Tafsir As-Saadi - Indonesian — Fussilat 41:1 – Asy-Syura 42:53
Daftar isi
- Fussilat 41:1
- Fussilat 41:2
- Fussilat 41:3
- Fussilat 41:4
- Fussilat 41:5
- Fussilat 41:6
- Fussilat 41:7
- Fussilat 41:8
- Fussilat 41:9
- Fussilat 41:10
- Fussilat 41:11
- Fussilat 41:12
- Fussilat 41:13
- Fussilat 41:14
- Fussilat 41:15
- Fussilat 41:16
- Fussilat 41:17
- Fussilat 41:18
- Fussilat 41:19
- Fussilat 41:20
- Fussilat 41:21
- Fussilat 41:22
- Fussilat 41:23
- Fussilat 41:24
- Fussilat 41:25
- Fussilat 41:26
- Fussilat 41:27
- Fussilat 41:28
- Fussilat 41:29
- Fussilat 41:30
- Fussilat 41:31
- Fussilat 41:32
- Fussilat 41:33
- Fussilat 41:34
- Fussilat 41:35
- Fussilat 41:36
- Fussilat 41:37
- Fussilat 41:38
- Fussilat 41:39
- Fussilat 41:40
- Fussilat 41:41
- Fussilat 41:42
- Fussilat 41:43
- Fussilat 41:44
- Fussilat 41:45
- Fussilat 41:46
- Fussilat 41:47
- Fussilat 41:48
- Fussilat 41:49
- Fussilat 41:50
- Fussilat 41:51
- Fussilat 41:52
- Fussilat 41:53
- Fussilat 41:54
- Asy-Syura 42:1
- Asy-Syura 42:2
- Asy-Syura 42:3
- Asy-Syura 42:4
- Asy-Syura 42:5
- Asy-Syura 42:6
- Asy-Syura 42:7
- Asy-Syura 42:8
- Asy-Syura 42:9
- Asy-Syura 42:10
- Asy-Syura 42:11
- Asy-Syura 42:12
- Asy-Syura 42:13
- Asy-Syura 42:14
- Asy-Syura 42:15
- Asy-Syura 42:16
- Asy-Syura 42:17
- Asy-Syura 42:18
- Asy-Syura 42:19
- Asy-Syura 42:20
- Asy-Syura 42:21
- Asy-Syura 42:22
- Asy-Syura 42:23
- Asy-Syura 42:24
- Asy-Syura 42:25
- Asy-Syura 42:26
- Asy-Syura 42:27
- Asy-Syura 42:28
- Asy-Syura 42:29
- Asy-Syura 42:30
- Asy-Syura 42:31
- Asy-Syura 42:32
- Asy-Syura 42:33
- Asy-Syura 42:34
- Asy-Syura 42:35
- Asy-Syura 42:36
- Asy-Syura 42:37
- Asy-Syura 42:38
- Asy-Syura 42:39
- Asy-Syura 42:40
- Asy-Syura 42:41
- Asy-Syura 42:42
- Asy-Syura 42:43
- Asy-Syura 42:44
- Asy-Syura 42:45
- Asy-Syura 42:46
- Asy-Syura 42:47
- Asy-Syura 42:48
- Asy-Syura 42:49
- Asy-Syura 42:50
- Asy-Syura 42:51
- Asy-Syura 42:52
- Asy-Syura 42:53
Fussilat 41:1
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:2
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:3
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:4
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:5
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:6
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:7
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:8
"Ha Mim. Diturunkan dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling; maka mereka tidak mau mendengarkan. Mereka berkata, 'Hati kami berada dalam tutupan terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula.' Katakanlah, 'Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya sesembahan kamu adalah sesembahan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya'." (Fushshilat: 1-8).
Makkiyah
(2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hamba-hambaNya bahwa Kitab suci yang sangat mulia dan al-Qur`an yang sangat indah ini adalah ﴾ تَنزِيلٞ ﴿ "diturunkan," dan berasal ﴾ مِّنَ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿ "dari Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," yang rahmatNya meliputi segala sesuatu, yang di antara rahmatNya yang paling besar dan paling mulia adalah diturunkannya al-Kitab (al-Qur`an) ini sendiri, yang dengannya dapat diraih berbagai ilmu, petunjuk, nur, kesembuhan, rahmat, dan kebaikan yang berlimpah, yang menjadikannya di antara nikmatNya yang termulia atas hamba-hambaNya, dan ia adalah jalan kebahagiaan di dua negeri (dunia dan akhirat).
(3) Kemudian Allah menyanjung al-Qur`an ini dengan ke-sempurnaan penjelasan, seraya berfirman, ﴾ فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ﴿ "Yang di-jelaskan ayat-ayatnya," artinya, yang dijelaskan segala sesuatu dari macam-macamnya satu-persatu. Ini mengharuskan penjelasan yang sempurna dan pembedaan antara segala sesuatu serta pemilahan hal-hal yang sesungguhnya, ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "yakni bacaan dalam bahasa Arab," maksudnya, dengan bahasa yang fasih, bahasa yang paling sempurna. Ayat-ayatnya dijelaskan dan dijadikan dalam bahasa Arab, ﴾ لِّقَوۡمٖ يَعۡلَمُونَ ﴿ "untuk kaum yang mengetahui." Maksudnya, su-paya maknanya jelas bagi mereka sebagaimana lafazhnya, supaya petunjuknya jelas (dapat dipisahkan) dari kesesatan dan yang bengkok dari yang lurus. Adapun orang-orang yang bodoh yang petunjuk malah makin membuat mereka sesat, dan penjelasan makin membuat mereka buta, maka al-kalam (al-Qur`an) ini tidak dimaksudkan untuk mereka, dan ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ءَأَنذَرۡتَهُمۡ أَمۡ لَمۡ تُنذِرۡهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ 6 ﴿ "Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman." (Al-Baqarah: 6).
(4) ﴾ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا ﴿ "Yang membawa berita gembira dan yang mem-bawa peringatan," maksudnya, membawa berita gembira berupa pahala di dunia dan di akhirat, dan membawa peringatan berupa siksa di dunia dan akhirat. Lalu Allah menjelaskan rinciannya, menyebutkan sebab-sebab dan karakter-karakter yang dengannya kabar gembira dan peringatan itu terlaksana. Ciri-ciri yang dimiliki al-Qur`an ini meng-haruskan supaya ia direspon dengan sikap menerima, tunduk, meyakini, dan mengamalkannya. Akan tetapi kebanyakan manusia berpaling seperti berpalingnya orang-orang yang menyombongkan diri, ﴾ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ ﴿ "maka mereka tidak mau mendengarkan"nya dengan tujuan menerima dan merespon positif, sekalipun mereka telah mendengarnya yang dengannya hujjah syar'i telah tegak atas mereka.
(5) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Mereka berkata," maksudnya, orang-orang yang berpaling dari al-Qur`an itu berkata untuk menjelaskan keengganan mereka mengambil pelajaran darinya dengan menutup semua pintu yang bisa menyampaikan kepadanya, ﴾ قُلُوبُنَا فِيٓ أَكِنَّةٖ ﴿ "Hati kami ber-ada dalam tutupan," penutup yang menutupi ﴾ مِّمَّا تَدۡعُونَآ إِلَيۡهِ وَفِيٓ ءَاذَانِنَا وَقۡرٞ ﴿ "terhadap apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan," maksudnya, tuli sehingga kami tidak dapat mendengar-mu, ﴾ وَمِنۢ بَيۡنِنَا وَبَيۡنِكَ حِجَابٞ ﴿ "dan di antara kami dan kamu ada dinding," sehingga kami tidak dapat melihatmu. Maksudnya, mereka me-nampakkan sikap berpaling dari al-Qur`an dari segala sisi, dan mereka menampakkan kebencian kepadanya dan puas dengan apa yang mereka anut. Maka dari itu mereka berkata, ﴾ فَٱعۡمَلۡ إِنَّنَا عَٰمِلُونَ ﴿ "Maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja pula," maksudnya, sebagaimana kamu puas mengamalkan agamamu, maka kami pun sangat puas mengamalkan agama kami. Ini benar-benar sikap mengabaikan yang sangat kentara, di mana mereka rela dengan kesesatan, menjauhi petunjuk dan lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan, dan mereka menjual akhirat dengan dunia.
(6-7) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka, wahai Nabi ﴾ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ ﴿ "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku," inilah sifat dan tugasku, yaitu bahwa aku adalah manusia biasa, aku tidak memiliki wewenang apa pun, dan aku juga tidak memiliki apa yang kalian minta segera. Sesung-guhnya Allah hanya mengutamakanku atas kalian, mengistimewa-kanku dengan wahyu yang diwahyukanNya kepadaku dan me-merintahku untuk mengikutinya dan mengajak kalian kepadanya. ﴾ فَٱسۡتَقِيمُوٓاْ إِلَيۡهِ ﴿ "Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya," maksudnya, tempuhlah jalan yang dapat mengantarkan kepada Allah سبحانه وتعالى, dengan cara membenarkan berita yang aku sampaikan dan mengikuti perintah dan menjauhi larangan. Inilah hakikat istiqamah. Kemudian konsisten kepadanya. Ungkapan, ﴾ إِلَيۡهِ ﴿ "ke-padaNya" mengingatkan tentang keikhlasan, dan orang yang akan beramal hendaknya menjadikan tujuan dan niat beramalnya adalah untuk sampai kepada Allah dan kepada negeri kemuliaanNya. Maka dengan begitu amalnya tulus, shalih lagi bermanfaat, dan dengan terabaikannya ikhlas maka amalnya menjadi sia-sia. Oleh karena seorang hamba, sekalipun ia telah bersungguh-sungguh untuk tetap istiqamah, pasti terjadi kekeliruan darinya karena mengabaikan perintah atau melakukan yang dilarang, maka Allah menyuruh mengobatinya dengan beristighfar yang mengan-dung makna taubat, seraya berfirman, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُوهُۗ ﴿ "Dan mohonlah ampun kepadaNya." Kemudian Allah mengancam orang yang menga-baikan istiqamah, seraya berfirman, ﴾ وَوَيۡلٞ لِّلۡمُشۡرِكِينَ 6 ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutu-kanNya, yaitu orang-orang yang tidak menunaikan zakat." Yaitu orang-orang yang menyembah apa-apa yang tidak mampu mendatang-kan manfaat, mudarat, kematian, kehidupan dan tidak pula mampu menghidupkan kembali. Dan mereka menginjak-injak diri mereka[84], tidak membersihkannya dengan mengesakan Allah, Rabb mereka dan ikhlas kepadaNya. Mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga membayar zakat. Tidak ada keikhlasan kepada sang Pencipta dengan tauhid dan shalat, dan tidak ada pula pemberian manfaat kepada sesama dengan menunaikan zakat dan lain-lainnya. ﴾ وَهُم بِٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ كَٰفِرُونَ ﴿ "Dan mereka kafir akan adanya akhirat." Arti-nya, mereka tidak beriman kepada kebangkitan, kepada adanya surga ataupun adanya neraka. Maka dari itu, setelah rasa takut sirna dari hati mereka, maka mereka berani melakukan apa yang telah mereka lakukan, yaitu perbuatan yang dapat mencelakakan mereka di akhirat.
(8) Setelah menjelaskan orang-orang kafir, maka Allah menjelaskan orang-orang beriman, sifat mereka dan balasan untuk mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman" kepada kitab al-Qur`an ini dan apa-apa yang dikan-dungnya dari iman yang diserukan kepadanya, dan mereka mem-benarkan iman mereka dengan amal shalih yang mencakup ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti Rasulullah), ﴾ لَهُمۡ أَجۡرٌ ﴿ "mereka mendapat pahala" yang sangat besar ﴾ غَيۡرُ مَمۡنُونٖ ﴿ "yang tiada putus-putusnya," yakni, tidak pernah terhenti dan tidak pernah habis, melainkan terus mengalir sepanjang waktu, selalu bertambah sepanjang masa, penuh dengan semua kelezatan dan hal-hal yang menyenangkan.
Fussilat 41:9
"Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya.' Itulah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia member-kahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan-nya dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih me-rupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Da-tanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat: 9-12).
(9-10) Allah سبحانه وتعالى mengingkari dan heran terhadap kekafiran orang-orang yang kafir kepadaNya, yaitu mereka yang menjadikan sekutu-sekutu bagiNya, mereka persekutukan denganNya, dan mereka menyembah kepada sekutu-sekutu itu apa saja yang mereka suka dari pemujaan-pemujaan mereka, dan mereka menyetarakan-nya dengan Rabb yang Mahaagung, Maharaja lagi Maha Pemurah, Yang telah menciptakan bumi yang tebal lagi amat sangat besar dalam dua hari, lalu membentangkannya dalam dua hari dengan menjadikan gunung-gunung di atasnya yang menjadi pasak bagi-nya agar tidak goyah, tidak goncang dan agar diam. Dia pun me-nyempurnakan penciptaannya dan membentangkannya serta me-ngeluarkan makanan-makanannya serta segala hal yang berkaitan dengannya ﴾ فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya" tentang hal ini. Tidak ada yang me-ngabarkannya kepadamu sebagaimana Allah Yang Maha Menge-tahui. Inilah informasi yang benar, tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun.
(11) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah Dia menciptakan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰٓ ﴿ "Dia menuju" mengarah ﴾ إِلَى ﴿ "kepada" penciptaan ﴾ ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ ﴿ "la-ngit dan ia (ketika itu) masih merupakan asap," yang menguap di atas permukaan air ﴾ فَقَالَ لَهَا ﴿ "lalu Dia berkata kepadanya." Oleh karena takhsish (pengkhususan) ini mengisaratkan pengecualian, maka Allah menyambungnya dengan FirmanNya, ﴾ وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "Dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa'," maksudnya, tunduklah kepada perintahKu dengan suka hati atau terpaksa, karena ia harus terlaksana.﴾ قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ ﴿ "Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati'." Artinya, kami tidak mempunyai keinginan yang menyelisihi keinginanMu.
(12) ﴾ فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ ﴿ "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa." Dengan demikian, selesailah penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya kekuasaan Allah dan kehendakNya bisa menciptakan itu semua dalam sekejap saja. Namun, sekalipun Dia Mahakuasa, namun Dia Mahabijaksana lagi Mahalembut. Di antara kebijaksanaan dan kelembutanNya itu adalah, Dia menciptakan langit dan bumi ini dalam tempo yang telah ditetapkan. Ketahuilah bahwa zahir (leterasi) ayat ini bila dipadukan dengan FirmanNya dalam Surah an-Nazi'at, yaitu setelah Allah menyebutkan penciptaan langit berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Kami bentangkan," (An-Nazi'at: 30), nampak ada kontradiksi (pertentangan) pada keduanya! Padahal Kitabullah (al-Qur`an) ini tidak ada kontradiksi atau perselisihan padanya! Jawabnya adalah apa yang sudah dikatakan oleh banyak kaum Salaf, bahwa sesungguhnya penciptaan bumi dan bentuknya itu lebih dahulu daripada penciptaan langit, seperti dijelaskan di sini. Pembentangan bumi maksudnya adalah, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Mengeluarkan air dan rumput-rumputan darinya menancapkan gunung," dan itu belakangan, lebih dahulu penciptaan langit, seba-gaimana dijelaskan dalam surah an-Nazi'at. Maka dari itu, di sana Dia berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 أَخۡرَجَ مِنۡهَا...31 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Dia bentangkan, Dia keluarkan darinya...," hingga akhir ayat. Dia tidak mengatakan: Dan bumi sesudah itu Dia ciptakan. FirmanNya, ﴾ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya," maksudnya, urusan dan wewenang yang layak dengannya, sesuai dengan tuntutan kebijaksanaan Tuhan Yang Mahabijaksana. ﴾ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "Dan Kami hiasi langit dunia dengan lampu-lampu yang cemerlang," yaitu bintang-bintang yang dapat dijadikan penerang dan pedoman arah, dan menjadi keindahan dan perhiasan bagi langit secara lahiriyah, dan sebagai keindahannya secara batin yang mana ia dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan agar mereka tidak mencuri untuk mendengarkan wahyu di sana. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang disebutkan di atas, yaitu bumi dengan segala isinya dan langit dengan segala isinya, adalah ﴾ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "ketentuan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya Dia mengalahkan segala sesuatu, Dia mengaturnya dan dengan-nya pula Dia menciptakan semua makhluk; ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Me-ngetahui" yang pengetahuanNya meliputi (menjangkau) seluruh makhluk, yang ghaib dan yang nyata. Maka pengabaian kaum musyrikin terhadap sikap ikhlas (bertauhid) kepada Rabb yang Mahaagung, Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, yang semua makhluk tunduk kepada perintahNya, dan ketentuanNya berlaku padanya, adalah merupakan hal yang paling mengherankan. Dan pengangkatan sekutu-sekutu bagiNya yang mereka sejajarkan denganNya, padahal sekutu-sekutu itu lemah pada sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya, adalah lebih mengherankan dan lebih mengherankan lagi! Tidak ada terapi bagi mereka jika sikap berpaling mereka terus berlanjut selain hukuman-hukuman duniawi dan ukhrawi. Maka dari itu Allah mempertakuti mereka dengan FirmanNya,
Fussilat 41:10
"Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya.' Itulah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia member-kahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan-nya dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih me-rupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Da-tanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat: 9-12).
(9-10) Allah سبحانه وتعالى mengingkari dan heran terhadap kekafiran orang-orang yang kafir kepadaNya, yaitu mereka yang menjadikan sekutu-sekutu bagiNya, mereka persekutukan denganNya, dan mereka menyembah kepada sekutu-sekutu itu apa saja yang mereka suka dari pemujaan-pemujaan mereka, dan mereka menyetarakan-nya dengan Rabb yang Mahaagung, Maharaja lagi Maha Pemurah, Yang telah menciptakan bumi yang tebal lagi amat sangat besar dalam dua hari, lalu membentangkannya dalam dua hari dengan menjadikan gunung-gunung di atasnya yang menjadi pasak bagi-nya agar tidak goyah, tidak goncang dan agar diam. Dia pun me-nyempurnakan penciptaannya dan membentangkannya serta me-ngeluarkan makanan-makanannya serta segala hal yang berkaitan dengannya ﴾ فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya" tentang hal ini. Tidak ada yang me-ngabarkannya kepadamu sebagaimana Allah Yang Maha Menge-tahui. Inilah informasi yang benar, tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun.
(11) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah Dia menciptakan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰٓ ﴿ "Dia menuju" mengarah ﴾ إِلَى ﴿ "kepada" penciptaan ﴾ ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ ﴿ "la-ngit dan ia (ketika itu) masih merupakan asap," yang menguap di atas permukaan air ﴾ فَقَالَ لَهَا ﴿ "lalu Dia berkata kepadanya." Oleh karena takhsish (pengkhususan) ini mengisaratkan pengecualian, maka Allah menyambungnya dengan FirmanNya, ﴾ وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "Dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa'," maksudnya, tunduklah kepada perintahKu dengan suka hati atau terpaksa, karena ia harus terlaksana.﴾ قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ ﴿ "Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati'." Artinya, kami tidak mempunyai keinginan yang menyelisihi keinginanMu.
(12) ﴾ فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ ﴿ "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa." Dengan demikian, selesailah penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya kekuasaan Allah dan kehendakNya bisa menciptakan itu semua dalam sekejap saja. Namun, sekalipun Dia Mahakuasa, namun Dia Mahabijaksana lagi Mahalembut. Di antara kebijaksanaan dan kelembutanNya itu adalah, Dia menciptakan langit dan bumi ini dalam tempo yang telah ditetapkan. Ketahuilah bahwa zahir (leterasi) ayat ini bila dipadukan dengan FirmanNya dalam Surah an-Nazi'at, yaitu setelah Allah menyebutkan penciptaan langit berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Kami bentangkan," (An-Nazi'at: 30), nampak ada kontradiksi (pertentangan) pada keduanya! Padahal Kitabullah (al-Qur`an) ini tidak ada kontradiksi atau perselisihan padanya! Jawabnya adalah apa yang sudah dikatakan oleh banyak kaum Salaf, bahwa sesungguhnya penciptaan bumi dan bentuknya itu lebih dahulu daripada penciptaan langit, seperti dijelaskan di sini. Pembentangan bumi maksudnya adalah, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Mengeluarkan air dan rumput-rumputan darinya menancapkan gunung," dan itu belakangan, lebih dahulu penciptaan langit, seba-gaimana dijelaskan dalam surah an-Nazi'at. Maka dari itu, di sana Dia berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 أَخۡرَجَ مِنۡهَا...31 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Dia bentangkan, Dia keluarkan darinya...," hingga akhir ayat. Dia tidak mengatakan: Dan bumi sesudah itu Dia ciptakan. FirmanNya, ﴾ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya," maksudnya, urusan dan wewenang yang layak dengannya, sesuai dengan tuntutan kebijaksanaan Tuhan Yang Mahabijaksana. ﴾ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "Dan Kami hiasi langit dunia dengan lampu-lampu yang cemerlang," yaitu bintang-bintang yang dapat dijadikan penerang dan pedoman arah, dan menjadi keindahan dan perhiasan bagi langit secara lahiriyah, dan sebagai keindahannya secara batin yang mana ia dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan agar mereka tidak mencuri untuk mendengarkan wahyu di sana. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang disebutkan di atas, yaitu bumi dengan segala isinya dan langit dengan segala isinya, adalah ﴾ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "ketentuan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya Dia mengalahkan segala sesuatu, Dia mengaturnya dan dengan-nya pula Dia menciptakan semua makhluk; ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Me-ngetahui" yang pengetahuanNya meliputi (menjangkau) seluruh makhluk, yang ghaib dan yang nyata. Maka pengabaian kaum musyrikin terhadap sikap ikhlas (bertauhid) kepada Rabb yang Mahaagung, Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, yang semua makhluk tunduk kepada perintahNya, dan ketentuanNya berlaku padanya, adalah merupakan hal yang paling mengherankan. Dan pengangkatan sekutu-sekutu bagiNya yang mereka sejajarkan denganNya, padahal sekutu-sekutu itu lemah pada sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya, adalah lebih mengherankan dan lebih mengherankan lagi! Tidak ada terapi bagi mereka jika sikap berpaling mereka terus berlanjut selain hukuman-hukuman duniawi dan ukhrawi. Maka dari itu Allah mempertakuti mereka dengan FirmanNya,
Fussilat 41:11
"Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya.' Itulah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia member-kahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan-nya dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih me-rupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Da-tanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat: 9-12).
(9-10) Allah سبحانه وتعالى mengingkari dan heran terhadap kekafiran orang-orang yang kafir kepadaNya, yaitu mereka yang menjadikan sekutu-sekutu bagiNya, mereka persekutukan denganNya, dan mereka menyembah kepada sekutu-sekutu itu apa saja yang mereka suka dari pemujaan-pemujaan mereka, dan mereka menyetarakan-nya dengan Rabb yang Mahaagung, Maharaja lagi Maha Pemurah, Yang telah menciptakan bumi yang tebal lagi amat sangat besar dalam dua hari, lalu membentangkannya dalam dua hari dengan menjadikan gunung-gunung di atasnya yang menjadi pasak bagi-nya agar tidak goyah, tidak goncang dan agar diam. Dia pun me-nyempurnakan penciptaannya dan membentangkannya serta me-ngeluarkan makanan-makanannya serta segala hal yang berkaitan dengannya ﴾ فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya" tentang hal ini. Tidak ada yang me-ngabarkannya kepadamu sebagaimana Allah Yang Maha Menge-tahui. Inilah informasi yang benar, tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun.
(11) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah Dia menciptakan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰٓ ﴿ "Dia menuju" mengarah ﴾ إِلَى ﴿ "kepada" penciptaan ﴾ ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ ﴿ "la-ngit dan ia (ketika itu) masih merupakan asap," yang menguap di atas permukaan air ﴾ فَقَالَ لَهَا ﴿ "lalu Dia berkata kepadanya." Oleh karena takhsish (pengkhususan) ini mengisaratkan pengecualian, maka Allah menyambungnya dengan FirmanNya, ﴾ وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "Dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa'," maksudnya, tunduklah kepada perintahKu dengan suka hati atau terpaksa, karena ia harus terlaksana.﴾ قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ ﴿ "Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati'." Artinya, kami tidak mempunyai keinginan yang menyelisihi keinginanMu.
(12) ﴾ فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ ﴿ "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa." Dengan demikian, selesailah penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya kekuasaan Allah dan kehendakNya bisa menciptakan itu semua dalam sekejap saja. Namun, sekalipun Dia Mahakuasa, namun Dia Mahabijaksana lagi Mahalembut. Di antara kebijaksanaan dan kelembutanNya itu adalah, Dia menciptakan langit dan bumi ini dalam tempo yang telah ditetapkan. Ketahuilah bahwa zahir (leterasi) ayat ini bila dipadukan dengan FirmanNya dalam Surah an-Nazi'at, yaitu setelah Allah menyebutkan penciptaan langit berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Kami bentangkan," (An-Nazi'at: 30), nampak ada kontradiksi (pertentangan) pada keduanya! Padahal Kitabullah (al-Qur`an) ini tidak ada kontradiksi atau perselisihan padanya! Jawabnya adalah apa yang sudah dikatakan oleh banyak kaum Salaf, bahwa sesungguhnya penciptaan bumi dan bentuknya itu lebih dahulu daripada penciptaan langit, seperti dijelaskan di sini. Pembentangan bumi maksudnya adalah, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Mengeluarkan air dan rumput-rumputan darinya menancapkan gunung," dan itu belakangan, lebih dahulu penciptaan langit, seba-gaimana dijelaskan dalam surah an-Nazi'at. Maka dari itu, di sana Dia berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 أَخۡرَجَ مِنۡهَا...31 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Dia bentangkan, Dia keluarkan darinya...," hingga akhir ayat. Dia tidak mengatakan: Dan bumi sesudah itu Dia ciptakan. FirmanNya, ﴾ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya," maksudnya, urusan dan wewenang yang layak dengannya, sesuai dengan tuntutan kebijaksanaan Tuhan Yang Mahabijaksana. ﴾ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "Dan Kami hiasi langit dunia dengan lampu-lampu yang cemerlang," yaitu bintang-bintang yang dapat dijadikan penerang dan pedoman arah, dan menjadi keindahan dan perhiasan bagi langit secara lahiriyah, dan sebagai keindahannya secara batin yang mana ia dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan agar mereka tidak mencuri untuk mendengarkan wahyu di sana. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang disebutkan di atas, yaitu bumi dengan segala isinya dan langit dengan segala isinya, adalah ﴾ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "ketentuan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya Dia mengalahkan segala sesuatu, Dia mengaturnya dan dengan-nya pula Dia menciptakan semua makhluk; ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Me-ngetahui" yang pengetahuanNya meliputi (menjangkau) seluruh makhluk, yang ghaib dan yang nyata. Maka pengabaian kaum musyrikin terhadap sikap ikhlas (bertauhid) kepada Rabb yang Mahaagung, Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, yang semua makhluk tunduk kepada perintahNya, dan ketentuanNya berlaku padanya, adalah merupakan hal yang paling mengherankan. Dan pengangkatan sekutu-sekutu bagiNya yang mereka sejajarkan denganNya, padahal sekutu-sekutu itu lemah pada sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya, adalah lebih mengherankan dan lebih mengherankan lagi! Tidak ada terapi bagi mereka jika sikap berpaling mereka terus berlanjut selain hukuman-hukuman duniawi dan ukhrawi. Maka dari itu Allah mempertakuti mereka dengan FirmanNya,
Fussilat 41:12
"Katakanlah, 'Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya.' Itulah Rabb semesta alam. Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia member-kahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan-nya dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih me-rupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Da-tanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa.' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati.' Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui." (Fushshilat: 9-12).
(9-10) Allah سبحانه وتعالى mengingkari dan heran terhadap kekafiran orang-orang yang kafir kepadaNya, yaitu mereka yang menjadikan sekutu-sekutu bagiNya, mereka persekutukan denganNya, dan mereka menyembah kepada sekutu-sekutu itu apa saja yang mereka suka dari pemujaan-pemujaan mereka, dan mereka menyetarakan-nya dengan Rabb yang Mahaagung, Maharaja lagi Maha Pemurah, Yang telah menciptakan bumi yang tebal lagi amat sangat besar dalam dua hari, lalu membentangkannya dalam dua hari dengan menjadikan gunung-gunung di atasnya yang menjadi pasak bagi-nya agar tidak goyah, tidak goncang dan agar diam. Dia pun me-nyempurnakan penciptaannya dan membentangkannya serta me-ngeluarkan makanan-makanannya serta segala hal yang berkaitan dengannya ﴾ فِيٓ أَرۡبَعَةِ أَيَّامٖ سَوَآءٗ لِّلسَّآئِلِينَ ﴿ "dalam empat masa, sebagai jawaban bagi orang-orang yang bertanya" tentang hal ini. Tidak ada yang me-ngabarkannya kepadamu sebagaimana Allah Yang Maha Menge-tahui. Inilah informasi yang benar, tidak ditambah dan tidak dikurangi sedikitpun.
(11) ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian" setelah Dia menciptakan bumi ﴾ ٱسۡتَوَىٰٓ ﴿ "Dia menuju" mengarah ﴾ إِلَى ﴿ "kepada" penciptaan ﴾ ٱلسَّمَآءِ وَهِيَ دُخَانٞ ﴿ "la-ngit dan ia (ketika itu) masih merupakan asap," yang menguap di atas permukaan air ﴾ فَقَالَ لَهَا ﴿ "lalu Dia berkata kepadanya." Oleh karena takhsish (pengkhususan) ini mengisaratkan pengecualian, maka Allah menyambungnya dengan FirmanNya, ﴾ وَلِلۡأَرۡضِ ٱئۡتِيَا طَوۡعًا أَوۡ كَرۡهٗا ﴿ "Dan kepada bumi, 'Datanglah kamu berdua menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa'," maksudnya, tunduklah kepada perintahKu dengan suka hati atau terpaksa, karena ia harus terlaksana.﴾ قَالَتَآ أَتَيۡنَا طَآئِعِينَ ﴿ "Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan suka hati'." Artinya, kami tidak mempunyai keinginan yang menyelisihi keinginanMu.
(12) ﴾ فَقَضَىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَاتٖ فِي يَوۡمَيۡنِ ﴿ "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa." Dengan demikian, selesailah penciptaan langit dan bumi dalam enam hari, dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at, sekalipun sebenarnya kekuasaan Allah dan kehendakNya bisa menciptakan itu semua dalam sekejap saja. Namun, sekalipun Dia Mahakuasa, namun Dia Mahabijaksana lagi Mahalembut. Di antara kebijaksanaan dan kelembutanNya itu adalah, Dia menciptakan langit dan bumi ini dalam tempo yang telah ditetapkan. Ketahuilah bahwa zahir (leterasi) ayat ini bila dipadukan dengan FirmanNya dalam Surah an-Nazi'at, yaitu setelah Allah menyebutkan penciptaan langit berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Kami bentangkan," (An-Nazi'at: 30), nampak ada kontradiksi (pertentangan) pada keduanya! Padahal Kitabullah (al-Qur`an) ini tidak ada kontradiksi atau perselisihan padanya! Jawabnya adalah apa yang sudah dikatakan oleh banyak kaum Salaf, bahwa sesungguhnya penciptaan bumi dan bentuknya itu lebih dahulu daripada penciptaan langit, seperti dijelaskan di sini. Pembentangan bumi maksudnya adalah, ﴾ أَخۡرَجَ مِنۡهَا مَآءَهَا وَمَرۡعَىٰهَا 31 وَٱلۡجِبَالَ أَرۡسَىٰهَا 32 ﴿ "Mengeluarkan air dan rumput-rumputan darinya menancapkan gunung," dan itu belakangan, lebih dahulu penciptaan langit, seba-gaimana dijelaskan dalam surah an-Nazi'at. Maka dari itu, di sana Dia berfirman, ﴾ وَٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ دَحَىٰهَآ 30 أَخۡرَجَ مِنۡهَا...31 ﴿ "Dan bumi sesudah itu Dia bentangkan, Dia keluarkan darinya...," hingga akhir ayat. Dia tidak mengatakan: Dan bumi sesudah itu Dia ciptakan. FirmanNya, ﴾ وَأَوۡحَىٰ فِي كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya," maksudnya, urusan dan wewenang yang layak dengannya, sesuai dengan tuntutan kebijaksanaan Tuhan Yang Mahabijaksana. ﴾ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "Dan Kami hiasi langit dunia dengan lampu-lampu yang cemerlang," yaitu bintang-bintang yang dapat dijadikan penerang dan pedoman arah, dan menjadi keindahan dan perhiasan bagi langit secara lahiriyah, dan sebagai keindahannya secara batin yang mana ia dijadikan sebagai alat untuk melempari setan-setan agar mereka tidak mencuri untuk mendengarkan wahyu di sana. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yang disebutkan di atas, yaitu bumi dengan segala isinya dan langit dengan segala isinya, adalah ﴾ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ﴿ "ketentuan Yang Mahaperkasa," yang dengan keperkasaanNya Dia mengalahkan segala sesuatu, Dia mengaturnya dan dengan-nya pula Dia menciptakan semua makhluk; ﴾ ٱلۡعَلِيمِ ﴿ "lagi Maha Me-ngetahui" yang pengetahuanNya meliputi (menjangkau) seluruh makhluk, yang ghaib dan yang nyata. Maka pengabaian kaum musyrikin terhadap sikap ikhlas (bertauhid) kepada Rabb yang Mahaagung, Maha Esa lagi Maha Mengalahkan, yang semua makhluk tunduk kepada perintahNya, dan ketentuanNya berlaku padanya, adalah merupakan hal yang paling mengherankan. Dan pengangkatan sekutu-sekutu bagiNya yang mereka sejajarkan denganNya, padahal sekutu-sekutu itu lemah pada sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya, adalah lebih mengherankan dan lebih mengherankan lagi! Tidak ada terapi bagi mereka jika sikap berpaling mereka terus berlanjut selain hukuman-hukuman duniawi dan ukhrawi. Maka dari itu Allah mempertakuti mereka dengan FirmanNya,
Fussilat 41:13
"Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah mem-peringatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud. Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka. Janganlah kamu menyembah selain Allah.' Mereka menjawab, 'Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikatNya, maka sesung-guhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawa-nya'." (Fushshilat: 13-14).
(13-14) Maknanya, jika orang-orang yang mendustakan itu berpaling setelah beberapa ciri (beberapa karakteristik) al-Qur`an yang sangat terpuji dan sebagian sifat-sifat ilah (sembahan) yang Mahaagung dijelaskan kepada mereka, ﴾ فَقُلۡ أَنذَرۡتُكُمۡ صَٰعِقَةٗ ﴿ "maka kata-kanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir'," maksudnya, azab yang membinasakan dan menghabisi kalian semua, ﴾ مِّثۡلَ صَٰعِقَةِ عَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud," dua kaum yang sangat terkenal, di mana mereka dibinasakan oleh azab dan mereka ditimpa seburuk-buruk hukuman. Semua itu terjadi karena kezhaliman dan kekafiran mereka, di m a n a ﴾ جَآءَتۡهُمُ ٱلرُّسُلُ مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ ﴿ "ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka." Artinya, silih berganti kedatangan mereka secara berurutan, sedangkan dakwah (seruan) mereka semua sama, yaitu ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah," artinya, mereka (para rasul itu) memerintahkan untuk ikhlas kepada Allah dan melarang mereka dari perbuatan memperseku-tukanNya, namun mereka menolak kerasulan para rasul itu dan mereka mendustakannya. Dan ﴾ قَالُواْ لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ ﴿ "mereka menjawab, 'Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikatNya'." Arti-nya, sedangkan kalian (para rasul) hanyalah manusia biasa seperti kami. ﴾ فَإِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya." Ini adalah suatu alasan rapuh (syubhat) yang terus diwariskan secara turun-temurun di kalangan orang-orang yang mendustakan. Ia merupakan syubhat yang sangat rapuh, sebab tidak termasuk syarat dalam pengutusan rasul itu harus dari seorang malaikat. Yang sebenarnya menjadi persyaratan kerasulan adalah sang rasul mendatangkan bukti yang membukti-kan kebenarannya. Setelah itu silahkan mereka mencari kecacatan kebenaran (kejujuran) rasul itu jika mereka mampu dengan cara yang rasional maupun yang syar'i! Tentu mereka sama sekali tidak akan pernah menemukan jalan ke sana!
Fussilat 41:14
"Jika mereka berpaling maka katakanlah, 'Aku telah mem-peringatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud. Ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka. Janganlah kamu menyembah selain Allah.' Mereka menjawab, 'Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikatNya, maka sesung-guhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawa-nya'." (Fushshilat: 13-14).
(13-14) Maknanya, jika orang-orang yang mendustakan itu berpaling setelah beberapa ciri (beberapa karakteristik) al-Qur`an yang sangat terpuji dan sebagian sifat-sifat ilah (sembahan) yang Mahaagung dijelaskan kepada mereka, ﴾ فَقُلۡ أَنذَرۡتُكُمۡ صَٰعِقَةٗ ﴿ "maka kata-kanlah, 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir'," maksudnya, azab yang membinasakan dan menghabisi kalian semua, ﴾ مِّثۡلَ صَٰعِقَةِ عَادٖ وَثَمُودَ ﴿ "seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan kaum Tsamud," dua kaum yang sangat terkenal, di mana mereka dibinasakan oleh azab dan mereka ditimpa seburuk-buruk hukuman. Semua itu terjadi karena kezhaliman dan kekafiran mereka, di m a n a ﴾ جَآءَتۡهُمُ ٱلرُّسُلُ مِنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ ﴿ "ketika rasul-rasul datang kepada mereka dari depan dan dari belakang mereka." Artinya, silih berganti kedatangan mereka secara berurutan, sedangkan dakwah (seruan) mereka semua sama, yaitu ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَۖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah," artinya, mereka (para rasul itu) memerintahkan untuk ikhlas kepada Allah dan melarang mereka dari perbuatan memperseku-tukanNya, namun mereka menolak kerasulan para rasul itu dan mereka mendustakannya. Dan ﴾ قَالُواْ لَوۡ شَآءَ رَبُّنَا لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةٗ ﴿ "mereka menjawab, 'Kalau Rabb kami menghendaki, tentu Dia akan menurunkan malaikat-malaikatNya'." Arti-nya, sedangkan kalian (para rasul) hanyalah manusia biasa seperti kami. ﴾ فَإِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَٰفِرُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya kami kafir kepada wahyu yang kamu diutus membawanya." Ini adalah suatu alasan rapuh (syubhat) yang terus diwariskan secara turun-temurun di kalangan orang-orang yang mendustakan. Ia merupakan syubhat yang sangat rapuh, sebab tidak termasuk syarat dalam pengutusan rasul itu harus dari seorang malaikat. Yang sebenarnya menjadi persyaratan kerasulan adalah sang rasul mendatangkan bukti yang membukti-kan kebenarannya. Setelah itu silahkan mereka mencari kecacatan kebenaran (kejujuran) rasul itu jika mereka mampu dengan cara yang rasional maupun yang syar'i! Tentu mereka sama sekali tidak akan pernah menemukan jalan ke sana!
Fussilat 41:15
"Adapun kaum 'Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami.' Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatanNya dari mereka? Dan mereka mengingkari ayat-ayat Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih meng-hinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan." (Fushshilat: 15-16).
(15) Kaum 'Ad, di samping mereka kafir kepada Allah, ingkar kepada ayat-ayat Allah dan kafir kepada rasul-rasulNya, mereka juga menyombongkan diri ﴾ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "di muka bumi," semena-mena terhadap masyarakat sekitarnya, zhalim terhadap mereka, dan mereka terpedaya dengan kekuatan yang mereka miliki, ﴾ وَقَالُواْ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ ﴿ "dan berkata, 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?'" Allah berfirman menolak mereka dengan apa yang diketahui oleh setiap orang, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِي خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةٗۖ ﴿ "Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatanNya dari mereka?" Kalau saja bukan karena Allah yang menciptakan mereka, tentu mereka tidak akan ada. Kalau saja mereka memperhatikan kenyataan ini dengan benar, tentu mereka tidak terpedaya dengan kekuatan mereka.
(16) Lalu mereka dihukum oleh Allah dengan hukuman yang setara dengan kekuatan mereka yang membuat mereka ter-pedaya. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحٗا صَرۡصَرٗا ﴿ "Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka," yakni, angin yang sangat besar karena kekuatan dan kedahsyatannya, mempunyai gemuruh yang sangat menakutkan bagaikan petir yang menyambar. Allah menunduk-kannya, ﴾ عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Terhadap mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus me-nerus; maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). Pada hari-hari ﴾ نَّحِسَاتٖ ﴿ "yang sial," yang menghancurkan dan membinasakan mereka, sehingga mereka tidak tampak kecuali tempat-tempat tinggal mereka saja. Dan di sini Allah berfirman, ﴾ لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia," yang dengannya mereka menjadi hina dan dipermalukan di tengah-te-ngah manusia, ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَخۡزَىٰۖ وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan," yakni, mereka tidak dicegah dari azab Allah dan mereka tidak dapat me-nyelamatkan diri mereka.
Fussilat 41:16
"Adapun kaum 'Ad, maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami.' Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatanNya dari mereka? Dan mereka mengingkari ayat-ayat Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih meng-hinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan." (Fushshilat: 15-16).
(15) Kaum 'Ad, di samping mereka kafir kepada Allah, ingkar kepada ayat-ayat Allah dan kafir kepada rasul-rasulNya, mereka juga menyombongkan diri ﴾ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "di muka bumi," semena-mena terhadap masyarakat sekitarnya, zhalim terhadap mereka, dan mereka terpedaya dengan kekuatan yang mereka miliki, ﴾ وَقَالُواْ مَنۡ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۖ ﴿ "dan berkata, 'Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?'" Allah berfirman menolak mereka dengan apa yang diketahui oleh setiap orang, ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِي خَلَقَهُمۡ هُوَ أَشَدُّ مِنۡهُمۡ قُوَّةٗۖ ﴿ "Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatanNya dari mereka?" Kalau saja bukan karena Allah yang menciptakan mereka, tentu mereka tidak akan ada. Kalau saja mereka memperhatikan kenyataan ini dengan benar, tentu mereka tidak terpedaya dengan kekuatan mereka.
(16) Lalu mereka dihukum oleh Allah dengan hukuman yang setara dengan kekuatan mereka yang membuat mereka ter-pedaya. ﴾ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ رِيحٗا صَرۡصَرٗا ﴿ "Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka," yakni, angin yang sangat besar karena kekuatan dan kedahsyatannya, mempunyai gemuruh yang sangat menakutkan bagaikan petir yang menyambar. Allah menunduk-kannya, ﴾ عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Terhadap mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus me-nerus; maka kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). Pada hari-hari ﴾ نَّحِسَاتٖ ﴿ "yang sial," yang menghancurkan dan membinasakan mereka, sehingga mereka tidak tampak kecuali tempat-tempat tinggal mereka saja. Dan di sini Allah berfirman, ﴾ لِّنُذِيقَهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ ﴿ "Karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia," yang dengannya mereka menjadi hina dan dipermalukan di tengah-te-ngah manusia, ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَخۡزَىٰۖ وَهُمۡ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan," yakni, mereka tidak dicegah dari azab Allah dan mereka tidak dapat me-nyelamatkan diri mereka.
Fussilat 41:17
"Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa." (Fushshilat: 17-18).
(17) ﴾ وَأَمَّا ثَمُودُ ﴿ "Dan adapun kaum Tsamud," mereka adalah suku (kaum) yang sangat terkenal, mereka mendiami daerah Al-Hijr dan sekitarnya. Kepada mereka Allah mengutus Nabi Shaleh عليه السلام yang mengajak mereka untuk bertauhid, mengesakan Allah dan mencegah mereka dari perbuatan mempersekutukanNya. Dan Allah mendatangkan kepada mereka seekor unta betina sebagai bukti yang sangat agung, ia mempunyai giliran untuk mendapat-kan air, dan mereka mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Mereka minum air susunya satu hari dan minum air biasa satu hari, dan mereka tidak memberinya makan apa-apa, melainkan ia mencari makanan sendiri di bumi Allah. Maka dari itu Allah berfirman di sini, ﴾ وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk." Maksudnya, petunjuk penjelasan. Kenapa mereka yang disebutkan secara khusus di dalam ayat ini, padahal seluruh umat yang dibinasakan telah ditegakkan hujjah dan penjelasan terhadap mereka, hal itu karena tanda (muk-jizat) yang diberikan kepada kaum Tsamud adalah mukjizat yang luar biasa, dilihat oleh anak-anak dan orang-orang dewasa mereka, yang laki-laki dan yang perempuan. Dan ayat itu adalah ayat yang sangat jelas sekali. Maka dari itu Allah mengistimewakan mereka dengan tambahan penjelasan dan petunjuk. Akan tetapi karena kezhaliman dan kejahatan mereka, maka mereka lebih mencintai ﴾ ٱلۡعَمَىٰ ﴿ "kebutaan" yakni kekafiran dan kesesatan, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "dari-pada petunjuk," yaitu ilmu dan iman. Maka mereka dilanda ﴾ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "azab" disebabkan apa yang telah mereka kerjakan, bukan karena kezhaliman Allah terhadap mereka.
(18) ﴾ وَنَجَّيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿ "Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, Kami selamatkan Nabi Shaleh عليه السلام dan orang-orang yang mengikuti beliau dari orang-orang yang beriman yang meng-hindarkan diri dari syirik dan maksiat.
Fussilat 41:18
"Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kebutaan dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa." (Fushshilat: 17-18).
(17) ﴾ وَأَمَّا ثَمُودُ ﴿ "Dan adapun kaum Tsamud," mereka adalah suku (kaum) yang sangat terkenal, mereka mendiami daerah Al-Hijr dan sekitarnya. Kepada mereka Allah mengutus Nabi Shaleh عليه السلام yang mengajak mereka untuk bertauhid, mengesakan Allah dan mencegah mereka dari perbuatan mempersekutukanNya. Dan Allah mendatangkan kepada mereka seekor unta betina sebagai bukti yang sangat agung, ia mempunyai giliran untuk mendapat-kan air, dan mereka mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu. Mereka minum air susunya satu hari dan minum air biasa satu hari, dan mereka tidak memberinya makan apa-apa, melainkan ia mencari makanan sendiri di bumi Allah. Maka dari itu Allah berfirman di sini, ﴾ وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ ﴿ "Dan adapun kaum Tsamud, mereka telah Kami beri petunjuk." Maksudnya, petunjuk penjelasan. Kenapa mereka yang disebutkan secara khusus di dalam ayat ini, padahal seluruh umat yang dibinasakan telah ditegakkan hujjah dan penjelasan terhadap mereka, hal itu karena tanda (muk-jizat) yang diberikan kepada kaum Tsamud adalah mukjizat yang luar biasa, dilihat oleh anak-anak dan orang-orang dewasa mereka, yang laki-laki dan yang perempuan. Dan ayat itu adalah ayat yang sangat jelas sekali. Maka dari itu Allah mengistimewakan mereka dengan tambahan penjelasan dan petunjuk. Akan tetapi karena kezhaliman dan kejahatan mereka, maka mereka lebih mencintai ﴾ ٱلۡعَمَىٰ ﴿ "kebutaan" yakni kekafiran dan kesesatan, ﴾ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "dari-pada petunjuk," yaitu ilmu dan iman. Maka mereka dilanda ﴾ ٱلۡعَذَابِ ﴿ "azab" disebabkan apa yang telah mereka kerjakan, bukan karena kezhaliman Allah terhadap mereka.
(18) ﴾ وَنَجَّيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ ﴿ "Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa." Maksudnya, Kami selamatkan Nabi Shaleh عليه السلام dan orang-orang yang mengikuti beliau dari orang-orang yang beriman yang meng-hindarkan diri dari syirik dan maksiat.
Fussilat 41:19
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:20
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:21
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:22
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:23
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:24
"Dan hari ketika musuh-musuh Allah digiring ke dalam neraka lalu mereka dikumpulkan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka bersaksi melawan mereka tentang apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka berkata kepada kulit mereka, 'Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami?' Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai pula berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan.' Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pende-ngaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu, prasangka itu telah mem-binasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Jika mereka bersabar, maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya." (Fush-shilat: 19-24).
(19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang musuh-musuhNya yang telah menantangNya dengan bersikap kafir kepadaNya dan kepada ayat-ayatNya, mendustakan para rasulNya, memusuhi dan memerangi mereka, dan tentang kondisi keji mereka pada saat mereka dihimpun kelak. Maksudnya, saat mereka dikumpulkan ﴾ إِلَى ٱلنَّارِ فَهُمۡ يُوزَعُونَ ﴿ "ke dalam neraka, lalu mereka dikumpulkan," yang awal dikembalikan kepada yang terakhir, dan yang terakhir mengikuti yang awal. Mereka digiring ke neraka dengan sangat kasar, mereka tidak dapat menolak, tidak pula mereka dapat menolong diri me-reka dan mereka pun tidak ditolong.
(20) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا مَا جَآءُوهَا ﴿ "Sehingga apabila mereka sampai ke sana," maksudnya, hingga apabila mereka sudah tiba di neraka dan hen-dak melakukan pengingkaran, atau mengingkari kemaksiatan-ke-maksiatan yang telah mereka kerjakan, ﴾ شَهِدَ عَلَيۡهِمۡ سَمۡعُهُمۡ وَأَبۡصَٰرُهُمۡ وَجُلُودُهُم ﴿ "pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka bersaksi melawan mereka." Ini adalah ungkapan umum setelah ungkapan yang bermakna khusus, ﴾ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "tentang apa yang telah mereka kerjakan." Setiap anggota tubuh mereka memberikan kesaksian. Setiap anggota badan itu mengatakan: Aku telah melakukan perbuatan ini pada hari anu, dan seterusnya. Hanya tiga anggota tubuh ini saja yang disebutkan, karena kebanyakan dosa-dosa disebabkan karenanya atau disebabkan olehnya.
(21) Apabila anggota-anggota tubuh itu telah memberikan kesaksiannya, mereka pun mencelanya, ﴾ وَقَالُواْ لِجُلُودِهِمۡ ﴿ "dan mereka berkata kepada kulit mereka." Ini dalil (bukti) bahwa kesaksian dila-kukan oleh setiap anggota tubuh, sebagaimana kami sebutkan tadi, ﴾ لِمَ شَهِدتُّمۡ عَلَيۡنَاۖ ﴿ "Mengapa kamu menjadi saksi melawan kami" pada kami membela kalian? ﴾ قَالُوٓاْ أَنطَقَنَا ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنطَقَ كُلَّ شَيۡءٖۚ ﴿ "Kulit mereka menjawab, 'Allah yang telah menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadi-kan kami pandai pula berkata'." Jadi kami tidak mempunyai kemam-puan untuk menghindari pemberian kesaksian saat kami dijadikan pandai berbicara oleh Tuhan yang tidak ada seorang pun yang bisa terlepas dari masyi`ah (kehendak)Nya, ﴾ وَهُوَ خَلَقَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖ ﴿ "dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama," sebagaimana Dia telah menciptakan kalian dengan perangkat tubuh kalian, Dia juga telah menciptakan sifat-sifat kalian, yang di antaranya adalah kemampuan berbicara, ﴾ وَإِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ ﴿ "dan hanya kepadaNya-lah kamu dikembalikan" di akhirat kelak, lalu Dia akan memberikan balasan atas apa yang telah kalian kerjakan. Ada kemungkinan maksud dari penjelasan di atas adalah berargumen dengan penciptaan pertama untuk membenarkan kebangkitan, sebagaimana itu adalah metode al-Qur`an.
(22) ﴾ وَمَا كُنتُمۡ تَسۡتَتِرُونَ أَن يَشۡهَدَ عَلَيۡكُمۡ سَمۡعُكُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُكُمۡ وَلَا جُلُودُكُمۡ ﴿ "Kamu se-kali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu yang melawanmu." Artinya, kalian sekali-kali tidak akan bisa bersembunyi dari persaksian anggota tubuh kalian yang me-lawan kalian dan kalian tidak akan dapat menghindarinya,﴾ وَلَٰكِن ظَنَنتُمۡ ﴿ "bahkan kamu mengira" dengan kelancangan kalian melaku-kan maksiat-maksiat, ﴾ أَنَّ ٱللَّهَ لَا يَعۡلَمُ كَثِيرٗا مِّمَّا تَعۡمَلُونَ ﴿ "bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan." Maka dari itu lahirlah apa yang telah lahir dari perbuatan kalian.
(23) Prasangka ini menjadi sebab kebinasaan dan kesengsa-raan kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَذَٰلِكُمۡ ظَنُّكُمُ ٱلَّذِي ظَنَنتُم بِرَبِّكُمۡ ﴿ "Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka terhadap Rabbmu," yaitu prasangka buruk, di mana kalian berpra-sangka terhadapnya sesuatu yang sangat tidak layak dengan ke-besaranNya ﴾ أَرۡدَىٰكُمۡ ﴿ "dan ia telah membinasakan kamu" maksudnya, mencelakakan kalian, ﴾ فَأَصۡبَحۡتُم مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi," merugikan diri mereka, keluarga, dan agama mereka sendiri, disebabkan amal-amal perbuatan yang di-akibatkan oleh prasangka buruk kalian terhadap Rabb kalian. Maka pastilah ketetapan azab dan kesengsaraan terhadap kalian, maka kekekalan abadi di dalam azab itu pun menjadi pasti terhadap kalian, azab yang tidak akan pernah dihentikan sesaat pun terhadap kalian.
(24) ﴾ فَإِن يَصۡبِرُواْ فَٱلنَّارُ مَثۡوٗى لَّهُمۡۖ ﴿ "Jika mereka bersabar, maka neraka-lah tempat diam mereka," dan tidak akan ada kesanggupan ataupun kesabaran untuk menanggungnya. Setiap kondisi dimungkinkan untuk bisa disikapi dengan sabar, namun neraka tidak mungkin sabar atasnya. Bagaimana mungkin bisa sabar atas neraka yang panasnya makin dahsyat dan panasnya melebihi panas api di dunia sampai lebih dari tujuh puluh kali lipat, dan didihan airnya pun sangat dahsyat, bau busuk nanah yang bercampur darah yang ada di dalamnya pun makin bertambah, air dinginnya berlipat-lipat derajat, belenggu dan rantai pengikatnya pun amat sangat besar, alat-alat cambuknya besar-besar, para petugasnya sangat kasar, mereka sama sekali tidak mempunyai rasa belas kasih, dan yang terakhir adalah kemurkaan Allah Yang Mahaperkasa. Jawaban Allah ketika mereka menyeruNya dan meminta keselamatan kepa-daNya adalah: ﴾ قَالَ ٱخۡسَـُٔواْ فِيهَا وَلَا تُكَلِّمُونِ 108 ﴿ "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu ber-bicara dengan Aku." (Al-Mu`minun: 108). ﴾ وَإِن يَسۡتَعۡتِبُواْ ﴿ "Dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan," maksudnya, mereka minta agar celaan dilepaskan dari mereka, lalu dikembalikan ke dunia untuk memulai amal perbuatan yang baru, ﴾ فَمَا هُم مِّنَ ٱلۡمُعۡتَبِينَ ﴿ "maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya," karena waktu sudah berlalu, mereka telah diberi usia cukup untuk mengambil pelajaran, dan mereka pun telah didatangi oleh pemberi peringatan (rasul), hujjah mereka pun sudah terputus, dan di sisi lain alasan yang mereka kemukakan adalah dusta dari mereka, sebab kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan kembali melakukan apa-apa yang dila-rang. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta.
Fussilat 41:25
"Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang men-jadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka, dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi." (Fush-shilat: 25).
(25) ﴾ وَقَيَّضۡنَا ﴿ "Dan Kami tetapkan" bagi mereka orang-orang yang zhalim lagi mengingkari kebenaran itu, sebagai ﴾ قُرَنَآءَ ﴿ "teman-teman," dari bangsa setan, sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَلَمۡ تَرَ أَنَّآ أَرۡسَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ تَؤُزُّهُمۡ أَزّٗا 83 ﴿ "Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka membuat maksiat dengan sungguh-sungguh?" (Maryam: 83). Maksudnya, menyeret mereka kepada perbuatan-perbuatan maksiat dan merayu mereka disebabkan bujukan mereka,﴾ لَهُم مَّا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ ﴿ "menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka," dunia mereka percantik di pan-dangan mata mereka, dan setan pun menyeru mereka untuk mem-peroleh kelezatan dan kenikmatannya yang diharamkan, sehingga mereka terpedaya, lalu mereka berani melakukan maksiat-maksiat terhadap Allah, dan mereka menempuh cara-cara apa saja yang mereka suka untuk memerangi Allah dan RasulNya. Sedangkan terhadap alam akhirat, setan-setan berhasil menjadikan mereka memandangnya tidak mungkin terjadi, dan setan-setan berhasil membuat mereka lupa kepadanya. Dan kadang-kadang setan membisikkan berbagai syubhat (pemikiran rancu) kepada mereka bahwa akhirat itu tidak akan pernah ada, sehingga rasa takut kepada alam akhirat tersingkir dari dalam hati mereka. Kemudian setan-setan menggiring mereka kepada kekafiran, berbagai bid'ah, dan maksiat. Pemberian ke-kuasaan kepada setan dan penetapan qarin (teman) adalah berasal dari Allah bagi setan-setan yang mendustakan, disebabkan mereka berpaling dari dzikrullah, ayat-ayatnya, dan disebabkan kekafiran mereka terhadap kebenaran, sebagaimana dikatakan oleh Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَن يَعۡشُ عَن ذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَٰنِ نُقَيِّضۡ لَهُۥ شَيۡطَٰنٗا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٞ 36 وَإِنَّهُمۡ لَيَصُدُّونَهُمۡ عَنِ ٱلسَّبِيلِ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُم مُّهۡتَدُونَ 37 ﴿ "Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran (Rabb) Yang Maha Pemurah (al-Qur`an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk." (Az-Zukhruf: 36-37). ﴾ وَحَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ ﴿ "Dan tetaplah atas mereka keputusan," yakni, maka pastilah atas mereka dan turunlah ketetapan Qadha` dan Qadar siksaan bagi mereka, ﴾ فِيٓ ﴿ "pada" s e d e r e t ﴾ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "umat-umat yang terdahulu sebelum mereka, dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi," merugikan agama dan akhirat mereka. Dan siapa yang merugi, maka pasti menjadi hina, sengsara, dan diazab.
Fussilat 41:26
"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan.' Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang kafir berkata, 'Ya Rabb kami, perlihatkan-lah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina'." (Fushshilat: 26-29).
(26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang sikap berpalingnya orang-orang kafir dari al-Qur`an dan saling pesan-memesan me-reka untuk hal ini, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar al-Qur`an ini'." Maksudnya, palingkanlah pendengaran kalian darinya. Ja-ngan sekali-kali kalian menoleh kepadanya, atau mendengarkannya dan mendengarkan orang yang datang membawanya. Lalu jika kebetulan kalian telah mendengarnya atau kalian telah mendengar ajakan kepada hukum-hukum yang dikandungnya, maka berbuat-lah sia-sia padanya. Maksudnya, ucapkanlah perkataan yang tidak ada gunanya padanya. Sebab sesungguhnya di dalamnya terkan-dung hal yang berbahaya. Jangan kalian berikan kesempatan, de-ngan kemampuan kalian, kepada seseorang untuk membicarakan al-Qur`an itu kepada kalian, membacakan lafazh-lafazh dan makna-maknanya. Inilah bahasa oral mereka, sedangkan bahasa realitas mereka adalah sikap berpaling dari al-Qur`an ini. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kamu," yakni, jika kalian melakukan semua itu, ﴾ تَغۡلِبُونَ ﴿ "dapat mengalahkan." Ini adalah sebuah kesaksian dari musuh. Kebenaran yang paling jelas adalah kebenaran yang diberikan kesaksiannya oleh musuh. Sebab, mereka tidak menentukan kemenangan mereka terhadap orang yang membawa kebenaran kecuali pada kondisi berpaling dari kebenaran itu dan saling berpesan untuk berpaling darinya. Mafhum (arti) perkataan mereka adalah bahwa jika mereka tidak berkata yang sia-sia tentangnya, dan justru mendengarkan dan mengarahkan perhatian kepadanya, maka mereka tidak akan bisa mengalahkan. Hal itu karena kebenaran pasti menang, tidak akan bisa dikalahkan. Hal ini diketahui oleh mereka yang berpegang kepada kebenaran dan oleh musuh-musuhnya.
(27) Oleh karena tindakan itu adalah kezhaliman dan sikap keras kepala dari mereka, tidak ada harapan lagi untuk mendapat hidayah, maka tidak ada hal lain selain azab dan siksa terhadap mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَنُذِيقَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَذَابٗا شَدِيدٗا وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan," yaitu kekafiran dan berbagai maksiat. Itulah seburuk-buruk yang telah mereka kerjakan, karena mereka telah melakukan berbagai maksiat dan dosa-dosa lainnya. Maka balasan berupa hukuman (azab) itu hanyalah disebabkan perbuatan syirik mereka. Allah sama sekali tidak menzhalimi seseorang.
(28) ﴾ ذَٰلِكَ جَزَآءُ أَعۡدَآءِ ٱللَّهِ ﴿ "Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah," yaitu orang-orang yang memerangiNya dan meme-rangi para kekasihNya dengan melakukan kekafiran, mendustakan, mendebat, dan menentang, ﴾ ٱلنَّارُۖ لَهُمۡ فِيهَا دَارُ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya." Maksudnya, kekal selamanya, tidak sesaat pun azab dihentikan dari mereka dan tidak pula mereka ditolong. Yang demikian itu adalah ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "sebagai pemba-lasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami." Sebab, ia adalah ayat-ayat yang sangat jelas sekali dan merupakan bukti-bukti yang pasti yang memberikan keyakinan. Maka kezhaliman terbesar dan sikap menentang yang paling berat adalah mengingkari dan kafir terhadapnya.
(29) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata," mak-sudnya, para pengikut di antara mereka. Ini berdasarkan ungkapan sesudahnya yang mengisyaratkan kebencian terhadap orang yang telah menyesatkan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَرِنَا ٱلَّذَيۡنِ أَضَلَّانَا مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "Ya Rabb kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia," maksudnya, dua golongan yang telah menyeret kami kepada kesesatan dan siksa, yaitu dari setan-setan yang berasal dari bangsa jin dan setan-setan dari bangsa manusia yang menjadi penyeru ke Neraka Jahanam.﴾ نَجۡعَلۡهُمَا تَحۡتَ أَقۡدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "Agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina," nista lagi dinistakan, sebagaimana mereka telah menyesatkan kami dan memperdaya kami dan mereka telah menjadi sebab kami tercebur (ke neraka ini). Ini adalah suatu penjelasan tentang betapa sangat bencinya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan berle-pasnya sebagian mereka dari sebagian yang lain (di akhirat nanti).
Fussilat 41:27
"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan.' Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang kafir berkata, 'Ya Rabb kami, perlihatkan-lah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina'." (Fushshilat: 26-29).
(26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang sikap berpalingnya orang-orang kafir dari al-Qur`an dan saling pesan-memesan me-reka untuk hal ini, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar al-Qur`an ini'." Maksudnya, palingkanlah pendengaran kalian darinya. Ja-ngan sekali-kali kalian menoleh kepadanya, atau mendengarkannya dan mendengarkan orang yang datang membawanya. Lalu jika kebetulan kalian telah mendengarnya atau kalian telah mendengar ajakan kepada hukum-hukum yang dikandungnya, maka berbuat-lah sia-sia padanya. Maksudnya, ucapkanlah perkataan yang tidak ada gunanya padanya. Sebab sesungguhnya di dalamnya terkan-dung hal yang berbahaya. Jangan kalian berikan kesempatan, de-ngan kemampuan kalian, kepada seseorang untuk membicarakan al-Qur`an itu kepada kalian, membacakan lafazh-lafazh dan makna-maknanya. Inilah bahasa oral mereka, sedangkan bahasa realitas mereka adalah sikap berpaling dari al-Qur`an ini. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kamu," yakni, jika kalian melakukan semua itu, ﴾ تَغۡلِبُونَ ﴿ "dapat mengalahkan." Ini adalah sebuah kesaksian dari musuh. Kebenaran yang paling jelas adalah kebenaran yang diberikan kesaksiannya oleh musuh. Sebab, mereka tidak menentukan kemenangan mereka terhadap orang yang membawa kebenaran kecuali pada kondisi berpaling dari kebenaran itu dan saling berpesan untuk berpaling darinya. Mafhum (arti) perkataan mereka adalah bahwa jika mereka tidak berkata yang sia-sia tentangnya, dan justru mendengarkan dan mengarahkan perhatian kepadanya, maka mereka tidak akan bisa mengalahkan. Hal itu karena kebenaran pasti menang, tidak akan bisa dikalahkan. Hal ini diketahui oleh mereka yang berpegang kepada kebenaran dan oleh musuh-musuhnya.
(27) Oleh karena tindakan itu adalah kezhaliman dan sikap keras kepala dari mereka, tidak ada harapan lagi untuk mendapat hidayah, maka tidak ada hal lain selain azab dan siksa terhadap mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَنُذِيقَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَذَابٗا شَدِيدٗا وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan," yaitu kekafiran dan berbagai maksiat. Itulah seburuk-buruk yang telah mereka kerjakan, karena mereka telah melakukan berbagai maksiat dan dosa-dosa lainnya. Maka balasan berupa hukuman (azab) itu hanyalah disebabkan perbuatan syirik mereka. Allah sama sekali tidak menzhalimi seseorang.
(28) ﴾ ذَٰلِكَ جَزَآءُ أَعۡدَآءِ ٱللَّهِ ﴿ "Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah," yaitu orang-orang yang memerangiNya dan meme-rangi para kekasihNya dengan melakukan kekafiran, mendustakan, mendebat, dan menentang, ﴾ ٱلنَّارُۖ لَهُمۡ فِيهَا دَارُ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya." Maksudnya, kekal selamanya, tidak sesaat pun azab dihentikan dari mereka dan tidak pula mereka ditolong. Yang demikian itu adalah ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "sebagai pemba-lasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami." Sebab, ia adalah ayat-ayat yang sangat jelas sekali dan merupakan bukti-bukti yang pasti yang memberikan keyakinan. Maka kezhaliman terbesar dan sikap menentang yang paling berat adalah mengingkari dan kafir terhadapnya.
(29) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata," mak-sudnya, para pengikut di antara mereka. Ini berdasarkan ungkapan sesudahnya yang mengisyaratkan kebencian terhadap orang yang telah menyesatkan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَرِنَا ٱلَّذَيۡنِ أَضَلَّانَا مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "Ya Rabb kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia," maksudnya, dua golongan yang telah menyeret kami kepada kesesatan dan siksa, yaitu dari setan-setan yang berasal dari bangsa jin dan setan-setan dari bangsa manusia yang menjadi penyeru ke Neraka Jahanam.﴾ نَجۡعَلۡهُمَا تَحۡتَ أَقۡدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "Agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina," nista lagi dinistakan, sebagaimana mereka telah menyesatkan kami dan memperdaya kami dan mereka telah menjadi sebab kami tercebur (ke neraka ini). Ini adalah suatu penjelasan tentang betapa sangat bencinya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan berle-pasnya sebagian mereka dari sebagian yang lain (di akhirat nanti).
Fussilat 41:28
"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan.' Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang kafir berkata, 'Ya Rabb kami, perlihatkan-lah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina'." (Fushshilat: 26-29).
(26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang sikap berpalingnya orang-orang kafir dari al-Qur`an dan saling pesan-memesan me-reka untuk hal ini, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar al-Qur`an ini'." Maksudnya, palingkanlah pendengaran kalian darinya. Ja-ngan sekali-kali kalian menoleh kepadanya, atau mendengarkannya dan mendengarkan orang yang datang membawanya. Lalu jika kebetulan kalian telah mendengarnya atau kalian telah mendengar ajakan kepada hukum-hukum yang dikandungnya, maka berbuat-lah sia-sia padanya. Maksudnya, ucapkanlah perkataan yang tidak ada gunanya padanya. Sebab sesungguhnya di dalamnya terkan-dung hal yang berbahaya. Jangan kalian berikan kesempatan, de-ngan kemampuan kalian, kepada seseorang untuk membicarakan al-Qur`an itu kepada kalian, membacakan lafazh-lafazh dan makna-maknanya. Inilah bahasa oral mereka, sedangkan bahasa realitas mereka adalah sikap berpaling dari al-Qur`an ini. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kamu," yakni, jika kalian melakukan semua itu, ﴾ تَغۡلِبُونَ ﴿ "dapat mengalahkan." Ini adalah sebuah kesaksian dari musuh. Kebenaran yang paling jelas adalah kebenaran yang diberikan kesaksiannya oleh musuh. Sebab, mereka tidak menentukan kemenangan mereka terhadap orang yang membawa kebenaran kecuali pada kondisi berpaling dari kebenaran itu dan saling berpesan untuk berpaling darinya. Mafhum (arti) perkataan mereka adalah bahwa jika mereka tidak berkata yang sia-sia tentangnya, dan justru mendengarkan dan mengarahkan perhatian kepadanya, maka mereka tidak akan bisa mengalahkan. Hal itu karena kebenaran pasti menang, tidak akan bisa dikalahkan. Hal ini diketahui oleh mereka yang berpegang kepada kebenaran dan oleh musuh-musuhnya.
(27) Oleh karena tindakan itu adalah kezhaliman dan sikap keras kepala dari mereka, tidak ada harapan lagi untuk mendapat hidayah, maka tidak ada hal lain selain azab dan siksa terhadap mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَنُذِيقَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَذَابٗا شَدِيدٗا وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan," yaitu kekafiran dan berbagai maksiat. Itulah seburuk-buruk yang telah mereka kerjakan, karena mereka telah melakukan berbagai maksiat dan dosa-dosa lainnya. Maka balasan berupa hukuman (azab) itu hanyalah disebabkan perbuatan syirik mereka. Allah sama sekali tidak menzhalimi seseorang.
(28) ﴾ ذَٰلِكَ جَزَآءُ أَعۡدَآءِ ٱللَّهِ ﴿ "Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah," yaitu orang-orang yang memerangiNya dan meme-rangi para kekasihNya dengan melakukan kekafiran, mendustakan, mendebat, dan menentang, ﴾ ٱلنَّارُۖ لَهُمۡ فِيهَا دَارُ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya." Maksudnya, kekal selamanya, tidak sesaat pun azab dihentikan dari mereka dan tidak pula mereka ditolong. Yang demikian itu adalah ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "sebagai pemba-lasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami." Sebab, ia adalah ayat-ayat yang sangat jelas sekali dan merupakan bukti-bukti yang pasti yang memberikan keyakinan. Maka kezhaliman terbesar dan sikap menentang yang paling berat adalah mengingkari dan kafir terhadapnya.
(29) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata," mak-sudnya, para pengikut di antara mereka. Ini berdasarkan ungkapan sesudahnya yang mengisyaratkan kebencian terhadap orang yang telah menyesatkan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَرِنَا ٱلَّذَيۡنِ أَضَلَّانَا مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "Ya Rabb kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia," maksudnya, dua golongan yang telah menyeret kami kepada kesesatan dan siksa, yaitu dari setan-setan yang berasal dari bangsa jin dan setan-setan dari bangsa manusia yang menjadi penyeru ke Neraka Jahanam.﴾ نَجۡعَلۡهُمَا تَحۡتَ أَقۡدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "Agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina," nista lagi dinistakan, sebagaimana mereka telah menyesatkan kami dan memperdaya kami dan mereka telah menjadi sebab kami tercebur (ke neraka ini). Ini adalah suatu penjelasan tentang betapa sangat bencinya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan berle-pasnya sebagian mereka dari sebagian yang lain (di akhirat nanti).
Fussilat 41:29
"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu men-dengar dengan sungguh-sungguh akan al-Qur`an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan.' Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah, yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai pembalasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami. Dan orang-orang kafir berkata, 'Ya Rabb kami, perlihatkan-lah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina'." (Fushshilat: 26-29).
(26) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang sikap berpalingnya orang-orang kafir dari al-Qur`an dan saling pesan-memesan me-reka untuk hal ini, seraya berfirman, ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَسۡمَعُواْ لِهَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengar al-Qur`an ini'." Maksudnya, palingkanlah pendengaran kalian darinya. Ja-ngan sekali-kali kalian menoleh kepadanya, atau mendengarkannya dan mendengarkan orang yang datang membawanya. Lalu jika kebetulan kalian telah mendengarnya atau kalian telah mendengar ajakan kepada hukum-hukum yang dikandungnya, maka berbuat-lah sia-sia padanya. Maksudnya, ucapkanlah perkataan yang tidak ada gunanya padanya. Sebab sesungguhnya di dalamnya terkan-dung hal yang berbahaya. Jangan kalian berikan kesempatan, de-ngan kemampuan kalian, kepada seseorang untuk membicarakan al-Qur`an itu kepada kalian, membacakan lafazh-lafazh dan makna-maknanya. Inilah bahasa oral mereka, sedangkan bahasa realitas mereka adalah sikap berpaling dari al-Qur`an ini. ﴾ لَعَلَّكُمۡ ﴿ "Supaya kamu," yakni, jika kalian melakukan semua itu, ﴾ تَغۡلِبُونَ ﴿ "dapat mengalahkan." Ini adalah sebuah kesaksian dari musuh. Kebenaran yang paling jelas adalah kebenaran yang diberikan kesaksiannya oleh musuh. Sebab, mereka tidak menentukan kemenangan mereka terhadap orang yang membawa kebenaran kecuali pada kondisi berpaling dari kebenaran itu dan saling berpesan untuk berpaling darinya. Mafhum (arti) perkataan mereka adalah bahwa jika mereka tidak berkata yang sia-sia tentangnya, dan justru mendengarkan dan mengarahkan perhatian kepadanya, maka mereka tidak akan bisa mengalahkan. Hal itu karena kebenaran pasti menang, tidak akan bisa dikalahkan. Hal ini diketahui oleh mereka yang berpegang kepada kebenaran dan oleh musuh-musuhnya.
(27) Oleh karena tindakan itu adalah kezhaliman dan sikap keras kepala dari mereka, tidak ada harapan lagi untuk mendapat hidayah, maka tidak ada hal lain selain azab dan siksa terhadap mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَلَنُذِيقَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَذَابٗا شَدِيدٗا وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَسۡوَأَ ٱلَّذِي كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Maka sesungguhnya Kami akan merasakan azab yang keras kepada orang-orang kafir dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan seburuk-buruk pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan," yaitu kekafiran dan berbagai maksiat. Itulah seburuk-buruk yang telah mereka kerjakan, karena mereka telah melakukan berbagai maksiat dan dosa-dosa lainnya. Maka balasan berupa hukuman (azab) itu hanyalah disebabkan perbuatan syirik mereka. Allah sama sekali tidak menzhalimi seseorang.
(28) ﴾ ذَٰلِكَ جَزَآءُ أَعۡدَآءِ ٱللَّهِ ﴿ "Demikianlah balasan terhadap musuh-musuh Allah," yaitu orang-orang yang memerangiNya dan meme-rangi para kekasihNya dengan melakukan kekafiran, mendustakan, mendebat, dan menentang, ﴾ ٱلنَّارُۖ لَهُمۡ فِيهَا دَارُ ٱلۡخُلۡدِ ﴿ "yaitu neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya." Maksudnya, kekal selamanya, tidak sesaat pun azab dihentikan dari mereka dan tidak pula mereka ditolong. Yang demikian itu adalah ﴾ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ بِـَٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ﴿ "sebagai pemba-lasan atas keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Kami." Sebab, ia adalah ayat-ayat yang sangat jelas sekali dan merupakan bukti-bukti yang pasti yang memberikan keyakinan. Maka kezhaliman terbesar dan sikap menentang yang paling berat adalah mengingkari dan kafir terhadapnya.
(29) ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Dan orang-orang kafir berkata," mak-sudnya, para pengikut di antara mereka. Ini berdasarkan ungkapan sesudahnya yang mengisyaratkan kebencian terhadap orang yang telah menyesatkan mereka, ﴾ رَبَّنَآ أَرِنَا ٱلَّذَيۡنِ أَضَلَّانَا مِنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ ﴿ "Ya Rabb kami, perlihatkanlah kepada kami dua jenis orang yang telah menyesatkan kami, yaitu sebagian dari jin dan manusia," maksudnya, dua golongan yang telah menyeret kami kepada kesesatan dan siksa, yaitu dari setan-setan yang berasal dari bangsa jin dan setan-setan dari bangsa manusia yang menjadi penyeru ke Neraka Jahanam.﴾ نَجۡعَلۡهُمَا تَحۡتَ أَقۡدَامِنَا لِيَكُونَا مِنَ ٱلۡأَسۡفَلِينَ ﴿ "Agar kami letakkan keduanya di bawah telapak kaki kami supaya kedua jenis itu menjadi orang-orang yang hina," nista lagi dinistakan, sebagaimana mereka telah menyesatkan kami dan memperdaya kami dan mereka telah menjadi sebab kami tercebur (ke neraka ini). Ini adalah suatu penjelasan tentang betapa sangat bencinya sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan berle-pasnya sebagian mereka dari sebagian yang lain (di akhirat nanti).
Fussilat 41:30
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, 'Janganlah kamu me-rasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan mem-peroleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fushshilat: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang para kekasihNya, dan di dalamnya terkandung pemberian semangat kepada mereka dan himbauan untuk meneladani mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka," maksudnya, mengakui, mengucapkan dan ridha dengan rububiyah Allah سبحانه وتعالى serta berserah diri kepadaNya, lalu mereka istiqamah di atas jalan yang lurus itu, baik secara teori maupun praktik, maka mereka memperoleh berita gembira di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti. ﴾ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Maka malaikat akan turun kepada mereka." Maksudnya, para malaikat yang mulia. Kedatangan para malaikat itu kepada mereka silih berganti seraya menyampai-kan berita gembira kepada mereka saat menjelang kematian,﴾ أَلَّا تَخَافُواْ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut" terhadap perkara yang akan kalian hadapi, ﴾ وَلَا تَحۡزَنُواْ ﴿ "dan janganlah kamu merasa sedih" atas apa-apa yang telah berlalu. Segala yang tidak dikehendaki yang telah berlalu dan yang akan datang disingkirkan dari mereka.﴾ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "Dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu," karena ia sudah pasti untuk kalian, dan janji Allah سبحانه وتعالى itu pasti ditepati.
(31) Dan para malaikat itu berkata kepada mereka untuk meneguhkan hati mereka dan menyampaikan berita gembira, ﴾ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat." Para malaikat itu menghimbau me-reka untuk melakukan kebaikan di dunia dan memperindahkannya bagi mereka, juga menakut-nakuti mereka dari kejahatan dan menjadikannya buruk dalam jiwa mereka, dan mereka juga berdoa kepada Allah untuk mereka, meneguhkan pendirian mereka dalam berbagai musibah dan kesulitan, terutama saat menjelang kematian dan dahsyatnya sakaratul maut, saat di kuburan dan di dalam ke-gelapannya, saat Hari Kiamat dan praharanya, saat di atas jembatan menuju surga dan saat di dalam surga. Mereka memberikan ucapan selamat atas kehormatan dari Allah yang mereka raih. Para malaikat itu masuk menjumpai mereka dari semua pintu (sambil mengucap-kan:) ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Kesejahteraan bagi kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 24). Dan mereka juga mengatakan, ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya kamu memperoleh," maksudnya, di surga ﴾ مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ ﴿ "apa yang kamu inginkan," sudah dipersiapkan dan dihidangkan ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta," maksudnya, apa saja yang kamu minta dari segala yang digandrungi oleh ke-inginan kalian dan kalian cari dari berbagai kelezatan dan hal-hal yang merangsang yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan belum pernah terlintas di dalam hati seorang manusia.
(32) ﴾ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ﴿ "Sebagai hidangan dari Yang Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, pahala yang berlimpah dan kenikmatan abadi ini adalah hidangan dan jamuan dari Allah Yang Maha Pengampun yang telah mengampuni kesalahan-kesa-lahan kalian; Dia Penyayang, karena Dia telah membimbing kalian untuk mengerjakan amal-amal kebajikan lalu Dia menerimanya. Maka karena ampunanNya-lah Dia menghapus segala yang diwas-padai dari kalian, dan karena rahmatNya-lah Dia mengaruniakan kepada kalian apa yang kalian dambakan.
Fussilat 41:31
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, 'Janganlah kamu me-rasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan mem-peroleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fushshilat: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang para kekasihNya, dan di dalamnya terkandung pemberian semangat kepada mereka dan himbauan untuk meneladani mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka," maksudnya, mengakui, mengucapkan dan ridha dengan rububiyah Allah سبحانه وتعالى serta berserah diri kepadaNya, lalu mereka istiqamah di atas jalan yang lurus itu, baik secara teori maupun praktik, maka mereka memperoleh berita gembira di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti. ﴾ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Maka malaikat akan turun kepada mereka." Maksudnya, para malaikat yang mulia. Kedatangan para malaikat itu kepada mereka silih berganti seraya menyampai-kan berita gembira kepada mereka saat menjelang kematian,﴾ أَلَّا تَخَافُواْ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut" terhadap perkara yang akan kalian hadapi, ﴾ وَلَا تَحۡزَنُواْ ﴿ "dan janganlah kamu merasa sedih" atas apa-apa yang telah berlalu. Segala yang tidak dikehendaki yang telah berlalu dan yang akan datang disingkirkan dari mereka.﴾ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "Dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu," karena ia sudah pasti untuk kalian, dan janji Allah سبحانه وتعالى itu pasti ditepati.
(31) Dan para malaikat itu berkata kepada mereka untuk meneguhkan hati mereka dan menyampaikan berita gembira, ﴾ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat." Para malaikat itu menghimbau me-reka untuk melakukan kebaikan di dunia dan memperindahkannya bagi mereka, juga menakut-nakuti mereka dari kejahatan dan menjadikannya buruk dalam jiwa mereka, dan mereka juga berdoa kepada Allah untuk mereka, meneguhkan pendirian mereka dalam berbagai musibah dan kesulitan, terutama saat menjelang kematian dan dahsyatnya sakaratul maut, saat di kuburan dan di dalam ke-gelapannya, saat Hari Kiamat dan praharanya, saat di atas jembatan menuju surga dan saat di dalam surga. Mereka memberikan ucapan selamat atas kehormatan dari Allah yang mereka raih. Para malaikat itu masuk menjumpai mereka dari semua pintu (sambil mengucap-kan:) ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Kesejahteraan bagi kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 24). Dan mereka juga mengatakan, ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya kamu memperoleh," maksudnya, di surga ﴾ مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ ﴿ "apa yang kamu inginkan," sudah dipersiapkan dan dihidangkan ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta," maksudnya, apa saja yang kamu minta dari segala yang digandrungi oleh ke-inginan kalian dan kalian cari dari berbagai kelezatan dan hal-hal yang merangsang yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan belum pernah terlintas di dalam hati seorang manusia.
(32) ﴾ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ﴿ "Sebagai hidangan dari Yang Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, pahala yang berlimpah dan kenikmatan abadi ini adalah hidangan dan jamuan dari Allah Yang Maha Pengampun yang telah mengampuni kesalahan-kesa-lahan kalian; Dia Penyayang, karena Dia telah membimbing kalian untuk mengerjakan amal-amal kebajikan lalu Dia menerimanya. Maka karena ampunanNya-lah Dia menghapus segala yang diwas-padai dari kalian, dan karena rahmatNya-lah Dia mengaruniakan kepada kalian apa yang kalian dambakan.
Fussilat 41:32
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah,' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, 'Janganlah kamu me-rasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kami-lah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan mem-peroleh pula di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Fushshilat: 30-32).
(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang para kekasihNya, dan di dalamnya terkandung pemberian semangat kepada mereka dan himbauan untuk meneladani mereka, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka," maksudnya, mengakui, mengucapkan dan ridha dengan rububiyah Allah سبحانه وتعالى serta berserah diri kepadaNya, lalu mereka istiqamah di atas jalan yang lurus itu, baik secara teori maupun praktik, maka mereka memperoleh berita gembira di dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti. ﴾ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Maka malaikat akan turun kepada mereka." Maksudnya, para malaikat yang mulia. Kedatangan para malaikat itu kepada mereka silih berganti seraya menyampai-kan berita gembira kepada mereka saat menjelang kematian,﴾ أَلَّا تَخَافُواْ ﴿ "Janganlah kamu merasa takut" terhadap perkara yang akan kalian hadapi, ﴾ وَلَا تَحۡزَنُواْ ﴿ "dan janganlah kamu merasa sedih" atas apa-apa yang telah berlalu. Segala yang tidak dikehendaki yang telah berlalu dan yang akan datang disingkirkan dari mereka.﴾ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ﴿ "Dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu," karena ia sudah pasti untuk kalian, dan janji Allah سبحانه وتعالى itu pasti ditepati.
(31) Dan para malaikat itu berkata kepada mereka untuk meneguhkan hati mereka dan menyampaikan berita gembira, ﴾ نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat." Para malaikat itu menghimbau me-reka untuk melakukan kebaikan di dunia dan memperindahkannya bagi mereka, juga menakut-nakuti mereka dari kejahatan dan menjadikannya buruk dalam jiwa mereka, dan mereka juga berdoa kepada Allah untuk mereka, meneguhkan pendirian mereka dalam berbagai musibah dan kesulitan, terutama saat menjelang kematian dan dahsyatnya sakaratul maut, saat di kuburan dan di dalam ke-gelapannya, saat Hari Kiamat dan praharanya, saat di atas jembatan menuju surga dan saat di dalam surga. Mereka memberikan ucapan selamat atas kehormatan dari Allah yang mereka raih. Para malaikat itu masuk menjumpai mereka dari semua pintu (sambil mengucap-kan:) ﴾ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ 24 ﴿ "Kesejahteraan bagi kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu." (Ar-Ra'd: 24). Dan mereka juga mengatakan, ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا ﴿ "Di dalamnya kamu memperoleh," maksudnya, di surga ﴾ مَا تَشۡتَهِيٓ أَنفُسُكُمۡ ﴿ "apa yang kamu inginkan," sudah dipersiapkan dan dihidangkan ﴾ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ ﴿ "dan memperoleh pula di dalamnya apa yang kamu minta," maksudnya, apa saja yang kamu minta dari segala yang digandrungi oleh ke-inginan kalian dan kalian cari dari berbagai kelezatan dan hal-hal yang merangsang yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga dan belum pernah terlintas di dalam hati seorang manusia.
(32) ﴾ نُزُلٗا مِّنۡ غَفُورٖ رَّحِيمٖ ﴿ "Sebagai hidangan dari Yang Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang." Maksudnya, pahala yang berlimpah dan kenikmatan abadi ini adalah hidangan dan jamuan dari Allah Yang Maha Pengampun yang telah mengampuni kesalahan-kesa-lahan kalian; Dia Penyayang, karena Dia telah membimbing kalian untuk mengerjakan amal-amal kebajikan lalu Dia menerimanya. Maka karena ampunanNya-lah Dia menghapus segala yang diwas-padai dari kalian, dan karena rahmatNya-lah Dia mengaruniakan kepada kalian apa yang kalian dambakan.
Fussilat 41:33
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'." (Fushshilat: 33).
(33) Ini adalah satu bentuk pertanyaan yang bermakna menafikan sesuatu yang sudah pasti tidak ada. Artinya, tidak se-orang pun, ﴾ أَحۡسَنُ قَوۡلٗا ﴿ "yang lebih baik perkataannya," ucapan, jalan hidup dan kondisinya, ﴾ مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ ﴿ "daripada orang yang menyeru kepada Allah," dengan memberikan pengajaran kepada orang-orang yang bodoh, memberikan nasihat kepada orang-orang yang lalai dan berpaling serta berdialog dengan orang-orang yang berpaham menyimpang agar mereka hanya beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dengan berbagai bentuk ibadah, menganjurkannya dan memperindahnya semampunya, dan agar mereka berhenti melakukan apa-apa yang Allah larang serta memperburuknya dengan segala cara yang bisa membuat mereka meninggalkannya, terutama adalah mengajak kepada prinsip Dinul Islam, memperindahnya dan mendebat musuh-musuhnya dengan metode yang terbaik, dan melarang lawan prinsip tersebut, yaitu kekafiran dan syirik, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah yang mungkar. Termasuk dakwah kepada Allah adalah mengajak mereka mencintaiNya dengan cara menjelaskan rincian nikmat-nikmatNya, kemahaluasan karuniaNya dan kemahasempurnaan rahmatNya serta menjelaskan sifat-sifat kesempurnaan dan kebesaranNya. Termasuk berdakwah kepada Allah adalah memberikan motivasi untuk mencari ilmu dan pedoman hidup dari Kitabullah dan Sunnah RasulNya dan menghimbaukannya dengan segala metode yang bisa mengantarkan kepada maksud. Dan termasuk dakwah juga adalah mengajak berakhlak mulia dan berbuat ihsan kepada segenap makhluk, membalas orang yang berbuat buruk dengan berbuat baik kepadanya, mengajak menjalin silaturahim dan berbakti kepada kedua ibu-bapak. Termasuk juga memberikan nasihat kepada masyarakat umum pada momen-momen tertentu, pada kesempatan-kesempatan temporal dan pada momen terjadi-nya bencana sesuai dengan kondisi, dan lain-lainnya yang sangat banyak sekali, yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang mencakup dakwah kepada kebaikan dan larangan dari segala keburukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan mengerjakan amal yang shalih," maksudnya, di samping dakwahnya mengajak manusia kepada Allah, ia sendiri segera mematuhi perintah Allah dengan beramal shalih yang membuat Rabbnya ridha, ﴾ وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan berkata, 'Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'," maksudnya, tunduk kepada perintahNya dan me-nempuh jalanNya. Derajat sempurna seperti ini adalah milik ash-shiddiqin, yaitu orang-orang yang berbuat untuk menyempurnakan diri mereka sendiri dan menyempurnakan orang-orang lain dan mereka memperoleh warisan sempurna dari para rasul. Dan sebaliknya orang yang paling buruk perkataannya ada-lah orang yang tergolong penyeru kepada kesesatan lagi menelu-suri jalan-jalannya. Di antara dua predikat (kedudukan) yang salah satunya menjulang tinggi tak terjangkau, sedangkan yang lain turun ke bawah hingga pada tingkat paling rendah, terdapat tingkatan-tingkan yang hanya diketahui oleh Allah, semuanya ada tersebar pada manusia, dan masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan tersendiri dari apa yang dikerjakannya. Dan sekali-kali Allah tidak pernah lalai terhadap apa yang mereka kerjakan.
Fussilat 41:34
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah de-ngan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Ia tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fush-shilat: 34-35).
(34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ﴿ "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan," atau tidaklah sama mengerjakan keba-jikan dan ketaatan karena demi mendapat ridha Allah سبحانه وتعالى dengan mengerjakan dosa-dosa dan maksiat yang bisa membuat Allah murka dan tidak membuatNya ridha; dan tidak pula sama per-buatan baik kepada manusia dengan berbuat buruk kepada mereka, baik pada keburukan itu sendiri, karakternya maupun pada ba-lasannya kelak. ﴾ هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ 60 ﴿ "Tidak ada balasan bagi kebajikan melainkan kebajikan pula."(Ar-Rahman: 60). Kemudian Allah memerintahkannya untuk berbuat ihsan (baik) yang khusus baginya, karena mempunyai pengaruh yang sangat besar, yaitu berbuat ihsan kepada orang yang justru berbuat tidak baik kepadamu, seraya berfirman, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "Tolaklah de-ngan cara yang lebih baik." Apabila ada seseorang manusia berbuat buruk kepadamu, terutama orang yang mempunyai hak yang sangat besar atasmu, seperti kaum kerabat, para sahabat dan yang semisal dengan mereka, seperti bersikap buruk dalam bentuk ucapan atau tindakan, maka balaslah dengan berbuat yang terbaik kepadanya. Jika ia memutus hubungan denganmu, maka jalinlah hubungan itu dan jika ia berbuat zhalim (aniaya) terhadapmu, maka maafkanlah ia, dan jika ia membicarakanmu saat kamu absen atau hadir, maka janganlah kamu membalasnya, tetapi maafkan-lah ia dan pergaulilah ia dengan ucapan yang lembut. Dan jika ia memboikotmu dan tidak mau bicara denganmu, maka maniskan-lah ucapan-ucapanmu kepadanya dan ucapkanlah salam kepada-nya. Jika kamu telah membalas perbuatan buruk itu dengan ihsan (perbuatan yang terbaik), maka akan diperoleh faidah (keuntungan) yang sangat besar. ﴾ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ﴿ "Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia," maksudnya, seakan-akan ia adalah kerabat yang sangat sayang.
(35) ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ ﴿ "Ia tidak dianugerahkan" maksudnya, tidak ada yang dianugerahi sifat-sifat terpuji itu, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ﴿ "melainkan kepada orang-orang yang" menyabarkan diri mereka dalam meng-hadapi hal-hal yang tidak disukai dan memaksanya untuk tunduk kepada apa-apa yang dicintai Allah. Sesungguhnya jiwa itu sudah menjadi tabiatnya membalas orang yang berbuat buruk dengan berbuat buruk kepadanya dan tidak memaafkannya. Lalu bagai-mana dengan ihsan?! Apabila seseorang mampu menyabarkan dirinya, mematuhi perintah Tuhannya, mengetahui pahala yang berlimpah, ia mengetahui bahwa membalas orang yang berbuat buruk dengan keburukan yang serupa itu sama sekali tidak berguna baginya dan malah makin menambah kerasnya permusuhan, dan bahwa sesungguhnya perbuatan ihsan kepada orang yang berbuat jahat itu tidak akan merendahkan martabatnya, bahkan siapa saja yang merendahkan diri kepada Allah, niscaya Allah mengangkat derajatnya, maka permasalahan akan menjadi ringan baginya dan ia melakukannya dengan penuh rasa lezat lagi merasakan manis-nya. ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ﴿ "Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar," sebab sifat-sifat tersebut merupakan karakteristik manusia-manusia yang di-istimewakan, yang dengannya seseorang akan memperoleh derajat tinggi di dunia dan di akhirat, yang merupakan sifat-sifat terbesar dari akhlak mulia.
Fussilat 41:35
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah de-ngan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Ia tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fush-shilat: 34-35).
(34) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَسۡتَوِي ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُۚ ﴿ "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan," atau tidaklah sama mengerjakan keba-jikan dan ketaatan karena demi mendapat ridha Allah سبحانه وتعالى dengan mengerjakan dosa-dosa dan maksiat yang bisa membuat Allah murka dan tidak membuatNya ridha; dan tidak pula sama per-buatan baik kepada manusia dengan berbuat buruk kepada mereka, baik pada keburukan itu sendiri, karakternya maupun pada ba-lasannya kelak. ﴾ هَلۡ جَزَآءُ ٱلۡإِحۡسَٰنِ إِلَّا ٱلۡإِحۡسَٰنُ 60 ﴿ "Tidak ada balasan bagi kebajikan melainkan kebajikan pula."(Ar-Rahman: 60). Kemudian Allah memerintahkannya untuk berbuat ihsan (baik) yang khusus baginya, karena mempunyai pengaruh yang sangat besar, yaitu berbuat ihsan kepada orang yang justru berbuat tidak baik kepadamu, seraya berfirman, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "Tolaklah de-ngan cara yang lebih baik." Apabila ada seseorang manusia berbuat buruk kepadamu, terutama orang yang mempunyai hak yang sangat besar atasmu, seperti kaum kerabat, para sahabat dan yang semisal dengan mereka, seperti bersikap buruk dalam bentuk ucapan atau tindakan, maka balaslah dengan berbuat yang terbaik kepadanya. Jika ia memutus hubungan denganmu, maka jalinlah hubungan itu dan jika ia berbuat zhalim (aniaya) terhadapmu, maka maafkanlah ia, dan jika ia membicarakanmu saat kamu absen atau hadir, maka janganlah kamu membalasnya, tetapi maafkan-lah ia dan pergaulilah ia dengan ucapan yang lembut. Dan jika ia memboikotmu dan tidak mau bicara denganmu, maka maniskan-lah ucapan-ucapanmu kepadanya dan ucapkanlah salam kepada-nya. Jika kamu telah membalas perbuatan buruk itu dengan ihsan (perbuatan yang terbaik), maka akan diperoleh faidah (keuntungan) yang sangat besar. ﴾ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ ﴿ "Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia," maksudnya, seakan-akan ia adalah kerabat yang sangat sayang.
(35) ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ ﴿ "Ia tidak dianugerahkan" maksudnya, tidak ada yang dianugerahi sifat-sifat terpuji itu, ﴾ إِلَّا ٱلَّذِينَ ﴿ "melainkan kepada orang-orang yang" menyabarkan diri mereka dalam meng-hadapi hal-hal yang tidak disukai dan memaksanya untuk tunduk kepada apa-apa yang dicintai Allah. Sesungguhnya jiwa itu sudah menjadi tabiatnya membalas orang yang berbuat buruk dengan berbuat buruk kepadanya dan tidak memaafkannya. Lalu bagai-mana dengan ihsan?! Apabila seseorang mampu menyabarkan dirinya, mematuhi perintah Tuhannya, mengetahui pahala yang berlimpah, ia mengetahui bahwa membalas orang yang berbuat buruk dengan keburukan yang serupa itu sama sekali tidak berguna baginya dan malah makin menambah kerasnya permusuhan, dan bahwa sesungguhnya perbuatan ihsan kepada orang yang berbuat jahat itu tidak akan merendahkan martabatnya, bahkan siapa saja yang merendahkan diri kepada Allah, niscaya Allah mengangkat derajatnya, maka permasalahan akan menjadi ringan baginya dan ia melakukannya dengan penuh rasa lezat lagi merasakan manis-nya. ﴾ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ﴿ "Dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar," sebab sifat-sifat tersebut merupakan karakteristik manusia-manusia yang di-istimewakan, yang dengannya seseorang akan memperoleh derajat tinggi di dunia dan di akhirat, yang merupakan sifat-sifat terbesar dari akhlak mulia.
Fussilat 41:36
"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan sebagian dari tanda-tanda (ayat-ayat)Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakan-nya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang berada di sisi Rabbmu bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. Dan sebagian dari tanda-tandaNya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesung-guhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Fushshilat: 36-39).
(36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan apa yang seharusnya di-balaskan kepada musuh dari golongan manusia, yaitu membalas kejahatannya dengan berbuat baik kepadanya, maka di sini Allah menjelaskan bagaimana seharusnya menolak musuh dari bangsa jin, yaitu dengan cara memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya, seraya berfirman, ﴾ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ﴿ "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan," maksudnya pada suatu waktu kamu merasa ada bisikan-bisikan setan. Maksudnya, bisikan dan bujukannya untuk melakukan kejahatan dan membuatnya malas berbuat kebaikan serta rayuannya untuk melakukan dosa dan supaya mematuhi sebagian perintahnya, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ ﴿ "maka mohonlah perlindungan kepada Allah." Artinya, memohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa butuh kepadaNya untuk dilindungi dan dijaga darinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui ucapan dan sikap rendah dirimu dan Dia mengetahui kondisi dan kebutuhanmu yang sangat mendesak kepada perlin-dungan dan pemeliharaanNya.
(37) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ﴿ "di antara sebagian dari tanda-tandaNya," yang menunjukkan kepada kemahasempurnaan kekuasaanNya, kemahaampuhan kehendak-Nya, kemahaluasan wewenangNya dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya dan bahwa sesungguhnya Dia-lah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya. ﴾ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ ﴿ "Ialah malam, siang," yakni, siang dengan segala manfaat terangnya dan pekerjaan manusia di siang hari, sedangkan malam dengan manfaat kegelapannya dan istirahatnya manusia padanya, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ ﴿ "matahari dan bulan" yang tidak akan bisa sempurna kehidupan manusia dan badan mereka, juga badan hewan-hewan ternak mereka kecuali dengan keberadaan keduanya; dan dari kedua matahari dan bulan inilah terjadi berbagai macam maslahat yang tak terhitung. ﴾ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ ﴿ "Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan," karena sesungguhnya keduanya diken-dalikan dan ditundukkan dan diciptakan, ﴾ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ ﴿ "tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya." Maksudnya, sembahlah Allah semata, sebab Dia-lah Pencipta Yang Mahaagung, dan tinggalkanlah segala bentuk penyembahan kepada selain Dia dari berbagai macam makhluk ini, sekalipun ia (selain Dia) besar bentuknya dan banyak manfaatnya. Sebab semua itu tidak berasal darinya, melainkan dari sang Pencipta yang Mahasuci yang telah menciptakannya. ﴾ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ﴿ "Jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." Maka istimewakanlah Dia dengan ibadah dan murnikanlah kepatuhan hanya kepadaNya.
(38) ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Jika mereka menyombongkan diri," tidak mau beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau tunduk untukNya, maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak dapat membahaya-kanmu, dan Allah tidak butuh kepada mereka dan Dia mempunyai hamba-hamba yang dimuliakan, mereka sama sekali tidak pernah mendurhakai Allah atas apa-apa yang diperintahkan kepada me-reka dan mereka selalu melaksanakan apa saja yang diperintahkan. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Maka mereka yang berada di sisi Rabbmu," maksudnya, para malaikat al-muqarrabin, ﴾ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ۩ ﴿ "bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu," maksudnya, mereka tidak pernah jemu dari menyembahNya, karena kekuatan mereka dan karena sangat dahsyatnya motivasi mereka untuk itu.
(39) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya" yang mem-buktikan kemahasempurnaan KuasaNya dan keesaanNya dalam kerajaan, mengatur dan wahdaniyah adalah, ﴾ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ ﴿ "bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus," tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya, ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ﴿ "maka apabila Kami turunkan air di atasnya," maksudnya, hujan, ﴾ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "niscaya ia bergerak." Artinya, bergerak mengeluarkan tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡۚ ﴿ "dan subur," menumbuhkan ber-bagai macam tumbuhan yang subur, sehingga dengannya hiduplah manusia dan daerah itu. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا ﴿ "Sesungguhnya Yang meng-hidupkannya," sesudah kematian dan ketandusannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ ﴿ "tentu dapat menghidupkan yang mati" dari dalam kubur mereka pada Hari Kebangkitan mereka ﴾ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Sebagaimana kekuasaanNya tidak susah untuk menghidupkan tanah setelah ketandusannya, maka demikian pula tidak susah bagiNya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.
Fussilat 41:37
"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan sebagian dari tanda-tanda (ayat-ayat)Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakan-nya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang berada di sisi Rabbmu bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. Dan sebagian dari tanda-tandaNya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesung-guhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Fushshilat: 36-39).
(36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan apa yang seharusnya di-balaskan kepada musuh dari golongan manusia, yaitu membalas kejahatannya dengan berbuat baik kepadanya, maka di sini Allah menjelaskan bagaimana seharusnya menolak musuh dari bangsa jin, yaitu dengan cara memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya, seraya berfirman, ﴾ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ﴿ "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan," maksudnya pada suatu waktu kamu merasa ada bisikan-bisikan setan. Maksudnya, bisikan dan bujukannya untuk melakukan kejahatan dan membuatnya malas berbuat kebaikan serta rayuannya untuk melakukan dosa dan supaya mematuhi sebagian perintahnya, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ ﴿ "maka mohonlah perlindungan kepada Allah." Artinya, memohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa butuh kepadaNya untuk dilindungi dan dijaga darinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui ucapan dan sikap rendah dirimu dan Dia mengetahui kondisi dan kebutuhanmu yang sangat mendesak kepada perlin-dungan dan pemeliharaanNya.
(37) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ﴿ "di antara sebagian dari tanda-tandaNya," yang menunjukkan kepada kemahasempurnaan kekuasaanNya, kemahaampuhan kehendak-Nya, kemahaluasan wewenangNya dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya dan bahwa sesungguhnya Dia-lah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya. ﴾ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ ﴿ "Ialah malam, siang," yakni, siang dengan segala manfaat terangnya dan pekerjaan manusia di siang hari, sedangkan malam dengan manfaat kegelapannya dan istirahatnya manusia padanya, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ ﴿ "matahari dan bulan" yang tidak akan bisa sempurna kehidupan manusia dan badan mereka, juga badan hewan-hewan ternak mereka kecuali dengan keberadaan keduanya; dan dari kedua matahari dan bulan inilah terjadi berbagai macam maslahat yang tak terhitung. ﴾ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ ﴿ "Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan," karena sesungguhnya keduanya diken-dalikan dan ditundukkan dan diciptakan, ﴾ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ ﴿ "tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya." Maksudnya, sembahlah Allah semata, sebab Dia-lah Pencipta Yang Mahaagung, dan tinggalkanlah segala bentuk penyembahan kepada selain Dia dari berbagai macam makhluk ini, sekalipun ia (selain Dia) besar bentuknya dan banyak manfaatnya. Sebab semua itu tidak berasal darinya, melainkan dari sang Pencipta yang Mahasuci yang telah menciptakannya. ﴾ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ﴿ "Jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." Maka istimewakanlah Dia dengan ibadah dan murnikanlah kepatuhan hanya kepadaNya.
(38) ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Jika mereka menyombongkan diri," tidak mau beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau tunduk untukNya, maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak dapat membahaya-kanmu, dan Allah tidak butuh kepada mereka dan Dia mempunyai hamba-hamba yang dimuliakan, mereka sama sekali tidak pernah mendurhakai Allah atas apa-apa yang diperintahkan kepada me-reka dan mereka selalu melaksanakan apa saja yang diperintahkan. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Maka mereka yang berada di sisi Rabbmu," maksudnya, para malaikat al-muqarrabin, ﴾ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ۩ ﴿ "bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu," maksudnya, mereka tidak pernah jemu dari menyembahNya, karena kekuatan mereka dan karena sangat dahsyatnya motivasi mereka untuk itu.
(39) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya" yang mem-buktikan kemahasempurnaan KuasaNya dan keesaanNya dalam kerajaan, mengatur dan wahdaniyah adalah, ﴾ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ ﴿ "bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus," tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya, ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ﴿ "maka apabila Kami turunkan air di atasnya," maksudnya, hujan, ﴾ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "niscaya ia bergerak." Artinya, bergerak mengeluarkan tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡۚ ﴿ "dan subur," menumbuhkan ber-bagai macam tumbuhan yang subur, sehingga dengannya hiduplah manusia dan daerah itu. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا ﴿ "Sesungguhnya Yang meng-hidupkannya," sesudah kematian dan ketandusannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ ﴿ "tentu dapat menghidupkan yang mati" dari dalam kubur mereka pada Hari Kebangkitan mereka ﴾ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Sebagaimana kekuasaanNya tidak susah untuk menghidupkan tanah setelah ketandusannya, maka demikian pula tidak susah bagiNya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.
Fussilat 41:38
"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan sebagian dari tanda-tanda (ayat-ayat)Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakan-nya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang berada di sisi Rabbmu bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. Dan sebagian dari tanda-tandaNya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesung-guhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Fushshilat: 36-39).
(36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan apa yang seharusnya di-balaskan kepada musuh dari golongan manusia, yaitu membalas kejahatannya dengan berbuat baik kepadanya, maka di sini Allah menjelaskan bagaimana seharusnya menolak musuh dari bangsa jin, yaitu dengan cara memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya, seraya berfirman, ﴾ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ﴿ "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan," maksudnya pada suatu waktu kamu merasa ada bisikan-bisikan setan. Maksudnya, bisikan dan bujukannya untuk melakukan kejahatan dan membuatnya malas berbuat kebaikan serta rayuannya untuk melakukan dosa dan supaya mematuhi sebagian perintahnya, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ ﴿ "maka mohonlah perlindungan kepada Allah." Artinya, memohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa butuh kepadaNya untuk dilindungi dan dijaga darinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui ucapan dan sikap rendah dirimu dan Dia mengetahui kondisi dan kebutuhanmu yang sangat mendesak kepada perlin-dungan dan pemeliharaanNya.
(37) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ﴿ "di antara sebagian dari tanda-tandaNya," yang menunjukkan kepada kemahasempurnaan kekuasaanNya, kemahaampuhan kehendak-Nya, kemahaluasan wewenangNya dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya dan bahwa sesungguhnya Dia-lah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya. ﴾ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ ﴿ "Ialah malam, siang," yakni, siang dengan segala manfaat terangnya dan pekerjaan manusia di siang hari, sedangkan malam dengan manfaat kegelapannya dan istirahatnya manusia padanya, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ ﴿ "matahari dan bulan" yang tidak akan bisa sempurna kehidupan manusia dan badan mereka, juga badan hewan-hewan ternak mereka kecuali dengan keberadaan keduanya; dan dari kedua matahari dan bulan inilah terjadi berbagai macam maslahat yang tak terhitung. ﴾ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ ﴿ "Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan," karena sesungguhnya keduanya diken-dalikan dan ditundukkan dan diciptakan, ﴾ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ ﴿ "tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya." Maksudnya, sembahlah Allah semata, sebab Dia-lah Pencipta Yang Mahaagung, dan tinggalkanlah segala bentuk penyembahan kepada selain Dia dari berbagai macam makhluk ini, sekalipun ia (selain Dia) besar bentuknya dan banyak manfaatnya. Sebab semua itu tidak berasal darinya, melainkan dari sang Pencipta yang Mahasuci yang telah menciptakannya. ﴾ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ﴿ "Jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." Maka istimewakanlah Dia dengan ibadah dan murnikanlah kepatuhan hanya kepadaNya.
(38) ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Jika mereka menyombongkan diri," tidak mau beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau tunduk untukNya, maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak dapat membahaya-kanmu, dan Allah tidak butuh kepada mereka dan Dia mempunyai hamba-hamba yang dimuliakan, mereka sama sekali tidak pernah mendurhakai Allah atas apa-apa yang diperintahkan kepada me-reka dan mereka selalu melaksanakan apa saja yang diperintahkan. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Maka mereka yang berada di sisi Rabbmu," maksudnya, para malaikat al-muqarrabin, ﴾ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ۩ ﴿ "bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu," maksudnya, mereka tidak pernah jemu dari menyembahNya, karena kekuatan mereka dan karena sangat dahsyatnya motivasi mereka untuk itu.
(39) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya" yang mem-buktikan kemahasempurnaan KuasaNya dan keesaanNya dalam kerajaan, mengatur dan wahdaniyah adalah, ﴾ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ ﴿ "bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus," tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya, ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ﴿ "maka apabila Kami turunkan air di atasnya," maksudnya, hujan, ﴾ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "niscaya ia bergerak." Artinya, bergerak mengeluarkan tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡۚ ﴿ "dan subur," menumbuhkan ber-bagai macam tumbuhan yang subur, sehingga dengannya hiduplah manusia dan daerah itu. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا ﴿ "Sesungguhnya Yang meng-hidupkannya," sesudah kematian dan ketandusannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ ﴿ "tentu dapat menghidupkan yang mati" dari dalam kubur mereka pada Hari Kebangkitan mereka ﴾ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Sebagaimana kekuasaanNya tidak susah untuk menghidupkan tanah setelah ketandusannya, maka demikian pula tidak susah bagiNya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.
Fussilat 41:39
"Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan sebagian dari tanda-tanda (ayat-ayat)Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakan-nya, jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah. Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka yang berada di sisi Rabbmu bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu. Dan sebagian dari tanda-tandaNya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesung-guhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Fushshilat: 36-39).
(36) Setelah Allah سبحانه وتعالى menjelaskan apa yang seharusnya di-balaskan kepada musuh dari golongan manusia, yaitu membalas kejahatannya dengan berbuat baik kepadanya, maka di sini Allah menjelaskan bagaimana seharusnya menolak musuh dari bangsa jin, yaitu dengan cara memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya, seraya berfirman, ﴾ وَإِمَّا يَنزَغَنَّكَ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ﴿ "Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan," maksudnya pada suatu waktu kamu merasa ada bisikan-bisikan setan. Maksudnya, bisikan dan bujukannya untuk melakukan kejahatan dan membuatnya malas berbuat kebaikan serta rayuannya untuk melakukan dosa dan supaya mematuhi sebagian perintahnya, ﴾ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِۖ ﴿ "maka mohonlah perlindungan kepada Allah." Artinya, memohonlah kepada-Nya dengan penuh rasa butuh kepadaNya untuk dilindungi dan dijaga darinya. ﴾ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ﴿ "Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui," karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui ucapan dan sikap rendah dirimu dan Dia mengetahui kondisi dan kebutuhanmu yang sangat mendesak kepada perlin-dungan dan pemeliharaanNya.
(37) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ﴿ "di antara sebagian dari tanda-tandaNya," yang menunjukkan kepada kemahasempurnaan kekuasaanNya, kemahaampuhan kehendak-Nya, kemahaluasan wewenangNya dan kasih sayangNya terhadap hamba-hambaNya dan bahwa sesungguhnya Dia-lah Yang Esa, tiada sekutu bagiNya. ﴾ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ ﴿ "Ialah malam, siang," yakni, siang dengan segala manfaat terangnya dan pekerjaan manusia di siang hari, sedangkan malam dengan manfaat kegelapannya dan istirahatnya manusia padanya, ﴾ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ ﴿ "matahari dan bulan" yang tidak akan bisa sempurna kehidupan manusia dan badan mereka, juga badan hewan-hewan ternak mereka kecuali dengan keberadaan keduanya; dan dari kedua matahari dan bulan inilah terjadi berbagai macam maslahat yang tak terhitung. ﴾ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ ﴿ "Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan," karena sesungguhnya keduanya diken-dalikan dan ditundukkan dan diciptakan, ﴾ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ ﴿ "tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya." Maksudnya, sembahlah Allah semata, sebab Dia-lah Pencipta Yang Mahaagung, dan tinggalkanlah segala bentuk penyembahan kepada selain Dia dari berbagai macam makhluk ini, sekalipun ia (selain Dia) besar bentuknya dan banyak manfaatnya. Sebab semua itu tidak berasal darinya, melainkan dari sang Pencipta yang Mahasuci yang telah menciptakannya. ﴾ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ﴿ "Jika kamu hanya kepadaNya saja menyembah." Maka istimewakanlah Dia dengan ibadah dan murnikanlah kepatuhan hanya kepadaNya.
(38) ﴾ فَإِنِ ٱسۡتَكۡبَرُواْ ﴿ "Jika mereka menyombongkan diri," tidak mau beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى dan tidak mau tunduk untukNya, maka sesungguhnya mereka sama sekali tidak dapat membahaya-kanmu, dan Allah tidak butuh kepada mereka dan Dia mempunyai hamba-hamba yang dimuliakan, mereka sama sekali tidak pernah mendurhakai Allah atas apa-apa yang diperintahkan kepada me-reka dan mereka selalu melaksanakan apa saja yang diperintahkan. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ ﴿ "Maka mereka yang berada di sisi Rabbmu," maksudnya, para malaikat al-muqarrabin, ﴾ يُسَبِّحُونَ لَهُۥ بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ وَهُمۡ لَا يَسۡـَٔمُونَ۩ ﴿ "bertasbih kepadaNya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu," maksudnya, mereka tidak pernah jemu dari menyembahNya, karena kekuatan mereka dan karena sangat dahsyatnya motivasi mereka untuk itu.
(39) ﴾ وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ ﴿ "Dan di antara tanda-tandaNya" yang mem-buktikan kemahasempurnaan KuasaNya dan keesaanNya dalam kerajaan, mengatur dan wahdaniyah adalah, ﴾ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ ﴿ "bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus," tidak ada tumbuh-tumbuhan-nya, ﴾ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ﴿ "maka apabila Kami turunkan air di atasnya," maksudnya, hujan, ﴾ ٱهۡتَزَّتۡ ﴿ "niscaya ia bergerak." Artinya, bergerak mengeluarkan tumbuhan ﴾ وَرَبَتۡۚ ﴿ "dan subur," menumbuhkan ber-bagai macam tumbuhan yang subur, sehingga dengannya hiduplah manusia dan daerah itu. ﴾ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا ﴿ "Sesungguhnya Yang meng-hidupkannya," sesudah kematian dan ketandusannya ﴾ لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ ﴿ "tentu dapat menghidupkan yang mati" dari dalam kubur mereka pada Hari Kebangkitan mereka ﴾ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." Sebagaimana kekuasaanNya tidak susah untuk menghidupkan tanah setelah ketandusannya, maka demikian pula tidak susah bagiNya untuk menghidupkan orang-orang yang sudah mati.
Fussilat 41:40
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr ketika ia datang kepada mereka, dan se-sungguhnya ia adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepada-nya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji." (Fushshilat: 40-42).
(40) Ilhad (kufur) terhadap ayat-ayat Allah adalah membe-lokkannya dari yang sebenarnya dengan cara apa pun, apakah de-ngan cara mengingkari, tidak mempercayainya dan mendustakan orang yang membawanya, ataupun dengan cara memalingkan dan mengalihkannya dari maknanya yang hakiki dan menetapkan makna-makna yang sama sekali bukan yang Allah kehendaki. Maka dari itu Allah mengancam siapa yang bersikap ilhad terhadap ayat-ayatNya, bahwa semua itu tidak ada yang tersembunyi dari Allah, bahkan Dia mengetahui lahir dan batin orang itu, dan Dia akan membalasnya atas sikap ilhadNya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Karena itu di sini Allah berfirman, ﴾ أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Maka apa-kah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka" seperti orang yang mulhid terhadap ayat-ayat Allah itu ﴾ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِيٓ ءَامِنٗا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat," dari azab Allah lagi berhak mendapat pahalaNya? Sudah dimaklumi bahwa inilah yang terbaik. Setelah yang haq menjadi jelas (terpisah) dari kebatilan, dan jalan yang dapat menyelamatkan dari azabNya dari jalan yang membinasakan, Dia berfirman, ﴾ ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ ﴿ "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki," jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kebe-runtungan yang dapat mengantarkan kepada ridha dan surga Rabb kalian, dan jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kesesatan yang membuat murka Rabb, yang bisa menceburkan kalian ke negeri kesengsaraan. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas kalian sesuai dengan kondisi dan perbuatan kalian. Ayat ini sama dengan FirmanNya yang lain, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Yang benar itu dari Rabb kalian, maka barang-siapa yang menghendaki, silahkan beriman, dan barangsiapa yang meng-hendaki, silahkan kafir'." (Al-Kahfi: 29).
(41-42) Kemudian Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ ﴿ "Se-sungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr," maksudnya, mengingkari al-Qur`an al-Karim yang mengingatkan manusia akan seluruh kepentingan dunia, agama dan akhirat mereka, yang meninggikan kedudukan siapa saja yang mengikutinya, ﴾ لَمَّا جَآءَهُمۡۖ ﴿ "ketika ia datang kepada mereka" sebagai nikmat dari Tuhan mereka melalui tangan manusia termulia dan tersempurna, ﴾ وَ﴿ "dan," padahal ﴾ إِنَّهُۥ ﴿ "sesungguhnya ia" adalah kitab yang mencakup selu-ruh sifat-sifat kesempurnaan ﴾ عَزِيزٞ ﴿ "yang mulia" yang kokoh dari setiap siapa saja yang menghendaki tahrif atau keburukan terhadap-nya, dan karena itu Allah berfirman, ﴾ لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ ﴿ "Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya," maksudnya, tidak akan didekati oleh setan dari golongan manusia dan dari golongan jin, apakah untuk mencuri, atau menyusupkan sesuatu yang bukan darinya, atau melakukan penambahan atau pengurangan, jadi, ia terpelihara pada saat diturunkan, terpelihara lafazh-lafazh dan makna-maknanya, telah dijamin oleh Allah yang menurunkannya keterpeliharaannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ 9 ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesung-guhnya Kami benar-benar memeliharanya."(Al-Hijr: 9), ﴾ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ ﴿ "yang diturunkan dari Yang Mahabijaksana" dalam men-ciptakan dan memerintah, Dia menempatkan segala sesuatu secara tepat pada tempatnya dan mendudukkannya pada kedudukannya masing-masing ﴾ حَمِيدٖ ﴿ "lagi Maha Terpuji" atas sifat-sifat kesem-purnaan dan kemuliaan yang dimilikiNya, dan atas keadilan dan pemberian karuniaNya, maka dari itu KitabNya mengandung ke-sempurnaan hikmah (kebijaksanaanNya) dan perolehan berbagai maslahat dan manfaat serta pencegahan terhadap segala hal yang merusak dan berbagai hal yang membahayakan, yang karena semua itu Dia terpuji.
Fussilat 41:41
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr ketika ia datang kepada mereka, dan se-sungguhnya ia adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepada-nya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji." (Fushshilat: 40-42).
(40) Ilhad (kufur) terhadap ayat-ayat Allah adalah membe-lokkannya dari yang sebenarnya dengan cara apa pun, apakah de-ngan cara mengingkari, tidak mempercayainya dan mendustakan orang yang membawanya, ataupun dengan cara memalingkan dan mengalihkannya dari maknanya yang hakiki dan menetapkan makna-makna yang sama sekali bukan yang Allah kehendaki. Maka dari itu Allah mengancam siapa yang bersikap ilhad terhadap ayat-ayatNya, bahwa semua itu tidak ada yang tersembunyi dari Allah, bahkan Dia mengetahui lahir dan batin orang itu, dan Dia akan membalasnya atas sikap ilhadNya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Karena itu di sini Allah berfirman, ﴾ أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Maka apa-kah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka" seperti orang yang mulhid terhadap ayat-ayat Allah itu ﴾ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِيٓ ءَامِنٗا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat," dari azab Allah lagi berhak mendapat pahalaNya? Sudah dimaklumi bahwa inilah yang terbaik. Setelah yang haq menjadi jelas (terpisah) dari kebatilan, dan jalan yang dapat menyelamatkan dari azabNya dari jalan yang membinasakan, Dia berfirman, ﴾ ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ ﴿ "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki," jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kebe-runtungan yang dapat mengantarkan kepada ridha dan surga Rabb kalian, dan jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kesesatan yang membuat murka Rabb, yang bisa menceburkan kalian ke negeri kesengsaraan. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas kalian sesuai dengan kondisi dan perbuatan kalian. Ayat ini sama dengan FirmanNya yang lain, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Yang benar itu dari Rabb kalian, maka barang-siapa yang menghendaki, silahkan beriman, dan barangsiapa yang meng-hendaki, silahkan kafir'." (Al-Kahfi: 29).
(41-42) Kemudian Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ ﴿ "Se-sungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr," maksudnya, mengingkari al-Qur`an al-Karim yang mengingatkan manusia akan seluruh kepentingan dunia, agama dan akhirat mereka, yang meninggikan kedudukan siapa saja yang mengikutinya, ﴾ لَمَّا جَآءَهُمۡۖ ﴿ "ketika ia datang kepada mereka" sebagai nikmat dari Tuhan mereka melalui tangan manusia termulia dan tersempurna, ﴾ وَ﴿ "dan," padahal ﴾ إِنَّهُۥ ﴿ "sesungguhnya ia" adalah kitab yang mencakup selu-ruh sifat-sifat kesempurnaan ﴾ عَزِيزٞ ﴿ "yang mulia" yang kokoh dari setiap siapa saja yang menghendaki tahrif atau keburukan terhadap-nya, dan karena itu Allah berfirman, ﴾ لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ ﴿ "Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya," maksudnya, tidak akan didekati oleh setan dari golongan manusia dan dari golongan jin, apakah untuk mencuri, atau menyusupkan sesuatu yang bukan darinya, atau melakukan penambahan atau pengurangan, jadi, ia terpelihara pada saat diturunkan, terpelihara lafazh-lafazh dan makna-maknanya, telah dijamin oleh Allah yang menurunkannya keterpeliharaannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ 9 ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesung-guhnya Kami benar-benar memeliharanya."(Al-Hijr: 9), ﴾ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ ﴿ "yang diturunkan dari Yang Mahabijaksana" dalam men-ciptakan dan memerintah, Dia menempatkan segala sesuatu secara tepat pada tempatnya dan mendudukkannya pada kedudukannya masing-masing ﴾ حَمِيدٖ ﴿ "lagi Maha Terpuji" atas sifat-sifat kesem-purnaan dan kemuliaan yang dimilikiNya, dan atas keadilan dan pemberian karuniaNya, maka dari itu KitabNya mengandung ke-sempurnaan hikmah (kebijaksanaanNya) dan perolehan berbagai maslahat dan manfaat serta pencegahan terhadap segala hal yang merusak dan berbagai hal yang membahayakan, yang karena semua itu Dia terpuji.
Fussilat 41:42
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr ketika ia datang kepada mereka, dan se-sungguhnya ia adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepada-nya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Dzat Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji." (Fushshilat: 40-42).
(40) Ilhad (kufur) terhadap ayat-ayat Allah adalah membe-lokkannya dari yang sebenarnya dengan cara apa pun, apakah de-ngan cara mengingkari, tidak mempercayainya dan mendustakan orang yang membawanya, ataupun dengan cara memalingkan dan mengalihkannya dari maknanya yang hakiki dan menetapkan makna-makna yang sama sekali bukan yang Allah kehendaki. Maka dari itu Allah mengancam siapa yang bersikap ilhad terhadap ayat-ayatNya, bahwa semua itu tidak ada yang tersembunyi dari Allah, bahkan Dia mengetahui lahir dan batin orang itu, dan Dia akan membalasnya atas sikap ilhadNya sesuai dengan apa yang telah dilakukannya. Karena itu di sini Allah berfirman, ﴾ أَفَمَن يُلۡقَىٰ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "Maka apa-kah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka" seperti orang yang mulhid terhadap ayat-ayat Allah itu ﴾ خَيۡرٌ أَم مَّن يَأۡتِيٓ ءَامِنٗا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ﴿ "lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada Hari Kiamat," dari azab Allah lagi berhak mendapat pahalaNya? Sudah dimaklumi bahwa inilah yang terbaik. Setelah yang haq menjadi jelas (terpisah) dari kebatilan, dan jalan yang dapat menyelamatkan dari azabNya dari jalan yang membinasakan, Dia berfirman, ﴾ ٱعۡمَلُواْ مَا شِئۡتُمۡ ﴿ "Perbuatlah apa yang kamu kehendaki," jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kebe-runtungan yang dapat mengantarkan kepada ridha dan surga Rabb kalian, dan jika kalian mau, silahkan menempuh jalan kesesatan yang membuat murka Rabb, yang bisa menceburkan kalian ke negeri kesengsaraan. ﴾ إِنَّهُۥ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Dia akan membalas kalian sesuai dengan kondisi dan perbuatan kalian. Ayat ini sama dengan FirmanNya yang lain, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Yang benar itu dari Rabb kalian, maka barang-siapa yang menghendaki, silahkan beriman, dan barangsiapa yang meng-hendaki, silahkan kafir'." (Al-Kahfi: 29).
(41-42) Kemudian Allah berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِٱلذِّكۡرِ ﴿ "Se-sungguhnya orang-orang yang mengingkari adz-Dzikr," maksudnya, mengingkari al-Qur`an al-Karim yang mengingatkan manusia akan seluruh kepentingan dunia, agama dan akhirat mereka, yang meninggikan kedudukan siapa saja yang mengikutinya, ﴾ لَمَّا جَآءَهُمۡۖ ﴿ "ketika ia datang kepada mereka" sebagai nikmat dari Tuhan mereka melalui tangan manusia termulia dan tersempurna, ﴾ وَ﴿ "dan," padahal ﴾ إِنَّهُۥ ﴿ "sesungguhnya ia" adalah kitab yang mencakup selu-ruh sifat-sifat kesempurnaan ﴾ عَزِيزٞ ﴿ "yang mulia" yang kokoh dari setiap siapa saja yang menghendaki tahrif atau keburukan terhadap-nya, dan karena itu Allah berfirman, ﴾ لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ ﴿ "Yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya," maksudnya, tidak akan didekati oleh setan dari golongan manusia dan dari golongan jin, apakah untuk mencuri, atau menyusupkan sesuatu yang bukan darinya, atau melakukan penambahan atau pengurangan, jadi, ia terpelihara pada saat diturunkan, terpelihara lafazh-lafazh dan makna-maknanya, telah dijamin oleh Allah yang menurunkannya keterpeliharaannya, sebagaimana difirmankan oleh Allah, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا ٱلذِّكۡرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ 9 ﴿ "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur`an dan sesung-guhnya Kami benar-benar memeliharanya."(Al-Hijr: 9), ﴾ تَنزِيلٞ مِّنۡ حَكِيمٍ ﴿ "yang diturunkan dari Yang Mahabijaksana" dalam men-ciptakan dan memerintah, Dia menempatkan segala sesuatu secara tepat pada tempatnya dan mendudukkannya pada kedudukannya masing-masing ﴾ حَمِيدٖ ﴿ "lagi Maha Terpuji" atas sifat-sifat kesem-purnaan dan kemuliaan yang dimilikiNya, dan atas keadilan dan pemberian karuniaNya, maka dari itu KitabNya mengandung ke-sempurnaan hikmah (kebijaksanaanNya) dan perolehan berbagai maslahat dan manfaat serta pencegahan terhadap segala hal yang merusak dan berbagai hal yang membahayakan, yang karena semua itu Dia terpuji.
Fussilat 41:43
"Tidaklah ada yang dikatakan kepadamu itu selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu. Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan dan hukuman yang pedih." (Fushshilat: 43).
(43) Artinya, ﴾ مَّا يُقَالُ لَكَ ﴿ "Tidaklah ada yang dikatakan kepada-mu" wahai Rasul, dari perkataan-perkataan yang berasal dari orang-orang yang mendustakanmu dan keras kepala terhadapmu, ﴾ إِلَّا مَا قَدۡ قِيلَ لِلرُّسُلِ مِن قَبۡلِكَۚ ﴿ "selain apa yang sesungguhnya telah dikatakan kepada rasul-rasul sebelum kamu," maksudnya, yang sejenis dengan-nya. Bahkan bisa jadi mereka mengutarakan perkataan yang persis sama, seperti rasa heran seluruh umat yang mendustakan para rasul terhadap seruan para rasul untuk ikhlas (bertauhid) kepada Allah dan beribadah hanya kepadaNya, tiada sekutu bagiNya, dan penolakan mereka terhadap seruan ini dengan segala cara yang mampu mereka lakukan. Dan ucapan mereka, "Kalian hanyalah seorang manusia biasa seperti kami," dan usulan mereka kepada para rasul untuk menghadirkan ayat-ayat (mukjizat dan bukti) yang diharuskan kepada mereka kehadirannya.... dan berbagai ucapan lainnya dari orang-orang yang mendustakan. Setelah hati mereka serupa dalam kekafiran, maka serupa pula perkataan-perkataan mereka. Dan para rasul pun bersikap sabar terhadap gangguan dan pendustaan mereka. Maka bersabarlah kamu sebagaimana para rasul sebelummu bersabar. Kemudian Allah menyeru mereka kepada taubat dan mela-kukan segala sebab yang bisa membuahkan maghfirah (ampunan), dan Allah juga memperingatkan mereka dari sikap terus bergeli-mang dalam kesesatan, seraya berfirman, ﴾ إِنَّ رَبَّكَ لَذُو مَغۡفِرَةٖ ﴿ "Sesung-guhnya Rabbmu benar-benar mempunyai ampunan" yang sangat agung, yang dengannya Dia menghapus semua dosa orang yang berhenti melakukan dosa lagi bertaubat, ﴾ وَذُو عِقَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "dan hukuman yang pedih" terhadap siapa saja yang terus durhaka dan menyombong-kan diri.
Fussilat 41:44
"Dan jikalau Kami menjadikannya suatu bacaan dalam bahasa ajam tentulah mereka mengatakan, 'Mengapa tidak dije-laskan ayat-ayatnya. Apakah dalam bahasa 'ajam sedang ia orang Arab?' Katakanlah, 'Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu dipanggil dari tempat yang jauh." (Fushshilat: 44).
(44) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia dan kemurahan-Nya, yang mana Dia telah menurunkan Kitab suciNya dalam bahasa Arab kepada Rasul yang berasal dari bangsa Arab, dengan bahasa kaumnya agar ia bisa menjelaskannya kepada mereka. Hal ini tentu termasuk hal yang semestinya wajib mendapat perhatian lebih, dipelajari dan tunduk kepadanya. Dan sesungguhnya jikalau Allah menjadikan al-Qur`an ini suatu bacaan dalam bahasa ajam, bukan dalam bahasa Arab, tentu orang-orang yang mendustakan itu melakukan protes dan mengatakan, ﴾ لَوۡلَا فُصِّلَتۡ ءَايَٰتُهُۥٓۖ ﴿ "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya," maksudnya, kenapa ayat-ayatnya tidak diterangkan, tidak diuraikan dan tidak ditafsirkan. ﴾ ءَا۬عۡجَمِيّٞ وَعَرَبِيّٞۗ ﴿ "Apakah dalam bahasa ajam sedang ia orang Arab?" Maksudnya, bagai-mana Muhammad itu seorang Arab lalu al-Qur`annya berbahasa selain Arab?! Ini tidak mungkin! Karena itu Allah menafikan semua perkara yang di dalamnya terkandung syubhat yang dimiliki oleh orang-orang yang sesat tentang Kitab suciNya, dan Dia menguraikannya dengan uraian yang memastikan mereka harus tunduk. Akan tetapi hanya orang-orang yang beriman yang mendapat taufik sajalah yang akan bisa mengambil manfaat (pelajaran) darinya dan menjadi mulia, sedang-kan selain mereka adalah kebalikan dari sikap orang-orang yang beriman itu. Maka dari itu Allah berfirman,﴾ قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ ﴿ "Katakanlah, 'Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman." Ia menunjukkan kepada mereka jalan kebenaran dan jalan yang lurus dan mengajarkan kepada mereka berbagai ilmu yang berguna yang dengannya hidayah yang sem-purna dapat dicapai; dan sebagai penawar bagi mereka dari ber-bagai penyakit fisik dan penyakit hati. Sebab al-Qur`an melarang akhlak yang tidak baik dan segala perbuatan yang buruk, dan ia mengajak kepada taubat yang tulus yang dapat membersihkan dosa dan menyembuhkan hati. ﴾ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang tidak beriman" kepada al-Qur`an, ﴾ فِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٞ ﴿ "pada telinga mereka ada sumbatan." Maksudnya, tuli, tidak dapat mendengar-kannya dan berpaling. ﴾ وَهُوَ عَلَيۡهِمۡ عَمًىۚ ﴿ "Sedang al-Qur`an itu suatu kegelapan bagi mereka," maksudnya, mereka tidak bisa melihat ke-benaran dengannya, tidak dapat petunjuk dengannya dan hanya makin menambah mereka sesat. Sebab, apabila mereka menolak yang benar, maka mereka menambah kebutaan kepada kebutaan mereka yang sudah ada dan menambah kesesatan kepada kesesatan mereka yang sudah ada. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ يُنَادَوۡنَ مِن مَّكَانِۭ بَعِيدٖ ﴿ "Mereka itu dipanggil dari tempat yang jauh," maksudnya, mereka diseru untuk beriman dan diajak kepa-danya, namun mereka tidak menerima. Mereka seperti orang yang dipanggil dari suatu tempat yang sangat jauh, ia tidak dapat men-dengar orang yang menyerunya dan tidak pula dapat memenuhi seruan orang yang memanggilnya. Maksudnya adalah, bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada al-Qur`an, tidak bisa memanfaatkan petunjuknya dan tidak bisa melihat dengan cahayanya, serta tidak bisa mengambil ke-baikan darinya. Sebab mereka telah menutup pintu-pintu hidayah terhadap diri mereka sendiri dengan sikap berpaling dan kufur yang mereka lakukan.
Fussilat 41:45
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab lalu ia diperselisihkan. Kalau tidak ada keputusan yang telah ter-dahulu dari Rabbmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibina-sakan. Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur`an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka akan menimpa dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba." (Fushshilat: 45-46).
(45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan sesung-guhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab," sebagaimana Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) al-Kitab, kemudian manusia melakukan terhadapnya apa yang telah mereka lakukan terhadapmu. Mereka berselisih, di antara mereka ada yang beriman kepadanya, berpedoman kepadanya dan mengambil pelajaran. Dan di antara mereka ada yang mendustakannya dan tidak mengambil pelajaran darinya. Allah سبحانه وتعالى, kalau saja bukan karena kesantunan-Nya dan ketetapanNya terdahulu yang menangguhkan azab hingga waktu yang telah ditentukan, tidak bisa dimajukan dan tidak pula bisa ditunda, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "tentulah orang-orang kafir itu sudah dibina-sakan," hanya dengan terpisahkannya orang-orang yang beriman dari orang-orang yang kafir, dengan membinasakan orang-orang yang kafir pada saat itu juga. Karena sebab kebinasaan sudah pasti dan ada. ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur`an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingung-kan." Artinya, mereka sudah sampai pada keragu-raguan yang membuat mereka gelisah, maka dari itu mereka mendustakannya dan mengingkarinya.
(46) ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih," yaitu amal yang diperintahkan oleh Allah dan oleh Rasul-Nya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka untuk dirinya sendiri," yakni manfaat dan paha-lanya di dunia maupun di akhirat. ﴾ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka akan menimpa dirinya sendiri," yakni bahaya dan siksaannya di dunia maupun di akhirat. Di sini terkandung himbauan untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, dan bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan mendapat manfaat dari amal-amal kebaikan yang mereka lakukan, dan juga mendapat bahaya dari amal-amal buruk yang mereka kerjakan, dan sesungguhnya seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba," sehingga membebani seseorang melebihi kesalahan-kesalahannya.
Fussilat 41:46
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab lalu ia diperselisihkan. Kalau tidak ada keputusan yang telah ter-dahulu dari Rabbmu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibina-sakan. Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur`an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingungkan. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka akan menimpa dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba." (Fushshilat: 45-46).
(45) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "Dan sesung-guhnya telah Kami berikan kepada Musa al-Kitab," sebagaimana Kami telah memberikan kepadamu (Muhammad) al-Kitab, kemudian manusia melakukan terhadapnya apa yang telah mereka lakukan terhadapmu. Mereka berselisih, di antara mereka ada yang beriman kepadanya, berpedoman kepadanya dan mengambil pelajaran. Dan di antara mereka ada yang mendustakannya dan tidak mengambil pelajaran darinya. Allah سبحانه وتعالى, kalau saja bukan karena kesantunan-Nya dan ketetapanNya terdahulu yang menangguhkan azab hingga waktu yang telah ditentukan, tidak bisa dimajukan dan tidak pula bisa ditunda, ﴾ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "tentulah orang-orang kafir itu sudah dibina-sakan," hanya dengan terpisahkannya orang-orang yang beriman dari orang-orang yang kafir, dengan membinasakan orang-orang yang kafir pada saat itu juga. Karena sebab kebinasaan sudah pasti dan ada. ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka terhadap al-Qur`an benar-benar berada dalam keragu-raguan yang membingung-kan." Artinya, mereka sudah sampai pada keragu-raguan yang membuat mereka gelisah, maka dari itu mereka mendustakannya dan mengingkarinya.
(46) ﴾ مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih," yaitu amal yang diperintahkan oleh Allah dan oleh Rasul-Nya, ﴾ فَلِنَفۡسِهِۦۖ ﴿ "maka untuk dirinya sendiri," yakni manfaat dan paha-lanya di dunia maupun di akhirat. ﴾ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ ﴿ "Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka akan menimpa dirinya sendiri," yakni bahaya dan siksaannya di dunia maupun di akhirat. Di sini terkandung himbauan untuk melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, dan bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan mendapat manfaat dari amal-amal kebaikan yang mereka lakukan, dan juga mendapat bahaya dari amal-amal buruk yang mereka kerjakan, dan sesungguhnya seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. ﴾ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba," sehingga membebani seseorang melebihi kesalahan-kesalahannya.
Fussilat 41:47
"KepadaNya-lah dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya. Pada hari Dia memanggil mereka, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu?' Mereka menjawab, 'Kami nyatakan kepadaMu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian.' Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu pun jalan keluar." (Fushshilat: 47-48).
(47-48) Ini adalah informasi tentang kemahaluasan ilmu Allah سبحانه وتعالى dan kekhususanNya dengan ilmu yang tidak ada yang mengetahuinya selain Dia, seraya berfirman, ﴾ إِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِۚ ﴿ "Kepa-daNya-lah dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat." Maksud-nya, seluruh makhluk mengembalikan pengetahuan tentang Kiamat kepada Allah سبحانه وتعالى dan mereka mengakui kelemahan mereka tentangnya. Para rasul, para malaikat dan lain-lainnya pun sama. ﴾ وَمَا تَخۡرُجُ مِن ثَمَرَٰتٖ مِّنۡ أَكۡمَامِهَا ﴿ "Dan tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya," yakni dari tempatnya ia keluar, dan ini meliputi semua buah-buahan seluruh pepohonan yang ada di berbagai ne-geri dan daratan; maka tidak ada satu pun buah salah suatu pohon keluar melainkan Dia mengetahuinya secara terperinci.﴾ وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung," maksud-nya, perempuan dari anak cucu Nabi Adam dan selain mereka dari seluruh jenis hewan melainkan berdasarkan pengetahuanNya, ﴾ وَلَا تَضَعُ ﴿ "dan tidak pula melahirkan" seorang perempuan akan kan-dungannya ﴾ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦۚ ﴿ "melainkan dengan sepengetahuanNya." Lalu bagaimana kaum musyrikin menyamakan sesuatu yang tidak mempunyai pengetahuan, pendengaran ataupun penglihatan dengan Allah سبحانه وتعالى? ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ ﴿ "Pada hari Dia memanggil mereka," maksudnya, memanggil orang-orang musyrik pada Hari Kiamat sebagai cercaan terhadap mereka dan untuk membeberkan kedustaan mereka. Lalu Dia berkata kepada mereka, ﴾ أَيۡنَ شُرَكَآءِي ﴿ "Di manakah sekutu-sekutuKu itu," yakni, yang kalian klaim bahwa mereka adalah se-kutu-sekutuKu, lalu kalian menyembahnya dan kalian mendebat (ayat-ayatKu) karenanya serta kalian melakukan permusuhan terhadap para rasulKu juga karenanya? ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka menjawab," seraya mengakui kepalsuan ketuhanan dan persekutuan sembahan-sembahan itu bersama Allah, ﴾ ءَاذَنَّٰكَ مَا مِنَّا مِن شَهِيدٖ ﴿ "Kami nyatakan kepadaMu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian," maksudnya, kami maklumkan kepadaMu, ya Rabb kami, dan berikanlah kesaksian kepada kami bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang bisa memberikan kesaksian akan kebe-naran ketuhanan dan persekutuan dari sembahan-sembahan itu. Jadi, masing-masing kami saat ini telah mengakui ketidakbenaran menyembahnya dan kami berlepas diri darinya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَدۡعُونَ ﴿ "Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu," selain Allah. Maksudnya, lenyaplah kepercayaan-kepercayaan dan amal perbuatan mereka yang karenanya mereka menghabiskan usia untuk menyembah selain Allah, dan mereka mengira bahwa itu semua berguna bagi mereka dan dapat mencegah azab dari mereka serta dapat memberikan syafa'at kepada mereka di sisi Allah. Sia-sialah usaha mereka dan batallah dugaan mereka serta tidak berguna sedikitpun sembahan-sembahan mereka itu. ﴾ وَظَنُّواْ ﴿ "Dan mereka mengira," maksudnya, mereka yakin pada saat itu, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa tidak ada bagi mereka satu pun jalan keluar," maksudnya, seorang penyelamat yang bisa menyelamatkan mereka, juga tidak seorang penolong ataupun tempat berlindung. Inilah akhir kesu-dahan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Allah menjelaskannya kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak mempersekutukanNya.
Fussilat 41:48
"KepadaNya-lah dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung dan tidak pula melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya. Pada hari Dia memanggil mereka, 'Di manakah sekutu-sekutuKu itu?' Mereka menjawab, 'Kami nyatakan kepadaMu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian.' Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu, dan mereka yakin bahwa tidak ada bagi mereka satu pun jalan keluar." (Fushshilat: 47-48).
(47-48) Ini adalah informasi tentang kemahaluasan ilmu Allah سبحانه وتعالى dan kekhususanNya dengan ilmu yang tidak ada yang mengetahuinya selain Dia, seraya berfirman, ﴾ إِلَيۡهِ يُرَدُّ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِۚ ﴿ "Kepa-daNya-lah dikembalikan pengetahuan tentang Hari Kiamat." Maksud-nya, seluruh makhluk mengembalikan pengetahuan tentang Kiamat kepada Allah سبحانه وتعالى dan mereka mengakui kelemahan mereka tentangnya. Para rasul, para malaikat dan lain-lainnya pun sama. ﴾ وَمَا تَخۡرُجُ مِن ثَمَرَٰتٖ مِّنۡ أَكۡمَامِهَا ﴿ "Dan tidak ada buah-buahan yang keluar dari kelopaknya," yakni dari tempatnya ia keluar, dan ini meliputi semua buah-buahan seluruh pepohonan yang ada di berbagai ne-geri dan daratan; maka tidak ada satu pun buah salah suatu pohon keluar melainkan Dia mengetahuinya secara terperinci.﴾ وَمَا تَحۡمِلُ مِنۡ أُنثَىٰ ﴿ "Dan tidak seorang perempuan pun yang mengandung," maksud-nya, perempuan dari anak cucu Nabi Adam dan selain mereka dari seluruh jenis hewan melainkan berdasarkan pengetahuanNya, ﴾ وَلَا تَضَعُ ﴿ "dan tidak pula melahirkan" seorang perempuan akan kan-dungannya ﴾ إِلَّا بِعِلۡمِهِۦۚ ﴿ "melainkan dengan sepengetahuanNya." Lalu bagaimana kaum musyrikin menyamakan sesuatu yang tidak mempunyai pengetahuan, pendengaran ataupun penglihatan dengan Allah سبحانه وتعالى? ﴾ وَيَوۡمَ يُنَادِيهِمۡ ﴿ "Pada hari Dia memanggil mereka," maksudnya, memanggil orang-orang musyrik pada Hari Kiamat sebagai cercaan terhadap mereka dan untuk membeberkan kedustaan mereka. Lalu Dia berkata kepada mereka, ﴾ أَيۡنَ شُرَكَآءِي ﴿ "Di manakah sekutu-sekutuKu itu," yakni, yang kalian klaim bahwa mereka adalah se-kutu-sekutuKu, lalu kalian menyembahnya dan kalian mendebat (ayat-ayatKu) karenanya serta kalian melakukan permusuhan terhadap para rasulKu juga karenanya? ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "Mereka menjawab," seraya mengakui kepalsuan ketuhanan dan persekutuan sembahan-sembahan itu bersama Allah, ﴾ ءَاذَنَّٰكَ مَا مِنَّا مِن شَهِيدٖ ﴿ "Kami nyatakan kepadaMu bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang memberi kesaksian," maksudnya, kami maklumkan kepadaMu, ya Rabb kami, dan berikanlah kesaksian kepada kami bahwa tidak ada seorang pun di antara kami yang bisa memberikan kesaksian akan kebe-naran ketuhanan dan persekutuan dari sembahan-sembahan itu. Jadi, masing-masing kami saat ini telah mengakui ketidakbenaran menyembahnya dan kami berlepas diri darinya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ وَضَلَّ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَدۡعُونَ ﴿ "Dan lenyaplah dari mereka apa yang selalu mereka sembah dahulu," selain Allah. Maksudnya, lenyaplah kepercayaan-kepercayaan dan amal perbuatan mereka yang karenanya mereka menghabiskan usia untuk menyembah selain Allah, dan mereka mengira bahwa itu semua berguna bagi mereka dan dapat mencegah azab dari mereka serta dapat memberikan syafa'at kepada mereka di sisi Allah. Sia-sialah usaha mereka dan batallah dugaan mereka serta tidak berguna sedikitpun sembahan-sembahan mereka itu. ﴾ وَظَنُّواْ ﴿ "Dan mereka mengira," maksudnya, mereka yakin pada saat itu, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa tidak ada bagi mereka satu pun jalan keluar," maksudnya, seorang penyelamat yang bisa menyelamatkan mereka, juga tidak seorang penolong ataupun tempat berlindung. Inilah akhir kesu-dahan orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. Allah menjelaskannya kepada hamba-hambaNya agar mereka tidak mempersekutukanNya.
Fussilat 41:49
"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka, maka dia menjadi putus asa lagi putus ha-rapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesung-guhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya.' Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia di-timpa malapetaka, maka ia banyak berdoa." (Fushshilat: 49-51).
(49) Ini adalah informasi tentang tabiat manusia sebagai-mana adanya, tidak mempunyai kesabaran dan ketangguhan da-lam melakukan kebaikan maupun mencegah diri dari keburukan kecuali orang dipindahkan oleh Allah dari kondisi ini ke tingkat kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ لَّا يَسۡـَٔمُ ٱلۡإِنسَٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Manusia tidak jemu memohon kebaikan," maksudnya, manusia tidak bosan berdoa kepada Allah untuk meminta kekayaan, harta, anak, dan berbagai tuntutan duniawi lainnya, dan ia terus melakukan itu, ia tidak pernah merasa puas dengan yang sedikit maupun dengan yang banyak darinya. Sekalipun ia telah memperoleh kekayaan dunia secukupnya, ia akan terus mencari untuk menambah. ﴾ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa malapetaka," maksud-nya, sesuatu yang tidak disukai, seperti penyakit, kefakiran dan berbagai cobaan lainnya, ﴾ فَيَـُٔوسٞ قَنُوطٞ ﴿ "maka dia menjadi putus asa lagi putus harapan." Maksudnya, ia berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bahwa cobaan itulah yang menentukan kebina-saannya, dan ia merasa terganggu dengan datangnya berbagai sebab yang tidak seperti apa yang ia suka dan ia cari. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Orang-orang yang beriman apabila dikaruniai kebaikan, kenikmatan dan apa-apa yang disukai maka mereka bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى, dan mereka khawatir kalau karunia-karunia Allah itu menjadi istidraj dan imhal (baca: azab yang ditimpakan secara perlahan. Pent). Dan jika mereka ditimpa suatu musibah pada diri, harta benda, atau pada anak-anak mereka, maka mereka sabar dan berharap akan karunia Rabbnya; mereka tidak berputus asa.
(50) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ ﴿ "Dan jika Kami merasakan kepadanya," maksudnya, kepada manusia yang tidak pernah bosan memohon kebaikan tersebut, dan apabila ia ditimpa keburukan lalu berputus asa, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sesuatu rahmat dari Kami," yakni, setelah keburukan yang menimpanya itu, yaitu dengan disembuhkan dari sakitnya, atau Allah berikan kekayaan padanya dari kefakirannya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى. Ia congkak dan semena-mena dan berkata, ﴾ هَٰذَا لِي ﴿ "Ini adalah hakku." Artinya, ia datang kepadaku karena aku memang pantas dan ber-hak mendapatkannya, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ ﴿ "dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang." Ini adalah sikap ingkarnya terhadap kebangkitan dan sikap kufurnya terhadap nikmat dan rahmat yang Allah berikan kepadanya untuk ia nikmati. ﴾ وَلَئِن رُّجِعۡتُ إِلَىٰ رَبِّيٓ إِنَّ لِي عِندَهُۥ لَلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya." Maksudnya, andai pun kiamat itu pasti dan aku akan dikembalikan kepada Allah, maka aku pasti memperoleh yang terbaik di sisiNya. Sebagaimana kenik-matan telah aku raih di dunia, maka sedemikian pula akan aku peroleh di akhirat nanti! Ini benar-benar merupakan kelancangan dan perkataan ter-hadap Allah tanpa dasar ilmu. Maka dari itu Allah mengancamnya dengan FirmanNya, ﴾ فَلَنُنَبِّئَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِمَا عَمِلُواْ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنۡ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras," yakni, yang sangat dahsyat sekali.
(51) ﴾ وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ ﴿ "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia," berupa kesehatan, rizki, atau lainnya ﴾ أَعۡرَضَ ﴿ "ia berpaling" dari Rabbnya dan dari mensyukuriNya, ﴾ وَنَـَٔا ﴿ "dan men-jauhkan diri," maksudnya, menghindarkan diri ﴾ بِجَانِبِهِۦ ﴿ "di samping-Nya," dengan sikap takjub dan sombong. ﴾ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Tetapi apabila ia ditimpa malapetaka," maksudnya, penyakit, kefakiran atau lainnya, ﴾ فَذُو دُعَآءٍ ﴿ "maka ia banyak berdoa," sangat sering sekali berdoa karena tidak mempunyai kesabaran. Tidak ada kesabaran saat ditimpa kesusahan dan tidak ada syukur saat mendapat kelapangan, kecuali orang yang diberi hida-yah oleh Allah dan diberi karuniaNya.
Fussilat 41:50
"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka, maka dia menjadi putus asa lagi putus ha-rapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesung-guhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya.' Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia di-timpa malapetaka, maka ia banyak berdoa." (Fushshilat: 49-51).
(49) Ini adalah informasi tentang tabiat manusia sebagai-mana adanya, tidak mempunyai kesabaran dan ketangguhan da-lam melakukan kebaikan maupun mencegah diri dari keburukan kecuali orang dipindahkan oleh Allah dari kondisi ini ke tingkat kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ لَّا يَسۡـَٔمُ ٱلۡإِنسَٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Manusia tidak jemu memohon kebaikan," maksudnya, manusia tidak bosan berdoa kepada Allah untuk meminta kekayaan, harta, anak, dan berbagai tuntutan duniawi lainnya, dan ia terus melakukan itu, ia tidak pernah merasa puas dengan yang sedikit maupun dengan yang banyak darinya. Sekalipun ia telah memperoleh kekayaan dunia secukupnya, ia akan terus mencari untuk menambah. ﴾ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa malapetaka," maksud-nya, sesuatu yang tidak disukai, seperti penyakit, kefakiran dan berbagai cobaan lainnya, ﴾ فَيَـُٔوسٞ قَنُوطٞ ﴿ "maka dia menjadi putus asa lagi putus harapan." Maksudnya, ia berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bahwa cobaan itulah yang menentukan kebina-saannya, dan ia merasa terganggu dengan datangnya berbagai sebab yang tidak seperti apa yang ia suka dan ia cari. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Orang-orang yang beriman apabila dikaruniai kebaikan, kenikmatan dan apa-apa yang disukai maka mereka bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى, dan mereka khawatir kalau karunia-karunia Allah itu menjadi istidraj dan imhal (baca: azab yang ditimpakan secara perlahan. Pent). Dan jika mereka ditimpa suatu musibah pada diri, harta benda, atau pada anak-anak mereka, maka mereka sabar dan berharap akan karunia Rabbnya; mereka tidak berputus asa.
(50) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ ﴿ "Dan jika Kami merasakan kepadanya," maksudnya, kepada manusia yang tidak pernah bosan memohon kebaikan tersebut, dan apabila ia ditimpa keburukan lalu berputus asa, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sesuatu rahmat dari Kami," yakni, setelah keburukan yang menimpanya itu, yaitu dengan disembuhkan dari sakitnya, atau Allah berikan kekayaan padanya dari kefakirannya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى. Ia congkak dan semena-mena dan berkata, ﴾ هَٰذَا لِي ﴿ "Ini adalah hakku." Artinya, ia datang kepadaku karena aku memang pantas dan ber-hak mendapatkannya, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ ﴿ "dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang." Ini adalah sikap ingkarnya terhadap kebangkitan dan sikap kufurnya terhadap nikmat dan rahmat yang Allah berikan kepadanya untuk ia nikmati. ﴾ وَلَئِن رُّجِعۡتُ إِلَىٰ رَبِّيٓ إِنَّ لِي عِندَهُۥ لَلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya." Maksudnya, andai pun kiamat itu pasti dan aku akan dikembalikan kepada Allah, maka aku pasti memperoleh yang terbaik di sisiNya. Sebagaimana kenik-matan telah aku raih di dunia, maka sedemikian pula akan aku peroleh di akhirat nanti! Ini benar-benar merupakan kelancangan dan perkataan ter-hadap Allah tanpa dasar ilmu. Maka dari itu Allah mengancamnya dengan FirmanNya, ﴾ فَلَنُنَبِّئَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِمَا عَمِلُواْ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنۡ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras," yakni, yang sangat dahsyat sekali.
(51) ﴾ وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ ﴿ "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia," berupa kesehatan, rizki, atau lainnya ﴾ أَعۡرَضَ ﴿ "ia berpaling" dari Rabbnya dan dari mensyukuriNya, ﴾ وَنَـَٔا ﴿ "dan men-jauhkan diri," maksudnya, menghindarkan diri ﴾ بِجَانِبِهِۦ ﴿ "di samping-Nya," dengan sikap takjub dan sombong. ﴾ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Tetapi apabila ia ditimpa malapetaka," maksudnya, penyakit, kefakiran atau lainnya, ﴾ فَذُو دُعَآءٍ ﴿ "maka ia banyak berdoa," sangat sering sekali berdoa karena tidak mempunyai kesabaran. Tidak ada kesabaran saat ditimpa kesusahan dan tidak ada syukur saat mendapat kelapangan, kecuali orang yang diberi hida-yah oleh Allah dan diberi karuniaNya.
Fussilat 41:51
"Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka, maka dia menjadi putus asa lagi putus ha-rapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata, 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesung-guhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya.' Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia di-timpa malapetaka, maka ia banyak berdoa." (Fushshilat: 49-51).
(49) Ini adalah informasi tentang tabiat manusia sebagai-mana adanya, tidak mempunyai kesabaran dan ketangguhan da-lam melakukan kebaikan maupun mencegah diri dari keburukan kecuali orang dipindahkan oleh Allah dari kondisi ini ke tingkat kesempurnaan, seraya berfirman, ﴾ لَّا يَسۡـَٔمُ ٱلۡإِنسَٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلۡخَيۡرِ ﴿ "Manusia tidak jemu memohon kebaikan," maksudnya, manusia tidak bosan berdoa kepada Allah untuk meminta kekayaan, harta, anak, dan berbagai tuntutan duniawi lainnya, dan ia terus melakukan itu, ia tidak pernah merasa puas dengan yang sedikit maupun dengan yang banyak darinya. Sekalipun ia telah memperoleh kekayaan dunia secukupnya, ia akan terus mencari untuk menambah. ﴾ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa malapetaka," maksud-nya, sesuatu yang tidak disukai, seperti penyakit, kefakiran dan berbagai cobaan lainnya, ﴾ فَيَـُٔوسٞ قَنُوطٞ ﴿ "maka dia menjadi putus asa lagi putus harapan." Maksudnya, ia berputus asa dari rahmat Allah سبحانه وتعالى, dan ia mengira bahwa cobaan itulah yang menentukan kebina-saannya, dan ia merasa terganggu dengan datangnya berbagai sebab yang tidak seperti apa yang ia suka dan ia cari. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Orang-orang yang beriman apabila dikaruniai kebaikan, kenikmatan dan apa-apa yang disukai maka mereka bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى, dan mereka khawatir kalau karunia-karunia Allah itu menjadi istidraj dan imhal (baca: azab yang ditimpakan secara perlahan. Pent). Dan jika mereka ditimpa suatu musibah pada diri, harta benda, atau pada anak-anak mereka, maka mereka sabar dan berharap akan karunia Rabbnya; mereka tidak berputus asa.
(50) Kemudian Allah berfirman, ﴾ وَلَئِنۡ أَذَقۡنَٰهُ ﴿ "Dan jika Kami merasakan kepadanya," maksudnya, kepada manusia yang tidak pernah bosan memohon kebaikan tersebut, dan apabila ia ditimpa keburukan lalu berputus asa, ﴾ رَحۡمَةٗ مِّنَّا ﴿ "sesuatu rahmat dari Kami," yakni, setelah keburukan yang menimpanya itu, yaitu dengan disembuhkan dari sakitnya, atau Allah berikan kekayaan padanya dari kefakirannya, maka ia tidak bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى. Ia congkak dan semena-mena dan berkata, ﴾ هَٰذَا لِي ﴿ "Ini adalah hakku." Artinya, ia datang kepadaku karena aku memang pantas dan ber-hak mendapatkannya, ﴾ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ ﴿ "dan aku tidak yakin bahwa Hari Kiamat itu akan datang." Ini adalah sikap ingkarnya terhadap kebangkitan dan sikap kufurnya terhadap nikmat dan rahmat yang Allah berikan kepadanya untuk ia nikmati. ﴾ وَلَئِن رُّجِعۡتُ إِلَىٰ رَبِّيٓ إِنَّ لِي عِندَهُۥ لَلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Dan jika aku dikembalikan kepada Rabbku, maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan di sisiNya." Maksudnya, andai pun kiamat itu pasti dan aku akan dikembalikan kepada Allah, maka aku pasti memperoleh yang terbaik di sisiNya. Sebagaimana kenik-matan telah aku raih di dunia, maka sedemikian pula akan aku peroleh di akhirat nanti! Ini benar-benar merupakan kelancangan dan perkataan ter-hadap Allah tanpa dasar ilmu. Maka dari itu Allah mengancamnya dengan FirmanNya, ﴾ فَلَنُنَبِّئَنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِمَا عَمِلُواْ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنۡ عَذَابٍ غَلِيظٖ ﴿ "Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras," yakni, yang sangat dahsyat sekali.
(51) ﴾ وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ ﴿ "Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia," berupa kesehatan, rizki, atau lainnya ﴾ أَعۡرَضَ ﴿ "ia berpaling" dari Rabbnya dan dari mensyukuriNya, ﴾ وَنَـَٔا ﴿ "dan men-jauhkan diri," maksudnya, menghindarkan diri ﴾ بِجَانِبِهِۦ ﴿ "di samping-Nya," dengan sikap takjub dan sombong. ﴾ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ ﴿ "Tetapi apabila ia ditimpa malapetaka," maksudnya, penyakit, kefakiran atau lainnya, ﴾ فَذُو دُعَآءٍ ﴿ "maka ia banyak berdoa," sangat sering sekali berdoa karena tidak mempunyai kesabaran. Tidak ada kesabaran saat ditimpa kesusahan dan tidak ada syukur saat mendapat kelapangan, kecuali orang yang diberi hida-yah oleh Allah dan diberi karuniaNya.
Fussilat 41:52
"Katakanlah, 'Bagaimana pendapatmu jika ia datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?' Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka. Ingatlah, bahwa sesung-guhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu." (Fushshilat: 52-54).
(52) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka yang mendustakan al-Qur`an, yang berlomba memilih kekafiran, ﴾ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ ﴿ "Ba-gaimana pendapatmu jika ia" maksudnya, al-Qur`an ini, ﴾ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ﴿ "datang dari sisi Allah," tanpa keraguan dan kebimbangan, ﴾ ثُمَّ كَفَرۡتُم بِهِۦ مَنۡ أَضَلُّ مِمَّنۡ هُوَ فِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ ﴿ "kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?" Yakni, menentang Allah dan RasulNya. Sebab sudah tampak jelas bagi kalian kebenaran dan yang benar, lalu kalian berpaling darinya, bukan kepada yang benar, melainkan kepada kebatilan dan kebodohan. Maka dengan demikian kalian menjadi manusia yang paling sesat dan paling zhalim.
(53) Jika kalian mengatakan atau kalian ragu terhadap ke-benaran dan hakikatnya, maka Allah akan menegakkan terhadap kalian dan akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tandaNya di ufuq, seperti tanda-tanda (ayat-ayat)Nya yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang Allah سبحانه وتعالى timbulkan dari berbagai keja-dian luar biasa yang menunjukkan kepada kebenaran bagi orang yang mencari tahu, ﴾ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan pada diri mereka sendiri," dari apa-apa yang diliputi oleh raga mereka berupa keindahan ciptaan (tanda-tanda kekuasan) Allah dan betapa luar biasanya kekuasaan-Nya, dan pada berbagai azab dan bencana yang menimpa orang-orang yang mendustakan, serta pada kemenangan orang-orang yang beriman, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ ﴿ "sehingga jelaslah bagi mereka" dari tanda-tanda itu dengan penjelasan yang tidak ada keraguannya, ﴾ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "bahwa ia benar" dan apa yang dikandungnya pun benar. Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu, dan Allah telah memperli-hatkan kepada hamba-hambaNya sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda) yang dengannya menjadi terbukti bahwa al-Qur`an itu benar. Akan tetapi Allah-lah yang memberikan bimbingan dan taufikNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk beriman, dan yang menelantarkan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" Maksudnya, apakah tidak cukup kesaksian Allah سبحانه وتعالى bagi mereka untuk mem-buktikan bahwa al-Qur`an ini adalah benar dan orang yang mem-bawanya adalah seorang yang jujur, yaitu kesaksian Allah سبحانه وتعالى yang telah mempersaksikan kebenarannya, dan Dia adalah sebenar-benar saksi, dan Dia juga telah mendukungnya dan memberikannya per-tolongan yang mengandung makna kesaksianNya bagi siapa saja yang meragukannya.
(54) ﴾ أَلَآ إِنَّهُمۡ فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡۗ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka," maksudnya, berada dalam kebimbangan atas kebenaran kebang-kitan dan Hari Kiamat dan mereka tidak mempunyai negeri lain selain dunia, maka dari itu mereka tidak beramal untuk akhirat dan tidak menghiraukannya. ﴾ أَلَآ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٖ مُّحِيطُۢ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu," dari segi ilmu pe-ngetahuan, kekuasaan dan keperkasaan.
Selesailah tafsir surat Fushshilat (Ha Mim as-Sajdah) berkat karunia Allah سبحانه وتعالى.
Fussilat 41:53
"Katakanlah, 'Bagaimana pendapatmu jika ia datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?' Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka. Ingatlah, bahwa sesung-guhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu." (Fushshilat: 52-54).
(52) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka yang mendustakan al-Qur`an, yang berlomba memilih kekafiran, ﴾ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ ﴿ "Ba-gaimana pendapatmu jika ia" maksudnya, al-Qur`an ini, ﴾ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ﴿ "datang dari sisi Allah," tanpa keraguan dan kebimbangan, ﴾ ثُمَّ كَفَرۡتُم بِهِۦ مَنۡ أَضَلُّ مِمَّنۡ هُوَ فِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ ﴿ "kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?" Yakni, menentang Allah dan RasulNya. Sebab sudah tampak jelas bagi kalian kebenaran dan yang benar, lalu kalian berpaling darinya, bukan kepada yang benar, melainkan kepada kebatilan dan kebodohan. Maka dengan demikian kalian menjadi manusia yang paling sesat dan paling zhalim.
(53) Jika kalian mengatakan atau kalian ragu terhadap ke-benaran dan hakikatnya, maka Allah akan menegakkan terhadap kalian dan akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tandaNya di ufuq, seperti tanda-tanda (ayat-ayat)Nya yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang Allah سبحانه وتعالى timbulkan dari berbagai keja-dian luar biasa yang menunjukkan kepada kebenaran bagi orang yang mencari tahu, ﴾ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan pada diri mereka sendiri," dari apa-apa yang diliputi oleh raga mereka berupa keindahan ciptaan (tanda-tanda kekuasan) Allah dan betapa luar biasanya kekuasaan-Nya, dan pada berbagai azab dan bencana yang menimpa orang-orang yang mendustakan, serta pada kemenangan orang-orang yang beriman, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ ﴿ "sehingga jelaslah bagi mereka" dari tanda-tanda itu dengan penjelasan yang tidak ada keraguannya, ﴾ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "bahwa ia benar" dan apa yang dikandungnya pun benar. Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu, dan Allah telah memperli-hatkan kepada hamba-hambaNya sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda) yang dengannya menjadi terbukti bahwa al-Qur`an itu benar. Akan tetapi Allah-lah yang memberikan bimbingan dan taufikNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk beriman, dan yang menelantarkan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" Maksudnya, apakah tidak cukup kesaksian Allah سبحانه وتعالى bagi mereka untuk mem-buktikan bahwa al-Qur`an ini adalah benar dan orang yang mem-bawanya adalah seorang yang jujur, yaitu kesaksian Allah سبحانه وتعالى yang telah mempersaksikan kebenarannya, dan Dia adalah sebenar-benar saksi, dan Dia juga telah mendukungnya dan memberikannya per-tolongan yang mengandung makna kesaksianNya bagi siapa saja yang meragukannya.
(54) ﴾ أَلَآ إِنَّهُمۡ فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡۗ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka," maksudnya, berada dalam kebimbangan atas kebenaran kebang-kitan dan Hari Kiamat dan mereka tidak mempunyai negeri lain selain dunia, maka dari itu mereka tidak beramal untuk akhirat dan tidak menghiraukannya. ﴾ أَلَآ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٖ مُّحِيطُۢ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu," dari segi ilmu pe-ngetahuan, kekuasaan dan keperkasaan.
Selesailah tafsir surat Fushshilat (Ha Mim as-Sajdah) berkat karunia Allah سبحانه وتعالى.
Fussilat 41:54
"Katakanlah, 'Bagaimana pendapatmu jika ia datang dari sisi Allah, kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?' Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa ia itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka. Ingatlah, bahwa sesung-guhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu." (Fushshilat: 52-54).
(52) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka yang mendustakan al-Qur`an, yang berlomba memilih kekafiran, ﴾ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ ﴿ "Ba-gaimana pendapatmu jika ia" maksudnya, al-Qur`an ini, ﴾ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ﴿ "datang dari sisi Allah," tanpa keraguan dan kebimbangan, ﴾ ثُمَّ كَفَرۡتُم بِهِۦ مَنۡ أَضَلُّ مِمَّنۡ هُوَ فِي شِقَاقِۭ بَعِيدٖ ﴿ "kemudian kamu mengingkarinya. Siapakah yang lebih sesat daripada orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?" Yakni, menentang Allah dan RasulNya. Sebab sudah tampak jelas bagi kalian kebenaran dan yang benar, lalu kalian berpaling darinya, bukan kepada yang benar, melainkan kepada kebatilan dan kebodohan. Maka dengan demikian kalian menjadi manusia yang paling sesat dan paling zhalim.
(53) Jika kalian mengatakan atau kalian ragu terhadap ke-benaran dan hakikatnya, maka Allah akan menegakkan terhadap kalian dan akan memperlihatkan kepada kalian tanda-tandaNya di ufuq, seperti tanda-tanda (ayat-ayat)Nya yang ada di langit dan di bumi dan apa-apa yang Allah سبحانه وتعالى timbulkan dari berbagai keja-dian luar biasa yang menunjukkan kepada kebenaran bagi orang yang mencari tahu, ﴾ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan pada diri mereka sendiri," dari apa-apa yang diliputi oleh raga mereka berupa keindahan ciptaan (tanda-tanda kekuasan) Allah dan betapa luar biasanya kekuasaan-Nya, dan pada berbagai azab dan bencana yang menimpa orang-orang yang mendustakan, serta pada kemenangan orang-orang yang beriman, ﴾ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ ﴿ "sehingga jelaslah bagi mereka" dari tanda-tanda itu dengan penjelasan yang tidak ada keraguannya, ﴾ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "bahwa ia benar" dan apa yang dikandungnya pun benar. Allah سبحانه وتعالى telah melakukan hal itu, dan Allah telah memperli-hatkan kepada hamba-hambaNya sebagian dari ayat-ayat (tanda-tanda) yang dengannya menjadi terbukti bahwa al-Qur`an itu benar. Akan tetapi Allah-lah yang memberikan bimbingan dan taufikNya kepada siapa saja yang Dia kehendaki untuk beriman, dan yang menelantarkan siapa saja yang Dia kehendaki. ﴾ أَوَلَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan apakah Rabbmu tidak cukup bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" Maksudnya, apakah tidak cukup kesaksian Allah سبحانه وتعالى bagi mereka untuk mem-buktikan bahwa al-Qur`an ini adalah benar dan orang yang mem-bawanya adalah seorang yang jujur, yaitu kesaksian Allah سبحانه وتعالى yang telah mempersaksikan kebenarannya, dan Dia adalah sebenar-benar saksi, dan Dia juga telah mendukungnya dan memberikannya per-tolongan yang mengandung makna kesaksianNya bagi siapa saja yang meragukannya.
(54) ﴾ أَلَآ إِنَّهُمۡ فِي مِرۡيَةٖ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡۗ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Rabb mereka," maksudnya, berada dalam kebimbangan atas kebenaran kebang-kitan dan Hari Kiamat dan mereka tidak mempunyai negeri lain selain dunia, maka dari itu mereka tidak beramal untuk akhirat dan tidak menghiraukannya. ﴾ أَلَآ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٖ مُّحِيطُۢ ﴿ "Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu," dari segi ilmu pe-ngetahuan, kekuasaan dan keperkasaan.
Selesailah tafsir surat Fushshilat (Ha Mim as-Sajdah) berkat karunia Allah سبحانه وتعالى.
Asy-Syura 42:1
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:2
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:3
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:4
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:5
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:6
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:7
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:8
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:9
"Ha Mim. 'Ain Sin Qaf. Demikianlah Allah, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana, mewahyukan kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. KepunyaanNya-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha-tinggi lagi Mahabesar. Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Rabbnya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pengam-pun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi mereka; dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka. Demikian-lah Kami wahyukan kepadamu al-Qur`an dalam bahasa Arab su-paya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura dan penduduk sekelilingnya serta memberi peringatan pula tentang hari berkum-pul yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Allah menjadikan mereka satu umat saja, tetapi Dia me-masukkan orang-orang yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zhalim tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong. Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dia-lah Pelindung dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Asy-Syura: 1-9).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
(1-5) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwasanya Dia mewahyu-kan al-Qur`an agung ini kepada Nabi yang mulia sebagaimana Dia telah mewahyukan kepada para nabi dan para rasul sebelum beliau. Dalam berita ini terdapat karuniaNya berupa penurunan kitab-kitab suci dan pengutusan para rasul di masa dahulu dan berikutnya, dan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad a bukan-lah rasul pertama, dan bahwa sesungguhnya jalan yang ia tempuh adalah jalan para rasul sebelum beliau, dan kondisi-kondisinya pun sama dengan kondisi-kondisi para rasul sebelum beliau, dan apa yang beliau bawa (yaitu ajaran) serupa dengan ajaran yang mereka bawa. Sebab semuanya adalah benar dan kebenaran, yaitu diturun-kan dari Tuhan Yang menyandang sifat ketuhanan (uluhiyah), ke-perkasaan agung, kebijaksanaan sempurna, seluruh alam atas dan alam bawah adalah kerajaanNya dan berada di bawah kendaliNya, baik secara takdir maupun syar'i, dan sesungguhnya Dia ﴾ ٱلۡعَلِيُّ ﴿ "Yang Mahatinggi," Dzat, kemuliaan, dan keperkasaanNya, ﴾ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "lagi Mahabesar," yang karena kebesaranNya,﴾ تَكَادُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ يَتَفَطَّرۡنَ مِن فَوۡقِهِنَّۚ ﴿ "hampir saja langit itu pecah dari sebelah atasnya," padahal keduanya sangat luar biasa besarnya dan keduanya adalah benda mati. ﴾ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "Dan malaikat-malaikat," yang mulia lagi didekat-kan, tunduk kepada keagunganNya dan bersikap hina dina karena keperkasaanNya, patuh kepada RububiyahNya, ﴾ يُسَبِّحُونَ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ ﴿ "mereka bertasbih dengan memuji Rabbnya," mereka mengagungkan-Nya dari segala kekurangan dan menyifatiNya dengan segala sifat kesempurnaan, ﴾ وَيَسۡتَغۡفِرُونَ لِمَن فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi," dari hal-hal yang timbul dari mereka, yaitu segala apa yang tidak laik dengan keagungan dan kebesaran Allah, padahal Dia ﴾ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," yang kalau saja bukan karena ampunan dan rahmat-Nya, tentu Dia segera menimpakan hukuman yang membinasakan terhadap manusia. Di dalam pengungkapan terhadap Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifat tersebut di atas setelah Dia menjelaskan bahwasanya Dia telah mewahyukan kepada para rasul pada umumnya dan kepada Nabi Muhammad a pada khususnya, terdapat sebuah isyarat bahwa al-Qur`an al-Karim ini mengandung dalil-dalil dan argumen-argumen serta ayat-ayat yang membuktikan akan kesempurnaan Sang Pen-cipta, Allah سبحانه وتعالى, dan pengungkapan tentang Allah dengan nama-nama yang agung yang menyebabkan hati penuh dengan ma'rifat, kecintaan, pengagungan, penghormatan dan pemuliaan kepadaNya serta memusatkan segala bentuk penghambaan lahir dan batin hanya kepadaNya. Dan sesungguhnya kezhaliman yang paling besar dan perkataan (keyakinan) yang paling keji adalah pengang-katan sembahan-sembahan selain Allah, yang mereka sama sekali tidak memiliki kuasa memberikan manfaat ataupun menimpakan bahaya, melainkan mereka adalah makhluk yang bergantung ke-pada Allah سبحانه وتعالى dalam seluruh kondisi dan perihal mereka.
(6) Maka dari itu Allah melanjutkan FirmanNya dengan, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ ﴿ "Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah," di mana mereka berloyalitas kepada para pelindung itu dengan menyembah dan taat kepada mereka seperti halnya mereka beribadah dan taat kepada Allah, maka mereka se-sungguhnya telah mengambil (melakukan) kebatilan, dan apa yang mereka sembah itu sebenarnya bukan pelindung, ﴾ ٱللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Allah mengawasi mereka," Yang memelihara amal perbuatan mereka, dan kemudian akan memberikan balasannya terhadap yang baik dan yang buruknya, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِوَكِيلٖ ﴿ "dan kamu bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka," lalu akan diminta pertanggung-jawaban atas amal perbuatan mereka. Kamu sesungguhnya hanya-lah penyampai yang telah menunaikan tugasmu.
(7) Kemudian Allah menyebutkan karuniaNya kepada RasulNya dan kepada manusia pada umumnya, di mana Allah telah menurunkan ﴾ قُرۡءَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "al-Qur`an dalam bahasa Arab," yang sangat jelas lafazh-lafazh dan maknanya, ﴾ لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura," maksudnya, Makkah al-Mukarramah ﴾ وَمَنۡ حَوۡلَهَا ﴿ "dan penduduk sekelilingnya" dari per-kampungan-perkampungan orang-orang Arab, kemudian pem-berian peringatan ini terus merambat ke seluruh manusia, ﴾ وَتُنذِرَ ﴿ "serta memberi peringatan pula" kepada manusia ﴾ يَوۡمَ ٱلۡجَمۡعِ ﴿ "tentang hari berkumpul," yang pada hari itu Allah menghimpun orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian. Dan kamu sampaikan kepada mereka bahwa ﴾ لَا رَيۡبَ فِيهِۚ ﴿ "tidak ada keraguan padanya," dan manusia pada hari itu terbagi menjadi dua kelompok: Satu kelom-pok ﴾ فِي ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "masuk surga," yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul; dan sekelompok lagi ﴾ فِي ٱلسَّعِيرِ ﴿ "masuk neraka" yaitu berbagai kelompok orang-orang kafir yang mendustakan.
(8) ﴾ و َ ﴿ "Dan" meskipun itu semua, kalau Allah menghen-daki, niscaya Dia menjadikan manusia ﴾ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ ﴿ "satu umat saja," semuanya di atas petunjuk. Sebab Dia-lah Yang Kuasa, tidak ada sesuatu apa pun yang sukar bagiNya. Akan tetapi Dia hendak memasukkan ke dalam rahmatNya orang-orang yang dikehendaki-Nya di antara manusia-manusia pilihanNya. Adapun orang-orang yang zhalim yang tidak bisa beramal shalih maka mereka adalah orang-orang yang dihalangi dari rahmatNya. Mereka sama sekali tidak akan mendapatkan seorang pelindung pun yang dapat me-lindungi mereka yang bisa mewujudkan impian mereka, dan tidak ada pula seorang penolong yang menolak bahaya dari mereka.
(9) Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, di mana mereka loyal kepada mereka dengan menyem-bahnya, mereka benar-benar telah melakukan kekeliruan yang jauh, ﴾ فَٱللَّهُ هُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "Allah-lah Pelindung," yang diloyalitasi oleh hambaNya dengan ibadah dan taat kepadaNya serta bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadaNya dengan berbagai macam bentuk taqarrub yang mampu ia lakukan. Dan Dia mengatur hamba-hambaNya umum-nya dengan pengelolaan dan kekuatan takdirNya terhadap mereka, dan Dia mengatur hamba-hambaNya yang beriman khususnya dengan mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya, membina mereka dengan kelembutanNya dan memberi-kan pertolongan kepada mereka dalam semua urusan mereka. ﴾ وَهُوَ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Mahakuasa atas segala sesuatu," artinya, Dia-lah yang bertindak menghidupkan dan mematikan, terealisasi kehen-dak dan KuasaNya. Maka Dia-lah yang berhak disembah, tiada sekutu bagiNya.
Asy-Syura 42:10
"Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. Itulah Allah Rabbku. KepadaNya-lah aku bertawa-kal dan kepadaNya-lah aku kembali. Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pa-sangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. KepunyaanNya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehen-dakiNya dan menyempitkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Asy-Syura: 10-12).
(10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ ﴿ "Tentang se-suatu apa pun kamu berselisih," baik dalam masalah prinsip-prinsip agama kalian atau cabang-cabangnya yang kalian belum menye-pakatinya, ﴾ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka putusannya kepada Allah," artinya harus dikembalikan kepada al-Qur`an dan Hadits RasulNya. Dan apa pun ketentuan al-Qur`an dan hadits itu, maka itulah yang benar, dan apa pun yang menyalahi keduanya, itulah yang batil. ﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي ﴿ "Itulah Allah Rabbku," maksudnya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur, maka Dia-lah hakim (pemberi keputusan) di antara hamba-hambaNya melalui syariatNya dalam segala urusan mereka. Pengertian (mafhum) dari ayat suci ini adalah bahwa "kesepa-katan umat Islam itu hujjah yang pasti." Sebab Allah سبحانه وتعالى tidak menyu-ruh kita untuk mengembalikan kepadaNya kecuali hal-hal yang kita perselisihkan. Sedangkan apa yang telah kita sepakati cukup menjadi kesepakatan umat, sebab umat Islam itu terjaga dari keke-liruan, dan sudah pasti kesepakatan mereka tersebut sejalan dengan ajaran yang ada di dalam al-Qur`an dan Hadits Rasulullah a. FirmanNya, ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "KepadaNya-lah aku bertawakal" artinya, aku menyandarkan diri dengan hatiku kepadaNya dalam mencari kebaikan dan menolak keburukan, dengan yakin kepada-Nya dalam pemberian pertolonganNya, ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "dan kepadaNya-lah aku kembali," artinya, aku menghadapkan diri dengan jiwa dan ragaku kepadaNya dan dengan taat dan ibadah kepadaNya. Dua prinsip ini sering sekali disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Kitab-Nya. Sebab, dengan keduanya kesempurnaan seorang hamba dapat dicapai. Dan kesempurnaan tidak akan dapat ia raih dengan ketia-daan dua prinsip ini atau ketiadaan salah satunya. Sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5); dan juga FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka beribadahlah kalian kepadaNya dan bertawakallah kepada-Nya." (Hud: 123).
(11) ﴾ فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Pencipta langit dan bumi," maksud-nya, Pembuat keduanya dengan Kuasa, kehendak, dan kebijaksa-naanNya, ﴾ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan," agar kalian merasakan ketentraman kepadanya dan berkembang biak dari kalian anak keturunan dan kalian memperoleh banyak keuntungan. ﴾ وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula," dan dari berbagai jenisnya dua macam: Jantan dan betina, agar ia tetap tersisa dan berkembang biak untuk kemaslahatan kalian yang banyak sekali. Maka dari itu Allah menggunakan huruf lam sebagai alat bantu transitif (yang bermakna untuk), sehingga maknanya, Dia menjadi-kan itu semua untuk kalian dan untuk mengaruniakannya kepada kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ ﴿ "DijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu," yakni mengembangkan dan memperbanyak kalian, memperbanyak hewan-hewan ternak kalian disebabkan Dia telah menciptakan dari diri kalian dan menciptakan pula untuk kalian pasangan-pasangan. ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia," artinya, tidak ada sesuatu apa pun dari makhlukNya yang menyerupai ataupun menyamaiNya, baik pada DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Sebab semua nama-nama adalah sangat indah dan semua sifat-sifatNya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, dan perbuatan-perbuatanNya (af'al), yang dengannya Dia menciptakan seluruh ciptaan-ciptaan yang luar biasa besarnya ini, tidak ada sesuatu pun yang menyertaiNya. Maka tidak ada sesuatu apa pun yang semisal denganNya, karena kemanunggalan dan keesaanNya dengan ke-sempurnaan dari segala sisi. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan berbagai macam bahasa, dengan berbagai dialek. ﴾ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Lagi Maha Melihat," Dia melihat langkah seekor semut hitam nan kecil di malam yang gulita di atas batu hitam nan keras, dan Dia melihat mengalirnya makanan di dalam anggota tubuh hewan-hewan yang sangat kecil sekalipun, dan juga aliran air di dalam dahan-dahan kayu yang sangat rumit. Ayat ini dan yang lainnya adalah dalil Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan menafikan keseru-paanNya dengan makhluk. Dan di dalamnya juga terdapat sang-gahan terhadap kaum Musyabbihah (sekte yang meyakini Allah sama dengan makhlukNya. pent), yaitu terletak pada FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia," dan juga sanggahan terhadap sekte Mu'aththilah (sekte yang tidak meyakini adanya sifat bagi Allah, pent), yaitu pada FirmanNya, ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mendengar lagi Maha Melihat."
(12) ﴾ لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "KepunyaanNya-lah perbenda-haraan langit dan bumi." MilikNya-lah kerajaan langit dan bumi, di TanganNya-lah semua kunci rahmat, rizki dan berbagai kenikmatan yang lahir dan yang batin. Jadi, semua makhluk bergantung kepada Allah سبحانه وتعالى dalam mencari kebaikan mereka dan mencegah berbagai keburukan dari mereka, dalam setiap keadaan. Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas. Allah-lah Yang Maha Memberi, Yang menahan, Yang dapat menimpakan mudarat dan dapat menda-tangkan manfaat, yang tiada suatu nikmat pun ada pada hamba-hamba ini melainkan ia berasal dariNya, dan tidak ada yang bisa mencegah keburukan selain Dia. Dan apa pun rahmat yang Allah bukakan untuk manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya, dan apa pun yang Dia tahan, maka tidak ada yang bisa melepas-kannya selain Dia. Maka dari itu di sini Dia berfirman,﴾ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, melapangkannya dan memberikannya dari berbagai macam rizki yang Dia kehendaki, ﴾ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "dan menyempitkan," maksud-nya, menyusahkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki hingga hanya sebatas keperluannya saja, tidak lebih dari itu. Semua itu tergantung kepada ilmu dan kebijaksanaanNya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," yakni Dia mengetahui kondisi hamba-hambaNya sehingga memberi masing-masing sesuai dengan kebijaksanaanNya dan menurut tuntutan kehendakNya.
Asy-Syura 42:11
"Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. Itulah Allah Rabbku. KepadaNya-lah aku bertawa-kal dan kepadaNya-lah aku kembali. Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pa-sangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. KepunyaanNya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehen-dakiNya dan menyempitkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Asy-Syura: 10-12).
(10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ ﴿ "Tentang se-suatu apa pun kamu berselisih," baik dalam masalah prinsip-prinsip agama kalian atau cabang-cabangnya yang kalian belum menye-pakatinya, ﴾ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka putusannya kepada Allah," artinya harus dikembalikan kepada al-Qur`an dan Hadits RasulNya. Dan apa pun ketentuan al-Qur`an dan hadits itu, maka itulah yang benar, dan apa pun yang menyalahi keduanya, itulah yang batil. ﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي ﴿ "Itulah Allah Rabbku," maksudnya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur, maka Dia-lah hakim (pemberi keputusan) di antara hamba-hambaNya melalui syariatNya dalam segala urusan mereka. Pengertian (mafhum) dari ayat suci ini adalah bahwa "kesepa-katan umat Islam itu hujjah yang pasti." Sebab Allah سبحانه وتعالى tidak menyu-ruh kita untuk mengembalikan kepadaNya kecuali hal-hal yang kita perselisihkan. Sedangkan apa yang telah kita sepakati cukup menjadi kesepakatan umat, sebab umat Islam itu terjaga dari keke-liruan, dan sudah pasti kesepakatan mereka tersebut sejalan dengan ajaran yang ada di dalam al-Qur`an dan Hadits Rasulullah a. FirmanNya, ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "KepadaNya-lah aku bertawakal" artinya, aku menyandarkan diri dengan hatiku kepadaNya dalam mencari kebaikan dan menolak keburukan, dengan yakin kepada-Nya dalam pemberian pertolonganNya, ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "dan kepadaNya-lah aku kembali," artinya, aku menghadapkan diri dengan jiwa dan ragaku kepadaNya dan dengan taat dan ibadah kepadaNya. Dua prinsip ini sering sekali disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Kitab-Nya. Sebab, dengan keduanya kesempurnaan seorang hamba dapat dicapai. Dan kesempurnaan tidak akan dapat ia raih dengan ketia-daan dua prinsip ini atau ketiadaan salah satunya. Sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5); dan juga FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka beribadahlah kalian kepadaNya dan bertawakallah kepada-Nya." (Hud: 123).
(11) ﴾ فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Pencipta langit dan bumi," maksud-nya, Pembuat keduanya dengan Kuasa, kehendak, dan kebijaksa-naanNya, ﴾ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan," agar kalian merasakan ketentraman kepadanya dan berkembang biak dari kalian anak keturunan dan kalian memperoleh banyak keuntungan. ﴾ وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula," dan dari berbagai jenisnya dua macam: Jantan dan betina, agar ia tetap tersisa dan berkembang biak untuk kemaslahatan kalian yang banyak sekali. Maka dari itu Allah menggunakan huruf lam sebagai alat bantu transitif (yang bermakna untuk), sehingga maknanya, Dia menjadi-kan itu semua untuk kalian dan untuk mengaruniakannya kepada kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ ﴿ "DijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu," yakni mengembangkan dan memperbanyak kalian, memperbanyak hewan-hewan ternak kalian disebabkan Dia telah menciptakan dari diri kalian dan menciptakan pula untuk kalian pasangan-pasangan. ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia," artinya, tidak ada sesuatu apa pun dari makhlukNya yang menyerupai ataupun menyamaiNya, baik pada DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Sebab semua nama-nama adalah sangat indah dan semua sifat-sifatNya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, dan perbuatan-perbuatanNya (af'al), yang dengannya Dia menciptakan seluruh ciptaan-ciptaan yang luar biasa besarnya ini, tidak ada sesuatu pun yang menyertaiNya. Maka tidak ada sesuatu apa pun yang semisal denganNya, karena kemanunggalan dan keesaanNya dengan ke-sempurnaan dari segala sisi. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan berbagai macam bahasa, dengan berbagai dialek. ﴾ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Lagi Maha Melihat," Dia melihat langkah seekor semut hitam nan kecil di malam yang gulita di atas batu hitam nan keras, dan Dia melihat mengalirnya makanan di dalam anggota tubuh hewan-hewan yang sangat kecil sekalipun, dan juga aliran air di dalam dahan-dahan kayu yang sangat rumit. Ayat ini dan yang lainnya adalah dalil Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan menafikan keseru-paanNya dengan makhluk. Dan di dalamnya juga terdapat sang-gahan terhadap kaum Musyabbihah (sekte yang meyakini Allah sama dengan makhlukNya. pent), yaitu terletak pada FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia," dan juga sanggahan terhadap sekte Mu'aththilah (sekte yang tidak meyakini adanya sifat bagi Allah, pent), yaitu pada FirmanNya, ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mendengar lagi Maha Melihat."
(12) ﴾ لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "KepunyaanNya-lah perbenda-haraan langit dan bumi." MilikNya-lah kerajaan langit dan bumi, di TanganNya-lah semua kunci rahmat, rizki dan berbagai kenikmatan yang lahir dan yang batin. Jadi, semua makhluk bergantung kepada Allah سبحانه وتعالى dalam mencari kebaikan mereka dan mencegah berbagai keburukan dari mereka, dalam setiap keadaan. Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas. Allah-lah Yang Maha Memberi, Yang menahan, Yang dapat menimpakan mudarat dan dapat menda-tangkan manfaat, yang tiada suatu nikmat pun ada pada hamba-hamba ini melainkan ia berasal dariNya, dan tidak ada yang bisa mencegah keburukan selain Dia. Dan apa pun rahmat yang Allah bukakan untuk manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya, dan apa pun yang Dia tahan, maka tidak ada yang bisa melepas-kannya selain Dia. Maka dari itu di sini Dia berfirman,﴾ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, melapangkannya dan memberikannya dari berbagai macam rizki yang Dia kehendaki, ﴾ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "dan menyempitkan," maksud-nya, menyusahkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki hingga hanya sebatas keperluannya saja, tidak lebih dari itu. Semua itu tergantung kepada ilmu dan kebijaksanaanNya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," yakni Dia mengetahui kondisi hamba-hambaNya sehingga memberi masing-masing sesuai dengan kebijaksanaanNya dan menurut tuntutan kehendakNya.
Asy-Syura 42:12
"Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih, maka putusannya kepada Allah. Itulah Allah Rabbku. KepadaNya-lah aku bertawa-kal dan kepadaNya-lah aku kembali. Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pa-sangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula, dijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. KepunyaanNya-lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehen-dakiNya dan menyempitkan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Asy-Syura: 10-12).
(10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ ﴿ "Tentang se-suatu apa pun kamu berselisih," baik dalam masalah prinsip-prinsip agama kalian atau cabang-cabangnya yang kalian belum menye-pakatinya, ﴾ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "maka putusannya kepada Allah," artinya harus dikembalikan kepada al-Qur`an dan Hadits RasulNya. Dan apa pun ketentuan al-Qur`an dan hadits itu, maka itulah yang benar, dan apa pun yang menyalahi keduanya, itulah yang batil. ﴾ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبِّي ﴿ "Itulah Allah Rabbku," maksudnya, karena Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur, maka Dia-lah hakim (pemberi keputusan) di antara hamba-hambaNya melalui syariatNya dalam segala urusan mereka. Pengertian (mafhum) dari ayat suci ini adalah bahwa "kesepa-katan umat Islam itu hujjah yang pasti." Sebab Allah سبحانه وتعالى tidak menyu-ruh kita untuk mengembalikan kepadaNya kecuali hal-hal yang kita perselisihkan. Sedangkan apa yang telah kita sepakati cukup menjadi kesepakatan umat, sebab umat Islam itu terjaga dari keke-liruan, dan sudah pasti kesepakatan mereka tersebut sejalan dengan ajaran yang ada di dalam al-Qur`an dan Hadits Rasulullah a. FirmanNya, ﴾ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُ ﴿ "KepadaNya-lah aku bertawakal" artinya, aku menyandarkan diri dengan hatiku kepadaNya dalam mencari kebaikan dan menolak keburukan, dengan yakin kepada-Nya dalam pemberian pertolonganNya, ﴾ وَإِلَيۡهِ أُنِيبُ ﴿ "dan kepadaNya-lah aku kembali," artinya, aku menghadapkan diri dengan jiwa dan ragaku kepadaNya dan dengan taat dan ibadah kepadaNya. Dua prinsip ini sering sekali disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى di dalam Kitab-Nya. Sebab, dengan keduanya kesempurnaan seorang hamba dapat dicapai. Dan kesempurnaan tidak akan dapat ia raih dengan ketia-daan dua prinsip ini atau ketiadaan salah satunya. Sama seperti Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ 5 ﴿ "Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami meminta pertolongan." (Al-Fatihah: 5); dan juga FirmanNya, ﴾ فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Maka beribadahlah kalian kepadaNya dan bertawakallah kepada-Nya." (Hud: 123).
(11) ﴾ فَاطِرُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Pencipta langit dan bumi," maksud-nya, Pembuat keduanya dengan Kuasa, kehendak, dan kebijaksa-naanNya, ﴾ جَعَلَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan," agar kalian merasakan ketentraman kepadanya dan berkembang biak dari kalian anak keturunan dan kalian memperoleh banyak keuntungan. ﴾ وَمِنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ أَزۡوَٰجٗا ﴿ "Dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan pula," dan dari berbagai jenisnya dua macam: Jantan dan betina, agar ia tetap tersisa dan berkembang biak untuk kemaslahatan kalian yang banyak sekali. Maka dari itu Allah menggunakan huruf lam sebagai alat bantu transitif (yang bermakna untuk), sehingga maknanya, Dia menjadi-kan itu semua untuk kalian dan untuk mengaruniakannya kepada kalian. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ يَذۡرَؤُكُمۡ فِيهِۚ ﴿ "DijadikanNya kamu berkembang biak dengan jalan itu," yakni mengembangkan dan memperbanyak kalian, memperbanyak hewan-hewan ternak kalian disebabkan Dia telah menciptakan dari diri kalian dan menciptakan pula untuk kalian pasangan-pasangan. ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia," artinya, tidak ada sesuatu apa pun dari makhlukNya yang menyerupai ataupun menyamaiNya, baik pada DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya maupun perbuatan-perbuatanNya. Sebab semua nama-nama adalah sangat indah dan semua sifat-sifatNya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, dan perbuatan-perbuatanNya (af'al), yang dengannya Dia menciptakan seluruh ciptaan-ciptaan yang luar biasa besarnya ini, tidak ada sesuatu pun yang menyertaiNya. Maka tidak ada sesuatu apa pun yang semisal denganNya, karena kemanunggalan dan keesaanNya dengan ke-sempurnaan dari segala sisi. ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar" seluruh suara dengan berbagai macam bahasa, dengan berbagai dialek. ﴾ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Lagi Maha Melihat," Dia melihat langkah seekor semut hitam nan kecil di malam yang gulita di atas batu hitam nan keras, dan Dia melihat mengalirnya makanan di dalam anggota tubuh hewan-hewan yang sangat kecil sekalipun, dan juga aliran air di dalam dahan-dahan kayu yang sangat rumit. Ayat ini dan yang lainnya adalah dalil Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam menetapkan sifat-sifat Allah dan menafikan keseru-paanNya dengan makhluk. Dan di dalamnya juga terdapat sang-gahan terhadap kaum Musyabbihah (sekte yang meyakini Allah sama dengan makhlukNya. pent), yaitu terletak pada FirmanNya, ﴾ لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ ﴿ "tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan Dia," dan juga sanggahan terhadap sekte Mu'aththilah (sekte yang tidak meyakini adanya sifat bagi Allah, pent), yaitu pada FirmanNya, ﴾ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mendengar lagi Maha Melihat."
(12) ﴾ لَهُۥ مَقَالِيدُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "KepunyaanNya-lah perbenda-haraan langit dan bumi." MilikNya-lah kerajaan langit dan bumi, di TanganNya-lah semua kunci rahmat, rizki dan berbagai kenikmatan yang lahir dan yang batin. Jadi, semua makhluk bergantung kepada Allah سبحانه وتعالى dalam mencari kebaikan mereka dan mencegah berbagai keburukan dari mereka, dalam setiap keadaan. Tidak ada seorang pun yang memiliki otoritas. Allah-lah Yang Maha Memberi, Yang menahan, Yang dapat menimpakan mudarat dan dapat menda-tangkan manfaat, yang tiada suatu nikmat pun ada pada hamba-hamba ini melainkan ia berasal dariNya, dan tidak ada yang bisa mencegah keburukan selain Dia. Dan apa pun rahmat yang Allah bukakan untuk manusia, maka tidak ada yang bisa menahannya, dan apa pun yang Dia tahan, maka tidak ada yang bisa melepas-kannya selain Dia. Maka dari itu di sini Dia berfirman,﴾ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya," maksud-nya, melapangkannya dan memberikannya dari berbagai macam rizki yang Dia kehendaki, ﴾ وَيَقۡدِرُۚ ﴿ "dan menyempitkan," maksud-nya, menyusahkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki hingga hanya sebatas keperluannya saja, tidak lebih dari itu. Semua itu tergantung kepada ilmu dan kebijaksanaanNya. Maka dari itu Dia berfirman, ﴾ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," yakni Dia mengetahui kondisi hamba-hambaNya sehingga memberi masing-masing sesuai dengan kebijaksanaanNya dan menurut tuntutan kehendakNya.
Asy-Syura 42:13
"Dia telah mensyariatkan bagimu tentang agama apa yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wa-siatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali." (Asy-Syura: 13).
(13) Ini adalah karunia terbesar yang Allah limpahkan ke-pada hamba-hambaNya, yaitu Dia menetapkan sebaik-baik agama untuk mereka, yang paling utama, paling suci dan paling bersih, yaitu Dinul Islam, yang telah disyariatkan (ditetapkan) oleh Allah untuk orang-orang pilihan yang diistimewakan di antara hamba-hambaNya. Bahkan Allah mensyariatkannya untuk yang terbaik dari yang terbaik dan teristimewa dari yang istimewa. Mereka adalah Ulul 'azmi di antara para rasul yang disebutkan di dalam ayat ini. Mereka adalah manusia yang paling tinggi moralnya dan yang paling sempurna derajatnya dari segala sisi. Jadi agama yang ditetapkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mereka harus sesuai dengan kondisi mereka dan sejalan dengan kesempurnaan mereka. Bahkan mereka telah dijadikan sempurna dan dipilih oleh Allah karena mereka melaksanakannya. Kalau saja bukan karena Agama Islam ini, tidak seorang pun di antara manusia yang menjadi tinggi derajatnya. Islam adalah ruh kebahagiaan dan kutub pusaran kesempurnaan. Itulah yang dicakup oleh kitab al-Qur`an ini dan yang diserukan-nya, yaitu tauhid, amal-amal shalih, akhlak, dan adab. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ ﴿ "Tegakkanlah agama." Artinya, Allah memerintahkan kepada kalian untuk menegakkan seluruh syariat-syariat Agama, prinsip-prinsipnya dan cabang-cabangnya. Kalian menegakkannya sendiri dan kalian bersungguh-sungguh dalam menegakkannya pada orang-orang lain selain ka-lian, kalian saling tolong-menolong atas kebajikan dan takwa dan jangan saling tolong-menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan. ﴾ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ ﴿ "Dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya," maksudnya, hendaklah terjadi kesepakatan bagi kalian dalam masalah prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya, berupaya seriuslah kalian untuk tidak dipecah belah oleh persoalan-persoalan dan tidak dikelompok-kelompokkan menjadi berkelompok-kelom-pok sehingga kalian menjadi bergolong-golongan, yang sebagian memusuhi sebagian yang lain, padahal kalian masih sepaham dalam masalah prinsip agama kalian. Termasuk bersatu dalam Agama dan tidak tercerai-berai di dalamnya, adalah apa yang diperintahkan oleh Penetap syariat berupa perkumpulan-perkumpulan umum, seperti perkumpulan haji, hari raya, hari Jum'at, shalat lima waktu, jihad dan berbagai bentuk ibadah lainnya yang tidak akan bisa terlaksana dan tidak bisa sempurna kecuali dengan melakukan persatuan (pertemuan) untuknya dan tidak bercerai-berai. ﴾ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ﴿ "Amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru mereka kepadanya." Artinya, mereka benar-benar merasa sangat berat karena kamu mengajak mereka mengesakan Allah سبحانه وتعالى saja, seperti yang dikatakan oleh Allah tentang mereka, ﴾ وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ 45 ﴿ "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati." (Az-Zumar: 45). Dan juga ucapan mereka (yang diabadikan Allah), ﴾ أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ 5 ﴿ "Mengapa ia menjadikan sesembahan-sesembahan itu sesembahan Yang Satu saja. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." (Shad: 5). ﴾ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ ﴿ "Allah menarik kepadanya orang yang dikehen-dakiNya." Artinya, Allah memilih di antara manusia ciptaanNya orang yang Dia ketahui bahwasanya ia layak untuk ditarik kepada tugas kerasulan dan kewalianNya. Dan termasuk di antaranya adalah Dia memilih umat Islam ini dan mengistimewakannya atas seluruh umat dan memilihkan untuknya agama yang paling utama dan yang paling baik, ﴾ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ﴿ "dan memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali." Inilah sebab yang dilakukan oleh seseorang yang dengannya ia bisa memperoleh hidayah dari Allah سبحانه وتعالى, yaitu inabah (kembali) kepadaNya dan ketertarikan naluri-naluri hatinya kepadaNya, dan tujuannya mencari keridhaanNya. Maka kebaikan niat seseorang yang disertai dengan kesungguhannya dalam mencari hidayah merupakan faktor penyebab kemudahan untuk hidayah, seperti yang Allah Firmankan, ﴾ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ ﴿ "Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan." (Al-Ma`idah: 16). Di dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya A l l a h ﴾ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ ﴿ "memberi petunjuk kepadaNya orang yang kembali," di samping FirmanNya yang lain yang mengatakan, ﴾ وَٱتَّبِعۡ سَبِيلَ مَنۡ أَنَابَ إِلَيَّۚ ﴿ "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu." (Luqman: 15). Ditambah dengan kondisi para sahabat nabi, (semoga Allah meri-dhai mereka), dan betapa gigih kembalinya mereka kepada Allah, adalah bukti bahwa perkataan mereka adalah hujjah (pegangan, argumen), terutama perkataan para Khulafa` Rasyidin, semoga Allah meridhai mereka semuanya.
Asy-Syura 42:14
"Dan mereka tidak berpecah belah melainkan sesudah da-tangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. Maka karena itu serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah, 'Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Rabb kami dan Rabbmu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada per-tengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah kembali'." (Asy-Syura: 14-15).
(14) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan persatuan kaum Mus-limin dalam beragama dan melarang mereka berpecah belah, Dia sampaikan kepada mereka agar jangan terpedaya dengan al-Kitab yang Allah turunkan kepada mereka; sebab orang-orang Ahlul Kitab itu tidak bercerai-berai kecuali setelah Allah menurunkan kepada mereka al-Kitab yang seharusnya melahirkan persatuan. Namun mereka melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan oleh kitab suci mereka. Semua itu adalah karena kecongkakan dan kebencian dari mereka. Sebab mereka saling benci membenci dan saling dengki-mendengki, dan terjadilah kebencian dan permu-suhan di antara mereka, dengan demikian terjadilah perpecahan. Maka waspadalah wahai kaum Muslimin untuk tidak menjadi seperti mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya," yakni, untuk penundaan azab yang membinasakan hingga waktu yang telah ditentukan, ﴾ لَّقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "pastilah mereka telah dibinasakan." Akan tetapi kebijak-sanaan dan kelembutanNya menuntut untuk ditangguhkannya siksaan itu dari mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُورِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka," maksudnya, orang-orang mewarisi mereka dan mereka menjadi generasi peng-ganti (penerus) mereka yang berilmu di antara mereka,﴾ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ﴿ "benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan ten-tang kitab itu," maksudnya, benar-benar berada dalam ketidakjelasan yang sangat kentara yang menjerumuskan ke dalam perselisihan, di mana para pendahulu mereka berselisih karena congkak dan keras kepala. Dan generasi selanjutnya berselisih karena ragu dan bimbang. Semua mereka sama-sama dalam perselisihan yang ter-cela.
(15) ﴾ فَلِذَٰلِكَ فَٱدۡعُۖ ﴿ "Maka karena itu serulah," maksudnya, maka untuk Agama yang benar dan jalan yang lurus yang karenanya Allah menurunkan kitab-kitabNya dan mengutus para RasulNya, serulah umatmu kepadanya dan himbaulah mereka kepadanya serta tegakkanlah jihad karenanya terhadap siapa saja yang tidak menerimanya. ﴾ وَٱسۡتَقِمۡ ﴿ "Dan tetaplah," yakni, istiqamahlah kamu sendiri ﴾ كَمَآ أُمِرۡتَۖ ﴿ "sebagaimana diperintahkan kepadamu," yaitu istiqamah yang sejalan dengan perintah Allah, tidak ada sikap berlebihan ataupun mengabaikan, melainkan kepatuhan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya secara kontinu. Jadi, Allah memerintahkan NabiNya untuk menyempur-nakan dirinya dengan menetapi istiqamah dan menyempurnakan orang-orang lain dengan mengajak mereka kepada hal itu. Dan suatu yang dimaklumi, bahwa perintah kepada Rasulullah a itu adalah juga merupakan perintah kepada umatnya apabila tidak ada nash yang mengecualikannya. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ ﴿ "Dan jangan-lah mengikuti hawa nafsu mereka," maksudnya, hawa nafsu orang-orang yang menyimpang dari Agama, yaitu orang-orang kafir dan kaum munafik. Mengikuti mereka bisa dengan mengikuti sebagian ajaran agama mereka, atau dengan meninggalkan dakwah kepada Allah, atau dengan mengabaikan istiqamah. Sebab, jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka sesungguhnya engkau benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim. Allah tidak mengatakan: "Jangan kamu ikuti agama mereka, karena hakikat agama mereka yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka adalah agama para rasul semuanya, namun mereka tidak mengikutinya, malah mengikuti hawa nafsu, dan mereka menjadi-kan agama sebagai perbuatan sia-sia dan mainan. ﴾ وَقُلۡ ﴿ "Dan katakanlah" kepada mereka ketika berdebat dengan mereka,﴾ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٖۖ ﴿ "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah," maksudnya, agar debatmu kepada mereka berdasarkan prinsip yang sangat agung ini, yang menunjukkan kepada kemu-liaan Islam, kebesaran dan hegemoninya terhadap seluruh agama, dan bahwa agama yang dianut oleh Ahlul Kitab itu hanyalah satu bagian dari Islam. Di sini terdapat petunjuk bahwa Ahlul Kitab, jika mereka ber-debat dengan suatu perdebatan yang dilandasi iman (keyakinan) kepada sebagian kitab-kitab suci atau sebagian rasul dengan me-ngabaikan yang lainnya, maka hal itu tidak boleh diterima. Sebab, Kitab suci yang mereka serukan dan rasul yang mereka klaim itu di antara syaratnya adalah ia harus membenarkan al-Qur`an ini dan nabi yang membawanya. Karena Kitab suci kita dan rasul kita tidak memerintahkan kita melainkan supaya kita beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa عليهما السلام, Taurat dan Injil yang al-Qur`an mem-beritakan dan membenarkannya, dan ia juga menginformasikan bahwa Taurat dan Injil membenarkan al-Qur`an dan mengakui kebenarannya. Adapun kalau hanya sekedar Taurat dan Injil, Musa dan Isa yang mereka akui, dan tidak mengakui kita dan tidak me-nyetujui Kitab kita, maka kita tidak disuruh mempercayai mereka. FirmanNya, ﴾ وَأُمِرۡتُ لِأَعۡدِلَ بَيۡنَكُمُۖ ﴿ "Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu," maksudnya, dalam memberikan putusan di antara apa yang kalian perselisihkan. Maka permusuhan kalian dan kebencian kalian terhadapku, wahai Ahlul Kitab, tidak akan menghalangiku untuk berlaku adil terhadap kalian. Termasuk adil dalam memberikan putusan di antara mereka yang memiliki ba-nyak pendapat yang berbeda-beda dari kaum Ahli Kitab dan lain-lainnya adalah menerima kebenaran yang ada pada mereka dan menolak kebatilan yang ada pada mereka. ﴾ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡۖ ﴿ "Allah adalah Rabb kami dan Rabb kamu," mak-sudnya, Rabb bagi semua. Kalian tidak lebih berhak daripada kami, ﴾ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡۖ ﴿ "Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu," yang baik dan yang buruk, ﴾ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ﴿ "tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu" setelah semua kenyataan menjadi jelas dan kebenaran menjadi nyata dari yang batil, dan petunjuk dari kesesatan. Tidak ada tempat lagi bagi berdebat dan bertengkar. Sebab maksud dari debat itu adalah menjelaskan yang benar dari yang batil, agar orang yang jujur mendapat petunjuk, dan hujjah (argumen) tegak atas orang yang tersesat. Bagaimana tidak, sedang-kan Allah sudah berfirman, ﴾ وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "Dan jangan kamu mendebat Ahlul Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik." (Al-Ankabut: 46). Maka sesungguhnya yang dimaksud adalah apa yang telah kami jelaskan itu. ﴾ ٱللَّهُ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Allah akan mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah (semua akan) kembali" pada Hari Kiamat kelak. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing menurut perbuatannya, dan pada saat itu akan terungkap orang yang benar dari yang dusta.
Asy-Syura 42:15
"Dan mereka tidak berpecah belah melainkan sesudah da-tangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka, benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. Maka karena itu serulah dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah, 'Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah adalah Rabb kami dan Rabbmu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada per-tengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah kembali'." (Asy-Syura: 14-15).
(14) Setelah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan persatuan kaum Mus-limin dalam beragama dan melarang mereka berpecah belah, Dia sampaikan kepada mereka agar jangan terpedaya dengan al-Kitab yang Allah turunkan kepada mereka; sebab orang-orang Ahlul Kitab itu tidak bercerai-berai kecuali setelah Allah menurunkan kepada mereka al-Kitab yang seharusnya melahirkan persatuan. Namun mereka melakukan kebalikan dari apa yang diperintahkan oleh kitab suci mereka. Semua itu adalah karena kecongkakan dan kebencian dari mereka. Sebab mereka saling benci membenci dan saling dengki-mendengki, dan terjadilah kebencian dan permu-suhan di antara mereka, dengan demikian terjadilah perpecahan. Maka waspadalah wahai kaum Muslimin untuk tidak menjadi seperti mereka. ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةٞ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ ﴿ "Kalaulah tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Rabbmu dahulunya," yakni, untuk penundaan azab yang membinasakan hingga waktu yang telah ditentukan, ﴾ لَّقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۚ ﴿ "pastilah mereka telah dibinasakan." Akan tetapi kebijak-sanaan dan kelembutanNya menuntut untuk ditangguhkannya siksaan itu dari mereka. ﴾ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُورِثُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang diwariskan kepada mereka al-Kitab sesudah mereka," maksudnya, orang-orang mewarisi mereka dan mereka menjadi generasi peng-ganti (penerus) mereka yang berilmu di antara mereka,﴾ لَفِي شَكّٖ مِّنۡهُ مُرِيبٖ ﴿ "benar-benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan ten-tang kitab itu," maksudnya, benar-benar berada dalam ketidakjelasan yang sangat kentara yang menjerumuskan ke dalam perselisihan, di mana para pendahulu mereka berselisih karena congkak dan keras kepala. Dan generasi selanjutnya berselisih karena ragu dan bimbang. Semua mereka sama-sama dalam perselisihan yang ter-cela.
(15) ﴾ فَلِذَٰلِكَ فَٱدۡعُۖ ﴿ "Maka karena itu serulah," maksudnya, maka untuk Agama yang benar dan jalan yang lurus yang karenanya Allah menurunkan kitab-kitabNya dan mengutus para RasulNya, serulah umatmu kepadanya dan himbaulah mereka kepadanya serta tegakkanlah jihad karenanya terhadap siapa saja yang tidak menerimanya. ﴾ وَٱسۡتَقِمۡ ﴿ "Dan tetaplah," yakni, istiqamahlah kamu sendiri ﴾ كَمَآ أُمِرۡتَۖ ﴿ "sebagaimana diperintahkan kepadamu," yaitu istiqamah yang sejalan dengan perintah Allah, tidak ada sikap berlebihan ataupun mengabaikan, melainkan kepatuhan kepada perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya secara kontinu. Jadi, Allah memerintahkan NabiNya untuk menyempur-nakan dirinya dengan menetapi istiqamah dan menyempurnakan orang-orang lain dengan mengajak mereka kepada hal itu. Dan suatu yang dimaklumi, bahwa perintah kepada Rasulullah a itu adalah juga merupakan perintah kepada umatnya apabila tidak ada nash yang mengecualikannya. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡۖ ﴿ "Dan jangan-lah mengikuti hawa nafsu mereka," maksudnya, hawa nafsu orang-orang yang menyimpang dari Agama, yaitu orang-orang kafir dan kaum munafik. Mengikuti mereka bisa dengan mengikuti sebagian ajaran agama mereka, atau dengan meninggalkan dakwah kepada Allah, atau dengan mengabaikan istiqamah. Sebab, jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka sesungguhnya engkau benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim. Allah tidak mengatakan: "Jangan kamu ikuti agama mereka, karena hakikat agama mereka yang disyariatkan oleh Allah untuk mereka adalah agama para rasul semuanya, namun mereka tidak mengikutinya, malah mengikuti hawa nafsu, dan mereka menjadi-kan agama sebagai perbuatan sia-sia dan mainan. ﴾ وَقُلۡ ﴿ "Dan katakanlah" kepada mereka ketika berdebat dengan mereka,﴾ ءَامَنتُ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِن كِتَٰبٖۖ ﴿ "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah," maksudnya, agar debatmu kepada mereka berdasarkan prinsip yang sangat agung ini, yang menunjukkan kepada kemu-liaan Islam, kebesaran dan hegemoninya terhadap seluruh agama, dan bahwa agama yang dianut oleh Ahlul Kitab itu hanyalah satu bagian dari Islam. Di sini terdapat petunjuk bahwa Ahlul Kitab, jika mereka ber-debat dengan suatu perdebatan yang dilandasi iman (keyakinan) kepada sebagian kitab-kitab suci atau sebagian rasul dengan me-ngabaikan yang lainnya, maka hal itu tidak boleh diterima. Sebab, Kitab suci yang mereka serukan dan rasul yang mereka klaim itu di antara syaratnya adalah ia harus membenarkan al-Qur`an ini dan nabi yang membawanya. Karena Kitab suci kita dan rasul kita tidak memerintahkan kita melainkan supaya kita beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa عليهما السلام, Taurat dan Injil yang al-Qur`an mem-beritakan dan membenarkannya, dan ia juga menginformasikan bahwa Taurat dan Injil membenarkan al-Qur`an dan mengakui kebenarannya. Adapun kalau hanya sekedar Taurat dan Injil, Musa dan Isa yang mereka akui, dan tidak mengakui kita dan tidak me-nyetujui Kitab kita, maka kita tidak disuruh mempercayai mereka. FirmanNya, ﴾ وَأُمِرۡتُ لِأَعۡدِلَ بَيۡنَكُمُۖ ﴿ "Dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kamu," maksudnya, dalam memberikan putusan di antara apa yang kalian perselisihkan. Maka permusuhan kalian dan kebencian kalian terhadapku, wahai Ahlul Kitab, tidak akan menghalangiku untuk berlaku adil terhadap kalian. Termasuk adil dalam memberikan putusan di antara mereka yang memiliki ba-nyak pendapat yang berbeda-beda dari kaum Ahli Kitab dan lain-lainnya adalah menerima kebenaran yang ada pada mereka dan menolak kebatilan yang ada pada mereka. ﴾ ٱللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمۡۖ ﴿ "Allah adalah Rabb kami dan Rabb kamu," mak-sudnya, Rabb bagi semua. Kalian tidak lebih berhak daripada kami, ﴾ لَنَآ أَعۡمَٰلُنَا وَلَكُمۡ أَعۡمَٰلُكُمۡۖ ﴿ "Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu," yang baik dan yang buruk, ﴾ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ﴿ "tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu" setelah semua kenyataan menjadi jelas dan kebenaran menjadi nyata dari yang batil, dan petunjuk dari kesesatan. Tidak ada tempat lagi bagi berdebat dan bertengkar. Sebab maksud dari debat itu adalah menjelaskan yang benar dari yang batil, agar orang yang jujur mendapat petunjuk, dan hujjah (argumen) tegak atas orang yang tersesat. Bagaimana tidak, sedang-kan Allah sudah berfirman, ﴾ وَلَا تُجَٰدِلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ ﴿ "Dan jangan kamu mendebat Ahlul Kitab melainkan dengan cara yang lebih baik." (Al-Ankabut: 46). Maka sesungguhnya yang dimaksud adalah apa yang telah kami jelaskan itu. ﴾ ٱللَّهُ يَجۡمَعُ بَيۡنَنَاۖ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Allah akan mengumpulkan antara kita dan kepadaNya-lah (semua akan) kembali" pada Hari Kiamat kelak. Lalu Dia akan memberikan balasan kepada masing-masing menurut perbuatannya, dan pada saat itu akan terungkap orang yang benar dari yang dusta.
Asy-Syura 42:16
"Dan orang-orang yang membantah Allah sesudah ia dite-rima, maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Rabb mereka. Mereka mendapat kemurkaan dan bagi mereka azab yang sangat keras." (Asy-Syura: 16).
(16) Ini adalah pengukuhan terhadap Firman Allah (pada ayat sebelumnya), ﴾ لَا حُجَّةَ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُۖ ﴿ "Tidak ada hujjah di antara kami dengan kalian." Di sini Allah mengabarkan bahwa ﴾ وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِي ٱللَّهِ ﴿ "orang-orang yang membantah Allah" dengan argumen-argumen yang palsu dan syubhat-syubhat yang kontradiksi, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ ﴿ "sesudah ia diterima" untuk Allah, yakni, sesudah orang-orang yang berakal menerima seruan Allah setelah Dia menjelaskan kepada mereka ayat-ayat yang pasti dan argumen-argumen yang akurat, maka mereka yang membantah kebenaran itu setelah kebenaran itu jelas, ﴾ حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ ﴿ "maka bantahan mereka itu sia-sia saja," artinya, palsu lagi tertolak, ﴾ عِندَ رَبِّهِمۡ ﴿ "di sisi Rabb mereka," sebab ia mengan-dung penolakan terhadap kebenaran; dan setiap yang menyalahi kebenaran itu pasti batil. ﴾ وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٞ ﴿ "Mereka mendapat kemurkaan," karena kedurhakaan dan sikap berpaling mereka dari hujjah-hujjah Allah dan penjelasan-penjelasanNya dan karena mereka mendusta-kannya, ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٞ شَدِيدٌ ﴿ "dan bagi mereka azab yang sangat keras." Dan itu adalah akibat dari murka Allah terhadap mereka. Inilah hukuman bagi setiap orang yang mendebat kebenaran dengan ke-batilan.
Asy-Syura 42:17
"Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca. Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat. Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh." (Asy-Syura: 17-18).
(17) Setelah Allah menjelaskan bahwa argumen-argumen-Nya jelas lagi nyata sehingga setiap orang yang masih memiliki secuil kebaikan pasti menerimanya, maka Allah menjelaskan dasar dan kaidahnya, bahkan seluruh argumen yang Dia sampaikan ke-pada manusia itu kembali kepadaNya, seraya berfirman,﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ وَٱلۡمِيزَانَۗ ﴿ "Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca." Kitab yang dimaksud adalah al-Qur`an al-'Azhim yang turun dengan benar dan meliputi kebenaran, kejujuran dan keyakinan. Semuanya adalah ayat-ayat yang sangat jelas dan dalil-dalil yang nyata tentang seluruh al-mathalib al-ilahiyah (tuntutan-tuntutan ilahi) dan akidah-akidah keagamaan. Ia datang dengan membawa permasalahan-permasalahan yang terbaik dan dalil-dalil yang paling jelas. Adapun al-Mizan adalah keadilan dan pengakuan terhadap qiyas (analogi) yang benar dan akal yang sehat. Maka setiap dalil 'aqli (rasional) dari tanda-tanda yang ada di dalam jagat raya dan yang ada di dalam jiwa, dalil-dalil syar'i, kolerasi-kolerasi, illat-illat (alasan-alasan hukum), hukum-hukum dan hikmah-hikmah itu, masuk ke dalam arti al-Mizan yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan yang diletakkanNya di antara hamba-hambaNya agar mereka menim-bang dengannya semua perkara yang ditetapkanNya dan yang di-nafikanNya, dan agar mereka tahu dengannya kebenaran apa-apa yang diberitakanNya dan disampaikan oleh rasul-rasulNya. Maka apa saja yang keluar dari dua perkara ini (dari al-Kitab dan al-Mizan) yang disebut hujjah, argumen atau dalil atau ungkapan apa saja yang serupa dengannya, maka ia adalah kebatilan nan kontradiksi yang dasar-dasarnya sudah berantakan dan pondasi-pondasi dan cabang-cabangnya yang telah runtuh dapat diketahui oleh siapa saja yang menguasai permasalahan-permasalahan dan jalur-jalur-nya, dan bisa memilah antara dalil-dalil yang kuat dari yang lemah, dan tahu perbedaan antara hujjah dengan syubhat. Adapun orang yang terpedaya dan terpesona dengan ung-kapan-ungkapan yang indah dan kata-kata yang samar, sedangkan pikirannya tidak sampai kepada makna yang dimaksud maka ia tidak tergolong ahli dan tidak pula termasuk pakar dalam bidang ini. Maka sikapnya yang menyetujui dan menyelisihi tidak berguna (tidak bisa dijadikan sandaran. Pent). Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mempertakuti orang-orang yang minta agar kiamat segera didatangkan, yaitu mereka yang mengingkarinya, seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٞ ﴿ "Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat." Maksudnya, Tidak diketahui jauhnya ataupun kapan ia akan terjadi. Ia bisa saja terjadi pada suatu waktu dan kepastiannya sangat menakutkan.
(18) ﴾ يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَاۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan," sebagai sikap keras kepala dan mendustakan serta menentang Allah. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا ﴿ "Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya," maksudnya, mereka takut karena mereka beriman kepadanya dan karena mereka mengetahui apa-apa yang ada pada Hari Kiamat itu, seperti pembalasan terhadap amal perbuatan, dan takutnya mereka karena mereka mengenal Allah, mereka khawatir kalau amal-amal perbuatan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dan tidak bisa membahagiakan. Maka dari itu Allah ber-firman, ﴾ وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar," yang tak ada keraguan padanya dan tidak ada pula kebim-bangan. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِي ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat," setelah mereka meragukannya, mereka membantah para rasul dan para pengikutnya karena mereka membenarkannya. Maka mereka benar-benar dalam sikap menyelisihi[85] ﴾ بَعِيدٍ ﴿ "yang jauh." Artinya, suatu sikap menentang dan sikap membantah yang sama sekali tidak dekat kepada kebenaran, bahkan sangat-sangat jauh dari kebenaran. Dan sikap jauh yang mana yang lebih jauh daripada orang yang mendustakan negeri yang merupakan negeri yang se-sungguhnya?! Yaitu negeri yang diciptakan untuk keabadian dan kekekalan, yaitu negeri pembalasan yang di situ Allah menampak-kan keadilan dan karuniaNya. Dan sesungguhnya negeri dunia ini bila dibandingkan dengan negeri akhirat adalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di siang hari di bawah naungan pohon, kemudian ia meneruskan perjalanan dan meninggalkannya. Dunia ini hanyalah negeri penyeberangan dan numpang lewat, bukan tempat untuk selama-lamanya. Mereka hanya membenarkan negeri yang akan sirna nan fana ini yang bisa mereka lihat dan mereka saksikan saja, dan mereka mendustakan negeri akhirat yang sangat banyak sekali informasi tentangnya yang disampaikan oleh Kitab-kitab suci ilahi, oleh para Rasul dan para pengikutnya, yang mana mereka adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling dalam ilmunya, dan paling tinggi kecerdasan dan pema-hamannya.
Asy-Syura 42:18
"Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca. Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat. Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar. Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh." (Asy-Syura: 17-18).
(17) Setelah Allah menjelaskan bahwa argumen-argumen-Nya jelas lagi nyata sehingga setiap orang yang masih memiliki secuil kebaikan pasti menerimanya, maka Allah menjelaskan dasar dan kaidahnya, bahkan seluruh argumen yang Dia sampaikan ke-pada manusia itu kembali kepadaNya, seraya berfirman,﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ وَٱلۡمِيزَانَۗ ﴿ "Allah-lah yang menurunkan kitab dengan kebenaran dan neraca." Kitab yang dimaksud adalah al-Qur`an al-'Azhim yang turun dengan benar dan meliputi kebenaran, kejujuran dan keyakinan. Semuanya adalah ayat-ayat yang sangat jelas dan dalil-dalil yang nyata tentang seluruh al-mathalib al-ilahiyah (tuntutan-tuntutan ilahi) dan akidah-akidah keagamaan. Ia datang dengan membawa permasalahan-permasalahan yang terbaik dan dalil-dalil yang paling jelas. Adapun al-Mizan adalah keadilan dan pengakuan terhadap qiyas (analogi) yang benar dan akal yang sehat. Maka setiap dalil 'aqli (rasional) dari tanda-tanda yang ada di dalam jagat raya dan yang ada di dalam jiwa, dalil-dalil syar'i, kolerasi-kolerasi, illat-illat (alasan-alasan hukum), hukum-hukum dan hikmah-hikmah itu, masuk ke dalam arti al-Mizan yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan yang diletakkanNya di antara hamba-hambaNya agar mereka menim-bang dengannya semua perkara yang ditetapkanNya dan yang di-nafikanNya, dan agar mereka tahu dengannya kebenaran apa-apa yang diberitakanNya dan disampaikan oleh rasul-rasulNya. Maka apa saja yang keluar dari dua perkara ini (dari al-Kitab dan al-Mizan) yang disebut hujjah, argumen atau dalil atau ungkapan apa saja yang serupa dengannya, maka ia adalah kebatilan nan kontradiksi yang dasar-dasarnya sudah berantakan dan pondasi-pondasi dan cabang-cabangnya yang telah runtuh dapat diketahui oleh siapa saja yang menguasai permasalahan-permasalahan dan jalur-jalur-nya, dan bisa memilah antara dalil-dalil yang kuat dari yang lemah, dan tahu perbedaan antara hujjah dengan syubhat. Adapun orang yang terpedaya dan terpesona dengan ung-kapan-ungkapan yang indah dan kata-kata yang samar, sedangkan pikirannya tidak sampai kepada makna yang dimaksud maka ia tidak tergolong ahli dan tidak pula termasuk pakar dalam bidang ini. Maka sikapnya yang menyetujui dan menyelisihi tidak berguna (tidak bisa dijadikan sandaran. Pent). Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya mempertakuti orang-orang yang minta agar kiamat segera didatangkan, yaitu mereka yang mengingkarinya, seraya berfirman, ﴾ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٞ ﴿ "Dan tahukah kamu, boleh jadi Hari Kiamat itu dekat." Maksudnya, Tidak diketahui jauhnya ataupun kapan ia akan terjadi. Ia bisa saja terjadi pada suatu waktu dan kepastiannya sangat menakutkan.
(18) ﴾ يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَاۖ ﴿ "Orang-orang yang tidak ber-iman kepada Hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan," sebagai sikap keras kepala dan mendustakan serta menentang Allah. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا ﴿ "Dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya," maksudnya, mereka takut karena mereka beriman kepadanya dan karena mereka mengetahui apa-apa yang ada pada Hari Kiamat itu, seperti pembalasan terhadap amal perbuatan, dan takutnya mereka karena mereka mengenal Allah, mereka khawatir kalau amal-amal perbuatan mereka tidak bisa menyelamatkan mereka dan tidak bisa membahagiakan. Maka dari itu Allah ber-firman, ﴾ وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّۗ ﴿ "Dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar," yang tak ada keraguan padanya dan tidak ada pula kebim-bangan. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِي ٱلسَّاعَةِ ﴿ "Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat," setelah mereka meragukannya, mereka membantah para rasul dan para pengikutnya karena mereka membenarkannya. Maka mereka benar-benar dalam sikap menyelisihi[85] ﴾ بَعِيدٍ ﴿ "yang jauh." Artinya, suatu sikap menentang dan sikap membantah yang sama sekali tidak dekat kepada kebenaran, bahkan sangat-sangat jauh dari kebenaran. Dan sikap jauh yang mana yang lebih jauh daripada orang yang mendustakan negeri yang merupakan negeri yang se-sungguhnya?! Yaitu negeri yang diciptakan untuk keabadian dan kekekalan, yaitu negeri pembalasan yang di situ Allah menampak-kan keadilan dan karuniaNya. Dan sesungguhnya negeri dunia ini bila dibandingkan dengan negeri akhirat adalah seperti seorang pengendara yang beristirahat di siang hari di bawah naungan pohon, kemudian ia meneruskan perjalanan dan meninggalkannya. Dunia ini hanyalah negeri penyeberangan dan numpang lewat, bukan tempat untuk selama-lamanya. Mereka hanya membenarkan negeri yang akan sirna nan fana ini yang bisa mereka lihat dan mereka saksikan saja, dan mereka mendustakan negeri akhirat yang sangat banyak sekali informasi tentangnya yang disampaikan oleh Kitab-kitab suci ilahi, oleh para Rasul dan para pengikutnya, yang mana mereka adalah manusia yang paling sempurna akalnya, paling dalam ilmunya, dan paling tinggi kecerdasan dan pema-hamannya.
Asy-Syura 42:19
"Allah Mahalembut terhadap hamba-hambaNya; Dia mem-beri rizki kepada siapa yang dikehendakiNya dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Barangsiapa yang menghendaki ke-untungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." (Asy-Syura: 19-20).
(19) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan sikap lembutNya terhadap hamba-hambaNya agar mereka mengenal dan mencintaiNya dan agar mereka membicarakan kelembutan dan kemurahanNya. Ke-lembutan itu merupakan bagian dari sifat-sifatNya yang artinya adalah: Dia yang mengetahui segala yang tersembunyi dan rahasia, yang mengantarkan hamba-hambaNya terutama orang-orang yang beriman kepada apa saja yang mengandung kebaikan bagi mereka tanpa mereka ketahui dan tanpa mereka duga. Di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya yang beriman adalah Dia menunjuki mereka kepada kebaikan dengan petunjuk yang tidak pernah terlintas di benak mereka, dengan memudahkan baginya sebab-sebab yang mengarahkan mereka kepada kebaikan tersebut dari dalam fitrah mereka melalui kecintaannya kepada yang benar dan kepatuhannya kepada kebenaran itu serta perintahNya kepada para malaikat yang mulia untuk meneguhkan hamba-hambaNya yang beriman dan merangsang mereka untuk melakukan kebaikan dan meniupkan di dalam hati mereka ketertarikan kepada yang benar sehingga menjadi pemicu baginya untuk mengikutinya. Dan termasuk kelembutanNya juga adalah Dia memerintah-kan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan berbagai ibadah sosial yang dengannya tekad mereka menjadi kuat dan gairah mereka menggeliat serta terjadi perlombaan di antara me-reka untuk melakukan kebajikan dan menyenanginya serta saling menjadi teladan di antara yang satu sama lainnya. Termasuk kelembutanNya juga adalah Dia telah menetapkan segala sebab yang merintanginya dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan maksiat, hingga apabila Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui bahwa dunia, harta dan tahta serta yang serupa dengannya yang diperlombakan oleh manusia itu merintangi hambaNya dari ke-taatan kepadaNya atau membuatnya lalai terhadap Allah atau menyeretnya kepada maksiat, maka Allah menjauhkan hal-hal tersebut darinya dan Allah mempersempit rizkinya. Maka dari itu, di sini Dia berfirman, ﴾ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Dia memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya," tergantung tuntutan hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutanNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaper-kasa," yang milikNya sajalah seluruh kekuatan. Maka tiada daya dan tiada kekuatan bagi seseorang di antara makhluk ini kecuali dengan pertolonganNya, yang kepadaNya tunduk segala sesuatu.
(20 ) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat" maksudnya, pahala dan ganjarannya, ia beriman dan membenarkannya dan berupaya keras untuknya, ﴾ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ ﴿ "akan Kami tambah keun-tungan itu baginya," dengan Kami lipatgandakan amal dan balasan-nya menjadi berlipat-lipat, sebagaimana Dia Firmankan, ﴾ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا 19 ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan ber-usaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (Al-Isra`: 19). Di sisi lain, bagiannya dari dunia pasti dia peroleh.﴾ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia," di mana dunia adalah yang diinginkannya dan puncak harapannya sehingga ia tidak berbuat untuk akhiratnya dan tidak pula meng-harapkan pahalanya serta tidak takut kepada siksanya, ﴾ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا ﴿ "Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia," bagiannya yang telah ditentukan untuknya, ﴾ وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿ "dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." Sesungguhnya ia telah di-haramkan mendapatkan surga dan kenikmatannya dan ia berhak mendapat neraka dan apinya yang bernyala-nyala. Ayat ini mirip dengan FirmanNya, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ 15 أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 16 ﴿ "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyap-lah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).
Asy-Syura 42:20
"Allah Mahalembut terhadap hamba-hambaNya; Dia mem-beri rizki kepada siapa yang dikehendakiNya dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Barangsiapa yang menghendaki ke-untungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." (Asy-Syura: 19-20).
(19) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan sikap lembutNya terhadap hamba-hambaNya agar mereka mengenal dan mencintaiNya dan agar mereka membicarakan kelembutan dan kemurahanNya. Ke-lembutan itu merupakan bagian dari sifat-sifatNya yang artinya adalah: Dia yang mengetahui segala yang tersembunyi dan rahasia, yang mengantarkan hamba-hambaNya terutama orang-orang yang beriman kepada apa saja yang mengandung kebaikan bagi mereka tanpa mereka ketahui dan tanpa mereka duga. Di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya yang beriman adalah Dia menunjuki mereka kepada kebaikan dengan petunjuk yang tidak pernah terlintas di benak mereka, dengan memudahkan baginya sebab-sebab yang mengarahkan mereka kepada kebaikan tersebut dari dalam fitrah mereka melalui kecintaannya kepada yang benar dan kepatuhannya kepada kebenaran itu serta perintahNya kepada para malaikat yang mulia untuk meneguhkan hamba-hambaNya yang beriman dan merangsang mereka untuk melakukan kebaikan dan meniupkan di dalam hati mereka ketertarikan kepada yang benar sehingga menjadi pemicu baginya untuk mengikutinya. Dan termasuk kelembutanNya juga adalah Dia memerintah-kan kepada orang-orang yang beriman untuk melakukan berbagai ibadah sosial yang dengannya tekad mereka menjadi kuat dan gairah mereka menggeliat serta terjadi perlombaan di antara me-reka untuk melakukan kebajikan dan menyenanginya serta saling menjadi teladan di antara yang satu sama lainnya. Termasuk kelembutanNya juga adalah Dia telah menetapkan segala sebab yang merintanginya dan mencegahnya dari perbuatan-perbuatan maksiat, hingga apabila Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui bahwa dunia, harta dan tahta serta yang serupa dengannya yang diperlombakan oleh manusia itu merintangi hambaNya dari ke-taatan kepadaNya atau membuatnya lalai terhadap Allah atau menyeretnya kepada maksiat, maka Allah menjauhkan hal-hal tersebut darinya dan Allah mempersempit rizkinya. Maka dari itu, di sini Dia berfirman, ﴾ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُۖ ﴿ "Dia memberi rizki kepada siapa yang dikehendakiNya," tergantung tuntutan hikmah (kebijaksanaan) dan kelembutanNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡقَوِيُّ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaper-kasa," yang milikNya sajalah seluruh kekuatan. Maka tiada daya dan tiada kekuatan bagi seseorang di antara makhluk ini kecuali dengan pertolonganNya, yang kepadaNya tunduk segala sesuatu.
(20 ) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat" maksudnya, pahala dan ganjarannya, ia beriman dan membenarkannya dan berupaya keras untuknya, ﴾ نَزِدۡ لَهُۥ فِي حَرۡثِهِۦۖ ﴿ "akan Kami tambah keun-tungan itu baginya," dengan Kami lipatgandakan amal dan balasan-nya menjadi berlipat-lipat, sebagaimana Dia Firmankan, ﴾ وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا 19 ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan ber-usaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah Mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (Al-Isra`: 19). Di sisi lain, bagiannya dari dunia pasti dia peroleh.﴾ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia," di mana dunia adalah yang diinginkannya dan puncak harapannya sehingga ia tidak berbuat untuk akhiratnya dan tidak pula meng-harapkan pahalanya serta tidak takut kepada siksanya, ﴾ نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا ﴿ "Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia," bagiannya yang telah ditentukan untuknya, ﴾ وَمَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ ﴿ "dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat." Sesungguhnya ia telah di-haramkan mendapatkan surga dan kenikmatannya dan ia berhak mendapat neraka dan apinya yang bernyala-nyala. Ayat ini mirip dengan FirmanNya, ﴾ مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ 15 أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَٰطِلٞ مَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 16 ﴿ "Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyap-lah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).
Asy-Syura 42:21
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di-izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang shalih di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. Itulah yang disampaikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Dan siapa yang mengerjakan ke-baikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan-nya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Men-syukuri." (Asy-Syura: 21-23).
(21) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwa kaum musyrikin telah mengambil sekutu-sekutu (sembahan-sembahan) yang mereka cintai dan mereka percayai, mereka dan para sekutu itu sama dalam kekafiran dan perbuatan-perbuatan kufur. (Mereka) adalah setan-setan dari bangsa manusia yang mengajak kepada kekafiran ﴾ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ﴿ "yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah," berupa syirik, bid'ah-bid'ah, mengharam-kan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah serta hal-hal yang serupa dengannya yang menjadi tuntutan hawa nafsu mereka. Padahal Agama itu hanya apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعالى agar dipatuhi oleh manusia dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengannya. Hukum asalnya adalah dilarang bagi setiap orang membuat suatu aturan apa pun (syariat) yang tidak bersumber dari Allah dan dari RasulNya. Lalu bagaimana dengan orang-orang fasik yang bersekutu dengan bapak-bapak mereka, sedangkan mereka menganut kekafiran?! ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ ﴿ "Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan, tentulah mereka telah dibinasakan." Artinya, kalau saja bukan karena ketetapan ajal yang telah ditentukan Allah sebagai pemisah antara berbagai golongan itu, dan bahwasanya Dia akan menangguhkan mereka kepadanya, tentu telah diputuskan di an-tara mereka pada saat itu juga dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang berpegang kepada kebenaran dan membinasa-kan orang yang berada pada kesesatan, karena penyebab untuk di-binasakan sudah ada. Namun, di hadapan mereka dan di hadapan setiap orang zhalim sudah ada azab pedih yang telah menanti di akhirat.
(22) Dan pada hari itu nanti, ﴾ تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri karena telah mela-kukan kekafiran dan berbagai maksiat ﴾ مُشۡفِقِينَ ﴿ "sangat ketakutan," yakni, sangat takut dan gemetar, ﴾ مِمَّا كَسَبُواْ ﴿ "karena apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Mereka takut) kalau mereka akan disiksa karenanya. Oleh karena orang yang takut itu kadang-kadang apa yang dikhawatirkannya terjadi dan kadang-kadang tidak terjadi, maka di sini Allah menginformasikan bahwa pasti ﴾ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ ﴿ "me-nimpa mereka," yakni, azab yang mereka takuti itu, sebab mereka telah melakukan sebab yang sempurna yang memastikan siksaan tanpa ada penghalangnya lagi dalam bentuk taubat ataupun lain-nya, dan mereka telah sampai pada suatu tempat yang di situ me-reka sudah kehabisan waktu penangguhan. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman," dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitabNya dan para rasulNya, serta kepada ajaran yang mereka bawa, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," mencakup setiap amal shalih dari amalan-amalan kalbu (batin) dan amalan-amalan lahiriyah dari yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah, mereka berada ﴾ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ ﴿ "di dalam taman-taman surga." Maksudnya, taman-taman yang bersambung dengan surga. Yang disambungkan itu sangat tergantung kepada yang disambungkan kepadanya. Maka Anda jangan menanyakan tentang keindahan taman-taman yang sangat menarik itu, sungai-sungai yang mengalir yang ada padanya, ladang-ladang yang be-rumput, pemandangan-pemandangan yang sangat indah, pohon-pohon yang berbuah, burung-burung yang bersiul, suara-suara menarik yang sangat merdu, pertemuan dengan setiap orang yang dicintai, bergaul dan berkumpul bersama-sama dengan sepuas-puasnya. Taman-taman yang dari waktu ke waktu hanya semakin indah dan megah, dan para penghuninya semakin merindukan kelezatannya dan semakin menyukainya. ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ ﴿ "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki" di dalamnya, maksudnya, di dalam surga itu. Apa pun yang mereka inginkan pasti ada, dan apa pun yang mereka cari, pasti diperoleh, dari kenikmatan dan keindahan apa saja yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah ﴾ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "karunia yang besar." Apa-kah ada keuntungan yang lebih besar daripada keuntungan meraih keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan menikmati kedekatan denganNya di negeri kemuliaanNya?
(23) ﴾ ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ ﴿ "Itulah yang disam-paikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Ini adalah berita gembira yang sangat agung yang merupakan berita gembira paling besar secara total yang disam-paikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui manusia yang paling utama untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka ia adalah tujuan yang paling tinggi, dan sarana yang bisa mengantarkan kepadanya merupakan sarana yang paling utama. ﴾ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu atasnya'," maksudnya, atas penyampaian al-Qur`an yang aku lakukan kepada kalian dan atas seruanku kepada hukum-hukumnya, ﴾ أَجۡرًا ﴿ "suatu upah pun." Jadi, aku tidak ingin mengambil harta kalian, tidak pula ingin menjadi penguasa terhadap kalian atau tujuan-tujuan lainnya, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Bisa jadi makna lainnya adalah: Aku tidak meminta kepada kalian atas seruan ini suatu upah pun selain satu saja, ia adalah milik kalian dan manfaatnya kembali kepada kalian, yaitu kalian menyayangi dan mencintaiku dalam kekerabatan, yakni, karena hubungan kerabat. Maka ini berarti kasih sayang lebih dari kasih sayang karena iman. Sebab kasih sayang karena iman kepada Rasul dan mengutamakan kecintaan kepadanya atas seluruh yang dicintai sesudah kecintaan kepada Allah itu fardhu atas setiap Muslim. Mereka diminta lebih dari itu, yaitu mencintainya karena hubungan kerabat. Sebab, Rasulullah a telah melakukan dakwah-nya kepada manusia yang paling dekat kepadanya, hingga dikata-kan bahwa tidak ada seorang pun dari suku Quraisy melainkan Rasulullah a memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bisa juga maksudnya adalah, kecuali mencintai Allah dengan kecintaan yang tulus, yaitu kecintaan yang disertai dengan taqarrub kepada Allah dan bertawassul dengan ketaatan kepadaNya yang membuktikan kebenaran dan ketulusan cintanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "Kecuali kasih sayang dalam al-Qurba" yakni, taqarrub kepada Allah. Berdasarkan dua makna ini, maka pengecualian tersebut membuktikan bahwa Rasulullah a sama sekali tidak meminta upah apa pun atas seruannya, kecuali sesuatu yang manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Maka ini sama sekali bukan upah, bahkan itu adalah upah dari beliau untuk mereka, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Dan seperti ucapan mereka: Si fulan itu tidak punya dosa padamu selain dia adalah seorang yang berbuat baik kepadamu. ﴾ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ ﴿ "Dan siapa yang mengerjakan kebaikan" berupa Shalat, Puasa, Haji atau perbuatan baik kepada manusia, ﴾ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ ﴿ "akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu" yaitu berupa: Allah melapangkan dadanya, memudahkan urusan-nya dan ia menjadi sebab untuk memperoleh taufik untuk menger-jakan amal baik yang lain, yang dengannya amal seorang Mukmin bertambah dan derajatnya naik di sisi Allah dan di kalangan makh-lukNya, dan ia juga memperoleh pahala di dunia dan di akhirat. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa yang sangat besar, seka-lipun seperti apa pun besarnya dosa itu saat dilakukan taubat da-rinya, dan Dia mensyukuri amal yang sedikit (kecil) dengan pahala
Asy-Syura 42:22
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di-izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang shalih di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. Itulah yang disampaikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Dan siapa yang mengerjakan ke-baikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan-nya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Men-syukuri." (Asy-Syura: 21-23).
(21) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwa kaum musyrikin telah mengambil sekutu-sekutu (sembahan-sembahan) yang mereka cintai dan mereka percayai, mereka dan para sekutu itu sama dalam kekafiran dan perbuatan-perbuatan kufur. (Mereka) adalah setan-setan dari bangsa manusia yang mengajak kepada kekafiran ﴾ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ﴿ "yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah," berupa syirik, bid'ah-bid'ah, mengharam-kan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah serta hal-hal yang serupa dengannya yang menjadi tuntutan hawa nafsu mereka. Padahal Agama itu hanya apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعالى agar dipatuhi oleh manusia dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengannya. Hukum asalnya adalah dilarang bagi setiap orang membuat suatu aturan apa pun (syariat) yang tidak bersumber dari Allah dan dari RasulNya. Lalu bagaimana dengan orang-orang fasik yang bersekutu dengan bapak-bapak mereka, sedangkan mereka menganut kekafiran?! ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ ﴿ "Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan, tentulah mereka telah dibinasakan." Artinya, kalau saja bukan karena ketetapan ajal yang telah ditentukan Allah sebagai pemisah antara berbagai golongan itu, dan bahwasanya Dia akan menangguhkan mereka kepadanya, tentu telah diputuskan di an-tara mereka pada saat itu juga dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang berpegang kepada kebenaran dan membinasa-kan orang yang berada pada kesesatan, karena penyebab untuk di-binasakan sudah ada. Namun, di hadapan mereka dan di hadapan setiap orang zhalim sudah ada azab pedih yang telah menanti di akhirat.
(22) Dan pada hari itu nanti, ﴾ تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri karena telah mela-kukan kekafiran dan berbagai maksiat ﴾ مُشۡفِقِينَ ﴿ "sangat ketakutan," yakni, sangat takut dan gemetar, ﴾ مِمَّا كَسَبُواْ ﴿ "karena apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Mereka takut) kalau mereka akan disiksa karenanya. Oleh karena orang yang takut itu kadang-kadang apa yang dikhawatirkannya terjadi dan kadang-kadang tidak terjadi, maka di sini Allah menginformasikan bahwa pasti ﴾ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ ﴿ "me-nimpa mereka," yakni, azab yang mereka takuti itu, sebab mereka telah melakukan sebab yang sempurna yang memastikan siksaan tanpa ada penghalangnya lagi dalam bentuk taubat ataupun lain-nya, dan mereka telah sampai pada suatu tempat yang di situ me-reka sudah kehabisan waktu penangguhan. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman," dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitabNya dan para rasulNya, serta kepada ajaran yang mereka bawa, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," mencakup setiap amal shalih dari amalan-amalan kalbu (batin) dan amalan-amalan lahiriyah dari yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah, mereka berada ﴾ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ ﴿ "di dalam taman-taman surga." Maksudnya, taman-taman yang bersambung dengan surga. Yang disambungkan itu sangat tergantung kepada yang disambungkan kepadanya. Maka Anda jangan menanyakan tentang keindahan taman-taman yang sangat menarik itu, sungai-sungai yang mengalir yang ada padanya, ladang-ladang yang be-rumput, pemandangan-pemandangan yang sangat indah, pohon-pohon yang berbuah, burung-burung yang bersiul, suara-suara menarik yang sangat merdu, pertemuan dengan setiap orang yang dicintai, bergaul dan berkumpul bersama-sama dengan sepuas-puasnya. Taman-taman yang dari waktu ke waktu hanya semakin indah dan megah, dan para penghuninya semakin merindukan kelezatannya dan semakin menyukainya. ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ ﴿ "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki" di dalamnya, maksudnya, di dalam surga itu. Apa pun yang mereka inginkan pasti ada, dan apa pun yang mereka cari, pasti diperoleh, dari kenikmatan dan keindahan apa saja yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah ﴾ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "karunia yang besar." Apa-kah ada keuntungan yang lebih besar daripada keuntungan meraih keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan menikmati kedekatan denganNya di negeri kemuliaanNya?
(23) ﴾ ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ ﴿ "Itulah yang disam-paikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Ini adalah berita gembira yang sangat agung yang merupakan berita gembira paling besar secara total yang disam-paikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui manusia yang paling utama untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka ia adalah tujuan yang paling tinggi, dan sarana yang bisa mengantarkan kepadanya merupakan sarana yang paling utama. ﴾ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu atasnya'," maksudnya, atas penyampaian al-Qur`an yang aku lakukan kepada kalian dan atas seruanku kepada hukum-hukumnya, ﴾ أَجۡرًا ﴿ "suatu upah pun." Jadi, aku tidak ingin mengambil harta kalian, tidak pula ingin menjadi penguasa terhadap kalian atau tujuan-tujuan lainnya, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Bisa jadi makna lainnya adalah: Aku tidak meminta kepada kalian atas seruan ini suatu upah pun selain satu saja, ia adalah milik kalian dan manfaatnya kembali kepada kalian, yaitu kalian menyayangi dan mencintaiku dalam kekerabatan, yakni, karena hubungan kerabat. Maka ini berarti kasih sayang lebih dari kasih sayang karena iman. Sebab kasih sayang karena iman kepada Rasul dan mengutamakan kecintaan kepadanya atas seluruh yang dicintai sesudah kecintaan kepada Allah itu fardhu atas setiap Muslim. Mereka diminta lebih dari itu, yaitu mencintainya karena hubungan kerabat. Sebab, Rasulullah a telah melakukan dakwah-nya kepada manusia yang paling dekat kepadanya, hingga dikata-kan bahwa tidak ada seorang pun dari suku Quraisy melainkan Rasulullah a memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bisa juga maksudnya adalah, kecuali mencintai Allah dengan kecintaan yang tulus, yaitu kecintaan yang disertai dengan taqarrub kepada Allah dan bertawassul dengan ketaatan kepadaNya yang membuktikan kebenaran dan ketulusan cintanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "Kecuali kasih sayang dalam al-Qurba" yakni, taqarrub kepada Allah. Berdasarkan dua makna ini, maka pengecualian tersebut membuktikan bahwa Rasulullah a sama sekali tidak meminta upah apa pun atas seruannya, kecuali sesuatu yang manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Maka ini sama sekali bukan upah, bahkan itu adalah upah dari beliau untuk mereka, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Dan seperti ucapan mereka: Si fulan itu tidak punya dosa padamu selain dia adalah seorang yang berbuat baik kepadamu. ﴾ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ ﴿ "Dan siapa yang mengerjakan kebaikan" berupa Shalat, Puasa, Haji atau perbuatan baik kepada manusia, ﴾ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ ﴿ "akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu" yaitu berupa: Allah melapangkan dadanya, memudahkan urusan-nya dan ia menjadi sebab untuk memperoleh taufik untuk menger-jakan amal baik yang lain, yang dengannya amal seorang Mukmin bertambah dan derajatnya naik di sisi Allah dan di kalangan makh-lukNya, dan ia juga memperoleh pahala di dunia dan di akhirat. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa yang sangat besar, seka-lipun seperti apa pun besarnya dosa itu saat dilakukan taubat da-rinya, dan Dia mensyukuri amal yang sedikit (kecil) dengan pahala
Asy-Syura 42:23
"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di-izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. Kamu lihat orang-orang yang zhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang shalih di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. Itulah yang disampaikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Katakanlah, 'Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.' Dan siapa yang mengerjakan ke-baikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikan-nya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Men-syukuri." (Asy-Syura: 21-23).
(21) Allah سبحانه وتعالى menyampaikan bahwa kaum musyrikin telah mengambil sekutu-sekutu (sembahan-sembahan) yang mereka cintai dan mereka percayai, mereka dan para sekutu itu sama dalam kekafiran dan perbuatan-perbuatan kufur. (Mereka) adalah setan-setan dari bangsa manusia yang mengajak kepada kekafiran ﴾ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ ﴿ "yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah," berupa syirik, bid'ah-bid'ah, mengharam-kan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah dan menghalalkan apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah serta hal-hal yang serupa dengannya yang menjadi tuntutan hawa nafsu mereka. Padahal Agama itu hanya apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعالى agar dipatuhi oleh manusia dan mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengannya. Hukum asalnya adalah dilarang bagi setiap orang membuat suatu aturan apa pun (syariat) yang tidak bersumber dari Allah dan dari RasulNya. Lalu bagaimana dengan orang-orang fasik yang bersekutu dengan bapak-bapak mereka, sedangkan mereka menganut kekafiran?! ﴾ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ ﴿ "Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan, tentulah mereka telah dibinasakan." Artinya, kalau saja bukan karena ketetapan ajal yang telah ditentukan Allah sebagai pemisah antara berbagai golongan itu, dan bahwasanya Dia akan menangguhkan mereka kepadanya, tentu telah diputuskan di an-tara mereka pada saat itu juga dengan memberikan kebahagiaan kepada orang yang berpegang kepada kebenaran dan membinasa-kan orang yang berada pada kesesatan, karena penyebab untuk di-binasakan sudah ada. Namun, di hadapan mereka dan di hadapan setiap orang zhalim sudah ada azab pedih yang telah menanti di akhirat.
(22) Dan pada hari itu nanti, ﴾ تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka sendiri karena telah mela-kukan kekafiran dan berbagai maksiat ﴾ مُشۡفِقِينَ ﴿ "sangat ketakutan," yakni, sangat takut dan gemetar, ﴾ مِمَّا كَسَبُواْ ﴿ "karena apa-apa yang telah mereka kerjakan." (Mereka takut) kalau mereka akan disiksa karenanya. Oleh karena orang yang takut itu kadang-kadang apa yang dikhawatirkannya terjadi dan kadang-kadang tidak terjadi, maka di sini Allah menginformasikan bahwa pasti ﴾ وَاقِعُۢ بِهِمۡۗ ﴿ "me-nimpa mereka," yakni, azab yang mereka takuti itu, sebab mereka telah melakukan sebab yang sempurna yang memastikan siksaan tanpa ada penghalangnya lagi dalam bentuk taubat ataupun lain-nya, dan mereka telah sampai pada suatu tempat yang di situ me-reka sudah kehabisan waktu penangguhan. ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman," dengan hati mereka kepada Allah, kitab-kitabNya dan para rasulNya, serta kepada ajaran yang mereka bawa, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan beramal shalih," mencakup setiap amal shalih dari amalan-amalan kalbu (batin) dan amalan-amalan lahiriyah dari yang wajib-wajib dan yang sunnah-sunnah, mereka berada ﴾ فِي رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِۖ ﴿ "di dalam taman-taman surga." Maksudnya, taman-taman yang bersambung dengan surga. Yang disambungkan itu sangat tergantung kepada yang disambungkan kepadanya. Maka Anda jangan menanyakan tentang keindahan taman-taman yang sangat menarik itu, sungai-sungai yang mengalir yang ada padanya, ladang-ladang yang be-rumput, pemandangan-pemandangan yang sangat indah, pohon-pohon yang berbuah, burung-burung yang bersiul, suara-suara menarik yang sangat merdu, pertemuan dengan setiap orang yang dicintai, bergaul dan berkumpul bersama-sama dengan sepuas-puasnya. Taman-taman yang dari waktu ke waktu hanya semakin indah dan megah, dan para penghuninya semakin merindukan kelezatannya dan semakin menyukainya. ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ ﴿ "Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki" di dalamnya, maksudnya, di dalam surga itu. Apa pun yang mereka inginkan pasti ada, dan apa pun yang mereka cari, pasti diperoleh, dari kenikmatan dan keindahan apa saja yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia. Itulah ﴾ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ﴿ "karunia yang besar." Apa-kah ada keuntungan yang lebih besar daripada keuntungan meraih keridhaan Allah سبحانه وتعالى dan menikmati kedekatan denganNya di negeri kemuliaanNya?
(23) ﴾ ذَٰلِكَ ٱلَّذِي يُبَشِّرُ ٱللَّهُ عِبَادَهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِۗ ﴿ "Itulah yang disam-paikan Allah kepada hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih." Ini adalah berita gembira yang sangat agung yang merupakan berita gembira paling besar secara total yang disam-paikan oleh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang melalui manusia yang paling utama untuk orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Maka ia adalah tujuan yang paling tinggi, dan sarana yang bisa mengantarkan kepadanya merupakan sarana yang paling utama. ﴾ قُل لَّآ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ ﴿ "Katakanlah (hai Muhammad), 'Aku tidak meminta kepadamu atasnya'," maksudnya, atas penyampaian al-Qur`an yang aku lakukan kepada kalian dan atas seruanku kepada hukum-hukumnya, ﴾ أَجۡرًا ﴿ "suatu upah pun." Jadi, aku tidak ingin mengambil harta kalian, tidak pula ingin menjadi penguasa terhadap kalian atau tujuan-tujuan lainnya, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan." Bisa jadi makna lainnya adalah: Aku tidak meminta kepada kalian atas seruan ini suatu upah pun selain satu saja, ia adalah milik kalian dan manfaatnya kembali kepada kalian, yaitu kalian menyayangi dan mencintaiku dalam kekerabatan, yakni, karena hubungan kerabat. Maka ini berarti kasih sayang lebih dari kasih sayang karena iman. Sebab kasih sayang karena iman kepada Rasul dan mengutamakan kecintaan kepadanya atas seluruh yang dicintai sesudah kecintaan kepada Allah itu fardhu atas setiap Muslim. Mereka diminta lebih dari itu, yaitu mencintainya karena hubungan kerabat. Sebab, Rasulullah a telah melakukan dakwah-nya kepada manusia yang paling dekat kepadanya, hingga dikata-kan bahwa tidak ada seorang pun dari suku Quraisy melainkan Rasulullah a memiliki hubungan kekerabatan dengannya. Bisa juga maksudnya adalah, kecuali mencintai Allah dengan kecintaan yang tulus, yaitu kecintaan yang disertai dengan taqarrub kepada Allah dan bertawassul dengan ketaatan kepadaNya yang membuktikan kebenaran dan ketulusan cintanya. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ إِلَّا ٱلۡمَوَدَّةَ فِي ٱلۡقُرۡبَىٰۗ ﴿ "Kecuali kasih sayang dalam al-Qurba" yakni, taqarrub kepada Allah. Berdasarkan dua makna ini, maka pengecualian tersebut membuktikan bahwa Rasulullah a sama sekali tidak meminta upah apa pun atas seruannya, kecuali sesuatu yang manfaatnya kembali kepada mereka sendiri. Maka ini sama sekali bukan upah, bahkan itu adalah upah dari beliau untuk mereka, sebagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَا نَقَمُواْ مِنۡهُمۡ إِلَّآ أَن يُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ 8 ﴿ "Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang yang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji." (Al-Buruj: 8). Dan seperti ucapan mereka: Si fulan itu tidak punya dosa padamu selain dia adalah seorang yang berbuat baik kepadamu. ﴾ وَمَن يَقۡتَرِفۡ حَسَنَةٗ ﴿ "Dan siapa yang mengerjakan kebaikan" berupa Shalat, Puasa, Haji atau perbuatan baik kepada manusia, ﴾ نَّزِدۡ لَهُۥ فِيهَا حُسۡنًاۚ ﴿ "akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu" yaitu berupa: Allah melapangkan dadanya, memudahkan urusan-nya dan ia menjadi sebab untuk memperoleh taufik untuk menger-jakan amal baik yang lain, yang dengannya amal seorang Mukmin bertambah dan derajatnya naik di sisi Allah dan di kalangan makh-lukNya, dan ia juga memperoleh pahala di dunia dan di akhirat. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ شَكُورٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri," Dia mengampuni dosa-dosa yang sangat besar, seka-lipun seperti apa pun besarnya dosa itu saat dilakukan taubat da-rinya, dan Dia mensyukuri amal yang sedikit (kecil) dengan pahala
Asy-Syura 42:24
"Bahkan mereka mengatakan, 'Dia telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.' Maka jika Allah menghendaki, niscaya Dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimatNya. Sesungguh-nya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Asy-Syura: 24).
(24) Maknanya, apakah orang-orang yang mendustakan Rasulullah a dengan lancang dan dusta akan berkata, ﴾ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبٗاۖ ﴿ "Dia telah mengada-adakan dusta terhadap Allah?" di mana me-reka menuduhmu dengan perkara yang paling keji dan paling buruk, yaitu perbuatan mengada-ada atas nama Allah dengan mengaku-ngaku sebagai nabi dan menyandarkan kepada Allah sesuatu yang Allah sendiri bebas darinya, padahal mereka menge-tahui kejujuran dan keamanahanmu, maka bagaimana mereka lancang berani berbuat dusta yang sangat jelas ini?! Bahkan dengan perbuatan itu mereka telah lancang terhadap Allah سبحانه وتعالى. Itu adalah pencemoohan terhadap Allah, di mana Allah telah meneguhkanmu untuk dakwah yang agung ini, yang menurut klaim mereka me-ngandung kerusakan terbesar di bumi ini. Allah telah meneguhkan beliau berdakwah secara terbuka, kemudian menisbatkan dakwah beliau kepadaNya dan kemudian menguatkan beliau dengan mukjizat-mukjizat yang jelas dan dalil-dalil yang melumpuhkan, kemenangan yang nyata, dan kekuasaan terhadap siapa saja yang menyalahiNya. Dan Allah Kuasa untuk memberangus dakwah ini dari dasar dan materinya, yaitu dengan mengunci rapat hati Rasu-lullah a sehingga beliau tidak menyadari apa pun dan sehingga tidak ada suatu kebaikan apa pun yang masuk kepadanya. Apabila ia telah mengunci rapat hati beliau, maka terputuslah semua per-kara dan terhentilah ia. Ini adalah satu bukti yang pasti atas ke-benaran ajaran yang dibawa oleh Rasul, dan satu kesaksian yang paling kuat dari Allah untuk beliau atas apa yang beliau katakan, dan tidak ada kesaksian yang lebih agung atau lebih besar darinya. Maka dari itu, di antara hikmah, rahmat dan sunnahNya yang berlaku adalah bahwasanya Dia menghapus kebatilan dan mele-nyapkannya, sekalipun dalam beberapa waktu tertentu kebatilan itu memiliki kekuatan, namun kesudahannya adalah kebinasaan. ﴾ وَيُحِقُّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦٓۚ ﴿ "Dan membenarkan yang haq dengan kalimat-kalimat-Nya," yang bersifat kauniyah (alamiah) yang tidak akan diganti atau-pun dirubah, dan dengan janjiNya yang Mahabenar, dan dengan kalimat-kalimatNya yang bersifat Agama yang merealisasikan kebenaran yang disyariatkanNya dan menguatkannya di dalam hati dan membuat sadar orang-orang yang mempunyai akal. Dan di antara cara Allah سبحانه وتعالى mewujudkan kebenaran itu ada-lah dengan menakdirkan bagi kebenaran itu kebatilan, agar ia me-lawannya. Apabila kebenaran itu telah melawan kebatilan, maka kebenaran pasti mengalahkannya dengan argumen-argumennya dan dengan bukti-buktinya, sehingga dari cahaya dan petunjukNya itu tampaklah apa yang dengannya kebatilan menjadi redup dan mati serta terbukti kepalsuannya bagi setiap orang, sedangkan yang benar tampak sejelas-jelasnya bagi setiap orang. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati," dengan segala apa yang ada di dalamnya dan apa-apa yang menjadi sifatnya, berupa kebaikan ataupun keburukan serta apa saja yang ia sembunyikan dan tidak ia tampakkan.
Asy-Syura 42:25
"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih menerima seruanNya dan menambah kepada mereka bagian dari karuniaNya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehen-dakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dia-lah Yang menu-runkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rah-matNya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy-Syura: 25-28).
(25) Ini adalah penjelasan tentang kesempurnaan kemu-rahan Allah سبحانه وتعالى, keluasan kedermawananNya serta kesempurnaan kelembutanNya dengan menerima taubat ﴾ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "dari hamba-hambaNya" di saat mereka menanggalkan diri dari dosa-dosa dan menyesalinya, serta berbulat hati untuk tidak mengulanginya kembali jika itu semua ia lakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah, Rabb mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى menerimanya setelah sebelumnya ia telah menjadi sebab bagi kebinasaan dan turunnya siksaan-siksaan duniawi dan ukhrawi. Dia memaafkan ﴾ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "kesalahan-kesalahan," dan menghapuskannya dan menghapus bekas-bekasnya, yaitu yang berupa cela dan siksa-siksa yang di-akibatkannya sehingga orang yang bertaubat itu kembali menjadi seorang yang mulia di sisiNya hingga seakan-akan tidak pernah melakukan suatu kejahatan apa pun. Allah mencintainya dan membimbingnya kepada apa saja yang bisa membuatnya makin dekat kepadaNya. Oleh karena taubat itu termasuk amal yang sangat agung yang terkadang sempurna disebabkan kesempurnaan keikhlasan dan ketulusannya dan terkadang bisa jadi kurang sempurna karena berkurangnya kadar keikhlasan ketulusannya, dan bahkan terka-dang rusak apabila tujuannya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, sedangkan tempat keikhlasan dan ketulusan itu adalah hati yang hanya diketahui oleh Allah saja, maka Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(26) Allah سبحانه وتعالى mengajak seluruh hamba-hambaNya untuk inabah (kembali) kepadaNya dan bertaubat dari kelalaian. Lalu mereka terbagi berdasarkan penerimaan mereka kepada seruan-Nya menjadi dua bagian: Yang memenuhi seruan, dan mereka diungkapkan dengan FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih meme-nuhi" maksudnya, mereka memenuhi seruan Rabb mereka tatkala mereka diseru oleh Allah kepadaNya, mereka tunduk kepadaNya dan menerima seruanNya, karena iman dan amal shalih yang me-reka miliki membawa mereka ke sana. Apabila mereka telah memenuhi seruan Allah, niscaya Allah bersyukur kepada mereka, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri dan memberikan tambahan kepada mereka ﴾ مِّن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "bagian dari karuniaNya," berupa taufik dan semangat untuk beramal dan menambahkan kepada mereka pelipatan pahala mele-bihi apa yang dapat diraihnya dengan amal-amalnya, berupa pahala dan keuntungan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah, mereka adalah orang-orang yang berkeras kepala, yang kafir kepadaNya dan kepada para RasulNya, maka mereka memperoleh azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat kelak.
(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]
(28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan" maksudnya, hujan lebat yang dengannya negeri dan manusia men-jadi hidup bergairah, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ ﴿ "sesudah mereka berputus asa," maksudnya, setelah hujan tidak turun dalam sekian lama yang membuat mereka mengira ia tidak akan turun lagi dan mereka berputus asa dan mereka telah mengupayakan segala hal untuk (mengatasi) kekeringan itu, lalu Allah menurunkan hujan lebat, ﴾ وَيَنشُرُ ﴿ "dan menyebarkan" dengannya ﴾ رَحۡمَتَهُۥۚ ﴿ "rahmatNya," yaitu seperti menumbuhkan makanan-makanan pokok untuk manusia dan hewan-hewan ternak mereka, sehingga hujan itu sangat ber-kesan sekali bagi mereka, mereka bersuka-ria karenanya dan ber-gembira ﴾ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Pelindung" yang melin-dungi hamba-hambaNya dengan berbagai macam bentuk penga-turan, dan Dia-lah yang mengatur berbagai kepentingan agama dan dunia mereka ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji" dalam perlindungan dan pengaturanNya. Maha Terpuji Allah atas kesempurnaan yang dimilikiNya dan atas apa yang Dia limpahkan kepada makhlukNya dari berbagai macam bentuk karunia.
Asy-Syura 42:26
"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih menerima seruanNya dan menambah kepada mereka bagian dari karuniaNya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehen-dakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dia-lah Yang menu-runkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rah-matNya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy-Syura: 25-28).
(25) Ini adalah penjelasan tentang kesempurnaan kemu-rahan Allah سبحانه وتعالى, keluasan kedermawananNya serta kesempurnaan kelembutanNya dengan menerima taubat ﴾ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "dari hamba-hambaNya" di saat mereka menanggalkan diri dari dosa-dosa dan menyesalinya, serta berbulat hati untuk tidak mengulanginya kembali jika itu semua ia lakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah, Rabb mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى menerimanya setelah sebelumnya ia telah menjadi sebab bagi kebinasaan dan turunnya siksaan-siksaan duniawi dan ukhrawi. Dia memaafkan ﴾ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "kesalahan-kesalahan," dan menghapuskannya dan menghapus bekas-bekasnya, yaitu yang berupa cela dan siksa-siksa yang di-akibatkannya sehingga orang yang bertaubat itu kembali menjadi seorang yang mulia di sisiNya hingga seakan-akan tidak pernah melakukan suatu kejahatan apa pun. Allah mencintainya dan membimbingnya kepada apa saja yang bisa membuatnya makin dekat kepadaNya. Oleh karena taubat itu termasuk amal yang sangat agung yang terkadang sempurna disebabkan kesempurnaan keikhlasan dan ketulusannya dan terkadang bisa jadi kurang sempurna karena berkurangnya kadar keikhlasan ketulusannya, dan bahkan terka-dang rusak apabila tujuannya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, sedangkan tempat keikhlasan dan ketulusan itu adalah hati yang hanya diketahui oleh Allah saja, maka Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(26) Allah سبحانه وتعالى mengajak seluruh hamba-hambaNya untuk inabah (kembali) kepadaNya dan bertaubat dari kelalaian. Lalu mereka terbagi berdasarkan penerimaan mereka kepada seruan-Nya menjadi dua bagian: Yang memenuhi seruan, dan mereka diungkapkan dengan FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih meme-nuhi" maksudnya, mereka memenuhi seruan Rabb mereka tatkala mereka diseru oleh Allah kepadaNya, mereka tunduk kepadaNya dan menerima seruanNya, karena iman dan amal shalih yang me-reka miliki membawa mereka ke sana. Apabila mereka telah memenuhi seruan Allah, niscaya Allah bersyukur kepada mereka, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri dan memberikan tambahan kepada mereka ﴾ مِّن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "bagian dari karuniaNya," berupa taufik dan semangat untuk beramal dan menambahkan kepada mereka pelipatan pahala mele-bihi apa yang dapat diraihnya dengan amal-amalnya, berupa pahala dan keuntungan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah, mereka adalah orang-orang yang berkeras kepala, yang kafir kepadaNya dan kepada para RasulNya, maka mereka memperoleh azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat kelak.
(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]
(28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan" maksudnya, hujan lebat yang dengannya negeri dan manusia men-jadi hidup bergairah, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ ﴿ "sesudah mereka berputus asa," maksudnya, setelah hujan tidak turun dalam sekian lama yang membuat mereka mengira ia tidak akan turun lagi dan mereka berputus asa dan mereka telah mengupayakan segala hal untuk (mengatasi) kekeringan itu, lalu Allah menurunkan hujan lebat, ﴾ وَيَنشُرُ ﴿ "dan menyebarkan" dengannya ﴾ رَحۡمَتَهُۥۚ ﴿ "rahmatNya," yaitu seperti menumbuhkan makanan-makanan pokok untuk manusia dan hewan-hewan ternak mereka, sehingga hujan itu sangat ber-kesan sekali bagi mereka, mereka bersuka-ria karenanya dan ber-gembira ﴾ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Pelindung" yang melin-dungi hamba-hambaNya dengan berbagai macam bentuk penga-turan, dan Dia-lah yang mengatur berbagai kepentingan agama dan dunia mereka ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji" dalam perlindungan dan pengaturanNya. Maha Terpuji Allah atas kesempurnaan yang dimilikiNya dan atas apa yang Dia limpahkan kepada makhlukNya dari berbagai macam bentuk karunia.
Asy-Syura 42:27
"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih menerima seruanNya dan menambah kepada mereka bagian dari karuniaNya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehen-dakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dia-lah Yang menu-runkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rah-matNya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy-Syura: 25-28).
(25) Ini adalah penjelasan tentang kesempurnaan kemu-rahan Allah سبحانه وتعالى, keluasan kedermawananNya serta kesempurnaan kelembutanNya dengan menerima taubat ﴾ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "dari hamba-hambaNya" di saat mereka menanggalkan diri dari dosa-dosa dan menyesalinya, serta berbulat hati untuk tidak mengulanginya kembali jika itu semua ia lakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah, Rabb mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى menerimanya setelah sebelumnya ia telah menjadi sebab bagi kebinasaan dan turunnya siksaan-siksaan duniawi dan ukhrawi. Dia memaafkan ﴾ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "kesalahan-kesalahan," dan menghapuskannya dan menghapus bekas-bekasnya, yaitu yang berupa cela dan siksa-siksa yang di-akibatkannya sehingga orang yang bertaubat itu kembali menjadi seorang yang mulia di sisiNya hingga seakan-akan tidak pernah melakukan suatu kejahatan apa pun. Allah mencintainya dan membimbingnya kepada apa saja yang bisa membuatnya makin dekat kepadaNya. Oleh karena taubat itu termasuk amal yang sangat agung yang terkadang sempurna disebabkan kesempurnaan keikhlasan dan ketulusannya dan terkadang bisa jadi kurang sempurna karena berkurangnya kadar keikhlasan ketulusannya, dan bahkan terka-dang rusak apabila tujuannya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, sedangkan tempat keikhlasan dan ketulusan itu adalah hati yang hanya diketahui oleh Allah saja, maka Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(26) Allah سبحانه وتعالى mengajak seluruh hamba-hambaNya untuk inabah (kembali) kepadaNya dan bertaubat dari kelalaian. Lalu mereka terbagi berdasarkan penerimaan mereka kepada seruan-Nya menjadi dua bagian: Yang memenuhi seruan, dan mereka diungkapkan dengan FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih meme-nuhi" maksudnya, mereka memenuhi seruan Rabb mereka tatkala mereka diseru oleh Allah kepadaNya, mereka tunduk kepadaNya dan menerima seruanNya, karena iman dan amal shalih yang me-reka miliki membawa mereka ke sana. Apabila mereka telah memenuhi seruan Allah, niscaya Allah bersyukur kepada mereka, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri dan memberikan tambahan kepada mereka ﴾ مِّن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "bagian dari karuniaNya," berupa taufik dan semangat untuk beramal dan menambahkan kepada mereka pelipatan pahala mele-bihi apa yang dapat diraihnya dengan amal-amalnya, berupa pahala dan keuntungan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah, mereka adalah orang-orang yang berkeras kepala, yang kafir kepadaNya dan kepada para RasulNya, maka mereka memperoleh azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat kelak.
(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]
(28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan" maksudnya, hujan lebat yang dengannya negeri dan manusia men-jadi hidup bergairah, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ ﴿ "sesudah mereka berputus asa," maksudnya, setelah hujan tidak turun dalam sekian lama yang membuat mereka mengira ia tidak akan turun lagi dan mereka berputus asa dan mereka telah mengupayakan segala hal untuk (mengatasi) kekeringan itu, lalu Allah menurunkan hujan lebat, ﴾ وَيَنشُرُ ﴿ "dan menyebarkan" dengannya ﴾ رَحۡمَتَهُۥۚ ﴿ "rahmatNya," yaitu seperti menumbuhkan makanan-makanan pokok untuk manusia dan hewan-hewan ternak mereka, sehingga hujan itu sangat ber-kesan sekali bagi mereka, mereka bersuka-ria karenanya dan ber-gembira ﴾ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Pelindung" yang melin-dungi hamba-hambaNya dengan berbagai macam bentuk penga-turan, dan Dia-lah yang mengatur berbagai kepentingan agama dan dunia mereka ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji" dalam perlindungan dan pengaturanNya. Maha Terpuji Allah atas kesempurnaan yang dimilikiNya dan atas apa yang Dia limpahkan kepada makhlukNya dari berbagai macam bentuk karunia.
Asy-Syura 42:28
"Dan Dia-lah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih menerima seruanNya dan menambah kepada mereka bagian dari karuniaNya. Dan orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang sangat keras. Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hambaNya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehen-dakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dia-lah Yang menu-runkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rah-matNya. Dan Dia-lah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (Asy-Syura: 25-28).
(25) Ini adalah penjelasan tentang kesempurnaan kemu-rahan Allah سبحانه وتعالى, keluasan kedermawananNya serta kesempurnaan kelembutanNya dengan menerima taubat ﴾ عَنۡ عِبَادِهِۦ ﴿ "dari hamba-hambaNya" di saat mereka menanggalkan diri dari dosa-dosa dan menyesalinya, serta berbulat hati untuk tidak mengulanginya kembali jika itu semua ia lakukan semata-mata mengharapkan ridha Allah, Rabb mereka. Maka Allah سبحانه وتعالى menerimanya setelah sebelumnya ia telah menjadi sebab bagi kebinasaan dan turunnya siksaan-siksaan duniawi dan ukhrawi. Dia memaafkan ﴾ عَنِ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ﴿ "kesalahan-kesalahan," dan menghapuskannya dan menghapus bekas-bekasnya, yaitu yang berupa cela dan siksa-siksa yang di-akibatkannya sehingga orang yang bertaubat itu kembali menjadi seorang yang mulia di sisiNya hingga seakan-akan tidak pernah melakukan suatu kejahatan apa pun. Allah mencintainya dan membimbingnya kepada apa saja yang bisa membuatnya makin dekat kepadaNya. Oleh karena taubat itu termasuk amal yang sangat agung yang terkadang sempurna disebabkan kesempurnaan keikhlasan dan ketulusannya dan terkadang bisa jadi kurang sempurna karena berkurangnya kadar keikhlasan ketulusannya, dan bahkan terka-dang rusak apabila tujuannya adalah untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi, sedangkan tempat keikhlasan dan ketulusan itu adalah hati yang hanya diketahui oleh Allah saja, maka Allah menutup ayat ini dengan FirmanNya, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(26) Allah سبحانه وتعالى mengajak seluruh hamba-hambaNya untuk inabah (kembali) kepadaNya dan bertaubat dari kelalaian. Lalu mereka terbagi berdasarkan penerimaan mereka kepada seruan-Nya menjadi dua bagian: Yang memenuhi seruan, dan mereka diungkapkan dengan FirmanNya, ﴾ وَيَسۡتَجِيبُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang shalih meme-nuhi" maksudnya, mereka memenuhi seruan Rabb mereka tatkala mereka diseru oleh Allah kepadaNya, mereka tunduk kepadaNya dan menerima seruanNya, karena iman dan amal shalih yang me-reka miliki membawa mereka ke sana. Apabila mereka telah memenuhi seruan Allah, niscaya Allah bersyukur kepada mereka, Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri dan memberikan tambahan kepada mereka ﴾ مِّن فَضۡلِهِۦۚ ﴿ "bagian dari karuniaNya," berupa taufik dan semangat untuk beramal dan menambahkan kepada mereka pelipatan pahala mele-bihi apa yang dapat diraihnya dengan amal-amalnya, berupa pahala dan keuntungan yang sangat besar. Adapun orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah, mereka adalah orang-orang yang berkeras kepala, yang kafir kepadaNya dan kepada para RasulNya, maka mereka memperoleh azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat kelak.
(27) Kemudian Allah menjelaskan bahwa di antara kelem-butanNya terhadap hamba-hambaNya adalah Dia tidak melimpah-kan dunia (harta benda) kepada mereka dengan pelimpahan yang dapat merusak agama mereka, seraya berfirman, ﴾ وَلَوۡ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزۡقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan jikalau Allah melapangkan rizki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi," artinya, niscaya mereka lalai dari ketaatan kepada Allah dan tenggelam dalam menikmati syahwat kehidupan dunia. Jadi, hal itu pasti mem-buat mereka sibuk dengan apa-apa yang disenangi oleh nafsu me-reka sekalipun berupa maksiat dan kezhaliman. ﴾ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٖ مَّا يَشَآءُۚ ﴿ "Tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran," menurut tuntutan kelembutan dan hikmahNya. ﴾ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرُۢ بَصِيرٞ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat," sebagaimana disebutkan dalam salah satu riwayat (hadits Qudsi) bahwasanya Allah سبحانه وتعالى berfirman, إِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الصِّحَّةُ، وَلَوْ أَمْرَضْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِيْ مَنْ لَا يُصْلِحُ إِيْمَانَهُ إِلَّا الْمَرْضُ، وَلَوْ عَافَيْتُهُ لَأَفْسَدَهُ ذٰلِكَ، إِنِّيْ أُدَبِّرُ أَمْرَ عِبَادِيْ بِعِلْمِيْ بِمَا فِيْ قُلُوْبِهِمْ، إِنِّيْ خَبِيْرٌ بَصِيْرٌ. "Sesungguhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kekayaan, dan kalau seandainya Aku jadikan ia fakir (miskin), niscaya kefakiran itu merusaknya. Dan sesung-guhnya di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memperbaiki imannya kecuali kefakiran, kalau sekiranya Aku menjadikannya kaya, niscaya kekayaan itu merusaknya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak akan bisa memperbaiki imannya kecuali kesehatan, dan kalau sekiranya Aku menjadikannya sakit, niscaya penyakit itu merusak-nya; dan di antara hamba-hambaKu ada orang yang tidak bisa memper-baiki imannya kecuali sakit, kalau sekiranya Aku menjadikannya sehat, niscaya ia merusaknya. Sesungguhnya Aku mengatur urusan hamba-hambaKu berdasarkan pengetahuanKu terhadap apa yang ada di dalam hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui lagi Maha Melihat."[86]
(28) ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ ﴿ "Dan Dia-lah Yang menurunkan hujan" maksudnya, hujan lebat yang dengannya negeri dan manusia men-jadi hidup bergairah, ﴾ مِنۢ بَعۡدِ مَا قَنَطُواْ ﴿ "sesudah mereka berputus asa," maksudnya, setelah hujan tidak turun dalam sekian lama yang membuat mereka mengira ia tidak akan turun lagi dan mereka berputus asa dan mereka telah mengupayakan segala hal untuk (mengatasi) kekeringan itu, lalu Allah menurunkan hujan lebat, ﴾ وَيَنشُرُ ﴿ "dan menyebarkan" dengannya ﴾ رَحۡمَتَهُۥۚ ﴿ "rahmatNya," yaitu seperti menumbuhkan makanan-makanan pokok untuk manusia dan hewan-hewan ternak mereka, sehingga hujan itu sangat ber-kesan sekali bagi mereka, mereka bersuka-ria karenanya dan ber-gembira ﴾ وَهُوَ ٱلۡوَلِيُّ ﴿ "dan Dia-lah Yang Maha Pelindung" yang melin-dungi hamba-hambaNya dengan berbagai macam bentuk penga-turan, dan Dia-lah yang mengatur berbagai kepentingan agama dan dunia mereka ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji" dalam perlindungan dan pengaturanNya. Maha Terpuji Allah atas kesempurnaan yang dimilikiNya dan atas apa yang Dia limpahkan kepada makhlukNya dari berbagai macam bentuk karunia.
Asy-Syura 42:29
"Dan di antara ayat-ayatNya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendakiNya." (Asy-Syura: 29).
(29) Maksudnya, di antara bukti-bukti kekuasaanNya yang luar biasa dan bahwa Dia akan menghidupkan kembali orang-orang mati sesudah kematian mereka adalah, ﴾ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "mencipta-kan langit dan bumi," dengan begitu sangat besar dan luasnya, yang menunjukkan kepada kekuasaan dan kemahaluasan kerajaanNya, dan termasuk di dalamnya adalah kerapihan dan kekokohan yang menunjukkan hikmahNya, dan berbagai manfaat dan maslahat yang ada pada keduanya yang membuktikan rahmatNya. Dan semua itu menunjukkan bahwa sesungguhnya hanya Dia-lah yang berhak disembah, dan sesungguhnya ketuhanan selain Dia adalah palsu. ﴾ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا ﴿ "Dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia se-barkan pada keduanya," artinya, Dia menyebarluaskan berbagai jenis binatang melata di langit dan di bumi, yang Dia jadikan sebagai maslahat dan manfaat bagi hamba-hambaNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ ﴿ "Dan Dia, untuk mengumpulkan semuanya." Maksudnya, menghimpun seluruh manusia sesudah mereka untuk perjumpaan di Hari Kiamat, ﴾ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٞ ﴿ "apabila dikehendakiNya benar-benar Mahakuasa," sebab kekuasaan dan kehendakNya memang bisa untuk itu semua. Me-ngenai kepastian terjadinya pengumpulan kembali manusia di Hari Kiamat nanti, itu sangat tergantung kepada berita (informasi) yang benar, dan sesungguhnya sudah diketahui bahwa sangat banyak sekali berita-berita dari para rasul dan dari kitab-kitab suci mereka yang mengabarkan kepastian terjadinya pengumpulan manusia itu.
Asy-Syura 42:30
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar. Dan kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong selain Allah." (Asy-Syura: 30-31).
(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa apa pun musibah yang menimpa hamba-hambaNya, pada jasad mereka, pada harta atau-pun pada anak-anak mereka dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan oleh Allah سبحانه وتعالى lebih banyak dari itu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi diri mereka sen-dirilah yang menzhalimi diri mereka sendiri. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلۡمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيۡهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkanNya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan." (An-Nahl: 61).
(31) Penangguhan hukuman-hukuman bukanlah karena Allah mengabaikan dan bukan pula karena Allah tidak mampu, sebab ﴾ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi," maksudnya, (kalian tidak mungkin) mengalahkan kuasa Allah terhadap kalian, melainkan kalianlah yang lemah, tidak berdaya di muka bumi ini, kalian tidak bisa menghindar dari apa yang di-lakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun selain Allah," yang bisa me-lindungi kalian, sehingga kalian mendapat keuntungan-keuntung-an darinya ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula seorang penolong" yang dapat menolak marabahaya dari kalian.
Asy-Syura 42:31
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaaf-kan sebagian besar. Dan kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong selain Allah." (Asy-Syura: 30-31).
(30) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa apa pun musibah yang menimpa hamba-hambaNya, pada jasad mereka, pada harta atau-pun pada anak-anak mereka dan pada apa saja yang mereka cintai lagi sangat mereka sayangi, adalah akibat dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri, dan sesungguhnya yang dimaafkan oleh Allah سبحانه وتعالى lebih banyak dari itu. Sebab, sesungguhnya Allah tidak berbuat zhalim terhadap hamba-hambaNya, akan tetapi diri mereka sen-dirilah yang menzhalimi diri mereka sendiri. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلۡمِهِم مَّا تَرَكَ عَلَيۡهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Jikalau Allah menghukum manusia karena kezhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkanNya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan." (An-Nahl: 61).
(31) Penangguhan hukuman-hukuman bukanlah karena Allah mengabaikan dan bukan pula karena Allah tidak mampu, sebab ﴾ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "kamu tidak dapat mengalahkan di muka bumi," maksudnya, (kalian tidak mungkin) mengalahkan kuasa Allah terhadap kalian, melainkan kalianlah yang lemah, tidak berdaya di muka bumi ini, kalian tidak bisa menghindar dari apa yang di-lakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِيّٖ ﴿ "dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun selain Allah," yang bisa me-lindungi kalian, sehingga kalian mendapat keuntungan-keuntung-an darinya ﴾ وَلَا نَصِيرٖ ﴿ "dan tidak pula seorang penolong" yang dapat menolak marabahaya dari kalian.
Asy-Syura 42:32
"Dan di antara tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenang-kan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakanNya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar. Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka se-kali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar." (Asy-Syura: 32-35).
(32) Di antara bukti-bukti rahmat (kasih sayang)Nya dan perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, ﴾ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "ialah kapal-kapal di laut," berupa bahtera-bahtera dan berbagai kapal motor dan kapal layar yang karena sangat besarnya ﴾ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ﴿ "seperti gunung-gunung," yakni gunung-gunung besar. Dan Allah-lah yang telah menundukkan lautan yang berkecamuk itu untuknya dan men-jaganya dari gempuran gelombang. Dia menjadikannya mampu membawa kalian dan membawa berbagai barang yang sangat ba-nyak milik kalian menuju negeri-negeri dan penjuru-penjuru nan jauh di sana, dan Dia menundukkan pula untuk berbagai sebab (fasilitas) yang mempermudah semua itu.
(33-34) Kemudian Allah menyinggung sebab-sebab (fasi-litas-fasilitas) tersebut dengan FirmanNya, ﴾ إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin," yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab yang membuatnya bisa berjalan, ﴾ فَيَظۡلَلۡنَ ﴿ "maka jadilah," yakni, kapal-kapal itu ﴾ رَوَاكِدَ ﴿ "terhenti" di permukaan lautan, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Ini tidak menjadi batal karena adanya kapal-kapal motor, sebab di antara syaratnya untuk bisa berangkat adalah adanya angin. Dan jika Allah سبحانه وتعالى meng-hendaki, niscaya Dia membinasakan kapal-kapal tersebut karena perbuatan para penumpangnya. Maksudnya, Allah menenggelam-kannya di dalam lautan dan menghancurkannya. Namun Allah masih berlaku lembut dan memaafkan kebanyakan (perbuatan mereka. Pent). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," maksudnya, sangat penyabar terhadap hal-hal yang tidak disuka oleh jiwanya dan menyusahkannya sehingga ia tidak menyukainya, seperti kesusahan dalam menjalankan ketaatan atau dalam menolak bujukan untuk berbuat maksiat, atau untuk menghentikan jiwanya bersikap murka di saat ditimpa musibah. Dan suka berterima kasih di waktu senang dan di saat menerima berbagai nikmat, dia mengakui karunia Tuhannya, ia tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka mencari keridha-anNya. Itulah orang yang akan dapat banyak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak mempunyai kesa-baran dan tidak mempunyai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka ia pasti berpaling atau bersikap keras kepala, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.
(35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui," untuk membatalkannya (merusaknya) dengan kebatilan mereka, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar," artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka.
Asy-Syura 42:33
"Dan di antara tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenang-kan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakanNya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar. Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka se-kali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar." (Asy-Syura: 32-35).
(32) Di antara bukti-bukti rahmat (kasih sayang)Nya dan perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, ﴾ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "ialah kapal-kapal di laut," berupa bahtera-bahtera dan berbagai kapal motor dan kapal layar yang karena sangat besarnya ﴾ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ﴿ "seperti gunung-gunung," yakni gunung-gunung besar. Dan Allah-lah yang telah menundukkan lautan yang berkecamuk itu untuknya dan men-jaganya dari gempuran gelombang. Dia menjadikannya mampu membawa kalian dan membawa berbagai barang yang sangat ba-nyak milik kalian menuju negeri-negeri dan penjuru-penjuru nan jauh di sana, dan Dia menundukkan pula untuk berbagai sebab (fasilitas) yang mempermudah semua itu.
(33-34) Kemudian Allah menyinggung sebab-sebab (fasi-litas-fasilitas) tersebut dengan FirmanNya, ﴾ إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin," yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab yang membuatnya bisa berjalan, ﴾ فَيَظۡلَلۡنَ ﴿ "maka jadilah," yakni, kapal-kapal itu ﴾ رَوَاكِدَ ﴿ "terhenti" di permukaan lautan, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Ini tidak menjadi batal karena adanya kapal-kapal motor, sebab di antara syaratnya untuk bisa berangkat adalah adanya angin. Dan jika Allah سبحانه وتعالى meng-hendaki, niscaya Dia membinasakan kapal-kapal tersebut karena perbuatan para penumpangnya. Maksudnya, Allah menenggelam-kannya di dalam lautan dan menghancurkannya. Namun Allah masih berlaku lembut dan memaafkan kebanyakan (perbuatan mereka. Pent). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," maksudnya, sangat penyabar terhadap hal-hal yang tidak disuka oleh jiwanya dan menyusahkannya sehingga ia tidak menyukainya, seperti kesusahan dalam menjalankan ketaatan atau dalam menolak bujukan untuk berbuat maksiat, atau untuk menghentikan jiwanya bersikap murka di saat ditimpa musibah. Dan suka berterima kasih di waktu senang dan di saat menerima berbagai nikmat, dia mengakui karunia Tuhannya, ia tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka mencari keridha-anNya. Itulah orang yang akan dapat banyak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak mempunyai kesa-baran dan tidak mempunyai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka ia pasti berpaling atau bersikap keras kepala, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.
(35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui," untuk membatalkannya (merusaknya) dengan kebatilan mereka, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar," artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka.
Asy-Syura 42:34
"Dan di antara tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenang-kan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakanNya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar. Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka se-kali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar." (Asy-Syura: 32-35).
(32) Di antara bukti-bukti rahmat (kasih sayang)Nya dan perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, ﴾ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "ialah kapal-kapal di laut," berupa bahtera-bahtera dan berbagai kapal motor dan kapal layar yang karena sangat besarnya ﴾ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ﴿ "seperti gunung-gunung," yakni gunung-gunung besar. Dan Allah-lah yang telah menundukkan lautan yang berkecamuk itu untuknya dan men-jaganya dari gempuran gelombang. Dia menjadikannya mampu membawa kalian dan membawa berbagai barang yang sangat ba-nyak milik kalian menuju negeri-negeri dan penjuru-penjuru nan jauh di sana, dan Dia menundukkan pula untuk berbagai sebab (fasilitas) yang mempermudah semua itu.
(33-34) Kemudian Allah menyinggung sebab-sebab (fasi-litas-fasilitas) tersebut dengan FirmanNya, ﴾ إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin," yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab yang membuatnya bisa berjalan, ﴾ فَيَظۡلَلۡنَ ﴿ "maka jadilah," yakni, kapal-kapal itu ﴾ رَوَاكِدَ ﴿ "terhenti" di permukaan lautan, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Ini tidak menjadi batal karena adanya kapal-kapal motor, sebab di antara syaratnya untuk bisa berangkat adalah adanya angin. Dan jika Allah سبحانه وتعالى meng-hendaki, niscaya Dia membinasakan kapal-kapal tersebut karena perbuatan para penumpangnya. Maksudnya, Allah menenggelam-kannya di dalam lautan dan menghancurkannya. Namun Allah masih berlaku lembut dan memaafkan kebanyakan (perbuatan mereka. Pent). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," maksudnya, sangat penyabar terhadap hal-hal yang tidak disuka oleh jiwanya dan menyusahkannya sehingga ia tidak menyukainya, seperti kesusahan dalam menjalankan ketaatan atau dalam menolak bujukan untuk berbuat maksiat, atau untuk menghentikan jiwanya bersikap murka di saat ditimpa musibah. Dan suka berterima kasih di waktu senang dan di saat menerima berbagai nikmat, dia mengakui karunia Tuhannya, ia tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka mencari keridha-anNya. Itulah orang yang akan dapat banyak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak mempunyai kesa-baran dan tidak mempunyai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka ia pasti berpaling atau bersikap keras kepala, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.
(35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui," untuk membatalkannya (merusaknya) dengan kebatilan mereka, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar," artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka.
Asy-Syura 42:35
"Dan di antara tanda-tandaNya ialah kapal-kapal di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia akan menenang-kan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal itu dibinasakanNya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf sebagian besar. Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui bahwa mereka se-kali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar." (Asy-Syura: 32-35).
(32) Di antara bukti-bukti rahmat (kasih sayang)Nya dan perhatianNya terhadap hamba-hambaNya, ﴾ ٱلۡجَوَارِ فِي ٱلۡبَحۡرِ ﴿ "ialah kapal-kapal di laut," berupa bahtera-bahtera dan berbagai kapal motor dan kapal layar yang karena sangat besarnya ﴾ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ ﴿ "seperti gunung-gunung," yakni gunung-gunung besar. Dan Allah-lah yang telah menundukkan lautan yang berkecamuk itu untuknya dan men-jaganya dari gempuran gelombang. Dia menjadikannya mampu membawa kalian dan membawa berbagai barang yang sangat ba-nyak milik kalian menuju negeri-negeri dan penjuru-penjuru nan jauh di sana, dan Dia menundukkan pula untuk berbagai sebab (fasilitas) yang mempermudah semua itu.
(33-34) Kemudian Allah menyinggung sebab-sebab (fasi-litas-fasilitas) tersebut dengan FirmanNya, ﴾ إِن يَشَأۡ يُسۡكِنِ ٱلرِّيحَ ﴿ "Jika Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin," yang dijadikan oleh Allah sebagai sebab yang membuatnya bisa berjalan, ﴾ فَيَظۡلَلۡنَ ﴿ "maka jadilah," yakni, kapal-kapal itu ﴾ رَوَاكِدَ ﴿ "terhenti" di permukaan lautan, tidak bisa maju dan tidak bisa mundur. Ini tidak menjadi batal karena adanya kapal-kapal motor, sebab di antara syaratnya untuk bisa berangkat adalah adanya angin. Dan jika Allah سبحانه وتعالى meng-hendaki, niscaya Dia membinasakan kapal-kapal tersebut karena perbuatan para penumpangnya. Maksudnya, Allah menenggelam-kannya di dalam lautan dan menghancurkannya. Namun Allah masih berlaku lembut dan memaafkan kebanyakan (perbuatan mereka. Pent). ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّكُلِّ صَبَّارٖ شَكُورٍ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tandaNya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur," maksudnya, sangat penyabar terhadap hal-hal yang tidak disuka oleh jiwanya dan menyusahkannya sehingga ia tidak menyukainya, seperti kesusahan dalam menjalankan ketaatan atau dalam menolak bujukan untuk berbuat maksiat, atau untuk menghentikan jiwanya bersikap murka di saat ditimpa musibah. Dan suka berterima kasih di waktu senang dan di saat menerima berbagai nikmat, dia mengakui karunia Tuhannya, ia tunduk patuh kepadaNya dan menggunakannya dalam rangka mencari keridha-anNya. Itulah orang yang akan dapat banyak mengambil manfaat dari ayat-ayat Allah. Adapun orang yang tidak mempunyai kesa-baran dan tidak mempunyai rasa syukur terhadap nikmat-nikmat Allah, maka ia pasti berpaling atau bersikap keras kepala, tidak mau mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah.
(35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَعۡلَمَ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا ﴿ "Dan supaya orang-orang yang membantah ayat-ayat Kami mengetahui," untuk membatalkannya (merusaknya) dengan kebatilan mereka, ﴾ مَا لَهُم مِّن مَّحِيصٖ ﴿ "bahwa mereka sekali-kali tidak akan memperoleh jalan keluar," artinya, tidak ada yang bisa menyelamatkan mereka dari siksa yang menimpa mereka.
Asy-Syura 42:36
"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu ada-lah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal, dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka adalah musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri." (Asy-Syura: 36-39).
(36) Ini adalah anjuran zuhud terhadap dunia dan rang-sangan untuk mencintai akhirat dan penjelasan tentang amal-amal yang bisa mengantarkan kepadanya, seraya berfirman, ﴾ فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu" berupa kerajaan, kekuasaan, harta kekayaan, anak-anak, kesehatan, dan keselamat-an fisik, ﴾ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "itu adalah kenikmatan hidup di dunia," suatu kelezatan yang akan punah dan akan terputus, ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "dan yang ada pada sisi Allah," yaitu pahala yang berlimpah dan balasan yang sangat mulia dan kenikmatan abadi, adalah ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "lebih baik," dari kelezatan-kelezatan dunia; suatu perbandingan kebaikan yang jauh di antara keduanya, ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," sebab ia adalah kenikmatan yang tidak ada kesusahannya, tidak ada kekeruhannya, dan tidak ada perpindahan. Kemudian Dia menjelaskan milik siapa pahala itu, seraya berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal," maksudnya, me-reka memadukan antara iman yang benar yang melahirkan amal-amal iman yang nampak dan yang tidak tampak, dengan tawakal (sikap berserah diri) yang merupakan alat bagi setiap amal. Sebab, setiap amal (perbuatan) yang tidak disertai tawakal adalah tidak sempurna. Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati dalam mencari apa-apa yang dicintai dan menolak apa-apa yang tidak disukai, disertai dengan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
(37) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan (juga bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji." Perbeda-an antara dosa-dosa besar dengan perbuatan-perbuatan keji, sekali-pun semuanya merupakan dosa besar, adalah bahwa perbuatan-perbuatan keji adalah dosa-dosa yang sangat besar yang di dalam jiwa terdapat nafsu dorongan untuk melakukannya, seperti zina dan yang serupa dengannya. Sedangkan dosa-dosa besar adalah yang tidak seperti itu. Pengertian ini adalah bila keduanya disebut-kan secara bersamaan. Adapun kalau masing-masing disebutkan secara terpisah (tersendiri), maka yang terakhir masuk kepada yang sebelumnya. ﴾ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan (juga bagi orang-orang yang) apabila mereka marah, mereka memberi maaf." Maksudnya, mereka telah berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehingga sifat lembut telah menjadi karakter mereka, akhlak mulia telah menjadi tabiat mereka hingga apabila ada seseorang yang membuatnya marah dengan ucapan ataupun perbuatannya, mereka menahan kema-rahannya itu, mereka tidak melepaskannya, bahkan mereka me-maafkannya. Mereka tidak membalas orang yang berbuat buruk kecuali dengan ihsan (sikap baik), memaafkan, dan berlapang dada. Maka sikap memaafkan dan berlapang dada ini melahirkan banyak maslahat dan banyak mencegah timbulnya kerusakan pada diri mereka sendiri dan pada orang lain. Ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di-anugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).
(38) ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya," maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNya, meme-nuhi seruanNya dan tujuan mereka pun adalah keridhaanNya dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNya. Terma-suk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menu-naikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai 'athful-am 'alal-khash (pengikutan yang umum kepada yang khusus) yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan shalat" yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ﴾ وَأَمۡرُهُمۡ ﴿ "Sedang urusan mereka," yang bersifat religi dan yang ber-sifat duniawi ﴾ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "adalah musyawarah antara mereka," maksud-nya, tidak seorang pun dari mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama di antara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari keber-samaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang-menyayangi di antara mereka, dan merupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengerahan pikiran dan pendapat, maka mereka berkumpul, bermusyawarah, serta melakukan pem-bahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera mengambilnya. Ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. Juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. Mela-kukan pembahasan terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.
(39) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," maksudnya, kezhaliman yang sampai kepada mereka dari musuh, ﴾ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "mereka membela diri," karena kekuatan dan keperkasaan (harga diri) mereka. Mereka tidak men-jadi manusia yang hina dan lemah untuk membela diri. Ringkasnya, Allah menyifati mereka dengan iman, tawakal kepada Allah, menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa-dosa besar yang dengannya dosa-dosa kecil dihapuskan, kepatuhan yang sempurna dan memenuhi seruan Tuhan mereka, menegakkan shalat, berinfak di jalan-jalan kebajikan, bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, kekuatan dan membela diri terhadap musuh. Inilah karakter-karakter kesempurnaan, mereka telah me-milikinya semua, dan keberadaan karakter-karakter mulia dalam diri mereka tersebut memastikan mereka melakukan karakter-karakter lainnya dan menjauhi lawan-lawannya.
Asy-Syura 42:37
"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu ada-lah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal, dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka adalah musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri." (Asy-Syura: 36-39).
(36) Ini adalah anjuran zuhud terhadap dunia dan rang-sangan untuk mencintai akhirat dan penjelasan tentang amal-amal yang bisa mengantarkan kepadanya, seraya berfirman, ﴾ فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu" berupa kerajaan, kekuasaan, harta kekayaan, anak-anak, kesehatan, dan keselamat-an fisik, ﴾ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "itu adalah kenikmatan hidup di dunia," suatu kelezatan yang akan punah dan akan terputus, ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "dan yang ada pada sisi Allah," yaitu pahala yang berlimpah dan balasan yang sangat mulia dan kenikmatan abadi, adalah ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "lebih baik," dari kelezatan-kelezatan dunia; suatu perbandingan kebaikan yang jauh di antara keduanya, ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," sebab ia adalah kenikmatan yang tidak ada kesusahannya, tidak ada kekeruhannya, dan tidak ada perpindahan. Kemudian Dia menjelaskan milik siapa pahala itu, seraya berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal," maksudnya, me-reka memadukan antara iman yang benar yang melahirkan amal-amal iman yang nampak dan yang tidak tampak, dengan tawakal (sikap berserah diri) yang merupakan alat bagi setiap amal. Sebab, setiap amal (perbuatan) yang tidak disertai tawakal adalah tidak sempurna. Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati dalam mencari apa-apa yang dicintai dan menolak apa-apa yang tidak disukai, disertai dengan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
(37) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan (juga bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji." Perbeda-an antara dosa-dosa besar dengan perbuatan-perbuatan keji, sekali-pun semuanya merupakan dosa besar, adalah bahwa perbuatan-perbuatan keji adalah dosa-dosa yang sangat besar yang di dalam jiwa terdapat nafsu dorongan untuk melakukannya, seperti zina dan yang serupa dengannya. Sedangkan dosa-dosa besar adalah yang tidak seperti itu. Pengertian ini adalah bila keduanya disebut-kan secara bersamaan. Adapun kalau masing-masing disebutkan secara terpisah (tersendiri), maka yang terakhir masuk kepada yang sebelumnya. ﴾ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan (juga bagi orang-orang yang) apabila mereka marah, mereka memberi maaf." Maksudnya, mereka telah berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehingga sifat lembut telah menjadi karakter mereka, akhlak mulia telah menjadi tabiat mereka hingga apabila ada seseorang yang membuatnya marah dengan ucapan ataupun perbuatannya, mereka menahan kema-rahannya itu, mereka tidak melepaskannya, bahkan mereka me-maafkannya. Mereka tidak membalas orang yang berbuat buruk kecuali dengan ihsan (sikap baik), memaafkan, dan berlapang dada. Maka sikap memaafkan dan berlapang dada ini melahirkan banyak maslahat dan banyak mencegah timbulnya kerusakan pada diri mereka sendiri dan pada orang lain. Ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di-anugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).
(38) ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya," maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNya, meme-nuhi seruanNya dan tujuan mereka pun adalah keridhaanNya dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNya. Terma-suk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menu-naikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai 'athful-am 'alal-khash (pengikutan yang umum kepada yang khusus) yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan shalat" yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ﴾ وَأَمۡرُهُمۡ ﴿ "Sedang urusan mereka," yang bersifat religi dan yang ber-sifat duniawi ﴾ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "adalah musyawarah antara mereka," maksud-nya, tidak seorang pun dari mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama di antara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari keber-samaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang-menyayangi di antara mereka, dan merupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengerahan pikiran dan pendapat, maka mereka berkumpul, bermusyawarah, serta melakukan pem-bahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera mengambilnya. Ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. Juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. Mela-kukan pembahasan terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.
(39) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," maksudnya, kezhaliman yang sampai kepada mereka dari musuh, ﴾ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "mereka membela diri," karena kekuatan dan keperkasaan (harga diri) mereka. Mereka tidak men-jadi manusia yang hina dan lemah untuk membela diri. Ringkasnya, Allah menyifati mereka dengan iman, tawakal kepada Allah, menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa-dosa besar yang dengannya dosa-dosa kecil dihapuskan, kepatuhan yang sempurna dan memenuhi seruan Tuhan mereka, menegakkan shalat, berinfak di jalan-jalan kebajikan, bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, kekuatan dan membela diri terhadap musuh. Inilah karakter-karakter kesempurnaan, mereka telah me-milikinya semua, dan keberadaan karakter-karakter mulia dalam diri mereka tersebut memastikan mereka melakukan karakter-karakter lainnya dan menjauhi lawan-lawannya.
Asy-Syura 42:38
"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu ada-lah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal, dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka adalah musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri." (Asy-Syura: 36-39).
(36) Ini adalah anjuran zuhud terhadap dunia dan rang-sangan untuk mencintai akhirat dan penjelasan tentang amal-amal yang bisa mengantarkan kepadanya, seraya berfirman, ﴾ فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu" berupa kerajaan, kekuasaan, harta kekayaan, anak-anak, kesehatan, dan keselamat-an fisik, ﴾ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "itu adalah kenikmatan hidup di dunia," suatu kelezatan yang akan punah dan akan terputus, ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "dan yang ada pada sisi Allah," yaitu pahala yang berlimpah dan balasan yang sangat mulia dan kenikmatan abadi, adalah ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "lebih baik," dari kelezatan-kelezatan dunia; suatu perbandingan kebaikan yang jauh di antara keduanya, ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," sebab ia adalah kenikmatan yang tidak ada kesusahannya, tidak ada kekeruhannya, dan tidak ada perpindahan. Kemudian Dia menjelaskan milik siapa pahala itu, seraya berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal," maksudnya, me-reka memadukan antara iman yang benar yang melahirkan amal-amal iman yang nampak dan yang tidak tampak, dengan tawakal (sikap berserah diri) yang merupakan alat bagi setiap amal. Sebab, setiap amal (perbuatan) yang tidak disertai tawakal adalah tidak sempurna. Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati dalam mencari apa-apa yang dicintai dan menolak apa-apa yang tidak disukai, disertai dengan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
(37) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan (juga bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji." Perbeda-an antara dosa-dosa besar dengan perbuatan-perbuatan keji, sekali-pun semuanya merupakan dosa besar, adalah bahwa perbuatan-perbuatan keji adalah dosa-dosa yang sangat besar yang di dalam jiwa terdapat nafsu dorongan untuk melakukannya, seperti zina dan yang serupa dengannya. Sedangkan dosa-dosa besar adalah yang tidak seperti itu. Pengertian ini adalah bila keduanya disebut-kan secara bersamaan. Adapun kalau masing-masing disebutkan secara terpisah (tersendiri), maka yang terakhir masuk kepada yang sebelumnya. ﴾ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan (juga bagi orang-orang yang) apabila mereka marah, mereka memberi maaf." Maksudnya, mereka telah berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehingga sifat lembut telah menjadi karakter mereka, akhlak mulia telah menjadi tabiat mereka hingga apabila ada seseorang yang membuatnya marah dengan ucapan ataupun perbuatannya, mereka menahan kema-rahannya itu, mereka tidak melepaskannya, bahkan mereka me-maafkannya. Mereka tidak membalas orang yang berbuat buruk kecuali dengan ihsan (sikap baik), memaafkan, dan berlapang dada. Maka sikap memaafkan dan berlapang dada ini melahirkan banyak maslahat dan banyak mencegah timbulnya kerusakan pada diri mereka sendiri dan pada orang lain. Ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di-anugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).
(38) ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya," maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNya, meme-nuhi seruanNya dan tujuan mereka pun adalah keridhaanNya dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNya. Terma-suk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menu-naikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai 'athful-am 'alal-khash (pengikutan yang umum kepada yang khusus) yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan shalat" yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ﴾ وَأَمۡرُهُمۡ ﴿ "Sedang urusan mereka," yang bersifat religi dan yang ber-sifat duniawi ﴾ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "adalah musyawarah antara mereka," maksud-nya, tidak seorang pun dari mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama di antara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari keber-samaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang-menyayangi di antara mereka, dan merupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengerahan pikiran dan pendapat, maka mereka berkumpul, bermusyawarah, serta melakukan pem-bahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera mengambilnya. Ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. Juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. Mela-kukan pembahasan terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.
(39) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," maksudnya, kezhaliman yang sampai kepada mereka dari musuh, ﴾ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "mereka membela diri," karena kekuatan dan keperkasaan (harga diri) mereka. Mereka tidak men-jadi manusia yang hina dan lemah untuk membela diri. Ringkasnya, Allah menyifati mereka dengan iman, tawakal kepada Allah, menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa-dosa besar yang dengannya dosa-dosa kecil dihapuskan, kepatuhan yang sempurna dan memenuhi seruan Tuhan mereka, menegakkan shalat, berinfak di jalan-jalan kebajikan, bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, kekuatan dan membela diri terhadap musuh. Inilah karakter-karakter kesempurnaan, mereka telah me-milikinya semua, dan keberadaan karakter-karakter mulia dalam diri mereka tersebut memastikan mereka melakukan karakter-karakter lainnya dan menjauhi lawan-lawannya.
Asy-Syura 42:39
"Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu ada-lah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb, mereka bertawakal, dan orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah, mereka memberi maaf. Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka adalah musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka. Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri." (Asy-Syura: 36-39).
(36) Ini adalah anjuran zuhud terhadap dunia dan rang-sangan untuk mencintai akhirat dan penjelasan tentang amal-amal yang bisa mengantarkan kepadanya, seraya berfirman, ﴾ فَمَآ أُوتِيتُم مِّن شَيۡءٖ ﴿ "Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu" berupa kerajaan, kekuasaan, harta kekayaan, anak-anak, kesehatan, dan keselamat-an fisik, ﴾ فَمَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "itu adalah kenikmatan hidup di dunia," suatu kelezatan yang akan punah dan akan terputus, ﴾ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "dan yang ada pada sisi Allah," yaitu pahala yang berlimpah dan balasan yang sangat mulia dan kenikmatan abadi, adalah ﴾ خَيۡرٞ ﴿ "lebih baik," dari kelezatan-kelezatan dunia; suatu perbandingan kebaikan yang jauh di antara keduanya, ﴾ وَأَبۡقَىٰ ﴿ "dan lebih kekal," sebab ia adalah kenikmatan yang tidak ada kesusahannya, tidak ada kekeruhannya, dan tidak ada perpindahan. Kemudian Dia menjelaskan milik siapa pahala itu, seraya berfirman, ﴾ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ ﴿ "Bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakal," maksudnya, me-reka memadukan antara iman yang benar yang melahirkan amal-amal iman yang nampak dan yang tidak tampak, dengan tawakal (sikap berserah diri) yang merupakan alat bagi setiap amal. Sebab, setiap amal (perbuatan) yang tidak disertai tawakal adalah tidak sempurna. Tawakal adalah bersandar kepada Allah dengan hati dalam mencari apa-apa yang dicintai dan menolak apa-apa yang tidak disukai, disertai dengan sikap percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى.
(37) ﴾ وَٱلَّذِينَ يَجۡتَنِبُونَ كَبَٰٓئِرَ ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡفَوَٰحِشَ ﴿ "Dan (juga bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji." Perbeda-an antara dosa-dosa besar dengan perbuatan-perbuatan keji, sekali-pun semuanya merupakan dosa besar, adalah bahwa perbuatan-perbuatan keji adalah dosa-dosa yang sangat besar yang di dalam jiwa terdapat nafsu dorongan untuk melakukannya, seperti zina dan yang serupa dengannya. Sedangkan dosa-dosa besar adalah yang tidak seperti itu. Pengertian ini adalah bila keduanya disebut-kan secara bersamaan. Adapun kalau masing-masing disebutkan secara terpisah (tersendiri), maka yang terakhir masuk kepada yang sebelumnya. ﴾ وَإِذَا مَا غَضِبُواْ هُمۡ يَغۡفِرُونَ ﴿ "Dan (juga bagi orang-orang yang) apabila mereka marah, mereka memberi maaf." Maksudnya, mereka telah berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehingga sifat lembut telah menjadi karakter mereka, akhlak mulia telah menjadi tabiat mereka hingga apabila ada seseorang yang membuatnya marah dengan ucapan ataupun perbuatannya, mereka menahan kema-rahannya itu, mereka tidak melepaskannya, bahkan mereka me-maafkannya. Mereka tidak membalas orang yang berbuat buruk kecuali dengan ihsan (sikap baik), memaafkan, dan berlapang dada. Maka sikap memaafkan dan berlapang dada ini melahirkan banyak maslahat dan banyak mencegah timbulnya kerusakan pada diri mereka sendiri dan pada orang lain. Ini sebagaimana FirmanNya, ﴾ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِي بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُۥ عَدَٰوَةٞ كَأَنَّهُۥ وَلِيٌّ حَمِيمٞ 34 وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ 35 ﴿ "Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak di-anugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (Fushshilat: 34-35).
(38) ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱسۡتَجَابُواْ لِرَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang menerima seruan Rabbnya," maksudnya, mereka tunduk untuk menaatiNya, meme-nuhi seruanNya dan tujuan mereka pun adalah keridhaanNya dan tujuan akhir mereka adalah meraih kedekatan denganNya. Terma-suk memenuhi seruan Allah adalah menegakkan shalat dan menu-naikan zakat. Maka dari itu Allah menyambung keduanya dengan yang sebelumnya sebagai 'athful-am 'alal-khash (pengikutan yang umum kepada yang khusus) yang menunjukkan kemuliaan dan keutamaan yang khusus itu, seraya berfirman, ﴾ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan mendirikan shalat" yang lahir dan yang batinnya, yang fardhu dan yang sunnahnya, ﴾ وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ ﴿ "dan mereka menginfakkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka," infak yang wajib seperti zakat, infak terhadap kerabat dekat dan yang semisal mereka, dan infak yang sunnah seperti bersedekah kepada masyarakat awam. ﴾ وَأَمۡرُهُمۡ ﴿ "Sedang urusan mereka," yang bersifat religi dan yang ber-sifat duniawi ﴾ شُورَىٰ بَيۡنَهُمۡ ﴿ "adalah musyawarah antara mereka," maksud-nya, tidak seorang pun dari mereka yang bersikap otoriter dengan pendapatnya dalam suatu urusan bersama di antara mereka. Ini tidak akan terjadi kecuali merupakan bagian dari keber-samaan, kekompakan, kecintaan, dan saling sayang-menyayangi di antara mereka, dan merupakan kesempurnaan (kematangan) pikiran mereka adalah bahwa apabila mereka hendak melakukan suatu perkara yang memerlukan pengerahan pikiran dan pendapat, maka mereka berkumpul, bermusyawarah, serta melakukan pem-bahasan tentangnya, hingga jika kemaslahatan sudah terbukti, maka mereka segera mengambilnya. Ini seperti pendapat (ide) dalam peperangan dan jihad, penugasan para petugas untuk menduduki suatu jabatan kekuasaan atau hakim atau yang semisal dengannya. Juga seperti pembahasan tentang masalah-masalah agama secara umum, sebab semua itu termasuk permasalahan bersama. Mela-kukan pembahasan terhadapnya adalah untuk menjelaskan yang tepat dari yang dicintai Allah. Itu semua masuk dalam ayat ini.
(39) ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," maksudnya, kezhaliman yang sampai kepada mereka dari musuh, ﴾ هُمۡ يَنتَصِرُونَ ﴿ "mereka membela diri," karena kekuatan dan keperkasaan (harga diri) mereka. Mereka tidak men-jadi manusia yang hina dan lemah untuk membela diri. Ringkasnya, Allah menyifati mereka dengan iman, tawakal kepada Allah, menjauhi perbuatan-perbuatan keji dan dosa-dosa besar yang dengannya dosa-dosa kecil dihapuskan, kepatuhan yang sempurna dan memenuhi seruan Tuhan mereka, menegakkan shalat, berinfak di jalan-jalan kebajikan, bermusyawarah dalam urusan-urusan mereka, kekuatan dan membela diri terhadap musuh. Inilah karakter-karakter kesempurnaan, mereka telah me-milikinya semua, dan keberadaan karakter-karakter mulia dalam diri mereka tersebut memastikan mereka melakukan karakter-karakter lainnya dan menjauhi lawan-lawannya.
Asy-Syura 42:40
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya jalan itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syura: 40-43).
(40) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pada ayat ini tingkatan-tingkatan hukuman, yaitu ada tiga tingkatan: Keadilan, keutamaan, dan kezhaliman. Tingkatan adil adalah membalas kejahatan dengan kejahatan serupa, tidak lebih dan tidak kurang. Maka nyawa di-balas dengan nyawa, setiap anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sama, dan harta dibalas dengan ganti rugi harta yang semisal. Tingkatan keutamaan adalah memaafkan dan berdamai dengan yang berbuat kesalahan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." Allah akan memberinya balasan upah yang sangat besar dan pahala yang sangat banyak. Allah سبحانه وتعالى memberikan persyaratan dalam pemberian maaf, yaitu untuk perbaikan dan memberikan petunjuk bahwa apabila si pelaku kejahatan itu tidak pantas diberi maaf sedangkan masla-hat syar'i menuntut ia harus dihukum, maka dalam kondisi seperti ini pemberian maaf tidak diperintahkan. Dan pada pahala yang ditanggung Allah itu mengandung himbauan untuk memberikan maaf, dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana ia senang kalau dimaafkan oleh Allah, maka hendaknya ia memaafkan me-reka. Sebagaimana ia senang kalau diampuni Allah, maka hendak-lah ia mengampuni mereka, karena sesungguhnya ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. Dan tingkatan kezhaliman telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى de-ngan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang terlebih dahulu melakukan kejahatan terhadap orang lain, atau membalas pelaku kejahatan dengan balasan yang melebihi kejahatannya. Jadi, ber-lebihan itu adalah tindak kezhaliman.
(41) ﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang mem-bela diri," dari ﴾ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "sesudah teraniaya," maksudnya, membela diri dari orang yang menganiayanya setelah kezhaliman menimpa-nya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَا عَلَيۡهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿ "tidak ada suatu dosa pun atas mereka." Arti-nya, tidak ada dosa atas mereka dalam melakukan pembelaan itu. FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," dan FirmanNya,﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah ter-aniaya," menunjukkan bahwa perbuatan penganiayaan dan kezha-liman sudah ada dan telah terjadi. Adapun kalau masih hanya dalam bentuk keinginan untuk melakukan penganiayaan terhadap orang lain dan keinginan untuk bertindak zhalim, namun belum dilakukan sedikitpun, maka yang seperti ini tidak boleh diberi ba-lasan dengan yang serupa. Ia hanya diberi pelajaran yang bisa mem-buatnya jera dari perkataan atau perbuatan yang berasal darinya.
(42) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan itu," artinya, sesung-guhnya hujjah berupa hukuman syar'i itu d i t u j u k a n ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظۡلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak." Ini meliputi semua bentuk kezhaliman dan penganiayaan terhadap orang lain, terhadap darah (jiwa) mereka, harta atau kehormatan mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Mereka itu mendapat azab yang pedih," artinya, yang menyakitkan jiwa dan badan sesuai dengan kezhaliman dan penganiayaannya.
(43) ﴾ وَلَمَن صَبَرَ ﴿ "Tetapi orang yang bersabar" dalam mengha-dapi apa yang dia rasakan dari gangguan orang lain, ﴾ وَغَفَرَ ﴿ "dan memaafkan" mereka dengan memaafkan perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya, ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan," artinya, termasuk perkara-perkara yang dianjurkan dan ditekankan oleh Allah dan Allah me-ngabarkan bahwa ia tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang penyabar yang memperoleh keutamaan yang sangat besar, dan ia termasuk perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki tekad dan kemauan keras dan orang-orang yang memiliki pikiran dan nurani. Sebab, sesungguhnya tidak melakukan pembelaan diri dengan ucapan atau perbuatan adalah merupakan sesuatu yang sangat berat bagi jiwa, dan sabar atas gangguan, memaafkan, mengampuni dan membalasnya de-ngan kebaikan adalah lebih berat dan lebih berat lagi. Namun, itu semua ringan bagi orang yang diringankan oleh Allah dan berjihad melawan nafsunya untuk bisa bersikap demikian serta memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk itu. Kemudian apabila seorang hamba merasakan manisnya sabar dan menemukan pengaruh-pengaruhnya, maka ia akan menghadapi semua itu dengan lapang dada, akhlak mulia, dan menikmatinya.
Asy-Syura 42:41
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya jalan itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syura: 40-43).
(40) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pada ayat ini tingkatan-tingkatan hukuman, yaitu ada tiga tingkatan: Keadilan, keutamaan, dan kezhaliman. Tingkatan adil adalah membalas kejahatan dengan kejahatan serupa, tidak lebih dan tidak kurang. Maka nyawa di-balas dengan nyawa, setiap anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sama, dan harta dibalas dengan ganti rugi harta yang semisal. Tingkatan keutamaan adalah memaafkan dan berdamai dengan yang berbuat kesalahan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." Allah akan memberinya balasan upah yang sangat besar dan pahala yang sangat banyak. Allah سبحانه وتعالى memberikan persyaratan dalam pemberian maaf, yaitu untuk perbaikan dan memberikan petunjuk bahwa apabila si pelaku kejahatan itu tidak pantas diberi maaf sedangkan masla-hat syar'i menuntut ia harus dihukum, maka dalam kondisi seperti ini pemberian maaf tidak diperintahkan. Dan pada pahala yang ditanggung Allah itu mengandung himbauan untuk memberikan maaf, dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana ia senang kalau dimaafkan oleh Allah, maka hendaknya ia memaafkan me-reka. Sebagaimana ia senang kalau diampuni Allah, maka hendak-lah ia mengampuni mereka, karena sesungguhnya ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. Dan tingkatan kezhaliman telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى de-ngan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang terlebih dahulu melakukan kejahatan terhadap orang lain, atau membalas pelaku kejahatan dengan balasan yang melebihi kejahatannya. Jadi, ber-lebihan itu adalah tindak kezhaliman.
(41) ﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang mem-bela diri," dari ﴾ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "sesudah teraniaya," maksudnya, membela diri dari orang yang menganiayanya setelah kezhaliman menimpa-nya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَا عَلَيۡهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿ "tidak ada suatu dosa pun atas mereka." Arti-nya, tidak ada dosa atas mereka dalam melakukan pembelaan itu. FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," dan FirmanNya,﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah ter-aniaya," menunjukkan bahwa perbuatan penganiayaan dan kezha-liman sudah ada dan telah terjadi. Adapun kalau masih hanya dalam bentuk keinginan untuk melakukan penganiayaan terhadap orang lain dan keinginan untuk bertindak zhalim, namun belum dilakukan sedikitpun, maka yang seperti ini tidak boleh diberi ba-lasan dengan yang serupa. Ia hanya diberi pelajaran yang bisa mem-buatnya jera dari perkataan atau perbuatan yang berasal darinya.
(42) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan itu," artinya, sesung-guhnya hujjah berupa hukuman syar'i itu d i t u j u k a n ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظۡلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak." Ini meliputi semua bentuk kezhaliman dan penganiayaan terhadap orang lain, terhadap darah (jiwa) mereka, harta atau kehormatan mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Mereka itu mendapat azab yang pedih," artinya, yang menyakitkan jiwa dan badan sesuai dengan kezhaliman dan penganiayaannya.
(43) ﴾ وَلَمَن صَبَرَ ﴿ "Tetapi orang yang bersabar" dalam mengha-dapi apa yang dia rasakan dari gangguan orang lain, ﴾ وَغَفَرَ ﴿ "dan memaafkan" mereka dengan memaafkan perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya, ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan," artinya, termasuk perkara-perkara yang dianjurkan dan ditekankan oleh Allah dan Allah me-ngabarkan bahwa ia tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang penyabar yang memperoleh keutamaan yang sangat besar, dan ia termasuk perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki tekad dan kemauan keras dan orang-orang yang memiliki pikiran dan nurani. Sebab, sesungguhnya tidak melakukan pembelaan diri dengan ucapan atau perbuatan adalah merupakan sesuatu yang sangat berat bagi jiwa, dan sabar atas gangguan, memaafkan, mengampuni dan membalasnya de-ngan kebaikan adalah lebih berat dan lebih berat lagi. Namun, itu semua ringan bagi orang yang diringankan oleh Allah dan berjihad melawan nafsunya untuk bisa bersikap demikian serta memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk itu. Kemudian apabila seorang hamba merasakan manisnya sabar dan menemukan pengaruh-pengaruhnya, maka ia akan menghadapi semua itu dengan lapang dada, akhlak mulia, dan menikmatinya.
Asy-Syura 42:42
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya jalan itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syura: 40-43).
(40) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pada ayat ini tingkatan-tingkatan hukuman, yaitu ada tiga tingkatan: Keadilan, keutamaan, dan kezhaliman. Tingkatan adil adalah membalas kejahatan dengan kejahatan serupa, tidak lebih dan tidak kurang. Maka nyawa di-balas dengan nyawa, setiap anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sama, dan harta dibalas dengan ganti rugi harta yang semisal. Tingkatan keutamaan adalah memaafkan dan berdamai dengan yang berbuat kesalahan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." Allah akan memberinya balasan upah yang sangat besar dan pahala yang sangat banyak. Allah سبحانه وتعالى memberikan persyaratan dalam pemberian maaf, yaitu untuk perbaikan dan memberikan petunjuk bahwa apabila si pelaku kejahatan itu tidak pantas diberi maaf sedangkan masla-hat syar'i menuntut ia harus dihukum, maka dalam kondisi seperti ini pemberian maaf tidak diperintahkan. Dan pada pahala yang ditanggung Allah itu mengandung himbauan untuk memberikan maaf, dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana ia senang kalau dimaafkan oleh Allah, maka hendaknya ia memaafkan me-reka. Sebagaimana ia senang kalau diampuni Allah, maka hendak-lah ia mengampuni mereka, karena sesungguhnya ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. Dan tingkatan kezhaliman telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى de-ngan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang terlebih dahulu melakukan kejahatan terhadap orang lain, atau membalas pelaku kejahatan dengan balasan yang melebihi kejahatannya. Jadi, ber-lebihan itu adalah tindak kezhaliman.
(41) ﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang mem-bela diri," dari ﴾ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "sesudah teraniaya," maksudnya, membela diri dari orang yang menganiayanya setelah kezhaliman menimpa-nya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَا عَلَيۡهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿ "tidak ada suatu dosa pun atas mereka." Arti-nya, tidak ada dosa atas mereka dalam melakukan pembelaan itu. FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," dan FirmanNya,﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah ter-aniaya," menunjukkan bahwa perbuatan penganiayaan dan kezha-liman sudah ada dan telah terjadi. Adapun kalau masih hanya dalam bentuk keinginan untuk melakukan penganiayaan terhadap orang lain dan keinginan untuk bertindak zhalim, namun belum dilakukan sedikitpun, maka yang seperti ini tidak boleh diberi ba-lasan dengan yang serupa. Ia hanya diberi pelajaran yang bisa mem-buatnya jera dari perkataan atau perbuatan yang berasal darinya.
(42) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan itu," artinya, sesung-guhnya hujjah berupa hukuman syar'i itu d i t u j u k a n ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظۡلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak." Ini meliputi semua bentuk kezhaliman dan penganiayaan terhadap orang lain, terhadap darah (jiwa) mereka, harta atau kehormatan mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Mereka itu mendapat azab yang pedih," artinya, yang menyakitkan jiwa dan badan sesuai dengan kezhaliman dan penganiayaannya.
(43) ﴾ وَلَمَن صَبَرَ ﴿ "Tetapi orang yang bersabar" dalam mengha-dapi apa yang dia rasakan dari gangguan orang lain, ﴾ وَغَفَرَ ﴿ "dan memaafkan" mereka dengan memaafkan perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya, ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan," artinya, termasuk perkara-perkara yang dianjurkan dan ditekankan oleh Allah dan Allah me-ngabarkan bahwa ia tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang penyabar yang memperoleh keutamaan yang sangat besar, dan ia termasuk perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki tekad dan kemauan keras dan orang-orang yang memiliki pikiran dan nurani. Sebab, sesungguhnya tidak melakukan pembelaan diri dengan ucapan atau perbuatan adalah merupakan sesuatu yang sangat berat bagi jiwa, dan sabar atas gangguan, memaafkan, mengampuni dan membalasnya de-ngan kebaikan adalah lebih berat dan lebih berat lagi. Namun, itu semua ringan bagi orang yang diringankan oleh Allah dan berjihad melawan nafsunya untuk bisa bersikap demikian serta memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk itu. Kemudian apabila seorang hamba merasakan manisnya sabar dan menemukan pengaruh-pengaruhnya, maka ia akan menghadapi semua itu dengan lapang dada, akhlak mulia, dan menikmatinya.
Asy-Syura 42:43
"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada suatu dosa pun atas mereka. Sesungguhnya jalan itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syura: 40-43).
(40) Allah سبحانه وتعالى menjelaskan pada ayat ini tingkatan-tingkatan hukuman, yaitu ada tiga tingkatan: Keadilan, keutamaan, dan kezhaliman. Tingkatan adil adalah membalas kejahatan dengan kejahatan serupa, tidak lebih dan tidak kurang. Maka nyawa di-balas dengan nyawa, setiap anggota tubuh dengan anggota tubuh yang sama, dan harta dibalas dengan ganti rugi harta yang semisal. Tingkatan keutamaan adalah memaafkan dan berdamai dengan yang berbuat kesalahan. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah." Allah akan memberinya balasan upah yang sangat besar dan pahala yang sangat banyak. Allah سبحانه وتعالى memberikan persyaratan dalam pemberian maaf, yaitu untuk perbaikan dan memberikan petunjuk bahwa apabila si pelaku kejahatan itu tidak pantas diberi maaf sedangkan masla-hat syar'i menuntut ia harus dihukum, maka dalam kondisi seperti ini pemberian maaf tidak diperintahkan. Dan pada pahala yang ditanggung Allah itu mengandung himbauan untuk memberikan maaf, dan hendaknya seorang hamba memperlakukan manusia dengan perlakuan yang dicintai oleh Allah. Sebagaimana ia senang kalau dimaafkan oleh Allah, maka hendaknya ia memaafkan me-reka. Sebagaimana ia senang kalau diampuni Allah, maka hendak-lah ia mengampuni mereka, karena sesungguhnya ganjaran itu sejenis dengan perbuatan. Dan tingkatan kezhaliman telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى de-ngan FirmanNya, ﴾ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang terlebih dahulu melakukan kejahatan terhadap orang lain, atau membalas pelaku kejahatan dengan balasan yang melebihi kejahatannya. Jadi, ber-lebihan itu adalah tindak kezhaliman.
(41) ﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang mem-bela diri," dari ﴾ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "sesudah teraniaya," maksudnya, membela diri dari orang yang menganiayanya setelah kezhaliman menimpa-nya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَا عَلَيۡهِم مِّن سَبِيلٍ ﴿ "tidak ada suatu dosa pun atas mereka." Arti-nya, tidak ada dosa atas mereka dalam melakukan pembelaan itu. FirmanNya, ﴾ وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَابَهُمُ ٱلۡبَغۡيُ ﴿ "Dan orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim," dan FirmanNya,﴾ وَلَمَنِ ٱنتَصَرَ بَعۡدَ ظُلۡمِهِۦ ﴿ "Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah ter-aniaya," menunjukkan bahwa perbuatan penganiayaan dan kezha-liman sudah ada dan telah terjadi. Adapun kalau masih hanya dalam bentuk keinginan untuk melakukan penganiayaan terhadap orang lain dan keinginan untuk bertindak zhalim, namun belum dilakukan sedikitpun, maka yang seperti ini tidak boleh diberi ba-lasan dengan yang serupa. Ia hanya diberi pelajaran yang bisa mem-buatnya jera dari perkataan atau perbuatan yang berasal darinya.
(42) ﴾ إِنَّمَا ٱلسَّبِيلُ ﴿ "Sesungguhnya jalan itu," artinya, sesung-guhnya hujjah berupa hukuman syar'i itu d i t u j u k a n ﴾ عَلَى ٱلَّذِينَ يَظۡلِمُونَ ٱلنَّاسَ وَيَبۡغُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّۚ ﴿ "atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak." Ini meliputi semua bentuk kezhaliman dan penganiayaan terhadap orang lain, terhadap darah (jiwa) mereka, harta atau kehormatan mereka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Mereka itu mendapat azab yang pedih," artinya, yang menyakitkan jiwa dan badan sesuai dengan kezhaliman dan penganiayaannya.
(43) ﴾ وَلَمَن صَبَرَ ﴿ "Tetapi orang yang bersabar" dalam mengha-dapi apa yang dia rasakan dari gangguan orang lain, ﴾ وَغَفَرَ ﴿ "dan memaafkan" mereka dengan memaafkan perbuatan yang mereka lakukan terhadapnya, ﴾ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنۡ عَزۡمِ ٱلۡأُمُورِ ﴿ "sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan," artinya, termasuk perkara-perkara yang dianjurkan dan ditekankan oleh Allah dan Allah me-ngabarkan bahwa ia tidak akan dilakukan kecuali oleh orang-orang yang penyabar yang memperoleh keutamaan yang sangat besar, dan ia termasuk perkara yang tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang memiliki tekad dan kemauan keras dan orang-orang yang memiliki pikiran dan nurani. Sebab, sesungguhnya tidak melakukan pembelaan diri dengan ucapan atau perbuatan adalah merupakan sesuatu yang sangat berat bagi jiwa, dan sabar atas gangguan, memaafkan, mengampuni dan membalasnya de-ngan kebaikan adalah lebih berat dan lebih berat lagi. Namun, itu semua ringan bagi orang yang diringankan oleh Allah dan berjihad melawan nafsunya untuk bisa bersikap demikian serta memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk itu. Kemudian apabila seorang hamba merasakan manisnya sabar dan menemukan pengaruh-pengaruhnya, maka ia akan menghadapi semua itu dengan lapang dada, akhlak mulia, dan menikmatinya.
Asy-Syura 42:44
"Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali?' Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena terhina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat.' Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu berada dalam azab yang kekal. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun." (Asy-Syura: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah sendirian yang memberikan hidayah dan menyesatkan, dan ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ ﴿ "siapa yang disesatkan Allah" disebabkan kezhalimannya, ﴾ فَمَا لَهُۥ مِن وَلِيّٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ ﴿ "maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu," yang bisa mengurusi permasalahannya dan memberinya hidayah. ﴾ وَتَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab" dengan penglihatan yang sangat mengerikan, sulit dan sangat keji, di mana mereka menampakkan penyesalan yang sangat besar dan rasa sedih atas apa yang telah mereka lakukan dahulu dan ﴾ يَقُولُونَ هَلۡ إِلَىٰ مَرَدّٖ مِّن سَبِيلٖ ﴿ "berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali," artinya, apakah ada jalan bagi kami atau upaya untuk bisa kembali ke dunia agar kami bisa me-lakukan selain dari apa yang telah kami lakukan dahulu? Ini adalah permintaan sesuatu yang mustahil yang tidak mungkin.
(45) ﴾ وَتَرَىٰهُمۡ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا ﴿ "Dan kamu akan melihat mereka di-hadapkan kepadanya," maksudnya, kepada neraka ﴾ خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ ﴿ "dalam keadaan tunduk karena terhina," yakni, kamu lihat badan me-reka tunduk karena kehinaan yang ada dalam hati mereka,﴾ يَنظُرُونَ مِن طَرۡفٍ خَفِيّٖۗ ﴿ "mereka melihat dengan pandangan yang lesu," maksudnya, melihat ke neraka dengan lirikan dan sudut mata karena sangat ketakutan. ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," saat tampak semua akhir kesudahan manusia dan sudah terpisah de-ngan jelas orang-orang yang jujur dari yang lainnya, ﴾ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang merugi" yang sebenarnya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat," di mana mereka telah merugikan diri mereka sendiri akan pahala yang berlimpah dan mereka memperoleh hukuman yang sangat menyakitkan, dan mereka dipisahkan dari keluarga mereka sehingga mereka tidak dapat berkumpul bersama sepanjang hukuman yang mereka alami. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka dengan melakukan kekufuran dan berbagai maksiat, ﴾ فِي عَذَابٖ مُّقِيمٖ ﴿ "berada dalam azab yang kekal," di dasarnya dan di tengah-tengahnya, tenggelam di dalamnya, tidak akan di-keluarkan darinya selama-lamanya, dan tidak pula dikurangi sedi-kitpun dari mereka, sedangkan mereka berputus asa di dalamnya.
(46) ﴾ وَمَا كَانَ لَهُم مِّنۡ أَوۡلِيَآءَ يَنصُرُونَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah" sebagaimana mereka dahulu di dunia yang memanja-kan diri mereka dengan hal itu. Maka pada Hari Kiamat tampaklah bagi mereka dan bagi yang lain bahwa semua bentuk hubungan mereka yang mereka dambakan itu sudah terputus, dan bahwa sesungguhnya di kala azab Allah menimpa mereka maka sama sekali tidak bisa ditolak. ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن سَبِيلٍ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun," yang dengannya hidayah bisa diperoleh. Jadi, mereka telah sesat saat mereka mengklaim manfaat dan bisa menolak bahaya pada para sembahan-sembahan mereka. Maka pada saat itu terbuktilah ke-sesatan mereka.
Asy-Syura 42:45
"Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali?' Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena terhina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat.' Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu berada dalam azab yang kekal. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun." (Asy-Syura: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah sendirian yang memberikan hidayah dan menyesatkan, dan ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ ﴿ "siapa yang disesatkan Allah" disebabkan kezhalimannya, ﴾ فَمَا لَهُۥ مِن وَلِيّٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ ﴿ "maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu," yang bisa mengurusi permasalahannya dan memberinya hidayah. ﴾ وَتَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab" dengan penglihatan yang sangat mengerikan, sulit dan sangat keji, di mana mereka menampakkan penyesalan yang sangat besar dan rasa sedih atas apa yang telah mereka lakukan dahulu dan ﴾ يَقُولُونَ هَلۡ إِلَىٰ مَرَدّٖ مِّن سَبِيلٖ ﴿ "berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali," artinya, apakah ada jalan bagi kami atau upaya untuk bisa kembali ke dunia agar kami bisa me-lakukan selain dari apa yang telah kami lakukan dahulu? Ini adalah permintaan sesuatu yang mustahil yang tidak mungkin.
(45) ﴾ وَتَرَىٰهُمۡ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا ﴿ "Dan kamu akan melihat mereka di-hadapkan kepadanya," maksudnya, kepada neraka ﴾ خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ ﴿ "dalam keadaan tunduk karena terhina," yakni, kamu lihat badan me-reka tunduk karena kehinaan yang ada dalam hati mereka,﴾ يَنظُرُونَ مِن طَرۡفٍ خَفِيّٖۗ ﴿ "mereka melihat dengan pandangan yang lesu," maksudnya, melihat ke neraka dengan lirikan dan sudut mata karena sangat ketakutan. ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," saat tampak semua akhir kesudahan manusia dan sudah terpisah de-ngan jelas orang-orang yang jujur dari yang lainnya, ﴾ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang merugi" yang sebenarnya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat," di mana mereka telah merugikan diri mereka sendiri akan pahala yang berlimpah dan mereka memperoleh hukuman yang sangat menyakitkan, dan mereka dipisahkan dari keluarga mereka sehingga mereka tidak dapat berkumpul bersama sepanjang hukuman yang mereka alami. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka dengan melakukan kekufuran dan berbagai maksiat, ﴾ فِي عَذَابٖ مُّقِيمٖ ﴿ "berada dalam azab yang kekal," di dasarnya dan di tengah-tengahnya, tenggelam di dalamnya, tidak akan di-keluarkan darinya selama-lamanya, dan tidak pula dikurangi sedi-kitpun dari mereka, sedangkan mereka berputus asa di dalamnya.
(46) ﴾ وَمَا كَانَ لَهُم مِّنۡ أَوۡلِيَآءَ يَنصُرُونَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah" sebagaimana mereka dahulu di dunia yang memanja-kan diri mereka dengan hal itu. Maka pada Hari Kiamat tampaklah bagi mereka dan bagi yang lain bahwa semua bentuk hubungan mereka yang mereka dambakan itu sudah terputus, dan bahwa sesungguhnya di kala azab Allah menimpa mereka maka sama sekali tidak bisa ditolak. ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن سَبِيلٍ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun," yang dengannya hidayah bisa diperoleh. Jadi, mereka telah sesat saat mereka mengklaim manfaat dan bisa menolak bahaya pada para sembahan-sembahan mereka. Maka pada saat itu terbuktilah ke-sesatan mereka.
Asy-Syura 42:46
"Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali?' Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena terhina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat.' Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu berada dalam azab yang kekal. Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah. Dan siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun." (Asy-Syura: 44-46).
(44) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah sendirian yang memberikan hidayah dan menyesatkan, dan ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ ﴿ "siapa yang disesatkan Allah" disebabkan kezhalimannya, ﴾ فَمَا لَهُۥ مِن وَلِيّٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ ﴿ "maka tidak ada baginya seorang pemimpin pun sesudah itu," yang bisa mengurusi permasalahannya dan memberinya hidayah. ﴾ وَتَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ لَمَّا رَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ﴿ "Dan kamu akan melihat orang-orang yang zhalim ketika mereka melihat azab" dengan penglihatan yang sangat mengerikan, sulit dan sangat keji, di mana mereka menampakkan penyesalan yang sangat besar dan rasa sedih atas apa yang telah mereka lakukan dahulu dan ﴾ يَقُولُونَ هَلۡ إِلَىٰ مَرَدّٖ مِّن سَبِيلٖ ﴿ "berkata, 'Adakah kiranya jalan untuk kembali," artinya, apakah ada jalan bagi kami atau upaya untuk bisa kembali ke dunia agar kami bisa me-lakukan selain dari apa yang telah kami lakukan dahulu? Ini adalah permintaan sesuatu yang mustahil yang tidak mungkin.
(45) ﴾ وَتَرَىٰهُمۡ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا ﴿ "Dan kamu akan melihat mereka di-hadapkan kepadanya," maksudnya, kepada neraka ﴾ خَٰشِعِينَ مِنَ ٱلذُّلِّ ﴿ "dalam keadaan tunduk karena terhina," yakni, kamu lihat badan me-reka tunduk karena kehinaan yang ada dalam hati mereka,﴾ يَنظُرُونَ مِن طَرۡفٍ خَفِيّٖۗ ﴿ "mereka melihat dengan pandangan yang lesu," maksudnya, melihat ke neraka dengan lirikan dan sudut mata karena sangat ketakutan. ﴾ وَقَالَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," saat tampak semua akhir kesudahan manusia dan sudah terpisah de-ngan jelas orang-orang yang jujur dari yang lainnya, ﴾ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang merugi" yang sebenarnya, ﴾ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۗ ﴿ "ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada Hari Kiamat," di mana mereka telah merugikan diri mereka sendiri akan pahala yang berlimpah dan mereka memperoleh hukuman yang sangat menyakitkan, dan mereka dipisahkan dari keluarga mereka sehingga mereka tidak dapat berkumpul bersama sepanjang hukuman yang mereka alami. ﴾ أَلَآ إِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zhalim," terhadap diri mereka dengan melakukan kekufuran dan berbagai maksiat, ﴾ فِي عَذَابٖ مُّقِيمٖ ﴿ "berada dalam azab yang kekal," di dasarnya dan di tengah-tengahnya, tenggelam di dalamnya, tidak akan di-keluarkan darinya selama-lamanya, dan tidak pula dikurangi sedi-kitpun dari mereka, sedangkan mereka berputus asa di dalamnya.
(46) ﴾ وَمَا كَانَ لَهُم مِّنۡ أَوۡلِيَآءَ يَنصُرُونَهُم مِّن دُونِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka selain Allah" sebagaimana mereka dahulu di dunia yang memanja-kan diri mereka dengan hal itu. Maka pada Hari Kiamat tampaklah bagi mereka dan bagi yang lain bahwa semua bentuk hubungan mereka yang mereka dambakan itu sudah terputus, dan bahwa sesungguhnya di kala azab Allah menimpa mereka maka sama sekali tidak bisa ditolak. ﴾ وَمَن يُضۡلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن سَبِيلٍ ﴿ "Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidaklah ada baginya sesuatu jalan pun," yang dengannya hidayah bisa diperoleh. Jadi, mereka telah sesat saat mereka mengklaim manfaat dan bisa menolak bahaya pada para sembahan-sembahan mereka. Maka pada saat itu terbuktilah ke-sesatan mereka.
Asy-Syura 42:47
"Patuhilah seruan Rabbmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak mem-peroleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari. Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan. Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami, maka dia bergembira-ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan dise-babkan perbuatan tangan mereka sendiri, karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar." (Asy-Syura: 47-48).
(47) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk memenuhi seruanNya dengan mematuhi apa-apa yang diperin-tahkanNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, dan dengan segera melakukan hal tersebut serta tidak menunda-nunda waktu, ﴾ مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ ﴿ "sebelum datang" Hari Kiamat yang apabila telah da-tang tidak mungkin bisa ditolak dan tidak mungkin lagi mengejar ketertinggalan. Dan pada hari itu seorang hamba tidak memiliki tempat yang bisa digunakan untuk berlindung agar bisa terhindar dari Allah dan lari dariNya. Malah para malaikat telah mengelilingi semua manusia dari belakang mereka dan mereka diseru, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ 33 ﴿ "Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (me-lintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat me-nembusnya kecuali dengan kekuatan." (Ar-Rahman: 33). Dan pada saat itu manusia tidak bisa mengingkari apa-apa yang telah diperbuatnya dan tindakan-tindakan kejahatan yang telah dilakukannya. Bahkan, kalaupun ia mengingkari, niscaya seluruh anggota tubuhnya memberikan kesaksian melawannya. Ayat ini dan yang semisal dengannya mengandung celaan terhadap angan-angan dan mengandung perintah untuk menggu-nakan kesempatan (momen) untuk melakukan amal (perbuatan baik) yang bisa dilakukan saat itu, sebab menunda-nunda waktu itu mendatangkan mudarat.
(48) ﴾ فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ ﴿ "Jika mereka berpaling" dari apa yang kalian bawa setelah adanya penjelasan yang lengkap, ﴾ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًاۖ ﴿ "maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka," yang mengawasi perbuatan mereka dan kamu tidak akan diminta per-tanggungjawaban atasnya. ﴾ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ ﴿ "Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan." Maka jika kamu telah melaksanakan ke-wajibanmu, maka pahala untukmu sudah ditanggung Allah. Apa-kah mereka memenuhi seruanmu ataupun mereka berpaling, maka perhitungan mereka adalah menjadi tanggungan Allah yang men-jaga amal perbuatan mereka, yang kecil maupun yang besar, yang nampak dan yang tidak nampak. Kemudian Allah menjelaskan kondisi manusia, yaitu bahwa apabila ia dirasakan (diberi) oleh Allah suatu rahmat berupa kese-hatan badan, rizki yang berlimpah, kedudukan atau lainnya, ﴾ فَرِحَ بِهَاۖ ﴿ "dia bergembira-ria karenanya." Maksudnya, ia bergembira de-ngan kegembiraan yang hanya terbatas pada rahmat itu dan tidak melebihinya, dan termasuk konsekuensinya adalah merasa tenang karenanya dan berpaling dari sang pemberi karunia. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan," seperti penyakit atau kemis-kinan atau lainnya ﴾ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٞ ﴿ "disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar." Artinya, tabiatnya adalah mengingkari nikmat-nikmat yang terda-hulu dan merasa murka terhadap kesusahan yang menimpanya.
Asy-Syura 42:48
"Patuhilah seruan Rabbmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak mem-peroleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari. Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan. Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami, maka dia bergembira-ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan dise-babkan perbuatan tangan mereka sendiri, karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar." (Asy-Syura: 47-48).
(47) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk memenuhi seruanNya dengan mematuhi apa-apa yang diperin-tahkanNya dan menjauhi apa-apa yang dilarangNya, dan dengan segera melakukan hal tersebut serta tidak menunda-nunda waktu, ﴾ مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ ﴿ "sebelum datang" Hari Kiamat yang apabila telah da-tang tidak mungkin bisa ditolak dan tidak mungkin lagi mengejar ketertinggalan. Dan pada hari itu seorang hamba tidak memiliki tempat yang bisa digunakan untuk berlindung agar bisa terhindar dari Allah dan lari dariNya. Malah para malaikat telah mengelilingi semua manusia dari belakang mereka dan mereka diseru, ﴾ يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ 33 ﴿ "Hai sekalian jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (me-lintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat me-nembusnya kecuali dengan kekuatan." (Ar-Rahman: 33). Dan pada saat itu manusia tidak bisa mengingkari apa-apa yang telah diperbuatnya dan tindakan-tindakan kejahatan yang telah dilakukannya. Bahkan, kalaupun ia mengingkari, niscaya seluruh anggota tubuhnya memberikan kesaksian melawannya. Ayat ini dan yang semisal dengannya mengandung celaan terhadap angan-angan dan mengandung perintah untuk menggu-nakan kesempatan (momen) untuk melakukan amal (perbuatan baik) yang bisa dilakukan saat itu, sebab menunda-nunda waktu itu mendatangkan mudarat.
(48) ﴾ فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ ﴿ "Jika mereka berpaling" dari apa yang kalian bawa setelah adanya penjelasan yang lengkap, ﴾ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًاۖ ﴿ "maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka," yang mengawasi perbuatan mereka dan kamu tidak akan diminta per-tanggungjawaban atasnya. ﴾ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُۗ ﴿ "Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan." Maka jika kamu telah melaksanakan ke-wajibanmu, maka pahala untukmu sudah ditanggung Allah. Apa-kah mereka memenuhi seruanmu ataupun mereka berpaling, maka perhitungan mereka adalah menjadi tanggungan Allah yang men-jaga amal perbuatan mereka, yang kecil maupun yang besar, yang nampak dan yang tidak nampak. Kemudian Allah menjelaskan kondisi manusia, yaitu bahwa apabila ia dirasakan (diberi) oleh Allah suatu rahmat berupa kese-hatan badan, rizki yang berlimpah, kedudukan atau lainnya, ﴾ فَرِحَ بِهَاۖ ﴿ "dia bergembira-ria karenanya." Maksudnya, ia bergembira de-ngan kegembiraan yang hanya terbatas pada rahmat itu dan tidak melebihinya, dan termasuk konsekuensinya adalah merasa tenang karenanya dan berpaling dari sang pemberi karunia. ﴾ وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةُۢ ﴿ "Dan jika mereka ditimpa kesusahan," seperti penyakit atau kemis-kinan atau lainnya ﴾ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٞ ﴿ "disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar." Artinya, tabiatnya adalah mengingkari nikmat-nikmat yang terda-hulu dan merasa murka terhadap kesusahan yang menimpanya.
Asy-Syura 42:49
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia men-ciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Asy-Syura: 49-50).
(49-50) Ayat ini mengandung pemberitaan tentang betapa luasnya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan terealisasinya tindakanNya dalam kerajaanNya tersebut seperti menciptakan apa saja yang dikehen-dakiNya dan mengatur semua urusan, hingga pengaturan yang dilakukanNya mencakup ciptaan tentang sebab-sebab yang dila-kukan oleh manusia. Sesungguhnya nikah (persetubuhan) itu me-rupakan salah satu sebab dilahirkannya anak. Allah-lah yang telah memberi mereka anak-anak menurut kehendakNya. Maka di antara manusia ada yang diberi anak perempuan dan ada pula yang diberi anak laki-laki, dan ada pula yang diberi berpasangan. Maksudnya, anak laki-laki dan perempuan. Dan di antara mereka ada yang di-jadikan mandul, tidak bisa mempunyai anak. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguh-nya Dia Maha Mengetahui," segala sesuatu ﴾ قَدِيرٞ ﴿ "lagi Mahakuasa" melakukan apa saja. Dia berbuat sesuai dengan pengetahuanNya dan keahlianNya terhadap segala sesuatu dan sesuai dengan Kuasa-Nya pada makhluk-makhlukNya.
Asy-Syura 42:50
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia men-ciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa." (Asy-Syura: 49-50).
(49-50) Ayat ini mengandung pemberitaan tentang betapa luasnya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan terealisasinya tindakanNya dalam kerajaanNya tersebut seperti menciptakan apa saja yang dikehen-dakiNya dan mengatur semua urusan, hingga pengaturan yang dilakukanNya mencakup ciptaan tentang sebab-sebab yang dila-kukan oleh manusia. Sesungguhnya nikah (persetubuhan) itu me-rupakan salah satu sebab dilahirkannya anak. Allah-lah yang telah memberi mereka anak-anak menurut kehendakNya. Maka di antara manusia ada yang diberi anak perempuan dan ada pula yang diberi anak laki-laki, dan ada pula yang diberi berpasangan. Maksudnya, anak laki-laki dan perempuan. Dan di antara mereka ada yang di-jadikan mandul, tidak bisa mempunyai anak. ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمٞ ﴿ "Sesungguh-nya Dia Maha Mengetahui," segala sesuatu ﴾ قَدِيرٞ ﴿ "lagi Mahakuasa" melakukan apa saja. Dia berbuat sesuai dengan pengetahuanNya dan keahlianNya terhadap segala sesuatu dan sesuai dengan Kuasa-Nya pada makhluk-makhlukNya.
Asy-Syura 42:51
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ber-kata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan, lalu di-wahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. Dan demikian-lah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelum-nya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali." (Asy-Syura: 51-53).
(51) Setelah orang-orang yang mendustakan para utusan Allah, yang kafir kepada Allah itu berkata, ﴾ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ ﴿ "Kenapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami atau datang kepada kami bukti." (Al-Baqarah: 118), karena kesombongan dan kecongkakan mereka, maka Allah menjawab (membantah) mereka dengan ayat suci ini. (Dan Dia jelaskan) bahwa Dia hanya berkata-kata langsung kepada manusia tertentu, yaitu para nabi yang di-utus dan manusia pilihanNya. Dan pembicaraan itu terjadi melalui beberapa cara: Berbicara kepadanya melalui wahyu, Dia tiupkan wahyu tersebut ke dalam hati seorang rasul tanpa perantara se-orang malaikat atau tanpa pembicaraan langsung dengan rasul itu, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Dia berbicara kepadanya secara langsung akan tetapi ﴾ مِن وَرَآيِٕ حِجَابٍ ﴿ "dari belakang tabir" sebagaimana terjadi pada Nabi Musa bin Imran (yang dijuluki:) Kalim ar-Rahman, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Allah berbicara kepadanya dengan perantara utusan dari kalangan ma-laikat, ﴾ يُرۡسِلَ رَسُولٗا ﴿ "dengan mengutus seorang utusan," seperti malai-kat Jibril atau malaikat-malaikat lainnya. ﴾ فَيُوحِيَ بِإِذۡنِهِۦ ﴿ "Lalu diwah-yukan kepadanya dengan seizinNya," maksudnya, seizin Tuhannya, tidak berdasarkan kemauannya sendiri. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahatinggi DzatNya, Mahatinggi sifat-sifatNya, lagi Mahaagung, lagi Mahatinggi perbuatan-per-buatanNya. Dia telah mengalahkan segala sesuatu, seluruh makh-luk tunduk kepadaNya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana" di dalam penempatan segala sesuatu dari berbagai makhluk dan ketetapan hukum masing-masing pada tempatnya.
(52) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami mewahyukan kepada para rasul sebelummu, ﴾ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ ﴿ "Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami," yaitu al-Qur`an al-Karim ini. Allah menamakannya ruh, karena dengan ruh itulah jasad manusia hidup, dan hati serta ruh hanya bisa hidup dengan al-Qur`an, dan dengannya pula semua maslahat dunia dan agama menjadi hidup, karena di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu. Dan ia murni karunia Allah سبحانه وتعالى atas para rasulNya dan hamba-hamba-Nya yang beriman tanpa sebab (jasa) dari mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ مَا كُنتَ تَدۡرِي ﴿ "Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui," maksudnya, sebelum diturunkannya kepadamu, ﴾ مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ﴿ "apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu." Arti-nya, kamu tidak memiliki pengetahuan tentang informasi-informasi kitab-kitab terdahulu dan tidak pula iman dan amal kepada syariat-syariat ilahiyah. Bahkan kamu adalah seorang yang buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca. Lalu datang kepadamu kitab ini, di m a n a ﴾ جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ ﴿ "Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami," yang dapat mereka jadikan penerang di dalam kegelapan-kegelapan kekafiran, bid'ah dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, dan dengannya mereka dapat me-ngetahui fakta-fakta yang sebenarnya dan mereka dapat menjadi-kannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.﴾ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." Maksudnya, kamu menjelaskannya kepada me-reka, kamu meneranginya dan memotivasi mereka kepadanya dan kamu melarang mereka dari lawannya dan mewanti-wanti mereka dari lawannya tersebut.
(53) Kemudian Allah menjelaskan jalan yang lurus tersebut, seraya berfirman, ﴾ صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Maksudnya, jalan yang dibentangkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya dan menyampaikan kepada mereka bahwa ia bisa mengantarkan mereka kepadaNya dan kepada negeri kara-mahNya. ﴾ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali," maksudnya, semua perkara kebaikan dan kebu-rukan kembali kepadaNya, lalu Dia akan memberikan balasan ke-pada masing-masing menurut amal perbuatannya, jika baik dibalas dengan kebaikan dan jika buruk dibalas dengan keburukan.
Selesailah tafsir Surat asy-Syura, maka segala puji bagi Allah di awal dan di akhir, secara lahir dan secara batin, atas kemudahan yang diberikanNya.
Asy-Syura 42:52
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ber-kata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan, lalu di-wahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. Dan demikian-lah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelum-nya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali." (Asy-Syura: 51-53).
(51) Setelah orang-orang yang mendustakan para utusan Allah, yang kafir kepada Allah itu berkata, ﴾ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ ﴿ "Kenapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami atau datang kepada kami bukti." (Al-Baqarah: 118), karena kesombongan dan kecongkakan mereka, maka Allah menjawab (membantah) mereka dengan ayat suci ini. (Dan Dia jelaskan) bahwa Dia hanya berkata-kata langsung kepada manusia tertentu, yaitu para nabi yang di-utus dan manusia pilihanNya. Dan pembicaraan itu terjadi melalui beberapa cara: Berbicara kepadanya melalui wahyu, Dia tiupkan wahyu tersebut ke dalam hati seorang rasul tanpa perantara se-orang malaikat atau tanpa pembicaraan langsung dengan rasul itu, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Dia berbicara kepadanya secara langsung akan tetapi ﴾ مِن وَرَآيِٕ حِجَابٍ ﴿ "dari belakang tabir" sebagaimana terjadi pada Nabi Musa bin Imran (yang dijuluki:) Kalim ar-Rahman, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Allah berbicara kepadanya dengan perantara utusan dari kalangan ma-laikat, ﴾ يُرۡسِلَ رَسُولٗا ﴿ "dengan mengutus seorang utusan," seperti malai-kat Jibril atau malaikat-malaikat lainnya. ﴾ فَيُوحِيَ بِإِذۡنِهِۦ ﴿ "Lalu diwah-yukan kepadanya dengan seizinNya," maksudnya, seizin Tuhannya, tidak berdasarkan kemauannya sendiri. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahatinggi DzatNya, Mahatinggi sifat-sifatNya, lagi Mahaagung, lagi Mahatinggi perbuatan-per-buatanNya. Dia telah mengalahkan segala sesuatu, seluruh makh-luk tunduk kepadaNya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana" di dalam penempatan segala sesuatu dari berbagai makhluk dan ketetapan hukum masing-masing pada tempatnya.
(52) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami mewahyukan kepada para rasul sebelummu, ﴾ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ ﴿ "Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami," yaitu al-Qur`an al-Karim ini. Allah menamakannya ruh, karena dengan ruh itulah jasad manusia hidup, dan hati serta ruh hanya bisa hidup dengan al-Qur`an, dan dengannya pula semua maslahat dunia dan agama menjadi hidup, karena di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu. Dan ia murni karunia Allah سبحانه وتعالى atas para rasulNya dan hamba-hamba-Nya yang beriman tanpa sebab (jasa) dari mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ مَا كُنتَ تَدۡرِي ﴿ "Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui," maksudnya, sebelum diturunkannya kepadamu, ﴾ مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ﴿ "apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu." Arti-nya, kamu tidak memiliki pengetahuan tentang informasi-informasi kitab-kitab terdahulu dan tidak pula iman dan amal kepada syariat-syariat ilahiyah. Bahkan kamu adalah seorang yang buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca. Lalu datang kepadamu kitab ini, di m a n a ﴾ جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ ﴿ "Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami," yang dapat mereka jadikan penerang di dalam kegelapan-kegelapan kekafiran, bid'ah dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, dan dengannya mereka dapat me-ngetahui fakta-fakta yang sebenarnya dan mereka dapat menjadi-kannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.﴾ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." Maksudnya, kamu menjelaskannya kepada me-reka, kamu meneranginya dan memotivasi mereka kepadanya dan kamu melarang mereka dari lawannya dan mewanti-wanti mereka dari lawannya tersebut.
(53) Kemudian Allah menjelaskan jalan yang lurus tersebut, seraya berfirman, ﴾ صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Maksudnya, jalan yang dibentangkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya dan menyampaikan kepada mereka bahwa ia bisa mengantarkan mereka kepadaNya dan kepada negeri kara-mahNya. ﴾ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali," maksudnya, semua perkara kebaikan dan kebu-rukan kembali kepadaNya, lalu Dia akan memberikan balasan ke-pada masing-masing menurut amal perbuatannya, jika baik dibalas dengan kebaikan dan jika buruk dibalas dengan keburukan.
Selesailah tafsir Surat asy-Syura, maka segala puji bagi Allah di awal dan di akhir, secara lahir dan secara batin, atas kemudahan yang diberikanNya.
Asy-Syura 42:53
"Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ber-kata-kata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan, lalu di-wahyukan kepadanya dengan seizinNya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana. Dan demikian-lah Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami. Sebelum-nya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali." (Asy-Syura: 51-53).
(51) Setelah orang-orang yang mendustakan para utusan Allah, yang kafir kepada Allah itu berkata, ﴾ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٞۗ ﴿ "Kenapa Allah tidak langsung berbicara kepada kami atau datang kepada kami bukti." (Al-Baqarah: 118), karena kesombongan dan kecongkakan mereka, maka Allah menjawab (membantah) mereka dengan ayat suci ini. (Dan Dia jelaskan) bahwa Dia hanya berkata-kata langsung kepada manusia tertentu, yaitu para nabi yang di-utus dan manusia pilihanNya. Dan pembicaraan itu terjadi melalui beberapa cara: Berbicara kepadanya melalui wahyu, Dia tiupkan wahyu tersebut ke dalam hati seorang rasul tanpa perantara se-orang malaikat atau tanpa pembicaraan langsung dengan rasul itu, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Dia berbicara kepadanya secara langsung akan tetapi ﴾ مِن وَرَآيِٕ حِجَابٍ ﴿ "dari belakang tabir" sebagaimana terjadi pada Nabi Musa bin Imran (yang dijuluki:) Kalim ar-Rahman, ﴾ أَوۡ ﴿ "atau" Allah berbicara kepadanya dengan perantara utusan dari kalangan ma-laikat, ﴾ يُرۡسِلَ رَسُولٗا ﴿ "dengan mengutus seorang utusan," seperti malai-kat Jibril atau malaikat-malaikat lainnya. ﴾ فَيُوحِيَ بِإِذۡنِهِۦ ﴿ "Lalu diwah-yukan kepadanya dengan seizinNya," maksudnya, seizin Tuhannya, tidak berdasarkan kemauannya sendiri. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahatinggi DzatNya, Mahatinggi sifat-sifatNya, lagi Mahaagung, lagi Mahatinggi perbuatan-per-buatanNya. Dia telah mengalahkan segala sesuatu, seluruh makh-luk tunduk kepadaNya, ﴾ حَكِيمٞ ﴿ "lagi Mahabijaksana" di dalam penempatan segala sesuatu dari berbagai makhluk dan ketetapan hukum masing-masing pada tempatnya.
(52) ﴾ وَكَذَٰلِكَ ﴿ "Dan demikianlah," ketika Kami mewahyukan kepada para rasul sebelummu, ﴾ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ ﴿ "Kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah Kami," yaitu al-Qur`an al-Karim ini. Allah menamakannya ruh, karena dengan ruh itulah jasad manusia hidup, dan hati serta ruh hanya bisa hidup dengan al-Qur`an, dan dengannya pula semua maslahat dunia dan agama menjadi hidup, karena di dalamnya terkandung banyak kebaikan dan ilmu. Dan ia murni karunia Allah سبحانه وتعالى atas para rasulNya dan hamba-hamba-Nya yang beriman tanpa sebab (jasa) dari mereka. Maka dari itu Allah berfirman, ﴾ مَا كُنتَ تَدۡرِي ﴿ "Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui," maksudnya, sebelum diturunkannya kepadamu, ﴾ مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ ﴿ "apakah al-Kitab ini dan tidak pula mengetahui apakah iman itu." Arti-nya, kamu tidak memiliki pengetahuan tentang informasi-informasi kitab-kitab terdahulu dan tidak pula iman dan amal kepada syariat-syariat ilahiyah. Bahkan kamu adalah seorang yang buta huruf, tidak bisa menulis dan tidak bisa membaca. Lalu datang kepadamu kitab ini, di m a n a ﴾ جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ ﴿ "Kami menjadikannya cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa saja yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami," yang dapat mereka jadikan penerang di dalam kegelapan-kegelapan kekafiran, bid'ah dan pemikiran-pemikiran yang menyesatkan, dan dengannya mereka dapat me-ngetahui fakta-fakta yang sebenarnya dan mereka dapat menjadi-kannya sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.﴾ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." Maksudnya, kamu menjelaskannya kepada me-reka, kamu meneranginya dan memotivasi mereka kepadanya dan kamu melarang mereka dari lawannya dan mewanti-wanti mereka dari lawannya tersebut.
(53) Kemudian Allah menjelaskan jalan yang lurus tersebut, seraya berfirman, ﴾ صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ ﴿ "Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi." Maksudnya, jalan yang dibentangkan oleh Allah untuk hamba-hambaNya dan menyampaikan kepada mereka bahwa ia bisa mengantarkan mereka kepadaNya dan kepada negeri kara-mahNya. ﴾ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah semua urusan kembali," maksudnya, semua perkara kebaikan dan kebu-rukan kembali kepadaNya, lalu Dia akan memberikan balasan ke-pada masing-masing menurut amal perbuatannya, jika baik dibalas dengan kebaikan dan jika buruk dibalas dengan keburukan.
Selesailah tafsir Surat asy-Syura, maka segala puji bagi Allah di awal dan di akhir, secara lahir dan secara batin, atas kemudahan yang diberikanNya.