Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Yasin 36:31 – As-Saffat 37:60

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Yasin 36:31
  2. Yasin 36:32
  3. Yasin 36:33
  4. Yasin 36:34
  5. Yasin 36:35
  6. Yasin 36:36
  7. Yasin 36:37
  8. Yasin 36:38
  9. Yasin 36:39
  10. Yasin 36:40
  11. Yasin 36:41
  12. Yasin 36:42
  13. Yasin 36:43
  14. Yasin 36:44
  15. Yasin 36:45
  16. Yasin 36:46
  17. Yasin 36:47
  18. Yasin 36:48
  19. Yasin 36:49
  20. Yasin 36:50
  21. Yasin 36:51
  22. Yasin 36:52
  23. Yasin 36:53
  24. Yasin 36:54
  25. Yasin 36:55
  26. Yasin 36:56
  27. Yasin 36:57
  28. Yasin 36:58
  29. Yasin 36:59
  30. Yasin 36:60
  31. Yasin 36:61
  32. Yasin 36:62
  33. Yasin 36:63
  34. Yasin 36:64
  35. Yasin 36:65
  36. Yasin 36:66
  37. Yasin 36:67
  38. Yasin 36:68
  39. Yasin 36:69
  40. Yasin 36:70
  41. Yasin 36:71
  42. Yasin 36:72
  43. Yasin 36:73
  44. Yasin 36:74
  45. Yasin 36:75
  46. Yasin 36:76
  47. Yasin 36:77
  48. Yasin 36:78
  49. Yasin 36:79
  50. Yasin 36:80
  51. Yasin 36:81
  52. Yasin 36:82
  53. Yasin 36:83
  54. As-Saffat 37:1
  55. As-Saffat 37:2
  56. As-Saffat 37:3
  57. As-Saffat 37:4
  58. As-Saffat 37:5
  59. As-Saffat 37:6
  60. As-Saffat 37:7
  61. As-Saffat 37:8
  62. As-Saffat 37:9
  63. As-Saffat 37:10
  64. As-Saffat 37:11
  65. As-Saffat 37:12
  66. As-Saffat 37:13
  67. As-Saffat 37:14
  68. As-Saffat 37:15
  69. As-Saffat 37:16
  70. As-Saffat 37:17
  71. As-Saffat 37:18
  72. As-Saffat 37:19
  73. As-Saffat 37:20
  74. As-Saffat 37:21
  75. As-Saffat 37:22
  76. As-Saffat 37:23
  77. As-Saffat 37:24
  78. As-Saffat 37:25
  79. As-Saffat 37:26
  80. As-Saffat 37:27
  81. As-Saffat 37:28
  82. As-Saffat 37:29
  83. As-Saffat 37:30
  84. As-Saffat 37:31
  85. As-Saffat 37:32
  86. As-Saffat 37:33
  87. As-Saffat 37:34
  88. As-Saffat 37:35
  89. As-Saffat 37:36
  90. As-Saffat 37:37
  91. As-Saffat 37:38
  92. As-Saffat 37:39
  93. As-Saffat 37:40
  94. As-Saffat 37:41
  95. As-Saffat 37:42
  96. As-Saffat 37:43
  97. As-Saffat 37:44
  98. As-Saffat 37:45
  99. As-Saffat 37:46
  100. As-Saffat 37:47
  101. As-Saffat 37:48
  102. As-Saffat 37:49
  103. As-Saffat 37:50
  104. As-Saffat 37:51
  105. As-Saffat 37:52
  106. As-Saffat 37:53
  107. As-Saffat 37:54
  108. As-Saffat 37:55
  109. As-Saffat 37:56
  110. As-Saffat 37:57
  111. As-Saffat 37:58
  112. As-Saffat 37:59
  113. As-Saffat 37:60

Yasin 36:31

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:32

"Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu pen-duduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.' Mereka menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah Yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatu pun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka.' Mereka berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanya-lah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.' Mereka menja-wab, 'Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesung-guhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.' Utusan-utusan itu berkata, 'Kemalanganmu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.' Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas ia berkata, 'Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang menda-pat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepadaNya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selainNya? Jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemu-daratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikit pun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya), 'Masuklah ke surga.' Ia berkata, 'Alang-kah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.' Dan Kami tidak menurunkan ke-pada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tidaklah datang seorang rasul pun kepada me-reka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Tidakkah mereka mengetahui betapa banyaknya umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." (Yasin: 13-32). (13) Maksudnya, buatlah untuk mereka yang mendusta-kan kerasulanmu, yang menolak seruanmu sebuah perumpamaan yang dapat mereka jadikan pelajaran dan menjadi nasihat bagi mereka jika mereka diberi taufik untuk kebaikan. Perumpamaan itu adalah para penduduk suatu negeri dan apa yang terjadi dari perbuatan mereka, yaitu pendustaan terhadap para utusan Allah, serta apa-apa yang menimpa mereka berupa hukuman dan azab dariNya. Menyebutkan secara pasti negeri yang dimaksud, kalau saja ada gunanya tentu Allah menyebutkannya. Maka mencoba menebaknya atau yang serupa dengannya termasuk tindakan ceroboh dan berbicara tanpa dasar pengetahuan. Maka dari itu, apabila ada seseorang yang membicarakan tentang perkara semisal ini, Anda akan menjumpainya simpang siur dan berbeda-beda pendapat yang tidak mempunyai kepastian, yang dengan begitu Anda tahu bahwa sesungguhnya jalan ilmu yang shahih adalah berhenti pada data-data yang tepat dan tidak menyentuh hal-hal yang tidak ada gunanya. Dan dengan cara seperti ini jiwa akan menjadi bersih dan ilmunya makin bertambah. Sementara, orang yang jahil mengira bahwa bertambahnya ilmu itu dengan cara menyebutkan pendapat-pendapat yang tidak ada dalilnya, tidak ada argumennya dan tidak pula ada faidahnya selain mengacaukan pikiran dan terbiasa dengan perkara-perkara yang masih diragukan kebenarannya. Ringkasnya, negeri tersebut telah dijadikan oleh Allah sebagai perumpamaan bagi para mukhathabin (lawan bicara) ﴾ إِذۡ جَآءَهَا ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "ketika utusan-utusan datang kepada mereka," dari Allah سبحانه وتعالى; memerintah mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata dan menuluskan kepatuhan hanya kepadaNya, dan mencegah mereka dari syirik dan maksiat-maksiat. (14) ﴾ إِذۡ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡهِمُ ٱثۡنَيۡنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزۡنَا بِثَالِثٖ ﴿ "Yaitu ketika Kami meng-utus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan kedua-nya; kemudian kami kuatkan dengan ketiga." Maksudnya, Kami perkuat keduanya dengan orang ketiga, sehingga mereka menjadi tiga orang utusan, sebagai bentuk perhatian Allah سبحانه وتعالى kepada mereka dan sebagai penegakan hujjah dengan berdatangannya para rasul (utusan) itu kepada mereka secara bergantian, ﴾ فَقَالُوٓاْ ﴿ "maka mereka berkata," kepada mereka (orang-orang yang musyrik itu),﴾ إِنَّآ إِلَيۡكُم مُّرۡسَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu." (15) Lalu mereka menjawab para rasul itu dengan jawaban yang masih tetap populer di kalangan orang-orang yang menolak dakwah para rasul, seraya berkata, ﴾ قَالُواْ مَآ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami," artinya, apa yang membuat kalian merasa lebih utama dan unggul daripada kami? Para rasul berkata kepada umat mereka, Kami tiada lain manusia biasa seperti kalian, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya. ﴾ وَمَآ أَنزَلَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مِن شَيۡءٍ ﴿ "Dan Allah Yang Maha Pemurah tidak me-nurunkan sesuatu pun," artinya, mereka mengingkari keseluruhan kerasulan; lalu mereka juga mengingkari orang-orang yang ber-bicara kepada mereka (tentang kerasulan tersebut), seraya mengata-kan, ﴾ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَكۡذِبُونَ ﴿ "Kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka." (16) Rasul yang tiga itu mengatakan, ﴾ رَبُّنَا يَعۡلَمُ إِنَّآ إِلَيۡكُمۡ لَمُرۡسَلُونَ ﴿ "Rabb kami lebih mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu," maka jika kami adalah orang-orang pen-dusta, tentu Allah pasti telah menampakkan kehinaan kami dan pasti Dia segera menimpakan azabNya terhadap kami. (17) ﴾ وَمَا عَلَيۡنَآ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan dengan jelas," yakni, menyampaikan dengan jelas yang dengannya perkara-perkara menjadi terjelaskan yang memang dituntut untuk dijelaskan. Adapun selain dari itu berupa ayat-ayat usulan atau minta dipercepatnya azab, maka bukan tugas kami. Tugas kami hanyalah menyampaikan dengan jelas, dan kami telah melaksanakan dan menjelaskannya kepada kalian. Jika kalian menjadikannya sebagai petunjuk, maka itu adalah bagian yang baik dan taufik bagi kalian, namun jika kalian sesat, maka kami sama sekali tidak mempunyai urusan apa pun. (18) Kemudian para penduduk negeri itu berkata kepada para rasulnya, ﴾ إِنَّا تَطَيَّرۡنَا بِكُمۡۖ ﴿ "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu," artinya, kami tidak melihat dari kedatangan kalian dan hubungan kalian dengan kami selain keburukan. Ini adalah keanehan yang paling aneh, di mana orang yang datang kepada mereka dengan membawa nikmat yang paling mulia lagi paling besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hambaNya dan karamah yang paling besar yang dianugerahkan kepada mereka serta kebutuhan mereka kepadanya di atas semua kebutuhan, dianggap datang dengan kondisi keburukan yang makin menambah keburukan yang mereka anut dan mereka me-rasa sial karenanya. Sesungguhnya tidak adanya pertolongan dan ketiadaan taufik dapat berakibat buruk terhadap seseorang yang lebih besar daripada apa yang dilakukan oleh musuhnya. Kemudian mereka mengancam para rasul seraya mengata-kan, ﴾ لَئِن لَّمۡ تَنتَهُواْ لَنَرۡجُمَنَّكُمۡ ﴿ "Sungguh jika kamu tidak berhenti, niscaya kami akan merajam kamu." Maksudnya, niscaya kami membunuh kalian dengan cara melempari kalian dengan batu hingga menjadi pem-bunuhan yang paling sadis, ﴾ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "dan kamu pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami." (19) Para rasul itu berkata kepada mereka, ﴾ طَٰٓئِرُكُم مَّعَكُمۡ ﴿ "Ke-malanganmu itu adalah karena kamu sendiri," yaitu syirik dan keja-hatan yang ada pada kalian yang berakibat pada terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, berupa bencana dan dicabutnya hal-hal yang dicintai dan nikmat. ﴾ أَئِن ذُكِّرۡتُمۚ ﴿ "Apakah jika kamu diberi peringatan," yakni, karena kami mengingatkan kalian kepada apa yang di situ terdapat kebaikan dan nasib baik kalian, maka kalian mengatakan kepada kami apa yang telah kalian katakan? ﴾ بَلۡ أَنتُمۡ قَوۡمٞ مُّسۡرِفُونَ ﴿ "Sebenarnya kamu adalah kaum yang berlebihan," melampaui batas lagi sombong dalam bicara. Maka seruan mereka (para rasul itu) tidak menambah selain mereka semakin jauh dan semakin sombong. (20) ﴾ وَجَآءَ مِنۡ أَقۡصَا ٱلۡمَدِينَةِ رَجُلٞ يَسۡعَىٰ ﴿ "Dan datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas," karena sangat bersemangat untuk memberikan nasihat kepada kaumnya ketika ia telah mendengar apa yang diserukan oleh para rasul dan ia beriman kepadanya serta mengetahui penolakan kaumnya terhadap mereka, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu." Orang itu memerintah mereka supaya mengikuti para rasul dan mena-sihatkan hal itu kepada mereka serta memberikan kesaksian akan kerasulan para rasul itu. (21) Kemudian orang itu menjelaskan sebagai dukungan terhadap apa yang dipersaksikannya dan diserukannya, seraya ber-kata, ﴾ ٱتَّبِعُواْ مَن لَّا يَسۡـَٔلُكُمۡ أَجۡرٗا ﴿ "Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu." Ikutilah orang yang menasihati kalian dengan nasihat yang membawa kebaikan kepada kalian, dan ia tidak mengingin-kan harta ataupun imbalan dari kalian atas nasihat dan bimbingan-nya kepada kalian. Ini mengharuskan untuk mengikuti orang yang sifatnya seperti itu. Lebih dari itu bisa dikatakan, Bisa saja dia mengajak dan tidak mengambil upah, akan tetapi dia tidak berada di atas yang haq? Kemungkinan ini ditolak dengan FirmanNya, ﴾ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ﴿ "Sedangkan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk," karena mereka tidak mengajak kecuali kepada hal-hal yang dikukuhkan oleh akal sehat akan kebaikannya, dan mereka pun tidak mencegah kecuali apa yang dibenarkan oleh akal sehat akan keburukannya. (22-25) Seolah-olah kaumnya belum juga menerima nasi-hatnya, bahkan mereka kembali mencelanya karena mengikuti para rasul dan mengikhlaskan kepatuhan hanya kepada Allah سبحانه وتعالى semata, maka ia berkata, ﴾ وَمَا لِيَ لَآ أَعۡبُدُ ٱلَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Mengapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan?" Artinya, apa yang menghalangiku untuk beribadah kepada Yang berhak untuk diibadahi (disembah), sebab Dia-lah yang telah menjadikan dan menciptakanku serta memberiku rizki dan kepadaNya tempat kembali semua makhluk, lalu Dia akan memberikan balasan kepada mereka menurut amal-amal perbuatan mereka. Maka Tuhan yang di TanganNya pen-ciptaan, rizki, dan keputusan di antara manusia di dunia dan di akhirat, Dia-lah yang berhak disembah, disanjung dan dipuji, bukan yang tidak memiliki manfaat, tidak menimpakan bahaya, tidak bisa memberi dan menahan (keburukan), tidak pula memiliki hak mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan kembali. Maka dari itu Dia berfirman,﴾ ءَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةً إِن يُرِدۡنِ ٱلرَّحۡمَٰنُ بِضُرّٖ لَّا تُغۡنِ عَنِّي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـٔٗا ﴿ "Mengapa aku akan menyembah ilah-ilah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudaratan terhadapku, niscaya syafa'at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku," karena tidak ada seorang pun yang dapat memberikan syafa'at di sisi Allah kecuali berdasarkan izin dariNya, maka syafa'at mereka sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka, ﴾ وَلَا يُنقِذُونِ ﴿ "dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku," yakni, dari bahaya (mudarat) yang Allah kehendaki menimpaku? ﴾ إِنِّيٓ إِذٗا ﴿ "Sesungguhnya aku kalau begitu," artinya, jika aku beribadah kepada sembahan-sembahan yang se-demikian rapuh sifat-sifatnya, ﴾ لَّفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "pasti (aku) berada dalam kesesatan yang nyata." Di dalam ungkapannya ini orang itu meng-kombinasikan antara pemberian nasihat kepada mereka, pemberian kesaksian kepada para rasul akan kerasulan dan hidayahnya dan pemberitaan akan dipastikannya ibadah hanya kepada Allah semata serta penyebutan dalil-dalil untuknya, dan bahwa sesungguhnya ibadah kepada selainNya adalah batil. Lalu ia menyebutkan argu-men-argumen terhadapnya, pemberitaan tentang kesesatan siapa saja yang menyembahnya dan maklumat tentang keimanannya secara terang-terangan, padahal ia sangat takut kalau mereka akan membunuhnya. Ia berkata, ﴾ إِنِّيٓ ءَامَنتُ بِرَبِّكُمۡ فَٱسۡمَعُونِ ﴿ "Sesungguhnya aku telah beriman kepada Rabbmu; maka dengarkanlah aku." (26-27) Lalu lelaki ini dibunuh oleh kaumnya sendiri sete-lah mereka mendengar darinya dan ia berdialog dengan mereka. ﴾ قِيلَ ﴿ "Dikatakan" kepadanya pada saat itu juga, ﴾ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَۖ ﴿ "Masuklah ke surga." Allah berfirman seraya mengabarkan karamah (kemuliaan) yang diraihnya karena tauhid dan keikhlasannya serta nasihatnya kepada kaumnya, sesudah wafatnya, sebagaimana dinasihatkannya saat masih hidup, ﴾ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِي يَعۡلَمُونَ 26 بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي ﴿ "Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan. (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang siksaan bagi kaumnya, ﴾ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia meninggal suatu pasukan pun dari langit," artinya, Kami tidak perlu bersusah-susah untuk menyiksa mereka dengan menurunkan pasukan dari langit untuk membinasakan mereka, ﴾ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ ﴿ "dan tidak layak Kami menurunkannya," karena tidak ada perlunya untuk itu, karena keagungan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى dan betapa sangat rapuhnya manusia, sehingga azab Allah yang paling ringan saja, sudah cukup buat mereka. (29) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak ada ia," maksudnya, siksaan atas mereka, ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "melainkan satu teriakan suara saja," yakni, satu suara saja yang dilontarkan oleh salah seorang malaikat Allah, ﴾ فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semuanya mati," hati mereka tercabik-cabik (hancur) di dalam rongga tubuh mereka dan mereka tersen-tak karena suara teriakan itu, maka mereka pun menjadi mati, tidak bersuara, tidak bergerak dan tidak pula hidup setelah kecongkakan dan kesombongan mereka serta setelah merespons orang-orang yang paling mulia (rasul) dengan perkataan kotor dan sikap semena-mena kepada mereka. (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman dengan nada prihatin kepada ma-nusia, ﴾ يَٰحَسۡرَةً عَلَى ٱلۡعِبَادِۚ مَا يَأۡتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidaklah datang seorang rasul pun kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, alangkah hebatnya kesengsaraan mereka dan betapa panjang penderitaan mereka serta betapa bodohnya mereka karena mereka bersifat buruk seperti itu, sifat yang menjadi sebab bagi segala kesengsaraan, azab, dan hukuman. (31-32) ﴾ أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّنَ ٱلۡقُرُونِ أَنَّهُمۡ إِلَيۡهِمۡ لَا يَرۡجِعُونَ 31 وَإِن كُلّٞ لَّمَّا جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ 32 ﴿ "Tidakkah mereka mengetahui betapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwasanya (orang-orang yang telah Kami binasakan) itu tiada kembali kepada mereka. Dan setiap mereka semuanya akan dikumpulkan lagi kepada Kami." Allah سبحانه وتعالى menyatakan, Tidakkah mereka melihat dan mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum mereka, yaitu generasi-generasi yang mendustakan para rasul yang telah dibinasakan oleh Allah سبحانه وتعالى dan ditimpa azabNya; dan sesungguhnya mereka semua sudah musnah dan binasa, tidak seorang pun yang kembali ke dunia dan tidak akan dikembalikan lagi kepadanya; dan kelak Allah akan mengem-balikannya sebagai makhluk baru, Dia akan menghidupkan kembali sesudah kematian mereka serta akan menghadirkan mereka di hadapanNya untuk diberikan keputusan dengan keputusan yang adil di antara mereka, yang di situ Dia tidak menzhalimi seberat biji sawi pun, jika kebaikan, maka Dia akan melipatgandakannya dan akan memberikan pahala yang sangat besar dari sisiNya.

Yasin 36:33

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yasin: 33-36). (33) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan suatu tanda bagi mereka," atas (adanya) kebangkitan, kehidupan sesudah mati dan mengha-dap kepada Allah سبحانه وتعالى untuk menerima pembalasan atas amal-amal perbuatan, adalah ﴾ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bumi yang mati" ini, di mana Allah menurunkan hujan kepadanya lalu menghidupkannya kembali sesudah sebelumnya mati, ﴾ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ﴿ "dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan," dari seluruh jenis tanaman dan dari seluruh jenis tumbuh-tum-buhan yang dimakan oleh hewan-hewan ternak kalian. (34) ﴾ وَجَعَلۡنَا فِيهَا ﴿ "Dan Kami jadikan padanya," yakni, pada bumi (tanah) yang kering itu, ﴾ جَنَّٰتٖ ﴿ "kebun-kebun," artinya, kebun-kebun yang penuh dengan banyak pepohonan, terutama pohon kurma dan anggur yang keduanya merupakan pohon yang paling berharga, ﴾ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا ﴿ "dan Kami pancarkan padanya," maksudnya, pada bumi tersebut ﴾ مِنَ ٱلۡعُيُونِ ﴿ "beberapa mata air," lalu Kami jadikan ber-aneka pohon, pohon kurma dan pohon anggur di sana. (35) ﴾ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ ﴿ "Supaya mereka dapat makan dari buahnya," sebagai makanan pokok, buah-buahan, penyedap makanan, dan kelezatan, ﴾ و َ ﴿ "dan" sesungguhnya buah-buahan itu ﴾ م َ ا ﴿ "dari apa" yang d i u s a h a k a n ﴾ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "oleh tangan mereka." Mereka sama sekali tidak mempunyai andil dalam menciptakan ataupun mem-buatnya. Itu semua sesungguhnya adalah ciptaan Allah Yang Ma-habijaksana dan Pemberi rizki yang terbaik. Dan juga, tidak dila-kukan oleh tangan mereka dalam bentuk memasaknya di atas api atau lainnya, melainkan Allah-lah yang mengadakan buah-buahan itu, yang tidak perlu dimasak atau diapakan saja, melainkan lang-sung diambil dari pohonnya lalu bisa dimakan saat itu juga. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" ke-pada yang telah melimpahkan berbagai nikmat ini dan mencurah-kan bagian dari kemurahan dan karuniaNya kepada mereka hingga permasalahan agama dan dunia mereka menjadi baik? Tidakkah yang telah menghidupkan tanah setelah kematiannya (kekeringan-nya) lalu menumbuhkan padanya berbagai tanaman dan pepo-honan, meletakkan padanya rasa lezat buah-buahan dan menge-luarkan benih-benih baru dari dahan-dahannya serta memancarkan dari tanah yang kering lagi mati beberapa sumber air, maka bu-kankah itu bukti Allah Kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?! Ya, sesungguhnya Dia Kuasa atas segala sesuatu. (36) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا ﴿ "Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya." Yakni, semua jenis makh-luk. ﴾ مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi," di mana Dia aneka-ragamkan berbagai jenis tumbuhan, yang sangat sulit untuk bisa dihitung. ﴾ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan dari diri mereka," Dia meragamkannya juga menjadi laki-laki dan perempuan, Dia beda-bedakan bentuk tubuh, perangai, dan sifat-sifat lahiriah dan batiniyah mereka, ﴾ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui," dari berbagai makhluk yang telah diciptakan dan alpa dari pengetahuan kita, dan juga yang belum diciptakan. Maka Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari sekutu, tandingan, penolong, pendukung atau istri, anak atau yang sama denganNya, serupa atau semisal denganNya dalam sifat-sifat kesempurnaanNya dan sifat-sifat keagunganNya, atau tidak mampu melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. (Mahasuci Allah dari semua kekurangan itu).

Yasin 36:34

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yasin: 33-36). (33) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan suatu tanda bagi mereka," atas (adanya) kebangkitan, kehidupan sesudah mati dan mengha-dap kepada Allah سبحانه وتعالى untuk menerima pembalasan atas amal-amal perbuatan, adalah ﴾ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bumi yang mati" ini, di mana Allah menurunkan hujan kepadanya lalu menghidupkannya kembali sesudah sebelumnya mati, ﴾ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ﴿ "dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan," dari seluruh jenis tanaman dan dari seluruh jenis tumbuh-tum-buhan yang dimakan oleh hewan-hewan ternak kalian. (34) ﴾ وَجَعَلۡنَا فِيهَا ﴿ "Dan Kami jadikan padanya," yakni, pada bumi (tanah) yang kering itu, ﴾ جَنَّٰتٖ ﴿ "kebun-kebun," artinya, kebun-kebun yang penuh dengan banyak pepohonan, terutama pohon kurma dan anggur yang keduanya merupakan pohon yang paling berharga, ﴾ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا ﴿ "dan Kami pancarkan padanya," maksudnya, pada bumi tersebut ﴾ مِنَ ٱلۡعُيُونِ ﴿ "beberapa mata air," lalu Kami jadikan ber-aneka pohon, pohon kurma dan pohon anggur di sana. (35) ﴾ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ ﴿ "Supaya mereka dapat makan dari buahnya," sebagai makanan pokok, buah-buahan, penyedap makanan, dan kelezatan, ﴾ و َ ﴿ "dan" sesungguhnya buah-buahan itu ﴾ م َ ا ﴿ "dari apa" yang d i u s a h a k a n ﴾ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "oleh tangan mereka." Mereka sama sekali tidak mempunyai andil dalam menciptakan ataupun mem-buatnya. Itu semua sesungguhnya adalah ciptaan Allah Yang Ma-habijaksana dan Pemberi rizki yang terbaik. Dan juga, tidak dila-kukan oleh tangan mereka dalam bentuk memasaknya di atas api atau lainnya, melainkan Allah-lah yang mengadakan buah-buahan itu, yang tidak perlu dimasak atau diapakan saja, melainkan lang-sung diambil dari pohonnya lalu bisa dimakan saat itu juga. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" ke-pada yang telah melimpahkan berbagai nikmat ini dan mencurah-kan bagian dari kemurahan dan karuniaNya kepada mereka hingga permasalahan agama dan dunia mereka menjadi baik? Tidakkah yang telah menghidupkan tanah setelah kematiannya (kekeringan-nya) lalu menumbuhkan padanya berbagai tanaman dan pepo-honan, meletakkan padanya rasa lezat buah-buahan dan menge-luarkan benih-benih baru dari dahan-dahannya serta memancarkan dari tanah yang kering lagi mati beberapa sumber air, maka bu-kankah itu bukti Allah Kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?! Ya, sesungguhnya Dia Kuasa atas segala sesuatu. (36) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا ﴿ "Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya." Yakni, semua jenis makh-luk. ﴾ مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi," di mana Dia aneka-ragamkan berbagai jenis tumbuhan, yang sangat sulit untuk bisa dihitung. ﴾ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan dari diri mereka," Dia meragamkannya juga menjadi laki-laki dan perempuan, Dia beda-bedakan bentuk tubuh, perangai, dan sifat-sifat lahiriah dan batiniyah mereka, ﴾ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui," dari berbagai makhluk yang telah diciptakan dan alpa dari pengetahuan kita, dan juga yang belum diciptakan. Maka Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari sekutu, tandingan, penolong, pendukung atau istri, anak atau yang sama denganNya, serupa atau semisal denganNya dalam sifat-sifat kesempurnaanNya dan sifat-sifat keagunganNya, atau tidak mampu melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. (Mahasuci Allah dari semua kekurangan itu).

Yasin 36:35

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yasin: 33-36). (33) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan suatu tanda bagi mereka," atas (adanya) kebangkitan, kehidupan sesudah mati dan mengha-dap kepada Allah سبحانه وتعالى untuk menerima pembalasan atas amal-amal perbuatan, adalah ﴾ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bumi yang mati" ini, di mana Allah menurunkan hujan kepadanya lalu menghidupkannya kembali sesudah sebelumnya mati, ﴾ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ﴿ "dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan," dari seluruh jenis tanaman dan dari seluruh jenis tumbuh-tum-buhan yang dimakan oleh hewan-hewan ternak kalian. (34) ﴾ وَجَعَلۡنَا فِيهَا ﴿ "Dan Kami jadikan padanya," yakni, pada bumi (tanah) yang kering itu, ﴾ جَنَّٰتٖ ﴿ "kebun-kebun," artinya, kebun-kebun yang penuh dengan banyak pepohonan, terutama pohon kurma dan anggur yang keduanya merupakan pohon yang paling berharga, ﴾ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا ﴿ "dan Kami pancarkan padanya," maksudnya, pada bumi tersebut ﴾ مِنَ ٱلۡعُيُونِ ﴿ "beberapa mata air," lalu Kami jadikan ber-aneka pohon, pohon kurma dan pohon anggur di sana. (35) ﴾ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ ﴿ "Supaya mereka dapat makan dari buahnya," sebagai makanan pokok, buah-buahan, penyedap makanan, dan kelezatan, ﴾ و َ ﴿ "dan" sesungguhnya buah-buahan itu ﴾ م َ ا ﴿ "dari apa" yang d i u s a h a k a n ﴾ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "oleh tangan mereka." Mereka sama sekali tidak mempunyai andil dalam menciptakan ataupun mem-buatnya. Itu semua sesungguhnya adalah ciptaan Allah Yang Ma-habijaksana dan Pemberi rizki yang terbaik. Dan juga, tidak dila-kukan oleh tangan mereka dalam bentuk memasaknya di atas api atau lainnya, melainkan Allah-lah yang mengadakan buah-buahan itu, yang tidak perlu dimasak atau diapakan saja, melainkan lang-sung diambil dari pohonnya lalu bisa dimakan saat itu juga. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" ke-pada yang telah melimpahkan berbagai nikmat ini dan mencurah-kan bagian dari kemurahan dan karuniaNya kepada mereka hingga permasalahan agama dan dunia mereka menjadi baik? Tidakkah yang telah menghidupkan tanah setelah kematiannya (kekeringan-nya) lalu menumbuhkan padanya berbagai tanaman dan pepo-honan, meletakkan padanya rasa lezat buah-buahan dan menge-luarkan benih-benih baru dari dahan-dahannya serta memancarkan dari tanah yang kering lagi mati beberapa sumber air, maka bu-kankah itu bukti Allah Kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?! Ya, sesungguhnya Dia Kuasa atas segala sesuatu. (36) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا ﴿ "Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya." Yakni, semua jenis makh-luk. ﴾ مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi," di mana Dia aneka-ragamkan berbagai jenis tumbuhan, yang sangat sulit untuk bisa dihitung. ﴾ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan dari diri mereka," Dia meragamkannya juga menjadi laki-laki dan perempuan, Dia beda-bedakan bentuk tubuh, perangai, dan sifat-sifat lahiriah dan batiniyah mereka, ﴾ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui," dari berbagai makhluk yang telah diciptakan dan alpa dari pengetahuan kita, dan juga yang belum diciptakan. Maka Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari sekutu, tandingan, penolong, pendukung atau istri, anak atau yang sama denganNya, serupa atau semisal denganNya dalam sifat-sifat kesempurnaanNya dan sifat-sifat keagunganNya, atau tidak mampu melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. (Mahasuci Allah dari semua kekurangan itu).

Yasin 36:36

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui." (Yasin: 33-36). (33) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan suatu tanda bagi mereka," atas (adanya) kebangkitan, kehidupan sesudah mati dan mengha-dap kepada Allah سبحانه وتعالى untuk menerima pembalasan atas amal-amal perbuatan, adalah ﴾ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ ﴿ "bumi yang mati" ini, di mana Allah menurunkan hujan kepadanya lalu menghidupkannya kembali sesudah sebelumnya mati, ﴾ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ ﴿ "dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka dari padanya mereka makan," dari seluruh jenis tanaman dan dari seluruh jenis tumbuh-tum-buhan yang dimakan oleh hewan-hewan ternak kalian. (34) ﴾ وَجَعَلۡنَا فِيهَا ﴿ "Dan Kami jadikan padanya," yakni, pada bumi (tanah) yang kering itu, ﴾ جَنَّٰتٖ ﴿ "kebun-kebun," artinya, kebun-kebun yang penuh dengan banyak pepohonan, terutama pohon kurma dan anggur yang keduanya merupakan pohon yang paling berharga, ﴾ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا ﴿ "dan Kami pancarkan padanya," maksudnya, pada bumi tersebut ﴾ مِنَ ٱلۡعُيُونِ ﴿ "beberapa mata air," lalu Kami jadikan ber-aneka pohon, pohon kurma dan pohon anggur di sana. (35) ﴾ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ ﴿ "Supaya mereka dapat makan dari buahnya," sebagai makanan pokok, buah-buahan, penyedap makanan, dan kelezatan, ﴾ و َ ﴿ "dan" sesungguhnya buah-buahan itu ﴾ م َ ا ﴿ "dari apa" yang d i u s a h a k a n ﴾ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "oleh tangan mereka." Mereka sama sekali tidak mempunyai andil dalam menciptakan ataupun mem-buatnya. Itu semua sesungguhnya adalah ciptaan Allah Yang Ma-habijaksana dan Pemberi rizki yang terbaik. Dan juga, tidak dila-kukan oleh tangan mereka dalam bentuk memasaknya di atas api atau lainnya, melainkan Allah-lah yang mengadakan buah-buahan itu, yang tidak perlu dimasak atau diapakan saja, melainkan lang-sung diambil dari pohonnya lalu bisa dimakan saat itu juga. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" ke-pada yang telah melimpahkan berbagai nikmat ini dan mencurah-kan bagian dari kemurahan dan karuniaNya kepada mereka hingga permasalahan agama dan dunia mereka menjadi baik? Tidakkah yang telah menghidupkan tanah setelah kematiannya (kekeringan-nya) lalu menumbuhkan padanya berbagai tanaman dan pepo-honan, meletakkan padanya rasa lezat buah-buahan dan menge-luarkan benih-benih baru dari dahan-dahannya serta memancarkan dari tanah yang kering lagi mati beberapa sumber air, maka bu-kankah itu bukti Allah Kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati?! Ya, sesungguhnya Dia Kuasa atas segala sesuatu. (36) ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا ﴿ "Mahasuci Allah Yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya." Yakni, semua jenis makh-luk. ﴾ مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "Baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi," di mana Dia aneka-ragamkan berbagai jenis tumbuhan, yang sangat sulit untuk bisa dihitung. ﴾ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "Dan dari diri mereka," Dia meragamkannya juga menjadi laki-laki dan perempuan, Dia beda-bedakan bentuk tubuh, perangai, dan sifat-sifat lahiriah dan batiniyah mereka, ﴾ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "maupun dari apa yang tidak mereka ketahui," dari berbagai makhluk yang telah diciptakan dan alpa dari pengetahuan kita, dan juga yang belum diciptakan. Maka Mahasuci Allah سبحانه وتعالى dari sekutu, tandingan, penolong, pendukung atau istri, anak atau yang sama denganNya, serupa atau semisal denganNya dalam sifat-sifat kesempurnaanNya dan sifat-sifat keagunganNya, atau tidak mampu melakukan sesuatu yang dikehendakiNya. (Mahasuci Allah dari semua kekurangan itu).

Yasin 36:37

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran, sehingga kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (Yasin: 37-40). (37) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan satu tanda bagi mereka" yang membuktikan terjadinya kehendak Allah, kesempurnaan KuasaNya dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati setelah kematian mereka, adalah ﴾ ٱلَّيۡلُ نَسۡلَخُ مِنۡهُ ٱلنَّهَارَ ﴿ "malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu." Artinya, Kami hapus cahaya besar yang telah meliputi bumi dan menggan-tikannya dengan kegelapan, dan menempatkan kegelapan itu pada tempat cahaya, ﴾ فَإِذَا هُم مُّظۡلِمُونَ ﴿ "maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan." (38) Dan demikian pula Kami menghilangkan kegelapan yang telah menutupi dan meliputi mereka, Kami terbitkan matahari lalu ia menerangi seluruh penjuru (bumi), dan manusia pun berte-baran untuk kepentingan hidup dan maslahat hidup mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ﴿ "Dan matahari ber-jalan di tempat peredarannya." Maksudnya, selalu berputar pada pusat orbitnya yang telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, ia tidak akan menyalahinya dan tidak pula menyimpang darinya, dan matahari pun tidak mempunyai kemampuan mengatur dirinya dan tidak pula bisa menolak Kuasa Allah. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan semua makhluk yang begitu besar ini dengan pengendalian yang paling sempurna dan aturan yang paling baik, ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," Yang dengan ilmu pengetahuanNya Dia menjadikan makhluk agung ini sebagai maslahat bagi hamba-hambaNya dan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (39) ﴾ وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ ﴿ "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran," yang ia tempati. Pada setiap malam ia me-nempati satu garis darinya, ﴾ حَتَّىٰ ﴿ "sehingga" ia menjadi kecil sekali dan kembalilah dia ﴾ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "sebagai bentuk tandan yang tua." Maksudnya, seperti tandan buah kurma yang karena ketuaannya ia menjadi kering, makin kecil dan melengkung. Kemudian, se-sudah itu bulan itu bertambah besar sedikit-demi sedikit hingga cahayanya sempurna dan sinarnya makin merata. (40) Masing-masing dari matahari, bulan, malam, dan siang telah ditetapkan oleh Allah pada ketetapan yang tidak akan dilam-pauinya, dan masing-masing mempunyai kekuatan dan waktu tertentu, yang apabila ia ada (muncul), maka yang lain menjadi tiada. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ ﴿ "Tidak-lah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan," yaitu yang di dalam kekuasaannya, yaitu malam. Maka tidak mungkin matahari ada di malam hari, ﴾ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ ﴿ "dan malam pun tidak dapat mendahului siang," lalu ia memasukinya sebelum kekuasaannya berakhir, ﴾ وَكُلّٞ ﴿ "dan masing-masing" dari matahari, bulan, dan bintang ﴾ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ﴿ "beredar pada garis edarnya." Maksudnya, mereka selalu bergerak bolak-balik terus menerus. Semua ini adalah bukti nyata dan argu-men yang luar biasa atas keagungan sang Pencipta dan keagungan sifat-sifatNya, terutama sifat Kuasa (qudrat), hikmah, dan ilmu pada tempat ini.

Yasin 36:38

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran, sehingga kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (Yasin: 37-40). (37) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan satu tanda bagi mereka" yang membuktikan terjadinya kehendak Allah, kesempurnaan KuasaNya dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati setelah kematian mereka, adalah ﴾ ٱلَّيۡلُ نَسۡلَخُ مِنۡهُ ٱلنَّهَارَ ﴿ "malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu." Artinya, Kami hapus cahaya besar yang telah meliputi bumi dan menggan-tikannya dengan kegelapan, dan menempatkan kegelapan itu pada tempat cahaya, ﴾ فَإِذَا هُم مُّظۡلِمُونَ ﴿ "maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan." (38) Dan demikian pula Kami menghilangkan kegelapan yang telah menutupi dan meliputi mereka, Kami terbitkan matahari lalu ia menerangi seluruh penjuru (bumi), dan manusia pun berte-baran untuk kepentingan hidup dan maslahat hidup mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ﴿ "Dan matahari ber-jalan di tempat peredarannya." Maksudnya, selalu berputar pada pusat orbitnya yang telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, ia tidak akan menyalahinya dan tidak pula menyimpang darinya, dan matahari pun tidak mempunyai kemampuan mengatur dirinya dan tidak pula bisa menolak Kuasa Allah. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan semua makhluk yang begitu besar ini dengan pengendalian yang paling sempurna dan aturan yang paling baik, ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," Yang dengan ilmu pengetahuanNya Dia menjadikan makhluk agung ini sebagai maslahat bagi hamba-hambaNya dan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (39) ﴾ وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ ﴿ "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran," yang ia tempati. Pada setiap malam ia me-nempati satu garis darinya, ﴾ حَتَّىٰ ﴿ "sehingga" ia menjadi kecil sekali dan kembalilah dia ﴾ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "sebagai bentuk tandan yang tua." Maksudnya, seperti tandan buah kurma yang karena ketuaannya ia menjadi kering, makin kecil dan melengkung. Kemudian, se-sudah itu bulan itu bertambah besar sedikit-demi sedikit hingga cahayanya sempurna dan sinarnya makin merata. (40) Masing-masing dari matahari, bulan, malam, dan siang telah ditetapkan oleh Allah pada ketetapan yang tidak akan dilam-pauinya, dan masing-masing mempunyai kekuatan dan waktu tertentu, yang apabila ia ada (muncul), maka yang lain menjadi tiada. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ ﴿ "Tidak-lah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan," yaitu yang di dalam kekuasaannya, yaitu malam. Maka tidak mungkin matahari ada di malam hari, ﴾ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ ﴿ "dan malam pun tidak dapat mendahului siang," lalu ia memasukinya sebelum kekuasaannya berakhir, ﴾ وَكُلّٞ ﴿ "dan masing-masing" dari matahari, bulan, dan bintang ﴾ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ﴿ "beredar pada garis edarnya." Maksudnya, mereka selalu bergerak bolak-balik terus menerus. Semua ini adalah bukti nyata dan argu-men yang luar biasa atas keagungan sang Pencipta dan keagungan sifat-sifatNya, terutama sifat Kuasa (qudrat), hikmah, dan ilmu pada tempat ini.

Yasin 36:39

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran, sehingga kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (Yasin: 37-40). (37) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan satu tanda bagi mereka" yang membuktikan terjadinya kehendak Allah, kesempurnaan KuasaNya dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati setelah kematian mereka, adalah ﴾ ٱلَّيۡلُ نَسۡلَخُ مِنۡهُ ٱلنَّهَارَ ﴿ "malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu." Artinya, Kami hapus cahaya besar yang telah meliputi bumi dan menggan-tikannya dengan kegelapan, dan menempatkan kegelapan itu pada tempat cahaya, ﴾ فَإِذَا هُم مُّظۡلِمُونَ ﴿ "maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan." (38) Dan demikian pula Kami menghilangkan kegelapan yang telah menutupi dan meliputi mereka, Kami terbitkan matahari lalu ia menerangi seluruh penjuru (bumi), dan manusia pun berte-baran untuk kepentingan hidup dan maslahat hidup mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ﴿ "Dan matahari ber-jalan di tempat peredarannya." Maksudnya, selalu berputar pada pusat orbitnya yang telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, ia tidak akan menyalahinya dan tidak pula menyimpang darinya, dan matahari pun tidak mempunyai kemampuan mengatur dirinya dan tidak pula bisa menolak Kuasa Allah. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan semua makhluk yang begitu besar ini dengan pengendalian yang paling sempurna dan aturan yang paling baik, ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," Yang dengan ilmu pengetahuanNya Dia menjadikan makhluk agung ini sebagai maslahat bagi hamba-hambaNya dan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (39) ﴾ وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ ﴿ "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran," yang ia tempati. Pada setiap malam ia me-nempati satu garis darinya, ﴾ حَتَّىٰ ﴿ "sehingga" ia menjadi kecil sekali dan kembalilah dia ﴾ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "sebagai bentuk tandan yang tua." Maksudnya, seperti tandan buah kurma yang karena ketuaannya ia menjadi kering, makin kecil dan melengkung. Kemudian, se-sudah itu bulan itu bertambah besar sedikit-demi sedikit hingga cahayanya sempurna dan sinarnya makin merata. (40) Masing-masing dari matahari, bulan, malam, dan siang telah ditetapkan oleh Allah pada ketetapan yang tidak akan dilam-pauinya, dan masing-masing mempunyai kekuatan dan waktu tertentu, yang apabila ia ada (muncul), maka yang lain menjadi tiada. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ ﴿ "Tidak-lah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan," yaitu yang di dalam kekuasaannya, yaitu malam. Maka tidak mungkin matahari ada di malam hari, ﴾ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ ﴿ "dan malam pun tidak dapat mendahului siang," lalu ia memasukinya sebelum kekuasaannya berakhir, ﴾ وَكُلّٞ ﴿ "dan masing-masing" dari matahari, bulan, dan bintang ﴾ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ﴿ "beredar pada garis edarnya." Maksudnya, mereka selalu bergerak bolak-balik terus menerus. Semua ini adalah bukti nyata dan argu-men yang luar biasa atas keagungan sang Pencipta dan keagungan sifat-sifatNya, terutama sifat Kuasa (qudrat), hikmah, dan ilmu pada tempat ini.

Yasin 36:40

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengeta-hui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran, sehingga kembalilah ia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya." (Yasin: 37-40). (37) Maksudnya, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمُ ﴿ "dan satu tanda bagi mereka" yang membuktikan terjadinya kehendak Allah, kesempurnaan KuasaNya dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati setelah kematian mereka, adalah ﴾ ٱلَّيۡلُ نَسۡلَخُ مِنۡهُ ٱلنَّهَارَ ﴿ "malam; di mana Kami tanggalkan siang dari malam itu." Artinya, Kami hapus cahaya besar yang telah meliputi bumi dan menggan-tikannya dengan kegelapan, dan menempatkan kegelapan itu pada tempat cahaya, ﴾ فَإِذَا هُم مُّظۡلِمُونَ ﴿ "maka dengan serta merta mereka dalam kegelapan." (38) Dan demikian pula Kami menghilangkan kegelapan yang telah menutupi dan meliputi mereka, Kami terbitkan matahari lalu ia menerangi seluruh penjuru (bumi), dan manusia pun berte-baran untuk kepentingan hidup dan maslahat hidup mereka. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ تَجۡرِي لِمُسۡتَقَرّٖ لَّهَاۚ ﴿ "Dan matahari ber-jalan di tempat peredarannya." Maksudnya, selalu berputar pada pusat orbitnya yang telah ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى, ia tidak akan menyalahinya dan tidak pula menyimpang darinya, dan matahari pun tidak mempunyai kemampuan mengatur dirinya dan tidak pula bisa menolak Kuasa Allah. ﴾ ذَٰلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya, Dia mengendalikan semua makhluk yang begitu besar ini dengan pengendalian yang paling sempurna dan aturan yang paling baik, ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Mengetahui," Yang dengan ilmu pengetahuanNya Dia menjadikan makhluk agung ini sebagai maslahat bagi hamba-hambaNya dan manfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (39) ﴾ وَٱلۡقَمَرَ قَدَّرۡنَٰهُ مَنَازِلَ ﴿ "Dan telah Kami tetapkan bagi bulan garis-garis peredaran," yang ia tempati. Pada setiap malam ia me-nempati satu garis darinya, ﴾ حَتَّىٰ ﴿ "sehingga" ia menjadi kecil sekali dan kembalilah dia ﴾ كَٱلۡعُرۡجُونِ ٱلۡقَدِيمِ ﴿ "sebagai bentuk tandan yang tua." Maksudnya, seperti tandan buah kurma yang karena ketuaannya ia menjadi kering, makin kecil dan melengkung. Kemudian, se-sudah itu bulan itu bertambah besar sedikit-demi sedikit hingga cahayanya sempurna dan sinarnya makin merata. (40) Masing-masing dari matahari, bulan, malam, dan siang telah ditetapkan oleh Allah pada ketetapan yang tidak akan dilam-pauinya, dan masing-masing mempunyai kekuatan dan waktu tertentu, yang apabila ia ada (muncul), maka yang lain menjadi tiada. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ ﴿ "Tidak-lah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan," yaitu yang di dalam kekuasaannya, yaitu malam. Maka tidak mungkin matahari ada di malam hari, ﴾ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ ﴿ "dan malam pun tidak dapat mendahului siang," lalu ia memasukinya sebelum kekuasaannya berakhir, ﴾ وَكُلّٞ ﴿ "dan masing-masing" dari matahari, bulan, dan bintang ﴾ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ﴿ "beredar pada garis edarnya." Maksudnya, mereka selalu bergerak bolak-balik terus menerus. Semua ini adalah bukti nyata dan argu-men yang luar biasa atas keagungan sang Pencipta dan keagungan sifat-sifatNya, terutama sifat Kuasa (qudrat), hikmah, dan ilmu pada tempat ini.

Yasin 36:41

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:42

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:43

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:44

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:45

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:46

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:47

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:48

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:49

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:50

"Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka dise-lamatkan. Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang ada di hadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat', Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu', maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan? Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.' Dan mereka berkata, 'Bilakah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?' Mereka tidak menunggu melain-kan satu teriakan saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarga-nya." (Yasin: 41-50). (41) Artinya, dalil untuk mereka dan argumen yang mem-buktikan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak disembah adalah karena Dia-lah yang mencurahkan segala nikmat, dan Yang men-jauhkan bencana, yang di antara nikmatNya adalah, ﴾ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami angkut keturunan mereka." Banyak ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah, kakek moyang mereka.[70] (42) ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka," maksud-nya, untuk orang-orang yang ada sesudah mereka, ﴾ مِّن مِّثۡلِهِۦ ﴿ "dari yang semisal dengannya," yakni semisal bahtera itu, dalam arti satu jenis dengannya ﴾ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "apa yang mereka kendarai." Di sini Allah mengingatkan akan nikmatNya kepada nenek-nenek moyang, yaitu mereka dimuat di dalam kapal laut. Hal ini adalah karena nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, juga merupakan nikmat kepada anak keturunannya kemudian. Masalah ini merupakan permasalahan yang paling rumit bagi saya di dalam ilmu tafsir, karena kebanyakan hal yang dijelaskan oleh para ahli tafsir, yaitu bahwa yang dimaksud "keturunan" adalah bapak-bapak moyang, dan ini merupakan hal yang tidak biasa di dalam al-Qur`an, yaitu mengartikan dzurriyyah (keturunan) dengan bapak-bapak moyang. Sungguh ini mengandung ketidak-jelasan dan mengeluarkan kata (kalimat) dari makna asalnya, hal yang sangat dijauhi oleh Firman Allah Rabbul 'Alamin dan kehen-dakNya untuk memberikan penjelasan dan keterangan kepada hamba-hambaNya. Ada makna alternatif yang lebih baik dari makna di atas, yaitu bahwa yang dimaksud dengan "keturunan" adalah "jenis," dan bahwa mereka adalah diri mereka sendiri, karena mereka berasal dari anak cucu Nabi Adam. Akan tetapi arti sema-cam ini tidak dibenarkan oleh FirmanNya, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai." Jika artinya, dan Kami ciptakan dari yang semisal dengan bahtera itu, yakni, untuk mereka yang diajak bicara (mukhathabin) apa yang akan mereka kendarai dari jenis-jenis bahtera. Jika demi-kian, maka ini adalah pengulangan terhadap makna ayat yang tidak dikehendaki oleh fashahah (kefasihan) al-Qur`an. Dan jika arti dari, ﴾ وَخَلَقۡنَا لَهُم مِّن مِّثۡلِهِۦ مَا يَرۡكَبُونَ ﴿ "Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal apa yang akan mereka kendarai," adalah unta yang merupakan bahtera darat, maka maknanya menjadi lurus dan jelas; hanya saja masih ada hal lain, yaitu keberadaan ungkapan ini mengandung kerancuan (tasywisy). Sebab, kalau itu yang dimaksud, tentu Allah berfirman, وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَاهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِ. وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُوْنَ. "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka dari yang semisalnya apa yang akan mereka kendarai." Kalau pada yang pertama disebutkan, ﴾ حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ ﴿ "Kami ang-kut keturunan mereka" sedangkan ini, "Kami angkut mereka," maka maknanya tidak jelas kecuali dikatakan: dhamir (kata ganti) "hum" kembali kepada "dzurriyyah." Dan hanya Allah Yang lebih menge-tahui akan hakikat yang sebenarnya. Setelah saya sampai pada pembahasan ini dalam penulisan tafsir ini, maka tampak bagi saya suatu makna yang tidak jauh dari maksud Allah سبحانه وتعالى, yaitu, bahwa siapa saja yang mengetahui keagungan Kitabullah dan uraiannya yang sempurna dari segala sisi tentang perkara-perkara yang sekarang, yang telah lalu dan yang akan datang, dia (menjadi tahu) bahwa sesungguhnya Allah menyebutkan dari setiap maknanya itu yang paling tinggi dan paling sempurna dari keadaannya, sedangkan bahtera merupakan salah satu tanda dan salah satu nikmatNya kepada hamba-hamba-Nya semenjak Dia mengaruniakannya kepada mereka, dengan mempelajarinya hingga Hari Kiamat nanti, dan ia terus ada pada setiap zaman hingga pada zaman orang-orang yang dihadapkan kepada al-Qur`an. Setelah Allah berbicara kepada mereka dengan al-Qur`an dan menjelaskan perihal bahtera, dan Allah mengetahui bahwa akan ada tanda-tanda (cikal-bakal) bahtera yang lebih besar pada waktu lain selain waktu mereka dan pada zaman lain selain zaman mereka saat Dia mengajarkan kepada mereka cara pembuatan bahtera laut, baik yang menggunakan layar dan mesin, dan bahtera angkasa yang terbang seperti burung di angkasa dan yang serupa dengan-nya dan berbagai alat-alat transportasi darat, yang merupakan tanda kekuasaan yang besar padanya yang belum pernah ada kecuali pada "keturunan," maka Allah mengingatkan di dalam al-Qur`an ini akan salah satu macam yang paling tinggi dari macam-macam tanda-tandanya, seraya berfirman, ﴾ وَءَايَةٞ لَّهُمۡ أَنَّا حَمَلۡنَا ذُرِّيَّتَهُمۡ فِي ٱلۡفُلۡكِ ٱلۡمَشۡحُونِ ﴿ "Dan suatu tanda bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan." Artinya, yang penuh de-ngan penumpang dan barang bawaan. Lalu Allah سبحانه وتعالى mengangkut mereka dan menyelamatkan mereka dari musibah karam (teng-gelam) dengan cara-cara yang telah diajarkan oleh Allah kepada mereka. (43) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى mengingatkan mereka akan nik-matNya kepada mereka di mana Allah menyelamatkan mereka dari tenggelam (karam di lautan) padahal Dia kuasa menenggelamkan-nya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ وَإِن نَّشَأۡ نُغۡرِقۡهُمۡ فَلَا صَرِيخَ لَهُمۡ ﴿ "Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong." Artinya, tidak seorang pun yang meneriakkan-nya untuk menolong mereka dari kesengsaraan atau melepaskan-nya dari kesulitan, ﴾ وَلَا هُمۡ يُنقَذُونَ ﴿ "dan tidak pula mereka diselamatkan," dari penderitaan yang sedang mereka derita tersebut. (44) ﴾ إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّنَّا وَمَتَٰعًا إِلَىٰ حِينٖ ﴿ "Tetapi karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika," yang di mana Kami tidak menenggelamkan mereka karena belas-kasih dan untuk memberikan kenikmatan kepada mereka hingga waktu yang telah ditentukan, dengan harapan mereka kem-bali atau mencari apa-apa yang telah mereka abaikan. (45) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّقُواْ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيكُمۡ وَمَا خَلۡفَكُمۡ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu dan siksa yang akan datang'," maksudnya, seperti kondisi di alam barzakh, Hari Kiamat dan berbagai hukuman di dunia, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "supaya kamu mendapat rahmat," tapi mereka tetap berpaling darinya, me-reka sama sekali tidak peduli, sekalipun berbagai tanda kekuasaan Allah telah datang kepada mereka. (46) Maka dari itu Dia berfirman,﴾ وَمَا تَأۡتِيهِم مِّنۡ ءَايَةٖ مِّنۡ ءَايَٰتِ رَبِّهِمۡ إِلَّا كَانُواْ عَنۡهَا مُعۡرِضِينَ ﴿ "Dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda (kekuasaan) Rabb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." Di dalam penyandaran tanda-tanda (ayat-ayat) kepada Allah terdapat dalil yang menunjukkan kesempurnaan dan keje-lasan tanda-tanda tersebut, sebab tidak ada yang lebih jelas dari tanda-tanda (kekuasaan) Allah dan tidak ada yang lebih hebat darinya. Dan sesungguhnya di antara bentuk pendidikan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah Dia menyampaikan kepada mereka tanda-tanda yang dapat mereka jadikan sebagai petunjuk untuk mendapatkan apa-apa yang berguna bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka. (47) ﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada me-reka, 'Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu'," artinya, dari sebagian rizki yang telah dikaruniakan Allah kepada kalian; yang kalau saja Dia berkehendak, tentu Dia mengambilnya dari kalian, ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman," seraya menentang kebe-naran sambil berargumen dengan kehendak Allah, ﴾ أَنُطۡعِمُ مَن لَّوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ أَطۡعَمَهُۥٓ إِنۡ أَنتُمۡ ﴿ "Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentulah Dia akan memberinya makan? Kamu tidak lain" wahai orang-orang yang beriman melainkan benar-benar berada ﴾ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "dalam kesesatan yang nyata," yang mana kalian menyuruh kami melakukan hal itu! Ini membuktikan kebodohan besar mereka atau sikap pura-pura bodoh mereka yang sangat kotor, karena sesungguhnya ke-hendak Allah itu sama sekali bukan hujjah (argumen, alasan) bagi pelaku maksiat. Sebab, sekalipun apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya tidak akan terjadi, namun Allah telah memberikan kemampuan kepada manusia dan telah memberi mereka kekuatan yang dengannya mereka mampu melakukan perintah dan menjauhi larangan. Apabila mereka se-ngaja meninggalkan apa-apa yang diperintahkan kepada mereka, maka itu berarti kesengajaan dari mereka, bukan paksaan terhadap mereka. (48-49) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," dengan nada men-dustakan dan minta agar disegerakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Bila-kah janji ini jika kamu adalah orang-orang yang benar?" Allah سبحانه وتعالى menga-takan, Jangan kalian menganggap tidak mungkin, sebab ia sudah dekat, ﴾ مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja," yaitu tiupan sangkakala ﴾ تَأۡخُذُهُمۡ ﴿ "yang akan meng-ambil mereka." Maksudnya, menimpa mereka, ﴾ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ ﴿"ketika mereka sedang bertengkar," yakni, mereka sedang dalam keadaan lalai darinya, sama sekali tidak terlintas dalam hati mereka saat mereka bertengkar dan berseteru di antara sesama mereka, yang biasanya tidak ada kecuali pada waktu lalai. (50) Apabila Aku membinasakan mereka pada saat mereka lalai, maka mereka tidak akan ditangguhkan dan tidak akan di-tunda, ﴾ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةٗ ﴿ "lalu mereka tiada kuasa membuat suatu wasiat pun" sedikit ataupun banyak, ﴾ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya."

Yasin 36:51

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya kepada Rabb mereka. Mereka ber-kata, 'Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?' Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (Yasin: 51-54). (51) Tiupan sangkakala yang pertama adalah tiupan sen-takan (al-Faza') dan kematian. Sedangkan yang (disebutkan) ini adalah tiupan kebangkitan dan hidup kembali. Apabila sangkakala telah ditiup (untuk kedua kalinya), maka mereka pun keluar ﴾ مِّنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ ﴿ "dari ajdats," maksudnya, dari kubur-kubur ﴾ يَنسِلُونَ ﴿ "mereka keluar dengan segera" menuju Rabbnya. Maksudnya, mereka segera untuk hadir menghadapNya, mereka tidak mampu untuk berlam-bat-lambat atau tinggal. (52) Dan dalam kondisi itu orang-orang yang mendustakan bersedih dan menampakkan keluhan dan penyesalan, dan mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ ﴿ "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?" Maksudnya, dari tidur kami dalam kubur. Hal ini karena disebutkan di dalam beberapa hadits bahwa ahli kubur itu mengalami tidur pada saat-saat sebe-lum peniupan sangkakala.[71] Lalu mereka dijawab dan dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pe-ngasih dan benarlah para rasul itu." Maksudnya, inilah yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian dan dijanjikan oleh para rasul kepada kalian. Di sinilah tampak kebenaran mereka dengan dilihat oleh pandangan mata. Anda jangan mengira bahwa penyertaan kata ar-Rahman pada ayat ini hanya sekedar untuk informasi tentang janjiNya. Hal ini sesungguhnya adalah untuk menginformasikan bahwa pada hari yang sangat mengerikan itu mereka akan melihat sebagian dari rahmat (kasih sayang)Nya yang belum pernah terlintas dalam dugaan dan tidak pernah disangka-sangka oleh siapa pun, seperti difirmankanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan saat itu hanya milik Allah Yang Maha Pengasih."(Al-Furqan: 26). ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Semua manusia tunduk kepada Allah Yang Maha Pengasih." (Thaha: 108); dan ayat-ayat lainnya yang di sana disebutkan kata "ar-Rahman" dalam masalah ini. (53) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak adalah" kebangkitan dari kubur itu ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "selain sekali teriakan saja" yang ditiupkan oleh ma-laikat Israfil pada sangkakala, maka semua jasad manusia hidup kembali, ﴾ فَإِذَا هُمۡ جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semua dikum-pulkan kepada Kami," seluruh manusia generasi pertama hingga yang terakhir, dari bangsa jin dan manusia untuk perhitungan amal mereka. (54) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗا ﴿ "Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun" tidak dikurangi sedikitpun dari amal kebajikannya dan tidak pula ditambah amal-amal buruknya, ﴾ وَلَا تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" dari kebaikan dan kejahatan. Barangsiapa yang menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa saja yang menjumpai lain dari itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.

Yasin 36:52

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya kepada Rabb mereka. Mereka ber-kata, 'Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?' Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (Yasin: 51-54). (51) Tiupan sangkakala yang pertama adalah tiupan sen-takan (al-Faza') dan kematian. Sedangkan yang (disebutkan) ini adalah tiupan kebangkitan dan hidup kembali. Apabila sangkakala telah ditiup (untuk kedua kalinya), maka mereka pun keluar ﴾ مِّنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ ﴿ "dari ajdats," maksudnya, dari kubur-kubur ﴾ يَنسِلُونَ ﴿ "mereka keluar dengan segera" menuju Rabbnya. Maksudnya, mereka segera untuk hadir menghadapNya, mereka tidak mampu untuk berlam-bat-lambat atau tinggal. (52) Dan dalam kondisi itu orang-orang yang mendustakan bersedih dan menampakkan keluhan dan penyesalan, dan mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ ﴿ "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?" Maksudnya, dari tidur kami dalam kubur. Hal ini karena disebutkan di dalam beberapa hadits bahwa ahli kubur itu mengalami tidur pada saat-saat sebe-lum peniupan sangkakala.[71] Lalu mereka dijawab dan dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pe-ngasih dan benarlah para rasul itu." Maksudnya, inilah yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian dan dijanjikan oleh para rasul kepada kalian. Di sinilah tampak kebenaran mereka dengan dilihat oleh pandangan mata. Anda jangan mengira bahwa penyertaan kata ar-Rahman pada ayat ini hanya sekedar untuk informasi tentang janjiNya. Hal ini sesungguhnya adalah untuk menginformasikan bahwa pada hari yang sangat mengerikan itu mereka akan melihat sebagian dari rahmat (kasih sayang)Nya yang belum pernah terlintas dalam dugaan dan tidak pernah disangka-sangka oleh siapa pun, seperti difirmankanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan saat itu hanya milik Allah Yang Maha Pengasih."(Al-Furqan: 26). ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Semua manusia tunduk kepada Allah Yang Maha Pengasih." (Thaha: 108); dan ayat-ayat lainnya yang di sana disebutkan kata "ar-Rahman" dalam masalah ini. (53) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak adalah" kebangkitan dari kubur itu ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "selain sekali teriakan saja" yang ditiupkan oleh ma-laikat Israfil pada sangkakala, maka semua jasad manusia hidup kembali, ﴾ فَإِذَا هُمۡ جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semua dikum-pulkan kepada Kami," seluruh manusia generasi pertama hingga yang terakhir, dari bangsa jin dan manusia untuk perhitungan amal mereka. (54) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗا ﴿ "Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun" tidak dikurangi sedikitpun dari amal kebajikannya dan tidak pula ditambah amal-amal buruknya, ﴾ وَلَا تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" dari kebaikan dan kejahatan. Barangsiapa yang menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa saja yang menjumpai lain dari itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.

Yasin 36:53

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya kepada Rabb mereka. Mereka ber-kata, 'Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?' Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (Yasin: 51-54). (51) Tiupan sangkakala yang pertama adalah tiupan sen-takan (al-Faza') dan kematian. Sedangkan yang (disebutkan) ini adalah tiupan kebangkitan dan hidup kembali. Apabila sangkakala telah ditiup (untuk kedua kalinya), maka mereka pun keluar ﴾ مِّنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ ﴿ "dari ajdats," maksudnya, dari kubur-kubur ﴾ يَنسِلُونَ ﴿ "mereka keluar dengan segera" menuju Rabbnya. Maksudnya, mereka segera untuk hadir menghadapNya, mereka tidak mampu untuk berlam-bat-lambat atau tinggal. (52) Dan dalam kondisi itu orang-orang yang mendustakan bersedih dan menampakkan keluhan dan penyesalan, dan mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ ﴿ "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?" Maksudnya, dari tidur kami dalam kubur. Hal ini karena disebutkan di dalam beberapa hadits bahwa ahli kubur itu mengalami tidur pada saat-saat sebe-lum peniupan sangkakala.[71] Lalu mereka dijawab dan dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pe-ngasih dan benarlah para rasul itu." Maksudnya, inilah yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian dan dijanjikan oleh para rasul kepada kalian. Di sinilah tampak kebenaran mereka dengan dilihat oleh pandangan mata. Anda jangan mengira bahwa penyertaan kata ar-Rahman pada ayat ini hanya sekedar untuk informasi tentang janjiNya. Hal ini sesungguhnya adalah untuk menginformasikan bahwa pada hari yang sangat mengerikan itu mereka akan melihat sebagian dari rahmat (kasih sayang)Nya yang belum pernah terlintas dalam dugaan dan tidak pernah disangka-sangka oleh siapa pun, seperti difirmankanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan saat itu hanya milik Allah Yang Maha Pengasih."(Al-Furqan: 26). ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Semua manusia tunduk kepada Allah Yang Maha Pengasih." (Thaha: 108); dan ayat-ayat lainnya yang di sana disebutkan kata "ar-Rahman" dalam masalah ini. (53) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak adalah" kebangkitan dari kubur itu ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "selain sekali teriakan saja" yang ditiupkan oleh ma-laikat Israfil pada sangkakala, maka semua jasad manusia hidup kembali, ﴾ فَإِذَا هُمۡ جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semua dikum-pulkan kepada Kami," seluruh manusia generasi pertama hingga yang terakhir, dari bangsa jin dan manusia untuk perhitungan amal mereka. (54) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗا ﴿ "Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun" tidak dikurangi sedikitpun dari amal kebajikannya dan tidak pula ditambah amal-amal buruknya, ﴾ وَلَا تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" dari kebaikan dan kejahatan. Barangsiapa yang menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa saja yang menjumpai lain dari itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.

Yasin 36:54

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya kepada Rabb mereka. Mereka ber-kata, 'Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?' Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pengasih dan benarlah para rasul. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan." (Yasin: 51-54). (51) Tiupan sangkakala yang pertama adalah tiupan sen-takan (al-Faza') dan kematian. Sedangkan yang (disebutkan) ini adalah tiupan kebangkitan dan hidup kembali. Apabila sangkakala telah ditiup (untuk kedua kalinya), maka mereka pun keluar ﴾ مِّنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ ﴿ "dari ajdats," maksudnya, dari kubur-kubur ﴾ يَنسِلُونَ ﴿ "mereka keluar dengan segera" menuju Rabbnya. Maksudnya, mereka segera untuk hadir menghadapNya, mereka tidak mampu untuk berlam-bat-lambat atau tinggal. (52) Dan dalam kondisi itu orang-orang yang mendustakan bersedih dan menampakkan keluhan dan penyesalan, dan mereka berkata, ﴾ يَٰوَيۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ ﴿ "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?" Maksudnya, dari tidur kami dalam kubur. Hal ini karena disebutkan di dalam beberapa hadits bahwa ahli kubur itu mengalami tidur pada saat-saat sebe-lum peniupan sangkakala.[71] Lalu mereka dijawab dan dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ﴿ "Inilah yang dijanjikan Allah Yang Maha Pe-ngasih dan benarlah para rasul itu." Maksudnya, inilah yang dijanjikan oleh Allah kepada kalian dan dijanjikan oleh para rasul kepada kalian. Di sinilah tampak kebenaran mereka dengan dilihat oleh pandangan mata. Anda jangan mengira bahwa penyertaan kata ar-Rahman pada ayat ini hanya sekedar untuk informasi tentang janjiNya. Hal ini sesungguhnya adalah untuk menginformasikan bahwa pada hari yang sangat mengerikan itu mereka akan melihat sebagian dari rahmat (kasih sayang)Nya yang belum pernah terlintas dalam dugaan dan tidak pernah disangka-sangka oleh siapa pun, seperti difirmankanNya, ﴾ ٱلۡمُلۡكُ يَوۡمَئِذٍ ٱلۡحَقُّ لِلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Kerajaan saat itu hanya milik Allah Yang Maha Pengasih."(Al-Furqan: 26). ﴾ وَخَشَعَتِ ٱلۡأَصۡوَاتُ لِلرَّحۡمَٰنِ ﴿ "Semua manusia tunduk kepada Allah Yang Maha Pengasih." (Thaha: 108); dan ayat-ayat lainnya yang di sana disebutkan kata "ar-Rahman" dalam masalah ini. (53) ﴾ إِن كَانَتۡ ﴿ "Tidak adalah" kebangkitan dari kubur itu ﴾ إِلَّا صَيۡحَةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "selain sekali teriakan saja" yang ditiupkan oleh ma-laikat Israfil pada sangkakala, maka semua jasad manusia hidup kembali, ﴾ فَإِذَا هُمۡ جَمِيعٞ لَّدَيۡنَا مُحۡضَرُونَ ﴿ "maka tiba-tiba mereka semua dikum-pulkan kepada Kami," seluruh manusia generasi pertama hingga yang terakhir, dari bangsa jin dan manusia untuk perhitungan amal mereka. (54) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗا ﴿ "Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun" tidak dikurangi sedikitpun dari amal kebajikannya dan tidak pula ditambah amal-amal buruknya, ﴾ وَلَا تُجۡزَوۡنَ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan" dari kebaikan dan kejahatan. Barangsiapa yang menemukan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah, dan siapa saja yang menjumpai lain dari itu, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali terhadap dirinya sendiri.

Yasin 36:55

"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-se-nang dalam kesibukan. Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang me-reka minta. (Kepada mereka dikatakan), 'Salam' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (Yasin: 55-58). (55-56) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa setiap orang tidak akan dibalas kecuali menurut apa yang dikerjakannya, Allah lalu menjelaskan balasan kedua golongan itu. Allah mulai dengan menjelaskan balasan untuk para penghuni surga dan Dia menga-barkan bahwa mereka pada hari itu ﴾ فِي شُغُلٖ فَٰكِهُونَ ﴿ "bersenang-senang dalam kesibukan." Maksudnya, berada dalam kesibukan yang me-nyenangkan jiwa dan membuatnya merasakan kelezatan akan segala apa yang disuka oleh nafsunya, sedap dipandang mata dan didamba-dambakan oleh orang-orang yang mendambakannya. Di antara kesenangan itu adalah bertebarannya gadis-gadis cantik se-bagaimana difirmankaNnya ﴾ هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ ﴿ "Mereka dan istri-istri mereka" dari bidadari-bidadari yang memadukan semua unsur keelokan pada wajah, tubuh, dan akhlak, ﴾ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "berada dalam tem-pat yang teduh, di atas dipan-dipan," yakni, dipan-dipan yang dihiasi dengan kain-kain bercorak sangat indah dan menarik, ﴾ مُتَّكِـُٔونَ ﴿ "bertelekan," di atasnya, yang menunjukkan puncak kesenangan, kedamaian dan kelezatan. (57) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا فَٰكِهَةٞ ﴿ "Di dalamnya mereka memperoleh buah-buahan" yang sangat banyak dari berbagai jenis buah-buahan yang sangat lezat, seperti anggur, tin, delima, dan lain-lain ﴾ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh apa yang mereka minta" apa yang mereka cari. Kapan saja mereka mencari dan mendambakannya, maka mereka pasti mendapatkannya. (58) Dan untuk mereka juga ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salam" yang diperoleh, ﴾ مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ ﴿ "dari Rabb Yang Maha Penyayang," ini menunjukkan adanya percakapan Allah سبحانه وتعالى dengan para penghuni surga dan ucapan selamat Allah kepada mereka. Lalu dikukuhkannya lagi dengan FirmanNya, ﴾ قَوۡلٗا ﴿ "Sebagai ucapan selamat." Apabila Allah yang Maha Pengasih itu memberikan salam kepada mereka, maka mereka memperoleh keselamatan yang sempurna dari segala sisi-nya, dan mereka juga memperoleh penghormatan yang tidak ada bentuk penghormatan yang lebih tinggi darinya dan tidak ada pula kenikmatan yang setara dengannya. Lalu bagaimana menurut Anda dengan ucapan salam penghormatan dari Maharaja bagi se-gala raja, Rabb Yang Mahaagung, lagi Maha Penyantun dan Maha Penyayang bagi para penghuni negeri karamahNya, yaitu orang-orang yang telah mendapatkan ridha dariNya. Maka Dia tidak akan pernah memurkai mereka untuk selama-lamanya. Kalau sekiranya bukan karena Allah telah menakdirkan mereka tidak akan mati atau kaki mereka berpindah dari tempat-tempatnya karena kegem-biraan, kesenangan, dan kebahagiaan, tentu hal itu pasti terjadi. Maka kami berharap kepada Rabb, Tuhan kami agar kiranya tidak menghalangi kami untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut dan menyenangkan kami dengan melihat kepada wajahNya yang mulia.

Yasin 36:56

"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-se-nang dalam kesibukan. Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang me-reka minta. (Kepada mereka dikatakan), 'Salam' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (Yasin: 55-58). (55-56) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa setiap orang tidak akan dibalas kecuali menurut apa yang dikerjakannya, Allah lalu menjelaskan balasan kedua golongan itu. Allah mulai dengan menjelaskan balasan untuk para penghuni surga dan Dia menga-barkan bahwa mereka pada hari itu ﴾ فِي شُغُلٖ فَٰكِهُونَ ﴿ "bersenang-senang dalam kesibukan." Maksudnya, berada dalam kesibukan yang me-nyenangkan jiwa dan membuatnya merasakan kelezatan akan segala apa yang disuka oleh nafsunya, sedap dipandang mata dan didamba-dambakan oleh orang-orang yang mendambakannya. Di antara kesenangan itu adalah bertebarannya gadis-gadis cantik se-bagaimana difirmankaNnya ﴾ هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ ﴿ "Mereka dan istri-istri mereka" dari bidadari-bidadari yang memadukan semua unsur keelokan pada wajah, tubuh, dan akhlak, ﴾ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "berada dalam tem-pat yang teduh, di atas dipan-dipan," yakni, dipan-dipan yang dihiasi dengan kain-kain bercorak sangat indah dan menarik, ﴾ مُتَّكِـُٔونَ ﴿ "bertelekan," di atasnya, yang menunjukkan puncak kesenangan, kedamaian dan kelezatan. (57) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا فَٰكِهَةٞ ﴿ "Di dalamnya mereka memperoleh buah-buahan" yang sangat banyak dari berbagai jenis buah-buahan yang sangat lezat, seperti anggur, tin, delima, dan lain-lain ﴾ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh apa yang mereka minta" apa yang mereka cari. Kapan saja mereka mencari dan mendambakannya, maka mereka pasti mendapatkannya. (58) Dan untuk mereka juga ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salam" yang diperoleh, ﴾ مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ ﴿ "dari Rabb Yang Maha Penyayang," ini menunjukkan adanya percakapan Allah سبحانه وتعالى dengan para penghuni surga dan ucapan selamat Allah kepada mereka. Lalu dikukuhkannya lagi dengan FirmanNya, ﴾ قَوۡلٗا ﴿ "Sebagai ucapan selamat." Apabila Allah yang Maha Pengasih itu memberikan salam kepada mereka, maka mereka memperoleh keselamatan yang sempurna dari segala sisi-nya, dan mereka juga memperoleh penghormatan yang tidak ada bentuk penghormatan yang lebih tinggi darinya dan tidak ada pula kenikmatan yang setara dengannya. Lalu bagaimana menurut Anda dengan ucapan salam penghormatan dari Maharaja bagi se-gala raja, Rabb Yang Mahaagung, lagi Maha Penyantun dan Maha Penyayang bagi para penghuni negeri karamahNya, yaitu orang-orang yang telah mendapatkan ridha dariNya. Maka Dia tidak akan pernah memurkai mereka untuk selama-lamanya. Kalau sekiranya bukan karena Allah telah menakdirkan mereka tidak akan mati atau kaki mereka berpindah dari tempat-tempatnya karena kegem-biraan, kesenangan, dan kebahagiaan, tentu hal itu pasti terjadi. Maka kami berharap kepada Rabb, Tuhan kami agar kiranya tidak menghalangi kami untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut dan menyenangkan kami dengan melihat kepada wajahNya yang mulia.

Yasin 36:57

"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-se-nang dalam kesibukan. Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang me-reka minta. (Kepada mereka dikatakan), 'Salam' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (Yasin: 55-58). (55-56) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa setiap orang tidak akan dibalas kecuali menurut apa yang dikerjakannya, Allah lalu menjelaskan balasan kedua golongan itu. Allah mulai dengan menjelaskan balasan untuk para penghuni surga dan Dia menga-barkan bahwa mereka pada hari itu ﴾ فِي شُغُلٖ فَٰكِهُونَ ﴿ "bersenang-senang dalam kesibukan." Maksudnya, berada dalam kesibukan yang me-nyenangkan jiwa dan membuatnya merasakan kelezatan akan segala apa yang disuka oleh nafsunya, sedap dipandang mata dan didamba-dambakan oleh orang-orang yang mendambakannya. Di antara kesenangan itu adalah bertebarannya gadis-gadis cantik se-bagaimana difirmankaNnya ﴾ هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ ﴿ "Mereka dan istri-istri mereka" dari bidadari-bidadari yang memadukan semua unsur keelokan pada wajah, tubuh, dan akhlak, ﴾ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "berada dalam tem-pat yang teduh, di atas dipan-dipan," yakni, dipan-dipan yang dihiasi dengan kain-kain bercorak sangat indah dan menarik, ﴾ مُتَّكِـُٔونَ ﴿ "bertelekan," di atasnya, yang menunjukkan puncak kesenangan, kedamaian dan kelezatan. (57) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا فَٰكِهَةٞ ﴿ "Di dalamnya mereka memperoleh buah-buahan" yang sangat banyak dari berbagai jenis buah-buahan yang sangat lezat, seperti anggur, tin, delima, dan lain-lain ﴾ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh apa yang mereka minta" apa yang mereka cari. Kapan saja mereka mencari dan mendambakannya, maka mereka pasti mendapatkannya. (58) Dan untuk mereka juga ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salam" yang diperoleh, ﴾ مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ ﴿ "dari Rabb Yang Maha Penyayang," ini menunjukkan adanya percakapan Allah سبحانه وتعالى dengan para penghuni surga dan ucapan selamat Allah kepada mereka. Lalu dikukuhkannya lagi dengan FirmanNya, ﴾ قَوۡلٗا ﴿ "Sebagai ucapan selamat." Apabila Allah yang Maha Pengasih itu memberikan salam kepada mereka, maka mereka memperoleh keselamatan yang sempurna dari segala sisi-nya, dan mereka juga memperoleh penghormatan yang tidak ada bentuk penghormatan yang lebih tinggi darinya dan tidak ada pula kenikmatan yang setara dengannya. Lalu bagaimana menurut Anda dengan ucapan salam penghormatan dari Maharaja bagi se-gala raja, Rabb Yang Mahaagung, lagi Maha Penyantun dan Maha Penyayang bagi para penghuni negeri karamahNya, yaitu orang-orang yang telah mendapatkan ridha dariNya. Maka Dia tidak akan pernah memurkai mereka untuk selama-lamanya. Kalau sekiranya bukan karena Allah telah menakdirkan mereka tidak akan mati atau kaki mereka berpindah dari tempat-tempatnya karena kegem-biraan, kesenangan, dan kebahagiaan, tentu hal itu pasti terjadi. Maka kami berharap kepada Rabb, Tuhan kami agar kiranya tidak menghalangi kami untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut dan menyenangkan kami dengan melihat kepada wajahNya yang mulia.

Yasin 36:58

"Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-se-nang dalam kesibukan. Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. Di surga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang me-reka minta. (Kepada mereka dikatakan), 'Salam' sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (Yasin: 55-58). (55-56) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa setiap orang tidak akan dibalas kecuali menurut apa yang dikerjakannya, Allah lalu menjelaskan balasan kedua golongan itu. Allah mulai dengan menjelaskan balasan untuk para penghuni surga dan Dia menga-barkan bahwa mereka pada hari itu ﴾ فِي شُغُلٖ فَٰكِهُونَ ﴿ "bersenang-senang dalam kesibukan." Maksudnya, berada dalam kesibukan yang me-nyenangkan jiwa dan membuatnya merasakan kelezatan akan segala apa yang disuka oleh nafsunya, sedap dipandang mata dan didamba-dambakan oleh orang-orang yang mendambakannya. Di antara kesenangan itu adalah bertebarannya gadis-gadis cantik se-bagaimana difirmankaNnya ﴾ هُمۡ وَأَزۡوَٰجُهُمۡ ﴿ "Mereka dan istri-istri mereka" dari bidadari-bidadari yang memadukan semua unsur keelokan pada wajah, tubuh, dan akhlak, ﴾ فِي ظِلَٰلٍ عَلَى ٱلۡأَرَآئِكِ ﴿ "berada dalam tem-pat yang teduh, di atas dipan-dipan," yakni, dipan-dipan yang dihiasi dengan kain-kain bercorak sangat indah dan menarik, ﴾ مُتَّكِـُٔونَ ﴿ "bertelekan," di atasnya, yang menunjukkan puncak kesenangan, kedamaian dan kelezatan. (57) ﴾ لَهُمۡ فِيهَا فَٰكِهَةٞ ﴿ "Di dalamnya mereka memperoleh buah-buahan" yang sangat banyak dari berbagai jenis buah-buahan yang sangat lezat, seperti anggur, tin, delima, dan lain-lain ﴾ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh apa yang mereka minta" apa yang mereka cari. Kapan saja mereka mencari dan mendambakannya, maka mereka pasti mendapatkannya. (58) Dan untuk mereka juga ﴾ سَلَٰمٞ ﴿ "Salam" yang diperoleh, ﴾ مِّن رَّبّٖ رَّحِيمٖ ﴿ "dari Rabb Yang Maha Penyayang," ini menunjukkan adanya percakapan Allah سبحانه وتعالى dengan para penghuni surga dan ucapan selamat Allah kepada mereka. Lalu dikukuhkannya lagi dengan FirmanNya, ﴾ قَوۡلٗا ﴿ "Sebagai ucapan selamat." Apabila Allah yang Maha Pengasih itu memberikan salam kepada mereka, maka mereka memperoleh keselamatan yang sempurna dari segala sisi-nya, dan mereka juga memperoleh penghormatan yang tidak ada bentuk penghormatan yang lebih tinggi darinya dan tidak ada pula kenikmatan yang setara dengannya. Lalu bagaimana menurut Anda dengan ucapan salam penghormatan dari Maharaja bagi se-gala raja, Rabb Yang Mahaagung, lagi Maha Penyantun dan Maha Penyayang bagi para penghuni negeri karamahNya, yaitu orang-orang yang telah mendapatkan ridha dariNya. Maka Dia tidak akan pernah memurkai mereka untuk selama-lamanya. Kalau sekiranya bukan karena Allah telah menakdirkan mereka tidak akan mati atau kaki mereka berpindah dari tempat-tempatnya karena kegem-biraan, kesenangan, dan kebahagiaan, tentu hal itu pasti terjadi. Maka kami berharap kepada Rabb, Tuhan kami agar kiranya tidak menghalangi kami untuk mendapatkan nikmat-nikmat tersebut dan menyenangkan kami dengan melihat kepada wajahNya yang mulia.

Yasin 36:59

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:60

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:61

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:62

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:63

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:64

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:65

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:66

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:67

"Dan berpisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu me-nyembahKu. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam. Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesak-sian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan. Maka betapa-kah mereka dapat melihat? Dan jikalau Kami menghendaki, pasti-lah Kami rubah mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak pula sanggup kembali." (Yasin: 59-67). (59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan balasan untuk orang-orang yang bertakwa, Allah lalu menjelaskan balasan untuk orang-orang yang berdosa, ﴾ و َ ﴿ "Dan" sesungguhnya nanti pada Hari Kiamat akan dikatakan kepada mereka, ﴾ وَٱمۡتَٰزُواْ ٱلۡيَوۡمَ أَيُّهَا ٱلۡمُجۡرِمُونَ ﴿ "Ber-pisahlah kamu pada hari ini, hai orang-orang yang berbuat jahat," mak-sudnya, berpisahlah kalian dari orang-orang yang beriman dan mereka menjadi kelompok tersendiri untuk dicela dan dihinakan di hadapan segenap manusia yang menyaksikan sebelum Allah memasukkan mereka ke neraka. Dikatakan kepada mereka: (60) ﴾ أَلَمۡ أَعۡهَدۡ إِلَيۡكُمۡ ﴿ "Bukankah Aku telah memerintahkan kepada-mu," maksudnya, telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada kalian melalui lisan para rasulKu, dan Aku katakan kepada kalian ﴾ يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعۡبُدُواْ ٱلشَّيۡطَٰنَۖ ﴿ "hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyem-bah setan," maksudnya, jangan kalian menaatinya. Cercaan ini termasuk juga di dalamnya cercaan tentang semua jenis kekafiran dan maksiat, karena semuanya merupakan ketaatan kepada setan dan bentuk peribadahan kepadanya. ﴾ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ﴿ "Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu." Jadi Aku telah memperingatkan kalian darinya dengan peringatan benar-benar dan Aku pun telah mewanti-wanti kalian untuk tidak mematuhi-nya, bahkan Aku pun telah menginformasikan kepada kalian ten-tang apa yang dia serukan kepada kalian. (61) ﴾ و َ ﴿ "Dan" Aku telah memerintah kalian untuk ber-ibadah kepadaKu dengan mengerjakan perintah-perintahKu dan meninggalkan larangan-laranganKu. ﴾ هَٰذَا ﴿ "Inilah," maksudnya, beribadah kepadaKu, taat kepadaKu, dan mendurhakai setan adalah ﴾ صِرَٰطٞ مُّسۡتَقِيمٞ ﴿ "jalan yang lurus," jadi, ilmu-ilmu jalan yang lurus dan amal-amalnya kembali kepada dua perkara ini. Maksudnya, namun kalian tidak memelihara perintahKu dan kalian tidak juga mengerjakan wasiatKu, malah kalian mendukung dan membela musuh kalian sendiri. (62) Maka dari itu ia telah menyesatkan ﴾ مِنكُمۡ جِبِلّٗا كَثِيرًاۖ ﴿ "se-bagian besar di antaramu," artinya, banyak sekali manusia. ﴾ أَفَلَمۡ تَكُونُواْ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah kamu tidak memikirkan," maksud-nya, apakah kalian tidak mempunyai akal pikiran yang bisa me-merintah kalian untuk berloyalitas kepada Rabb kalian, padahal Dia adalah pelindung kalian yang haq, dan Dia melarang kalian menjadikan musuh bebuyutan kalian sebagai pelindung? Kalau sekiranya kalian mempunyai akal yang sehat, tentu kalian tidak melakukan hal itu. (63) Apabila kalian telah mematuhi setan, memusuhi Allah yang Maha Pengasih, kalian mendustakan perjumpaan denganNya dan kalian meragukan Hari Kiamat, Negeri Pembalasan, serta ketetapan azab telah pasti terhadap kalian, m a k a ﴾ هَٰذِهِۦ جَهَنَّمُ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "inilah Jahannam yang dahulu diancamkan kepada kamu," dan kalian mendustakannya. Maka lihatlah dengan mata kepala kalian! Maka saat itulah hati mereka sangat gelisah, mata mereka terbelalak dan terjadilah al-faza' al-akbar (ketakutan yang besar). (64) Kemudian Allah menyempurnakan penjelasan di atas dengan menyuruh mereka masuk neraka. Kepada mereka dikata-kan, ﴾ ٱصۡلَوۡهَا ٱلۡيَوۡمَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya." Maksudnya, masuklah kalian padanya, ia akan membakar kalian dan kalian diliputi oleh panasnya hingga mencapai puncak panasnya disebabkan keing-karan kalian terhadap ayat-ayat Allah dan kalian mendustakan Rasul-rasulNya. (65) Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelaskan perihal mereka yang sangat mengerikan di dalam negeri kesengsaraan,﴾ ٱلۡيَوۡمَ نَخۡتِمُ عَلَىٰٓ أَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka" Kami menjadikan mereka bungkam, tidak bisa berbicara, sehingga mereka tidak dapat mengingkari apa yang telah mereka kerjakan, yaitu kekufuran dan pendustaan. ﴾ وَتُكَلِّمُنَآ أَيۡدِيهِمۡ وَتَشۡهَدُ أَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "Dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan." Maksudnya, seluruh anggota tubuh mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang telah mereka kerjakan, mereka dijadikan berbicara oleh Allah yang telah membuat segala sesuatu dapat berbicara. (66) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَطَمَسۡنَا عَلَىٰٓ أَعۡيُنِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan mata mereka," yaitu dengan cara mengambil penglihatan mereka sebagaimana Kami telah menghapus kemam-puan mereka berbicara. ﴾ فَٱسۡتَبَقُواْ ٱلصِّرَٰطَ ﴿ "Lalu mereka berlomba-lomba menuju jalan." Maksudnya, mereka segera menuju kepadanya, ka-rena ia adalah jalan yang dapat mengantarkan menuju surga.﴾ فَأَنَّىٰ يُبۡصِرُونَ ﴿ "Maka betapakah mereka dapat melihat?" Sebab, pandangan mata mereka telah dihapus. (67) ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَمَسَخۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمۡ ﴿ "Dan jikalau Kami meng-hendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada." Maksud-nya, pasti Kami hilangkan gerak mereka, ﴾ فَمَا ٱسۡتَطَٰعُواْ مُضِيّٗا ﴿ "maka mereka tidak sanggup berjalan lagi" ke depan, ﴾ وَلَا يَرۡجِعُونَ ﴿ "dan tidak pula sanggup kembali" ke belakang untuk bisa jauh dari neraka. Artinya, mereka, orang-orang kafir itu, telah pasti mendapat ketetapan azab, dan mereka pasti akan disiksa; dan pada saat itu tidak ada tempat lain selain neraka, dan ia telah ditampakkan, dan tidak ada keselamatan bagi siapa pun selain dengan cara menye-berangi shirath (jembatan di atas Jahanam). Dan penyeberangan ini tidak akan mampu dilakukan kecuali oleh ahlul iman yang berjalan dengan diterangi oleh cahaya mereka sendiri. Adapun orang-orang kafir, maka Allah sama sekali tidak memberikan jaminan untuk bisa selamat dari neraka. Maka jika Dia menghendaki, niscaya Dia hapus penglihatan mereka dan membiarkan mereka bergerak, namun mereka tidak tahu bagaimana menuju shirath sekalipun mereka berlomba dan bersegera kepadanya. Dan jika Allah meng-hendaki, niscaya Dia hilangkan gerak mereka hingga mereka tidak bisa maju dan tidak pula bisa mundur. Artinya adalah, mereka tidak bisa menyeberang, hingga mereka sama sekali tidak mendapat keselamatan.

Yasin 36:68

"Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadiannya. Maka apakah mereka tidak memikirkan?" (Yasin: 68). (68) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن نُّعَمِّرۡهُ ﴿ "Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya" di antara manusia ini, ﴾ نُنَكِّسۡهُ فِي ٱلۡخَلۡقِۚ ﴿ "niscaya Kami kembalikan mereka kepada kejadiannya," niscaya ia kem-bali kepada kondisi awal ia diciptakan, yaitu kondisi lemah, lemah akal, dan lemah kekuatan. ﴾ أَفَلَا يَعۡقِلُونَ ﴿ "Maka apakah mereka tidak me-mikirkan," bahwa seorang manusia itu kurang (lemah) dari segala sisi? Maka hendaklah mereka memanfaatkan kekuatan dan akal pikiran mereka dan menggunakannya dalam ketaatan kepada Rabbnya.

Yasin 36:69

"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya, dan tidak-lah layak baginya. Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir." (Yasin: 69-70). (69) Allah سبحانه وتعالى menyucikan nabiNya, Muhammad a dari tuduhan yang dialamatkan oleh kaum musyrikin kepadanya, yaitu bahwa dia adalah seorang penyair, dan apa yang ia bawa (al-Qur`an) itu adalah syair. Maka Allah berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad), dan tidak-lah layak baginya" menjadi seorang penyair. Maksudnya, ini terma-suk kategori mustahil kalau beliau menjadi seorang penyair, sebab beliau adalah orang yang cerdas dan mendapat petunjuk, sedang-kan para penyair itu sesat dan diikuti oleh orang-orang yang sesat; dan juga karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah melumpuhkan semua syubhat (tuduhan-tuduhan miring, pent) dari Rasulullah a yang dihembuskan oleh orang-orang yang sesat. Allah membantah kalau Nabi a itu bisa membaca atau me-nulis dan Dia menginformasikan bahwa Dia tidak pernah menga-jarkan syair kepadanya dan itu tidak pantas baginya,﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ وَقُرۡءَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan." Maksudnya, tidaklah apa yang dibawa oleh Muhammad a ini melainkan pelajaran yang dapat dipelajari oleh orang-orang yang berakal mengenai tuntutan-tuntutan agama, ia mencakup semuanya secara sempurna, dan ia juga mengingatkan akal kepada apa yang telah Allah pusatkan di dalam fitrahnya, yaitu perintah kepada segala yang baik dan larangan dari segala yang buruk. ﴾ وَقُرۡءَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Kitab yang memberi penerangan." Maksudnya, me-nerangkan segala yang dibutuhkan penjelasannya. Maka dari itu ma'mûl (objek penderita)nya tidak disebutkan, agar menunjukkan bahwa al-Qur`an itu menjelaskan seluruh yang haq dengan dalil-dalilnya yang terperinci dan global, dan yang batil dengan dalil-dalil yang menunjukkan kebatilannya. Allah menurunkannya se-demikian rupa kepada RasulNya. (70) ﴾ لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيّٗا ﴿ "Supaya dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup," maksudnya, yang hidup hatinya dan sadar. Dialah orang yang bisa menjadi baik di atas al-Qur`an ini dan bertambah ilmu dan amal darinya. Dan al-Qur`an bagi hatinya laksana hujan bagi tanah yang subur lagi bersih. ﴾ وَيَحِقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir," karena hujjah Allah telah ditegakkan terhadap mereka dan protes mereka terputus, sehingga tidak ada sedikitpun alasan dan syubhat yang masih tersisa yang mereka miliki yang bisa mereka jadikan dalil.

Yasin 36:70

"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya, dan tidak-lah layak baginya. Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir." (Yasin: 69-70). (69) Allah سبحانه وتعالى menyucikan nabiNya, Muhammad a dari tuduhan yang dialamatkan oleh kaum musyrikin kepadanya, yaitu bahwa dia adalah seorang penyair, dan apa yang ia bawa (al-Qur`an) itu adalah syair. Maka Allah berfirman, ﴾ وَمَا عَلَّمۡنَٰهُ ٱلشِّعۡرَ وَمَا يَنۢبَغِي لَهُۥٓۚ ﴿ "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Nabi Muhammad), dan tidak-lah layak baginya" menjadi seorang penyair. Maksudnya, ini terma-suk kategori mustahil kalau beliau menjadi seorang penyair, sebab beliau adalah orang yang cerdas dan mendapat petunjuk, sedang-kan para penyair itu sesat dan diikuti oleh orang-orang yang sesat; dan juga karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah melumpuhkan semua syubhat (tuduhan-tuduhan miring, pent) dari Rasulullah a yang dihembuskan oleh orang-orang yang sesat. Allah membantah kalau Nabi a itu bisa membaca atau me-nulis dan Dia menginformasikan bahwa Dia tidak pernah menga-jarkan syair kepadanya dan itu tidak pantas baginya,﴾ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ وَقُرۡءَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan." Maksudnya, tidaklah apa yang dibawa oleh Muhammad a ini melainkan pelajaran yang dapat dipelajari oleh orang-orang yang berakal mengenai tuntutan-tuntutan agama, ia mencakup semuanya secara sempurna, dan ia juga mengingatkan akal kepada apa yang telah Allah pusatkan di dalam fitrahnya, yaitu perintah kepada segala yang baik dan larangan dari segala yang buruk. ﴾ وَقُرۡءَانٞ مُّبِينٞ ﴿ "Kitab yang memberi penerangan." Maksudnya, me-nerangkan segala yang dibutuhkan penjelasannya. Maka dari itu ma'mûl (objek penderita)nya tidak disebutkan, agar menunjukkan bahwa al-Qur`an itu menjelaskan seluruh yang haq dengan dalil-dalilnya yang terperinci dan global, dan yang batil dengan dalil-dalil yang menunjukkan kebatilannya. Allah menurunkannya se-demikian rupa kepada RasulNya. (70) ﴾ لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيّٗا ﴿ "Supaya dia (Nabi Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup," maksudnya, yang hidup hatinya dan sadar. Dialah orang yang bisa menjadi baik di atas al-Qur`an ini dan bertambah ilmu dan amal darinya. Dan al-Qur`an bagi hatinya laksana hujan bagi tanah yang subur lagi bersih. ﴾ وَيَحِقَّ ٱلۡقَوۡلُ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan supaya pastilah ketetapan terhadap orang-orang kafir," karena hujjah Allah telah ditegakkan terhadap mereka dan protes mereka terputus, sehingga tidak ada sedikitpun alasan dan syubhat yang masih tersisa yang mereka miliki yang bisa mereka jadikan dalil.

Yasin 36:71

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Yasin: 71-73). (71-73) Allah سبحانه وتعالى memerintah hamba-hambaNya untuk memperhatikan (merenungkan) kepada apa yang ditundukkan dan dipatuhkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, yaitu hewan ternak dan menjadikan mereka dapat memilikinya, dan hewan-hewan itu patuh kepada mereka pada setiap perintah yang mereka kehen-daki; dan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan banyak manfaat pada hewan-hewan ternak itu untuk mereka, seperti untuk meng-angkut mereka, mengangkut barang-barang bawaan, harta benda dan barang-barang dagangan mereka dari satu tempat ke tempat lain, dan mereka juga dapat mengkonsumsi binatang-binatang ternak tersebut. Dan juga manfaat untuk kehangatan badan, dan dari kulit dan bulunya dapat dijadikan perabot dan alat-alat untuk kesenangan hingga waktu yang telah ditentukan. Dan padanya terdapat manfaat sebagai perhiasan dan keindahan dan berbagai manfaat lainnya yang sudah kita saksikan. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى yang telah me-ngaruniakan nikmat-nikmat tersebut dan tulus beribadah hanya kepadaNya, serta tidak menikmatinya dengan cara yang kosong dari ibrah dan fikrah (pelajaran dan penghayatan)?

Yasin 36:72

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Yasin: 71-73). (71-73) Allah سبحانه وتعالى memerintah hamba-hambaNya untuk memperhatikan (merenungkan) kepada apa yang ditundukkan dan dipatuhkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, yaitu hewan ternak dan menjadikan mereka dapat memilikinya, dan hewan-hewan itu patuh kepada mereka pada setiap perintah yang mereka kehen-daki; dan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan banyak manfaat pada hewan-hewan ternak itu untuk mereka, seperti untuk meng-angkut mereka, mengangkut barang-barang bawaan, harta benda dan barang-barang dagangan mereka dari satu tempat ke tempat lain, dan mereka juga dapat mengkonsumsi binatang-binatang ternak tersebut. Dan juga manfaat untuk kehangatan badan, dan dari kulit dan bulunya dapat dijadikan perabot dan alat-alat untuk kesenangan hingga waktu yang telah ditentukan. Dan padanya terdapat manfaat sebagai perhiasan dan keindahan dan berbagai manfaat lainnya yang sudah kita saksikan. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى yang telah me-ngaruniakan nikmat-nikmat tersebut dan tulus beribadah hanya kepadaNya, serta tidak menikmatinya dengan cara yang kosong dari ibrah dan fikrah (pelajaran dan penghayatan)?

Yasin 36:73

"Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?" (Yasin: 71-73). (71-73) Allah سبحانه وتعالى memerintah hamba-hambaNya untuk memperhatikan (merenungkan) kepada apa yang ditundukkan dan dipatuhkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, yaitu hewan ternak dan menjadikan mereka dapat memilikinya, dan hewan-hewan itu patuh kepada mereka pada setiap perintah yang mereka kehen-daki; dan bahwa sesungguhnya Allah menciptakan banyak manfaat pada hewan-hewan ternak itu untuk mereka, seperti untuk meng-angkut mereka, mengangkut barang-barang bawaan, harta benda dan barang-barang dagangan mereka dari satu tempat ke tempat lain, dan mereka juga dapat mengkonsumsi binatang-binatang ternak tersebut. Dan juga manfaat untuk kehangatan badan, dan dari kulit dan bulunya dapat dijadikan perabot dan alat-alat untuk kesenangan hingga waktu yang telah ditentukan. Dan padanya terdapat manfaat sebagai perhiasan dan keindahan dan berbagai manfaat lainnya yang sudah kita saksikan. ﴾ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Maka mengapakah mereka tidak bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى yang telah me-ngaruniakan nikmat-nikmat tersebut dan tulus beribadah hanya kepadaNya, serta tidak menikmatinya dengan cara yang kosong dari ibrah dan fikrah (pelajaran dan penghayatan)?

Yasin 36:74

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka; Padahal berhala-berhala itu (bagaikan) tentara yang (akan) dihadirkan kepada mereka." (Yasin: 74-75). (74-75) Ini adalah penjelasan tentang kepalsuan sembahan-sembahan kaum musyrikin yang mereka angkat (ambil) selain Allah سبحانه وتعالى, mereka harapkan pertolongan dan syafa'atnya. Sesungguhnya sembahan-sembahan tersebut benar-benar sangat rapuh, ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ ﴿ "tidak dapat menolong mereka," dan bahkan mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak mampu meno-long diri mereka sendiri, lalu bagaimana mereka akan menolong para penyembahnya?! Pertolongan itu harus memenuhi dua syarat, yaitu kemampuan dan (kuasa).[72] Apabila ia mampu, maka masih ada lagi syarat lain, yaitu apakah ia mau menolong penyembahnya atau tidak? Dengan demikian, penafian kemampuan menafikan dua hal ini sekaligus. ﴾ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ ﴿ "Padahal berhala-berhala itu bagai tentara yang (akan) dihadirkan kepada mereka." Maksudnya, mereka akan dihadir-kan dan juga para penyembahnya di dalam satu siksaan, dan satu sama lain saling berlepas diri. Lalu kenapa mereka tidak berlepas diri di dunia dari penyembahan kepada sembahan-sembahan tersebut dan kemudian mengikhlaskan ibadah hanya kepada yang di TanganNya kerajaan, pemberian manfaat, mara bahaya, pem-berian rizki dan menahannya, yaitu Dia Yang Maha Pelindung lagi Maha Penolong.

Yasin 36:75

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka; Padahal berhala-berhala itu (bagaikan) tentara yang (akan) dihadirkan kepada mereka." (Yasin: 74-75). (74-75) Ini adalah penjelasan tentang kepalsuan sembahan-sembahan kaum musyrikin yang mereka angkat (ambil) selain Allah سبحانه وتعالى, mereka harapkan pertolongan dan syafa'atnya. Sesungguhnya sembahan-sembahan tersebut benar-benar sangat rapuh, ﴾ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَهُمۡ ﴿ "tidak dapat menolong mereka," dan bahkan mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Kalau mereka tidak mampu meno-long diri mereka sendiri, lalu bagaimana mereka akan menolong para penyembahnya?! Pertolongan itu harus memenuhi dua syarat, yaitu kemampuan dan (kuasa).[72] Apabila ia mampu, maka masih ada lagi syarat lain, yaitu apakah ia mau menolong penyembahnya atau tidak? Dengan demikian, penafian kemampuan menafikan dua hal ini sekaligus. ﴾ وَهُمۡ لَهُمۡ جُندٞ مُّحۡضَرُونَ ﴿ "Padahal berhala-berhala itu bagai tentara yang (akan) dihadirkan kepada mereka." Maksudnya, mereka akan dihadir-kan dan juga para penyembahnya di dalam satu siksaan, dan satu sama lain saling berlepas diri. Lalu kenapa mereka tidak berlepas diri di dunia dari penyembahan kepada sembahan-sembahan tersebut dan kemudian mengikhlaskan ibadah hanya kepada yang di TanganNya kerajaan, pemberian manfaat, mara bahaya, pem-berian rizki dan menahannya, yaitu Dia Yang Maha Pelindung lagi Maha Penolong.

Yasin 36:76

"Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Se-sungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan." (Yasin: 76). (76) Maksudnya, maka hendaknya jangan sampai ucapan orang-orang yang dustakan itu menjadikan kamu sedih, wahai Rasul. Yang dimaksud ucapan di sini adalah apa yang dimaksud oleh konteks ayat, yaitu setiap ucapan yang dengannya mereka mencemoohkan Rasulullah a, atau apa yang beliau bawa. Artinya, maka kamu jangan menyibukkan hatimu dengan rasa sedih ter-hadap mereka. ﴾ إِنَّا نَعۡلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعۡلِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan." Lalu Kami akan memberikan pembalasan kepada mereka sesuai dengan pengeta-huan Kami tentang mereka. Dan sesungguhnya ucapan mereka sama sekali tidak memudaratkanmu. Ayat-ayat mulia ini di dalamnya terdapat penjelasan tentang syubhat (kerancuan) orang-orang yang mengingkari kebangkitan sesudah mati dan jawaban terhadapnya dengan jawaban yang paling sempurna, paling baik, dan paling jelas.

Yasin 36:77

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:78

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:79

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:80

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:81

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:82

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

Yasin 36:83

"Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air, maka tiba-tiba ia menjadi pe-nantang yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata, 'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?' Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakan-nya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk, yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu.' Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu? Benar. Dia berkuasa. Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Me-ngetahui. Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' Maka terjadilah ia. Maka Mahasuci (Dzat) Yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan." (Yasin: 77-83). (77) Maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَٰنُ ﴿ "Dan apakah manusia tidak memperhatikan" yaitu manusia yang mengingkari kebangkitan atau ragu padanya, (memperhatikan) suatu perkara yang memberinya keyakinan sempurna kepada kepastiannya, yaitu awal mula penciptaannya ﴾ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "dari setitik air," kemudian berubah-ubahnya dalam beberapa fase sedikit demi sedikit hingga menjadi besar dan menjadi anak remaja dan akalnya pun menjadi sempurna dan dewasa, ﴾ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٞ مُّبِينٞ ﴿ "lalu tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata," setelah sebelumnya penciptaannya dari setetes air. Cobalah perhatikan perbedaan antara dua kondisi ini. Dan hendaknya ia mengetahui bahwa yang telah menciptakannya dari ketiadaan itu lebih kuasa lagi mengulangi penciptaannya kembali setelah ia tercerai berai dan hancur luluh! (78) ﴾ وَضَرَبَ لَنَا مَثَلٗا ﴿ "Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami," yang tidak pantas bagi siapa pun untuk membuatnya, yaitu meng-analogikan kekuasaan sang Pencipta dengan kekuasaan makhluk, yaitu bahwa perkara yang tidak mungkin bagi kekuasaan makhluk juga tidak mungkin bagi kekuasaan Pencipta. Allah mengurai pe-rumpamaan tersebut dengan perkataanNya, ﴾ قَالَ ﴿ "ia berkata," mak-sudnya, orang (yang mengingkari) itu berkata, ﴾ مَن يُحۡيِ ٱلۡعِظَٰمَ وَهِيَ رَمِيمٞ ﴿ "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Maksudnya, apakah seseorang bisa menghidupkannya? Ini adalah bentuk pertanyaan menyangkal. Maka artinya, tidak akan ada seseorang pun yang dapat menghidupkannya setelah ia hancur luluh dan binasa. Inilah sisi keserupaan dan perumpamaannya. Yakni bahwa hal itu merupakan perkara yang sangat tidak mungkin (mustahil) berdasarkan kelaziman kemampuan manusia. Ucapan yang muncul dari manusia seperti ini adalah merupakan ketidak-sadaran dari-nya dan kelupaannya terhadap awal mula penciptaannya. Kalau saja ia menyadari akan penciptaannya setelah sebelumnya ia tidak pernah menjadi sesuatu apa pun yang bisa disebut, lalu kemudian menjadi ada secara kasat mata, tentu ia tidak akan memberikan perumpamaan ini! (79) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjawab anggapan tidak mungkin tersebut dengan jawaban yang sangat memuaskan, seraya berfir-man, ﴾ قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ ﴿ "Katakanlah, 'Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama'." Yang demikian itu, hanya dengan merenungkannya (saja) seseorang pasti tahu dengan yakin, tanpa ada syubhat sedikitpun bahwa yang telah menciptakan-nya pada kali yang pertama itu kuasa untuk mengulangi pencipta-annya untuk kali yang kedua, dan ini lebih mudah bagi kekuasaan-Nya apabila direnungkan oleh orang yang mau merenungkan. ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk." Ini juga dalil yang kedua yang bersumber dari sifat-sifat Allah سبحانه وتعالى, yaitu bahwa ilmu Allah سبحانه وتعالى meliputi segala makhlukNya dalam seluruh kondisinya sepanjang waktu dan apa yang masih tersisa; dan Dia mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Apabila seorang manusia telah mengakui ilmu yang luar biasa ini, maka niscaya dia tahu bahwasanya ia lebih agung dan lebih tinggi dari hanya sekedar menghidupkan kembali orang-orang mati dari dalam kubur. (80) Kemudian Allah mengemukakan dalil ketiga, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلشَّجَرِ ٱلۡأَخۡضَرِ نَارٗا فَإِذَآ أَنتُم مِّنۡهُ تُوقِدُونَ ﴿ "Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan api dari kayu itu." Apabila Dia mampu mengeluarkan api yang kering dari pohon yang hijau yang masih sangat basah, pa-dahal sangat berlawanan dan sangat kontras, maka mengeluarkan kembali orang-orang yang mati dari kuburnya juga adalah seperti itu. (81) Kemudian Allah menyebutkan dalil yang keempat, seraya berfirman, ﴾ أَوَلَيۡسَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi" yang begitu luas dan besar ini ﴾ بِقَٰدِرٍ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۚ ﴿ "berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka?" Mak-sudnya, Dia akan mengembalikan mereka dengan raga mereka. ﴾ بَلَىٰ ﴿ "Benar," Dia kuasa melakukan itu! Sebab penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia. ﴾ وَهُوَ ٱلۡخَلَّٰقُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Maha Pencipta lagi Maha Menge-tahui." Ini adalah dalil kelima. Yaitu bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Pencipta semua makhluk, dalam proses awalnya dan kemu-diannya, yang kecil dan yang besarnya. Semuanya adalah bekas (tanda) dari bekas-bekas penciptaan dan kekuasaanNya, dan se-sungguhnya tidak ada satu pun makhluk yang sulit bagiNya apa-bila Dia berkehendak menciptakannya. Jadi, menciptakan kembali orang-orang yang sudah mati merupakan salah satu dari bentuk bekas ciptaanNya. (82) Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا ﴿ "Se-sungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu." (شَيْئًا) adalah kata nakirah (indifinit) dalam konteks syarat, maka maknanya men-cakup segala sesuatu. ﴾ أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Hanyalah berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka terjadilah ia." Maksudnya: Terjadi pada saat itu juga tanpa ada jeda waktu atau penghalang. (83) ﴾ فَسُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Maka Mahasuci Allah yang di TanganNya kekuasaan atas segala sesuatu." Ini adalah dalil keenam. Sebab sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى adalah Maharaja lagi Maha Pemilik segala sesuatu, yang semua apa yang tinggal di alam atas dan alam bawah adalah milikNya, hamba yang ditundukkan lagi dikendali-kan, Dia berbuat apa saja terhadap mereka berdasarkan ketetapan-ketetapanNya yang bersifat kebijaksanaan dan hukum-hukumnya yang bersifat syar'i serta yang bersifat jaza`i (balasan). Maka peng-hidupan kembali orang-orang yang sudah mati untuk member-lakukan hukum balasanNya terhadap mereka merupakan bagian dari kesempurnaan kemaharajaanNya. Maka dari itu Allah berfir-man, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Dan kepadaNya-lah kamu dikembalikan," tidak bisa diragukan dan tidak pula bisa dielakkan lagi karena sudah sangat banyak argumen-argumen yang pasti (telak) dan dalil-dalil yang tegas yang membuktikan semua itu. Maka Mahasuci Allah yang telah menjadikan petunjuk, penawar, dan cahaya di dalam Firman-Nya. Selesailah tafsir surat Yasin. Maka segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى sebagaimana mestinya yang sesuai dengan kebesaranNya, bagiNya segala sanjungan sebagai-mana pantas bagi kesempurnaanNya, dan hanya bagiNya-lah kemu-liaan sebagaimana tuntutan keaguangan dan kebesaranNya. Semoga shalawat dan salam Dia limpahkan kepada Nabi Muhammad a.

As-Saffat 37:1

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:2

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:3

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:4

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:5

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:6

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:7

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:8

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:9

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:10

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:11

"Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benar-nya, dan demi rombongan yang melarang dengan sebenar-benarnya, dan demi rombongan yang membacakan pelajaran, sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa. Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari. Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar (pem-bicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengaran); maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang. Maka tanyakanlah kepada mereka, 'Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." (Ash-Shaffat: 1-11). Makkiyah (1-4) Ini adalah sumpah dari Allah سبحانه وتعالى dengan malaikat-ma-laikatNya yang mulia dalam kondisi ibadah mereka dan pengaturan yang mereka jalankan berdasarkan izin Rabbnya, dalam menegas-kan Uluhiyah dan RububiyahNya, seraya berfirman, ﴾ وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا ﴿ "Demi rombongan yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya," maksud-nya, berbaris dalam mengabdi kepada Rabbnya. Mereka adalah para malaikat. ﴾ فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا ﴿ "Dan demi rombongan yang melarang dengan sebe-nar-benarnya." Mereka adalah para malaikat yang menahan awan dan lain-lain berdasarkan perintah Allah. ﴾ فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا ﴿ "Dan demi rombongan yang membacakan pelajaran." Mereka adalah para malaikat yang membacakan Firman Allah سبحانه وتعالى. Oleh karena mereka selalu tunduk kepada Rabbnya dan beribadah di dalam pengabdian kepadaNya dan mereka tidak pernah men-durhakaiNya sekejap mata pun, maka Allah bersumpah dengan mereka menegaskan UluhiyahNya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ إِلَٰهَكُمۡ لَوَٰحِدٞ ﴿ "Sesungguhnya sembahanmu benar-benar Esa" Dia tidak mempunyai sekutu di dalam status sebagai tuhan yang berhak disembah, maka dari itu ikhlaskanlah rasa cinta, takut dan harapan, serta segala bentuk ibadah kepadaNya. (5) ﴾ رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ ﴿ "Rabb langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dan Rabb tempat-tempat terbit matahari." Maksudnya, Dia-lah Pencipta semua makhluk ini, Pemberi rizki dan Pengaturnya. Sebagaimana tiada sekutu bagiNya di dalam rububiyahNya ini, maka tiada sekutu pula bagiNya di dalam ulu-hiyahNya. Banyak sekali Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan Tauhid Uluhiyah dengan Tauhid Rububiyah, sebab tauhid rububiyah menunjukkan kepada tauhid uluhiyah; dan tauhid rububiyah juga telah diakui oleh orang-orang musyrikin dalam ibadah, maka dari itu Allah menun-tut mereka dengan apa yang mereka akui atas apa yang mereka ingkari. Dalam ayat ini, secara khusus Allah menyebutkan al-masyâriq (tempat terbit matahari) karena dilalahnya kepada magharib (tempat terbenamnya); atau karena dia merupakan tempat-tempat terbitnya bintang-bintang yang akan Dia sebutkan berikut. Maka dari itu Dia berfirman, (6-9) ﴾ إِنَّا زَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِزِينَةٍ ٱلۡكَوَاكِبِ 6 وَحِفۡظٗا مِّن كُلِّ شَيۡطَٰنٖ مَّارِدٖ 7 لَّا يَسَّمَّعُونَ إِلَى ٱلۡمَلَإِ ٱلۡأَعۡلَىٰ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang ter-dekat) dengan hiasan bintang-bintang, dan telah memeliharanya dari setiap setan yang sangat durhaka, setan-setan itu tidak dapat mendengar-pem-bicaraan para malaikat." Allah سبحانه وتعالى menjelaskan dua faidah besar berikut ini berkaitan dengan bintang-bintang, salah satunya adalah kebe-radaannya sebagai perhiasan langit, sebab kalau tidak ada bintang, niscaya langit ini akan menjadi gelap gulita, tidak memiliki cahaya. Maka Allah menjadikan bintang sebagai hiasan di dalamnya agar segenap penjurunya terang dan bentuknya menjadi indah serta bisa dijadikan sebagai pedoman (petunjuk arah) dalam kegelapan darat dan lautan serta banyak terdapat maslahat besar lain darinya. Kedua, menjaga langit dari segala setan pembangkang yang dengan pembangkangannya sampai kepada al-mala`il-a'la, yaitu para ma-laikat. Apabila setan-setan itu berusaha mencuri informasi dengan menguping, maka para malaikat melemparnya dengan suluh api yang cemerlang ﴾ مِن كُلِّ جَانِبٖ ﴿ "dari segala penjuru," untuk mengusir dan menghalau mereka supaya tidak mendengar apa yang dikata-kan oleh para malaikat tersebut. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ وَاصِبٌ ﴿ "Dan bagi mereka siksaan yang kekal." Maksudnya, yang terus menerus, yang telah dipersiapkan untuk mereka karena pembangkangannya dari ketaatan kepada Allah, Rabb mereka. (10) Kalau saja Allah سبحانه وتعالى tidak mengecualikan, niscaya hal itu menjadi dalil yang membuktikan bahwasanya setan-setan itu tidak akan dapat mendengar apa pun sama sekali. Akan tetapi Dia berfir-man, ﴾ إِلَّا مَنۡ خَطِفَ ٱلۡخَطۡفَةَ ﴿ "Akan tetapi barangsiapa yang mencuri (pendengar-an." Maksudnya, kecuali siapa di antara setan-setan pembangkang itu yang mengambil secara rahasia dan mencuri satu kata,﴾ فَأَتۡبَعَهُۥ شِهَابٞ ثَاقِبٞ ﴿ "maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang" kadang ia dapat menghanguskannya sebelum setan itu menyampaikannya kepada para sekutunya sehingga berita dari langit pun terputus (terjaga), dan kadang ia sempat menyampaikannya sebelum suluh api itu menghanguskannya. Pada saat itulah setan-setan itu menambah kalimat yang dicuri itu dengan seratus dusta, mereka mempropa-gandakannya disebabkan satu kata yang berhasil ia curi dari langit. (11) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan makhluk-makhluk agung tersebut, Dia berfirman, ﴾ فَٱسۡتَفۡتِهِمۡ ﴿ "Maka tanyakanlah kepada mereka." Maksudnya, tanyakanlah (olehmu wahai Muhammad) kepada orang-orang yang mengingkari penciptaan mereka setelah kematian mereka, ﴾ أَهُمۡ أَشَدُّ خَلۡقًا ﴿ "Apakah mereka lebih kukuh kejadiannya?" Mak-sudnya, apakah penciptaannya sesudah kematiannya lebih berat dan lebih sulit, ﴾ أَم مَّنۡ خَلَقۡنَآۚ ﴿ "ataukah apa yang telah Kami ciptakan" di antara makhluk-makhluk ini? Maka mereka harus mengakui bahwa penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan ma-nusia. Maka jika demikian, mereka harus mengakui (meyakini) kebangkitan. Bahkan kalau seandainya mereka kembali kepada diri mereka sendiri dan merenungkannya, tentu mereka mengetahui bahwa permulaan penciptaan mereka dari tanah liat itu lebih sulit -saat direnungkan-, daripada penciptaan mereka kembali sesudah mereka mati. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا خَلَقۡنَٰهُم مِّن طِينٖ لَّازِبِۭ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat." Maksud-nya, yang sangat kuat lagi keras. Ini seperti dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٖ مِّنۡ حَمَإٖ مَّسۡنُونٖ 26 ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk." (Al-Hijr: 26).

As-Saffat 37:12

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:13

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:14

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:15

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:16

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:17

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:18

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:19

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:20

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:21

"Bahkan kamu menjadi heran dan mereka menghinakan kamu. Dan apabila mereka diberi pelajaran, mereka tiada meng-ingatnya. Dan apabila mereka melihat sesuatu tanda, mereka sangat menghinakan. Dan mereka berkata, 'Ini tiada lain adalah sihir yang nyata.' Apakah apabila kami telah mati dan telah men-jadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)? Katakanlah, 'Ya, dan kamu akan terhina.' Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja; maka tiba-tiba mereka melihatnya. Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita!' Inilah Hari Pembalasan. Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendus-takannya." (Ash-Shaffat: 12-21). (12) ﴾ بَلۡ عَجِبۡتَ ﴿ "Bahkan kamu menjadi heran" wahai rasul, atau wahai manusia, kepada pendustaan orang yang mendustakan kebangkitan, setelah kamu memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat (tanda-tanda, bukti) yang luar biasa dan dalil-dalil yang lurus itu. Ini benar-benar sangat aneh dan mengherankan, sebab ia sudah termasuk hal yang tidak diingkari lagi, ﴾ وَ﴿ "dan" lebih mengheran-kan dari keingkaran mereka dan lebih kentara lagi, adalah bahwa mereka ﴾ ي َ س ْ خ َ ر ُ و ْ ن َ ﴿ "menghinakan" orang yang datang dengan mem-bawa berita tentang kebangkitan. Tidak cukup bagi mereka hanya sekedar mengingkari, hingga mereka tambah dengan memperolok-olokkan perkataan yang haq. (13) ﴾ وَ﴿ "Dan" termasuk yang mengherankan juga adalah ﴾ إ ِ ذ َ ا ذُكِّرُواْ ﴿ "apabila mereka diingatkan," tentang apa yang mereka ketahui dalam fitrah dan akal mereka sendiri, mereka menyadari-nya dan perhatian mereka dialihkan kepadanya, ﴾ لَا يَذۡكُرُونَ ﴿ "mereka tidak mengingat" nya. Kalau yang demikian itu adalah kebodohan, maka sesungguhnya ia merupakan bukti yang paling kuat yang menunjukkan pada kedunguan mereka yang sangat kentara, di mana mereka diingatkan tentang hal yang sudah ada dalam fitrah dan sudah diketahui oleh akal sehat, tidak ada kesulitan lagi pada-nya. Kalau ia adalah sikap berpura-pura bodoh dan keras kepala, maka hal itu lebih aneh dan lebih mengherankan lagi! (14) Dan di antara yang mengherankan juga adalah bahwa mereka apabila telah dikemukakan dalil-dalil kepada mereka dan mereka diingatkan dengan ayat-ayat yang biasanya orang-orang yang berakal dan para pakar tunduk kepadanya, maka mereka memperolok-olokkannya dan merasa heran. (15) Dan di antara yang mengherankan juga adalah perka-taan mereka kepada kebenaran saat datang kepada mereka,﴾ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "Ini tiada lain adalah sihir yang nyata." Mereka menjadikan sesuatu yang paling tinggi lagi paling mulia, yaitu al-haq (kebenaran), pada tingkat sesuatu yang paling hina dan paling tercela, sihir. (16-17) Dan di antara yang aneh juga adalah mereka meng-kiaskan (menganalogikan) kekuasaan Rabb Pencipta langit dan bumi ini dengan kekuasaan manusia yang sangat rapuh dari segala sisinya. Mereka berkata dengan nada mengingkari dan mengang-gap tidak mungkin akan terjadi,﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ 16 أَوَءَابَآؤُنَا ٱلۡأَوَّلُونَ 17 ﴿ "Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan. Dan apakah bapak-bapak kami yang telah terdahulu (juga demikian)?" (18) Setelah sedemikian rupa puncak sikap yang mereka miliki, maka Allah memerintah RasulNya agar menjawab mereka dengan jawaban yang mengandung pemberian ancaman (menakut-nakuti) terhadap mereka, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ نَعَمۡ ﴿ "Katakanlah, 'Ya'," kalian dan bapak-bapak kalian terdahulu akan dibangkitkan, ﴾ وَأَنتُمۡ دَٰخِرُونَ ﴿ "dan kamu akan terhina," nista lagi tercela, kalian tidak bisa bertahan dan kalian tidak sulit bagi kekuasaan Allah. (19) ﴾ فَإِنَّمَا هِيَ زَجۡرَةٞ وَٰحِدَةٞ ﴿ "Maka sesungguhnya ia hanya satu teriakan saja" yang ditiupkan oleh Israfil pada sangkakala, ﴾ فَإِذَا هُمۡ ﴿ "maka tiba-tiba mereka" dibangkitkan dari kuburannya, ﴾ يَنظُرُونَ ﴿ "mereka melihat," sebagaimana penciptaan mereka semula, mereka dibangkitkan dengan seluruh bagian-bagiannya dalam keadaan kaki telanjang, badan telanjang, dan tidak bersunat. (20) Dan pada saat itu mereka menampakkan penyesalan, kehinaan, dan kerugian, dan mereka mengucapkan kecelakaan, ﴾ وَقَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا هَٰذَا يَوۡمُ ٱلدِّينِ ﴿ "Dan mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita'." Inilah Hari Pembalasan," maka mereka mengakui apa yang dahulu di dunia mereka olok-olokkan. (21) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ هَٰذَا يَوۡمُ ٱلۡفَصۡلِ ﴿ "Inilah hari keputusan" di antara manusia tentang urusan yang bersangkutan dengan Tuhan mereka, yaitu berupa hak-hak dan juga di antara sesama mereka.

As-Saffat 37:22

"Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri." (Ash-Shaffat: 22-26). (22-23) Maksudnya, apabila mereka telah berkumpul di Hari Kiamat kelak, mereka melihat dengan mata kepala apa yang dahulu mereka dustakan dan mereka melihat apa yang telah mereka perolok-olokkan, maka mereka diperintah supaya masuk ke neraka yang pernah mereka dustakan itu, seraya dikatakan, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran, syirik, dan berbagai maksiat, ﴾ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "bersama pasangan-pasangan (teman sejawat) me-reka" yakni yang perbuatannya sejenis dengan mereka. Semuanya dikumpulkan dengan orang-orang yang amal perbuatannya sejenis, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 22 مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah," seperti patung-patung dan para sekutu yang mereka klaim; kumpulkanlah mereka semua dan tunjukkanlah mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "jalan ke neraka." Maksudnya, halaulah me-reka dengan keras menuju Neraka Jahanam. (24) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah dipastikan keputusan terhadap mereka, yaitu ke neraka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah termasuk para penghuni negeri kesengsaraan, maka dikata-kan, ﴾ قِفُوهُمْ﴿ "Tahanlah mereka" sebelum kalian mengantar mereka ke Jahanam, ﴾ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka akan ditanya" tentang kedustaan yang mereka lakukan di dunia, agar kedok me-reka tampak di hadapan seluruh orang-orang yang menyaksikan. (25) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿ "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Maksudnya, apa gerangan yang telah terjadi pada kalian hari ini, dan apa yang telah menyebabkan kalian tidak menolong sebagian yang lain, sebagian kalian tidak menye-lamatkan sebagian yang lain setelah kalian dahulu di dunia meng-klaim bahwa sembahan-sembahan kalian akan mencegah kalian dari azab, menyelamatkan kalian atau memberikan syafa'atnya kepada kalian dari sisi Allah?! (26) Seakan-akan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka diliputi oleh kehinaan dan kenistaan; dan mereka pun berserah diri untuk menerima azab neraka, mereka tunduk, hina, dan putus asa, dan mereka tidak bisa berbicara. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ ﴿ "Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri."

As-Saffat 37:23

"Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri." (Ash-Shaffat: 22-26). (22-23) Maksudnya, apabila mereka telah berkumpul di Hari Kiamat kelak, mereka melihat dengan mata kepala apa yang dahulu mereka dustakan dan mereka melihat apa yang telah mereka perolok-olokkan, maka mereka diperintah supaya masuk ke neraka yang pernah mereka dustakan itu, seraya dikatakan, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran, syirik, dan berbagai maksiat, ﴾ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "bersama pasangan-pasangan (teman sejawat) me-reka" yakni yang perbuatannya sejenis dengan mereka. Semuanya dikumpulkan dengan orang-orang yang amal perbuatannya sejenis, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 22 مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah," seperti patung-patung dan para sekutu yang mereka klaim; kumpulkanlah mereka semua dan tunjukkanlah mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "jalan ke neraka." Maksudnya, halaulah me-reka dengan keras menuju Neraka Jahanam. (24) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah dipastikan keputusan terhadap mereka, yaitu ke neraka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah termasuk para penghuni negeri kesengsaraan, maka dikata-kan, ﴾ قِفُوهُمْ﴿ "Tahanlah mereka" sebelum kalian mengantar mereka ke Jahanam, ﴾ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka akan ditanya" tentang kedustaan yang mereka lakukan di dunia, agar kedok me-reka tampak di hadapan seluruh orang-orang yang menyaksikan. (25) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿ "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Maksudnya, apa gerangan yang telah terjadi pada kalian hari ini, dan apa yang telah menyebabkan kalian tidak menolong sebagian yang lain, sebagian kalian tidak menye-lamatkan sebagian yang lain setelah kalian dahulu di dunia meng-klaim bahwa sembahan-sembahan kalian akan mencegah kalian dari azab, menyelamatkan kalian atau memberikan syafa'atnya kepada kalian dari sisi Allah?! (26) Seakan-akan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka diliputi oleh kehinaan dan kenistaan; dan mereka pun berserah diri untuk menerima azab neraka, mereka tunduk, hina, dan putus asa, dan mereka tidak bisa berbicara. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ ﴿ "Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri."

As-Saffat 37:24

"Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri." (Ash-Shaffat: 22-26). (22-23) Maksudnya, apabila mereka telah berkumpul di Hari Kiamat kelak, mereka melihat dengan mata kepala apa yang dahulu mereka dustakan dan mereka melihat apa yang telah mereka perolok-olokkan, maka mereka diperintah supaya masuk ke neraka yang pernah mereka dustakan itu, seraya dikatakan, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran, syirik, dan berbagai maksiat, ﴾ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "bersama pasangan-pasangan (teman sejawat) me-reka" yakni yang perbuatannya sejenis dengan mereka. Semuanya dikumpulkan dengan orang-orang yang amal perbuatannya sejenis, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 22 مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah," seperti patung-patung dan para sekutu yang mereka klaim; kumpulkanlah mereka semua dan tunjukkanlah mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "jalan ke neraka." Maksudnya, halaulah me-reka dengan keras menuju Neraka Jahanam. (24) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah dipastikan keputusan terhadap mereka, yaitu ke neraka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah termasuk para penghuni negeri kesengsaraan, maka dikata-kan, ﴾ قِفُوهُمْ﴿ "Tahanlah mereka" sebelum kalian mengantar mereka ke Jahanam, ﴾ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka akan ditanya" tentang kedustaan yang mereka lakukan di dunia, agar kedok me-reka tampak di hadapan seluruh orang-orang yang menyaksikan. (25) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿ "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Maksudnya, apa gerangan yang telah terjadi pada kalian hari ini, dan apa yang telah menyebabkan kalian tidak menolong sebagian yang lain, sebagian kalian tidak menye-lamatkan sebagian yang lain setelah kalian dahulu di dunia meng-klaim bahwa sembahan-sembahan kalian akan mencegah kalian dari azab, menyelamatkan kalian atau memberikan syafa'atnya kepada kalian dari sisi Allah?! (26) Seakan-akan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka diliputi oleh kehinaan dan kenistaan; dan mereka pun berserah diri untuk menerima azab neraka, mereka tunduk, hina, dan putus asa, dan mereka tidak bisa berbicara. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ ﴿ "Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri."

As-Saffat 37:25

"Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri." (Ash-Shaffat: 22-26). (22-23) Maksudnya, apabila mereka telah berkumpul di Hari Kiamat kelak, mereka melihat dengan mata kepala apa yang dahulu mereka dustakan dan mereka melihat apa yang telah mereka perolok-olokkan, maka mereka diperintah supaya masuk ke neraka yang pernah mereka dustakan itu, seraya dikatakan, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran, syirik, dan berbagai maksiat, ﴾ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "bersama pasangan-pasangan (teman sejawat) me-reka" yakni yang perbuatannya sejenis dengan mereka. Semuanya dikumpulkan dengan orang-orang yang amal perbuatannya sejenis, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 22 مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah," seperti patung-patung dan para sekutu yang mereka klaim; kumpulkanlah mereka semua dan tunjukkanlah mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "jalan ke neraka." Maksudnya, halaulah me-reka dengan keras menuju Neraka Jahanam. (24) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah dipastikan keputusan terhadap mereka, yaitu ke neraka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah termasuk para penghuni negeri kesengsaraan, maka dikata-kan, ﴾ قِفُوهُمْ﴿ "Tahanlah mereka" sebelum kalian mengantar mereka ke Jahanam, ﴾ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka akan ditanya" tentang kedustaan yang mereka lakukan di dunia, agar kedok me-reka tampak di hadapan seluruh orang-orang yang menyaksikan. (25) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿ "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Maksudnya, apa gerangan yang telah terjadi pada kalian hari ini, dan apa yang telah menyebabkan kalian tidak menolong sebagian yang lain, sebagian kalian tidak menye-lamatkan sebagian yang lain setelah kalian dahulu di dunia meng-klaim bahwa sembahan-sembahan kalian akan mencegah kalian dari azab, menyelamatkan kalian atau memberikan syafa'atnya kepada kalian dari sisi Allah?! (26) Seakan-akan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka diliputi oleh kehinaan dan kenistaan; dan mereka pun berserah diri untuk menerima azab neraka, mereka tunduk, hina, dan putus asa, dan mereka tidak bisa berbicara. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ ﴿ "Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri."

As-Saffat 37:26

"Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim bersama teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. Dan tahanlah mereka, karena sesungguhnya mereka akan ditanya, 'Kenapa kamu tidak tolong-menolong?' Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri." (Ash-Shaffat: 22-26). (22-23) Maksudnya, apabila mereka telah berkumpul di Hari Kiamat kelak, mereka melihat dengan mata kepala apa yang dahulu mereka dustakan dan mereka melihat apa yang telah mereka perolok-olokkan, maka mereka diperintah supaya masuk ke neraka yang pernah mereka dustakan itu, seraya dikatakan, ﴾ ٱحۡشُرُواْ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "Kumpulkanlah orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri dengan melakukan kekafiran, syirik, dan berbagai maksiat, ﴾ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ ﴿ "bersama pasangan-pasangan (teman sejawat) me-reka" yakni yang perbuatannya sejenis dengan mereka. Semuanya dikumpulkan dengan orang-orang yang amal perbuatannya sejenis, ﴾ وَمَا كَانُواْ يَعۡبُدُونَ 22 مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah selain Allah," seperti patung-patung dan para sekutu yang mereka klaim; kumpulkanlah mereka semua dan tunjukkanlah mereka ﴾ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "jalan ke neraka." Maksudnya, halaulah me-reka dengan keras menuju Neraka Jahanam. (24) ﴾ وَ﴿ "Dan" setelah dipastikan keputusan terhadap mereka, yaitu ke neraka dan mereka mengetahui bahwa mereka adalah termasuk para penghuni negeri kesengsaraan, maka dikata-kan, ﴾ قِفُوهُمْ﴿ "Tahanlah mereka" sebelum kalian mengantar mereka ke Jahanam, ﴾ إِنَّهُم مَّسۡـُٔولُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka akan ditanya" tentang kedustaan yang mereka lakukan di dunia, agar kedok me-reka tampak di hadapan seluruh orang-orang yang menyaksikan. (25) Lalu dikatakan kepada mereka, ﴾ مَا لَكُمۡ لَا تَنَاصَرُونَ ﴿ "Kenapa kamu tidak tolong-menolong?" Maksudnya, apa gerangan yang telah terjadi pada kalian hari ini, dan apa yang telah menyebabkan kalian tidak menolong sebagian yang lain, sebagian kalian tidak menye-lamatkan sebagian yang lain setelah kalian dahulu di dunia meng-klaim bahwa sembahan-sembahan kalian akan mencegah kalian dari azab, menyelamatkan kalian atau memberikan syafa'atnya kepada kalian dari sisi Allah?! (26) Seakan-akan mereka tidak bisa menjawab pertanyaan ini, sebab mereka diliputi oleh kehinaan dan kenistaan; dan mereka pun berserah diri untuk menerima azab neraka, mereka tunduk, hina, dan putus asa, dan mereka tidak bisa berbicara. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ بَلۡ هُمُ ٱلۡيَوۡمَ مُسۡتَسۡلِمُونَ ﴿ "Bahkan mereka pada hari itu menyerahkan diri."

As-Saffat 37:27

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:28

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:29

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:30

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:31

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:32

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:33

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:34

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:35

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:36

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:37

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:38

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:39

"Sebagian dari mereka menghadap kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan. Mereka berkata, 'Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan.' Mereka menjawab, 'Sebe-narnya kamulah yang tidak mau beriman.' Dan sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu, bahkan kamulah kaum yang melam-paui batas. Maka pastilah putusan Rabb kita menimpa kita; se-sungguhnya kita akan merasakan. Maka kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat. Maka sesungguhnya mereka pada hari itu bersama-sama dalam azab. Sesungguhnya demikianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat. Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikata-kan kepada mereka, 'La ilaha illallah' mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, 'Apakah sesungguhnya kami harus me-ninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?' Sebenarnya dia telah datang membawa kebenaran dan mem-benarkan rasul-rasul. Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih. Dan kamu tidak diberi pembalasan melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan. " (Ash-Shaffat: 27-39). (27-28) Setelah mereka dikumpulkan, juga teman-teman sejawat mereka serta sembahan-sembahannya dan mereka telah digiring ke jalan neraka serta ditahan lalu ditanya dan mereka tidak dapat menjawab, maka mereka menghadap kepada sesama mereka, lalu sebagian mereka mencela sebagian yang lain atas penyesatan dan kesesatan mereka. Maka para pengikut berkata kepada pemimpinnya, ﴾ إِنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَأۡتُونَنَا عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "Sesungguhnya kamulah yang datang kepada kami dari kanan," maksudnya, dengan kekuatan dan kekuasaan hingga kalian dapat menyesatkan kami; kalau saja bukan karena kalian, tentu kami menjadi orang-orang yang beriman. (29-32) ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka menjawab" kepada mereka, ﴾ بَل لَّمۡ تَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ﴿ "Sebenarnya kamulah yang tidak mau beriman." Maksudnya, kalian tetap sebagai orang-orang musyrik sebagaimana kami adalah orang-orang musyrik, lalu apa yang mengutamakan kalian atas kami?! Apa pula yang mengharuskan kami tercela? ! ﴾ وَ﴿ "Dan" sesungguhnya ﴾ م َ ا كَانَ لَنَا عَلَيۡكُم مِّن سُلۡطَٰنِۭۖ ﴿ "sekali-kali kami tidak berkuasa terhadapmu," artinya, kami tidak memiliki kekuasaan untuk me-maksa kalian memilih kekafiran, ﴾ بَلۡ كُنتُمۡ قَوۡمٗا طَٰغِينَ ﴿ "bahkan kamulah kaum yang melampaui batas," kalian melampaui batas, ﴾ فَحَقَّ عَلَيۡنَا ﴿ "maka pastilah terhadap kita," berlaku terhadap kami dan kalian, ﴾ قَوۡلُ رَبِّنَآۖ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "putusan Rabb kita; sesungguhnya kita akan merasakan" azab. Maksudnya, sudah pasti menimpa kita keputusan Rabb kita dan hukumNya, kami dan kalian akan merasakan azab dan sama-sama di dalam hukuman. ﴾ ف َ ـ ﴿ "Maka" karena itu, ﴾ فَأَغۡوَيۡنَٰكُمۡ إِنَّا كُنَّا غَٰوِينَ ﴿ "kami telah menyesatkan kamu, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sesat." Maksudnya, kami telah mengajak kalian kepada jalan hidup yang kami anut, yaitu kesesatan, lalu kalian memenuhi seruan kami, maka kalian jangan mencela kami, tetapi celalah diri kalian sendiri. (33-34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُمۡ يَوۡمَئِذٖ ﴿ "Maka sesungguhnya mereka pada hari itu," maksudnya, pada Hari Kiamat, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ مُشۡتَرِكُونَ ﴿ "bersama-sama dalam azab," sekalipun berbeda-beda kadar azab mereka tergantung kepada dosa kejahatan mereka, sebagaimana dahulu mereka sama-sama di dunia dalam kekafiran, maka sama-sama pula mereka di akhirat dalam merasakan balasannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَفۡعَلُ بِٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya demi-kianlah Kami berbuat terhadap orang-orang yang berbuat jahat." (35-36) Kemudian Allah menjelaskan bahwa kejahatan mereka telah sampai pada puncaknya dan melampaui batas pun-caknya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ ﴿ "Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'La ilaha illallah'," lalu diserukan kepadanya dan mereka diperintah supaya meninggal-kan penyembahan kepada selain Dia, ﴾ يَسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "mereka menyom-bongkan diri," darinya dan terhadap orang yang datang membawa-nya. ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata" dengan maksud menentangnya, ﴾ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan se-sembahan-sesembahan kami" yang tetap kami sembah dan juga oleh bapak-bapak kami hanya karena perkataan ﴾ لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ ﴿ "seorang penyair gila?" Yang mereka maksud adalah Nabi Muhammad a. Mereka tidak cukup hanya berpaling darinya (semoga Allah meng-azab mereka) dan tidak pula hanya mendustakan hingga mereka mencapnya dengan hukum yang paling zhalim serta menjadikan-nya sebagai seorang penyair yang gila, padahal mereka mengetahui bahwa beliau tidak mengenal syair dan para penyair, tidak pula cirinya dan ciri mereka. Dan sesungguhnya beliau adalah manusia yang paling berakal dan paling lurus cara pandangnya. (37) Maka dari itu Allah سبحانه وتعالى berfirman mematahkan perkata-an mereka, ﴾ بَلۡ جَآءَ ﴿ "Sebenarnya dia telah datang." Maksudnya, Nabi Muhammad, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "membawa kebenaran," maksudnya, kedatang-annya benar dan apa yang dibawanya juga benar, yaitu syariat dan Kitab Suci adalah haq, ﴾ وَصَدَّقَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ﴿ "dan membenarkan rasul-rasul," maksudnya, kedatangannya membenarkan para rasul sebelumnya. Kalau saja tidak ada kedatangan dan diutusnya beliau sebagai rasul, maka para rasul itu bukan orang-orang yang jujur. Jadi, beliau adalah tanda dan mukjizat bagi setiap rasul sebelumnya, sebab mereka telah menginformasikan dan memberitakan akan keda-tangan beliau, dan Allah telah mengambil janji dan sumpah mereka, yaitu jika beliau kelak datang kepada mereka, niscaya mereka akan beriman kepadanya dan akan membelanya. Para rasul itu meng-ambil sumpah itu pada umat-umat mereka. Maka setelah beliau dating, tampaklah kebenaran para rasul sebelumnya dan menjadi nyata pula kedustaan orang-orang yang menyalahi para rasul itu. Kalau saja tidak ditakdirkan kedatangannya padahal para rasul itu telah memberitakannya, maka hal itu menjadi bumerang bagi kejujuran mereka. Dan beliau juga membenarkan para rasul, artinya beliau datang dengan membawa apa yang telah dibawa oleh me-reka dan beliau menyeru kepada apa yang telah diserukan mereka. Beliau beriman kepada mereka dan beliau mengabarkan tentang shahihnya risalah (kerasulan), kenabian, dan syariat mereka. (38-39) Oleh karena perkataan mereka yang d a h u l u ﴾ إِنَّا لَذَآئِقُونَ ﴿ "Sesungguhnya kita akan merasakan," yang merupakan per-kataan yang berasal dari mereka, bisa berarti benar atau lainnya; maka Allah mengabarkan tentang perkataan pamungkas yang tidak mengandung makna selain kejujuran dan keyakinan, yaitu informasi yang berasal dari Allah سبحانه وتعالى, seraya berfirman, ﴾ إِنَّكُمۡ لَذَآئِقُواْ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَلِيمِ ﴿ "Sesungguhnya kamu pasti akan merasakan azab yang pedih," artinya, yang sangat menyakitkan, ﴾ وَمَا تُجۡزَوۡنَ ﴿ "Dan kamu tidak diberi pembalasan" di dalam penimpaan azab yang sangat pedih itu ﴾ إِلَّا مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "melainkan terhadap kejahatan yang telah kamu kerjakan." Jadi, Kami tidak menzhalimi kalian, melainkan sesungguhnya Kami berlaku adil terhadap kalian. Oleh karena lafazh sapaan (khithab) ini umum, padahal yang dimaksud adalah orang-orang musyrik, maka Allah سبحانه وتعالى memper-kecualikan orang-orang beriman, seraya berfirman,

As-Saffat 37:40

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:41

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:42

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:43

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:44

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:45

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:46

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:47

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:48

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:49

"Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan. Me-reka itu memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh nikmat, di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. Putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu unsur yang memabuk-kan dan mereka tiada mabuk karenanya. Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita mata-nya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik." (Ash-Shaffat: 40-49). (40) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِلَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ﴿ "Kecuali hamba-hamba Allah yang diberi keikhlasan," maka mereka tidak akan mera-sakan azab yang pedih, sebab mereka telah mengikhlaskan amal kepada Allah, maka dari itu Allah tulus kepada mereka dan meng-istimewakan mereka dengan rahmatNya dan mengaruniakan ke-pada mereka kelembutanNya. (41-42) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ رِزۡقٞ مَّعۡلُومٞ ﴿ "Mereka itu memperoleh rizki yang tertentu," artinya, tidak semu, melainkan ia adalah rizki yang sangat agung lagi besar yang tidak semu keadaannya dan tidak dapat dibayangkan hakikatnya. Lalu Allah memperjelasnya dengan FirmanNya, ﴾ فَوَٰكِهُ ﴿ "Yaitu buah-buahan" dari semua jenis buah-buahan yang sangat disenangi oleh jiwa karena kelezatan, warna, dan rasanya. ﴾ وَهُم مُّكۡرَمُونَ ﴿ "Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan," bukan dihinakan lagi dicela, melainkan diagungkan, dimuliakan dan dihormati. Satu sama lain memuliakan dan mereka pun di-muliakan oleh para malaikat yang mulia, mereka masuk menjum-painya dari semua pintu, dan para malaikat juga mengucapkan selamat atas diraihnya pahala yang paling menyenangkan, dan mereka dimuliakan pula oleh akramul akramin (Allah سبحانه وتعالى) dan Dia mengaruniakan kepada mereka berbagai macam karamah berupa kenikmatan hati, ruh, dan badan. (43) ﴾ فِي جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Di dalam surga-surga yang penuh nikmat," yakni, surga-surga yang kekhasannya adalah kenikmatan dan cirinya adalah kesenangan. Yang demikian itu karena surga-surga itu berisi apa-apa yang belum pernah dilihat mata, tidak pula di-dengar oleh telinga, ataupun terlintas pada hati seorang manusia, dan ia bersih dari segala yang bisa merusak kenikmatannya dari hal-hal yang dapat mencemari dan mengotorinya. (44) Di antara kemuliaan mereka di sisi Rabb mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka ada-lah bahwa mereka berada di atas ﴾ سُرُرٖ ﴿ "tahta-tahta kebesaran," yaitu tempat-tempat duduk yang tinggi yang terhias dengan berbagai macam kain yang termewah yang sangat indah. Mereka bersandar di atasnya dengan penuh kebahagiaan, ketenangan, dan kegem-biraan, ﴾ مُّتَقَٰبِلِينَ ﴿ "berhadap-hadapan" di antara sesama mereka. Hati dan rasa cinta mereka sudah menjadi tulus di antara sesama me-reka dan mereka bersenang-senang dengan berkumpulnya sesama mereka. Sebab sesungguhnya saling berhadapannya wajah mereka menunjukkan saling berhadapannya hati mereka dan saling hormat-menghormati satu sama lain di antara mereka. Tidak ada seorang pun yang membelakangi atau menjadikannya di samping. Bahkan termasuk kesempurnaan kebahagiaan dan etika adalah apa yang ditunjukkan oleh posisi saling berhadapan tersebut. (45-47) ﴾ يُطَافُ عَلَيۡهِم بِكَأۡسٖ مِّن مَّعِينِۭ ﴿ "Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir." Maksudnya, anak-anak yang selalu siap membantu mereka selalu hadir membawakan minuman lezat dengan gelas-gelas yang sangat indah dipandang yang berisikan ar-rahiq al-makhtum yang beraroma minyak kasturi. Ia adalah gelas-gelas penuh dengan khamar. Khamar tersebut berbeda dengan khamar yang ada di dunia ini dari segala sisinya. Sebab warnanya saja ﴾ بَيۡضَآءَ ﴿ "putih bersih" yang merupakan warna terbaik, dan rasanya ﴾ لَذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sedap bagi orang-orang yang minum," dirasakan kelezatannya oleh orang yang meminumnya pada saat diminum dan sesudahnya; dan ia bebas dari unsur-unsur yang dapat menghilangkan kesadaran akal dan tidak memabukkan serta tidak menghabiskan harta pemiliknya, tidak ada rasa pusing dan teler karenanya. (48-49) Setelah Allah menjelaskan makanan, minuman, dan tempat-tempat duduk mereka, di mana kebanyakan kenik-matan dan rinciannya sudah masuk dalam FirmanNya, ﴾ جَنَّٰتِ ٱلنَّعِيمِ ﴿ "Surga-surga yang penuh kenikmatan," namun hal-hal tersebut di-rincikan agar diketahui lalu dirindukan oleh jiwa manusia, maka Allah kemudian menjelaskan istri-istri mereka seraya berfirman, ﴾ وَعِندَهُمۡ قَٰصِرَٰتُ ٱلطَّرۡفِ عِينٞ ﴿ "Di sisi-sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya." Maksudnya, di sisi para penghuni negeri kenikmatan itu di tempat-tempat dekat (sekitar) mereka ada bida-dari-bidadari cantik jelita nan sempurna lagi tidak liar pandangan matanya, baik karena pandangan matanya hanya dibatasi kepada suaminya saja karena sangat menjaga kesuciannya dan tidak me-lampaui kepada selain suaminya, atau karena ketampanan suami dan kesempurnaannya hingga di surga itu ia tidak mencari selain dia, dan tidak suka kecuali kepadanya, atau juga karena dia mampu membatasi pandangan suaminya hanya kepada dirinya saja, dan hal ini membuktikan kesempurnaan dan kecantikannya yang luar biasa yang membuat pandangan sang suami hanya terpaku kepa-danya saja. Dan tidak liarnya pandangan mata juga menunjukkan pada tidak liarnya jiwa dan rasa kasih sayang kepadanya. Kedua makna di atas sangat mungkin dan keduanya shahih. Semua ini menunjukkan ketampanan kaum lelaki dan kejelita-an wanita di dalam surga dan kecintaan satu sama lainnya dengan cinta yang membuatnya tidak berkeinginan kepada yang lain dan betapa sangat terpeliharanya kehormatan mereka semuanya, dan bahwasanya tidak ada rasa hasad (iri hati), rasa saling membenci, ataupun rasa permusuhan di sana. Hal itu terjadi karena tidak adanya faktor-faktor penyebabnya. ﴾ عِينٞ ﴿ "Dan jelita matanya." Maksudnya, jelita dan molek ma-tanya, sedap dilihat, ﴾ كَأَنَّهُنَّ ﴿ "seakan-akan mereka," yakni, bidadari-bidadari itu ﴾ بَيۡضٞ مَّكۡنُونٞ ﴿ "adalah telur yang tersimpan dengan baik," maksudnya, tertutup, karena kecantikan dan kebeningannya, dan warna kulit mereka adalah warna kulit yang terindah dan merona, tidak ada cacat ataupun noda.

As-Saffat 37:50

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:51

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:52

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:53

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:54

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:55

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:56

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:57

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:58

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:59

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!

As-Saffat 37:60

"Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka, 'Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman yang berkata, 'Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?' Berkata pulalah ia, 'Maukah kamu meninjau?' Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata, 'Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau tidak karena nikmat Rabbku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret. Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa? Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan yang besar. Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." (Ash-Shaffat: 50-61). (50-59) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kenikmatan mereka dan puncak kebahagiaan mereka dengan berbagai makanan, mi-numan, istri-istri yang cantik jelita, dan tempat-tempat duduk yang baik, maka Allah menjelaskan percakapan dan dialog di antara mereka tentang masalah-masalah yang sudah berlalu, dan bahwa-sanya mereka terus dalam perbincangan dan saling bercakap-cakap hingga hal itu menyebabkan salah seorang di antara mereka berkata, ﴾ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٞ ﴿ "Sesungguhnya aku dahulu mempunyai seorang teman" di dunia, ia mengingkari kehidupan setelah mati dan ia mencelaku karena aku membenarkannya dan ia mengatakan, ﴾ أَءِنَّكَ لَمِنَ ٱلۡمُصَدِّقِينَ 52 أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗا وَعِظَٰمًا أَءِنَّا لَمَدِينُونَ ﴿ "Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar diberi pembalasan?" Maksudnya, apakah kita akan diberi balasan atas amal perbuatan kita?! Artinya, bagaimana kamu membenarkan perkara yang tidak mungkin ini, yang benar-benar sangat aneh ini?! Yaitu, apabila kita telah tercabik-cabik dan men-jadi tanah dan tulang-belulang kita akan dibangkitkan dan dihi-dupkan kembali, lalu kita dihisab dan diberi pembalasan sesuai dengan amal perbuatan kita? Seorang penghuni surga ini berkata kepada rekan-rekannya, Inilah kisah dan berita dariku dengan temanku, dan aku tetap dan terus beriman lagi meyakini, sedang-kan dia tetap dan terus mendustakan lagi mengingkari kebang-kitan, hingga kita mati lalu kita dibangkitkan, dan kemudian aku sampai kepada apa yang kalian lihat sekarang berupa berbagai kenikmatan yang telah diinformasikan oleh para rasul, sedangkan dia sudah tidak diragukan lagi telah sampai pada azab. Maka apa-kah ﴾ أَنتُم مُّطَّلِعُونَ ﴿ "kalian mau meninjau?," supaya kita bisa melihatnya hingga kita makin merasa senang dan bahagia dengan apa yang sedang kita rasakan ini, dan agar itu benar-benar menjadi pan-dangan dengan kasat mata?! Nampaknya bahwa di antara perihal keadaan para penghuni surga dan kebahagian sebagian dengan sebagian yang lain dan persetujuan sebagian mereka terhadap se-bagian yang lain, adalah bahwa mereka pun memenuhi ajakannya, dan mereka pun pergi mengikutinya untuk meninjau temannya. ﴾ فَٱطَّلَعَ ﴿ "Maka ia meninjau" dan melihat temannya tersebut ﴾ فِي سَوَآءِ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "di tengah-tengah neraka yang menyala-nyala." Maksud-nya, di tengah-tengah azab dan siksaannya. Azab benar-benar telah mengelilinginya. Lalu orang itu berkata seraya mencela temannya atas keadaannya dan bersyukur kepada Allah atas karuniaNya, karena telah menyelamatkan dirinya dari tipu muslihat temannya, ﴾ تَٱللَّهِ إِن كِدتَّ لَتُرۡدِينِ ﴿ "Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku." Maksudnya, engkau hampir membinasakanku disebabkan kerancuan-kerancuan pemikiran yang kamu masukkan kepadaku berdasarkan anggapanmu. ﴾ وَلَوۡلَا نِعۡمَةُ رَبِّي ﴿ "Jikalau tidak karena nikmat Rabbku," kepadaku dengan meneguhkan pendirianku pada Islam, ﴾ لَكُنتُ مِنَ ٱلۡمُحۡضَرِينَ ﴿ "pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret" di dalam azab ber-samamu. ﴾ أَفَمَا نَحۡنُ بِمَيِّتِينَ 58 إِلَّا مَوۡتَتَنَا ٱلۡأُولَىٰ وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ 59 ﴿ "Maka apakah kita tidak akan mati melainkan hanya kematian kita yang pertama saja, dan kita tidak akan disiksa?" Maksudnya, orang yang beriman itu berkata kepadanya dengan membanggakan nikmat Allah سبحانه وتعالى kepada para penghuni surga dengan kekal abadi dan selamat dari azab. Ini adalah bentuk kalimat tanya yang bermakna pengukuhan dan penetapan. Dan FirmanNya, ﴾ فَأَقۡبَلَ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَسَآءَلُونَ ﴿ "Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap," ma'mûl (objek) dalam kalimat ini dihapus, sedangkan konteksnya adalah kelezatan dan kesenangan. Maka ini menunjukkan bahwa mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang mereka merasa lezat bila membicarakannya dan juga tentang masalah-masalah yang diperselisihkan serta rumit. Sebagaimana sudah dimaklumi bahwa kelezatan para ahli ilmu adalah dengan memperbincangkan ilmu dan membahasnya melebihi kelezatan-kelezatan yang terjadi dalam perbincangan masalah dunia. Di sisi ini, di dalam surga, mereka mempunyai bagian yang sangat besar, mereka dapat menyingkap berbagai kenyataan-kenyataan ilmiah di dalam surga yang tidak mungkin diungkapkan. (60) Setelah Allah menjelaskan kenikmatan surga dan me-nguraikannya dengan uraian yang sangat indah, maka kemudian Dia memujinya dan merangsang orang-orang yang beramal shalih dan memacu mereka supaya beramal untuk meraihnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Sesungguhnya ini benar-benar kemena-ngan yang besar," yang dengannya mereka bisa memperoleh segala kebaikan yang diinginkan dan didambakan oleh jiwa, dan dengan-nya segala yang berbahaya dan tidak disuka akan tertolak. Maka apakah ada lagi kemenangan yang dicari di atas itu, ataukah itu puncak dari segala tujuan dan akhir dari segala harapan, di mana ridha dari Rabb Penguasa langit dan bumi menyelimuti mereka, mereka bahagia karena bisa dekat denganNya, mereka merasakan kenikmatan mengenalNya, sangat berbahagia karena bisa melihat-Nya, dan sangat menikmati FirmanNya?! (61) ﴾ لِمِثۡلِ هَٰذَا فَلۡيَعۡمَلِ ٱلۡعَٰمِلُونَ ﴿ "Untuk hal seperti inilah hendaknya beramal orang-orang yang beramal." Itulah yang lebih berhak untuk mendapat curahan infak apa-apa yang termahal sekalipun, dan yang lebih utama untuk disingsingkan lengan baju oleh orang-orang yang berpengetahuan lagi beruntung. Sungguh puncak segala ke-rugian adalah berlalunya waktu bagi orang yang serius, sedangkan ia dalam keadaan tidak sibuk dengan amal yang bisa mendekatkan-nya kepada negeri kebahagiaan ini. Maka bagaimana seseorang rela berjalan dengan dosa-dosa menuju negeri kebinasaan?!