukan, ﴾ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu," dan tidak ada seorang pun yang mem-punyai pengetahuan tentang kebenaran syirik kepada Allah. Ini menjelaskan betapa sangat seriusnya masalah syirik,﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَآۚ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadaKu-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan," lalu Aku akan memberikan pembalasan ter-hadap kalian. Maka dari itu berbuat baiklah kepada kedua orang tua kalian, dan dahulukanlah ketaatan kepada mereka berdua (dari-pada ketaatan kepada selainnya) kecuali ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Sebab, ketaatan kepada Allah dan RasulNya harus lebih didahulukan atas segala sesuatu.
Al-'Ankabut 29:9
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang shalih." (Al-Ankabut: 9).
(9) Maksudnya, barangsiapa yang beriman kepada Allah dan melakukan amal shalih, maka sesungguhnya Allah telah men-janjikan kepadanya untuk memasukkannya ke surga bersama ke-lompok hamba-hamba Allah yang shalih dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada` dan orang-orang shalih. Masing-masing (men-dapatkan balasan) menurut derajat dan martabatnya di sisi Allah. Jadi, iman yang shahih dan amal yang shalih adalah tanda bukti (yang menunjukkan) kebahagiaan pelakunya, dan dia adalah termasuk keluarga (kekasih) Allah dan kaum shalih dari hamba-hamba Allah.
Al-'Ankabut 29:10
"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap fitnah manusia sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata, 'Sesungguhnya kami besertamu.' Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik." (Al-Ankabut: 10-11).
(10-11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia pasti akan menguji orang yang mengaku beriman agar tampak orang yang tulus dari orang yang dusta, maka Allah menjelaskan bahwa di antara manusia ada sekelompok manusia yang tidak mempunyai kesabaran dalam menghadapi ujian dan mereka tidak mempunyai keteguhan pendirian dalam menghadapi sebagian goncangan, seraya berfirman, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ فَإِذَآ أُوذِيَ فِي ٱللَّهِ ﴿ "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah," seperti dicambuk, diambil hartanya atau dicerca agar keluar dari agamanya dan agar kembali kepada kebatilan, ﴾ جَعَلَ فِتۡنَةَ ٱلنَّاسِ كَعَذَابِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dia menganggap fitnah manusia sebagai azab Allah," maksudnya, dia menjadikannya sebagai penghalang baginya untuk beriman dan tetap berpendirian teguh padanya, sebagaimana siksaan itu menjadi penghalang dari sesuatu yang menjadi sebabnya. ﴾ وَلَئِن جَآءَ نَصۡرٞ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمۡۚ ﴿ "Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata, 'Sesungguhnya kami besertamu'," karena sejalan dengan ke-inginan hawa nafsunya. Kelompok manusia ini termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 11 ﴿ "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj:11). ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia," di mana Dia telah mengabarkan kepada kalian tentang kelompok yang demikian keadaannya ini, sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian, sehingga kalian dapat mengetahui betapa sempurnanya pengetahuan Allah dan betapa luas hikmahNya. ﴾ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan sesung-guhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik." Maka dari itu, Dia menetapkan adanya ujian dan cobaan agar ilmuNya tam-pak pada mereka, kemudian Dia memberikan pembalasan menurut apa yang tampak dari mereka, bukan menurut ilmu yang diketa-huiNya sendiri, sebab jika demikian bisa jadi mereka akan beralasan terhadap Allah bahwa kalau saja mereka tahu bahwa mereka diuji tentu mereka akan dapat bertahan.
Al-'Ankabut 29:11
"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah, dia menganggap fitnah manusia sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata, 'Sesungguhnya kami besertamu.' Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik." (Al-Ankabut: 10-11).
(10-11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwasanya Dia pasti akan menguji orang yang mengaku beriman agar tampak orang yang tulus dari orang yang dusta, maka Allah menjelaskan bahwa di antara manusia ada sekelompok manusia yang tidak mempunyai kesabaran dalam menghadapi ujian dan mereka tidak mempunyai keteguhan pendirian dalam menghadapi sebagian goncangan, seraya berfirman, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ فَإِذَآ أُوذِيَ فِي ٱللَّهِ ﴿ "Dan di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' maka apabila dia disakiti (karena dia beriman) kepada Allah," seperti dicambuk, diambil hartanya atau dicerca agar keluar dari agamanya dan agar kembali kepada kebatilan, ﴾ جَعَلَ فِتۡنَةَ ٱلنَّاسِ كَعَذَابِ ٱللَّهِۖ ﴿ "dia menganggap fitnah manusia sebagai azab Allah," maksudnya, dia menjadikannya sebagai penghalang baginya untuk beriman dan tetap berpendirian teguh padanya, sebagaimana siksaan itu menjadi penghalang dari sesuatu yang menjadi sebabnya. ﴾ وَلَئِن جَآءَ نَصۡرٞ مِّن رَّبِّكَ لَيَقُولُنَّ إِنَّا كُنَّا مَعَكُمۡۚ ﴿ "Dan sungguh jika datang pertolongan dari Rabbmu, mereka pasti akan berkata, 'Sesungguhnya kami besertamu'," karena sejalan dengan ke-inginan hawa nafsunya. Kelompok manusia ini termasuk orang-orang yang dikatakan oleh Allah, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعۡبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرۡفٖۖ فَإِنۡ أَصَابَهُۥ خَيۡرٌ ٱطۡمَأَنَّ بِهِۦۖ وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ فِتۡنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجۡهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةَۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ 11 ﴿ "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika dia memperoleh kebajikan, tetaplah dia dalam keadaan itu, dan jika dia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah dia ke belakang. Rugilah dia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj:11). ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱللَّهُ بِأَعۡلَمَ بِمَا فِي صُدُورِ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada manusia," di mana Dia telah mengabarkan kepada kalian tentang kelompok yang demikian keadaannya ini, sebagaimana telah dijelaskan kepada kalian, sehingga kalian dapat mengetahui betapa sempurnanya pengetahuan Allah dan betapa luas hikmahNya. ﴾ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan sesung-guhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik." Maka dari itu, Dia menetapkan adanya ujian dan cobaan agar ilmuNya tam-pak pada mereka, kemudian Dia memberikan pembalasan menurut apa yang tampak dari mereka, bukan menurut ilmu yang diketa-huiNya sendiri, sebab jika demikian bisa jadi mereka akan beralasan terhadap Allah bahwa kalau saja mereka tahu bahwa mereka diuji tentu mereka akan dapat bertahan.
Al-'Ankabut 29:12
"Dan berkatalah orang-orang yang kafir kepada orang-orang yang beriman, 'Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu,' dan mereka (sendiri) sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar pendusta. Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka, dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan." (Al-Ankabut: 12-13).
(12) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perbuatan mengada-ada kaum kafir dan seruan mereka kepada kaum Mukminin agar masuk kepada agama mereka; dan di dalamnya terdapat peri-ngatan terhadap kaum Mukminin untuk tidak terpedaya dengan mereka dan terjerumus di dalam makar mereka, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّبِعُواْ سَبِيلَنَا ﴿ "Dan berkatalah orang-orang yang kafir kepada orang-orang yang beriman, 'Ikutilah jalan kami'," maka tinggalkanlah agama kalian atau sebagian ajarannya, dan ikutilah agama kami, karena kami memberikan jaminan kepada kalian atas segala perkara itu dan kami akan menanggung ﴾ خَطَٰيَٰكُمۡ ﴿ "dosa-dosa kalian." Sesungguhnya masalah ini bukan wewenang mereka, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَمَا هُم بِحَٰمِلِينَ مِنۡ خَطَٰيَٰهُم مِّن شَيۡءٍۖ ﴿ "Dan mereka sendiri sedikit pun tidak memikul dosa-dosa mereka," tidak (memikul) sedikit dan tidak pula banyak. Pemikulan (penanggungan dosa) ini, sekalipun yang bersangkutan rela dengannya, namun ia sama sekali tidak berguna, karena kebenaran itu milik Allah semata. Allah سبحانه وتعالى tidak akan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk bertindak dalam haknya kecuali atas dasar perintah dan keputusanNya, sedangkan keputusanNya adalah bahwa tidak satu jiwa pun yang bisa menanggung dosa jiwa yang lain.
(13) Ketika FirmanNya, ﴾ وَمَا هُم بِحَٰمِلِينَ مِنۡ خَطَٰيَٰهُم مِّن شَيۡءٍۖ ﴿ "Dan mereka sendiri sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka" kadang bisa dipahami bahwasanya orang-orang kafir yang me-nyeru kepada kekafirannya –dan orang-orang yang semisal mereka yang menyerukan kepada kebatilannya– tidak (sanggup) memikul dosa kecuali dosa-dosa yang mereka lakukan, tanpa dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain sekalipun mereka adalah penyebabnya, maka Allah berfirman seraya menolak kemungkinan pemahaman keliru itu, ﴾ وَلَيَحۡمِلُنَّ أَثۡقَالَهُمۡ وَأَثۡقَالٗا مَّعَ أَثۡقَالِهِمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka," yaitu dosa-dosa yang mereka perbuatan ﴾ وَأَثۡقَالٗا مَّعَ أَثۡقَالِهِمۡۖ ﴿ "dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri," yaitu dosa-dosa yang disebabkan oleh mereka. Jadi, dosa yang dilakukan oleh sang pengikut, maka masing-masing pengikut dan orang yang diikuti mempunyai bagian darinya. Hal itu karena si pengikut yang bertindak sebagai pelaku dan yang langsung me-lakukannya, sedangkan orang yang diikuti telah menyebabkan orang lain melakukan dosa dan karena ia menyerukan kepadanya. Demikian pula halnya dengan kebaikan, apabila dilakukan oleh pengikut, maka ia akan mendapatkan pahalanya, karena ia secara langsung telah melakukannya, dan orang yang mengajak orang lain melakukannya pun mendapat pahala juga, karena ia telah menjadi sebab bagi orang lain, ﴾ وَلَيُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَمَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan," yaitu berupa kejahatan dan mempropa-gandakannya, serta ucapan mereka, ﴾ وَلۡنَحۡمِلۡ خَطَٰيَٰكُمۡ ﴿ "Dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu."
Al-'Ankabut 29:13
"Dan berkatalah orang-orang yang kafir kepada orang-orang yang beriman, 'Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu,' dan mereka (sendiri) sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar pendusta. Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka, dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri, dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan." (Al-Ankabut: 12-13).
(12) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perbuatan mengada-ada kaum kafir dan seruan mereka kepada kaum Mukminin agar masuk kepada agama mereka; dan di dalamnya terdapat peri-ngatan terhadap kaum Mukminin untuk tidak terpedaya dengan mereka dan terjerumus di dalam makar mereka, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّبِعُواْ سَبِيلَنَا ﴿ "Dan berkatalah orang-orang yang kafir kepada orang-orang yang beriman, 'Ikutilah jalan kami'," maka tinggalkanlah agama kalian atau sebagian ajarannya, dan ikutilah agama kami, karena kami memberikan jaminan kepada kalian atas segala perkara itu dan kami akan menanggung ﴾ خَطَٰيَٰكُمۡ ﴿ "dosa-dosa kalian." Sesungguhnya masalah ini bukan wewenang mereka, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَمَا هُم بِحَٰمِلِينَ مِنۡ خَطَٰيَٰهُم مِّن شَيۡءٍۖ ﴿ "Dan mereka sendiri sedikit pun tidak memikul dosa-dosa mereka," tidak (memikul) sedikit dan tidak pula banyak. Pemikulan (penanggungan dosa) ini, sekalipun yang bersangkutan rela dengannya, namun ia sama sekali tidak berguna, karena kebenaran itu milik Allah semata. Allah سبحانه وتعالى tidak akan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk bertindak dalam haknya kecuali atas dasar perintah dan keputusanNya, sedangkan keputusanNya adalah bahwa tidak satu jiwa pun yang bisa menanggung dosa jiwa yang lain.
(13) Ketika FirmanNya, ﴾ وَمَا هُم بِحَٰمِلِينَ مِنۡ خَطَٰيَٰهُم مِّن شَيۡءٍۖ ﴿ "Dan mereka sendiri sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka" kadang bisa dipahami bahwasanya orang-orang kafir yang me-nyeru kepada kekafirannya –dan orang-orang yang semisal mereka yang menyerukan kepada kebatilannya– tidak (sanggup) memikul dosa kecuali dosa-dosa yang mereka lakukan, tanpa dosa-dosa yang dilakukan oleh orang lain sekalipun mereka adalah penyebabnya, maka Allah berfirman seraya menolak kemungkinan pemahaman keliru itu, ﴾ وَلَيَحۡمِلُنَّ أَثۡقَالَهُمۡ وَأَثۡقَالٗا مَّعَ أَثۡقَالِهِمۡۖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban mereka," yaitu dosa-dosa yang mereka perbuatan ﴾ وَأَثۡقَالٗا مَّعَ أَثۡقَالِهِمۡۖ ﴿ "dan beban-beban di samping beban-beban mereka sendiri," yaitu dosa-dosa yang disebabkan oleh mereka. Jadi, dosa yang dilakukan oleh sang pengikut, maka masing-masing pengikut dan orang yang diikuti mempunyai bagian darinya. Hal itu karena si pengikut yang bertindak sebagai pelaku dan yang langsung me-lakukannya, sedangkan orang yang diikuti telah menyebabkan orang lain melakukan dosa dan karena ia menyerukan kepadanya. Demikian pula halnya dengan kebaikan, apabila dilakukan oleh pengikut, maka ia akan mendapatkan pahalanya, karena ia secara langsung telah melakukannya, dan orang yang mengajak orang lain melakukannya pun mendapat pahala juga, karena ia telah menjadi sebab bagi orang lain, ﴾ وَلَيُسۡـَٔلُنَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَمَّا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka ada-adakan," yaitu berupa kejahatan dan mempropa-gandakannya, serta ucapan mereka, ﴾ وَلۡنَحۡمِلۡ خَطَٰيَٰكُمۡ ﴿ "Dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu."
Al-'Ankabut 29:14
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka ada-lah orang-orang yang zhalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu, dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (Al-Ankabut: 14-15).
(14) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keputusan dan kebijak-sanaanNya di dalam menimpakan siksaan terhadap umat-umat yang mendustakan, dan bahwa Allah telah mengutus hamba dan RasulNya, Nuh عليه السلام kepada kaumnya (untuk) mengajak mereka kepada tauhid dan hanya beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata, me-larang mereka menyembah tandingan dan berhala, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ ﴿ "maka dia tinggal di antara mereka" sebagai nabi penyeru (selama) ﴾ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "seribu tahun kurang lima puluh tahun." Dia sama sekali tidak pernah berhenti mengajak mereka dan tidak pernah jemu memberi mereka nasihat, dia menyeru mereka siang dan malam, dengan cara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak mendapat petunjuk dan tidak mengikuti petunjuk-nya, malah mereka terus tenggelam dalam kekafiran dan kesesatan mereka, hingga akhirnya Nuh عليه السلام mendoakan keburukan terha-dap mereka beserta kesabaran, kelembutan dan penderitaan yang harus ditanggungnya, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). ﴾ فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ ﴿ "Maka mereka ditimpa banjir besar," maksud-nya, air yang turun dari langit dengan lebat, dan air yang keluar memancar dari perut bumi dengan deras, ﴾ وَهُمۡ ظَٰلِمُونَ ﴿ "dan mereka adalah orang-orang yang zhalim," berhak menerima azab.
(15) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَصۡحَٰبَ ٱلسَّفِينَةِ ﴿ "Maka Kami menyelamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu," yaitu mereka yang menumpang bersamanya; keluarga dan orang-orang yang beriman kepadanya ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَآ ﴿ "dan Kami jadikan peristiwa itu," yakni: Bahtera dan kisah Nuh (sebagai) ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "pelajaran bagi semua umat manusia," yang dapat mereka jadikan sebagai bahan pelajaran, yaitu bahwa orang yang mendustakan para rasul pasti kesudahannya adalah kebinasaan, dan bahwa orang-orang yang beriman, maka Allah akan memberikan kelegaan dari segala kesedihan dan jalan keluar dari segala kesempitan. Dan Allah سبحانه وتعالى juga menjadikan bahtera, yakni, yang sejenisnya sebagai tanda (pelajaran) bagi semua ma-nusia, yang dapat mereka jadikan sebagai pelajaran berharga, sebagai rahmat dari Tuhan mereka yang telah menyediakan segala fasilitasnya dan menjadikan mudah urusannya bagi mereka, dan menjadikannya mampu mengangkut mereka dan mengangkut barang-barang mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu pulau ke pulau yang lain.
Al-'Ankabut 29:15
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaum-nya, maka dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka ada-lah orang-orang yang zhalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu, dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia." (Al-Ankabut: 14-15).
(14) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keputusan dan kebijak-sanaanNya di dalam menimpakan siksaan terhadap umat-umat yang mendustakan, dan bahwa Allah telah mengutus hamba dan RasulNya, Nuh عليه السلام kepada kaumnya (untuk) mengajak mereka kepada tauhid dan hanya beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata, me-larang mereka menyembah tandingan dan berhala, ﴾ فَلَبِثَ فِيهِمۡ ﴿ "maka dia tinggal di antara mereka" sebagai nabi penyeru (selama) ﴾ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا ﴿ "seribu tahun kurang lima puluh tahun." Dia sama sekali tidak pernah berhenti mengajak mereka dan tidak pernah jemu memberi mereka nasihat, dia menyeru mereka siang dan malam, dengan cara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, namun mereka tidak mendapat petunjuk dan tidak mengikuti petunjuk-nya, malah mereka terus tenggelam dalam kekafiran dan kesesatan mereka, hingga akhirnya Nuh عليه السلام mendoakan keburukan terha-dap mereka beserta kesabaran, kelembutan dan penderitaan yang harus ditanggungnya, seraya berkata, ﴾ رَّبِّ لَا تَذَرۡ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ مِنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ دَيَّارًا 26 ﴿ "Ya Rabbku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi." (Nuh: 26). ﴾ فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ ﴿ "Maka mereka ditimpa banjir besar," maksud-nya, air yang turun dari langit dengan lebat, dan air yang keluar memancar dari perut bumi dengan deras, ﴾ وَهُمۡ ظَٰلِمُونَ ﴿ "dan mereka adalah orang-orang yang zhalim," berhak menerima azab.
(15) ﴾ فَأَنجَيۡنَٰهُ وَأَصۡحَٰبَ ٱلسَّفِينَةِ ﴿ "Maka Kami menyelamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu," yaitu mereka yang menumpang bersamanya; keluarga dan orang-orang yang beriman kepadanya ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَآ ﴿ "dan Kami jadikan peristiwa itu," yakni: Bahtera dan kisah Nuh (sebagai) ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "pelajaran bagi semua umat manusia," yang dapat mereka jadikan sebagai bahan pelajaran, yaitu bahwa orang yang mendustakan para rasul pasti kesudahannya adalah kebinasaan, dan bahwa orang-orang yang beriman, maka Allah akan memberikan kelegaan dari segala kesedihan dan jalan keluar dari segala kesempitan. Dan Allah سبحانه وتعالى juga menjadikan bahtera, yakni, yang sejenisnya sebagai tanda (pelajaran) bagi semua ma-nusia, yang dapat mereka jadikan sebagai pelajaran berharga, sebagai rahmat dari Tuhan mereka yang telah menyediakan segala fasilitasnya dan menjadikan mudah urusannya bagi mereka, dan menjadikannya mampu mengangkut mereka dan mengangkut barang-barang mereka dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu pulau ke pulau yang lain.
Al-'Ankabut 29:16
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:17
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:18
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:19
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:20
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:21
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:22
"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaum-nya, 'Kalian sembahlah Allah dan bertakwalah kepadaNya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Sesung-guhnya sesuatu yang kamu sembah selain Allah itu adalah ber-hala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepadamu; maka mintahlah rizki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyu-kurlah kepadaNya. Hanya kepadaNya kamu akan dikembalikan. Dan jika kamu (orang kafir) mendustakan, maka umat yang sebe-lum kamu juga telah mendustakan. Dan kewajiban rasul itu, tidak lain hanyalah menyampaikan (agama Allah) dengan seterang-terangnya.' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah, 'Berjalanlah di (muka) bumi, maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permu-laannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.' Allah mengazab siapa yang dikehendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya, dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan. Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit, dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung dan penolong selain Allah." (Al-Ankabut: 16-22).
(16) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwasanya Dia mengutus KhalilNya, Ibrahim عليه السلام kepada kaumnya untuk mengajak mereka kepada Allah, seraya berkata kepada mereka, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ ﴿ "Kalian sembahlah Allah," maksudnya, Esakanlah Dia, tuluslah beribadah kepadaNya dan patuhilah apa yang diperintahkan kepada kalian, ﴾ وَٱتَّقُوهُۖ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya," agar Dia tidak memurkai ka-lian, (karena jika demikian), maka Dia akan menyiksa kalian. Hal itu dengan cara meninggalkan segala apa saja dari kemaksiatan yang dapat membuatNya murka. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya ﴾ خَيۡرٞ لَّكُمۡ ﴿ "lebih baik bagimu," daripada mengabaikannya. Ungkapan ini termasuk dalam penggunaan kata tafdhil (yang bermakna lebih atau paling) dengan menyebutkan sesuatu yang tidak ada keutamaannya pada bagian yang lain. Ka-rena meninggalkan ibadah kepada Allah dan mengabaikan takwa kepadaNya sama sekali tidak ada baiknya dari semua sisinya. Sesungguhnya beribadah kepada Allah dan bertakwa kepadaNya adalah lebih baik bagi manusia, karena tidak ada jalan lain untuk memperoleh karamah (rahmat)Nya di dunia ini dan di akhirat nanti kecuali hanya dengannya. Semua kebaikan yang ada di dunia dan akhirat adalah merupakan pengaruh ibadah dan takwa kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "jika kamu mengetahui" hal itu. Maka ke-tahulilah semua perkara dan perhatikanlah mana yang lebih pantas didahulukan (diutamakan).
(17-18) Setelah Allah memerintah mereka beribadah dan bertakwa kepadaNya, lalu Dia melarang mereka beribadah kepada berhala, dan menjelaskan kerapuhannya dan ketidakberhakannya untuk diibadahi, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا وَتَخۡلُقُونَ إِفۡكًاۚ ﴿ "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta," kalian yang memahatnya dan kalian yang membuatnya dengan tangan kalian, dan kalian pula yang membuat nama-nama sembahan untuk berhala itu, dan kalian mengada-ada-kan kedustaan dengan memerintahkan untuk menyembahnya dan berpegang teguh kepada yang demikian, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ﴿ "Sesungguhnya yang" kamu sembah ﴾ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "selain Allah itu," di dalam kera-puhannya, dan bahwa sesungguhnya ia tidak mempunyai sesuatu yang dapat menjadikannya untuk disembah, ﴾ لَا يَمۡلِكُونَ لَكُمۡ رِزۡقٗا ﴿ "ia tidak mampu memberikan rizki kepadamu," seakan-akan di sini dikata-kan, "Sudah jelas sekali bagi kami bahwa berhala-berhala ini adalah makhluk (ciptaan) yang lemah, tidak mampu memberikan manfaat atau menimpakan bahaya, tidak pula mematikan, menghidupkan atau membangkitkan kembali. Dan sesungguhnya siapa saja yang demikian keadaannya maka ia sama sekali, sedikit pun tidak memi-liki hak untuk disembah dan dipertuhankan. Sedangkan hati pasti selalu mencari sembahan yang dipertuhankannya dan kepadaNya ia meminta segala hajatnya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menghimbau mereka beribadah hanya kepada yang berhak disembah, ﴾ فَٱبۡتَغُواْ عِندَ ٱللَّهِ ٱلرِّزۡقَ ﴿ "Maka mintalah rizki itu di sisi Allah," karena Dia-lah yang memper-mudah rizki lagi menentukan, yang mengabulkan permohonan orang yang berdoa kepadaNya untuk kebaikan agama dan dunia-nya, ﴾ وَٱعۡبُدُوهُ ﴿ "dan sembahlah Dia" semata, tidak ada sekutu bagiNya, karena hanya Dia Yang Mahasempurna, Maha Pemberi manfaat, Maha menimpakan bahaya, Yang Esa dalam mengatur, ﴾ وَٱشۡكُرُواْ لَهُۥٓۖ ﴿ "dan bersyukurlah kepadaNya" semata, karena seluruh apa saja berupa nikmat yang sampai kepada manusia adalah dariNya; dan seluruh apa saja yang tertolak dari mereka berupa bencana, maka Dia-lah yang menolaknya. ﴾ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Hanya kepadaNya kamu akan dikem-balikan," lalu Dia akan membalas kalian atas amal yang telah kalian kerjakan, dan Dia akan menerangkan kepada kalian apa saja yang telah kalian rahasiakan dan apa yang kalian tampakkan. Maka waspadalah saat datang kepadaNya sedangkan kalian dalam ke-adaan musyrik, dan sukailah apa saja yang dapat membuat kalian dekat kepadaNya dan membuat Dia memberikan pahala di saat kedatangan kalian kepadaNya.
(19) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ كَيۡفَ يُبۡدِئُ ٱللَّهُ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥٓۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari per-mulaannya, kemudian mengulanginya kembali," pada Hari Kiamat? ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah" seperti telah difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Ar-Rum: 27).
(20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka kalau mereka mera-gukan permulaan (penciptaan), ﴾ سِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Berjalanlah di (muka) bumi," dengan jasad dan hati kalian, ﴾ فَٱنظُرُواْ كَيۡفَ بَدَأَ ٱلۡخَلۡقَۚ ﴿ "maka per-hatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya," maka sesungguhnya kalian akan menemukan umat-umat dari anak cucu Adam dan dari berbagai jenis hewan senantiasa ada sedikit demi sedikit; dan kalian akan menjumpai tumbuh-tumbuhan dan berbagai pohon, bagaimana ia tumbuh dari waktu ke waktu. Dan kalian menjumpai awan, angin dan lain-lainnya selalu bereproduksi, bahkan manusia selalu dalam permulaan dan pengulangan (proses reproduksi). Maka perhatikanlah mereka pada saat mereka mati dengan kematian kecil, yaitu tidur. Mereka telah diselimuti malam yang gelap gempita, gerak mereka pun menjadi diam, suara mereka menjadi sepi dan mereka menjadi di atas kasur dan di tempat-tempat tidur mereka, tak ubahnya seperti orang mati. Kemudian mereka terus seperti itu sepanjang malam hingga fajar Shubuh terbit, lalu mereka bangun dari tidur lelap mereka, dan mereka dibangkitkan dari kematian seraya berkata, اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ. "Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan hanya kepadaNya-lah tempat kami kembali." Oleh karena itu, Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ ٱللَّهُ ﴿ "Kemudian Allah," setelah membangkitkan mereka ﴾ يُنشِئُ ٱلنَّشۡأَةَ ٱلۡأٓخِرَةَۚ ﴿ "menjadikannya sekali lagi" yaitu penciptaan yang tidak menjadikan kematian atau-pun tidur; melainkan kekekalan dan keabadian di dalam salah satu dari dua negeri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha-kuasa atas segala sesuatu." Kekuasaan Allah tidak dapat dihalangi oleh apa pun. Sebagaimana Dia kuasa memulai penciptaan, maka kekuasaanNya untuk mengulangi penciptaan itu tentu lebih mudah dan lebih layak (mampu dilakukan).
(21) ﴾ يُعَذِّبُ مَن يَشَآءُ وَيَرۡحَمُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Allah mengazab siapa yang dike-hendakiNya dan memberi rahmat siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, hanya Dia semata yang berwenang menentukan keputusan pembalasan, yaitu memberikan pahala kepada orang-orang yang taat dan merahmati mereka, dan mengazab orang-orang yang durhaka dan memberikan hukuman peringatan terhadap mereka, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُقۡلَبُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu akan dikembalikan," maksudnya, kalian akan dikembalikan kepada negeri yang di sana keputusan azab dan rahmatNya diberlakukan. Maka berusahalah di dunia ini untuk melakukan amal yang dapat menjadi sebab rahmatNya, yaitu berbagai ketaatan, dan jauhilah segala sebab yang dapat mengakibatkan azabNya, yaitu segala bentuk kemaksiatan.
(22) ﴾ وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِي ٱلسَّمَآءِۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di bumi dan tidak pula di langit," maksudnya wahai orang-orang yang mendustakan yang lancang melakukan berbagai kemaksiatan! Jangan sekali-kali kalian mengira bahwa semua itu akan dilupakan dari kalian, atau kalian dapat mengalahkan Allah di muka bumi ini ataupun di langit. Maka jangan sekali-kali kekuasaan kalian memperdayakan kalian, dan (juga) rayuan serta tipu daya nafsu kalian, bahwa kalian akan selamat dari azab Allah. Sebab, kalian sama sekali tidak dapat lepas dari azab Allah di seluruh penjuru alam semesta ini, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan sekali-kali tiadalah bagimu pelindung selain Allah," yang melindungi kalian sehingga kalian dapat memperoleh kemasla-hatan agama dan dunia kalian, ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula penolong" yang dapat menolong kalian, lalu menolak segala yang dibenci dari kalian.
Al-'Ankabut 29:23
"Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan denganNya, mereka berputus asa dari rahmatKu, dan mereka itu mendapat azab yang pedih." (Al-Ankabut: 23).
(23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan siapa mereka yang sama sekali tidak memiliki kebaikan dan (hanya) memperoleh keburukan, dan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang kafir kepadaNya, kepada para RasulNya dan kepada ajaran yang mereka bawa serta mendustakan perjumpaan dengan Allah. Mereka sama sekali tidak memiliki apa-apa kecuali dunia, maka dari itu mereka berani me-lakukan syirik dan berbagai maksiat, sebab di dalam hati mereka tidak ada sesuatu yang dapat membuat mereka takut dari akibat semua perbuatan mereka itu, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يَئِسُواْ مِن رَّحۡمَتِي ﴿ "Mereka berputus asa dari rahmatKu," maksudnya, maka dari itu mereka tidak melakukan satu sebab pun yang dengannya mereka bisa mendapat rahmat. Sebab bila tidak, kalau saja mereka masih mempunyai keinginan untuk mendapat rahmatNya, tentu mereka melakukan amal-amal kebajikan. Berputus asa dari rahmat Allah merupakan bahaya yang sangat besar. Ia ada dua macam, yaitu: Putus asanya kaum kafir dari rahmat Allah, dalam bentuk meninggalkan semua hal yang dapat membuat mereka dekat darinya. Dan (kedua), putus asanya para pelaku maksiat disebabkan banyaknya dosa-dosa yang mereka lakukan yang membuat mereka merasa jauh, hingga dosa-dosa itu menyelimuti hati mereka, lalu menimbulkan rasa putus asa, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan mereka itu mendapat azab yang pedih," yaitu azab yang sangat perih lagi menyakitkan.
Al-'Ankabut 29:24
"Maka tidaklah jawaban kaum Ibrahim, kecuali mengata-kan, 'Bunuhlah atau bakarlah dia,' lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ter-dapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang beriman. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini, kemudian di Hari Kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembali kalian adalah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagi kalian para penolong." (Al-Ankabut: 24-25).
(24) Maksudnya, tidaklah jawaban kaum Ibrahim saat Ibrahim mengajak mereka kepada Allah adalah menerima dakwah (seruan)nya dan juga berpegang kepada nasihatnya atau melihat nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepada mereka berupa meng-utus beliau sebagai rasul kepada mereka. Tetapi sesungguhnya jawaban mereka adalah seburuk-buruk jawaban, yaitu, ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوهُ أَوۡ حَرِّقُوهُ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Bunuhlah atau bakarlah dia'," dengan se-buruk-buruk pembunuhan. Sementara mereka adalah kaum yang berkuasa, yang mempunyai kekuasaan. Maka dari itu mereka menceburkan Ibrahim ke dalam api, ﴾ فَأَنجَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "lalu Allah menyela-matkannya," dari api itu. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang ber-iman," sehingga mereka dapat mengetahui kebenaran ajaran yang dibawa (diajarkan) oleh para rasul, kebaikan dan ketulusan mereka, serta kebatilan dari keyakinan orang-orang yang menyalahi mereka dan menentangnya; dan bahwa para penentang rasul-rasul itu se-akan-akan sudah saling berpesan. Sebagian sudah menganjurkan kepada sebagian yang lain untuk mendustakan.
(25) ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkata" Ibrahim kepada mereka dalam serangkaian nasihat yang dikatakannya, ﴾ إِنَّمَا ٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا مَّوَدَّةَ بَيۡنِكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini," maksudnya, puncak dari semua itu adalah rasa kasih sayang di dunia, nanti akan terputus dan sirna, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا ﴿ "kemudian di Hari Kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian yang lain," maksudnya, masing-masing dari para penyembah dan sesembahan-sesembahan itu berlepas diri dari yang lain; dan apabila manusia sudah dihimpun (di padang Mahsyar. Pent) maka mereka menjadi musuh bagi para sesem-bahannya, dan mereka (para sesembahan) itu pun mengingkari penyembahan mereka. Maka bagaimana bisa kalian masih mau mencintai sesembahan yang sudah pasti akan berlepas diri dari para penyembahnya, dan bahkan mengutuknya. Dan sesungguhnya tempat tinggal mereka semua, baik yang menyembah dan yang disembah ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "adalah neraka" dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong mereka dari azab Allah atau mencegah siksaanNya dari mereka.
Al-'Ankabut 29:25
"Maka tidaklah jawaban kaum Ibrahim, kecuali mengata-kan, 'Bunuhlah atau bakarlah dia,' lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ter-dapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang beriman. Dan Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini, kemudian di Hari Kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian (yang lain); dan tempat kembali kalian adalah neraka, dan sekali-kali tidak ada bagi kalian para penolong." (Al-Ankabut: 24-25).
(24) Maksudnya, tidaklah jawaban kaum Ibrahim saat Ibrahim mengajak mereka kepada Allah adalah menerima dakwah (seruan)nya dan juga berpegang kepada nasihatnya atau melihat nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dilimpahkan kepada mereka berupa meng-utus beliau sebagai rasul kepada mereka. Tetapi sesungguhnya jawaban mereka adalah seburuk-buruk jawaban, yaitu, ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوهُ أَوۡ حَرِّقُوهُ ﴿ "Mereka mengatakan, 'Bunuhlah atau bakarlah dia'," dengan se-buruk-buruk pembunuhan. Sementara mereka adalah kaum yang berkuasa, yang mempunyai kekuasaan. Maka dari itu mereka menceburkan Ibrahim ke dalam api, ﴾ فَأَنجَىٰهُ ٱللَّهُ ﴿ "lalu Allah menyela-matkannya," dari api itu. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang ber-iman," sehingga mereka dapat mengetahui kebenaran ajaran yang dibawa (diajarkan) oleh para rasul, kebaikan dan ketulusan mereka, serta kebatilan dari keyakinan orang-orang yang menyalahi mereka dan menentangnya; dan bahwa para penentang rasul-rasul itu se-akan-akan sudah saling berpesan. Sebagian sudah menganjurkan kepada sebagian yang lain untuk mendustakan.
(25) ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkata" Ibrahim kepada mereka dalam serangkaian nasihat yang dikatakannya, ﴾ إِنَّمَا ٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡثَٰنٗا مَّوَدَّةَ بَيۡنِكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Sesungguhnya berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kalian dalam kehidupan dunia ini," maksudnya, puncak dari semua itu adalah rasa kasih sayang di dunia, nanti akan terputus dan sirna, ﴾ ثُمَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُ بَعۡضُكُم بِبَعۡضٖ وَيَلۡعَنُ بَعۡضُكُم بَعۡضٗا ﴿ "kemudian di Hari Kiamat sebagian kalian mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kalian melaknati sebagian yang lain," maksudnya, masing-masing dari para penyembah dan sesembahan-sesembahan itu berlepas diri dari yang lain; dan apabila manusia sudah dihimpun (di padang Mahsyar. Pent) maka mereka menjadi musuh bagi para sesem-bahannya, dan mereka (para sesembahan) itu pun mengingkari penyembahan mereka. Maka bagaimana bisa kalian masih mau mencintai sesembahan yang sudah pasti akan berlepas diri dari para penyembahnya, dan bahkan mengutuknya. Dan sesungguhnya tempat tinggal mereka semua, baik yang menyembah dan yang disembah ﴾ ٱلنَّارُ ﴿ "adalah neraka" dan tidak ada seorang pun yang bisa menolong mereka dari azab Allah atau mencegah siksaanNya dari mereka.
Al-'Ankabut 29:26
"Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang di-perintahkan) Rabbku (kepadaku); sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.' Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim; Ishaq dan Ya'qub, dan Kami menjadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan padanya balasan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Ankabut: 26-27).
(26) Maksudnya, Ibrahim عليه السلام terus mengajak kaumnya, sedangkan mereka melanjutkan sikap keras kepala mereka, namun berkat dakwahnya, Luth beriman kepadanya, yang kemudian Allah menjadikannya sebagai nabi dan rasul kepada kaumnya, sebagai-mana akan dijelaskan kemudian. ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkatalah," Ibrahim saat melihat bahwa seruannya kepada kaumnya sudah tidak ber-guna lagi sedikit pun, ﴾ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan ber-pindah kepada Rabbku," maksudnya, meninggalkan daerah yang busuk (tidak produktif) dan berpindah ke tempat yang diberkahi (produktif) yaitu negeri Syam, ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa," maksudnya, yang memiliki kekuatan, dan Dia kuasa memberi hidayah kepada kalian, akan tetapi Dia ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," semuanya sesuai dengan kebijaksanaanNya. Setelah Ibrahim menjauhkan diri dan meninggalkan mereka, sedangkan mereka tetap dalam keadaannya, maka Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan tentang mereka bahwa Allah telah mengazab mereka, akan tetapi Allah menyebutkan bahwa Ibrahim menjauhkan diri dan meninggalkan mereka. Adapun hal-hal yang disebutkan dalam riwayat isra`iliyat, bahwa Allah سبحانه وتعالى telah membuka pintu nyamuk terhadap mereka, lalu nyamuk-nyamuk itu menghisap darah dan memakan daging mereka serta membuat mereka musnah sama sekali, maka kebenaran riwayat ini sangat tergantung kepada (pen-dukung) dari dalil syar'i. Sedangkan dalilnya tidak ada. Kalau seandainya Allah telah memusnahkan mereka dengan azab, tentu Dia menyebutkannya sebagaimana Dia menyebutkan pembinasaan umat-umat lain yang mendustakan. Akan tetapi, apakah termasuk rahasia dari itu semua adalah bahwa al-Khalil, Ibrahim عليه السلام, merupakan manusia yang paling pengasih, paling utama, paling penyantun dan paling mulia, sebab dia tidak men-doakan keburukan terhadap kaumnya sebagaimana dilakukan oleh nabi-nabi yang lain; sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak menimpakan azab yang menyeluruh karenanya? Di antara hal yang menunjukkan kepada yang demikian adalah bahwasanya Ibrahim berdialog de-ngan malaikat dalam masalah pembinasaan kaum Luth, dan beliau mendebat malaikat serta membela mereka (kaum Luth), padahal mereka bukan kaumnya. Allah yang lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya.
(27) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim; Ishaq dan Ya'qub," maksudnya, setelah dia berpindah tem-pat ke Syam, ﴾ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya," sehingga tidak ada nabi sesudahnya kecuali dari keturunannya, dan tidak pula ada kitab suci yang di-turunkan kecuali kepada keturunannya, hingga akhirnya ditutup dengan keturunannya, yaitu Muhammad a, dan semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada mereka semua. Ini merupakan kemuliaan dan kebanggaan yang paling tinggi, yaitu hidayah, rahmat, kebahagiaan, keberuntungan dan keselamatan berada pada anak keturunannya, dan melalui mereka orang-orang mendapat petunjuk, kaum beriman dapat beriman dan orang-orang shalih menjadi shalih, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَجۡرَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "dan Kami berikan padanya balasan di dunia," berupa istri yang cantik jelita, rizki yang berlimpah, anak-anak yang menjadi penyejuk hati, mengenal Allah, mencintaiNya serta berinabah kepadaNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih," bahkan dia dan Muhammad a adalah orang-orang shalih yang paling utama secara mutlak dan yang tertinggi kedudukannya. Dengan demikian, Allah سبحانه وتعالى telah mengaruniakan kepadanya dua kebahagiaan; dunia dan akhirat.
Sudah disebutkan di muka bahwa Nabi Luth عليه السلام beriman kepada Ibrahim dan menjadi salah seorang yang berpedoman kepadanya. Mereka (Ahli tafsir. Pent) menyebutkan bahwa Luth bukan dari keturunan Ibrahim, melainkan merupakan anak dari saudara Ibrahim. Maka Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya," sekalipun bersifat umum, namun ia tidak berlawanan dengan keberadaan Luth sebagai nabi dan rasul, walau dia bukan dari keturunan Ibrahim. Sebab, ayat ini dikemukakan dalam konteks memuji al-Khalil Ibrahim; dan juga telah diinformasikan bahwa dia mendapat pe-tunjuk melalui Ibrahim. Sedangkan orang yang mendapat petunjuk melalui Ibrahim (langsung) tentu lebih sempurna daripada orang yang mendapat petunjuk melalui anak keturunannya bila dilihat dari sisi keutamaan sang pemberi petunjuk. Wallahu a'lam.
Al-'Ankabut 29:27
"Maka Luth membenarkan (kenabian)nya. Dan berkatalah Ibrahim, 'Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang di-perintahkan) Rabbku (kepadaku); sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.' Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim; Ishaq dan Ya'qub, dan Kami menjadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya, dan Kami berikan padanya balasan di dunia, dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih." (Al-Ankabut: 26-27).
(26) Maksudnya, Ibrahim عليه السلام terus mengajak kaumnya, sedangkan mereka melanjutkan sikap keras kepala mereka, namun berkat dakwahnya, Luth beriman kepadanya, yang kemudian Allah menjadikannya sebagai nabi dan rasul kepada kaumnya, sebagai-mana akan dijelaskan kemudian. ﴾ وَقَالَ ﴿ "Dan berkatalah," Ibrahim saat melihat bahwa seruannya kepada kaumnya sudah tidak ber-guna lagi sedikit pun, ﴾ إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَىٰ رَبِّيٓۖ ﴿ "Sesungguhnya aku akan ber-pindah kepada Rabbku," maksudnya, meninggalkan daerah yang busuk (tidak produktif) dan berpindah ke tempat yang diberkahi (produktif) yaitu negeri Syam, ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "sesungguhnya Dia-lah yang Mahaperkasa," maksudnya, yang memiliki kekuatan, dan Dia kuasa memberi hidayah kepada kalian, akan tetapi Dia ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Mahabijaksana," semuanya sesuai dengan kebijaksanaanNya. Setelah Ibrahim menjauhkan diri dan meninggalkan mereka, sedangkan mereka tetap dalam keadaannya, maka Allah سبحانه وتعالى tidak menjelaskan tentang mereka bahwa Allah telah mengazab mereka, akan tetapi Allah menyebutkan bahwa Ibrahim menjauhkan diri dan meninggalkan mereka. Adapun hal-hal yang disebutkan dalam riwayat isra`iliyat, bahwa Allah سبحانه وتعالى telah membuka pintu nyamuk terhadap mereka, lalu nyamuk-nyamuk itu menghisap darah dan memakan daging mereka serta membuat mereka musnah sama sekali, maka kebenaran riwayat ini sangat tergantung kepada (pen-dukung) dari dalil syar'i. Sedangkan dalilnya tidak ada. Kalau seandainya Allah telah memusnahkan mereka dengan azab, tentu Dia menyebutkannya sebagaimana Dia menyebutkan pembinasaan umat-umat lain yang mendustakan. Akan tetapi, apakah termasuk rahasia dari itu semua adalah bahwa al-Khalil, Ibrahim عليه السلام, merupakan manusia yang paling pengasih, paling utama, paling penyantun dan paling mulia, sebab dia tidak men-doakan keburukan terhadap kaumnya sebagaimana dilakukan oleh nabi-nabi yang lain; sedangkan Allah سبحانه وتعالى tidak menimpakan azab yang menyeluruh karenanya? Di antara hal yang menunjukkan kepada yang demikian adalah bahwasanya Ibrahim berdialog de-ngan malaikat dalam masalah pembinasaan kaum Luth, dan beliau mendebat malaikat serta membela mereka (kaum Luth), padahal mereka bukan kaumnya. Allah yang lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya.
(27) ﴾ وَوَهَبۡنَا لَهُۥٓ إِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ ﴿ "Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim; Ishaq dan Ya'qub," maksudnya, setelah dia berpindah tem-pat ke Syam, ﴾ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya," sehingga tidak ada nabi sesudahnya kecuali dari keturunannya, dan tidak pula ada kitab suci yang di-turunkan kecuali kepada keturunannya, hingga akhirnya ditutup dengan keturunannya, yaitu Muhammad a, dan semoga shalawat dan salam dicurahkan kepada mereka semua. Ini merupakan kemuliaan dan kebanggaan yang paling tinggi, yaitu hidayah, rahmat, kebahagiaan, keberuntungan dan keselamatan berada pada anak keturunannya, dan melalui mereka orang-orang mendapat petunjuk, kaum beriman dapat beriman dan orang-orang shalih menjadi shalih, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ أَجۡرَهُۥ فِي ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "dan Kami berikan padanya balasan di dunia," berupa istri yang cantik jelita, rizki yang berlimpah, anak-anak yang menjadi penyejuk hati, mengenal Allah, mencintaiNya serta berinabah kepadaNya. ﴾ وَإِنَّهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya dia di akhirat, benar-benar termasuk orang-orang yang shalih," bahkan dia dan Muhammad a adalah orang-orang shalih yang paling utama secara mutlak dan yang tertinggi kedudukannya. Dengan demikian, Allah سبحانه وتعالى telah mengaruniakan kepadanya dua kebahagiaan; dunia dan akhirat.
Sudah disebutkan di muka bahwa Nabi Luth عليه السلام beriman kepada Ibrahim dan menjadi salah seorang yang berpedoman kepadanya. Mereka (Ahli tafsir. Pent) menyebutkan bahwa Luth bukan dari keturunan Ibrahim, melainkan merupakan anak dari saudara Ibrahim. Maka Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya," sekalipun bersifat umum, namun ia tidak berlawanan dengan keberadaan Luth sebagai nabi dan rasul, walau dia bukan dari keturunan Ibrahim. Sebab, ayat ini dikemukakan dalam konteks memuji al-Khalil Ibrahim; dan juga telah diinformasikan bahwa dia mendapat pe-tunjuk melalui Ibrahim. Sedangkan orang yang mendapat petunjuk melalui Ibrahim (langsung) tentu lebih sempurna daripada orang yang mendapat petunjuk melalui anak keturunannya bila dilihat dari sisi keutamaan sang pemberi petunjuk. Wallahu a'lam.
Al-'Ankabut 29:28
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:29
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:30
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:31
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:32
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:33
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:34
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:35
"Dan (ingatlah) ketika Luth berkata kepada kaumnya, 'Se-sungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan yang amat keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu. Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?' Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Luth berdoa, 'Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu.' Dan tatkala utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim membawa kabar gembira, mereka mengatakan, 'Sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk kota (Sodom) ini, sesungguhnya penduduknya adalah orang-orang yang lalim.' Ibrahim berkata, 'Sesungguhnya di kota itu ada Luth.' Para malai-kat berkata, 'Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, dia merasa susah karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka berkata, 'Janganlah kamu takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).' Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas pen-duduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan darinya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." (Al-Ankabut: 28-35).
(28-29) Lalu Allah mengirim Luth kepada kaumnya. Me-reka di samping berbuat syirik juga melakukan perbuatan keji ter-hadap kaum lelaki (homoseks), merampok dan melakukan berbagai kemungkaran di majelis-majelis mereka. Lalu Luth memberi me-reka nasihat agar tidak melakukan hal-hal tersebut, dan dia pun menjelaskan kepada mereka tentang keburukannya dan dampak buruk yang sangat besar yang akan ditimbulkannya. Namun me-reka tidak peduli dan tidak juga mengambil pelajaran. ﴾ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوۡمِهِۦٓ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتِنَا بِعَذَابِ ٱللَّهِ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, 'Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar'."
(30-35) Nabi Luth pun berputus asa dari mereka dan telah mengetahui bahwa mereka telah pantas mendapat azab. Dia sangat prihatin atas pendustaan yang mereka lakukan terhadapnya, maka dari itu ia mendoakan keburukan atas mereka, seraya berkata, ﴾ قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ﴿ "Ya Rabbku, tolonglah aku (dengan menim-pakan azab) atas kaum yang berbuat kerusakan itu." Allah mengabulkan doanya. Maka Allah mengutus malaikat untuk membinasakan mereka. Malaikat singgah di kediaman Ibrahim sebelum (mem-binasakan kaum Luth. Pent), mereka memberitakan kepadanya bahwa ia akan dikaruniai Ishaq, lalu berikutnya adalah Ya'qub. Kemudian Ibrahim bertanya kepada mereka, "Kemana kalian hen-dak pergi?" Malaikat pun memberitahu kalau mereka bermaksud akan membinasakan kaum Luth. Maka Ibrahim pun mendebat mereka dan mengatakan, ﴾ إِنَّ فِيهَا لُوطٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya di kota itu ada Luth." Mereka menjawab, ﴾ لَنُنَجِّيَنَّهُۥ وَأَهۡلَهُۥٓ إِلَّا ٱمۡرَأَتَهُۥ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ ﴿ "Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal." Lalu mereka meneruskan per-jalanan hingga akhirnya sampai kepada Luth. Kedatangan mereka telah membuatnya tidak enak dan merasa sangat keberatan, sebab dia tidak mengenal mereka dan bahkan dia mengira kalau para malaikat itu adalah para musafir yang bertamu. Ia sangat meng-khawatirkan mereka dari perlakuan kaumnya. Maka kemudian para malaikat itu berkata kepadanya, ﴾ لَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ ﴿ "Janganlah kamu takut dan jangan pula bersedih hati," dan me-reka memberitahu kepadanya bahwa mereka adalah utusan Allah, ﴾ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهۡلَكَ إِلَّا ٱمۡرَأَتَكَ كَانَتۡ مِنَ ٱلۡغَٰبِرِينَ 33 إِنَّا مُنزِلُونَ عَلَىٰٓ أَهۡلِ هَٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةِ رِجۡزٗا ﴿ "Sesungguhnya kami akan menyelamatkan kamu dan pengikut-pengikut-mu, kecuali istrimu, dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab atas penduduk kota ini," maksudnya adalah siksaan, ﴾ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ ﴿ "dari langit karena mereka berbuat fasik." Lalu para malaikat menyuruhnya agar pergi di malam hari bersama keluarganya. Dan setelah pagi hari tiba, Allah سبحانه وتعالى membalik negeri mereka, bagian bawah menjadi bagian atasnya, dan Allah menurunkan hujan bebatuan dari Sijjil terhadap mereka secara berkelanjutan hingga membinasakan me-reka semua. Kemudian mereka menjadi salah satu cerita malam hari dan menjadi salah satu ibrah (pelajaran dan peringatan). ﴾ وَلَقَد تَّرَكۡنَا مِنۡهَآ ءَايَةَۢ بَيِّنَةٗ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari-nya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal." Maksudnya, Kami sisakan dari perkampungan negeri kaum Luth itu beberapa bekas-bekas yang nyata untuk kaum yang mampu memahami ibrah dengan hati mereka sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menyatakan, ﴾ وَإِنَّكُمۡ لَتَمُرُّونَ عَلَيۡهِم مُّصۡبِحِينَ 137 وَبِٱلَّيۡلِۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 138 ﴿ "Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Makkah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?" (Ash-Shaffat: 137-138).
Al-'Ankabut 29:36
"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu'aib, maka dia berkata, 'Hai kaumku, kalian sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) Hari Akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.' Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (Al-Ankabut: 36-37).
(36-37) Maksudnya, ﴾ و َ ﴿ "Dan," Kami mengutus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada penduduk Madyan," suatu suku yang sangat terkenal, ﴾ شُعَيۡبٗا ﴿ "Syu'aib," lalu dia memerintah mereka untuk beribadah kepada Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan beriman kepada kebangkitan (sesudah kematian), mengharapkannya dan beramal untuk meng-hadapinya. Dan dia pun melarang mereka berbuat kerusakan di muka bumi ini, seperti berbuat curang dalam takar-menakar dan timbang menimbang serta melakukan perompakan di jalan-jalan. ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," lalu mereka ditimpa azab Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka."
Al-'Ankabut 29:37
"Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu'aib, maka dia berkata, 'Hai kaumku, kalian sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) Hari Akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.' Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka." (Al-Ankabut: 36-37).
(36-37) Maksudnya, ﴾ و َ ﴿ "Dan," Kami mengutus ﴾ إِلَىٰ مَدۡيَنَ ﴿ "kepada penduduk Madyan," suatu suku yang sangat terkenal, ﴾ شُعَيۡبٗا ﴿ "Syu'aib," lalu dia memerintah mereka untuk beribadah kepada Allah saja, tiada sekutu bagiNya, dan beriman kepada kebangkitan (sesudah kematian), mengharapkannya dan beramal untuk meng-hadapinya. Dan dia pun melarang mereka berbuat kerusakan di muka bumi ini, seperti berbuat curang dalam takar-menakar dan timbang menimbang serta melakukan perompakan di jalan-jalan. ﴾ فَكَذَّبُوهُ ﴿ "Maka mereka mendustakannya," lalu mereka ditimpa azab Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ﴿ "maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka."
Al-'Ankabut 29:38
"Dan kaum 'Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagimu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-per-buatan mereka, lalu dia menghalang-halangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam, dan (juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tidaklah mereka itu orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-Ankabut: 38-40).
(38) Dan demikian pula Kami lakukan terhadap kaum 'Ad dan Tsamud. Anda telah mengetahui kisah mereka, dan sudah jelas bagi kalian melalui sesuatu yang dapat kalian saksikan dengan mata kepala kalian sendiri, yaitu bagian dari tempat-tempat tinggal dan peninggalan-peninggalan mereka yang telah mereka tinggal-kan untuk selama-lamanya. Mereka telah didatangi oleh para rasul dengan bukti-buktinya yang sangat berguna bagi hati nurani, na-mun mereka mendustakan dan membantah para rasul itu, dan setan memperindah perbuatan mereka itu dalam pandangan mereka hingga mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih utama dan lebih baik daripada apa yang dibawa oleh para rasul.
(39) Demikian pula Qarun, Fir'aun dan Haman. Ketika Allah mengutus Musa bin Imran kepada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan argumen-argumen yang sangat jelas, namun mereka tetap tidak mau tunduk bahkan mereka berbuat sombong di muka bumi terhadap hamba-hamba Allah (Bani Israil) dengan memperbudak mereka dan sombong terhadap kebenaran. Mereka menolaknya, maka akhirnya mereka tidak mampu menye-lamatkan diri hingga azab menimpa mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ سَٰبِقِينَ ﴿ "dan tidaklah mereka itu orang-orang yang mendahului." Maksudnya, (tidak-lah mereka mendahului) Allah dan tidak pula luput (dari azabNya). Akan tetapi mereka kalah dan menyerah.
(40) ﴾ فَكُلًّا ﴿ "Maka masing-masing" dari mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan itu, ﴾ أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ ﴿ "Kami siksa disebabkan dosanya," sesuai dengan kadarnya, dan dengan hukuman yang setimpal dengannya, ﴾ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا ﴿ "maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil," yakni: Azab yang memberikan hujan batu kepada mereka, seperti halnya kaum 'Ad ketika Allah mengirimkan, ﴾ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ 41 ﴿ "kepada mereka angin yang membinasakan." (Adz-Dzariyat: 41), dan ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "yang menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ ﴿ "Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur" seperti kaum Shaleh,﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi," seperti Qarun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan" seperti Fir'aun dan Haman beserta para bala tentaranya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ ﴿ "dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka," maksudnya, tidak pantas dan tidak layak bagi Allah سبحانه وتعالى untuk menzhalimi mereka, sebab kesempurnaan sifat adilNya dan ketidakbutuhanNya kepada seluruh makhluk,﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," mereka telah menghalangi jiwa dari haknya yang sedang ia inginkan. Sebab, sesungguhnya jiwa diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Sementara mereka telah menempatkan jiwa mereka bukan pada tempatnya dan telah menyibukkannya dengan berbagai syahwat dan kemaksiatan, sehingga mereka benar-benar telah membahayakannya sejauh-jauhnya di mana mereka mengira bahwa mereka menyelamatkannya.
Al-'Ankabut 29:39
"Dan kaum 'Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagimu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-per-buatan mereka, lalu dia menghalang-halangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam, dan (juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tidaklah mereka itu orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-Ankabut: 38-40).
(38) Dan demikian pula Kami lakukan terhadap kaum 'Ad dan Tsamud. Anda telah mengetahui kisah mereka, dan sudah jelas bagi kalian melalui sesuatu yang dapat kalian saksikan dengan mata kepala kalian sendiri, yaitu bagian dari tempat-tempat tinggal dan peninggalan-peninggalan mereka yang telah mereka tinggal-kan untuk selama-lamanya. Mereka telah didatangi oleh para rasul dengan bukti-buktinya yang sangat berguna bagi hati nurani, na-mun mereka mendustakan dan membantah para rasul itu, dan setan memperindah perbuatan mereka itu dalam pandangan mereka hingga mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih utama dan lebih baik daripada apa yang dibawa oleh para rasul.
(39) Demikian pula Qarun, Fir'aun dan Haman. Ketika Allah mengutus Musa bin Imran kepada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan argumen-argumen yang sangat jelas, namun mereka tetap tidak mau tunduk bahkan mereka berbuat sombong di muka bumi terhadap hamba-hamba Allah (Bani Israil) dengan memperbudak mereka dan sombong terhadap kebenaran. Mereka menolaknya, maka akhirnya mereka tidak mampu menye-lamatkan diri hingga azab menimpa mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ سَٰبِقِينَ ﴿ "dan tidaklah mereka itu orang-orang yang mendahului." Maksudnya, (tidak-lah mereka mendahului) Allah dan tidak pula luput (dari azabNya). Akan tetapi mereka kalah dan menyerah.
(40) ﴾ فَكُلًّا ﴿ "Maka masing-masing" dari mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan itu, ﴾ أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ ﴿ "Kami siksa disebabkan dosanya," sesuai dengan kadarnya, dan dengan hukuman yang setimpal dengannya, ﴾ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا ﴿ "maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil," yakni: Azab yang memberikan hujan batu kepada mereka, seperti halnya kaum 'Ad ketika Allah mengirimkan, ﴾ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ 41 ﴿ "kepada mereka angin yang membinasakan." (Adz-Dzariyat: 41), dan ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "yang menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ ﴿ "Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur" seperti kaum Shaleh,﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi," seperti Qarun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan" seperti Fir'aun dan Haman beserta para bala tentaranya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ ﴿ "dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka," maksudnya, tidak pantas dan tidak layak bagi Allah سبحانه وتعالى untuk menzhalimi mereka, sebab kesempurnaan sifat adilNya dan ketidakbutuhanNya kepada seluruh makhluk,﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," mereka telah menghalangi jiwa dari haknya yang sedang ia inginkan. Sebab, sesungguhnya jiwa diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Sementara mereka telah menempatkan jiwa mereka bukan pada tempatnya dan telah menyibukkannya dengan berbagai syahwat dan kemaksiatan, sehingga mereka benar-benar telah membahayakannya sejauh-jauhnya di mana mereka mengira bahwa mereka menyelamatkannya.
Al-'Ankabut 29:40
"Dan kaum 'Ad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagimu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. Dan setan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-per-buatan mereka, lalu dia menghalang-halangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam, dan (juga) Qarun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di (muka) bumi, dan tidaklah mereka itu orang-orang yang luput (dari kehancuran itu). Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (Al-Ankabut: 38-40).
(38) Dan demikian pula Kami lakukan terhadap kaum 'Ad dan Tsamud. Anda telah mengetahui kisah mereka, dan sudah jelas bagi kalian melalui sesuatu yang dapat kalian saksikan dengan mata kepala kalian sendiri, yaitu bagian dari tempat-tempat tinggal dan peninggalan-peninggalan mereka yang telah mereka tinggal-kan untuk selama-lamanya. Mereka telah didatangi oleh para rasul dengan bukti-buktinya yang sangat berguna bagi hati nurani, na-mun mereka mendustakan dan membantah para rasul itu, dan setan memperindah perbuatan mereka itu dalam pandangan mereka hingga mereka mengira bahwa apa yang mereka lakukan itu lebih utama dan lebih baik daripada apa yang dibawa oleh para rasul.
(39) Demikian pula Qarun, Fir'aun dan Haman. Ketika Allah mengutus Musa bin Imran kepada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang nyata dan argumen-argumen yang sangat jelas, namun mereka tetap tidak mau tunduk bahkan mereka berbuat sombong di muka bumi terhadap hamba-hamba Allah (Bani Israil) dengan memperbudak mereka dan sombong terhadap kebenaran. Mereka menolaknya, maka akhirnya mereka tidak mampu menye-lamatkan diri hingga azab menimpa mereka, ﴾ وَمَا كَانُواْ سَٰبِقِينَ ﴿ "dan tidaklah mereka itu orang-orang yang mendahului." Maksudnya, (tidak-lah mereka mendahului) Allah dan tidak pula luput (dari azabNya). Akan tetapi mereka kalah dan menyerah.
(40) ﴾ فَكُلًّا ﴿ "Maka masing-masing" dari mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan itu, ﴾ أَخَذۡنَا بِذَنۢبِهِۦۖ ﴿ "Kami siksa disebabkan dosanya," sesuai dengan kadarnya, dan dengan hukuman yang setimpal dengannya, ﴾ فَمِنۡهُم مَّنۡ أَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِ حَاصِبٗا ﴿ "maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil," yakni: Azab yang memberikan hujan batu kepada mereka, seperti halnya kaum 'Ad ketika Allah mengirimkan, ﴾ عَلَيۡهِمُ ٱلرِّيحَ ٱلۡعَقِيمَ 41 ﴿ "kepada mereka angin yang membinasakan." (Adz-Dzariyat: 41), dan ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "yang menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَخَذَتۡهُ ٱلصَّيۡحَةُ ﴿ "Dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur" seperti kaum Shaleh,﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ خَسَفۡنَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi," seperti Qarun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّنۡ أَغۡرَقۡنَاۚ ﴿ "dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan" seperti Fir'aun dan Haman beserta para bala tentaranya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظۡلِمَهُمۡ ﴿ "dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka," maksudnya, tidak pantas dan tidak layak bagi Allah سبحانه وتعالى untuk menzhalimi mereka, sebab kesempurnaan sifat adilNya dan ketidakbutuhanNya kepada seluruh makhluk,﴾ وَلَٰكِن كَانُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ يَظۡلِمُونَ ﴿ "akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri," mereka telah menghalangi jiwa dari haknya yang sedang ia inginkan. Sebab, sesungguhnya jiwa diciptakan untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Sementara mereka telah menempatkan jiwa mereka bukan pada tempatnya dan telah menyibukkannya dengan berbagai syahwat dan kemaksiatan, sehingga mereka benar-benar telah membahayakannya sejauh-jauhnya di mana mereka mengira bahwa mereka menyelamatkannya.
Al-'Ankabut 29:41
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah menge-tahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 41-43).
(41) Ini adalah sebuah perumpamaan yang diberikan oleh Allah bagi orang yang menyembah selain Dia di samping menyem-bahNya dengan maksud agar mulia, menjadi kuat dan memperoleh manfaat, dan bahwa (hakikat) perkaranya adalah malah kebalikan dari apa yang dimaksudkannya. Sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti laba-laba yang membuat sarang untuk melindungi-nya dari cuaca panas, dingin dan berbagai ancaman. ﴾ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ ﴿ "Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah," paling rapuh dan paling lemah, ﴾ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ ﴿ "ialah rumah laba-laba." Sebab laba-laba adalah termasuk jenis hewan yang sangat lemah, dan rumahnya pun adalah rumah yang paling rapuh. Maka tidaklah dia bertambah dengan tindakannya itu melainkan kele-mahan. Demikian pula mereka yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung, mereka fakir dan lemah dari segala sisi. Dan di kala mereka mengambil pelindung-pelindung dari selainNya (dengan maksud) agar mereka menjadi mulia dengannya dan meminta per-tolongan kepada mereka, maka mereka makin bertambah lemah dan makin bertambah rapuh. Sebab mereka menjadikan para sesem-bahan itu sebagai sandaran dalam kebanyakan kepentingan mereka, dan menyerahkan berbagai permasalahan itu kepada mereka, serta membiarkan mereka (untuk mengurusinya) dengan keyakinan bahwa para sesembahan (pelindung) itu akan menuntaskannya. Lalu mereka (para sesembahan) itu menelantarkan mereka, akhir-nya mereka sama sekali tidak memperoleh apa pun dari mereka, dan mereka pun tidak memberikan pertolongan sekecil apa pun kepada mereka. Kalau saja mereka mengetahui dengan sebenarnya keadaan para pelindung itu dan keadaan orang-orang yang menjadikannya sebagai pelindung, tentu mereka tidak mengangkatnya dan tentu mereka pasti berlepas diri darinya, dan niscaya mereka menyerah-kan (permasalahan mereka) kepada Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang, yaitu Dzat yang apabila sang hamba berlindung kepadaNya dan berserah diri kepadaNya, niscaya Dia memberinya kecukupan pada urusan agama dan dunianya, dan niscaya dia akan makin bertambah kuat di dalam hati, badan, keadaan dan pekerjaannya.
(42) Setelah Allah menjelaskan puncak kerapuhan sesem-bahan-sesembahan kaum musyrikin, maka Allah berpindah me-ningkat dari pembahasan ini kepada hal yang lebih tegas darinya, dan bahwa sesembahan-sesembahan itu bukanlah sesuatu yang berarti, akan tetapi semua tuhan itu hanyalah nama-nama yang mereka berikan dan dugaan-dugaan yang mereka yakini. Dan se-telah diteliti ternyata tampak jelas bagi orang yang berakal tentang kepalsuan dan kenihilan sesembahan-sesembahan tersebut. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "Se-sungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah." Maksudnya, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengetahui, –Dia-lah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata–, bahwasanya mereka tidak menyembah sesuatu yang ada (berwujud) dari selain Allah, dan tidak pula sembahan yang mempunyai hakikat. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya." (An-Najm: 23). Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka belaka." (Yunus: 66). ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," yang milikNya-lah se-mua kekuatan, yang dengannya Dia menguasai seluruh makhluk, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" Yang menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, dan Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang mengokohkan apa yang diperintahkanNya.
(43) ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ ﴿ "Dan perumpamaan-perumpa-maan ini Kami buatkan untuk manusia," maksudnya, untuk mereka, agar mereka mengambil manfaat dan untuk mengajar mereka, karena perumpamaan itu termasuk salah satu metode yang dapat menjelaskan ilmu, karena ia dapat memudahkan hal-hal yang logis dengan hal-hal yang empiris (nyata) sehingga makna yang dimaksud menjadi jelas karenanya. Dan perumpamaan itu menjadi maslahat bagi kebanyakan orang, ﴾ و َ ﴿ "dan" tetapi ﴾ م َ ا يَعۡقِلُهَآ ﴿ "tiada yang memahaminya," untuk menghayati dan memikirkan serta me-nerapkannya sesuai gambaran yang dikemukakan oleh perum-pamaan itu, dan memahaminya di dalam h a t i ﴾ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ﴿ "kecuali orang yang berilmu," maksudnya, kecuali orang yang benar-benar memiliki ilmu yang sebenarnya, yaitu mereka yang memiliki ilmu sampai ke dalam hati mereka. Ini adalah pujian untuk perumpamaan-perumpamaan yang dilontarkan, dan suatu anjuran untuk dihayati dan dipahami, dan pujian pula bagi orang yang memahaminya, dan bahwa itu meru-pakan tanda bahwa dia termasuk ahli ilmu. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa orang yang tidak memahaminya, (padahal perumpamaan itu sangat penting), adalah tidak termasuk ahli ilmu. Sebab hal tersebut adalah bahwa permisalan-permisalan yang dicontohkan oleh Allah di dalam al-Qur`an hanyalah perkara-per-kara yang besar, tuntutan-tuntutan yang tinggi, dan permisalan-permisalan yang agung. Ahli ilmu adalah orang-orang yang me-ngetahui arti pentingnya hal itu daripada perkara lainnya, karena perhatian Allah terhadapnya, anjuranNya kepada para hamba untuk memahami dan memikirkannya, sehingga mereka menge-rahkan kemampuan mereka untuk mengetahuinya. Adapun orang yang tidak memahaminya, maka itu merupakan bukti bahwa dia bukan ahli ilmu. Sebab apabila ia tidak mengetahui masalah-ma-salah yang penting, maka ia tidak mengetahui masalah-masalah lain tentu lebih utama dan lebih pasti. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى sering memberikan perumpamaan-perumpamaan dalam masalah-masa-lah prinsip agama (ushuluddin) dan yang serupa dengannya.
Al-'Ankabut 29:42
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah menge-tahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 41-43).
(41) Ini adalah sebuah perumpamaan yang diberikan oleh Allah bagi orang yang menyembah selain Dia di samping menyem-bahNya dengan maksud agar mulia, menjadi kuat dan memperoleh manfaat, dan bahwa (hakikat) perkaranya adalah malah kebalikan dari apa yang dimaksudkannya. Sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti laba-laba yang membuat sarang untuk melindungi-nya dari cuaca panas, dingin dan berbagai ancaman. ﴾ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ ﴿ "Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah," paling rapuh dan paling lemah, ﴾ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ ﴿ "ialah rumah laba-laba." Sebab laba-laba adalah termasuk jenis hewan yang sangat lemah, dan rumahnya pun adalah rumah yang paling rapuh. Maka tidaklah dia bertambah dengan tindakannya itu melainkan kele-mahan. Demikian pula mereka yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung, mereka fakir dan lemah dari segala sisi. Dan di kala mereka mengambil pelindung-pelindung dari selainNya (dengan maksud) agar mereka menjadi mulia dengannya dan meminta per-tolongan kepada mereka, maka mereka makin bertambah lemah dan makin bertambah rapuh. Sebab mereka menjadikan para sesem-bahan itu sebagai sandaran dalam kebanyakan kepentingan mereka, dan menyerahkan berbagai permasalahan itu kepada mereka, serta membiarkan mereka (untuk mengurusinya) dengan keyakinan bahwa para sesembahan (pelindung) itu akan menuntaskannya. Lalu mereka (para sesembahan) itu menelantarkan mereka, akhir-nya mereka sama sekali tidak memperoleh apa pun dari mereka, dan mereka pun tidak memberikan pertolongan sekecil apa pun kepada mereka. Kalau saja mereka mengetahui dengan sebenarnya keadaan para pelindung itu dan keadaan orang-orang yang menjadikannya sebagai pelindung, tentu mereka tidak mengangkatnya dan tentu mereka pasti berlepas diri darinya, dan niscaya mereka menyerah-kan (permasalahan mereka) kepada Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang, yaitu Dzat yang apabila sang hamba berlindung kepadaNya dan berserah diri kepadaNya, niscaya Dia memberinya kecukupan pada urusan agama dan dunianya, dan niscaya dia akan makin bertambah kuat di dalam hati, badan, keadaan dan pekerjaannya.
(42) Setelah Allah menjelaskan puncak kerapuhan sesem-bahan-sesembahan kaum musyrikin, maka Allah berpindah me-ningkat dari pembahasan ini kepada hal yang lebih tegas darinya, dan bahwa sesembahan-sesembahan itu bukanlah sesuatu yang berarti, akan tetapi semua tuhan itu hanyalah nama-nama yang mereka berikan dan dugaan-dugaan yang mereka yakini. Dan se-telah diteliti ternyata tampak jelas bagi orang yang berakal tentang kepalsuan dan kenihilan sesembahan-sesembahan tersebut. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "Se-sungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah." Maksudnya, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengetahui, –Dia-lah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata–, bahwasanya mereka tidak menyembah sesuatu yang ada (berwujud) dari selain Allah, dan tidak pula sembahan yang mempunyai hakikat. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya." (An-Najm: 23). Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka belaka." (Yunus: 66). ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," yang milikNya-lah se-mua kekuatan, yang dengannya Dia menguasai seluruh makhluk, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" Yang menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, dan Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang mengokohkan apa yang diperintahkanNya.
(43) ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ ﴿ "Dan perumpamaan-perumpa-maan ini Kami buatkan untuk manusia," maksudnya, untuk mereka, agar mereka mengambil manfaat dan untuk mengajar mereka, karena perumpamaan itu termasuk salah satu metode yang dapat menjelaskan ilmu, karena ia dapat memudahkan hal-hal yang logis dengan hal-hal yang empiris (nyata) sehingga makna yang dimaksud menjadi jelas karenanya. Dan perumpamaan itu menjadi maslahat bagi kebanyakan orang, ﴾ و َ ﴿ "dan" tetapi ﴾ م َ ا يَعۡقِلُهَآ ﴿ "tiada yang memahaminya," untuk menghayati dan memikirkan serta me-nerapkannya sesuai gambaran yang dikemukakan oleh perum-pamaan itu, dan memahaminya di dalam h a t i ﴾ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ﴿ "kecuali orang yang berilmu," maksudnya, kecuali orang yang benar-benar memiliki ilmu yang sebenarnya, yaitu mereka yang memiliki ilmu sampai ke dalam hati mereka. Ini adalah pujian untuk perumpamaan-perumpamaan yang dilontarkan, dan suatu anjuran untuk dihayati dan dipahami, dan pujian pula bagi orang yang memahaminya, dan bahwa itu meru-pakan tanda bahwa dia termasuk ahli ilmu. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa orang yang tidak memahaminya, (padahal perumpamaan itu sangat penting), adalah tidak termasuk ahli ilmu. Sebab hal tersebut adalah bahwa permisalan-permisalan yang dicontohkan oleh Allah di dalam al-Qur`an hanyalah perkara-per-kara yang besar, tuntutan-tuntutan yang tinggi, dan permisalan-permisalan yang agung. Ahli ilmu adalah orang-orang yang me-ngetahui arti pentingnya hal itu daripada perkara lainnya, karena perhatian Allah terhadapnya, anjuranNya kepada para hamba untuk memahami dan memikirkannya, sehingga mereka menge-rahkan kemampuan mereka untuk mengetahuinya. Adapun orang yang tidak memahaminya, maka itu merupakan bukti bahwa dia bukan ahli ilmu. Sebab apabila ia tidak mengetahui masalah-ma-salah yang penting, maka ia tidak mengetahui masalah-masalah lain tentu lebih utama dan lebih pasti. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى sering memberikan perumpamaan-perumpamaan dalam masalah-masa-lah prinsip agama (ushuluddin) dan yang serupa dengannya.
Al-'Ankabut 29:43
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. Sesungguhnya Allah menge-tahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu." (Al-Ankabut: 41-43).
(41) Ini adalah sebuah perumpamaan yang diberikan oleh Allah bagi orang yang menyembah selain Dia di samping menyem-bahNya dengan maksud agar mulia, menjadi kuat dan memperoleh manfaat, dan bahwa (hakikat) perkaranya adalah malah kebalikan dari apa yang dimaksudkannya. Sesungguhnya perumpamaannya adalah seperti laba-laba yang membuat sarang untuk melindungi-nya dari cuaca panas, dingin dan berbagai ancaman. ﴾ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ ﴿ "Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah," paling rapuh dan paling lemah, ﴾ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِۚ ﴿ "ialah rumah laba-laba." Sebab laba-laba adalah termasuk jenis hewan yang sangat lemah, dan rumahnya pun adalah rumah yang paling rapuh. Maka tidaklah dia bertambah dengan tindakannya itu melainkan kele-mahan. Demikian pula mereka yang menjadikan selain Allah sebagai pelindung, mereka fakir dan lemah dari segala sisi. Dan di kala mereka mengambil pelindung-pelindung dari selainNya (dengan maksud) agar mereka menjadi mulia dengannya dan meminta per-tolongan kepada mereka, maka mereka makin bertambah lemah dan makin bertambah rapuh. Sebab mereka menjadikan para sesem-bahan itu sebagai sandaran dalam kebanyakan kepentingan mereka, dan menyerahkan berbagai permasalahan itu kepada mereka, serta membiarkan mereka (untuk mengurusinya) dengan keyakinan bahwa para sesembahan (pelindung) itu akan menuntaskannya. Lalu mereka (para sesembahan) itu menelantarkan mereka, akhir-nya mereka sama sekali tidak memperoleh apa pun dari mereka, dan mereka pun tidak memberikan pertolongan sekecil apa pun kepada mereka. Kalau saja mereka mengetahui dengan sebenarnya keadaan para pelindung itu dan keadaan orang-orang yang menjadikannya sebagai pelindung, tentu mereka tidak mengangkatnya dan tentu mereka pasti berlepas diri darinya, dan niscaya mereka menyerah-kan (permasalahan mereka) kepada Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang, yaitu Dzat yang apabila sang hamba berlindung kepadaNya dan berserah diri kepadaNya, niscaya Dia memberinya kecukupan pada urusan agama dan dunianya, dan niscaya dia akan makin bertambah kuat di dalam hati, badan, keadaan dan pekerjaannya.
(42) Setelah Allah menjelaskan puncak kerapuhan sesem-bahan-sesembahan kaum musyrikin, maka Allah berpindah me-ningkat dari pembahasan ini kepada hal yang lebih tegas darinya, dan bahwa sesembahan-sesembahan itu bukanlah sesuatu yang berarti, akan tetapi semua tuhan itu hanyalah nama-nama yang mereka berikan dan dugaan-dugaan yang mereka yakini. Dan se-telah diteliti ternyata tampak jelas bagi orang yang berakal tentang kepalsuan dan kenihilan sesembahan-sesembahan tersebut. Oleh karenanya, Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مِن شَيۡءٖۚ ﴿ "Se-sungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah." Maksudnya, sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengetahui, –Dia-lah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata–, bahwasanya mereka tidak menyembah sesuatu yang ada (berwujud) dari selain Allah, dan tidak pula sembahan yang mempunyai hakikat. Sebagaimana Firman Allah, ﴾ إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ ﴿ "Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya." (An-Najm: 23). Dan FirmanNya, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Tidaklah mereka mengikuti melainkan prasangka belaka." (Yunus: 66). ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," yang milikNya-lah se-mua kekuatan, yang dengannya Dia menguasai seluruh makhluk, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana" Yang menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya, dan Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang mengokohkan apa yang diperintahkanNya.
(43) ﴾ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَٰلُ نَضۡرِبُهَا لِلنَّاسِۖ ﴿ "Dan perumpamaan-perumpa-maan ini Kami buatkan untuk manusia," maksudnya, untuk mereka, agar mereka mengambil manfaat dan untuk mengajar mereka, karena perumpamaan itu termasuk salah satu metode yang dapat menjelaskan ilmu, karena ia dapat memudahkan hal-hal yang logis dengan hal-hal yang empiris (nyata) sehingga makna yang dimaksud menjadi jelas karenanya. Dan perumpamaan itu menjadi maslahat bagi kebanyakan orang, ﴾ و َ ﴿ "dan" tetapi ﴾ م َ ا يَعۡقِلُهَآ ﴿ "tiada yang memahaminya," untuk menghayati dan memikirkan serta me-nerapkannya sesuai gambaran yang dikemukakan oleh perum-pamaan itu, dan memahaminya di dalam h a t i ﴾ إِلَّا ٱلۡعَٰلِمُونَ ﴿ "kecuali orang yang berilmu," maksudnya, kecuali orang yang benar-benar memiliki ilmu yang sebenarnya, yaitu mereka yang memiliki ilmu sampai ke dalam hati mereka. Ini adalah pujian untuk perumpamaan-perumpamaan yang dilontarkan, dan suatu anjuran untuk dihayati dan dipahami, dan pujian pula bagi orang yang memahaminya, dan bahwa itu meru-pakan tanda bahwa dia termasuk ahli ilmu. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa orang yang tidak memahaminya, (padahal perumpamaan itu sangat penting), adalah tidak termasuk ahli ilmu. Sebab hal tersebut adalah bahwa permisalan-permisalan yang dicontohkan oleh Allah di dalam al-Qur`an hanyalah perkara-per-kara yang besar, tuntutan-tuntutan yang tinggi, dan permisalan-permisalan yang agung. Ahli ilmu adalah orang-orang yang me-ngetahui arti pentingnya hal itu daripada perkara lainnya, karena perhatian Allah terhadapnya, anjuranNya kepada para hamba untuk memahami dan memikirkannya, sehingga mereka menge-rahkan kemampuan mereka untuk mengetahuinya. Adapun orang yang tidak memahaminya, maka itu merupakan bukti bahwa dia bukan ahli ilmu. Sebab apabila ia tidak mengetahui masalah-ma-salah yang penting, maka ia tidak mengetahui masalah-masalah lain tentu lebih utama dan lebih pasti. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى sering memberikan perumpamaan-perumpamaan dalam masalah-masa-lah prinsip agama (ushuluddin) dan yang serupa dengannya.
Al-'Ankabut 29:44
"Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Sesungguh-nya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang Mukmin." (Al-Ankabut: 44).
(44) Maksudnya Dia-lah Allah سبحانه وتعالى Yang Esa, Yang mencipta-kan langit dengan keluhuran, ketinggian, keluasan, dan keindah-annya, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti matahari, bulan, bintang-bintang dan para malaikat, dan bumi beserta segala apa yang ada padanya seperti gunung-gunung, lautan, daratan, gurun, pohon-pohon dan lain-lain. Semua itu Dia ciptakan dengan benar. Maksudnya, Dia tidak menciptakannya dengan sia-sia atau tidak berguna, atau tidak bermanfaat. Sesungguhnya Dia mencipta-kannya agar perintah dan syariatnya tegak, dan agar kenikmatan-nya terhadap segenap hambaNya menjadi sempurna, serta agar mereka melihat bagian dari kebijaksanaanNya, kemahaperkasaan-Nya dan kemahakuasaanNya, sesuatu yang menunjukkan bahwa sesungguhnya hanya Dia-lah sembahan mereka, Dia-lah yang ber-hak mereka cintai dan Dia-lah Tuhan mereka. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang Mukmin," sesuai dengan banyaknya tuntutan keimanan, jika seorang yang beriman merenungkannya, niscaya ia dapat melihatnya dengan mata kepala.
Al-'Ankabut 29:45
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur`an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Ankabut: 45).
(45) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk membaca wahyuNya atau KitabNya, yaitu Kitab al-Qur`an yang agung ini. Makna "membaca al-Qur`an" adalah mengikutinya dengan cara mematuhi apa yang diperintahkannya dan menjauhi apa yang dilarangnya, berpegang kepada petunjuknya, membenarkan apa-apa yang di-informasikannya, merenungkan makna-maknanya dan membaca lafazhnya. Jadi, membaca lafazhnya menjadi bagian dari makna-nya dan termasuk bagian darinya. Apabila makna tilawah al-Kitab itu demikian maknanya, maka diketahuilah bahwa penegakan agama, semuanya masuk dalam (makna) "membaca al-Qur`an". Maka FirmanNya, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ ﴿ "Dirikanlah shalat" adalah termasuk dalam kategori menyambungkan (athaf) sesuatu yang bermakna khusus kepada yang bermakna umum, disebabkan ke-utamaan shalat, kemuliaan dan pengaruhnya yang sangat indah, yaitu, ﴾ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." Perbuatan keji adalah segala dosa yang tergolong besar dan terhitung keji, berupa segala bentuk maksiat yang dikehendaki oleh nafsu. Se-dangkan mungkar adalah setiap maksiat yang diingkari oleh akal sehat dan fitrah. Dan sisi "keberadaan shalat" dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar adalah bahwa seorang hamba yang menegakkannya, menunaikan rukun-rukun, syarat-syarat dan kekhusyu'annya, maka hatinya akan bersinar, jiwanya menjadi suci, imannya bertambah dan kemauannya pada kebaikan makin kuat, serta kemauannya pada keburukan berkurang atau habis. Secara pasti, "konsisten pada shalat" dan memeliharanya seperti itu akan mencegah per-buatan keji dan kemungkaran. Demikianlah di antara tujuan shalat dan buahnya. Dan di sisi lain, shalat juga mempunyai tujuan yang lebih besar daripada itu dan lebih agung, yaitu apa yang terkandung di dalam shalat itu sendiri, berupa dzikrullah dengan hati, lisan dan badan. Hal itu karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى menciptakan manu-sia agar beribadah kepadaNya, dan ibadah yang paling utama yang mereka kerjakan adalah shalat. Dan di dalamnya juga terdapat penghambaan seluruh anggota tubuh yang tidak terdapat dalam ibadah yang lain. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar." Ini bisa jadi berarti bahwa ketika Dia memerintahkan shalat dan memujinya, Dia mengabarkan bahwa berdzikir mengingatNya di luar shalat itu lebih besar daripada shalat. Ini adalah pendapat jumhur (mayo-ritas) para ahli tafsir. Akan tetapi pengertian yang pertama lebih tepat. Sebab shalat merupakan dzikir yang lebih utama daripada dzikir di luar shalat; dan karena shalat itu sendiri, sebagaimana dijelaskan di muka, merupakan dzikir yang paling agung. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ ﴿ "Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," (berupa) ke-baikan dan keburukan, lalu Dia akan memberikan balasan kepada kalian atas semua itu dengan pembalasan yang paling sempurna.
Al-'Ankabut 29:46
"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zhalim di antara mereka, dan katakanlah, 'Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan hanya kepadaNya kami berserah diri." (Al-Ankabut: 46).
(46) Allah سبحانه وتعالى melarang berdebat dengan ahli kitab jika di-lakukan tanpa dilandasi pengetahuan yang mendalam dari pihak yang akan mendebat, atau tanpa landasan kaidah yang benar, dan hendaknya tidak mendebat (mereka) kecuali dengan cara yang terbaik, dengan akhlak yang mulia, santun, perkataan yang lembut dan berdakwah kepada kebenaran dan memperindah yang haq, dan dengan menolak kebatilan dan mematahkannya dengan cara yang paling mudah yang bisa mengantarkan kepadanya. Dan hendaknya niat atau tujuan dari perdebatan tidak hanya sekedar perdebatan, sikap ingin mengalahkan dan ingin menjadi yang teratas. Akan tetapi tujuannya adalah menjelaskan kebenaran dan memberikan petunjuk kepada manusia, ﴾ إِلَّا ﴿ "kecuali," dengan orang zhalim di antara ahli kitab. Yaitu dengan tampaknya tujuan dan keadaannya bahwa dia sama sekali tidak mempunyai keinginan pada kebenaran. Ia berdebat hanya untuk membuat huru-hara dan menang-menangan. Tentu sama sekali tidak ada faidahnya men-debat orang seperti ini, karena tujuan dari perdebatan menjadi hilang. ﴾ وَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ إِلَيۡنَا وَأُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَإِلَٰهُنَا وَإِلَٰهُكُمۡ وَٰحِدٞ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu, Tuhan (sembahan) kami dan Tuhanmu adalah satu." Maksudnya, hendaklah perdebatan kalian dengan ahli kitab dilandasi dengan beriman kepada sesuatu yang diturunkan kepada kalian dan sesuatu yang diturunkan kepada mereka, dan beriman kepada Rasul kalian dan Rasul mereka, dan berdasarkan landasan bahwa sembahan itu satu. Dan hendaknya diskusi kalian dengan ahli kitab tidak dengan cara yang dapat melecehkan sedikit pun dari kitab-kitab suci, atau mencemarkan salah seorang Rasul, sebagaimana yang biasanya dilakukan oleh orang-orang jahil saat berdebat dengan lawan, ia mencemooh semua yang ada pada lawannya, baik yang haq maupun yang batil. Hal demikian adalah kezhaliman dan menyimpang dari yang wajib dan dari etika per-debatan. Karena sesungguhnya yang wajib adalah membantah kebatilan yang ada pada lawan dan menerima kebenaran yang ada padanya, tidak boleh menolak kebenaran karena perkataan lawan sekalipun dia adalah seorang kafir. Dan juga, karena melandasi debat ahli kitab dengan cara di atas mengandung pengharusan terhadap mereka untuk mengakui al-Qur`an dan rasul yang membawanya (Muhammad a. Pent). Sebab, apabila dia membicarakan prinsip-prinsip agama dan sesuatu yang telah disepakati oleh para nabi dan kitab-kitab suci samawi dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak yang berdebat dan sudah dipastikan kebenarannya, di mana kitab-kitab sebelumnya dan para rasul bersama al-Qur`an dan Muhammad a benar-benar telah menjelaskannya, membuktikannya dan mengabarkannya, maka hal itu mengharuskan mereka meyakini (dengan membenar-kan) semua kitab-kitab suci samawi dan seluruh para rasul. Inilah di antara keistimewaan Islam. Adapun kalau (malah) dikatakan, "Kami hanya beriman ke-pada sesuatu yang dijelaskan oleh kitab suci A saja, tanpa meyakini kitab suci B, padahal itu yang benar yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka sikap seperti ini adalah kezhaliman dan hawa nafsu. Sikap itu kembali kepada pernyataan pendustaan. Sebab, apabila dia mendustakan al-Qur`an yang membuktikan kebenaran dan yang membenarkan kitab Taurat yang sudah ada sebelumnya, maka sesungguhnya dia berarti mendustakan pernyataan yang telah dia klaim bahwa dia telah beriman kepadanya. Dan juga, karena setiap cara yang dapat membuktikan kenabian dari nabi yang mana saja, maka cara yang semisal dengannya dan yang lebih besar darinya dapat membuktikan kepada kenabian Muhammad a. Dan setiap syubhat (pemikiran yang keliru) yang dijadikan dasar untuk mendiskreditkan kenabian Muhammad a, maka cara yang semisal dengannya atau yang lebih hebat darinya bisa diarah-kan kepada kenabian dari nabi yang lain. Apabila telah terbukti kepalsuan syubhat tersebut pada nabi lainnya maka kepastian kepalsuannya pada kebenaran Nabi Muhammad a menjadi lebih jelas lagi. ﴾ وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ ﴿ "Dan hanya kepadaNya kami berserah diri." Mak-sudnya, kami tunduk berserah diri kepada perintahNya. Siapa saja yang beriman kepadaNya, menjadikanNya sebagai sembahan dan beriman kepada seluruh kitab-kitabNya dan para RasulNya, serta tunduk kepada Allah dan mengikuti para RasulNya maka dialah orang yang berbahagia. Dan siapa saja yang menyimpang dari jalan ini, maka dialah orang yang sengsara.
Al-'Ankabut 29:47
"Dan demikian (pulalah) Kami menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an), lalu orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka al-Kitab (Taurat) maka mereka beriman kepadanya (al-Qur`an); dan di antara mereka (orang-orang kafir di Makkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang kafir. Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur`an) suatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab pun dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu)." (Al-Ankabut: 47-48).
(47) Maksudnya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ﴿ "dan demikian pulalah Kami turunkan kepadamu," wahai Muhammad, ﴾ ٱلۡكِتَٰبَۚ ﴿ "al-Kitab" yang mulia, yang menjelaskan setiap berita yang agung, yang menyeru kepada setiap akhlak mulia dan perkara yang sempurna, yang membenarkan kitab-kitab suci terdahulu, yang diberitakan oleh para nabi terdahulu, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "lalu orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab," mereka mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan mereka belum dirasuki oleh rasa dengki dan hawa nafsu, ﴾ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ ﴿ "maka mereka beriman kepadanya," karena mereka meyakini kebenarannya berdasarkan kesesuaian pengeta-huan yang mereka miliki, dan berdasarkan berita-berita gembira yang ada pada mereka serta karena mereka diistimewakan dengan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang dusta. ﴾ وَمِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Dan di antara mereka (orang-orang kafir Makkah)" yang ada ﴾ مَن يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ ﴿ "ada yang beriman kepadanya" dengan iman yang dilandasi pengetahuan yang mendalam, bukan karena suka atau takut. ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang kafir," yaitu mereka yang ka-rakternya adalah mengingkari kebenaran dan menentangnya. Ini adalah pembatasan terhadap orang-orang yang kafir kepadanya. Yaitu bahwa tidak seorang pun (dari mereka) yang tujuannya ada-lah mencari kebenaran. Kalau tidak demikian, maka setiap orang yang mempunyai tujuan yang benar pasti beriman kepadanya. Hal itu disebabkan karena di dalamnya terdapat bukti-bukti yang nyata bagi setiap orang yang masih mempunyai akal sehat atau mendengar dengan baik sedangkan ia menyaksikan. Di antara bukti yang membuktikan kebenarannya adalah bahwa al-Qur`an ini dibawa oleh seorang nabi yang dipercaya, nabi yang dikenal kejujuran dan keamanahannya, tempat masuk dan tempat keluarnya serta seluruh kondisinya oleh kaumnya; dan dia tidak pernah menulis satu baris pun dengan tangannya, bahkan dia sama sekali tidak bisa membaca satu baris pun yang tertulis. Jadi, kondisi beliau membawa al-Qur`an dalam kondisi seperti itu merupakan bukti yang pasti dan paling jelas, yang sama sekali tidak dapat diragukan bahwa al-Qur`an ini datang dari sisi Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
(48) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ ﴿ "Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah mentilawah" maksudnya, membaca ﴾ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَٰبٖ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَۖ إِذٗا ﴿ "sebelumnya suatu Kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu Kitab pun dengan tangan kananmu; andai-kata demikian," andaikata kamu seperti demikian keadaannya, ﴾ لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "benar-benar ragulah orang yang mengingkari," pasti mereka mengatakan, "Muhammad telah mempelajarinya dari kitab-kitab terdahulu, atau mengutipnya dari sana." Namun kenyataannya, sungguh telah diturunkan kepada hatimu sebuah Kitab yang sangat mulia, yang dapat kamu gunakan untuk menantang para ahli sastra Arab yang mempunyai retorika yang sangat tinggi, lagi menjadi musuh yang sangat memusuhi, agar mereka mendatang-kan kitab yang semisal dengannya, atau satu surat yang semisal dengannya, lalu mereka tidak mampu sama sekali untuk melaku-kannya, bahkan jiwa mereka sama sekali tidak membisikkan kepada mereka untuk menantangnya, karena mereka tahu retorika dan kefasihan al-Qur`an ini, dan mereka tahu bahwa perkataan seorang manusia tidak akan pernah bisa menandinginya, atau mirip dengan-nya. Maka dari itu, Dia berfirman,
Al-'Ankabut 29:48
"Dan demikian (pulalah) Kami menurunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur`an), lalu orang-orang yang telah Kami berikan ke-pada mereka al-Kitab (Taurat) maka mereka beriman kepadanya (al-Qur`an); dan di antara mereka (orang-orang kafir di Makkah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang kafir. Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah membaca sebelumnya (al-Qur`an) suatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab pun dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang memgingkari(mu)." (Al-Ankabut: 47-48).
(47) Maksudnya, ﴾ وَكَذَٰلِكَ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ﴿ "dan demikian pulalah Kami turunkan kepadamu," wahai Muhammad, ﴾ ٱلۡكِتَٰبَۚ ﴿ "al-Kitab" yang mulia, yang menjelaskan setiap berita yang agung, yang menyeru kepada setiap akhlak mulia dan perkara yang sempurna, yang membenarkan kitab-kitab suci terdahulu, yang diberitakan oleh para nabi terdahulu, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَاتَيۡنَٰهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "lalu orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka al-Kitab," mereka mengenalnya dengan sebenar-benarnya, dan mereka belum dirasuki oleh rasa dengki dan hawa nafsu, ﴾ يُؤۡمِنُونَ بِهِۦۖ ﴿ "maka mereka beriman kepadanya," karena mereka meyakini kebenarannya berdasarkan kesesuaian pengeta-huan yang mereka miliki, dan berdasarkan berita-berita gembira yang ada pada mereka serta karena mereka diistimewakan dengan kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang dusta. ﴾ وَمِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ ﴿ "Dan di antara mereka (orang-orang kafir Makkah)" yang ada ﴾ مَن يُؤۡمِنُ بِهِۦۚ ﴿ "ada yang beriman kepadanya" dengan iman yang dilandasi pengetahuan yang mendalam, bukan karena suka atau takut. ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang kafir," yaitu mereka yang ka-rakternya adalah mengingkari kebenaran dan menentangnya. Ini adalah pembatasan terhadap orang-orang yang kafir kepadanya. Yaitu bahwa tidak seorang pun (dari mereka) yang tujuannya ada-lah mencari kebenaran. Kalau tidak demikian, maka setiap orang yang mempunyai tujuan yang benar pasti beriman kepadanya. Hal itu disebabkan karena di dalamnya terdapat bukti-bukti yang nyata bagi setiap orang yang masih mempunyai akal sehat atau mendengar dengan baik sedangkan ia menyaksikan. Di antara bukti yang membuktikan kebenarannya adalah bahwa al-Qur`an ini dibawa oleh seorang nabi yang dipercaya, nabi yang dikenal kejujuran dan keamanahannya, tempat masuk dan tempat keluarnya serta seluruh kondisinya oleh kaumnya; dan dia tidak pernah menulis satu baris pun dengan tangannya, bahkan dia sama sekali tidak bisa membaca satu baris pun yang tertulis. Jadi, kondisi beliau membawa al-Qur`an dalam kondisi seperti itu merupakan bukti yang pasti dan paling jelas, yang sama sekali tidak dapat diragukan bahwa al-Qur`an ini datang dari sisi Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.
(48) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَمَا كُنتَ تَتۡلُواْ ﴿ "Dan kamu (wahai Muhammad) tidak pernah mentilawah" maksudnya, membaca ﴾ مِن قَبۡلِهِۦ مِن كِتَٰبٖ وَلَا تَخُطُّهُۥ بِيَمِينِكَۖ إِذٗا ﴿ "sebelumnya suatu Kitab pun dan kamu tidak pernah menulis suatu Kitab pun dengan tangan kananmu; andai-kata demikian," andaikata kamu seperti demikian keadaannya, ﴾ لَّٱرۡتَابَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "benar-benar ragulah orang yang mengingkari," pasti mereka mengatakan, "Muhammad telah mempelajarinya dari kitab-kitab terdahulu, atau mengutipnya dari sana." Namun kenyataannya, sungguh telah diturunkan kepada hatimu sebuah Kitab yang sangat mulia, yang dapat kamu gunakan untuk menantang para ahli sastra Arab yang mempunyai retorika yang sangat tinggi, lagi menjadi musuh yang sangat memusuhi, agar mereka mendatang-kan kitab yang semisal dengannya, atau satu surat yang semisal dengannya, lalu mereka tidak mampu sama sekali untuk melaku-kannya, bahkan jiwa mereka sama sekali tidak membisikkan kepada mereka untuk menantangnya, karena mereka tahu retorika dan kefasihan al-Qur`an ini, dan mereka tahu bahwa perkataan seorang manusia tidak akan pernah bisa menandinginya, atau mirip dengan-nya. Maka dari itu, Dia berfirman,
Al-'Ankabut 29:49
"Sebenarnya, al-Qur`an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang zhalim." (Al-Ankabut: 49).
(49) Maksudnya, bahkan sebenarnya al-Qur`an ini,﴾ ءَايَٰتُۢ بَيِّنَٰتٞ ﴿ "adalah ayat-ayat yang nyata" tidak tersembunyi, ﴾ فِي صُدُورِ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَۚ ﴿ "di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu," mereka adalah para pemuka manusia dan kaum cendikia mereka, dan mereka ada-lah orang-orang yang berakal lagi sempurna di antara mereka. Lalu apabila al-Qur`an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang seperti mereka, maka mereka menjadi hujjah atas orang-orang selain mereka. Maka ketidakpercayaan selain mereka (terhadap al-Qur`an) tidak berarti apa pun (tidak berbahaya), dan hal itu tidak akan terjadi kecuali karena kezhaliman. Maka dari itu, Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan tidaklah yang mengingkari ayat-ayat Kami melainkan orang-orang yang zhalim," sebab tidak mengingkari al-Qur`an ini kecuali orang jahil, yang berbicara tanpa landasan ilmu dan tidak berpedoman kepada para ahli ilmu, padahal dia mempunyai kemampuan untuk mengenalnya dengan yang sebenarnya. Adapun orang yang ber-pura-pura jahil (bodoh) yang mengetahui bahwa al-Qur`an itu benar, maka dia pasti menolaknya; yang mengetahui kebenarannya, maka pasti ia menyalahinya.
Al-'Ankabut 29:50
"Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Rabbnya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.' Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab sedang dia dibacakan kepada mereka. Sesung-guhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi." (Al-Ankabut: 50-52).
(50) Maksudnya, orang-orang zhalim (yang mendustakan Rasulullah dan syariat yang beliau bawa) menentang dan meng-usulkan kepadanya agar diturunkan mukjizat-mukjizat yang dapat mereka lihat, sebagaimana perkataan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami'." (Al-Isra`: 90). Sesungguhnya penentuan "turunnya mukjizat" itu bukan hak mereka dan juga bukan hak Rasulullah a. Sebab yang demikian itu berarti tindakan turut mengatur bersama Allah. Dan kalau demikian halnya dan harus demikian, padahal tidak seorang pun yang memiliki hak urusan, maka Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah'." Jika Dia berkehendak, maka Dia menurunkannya, atau menahannya. ﴾ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Aku tidak mempunyai kedudukan lebih dari kedudukan ini. Kalau yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar dari yang batil (palsu), lalu apabila tujuan sudah dicapai dengan cara apa pun, maka usulan "agar diturunkannya mukjizat-mukjizat tertentu" atas hal di atas adalah suatu kezhaliman, kedik-tatoran dan kesombongan terhadap Allah dan terhadap kebenaran. Bahkan kalau seandainya ditakdirkan (oleh Allah) mukjizat-muk-jizat itu diturunkan sedangkan di dalam hati mereka terdapat tekad bahwa mereka tidak akan beriman kepada kebenaran kecuali de-ngan mukjizat-mukjizat itu, maka hal itu bukanlah iman, itu tidak lain hanyalah sesuatu yang sejalan dengan hawa nafsu mereka, mereka mengimaninya bukan karena sesuatu itu adalah kebenaran, akan tetapi karena mukjizat-mukjizat tersebut. Maka, faidah apa yang bisa diperoleh dengan diturunkannya mukjizat tersebut de-ngan asumsi mukjizat itu ditakdirkan turun?
(51) Ketika yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar, maka Allah سبحانه وتعالى menyebutkan caranya, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka," dalam pengetahuan mereka tentang kebenaranmu dan kebenaran syariat yang kamu bawa ﴾ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "bahwasanya Kami telah menurunkan kepada-mu al-Kitab sedang ia dibacakan kepada mereka." Ini adalah ungkapan singkat yang sangat padat, di dalamnya terkandung banyak bukti-bukti yang sangat jelas dan petunjuk-petunjuk yang sangat gam-blang. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa keda-tangan Rasulullah a dengan membawa al-Qur`an, padahal beliau adalah seorang buta huruf adalah merupakan bukti paling besar atas kebenarannya; kemudian (kedua) ketidakmampuan mereka menantang dan melawannya adalah merupakan tanda (bukti) yang lain. Lalu (ketiga) kemunculannya secara terang-terangan di mana al-Qur`an dibacakan kepada mereka, dan disebutkan bahwa ia ber-asal dari sisi Allah. Rasulullah a menampakkannya (memuncul-kannya) ke permukaan umum di mana pada saat itu beliau hanya mempunyai segelintir pendukung, sedangkan orang-orang yang menentang dan memusuhinya sangat banyak. Namun beliau tidak merahasiakannya dan hal itu pun tidak mematahkan tekad bulat beliau, malah beliau menyerukannya dengan lantang di depan banyak orang, beliau mengumandangkannya kepada orang yang dekat dan orang yang jauh, bahwasanya (al-Qur`an) ini adalah Firman Rabbku, maka apakah ada seseorang yang mampu mela-wannya, atau berbicara dengan mengalahkannya, atau dapat me-nandinginya? Kemudian (keempat), informasi al-Qur`an tentang kisah-kisah generasi pertama dan berita-berita orang-orang terda-hulu dan hal-hal ghaib yang akan datang serta kontemporer, semua-nya sesuai dengan kenyataan. Kemudian (kelima), hegemoni al-Qur`an terhadap kitab-kitab samawi sebelumnya, dan pembenarannya terhadap yang shahih serta menafikan hal-hal yang dimasukkan ke dalam kitab-kitab tersebut, berupa tahrîf dan tabdîl; lalu bimbingannya kepada jalan yang lurus (yang tercermin) dalam perintah dan larangannya; hingga ia memerintahkan sesuatu lalu orang yang berakal menga-takan "kalau saja al-Qur`an tidak memerintahkannya," dan tidak pula ia melarang sesuatu, lalu orang yang berakal mengatakan "kalau saja ia tidak melarangnya," akan tetapi semua itu sangat se-suai dengan keadilan, mizan dan hikmah (kebijaksanaan) yang sangat logis bagi orang-orang yang mempunyai hati nurani dan akal. Kemudian (keenam), bimbingan-bimbingannya, hidayahnya dan hukum-hukumnya selalu relevan dengan setiap keadaan dan setiap zaman, yang mana semua permasalahan tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengannya. Semua itu sudah cukup bagi siapa saja yang ingin membenarkan kebenaran dan berusaha mencari yang benar. Allah tidak akan mencukupi orang yang belum puas dengan al-Qur`an, dan Allah tidak akan memberikan kesembuhan kepada orang yang tidak sembuh dengan al-Qur`an. Dan siapa saja yang berpegang dan berpedoman kepadanya, niscaya al-Qur`an menjadi rahmat dan kebaikan baginya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka akan memperoleh banyak ilmu, kebaikan yang sangat berharga, kesucian jiwa dan ruh, kemurnian keyakinan, kesempurnaan akhlak, futuhat (pembukaan) Ilahi dan berbagai rahasia Ilahi.
(52) ﴾ قُلۡ كَفَىٰ بِٱللَّهِ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ شَهِيدٗاۖ ﴿ "Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu'." Sesungguhnya aku telah me-minta kesaksian kepadaNya, maka kalau aku dusta, niscaya aku ditimpa oleh sesuatu yang kalian bisa mengambil pelajarannya. Akan tetapi kalau al-Qur`an ini seperti itu adanya (benar), maka se-sungguhnya Dia akan memberiku dukungan, Dia akan menolong-ku, Dia akan memudahkan segala urusan bagiku. Maka hendaknya kesaksian yang mulia dari Allah ini sudah cukup bagi kalian. Dan kalau masih terbesit di dalam hati kalian bahwa kesaksianNya, –karena kalian tidak mendengar dan tidak melihatnya–, belum cukup bagi kalian sebagai bukti maka s e s u n g g u h n y a ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi." Dan yang termasuk dalam kategori pengetahuanNya adalah pengeta-huan tentang keadaanku, keadaan kalian dan segala perkataan yang telah aku katakan kepada kalian. Maka kalau aku mengada-ada dengan mengatasnamakanNya, padahal Dia mengetahui dan kuasa menimpakan siksaanNya terhadapku, tentulah hal itu menjadi pelecehan terhadap ilmu (pengetahuan), kekuasaan dan kebijak-sanaanNya, sebagaimana Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ وَكَفَرُواْ بِٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi," karena mereka telah merugi dalam hal iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Kemudian, dan karena mereka sudah luput dari kenik-matan abadi, dan karena mereka memperoleh kebatilan yang sangat buruk sebagai ganti dari kebenaran yang shahih, dan memperoleh semua azab yang sangat pedih sebagai ganti kenikmatan abadi. Maka mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat kelak.
Al-'Ankabut 29:51
"Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Rabbnya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.' Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab sedang dia dibacakan kepada mereka. Sesung-guhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi." (Al-Ankabut: 50-52).
(50) Maksudnya, orang-orang zhalim (yang mendustakan Rasulullah dan syariat yang beliau bawa) menentang dan meng-usulkan kepadanya agar diturunkan mukjizat-mukjizat yang dapat mereka lihat, sebagaimana perkataan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami'." (Al-Isra`: 90). Sesungguhnya penentuan "turunnya mukjizat" itu bukan hak mereka dan juga bukan hak Rasulullah a. Sebab yang demikian itu berarti tindakan turut mengatur bersama Allah. Dan kalau demikian halnya dan harus demikian, padahal tidak seorang pun yang memiliki hak urusan, maka Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah'." Jika Dia berkehendak, maka Dia menurunkannya, atau menahannya. ﴾ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Aku tidak mempunyai kedudukan lebih dari kedudukan ini. Kalau yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar dari yang batil (palsu), lalu apabila tujuan sudah dicapai dengan cara apa pun, maka usulan "agar diturunkannya mukjizat-mukjizat tertentu" atas hal di atas adalah suatu kezhaliman, kedik-tatoran dan kesombongan terhadap Allah dan terhadap kebenaran. Bahkan kalau seandainya ditakdirkan (oleh Allah) mukjizat-muk-jizat itu diturunkan sedangkan di dalam hati mereka terdapat tekad bahwa mereka tidak akan beriman kepada kebenaran kecuali de-ngan mukjizat-mukjizat itu, maka hal itu bukanlah iman, itu tidak lain hanyalah sesuatu yang sejalan dengan hawa nafsu mereka, mereka mengimaninya bukan karena sesuatu itu adalah kebenaran, akan tetapi karena mukjizat-mukjizat tersebut. Maka, faidah apa yang bisa diperoleh dengan diturunkannya mukjizat tersebut de-ngan asumsi mukjizat itu ditakdirkan turun?
(51) Ketika yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar, maka Allah سبحانه وتعالى menyebutkan caranya, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka," dalam pengetahuan mereka tentang kebenaranmu dan kebenaran syariat yang kamu bawa ﴾ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "bahwasanya Kami telah menurunkan kepada-mu al-Kitab sedang ia dibacakan kepada mereka." Ini adalah ungkapan singkat yang sangat padat, di dalamnya terkandung banyak bukti-bukti yang sangat jelas dan petunjuk-petunjuk yang sangat gam-blang. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa keda-tangan Rasulullah a dengan membawa al-Qur`an, padahal beliau adalah seorang buta huruf adalah merupakan bukti paling besar atas kebenarannya; kemudian (kedua) ketidakmampuan mereka menantang dan melawannya adalah merupakan tanda (bukti) yang lain. Lalu (ketiga) kemunculannya secara terang-terangan di mana al-Qur`an dibacakan kepada mereka, dan disebutkan bahwa ia ber-asal dari sisi Allah. Rasulullah a menampakkannya (memuncul-kannya) ke permukaan umum di mana pada saat itu beliau hanya mempunyai segelintir pendukung, sedangkan orang-orang yang menentang dan memusuhinya sangat banyak. Namun beliau tidak merahasiakannya dan hal itu pun tidak mematahkan tekad bulat beliau, malah beliau menyerukannya dengan lantang di depan banyak orang, beliau mengumandangkannya kepada orang yang dekat dan orang yang jauh, bahwasanya (al-Qur`an) ini adalah Firman Rabbku, maka apakah ada seseorang yang mampu mela-wannya, atau berbicara dengan mengalahkannya, atau dapat me-nandinginya? Kemudian (keempat), informasi al-Qur`an tentang kisah-kisah generasi pertama dan berita-berita orang-orang terda-hulu dan hal-hal ghaib yang akan datang serta kontemporer, semua-nya sesuai dengan kenyataan. Kemudian (kelima), hegemoni al-Qur`an terhadap kitab-kitab samawi sebelumnya, dan pembenarannya terhadap yang shahih serta menafikan hal-hal yang dimasukkan ke dalam kitab-kitab tersebut, berupa tahrîf dan tabdîl; lalu bimbingannya kepada jalan yang lurus (yang tercermin) dalam perintah dan larangannya; hingga ia memerintahkan sesuatu lalu orang yang berakal menga-takan "kalau saja al-Qur`an tidak memerintahkannya," dan tidak pula ia melarang sesuatu, lalu orang yang berakal mengatakan "kalau saja ia tidak melarangnya," akan tetapi semua itu sangat se-suai dengan keadilan, mizan dan hikmah (kebijaksanaan) yang sangat logis bagi orang-orang yang mempunyai hati nurani dan akal. Kemudian (keenam), bimbingan-bimbingannya, hidayahnya dan hukum-hukumnya selalu relevan dengan setiap keadaan dan setiap zaman, yang mana semua permasalahan tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengannya. Semua itu sudah cukup bagi siapa saja yang ingin membenarkan kebenaran dan berusaha mencari yang benar. Allah tidak akan mencukupi orang yang belum puas dengan al-Qur`an, dan Allah tidak akan memberikan kesembuhan kepada orang yang tidak sembuh dengan al-Qur`an. Dan siapa saja yang berpegang dan berpedoman kepadanya, niscaya al-Qur`an menjadi rahmat dan kebaikan baginya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka akan memperoleh banyak ilmu, kebaikan yang sangat berharga, kesucian jiwa dan ruh, kemurnian keyakinan, kesempurnaan akhlak, futuhat (pembukaan) Ilahi dan berbagai rahasia Ilahi.
(52) ﴾ قُلۡ كَفَىٰ بِٱللَّهِ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ شَهِيدٗاۖ ﴿ "Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu'." Sesungguhnya aku telah me-minta kesaksian kepadaNya, maka kalau aku dusta, niscaya aku ditimpa oleh sesuatu yang kalian bisa mengambil pelajarannya. Akan tetapi kalau al-Qur`an ini seperti itu adanya (benar), maka se-sungguhnya Dia akan memberiku dukungan, Dia akan menolong-ku, Dia akan memudahkan segala urusan bagiku. Maka hendaknya kesaksian yang mulia dari Allah ini sudah cukup bagi kalian. Dan kalau masih terbesit di dalam hati kalian bahwa kesaksianNya, –karena kalian tidak mendengar dan tidak melihatnya–, belum cukup bagi kalian sebagai bukti maka s e s u n g g u h n y a ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi." Dan yang termasuk dalam kategori pengetahuanNya adalah pengeta-huan tentang keadaanku, keadaan kalian dan segala perkataan yang telah aku katakan kepada kalian. Maka kalau aku mengada-ada dengan mengatasnamakanNya, padahal Dia mengetahui dan kuasa menimpakan siksaanNya terhadapku, tentulah hal itu menjadi pelecehan terhadap ilmu (pengetahuan), kekuasaan dan kebijak-sanaanNya, sebagaimana Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ وَكَفَرُواْ بِٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi," karena mereka telah merugi dalam hal iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Kemudian, dan karena mereka sudah luput dari kenik-matan abadi, dan karena mereka memperoleh kebatilan yang sangat buruk sebagai ganti dari kebenaran yang shahih, dan memperoleh semua azab yang sangat pedih sebagai ganti kenikmatan abadi. Maka mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat kelak.
Al-'Ankabut 29:52
"Dan mereka berkata, 'Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Rabbnya?' Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.' Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al-Kitab sedang dia dibacakan kepada mereka. Sesung-guhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi." (Al-Ankabut: 50-52).
(50) Maksudnya, orang-orang zhalim (yang mendustakan Rasulullah dan syariat yang beliau bawa) menentang dan meng-usulkan kepadanya agar diturunkan mukjizat-mukjizat yang dapat mereka lihat, sebagaimana perkataan mereka, ﴾ وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنۢبُوعًا 90 ﴿ "Dan mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami'." (Al-Isra`: 90). Sesungguhnya penentuan "turunnya mukjizat" itu bukan hak mereka dan juga bukan hak Rasulullah a. Sebab yang demikian itu berarti tindakan turut mengatur bersama Allah. Dan kalau demikian halnya dan harus demikian, padahal tidak seorang pun yang memiliki hak urusan, maka Allah berfirman,﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡأٓيَٰتُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah'." Jika Dia berkehendak, maka Dia menurunkannya, atau menahannya. ﴾ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Aku tidak mempunyai kedudukan lebih dari kedudukan ini. Kalau yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar dari yang batil (palsu), lalu apabila tujuan sudah dicapai dengan cara apa pun, maka usulan "agar diturunkannya mukjizat-mukjizat tertentu" atas hal di atas adalah suatu kezhaliman, kedik-tatoran dan kesombongan terhadap Allah dan terhadap kebenaran. Bahkan kalau seandainya ditakdirkan (oleh Allah) mukjizat-muk-jizat itu diturunkan sedangkan di dalam hati mereka terdapat tekad bahwa mereka tidak akan beriman kepada kebenaran kecuali de-ngan mukjizat-mukjizat itu, maka hal itu bukanlah iman, itu tidak lain hanyalah sesuatu yang sejalan dengan hawa nafsu mereka, mereka mengimaninya bukan karena sesuatu itu adalah kebenaran, akan tetapi karena mukjizat-mukjizat tersebut. Maka, faidah apa yang bisa diperoleh dengan diturunkannya mukjizat tersebut de-ngan asumsi mukjizat itu ditakdirkan turun?
(51) Ketika yang dimaksud adalah menjelaskan yang benar, maka Allah سبحانه وتعالى menyebutkan caranya, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ ﴿ "Dan apakah tidak cukup bagi mereka," dalam pengetahuan mereka tentang kebenaranmu dan kebenaran syariat yang kamu bawa ﴾ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "bahwasanya Kami telah menurunkan kepada-mu al-Kitab sedang ia dibacakan kepada mereka." Ini adalah ungkapan singkat yang sangat padat, di dalamnya terkandung banyak bukti-bukti yang sangat jelas dan petunjuk-petunjuk yang sangat gam-blang. Sebab, sebagaimana telah dijelaskan di muka bahwa keda-tangan Rasulullah a dengan membawa al-Qur`an, padahal beliau adalah seorang buta huruf adalah merupakan bukti paling besar atas kebenarannya; kemudian (kedua) ketidakmampuan mereka menantang dan melawannya adalah merupakan tanda (bukti) yang lain. Lalu (ketiga) kemunculannya secara terang-terangan di mana al-Qur`an dibacakan kepada mereka, dan disebutkan bahwa ia ber-asal dari sisi Allah. Rasulullah a menampakkannya (memuncul-kannya) ke permukaan umum di mana pada saat itu beliau hanya mempunyai segelintir pendukung, sedangkan orang-orang yang menentang dan memusuhinya sangat banyak. Namun beliau tidak merahasiakannya dan hal itu pun tidak mematahkan tekad bulat beliau, malah beliau menyerukannya dengan lantang di depan banyak orang, beliau mengumandangkannya kepada orang yang dekat dan orang yang jauh, bahwasanya (al-Qur`an) ini adalah Firman Rabbku, maka apakah ada seseorang yang mampu mela-wannya, atau berbicara dengan mengalahkannya, atau dapat me-nandinginya? Kemudian (keempat), informasi al-Qur`an tentang kisah-kisah generasi pertama dan berita-berita orang-orang terda-hulu dan hal-hal ghaib yang akan datang serta kontemporer, semua-nya sesuai dengan kenyataan. Kemudian (kelima), hegemoni al-Qur`an terhadap kitab-kitab samawi sebelumnya, dan pembenarannya terhadap yang shahih serta menafikan hal-hal yang dimasukkan ke dalam kitab-kitab tersebut, berupa tahrîf dan tabdîl; lalu bimbingannya kepada jalan yang lurus (yang tercermin) dalam perintah dan larangannya; hingga ia memerintahkan sesuatu lalu orang yang berakal menga-takan "kalau saja al-Qur`an tidak memerintahkannya," dan tidak pula ia melarang sesuatu, lalu orang yang berakal mengatakan "kalau saja ia tidak melarangnya," akan tetapi semua itu sangat se-suai dengan keadilan, mizan dan hikmah (kebijaksanaan) yang sangat logis bagi orang-orang yang mempunyai hati nurani dan akal. Kemudian (keenam), bimbingan-bimbingannya, hidayahnya dan hukum-hukumnya selalu relevan dengan setiap keadaan dan setiap zaman, yang mana semua permasalahan tidak akan bisa menjadi baik kecuali dengannya. Semua itu sudah cukup bagi siapa saja yang ingin membenarkan kebenaran dan berusaha mencari yang benar. Allah tidak akan mencukupi orang yang belum puas dengan al-Qur`an, dan Allah tidak akan memberikan kesembuhan kepada orang yang tidak sembuh dengan al-Qur`an. Dan siapa saja yang berpegang dan berpedoman kepadanya, niscaya al-Qur`an menjadi rahmat dan kebaikan baginya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya di dalam (al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka akan memperoleh banyak ilmu, kebaikan yang sangat berharga, kesucian jiwa dan ruh, kemurnian keyakinan, kesempurnaan akhlak, futuhat (pembukaan) Ilahi dan berbagai rahasia Ilahi.
(52) ﴾ قُلۡ كَفَىٰ بِٱللَّهِ بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡ شَهِيدٗاۖ ﴿ "Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu'." Sesungguhnya aku telah me-minta kesaksian kepadaNya, maka kalau aku dusta, niscaya aku ditimpa oleh sesuatu yang kalian bisa mengambil pelajarannya. Akan tetapi kalau al-Qur`an ini seperti itu adanya (benar), maka se-sungguhnya Dia akan memberiku dukungan, Dia akan menolong-ku, Dia akan memudahkan segala urusan bagiku. Maka hendaknya kesaksian yang mulia dari Allah ini sudah cukup bagi kalian. Dan kalau masih terbesit di dalam hati kalian bahwa kesaksianNya, –karena kalian tidak mendengar dan tidak melihatnya–, belum cukup bagi kalian sebagai bukti maka s e s u n g g u h n y a ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Dia mengetahui apa yang di langit dan bumi." Dan yang termasuk dalam kategori pengetahuanNya adalah pengeta-huan tentang keadaanku, keadaan kalian dan segala perkataan yang telah aku katakan kepada kalian. Maka kalau aku mengada-ada dengan mengatasnamakanNya, padahal Dia mengetahui dan kuasa menimpakan siksaanNya terhadapku, tentulah hal itu menjadi pelecehan terhadap ilmu (pengetahuan), kekuasaan dan kebijak-sanaanNya, sebagaimana Dia berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ 44 لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ 45 ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ 46 ﴿ "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya." (Al-Haqqah: 44-46). ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡبَٰطِلِ وَكَفَرُواْ بِٱللَّهِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi," karena mereka telah merugi dalam hal iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitabNya, para RasulNya dan Hari Kemudian, dan karena mereka sudah luput dari kenik-matan abadi, dan karena mereka memperoleh kebatilan yang sangat buruk sebagai ganti dari kebenaran yang shahih, dan memperoleh semua azab yang sangat pedih sebagai ganti kenikmatan abadi. Maka mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat kelak.
Al-'Ankabut 29:53
"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera ditu-runkan azab. Dan sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir, pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, dan Allah berkata (ke-pada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Ankabut: 53-55).
(53) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kebodohan orang-orang yang mendustakan para rasul dan syariat yang mereka bawa, dan bahwa mereka mengatakan agar segera diturunkan azab, dan tam-bahan pendustaan mereka, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapan janji ini, kalau kalian memang orang-orang yang benar?" (Al-Anbiya`: 38). Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَآ أَجَلٞ مُّسَمّٗى ﴿ "Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan," yang sudah ditetapkan waktu terjadinya, dan sekarang masih belum saatnya, ﴾ لَّجَآءَهُمُ ٱلۡعَذَابُۚ ﴿ "benar-benar telah datang azab kepada mereka," disebabkan mereka menganggap Kami tidak mampu dan karena mereka mendustakan yang benar. Maka kalau saja Kami menghukum mereka disebabkan kobodohan me-reka, niscaya perkataan mereka menjadi faktor yang mempercepat untuk ditimpakannya bala dan azab terhadap mereka. Akan tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak bisa menghambat turunnya azab, karena ia akan datang menimpa mereka ﴾ بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya." Azab itu pun terjadi, sebagaimana diberitakan oleh Allah سبحانه وتعالى. Tatkala mereka datang menuju Badar dengan congkak dan berbangga diri, seraya mengira bahwa mereka akan memperoleh apa yang mereka angan-angan-kan, maka Allah membinasakan mereka, membunuh para pembesar mereka dan menghabisi sejumlah orang-orang jahat mereka, se-hingga tidak ada satu rumah pun milik mereka melainkan ditimpa oleh musibah itu. Azab menimpa mereka dari arah dan waktu yang tidak mereka duga, dan azab itu menimpa mereka sedangkan me-reka tidak sadar.
(54) Demikianlah, dan jika azab duniawi itu tidak turun menimpa mereka, maka sesungguhnya di hadapan mereka ada azab ukhrawi yang tidak seorang pun dari mereka yang lolos dari-nya, baik yang sudah ditimpa azab di dunia terlebih dahulu mau-pun yang ditangguhkan, maka ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." Mereka tidak mempunyai tempat menghindar atau tempat melepaskan diri dari-nya. Jahanam itu telah mengepung mereka dari segala sisi sebagai-mana dosa-dosa, kejahatan dan kekafiran telah meliputi mereka. Azab itu adalah azab yang sangat dahsyat.
(55) ﴾ يَوۡمَ يَغۡشَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۡ وَيَقُولُ ذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'," karena amal perbuatan kalian akan berubah menjadi azab terhadap kalian, dan kalian akan diliputi azab sebagaimana kekafiran dan dosa-dosa telah meliputi kalian.
Al-'Ankabut 29:54
"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera ditu-runkan azab. Dan sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir, pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, dan Allah berkata (ke-pada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Ankabut: 53-55).
(53) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kebodohan orang-orang yang mendustakan para rasul dan syariat yang mereka bawa, dan bahwa mereka mengatakan agar segera diturunkan azab, dan tam-bahan pendustaan mereka, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapan janji ini, kalau kalian memang orang-orang yang benar?" (Al-Anbiya`: 38). Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَآ أَجَلٞ مُّسَمّٗى ﴿ "Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan," yang sudah ditetapkan waktu terjadinya, dan sekarang masih belum saatnya, ﴾ لَّجَآءَهُمُ ٱلۡعَذَابُۚ ﴿ "benar-benar telah datang azab kepada mereka," disebabkan mereka menganggap Kami tidak mampu dan karena mereka mendustakan yang benar. Maka kalau saja Kami menghukum mereka disebabkan kobodohan me-reka, niscaya perkataan mereka menjadi faktor yang mempercepat untuk ditimpakannya bala dan azab terhadap mereka. Akan tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak bisa menghambat turunnya azab, karena ia akan datang menimpa mereka ﴾ بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya." Azab itu pun terjadi, sebagaimana diberitakan oleh Allah سبحانه وتعالى. Tatkala mereka datang menuju Badar dengan congkak dan berbangga diri, seraya mengira bahwa mereka akan memperoleh apa yang mereka angan-angan-kan, maka Allah membinasakan mereka, membunuh para pembesar mereka dan menghabisi sejumlah orang-orang jahat mereka, se-hingga tidak ada satu rumah pun milik mereka melainkan ditimpa oleh musibah itu. Azab menimpa mereka dari arah dan waktu yang tidak mereka duga, dan azab itu menimpa mereka sedangkan me-reka tidak sadar.
(54) Demikianlah, dan jika azab duniawi itu tidak turun menimpa mereka, maka sesungguhnya di hadapan mereka ada azab ukhrawi yang tidak seorang pun dari mereka yang lolos dari-nya, baik yang sudah ditimpa azab di dunia terlebih dahulu mau-pun yang ditangguhkan, maka ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." Mereka tidak mempunyai tempat menghindar atau tempat melepaskan diri dari-nya. Jahanam itu telah mengepung mereka dari segala sisi sebagai-mana dosa-dosa, kejahatan dan kekafiran telah meliputi mereka. Azab itu adalah azab yang sangat dahsyat.
(55) ﴾ يَوۡمَ يَغۡشَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۡ وَيَقُولُ ذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'," karena amal perbuatan kalian akan berubah menjadi azab terhadap kalian, dan kalian akan diliputi azab sebagaimana kekafiran dan dosa-dosa telah meliputi kalian.
Al-'Ankabut 29:55
"Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya. Mereka meminta kepadamu supaya segera ditu-runkan azab. Dan sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir, pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka, dan Allah berkata (ke-pada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Ankabut: 53-55).
(53) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kebodohan orang-orang yang mendustakan para rasul dan syariat yang mereka bawa, dan bahwa mereka mengatakan agar segera diturunkan azab, dan tam-bahan pendustaan mereka, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapan janji ini, kalau kalian memang orang-orang yang benar?" (Al-Anbiya`: 38). Allah berfirman, ﴾ وَلَوۡلَآ أَجَلٞ مُّسَمّٗى ﴿ "Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan," yang sudah ditetapkan waktu terjadinya, dan sekarang masih belum saatnya, ﴾ لَّجَآءَهُمُ ٱلۡعَذَابُۚ ﴿ "benar-benar telah datang azab kepada mereka," disebabkan mereka menganggap Kami tidak mampu dan karena mereka mendustakan yang benar. Maka kalau saja Kami menghukum mereka disebabkan kobodohan me-reka, niscaya perkataan mereka menjadi faktor yang mempercepat untuk ditimpakannya bala dan azab terhadap mereka. Akan tetapi, sekalipun demikian, mereka tidak bisa menghambat turunnya azab, karena ia akan datang menimpa mereka ﴾ بَغۡتَةٗ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ ﴿ "dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya." Azab itu pun terjadi, sebagaimana diberitakan oleh Allah سبحانه وتعالى. Tatkala mereka datang menuju Badar dengan congkak dan berbangga diri, seraya mengira bahwa mereka akan memperoleh apa yang mereka angan-angan-kan, maka Allah membinasakan mereka, membunuh para pembesar mereka dan menghabisi sejumlah orang-orang jahat mereka, se-hingga tidak ada satu rumah pun milik mereka melainkan ditimpa oleh musibah itu. Azab menimpa mereka dari arah dan waktu yang tidak mereka duga, dan azab itu menimpa mereka sedangkan me-reka tidak sadar.
(54) Demikianlah, dan jika azab duniawi itu tidak turun menimpa mereka, maka sesungguhnya di hadapan mereka ada azab ukhrawi yang tidak seorang pun dari mereka yang lolos dari-nya, baik yang sudah ditimpa azab di dunia terlebih dahulu mau-pun yang ditangguhkan, maka ﴾ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةُۢ بِٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "sesungguhnya jahanam benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." Mereka tidak mempunyai tempat menghindar atau tempat melepaskan diri dari-nya. Jahanam itu telah mengepung mereka dari segala sisi sebagai-mana dosa-dosa, kejahatan dan kekafiran telah meliputi mereka. Azab itu adalah azab yang sangat dahsyat.
(55) ﴾ يَوۡمَ يَغۡشَىٰهُمُ ٱلۡعَذَابُ مِن فَوۡقِهِمۡ وَمِن تَحۡتِ أَرۡجُلِهِمۡ وَيَقُولُ ذُوقُواْ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka), 'Rasakanlah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan'," karena amal perbuatan kalian akan berubah menjadi azab terhadap kalian, dan kalian akan diliputi azab sebagaimana kekafiran dan dosa-dosa telah meliputi kalian.
Al-'Ankabut 29:56
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja. Tiap-tiap yang berjiwa akan me-rasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kamilah kamu dikem-balikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Rabbnya." (Al-Ankabut: 56-59).
(56-59) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Hai hamba-hambaKu yang beriman," kepadaKu dan membenarkan rasulKu, ﴾ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ﴿ "sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja." Apabila kalian tidak bisa beribadah kepada Rabb kalian di suatu daerah, maka pindahlah darinya ke daerah yang lain di mana kalian dapat beribadah kepada Allah semata. Sebab, tempat-tempat ibadah dan letak-letaknya luas, sementara Dzat yang disembah hanya satu, dan kematian pasti akan menimpa kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang menyempurnakan ibadah-nya dan memadukan antara iman dan amal shalih, yaitu Dia akan menempatkannya pada bilik-bilik yang sangat tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat indah lagi penuh dengan apa saja yang disukai oleh jiwa dan sedap dipandang mata, sedangkan kalian kekal di dalamnya. Itulah senikmat-nikmat tempat tinggal di surga yang penuh kenikmatan dan pahala bagi orang-orang yang beramal di sisi Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "yaitu orang-orang yang bersabar" dalam beribadah kepada Allah, ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "dan bertawakal kepada Rabbnya," dalam hal itu. Kesabaran mereka dalam beribadah kepada Allah menun-tut sikap mencurahkan segenap kemampuan dan potensi, dan perang besar melawan setan yang selalu mengajak mereka merusak sebagian dari ibadah. Dan tawakal mereka kepada Allah berkonse-kuensi sangat bersandar kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Dia pasti akan merealisasikan dan menyempurnakan amal-amal kebajikan yang mereka tekadkan. Allah menuliskan nash tawakal, walaupun ia sudah masuk dalam makna sabar ada-lah karena tawakal selalu dibutuhkan dalam setiap mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, dan ia tidak akan bisa ter-laksana kecuali disertai tawakal.
Al-'Ankabut 29:57
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja. Tiap-tiap yang berjiwa akan me-rasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kamilah kamu dikem-balikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Rabbnya." (Al-Ankabut: 56-59).
(56-59) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Hai hamba-hambaKu yang beriman," kepadaKu dan membenarkan rasulKu, ﴾ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ﴿ "sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja." Apabila kalian tidak bisa beribadah kepada Rabb kalian di suatu daerah, maka pindahlah darinya ke daerah yang lain di mana kalian dapat beribadah kepada Allah semata. Sebab, tempat-tempat ibadah dan letak-letaknya luas, sementara Dzat yang disembah hanya satu, dan kematian pasti akan menimpa kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang menyempurnakan ibadah-nya dan memadukan antara iman dan amal shalih, yaitu Dia akan menempatkannya pada bilik-bilik yang sangat tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat indah lagi penuh dengan apa saja yang disukai oleh jiwa dan sedap dipandang mata, sedangkan kalian kekal di dalamnya. Itulah senikmat-nikmat tempat tinggal di surga yang penuh kenikmatan dan pahala bagi orang-orang yang beramal di sisi Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "yaitu orang-orang yang bersabar" dalam beribadah kepada Allah, ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "dan bertawakal kepada Rabbnya," dalam hal itu. Kesabaran mereka dalam beribadah kepada Allah menun-tut sikap mencurahkan segenap kemampuan dan potensi, dan perang besar melawan setan yang selalu mengajak mereka merusak sebagian dari ibadah. Dan tawakal mereka kepada Allah berkonse-kuensi sangat bersandar kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Dia pasti akan merealisasikan dan menyempurnakan amal-amal kebajikan yang mereka tekadkan. Allah menuliskan nash tawakal, walaupun ia sudah masuk dalam makna sabar ada-lah karena tawakal selalu dibutuhkan dalam setiap mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, dan ia tidak akan bisa ter-laksana kecuali disertai tawakal.
Al-'Ankabut 29:58
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja. Tiap-tiap yang berjiwa akan me-rasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kamilah kamu dikem-balikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Rabbnya." (Al-Ankabut: 56-59).
(56-59) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Hai hamba-hambaKu yang beriman," kepadaKu dan membenarkan rasulKu, ﴾ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ﴿ "sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja." Apabila kalian tidak bisa beribadah kepada Rabb kalian di suatu daerah, maka pindahlah darinya ke daerah yang lain di mana kalian dapat beribadah kepada Allah semata. Sebab, tempat-tempat ibadah dan letak-letaknya luas, sementara Dzat yang disembah hanya satu, dan kematian pasti akan menimpa kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang menyempurnakan ibadah-nya dan memadukan antara iman dan amal shalih, yaitu Dia akan menempatkannya pada bilik-bilik yang sangat tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat indah lagi penuh dengan apa saja yang disukai oleh jiwa dan sedap dipandang mata, sedangkan kalian kekal di dalamnya. Itulah senikmat-nikmat tempat tinggal di surga yang penuh kenikmatan dan pahala bagi orang-orang yang beramal di sisi Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "yaitu orang-orang yang bersabar" dalam beribadah kepada Allah, ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "dan bertawakal kepada Rabbnya," dalam hal itu. Kesabaran mereka dalam beribadah kepada Allah menun-tut sikap mencurahkan segenap kemampuan dan potensi, dan perang besar melawan setan yang selalu mengajak mereka merusak sebagian dari ibadah. Dan tawakal mereka kepada Allah berkonse-kuensi sangat bersandar kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Dia pasti akan merealisasikan dan menyempurnakan amal-amal kebajikan yang mereka tekadkan. Allah menuliskan nash tawakal, walaupun ia sudah masuk dalam makna sabar ada-lah karena tawakal selalu dibutuhkan dalam setiap mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, dan ia tidak akan bisa ter-laksana kecuali disertai tawakal.
Al-'Ankabut 29:59
"Hai hamba-hambaKu yang beriman, sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja. Tiap-tiap yang berjiwa akan me-rasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kamilah kamu dikem-balikan. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, sungguh akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang bersabar dan bertawakal kepada Rabbnya." (Al-Ankabut: 56-59).
(56-59) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Hai hamba-hambaKu yang beriman," kepadaKu dan membenarkan rasulKu, ﴾ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ ﴿ "sesungguhnya bumiKu luas, maka sembahlah Aku saja." Apabila kalian tidak bisa beribadah kepada Rabb kalian di suatu daerah, maka pindahlah darinya ke daerah yang lain di mana kalian dapat beribadah kepada Allah semata. Sebab, tempat-tempat ibadah dan letak-letaknya luas, sementara Dzat yang disembah hanya satu, dan kematian pasti akan menimpa kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada orang yang menyempurnakan ibadah-nya dan memadukan antara iman dan amal shalih, yaitu Dia akan menempatkannya pada bilik-bilik yang sangat tinggi dan tempat-tempat tinggal yang sangat indah lagi penuh dengan apa saja yang disukai oleh jiwa dan sedap dipandang mata, sedangkan kalian kekal di dalamnya. Itulah senikmat-nikmat tempat tinggal di surga yang penuh kenikmatan dan pahala bagi orang-orang yang beramal di sisi Allah, ﴾ ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ﴿ "yaitu orang-orang yang bersabar" dalam beribadah kepada Allah, ﴾ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "dan bertawakal kepada Rabbnya," dalam hal itu. Kesabaran mereka dalam beribadah kepada Allah menun-tut sikap mencurahkan segenap kemampuan dan potensi, dan perang besar melawan setan yang selalu mengajak mereka merusak sebagian dari ibadah. Dan tawakal mereka kepada Allah berkonse-kuensi sangat bersandar kepada Allah dan berbaik sangka kepada-Nya, bahwa Dia pasti akan merealisasikan dan menyempurnakan amal-amal kebajikan yang mereka tekadkan. Allah menuliskan nash tawakal, walaupun ia sudah masuk dalam makna sabar ada-lah karena tawakal selalu dibutuhkan dalam setiap mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, dan ia tidak akan bisa ter-laksana kecuali disertai tawakal.
Al-'Ankabut 29:60
"Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepada-nya dan kepadamu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengeta-hui." (Al-Ankabut: 60).
(60) Allah سبحانه وتعالى Sang Pencipta telah menjamin rizki seluruh makhluk, yang kuat maupun mereka yang lemah. Betapa banyak ﴾ مِّن دَآبَّةٖ ﴿ "binatang melata," di muka bumi ini yang lemah kekuatan-nya, rendah akalnya, ﴾ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ﴿ "yang tidak dapat membawa (mengurus) rizkinya sendiri," dan tidak pula dapat menyimpannya, bahkan ia tetap senantiasa tidak dapat membawa rizkinya sedikit pun, namun Allah terus menyediakan rizki untuknya pada setiap saat sesuai dengan waktunya. ﴾ ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ ﴿ "Allah-lah yang mem-beri rizki kepadanya dan kepadamu," jadi kalian semua menjadi tang-gungan Allah yang mengatur rizki kalian, sebagaimana Dia telah menciptakan dan mengurusi kalian. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengeta-hui." Maka tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dariNya, tidak ada binatang melata pun yang akan binasa karena keadaannya tersembunyi dariNya, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى tegaskan, ﴾ وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ 6 ﴿ "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Hud: 6).
Al-'Ankabut 29:61
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' maka bagaimana mungkin mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan Dia (pula) yang menyempitkan bagi-nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)." (Al-Ankabut: 61-63).
(61-63) Ini adalah suatu pengambilan dalil (sebagai bukti) bagi kaum musyrikin yang mendustakan tauhid ilahiyah dan ibadah, dan pengharusan terhadap mereka berdasarkan Tauhid Rububiyah yang mereka yakini. Sebab, kalau ﴾ سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi'," dan siapa yang menurunkan air dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan (menyuburkan) kembali bumi ini setelah ke-tandusannya? Dan siapa yang memiliki kekuasaan mengatur segala sesuatu? ﴾ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ ﴿ "Tentu mereka akan menjawab, 'Allah'," semata, dan tentu mereka mengakui ketidakberdayaan berhala-berhala dan orang-orang yang menyembahnya bersama Allah untuk melaku-kan sedikit saja dari hal-hal itu! Maka heranlah Anda terhadap kebohongan dan kedustaan mereka serta tindakan mereka meng-hadap kepada sesuatu yang mereka yakini ketidakberdayaannya, mereka mengakui bahwa sembahan itu tidak berhak mengurus sesuatu apa pun! Anda sangat prihatin terhadap mereka karena mereka tidak berakal, dan karena mereka dungu, sangat lemah akalnya! Apakah kamu menemukan orang yang lebih lemah akalnya dan lebih dangkal mata hatinya daripada orang-orang yang datang kepada batu, atau kuburan atau yang serupa dengannya, (sedang-kan dia mengetahui bahwa benda-benda itu tidak dapat memberi-kan keuntungan, tidak dapat menimpakan bahaya, tidak dapat menciptakan dan tidak pula dapat memberi rizki), lalu ia memper-sembahkan seluruh keikhlasannya dan ketulusan ubudiah (peng-hambaannya) kepadanya, dan dia mempersekutukannya dengan Rabb sang Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi keuntungan dan Pe-nurun bahaya? Ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk (hidayah) dari kesesatan, dan menjelaskan kepalsuan ajaran yang dianut oleh kaum musyrikin, agar diwaspadai oleh orang-orang yang mendapat taufik(Nya)." Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam atas dan alam bawah, dan bertindak mengatur dan memberi mereka rizki, dan Dia mela-pangkan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan menyem-pitkannya terhadap siapa saja yang Dia kehendaki karena hikmah dariNya dan karena Dia tahu apa yang menjadi kemaslahatan bagi hamba-hambaNya serta apa yang pantas bagi mereka.
Al-'Ankabut 29:62
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' maka bagaimana mungkin mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan Dia (pula) yang menyempitkan bagi-nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)." (Al-Ankabut: 61-63).
(61-63) Ini adalah suatu pengambilan dalil (sebagai bukti) bagi kaum musyrikin yang mendustakan tauhid ilahiyah dan ibadah, dan pengharusan terhadap mereka berdasarkan Tauhid Rububiyah yang mereka yakini. Sebab, kalau ﴾ سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi'," dan siapa yang menurunkan air dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan (menyuburkan) kembali bumi ini setelah ke-tandusannya? Dan siapa yang memiliki kekuasaan mengatur segala sesuatu? ﴾ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ ﴿ "Tentu mereka akan menjawab, 'Allah'," semata, dan tentu mereka mengakui ketidakberdayaan berhala-berhala dan orang-orang yang menyembahnya bersama Allah untuk melaku-kan sedikit saja dari hal-hal itu! Maka heranlah Anda terhadap kebohongan dan kedustaan mereka serta tindakan mereka meng-hadap kepada sesuatu yang mereka yakini ketidakberdayaannya, mereka mengakui bahwa sembahan itu tidak berhak mengurus sesuatu apa pun! Anda sangat prihatin terhadap mereka karena mereka tidak berakal, dan karena mereka dungu, sangat lemah akalnya! Apakah kamu menemukan orang yang lebih lemah akalnya dan lebih dangkal mata hatinya daripada orang-orang yang datang kepada batu, atau kuburan atau yang serupa dengannya, (sedang-kan dia mengetahui bahwa benda-benda itu tidak dapat memberi-kan keuntungan, tidak dapat menimpakan bahaya, tidak dapat menciptakan dan tidak pula dapat memberi rizki), lalu ia memper-sembahkan seluruh keikhlasannya dan ketulusan ubudiah (peng-hambaannya) kepadanya, dan dia mempersekutukannya dengan Rabb sang Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi keuntungan dan Pe-nurun bahaya? Ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk (hidayah) dari kesesatan, dan menjelaskan kepalsuan ajaran yang dianut oleh kaum musyrikin, agar diwaspadai oleh orang-orang yang mendapat taufik(Nya)." Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam atas dan alam bawah, dan bertindak mengatur dan memberi mereka rizki, dan Dia mela-pangkan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan menyem-pitkannya terhadap siapa saja yang Dia kehendaki karena hikmah dariNya dan karena Dia tahu apa yang menjadi kemaslahatan bagi hamba-hambaNya serta apa yang pantas bagi mereka.
Al-'Ankabut 29:63
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' maka bagaimana mungkin mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan Dia (pula) yang menyempitkan bagi-nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah,' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya)." (Al-Ankabut: 61-63).
(61-63) Ini adalah suatu pengambilan dalil (sebagai bukti) bagi kaum musyrikin yang mendustakan tauhid ilahiyah dan ibadah, dan pengharusan terhadap mereka berdasarkan Tauhid Rububiyah yang mereka yakini. Sebab, kalau ﴾ سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menjadikan langit dan bumi'," dan siapa yang menurunkan air dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan (menyuburkan) kembali bumi ini setelah ke-tandusannya? Dan siapa yang memiliki kekuasaan mengatur segala sesuatu? ﴾ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ ﴿ "Tentu mereka akan menjawab, 'Allah'," semata, dan tentu mereka mengakui ketidakberdayaan berhala-berhala dan orang-orang yang menyembahnya bersama Allah untuk melaku-kan sedikit saja dari hal-hal itu! Maka heranlah Anda terhadap kebohongan dan kedustaan mereka serta tindakan mereka meng-hadap kepada sesuatu yang mereka yakini ketidakberdayaannya, mereka mengakui bahwa sembahan itu tidak berhak mengurus sesuatu apa pun! Anda sangat prihatin terhadap mereka karena mereka tidak berakal, dan karena mereka dungu, sangat lemah akalnya! Apakah kamu menemukan orang yang lebih lemah akalnya dan lebih dangkal mata hatinya daripada orang-orang yang datang kepada batu, atau kuburan atau yang serupa dengannya, (sedang-kan dia mengetahui bahwa benda-benda itu tidak dapat memberi-kan keuntungan, tidak dapat menimpakan bahaya, tidak dapat menciptakan dan tidak pula dapat memberi rizki), lalu ia memper-sembahkan seluruh keikhlasannya dan ketulusan ubudiah (peng-hambaannya) kepadanya, dan dia mempersekutukannya dengan Rabb sang Pencipta, Pemberi rizki, Pemberi keuntungan dan Pe-nurun bahaya? Ucapkanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menjelaskan petunjuk (hidayah) dari kesesatan, dan menjelaskan kepalsuan ajaran yang dianut oleh kaum musyrikin, agar diwaspadai oleh orang-orang yang mendapat taufik(Nya)." Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan alam atas dan alam bawah, dan bertindak mengatur dan memberi mereka rizki, dan Dia mela-pangkan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan menyem-pitkannya terhadap siapa saja yang Dia kehendaki karena hikmah dariNya dan karena Dia tahu apa yang menjadi kemaslahatan bagi hamba-hambaNya serta apa yang pantas bagi mereka.
Al-'Ankabut 29:64
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Al-'Ankabut 29:65
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Al-'Ankabut 29:66
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Al-'Ankabut 29:67
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Al-'Ankabut 29:68
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Al-'Ankabut 29:69
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenar-nya kehidupan, kalau mereka mengetahui. Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah), agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya). Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah haram yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil, dan ingkar kepada nikmat Allah? Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir? Dan orang-orang yang ber-jihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Al-Ankabut: 64-69).
(64) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kondisi dunia dan akhirat, dan terkandung di dalamnya (seruan) bersikap zuhud terhadap dunia dan merindukan akhirat, seraya berfirman, ﴾ وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ ﴿ "Dan tiadalah kehidupan dunia ini," pada yang sebenarnya, ﴾ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ ﴿ "melainkan senda gurau dan main-main," dengannya hati menjadi lengah, dan dengannya jasad bermain-main disebabkan sesuatu yang Allah jadikan padanya, yaitu keindahan (perhiasan), kelezatan dan syahwat yang dapat mengosongkan hati lagi mema-lingkan, yang sedap dipandang mata nan lalai, yang menyenang-kan jiwa lagi memalsukan, kemudian ia akan lenyap secepatnya dan akan musnah semuanya, dan orang yang mencintainya tidak memperoleh apa-apa kecuali penyesalan, keluh kesah dan kerugian. Sedangkan negeri akhirat, maka itulah negeri ﴾ ٱلۡحَيَوَانُۚ ﴿ "kehidupan," maksudnya, kehidupan yang sempurna, yang merupakan kelazim-annya adalah bahwa tubuh-tubuh para penghuninya benar-benar berada pada puncak kekuatan, dan kekuatan mereka benar-benar pada puncak yang prima. Sebab ia adalah tubuh-tubuh dan ke-kuatan yang diciptakan untuk kehidupan; dan bahwa segala se-suatu yang menjadikan kehidupan menjadi sempurna mesti ada di dalamnya, yang dengannya semua kelezatan terpenuhi, berupa segala sesuatu yang membahagiakan hati dan segala kebutuhan tubuh, seperti aneka makanan, minuman, seks, dan lain-lain dari hal-hal yang belum pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terbetik dalam hati manusia. ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kalau mereka mengetahui," tentu mereka tidak akan mengutamakan dunia atas akhirat; dan kalau mereka berakal, tentu mereka tidak akan membenci negeri kehidupan (yang sebenarnya), dan tentu mereka (tidak) akan menyukai negeri senda gurau dan permainan ini. Maka yang demikian itu menun-jukkan bahwa orang-orang yang mengetahui, pasti akan lebih mementingkan akhirat daripada dunia, karena pengetahuan mereka terhadap kondisi dua negeri kehidupan itu.
(65-66) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kaum musy-rikin dengan ketulusan mereka kepada Allah pada saat dalam ke-adaan sempit (kepepet) di waktu mereka mengarungi lautan dan menggunungnya gelombang, serta saat mereka sangat takut akan binasa (tenggelam), di mana mereka mengabaikan sesembahan-sesembahan mereka, dan mereka dengan tulus hanya berdoa ke-pada Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya. Lalu, tatkala suasana sempit itu tiada, –dan Allah telah menyelamatkan mereka ke da-ratan karena ketulusan doa mereka kepadaNya–, ternyata mereka mempersekutukan Allah lagi dengan sembahan-sembahan yang tidak dapat menyelamatkan mereka dari kesempitan, dan tidak pula dapat menghilangkan kesulitan dari mereka. Kenapa mereka tidak menuluskan doa kepada Allah سبحانه وتعالى dalam kondisi lapang dan sempit, mudah dan sulit agar mereka bisa benar-benar menjadi orang-orang Mukmin sejati, yang berhak mendapat pahala dari-Nya, diselamatkan dari azabNya. Akan tetapi, kesyirikan mereka tersebut adalah setelah Kami melimpahkan karunia kepada mereka, yaitu berupa keselamatan dari bahaya lautan agar kesudahannya adalah kufur terhadap apa yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan membalas nikmat dengan sikap buruk, serta agar mereka dapat sepenuhnya bersenang-senang di dunia ini, suatu kesenangan yang tak ubahnya seperti bersenang-senangnya hewan. Mereka tidak mempunyai visi selain perut dan kemaluan mereka. ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui" di saat mereka ber-pindah dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat betapa dahsyatnya duka dan betapa pedihnya siksaan.
(67) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan karuniaNya terhadap mereka berupa tanah haram yang aman, dan bahwa sesungguhnya mereka adalah para penduduknya yang berada dalam suasana aman, lapang dan penuh rizki, sementara masyarakat yang berada di sekitarnya (di luar tanah haram) selalu dirampok dan merasa cemas. Lalu kenapa mereka tidak menyembah Tuhan yang telah memberi mereka makan (sehingga bebas) dari kelaparan dan me-nentramkan mereka dari rasa takut? ﴾ أَفَبِٱلۡبَٰطِلِ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Maka mengapa mereka masih percaya kepada yang batil" yaitu kesyirikan yang mereka anut, perkataan dan berbagai perbuatan yang batil (palsu),﴾ وَبِنِعۡمَةِ ٱللَّهِ ﴿ "dan kepada nikmat Allah," mereka ﴾ يَكۡفُرُونَ ﴿ "ingkar?" Ke mana akal pikiran mereka pergi? Dan hati nurani mereka hilang? Mereka lebih mementingkan kesesatan daripada hidayah, kebatilan dari-pada kebenaran, dan kesengsaraan daripada kebahagiaan; di mana dan kapan saja mereka berada, maka mereka adalah manusia yang paling zhalim.
(68) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah," dengan menyandarkan kesesatan dan kebatilan yang dianutnya kepada Allah, dan ﴾ كَذَّبَ بِٱلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُۥٓۚ ﴿ "mendustakan yang haq tatkala yang haq itu datang kepadanya" melalui RasulNya, Muhammad a? Akan tetapi orang zhalim yang berkeras kepala ini, di hadapannya sudah ada jahanam (menunggu), ﴾ أَلَيۡسَ فِي جَهَنَّمَ مَثۡوٗى لِّلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Bukan-kah dalam Neraka Jahanam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?" Dengan Jahanam itu kebenaran diambil dari mereka, dan dengan-nya pula mereka dihinakan, dan ia pun menjadi tempat tinggal abadi mereka, yang mereka tidak akan dikeluarkan darinya?
(69) ﴾ وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُواْ فِينَا ﴿ "Dan orang-orang yang berjihad untuk di jalan Kami," yaitu mereka yang berhijrah fi sabilillah dan berperang melawan musuh-musuh mereka serta mengorbankan segenap ke-mampuan mereka dalam rangka mencari keridhaanNya, ﴾ لَنَهۡدِيَنَّهُمۡ سُبُلَنَاۚ ﴿ "benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami," maksudnya, jalan-jalan yang dapat mengantarkan mereka kepada Kami. Hal itu karena mereka adalah orang-orang yang berbuat kebajikan, sedangkan Allah selalu bersama orang-orang yang ber-buat kebajikan; memberikan pertolongan, kemenangan, dan hidayah. Hal ini menunjukkan bahwa manusia yang paling mungkin mendapatkan kebenaran adalah para pejuang (mujahid); dan siapa saja yang berbuat ihsan di dalam mengerjakan apa yang diperintah-kan kepadanya, niscaya dia ditolong oleh Allah dan dimudahkan baginya segala sebab yang dapat mengantarnya kepada hidayah; dan bahwa siapa saja yang bersungguh-sungguh dan berijtihad dalam menuntut ilmu syar'i, maka dari hidayah dan pertolongan itu ia akan memperoleh perkara-perkara ilahi yang berada di luar jangkauan kemampuan kesungguhannya, masalah ilmu dijadikan mudah baginya. Karena sesungguhnya mencari ilmu syar'i itu termasuk jihad fi sabilillah, bahkan ia merupakan salah satu dari dua bentuk jihad yang tidak akan mampu melakukannya kecuali manusia-manusia pilihan. Ia merupakan jihad dengan perkataan dan lisan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan jihad dalam rangka mengajarkan permasalahan agama, dan dalam rangka mengembalikan pertikaian orang-orang yang ber-selisih kepada yang benar, sekalipun mereka adalah orang-orang Muslim.
Selesailah tafsir Surat al-Ankabut (laba-laba) dengan segala puji bagi Allah dan pertolongan dariNya.
Ar-Rum 30:1
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:2
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:3
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:4
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:5
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:6
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:7
"Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Ro-mawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena per-tolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendakiNya. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Rum: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-5) Bangsa Persia dan Bangsa Romawi pada saat itu me-rupakan dua negara super power yang ada di muka bumi ini; dan selalu terjadi peperangan di antara dua bangsa ini sebagaimana biasa terjadi pada bangsa-bangsa yang selevel. Bangsa Persia ada-lah penyembah api, sedangkan bangsa Romawi adalah ahli kitab yang berafiliasi kepada Taurat dan Injil, dan mereka lebih dekat kepada kaum Muslimin daripada bangsa Persia. [Orang-orang Mukmin] sangat senang kalau bangsa Romawi menang dan dapat mengalahkan bangsa Persia. Sedangkan orang-orang musyrikin (Arab), karena kesamaan mereka dalam kesyirikan, sedangkan bangsa Persia berada dalam kesyirikan, maka mereka senang kalau bangsa Persia menang atas bangsa Romawi. Lalu ternyata bangsa Persia dapat menang atas bangsa Romawi, dan mereka dapat me-ngalahkan bangsa Romawi, namun tidak sampai menguasai kera-jaan mereka, bahkan sedikit pun dari daerah kekuasaan Romawi. Maka kaum musyrikin Arab pun sangat bergembira dengannya, sedangkan kaum Muslimin bersedih. Maka dari itu Allah menga-barkan kepada mereka dan menjanjikan bahwa bangsa Romawi akan mengalahkan bangsa Persia. ﴾ فِي بِضۡعِ سِنِينَۗ ﴿ "Dalam beberapa tahun lagi," sembilan atau dela-pan tahun lagi, atau semisal hal itu, tidak lebih dari sepuluh tahun lagi dan tidak pula kurang dari tiga tahun; dan sesungguhnya kemenangan bangsa Persia terhadap bangsa Romawi, lalu keme-nangan bangsa Romawi terhadap bangsa Persia semuanya terjadi atas kehendak dan kekuasaanNya. Dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ مِن قَبۡلُ وَمِنۢ بَعۡدُۚ ﴿ "Milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudahnya," jadi kemenangan dan pertolongan itu tidak hanya sekedar disebab-kan terwujudnya sebab kausalitas (fasilitas dan perlengkapan. Pent), melainkan pasti diiringi oleh qadha` dan qadar. ﴾ وَيَوۡمَئِذٖ ﴿ "Dan di hari." Maksudnya, pada hari bangsa Romawi dapat memenangkan bangsa Persia dan mengalahkan mereka, ﴾ يَفۡرَحُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ 4 بِنَصۡرِ ٱللَّهِۚ يَنصُرُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dike-hendakiNya." Maksudnya, mereka bergembira dengan kemenangan bangsa Romawi atas bangsa Persia, sekalipun semuanya adalah orang-orang kafir, akan tetapi sebagian keburukan (suatu kaum) itu lebih ringan daripada (keburukan dari kaum) yang lain. Dan pada saat itu pula kaum musyrikin berduka cita. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memilki keperkasaan yang de-ngannya Dia menaklukkan seluruh makhluk; Dia memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada siapa saja yang Dia kehendaki, dan mencopot kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, Dia memulia-kan siapa saja yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Lagi Maha Penyayang" terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yang mana Dia menyediakan segala sebab kausalitas yang dapat membuat mereka bahagia, dan meno-long mereka yang sama sekali di luar perhitungan.
(6) ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا يُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ ﴿ "Sebagai janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janjiNya," maka dari itu yaki-nilah hal itu dan pastikanlah; dan ketahuilah bahwasanya yang demikian itu pasti terjadi. Setelah ayat-ayat ini diturunkan, yang di dalamnya terdapat janji ini, maka kaum Muslimin pun langsung membenarkannya, sedangkan orang-orang kafir mendustakannya hingga sebagian kaum Muslimin dan sebagian kaum musyrikin melakukan taruhan dalam waktu beberapa tahun yang telah me-reka tentukan. Maka setelah masa yang telah ditetapkan oleh Allah tiba, bangsa Romawi memperoleh kemenangan atas bangsa Persia, dan Romawi berhasil mengusir mereka dari daerah-daerah mereka yang sebelumnya diduduki oleh bangsa Persia, dan dengan demi-kian terbuktilah apa yang Allah janjikan. Ini termasuk perkara ghaib yang diberitakan Allah سبحانه وتعالى sebelum peristiwa ini terjadi, dan ada pada zaman orang-orang yang mana Allah سبحانه وتعالى memberitakan-nya kepada kaum Muslimin dan kaum musyrikin. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," bahwa apa yang dijanjikan oleh Allah itu benar. Maka dari itu terdapat seke-lompok manusia di antara mereka yang mendustakan janjiNya dan mendustakan ayat-ayatNya.
(7) Dan mereka, orang-orang yang tidak mengetahui. Mak-sudnya, mereka yang tidak mengetahui esensi sesuatu dan akibat-akibatnya, sebenarnya ﴾ يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia," lalu mereka melihat kepada sebab-musabab dan memastikan kejadian perkara yang sudah terbetik dalam pikiran mereka, yang telah terpenuhi semua sebab musabab keberadaannya; dan mereka meyakini ketidakterjadinya suatu perkara yang mana mereka sama sekali belum melihat keberadaan sebab-sebab yang bisa menimbulkan kejadiannya. Jadi, mereka sangat tergantung kepada sebab-sebab, tanpa melihat kepada (Allah) yang menurunkan sebab-sebabnya, yang bertindak padanya, ﴾ وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." Hati mereka, hawa nafsu mereka dan kemauan mereka sudah ter-fokus kepada dunia, kesenangan dan gemerlapnya, lalu berbuat hanya untuk itu, berupaya dan menuju kepadanya, berpaling dan lupa terhadap kehidupan akhirat. Ia sama sekali tidak merindu-kan surga, tidak pula takut akan api neraka, tidak juga berdiri di hadapan Allah dan berjumpa denganNya membuatnya takut dan membuatnya ngeri. Ini adalah tanda kesengsaraan, dan cirinya adalah lalai akan kehidupan akhirat. Yang mengherankan adalah bahwa sesungguhnya kelompok manusia yang satu ini sudah mencapai pada kecerdasan dan ke-pintaran yang sangat tinggi terhadap lahiriah kehidupan dunia hingga sampai pada tingkat mencengangkan akal dan menakjub-kan hati. Mereka bisa memperlihatkan berbagai keajaiban nuklir dan listrik, peralatan transportasi darat, laut dan udara yang de-ngannya mereka menjadi unggul. Mereka berhasil menampakkan dan membanggakan akal mereka, dan mereka memandang bangsa-bangsa lain tidak mampu melakukan apa yang telah ditakdirkan Allah agar mampu mereka lakukan. Maka mereka memandang bangsa lain dengan pandangan hina dan rendah, sedangkan dalam masalah agama mereka merupakan manusia yang paling bodoh dan paling lalai terhadap kehidupan akhirat, serta paling dangkal pengetahuannya terhadap akibat-akibat perbuatan mereka. Mereka telah dilihat oleh orang-orang yang berakal dan ber-pandangan tajam sedang terombang-ambing dalam kejahilan, ter-gelimang dalam kesesatan, terbuai dalam kebatilan. Mereka telah melupakan Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. Lalu para ahli pikir itu melihat kepada apa yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى dan kemampuan yang Allah anugerahkan kepada mereka (sekelompok manusia itu. Pent) berupa pemikiran-pemikiran yang sangat cang-gih dalam permasalahan dunia dan lahirnya, sedangkan mereka tidak dikaruniai akal yang sangat jenius. Maka para ahli pemikiran yang mendalam (tajam) itu mengetahui bahwasanya segala perkara adalah wewenang Allah dan keputusan terhadap manusia adalah milikNya. Ia tiada lain melainkan hanya taufikNya atau pengabai-anNya. Maka dari itu mereka (para ahli pemikiran yang mendalam) takut kepada Allah, Rabb mereka, dan mereka memohon kepada-Nya semoga Dia berkenan melengkapi cahaya akal dan iman yang telah dianugerahkanNya kepada mereka hingga mereka bisa sampai kepadaNya dan menempati haribaanNya. Semua perkara di atas, kalau saja disertai iman dan dibangun di atasnya, tentu ia akan membuahkan kemajuan yang sangat tinggi dan kehidupan yang baik. Akan tetapi, karena kebanyakannya dibangun di atas landasan ilhad (kekafiran), maka ia tidak membuahkan sesuatu ke-cuali dekadensi moral dan segala sebab kebinasaan dan kehancuran.
Ar-Rum 30:8
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta me-makmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmur-kan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zhalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang ber-laku zhalim kepada diri sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah, dan mereka selalu memperolok-oloknya." (Ar-Rum: 8-10).
(8) Maksudnya, mengapa orang-orang yang mendustakan para utusan Allah dan perjumpaan denganNya tidak merenung-kan ﴾ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ ﴿ "tentang diri mereka?" Karena sesungguhnya pada diri mereka terdapat tanda-tanda yang dengannya mereka dapat mengetahui bahwa yang telah mengadakan (menciptakan) mereka dari ketiadaan akan menghidupkan mereka kembali sesudah itu; dan bahwa (Tuhan) yang telah memindahkan mereka dari satu fase ke fase lain, dari sperma menjadi segumpal darah, lalu men-jadi segumpal daging, lalu menjadi sesosok manusia, lalu Dia telah meniupkan ruh padanya, lalu menjadikannya bayi, lalu berubah menjadi remaja, lalu menjadi orang dewasa, lalu menjadi tua renta, sangat tidak laik kalau membiarkan mereka terlantar begitu saja, mereka tidak dilarang, tidak diperintah, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. ﴾ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar," yaitu untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya, ﴾ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ ﴿ "dan waktu yang ditentukan." Maksud-nya, waktu menetap tinggalnya dibatasi dengan waktu yang de-ngannya dunia akan sirna dan datang kemudian kiamat (kebang-kitan), bumi diganti dengan bumi lain dan demikian pula langit. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya." Maka dari itu mereka tidak bersiap-siap untuk perjumpaan dengan-Nya dan tidak membenarkan para RasulNya yang memberitakan tentang pertemuan denganNya.
(9) Kekafiran tersebut dilakukan tanpa landasan dalil. Seba-liknya, dalil-dalil yang pasti membuktikan kepastian kebangkitan (sesudah kematian) dan pembalasan. Maka dari itu Allah meng-ingatkan mereka supaya berjalan di muka bumi ini dan memper-hatikan akibat buruk yang menimpa orang-orang yang telah men-dustakan para Rasul dan menyalahi perintah mereka, yaitu mereka adalah orang-orang yang lebih kuat daripada mereka dan lebih banyak pengelolaannya di bumi ini, seperti pembangunan istana, pabrik-pabrik, menanam pohon-pohon, bercocok tanam dan meng-adakan pengairan sungai, namun kekuatan mereka itu sama sekali tidak dapat menolong mereka, dan kejayaan mereka tidak berguna bagi mereka saat mereka mendustakan para rasul yang datang ke-pada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang membuktikan yang haq dan kebenaran apa yang mereka bawa. Sesungguhnya ketika mereka memperhatikan jejak mereka (orang-orang yang telah mendustakan para rasul itu. Pent) maka mereka tidak menjumpai kecuali umat-umat yang telah binasa, manusia-manusia yang telah musnah, puing-puing rumah pening-galan mereka yang sepi. Dan suatu cercaan dari manusia (yang datang berikutnya) terhadap mereka terus berlanjut. Ini adalah balasan yang disegerakan, sebagai contoh bagi pembalasan ukhrawi dan permulaannya. Semua bangsa yang dibinasakan itu sama sekali tidak dizhalimi oleh Allah dengan pembinasaan tersebut, melain-kan sebenarnya merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sen-diri dan telah melakukan sebab-sebab dalam kebinasaan mereka.
(10) ﴾ ثُمَّ كَانَ عَٰقِبَةَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ ﴿ "Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan" maksudnya, orang-orang yang berbuat keja-hatan, ﴾ ٱلسُّوٓأَىٰٓ ﴿ "adalah yang lebih buruk," yakni keadaan yang buruk lagi sangat keji, dan hal itu mendorong mereka untuk ﴾ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ بِهَا يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya." Ini adalah hukuman terhadap kejahatan dan dosa-dosa mereka. Kemudian perolok-olokan dan pendustaan itu menjadi sebab bagi munculnya siksaan yang lebih besar dan lebih mengenaskan.
Ar-Rum 30:9
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta me-makmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmur-kan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zhalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang ber-laku zhalim kepada diri sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah, dan mereka selalu memperolok-oloknya." (Ar-Rum: 8-10).
(8) Maksudnya, mengapa orang-orang yang mendustakan para utusan Allah dan perjumpaan denganNya tidak merenung-kan ﴾ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ ﴿ "tentang diri mereka?" Karena sesungguhnya pada diri mereka terdapat tanda-tanda yang dengannya mereka dapat mengetahui bahwa yang telah mengadakan (menciptakan) mereka dari ketiadaan akan menghidupkan mereka kembali sesudah itu; dan bahwa (Tuhan) yang telah memindahkan mereka dari satu fase ke fase lain, dari sperma menjadi segumpal darah, lalu men-jadi segumpal daging, lalu menjadi sesosok manusia, lalu Dia telah meniupkan ruh padanya, lalu menjadikannya bayi, lalu berubah menjadi remaja, lalu menjadi orang dewasa, lalu menjadi tua renta, sangat tidak laik kalau membiarkan mereka terlantar begitu saja, mereka tidak dilarang, tidak diperintah, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. ﴾ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar," yaitu untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya, ﴾ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ ﴿ "dan waktu yang ditentukan." Maksud-nya, waktu menetap tinggalnya dibatasi dengan waktu yang de-ngannya dunia akan sirna dan datang kemudian kiamat (kebang-kitan), bumi diganti dengan bumi lain dan demikian pula langit. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya." Maka dari itu mereka tidak bersiap-siap untuk perjumpaan dengan-Nya dan tidak membenarkan para RasulNya yang memberitakan tentang pertemuan denganNya.
(9) Kekafiran tersebut dilakukan tanpa landasan dalil. Seba-liknya, dalil-dalil yang pasti membuktikan kepastian kebangkitan (sesudah kematian) dan pembalasan. Maka dari itu Allah meng-ingatkan mereka supaya berjalan di muka bumi ini dan memper-hatikan akibat buruk yang menimpa orang-orang yang telah men-dustakan para Rasul dan menyalahi perintah mereka, yaitu mereka adalah orang-orang yang lebih kuat daripada mereka dan lebih banyak pengelolaannya di bumi ini, seperti pembangunan istana, pabrik-pabrik, menanam pohon-pohon, bercocok tanam dan meng-adakan pengairan sungai, namun kekuatan mereka itu sama sekali tidak dapat menolong mereka, dan kejayaan mereka tidak berguna bagi mereka saat mereka mendustakan para rasul yang datang ke-pada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang membuktikan yang haq dan kebenaran apa yang mereka bawa. Sesungguhnya ketika mereka memperhatikan jejak mereka (orang-orang yang telah mendustakan para rasul itu. Pent) maka mereka tidak menjumpai kecuali umat-umat yang telah binasa, manusia-manusia yang telah musnah, puing-puing rumah pening-galan mereka yang sepi. Dan suatu cercaan dari manusia (yang datang berikutnya) terhadap mereka terus berlanjut. Ini adalah balasan yang disegerakan, sebagai contoh bagi pembalasan ukhrawi dan permulaannya. Semua bangsa yang dibinasakan itu sama sekali tidak dizhalimi oleh Allah dengan pembinasaan tersebut, melain-kan sebenarnya merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sen-diri dan telah melakukan sebab-sebab dalam kebinasaan mereka.
(10) ﴾ ثُمَّ كَانَ عَٰقِبَةَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ ﴿ "Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan" maksudnya, orang-orang yang berbuat keja-hatan, ﴾ ٱلسُّوٓأَىٰٓ ﴿ "adalah yang lebih buruk," yakni keadaan yang buruk lagi sangat keji, dan hal itu mendorong mereka untuk ﴾ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ بِهَا يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya." Ini adalah hukuman terhadap kejahatan dan dosa-dosa mereka. Kemudian perolok-olokan dan pendustaan itu menjadi sebab bagi munculnya siksaan yang lebih besar dan lebih mengenaskan.
Ar-Rum 30:10
"Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta me-makmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmur-kan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zhalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang ber-laku zhalim kepada diri sendiri. Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah (azab) yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah, dan mereka selalu memperolok-oloknya." (Ar-Rum: 8-10).
(8) Maksudnya, mengapa orang-orang yang mendustakan para utusan Allah dan perjumpaan denganNya tidak merenung-kan ﴾ فِيٓ أَنفُسِهِمۗ ﴿ "tentang diri mereka?" Karena sesungguhnya pada diri mereka terdapat tanda-tanda yang dengannya mereka dapat mengetahui bahwa yang telah mengadakan (menciptakan) mereka dari ketiadaan akan menghidupkan mereka kembali sesudah itu; dan bahwa (Tuhan) yang telah memindahkan mereka dari satu fase ke fase lain, dari sperma menjadi segumpal darah, lalu men-jadi segumpal daging, lalu menjadi sesosok manusia, lalu Dia telah meniupkan ruh padanya, lalu menjadikannya bayi, lalu berubah menjadi remaja, lalu menjadi orang dewasa, lalu menjadi tua renta, sangat tidak laik kalau membiarkan mereka terlantar begitu saja, mereka tidak dilarang, tidak diperintah, tidak diberi pahala dan tidak disiksa. ﴾ مَّا خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar," yaitu untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang terbaik amalnya, ﴾ وَأَجَلٖ مُّسَمّٗىۗ ﴿ "dan waktu yang ditentukan." Maksud-nya, waktu menetap tinggalnya dibatasi dengan waktu yang de-ngannya dunia akan sirna dan datang kemudian kiamat (kebang-kitan), bumi diganti dengan bumi lain dan demikian pula langit. ﴾ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآيِٕ رَبِّهِمۡ لَكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Rabbnya." Maka dari itu mereka tidak bersiap-siap untuk perjumpaan dengan-Nya dan tidak membenarkan para RasulNya yang memberitakan tentang pertemuan denganNya.
(9) Kekafiran tersebut dilakukan tanpa landasan dalil. Seba-liknya, dalil-dalil yang pasti membuktikan kepastian kebangkitan (sesudah kematian) dan pembalasan. Maka dari itu Allah meng-ingatkan mereka supaya berjalan di muka bumi ini dan memper-hatikan akibat buruk yang menimpa orang-orang yang telah men-dustakan para Rasul dan menyalahi perintah mereka, yaitu mereka adalah orang-orang yang lebih kuat daripada mereka dan lebih banyak pengelolaannya di bumi ini, seperti pembangunan istana, pabrik-pabrik, menanam pohon-pohon, bercocok tanam dan meng-adakan pengairan sungai, namun kekuatan mereka itu sama sekali tidak dapat menolong mereka, dan kejayaan mereka tidak berguna bagi mereka saat mereka mendustakan para rasul yang datang ke-pada mereka dengan mukjizat-mukjizat yang membuktikan yang haq dan kebenaran apa yang mereka bawa. Sesungguhnya ketika mereka memperhatikan jejak mereka (orang-orang yang telah mendustakan para rasul itu. Pent) maka mereka tidak menjumpai kecuali umat-umat yang telah binasa, manusia-manusia yang telah musnah, puing-puing rumah pening-galan mereka yang sepi. Dan suatu cercaan dari manusia (yang datang berikutnya) terhadap mereka terus berlanjut. Ini adalah balasan yang disegerakan, sebagai contoh bagi pembalasan ukhrawi dan permulaannya. Semua bangsa yang dibinasakan itu sama sekali tidak dizhalimi oleh Allah dengan pembinasaan tersebut, melain-kan sebenarnya merekalah yang telah menzhalimi diri mereka sen-diri dan telah melakukan sebab-sebab dalam kebinasaan mereka.
(10) ﴾ ثُمَّ كَانَ عَٰقِبَةَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ ﴿ "Kemudian, akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan" maksudnya, orang-orang yang berbuat keja-hatan, ﴾ ٱلسُّوٓأَىٰٓ ﴿ "adalah yang lebih buruk," yakni keadaan yang buruk lagi sangat keji, dan hal itu mendorong mereka untuk ﴾ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَكَانُواْ بِهَا يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-oloknya." Ini adalah hukuman terhadap kejahatan dan dosa-dosa mereka. Kemudian perolok-olokan dan pendustaan itu menjadi sebab bagi munculnya siksaan yang lebih besar dan lebih mengenaskan.
Ar-Rum 30:11
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:12
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:13
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:14
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:15
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:16
"Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali; kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Dan pada hari terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa. Dan sekali-kali tidak ada pemberi syafa'at bagi mereka dari berhala-berhala me-reka, dan mereka mengingkari berhala mereka itu. Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-go-longan. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur`an) serta (mendustakan) menemui hari akhirat, maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan (neraka)." (Ar-Rum: 11-16).
(11-13) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia-lah yang memulai penciptaan seluruh makhluk, kemudian Dia akan mengembalikan mereka, kemudian kepadaNya mereka akan di-kembalikan sesudah mereka dihidupkan kembali untuk memberi balasan atas amal perbuatan mereka. Maka dari itu Dia menyebut-kan balasan untuk para pelaku kejahatan (keburukan) dan kemu-dian balasan bagi para pelaku kebajikan, seraya berfirman, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "Dan pada hari terjadinya kiamat," yaitu hari bangkitnya manu-sia kepada Allah Rabb semesta alam (dan mereka melihat)[47] kiamat dengan mata kepala, pada hari itu, ﴾ يُبۡلِسُ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa terdiam berputus asa." Maksudnya, mereka berputus asa dari segala kebaikan. Hal itu karena mereka tidak mempersiapkan untuk hari itu kecuali perbuatan jahat, yaitu dosa-dosa berupa kekafiran, syirik dan berbagai maksiat. Maka tatkala mereka telah melakukan segala sebab siksaan dan mereka belum pernah men-campurinya dengan sebab-sebab pahala sedikit pun, maka mereka berputus asa, berputus harapan, merasa sangat rugi, dan semua yang mereka ada-adakan, seperti manfaat para sekutu dan para sekutu diyakini bisa memberikan syafa'at sudah menjadi sia-sia. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَمۡ يَكُن لَّهُم مِّن شُرَكَآئِهِمۡ ﴿ "Dan sekali-kali tidak ada (sekutu) berhala bagi mereka" yang telah mereka sembah bersama penyembahan Allah, ﴾ شُفَعَٰٓؤُاْ وَكَانُواْ بِشُرَكَآئِهِمۡ كَٰفِرِينَ ﴿ "yang memberi syafa'at; dan mereka mengingkari berhala mereka itu," orang-orang musyrik berlepas diri dari sesembahan-sesembahan yang mereka persekutukan kepada Allah, dan para sesembahan itu pun berlepas diri, dan mereka berkata, "Kami berlepas diri kepadaMu, dan bukan kepada kami mereka dahulu menyembah (beribadah)." Mereka mengutuk dan menjauh.
(14-16) Pada hari itu, terpisahlah para pelaku kebajikan dari para pelaku keburukan, sebagaimana telah terpisah amal perbuatan mereka di dunia. ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Maksudnya, mereka beriman dengan sepenuh hati mereka dan membenarkan-nya dengan amal-amal shalih, ﴾ فَهُمۡ فِي رَوۡضَةٖ ﴿ "maka mereka di dalam taman," yang penuh dengan berbagai aneka tumbuh-tumbuhan dan berbagai hal yang digandrungi jiwa ﴾ يُحۡبَرُونَ ﴿ "bergembira," maksudnya, merasa senang dan menikmati berbagai makanan lezat, berbagai minuman, bidadari-bidadari cantik jelita, para pelayan, anak-anak, suara-suara merdu, pendengaran yang mengasyikkan, pemandangan-pemandangan yang sangat memukau, aroma-aroma wangi yang sedap, kegembiraan, kesenangan, kelezatan dan kesu-kaan, dari hal-hal yang tidak mungkin dapat diungkapkan oleh seseorang. ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Adapun orang-orang yang kafir," yang menging-kari nikmatNya dan membalasnya dengan keingkaran, ﴾ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dan mendustakan ayat-ayat Kami," yang dibawa oleh para utusan Kami, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ فِي ٱلۡعَذَابِ مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka mereka tetap dihadirkan di dalam siksaan," berada di dalamnya. Mereka telah dikepung oleh Jahanam dari segala penjuru, dan azab yang sangat pedih pun menusuk ke dalam jantung mereka, dan bara api panas menghanguskan wajah mereka dan memotong-motong lambung dan usus mereka. Mana perbedaan antara dua kelompok manusia ini? Di mana letak kesa-maan antara orang-orang yang mendapat kenikmatan dan orang-orang yang disiksa?
Ar-Rum 30:17
"Maka Mahasuci Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu Shubuh, dan bagiNya-lah segala puji di langit dan bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zhuhur. Dia mengeluar-kan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (Ar-Rum: 17-19).
(17-18) Ini adalah informasi tentang kesucian Allah dari keburukan dan kekurangan, kesucianNya dari keserupaan sese-orang dari makhluk denganNya; dan suatu perintah kepada hamba-hambaNya agar bertasbih (menyucikanNya) di saat mereka berada di waktu petang dan di saat mereka berada di waktu Shubuh, waktu senja dan waktu siang hari. Inilah lima waktu yang meru-pakan waktu-waktu shalat lima waktu. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertasbih dan memujiNya pada waktu-waktu tersebut, dan termasuk dalam hal ini adalah yang wajib darinya, seperti yang tercakup dalam shalat lima waktu, dan yang disunnahkan seperti dzikir pagi dan sore hari, dzikir seusai shalat wajib dan shalat-shalat sunnah yang menyertainya. Karena sesungguhnya waktu-waktu tersebut adalah yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk waktu-waktu (shalat) wajib, ia merupakan waktu yang paling utama. Maka bertasbih dan bertahmid dalam waktu itu serta beribadah padanya lebih utama daripada pada waktu-waktu yang lain. Bahkan ibadah, sekalipun tidak mencakup bacaan "Subhanallah," maka sesungguhnya keikhlasan di dalam ibadah tersebut merupakan penyucian Allah dengan perbuatan (dari) keberadaanNya mempunyai sekutu dalam ibadah, atau (dari) keberhakan seorang di antara makhluk untuk mendapatkan apa yang berhak untukNya, seperti ikhlas dan inabah.
(19) ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati" sebagaimana mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari tanah yang gersang, dan tunas dari biji, pohon dari benih, anak burung dari telur, orang Mukmin dari orang kafir, dan seterusnya,﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup," kebalikan dari hal-hal tersebut, ﴾ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ ﴿ "dan menghidupkan bumi sesudah matinya," dengan menurunkan hujan padanya ketika tanah itu kering kerontang. Lalu setelah air turun di atasnya, hidup dan suburlah tanah itu dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah. ﴾ وَكَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ ﴿ "Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan," dari kubur kalian. Ini adalah dalil (bukti) yang pasti dan argumen yang sangat telak yang menunjukkan bahwa Dzat yang telah mampu meng-hidupkan bumi setelah kegersangannya, maka (pasti) kuasa meng-hidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Maka tidak ada bedanya dalam pandangan akal yang sehat antara dua perkara tersebut, dan tidak ada alasan untuk memungkiri salah satunya dengan keberadaan yang lain.
Ar-Rum 30:18
"Maka Mahasuci Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu Shubuh, dan bagiNya-lah segala puji di langit dan bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zhuhur. Dia mengeluar-kan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (Ar-Rum: 17-19).
(17-18) Ini adalah informasi tentang kesucian Allah dari keburukan dan kekurangan, kesucianNya dari keserupaan sese-orang dari makhluk denganNya; dan suatu perintah kepada hamba-hambaNya agar bertasbih (menyucikanNya) di saat mereka berada di waktu petang dan di saat mereka berada di waktu Shubuh, waktu senja dan waktu siang hari. Inilah lima waktu yang meru-pakan waktu-waktu shalat lima waktu. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertasbih dan memujiNya pada waktu-waktu tersebut, dan termasuk dalam hal ini adalah yang wajib darinya, seperti yang tercakup dalam shalat lima waktu, dan yang disunnahkan seperti dzikir pagi dan sore hari, dzikir seusai shalat wajib dan shalat-shalat sunnah yang menyertainya. Karena sesungguhnya waktu-waktu tersebut adalah yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk waktu-waktu (shalat) wajib, ia merupakan waktu yang paling utama. Maka bertasbih dan bertahmid dalam waktu itu serta beribadah padanya lebih utama daripada pada waktu-waktu yang lain. Bahkan ibadah, sekalipun tidak mencakup bacaan "Subhanallah," maka sesungguhnya keikhlasan di dalam ibadah tersebut merupakan penyucian Allah dengan perbuatan (dari) keberadaanNya mempunyai sekutu dalam ibadah, atau (dari) keberhakan seorang di antara makhluk untuk mendapatkan apa yang berhak untukNya, seperti ikhlas dan inabah.
(19) ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati" sebagaimana mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari tanah yang gersang, dan tunas dari biji, pohon dari benih, anak burung dari telur, orang Mukmin dari orang kafir, dan seterusnya,﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup," kebalikan dari hal-hal tersebut, ﴾ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ ﴿ "dan menghidupkan bumi sesudah matinya," dengan menurunkan hujan padanya ketika tanah itu kering kerontang. Lalu setelah air turun di atasnya, hidup dan suburlah tanah itu dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah. ﴾ وَكَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ ﴿ "Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan," dari kubur kalian. Ini adalah dalil (bukti) yang pasti dan argumen yang sangat telak yang menunjukkan bahwa Dzat yang telah mampu meng-hidupkan bumi setelah kegersangannya, maka (pasti) kuasa meng-hidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Maka tidak ada bedanya dalam pandangan akal yang sehat antara dua perkara tersebut, dan tidak ada alasan untuk memungkiri salah satunya dengan keberadaan yang lain.
Ar-Rum 30:19
"Maka Mahasuci Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu Shubuh, dan bagiNya-lah segala puji di langit dan bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zhuhur. Dia mengeluar-kan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (Ar-Rum: 17-19).
(17-18) Ini adalah informasi tentang kesucian Allah dari keburukan dan kekurangan, kesucianNya dari keserupaan sese-orang dari makhluk denganNya; dan suatu perintah kepada hamba-hambaNya agar bertasbih (menyucikanNya) di saat mereka berada di waktu petang dan di saat mereka berada di waktu Shubuh, waktu senja dan waktu siang hari. Inilah lima waktu yang meru-pakan waktu-waktu shalat lima waktu. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk bertasbih dan memujiNya pada waktu-waktu tersebut, dan termasuk dalam hal ini adalah yang wajib darinya, seperti yang tercakup dalam shalat lima waktu, dan yang disunnahkan seperti dzikir pagi dan sore hari, dzikir seusai shalat wajib dan shalat-shalat sunnah yang menyertainya. Karena sesungguhnya waktu-waktu tersebut adalah yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk waktu-waktu (shalat) wajib, ia merupakan waktu yang paling utama. Maka bertasbih dan bertahmid dalam waktu itu serta beribadah padanya lebih utama daripada pada waktu-waktu yang lain. Bahkan ibadah, sekalipun tidak mencakup bacaan "Subhanallah," maka sesungguhnya keikhlasan di dalam ibadah tersebut merupakan penyucian Allah dengan perbuatan (dari) keberadaanNya mempunyai sekutu dalam ibadah, atau (dari) keberhakan seorang di antara makhluk untuk mendapatkan apa yang berhak untukNya, seperti ikhlas dan inabah.
(19) ﴾ يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ ﴿ "Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati" sebagaimana mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dari tanah yang gersang, dan tunas dari biji, pohon dari benih, anak burung dari telur, orang Mukmin dari orang kafir, dan seterusnya,﴾ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ ﴿ "dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup," kebalikan dari hal-hal tersebut, ﴾ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ ﴿ "dan menghidupkan bumi sesudah matinya," dengan menurunkan hujan padanya ketika tanah itu kering kerontang. Lalu setelah air turun di atasnya, hidup dan suburlah tanah itu dan menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang indah. ﴾ وَكَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَ ﴿ "Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan," dari kubur kalian. Ini adalah dalil (bukti) yang pasti dan argumen yang sangat telak yang menunjukkan bahwa Dzat yang telah mampu meng-hidupkan bumi setelah kegersangannya, maka (pasti) kuasa meng-hidupkan kembali orang-orang yang sudah mati. Maka tidak ada bedanya dalam pandangan akal yang sehat antara dua perkara tersebut, dan tidak ada alasan untuk memungkiri salah satunya dengan keberadaan yang lain.
Ar-Rum 30:20
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia men-ciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekua-saanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguh-nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 20-21).
(20) Ini adalah permulaan dalam menghitung tanda-tanda-Nya yang membuktikan keesaanNya dalam ilahiyah, keparipurna-an keagunganNya, berlakunya masyi`ah (kehendak)Nya, kehebatan kekuasaanNya, keindahan ciptaanNya, keluasan rahmat dan karu-niaNya, seraya berfirman, ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah," yaitu dengan menciptakan asal-usul keturunan, yaitu Adam عليه السلام, ﴾ ثُمَّ إِذَآ أَنتُم بَشَرٞ تَنتَشِرُونَ ﴿ "kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak." Maksudnya, yang telah menciptakan kalian dari satu sumber asal dan satu materi dan mengembangbiakkan kalian di berbagai penjuru dan sudut bumi. Dalam hal seperti itu terdapat tanda-tanda yang menunjuk-kan kepada kalian bahwa yang telah menciptakan kalian dari asal-usul tersebut dan menyebarluaskan kalian di berbagai bumi adalah Rabb Sembahan (Yang haq), Yang Maharaja, yang Maha Terpuji, Yang Maha Penyayang lagi Maha Pemurah, yang akan mengulangi penciptaan kalian dengan kebangkitan setelah kematian.
(21) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya," yang mem-buktikan rahmatNya, perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, kebijaksanaanNya yang agung dan ilmuNya yang mencakup se-gala sesuatu, ﴾ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri," mereka yang serasi dengan kalian, dan kalian serasi dengan mereka, mereka serupa dengan kalian dan kalian serupa dengan mereka, ﴾ لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ ﴿ "supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang," dengan memberikan pada pernikahan itu berbagai sebab yang dapat mendatangkan rasa kasih dan sayang, sehingga dengan adanya istri dapat merasakan kenikmatan, kelezatan dan manfaat dengan adanya anak-anak, mengasuh mereka dan dapat merasakan kedamaian padanya. Anda biasanya tidak akan menjumpai pada seseorang rasa kasih dan sayang seperti yang dapat dirasakan oleh kedua suami istri ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir," yaitu mereka yang mengaktifkan akal pikiran mereka, merenungkan ayat-ayat Allah dan berpindah (dalam merenung) dari sesuatu ke suatu yang lain.
Ar-Rum 30:21
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia men-ciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekua-saanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguh-nya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (Ar-Rum: 20-21).
(20) Ini adalah permulaan dalam menghitung tanda-tanda-Nya yang membuktikan keesaanNya dalam ilahiyah, keparipurna-an keagunganNya, berlakunya masyi`ah (kehendak)Nya, kehebatan kekuasaanNya, keindahan ciptaanNya, keluasan rahmat dan karu-niaNya, seraya berfirman, ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah," yaitu dengan menciptakan asal-usul keturunan, yaitu Adam عليه السلام, ﴾ ثُمَّ إِذَآ أَنتُم بَشَرٞ تَنتَشِرُونَ ﴿ "kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak." Maksudnya, yang telah menciptakan kalian dari satu sumber asal dan satu materi dan mengembangbiakkan kalian di berbagai penjuru dan sudut bumi. Dalam hal seperti itu terdapat tanda-tanda yang menunjuk-kan kepada kalian bahwa yang telah menciptakan kalian dari asal-usul tersebut dan menyebarluaskan kalian di berbagai bumi adalah Rabb Sembahan (Yang haq), Yang Maharaja, yang Maha Terpuji, Yang Maha Penyayang lagi Maha Pemurah, yang akan mengulangi penciptaan kalian dengan kebangkitan setelah kematian.
(21) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya," yang mem-buktikan rahmatNya, perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, kebijaksanaanNya yang agung dan ilmuNya yang mencakup se-gala sesuatu, ﴾ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri," mereka yang serasi dengan kalian, dan kalian serasi dengan mereka, mereka serupa dengan kalian dan kalian serupa dengan mereka, ﴾ لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ ﴿ "supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang," dengan memberikan pada pernikahan itu berbagai sebab yang dapat mendatangkan rasa kasih dan sayang, sehingga dengan adanya istri dapat merasakan kenikmatan, kelezatan dan manfaat dengan adanya anak-anak, mengasuh mereka dan dapat merasakan kedamaian padanya. Anda biasanya tidak akan menjumpai pada seseorang rasa kasih dan sayang seperti yang dapat dirasakan oleh kedua suami istri ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir," yaitu mereka yang mengaktifkan akal pikiran mereka, merenungkan ayat-ayat Allah dan berpindah (dalam merenung) dari sesuatu ke suatu yang lain.
Ar-Rum 30:22
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah mencip-takan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ter-dapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (Ar-Rum: 22).
(22) Orang-orang yang mengetahui (orang alim) adalah para ahli ilmu yang memahami pelajaran-pelajaran dan merenung-kan ayat-ayat. Ayat-ayat dalam masalah ini banyak, di antara ayat-ayat(Nya) adalah penciptaan ﴾ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "langit dan bumi" dan segala apa yang ada di dalamnya, bahwasanya semua itu mem-buktikan pada keagungan kekuasaan Allah dan kesempurnaan keperkasaanNya, yang telah menciptakan makhluk (ciptaan) yang agung ini, dan kesempurnaan hikmahNya karena ketelitian yang terkandung dalam ciptaan tersebut, serta kemahaluasan ilmuNya. Sebab, Sang Pencipta pasti mengetahui makhluk yang diciptakan-Nya. ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ ﴿ "Ketahuilah, Yang menciptakan itu mengetahui." (Al-Mulk: 14). Juga (tanda bukti) liputan rahmat dan karuniaNya, karena di dalam semua itu terdapat manfaat yang sangat besar, dan bahwa-sanya Dia yang berkehendak yang memilih apa saja yang Dia ke-hendaki, karena pada rahmat dan karuniaNya terdapat berbagai keunggulan dan keistimewaan; dan bahwa Dia semata yang berhak disembah dan diesakan, sebab hanya Dia Yang Maha Esa yang menciptakan, maka dari itu wajib diesakan dengan ibadah. Semua itu adalah dalil-dalil rasional yang diingatkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada akal, diperintahkan olehNya untuk direnungkan dan diambil pelajarannya ﴾ و َ ﴿ "dan" demikian pula pada,﴾ ٱخۡتِلَٰفُ أَلۡسِنَتِكُمۡ وَأَلۡوَٰنِكُمۡۚ ﴿ "berlain-lainannya bahasamu dan warna kulitmu," ber-dasarkan banyaknya jumlah kalian dan berbeda-bedanya kalian, padahal asal usulnya satu (sama), dan tempat keluarnya huruf pun sama. Sekalipun demikian adanya, namun Anda tidak akan menjumpai dua suara (manusia) sama dari segala sisi, dan tidak pula dua warna kulit yang serupa dari segala sisi, melainkan Anda pasti menemukan perbedaan di antara semua itu yang dengannya bisa dibedakan. Ini semua menunjukkan kemahasempurnaan kekuasaanNya, kehebatan masyi`ahNya, perhatianNya kepada hamba-hambaNya dan rahmat (kasih-sayang)Nya kepada mereka. Dia menetapkan perbedaan tersebut agar tidak terjadi kesamaran, karena akan ber-akibat fatal (kekacauan) dan akan banyak tujuan-tujuan mulia dan kebutuhan yang akan terabaikan.
Ar-Rum 30:23
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (Ar-Rum: 23).
(23) Maksudnya, mendengarkan dengan penuh perenungan dan menghayati makna-maknanya. Tanda-tanda itu ada pada semua itu. Sesungguhnya yang demikian itu membuktikan (me-nunjukkan) rahmat Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana difirmankanNya dalam ayat yang lain, ﴾ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 73 ﴿ "Dan karena rahmatNya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebagian dari karuniaNya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepadaNya." (Al-Qashash: 73). Dan menunjukkan akan kesempurnaan hikmah (kebijaksana-an)Nya, sebab hikmahNya menuntut ketenangan manusia pada suatu waktu agar mereka bisa beristirahat dan berkumpul. Dan pertebaran mereka pada satu waktu untuk menunaikan berbagai maslahat agama dan dunia mereka, dan itu semua tidak akan bisa dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan adanya silih bergan-tinya siang dan malam; dan Yang Esa melakukan semua itu adalah yang berhak diibadahi.
Ar-Rum 30:24
"Dan di antara tanda-tandaNya, Dia memperlihatkan kepa-damu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang memperguna-kan akalnya." (Ar-Rum: 24).
(24) Maksudnya, dan di antara tanda-tandaNya adalah Dia menurunkan hujan kepada kalian, yang dengannya negeri dan manusia menjadi hidup. Dan Dia memperlihatkan kepada kalian mukadimah-mukadimahnya (tanda-tanda awal. Pent.) berupa petir dan kilat yang ditakuti (oleh malaikat), namun diharapkan. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda" yang menunjukkan betapa meratanya karunia-Nya, betapa luasnya ilmuNya, betapa sempurnanya kecermatanNya dan keagungan hikmahNya; dan bahwa Dia dapat menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, sebagaimana Dia kuasa menghidupkan kembali tanah setelah sebelumnya kering kerontang (tandus, mati), ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "bagi kaum yang mempergunakan akal-nya," maksudnya, bagi orang-orang yang mempunyai akal pikiran yang dengannya mereka dapat memahami apa yang didengarnya, dilihatnya dan dihafalnya, dan dengannya akal itu dapat membukti-kan terhadap sesuatu yang telah menjadi dalilnya.
Ar-Rum 30:25
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatNya. Kemudian apabila Dia me-manggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi. Semuanya hanya kepadaNya tunduk. Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan 'menghidupkan-nya kembali' itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi; dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Ar-Rum: 25-27).
(25) Maksudnya, di antara tanda-tandaNya yang sangat besar adalah bahwa langit dan bumi ini tegak, terpancang dan kokoh karena perintahNya, hingga keduanya tidak goyah, dan langit tidak jatuh menimpa bumi. Jadi kekuasaanNya sangat besar yang denganNya Dia menahan langit dan bumi sehingga tidak binasa, dan dengannya pula Dia kuasa apabila Dia menyeru ma-nusia dengan satu seruan dari bumi, maka dengan seketika mereka keluar. ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 57 ﴿ "Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ghafir: 57).
(26) ﴾ وَلَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi," semuanya adalah ciptaanNya, dan hamba-hambaNya. Dia-lah yang berwenang mengendalikan mereka tanpa ada pesaing, penolong ataupun penentang; semua mereka tunduk kepada keagunganNya, patuh kepada kesempurnaanNya.
(27) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah yang mencipta-kan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidup-kan)nya kembali, dan ia." Maksudnya, dan Dia menghidupkannya kembali sesudah kematian mereka ﴾ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "adalah lebih mudah bagiNya," daripada memulai penciptaan mereka. Ini bila dilihat dari kacamata akal dan pikiran. Maka apabila Dia kuasa memulai penciptaan yang kalian akui itu, maka kekuasaanNya untuk meng-ulangi (menghidupkan kembali) yang lebih mudah itu adalah tentu lebih mudah dan lebih mudah lagi! Setelah Allah menjelaskan tanda-tandaNya yang sangat luar biasa yang bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang yang meng-ambil pelajaran, diingat oleh orang-orang Mukmin dan diambil analisa oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, maka Allah menjelaskan perkara yang sangat besar dan tuntutan yang sangat agung, seraya berfirman, ﴾ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi," maksudnya, al-Matsal al-A'la adalah segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan (secara maksimal) dari sifat tersebut, kecintaan dan inabah yang penuh lagi sempurna di dalam hati hamba-hambaNya yang tulus, dzikir yang mulia dan ibadah dari mereka. Jadi, al-matsal al-a`lâ adalah sifatNya yang tertinggi dan apa yang menjadi konsekuensinya. Maka dari itu para ahli ilmu menggunakan Qiyasul-aulâ (analogi lebih berhak) dalam hak Allah Sang Pencipta, maka mereka menga-takan, "Semua sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk, maka Penciptanya lebih berhak memiliki sifat tersebut dengan catatan: Tidak ada seorang pun yang menyekutuiNya. Dan setiap sifat ke-lemahan (kekurangan) yang ada pada makhluk, maka Allah suci darinya." Karena kesucian Sang Khaliq dari sifat lemah tersebut adalah lebih utama dan lebih pantas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, kepunyaanNya-lah keperkasaan yang sempurna, kebijaksanaan yang Mahaluas. Dengan keperkasaanNya Dia menciptakan semua makhluk ini dan Dia menampakkan apa saja yang diperintahkanNya, dan dengan hikmahNya Dia menciptakan dengan rapi, teliti dan sempurna apa yang diciptakanNya, dan benar-benar sangat baik apa yang disyariatkanNya.
Ar-Rum 30:26
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatNya. Kemudian apabila Dia me-manggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi. Semuanya hanya kepadaNya tunduk. Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan 'menghidupkan-nya kembali' itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi; dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Ar-Rum: 25-27).
(25) Maksudnya, di antara tanda-tandaNya yang sangat besar adalah bahwa langit dan bumi ini tegak, terpancang dan kokoh karena perintahNya, hingga keduanya tidak goyah, dan langit tidak jatuh menimpa bumi. Jadi kekuasaanNya sangat besar yang denganNya Dia menahan langit dan bumi sehingga tidak binasa, dan dengannya pula Dia kuasa apabila Dia menyeru ma-nusia dengan satu seruan dari bumi, maka dengan seketika mereka keluar. ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 57 ﴿ "Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ghafir: 57).
(26) ﴾ وَلَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi," semuanya adalah ciptaanNya, dan hamba-hambaNya. Dia-lah yang berwenang mengendalikan mereka tanpa ada pesaing, penolong ataupun penentang; semua mereka tunduk kepada keagunganNya, patuh kepada kesempurnaanNya.
(27) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah yang mencipta-kan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidup-kan)nya kembali, dan ia." Maksudnya, dan Dia menghidupkannya kembali sesudah kematian mereka ﴾ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "adalah lebih mudah bagiNya," daripada memulai penciptaan mereka. Ini bila dilihat dari kacamata akal dan pikiran. Maka apabila Dia kuasa memulai penciptaan yang kalian akui itu, maka kekuasaanNya untuk meng-ulangi (menghidupkan kembali) yang lebih mudah itu adalah tentu lebih mudah dan lebih mudah lagi! Setelah Allah menjelaskan tanda-tandaNya yang sangat luar biasa yang bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang yang meng-ambil pelajaran, diingat oleh orang-orang Mukmin dan diambil analisa oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, maka Allah menjelaskan perkara yang sangat besar dan tuntutan yang sangat agung, seraya berfirman, ﴾ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi," maksudnya, al-Matsal al-A'la adalah segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan (secara maksimal) dari sifat tersebut, kecintaan dan inabah yang penuh lagi sempurna di dalam hati hamba-hambaNya yang tulus, dzikir yang mulia dan ibadah dari mereka. Jadi, al-matsal al-a`lâ adalah sifatNya yang tertinggi dan apa yang menjadi konsekuensinya. Maka dari itu para ahli ilmu menggunakan Qiyasul-aulâ (analogi lebih berhak) dalam hak Allah Sang Pencipta, maka mereka menga-takan, "Semua sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk, maka Penciptanya lebih berhak memiliki sifat tersebut dengan catatan: Tidak ada seorang pun yang menyekutuiNya. Dan setiap sifat ke-lemahan (kekurangan) yang ada pada makhluk, maka Allah suci darinya." Karena kesucian Sang Khaliq dari sifat lemah tersebut adalah lebih utama dan lebih pantas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, kepunyaanNya-lah keperkasaan yang sempurna, kebijaksanaan yang Mahaluas. Dengan keperkasaanNya Dia menciptakan semua makhluk ini dan Dia menampakkan apa saja yang diperintahkanNya, dan dengan hikmahNya Dia menciptakan dengan rapi, teliti dan sempurna apa yang diciptakanNya, dan benar-benar sangat baik apa yang disyariatkanNya.
Ar-Rum 30:27
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatNya. Kemudian apabila Dia me-manggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi. Semuanya hanya kepadaNya tunduk. Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan 'menghidupkan-nya kembali' itu adalah lebih mudah bagiNya. Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi; dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Ar-Rum: 25-27).
(25) Maksudnya, di antara tanda-tandaNya yang sangat besar adalah bahwa langit dan bumi ini tegak, terpancang dan kokoh karena perintahNya, hingga keduanya tidak goyah, dan langit tidak jatuh menimpa bumi. Jadi kekuasaanNya sangat besar yang denganNya Dia menahan langit dan bumi sehingga tidak binasa, dan dengannya pula Dia kuasa apabila Dia menyeru ma-nusia dengan satu seruan dari bumi, maka dengan seketika mereka keluar. ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ 57 ﴿ "Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Ghafir: 57).
(26) ﴾ وَلَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan kepunyaanNya-lah siapa saja yang ada di langit dan bumi," semuanya adalah ciptaanNya, dan hamba-hambaNya. Dia-lah yang berwenang mengendalikan mereka tanpa ada pesaing, penolong ataupun penentang; semua mereka tunduk kepada keagunganNya, patuh kepada kesempurnaanNya.
(27) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ ﴿ "Dan Dia-lah yang mencipta-kan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidup-kan)nya kembali, dan ia." Maksudnya, dan Dia menghidupkannya kembali sesudah kematian mereka ﴾ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "adalah lebih mudah bagiNya," daripada memulai penciptaan mereka. Ini bila dilihat dari kacamata akal dan pikiran. Maka apabila Dia kuasa memulai penciptaan yang kalian akui itu, maka kekuasaanNya untuk meng-ulangi (menghidupkan kembali) yang lebih mudah itu adalah tentu lebih mudah dan lebih mudah lagi! Setelah Allah menjelaskan tanda-tandaNya yang sangat luar biasa yang bisa diambil pelajarannya oleh orang-orang yang meng-ambil pelajaran, diingat oleh orang-orang Mukmin dan diambil analisa oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, maka Allah menjelaskan perkara yang sangat besar dan tuntutan yang sangat agung, seraya berfirman, ﴾ وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan bagiNya-lah sifat yang Mahatinggi di langit dan bumi," maksudnya, al-Matsal al-A'la adalah segala sifat kesempurnaan, dan kesempurnaan (secara maksimal) dari sifat tersebut, kecintaan dan inabah yang penuh lagi sempurna di dalam hati hamba-hambaNya yang tulus, dzikir yang mulia dan ibadah dari mereka. Jadi, al-matsal al-a`lâ adalah sifatNya yang tertinggi dan apa yang menjadi konsekuensinya. Maka dari itu para ahli ilmu menggunakan Qiyasul-aulâ (analogi lebih berhak) dalam hak Allah Sang Pencipta, maka mereka menga-takan, "Semua sifat kesempurnaan yang ada pada makhluk, maka Penciptanya lebih berhak memiliki sifat tersebut dengan catatan: Tidak ada seorang pun yang menyekutuiNya. Dan setiap sifat ke-lemahan (kekurangan) yang ada pada makhluk, maka Allah suci darinya." Karena kesucian Sang Khaliq dari sifat lemah tersebut adalah lebih utama dan lebih pantas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, kepunyaanNya-lah keperkasaan yang sempurna, kebijaksanaan yang Mahaluas. Dengan keperkasaanNya Dia menciptakan semua makhluk ini dan Dia menampakkan apa saja yang diperintahkanNya, dan dengan hikmahNya Dia menciptakan dengan rapi, teliti dan sempurna apa yang diciptakanNya, dan benar-benar sangat baik apa yang disyariatkanNya.
Ar-Rum 30:28
"Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, sekutu bagimu dalam rizki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rizki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada diri-mu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsu-nya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka se-orang penolong pun." (Ar-Rum: 28-29).
(28) Ini adalah sebuah perumpamaan yang disampaikan oleh Allah tentang betapa buruk dan kejinya perbuatan syirik; sebuah perumpamaan dari diri kalian sendiri, tidak memerlukan pemecahan (masalah), perjalanan jauh atau mempekerjakan unta, ﴾ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُم مِّن شُرَكَآءَ فِي مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Apakah ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, sekutu bagimu dalam rizki yang telah Kami berikan kepadamu." Maksudnya, apakah ada seseorang di antara budak-budak sahaya kalian yang laki-laki atau yang perempuan yang bersekutu dengan kalian dalam kepemilikan rizki (harta kekayaan) kalian, dan kalian memandang diri kalian sama dengan mereka dalam hal itu; ﴾ تَخَافُونَهُمۡ كَخِيفَتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡۚ ﴿ "kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?" Maksudnya, sebagaimana orang-orang merdeka yang bersekutu dengan sebe-narnya, yaitu orang-orang dikhawatirkan akan mendapatkan bagian dan menguasai segala sesuatunya? Halnya tidak demikian! Sebab sesungguhnya tidak seorang pun dari budak sahaya yang kalian miliki yang menjadi sekutu kalian dalam kepemilikan rizki yang telah Kami anugerahkan ke-pada kalian. Dan juga bukan kalian yang telah menciptakan mereka dan yang memberi mereka rizki. Mereka juga adalah hamba-hamba seperti kalian. Maka bagaimana mungkin kalian rela menjadikan sekutu bagi Allah dari makhluk ciptaanNya, dan kalian menjadi-kannya sekutu dengan Allah dan sebagai tandingan bagiNya dalam ibadah, padahal kalian sendiri tidak rela kalau kalian disamakan dengan budak-budak sahaya kalian? Ini merupakan hal yang paling mengherankan dan merupakan sesuatu yang paling membuktikan betapa piciknya orang yang mengangkat sekutu bagi Allah, dan bahwa sekutu yang diangkatnya itu palsu lagi sirna, sama sekali tidak setara dengan Allah dan tidak berhak diibadahi sedikit pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu," menjelaskannya lengkap dengan perumpamaannya, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengerti" hakikat sesuatu, dan mereka mengeta-huinya. Adapun orang yang tidak berakal (tidak paham), sekalipun ayat-ayat telah dijelaskan dan dibuktikan oleh berbagai bukti, maka ia tidak mempunyai akal untuk mengetahui sesuatu yang telah menjadi jelas, dan tidak pula mempunyai hati nurani yang dengan-nya ia bisa mengerti sesuatu yang sudah menjadi nyata. Jadi, orang-orang yang berakal dan bercendikia adalah orang yang menjadi sasaran tujuan konteks pembicaraan dan pembahasan.
(29) Apabila sudah diketahui dari perumpamaan di atas bahwa orang yang mengambil sekutu dari selain Allah yang ia sembah dan bertawakal kepadanya dalam segala urusannya, maka ia sama sekali tidak memiliki kebenaran. Apa gerangan yang telah membuat mereka lancang melakukan perkara yang batil (palsu) yang sangat jelas kepalsuannya, sudah tampak buktinya? Yang membuat mereka melakukan semua itu adalah sikap menurut hawa nafsu. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلِ ٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَهۡوَآءَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ ﴿ "Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan," mereka diseret oleh nafsu mereka yang lemah itu, yang dari kelemahannya tampak apa yang disukai oleh hawa nafsunya, suatu perkara yang diyakini secara pasti akan kesesatan-nya oleh akal, dan ditolak oleh fitrah tanpa dilandasi ilmu yang menunjukkan mereka padanya ataupun burhan (argumen) yang membimbing mereka kepadanya, ﴾ فَمَن يَهۡدِي مَنۡ أَضَلَّ ٱللَّهُۖ ﴿ "maka siapa-kah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?" Maksud-nya, jangan heran akan ketiadaan hidayah mereka, karena sesung-guhnya mereka disesatkan oleh Allah karena kezhaliman mereka; dan tidak ada jalan untuk memberi hidayah kepada orang yang disesatkan Allah, karena tidak ada seorang pun yang dapat mela-wan Allah atau merampas kerajaanNya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "Dan tiada-lah bagi mereka seorang penolong pun," yang bisa menolong mereka saat keputusan azab diputuskan terhadapnya, dan terputuslah semua hubungan dan ikatan dari mereka.
Ar-Rum 30:29
"Dia membuat perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, sekutu bagimu dalam rizki yang telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rizki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada diri-mu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsu-nya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka se-orang penolong pun." (Ar-Rum: 28-29).
(28) Ini adalah sebuah perumpamaan yang disampaikan oleh Allah tentang betapa buruk dan kejinya perbuatan syirik; sebuah perumpamaan dari diri kalian sendiri, tidak memerlukan pemecahan (masalah), perjalanan jauh atau mempekerjakan unta, ﴾ هَل لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُم مِّن شُرَكَآءَ فِي مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ ﴿ "Apakah ada di antara hamba-sahaya yang kamu miliki, sekutu bagimu dalam rizki yang telah Kami berikan kepadamu." Maksudnya, apakah ada seseorang di antara budak-budak sahaya kalian yang laki-laki atau yang perempuan yang bersekutu dengan kalian dalam kepemilikan rizki (harta kekayaan) kalian, dan kalian memandang diri kalian sama dengan mereka dalam hal itu; ﴾ تَخَافُونَهُمۡ كَخِيفَتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡۚ ﴿ "kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri?" Maksudnya, sebagaimana orang-orang merdeka yang bersekutu dengan sebe-narnya, yaitu orang-orang dikhawatirkan akan mendapatkan bagian dan menguasai segala sesuatunya? Halnya tidak demikian! Sebab sesungguhnya tidak seorang pun dari budak sahaya yang kalian miliki yang menjadi sekutu kalian dalam kepemilikan rizki yang telah Kami anugerahkan ke-pada kalian. Dan juga bukan kalian yang telah menciptakan mereka dan yang memberi mereka rizki. Mereka juga adalah hamba-hamba seperti kalian. Maka bagaimana mungkin kalian rela menjadikan sekutu bagi Allah dari makhluk ciptaanNya, dan kalian menjadi-kannya sekutu dengan Allah dan sebagai tandingan bagiNya dalam ibadah, padahal kalian sendiri tidak rela kalau kalian disamakan dengan budak-budak sahaya kalian? Ini merupakan hal yang paling mengherankan dan merupakan sesuatu yang paling membuktikan betapa piciknya orang yang mengangkat sekutu bagi Allah, dan bahwa sekutu yang diangkatnya itu palsu lagi sirna, sama sekali tidak setara dengan Allah dan tidak berhak diibadahi sedikit pun. ﴾ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu," menjelaskannya lengkap dengan perumpamaannya, ﴾ لِقَوۡمٖ يَعۡقِلُونَ ﴿ "bagi kaum yang mengerti" hakikat sesuatu, dan mereka mengeta-huinya. Adapun orang yang tidak berakal (tidak paham), sekalipun ayat-ayat telah dijelaskan dan dibuktikan oleh berbagai bukti, maka ia tidak mempunyai akal untuk mengetahui sesuatu yang telah menjadi jelas, dan tidak pula mempunyai hati nurani yang dengan-nya ia bisa mengerti sesuatu yang sudah menjadi nyata. Jadi, orang-orang yang berakal dan bercendikia adalah orang yang menjadi sasaran tujuan konteks pembicaraan dan pembahasan.
(29) Apabila sudah diketahui dari perumpamaan di atas bahwa orang yang mengambil sekutu dari selain Allah yang ia sembah dan bertawakal kepadanya dalam segala urusannya, maka ia sama sekali tidak memiliki kebenaran. Apa gerangan yang telah membuat mereka lancang melakukan perkara yang batil (palsu) yang sangat jelas kepalsuannya, sudah tampak buktinya? Yang membuat mereka melakukan semua itu adalah sikap menurut hawa nafsu. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلِ ٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَهۡوَآءَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ ﴿ "Tetapi orang-orang yang zhalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan," mereka diseret oleh nafsu mereka yang lemah itu, yang dari kelemahannya tampak apa yang disukai oleh hawa nafsunya, suatu perkara yang diyakini secara pasti akan kesesatan-nya oleh akal, dan ditolak oleh fitrah tanpa dilandasi ilmu yang menunjukkan mereka padanya ataupun burhan (argumen) yang membimbing mereka kepadanya, ﴾ فَمَن يَهۡدِي مَنۡ أَضَلَّ ٱللَّهُۖ ﴿ "maka siapa-kah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah?" Maksud-nya, jangan heran akan ketiadaan hidayah mereka, karena sesung-guhnya mereka disesatkan oleh Allah karena kezhaliman mereka; dan tidak ada jalan untuk memberi hidayah kepada orang yang disesatkan Allah, karena tidak ada seorang pun yang dapat mela-wan Allah atau merampas kerajaanNya. ﴾ وَمَا لَهُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "Dan tiada-lah bagi mereka seorang penolong pun," yang bisa menolong mereka saat keputusan azab diputuskan terhadapnya, dan terputuslah semua hubungan dan ikatan dari mereka.
Ar-Rum 30:30
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Rum: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk ikhlas kepadaNya dalam seluruh keadaan dan menegakkan agamaNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ ﴿ "Maka hadapkanlah wajahmu," maksudnya, pusatkan dan hadapkanlah ia, ﴾ لِلدِّينِ ﴿ "kepada agama" yaitu Islam, iman dan ihsan, dengan cara menghadap dengan hati, niat dan jasadmu untuk menegakkan ajaran-ajaran agama yang nampak, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan yang serupa dengannya, dan ajaran-ajarannya yang batin (tidak tampak) seperti cinta, rasa takut, berha-rap, berinabah; dan bersikap ihsan dalam seluruh ajaran yang lahir dan yang batin, yaitu dengan cara beribadah kepada Allah hingga seakan-akan Anda melihatNya; dan jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka (dengan keyakinan) bahwa Dia melihatmu. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penegakan wajah, sebab mengha-dapnya wajah itu mengikuti konsentrasinya hati, dan usaha badan akan melahirkan dua hal tersebut. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ حَنِيفٗاۚ ﴿ "Dengan lurus," maksudnya, menghadap sepenuhnya ke-pada Allah dalam hal itu dalam keadaan berpaling dari selainNya. Perkara yang diperintahkan kepada kita ini adalah, ﴾ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu," dan Allah telah menempatkan keindahan ajaran-ajaran agama tersebut di dalam akal mereka, dan pandangan buruk kepada yang lain. Karena sesungguhnya seluruh hukum syariat yang lahir dan yang batin, telah ditempatkan oleh Allah kecenderungan padanya di dalam hati seluruh manusia. Allah meletakkan di dalam hati mereka kecintaan kepada yang benar dan sikap mengutamakan yang benar. Inilah hakikat fitrah. Siapa saja yang keluar dari prinsip ini, maka sungguh dia menentang sesuatu yang menimpa fitrah-nya, kemudian yang membuatnya rusak, seperti yang disabdakan oleh Nabi a, كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. "Setiap anak yang dilahirkan itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nas-rani atau menjadikannya Majusi."[48] ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan pada fitrah Allah," mak-sudnya, tidak seorang pun dapat merubah ciptaan Allah sehingga menjadikan makhluk tidak pada tempat (keadaan) yang telah di-tetapkan oleh Allah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah" yang Kami perintahkan kepa-damu, ﴾ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ ﴿ "agama yang lurus." Maksudnya, jalan yang lurus yang dapat mengantar kepada Allah dan kepada kemuliaanNya. Maka sesungguhnya siapa saja yang menegakkan wajahnya kepada agama dengan tulus, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dalam seluruh syariat-syariatNya dan jalan-jalanNya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," maka mereka tidak mau mengenal agama yang lurus ini, dan jika pun mereka mengetahuinya, maka mereka tidak akan menelusurinya.
(31) ﴾ مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "Dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya," ia adalah tafsir (penjelasan) terhadap "menghadapkan wajah kepada agama." Karena sesungguhnya inabah (kembali) itu adalah inabah hati dan ketertarikan faktor pe-nyebabnya kepada hal-hal yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, dan konsekuensi dari semua itu adalah amal anggota tubuh dengan tuntutan apa yang ada di dalam hati. Maka hal itu meliputi ibadah-ibadah lahi-riyah dan batiniyah, dan semua itu tidak akan bisa sempurna (ter-laksana) kecuali dengan cara meninggalkan maksiat-maksiat yang lahir dan yang batin. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya." Ini mencakup pelaksanaan terhadap hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Di antara hal-hal yang diperintahkan itu, shalat disebutkan secara khusus, karena shalat mengajak kepada inabah dan takwa, sebagai-mana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45). Inilah pertolongan shalat untuk bisa bertakwa. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar." (Al-An-kabut: 45). Ini adalah himbauan untuk berinabah (kembali kepada Allah). Dan Dia mengkhususkan pada pondasi larangan, yaitu sesuatu yang mana amal tidak akan diterima bila disertainya. Ia adalah syirik. Maka Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah," sebab ke-beradaan syirik itu sangat berlawanan dengan inabah yang ruhnya adalah ikhlas dari semua sisi.
(32) Kemudian Allah menjelaskan kondisi orang-orang musyrikin dengan nada mencela dan memburuk-burukkannya, seraya berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "Yaitu orang-orang yang me-mecah belah agama mereka," padahal agama itu hanya satu, yaitu ketulusan ibadah hanya kepada Allah saja; sedangkan mereka, kaum musyrikin memecah belahnya. Di antara mereka ada yang menyembah patung dan berhala, dan ada pula yang menyembah matahari dan bulan, dan ada juga di antara mereka yang menyem-bah para wali dan orang-orang shalih, dan di antara mereka adalah orang-orang Yahudi, dan ada pula orang-orang Nasrani. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ ﴿ "Dan mereka menjadi beberapa golongan," maksudnya, setiap kelompok dari kelompok-kelompok kesyirikan itu tersesat dan fanatik untuk membela kebatilan yang mereka anut, menentang dan memerangi selain mereka,﴾ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "Tiap-tiap golongan, dengan apa yang ada pada mereka," berupa ilmu yang menyalahi ilmu para rasul, ﴾ فَرِحُونَ ﴿ "mereka bangga," de-ngannya, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka anut itulah yang haq (benar), dan bahwa orang-orang selain mereka berada di atas kebatilan. Dalam uraian di atas terdapat peringatan untuk kaum Mus-limin agar tidak tercerai berai dan terpecah-belah menjadi bergo-long-golongan seperti mereka; setiap golongan fanatik dengan ke-benaran dan kebatilan yang mereka miliki. Kalau demikian maka mereka (kaum Muslimin) menjadi serupa dengan kaum musyrikin dalam berpecah belah. Sesungguhnya agama itu satu, rasul pun satu, sembahan (ilah) juga satu, dan kebanyakan permasalahan agama telah menjadi ijma' di antara para ahli ijtihad dan para pe-muka agama, sedangkan ukhuwwah imaniyah telah diikat kuat oleh Allah سبحانه وتعالى dengan sekuat-kuat ikatan, lalu bagaimana bisa semua itu dibatalkan, kemudian dibangun perpecahan dan pertikaian di antara kaum Muslimin dikarenakan beberapa permasalahan yang rumit atau masalah furu' khilafiyah yang karenanya sebagian mem-vonis sesat sebagian yang lain, dan sebagian membedakan diri dengannya dari kelompok lain? Tidakkah semua ini merupakan adu domba terbesar setan dan angan-angannya yang paling besar yang dengannya ia memperdaya kaum Muslimin? Tidakkah meng-upayakan persatuan kalimat (kesatuan) mereka dan memberantas pertikaian yang ada pada mereka, (pertikaian) yang dibangun di atas prinsip yang palsu itu merupakan jihad yang paling utama fi sabilillah dan merupakan amal yang paling afdhal yang dapat men-dekatkan diri kepada Allah? Setelah Allah memerintahkan berinabah kepadaNya, sedang-kan yang diperintahkan darinya adalah inabah yang bersifat suka-rela, yaitu yang terjadi dalam kondisi sulit dan mudah, kondisi lapang dan sempit, maka Dia menjelaskan inabah yang bersifat ter-paksa, yaitu yang tidak akan ada bersama manusia kecuali pada saat kesempitan dan kesulitan. Lalu, apabila kesempitan itu sudah tidak ada padanya, maka dia membuang inabah itu ke belakang punggungnya. Dan hal seperti ini tidak berguna. Allah berfirman,
Ar-Rum 30:31
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Rum: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk ikhlas kepadaNya dalam seluruh keadaan dan menegakkan agamaNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ ﴿ "Maka hadapkanlah wajahmu," maksudnya, pusatkan dan hadapkanlah ia, ﴾ لِلدِّينِ ﴿ "kepada agama" yaitu Islam, iman dan ihsan, dengan cara menghadap dengan hati, niat dan jasadmu untuk menegakkan ajaran-ajaran agama yang nampak, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan yang serupa dengannya, dan ajaran-ajarannya yang batin (tidak tampak) seperti cinta, rasa takut, berha-rap, berinabah; dan bersikap ihsan dalam seluruh ajaran yang lahir dan yang batin, yaitu dengan cara beribadah kepada Allah hingga seakan-akan Anda melihatNya; dan jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka (dengan keyakinan) bahwa Dia melihatmu. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penegakan wajah, sebab mengha-dapnya wajah itu mengikuti konsentrasinya hati, dan usaha badan akan melahirkan dua hal tersebut. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ حَنِيفٗاۚ ﴿ "Dengan lurus," maksudnya, menghadap sepenuhnya ke-pada Allah dalam hal itu dalam keadaan berpaling dari selainNya. Perkara yang diperintahkan kepada kita ini adalah, ﴾ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu," dan Allah telah menempatkan keindahan ajaran-ajaran agama tersebut di dalam akal mereka, dan pandangan buruk kepada yang lain. Karena sesungguhnya seluruh hukum syariat yang lahir dan yang batin, telah ditempatkan oleh Allah kecenderungan padanya di dalam hati seluruh manusia. Allah meletakkan di dalam hati mereka kecintaan kepada yang benar dan sikap mengutamakan yang benar. Inilah hakikat fitrah. Siapa saja yang keluar dari prinsip ini, maka sungguh dia menentang sesuatu yang menimpa fitrah-nya, kemudian yang membuatnya rusak, seperti yang disabdakan oleh Nabi a, كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. "Setiap anak yang dilahirkan itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nas-rani atau menjadikannya Majusi."[48] ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan pada fitrah Allah," mak-sudnya, tidak seorang pun dapat merubah ciptaan Allah sehingga menjadikan makhluk tidak pada tempat (keadaan) yang telah di-tetapkan oleh Allah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah" yang Kami perintahkan kepa-damu, ﴾ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ ﴿ "agama yang lurus." Maksudnya, jalan yang lurus yang dapat mengantar kepada Allah dan kepada kemuliaanNya. Maka sesungguhnya siapa saja yang menegakkan wajahnya kepada agama dengan tulus, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dalam seluruh syariat-syariatNya dan jalan-jalanNya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," maka mereka tidak mau mengenal agama yang lurus ini, dan jika pun mereka mengetahuinya, maka mereka tidak akan menelusurinya.
(31) ﴾ مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "Dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya," ia adalah tafsir (penjelasan) terhadap "menghadapkan wajah kepada agama." Karena sesungguhnya inabah (kembali) itu adalah inabah hati dan ketertarikan faktor pe-nyebabnya kepada hal-hal yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, dan konsekuensi dari semua itu adalah amal anggota tubuh dengan tuntutan apa yang ada di dalam hati. Maka hal itu meliputi ibadah-ibadah lahi-riyah dan batiniyah, dan semua itu tidak akan bisa sempurna (ter-laksana) kecuali dengan cara meninggalkan maksiat-maksiat yang lahir dan yang batin. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya." Ini mencakup pelaksanaan terhadap hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Di antara hal-hal yang diperintahkan itu, shalat disebutkan secara khusus, karena shalat mengajak kepada inabah dan takwa, sebagai-mana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45). Inilah pertolongan shalat untuk bisa bertakwa. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar." (Al-An-kabut: 45). Ini adalah himbauan untuk berinabah (kembali kepada Allah). Dan Dia mengkhususkan pada pondasi larangan, yaitu sesuatu yang mana amal tidak akan diterima bila disertainya. Ia adalah syirik. Maka Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah," sebab ke-beradaan syirik itu sangat berlawanan dengan inabah yang ruhnya adalah ikhlas dari semua sisi.
(32) Kemudian Allah menjelaskan kondisi orang-orang musyrikin dengan nada mencela dan memburuk-burukkannya, seraya berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "Yaitu orang-orang yang me-mecah belah agama mereka," padahal agama itu hanya satu, yaitu ketulusan ibadah hanya kepada Allah saja; sedangkan mereka, kaum musyrikin memecah belahnya. Di antara mereka ada yang menyembah patung dan berhala, dan ada pula yang menyembah matahari dan bulan, dan ada juga di antara mereka yang menyem-bah para wali dan orang-orang shalih, dan di antara mereka adalah orang-orang Yahudi, dan ada pula orang-orang Nasrani. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ ﴿ "Dan mereka menjadi beberapa golongan," maksudnya, setiap kelompok dari kelompok-kelompok kesyirikan itu tersesat dan fanatik untuk membela kebatilan yang mereka anut, menentang dan memerangi selain mereka,﴾ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "Tiap-tiap golongan, dengan apa yang ada pada mereka," berupa ilmu yang menyalahi ilmu para rasul, ﴾ فَرِحُونَ ﴿ "mereka bangga," de-ngannya, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka anut itulah yang haq (benar), dan bahwa orang-orang selain mereka berada di atas kebatilan. Dalam uraian di atas terdapat peringatan untuk kaum Mus-limin agar tidak tercerai berai dan terpecah-belah menjadi bergo-long-golongan seperti mereka; setiap golongan fanatik dengan ke-benaran dan kebatilan yang mereka miliki. Kalau demikian maka mereka (kaum Muslimin) menjadi serupa dengan kaum musyrikin dalam berpecah belah. Sesungguhnya agama itu satu, rasul pun satu, sembahan (ilah) juga satu, dan kebanyakan permasalahan agama telah menjadi ijma' di antara para ahli ijtihad dan para pe-muka agama, sedangkan ukhuwwah imaniyah telah diikat kuat oleh Allah سبحانه وتعالى dengan sekuat-kuat ikatan, lalu bagaimana bisa semua itu dibatalkan, kemudian dibangun perpecahan dan pertikaian di antara kaum Muslimin dikarenakan beberapa permasalahan yang rumit atau masalah furu' khilafiyah yang karenanya sebagian mem-vonis sesat sebagian yang lain, dan sebagian membedakan diri dengannya dari kelompok lain? Tidakkah semua ini merupakan adu domba terbesar setan dan angan-angannya yang paling besar yang dengannya ia memperdaya kaum Muslimin? Tidakkah meng-upayakan persatuan kalimat (kesatuan) mereka dan memberantas pertikaian yang ada pada mereka, (pertikaian) yang dibangun di atas prinsip yang palsu itu merupakan jihad yang paling utama fi sabilillah dan merupakan amal yang paling afdhal yang dapat men-dekatkan diri kepada Allah? Setelah Allah memerintahkan berinabah kepadaNya, sedang-kan yang diperintahkan darinya adalah inabah yang bersifat suka-rela, yaitu yang terjadi dalam kondisi sulit dan mudah, kondisi lapang dan sempit, maka Dia menjelaskan inabah yang bersifat ter-paksa, yaitu yang tidak akan ada bersama manusia kecuali pada saat kesempitan dan kesulitan. Lalu, apabila kesempitan itu sudah tidak ada padanya, maka dia membuang inabah itu ke belakang punggungnya. Dan hal seperti ini tidak berguna. Allah berfirman,
Ar-Rum 30:32
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (Ar-Rum: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk ikhlas kepadaNya dalam seluruh keadaan dan menegakkan agamaNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ ﴿ "Maka hadapkanlah wajahmu," maksudnya, pusatkan dan hadapkanlah ia, ﴾ لِلدِّينِ ﴿ "kepada agama" yaitu Islam, iman dan ihsan, dengan cara menghadap dengan hati, niat dan jasadmu untuk menegakkan ajaran-ajaran agama yang nampak, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan yang serupa dengannya, dan ajaran-ajarannya yang batin (tidak tampak) seperti cinta, rasa takut, berha-rap, berinabah; dan bersikap ihsan dalam seluruh ajaran yang lahir dan yang batin, yaitu dengan cara beribadah kepada Allah hingga seakan-akan Anda melihatNya; dan jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka (dengan keyakinan) bahwa Dia melihatmu. Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan penegakan wajah, sebab mengha-dapnya wajah itu mengikuti konsentrasinya hati, dan usaha badan akan melahirkan dua hal tersebut. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ حَنِيفٗاۚ ﴿ "Dengan lurus," maksudnya, menghadap sepenuhnya ke-pada Allah dalam hal itu dalam keadaan berpaling dari selainNya. Perkara yang diperintahkan kepada kita ini adalah, ﴾ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ ﴿ "fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu," dan Allah telah menempatkan keindahan ajaran-ajaran agama tersebut di dalam akal mereka, dan pandangan buruk kepada yang lain. Karena sesungguhnya seluruh hukum syariat yang lahir dan yang batin, telah ditempatkan oleh Allah kecenderungan padanya di dalam hati seluruh manusia. Allah meletakkan di dalam hati mereka kecintaan kepada yang benar dan sikap mengutamakan yang benar. Inilah hakikat fitrah. Siapa saja yang keluar dari prinsip ini, maka sungguh dia menentang sesuatu yang menimpa fitrah-nya, kemudian yang membuatnya rusak, seperti yang disabdakan oleh Nabi a, كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ. "Setiap anak yang dilahirkan itu dilahirkan atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nas-rani atau menjadikannya Majusi."[48] ﴾ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Tidak ada perubahan pada fitrah Allah," mak-sudnya, tidak seorang pun dapat merubah ciptaan Allah sehingga menjadikan makhluk tidak pada tempat (keadaan) yang telah di-tetapkan oleh Allah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah" yang Kami perintahkan kepa-damu, ﴾ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ ﴿ "agama yang lurus." Maksudnya, jalan yang lurus yang dapat mengantar kepada Allah dan kepada kemuliaanNya. Maka sesungguhnya siapa saja yang menegakkan wajahnya kepada agama dengan tulus, maka sesungguhnya dia adalah orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dalam seluruh syariat-syariatNya dan jalan-jalanNya, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui," maka mereka tidak mau mengenal agama yang lurus ini, dan jika pun mereka mengetahuinya, maka mereka tidak akan menelusurinya.
(31) ﴾ مُنِيبِينَ إِلَيۡهِ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "Dengan kembali bertaubat kepadaNya, dan bertakwalah kepadaNya," ia adalah tafsir (penjelasan) terhadap "menghadapkan wajah kepada agama." Karena sesungguhnya inabah (kembali) itu adalah inabah hati dan ketertarikan faktor pe-nyebabnya kepada hal-hal yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, dan konsekuensi dari semua itu adalah amal anggota tubuh dengan tuntutan apa yang ada di dalam hati. Maka hal itu meliputi ibadah-ibadah lahi-riyah dan batiniyah, dan semua itu tidak akan bisa sempurna (ter-laksana) kecuali dengan cara meninggalkan maksiat-maksiat yang lahir dan yang batin. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَٱتَّقُوهُ ﴿ "dan bertakwalah kepadaNya." Ini mencakup pelaksanaan terhadap hal-hal yang diperintahkan dan meninggalkan hal-hal yang dilarang. Di antara hal-hal yang diperintahkan itu, shalat disebutkan secara khusus, karena shalat mengajak kepada inabah dan takwa, sebagai-mana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ ﴿ "Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari yang keji dan mungkar." (Al-Ankabut: 45). Inilah pertolongan shalat untuk bisa bertakwa. Kemudian Dia berfirman, ﴾ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ ﴿ "Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar." (Al-An-kabut: 45). Ini adalah himbauan untuk berinabah (kembali kepada Allah). Dan Dia mengkhususkan pada pondasi larangan, yaitu sesuatu yang mana amal tidak akan diterima bila disertainya. Ia adalah syirik. Maka Dia berfirman, ﴾ وَلَا تَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ﴿ "Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah," sebab ke-beradaan syirik itu sangat berlawanan dengan inabah yang ruhnya adalah ikhlas dari semua sisi.
(32) Kemudian Allah menjelaskan kondisi orang-orang musyrikin dengan nada mencela dan memburuk-burukkannya, seraya berfirman, ﴾ مِنَ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ ﴿ "Yaitu orang-orang yang me-mecah belah agama mereka," padahal agama itu hanya satu, yaitu ketulusan ibadah hanya kepada Allah saja; sedangkan mereka, kaum musyrikin memecah belahnya. Di antara mereka ada yang menyembah patung dan berhala, dan ada pula yang menyembah matahari dan bulan, dan ada juga di antara mereka yang menyem-bah para wali dan orang-orang shalih, dan di antara mereka adalah orang-orang Yahudi, dan ada pula orang-orang Nasrani. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَكَانُواْ شِيَعٗاۖ ﴿ "Dan mereka menjadi beberapa golongan," maksudnya, setiap kelompok dari kelompok-kelompok kesyirikan itu tersesat dan fanatik untuk membela kebatilan yang mereka anut, menentang dan memerangi selain mereka,﴾ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "Tiap-tiap golongan, dengan apa yang ada pada mereka," berupa ilmu yang menyalahi ilmu para rasul, ﴾ فَرِحُونَ ﴿ "mereka bangga," de-ngannya, mereka mengklaim bahwa apa yang mereka anut itulah yang haq (benar), dan bahwa orang-orang selain mereka berada di atas kebatilan. Dalam uraian di atas terdapat peringatan untuk kaum Mus-limin agar tidak tercerai berai dan terpecah-belah menjadi bergo-long-golongan seperti mereka; setiap golongan fanatik dengan ke-benaran dan kebatilan yang mereka miliki. Kalau demikian maka mereka (kaum Muslimin) menjadi serupa dengan kaum musyrikin dalam berpecah belah. Sesungguhnya agama itu satu, rasul pun satu, sembahan (ilah) juga satu, dan kebanyakan permasalahan agama telah menjadi ijma' di antara para ahli ijtihad dan para pe-muka agama, sedangkan ukhuwwah imaniyah telah diikat kuat oleh Allah سبحانه وتعالى dengan sekuat-kuat ikatan, lalu bagaimana bisa semua itu dibatalkan, kemudian dibangun perpecahan dan pertikaian di antara kaum Muslimin dikarenakan beberapa permasalahan yang rumit atau masalah furu' khilafiyah yang karenanya sebagian mem-vonis sesat sebagian yang lain, dan sebagian membedakan diri dengannya dari kelompok lain? Tidakkah semua ini merupakan adu domba terbesar setan dan angan-angannya yang paling besar yang dengannya ia memperdaya kaum Muslimin? Tidakkah meng-upayakan persatuan kalimat (kesatuan) mereka dan memberantas pertikaian yang ada pada mereka, (pertikaian) yang dibangun di atas prinsip yang palsu itu merupakan jihad yang paling utama fi sabilillah dan merupakan amal yang paling afdhal yang dapat men-dekatkan diri kepada Allah? Setelah Allah memerintahkan berinabah kepadaNya, sedang-kan yang diperintahkan darinya adalah inabah yang bersifat suka-rela, yaitu yang terjadi dalam kondisi sulit dan mudah, kondisi lapang dan sempit, maka Dia menjelaskan inabah yang bersifat ter-paksa, yaitu yang tidak akan ada bersama manusia kecuali pada saat kesempitan dan kesulitan. Lalu, apabila kesempitan itu sudah tidak ada padanya, maka dia membuang inabah itu ke belakang punggungnya. Dan hal seperti ini tidak berguna. Allah berfirman,
Ar-Rum 30:33
"Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya, kemudian apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Rabbnya, sehingga mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui. Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan Rabb?" (Ar-Rum: 33-35).
(33-34) ﴾ وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرّٞ ﴿ "Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya," (berupa) sakit atau rasa takut dari kematian atau lainnya, niscaya ﴾ دَعَوۡاْ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ ﴿ "mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya," mereka melupakan apa yang mereka persekutukan denganNya dalam kondisi itu, karena mereka tahu bahwa tidak ada yang dapat menyingkap bahaya itu kecuali Allah, maka ﴾ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنۡهُ رَحۡمَةً ﴿ "apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dariNya," Dia menyembuhkan mereka dari sakitnya dan mengamankan mereka dari rasa takut, ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka" merusak inabah yang mereka lakukan itu dan mereka mempersekutukanNya dengan sesuatu yang sama sekali tidak dapat membela mereka, tidak pula dapat membuat mereka kaya atau membuat mereka fakir. Semua itu adalah keingkaran terhadap apa yang Allah karuniakan dan anugerahkan kepada mereka, yang mana Dia telah menyelamatkan dan membebaskan mereka dari kesengsaraan dan melepaskan mereka dari kesempitan. Mengapa mereka tidak membalas nikmat mulia dengan bersyukur dan tulus ikhlas (bertauhid) kepadaNya dalam seluruh kondisi?
(35) ﴾ أَمۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan," maksudnya, hujjah yang nyata, ﴾ فَهُوَ ﴿ "lalu ia," maksudnya, hujjah yang nyata itu, ﴾ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُواْ بِهِۦ يُشۡرِكُونَ ﴿ "menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan-Nya," dan mengatakan kepada mereka, "Tetaplah kalian pada ke-syirikan kalian itu dan teruslah kalian dalam keraguan, karena sesungguhnya apa yang kalian anut itulah yang benar, sedangkan apa yang diserukan oleh para rasul kepada kalian itulah yang batil." Lalu apakah hujjah yang nyata itu ada di sisi mereka hingga mengharuskan mereka sangat berpegang teguh kepada kesyirikan? Ataukah dalil-dalil rasional dan syar'i, kitab-kitab samawi, para rasul yang mulia dan para penghulu manusia telah melarang de-ngan sekeras-kerasnya dari semua itu, dan mereka telah memper-ingatkan dari mengikuti jalan-jalannya yang dapat mengantarkan kepadanya, dan mereka telah memvonis kerusakan akal dan agama siapa saja yang melakukannya? Jadi kesyirikan mereka itu tanpa hujjah (argumen yang jelas) dan keterangan yang nyata. Ia sebenar-nya hanyalah hawa nafsu dan bujukan-bujukan setan.
Ar-Rum 30:34
"Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya, kemudian apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Rabbnya, sehingga mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui. Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan Rabb?" (Ar-Rum: 33-35).
(33-34) ﴾ وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرّٞ ﴿ "Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya," (berupa) sakit atau rasa takut dari kematian atau lainnya, niscaya ﴾ دَعَوۡاْ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ ﴿ "mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya," mereka melupakan apa yang mereka persekutukan denganNya dalam kondisi itu, karena mereka tahu bahwa tidak ada yang dapat menyingkap bahaya itu kecuali Allah, maka ﴾ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنۡهُ رَحۡمَةً ﴿ "apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dariNya," Dia menyembuhkan mereka dari sakitnya dan mengamankan mereka dari rasa takut, ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka" merusak inabah yang mereka lakukan itu dan mereka mempersekutukanNya dengan sesuatu yang sama sekali tidak dapat membela mereka, tidak pula dapat membuat mereka kaya atau membuat mereka fakir. Semua itu adalah keingkaran terhadap apa yang Allah karuniakan dan anugerahkan kepada mereka, yang mana Dia telah menyelamatkan dan membebaskan mereka dari kesengsaraan dan melepaskan mereka dari kesempitan. Mengapa mereka tidak membalas nikmat mulia dengan bersyukur dan tulus ikhlas (bertauhid) kepadaNya dalam seluruh kondisi?
(35) ﴾ أَمۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan," maksudnya, hujjah yang nyata, ﴾ فَهُوَ ﴿ "lalu ia," maksudnya, hujjah yang nyata itu, ﴾ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُواْ بِهِۦ يُشۡرِكُونَ ﴿ "menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan-Nya," dan mengatakan kepada mereka, "Tetaplah kalian pada ke-syirikan kalian itu dan teruslah kalian dalam keraguan, karena sesungguhnya apa yang kalian anut itulah yang benar, sedangkan apa yang diserukan oleh para rasul kepada kalian itulah yang batil." Lalu apakah hujjah yang nyata itu ada di sisi mereka hingga mengharuskan mereka sangat berpegang teguh kepada kesyirikan? Ataukah dalil-dalil rasional dan syar'i, kitab-kitab samawi, para rasul yang mulia dan para penghulu manusia telah melarang de-ngan sekeras-kerasnya dari semua itu, dan mereka telah memper-ingatkan dari mengikuti jalan-jalannya yang dapat mengantarkan kepadanya, dan mereka telah memvonis kerusakan akal dan agama siapa saja yang melakukannya? Jadi kesyirikan mereka itu tanpa hujjah (argumen yang jelas) dan keterangan yang nyata. Ia sebenar-nya hanyalah hawa nafsu dan bujukan-bujukan setan.
Ar-Rum 30:35
"Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya, mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya, kemudian apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dari-Nya, tiba-tiba sebagian dari mereka mempersekutukan Rabbnya, sehingga mereka mengingkari rahmat yang telah Kami berikan kepada mereka. Maka bersenang-senanglah kamu sekalian, kelak kamu akan mengetahui. Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan, lalu keterangan itu menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan Rabb?" (Ar-Rum: 33-35).
(33-34) ﴾ وَإِذَا مَسَّ ٱلنَّاسَ ضُرّٞ ﴿ "Dan apabila manusia disentuh oleh suatu bahaya," (berupa) sakit atau rasa takut dari kematian atau lainnya, niscaya ﴾ دَعَوۡاْ رَبَّهُم مُّنِيبِينَ إِلَيۡهِ ﴿ "mereka menyeru Rabbnya dengan kembali bertaubat kepadaNya," mereka melupakan apa yang mereka persekutukan denganNya dalam kondisi itu, karena mereka tahu bahwa tidak ada yang dapat menyingkap bahaya itu kecuali Allah, maka ﴾ إِذَآ أَذَاقَهُم مِّنۡهُ رَحۡمَةً ﴿ "apabila Dia merasakan kepada mereka barang sedikit rahmat dariNya," Dia menyembuhkan mereka dari sakitnya dan mengamankan mereka dari rasa takut, ﴾ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم ﴿ "tiba-tiba sebagian dari mereka" merusak inabah yang mereka lakukan itu dan mereka mempersekutukanNya dengan sesuatu yang sama sekali tidak dapat membela mereka, tidak pula dapat membuat mereka kaya atau membuat mereka fakir. Semua itu adalah keingkaran terhadap apa yang Allah karuniakan dan anugerahkan kepada mereka, yang mana Dia telah menyelamatkan dan membebaskan mereka dari kesengsaraan dan melepaskan mereka dari kesempitan. Mengapa mereka tidak membalas nikmat mulia dengan bersyukur dan tulus ikhlas (bertauhid) kepadaNya dalam seluruh kondisi?
(35) ﴾ أَمۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٗا ﴿ "Atau pernahkah Kami menurunkan kepada mereka keterangan," maksudnya, hujjah yang nyata, ﴾ فَهُوَ ﴿ "lalu ia," maksudnya, hujjah yang nyata itu, ﴾ يَتَكَلَّمُ بِمَا كَانُواْ بِهِۦ يُشۡرِكُونَ ﴿ "menunjukkan (kebenaran) apa yang selalu mereka persekutukan dengan-Nya," dan mengatakan kepada mereka, "Tetaplah kalian pada ke-syirikan kalian itu dan teruslah kalian dalam keraguan, karena sesungguhnya apa yang kalian anut itulah yang benar, sedangkan apa yang diserukan oleh para rasul kepada kalian itulah yang batil." Lalu apakah hujjah yang nyata itu ada di sisi mereka hingga mengharuskan mereka sangat berpegang teguh kepada kesyirikan? Ataukah dalil-dalil rasional dan syar'i, kitab-kitab samawi, para rasul yang mulia dan para penghulu manusia telah melarang de-ngan sekeras-kerasnya dari semua itu, dan mereka telah memper-ingatkan dari mengikuti jalan-jalannya yang dapat mengantarkan kepadanya, dan mereka telah memvonis kerusakan akal dan agama siapa saja yang melakukannya? Jadi kesyirikan mereka itu tanpa hujjah (argumen yang jelas) dan keterangan yang nyata. Ia sebenar-nya hanyalah hawa nafsu dan bujukan-bujukan setan.
Ar-Rum 30:36
"Dan apabila Kami rasakan suatu rahmat pada manusia, niscaya mereka gembira dengannya. Dan apabila mereka ditimpa suatu keburukan disebabkan apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah mela-pangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya dan Dia pula yang menyempitkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." (Ar-Rum: 36-37).
(36-37) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang tabi'at kebanyakan manusia di dalam kondisi lapang dan sempit, yaitu bahwasanya apabila Allah membuat mereka merasakan suatu rahmat, berupa kesehatan, kekayaan, pertolongan dan lain-lainnya, mereka sangat bergembira dengan penuh kebanggaan dan kesombongan dengan nikmat Allah, bukan dengan penuh rasa syukur. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ ﴿ "Dan apabila mereka ditimpa suatu keburukan," maksudnya, kondisi yang menyengsarakan mereka, dan itu, ﴾ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "disebabkan apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri," dari berbagai maksiat, ﴾ إِذَا هُمۡ يَقۡنَطُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka itu berputus asa." Mereka ber-putus asa dari terangkatnya kefakiran, penyakit dan yang serupa dengannya. Ini adalah suatu kebodohan mereka dan tidak adanya pengetahuan. ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak mem-perhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya, dan Dia pula yang menyempitkan," jadi putus asa setelah mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, rizki, kelapangan dan kesempitannya adalah berasal dari takdirNya itu menjadi sia-sia, tidak mempunyai tempat. Maka ja-ngan hanya sekedar memperhatikan sebab kausalitas, wahai orang yang berakal. Akan tetapi jadikanlah penglihatan (perhatian)mu kepada yang menciptakan sebabnya (yaitu Allah. Pent). Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." Merekalah orang-orang yang mengambil ibrah (pelajaran) dengan kelapangan Allah (untuk memberi kelapangan rizki) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menahannya; dan dengan itu mereka mengetahui hikmah (kebijaksanaan) Allah سبحانه وتعالى, rahmat dan kemu-rahanNya serta menarik hati untuk memohon kepadaNya dalam seluruh tuntutan rizki.
Ar-Rum 30:37
"Dan apabila Kami rasakan suatu rahmat pada manusia, niscaya mereka gembira dengannya. Dan apabila mereka ditimpa suatu keburukan disebabkan apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah mela-pangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya dan Dia pula yang menyempitkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." (Ar-Rum: 36-37).
(36-37) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang tabi'at kebanyakan manusia di dalam kondisi lapang dan sempit, yaitu bahwasanya apabila Allah membuat mereka merasakan suatu rahmat, berupa kesehatan, kekayaan, pertolongan dan lain-lainnya, mereka sangat bergembira dengan penuh kebanggaan dan kesombongan dengan nikmat Allah, bukan dengan penuh rasa syukur. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ ﴿ "Dan apabila mereka ditimpa suatu keburukan," maksudnya, kondisi yang menyengsarakan mereka, dan itu, ﴾ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ ﴿ "disebabkan apa yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri," dari berbagai maksiat, ﴾ إِذَا هُمۡ يَقۡنَطُونَ ﴿ "tiba-tiba mereka itu berputus asa." Mereka ber-putus asa dari terangkatnya kefakiran, penyakit dan yang serupa dengannya. Ini adalah suatu kebodohan mereka dan tidak adanya pengetahuan. ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "Dan apakah mereka tidak mem-perhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya, dan Dia pula yang menyempitkan," jadi putus asa setelah mengetahui bahwa kebaikan dan keburukan adalah dari Allah, rizki, kelapangan dan kesempitannya adalah berasal dari takdirNya itu menjadi sia-sia, tidak mempunyai tempat. Maka ja-ngan hanya sekedar memperhatikan sebab kausalitas, wahai orang yang berakal. Akan tetapi jadikanlah penglihatan (perhatian)mu kepada yang menciptakan sebabnya (yaitu Allah. Pent). Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman." Merekalah orang-orang yang mengambil ibrah (pelajaran) dengan kelapangan Allah (untuk memberi kelapangan rizki) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan menahannya; dan dengan itu mereka mengetahui hikmah (kebijaksanaan) Allah سبحانه وتعالى, rahmat dan kemu-rahanNya serta menarik hati untuk memohon kepadaNya dalam seluruh tuntutan rizki.
Ar-Rum 30:38
"Maka berikanlah pada kerabat yang terdekat akan haknya, pada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itu lebih baik bagi orang-orang yang mencari Wajah Allah; dan me-rekalah orang-orang yang beruntung. Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu be-rikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari Wajah Allah, maka merekalah orang-orang yang melipat gandakan." (Ar-Rum: 38-39).
(38) Maksudnya, maka berilah orang yang dekat darimu –berdasarkan kekerabatan dan kebutuhannya– akan haknya yang diwajibkan oleh agama, atau dianjurkan oleh Allah kepadanya berupa nafkah wajib, sedekah, hadiah, kebaikan, salam, memulia-kan, memaafkan kesalahannya, mengampuni kekeliruannya. Dan demikian pula, berilah orang miskin –yang dibuat hina oleh kefa-kiran dan kebutuhan– sesuatu yang dapat menutup kebutuhan-nya dan yang dapat memenuhi keperluannya, seperti memberinya makanan, minuman, dan pakaian. ﴾ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan orang-orang yang dalam perjalanan," yaitu orang asing yang terlantar yang ada di luar negerinya, yang diduga sangat membutuhkan bantuan, se-dangkan dia tidak mempunyai harta (bekal) dan tidak mempunyai pekerjaan, yang dapat mengatur dirinya dengannya di dalam per-jalanannya. Beda dengan orang yang berada di kampung halaman-nya, sekalipun dia tidak mempunyai harta (uang) namun biasanya dia pasti bekerja atau menekuni kegiatan industri dan lain-lain yang dapat memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu Allah menentukan bagian zakat untuk orang miskin dan orang musafir. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itu," maksudnya, memberi kerabat terdekat, orang miskin dan ibnu sabil (musafir) ﴾ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ ﴿ "lebih baik bagi orang-orang yang mencari," melalui amal itu ﴾ وَجۡهَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Wajah Allah," maksudnya, kebaikan yang sangat berharga dan pahala yang besar, sebab ia termasuk amal shalih yang paling utama dan manfaat yang mengalir yang tepat sasaran yang disertai keikhlasan. Jika dimaksudkan bukan untuk mencari Wajah Allah, maka perbuatan itu tidak baik bagi pemberinya, sekalipun menjadi kebaikan dan ber-manfaat bagi orang yang menerimanya, sebagaimana FirmanNya, ﴾ لَّا خَيۡرَ فِي كَثِيرٖ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۭ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa`: 114). Pengertiannya adalah bahwa hal-hal yang dikecualikan ini sangat baik karena manfaatnya yang bersifat menular. Akan tetapi siapa yang melakukannya karena mencari keridhaan Allah, niscaya Kami memberinya pahala yang sangat besar. Dan FirmanNya, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Dan mereka" yang melakukan amal-amal kebajikan ini dan yang lainnya karena mencari Wajah Allah ﴾ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang beruntung," yang meraih pahala dari Allah dan yang selamat dari siksaNya.
(39) Setelah Allah menyebutkan amal yang diniatkan untuk mencari WajahNya, berupa pembelanjaan harta, maka di sini Dia menyebutkan amal yang diniatkan untuk tujuan duniawi, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia," maksud-nya, apa pun yang kalian berikan berupa harta lebihan dari kebu-tuhan kalian sedangkan niat kalian adalah supaya ia bertambah. Maksudnya, agar menambah banyak harta kalian, seperti memberi-kannya kepada orang yang kalian beri makan dengan maksud agar dia memberikan ganti kepada kalian dengan yang lebih banyak darinya. Maka amal seperti ini pahalanya tidak berkembang di sisi Allah, karena ketiadaan syaratnya, yaitu ikhlas. Contohnya adalah, amal yang dimaksudkan agar tambah dihormati dan riya` dalam pandangan manusia. Itu semua tidak akan berkembang di sisi Allah. ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ ﴿ "Dan apa yang kamu berikan berupa zakat," maksudnya, harta yang membersihkan kalian dari akhlak yang tercela dan menyucikan harta kalian dari sifat bakhil dengannya, dan bertambah dalam menutupi kebutuhan orang yang menerima, ﴾ تُرِيدُونَ ﴿ "yang kamu maksudkan" dengan zakat tersebut ﴾ وَجۡهَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُضۡعِفُونَ ﴿ "untuk mencari Wajah Allah, maka merekalah orang-orang yang melipatgandakan" maksudnya, orang-orang yang pahala mereka dilipatgandakan, yaitu orang-orang yang pembelanjaan mereka bertambah di sisi Allah, dan ditambah oleh Allah untuk mereka sehingga menjadi sangat banyak. FirmanNya, ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ ﴿ "Dan apa yang kamu berikan berupa zakat," menunjukkan bahwa sedekah yang disertai dengan keter-paksaan dari orang yang masih tergantung kepada harta yang di-belanjakan, atau tergantung dengan hutang yang belum ia lunasi dan lebih mengutamakan sedekah atasnya, bahwa yang demikian ini bukan zakat yang karenanya seseorang diberi pahala, dan per-buatannya ini ditolak secara syar'i, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang yang dipuji, ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan-nya." (Al-Lail: 18). Jadi, tidak semua memberikan harta itu adalah kebaikan, sehingga pemberian itu dilakukan dengan tujuan di atas, yaitu dengan maksud agar si pemberi menjadi bersih.
Ar-Rum 30:39
"Maka berikanlah pada kerabat yang terdekat akan haknya, pada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itu lebih baik bagi orang-orang yang mencari Wajah Allah; dan me-rekalah orang-orang yang beruntung. Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu be-rikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencari Wajah Allah, maka merekalah orang-orang yang melipat gandakan." (Ar-Rum: 38-39).
(38) Maksudnya, maka berilah orang yang dekat darimu –berdasarkan kekerabatan dan kebutuhannya– akan haknya yang diwajibkan oleh agama, atau dianjurkan oleh Allah kepadanya berupa nafkah wajib, sedekah, hadiah, kebaikan, salam, memulia-kan, memaafkan kesalahannya, mengampuni kekeliruannya. Dan demikian pula, berilah orang miskin –yang dibuat hina oleh kefa-kiran dan kebutuhan– sesuatu yang dapat menutup kebutuhan-nya dan yang dapat memenuhi keperluannya, seperti memberinya makanan, minuman, dan pakaian. ﴾ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan orang-orang yang dalam perjalanan," yaitu orang asing yang terlantar yang ada di luar negerinya, yang diduga sangat membutuhkan bantuan, se-dangkan dia tidak mempunyai harta (bekal) dan tidak mempunyai pekerjaan, yang dapat mengatur dirinya dengannya di dalam per-jalanannya. Beda dengan orang yang berada di kampung halaman-nya, sekalipun dia tidak mempunyai harta (uang) namun biasanya dia pasti bekerja atau menekuni kegiatan industri dan lain-lain yang dapat memenuhi kebutuhannya. Maka dari itu Allah menentukan bagian zakat untuk orang miskin dan orang musafir. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itu," maksudnya, memberi kerabat terdekat, orang miskin dan ibnu sabil (musafir) ﴾ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يُرِيدُونَ ﴿ "lebih baik bagi orang-orang yang mencari," melalui amal itu ﴾ وَجۡهَ ٱللَّهِۖ ﴿ "Wajah Allah," maksudnya, kebaikan yang sangat berharga dan pahala yang besar, sebab ia termasuk amal shalih yang paling utama dan manfaat yang mengalir yang tepat sasaran yang disertai keikhlasan. Jika dimaksudkan bukan untuk mencari Wajah Allah, maka perbuatan itu tidak baik bagi pemberinya, sekalipun menjadi kebaikan dan ber-manfaat bagi orang yang menerimanya, sebagaimana FirmanNya, ﴾ لَّا خَيۡرَ فِي كَثِيرٖ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۭ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ ﴿ "Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa`: 114). Pengertiannya adalah bahwa hal-hal yang dikecualikan ini sangat baik karena manfaatnya yang bersifat menular. Akan tetapi siapa yang melakukannya karena mencari keridhaan Allah, niscaya Kami memberinya pahala yang sangat besar. Dan FirmanNya, ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Dan mereka" yang melakukan amal-amal kebajikan ini dan yang lainnya karena mencari Wajah Allah ﴾ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "adalah orang-orang yang beruntung," yang meraih pahala dari Allah dan yang selamat dari siksaNya.
(39) Setelah Allah menyebutkan amal yang diniatkan untuk mencari WajahNya, berupa pembelanjaan harta, maka di sini Dia menyebutkan amal yang diniatkan untuk tujuan duniawi, seraya berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن رِّبٗا لِّيَرۡبُوَاْ فِيٓ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dan suatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia," maksud-nya, apa pun yang kalian berikan berupa harta lebihan dari kebu-tuhan kalian sedangkan niat kalian adalah supaya ia bertambah. Maksudnya, agar menambah banyak harta kalian, seperti memberi-kannya kepada orang yang kalian beri makan dengan maksud agar dia memberikan ganti kepada kalian dengan yang lebih banyak darinya. Maka amal seperti ini pahalanya tidak berkembang di sisi Allah, karena ketiadaan syaratnya, yaitu ikhlas. Contohnya adalah, amal yang dimaksudkan agar tambah dihormati dan riya` dalam pandangan manusia. Itu semua tidak akan berkembang di sisi Allah. ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ ﴿ "Dan apa yang kamu berikan berupa zakat," maksudnya, harta yang membersihkan kalian dari akhlak yang tercela dan menyucikan harta kalian dari sifat bakhil dengannya, dan bertambah dalam menutupi kebutuhan orang yang menerima, ﴾ تُرِيدُونَ ﴿ "yang kamu maksudkan" dengan zakat tersebut ﴾ وَجۡهَ ٱللَّهِ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُضۡعِفُونَ ﴿ "untuk mencari Wajah Allah, maka merekalah orang-orang yang melipatgandakan" maksudnya, orang-orang yang pahala mereka dilipatgandakan, yaitu orang-orang yang pembelanjaan mereka bertambah di sisi Allah, dan ditambah oleh Allah untuk mereka sehingga menjadi sangat banyak. FirmanNya, ﴾ وَمَآ ءَاتَيۡتُم مِّن زَكَوٰةٖ ﴿ "Dan apa yang kamu berikan berupa zakat," menunjukkan bahwa sedekah yang disertai dengan keter-paksaan dari orang yang masih tergantung kepada harta yang di-belanjakan, atau tergantung dengan hutang yang belum ia lunasi dan lebih mengutamakan sedekah atasnya, bahwa yang demikian ini bukan zakat yang karenanya seseorang diberi pahala, dan per-buatannya ini ditolak secara syar'i, sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang orang yang dipuji, ﴾ ٱلَّذِي يُؤۡتِي مَالَهُۥ يَتَزَكَّىٰ 18 ﴿ "Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan-nya." (Al-Lail: 18). Jadi, tidak semua memberikan harta itu adalah kebaikan, sehingga pemberian itu dilakukan dengan tujuan di atas, yaitu dengan maksud agar si pemberi menjadi bersih.
Ar-Rum 30:40
"Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rizki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kem-bali. Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu siapa yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha-suci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan." (Ar-Rum: 40).
(40) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya hanya Dia semata yang menciptakan kalian, memberi rizki kalian, mematikan kalian dan menghidupkan kembali kalian; dan bahwa sesungguhnya tidak seorang pun dari para sekutu yang disembah oleh kaum musyrikin itu yang bersekutu dengan Allah dalam melakukan satu pun dari hal-hal tersebut. Maka bagaimana mereka memperseku-tukan orang (berhala) yang sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa dengan Tuhan yang hanya Dia sendiri yang bisa melakukan hal-hal itu? Maka Mahasuci Allah lagi Mahatinggi dari kesyirikan mereka. Semua itu tidak akan membahayakanNya, dan sesungguh-nya akibat buruknya hanya akan menimpa diri mereka sendiri.
Ar-Rum 30:41
"Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan ka-rena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kem-bali." (Ar-Rum: 41).
(41) Maksudnya, menjadi jelas ﴾ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ ﴿ "kerusakan di darat dan laut." Yaitu, rusaknya kehidupan mereka, berkurang dan terjadinya berbagai wabah penyakit padanya, dan juga pada diri mereka, berupa penyakit, wabah dan lain-lain. Itu semua di-sebabkan apa yang telah dilakukan oleh tangan mereka berupa pekerjaan-pekerjaan yang rusak dan merusak. Yang disebutkan ini ﴾ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ ﴿ "supaya Allah merasa-kan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka." Maksudnya, agar mereka tahu bahwasanya Allah memberikan balasan atas amal perbuatan. Jadi, Allah menyegerakan contoh (terlebih dahulu) dari balasan amal perbuatan mereka di dunia, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "agar mereka kembali," dari perbuatan mereka yang telah menimbulkan kerusak-an bagi mereka sendiri, sehingga keadaan mereka menjadi baik, urusan mereka menjadi benar. Maka Mahasuci Tuhan yang telah memberikan nikmat dengan cobaanNya dan memberikan karunia dengan hukumanNya. Sebab, jika tidak, maka kalau Dia merasakan kepada mereka seluruh balasan (amal) yang mereka lakukan, tentu Dia tidak akan menyisakan satu binatang melata pun (manusia) di muka bumi ini.
Ar-Rum 30:42
"Katakanlah, 'Adakanlah perjalanan di muka bumi dan per-hatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Keba-nyakan dari mereka itu adalah orang-orang musyrik'." (Ar-Rum: 42).
(42) Perintah berjalan di bumi itu mencakup juga (perintah) berjalan dengan fisik dan berjalan dalam hati untuk memperhati-kan dan merenungkan kesudahan-kesudahan orang-orang terda-hulu (bahwa), ﴾ كَانَ أَكۡثَرُهُم مُّشۡرِكِينَ ﴿ "kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang musyrik," kalian menjumpai kesudahan mereka adalah seburuk-buruk kesudahan, akhir hidup mereka adalah seburuk-buruk akhir kehidupan, yaitu azab (yang telah membinasakan me-reka semua), celaan, kutukan dari makhluk Allah yang mengikuti mereka, dan kehinaan yang berlanjut. Maka waspadalah untuk tidak melakukan seperti perbuatan mereka, agar kalian tidak di-perlakukan sama dengan mereka. Karena sesungguhnya keadilan Allah dan kebijaksanaanNya selalu ada pada setiap waktu dan setiap tempat.
Ar-Rum 30:43
"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak; pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya; dan barang-siapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendiri mereka menyiapkan. Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari karuniaNya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar." (Ar-Rum: 43-45).
(43) Maksudnya, menghadaplah dengan hatimu dan meng-hadaplah dengan wajahmu, dan berusahalah dengan fisikmu untuk menegakkan agama yang lurus. Maka laksanakanlah perintah-perintahnya dan larangan-larangannya dengan sungguh-sungguh dan serius; dan laksanakanlah tugas-tugasnya yang lahir dan yang batin, serta manfaatkanlah segera waktumu, hidupmu dan masa mudamu, ﴾ قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak," yaitu Hari Kiamat, yang apabila ia da-tang, maka tidak mungkin dapat dielakkan (ditolak), dan orang-orang yang akan beramal tidak akan diberi tangguhan waktu untuk beramal lagi. Bahkan (hari itu) diselesaikan dari segala amal, dan tidak ada yang tersisa saat itu kecuali balasan amal perbuatan. ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصَّدَّعُونَ ﴿ "Pada hari itu mereka terpisah-pisah," maksudnya, me-reka tercerai-berai pada hari itu, dan mereka datang dengan ber-pisah-pisah dan berbeda-beda untuk diperlihatkan kepada mereka amal yang telah mereka lakukan.
(44-45) Maka ﴾ مَن كَفَرَ ﴿ "barangsiapa yang kafir" di antara mereka ﴾ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ ﴿ "maka dia sendirilah yang menanggung akibat keka-firannya," dialah yang akan disiksa disebabkan dirinya sendiri, setiap diri yang berdosa tidak menanggung dosa orang lain. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang beramal shalih," berupa (menunaikan) hak-hak Allah dan hak-hak manusia yang wajib dan yang dianjurkan, ﴾ فَلِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka untuk diri mereka sendiri," bukan untuk orang lain ﴾ يَمۡهَدُونَ ﴿ "mereka menyiapkan." Maksudnya, mereka mempersiapkan, dan untuk diri mereka sendiri, mereka memakmurkan akhiratnya, mereka bersiap-siap untuk meraih tempat-tempat tinggal dan bilik-biliknya. Walau demikian, balasan untuk mereka tidak terbatas pada amal perbuatan mereka. Bahkan Allah memberi mereka ba-lasan dari karuniaNya yang berlimpah dan kemurahanNya yang tidak terbatas yang sama sekali tidak bisa dicapai dengan amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Allah mencintai mereka. Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah mencu-rahkan karuniaNya padanya sebanyak-banyaknya, dan melipat-gandakan pemberianNya yang sangat mewah, menganugerahkan kepadanya berbagai nikmat lahir dan batin. Ini berbeda dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya Allah, tatkala membenci dan murka terhadap mereka, maka Dia menyiksa dan menghukumnya, dan tidak menambah sebagaimana Dia menambah kepada orang-orang sebelumnya (yang beriman). Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar."
Ar-Rum 30:44
"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak; pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya; dan barang-siapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendiri mereka menyiapkan. Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari karuniaNya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar." (Ar-Rum: 43-45).
(43) Maksudnya, menghadaplah dengan hatimu dan meng-hadaplah dengan wajahmu, dan berusahalah dengan fisikmu untuk menegakkan agama yang lurus. Maka laksanakanlah perintah-perintahnya dan larangan-larangannya dengan sungguh-sungguh dan serius; dan laksanakanlah tugas-tugasnya yang lahir dan yang batin, serta manfaatkanlah segera waktumu, hidupmu dan masa mudamu, ﴾ قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak," yaitu Hari Kiamat, yang apabila ia da-tang, maka tidak mungkin dapat dielakkan (ditolak), dan orang-orang yang akan beramal tidak akan diberi tangguhan waktu untuk beramal lagi. Bahkan (hari itu) diselesaikan dari segala amal, dan tidak ada yang tersisa saat itu kecuali balasan amal perbuatan. ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصَّدَّعُونَ ﴿ "Pada hari itu mereka terpisah-pisah," maksudnya, me-reka tercerai-berai pada hari itu, dan mereka datang dengan ber-pisah-pisah dan berbeda-beda untuk diperlihatkan kepada mereka amal yang telah mereka lakukan.
(44-45) Maka ﴾ مَن كَفَرَ ﴿ "barangsiapa yang kafir" di antara mereka ﴾ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ ﴿ "maka dia sendirilah yang menanggung akibat keka-firannya," dialah yang akan disiksa disebabkan dirinya sendiri, setiap diri yang berdosa tidak menanggung dosa orang lain. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang beramal shalih," berupa (menunaikan) hak-hak Allah dan hak-hak manusia yang wajib dan yang dianjurkan, ﴾ فَلِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka untuk diri mereka sendiri," bukan untuk orang lain ﴾ يَمۡهَدُونَ ﴿ "mereka menyiapkan." Maksudnya, mereka mempersiapkan, dan untuk diri mereka sendiri, mereka memakmurkan akhiratnya, mereka bersiap-siap untuk meraih tempat-tempat tinggal dan bilik-biliknya. Walau demikian, balasan untuk mereka tidak terbatas pada amal perbuatan mereka. Bahkan Allah memberi mereka ba-lasan dari karuniaNya yang berlimpah dan kemurahanNya yang tidak terbatas yang sama sekali tidak bisa dicapai dengan amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Allah mencintai mereka. Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah mencu-rahkan karuniaNya padanya sebanyak-banyaknya, dan melipat-gandakan pemberianNya yang sangat mewah, menganugerahkan kepadanya berbagai nikmat lahir dan batin. Ini berbeda dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya Allah, tatkala membenci dan murka terhadap mereka, maka Dia menyiksa dan menghukumnya, dan tidak menambah sebagaimana Dia menambah kepada orang-orang sebelumnya (yang beriman). Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar."
Ar-Rum 30:45
"Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak; pada hari itu mereka terpisah-pisah. Barangsiapa yang kafir, maka dia sendirilah yang menanggung akibat kekafirannya; dan barang-siapa yang beramal shalih, maka untuk diri mereka sendiri mereka menyiapkan. Agar Allah memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih dari karuniaNya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar." (Ar-Rum: 43-45).
(43) Maksudnya, menghadaplah dengan hatimu dan meng-hadaplah dengan wajahmu, dan berusahalah dengan fisikmu untuk menegakkan agama yang lurus. Maka laksanakanlah perintah-perintahnya dan larangan-larangannya dengan sungguh-sungguh dan serius; dan laksanakanlah tugas-tugasnya yang lahir dan yang batin, serta manfaatkanlah segera waktumu, hidupmu dan masa mudamu, ﴾ قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ يَوۡمٞ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِۖ ﴿ "sebelum datang dari Allah suatu hari yang tak dapat ditolak," yaitu Hari Kiamat, yang apabila ia da-tang, maka tidak mungkin dapat dielakkan (ditolak), dan orang-orang yang akan beramal tidak akan diberi tangguhan waktu untuk beramal lagi. Bahkan (hari itu) diselesaikan dari segala amal, dan tidak ada yang tersisa saat itu kecuali balasan amal perbuatan. ﴾ يَوۡمَئِذٖ يَصَّدَّعُونَ ﴿ "Pada hari itu mereka terpisah-pisah," maksudnya, me-reka tercerai-berai pada hari itu, dan mereka datang dengan ber-pisah-pisah dan berbeda-beda untuk diperlihatkan kepada mereka amal yang telah mereka lakukan.
(44-45) Maka ﴾ مَن كَفَرَ ﴿ "barangsiapa yang kafir" di antara mereka ﴾ فَعَلَيۡهِ كُفۡرُهُۥۖ ﴿ "maka dia sendirilah yang menanggung akibat keka-firannya," dialah yang akan disiksa disebabkan dirinya sendiri, setiap diri yang berdosa tidak menanggung dosa orang lain. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang beramal shalih," berupa (menunaikan) hak-hak Allah dan hak-hak manusia yang wajib dan yang dianjurkan, ﴾ فَلِأَنفُسِهِمۡ ﴿ "maka untuk diri mereka sendiri," bukan untuk orang lain ﴾ يَمۡهَدُونَ ﴿ "mereka menyiapkan." Maksudnya, mereka mempersiapkan, dan untuk diri mereka sendiri, mereka memakmurkan akhiratnya, mereka bersiap-siap untuk meraih tempat-tempat tinggal dan bilik-biliknya. Walau demikian, balasan untuk mereka tidak terbatas pada amal perbuatan mereka. Bahkan Allah memberi mereka ba-lasan dari karuniaNya yang berlimpah dan kemurahanNya yang tidak terbatas yang sama sekali tidak bisa dicapai dengan amal mereka. Yang demikian itu adalah karena Allah mencintai mereka. Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, maka Allah mencu-rahkan karuniaNya padanya sebanyak-banyaknya, dan melipat-gandakan pemberianNya yang sangat mewah, menganugerahkan kepadanya berbagai nikmat lahir dan batin. Ini berbeda dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya Allah, tatkala membenci dan murka terhadap mereka, maka Dia menyiksa dan menghukumnya, dan tidak menambah sebagaimana Dia menambah kepada orang-orang sebelumnya (yang beriman). Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar."
Ar-Rum 30:46
"Dan di antara tanda-tandaNya ialah bahwa Dia mengirim-kan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya, dan supaya kapal dapat ber-layar dengan perintahNya, dan juga supaya kamu dapat mencari karuniaNya; mudah-mudahan kamu bersyukur." (Ar-Rum: 46).
(46) Di antara bukti-bukti yang menunjukkan atas rahmat-Nya dan (bahwa) Dia (mampu) membangkitkan orang-orang yang sudah mati, serta bahwa Dia-lah sembahan, Maharaja yang terpuji, adalah Dia mengirimkan ﴾ ٱلرِّيَاحَ ﴿ "angin," di depan hujan ﴾ مُبَشِّرَٰتٖ ﴿ "sebagai pembawa berita gembira" dengan menggerakkan awan, lalu menghimpunnya, sehingga hati manusia sebelum turun hujan itu merasa gembira, ﴾ وَلِيُذِيقَكُم مِّن رَّحۡمَتِهِۦ ﴿ "dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmatNya," lalu Dia menurunkan atas kalian hujan yang dengannya negeri dan manusia bisa hidup, dan kalian mera-sakan sebagian dari rahmatNya, yang kalian ketahui bahwa rah-matNya-lah yang menyelamatkan manusia, yang membawa rizki mereka, sehingga dengan begitu kalian rindu untuk beramal shalih yang membuka pintu-pintu perbendaharaan rahmatNya,﴾ وَلِتَجۡرِيَ ٱلۡفُلۡكُ ﴿ "dan supaya kapal dapat berlayar" di lautan ﴾ بِأَمۡرِهِۦ ﴿ "dengan pe-rintahNya" yang bersifat qadari, ﴾ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "dan juga supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya" dengan bisa bekerja dalam peng-hidupan dan berbagai maslahat kalian. ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "mudah-mudahan kamu bersyukur," kepada Dzat yang telah menundukkan berbagai sebab kausalitas kepada kalian dan memudahkan berbagai hal untuk kalian. Inilah maksud dari berbagai nikmat, yaitu (agar kalian) membalasnya dengan bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى agar Dia menambahnya untuk kalian dan menyisakannya untuk kalian. Ada-pun membalas kenikmatan dengan kekafiran dan maksiat, maka yang demikian ini adalah tabiat orang yang mengganti nikmat Allah dengan keingkaran dan nikmatNya sebagai bencana. Dan dia menawarkan kesirnaan nikmat dan berpindah dari nikmat kepada yang lain.
Ar-Rum 30:47
"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan, lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan kewajiban Kami menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 47).
(47) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu," pada umat-umat terdahulu ﴾ رُسُلًا إِلَىٰ قَوۡمِهِمۡ ﴿ "beberapa orang rasul kepada kaumnya" saat mereka mengingkari tauhid kepada Allah dan mendustakan yang benar, lalu para rasul itu datang mengajak mereka kepada tauhid, ikhlas dan membenarkan yang haq dan menyatakan rusak pada kebatilan ajaran yang mereka anut, yaitu kekafiran dan kesesatan. Para rasul itu datang kepada mereka dengan mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil yang menunjuk-kan kepada semua itu, namun mereka tidak beriman dan tidak berpindah dari kesesatan mereka. ﴾ فَٱنتَقَمۡنَا مِنَ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْۖ ﴿ "Lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa" dan Kami berikan pertolongan kepada orang-orang yang beriman, yaitu para pengikut para rasul. ﴾ وَكَانَ حَقًّا عَلَيۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan adalah kewajiban Kami menolong orang-orang yang beriman." Maksudnya, Kami telah mewajibkan hal itu atas diri Kami, dan Kami menjadikannya dalam sejumlah hak-hak yang telah ditentukan, dan Kami telah menjan-jikannya kepada mereka, maka pasti terjadi. Maka kalian, wahai orang-orang yang mendustakan Muhammad a, jika kalian tetap pada sikap mendustakan, pasti kalian akan ditimpa siksaan, dan Kami pasti menolongnya atas kalian.
Ar-Rum 30:48
"Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu meng-gerakkan awan lalu Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila ia mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan ditu-runkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya yang demi-kian itu benar-benar akan menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ar-Rum: 48-50).
(48-49) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kesempurnaan ke-kuasaanNya dan kelengkapan nikmatNya, yaitu bahwasanya Dia ﴾ يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا ﴿ "mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan" dari bumi, ﴾ فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan membentangkannya di langit" yakni, membentangkan dan menjadikannya luas, ﴾ كَيۡفَ يَشَآءُ ﴿ "menurut yang dikehendakiNya" menurut keadaan yang Dia kehendaki darinya, ﴾ وَيَجۡعَلُهُۥ ﴿ "kemudian menjadikannya," maksudnya, menjadikan awan yang terbentang luas itu ﴾ كِسَفٗا ﴿ "bergumpal-gumpal," maksudnya, awan yang tebal, sebagiannya menggumpali sebagian yang lain, ﴾ فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ ﴿ "lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya," maksudnya, dari celah-celah awan itu, sebagai tetesan-tetesan kecil yang bertebaran, ia tidak turun semuanya (sekaligus) karena akan membuat rusak apa yang ditimpanya, ﴾ فَإِذَآ أَصَابَ ﴿ "maka apabila ia me-ngenai," maksudnya, dengan hujan itu, orang ﴾ يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira," sebagian menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan turunnya hujan itu. Yang demikian itu adalah karena sangat butuh dan sangat perlunya mereka kepadanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡهِم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمُبۡلِسِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa." Maksudnya, berputus harapan karena ke-terlambatan waktu turunnya. Maksudnya, Setelah hujan itu turun dalam kondisi seperti itu, maka hujan benar-benar menjadi sangat berharga bagi mereka, dan menjadi kebahagiaan, dan kegembiraan.
(50) ﴾ فَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ ءَاثَٰرِ رَحۡمَتِ ٱللَّهِ كَيۡفَ يُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآۚ ﴿ "Maka perhatikan-lah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati," maka ia pun hidup dan subur, serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesung-guhnya yang demikian itu," yang telah menghidupkan tanah sesudah kegersangannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "benar-benar akan meng-hidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Jadi, kekuasaanNya membuat segala sesuatu tidak ada yang sulit bagiNya, sekalipun dirasa sangat sulit (tidak mungkin) menurut perkiraan makhlukNya, dan sangat rumit dari pema-haman mereka serta akal pikiran mereka menjadi bingung.
Ar-Rum 30:49
"Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu meng-gerakkan awan lalu Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila ia mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan ditu-runkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya yang demi-kian itu benar-benar akan menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ar-Rum: 48-50).
(48-49) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kesempurnaan ke-kuasaanNya dan kelengkapan nikmatNya, yaitu bahwasanya Dia ﴾ يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا ﴿ "mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan" dari bumi, ﴾ فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan membentangkannya di langit" yakni, membentangkan dan menjadikannya luas, ﴾ كَيۡفَ يَشَآءُ ﴿ "menurut yang dikehendakiNya" menurut keadaan yang Dia kehendaki darinya, ﴾ وَيَجۡعَلُهُۥ ﴿ "kemudian menjadikannya," maksudnya, menjadikan awan yang terbentang luas itu ﴾ كِسَفٗا ﴿ "bergumpal-gumpal," maksudnya, awan yang tebal, sebagiannya menggumpali sebagian yang lain, ﴾ فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ ﴿ "lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya," maksudnya, dari celah-celah awan itu, sebagai tetesan-tetesan kecil yang bertebaran, ia tidak turun semuanya (sekaligus) karena akan membuat rusak apa yang ditimpanya, ﴾ فَإِذَآ أَصَابَ ﴿ "maka apabila ia me-ngenai," maksudnya, dengan hujan itu, orang ﴾ يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira," sebagian menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan turunnya hujan itu. Yang demikian itu adalah karena sangat butuh dan sangat perlunya mereka kepadanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡهِم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمُبۡلِسِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa." Maksudnya, berputus harapan karena ke-terlambatan waktu turunnya. Maksudnya, Setelah hujan itu turun dalam kondisi seperti itu, maka hujan benar-benar menjadi sangat berharga bagi mereka, dan menjadi kebahagiaan, dan kegembiraan.
(50) ﴾ فَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ ءَاثَٰرِ رَحۡمَتِ ٱللَّهِ كَيۡفَ يُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآۚ ﴿ "Maka perhatikan-lah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati," maka ia pun hidup dan subur, serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesung-guhnya yang demikian itu," yang telah menghidupkan tanah sesudah kegersangannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "benar-benar akan meng-hidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Jadi, kekuasaanNya membuat segala sesuatu tidak ada yang sulit bagiNya, sekalipun dirasa sangat sulit (tidak mungkin) menurut perkiraan makhlukNya, dan sangat rumit dari pema-haman mereka serta akal pikiran mereka menjadi bingung.
Ar-Rum 30:50
"Allah, Dia-lah yang mengirim angin, lalu angin itu meng-gerakkan awan lalu Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila ia mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan ditu-runkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya yang demi-kian itu benar-benar akan menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ar-Rum: 48-50).
(48-49) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kesempurnaan ke-kuasaanNya dan kelengkapan nikmatNya, yaitu bahwasanya Dia ﴾ يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا ﴿ "mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan" dari bumi, ﴾ فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan membentangkannya di langit" yakni, membentangkan dan menjadikannya luas, ﴾ كَيۡفَ يَشَآءُ ﴿ "menurut yang dikehendakiNya" menurut keadaan yang Dia kehendaki darinya, ﴾ وَيَجۡعَلُهُۥ ﴿ "kemudian menjadikannya," maksudnya, menjadikan awan yang terbentang luas itu ﴾ كِسَفٗا ﴿ "bergumpal-gumpal," maksudnya, awan yang tebal, sebagiannya menggumpali sebagian yang lain, ﴾ فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ ﴿ "lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya," maksudnya, dari celah-celah awan itu, sebagai tetesan-tetesan kecil yang bertebaran, ia tidak turun semuanya (sekaligus) karena akan membuat rusak apa yang ditimpanya, ﴾ فَإِذَآ أَصَابَ ﴿ "maka apabila ia me-ngenai," maksudnya, dengan hujan itu, orang ﴾ يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ ﴿ "yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira," sebagian menyampaikan berita gembira kepada sebagian yang lain dengan turunnya hujan itu. Yang demikian itu adalah karena sangat butuh dan sangat perlunya mereka kepadanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلِ أَن يُنَزَّلَ عَلَيۡهِم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمُبۡلِسِينَ ﴿ "Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa." Maksudnya, berputus harapan karena ke-terlambatan waktu turunnya. Maksudnya, Setelah hujan itu turun dalam kondisi seperti itu, maka hujan benar-benar menjadi sangat berharga bagi mereka, dan menjadi kebahagiaan, dan kegembiraan.
(50) ﴾ فَٱنظُرۡ إِلَىٰٓ ءَاثَٰرِ رَحۡمَتِ ٱللَّهِ كَيۡفَ يُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآۚ ﴿ "Maka perhatikan-lah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Dia menghidupkan bumi yang sudah mati," maka ia pun hidup dan subur, serta menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Sesung-guhnya yang demikian itu," yang telah menghidupkan tanah sesudah kegersangannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "benar-benar akan meng-hidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Jadi, kekuasaanNya membuat segala sesuatu tidak ada yang sulit bagiNya, sekalipun dirasa sangat sulit (tidak mungkin) menurut perkiraan makhlukNya, dan sangat rumit dari pema-haman mereka serta akal pikiran mereka menjadi bingung.
Ar-Rum 30:51
"Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihatnya menjadi kuning, benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar. Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup men-jadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatan-nya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan melainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." (Ar-Rum: 51-53).
(51) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang keadaan manusia, dan bahwa mereka beserta limpahan berbagai nikmat kepada mereka berupa disuburkannya tanah setelah kegersangannya dan setelah disebarluaskannya rahmat Allah سبحانه وتعالى, kalau seandainya kami tiupkan terhadap tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh karena hujan itu dan terhadap tanaman-tanaman mereka yang membahayakan lagi membinasakan atau merusak ﴾ فَرَأَوۡهُ مُصۡفَرّٗا ﴿ "lalu mereka melihat-nya menjadi kuning," telah menandakan akan kematiannya,﴾ لَّظَلُّواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ يَكۡفُرُونَ ﴿ "benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar," mereka lupa kepada nikmat-nikmat yang terdahulu, dan mereka segera menjadi ingkar. Orang-orang seperti itu, tidak ada gunanya nasihat atau peringatan bagi mereka.
(52) ﴾ فَإِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَلَا تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan," ter-utama, ﴾ إِذَا وَلَّوۡاْ مُدۡبِرِينَ ﴿ "apabila mereka itu berpaling membelakang." Sebab sesungguhnya penghalang-penghalang untuk tunduk dan men-dengar dengan baik sudah sangat banyak pada mereka, seperti lengkapnya penghalang-penghalang yang tersebut di atas dari mendengar suara yang indrawi.
(53) ﴾ وَمَآ أَنتَ بِهَٰدِ ٱلۡعُمۡيِ عَن ضَلَٰلَتِهِمۡۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatannya" karena mereka tidak menerima pencerahan disebabkan kebutaan mereka. Jadi tidak ada celah untuk menerima petunjuk itu. ﴾ إِن تُسۡمِعُ إِلَّا مَن يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا فَهُم مُّسۡلِمُونَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat memperdengarkan me-lainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." Merekalah orang-orang yang mana (tindakan) memperdengarkan petunjuk itu berguna bagi mereka, yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka ke-pada ayat-ayat Kami, yang tunduk kepada perintah-perintah Kami, yang berserah diri kepada Kami. Sebab, pada mereka terdapat po-tensi yang kuat untuk menerima nasihat dan arahan; yaitu kesiapan mereka untuk beriman kepada setiap ayat dari ayat-ayat Allah, dan kesiapan mereka untuk melaksanakan apa yang mampu mereka lakukan berupa perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya.
Ar-Rum 30:52
"Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihatnya menjadi kuning, benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar. Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup men-jadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatan-nya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan melainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." (Ar-Rum: 51-53).
(51) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang keadaan manusia, dan bahwa mereka beserta limpahan berbagai nikmat kepada mereka berupa disuburkannya tanah setelah kegersangannya dan setelah disebarluaskannya rahmat Allah سبحانه وتعالى, kalau seandainya kami tiupkan terhadap tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh karena hujan itu dan terhadap tanaman-tanaman mereka yang membahayakan lagi membinasakan atau merusak ﴾ فَرَأَوۡهُ مُصۡفَرّٗا ﴿ "lalu mereka melihat-nya menjadi kuning," telah menandakan akan kematiannya,﴾ لَّظَلُّواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ يَكۡفُرُونَ ﴿ "benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar," mereka lupa kepada nikmat-nikmat yang terdahulu, dan mereka segera menjadi ingkar. Orang-orang seperti itu, tidak ada gunanya nasihat atau peringatan bagi mereka.
(52) ﴾ فَإِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَلَا تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan," ter-utama, ﴾ إِذَا وَلَّوۡاْ مُدۡبِرِينَ ﴿ "apabila mereka itu berpaling membelakang." Sebab sesungguhnya penghalang-penghalang untuk tunduk dan men-dengar dengan baik sudah sangat banyak pada mereka, seperti lengkapnya penghalang-penghalang yang tersebut di atas dari mendengar suara yang indrawi.
(53) ﴾ وَمَآ أَنتَ بِهَٰدِ ٱلۡعُمۡيِ عَن ضَلَٰلَتِهِمۡۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatannya" karena mereka tidak menerima pencerahan disebabkan kebutaan mereka. Jadi tidak ada celah untuk menerima petunjuk itu. ﴾ إِن تُسۡمِعُ إِلَّا مَن يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا فَهُم مُّسۡلِمُونَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat memperdengarkan me-lainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." Merekalah orang-orang yang mana (tindakan) memperdengarkan petunjuk itu berguna bagi mereka, yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka ke-pada ayat-ayat Kami, yang tunduk kepada perintah-perintah Kami, yang berserah diri kepada Kami. Sebab, pada mereka terdapat po-tensi yang kuat untuk menerima nasihat dan arahan; yaitu kesiapan mereka untuk beriman kepada setiap ayat dari ayat-ayat Allah, dan kesiapan mereka untuk melaksanakan apa yang mampu mereka lakukan berupa perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya.
Ar-Rum 30:53
"Dan sungguh, jika Kami mengirimkan angin lalu mereka melihatnya menjadi kuning, benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar. Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup men-jadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan, apabila mereka itu berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatan-nya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan melainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." (Ar-Rum: 51-53).
(51) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang keadaan manusia, dan bahwa mereka beserta limpahan berbagai nikmat kepada mereka berupa disuburkannya tanah setelah kegersangannya dan setelah disebarluaskannya rahmat Allah سبحانه وتعالى, kalau seandainya kami tiupkan terhadap tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh karena hujan itu dan terhadap tanaman-tanaman mereka yang membahayakan lagi membinasakan atau merusak ﴾ فَرَأَوۡهُ مُصۡفَرّٗا ﴿ "lalu mereka melihat-nya menjadi kuning," telah menandakan akan kematiannya,﴾ لَّظَلُّواْ مِنۢ بَعۡدِهِۦ يَكۡفُرُونَ ﴿ "benar-benar tetaplah mereka sesudah itu ingkar," mereka lupa kepada nikmat-nikmat yang terdahulu, dan mereka segera menjadi ingkar. Orang-orang seperti itu, tidak ada gunanya nasihat atau peringatan bagi mereka.
(52) ﴾ فَإِنَّكَ لَا تُسۡمِعُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَلَا تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ ٱلدُّعَآءَ ﴿ "Maka sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar, dan menjadikan orang-orang yang tuli dapat mendengar seruan," ter-utama, ﴾ إِذَا وَلَّوۡاْ مُدۡبِرِينَ ﴿ "apabila mereka itu berpaling membelakang." Sebab sesungguhnya penghalang-penghalang untuk tunduk dan men-dengar dengan baik sudah sangat banyak pada mereka, seperti lengkapnya penghalang-penghalang yang tersebut di atas dari mendengar suara yang indrawi.
(53) ﴾ وَمَآ أَنتَ بِهَٰدِ ٱلۡعُمۡيِ عَن ضَلَٰلَتِهِمۡۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta dari kesesatannya" karena mereka tidak menerima pencerahan disebabkan kebutaan mereka. Jadi tidak ada celah untuk menerima petunjuk itu. ﴾ إِن تُسۡمِعُ إِلَّا مَن يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا فَهُم مُّسۡلِمُونَ ﴿ "Dan kamu tidak dapat memperdengarkan me-lainkan kepada orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri." Merekalah orang-orang yang mana (tindakan) memperdengarkan petunjuk itu berguna bagi mereka, yaitu orang-orang yang beriman dengan hati mereka ke-pada ayat-ayat Kami, yang tunduk kepada perintah-perintah Kami, yang berserah diri kepada Kami. Sebab, pada mereka terdapat po-tensi yang kuat untuk menerima nasihat dan arahan; yaitu kesiapan mereka untuk beriman kepada setiap ayat dari ayat-ayat Allah, dan kesiapan mereka untuk melaksanakan apa yang mampu mereka lakukan berupa perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya.
Ar-Rum 30:54
"Allah, Dia-lah yang menciptakan kamu dari kadaan lemah, kemudian Dia menjadikan sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Ar-Rum: 54).
(54) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang keluasan ilmuNya, keagungan kekuasaanNya, dan kesempurnaan hikmahNya, dan bahwa sesungguhnya Dia telah memulai penciptaan manusia dari keadaan lemah, yaitu fase-fase pertama dari penciptaannya dari sperma menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging hingga menjadi hewan hidup di dalam rahim, lalu hingga dilahir-kan sedangkan dia berada pada usia anak-anak. Dan dia pada saat itu berada dalam puncak kelemahan, tidak memiliki kekuatan dan kemampuan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى terus menambahnya makin kuat sedikit demi sedikit hingga mencapai usia remaja dan kekuatan-nya pun menjadi sempurna, kekuatan lahir dan batinnya menjadi sempurna pula. Kemudian dia berpindah dari fase ini dan kembali kepada kelemahan, masa beruban dan tua renta. ﴾ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Dia mencip-takan apa yang dikehendakiNya" sesuai hikmahNya. Dan di antara hikmahNya adalah Dia memperlihatkan kepada manusia kele-mahannya, dan sesungguhnya kekuatannya diliputi dengan dua kelemahan, dan bahwa sesungguhnya dia tidak memiliki dari dirinya kecuali kekurangan. Kalau saja bukan karena Allah menja-dikannya kuat, tentu dia tidak akan pernah mencapai pada suatu kekuatan dan kemampuan. Dan kalau seandainya kekuatannya terus bertambah, niscaya dia congkak, sombong dan melampaui batas. Dan hendaknya manusia mengetahui kesempurnaan kekua-saan Allah yang terus-menerus bertambah, dengannya Dia mencip-takan segala sesuatu dan dengannya Dia mengatur segala urusan. KekuatanNya tidak pernah ditimpa ketidakberdayaan, kelemahan ataupun kekurangan dari segala sisinya.
Ar-Rum 30:55
"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, 'Mereka tidak berdiam melainkan sesaat saja.' Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan. Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan, 'Sesung-guhnya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu se-lalu tidak mengetahui. Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi'." (Ar-Rum: 55-57).
(55) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang Hari Kiamat dan cepat-nya (masa) kedatangannya, dan sesungguhnya kiamat itu kalau sudah terjadi, maka bersumpahlah ﴾ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa" dengan nama Allah, bahwasanya ﴾ مَا لَبِثُواْ ﴿ "mereka tidak berdiam" di dunia ﴾ غَيۡرَ سَاعَةٖۚ ﴿ "melainkan sesaat saja," itu adalah suatu alasan dari mereka, barang kali udzur itu bisa berguna bagi mereka, dan perasaan sangat singkatnya masa tinggal di dunia. Tatkala perkataan mereka adalah dusta, tidak ada benarnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ كَانُواْ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Seperti demikianlah mereka selalu di-palingkan." Maksudnya, saat berada di dunia mereka terus menerus berpaling dari kebenaran dan kenyataan dan selalu berbuat dusta. Di dunia mereka mendustakan kebenaran yang dibawa oleh para rasul, dan di akhirat mereka mengingkari perkara yang indrawi, yaitu berdiam cukup lama di dunia. Inilah karakter busuk mereka. Jadi, seseorang itu akan dibangkitkan kembali sesuai dengan (kon-disi) dia mati dahulu.
(56) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَٱلۡإِيمَٰنَ ﴿ "Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan." Maksudnya, orang yang di-karuniai dua hal itu oleh Allah, sehingga kedua hal itu menjadi sifat mereka. Yaitu ilmu pengetahuan tentang yang benar dan iman yang membuahkan sikap lebih mengutamakan yang benar. Dan apabila mereka adalah orang-orang yang mengetahui yang benar dan mengutamakannya, maka pasti perkataan mereka sesuai de-ngan realita, sejalan dengan keadaan mereka. Maka dari itu mereka mengatakan yang haq (yang benar), ﴾ لَقَدۡ لَبِثۡتُمۡ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguh-nya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah," maksudnya, menu-rut qadha` dan takdir Allah yang telah dicatatNya atas kalian dan di dalam keputusanNya, ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡبَعۡثِۖ ﴿ "sampai hari berbangkit." Maksudnya, kalian telah diberi usia yang mana orang yang mau mengingat dapat mengingatnya, orang yang mau berpikir dapat memikirkannya, dan orang yang mau mengambil pelajaran dapat mengambil pelajaran hingga terjadilah kebangkitan, dan kalian pun telah mencapai kepada keadaan ini. ﴾ فَهَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡبَعۡثِ وَلَٰكِنَّكُمۡ كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak mengetahui," maka dari itu kalian mengingkarinya di dunia, dan kalian mengingkari kalau kalian telah tinggal di dunia dalam waktu yang cukup bagi kalian untuk berinabah dan bertaubat. Namun kebodohan terus menjadi slogan kalian, dan akibatnya pendustaan dan kerugian menjadi selimut kalian.
(57) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka," maka jika mereka telah mendustakan dan mereka mengklaim bahwa hujjah (penjelasan dan dalil yang jelas) belum ditegakkan terhadap mereka, atau mereka belum sempat beriman, maka kedustaan mereka terungkap dengan kesaksian para ahli ilmu dan iman, dan kesaksian kulit tubuh, kedua tangan dan kedua kaki mereka. Dan sekalipun mereka meminta udzur dan mereka di-kembalikan dan mereka (berjanji) tidak akan kembali kepada apa yang dilarang, maka mereka tidak akan diberi kesempatan. Karena waktu mengajukan udzur telah berlalu, maka permohonan udzur mereka ditolak, ﴾ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi kesem-patan bertaubat lagi." Maksudnya, permintaan kerelaan dan permo-honan udzur dari mereka dihilangkan.
Ar-Rum 30:56
"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, 'Mereka tidak berdiam melainkan sesaat saja.' Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan. Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan, 'Sesung-guhnya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu se-lalu tidak mengetahui. Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi'." (Ar-Rum: 55-57).
(55) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang Hari Kiamat dan cepat-nya (masa) kedatangannya, dan sesungguhnya kiamat itu kalau sudah terjadi, maka bersumpahlah ﴾ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa" dengan nama Allah, bahwasanya ﴾ مَا لَبِثُواْ ﴿ "mereka tidak berdiam" di dunia ﴾ غَيۡرَ سَاعَةٖۚ ﴿ "melainkan sesaat saja," itu adalah suatu alasan dari mereka, barang kali udzur itu bisa berguna bagi mereka, dan perasaan sangat singkatnya masa tinggal di dunia. Tatkala perkataan mereka adalah dusta, tidak ada benarnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ كَانُواْ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Seperti demikianlah mereka selalu di-palingkan." Maksudnya, saat berada di dunia mereka terus menerus berpaling dari kebenaran dan kenyataan dan selalu berbuat dusta. Di dunia mereka mendustakan kebenaran yang dibawa oleh para rasul, dan di akhirat mereka mengingkari perkara yang indrawi, yaitu berdiam cukup lama di dunia. Inilah karakter busuk mereka. Jadi, seseorang itu akan dibangkitkan kembali sesuai dengan (kon-disi) dia mati dahulu.
(56) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَٱلۡإِيمَٰنَ ﴿ "Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan." Maksudnya, orang yang di-karuniai dua hal itu oleh Allah, sehingga kedua hal itu menjadi sifat mereka. Yaitu ilmu pengetahuan tentang yang benar dan iman yang membuahkan sikap lebih mengutamakan yang benar. Dan apabila mereka adalah orang-orang yang mengetahui yang benar dan mengutamakannya, maka pasti perkataan mereka sesuai de-ngan realita, sejalan dengan keadaan mereka. Maka dari itu mereka mengatakan yang haq (yang benar), ﴾ لَقَدۡ لَبِثۡتُمۡ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguh-nya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah," maksudnya, menu-rut qadha` dan takdir Allah yang telah dicatatNya atas kalian dan di dalam keputusanNya, ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡبَعۡثِۖ ﴿ "sampai hari berbangkit." Maksudnya, kalian telah diberi usia yang mana orang yang mau mengingat dapat mengingatnya, orang yang mau berpikir dapat memikirkannya, dan orang yang mau mengambil pelajaran dapat mengambil pelajaran hingga terjadilah kebangkitan, dan kalian pun telah mencapai kepada keadaan ini. ﴾ فَهَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡبَعۡثِ وَلَٰكِنَّكُمۡ كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak mengetahui," maka dari itu kalian mengingkarinya di dunia, dan kalian mengingkari kalau kalian telah tinggal di dunia dalam waktu yang cukup bagi kalian untuk berinabah dan bertaubat. Namun kebodohan terus menjadi slogan kalian, dan akibatnya pendustaan dan kerugian menjadi selimut kalian.
(57) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka," maka jika mereka telah mendustakan dan mereka mengklaim bahwa hujjah (penjelasan dan dalil yang jelas) belum ditegakkan terhadap mereka, atau mereka belum sempat beriman, maka kedustaan mereka terungkap dengan kesaksian para ahli ilmu dan iman, dan kesaksian kulit tubuh, kedua tangan dan kedua kaki mereka. Dan sekalipun mereka meminta udzur dan mereka di-kembalikan dan mereka (berjanji) tidak akan kembali kepada apa yang dilarang, maka mereka tidak akan diberi kesempatan. Karena waktu mengajukan udzur telah berlalu, maka permohonan udzur mereka ditolak, ﴾ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi kesem-patan bertaubat lagi." Maksudnya, permintaan kerelaan dan permo-honan udzur dari mereka dihilangkan.
Ar-Rum 30:57
"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa, 'Mereka tidak berdiam melainkan sesaat saja.' Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan. Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan, 'Sesung-guhnya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu se-lalu tidak mengetahui. Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi'." (Ar-Rum: 55-57).
(55) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang Hari Kiamat dan cepat-nya (masa) kedatangannya, dan sesungguhnya kiamat itu kalau sudah terjadi, maka bersumpahlah ﴾ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "orang-orang yang berdosa" dengan nama Allah, bahwasanya ﴾ مَا لَبِثُواْ ﴿ "mereka tidak berdiam" di dunia ﴾ غَيۡرَ سَاعَةٖۚ ﴿ "melainkan sesaat saja," itu adalah suatu alasan dari mereka, barang kali udzur itu bisa berguna bagi mereka, dan perasaan sangat singkatnya masa tinggal di dunia. Tatkala perkataan mereka adalah dusta, tidak ada benarnya, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ كَانُواْ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Seperti demikianlah mereka selalu di-palingkan." Maksudnya, saat berada di dunia mereka terus menerus berpaling dari kebenaran dan kenyataan dan selalu berbuat dusta. Di dunia mereka mendustakan kebenaran yang dibawa oleh para rasul, dan di akhirat mereka mengingkari perkara yang indrawi, yaitu berdiam cukup lama di dunia. Inilah karakter busuk mereka. Jadi, seseorang itu akan dibangkitkan kembali sesuai dengan (kon-disi) dia mati dahulu.
(56) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ وَٱلۡإِيمَٰنَ ﴿ "Dan berkatalah orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan." Maksudnya, orang yang di-karuniai dua hal itu oleh Allah, sehingga kedua hal itu menjadi sifat mereka. Yaitu ilmu pengetahuan tentang yang benar dan iman yang membuahkan sikap lebih mengutamakan yang benar. Dan apabila mereka adalah orang-orang yang mengetahui yang benar dan mengutamakannya, maka pasti perkataan mereka sesuai de-ngan realita, sejalan dengan keadaan mereka. Maka dari itu mereka mengatakan yang haq (yang benar), ﴾ لَقَدۡ لَبِثۡتُمۡ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguh-nya kamu telah berdiam menurut ketetapan Allah," maksudnya, menu-rut qadha` dan takdir Allah yang telah dicatatNya atas kalian dan di dalam keputusanNya, ﴾ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡبَعۡثِۖ ﴿ "sampai hari berbangkit." Maksudnya, kalian telah diberi usia yang mana orang yang mau mengingat dapat mengingatnya, orang yang mau berpikir dapat memikirkannya, dan orang yang mau mengambil pelajaran dapat mengambil pelajaran hingga terjadilah kebangkitan, dan kalian pun telah mencapai kepada keadaan ini. ﴾ فَهَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡبَعۡثِ وَلَٰكِنَّكُمۡ كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ﴿ "Maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak mengetahui," maka dari itu kalian mengingkarinya di dunia, dan kalian mengingkari kalau kalian telah tinggal di dunia dalam waktu yang cukup bagi kalian untuk berinabah dan bertaubat. Namun kebodohan terus menjadi slogan kalian, dan akibatnya pendustaan dan kerugian menjadi selimut kalian.
(57) ﴾ فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ ﴿ "Maka pada hari itu tidak bermanfaat lagi bagi orang-orang yang zhalim permintaan udzur mereka," maka jika mereka telah mendustakan dan mereka mengklaim bahwa hujjah (penjelasan dan dalil yang jelas) belum ditegakkan terhadap mereka, atau mereka belum sempat beriman, maka kedustaan mereka terungkap dengan kesaksian para ahli ilmu dan iman, dan kesaksian kulit tubuh, kedua tangan dan kedua kaki mereka. Dan sekalipun mereka meminta udzur dan mereka di-kembalikan dan mereka (berjanji) tidak akan kembali kepada apa yang dilarang, maka mereka tidak akan diberi kesempatan. Karena waktu mengajukan udzur telah berlalu, maka permohonan udzur mereka ditolak, ﴾ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi kesem-patan bertaubat lagi." Maksudnya, permintaan kerelaan dan permo-honan udzur dari mereka dihilangkan.
Ar-Rum 30:58
"Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.' Demikianlah Allah me-ngunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui. Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu meng-gelisahkan kamu." (Ar-Rum: 58-60).
(58-59) ﴾ وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami buat pe-rumpamaan," karena perhatian, rahmat, kelembutan, dan kebaikan pengajaran Kami ﴾ لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ ﴿ "dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia," dengannya berbagai pengetahuan (kebenaran) menjadi jelas, berbagai perkara dapat diketahui dan dengannya hujjah menjadi terputus. Ini umum dalam semua perumpamaan yang dibuat oleh Allah dalam rangka mempermudah berbagai persoalan yang logis dengan yang empirik (nyata), dan di dalam menginformasikan tentang apa yang akan terjadi dan menjelaskan hakikatnya hingga seakan-akan ia telah terjadi. Di antaranya yang ada di sini adalah penjelasan Allah سبحانه وتعالى tentang apa yang akan terjadi pada Hari Kiamat dan keadaan orang-orang yang berdosa pada saat itu serta betapa dahsyatnya penyesalan mereka, dan bahwa sesungguhnya tidak ada udzur dan cercaan yang diterima dari mereka. Akan tetapi orang-orang kafir nan zhalim tidak mau kecuali sikap menentang kebenaran yang sangat jelas itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِـَٔايَةٖ ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat," ayat apa saja yang membuktikan kebenaran ajaran yang engkau bawa, ﴾ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ﴿ "pastilah orang-orang yang kafir itu ber-kata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka'." Maksudnya, mereka mengatakan kepada kebenaran itu, "Itu adalah kepalsuan." Ini semua karena kekafiran dan kelancangan mereka serta karena Allah telah mengunci rapat hati mereka dan kebodohan mereka yang berlebihan. Maka dari itu, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui." Maka ia tidak bisa dimasuki oleh kebaikan, dan ia pun tidak dapat mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, malah melihat yang haq sebagai kepalsuan, dan yang palsu menjadi yang haq.
(60) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" atas sesuatu yang di-perintahkan kepadamu dan dalam mengajak mereka kepada Allah sekalipun kamu menjumpai dari mereka sikap berpaling (menolak); maka hal itu jangan sekali-kali menjadi penghalangmu.﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar." Maksudnya, tidak diragukan lagi. Ungkapan ini termasuk hal yang memperteguh kesabaran. Sebab, sesungguhnya seseorang, apabila mengetahui bahwa amalnya tidak sia-sia, bahkan pasti ia menemukannya secara sempurna, maka segala rintangan yang dihadapinya akan terasa ringan, dan segala yang sulit menjadi mudah baginya, dan semua pekerjaan yang banyak dirasa sedikit. ﴾ وَلَا يَسۡتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ ﴿ "Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkanmu." Maksudnya, sesungguhnya iman mereka telah lemah, keyakinan mereka telah berkurang, se-hingga pikiran-pikiran mereka sangat rendah dan kesabaran mereka berkurang. Maka jangan sekali-kali mereka itu membuatmu gelisah. Sebab, sesungguhnya jika kamu tidak mengindahkan mereka dan kamu tidak waspada terhadap mereka, dan jika tidak (bersikap) de-mikian niscaya mereka bisa menggelisahkanmu dan membuatmu tidak berpendirian teguh di atas perintah dan larangan, sedang-kan nafsu itu membantu mereka dalam hal ini dan menuntut agar bersikap menyerupai dan menyetujui (pengingkaran kebenaran). Ini menunjukkan bahwa setiap orang Mukmin yang berkeya-kinan lagi matang akalnya akan mudah bersikap sabar; dan setiap orang yang lemah keyakinannya adalah lemah akalnya. Yang per-tama laksana isi, sedangkan yang kedua laksana kulit. Maka hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Ar-Rum 30:59
"Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.' Demikianlah Allah me-ngunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui. Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu meng-gelisahkan kamu." (Ar-Rum: 58-60).
(58-59) ﴾ وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami buat pe-rumpamaan," karena perhatian, rahmat, kelembutan, dan kebaikan pengajaran Kami ﴾ لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ ﴿ "dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia," dengannya berbagai pengetahuan (kebenaran) menjadi jelas, berbagai perkara dapat diketahui dan dengannya hujjah menjadi terputus. Ini umum dalam semua perumpamaan yang dibuat oleh Allah dalam rangka mempermudah berbagai persoalan yang logis dengan yang empirik (nyata), dan di dalam menginformasikan tentang apa yang akan terjadi dan menjelaskan hakikatnya hingga seakan-akan ia telah terjadi. Di antaranya yang ada di sini adalah penjelasan Allah سبحانه وتعالى tentang apa yang akan terjadi pada Hari Kiamat dan keadaan orang-orang yang berdosa pada saat itu serta betapa dahsyatnya penyesalan mereka, dan bahwa sesungguhnya tidak ada udzur dan cercaan yang diterima dari mereka. Akan tetapi orang-orang kafir nan zhalim tidak mau kecuali sikap menentang kebenaran yang sangat jelas itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِـَٔايَةٖ ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat," ayat apa saja yang membuktikan kebenaran ajaran yang engkau bawa, ﴾ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ﴿ "pastilah orang-orang yang kafir itu ber-kata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka'." Maksudnya, mereka mengatakan kepada kebenaran itu, "Itu adalah kepalsuan." Ini semua karena kekafiran dan kelancangan mereka serta karena Allah telah mengunci rapat hati mereka dan kebodohan mereka yang berlebihan. Maka dari itu, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui." Maka ia tidak bisa dimasuki oleh kebaikan, dan ia pun tidak dapat mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, malah melihat yang haq sebagai kepalsuan, dan yang palsu menjadi yang haq.
(60) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" atas sesuatu yang di-perintahkan kepadamu dan dalam mengajak mereka kepada Allah sekalipun kamu menjumpai dari mereka sikap berpaling (menolak); maka hal itu jangan sekali-kali menjadi penghalangmu.﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar." Maksudnya, tidak diragukan lagi. Ungkapan ini termasuk hal yang memperteguh kesabaran. Sebab, sesungguhnya seseorang, apabila mengetahui bahwa amalnya tidak sia-sia, bahkan pasti ia menemukannya secara sempurna, maka segala rintangan yang dihadapinya akan terasa ringan, dan segala yang sulit menjadi mudah baginya, dan semua pekerjaan yang banyak dirasa sedikit. ﴾ وَلَا يَسۡتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ ﴿ "Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkanmu." Maksudnya, sesungguhnya iman mereka telah lemah, keyakinan mereka telah berkurang, se-hingga pikiran-pikiran mereka sangat rendah dan kesabaran mereka berkurang. Maka jangan sekali-kali mereka itu membuatmu gelisah. Sebab, sesungguhnya jika kamu tidak mengindahkan mereka dan kamu tidak waspada terhadap mereka, dan jika tidak (bersikap) de-mikian niscaya mereka bisa menggelisahkanmu dan membuatmu tidak berpendirian teguh di atas perintah dan larangan, sedang-kan nafsu itu membantu mereka dalam hal ini dan menuntut agar bersikap menyerupai dan menyetujui (pengingkaran kebenaran). Ini menunjukkan bahwa setiap orang Mukmin yang berkeya-kinan lagi matang akalnya akan mudah bersikap sabar; dan setiap orang yang lemah keyakinannya adalah lemah akalnya. Yang per-tama laksana isi, sedangkan yang kedua laksana kulit. Maka hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.
Ar-Rum 30:60
"Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.' Demikianlah Allah me-ngunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui. Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar, dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu meng-gelisahkan kamu." (Ar-Rum: 58-60).
(58-59) ﴾ وَلَقَدۡ ضَرَبۡنَا ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami buat pe-rumpamaan," karena perhatian, rahmat, kelembutan, dan kebaikan pengajaran Kami ﴾ لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖۚ ﴿ "dalam al-Qur`an ini segala macam perumpamaan untuk manusia," dengannya berbagai pengetahuan (kebenaran) menjadi jelas, berbagai perkara dapat diketahui dan dengannya hujjah menjadi terputus. Ini umum dalam semua perumpamaan yang dibuat oleh Allah dalam rangka mempermudah berbagai persoalan yang logis dengan yang empirik (nyata), dan di dalam menginformasikan tentang apa yang akan terjadi dan menjelaskan hakikatnya hingga seakan-akan ia telah terjadi. Di antaranya yang ada di sini adalah penjelasan Allah سبحانه وتعالى tentang apa yang akan terjadi pada Hari Kiamat dan keadaan orang-orang yang berdosa pada saat itu serta betapa dahsyatnya penyesalan mereka, dan bahwa sesungguhnya tidak ada udzur dan cercaan yang diterima dari mereka. Akan tetapi orang-orang kafir nan zhalim tidak mau kecuali sikap menentang kebenaran yang sangat jelas itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَئِن جِئۡتَهُم بِـَٔايَةٖ ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat," ayat apa saja yang membuktikan kebenaran ajaran yang engkau bawa, ﴾ لَّيَقُولَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا مُبۡطِلُونَ ﴿ "pastilah orang-orang yang kafir itu ber-kata, 'Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka'." Maksudnya, mereka mengatakan kepada kebenaran itu, "Itu adalah kepalsuan." Ini semua karena kekafiran dan kelancangan mereka serta karena Allah telah mengunci rapat hati mereka dan kebodohan mereka yang berlebihan. Maka dari itu, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ كَذَٰلِكَ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak mau mengetahui." Maka ia tidak bisa dimasuki oleh kebaikan, dan ia pun tidak dapat mengetahui sesuatu sebagaimana adanya, malah melihat yang haq sebagai kepalsuan, dan yang palsu menjadi yang haq.
(60) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" atas sesuatu yang di-perintahkan kepadamu dan dalam mengajak mereka kepada Allah sekalipun kamu menjumpai dari mereka sikap berpaling (menolak); maka hal itu jangan sekali-kali menjadi penghalangmu.﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar." Maksudnya, tidak diragukan lagi. Ungkapan ini termasuk hal yang memperteguh kesabaran. Sebab, sesungguhnya seseorang, apabila mengetahui bahwa amalnya tidak sia-sia, bahkan pasti ia menemukannya secara sempurna, maka segala rintangan yang dihadapinya akan terasa ringan, dan segala yang sulit menjadi mudah baginya, dan semua pekerjaan yang banyak dirasa sedikit. ﴾ وَلَا يَسۡتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِينَ لَا يُوقِنُونَ ﴿ "Dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini itu menggelisahkanmu." Maksudnya, sesungguhnya iman mereka telah lemah, keyakinan mereka telah berkurang, se-hingga pikiran-pikiran mereka sangat rendah dan kesabaran mereka berkurang. Maka jangan sekali-kali mereka itu membuatmu gelisah. Sebab, sesungguhnya jika kamu tidak mengindahkan mereka dan kamu tidak waspada terhadap mereka, dan jika tidak (bersikap) de-mikian niscaya mereka bisa menggelisahkanmu dan membuatmu tidak berpendirian teguh di atas perintah dan larangan, sedang-kan nafsu itu membantu mereka dalam hal ini dan menuntut agar bersikap menyerupai dan menyetujui (pengingkaran kebenaran). Ini menunjukkan bahwa setiap orang Mukmin yang berkeya-kinan lagi matang akalnya akan mudah bersikap sabar; dan setiap orang yang lemah keyakinannya adalah lemah akalnya. Yang per-tama laksana isi, sedangkan yang kedua laksana kulit. Maka hanya kepada Allah-lah tempat meminta pertolongan.