Tafsir As-Saadi - Indonesian — Luqman 31:1 – Al-Ahzab 33:21
Daftar isi
- Luqman 31:1
- Luqman 31:2
- Luqman 31:3
- Luqman 31:4
- Luqman 31:5
- Luqman 31:6
- Luqman 31:7
- Luqman 31:8
- Luqman 31:9
- Luqman 31:10
- Luqman 31:11
- Luqman 31:12
- Luqman 31:13
- Luqman 31:14
- Luqman 31:15
- Luqman 31:16
- Luqman 31:17
- Luqman 31:18
- Luqman 31:19
- Luqman 31:20
- Luqman 31:21
- Luqman 31:22
- Luqman 31:23
- Luqman 31:24
- Luqman 31:25
- Luqman 31:26
- Luqman 31:27
- Luqman 31:28
- Luqman 31:29
- Luqman 31:30
- Luqman 31:31
- Luqman 31:32
- Luqman 31:33
- Luqman 31:34
- As-Sajdah 32:1
- As-Sajdah 32:2
- As-Sajdah 32:3
- As-Sajdah 32:4
- As-Sajdah 32:5
- As-Sajdah 32:6
- As-Sajdah 32:7
- As-Sajdah 32:8
- As-Sajdah 32:9
- As-Sajdah 32:10
- As-Sajdah 32:11
- As-Sajdah 32:12
- As-Sajdah 32:13
- As-Sajdah 32:14
- As-Sajdah 32:15
- As-Sajdah 32:16
- As-Sajdah 32:17
- As-Sajdah 32:18
- As-Sajdah 32:19
- As-Sajdah 32:20
- As-Sajdah 32:21
- As-Sajdah 32:22
- As-Sajdah 32:23
- As-Sajdah 32:24
- As-Sajdah 32:25
- As-Sajdah 32:26
- As-Sajdah 32:27
- As-Sajdah 32:28
- As-Sajdah 32:29
- As-Sajdah 32:30
- Al-Ahzab 33:1
- Al-Ahzab 33:2
- Al-Ahzab 33:3
- Al-Ahzab 33:4
- Al-Ahzab 33:5
- Al-Ahzab 33:6
- Al-Ahzab 33:7
- Al-Ahzab 33:8
- Al-Ahzab 33:9
- Al-Ahzab 33:10
- Al-Ahzab 33:11
- Al-Ahzab 33:12
- Al-Ahzab 33:13
- Al-Ahzab 33:14
- Al-Ahzab 33:15
- Al-Ahzab 33:16
- Al-Ahzab 33:17
- Al-Ahzab 33:18
- Al-Ahzab 33:19
- Al-Ahzab 33:20
- Al-Ahzab 33:21
Luqman 31:1
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.
(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.
(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.
Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,
Luqman 31:2
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.
(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.
(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.
Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,
Luqman 31:3
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.
(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.
(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.
Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,
Luqman 31:4
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.
(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.
(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.
Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,
Luqman 31:5
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang ber-buat kebaikan. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menu-naikan zakat, dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Rabbnya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Luqman: 1-5).
Makkiyah
"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengisyaratkan suatu isyarat yang bermakna ta'zhîm (mengagungkan) kepada ﴾ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "ayat-ayat al-Qur`an yang mengandung hikmat," maksudnya, ayat-ayat muhkamat yang bersumber dari Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Di antara kehikmahannya adalah, ia datang dengan lafazh-lafazh yang paling tinggi, paling fasih dan paling jelas, yang menun-jukkan kepada makna-makna yang paling tinggi dan paling baik. Di antara kehikmahannya juga adalah ia terpelihara dari perubahan, penggantian, penambahan, pengurangan dan tahrif (pemelencengan makna dan kata). Termasuk kehikmahannya juga adalah bahwa seluruh yang ada di dalamnya, berupa berita-berita tentang yang telah lampau dan yang akan datang serta perkara-perkara ghaib, semuanya sesuai dengan kenyataan, dan kenyataan pun sesuai dengannya, sama sekali tidak ditentang oleh satu kitab pun dari kitab-kitab suci Ilahi, dan tidak seorang nabi pun yang mengabarkan sesuatu yang bertentangan dengannya, dan tidak pernah datang dan tidak akan pernah datang suatu ilmu yang yang bersifat indrawi maupun yang logis nan shahih yang akan bertentangan dengan sesuatu yang dikandungnya. Termasuk kehikmahannya pula adalah bahwa ayat-ayat ter-sebut tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali ia adalah suatu yang murni kemaslahatan dan yang rajih. Dan tidak pula ia mela-rang sesuatu melainkan ia adalah suatu yang murni kerusakan atau yang dinyatakan marjuh pada kerusakan. Dan banyak sekali ia memadukan antara perintah pada sesuatu dengan menyebutkan hikmah dan faidahnya, dan larangan dari sesuatu disertai dengan menyebutkan bahayanya. Di antara kehikmahannya adalah ia memadukan antara targhib (memberikan motivasi) dan tarhib (memberikan ancaman), dan nasihat-nasihat yang dengannya jiwa yang baik menjadi lurus dan mampu mengambil keputusan lalu beramal dengan penuh tekad. Di antara kehikmahannya juga adalah, bahwa Anda menjum-pai ayat-ayatnya yang diulang-ulang, seperti kisah-kisah, hukum-hukum dan yang serupa dengannya, semuanya senada dan sepa-kat. Jadi, tidak ada kontradiksi ataupun perselisihan di dalamnya. Maka, apabila seseorang yang meneliti semakin menghayatinya dan semakin mengaktifkan akalnya untuk merenungkannya, nis-caya akalnya menjadi tercengang-cengang dan hatinya menjadi terpedaya karena keserasian dan kesamaannya, dan ia memastikan dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan padanya, bahwasanya al-Qur`an ini berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.
(3) Akan tetapi, sekalipun Dia Mahabijaksana yang meng-ajak kepada setiap akhlak mulia dan melarang dari setiap akhlak yang tercela, namun kebanyakan manusia tidak mendapat karunia untuk berpedoman kepadanya, tidak mau beriman dan meng-amalkannya, kecuali orang yang diberi taufik dan dilindungi oleh Allah سبحانه وتعالى, sedangkan mereka bersikap ihsan dalam beribadah kepada Rabbnya, dan berbuat ihsan kepada sesama manusia. Sesungguh-nya al-Qur`an ini ﴾ هُدٗى ﴿ "petunjuk," bagi mereka yang membimbing mereka kepada jalan yang lurus dan mengingatkan mereka dari jalan-jalan (yang dapat menjerumuskan. Pent.) ke Neraka Jahim. ﴾ وَرَحۡمَةٗ ﴿ "Dan rahmat," bagi mereka, yang dengannya mereka mem-peroleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, kebaikan yang ber-limpah, pahala yang berlipat ganda, kesenangan dan kesukaan, serta tertolak dari mereka kesesatan dan kesengsaraan.
(4) Kemudian Allah menyifati (mendiskripsikan) orang-orang yang berbuat ihsan dengan ilmu yang sempurna, yaitu ke-yakinan yang membangkitkan untuk beramal dan takut kepada siksaan Allah, sehingga mereka meninggalkan segala maksiat. Dan Allah juga menyifati mereka dengan amal, dan Allah menekankan di antara amal itu dua bentuk amal yang utama, yaitu ﴾ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "shalat," yang meliputi keikhlasan, bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى dan meng-hambakan diri yang sempurna bagi hati, lisan dan seluruh anggota badan yang menolong seluruh amal perbuatan, ﴾ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan zakat," yang menyucikan orang yang menunaikannya dari sifat-sifat tercela, berguna bagi saudaranya yang Muslim dan menutupi kebutuhan-nya, dan dengannya terbukti bahwa sang hamba lebih mengutama-kan cinta Allah سبحانه وتعالى daripada kecintaannya kepada harta benda. Maka dari itu dia mengeluarkan sebagian dari harta yang dicintainya demi sesuatu yang lebih dicintainya, yaitu mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى.
(5) Maka ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "mereka itulah" orang-orang yang berbuat ihsan, yang memadukan antara ilmu yang sempurna dan amal ﴾ عَلَىٰ هُدٗى ﴿ "(orang-orang yang) tetap mendapat petunjuk" yang sangat besar. Demikianlah yang dapat dipahami dari bentuk kata "nakirah." Pe-tunjuk tersebut mencapai dan sampai kepada mereka ﴾ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "dari Rabbnya," yang terus membimbing mereka dengan berbagai nikmat dan mencegah berbagai bencana dari mereka. Inilah petunjuk yang Dia sampaikan kepada mereka dari tarbiyah (bimbingan) khusus-Nya kepada para waliNya, dan ini merupakan bentuk tarbiyah yang paling utama. ﴾ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung," yaitu orang-orang yang meraih keridhaan Tuhannya dan pahala duniawi dan ukhrawiNya, mereka selamat dari murka dan siksa-anNya. Dan itu semua terjadi karena mereka menempuh jalan ke-beruntungan, yaitu jalan yang tidak ada jalan lain selain itu untuk mencapainya.
Setelah Allah menjelaskan orang-orang yang berpedoman kepada al-Qur`an dan berorientasi kepadanya, maka Dia menye-butkan orang yang berpaling darinya dan tidak menghiraukannya sama sekali, dan bahwa sesungguhnya orang itu disiksa karena sikapnya memilih setiap kebatilan perkataan. Ia mengabaikan per-kataan-perkataan yang paling bernilai dan ucapan-ucapan yang terbaik, dan menggantikannya dengan perkataan yang paling busuk lagi buruk. Maka dari itu, Allah berfirman,
Luqman 31:6
"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami maka dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengar-nya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Luqman: 6-9).
(6) Maksudnya, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "dan di antara manusia ada orang" dia adalah orang yang sial lagi terlantar (tidak memperoleh per-tolongan) ﴾ يَشۡتَرِي ﴿ "yang membeli," maksudnya, memilih dan senang sebagaimana senangnya orang yang mengeluarkan harga pada sesuatu, ﴾ لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "perkataan yang tidak berguna," maksudnya, perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-ha-langinya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan setiap perkataan yang tidak berguna nan palsu lagi rendahan dari perkataan-perkataan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari per-kataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar, dan dari gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, serta dari lagu, tiupan seruling-seruling setan, serta dari wanita-wanita penghibur yang melalaikan, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia. Maka golongan manusia semacam ini ﴾ يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "mem-beli perkataan yang tidak berguna" dari perkataan yang berguna, ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan" manusia ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa pengetahuan." Maksud-nya, setelah dia sesat karena perbuatannya, maka dia menyesatkan orang lain. Sebab, penyesatan itu tumbuh dari kesesatan; dan pe-nyesatannya dalam perkataannya itu adalah sikapnya menghalang-halangi manusia dari perkataan yang berguna, amal yang berman-faat, dari kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus. Dan semua itu tidak akan bisa terlaksana sehingga dia mencemoohkan petunjuk dan kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan, dia memperolok-oloknya dan juga orang (nabi) yang datang dengannya. Nah, apabila dia telah memadukan antara memuji kebatilan dan menganjurkannya dengan mencampakkan yang haq (yang benar) dan memperolok-oloknya serta ahlinya, maka (sung-guh) dia telah menyesatkan orang-orang yang tidak berilmu, dan dia menipunya dengan perkataan-perkataan yang disampaikannya, yaitu perkataan yang tidak bisa dibedakan oleh orang yang sesat dan dia pun tidak mengenal hakikatnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan," karena mereka sesat, menyesatkan, memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mendusta-kan kebenaran yang sudah sangat jelas sekali.
(7) Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apa-bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, ﴾ وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا ﴿ "dia berpaling dengan me-nyombongkan diri." Maksudnya, dia berbalik ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk ke dalam hatinya dan tidak pula ia berpenga-ruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, ﴾ كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا ﴿ "seolah-olah dia belum mendengarnya," bahkan, ﴾ كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ ﴿ "seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya" maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. ﴾ فَبَشِّرۡهُ ﴿ "Maka berilah dia kabar gembira" dengan suatu kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, ﴾ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "dengan azab yang pedih," menyakitkan hati dan badan-nya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebatnya siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu sama sekali tidak ada kenikmatannya.
(8-9) Adapun berita gembira untuk para pelaku kebaikan, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih," mereka telah memadukan antara ibadah batin dengan beriman dan (ibadah) lahiriyah dengan Islam dan amal shalih, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "mereka men-dapatkan surga-surga yang penuh kenikmatan," sebagai berita gembira bagi mereka disebabkan (apa) yang telah mereka persiapkan, dan sebagai hidangan bagi mereka disebabkan amal yang telah mereka kerjakan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan, kenikmatan hati, jiwa, dan raga. ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ ﴿ "Sebagai janji Allah yang benar," yang tidak mungkin diingkari, dirubah atau diganti. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," sempurna keperkasaanNya, pari-purna kebijaksanaanNya. Dari keperkasaan dan hikmahNya Dia memberikan taufikNya kepada orang yang dikehendakiNya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka.
Luqman 31:7
"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami maka dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengar-nya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Luqman: 6-9).
(6) Maksudnya, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "dan di antara manusia ada orang" dia adalah orang yang sial lagi terlantar (tidak memperoleh per-tolongan) ﴾ يَشۡتَرِي ﴿ "yang membeli," maksudnya, memilih dan senang sebagaimana senangnya orang yang mengeluarkan harga pada sesuatu, ﴾ لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "perkataan yang tidak berguna," maksudnya, perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-ha-langinya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan setiap perkataan yang tidak berguna nan palsu lagi rendahan dari perkataan-perkataan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari per-kataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar, dan dari gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, serta dari lagu, tiupan seruling-seruling setan, serta dari wanita-wanita penghibur yang melalaikan, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia. Maka golongan manusia semacam ini ﴾ يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "mem-beli perkataan yang tidak berguna" dari perkataan yang berguna, ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan" manusia ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa pengetahuan." Maksud-nya, setelah dia sesat karena perbuatannya, maka dia menyesatkan orang lain. Sebab, penyesatan itu tumbuh dari kesesatan; dan pe-nyesatannya dalam perkataannya itu adalah sikapnya menghalang-halangi manusia dari perkataan yang berguna, amal yang berman-faat, dari kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus. Dan semua itu tidak akan bisa terlaksana sehingga dia mencemoohkan petunjuk dan kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan, dia memperolok-oloknya dan juga orang (nabi) yang datang dengannya. Nah, apabila dia telah memadukan antara memuji kebatilan dan menganjurkannya dengan mencampakkan yang haq (yang benar) dan memperolok-oloknya serta ahlinya, maka (sung-guh) dia telah menyesatkan orang-orang yang tidak berilmu, dan dia menipunya dengan perkataan-perkataan yang disampaikannya, yaitu perkataan yang tidak bisa dibedakan oleh orang yang sesat dan dia pun tidak mengenal hakikatnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan," karena mereka sesat, menyesatkan, memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mendusta-kan kebenaran yang sudah sangat jelas sekali.
(7) Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apa-bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, ﴾ وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا ﴿ "dia berpaling dengan me-nyombongkan diri." Maksudnya, dia berbalik ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk ke dalam hatinya dan tidak pula ia berpenga-ruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, ﴾ كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا ﴿ "seolah-olah dia belum mendengarnya," bahkan, ﴾ كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ ﴿ "seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya" maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. ﴾ فَبَشِّرۡهُ ﴿ "Maka berilah dia kabar gembira" dengan suatu kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, ﴾ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "dengan azab yang pedih," menyakitkan hati dan badan-nya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebatnya siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu sama sekali tidak ada kenikmatannya.
(8-9) Adapun berita gembira untuk para pelaku kebaikan, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih," mereka telah memadukan antara ibadah batin dengan beriman dan (ibadah) lahiriyah dengan Islam dan amal shalih, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "mereka men-dapatkan surga-surga yang penuh kenikmatan," sebagai berita gembira bagi mereka disebabkan (apa) yang telah mereka persiapkan, dan sebagai hidangan bagi mereka disebabkan amal yang telah mereka kerjakan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan, kenikmatan hati, jiwa, dan raga. ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ ﴿ "Sebagai janji Allah yang benar," yang tidak mungkin diingkari, dirubah atau diganti. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," sempurna keperkasaanNya, pari-purna kebijaksanaanNya. Dari keperkasaan dan hikmahNya Dia memberikan taufikNya kepada orang yang dikehendakiNya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka.
Luqman 31:8
"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami maka dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengar-nya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Luqman: 6-9).
(6) Maksudnya, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "dan di antara manusia ada orang" dia adalah orang yang sial lagi terlantar (tidak memperoleh per-tolongan) ﴾ يَشۡتَرِي ﴿ "yang membeli," maksudnya, memilih dan senang sebagaimana senangnya orang yang mengeluarkan harga pada sesuatu, ﴾ لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "perkataan yang tidak berguna," maksudnya, perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-ha-langinya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan setiap perkataan yang tidak berguna nan palsu lagi rendahan dari perkataan-perkataan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari per-kataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar, dan dari gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, serta dari lagu, tiupan seruling-seruling setan, serta dari wanita-wanita penghibur yang melalaikan, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia. Maka golongan manusia semacam ini ﴾ يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "mem-beli perkataan yang tidak berguna" dari perkataan yang berguna, ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan" manusia ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa pengetahuan." Maksud-nya, setelah dia sesat karena perbuatannya, maka dia menyesatkan orang lain. Sebab, penyesatan itu tumbuh dari kesesatan; dan pe-nyesatannya dalam perkataannya itu adalah sikapnya menghalang-halangi manusia dari perkataan yang berguna, amal yang berman-faat, dari kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus. Dan semua itu tidak akan bisa terlaksana sehingga dia mencemoohkan petunjuk dan kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan, dia memperolok-oloknya dan juga orang (nabi) yang datang dengannya. Nah, apabila dia telah memadukan antara memuji kebatilan dan menganjurkannya dengan mencampakkan yang haq (yang benar) dan memperolok-oloknya serta ahlinya, maka (sung-guh) dia telah menyesatkan orang-orang yang tidak berilmu, dan dia menipunya dengan perkataan-perkataan yang disampaikannya, yaitu perkataan yang tidak bisa dibedakan oleh orang yang sesat dan dia pun tidak mengenal hakikatnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan," karena mereka sesat, menyesatkan, memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mendusta-kan kebenaran yang sudah sangat jelas sekali.
(7) Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apa-bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, ﴾ وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا ﴿ "dia berpaling dengan me-nyombongkan diri." Maksudnya, dia berbalik ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk ke dalam hatinya dan tidak pula ia berpenga-ruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, ﴾ كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا ﴿ "seolah-olah dia belum mendengarnya," bahkan, ﴾ كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ ﴿ "seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya" maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. ﴾ فَبَشِّرۡهُ ﴿ "Maka berilah dia kabar gembira" dengan suatu kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, ﴾ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "dengan azab yang pedih," menyakitkan hati dan badan-nya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebatnya siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu sama sekali tidak ada kenikmatannya.
(8-9) Adapun berita gembira untuk para pelaku kebaikan, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih," mereka telah memadukan antara ibadah batin dengan beriman dan (ibadah) lahiriyah dengan Islam dan amal shalih, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "mereka men-dapatkan surga-surga yang penuh kenikmatan," sebagai berita gembira bagi mereka disebabkan (apa) yang telah mereka persiapkan, dan sebagai hidangan bagi mereka disebabkan amal yang telah mereka kerjakan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan, kenikmatan hati, jiwa, dan raga. ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ ﴿ "Sebagai janji Allah yang benar," yang tidak mungkin diingkari, dirubah atau diganti. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," sempurna keperkasaanNya, pari-purna kebijaksanaanNya. Dari keperkasaan dan hikmahNya Dia memberikan taufikNya kepada orang yang dikehendakiNya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka.
Luqman 31:9
"Dan di antara manusia (ada) orang yang membeli perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan, dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami maka dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengar-nya, seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya; maka berilah dia kabar gembira dengan azab yang pedih. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka memperoleh surga-surga yang penuh kenikmatan, mereka kekal di dalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." (Luqman: 6-9).
(6) Maksudnya, ﴾ وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "dan di antara manusia ada orang" dia adalah orang yang sial lagi terlantar (tidak memperoleh per-tolongan) ﴾ يَشۡتَرِي ﴿ "yang membeli," maksudnya, memilih dan senang sebagaimana senangnya orang yang mengeluarkan harga pada sesuatu, ﴾ لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "perkataan yang tidak berguna," maksudnya, perkataan-perkataan yang melalaikan hati, yang menghalang-ha-langinya dari nilai-nilai yang mulia. Termasuk dalam hal ini adalah setiap perkataan yang diharamkan dan setiap perkataan yang tidak berguna nan palsu lagi rendahan dari perkataan-perkataan yang mendorong kepada kekafiran, kefasikan dan maksiat, dan dari per-kataan-perkataan para penolak kebenaran, yang mendebat dengan kebatilan untuk mencampakkan yang benar, dan dari gunjingan, adu domba (memfitnah), dusta, cacian dan celaan, serta dari lagu, tiupan seruling-seruling setan, serta dari wanita-wanita penghibur yang melalaikan, yang tidak ada gunanya dalam agama maupun dunia. Maka golongan manusia semacam ini ﴾ يَشۡتَرِي لَهۡوَ ٱلۡحَدِيثِ ﴿ "mem-beli perkataan yang tidak berguna" dari perkataan yang berguna, ﴾ لِيُضِلَّ ﴿ "untuk menyesatkan" manusia ﴾ بِغَيۡرِ عِلۡمٖ ﴿ "tanpa pengetahuan." Maksud-nya, setelah dia sesat karena perbuatannya, maka dia menyesatkan orang lain. Sebab, penyesatan itu tumbuh dari kesesatan; dan pe-nyesatannya dalam perkataannya itu adalah sikapnya menghalang-halangi manusia dari perkataan yang berguna, amal yang berman-faat, dari kebenaran yang jelas dan jalan yang lurus. Dan semua itu tidak akan bisa terlaksana sehingga dia mencemoohkan petunjuk dan kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan, dia memperolok-oloknya dan juga orang (nabi) yang datang dengannya. Nah, apabila dia telah memadukan antara memuji kebatilan dan menganjurkannya dengan mencampakkan yang haq (yang benar) dan memperolok-oloknya serta ahlinya, maka (sung-guh) dia telah menyesatkan orang-orang yang tidak berilmu, dan dia menipunya dengan perkataan-perkataan yang disampaikannya, yaitu perkataan yang tidak bisa dibedakan oleh orang yang sesat dan dia pun tidak mengenal hakikatnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan," karena mereka sesat, menyesatkan, memperolok-olokkan ayat-ayat Allah dan mendusta-kan kebenaran yang sudah sangat jelas sekali.
(7) Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا ﴿ "Dan apa-bila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami," supaya dia beriman dan tunduk patuh kepadanya, ﴾ وَلَّىٰ مُسۡتَكۡبِرٗا ﴿ "dia berpaling dengan me-nyombongkan diri." Maksudnya, dia berbalik ke belakang dengan menyombongkan diri terhadapnya dan menolaknya, dan ayat-ayat itu tidak bisa masuk ke dalam hatinya dan tidak pula ia berpenga-ruh padanya, akan tetapi ia membelakanginya, ﴾ كَأَن لَّمۡ يَسۡمَعۡهَا ﴿ "seolah-olah dia belum mendengarnya," bahkan, ﴾ كَأَنَّ فِيٓ أُذُنَيۡهِ وَقۡرٗاۖ ﴿ "seakan-akan ada sumbat di kedua telinganya" maksudnya, penutup hingga tidak ada suara yang bisa memasukinya. Orang seperti ini sama sekali tidak ada jalan untuk memberinya petunjuk. ﴾ فَبَشِّرۡهُ ﴿ "Maka berilah dia kabar gembira" dengan suatu kabar gembira yang bisa membuat di dalam hatinya rasa sedih dan duka, dan pada raut wajahnya keburukan, kegelapan dan kemuraman, ﴾ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿ "dengan azab yang pedih," menyakitkan hati dan badan-nya, yang tidak dapat diukur kadarnya dan tidak dapat diketahui betapa hebatnya siksaan itu. Ini adalah berita gembira untuk para pelaku kejahatan. Sungguh berita gembira seperti itu sama sekali tidak ada kenikmatannya.
(8-9) Adapun berita gembira untuk para pelaku kebaikan, maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih," mereka telah memadukan antara ibadah batin dengan beriman dan (ibadah) lahiriyah dengan Islam dan amal shalih, ﴾ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "mereka men-dapatkan surga-surga yang penuh kenikmatan," sebagai berita gembira bagi mereka disebabkan (apa) yang telah mereka persiapkan, dan sebagai hidangan bagi mereka disebabkan amal yang telah mereka kerjakan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya," maksudnya, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan, kenikmatan hati, jiwa, dan raga. ﴾ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٗاۚ ﴿ "Sebagai janji Allah yang benar," yang tidak mungkin diingkari, dirubah atau diganti. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," sempurna keperkasaanNya, pari-purna kebijaksanaanNya. Dari keperkasaan dan hikmahNya Dia memberikan taufikNya kepada orang yang dikehendakiNya, dan mengabaikan (orang yang Dia kehendaki) sesuai dengan tuntutan ilmu dan hikmahNya pada mereka.
Luqman 31:10
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tum-buhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, maka kalian perlihatkan-lah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan-(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." (Luqman: 10-11).
(10) Allah سبحانه وتعالى membacakan kepada hamba-hambaNya be-berapa tanda dari tanda-tanda kekuasaanNya, beberapa keajaiban dari keajaiban-kejaiban hikmahNya, dan beberapa nikmat dari tanda-tanda rahmatNya, seraya berfirman; ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Dia men-ciptakan langit," yang tujuh lapis dengan keagungan, keluasan, kete-balan dan ketinggiannya yang luar biasa, ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang yang kamu melihatnya" maksudnya, ia tidak mempunyai tiang-tiang penyangga. Dan kalau seandainya ia mempunyai tiang pasti tiang-tiang itu terlihat. Sesungguhnya langit itu terpancang dan kokoh dengan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi" yaitu gunung-gunung yang sangat besar yang Dia tancapkan di penjuru-penjurunya, supaya ﴾ تَمِيدَ بِكُمۡ ﴿ "bumi itu tidak menggoyang-kan kamu," maka kalau saja tidak ada gunung-gunung yang terpan-cang itu, niscaya bumi ini goncang dan niscaya tidak akan pernah diam dengan segenap penghuninya, ﴾ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ ﴿ "dan memper-kembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." Maksudnya, Dia menyebarluaskan di muka bumi yang luas ini segala macam binatang melata yang semua ditundukkan untuk anak cucu Adam, untuk kemaslahatan mereka dan kebaikan bagi mereka. Dan ketika Allah mengembangbiakkannya di muka bumi ini, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya semua binatang melata itu harus mempunyai rizki untuk kehidupannya, maka Dia menurunkan air yang penuh berkah dari langit, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ﴿ "lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik," pe-mandangannya berguna lagi berkah. Maka binatang-binatang yang disebarluaskan itu dapat berkeliaran memakannya, dan setiap hewan tinggal di dalamnya.
(11) ﴾ هَٰذَا ﴿ "Ini" maksudnya, penciptaan alam atas dan alam bawah, yang terdiri dari benda-benda padat, hewan dan dialirkan-nya rizki kepada mereka adalah, ﴾ خَلۡقُ ٱللَّهِ ﴿ "ciptaan Allah" semata, tiada sekutu bagiNya. Semua orang mengakui hal ini, sampai kalian sendiri, wahai kaum musyrikin, ﴾ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ ﴿ "maka kalian perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Dia," maksudnya, orang-orang yang telah kalian jadikan sekutu bagiNya, yang kalian berdoa dan menyembah kepa-danya, semua itu mengharuskan kalau mereka mempunyai ciptaan seperti ciptaan Allah dan rizki sepeti rizkiNya. Kalau mereka mem-punyai sedikit saja dari hal itu maka perlihatkanlah kepadaku agar apa yang kalian klaim itu, yaitu keberhakan mereka untuk diibadahi (disembah) menjadi benar. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa mereka tidak akan sanggup memperlihatkannya sedikit pun dari ciptaan miliknya, karena seluruh yang disebutkan (sekutu-sekutu, berhala) telah mereka akui sebagai ciptaan Allah semata, dan di sana tidak ada sesuatu apa pun (tuhan) yang dikenal selain tuhan berhala itu. Maka dengan demikian terbuktilah kelemahan mereka untuk membuktikan bahwa berhala-berhala itu berhak disembah. Namun, sebenarnya peribadahan mereka kepada berhala-berhala tersebut tidaklah berdasarkan ilmu dan pemikiran yang mendalam, melainkan berdasarkan kejahilan dan kesesatan. Dan maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Se-benarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." Maksudnya, (kesesatan) yang sangat jelas lagi terang, yang mana mereka menyembah apa-apa yang sama sekali tidak kuasa memberikan manfaat atau kemudaratan, mematikan atau meng-hidupkan atau menghidupkan kembali; mereka mengabaikan ke-tulusan kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemberi rizki lagi Maha Pemilik segala sesuatu.
Luqman 31:11
"Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tum-buhan yang baik. Inilah ciptaan Allah, maka kalian perlihatkan-lah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan-(mu) selain Allah. Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." (Luqman: 10-11).
(10) Allah سبحانه وتعالى membacakan kepada hamba-hambaNya be-berapa tanda dari tanda-tanda kekuasaanNya, beberapa keajaiban dari keajaiban-kejaiban hikmahNya, dan beberapa nikmat dari tanda-tanda rahmatNya, seraya berfirman; ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "Dia men-ciptakan langit," yang tujuh lapis dengan keagungan, keluasan, kete-balan dan ketinggiannya yang luar biasa, ﴾ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ ﴿ "tanpa tiang yang kamu melihatnya" maksudnya, ia tidak mempunyai tiang-tiang penyangga. Dan kalau seandainya ia mempunyai tiang pasti tiang-tiang itu terlihat. Sesungguhnya langit itu terpancang dan kokoh dengan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ ﴿ "Dan Dia meletakkan gunung-gunung di bumi" yaitu gunung-gunung yang sangat besar yang Dia tancapkan di penjuru-penjurunya, supaya ﴾ تَمِيدَ بِكُمۡ ﴿ "bumi itu tidak menggoyang-kan kamu," maka kalau saja tidak ada gunung-gunung yang terpan-cang itu, niscaya bumi ini goncang dan niscaya tidak akan pernah diam dengan segenap penghuninya, ﴾ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ ﴿ "dan memper-kembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang." Maksudnya, Dia menyebarluaskan di muka bumi yang luas ini segala macam binatang melata yang semua ditundukkan untuk anak cucu Adam, untuk kemaslahatan mereka dan kebaikan bagi mereka. Dan ketika Allah mengembangbiakkannya di muka bumi ini, Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya semua binatang melata itu harus mempunyai rizki untuk kehidupannya, maka Dia menurunkan air yang penuh berkah dari langit, ﴾ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ﴿ "lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik," pe-mandangannya berguna lagi berkah. Maka binatang-binatang yang disebarluaskan itu dapat berkeliaran memakannya, dan setiap hewan tinggal di dalamnya.
(11) ﴾ هَٰذَا ﴿ "Ini" maksudnya, penciptaan alam atas dan alam bawah, yang terdiri dari benda-benda padat, hewan dan dialirkan-nya rizki kepada mereka adalah, ﴾ خَلۡقُ ٱللَّهِ ﴿ "ciptaan Allah" semata, tiada sekutu bagiNya. Semua orang mengakui hal ini, sampai kalian sendiri, wahai kaum musyrikin, ﴾ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ ﴿ "maka kalian perlihatkanlah kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Dia," maksudnya, orang-orang yang telah kalian jadikan sekutu bagiNya, yang kalian berdoa dan menyembah kepa-danya, semua itu mengharuskan kalau mereka mempunyai ciptaan seperti ciptaan Allah dan rizki sepeti rizkiNya. Kalau mereka mem-punyai sedikit saja dari hal itu maka perlihatkanlah kepadaku agar apa yang kalian klaim itu, yaitu keberhakan mereka untuk diibadahi (disembah) menjadi benar. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa mereka tidak akan sanggup memperlihatkannya sedikit pun dari ciptaan miliknya, karena seluruh yang disebutkan (sekutu-sekutu, berhala) telah mereka akui sebagai ciptaan Allah semata, dan di sana tidak ada sesuatu apa pun (tuhan) yang dikenal selain tuhan berhala itu. Maka dengan demikian terbuktilah kelemahan mereka untuk membuktikan bahwa berhala-berhala itu berhak disembah. Namun, sebenarnya peribadahan mereka kepada berhala-berhala tersebut tidaklah berdasarkan ilmu dan pemikiran yang mendalam, melainkan berdasarkan kejahilan dan kesesatan. Dan maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "Se-benarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata." Maksudnya, (kesesatan) yang sangat jelas lagi terang, yang mana mereka menyembah apa-apa yang sama sekali tidak kuasa memberikan manfaat atau kemudaratan, mematikan atau meng-hidupkan atau menghidupkan kembali; mereka mengabaikan ke-tulusan kepada Sang Pencipta Yang Maha Pemberi rizki lagi Maha Pemilik segala sesuatu.
Luqman 31:12
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:13
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:14
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:15
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:16
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:17
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:18
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:19
"Dan sungguh telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, 'Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyu-kur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.' Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, 'Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya memper-sekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar.' Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua ta-hun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepadaKu-lah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada penge-tahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata), 'Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan membalasinya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui. Hai anak-ku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan ber-sabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai'." (Luqman: 12-19).
(12) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pemberian karu-niaNya kepada seorang hambaNya yang mulia, Luqman berupa hikmah, yaitu ilmu pengetahun tentang yang haq sesuai dengan Wajah dan hikmahNya, yaitu ilmu tentang hukum-hukum dan pengetahuan tentang rahasia dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Seseorang bisa saja menjadi seorang alim (berilmu) akan tetapi belum tentu dia hakim (bijak, mendalam ilmunya). Se-bab hikmah itu pasti mengharuskan adanya ilmu, bahkan adanya amal. Maka dari itu hikmah ditafsirkan (diartikan) dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Ketika Allah mengaruniakan kepadanya karunia yang sangat agung ini, Allah memerintahkan kepadanya untuk bersyukur (berterima kasih) atas karunia besar yang diberikan kepadanya, agar Allah memberkahinya dan me-nambah karuniaNya kepadanya. Dan Allah mengabarkan kepadanya bahwa syukurnya orang-orang yang bersyukur itu manfaatnya kembali kepada diri mereka sendiri, dan bahwa siapa saja yang ingkar, lalu tidak bersyukur kepada Allah, maka bahayanya menimpa dirinya sendiri, sedang-kan Allah Mahakaya, tidak butuh kepadanya lagi Maha Terpuji dalam apa saja yang Dia takdirkan dan Dia putuskan terhadap orang yang menyalahi perintahNya. Jadi kekayaanNya (ketidak-butuhanNya kepada hamba-hambaNya) merupakan kepastian DzatNya. Dan keberadaanNya terpuji pada sifat-sifat kesempurna-anNya di dalam kebaikan yang dilakukanNya merupakan kepas-tian DzatNya. Setiap masing-masing dari dua ungkapan ini adalah sifat kesempurnaan, dan berkumpulnya salah satu kepada yang lain adalah tambahan kesempurnaan kepada kesempurnaan. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang apakah Luqman ini seorang nabi atau seorang hamba shalih[49] Sementara itu, Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan tentangnya kecuali (penjelasan) bahwa Dia telah mengaruniakan hikmah kepadanya, dan Allah menyebutkan sebagian hal yang menunjukkan hikmahnya dalam nasihatnya kepada putranya. Allah menyebutkan dasar-dasar hikmah dan kaidah-kaidahnya yang pokok (besar) seraya berfirman,
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُۥ ﴿ "Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya," atau dia mengata-kan perkataan kepadanya yang dengannya dia menasihatinya. Nasihat adalah perintah dan larangan yang disertai dengan targhib dan tarhib. Dia memerintahkan kepadanya untuk ikhlas (bertauhid) dan melarangnya berbuat syirik, dan dia menyebutkan sebabnya seraya berkata, ﴾ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya mempersekutu-kan adalah benar-benar kezhaliman yang besar." Sisi keberadaan syirik sebagai kezhaliman yang sangat besar adalah karena sesungguh-nya tidak ada yang lebih keji dan lebih buruk daripada orang yang menyamakan makhluk yang tercipta dari tanah dengan (Allah) Pemilik segala perkara, menyamakan manusia yang lemah lagi fakir dari segala sisinya dengan Rabb Yang Mahasempurna lagi Mahakaya dari segala sisiNya, dan menyamakan orang yang tidak bisa memberikan karunia sebesar biji sawi pun dengan Tuhan yang tidak ada suatu nikmat yang ada pada manusia dalam urusan agama, dunia, akhirat, hati dan jasad mereka melainkan pasti ber-asal dariNya, dan tidak dapat menghilangkan keburukan kecuali Dia. Apakah ada sesuatu yang lebih besar daripada hal ini? Dan apakah ada yang lebih besar kezhalimannya daripada orang yang diciptakan Allah supaya beribadah kepadaNya dan mengesakan-Nya, lalu ia pergi dengan jiwanya yang mulia itu, kemudian menem-patkannya pada martabat yang paling rendah dan menjadikannya sebagai penyembah sesuatu yang sama sekali tidak menandingi apa-apa. Oleh karena itu, dia benar-benar telah menzhalimi dirinya dengan kezhaliman yang sangat besar.
(14) Setelah Luqman memerintahkan agar menunaikan hakNya dengan cara meninggalkan perbuatan syirik yang di antara konsekuensinya adalah menegakkan tauhid, maka dia memerintah-kan kepada anaknya supaya menunaikan hak kedua orang tua. Allah berfirman, ﴾ وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ ﴿ "Dan Kami perintahkan kepada manusia," Kami wajibkan kepadanya dan Kami menjadikannya sebagai wasiat baginya, yang Kami kelak akan meminta pertang-gungjawabannya, apakah dia memeliharanya ataukah tidak? Maka Kami pesankan kepadanya ﴾ بِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "(berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya," dan Kami katakan kepadaNya, ﴾ ٱشۡكُرۡ لِي ﴿ "Bersyukur-lah kepadaKu" dengan melakukan ibadah kepadaku, menunaikan hak-hakKu dan tidak menggunakan nikmat-nikmatKu untuk men-durhakaiKu, ﴾ وَلِوَٰلِدَيۡكَ ﴿ "dan kepada dua orang ibu bapakmu" dengan berbuat baik kepada mereka dengan perkataan yang lembut, ucapan yang santun, perbuatan baik, bersikap rendah hati kepada mereka, memuliakan dan menghormati mereka, memberi mereka belanja (nafkah) dan menjauhi perbuatan buruk terhadap mereka dari segala sisi dengan perkataan dan perbuatan. Maka Kami wasiatkan dengan pesan ini dan Kami kabarkan kepadanya bahwa ﴾ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "hanya kepadaKu-lah kembalimu." Mak-sudnya, kalian akan kembali, wahai manusia, kepada Tuhan yang telah memberimu wasiat dan membebanimu dengan hak-hak ter-sebut. Dia akan menanyakan kepadamu: Apakah kamu telah me-laksanakannya, lalu Dia akan memberimu balasan yang berlipat ganda, ataukah kamu menyia-nyiakannya, lalu Dia akan menyiksa-mu dengan siksaan yang sangat buruk. Kemudian Allah menjelaskan sebab yang mewajibkan berbuat baik kepada kedua ibu bapak terletak pada ibu, seraya berfirman, ﴾ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ ﴿ "Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah" maksudnya, dalam keadaan sengsara dan makin sengsara, dan dia terus merasakan penderitaan mulai dari sejak (sang bayi) masih berbentuk sperma, seperti rasa mual, sakit, lemah, berat dan berubahnya kondisi, kemudian sakitnya melahir-kan, yaitu rasa sakit yang sangat perih, kemudian ﴾ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ ﴿ "menyapihnya dalam dua tahun," di mana sang anak terus berada dalam asuhan, lindungan dan susuan ibunya. Tidakkah sangat pantas sekali kalau ditekankan kepada anaknya untuk berbuat baik kepada orang yang telah menanggung penderitaan-penderitaan dengan penuh rasa kasih sayang demi dia, dan dipesankan kepada-nya agar benar-benar berbakti kepadanya?
(15) ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu," Maksud-nya, kedua ibu bapakmu bersikeras ﴾ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengeta-huanmu tentang itu, maka janganlah kamu mematuhi keduanya," dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa yang demikian ini terma-suk berbuat baik kepada keduanya; sebab hak Allah harus lebih di-utamakan atas hak semua orang, dan tidak ada kepatuhan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap sang Khaliq. Di sini Allah tidak mengatakan, "Dan jika keduanya memaksamu untuk memper-sekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka durhakailah mereka berdua," melainkan Allah mengatakan, ﴾ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ ﴿ "maka janganlah kamu mematuhi keduanya," yakni dalam kesyirikan. Adapun berbuat baik kepada keduanya, maka terus lakukanlah. Maka dari itu Allah berfirman sesudahnya,﴾ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik" maksud-nya, dengan pergaulan ihsan kepada mereka dengan cara yang baik. Adapun tentang "mengikuti keduanya", sedangkan kedua-nya dalam kondisi kafir dan maksiat, maka (dalam hal ini) jangan kamu ikuti, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kitab-kitabNya dan para RasulNya, yang berserah diri kepada Rabb (Allah), yang kembali kepadaNya. Mengikuti jalan mereka berarti menempuh jalan mereka dalam ber-inabah kepada Allah, inabah yang merupakan ketertarikan hasrat-hasrat hati dan kemauannya kepada Allah, lalu diikuti oleh usaha dengan badan dalam hal-hal yang diridhai Allah dan mendekatkan kepadaNya. ﴾ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ ﴿ "Kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu," baik yang taat maupun yang durhaka, yang berinabah dan yang tidak, ﴾ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "maka Kuberitakan kepadamu amal yang telah kamu kerjakan," maka tidak ada satu pun dari amal perbuatan me-reka yang tersembunyi dari Allah.
(16) ﴾ يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ ﴿ "Hai anakku, sesungguhnya jika ada satu perbuatan seberat biji sawi" yang merupakan biji yang paling kecil dan paling hina, ﴾ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ ﴿ "dan berada dalam batu," di tengah-tengahnya, ﴾ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "atau di langit atau di dalam bumi," maksudnya di dalam salah satu penjurunya, ﴾ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ ﴿ "niscaya Allah akan membalasnya," karena betapa sangat luasnya pengetahuan Allah, kesempurnaan ilmuNya dan kesempurnaan kekuasaanNya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Maha Mengetahui," maksudnya, halus dalam ilmu dan pengetahuanNya sehingga Dia mengetahui segala hal yang tersembunyi, rahasia daratan dan lautan. Maksudnya adalah: Himbauan untuk bermuraqabah (mawas diri) kepada Allah dan beramal melakukan ketaatan kepadaNya semampu mungkin, dan peringatan dari melakukan perbuatan yang buruk, sedikit atau banyak.
(17) ﴾ يَٰبُنَيَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Hai anakku, dirikanlah shalat," Luqman mengajak anaknya shalat dan menganjurkannya, karena shalat merupakan ibadah badaniyah yang paling besar,﴾ وَأۡمُرۡ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَٱنۡهَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ﴿ "dan suruhlah mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang mungkar," hal ini mengharuskan adanya ilmu pengetahuan kepada yang baik untuk memerintahkan padanya, dan pengetahuan kepada yang mungkar agar ia bisa mengingkarinya, dan perintah melakukan hal-hal yang mana amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak akan bisa dilakukan secara sempurna kecuali dengannya, seperti sikap lembut dan sabar. Sesungguhnya sabar ini telah ditegaskan dalam FirmanNya, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu," dan dari keberadaannya sebagai orang yang mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, menahan diri dari apa yang dilarang. Maka hal ini mencakup penyempurnaan diri dengan cara mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan dan menyempurnakan orang lain dengannya melalui perintah dan larangannya. Dan ketika sudah dimaklumi bahwa pasti akan men-dapatkan cobaan apabila dia (seseorang) melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar, dan bahwa dalam melakukan amar ma'ruf dan nahi mungkar itu terdapat banyak rintangan bagi jiwa, maka Allah memerintahkan kepadanya untuk bersabar dalam menghadapi semua itu, seraya berkata, ﴾ وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَۖ إِنَّ ذَٰلِكَ ﴿ "Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu," yang diajarkan dan dinasihatkan oleh Luqman kepada anaknya di atas ﴾ مِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "termasuk hal-hal yang diwajibkan" maksudnya, ter-masuk perkara yang ditekankan dan diperhatikan, dan tidak ada yang dibimbing untuknya kecuali orang-orang yang mempunyai kemauan tinggi.
(18) ﴾ وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ ﴿ "Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia" maksudnya, jangan kamu memalingkannya dan jangan memasamkan mukamu kepada manusia karena sombong terhadap mereka dan merasa lebih hebat. ﴾ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ ﴿ "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh," dengan som-bong, berbangga dengan berbagai nikmat, seraya melupakan Sang Maha Pemberi nikmat, dan bangga diri. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong," dalam diri dan sikapnya dan penampilannya, ﴾ فَخُورٖ ﴿ "lagi membanggakan diri" dengan ucapannya.
(19) ﴾ وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ ﴿ "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan," maksudnya, berjalanlah dengan tawadhu' (merendahkan diri) dan tenang, tidak dengan angkuh dan sombong, dan juga bukan jalan pura-pura mati, ﴾ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَۚ ﴿ "dan lunakkanlah suaramu," sebagai etika terhadap orang lain dan terhadap Allah. ﴾ إِنَّ أَنكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ ﴿ "Se-sungguhnya seburuk-buruk suara," yakni, yang paling keji dan paling norak ﴾ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ ﴿ "ialah suara keledai," kalau seandainya dalam me-ninggikan suara itu ada faidah dan maslahatnya, tentu Allah tidak mencontohkan dengan suara keledai yang telah dimaklumi kekejian dan kedunguannya.
Wasiat-wasiat yang dipesankan oleh Luqman kepada anak-nya ini menghimpun pokok-pokok hikmah dan mengharuskan adanya sesuatu yang belum disebutkan darinya. Setiap wasiat di-sertai dengan faktor-faktor yang mendorong untuk melakukannya jika wasiat itu berbentuk perintah, dan faktor pendorong untuk meninggalkannya jika wasiat itu berbentuk larangan, dan hal ini menunjukkan kepada apa yang telah kami sebutkan tentang tafsir hikmah, yaitu mengetahui hukum-hukum, hikmah-hikmahnya dan korelasi-korelasinya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan pokok agama, yaitu tauhid, dan Allah melarangnya dari syirik, dan Allah menjelaskan kepadanya faktor yang mewajibkan meninggalkan syirik. Dan Dia juga memerintahkan berbakti kepada ibu dan bapak lalu Dia jelaskan pula sebab yang mewajibkan untuk berbakti kepada orang tua. Dan Allah memerintahkannya untuk bersyukur kepadaNya dan bersyukur kepada kedua ibu bapaknya, kemudian menggariskan bahwa letak berbuat baik kepada kedua orang tua dan mematuhi perintah mereka itu selagi mereka tidak memerin-tahkan kemaksiatan. Namun demikian, dia tidak boleh durhaka, akan tetapi harus tetap berbuat baik kepada mereka, sekalipun dia tidak boleh taat kepada mereka bila mereka memaksa untuk ber-buat syirik. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan bersikap muraqabah kepada Allah dan takut akan perjumpaan denganNya; dan bahwa Allah sama sekali tidak mengabaikan kebaikan ataupun keburukan se-kecil dan sebesar apa pun, melainkan pasti didatangkanNya; dan Allah melarangnya bersikap sombong dan memerintahkan kepa-danya bersikap tawadhu' (rendah diri) serta melarangnya bersikap angkuh, congkak dan sombong. Dan Dia juga memerintahnya ber-sikap tenang dalam gerak-gerik dan suara, dan Dia melarangnya dari lawan hal tersebut. Dan Allah pun memerintahnya beramar ma'ruf dan nahi mungkar, menegakkan shalat dan sabar, yang dengan keduanya segala persoalan menjadi ringan, seperti difir-mankan Allah, ﴾ وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ ﴿ "Dan mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat." (Al-Baqarah: 45). Maka sangat pantas bagi orang yang mewasitkan wasiat-wasiat di atas, kalau dia diutamakan dengan hikmah dan terkenal dengannya. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karunia-Nya kepadanya (Luqman) dan kepada segenap hamba-hambaNya dengan menceritakan kepada mereka sebagian dari hikmahNya yang dapat dijadikan suri teladan oleh mereka.
Luqman 31:20
"Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyem-purnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin. Dan di antara ma-nusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah.' Mereka menjawab, '(Tidak), tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.' Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?" (Luqman: 20-21).
(20-21) Allah سبحانه وتعالى menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak me-reka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَوۡاْ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan." Maksudnya, Tidak-kah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "bahwa Allah telah menundukkan untuk-mu apa yang di langit," berupa matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia ﴾ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan apa yang di bumi" berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dia-lah yang telah menciptakan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya." (Al-Baqarah: 29). ﴾ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan menyempurnakan untukmu," maksudnya, meratakan dan melimpahruahkan kepada kalian ﴾ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ ﴿ "nikmatNya lahir dan batin," yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mu-darat. Maka kewajiban kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaati-Nya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan ter-hadapNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" akan tetapi, sekalipun berlimpahruahnya nikmat t e r s e b u t ﴾ م ِ ن َ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "ada di antara manusia orang," yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari Dzat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya. Maka dia pun mulai ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "membantah tentang Allah" maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beriba-dah kepada Allah سبحانه وتعالى saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ﴿ "dan tanpa Kitab yang memberi penerangan," maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah'," melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang nampak, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menjawab," dengan nada menentangnya, ﴾ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ ﴿ "Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya," maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Dan apakah walau-pun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?" Yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak mereka? Ataukah yang demikian itu membuat mereka takut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih sayang setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu dia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya diterima.
Luqman 31:21
"Tidakkah kamu perhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyem-purnakan untukmu nikmatNya lahir dan batin. Dan di antara ma-nusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah.' Mereka menjawab, '(Tidak), tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.' Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?" (Luqman: 20-21).
(20-21) Allah سبحانه وتعالى menyebut-nyebut kebaikanNya kepada hamba-hambaNya berupa nikmat-nikmatNya dan mengajak me-reka mensyukurinya, melihatnya dan tidak melupakannya, seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ تَرَوۡاْ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan." Maksudnya, Tidak-kah kalian saksikan dan melihat dengan mata kepala dan hati nurani kalian ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "bahwa Allah telah menundukkan untuk-mu apa yang di langit," berupa matahari, bulan dan bintang-bintang, semuanya ditundukkan untuk kepentingan manusia ﴾ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dan apa yang di bumi" berupa bermacam-macam hewan, pepohonan, tanaman, sungai, barang tambang dan lain-lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dia-lah yang telah menciptakan untuk kamu apa-apa yang ada di bumi ini semuanya." (Al-Baqarah: 29). ﴾ وَأَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan menyempurnakan untukmu," maksudnya, meratakan dan melimpahruahkan kepada kalian ﴾ نِعَمَهُۥ ظَٰهِرَةٗ وَبَاطِنَةٗۗ ﴿ "nikmatNya lahir dan batin," yaitu yang kita ketahui dan yang tidak dapat kita ketahui, nikmat dunia dan nikmat agama, tercapainya berbagai kemaslahatan (manfaat) dan tercegahnya berbagai mu-darat. Maka kewajiban kalian adalah mensyukuri nikmat-nikmat tersebut dengan cara mencintai Sang Maha Pemberi nikmat, tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka menaati-Nya, dan tidak menggunakan sedikit pun untuk kemaksiatan ter-hadapNya. ﴾ وَ﴿ "Dan" akan tetapi, sekalipun berlimpahruahnya nikmat t e r s e b u t ﴾ م ِ ن َ ٱلنَّاسِ مَن ﴿ "ada di antara manusia orang," yang tidak mensyukurinya, bahkan malah mengingkarinya dan mengingkari Dzat yang telah mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut, dan mengingkari kebenaran yang karenanya Dia menurunkan kitab-kitab suciNya, dan yang karenanya Dia mengutus para RasulNya. Maka dia pun mulai ﴾ يُجَٰدِلُ فِي ٱللَّهِ ﴿ "membantah tentang Allah" maksudnya, ia mendebat tentang kebatilan agar dengannya dia bisa mencampakkan kebenaran, dan agar dapat menolak apa-apa yang dibawa (diajarkan) oleh Rasulullah, yaitu perintah hanya beriba-dah kepada Allah سبحانه وتعالى saja. Dan si pembantah ini tidak mempunyai dasar pengetahuan yang mendalam. Jadi, debat yang dilakukannya tidak berdasarkan ilmu, maka biarkan saja dia begitu dan biarkan dia berbicara, ﴾ وَلَا هُدٗى ﴿ "tanpa petunjuk," yang dapat dijadikan pedoman oleh orang-orang yang mendapat petunjuk, ﴾ وَلَا كِتَٰبٖ مُّنِيرٖ ﴿ "dan tanpa Kitab yang memberi penerangan," maksudnya, yang sangat terang lagi menjelaskan yang benar. Maka tidak ada yang logis, atau nash yang dinukil dan tidak ada keteladanan dengan orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya debatnya tentang Allah hanya berdasarkan taklid buta kepada nenek moyang yang tidak pernah mendapat petunjuk, bahkan orang-orang sesat yang menyesatkan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang diturunkan Allah'," melalui para RasulNya, karena sesungguhnya itu yang benar, dan (ketika) dijelaskan kepada mereka dalil-dalilnya yang nampak, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka menjawab," dengan nada menentangnya, ﴾ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ ﴿ "Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya," maka kami tidak akan meninggalkan apa yang telah menjadi panutan bapak-bapak kami hanya karena perkataan seseorang, siapa pun dia. Lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah mereka dan bapak-bapak mereka, ﴾ أَوَلَوۡ كَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Dan apakah walau-pun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala?" Yakni, lalu bapak-bapak mereka memenuhi seruannya dan berjalan mengekor kepadanya, dan mereka menjadi murid-murid setan, dan mereka pun diselimuti oleh kebimbangan. Apakah yang demikian ini berhak untuk diikuti dan ditelusuri jejak mereka? Ataukah yang demikian itu membuat mereka takut untuk menelusuri jalan mereka dan diserukan akan kesesatan mereka dan kesesatan orang-orang yang mengikutinya? Padahal seruan setan kepada bapak-bapak mereka dan kepada mereka bukan karena kecintaan dan kasih sayang setan kepada mereka, akan tetapi sesungguhnya hal itu adalah karena kebencian setan dan tipu muslihatnya terhadap mereka. Sebenarnya para pengikutnya adalah berasal dari musuh-musuhnya yang telah mampu dia taklukkan dan dia kalahkan, dan dia (setan) sangat senang karena mereka berhak mendapat azab api yang menyala-nyala disebabkan seruannya diterima.
Luqman 31:22
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa yang kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 22-24).
(22) ﴾ وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah," maksudnya, tunduk dan patuh kepadaNya dengan mengerjakan syariat-syariat(Nya) dengan menuluskan agama (hanya) kepadaNya ﴾ وَهُوَ مُحۡسِنٞ ﴿ "sedang dia orang yang berbuat kebaikan," di dalam Islam tersebut. Yaitu keberadaan amal yang di-kerjakannya adalah yang masyru' (dibenarkan agama) dan dengan mengikuti Rasulullah a; atau barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah dengan melakukan semua ibadah, sedangkan dia bersikap ihsan di dalamnya, yaitu dengan beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatNya, dan jika dia tidak melihatNya, maka Dia melihatnya. Atau barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan cara melaksanakan hak-hakNya, sedangkan dia berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dan melaksanakan hak-hak mereka. Makna-makna tersebut senada, tidak ada perbe-daan di antara semua itu kecuali dari sudut perbedaan sumber dua lafazh tersebut. Dan jika tidak demikian, maka semuanya sepakat atas (maksud) menunaikan seluruh syariat-syariat agama dengan semampu mungkin untuk diterima dan sesempurna mungkin. Maka siapa saja yang telah melakukan hal itu,﴾ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ ﴿ "maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh," maksudnya, kepada buhul ikatan yang siapa saja berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menjadi kuat, selamat dan bebas dari kebinasaan, serta meraih segala kebaikan. Dan siapa saja yang tidak menyerahkan dirinya kepada Allah, atau tidak bersikap ihsan, maka berarti dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan apabila dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh, maka tidak ada jalan lain (baginya) selain kebinasaan dan kecelakaan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan," maksudnya, tempat kembalinya dan tempat berakhirnya (segala urusan). Lalu Dia memberikan keputusan terhadap hamba-hambaNya dan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka, dan sesuai dengan akhir kesudahan mere-ka yang sampai kepadaNya. Maka hendaklah mereka bersiap-siap untuk menghadapi urusan ini.
(23) ﴾ وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحۡزُنكَ كُفۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu," sebab kamu telah melak-sanakan kewajibanmu untuk berdakwah dan menyampaikan. Maka apabila dia tidak juga berpegang kepada petunjuk, maka sungguh pahala untukmu sudah pasti dari Allah, dan sudah tidak ada lagi tempat untuk bersedih atas sikapnya yang tidak mau menerima hidayah, karena seandainya pada orang itu ada kebaikannya, tentu Allah telah memberinya petunjuk. Dan jangan pula kamu bersedih atas kelancangan mereka memusuhimu dan melawanmu dengan perang dan terus pada kesesatan dan kekafiran mereka, dan jangan pula kamu merasa gelisah atas mereka karena mereka belum segera ditimpa azab, sesungguhnya ﴾ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ ﴿ "hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan," yaitu berupa tindakan mereka kufur, memu-suhi dan upaya mereka untuk memadamkan cahaya Allah dan menyakiti para RasulNya, sesungguhnya Dia ﴾ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Maha Mengetahui segala isi hati," yang tidak diperbincangkan oleh manusia, lalu bagaimana dengan apa-apa yang tampak dan telah menjadi nyata? (Tentu Allah lebih mengetahuinya).
(24) ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang se-bentar," di dunia ini agar dosa-dosa mereka bertambah dan sik-saannya berlipat-lipat, ﴾ ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ ﴿ "kemudian Kami paksa mereka," maksudnya, Kami pulangkan mereka, ﴾ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "ke dalam siksa yang keras," maksudnya, yang memuncak kekerasan, keburukan, kepedihan, dan kedahsyatannya.
Luqman 31:23
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa yang kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 22-24).
(22) ﴾ وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah," maksudnya, tunduk dan patuh kepadaNya dengan mengerjakan syariat-syariat(Nya) dengan menuluskan agama (hanya) kepadaNya ﴾ وَهُوَ مُحۡسِنٞ ﴿ "sedang dia orang yang berbuat kebaikan," di dalam Islam tersebut. Yaitu keberadaan amal yang di-kerjakannya adalah yang masyru' (dibenarkan agama) dan dengan mengikuti Rasulullah a; atau barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah dengan melakukan semua ibadah, sedangkan dia bersikap ihsan di dalamnya, yaitu dengan beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatNya, dan jika dia tidak melihatNya, maka Dia melihatnya. Atau barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan cara melaksanakan hak-hakNya, sedangkan dia berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dan melaksanakan hak-hak mereka. Makna-makna tersebut senada, tidak ada perbe-daan di antara semua itu kecuali dari sudut perbedaan sumber dua lafazh tersebut. Dan jika tidak demikian, maka semuanya sepakat atas (maksud) menunaikan seluruh syariat-syariat agama dengan semampu mungkin untuk diterima dan sesempurna mungkin. Maka siapa saja yang telah melakukan hal itu,﴾ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ ﴿ "maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh," maksudnya, kepada buhul ikatan yang siapa saja berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menjadi kuat, selamat dan bebas dari kebinasaan, serta meraih segala kebaikan. Dan siapa saja yang tidak menyerahkan dirinya kepada Allah, atau tidak bersikap ihsan, maka berarti dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan apabila dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh, maka tidak ada jalan lain (baginya) selain kebinasaan dan kecelakaan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan," maksudnya, tempat kembalinya dan tempat berakhirnya (segala urusan). Lalu Dia memberikan keputusan terhadap hamba-hambaNya dan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka, dan sesuai dengan akhir kesudahan mere-ka yang sampai kepadaNya. Maka hendaklah mereka bersiap-siap untuk menghadapi urusan ini.
(23) ﴾ وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحۡزُنكَ كُفۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu," sebab kamu telah melak-sanakan kewajibanmu untuk berdakwah dan menyampaikan. Maka apabila dia tidak juga berpegang kepada petunjuk, maka sungguh pahala untukmu sudah pasti dari Allah, dan sudah tidak ada lagi tempat untuk bersedih atas sikapnya yang tidak mau menerima hidayah, karena seandainya pada orang itu ada kebaikannya, tentu Allah telah memberinya petunjuk. Dan jangan pula kamu bersedih atas kelancangan mereka memusuhimu dan melawanmu dengan perang dan terus pada kesesatan dan kekafiran mereka, dan jangan pula kamu merasa gelisah atas mereka karena mereka belum segera ditimpa azab, sesungguhnya ﴾ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ ﴿ "hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan," yaitu berupa tindakan mereka kufur, memu-suhi dan upaya mereka untuk memadamkan cahaya Allah dan menyakiti para RasulNya, sesungguhnya Dia ﴾ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Maha Mengetahui segala isi hati," yang tidak diperbincangkan oleh manusia, lalu bagaimana dengan apa-apa yang tampak dan telah menjadi nyata? (Tentu Allah lebih mengetahuinya).
(24) ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang se-bentar," di dunia ini agar dosa-dosa mereka bertambah dan sik-saannya berlipat-lipat, ﴾ ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ ﴿ "kemudian Kami paksa mereka," maksudnya, Kami pulangkan mereka, ﴾ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "ke dalam siksa yang keras," maksudnya, yang memuncak kekerasan, keburukan, kepedihan, dan kedahsyatannya.
Luqman 31:24
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa yang kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras." (Luqman: 22-24).
(22) ﴾ وَمَن يُسۡلِمۡ وَجۡهَهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah," maksudnya, tunduk dan patuh kepadaNya dengan mengerjakan syariat-syariat(Nya) dengan menuluskan agama (hanya) kepadaNya ﴾ وَهُوَ مُحۡسِنٞ ﴿ "sedang dia orang yang berbuat kebaikan," di dalam Islam tersebut. Yaitu keberadaan amal yang di-kerjakannya adalah yang masyru' (dibenarkan agama) dan dengan mengikuti Rasulullah a; atau barangsiapa yang menyerahkan diri-nya kepada Allah dengan melakukan semua ibadah, sedangkan dia bersikap ihsan di dalamnya, yaitu dengan beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihatNya, dan jika dia tidak melihatNya, maka Dia melihatnya. Atau barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan cara melaksanakan hak-hakNya, sedangkan dia berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dan melaksanakan hak-hak mereka. Makna-makna tersebut senada, tidak ada perbe-daan di antara semua itu kecuali dari sudut perbedaan sumber dua lafazh tersebut. Dan jika tidak demikian, maka semuanya sepakat atas (maksud) menunaikan seluruh syariat-syariat agama dengan semampu mungkin untuk diterima dan sesempurna mungkin. Maka siapa saja yang telah melakukan hal itu,﴾ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰۗ ﴿ "maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh," maksudnya, kepada buhul ikatan yang siapa saja berpegang teguh kepadanya, niscaya akan menjadi kuat, selamat dan bebas dari kebinasaan, serta meraih segala kebaikan. Dan siapa saja yang tidak menyerahkan dirinya kepada Allah, atau tidak bersikap ihsan, maka berarti dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan apabila dia tidak berpegang kepada buhul tali yang kokoh, maka tidak ada jalan lain (baginya) selain kebinasaan dan kecelakaan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan," maksudnya, tempat kembalinya dan tempat berakhirnya (segala urusan). Lalu Dia memberikan keputusan terhadap hamba-hambaNya dan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal perbuatan mereka, dan sesuai dengan akhir kesudahan mere-ka yang sampai kepadaNya. Maka hendaklah mereka bersiap-siap untuk menghadapi urusan ini.
(23) ﴾ وَمَن كَفَرَ فَلَا يَحۡزُنكَ كُفۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu," sebab kamu telah melak-sanakan kewajibanmu untuk berdakwah dan menyampaikan. Maka apabila dia tidak juga berpegang kepada petunjuk, maka sungguh pahala untukmu sudah pasti dari Allah, dan sudah tidak ada lagi tempat untuk bersedih atas sikapnya yang tidak mau menerima hidayah, karena seandainya pada orang itu ada kebaikannya, tentu Allah telah memberinya petunjuk. Dan jangan pula kamu bersedih atas kelancangan mereka memusuhimu dan melawanmu dengan perang dan terus pada kesesatan dan kekafiran mereka, dan jangan pula kamu merasa gelisah atas mereka karena mereka belum segera ditimpa azab, sesungguhnya ﴾ إِلَيۡنَا مَرۡجِعُهُمۡ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوٓاْۚ ﴿ "hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka amal yang telah mereka kerjakan," yaitu berupa tindakan mereka kufur, memu-suhi dan upaya mereka untuk memadamkan cahaya Allah dan menyakiti para RasulNya, sesungguhnya Dia ﴾ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Maha Mengetahui segala isi hati," yang tidak diperbincangkan oleh manusia, lalu bagaimana dengan apa-apa yang tampak dan telah menjadi nyata? (Tentu Allah lebih mengetahuinya).
(24) ﴾ نُمَتِّعُهُمۡ قَلِيلٗا ﴿ "Kami biarkan mereka bersenang-senang se-bentar," di dunia ini agar dosa-dosa mereka bertambah dan sik-saannya berlipat-lipat, ﴾ ثُمَّ نَضۡطَرُّهُمۡ ﴿ "kemudian Kami paksa mereka," maksudnya, Kami pulangkan mereka, ﴾ إِلَىٰ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "ke dalam siksa yang keras," maksudnya, yang memuncak kekerasan, keburukan, kepedihan, dan kedahsyatannya.
Luqman 31:25
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).
(25) Maksudnya, ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka," yaitu kamu bertanya kepada kaum musy-rikin yang mendustakan kebenaran, ﴾ مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi," tentu mereka mengetahui bahwa berhala-berhala mereka sama sekali tidak menciptakan hal itu, dan tentu mereka segera mengatakan, ﴾ ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah" semata yang menciptakan keduanya. Maka ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka dengan nada mematahkan hujjah atas mereka dengan argumen yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah," yang telah menjelaskan nur (cahaya) dan menam-pakkan dalil terhadap kalian dari kalian sendiri. Maka kalau mereka mengetahui, tentu mereka memastikan bahwa yang Esa (dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini), Dia-lah yang diesa-kan dengan ibadah dan tauhid. Akan tetapi ﴾ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "keba-nyakan mereka tidak mengetahui," maka dari itu mereka memperseku-tukanNya dengan yang lain, dan mereka rela dengan kontradiksi keyakinan yang mereka anut dengan kebimbangan dan keraguan, bukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam.
(26) Kemudian Allah menyebutkan di dalam dua ayat be-rikut ini satu contoh dari kemahaluasan sifat-sifatNya, untuk me-nyeru hamba-hambaNya agar mengenalNya, mencintaiNya dan memurnikan kepatuhan hanya kepadaNya. Di sini Dia menying-gung universalitas kerajaanNya, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi (yang semua ini meliputi seluruh alam atas dan alam bawah) adalah milikNya, Dia berbuat terhadap mereka ber-dasarkan hukum-hukum (aturan-aturan) kerajaanNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan hukum-hukumNya yang bersifat perintah serta hukum-hukumnya yang bersifat balasan. Jadi semua mereka adalah hamba dan budak yang dikendalikan dan ditundukkan, mereka sama sekali tidak memiliki kepemilikan (kerajaan) apa pun, dan bahwa Dia Mahaluas kekayaanNya, maka Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa-apa yang dibutuhkan seseorang dari makhlukNya, ﴾ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 ﴿ "Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Adz-Dzariyat: 57). Dan sesungguhnya amal perbuatan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih, sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan bagi Allah. Sesungguhnya ia hanya berguna bagi para pelakunya, sedangkan Allah Mahakaya dari me-reka dan dari amal perbuatan mereka. Dan di antara kekayaanNya adalah, Allah menjadikan mereka kaya dan berkecukupan di dunia dan akhirat mereka. Kemudian Allah memberitakan tentang betapa luasnya keter-pujianNya, dan bahwa keterpujianNya merupakan keharusan DzatNya. Maka tidaklah Dia melainkan Maha Terpuji dari segala sisi, Dia Maha Terpuji pada DzatNya dan Maha Terpuji dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dari sifat-sifatNya berhak mendapatkan pujian yang tersempurna dan paling paripurna, sebab ia merupa-kan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan; dan seluruh yang di-lakukanNya dan apa yang diciptakanNya pasti terpuji; dan semua yang diperintahkan dan yang dilarangNya, pasti terpuji; dan seluruh yang Dia putuskan terhadap hamba-hambaNya dan (keputusan) di antara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat pasti terpuji.
(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya. Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka, لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. "Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50] Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu. Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42). Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi. Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
(28) Kemudian Dia menjelaskan keagungan dan kesempur-naan kekuasaanNya, dan bahwa ia tidak bisa dibayangkan oleh akal pikiran, seraya berfirman, ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Ti-daklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja," ini adalah sesuatu yang membingungkan akal, di mana bahwa penciptaan seluruh manusia yang begitu banyak dan pembang-kitan kembali mereka sesudah mati setelah mereka tercerai berai hanya dalam sekejap saja, sebagaimana Dia menciptakan satu jiwa. Maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebangkitan, kehidupan kembali dan pembalasan terhadap amal perbuatan, kecuali karena kebodohan akan keagungan Allah dan kehebatan kekuasaanNya. Kemudian Dia menjelaskan keumuman (keuniversalan) pende-ngaranNya terhadap segala sesuatu yang bisa didengar, dan peng-lihatannya terhadap segala sesuatu yang bisa dilihat, seraya ber-firman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Luqman 31:26
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).
(25) Maksudnya, ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka," yaitu kamu bertanya kepada kaum musy-rikin yang mendustakan kebenaran, ﴾ مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi," tentu mereka mengetahui bahwa berhala-berhala mereka sama sekali tidak menciptakan hal itu, dan tentu mereka segera mengatakan, ﴾ ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah" semata yang menciptakan keduanya. Maka ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka dengan nada mematahkan hujjah atas mereka dengan argumen yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah," yang telah menjelaskan nur (cahaya) dan menam-pakkan dalil terhadap kalian dari kalian sendiri. Maka kalau mereka mengetahui, tentu mereka memastikan bahwa yang Esa (dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini), Dia-lah yang diesa-kan dengan ibadah dan tauhid. Akan tetapi ﴾ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "keba-nyakan mereka tidak mengetahui," maka dari itu mereka memperseku-tukanNya dengan yang lain, dan mereka rela dengan kontradiksi keyakinan yang mereka anut dengan kebimbangan dan keraguan, bukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam.
(26) Kemudian Allah menyebutkan di dalam dua ayat be-rikut ini satu contoh dari kemahaluasan sifat-sifatNya, untuk me-nyeru hamba-hambaNya agar mengenalNya, mencintaiNya dan memurnikan kepatuhan hanya kepadaNya. Di sini Dia menying-gung universalitas kerajaanNya, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi (yang semua ini meliputi seluruh alam atas dan alam bawah) adalah milikNya, Dia berbuat terhadap mereka ber-dasarkan hukum-hukum (aturan-aturan) kerajaanNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan hukum-hukumNya yang bersifat perintah serta hukum-hukumnya yang bersifat balasan. Jadi semua mereka adalah hamba dan budak yang dikendalikan dan ditundukkan, mereka sama sekali tidak memiliki kepemilikan (kerajaan) apa pun, dan bahwa Dia Mahaluas kekayaanNya, maka Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa-apa yang dibutuhkan seseorang dari makhlukNya, ﴾ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 ﴿ "Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Adz-Dzariyat: 57). Dan sesungguhnya amal perbuatan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih, sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan bagi Allah. Sesungguhnya ia hanya berguna bagi para pelakunya, sedangkan Allah Mahakaya dari me-reka dan dari amal perbuatan mereka. Dan di antara kekayaanNya adalah, Allah menjadikan mereka kaya dan berkecukupan di dunia dan akhirat mereka. Kemudian Allah memberitakan tentang betapa luasnya keter-pujianNya, dan bahwa keterpujianNya merupakan keharusan DzatNya. Maka tidaklah Dia melainkan Maha Terpuji dari segala sisi, Dia Maha Terpuji pada DzatNya dan Maha Terpuji dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dari sifat-sifatNya berhak mendapatkan pujian yang tersempurna dan paling paripurna, sebab ia merupa-kan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan; dan seluruh yang di-lakukanNya dan apa yang diciptakanNya pasti terpuji; dan semua yang diperintahkan dan yang dilarangNya, pasti terpuji; dan seluruh yang Dia putuskan terhadap hamba-hambaNya dan (keputusan) di antara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat pasti terpuji.
(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya. Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka, لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. "Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50] Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu. Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42). Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi. Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
(28) Kemudian Dia menjelaskan keagungan dan kesempur-naan kekuasaanNya, dan bahwa ia tidak bisa dibayangkan oleh akal pikiran, seraya berfirman, ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Ti-daklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja," ini adalah sesuatu yang membingungkan akal, di mana bahwa penciptaan seluruh manusia yang begitu banyak dan pembang-kitan kembali mereka sesudah mati setelah mereka tercerai berai hanya dalam sekejap saja, sebagaimana Dia menciptakan satu jiwa. Maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebangkitan, kehidupan kembali dan pembalasan terhadap amal perbuatan, kecuali karena kebodohan akan keagungan Allah dan kehebatan kekuasaanNya. Kemudian Dia menjelaskan keumuman (keuniversalan) pende-ngaranNya terhadap segala sesuatu yang bisa didengar, dan peng-lihatannya terhadap segala sesuatu yang bisa dilihat, seraya ber-firman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Luqman 31:27
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).
(25) Maksudnya, ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka," yaitu kamu bertanya kepada kaum musy-rikin yang mendustakan kebenaran, ﴾ مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi," tentu mereka mengetahui bahwa berhala-berhala mereka sama sekali tidak menciptakan hal itu, dan tentu mereka segera mengatakan, ﴾ ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah" semata yang menciptakan keduanya. Maka ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka dengan nada mematahkan hujjah atas mereka dengan argumen yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah," yang telah menjelaskan nur (cahaya) dan menam-pakkan dalil terhadap kalian dari kalian sendiri. Maka kalau mereka mengetahui, tentu mereka memastikan bahwa yang Esa (dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini), Dia-lah yang diesa-kan dengan ibadah dan tauhid. Akan tetapi ﴾ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "keba-nyakan mereka tidak mengetahui," maka dari itu mereka memperseku-tukanNya dengan yang lain, dan mereka rela dengan kontradiksi keyakinan yang mereka anut dengan kebimbangan dan keraguan, bukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam.
(26) Kemudian Allah menyebutkan di dalam dua ayat be-rikut ini satu contoh dari kemahaluasan sifat-sifatNya, untuk me-nyeru hamba-hambaNya agar mengenalNya, mencintaiNya dan memurnikan kepatuhan hanya kepadaNya. Di sini Dia menying-gung universalitas kerajaanNya, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi (yang semua ini meliputi seluruh alam atas dan alam bawah) adalah milikNya, Dia berbuat terhadap mereka ber-dasarkan hukum-hukum (aturan-aturan) kerajaanNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan hukum-hukumNya yang bersifat perintah serta hukum-hukumnya yang bersifat balasan. Jadi semua mereka adalah hamba dan budak yang dikendalikan dan ditundukkan, mereka sama sekali tidak memiliki kepemilikan (kerajaan) apa pun, dan bahwa Dia Mahaluas kekayaanNya, maka Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa-apa yang dibutuhkan seseorang dari makhlukNya, ﴾ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 ﴿ "Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Adz-Dzariyat: 57). Dan sesungguhnya amal perbuatan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih, sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan bagi Allah. Sesungguhnya ia hanya berguna bagi para pelakunya, sedangkan Allah Mahakaya dari me-reka dan dari amal perbuatan mereka. Dan di antara kekayaanNya adalah, Allah menjadikan mereka kaya dan berkecukupan di dunia dan akhirat mereka. Kemudian Allah memberitakan tentang betapa luasnya keter-pujianNya, dan bahwa keterpujianNya merupakan keharusan DzatNya. Maka tidaklah Dia melainkan Maha Terpuji dari segala sisi, Dia Maha Terpuji pada DzatNya dan Maha Terpuji dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dari sifat-sifatNya berhak mendapatkan pujian yang tersempurna dan paling paripurna, sebab ia merupa-kan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan; dan seluruh yang di-lakukanNya dan apa yang diciptakanNya pasti terpuji; dan semua yang diperintahkan dan yang dilarangNya, pasti terpuji; dan seluruh yang Dia putuskan terhadap hamba-hambaNya dan (keputusan) di antara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat pasti terpuji.
(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya. Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka, لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. "Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50] Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu. Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42). Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi. Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
(28) Kemudian Dia menjelaskan keagungan dan kesempur-naan kekuasaanNya, dan bahwa ia tidak bisa dibayangkan oleh akal pikiran, seraya berfirman, ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Ti-daklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja," ini adalah sesuatu yang membingungkan akal, di mana bahwa penciptaan seluruh manusia yang begitu banyak dan pembang-kitan kembali mereka sesudah mati setelah mereka tercerai berai hanya dalam sekejap saja, sebagaimana Dia menciptakan satu jiwa. Maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebangkitan, kehidupan kembali dan pembalasan terhadap amal perbuatan, kecuali karena kebodohan akan keagungan Allah dan kehebatan kekuasaanNya. Kemudian Dia menjelaskan keumuman (keuniversalan) pende-ngaranNya terhadap segala sesuatu yang bisa didengar, dan peng-lihatannya terhadap segala sesuatu yang bisa dilihat, seraya ber-firman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Luqman 31:28
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Tentu mereka akan menjawab, 'Allah.' Katakanlah, 'Segala puji bagi Allah,' tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi. Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan ke-padanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan ha-nyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Luq-man: 25-27).
(25) Maksudnya, ﴾ وَلَئِن سَأَلۡتَهُم ﴿ "Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka," yaitu kamu bertanya kepada kaum musy-rikin yang mendustakan kebenaran, ﴾ مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi," tentu mereka mengetahui bahwa berhala-berhala mereka sama sekali tidak menciptakan hal itu, dan tentu mereka segera mengatakan, ﴾ ٱللَّهُۚ ﴿ "Allah" semata yang menciptakan keduanya. Maka ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" kepada mereka dengan nada mematahkan hujjah atas mereka dengan argumen yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari, ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ ﴿ "Segala puji bagi Allah," yang telah menjelaskan nur (cahaya) dan menam-pakkan dalil terhadap kalian dari kalian sendiri. Maka kalau mereka mengetahui, tentu mereka memastikan bahwa yang Esa (dengan penciptaan dan pengaturan alam semesta ini), Dia-lah yang diesa-kan dengan ibadah dan tauhid. Akan tetapi ﴾ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "keba-nyakan mereka tidak mengetahui," maka dari itu mereka memperseku-tukanNya dengan yang lain, dan mereka rela dengan kontradiksi keyakinan yang mereka anut dengan kebimbangan dan keraguan, bukan dengan dasar ilmu pengetahuan yang mendalam.
(26) Kemudian Allah menyebutkan di dalam dua ayat be-rikut ini satu contoh dari kemahaluasan sifat-sifatNya, untuk me-nyeru hamba-hambaNya agar mengenalNya, mencintaiNya dan memurnikan kepatuhan hanya kepadaNya. Di sini Dia menying-gung universalitas kerajaanNya, dan bahwa semua yang ada di langit dan bumi (yang semua ini meliputi seluruh alam atas dan alam bawah) adalah milikNya, Dia berbuat terhadap mereka ber-dasarkan hukum-hukum (aturan-aturan) kerajaanNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan hukum-hukumNya yang bersifat perintah serta hukum-hukumnya yang bersifat balasan. Jadi semua mereka adalah hamba dan budak yang dikendalikan dan ditundukkan, mereka sama sekali tidak memiliki kepemilikan (kerajaan) apa pun, dan bahwa Dia Mahaluas kekayaanNya, maka Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa-apa yang dibutuhkan seseorang dari makhlukNya, ﴾ مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 ﴿ "Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan." (Adz-Dzariyat: 57). Dan sesungguhnya amal perbuatan para nabi, para shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih, sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan bagi Allah. Sesungguhnya ia hanya berguna bagi para pelakunya, sedangkan Allah Mahakaya dari me-reka dan dari amal perbuatan mereka. Dan di antara kekayaanNya adalah, Allah menjadikan mereka kaya dan berkecukupan di dunia dan akhirat mereka. Kemudian Allah memberitakan tentang betapa luasnya keter-pujianNya, dan bahwa keterpujianNya merupakan keharusan DzatNya. Maka tidaklah Dia melainkan Maha Terpuji dari segala sisi, Dia Maha Terpuji pada DzatNya dan Maha Terpuji dalam sifat-sifatNya. Setiap sifat dari sifat-sifatNya berhak mendapatkan pujian yang tersempurna dan paling paripurna, sebab ia merupa-kan sifat-sifat keagungan dan kesempurnaan; dan seluruh yang di-lakukanNya dan apa yang diciptakanNya pasti terpuji; dan semua yang diperintahkan dan yang dilarangNya, pasti terpuji; dan seluruh yang Dia putuskan terhadap hamba-hambaNya dan (keputusan) di antara hamba-hambaNya di dunia dan akhirat pasti terpuji.
(27) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang keluasan kalamNya dan keagungan FirmanNya dengan uraian yang me-nyentuh hati sedalam-dalamnya, akal pikiran menjadi tercengang kepadanya, jiwa menjadi terperangah padanya, dan orang-orang yang berakal dan berpengetahuan mendalam berpetualang dalam mengenalNya; seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَٰمٞ ﴿ "Dan se-andainya pohon-pohon di bumi menjadi pena"untuk menulisnya ﴾ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٖ ﴿ "dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut lagi sesudah (kering)nya," sebagai tinta untuk tambahannya, niscaya pena-pena itu akan remuk dan tinta itu akan habis, sedang-kan ﴾ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِۚ ﴿ "kalimat Allah" tidak akan ada habis-habisnya. Ini bukan ungkapan berlebihan yang tidak mempunyai ke-nyataan, akan tetapi ketika Allah سبحانه وتعالى mengetahui bahwasanya akal manusia tidak akan mampu mengetahui sebagian sifat-sifatNya dan Dia mengetahui bahwa mengenalNya bagi hamba-hambaNya adalah merupakan nikmat yang paling utama yang dikaruniakan-Nya kepada mereka, dan merupakan tingkat yang paling mulia yang mereka raih, sementara pengetahuannya itu tidak mencakup keseluruhannya, akan tetapi apa yang tidak bisa dicapai keselu-ruhannya maka tidak patut ditinggalkan semuanya, maka Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka dengan sebagiannya sebagai suatu peringat-an yang mana hati mereka dapat menjadi terang dan dada mereka menjadi lapang, dan mereka berdalil (berargumen) dengan apa yang telah mereka capai kepada apa yang belum mereka capai dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh orang yang paling utama dan lebih mengetahui Rabbnya dari mereka, لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. "Kami tidak akan mampu menghitung pujian untukMu, Engkau sebagaimana yang Engkau pujikan pada diriMu."[50] Dan bila tidak demikian, maka sesungguhnya permasalahan-nya lebih besar dan lebih agung dari itu. Perumpamaan tersebut termasuk dalam kategori upaya untuk mendekatkan makna yang tidak bisa dijangkau oleh pemahaman dan pemikiran. Dan bila tidak demikian, maka pohon-pohon itu sendiri, sekalipun berlipat-lipat ganda melebihi apa yang disebut-kan, dan lautan, sekalipun ditambah beberapa kali lipat lagi maka tetap bisa saja ia habis dan kering, sebab ia (pepohonan dan lautan itu) adalah makhluk. Sedangkan kalamullah سبحانه وتعالى tidak mungkin bisa habis, bahkan dalil syar'i dan aqli menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak akan pernah habis dan tidak pernah ada ujungnya. Jadi, se-gala sesuatu itu akan habis (sirna) kecuali Allah dan sifat-sifatNya, ﴾ وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلۡمُنتَهَىٰ 42 ﴿ "Dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu)." (An-Najm: 42). Dan apabila akal pikiran membayangkan hakikat ke-awal-an dan ke-akhir-an Allah سبحانه وتعالى, dan bahwa segala apa yang dipastikan oleh akal pikiran berupa masa-masa silam, sekalipun anggapan dan perkiraan itu bermata rantai (berkesinambungan), maka Allah سبحانه وتعالى sudah ada sebelum itu semua, tanpa batas. Dan sesungguhnya, bagaimana pun akal memastikan dan menghitung masa-masa yang akan datang, dan perhitungan serta perkiraan itu bermata rantai dan ia dibantu oleh siapa pun untuk menghitungnya dengan hati dan lisannya, maka Allah سبحانه وتعالى ada sesudah itu semua, tanpa batas dan tanpa ujung. Allah سبحانه وتعالى dalam setiap dan sepanjang waktu memu-tuskan, berbicara, berfirman dan berbuat sebagaimana yang telah Dia kehendaki. Dan apabila Dia telah berkehendak, maka tidak ada apa pun yang bisa menghalangi Firman-firman dan perbuatan-perbuatanNya. Apabila akal sudah bisa membayangkan hal itu, niscaya ia mengetahui bahwa perumpamaan yang disampaikan oleh Allah bagi kalamNya adalah agar hamba-hambaNya menge-tahui sebagian darinya. Apabila tidak demikian, maka sebenarnya permasalahan ini jauh lebih agung dan lebih besar lagi. Kemudian Dia menjelaskan kebesaran, keperkasaanNya dan kesempurnaan hikmahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana," maksudnya, hanya milikNya-lah keperkasaan seluruhnya, yang mana tidak ada ke-kuatan di alam atas dan bawah melainkan berasal dariNya; Dia-lah yang memberikannya kepada manusia. Maka tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan melainkan dengan (pertolongan)Nya; dan dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan makhluk ini semua-nya, Dia berbuat dan mengatur mereka, dan dengan hikmahNya, Dia menciptakan makhluk ini semuanya, dan Dia memulainya dengan hikmah dan menjadikan tujuan dan maksudnya adalah hikmah. Demikian pula perintah dan larangan diadakan dengan hikmah, serta tujuan dan maksudnya pun adalah hikmah. Maka Dia-lah Yang Mahabijaksana di dalam ciptaan dan perintahNya.
(28) Kemudian Dia menjelaskan keagungan dan kesempur-naan kekuasaanNya, dan bahwa ia tidak bisa dibayangkan oleh akal pikiran, seraya berfirman, ﴾ مَّا خَلۡقُكُمۡ وَلَا بَعۡثُكُمۡ إِلَّا كَنَفۡسٖ وَٰحِدَةٍۚ ﴿ "Ti-daklah Allah menciptakan dan membangkitkanmu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja," ini adalah sesuatu yang membingungkan akal, di mana bahwa penciptaan seluruh manusia yang begitu banyak dan pembang-kitan kembali mereka sesudah mati setelah mereka tercerai berai hanya dalam sekejap saja, sebagaimana Dia menciptakan satu jiwa. Maka tidak ada jalan untuk memungkiri kebangkitan, kehidupan kembali dan pembalasan terhadap amal perbuatan, kecuali karena kebodohan akan keagungan Allah dan kehebatan kekuasaanNya. Kemudian Dia menjelaskan keumuman (keuniversalan) pende-ngaranNya terhadap segala sesuatu yang bisa didengar, dan peng-lihatannya terhadap segala sesuatu yang bisa dilihat, seraya ber-firman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Luqman 31:29
"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap amal yang kamu kerja-kan. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil; dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Maha-besar." (Luqman: 29-30).
(29) Ini juga, di dalamnya terdapat (penjelasan tentang) keesaanNya dalam berbuat dan mengatur, serta keluasan wewe-nangNya dalam berbuat memasukkan malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam. Apabila salah satunya masuk, maka yang satu lagi hilang. Dan Dia menundukkan matahari dan bulan di mana keduanya berotasi (berjalan) dengan suatu aturan yang tidak pernah rusak semenjak penciptaan keduanya; untuk membangun berbagai kemaslahatan dan manfaat bagi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka yang dengannya mereka dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat. Dan ﴾ كُلّٞ ﴿ "masing-masing" dari keduanya ﴾ يَجۡرِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "berjalan sampai ke-pada waktu yang telah ditentukan," apabila waktu yang telah ditentu-kan itu tiba, maka berhentilah perjalanannya dan hilanglah ke-kuatan keduanya. Dan hal ini (terjadi) pada Hari Kiamat pada saat matahari digulung, bulan ditenggelamkan dan negeri dunia ber-akhir serta dimulainya negeri akhirat. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan bahwa Allah terhadap amal yang kamu kerjakan" yang baik ataupun yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak ada sesuatu pun yang ter-sembunyi dariNya, dan Dia akan memberikan pembalasan kepada kalian atas amal perbuatan kalian berupa pahala bagi orang-orang yang taat dan siksa bagi orang-orang yang durhaka.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang Dia jelaskan kepada kalian dari keagunganNya dan sifat-sifatNya itu adalah, ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq," pada Dzat dan sifat-sifatNya; dan agamaNya pun haq, para RasulNya haq, janjiNya haq, ancamanNya haq dan beribadah kepadaNya haq.﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "Dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil," pada dzat dan sifat-sifatnya. Kalau saja bukan penciptaan Allah padanya, tentu ia tidak akan pernah ada, dan kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu tidak akan ada yang tersisa darinya. Maka kalau ia batil (palsu) maka menyembahnya pun tentu lebil batil dan lebih batil lagi. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi," dengan DzatNya di atas seluruh makhlukNya, yang Mahatinggi sifat-sifatNya (Maha tidak mung-kin) kalau dianalogikan dengan sifat-sifat siapa pun di antara makh-lukNya, dan Dia Tinggi (menguasai) manusia dan mengendalikan mereka, ﴾ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang milikNya-lah kebesaran pada DzatNya dan sifat-sifatNya, dan milikNya-lah kebesaran di dalam jiwa penghuni langit dan bumi.
Luqman 31:30
"Tidakkah kamu memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan bahwa Allah Maha Mengetahui terhadap amal yang kamu kerja-kan. Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil; dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi lagi Maha-besar." (Luqman: 29-30).
(29) Ini juga, di dalamnya terdapat (penjelasan tentang) keesaanNya dalam berbuat dan mengatur, serta keluasan wewe-nangNya dalam berbuat memasukkan malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam. Apabila salah satunya masuk, maka yang satu lagi hilang. Dan Dia menundukkan matahari dan bulan di mana keduanya berotasi (berjalan) dengan suatu aturan yang tidak pernah rusak semenjak penciptaan keduanya; untuk membangun berbagai kemaslahatan dan manfaat bagi manusia dalam urusan agama dan dunia mereka yang dengannya mereka dapat mengambil pelajaran dan mengambil manfaat. Dan ﴾ كُلّٞ ﴿ "masing-masing" dari keduanya ﴾ يَجۡرِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ﴿ "berjalan sampai ke-pada waktu yang telah ditentukan," apabila waktu yang telah ditentu-kan itu tiba, maka berhentilah perjalanannya dan hilanglah ke-kuatan keduanya. Dan hal ini (terjadi) pada Hari Kiamat pada saat matahari digulung, bulan ditenggelamkan dan negeri dunia ber-akhir serta dimulainya negeri akhirat. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan bahwa Allah terhadap amal yang kamu kerjakan" yang baik ataupun yang buruk, ﴾ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui," tidak ada sesuatu pun yang ter-sembunyi dariNya, dan Dia akan memberikan pembalasan kepada kalian atas amal perbuatan kalian berupa pahala bagi orang-orang yang taat dan siksa bagi orang-orang yang durhaka.
(30) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang Dia jelaskan kepada kalian dari keagunganNya dan sifat-sifatNya itu adalah, ﴾ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang haq," pada Dzat dan sifat-sifatNya; dan agamaNya pun haq, para RasulNya haq, janjiNya haq, ancamanNya haq dan beribadah kepadaNya haq.﴾ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِ ٱلۡبَٰطِلُ ﴿ "Dan bahwasanya apa saja yang mereka seru selain dariNya itulah yang batil," pada dzat dan sifat-sifatnya. Kalau saja bukan penciptaan Allah padanya, tentu ia tidak akan pernah ada, dan kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu tidak akan ada yang tersisa darinya. Maka kalau ia batil (palsu) maka menyembahnya pun tentu lebil batil dan lebih batil lagi. ﴾ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Dan bahwa Allah Dia-lah Yang Mahatinggi," dengan DzatNya di atas seluruh makhlukNya, yang Mahatinggi sifat-sifatNya (Maha tidak mung-kin) kalau dianalogikan dengan sifat-sifat siapa pun di antara makh-lukNya, dan Dia Tinggi (menguasai) manusia dan mengendalikan mereka, ﴾ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang milikNya-lah kebesaran pada DzatNya dan sifat-sifatNya, dan milikNya-lah kebesaran di dalam jiwa penghuni langit dan bumi.
Luqman 31:31
"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkanNya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila me-reka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, lalu tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang menging-kari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar." (Luqman: 31-32).
(31) Maksudnya, tidakkah kamu melihat sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya, rahmatNya dan perhatianNya kepada hamba-hambaNya, yaitu menundukkan lautan, di mana kapal da-pat berlayar dengan perintahNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan kehalusan dan kebaikanNya, ﴾ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "supaya diperlihat-kanNya kepadamu sebagian dari tanda-tandaNya," karena di dalamnya terdapat manfaat dan pelajaran. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur," merekalah yang memanfaatkan ayat-ayat tersebut, ﴾ صَبَّارٖ ﴿ "yang sangat sabar," atas segala kesempitan, ﴾ شَكُورٖ ﴿ "lagi banyak bersyukur" atas segala kela-pangan. Penyabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan terhadap maksiat serta terhadap takdir-takdirNya, lagi penuh syukur kepada Allah atas segala nikmatNya yang bersifat duniawi dan yang ukhrawi.
(32) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi manusia pada saat mereka mengarungi lautan dan berkecamuknya ombak seperti gunung berada di atas mereka, yaitu mereka menuluskan doa dan ibadah hanya kepada Allah, ﴾ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ ﴿ "lalu tatkala Allah menyelamat-kan mereka sampai di daratan" mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok muqtashidah. Maksudnya, tidak bersyukur kepada Allah dengan sempurna, malah mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa dan zhalim terhadap diri mereka sendiri; dan satu kelompok lagi kafir terhadap nikmat Allah dan mengingkarinya. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ ﴿ "Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang mengkhianati," yaitu para pengkhianat. Di antara pengkhianatan-nya adalah bahwa sebelumnya dia telah berjanji kepada Allah, jika Engkau menyelamatkan kami dari lautan dan kesengsaraannya, maka kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur. Namun dia merusak janjinya dan dia tidak memenuhinya, ﴾ كَفُورٖ ﴿ "lagi ingkar" terhadap nikmat-nikmat Allah. Tidaklah pantas bagi orang yang telah diselamatkan oleh Allah dari kesengsaraan (kesempitan) itu melainkan tindakan penuh bersyukur atas nikmat-nikmatNya.
Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada manusia agar bertakwa kepadaNya, takwa yang berarti mematuhi perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, dan menarik perhatian mereka untuk takut kepada Hari Kiamat, yaitu hari yang sangat dahsyat yang pada saat itu setiap orang hanya sibuk dengan diri-nya sendiri, dan ﴾ لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ ﴿ "seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong," bapak-nya sedikit pun; tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya dan tidak pula bisa mengurangi dosa-dosanya, karena sesungguhnya setiap orang sudah selesai amalnya dan sudah pasti balasannya. Jadi, memalingkan pandangan kepada hari yang sangat mengeri-kan ini termasuk hal yang dapat menguatkan sang hamba dan me-mudahkan baginya untuk bertakwa kepada Allah. Ini merupakan bentuk rahmat Allah kepada hamba-hambaNya; Dia memerintah mereka agar bertakwa kepadaNya yang di dalamnya terdapat kebahagiaan mereka, dan menjanjikan pahala kepada mereka atas ketakwaannya, dan Dia mengingatkan mereka dari siksaanNya, membuat mereka takut kepadaNya dengan nasihat-nasihat dan hal-hal yang menakutkan. Maka segala puji bagiMu, wahai Rabb semesta alam. ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar," maka janganlah kalian meragukannya, dan janganlah kalian mengerjakan pekerjaan orang yang tidak membenarkan (janji). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu" karena keindahan, kemerge-lapan dan segala apa yang terdapat di dalamnya berupa fitnah dan cobaan. ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "Dan jangan pula penipu (setan) memper-dayakan kamu dalam (menaati) Allah," yaitu setan yang selalu menipu manusia dan tidak pernah melalaikannya sepanjang waktu. Yang demikian itu, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki hak atas hamba-hambaNya, dan Dia pun sudah menjanjikan kepada mereka suatu janji yang mana Dia akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal-amal perbuatan mereka, dan apakah mereka telah menunai-kan hakNya atau mengabaikannya? Ini adalah satu perkara yang wajib diperhatikan dan hendaklah dijadikan oleh seorang hamba sebagai pusat perhatiannya dan modal perniagaan yang diusaha-kannya. Dan di antara rintangan dan hambatan yang menghalangi-nya adalah dunia yang sangat menggiurkan dan setan yang selalu menggoda lagi berbisik. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى melarang hamba-hambaNya untuk tidak diperdaya oleh dunia atau ditipu oleh setan, ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkit-kan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An-Nisa`: 120).
Luqman 31:32
"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkanNya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur. Dan apabila me-reka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya, lalu tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, maka sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang menging-kari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang tidak setia lagi ingkar." (Luqman: 31-32).
(31) Maksudnya, tidakkah kamu melihat sebagian dari tanda-tanda kekuasaanNya, rahmatNya dan perhatianNya kepada hamba-hambaNya, yaitu menundukkan lautan, di mana kapal da-pat berlayar dengan perintahNya yang bersifat taqdiri (ketetapan) dan kehalusan dan kebaikanNya, ﴾ لِيُرِيَكُم مِّنۡ ءَايَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "supaya diperlihat-kanNya kepadamu sebagian dari tanda-tandaNya," karena di dalamnya terdapat manfaat dan pelajaran. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٖ ﴿ "Sesung-guhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur," merekalah yang memanfaatkan ayat-ayat tersebut, ﴾ صَبَّارٖ ﴿ "yang sangat sabar," atas segala kesempitan, ﴾ شَكُورٖ ﴿ "lagi banyak bersyukur" atas segala kela-pangan. Penyabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan terhadap maksiat serta terhadap takdir-takdirNya, lagi penuh syukur kepada Allah atas segala nikmatNya yang bersifat duniawi dan yang ukhrawi.
(32) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi manusia pada saat mereka mengarungi lautan dan berkecamuknya ombak seperti gunung berada di atas mereka, yaitu mereka menuluskan doa dan ibadah hanya kepada Allah, ﴾ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ ﴿ "lalu tatkala Allah menyelamat-kan mereka sampai di daratan" mereka terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok muqtashidah. Maksudnya, tidak bersyukur kepada Allah dengan sempurna, malah mereka adalah orang-orang yang melakukan dosa dan zhalim terhadap diri mereka sendiri; dan satu kelompok lagi kafir terhadap nikmat Allah dan mengingkarinya. Maka dari itu, Dia berfirman, ﴾ وَمَا يَجۡحَدُ بِـَٔايَٰتِنَآ إِلَّا كُلُّ خَتَّارٖ ﴿ "Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang mengkhianati," yaitu para pengkhianat. Di antara pengkhianatan-nya adalah bahwa sebelumnya dia telah berjanji kepada Allah, jika Engkau menyelamatkan kami dari lautan dan kesengsaraannya, maka kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur. Namun dia merusak janjinya dan dia tidak memenuhinya, ﴾ كَفُورٖ ﴿ "lagi ingkar" terhadap nikmat-nikmat Allah. Tidaklah pantas bagi orang yang telah diselamatkan oleh Allah dari kesengsaraan (kesempitan) itu melainkan tindakan penuh bersyukur atas nikmat-nikmatNya.
Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada manusia agar bertakwa kepadaNya, takwa yang berarti mematuhi perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, dan menarik perhatian mereka untuk takut kepada Hari Kiamat, yaitu hari yang sangat dahsyat yang pada saat itu setiap orang hanya sibuk dengan diri-nya sendiri, dan ﴾ لَّا يَجۡزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِۦ وَلَا مَوۡلُودٌ ﴿ "seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong," bapak-nya sedikit pun; tidak bisa menambah kebaikan-kebaikannya dan tidak pula bisa mengurangi dosa-dosanya, karena sesungguhnya setiap orang sudah selesai amalnya dan sudah pasti balasannya. Jadi, memalingkan pandangan kepada hari yang sangat mengeri-kan ini termasuk hal yang dapat menguatkan sang hamba dan me-mudahkan baginya untuk bertakwa kepada Allah. Ini merupakan bentuk rahmat Allah kepada hamba-hambaNya; Dia memerintah mereka agar bertakwa kepadaNya yang di dalamnya terdapat kebahagiaan mereka, dan menjanjikan pahala kepada mereka atas ketakwaannya, dan Dia mengingatkan mereka dari siksaanNya, membuat mereka takut kepadaNya dengan nasihat-nasihat dan hal-hal yang menakutkan. Maka segala puji bagiMu, wahai Rabb semesta alam. ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۖ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah adalah benar," maka janganlah kalian meragukannya, dan janganlah kalian mengerjakan pekerjaan orang yang tidak membenarkan (janji). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu" karena keindahan, kemerge-lapan dan segala apa yang terdapat di dalamnya berupa fitnah dan cobaan. ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "Dan jangan pula penipu (setan) memper-dayakan kamu dalam (menaati) Allah," yaitu setan yang selalu menipu manusia dan tidak pernah melalaikannya sepanjang waktu. Yang demikian itu, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki hak atas hamba-hambaNya, dan Dia pun sudah menjanjikan kepada mereka suatu janji yang mana Dia akan memberikan balasan kepada mereka sesuai dengan amal-amal perbuatan mereka, dan apakah mereka telah menunai-kan hakNya atau mengabaikannya? Ini adalah satu perkara yang wajib diperhatikan dan hendaklah dijadikan oleh seorang hamba sebagai pusat perhatiannya dan modal perniagaan yang diusaha-kannya. Dan di antara rintangan dan hambatan yang menghalangi-nya adalah dunia yang sangat menggiurkan dan setan yang selalu menggoda lagi berbisik. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى melarang hamba-hambaNya untuk tidak diperdaya oleh dunia atau ditipu oleh setan, ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkit-kan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (An-Nisa`: 120).
Luqman 31:33
"Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat meno-long anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong ba-paknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan pula penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah." (Luqman: 33).
Luqman 31:34
"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengeta-huan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakan-nya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Luqman: 34).
(34) Sudah pasti bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى, ilmu penge-tahuanNya meliputi apa-apa yang ghaib dan yang nampak, hal-hal yang lahir dan yang batin; dan kadang Allah سبحانه وتعالى memperlihatkan kepada hamba-hambaNya beberapa perkara-perkara ghaib. Se-dangkan perkara yang lima macam ini termasuk perkara-perkara yang ilmunya tersembunyi dari seluruh manusia. Ia tidak diketahui oleh seorang pun nabi yang diutus sebagai rasul dan tidak pula oleh seorang malaikat muqarrab (yang didekatkan), apalagi oleh yang lainnya. Maka Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat." Mak-sudnya, Dia mengetahui kapan terjadinya, sebagaimana yang di-firmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَاۖ قُلۡ إِنَّمَا عِلۡمُهَا عِندَ رَبِّيۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقۡتِهَآ إِلَّا هُوَۚ ثَقُلَتۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَا تَأۡتِيكُمۡ إِلَّا بَغۡتَةٗۗ ﴿ "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, 'Bilakah terjadi-nya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu keda-tangannya kecuali Dia.' Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makh-luk) yang di langit dan bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba." (Al-A'raf: 187). ﴾ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan," maksud-nya, hanya Dia semata yang bisa menurunkannya dan mengetahui waktu turunnya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا فِي ٱلۡأَرۡحَامِۖ ﴿ "dan mengetahui apa yang ada dalam rahim." Dia-lah yang menciptakan apa yang ada di dalam rahim, dan Dia mengetahui hakikatnya, apakah dia laki-laki ataukah pe-rempuan? Maka dari itu malaikat yang bertugas mengurusi rahim ber-tanya kepada Allah, هَلْ هُوَ ذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى؟ فَيَقْضِي اللّٰهُ مَا يَشَاءُ. "'Apakah janin ini laki-laki atau perempuan?' Lalu Allah memutus-kan apa yang dikehendakiNya."[51] ﴾ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ ﴿ "Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok," dari usaha dalam urusan agamanya dan urusan dunianya, ﴾ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ ﴿ "dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati." Tetapi hanya Allah sajalah yang mengetahui semua itu. Setelah Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan hal-hal tersebut (bagi diriNya), maka Dia menyatakan bahwa keluasan ilmuNya meliputi segala sesuatu, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Maha Mengenal." Dia meliputi segala sesuatu yang lahir, yang batin, yang tersembunyi, yang tersimpan, dan yang rahasia. Dan di antara hikmahNya yang sempurna adalah Dia merahasiakan lima perkara tersebut dari hamba-hambaNya, karena di dalamnya terkandung banyak maslahat yang sudah pasti tidak bisa diragukan lagi bagi siapa saja yang merenungkannya.
Selesailah tafsir Surat Luqman dengan berkat karunia dan pertolongan dari Allah, dan segala puji hanya bagi Allah.
As-Sajdah 32:1
"Alif Lam Mim. Turunnya al-Qur`an yang tidak ada keraguan padanya, dari Rabb semesta alam. Tetapi mengapa mereka me-ngatakan, 'Dia Muhammad mengada-adakannya.' Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk." (As-Sajdah: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya kitab suci al-Qur`an ini adalah diturunkan dari Rabb semesta alam, yang telah mengatur (dan membimbing) mereka dengan nikmat-nikmatNya. Dan di antara nikmat yang terbesar yang dengannya Dia mem-bimbing mereka adalah kitab suci al-Qur`an ini, yang di dalamnya terdapat segala yang dapat memperbaiki keadaan (dan kondisi) mereka dan menyempurnakan akhlak mereka, dan bahwa sesung-guhnya tiada keraguan sedikit pun di dalamnya.
(3) Sekalipun demikian, orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mereka zhalim dalam hal ini berkata, "Ia dibuat-buat oleh Muhammad dan diada-adakannya dari dirinya sendiri!" Ini tentu merupakan kelancangan terbesar untuk mengingkari kalamullah dan menuduh Muhammad dengan kedustaan yang pa-ling besar (serta menganggap) makhluk mempunyai kemampuan mengeluarkan kalam sebagaimana kalam dari Sang Pencipta. Ma-sing-masing dari salah satu perbuatan ini termasuk perkara yang sangat besar. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah orang yang mengata-kan, "Dia telah membuat-buatnya," ﴾ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran," yang tidak akan dihampiri oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakangnya. Ia diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. ﴾ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dari Rabbmu," Dia menurunkannya sebagai rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "agar kamu mem-beri peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu." Maksudnya, mereka sedang dalam kondisi sangat membutuhkan diutusnya seorang rasul dan diturunkannya kitab suci, karena tidak adanya orang yang mem-berikan peringatan, bahkan mereka terombang-ambing di dalam kebodohan mereka, dan bimbang di dalam gelap kesesatan, maka dari itu Kami menurunkan kitab ini kepadamu, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ﴿ "mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk," dari kesesatan mereka, sehingga mereka mengetahui yang benar dan mengutamakannya. Semua hal yang disebutkan oleh Allah di atas, semuanya ber-lawanan dengan pendustaan mereka terhadapnya, dan sesungguh-nya ia menuntut mereka beriman dan membenarkan sepenuhnya padanya, yaitu keberadaannya berasal dari Rabb semesta alam, dan bahwa sesungguhnya ia benar, dan yang benar itu diterima bagaimana pun keadaannya, dan bahwa sesungguhnya ia sama sekali tidak mengandung keraguan dari sisi manapun, karena tidak ada di dalamnya yang mengharuskan keraguan, baik karena berita (informasi) yang tidak sesuai dengan realita ataupun karena kekeringan dan kesamaran makna-maknanya; dan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi sangat memerlukan dan membutuh-kan kepada risâlah (kerasulan) dan bahwa di dalamnya terdapat hidayah (petunjuk) bagi setiap kebaikan dan perbuatan baik.
As-Sajdah 32:2
"Alif Lam Mim. Turunnya al-Qur`an yang tidak ada keraguan padanya, dari Rabb semesta alam. Tetapi mengapa mereka me-ngatakan, 'Dia Muhammad mengada-adakannya.' Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk." (As-Sajdah: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya kitab suci al-Qur`an ini adalah diturunkan dari Rabb semesta alam, yang telah mengatur (dan membimbing) mereka dengan nikmat-nikmatNya. Dan di antara nikmat yang terbesar yang dengannya Dia mem-bimbing mereka adalah kitab suci al-Qur`an ini, yang di dalamnya terdapat segala yang dapat memperbaiki keadaan (dan kondisi) mereka dan menyempurnakan akhlak mereka, dan bahwa sesung-guhnya tiada keraguan sedikit pun di dalamnya.
(3) Sekalipun demikian, orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mereka zhalim dalam hal ini berkata, "Ia dibuat-buat oleh Muhammad dan diada-adakannya dari dirinya sendiri!" Ini tentu merupakan kelancangan terbesar untuk mengingkari kalamullah dan menuduh Muhammad dengan kedustaan yang pa-ling besar (serta menganggap) makhluk mempunyai kemampuan mengeluarkan kalam sebagaimana kalam dari Sang Pencipta. Ma-sing-masing dari salah satu perbuatan ini termasuk perkara yang sangat besar. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah orang yang mengata-kan, "Dia telah membuat-buatnya," ﴾ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran," yang tidak akan dihampiri oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakangnya. Ia diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. ﴾ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dari Rabbmu," Dia menurunkannya sebagai rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "agar kamu mem-beri peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu." Maksudnya, mereka sedang dalam kondisi sangat membutuhkan diutusnya seorang rasul dan diturunkannya kitab suci, karena tidak adanya orang yang mem-berikan peringatan, bahkan mereka terombang-ambing di dalam kebodohan mereka, dan bimbang di dalam gelap kesesatan, maka dari itu Kami menurunkan kitab ini kepadamu, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ﴿ "mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk," dari kesesatan mereka, sehingga mereka mengetahui yang benar dan mengutamakannya. Semua hal yang disebutkan oleh Allah di atas, semuanya ber-lawanan dengan pendustaan mereka terhadapnya, dan sesungguh-nya ia menuntut mereka beriman dan membenarkan sepenuhnya padanya, yaitu keberadaannya berasal dari Rabb semesta alam, dan bahwa sesungguhnya ia benar, dan yang benar itu diterima bagaimana pun keadaannya, dan bahwa sesungguhnya ia sama sekali tidak mengandung keraguan dari sisi manapun, karena tidak ada di dalamnya yang mengharuskan keraguan, baik karena berita (informasi) yang tidak sesuai dengan realita ataupun karena kekeringan dan kesamaran makna-maknanya; dan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi sangat memerlukan dan membutuh-kan kepada risâlah (kerasulan) dan bahwa di dalamnya terdapat hidayah (petunjuk) bagi setiap kebaikan dan perbuatan baik.
As-Sajdah 32:3
"Alif Lam Mim. Turunnya al-Qur`an yang tidak ada keraguan padanya, dari Rabb semesta alam. Tetapi mengapa mereka me-ngatakan, 'Dia Muhammad mengada-adakannya.' Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran dari Rabbmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk." (As-Sajdah: 1-3).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya kitab suci al-Qur`an ini adalah diturunkan dari Rabb semesta alam, yang telah mengatur (dan membimbing) mereka dengan nikmat-nikmatNya. Dan di antara nikmat yang terbesar yang dengannya Dia mem-bimbing mereka adalah kitab suci al-Qur`an ini, yang di dalamnya terdapat segala yang dapat memperbaiki keadaan (dan kondisi) mereka dan menyempurnakan akhlak mereka, dan bahwa sesung-guhnya tiada keraguan sedikit pun di dalamnya.
(3) Sekalipun demikian, orang-orang yang mendustakan Rasulullah dan mereka zhalim dalam hal ini berkata, "Ia dibuat-buat oleh Muhammad dan diada-adakannya dari dirinya sendiri!" Ini tentu merupakan kelancangan terbesar untuk mengingkari kalamullah dan menuduh Muhammad dengan kedustaan yang pa-ling besar (serta menganggap) makhluk mempunyai kemampuan mengeluarkan kalam sebagaimana kalam dari Sang Pencipta. Ma-sing-masing dari salah satu perbuatan ini termasuk perkara yang sangat besar. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah orang yang mengata-kan, "Dia telah membuat-buatnya," ﴾ بَلۡ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Sebenarnya al-Qur`an itu adalah kebenaran," yang tidak akan dihampiri oleh kebatilan dari depan ataupun dari belakangnya. Ia diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. ﴾ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Dari Rabbmu," Dia menurunkannya sebagai rahmat bagi hamba-hambaNya, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أَتَىٰهُم مِّن نَّذِيرٖ مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "agar kamu mem-beri peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu." Maksudnya, mereka sedang dalam kondisi sangat membutuhkan diutusnya seorang rasul dan diturunkannya kitab suci, karena tidak adanya orang yang mem-berikan peringatan, bahkan mereka terombang-ambing di dalam kebodohan mereka, dan bimbang di dalam gelap kesesatan, maka dari itu Kami menurunkan kitab ini kepadamu, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ﴿ "mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk," dari kesesatan mereka, sehingga mereka mengetahui yang benar dan mengutamakannya. Semua hal yang disebutkan oleh Allah di atas, semuanya ber-lawanan dengan pendustaan mereka terhadapnya, dan sesungguh-nya ia menuntut mereka beriman dan membenarkan sepenuhnya padanya, yaitu keberadaannya berasal dari Rabb semesta alam, dan bahwa sesungguhnya ia benar, dan yang benar itu diterima bagaimana pun keadaannya, dan bahwa sesungguhnya ia sama sekali tidak mengandung keraguan dari sisi manapun, karena tidak ada di dalamnya yang mengharuskan keraguan, baik karena berita (informasi) yang tidak sesuai dengan realita ataupun karena kekeringan dan kesamaran makna-maknanya; dan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi sangat memerlukan dan membutuh-kan kepada risâlah (kerasulan) dan bahwa di dalamnya terdapat hidayah (petunjuk) bagi setiap kebaikan dan perbuatan baik.
As-Sajdah 32:4
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:5
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:6
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:7
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:8
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:9
"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun dan tidak pula seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. Yang demikian itu ialah Dzat Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Mahaperkasa lagi Maha Penya-yang, Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemu-dian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: 4-9).
(4) Allah سبحانه وتعالى memberitakan tentang kesempurnaan kekua-saanNya dengan menciptakan langit dan bumi dalam enam hari. Awal mulanya adalah Hari Ahad dan terakhir adalah Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya Dia mampu menciptakannya hanya dalam sekejap waktu, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى Maha Pengasih lagi Mahabi-jaksana. ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy," yang merupakan atap seluruh makhluk, sebagai suatu tindakan bersemayam yang sesuai dengan keagunganNya. ﴾ مَا لَكُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَلِيّٖ ﴿ "Tidak ada bagi kamu selain dariNya seorang penolong pun" yang meno-long kalian dalam segala urusan kalian, kemudian Dia memberikan kepada kalian manfaat. ﴾ وَلَا شَفِيعٍۚ ﴿ "Dan tidak pula seorang pemberi syafa'at," yang bisa memberikan syafa'at kepada kalian jika siksaan diarahkan kepada kalian. ﴾ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak mem-perhatikan?" Lalu kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Pencipta bumi dan langit, yang bersemayan di atas Arasy yang agung, yang hanya Dia semata yang mengurusi kalian dan melindungi kalian, dan hanya milikNya-lah semua syafa'at, Dia-lah yang berhak men-dapatkan segala macam bentuk ibadah!
(5) ﴾ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ ﴿ "Dia mengatur urusan" yang bersifat taqdiri dan urusan yang bersifat syar'i, semuanya Dia-lah semata yang Esa mengaturnya, pengaturan-pengaturan semua itu turun dari sisi Dzat Yang Maharaja lagi Mahakuasa, ﴾ مِنَ ٱلسَّمَآءِ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dari langit ke bumi," lalu dengannya Dia membahagiakan dan menyengsarakan, menjadikan kaya dan menjadikan fakir, memuliakan dan menghina-kan, menjadikan terhormat dan menjadikan terhina, mengangkat derajat suatu kaum dan menggugurkan martabat yang lain, dan Dia menurunkan rizki, ﴾ ثُمَّ يَعۡرُجُ إِلَيۡهِ ﴿ "kemudian ia (urusan itu) naik kepadaNya" Maksudnya, perintah (urusan) turun dari sisiNya dan naik kepadaNya, ﴾ فِي يَوۡمٖ كَانَ مِقۡدَارُهُۥٓ أَلۡفَ سَنَةٖ مِّمَّا تَعُدُّونَ ﴿ "dalam satu hari yang kadar lamanya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu," ia naik kepadaNya dan sampai kepadaNya dalam sesaat.
(6) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu" yang telah menciptakan makh-luk-makhluk yang sangat agung itu, yang bersemayam di atas Arasy yang agung dan sendirian mengatur dan mengurus segala urusan dalam kerajaanNya, ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ٱلۡعَزِيزُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "ialah Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dzat Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang," maka dengan keluasan ilmuNya, kesempurnaan keperkasaanNya, keuniversalan rahmatNya, Dia mengadakannya dan meletakkan padanya berbagai manfaat sebanyak-banyaknya, dan sama sekali tidak sulit bagiNya mengurusinya.
(7) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ ﴿ "Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya." Maksudnya, setiap makhluk diciptakan oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menciptakannya sebaik-baiknya, dan Dia menciptakannya dengan penciptaan yang sesuai dengannya dan serasi dengannya. Ini berlaku umum. Kemudian Dia menyebutkan secara khusus (penciptaan) manusia karena ke-muliaan dan kelebihannya, seraya berfirman, ﴾ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ﴿ "Dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah," yaitu dengan menciptakan Adam عليه السلام, bapak seluruh umat manusia.
(8) ﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan keturunannya," anak keturunan Adam yang tumbuh berkembang ﴾ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ﴿ "dari saripati air yang hina" yaitu mani yang menjijikkan lagi sangat lemah.
(9) ﴾ ثُمَّ سَوَّىٰهُ ﴿ "Kemudian Dia menyempurnakannya," dengan dagingnya, anggota-anggota tubuhnya, otot-ototnya, pembuluh-pembuluh darahnya, memperindah ciptaannya, dan menempatkan setiap anggota badan darinya pada tempat yang tidak layak untuk selain itu, ﴾ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ ﴿ "dan meniupkan ke dalamnya dari ruhNya" dengan cara mengutus seorang malaikat, lalu dia meniupkan ruh padanya, maka dia pun menjadi hewan (makhluk hidup) dengan izin Allah, setelah sebelumnya merupakan benda mati,﴾ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ ﴿ "dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan," maksudnya, Dia terus menganugerahkan kepada kalian berbagai hal yang berguna sedikit demi sedikit hingga menganugerahkan kalian pendengaran dan penglihatan, ﴾ وَٱلۡأَفۡـِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan hati; tetapi kamu sedikit sekali bersyukur" kepada yang telah menciptakan kalian dan memberi rupa kepada kalian.
As-Sajdah 32:10
"Dan mereka berkata, 'Apakah bila kami telah lenyap di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?' Bahkan mereka terhadap pertemuan dengan Rabbnya meng-ingkari. Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Rabb-mulah kamu akan dikembalikan." (As-Sajdah: 10-11).
(10) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan kebang-kitan berkata dengan nada mengingkari, ﴾ أَءِذَا ضَلَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah bila kami telah lenyap di dalam tanah," maksudnya, kami telah hancur, tercabik-cabik dan tercerai berai di beberapa tempat yang tidak diketahui, ﴾ أَءِنَّا لَفِي خَلۡقٖ جَدِيدِۭۚ ﴿ "apakah kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?" Maksudnya, kami benar-benar dibangkitkan kembali dalam kehidupan yang baru? Menurut anggapan mereka hal ini merupakan sesuatu yang sangat tidak mungkin! Hal itu karena mereka menganalogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan mereka. Perkataan mereka ini sebenarnya bukan dalam rangka mencari kebenaran, akan tetapi sebenarnya hanyalah (se-buah) kezhaliman, sikap keras kepala, ingkar dan kekafiran ter-hadap perjumpaan dengan Allah, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Bahkan mereka terhadap pertemuan dengan Rabbnya mengingkari." Jadi, perkataan mereka diketahui darimana sumber-nya dan tujuannya. Dan jika tidak demikian, maka kalau sekiranya tujuan mereka adalah menjelaskan yang benar, niscaya benar-benar Dia menjelaskan kepada mereka berbagai dalil yang akurat (pasti) yang menunjukkan bahwa semua itu benar, hal yang menjadikan-nya dapat disaksikan oleh mata hati, tak ubahnya seperti matahari bagi pandangan mata; dan sudah cukup bagi mereka bahwa se-sungguhnya mereka sudah tahu bahwa mereka telah diadakan pada awalnya dari ketiadaan. Maka "mengulangi (penciptaan)" itu lebih mudah daripada "memulai". Dan demikian pula tanah yang mati (tandus), Allah menurunkan hujan di atasnya, lalu tanah itu pun menjadi hidup (subur) setelah (sebelumnya) ia mati, dan de-ngannya Allah menumbuhkan berbagai macam biji-bijian.
(11) ﴾ قُلۡ يَتَوَفَّىٰكُم مَّلَكُ ٱلۡمَوۡتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu'." Mak-sudnya, malaikat yang telah ditugaskan oleh Allah untuk mencabut ruh, dan ia mempunyai banyak malaikat pembantu, ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ﴿ "kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan." Lalu Allah memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan amal per-buatan kalian; dan kalian telah mengingkari kebangkitan, maka tunggulah apa yang dilakukan Allah terhadap kalian.
As-Sajdah 32:11
"Dan mereka berkata, 'Apakah bila kami telah lenyap di dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?' Bahkan mereka terhadap pertemuan dengan Rabbnya meng-ingkari. Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Rabb-mulah kamu akan dikembalikan." (As-Sajdah: 10-11).
(10) Maksudnya, orang-orang yang mendustakan kebang-kitan berkata dengan nada mengingkari, ﴾ أَءِذَا ضَلَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Apakah bila kami telah lenyap di dalam tanah," maksudnya, kami telah hancur, tercabik-cabik dan tercerai berai di beberapa tempat yang tidak diketahui, ﴾ أَءِنَّا لَفِي خَلۡقٖ جَدِيدِۭۚ ﴿ "apakah kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?" Maksudnya, kami benar-benar dibangkitkan kembali dalam kehidupan yang baru? Menurut anggapan mereka hal ini merupakan sesuatu yang sangat tidak mungkin! Hal itu karena mereka menganalogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan mereka. Perkataan mereka ini sebenarnya bukan dalam rangka mencari kebenaran, akan tetapi sebenarnya hanyalah (se-buah) kezhaliman, sikap keras kepala, ingkar dan kekafiran ter-hadap perjumpaan dengan Allah, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Bahkan mereka terhadap pertemuan dengan Rabbnya mengingkari." Jadi, perkataan mereka diketahui darimana sumber-nya dan tujuannya. Dan jika tidak demikian, maka kalau sekiranya tujuan mereka adalah menjelaskan yang benar, niscaya benar-benar Dia menjelaskan kepada mereka berbagai dalil yang akurat (pasti) yang menunjukkan bahwa semua itu benar, hal yang menjadikan-nya dapat disaksikan oleh mata hati, tak ubahnya seperti matahari bagi pandangan mata; dan sudah cukup bagi mereka bahwa se-sungguhnya mereka sudah tahu bahwa mereka telah diadakan pada awalnya dari ketiadaan. Maka "mengulangi (penciptaan)" itu lebih mudah daripada "memulai". Dan demikian pula tanah yang mati (tandus), Allah menurunkan hujan di atasnya, lalu tanah itu pun menjadi hidup (subur) setelah (sebelumnya) ia mati, dan de-ngannya Allah menumbuhkan berbagai macam biji-bijian.
(11) ﴾ قُلۡ يَتَوَفَّىٰكُم مَّلَكُ ٱلۡمَوۡتِ ٱلَّذِي وُكِّلَ بِكُمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Malaikat maut yang diserahi untuk mencabut nyawamu akan mematikan kamu'." Mak-sudnya, malaikat yang telah ditugaskan oleh Allah untuk mencabut ruh, dan ia mempunyai banyak malaikat pembantu, ﴾ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ﴿ "kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan." Lalu Allah memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan amal per-buatan kalian; dan kalian telah mengingkari kebangkitan, maka tunggulah apa yang dilakukan Allah terhadap kalian.
As-Sajdah 32:12
"Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, 'Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.' Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya, akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu. Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka kalian rasailah disebabkan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini; sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula dan rasakanlah siksa yang kekal, di-sebabkan amal yang selalu kamu kerjakan." (As-Sajdah: 12-14).
(12) Setelah Allah menjelaskan kepulangan mereka kepada-Nya pada Hari Kiamat nanti, Dia menjelaskan kondisi mereka di saat menghadap di hadapanNya, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu," maksudnya, orang-orang yang terus melakukan dosa-dosa besar itu, ﴾ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya" dengan tunduk, patuh dan hina, sambil meng-akui dosa-dosa mereka[52] lagi memohon agar dikembalikan ke dunia, seraya mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar." Maksudnya, permasalahan sudah jelas sekarang bagi kami, dan kami pun telah melihatnya dengan mata kepala kami, hingga menjadi pandangan yang sangat meyakinkan,﴾ فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ﴿ "maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." Mak-sudnya, kami sekarang sudah mempunyai keyakinan dengan sesuatu yang dahulu kami pernah dustakan. Maksudnya, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan dan kondisi yang sangat menakutkan, orang-orang yang merugi dan permo-honan yang tidak pernah dikabulkan, karena waktu penangguhan sudah berlalu.
(13) Semua ini terjadi berdasarkan keputusan Allah dan takdirNya, yang mana Dia telah membiarkan mereka melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. Maka dari itu, Dia berfirman,﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَأٓتَيۡنَا كُلَّ نَفۡسٍ هُدَىٰهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya." Maksudnya, niscaya Kami memberi petunjuk kepada manusia semuanya, dan Kami himpun mereka berpegang teguh kepada petunjuk, sebab kehendak (ma-syi`ah) Kami layak untuk itu, akan tetapi hikmah (kebijaksanaan) itu tidak menghendaki kalau mereka semua berpegang teguh pada petunjuk (hidayah). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ مِنِّي ﴿ "Akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu" maksudnya, telah menjadi wajib pasti dengan kepastian yang tidak akan ada perubahan padanya, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama." Ini adalah ancaman yang pasti, dan tidak akan bisa lari darinya, maka harus ditegaskan penyebabnya, yaitu kekafiran dan maksiat.
(14) ﴾ فَذُوقُواْ بِمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَآ ﴿ "Maka kalian rasailah disebab-kan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini." Maksudnya, akan dikatakan kepada para pelaku dosa yang telah diselimuti oleh rasa hina dan memohon supaya dikembalikan lagi ke dunia untuk mendapatkan apa yang telah terlewatkan, "Sesungguhnya waktu kembali sudah lewat, tidak ada lagi yang tersisa kecuali azab. Maka rasakanlah azab yang sangat perih disebabkan kalian melupakan pertemuan dengan hari ini." Lupa di sini adalah lupa dalam arti mengabaikan. Maksudnya, disebabkan sesuatu yang kalian berpa-ling darinya, dan kalian tidak beramal untuknya, dan seakan-akan kalian tidak akan pernah datang kepadanya dan tidak akan men-jumpainya. ﴾ إِنَّا نَسِينَٰكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula," maksudnya, Kami tinggalkan kalian dengan siksaan sebagai ba-lasan atas perbuatan kalian. Maka karena kalian melupakan, Kami pun melupakan kalian, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "dan rasakanlah siksa yang kekal," yaitu siksaan yang tiada hentinya. Sebab, suatu siksaan, kalau mempunyai batas waktu dan akhirannya, maka di situ terdapat se-dikit waktu untuk bernafas dan keringanan. Adapun siksa Neraka Jahanam, –semoga Allah melindungi kita darinya–, maka tidak ada sedikit waktu pun untuk istirahat dan tidak akan pernah ada hentinya bagi siksaan mereka di dalamnya; ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "disebab-kan amal yang selalu kamu kerjakan," yaitu kekafiran, kefasikan, dan berbagai maksiat.
As-Sajdah 32:13
"Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, 'Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.' Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya, akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu. Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka kalian rasailah disebabkan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini; sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula dan rasakanlah siksa yang kekal, di-sebabkan amal yang selalu kamu kerjakan." (As-Sajdah: 12-14).
(12) Setelah Allah menjelaskan kepulangan mereka kepada-Nya pada Hari Kiamat nanti, Dia menjelaskan kondisi mereka di saat menghadap di hadapanNya, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu," maksudnya, orang-orang yang terus melakukan dosa-dosa besar itu, ﴾ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya" dengan tunduk, patuh dan hina, sambil meng-akui dosa-dosa mereka[52] lagi memohon agar dikembalikan ke dunia, seraya mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar." Maksudnya, permasalahan sudah jelas sekarang bagi kami, dan kami pun telah melihatnya dengan mata kepala kami, hingga menjadi pandangan yang sangat meyakinkan,﴾ فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ﴿ "maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." Mak-sudnya, kami sekarang sudah mempunyai keyakinan dengan sesuatu yang dahulu kami pernah dustakan. Maksudnya, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan dan kondisi yang sangat menakutkan, orang-orang yang merugi dan permo-honan yang tidak pernah dikabulkan, karena waktu penangguhan sudah berlalu.
(13) Semua ini terjadi berdasarkan keputusan Allah dan takdirNya, yang mana Dia telah membiarkan mereka melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. Maka dari itu, Dia berfirman,﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَأٓتَيۡنَا كُلَّ نَفۡسٍ هُدَىٰهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya." Maksudnya, niscaya Kami memberi petunjuk kepada manusia semuanya, dan Kami himpun mereka berpegang teguh kepada petunjuk, sebab kehendak (ma-syi`ah) Kami layak untuk itu, akan tetapi hikmah (kebijaksanaan) itu tidak menghendaki kalau mereka semua berpegang teguh pada petunjuk (hidayah). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ مِنِّي ﴿ "Akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu" maksudnya, telah menjadi wajib pasti dengan kepastian yang tidak akan ada perubahan padanya, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama." Ini adalah ancaman yang pasti, dan tidak akan bisa lari darinya, maka harus ditegaskan penyebabnya, yaitu kekafiran dan maksiat.
(14) ﴾ فَذُوقُواْ بِمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَآ ﴿ "Maka kalian rasailah disebab-kan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini." Maksudnya, akan dikatakan kepada para pelaku dosa yang telah diselimuti oleh rasa hina dan memohon supaya dikembalikan lagi ke dunia untuk mendapatkan apa yang telah terlewatkan, "Sesungguhnya waktu kembali sudah lewat, tidak ada lagi yang tersisa kecuali azab. Maka rasakanlah azab yang sangat perih disebabkan kalian melupakan pertemuan dengan hari ini." Lupa di sini adalah lupa dalam arti mengabaikan. Maksudnya, disebabkan sesuatu yang kalian berpa-ling darinya, dan kalian tidak beramal untuknya, dan seakan-akan kalian tidak akan pernah datang kepadanya dan tidak akan men-jumpainya. ﴾ إِنَّا نَسِينَٰكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula," maksudnya, Kami tinggalkan kalian dengan siksaan sebagai ba-lasan atas perbuatan kalian. Maka karena kalian melupakan, Kami pun melupakan kalian, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "dan rasakanlah siksa yang kekal," yaitu siksaan yang tiada hentinya. Sebab, suatu siksaan, kalau mempunyai batas waktu dan akhirannya, maka di situ terdapat se-dikit waktu untuk bernafas dan keringanan. Adapun siksa Neraka Jahanam, –semoga Allah melindungi kita darinya–, maka tidak ada sedikit waktu pun untuk istirahat dan tidak akan pernah ada hentinya bagi siksaan mereka di dalamnya; ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "disebab-kan amal yang selalu kamu kerjakan," yaitu kekafiran, kefasikan, dan berbagai maksiat.
As-Sajdah 32:14
"Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya, 'Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.' Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya, akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu. Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka kalian rasailah disebabkan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini; sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula dan rasakanlah siksa yang kekal, di-sebabkan amal yang selalu kamu kerjakan." (As-Sajdah: 12-14).
(12) Setelah Allah menjelaskan kepulangan mereka kepada-Nya pada Hari Kiamat nanti, Dia menjelaskan kondisi mereka di saat menghadap di hadapanNya, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Dan (alangkah ngerinya) jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu," maksudnya, orang-orang yang terus melakukan dosa-dosa besar itu, ﴾ نَاكِسُواْ رُءُوسِهِمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "menundukkan kepalanya di hadapan Rabbnya" dengan tunduk, patuh dan hina, sambil meng-akui dosa-dosa mereka[52] lagi memohon agar dikembalikan ke dunia, seraya mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَبۡصَرۡنَا وَسَمِعۡنَا ﴿ "Ya Rabb kami, kami telah melihat dan mendengar." Maksudnya, permasalahan sudah jelas sekarang bagi kami, dan kami pun telah melihatnya dengan mata kepala kami, hingga menjadi pandangan yang sangat meyakinkan,﴾ فَٱرۡجِعۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا إِنَّا مُوقِنُونَ ﴿ "maka kembalikanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal shalih, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin." Mak-sudnya, kami sekarang sudah mempunyai keyakinan dengan sesuatu yang dahulu kami pernah dustakan. Maksudnya, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan dan kondisi yang sangat menakutkan, orang-orang yang merugi dan permo-honan yang tidak pernah dikabulkan, karena waktu penangguhan sudah berlalu.
(13) Semua ini terjadi berdasarkan keputusan Allah dan takdirNya, yang mana Dia telah membiarkan mereka melakukan kekafiran dan berbagai maksiat. Maka dari itu, Dia berfirman,﴾ وَلَوۡ شِئۡنَا لَأٓتَيۡنَا كُلَّ نَفۡسٍ هُدَىٰهَا ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuknya." Maksudnya, niscaya Kami memberi petunjuk kepada manusia semuanya, dan Kami himpun mereka berpegang teguh kepada petunjuk, sebab kehendak (ma-syi`ah) Kami layak untuk itu, akan tetapi hikmah (kebijaksanaan) itu tidak menghendaki kalau mereka semua berpegang teguh pada petunjuk (hidayah). Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ مِنِّي ﴿ "Akan tetapi telah tetaplah perkataan dariKu" maksudnya, telah menjadi wajib pasti dengan kepastian yang tidak akan ada perubahan padanya, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ ﴿ "Sesungguhnya akan Aku penuhi Neraka Jahanam itu dengan jin dan manusia bersama-sama." Ini adalah ancaman yang pasti, dan tidak akan bisa lari darinya, maka harus ditegaskan penyebabnya, yaitu kekafiran dan maksiat.
(14) ﴾ فَذُوقُواْ بِمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَآ ﴿ "Maka kalian rasailah disebab-kan kalian melupakan akan pertemuan dengan harimu ini." Maksudnya, akan dikatakan kepada para pelaku dosa yang telah diselimuti oleh rasa hina dan memohon supaya dikembalikan lagi ke dunia untuk mendapatkan apa yang telah terlewatkan, "Sesungguhnya waktu kembali sudah lewat, tidak ada lagi yang tersisa kecuali azab. Maka rasakanlah azab yang sangat perih disebabkan kalian melupakan pertemuan dengan hari ini." Lupa di sini adalah lupa dalam arti mengabaikan. Maksudnya, disebabkan sesuatu yang kalian berpa-ling darinya, dan kalian tidak beramal untuknya, dan seakan-akan kalian tidak akan pernah datang kepadanya dan tidak akan men-jumpainya. ﴾ إِنَّا نَسِينَٰكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu pula," maksudnya, Kami tinggalkan kalian dengan siksaan sebagai ba-lasan atas perbuatan kalian. Maka karena kalian melupakan, Kami pun melupakan kalian, ﴾ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "dan rasakanlah siksa yang kekal," yaitu siksaan yang tiada hentinya. Sebab, suatu siksaan, kalau mempunyai batas waktu dan akhirannya, maka di situ terdapat se-dikit waktu untuk bernafas dan keringanan. Adapun siksa Neraka Jahanam, –semoga Allah melindungi kita darinya–, maka tidak ada sedikit waktu pun untuk istirahat dan tidak akan pernah ada hentinya bagi siksaan mereka di dalamnya; ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "disebab-kan amal yang selalu kamu kerjakan," yaitu kekafiran, kefasikan, dan berbagai maksiat.
As-Sajdah 32:15
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka me-nafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Tidak satu jiwa pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu sesuatu yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 15-17).
(15) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan (keadaan) orang-orang kafir terhadap ayat-ayatNya dan azab yang telah Dia siapkan untuk mereka, maka Dia menjelaskan tentang orang-orang yang beriman kepadanya, ciri mereka, dan pahala yang telah disediakan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami," yakni dengan iman yang hakiki, yaitu orang yang mempunyai tanda-tanda keimanan, dan mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ ﴿ "orang-orang yang apabila diperingatkan," de-ngan ayat-ayat Rabb (Allah), lalu dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur`an, dan mereka dihadapkan kepada nasihat-nasihat para utusan Allah serta diajak untuk menghayatinya, maka mereka menyimaknya lalu menerimanya dan mereka tunduk, s e r t a ﴾ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ ﴿ "mereka menyungkur sujud," maksudnya, patuh kepadanya dengan tunduk mengingat Allah dan gembira karena bisa menge-nalNya. ﴾ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ ﴿ "Dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri," tidak dengan hati mereka dan tidak pula dengan jasad mereka lalu enggan untuk tunduk kepada ayat-ayatNya. Bahkan mereka merendahkan diri terhadapnya, dan mereka menghadapinya dengan menerimanya, berserah diri dan meresponnya dengan lapang hati dan berserah diri. Mereka berupaya dengannya untuk meraih keridhaan Allah, Rabb yang Maha Penyayang, dan mereka menjadikannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.
(16) ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," maksudnya, punggung mereka jauh dan tidak betah dari tempat tidurnya yang empuk, beralih kepada sesuatu yang lebih lezat darinya dan lebih mereka cintai, yaitu shalat di keheningan malam dan bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka dari itu Dia berfir-man, ﴾ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Sedang mereka berdoa kepada Rabbnya," maksudnya, dalam mencari kebaikan agama dan dunia mereka, dan dalam menolak segala sesuatu yang bisa membahayakan keduanya,﴾ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا ﴿ "dengan rasa takut dan harap." Maksudnya, dengan memadu-kan antara dua sifat (rasa); takut kalau amal ibadah mereka ditolak dan sangat berharap agar diterima; takut akan azab Allah dan sangat mengharapkan pahalaNya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "dan dari sebagian apa yang Kami berikan kepada mereka," yaitu rizki yang sedikit atau banyak, ﴾ يُنفِقُونَ ﴿ "mereka menafkahkan." Di sini tidak disebutkan batasan nafkahnya dan tidak pula orang yang dinafkahi agar me-nunjukkan kepada makna umum (luas). Jadi masuk di dalamnya nafkah wajib, seperti zakat, membayar kaffarat, nafkah untuk istri dan kerabat dekat, dan nafkah yang dianjurkan dalam jalan-jalan kebaikan. Nafkah dan ihsan dalam bentuk harta itu baik secara mutlak, sama saja apakah jatuh kepada orang fakir atau orang kaya, kepada kerabat dekat atau kerabat jauh. Akan tetapi pahalanya tentu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kegunaannya. Inilah perbuatan (amal) mereka.
(17) Adapun balasan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ ﴿ "Tidak satu jiwa pun mengetahui," termasuk di dalamnya seluruh jiwa manusia, karena bentuk kata (nafs) di sini "nakirah" dalam kontek negatif (nafi). Maksudnya, maka tidak seorang pun yang tahu ﴾ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu yang menyedapkan pandangan mata," berupa kebaikan yang berlimpah, kenikmatan yang tercurah, kebahagiaan, kesenangan, kelezatan dan kesukaan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui lisan RasulNya, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. "Aku telah menyediakan untuk hamba-hambaKu yang shalih apa-apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terlintas dalam hati manusia."[53] Sebagaimana mereka shalat di keheningan malam dalam ber-doa, dan mereka menyembunyikan amal, maka Allah membalas mereka dengan balasan dari jenis amal mereka, dan Dia menyem-bunyikan pula pahala untuk mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka ker-jakan."
As-Sajdah 32:16
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka me-nafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Tidak satu jiwa pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu sesuatu yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 15-17).
(15) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan (keadaan) orang-orang kafir terhadap ayat-ayatNya dan azab yang telah Dia siapkan untuk mereka, maka Dia menjelaskan tentang orang-orang yang beriman kepadanya, ciri mereka, dan pahala yang telah disediakan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami," yakni dengan iman yang hakiki, yaitu orang yang mempunyai tanda-tanda keimanan, dan mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ ﴿ "orang-orang yang apabila diperingatkan," de-ngan ayat-ayat Rabb (Allah), lalu dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur`an, dan mereka dihadapkan kepada nasihat-nasihat para utusan Allah serta diajak untuk menghayatinya, maka mereka menyimaknya lalu menerimanya dan mereka tunduk, s e r t a ﴾ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ ﴿ "mereka menyungkur sujud," maksudnya, patuh kepadanya dengan tunduk mengingat Allah dan gembira karena bisa menge-nalNya. ﴾ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ ﴿ "Dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri," tidak dengan hati mereka dan tidak pula dengan jasad mereka lalu enggan untuk tunduk kepada ayat-ayatNya. Bahkan mereka merendahkan diri terhadapnya, dan mereka menghadapinya dengan menerimanya, berserah diri dan meresponnya dengan lapang hati dan berserah diri. Mereka berupaya dengannya untuk meraih keridhaan Allah, Rabb yang Maha Penyayang, dan mereka menjadikannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.
(16) ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," maksudnya, punggung mereka jauh dan tidak betah dari tempat tidurnya yang empuk, beralih kepada sesuatu yang lebih lezat darinya dan lebih mereka cintai, yaitu shalat di keheningan malam dan bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka dari itu Dia berfir-man, ﴾ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Sedang mereka berdoa kepada Rabbnya," maksudnya, dalam mencari kebaikan agama dan dunia mereka, dan dalam menolak segala sesuatu yang bisa membahayakan keduanya,﴾ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا ﴿ "dengan rasa takut dan harap." Maksudnya, dengan memadu-kan antara dua sifat (rasa); takut kalau amal ibadah mereka ditolak dan sangat berharap agar diterima; takut akan azab Allah dan sangat mengharapkan pahalaNya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "dan dari sebagian apa yang Kami berikan kepada mereka," yaitu rizki yang sedikit atau banyak, ﴾ يُنفِقُونَ ﴿ "mereka menafkahkan." Di sini tidak disebutkan batasan nafkahnya dan tidak pula orang yang dinafkahi agar me-nunjukkan kepada makna umum (luas). Jadi masuk di dalamnya nafkah wajib, seperti zakat, membayar kaffarat, nafkah untuk istri dan kerabat dekat, dan nafkah yang dianjurkan dalam jalan-jalan kebaikan. Nafkah dan ihsan dalam bentuk harta itu baik secara mutlak, sama saja apakah jatuh kepada orang fakir atau orang kaya, kepada kerabat dekat atau kerabat jauh. Akan tetapi pahalanya tentu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kegunaannya. Inilah perbuatan (amal) mereka.
(17) Adapun balasan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ ﴿ "Tidak satu jiwa pun mengetahui," termasuk di dalamnya seluruh jiwa manusia, karena bentuk kata (nafs) di sini "nakirah" dalam kontek negatif (nafi). Maksudnya, maka tidak seorang pun yang tahu ﴾ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu yang menyedapkan pandangan mata," berupa kebaikan yang berlimpah, kenikmatan yang tercurah, kebahagiaan, kesenangan, kelezatan dan kesukaan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui lisan RasulNya, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. "Aku telah menyediakan untuk hamba-hambaKu yang shalih apa-apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terlintas dalam hati manusia."[53] Sebagaimana mereka shalat di keheningan malam dalam ber-doa, dan mereka menyembunyikan amal, maka Allah membalas mereka dengan balasan dari jenis amal mereka, dan Dia menyem-bunyikan pula pahala untuk mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka ker-jakan."
As-Sajdah 32:17
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (kami), niscaya mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Rabbnya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka me-nafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Tidak satu jiwa pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu sesuatu yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka kerjakan." (As-Sajdah: 15-17).
(15) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan (keadaan) orang-orang kafir terhadap ayat-ayatNya dan azab yang telah Dia siapkan untuk mereka, maka Dia menjelaskan tentang orang-orang yang beriman kepadanya, ciri mereka, dan pahala yang telah disediakan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami," yakni dengan iman yang hakiki, yaitu orang yang mempunyai tanda-tanda keimanan, dan mereka adalah ﴾ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ ﴿ "orang-orang yang apabila diperingatkan," de-ngan ayat-ayat Rabb (Allah), lalu dibacakan kepada mereka ayat-ayat al-Qur`an, dan mereka dihadapkan kepada nasihat-nasihat para utusan Allah serta diajak untuk menghayatinya, maka mereka menyimaknya lalu menerimanya dan mereka tunduk, s e r t a ﴾ خَرُّواْۤ سُجَّدٗاۤ ﴿ "mereka menyungkur sujud," maksudnya, patuh kepadanya dengan tunduk mengingat Allah dan gembira karena bisa menge-nalNya. ﴾ وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ۩ ﴿ "Dan bertasbih serta memuji Rabb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri," tidak dengan hati mereka dan tidak pula dengan jasad mereka lalu enggan untuk tunduk kepada ayat-ayatNya. Bahkan mereka merendahkan diri terhadapnya, dan mereka menghadapinya dengan menerimanya, berserah diri dan meresponnya dengan lapang hati dan berserah diri. Mereka berupaya dengannya untuk meraih keridhaan Allah, Rabb yang Maha Penyayang, dan mereka menjadikannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.
(16) ﴾ تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ ﴿ "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," maksudnya, punggung mereka jauh dan tidak betah dari tempat tidurnya yang empuk, beralih kepada sesuatu yang lebih lezat darinya dan lebih mereka cintai, yaitu shalat di keheningan malam dan bermunajat kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka dari itu Dia berfir-man, ﴾ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ ﴿ "Sedang mereka berdoa kepada Rabbnya," maksudnya, dalam mencari kebaikan agama dan dunia mereka, dan dalam menolak segala sesuatu yang bisa membahayakan keduanya,﴾ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا ﴿ "dengan rasa takut dan harap." Maksudnya, dengan memadu-kan antara dua sifat (rasa); takut kalau amal ibadah mereka ditolak dan sangat berharap agar diterima; takut akan azab Allah dan sangat mengharapkan pahalaNya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ ﴿ "dan dari sebagian apa yang Kami berikan kepada mereka," yaitu rizki yang sedikit atau banyak, ﴾ يُنفِقُونَ ﴿ "mereka menafkahkan." Di sini tidak disebutkan batasan nafkahnya dan tidak pula orang yang dinafkahi agar me-nunjukkan kepada makna umum (luas). Jadi masuk di dalamnya nafkah wajib, seperti zakat, membayar kaffarat, nafkah untuk istri dan kerabat dekat, dan nafkah yang dianjurkan dalam jalan-jalan kebaikan. Nafkah dan ihsan dalam bentuk harta itu baik secara mutlak, sama saja apakah jatuh kepada orang fakir atau orang kaya, kepada kerabat dekat atau kerabat jauh. Akan tetapi pahalanya tentu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan kegunaannya. Inilah perbuatan (amal) mereka.
(17) Adapun balasan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ ﴿ "Tidak satu jiwa pun mengetahui," termasuk di dalamnya seluruh jiwa manusia, karena bentuk kata (nafs) di sini "nakirah" dalam kontek negatif (nafi). Maksudnya, maka tidak seorang pun yang tahu ﴾ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ ﴿ "apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu yang menyedapkan pandangan mata," berupa kebaikan yang berlimpah, kenikmatan yang tercurah, kebahagiaan, kesenangan, kelezatan dan kesukaan, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui lisan RasulNya, أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ. "Aku telah menyediakan untuk hamba-hambaKu yang shalih apa-apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pula didengar telinga dan tidak pula terlintas dalam hati manusia."[53] Sebagaimana mereka shalat di keheningan malam dalam ber-doa, dan mereka menyembunyikan amal, maka Allah membalas mereka dengan balasan dari jenis amal mereka, dan Dia menyem-bunyikan pula pahala untuk mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sebagai balasan terhadap amal yang telah mereka ker-jakan."
As-Sajdah 32:18
"Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang yang fasik. Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap amal yang telah me-reka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendusta-kannya'." (As-Sajdah: 18-20).
(18) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan kepada akal atas sesuatu yang telah dipastikannya, yaitu tidak ada kesamaan (antara) dua orang yang berbeda lagi bertentangan, dan bahwa sesungguhnya kebijak-sanaanNya mengharuskan ketidaksamaan keduanya, seraya ber-firman, ﴾ أَفَمَن كَانَ مُؤۡمِنٗا ﴿ "Maka apakah orang yang beriman," yang telah menghidupkan hatinya dengan iman, dan seluruh anggota tubuh-nya tunduk kepada syariat-syariatNya dan imannya menuntut jejak-jejaknya dan faktor yang mewajibkannya, yaitu meninggalkan segala hal yang dimurkai Allah, yang eksistensinya membahaya-kan imannya, ﴾ كَمَن كَانَ فَاسِقٗاۚ ﴿ "sama seperti orang yang fasik," yang hatinya rusak dan kosong dari iman, tidak ada kecenderungan agama di dalamnya, sehingga seluruh anggota tubuhnya mudah mewajibkan kebodohan dan kezhaliman pada setiap dosa dan maksiat, dan karena kefasikannya ia keluar dari ketaatan kepada Rabbnya. Apakah sama dua sosok manusia ini? ﴾ لَّا يَسۡتَوُۥنَ ﴿ "Mereka tidak sama," menurut akal maupun menurut agama, seperti tidak samanya malam dengan siang, cahaya dengan kegelapan, demikian pula tidak sama balasan untuk keduanya di akhirat.
(19) ﴾ أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih," yang fardhu dan yang sun-nah, ﴾ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman," maksudnya, surga-surga yang merupakan tempat segala kelezatan dan tempat tinggal segala kebaikan, tempat segala kegembiraan, kenikmatan hati, jiwa dan ruh, tempat keabadian, tempat berte-tangga dengan Maharaja Yang Berhak disembah, dan kenikmatan dekat dariNya, melihat WajahNya dan mendengarkan sapaanNya, ﴾ نُزُلَۢا ﴿ "sebagai pahala" untuk mereka. Maksudnya, sebagai jamuan dan hidangan tamu, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "terhadap amal yang telah mereka kerjakan." Amal perbuatan mereka (yang telah Allah karuniakan kepada mereka) itulah yang telah mengantar mereka kepada dera-jat-derajat yang sangat berharga lagi tinggi itu, yang tidak mungkin dicapai dengan mengorbankan harta, maupun dengan bala tentara, para pembantu dan tidak pula dengan anak-anak, dan bahkan tidak pula dengan jiwa dan ruh, serta tidak pula bisa mendekat kepadanya dengan sesuatu apa pun selain dengan iman dan amal shalih.
(20) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka," maksudnya, tempat tinggal mereka dan tempat keabadian mereka adalah neraka, yang men-cakup segala bentuk azab dan kesengsaraan, bahkan siksaan tidak dihentikan di dalamnya sesaat pun, ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalam-nya." Setiap kali kehendak mereka berbisik kepada mereka untuk keluar karena azab yang menimpa telah benar-benar mencapai puncaknya, maka mereka dikembalikan lagi kepadanya. Maka hilanglah dari mereka ruh keselamatan itu dan makin dahsyatlah kesengsaraan menimpa mereka, ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya'."
Demikianlah siksa neraka yang menjadi tempat tinggal dan kediaman mereka. Sedangkan azab yang terjadi sebelum itu dan sebagai pengantar (muqaddimah)nya adalah azab di alam barzakh. Azab ini disebutkan dalam FirmanNya,
As-Sajdah 32:19
"Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang yang fasik. Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap amal yang telah me-reka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendusta-kannya'." (As-Sajdah: 18-20).
(18) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan kepada akal atas sesuatu yang telah dipastikannya, yaitu tidak ada kesamaan (antara) dua orang yang berbeda lagi bertentangan, dan bahwa sesungguhnya kebijak-sanaanNya mengharuskan ketidaksamaan keduanya, seraya ber-firman, ﴾ أَفَمَن كَانَ مُؤۡمِنٗا ﴿ "Maka apakah orang yang beriman," yang telah menghidupkan hatinya dengan iman, dan seluruh anggota tubuh-nya tunduk kepada syariat-syariatNya dan imannya menuntut jejak-jejaknya dan faktor yang mewajibkannya, yaitu meninggalkan segala hal yang dimurkai Allah, yang eksistensinya membahaya-kan imannya, ﴾ كَمَن كَانَ فَاسِقٗاۚ ﴿ "sama seperti orang yang fasik," yang hatinya rusak dan kosong dari iman, tidak ada kecenderungan agama di dalamnya, sehingga seluruh anggota tubuhnya mudah mewajibkan kebodohan dan kezhaliman pada setiap dosa dan maksiat, dan karena kefasikannya ia keluar dari ketaatan kepada Rabbnya. Apakah sama dua sosok manusia ini? ﴾ لَّا يَسۡتَوُۥنَ ﴿ "Mereka tidak sama," menurut akal maupun menurut agama, seperti tidak samanya malam dengan siang, cahaya dengan kegelapan, demikian pula tidak sama balasan untuk keduanya di akhirat.
(19) ﴾ أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih," yang fardhu dan yang sun-nah, ﴾ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman," maksudnya, surga-surga yang merupakan tempat segala kelezatan dan tempat tinggal segala kebaikan, tempat segala kegembiraan, kenikmatan hati, jiwa dan ruh, tempat keabadian, tempat berte-tangga dengan Maharaja Yang Berhak disembah, dan kenikmatan dekat dariNya, melihat WajahNya dan mendengarkan sapaanNya, ﴾ نُزُلَۢا ﴿ "sebagai pahala" untuk mereka. Maksudnya, sebagai jamuan dan hidangan tamu, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "terhadap amal yang telah mereka kerjakan." Amal perbuatan mereka (yang telah Allah karuniakan kepada mereka) itulah yang telah mengantar mereka kepada dera-jat-derajat yang sangat berharga lagi tinggi itu, yang tidak mungkin dicapai dengan mengorbankan harta, maupun dengan bala tentara, para pembantu dan tidak pula dengan anak-anak, dan bahkan tidak pula dengan jiwa dan ruh, serta tidak pula bisa mendekat kepadanya dengan sesuatu apa pun selain dengan iman dan amal shalih.
(20) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka," maksudnya, tempat tinggal mereka dan tempat keabadian mereka adalah neraka, yang men-cakup segala bentuk azab dan kesengsaraan, bahkan siksaan tidak dihentikan di dalamnya sesaat pun, ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalam-nya." Setiap kali kehendak mereka berbisik kepada mereka untuk keluar karena azab yang menimpa telah benar-benar mencapai puncaknya, maka mereka dikembalikan lagi kepadanya. Maka hilanglah dari mereka ruh keselamatan itu dan makin dahsyatlah kesengsaraan menimpa mereka, ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya'."
Demikianlah siksa neraka yang menjadi tempat tinggal dan kediaman mereka. Sedangkan azab yang terjadi sebelum itu dan sebagai pengantar (muqaddimah)nya adalah azab di alam barzakh. Azab ini disebutkan dalam FirmanNya,
As-Sajdah 32:20
"Maka apakah orang yang beriman sama seperti orang yang fasik. Mereka tidak sama. Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap amal yang telah me-reka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka, setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalamnya, dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendusta-kannya'." (As-Sajdah: 18-20).
(18) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan kepada akal atas sesuatu yang telah dipastikannya, yaitu tidak ada kesamaan (antara) dua orang yang berbeda lagi bertentangan, dan bahwa sesungguhnya kebijak-sanaanNya mengharuskan ketidaksamaan keduanya, seraya ber-firman, ﴾ أَفَمَن كَانَ مُؤۡمِنٗا ﴿ "Maka apakah orang yang beriman," yang telah menghidupkan hatinya dengan iman, dan seluruh anggota tubuh-nya tunduk kepada syariat-syariatNya dan imannya menuntut jejak-jejaknya dan faktor yang mewajibkannya, yaitu meninggalkan segala hal yang dimurkai Allah, yang eksistensinya membahaya-kan imannya, ﴾ كَمَن كَانَ فَاسِقٗاۚ ﴿ "sama seperti orang yang fasik," yang hatinya rusak dan kosong dari iman, tidak ada kecenderungan agama di dalamnya, sehingga seluruh anggota tubuhnya mudah mewajibkan kebodohan dan kezhaliman pada setiap dosa dan maksiat, dan karena kefasikannya ia keluar dari ketaatan kepada Rabbnya. Apakah sama dua sosok manusia ini? ﴾ لَّا يَسۡتَوُۥنَ ﴿ "Mereka tidak sama," menurut akal maupun menurut agama, seperti tidak samanya malam dengan siang, cahaya dengan kegelapan, demikian pula tidak sama balasan untuk keduanya di akhirat.
(19) ﴾ أَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal-amal shalih," yang fardhu dan yang sun-nah, ﴾ فَلَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡمَأۡوَىٰ ﴿ "maka bagi mereka surga-surga tempat kediaman," maksudnya, surga-surga yang merupakan tempat segala kelezatan dan tempat tinggal segala kebaikan, tempat segala kegembiraan, kenikmatan hati, jiwa dan ruh, tempat keabadian, tempat berte-tangga dengan Maharaja Yang Berhak disembah, dan kenikmatan dekat dariNya, melihat WajahNya dan mendengarkan sapaanNya, ﴾ نُزُلَۢا ﴿ "sebagai pahala" untuk mereka. Maksudnya, sebagai jamuan dan hidangan tamu, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "terhadap amal yang telah mereka kerjakan." Amal perbuatan mereka (yang telah Allah karuniakan kepada mereka) itulah yang telah mengantar mereka kepada dera-jat-derajat yang sangat berharga lagi tinggi itu, yang tidak mungkin dicapai dengan mengorbankan harta, maupun dengan bala tentara, para pembantu dan tidak pula dengan anak-anak, dan bahkan tidak pula dengan jiwa dan ruh, serta tidak pula bisa mendekat kepadanya dengan sesuatu apa pun selain dengan iman dan amal shalih.
(20) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فَسَقُواْ فَمَأۡوَىٰهُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang fasik, maka tempat mereka adalah neraka," maksudnya, tempat tinggal mereka dan tempat keabadian mereka adalah neraka, yang men-cakup segala bentuk azab dan kesengsaraan, bahkan siksaan tidak dihentikan di dalamnya sesaat pun, ﴾ كُلَّمَآ أَرَادُوٓاْ أَن يَخۡرُجُواْ مِنۡهَآ أُعِيدُواْ فِيهَا ﴿ "setiap kali mereka hendak keluar darinya, mereka dikembalikan lagi ke dalam-nya." Setiap kali kehendak mereka berbisik kepada mereka untuk keluar karena azab yang menimpa telah benar-benar mencapai puncaknya, maka mereka dikembalikan lagi kepadanya. Maka hilanglah dari mereka ruh keselamatan itu dan makin dahsyatlah kesengsaraan menimpa mereka, ﴾ وَقِيلَ لَهُمۡ ذُوقُواْ عَذَابَ ٱلنَّارِ ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تُكَذِّبُونَ ﴿ "dan dikatakan kepada mereka, 'Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya'."
Demikianlah siksa neraka yang menjadi tempat tinggal dan kediaman mereka. Sedangkan azab yang terjadi sebelum itu dan sebagai pengantar (muqaddimah)nya adalah azab di alam barzakh. Azab ini disebutkan dalam FirmanNya,
As-Sajdah 32:21
"Dan sungguh Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang ringan sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)." (As-Sajdah: 21).
(21) Maksudnya, dan sungguh Kami akan merasakan kepada orang-orang fasik yang mendustakan itu satu contoh dari azab yang ringan, yaitu azab di alam barzakh. Kami akan membuat mereka merasakan sebagian darinya sebelum mereka mati, baik dalam bentuk azab berupa pembunuhan dan yang serupa dengan-nya, sebagaimana terjadi kepada kaum musyrikin dalam perang Badar, ataupun di saat mereka mati, seperti yang disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ ﴿ "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zhalim itu berada dalan tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, sambil berkata, 'Keluarkanlah nyawamu.' Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan." (Al-An'am: 93). Lalu azab yang ringan itu disempurnakan bagi mereka di alam barzakh. Ayat ini termasuk dalil yang menetapkan adanya siksa kubur, dan penunjukannya sangat jelas, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ ﴿ "Dan sungguh Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang ringan." Maksudnya, sebagian darinya. Hal ini menunjuk-kan bahwa di sana ada azab yang ringan sebelum azab yang lebih besar, yaitu azab neraka. Oleh karena penimpaan azab yang ringan di dunia kadang-kadang tidak berhubungan dengan kematian, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya Dia akan merasakannya kepada mereka, barangkali dengannya mereka mau kembali kepa-daNya dan bertaubat dari dosa-dosa mereka, sebagaimana Allah berfirman, ﴾ ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ 41 ﴿ "Telah nampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena per-buatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (Ar-Rum: 41).
As-Sajdah 32:22
"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling darinya. Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (As-Sajdah: 22).
(22) Maksudnya, tidak seorang pun yang lebih zhalim dan lebih melampaui batas daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, yang disampaikan kepadanya oleh Rabbnya, yang hendak membimbingnya dan menyempurnakan nikmatNya kepadanya melalui para RasulNya. Mereka memerin-tahnya dan mengingatkannya akan kemaslahatan-kemaslahatan agama dan dunianya, dan mencegahnya dari segala sesuatu yang bisa membahayakan agama dan dunianya, yang semestinya harus disambutnya dengan iman dan sikap pasrah, tunduk dan bersyu-kur. Namun, si zhalim ini meresponnya dengan kebalikan yang sepantasnya. Ia tidak beriman kepadanya dan tidak pula meng-ikutinya, bahkan dia berpaling darinya dan meninggalkannya di belakang punggungnya. Ini merupakan bagian dari orang yang paling berdosa yang berhak menerima dahsyatnya pembalasan. Maka dari itu, Allah berfirman, ﴾ إِنَّا مِنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ مُنتَقِمُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa."
As-Sajdah 32:23
"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab, maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya, dan Kami men-jadikan al-Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan dari mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang memberi-kan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." (As-Sajdah: 23-25).
(23) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayatNya yang de-ngannya Dia mengingatkan hamba-hambaNya, yaitu al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a, maka Dia menjelas-kan bahwa al-Qur`an ini bukan sesuatu yang baru dari kitab-kitab suci, dan tidak pula Rasul yang membawanya adalah asing dari kalangan para rasul, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah memberi-kan ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "kepada Musa al-Kitab," yaitu Taurat yang mem-benarkan al-Qur`an, yang juga telah dibenarkan oleh al-Qur`an. Maka kebenaran keduanya pun sejalan (sama) dan bukti keduanya pun telah terbukti. ﴾ فَلَا تَكُن فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآئِهِۦۖ ﴿ "Maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya," karena sesungguhnya dalil-dalil kebenaran dan bukti-buktinya sudah sangat banyak (mutawatir), sehingga tidak ada tempat bagi keraguan dan kebimbangan, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُ ﴿ "dan Kami menjadikannya," maksudnya, menjadikan al-Kitab yang Kami beri-kan kepada Musa ﴾ هُدٗى لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "sebagai petunjuk bagi Bani Israil," yang mereka berpedoman kepadanya dalam prinsip-prinsip agama mereka dan cabang-cabangnya, dan syariat-syariatnya sejalan dengan zaman kala itu pada Bani Israil. Adapun al-Qur`an Suci ini maka ia dijadikan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai pedoman bagi manusia seluruhnya, sebab ia adalah hidayah (pedoman) bagi segenap ma-nusia dalam masalah agama dan dunia mereka hingga Hari Kiamat kelak. Hal itu karena kesempurnaan dan ketinggiannya. ﴾ وَإِنَّهُۥ فِيٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ 4 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah." (Az-Zukhruf: 4).
(24) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan Kami jadikan dari mereka itu," maksud-nya, di antara Bani Israil itu, ﴾ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya, ulama-ulama yang menguasai ilmu syariat dan cara-cara memberi hida-yah, mereka mendapat petunjuk pada diri mereka sendiri lalu mem-beri petunjuk kepada selain mereka dengan petunjuk itu. Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka adalah petunjuk orang-orang yang beriman kepadanya, dan mereka terbagi menjadi dua: Para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah, dan para pengikut yang berpedoman kepada mereka. Golongan yang pertama tentu lebih tinggi derajatnya, setelah derajat kenabian dan kerasulan. Ia adalah derajat orang-orang shiddiqin. Sebenarnya mereka meraih derajat tersebut adalah ﴾ لَمَّا صَبَرُواْۖ ﴿ "ketika mereka sabar"dalam belajar dan mengajar, dalam berdakwah kepada Allah dan terhadap cobaan di jalanNya. Dan mereka menahan nafsu (diri) mereka dari rongrongannya untuk berbuat maksiat dan kecende-rungannya kepada kesenangan-kesenangan nafsu, ﴾ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ﴿ "dan mereka meyakini ayat-ayat Kami," maksudnya, mereka dalam keimanan telah mencapai (dengan ayat-ayat Allah), kepada derajat yakin, yaitu ilmu yang sempurna yang membuahkan amal. Sesung-guhnya mereka bisa mencapai derajat yakin adalah karena mereka belajar secara benar dan mereka mengambil permasalahan-perma-salahan dari dalil-dalilnya yang menghasilkan keyakinan. Mereka pun terus mempelajari permasalahan-permasalahan dan mereka berargumen untuknya dengan banyak dalil hingga mereka men-capai kepadanya. Maka dengan sabar dan yakin akhirnya mereka meraih kepemimpinan dalam agama.
(25) Kemudian di sana ada beberapa masalah yang diper-selisihkan oleh Bani Israil, di antara mereka ada yang memperoleh yang benar dan ada pula yang keliru, tidak sengaja atau sengaja, maka Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَفۡصِلُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dia-lah yang mem-berikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." Dan al-Qur`an ini menceritakan kepada Bani Israil sebagian dari permasalahan yang telah mereka perselisihkan. Setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka sementara di dalam al-Qur`an terdapat pembenarannya untuk salah satu dari dua pendapat, maka itulah yang benar, sedangkan yang lain yang menyelisihinya, itulah yang batil.
As-Sajdah 32:24
"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab, maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya, dan Kami men-jadikan al-Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan dari mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang memberi-kan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." (As-Sajdah: 23-25).
(23) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayatNya yang de-ngannya Dia mengingatkan hamba-hambaNya, yaitu al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a, maka Dia menjelas-kan bahwa al-Qur`an ini bukan sesuatu yang baru dari kitab-kitab suci, dan tidak pula Rasul yang membawanya adalah asing dari kalangan para rasul, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah memberi-kan ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "kepada Musa al-Kitab," yaitu Taurat yang mem-benarkan al-Qur`an, yang juga telah dibenarkan oleh al-Qur`an. Maka kebenaran keduanya pun sejalan (sama) dan bukti keduanya pun telah terbukti. ﴾ فَلَا تَكُن فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآئِهِۦۖ ﴿ "Maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya," karena sesungguhnya dalil-dalil kebenaran dan bukti-buktinya sudah sangat banyak (mutawatir), sehingga tidak ada tempat bagi keraguan dan kebimbangan, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُ ﴿ "dan Kami menjadikannya," maksudnya, menjadikan al-Kitab yang Kami beri-kan kepada Musa ﴾ هُدٗى لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "sebagai petunjuk bagi Bani Israil," yang mereka berpedoman kepadanya dalam prinsip-prinsip agama mereka dan cabang-cabangnya, dan syariat-syariatnya sejalan dengan zaman kala itu pada Bani Israil. Adapun al-Qur`an Suci ini maka ia dijadikan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai pedoman bagi manusia seluruhnya, sebab ia adalah hidayah (pedoman) bagi segenap ma-nusia dalam masalah agama dan dunia mereka hingga Hari Kiamat kelak. Hal itu karena kesempurnaan dan ketinggiannya. ﴾ وَإِنَّهُۥ فِيٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ 4 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah." (Az-Zukhruf: 4).
(24) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan Kami jadikan dari mereka itu," maksud-nya, di antara Bani Israil itu, ﴾ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya, ulama-ulama yang menguasai ilmu syariat dan cara-cara memberi hida-yah, mereka mendapat petunjuk pada diri mereka sendiri lalu mem-beri petunjuk kepada selain mereka dengan petunjuk itu. Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka adalah petunjuk orang-orang yang beriman kepadanya, dan mereka terbagi menjadi dua: Para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah, dan para pengikut yang berpedoman kepada mereka. Golongan yang pertama tentu lebih tinggi derajatnya, setelah derajat kenabian dan kerasulan. Ia adalah derajat orang-orang shiddiqin. Sebenarnya mereka meraih derajat tersebut adalah ﴾ لَمَّا صَبَرُواْۖ ﴿ "ketika mereka sabar"dalam belajar dan mengajar, dalam berdakwah kepada Allah dan terhadap cobaan di jalanNya. Dan mereka menahan nafsu (diri) mereka dari rongrongannya untuk berbuat maksiat dan kecende-rungannya kepada kesenangan-kesenangan nafsu, ﴾ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ﴿ "dan mereka meyakini ayat-ayat Kami," maksudnya, mereka dalam keimanan telah mencapai (dengan ayat-ayat Allah), kepada derajat yakin, yaitu ilmu yang sempurna yang membuahkan amal. Sesung-guhnya mereka bisa mencapai derajat yakin adalah karena mereka belajar secara benar dan mereka mengambil permasalahan-perma-salahan dari dalil-dalilnya yang menghasilkan keyakinan. Mereka pun terus mempelajari permasalahan-permasalahan dan mereka berargumen untuknya dengan banyak dalil hingga mereka men-capai kepadanya. Maka dengan sabar dan yakin akhirnya mereka meraih kepemimpinan dalam agama.
(25) Kemudian di sana ada beberapa masalah yang diper-selisihkan oleh Bani Israil, di antara mereka ada yang memperoleh yang benar dan ada pula yang keliru, tidak sengaja atau sengaja, maka Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَفۡصِلُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dia-lah yang mem-berikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." Dan al-Qur`an ini menceritakan kepada Bani Israil sebagian dari permasalahan yang telah mereka perselisihkan. Setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka sementara di dalam al-Qur`an terdapat pembenarannya untuk salah satu dari dua pendapat, maka itulah yang benar, sedangkan yang lain yang menyelisihinya, itulah yang batil.
As-Sajdah 32:25
"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab, maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya, dan Kami men-jadikan al-Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil. Dan Kami jadikan dari mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang memberi-kan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." (As-Sajdah: 23-25).
(23) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan ayat-ayatNya yang de-ngannya Dia mengingatkan hamba-hambaNya, yaitu al-Qur`an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad a, maka Dia menjelas-kan bahwa al-Qur`an ini bukan sesuatu yang baru dari kitab-kitab suci, dan tidak pula Rasul yang membawanya adalah asing dari kalangan para rasul, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah memberi-kan ﴾ مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "kepada Musa al-Kitab," yaitu Taurat yang mem-benarkan al-Qur`an, yang juga telah dibenarkan oleh al-Qur`an. Maka kebenaran keduanya pun sejalan (sama) dan bukti keduanya pun telah terbukti. ﴾ فَلَا تَكُن فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآئِهِۦۖ ﴿ "Maka janganlah kamu ragu-ragu menerimanya," karena sesungguhnya dalil-dalil kebenaran dan bukti-buktinya sudah sangat banyak (mutawatir), sehingga tidak ada tempat bagi keraguan dan kebimbangan, ﴾ وَجَعَلۡنَٰهُ ﴿ "dan Kami menjadikannya," maksudnya, menjadikan al-Kitab yang Kami beri-kan kepada Musa ﴾ هُدٗى لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "sebagai petunjuk bagi Bani Israil," yang mereka berpedoman kepadanya dalam prinsip-prinsip agama mereka dan cabang-cabangnya, dan syariat-syariatnya sejalan dengan zaman kala itu pada Bani Israil. Adapun al-Qur`an Suci ini maka ia dijadikan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai pedoman bagi manusia seluruhnya, sebab ia adalah hidayah (pedoman) bagi segenap ma-nusia dalam masalah agama dan dunia mereka hingga Hari Kiamat kelak. Hal itu karena kesempurnaan dan ketinggiannya. ﴾ وَإِنَّهُۥ فِيٓ أُمِّ ٱلۡكِتَٰبِ لَدَيۡنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ 4 ﴿ "Dan sesungguhnya al-Qur`an itu dalam induk al-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah." (Az-Zukhruf: 4).
(24) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan Kami jadikan dari mereka itu," maksud-nya, di antara Bani Israil itu, ﴾ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا ﴿ "pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami," maksudnya, ulama-ulama yang menguasai ilmu syariat dan cara-cara memberi hida-yah, mereka mendapat petunjuk pada diri mereka sendiri lalu mem-beri petunjuk kepada selain mereka dengan petunjuk itu. Al-Kitab yang diturunkan kepada mereka adalah petunjuk orang-orang yang beriman kepadanya, dan mereka terbagi menjadi dua: Para pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Allah, dan para pengikut yang berpedoman kepada mereka. Golongan yang pertama tentu lebih tinggi derajatnya, setelah derajat kenabian dan kerasulan. Ia adalah derajat orang-orang shiddiqin. Sebenarnya mereka meraih derajat tersebut adalah ﴾ لَمَّا صَبَرُواْۖ ﴿ "ketika mereka sabar"dalam belajar dan mengajar, dalam berdakwah kepada Allah dan terhadap cobaan di jalanNya. Dan mereka menahan nafsu (diri) mereka dari rongrongannya untuk berbuat maksiat dan kecende-rungannya kepada kesenangan-kesenangan nafsu, ﴾ وَكَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ ﴿ "dan mereka meyakini ayat-ayat Kami," maksudnya, mereka dalam keimanan telah mencapai (dengan ayat-ayat Allah), kepada derajat yakin, yaitu ilmu yang sempurna yang membuahkan amal. Sesung-guhnya mereka bisa mencapai derajat yakin adalah karena mereka belajar secara benar dan mereka mengambil permasalahan-perma-salahan dari dalil-dalilnya yang menghasilkan keyakinan. Mereka pun terus mempelajari permasalahan-permasalahan dan mereka berargumen untuknya dengan banyak dalil hingga mereka men-capai kepadanya. Maka dengan sabar dan yakin akhirnya mereka meraih kepemimpinan dalam agama.
(25) Kemudian di sana ada beberapa masalah yang diper-selisihkan oleh Bani Israil, di antara mereka ada yang memperoleh yang benar dan ada pula yang keliru, tidak sengaja atau sengaja, maka Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَفۡصِلُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Dia-lah yang mem-berikan keputusan di antara mereka pada Hari Kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya." Dan al-Qur`an ini menceritakan kepada Bani Israil sebagian dari permasalahan yang telah mereka perselisihkan. Setiap perselisihan yang terjadi di antara mereka sementara di dalam al-Qur`an terdapat pembenarannya untuk salah satu dari dua pendapat, maka itulah yang benar, sedangkan yang lain yang menyelisihinya, itulah yang batil.
As-Sajdah 32:26
"Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda. Maka apakah mereka tidak mendengarkan? Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang darinya binatang-binatang ternak mereka makan, dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memper-hatikan?" (As-Sajdah: 26-27).
(26) Maksudnya, apakah belum menjadi jelas bagi mereka yang mendustakan rasul dan menjadi petunjuk bagi mereka kepada yang benar, berapa banyak sudah Kami binasakan sebelum mereka umat-umat yang telah menempuh jalan mereka, ﴾ يَمۡشُونَ فِي مَسَٰكِنِهِمۡۚ ﴿ "sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu" lalu mereka menyaksikannya dengan pandangan mata kepala mereka, seperti kaum Nabi Hud, Shaleh dan kaum Nabi Luth. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍۚ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda," yang dapat dijadikan dalil atas kebenaran para rasul yang telah datang kepada mereka, dan atas kebatilan ajaran yang mereka anut, yaitu syirik dan keburukan, serta dalil atas (hukum balasan) bahwa siapa saja yang melakukan seperti perbuatan mereka maka akan diperlakukan sama seperti perlakuan terhadap orang-orang sebelumnya, dan dalil atas (janji Allah) bahwa Allah سبحانه وتعالى pasti memberikan balasan kepada hamba-hambaNya dan pasti menghidupkan mereka kembali untuk dihimpun dan diberi pem-balasan. ﴾ أَفَلَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak mendengarkan," ayat-ayat Allah, sehingga mereka menyadarinya lalu mengambil pela-jaran darinya? Kalau saja mereka mempunyai pendengaran yang benar dan akal yang sehat, tentu mereka tidak akan tetap pada kondisi yang memastikan mereka binasa.
(27) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan" de-ngan pandangan mata mereka nikmat dan kesempurnaan hikmah Kami, ﴾ أَنَّا نَسُوقُ ٱلۡمَآءَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡجُرُزِ ﴿ "bahwasanya Kami menghalau air ke bumi yang tandus" yang sama sekali tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya. Lalu Allah menghalau hujan yang sebelumnya tidak ada padanya, lalu Dia menumpahkannya padanya dari awan atau dari sungai-sungai, ﴾ فَنُخۡرِجُ بِهِۦ زَرۡعٗا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman," yakni, tumbuh-tumbuhan yang beraneka macam, ﴾ تَأۡكُلُ مِنۡهُ أَنۡعَٰمُهُمۡ ﴿ "yang darinya binatang-binatang ternak mereka makan" yaitu, tumbuh-tumbuhan, makanan, binatang ternak, ﴾ وَأَنفُسُهُمۡۚ ﴿ "dan makanan mereka sendiri," yaitu yang menjadi makanan manusia, ﴾ أَفَلَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan," nikmat tersebut yang dengannya Allah سبحانه وتعالى menghidupkan negeri dan manusia. Lalu mereka mengambil pelajaran dan dengan pandangan dan pikiran yang mendalam itu mereka mengambil petunjuk kepada jalan yang lurus? Akan tetapi kebutaan telah menguasai mereka dan kelalaian telah menutupi mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat pada-nya dengan pandangan orang-orang lelaki. Mereka hanya melihat kepadanya dengan penglihatan kelalaian dan hanya sekedar ke-biasaan, maka dari itu mereka tidak mendapat bimbingan kepada kebaikan.
As-Sajdah 32:27
"Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda. Maka apakah mereka tidak mendengarkan? Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang darinya binatang-binatang ternak mereka makan, dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memper-hatikan?" (As-Sajdah: 26-27).
(26) Maksudnya, apakah belum menjadi jelas bagi mereka yang mendustakan rasul dan menjadi petunjuk bagi mereka kepada yang benar, berapa banyak sudah Kami binasakan sebelum mereka umat-umat yang telah menempuh jalan mereka, ﴾ يَمۡشُونَ فِي مَسَٰكِنِهِمۡۚ ﴿ "sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu" lalu mereka menyaksikannya dengan pandangan mata kepala mereka, seperti kaum Nabi Hud, Shaleh dan kaum Nabi Luth. ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍۚ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda," yang dapat dijadikan dalil atas kebenaran para rasul yang telah datang kepada mereka, dan atas kebatilan ajaran yang mereka anut, yaitu syirik dan keburukan, serta dalil atas (hukum balasan) bahwa siapa saja yang melakukan seperti perbuatan mereka maka akan diperlakukan sama seperti perlakuan terhadap orang-orang sebelumnya, dan dalil atas (janji Allah) bahwa Allah سبحانه وتعالى pasti memberikan balasan kepada hamba-hambaNya dan pasti menghidupkan mereka kembali untuk dihimpun dan diberi pem-balasan. ﴾ أَفَلَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak mendengarkan," ayat-ayat Allah, sehingga mereka menyadarinya lalu mengambil pela-jaran darinya? Kalau saja mereka mempunyai pendengaran yang benar dan akal yang sehat, tentu mereka tidak akan tetap pada kondisi yang memastikan mereka binasa.
(27) ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ ﴿ "Dan apakah mereka tidak memperhatikan" de-ngan pandangan mata mereka nikmat dan kesempurnaan hikmah Kami, ﴾ أَنَّا نَسُوقُ ٱلۡمَآءَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡجُرُزِ ﴿ "bahwasanya Kami menghalau air ke bumi yang tandus" yang sama sekali tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya. Lalu Allah menghalau hujan yang sebelumnya tidak ada padanya, lalu Dia menumpahkannya padanya dari awan atau dari sungai-sungai, ﴾ فَنُخۡرِجُ بِهِۦ زَرۡعٗا ﴿ "lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman," yakni, tumbuh-tumbuhan yang beraneka macam, ﴾ تَأۡكُلُ مِنۡهُ أَنۡعَٰمُهُمۡ ﴿ "yang darinya binatang-binatang ternak mereka makan" yaitu, tumbuh-tumbuhan, makanan, binatang ternak, ﴾ وَأَنفُسُهُمۡۚ ﴿ "dan makanan mereka sendiri," yaitu yang menjadi makanan manusia, ﴾ أَفَلَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak memperhatikan," nikmat tersebut yang dengannya Allah سبحانه وتعالى menghidupkan negeri dan manusia. Lalu mereka mengambil pelajaran dan dengan pandangan dan pikiran yang mendalam itu mereka mengambil petunjuk kepada jalan yang lurus? Akan tetapi kebutaan telah menguasai mereka dan kelalaian telah menutupi mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat pada-nya dengan pandangan orang-orang lelaki. Mereka hanya melihat kepadanya dengan penglihatan kelalaian dan hanya sekedar ke-biasaan, maka dari itu mereka tidak mendapat bimbingan kepada kebaikan.
As-Sajdah 32:28
"Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan itu, jika kamu memang orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Pada hari keme-nangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh.' Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka juga menunggu." (As-Sajdah: 28-30).
(28) Maksudnya, orang-orang yang berdosa itu minta supaya azab yang dijanjikan (karena pendustaan mereka) disegerakan me-nimpa mereka, sebagai sikap bodoh dan sikap melawan.﴾ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡفَتۡحُ ﴿ "Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan," yang meme-nangkan di antara kami dengan kalian, yaitu dengan mengazab kami, seperti yang diklaim kalian. ﴾ إِن كُنتُمۡ ﴿ "Jika kamu" wahai para rasul ﴾ صَٰدِقِينَ ﴿ "memang orang-orang yang benar," dalam dakwaan kalian.
(29) ﴾ قُلۡ يَوۡمَ ٱلۡفَتۡحِ ﴿ "Katakanlah, 'Pada hari kemenangan itu'," yang ketika itu azab kalian menimpa, kalian sama sekali tidak dapat mengambil manfaat apa pun. Kalau azab itu terjadi, sementara penangguhan kalian telah terjadi di mana kalian bisa mengejar ketinggalan kalian di saat perkaranya sudah menjadi keyakinan bagi kalian maka tentu hal itu masih ada gunanya. Akan tetapi apabila hari kemenangan itu datang niscaya permasalahan sudah selesai dan sudah tidak ada lagi tempat bagi cobaan dan ujian, maka ﴾ لَا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِيمَٰنُهُمۡ ﴿ "tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka," karena pada saat itu berarti menjadi iman terpaksa,﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi tangguh," maksudnya, tidak diberi waktu, sehingga azab bisa ditunda dari mereka, lalu dengannya mereka dapat mengejar permasalahan mereka.
(30) ﴾ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka berpalinglah kamu dari mereka," se-telah perkataan mereka kepadamu dan kezhaliman mereka telah sampai pada tingkat kejahilan dan setelah permintaan agar azab disegerakan. ﴾ وَٱنتَظِرۡ ﴿ "Dan tunggulah," perkaranya yang akan me-nimpa mereka, akan tetapi ia mempunyai waktu batas akhir, yang apabila datang, maka tidak akan diakhirkan lagi, ﴾ إِنَّهُم مُّنتَظِرُونَ ﴿ "sesungguhnya mereka juga menunggu," yakni menunggumu celaka, dan mereka menanti-nanti kesempatan buruk terhadap kalian. Dan keselamatan itu adalah untuk ketakwaan.
Selesailah tafsir Surat as-Sajdah, dengan daya dan kekuatan dari Allah dan karuniaNya. Maka hanya untukNya semata segala puji, puja, dan pengagungan.
As-Sajdah 32:29
"Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan itu, jika kamu memang orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Pada hari keme-nangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh.' Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka juga menunggu." (As-Sajdah: 28-30).
(28) Maksudnya, orang-orang yang berdosa itu minta supaya azab yang dijanjikan (karena pendustaan mereka) disegerakan me-nimpa mereka, sebagai sikap bodoh dan sikap melawan.﴾ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡفَتۡحُ ﴿ "Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan," yang meme-nangkan di antara kami dengan kalian, yaitu dengan mengazab kami, seperti yang diklaim kalian. ﴾ إِن كُنتُمۡ ﴿ "Jika kamu" wahai para rasul ﴾ صَٰدِقِينَ ﴿ "memang orang-orang yang benar," dalam dakwaan kalian.
(29) ﴾ قُلۡ يَوۡمَ ٱلۡفَتۡحِ ﴿ "Katakanlah, 'Pada hari kemenangan itu'," yang ketika itu azab kalian menimpa, kalian sama sekali tidak dapat mengambil manfaat apa pun. Kalau azab itu terjadi, sementara penangguhan kalian telah terjadi di mana kalian bisa mengejar ketinggalan kalian di saat perkaranya sudah menjadi keyakinan bagi kalian maka tentu hal itu masih ada gunanya. Akan tetapi apabila hari kemenangan itu datang niscaya permasalahan sudah selesai dan sudah tidak ada lagi tempat bagi cobaan dan ujian, maka ﴾ لَا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِيمَٰنُهُمۡ ﴿ "tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka," karena pada saat itu berarti menjadi iman terpaksa,﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi tangguh," maksudnya, tidak diberi waktu, sehingga azab bisa ditunda dari mereka, lalu dengannya mereka dapat mengejar permasalahan mereka.
(30) ﴾ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka berpalinglah kamu dari mereka," se-telah perkataan mereka kepadamu dan kezhaliman mereka telah sampai pada tingkat kejahilan dan setelah permintaan agar azab disegerakan. ﴾ وَٱنتَظِرۡ ﴿ "Dan tunggulah," perkaranya yang akan me-nimpa mereka, akan tetapi ia mempunyai waktu batas akhir, yang apabila datang, maka tidak akan diakhirkan lagi, ﴾ إِنَّهُم مُّنتَظِرُونَ ﴿ "sesungguhnya mereka juga menunggu," yakni menunggumu celaka, dan mereka menanti-nanti kesempatan buruk terhadap kalian. Dan keselamatan itu adalah untuk ketakwaan.
Selesailah tafsir Surat as-Sajdah, dengan daya dan kekuatan dari Allah dan karuniaNya. Maka hanya untukNya semata segala puji, puja, dan pengagungan.
As-Sajdah 32:30
"Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan itu, jika kamu memang orang-orang yang benar?' Katakanlah, 'Pada hari keme-nangan itu tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka, dan tidak pula mereka diberi tangguh.' Maka berpalinglah kamu dari mereka dan tunggulah, sesungguhnya mereka juga menunggu." (As-Sajdah: 28-30).
(28) Maksudnya, orang-orang yang berdosa itu minta supaya azab yang dijanjikan (karena pendustaan mereka) disegerakan me-nimpa mereka, sebagai sikap bodoh dan sikap melawan.﴾ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡفَتۡحُ ﴿ "Dan mereka bertanya, 'Bilakah kemenangan," yang meme-nangkan di antara kami dengan kalian, yaitu dengan mengazab kami, seperti yang diklaim kalian. ﴾ إِن كُنتُمۡ ﴿ "Jika kamu" wahai para rasul ﴾ صَٰدِقِينَ ﴿ "memang orang-orang yang benar," dalam dakwaan kalian.
(29) ﴾ قُلۡ يَوۡمَ ٱلۡفَتۡحِ ﴿ "Katakanlah, 'Pada hari kemenangan itu'," yang ketika itu azab kalian menimpa, kalian sama sekali tidak dapat mengambil manfaat apa pun. Kalau azab itu terjadi, sementara penangguhan kalian telah terjadi di mana kalian bisa mengejar ketinggalan kalian di saat perkaranya sudah menjadi keyakinan bagi kalian maka tentu hal itu masih ada gunanya. Akan tetapi apabila hari kemenangan itu datang niscaya permasalahan sudah selesai dan sudah tidak ada lagi tempat bagi cobaan dan ujian, maka ﴾ لَا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِيمَٰنُهُمۡ ﴿ "tidak berguna bagi orang-orang kafir iman mereka," karena pada saat itu berarti menjadi iman terpaksa,﴾ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diberi tangguh," maksudnya, tidak diberi waktu, sehingga azab bisa ditunda dari mereka, lalu dengannya mereka dapat mengejar permasalahan mereka.
(30) ﴾ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ ﴿ "Maka berpalinglah kamu dari mereka," se-telah perkataan mereka kepadamu dan kezhaliman mereka telah sampai pada tingkat kejahilan dan setelah permintaan agar azab disegerakan. ﴾ وَٱنتَظِرۡ ﴿ "Dan tunggulah," perkaranya yang akan me-nimpa mereka, akan tetapi ia mempunyai waktu batas akhir, yang apabila datang, maka tidak akan diakhirkan lagi, ﴾ إِنَّهُم مُّنتَظِرُونَ ﴿ "sesungguhnya mereka juga menunggu," yakni menunggumu celaka, dan mereka menanti-nanti kesempatan buruk terhadap kalian. Dan keselamatan itu adalah untuk ketakwaan.
Selesailah tafsir Surat as-Sajdah, dengan daya dan kekuatan dari Allah dan karuniaNya. Maka hanya untukNya semata segala puji, puja, dan pengagungan.
Al-Ahzab 33:1
"Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguh-nya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawa-kallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (Al-Ahzab: 1-3).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Maksudnya, hai orang yang telah dikaruniai kenabian oleh Allah dan diutamakan dengan wahyuNya serta diutamakan atas seluruh manusia! Syukurilah nikmat Rabbmu yang telah di-karuniakan kepadamu dengan menggunakan takwaNya yang engkau lebih utama dengannya daripada selain engkau, dan yang wajib atasmu darinya lebih besar daripada selain kamu. Maka patuhilah perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, dan sampaikanlah risalahNya (ajaranNya) dan sampaikanlah wahyu-Nya kepada hamba-hambaNya, serta berikanlah nasihat kepada manusia, dan jangan sekali-kali seorang penghalang menghalang-halangimu dari tujuan ini, atau seorang pencegah mencegahmu darinya. Maka jangan sekali-kali kamu menaati setiap orang kafir yang telah menampakkan permusuhannya terhadap Allah dan RasulNya, ataupun orang munafik yang sudah merahasiakan pen-dustaan dan kekafiran, dan menampakkan lawannya. Mereka itu semua adalah musuh yang sesungguhnya. Maka janganlah taat kepada mereka dalam sebagian perkara yang dapat merusak takwa dan membatalkannya, dan jangan kamu mengikuti keinginan me-reka, karena akan menyesatkanmu dari yang benar, ﴾ وَ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ ٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۚ ﴿ "ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu," sebab sesungguhnya itulah petunjuk dan rahmat, dan berharaplah dengannya pahala dari Rabbmu, karena sesungguh-nya Dia ﴾ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ﴿ "Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari kalian, yaitu kebaikan atau keburukan.
(3) Jika terbesit dalam hatimu bahwa jika kamu tidak taat kepada mereka dalam (sebagian) keinginan mereka yang menye-satkan, maka akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu dari mereka, atau akan terjadi kekurangan di dalam membimbing manusia kepada hidayah, maka tolaklah hal itu dari dalam dirimu, dan gunakanlah segala sesuatu yang dapat melawannya dan me-lawan yang lainnya, yaitu bertawakal kepada Allah, dengan cara bersandar kepada Rabbmu seperti bersandarnya orang yang tidak dapat mendatangkan bahaya terhadap dirinya atau manfaat, atau-pun kematian, kehidupan ataupun membangkitkan, dalam men-jaga keselamatanmu dari kejahatan mereka dan dalam menegakkan agama yang diperintahkan kepadamu. Dan percayalah kepada Allah dalam mengerjakan perintah itu, apa pun keadaannya. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara," semua perkara diserahkan kepadaNya, dan Dia-lah yang akan mengatur-nya dan mengatur apa yang lebih maslahat bagi hambaNya. Yang demikian itu adalah karena Dia mengetahui kemaslahatan-kemas-lahatan sang hamba di mana sang hamba sendiri tidak mengetahui; dan karena kemampuan (kekuasaan)Nya untuk menyampaikan ke-maslahatan tersebut kepadanya di mana sang hamba tidak mampu melakukannya; dan sesungguhnya Dia lebih sayang kepada hamba-Nya daripada hamba itu kepada dirinya sendiri dan daripada kedua ibu bapaknya, dan Dia lebih kasihan kepadanya daripada siapa pun, terutama kepada hamba-hambaNya yang spesial (khusus), yang selalu dibimbingNya dengan belas kasihNya dan dilimpahi keberkahanNya yang nampak dan yang tidak nampak, terutama, apalagi Dia telah memerintahkan kepadanya supaya menyerahkan segala perkaranya kepadaNya dan Dia berjanji kepadanya bahwa Dia yang akan mengaturnya. Maka jangan engkau menanyakan tentang (mengapa) setiap permasalahan menjadi mudah, setiap yang sulit menjadi gampang, setiap perkara sulit menjdi ringan, setiap kesusahan menjadi hilang, berbagai kondisi dan kebutuhan terpenuhi, berbagai berkah turun, berbagai bencana tercegah, dan berbagai keburukan diangkat. Maka di sana Anda akan melihat sang hamba yang lemah tak berdaya yang telah menyerahkan per-karanya kepada Tuhannya yang telah mengatur berbagai perkara yang tidak dapat dilakukan oleh satu umat dari manusia. Allah telah memudahkan baginya hal-hal yang sangat sulit untuk bisa dilakukan oleh para ahli. Wabillahi al-Musta'an.
Al-Ahzab 33:2
"Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguh-nya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawa-kallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (Al-Ahzab: 1-3).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Maksudnya, hai orang yang telah dikaruniai kenabian oleh Allah dan diutamakan dengan wahyuNya serta diutamakan atas seluruh manusia! Syukurilah nikmat Rabbmu yang telah di-karuniakan kepadamu dengan menggunakan takwaNya yang engkau lebih utama dengannya daripada selain engkau, dan yang wajib atasmu darinya lebih besar daripada selain kamu. Maka patuhilah perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, dan sampaikanlah risalahNya (ajaranNya) dan sampaikanlah wahyu-Nya kepada hamba-hambaNya, serta berikanlah nasihat kepada manusia, dan jangan sekali-kali seorang penghalang menghalang-halangimu dari tujuan ini, atau seorang pencegah mencegahmu darinya. Maka jangan sekali-kali kamu menaati setiap orang kafir yang telah menampakkan permusuhannya terhadap Allah dan RasulNya, ataupun orang munafik yang sudah merahasiakan pen-dustaan dan kekafiran, dan menampakkan lawannya. Mereka itu semua adalah musuh yang sesungguhnya. Maka janganlah taat kepada mereka dalam sebagian perkara yang dapat merusak takwa dan membatalkannya, dan jangan kamu mengikuti keinginan me-reka, karena akan menyesatkanmu dari yang benar, ﴾ وَ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ ٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۚ ﴿ "ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu," sebab sesungguhnya itulah petunjuk dan rahmat, dan berharaplah dengannya pahala dari Rabbmu, karena sesungguh-nya Dia ﴾ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ﴿ "Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari kalian, yaitu kebaikan atau keburukan.
(3) Jika terbesit dalam hatimu bahwa jika kamu tidak taat kepada mereka dalam (sebagian) keinginan mereka yang menye-satkan, maka akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu dari mereka, atau akan terjadi kekurangan di dalam membimbing manusia kepada hidayah, maka tolaklah hal itu dari dalam dirimu, dan gunakanlah segala sesuatu yang dapat melawannya dan me-lawan yang lainnya, yaitu bertawakal kepada Allah, dengan cara bersandar kepada Rabbmu seperti bersandarnya orang yang tidak dapat mendatangkan bahaya terhadap dirinya atau manfaat, atau-pun kematian, kehidupan ataupun membangkitkan, dalam men-jaga keselamatanmu dari kejahatan mereka dan dalam menegakkan agama yang diperintahkan kepadamu. Dan percayalah kepada Allah dalam mengerjakan perintah itu, apa pun keadaannya. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara," semua perkara diserahkan kepadaNya, dan Dia-lah yang akan mengatur-nya dan mengatur apa yang lebih maslahat bagi hambaNya. Yang demikian itu adalah karena Dia mengetahui kemaslahatan-kemas-lahatan sang hamba di mana sang hamba sendiri tidak mengetahui; dan karena kemampuan (kekuasaan)Nya untuk menyampaikan ke-maslahatan tersebut kepadanya di mana sang hamba tidak mampu melakukannya; dan sesungguhnya Dia lebih sayang kepada hamba-Nya daripada hamba itu kepada dirinya sendiri dan daripada kedua ibu bapaknya, dan Dia lebih kasihan kepadanya daripada siapa pun, terutama kepada hamba-hambaNya yang spesial (khusus), yang selalu dibimbingNya dengan belas kasihNya dan dilimpahi keberkahanNya yang nampak dan yang tidak nampak, terutama, apalagi Dia telah memerintahkan kepadanya supaya menyerahkan segala perkaranya kepadaNya dan Dia berjanji kepadanya bahwa Dia yang akan mengaturnya. Maka jangan engkau menanyakan tentang (mengapa) setiap permasalahan menjadi mudah, setiap yang sulit menjadi gampang, setiap perkara sulit menjdi ringan, setiap kesusahan menjadi hilang, berbagai kondisi dan kebutuhan terpenuhi, berbagai berkah turun, berbagai bencana tercegah, dan berbagai keburukan diangkat. Maka di sana Anda akan melihat sang hamba yang lemah tak berdaya yang telah menyerahkan per-karanya kepada Tuhannya yang telah mengatur berbagai perkara yang tidak dapat dilakukan oleh satu umat dari manusia. Allah telah memudahkan baginya hal-hal yang sangat sulit untuk bisa dilakukan oleh para ahli. Wabillahi al-Musta'an.
Al-Ahzab 33:3
"Hai Nabi, bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu menuruti orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguh-nya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan bertawa-kallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (Al-Ahzab: 1-3).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Maksudnya, hai orang yang telah dikaruniai kenabian oleh Allah dan diutamakan dengan wahyuNya serta diutamakan atas seluruh manusia! Syukurilah nikmat Rabbmu yang telah di-karuniakan kepadamu dengan menggunakan takwaNya yang engkau lebih utama dengannya daripada selain engkau, dan yang wajib atasmu darinya lebih besar daripada selain kamu. Maka patuhilah perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya, dan sampaikanlah risalahNya (ajaranNya) dan sampaikanlah wahyu-Nya kepada hamba-hambaNya, serta berikanlah nasihat kepada manusia, dan jangan sekali-kali seorang penghalang menghalang-halangimu dari tujuan ini, atau seorang pencegah mencegahmu darinya. Maka jangan sekali-kali kamu menaati setiap orang kafir yang telah menampakkan permusuhannya terhadap Allah dan RasulNya, ataupun orang munafik yang sudah merahasiakan pen-dustaan dan kekafiran, dan menampakkan lawannya. Mereka itu semua adalah musuh yang sesungguhnya. Maka janganlah taat kepada mereka dalam sebagian perkara yang dapat merusak takwa dan membatalkannya, dan jangan kamu mengikuti keinginan me-reka, karena akan menyesatkanmu dari yang benar, ﴾ وَ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ ٱتَّبِعۡ مَا يُوحَىٰٓ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۚ ﴿ "ikutilah apa yang diwahyukan Rabbmu kepadamu," sebab sesungguhnya itulah petunjuk dan rahmat, dan berharaplah dengannya pahala dari Rabbmu, karena sesungguh-nya Dia ﴾ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٗا ﴿ "Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," Dia akan memberikan balasan kepada kalian sesuai dengan apa yang Dia ketahui dari kalian, yaitu kebaikan atau keburukan.
(3) Jika terbesit dalam hatimu bahwa jika kamu tidak taat kepada mereka dalam (sebagian) keinginan mereka yang menye-satkan, maka akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirimu dari mereka, atau akan terjadi kekurangan di dalam membimbing manusia kepada hidayah, maka tolaklah hal itu dari dalam dirimu, dan gunakanlah segala sesuatu yang dapat melawannya dan me-lawan yang lainnya, yaitu bertawakal kepada Allah, dengan cara bersandar kepada Rabbmu seperti bersandarnya orang yang tidak dapat mendatangkan bahaya terhadap dirinya atau manfaat, atau-pun kematian, kehidupan ataupun membangkitkan, dalam men-jaga keselamatanmu dari kejahatan mereka dan dalam menegakkan agama yang diperintahkan kepadamu. Dan percayalah kepada Allah dalam mengerjakan perintah itu, apa pun keadaannya. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara," semua perkara diserahkan kepadaNya, dan Dia-lah yang akan mengatur-nya dan mengatur apa yang lebih maslahat bagi hambaNya. Yang demikian itu adalah karena Dia mengetahui kemaslahatan-kemas-lahatan sang hamba di mana sang hamba sendiri tidak mengetahui; dan karena kemampuan (kekuasaan)Nya untuk menyampaikan ke-maslahatan tersebut kepadanya di mana sang hamba tidak mampu melakukannya; dan sesungguhnya Dia lebih sayang kepada hamba-Nya daripada hamba itu kepada dirinya sendiri dan daripada kedua ibu bapaknya, dan Dia lebih kasihan kepadanya daripada siapa pun, terutama kepada hamba-hambaNya yang spesial (khusus), yang selalu dibimbingNya dengan belas kasihNya dan dilimpahi keberkahanNya yang nampak dan yang tidak nampak, terutama, apalagi Dia telah memerintahkan kepadanya supaya menyerahkan segala perkaranya kepadaNya dan Dia berjanji kepadanya bahwa Dia yang akan mengaturnya. Maka jangan engkau menanyakan tentang (mengapa) setiap permasalahan menjadi mudah, setiap yang sulit menjadi gampang, setiap perkara sulit menjdi ringan, setiap kesusahan menjadi hilang, berbagai kondisi dan kebutuhan terpenuhi, berbagai berkah turun, berbagai bencana tercegah, dan berbagai keburukan diangkat. Maka di sana Anda akan melihat sang hamba yang lemah tak berdaya yang telah menyerahkan per-karanya kepada Tuhannya yang telah mengatur berbagai perkara yang tidak dapat dilakukan oleh satu umat dari manusia. Allah telah memudahkan baginya hal-hal yang sangat sulit untuk bisa dilakukan oleh para ahli. Wabillahi al-Musta'an.
Al-Ahzab 33:4
"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan mema-kai nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 4-5).
(4) Allah سبحانه وتعالى mencela hamba-hambaNya karena membicara-kan sesuatu yang sama sekali tidak ada hakikatnya (kebenarannya) dan Allah سبحانه وتعالى tidak menjadikannya seperti apa yang mereka katakan. Sebab, sesungguhnya perkataan dari kalian itu adalah kedustaan dan kepalsuan yang dapat menimbulkan berbagai kemungkaran secara syar'i. Ini adalah satu kaidah umum dalam setiap pembica-raan tentang apa saja, dan ia menginformasikan kejadian dan ke-beradaan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Akan tetapi Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan untuk menyebutkan hal-hal tersebut karena ia memang sudah terjadi dan karena kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya, maka Dia berfirman, ﴾ مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٖ مِّن قَلۡبَيۡنِ فِي جَوۡفِهِۦۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya." Ini tidak ada. Maka jangan sekali-kali kalian mengatakan tentang seseorang "bahwa dia mempunyai dua hati di dalam rongga badannya" sebab kalian akan menjadi orang-orang yang berdusta terhadap ciptaan ilahi. ﴾ وَمَا جَعَلَ أَزۡوَٰجَكُمُ ٱلَّٰٓـِٔي تُظَٰهِرُونَ مِنۡهُنَّ ﴿ "Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu," yaitu seperti salah satu dari kalian mengatakan kepada istrinya, "engkau bagiku seperti punggung ibuku sendiri" atau "seperti ibuku sen-diri." Padahal Allah tidak menjadikan mereka ﴾ أُمَّهَٰتِكُمۡۚ ﴿ "sebagai ibu-mu." Ibumu adalah orang yang telah melahirkanmu dan menjadi wanita yang paling terhormat dan paling haram (untuk dinikahi), sedangkan istrimu adalah wanita yang paling halal untukmu, lalu bagaimana kamu bisa menyamakan salah satu dengan yang lain yang sangat bertolak belakang?! Ini adalah perkara yang tidak boleh, sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya dari kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." (Al-Mujadilah: 2). ﴾ وَمَا جَعَلَ أَدۡعِيَآءَكُمۡ أَبۡنَآءَكُمۡۚ ﴿ "Dan Dia tidak menjadikan anak-anak ang-katmu sebagai anak kandungmu (sendiri)," anak-anak angkat adalah anak yang diklaim oleh seseorang sebagai anaknya, padahal ia bukan anaknya, atau yang dipanggilkan kepadanya (dibinkan kepadanya) disebabkan karena dia mengadopsinya sebagai anak angkat, seperti kebiasaan yang terjadi pada masa jahiliyah dan awal-awal lahirnya Islam. Lalu Allah سبحانه وتعالى hendak memberantas dan menghapusnya. Maka Dia terlebih dahulu menjelaskan kekejian-nya, dan bahwa perbuatan itu adalah kebatilan dan kedustaan. Sedangkan setiap kebatilan dan kedustaan itu tidak ada tempat di dalam syariat Allah, dan hamba-hambaNya itu tidak akan ber-karakter dengan yang demikian. Allah سبحانه وتعالى berfirman (bahwa) Allah tidak menjadikan anak-anak angkat yang kalian klaim atau yang dipanggil dengan menyertakan nama kalian, sebagai anak kalian. Sebab, sesungguhnya anak-anak kalian yang hakiki adalah yang dilahirkan oleh istri kalian dan mereka berasal dari kalian. Sedang-kan para anak angkat tersebut bukan dari kalian. Maka Allah tidak menjadikan yang demikian itu sebagai anak kalian. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, perkataan yang kalian katakan tentang anak angkat, bahwa dia adalah anak si A yang telah mengklaimnya, atau bapak anak itu adalah si B, ﴾ قَوۡلُكُم بِأَفۡوَٰهِكُمۡۖ ﴿ "hanyalah perkataanmu di mulutmu saja," maksudnya, perkataan yang tidak ada hakikatnya sama sekali dan tidak ada maknanya, ﴾ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "dan Allah mengatakan yang sebenarnya" maksudnya, mengatakan yang yakin dan yang benar. Maka dari itu, Dia me-nyuruh kalian mengikutinya berdasarkan Firman dan syariatNya, sedangkan perkataanNya adalah benar dan syariatNya adalah benar. Perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang batil tidak boleh dinisbatkan (disandarkan) kepadaNya dari sudut pan-dang mana pun, dan ia bukan bagian dari hidayahNya, sebab Allah tidak menunjukkan kecuali hanya kepada jalan yang lurus dan jalan yang benar. Dan sekalipun hal yang demikian itu terjadi atas kehendakNya (masyi`ahNya), maka kehendakNya bersifat umum, meliputi setiap apa saja yang ada, berupa kebaikan dan keburukan.
(5) Kemudian Allah menegaskan kepada mereka untuk me-ninggalkan kondisi yang pertama yang mengandung perkataan batil, seraya berfirman, ﴾ ٱدۡعُوهُمۡ ﴿ "Panggillah mereka," maksudnya, anak-anak angkat itu, ﴾ لِأٓبَآئِهِمۡ ﴿ "dengan memakai nama bapak-bapak mereka," yang memperanakkan mereka, ﴾ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "itulah yang lebih adil pada sisi Allah," maksudnya, yang lebih adil, lebih lurus dan lebih berpetunjuk. ﴾ فَإِن لَّمۡ تَعۡلَمُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu tidak me-ngetahui bapak-bapak mereka," yang sebenarnya, ﴾ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَمَوَٰلِيكُمۡۚ ﴿ "maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu," maksudnya, mereka adalah saudara-saudara ka-lian dalam agama Allah dan maula-maula kalian. Maka panggillah mereka dengan sebutan persaudaraan keimanan yang tulus dan maula-maula atas dasar itu. Jadi, meninggalkan seruan dengan me-nyebut nama orang yang menjadikan mereka anak angkat adalah keniscayaan, tidak boleh dilakukan. Sedangkan memanggil mereka dengan menyertakan nama bapak kandung mereka, jika diketahui, maka hendaknya mereka melakukan demikian. Dan jika mereka tidak mengetahuinya maka cukuplah memanggil mereka (dengan nama) yang telah dikenal pada mereka, yaitu saudara seagama dan hubungan maula. Maka jangan kalian mengira bahwa kondisi di mana kalian tidak mengetahui bapak kandung mereka menjadi alasan bagi kalian untuk memanggil mereka dengan nama orang yang menjadikan mereka anak angkat; sebab sesuatu yang dilarang tidak akan gugur disebabkan hal tersebut. ﴾ وَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٞ فِيمَآ أَخۡطَأۡتُم بِهِۦ ﴿ "Dan tidak ada dosa atasmu terha-dap apa yang kamu khilaf padanya" seperti secara tidak sengaja lidah salah seorang kalian memanggil mereka dengan nama orang yang menjadikannya sebagai anak angkat. Hal seperti ini tidak ada sanksi hukumnya; atau dia mengetahui ayahnya secara zahir lalu dia memanggilnya dengan menyertakan namanya, padahal se-sungguhnya secara batin dia bukan bapaknya, maka tidak ada dosa baginya dalam hal seperti itu apabila terjadi karena khilaf (dan tidak sengaja). ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "Tetapi" Dia akan menghukum kalian dise-babkan perkataan yang dilarang namun disengaja oleh hati kalian, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمًا ﴿ "dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Dia mengampuni dan merahmati kalian; yang mana Dia tidak menghukum kalian atas apa yang sudah berlalu, dan Dia memaaf-kan kalian atas sesuatu yang tidak sengaja kalian ucapkan, dan Dia berbelas-kasih kepada kalian, di mana Dia menjelaskan kepada kalian hukum-hukum (aturan-aturanNya) yang dapat memperbaiki agama dan dunia kalian. Maka segala puji bagiNya.
Al-Ahzab 33:5
"Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan mema-kai nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Ahzab: 4-5).
(4) Allah سبحانه وتعالى mencela hamba-hambaNya karena membicara-kan sesuatu yang sama sekali tidak ada hakikatnya (kebenarannya) dan Allah سبحانه وتعالى tidak menjadikannya seperti apa yang mereka katakan. Sebab, sesungguhnya perkataan dari kalian itu adalah kedustaan dan kepalsuan yang dapat menimbulkan berbagai kemungkaran secara syar'i. Ini adalah satu kaidah umum dalam setiap pembica-raan tentang apa saja, dan ia menginformasikan kejadian dan ke-beradaan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Akan tetapi Allah سبحانه وتعالى mengkhususkan untuk menyebutkan hal-hal tersebut karena ia memang sudah terjadi dan karena kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya, maka Dia berfirman, ﴾ مَّا جَعَلَ ٱللَّهُ لِرَجُلٖ مِّن قَلۡبَيۡنِ فِي جَوۡفِهِۦۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya." Ini tidak ada. Maka jangan sekali-kali kalian mengatakan tentang seseorang "bahwa dia mempunyai dua hati di dalam rongga badannya" sebab kalian akan menjadi orang-orang yang berdusta terhadap ciptaan ilahi. ﴾ وَمَا جَعَلَ أَزۡوَٰجَكُمُ ٱلَّٰٓـِٔي تُظَٰهِرُونَ مِنۡهُنَّ ﴿ "Dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu," yaitu seperti salah satu dari kalian mengatakan kepada istrinya, "engkau bagiku seperti punggung ibuku sendiri" atau "seperti ibuku sen-diri." Padahal Allah tidak menjadikan mereka ﴾ أُمَّهَٰتِكُمۡۚ ﴿ "sebagai ibu-mu." Ibumu adalah orang yang telah melahirkanmu dan menjadi wanita yang paling terhormat dan paling haram (untuk dinikahi), sedangkan istrimu adalah wanita yang paling halal untukmu, lalu bagaimana kamu bisa menyamakan salah satu dengan yang lain yang sangat bertolak belakang?! Ini adalah perkara yang tidak boleh, sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya dari kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." (Al-Mujadilah: 2). ﴾ وَمَا جَعَلَ أَدۡعِيَآءَكُمۡ أَبۡنَآءَكُمۡۚ ﴿ "Dan Dia tidak menjadikan anak-anak ang-katmu sebagai anak kandungmu (sendiri)," anak-anak angkat adalah anak yang diklaim oleh seseorang sebagai anaknya, padahal ia bukan anaknya, atau yang dipanggilkan kepadanya (dibinkan kepadanya) disebabkan karena dia mengadopsinya sebagai anak angkat, seperti kebiasaan yang terjadi pada masa jahiliyah dan awal-awal lahirnya Islam. Lalu Allah سبحانه وتعالى hendak memberantas dan menghapusnya. Maka Dia terlebih dahulu menjelaskan kekejian-nya, dan bahwa perbuatan itu adalah kebatilan dan kedustaan. Sedangkan setiap kebatilan dan kedustaan itu tidak ada tempat di dalam syariat Allah, dan hamba-hambaNya itu tidak akan ber-karakter dengan yang demikian. Allah سبحانه وتعالى berfirman (bahwa) Allah tidak menjadikan anak-anak angkat yang kalian klaim atau yang dipanggil dengan menyertakan nama kalian, sebagai anak kalian. Sebab, sesungguhnya anak-anak kalian yang hakiki adalah yang dilahirkan oleh istri kalian dan mereka berasal dari kalian. Sedang-kan para anak angkat tersebut bukan dari kalian. Maka Allah tidak menjadikan yang demikian itu sebagai anak kalian. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, perkataan yang kalian katakan tentang anak angkat, bahwa dia adalah anak si A yang telah mengklaimnya, atau bapak anak itu adalah si B, ﴾ قَوۡلُكُم بِأَفۡوَٰهِكُمۡۖ ﴿ "hanyalah perkataanmu di mulutmu saja," maksudnya, perkataan yang tidak ada hakikatnya sama sekali dan tidak ada maknanya, ﴾ وَٱللَّهُ يَقُولُ ٱلۡحَقَّ ﴿ "dan Allah mengatakan yang sebenarnya" maksudnya, mengatakan yang yakin dan yang benar. Maka dari itu, Dia me-nyuruh kalian mengikutinya berdasarkan Firman dan syariatNya, sedangkan perkataanNya adalah benar dan syariatNya adalah benar. Perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang batil tidak boleh dinisbatkan (disandarkan) kepadaNya dari sudut pan-dang mana pun, dan ia bukan bagian dari hidayahNya, sebab Allah tidak menunjukkan kecuali hanya kepada jalan yang lurus dan jalan yang benar. Dan sekalipun hal yang demikian itu terjadi atas kehendakNya (masyi`ahNya), maka kehendakNya bersifat umum, meliputi setiap apa saja yang ada, berupa kebaikan dan keburukan.
(5) Kemudian Allah menegaskan kepada mereka untuk me-ninggalkan kondisi yang pertama yang mengandung perkataan batil, seraya berfirman, ﴾ ٱدۡعُوهُمۡ ﴿ "Panggillah mereka," maksudnya, anak-anak angkat itu, ﴾ لِأٓبَآئِهِمۡ ﴿ "dengan memakai nama bapak-bapak mereka," yang memperanakkan mereka, ﴾ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِۚ ﴿ "itulah yang lebih adil pada sisi Allah," maksudnya, yang lebih adil, lebih lurus dan lebih berpetunjuk. ﴾ فَإِن لَّمۡ تَعۡلَمُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ ﴿ "Dan jika kamu tidak me-ngetahui bapak-bapak mereka," yang sebenarnya, ﴾ فَإِخۡوَٰنُكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَمَوَٰلِيكُمۡۚ ﴿ "maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu," maksudnya, mereka adalah saudara-saudara ka-lian dalam agama Allah dan maula-maula kalian. Maka panggillah mereka dengan sebutan persaudaraan keimanan yang tulus dan maula-maula atas dasar itu. Jadi, meninggalkan seruan dengan me-nyebut nama orang yang menjadikan mereka anak angkat adalah keniscayaan, tidak boleh dilakukan. Sedangkan memanggil mereka dengan menyertakan nama bapak kandung mereka, jika diketahui, maka hendaknya mereka melakukan demikian. Dan jika mereka tidak mengetahuinya maka cukuplah memanggil mereka (dengan nama) yang telah dikenal pada mereka, yaitu saudara seagama dan hubungan maula. Maka jangan kalian mengira bahwa kondisi di mana kalian tidak mengetahui bapak kandung mereka menjadi alasan bagi kalian untuk memanggil mereka dengan nama orang yang menjadikan mereka anak angkat; sebab sesuatu yang dilarang tidak akan gugur disebabkan hal tersebut. ﴾ وَلَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٞ فِيمَآ أَخۡطَأۡتُم بِهِۦ ﴿ "Dan tidak ada dosa atasmu terha-dap apa yang kamu khilaf padanya" seperti secara tidak sengaja lidah salah seorang kalian memanggil mereka dengan nama orang yang menjadikannya sebagai anak angkat. Hal seperti ini tidak ada sanksi hukumnya; atau dia mengetahui ayahnya secara zahir lalu dia memanggilnya dengan menyertakan namanya, padahal se-sungguhnya secara batin dia bukan bapaknya, maka tidak ada dosa baginya dalam hal seperti itu apabila terjadi karena khilaf (dan tidak sengaja). ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "Tetapi" Dia akan menghukum kalian dise-babkan perkataan yang dilarang namun disengaja oleh hati kalian, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمًا ﴿ "dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Dia mengampuni dan merahmati kalian; yang mana Dia tidak menghukum kalian atas apa yang sudah berlalu, dan Dia memaaf-kan kalian atas sesuatu yang tidak sengaja kalian ucapkan, dan Dia berbelas-kasih kepada kalian, di mana Dia menjelaskan kepada kalian hukum-hukum (aturan-aturanNya) yang dapat memperbaiki agama dan dunia kalian. Maka segala puji bagiNya.
Al-Ahzab 33:6
"Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (saling mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu (se-agama). Yang demikian itu telah tertulis di dalam al-Kitab." (Al-Ahzab: 6).
(6) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan suatu informasi yang dengan-nya mereka bisa mengetahui status Rasulullah a dan kedudukan-nya, sehingga mereka dapat berinteraksi dengan beliau sesuai dengan (konsekuensi) status tersebut, seraya berfirman,﴾ ٱلنَّبِيُّ أَوۡلَىٰ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ مِنۡ أَنفُسِهِمۡۖ ﴿ "Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri," sesuatu yang paling dekat kepada manusia dan sesuatu yang lebih utama yang dimilikinya. Jadi, Rasulullah itu lebih utama baginya daripada dirinya sendiri. Sebab, Nabi a telah mengerahkan untuk mereka nasihat (ketulusan), rasa kasih dan sayang yang dengannya ia menjadi manusia yang paling pengasih dan paling menyayangi. Maka Rasulullah a adalah manusia yang paling banyak jasanya kepada mereka dibandingkan siapa saja, karena sesungguhnya tidaklah suatu kebaikan sebesar biji sawi mencapai mereka dan tidak pula keburukan sebesar biji sawi terhindar dari mereka melainkan pasti melalui beliau dan di-sebabkan beliau. Oleh karena itu, mereka wajib –apabila kehendak dirinya atau kehendak siapa pun dari manusia berlawanan dengan kehendak (maksud) Rasulullah– mendahulukan kehendak Rasu-lullah, dan tidak melawan perkataan Rasulullah dengan perkataan siapa pun dia, dan mereka wajib membelanya dengan jiwa, harta dan anak-anak mereka, dan mendahulukan kecintaan kepada beliau daripada kecintaan kepada manusia semuanya. Dan hendaknya mereka tidak berkata sebelum beliau ber-kata, dan tidak pula mendahului beliau, karena beliau adalah ayah bagi seluruh kaum Mukminin, seperti yang diterangkan dalam qira`at[54] sebagian sahabat, Beliau mengasuh mereka layaknya seorang ayah mengasuh anak-anaknya Maka konsekuensi dari kebapakan ini adalah bahwa istri-istri beliau menjadi ibu mereka. Maksudnya, dalam keharamannya, kehormatan dan kemuliaan, bukan dalam soal berdua-duaan dan kemahraman. Ini semua seakan-akan sebagai pengantar bagi pembahasan yang akan disebutkan nanti tentang kisah Zaid bin Haritsah yang sebelumnya dipanggil Zaid bin Muhammad, hingga Allah menurunkan ayatNya, ﴾ مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ ﴿ "Muhammad bukanlah ayah dari salah seorang di antara kalian." (Al-Ahzab: 40). Maka semenjak itu Allah memutus nasabnya dan afiliasinya kepadanya. Allah سبحانه وتعالى menginformasikan dalam ayat ini bahwasanya orang-orang Mukmin semuanya adalah anak-anak Rasulullah, maka tidak ada kelebihan antara satu dengan yang lainnya, sekalipun afiliasi dakwah terputus dari salah seorang dari mereka.[55] Sebab, nasab imani itu tidak pernah terputus darinya. Maka hendaknya dia tidak perlu bersedih dan berduka. Kedudukan tersebut mengakibatkan kedudukan para istri Rasul sebagai ibu bagi seluruh kaum Muk-minin, maka mereka tidak bisa menjadi halal bagi siapa saja sepe-ninggal beliau, sebagaimana ditegaskan oleh Allah, ﴾ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓاْ أَزۡوَٰجَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦٓ أَبَدًاۚ ﴿ "Dan tidak (halal) bagi kalian menikahi istri-istrinya sepeninggalan-nya selama-lamanya." (Al-Ahzab: 53). ﴾ وَأُوْلُواْ ٱلۡأَرۡحَامِ ﴿ "Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah," maksudnya, kaum kerabat dekat atau jauh, ﴾ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلَىٰ بِبَعۡضٖ فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ ﴿ "satu sama lain lebih berhak (saling mewarisi) di dalam Kitab Allah," maksudnya, dalam hukumNya. Maka sebagian mewarisi sebagian yang lain, dan sebagian berbuat baik kepada sebagian yang lain. Jadi mereka lebih utama daripada sumpah dan pembelaan. Dan demikian pula, anak-anak angkat yang dahulu menjadi pewaris karena sebab-sebab tersebut dengan mengabaikan kaum kerabat pun telah diputus oleh Allah, lalu Allah سبحانه وتعالى menjadikan hak waris diberikan kepada kaum kerabat sebagai kasih sayang dan kebijakan dariNya. Sebab, kalau permasalahan (pewarisan) terus berdasarkan kebiasaan yang telah lalu, niscaya akan banyak terjadi kerusakan, keburukan dan upaya-upaya tipu daya untuk mencegah kaum kerabat dari harta waris. ﴾ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ ﴿ "Daripada orang-orang Mukmin dan orang-orang Muhajirin," maksudnya, sama saja apakah kaum kerabat itu adalah orang-orang Mukminin Muhajirin ataukah bukan Muhaji-rin. Sebab, sesungguhnya orang-orang yang mempunyai hubungan darah (dzawil arham) itu lebih diutamakan dalam masalah ini. Ayat ini merupakan hujjah (argumen) atas perwalian orang-orang yang mempunyai hubungan darah dalam seluruh bentuk perwalian, seperti dalam perwalian nikah, harta, dan lain-lainnya, ﴾ إِلَّآ أَن تَفۡعَلُوٓاْ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِكُم مَّعۡرُوفٗاۚ ﴿ "kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu seagama," maksudnya, mereka tidak mempunyai hak yang diwajibkan, melainkan berdasarkan kehendak kalian saja jika kalian suka memberi mereka secara suka rela dan memberikan kepada mereka suatu kebaikan dari kalian. ﴾ كَانَ ﴿ "Yang demi-kian itu" keputusan tersebut di atas ﴾ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَسۡطُورٗا ﴿ "tertulis di dalam al-Kitab," maksudnya, telah termaktub dan ditulis serta telah ditetapkan oleh Allah, maka harus dilaksanakan.
Al-Ahzab 33:7
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka, dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih." (Al-Ahzab: 7-8).
(7-8) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya Dia telah meng-ambil dari para nabi secara umum dan dari para ulul 'azmi, (yaitu lima rasul yang disebutkan secara khusus), perjanjian yang sangat berat dan ikatan yang sangat kuat yang dikokohkan untuk mene-gakkan agama Allah dan berjihad di jalanNya; dan bahwa sesung-guhnya ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh para nabi ter-dahulu hingga ditutup dengan penghulu mereka dan yang paling utama, yaitu Muhammad a, dan Allah memerintahkan manusia supaya meneladani mereka. Dan Allah سبحانه وتعالى akan menanyakan kepada para nabi dan para pengikutnya tentang janji yang sangat berat ini, apakah mereka memenuhinya dan mereka benar, lalu Dia akan membalas mereka dengan surga-surga kenikmatan, ataukah mereka ingkar lalu Dia akan menyiksa mereka dengan azab yang pedih? Allah berfirman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang tulus melaksanakan apa yang mereka perjanjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23).
Al-Ahzab 33:8
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh, agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka, dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih." (Al-Ahzab: 7-8).
(7-8) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya Dia telah meng-ambil dari para nabi secara umum dan dari para ulul 'azmi, (yaitu lima rasul yang disebutkan secara khusus), perjanjian yang sangat berat dan ikatan yang sangat kuat yang dikokohkan untuk mene-gakkan agama Allah dan berjihad di jalanNya; dan bahwa sesung-guhnya ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh para nabi ter-dahulu hingga ditutup dengan penghulu mereka dan yang paling utama, yaitu Muhammad a, dan Allah memerintahkan manusia supaya meneladani mereka. Dan Allah سبحانه وتعالى akan menanyakan kepada para nabi dan para pengikutnya tentang janji yang sangat berat ini, apakah mereka memenuhinya dan mereka benar, lalu Dia akan membalas mereka dengan surga-surga kenikmatan, ataukah mereka ingkar lalu Dia akan menyiksa mereka dengan azab yang pedih? Allah berfirman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang tulus melaksanakan apa yang mereka perjanjikan kepada Allah." (Al-Ahzab: 23).
Al-Ahzab 33:9
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan Allah Maha Melihat akan amal yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berma-cam-macam prasangka. Di situlah orang-orang Mukmin diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat." (Al-Ahzab: 9-11).
(9-11) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang ber-iman tentang nikmatNya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya, yaitu ketika bala tentara negeri Makkah dan Hijaz mendatangi mereka dari atas mereka, sedangkan bala tentara negeri Nejed dari arah bawah mereka; dan mereka pun bersepakat dan saling berjanji untuk menghabisi Rasul dan para sahabat. Dan ini terjadi dalam perang Khandaq, dan mereka di-dukung oleh beberapa kelompok kaum Yahudi yang berada di sekitar Madinah. Mereka pun datang dengan tentara yang sangat besar dan pasukan sekutu. Rasulullah a pun membuat parit me-ngelilingi Madinah. Maka pasukan sekutu mengepung Madinah dan keadaan pun makin menjadi sangat genting, hati terasa me-nyesak ke tenggorokan hingga prasangka buruk dari banyak orang (kaum Mukminin) telah mencapai puncaknya saat mereka melihat keadaan yang sangat menjepit dan berbagai kesengsaraan bertubi-tubi. Pengepungan terhadap kota Madinah ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan keadaannya seperti yang dijelaskan oleh Allah, ﴾ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ﴿ "dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka," maksudnya, prasangka-prasangka buruk, yaitu bahwa Allah tidak akan menolong agamaNya dan tidak akan menyempurnakan kalimatNya, ﴾ هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "di situlah orang-orang Mukmin diuji," dengan cobaan yang sangat berat, ﴾ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ﴿ "dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat," dengan rasa takut, rasa gelisah dan kelaparan, agar iman mereka tampak dan keyakinan mereka bertambah. Maka benar-benar tampaklah, dengan segala puji bagi Allah, keimanan dan kuatnya keyakinan mereka yang membuat mereka mengungguli umat-umat terdahulu dan yang akan datang kemudian. Dan di saat kesempitan makin hebat dan kesengsaraan makin mencekik, maka iman mereka pun menjadi ainul yaqin. ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا 22 ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketun-dukan." (Al-Ahzab: 22).
Saat itulah kemunafikan kaum munafik menjadi jelas dan apa yang mereka sembunyikan selama ini menjadi nyata, Allah سبحانه وتعالى berfirman,
Al-Ahzab 33:10
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan Allah Maha Melihat akan amal yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berma-cam-macam prasangka. Di situlah orang-orang Mukmin diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat." (Al-Ahzab: 9-11).
(9-11) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang ber-iman tentang nikmatNya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya, yaitu ketika bala tentara negeri Makkah dan Hijaz mendatangi mereka dari atas mereka, sedangkan bala tentara negeri Nejed dari arah bawah mereka; dan mereka pun bersepakat dan saling berjanji untuk menghabisi Rasul dan para sahabat. Dan ini terjadi dalam perang Khandaq, dan mereka di-dukung oleh beberapa kelompok kaum Yahudi yang berada di sekitar Madinah. Mereka pun datang dengan tentara yang sangat besar dan pasukan sekutu. Rasulullah a pun membuat parit me-ngelilingi Madinah. Maka pasukan sekutu mengepung Madinah dan keadaan pun makin menjadi sangat genting, hati terasa me-nyesak ke tenggorokan hingga prasangka buruk dari banyak orang (kaum Mukminin) telah mencapai puncaknya saat mereka melihat keadaan yang sangat menjepit dan berbagai kesengsaraan bertubi-tubi. Pengepungan terhadap kota Madinah ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan keadaannya seperti yang dijelaskan oleh Allah, ﴾ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ﴿ "dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka," maksudnya, prasangka-prasangka buruk, yaitu bahwa Allah tidak akan menolong agamaNya dan tidak akan menyempurnakan kalimatNya, ﴾ هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "di situlah orang-orang Mukmin diuji," dengan cobaan yang sangat berat, ﴾ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ﴿ "dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat," dengan rasa takut, rasa gelisah dan kelaparan, agar iman mereka tampak dan keyakinan mereka bertambah. Maka benar-benar tampaklah, dengan segala puji bagi Allah, keimanan dan kuatnya keyakinan mereka yang membuat mereka mengungguli umat-umat terdahulu dan yang akan datang kemudian. Dan di saat kesempitan makin hebat dan kesengsaraan makin mencekik, maka iman mereka pun menjadi ainul yaqin. ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا 22 ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketun-dukan." (Al-Ahzab: 22).
Saat itulah kemunafikan kaum munafik menjadi jelas dan apa yang mereka sembunyikan selama ini menjadi nyata, Allah سبحانه وتعالى berfirman,
Al-Ahzab 33:11
"Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan Allah Maha Melihat akan amal yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berma-cam-macam prasangka. Di situlah orang-orang Mukmin diuji dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat." (Al-Ahzab: 9-11).
(9-11) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang ber-iman tentang nikmatNya kepada mereka dan mendorong mereka untuk mensyukurinya, yaitu ketika bala tentara negeri Makkah dan Hijaz mendatangi mereka dari atas mereka, sedangkan bala tentara negeri Nejed dari arah bawah mereka; dan mereka pun bersepakat dan saling berjanji untuk menghabisi Rasul dan para sahabat. Dan ini terjadi dalam perang Khandaq, dan mereka di-dukung oleh beberapa kelompok kaum Yahudi yang berada di sekitar Madinah. Mereka pun datang dengan tentara yang sangat besar dan pasukan sekutu. Rasulullah a pun membuat parit me-ngelilingi Madinah. Maka pasukan sekutu mengepung Madinah dan keadaan pun makin menjadi sangat genting, hati terasa me-nyesak ke tenggorokan hingga prasangka buruk dari banyak orang (kaum Mukminin) telah mencapai puncaknya saat mereka melihat keadaan yang sangat menjepit dan berbagai kesengsaraan bertubi-tubi. Pengepungan terhadap kota Madinah ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama dan keadaannya seperti yang dijelaskan oleh Allah, ﴾ وَإِذۡ زَاغَتِ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَبَلَغَتِ ٱلۡقُلُوبُ ٱلۡحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِٱللَّهِ ٱلظُّنُونَا۠ ﴿ "dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu), dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam prasangka," maksudnya, prasangka-prasangka buruk, yaitu bahwa Allah tidak akan menolong agamaNya dan tidak akan menyempurnakan kalimatNya, ﴾ هُنَالِكَ ٱبۡتُلِيَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "di situlah orang-orang Mukmin diuji," dengan cobaan yang sangat berat, ﴾ وَزُلۡزِلُواْ زِلۡزَالٗا شَدِيدٗا ﴿ "dan digoncangkan dengan goncangan yang sangat," dengan rasa takut, rasa gelisah dan kelaparan, agar iman mereka tampak dan keyakinan mereka bertambah. Maka benar-benar tampaklah, dengan segala puji bagi Allah, keimanan dan kuatnya keyakinan mereka yang membuat mereka mengungguli umat-umat terdahulu dan yang akan datang kemudian. Dan di saat kesempitan makin hebat dan kesengsaraan makin mencekik, maka iman mereka pun menjadi ainul yaqin. ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ وَمَا زَادَهُمۡ إِلَّآ إِيمَٰنٗا وَتَسۡلِيمٗا 22 ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketun-dukan." (Al-Ahzab: 22).
Saat itulah kemunafikan kaum munafik menjadi jelas dan apa yang mereka sembunyikan selama ini menjadi nyata, Allah سبحانه وتعالى berfirman,
Al-Ahzab 33:12
"Dan ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, 'Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya'." (Al-Ahzab: 12).
(12) Inilah kebiasaan kaum munafik di saat ditimpa ke-sengsaraan dan cobaan, imannya tidak kokoh, dia melihat dengan akal pikirannya yang sangat pendek kepada kondisi yang terkini, dan dia selalu membenarkan dugaannya.
Al-Ahzab 33:13
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:14
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:15
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:16
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:17
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:18
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:19
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:20
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.
Al-Ahzab 33:21
"Dan ketika segolongan dari mereka berkata, 'Hai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu.' Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami ter-buka.' Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat. Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. Katakanlah, 'Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhin-dar dari kematian), tentu kamu tidak juga akan mengecap kese-nangan kecuali sebentar saja.' Katakanlah, 'Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki ben-cana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?' Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya, 'Marilah kepada kami.' Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu, dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan ber-perang, melainkan sebentar saja. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan Hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah. Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat go-longan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan RasulNya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka jan-jikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendakiNya, atau mene-rima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan. Dan Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu." (Al-Ahzab: 13-27).
(13) ﴾ وَإِذۡ قَالَت طَّآئِفَةٞ ﴿ "Dan ketika berkata segolongan" dari kaum munafik setelah berkeluh kesah dan kesabaran mereka telah me-mudar sehingga mereka juga menjadi orang-orang yang melemah-kan semangat. Mereka tidak sabar dengan diri mereka sendiri dan juga tidak melepaskan manusia dari kejahatan mereka. Golongan ini mengatakan, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ ﴿ "Hai penduduk Yatsrib." Yang mereka maksud adalah, wahai penduduk Madinah! Mereka menyeru para penduduk Madinah dengan nama negeri (yang menunjukkan tentang asal usul penamaannya), sebagai isyarat bahwa agama dan ukhuwwah imaniyah sama sekali tidak mempunyai nilai dalam hati mereka, dan bahwa yang mendorong mereka untuk melakukan hal itu hanyalah seruan biasa. ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ ﴿ "Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu," maksudnya, pada tempat kalian yang kalian tuju di luar Madinah. Pada saat itu mereka bermarkas di balik parit (Khandaq) dan di luar Madinah. ﴾ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿ "Maka kem-balilah kamu," ke Madinah. Golongan ini melemahkan semangat jihad dan menjelaskan bahwa mereka sama sekali tidak mempu-nyai kekuatan untuk memerangi musuh mereka, dan mereka mengajak untuk meninggalkan peperangan. Golongan ini meru-pakan golongan yang terburuk dan paling berbahaya. Dan ada golongan lain di bawah mereka, yaitu golongan yang diliputi oleh jiwa pengecut dan rasa takut, dan mereka lebih suka kalau terpisah dari barisan. Maka mereka pun mulai mengemukakan berbagai alasan palsu. Mereka adalah orang yang dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيَسۡتَـٔۡذِنُ فَرِيقٞ مِّنۡهُمُ ٱلنَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوۡرَةٞ ﴿ "Dan sebagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, 'Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka'," maksudnya, terancam bahaya, dan kami khawatir kalau ia diserang oleh musuh sedangkan kami tidak ada di sana. Maka izinkanlah kami, agar kami pulang dan menjaganya. Mereka adalah para pendusta dalam hal ini. ﴾ وَمَا هِيَ بِعَوۡرَةٍۖ إِن يُرِيدُونَ ﴿ "Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak," maksudnya, tujuan mereka tidak lain, ﴾ إِلَّا فِرَارٗا ﴿ "kecuali lari," namun mereka menjadikan ucapan tadi sebagai cara dan alasan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang yang imannya sangat tipis, sama sekali tidak bisa bertahan di dalam menghadapi dahsyat-nya cobaan.
(14) ﴾ وَلَوۡ دُخِلَتۡ عَلَيۡهِم ﴿ "Kalau diserang," maksudnya, Madinah diserang, ﴾ مِّنۡ أَقۡطَارِهَا ﴿ "dari segala penjuru" maksudnya, kalau seandai-nya orang-orang kafir memasuki Madinah dari segala penjurunya dan mereka menguasainya; dan hal ini tidak terjadi; lalu mereka diminta untuk ﴾ ٱلۡفِتۡنَةَ ﴿ "fitnah," maksudnya, berpaling dari agama mereka (murtad) dan kembali kepada agama orang-orang yang menguasai (Madinah) dan memenangkan (peperangan), ﴾ لَأٓتَوۡهَا ﴿ "niscaya mereka mengerjakannya," maksudnya, tentu mereka menger-jakannya dengan segera, ﴾ وَمَا تَلَبَّثُواْ بِهَآ إِلَّا يَسِيرٗا ﴿ "dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat," mak-sudnya, mereka tidak mempunyai sikap menolak dan tidak pula sikap berpegang teguh kepada agama. Bahkan dengan hanya ka-rena musuh dapat menguasai, mereka pun rela memberikan apa yang diminta, dan setuju dengan kekafiran mereka.
(15) Ini adalah kondisi mereka. Padahal mereka sebenar-nya sudah ﴾ عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ مِن قَبۡلُ لَا يُوَلُّونَ ٱلۡأَدۡبَٰرَۚ وَكَانَ عَهۡدُ ٱللَّهِ مَسۡـُٔولٗا ﴿ "berjanji kepada Allah sebelum itu, 'Mereka tidak akan berbalik ke belakang.' Dan perjan-jian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya." Dia akan meminta pertanggungan jawabnya atas janji itu. Namun ternyata mereka telah merusaknya. Lalu apa perkiraan mereka kalau ber-sikap begitu dengan Rabb mereka?
(16) ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah," kepada mereka dengan nada men-cela atas pelarian mereka, dan seraya menyampaikan kepada mereka bahwa hal itu sama sekali tidak berguna sedikit pun bagi mereka, ﴾ لَّن يَنفَعَكُمُ ٱلۡفِرَارُ إِن فَرَرۡتُم مِّنَ ٱلۡمَوۡتِ أَوِ ٱلۡقَتۡلِ ﴿ "Lari itu sekali-kali tidak-lah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembu-nuhan." Sekiranya kalian berada di rumah-rumah kalian, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh. Segala upaya itu hanya akan bisa berguna jika tidak berlawanan dengan takdir. Namun, kalau takdir sudah tiba, semua upaya menjadi tidak ada artinya, dan segala cara yang diduga oleh manusia akan bisa menyelamatkan dirinya menjadi batal (tidak berfungsi), ﴾ وَإِذٗا ﴿ "dan jika demikian," ketika kalian lari untuk menyelamatkan diri dari kematian dan pembunuhan, tentu kalian akan bersenang-senang di dunia ini. Sesungguhnya kalian ﴾ لَّا تُمَتَّعُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "tidak juga akan mengecap ke-senangan kecuali sebentar saja," suatu kesenangan yang (kadar nilai-nya) tidak sebanding dengan pelarian dan pengabaian kalian terhadap perintah Allah, serta penyia-nyiaan kalian terhadap diri kalian untuk bisa menikmati kesenangan abadi di dalam kenik-matan abadi.
(17) Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya semua sebab dan upaya, sama sekali tidak berguna bagi seseorang apabila Allah menghendaki keburukan terhadap dirinya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَن ذَا ٱلَّذِي يَعۡصِمُكُم ﴿ "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat me-lindungi kamu'," maksudnya, mencegah kalian dari ﴾ ٱللَّهِ إِنۡ أَرَادَ بِكُمۡ سُوٓءًا ﴿ "(takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu," maksudnya, keburukan, ﴾ أَوۡ أَرَادَ بِكُمۡ رَحۡمَةٗۚ ﴿ "atau menghendaki rahmat untuk dirimu," karena sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pemberi dan Maha Pen-cegah, Yang Maha Menimpakan bahaya lagi Maha Pemberi man-faat, yang tidak akan dapat mendatangkan kebaikan kecuali Dia, dan tidak pula mencegah keburukan kecuali Dia, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا ﴿ "dan mereka tidak memperoleh pelindung bagi mereka selain Allah," yang bisa melindungi mereka, lalu memberikan berbagai manfaat kepada mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak pula penolong," yang dapat menolong mereka, sehingga mencegah segala marabahaya dari mereka. Maka hendaklah mereka mematuhi ketaatan kepada Dzat Yang Esa yang mengendalikan segala perkara, yang kehendakNya pasti berlaku, takdirNya pasti terjadi, dan tidak akan berguna seorang pelindung ataupun seorang penolong bila meninggalkan perlindungan dan pertolonganNya.
(18) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang-orang yang me-lemahkan semangat jihad dan merintangi, dan Dia mengultima-tum mereka, seraya berfirman, ﴾ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلۡمُعَوِّقِينَ مِنكُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi dari kamu," untuk keluar (berperang) bagi orang-orang yang belum keluar, ﴾ وَٱلۡقَآئِلِينَ لِإِخۡوَٰنِهِمۡ ﴿ "dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudara-nya" yaitu mereka yang telah keluar, ﴾ هَلُمَّ إِلَيۡنَاۖ ﴿ "Marilah kepada kami," maksudnya, kembalilah! Sama seperti perkataan mereka dahulu, ﴾ يَٰٓأَهۡلَ يَثۡرِبَ لَا مُقَامَ لَكُمۡ فَٱرۡجِعُواْۚ ﴿" Wahai penduduk Yatsrib, tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan mereka, sekalipun menghalang-halangi dan melemahkan semangat jihad, ﴾ ل َ ا يَأۡتُونَ ٱلۡبَأۡسَ ﴿ "mereka tidak mendatangi peperangan," maksudnya, pertempuran dan jihad dengan jiwa mereka ﴾ إِلَّا قَلِيلًا ﴿ "melainkan sebentar." Jadi, mereka adalah orang yang paling berminat untuk kembali pulang, karena tidak mempunyai motivasi iman dan sifat sabar untuk hal yang demi-kian, dan karena [adanya] faktor yang menuntut kepada sikap pengecut mereka, yaitu kemunafikan dan tidak adanya iman.
(19) ﴾ أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ ﴿ "Mereka bakhil terhadapmu" dengan raga mereka di kala peperangan, dan dengan harta mereka di kala (di-seru. Pent.) berinfak untuk peperangan. Mereka tidak berjihad dengan harta dan jiwa raga mereka. ﴾ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ ﴿ "Apa-bila datang ketakutan, kamu lihat mereka itu memandang kepadamu," sebagaimana melihatnya orang yang akan pingsan, ﴾ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "karena akan mati," karena sikap pengecut yang mengoyak hati me-reka dan karena kegelisahan yang menakutkan, dan karena mereka sangat khawatir kalau mereka dipaksa melakukan sesuatu yang sangat tidak mereka suka, yaitu berperang. ﴾ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ ﴿ "Dan apabila ketakutan telah hilang," dan mereka sudah berada dalam kondisi aman dan tenang, ﴾ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ ﴿ "mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam," maksudnya, mereka berbicara kepada kalian dengan perkataan yang tajam dan klaim-klaim yang tidak benar; dan ketika engkau mendengar mereka, maka engkau menduga bahwa mereka adalah orang-orang pem-berani dan kestria, ﴾ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ ﴿ "sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan," yang diinginkan dari mereka. Ini adalah keburukan yang terburuk yang ada pada manusia, yaitu kalau dia menjadi kikir dengan apa yang diperintahkan kepadanya, kikir dengan hartanya untuk membelanjakannya pada jalan yang benar, kikir dengan raganya untuk berjihad memerangi musuh Allah, atau untuk ber-dakwah fi sabilillah, kikir dengan kedudukannya, kikir dengan ilmu, nasihat dan ide-idenya. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itu" orang-orang yang seperti itu kondisinya, ﴾ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ ﴿ "tidak beriman," disebabkan karena ketiadaan iman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا ﴿ "Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka telah dilindungi oleh Allah dari kekikiran diri mereka dan mereka dibimbing oleh Allah untuk mengorban-kan apa yang diperintahkan kepada mereka, seperti mengorbankan raga di dalam perang fi sabilillah dan meninggikan kalimatNya, serta mengorbankan harta mereka untuk berinfak dalam berbagai jalan kebaikan, dan mengorbankan kedudukan dan ilmu mereka.
(20) ﴾ يَحۡسَبُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ لَمۡ يَذۡهَبُواْۖ ﴿ "Mereka mengira golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi," maksudnya, mereka menduga bahwa pasukan sekutu yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah a dan para sahabatnya itu tidak akan pergi sebelum menghabisi mereka. Namun, dugaan mereka sia-sia dan perkiraan mereka gagal. ﴾ وَإِن يَأۡتِ ٱلۡأَحۡزَابُ ﴿ "Dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang," sekali lagi, ﴾ يَوَدُّواْ لَوۡ أَنَّهُم بَادُونَ فِي ٱلۡأَعۡرَابِ يَسۡـَٔلُونَ عَنۡ أَنۢبَآئِكُمۡۖ ﴿ "niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badui, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu," maksudnya, kalau seandainya pasukan sekutu itu datang untuk kedua kalinya seperti pada kali ini, maka orang-orang munafik itu ingin agar mereka tidak ada di Madinah dan tidak juga berada dekat dengannya, dan mereka ingin bersama orang-orang Arab Badui di dusun-dusun, sambil mencari informasi tentang berita kalian, dan mereka ber-tanya-tanya tentang kabar kalian, mengenai apa yang menimpa kalian. Sungguh mereka sangat celaka dan terkutuk. Mereka tidak termasuk orang yang bernilai kehadirannya. Dan kalaupun ﴾ كَانُواْ فِيكُم مَّا قَٰتَلُوٓاْ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "mereka berada bersama kamu, niscaya mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja," maka kalian jangan meng-hiraukan mereka dan jangan berputus asa karena mereka.
(21) ﴾ لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu," di mana be-liau menghadiri peperangan dengan jiwanya yang mulia itu, dan terjun langsung di medan perang, sedangkan beliau adalah manusia yang mulia lagi sempurna, pahlawan nan pemberani, lalu bagai-mana bisa kalian kikir dengan diri kalian untuk melakukan suatu perkara yang mana Rasulullah a sendiri langsung terjun pada-nya? Maka teladanilah beliau dalam perkara ini dan perkara yang lainnya. Para ulama ushuliyyun (ahli ushul al-fiqh) berargumen dengan ayat ini atas kehujjahan perbuatan Rasulullah a. (Baca: Perbuatan Rasulullah a itu adalah dalil hukum syar'i. Pent.). Dan bahwa hukum asalnya, umat Islam itu bersuri teladan kepadanya di dalam semua hukum, kecuali ada dalil syar'i yang mengecualikan kekhu-susan beliau. Keteladanan itu ada dua macam: Keteladanan yang baik dan keteladanan yang buruk. Keteladanan yang baik ada pada Rasulullah a. Orang yang meneladani beliau berarti menelusuri jalan yang dapat mengantarkannya kepada kemuliaan Allah, yaitu jalan yang lurus. Sedangkan bersuri teladan kepada selain beliau, –apabila menyalahi beliau–, maka itulah teladan yang buruk. Se-perti perkataan kaum musyrikin saat mereka diseru oleh para Rasul untuk meneladani mereka, ﴾ بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٖ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ 22 ﴿ "Bahkan mereka berkata, 'Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka'." (Az-Zukh-ruf: 22). Suri teladan yang baik ini hanya akan ditelurusi dan diikuti oleh orang yang menginginkan Allah dan Hari Akhir. Hal itu terjadi karena iman yang dimilikinya, rasa takut kepada Allah dan mengharapkan pahala kepadaNya, takut akan siksaNya yang se-muanya mendorongnya untuk meneladani Rasulullah a.
(22) Setelah Allah menjelaskan keadaan orang-orang mu-nafik dalam keadaan takut, maka berikutnya Allah menjelaskan keadaan kaum Mukminin, seraya berfirman, ﴾ وَلَمَّا رَءَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلۡأَحۡزَابَ ﴿ "Dan tatkala orang-orang Mukmin melihat golongan-golongan yang ber-sekutu," yang telah berkoalisi dan telah menempati tempat-tempat-nya, dan rasa takut pun telah hilang ﴾ قَالُواْ هَٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ﴿ "mereka berkata, 'Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita'," yaitu dalam FirmanNya, ﴾ أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا يَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوۡاْ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلۡزِلُواْ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَآ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ 214 ﴿ "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terda-hulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata-lah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (Al-Baqarah: 214). ﴾ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥۚ ﴿ "Dan benarlah Allah dan RasulNya," sebab kami telah melihat apa yang telah diberitakanNya kepada kami. ﴾ وَمَا زَادَهُمۡ ﴿ "Dan tidaklah menambah kepada mereka," perkara itu, ﴾ إِلَّآ إِيمَٰنٗا ﴿ "kecuali iman," di dalam hati mereka ﴾ وَتَسۡلِيمٗا ﴿ "dan ketundukan," dalam se-luruh anggota tubuh mereka, dan mereka bertambah patuh kepada perintah Allah.
(23) Dan ketika Allah menyebutkan bahwasanya orang-orang munafik telah berjanji kepada Allah untuk tidak berpaling (melarikan diri) dan mereka telah membatalkan janji tersebut, maka Allah menyebutkan sikap tepat janji kaum Mukminin, seraya ber-firman, ﴾ مِّنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ رِجَالٞ صَدَقُواْ مَا عَٰهَدُواْ ٱللَّهَ عَلَيۡهِۖ ﴿ "Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah," maksudnya, mereka menunaikannya, melaksanakan dan menyempurnakannya. Mereka pun mengorbankan jiwa raga me-reka di dalam keridhaanNya dan mereka mendermakan jiwa me-reka di dalam ketaatan kepadaNya. ﴾ فَمِنۡهُم مَّن قَضَىٰ نَحۡبَهُۥ ﴿ "Maka di antara mereka ada yang gugur," maksudnya, menuntaskan keinginan dan harapannya serta hak yang menjadi tanggungannya. Lalu dia ter-bunuh fi sabilillah atau meninggal dalam keadaan sudah melaksana-kan kewajibannya, tanpa mengurangi sedikitpun, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن يَنتَظِرُۖ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu," penyempurnaan kewajibannya. Ia sedang menunaikan apa yang menjadi kewa-jibannya dan sedang memenuhi keinginannya, namun dia belum menuntaskannya; sedangkan ia berharap bisa menyempurnakan-nya, berupaya dan bersungguh-sungguh untuk hal itu. ﴾ وَمَا بَدَّلُواْ تَبۡدِيلٗا ﴿ "Dan mereka sedikitpun tidak merubah," seperti kelompok yang lain (kaum munafikin) telah merubahnya. Malah mereka tetap berpegang pada janji, mereka tidak berpaling dan tidak pula merubah. Mereka itulah sosok orang-orang besar yang sejati, sedangkan orang-orang selain mereka, raganya adalah raga manusia jantan, sedangkan sifat-sifat mereka sungguh sangat jauh dari sifat-sifat orang-orang besar.
(24) ﴾ لِّيَجۡزِيَ ٱللَّهُ ٱلصَّٰدِقِينَ بِصِدۡقِهِمۡ ﴿ "Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya" maksudnya, disebabkan kejujuran mereka dalam perkataan, berbagai kondisi dan muamalah mereka bersama Allah سبحانه وتعالى serta kesamaan lahir de-ngan batin mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَالَ ٱللَّهُ هَٰذَا يَوۡمُ يَنفَعُ ٱلصَّٰدِقِينَ صِدۡقُهُمۡۚ لَهُمۡ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ ﴿ "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Mereka mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." (Al-Ma`idah: 119). Maksudnya, Kami telah menetapkan berbagai cobaan, ujian dan goncangan ini adalah agar orang yang jujur bisa dibedakan dari orang yang dusta, sehingga orang-orang yang jujur diberi balasan disebabkan kejujuran mereka. ﴾ وَيُعَذِّبَ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ ﴿ "Dan menyiksa orang-orang munafik," yang hati dan amal perbuatan mereka berubah saat terjadinya cobaan, dan mereka tidak menunaikan apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. ﴾ إِن شَآءَ ﴿ "Jika dikehendakiNya" menyiksa mereka, yaitu dengan cara tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk. Bahkan Allah سبحانه وتعالى sudah mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mengan-dung kebaikan, maka Allah tidak memberi mereka taufikNya,﴾ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "atau menerima taubat mereka," dengan cara membimbing mereka bertaubat dan berinabah. Dan inilah yang sering terjadi bagi kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah. Maka dari itu ayat ini ditutup dengan dua nama(Nya) yang mengandung makna magh-firah, karunia dan ihsan (kebaikan), seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun," mengampuni dosa-dosa orang-orang yang telah terlanjur melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, sekalipun mereka telah banyak melakukan kemaksiatan, selama mereka datang dengan bertaubat, ﴾ رَّحِيمٗا ﴿ "lagi Maha Penyayang," terhadap mereka, yang mana Dia telah membim-bing mereka kepada taubat, lalu menerima taubat dan menghapus dosa-dosa yang telah mereka lakukan.
(25) ﴾ وَرَدَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِغَيۡظِهِمۡ لَمۡ يَنَالُواْ خَيۡرٗاۚ ﴿ "Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, lagi mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun," maksudnya, Allah mengembalikan mereka dalam kegagalan, mereka sama sekali tidak memperoleh target yang selama ini sangat mereka inginkan, dengan penuh rasa jengkel, karena merasa mampu menguasai, dan berkeyakinan bahwa kemenangan ada di pihak mereka. Mereka telah terpedaya dengan jumlah mereka yang sangat besar dan me-rasa bangga dengan koalisi yang mereka bangun dan sangat senang dengan persiapan dan jumlah mereka. Lalu Allah meniupkan angin topan besar, yaitu angin puyuh yang memporak-porandakan markas pertahanan mereka dan mengombrak-abrik kemah-kemah, mereka menumpahkan panci-panci besar mereka, serta membuat mereka kebingungan, dan Allah pun menimpakan rasa takut ke-pada mereka. Akhirnya mereka pun pulang dengan rasa jengkel. Ini bagian dari pertolongan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman. ﴾ وَكَفَى ٱللَّهُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلۡقِتَالَۚ ﴿ "Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan," dengan cara yang Dia lakukan terhadap mereka, seperti faktor-faktor alamiah dan yang bersifat taqdiri. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." Ti-daklah seseorang berupaya mengalahkanNya melainkan ia pasti kalah, dan tidaklah seseorang meminta pertolongan kepadaNya, melainkan pasti dia menang, tidak ada suatu penghalang pun yang dapat menghalangi kehendakNya, dan tidak berguna kekuatan dan keperkasaan orang-orang yang memiliki kekuatan dan keper-kasaan jika Dia tidak menolong mereka dengan kekuatan dan keperkasaanNya.
(26) ﴾ وَأَنزَلَ ٱلَّذِينَ ظَٰهَرُوهُم ﴿ "Dan Dia menurunkan orang-orang yang membantu mereka," maksudnya, menolong mereka, ﴾ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ﴿ "dari Ahli Kitab" maksudnya, dari kaum Yahudi, ﴾ مِن صَيَاصِيهِمۡ ﴿ "dari benteng-benteng mereka," maksudnya, Dia menurunkan mereka dari benteng-benteng pertahanan mereka dalam keadaan terkalahkan lagi menjadi di bawah kekuasaan Islam, ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَ ﴿ "dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka," sehingga mereka tidak berani berperang, bahkan mereka menyerah, tunduk dan hina. ﴾ فَرِيقٗا تَقۡتُلُونَ ﴿ "Sebagian mereka kamu bunuh," yaitu kaum laki-laki dewasa yang memerangi, ﴾ وَتَأۡسِرُونَ فَرِيقٗا ﴿ "dan sebagian yang lain kamu tawan," yaitu kaum wanita dan anak-anak.
(27) ﴾ وَأَوۡرَثَكُمۡ ﴿ "Dan Dia mewariskan kepada kamu" maksud-nya, menjadikan kalian merampas ghanimah ﴾ أَرۡضَهُمۡ وَدِيَٰرَهُمۡ وَأَمۡوَٰلَهُمۡ وَأَرۡضٗا لَّمۡ تَطَـُٔوهَاۚ ﴿ "tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan begitu pula tanah yang belum kamu injak." Maksudnya, tanah yang sebelum-nya, –karena kemuliaan dan kehormatannya bagi pemiliknya–, kalian tidak dapat menginjaknya. Lalu sekarang Allah memberikan kekuasaan kepada kalian dan menjadikan mereka hina, kalian ambil harta benda mereka sebagai ghanimah, kalian bunuh mereka dan kalian tawan sebagian mereka. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu," tidak ada apa pun yang dapat membuatNya lemah. Dan di antara kekuasaanNya adalah Dia telah menetapkan takdir yang telah ditetapkanNya untuk kalian. Sekelompok manusia dari Ahli Kitab ini adalah Bani Qurai-zhah dari kaum Yahudi yang tinggal di suatu perkampungan tidak jauh di luar Madinah. Dan pada waktu Nabi a berhijrah ke Madinah, beliau mengadakan perdamaian dan genjatan senjata dengan mereka. Maka beliau pun tidak memerangi mereka dan mereka pun tidak memeranginya, dalam keadaan mereka tetap menganut agama mereka, dan Nabi tidak merubah apa pun dari ajaran mereka. Namun, tatkala mereka melihat pasukan koalisi yang telah berkoalisi untuk memerangi Rasulullah dan banyaknya jum-lah mereka serta mereka melihat kecilnya jumlah kaum Muslimin pada peristiwa perang Khandaq, dan mereka merasa yakin bahwa pasukan koalisi akan menghabisi Rasulullah dan kaum Muslimin, dan hal itu didukung dengan provokasi sebagian pemimpin me-reka, maka mereka (Bani Quraizhah) membatalkan perjanjian yang ada antara mereka dengan Rasulullah a, dan membantu kaum musyrikin (pasukan sekutu) untuk memerangi beliau. Tatkala Allah سبحانه وتعالى memporak-porandakan kaum musyrikin, maka Rasulullah a berkonsentrasi untuk memerangi kaum Yahudi itu. Beliau pun mengepung mereka yang bertahan dalam benteng. Kemudian mereka menerima ketentuan (keputusan) Sa'ad bin Mu'adz رضي الله عنه. Sa'ad bin Mu'adz memutuskan terhadap mereka agar kaum laki-laki yang memerangi dibunuh, kaum wanita dan anak-anak mereka ditawan, sedangkan harta benda mereka dijadikan rampasan perang. Dengan demikian Allah telah menyempurnakan karuniaNya kepada RasulNya dan kaum Mukminin, melimpahkan nikmatNya kepada mereka dan menjadikan jiwa mereka lega dengan membina-sakan orang-orang yang binasa dari kalangan musuh-musuhnya, dan dibunuhlah orang-orang yang harus dibunuh dan ditawanlah orang-orang yang mesti ditawan. Kelembutan Allah سبحانه وتعالى terhadap hamba-hambaNya yang beriman senantiasa tetap berlanjut.