Tafsir As-Saadi - Indonesian — Gafir 40:37 – Gafir 40:85
Daftar isi
- Gafir 40:37
- Gafir 40:38
- Gafir 40:39
- Gafir 40:40
- Gafir 40:41
- Gafir 40:42
- Gafir 40:43
- Gafir 40:44
- Gafir 40:45
- Gafir 40:46
- Gafir 40:47
- Gafir 40:48
- Gafir 40:49
- Gafir 40:50
- Gafir 40:51
- Gafir 40:52
- Gafir 40:53
- Gafir 40:54
- Gafir 40:55
- Gafir 40:56
- Gafir 40:57
- Gafir 40:58
- Gafir 40:59
- Gafir 40:60
- Gafir 40:61
- Gafir 40:62
- Gafir 40:63
- Gafir 40:64
- Gafir 40:65
- Gafir 40:66
- Gafir 40:67
- Gafir 40:68
- Gafir 40:69
- Gafir 40:70
- Gafir 40:71
- Gafir 40:72
- Gafir 40:73
- Gafir 40:74
- Gafir 40:75
- Gafir 40:76
- Gafir 40:77
- Gafir 40:78
- Gafir 40:79
- Gafir 40:80
- Gafir 40:81
- Gafir 40:82
- Gafir 40:83
- Gafir 40:84
- Gafir 40:85
Gafir 40:37
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:38
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:39
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:40
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:41
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:42
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:43
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:44
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:45
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:46
"Dan sungguh telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, kepada Fir'aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata, '(Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.' Maka tatkala Musa datang kepada mereka mem-bawa kebenaran dari sisi Kami mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). Dan Fir'aun berkata (kepada pem-besar-pembesarnya), 'Biarkanlah aku membunuh Musa dan hen-daklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan keru-sakan di muka bumi.' Dan Musa berkata, 'Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.' Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata, 'Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan, 'Tu-hanku ialah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu.' Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (Musa berkata), 'Hai kaumku, untukmulah kerajaan pada hari ini dengan berkuasa di muka bumi. Siapakah yang akan me-nolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa kita?' Fir'aun berkata, 'Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar.' Dan orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki ber-buat kelaliman terhadap hamba-hambaNya. Hai kaumku, sesung-guhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-me-manggil, (yaitu) hari (ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk. Dan sesungguh-nya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) sesudah-nya.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melam-paui batas dan ragu-ragu. (Yaitu) orang-orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. Dan berkatalah Fir'aun, 'Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi, su-paya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku meman-dangnya seorang pendusta.' Demikianlah, dijadikan Fir'aun me-mandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu melainkan membawa kerugian. Orang yang beriman itu berkata, 'Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kese-nangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan ba-rangsiapa mengerjakan amal yang shalih, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab. Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada kesela-matan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka? (Kenapa) kamu me-nyeruku supaya kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui padahal aku menyeru kamu (ber-iman) kepada Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun? Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepada-nya tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka. Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.' Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat), 'Ma-sukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras'." (Ghafir: 23-46).
(23) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا ﴿ "Dan sungguh telah Kami utus" kepada orang-orang yang mendustakan itu secara umum, ﴾ مُوسَىٰ ﴿ "Musa" bin Imran, ﴾ بِـَٔايَٰتِنَا ﴿ "dengan membawa ayat-ayat Kami" yang sangat agung yang membuktikan dengan pasti hakikat ajaran yang kare-nanya ia diutus, dan kebatilan apa yang dianut oleh orang-orang yang kepada mereka Musa diutus, yaitu syirik dan segala perang-katnya, ﴾ وَسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٍ ﴿ "dan keterangan yang nyata," maksudnya, hujjah (mukjizat, bukti, keterangan) yang sangat jelas dapat me-nguasai hati hingga membuatnya tunduk, seperti ular besar dan tongkat dan beberapa mukjizat-mukjizat lainnya yang dengannya Allah memperkuat Nabi Musa عليه السلام dan meneguhkannya pada kebenaran yang diserukannya.
(24) Yang menjadi sasaran adalah, ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَهَٰمَٰنَ ﴿ "Fir'aun dan Haman" yang merupakan menterinya ﴾ وَقَٰرُونَ ﴿ "dan Qarun" yang termasuk kaum Nabi Musa yang membangkang terhadapnya karena harta kekayaannya. Semuanya menolak Nabi Musa dengan penolakan yang sengit terhadap (seruan) Nabi Musa bahkan me-reka mengatakan, ﴾ سَٰحِرٞ كَذَّابٞ ﴿ "Ia adalah seorang ahli sihir yang pendusta."
(25) ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم بِٱلۡحَقِّ مِنۡ عِندِنَا ﴿ "Maka tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami," dan ia pun diperkuat oleh Allah dengan beberapa mukjizat yang sangat hebat yang memaksa mereka harus benar-benar tunduk, namun mereka tidak menerima-nya, bahkan mereka tidak cukup hanya dengan sikap mengabaikan dan berpaling, dan bahkan tidak sekedar mengingkari dan menen-tangnya dengan kebatilan mereka, justru sampai pada tindakan yang sangat keji sekali, di m a n a ﴾ قَالُواْ ٱقۡتُلُوٓاْ أَبۡنَآءَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ وَٱسۡتَحۡيُواْ نِسَآءَهُمۡۚ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "mereka berkata, 'Bunuhlah anak-anak orang-orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka.' Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain" di mana mereka telah merencanakan tipudaya ini dan mereka beranggapan bahwa apabila mereka membunuh anak-anak lelaki para pengikut Musa itu, maka mereka tidak akan pernah menjadi kuat dan mereka akan tetap dalam perbudakan dan di bawah kendali mereka. Maka tipu daya mereka itu tidak lain ﴾ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "hanyalah sia-sia," karena apa yang mereka inginkan tidak terjadi. Malah mereka ditimpa oleh kebalikan apa yang mereka rencanakan itu, di mana Allah membinasakan dan memusnahkan mereka secara total. Di sini Ada Satu Kaidah Penting: Renungkanlah satu poin yang banyak disebutkan di dalam Kitabullah ini, yaitu apabila konteksnya adalah tentang satu kisah tertentu atau atas suatu permasalahan tertentu, sedangkan yang Allah سبحانه وتعالى inginkan adalah memberikan keputusan terhadapnya dengan suatu hukum (kepu-tusan) yang tidak hanya khusus dengannya, maka Allah menyebut-kan hukuman tersebut dan menetapkannya dengan ungkapan yang bersifat umum agar bermakna lebih luas, termasuk di dalamnya bentuk (putusan) yang karenanya kalimat tersebut dipaparkan, dan supaya asumsi bahwa hukum tersebut khusus untuk sesuatu yang khusus tersebut menjadi tidak ada. Maka dari itu Dia tidak mengatakan, وَمَا كَيْدُهُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (dan tipu daya mereka tidak lain melainkan sia-sia belaka), melainkan Dia berfirman, ﴾ وَمَا كَيۡدُ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ ﴿ "Dan tipu daya orang-orang kafir itu tidak lain melainkan sia-sia belaka."
(26) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan Fir'aun berkata" dengan rasa som-bong, congkak dan memperdaya kaumnya yang dungu, ﴾ ذَرُونِيٓ أَقۡتُلۡ مُوسَىٰ وَلۡيَدۡعُ رَبَّهُۥٓۖ ﴿ "Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia me-mohon kepada Rabbnya." Ia mengklaim, mudah-mudahan Allah menghinakannya, bahwa kalau saja tidak karena menjaga perasaan kaumnya tentu ia telah membunuhnya; dan mengklaim bahwa doa Nabi Musa kepada Tuhannya tidak akan bisa menghalanginya. Kemudian Fir'aun menjelaskan hal yang telah menyeretnya untuk membunuh Nabi Musa, yaitu sebagai kesetiaannya kepada kaum (rakyat)nya dan keinginan memberantas kejahatan di muka bumi ini, seraya berkata, ﴾ إِنِّيٓ أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمۡ ﴿ "Karena sesungguhnya aku khawatir ia akan menukar agama kalian" yang kalian anut ini, ﴾ أَوۡ أَن يُظۡهِرَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ٱلۡفَسَادَ ﴿ "atau menimbulkan kerusakan di muka bumi." Sungguh sangat mengherankan! Bagaimana manusia yang paling jahat menasihati masyarakat untuk tidak mengikuti manu-sia pilihan! Itu semua adalah tindakan pengelabuan dan propa-ganda yang tidak akan ada yang mengikutinya kecuali akal orang yang disebutkan oleh Allah, ﴾ فَٱسۡتَخَفَّ قَوۡمَهُۥ فَأَطَاعُوهُۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ قَوۡمٗا فَٰسِقِينَ 54 ﴿ "Maka Fir'aun membodoh-bodohi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik." (Az-Zukhruf: 54).
(27) ﴾ وَقَالَ مُوسَىٰٓ ﴿ "Dan Musa berkata" ketika Fir'aun menga-takan perkataan keji tadi, yang lahir karena keangkuhannya dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaannya, sambil Nabi Musa meminta pertolongan kepada Rabbnya, ﴾ إِنِّي عُذۡتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُم ﴿ "Se-sungguhnya aku berlindung kepada Rabbku dan Rabb kalian" Maksud-nya: Aku berlindung kepada RububiyahNya yang dengannya Dia mengatur segala urusan, ﴾ مِّن كُلِّ مُتَكَبِّرٖ لَّا يُؤۡمِنُ بِيَوۡمِ ٱلۡحِسَابِ ﴿ "dari setiap orang yang menyombongkan diri, yang tidak beriman kepada hari berhisab." Maksudnya, kesombongan dan keengganannya untuk beriman kepada hari perhitungan amal (kiamat) telah menyeretnya untuk berbuat kejahatan dan kerusakan. Fir'aun dan yang lainnya masuk ke dalam hukum ini sebagai-mana telah dijelaskan pada kaidah di atas. Dan Allah سبحانه وتعالى melindungi Nabi Musa عليه السلام dengan kelembutanNya dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada Hari Kiamat, dan Allah telah membentangkan segala sebab (cara) yang dengannya ia selamat dari kejahatan Fir'aun dan para pembesarnya.
(28) Di antara sebab-sebab itu adalah seorang lelaki ber-iman dari kaum Fir'aun yang berasal dari istana kerajaan, yang pasti memiliki ucapan-ucapan yang didengar, terutama apabila menampakkan keberpihakannya kepada mereka dan merahasiakan imannya. Mereka biasanya tentu menaruh perhatian kepadanya, dan sebaliknya, mereka tidak akan menaruh perhatian kepadanya kalau ia menampakkan sikap berseberangan dengan mereka. Seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى telah melindungi Nabi Muhammad a dari kaum Quraisy melalui pamannya, Abu Thalib, yang mana Abu Thalib adalah tokoh yang disegani di kalangan mereka, dan seagama de-ngan mereka. Kalau seandainya saja dia adalah seorang Muslim, tentu perlindungan itu tidak akan terjadi darinya. Lelaki beriman yang cerdas lagi tegas (dari istana Fir'aun) itu berkata dengan nada mencemooh tindakan kaumnya dan kekejian rencana yang hendak mereka lakukan, ﴾ أَتَقۡتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ ٱللَّهُ ﴿ "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena ia menyatakan, 'Rabbku ialah Allah?'" Maksudnya, bagaimana kalian menghalalkan pembunuhannya, padahal dosa dan kejahatannya adalah karena ia mengucapkan "Tuhanku adalah Allah?!" Perkataan lelaki ini juga bukan perkataan yang kosong dari argumen. Maka dari itu ia berkata, ﴾ وَقَدۡ جَآءَكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ مِن رَّبِّكُمۡۖ ﴿ "Padahal dia (Nabi Musa) telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Rabbmu," ka-rena keterangan (bukti, mukjizat, dan argumen)nya sudah sangat populer di kalangan mereka, diketahui oleh anak kecil dan orang dewasa. Artinya, orang itu tidak boleh dibunuh hanya karena alasan seperti ini. Maka kenapa kalian tidak membatalkan terlebih dahulu kebenaran yang ia bawa dan kalian respons argumennya dengan argumen yang dapat mencampakkannya, baru setelah itu kalian lihat apakah halal (pantas) membunuhnya apabila kalian telah unggul atasnya berdasarkan argumen atau tidak?! Sekarang sungguh hujjahnya telah mengungguli dan argumennya menang, sehingga ada jarak pemisah yang sangat jauh antara kalian dengan dia yang dengannya kalian tidak punya alasan untuk membunuh-nya! Lalu lelaki beriman itu mengatakan kepada mereka satu per-kataan logis yang dapat meyakinkan setiap orang yang berakal da-lam kondisi seperti apa pun adanya, seraya berkata, ﴾ وَإِن يَكُ كَٰذِبٗا فَعَلَيۡهِ كَذِبُهُۥۖ وَإِن يَكُ صَادِقٗا يُصِبۡكُم بَعۡضُ ٱلَّذِي يَعِدُكُمۡۖ ﴿ "Dan jika ia seorang pendusta, maka dialah yang menanggung dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya kepadamu akan menimpa-mu." Maksudnya, Nabi Musa itu ada pada dua kemungkinan: Se-bagai seorang pendusta dalam klaimnya atau sebagai seorang yang benar. Jika ia adalah seorang pendusta, maka kedustaannya dan bahaya kedustaannya hanya akan menimpa dirinya sendiri, tidak ada bahaya apa pun terhadap kalian dalam masalah ini, di mana kalian telah menolak seruannya dan menolak untuk mempercayai-nya. Tetapi jika ia benar, sedangkan ia telah datang kepada kalian dengan membawa bukti-bukti dan ia pun telah menyampaikan kepada kalian bahwa jika kalian tidak menerimanya, niscaya kalian diazab oleh Allah dengan satu azab di dunia ini dan satu azab lagi di akhirat nanti. Sesungguhnya sebagian apa yang diancamkannya terhadap kalian pasti akan menimpa kalian, dan itu adalah azab di dunia. Ini adalah bagian dari kecerdasan akalnya dan kelembutan pembelaannya untuk Nabi Musa, di mana ia telah mengemukakan jawaban yang tidak ada kekacauannya terhadap mereka, dan ia telah menempatkan permasalahan berkisar antara dua kondisi. Yang jelas, membunuhnya adalah suatu kedunguan dan kebodohan dari kalian. Setelah itu orang yang beriman tersebut (semoga Allah me-ridhai, mengampuni, dan merahmatinya) beralih kepada perkara yang lebih tinggi dari itu dan penjelasan tentang kedekatan Nabi Musa kepada kebenaran, seraya berkata,﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ ﴿ "Se-sungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang berlebih-lebihan." Maksudnya, melampaui batas, karena meninggalkan yang haq dan mengutamakan yang batil, ﴾ كَذَّابٞ ﴿ "lagi pendusta" karena menisbat-kan tindakan melampaui batas itu kepada Allah. Maka orang seperti ini tidak akan diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan kebenaran, baik pada maknanya ataupun pada dalilnya. Dan Allah tidak akan membimbingnya kepada jalan yang lurus. Maksudnya, kalian telah melihat kebenaran yang diserukan oleh Nabi Musa dan argumen-argumen logis (aqli) dan mukjizat-mukjizat samawi yang telah Allah tunjukkan kepadanya untuk dijelaskan. Maka orang yang berpe-doman kepada petunjuk ini tidak mungkin seorang yang melam-paui batas ataupun seorang pendusta. Ini juga membuktikan kematangan ilmunya, kecerdasan akal dan ma'rifatnya tentang Allah.
(29) Kemudian orang Mukmin itu mewanti-wanti kaumnya, menasihati mereka, dan mempertakuti dengan azab alam akhirat, ia juga mencegah mereka untuk tidak terpesona dengan kekuasaan yang nampak, seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمِ لَكُمُ ٱلۡمُلۡكُ ٱلۡيَوۡمَ ﴿ "Hai kaumku, un-tukmulah kerajaan pada hari ini," maksudnya, di dunia ini, ﴾ ظَٰهِرِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "dengan berkuasa di muka bumi" terhadap rakyat kalian, di mana kalian memberlakukan aturan apa saja yang kalian kehendaki terhadap mereka. Andaikata hal itu benar-benar kalian raih dan kalian miliki, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا مِنۢ بَأۡسِ ٱللَّهِ ﴿ "maka siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah," yakni, siksaanNya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang me-nimpa kita!" Ini adalah bagian dari kepandaiannya dalam berdak-wah, di mana permasalahan ia jadikan sebagai permasalahan ber-sama di antara mereka, dengan mengatakan, ﴾ فَمَن يَنصُرُنَا ﴿ "Siapakah yang akan menolong kita" dan perkataannya, ﴾ إِن جَآءَنَاۚ ﴿ "jika ia datang menimpa kita." Ini untuk memberikan pemahaman kepada mereka bahwasanya ia menasihati mereka sebagaimana halnya (pada saat yang sama. Pent) ia menasihati dirinya sendiri, dan ia mengingin-kan bagi mereka apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri. Maka, ﴾ قَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Fir'aun berkata" dengan menentangnya dan mempropaganda kaumnya agar tidak mengikuti Nabi Musa, ﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepa-damu selain jalan yang benar." Ia benar pada ucapannya,﴾ مَآ أُرِيكُمۡ إِلَّا مَآ أَرَىٰ ﴿ "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pan-dang baik," tetapi apa yang ia pandang baik itu?! Ia memandang untuk membodoh-bodohi kaumnya agar mereka mengikutinya sehingga ia bisa melanggengkan kekuasaannya terhadap mereka. Ia tidak memandang kebenaran ada pada pihaknya, bahkan ia me-lihat kebenaran ada pada pihak Nabi Musa, namun ia mengingkari padahal hatinya meyakininya. Dan Fir'aun berdusta pada ucapan-nya, ﴾ وَمَآ أَهۡدِيكُمۡ إِلَّا سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar," sebab ini adalah tindakan membalik kebe-naran. Kalau saja ia memerintahkan kepada mereka untuk meng-ikutinya, murni atas kekafiran dan kesesatannya, tentu keburukan-nya lebih ringan. Tetapi malah ia memerintah mereka mengikuti-nya sambil mengklaim, bahwa kalau mengikuti dirinya berarti mengikuti kebenaran, sedangkan kalau mengikuti kebenaran (yang ada pada Nabi Musa, pent) berarti mengikuti kesesatan.
(30) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Dan orang yang beriman itu berkata" mengulangi kembali dakwah (menyeru) kaumnya, di mana ia tidak berputus asa dalam membawa mereka menuju hidayah, seperti halnya kebiasaan para da'i yang mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, mereka terus dan selalu mengajak kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu apa pun yang mampu merintangi mereka, dan kecongkakan orang-orang yang mereka seru tidak dapat membuat mereka surut untuk terus berdakwah. Maka ia berkata kepada mereka, ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُم مِّثۡلَ يَوۡمِ ٱلۡأَحۡزَابِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu," yakni, umat-umat yang mendustakan yang bersatu (berkoalisi) untuk memerangi para nabi mereka dan bersatu menentangnya.
(31) Kemudian orang yang beriman itu menjelaskan kepada mereka, seraya berkata, ﴾ مِثۡلَ دَأۡبِ قَوۡمِ نُوحٖ وَعَادٖ وَثَمُودَ وَٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡۚ ﴿ "Seperti keadaan kaum Nuh, 'Ad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka." Maksudnya, seperti kebiasaan mereka dalam kekafiran dan mendustakan. Dan kebiasaan Allah (sunnatullah) terhadap mereka adalah menimpakan siksa dadakan di dunia sebelum di akhirat. ﴾ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمٗا لِّلۡعِبَادِ ﴿ "Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezhaliman terhadap hamba-hambaNya." Allah tidak akan mengazab mereka tanpa perbuatan dosa yang mereka lakukan dan tanpa kejahatan yang telah mereka perbuat.
(32) Setelah ia mempertakuti mereka dengan azab-azab duniawi, maka ia pertakuti pula dengan azab-azab akhirat seraya berkata, ﴾ وَيَٰقَوۡمِ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ يَوۡمَ ٱلتَّنَادِ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil," maksud-nya, Hari Kiamat saat para penghuni surga memanggil-manggil para penghuni neraka. (Allah berfirman), ﴾ وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدۡ وَجَدۡنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقّٗا فَهَلۡ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمۡ حَقّٗاۖ قَالُواْ نَعَمۡۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنُۢ بَيۡنَهُمۡ أَن لَّعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ 44 ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبۡغُونَهَا عِوَجٗا وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ كَٰفِرُونَ 45 وَبَيۡنَهُمَا حِجَابٞۚ وَعَلَى ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٞ يَعۡرِفُونَ كُلَّۢا بِسِيمَىٰهُمۡۚ وَنَادَوۡاْ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡۚ لَمۡ يَدۡخُلُوهَا وَهُمۡ يَطۡمَعُونَ 46 وَإِذَا صُرِفَتۡ أَبۡصَٰرُهُمۡ تِلۡقَآءَ أَصۡحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُواْ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ 47 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلۡأَعۡرَافِ رِجَالٗا يَعۡرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمۡ قَالُواْ مَآ أَغۡنَىٰ عَنكُمۡ جَمۡعُكُمۡ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَكۡبِرُونَ 48 أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقۡسَمۡتُمۡ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحۡمَةٍۚ ٱدۡخُلُواْ ٱلۡجَنَّةَ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡكُمۡ وَلَآ أَنتُمۡ تَحۡزَنُونَ 49 وَنَادَىٰٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ أَصۡحَٰبَ ٱلۡجَنَّةِ أَنۡ أَفِيضُواْ عَلَيۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ أَوۡ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُۚ قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ 50 ﴿ "Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-peng-huni neraka (dengan mengatakan), 'Sesungguhnya kami dengan sebenar-nya telah memperoleh apa yang Tuhan kami janjikan kepada kami; maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu janjikan (kepadamu)?' Mereka (penduduk neraka) menjawab, 'Betul.' Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu, 'Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim, (yaitu) orang-orang yang menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok, dan mereka kafir kepada kehidupan akhirat.' Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, 'Salamun 'alaikum.' Mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya). Dan apa-bila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang lalim itu.' Dan orang-orang yang di atas A'raf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan tanda-tandanya dengan mengatakan, 'Harta yang kamu kumpul-kan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi manfaat kepadamu.' (Orang-orang yang di atas A'raf bertanya kepada penghuni neraka), 'Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah?' (Kepada orang Mukmin itu dikata-kan), 'Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati.' Dan penghuni neraka menyeru peng-huni surga, 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab, 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu bagi orang-orang kafir'."(Al-A'raf: 44-50). Dan ketika para penghuni neraka memanggil Malik, ﴾ وَنَادَوۡاْ يَٰمَٰلِكُ لِيَقۡضِ عَلَيۡنَا رَبُّكَۖ قَالَ إِنَّكُم مَّٰكِثُونَ 77 ﴿ "Mereka berseru, 'Hai malaikat Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja.' Lalu ia jawab, 'Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)'." (Az-Zukhruf: 77). Dan ketika mereka menyeru Tuhan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَخۡرِجۡنَا مِنۡهَا فَإِنۡ عُدۡنَا فَإِنَّا ظَٰلِمُونَ 107 قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Ya Rabb kami, keluarkanlah kami darinya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim." Lalu Allah menjawab mereka, dengan berfirman,"Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 107-108). Dan ketika dikatakan kepada kaum musyrikin, ﴾ ٱدۡعُواْ شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَهُمۡ ﴿ "Serulah olehmu sekutu-sekutu kamu," lalu mereka menyerunya, maka sekutu-sekutu itu tidak memperkenankan (seruan) mereka." (Al-Qashash: 64).
(33) Ia pun mempertakuti mereka, (semoga Allah meridhai-nya) akan hari yang sangat mengerikan ini dan ia merasa sangat prihatin terhadap mereka jika mereka tetap dalam kesyirikan. Maka dari itu ia berkata, ﴾ يَوۡمَ تُوَلُّونَ مُدۡبِرِينَ ﴿ "Hari ketika kamu berpaling ke bela-kang,"maksudnya, hari itu telah menyeret kalian ke neraka, ﴾ مَا لَكُم مِّنَ ٱللَّهِ مِنۡ عَاصِمٖۗ ﴿ "tidak ada bagimu seorang pun yang menyelamatkan kamu dari Allah," dan tidak ada pula kekuatan dari diri kalian untuk menolak azab Allah dan tidak ada pula seorang pun yang bisa menolong kalian selain Dia. ﴾ يَوۡمَ تُبۡلَى ٱلسَّرَآئِرُ 9 فَمَا لَهُۥ مِن قُوَّةٖ وَلَا نَاصِرٖ 10 ﴿ "Pada hari ditampakkan segala rahasia, maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong." (Ath-Thariq: 9-10). ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنۡ هَادٖ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk," sebab pe-tunjuk itu ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Maka apabila Allah mencegah petunjuk bagi seorang hamba karena Dia tahu bahwa ia tidak laik mendapat petunjuk karena kebusukannya, maka tidak ada jalan apa pun untuk memberinya petunjuk.
(34) ﴾ وَلَقَدۡ جَآءَكُمۡ يُوسُفُ ﴿ "Dan sungguh telah datang Yusuf ke-padamu," yakni, Yusuf bin Ya'qub عليه السلام, ﴾ مِن قَبۡلُ ﴿ "sebelumnya," mak-sudnya, sebelum kedatangan Nabi Musa, dengan mukjizat-muk-jizat yang membuktikan kebenarannya, dan ia perintahkan kepada kalian untuk beribadah hanya kepada Allah, tanpa mempersekutu-kanNya, ﴾ فَمَا زِلۡتُمۡ فِي شَكّٖ مِّمَّا جَآءَكُم بِهِۦۖ ﴿ "tetapi kamu senantiasa dalam kera-guan tentang apa yang dibawanya kepadamu," pada masa hidupnya, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا هَلَكَ ﴿ "sehingga ketika dia telah meninggal," kalian bertambah ragu dan makin berbuat syirik, ﴾ قُلۡتُمۡ لَن يَبۡعَثَ ٱللَّهُ مِنۢ بَعۡدِهِۦ رَسُولٗاۚ ﴿ "kamu berkata, 'Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya'." Itulah dugaan palsu kalian dan perkiraan kalian yang sesungguh-nya sangat tidak laik bagi Allah سبحانه وتعالى. Sebab, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mem-biarkan manusia ini sia-sia; tidak memerintah mereka dan tidak melarang mereka. Tetapi Allah mengutus rasul-rasulNya kepada mereka. Maka dugaan bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul adalah dugaan sesat, maka dari itu Dia berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَنۡ هُوَ مُسۡرِفٞ مُّرۡتَابٌ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu." Itulah karakter mereka yang sesungguhnya, yang telah mem-buat mereka berlaku zhalim dan congkak terhadap Nabi Musa. Maka mereka adalah orang-orang yang berlebih-lebihan karena telah melampaui kebenaran dan berpaling darinya menuju kese-satan. Mereka adalah para pendusta di mana mereka menisbatkan semua itu kepada Allah سبحانه وتعالى dan mendustakan para RasulNya. Jadi, orang yang karakternya melampaui batas dan dusta, di-mana keduanya tidak pernah terlepas darinya adalah orang yang tidak akan diberi hidayah oleh Allah dan tidak dibimbing kepada kebaikan. Sebab ia telah menolak kebenaran setelah kebenaran itu sampai kepadanya dan setelah ia ketahui. Maka balasannya adalah, Allah menghukumnya dengan menghalangi hidayah darinya, se-bagaimana FirmanNya, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ 5 ﴿ "Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memaling-kan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110). ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ 258 ﴿ "Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Baqarah: 258).
(35) Kemudian Allah menyebutkan sifat orang yang me-lampaui batas lagi pendusta, seraya berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah" yang menjelaskan kebenaran dari kebatilan, yang karena sangat jelasnya ayat-ayat itu hingga laksana mentari bagi pandangan mata. Mereka memperde-batkannya sekalipun ayat-ayat itu sudah sangat jelas sekali, agar mereka bisa menolak dan membatalkannya, ﴾ بِغَيۡرِ سُلۡطَٰنٍ أَتَىٰهُمۡۖ ﴿ "tanpa alasan yang sampai kepada mereka." Maksudnya, tanpa argumen dan alasan yang benar. Ini adalah karakter pokok setiap orang yang memperdebat-kan ayat-ayat Allah. Sebab, mustahil ia akan bisa berdebat berda-sarkan argumen (dalil yang benar), sebab kebenaran itu tidak bisa ditentang oleh siapa pun. Maka ia sama sekali tidak mungkin me-nolak (menentang)nya dengan dalil syar'i atau dalil aqli. ﴾ كَبُرَ ﴿ "Amat besar" ucapan yang mengandung penolakan terhadap kebenaran dengan batil itu, dan m e r u p a k a n ﴾ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ وَعِندَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْۚ ﴿ "kemurkaan di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman." Jadi, Allah sangat murka terhadap pengucapnya, sebab ucapannya mengandung pendustaan terhadap kebenaran dan membenarkan kebatilan serta menisbatkannya kepada Allah. Ini semua adalah perkara-perkara yang membuat Allah sangat murka kepadanya dan kepada siapa saja yang berkarakterkan demikian. Dan demikian pula hamba-hambaNya yang beriman sangat mem-benci perbuatan tersebut dengan sebenci-bencinya, sejalan dengan Tuhan mereka. Mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah سبحانه وتعالى. Dan kebencian mereka adalah bukti atas kekejian orang yang me-reka benci. ﴾ كَذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah" sebagaimana Allah mengunci mati hati keluarga Fir'aun, maka ﴾ يَطۡبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلۡبِ مُتَكَبِّرٖ جَبَّارٖ ﴿ "Allah mengunci mati setiap hati orang yang sombong dan sewenang-wenang," yang me-nyombongkan diri terhadap kebenaran dengan menolaknya dan terhadap manusia dengan meremehkan mereka; sewenang-wenang dengan banyak berbuat zhalim dan jahat.
(36-37) ﴾ وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ﴿ "Dan berkatalah Fir'aun" seraya menen-tang Nabi Musa عليه السلام dan mendustakan dakwah beliau untuk ber-iman kepada rabbul 'alamin yang bersemayam di 'Arasy dan Maha-tinggi di atas makhlukNya, ﴾ يَٰهَٰمَٰنُ ٱبۡنِ لِي صَرۡحٗا ﴿ "Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi," maksudnya, sebuah bangunan raksasa yang sangat tinggi. Tujuannya adalah agar aku bisa melihat, ﴾ إِلَىٰٓ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُۥ كَٰذِبٗاۚ ﴿ "Tuhannya Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta" dalam dakwaannya (klaimnya) bahwa kita mempunyai Rabb, dan bahwa Rabb itu di atas langit sana. Fir'aun sebenarnya hanya ingin mewaspadai dan menguji permasalahan secara langsung. Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam menjelas-kan apa yang menyeret Fir'aun mengucapkan perkataan tersebut. ﴾ وَكَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ ﴿ "Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu." Dihiasi baginya agar dia memandang baik perbuatan jahatnya itu, dan setan pun terus memperindahnya, menyerukannya dan menghiasinya, hingga Fir'aun melihatnya indah lalu menyerukannya dan melakukan perdebatan seolah-olah perdebatan orang yang berbuat kebenaran, padahal ia sebenarnya adalah pembuat kerusakan terbesar. ﴾ وَصُدَّ عَنِ ٱلسَّبِيلِۚ ﴿ "Dan dia dihalangi dari jalan" kebenaran disebabkan kebatilan yang dihiaskan kepada-nya. ﴾ وَمَا كَيۡدُ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan tidaklah tipu daya Fir'aun itu," yaitu yang ia maksudkan untuk memberangus kebenaran dan mengela-bui manusia bahwa dia adalah yang benar sedangkan Nabi Musa adalah yang berbuat kebatilan, ﴾ إِلَّا فِي تَبَابٖ ﴿ "melainkan membawa kerugian," maksudnya, kegagalan dan sia-sia, tidak menguntung-kannya sama sekali, melainkan kesengsaraan baginya dan bagi orang yang mengikutinya di dunia dan di akhirat.
(38) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِيٓ ءَامَنَ ﴿ "Orang yang beriman itu berkata" meng-ulangi nasihatnya kepada kaumnya, ﴾ يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُونِ أَهۡدِكُمۡ سَبِيلَ ٱلرَّشَادِ ﴿ "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar," tidak seperti yang dikatakan kepada kalian oleh Fir'aun, sebab dia tidak menunjukkan kepada kalian kecuali jalan kesesatan dan kerusakan.
(39) ﴾ يَٰقَوۡمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا مَتَٰعٞ ﴿ "Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan ini hanyalah kesenangan," disenangi dan dinikmati hanya sebentar saja, lalu terputus dan sirna. Maka janganlah kalian tertipu atau terpedaya dari tujuan kalian diciptakan. ﴾ وَإِنَّ ٱلۡأٓخِرَةَ هِيَ دَارُ ٱلۡقَرَارِ ﴿ "Dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal," yang menjadi tempat tinggal, tempat kedamaian, dan ketentraman. Maka hendak-nya kalian mengutamakannya dan melakukan amalan untuknya yang dapat membuat kalian bahagia di dalamnya.
(40) ﴾ مَنۡ عَمِلَ سَيِّئَةٗ ﴿ "Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat" seperti syirik, kefasikan, atau maksiat, ﴾ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَاۖ ﴿ "maka dia tidak akan dibalas melainkan sebanding dengan kejahatan itu." Maksud-nya, tidak dibalas kecuali dengan balasan yang membuatnya buruk dan sedih, karena balasan kejahatan adalah keburukan. ﴾ وَمَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan barangsiapa yang menger-jakan amal yang shalih baik laki-laki maupun perempuan," baik berupa amalan-amalan hati, anggota tubuh, atau ucapan-ucapan lisan, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ يُرۡزَقُونَ فِيهَا بِغَيۡرِ حِسَابٖ ﴿ "maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rizki di dalamnya tanpa hisab." Maksudnya, mereka di-beri balasan pahala tanpa batas dan tanpa hitungan, malah ia diberi balasan oleh Allah dengan balasan yang jauh melebihi apa yang bisa dicapai oleh amal-amal mereka.
(41) ﴾ وَيَٰقَوۡمِ مَا لِيٓ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلنَّجَوٰةِ ﴿ "Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan" dengan apa yang telah aku katakan kepada kalian, ﴾ وَتَدۡعُونَنِيٓ إِلَى ٱلنَّارِ ﴿ "tetapi kamu menyeru aku ke neraka" dengan tidak mau mengikuti Nabiyullah Musa عليه السلام.
(42) Lalu orang Mukmin itu menguraikannya seraya ber-kata, ﴾ تَدۡعُونَنِي لِأَكۡفُرَ بِٱللَّهِ وَأُشۡرِكَ بِهِۦ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞ ﴿ "Kamu menyeruku supaya aku kafir kepada Allah dan mempersekutukanNya dengan apa yang tidak kuketahui," bahwasanya ia berhak disembah selain Allah. Padahal berkata atas nama Allah tanpa ilmu adalah termasuk dosa yang paling besar dan paling buruk, ﴾ وَأَنَا۠ أَدۡعُوكُمۡ إِلَى ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "sedangkan aku menyeru kamu kepada Yang Mahaperkasa" yang kepunyaanNya sajalah seluruh kekuatan, sedangkan selain Dia sama sekali tidak mempunyai wewenang apa pun, ﴾ ٱلۡغَفَّٰرِ ﴿ "lagi Maha Pengampun" yang apabila manusia melampaui batas diri mereka dan lancang melakukan apa-apa yang dimurkai Allah, lalu ia bertaubat dan kembali kepadaNya, maka Dia hapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka dan mencegah akibat buruknya, yaitu hukuman dan siksa dunia dan akhirat.
(43) ﴾ لَا جَرَمَ ﴿ "Sudah pasti," maksudnya, yang sudah pasti dan yakin ﴾ أَنَّمَا تَدۡعُونَنِيٓ إِلَيۡهِ لَيۡسَ لَهُۥ دَعۡوَةٞ فِي ٱلدُّنۡيَا وَلَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak dapat memperkenankan seruan apa pun, baik di dunia maupun di akhirat." Maksudnya, tidak berhak diseru-kan kepadanya dan tidak pula dijadikan sandaran di dunia dan di akhirat karena ketidakberdayaan dan kelemahannya, dan karena ia tidak bisa memberikan manfaat ataupun menimpakan marabahaya, tidak bisa mematikan, menghidupkan ataupun membangkitkan. ﴾ وَأَنَّ مَرَدَّنَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah" سبحانه وتعالى, lalu Dia akan memberikan balasan kepada setiap orang sesuai dengan perbuatannya. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ هُمۡ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." Mereka-lah orang-orang yang telah melampaui batas terhadap diri mereka dengan lancang terhadap Allah, melakukan kemaksiatan dan keka-firan kepadaNya.
(44) Setelah ia menasihati mereka, mengingatkan dan me-wanti-wanti mereka, namun mereka tetap tidak mematuhinya dan tidak pula mereka menyetujuinya, maka ia berkata kepada mereka ﴾ فَسَتَذۡكُرُونَ مَآ أَقُولُ لَكُمۡۚ ﴿ "Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kuka-takan kepadamu" dari nasihat ini, dan kalian melihat akibat buruk dari tidak menerima nasihatku ini pada saat siksa menimpa kalian nanti dan saat kalian tidak diberi limpahan pahala.﴾ وَأُفَوِّضُ أَمۡرِيٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah." Maksudnya, aku bersandar kepada Allah, berlindung kepadaNya dan aku serahkan semua urusanku semuanya ke hadiratNya, dan aku bertawakal kepadaNya dalam segala maslahatku dan dalam mencegah bahaya yang akan menimpaku dari kalian, atau dari orang lain selain kalian. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hambaNya." Dia mengetahui keadaan dan perihal kalian dan apa yang berhak kalian peroleh. Dia mengetahui keadaanku dan ketidakberdayaanku, lalu Dia akan melindungiku dari kalian dan memeliharaku dari kejahatan kalian; dan Dia mengetahui keadaan kalian. Oleh karena itu kalian tidak akan berbuat melainkan atas kehendak dan kemauanNya. Jika Dia menjadikan kalian mengua-saiku, maka itu berdasarkan hikmah (kebijaksanaan)Nya, dan ber-dasarkan kehendak dan kemauanNya semua itu terjadi.
(45-46) ﴾ فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ ﴿ "Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka." Allah Yang Mahakuat lagi Maha Pengasih memelihara lelaki beriman yang mendapat hidayah itu dari keburukan apa yang telah direncanakan oleh Fir'aun, dan Allah melindungiNya dari rencana Fir'aun untuk membunuh dan membinasakannya karena ia telah menampakkan kepada mereka sikap yang tidak mereka sukai dan ia menampakkan kepada me-reka bahwa ia berpihak kepada Nabi Musa عليه السلام. Ia mengajak mereka kepada apa yang diserukan oleh Nabi Musa. Ini adalah perkara yang mereka tidak sanggup melakukannya padahal pada saat itu mereka adalah orang-orang yang berkuasa (sangat kuat). Lelaki ini telah membuat mereka sangat marah dan jengkel kepadanya. Maka dari itu mereka hendak melakukan tipudaya terhadap-nya, namun Allah melindunginya dari tipudaya dan rencana jahat mereka. Tipudaya dan rencana jahat mereka berbalik menimpa mereka sendiri. ﴾ وَحَاقَ بِـَٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "Dan Fir'aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk." Allah menenggelamkan mereka semuanya dalam satu pagi hari; dan di alam barzakh kemudian, ﴾ ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadi-nya Kiamat (dikatakan kepada malaikat), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaum-nya ke dalam azab yang sangat keras'." Itulah siksaan dan hukuman yang sangat keji yang ditimpakan terhadap orang-orang yang men-dustakan para utusan Allah dan membangkang terhadap perintah-Nya.
Gafir 40:47
"Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, 'Sesungguhnya kami adalah pengikut-pe-ngikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami seba-gian azab api neraka?' Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, 'Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba(Nya).' Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.' Penjaga Jahanam berkata, 'Dan apakah belum datang ke-padamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?' Mereka menjawab, 'Benar, sudah datang.' Penjaga-penjaga Jaha-nam bekata, 'Berdoalah kamu!' Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." (Ghafir: 47-50).
(47) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pertengkaran para penghuni neraka, cacian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, permintaan keselamatan mereka kepada para malaikat penjaga neraka dan tidak bergunanya semua itu, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka," di mana para pengikut memprotes para pemimpinnya karena mereka telah menyesatkan, sedangkan para pemimpin itu berlepas tangan dari mereka, ﴾ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah berkata," maksudnya, para pengikut kepada para pemimpin yang menyombongkan diri terhadap kebenaran dan mengajak mereka kepada apa yang mereka sombongkan itu, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu." Kalianlah yang telah menyesatkan kami dan memperindah syirik dan kejahatan untuk kami, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ﴿ "maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka," walaupun hanya sedikit saja?
(48) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab," menjelaskan ketidakberdayaan mereka dan hebatnya keputusan ilahi terhadap semua (makhluk),﴾ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya), dan Dia telah menetapkan bagian dari azab terhadap masing-masing, Dia tidak akan menambahkannya, tidak akan mengurangi-nya dan tidak pula akan merubah apa yang telah ditetapkan oleh Yang Mahabijaksana itu.
(49) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata," mereka adalah sebagian dari orang-orang yang menyom-bongkan diri dan orang-orang yang lemah, ﴾ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ يُخَفِّفۡ عَنَّا يَوۡمٗا مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari'," dengan harapan supaya ada sedikit istirahat.
(50) Lalu ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Penjaga Jahanam berkata" dengan nada mencela dan menjelaskan bahwa syafa'at mereka (para penjaga Jahanam) tidak bermanfaat bagi mereka dan doa mereka pun tidak berguna sama sekali. ﴾ أَوَلَمۡ تَكُ تَأۡتِيكُمۡ رُسُلُكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-kete-rangan," yang dengannya kalian dapat mengetahui kebenaran dan jalan yang lurus, apa yang dapat mendekat kepadaNya dan yang menjauhkan dariNya? ﴾ قَالُواْ بَلَىٰۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," mereka sudah datang kepada kami dengan bukti-bukti, dan hujjah yang pasti pun telah ditegakkan terhadap kami. Namun kami berbuat zhalim dan kami menentang kebenaran itu sesudah menjadi jelas bagi kami. ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, para penjaga neraka kepada para penghuni neraka sambil berlepas diri dari doa dan syafa'at untuk mereka, ﴾ فَٱدۡعُواْۗ ﴿ "Berdoalah" kalian. Akan tetapi doa tersebut bermanfaat ataukah tidak!? Allah berfirman, ﴾ وَمَا دُعَٰٓؤُاْ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٍ ﴿ "Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." Mak-sudnya, batal dan sia-sia, hal itu karena kekafiran itu menggugur-kan semua amal-amal shalih dan menjadi penghalang untuk dika-bulkannya doa.
Gafir 40:48
"Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, 'Sesungguhnya kami adalah pengikut-pe-ngikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami seba-gian azab api neraka?' Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, 'Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba(Nya).' Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.' Penjaga Jahanam berkata, 'Dan apakah belum datang ke-padamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?' Mereka menjawab, 'Benar, sudah datang.' Penjaga-penjaga Jaha-nam bekata, 'Berdoalah kamu!' Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." (Ghafir: 47-50).
(47) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pertengkaran para penghuni neraka, cacian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, permintaan keselamatan mereka kepada para malaikat penjaga neraka dan tidak bergunanya semua itu, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka," di mana para pengikut memprotes para pemimpinnya karena mereka telah menyesatkan, sedangkan para pemimpin itu berlepas tangan dari mereka, ﴾ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah berkata," maksudnya, para pengikut kepada para pemimpin yang menyombongkan diri terhadap kebenaran dan mengajak mereka kepada apa yang mereka sombongkan itu, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu." Kalianlah yang telah menyesatkan kami dan memperindah syirik dan kejahatan untuk kami, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ﴿ "maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka," walaupun hanya sedikit saja?
(48) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab," menjelaskan ketidakberdayaan mereka dan hebatnya keputusan ilahi terhadap semua (makhluk),﴾ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya), dan Dia telah menetapkan bagian dari azab terhadap masing-masing, Dia tidak akan menambahkannya, tidak akan mengurangi-nya dan tidak pula akan merubah apa yang telah ditetapkan oleh Yang Mahabijaksana itu.
(49) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata," mereka adalah sebagian dari orang-orang yang menyom-bongkan diri dan orang-orang yang lemah, ﴾ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ يُخَفِّفۡ عَنَّا يَوۡمٗا مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari'," dengan harapan supaya ada sedikit istirahat.
(50) Lalu ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Penjaga Jahanam berkata" dengan nada mencela dan menjelaskan bahwa syafa'at mereka (para penjaga Jahanam) tidak bermanfaat bagi mereka dan doa mereka pun tidak berguna sama sekali. ﴾ أَوَلَمۡ تَكُ تَأۡتِيكُمۡ رُسُلُكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-kete-rangan," yang dengannya kalian dapat mengetahui kebenaran dan jalan yang lurus, apa yang dapat mendekat kepadaNya dan yang menjauhkan dariNya? ﴾ قَالُواْ بَلَىٰۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," mereka sudah datang kepada kami dengan bukti-bukti, dan hujjah yang pasti pun telah ditegakkan terhadap kami. Namun kami berbuat zhalim dan kami menentang kebenaran itu sesudah menjadi jelas bagi kami. ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, para penjaga neraka kepada para penghuni neraka sambil berlepas diri dari doa dan syafa'at untuk mereka, ﴾ فَٱدۡعُواْۗ ﴿ "Berdoalah" kalian. Akan tetapi doa tersebut bermanfaat ataukah tidak!? Allah berfirman, ﴾ وَمَا دُعَٰٓؤُاْ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٍ ﴿ "Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." Mak-sudnya, batal dan sia-sia, hal itu karena kekafiran itu menggugur-kan semua amal-amal shalih dan menjadi penghalang untuk dika-bulkannya doa.
Gafir 40:49
"Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, 'Sesungguhnya kami adalah pengikut-pe-ngikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami seba-gian azab api neraka?' Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, 'Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba(Nya).' Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.' Penjaga Jahanam berkata, 'Dan apakah belum datang ke-padamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?' Mereka menjawab, 'Benar, sudah datang.' Penjaga-penjaga Jaha-nam bekata, 'Berdoalah kamu!' Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." (Ghafir: 47-50).
(47) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pertengkaran para penghuni neraka, cacian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, permintaan keselamatan mereka kepada para malaikat penjaga neraka dan tidak bergunanya semua itu, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka," di mana para pengikut memprotes para pemimpinnya karena mereka telah menyesatkan, sedangkan para pemimpin itu berlepas tangan dari mereka, ﴾ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah berkata," maksudnya, para pengikut kepada para pemimpin yang menyombongkan diri terhadap kebenaran dan mengajak mereka kepada apa yang mereka sombongkan itu, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu." Kalianlah yang telah menyesatkan kami dan memperindah syirik dan kejahatan untuk kami, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ﴿ "maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka," walaupun hanya sedikit saja?
(48) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab," menjelaskan ketidakberdayaan mereka dan hebatnya keputusan ilahi terhadap semua (makhluk),﴾ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya), dan Dia telah menetapkan bagian dari azab terhadap masing-masing, Dia tidak akan menambahkannya, tidak akan mengurangi-nya dan tidak pula akan merubah apa yang telah ditetapkan oleh Yang Mahabijaksana itu.
(49) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata," mereka adalah sebagian dari orang-orang yang menyom-bongkan diri dan orang-orang yang lemah, ﴾ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ يُخَفِّفۡ عَنَّا يَوۡمٗا مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari'," dengan harapan supaya ada sedikit istirahat.
(50) Lalu ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Penjaga Jahanam berkata" dengan nada mencela dan menjelaskan bahwa syafa'at mereka (para penjaga Jahanam) tidak bermanfaat bagi mereka dan doa mereka pun tidak berguna sama sekali. ﴾ أَوَلَمۡ تَكُ تَأۡتِيكُمۡ رُسُلُكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-kete-rangan," yang dengannya kalian dapat mengetahui kebenaran dan jalan yang lurus, apa yang dapat mendekat kepadaNya dan yang menjauhkan dariNya? ﴾ قَالُواْ بَلَىٰۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," mereka sudah datang kepada kami dengan bukti-bukti, dan hujjah yang pasti pun telah ditegakkan terhadap kami. Namun kami berbuat zhalim dan kami menentang kebenaran itu sesudah menjadi jelas bagi kami. ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, para penjaga neraka kepada para penghuni neraka sambil berlepas diri dari doa dan syafa'at untuk mereka, ﴾ فَٱدۡعُواْۗ ﴿ "Berdoalah" kalian. Akan tetapi doa tersebut bermanfaat ataukah tidak!? Allah berfirman, ﴾ وَمَا دُعَٰٓؤُاْ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٍ ﴿ "Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." Mak-sudnya, batal dan sia-sia, hal itu karena kekafiran itu menggugur-kan semua amal-amal shalih dan menjadi penghalang untuk dika-bulkannya doa.
Gafir 40:50
"Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri, 'Sesungguhnya kami adalah pengikut-pe-ngikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami seba-gian azab api neraka?' Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab, 'Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba(Nya).' Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari.' Penjaga Jahanam berkata, 'Dan apakah belum datang ke-padamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-keterangan?' Mereka menjawab, 'Benar, sudah datang.' Penjaga-penjaga Jaha-nam bekata, 'Berdoalah kamu!' Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." (Ghafir: 47-50).
(47) Allah سبحانه وتعالى menginformasikan tentang pertengkaran para penghuni neraka, cacian sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, permintaan keselamatan mereka kepada para malaikat penjaga neraka dan tidak bergunanya semua itu, seraya berfirman, ﴾ وَإِذۡ يَتَحَآجُّونَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka," di mana para pengikut memprotes para pemimpinnya karena mereka telah menyesatkan, sedangkan para pemimpin itu berlepas tangan dari mereka, ﴾ فَيَقُولُ ٱلضُّعَفَٰٓؤُاْ ﴿ "orang-orang yang lemah berkata," maksudnya, para pengikut kepada para pemimpin yang menyombongkan diri terhadap kebenaran dan mengajak mereka kepada apa yang mereka sombongkan itu, ﴾ إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعٗا ﴿ "Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu." Kalianlah yang telah menyesatkan kami dan memperindah syirik dan kejahatan untuk kami, ﴾ فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا نَصِيبٗا مِّنَ ٱلنَّارِ ﴿ "maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebagian azab api neraka," walaupun hanya sedikit saja?
(48) ﴾ قَالَ ٱلَّذِينَ ٱسۡتَكۡبَرُوٓاْ ﴿ "Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab," menjelaskan ketidakberdayaan mereka dan hebatnya keputusan ilahi terhadap semua (makhluk),﴾ إِنَّا كُلّٞ فِيهَآ إِنَّ ٱللَّهَ قَدۡ حَكَمَ بَيۡنَ ٱلۡعِبَادِ ﴿ "Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya), dan Dia telah menetapkan bagian dari azab terhadap masing-masing, Dia tidak akan menambahkannya, tidak akan mengurangi-nya dan tidak pula akan merubah apa yang telah ditetapkan oleh Yang Mahabijaksana itu.
(49) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Dan orang-orang yang berada dalam neraka berkata," mereka adalah sebagian dari orang-orang yang menyom-bongkan diri dan orang-orang yang lemah, ﴾ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدۡعُواْ رَبَّكُمۡ يُخَفِّفۡ عَنَّا يَوۡمٗا مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "kepada penjaga-penjaga Neraka Jahanam, 'Mohonkanlah pada Rabbmu supaya Dia meringankan azab dari kami barang sehari'," dengan harapan supaya ada sedikit istirahat.
(50) Lalu ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Penjaga Jahanam berkata" dengan nada mencela dan menjelaskan bahwa syafa'at mereka (para penjaga Jahanam) tidak bermanfaat bagi mereka dan doa mereka pun tidak berguna sama sekali. ﴾ أَوَلَمۡ تَكُ تَأۡتِيكُمۡ رُسُلُكُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِۖ ﴿ "Dan apakah belum datang kepadamu rasul-rasulmu dengan membawa keterangan-kete-rangan," yang dengannya kalian dapat mengetahui kebenaran dan jalan yang lurus, apa yang dapat mendekat kepadaNya dan yang menjauhkan dariNya? ﴾ قَالُواْ بَلَىٰۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," mereka sudah datang kepada kami dengan bukti-bukti, dan hujjah yang pasti pun telah ditegakkan terhadap kami. Namun kami berbuat zhalim dan kami menentang kebenaran itu sesudah menjadi jelas bagi kami. ﴾ قَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, para penjaga neraka kepada para penghuni neraka sambil berlepas diri dari doa dan syafa'at untuk mereka, ﴾ فَٱدۡعُواْۗ ﴿ "Berdoalah" kalian. Akan tetapi doa tersebut bermanfaat ataukah tidak!? Allah berfirman, ﴾ وَمَا دُعَٰٓؤُاْ ٱلۡكَٰفِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَٰلٍ ﴿ "Dan doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka." Mak-sudnya, batal dan sia-sia, hal itu karena kekafiran itu menggugur-kan semua amal-amal shalih dan menjadi penghalang untuk dika-bulkannya doa.
Gafir 40:51
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdiri-nya saksi-saksi, hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi mereka-lah tempat tinggal yang buruk." (Ghafir: 51-52).
(51) Setelah Allah menyebutkan siksaan keluarga Fir'aun di dunia, di alam Barzakh dan pada Hari Kiamat dan menyebutkan kondisi ahli neraka yang sangat mengerikan, yaitu mereka yang telah menentang dan memerangi rasul-rasulNya, maka Allah ber-firman, ﴾ إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesungguhnya Kami me-nolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia," yaitu, dengan hujjah, argumen dan pertolongan, dan di akhirat dengan keputusan, untuk para pengikutnya dengan pahala dan untuk orang-orang yang memeranginya dengan azab yang amat sangat dahsyat.
(52) ﴾ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعۡذِرَتُهُمۡۖ ﴿ "Hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya" saat mereka meminta maaf, ﴾ وَلَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ ﴿ "dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk," yaitu, negeri yang sangat buruk yang menyiksa penghuninya.
Gafir 40:52
"Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia dan pada hari berdiri-nya saksi-saksi, hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi mereka-lah tempat tinggal yang buruk." (Ghafir: 51-52).
(51) Setelah Allah menyebutkan siksaan keluarga Fir'aun di dunia, di alam Barzakh dan pada Hari Kiamat dan menyebutkan kondisi ahli neraka yang sangat mengerikan, yaitu mereka yang telah menentang dan memerangi rasul-rasulNya, maka Allah ber-firman, ﴾ إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Sesungguhnya Kami me-nolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman pada kehidupan dunia," yaitu, dengan hujjah, argumen dan pertolongan, dan di akhirat dengan keputusan, untuk para pengikutnya dengan pahala dan untuk orang-orang yang memeranginya dengan azab yang amat sangat dahsyat.
(52) ﴾ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعۡذِرَتُهُمۡۖ ﴿ "Hari yang tidak berguna bagi orang-orang zhalim permintaan maafnya" saat mereka meminta maaf, ﴾ وَلَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ ﴿ "dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk," yaitu, negeri yang sangat buruk yang menyiksa penghuninya.
Gafir 40:53
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk men-jadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir. Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi." (Ghafir: 53-55).
(53-54) Setelah Allah menjelaskan apa yang telah terjadi terhadap Nabi Musa عليه السلام dan Fir'aun dan akhir kesudahan peng-ikut Fir'aun dan pasukannya, kemudian menjelaskan keputusan umum yang menyeluruh untuknya dan untuk para penghuni ne-raka, maka di sini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Dia mengaruniakan kepada Nabi Musa ﴾ ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "petunjuk," yaitu, mukjizat-mukjizat dan ilmu yang dijadikan petunjuk oleh orang-orang yang menda-pat petunjuk, ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami wariskan al-Kitab kepada Bani Israil." Maksudnya, Kami menjadikannya saling diwa-risi di antara mereka dari generasi ke generasi, yaitu kitab Taurat. Kitab tersebut berisikan petunjuk, yang pada dasarnya adalah ilmu tentang hukum-hukum syar'i dan lain-lainnya, dan juga anjuran kepada kebajikan dan ancaman dari kejahatan. Hal itu tidak dimiliki oleh setiap orang, ia hanya ﴾ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "bagi orang-orang yang ber-pikir."
(55) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" wahai Rasul, sebagai-mana para Ulil 'Azmi sebelummu telah bersabar, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "karena sesungguhnya janji Allah itu benar," maksudnya, tidak ada keraguan di dalamnya ataupun kedustaan, sehingga kamu harus merasa sulit untuk sabar. Sesungguhnya ia adalah kebenaran murni dan petunjuk belaka yang karenanya kaum yang sabar bersabar dan orang-orang yang berakal bersungguh-sungguh berpegang teguh kepadanya. Ungkapan ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu benar" termasuk ungkapan yang menghimbau untuk bersikap sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi apa yang tidak Allah sukai. ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ ﴿ "Dan mohonlah ampunan untuk dosamu" yang menghalangimu untuk meraih kemenangan dan kebahagiaanmu. Jadi, Allah memerintahkannya untuk bersabar yang dengannya harapan dapat dicapai, dan disuruh beristighfar yang di dalamnya terkandung perlindungan dari hal yang membahayakan, dan ber-tasbih memuji Allah سبحانه وتعالى terutama ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "pada waktu pe-tang dan pagi," yang keduanya merupakan dua waktu yang paling utama. Pada keduanya dilaksanakan berbagai wirid, tugas-tugas yang wajib dan yang sunnah; karena semua itu menjadi perto-longan atas semua persoalan.
Gafir 40:54
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk men-jadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir. Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi." (Ghafir: 53-55).
(53-54) Setelah Allah menjelaskan apa yang telah terjadi terhadap Nabi Musa عليه السلام dan Fir'aun dan akhir kesudahan peng-ikut Fir'aun dan pasukannya, kemudian menjelaskan keputusan umum yang menyeluruh untuknya dan untuk para penghuni ne-raka, maka di sini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Dia mengaruniakan kepada Nabi Musa ﴾ ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "petunjuk," yaitu, mukjizat-mukjizat dan ilmu yang dijadikan petunjuk oleh orang-orang yang menda-pat petunjuk, ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami wariskan al-Kitab kepada Bani Israil." Maksudnya, Kami menjadikannya saling diwa-risi di antara mereka dari generasi ke generasi, yaitu kitab Taurat. Kitab tersebut berisikan petunjuk, yang pada dasarnya adalah ilmu tentang hukum-hukum syar'i dan lain-lainnya, dan juga anjuran kepada kebajikan dan ancaman dari kejahatan. Hal itu tidak dimiliki oleh setiap orang, ia hanya ﴾ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "bagi orang-orang yang ber-pikir."
(55) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" wahai Rasul, sebagai-mana para Ulil 'Azmi sebelummu telah bersabar, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "karena sesungguhnya janji Allah itu benar," maksudnya, tidak ada keraguan di dalamnya ataupun kedustaan, sehingga kamu harus merasa sulit untuk sabar. Sesungguhnya ia adalah kebenaran murni dan petunjuk belaka yang karenanya kaum yang sabar bersabar dan orang-orang yang berakal bersungguh-sungguh berpegang teguh kepadanya. Ungkapan ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu benar" termasuk ungkapan yang menghimbau untuk bersikap sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi apa yang tidak Allah sukai. ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ ﴿ "Dan mohonlah ampunan untuk dosamu" yang menghalangimu untuk meraih kemenangan dan kebahagiaanmu. Jadi, Allah memerintahkannya untuk bersabar yang dengannya harapan dapat dicapai, dan disuruh beristighfar yang di dalamnya terkandung perlindungan dari hal yang membahayakan, dan ber-tasbih memuji Allah سبحانه وتعالى terutama ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "pada waktu pe-tang dan pagi," yang keduanya merupakan dua waktu yang paling utama. Pada keduanya dilaksanakan berbagai wirid, tugas-tugas yang wajib dan yang sunnah; karena semua itu menjadi perto-longan atas semua persoalan.
Gafir 40:55
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk men-jadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir. Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi." (Ghafir: 53-55).
(53-54) Setelah Allah menjelaskan apa yang telah terjadi terhadap Nabi Musa عليه السلام dan Fir'aun dan akhir kesudahan peng-ikut Fir'aun dan pasukannya, kemudian menjelaskan keputusan umum yang menyeluruh untuknya dan untuk para penghuni ne-raka, maka di sini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Dia mengaruniakan kepada Nabi Musa ﴾ ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "petunjuk," yaitu, mukjizat-mukjizat dan ilmu yang dijadikan petunjuk oleh orang-orang yang menda-pat petunjuk, ﴾ وَأَوۡرَثۡنَا بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan Kami wariskan al-Kitab kepada Bani Israil." Maksudnya, Kami menjadikannya saling diwa-risi di antara mereka dari generasi ke generasi, yaitu kitab Taurat. Kitab tersebut berisikan petunjuk, yang pada dasarnya adalah ilmu tentang hukum-hukum syar'i dan lain-lainnya, dan juga anjuran kepada kebajikan dan ancaman dari kejahatan. Hal itu tidak dimiliki oleh setiap orang, ia hanya ﴾ لِأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "bagi orang-orang yang ber-pikir."
(55) ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "Maka bersabarlah kamu" wahai Rasul, sebagai-mana para Ulil 'Azmi sebelummu telah bersabar, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "karena sesungguhnya janji Allah itu benar," maksudnya, tidak ada keraguan di dalamnya ataupun kedustaan, sehingga kamu harus merasa sulit untuk sabar. Sesungguhnya ia adalah kebenaran murni dan petunjuk belaka yang karenanya kaum yang sabar bersabar dan orang-orang yang berakal bersungguh-sungguh berpegang teguh kepadanya. Ungkapan ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu benar" termasuk ungkapan yang menghimbau untuk bersikap sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi apa yang tidak Allah sukai. ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ ﴿ "Dan mohonlah ampunan untuk dosamu" yang menghalangimu untuk meraih kemenangan dan kebahagiaanmu. Jadi, Allah memerintahkannya untuk bersabar yang dengannya harapan dapat dicapai, dan disuruh beristighfar yang di dalamnya terkandung perlindungan dari hal yang membahayakan, dan ber-tasbih memuji Allah سبحانه وتعالى terutama ﴾ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِبۡكَٰرِ ﴿ "pada waktu pe-tang dan pagi," yang keduanya merupakan dua waktu yang paling utama. Pada keduanya dilaksanakan berbagai wirid, tugas-tugas yang wajib dan yang sunnah; karena semua itu menjadi perto-longan atas semua persoalan.
Gafir 40:56
"Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah kesombongan yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah per-lindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Ghafir: 56).
(56) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwasanya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayatNya untuk membatalkannya dengan kebatilan tanpa bukti yang jelas dariNya dan tanpa hujjah (argu-men), adalah bersumber dari kesombongan yang ada dalam dada mereka terhadap kebenaran dan terhadap orang yang membawa kebenaran itu. Mereka ingin menguasainya (menganiayanya) dengan kebatilan yang mereka miliki. Inilah tujuan dan keinginan mereka. Namun semua ini tidak akan terjadi dan mereka tidak akan mencapainya. Ini adalah nash (pernyataan) yang sangat tegas dan berita gembira bahwa setiap orang yang memperdebatkan kebenaran pasti kalah, dan siapa saja yang menyombongkan diri terhadapnya, maka pada akhirnya ia hina. ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ ﴿ "maka mintalah perlindungan," maksudnya, maka berlindung dan kembalilah ﴾ بِٱللَّهِۖ ﴿ "kepada Allah." Di sini tidak dise-butkan permohonan perlindungan dari apa, adalah agar maknanya umum. Maka maknanya adalah: Mintalah perlindungan kepada Allah dari sifat sombong yang bisa berakibat takabbur terhadap kebenaran, dan mohonlah perlindungan dari setan-setan jin dan manusia, serta mohonlah perlindungan kepada Allah dari seluruh kejahatan. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar" segenap suara dengan berbagai perbedaannya, ﴾ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "lagi Maha Melihat" seluruh yang dapat dilihat di mana saja dan kapan saja.
Gafir 40:57
"Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka. Sedi-kit sekali kamu mengambil pelajaran. Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya, akan tetapi keba-nyakan manusia tidak beriman." (Ghafir: 57-59).
(57) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang sudah diterima oleh akal sehat bahwa ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi," dengan segala kebesaran dan keluasan keduanya lebih agung dan ﴾ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "lebih besar daripada penciptaan manusia." Manusia, bila dibandingkan dengan langit dan gunung sungguh sangat amat kecil sekali. Maka yang telah kuasa menciptakan planet-planet raksasa dan dengan sangat rapi itu kuasa pula mengulangi penciptaan manusia. Ini adalah salah satu bukti (dalil) rasional yang membuktikan kebenaran kebangkitan dengan pembuktian yang pasti walau hanya dengan perenungan pikiran sederhana padanya, ia dapat dibuktikan dengan pembuktian yang tidak me-nerima keraguan dan kerancuan tentang benarnya apa yang disam-paikan oleh para rasul, seperti akan dihidupkannya kembali ma-nusia. Dan tidak setiap orang mengarahkan pikirannya ke sana dan konsentrasi merenungkannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui." Maka dari itu mereka tidak mengambil pelajaran, dan tidak pula mereka menghiraukannya.
(58) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَلَا ٱلۡمُسِيٓءُۚ ﴿ "Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka." Mak-sudnya, sebagaimana halnya tidak sama orang yang buta dengan yang melihat, maka demikian pula tidak sama orang yang beriman kepada Allah dan beramal shalih dengan orang yang menyom-bongkan diri untuk beribadah kepada Allah, berani melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan selalu melakukan perbuatan-per-buatan yang dimurkaiNya. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." Maksudnya, kesadaran kalian sangat minim sekali. Sebab, seandainya kalian menyadari tingkatan-tingkatan berbagai perkara, kedudukan kebaikan-kebaikan dan keburukan, dan perbedaan antara orang-orang yang berbakti dengan orang-orang yang durhaka sedangkan kalian mempunyai keinginan tinggi tentu kalian mengutamakan yang bermanfaat daripada yang buruk, petunjuk daripada kesesatan dan kebahagiaan abadi dari-pada dunia fana ini.
(59) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَأٓتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya." Sudah diberitakan oleh semua rasul yang merupakan manusia yang paling jujur dan dibicarakan oleh kitab-kitab suci samawi yang seluruh informasinya merupa-kan tingkatan kebenaran yang paling tinggi, dan telah dibuktikan oleh berbagai bukti-bukti yang dapat dilihat dan tanda-tanda di alam semesta, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman" terhadap permasalahan-permasalahan yang mengharuskan penuh keimanan dan rasa tunduk.
Gafir 40:58
"Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka. Sedi-kit sekali kamu mengambil pelajaran. Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya, akan tetapi keba-nyakan manusia tidak beriman." (Ghafir: 57-59).
(57) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang sudah diterima oleh akal sehat bahwa ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi," dengan segala kebesaran dan keluasan keduanya lebih agung dan ﴾ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "lebih besar daripada penciptaan manusia." Manusia, bila dibandingkan dengan langit dan gunung sungguh sangat amat kecil sekali. Maka yang telah kuasa menciptakan planet-planet raksasa dan dengan sangat rapi itu kuasa pula mengulangi penciptaan manusia. Ini adalah salah satu bukti (dalil) rasional yang membuktikan kebenaran kebangkitan dengan pembuktian yang pasti walau hanya dengan perenungan pikiran sederhana padanya, ia dapat dibuktikan dengan pembuktian yang tidak me-nerima keraguan dan kerancuan tentang benarnya apa yang disam-paikan oleh para rasul, seperti akan dihidupkannya kembali ma-nusia. Dan tidak setiap orang mengarahkan pikirannya ke sana dan konsentrasi merenungkannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui." Maka dari itu mereka tidak mengambil pelajaran, dan tidak pula mereka menghiraukannya.
(58) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَلَا ٱلۡمُسِيٓءُۚ ﴿ "Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka." Mak-sudnya, sebagaimana halnya tidak sama orang yang buta dengan yang melihat, maka demikian pula tidak sama orang yang beriman kepada Allah dan beramal shalih dengan orang yang menyom-bongkan diri untuk beribadah kepada Allah, berani melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan selalu melakukan perbuatan-per-buatan yang dimurkaiNya. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." Maksudnya, kesadaran kalian sangat minim sekali. Sebab, seandainya kalian menyadari tingkatan-tingkatan berbagai perkara, kedudukan kebaikan-kebaikan dan keburukan, dan perbedaan antara orang-orang yang berbakti dengan orang-orang yang durhaka sedangkan kalian mempunyai keinginan tinggi tentu kalian mengutamakan yang bermanfaat daripada yang buruk, petunjuk daripada kesesatan dan kebahagiaan abadi dari-pada dunia fana ini.
(59) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَأٓتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya." Sudah diberitakan oleh semua rasul yang merupakan manusia yang paling jujur dan dibicarakan oleh kitab-kitab suci samawi yang seluruh informasinya merupa-kan tingkatan kebenaran yang paling tinggi, dan telah dibuktikan oleh berbagai bukti-bukti yang dapat dilihat dan tanda-tanda di alam semesta, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman" terhadap permasalahan-permasalahan yang mengharuskan penuh keimanan dan rasa tunduk.
Gafir 40:59
"Sungguh penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui. Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka. Sedi-kit sekali kamu mengambil pelajaran. Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya, akan tetapi keba-nyakan manusia tidak beriman." (Ghafir: 57-59).
(57) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang sudah diterima oleh akal sehat bahwa ﴾ لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sungguh penciptaan langit dan bumi," dengan segala kebesaran dan keluasan keduanya lebih agung dan ﴾ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ ﴿ "lebih besar daripada penciptaan manusia." Manusia, bila dibandingkan dengan langit dan gunung sungguh sangat amat kecil sekali. Maka yang telah kuasa menciptakan planet-planet raksasa dan dengan sangat rapi itu kuasa pula mengulangi penciptaan manusia. Ini adalah salah satu bukti (dalil) rasional yang membuktikan kebenaran kebangkitan dengan pembuktian yang pasti walau hanya dengan perenungan pikiran sederhana padanya, ia dapat dibuktikan dengan pembuktian yang tidak me-nerima keraguan dan kerancuan tentang benarnya apa yang disam-paikan oleh para rasul, seperti akan dihidupkannya kembali ma-nusia. Dan tidak setiap orang mengarahkan pikirannya ke sana dan konsentrasi merenungkannya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Akan tetapi kebanyakan manusia tiada me-ngetahui." Maka dari itu mereka tidak mengambil pelajaran, dan tidak pula mereka menghiraukannya.
(58) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَمَا يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَلَا ٱلۡمُسِيٓءُۚ ﴿ "Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah pula sama orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dengan orang-orang yang durhaka." Mak-sudnya, sebagaimana halnya tidak sama orang yang buta dengan yang melihat, maka demikian pula tidak sama orang yang beriman kepada Allah dan beramal shalih dengan orang yang menyom-bongkan diri untuk beribadah kepada Allah, berani melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dan selalu melakukan perbuatan-per-buatan yang dimurkaiNya. ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَتَذَكَّرُونَ ﴿ "Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." Maksudnya, kesadaran kalian sangat minim sekali. Sebab, seandainya kalian menyadari tingkatan-tingkatan berbagai perkara, kedudukan kebaikan-kebaikan dan keburukan, dan perbedaan antara orang-orang yang berbakti dengan orang-orang yang durhaka sedangkan kalian mempunyai keinginan tinggi tentu kalian mengutamakan yang bermanfaat daripada yang buruk, petunjuk daripada kesesatan dan kebahagiaan abadi dari-pada dunia fana ini.
(59) ﴾ إِنَّ ٱلسَّاعَةَ لَأٓتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا ﴿ "Sesungguhnya Hari Kiamat pasti akan datang, tiada keraguan tentangnya." Sudah diberitakan oleh semua rasul yang merupakan manusia yang paling jujur dan dibicarakan oleh kitab-kitab suci samawi yang seluruh informasinya merupa-kan tingkatan kebenaran yang paling tinggi, dan telah dibuktikan oleh berbagai bukti-bukti yang dapat dilihat dan tanda-tanda di alam semesta, ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman" terhadap permasalahan-permasalahan yang mengharuskan penuh keimanan dan rasa tunduk.
Gafir 40:60
"Dan Rabbmu berfirman, 'Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina'." (Ghafir: 60).
(60) Ini adalah bagian dari kelembutan Allah terhadap hamba-hambaNya dan nikmatNya yang sangat besar, di mana Dia menyeru mereka kepada apa yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi Agama dan dunia mereka, dan Dia perintahkan mereka untuk berdoa dengan doa ibadah dan doa permohonan, dan Dia berjanji kepada mereka akan mengabulkannya, dan sebaliknya Dia-pun mengancam siapa yang menyombongkan diri terhadapnya, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." Maksudnya, dengan nista dan terhina, azab dan penghinaan ditimpakan terhadapnya sebagai balasan atas kesombongannya.
Renungkanlah ayat-ayat suci ini yang menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah, limpahan karuniaNya dan kewajiban ber-syukur kepadaNya, kemahasempurnaan KuasaNya, keagungan otoritasNya, kemahaluasan kerajaanNya, keuniversalan ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu, kemahasempurnaan hidupNya, dan kebersifatanNya dengan pujian atas setiap sifat-sifat sempurna yang dimilikiNya dan perbuatan-perbuatan baik yang dilakukanNya, kesempurnaan rububiyah dan keesaanNya dalam rububiyah itu. Dan sesungguhnya seluruh pengendalian di alam atas (langit) dan alam bawah (bumi) di masa yang telah berlalu, yang sekarang dan yang akan datang ada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Tidak seorang pun me-miliki urusan (kendali) dan tidak pula memiliki kekuasaan sedi-kitpun. Maka renungan ini akan menghasilkan keyakinan bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى-lah yang berhak disembah dan diibadahi, tidak ada seorang pun selain Dia yang berhak diibadahi sedikitpun, sebagaimana semua itu tidak memiliki rububiyah sedikitpun! Dan hal ini juga akan melahirkan hati yang penuh dengan ma'rifatullah, kecintaan kepadaNya, takut, dan berharap kepadaNya. Dua perkara, yaitu mengenal dan beribadah kepadaNya ada-lah merupakan tujuan Allah menciptakan makhluk (manusia) ini. Kedua perkara inilah tujuan yang diinginkan oleh Allah سبحانه وتعالى bagi hamba-hambaNya, dan kedua perkara ini pulalah yang dapat mengantarkan kepada setiap kebaikan, kemenangan, keshalihan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dua perkara ini adalah karu-nia yang paling mulia secara keseluruhan. Kedua perkara ini, jika terabaikan, maka terabaikan pula segala kebaikan dan datanglah segala keburukan. Kami memohon kepada Allah, semoga Dia ber-kenan memenuhi hati kami dengan ma'rifat kepadaNya dan men-cintaiNya, dan semoga Dia menjadikan gerak-gerik kami yang nampak dan yang tidak nampak tulus ikhlas demi keridhaanNya, patuh kepada perintahNya. Sesungguhnya tiada permohonan yang berat bagiNya dan tiada pemberian yang menyusahkanNya.
Gafir 40:61
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang bende-rang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada yang berhak disembah selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?! Seperti demikianlah di-palingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat mene-tap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu serta memberi rizki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam. Dia-lah Yang Hidup kekal, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepadaNya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Ghafir: 61-65).
(61) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu," maksudnya, karena kalianlah Allah menjadikan malam itu gelap ﴾ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "supaya kamu beristirahat padanya" dari gerak aktivitas kalian yang kalau seandainya ia terus tanpa henti, maka akan berakibat buruk. Kalian beristirahat di tempat tidur kalian dan Allah kemudian menidurkan kalian yang dengannya pikiran dan badan menjadi istirahat. Tidur merupakan kebutuhan primer manusia, ia tidak akan bisa hidup tanpa tidur. Pada malam hari juga setiap kekasih merasakan kedamaian kepada kekasihnya, pikiran bisa fokus dan segala yang menyibuk-kan berkurang. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Allah سبحانه وتعالى menjadikan ﴾ وَٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang," dengan adanya matahari yang berotasi di ufuk, lalu kalian bangun dari tempat tidur kembali kepada kesi-bukan Agama dan dunia kalian. Sebagian waktu untuk berdzikir dan membaca dan sebagian untuk shalat, sebagian lagi untuk menuntut ilmu dan belajar, sebagian lagi untuk aktivitas jual-beli, untuk membangun, untuk menempa besi dan untuk berbagai ak-tivitas produksi lainnya. Sebagian lagi untuk bepergian jauh lewat darat maupun laut, untuk bercocok tanam, dan untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia" yang sangat besar sekali, ﴾ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "atas manusia," di mana Dia karuniakan kepada mereka nikmat-nikmat ini dan yang lainnya, dan Dia jauhkan berbagai bencana dari mereka. Ini semua mengharuskan bersyukur penuh dan ber-dzikir kepadaNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Akan tetapi keba-nyakan manusia tidak bersyukur," disebabkan oleh kebodohan dan kezhaliman mereka. ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13.). Yaitu yang mengakui nikmat-nikmat dari Allah, mereka tun-duk kepadaNya dan mencintaiNya, seraya menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam rangka taat kepadaNya dan mencari keri-dhaanNya.
(62) ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian itu," Yang melakukan semua itu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "adalah Allah, Rabbmu," yakni, Yang Esa dalam ulu-hiyahNya (sebagai satu-satunya yang berhak disembah) dan Esa dalam rububiyahNya (sebagai satu-satunya yang mencipta dan mengatur alam semesta). Sebab keesaanNya dalam memberikan nikmat-nikmat tersebut adalah bagian dari rububiyahNya, dan di-wajibkannya bersyukur adalah bagian dari uluhiyahNya. ﴾ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Pencipta segala sesuatu." Ini adalah pernyataan tentang RububiyahNya[83] ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disem-bah selain Dia," adalah pernyataan bahwa Dia-lah yang berhak di-sembah, tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian ditegaskan perintah untuk menyembahNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "maka bagai-manakah kamu dapat dipalingkan?!" Maksudnya, bagaimana kalian berpaling dari ibadah kepadaNya semata, tiada sekutu bagiNya setelah ditegaskan dalilnya kepada kalian dan ditampakkan jalan-nya kepada kalian?
(63) ﴾ كَذَٰلِكَ يُؤۡفَكُ ٱلَّذِينَ كَانُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah." Yakni, sebagai hukuman atas kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan atas sikap zhalim mereka terhadap rasul-rasulNya, maka mereka dipalingkan dari tauhid dan keikhlasan, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 127 ﴿ "Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(64) ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا ﴿ "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap." Maksudnya, diam, tenang lagi disiapkan untuk segala kemaslahatan kalian, kalian dapat me-nyangkulnya, menanam tanaman di atasnya, membuat bangunan di atasnya, bepergian jauh dan tinggal padanya, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ ﴿ "dan langit sebagai atap," yakni, atap bagi bumi yang mana kalian berada di dalamnya. Dan Allah telah menjadikan di dalamnya (jagat raya ini) apa-apa yang kalian dapat manfaatkan, seperti berbagai cahaya dan tanda-tanda (bintang-bintang) yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di lautan. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ ﴿ "Dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu." Tidak ada pada jenis hewan yang lebih indah bentuk-nya dan rupanya daripada manusia, sebagaimana Allah firmankan, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Jika Anda ingin mengetahui keindahan rupa manusia dan kesempurnaan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى padanya, maka lihatlah ia pada tiap-tiap anggota tubuhnya satu persatu. Apakah Anda temu-kan salah satu dari anggota tubuh Anda yang sangat serasi dengan-nya dan pantas untuk ditempatkan bukan pada tempatnya? Dan cobalah perhatikan juga kecenderungan yang ada di dalam hati hewan-hewan itu, apakah Anda jumpai pada selain manusia? Dan perhatikan pula keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti akal, iman, rasa cinta, dan ma'rifat yang merupakan sifat-sifat (akhlak) yang terbaik yang hanya pantas untuk bentuk (rupa) yang paling indah. ﴾ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ ﴿ "Serta memberi rizki kamu dengan sebagian yang baik-baik," ini mencakup segala rizki yang baik dari makanan, minuman, perkawinan, pakaian, penglihatan dan pendengaran serta berbagai kebaikan lainnya yang Allah mudahkan bagi hamba-hambaNya dan Dia gampangkan sebab-sebabnya, dan Dia cegah mereka dari hal-hal yang keji yang berlawanan dengannya dan membahayakan fisik, jiwa, dan agama mereka. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian," Yang mengatur segala urusan dan mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut kepada kalian, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam." Mahabesar, Maha banyak kebaikan dan ihsanNya, Pengatur seluruh alam dengan segala nikmat-nikmatNya.
(65) ﴾ هُوَ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Dia-lah Yang Mahahidup" yang memiliki kehidupan sempurna lagi paripurna yang menuntut adanya sifat-sifat dzatiyah yang pasti dimilikiNya, yang kehidupanNya tidak akan sempurna kecuali dengan adanya, seperti, mendengar, meli-hat, kuasa, berilmu, berbicara, dan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya yang lain. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Tiada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang Mahamulia, ﴾ فَٱدۡعُوهُ ﴿ "maka berdoalah kepadaNya." Ini mencakup doa ibadah dan doa per-mohonan, ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ﴿ "dengan memurnikan ibadah kepadaNya." Maksudnya, niatilah dalam setiap ibadah, doa, dan amal untuk mendapat keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Sebab, ikhlas-lah yang diperintah-kan, sebagaimana ditegaskan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." Maksudnya, seluruh bentuk pujian, sanjungan, dan persembahan dengan ucapan, seperti ucapan manusia yang menyebutNya dan dengan pekerjaan, seperti beribadah kepadaNya, semua itu adalah hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, tiada sekutu bagiNya, karena kesem-purnaan sifat-sifat, perbuatan, dan nikmat-nikmatNya.
Gafir 40:62
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang bende-rang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada yang berhak disembah selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?! Seperti demikianlah di-palingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat mene-tap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu serta memberi rizki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam. Dia-lah Yang Hidup kekal, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepadaNya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Ghafir: 61-65).
(61) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu," maksudnya, karena kalianlah Allah menjadikan malam itu gelap ﴾ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "supaya kamu beristirahat padanya" dari gerak aktivitas kalian yang kalau seandainya ia terus tanpa henti, maka akan berakibat buruk. Kalian beristirahat di tempat tidur kalian dan Allah kemudian menidurkan kalian yang dengannya pikiran dan badan menjadi istirahat. Tidur merupakan kebutuhan primer manusia, ia tidak akan bisa hidup tanpa tidur. Pada malam hari juga setiap kekasih merasakan kedamaian kepada kekasihnya, pikiran bisa fokus dan segala yang menyibuk-kan berkurang. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Allah سبحانه وتعالى menjadikan ﴾ وَٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang," dengan adanya matahari yang berotasi di ufuk, lalu kalian bangun dari tempat tidur kembali kepada kesi-bukan Agama dan dunia kalian. Sebagian waktu untuk berdzikir dan membaca dan sebagian untuk shalat, sebagian lagi untuk menuntut ilmu dan belajar, sebagian lagi untuk aktivitas jual-beli, untuk membangun, untuk menempa besi dan untuk berbagai ak-tivitas produksi lainnya. Sebagian lagi untuk bepergian jauh lewat darat maupun laut, untuk bercocok tanam, dan untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia" yang sangat besar sekali, ﴾ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "atas manusia," di mana Dia karuniakan kepada mereka nikmat-nikmat ini dan yang lainnya, dan Dia jauhkan berbagai bencana dari mereka. Ini semua mengharuskan bersyukur penuh dan ber-dzikir kepadaNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Akan tetapi keba-nyakan manusia tidak bersyukur," disebabkan oleh kebodohan dan kezhaliman mereka. ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13.). Yaitu yang mengakui nikmat-nikmat dari Allah, mereka tun-duk kepadaNya dan mencintaiNya, seraya menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam rangka taat kepadaNya dan mencari keri-dhaanNya.
(62) ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian itu," Yang melakukan semua itu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "adalah Allah, Rabbmu," yakni, Yang Esa dalam ulu-hiyahNya (sebagai satu-satunya yang berhak disembah) dan Esa dalam rububiyahNya (sebagai satu-satunya yang mencipta dan mengatur alam semesta). Sebab keesaanNya dalam memberikan nikmat-nikmat tersebut adalah bagian dari rububiyahNya, dan di-wajibkannya bersyukur adalah bagian dari uluhiyahNya. ﴾ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Pencipta segala sesuatu." Ini adalah pernyataan tentang RububiyahNya[83] ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disem-bah selain Dia," adalah pernyataan bahwa Dia-lah yang berhak di-sembah, tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian ditegaskan perintah untuk menyembahNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "maka bagai-manakah kamu dapat dipalingkan?!" Maksudnya, bagaimana kalian berpaling dari ibadah kepadaNya semata, tiada sekutu bagiNya setelah ditegaskan dalilnya kepada kalian dan ditampakkan jalan-nya kepada kalian?
(63) ﴾ كَذَٰلِكَ يُؤۡفَكُ ٱلَّذِينَ كَانُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah." Yakni, sebagai hukuman atas kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan atas sikap zhalim mereka terhadap rasul-rasulNya, maka mereka dipalingkan dari tauhid dan keikhlasan, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 127 ﴿ "Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(64) ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا ﴿ "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap." Maksudnya, diam, tenang lagi disiapkan untuk segala kemaslahatan kalian, kalian dapat me-nyangkulnya, menanam tanaman di atasnya, membuat bangunan di atasnya, bepergian jauh dan tinggal padanya, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ ﴿ "dan langit sebagai atap," yakni, atap bagi bumi yang mana kalian berada di dalamnya. Dan Allah telah menjadikan di dalamnya (jagat raya ini) apa-apa yang kalian dapat manfaatkan, seperti berbagai cahaya dan tanda-tanda (bintang-bintang) yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di lautan. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ ﴿ "Dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu." Tidak ada pada jenis hewan yang lebih indah bentuk-nya dan rupanya daripada manusia, sebagaimana Allah firmankan, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Jika Anda ingin mengetahui keindahan rupa manusia dan kesempurnaan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى padanya, maka lihatlah ia pada tiap-tiap anggota tubuhnya satu persatu. Apakah Anda temu-kan salah satu dari anggota tubuh Anda yang sangat serasi dengan-nya dan pantas untuk ditempatkan bukan pada tempatnya? Dan cobalah perhatikan juga kecenderungan yang ada di dalam hati hewan-hewan itu, apakah Anda jumpai pada selain manusia? Dan perhatikan pula keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti akal, iman, rasa cinta, dan ma'rifat yang merupakan sifat-sifat (akhlak) yang terbaik yang hanya pantas untuk bentuk (rupa) yang paling indah. ﴾ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ ﴿ "Serta memberi rizki kamu dengan sebagian yang baik-baik," ini mencakup segala rizki yang baik dari makanan, minuman, perkawinan, pakaian, penglihatan dan pendengaran serta berbagai kebaikan lainnya yang Allah mudahkan bagi hamba-hambaNya dan Dia gampangkan sebab-sebabnya, dan Dia cegah mereka dari hal-hal yang keji yang berlawanan dengannya dan membahayakan fisik, jiwa, dan agama mereka. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian," Yang mengatur segala urusan dan mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut kepada kalian, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam." Mahabesar, Maha banyak kebaikan dan ihsanNya, Pengatur seluruh alam dengan segala nikmat-nikmatNya.
(65) ﴾ هُوَ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Dia-lah Yang Mahahidup" yang memiliki kehidupan sempurna lagi paripurna yang menuntut adanya sifat-sifat dzatiyah yang pasti dimilikiNya, yang kehidupanNya tidak akan sempurna kecuali dengan adanya, seperti, mendengar, meli-hat, kuasa, berilmu, berbicara, dan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya yang lain. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Tiada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang Mahamulia, ﴾ فَٱدۡعُوهُ ﴿ "maka berdoalah kepadaNya." Ini mencakup doa ibadah dan doa per-mohonan, ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ﴿ "dengan memurnikan ibadah kepadaNya." Maksudnya, niatilah dalam setiap ibadah, doa, dan amal untuk mendapat keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Sebab, ikhlas-lah yang diperintah-kan, sebagaimana ditegaskan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." Maksudnya, seluruh bentuk pujian, sanjungan, dan persembahan dengan ucapan, seperti ucapan manusia yang menyebutNya dan dengan pekerjaan, seperti beribadah kepadaNya, semua itu adalah hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, tiada sekutu bagiNya, karena kesem-purnaan sifat-sifat, perbuatan, dan nikmat-nikmatNya.
Gafir 40:63
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang bende-rang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada yang berhak disembah selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?! Seperti demikianlah di-palingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat mene-tap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu serta memberi rizki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam. Dia-lah Yang Hidup kekal, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepadaNya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Ghafir: 61-65).
(61) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu," maksudnya, karena kalianlah Allah menjadikan malam itu gelap ﴾ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "supaya kamu beristirahat padanya" dari gerak aktivitas kalian yang kalau seandainya ia terus tanpa henti, maka akan berakibat buruk. Kalian beristirahat di tempat tidur kalian dan Allah kemudian menidurkan kalian yang dengannya pikiran dan badan menjadi istirahat. Tidur merupakan kebutuhan primer manusia, ia tidak akan bisa hidup tanpa tidur. Pada malam hari juga setiap kekasih merasakan kedamaian kepada kekasihnya, pikiran bisa fokus dan segala yang menyibuk-kan berkurang. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Allah سبحانه وتعالى menjadikan ﴾ وَٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang," dengan adanya matahari yang berotasi di ufuk, lalu kalian bangun dari tempat tidur kembali kepada kesi-bukan Agama dan dunia kalian. Sebagian waktu untuk berdzikir dan membaca dan sebagian untuk shalat, sebagian lagi untuk menuntut ilmu dan belajar, sebagian lagi untuk aktivitas jual-beli, untuk membangun, untuk menempa besi dan untuk berbagai ak-tivitas produksi lainnya. Sebagian lagi untuk bepergian jauh lewat darat maupun laut, untuk bercocok tanam, dan untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia" yang sangat besar sekali, ﴾ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "atas manusia," di mana Dia karuniakan kepada mereka nikmat-nikmat ini dan yang lainnya, dan Dia jauhkan berbagai bencana dari mereka. Ini semua mengharuskan bersyukur penuh dan ber-dzikir kepadaNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Akan tetapi keba-nyakan manusia tidak bersyukur," disebabkan oleh kebodohan dan kezhaliman mereka. ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13.). Yaitu yang mengakui nikmat-nikmat dari Allah, mereka tun-duk kepadaNya dan mencintaiNya, seraya menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam rangka taat kepadaNya dan mencari keri-dhaanNya.
(62) ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian itu," Yang melakukan semua itu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "adalah Allah, Rabbmu," yakni, Yang Esa dalam ulu-hiyahNya (sebagai satu-satunya yang berhak disembah) dan Esa dalam rububiyahNya (sebagai satu-satunya yang mencipta dan mengatur alam semesta). Sebab keesaanNya dalam memberikan nikmat-nikmat tersebut adalah bagian dari rububiyahNya, dan di-wajibkannya bersyukur adalah bagian dari uluhiyahNya. ﴾ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Pencipta segala sesuatu." Ini adalah pernyataan tentang RububiyahNya[83] ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disem-bah selain Dia," adalah pernyataan bahwa Dia-lah yang berhak di-sembah, tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian ditegaskan perintah untuk menyembahNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "maka bagai-manakah kamu dapat dipalingkan?!" Maksudnya, bagaimana kalian berpaling dari ibadah kepadaNya semata, tiada sekutu bagiNya setelah ditegaskan dalilnya kepada kalian dan ditampakkan jalan-nya kepada kalian?
(63) ﴾ كَذَٰلِكَ يُؤۡفَكُ ٱلَّذِينَ كَانُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah." Yakni, sebagai hukuman atas kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan atas sikap zhalim mereka terhadap rasul-rasulNya, maka mereka dipalingkan dari tauhid dan keikhlasan, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 127 ﴿ "Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(64) ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا ﴿ "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap." Maksudnya, diam, tenang lagi disiapkan untuk segala kemaslahatan kalian, kalian dapat me-nyangkulnya, menanam tanaman di atasnya, membuat bangunan di atasnya, bepergian jauh dan tinggal padanya, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ ﴿ "dan langit sebagai atap," yakni, atap bagi bumi yang mana kalian berada di dalamnya. Dan Allah telah menjadikan di dalamnya (jagat raya ini) apa-apa yang kalian dapat manfaatkan, seperti berbagai cahaya dan tanda-tanda (bintang-bintang) yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di lautan. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ ﴿ "Dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu." Tidak ada pada jenis hewan yang lebih indah bentuk-nya dan rupanya daripada manusia, sebagaimana Allah firmankan, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Jika Anda ingin mengetahui keindahan rupa manusia dan kesempurnaan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى padanya, maka lihatlah ia pada tiap-tiap anggota tubuhnya satu persatu. Apakah Anda temu-kan salah satu dari anggota tubuh Anda yang sangat serasi dengan-nya dan pantas untuk ditempatkan bukan pada tempatnya? Dan cobalah perhatikan juga kecenderungan yang ada di dalam hati hewan-hewan itu, apakah Anda jumpai pada selain manusia? Dan perhatikan pula keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti akal, iman, rasa cinta, dan ma'rifat yang merupakan sifat-sifat (akhlak) yang terbaik yang hanya pantas untuk bentuk (rupa) yang paling indah. ﴾ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ ﴿ "Serta memberi rizki kamu dengan sebagian yang baik-baik," ini mencakup segala rizki yang baik dari makanan, minuman, perkawinan, pakaian, penglihatan dan pendengaran serta berbagai kebaikan lainnya yang Allah mudahkan bagi hamba-hambaNya dan Dia gampangkan sebab-sebabnya, dan Dia cegah mereka dari hal-hal yang keji yang berlawanan dengannya dan membahayakan fisik, jiwa, dan agama mereka. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian," Yang mengatur segala urusan dan mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut kepada kalian, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam." Mahabesar, Maha banyak kebaikan dan ihsanNya, Pengatur seluruh alam dengan segala nikmat-nikmatNya.
(65) ﴾ هُوَ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Dia-lah Yang Mahahidup" yang memiliki kehidupan sempurna lagi paripurna yang menuntut adanya sifat-sifat dzatiyah yang pasti dimilikiNya, yang kehidupanNya tidak akan sempurna kecuali dengan adanya, seperti, mendengar, meli-hat, kuasa, berilmu, berbicara, dan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya yang lain. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Tiada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang Mahamulia, ﴾ فَٱدۡعُوهُ ﴿ "maka berdoalah kepadaNya." Ini mencakup doa ibadah dan doa per-mohonan, ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ﴿ "dengan memurnikan ibadah kepadaNya." Maksudnya, niatilah dalam setiap ibadah, doa, dan amal untuk mendapat keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Sebab, ikhlas-lah yang diperintah-kan, sebagaimana ditegaskan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." Maksudnya, seluruh bentuk pujian, sanjungan, dan persembahan dengan ucapan, seperti ucapan manusia yang menyebutNya dan dengan pekerjaan, seperti beribadah kepadaNya, semua itu adalah hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, tiada sekutu bagiNya, karena kesem-purnaan sifat-sifat, perbuatan, dan nikmat-nikmatNya.
Gafir 40:64
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang bende-rang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada yang berhak disembah selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?! Seperti demikianlah di-palingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat mene-tap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu serta memberi rizki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam. Dia-lah Yang Hidup kekal, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepadaNya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Ghafir: 61-65).
(61) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu," maksudnya, karena kalianlah Allah menjadikan malam itu gelap ﴾ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "supaya kamu beristirahat padanya" dari gerak aktivitas kalian yang kalau seandainya ia terus tanpa henti, maka akan berakibat buruk. Kalian beristirahat di tempat tidur kalian dan Allah kemudian menidurkan kalian yang dengannya pikiran dan badan menjadi istirahat. Tidur merupakan kebutuhan primer manusia, ia tidak akan bisa hidup tanpa tidur. Pada malam hari juga setiap kekasih merasakan kedamaian kepada kekasihnya, pikiran bisa fokus dan segala yang menyibuk-kan berkurang. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Allah سبحانه وتعالى menjadikan ﴾ وَٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang," dengan adanya matahari yang berotasi di ufuk, lalu kalian bangun dari tempat tidur kembali kepada kesi-bukan Agama dan dunia kalian. Sebagian waktu untuk berdzikir dan membaca dan sebagian untuk shalat, sebagian lagi untuk menuntut ilmu dan belajar, sebagian lagi untuk aktivitas jual-beli, untuk membangun, untuk menempa besi dan untuk berbagai ak-tivitas produksi lainnya. Sebagian lagi untuk bepergian jauh lewat darat maupun laut, untuk bercocok tanam, dan untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia" yang sangat besar sekali, ﴾ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "atas manusia," di mana Dia karuniakan kepada mereka nikmat-nikmat ini dan yang lainnya, dan Dia jauhkan berbagai bencana dari mereka. Ini semua mengharuskan bersyukur penuh dan ber-dzikir kepadaNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Akan tetapi keba-nyakan manusia tidak bersyukur," disebabkan oleh kebodohan dan kezhaliman mereka. ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13.). Yaitu yang mengakui nikmat-nikmat dari Allah, mereka tun-duk kepadaNya dan mencintaiNya, seraya menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam rangka taat kepadaNya dan mencari keri-dhaanNya.
(62) ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian itu," Yang melakukan semua itu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "adalah Allah, Rabbmu," yakni, Yang Esa dalam ulu-hiyahNya (sebagai satu-satunya yang berhak disembah) dan Esa dalam rububiyahNya (sebagai satu-satunya yang mencipta dan mengatur alam semesta). Sebab keesaanNya dalam memberikan nikmat-nikmat tersebut adalah bagian dari rububiyahNya, dan di-wajibkannya bersyukur adalah bagian dari uluhiyahNya. ﴾ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Pencipta segala sesuatu." Ini adalah pernyataan tentang RububiyahNya[83] ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disem-bah selain Dia," adalah pernyataan bahwa Dia-lah yang berhak di-sembah, tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian ditegaskan perintah untuk menyembahNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "maka bagai-manakah kamu dapat dipalingkan?!" Maksudnya, bagaimana kalian berpaling dari ibadah kepadaNya semata, tiada sekutu bagiNya setelah ditegaskan dalilnya kepada kalian dan ditampakkan jalan-nya kepada kalian?
(63) ﴾ كَذَٰلِكَ يُؤۡفَكُ ٱلَّذِينَ كَانُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah." Yakni, sebagai hukuman atas kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan atas sikap zhalim mereka terhadap rasul-rasulNya, maka mereka dipalingkan dari tauhid dan keikhlasan, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 127 ﴿ "Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(64) ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا ﴿ "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap." Maksudnya, diam, tenang lagi disiapkan untuk segala kemaslahatan kalian, kalian dapat me-nyangkulnya, menanam tanaman di atasnya, membuat bangunan di atasnya, bepergian jauh dan tinggal padanya, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ ﴿ "dan langit sebagai atap," yakni, atap bagi bumi yang mana kalian berada di dalamnya. Dan Allah telah menjadikan di dalamnya (jagat raya ini) apa-apa yang kalian dapat manfaatkan, seperti berbagai cahaya dan tanda-tanda (bintang-bintang) yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di lautan. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ ﴿ "Dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu." Tidak ada pada jenis hewan yang lebih indah bentuk-nya dan rupanya daripada manusia, sebagaimana Allah firmankan, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Jika Anda ingin mengetahui keindahan rupa manusia dan kesempurnaan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى padanya, maka lihatlah ia pada tiap-tiap anggota tubuhnya satu persatu. Apakah Anda temu-kan salah satu dari anggota tubuh Anda yang sangat serasi dengan-nya dan pantas untuk ditempatkan bukan pada tempatnya? Dan cobalah perhatikan juga kecenderungan yang ada di dalam hati hewan-hewan itu, apakah Anda jumpai pada selain manusia? Dan perhatikan pula keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti akal, iman, rasa cinta, dan ma'rifat yang merupakan sifat-sifat (akhlak) yang terbaik yang hanya pantas untuk bentuk (rupa) yang paling indah. ﴾ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ ﴿ "Serta memberi rizki kamu dengan sebagian yang baik-baik," ini mencakup segala rizki yang baik dari makanan, minuman, perkawinan, pakaian, penglihatan dan pendengaran serta berbagai kebaikan lainnya yang Allah mudahkan bagi hamba-hambaNya dan Dia gampangkan sebab-sebabnya, dan Dia cegah mereka dari hal-hal yang keji yang berlawanan dengannya dan membahayakan fisik, jiwa, dan agama mereka. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian," Yang mengatur segala urusan dan mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut kepada kalian, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam." Mahabesar, Maha banyak kebaikan dan ihsanNya, Pengatur seluruh alam dengan segala nikmat-nikmatNya.
(65) ﴾ هُوَ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Dia-lah Yang Mahahidup" yang memiliki kehidupan sempurna lagi paripurna yang menuntut adanya sifat-sifat dzatiyah yang pasti dimilikiNya, yang kehidupanNya tidak akan sempurna kecuali dengan adanya, seperti, mendengar, meli-hat, kuasa, berilmu, berbicara, dan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya yang lain. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Tiada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang Mahamulia, ﴾ فَٱدۡعُوهُ ﴿ "maka berdoalah kepadaNya." Ini mencakup doa ibadah dan doa per-mohonan, ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ﴿ "dengan memurnikan ibadah kepadaNya." Maksudnya, niatilah dalam setiap ibadah, doa, dan amal untuk mendapat keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Sebab, ikhlas-lah yang diperintah-kan, sebagaimana ditegaskan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." Maksudnya, seluruh bentuk pujian, sanjungan, dan persembahan dengan ucapan, seperti ucapan manusia yang menyebutNya dan dengan pekerjaan, seperti beribadah kepadaNya, semua itu adalah hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, tiada sekutu bagiNya, karena kesem-purnaan sifat-sifat, perbuatan, dan nikmat-nikmatNya.
Gafir 40:65
"Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang bende-rang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. Yang demikian itu adalah Allah, Rabbmu, Pencipta segala sesuatu, tiada yang berhak disembah selain Dia; maka bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?! Seperti demikianlah di-palingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat mene-tap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu serta memberi rizki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam. Dia-lah Yang Hidup kekal, tiada tuhan yang berhak disembah selain Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepadaNya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam." (Ghafir: 61-65).
(61) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ ﴿ "Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu," maksudnya, karena kalianlah Allah menjadikan malam itu gelap ﴾ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ ﴿ "supaya kamu beristirahat padanya" dari gerak aktivitas kalian yang kalau seandainya ia terus tanpa henti, maka akan berakibat buruk. Kalian beristirahat di tempat tidur kalian dan Allah kemudian menidurkan kalian yang dengannya pikiran dan badan menjadi istirahat. Tidur merupakan kebutuhan primer manusia, ia tidak akan bisa hidup tanpa tidur. Pada malam hari juga setiap kekasih merasakan kedamaian kepada kekasihnya, pikiran bisa fokus dan segala yang menyibuk-kan berkurang. ﴾ و َ ﴿ "Dan" Allah سبحانه وتعالى menjadikan ﴾ وَٱلنَّهَارَ مُبۡصِرًاۚ ﴿ "siang terang benderang," dengan adanya matahari yang berotasi di ufuk, lalu kalian bangun dari tempat tidur kembali kepada kesi-bukan Agama dan dunia kalian. Sebagian waktu untuk berdzikir dan membaca dan sebagian untuk shalat, sebagian lagi untuk menuntut ilmu dan belajar, sebagian lagi untuk aktivitas jual-beli, untuk membangun, untuk menempa besi dan untuk berbagai ak-tivitas produksi lainnya. Sebagian lagi untuk bepergian jauh lewat darat maupun laut, untuk bercocok tanam, dan untuk mengurusi hewan-hewan ternaknya. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ ﴿ "Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia" yang sangat besar sekali, ﴾ عَلَى ٱلنَّاسِ ﴿ "atas manusia," di mana Dia karuniakan kepada mereka nikmat-nikmat ini dan yang lainnya, dan Dia jauhkan berbagai bencana dari mereka. Ini semua mengharuskan bersyukur penuh dan ber-dzikir kepadaNya. ﴾ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ ﴿ "Akan tetapi keba-nyakan manusia tidak bersyukur," disebabkan oleh kebodohan dan kezhaliman mereka. ﴾ وَقَلِيلٞ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ 13 ﴿ "Dan sedikit sekali di antara hamba-hambaKu yang bersyukur." (Saba`: 13.). Yaitu yang mengakui nikmat-nikmat dari Allah, mereka tun-duk kepadaNya dan mencintaiNya, seraya menggunakan nikmat-nikmat tersebut dalam rangka taat kepadaNya dan mencari keri-dhaanNya.
(62) ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian itu," Yang melakukan semua itu ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ ﴿ "adalah Allah, Rabbmu," yakni, Yang Esa dalam ulu-hiyahNya (sebagai satu-satunya yang berhak disembah) dan Esa dalam rububiyahNya (sebagai satu-satunya yang mencipta dan mengatur alam semesta). Sebab keesaanNya dalam memberikan nikmat-nikmat tersebut adalah bagian dari rububiyahNya, dan di-wajibkannya bersyukur adalah bagian dari uluhiyahNya. ﴾ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ ﴿ "Pencipta segala sesuatu." Ini adalah pernyataan tentang RububiyahNya[83] ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disem-bah selain Dia," adalah pernyataan bahwa Dia-lah yang berhak di-sembah, tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian ditegaskan perintah untuk menyembahNya, seraya berfirman, ﴾ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ ﴿ "maka bagai-manakah kamu dapat dipalingkan?!" Maksudnya, bagaimana kalian berpaling dari ibadah kepadaNya semata, tiada sekutu bagiNya setelah ditegaskan dalilnya kepada kalian dan ditampakkan jalan-nya kepada kalian?
(63) ﴾ كَذَٰلِكَ يُؤۡفَكُ ٱلَّذِينَ كَانُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ يَجۡحَدُونَ ﴿ "Seperti demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah." Yakni, sebagai hukuman atas kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan atas sikap zhalim mereka terhadap rasul-rasulNya, maka mereka dipalingkan dari tauhid dan keikhlasan, sebagaimana difirmankanNya, ﴾ وَإِذَا مَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ نَّظَرَ بَعۡضُهُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٍ هَلۡ يَرَىٰكُم مِّنۡ أَحَدٖ ثُمَّ ٱنصَرَفُواْۚ صَرَفَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُم بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ 127 ﴿ "Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata), 'Adakah seorang dari (orang-orang Muslimin) yang melihat kamu?' Sesudah itu pun mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti." (At-Taubah: 127).
(64) ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ قَرَارٗا ﴿ "Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap." Maksudnya, diam, tenang lagi disiapkan untuk segala kemaslahatan kalian, kalian dapat me-nyangkulnya, menanam tanaman di atasnya, membuat bangunan di atasnya, bepergian jauh dan tinggal padanya, ﴾ وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ ﴿ "dan langit sebagai atap," yakni, atap bagi bumi yang mana kalian berada di dalamnya. Dan Allah telah menjadikan di dalamnya (jagat raya ini) apa-apa yang kalian dapat manfaatkan, seperti berbagai cahaya dan tanda-tanda (bintang-bintang) yang dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan di darat dan di lautan. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡ ﴿ "Dan membentuk kamu lalu membagus-kan rupamu." Tidak ada pada jenis hewan yang lebih indah bentuk-nya dan rupanya daripada manusia, sebagaimana Allah firmankan, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Jika Anda ingin mengetahui keindahan rupa manusia dan kesempurnaan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى padanya, maka lihatlah ia pada tiap-tiap anggota tubuhnya satu persatu. Apakah Anda temu-kan salah satu dari anggota tubuh Anda yang sangat serasi dengan-nya dan pantas untuk ditempatkan bukan pada tempatnya? Dan cobalah perhatikan juga kecenderungan yang ada di dalam hati hewan-hewan itu, apakah Anda jumpai pada selain manusia? Dan perhatikan pula keistimewaan yang Allah anugerahkan kepadanya, seperti akal, iman, rasa cinta, dan ma'rifat yang merupakan sifat-sifat (akhlak) yang terbaik yang hanya pantas untuk bentuk (rupa) yang paling indah. ﴾ وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِۚ ﴿ "Serta memberi rizki kamu dengan sebagian yang baik-baik," ini mencakup segala rizki yang baik dari makanan, minuman, perkawinan, pakaian, penglihatan dan pendengaran serta berbagai kebaikan lainnya yang Allah mudahkan bagi hamba-hambaNya dan Dia gampangkan sebab-sebabnya, dan Dia cegah mereka dari hal-hal yang keji yang berlawanan dengannya dan membahayakan fisik, jiwa, dan agama mereka. ﴾ ذَٰلِكُمُ ﴿ "Yang demikian," Yang mengatur segala urusan dan mengaruniakan nikmat-nikmat tersebut kepada kalian, ﴾ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "adalah Allah Rabbmu, Mahaagung Allah, Rabb semesta alam." Mahabesar, Maha banyak kebaikan dan ihsanNya, Pengatur seluruh alam dengan segala nikmat-nikmatNya.
(65) ﴾ هُوَ ٱلۡحَيُّ ﴿ "Dia-lah Yang Mahahidup" yang memiliki kehidupan sempurna lagi paripurna yang menuntut adanya sifat-sifat dzatiyah yang pasti dimilikiNya, yang kehidupanNya tidak akan sempurna kecuali dengan adanya, seperti, mendengar, meli-hat, kuasa, berilmu, berbicara, dan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya yang lain. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Tiada sembahan yang haq melainkan Dia, Yang Mahamulia, ﴾ فَٱدۡعُوهُ ﴿ "maka berdoalah kepadaNya." Ini mencakup doa ibadah dan doa per-mohonan, ﴾ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَۗ ﴿ "dengan memurnikan ibadah kepadaNya." Maksudnya, niatilah dalam setiap ibadah, doa, dan amal untuk mendapat keridhaan Allah سبحانه وتعالى. Sebab, ikhlas-lah yang diperintah-kan, sebagaimana ditegaskan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ ﴿ "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (Al-Bayyinah: 5). ﴾ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam." Maksudnya, seluruh bentuk pujian, sanjungan, dan persembahan dengan ucapan, seperti ucapan manusia yang menyebutNya dan dengan pekerjaan, seperti beribadah kepadaNya, semua itu adalah hanya untuk Allah سبحانه وتعالى semata, tiada sekutu bagiNya, karena kesem-purnaan sifat-sifat, perbuatan, dan nikmat-nikmatNya.
Gafir 40:66
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah sem-bahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam. Dia-lah yang mencipta-kan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian supaya kamu sampai kepada masa dewasa, kemu-dian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebe-lum itu, serta supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia ha-nya berkata kepadanya, 'Jadilah', maka jadilah ia." (Ghafir: 66-68).
(66) Setelah Allah menjelaskan perintah ikhlas beribadah kepada Allah semata dan menyebutkan dalil-dalilnya dan bukti-buktinya, maka Dia secara tegas melarang ibadah kepada selain-Nya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" wahai Nabi, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah," seperti berhala dan patung-patung serta segala apa saja yang disembah dari selain Allah. Aku sama sekali tidak ragu terhadap perkaraku ini, melainkan benar-benar atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang dalam, dan karena itu beliau berkata, ﴾ لَمَّا جَآءَنِيَ ٱلۡبَيِّنَٰتُ مِن رَّبِّي وَأُمِرۡتُ أَنۡ أُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintah-kan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam" dengan hati, lisan, dan seluruh anggota tubuhku, sehingga semuanya tunduk taat ke-padaNya, berserah diri kepada perintahNya. Ini adalah perintah yang paling agung secara mutlak, sebagaimana halnya larangan beribadah kepada selainNya merupakan larangan yang paling agung secara mutlak.
(67) Kemudian Allah menetapkan tauhid ini, yaitu bahwa sesungguhnya Dia-lah Pencipta kalian dan yang mengembangkan fase-fase penciptaan kalian. Oleh karena Dia semata yang mencip-takan kalian, maka sembahlah Dia semata, seraya berfirman,﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah" yakni, ketika menciptakan asal usul kalian dan bapak pertama kalian, Adam عليه السلام, ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "kemudian dari setetes mani," ini adalah per-mulaan penciptaan seluruh jenis manusia saat masih dalam rahim ibunya. Allah mengingatkan dengan permulaan penciptaan atas fase-fase lainnya, seperti segumpal darah, lalu segumpal daging, kemu-dian tulang belulang dan pada akhirnya peniupan ruh,﴾ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ ﴿ "kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian," demikianlah kalian berproses dalam penciptaan ilahi h i n g g a ﴾ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ﴿ "sampai kepada masa dewasa," yang terdiri dari kekuatan akal, tubuh dan seluruh kekuatan lahir dan batin.﴾ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخٗاۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "kemudian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu," yakni sebelum mencapai usia dewasa. ﴾ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ ﴿ "Serta supaya kamu sampai" melalui fase-fase yang telah ditetapkan ini hingga batas ajal ﴾ مُّسَمّٗى ﴿ "yang ditentukan" di mana usia kalian berakhir di situ, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "dan supaya kamu me-mahami," kondisi kalian, sehingga kalian mengetahui bahwa yang menumbuhkan kalian dalam fase-fase tersebut Sempurna kekua-saanNya, dan hanya Dia-lah yang pantas disembah, sedangkan kalian lemah (berkekurangan) dari segala sisi.
(68) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan me-matikan." Maksudnya, Dia-lah yang sendirian menghidupkan dan mematikan. Maka tidak ada jiwa yang mati karena satu sebab atau tanpa sebab melainkan dengan izinNya. ﴾ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٖ وَلَا يُنقَصُ مِنۡ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 11 ﴿ "Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (Fathir: 11). ﴾ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا ﴿ "Maka apabila Dia menetapkan suatu urusan" yang mulia atau yang hina, ﴾ فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Dia hanya berkata kepada-nya, 'Jadilah', maka jadilah ia," tidak tertolak, tidak tertangguhkan, dan tidak terhalangi padanya.
Gafir 40:67
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah sem-bahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam. Dia-lah yang mencipta-kan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian supaya kamu sampai kepada masa dewasa, kemu-dian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebe-lum itu, serta supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia ha-nya berkata kepadanya, 'Jadilah', maka jadilah ia." (Ghafir: 66-68).
(66) Setelah Allah menjelaskan perintah ikhlas beribadah kepada Allah semata dan menyebutkan dalil-dalilnya dan bukti-buktinya, maka Dia secara tegas melarang ibadah kepada selain-Nya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" wahai Nabi, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah," seperti berhala dan patung-patung serta segala apa saja yang disembah dari selain Allah. Aku sama sekali tidak ragu terhadap perkaraku ini, melainkan benar-benar atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang dalam, dan karena itu beliau berkata, ﴾ لَمَّا جَآءَنِيَ ٱلۡبَيِّنَٰتُ مِن رَّبِّي وَأُمِرۡتُ أَنۡ أُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintah-kan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam" dengan hati, lisan, dan seluruh anggota tubuhku, sehingga semuanya tunduk taat ke-padaNya, berserah diri kepada perintahNya. Ini adalah perintah yang paling agung secara mutlak, sebagaimana halnya larangan beribadah kepada selainNya merupakan larangan yang paling agung secara mutlak.
(67) Kemudian Allah menetapkan tauhid ini, yaitu bahwa sesungguhnya Dia-lah Pencipta kalian dan yang mengembangkan fase-fase penciptaan kalian. Oleh karena Dia semata yang mencip-takan kalian, maka sembahlah Dia semata, seraya berfirman,﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah" yakni, ketika menciptakan asal usul kalian dan bapak pertama kalian, Adam عليه السلام, ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "kemudian dari setetes mani," ini adalah per-mulaan penciptaan seluruh jenis manusia saat masih dalam rahim ibunya. Allah mengingatkan dengan permulaan penciptaan atas fase-fase lainnya, seperti segumpal darah, lalu segumpal daging, kemu-dian tulang belulang dan pada akhirnya peniupan ruh,﴾ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ ﴿ "kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian," demikianlah kalian berproses dalam penciptaan ilahi h i n g g a ﴾ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ﴿ "sampai kepada masa dewasa," yang terdiri dari kekuatan akal, tubuh dan seluruh kekuatan lahir dan batin.﴾ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخٗاۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "kemudian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu," yakni sebelum mencapai usia dewasa. ﴾ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ ﴿ "Serta supaya kamu sampai" melalui fase-fase yang telah ditetapkan ini hingga batas ajal ﴾ مُّسَمّٗى ﴿ "yang ditentukan" di mana usia kalian berakhir di situ, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "dan supaya kamu me-mahami," kondisi kalian, sehingga kalian mengetahui bahwa yang menumbuhkan kalian dalam fase-fase tersebut Sempurna kekua-saanNya, dan hanya Dia-lah yang pantas disembah, sedangkan kalian lemah (berkekurangan) dari segala sisi.
(68) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan me-matikan." Maksudnya, Dia-lah yang sendirian menghidupkan dan mematikan. Maka tidak ada jiwa yang mati karena satu sebab atau tanpa sebab melainkan dengan izinNya. ﴾ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٖ وَلَا يُنقَصُ مِنۡ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 11 ﴿ "Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (Fathir: 11). ﴾ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا ﴿ "Maka apabila Dia menetapkan suatu urusan" yang mulia atau yang hina, ﴾ فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Dia hanya berkata kepada-nya, 'Jadilah', maka jadilah ia," tidak tertolak, tidak tertangguhkan, dan tidak terhalangi padanya.
Gafir 40:68
"Katakanlah, 'Sesungguhnya aku dilarang menyembah sem-bahan yang kamu sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam. Dia-lah yang mencipta-kan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian supaya kamu sampai kepada masa dewasa, kemu-dian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebe-lum itu, serta supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami. Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan suatu urusan, Dia ha-nya berkata kepadanya, 'Jadilah', maka jadilah ia." (Ghafir: 66-68).
(66) Setelah Allah menjelaskan perintah ikhlas beribadah kepada Allah semata dan menyebutkan dalil-dalilnya dan bukti-buktinya, maka Dia secara tegas melarang ibadah kepada selain-Nya, seraya berfirman, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" wahai Nabi, ﴾ إِنِّي نُهِيتُ أَنۡ أَعۡبُدَ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya aku dilarang menyembah sembahan yang kamu sembah selain Allah," seperti berhala dan patung-patung serta segala apa saja yang disembah dari selain Allah. Aku sama sekali tidak ragu terhadap perkaraku ini, melainkan benar-benar atas dasar keyakinan dan pengetahuan yang dalam, dan karena itu beliau berkata, ﴾ لَمَّا جَآءَنِيَ ٱلۡبَيِّنَٰتُ مِن رَّبِّي وَأُمِرۡتُ أَنۡ أُسۡلِمَ لِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintah-kan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam" dengan hati, lisan, dan seluruh anggota tubuhku, sehingga semuanya tunduk taat ke-padaNya, berserah diri kepada perintahNya. Ini adalah perintah yang paling agung secara mutlak, sebagaimana halnya larangan beribadah kepada selainNya merupakan larangan yang paling agung secara mutlak.
(67) Kemudian Allah menetapkan tauhid ini, yaitu bahwa sesungguhnya Dia-lah Pencipta kalian dan yang mengembangkan fase-fase penciptaan kalian. Oleh karena Dia semata yang mencip-takan kalian, maka sembahlah Dia semata, seraya berfirman,﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah" yakni, ketika menciptakan asal usul kalian dan bapak pertama kalian, Adam عليه السلام, ﴾ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ﴿ "kemudian dari setetes mani," ini adalah per-mulaan penciptaan seluruh jenis manusia saat masih dalam rahim ibunya. Allah mengingatkan dengan permulaan penciptaan atas fase-fase lainnya, seperti segumpal darah, lalu segumpal daging, kemu-dian tulang belulang dan pada akhirnya peniupan ruh,﴾ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ ﴿ "kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian," demikianlah kalian berproses dalam penciptaan ilahi h i n g g a ﴾ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ﴿ "sampai kepada masa dewasa," yang terdiri dari kekuatan akal, tubuh dan seluruh kekuatan lahir dan batin.﴾ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخٗاۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "kemudian sampai tua, dan di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu," yakni sebelum mencapai usia dewasa. ﴾ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ ﴿ "Serta supaya kamu sampai" melalui fase-fase yang telah ditetapkan ini hingga batas ajal ﴾ مُّسَمّٗى ﴿ "yang ditentukan" di mana usia kalian berakhir di situ, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "dan supaya kamu me-mahami," kondisi kalian, sehingga kalian mengetahui bahwa yang menumbuhkan kalian dalam fase-fase tersebut Sempurna kekua-saanNya, dan hanya Dia-lah yang pantas disembah, sedangkan kalian lemah (berkekurangan) dari segala sisi.
(68) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Dia-lah yang menghidupkan dan me-matikan." Maksudnya, Dia-lah yang sendirian menghidupkan dan mematikan. Maka tidak ada jiwa yang mati karena satu sebab atau tanpa sebab melainkan dengan izinNya. ﴾ وَمَا يُعَمَّرُ مِن مُّعَمَّرٖ وَلَا يُنقَصُ مِنۡ عُمُرِهِۦٓ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 11 ﴿ "Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah." (Fathir: 11). ﴾ فَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا ﴿ "Maka apabila Dia menetapkan suatu urusan" yang mulia atau yang hina, ﴾ فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ﴿ "Dia hanya berkata kepada-nya, 'Jadilah', maka jadilah ia," tidak tertolak, tidak tertangguhkan, dan tidak terhalangi padanya.
Gafir 40:69
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:70
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:71
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:72
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:73
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:74
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:75
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:76
"Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang mem-bantah ayat-ayat Allah, bagaimanakah mereka dapat dipalingkan. Yaitu orang-orang yang mendustakan al-Kitab dan wahyu yang dibawa rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar di dalam api, kemudian dikatakan kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?' Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami, bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu.' Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir. Yang demikian itu disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria. Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam, dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong." (Ghafir: 69-76).
(69) ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ ﴿ "Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah" yang sangat jelas sekali, dengan rasa heran terhadap sikap mereka yang sangat keji. ﴾ أَنَّىٰ يُصۡرَفُونَ ﴿ "Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan," yakni, bagai-mana mereka bisa berpaling darinya?! Kemana mereka pergi setelah penjelasan yang sangat sempurna itu?! Apakah mereka menemukan ayat-ayat lain yang jelas yang melawan ayat-ayat Allah?! Sekali-kali tidak, demi Allah. Ataukah justru mereka menemukan syubhat-syubhat (pemikiran-pemikiran rancu) yang sejalan dengan ke-inginan nafsu mereka yang dengannya mereka membantah demi kebatilan mereka?!
(70-72) Sungguh betapa amat buruk sekali apa yang mereka tukar dan mereka pilih untuk diri mereka, dengan mendustakan al-Kitab yang ia bawa dari sisi Allah dan apa yang karenanya Allah mengutus rasul-rasulNya, yang merupakan manusia-manusia terbaik, terjujur, terbesar akalnya. Maka mereka (yang menentang itu) balasannya tidak lain hanyalah neraka yang panas. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan azab neraka, seraya berfirman, ﴾ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ 70 إِذِ ٱلۡأَغۡلَٰلُ فِيٓ أَعۡنَٰقِهِمۡ ﴿ "Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dipasang di leher mereka," yang karenanya mereka tidak dapat bergerak, ﴾ وَٱلسَّلَٰسِلُ ﴿ "dan rantai" yang diikatkan kepada mereka dan kepada setan-setan ﴾ يُسۡحَبُونَ 71 فِي ٱلۡحَمِيمِ ﴿ "seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas," yakni, air yang sudah sangat mendidih dan mencapai puncak panasnya. ﴾ ثُمَّ فِي ٱلنَّارِ يُسۡجَرُونَ ﴿ "Ke-mudian mereka dibakar di dalam api," yakni bagi mereka dinyalakan luapan api yang sangat besar, lalu mereka dimasukkan ke dalamnya, kemudian mereka dicela atas perbuatan syirik dan dusta mereka.
(73-74) Dan dikatakan ﴾ لَهُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تُشۡرِكُونَ 73 مِن دُونِ ٱللَّهِۖ ﴿ "kepada mereka, 'Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?'" Apakah berguna bagi kalian atau dapatkah mereka mele-paskan sebagian azab dari kalian?! ﴾ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا ﴿ "Mereka menjawab, 'Mereka telah hilang lenyap dari kami'." Mereka telah tiada dan tidak hadir; dan sekalipun hadir, mereka tidak akan berguna. Kemudian mereka mengingkari seraya berkata, ﴾ بَل لَّمۡ نَكُن نَّدۡعُواْ مِن قَبۡلُ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Bahkan kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu." Bisa jadi maksud me-reka dari ungkapan ini adalah mengingkari, dan mereka mengira bahwa keingkaran itu berguna dan bermanfaat bagi mereka. Dan bisa juga, dan ini yang lebih kuat, bahwa maksud mereka adalah mengakui kepalsuan ketuhanan apa-apa yang dahulu mereka sem-bah itu, dan sesungguhnya Allah, sebenarnya tidak memiliki se-kutu, dan mereka adalah orang-orang yang sesat dan keliru karena telah menyembah sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat ilahiyah. Makna ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Seperti demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir." Maksudnya, demikianlah kesesatan yang mereka anut dahulu di dunia adalah kesesatan yang sangat nyata bagi setiap orang, hingga mereka sen-diri akan mengakui kepalsuannya di Hari Kiamat. Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا يَتَّبِعُ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ شُرَكَآءَۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ﴿ "Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidak-lah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali pra-sangka belaka." (Yunus: 66). Juga dikuatkan oleh FirmanNya, ﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ 5 ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat." (Al-Ahqaf: 5).
(75) Dan dikatakan kepada para penghuni neraka, ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," maksudnya, azab yang ditimpakan secara be-ragam terhadap kalian itu, ﴾ بِمَا كُنتُمۡ تَفۡرَحُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَبِمَا كُنتُمۡ تَمۡرَحُونَ ﴿ "disebabkan karena kamu bersuka ria di muka bumi dengan tidak benar dan karena kamu selalu bersuka ria." Maksudnya, kalian bersuka ria dengan kebatilan yang kalian anut dan dengan ilmu-ilmu yang dengannya kalian menyelisihi ilmu para rasul, dan kalian memper-mainkan hamba-hamba Allah dengan congkak, zhalim dan durhaka, seperti difirmankan Allah di akhir surat ini, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka." (Ghafir: 83). Dan seperti apa yang dikatakan oleh para pengikut Qarun kepadanya, ﴾ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ 76 ﴿ "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyu-kai orang-orang yang terlalu membanggakan diri." (Al-Qashash: 76). Itulah sukaria (kebanggaan) yang tercela yang mengakibat-kan hukuman. Berbeda dengan suka ria yang terpuji, seperti yang Allah katakan, ﴾ قُلۡ بِفَضۡلِ ٱللَّهِ وَبِرَحۡمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلۡيَفۡرَحُواْ ﴿ "Katakanlah, 'Dengan karunia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira'." (Yunus: 58). Maksudnya, bergembira dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.
(76) ﴾ ٱدۡخُلُوٓاْ أَبۡوَٰبَ جَهَنَّمَ ﴿ "Masuklah kamu ke pintu-pintu Neraka Jahanam," masing-masing sesuai dengan tingkatan-tingkatannya menurut kadar amal perbuatannya, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ ﴿ "dengan kekal di da-lamnya," mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. ﴾ فَبِئۡسَ مَثۡوَى ٱلۡمُتَكَبِّرِينَ ﴿ "Dan itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong," tempat di mana mereka dihinakan, dinistakan, ditahan, dan disiksa. Mereka bolak-balik antara puncak panas dan puncak dinginnya Jahanam.
Gafir 40:77
"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar; maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka ataupun Kami wafatkan kamu, namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan." (Ghafir: 77).
(77) Maksudnya, ﴾ فَٱصۡبِرۡ ﴿ "maka bersabarlah kamu" wahai Rasul dalam menyeru kaummu dan terhadap gangguan mereka yang menimpamu, dan perkuatlah kesabaranmu dengan imanmu, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞۚ ﴿ "sesungguhnya janji Allah adalah benar." Dia akan memenangkan AgamaNya dan meninggikan kalimatNya serta memberikan kemenangan kepada rasul-rasulNya di dunia dan di akhirat. Dan perkuat pula untuk itu dengan kepastian turunnya siksaan terhadap musuh-musuhmu di dunia dan di akhirat nanti. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ فَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعۡضَ ٱلَّذِي نَعِدُهُمۡ ﴿ "Maka meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka" di dunia, maka itu sudah cukup, ﴾ أَوۡ نَتَوَفَّيَنَّكَ ﴿ "ataupun Kami wafatkan kamu" sebelum mereka disiksa, ﴾ فَإِلَيۡنَا يُرۡجَعُونَ ﴿ "namun kepada Kami sajalah mereka dikembalikan," lalu Kami beri mereka balasan atas amal perbuatan mereka. Maka jangan sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang yang zhalim.
Kemudian Allah menghibur RasulNya dan mempersabarnya dengan cara menceritakan para rasul lainnya, seraya berfirman,
Gafir 40:78
"Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepa-damu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu muk-jizat melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil." (Ghafir: 78).
(78) ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ ﴿ "Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu," yang cukup banyak, kepada kaumnya masing-masing, menyeru mereka dan mereka pun sabar dalam menghadapi gangguan kaumnya. ﴾ مِنۡهُم مَّن قَصَصۡنَا عَلَيۡكَ ﴿ "Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu," yakni tentang sejarah mereka, ﴾ وَمِنۡهُم مَّن لَّمۡ نَقۡصُصۡ عَلَيۡكَۗ ﴿ "dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu." Setiap rasul itu dikendalikan, mereka sama sekali tidak mem-punyai wewenang. ﴾ وَمَا كَانَ ﴿ "Tidak dapat" bagi seorang rasul ﴾ أَن يَأۡتِيَ بِـَٔايَةٍ ﴿ "membawa suatu ayat" dari ayat-ayat naqliyah dan 'aqliyah, ﴾ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "melainkan dengan seizin Allah," maksudnya, dengan kehendak dan perintah Allah. Maka usulan orang yang mengusul-kan kepada rasul agar mendatangkan ayat-ayat adalah perbuatan zhalimnya, sikap keras kepala dan pendustaan setelah para rasul itu diperkuat oleh Allah dengan bukti-bukti yang membuktikan kejujuran mereka dan kebenaran ajaran yang mereka bawa. ﴾ فَإِذَا جَآءَ أَمۡرُ ٱللَّهِ ﴿ "Maka apabila telah datang perintah Allah" untuk memberikan keputusan di antara para rasul dengan musuh-musuh mereka dan kemenangan ﴾ قُضِيَ ﴿ "diputuskan" di antara mereka ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan adil," yang tepat pada tempatnya dan tetap pada yang benar, yaitu dengan menyelamatkan para rasul beserta para pengikutnya dan membinasakan orang-orang yang mendustakan, ﴾ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ﴿ "dan ketika itu rugilah," maksudnya, ketika keputusan diputuskan ﴾ ٱلۡمُبۡطِلُونَ ﴿ "orang-orang yang berpegang kepada yang batil," yaitu orang-orang yang karakter mereka adalah palsu dan ilmu dan amal yang mereka bawa pun palsu (batil). Dan tujuan yang mereka maksud pun adalah batil. Maka hendaknya orang-orang yang ditegur waspada kalau mereka tetap terus dalam keba-tilan, karena mereka akan merugi, sebagaimana orang-orang se-belumnya rugi. Sesungguhnya mereka sama sekali tidak memiliki kebaikan dan tidak pula memiliki pembebasan dalam kitab-kitab suci dengan keselamatan.
Gafir 40:79
"Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan ada manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai keperluan yang ter-simpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda; maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" (Ghafir: 79-81).
(79-80) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karuniaNya terhadap hamba-hambaNya, di mana Dia telah menciptakan untuk mereka binatang-binatang ternak berkaki empat yang dengannya banyak sekali didapat pemberian nikmat, di antaranya adalah nikmat mengendarainya dan memuatinya dengan muatan. Di antaranya, ada yang dagingnya dimakan dan air susunya diminum. Juga manfaat untuk kehangatan badan dan menjadikannya sebagai alat-alat dan perabot yang dibuat dari kulit, bulu dan rambutnya, serta berbagai manfaat lainnya. ﴾ وَلِتَبۡلُغُواْ عَلَيۡهَا حَاجَةٗ فِي صُدُورِكُمۡ ﴿ "Dan supaya kamu mencapai keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengen-darainya," seperti bisa sampai ke daerah-daerah lain yang sangat jauh, tercapainya rasa senang dan bahagia bagi para penghuninya, ﴾ وَعَلَيۡهَا وَعَلَى ٱلۡفُلۡكِ تُحۡمَلُونَ ﴿ "Dan kamu dapat diangkut dengan mengenda-rai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera (perahu layar)." Maksudnya, kalian diangkut di atas kendaraan-kendaraan darat dan bahtera laut, di situ kalian diangkut oleh Allah yang telah me-nundukkan kendaraan itu, dan telah menyediakan berbagai fasilitas untuknya yang semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengannya.
(81) ﴾ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tandaNya" yang membuktikan keesaanNya, nama-nama dan sifat-sifatNya. Ini merupakan nikmatNya yang terbesar, di mana Dia mempersaksikan kepada hamba-hambaNya tanda-tandaNya yang sangat berharga di jagat raya dan nikmat-nikmatNya yang luar biasa. Allah menyebut-nyebutnya supaya mereka mengenalNya, bersyukur kepadaNya, dan berdzikir mengingatNya. ﴾ فَأَيَّ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُنكِرُونَ ﴿ "Maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" Maksudnya, ayat yang mana dari ayat-ayat Allah yang kalian tidak mengakuinya?! Sebab sudah kalian ketahui secara pasti bahwa seluruh ayat-ayat dan nikmat adalah dariNya, sehingga tidak ada jalan untuk mengingkari, dan tidak ada tempat untuk berpaling, bahkan malah mengharuskan orang-orang yang berakal untuk bersungguh-sungguh dan mengorbankan segenap tenaga untuk serius taat kepadaNya dan berkonsentrasi berkhidmah ke-padaNya.
Gafir 40:80
"Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan ada manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai keperluan yang ter-simpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda; maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" (Ghafir: 79-81).
(79-80) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karuniaNya terhadap hamba-hambaNya, di mana Dia telah menciptakan untuk mereka binatang-binatang ternak berkaki empat yang dengannya banyak sekali didapat pemberian nikmat, di antaranya adalah nikmat mengendarainya dan memuatinya dengan muatan. Di antaranya, ada yang dagingnya dimakan dan air susunya diminum. Juga manfaat untuk kehangatan badan dan menjadikannya sebagai alat-alat dan perabot yang dibuat dari kulit, bulu dan rambutnya, serta berbagai manfaat lainnya. ﴾ وَلِتَبۡلُغُواْ عَلَيۡهَا حَاجَةٗ فِي صُدُورِكُمۡ ﴿ "Dan supaya kamu mencapai keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengen-darainya," seperti bisa sampai ke daerah-daerah lain yang sangat jauh, tercapainya rasa senang dan bahagia bagi para penghuninya, ﴾ وَعَلَيۡهَا وَعَلَى ٱلۡفُلۡكِ تُحۡمَلُونَ ﴿ "Dan kamu dapat diangkut dengan mengenda-rai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera (perahu layar)." Maksudnya, kalian diangkut di atas kendaraan-kendaraan darat dan bahtera laut, di situ kalian diangkut oleh Allah yang telah me-nundukkan kendaraan itu, dan telah menyediakan berbagai fasilitas untuknya yang semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengannya.
(81) ﴾ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tandaNya" yang membuktikan keesaanNya, nama-nama dan sifat-sifatNya. Ini merupakan nikmatNya yang terbesar, di mana Dia mempersaksikan kepada hamba-hambaNya tanda-tandaNya yang sangat berharga di jagat raya dan nikmat-nikmatNya yang luar biasa. Allah menyebut-nyebutnya supaya mereka mengenalNya, bersyukur kepadaNya, dan berdzikir mengingatNya. ﴾ فَأَيَّ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُنكِرُونَ ﴿ "Maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" Maksudnya, ayat yang mana dari ayat-ayat Allah yang kalian tidak mengakuinya?! Sebab sudah kalian ketahui secara pasti bahwa seluruh ayat-ayat dan nikmat adalah dariNya, sehingga tidak ada jalan untuk mengingkari, dan tidak ada tempat untuk berpaling, bahkan malah mengharuskan orang-orang yang berakal untuk bersungguh-sungguh dan mengorbankan segenap tenaga untuk serius taat kepadaNya dan berkonsentrasi berkhidmah ke-padaNya.
Gafir 40:81
"Allah-lah yang menjadikan binatang ternak untuk kamu, sebagiannya untuk kamu kendarai dan sebagiannya untuk kamu makan. Dan ada manfaat-manfaat yang lain pada binatang ternak itu untuk kamu dan supaya kamu mencapai keperluan yang ter-simpan dalam hati dengan mengendarainya. Dan kamu dapat diangkut dengan mengendarai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera. Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tanda; maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" (Ghafir: 79-81).
(79-80) Allah سبحانه وتعالى mengingatkan akan karuniaNya terhadap hamba-hambaNya, di mana Dia telah menciptakan untuk mereka binatang-binatang ternak berkaki empat yang dengannya banyak sekali didapat pemberian nikmat, di antaranya adalah nikmat mengendarainya dan memuatinya dengan muatan. Di antaranya, ada yang dagingnya dimakan dan air susunya diminum. Juga manfaat untuk kehangatan badan dan menjadikannya sebagai alat-alat dan perabot yang dibuat dari kulit, bulu dan rambutnya, serta berbagai manfaat lainnya. ﴾ وَلِتَبۡلُغُواْ عَلَيۡهَا حَاجَةٗ فِي صُدُورِكُمۡ ﴿ "Dan supaya kamu mencapai keperluan yang tersimpan dalam hati dengan mengen-darainya," seperti bisa sampai ke daerah-daerah lain yang sangat jauh, tercapainya rasa senang dan bahagia bagi para penghuninya, ﴾ وَعَلَيۡهَا وَعَلَى ٱلۡفُلۡكِ تُحۡمَلُونَ ﴿ "Dan kamu dapat diangkut dengan mengenda-rai binatang-binatang itu dan dengan mengendarai bahtera (perahu layar)." Maksudnya, kalian diangkut di atas kendaraan-kendaraan darat dan bahtera laut, di situ kalian diangkut oleh Allah yang telah me-nundukkan kendaraan itu, dan telah menyediakan berbagai fasilitas untuknya yang semua itu tidak bisa dicapai kecuali dengannya.
(81) ﴾ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "Dan Dia memperlihatkan kepadamu tanda-tandaNya" yang membuktikan keesaanNya, nama-nama dan sifat-sifatNya. Ini merupakan nikmatNya yang terbesar, di mana Dia mempersaksikan kepada hamba-hambaNya tanda-tandaNya yang sangat berharga di jagat raya dan nikmat-nikmatNya yang luar biasa. Allah menyebut-nyebutnya supaya mereka mengenalNya, bersyukur kepadaNya, dan berdzikir mengingatNya. ﴾ فَأَيَّ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ تُنكِرُونَ ﴿ "Maka tanda-tanda Allah manakah yang kamu ingkari?" Maksudnya, ayat yang mana dari ayat-ayat Allah yang kalian tidak mengakuinya?! Sebab sudah kalian ketahui secara pasti bahwa seluruh ayat-ayat dan nikmat adalah dariNya, sehingga tidak ada jalan untuk mengingkari, dan tidak ada tempat untuk berpaling, bahkan malah mengharuskan orang-orang yang berakal untuk bersungguh-sungguh dan mengorbankan segenap tenaga untuk serius taat kepadaNya dan berkonsentrasi berkhidmah ke-padaNya.
Gafir 40:82
"Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat ke-kuatannya dan bekas-bekas mereka di muka bumi, tapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa ke-terangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Ghafir: 82-85).
(82) Allah سبحانه وتعالى menghimbau kepada orang-orang yang men-dustakan rasul untuk melakukan perjalanan jauh di muka bumi ini dengan jiwa-raga mereka dan bertanya kepada orang-orang, ﴾ فَيَنظُرُواْ ﴿ "lalu memperhatikan" dengan renungan dan mencari bukti, bukan pandangan lalai atau peremehan, ﴾ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka" dari umat-umat terdahulu, seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lain-lain yang dahulu lebih kuat dan lebih banyak harta kekayaannya dan lebih dahsyat peninggalan-peninggalannya di bumi ini, seperti bangun-an-bangunan benteng, tumbuh-tumbuhan yang unik dan pertanian yang sangat banyak, ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." Saat keputusan Allah da-tang kepada mereka, kekuatan mereka sama sekali tidak berguna dan mereka pun tidak bisa menebus diri mereka dengan harta ke-kayaan mereka dan tidak pula dapat bertahan di dalam benteng-benteng mereka.
(83) Allah menyebutkan kejahatan besar mereka, seraya berfirman, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan," seperti kitab-kitab ilahi dan mukjizat-mukjizat hebat, ilmu yang berman-faat yang membedakan antara hidayah dengan kesesatan, yang haq dengan yang batil, ﴾ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "mereka (justru) merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka" yang berlawanan dengan agama para rasul itu. Padahal sudah dimaklumi bahwa kesenangan mereka menunjukkan kepada betapa sangat rela dan berpegang teguhnya mereka kepadanya, dan betapa mereka me-nentang kebenaran yang dibawa oleh para rasul itu, serta menjadi-kan kebatilan mereka sebagai kebenaran. Ini umum, mencakup semua ilmu yang digunakan untuk menentang ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dan yang paling berhak masuk ke dalam kategori ini adalah ilmu filsafat dan mantiq Yunani yang dengannya banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an yang ditolak, dan menyepelekan kedudukannya di dalam hati, dan men-jadikan dalil-dalilnya yang pasti lagi meyakinkan itu sebagai dalil-dalil lafzhi belaka, tidak menginformasikan keyakinan sedikitpun. Dan akal orang-orang dungu lagi sesat pun lebih diutamakan atas ayat-ayat al-Qur`an. Ini merupakan tindakan kekufuran terbesar terhadap ayat-ayat Allah, perlawanan, dan pembatalan terhadap-nya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "Dan mereka dikepung" mereka dilanda oleh azab yang dahulu mereka perolok-olokkan.
(84) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا ﴿ "Maka tatkala mereka melihat azab Kami," maksudnya, siksaan Kami, mereka pun mengakui, di mana penga-kuan sudah tidak berguna lagi. Dan ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ ﴿ "mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah," yaitu seperti patung dan berhala, dan kami berlepas diri dari apa saja yang menyalahi para rasul, dalam ilmu ataupun amal.
(85) ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada ber-guna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami," maksudnya, pada saat itu. Inilah ﴾ سُنَّتَ ٱللَّهِ ﴿ "sunnah Allah," yakni kebiasaanNya, ﴾ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya," yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan, pada saat mereka ditimpa azab Allah dan hukumannya, maka mereka pun beriman. Namun, iman mereka tidak benar dan tidak dapat menyelamat-kan mereka dari siksa itu. Hal itu disebabkan karena iman mereka adalah iman terpaksa, mereka terpaksa melakukannya, dan iman setelah menyaksikan siksaan. Sedangkan iman yang bermanfaat yang dapat menyelamat-kan pelakunya adalah iman yang dilakukan dengan suka hati, yaitu yang merupakan iman dengan yang ghaib, yaitu yang terjadi se-belum ada tanda-tanda azab. ﴾ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ﴿ "Dan di waktu itu rugilah," maksudnya, waktu dibinasakan dan ditimpakannya azab, ﴾ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "orang-orang kafir" terhadap agama, dunia, dan akhirat mereka. Ia tidak cukup hanya sekedar kerugian di sana, melainkan harus ada kerugian yang menyengsarakan di dalam azab yang amat dahsyat dan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Selesailah Tafsir Surat al-Mu`min (Ghafir), dengan segala puji bagi Allah, kelembutan dan pertolonganNya, bukan karena ke-kuatan dan daya dari kami. Maka segala puji dan syukur hanya untukNya.
Gafir 40:83
"Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat ke-kuatannya dan bekas-bekas mereka di muka bumi, tapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa ke-terangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Ghafir: 82-85).
(82) Allah سبحانه وتعالى menghimbau kepada orang-orang yang men-dustakan rasul untuk melakukan perjalanan jauh di muka bumi ini dengan jiwa-raga mereka dan bertanya kepada orang-orang, ﴾ فَيَنظُرُواْ ﴿ "lalu memperhatikan" dengan renungan dan mencari bukti, bukan pandangan lalai atau peremehan, ﴾ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka" dari umat-umat terdahulu, seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lain-lain yang dahulu lebih kuat dan lebih banyak harta kekayaannya dan lebih dahsyat peninggalan-peninggalannya di bumi ini, seperti bangun-an-bangunan benteng, tumbuh-tumbuhan yang unik dan pertanian yang sangat banyak, ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." Saat keputusan Allah da-tang kepada mereka, kekuatan mereka sama sekali tidak berguna dan mereka pun tidak bisa menebus diri mereka dengan harta ke-kayaan mereka dan tidak pula dapat bertahan di dalam benteng-benteng mereka.
(83) Allah menyebutkan kejahatan besar mereka, seraya berfirman, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan," seperti kitab-kitab ilahi dan mukjizat-mukjizat hebat, ilmu yang berman-faat yang membedakan antara hidayah dengan kesesatan, yang haq dengan yang batil, ﴾ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "mereka (justru) merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka" yang berlawanan dengan agama para rasul itu. Padahal sudah dimaklumi bahwa kesenangan mereka menunjukkan kepada betapa sangat rela dan berpegang teguhnya mereka kepadanya, dan betapa mereka me-nentang kebenaran yang dibawa oleh para rasul itu, serta menjadi-kan kebatilan mereka sebagai kebenaran. Ini umum, mencakup semua ilmu yang digunakan untuk menentang ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dan yang paling berhak masuk ke dalam kategori ini adalah ilmu filsafat dan mantiq Yunani yang dengannya banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an yang ditolak, dan menyepelekan kedudukannya di dalam hati, dan men-jadikan dalil-dalilnya yang pasti lagi meyakinkan itu sebagai dalil-dalil lafzhi belaka, tidak menginformasikan keyakinan sedikitpun. Dan akal orang-orang dungu lagi sesat pun lebih diutamakan atas ayat-ayat al-Qur`an. Ini merupakan tindakan kekufuran terbesar terhadap ayat-ayat Allah, perlawanan, dan pembatalan terhadap-nya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "Dan mereka dikepung" mereka dilanda oleh azab yang dahulu mereka perolok-olokkan.
(84) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا ﴿ "Maka tatkala mereka melihat azab Kami," maksudnya, siksaan Kami, mereka pun mengakui, di mana penga-kuan sudah tidak berguna lagi. Dan ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ ﴿ "mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah," yaitu seperti patung dan berhala, dan kami berlepas diri dari apa saja yang menyalahi para rasul, dalam ilmu ataupun amal.
(85) ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada ber-guna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami," maksudnya, pada saat itu. Inilah ﴾ سُنَّتَ ٱللَّهِ ﴿ "sunnah Allah," yakni kebiasaanNya, ﴾ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya," yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan, pada saat mereka ditimpa azab Allah dan hukumannya, maka mereka pun beriman. Namun, iman mereka tidak benar dan tidak dapat menyelamat-kan mereka dari siksa itu. Hal itu disebabkan karena iman mereka adalah iman terpaksa, mereka terpaksa melakukannya, dan iman setelah menyaksikan siksaan. Sedangkan iman yang bermanfaat yang dapat menyelamat-kan pelakunya adalah iman yang dilakukan dengan suka hati, yaitu yang merupakan iman dengan yang ghaib, yaitu yang terjadi se-belum ada tanda-tanda azab. ﴾ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ﴿ "Dan di waktu itu rugilah," maksudnya, waktu dibinasakan dan ditimpakannya azab, ﴾ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "orang-orang kafir" terhadap agama, dunia, dan akhirat mereka. Ia tidak cukup hanya sekedar kerugian di sana, melainkan harus ada kerugian yang menyengsarakan di dalam azab yang amat dahsyat dan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Selesailah Tafsir Surat al-Mu`min (Ghafir), dengan segala puji bagi Allah, kelembutan dan pertolonganNya, bukan karena ke-kuatan dan daya dari kami. Maka segala puji dan syukur hanya untukNya.
Gafir 40:84
"Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat ke-kuatannya dan bekas-bekas mereka di muka bumi, tapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa ke-terangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Ghafir: 82-85).
(82) Allah سبحانه وتعالى menghimbau kepada orang-orang yang men-dustakan rasul untuk melakukan perjalanan jauh di muka bumi ini dengan jiwa-raga mereka dan bertanya kepada orang-orang, ﴾ فَيَنظُرُواْ ﴿ "lalu memperhatikan" dengan renungan dan mencari bukti, bukan pandangan lalai atau peremehan, ﴾ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka" dari umat-umat terdahulu, seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lain-lain yang dahulu lebih kuat dan lebih banyak harta kekayaannya dan lebih dahsyat peninggalan-peninggalannya di bumi ini, seperti bangun-an-bangunan benteng, tumbuh-tumbuhan yang unik dan pertanian yang sangat banyak, ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." Saat keputusan Allah da-tang kepada mereka, kekuatan mereka sama sekali tidak berguna dan mereka pun tidak bisa menebus diri mereka dengan harta ke-kayaan mereka dan tidak pula dapat bertahan di dalam benteng-benteng mereka.
(83) Allah menyebutkan kejahatan besar mereka, seraya berfirman, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan," seperti kitab-kitab ilahi dan mukjizat-mukjizat hebat, ilmu yang berman-faat yang membedakan antara hidayah dengan kesesatan, yang haq dengan yang batil, ﴾ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "mereka (justru) merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka" yang berlawanan dengan agama para rasul itu. Padahal sudah dimaklumi bahwa kesenangan mereka menunjukkan kepada betapa sangat rela dan berpegang teguhnya mereka kepadanya, dan betapa mereka me-nentang kebenaran yang dibawa oleh para rasul itu, serta menjadi-kan kebatilan mereka sebagai kebenaran. Ini umum, mencakup semua ilmu yang digunakan untuk menentang ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dan yang paling berhak masuk ke dalam kategori ini adalah ilmu filsafat dan mantiq Yunani yang dengannya banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an yang ditolak, dan menyepelekan kedudukannya di dalam hati, dan men-jadikan dalil-dalilnya yang pasti lagi meyakinkan itu sebagai dalil-dalil lafzhi belaka, tidak menginformasikan keyakinan sedikitpun. Dan akal orang-orang dungu lagi sesat pun lebih diutamakan atas ayat-ayat al-Qur`an. Ini merupakan tindakan kekufuran terbesar terhadap ayat-ayat Allah, perlawanan, dan pembatalan terhadap-nya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "Dan mereka dikepung" mereka dilanda oleh azab yang dahulu mereka perolok-olokkan.
(84) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا ﴿ "Maka tatkala mereka melihat azab Kami," maksudnya, siksaan Kami, mereka pun mengakui, di mana penga-kuan sudah tidak berguna lagi. Dan ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ ﴿ "mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah," yaitu seperti patung dan berhala, dan kami berlepas diri dari apa saja yang menyalahi para rasul, dalam ilmu ataupun amal.
(85) ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada ber-guna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami," maksudnya, pada saat itu. Inilah ﴾ سُنَّتَ ٱللَّهِ ﴿ "sunnah Allah," yakni kebiasaanNya, ﴾ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya," yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan, pada saat mereka ditimpa azab Allah dan hukumannya, maka mereka pun beriman. Namun, iman mereka tidak benar dan tidak dapat menyelamat-kan mereka dari siksa itu. Hal itu disebabkan karena iman mereka adalah iman terpaksa, mereka terpaksa melakukannya, dan iman setelah menyaksikan siksaan. Sedangkan iman yang bermanfaat yang dapat menyelamat-kan pelakunya adalah iman yang dilakukan dengan suka hati, yaitu yang merupakan iman dengan yang ghaib, yaitu yang terjadi se-belum ada tanda-tanda azab. ﴾ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ﴿ "Dan di waktu itu rugilah," maksudnya, waktu dibinasakan dan ditimpakannya azab, ﴾ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "orang-orang kafir" terhadap agama, dunia, dan akhirat mereka. Ia tidak cukup hanya sekedar kerugian di sana, melainkan harus ada kerugian yang menyengsarakan di dalam azab yang amat dahsyat dan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Selesailah Tafsir Surat al-Mu`min (Ghafir), dengan segala puji bagi Allah, kelembutan dan pertolonganNya, bukan karena ke-kuatan dan daya dari kami. Maka segala puji dan syukur hanya untukNya.
Gafir 40:85
"Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Orang-orang sebelum mereka itu lebih hebat ke-kuatannya dan bekas-bekas mereka di muka bumi, tapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka. Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa ke-terangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. Maka tatkala mereka melihat azab Kami, mereka berkata, 'Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah Sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (Ghafir: 82-85).
(82) Allah سبحانه وتعالى menghimbau kepada orang-orang yang men-dustakan rasul untuk melakukan perjalanan jauh di muka bumi ini dengan jiwa-raga mereka dan bertanya kepada orang-orang, ﴾ فَيَنظُرُواْ ﴿ "lalu memperhatikan" dengan renungan dan mencari bukti, bukan pandangan lalai atau peremehan, ﴾ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka" dari umat-umat terdahulu, seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lain-lain yang dahulu lebih kuat dan lebih banyak harta kekayaannya dan lebih dahsyat peninggalan-peninggalannya di bumi ini, seperti bangun-an-bangunan benteng, tumbuh-tumbuhan yang unik dan pertanian yang sangat banyak, ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "tetapi apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka." Saat keputusan Allah da-tang kepada mereka, kekuatan mereka sama sekali tidak berguna dan mereka pun tidak bisa menebus diri mereka dengan harta ke-kayaan mereka dan tidak pula dapat bertahan di dalam benteng-benteng mereka.
(83) Allah menyebutkan kejahatan besar mereka, seraya berfirman, ﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa keterangan-keterangan," seperti kitab-kitab ilahi dan mukjizat-mukjizat hebat, ilmu yang berman-faat yang membedakan antara hidayah dengan kesesatan, yang haq dengan yang batil, ﴾ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ ﴿ "mereka (justru) merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka" yang berlawanan dengan agama para rasul itu. Padahal sudah dimaklumi bahwa kesenangan mereka menunjukkan kepada betapa sangat rela dan berpegang teguhnya mereka kepadanya, dan betapa mereka me-nentang kebenaran yang dibawa oleh para rasul itu, serta menjadi-kan kebatilan mereka sebagai kebenaran. Ini umum, mencakup semua ilmu yang digunakan untuk menentang ajaran yang dibawa oleh para rasul. Dan yang paling berhak masuk ke dalam kategori ini adalah ilmu filsafat dan mantiq Yunani yang dengannya banyak sekali ayat-ayat al-Qur`an yang ditolak, dan menyepelekan kedudukannya di dalam hati, dan men-jadikan dalil-dalilnya yang pasti lagi meyakinkan itu sebagai dalil-dalil lafzhi belaka, tidak menginformasikan keyakinan sedikitpun. Dan akal orang-orang dungu lagi sesat pun lebih diutamakan atas ayat-ayat al-Qur`an. Ini merupakan tindakan kekufuran terbesar terhadap ayat-ayat Allah, perlawanan, dan pembatalan terhadap-nya. Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan.﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "Dan mereka dikepung" mereka dilanda oleh azab yang dahulu mereka perolok-olokkan.
(84) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَا ﴿ "Maka tatkala mereka melihat azab Kami," maksudnya, siksaan Kami, mereka pun mengakui, di mana penga-kuan sudah tidak berguna lagi. Dan ﴾ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥ وَكَفَرۡنَا بِمَا كُنَّا بِهِۦ مُشۡرِكِينَ ﴿ "mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah," yaitu seperti patung dan berhala, dan kami berlepas diri dari apa saja yang menyalahi para rasul, dalam ilmu ataupun amal.
(85) ﴾ فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَٰنُهُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ ﴿ "Maka iman mereka tiada ber-guna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami," maksudnya, pada saat itu. Inilah ﴾ سُنَّتَ ٱللَّهِ ﴿ "sunnah Allah," yakni kebiasaanNya, ﴾ ٱلَّتِي قَدۡ خَلَتۡ فِي عِبَادِهِۦۖ ﴿ "yang telah berlaku terhadap hamba-hambaNya," yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan, pada saat mereka ditimpa azab Allah dan hukumannya, maka mereka pun beriman. Namun, iman mereka tidak benar dan tidak dapat menyelamat-kan mereka dari siksa itu. Hal itu disebabkan karena iman mereka adalah iman terpaksa, mereka terpaksa melakukannya, dan iman setelah menyaksikan siksaan. Sedangkan iman yang bermanfaat yang dapat menyelamat-kan pelakunya adalah iman yang dilakukan dengan suka hati, yaitu yang merupakan iman dengan yang ghaib, yaitu yang terjadi se-belum ada tanda-tanda azab. ﴾ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ﴿ "Dan di waktu itu rugilah," maksudnya, waktu dibinasakan dan ditimpakannya azab, ﴾ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "orang-orang kafir" terhadap agama, dunia, dan akhirat mereka. Ia tidak cukup hanya sekedar kerugian di sana, melainkan harus ada kerugian yang menyengsarakan di dalam azab yang amat dahsyat dan kekal di dalamnya selama-lamanya.
Selesailah Tafsir Surat al-Mu`min (Ghafir), dengan segala puji bagi Allah, kelembutan dan pertolonganNya, bukan karena ke-kuatan dan daya dari kami. Maka segala puji dan syukur hanya untukNya.