Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Saba' 34:48 – Yasin 36:30

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Saba' 34:48
  2. Saba' 34:49
  3. Saba' 34:50
  4. Saba' 34:51
  5. Saba' 34:52
  6. Saba' 34:53
  7. Saba' 34:54
  8. Fatir 35:1
  9. Fatir 35:2
  10. Fatir 35:3
  11. Fatir 35:4
  12. Fatir 35:5
  13. Fatir 35:6
  14. Fatir 35:7
  15. Fatir 35:8
  16. Fatir 35:9
  17. Fatir 35:10
  18. Fatir 35:11
  19. Fatir 35:12
  20. Fatir 35:13
  21. Fatir 35:14
  22. Fatir 35:15
  23. Fatir 35:16
  24. Fatir 35:17
  25. Fatir 35:18
  26. Fatir 35:19
  27. Fatir 35:20
  28. Fatir 35:21
  29. Fatir 35:22
  30. Fatir 35:23
  31. Fatir 35:24
  32. Fatir 35:25
  33. Fatir 35:26
  34. Fatir 35:27
  35. Fatir 35:28
  36. Fatir 35:29
  37. Fatir 35:30
  38. Fatir 35:31
  39. Fatir 35:32
  40. Fatir 35:33
  41. Fatir 35:34
  42. Fatir 35:35
  43. Fatir 35:36
  44. Fatir 35:37
  45. Fatir 35:38
  46. Fatir 35:39
  47. Fatir 35:40
  48. Fatir 35:41
  49. Fatir 35:42
  50. Fatir 35:43
  51. Fatir 35:44
  52. Fatir 35:45
  53. Yasin 36:1
  54. Yasin 36:2
  55. Yasin 36:3
  56. Yasin 36:4
  57. Yasin 36:5
  58. Yasin 36:6
  59. Yasin 36:7
  60. Yasin 36:8
  61. Yasin 36:9
  62. Yasin 36:10
  63. Yasin 36:11
  64. Yasin 36:12
  65. Yasin 36:13
  66. Yasin 36:14
  67. Yasin 36:15
  68. Yasin 36:16
  69. Yasin 36:17
  70. Yasin 36:18
  71. Yasin 36:19
  72. Yasin 36:20
  73. Yasin 36:21
  74. Yasin 36:22
  75. Yasin 36:23
  76. Yasin 36:24
  77. Yasin 36:25
  78. Yasin 36:26
  79. Yasin 36:27
  80. Yasin 36:28
  81. Yasin 36:29
  82. Yasin 36:30

Saba' 34:48

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebe-naran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.' Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba`: 46-50). (46) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, kepada mereka yang mendustakan lagi keras kepala yang bersikap meno-lak kebenaran dan mendustakannya serta mencela orang yang membawanya, ﴾ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍۖ ﴿ "Sesungguhnya aku hendak memper-ingatkan kepadamu satu hal saja," maksudnya satu masalah saja yang akan aku pesankan kepada kalian dan aku nasihatkan agar kalian menjalaninya. Yaitu jalan pertengahan, aku tidak mengajak kalian untuk mengikuti perkataanku dan tidak mengajak untuk mening-galkan perkataan kalian tanpa ada sebabnya yang jelas. Yaitu ﴾ أَن تَقُومُواْ لِلَّهِ مَثۡنَىٰ وَفُرَٰدَىٰ ﴿ "supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri," maksudnya, supaya kalian bangkit dengan semangat dan giat serta dengan tujuan mengikuti yang benar dan ikhlas kepada Allah, saling mencari dan saling merenung secara bersama-sama dan sendiri-sendiri. Masing-masing berdialog dengan jiwanya dalam hal ini. Apabila kalian telah menghadap kepada Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, maka kalian telah menggunakan akal pikiran kalian sendiri, kalian telah menghargai-nya dan kalian telah menghayati (merenungkan) keadaan dan kondisi Rasul kalian, apakah dia seorang gila yang memiliki sifat-sifat, perbuatan-perbuatan gila dari perkataannya atau seorang Nabi nan jujur yang memberikan peringatan kepada kalian tentang sesuatu yang membahayakan kalian berupa azab yang sangat dahsyat yang ada di hadapan kalian? Kalau saja mereka menerima dan melaksanakan nasihat ini, tentu mereka akan mengetahui lebih jelas daripada selain mereka bahwa Rasulullah a ini bukanlah seorang gila, karena perilakunya tidak seperti perilaku orang-orang gila dalam pengamatan, per-hatian dan pandangan mereka. Malah perilakunya adalah perilaku yang terbaik, gerak-geriknya adalah gerak-gerik yang paling mulia, dan dia merupakan manusia yang paling sempurna budi pekerti dan ketenangannya, kerendahan hati dan kewibawaannya, dia tidak lain adalah lelaki yang paling matang akalnya. Kemudian apabila mereka mengamati perkataannya yang sangat fasih dan kata-katanya yang sangat manis dan kalimat-kalimatnya yang memenuhi hati dengan rasa aman dan keimanan, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, memotivasi untuk ber-akhlak mulia, memberikan rangsangan untuk berbudi pekerti nan luhur serta mencegah perilaku buruk (akhlak tidak terpuji) lagi rendahan. Ketika dia berbicara, niscaya perhatian mata terarah kepadanya sebagai bentuk segan dan menghormati serta memulia-kan. Lalu apakah orang yang seperti ini sama dengan ketidaksa-daran orang-orang gila, keburukan perilaku dan perkataan mereka sama dengan keadaan dan kondisi mereka? Siapa saja yang memperhatikan kondisi dan perihal beliau, sedangkan maksudnya adalah mencari tahu, apakah dia seorang Rasul atau bukan? Apakah dia mengamati sendiri-sendiri atau bersama orang lain, maka pasti dia akan memastikan bahwa dia adalah Rasulullah sejati dan NabiNya yang sesungguhnya; apalagi orang-orang yang dijadikan lawan bicara, yang Muhammad a itu sendiri sahabat mereka, adalah orang-orang yang mengetahui keadaan dan perihalnya dari A sampai Z-nya. (47) Di sana ada penghalang lain bagi jiwa untuk mengikuti orang yang menyeru kepada al-haq (kebenaran), yaitu kalau ia (penyeru) memungut harta orang yang diharapkan menerima seruannya, dan mengambil imbalan atas dakwahnya. Maka Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kebersihan RasulNya dari perkara seperti ini, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٖ ﴿ "Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu'," maksudnya, dalam rangka kalian mengikuti kebenaran, ﴾ فَهُوَ لَكُمۡۖ ﴿ "maka itu untuk kamu." Maka aku persaksikan bahwa upah itu, kalaupun aku minta, maka itu adalah untuk kalian. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٞ ﴿ "Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." IlmuNya meliputi apa yang aku serukan. Maka kalau aku berdusta, tentu Dia akan merenggutku dengan siksaanNya. Dan Dia juga menyaksikan perbuatan kalian, Dia akan menyimpannya untuk kalian, lalu Dia akan memberikan balasannya kepada kalian. (48) Setelah Allah menjelaskan argumen-argumen yang membuktikan kebenaran al-haq dan kepalsuan kebatilan, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa yang demikian ini adalah sunnahNya dan kebiasaanNya, yaitu memenangkan yang haq atas yang batil, lalu mengenyahkannya, hingga kebatilan binasa. Sebab Allah سبحانه وتعالى menjelaskan yang haq di dalam tema ini agar Dia menggunakan-nya untuk membantah perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan, hingga bisa dijadikan ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dan ayat (tanda) bagi orang-orang yang merenungkan. Sesungguhnya Anda bisa melihat bagaimana perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan itu menjadi redup (tumbang, binasa), kedustaan dan sikap keras kepala mereka terungkap, sedangkan yang haq menjadi nampak dan berkilau, dan kebatilan menjadi batal dan padam. Semua itu disebabkan penjelasan dari ﴾ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib" yang mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, berupa bisikan-bisikan buruk dan syubhat; dan Mengetahui lawannya dan menolaknya dengan hujjah, lalu Dia mengajarkan kepada hamba-hambaNya dan menjelaskannya kepada mereka. (49) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Katakanlah, 'Kebenaran telah datang'," maksudnya, kebenaran telah jelas, nampak dan menjadi laksana matahari, dan kekuatannya sudah jelas,﴾ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ﴿ "dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi," maksudnya, ia menjadi redup dan keadaannya menjadi sirna serta hilang kekuatannya, maka ia tidak akan me-mulai dan tidak pula akan mengulangi. (50) Setelah kebenaran menjadi jelas melalui seruan yang diserukan oleh Rasul, yang mana sebelumnya orang-orang yang mendustakannya menuduhnya sesat, maka Allah memberitakan kepada mereka tentang yang haq dan menjelaskannya kepada mereka dan menyingkap ketidakberdayaan mereka untuk menen-tangnya. Dan Allah memberitakan kepada mereka bahwa tuduhan sesat yang dialamatkan kepadanya (kepada rasul. Pent.) sama se-kali tidak membahayakan yang haq itu sedikit pun dan tidak pula bisa mencegah apa yang beliau bawa. Dan sesungguhnya, kalau beliau sesat (ini tidak mungkin, ini merupakan sikap merendahkan diri dalam berdebat), maka sesungguhnya kesesatannya hanya akan menimpa dirinya sendiri. Maksudnya, kesesatannya hanya terbatas menimpa dirinya, tidak berpengaruh kepada orang lain. ﴾ وَإِنِ ٱهۡتَدَيۡتُ ﴿ "Dan jika aku mendapat petunjuk," maka hal ini bukan dari diriku, bukan karena kemampuan atau kekuatanku. Sesung-guhnya petunjukku adalah karena sesuatu ﴾ يُوحِيٓ إِلَيَّ رَبِّيٓۚ ﴿ "yang di-wahyukan Rabbku kepadaku." Dia-lah sumber hidayahku, sebagai-mana Dia pulalah sumber hidayah bagi selainku. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar semua perkataan dan semua suara. Dia Mahadekat dari orang yang berdoa kepadaNya, memohon dan beribadah kepadaNya.

Saba' 34:49

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebe-naran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.' Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba`: 46-50). (46) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, kepada mereka yang mendustakan lagi keras kepala yang bersikap meno-lak kebenaran dan mendustakannya serta mencela orang yang membawanya, ﴾ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍۖ ﴿ "Sesungguhnya aku hendak memper-ingatkan kepadamu satu hal saja," maksudnya satu masalah saja yang akan aku pesankan kepada kalian dan aku nasihatkan agar kalian menjalaninya. Yaitu jalan pertengahan, aku tidak mengajak kalian untuk mengikuti perkataanku dan tidak mengajak untuk mening-galkan perkataan kalian tanpa ada sebabnya yang jelas. Yaitu ﴾ أَن تَقُومُواْ لِلَّهِ مَثۡنَىٰ وَفُرَٰدَىٰ ﴿ "supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri," maksudnya, supaya kalian bangkit dengan semangat dan giat serta dengan tujuan mengikuti yang benar dan ikhlas kepada Allah, saling mencari dan saling merenung secara bersama-sama dan sendiri-sendiri. Masing-masing berdialog dengan jiwanya dalam hal ini. Apabila kalian telah menghadap kepada Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, maka kalian telah menggunakan akal pikiran kalian sendiri, kalian telah menghargai-nya dan kalian telah menghayati (merenungkan) keadaan dan kondisi Rasul kalian, apakah dia seorang gila yang memiliki sifat-sifat, perbuatan-perbuatan gila dari perkataannya atau seorang Nabi nan jujur yang memberikan peringatan kepada kalian tentang sesuatu yang membahayakan kalian berupa azab yang sangat dahsyat yang ada di hadapan kalian? Kalau saja mereka menerima dan melaksanakan nasihat ini, tentu mereka akan mengetahui lebih jelas daripada selain mereka bahwa Rasulullah a ini bukanlah seorang gila, karena perilakunya tidak seperti perilaku orang-orang gila dalam pengamatan, per-hatian dan pandangan mereka. Malah perilakunya adalah perilaku yang terbaik, gerak-geriknya adalah gerak-gerik yang paling mulia, dan dia merupakan manusia yang paling sempurna budi pekerti dan ketenangannya, kerendahan hati dan kewibawaannya, dia tidak lain adalah lelaki yang paling matang akalnya. Kemudian apabila mereka mengamati perkataannya yang sangat fasih dan kata-katanya yang sangat manis dan kalimat-kalimatnya yang memenuhi hati dengan rasa aman dan keimanan, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, memotivasi untuk ber-akhlak mulia, memberikan rangsangan untuk berbudi pekerti nan luhur serta mencegah perilaku buruk (akhlak tidak terpuji) lagi rendahan. Ketika dia berbicara, niscaya perhatian mata terarah kepadanya sebagai bentuk segan dan menghormati serta memulia-kan. Lalu apakah orang yang seperti ini sama dengan ketidaksa-daran orang-orang gila, keburukan perilaku dan perkataan mereka sama dengan keadaan dan kondisi mereka? Siapa saja yang memperhatikan kondisi dan perihal beliau, sedangkan maksudnya adalah mencari tahu, apakah dia seorang Rasul atau bukan? Apakah dia mengamati sendiri-sendiri atau bersama orang lain, maka pasti dia akan memastikan bahwa dia adalah Rasulullah sejati dan NabiNya yang sesungguhnya; apalagi orang-orang yang dijadikan lawan bicara, yang Muhammad a itu sendiri sahabat mereka, adalah orang-orang yang mengetahui keadaan dan perihalnya dari A sampai Z-nya. (47) Di sana ada penghalang lain bagi jiwa untuk mengikuti orang yang menyeru kepada al-haq (kebenaran), yaitu kalau ia (penyeru) memungut harta orang yang diharapkan menerima seruannya, dan mengambil imbalan atas dakwahnya. Maka Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kebersihan RasulNya dari perkara seperti ini, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٖ ﴿ "Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu'," maksudnya, dalam rangka kalian mengikuti kebenaran, ﴾ فَهُوَ لَكُمۡۖ ﴿ "maka itu untuk kamu." Maka aku persaksikan bahwa upah itu, kalaupun aku minta, maka itu adalah untuk kalian. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٞ ﴿ "Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." IlmuNya meliputi apa yang aku serukan. Maka kalau aku berdusta, tentu Dia akan merenggutku dengan siksaanNya. Dan Dia juga menyaksikan perbuatan kalian, Dia akan menyimpannya untuk kalian, lalu Dia akan memberikan balasannya kepada kalian. (48) Setelah Allah menjelaskan argumen-argumen yang membuktikan kebenaran al-haq dan kepalsuan kebatilan, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa yang demikian ini adalah sunnahNya dan kebiasaanNya, yaitu memenangkan yang haq atas yang batil, lalu mengenyahkannya, hingga kebatilan binasa. Sebab Allah سبحانه وتعالى menjelaskan yang haq di dalam tema ini agar Dia menggunakan-nya untuk membantah perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan, hingga bisa dijadikan ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dan ayat (tanda) bagi orang-orang yang merenungkan. Sesungguhnya Anda bisa melihat bagaimana perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan itu menjadi redup (tumbang, binasa), kedustaan dan sikap keras kepala mereka terungkap, sedangkan yang haq menjadi nampak dan berkilau, dan kebatilan menjadi batal dan padam. Semua itu disebabkan penjelasan dari ﴾ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib" yang mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, berupa bisikan-bisikan buruk dan syubhat; dan Mengetahui lawannya dan menolaknya dengan hujjah, lalu Dia mengajarkan kepada hamba-hambaNya dan menjelaskannya kepada mereka. (49) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Katakanlah, 'Kebenaran telah datang'," maksudnya, kebenaran telah jelas, nampak dan menjadi laksana matahari, dan kekuatannya sudah jelas,﴾ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ﴿ "dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi," maksudnya, ia menjadi redup dan keadaannya menjadi sirna serta hilang kekuatannya, maka ia tidak akan me-mulai dan tidak pula akan mengulangi. (50) Setelah kebenaran menjadi jelas melalui seruan yang diserukan oleh Rasul, yang mana sebelumnya orang-orang yang mendustakannya menuduhnya sesat, maka Allah memberitakan kepada mereka tentang yang haq dan menjelaskannya kepada mereka dan menyingkap ketidakberdayaan mereka untuk menen-tangnya. Dan Allah memberitakan kepada mereka bahwa tuduhan sesat yang dialamatkan kepadanya (kepada rasul. Pent.) sama se-kali tidak membahayakan yang haq itu sedikit pun dan tidak pula bisa mencegah apa yang beliau bawa. Dan sesungguhnya, kalau beliau sesat (ini tidak mungkin, ini merupakan sikap merendahkan diri dalam berdebat), maka sesungguhnya kesesatannya hanya akan menimpa dirinya sendiri. Maksudnya, kesesatannya hanya terbatas menimpa dirinya, tidak berpengaruh kepada orang lain. ﴾ وَإِنِ ٱهۡتَدَيۡتُ ﴿ "Dan jika aku mendapat petunjuk," maka hal ini bukan dari diriku, bukan karena kemampuan atau kekuatanku. Sesung-guhnya petunjukku adalah karena sesuatu ﴾ يُوحِيٓ إِلَيَّ رَبِّيٓۚ ﴿ "yang di-wahyukan Rabbku kepadaku." Dia-lah sumber hidayahku, sebagai-mana Dia pulalah sumber hidayah bagi selainku. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar semua perkataan dan semua suara. Dia Mahadekat dari orang yang berdoa kepadaNya, memohon dan beribadah kepadaNya.

Saba' 34:50

"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.' Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.' Katakanlah, 'Sesungguhnya Rabbku mewahyukan kebe-naran. Dia Maha Mengetahui segala yang ghaib.' Katakanlah, 'Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi.' Katakanlah, 'Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk, maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Rabbku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Mahadekat." (Saba`: 46-50). (46) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah" wahai Rasul, kepada mereka yang mendustakan lagi keras kepala yang bersikap meno-lak kebenaran dan mendustakannya serta mencela orang yang membawanya, ﴾ إِنَّمَآ أَعِظُكُم بِوَٰحِدَةٍۖ ﴿ "Sesungguhnya aku hendak memper-ingatkan kepadamu satu hal saja," maksudnya satu masalah saja yang akan aku pesankan kepada kalian dan aku nasihatkan agar kalian menjalaninya. Yaitu jalan pertengahan, aku tidak mengajak kalian untuk mengikuti perkataanku dan tidak mengajak untuk mening-galkan perkataan kalian tanpa ada sebabnya yang jelas. Yaitu ﴾ أَن تَقُومُواْ لِلَّهِ مَثۡنَىٰ وَفُرَٰدَىٰ ﴿ "supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri," maksudnya, supaya kalian bangkit dengan semangat dan giat serta dengan tujuan mengikuti yang benar dan ikhlas kepada Allah, saling mencari dan saling merenung secara bersama-sama dan sendiri-sendiri. Masing-masing berdialog dengan jiwanya dalam hal ini. Apabila kalian telah menghadap kepada Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri, maka kalian telah menggunakan akal pikiran kalian sendiri, kalian telah menghargai-nya dan kalian telah menghayati (merenungkan) keadaan dan kondisi Rasul kalian, apakah dia seorang gila yang memiliki sifat-sifat, perbuatan-perbuatan gila dari perkataannya atau seorang Nabi nan jujur yang memberikan peringatan kepada kalian tentang sesuatu yang membahayakan kalian berupa azab yang sangat dahsyat yang ada di hadapan kalian? Kalau saja mereka menerima dan melaksanakan nasihat ini, tentu mereka akan mengetahui lebih jelas daripada selain mereka bahwa Rasulullah a ini bukanlah seorang gila, karena perilakunya tidak seperti perilaku orang-orang gila dalam pengamatan, per-hatian dan pandangan mereka. Malah perilakunya adalah perilaku yang terbaik, gerak-geriknya adalah gerak-gerik yang paling mulia, dan dia merupakan manusia yang paling sempurna budi pekerti dan ketenangannya, kerendahan hati dan kewibawaannya, dia tidak lain adalah lelaki yang paling matang akalnya. Kemudian apabila mereka mengamati perkataannya yang sangat fasih dan kata-katanya yang sangat manis dan kalimat-kalimatnya yang memenuhi hati dengan rasa aman dan keimanan, menyucikan jiwa dan membersihkan hati, memotivasi untuk ber-akhlak mulia, memberikan rangsangan untuk berbudi pekerti nan luhur serta mencegah perilaku buruk (akhlak tidak terpuji) lagi rendahan. Ketika dia berbicara, niscaya perhatian mata terarah kepadanya sebagai bentuk segan dan menghormati serta memulia-kan. Lalu apakah orang yang seperti ini sama dengan ketidaksa-daran orang-orang gila, keburukan perilaku dan perkataan mereka sama dengan keadaan dan kondisi mereka? Siapa saja yang memperhatikan kondisi dan perihal beliau, sedangkan maksudnya adalah mencari tahu, apakah dia seorang Rasul atau bukan? Apakah dia mengamati sendiri-sendiri atau bersama orang lain, maka pasti dia akan memastikan bahwa dia adalah Rasulullah sejati dan NabiNya yang sesungguhnya; apalagi orang-orang yang dijadikan lawan bicara, yang Muhammad a itu sendiri sahabat mereka, adalah orang-orang yang mengetahui keadaan dan perihalnya dari A sampai Z-nya. (47) Di sana ada penghalang lain bagi jiwa untuk mengikuti orang yang menyeru kepada al-haq (kebenaran), yaitu kalau ia (penyeru) memungut harta orang yang diharapkan menerima seruannya, dan mengambil imbalan atas dakwahnya. Maka Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kebersihan RasulNya dari perkara seperti ini, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ مَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٖ ﴿ "Katakanlah, 'Upah apa pun yang aku minta kepadamu'," maksudnya, dalam rangka kalian mengikuti kebenaran, ﴾ فَهُوَ لَكُمۡۖ ﴿ "maka itu untuk kamu." Maka aku persaksikan bahwa upah itu, kalaupun aku minta, maka itu adalah untuk kalian. ﴾ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٞ ﴿ "Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." IlmuNya meliputi apa yang aku serukan. Maka kalau aku berdusta, tentu Dia akan merenggutku dengan siksaanNya. Dan Dia juga menyaksikan perbuatan kalian, Dia akan menyimpannya untuk kalian, lalu Dia akan memberikan balasannya kepada kalian. (48) Setelah Allah menjelaskan argumen-argumen yang membuktikan kebenaran al-haq dan kepalsuan kebatilan, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa yang demikian ini adalah sunnahNya dan kebiasaanNya, yaitu memenangkan yang haq atas yang batil, lalu mengenyahkannya, hingga kebatilan binasa. Sebab Allah سبحانه وتعالى menjelaskan yang haq di dalam tema ini agar Dia menggunakan-nya untuk membantah perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan, hingga bisa dijadikan ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang mengambil pelajaran dan ayat (tanda) bagi orang-orang yang merenungkan. Sesungguhnya Anda bisa melihat bagaimana perkataan-perkataan orang-orang yang mendustakan itu menjadi redup (tumbang, binasa), kedustaan dan sikap keras kepala mereka terungkap, sedangkan yang haq menjadi nampak dan berkilau, dan kebatilan menjadi batal dan padam. Semua itu disebabkan penjelasan dari ﴾ عَلَّٰمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴿ "Dzat Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib" yang mengetahui segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, berupa bisikan-bisikan buruk dan syubhat; dan Mengetahui lawannya dan menolaknya dengan hujjah, lalu Dia mengajarkan kepada hamba-hambaNya dan menjelaskannya kepada mereka. (49) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ قُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "Katakanlah, 'Kebenaran telah datang'," maksudnya, kebenaran telah jelas, nampak dan menjadi laksana matahari, dan kekuatannya sudah jelas,﴾ وَمَا يُبۡدِئُ ٱلۡبَٰطِلُ وَمَا يُعِيدُ ﴿ "dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak pula akan mengulangi," maksudnya, ia menjadi redup dan keadaannya menjadi sirna serta hilang kekuatannya, maka ia tidak akan me-mulai dan tidak pula akan mengulangi. (50) Setelah kebenaran menjadi jelas melalui seruan yang diserukan oleh Rasul, yang mana sebelumnya orang-orang yang mendustakannya menuduhnya sesat, maka Allah memberitakan kepada mereka tentang yang haq dan menjelaskannya kepada mereka dan menyingkap ketidakberdayaan mereka untuk menen-tangnya. Dan Allah memberitakan kepada mereka bahwa tuduhan sesat yang dialamatkan kepadanya (kepada rasul. Pent.) sama se-kali tidak membahayakan yang haq itu sedikit pun dan tidak pula bisa mencegah apa yang beliau bawa. Dan sesungguhnya, kalau beliau sesat (ini tidak mungkin, ini merupakan sikap merendahkan diri dalam berdebat), maka sesungguhnya kesesatannya hanya akan menimpa dirinya sendiri. Maksudnya, kesesatannya hanya terbatas menimpa dirinya, tidak berpengaruh kepada orang lain. ﴾ وَإِنِ ٱهۡتَدَيۡتُ ﴿ "Dan jika aku mendapat petunjuk," maka hal ini bukan dari diriku, bukan karena kemampuan atau kekuatanku. Sesung-guhnya petunjukku adalah karena sesuatu ﴾ يُوحِيٓ إِلَيَّ رَبِّيٓۚ ﴿ "yang di-wahyukan Rabbku kepadaku." Dia-lah sumber hidayahku, sebagai-mana Dia pulalah sumber hidayah bagi selainku. Sesungguhnya Rabbku Maha Mendengar semua perkataan dan semua suara. Dia Mahadekat dari orang yang berdoa kepadaNya, memohon dan beribadah kepadaNya.

Saba' 34:51

"Dan jikalau kamu melihat ketika mereka terperanjat keta-kutan (pada Hari Kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), dan mereka berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya me-reka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam." (Saba`: 51-54). (51) Allah سبحانه وتعالى berfirman ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan jikalau kamu melihat," wahai Rasul dan orang yang menduduki kedudukanmu, tentang keadaan mereka yang mendustakan ﴾ إِذۡ فَزِعُواْ ﴿ "ketika mereka terpe-ranjat ketakutan (pada Hari Kiamat)," di saat mereka melihat azab dan apa-apa yang telah diberitakan oleh para rasul serta apa-apa yang telah mereka dustakan, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menjijikkan dan suatu kondisi yang sangat memuakkan serta kesengsaraan yang sangat dahsyat. Dan hal ini akan terjadi pada saat azab sedang menimpa mereka, sedangkan mereka sama sekali tidak mempu-nyai tempat untuk melarikan atau melepaskan diri darinya. ﴾ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "Dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat," maksudnya, tidak jauh dari tempat azab. Malah mereka ditangkap lalu dilem-parkan ke dalam api neraka. (52) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," pada saat seperti itu, "Kami beriman kepada Allah dan kami membenarkan syariat yang telah kami dustakan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ ﴿ "bagaimanakah mereka dapat mencapai," maksudnya, mencapai iman ﴾ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "dari tempat yang jauh itu," karena sudah dihalangi antara mereka dengan iman, dan iman pun sudah menjadi hal yang mustahil pada kondisi ini. (53) Kalau saja mereka beriman pada waktu mereka masih bisa beriman, tentu iman mereka diterima, akan tetapi ﴾ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ ﴿ "mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga" maksudnya, mengira-ngira secara membabi buta ﴾ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tentang yang ghaib dari tempat yang jauh," dengan melemparkan kebatilan untuk memberantas yang haq. Akan tetapi sudah tidak ada jalan lagi untuk itu, sebagaimana juga tidak ada jalan bagi orang yang melemparkan dari tempat yang jauh untuk bisa tepat sasaran. Demikian pula kebatilan, ia mustahil akan bisa mengalahkan yang haq atau menolaknya. Ia hanya mempunyai kesempatan menikam pada saat yang haq lalai darinya. Lalu apa-bila yang haq itu muncul dan melawan kebatilan, maka ia dapat memadamkannya. (54) ﴾ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ ﴿ "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini," berupa berbagai syahwat, berbagai kele-zatan, anak-anak, harta kekayaan, para pembantu dan bala tentara; masing-masing mereka menanggung amal perbuatan mereka sendiri dan datang sendiri-sendiri sebagaimana mereka dahulu diciptakan, dan mereka meninggalkan apa yang pernah mereka miliki di belakang mereka ﴾ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم ﴿ "sebagaimana yang dila-kukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka," dari umat-umat terdahulu saat kebinasaan menimpa mereka, dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu dalam keraguan yang mendalam," yang membangkitkan keraguan dan kegoncangan hati. Maka dari itu, mereka tidak beriman, dan mereka tidak men-cela pada saat diminta mencela. Selesailah tafsir Surat Saba`. Segala puji, karunia dan nikmat hanya bagi Allah, dan dari-Nya-lah pertolongan, dan hanya kepadaNya-lah kami bertawakal dan hanya kepadaNya kami yakin.

Saba' 34:52

"Dan jikalau kamu melihat ketika mereka terperanjat keta-kutan (pada Hari Kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), dan mereka berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya me-reka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam." (Saba`: 51-54). (51) Allah سبحانه وتعالى berfirman ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan jikalau kamu melihat," wahai Rasul dan orang yang menduduki kedudukanmu, tentang keadaan mereka yang mendustakan ﴾ إِذۡ فَزِعُواْ ﴿ "ketika mereka terpe-ranjat ketakutan (pada Hari Kiamat)," di saat mereka melihat azab dan apa-apa yang telah diberitakan oleh para rasul serta apa-apa yang telah mereka dustakan, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menjijikkan dan suatu kondisi yang sangat memuakkan serta kesengsaraan yang sangat dahsyat. Dan hal ini akan terjadi pada saat azab sedang menimpa mereka, sedangkan mereka sama sekali tidak mempu-nyai tempat untuk melarikan atau melepaskan diri darinya. ﴾ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "Dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat," maksudnya, tidak jauh dari tempat azab. Malah mereka ditangkap lalu dilem-parkan ke dalam api neraka. (52) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," pada saat seperti itu, "Kami beriman kepada Allah dan kami membenarkan syariat yang telah kami dustakan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ ﴿ "bagaimanakah mereka dapat mencapai," maksudnya, mencapai iman ﴾ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "dari tempat yang jauh itu," karena sudah dihalangi antara mereka dengan iman, dan iman pun sudah menjadi hal yang mustahil pada kondisi ini. (53) Kalau saja mereka beriman pada waktu mereka masih bisa beriman, tentu iman mereka diterima, akan tetapi ﴾ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ ﴿ "mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga" maksudnya, mengira-ngira secara membabi buta ﴾ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tentang yang ghaib dari tempat yang jauh," dengan melemparkan kebatilan untuk memberantas yang haq. Akan tetapi sudah tidak ada jalan lagi untuk itu, sebagaimana juga tidak ada jalan bagi orang yang melemparkan dari tempat yang jauh untuk bisa tepat sasaran. Demikian pula kebatilan, ia mustahil akan bisa mengalahkan yang haq atau menolaknya. Ia hanya mempunyai kesempatan menikam pada saat yang haq lalai darinya. Lalu apa-bila yang haq itu muncul dan melawan kebatilan, maka ia dapat memadamkannya. (54) ﴾ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ ﴿ "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini," berupa berbagai syahwat, berbagai kele-zatan, anak-anak, harta kekayaan, para pembantu dan bala tentara; masing-masing mereka menanggung amal perbuatan mereka sendiri dan datang sendiri-sendiri sebagaimana mereka dahulu diciptakan, dan mereka meninggalkan apa yang pernah mereka miliki di belakang mereka ﴾ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم ﴿ "sebagaimana yang dila-kukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka," dari umat-umat terdahulu saat kebinasaan menimpa mereka, dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu dalam keraguan yang mendalam," yang membangkitkan keraguan dan kegoncangan hati. Maka dari itu, mereka tidak beriman, dan mereka tidak men-cela pada saat diminta mencela. Selesailah tafsir Surat Saba`. Segala puji, karunia dan nikmat hanya bagi Allah, dan dari-Nya-lah pertolongan, dan hanya kepadaNya-lah kami bertawakal dan hanya kepadaNya kami yakin.

Saba' 34:53

"Dan jikalau kamu melihat ketika mereka terperanjat keta-kutan (pada Hari Kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), dan mereka berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya me-reka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam." (Saba`: 51-54). (51) Allah سبحانه وتعالى berfirman ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan jikalau kamu melihat," wahai Rasul dan orang yang menduduki kedudukanmu, tentang keadaan mereka yang mendustakan ﴾ إِذۡ فَزِعُواْ ﴿ "ketika mereka terpe-ranjat ketakutan (pada Hari Kiamat)," di saat mereka melihat azab dan apa-apa yang telah diberitakan oleh para rasul serta apa-apa yang telah mereka dustakan, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menjijikkan dan suatu kondisi yang sangat memuakkan serta kesengsaraan yang sangat dahsyat. Dan hal ini akan terjadi pada saat azab sedang menimpa mereka, sedangkan mereka sama sekali tidak mempu-nyai tempat untuk melarikan atau melepaskan diri darinya. ﴾ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "Dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat," maksudnya, tidak jauh dari tempat azab. Malah mereka ditangkap lalu dilem-parkan ke dalam api neraka. (52) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," pada saat seperti itu, "Kami beriman kepada Allah dan kami membenarkan syariat yang telah kami dustakan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ ﴿ "bagaimanakah mereka dapat mencapai," maksudnya, mencapai iman ﴾ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "dari tempat yang jauh itu," karena sudah dihalangi antara mereka dengan iman, dan iman pun sudah menjadi hal yang mustahil pada kondisi ini. (53) Kalau saja mereka beriman pada waktu mereka masih bisa beriman, tentu iman mereka diterima, akan tetapi ﴾ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ ﴿ "mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga" maksudnya, mengira-ngira secara membabi buta ﴾ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tentang yang ghaib dari tempat yang jauh," dengan melemparkan kebatilan untuk memberantas yang haq. Akan tetapi sudah tidak ada jalan lagi untuk itu, sebagaimana juga tidak ada jalan bagi orang yang melemparkan dari tempat yang jauh untuk bisa tepat sasaran. Demikian pula kebatilan, ia mustahil akan bisa mengalahkan yang haq atau menolaknya. Ia hanya mempunyai kesempatan menikam pada saat yang haq lalai darinya. Lalu apa-bila yang haq itu muncul dan melawan kebatilan, maka ia dapat memadamkannya. (54) ﴾ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ ﴿ "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini," berupa berbagai syahwat, berbagai kele-zatan, anak-anak, harta kekayaan, para pembantu dan bala tentara; masing-masing mereka menanggung amal perbuatan mereka sendiri dan datang sendiri-sendiri sebagaimana mereka dahulu diciptakan, dan mereka meninggalkan apa yang pernah mereka miliki di belakang mereka ﴾ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم ﴿ "sebagaimana yang dila-kukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka," dari umat-umat terdahulu saat kebinasaan menimpa mereka, dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu dalam keraguan yang mendalam," yang membangkitkan keraguan dan kegoncangan hati. Maka dari itu, mereka tidak beriman, dan mereka tidak men-cela pada saat diminta mencela. Selesailah tafsir Surat Saba`. Segala puji, karunia dan nikmat hanya bagi Allah, dan dari-Nya-lah pertolongan, dan hanya kepadaNya-lah kami bertawakal dan hanya kepadaNya kami yakin.

Saba' 34:54

"Dan jikalau kamu melihat ketika mereka terperanjat keta-kutan (pada Hari Kiamat); maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka), dan mereka berkata, 'Kami beriman kepada Allah,' bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan) dari tempat yang jauh itu. Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga tentang yang ghaib dari tempat yang jauh. Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya me-reka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam." (Saba`: 51-54). (51) Allah سبحانه وتعالى berfirman ﴾ وَلَوۡ تَرَىٰٓ ﴿ "Dan jikalau kamu melihat," wahai Rasul dan orang yang menduduki kedudukanmu, tentang keadaan mereka yang mendustakan ﴾ إِذۡ فَزِعُواْ ﴿ "ketika mereka terpe-ranjat ketakutan (pada Hari Kiamat)," di saat mereka melihat azab dan apa-apa yang telah diberitakan oleh para rasul serta apa-apa yang telah mereka dustakan, niscaya kamu melihat suatu perkara yang sangat mengerikan, pemandangan yang sangat menjijikkan dan suatu kondisi yang sangat memuakkan serta kesengsaraan yang sangat dahsyat. Dan hal ini akan terjadi pada saat azab sedang menimpa mereka, sedangkan mereka sama sekali tidak mempu-nyai tempat untuk melarikan atau melepaskan diri darinya. ﴾ وَأُخِذُواْ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "Dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat," maksudnya, tidak jauh dari tempat azab. Malah mereka ditangkap lalu dilem-parkan ke dalam api neraka. (52) ﴾ وَقَالُوٓاْ ﴿ "Dan mereka berkata," pada saat seperti itu, "Kami beriman kepada Allah dan kami membenarkan syariat yang telah kami dustakan, ﴾ و َ ﴿ "dan" akan tetapi ﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلتَّنَاوُشُ ﴿ "bagaimanakah mereka dapat mencapai," maksudnya, mencapai iman ﴾ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "dari tempat yang jauh itu," karena sudah dihalangi antara mereka dengan iman, dan iman pun sudah menjadi hal yang mustahil pada kondisi ini. (53) Kalau saja mereka beriman pada waktu mereka masih bisa beriman, tentu iman mereka diterima, akan tetapi ﴾ كَفَرُواْ بِهِۦ مِن قَبۡلُۖ وَيَقۡذِفُونَ ﴿ "mereka telah mengingkari Allah sebelum itu; dan mereka menduga-duga" maksudnya, mengira-ngira secara membabi buta ﴾ بِٱلۡغَيۡبِ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tentang yang ghaib dari tempat yang jauh," dengan melemparkan kebatilan untuk memberantas yang haq. Akan tetapi sudah tidak ada jalan lagi untuk itu, sebagaimana juga tidak ada jalan bagi orang yang melemparkan dari tempat yang jauh untuk bisa tepat sasaran. Demikian pula kebatilan, ia mustahil akan bisa mengalahkan yang haq atau menolaknya. Ia hanya mempunyai kesempatan menikam pada saat yang haq lalai darinya. Lalu apa-bila yang haq itu muncul dan melawan kebatilan, maka ia dapat memadamkannya. (54) ﴾ وَحِيلَ بَيۡنَهُمۡ وَبَيۡنَ مَا يَشۡتَهُونَ ﴿ "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini," berupa berbagai syahwat, berbagai kele-zatan, anak-anak, harta kekayaan, para pembantu dan bala tentara; masing-masing mereka menanggung amal perbuatan mereka sendiri dan datang sendiri-sendiri sebagaimana mereka dahulu diciptakan, dan mereka meninggalkan apa yang pernah mereka miliki di belakang mereka ﴾ كَمَا فُعِلَ بِأَشۡيَاعِهِم ﴿ "sebagaimana yang dila-kukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka," dari umat-umat terdahulu saat kebinasaan menimpa mereka, dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka inginkan. ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ فِي شَكّٖ مُّرِيبِۭ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu dalam keraguan yang mendalam," yang membangkitkan keraguan dan kegoncangan hati. Maka dari itu, mereka tidak beriman, dan mereka tidak men-cela pada saat diminta mencela. Selesailah tafsir Surat Saba`. Segala puji, karunia dan nikmat hanya bagi Allah, dan dari-Nya-lah pertolongan, dan hanya kepadaNya-lah kami bertawakal dan hanya kepadaNya kami yakin.

Fatir 35:1

"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang men-jadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap-sayap, ada yang dua, tiga dan empat buah. Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesu-dah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Fathir: 1-2). Makkiyah (1) Allah سبحانه وتعالى memuji DiriNya sendiri Yang Mahamulia lagi Mahasuci karena penciptaanNya terhadap langit dan bumi serta berbagai macam makhluk yang ada pada keduanya; karena itu adalah bukti (dalil) kesempurnaan KuasaNya, keluasan kerajaan-Nya, keluasan rahmatNya, keindahan hikmah dan ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Dan setelah Allah menjelaskan tentang penciptaan, berikut-nya Allah menjelaskan apa yang berkaitan dengan perintahNya, yaitu Dia menjadikan ﴾ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا ﴿ "malaikat sebagai utusan-utusan" di dalam mengatur perintah-perintahNya yang bersifat taqdiri dan sebagai perantara antara Allah dengan manusia di dalam me-nyampaikan perintah-perintahNya yang bersifat syar'i. Di dalam penjelasan bahwa Dia menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan, Allah tidak memberikan pengecualian ter-hadap seorang pun di antara mereka, dan ini sekaligus merupakan satu dalil (bukti) yang menunjukkan totalitas kepatuhan mereka kepada Rabb, Allah سبحانه وتعالى, dan ketundukan mereka kepada perintah-perintahNya, sebagaimana Allah Firmankan, ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintah-kanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (at-Tahrim: 6). Oleh karena para malaikat itu adalah para pelaksana –berda-sarkan izin Allah– melakukan hal-hal yang ditugaskanNya kepada mereka, maka Allah menjelaskan kemampuan mereka untuk mela-kukannya, dan betapa sangat cepatnya perjalanan mereka, di mana Allah menjadikan di antara mereka mereka, ﴾ أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ ﴿ "mempunyai sayap-sayap" yang dengannya mereka bisa terbang dan segera me-laksanakan apa saja yang diperintahkan kepadanya, ﴾ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ ﴿ "ada yang memiliki dua, tiga dan empat buah," maksudnya: Di antara mereka ada yang mempunyai dua sayap, ada yang tiga dan ada juga yang empat, masing-masing sesuai dengan tuntutan hikmah Allah سبحانه وتعالى. ﴾ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Dia menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya." Maksudnya, memberikan kelebihan kepada se-bagian makhlukNya atas sebagian yang lain dalam bentuk pencip-taannya, kekuatannya, keindahannya, tambahan anggota badan melebihi yang biasanya, kemerduan suaranya, dan dalam kebagusan nadanya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Maka dari itu Kuasa Allah berlaku menurut apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu apa pun yang menjadi sulit bagiNya; yang di antaranya adalah memberikan kelebihan kepada sebagian makhlukNya atas sebagian yang lain. (2) Kemudian Allah menjelaskan bahwa hanya Dia yang mengatur, memberi, dan menahan (tidak memberi), seraya ber-firman, ﴾ مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٖ فَلَا مُمۡسِكَ لَهَاۖ وَمَا يُمۡسِكۡ ﴿ "Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah" dari mereka berupa bagian dari rahmatNya, ﴾ فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ ﴿ "maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu." Hal ini mengharuskan ketergantungan kepada Allah سبحانه وتعالى dan butuh kepadaNya dari segala sisi, dan mengharuskan tidak ada yang dimohon selain Dia, tidak ditakuti, dan tidak pula diharapkan kecuali Dia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa" Yang menun-dukkan dan menguasai segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," Yang meletakkan segala sesuatu pada tempat-tempatnya yang semestinya dan mendudukkannya pada kedudukannya masing-masing.

Fatir 35:2

"Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang men-jadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai sayap-sayap, ada yang dua, tiga dan empat buah. Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesu-dah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Fathir: 1-2). Makkiyah (1) Allah سبحانه وتعالى memuji DiriNya sendiri Yang Mahamulia lagi Mahasuci karena penciptaanNya terhadap langit dan bumi serta berbagai macam makhluk yang ada pada keduanya; karena itu adalah bukti (dalil) kesempurnaan KuasaNya, keluasan kerajaan-Nya, keluasan rahmatNya, keindahan hikmah dan ilmuNya yang meliputi (segala sesuatu). Dan setelah Allah menjelaskan tentang penciptaan, berikut-nya Allah menjelaskan apa yang berkaitan dengan perintahNya, yaitu Dia menjadikan ﴾ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا ﴿ "malaikat sebagai utusan-utusan" di dalam mengatur perintah-perintahNya yang bersifat taqdiri dan sebagai perantara antara Allah dengan manusia di dalam me-nyampaikan perintah-perintahNya yang bersifat syar'i. Di dalam penjelasan bahwa Dia menjadikan malaikat-malaikat sebagai utusan-utusan, Allah tidak memberikan pengecualian ter-hadap seorang pun di antara mereka, dan ini sekaligus merupakan satu dalil (bukti) yang menunjukkan totalitas kepatuhan mereka kepada Rabb, Allah سبحانه وتعالى, dan ketundukan mereka kepada perintah-perintahNya, sebagaimana Allah Firmankan, ﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ 6 ﴿ "Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintah-kanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (at-Tahrim: 6). Oleh karena para malaikat itu adalah para pelaksana –berda-sarkan izin Allah– melakukan hal-hal yang ditugaskanNya kepada mereka, maka Allah menjelaskan kemampuan mereka untuk mela-kukannya, dan betapa sangat cepatnya perjalanan mereka, di mana Allah menjadikan di antara mereka mereka, ﴾ أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ ﴿ "mempunyai sayap-sayap" yang dengannya mereka bisa terbang dan segera me-laksanakan apa saja yang diperintahkan kepadanya, ﴾ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ ﴿ "ada yang memiliki dua, tiga dan empat buah," maksudnya: Di antara mereka ada yang mempunyai dua sayap, ada yang tiga dan ada juga yang empat, masing-masing sesuai dengan tuntutan hikmah Allah سبحانه وتعالى. ﴾ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ ﴿ "Dia menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya." Maksudnya, memberikan kelebihan kepada se-bagian makhlukNya atas sebagian yang lain dalam bentuk pencip-taannya, kekuatannya, keindahannya, tambahan anggota badan melebihi yang biasanya, kemerduan suaranya, dan dalam kebagusan nadanya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Maka dari itu Kuasa Allah berlaku menurut apa yang Dia kehendaki, tidak ada sesuatu apa pun yang menjadi sulit bagiNya; yang di antaranya adalah memberikan kelebihan kepada sebagian makhlukNya atas sebagian yang lain. (2) Kemudian Allah menjelaskan bahwa hanya Dia yang mengatur, memberi, dan menahan (tidak memberi), seraya ber-firman, ﴾ مَّا يَفۡتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحۡمَةٖ فَلَا مُمۡسِكَ لَهَاۖ وَمَا يُمۡسِكۡ ﴿ "Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah" dari mereka berupa bagian dari rahmatNya, ﴾ فَلَا مُرۡسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦۚ ﴿ "maka tidak ada seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu." Hal ini mengharuskan ketergantungan kepada Allah سبحانه وتعالى dan butuh kepadaNya dari segala sisi, dan mengharuskan tidak ada yang dimohon selain Dia, tidak ditakuti, dan tidak pula diharapkan kecuali Dia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa" Yang menun-dukkan dan menguasai segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," Yang meletakkan segala sesuatu pada tempat-tempatnya yang semestinya dan mendudukkannya pada kedudukannya masing-masing.

Fatir 35:3

"Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Ada-kah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan dari bumi? Tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling? Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembali-kan segala urusan." (Fathir: 3-4). (3) Allah سبحانه وتعالى memerintah seluruh manusia untuk mengingat nikmatNya atas mereka. Ini mencakup mengingat nikmat dengan hati sebagai bentuk pengakuan, dengan lisan sebagai bentuk pujian, dan dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk ketundukan. Sebab, sesungguhnya mengingat nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu bisa memotivasi diri untuk bersyukur kepadaNya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan pokok-pokok kenikmatan, yaitu bahwa mereka diciptakan dan diberikan rizki, seraya berfirman, ﴾ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan dari bumi?" Oleh karena sudah dimaklumi bahwa tidak ada satu pun yang dapat menciptakan dan memberikan rizki kecuali Allah, maka hal ini menjadi bukti (dalil) akan ke-Tuhan-anNya dan ke-berhakanNya untuk disembah. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling?" Maksudnya, mengapa kalian berpaling dari peribadatan kepada Sang Pencipta lagi Pemberi rizki kepada peribadatan kepada makhluk yang justru (sama dengan kalian) diberi rizki. (4) ﴾ وَإِن يُكَذِّبُوكَ ﴿ "Dan jika mereka mendustakan kamu" wahai Rasul, maka kamu mempunyai suri teladan dari para Rasul sebe-lum kamu, ﴾ فَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَۚ ﴿ "maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu." Kemudian orang-orang yang mendusta-kan itu pun dibinasakan, dan Allah menyelamatkan para rasul tersebut beserta para pengikutnya. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan."

Fatir 35:4

"Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Ada-kah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan dari bumi? Tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling? Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu. Dan hanya kepada Allah-lah dikembali-kan segala urusan." (Fathir: 3-4). (3) Allah سبحانه وتعالى memerintah seluruh manusia untuk mengingat nikmatNya atas mereka. Ini mencakup mengingat nikmat dengan hati sebagai bentuk pengakuan, dengan lisan sebagai bentuk pujian, dan dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk ketundukan. Sebab, sesungguhnya mengingat nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى itu bisa memotivasi diri untuk bersyukur kepadaNya. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan pokok-pokok kenikmatan, yaitu bahwa mereka diciptakan dan diberikan rizki, seraya berfirman, ﴾ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rizki kepada kamu dari langit dan dari bumi?" Oleh karena sudah dimaklumi bahwa tidak ada satu pun yang dapat menciptakan dan memberikan rizki kecuali Allah, maka hal ini menjadi bukti (dalil) akan ke-Tuhan-anNya dan ke-berhakanNya untuk disembah. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "Tidak ada sembahan yang haq melainkan Dia; maka mengapakah kamu berpaling?" Maksudnya, mengapa kalian berpaling dari peribadatan kepada Sang Pencipta lagi Pemberi rizki kepada peribadatan kepada makhluk yang justru (sama dengan kalian) diberi rizki. (4) ﴾ وَإِن يُكَذِّبُوكَ ﴿ "Dan jika mereka mendustakan kamu" wahai Rasul, maka kamu mempunyai suri teladan dari para Rasul sebe-lum kamu, ﴾ فَقَدۡ كُذِّبَتۡ رُسُلٞ مِّن قَبۡلِكَۚ ﴿ "maka sungguh telah didustakan pula rasul-rasul sebelum kamu." Kemudian orang-orang yang mendusta-kan itu pun dibinasakan, dan Allah menyelamatkan para rasul tersebut beserta para pengikutnya. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan."

Fatir 35:5

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang kafir, bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Fathir: 5-7) (5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai manusia, se-sungguhnya janji Allah" akan adanya kebangkitan dan pembalasan terhadap amal perbuatan ﴾ حَقّٞۖ ﴿ "adalah benar adanya." Maksudnya: Tidak ada keraguan, kebimbangan ataupun ketidakpastian pada-nya. Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai dalil sam'i (wahyu) dan berbagai argumen aqli (logis). Jika janjiNya adalah benar, maka bersiap-siaplah untuk menghadapinya dan pergunakanlah segera waktu-waktu kalian yang sangat berharga itu untuk beramal shalih, dan jangan sekali-kali ada yang menghalangi kalian dari yang demikian. ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu" dengan segala kelezatan dan kegemerlapan-nya serta segala tuntutannya, sehingga melalaikan kalian dari tujuan kalian diciptakan, ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah" yaitu setan, musuh kalian yang sesungguhnya, ﴾ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ ﴿ "maka anggap-lah ia musuh." Maksudnya: Hendaknya permusuhan setan terhadap kalian menjadi perhatian, dan jangan kalian meremehkan serangan-nya yang biasa terjadi setiap waktu, sebab dia bisa melihat kalian sedangkan kalian tidak dapat melihatnya, dan dia selalu mengintai kalian. ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." Inilah maksud dan yang diinginkannya dari siapa saja yang mengikutinya, yaitu dihinakan sehina-hinanya dengan azab yang sangat dahsyat. (7) Kemudian Allah menjelaskan bahwa manusia, dilihat dari (sudut pandang) patuh dan tidaknya kepada setan terbagi menjadi dua golongan. Lalu Allah menyebutkan balasan masing-masing golongan, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Orang-orang yang kafir" yang mengingkari apa yang dibawa oleh para rasul dan di-jelaskan oleh kitab-kitab suci, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ ﴿ "bagi mereka azab yang keras" di dalam Neraka Jahanam; sangat dahsyat keadaan dan sifat-sifatnya, dan mereka kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman" dengan hati mereka kepada hal-hal yang Allah serukan untuk diimani, ﴾ وَعَمِلُواْ ﴿ "dan mengerjakan," dengan anggota badan mereka, amal-amal shalih sesuai dengan konsekwensi iman tersebut ﴾ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "bagi mereka ampunan" terhadap dosa-dosa mereka, yang dengannya keburukan dan segala hal yang tidak diinginkan menjadi hilang dari mereka ﴾ وَأَجۡرٞ كَبِيرٌ ﴿ "dan pahala yang besar," yang dengannya segala hal yang diinginkan pasti tercapai.

Fatir 35:6

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang kafir, bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Fathir: 5-7) (5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai manusia, se-sungguhnya janji Allah" akan adanya kebangkitan dan pembalasan terhadap amal perbuatan ﴾ حَقّٞۖ ﴿ "adalah benar adanya." Maksudnya: Tidak ada keraguan, kebimbangan ataupun ketidakpastian pada-nya. Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai dalil sam'i (wahyu) dan berbagai argumen aqli (logis). Jika janjiNya adalah benar, maka bersiap-siaplah untuk menghadapinya dan pergunakanlah segera waktu-waktu kalian yang sangat berharga itu untuk beramal shalih, dan jangan sekali-kali ada yang menghalangi kalian dari yang demikian. ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu" dengan segala kelezatan dan kegemerlapan-nya serta segala tuntutannya, sehingga melalaikan kalian dari tujuan kalian diciptakan, ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah" yaitu setan, musuh kalian yang sesungguhnya, ﴾ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ ﴿ "maka anggap-lah ia musuh." Maksudnya: Hendaknya permusuhan setan terhadap kalian menjadi perhatian, dan jangan kalian meremehkan serangan-nya yang biasa terjadi setiap waktu, sebab dia bisa melihat kalian sedangkan kalian tidak dapat melihatnya, dan dia selalu mengintai kalian. ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." Inilah maksud dan yang diinginkannya dari siapa saja yang mengikutinya, yaitu dihinakan sehina-hinanya dengan azab yang sangat dahsyat. (7) Kemudian Allah menjelaskan bahwa manusia, dilihat dari (sudut pandang) patuh dan tidaknya kepada setan terbagi menjadi dua golongan. Lalu Allah menyebutkan balasan masing-masing golongan, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Orang-orang yang kafir" yang mengingkari apa yang dibawa oleh para rasul dan di-jelaskan oleh kitab-kitab suci, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ ﴿ "bagi mereka azab yang keras" di dalam Neraka Jahanam; sangat dahsyat keadaan dan sifat-sifatnya, dan mereka kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman" dengan hati mereka kepada hal-hal yang Allah serukan untuk diimani, ﴾ وَعَمِلُواْ ﴿ "dan mengerjakan," dengan anggota badan mereka, amal-amal shalih sesuai dengan konsekwensi iman tersebut ﴾ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "bagi mereka ampunan" terhadap dosa-dosa mereka, yang dengannya keburukan dan segala hal yang tidak diinginkan menjadi hilang dari mereka ﴾ وَأَجۡرٞ كَبِيرٌ ﴿ "dan pahala yang besar," yang dengannya segala hal yang diinginkan pasti tercapai.

Fatir 35:7

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang kafir, bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Fathir: 5-7) (5-6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai manusia, se-sungguhnya janji Allah" akan adanya kebangkitan dan pembalasan terhadap amal perbuatan ﴾ حَقّٞۖ ﴿ "adalah benar adanya." Maksudnya: Tidak ada keraguan, kebimbangan ataupun ketidakpastian pada-nya. Hal ini telah dibuktikan oleh berbagai dalil sam'i (wahyu) dan berbagai argumen aqli (logis). Jika janjiNya adalah benar, maka bersiap-siaplah untuk menghadapinya dan pergunakanlah segera waktu-waktu kalian yang sangat berharga itu untuk beramal shalih, dan jangan sekali-kali ada yang menghalangi kalian dari yang demikian. ﴾ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu" dengan segala kelezatan dan kegemerlapan-nya serta segala tuntutannya, sehingga melalaikan kalian dari tujuan kalian diciptakan, ﴾ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah" yaitu setan, musuh kalian yang sesungguhnya, ﴾ فَٱتَّخِذُوهُ عَدُوًّاۚ ﴿ "maka anggap-lah ia musuh." Maksudnya: Hendaknya permusuhan setan terhadap kalian menjadi perhatian, dan jangan kalian meremehkan serangan-nya yang biasa terjadi setiap waktu, sebab dia bisa melihat kalian sedangkan kalian tidak dapat melihatnya, dan dia selalu mengintai kalian. ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." Inilah maksud dan yang diinginkannya dari siapa saja yang mengikutinya, yaitu dihinakan sehina-hinanya dengan azab yang sangat dahsyat. (7) Kemudian Allah menjelaskan bahwa manusia, dilihat dari (sudut pandang) patuh dan tidaknya kepada setan terbagi menjadi dua golongan. Lalu Allah menyebutkan balasan masing-masing golongan, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Orang-orang yang kafir" yang mengingkari apa yang dibawa oleh para rasul dan di-jelaskan oleh kitab-kitab suci, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ ﴿ "bagi mereka azab yang keras" di dalam Neraka Jahanam; sangat dahsyat keadaan dan sifat-sifatnya, dan mereka kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman" dengan hati mereka kepada hal-hal yang Allah serukan untuk diimani, ﴾ وَعَمِلُواْ ﴿ "dan mengerjakan," dengan anggota badan mereka, amal-amal shalih sesuai dengan konsekwensi iman tersebut ﴾ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "bagi mereka ampunan" terhadap dosa-dosa mereka, yang dengannya keburukan dan segala hal yang tidak diinginkan menjadi hilang dari mereka ﴾ وَأَجۡرٞ كَبِيرٌ ﴿ "dan pahala yang besar," yang dengannya segala hal yang diinginkan pasti tercapai.

Fatir 35:8

"Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik pe-kerjaannya yang buruk lalu ia meyakini pekerjaan itu baik? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya dan menunjuki siapa yang dikehendakiNya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (Fathir: 8). (8) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ ﴿ "Maka apakah orang yang dijadikan menganggap baik" pekerjaannya yang buruk lagi keji, yang dihiasi dan diperbagus oleh setan dalam pandangan matanya, ﴾ فَرَءَاهُ حَسَنٗاۖ ﴿ "lalu ia meyakini pekerjaan itu baik." Yakni, seperti orang yang diberi hidayah oleh Allah kepada jalan yang lurus dan Agama yang benar; apakah sama yang ini dengan yang itu?! Yang pertama melakukan amal keburukan dan memandang yang haq itu batil, sedangkan yang batil itu haq, dan orang yang kedua melakukan kebaikan dan melihat yang haq adalah haq dan yang batil adalah batil. Namun, pemberian hidayah dan penyesatan itu hanya ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya dan me-nunjuki siapa yang dikehendakiNya; maka janganlah dirimu binasa ter-hadap mereka," yakni terhadap orang-orang yang sesat di mana perbuatan-perbuatan buruk mereka pandang baik dan mereka dihalang-halangi oleh setan dari yang haq, ﴾ حَسَرَٰتٍۚ ﴿ "karena kese-dihan." Hal itu karena kewajibanmu hanyalah menyampaikan, dan sedikitpun kamu tidak berwenang memberi petunjuk kepada mereka, dan Allah-lah yang akan memberikan pembalasan kepada mereka atas amal perbuatan mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."

Fatir 35:9

"Dan Allah-lah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah kematiannya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu." (Fathir: 9). (9) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kemahasempurnaan KuasaNya dan kemahaluasan belas kasihNya, dan sesungguhnya Dia-lah ﴾ أَرۡسَلَ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا فَسُقۡنَٰهُ إِلَىٰ بَلَدٖ مَّيِّتٖ ﴿ "yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati" kemudian Allah menurunkannya di atasnya ﴾ أَرۡسَلَ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا فَسُقۡنَٰهُ إِلَىٰ بَلَدٖ مَّيِّتٖ ﴿ "lalu Kami hidupkan bumi setelah kematiannya dengan hujan itu" maka hiduplah daerah tersebut dan juga para penghuni-nya, hewan-hewan pun mendapat makanan dan berkeliaran di ladang-ladang rumput itu. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," Allah Yang telah menghidupkan bumi setelah kematiannya, akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati dari dalam kuburnya; maka kelak mereka akan datang untuk menghadap Allah, supaya Dia memberikan kepu-tusan di antara mereka dan menetapkan keputusan dengan kepu-tusan hukum yang adil.

Fatir 35:10

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka hanya milik Allah kemuliaan itu semuanya. KepadaNya-lah naiknya perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih yang dinaik-kanNya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur." (Fathir: 10). (10) Artinya: Hai orang yang menghendaki kemuliaan, carilah kemuliaan itu pada Dzat Yang kemuliaan itu ada di Tangan-Nya. Dan sesungguhnya kemuliaan itu hanya di Tangan Allah, dan ia tidak bisa diperoleh kecuali dengan cara menaatiNya. Allah telah menyebutkannya melalui FirmanNya, ﴾ إِلَيۡهِ يَصۡعَدُ ٱلۡكَلِمُ ٱلطَّيِّبُ ﴿ "Ke-padaNya-lah naiknya perkataan-perkataan yang baik," seperti bacaan al-Qur`an, tasbih, tahmid, tahlil dan setiap perkataan yang baik lagi mulia. Ia diangkat kepada Allah dan diperlihatkan kepadaNya, lalu Allah membanggakan pelakunya di hadapan para malaikat. ﴾ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ ﴿ "Dan amal yang shalih" berupa amalan-amalan hati dan amalan-amalan lahiriah. ﴾ يَرۡفَعُهُۥۚ ﴿ "yang dinaikkanNya." Yakni, diangkat oleh Allah سبحانه وتعالى sebagaimana halnya kalimat-kalimat yang baik. Ada yang mengatakan: Maksudnya, amal shalih mengangkat perkataan-perkataan yang baik; sehingga terangkatnya perkataan-perkataan yang baik itu tergantung kepada amal-amal shalih sang hamba. Amal shalihnyalah yang mengangkat perkataan-perkataan yang baik. Jika ia tidak mempunyai amal shalih, maka tidak ada satu perkataan pun yang dinaikkan kepada Allah سبحانه وتعالى. Itulah amal-amal yang dinaikkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah meninggikan dan memuliakan pelakunya. Adapun amal-amal buruk, maka sebaliknya, pelakunya meng-inginkan ia mendapatkan kemuliaan dengannya; ia melakukan tipu daya dan muslihat namun akibatnya menimpa dirinya sendiri. Ia tidak makin bertambah kecuali kehinaan dan kerendahan. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ وَٱلۡعَمَلُ ٱلصَّٰلِحُ يَرۡفَعُهُۥۚ وَٱلَّذِينَ يَمۡكُرُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ لَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٞۖ ﴿ "Dan amal yang shalih dinaikkanNya, sedangkan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras," di mana mereka dihinakan di dalamnya dengan sehina-hinanya. ﴾ وَمَكۡرُ أُوْلَٰٓئِكَ هُوَ يَبُورُ ﴿ "Dan rencana jahat mereka akan hancur." Maksudnya, akan binasa dan menjadi sirna, dan rencana jahat mereka sama sekali tidak menguntungkan mereka sedikitpun; sebab ia adalah rencana jahat dengan kebatilan dan untuk tujuan kebatilan pula.

Fatir 35:11

"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan. Dan tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan pengetahuanNya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan ada dalam Kitab. Sesungguh-nya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Fathir: 11). (11) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan penciptaanNya kepada manu-sia dan bagaimana manusia berpindah fase demi fase, sejak dari tanah lalu menjadi air mani dan seterusnya. ﴾ ثُمَّ جَعَلَكُمۡ أَزۡوَٰجٗاۚ ﴿ "Kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan," yakni, Dia terus memindahkan kalian dari satu fase ke fase berikut-nya hingga menjadikan kalian sampai berpasang-pasangan, yang laki-laki mengawini yang perempuan; yang melalui perkawinan itu diharapkan adanya anak keturunan. Sekalipun nikah itu meru-pakan salah satu sebabnya, namun ia tetap selalu disertai qadha`, takdir, dan ilmu Allah. ﴾ وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ وَلَا تَضَعُ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦۚ ﴿ "Dan tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan tidak pula melahirkan melainkan dengan pe-ngetahuanNya," begitu juga fase-fase kehidupan manusia, semuanya berdasarkan ilmu dan ketentuan Allah, ﴾ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٖ وَلَا يُنقَصُ مِنۡ عُمُرِهِۦٓ ﴿ "Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya." Maksudnya, orang yang diberi umur panjang, ﴾ إِلَّا ﴿ "melainkan" berdasarkan ilmuNya; dan tidak pula berkurang umur seseorang yang sedang ia jalani, kalau seki-ranya ia tidak melakukan hal-hal yang menjadi sebab makin pen-deknya umur, seperti zina, durhaka terhadap kedua ibu-bapak, memutus hubungan kerabat (silaturahim) dan yang serupa; yang tersebut di atas adalah termasuk faktor penyebab pendeknya umur. Artinya: Panjang atau pendeknya umur, baik karena suatu sebab atau tanpa sebab, semuanya berdasarkan ilmu Allah سبحانه وتعالى, dan Dia telah mengukuhkannya ﴾ فِي كِتَٰبٍۚ ﴿ "dalam Kitab" yang menghim-pun seluruh apa yang akan terjadi pada seorang hamba dalam se-luruh waktunya dan hari-hari kehidupannya. ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah ," maksudnya, Ilmu Allah meliputi semua data-data yang banyak dan juga cakupan kitabNya padanya. Itulah tiga dalil dari sekian dalil-dalil tentang (kebenaran) kebangkitan dan akan dihidupkannya kembali manusia, semuanya rasional. Allah mengingatkannya di dalam ayat-ayat di atas, yaitu: Menghidupkan kembali tanah (bumi) sesudah kekeringannya, dan sesungguhnya yang kuasa menghidupkannya pasti akan kuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati; berpindah-pindah-nya seorang manusia dari fase ke fase yang lain. Maka Tuhan yang telah menciptakannya dan memindahnya dari fase ke fase yang lain, dari satu kondisi ke kondisi yang lain hingga mencapai kepada garis yang telah ditentukan untuknya, maka untuk mengulangi-nya dan menciptakannya kembali dalam bentuk ciptaan yang lain adalah lebih mudah dan itu lebih gampang bagiNya. Begitu pula cakupan ilmuNya terhadap seluruh bagian-bagian (partikel-partikel) alam samawi dan alam bumi, yang kecil dan yang besar, yang ada di dalam hati, dan janin yang ada di dalam rahim, bertambah dan berkurangnya umur, semua itu ada di dalam suatu kitab. Dan karena yang telah terjadi itu sudah ter-bukti mudah bagiNya, maka kalau Dia menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati tentu lebih mudah dan lebih gampang lagi. Maka Mahasuci Allah yang kebaikanNya amat sangat banyak, dan Dia mengingatkan hamba-hambaNya akan apa yang mengan-dung kebaikan bagi mereka untuk kehidupan dunia dan akhirat mereka.

Fatir 35:12

"Dan tiada sama dua laut; yang ini tawar, segar, sedap di-minum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan mema-sukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Fathir: 12-14). (12) Ini adalah pemberitaan tentang Kuasa, hikmah, dan rahmatNya, yaitu bahwasanya Dia menjadikan dua laut untuk ke-pentingan alam bumi ini semuanya, dan Allah tidak menyamakan antara dua laut itu, sebab maslahat menuntut adanya sungai-sungai itu tawar, segar dan sedap diminum agar bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin meminumnya, oleh para pemilik kebun dan para petani; dan menuntut keberadaan laut asin lagi pahit agar udara yang melingkupi bumi ini tidak rusak karena berbagai bau binatang-binatang laut yang mati, dan keberadaannya yang diam tidak bergerak. Keasinannya mencegahnya untuk cepat membusuk, dan supaya hewan-hewannya menjadi lebih indah dan lebih lezat. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَمِن كُلّٖ ﴿ "Dan dari masing-masing" laut yang asin dan sungai yang tawar ﴾ تَأۡكُلُونَ لَحۡمٗا طَرِيّٗا ﴿ "kamu dapat memakan daging yang segar" yaitu ikan yang mudah ditangkap di lautan ﴾ وَتَسۡتَخۡرِجُونَ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ ﴿ "dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya" seperti mutiara, permata, dan lain-lain dari apa-apa yang terdapat di dalam lautan. Ini adalah kemaslahatan yang sangat besar bagi manusia. Dan di antara maslahat dan kegunaan lain dari lautan adalah bahwasanya Allah telah menundukkannya untuk mengapungkan berbagai bahtera seperti kapal dan berbagai alat-alat transportasi, maka Anda melihatnya mengarungi lautan dan membelahnya. Ia mengarunginya dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu tem-pat ke tempat yang lain. Bahtera itu mengangkut para penumpang, barang-barang kebutuhan, dan barang-barang perniagaan mereka, sehingga banyak karunia Allah dan nikmatNya yang bisa diambil. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ لِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur." (13) Hal lain adalah bahwa Allah menggantikan siang dengan malam dan malam dengan siang, dan memasukkan siang kepada malam dan malam kepada siang. Apabila siang tiba, maka malam pun pergi, dan terkadang memperpanjang yang satu dan memperpendek yang lain dan kadang menjadikannya sama pan-jang; sehingga dengan demikian terciptalah berbagai maslahat bagi manusia untuk tubuh, hewan ternak, pepohonan dan tanaman-tanaman mereka. Demikian pula apa-apa yang diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى seperti ditundukkannya matahari dan bulan, seperti berbagai maslahat sinar dan cahaya, gerak, diam dan bertebarannya manusia dalam mencari karuniaNya, lalu fungsi cahaya matahari dalam mema-tangkan buah-buahan dan mengeringkan apa saja yang hendak dikeringkan dan berbagai hal lainnya yang menjadi kebutuhan primer yang kalau saja ia tidak ada, maka manusia akan mendapat-kan bahaya (mudarat) yang sangat besar. Dan FirmanNya ﴾ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan." Masing-masing matahari dan bulan beredar pada garis orbitnya sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Lalu apabila batas waktunya telah datang dan kehancuran dunia telah dekat waktunya, maka terhentilah peredarannya, kekuatan-nya menjadi tersendat, dan bulan pun redup, matahari pun digu-lung, dan bintang-bintang berjatuhan. Setelah Allah menjelaskan sebagian dari makhluk-makhluk ciptaan tersebut dan menjelaskan apa-apa yang terkandung di dalamnya, yaitu ibrah (pelajaran) yang membuktikan kemaha-sempurnaanNya dan karuniaNya, Dia berfirman,﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ ﴿ "Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNya-lah kera-jaan."Artinya, Dia-lah satu-satunya yang menciptakan semua apa yang disebutkan di atas dan yang menundukkannya adalah Rabb Sembahan yang berhak diibadahi, yang kepunyaanNya jualah semua kerajaan. ﴾ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang kamu seru selain Dia" seperti patung-patung dan berhala-berhala sama sekali tidak memiliki ﴾ مِن قِطۡمِيرٍ ﴿ "apa-apa walaupun setipis kulit ari." Maksud-nya, sama sekali tidak mempunyai sesuatu apa pun, sedikit atau banyak, walaupun setipis kulit ari yang merupakan sesuatu yang paling remeh. Ini merupakan peniadaan yang total dan berlaku umum. Lalu bagaimana mereka diseru (disembah), padahal mereka sama sekali tidak mempunyai sesuatu pun dari kerajaan langit dan bumi. (14) Di sisi lain, ﴾ إِن تَدۡعُوهُمۡ ﴿ "jika kamu menyeru mereka," me-reka tidak mendengar kalian, karena mereka ada yang berwujud benda mati, orang-orang yang sudah mati dan para malaikat yang sibuk dengan ketaatan kepada Tuhannya. ﴾ وَلَوۡ سَمِعُواْ ﴿ "Dan kalau mereka mendengar," ini jika berandai-andai, ﴾ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ ﴿ "mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu," sebab mereka tidak mempunyai sesuatu pun dan kebanyakan mereka tidak meridhai ibadah orang yang menyembahnya. Oleh karenanya, Allah berfir-man, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ ﴿ "Dan di Hari Kiamat mereka akan meng-ingkari kemusyrikanmu." Maksudnya, mereka berlepas diri dari kalian, dan mereka mengatakan: Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami dari mereka. ﴾ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ ﴿ "Dan tidak ada yang dapat memberikan kete-rangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Menge-tahui," maksudnya, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan keterangan kepadamu yang lebih benar daripada Allah Yang Maha Mengetahui, maka pastikanlah bahwa perkara yang diberitakan-Nya seakan-akan penglihatan dengan mata, maka janganlah Anda ragu dan syak hati padanya. Maka ayat-ayat ini mengandung dalil-dalil dan argumen-ar-gumen yang pasti yang membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang berhak diibadahi dan disembah, yang tidak ada siapa pun selain Dia yang berhak disembah; dan bahwa sesungguhnya ibadah (penyembahan) kepada selain Dia adalah kebatilan (kepal-suan) yang bergantung kepada kebatilan; sama sekali tidak berguna bagi penyembahnya.

Fatir 35:13

"Dan tiada sama dua laut; yang ini tawar, segar, sedap di-minum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan mema-sukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Fathir: 12-14). (12) Ini adalah pemberitaan tentang Kuasa, hikmah, dan rahmatNya, yaitu bahwasanya Dia menjadikan dua laut untuk ke-pentingan alam bumi ini semuanya, dan Allah tidak menyamakan antara dua laut itu, sebab maslahat menuntut adanya sungai-sungai itu tawar, segar dan sedap diminum agar bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin meminumnya, oleh para pemilik kebun dan para petani; dan menuntut keberadaan laut asin lagi pahit agar udara yang melingkupi bumi ini tidak rusak karena berbagai bau binatang-binatang laut yang mati, dan keberadaannya yang diam tidak bergerak. Keasinannya mencegahnya untuk cepat membusuk, dan supaya hewan-hewannya menjadi lebih indah dan lebih lezat. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَمِن كُلّٖ ﴿ "Dan dari masing-masing" laut yang asin dan sungai yang tawar ﴾ تَأۡكُلُونَ لَحۡمٗا طَرِيّٗا ﴿ "kamu dapat memakan daging yang segar" yaitu ikan yang mudah ditangkap di lautan ﴾ وَتَسۡتَخۡرِجُونَ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ ﴿ "dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya" seperti mutiara, permata, dan lain-lain dari apa-apa yang terdapat di dalam lautan. Ini adalah kemaslahatan yang sangat besar bagi manusia. Dan di antara maslahat dan kegunaan lain dari lautan adalah bahwasanya Allah telah menundukkannya untuk mengapungkan berbagai bahtera seperti kapal dan berbagai alat-alat transportasi, maka Anda melihatnya mengarungi lautan dan membelahnya. Ia mengarunginya dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu tem-pat ke tempat yang lain. Bahtera itu mengangkut para penumpang, barang-barang kebutuhan, dan barang-barang perniagaan mereka, sehingga banyak karunia Allah dan nikmatNya yang bisa diambil. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ لِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur." (13) Hal lain adalah bahwa Allah menggantikan siang dengan malam dan malam dengan siang, dan memasukkan siang kepada malam dan malam kepada siang. Apabila siang tiba, maka malam pun pergi, dan terkadang memperpanjang yang satu dan memperpendek yang lain dan kadang menjadikannya sama pan-jang; sehingga dengan demikian terciptalah berbagai maslahat bagi manusia untuk tubuh, hewan ternak, pepohonan dan tanaman-tanaman mereka. Demikian pula apa-apa yang diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى seperti ditundukkannya matahari dan bulan, seperti berbagai maslahat sinar dan cahaya, gerak, diam dan bertebarannya manusia dalam mencari karuniaNya, lalu fungsi cahaya matahari dalam mema-tangkan buah-buahan dan mengeringkan apa saja yang hendak dikeringkan dan berbagai hal lainnya yang menjadi kebutuhan primer yang kalau saja ia tidak ada, maka manusia akan mendapat-kan bahaya (mudarat) yang sangat besar. Dan FirmanNya ﴾ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan." Masing-masing matahari dan bulan beredar pada garis orbitnya sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Lalu apabila batas waktunya telah datang dan kehancuran dunia telah dekat waktunya, maka terhentilah peredarannya, kekuatan-nya menjadi tersendat, dan bulan pun redup, matahari pun digu-lung, dan bintang-bintang berjatuhan. Setelah Allah menjelaskan sebagian dari makhluk-makhluk ciptaan tersebut dan menjelaskan apa-apa yang terkandung di dalamnya, yaitu ibrah (pelajaran) yang membuktikan kemaha-sempurnaanNya dan karuniaNya, Dia berfirman,﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ ﴿ "Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNya-lah kera-jaan."Artinya, Dia-lah satu-satunya yang menciptakan semua apa yang disebutkan di atas dan yang menundukkannya adalah Rabb Sembahan yang berhak diibadahi, yang kepunyaanNya jualah semua kerajaan. ﴾ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang kamu seru selain Dia" seperti patung-patung dan berhala-berhala sama sekali tidak memiliki ﴾ مِن قِطۡمِيرٍ ﴿ "apa-apa walaupun setipis kulit ari." Maksud-nya, sama sekali tidak mempunyai sesuatu apa pun, sedikit atau banyak, walaupun setipis kulit ari yang merupakan sesuatu yang paling remeh. Ini merupakan peniadaan yang total dan berlaku umum. Lalu bagaimana mereka diseru (disembah), padahal mereka sama sekali tidak mempunyai sesuatu pun dari kerajaan langit dan bumi. (14) Di sisi lain, ﴾ إِن تَدۡعُوهُمۡ ﴿ "jika kamu menyeru mereka," me-reka tidak mendengar kalian, karena mereka ada yang berwujud benda mati, orang-orang yang sudah mati dan para malaikat yang sibuk dengan ketaatan kepada Tuhannya. ﴾ وَلَوۡ سَمِعُواْ ﴿ "Dan kalau mereka mendengar," ini jika berandai-andai, ﴾ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ ﴿ "mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu," sebab mereka tidak mempunyai sesuatu pun dan kebanyakan mereka tidak meridhai ibadah orang yang menyembahnya. Oleh karenanya, Allah berfir-man, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ ﴿ "Dan di Hari Kiamat mereka akan meng-ingkari kemusyrikanmu." Maksudnya, mereka berlepas diri dari kalian, dan mereka mengatakan: Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami dari mereka. ﴾ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ ﴿ "Dan tidak ada yang dapat memberikan kete-rangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Menge-tahui," maksudnya, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan keterangan kepadamu yang lebih benar daripada Allah Yang Maha Mengetahui, maka pastikanlah bahwa perkara yang diberitakan-Nya seakan-akan penglihatan dengan mata, maka janganlah Anda ragu dan syak hati padanya. Maka ayat-ayat ini mengandung dalil-dalil dan argumen-ar-gumen yang pasti yang membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang berhak diibadahi dan disembah, yang tidak ada siapa pun selain Dia yang berhak disembah; dan bahwa sesungguhnya ibadah (penyembahan) kepada selain Dia adalah kebatilan (kepal-suan) yang bergantung kepada kebatilan; sama sekali tidak berguna bagi penyembahnya.

Fatir 35:14

"Dan tiada sama dua laut; yang ini tawar, segar, sedap di-minum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan mema-sukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di Hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui." (Fathir: 12-14). (12) Ini adalah pemberitaan tentang Kuasa, hikmah, dan rahmatNya, yaitu bahwasanya Dia menjadikan dua laut untuk ke-pentingan alam bumi ini semuanya, dan Allah tidak menyamakan antara dua laut itu, sebab maslahat menuntut adanya sungai-sungai itu tawar, segar dan sedap diminum agar bisa dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin meminumnya, oleh para pemilik kebun dan para petani; dan menuntut keberadaan laut asin lagi pahit agar udara yang melingkupi bumi ini tidak rusak karena berbagai bau binatang-binatang laut yang mati, dan keberadaannya yang diam tidak bergerak. Keasinannya mencegahnya untuk cepat membusuk, dan supaya hewan-hewannya menjadi lebih indah dan lebih lezat. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَمِن كُلّٖ ﴿ "Dan dari masing-masing" laut yang asin dan sungai yang tawar ﴾ تَأۡكُلُونَ لَحۡمٗا طَرِيّٗا ﴿ "kamu dapat memakan daging yang segar" yaitu ikan yang mudah ditangkap di lautan ﴾ وَتَسۡتَخۡرِجُونَ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ ﴿ "dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya" seperti mutiara, permata, dan lain-lain dari apa-apa yang terdapat di dalam lautan. Ini adalah kemaslahatan yang sangat besar bagi manusia. Dan di antara maslahat dan kegunaan lain dari lautan adalah bahwasanya Allah telah menundukkannya untuk mengapungkan berbagai bahtera seperti kapal dan berbagai alat-alat transportasi, maka Anda melihatnya mengarungi lautan dan membelahnya. Ia mengarunginya dari satu pulau ke pulau yang lain, dari satu tem-pat ke tempat yang lain. Bahtera itu mengangkut para penumpang, barang-barang kebutuhan, dan barang-barang perniagaan mereka, sehingga banyak karunia Allah dan nikmatNya yang bisa diambil. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ لِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari karuniaNya dan supaya kamu bersyukur." (13) Hal lain adalah bahwa Allah menggantikan siang dengan malam dan malam dengan siang, dan memasukkan siang kepada malam dan malam kepada siang. Apabila siang tiba, maka malam pun pergi, dan terkadang memperpanjang yang satu dan memperpendek yang lain dan kadang menjadikannya sama pan-jang; sehingga dengan demikian terciptalah berbagai maslahat bagi manusia untuk tubuh, hewan ternak, pepohonan dan tanaman-tanaman mereka. Demikian pula apa-apa yang diciptakan oleh Allah سبحانه وتعالى seperti ditundukkannya matahari dan bulan, seperti berbagai maslahat sinar dan cahaya, gerak, diam dan bertebarannya manusia dalam mencari karuniaNya, lalu fungsi cahaya matahari dalam mema-tangkan buah-buahan dan mengeringkan apa saja yang hendak dikeringkan dan berbagai hal lainnya yang menjadi kebutuhan primer yang kalau saja ia tidak ada, maka manusia akan mendapat-kan bahaya (mudarat) yang sangat besar. Dan FirmanNya ﴾ كُلّٞ يَجۡرِي لِأَجَلٖ مُّسَمّٗىۚ ﴿ "Masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan." Masing-masing matahari dan bulan beredar pada garis orbitnya sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Lalu apabila batas waktunya telah datang dan kehancuran dunia telah dekat waktunya, maka terhentilah peredarannya, kekuatan-nya menjadi tersendat, dan bulan pun redup, matahari pun digu-lung, dan bintang-bintang berjatuhan. Setelah Allah menjelaskan sebagian dari makhluk-makhluk ciptaan tersebut dan menjelaskan apa-apa yang terkandung di dalamnya, yaitu ibrah (pelajaran) yang membuktikan kemaha-sempurnaanNya dan karuniaNya, Dia berfirman,﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ ﴿ "Yang demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaanNya-lah kera-jaan."Artinya, Dia-lah satu-satunya yang menciptakan semua apa yang disebutkan di atas dan yang menundukkannya adalah Rabb Sembahan yang berhak diibadahi, yang kepunyaanNya jualah semua kerajaan. ﴾ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ ﴿ "Dan orang-orang yang kamu seru selain Dia" seperti patung-patung dan berhala-berhala sama sekali tidak memiliki ﴾ مِن قِطۡمِيرٍ ﴿ "apa-apa walaupun setipis kulit ari." Maksud-nya, sama sekali tidak mempunyai sesuatu apa pun, sedikit atau banyak, walaupun setipis kulit ari yang merupakan sesuatu yang paling remeh. Ini merupakan peniadaan yang total dan berlaku umum. Lalu bagaimana mereka diseru (disembah), padahal mereka sama sekali tidak mempunyai sesuatu pun dari kerajaan langit dan bumi. (14) Di sisi lain, ﴾ إِن تَدۡعُوهُمۡ ﴿ "jika kamu menyeru mereka," me-reka tidak mendengar kalian, karena mereka ada yang berwujud benda mati, orang-orang yang sudah mati dan para malaikat yang sibuk dengan ketaatan kepada Tuhannya. ﴾ وَلَوۡ سَمِعُواْ ﴿ "Dan kalau mereka mendengar," ini jika berandai-andai, ﴾ مَا ٱسۡتَجَابُواْ لَكُمۡۖ ﴿ "mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu," sebab mereka tidak mempunyai sesuatu pun dan kebanyakan mereka tidak meridhai ibadah orang yang menyembahnya. Oleh karenanya, Allah berfir-man, ﴾ وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ ﴿ "Dan di Hari Kiamat mereka akan meng-ingkari kemusyrikanmu." Maksudnya, mereka berlepas diri dari kalian, dan mereka mengatakan: Mahasuci Engkau, Engkau-lah Pelindung kami dari mereka. ﴾ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِيرٖ ﴿ "Dan tidak ada yang dapat memberikan kete-rangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Menge-tahui," maksudnya, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan keterangan kepadamu yang lebih benar daripada Allah Yang Maha Mengetahui, maka pastikanlah bahwa perkara yang diberitakan-Nya seakan-akan penglihatan dengan mata, maka janganlah Anda ragu dan syak hati padanya. Maka ayat-ayat ini mengandung dalil-dalil dan argumen-ar-gumen yang pasti yang membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang berhak diibadahi dan disembah, yang tidak ada siapa pun selain Dia yang berhak disembah; dan bahwa sesungguhnya ibadah (penyembahan) kepada selain Dia adalah kebatilan (kepal-suan) yang bergantung kepada kebatilan; sama sekali tidak berguna bagi penyembahnya.

Fatir 35:15

"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab RabbNya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka men-dirikan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, se-sungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah semua akan kembali." (Fathir: 15-18). (15) Allah سبحانه وتعالى mengalamatkan FirmanNya kepada seluruh manusia, memberitahu mereka tentang kondisi dan sifat mereka, dan sesungguhnya mereka adalah benar-benar butuh kepada Allah dari segala segi. Mereka butuh diciptakan; kalau saja bukan karena Allah menciptakan mereka, tentu mereka tidak ada. Mereka juga butuh untuk dibekali dengan kekuatan, dan anggota tubuh, yang kalau saja Allah tidak memberikannya kepada mereka, tentu me-reka tidak bisa melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka butuh untuk dibekali dengan makanan pokok, rizki, dan berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak; yang kalau saja bukan karena karunia, kebaikan, dan pemberian kemu-dahan segala urusan dariNya, maka tentu mereka tidak bisa mem-peroleh rizki dan kenikmatan sedikitpun. Mereka juga butuh untuk dihindarkan dari berbagai bencana, dilepaskan dari segala hal yang tidak disukai, dijauhkan dari ber-bagai kesengsaraan dan penderitaan, yang kalau saja bukan karena pembelaan Allah terhadap mereka, yang melepaskan mereka dari berbagai penderitaan dan menghilangkan berbagai kesulitan me-reka, tentu saja berbagai hal yang tidak disukai dan berbagai pen-deritaan tetap menimpa mereka. Mereka juga butuh kepadaNya untuk dibimbing dengan berbagai bentuk bimbingan dan berbagai jenis pengaturan. Mereka sangat butuh kepadaNya di dalam menghambakan diri dan mencintaiNya, beribadah kepadaNya dan ketulusan iba-dah kepadaNya; yang kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberi hidayah kepada mereka untuk semua itu, tentu mereka binasa, ruh, jiwa, hati, dan keadaan mereka menjadi rusak. Mereka sangat membutuhkanNya di dalam mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui dan amal yang dapat memperbaiki keadaan mereka; yang kalau saja bukan karena Allah mengajarkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan pernah belajar; dan kalau saja bukan karena taufikNya, tentu mereka tidak akan bisa menjadi baik. Jadi, mereka sangat fakir (butuh) secara dasar kepadaNya dengan segala arti kefakiran; sama saja, apakah mereka menyadari akan sebagian bentuk kefakiran itu ataukah tidak! Akan tetapi orang yang mendapat taufik di antara mereka, yaitu yang selalu merasakan kefakiran (kebutuhan) dirinya dalam setiap keadaan dalam permasalahan dunia dan agamanya, merendahkan diri dan memohon kepadaNya untuk tidak diserahkan kepada dirinya sendiri sekejap mata pun, dan memohon kepadaNya agar diberi pertolongan atas segala urusannya, dan ia merasakan (menyerta-kan) makna seperti ini dalam setiap saat, maka orang seperti ini pantas mendapatkan pertolongan yang sempurna dari Allah se-sembahannya Yang lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu terhadap anaknya. ﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah yang memiliki kekayaan yang sem-purna dari segala sisi. Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya, dan Dia juga sama sekali tidak memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh manusia. Hal itu adalah karena kesempurnaan sifat-sifatNya dan keberadaan se-mua sifat-sifatNya sebagai sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan. Dan di antara kemahakayaan Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia men-jadikan manusia kaya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Terpuji pada DzatNya, nama-namaNya, karena semua namaNya adalah husna (sangat indah), juga sifat-sifatNya, karena semua sifatNya adalah tinggi (mulia), dan semua perbuatanNya, karena semua perbuatanNya adalah merupakan karunia, kebaikan, keadilan, hikmah dan rahmat; dan juga (Maha Terpuji) dalam semua perin-tah dan semua laranganNya. Maka Dia Maha Terpuji atas apa yang ada di dalamnya dan atas apa yang dikaruniakanNya. Dan Dia Maha Terpuji di dalam kemahakayaanNya dan Dia Mahakaya di dalam keterpujianNya. (16) ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru." Ada kemungkinan bahwa maknanya adalah jika Dia menghendaki, maka Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan mendatang-kan manusia selain kalian yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dengan demikian, ayat ini mengandung ancaman bagi mereka berupa kebinasaan dan kemusnahan, dan sesungguhnya masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى tidak hanya terbatas pada yang de-mikian saja. Bisa juga maknanya adalah penetapan kebenaran kebangkitan dan kehidupan kembali, dan bahwa kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku terhadap segala sesuatu dan terhadap penghidupan kembali sete-lah kalian mati menjadi makhluk yang baru. Namun waktunya telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak akan dimajukan dan tidak pula ditunda. (17) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." Maksudnya, tidak ada halangan bagiNya dan tidak pula ada yang dapat membuatNya lemah. (18) Makna yang terakhir dikuatkan oleh apa yang disebut-kanNya sesudahnya pada FirmanNya, ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," maksud-nya, pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan diberi pembalasan menurut amal perbuatannya, dan tidak seorang pun menanggung dosa orang lain. ﴾ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ ﴿ "Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu," maksudnya, seorang jiwa yang penuh kesalahan dan dosa meminta pertolongan kepada orang yang mau menanggung sebagian dosa-dosanya, ﴾ لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ ﴿ "tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabat-nya." Dia sama sekali tidak akan menanggung dosa seorang kera-batnya, karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia, di mana seseorang bisa menolong teman dekatnya, seorang sahabat dapat menolong sahabatnya. Bahkan pada di Hari Kiamat nanti, masing-masing orang mendambakan kalau dirinya mempu-nyai hak atas orang lain, sekalipun atas kedua orang tua dan kaum kerabatnya. ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ ﴿ "Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabb-Nya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka mendirikan shalat." Maksudnya, mereka yang mau mendengar peringatan dan meng-ambil pelajaran darinya, adalah orang-orang yang takut kepada Allah, sekalipun mereka tidak melihatNya; yaitu orang-orang yang takut kepadaNya dalam kondisi sembunyi maupun terlihat orang dan berada di tempat jauh (ghaib), dan mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat dengan segala batasan-batasannya, syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan kekhusyu'an-nya. Sebab, takut kepada Allah mendorong seorang hamba untuk mengerjakan apa-apa yang jika diabaikan akan ditimpa azab, dan jauh dari apa-apa yang jika dilakukan dapat mengakibatkan siksa. Sedangkan shalat itu sendiri mengajak kepada kebaikan dan men-cegah dari yang keji dan mungkar. ﴾ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyucikan di-rinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." Maksudnya, siapa saja yang menyucikan dirinya dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya', sombong, dusta, curang, makar, penipuan, kemunafikan, dan akhlak buruk yang serupa dengannya, dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, seperti jujur, ikhlas, tawadhu' (merendahkan hati), bersikap santun, memberikan nasihat baik kepada orang lain, dan bersih dari rasa dengki, iri dan akhlak-akhlak tercela lainnya, maka se-sungguhnya pembersihan itu, manfaatnya pasti kembali kepada dirinya sendiri dan tujuannya (melakukan itu semua) pasti sampai kepada dirinya, tidak ada sesuatu apa pun dari amalnya yang ter-sia-siakan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah semua akan kembali," lalu Dia akan memberikan balasan kepada segenap manusia atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan memperhitungkan mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, dan Dia sama sekali tidak akan mengabaikan satu perbuatan kecil ataupun besar, melainkan Dia pasti menghitungnya.

Fatir 35:16

"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab RabbNya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka men-dirikan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, se-sungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah semua akan kembali." (Fathir: 15-18). (15) Allah سبحانه وتعالى mengalamatkan FirmanNya kepada seluruh manusia, memberitahu mereka tentang kondisi dan sifat mereka, dan sesungguhnya mereka adalah benar-benar butuh kepada Allah dari segala segi. Mereka butuh diciptakan; kalau saja bukan karena Allah menciptakan mereka, tentu mereka tidak ada. Mereka juga butuh untuk dibekali dengan kekuatan, dan anggota tubuh, yang kalau saja Allah tidak memberikannya kepada mereka, tentu me-reka tidak bisa melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka butuh untuk dibekali dengan makanan pokok, rizki, dan berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak; yang kalau saja bukan karena karunia, kebaikan, dan pemberian kemu-dahan segala urusan dariNya, maka tentu mereka tidak bisa mem-peroleh rizki dan kenikmatan sedikitpun. Mereka juga butuh untuk dihindarkan dari berbagai bencana, dilepaskan dari segala hal yang tidak disukai, dijauhkan dari ber-bagai kesengsaraan dan penderitaan, yang kalau saja bukan karena pembelaan Allah terhadap mereka, yang melepaskan mereka dari berbagai penderitaan dan menghilangkan berbagai kesulitan me-reka, tentu saja berbagai hal yang tidak disukai dan berbagai pen-deritaan tetap menimpa mereka. Mereka juga butuh kepadaNya untuk dibimbing dengan berbagai bentuk bimbingan dan berbagai jenis pengaturan. Mereka sangat butuh kepadaNya di dalam menghambakan diri dan mencintaiNya, beribadah kepadaNya dan ketulusan iba-dah kepadaNya; yang kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberi hidayah kepada mereka untuk semua itu, tentu mereka binasa, ruh, jiwa, hati, dan keadaan mereka menjadi rusak. Mereka sangat membutuhkanNya di dalam mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui dan amal yang dapat memperbaiki keadaan mereka; yang kalau saja bukan karena Allah mengajarkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan pernah belajar; dan kalau saja bukan karena taufikNya, tentu mereka tidak akan bisa menjadi baik. Jadi, mereka sangat fakir (butuh) secara dasar kepadaNya dengan segala arti kefakiran; sama saja, apakah mereka menyadari akan sebagian bentuk kefakiran itu ataukah tidak! Akan tetapi orang yang mendapat taufik di antara mereka, yaitu yang selalu merasakan kefakiran (kebutuhan) dirinya dalam setiap keadaan dalam permasalahan dunia dan agamanya, merendahkan diri dan memohon kepadaNya untuk tidak diserahkan kepada dirinya sendiri sekejap mata pun, dan memohon kepadaNya agar diberi pertolongan atas segala urusannya, dan ia merasakan (menyerta-kan) makna seperti ini dalam setiap saat, maka orang seperti ini pantas mendapatkan pertolongan yang sempurna dari Allah se-sembahannya Yang lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu terhadap anaknya. ﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah yang memiliki kekayaan yang sem-purna dari segala sisi. Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya, dan Dia juga sama sekali tidak memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh manusia. Hal itu adalah karena kesempurnaan sifat-sifatNya dan keberadaan se-mua sifat-sifatNya sebagai sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan. Dan di antara kemahakayaan Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia men-jadikan manusia kaya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Terpuji pada DzatNya, nama-namaNya, karena semua namaNya adalah husna (sangat indah), juga sifat-sifatNya, karena semua sifatNya adalah tinggi (mulia), dan semua perbuatanNya, karena semua perbuatanNya adalah merupakan karunia, kebaikan, keadilan, hikmah dan rahmat; dan juga (Maha Terpuji) dalam semua perin-tah dan semua laranganNya. Maka Dia Maha Terpuji atas apa yang ada di dalamnya dan atas apa yang dikaruniakanNya. Dan Dia Maha Terpuji di dalam kemahakayaanNya dan Dia Mahakaya di dalam keterpujianNya. (16) ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru." Ada kemungkinan bahwa maknanya adalah jika Dia menghendaki, maka Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan mendatang-kan manusia selain kalian yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dengan demikian, ayat ini mengandung ancaman bagi mereka berupa kebinasaan dan kemusnahan, dan sesungguhnya masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى tidak hanya terbatas pada yang de-mikian saja. Bisa juga maknanya adalah penetapan kebenaran kebangkitan dan kehidupan kembali, dan bahwa kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku terhadap segala sesuatu dan terhadap penghidupan kembali sete-lah kalian mati menjadi makhluk yang baru. Namun waktunya telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak akan dimajukan dan tidak pula ditunda. (17) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." Maksudnya, tidak ada halangan bagiNya dan tidak pula ada yang dapat membuatNya lemah. (18) Makna yang terakhir dikuatkan oleh apa yang disebut-kanNya sesudahnya pada FirmanNya, ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," maksud-nya, pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan diberi pembalasan menurut amal perbuatannya, dan tidak seorang pun menanggung dosa orang lain. ﴾ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ ﴿ "Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu," maksudnya, seorang jiwa yang penuh kesalahan dan dosa meminta pertolongan kepada orang yang mau menanggung sebagian dosa-dosanya, ﴾ لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ ﴿ "tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabat-nya." Dia sama sekali tidak akan menanggung dosa seorang kera-batnya, karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia, di mana seseorang bisa menolong teman dekatnya, seorang sahabat dapat menolong sahabatnya. Bahkan pada di Hari Kiamat nanti, masing-masing orang mendambakan kalau dirinya mempu-nyai hak atas orang lain, sekalipun atas kedua orang tua dan kaum kerabatnya. ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ ﴿ "Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabb-Nya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka mendirikan shalat." Maksudnya, mereka yang mau mendengar peringatan dan meng-ambil pelajaran darinya, adalah orang-orang yang takut kepada Allah, sekalipun mereka tidak melihatNya; yaitu orang-orang yang takut kepadaNya dalam kondisi sembunyi maupun terlihat orang dan berada di tempat jauh (ghaib), dan mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat dengan segala batasan-batasannya, syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan kekhusyu'an-nya. Sebab, takut kepada Allah mendorong seorang hamba untuk mengerjakan apa-apa yang jika diabaikan akan ditimpa azab, dan jauh dari apa-apa yang jika dilakukan dapat mengakibatkan siksa. Sedangkan shalat itu sendiri mengajak kepada kebaikan dan men-cegah dari yang keji dan mungkar. ﴾ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyucikan di-rinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." Maksudnya, siapa saja yang menyucikan dirinya dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya', sombong, dusta, curang, makar, penipuan, kemunafikan, dan akhlak buruk yang serupa dengannya, dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, seperti jujur, ikhlas, tawadhu' (merendahkan hati), bersikap santun, memberikan nasihat baik kepada orang lain, dan bersih dari rasa dengki, iri dan akhlak-akhlak tercela lainnya, maka se-sungguhnya pembersihan itu, manfaatnya pasti kembali kepada dirinya sendiri dan tujuannya (melakukan itu semua) pasti sampai kepada dirinya, tidak ada sesuatu apa pun dari amalnya yang ter-sia-siakan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah semua akan kembali," lalu Dia akan memberikan balasan kepada segenap manusia atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan memperhitungkan mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, dan Dia sama sekali tidak akan mengabaikan satu perbuatan kecil ataupun besar, melainkan Dia pasti menghitungnya.

Fatir 35:17

"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab RabbNya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka men-dirikan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, se-sungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah semua akan kembali." (Fathir: 15-18). (15) Allah سبحانه وتعالى mengalamatkan FirmanNya kepada seluruh manusia, memberitahu mereka tentang kondisi dan sifat mereka, dan sesungguhnya mereka adalah benar-benar butuh kepada Allah dari segala segi. Mereka butuh diciptakan; kalau saja bukan karena Allah menciptakan mereka, tentu mereka tidak ada. Mereka juga butuh untuk dibekali dengan kekuatan, dan anggota tubuh, yang kalau saja Allah tidak memberikannya kepada mereka, tentu me-reka tidak bisa melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka butuh untuk dibekali dengan makanan pokok, rizki, dan berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak; yang kalau saja bukan karena karunia, kebaikan, dan pemberian kemu-dahan segala urusan dariNya, maka tentu mereka tidak bisa mem-peroleh rizki dan kenikmatan sedikitpun. Mereka juga butuh untuk dihindarkan dari berbagai bencana, dilepaskan dari segala hal yang tidak disukai, dijauhkan dari ber-bagai kesengsaraan dan penderitaan, yang kalau saja bukan karena pembelaan Allah terhadap mereka, yang melepaskan mereka dari berbagai penderitaan dan menghilangkan berbagai kesulitan me-reka, tentu saja berbagai hal yang tidak disukai dan berbagai pen-deritaan tetap menimpa mereka. Mereka juga butuh kepadaNya untuk dibimbing dengan berbagai bentuk bimbingan dan berbagai jenis pengaturan. Mereka sangat butuh kepadaNya di dalam menghambakan diri dan mencintaiNya, beribadah kepadaNya dan ketulusan iba-dah kepadaNya; yang kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberi hidayah kepada mereka untuk semua itu, tentu mereka binasa, ruh, jiwa, hati, dan keadaan mereka menjadi rusak. Mereka sangat membutuhkanNya di dalam mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui dan amal yang dapat memperbaiki keadaan mereka; yang kalau saja bukan karena Allah mengajarkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan pernah belajar; dan kalau saja bukan karena taufikNya, tentu mereka tidak akan bisa menjadi baik. Jadi, mereka sangat fakir (butuh) secara dasar kepadaNya dengan segala arti kefakiran; sama saja, apakah mereka menyadari akan sebagian bentuk kefakiran itu ataukah tidak! Akan tetapi orang yang mendapat taufik di antara mereka, yaitu yang selalu merasakan kefakiran (kebutuhan) dirinya dalam setiap keadaan dalam permasalahan dunia dan agamanya, merendahkan diri dan memohon kepadaNya untuk tidak diserahkan kepada dirinya sendiri sekejap mata pun, dan memohon kepadaNya agar diberi pertolongan atas segala urusannya, dan ia merasakan (menyerta-kan) makna seperti ini dalam setiap saat, maka orang seperti ini pantas mendapatkan pertolongan yang sempurna dari Allah se-sembahannya Yang lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu terhadap anaknya. ﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah yang memiliki kekayaan yang sem-purna dari segala sisi. Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya, dan Dia juga sama sekali tidak memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh manusia. Hal itu adalah karena kesempurnaan sifat-sifatNya dan keberadaan se-mua sifat-sifatNya sebagai sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan. Dan di antara kemahakayaan Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia men-jadikan manusia kaya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Terpuji pada DzatNya, nama-namaNya, karena semua namaNya adalah husna (sangat indah), juga sifat-sifatNya, karena semua sifatNya adalah tinggi (mulia), dan semua perbuatanNya, karena semua perbuatanNya adalah merupakan karunia, kebaikan, keadilan, hikmah dan rahmat; dan juga (Maha Terpuji) dalam semua perin-tah dan semua laranganNya. Maka Dia Maha Terpuji atas apa yang ada di dalamnya dan atas apa yang dikaruniakanNya. Dan Dia Maha Terpuji di dalam kemahakayaanNya dan Dia Mahakaya di dalam keterpujianNya. (16) ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru." Ada kemungkinan bahwa maknanya adalah jika Dia menghendaki, maka Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan mendatang-kan manusia selain kalian yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dengan demikian, ayat ini mengandung ancaman bagi mereka berupa kebinasaan dan kemusnahan, dan sesungguhnya masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى tidak hanya terbatas pada yang de-mikian saja. Bisa juga maknanya adalah penetapan kebenaran kebangkitan dan kehidupan kembali, dan bahwa kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku terhadap segala sesuatu dan terhadap penghidupan kembali sete-lah kalian mati menjadi makhluk yang baru. Namun waktunya telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak akan dimajukan dan tidak pula ditunda. (17) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." Maksudnya, tidak ada halangan bagiNya dan tidak pula ada yang dapat membuatNya lemah. (18) Makna yang terakhir dikuatkan oleh apa yang disebut-kanNya sesudahnya pada FirmanNya, ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," maksud-nya, pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan diberi pembalasan menurut amal perbuatannya, dan tidak seorang pun menanggung dosa orang lain. ﴾ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ ﴿ "Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu," maksudnya, seorang jiwa yang penuh kesalahan dan dosa meminta pertolongan kepada orang yang mau menanggung sebagian dosa-dosanya, ﴾ لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ ﴿ "tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabat-nya." Dia sama sekali tidak akan menanggung dosa seorang kera-batnya, karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia, di mana seseorang bisa menolong teman dekatnya, seorang sahabat dapat menolong sahabatnya. Bahkan pada di Hari Kiamat nanti, masing-masing orang mendambakan kalau dirinya mempu-nyai hak atas orang lain, sekalipun atas kedua orang tua dan kaum kerabatnya. ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ ﴿ "Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabb-Nya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka mendirikan shalat." Maksudnya, mereka yang mau mendengar peringatan dan meng-ambil pelajaran darinya, adalah orang-orang yang takut kepada Allah, sekalipun mereka tidak melihatNya; yaitu orang-orang yang takut kepadaNya dalam kondisi sembunyi maupun terlihat orang dan berada di tempat jauh (ghaib), dan mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat dengan segala batasan-batasannya, syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan kekhusyu'an-nya. Sebab, takut kepada Allah mendorong seorang hamba untuk mengerjakan apa-apa yang jika diabaikan akan ditimpa azab, dan jauh dari apa-apa yang jika dilakukan dapat mengakibatkan siksa. Sedangkan shalat itu sendiri mengajak kepada kebaikan dan men-cegah dari yang keji dan mungkar. ﴾ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyucikan di-rinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." Maksudnya, siapa saja yang menyucikan dirinya dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya', sombong, dusta, curang, makar, penipuan, kemunafikan, dan akhlak buruk yang serupa dengannya, dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, seperti jujur, ikhlas, tawadhu' (merendahkan hati), bersikap santun, memberikan nasihat baik kepada orang lain, dan bersih dari rasa dengki, iri dan akhlak-akhlak tercela lainnya, maka se-sungguhnya pembersihan itu, manfaatnya pasti kembali kepada dirinya sendiri dan tujuannya (melakukan itu semua) pasti sampai kepada dirinya, tidak ada sesuatu apa pun dari amalnya yang ter-sia-siakan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah semua akan kembali," lalu Dia akan memberikan balasan kepada segenap manusia atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan memperhitungkan mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, dan Dia sama sekali tidak akan mengabaikan satu perbuatan kecil ataupun besar, melainkan Dia pasti menghitungnya.

Fatir 35:18

"Hai manusia, kamulah yang butuh kepada Allah; dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru. Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab RabbNya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka men-dirikan shalat. Dan barangsiapa yang menyucikan dirinya, se-sungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah semua akan kembali." (Fathir: 15-18). (15) Allah سبحانه وتعالى mengalamatkan FirmanNya kepada seluruh manusia, memberitahu mereka tentang kondisi dan sifat mereka, dan sesungguhnya mereka adalah benar-benar butuh kepada Allah dari segala segi. Mereka butuh diciptakan; kalau saja bukan karena Allah menciptakan mereka, tentu mereka tidak ada. Mereka juga butuh untuk dibekali dengan kekuatan, dan anggota tubuh, yang kalau saja Allah tidak memberikannya kepada mereka, tentu me-reka tidak bisa melakukan suatu pekerjaan apa pun. Mereka butuh untuk dibekali dengan makanan pokok, rizki, dan berbagai nikmat yang nampak dan yang tidak nampak; yang kalau saja bukan karena karunia, kebaikan, dan pemberian kemu-dahan segala urusan dariNya, maka tentu mereka tidak bisa mem-peroleh rizki dan kenikmatan sedikitpun. Mereka juga butuh untuk dihindarkan dari berbagai bencana, dilepaskan dari segala hal yang tidak disukai, dijauhkan dari ber-bagai kesengsaraan dan penderitaan, yang kalau saja bukan karena pembelaan Allah terhadap mereka, yang melepaskan mereka dari berbagai penderitaan dan menghilangkan berbagai kesulitan me-reka, tentu saja berbagai hal yang tidak disukai dan berbagai pen-deritaan tetap menimpa mereka. Mereka juga butuh kepadaNya untuk dibimbing dengan berbagai bentuk bimbingan dan berbagai jenis pengaturan. Mereka sangat butuh kepadaNya di dalam menghambakan diri dan mencintaiNya, beribadah kepadaNya dan ketulusan iba-dah kepadaNya; yang kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberi hidayah kepada mereka untuk semua itu, tentu mereka binasa, ruh, jiwa, hati, dan keadaan mereka menjadi rusak. Mereka sangat membutuhkanNya di dalam mengajarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ketahui dan amal yang dapat memperbaiki keadaan mereka; yang kalau saja bukan karena Allah mengajarkan kepada mereka, tentu mereka tidak akan pernah belajar; dan kalau saja bukan karena taufikNya, tentu mereka tidak akan bisa menjadi baik. Jadi, mereka sangat fakir (butuh) secara dasar kepadaNya dengan segala arti kefakiran; sama saja, apakah mereka menyadari akan sebagian bentuk kefakiran itu ataukah tidak! Akan tetapi orang yang mendapat taufik di antara mereka, yaitu yang selalu merasakan kefakiran (kebutuhan) dirinya dalam setiap keadaan dalam permasalahan dunia dan agamanya, merendahkan diri dan memohon kepadaNya untuk tidak diserahkan kepada dirinya sendiri sekejap mata pun, dan memohon kepadaNya agar diberi pertolongan atas segala urusannya, dan ia merasakan (menyerta-kan) makna seperti ini dalam setiap saat, maka orang seperti ini pantas mendapatkan pertolongan yang sempurna dari Allah se-sembahannya Yang lebih sayang kepadanya daripada seorang ibu terhadap anaknya. ﴾ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "Dan Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah yang memiliki kekayaan yang sem-purna dari segala sisi. Dia sama sekali tidak membutuhkan kepada apa yang dibutuhkan oleh makhlukNya, dan Dia juga sama sekali tidak memerlukan kepada apa yang diperlukan oleh manusia. Hal itu adalah karena kesempurnaan sifat-sifatNya dan keberadaan se-mua sifat-sifatNya sebagai sifat-sifat kesempurnaan dan kemuliaan. Dan di antara kemahakayaan Allah سبحانه وتعالى adalah bahwa Dia men-jadikan manusia kaya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Terpuji pada DzatNya, nama-namaNya, karena semua namaNya adalah husna (sangat indah), juga sifat-sifatNya, karena semua sifatNya adalah tinggi (mulia), dan semua perbuatanNya, karena semua perbuatanNya adalah merupakan karunia, kebaikan, keadilan, hikmah dan rahmat; dan juga (Maha Terpuji) dalam semua perin-tah dan semua laranganNya. Maka Dia Maha Terpuji atas apa yang ada di dalamnya dan atas apa yang dikaruniakanNya. Dan Dia Maha Terpuji di dalam kemahakayaanNya dan Dia Mahakaya di dalam keterpujianNya. (16) ﴾ إِن يَشَأۡ يُذۡهِبۡكُمۡ وَيَأۡتِ بِخَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru." Ada kemungkinan bahwa maknanya adalah jika Dia menghendaki, maka Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan mendatang-kan manusia selain kalian yang lebih taat kepada Allah daripada kalian. Dengan demikian, ayat ini mengandung ancaman bagi mereka berupa kebinasaan dan kemusnahan, dan sesungguhnya masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى tidak hanya terbatas pada yang de-mikian saja. Bisa juga maknanya adalah penetapan kebenaran kebangkitan dan kehidupan kembali, dan bahwa kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku terhadap segala sesuatu dan terhadap penghidupan kembali sete-lah kalian mati menjadi makhluk yang baru. Namun waktunya telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak akan dimajukan dan tidak pula ditunda. (17) ﴾ وَمَا ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ بِعَزِيزٖ ﴿ "Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah." Maksudnya, tidak ada halangan bagiNya dan tidak pula ada yang dapat membuatNya lemah. (18) Makna yang terakhir dikuatkan oleh apa yang disebut-kanNya sesudahnya pada FirmanNya, ﴾ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ﴿ "Dan orang-orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain," maksud-nya, pada Hari Kiamat kelak, setiap orang akan diberi pembalasan menurut amal perbuatannya, dan tidak seorang pun menanggung dosa orang lain. ﴾ وَإِن تَدۡعُ مُثۡقَلَةٌ ﴿ "Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil untuk memikul dosanya itu," maksudnya, seorang jiwa yang penuh kesalahan dan dosa meminta pertolongan kepada orang yang mau menanggung sebagian dosa-dosanya, ﴾ لَا يُحۡمَلۡ مِنۡهُ شَيۡءٞ وَلَوۡ كَانَ ذَا قُرۡبَىٰٓۗ ﴿ "tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun kaum kerabat-nya." Dia sama sekali tidak akan menanggung dosa seorang kera-batnya, karena keadaan di akhirat tidak sama dengan keadaan di dunia, di mana seseorang bisa menolong teman dekatnya, seorang sahabat dapat menolong sahabatnya. Bahkan pada di Hari Kiamat nanti, masing-masing orang mendambakan kalau dirinya mempu-nyai hak atas orang lain, sekalipun atas kedua orang tua dan kaum kerabatnya. ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَۚ ﴿ "Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Rabb-Nya, sekalipun mereka tidak melihatNya, dan mereka mendirikan shalat." Maksudnya, mereka yang mau mendengar peringatan dan meng-ambil pelajaran darinya, adalah orang-orang yang takut kepada Allah, sekalipun mereka tidak melihatNya; yaitu orang-orang yang takut kepadaNya dalam kondisi sembunyi maupun terlihat orang dan berada di tempat jauh (ghaib), dan mereka adalah orang-orang yang menegakkan shalat dengan segala batasan-batasannya, syarat-syaratnya, rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan kekhusyu'an-nya. Sebab, takut kepada Allah mendorong seorang hamba untuk mengerjakan apa-apa yang jika diabaikan akan ditimpa azab, dan jauh dari apa-apa yang jika dilakukan dapat mengakibatkan siksa. Sedangkan shalat itu sendiri mengajak kepada kebaikan dan men-cegah dari yang keji dan mungkar. ﴾ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang menyucikan di-rinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri." Maksudnya, siapa saja yang menyucikan dirinya dengan cara membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, seperti riya', sombong, dusta, curang, makar, penipuan, kemunafikan, dan akhlak buruk yang serupa dengannya, dan menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, seperti jujur, ikhlas, tawadhu' (merendahkan hati), bersikap santun, memberikan nasihat baik kepada orang lain, dan bersih dari rasa dengki, iri dan akhlak-akhlak tercela lainnya, maka se-sungguhnya pembersihan itu, manfaatnya pasti kembali kepada dirinya sendiri dan tujuannya (melakukan itu semua) pasti sampai kepada dirinya, tidak ada sesuatu apa pun dari amalnya yang ter-sia-siakan. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah semua akan kembali," lalu Dia akan memberikan balasan kepada segenap manusia atas apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah akan memperhitungkan mereka berdasarkan apa yang telah mereka lakukan, dan Dia sama sekali tidak akan mengabaikan satu perbuatan kecil ataupun besar, melainkan Dia pasti menghitungnya.

Fatir 35:19

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:20

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:21

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:22

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:23

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:24

"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguh-nya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehen-dakiNya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan. Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan." (Fathir: 19-24). (19-23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa sesungguhnya tidak sama dalam hikmah (kebijaksanaan) Allah hal-hal yang berla-wanan dan dalam apa-apa yang telah Allah letakkan dalam fitrah hamba-hambaNya. Maka tidaklah ﴾ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ ﴿ "sama orang yang buta ," yaitu yang daya penglihatannya rusak, ﴾ وَٱلۡبَصِيرُ 19 وَلَا ٱلظُّلُمَٰتُ وَلَا ٱلنُّورُ 20 وَلَا ٱلظِّلُّ وَلَا ٱلۡحَرُورُ 21 وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَحۡيَآءُ وَلَا ٱلۡأَمۡوَٰتُۚ ﴿ "dengan orang yang me-lihat. Dan tidak pula sama gelap gulita dengan cahaya. Dan tidak pula sama yang teduh dengan yang panas, dan tidak pula sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati." Sebagaimana telah kalian akui dan tidak ada keraguan bahwa hal-hal yang disebutkan ini tidak sama, maka demikian pula, hendaklah kalian ketahui bahwa tidak adanya kesamaan di antara hal-hal yang berlawanan yang bersifat spiritual tentu lebih utama dan lebih utama. Maka tidak sama orang yang beriman dengan orang yang kafir, tidak sama orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang sesat, tidak sama orang yang berilmu dengan orang yang bodoh, tidak sama pula para penghuni surga dengan para penghuni neraka, dan tidak juga orang-orang yang hatinya hidup dengan orang-orang hatinya mati. Perbedaan dan perselisihan yang ada di antara hal-hal terse-but sangat banyak sekali, hanya Allah yang mengetahuinya secara pasti. Lalu, apabila Anda telah mengetahui tingkatan-tingkatan-(nya) dan Anda dapat membedakan segala sesuatu, dan apa yang sepantasnya diperlombakan untuk diraih itu sudah menjadi jelas dari lawannya, maka hendaklah orang yang mempunyai tekad sungguh-sungguh memilih untuk dirinya apa yang lebih utama baginya dan lebih berhak diutamakan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُسۡمِعُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendakiNya," pendengaran untuk memahami dan menerima. Sebab Allah-lah Yang memberi petunjuk dan taufik. ﴾ وَمَآ أَنتَ بِمُسۡمِعٖ مَّن فِي ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Dan kamu sekali-kali tiada sanggup men-jadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar." Maksudnya, orang-orang yang mati hatinya. Atau, sebagaimana seruanmu tidak berguna bagi para penghuni kubur sedikitpun, maka demikian pula tidak berguna bagi pembangkang lagi keras kepala sedikitpun. Kewajibanmu hanyalah memberikan peringatan dan menyampai-kan apa yang karenanya kamu diutus, baik ucapanmu diterima ataupun tidak. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنۡ أَنتَ إِلَّا نَذِيرٌ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan." (24) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu de-ngan membawa kebenaran." Maksudnya, Kami mengutusmu hanya dengan kebenaran. Sebab Allah سبحانه وتعالى mengutusmu pada saat keko-songan para rasul dan lenyapnya jalan-jalan (kebenaran), terhapus-nya ilmu dan kebutuhan yang sangat mendesak kepada penugasan-mu sebagai rasul. Maka Allah mengutusmu sebagai rahmat bagi semesta alam. Demikian pula, apa yang karenanya Kami meng-utusmu, yaitu agama yang benar dan jalan yang lurus itu adalah haq, bukan kepalsuan, dan demikian pula apa yang Kami utuskan kepadamu, yaitu al-Qur`an yang agung dan Dzikir yang penuh hikmah, yang termuat di dalamnya adalah haq dan kebenaran. Ia merupakan ﴾ بَشِيرٗا ﴿ "pembawa berita gembira," bagi siapa saja yang patuh kepadamu, yaitu kabar gembira dengan pahala dunia dan akhirat dari Allah. ﴾ وَنَذِيرٗاۚ ﴿ "Dan sebagai pemberi peringatan" bagi siapa saja yang durhaka terhadapmu, yaitu dengan azab Allah di dunia ini dan di akhirat nanti. Kamu bukanlah hal yang baru dari para rasul. Maka tidaklah ada ﴾ مِّنۡ أُمَّةٍ ﴿ "suatu umat pun" dari umat-umat yang terdahulu dan dari generasi-generasi yang silam ﴾ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ ﴿ "melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan," yang menegakkan hujjah Allah atas mereka, ﴾ لِّيَهۡلِكَ مَنۡ هَلَكَ عَنۢ بَيِّنَةٖ وَيَحۡيَىٰ مَنۡ حَيَّ عَنۢ بَيِّنَةٖۗ ﴿ "Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu dengan keterangan yang nyata (pula)." (Al-Anfal: 42).

Fatir 35:25

"Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan; kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberikan cahaya. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka bagaimana akibat kemurkaan-Ku." (Fathir: 25-26). (25) Maknanya: Jika mereka, kaum musyrikin, mendusta-kanmu, wahai Rasul, maka engkau bukanlah rasul pertama yang didustakan, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "maka sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan; kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan membawa mukjizat yang nyata" yang membuktikan kebenaran dan kejujuran mereka dalam apa yang mereka beritakan, ﴾ وَبِٱلزُّبُرِ ﴿ "dan dengan zubur," maksudnya, kitab-kitab yang tertulis, yang di dalamnya terhimpun berbagai hukum-hukum Allah, ﴾ وَبِٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ﴿ "dan kitab yang memberikan cahaya," yakni, yang memberikan penjelasan di dalam berita-beritanya yang benar dan hukum-hukumnya yang adil. Jadi, pendustaan mereka terhadap para rasul itu bukan karena ketidakjelasan atau kelemahan ajaran yang disampaikan oleh para rasul, melainkan disebabkan oleh kezhaliman dan sikap keras kepala mereka. (26) ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۖ ﴿ "Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir" dengan berbagai macam siksaan, ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ ﴿ "maka bagai-mana akibat kemurkaanKu" terhadap mereka? Ia benar-benar kemur-kaan yang paling keras dan penyiksaan yang paling besar. Maka jangan sekali-kali kalian mendustakan Rasul yang mulia ini, sebab kalian akan ditimpa azab yang sangat pedih dan kehinaan yang sangat nista sebagaimana telah menimpa orang-orang (yang telah mendustakan para rasul sebelumnya). Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa Dia menciptakan segala se-suatu yang berlawanan yang asalnya adalah satu dan materinya pun satu (sama), namun terdapat perbedaan yang sangat jauh se-bagaimana dapat kita lihat dan kita saksikan, untuk membuktikan kepada hamba-hambaNya kesempurnaan KuasaNya dan keindahan HikmahNya:

Fatir 35:26

"Dan jika mereka mendustakan kamu, maka sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan; kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan membawa mukjizat yang nyata, zubur, dan kitab yang memberikan cahaya. Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir; maka bagaimana akibat kemurkaan-Ku." (Fathir: 25-26). (25) Maknanya: Jika mereka, kaum musyrikin, mendusta-kanmu, wahai Rasul, maka engkau bukanlah rasul pertama yang didustakan, ﴾ فَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "maka sungguh orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan; kepada mereka telah datang rasul-rasulNya dengan membawa mukjizat yang nyata" yang membuktikan kebenaran dan kejujuran mereka dalam apa yang mereka beritakan, ﴾ وَبِٱلزُّبُرِ ﴿ "dan dengan zubur," maksudnya, kitab-kitab yang tertulis, yang di dalamnya terhimpun berbagai hukum-hukum Allah, ﴾ وَبِٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُنِيرِ ﴿ "dan kitab yang memberikan cahaya," yakni, yang memberikan penjelasan di dalam berita-beritanya yang benar dan hukum-hukumnya yang adil. Jadi, pendustaan mereka terhadap para rasul itu bukan karena ketidakjelasan atau kelemahan ajaran yang disampaikan oleh para rasul, melainkan disebabkan oleh kezhaliman dan sikap keras kepala mereka. (26) ﴾ ثُمَّ أَخَذۡتُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۖ ﴿ "Kemudian Aku azab orang-orang yang kafir" dengan berbagai macam siksaan, ﴾ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ ﴿ "maka bagai-mana akibat kemurkaanKu" terhadap mereka? Ia benar-benar kemur-kaan yang paling keras dan penyiksaan yang paling besar. Maka jangan sekali-kali kalian mendustakan Rasul yang mulia ini, sebab kalian akan ditimpa azab yang sangat pedih dan kehinaan yang sangat nista sebagaimana telah menimpa orang-orang (yang telah mendustakan para rasul sebelumnya). Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa Dia menciptakan segala se-suatu yang berlawanan yang asalnya adalah satu dan materinya pun satu (sama), namun terdapat perbedaan yang sangat jauh se-bagaimana dapat kita lihat dan kita saksikan, untuk membuktikan kepada hamba-hambaNya kesempurnaan KuasaNya dan keindahan HikmahNya:

Fatir 35:27

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dari hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara ma-nusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 27-28). (27) Di antaranya adalah bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan air hujan itu Dia menumbuhkan berbagai jenis buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang beragam seperti yang disaksikan oleh orang-orang yang memperhatikannya. Padahal airnya sama dan tanahnya pun sama. Dan di antaranya juga adalah gunung-gunung yang dijadikan sebagai pasak bumi oleh Allah سبحانه وتعالى, Anda menjumpainya sebagai gunung-gunung yang menyatu, bahkan satu gunung, dan padanya terdapat banyak warna, ada ﴾ جُدَدُۢ بِيضٞ ﴿ "garis-garis putih," maksud-nya, jalan-jalan putih, dan ada pula jalan-jalan berwarna kekuning-kuningan, kemerah-merahan, dan ada pula ﴾ وَغَرَابِيبُ سُودٞ ﴿ "yang hitam pekat," maksudnya, sangat hitam sekali. (28) Dan termasuk di antaranya juga adalah manusia, bina-tang melata dan binatang-binatang ternak berkaki empat, padanya terdapat perbedaan warna, perbedaan bulu, bunyi (suara), dan bentuk, sebagaimana dapat dilihat dengan pandangan mata dan dapat disaksikan oleh orang-orang yang memperhatikannya. Se-muanya berasal dari asal dan materi yang sama. Maka perbedaan-nya merupakan dalil (bukti) rasional atas masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan keistimewaan pada masing-masing de-ngan warna dan sifatnya, (dan menunjukkan kepada) Kuasa Allah سبحانه وتعالى di mana Dia telah menciptakannya seperti itu, dan menunjukkan kepada hikmah dan rahmatNya di mana perbedaan dan keragaman itu mempunyai banyak maslahat dan berbagai manfaat, untuk mengenal jalan-jalan, mengenal manusia satu sama lainnya sebagai-mana telah dimaklumi. Dan hal itu juga merupakan dalil (bukti) yang menunjukkan kemahaluasan ilmu Allah سبحانه وتعالى, dan sesungguhnya Dia pasti akan membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kubur. Namun, orang yang lalai melihat hal-hal di atas dengan penglihatan kela-laian yang tidak bisa menimbulkan kesadaran baginya. Sesungguh-nya yang dapat mengambil pelajaran darinya hanyalah orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan berusaha mengetahui dengan pikiran-nya yang fokus apa yang menjadi hikmah dari makhluk-makhluk tersebut. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ ﴿ "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama." Maka setiap orang yang lebih mengenal Allah, ia akan menjadi lebih takut kepadaNya, dan takutnya kepada Allah menjadikannya menahan diri dari perbuatan maksiat dan selalu bersiap untuk perjumpaan dengan Tuhan yang ditakutinya. Ini merupakan satu dalil yang menunjukkan tingginya keutamaan ilmu, sebab ilmu mengajak takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepadaNya adalah orang-orang yang dianugerahi kara-mah, sebagaimana FirmanNya, ﴾ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ 8 ﴿ "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 8). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa," yakni, Maha-sempurna keperkasaanNya; dan di antara keperkasaanNya adalah Dia menciptakan makhluk-makhluk yang berbeda-beda itu. ﴾ غ َ ف ُ و ر ٌ ﴿ "Lagi Maha Pengampun" terhadap dosa-dosa orang-orang yang bertaubat.

Fatir 35:28

"Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit, lalu Kami hasilkan dari hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara ma-nusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. Se-sungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (Fathir: 27-28). (27) Di antaranya adalah bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan air hujan itu Dia menumbuhkan berbagai jenis buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan yang beragam seperti yang disaksikan oleh orang-orang yang memperhatikannya. Padahal airnya sama dan tanahnya pun sama. Dan di antaranya juga adalah gunung-gunung yang dijadikan sebagai pasak bumi oleh Allah سبحانه وتعالى, Anda menjumpainya sebagai gunung-gunung yang menyatu, bahkan satu gunung, dan padanya terdapat banyak warna, ada ﴾ جُدَدُۢ بِيضٞ ﴿ "garis-garis putih," maksud-nya, jalan-jalan putih, dan ada pula jalan-jalan berwarna kekuning-kuningan, kemerah-merahan, dan ada pula ﴾ وَغَرَابِيبُ سُودٞ ﴿ "yang hitam pekat," maksudnya, sangat hitam sekali. (28) Dan termasuk di antaranya juga adalah manusia, bina-tang melata dan binatang-binatang ternak berkaki empat, padanya terdapat perbedaan warna, perbedaan bulu, bunyi (suara), dan bentuk, sebagaimana dapat dilihat dengan pandangan mata dan dapat disaksikan oleh orang-orang yang memperhatikannya. Se-muanya berasal dari asal dan materi yang sama. Maka perbedaan-nya merupakan dalil (bukti) rasional atas masyi`ah (kehendak) Allah سبحانه وتعالى yang telah memberikan keistimewaan pada masing-masing de-ngan warna dan sifatnya, (dan menunjukkan kepada) Kuasa Allah سبحانه وتعالى di mana Dia telah menciptakannya seperti itu, dan menunjukkan kepada hikmah dan rahmatNya di mana perbedaan dan keragaman itu mempunyai banyak maslahat dan berbagai manfaat, untuk mengenal jalan-jalan, mengenal manusia satu sama lainnya sebagai-mana telah dimaklumi. Dan hal itu juga merupakan dalil (bukti) yang menunjukkan kemahaluasan ilmu Allah سبحانه وتعالى, dan sesungguhnya Dia pasti akan membangkitkan orang-orang yang ada di dalam kubur. Namun, orang yang lalai melihat hal-hal di atas dengan penglihatan kela-laian yang tidak bisa menimbulkan kesadaran baginya. Sesungguh-nya yang dapat mengambil pelajaran darinya hanyalah orang yang takut kepada Allah سبحانه وتعالى dan berusaha mengetahui dengan pikiran-nya yang fokus apa yang menjadi hikmah dari makhluk-makhluk tersebut. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ ﴿ "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama." Maka setiap orang yang lebih mengenal Allah, ia akan menjadi lebih takut kepadaNya, dan takutnya kepada Allah menjadikannya menahan diri dari perbuatan maksiat dan selalu bersiap untuk perjumpaan dengan Tuhan yang ditakutinya. Ini merupakan satu dalil yang menunjukkan tingginya keutamaan ilmu, sebab ilmu mengajak takut kepada Allah, dan orang-orang yang takut kepadaNya adalah orang-orang yang dianugerahi kara-mah, sebagaimana FirmanNya, ﴾ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ 8 ﴿ "Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya." (Al-Bayyinah: 8). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahaperkasa," yakni, Maha-sempurna keperkasaanNya; dan di antara keperkasaanNya adalah Dia menciptakan makhluk-makhluk yang berbeda-beda itu. ﴾ غ َ ف ُ و ر ٌ ﴿ "Lagi Maha Pengampun" terhadap dosa-dosa orang-orang yang bertaubat.

Fatir 35:29

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Fathir: 29-30). (29) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah." Maksudnya, mengkaji perintah-perin-tahnya dan mereka mengerjakannya, dan terhadap larangan-lara-ngannya lalu mereka meninggalkannya, juga terhadap informasi-informasinya lalu mereka membenarkan dan meyakininya, serta mereka tidak mengutamakan apa-apa yang bertentangan dengan-nya dari pendapat-pendapat manusia. Dan mereka pun membaca lafazh-lafazhnya dengan mempelajarinya, membaca artinya dengan menghayati dan menyimpulkannya. Kemudian, setelah menjelaskan tentang membaca al-Qur`an secara khusus dan shalat secara umum yang merupakan tiang agama, cahaya bagi kaum Muslimin, standar keimanan dan tanda ketulusan dalam ber-islam, Allah secara khusus menjelaskan ten-tang pemberian nafkah kepada kaum kerabat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan lain-lainnya dalam bentuk zakat, kaffarat, nadzar dan berbagai bentuk sedekah, ﴾ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dengan diam-diam dan terang-terangan," sepanjang waktu, ﴾ يَرۡجُونَ ﴿ "mereka itu mengharapkan" dengan itu, ﴾ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ ﴿ "perniagaan yang tidak akan merugi." Maksudnya, tidak akan bangkrut atau rusak. Bahkan ia adalah perniagaan yang paling mulia, paling tinggi, dan paling utama, yaitu keridhaan Allah, Rabb mereka, menang dengan me-raih pahala yang berlipat ganda dan selamat dari murka dan siksa-anNya. Di sini terkandung keikhlasan dalam amal-amal kebajikan mereka, yang mana sesungguhnya mereka tidak mengharapkan sedikitpun dari amal-amal tersebut tujuan-tujuan buruk dan niat-niat yang tidak benar. (30) Allah menyebutkan bahwa mereka pasti meraih apa yang mereka harapkan itu, seraya berfirman, ﴾ لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka," maksudnya, pahala amal-amal kebajikan mereka sesuai dengan sedikit atau banyaknya, baik atau tidaknya. ﴾ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ ﴿ "Dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya" sebagai tambahan atas pahala yang mereka terima. ﴾ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa mereka dan mene-rima kebajikan mereka sekalipun kecil.

Fatir 35:30

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Fathir: 29-30). (29) ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah." Maksudnya, mengkaji perintah-perin-tahnya dan mereka mengerjakannya, dan terhadap larangan-lara-ngannya lalu mereka meninggalkannya, juga terhadap informasi-informasinya lalu mereka membenarkan dan meyakininya, serta mereka tidak mengutamakan apa-apa yang bertentangan dengan-nya dari pendapat-pendapat manusia. Dan mereka pun membaca lafazh-lafazhnya dengan mempelajarinya, membaca artinya dengan menghayati dan menyimpulkannya. Kemudian, setelah menjelaskan tentang membaca al-Qur`an secara khusus dan shalat secara umum yang merupakan tiang agama, cahaya bagi kaum Muslimin, standar keimanan dan tanda ketulusan dalam ber-islam, Allah secara khusus menjelaskan ten-tang pemberian nafkah kepada kaum kerabat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan lain-lainnya dalam bentuk zakat, kaffarat, nadzar dan berbagai bentuk sedekah, ﴾ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ ﴿ "dengan diam-diam dan terang-terangan," sepanjang waktu, ﴾ يَرۡجُونَ ﴿ "mereka itu mengharapkan" dengan itu, ﴾ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ ﴿ "perniagaan yang tidak akan merugi." Maksudnya, tidak akan bangkrut atau rusak. Bahkan ia adalah perniagaan yang paling mulia, paling tinggi, dan paling utama, yaitu keridhaan Allah, Rabb mereka, menang dengan me-raih pahala yang berlipat ganda dan selamat dari murka dan siksa-anNya. Di sini terkandung keikhlasan dalam amal-amal kebajikan mereka, yang mana sesungguhnya mereka tidak mengharapkan sedikitpun dari amal-amal tersebut tujuan-tujuan buruk dan niat-niat yang tidak benar. (30) Allah menyebutkan bahwa mereka pasti meraih apa yang mereka harapkan itu, seraya berfirman, ﴾ لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ ﴿ "Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka," maksudnya, pahala amal-amal kebajikan mereka sesuai dengan sedikit atau banyaknya, baik atau tidaknya. ﴾ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦٓۚ ﴿ "Dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya" sebagai tambahan atas pahala yang mereka terima. ﴾ إِنَّهُۥ غَفُورٞ شَكُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa mereka dan mene-rima kebajikan mereka sekalipun kecil.

Fatir 35:31

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab, itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka ber-kata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengam-pun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu'." (Fathir: 31-35). (31) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa sesungguhnya al-Kitab yang telah diwahyukanNya kepada RasulNya ﴾ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "itulah yang benar," karena banyaknya kebenaran (al-haq) yang terkandung di dalamnya, sehingga seakan-akan kebenaran hanya terbatas pada yang ada di dalamnya saja. Maka hendaknya jangan sampai ada rasa keberatan di dalam hati kalian terhadapnya dan jangan pula kalian merasa bosan kepadanya atau meremehkannya. Kalau al-Kitab ini adalah yang haq (benar), maka sudah pasti setiap apa yang dijelaskannya, seperti permasalahan-permasalahan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib serta lain-lainnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam realita. Maka tidak boleh diartikan dengan makna yang bertentangan dengan makna lahirnya dan dengan makna yang dikandungnya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ﴿ "Dengan membenarkan apa-apa yang sebelum-nya," yaitu berupa kitab-kitab dan para rasul, sebab kitab-kitab dan para rasul itu telah menginformasikannya. Maka setelah al-Kitab (al-Qur`an) ini ada dan muncul dan dengannya terbukti kebenaran adanya kitab-kitab terdahulu itu, di mana kitab-kitab tersebut telah mengabarkan tentangnya dan menginformasikannya, dan al-Kitab ini pun membenarkannya, maka dari itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab terdahulu sementara ia kafir kepada al-Qur`an! Sama sekali tidak mungkin! Sebab kekafirannya kepada al-Qur`an berarti merusak imannya kepada kitab-kitab sebelum al-Qur`an tersebut. Sebab, di antara sejumlah khabar (informasi) kitab-kitab tersebut adalah informasi tentang al-Qur`an, dan juga karena khabar-khabarnya sesuai dengan khabar-khabar al-Qur`an. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya," maka dari itu Dia memberikan kepada setiap umat dan setiap orang apa yang sesuai (layak) dengan keadaannya, termasuk di antaranya adalah bahwa syariat-syariat yang telah lalu tidak sesuai kecuali pada masa dan waktunya saat itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para RasulNya secara silih berganti hingga akhirnya Allah menutupnya dengan Nabi Muhammad a. Maka dari itu beliau datang dengan membawa syariat yang selalu sesuai dengan kemaslahatan manu-sia hingga Hari Kiamat kelak dan memberikan jaminan dengan apa yang lebih baik pada setiap saat. Maka dari itu, setelah umat ini menjadi umat yang paling sempurna (matang) akal pikirannya, paling lembut hatinya, dan paling bersih jiwanya, maka Allah memilih mereka dan memilih Agama Islam sebagai agama mereka dan mewariskan al-Kitab yang mewakili seluruh kitab-kitab suci sebelumnya. (32) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ ﴿ "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami." Mereka yang terpilih ter-sebut adalah umat ini. ﴾ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri," dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ﴾ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ ﴿ "dan di antara mereka ada yang pertengahan," hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan mening-galkan yang diharamkan, ﴾ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan." Maksudnya, segera me-lakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu menunaikan apa-apa yang fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, mening-galkan yang haram dan yang makruh. Mereka semua dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mewarisi kitab al-Qur`an ini, sekalipun tingkatan-tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama, namun masing-masing dari mereka mempunyai bagian dari wari-sannya hingga orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri sekali-pun, sebab sesungguhnya dasar iman, ilmu-ilmu iman, dan amal-amal iman yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan al-Kitab (al-Qur`an), karena yang dimaksud warisan al-Kitab ada-lah warisan ilmu, amal, dan mempelajari lafazh-lafazhnya, serta mengambil makna-maknanya. Sedang Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dengan izin Allah." Kalimat ini merujuk kepada "yang lebih dahulu berbuat kebaikan" agar ia tidak tertipu dengan amal kebajikannya. Sebab, ia tidak akan ber-gegas melakukan kebaikan-kebaikan kecuali karena taufik dari Allah سبحانه وتعالى dan pertolonganNya. Maka semestinya dia aktif bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karunia yang telah dikaruniakan kepadanya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." Maksudnya, warisan al-Kitab yang sangat mulia bagi orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى di antara hamba-hambaNya itulah karunia yang sangat besar, yang semua nikmat bila dibandingkan dengannya sama sekali tidak ada artinya. Jadi, nikmat yang paling besar secara keseluruhan dan karunia yang paling agung adalah warisan kitab suci al-Qur`an ini. (33) Kemudian Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang yang diwarisi KitabNya tersebut dengan, ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا ﴿ "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." Yakni, surga-surga yang penuh dengan pohon-pohon, naungan dan pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun yang baik, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang menjulang tinggi, tempat-tempat tinggal yang terukir indah selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan kehi-dupan yang tidak akan pernah akan berkesudahan. "Al-Adn" artinya: Tinggal (menetap). Maka Jannatu Adn itu adalah surga tempat tinggal. Di-idhafahkan kepada iqamah (diam, tinggal) karena tinggal dan kekekalan di dalamnya menjadi sifat dan ciri para penghuninya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas." Perhiasan di sini adalah perhiasan yang dikenakan di lengan tangan dengan sesuka mereka dan mereka pandang lebih indah daripada yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan perhiasan di surga. ﴾ وَ﴿ "Dan" mereka dihiasi di dalamnya ﴾ وَلُؤۡلُؤٗاۖ ﴿ "dengan mutiara" yang teruntai indah pada pakaian dan tubuh mereka, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ﴿ "dan pa-kaian mereka di dalamnya adalah sutera," berupa sutra tipis dan sutra tebal berwarna hijau. (34) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah sempurna nikmat untuk mereka dan lengkap kelezatan yang mereka rasakan, ﴾ قَالُوٓاْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami'." Ini mencakup segala bentuk rasa duka. Maka mereka sama sekali tidak merasakan rasa sedih (duka) yang disebabkan kekurangan pada keindahan mereka atau pada makanan dan mi-numan mereka, tidak pula pada kelezatan, pada tubuh atau pada keabadian mereka tinggal. Jadi, mereka selalu berada di dalam kenikmatan yang mereka rasakan selalu bertambah. Ia selalu ber-tambah terus selama-lamanya. ﴾ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pe-ngampun" yang mana Dia mengampuni kekhilafan-kekhilafan kami, ﴾ شَكُورٌ ﴿ "lagi Maha Mensyukuri," di mana Dia menerima amal-amal kebajikan kami dan melipatgandakannya, dan Dia berikan kepada kami bagian dari karunia yang sebenarnya tidak bisa dijangkau oleh amal-amal maupun oleh angan-angan kami. Maka, karena ampunanNya-lah mereka selamat dari segala yang tidak diinginkan dan yang dikhawatirkan, dan dengan syukur dan karuniaNya mereka memperoleh segala apa saja yang disuka dan diinginkan. (35) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا ﴿ "Yang menempatkan kami," yakni, Dia menem-patkan kami untuk keabadian dan selama-lamanya, bukan untuk sekedar melintasi atau singgah, ﴾ دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ ﴿ "dalam tempat yang kekal," yakni, negeri yang didiami adalah untuk selama-lamanya, dan negeri yang memang diidam-idamkan untuk tinggal di dalamnya, karena kebaikannya yang sangat banyak, hal-hal yang menyenang-kan silih berganti dan tidak adanya hal-hal yang tidak menyenang-kan di dalamnya. Penempatan itu semuanya adalah karena karunia dan kemurahanNya kepada kami, bukan karena amal-amal kami. Kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu kami tidak pernah mencapai kepada apa yang telah kami capai ini. ﴾ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ ﴿ "Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu," artinya, tidak ada rasa letih di badan, di hati dan kekuatan sekalipun karena banyaknya bersenang-senang. Ini membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan tubuh mereka dalam pertumbuhan yang sempurna, menyediakan segala fasilitas ketenangan bagi mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka menjadi seperti itu, yang mana mereka tidak pernah merasa lesu, letih, sedih, ataupun duka. Dan juga menunjukkan bahwasanya mereka di surga tidak tidur, karena fungsi tidur adalah menghilangkan rasa lesu dan merasa istirahat karenanya. Sedangkan para penghuni surga keba-likan dari semua itu. Dan juga, karena tidur adalah bentuk mati kecil, sedangkan para penghuni surga tidak akan mengalami mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Fatir 35:32

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab, itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka ber-kata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengam-pun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu'." (Fathir: 31-35). (31) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa sesungguhnya al-Kitab yang telah diwahyukanNya kepada RasulNya ﴾ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "itulah yang benar," karena banyaknya kebenaran (al-haq) yang terkandung di dalamnya, sehingga seakan-akan kebenaran hanya terbatas pada yang ada di dalamnya saja. Maka hendaknya jangan sampai ada rasa keberatan di dalam hati kalian terhadapnya dan jangan pula kalian merasa bosan kepadanya atau meremehkannya. Kalau al-Kitab ini adalah yang haq (benar), maka sudah pasti setiap apa yang dijelaskannya, seperti permasalahan-permasalahan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib serta lain-lainnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam realita. Maka tidak boleh diartikan dengan makna yang bertentangan dengan makna lahirnya dan dengan makna yang dikandungnya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ﴿ "Dengan membenarkan apa-apa yang sebelum-nya," yaitu berupa kitab-kitab dan para rasul, sebab kitab-kitab dan para rasul itu telah menginformasikannya. Maka setelah al-Kitab (al-Qur`an) ini ada dan muncul dan dengannya terbukti kebenaran adanya kitab-kitab terdahulu itu, di mana kitab-kitab tersebut telah mengabarkan tentangnya dan menginformasikannya, dan al-Kitab ini pun membenarkannya, maka dari itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab terdahulu sementara ia kafir kepada al-Qur`an! Sama sekali tidak mungkin! Sebab kekafirannya kepada al-Qur`an berarti merusak imannya kepada kitab-kitab sebelum al-Qur`an tersebut. Sebab, di antara sejumlah khabar (informasi) kitab-kitab tersebut adalah informasi tentang al-Qur`an, dan juga karena khabar-khabarnya sesuai dengan khabar-khabar al-Qur`an. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya," maka dari itu Dia memberikan kepada setiap umat dan setiap orang apa yang sesuai (layak) dengan keadaannya, termasuk di antaranya adalah bahwa syariat-syariat yang telah lalu tidak sesuai kecuali pada masa dan waktunya saat itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para RasulNya secara silih berganti hingga akhirnya Allah menutupnya dengan Nabi Muhammad a. Maka dari itu beliau datang dengan membawa syariat yang selalu sesuai dengan kemaslahatan manu-sia hingga Hari Kiamat kelak dan memberikan jaminan dengan apa yang lebih baik pada setiap saat. Maka dari itu, setelah umat ini menjadi umat yang paling sempurna (matang) akal pikirannya, paling lembut hatinya, dan paling bersih jiwanya, maka Allah memilih mereka dan memilih Agama Islam sebagai agama mereka dan mewariskan al-Kitab yang mewakili seluruh kitab-kitab suci sebelumnya. (32) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ ﴿ "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami." Mereka yang terpilih ter-sebut adalah umat ini. ﴾ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri," dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ﴾ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ ﴿ "dan di antara mereka ada yang pertengahan," hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan mening-galkan yang diharamkan, ﴾ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan." Maksudnya, segera me-lakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu menunaikan apa-apa yang fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, mening-galkan yang haram dan yang makruh. Mereka semua dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mewarisi kitab al-Qur`an ini, sekalipun tingkatan-tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama, namun masing-masing dari mereka mempunyai bagian dari wari-sannya hingga orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri sekali-pun, sebab sesungguhnya dasar iman, ilmu-ilmu iman, dan amal-amal iman yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan al-Kitab (al-Qur`an), karena yang dimaksud warisan al-Kitab ada-lah warisan ilmu, amal, dan mempelajari lafazh-lafazhnya, serta mengambil makna-maknanya. Sedang Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dengan izin Allah." Kalimat ini merujuk kepada "yang lebih dahulu berbuat kebaikan" agar ia tidak tertipu dengan amal kebajikannya. Sebab, ia tidak akan ber-gegas melakukan kebaikan-kebaikan kecuali karena taufik dari Allah سبحانه وتعالى dan pertolonganNya. Maka semestinya dia aktif bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karunia yang telah dikaruniakan kepadanya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." Maksudnya, warisan al-Kitab yang sangat mulia bagi orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى di antara hamba-hambaNya itulah karunia yang sangat besar, yang semua nikmat bila dibandingkan dengannya sama sekali tidak ada artinya. Jadi, nikmat yang paling besar secara keseluruhan dan karunia yang paling agung adalah warisan kitab suci al-Qur`an ini. (33) Kemudian Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang yang diwarisi KitabNya tersebut dengan, ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا ﴿ "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." Yakni, surga-surga yang penuh dengan pohon-pohon, naungan dan pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun yang baik, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang menjulang tinggi, tempat-tempat tinggal yang terukir indah selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan kehi-dupan yang tidak akan pernah akan berkesudahan. "Al-Adn" artinya: Tinggal (menetap). Maka Jannatu Adn itu adalah surga tempat tinggal. Di-idhafahkan kepada iqamah (diam, tinggal) karena tinggal dan kekekalan di dalamnya menjadi sifat dan ciri para penghuninya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas." Perhiasan di sini adalah perhiasan yang dikenakan di lengan tangan dengan sesuka mereka dan mereka pandang lebih indah daripada yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan perhiasan di surga. ﴾ وَ﴿ "Dan" mereka dihiasi di dalamnya ﴾ وَلُؤۡلُؤٗاۖ ﴿ "dengan mutiara" yang teruntai indah pada pakaian dan tubuh mereka, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ﴿ "dan pa-kaian mereka di dalamnya adalah sutera," berupa sutra tipis dan sutra tebal berwarna hijau. (34) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah sempurna nikmat untuk mereka dan lengkap kelezatan yang mereka rasakan, ﴾ قَالُوٓاْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami'." Ini mencakup segala bentuk rasa duka. Maka mereka sama sekali tidak merasakan rasa sedih (duka) yang disebabkan kekurangan pada keindahan mereka atau pada makanan dan mi-numan mereka, tidak pula pada kelezatan, pada tubuh atau pada keabadian mereka tinggal. Jadi, mereka selalu berada di dalam kenikmatan yang mereka rasakan selalu bertambah. Ia selalu ber-tambah terus selama-lamanya. ﴾ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pe-ngampun" yang mana Dia mengampuni kekhilafan-kekhilafan kami, ﴾ شَكُورٌ ﴿ "lagi Maha Mensyukuri," di mana Dia menerima amal-amal kebajikan kami dan melipatgandakannya, dan Dia berikan kepada kami bagian dari karunia yang sebenarnya tidak bisa dijangkau oleh amal-amal maupun oleh angan-angan kami. Maka, karena ampunanNya-lah mereka selamat dari segala yang tidak diinginkan dan yang dikhawatirkan, dan dengan syukur dan karuniaNya mereka memperoleh segala apa saja yang disuka dan diinginkan. (35) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا ﴿ "Yang menempatkan kami," yakni, Dia menem-patkan kami untuk keabadian dan selama-lamanya, bukan untuk sekedar melintasi atau singgah, ﴾ دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ ﴿ "dalam tempat yang kekal," yakni, negeri yang didiami adalah untuk selama-lamanya, dan negeri yang memang diidam-idamkan untuk tinggal di dalamnya, karena kebaikannya yang sangat banyak, hal-hal yang menyenang-kan silih berganti dan tidak adanya hal-hal yang tidak menyenang-kan di dalamnya. Penempatan itu semuanya adalah karena karunia dan kemurahanNya kepada kami, bukan karena amal-amal kami. Kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu kami tidak pernah mencapai kepada apa yang telah kami capai ini. ﴾ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ ﴿ "Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu," artinya, tidak ada rasa letih di badan, di hati dan kekuatan sekalipun karena banyaknya bersenang-senang. Ini membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan tubuh mereka dalam pertumbuhan yang sempurna, menyediakan segala fasilitas ketenangan bagi mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka menjadi seperti itu, yang mana mereka tidak pernah merasa lesu, letih, sedih, ataupun duka. Dan juga menunjukkan bahwasanya mereka di surga tidak tidur, karena fungsi tidur adalah menghilangkan rasa lesu dan merasa istirahat karenanya. Sedangkan para penghuni surga keba-likan dari semua itu. Dan juga, karena tidur adalah bentuk mati kecil, sedangkan para penghuni surga tidak akan mengalami mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Fatir 35:33

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab, itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka ber-kata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengam-pun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu'." (Fathir: 31-35). (31) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa sesungguhnya al-Kitab yang telah diwahyukanNya kepada RasulNya ﴾ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "itulah yang benar," karena banyaknya kebenaran (al-haq) yang terkandung di dalamnya, sehingga seakan-akan kebenaran hanya terbatas pada yang ada di dalamnya saja. Maka hendaknya jangan sampai ada rasa keberatan di dalam hati kalian terhadapnya dan jangan pula kalian merasa bosan kepadanya atau meremehkannya. Kalau al-Kitab ini adalah yang haq (benar), maka sudah pasti setiap apa yang dijelaskannya, seperti permasalahan-permasalahan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib serta lain-lainnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam realita. Maka tidak boleh diartikan dengan makna yang bertentangan dengan makna lahirnya dan dengan makna yang dikandungnya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ﴿ "Dengan membenarkan apa-apa yang sebelum-nya," yaitu berupa kitab-kitab dan para rasul, sebab kitab-kitab dan para rasul itu telah menginformasikannya. Maka setelah al-Kitab (al-Qur`an) ini ada dan muncul dan dengannya terbukti kebenaran adanya kitab-kitab terdahulu itu, di mana kitab-kitab tersebut telah mengabarkan tentangnya dan menginformasikannya, dan al-Kitab ini pun membenarkannya, maka dari itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab terdahulu sementara ia kafir kepada al-Qur`an! Sama sekali tidak mungkin! Sebab kekafirannya kepada al-Qur`an berarti merusak imannya kepada kitab-kitab sebelum al-Qur`an tersebut. Sebab, di antara sejumlah khabar (informasi) kitab-kitab tersebut adalah informasi tentang al-Qur`an, dan juga karena khabar-khabarnya sesuai dengan khabar-khabar al-Qur`an. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya," maka dari itu Dia memberikan kepada setiap umat dan setiap orang apa yang sesuai (layak) dengan keadaannya, termasuk di antaranya adalah bahwa syariat-syariat yang telah lalu tidak sesuai kecuali pada masa dan waktunya saat itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para RasulNya secara silih berganti hingga akhirnya Allah menutupnya dengan Nabi Muhammad a. Maka dari itu beliau datang dengan membawa syariat yang selalu sesuai dengan kemaslahatan manu-sia hingga Hari Kiamat kelak dan memberikan jaminan dengan apa yang lebih baik pada setiap saat. Maka dari itu, setelah umat ini menjadi umat yang paling sempurna (matang) akal pikirannya, paling lembut hatinya, dan paling bersih jiwanya, maka Allah memilih mereka dan memilih Agama Islam sebagai agama mereka dan mewariskan al-Kitab yang mewakili seluruh kitab-kitab suci sebelumnya. (32) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ ﴿ "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami." Mereka yang terpilih ter-sebut adalah umat ini. ﴾ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri," dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ﴾ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ ﴿ "dan di antara mereka ada yang pertengahan," hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan mening-galkan yang diharamkan, ﴾ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan." Maksudnya, segera me-lakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu menunaikan apa-apa yang fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, mening-galkan yang haram dan yang makruh. Mereka semua dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mewarisi kitab al-Qur`an ini, sekalipun tingkatan-tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama, namun masing-masing dari mereka mempunyai bagian dari wari-sannya hingga orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri sekali-pun, sebab sesungguhnya dasar iman, ilmu-ilmu iman, dan amal-amal iman yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan al-Kitab (al-Qur`an), karena yang dimaksud warisan al-Kitab ada-lah warisan ilmu, amal, dan mempelajari lafazh-lafazhnya, serta mengambil makna-maknanya. Sedang Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dengan izin Allah." Kalimat ini merujuk kepada "yang lebih dahulu berbuat kebaikan" agar ia tidak tertipu dengan amal kebajikannya. Sebab, ia tidak akan ber-gegas melakukan kebaikan-kebaikan kecuali karena taufik dari Allah سبحانه وتعالى dan pertolonganNya. Maka semestinya dia aktif bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karunia yang telah dikaruniakan kepadanya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." Maksudnya, warisan al-Kitab yang sangat mulia bagi orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى di antara hamba-hambaNya itulah karunia yang sangat besar, yang semua nikmat bila dibandingkan dengannya sama sekali tidak ada artinya. Jadi, nikmat yang paling besar secara keseluruhan dan karunia yang paling agung adalah warisan kitab suci al-Qur`an ini. (33) Kemudian Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang yang diwarisi KitabNya tersebut dengan, ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا ﴿ "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." Yakni, surga-surga yang penuh dengan pohon-pohon, naungan dan pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun yang baik, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang menjulang tinggi, tempat-tempat tinggal yang terukir indah selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan kehi-dupan yang tidak akan pernah akan berkesudahan. "Al-Adn" artinya: Tinggal (menetap). Maka Jannatu Adn itu adalah surga tempat tinggal. Di-idhafahkan kepada iqamah (diam, tinggal) karena tinggal dan kekekalan di dalamnya menjadi sifat dan ciri para penghuninya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas." Perhiasan di sini adalah perhiasan yang dikenakan di lengan tangan dengan sesuka mereka dan mereka pandang lebih indah daripada yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan perhiasan di surga. ﴾ وَ﴿ "Dan" mereka dihiasi di dalamnya ﴾ وَلُؤۡلُؤٗاۖ ﴿ "dengan mutiara" yang teruntai indah pada pakaian dan tubuh mereka, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ﴿ "dan pa-kaian mereka di dalamnya adalah sutera," berupa sutra tipis dan sutra tebal berwarna hijau. (34) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah sempurna nikmat untuk mereka dan lengkap kelezatan yang mereka rasakan, ﴾ قَالُوٓاْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami'." Ini mencakup segala bentuk rasa duka. Maka mereka sama sekali tidak merasakan rasa sedih (duka) yang disebabkan kekurangan pada keindahan mereka atau pada makanan dan mi-numan mereka, tidak pula pada kelezatan, pada tubuh atau pada keabadian mereka tinggal. Jadi, mereka selalu berada di dalam kenikmatan yang mereka rasakan selalu bertambah. Ia selalu ber-tambah terus selama-lamanya. ﴾ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pe-ngampun" yang mana Dia mengampuni kekhilafan-kekhilafan kami, ﴾ شَكُورٌ ﴿ "lagi Maha Mensyukuri," di mana Dia menerima amal-amal kebajikan kami dan melipatgandakannya, dan Dia berikan kepada kami bagian dari karunia yang sebenarnya tidak bisa dijangkau oleh amal-amal maupun oleh angan-angan kami. Maka, karena ampunanNya-lah mereka selamat dari segala yang tidak diinginkan dan yang dikhawatirkan, dan dengan syukur dan karuniaNya mereka memperoleh segala apa saja yang disuka dan diinginkan. (35) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا ﴿ "Yang menempatkan kami," yakni, Dia menem-patkan kami untuk keabadian dan selama-lamanya, bukan untuk sekedar melintasi atau singgah, ﴾ دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ ﴿ "dalam tempat yang kekal," yakni, negeri yang didiami adalah untuk selama-lamanya, dan negeri yang memang diidam-idamkan untuk tinggal di dalamnya, karena kebaikannya yang sangat banyak, hal-hal yang menyenang-kan silih berganti dan tidak adanya hal-hal yang tidak menyenang-kan di dalamnya. Penempatan itu semuanya adalah karena karunia dan kemurahanNya kepada kami, bukan karena amal-amal kami. Kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu kami tidak pernah mencapai kepada apa yang telah kami capai ini. ﴾ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ ﴿ "Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu," artinya, tidak ada rasa letih di badan, di hati dan kekuatan sekalipun karena banyaknya bersenang-senang. Ini membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan tubuh mereka dalam pertumbuhan yang sempurna, menyediakan segala fasilitas ketenangan bagi mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka menjadi seperti itu, yang mana mereka tidak pernah merasa lesu, letih, sedih, ataupun duka. Dan juga menunjukkan bahwasanya mereka di surga tidak tidur, karena fungsi tidur adalah menghilangkan rasa lesu dan merasa istirahat karenanya. Sedangkan para penghuni surga keba-likan dari semua itu. Dan juga, karena tidur adalah bentuk mati kecil, sedangkan para penghuni surga tidak akan mengalami mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Fatir 35:34

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab, itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka ber-kata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengam-pun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu'." (Fathir: 31-35). (31) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa sesungguhnya al-Kitab yang telah diwahyukanNya kepada RasulNya ﴾ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "itulah yang benar," karena banyaknya kebenaran (al-haq) yang terkandung di dalamnya, sehingga seakan-akan kebenaran hanya terbatas pada yang ada di dalamnya saja. Maka hendaknya jangan sampai ada rasa keberatan di dalam hati kalian terhadapnya dan jangan pula kalian merasa bosan kepadanya atau meremehkannya. Kalau al-Kitab ini adalah yang haq (benar), maka sudah pasti setiap apa yang dijelaskannya, seperti permasalahan-permasalahan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib serta lain-lainnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam realita. Maka tidak boleh diartikan dengan makna yang bertentangan dengan makna lahirnya dan dengan makna yang dikandungnya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ﴿ "Dengan membenarkan apa-apa yang sebelum-nya," yaitu berupa kitab-kitab dan para rasul, sebab kitab-kitab dan para rasul itu telah menginformasikannya. Maka setelah al-Kitab (al-Qur`an) ini ada dan muncul dan dengannya terbukti kebenaran adanya kitab-kitab terdahulu itu, di mana kitab-kitab tersebut telah mengabarkan tentangnya dan menginformasikannya, dan al-Kitab ini pun membenarkannya, maka dari itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab terdahulu sementara ia kafir kepada al-Qur`an! Sama sekali tidak mungkin! Sebab kekafirannya kepada al-Qur`an berarti merusak imannya kepada kitab-kitab sebelum al-Qur`an tersebut. Sebab, di antara sejumlah khabar (informasi) kitab-kitab tersebut adalah informasi tentang al-Qur`an, dan juga karena khabar-khabarnya sesuai dengan khabar-khabar al-Qur`an. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya," maka dari itu Dia memberikan kepada setiap umat dan setiap orang apa yang sesuai (layak) dengan keadaannya, termasuk di antaranya adalah bahwa syariat-syariat yang telah lalu tidak sesuai kecuali pada masa dan waktunya saat itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para RasulNya secara silih berganti hingga akhirnya Allah menutupnya dengan Nabi Muhammad a. Maka dari itu beliau datang dengan membawa syariat yang selalu sesuai dengan kemaslahatan manu-sia hingga Hari Kiamat kelak dan memberikan jaminan dengan apa yang lebih baik pada setiap saat. Maka dari itu, setelah umat ini menjadi umat yang paling sempurna (matang) akal pikirannya, paling lembut hatinya, dan paling bersih jiwanya, maka Allah memilih mereka dan memilih Agama Islam sebagai agama mereka dan mewariskan al-Kitab yang mewakili seluruh kitab-kitab suci sebelumnya. (32) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ ﴿ "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami." Mereka yang terpilih ter-sebut adalah umat ini. ﴾ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri," dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ﴾ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ ﴿ "dan di antara mereka ada yang pertengahan," hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan mening-galkan yang diharamkan, ﴾ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan." Maksudnya, segera me-lakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu menunaikan apa-apa yang fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, mening-galkan yang haram dan yang makruh. Mereka semua dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mewarisi kitab al-Qur`an ini, sekalipun tingkatan-tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama, namun masing-masing dari mereka mempunyai bagian dari wari-sannya hingga orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri sekali-pun, sebab sesungguhnya dasar iman, ilmu-ilmu iman, dan amal-amal iman yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan al-Kitab (al-Qur`an), karena yang dimaksud warisan al-Kitab ada-lah warisan ilmu, amal, dan mempelajari lafazh-lafazhnya, serta mengambil makna-maknanya. Sedang Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dengan izin Allah." Kalimat ini merujuk kepada "yang lebih dahulu berbuat kebaikan" agar ia tidak tertipu dengan amal kebajikannya. Sebab, ia tidak akan ber-gegas melakukan kebaikan-kebaikan kecuali karena taufik dari Allah سبحانه وتعالى dan pertolonganNya. Maka semestinya dia aktif bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karunia yang telah dikaruniakan kepadanya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." Maksudnya, warisan al-Kitab yang sangat mulia bagi orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى di antara hamba-hambaNya itulah karunia yang sangat besar, yang semua nikmat bila dibandingkan dengannya sama sekali tidak ada artinya. Jadi, nikmat yang paling besar secara keseluruhan dan karunia yang paling agung adalah warisan kitab suci al-Qur`an ini. (33) Kemudian Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang yang diwarisi KitabNya tersebut dengan, ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا ﴿ "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." Yakni, surga-surga yang penuh dengan pohon-pohon, naungan dan pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun yang baik, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang menjulang tinggi, tempat-tempat tinggal yang terukir indah selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan kehi-dupan yang tidak akan pernah akan berkesudahan. "Al-Adn" artinya: Tinggal (menetap). Maka Jannatu Adn itu adalah surga tempat tinggal. Di-idhafahkan kepada iqamah (diam, tinggal) karena tinggal dan kekekalan di dalamnya menjadi sifat dan ciri para penghuninya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas." Perhiasan di sini adalah perhiasan yang dikenakan di lengan tangan dengan sesuka mereka dan mereka pandang lebih indah daripada yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan perhiasan di surga. ﴾ وَ﴿ "Dan" mereka dihiasi di dalamnya ﴾ وَلُؤۡلُؤٗاۖ ﴿ "dengan mutiara" yang teruntai indah pada pakaian dan tubuh mereka, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ﴿ "dan pa-kaian mereka di dalamnya adalah sutera," berupa sutra tipis dan sutra tebal berwarna hijau. (34) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah sempurna nikmat untuk mereka dan lengkap kelezatan yang mereka rasakan, ﴾ قَالُوٓاْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami'." Ini mencakup segala bentuk rasa duka. Maka mereka sama sekali tidak merasakan rasa sedih (duka) yang disebabkan kekurangan pada keindahan mereka atau pada makanan dan mi-numan mereka, tidak pula pada kelezatan, pada tubuh atau pada keabadian mereka tinggal. Jadi, mereka selalu berada di dalam kenikmatan yang mereka rasakan selalu bertambah. Ia selalu ber-tambah terus selama-lamanya. ﴾ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pe-ngampun" yang mana Dia mengampuni kekhilafan-kekhilafan kami, ﴾ شَكُورٌ ﴿ "lagi Maha Mensyukuri," di mana Dia menerima amal-amal kebajikan kami dan melipatgandakannya, dan Dia berikan kepada kami bagian dari karunia yang sebenarnya tidak bisa dijangkau oleh amal-amal maupun oleh angan-angan kami. Maka, karena ampunanNya-lah mereka selamat dari segala yang tidak diinginkan dan yang dikhawatirkan, dan dengan syukur dan karuniaNya mereka memperoleh segala apa saja yang disuka dan diinginkan. (35) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا ﴿ "Yang menempatkan kami," yakni, Dia menem-patkan kami untuk keabadian dan selama-lamanya, bukan untuk sekedar melintasi atau singgah, ﴾ دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ ﴿ "dalam tempat yang kekal," yakni, negeri yang didiami adalah untuk selama-lamanya, dan negeri yang memang diidam-idamkan untuk tinggal di dalamnya, karena kebaikannya yang sangat banyak, hal-hal yang menyenang-kan silih berganti dan tidak adanya hal-hal yang tidak menyenang-kan di dalamnya. Penempatan itu semuanya adalah karena karunia dan kemurahanNya kepada kami, bukan karena amal-amal kami. Kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu kami tidak pernah mencapai kepada apa yang telah kami capai ini. ﴾ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ ﴿ "Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu," artinya, tidak ada rasa letih di badan, di hati dan kekuatan sekalipun karena banyaknya bersenang-senang. Ini membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan tubuh mereka dalam pertumbuhan yang sempurna, menyediakan segala fasilitas ketenangan bagi mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka menjadi seperti itu, yang mana mereka tidak pernah merasa lesu, letih, sedih, ataupun duka. Dan juga menunjukkan bahwasanya mereka di surga tidak tidur, karena fungsi tidur adalah menghilangkan rasa lesu dan merasa istirahat karenanya. Sedangkan para penghuni surga keba-likan dari semua itu. Dan juga, karena tidur adalah bentuk mati kecil, sedangkan para penghuni surga tidak akan mengalami mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Fatir 35:35

"Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-Kitab, itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya, di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas, dan dengan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra. Dan mereka ber-kata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengam-pun lagi Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal dari karuniaNya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu'." (Fathir: 31-35). (31) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan bahwa sesungguhnya al-Kitab yang telah diwahyukanNya kepada RasulNya ﴾ هُوَ ٱلۡحَقُّ ﴿ "itulah yang benar," karena banyaknya kebenaran (al-haq) yang terkandung di dalamnya, sehingga seakan-akan kebenaran hanya terbatas pada yang ada di dalamnya saja. Maka hendaknya jangan sampai ada rasa keberatan di dalam hati kalian terhadapnya dan jangan pula kalian merasa bosan kepadanya atau meremehkannya. Kalau al-Kitab ini adalah yang haq (benar), maka sudah pasti setiap apa yang dijelaskannya, seperti permasalahan-permasalahan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib serta lain-lainnya sesuai dengan apa yang terjadi dalam realita. Maka tidak boleh diartikan dengan makna yang bertentangan dengan makna lahirnya dan dengan makna yang dikandungnya. ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِۗ ﴿ "Dengan membenarkan apa-apa yang sebelum-nya," yaitu berupa kitab-kitab dan para rasul, sebab kitab-kitab dan para rasul itu telah menginformasikannya. Maka setelah al-Kitab (al-Qur`an) ini ada dan muncul dan dengannya terbukti kebenaran adanya kitab-kitab terdahulu itu, di mana kitab-kitab tersebut telah mengabarkan tentangnya dan menginformasikannya, dan al-Kitab ini pun membenarkannya, maka dari itu, tidak mungkin seseorang beriman kepada kitab-kitab terdahulu sementara ia kafir kepada al-Qur`an! Sama sekali tidak mungkin! Sebab kekafirannya kepada al-Qur`an berarti merusak imannya kepada kitab-kitab sebelum al-Qur`an tersebut. Sebab, di antara sejumlah khabar (informasi) kitab-kitab tersebut adalah informasi tentang al-Qur`an, dan juga karena khabar-khabarnya sesuai dengan khabar-khabar al-Qur`an. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِعِبَادِهِۦ لَخَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat hamba-hambaNya," maka dari itu Dia memberikan kepada setiap umat dan setiap orang apa yang sesuai (layak) dengan keadaannya, termasuk di antaranya adalah bahwa syariat-syariat yang telah lalu tidak sesuai kecuali pada masa dan waktunya saat itu. Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى terus mengutus para RasulNya secara silih berganti hingga akhirnya Allah menutupnya dengan Nabi Muhammad a. Maka dari itu beliau datang dengan membawa syariat yang selalu sesuai dengan kemaslahatan manu-sia hingga Hari Kiamat kelak dan memberikan jaminan dengan apa yang lebih baik pada setiap saat. Maka dari itu, setelah umat ini menjadi umat yang paling sempurna (matang) akal pikirannya, paling lembut hatinya, dan paling bersih jiwanya, maka Allah memilih mereka dan memilih Agama Islam sebagai agama mereka dan mewariskan al-Kitab yang mewakili seluruh kitab-kitab suci sebelumnya. (32) Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ ﴿ "Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami." Mereka yang terpilih ter-sebut adalah umat ini. ﴾ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ ﴿ "Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri," dengan perbuatan-perbuatan maksiat selain kekafiran, ﴾ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ ﴿ "dan di antara mereka ada yang pertengahan," hanya melakukan hal-hal yang diwajibkan kepadanya dan mening-galkan yang diharamkan, ﴾ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan." Maksudnya, segera me-lakukannya dan bersungguh-sungguh hingga mengalahkan orang yang lain. Dia adalah orang yang selalu menunaikan apa-apa yang fardhu dan banyak mengerjakan amalan-amalan sunnah, mening-galkan yang haram dan yang makruh. Mereka semua dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mewarisi kitab al-Qur`an ini, sekalipun tingkatan-tingkatan mereka berbeda-beda dan kondisi mereka tidak sama, namun masing-masing dari mereka mempunyai bagian dari wari-sannya hingga orang yang zhalim terhadap dirinya sendiri sekali-pun, sebab sesungguhnya dasar iman, ilmu-ilmu iman, dan amal-amal iman yang mereka miliki merupakan bagian dari warisan al-Kitab (al-Qur`an), karena yang dimaksud warisan al-Kitab ada-lah warisan ilmu, amal, dan mempelajari lafazh-lafazhnya, serta mengambil makna-maknanya. Sedang Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Dengan izin Allah." Kalimat ini merujuk kepada "yang lebih dahulu berbuat kebaikan" agar ia tidak tertipu dengan amal kebajikannya. Sebab, ia tidak akan ber-gegas melakukan kebaikan-kebaikan kecuali karena taufik dari Allah سبحانه وتعالى dan pertolonganNya. Maka semestinya dia aktif bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karunia yang telah dikaruniakan kepadanya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar." Maksudnya, warisan al-Kitab yang sangat mulia bagi orang yang dipilih oleh Allah سبحانه وتعالى di antara hamba-hambaNya itulah karunia yang sangat besar, yang semua nikmat bila dibandingkan dengannya sama sekali tidak ada artinya. Jadi, nikmat yang paling besar secara keseluruhan dan karunia yang paling agung adalah warisan kitab suci al-Qur`an ini. (33) Kemudian Allah menjelaskan balasan untuk orang-orang yang diwarisi KitabNya tersebut dengan, ﴾ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ يَدۡخُلُونَهَا ﴿ "Surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya." Yakni, surga-surga yang penuh dengan pohon-pohon, naungan dan pohon-pohon yang rindang, kebun-kebun yang baik, sungai-sungai yang mengalir, istana-istana yang menjulang tinggi, tempat-tempat tinggal yang terukir indah selama-lamanya, tidak akan pernah sirna dan kehi-dupan yang tidak akan pernah akan berkesudahan. "Al-Adn" artinya: Tinggal (menetap). Maka Jannatu Adn itu adalah surga tempat tinggal. Di-idhafahkan kepada iqamah (diam, tinggal) karena tinggal dan kekekalan di dalamnya menjadi sifat dan ciri para penghuninya. ﴾ يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٖ ﴿ "Di dalamnya mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas." Perhiasan di sini adalah perhiasan yang dikenakan di lengan tangan dengan sesuka mereka dan mereka pandang lebih indah daripada yang lainnya. Laki-laki dan perempuan sama-sama mengenakan perhiasan di surga. ﴾ وَ﴿ "Dan" mereka dihiasi di dalamnya ﴾ وَلُؤۡلُؤٗاۖ ﴿ "dengan mutiara" yang teruntai indah pada pakaian dan tubuh mereka, ﴾ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٞ ﴿ "dan pa-kaian mereka di dalamnya adalah sutera," berupa sutra tipis dan sutra tebal berwarna hijau. (34) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah sempurna nikmat untuk mereka dan lengkap kelezatan yang mereka rasakan, ﴾ قَالُوٓاْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِيٓ أَذۡهَبَ عَنَّا ٱلۡحَزَنَۖ ﴿ "mereka berkata, 'Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami'." Ini mencakup segala bentuk rasa duka. Maka mereka sama sekali tidak merasakan rasa sedih (duka) yang disebabkan kekurangan pada keindahan mereka atau pada makanan dan mi-numan mereka, tidak pula pada kelezatan, pada tubuh atau pada keabadian mereka tinggal. Jadi, mereka selalu berada di dalam kenikmatan yang mereka rasakan selalu bertambah. Ia selalu ber-tambah terus selama-lamanya. ﴾ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٞ ﴿ "Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pe-ngampun" yang mana Dia mengampuni kekhilafan-kekhilafan kami, ﴾ شَكُورٌ ﴿ "lagi Maha Mensyukuri," di mana Dia menerima amal-amal kebajikan kami dan melipatgandakannya, dan Dia berikan kepada kami bagian dari karunia yang sebenarnya tidak bisa dijangkau oleh amal-amal maupun oleh angan-angan kami. Maka, karena ampunanNya-lah mereka selamat dari segala yang tidak diinginkan dan yang dikhawatirkan, dan dengan syukur dan karuniaNya mereka memperoleh segala apa saja yang disuka dan diinginkan. (35) ﴾ ٱلَّذِيٓ أَحَلَّنَا ﴿ "Yang menempatkan kami," yakni, Dia menem-patkan kami untuk keabadian dan selama-lamanya, bukan untuk sekedar melintasi atau singgah, ﴾ دَارَ ٱلۡمُقَامَةِ ﴿ "dalam tempat yang kekal," yakni, negeri yang didiami adalah untuk selama-lamanya, dan negeri yang memang diidam-idamkan untuk tinggal di dalamnya, karena kebaikannya yang sangat banyak, hal-hal yang menyenang-kan silih berganti dan tidak adanya hal-hal yang tidak menyenang-kan di dalamnya. Penempatan itu semuanya adalah karena karunia dan kemurahanNya kepada kami, bukan karena amal-amal kami. Kalau saja bukan karena karuniaNya, tentu kami tidak pernah mencapai kepada apa yang telah kami capai ini. ﴾ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٞ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٞ ﴿ "Di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa lesu," artinya, tidak ada rasa letih di badan, di hati dan kekuatan sekalipun karena banyaknya bersenang-senang. Ini membuktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menjadikan tubuh mereka dalam pertumbuhan yang sempurna, menyediakan segala fasilitas ketenangan bagi mereka untuk selama-lamanya sehingga mereka menjadi seperti itu, yang mana mereka tidak pernah merasa lesu, letih, sedih, ataupun duka. Dan juga menunjukkan bahwasanya mereka di surga tidak tidur, karena fungsi tidur adalah menghilangkan rasa lesu dan merasa istirahat karenanya. Sedangkan para penghuni surga keba-likan dari semua itu. Dan juga, karena tidur adalah bentuk mati kecil, sedangkan para penghuni surga tidak akan mengalami mati. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka dengan karunia dan kemurahanNya.

Fatir 35:36

"Dan orang-orang kafir bagi mereka Neraka Jahanam. Me-reka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak pula diri-ngankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, 'Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerja-kan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.' Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan telah da-tang kepadamu pemberi peringatan, maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun." (Fathir: 36-37). (36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan keadaan para penghuni surga dengan segala kenikmatan yang mereka dapatkan, maka Allah menjelaskan keadaan para penghuni neraka dan azab yang akan mereka dapatkan, seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir" yaitu orang-orang yang mengingkari apa-apa yang di-bawa oleh para Rasul, seperti ayat-ayat, dan mereka mengingkari perjumpaan dengan Allah. ﴾ لَهُمۡ نَارُ جَهَنَّمَ ﴿ "Bagi mereka Neraka Jahanam"; mereka disiksa di dalamnya dengan siksaan yang paling dahsyat dan hukuman yang paling keras. ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Mereka tidak dibinasakan" dengan kematian ﴾ فَيَمُوتُواْ ﴿ "sehingga mereka mati" sehingga mereka bisa beristirahat, ﴾ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ ﴿ "dan tidak pula diringankan dari mereka azabnya." Jadi, dahsyat dan besarnya siksaan itu terus melanda mereka sepanjang waktu dan setiap detik. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ ﴿ "Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir." (37) ﴾ وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Dan mereka berteriak di dalamnya." Me-reka berteriak (menjerit) dan meraung-raung (karena kesakitan) serta meminta pertolongan seraya mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Jadi, mereka mengakui dosa-dosa mereka dan mereka mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى benar-benar telah berlaku adil terhadap mereka, namun mereka tetap meminta agar dikembalikan ke dunia bukan pada waktunya. Maka mereka dijawab, ﴾ أَوَلَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا ﴿ "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa" maksudnya: Waktu dan usia ﴾ يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ ﴿ "yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir," maksudnya, yang memungkinkan untuk merenungkan amal perbuatan. Kami telah memberikan kepada kalian kesenangan di dunia, Kami limpahkan berbagai rizki kepada kalian, Kami sediakan untuk kalian berbagai fasilitas untuk berse-nang-senang, Kami panjangkan umur kalian, Kami turunkan ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) secara bergantian kepada kalian, Kami utus secara silih berganti para pemberi peringatan kepada kalian dan Kami telah menguji kalian dengan kesenangan dan kesempit-an agar kalian mau bertaubat dan kembali kepada Kami. Namun tidak satu pun peringatan itu yang membekas terhadap kalian, tidak satu nasihat pun yang berguna bagi kalian dan siksaan pun telah Kami tangguhkan terhadap kalian hingga akhirnya usia kalian berakhir, umur kalian ditutup dan kalian tinggalkan negeri dunia dengan kondisi yang paling buruk, dan kalian tiba di negeri ini, yaitu negeri pembalasan terhadap semua perbuatan, lalu kalian meminta agar dikembalikan? Sungguh tidak mungkin! Dan tidak mungkin! Kesempatan sudah berlalu, kalian telah dimurkai oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, azab pun sudah makin dahsyat menimpa kalian dan kalian telah dilupakan oleh para penghuni surga. Maka tinggallah kalian di dalam neraka de-ngan kekal abadi, dalam keadaan terhina di dalam siksaan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ ﴿ "Maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun" yang dapat menolong mereka untuk mengeluarkannya dari-nya, atau meringankan azabnya dari mereka.

Fatir 35:37

"Dan orang-orang kafir bagi mereka Neraka Jahanam. Me-reka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak pula diri-ngankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, 'Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerja-kan amal yang shalih berlainan dengan yang telah kami kerjakan.' Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan telah da-tang kepadamu pemberi peringatan, maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun." (Fathir: 36-37). (36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan keadaan para penghuni surga dengan segala kenikmatan yang mereka dapatkan, maka Allah menjelaskan keadaan para penghuni neraka dan azab yang akan mereka dapatkan, seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir" yaitu orang-orang yang mengingkari apa-apa yang di-bawa oleh para Rasul, seperti ayat-ayat, dan mereka mengingkari perjumpaan dengan Allah. ﴾ لَهُمۡ نَارُ جَهَنَّمَ ﴿ "Bagi mereka Neraka Jahanam"; mereka disiksa di dalamnya dengan siksaan yang paling dahsyat dan hukuman yang paling keras. ﴾ لَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Mereka tidak dibinasakan" dengan kematian ﴾ فَيَمُوتُواْ ﴿ "sehingga mereka mati" sehingga mereka bisa beristirahat, ﴾ وَلَا يُخَفَّفُ عَنۡهُم مِّنۡ عَذَابِهَاۚ ﴿ "dan tidak pula diringankan dari mereka azabnya." Jadi, dahsyat dan besarnya siksaan itu terus melanda mereka sepanjang waktu dan setiap detik. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي كُلَّ كَفُورٖ ﴿ "Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir." (37) ﴾ وَهُمۡ يَصۡطَرِخُونَ فِيهَا ﴿ "Dan mereka berteriak di dalamnya." Me-reka berteriak (menjerit) dan meraung-raung (karena kesakitan) serta meminta pertolongan seraya mengatakan, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا نَعۡمَلۡ صَٰلِحًا غَيۡرَ ٱلَّذِي كُنَّا نَعۡمَلُۚ ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang shalih yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Jadi, mereka mengakui dosa-dosa mereka dan mereka mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى benar-benar telah berlaku adil terhadap mereka, namun mereka tetap meminta agar dikembalikan ke dunia bukan pada waktunya. Maka mereka dijawab, ﴾ أَوَلَمۡ نُعَمِّرۡكُم مَّا ﴿ "Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa" maksudnya: Waktu dan usia ﴾ يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ ﴿ "yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir," maksudnya, yang memungkinkan untuk merenungkan amal perbuatan. Kami telah memberikan kepada kalian kesenangan di dunia, Kami limpahkan berbagai rizki kepada kalian, Kami sediakan untuk kalian berbagai fasilitas untuk berse-nang-senang, Kami panjangkan umur kalian, Kami turunkan ayat-ayat (mukjizat-mukjizat) secara bergantian kepada kalian, Kami utus secara silih berganti para pemberi peringatan kepada kalian dan Kami telah menguji kalian dengan kesenangan dan kesempit-an agar kalian mau bertaubat dan kembali kepada Kami. Namun tidak satu pun peringatan itu yang membekas terhadap kalian, tidak satu nasihat pun yang berguna bagi kalian dan siksaan pun telah Kami tangguhkan terhadap kalian hingga akhirnya usia kalian berakhir, umur kalian ditutup dan kalian tinggalkan negeri dunia dengan kondisi yang paling buruk, dan kalian tiba di negeri ini, yaitu negeri pembalasan terhadap semua perbuatan, lalu kalian meminta agar dikembalikan? Sungguh tidak mungkin! Dan tidak mungkin! Kesempatan sudah berlalu, kalian telah dimurkai oleh Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, azab pun sudah makin dahsyat menimpa kalian dan kalian telah dilupakan oleh para penghuni surga. Maka tinggallah kalian di dalam neraka de-ngan kekal abadi, dalam keadaan terhina di dalam siksaan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَذُوقُواْ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ ﴿ "Maka rasakanlah dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun" yang dapat menolong mereka untuk mengeluarkannya dari-nya, atau meringankan azabnya dari mereka.

Fatir 35:38

"Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Fathir: 38). (38) Setelah Allah menjelaskan balasan bagi para penghuni dua negeri akhirat (surga dan neraka) dan menjelaskan amal per-buatan kedua golongan (penghuninya), maka Allah memberita-kan tentang kemahaluasan ilmu dan pengetahuanNya atas segala yang ghaib di langit dan di bumi yang tidak dapat diketahui oleh pandangan mata manusia dan oleh pengetahuan mereka; dan bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى mengetahui semua apa-apa yang tersembunyi dan semua yang tersimpan di dalam dada, seperti kebaikan, keburukan, kesucian, dan lain-lain, lalu Dia akan mem-berikan kepada masing-masing orang apa yang berhak ia terima dan menempatkan setiap orang pada tempatnya.

Fatir 35:39

"Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka kekafirannya menimpa diri- nya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi RabbNya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka." (Fathir: 39). (39) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kemahasempurnaan hikmah dan rahmatNya terhadap hamba-hambaNya, yaitu bahwa sesungguhnya Dia telah menetapkan dengan ketetapan takdirNya yang azali untuk menjadikan sebagian mereka menggantikan seba-gian yang lain di bumi ini dan mengutus pada setiap umat seorang rasul yang memberikan peringatan, lalu Dia memperhatikan ba-gaimana mereka berbuat. ﴾ فَمَن كَفَرَ ﴿ "Barangsiapa yang kafir" kepada Allah dan kepada apa-apa yang disampaikan oleh para RasulNya, maka akibat buruk kekafirannya pasti menimpa dirinya sendiri, dosa dan siksaannya melanda dirinya sendiri, tidak ada seorang pun yang akan menang-gungnya; dan kekafiran orang yang kafir itu hanya menambah ke-bencian dan kemurkaan RabbNya terhadap dirinya. Siksaan apakah yang lebih besar daripada murka Rabb yang Mahasuci? ﴾ وَلَا يَزِيدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ كُفۡرُهُمۡ إِلَّا خَسَارٗا ﴿ "Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka." Mak-sudnya, merugikan diri mereka sendiri dan keluarga, (menyia-nyiakan) amal perbuatan serta (gagal meraih) tempat-tempat tinggal mereka di surga. Jadi, orang yang kafir itu selalu makin bertambah sengsara, rugi dan hina di sisi Allah dan di sisi makhlukNya.

Fatir 35:40

"Katakanlah, 'Apakah kalian perhatikan tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepadaKu manakah (bagian) dari bumi ini yang telah mereka ciptakan atau-kah mereka mempunyai saham dalam langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas darinya? Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu sebagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebagian yang lain, melainkan tipuan belaka." (Fathir: 40). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman sebagai pernyataan kelemahan bagi sembahan-sembahan kaum musyrikin, dan menjelaskan kerapuhan dan kepalsuan kesyirikan mereka dari segala sisinya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Kata-kanlah" wahai rasul, kepada mereka, ﴾ أَرَءَيۡتُمۡ ﴿ "Apakah kalian perhati-kan." Artinya, jelaskanlah kepadaku tentang sembahan-sembahan kalian, ﴾ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "yang kamu seru selain Allah," apakah me-reka berhak diseru dan diibadahi?! Cobalah perlihatkan kepadaku, ﴾ مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "manakah (bagian) dari bumi ini yang telah mereka ciptakan" apakah mereka yang menciptakan lautan, atau merekakah yang telah menciptakan gunung, atau merekakah yang telah men-ciptakan hewan, atau merekakah yang telah menciptakan benda-benda mati?! Mereka akan mengakui bahwa Pencipta semua benda-benda itu adalah Allah سبحانه وتعالى. Ataukah sembahan-sembahan kalian mempunyai ﴾ شِرۡكٞ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ ﴿ "saham dalam langit," yakni, dalam men-ciptakan dan mengaturnya?! Mereka akan mengatakan, kalau mereka tidak mempunyai andil! Kalau mereka sama sekali tidak menciptakan sesuatu apa pun dan tidak mempunyai andil bersama Sang Pencipta di dalam menciptakannya. Lalu kenapa kalian me-nyembah dan berdoa kepada mereka, padahal kalian mengakui kelemahan dan kerapuhan mereka? Maka sirnalah dalil aqli (logika) yang membenarkan peribadahan kepada mereka dan membuktikan kepalsuannya. Kemudian Allah menyebutkan dalil sam'i (wahyu), dan itu juga ditiadakan, maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَمۡ ءَاتَيۡنَٰهُمۡ كِتَٰبٗا ﴿ "Atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab" yang membicarakan tentang apa yang mereka persekutukan, yang menyuruh mereka melakukan syirik dan menyembah berhala, ﴾ فَهُمۡ ﴿ "sehingga mereka," di dalam kesyirikan mereka t e r s e b u t ﴾ عَلَىٰ بَيِّنَتٖ ﴿ "mendapat keterangan-keterangan yang jelas," dari Kitab yang diturunkan kepada mereka itu tentang sahnya perbuatan syirik mereka? Sama sekali tidak demikian adanya, sebab mereka sama sekali tidak mendapat satu kitab pun sebelum diturunkannya al-Qur`an, dan tidak pula ada seorang rasul pun yang datang sebelum kedatangan Rasulullah, Muhammad a. Kalau seandainya dipastikan bahwa ada sebuah kitab yang diturunkan dan seorang rasul telah diutus kepada mereka dan mereka mengaku bahwa rasul itu telah memerintah mereka melakukan syirik, maka Kami dengan tegas menyatakan kedustaan mereka, sebab Allah سبحانه وتعالى telah berfirman, ﴾ وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25 ﴿ "Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu me-lainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang haq selain Aku, maka sembahlah Aku." (Al-Anbiya`: 25). Jadi, para rasul dan kitab-kitab suci samawi semua sepakat atas perintah mengikhlaskan agama (kepatuhan) hanya kepada Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana ditegaskan oleh Allah سبحانه وتعالى,,, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). Kalau ada yang mengatakan, Apabila dalil aqli dan naqli sudah membuktikan kepalsuan syirik, lalu apa yang menyeret kaum musyrikin kepada syirik, padahal di antara mereka ada orang-orang yang berakal, cerdik dan pintar?! Allah سبحانه وتعالى menjawab dengan FirmanNya, ﴾ بَلۡ إِن يَعِدُ ٱلظَّٰلِمُونَ بَعۡضُهُم بَعۡضًا إِلَّا غُرُورًا ﴿ "Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu sebagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebagian yang lain, melainkan tipuan belaka." Maksudnya, jalan (syirik) yang mereka tempuh itu sama sekali mereka tidak memiliki hujjahnya (argumen, dalil). Ia hanyalah merupakan pesan sebagian mereka kepada sebagian yang lain untuk melakukannya, pengelabuan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, taklid buta orang yang datang kemudian kepada para pendahulunya yang sesat dan angan-angan kosong yang dibisikkan oleh setan. Setan telah men-jadikan indah perbuatan-perbuatan buruk mereka sehingga terpatri dalam hati mereka dan menjadi salah satu sifatnya, sehingga sulit dihilangkan dan sukar untuk dipisahkan darinya. Maka terjadilah apa yang terjadi, yaitu kukuh dalam kekafiran dan kesyirikan batil.

Fatir 35:41

"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya ja-ngan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Se-sungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (Fathir: 41). (41) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang kemahasempurna-an KuasaNya dan keparipurnaan rahmatNya serta keluasan sifat santun dan ampunanNya, dan bahwasanya Allah تعالى ﴾ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "menahan langit dan bumi" agar tidak lenyap, sebab kalau keduanya lenyap, maka tak seorang pun di antara makhluk ini yang dapat menahannya, dan sudah pasti kuasa dan kekuatan mereka tidak mampu untuk bisa menahannya. Namun, Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan keberadaan keduanya sebagaimana adanya, agar tercipta rasa aman, manfaat, dan sikap mengambil pelajaran bagi manusia, dan agar mereka mengetahui keagungan kerajaan-Nya dan kehebatan kekuasaanNya yang dapat membuat hati me-reka penuh dengan rasa membesarkan, mengagungkan, mencintai dan memuliakan(Nya), dan supaya mereka mengetahui kesempur-naan sifat santunNya dan mengampuni dengan menangguhkan orang-orang yang berdosa dan Allah tidak segera mengazab orang-orang yang durhaka, padahal kalau saja Allah memerintah langit, niscaya ia melempari mereka (dengan hujan azab); dan kalau saja Allah mengizinkan kepada bumi, niscaya ia menelan mereka. Akan tetapi ampunan, kelembutan, dan kemurahanNya Mahaluas. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."

Fatir 35:42

"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat. Tatkala datang kepada mereka pem-beri peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka, karena kesombongan di muka bumi dan karena rencana jahat mereka. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiada-lah yang mereka nanti-nantikan melainkan sunnah kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menda-pat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Fathir: 42-43). (42) Maksudnya, mereka yang mendustakanmu, wahai Rasulullah, bersumpah dengan satu sumpah yang sungguh-sung-guh mereka lakukan dan sumpah yang sangat berat,﴾ لَئِن جَآءَهُمۡ نَذِيرٞ لَّيَكُونُنَّ أَهۡدَىٰ مِنۡ إِحۡدَى ٱلۡأُمَمِۖ ﴿ "sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat." Maksudnya, lebih lurus di atas petunjuk daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, Ahli kitab. Akan tetapi mereka tidak memenuhi sumpah-sumpah dan janji-janji tersebut. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan," mereka tidak mau menerima petunjuk dan tidak mau menjadi manusia yang paling lurus di atas petunjuk, bahkan mereka tetap di dalam kesesatan mereka yang dahulu, bahkan, ﴾ مَّا زَادَهُمۡ ﴿ "tidak menambah kepada mereka," yang demikian itu, ﴾ إِلَّا نُفُورًا ﴿ "kecuali makin jauh," makin bertambah sesat, congkak, dan keras kepala. (43) Sumpah mereka tersebut bukan untuk tujuan baik dan bukan untuk mencari kebenaran. Kalau tidak, tentu mereka diberi taufik kepadanya. Akan tetapi sumpah itu berasal dari sikap som-bong mereka di muka bumi ini terhadap manusia dan terhadap kebenaran, serta kecongkakan dalam perkataan yang mereka ucapkan itu. Maksud mereka sebenarnya adalah makar dan tipu daya. Dan mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahlul haq (orang-orang yang benar) yang sangat giat dalam mencari kebe-naran, sehingga banyak orang yang terpedaya dengan mereka dan diikuti oleh orang-orang yang taklid (ikut-ikutan). ﴾ وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ ﴿ "Rencana jahat itu tidak akan menimpa," yakni rencana yang tujuannya adalah tujuan jahat, akibat dan targetnya adalah jahat lagi batil, ﴾ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦۚ ﴿ "selain orang yang merencanakannya sendiri." Rencana jahat mereka hanya akan menimpa mereka. Allah سبحانه وتعالى telah menyingkap kepada hamba-hambaNya dalam perkataan-perkataan mereka tersebut dan dalam sumpah-sumpah itu, bahwa mereka dusta dalam semua itu dan berbohong besar, sehingga kehinaan mereka tampak, kebusukan mereka terungkap, niat jahat mereka jelas, dan akibatnya, rencana jahat mereka menimpa diri mereka sendiri dan Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke dalam dada mereka. Maka tidak ada yang tersisa bagi mereka selain menunggu azab yang akan menimpa, yaitu azab yang sudah menjadi sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu, yang tidak akan diganti atau dirubah. Dan sesungguhnya setiap orang yang berjalan di dalam lembah kezhaliman, sikap menentang, dan congkak terhadap sesama manusia, bencananya akan menimpa dirinya sendiri dan nikmatNya akan diangkat darinya. Hendaknya mereka memperhatikan apa yang ditimpakan terhadap orang-orang yang zhalim itu.

Fatir 35:43

"Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah; sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat. Tatkala datang kepada mereka pem-beri peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka, karena kesombongan di muka bumi dan karena rencana jahat mereka. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiada-lah yang mereka nanti-nantikan melainkan sunnah kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menda-pat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak pula akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu." (Fathir: 42-43). (42) Maksudnya, mereka yang mendustakanmu, wahai Rasulullah, bersumpah dengan satu sumpah yang sungguh-sung-guh mereka lakukan dan sumpah yang sangat berat,﴾ لَئِن جَآءَهُمۡ نَذِيرٞ لَّيَكُونُنَّ أَهۡدَىٰ مِنۡ إِحۡدَى ٱلۡأُمَمِۖ ﴿ "sesungguhnya jika datang kepada mereka seorang pemberi peringatan, niscaya mereka akan lebih mendapat petunjuk dari salah satu umat-umat." Maksudnya, lebih lurus di atas petunjuk daripada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani, Ahli kitab. Akan tetapi mereka tidak memenuhi sumpah-sumpah dan janji-janji tersebut. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Tatkala datang kepada mereka pemberi peringatan," mereka tidak mau menerima petunjuk dan tidak mau menjadi manusia yang paling lurus di atas petunjuk, bahkan mereka tetap di dalam kesesatan mereka yang dahulu, bahkan, ﴾ مَّا زَادَهُمۡ ﴿ "tidak menambah kepada mereka," yang demikian itu, ﴾ إِلَّا نُفُورًا ﴿ "kecuali makin jauh," makin bertambah sesat, congkak, dan keras kepala. (43) Sumpah mereka tersebut bukan untuk tujuan baik dan bukan untuk mencari kebenaran. Kalau tidak, tentu mereka diberi taufik kepadanya. Akan tetapi sumpah itu berasal dari sikap som-bong mereka di muka bumi ini terhadap manusia dan terhadap kebenaran, serta kecongkakan dalam perkataan yang mereka ucapkan itu. Maksud mereka sebenarnya adalah makar dan tipu daya. Dan mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahlul haq (orang-orang yang benar) yang sangat giat dalam mencari kebe-naran, sehingga banyak orang yang terpedaya dengan mereka dan diikuti oleh orang-orang yang taklid (ikut-ikutan). ﴾ وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ ﴿ "Rencana jahat itu tidak akan menimpa," yakni rencana yang tujuannya adalah tujuan jahat, akibat dan targetnya adalah jahat lagi batil, ﴾ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦۚ ﴿ "selain orang yang merencanakannya sendiri." Rencana jahat mereka hanya akan menimpa mereka. Allah سبحانه وتعالى telah menyingkap kepada hamba-hambaNya dalam perkataan-perkataan mereka tersebut dan dalam sumpah-sumpah itu, bahwa mereka dusta dalam semua itu dan berbohong besar, sehingga kehinaan mereka tampak, kebusukan mereka terungkap, niat jahat mereka jelas, dan akibatnya, rencana jahat mereka menimpa diri mereka sendiri dan Allah mengembalikan tipu muslihat mereka ke dalam dada mereka. Maka tidak ada yang tersisa bagi mereka selain menunggu azab yang akan menimpa, yaitu azab yang sudah menjadi sunnatullah terhadap orang-orang terdahulu, yang tidak akan diganti atau dirubah. Dan sesungguhnya setiap orang yang berjalan di dalam lembah kezhaliman, sikap menentang, dan congkak terhadap sesama manusia, bencananya akan menimpa dirinya sendiri dan nikmatNya akan diangkat darinya. Hendaknya mereka memperhatikan apa yang ditimpakan terhadap orang-orang yang zhalim itu.

Fatir 35:44

"Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu me-lihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Mahakuasa. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa ma-nusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya." (Fathir: 44-45). (44) Allah سبحانه وتعالى menghimbau untuk melakukan perjalanan di muka bumi dengan jiwa dan raga untuk mengambil pelajaran, bukan sekedar melihat yang membawa kepada sikap lalai (bersan-tai-santai), melainkan supaya mereka memperhatikan kepada akhir kesudahan orang-orang sebelum mereka, yaitu mereka yang men-dustakan para rasul, yang jumlah, harta, dan anak-anaknya lebih banyak daripada mereka dan lebih kuat, dan telah meramaikan bumi lebih dari apa yang dilakukan oleh mereka. Namun, tatkala azab datang menimpa mereka, maka sedikitpun kekuatan yang mereka miliki itu tidak berguna, harta dan anak-anak mereka sama sekali tidak bermanfaat. Kuasa dan masyi`ah (kehendak) Allah ber-laku terhadap mereka. ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعۡجِزَهُۥ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi," karena kesempurnaan ilmu dan KuasaNya. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمٗا قَدِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (45) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesempurnaan sifat santunNya dan betapa Dia menangguhkan para pelaku maksiat dan dosa, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ ﴿ "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya," yaitu berupa dosa-dosa, ﴾ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ ﴿ "niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun," yakni, niscaya siksaan itu merata hingga menimpa hewan-hewan yang tidak mukallaf. ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "Akan tetapi" mereka ditangguhkan oleh Allah سبحانه وتعالى dan Dia tidak mengabaikan mereka.﴾ يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا ﴿ "Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya." Lalu Dia akan memberikan balasan terhadap mereka sesuai dengan perbuatan baik atau buruk yang telah Dia ketahui dari mereka.

Fatir 35:45

"Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu me-lihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Menge-tahui lagi Mahakuasa. Dan kalau sekiranya Allah menyiksa ma-nusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun, akan tetapi Allah menangguhkan mereka, sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya." (Fathir: 44-45). (44) Allah سبحانه وتعالى menghimbau untuk melakukan perjalanan di muka bumi dengan jiwa dan raga untuk mengambil pelajaran, bukan sekedar melihat yang membawa kepada sikap lalai (bersan-tai-santai), melainkan supaya mereka memperhatikan kepada akhir kesudahan orang-orang sebelum mereka, yaitu mereka yang men-dustakan para rasul, yang jumlah, harta, dan anak-anaknya lebih banyak daripada mereka dan lebih kuat, dan telah meramaikan bumi lebih dari apa yang dilakukan oleh mereka. Namun, tatkala azab datang menimpa mereka, maka sedikitpun kekuatan yang mereka miliki itu tidak berguna, harta dan anak-anak mereka sama sekali tidak bermanfaat. Kuasa dan masyi`ah (kehendak) Allah ber-laku terhadap mereka. ﴾ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعۡجِزَهُۥ مِن شَيۡءٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi," karena kesempurnaan ilmu dan KuasaNya. ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ عَلِيمٗا قَدِيرٗا ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (45) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesempurnaan sifat santunNya dan betapa Dia menangguhkan para pelaku maksiat dan dosa, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ ﴿ "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya," yaitu berupa dosa-dosa, ﴾ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ ﴿ "niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu makhluk yang melata pun," yakni, niscaya siksaan itu merata hingga menimpa hewan-hewan yang tidak mukallaf. ﴾ وَلَٰكِن ﴿ "Akan tetapi" mereka ditangguhkan oleh Allah سبحانه وتعالى dan Dia tidak mengabaikan mereka.﴾ يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِۦ بَصِيرَۢا ﴿ "Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang tertentu; maka apabila datang ajal mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya." Lalu Dia akan memberikan balasan terhadap mereka sesuai dengan perbuatan baik atau buruk yang telah Dia ketahui dari mereka.

Yasin 36:1

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:2

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:3

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:4

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:5

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:6

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:7

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:8

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:9

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:10

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:11

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:12

"Ya, sin. Demi al-Qur`an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang dari rasul-rasul, (yang berada) di atas jalan yang lurus, (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Agar kamu memberi peringat-an kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai. Sungguh telah pasti berlaku per-kataan (ketentuan Allah) terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasang be-lenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah. Dan Kami adakan di ha-dapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak me-lihatNya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauhil Mahfuzh)." (Yasin: 1-12). Makkiyah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan al-Qur`an yang penuh hikmah, yang sifatnya adalah berisi hikmah (kebijaksanaan) yang artinya adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya; menempatkan perintah dan larangan pada tempat masing-masing dan meletakkan balasan dengan kebaikan dan keburukan pada tempat masing-masing yang laik bagi keduanya. Maka hukum-hukum syariat dan perdatanya, semuanya mencakup puncak ke-bijaksanaan. Dan di antara hikmah al-Qur`an ini adalah, ia mema-dukan antara penjelas hukum dan hikmahnya. Dengan demikian ia menyadarkan akal pikiran pada korelasi-korelasi dan ciri-ciri yang memastikan lahirnya hukum (keputusan) atasnya. (3) ﴾ إِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Sesungguhnya kamu benar-benar salah se-orang dari rasul-rasul." Inilah yang disumpahkan, yaitu kerasulan Muhammad a. Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad adalah termasuk golongan para rasul. Jadi, kamu bukan yang per-tama dari para rasul. Dan juga, kamu datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh para rasul, yaitu prinsip-prinsip agama. Dan juga, siapa saja yang mencermati hal-ihwal para rasul dan ciri-ciri mereka dan mengetahui perbedaan antara mereka dengan orang-orang selain mereka, niscaya ia mengetahui bahwa engkau termasuk para rasul yang terbaik, karena sifat-sifat yang sempurna dan akhlak yang mulia yang ada padamu. Sudah tidak diragukan lagi adanya hubungan antara yang disumpahkan, yaitu al-Qur`an yang penuh hikmah dengan yang disumpahkan atasnya, yaitu ke-rasulan Muhammad a. Dan bahwa sesungguhnya, kalau saja tidak ada bukti (dalil) bagi kerasulannya dan tidak ada pula saksi selain al-Qur`an yang penuh hikmah ini, niscaya al-Qur`an itu sudah cukup sebagai dalil dan saksi atas kerasulan Muhammad a, bah-kan, al-Qur`an yang mulia ini sendiri adalah merupakan dalil yang terkuat dan terus menerus yang menunjukkan kerasulan Rasulullah a. Jadi, dalil-dalil al-Qur`an itu semuanya adalah merupakan dalil-dalil (bukti-bukti) bagi kerasulan Muhammad a. (4) Kemudian Allah memberitakan tentang sifat Rasulullah a paling menonjol yang membuktikan kerasulannya, yaitu bah-wasanya dia ﴾ عَلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "di atas jalan yang lurus," yakni, jalan lempeng yang dapat mengantarkan kepada Allah dan kepada ne-geri kemuliaanNya. Jalan yang lurus itu meliputi amal-amal, yaitu amal-amal shalih yang dapat memperbaiki hati, badan, dunia dan akhirat, serta akhlak yang utama yang dapat menyucikan jiwa, membersihkan kalbu, dan melipatgandakan pahala. Inilah jalan yang lurus yang merupakan ciri (sifat) Rasulullah a dan ciri agama yang dibawanya. Perhatikanlah keagungan al-Qur`an Suci ini, bagaimana ia memadukan antara sumpah dengan jenis sumpah yang paling mulia dan dengan yang disumpahkan yang juga termulia. Berita dari Allah itu sendiri sudah cukup, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menegak-kan dalil-dalil yang sangat jelas dan argumen-argumen yang kon-kret pada bahasan ini yang menunjukkan kebenaran (kelegalan) apa yang Dia sumpahkan atasnya, yaitu kerasulan RasulNya, se-bagaimana telah kita uraikan dan kita singgung secara sederhana agar dijadikan pegangan. (5) Jalan yang lurus ini ﴾ تَنزِيلَ ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "diturunkan oleh Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." Dia-lah yang menurunkan kitab-Nya dan Dia menurunkannya sebagai jalan bagi hamba-hamba-Nya, yang dapat mengantarkan mereka kepadaNya. Oleh karena itu, Dia melindunginya dengan keperkasaanNya dari perubahan dan pergantian; dan dengannya Dia mengasihi hamba-hambaNya dengan belas kasih yang sampai kepada mereka hingga mengan-tarkan mereka kepada negeri rahmat (kasih-sayang)Nya. Maka dari itu Dia menutup ayat ini dengan dua nama yang sangat mulia, yaitu Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى bersumpah atas kerasulan Nabi a dan menegakkan dalil-dalil atasnya, Dia menjelaskan betapa sangat mendesaknya kebutuhan kepada kerasulan itu dan betapa sangat diperlukan, seraya berfirman, ﴾ لِتُنذِرَ قَوۡمٗا مَّآ أُنذِرَ ءَابَآؤُهُمۡ فَهُمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "Agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena mereka lalai." Mereka adalah bangsa Arab yang buta huruf, yaitu mereka yang masih kosong dari kitab-kitab, kehilangan para rasul. Mereka telah dilanda oleh kebodohan dan diliputi kesesatan, serta mereka telah membuat akal manusia di jagat raya ini menertawakan mereka karena kedunguan mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى mengutus kepada mereka seorang rasul dari kala-ngan mereka sendiri yang menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah, dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata. Maka dia pun memberikan peringatan kepada bangsa Arab yang ummi (buta huruf) dan kepada siapa saja yang dia jumpai dari setiap yang ummi. Dan dia juga mengingatkan para ahli kitab akan kitab-kitab yang ada pada mereka. Maka Nabi a menjadi nikmat bagi orang-orang Arab khususnya dan bagi bangsa-bangsa yang lain pada umumnya. (7) Akan tetapi mereka, yakni orang-orang yang mana kamu (Nabi Muhammad a) diutus untuk memberikan peringatan di tengah mereka, setelah engkau berikan peringatan, mereka terbagi menjadi dua golongan: Satu golongan menolak apa yang engkau bawa dan tidak menerima peringatan. Mereka adalah orang-orang yang dikatakan tentang mereka, ﴾ لَقَدۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَىٰٓ أَكۡثَرِهِمۡ فَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sungguh telah pasti berlaku perkataan (ketentuan Allah) ter-hadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman." Maksudnya, takdir dan kehendak Allah berlaku kepada mereka, yaitu mereka terus pada kekafiran dan kesyirikannya. Sesungguhnya ketetapan Allah berlaku terhadap mereka setelah kebenaran ditawarkan kepada mereka lalu mereka menolaknya. Maka saat itulah mereka dihukum dengan dikunci mati hati mereka. (8) Dan Allah menjelaskan penghalang-penghalang yang telah menghalangi iman untuk bisa sampai ke dalam hati mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّا جَعَلۡنَا فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ أَغۡلَٰلٗا ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka." أَغْلَالٌ adalah kata jamak dari غِلٌّ, yang artinya belenggu yang digunakan untuk membelenggu leher, ia serupa dengan borgol pengikat kaki. Belenggu-belenggu yang ada di leher ini sangat besar hingga sampai ﴾ إِلَى ﴿ "ke" dagu, se-dangkan kepala mereka diangkat ke atas, ﴾ فَهُم مُّقۡمَحُونَ ﴿ "maka karena itu mereka tertengadah," maksudnya, mereka mengangkat kepala karena kuat dan besarnya belenggu yang ada pada leher mereka, sehingga mereka tidak bisa menunduk. (9) ﴾ وَجَعَلۡنَا مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ سَدّٗا وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ سَدّٗا ﴿ "Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka juga dinding." Maksud-nya, penghalang yang menghalangi mereka untuk beriman, ﴾ فَهُمۡ لَا يُبۡصِرُونَ ﴿ "sehingga mereka tidak dapat melihat," karena telah diliputi oleh kebodohan dan kesengsaraan dari segala arah mereka, maka peringatan sama sekali tidak berguna bagi mereka. (10) ﴾ وَسَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman." Sebab, bagaimana akan bisa beriman orang yang hatinya telah dikunci rapat, yang melihat yang haq sebagai kebatilan dan yang batil se-bagai yang haq? (11) Sedangkan golongan yang kedua adalah orang-orang yang menerima peringatan. Allah telah menyebutkan mereka dengan FirmanNya, ﴾ إِنَّمَا تُنذِرُ ﴿ "Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan," maksudnya, sesungguhnya peringatanmu hanya akan berguna dan nasihatmu akan diterima oleh ﴾ مَنِ ٱتَّبَعَ ٱلذِّكۡرَ ﴿ "orang-orang yang mau mengikuti peringatan." Artinya, orang-orang yang niatnya adalah mengikuti yang haq dan apa yang diingatkan kepadanya, ﴾ وَخَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ بِٱلۡغَيۡبِۖ ﴿ "dan takut kepada Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatNya," artinya, yaitu orang mempunyai dua karakter ini, yaitu niat yang baik dalam mencari kebenaran dan takut kepada Allah سبحانه وتعالى. Merekalah orang-orang yang bisa mengambil manfaat dari kerasulanmu dan menjadi suci dengan pengajaranmu. Dan orang yang dikaruniai dua perkara (karakter) ini adalah orang yang telah diberi kabar gembira ﴾ بِمَغۡفِرَةٖ ﴿ "dengan ampunan" bagi dosa-dosanya ﴾ وَأَجۡرٖ كَرِيمٍ ﴿ "dan pahala yang mulia" bagi amal-amal shalih dan niat baiknya. (12) ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati," yakni, Kami membangkitkan mereka setelah mereka mati untuk memberikan balasan kepada mereka atas per-buatan-perbuatannya, ﴾ وَنَكۡتُبُ مَا قَدَّمُواْ ﴿ "dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan" yang baik dan yang buruk, yaitu amal-amal perbuatan yang telah mereka kerjakan dan mereka laksana-kan pada saat mereka masih hidup, ﴾ وَءَاثَٰرَهُمۡۚ ﴿ "dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan," yaitu, bekas-bekas kebaikan dan bekas-bekas keburukan yang mana mereka menjadi sebab diadakannya saat mereka masih hidup dan sesudah mereka mati. Amal perbuatan tersebut timbul dari perkataan, perbuatan, dan perihal keadaan mereka. Maka setiap kebaikan yang dilakukan oleh salah seorang manusia disebabkan oleh ilmu seorang hamba dan pengajarannya, atau nasihatnya, atau amar ma'rufnya, atau nahi mungkarnya, atau ilmu yang ia simpan pada para pelajar atau pada kitab-kitab yang digunakan pada saat masih hidup dan sesudah mati, atau melakukan kebaikan seperti shalat, zakat, sedekah atau suatu kebaikan yang diikuti oleh orang lain, atau membangun sebuah masjid atau salah satu tempat yang dimanfaatkan oleh masyarakat umum dan yang serupa dengannya, maka sesungguhnya semua itu termasuk bekas-bekas peninggalannya yang akan dicatat untuk-nya. Dan demikian pula perbuatan buruk. Maka dari itu, مَنْ سَنَّ سُنَّةً حَسَنَةً، فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ سَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. "Barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang baik, maka ia akan mendapat pahalanya dan pahala orang yang menger-jakannya hingga Hari Kiamat; dan barangsiapa yang mensunnahkan (mempelopori) satu sunnah yang buruk, maka ia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya hingga Hari Kiamat."[69] Bagian ini menjelaskan kepada Anda betapa tingginya kedu-dukan berdakwah kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunjukkan manusia ke-pada jalan Allah dengan segala sarana dan cara yang dapat meng-antarkan ke sana, dan (sebaliknya) betapa rendahnya derajat orang yang menyeru kepada keburukan dan menjadi pelopor dalam ke-burukan; dan sesungguhnya dia merupakan manusia yang paling hina, paling durjana, dan paling besar dosanya. ﴾ وَكُلَّ شَيۡءٍ ﴿ "Dan segala sesuatu," dari amal-amal perbuatan, niat, dan lain-lainnya ﴾ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ ﴿ "Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata," maksudnya, kitab yang merupakan kitab induk, dan ia merupakan rujukan semua kitab-kitab yang ada di tangan para malaikat. Ia adalah al-Lauhil Mahfuzh.

Yasin 36:13

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:14

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:15

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:16

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:17

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:18

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:19

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:20

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:21

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:22

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:23

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:24

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:25

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:26

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:27

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:28

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:29

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:30

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.