Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Jasiyah 45:1 – Al-Ahqaf 46:35

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Jasiyah 45:1
  2. Al-Jasiyah 45:2
  3. Al-Jasiyah 45:3
  4. Al-Jasiyah 45:4
  5. Al-Jasiyah 45:5
  6. Al-Jasiyah 45:6
  7. Al-Jasiyah 45:7
  8. Al-Jasiyah 45:8
  9. Al-Jasiyah 45:9
  10. Al-Jasiyah 45:10
  11. Al-Jasiyah 45:11
  12. Al-Jasiyah 45:12
  13. Al-Jasiyah 45:13
  14. Al-Jasiyah 45:14
  15. Al-Jasiyah 45:15
  16. Al-Jasiyah 45:16
  17. Al-Jasiyah 45:17
  18. Al-Jasiyah 45:18
  19. Al-Jasiyah 45:19
  20. Al-Jasiyah 45:20
  21. Al-Jasiyah 45:21
  22. Al-Jasiyah 45:22
  23. Al-Jasiyah 45:23
  24. Al-Jasiyah 45:24
  25. Al-Jasiyah 45:25
  26. Al-Jasiyah 45:26
  27. Al-Jasiyah 45:27
  28. Al-Jasiyah 45:28
  29. Al-Jasiyah 45:29
  30. Al-Jasiyah 45:30
  31. Al-Jasiyah 45:31
  32. Al-Jasiyah 45:32
  33. Al-Jasiyah 45:33
  34. Al-Jasiyah 45:34
  35. Al-Jasiyah 45:35
  36. Al-Jasiyah 45:36
  37. Al-Jasiyah 45:37
  38. Al-Ahqaf 46:1
  39. Al-Ahqaf 46:2
  40. Al-Ahqaf 46:3
  41. Al-Ahqaf 46:4
  42. Al-Ahqaf 46:5
  43. Al-Ahqaf 46:6
  44. Al-Ahqaf 46:7
  45. Al-Ahqaf 46:8
  46. Al-Ahqaf 46:9
  47. Al-Ahqaf 46:10
  48. Al-Ahqaf 46:11
  49. Al-Ahqaf 46:12
  50. Al-Ahqaf 46:13
  51. Al-Ahqaf 46:14
  52. Al-Ahqaf 46:15
  53. Al-Ahqaf 46:16
  54. Al-Ahqaf 46:17
  55. Al-Ahqaf 46:18
  56. Al-Ahqaf 46:19
  57. Al-Ahqaf 46:20
  58. Al-Ahqaf 46:21
  59. Al-Ahqaf 46:22
  60. Al-Ahqaf 46:23
  61. Al-Ahqaf 46:24
  62. Al-Ahqaf 46:25
  63. Al-Ahqaf 46:26
  64. Al-Ahqaf 46:27
  65. Al-Ahqaf 46:28
  66. Al-Ahqaf 46:29
  67. Al-Ahqaf 46:30
  68. Al-Ahqaf 46:31
  69. Al-Ahqaf 46:32
  70. Al-Ahqaf 46:33
  71. Al-Ahqaf 46:34
  72. Al-Ahqaf 46:35

Al-Jasiyah 45:1

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:2

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:3

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:4

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:5

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:6

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:7

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:8

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:9

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:10

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:11

"Ha Mim. Kitab (ini) diturunkan dari Allah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana. Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini, dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya, maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keteranganNya? Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap me-nyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka berilah kabar gembira dia dengan azab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan. Di hadapan mereka Neraka Jahanam dan tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, dan tidak pula berguna apa yang mereka jadi-kan sebagai sembahan-sembahan (mereka) dari selain Allah. Dan bagi mereka azab yang besar. Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih." (Al-Jatsiyah: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." (1-2) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan suatu kabar yang mengandung perintah untuk mengagungkan dan memperhatikan al-Qur`an. Al-Qur`an, ﴾ تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ﴿ "diturunkan dari Allah," Yang diibadahi dan disembah karena memiliki sifat-sifat sempurna serta hanya Dia sendiri yang memiliki berbagai nikmat, yang bagiNya-lah ke-perkasaan serta hikmah (kebijaksanaan) yang sempurna. (3-5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengukuhkan hal itu dengan tanda-tanda kekuasaan Allah yang ada di alam semesta (al-Ayat al-Ufuqiyyah) dan yang ada di dalam diri manusia (al-Ayat an-Naf-siyyah), berupa penciptaan langit dan bumi serta binatang melata yang menyebar pada keduanya serta berbagai manfaat yang di-simpan oleh Allah سبحانه وتعالى di langit dan di bumi. Demikian juga air yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى, dengan air itulah Allah سبحانه وتعالى menghidupkan bumi dan manusia. Semua itu merupakan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bukti-bukti jelas yang menunjukkan kebenaran al-Qur`an yang agung ini serta kebenaran berbagai hikmah dan hukum yang terkandung di dalamnya. Juga sebagai bukti atas kesempur-naan Allah سبحانه وتعالى dan kekuasaan untuk membangkitkan. (6-10) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan dalam kaitannya apakah mereka mau memanfaatkan tanda-tanda kebesaranNya ataukah tidak: Golongan pertama adalah mereka yang mau menjadikan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk, direnungkan dan dimanfaat-kan sehingga derajat mereka menjadi tinggi. Mereka adalah orang-orang yang beriman secara sempurna kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat-malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan Hari Akhir. Keimanan mereka ini mencapai tingkatan yakin, sehingga akal mereka menjadi bersih dan pengetahuan, akal sehat, serta ilmu mereka pun bertambah. Golongan kedua adalah mereka yang mau mendengar ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang dengan pendengaran itu hujjah telah ditegakkan kepada mereka, namun kemudian mereka berpaling dan merasa tinggi hati, seolah-olah mereka tidak mendengarnya, sebab ayat-ayat tersebut tidak bisa membersihkan hati mereka, bahkan karena kesombongan mereka terhadap ayat-ayat itu mereka semakin me-lampaui batas. Apabila mereka mengetahui sesuatu dari ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, mereka menjadikannya sebagai bahan olok-olokan, se-hingga Allah سبحانه وتعالى pun menjanjikan kecelakaan bagi mereka melalui FirmanNya, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٖ ﴿ "Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa," yakni, berdusta dalam perkataannya dan berdosa dalam perbuatannya. Dan Allah سبحانه وتعالى memberitahukan mereka bahwa mereka akan mendapatkan siksaan yang pedih. Dan sesungguhnya ﴾ مِّن وَرَآئِهِمۡ جَهَنَّمُۖ ﴿ "di hadapan mereka Neraka Jahanam," sebagai balasan mereka dan ﴾ وَلَا يُغۡنِي عَنۡهُم مَّا كَسَبُواْ ﴿ "tidak akan berguna bagi mereka sedikitpun apa yang telah mereka kerja-kan," yang mereka raih dari harta-harta mereka, ﴾ وَلَا مَا ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَۖ ﴿ "dan tidak pula berguna apa yang mereka jadikan sebagai sembahan-sem-bahan (mereka) dari selain Allah," mereka pun meminta pertolongan kepada sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى, namun sesembah-an-sesembahan itu ternyata menghinakan mereka pada saat-saat diperlukan andai bisa mendatangkan manfaat. (11) Tatkala Allah سبحانه وتعالى menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya, baik yang dibaca maupun yang dilihat, dan ketika Allah سبحانه وتعالى membagi manusia menjadi dua golongan, Allah سبحانه وتعالى memberitahu-kan bahwa al-Qur`an yang mencakup berbagai tuntutan luhur itu adalah sebagai petunjuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هَٰذَا هُدٗىۖ ﴿ "Ini (al-Qur`an) adalah petunjuk." Ini adalah sifat umum untuk keseluruhan al-Qur`an, karena al-Qur`an memberikan petunjuk untuk mengetahui Allah سبحانه وتعالى dengan sifat-sifatNya yang suci dan perbuatan-perbuatanNya yang terpuji. Al-Qur`an juga memberikan petunjuk untuk menge-nal para rasul, wali dan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى serta menjelaskan sifat-sifat mereka. Memberikan petunjuk untuk berbuat amal shalih serta menyerukan kepada amal tersebut. Al-Qur`an juga menjelaskan berbagai perbuatan tidak baik serta melarangnya, menjelaskan berbagai macam balasan atas ber-bagai perbuatan. Menjelaskan balasan-balasan baik di dunia mau-pun di akhirat. Orang-orang yang mendapatkan hidayah adalah mereka yang menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang berbahagia. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Rabbnya," kufur terhadap ayat-ayat yang jelas lagi tegas yang hanya diingkari oleh mereka yang benar-benar tersesat dan sangat melampaui batas, ﴾ لَهُمۡ عَذَابٞ مِّن رِّجۡزٍ أَلِيمٌ ﴿ "bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih."

Al-Jasiyah 45:12

"Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizinNya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (seba-gai rahmat) dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (Al-Jatsiyah: 12-13). (12) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan karunia dan kebaikanNya pada para hamba melalui ditundukkannya samudera agar bisa dilalui oleh perahu dan kapal atas perintah dan izinNya. ﴾ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya," dengan berbagai macam perdagangan dan pekerjaan, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan mudah-mu-dahan kamu bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى, karena apabila kalian mau bersyukur, niscaya akan diberi tambahan nikmat oleh Allah سبحانه وتعالى serta memberikan pahala besar atas rasa syukur kalian. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya." Artinya, dari karunia dan kebaikanNya. Karunia dan kebaikan tersebut mencakup semua yang ada di langit dan di bumi, berupa matahari, bulan, bintang, meteor dan lainnya yang terdapat di langit serta berbagai macam binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan serta berbagai macam barang tambang dan lain sebagainya yang diper-siapkan untuk kepentingan dan kebutuhan pokok manusia. Semua karunia dan kebaikan tersebut mengharuskan manusia untuk men-curahkan semua daya upayanya untuk mensyukuri nikmat Allah سبحانه وتعالى serta menggerakkan pikiran dalam merenungkan tanda-tanda kebesaran dan berbagai hikmah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." Secara garis besar, penciptaan semua yang tersebut di atas serta pengaturannya menunjukkan atas ter-laksananya kehendak dan sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Kesetaraan, kerapian, indahnya ciptaan dan bentuk yang terdapat dalam penciptaan langit dan bumi adalah sebagai petunjuk atas kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah سبحانه وتعالى. Keluasan, keagungan serta banyaknya makhluk ciptaan Allah سبحانه وتعالى menunjukkan atas sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Berbagai manfaat serta kepentingan, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang terdapat dalam penciptaan langit dan bumi menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى berbuat apa pun yang Dia kehendaki. Dan semua itu menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang Mahatinggi dan berhak disembah, di mana semua ibadah, ketundukan dan kecintaan hanya patut untukNya. Semua berita yang dibawa oleh para rasul adalah benar. Semua hal tersebut ada-lah dalil aqli yang jelas dan tidak meragukan.

Al-Jasiyah 45:13

"Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizinNya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (seba-gai rahmat) dariNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (Al-Jatsiyah: 12-13). (12) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan karunia dan kebaikanNya pada para hamba melalui ditundukkannya samudera agar bisa dilalui oleh perahu dan kapal atas perintah dan izinNya. ﴾ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ ﴿ "Supaya kamu dapat mencari sebagian karuniaNya," dengan berbagai macam perdagangan dan pekerjaan, ﴾ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ﴿ "dan mudah-mu-dahan kamu bersyukur" kepada Allah سبحانه وتعالى, karena apabila kalian mau bersyukur, niscaya akan diberi tambahan nikmat oleh Allah سبحانه وتعالى serta memberikan pahala besar atas rasa syukur kalian. ﴾ وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ﴿ "Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya." Artinya, dari karunia dan kebaikanNya. Karunia dan kebaikan tersebut mencakup semua yang ada di langit dan di bumi, berupa matahari, bulan, bintang, meteor dan lainnya yang terdapat di langit serta berbagai macam binatang, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan serta berbagai macam barang tambang dan lain sebagainya yang diper-siapkan untuk kepentingan dan kebutuhan pokok manusia. Semua karunia dan kebaikan tersebut mengharuskan manusia untuk men-curahkan semua daya upayanya untuk mensyukuri nikmat Allah سبحانه وتعالى serta menggerakkan pikiran dalam merenungkan tanda-tanda kebesaran dan berbagai hikmah yang diciptakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." Secara garis besar, penciptaan semua yang tersebut di atas serta pengaturannya menunjukkan atas ter-laksananya kehendak dan sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Kesetaraan, kerapian, indahnya ciptaan dan bentuk yang terdapat dalam penciptaan langit dan bumi adalah sebagai petunjuk atas kesempurnaan hikmah dan ilmu Allah سبحانه وتعالى. Keluasan, keagungan serta banyaknya makhluk ciptaan Allah سبحانه وتعالى menunjukkan atas sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Berbagai manfaat serta kepentingan, baik yang bersifat ukhrawi maupun duniawi yang terdapat dalam penciptaan langit dan bumi menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى berbuat apa pun yang Dia kehendaki. Dan semua itu menunjukkan bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang Mahatinggi dan berhak disembah, di mana semua ibadah, ketundukan dan kecintaan hanya patut untukNya. Semua berita yang dibawa oleh para rasul adalah benar. Semua hal tersebut ada-lah dalil aqli yang jelas dan tidak meragukan.

Al-Jasiyah 45:14

"Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabbmulah kamu dikembalikan." (Al-Jatsiyah: 14-15). (14-15) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman supaya berbuat baik serta bersabar atas gangguan orang-orang musyrik yang ﴾ لَا يَرۡجُونَ أَيَّامَ ٱللَّهِ ﴿ "tiada takut akan hari-hari Allah," yakni, mereka yang tidak mengharapkan pahala Allah سبحانه وتعالى serta tidak takut atas siksaanNya yang ditimpakan kepada orang-orang durhaka, karena Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing kaum ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "terhadap apa yang telah mereka kerjakan." Kalian wahai orang-orang yang beriman, akan mendapatkan pahala besar atas keimanan dan kesabaran kalian. Sedangkan mereka orang-orang musyrik jika tetap saja berdusta, maka mereka akan tertimpa azab yang pedih dan menghinakan yang tidak akan menimpa kalian. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabbmulah kamu dikembalikan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Jasiyah 45:15

"Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tiada takut akan hari-hari Allah, karena Dia akan membalas suatu kaum terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabbmulah kamu dikembalikan." (Al-Jatsiyah: 14-15). (14-15) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kepada hamba-hambaNya yang beriman supaya berbuat baik serta bersabar atas gangguan orang-orang musyrik yang ﴾ لَا يَرۡجُونَ أَيَّامَ ٱللَّهِ ﴿ "tiada takut akan hari-hari Allah," yakni, mereka yang tidak mengharapkan pahala Allah سبحانه وتعالى serta tidak takut atas siksaanNya yang ditimpakan kepada orang-orang durhaka, karena Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing kaum ﴾ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ﴿ "terhadap apa yang telah mereka kerjakan." Kalian wahai orang-orang yang beriman, akan mendapatkan pahala besar atas keimanan dan kesabaran kalian. Sedangkan mereka orang-orang musyrik jika tetap saja berdusta, maka mereka akan tertimpa azab yang pedih dan menghinakan yang tidak akan menimpa kalian. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ تُرۡجَعُونَ ﴿ "Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabbmulah kamu dikembalikan." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Jasiyah 45:16

"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Bani Israil al-Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian, dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa. Dan Kami berikan kepada mereka kete-rangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada me-reka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara me-reka. Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka pada Hari Kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya." (Al-Jatsiyah: 16-17). (16) Maksudnya, Kami (Allah سبحانه وتعالى) telah memberikan berba-gai nikmat kepada Bani Israil yang belum pernah diperoleh kaum lain dan Kami telah memberikan mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "al-Kitab" yaitu Taurat dan Injil serta Kami berikan kekuasaan dan kenabian, yang dengan berbagai nikmat itulah mereka menjadi kaum yang istime-wa. Kenabian yang terdapat dalam keturunan Ibrahim عليه السلام keba-nyakan berasal dari kaum Bani Israil. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik," berupa makanan, minuman, pakaian, dan diturunkannya al-Manna wa as-Salwa kepada mereka, ﴾ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa," atas semua manusia dengan berbagai nikmat itu. Namun keumuman teks tersebut tidak men-cakup umat Islam, karena umat Islam adalah umat terbaik yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia. Tekstual ayat menunjuk-kan bahwa yang dimaksudkan bukan umat Islam, karena Allah سبحانه وتعالى dalam ayat ini mengisahkan berbagai nikmat yang diberikan kepada Bani Israil serta keistimewaan yang diberikan yang membedakan mereka dengan yang lain. Dari sisi lain, berbagai karunia yang membuat Bani Israil unggul seperti karunia kitab, kekuasaan, kenabian serta lainnya juga dimiliki oleh umat Islam, bahkan umat Islam memiliki ber-bagai karunia lain yang lebih banyak. Syariat Bani Israil hanyalah sebagian kecil dari syariat Islam, sebab kitab al-Qur`an mencakup seluruh kitab-kitab sebelumnya dan Nabi Muhammad a adalah rasul yang membenarkan semua rasul yang diutus sebelumnya. ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami berikan kepada mereka," yakni, Kami mem-berikan untuk Bani Israil ﴾ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "keterangan-keterangan yang nyata," yakni berbagai bukti yang membedakan antara kebenaran dan ke-batilan, ﴾ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "tentang urusan (agama)," yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Tanda-tanda kebesaran itulah mukjizat yang disaksikan oleh Bani Israil melalui tangan Nabi Musa عليه السلام. Semua nikmat yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk Bani Israil ter-sebut mengharuskan mereka supaya menggunakannya sebaik mungkin dan supaya mereka bersatu di atas kebenaran yang telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى. Namun ternyata tidak demikian halnya. Justru sebaliknya, di mana mereka menyikapinya dengan lawan dari yang seharusnya. Mereka terpecah-pecah justru pada prinsip di mana mereka diperintahkan untuk bersatu padanya, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُوٓاْ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ ﴿ "maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah da-tang kepada mereka pengetahuan," yakni, yang mengharuskan tidak adanya perpecahan, dan yang membuat mereka berpecah hanya karena dengki di antara mereka serta kezhaliman. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka pada Hari Kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya." Allah سبحانه وتعالى akan membedakan orang-orang yang benar dan orang-orang yang salah, berikut yang me-nyebabkan mereka bercerai-berai menyelisihi kebenaran, hawa nafsu atau lainnya.

Al-Jasiyah 45:17

"Dan sungguh telah Kami berikan kepada Bani Israil al-Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian, dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa. Dan Kami berikan kepada mereka kete-rangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada me-reka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara me-reka. Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka pada Hari Kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya." (Al-Jatsiyah: 16-17). (16) Maksudnya, Kami (Allah سبحانه وتعالى) telah memberikan berba-gai nikmat kepada Bani Israil yang belum pernah diperoleh kaum lain dan Kami telah memberikan mereka ﴾ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "al-Kitab" yaitu Taurat dan Injil serta Kami berikan kekuasaan dan kenabian, yang dengan berbagai nikmat itulah mereka menjadi kaum yang istime-wa. Kenabian yang terdapat dalam keturunan Ibrahim عليه السلام keba-nyakan berasal dari kaum Bani Israil. ﴾ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ ﴿ "Dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik," berupa makanan, minuman, pakaian, dan diturunkannya al-Manna wa as-Salwa kepada mereka, ﴾ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa," atas semua manusia dengan berbagai nikmat itu. Namun keumuman teks tersebut tidak men-cakup umat Islam, karena umat Islam adalah umat terbaik yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia. Tekstual ayat menunjuk-kan bahwa yang dimaksudkan bukan umat Islam, karena Allah سبحانه وتعالى dalam ayat ini mengisahkan berbagai nikmat yang diberikan kepada Bani Israil serta keistimewaan yang diberikan yang membedakan mereka dengan yang lain. Dari sisi lain, berbagai karunia yang membuat Bani Israil unggul seperti karunia kitab, kekuasaan, kenabian serta lainnya juga dimiliki oleh umat Islam, bahkan umat Islam memiliki ber-bagai karunia lain yang lebih banyak. Syariat Bani Israil hanyalah sebagian kecil dari syariat Islam, sebab kitab al-Qur`an mencakup seluruh kitab-kitab sebelumnya dan Nabi Muhammad a adalah rasul yang membenarkan semua rasul yang diutus sebelumnya. ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُم ﴿ "Dan Kami berikan kepada mereka," yakni, Kami mem-berikan untuk Bani Israil ﴾ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "keterangan-keterangan yang nyata," yakni berbagai bukti yang membedakan antara kebenaran dan ke-batilan, ﴾ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "tentang urusan (agama)," yang disampaikan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Tanda-tanda kebesaran itulah mukjizat yang disaksikan oleh Bani Israil melalui tangan Nabi Musa عليه السلام. Semua nikmat yang diberikan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk Bani Israil ter-sebut mengharuskan mereka supaya menggunakannya sebaik mungkin dan supaya mereka bersatu di atas kebenaran yang telah dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى. Namun ternyata tidak demikian halnya. Justru sebaliknya, di mana mereka menyikapinya dengan lawan dari yang seharusnya. Mereka terpecah-pecah justru pada prinsip di mana mereka diperintahkan untuk bersatu padanya, ﴾ فَمَا ٱخۡتَلَفُوٓاْ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡعِلۡمُ ﴿ "maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah da-tang kepada mereka pengetahuan," yakni, yang mengharuskan tidak adanya perpecahan, dan yang membuat mereka berpecah hanya karena dengki di antara mereka serta kezhaliman. ﴾ إِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِي بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu akan memutuskan antara mereka pada Hari Kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya." Allah سبحانه وتعالى akan membedakan orang-orang yang benar dan orang-orang yang salah, berikut yang me-nyebabkan mereka bercerai-berai menyelisihi kebenaran, hawa nafsu atau lainnya.

Al-Jasiyah 45:18

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu sya-riat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa." (Al-Jatsiyah: 18-19). (18) Maksudnya, kemudian Kami menetapkan syariat yang sempurna untukmu yang menyerukan pada semua kebaikan dan mencegah perbuatan buruk dari syariat yang Kami perintahkan, ﴾ فَٱتَّبِعۡهَا ﴿ "maka ikutilah syariat itu," karena mengikuti syariat akan dapat membawa kebahagiaan abadi, kebaikan, dan kemenangan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui," yaitu orang-orang yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakang ilmu. Mereka adalah semua orang yang keinginannya hanya untuk menentang syariat Rasulullah a. Itulah di antara keinginan dan hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu. (19) ﴾ إِنَّهُمۡ لَن يُغۡنُواْ عَنكَ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah." Artinya, mereka tidak berguna untukmu di hadapan Allah سبحانه وتعالى se-hingga mereka tidak dapat memberikan kebaikan untukmu dan mencegah keburukan darimu jika engkau mengikuti keinginan-keinginan mereka. Engkau dan mereka amat berbeda dan sebagian dari mereka adalah penolong atas sebagian yang lain. ﴾ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa," Yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya karena ke-takwaan dan ketaatan mereka. 9

Al-Jasiyah 45:19

"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu sya-riat (peraturan) dari urusan agama itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa." (Al-Jatsiyah: 18-19). (18) Maksudnya, kemudian Kami menetapkan syariat yang sempurna untukmu yang menyerukan pada semua kebaikan dan mencegah perbuatan buruk dari syariat yang Kami perintahkan, ﴾ فَٱتَّبِعۡهَا ﴿ "maka ikutilah syariat itu," karena mengikuti syariat akan dapat membawa kebahagiaan abadi, kebaikan, dan kemenangan. ﴾ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui," yaitu orang-orang yang keinginannya tidak mengikuti ilmu dan tidak berjalan di belakang ilmu. Mereka adalah semua orang yang keinginannya hanya untuk menentang syariat Rasulullah a. Itulah di antara keinginan dan hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu. (19) ﴾ إِنَّهُمۡ لَن يُغۡنُواْ عَنكَ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗاۚ ﴿ "Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah." Artinya, mereka tidak berguna untukmu di hadapan Allah سبحانه وتعالى se-hingga mereka tidak dapat memberikan kebaikan untukmu dan mencegah keburukan darimu jika engkau mengikuti keinginan-keinginan mereka. Engkau dan mereka amat berbeda dan sebagian dari mereka adalah penolong atas sebagian yang lain. ﴾ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُتَّقِينَ ﴿ "Dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa," Yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya karena ke-takwaan dan ketaatan mereka. 9

Al-Jasiyah 45:20

"Al-Qur`an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini." (Al-Jatsiyah: 20). (20) Artinya, al-Qur`an dan peringatan yang bijak ﴾ هَٰذَا ﴿ "ini," adalah ﴾ بَصَٰٓئِرُ لِلنَّاسِ ﴿ "pedoman bagi manusia." Artinya, dengan al-Qur`an tersebut manusia mendapatkan petunjuk untuk berbagai hal sehingga orang-orang yang beriman akan mendapatkan man-faat, dan juga sebagai, ﴾ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّقَوۡمٖ يُوقِنُونَ ﴿ "petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini," dengan al-Qur`an ini orang-orang yang beriman akan mendapat petunjuk menuju jalan yang lurus di ber-bagai masalah-masalah pokok agama maupun cabangnya. Dengan al-Qur`an tersebut orang-orang yang beriman mendapatkan kebaik-an dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Inilah yang dimaksud-kan kasih sayang. Dengan kasih sayang tersebut jiwa mereka men-jadi bersih, akal sehat mereka bertambah dan keimanan mereka juga meningkat, sekaligus sebagai hujjah atas mereka yang menentang.

Al-Jasiyah 45:21

"Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu me-nyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu." (Al-Jatsiyah: 21). (21) Maksudnya, apakah orang-orang yang bergelimang dalam dosa dan malas dalam menunaikan hak-hak Rabb mereka mengira, ﴾ أَن نَّجۡعَلَهُمۡ كَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," seperti orang-orang yang menunaikan hak-hak Rabb mereka dan menjauhi larangan-laranganNya. Orang-orang yang berbuat dosa itu tetap saja mengedepankan hawa nafsu diri mereka. Dengan kata lain, apakah mereka mengira kedua golongan tersebut sama saja, baik di dunia maupun di akhirat? Teramat buruk perkiraan dan dugaan mereka dan amat buruk keputusan mereka. Hukum tersebut bertentangan dengan hukum yang dibuat oleh Hakim Yang Paling Adil dan juga berseberangan dengan akal dan fitrah sehat. Bertentangan dengan berbagai kitab yang diberitakan oleh para rasul. Hukum pasti menyebutkan; bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan akan mendapatkan perto-longan, kebahagiaan, dan pahala, baik di dunia maupun di akhirat berdasarkan kebaikan yang mereka lakukan, sedangkan orang-orang yang bergelimang dosa akan mendapatkan azab, murka, penghinaan, dan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat.

Al-Jasiyah 45:22

"Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan." (Al-Jatsiyah: 22). (22) Maknanya, Allah سبحانه وتعالى menciptakan langit dan bumi ber-dasarkan hikmah dan agar hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang disembah, yang tidak ada sekutu bagiNya. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى mem-berikan balasan bagi orang yang diperintahkan untuk beribadah kepadaNya dan dikaruniai berbagai nikmat yang nampak dan tidak; apakah mereka mau bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى dan melak-sanakan yang diperintahkan ataukah mereka justru kufur sehingga layak mendapatkan balasan orang-orang kafir?

Al-Jasiyah 45:23

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkan-nya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas pengli-hatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,' dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkan-lah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu ke-mudian mematikan kamu, setelah itu akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (Al-Jatsiyah: 23-26). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ ﴿ "Maka pernahkah kamu me-lihat," orang tersesat, ﴾ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?" Semua yang diinginkan dilakukan tanpa peduli apakah bisa mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى ataukah ke-murkaanNya. ﴾ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ ﴿ "Dan Allah membiarkannya sesat berda-sarkan ilmuNya," yakni, dari Allah سبحانه وتعالى dan orang tersebut tidak pantas mendapatkan hidayah dan tidak bisa dibersihkan hatinya di atas hidayah, ﴾ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ ﴿ "dan Allah telah mengunci mati pendengaran," sehingga tidak bisa mendengar hal-hal yang berguna, ﴾ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "dan hatinya," sehingga tidak bisa mencerna kebaikan, ﴾ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ ﴿ "dan meletakkan tutupan atas penglihatannya," yang menghalanginya untuk melihat kebenaran. ﴾ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)." Artinya, tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menutup baginya semua pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Allah سبحانه وتعالى tidak menzhaliminya, tapi dia sendirilah yang men-zhalimi dirinya dan yang melakukan berbagai hal yang mencegah rahmat Allah سبحانه وتعالى . ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," yang berguna bagimu sehingga bisa kalian kerjakan dan pelajaran yang membahayakan kalian sehingga bisa kalian hindari. (24) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," yakni, mereka yang meng-ingkari hari kebangkitan, ﴾ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ﴿ "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Kehidupan ini tidak lain hanyalah kebiasaan rutin setiap hari dan setiap malam. Ada orang yang hidup dan ada orang yang mati dan orang yang sudah mati tidak akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dan amal perbuat-annya tidak akan diberi balasan. Perkataan yang mereka ucapkan ini tidak didasari ilmu, ﴾ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿ "mereka tidak lain hanyalah men-duga-duga saja," sehingga mereka pun mengingkari kebangkitan dan mendustakan para rasul tanpa didasari bukti dan dalil selain hanya didasarkan pada dugaan dan khayalan yang jauh dari ke-benaran. (25) Karena itulah Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar'." Inilah tindakan sembrono mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى yang mengada-adakan perkataan tersebut dan mereka mengira bahwa kebenaran para rasul itu tergantung pada nenek moyang mereka. Andaipun semua rasul mendatangi mereka dengan mem-bawa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka tidak akan beriman kecuali jika para rasul itu mengikuti perkataan mereka, sedangkan perkataan mereka itu semuanya hanyalah dusta belaka, yang mereka maksudkan hanyalah menentang dakwah para rasul, bukan untuk menjelaskan kebenaran. (26) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manu-sia tidak mengetahui'." Andai ilmu tentang Hari Akhir sampai di hati mereka, tentu mereka akan melakukan berbagai amal shalih untuk menghadapi Hari Akhir dan tentu mereka akan bersiap-siap.

Al-Jasiyah 45:24

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkan-nya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas pengli-hatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,' dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkan-lah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu ke-mudian mematikan kamu, setelah itu akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (Al-Jatsiyah: 23-26). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ ﴿ "Maka pernahkah kamu me-lihat," orang tersesat, ﴾ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?" Semua yang diinginkan dilakukan tanpa peduli apakah bisa mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى ataukah ke-murkaanNya. ﴾ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ ﴿ "Dan Allah membiarkannya sesat berda-sarkan ilmuNya," yakni, dari Allah سبحانه وتعالى dan orang tersebut tidak pantas mendapatkan hidayah dan tidak bisa dibersihkan hatinya di atas hidayah, ﴾ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ ﴿ "dan Allah telah mengunci mati pendengaran," sehingga tidak bisa mendengar hal-hal yang berguna, ﴾ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "dan hatinya," sehingga tidak bisa mencerna kebaikan, ﴾ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ ﴿ "dan meletakkan tutupan atas penglihatannya," yang menghalanginya untuk melihat kebenaran. ﴾ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)." Artinya, tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menutup baginya semua pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Allah سبحانه وتعالى tidak menzhaliminya, tapi dia sendirilah yang men-zhalimi dirinya dan yang melakukan berbagai hal yang mencegah rahmat Allah سبحانه وتعالى . ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," yang berguna bagimu sehingga bisa kalian kerjakan dan pelajaran yang membahayakan kalian sehingga bisa kalian hindari. (24) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," yakni, mereka yang meng-ingkari hari kebangkitan, ﴾ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ﴿ "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Kehidupan ini tidak lain hanyalah kebiasaan rutin setiap hari dan setiap malam. Ada orang yang hidup dan ada orang yang mati dan orang yang sudah mati tidak akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dan amal perbuat-annya tidak akan diberi balasan. Perkataan yang mereka ucapkan ini tidak didasari ilmu, ﴾ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿ "mereka tidak lain hanyalah men-duga-duga saja," sehingga mereka pun mengingkari kebangkitan dan mendustakan para rasul tanpa didasari bukti dan dalil selain hanya didasarkan pada dugaan dan khayalan yang jauh dari ke-benaran. (25) Karena itulah Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar'." Inilah tindakan sembrono mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى yang mengada-adakan perkataan tersebut dan mereka mengira bahwa kebenaran para rasul itu tergantung pada nenek moyang mereka. Andaipun semua rasul mendatangi mereka dengan mem-bawa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka tidak akan beriman kecuali jika para rasul itu mengikuti perkataan mereka, sedangkan perkataan mereka itu semuanya hanyalah dusta belaka, yang mereka maksudkan hanyalah menentang dakwah para rasul, bukan untuk menjelaskan kebenaran. (26) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manu-sia tidak mengetahui'." Andai ilmu tentang Hari Akhir sampai di hati mereka, tentu mereka akan melakukan berbagai amal shalih untuk menghadapi Hari Akhir dan tentu mereka akan bersiap-siap.

Al-Jasiyah 45:25

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkan-nya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas pengli-hatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,' dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkan-lah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu ke-mudian mematikan kamu, setelah itu akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (Al-Jatsiyah: 23-26). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ ﴿ "Maka pernahkah kamu me-lihat," orang tersesat, ﴾ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?" Semua yang diinginkan dilakukan tanpa peduli apakah bisa mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى ataukah ke-murkaanNya. ﴾ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ ﴿ "Dan Allah membiarkannya sesat berda-sarkan ilmuNya," yakni, dari Allah سبحانه وتعالى dan orang tersebut tidak pantas mendapatkan hidayah dan tidak bisa dibersihkan hatinya di atas hidayah, ﴾ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ ﴿ "dan Allah telah mengunci mati pendengaran," sehingga tidak bisa mendengar hal-hal yang berguna, ﴾ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "dan hatinya," sehingga tidak bisa mencerna kebaikan, ﴾ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ ﴿ "dan meletakkan tutupan atas penglihatannya," yang menghalanginya untuk melihat kebenaran. ﴾ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)." Artinya, tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menutup baginya semua pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Allah سبحانه وتعالى tidak menzhaliminya, tapi dia sendirilah yang men-zhalimi dirinya dan yang melakukan berbagai hal yang mencegah rahmat Allah سبحانه وتعالى . ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," yang berguna bagimu sehingga bisa kalian kerjakan dan pelajaran yang membahayakan kalian sehingga bisa kalian hindari. (24) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," yakni, mereka yang meng-ingkari hari kebangkitan, ﴾ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ﴿ "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Kehidupan ini tidak lain hanyalah kebiasaan rutin setiap hari dan setiap malam. Ada orang yang hidup dan ada orang yang mati dan orang yang sudah mati tidak akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dan amal perbuat-annya tidak akan diberi balasan. Perkataan yang mereka ucapkan ini tidak didasari ilmu, ﴾ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿ "mereka tidak lain hanyalah men-duga-duga saja," sehingga mereka pun mengingkari kebangkitan dan mendustakan para rasul tanpa didasari bukti dan dalil selain hanya didasarkan pada dugaan dan khayalan yang jauh dari ke-benaran. (25) Karena itulah Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar'." Inilah tindakan sembrono mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى yang mengada-adakan perkataan tersebut dan mereka mengira bahwa kebenaran para rasul itu tergantung pada nenek moyang mereka. Andaipun semua rasul mendatangi mereka dengan mem-bawa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka tidak akan beriman kecuali jika para rasul itu mengikuti perkataan mereka, sedangkan perkataan mereka itu semuanya hanyalah dusta belaka, yang mereka maksudkan hanyalah menentang dakwah para rasul, bukan untuk menjelaskan kebenaran. (26) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manu-sia tidak mengetahui'." Andai ilmu tentang Hari Akhir sampai di hati mereka, tentu mereka akan melakukan berbagai amal shalih untuk menghadapi Hari Akhir dan tentu mereka akan bersiap-siap.

Al-Jasiyah 45:26

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya dan Allah membiarkan-nya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas pengli-hatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata, 'Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,' dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apa-bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkan-lah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu ke-mudian mematikan kamu, setelah itu akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'." (Al-Jatsiyah: 23-26). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَرَءَيۡتَ ﴿ "Maka pernahkah kamu me-lihat," orang tersesat, ﴾ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ ﴿ "yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya?" Semua yang diinginkan dilakukan tanpa peduli apakah bisa mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى ataukah ke-murkaanNya. ﴾ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلۡمٖ ﴿ "Dan Allah membiarkannya sesat berda-sarkan ilmuNya," yakni, dari Allah سبحانه وتعالى dan orang tersebut tidak pantas mendapatkan hidayah dan tidak bisa dibersihkan hatinya di atas hidayah, ﴾ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمۡعِهِۦ ﴿ "dan Allah telah mengunci mati pendengaran," sehingga tidak bisa mendengar hal-hal yang berguna, ﴾ وَقَلۡبِهِۦ ﴿ "dan hatinya," sehingga tidak bisa mencerna kebaikan, ﴾ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةٗ ﴿ "dan meletakkan tutupan atas penglihatannya," yang menghalanginya untuk melihat kebenaran. ﴾ فَمَن يَهۡدِيهِ مِنۢ بَعۡدِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)." Artinya, tidak ada seorang pun yang bisa memberinya petunjuk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menutup baginya semua pintu hidayah dan membuka pintu kesesatan untuknya. Allah سبحانه وتعالى tidak menzhaliminya, tapi dia sendirilah yang men-zhalimi dirinya dan yang melakukan berbagai hal yang mencegah rahmat Allah سبحانه وتعالى . ﴾ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿ "Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran," yang berguna bagimu sehingga bisa kalian kerjakan dan pelajaran yang membahayakan kalian sehingga bisa kalian hindari. (24) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," yakni, mereka yang meng-ingkari hari kebangkitan, ﴾ مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا يُهۡلِكُنَآ إِلَّا ٱلدَّهۡرُۚ ﴿ "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Kehidupan ini tidak lain hanyalah kebiasaan rutin setiap hari dan setiap malam. Ada orang yang hidup dan ada orang yang mati dan orang yang sudah mati tidak akan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى dan amal perbuat-annya tidak akan diberi balasan. Perkataan yang mereka ucapkan ini tidak didasari ilmu, ﴾ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ ﴿ "mereka tidak lain hanyalah men-duga-duga saja," sehingga mereka pun mengingkari kebangkitan dan mendustakan para rasul tanpa didasari bukti dan dalil selain hanya didasarkan pada dugaan dan khayalan yang jauh dari ke-benaran. (25) Karena itulah Allah تعالى berfirman, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ مَّا كَانَ حُجَّتَهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآئِنَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan dari mereka selain dari mengatakan, 'Datangkanlah nenek moyang kami jika kamu adalah orang-orang yang benar'." Inilah tindakan sembrono mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى yang mengada-adakan perkataan tersebut dan mereka mengira bahwa kebenaran para rasul itu tergantung pada nenek moyang mereka. Andaipun semua rasul mendatangi mereka dengan mem-bawa tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka tidak akan beriman kecuali jika para rasul itu mengikuti perkataan mereka, sedangkan perkataan mereka itu semuanya hanyalah dusta belaka, yang mereka maksudkan hanyalah menentang dakwah para rasul, bukan untuk menjelaskan kebenaran. (26) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلِ ٱللَّهُ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يَجۡمَعُكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Katakanlah, 'Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manu-sia tidak mengetahui'." Andai ilmu tentang Hari Akhir sampai di hati mereka, tentu mereka akan melakukan berbagai amal shalih untuk menghadapi Hari Akhir dan tentu mereka akan bersiap-siap.

Al-Jasiyah 45:27

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:28

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:29

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:30

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:31

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:32

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:33

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:34

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:35

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:36

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Jasiyah 45:37

"Dan hanya kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebatilan. Dan (pada hari itu) kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipang-gil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari itu kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan. (Allah berfirman), 'Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan ter-hadapmu dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.' Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya (surga). Itu-lah keberuntungan yang nyata. Dan adapun orang-orang yang kafir (kepada mereka dikatakan), 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibacakan kepadamu lalu kamu menyombongkan diri dan kamu menjadi kaum yang berbuat dosa?' Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab, 'Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya).' Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh (azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidup-an dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertau-bat. Maka bagi Allah-lah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagiNyalah keagungan di langit dan di bumi, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jatsiyah: 27-37). (27) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan luasnya kekuasaanNya dan Dia sendirilah yang mengatur alam ini di seluruh waktu. Allah سبحانه وتعالى kelak, ﴾ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ ﴿ "pada hari terjadinya kebangkitan," akan mengumpulkan semua makhluk di tempat pemberhentian Hari Kiamat. Orang-orang yang berbuat kebatilan akan menuai kerugian, mereka ada-lah orang-orang yang mengerjakan kebatilan dengan tujuan untuk menentang kebenaran. Semua amal perbuatan mereka adalah batil karena berkaitan dengan kebatilan sehingga pada Hari Kiamat kelak akan runtuh. Suatu hari di mana kebenaran-kebenaran akan jelas di hadapan mereka sehingga mereka pun tidak mendapatkan pahala sama sekali. Yang mereka dapatkan hanyalah siksaan yang pedih. (28) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى melukiskan kedahsyatan serta huru-hara Hari Kiamat, agar semua hambaNya waspada dan mem-persiapkan diri untuk menghadapinya seraya berfirman, ﴾ وَتَرَىٰ ﴿ "Dan (pada hari itu) kamu lihat," wahai semua yang melihat pada hari itu ﴾ كُلَّ أُمَّةٖ جَاثِيَةٗۚ ﴿ "tiap-tiap umat berlutut," di atas lutut mereka karena merasa takut dan menanti keputusan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengua-sai dan Maha Pemurah. ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya," yakni, untuk menyaksikan syariat nabi mereka yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, apakah mereka melaksanakan syariat itu sehingga akan mendapatkan pahala dan keselamatan, ataukah mereka menyia-nyiakan syariat tersebut se-hingga akan mendapatkan kerugian nyata? Umat Nabi Musa عليه السلام dipanggil untuk melihat syariat Nabi Musa عليه السلام, umat Nabi Isa عليه السلام juga demikian, umat Nabi Muhammad a juga demikian dan selu-ruh umat nabi lainnya. Semua umat dipanggil untuk melihat syariat yang dibebankan. Inilah salah satu kemungkinan yang terdapat dalam ayat ini yang benar secara makna dan tidak perlu diragukan. Kemungkinan lain yang dimaksudkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كُلُّ أُمَّةٖ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ﴿ "Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amal-nya," yakni dipanggil untuk melihat catatan amal perbuatannya serta takdir yang digariskan untuk mereka, apakah kebaikan atau-kah keburukan. Setiap orang akan dibalas sesuai perbuatannya sendiri. Sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۖ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat kebaikan, maka (balasan kebaikan itu) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat keburukan, maka (balasan keburukan itu) akan menimpa dirinya sendiri." (Fushshilat: 46). Kemungkinan dua makna tersebut yang dimaksudkan oleh ayat di atas. (29) Hal ini ditunjukkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى,﴾ هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيۡكُم بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan terhadapmu dengan benar." Artinya, catatan Kami ini yang Kami turunkan kepada kalian akan menghukumi di antara kalian secara benar atau adil.﴾ إِنَّا كُنَّا نَسۡتَنسِخُ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan." Inilah buku catatan amal perbuatan. (30) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membedakan kedua golongan tersebut melalui FirmanNya, ﴾ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih," beriman dengan benar dan keimanan mereka ini dibuktikan dengan amal-amal baik yang berupa kewajiban maupun anjuran,﴾ فَيُدۡخِلُهُمۡ رَبُّهُمۡ فِي رَحۡمَتِهِۦۚ ﴿ "maka Rabb mereka memasukkan mereka ke dalam rahmatNya," bertempat di surga serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna di dalamnya. ﴾ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "Itulah keberuntungan yang nyata," yakni, kemenangan, keselamatan, dan keberuntungan nyata yang diperoleh hamba yang telah mendapatkan semua kebaikan dan terhindar dari segala keburukan. (31) ﴾ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ ﴿ "Dan adapun orang-orang yang kafir," terha-dap Allah سبحانه وتعالى, maka kepada mereka dikatakan sebagai suatu celaan, ﴾ أَفَلَمۡ تَكُنۡ ءَايَٰتِي تُتۡلَىٰ عَلَيۡكُمۡ ﴿ 'Maka apakah belum ada ayat-ayatKu yang dibaca-kan kepadamu'." Artinya, Aku telah menunjukkan kebaikan kepada kalian yang di dalamnya terdapat kebaikan kalian dan Aku telah melarang kalian dari hal-hal yang dapat memudaratkan kalian. Itulah nikmat terbesar yang sampai pada kalian andai saja kalian memahaminya. Hanya saja kalian bersikap angkuh, berpaling serta kufur terhadap ayat-ayat tersebut sehingga Aku pun membalas kalian dengan hukuman setimpal. Pada hari inilah kalian akan di-balas berdasarkan perbuatan yang telah kalian lakukan. (32) Mereka juga dicela melalui Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ وَٱلسَّاعَةُ لَا رَيۡبَ فِيهَا قُلۡتُم ﴿ "Dan apabila dikatakan (kepadamu), 'Sesungguh-nya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya,' niscaya kamu menjawab'," seraya memungkiri hal itu, ﴾ مَّا نَدۡرِي مَا ٱلسَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنّٗا وَمَا نَحۡنُ بِمُسۡتَيۡقِنِينَ ﴿ "Kami tidak tahu apakah Hari Kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakini(nya)." Inilah kondisi mereka di dalam dunia serta pengingkaran mereka terhadap hari kebangkitan serta mereka pun membantah perkataan rasul yang menjelaskan Hari Akhir tersebut. (33) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَدَا لَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُواْ ﴿ "Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan dari apa yang mereka kerjakan." Artinya, balasan perbuatan-perbuatam mereka pun nampak pada Hari Kiamat, ﴾ وَحَاقَ بِهِم ﴿ "dan mereka diliputi," yakni, akan t u r u n ﴾ مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "(azab) yang mereka selalu memperolok-olokkannya." Artinya, mereka akan ditimpa azab yang mereka olok-olok sewaktu di dunia. (34) ﴾ وَقِيلَ ٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰكُمۡ ﴿ "Dan dikatakan (kepada mereka), 'Pada hari ini Kami melupakan kamu'," yakni, Kami membiarkan kalian di-siksa, ﴾ كَمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَا ﴿ "sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini," karena balasan itu disesuaikan dengan amal, ﴾ وَمَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُ ﴿ "dan tempat kembalimu ialah neraka." Artinya, itulah tempat kalian dan juga tempat kembali kalian, ﴾ وَمَا لَكُم مِّن نَّٰصِرِينَ ﴿ "dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong," yang akan menolong ka-lian dari siksaan Allah سبحانه وتعالى dan menolak siksaan tersebut dari kalian. (35) ﴾ ذَٰلِكُم ﴿ "Yang demikian itu," yakni, azab yang menimpa kalian itu adalah disebabkan oleh, ﴾ بِأَنَّكُمُ ٱتَّخَذۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ هُزُوٗا ﴿ "karena sesung-guhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan," padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut adalah serius dan diterima dengan penuh kebahagiaan dan kegembiraan. ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ ﴿ "Dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia," dengan berbagai perhiasan, kele-zatan serta kenikmatan dunia sehingga kalian merasa tenang dan bekerja hanya untuk dunia, sementara itu kalian meninggalkan usaha dan amal untuk kehidupan akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُخۡرَجُونَ مِنۡهَا وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ﴿ "Maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan (untuk bertaubat)," yakni, mereka tidak diberi kesempatan untuk kembali ke dunia dan berbuat kebajikan. (36) ﴾ فَلِلَّهِ ٱلۡحَمۡدُ ﴿ "Maka bagi Allah-lah segala puji," sesuai dengan keagungan WajahNya dan keagungan kekuasaanNya ﴾ رَبِّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَرَبِّ ٱلۡأَرۡضِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam." Artinya, segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata atas rububiyahNya pada seluruh makhluk, karena Allah سبحانه وتعالى telah menciptakan, mengatur dan mem-beri mereka berbagai nikmat, baik yang nampak maupun tidak. (37) ﴾ وَلَهُ ٱلۡكِبۡرِيَآءُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "Dan bagiNya-lah keagungan di langit dan di bumi." Artinya, hanya milikNya keluhuran, keagungan, dan pujian. Pujian mencakup sanjungan untuk Allah سبحانه وتعالى karena sifat-sifatNya yang sempurna, kecintaan, kemuliaan dan keagunganNya yang mencakup kebesaran dan keagunganNya. Ibadah dibangun diatas dua rukun; rasa cinta kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk padaNya. Keduanya berasal dari pengetahuan tentang pujian, keluhuran dan kebesaran Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dia-lah Yang Mahaperkasa" atas segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," yakni meletakkan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing. Allah سبحانه وتعالى tidak mensyariatkan se-suatu melainkan berdasarkan hikmah dan kemaslahatan dan tidak menciptakan sesuatu kecuali untuk suatu manfaat. Selesai tafsir Surat al-Jatsiyah, segala puji, nikmat, dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Ahqaf 46:1

"Ha Mim. Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Mahaperka-sa lagi Mahabijaksana. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah pujian dan pengagungan Allah سبحانه وتعالى terhadap KitabNya yang mulia. Dan hal tersebut mencakup ajaran agar manusia menjadikan cahaya kitab suci ini sebagai petunjuk, mere-nungkan ayat-ayatnya dan menguak kandungan-kandungan yang tersimpan di dalamnya. (3) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan penurunan KitabNya yang mencakup perintah dan larangan, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan langit dan bumi, sehingga ayat ini merangkum antara penciptaan dan perintah. ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, bagiNya penciptaan dan perintah." (Al-A'raf: 54). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى juga berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ 2 خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepadaKu.' Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq." (An-Nahl: 2-3). Allah-lah yang menciptakan manusia yang dibebani menja-lankan syariat, Dia juga menciptakan tempat tinggal mereka dan menundukkan yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengirimkan para rasul untuk me-reka, kitab pun diturunkan untuk mereka, mereka diberi perintah dan larangan. Mereka juga diberitahu bahwa dunia ini adalah tem-pat bekerja dan sebagai tempat berlalunya para pekerja. Balasan semua amal perbuatan yang mereka perbuat di dalam kehidupan dunia ini akan mereka temukan di akhirat secara sempurna. Allah سبحانه وتعالى juga memberikan berbagai bukti dan dalil atas kehidupan akhirat dan memberikan sebagian balasan dan siksaan di dunia ini sebagai contoh kecil dari kehidupan akhirat agar mendorong mereka untuk lebih mencari yang disukai dan meninggalkan yang ditakuti. Karena itulah, dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi kecuali dengan haq," artinya tidak sia-sia, tapi agar manusia mengeta-hui keagungan Pencipta langit dan bumi dan sebagai bukti atas kesempurnaanNya. Agar manusia mengetahui bahwa Rabb yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keagungan kedua makhluk ini Mahakuasa untuk mengembalikan manusia setelah meninggal dunia untuk menerima balasan amal perbuatan. Pen-ciptaan dan keberadaan langit dan bumi telah ditentukan dalam waktu yang dibatasi. Ketika Allah سبحانه وتعالى Yang paling benar UcapanNya memberitahu-kan hal itu serta menyebutkan dalil dan menerangi jalan, Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan, bahwa meski demikian tetap saja ada se-golongan manusia yang berpaling dari kebenaran dan menentang dakwah para rasul seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." Sedangkan orang-orang yang beriman tatkala mengetahui hakikat hal itu, mereka pun menerima wasiat-wasiat Rabb mereka secara tunduk dan memahaagungkan, sehingga mereka pun men-dapatkan segala kebaikan dan terhindar dari segala keburukan.

Al-Ahqaf 46:2

"Ha Mim. Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Mahaperka-sa lagi Mahabijaksana. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah pujian dan pengagungan Allah سبحانه وتعالى terhadap KitabNya yang mulia. Dan hal tersebut mencakup ajaran agar manusia menjadikan cahaya kitab suci ini sebagai petunjuk, mere-nungkan ayat-ayatnya dan menguak kandungan-kandungan yang tersimpan di dalamnya. (3) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan penurunan KitabNya yang mencakup perintah dan larangan, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan langit dan bumi, sehingga ayat ini merangkum antara penciptaan dan perintah. ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, bagiNya penciptaan dan perintah." (Al-A'raf: 54). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى juga berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ 2 خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepadaKu.' Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq." (An-Nahl: 2-3). Allah-lah yang menciptakan manusia yang dibebani menja-lankan syariat, Dia juga menciptakan tempat tinggal mereka dan menundukkan yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengirimkan para rasul untuk me-reka, kitab pun diturunkan untuk mereka, mereka diberi perintah dan larangan. Mereka juga diberitahu bahwa dunia ini adalah tem-pat bekerja dan sebagai tempat berlalunya para pekerja. Balasan semua amal perbuatan yang mereka perbuat di dalam kehidupan dunia ini akan mereka temukan di akhirat secara sempurna. Allah سبحانه وتعالى juga memberikan berbagai bukti dan dalil atas kehidupan akhirat dan memberikan sebagian balasan dan siksaan di dunia ini sebagai contoh kecil dari kehidupan akhirat agar mendorong mereka untuk lebih mencari yang disukai dan meninggalkan yang ditakuti. Karena itulah, dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi kecuali dengan haq," artinya tidak sia-sia, tapi agar manusia mengeta-hui keagungan Pencipta langit dan bumi dan sebagai bukti atas kesempurnaanNya. Agar manusia mengetahui bahwa Rabb yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keagungan kedua makhluk ini Mahakuasa untuk mengembalikan manusia setelah meninggal dunia untuk menerima balasan amal perbuatan. Pen-ciptaan dan keberadaan langit dan bumi telah ditentukan dalam waktu yang dibatasi. Ketika Allah سبحانه وتعالى Yang paling benar UcapanNya memberitahu-kan hal itu serta menyebutkan dalil dan menerangi jalan, Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan, bahwa meski demikian tetap saja ada se-golongan manusia yang berpaling dari kebenaran dan menentang dakwah para rasul seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." Sedangkan orang-orang yang beriman tatkala mengetahui hakikat hal itu, mereka pun menerima wasiat-wasiat Rabb mereka secara tunduk dan memahaagungkan, sehingga mereka pun men-dapatkan segala kebaikan dan terhindar dari segala keburukan.

Al-Ahqaf 46:3

"Ha Mim. Diturunkan kitab ini dari Allah Yang Mahaperka-sa lagi Mahabijaksana. Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 1-3). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (2) Ini adalah pujian dan pengagungan Allah سبحانه وتعالى terhadap KitabNya yang mulia. Dan hal tersebut mencakup ajaran agar manusia menjadikan cahaya kitab suci ini sebagai petunjuk, mere-nungkan ayat-ayatnya dan menguak kandungan-kandungan yang tersimpan di dalamnya. (3) Ketika Allah سبحانه وتعالى menjelaskan penurunan KitabNya yang mencakup perintah dan larangan, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penciptaan langit dan bumi, sehingga ayat ini merangkum antara penciptaan dan perintah. ﴾ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ ﴿ "Ingatlah, bagiNya penciptaan dan perintah." (Al-A'raf: 54). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى juga berfirman, ﴾ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ ﴿ "Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya." (Ath-Thalaq: 12). Dan juga Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ 2 خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintahNya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu, 'Peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepadaKu.' Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq." (An-Nahl: 2-3). Allah-lah yang menciptakan manusia yang dibebani menja-lankan syariat, Dia juga menciptakan tempat tinggal mereka dan menundukkan yang ada di langit dan di bumi untuk kepentingan manusia. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengirimkan para rasul untuk me-reka, kitab pun diturunkan untuk mereka, mereka diberi perintah dan larangan. Mereka juga diberitahu bahwa dunia ini adalah tem-pat bekerja dan sebagai tempat berlalunya para pekerja. Balasan semua amal perbuatan yang mereka perbuat di dalam kehidupan dunia ini akan mereka temukan di akhirat secara sempurna. Allah سبحانه وتعالى juga memberikan berbagai bukti dan dalil atas kehidupan akhirat dan memberikan sebagian balasan dan siksaan di dunia ini sebagai contoh kecil dari kehidupan akhirat agar mendorong mereka untuk lebih mencari yang disukai dan meninggalkan yang ditakuti. Karena itulah, dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَآ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ ﴿ "Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi kecuali dengan haq," artinya tidak sia-sia, tapi agar manusia mengeta-hui keagungan Pencipta langit dan bumi dan sebagai bukti atas kesempurnaanNya. Agar manusia mengetahui bahwa Rabb yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keagungan kedua makhluk ini Mahakuasa untuk mengembalikan manusia setelah meninggal dunia untuk menerima balasan amal perbuatan. Pen-ciptaan dan keberadaan langit dan bumi telah ditentukan dalam waktu yang dibatasi. Ketika Allah سبحانه وتعالى Yang paling benar UcapanNya memberitahu-kan hal itu serta menyebutkan dalil dan menerangi jalan, Allah سبحانه وتعالى juga memberitahukan, bahwa meski demikian tetap saja ada se-golongan manusia yang berpaling dari kebenaran dan menentang dakwah para rasul seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ عَمَّآ أُنذِرُواْ مُعۡرِضُونَ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir berpaling dari apa yang diperingatkan kepada mereka." Sedangkan orang-orang yang beriman tatkala mengetahui hakikat hal itu, mereka pun menerima wasiat-wasiat Rabb mereka secara tunduk dan memahaagungkan, sehingga mereka pun men-dapatkan segala kebaikan dan terhindar dari segala keburukan.

Al-Ahqaf 46:4

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini atau peninggalan dari pengeta-huan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang me-nyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat mem-perkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat), niscaya sembahan-sembahan mereka itu men-jadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 4-6). (4) Artinya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka yang menye-kutukan Allah سبحانه وتعالى dengan patung dan sekutu yang tidak memiliki manfaat dan juga bahaya, tidak juga memiliki kehidupan, kematian dan kebangkitan. Katakanlah kepada mereka seraya menjelaskan lemahnya berhala-berhala mereka dan berhala-berhala tersebut sama sekali tidak berhak disembah, ﴾ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٞ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِۖ ﴿ "Perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit." Artinya, apakah sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu mampu menciptakan bintang di langit atau menciptakan sesuatu di bumi, apakah mereka mampu menciptakan gunung, apakah mereka yang mengalirkan sungai, apakah mereka mengembang-biakkan hewan, apakah mereka menumbuhkan pohon, apakah di antara sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu membantu Allah سبحانه وتعالى dalam menciptakan salah satu dari makhluk? Tentu tidak, ber-dasarkan pengakuan mereka sendiri, lebih-lebih pengakuan yang lain. Ini merupakan dalil aqli yang jelas dan tegas yang menunjuk-kan bahwa penyembahan selain Allah سبحانه وتعالى adalah batil. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dalil n a q l i ﴾ ٱئۡتُونِي بِكِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ هَٰذَآ ﴿ "Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini," yaitu sebuah kitab yang menyerukan untuk berbuat syirik, ﴾ أَوۡ أَثَٰرَةٖ مِّنۡ عِلۡمٍ ﴿ "atau peninggalan dari pengetahuan," yang diwariskan oleh para rasul yang memerintahkan hal itu. Dapat diketahui, orang-orang musy-rik tidak mampu menunjukkan dalil yang menunjukkan adanya seorang rasul pun yang memerintahkan untuk berbuat syirik. Kita semua yakin bahwa semua rasul memerintahkan untuk mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى dan melarang untuk berbuat syirik, dan inilah ilmu terbesar yang mereka wariskan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ﴿ "Dan Kami telah mengutus seorang rasul dalam tiap-tiap umat agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut," (An-Nahl: 36), dan setiap rasul berkata kepada kaumnya, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan lain selain-Nya." (Al-A'raf: 59). Maka dapat diketahui bahwa penolakan orang-orang musyrik tentang perbuatan syirik yang mereka lakukan sama sekali tidak berdasar pada bukti maupun dalil. Mereka hanya berlandaskan pada dugaan dusta, pendapat runtuh, serta akal yang rusak. Hal itu menunjukkan kepada kita semua akan runtuhnya dugaan, pandangan, serta akal sehat mereka melalui penelusuran terhadap kondisi mereka, ilmu dan amal, serta dengan meneliti orang-orang yang menghabiskan usia mereka dalam menyembah berhala dan sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى, apakah hal itu berguna bagi me-reka di dunia dan di akhirat. (5-6) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat?" Yakni, selama waktu ketika mereka berada di dunia, sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu sama sekali tidak membawa manfaat sekecil atom se-kalipun, ﴾ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." Para sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu tidak bisa mendengar satu pun permintaan mereka dan tidak mampu pula mengabul-kannya. Ini adalah kondisi mereka di dunia. Sedangkan pada Hari Kiamat, para sesembahan itu akan mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan. Ketika semua manusia dikumpulkan, semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى menjadi musuh orang-orang musyrik. Mereka saling melaknat satu sama lain. Semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى mengingkari sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Al-Ahqaf 46:5

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini atau peninggalan dari pengeta-huan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang me-nyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat mem-perkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat), niscaya sembahan-sembahan mereka itu men-jadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 4-6). (4) Artinya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka yang menye-kutukan Allah سبحانه وتعالى dengan patung dan sekutu yang tidak memiliki manfaat dan juga bahaya, tidak juga memiliki kehidupan, kematian dan kebangkitan. Katakanlah kepada mereka seraya menjelaskan lemahnya berhala-berhala mereka dan berhala-berhala tersebut sama sekali tidak berhak disembah, ﴾ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٞ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِۖ ﴿ "Perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit." Artinya, apakah sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu mampu menciptakan bintang di langit atau menciptakan sesuatu di bumi, apakah mereka mampu menciptakan gunung, apakah mereka yang mengalirkan sungai, apakah mereka mengembang-biakkan hewan, apakah mereka menumbuhkan pohon, apakah di antara sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu membantu Allah سبحانه وتعالى dalam menciptakan salah satu dari makhluk? Tentu tidak, ber-dasarkan pengakuan mereka sendiri, lebih-lebih pengakuan yang lain. Ini merupakan dalil aqli yang jelas dan tegas yang menunjuk-kan bahwa penyembahan selain Allah سبحانه وتعالى adalah batil. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dalil n a q l i ﴾ ٱئۡتُونِي بِكِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ هَٰذَآ ﴿ "Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini," yaitu sebuah kitab yang menyerukan untuk berbuat syirik, ﴾ أَوۡ أَثَٰرَةٖ مِّنۡ عِلۡمٍ ﴿ "atau peninggalan dari pengetahuan," yang diwariskan oleh para rasul yang memerintahkan hal itu. Dapat diketahui, orang-orang musy-rik tidak mampu menunjukkan dalil yang menunjukkan adanya seorang rasul pun yang memerintahkan untuk berbuat syirik. Kita semua yakin bahwa semua rasul memerintahkan untuk mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى dan melarang untuk berbuat syirik, dan inilah ilmu terbesar yang mereka wariskan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ﴿ "Dan Kami telah mengutus seorang rasul dalam tiap-tiap umat agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut," (An-Nahl: 36), dan setiap rasul berkata kepada kaumnya, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan lain selain-Nya." (Al-A'raf: 59). Maka dapat diketahui bahwa penolakan orang-orang musyrik tentang perbuatan syirik yang mereka lakukan sama sekali tidak berdasar pada bukti maupun dalil. Mereka hanya berlandaskan pada dugaan dusta, pendapat runtuh, serta akal yang rusak. Hal itu menunjukkan kepada kita semua akan runtuhnya dugaan, pandangan, serta akal sehat mereka melalui penelusuran terhadap kondisi mereka, ilmu dan amal, serta dengan meneliti orang-orang yang menghabiskan usia mereka dalam menyembah berhala dan sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى, apakah hal itu berguna bagi me-reka di dunia dan di akhirat. (5-6) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat?" Yakni, selama waktu ketika mereka berada di dunia, sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu sama sekali tidak membawa manfaat sekecil atom se-kalipun, ﴾ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." Para sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu tidak bisa mendengar satu pun permintaan mereka dan tidak mampu pula mengabul-kannya. Ini adalah kondisi mereka di dunia. Sedangkan pada Hari Kiamat, para sesembahan itu akan mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan. Ketika semua manusia dikumpulkan, semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى menjadi musuh orang-orang musyrik. Mereka saling melaknat satu sama lain. Semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى mengingkari sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Al-Ahqaf 46:6

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini atau peninggalan dari pengeta-huan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang me-nyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat mem-perkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada Hari Kiamat), niscaya sembahan-sembahan mereka itu men-jadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka." (Al-Ahqaf: 4-6). (4) Artinya, ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka yang menye-kutukan Allah سبحانه وتعالى dengan patung dan sekutu yang tidak memiliki manfaat dan juga bahaya, tidak juga memiliki kehidupan, kematian dan kebangkitan. Katakanlah kepada mereka seraya menjelaskan lemahnya berhala-berhala mereka dan berhala-berhala tersebut sama sekali tidak berhak disembah, ﴾ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُواْ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ أَمۡ لَهُمۡ شِرۡكٞ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِۖ ﴿ "Perlihatkanlah kepadaKu apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit." Artinya, apakah sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu mampu menciptakan bintang di langit atau menciptakan sesuatu di bumi, apakah mereka mampu menciptakan gunung, apakah mereka yang mengalirkan sungai, apakah mereka mengembang-biakkan hewan, apakah mereka menumbuhkan pohon, apakah di antara sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu membantu Allah سبحانه وتعالى dalam menciptakan salah satu dari makhluk? Tentu tidak, ber-dasarkan pengakuan mereka sendiri, lebih-lebih pengakuan yang lain. Ini merupakan dalil aqli yang jelas dan tegas yang menunjuk-kan bahwa penyembahan selain Allah سبحانه وتعالى adalah batil. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dalil n a q l i ﴾ ٱئۡتُونِي بِكِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ هَٰذَآ ﴿ "Bawalah kepadaku kitab yang sebelum (al-Qur`an) ini," yaitu sebuah kitab yang menyerukan untuk berbuat syirik, ﴾ أَوۡ أَثَٰرَةٖ مِّنۡ عِلۡمٍ ﴿ "atau peninggalan dari pengetahuan," yang diwariskan oleh para rasul yang memerintahkan hal itu. Dapat diketahui, orang-orang musy-rik tidak mampu menunjukkan dalil yang menunjukkan adanya seorang rasul pun yang memerintahkan untuk berbuat syirik. Kita semua yakin bahwa semua rasul memerintahkan untuk mengesa-kan Allah سبحانه وتعالى dan melarang untuk berbuat syirik, dan inilah ilmu terbesar yang mereka wariskan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖ ﴿ "Dan Kami telah mengutus seorang rasul dalam tiap-tiap umat agar mereka menyembah Allah dan menjauhi thaghut," (An-Nahl: 36), dan setiap rasul berkata kepada kaumnya, ﴾ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥٓۚ ﴿ "Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan lain selain-Nya." (Al-A'raf: 59). Maka dapat diketahui bahwa penolakan orang-orang musyrik tentang perbuatan syirik yang mereka lakukan sama sekali tidak berdasar pada bukti maupun dalil. Mereka hanya berlandaskan pada dugaan dusta, pendapat runtuh, serta akal yang rusak. Hal itu menunjukkan kepada kita semua akan runtuhnya dugaan, pandangan, serta akal sehat mereka melalui penelusuran terhadap kondisi mereka, ilmu dan amal, serta dengan meneliti orang-orang yang menghabiskan usia mereka dalam menyembah berhala dan sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى, apakah hal itu berguna bagi me-reka di dunia dan di akhirat. (5-6) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ ﴿ "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doanya) sampai Hari Kiamat?" Yakni, selama waktu ketika mereka berada di dunia, sesembahan-sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu sama sekali tidak membawa manfaat sekecil atom se-kalipun, ﴾ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَٰفِلُونَ ﴿ "dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka." Para sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى itu tidak bisa mendengar satu pun permintaan mereka dan tidak mampu pula mengabul-kannya. Ini adalah kondisi mereka di dunia. Sedangkan pada Hari Kiamat, para sesembahan itu akan mengingkari kesyirikan yang mereka lakukan. Ketika semua manusia dikumpulkan, semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى menjadi musuh orang-orang musyrik. Mereka saling melaknat satu sama lain. Semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى mengingkari sesembahan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik.

Al-Ahqaf 46:7

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari ke-benaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an).' Katakanlah, 'Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit-pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih menge-tahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang al-Qur`an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwah-yukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyom-bongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Ahqaf: 7-10). (7) Maknanya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ ﴿ "Dan apabila dibacakan," kepada orang-orang yang mendustakan, ﴾ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ ﴿ "ayat-ayat Kami yang menjelaskan," sehingga tidak mungkin diragukan dan tidak ada ke-raguan bahwa ia akan terjadi, hanya saja tidak ada satu pun kabar yang membuat mereka percaya namun hujjah telah tegak atas mereka, lalu mereka berkata berdasarkan kedustaan serta bualan bohong mereka, ﴾ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "kepada kebenaran ketika kebe-naran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata'." Yakni, nyata dan tidak diragukan. Dan inilah pemutarbalikan fakta yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah akal, sebab sean-dainya mereka bisa memahami dan mencerna kebenaran tersebut, tentu kebenaran yang dibawa Rasulullah a itu pasti jelas, dan sihir pun jelas, laksana perbedaan langit dan bumi. Bagaimanakah kebenaran yang membumbung tinggi jauh di atas bintang dan yang cahayanya lebih kuat dari cahaya matahari, yang berbagai dalil penciptaan langit, bumi dan penciptaan manusia menunjukkan hal itu dan orang-orang berakal pun tunduk pada kebenaran itu, disamakan dengan kebatilan yang merupakan sihir yang berasal dari orang sesat, zhalim, buruk jiwa dan perbuatannya? Kebatilan itulah yang sesuai dan cocok dengan kondisinya. Analogi tersebut tidak lain hanyalah bersumber dari kepalsuan. (8) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an)'." Artinya, Muhammad mem-buat-buat al-Qur`an ini dari dirinya sendiri, bukan dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka, ﴾ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ ﴿ "Jika aku mengada-adakannya," maka Allah سبحانه وتعالى memiliki kekuasaan atas diriku dan mengetahui apa yang kalian katakan, lantas mengapa Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksaku atas cerita yang aku ada-adakan sebagaimana yang kalian sangkakan, apakah ﴾ تَمۡلِكُونَ لِي مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۖ ﴿ "kamu tiada mem-punyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu." Jika Allah سبحانه وتعالى menghendakiku suatu bahaya atau menghendakiku suatu rahmat. ﴾ كَفَىٰ بِهِۦ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۖ ﴿ "Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu," andai aku mengada-adakan al-Qur`an, tentu aku akan disiksa dengan Tangan kananNya dan sungguh Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang bisa disaksikan oleh setiap orang, karena mengada-adakan al-Qur`an adalah dosa mengada-adakan yang paling besar andai memang aku melakukan hal itu. Kemudian Muhammad a mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى meski mereka menentang kebenaran. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Artinya, bertaubatlah kalian semua kepadaNya dan tinggalkanlah perbuatan kalian, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dosa-dosa kalian, merahmati kalian dan menunjukkan kalian pada kebaikan, serta memberikan kalian pahala yang besar. (9) ﴾ قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ ﴿ "Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul'." Artinya, aku bukanlah rasul pertama yang datang pada kalian sehingga kalian merasa aneh dengan risalah yang aku bawa dan kalian mengingkari seruanku. Telah berlalu para rasul dan nabi yang seruanku dan seruan mereka adalah sama, lantas karena apa kalian mengingkari ajakanku? ﴾ وَمَآ أَدۡرِي مَا يُفۡعَلُ بِي وَلَا بِكُمۡۖ ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu." Artinya, aku hanya manusia biasa, aku tidak berkuasa sama sekali terhadap urusanku, hanya Allah سبحانه وتعالى yang mengaturku dan kalian, Dia-lah yang me-mutuskan perkaraku dan perkara kalian, aku sama sekali tidak membawa risalah dari diriku. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan." Jika kalian menerima risalahku dan merespon seruanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan akhirat, namun jika kalian menolak risalah dan ajakanku, maka hisab kalian berada dalam kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, aku telah menyam-paikan peringatan kepada kalian, dan barangsiapa yang telah mem-beri peringatan, maka telah memiliki alasan. (10) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَكَفَرۡتُم بِهِۦ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapat-mu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu menging-karinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri'." Artinya, beritahukanlah kepadaku jika al-Qur`an ini berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى yang kebenarannya disaksi-kan oleh mereka yang mendapat pertolongan Allah سبحانه وتعالى dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang yang memiliki kebenaran namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kebenaran. Berimanlah kepada al-Qur`an dan jadikanlah sebagai petunjuk, semua kisah para nabi dan para pengikutnya yang berakal itu sama, sedangkan kalian tetap saja mengingkari wahai orang-orang bodoh dan tolol. Perbuatan kalian ini tidak lain adalah kezhaliman dan kekufuran paling besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tiada mem-beri petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." Termasuk kezhaliman adalah menyombongkan diri terhadap kebenaran setelah mema-haminya dengan baik.

Al-Ahqaf 46:8

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari ke-benaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an).' Katakanlah, 'Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit-pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih menge-tahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang al-Qur`an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwah-yukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyom-bongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Ahqaf: 7-10). (7) Maknanya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ ﴿ "Dan apabila dibacakan," kepada orang-orang yang mendustakan, ﴾ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ ﴿ "ayat-ayat Kami yang menjelaskan," sehingga tidak mungkin diragukan dan tidak ada ke-raguan bahwa ia akan terjadi, hanya saja tidak ada satu pun kabar yang membuat mereka percaya namun hujjah telah tegak atas mereka, lalu mereka berkata berdasarkan kedustaan serta bualan bohong mereka, ﴾ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "kepada kebenaran ketika kebe-naran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata'." Yakni, nyata dan tidak diragukan. Dan inilah pemutarbalikan fakta yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah akal, sebab sean-dainya mereka bisa memahami dan mencerna kebenaran tersebut, tentu kebenaran yang dibawa Rasulullah a itu pasti jelas, dan sihir pun jelas, laksana perbedaan langit dan bumi. Bagaimanakah kebenaran yang membumbung tinggi jauh di atas bintang dan yang cahayanya lebih kuat dari cahaya matahari, yang berbagai dalil penciptaan langit, bumi dan penciptaan manusia menunjukkan hal itu dan orang-orang berakal pun tunduk pada kebenaran itu, disamakan dengan kebatilan yang merupakan sihir yang berasal dari orang sesat, zhalim, buruk jiwa dan perbuatannya? Kebatilan itulah yang sesuai dan cocok dengan kondisinya. Analogi tersebut tidak lain hanyalah bersumber dari kepalsuan. (8) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an)'." Artinya, Muhammad mem-buat-buat al-Qur`an ini dari dirinya sendiri, bukan dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka, ﴾ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ ﴿ "Jika aku mengada-adakannya," maka Allah سبحانه وتعالى memiliki kekuasaan atas diriku dan mengetahui apa yang kalian katakan, lantas mengapa Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksaku atas cerita yang aku ada-adakan sebagaimana yang kalian sangkakan, apakah ﴾ تَمۡلِكُونَ لِي مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۖ ﴿ "kamu tiada mem-punyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu." Jika Allah سبحانه وتعالى menghendakiku suatu bahaya atau menghendakiku suatu rahmat. ﴾ كَفَىٰ بِهِۦ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۖ ﴿ "Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu," andai aku mengada-adakan al-Qur`an, tentu aku akan disiksa dengan Tangan kananNya dan sungguh Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang bisa disaksikan oleh setiap orang, karena mengada-adakan al-Qur`an adalah dosa mengada-adakan yang paling besar andai memang aku melakukan hal itu. Kemudian Muhammad a mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى meski mereka menentang kebenaran. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Artinya, bertaubatlah kalian semua kepadaNya dan tinggalkanlah perbuatan kalian, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dosa-dosa kalian, merahmati kalian dan menunjukkan kalian pada kebaikan, serta memberikan kalian pahala yang besar. (9) ﴾ قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ ﴿ "Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul'." Artinya, aku bukanlah rasul pertama yang datang pada kalian sehingga kalian merasa aneh dengan risalah yang aku bawa dan kalian mengingkari seruanku. Telah berlalu para rasul dan nabi yang seruanku dan seruan mereka adalah sama, lantas karena apa kalian mengingkari ajakanku? ﴾ وَمَآ أَدۡرِي مَا يُفۡعَلُ بِي وَلَا بِكُمۡۖ ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu." Artinya, aku hanya manusia biasa, aku tidak berkuasa sama sekali terhadap urusanku, hanya Allah سبحانه وتعالى yang mengaturku dan kalian, Dia-lah yang me-mutuskan perkaraku dan perkara kalian, aku sama sekali tidak membawa risalah dari diriku. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan." Jika kalian menerima risalahku dan merespon seruanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan akhirat, namun jika kalian menolak risalah dan ajakanku, maka hisab kalian berada dalam kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, aku telah menyam-paikan peringatan kepada kalian, dan barangsiapa yang telah mem-beri peringatan, maka telah memiliki alasan. (10) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَكَفَرۡتُم بِهِۦ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapat-mu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu menging-karinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri'." Artinya, beritahukanlah kepadaku jika al-Qur`an ini berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى yang kebenarannya disaksi-kan oleh mereka yang mendapat pertolongan Allah سبحانه وتعالى dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang yang memiliki kebenaran namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kebenaran. Berimanlah kepada al-Qur`an dan jadikanlah sebagai petunjuk, semua kisah para nabi dan para pengikutnya yang berakal itu sama, sedangkan kalian tetap saja mengingkari wahai orang-orang bodoh dan tolol. Perbuatan kalian ini tidak lain adalah kezhaliman dan kekufuran paling besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tiada mem-beri petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." Termasuk kezhaliman adalah menyombongkan diri terhadap kebenaran setelah mema-haminya dengan baik.

Al-Ahqaf 46:9

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari ke-benaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an).' Katakanlah, 'Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit-pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih menge-tahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang al-Qur`an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwah-yukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyom-bongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Ahqaf: 7-10). (7) Maknanya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ ﴿ "Dan apabila dibacakan," kepada orang-orang yang mendustakan, ﴾ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ ﴿ "ayat-ayat Kami yang menjelaskan," sehingga tidak mungkin diragukan dan tidak ada ke-raguan bahwa ia akan terjadi, hanya saja tidak ada satu pun kabar yang membuat mereka percaya namun hujjah telah tegak atas mereka, lalu mereka berkata berdasarkan kedustaan serta bualan bohong mereka, ﴾ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "kepada kebenaran ketika kebe-naran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata'." Yakni, nyata dan tidak diragukan. Dan inilah pemutarbalikan fakta yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah akal, sebab sean-dainya mereka bisa memahami dan mencerna kebenaran tersebut, tentu kebenaran yang dibawa Rasulullah a itu pasti jelas, dan sihir pun jelas, laksana perbedaan langit dan bumi. Bagaimanakah kebenaran yang membumbung tinggi jauh di atas bintang dan yang cahayanya lebih kuat dari cahaya matahari, yang berbagai dalil penciptaan langit, bumi dan penciptaan manusia menunjukkan hal itu dan orang-orang berakal pun tunduk pada kebenaran itu, disamakan dengan kebatilan yang merupakan sihir yang berasal dari orang sesat, zhalim, buruk jiwa dan perbuatannya? Kebatilan itulah yang sesuai dan cocok dengan kondisinya. Analogi tersebut tidak lain hanyalah bersumber dari kepalsuan. (8) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an)'." Artinya, Muhammad mem-buat-buat al-Qur`an ini dari dirinya sendiri, bukan dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka, ﴾ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ ﴿ "Jika aku mengada-adakannya," maka Allah سبحانه وتعالى memiliki kekuasaan atas diriku dan mengetahui apa yang kalian katakan, lantas mengapa Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksaku atas cerita yang aku ada-adakan sebagaimana yang kalian sangkakan, apakah ﴾ تَمۡلِكُونَ لِي مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۖ ﴿ "kamu tiada mem-punyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu." Jika Allah سبحانه وتعالى menghendakiku suatu bahaya atau menghendakiku suatu rahmat. ﴾ كَفَىٰ بِهِۦ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۖ ﴿ "Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu," andai aku mengada-adakan al-Qur`an, tentu aku akan disiksa dengan Tangan kananNya dan sungguh Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang bisa disaksikan oleh setiap orang, karena mengada-adakan al-Qur`an adalah dosa mengada-adakan yang paling besar andai memang aku melakukan hal itu. Kemudian Muhammad a mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى meski mereka menentang kebenaran. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Artinya, bertaubatlah kalian semua kepadaNya dan tinggalkanlah perbuatan kalian, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dosa-dosa kalian, merahmati kalian dan menunjukkan kalian pada kebaikan, serta memberikan kalian pahala yang besar. (9) ﴾ قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ ﴿ "Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul'." Artinya, aku bukanlah rasul pertama yang datang pada kalian sehingga kalian merasa aneh dengan risalah yang aku bawa dan kalian mengingkari seruanku. Telah berlalu para rasul dan nabi yang seruanku dan seruan mereka adalah sama, lantas karena apa kalian mengingkari ajakanku? ﴾ وَمَآ أَدۡرِي مَا يُفۡعَلُ بِي وَلَا بِكُمۡۖ ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu." Artinya, aku hanya manusia biasa, aku tidak berkuasa sama sekali terhadap urusanku, hanya Allah سبحانه وتعالى yang mengaturku dan kalian, Dia-lah yang me-mutuskan perkaraku dan perkara kalian, aku sama sekali tidak membawa risalah dari diriku. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan." Jika kalian menerima risalahku dan merespon seruanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan akhirat, namun jika kalian menolak risalah dan ajakanku, maka hisab kalian berada dalam kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, aku telah menyam-paikan peringatan kepada kalian, dan barangsiapa yang telah mem-beri peringatan, maka telah memiliki alasan. (10) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَكَفَرۡتُم بِهِۦ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapat-mu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu menging-karinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri'." Artinya, beritahukanlah kepadaku jika al-Qur`an ini berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى yang kebenarannya disaksi-kan oleh mereka yang mendapat pertolongan Allah سبحانه وتعالى dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang yang memiliki kebenaran namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kebenaran. Berimanlah kepada al-Qur`an dan jadikanlah sebagai petunjuk, semua kisah para nabi dan para pengikutnya yang berakal itu sama, sedangkan kalian tetap saja mengingkari wahai orang-orang bodoh dan tolol. Perbuatan kalian ini tidak lain adalah kezhaliman dan kekufuran paling besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tiada mem-beri petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." Termasuk kezhaliman adalah menyombongkan diri terhadap kebenaran setelah mema-haminya dengan baik.

Al-Ahqaf 46:10

"Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang menjelaskan, berkatalah orang-orang yang mengingkari ke-benaran ketika kebenaran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an).' Katakanlah, 'Jika aku mengada-adakannya, maka kamu tiada mempunyai kuasa sedikit-pun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu. Dia lebih menge-tahui apa-apa yang kamu percakapkan tentang al-Qur`an itu. Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.' Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwah-yukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyom-bongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." (Al-Ahqaf: 7-10). (7) Maknanya, ﴾ وَإِذَا تُتۡلَىٰ ﴿ "Dan apabila dibacakan," kepada orang-orang yang mendustakan, ﴾ ءَايَٰتُنَا بَيِّنَٰتٖ ﴿ "ayat-ayat Kami yang menjelaskan," sehingga tidak mungkin diragukan dan tidak ada ke-raguan bahwa ia akan terjadi, hanya saja tidak ada satu pun kabar yang membuat mereka percaya namun hujjah telah tegak atas mereka, lalu mereka berkata berdasarkan kedustaan serta bualan bohong mereka, ﴾ لِلۡحَقِّ لَمَّا جَآءَهُمۡ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٌ ﴿ "kepada kebenaran ketika kebe-naran itu datang kepada mereka, 'Ini adalah sihir yang nyata'." Yakni, nyata dan tidak diragukan. Dan inilah pemutarbalikan fakta yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah akal, sebab sean-dainya mereka bisa memahami dan mencerna kebenaran tersebut, tentu kebenaran yang dibawa Rasulullah a itu pasti jelas, dan sihir pun jelas, laksana perbedaan langit dan bumi. Bagaimanakah kebenaran yang membumbung tinggi jauh di atas bintang dan yang cahayanya lebih kuat dari cahaya matahari, yang berbagai dalil penciptaan langit, bumi dan penciptaan manusia menunjukkan hal itu dan orang-orang berakal pun tunduk pada kebenaran itu, disamakan dengan kebatilan yang merupakan sihir yang berasal dari orang sesat, zhalim, buruk jiwa dan perbuatannya? Kebatilan itulah yang sesuai dan cocok dengan kondisinya. Analogi tersebut tidak lain hanyalah bersumber dari kepalsuan. (8) ﴾ أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ ﴿ "Bahkan mereka mengatakan, 'Dia (Muhammad) telah mengada-adakannya (al-Qur`an)'." Artinya, Muhammad mem-buat-buat al-Qur`an ini dari dirinya sendiri, bukan dari Allah سبحانه وتعالى. ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah," kepada mereka, ﴾ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ ﴿ "Jika aku mengada-adakannya," maka Allah سبحانه وتعالى memiliki kekuasaan atas diriku dan mengetahui apa yang kalian katakan, lantas mengapa Allah سبحانه وتعالى tidak menyiksaku atas cerita yang aku ada-adakan sebagaimana yang kalian sangkakan, apakah ﴾ تَمۡلِكُونَ لِي مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۖ ﴿ "kamu tiada mem-punyai kuasa sedikitpun mempertahankan aku dari (azab) Allah itu." Jika Allah سبحانه وتعالى menghendakiku suatu bahaya atau menghendakiku suatu rahmat. ﴾ كَفَىٰ بِهِۦ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۖ ﴿ "Cukuplah Dia menjadi saksi antaraku dan antaramu," andai aku mengada-adakan al-Qur`an, tentu aku akan disiksa dengan Tangan kananNya dan sungguh Dia akan menyiksaku dengan siksaan yang bisa disaksikan oleh setiap orang, karena mengada-adakan al-Qur`an adalah dosa mengada-adakan yang paling besar andai memang aku melakukan hal itu. Kemudian Muhammad a mengajak mereka untuk bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى meski mereka menentang kebenaran. Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Artinya, bertaubatlah kalian semua kepadaNya dan tinggalkanlah perbuatan kalian, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dosa-dosa kalian, merahmati kalian dan menunjukkan kalian pada kebaikan, serta memberikan kalian pahala yang besar. (9) ﴾ قُلۡ مَا كُنتُ بِدۡعٗا مِّنَ ٱلرُّسُلِ ﴿ "Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul'." Artinya, aku bukanlah rasul pertama yang datang pada kalian sehingga kalian merasa aneh dengan risalah yang aku bawa dan kalian mengingkari seruanku. Telah berlalu para rasul dan nabi yang seruanku dan seruan mereka adalah sama, lantas karena apa kalian mengingkari ajakanku? ﴾ وَمَآ أَدۡرِي مَا يُفۡعَلُ بِي وَلَا بِكُمۡۖ ﴿ "Dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadapmu." Artinya, aku hanya manusia biasa, aku tidak berkuasa sama sekali terhadap urusanku, hanya Allah سبحانه وتعالى yang mengaturku dan kalian, Dia-lah yang me-mutuskan perkaraku dan perkara kalian, aku sama sekali tidak membawa risalah dari diriku. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang memberi penjelasan." Jika kalian menerima risalahku dan merespon seruanku, maka itulah bagian kalian di dunia dan akhirat, namun jika kalian menolak risalah dan ajakanku, maka hisab kalian berada dalam kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, aku telah menyam-paikan peringatan kepada kalian, dan barangsiapa yang telah mem-beri peringatan, maka telah memiliki alasan. (10) ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن كَانَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَكَفَرۡتُم بِهِۦ وَشَهِدَ شَاهِدٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ مِثۡلِهِۦ فَـَٔامَنَ وَٱسۡتَكۡبَرۡتُمۡۚ ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapat-mu jika al-Qur`an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu menging-karinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) al-Qur`an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri'." Artinya, beritahukanlah kepadaku jika al-Qur`an ini berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى yang kebenarannya disaksi-kan oleh mereka yang mendapat pertolongan Allah سبحانه وتعالى dari kalangan ahli kitab, yaitu orang-orang yang memiliki kebenaran namun mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah kebenaran. Berimanlah kepada al-Qur`an dan jadikanlah sebagai petunjuk, semua kisah para nabi dan para pengikutnya yang berakal itu sama, sedangkan kalian tetap saja mengingkari wahai orang-orang bodoh dan tolol. Perbuatan kalian ini tidak lain adalah kezhaliman dan kekufuran paling besar. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tiada mem-beri petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." Termasuk kezhaliman adalah menyombongkan diri terhadap kebenaran setelah mema-haminya dengan baik.

Al-Ahqaf 46:11

"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Kalau sekiranya ia (al-Qur`an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka berkata, 'Ini adalah dusta yang lama.' Dan sebelum al-Qur`an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (al-Qur`an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zhalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang ber-buat baik." (Al-Ahqaf: 11-12). (11-12) Artinya, mereka mengingkari dan menentang ke-benaran serta menolak seruan Nabi Muhammad a dengan berkata, ﴾ لَوۡ كَانَ خَيۡرٗا مَّا سَبَقُونَآ إِلَيۡهِۚ ﴿ "Kalau sekiranya ia (al-Qur`an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya." Artinya, tentu tidak didahului oleh orang-orang yang beriman dan tentu kami adalah orang-orang yang pertama mendahuluinya. Pernyataan mereka ini merupakan kepalsuan. Bukti apa yang bisa menunjukkan bahwa tanda-tanda kebenaran itu pasti didahului oleh mereka yang mendustakan, bukan orang-orang yang percaya terlebih dahulu? Apakah jiwa mereka paling bersih, akalnya paling sempurna atau apakah petunjuk berada di tangan mereka? Hanya saja perkataan yang muncul dari mulut mereka ini adalah ucapan duka cita untuk diri mereka sendiri seperti orang yang tidak mampu berbuat sesuatu kemudian mencelanya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ لَمۡ يَهۡتَدُواْ بِهِۦ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَآ إِفۡكٞ قَدِيمٞ ﴿ "Karena mereka tidak men-dapat petunjuk dengannya, maka mereka berkata, 'Ini adalah dusta yang lama'." Artinya, penyebab yang membuat mereka melakukan hal itu adalah karena mereka tidak mendapat petunjuk al-Qur`an ini, mereka pun tidak mendapatkan karunia terbesar dan keinginan paling agung. Mereka tidak menerima al-Qur`an karena mereka berdusta, padahal al-Qur`an adalah kebenaran yang tidak ada ke-raguannya dan tidak bisa dibantah. Al-Qur`an sesuai dengan kitab samawi sebelumnya dari segi kesempurnaan dan keutamaan yaitu kitab Taurat yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada, ﴾ مُوسَىٰٓ إِمَامٗا وَرَحۡمَةٗۚ ﴿ "Musa, sebagai petunjuk dan rahmat." Artinya, diteladani oleh Bani Israil dan dijadikan petunjuk sehingga mereka pun mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yakni, al-Qur`an, ﴾ كِتَٰبٞ مُّصَدِّقٞ ﴿ "adalah kitab yang membenarkannya," yakni, membenarkan kitab-kitab sebelum-nya dan bersaksi atas kebenarannya karena sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya. Allah menjadikannya ﴾ لِّسَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "dalam bahasa Arab," agar mudah dibaca dan diingat, ﴾ لِّيُنذِرَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "untuk mem-beri peringatan kepada orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka dengan kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan bahwa jika mereka terus menerus dalam kezhaliman, maka mereka akan mendapatkan siksaan. Dan juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik dengan menyembah sang Khaliq dan yang berguna bagi orang lain dengan pahala yang besar di dunia dan di akhirat dan diberi peringatan akan amalan-amalan yang diperingatkan dan amalan-amalan yang digembirakan.

Al-Ahqaf 46:12

"Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Kalau sekiranya ia (al-Qur`an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya, maka mereka berkata, 'Ini adalah dusta yang lama.' Dan sebelum al-Qur`an itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini (al-Qur`an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zhalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang ber-buat baik." (Al-Ahqaf: 11-12). (11-12) Artinya, mereka mengingkari dan menentang ke-benaran serta menolak seruan Nabi Muhammad a dengan berkata, ﴾ لَوۡ كَانَ خَيۡرٗا مَّا سَبَقُونَآ إِلَيۡهِۚ ﴿ "Kalau sekiranya ia (al-Qur`an) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya." Artinya, tentu tidak didahului oleh orang-orang yang beriman dan tentu kami adalah orang-orang yang pertama mendahuluinya. Pernyataan mereka ini merupakan kepalsuan. Bukti apa yang bisa menunjukkan bahwa tanda-tanda kebenaran itu pasti didahului oleh mereka yang mendustakan, bukan orang-orang yang percaya terlebih dahulu? Apakah jiwa mereka paling bersih, akalnya paling sempurna atau apakah petunjuk berada di tangan mereka? Hanya saja perkataan yang muncul dari mulut mereka ini adalah ucapan duka cita untuk diri mereka sendiri seperti orang yang tidak mampu berbuat sesuatu kemudian mencelanya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ لَمۡ يَهۡتَدُواْ بِهِۦ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَآ إِفۡكٞ قَدِيمٞ ﴿ "Karena mereka tidak men-dapat petunjuk dengannya, maka mereka berkata, 'Ini adalah dusta yang lama'." Artinya, penyebab yang membuat mereka melakukan hal itu adalah karena mereka tidak mendapat petunjuk al-Qur`an ini, mereka pun tidak mendapatkan karunia terbesar dan keinginan paling agung. Mereka tidak menerima al-Qur`an karena mereka berdusta, padahal al-Qur`an adalah kebenaran yang tidak ada ke-raguannya dan tidak bisa dibantah. Al-Qur`an sesuai dengan kitab samawi sebelumnya dari segi kesempurnaan dan keutamaan yaitu kitab Taurat yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada, ﴾ مُوسَىٰٓ إِمَامٗا وَرَحۡمَةٗۚ ﴿ "Musa, sebagai petunjuk dan rahmat." Artinya, diteladani oleh Bani Israil dan dijadikan petunjuk sehingga mereka pun mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. ﴾ وَهَٰذَا ﴿ "Dan ini," yakni, al-Qur`an, ﴾ كِتَٰبٞ مُّصَدِّقٞ ﴿ "adalah kitab yang membenarkannya," yakni, membenarkan kitab-kitab sebelum-nya dan bersaksi atas kebenarannya karena sesuai dengan kitab-kitab sebelumnya. Allah menjadikannya ﴾ لِّسَانًا عَرَبِيّٗا ﴿ "dalam bahasa Arab," agar mudah dibaca dan diingat, ﴾ لِّيُنذِرَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ ﴿ "untuk mem-beri peringatan kepada orang-orang yang zhalim" terhadap diri mereka dengan kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan bahwa jika mereka terus menerus dalam kezhaliman, maka mereka akan mendapatkan siksaan. Dan juga memberikan kabar gembira bagi orang-orang yang berbuat baik dengan menyembah sang Khaliq dan yang berguna bagi orang lain dengan pahala yang besar di dunia dan di akhirat dan diberi peringatan akan amalan-amalan yang diperingatkan dan amalan-amalan yang digembirakan.

Al-Ahqaf 46:13

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah سبحانه وتعالى,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (Al-Ahqaf: 13-14). (13) Maksudnya, sesungguhnya orang-orang yang menga-kui Rabb mereka dan bersaksi akan keesaanNya, melaksanakan ketaatan secara kontinu dan ﴾ ٱسۡتَقَٰمُواْ ﴿ "tetap istiqamah," selama mereka hidup, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tidak ada kekhawatiran," terhadap segala sesuatu yang ada di hadapan mereka, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan mereka tiada (pula) berduka cita," atas segala sesuatu yang telah me-reka tinggalkan setelahnya. (14) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "Mereka itulah penghuni-penghuni surga," artinya, penghuninya dan akan tetap berada di dalamnya, mereka tidak menginginkan kenikmatan itu dirubah dan tidak mengingin-kan diganti, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." Dengan beriman kepada Allah سبحانه وتعالى yang mengharuskan mereka beramal shalih yang tetap mereka laksanakan secara istiqamah.

Al-Ahqaf 46:14

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah سبحانه وتعالى,' kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (Al-Ahqaf: 13-14). (13) Maksudnya, sesungguhnya orang-orang yang menga-kui Rabb mereka dan bersaksi akan keesaanNya, melaksanakan ketaatan secara kontinu dan ﴾ ٱسۡتَقَٰمُواْ ﴿ "tetap istiqamah," selama mereka hidup, ﴾ فَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "maka tidak ada kekhawatiran," terhadap segala sesuatu yang ada di hadapan mereka, ﴾ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴿ "dan mereka tiada (pula) berduka cita," atas segala sesuatu yang telah me-reka tinggalkan setelahnya. (14) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ ﴿ "Mereka itulah penghuni-penghuni surga," artinya, penghuninya dan akan tetap berada di dalamnya, mereka tidak menginginkan kenikmatan itu dirubah dan tidak mengingin-kan diganti, ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَا جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." Dengan beriman kepada Allah سبحانه وتعالى yang mengharuskan mereka beramal shalih yang tetap mereka laksanakan secara istiqamah.

Al-Ahqaf 46:15

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, 'Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyu-kuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepa-daMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 15-16) (15) Ayat ini adalah di antara bentuk kasih Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya dan balasan baikNya terhadap para orang tua. Allah سبحانه وتعالى berwasiat dan memerintahkan para anak untuk berbuat baik terhadap orang tua dengan berkata yang lemah lembut, mem-berikan nafkah dan uang serta perbuatan baik lainnya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelaskan sebab mengapakah berbuat baik terhadap orang tua diwajibkan, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beban mengandung yang ditanggung oleh seorang ibu serta berbagai rasa sakit yang dihadapi pada saat mengandung, selanjutnya beban berat pada saat melahirkan merupakan beban yang teramat besar, dilanjutkan lagi dengan beban menyusui dan merawat. Semua beban berat tersebut tidak berlangsung hanya sesaat, namun hal itu berlang-sung dalam waktu yang lama yaitu, ﴾ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ ﴿ "tiga puluh bulan," menjalani hamil menghabiskan waktu sembilan bulan, bisa kurang bisa lebih, sedangkan sisanya untuk menyusui, dan waktu ini ber-dasarkan pada umumnya. Dari ayat ini dan ayat lainnya, ﴾ وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ ﴿ "para ibu menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh," bisa dijadikan dalil bahwa batas minimal lamanya hamil adalah enam bulan sebab masa menyusui, yaitu dua tahun, jika tiga puluh bulan dikurangi dengan waktu menyusui tersebut maka masih tersisa enam bulan untuk masa hamil. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ ﴿ "Sehingga apabila ia telah dewasa," yaitu menca-pai puncak kekuatan dan kematangan akal, ﴾ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ ﴿ "dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, 'Ya Rabbku, tunjuki-lah aku'," artinya, berilah aku ilham dan p e r t o l o n g a n ﴾ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ ﴿ "untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku," yakni nikmat agama dan dunia serta rasa syukurnya dengan menggunakan kenikmatan ter-sebut dalam ketaatan terhadap Dzat yang memberi serta berusaha dengan sungguh-sungguh memuji Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang diberi. Nikmat yang dimiliki orang tua adalah nikmat yang dimiliki anak dan juga keturunan mereka, sebab mereka itu (anak-anak dan keturunannya) pasti akan mendapatkannya, mendapatkan sebab-sebab dan sisa-sisanya, khususnya nikmat agama, karena keshalihan orang tua dengan ilmu dan amal adalah faktor kebaikan dan ke-shalihan terbesar bagi anak-anak. ﴾ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ ﴿ "Dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai," yakni mencakup semua yang menjadikannya baik dan bebas dari apa-apa yang merusaknya. Dan inilah amal yang diridhai, diterima, dan dibalas dengan pahala oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ ﴿ "Dan berilah kebaikan kepadaku dengan (mem-beri kebaikan) kepada anak cucuku." Tatkala beliau berdoa untuk ke-baikan dan keshalihan diri, tidak lupa beliau mendoakan kebaikan dan keshalihan bagi keturunannya agar Allah berkenaan memper-baiki keadaan mereka. Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa manfaat kebaikan dan keshalihan keturunan akan berpulang pada orang tua mereka, berdasarkan FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ ﴿ "Dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku."﴾ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu ," dari segala dosa dan kemaksiatan, aku kembali kepadaMu dengan ketaatan,﴾ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (16) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang yang sifatnya disebutkan di atas, ﴾ ٱلَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﴿ "orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik," yaitu ketaatan, sebab mereka juga mengerjakan yang lainnya, ﴾ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّـَٔاتِهِمۡ فِيٓ ﴿ "Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama" golongan ﴾ أَصۡحَٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ ﴿ "penghuni-penghuni surga," di mana mereka mendapatkan kebaikan dan kese-nangan serta dihindarkan dari keburukan dan bencana.﴾ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِي كَانُواْ يُوعَدُونَ ﴿ "Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." Artinya, janji yang Kami berikan kepada mereka ini adalah janji yang benar yang diucapkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang tidak pernah mengingkari janjiNya.

Al-Ahqaf 46:16

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa, 'Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyu-kuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepa-daMu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri'. Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." (Al-Ahqaf: 15-16) (15) Ayat ini adalah di antara bentuk kasih Allah سبحانه وتعالى kepada para hambaNya dan balasan baikNya terhadap para orang tua. Allah سبحانه وتعالى berwasiat dan memerintahkan para anak untuk berbuat baik terhadap orang tua dengan berkata yang lemah lembut, mem-berikan nafkah dan uang serta perbuatan baik lainnya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelaskan sebab mengapakah berbuat baik terhadap orang tua diwajibkan, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beban mengandung yang ditanggung oleh seorang ibu serta berbagai rasa sakit yang dihadapi pada saat mengandung, selanjutnya beban berat pada saat melahirkan merupakan beban yang teramat besar, dilanjutkan lagi dengan beban menyusui dan merawat. Semua beban berat tersebut tidak berlangsung hanya sesaat, namun hal itu berlang-sung dalam waktu yang lama yaitu, ﴾ ثَلَٰثُونَ شَهۡرًاۚ ﴿ "tiga puluh bulan," menjalani hamil menghabiskan waktu sembilan bulan, bisa kurang bisa lebih, sedangkan sisanya untuk menyusui, dan waktu ini ber-dasarkan pada umumnya. Dari ayat ini dan ayat lainnya, ﴾ وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ ﴿ "para ibu menyusui anak-anak mereka selama dua tahun penuh," bisa dijadikan dalil bahwa batas minimal lamanya hamil adalah enam bulan sebab masa menyusui, yaitu dua tahun, jika tiga puluh bulan dikurangi dengan waktu menyusui tersebut maka masih tersisa enam bulan untuk masa hamil. ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُۥ ﴿ "Sehingga apabila ia telah dewasa," yaitu menca-pai puncak kekuatan dan kematangan akal, ﴾ وَبَلَغَ أَرۡبَعِينَ سَنَةٗ قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ ﴿ "dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, 'Ya Rabbku, tunjuki-lah aku'," artinya, berilah aku ilham dan p e r t o l o n g a n ﴾ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ ﴿ "untuk mensyukuri nikmatMu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku," yakni nikmat agama dan dunia serta rasa syukurnya dengan menggunakan kenikmatan ter-sebut dalam ketaatan terhadap Dzat yang memberi serta berusaha dengan sungguh-sungguh memuji Allah سبحانه وتعالى atas nikmat yang diberi. Nikmat yang dimiliki orang tua adalah nikmat yang dimiliki anak dan juga keturunan mereka, sebab mereka itu (anak-anak dan keturunannya) pasti akan mendapatkannya, mendapatkan sebab-sebab dan sisa-sisanya, khususnya nikmat agama, karena keshalihan orang tua dengan ilmu dan amal adalah faktor kebaikan dan ke-shalihan terbesar bagi anak-anak. ﴾ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ ﴿ "Dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai," yakni mencakup semua yang menjadikannya baik dan bebas dari apa-apa yang merusaknya. Dan inilah amal yang diridhai, diterima, dan dibalas dengan pahala oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ ﴿ "Dan berilah kebaikan kepadaku dengan (mem-beri kebaikan) kepada anak cucuku." Tatkala beliau berdoa untuk ke-baikan dan keshalihan diri, tidak lupa beliau mendoakan kebaikan dan keshalihan bagi keturunannya agar Allah berkenaan memper-baiki keadaan mereka. Dan Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa manfaat kebaikan dan keshalihan keturunan akan berpulang pada orang tua mereka, berdasarkan FirmanNya, ﴾ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ ﴿ "Dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku."﴾ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ ﴿ "Sesungguhnya aku bertaubat kepadaMu ," dari segala dosa dan kemaksiatan, aku kembali kepadaMu dengan ketaatan,﴾ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ﴿ "dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (16) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang yang sifatnya disebutkan di atas, ﴾ ٱلَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنۡهُمۡ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ ﴿ "orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik," yaitu ketaatan, sebab mereka juga mengerjakan yang lainnya, ﴾ وَنَتَجَاوَزُ عَن سَيِّـَٔاتِهِمۡ فِيٓ ﴿ "Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama" golongan ﴾ أَصۡحَٰبِ ٱلۡجَنَّةِۖ ﴿ "penghuni-penghuni surga," di mana mereka mendapatkan kebaikan dan kese-nangan serta dihindarkan dari keburukan dan bencana.﴾ وَعۡدَ ٱلصِّدۡقِ ٱلَّذِي كَانُواْ يُوعَدُونَ ﴿ "Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka." Artinya, janji yang Kami berikan kepada mereka ini adalah janji yang benar yang diucapkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang tidak pernah mengingkari janjiNya.

Al-Ahqaf 46:17

"Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, 'Cih bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?' Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, 'Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar.' Lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka.' Mereka itulah orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebe-lum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencu-kupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." (Al-Ahqaf: 17-19). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi anak shalih yang berbakti kepada kedua orang tua, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebut-kan kondisi anak durhaka dan itu adalah kondisi terburuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلَّذِي قَالَ لِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya," ketika diajak untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir serta memberi kabar ancaman akan adanya pem-balasan dan inilah kebaikan terbesar yang berasal dari orang tua terhadap anak-anaknya yang mengajak anaknya kepada kesenangan dan keberuntungan abadi, hanya saja si anak membalasnya secara tidak baik seraya berkata, ﴾ أُفّٖ لَّكُمَآ ﴿ "Cih bagi kamu berdua," artinya, celakalah kalian berdua dan apa yang kalian berdua bawa itu. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab mengapa anak me-mungkiri serta mengingkari ajakan orang tuanya, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ أَتَعِدَانِنِيٓ أَنۡ أُخۡرَجَ ﴿ "Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan," dari kuburku menuju Hari Kiamat, ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلۡقُرُونُ مِن قَبۡلِي ﴿ "padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebe-lumku?" Mereka sebelumnya juga mendustakan dan mengingkari ajakan seperti ini, mereka adalah umat-umat yang dijadikan panutan bagi orang-orang kafir, bodoh, dan pembangkang. ﴾ وَهُمَا يَسۡتَغِيثَانِ ٱللَّهَ ﴿ "Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى," atas putranya seraya mengatakan pada putranya, ﴾ وَيۡلَكَ ءَامِنۡ ﴿ "Celaka kamu, berimanlah!" Artinya, kedua orang tuanya mencurahkan segenap tenaga yang dimiliki dan berusaha keras untuk menunjukkan pu-tranya, dengan begitu gigihnya sampai-sampai kedua orang tuanya memintakan pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk putranya layaknya orang yang hendak tenggelam ke dalam air, kedua orang tuanya meminta dan memohon kepada Allah سبحانه وتعالى dengan memelas seraya merasa perih karena anaknya dan menjelaskan kebenaran padanya, keduanya berkata, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar." Kemudian keduanya memaparkan dalil-dalil semampunya, namun putranya justru semakin membantah, menjauh, dan me-nyombongkan diri dari kebenaran seraya menuduh kebenaran yang dibawa kedua orang tuanya, ﴾ فَيَقُولُ مَا هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka'." Artinya, tidak lain hanyalah dinukil dari kitab-kitab orang ter-dahulu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak pula berasal dari wahyu yang diberikan kepada RasulNya. Semua orang tahu bahwa Muhammad a adalah orang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan tidak pernah belajar dari siapa pun, lantas dari mana dia belajar? Bagaimana manusia bisa membuat seperti al-Qur`an ini meski mereka saling membantu satu sama lain? (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah," dengan kondisi tercela itu ﴾ حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka," yaitu azab pasti akan ditimpakan kepada m e r e k a ﴾ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ ﴿ "bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia." Yang berada dalam kekufuran dan kedustaan, mereka itu akan masuk bersama para jin dan manusia ke dalam neraka dan ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi." Rugi adalah lenyapnya modal seseorang, maka jika modal saja sudah tidak didapatkan, lantas bagaimana bisa mendapatkan keuntungan? Mereka telah kehilangan keimanan dan tidak men-dapatkan kenikmatan sedikit pun hingga mereka pun tidak bisa terhindar dari siksaan Neraka Jahim. (19) ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan bagi masing-masing mereka," dari orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat, ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۖ ﴿ "derajat-derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan." Artinya, masing-ma-sing berdasarkan derajatnya dalam kebaikan dan kejahatan, tempat mereka di akhirat adalah berdasarkan amalan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيُوَفِّيَهُمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." Keburukan mereka tidak ditambah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Al-Ahqaf 46:18

"Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, 'Cih bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?' Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, 'Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar.' Lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka.' Mereka itulah orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebe-lum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencu-kupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." (Al-Ahqaf: 17-19). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi anak shalih yang berbakti kepada kedua orang tua, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebut-kan kondisi anak durhaka dan itu adalah kondisi terburuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلَّذِي قَالَ لِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya," ketika diajak untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir serta memberi kabar ancaman akan adanya pem-balasan dan inilah kebaikan terbesar yang berasal dari orang tua terhadap anak-anaknya yang mengajak anaknya kepada kesenangan dan keberuntungan abadi, hanya saja si anak membalasnya secara tidak baik seraya berkata, ﴾ أُفّٖ لَّكُمَآ ﴿ "Cih bagi kamu berdua," artinya, celakalah kalian berdua dan apa yang kalian berdua bawa itu. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab mengapa anak me-mungkiri serta mengingkari ajakan orang tuanya, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ أَتَعِدَانِنِيٓ أَنۡ أُخۡرَجَ ﴿ "Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan," dari kuburku menuju Hari Kiamat, ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلۡقُرُونُ مِن قَبۡلِي ﴿ "padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebe-lumku?" Mereka sebelumnya juga mendustakan dan mengingkari ajakan seperti ini, mereka adalah umat-umat yang dijadikan panutan bagi orang-orang kafir, bodoh, dan pembangkang. ﴾ وَهُمَا يَسۡتَغِيثَانِ ٱللَّهَ ﴿ "Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى," atas putranya seraya mengatakan pada putranya, ﴾ وَيۡلَكَ ءَامِنۡ ﴿ "Celaka kamu, berimanlah!" Artinya, kedua orang tuanya mencurahkan segenap tenaga yang dimiliki dan berusaha keras untuk menunjukkan pu-tranya, dengan begitu gigihnya sampai-sampai kedua orang tuanya memintakan pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk putranya layaknya orang yang hendak tenggelam ke dalam air, kedua orang tuanya meminta dan memohon kepada Allah سبحانه وتعالى dengan memelas seraya merasa perih karena anaknya dan menjelaskan kebenaran padanya, keduanya berkata, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar." Kemudian keduanya memaparkan dalil-dalil semampunya, namun putranya justru semakin membantah, menjauh, dan me-nyombongkan diri dari kebenaran seraya menuduh kebenaran yang dibawa kedua orang tuanya, ﴾ فَيَقُولُ مَا هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka'." Artinya, tidak lain hanyalah dinukil dari kitab-kitab orang ter-dahulu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak pula berasal dari wahyu yang diberikan kepada RasulNya. Semua orang tahu bahwa Muhammad a adalah orang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan tidak pernah belajar dari siapa pun, lantas dari mana dia belajar? Bagaimana manusia bisa membuat seperti al-Qur`an ini meski mereka saling membantu satu sama lain? (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah," dengan kondisi tercela itu ﴾ حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka," yaitu azab pasti akan ditimpakan kepada m e r e k a ﴾ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ ﴿ "bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia." Yang berada dalam kekufuran dan kedustaan, mereka itu akan masuk bersama para jin dan manusia ke dalam neraka dan ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi." Rugi adalah lenyapnya modal seseorang, maka jika modal saja sudah tidak didapatkan, lantas bagaimana bisa mendapatkan keuntungan? Mereka telah kehilangan keimanan dan tidak men-dapatkan kenikmatan sedikit pun hingga mereka pun tidak bisa terhindar dari siksaan Neraka Jahim. (19) ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan bagi masing-masing mereka," dari orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat, ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۖ ﴿ "derajat-derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan." Artinya, masing-ma-sing berdasarkan derajatnya dalam kebaikan dan kejahatan, tempat mereka di akhirat adalah berdasarkan amalan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيُوَفِّيَهُمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." Keburukan mereka tidak ditambah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Al-Ahqaf 46:19

"Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya, 'Cih bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?' Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan, 'Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar.' Lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka.' Mereka itulah orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebe-lum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencu-kupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." (Al-Ahqaf: 17-19). (17) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi anak shalih yang berbakti kepada kedua orang tua, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebut-kan kondisi anak durhaka dan itu adalah kondisi terburuk. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱلَّذِي قَالَ لِوَٰلِدَيۡهِ ﴿ "Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya," ketika diajak untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir serta memberi kabar ancaman akan adanya pem-balasan dan inilah kebaikan terbesar yang berasal dari orang tua terhadap anak-anaknya yang mengajak anaknya kepada kesenangan dan keberuntungan abadi, hanya saja si anak membalasnya secara tidak baik seraya berkata, ﴾ أُفّٖ لَّكُمَآ ﴿ "Cih bagi kamu berdua," artinya, celakalah kalian berdua dan apa yang kalian berdua bawa itu. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab mengapa anak me-mungkiri serta mengingkari ajakan orang tuanya, Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ أَتَعِدَانِنِيٓ أَنۡ أُخۡرَجَ ﴿ "Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan," dari kuburku menuju Hari Kiamat, ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلۡقُرُونُ مِن قَبۡلِي ﴿ "padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebe-lumku?" Mereka sebelumnya juga mendustakan dan mengingkari ajakan seperti ini, mereka adalah umat-umat yang dijadikan panutan bagi orang-orang kafir, bodoh, dan pembangkang. ﴾ وَهُمَا يَسۡتَغِيثَانِ ٱللَّهَ ﴿ "Lalu kedua ibu bapaknya memohon pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى," atas putranya seraya mengatakan pada putranya, ﴾ وَيۡلَكَ ءَامِنۡ ﴿ "Celaka kamu, berimanlah!" Artinya, kedua orang tuanya mencurahkan segenap tenaga yang dimiliki dan berusaha keras untuk menunjukkan pu-tranya, dengan begitu gigihnya sampai-sampai kedua orang tuanya memintakan pertolongan kepada Allah سبحانه وتعالى untuk putranya layaknya orang yang hendak tenggelam ke dalam air, kedua orang tuanya meminta dan memohon kepada Allah سبحانه وتعالى dengan memelas seraya merasa perih karena anaknya dan menjelaskan kebenaran padanya, keduanya berkata, ﴾ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقّٞ ﴿ "Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar." Kemudian keduanya memaparkan dalil-dalil semampunya, namun putranya justru semakin membantah, menjauh, dan me-nyombongkan diri dari kebenaran seraya menuduh kebenaran yang dibawa kedua orang tuanya, ﴾ فَيَقُولُ مَا هَٰذَآ إِلَّآ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ ﴿ "lalu dia berkata, 'Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang yang dahulu belaka'." Artinya, tidak lain hanyalah dinukil dari kitab-kitab orang ter-dahulu, bukan berasal dari Allah سبحانه وتعالى dan tidak pula berasal dari wahyu yang diberikan kepada RasulNya. Semua orang tahu bahwa Muhammad a adalah orang yang tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis dan tidak pernah belajar dari siapa pun, lantas dari mana dia belajar? Bagaimana manusia bisa membuat seperti al-Qur`an ini meski mereka saling membantu satu sama lain? (18) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah," dengan kondisi tercela itu ﴾ حَقَّ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقَوۡلُ ﴿ "orang-orang yang telah pasti (azab) atas mereka," yaitu azab pasti akan ditimpakan kepada m e r e k a ﴾ فِيٓ أُمَمٖ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِم مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ ﴿ "bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia." Yang berada dalam kekufuran dan kedustaan, mereka itu akan masuk bersama para jin dan manusia ke dalam neraka dan ﴾ إِنَّهُمۡ كَانُواْ خَٰسِرِينَ ﴿ "sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi." Rugi adalah lenyapnya modal seseorang, maka jika modal saja sudah tidak didapatkan, lantas bagaimana bisa mendapatkan keuntungan? Mereka telah kehilangan keimanan dan tidak men-dapatkan kenikmatan sedikit pun hingga mereka pun tidak bisa terhindar dari siksaan Neraka Jahim. (19) ﴾ وَلِكُلّٖ ﴿ "Dan bagi masing-masing mereka," dari orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat, ﴾ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۖ ﴿ "derajat-derajat menurut apa yang telah mereka kerjakan." Artinya, masing-ma-sing berdasarkan derajatnya dalam kebaikan dan kejahatan, tempat mereka di akhirat adalah berdasarkan amalan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيُوَفِّيَهُمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ ﴿ "Dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan." Keburukan mereka tidak ditambah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Al-Ahqaf 46:20

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), 'Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah me-nyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan kamu telah fasik'." (Al-Ahqaf: 20). (20) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang kafir ketika akan digiring ke neraka pada saat mereka dicaci maki, dikatakan kepada mereka, ﴾ أَذۡهَبۡتُمۡ طَيِّبَٰتِكُمۡ فِي حَيَاتِكُمُ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "Kamu telah menghabiskan rizkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja)," karena kalian merasa tentram terhadap dunia, kalian tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia, kalian puas dengan segala hawa nafsunya, rizki dan kebaikanKu tidak kalian gunakan untuk kehidupan akhirat dan kalian bersenang-senang layaknya binatang dan inilah bagian kalian di akhirat. ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ ﴿ "Maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan," artinya, siksaan pedih yang meng-hinakan kalian dan menguak kejelekan kalian, karena kalian me-ngatakan atas nama Allah سبحانه وتعالى yang tidak benar. Kalian menempuh jalan kesesatan namun kalian katakan bahwa jalan itu berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan sesuai hukum Allah سبحانه وتعالى, kalian adalah para pendusta dalam hal itu, ﴾ وَبِمَا كُنتُمۡ تَفۡسُقُونَ ﴿ "Dan karena kamu telah fasik." Artinya, kalian menyombongkan diri tidak mau taat pada Allah سبحانه وتعالى. Mereka mencampuradukkan perkataan batil dan perbuatan batil serta ber-dusta atas Nama Allah سبحانه وتعالى karena dinisbatkan pada keridhaanNya serta menuduh dan menyombongkan diri dari kebenaran sehingga mereka pun disiksa secara pedih.

Al-Ahqaf 46:21

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:22

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:23

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:24

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:25

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:26

"Dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Ad yaitu ketika dia mem-beri peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar'." (Al-Ahqaf: 21). "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesembahan-sesembahan kami? Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.' Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya, tetapi aku lihat kamu ada-lah kaum yang bodoh'." (Ahqaf: 22-23). "Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan)! bahkan itu-lah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa." (Al-Ahqaf: 24-25). "Dan sungguh Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukan-mu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah di-liputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkan-nya." (Al-Ahqaf: 26). (21) Maksudnya, ﴾ وَٱذۡكُرۡ ﴿ "dan ingatlah," dengan pujian indah, ﴾ أَخَا عَادٍ ﴿ "saudara kaum 'Ad," yakni Nabi Hud عليه السلام yang termasuk di antara rasul-rasul mulia, di mana mereka diberi karunia Allah سبحانه وتعالى dengan berdakwah dan menyeru kepada AgamaNya dan menun-jukkan manusia kepadaNya. ﴾ إِذۡ أَنذَرَ قَوۡمَهُۥ ﴿ "Ketika dia memberi peri-ngatan kepada kaumnya," yakni, kaum 'Ad, ﴾ بِٱلۡأَحۡقَافِ ﴿ "di al-Ahqaf," yaitu di tempat kediaman mereka yang dikenal dengan al-Ahqaf yang berupa tanah pasir yang berada di bumi Yaman. ﴾ وَقَدۡ خَلَتِ ٱلنُّذُرُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦٓ ﴿ "Sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya." Hud عليه السلام bukanlah satu-satu-nya rasul yang diutus dan tidak pula ajarannya berbeda dengan ajaran mereka seraya berkata, ﴾ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّا ٱللَّهَ إِنِّيٓ أَخَافُ عَلَيۡكُمۡ عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٖ ﴿ "Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar." Nabi Hud عليه السلام memerintah-kan mereka untuk menyembah Allah سبحانه وتعالى secara keseluruhan dengan berkata benar dan berbuat yang terpuji serta melarang mereka untuk menyekutukan Allah سبحانه وتعالى dan menjadikan tandingan bagi Allah سبحانه وتعالى. Nabi Hud عليه السلام memberikan peringatan siksaan pedih pada mereka jika tidak menuruti ajakannya, tetapi seruan ini tidak ada gunanya bagi mereka. (22) ﴾ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا لِتَأۡفِكَنَا عَنۡ ءَالِهَتِنَا ﴿ "Mereka menjawab, 'Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) sesem-bahan-sesembahan kami?'" Artinya, engkau tidak memiliki maksud dan tidak membawa kebenaran apa pun selain hanya ingin mencela sesembahan-sesembahan kami dan engkau hendak memalingkan kami darinya. ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." Ini adalah puncak kebodohan dan penen-tangan. (23) ﴾ قَالَ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Ia berkata, 'Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah'." Di TanganNya-lah kendali semua urusan, dan Dia-lah yang akan mendatangkan siksaan kepada ka-lian jika Dia berkehendak. ﴾ وَأُبَلِّغُكُم مَّآ أُرۡسِلۡتُ بِهِۦ ﴿ "Dan aku (hanya) menyam-paikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya." Artinya, tugasku tidak lain hanyalah menyampaikan, ﴾ وَلَٰكِنِّيٓ أَرَىٰكُمۡ قَوۡمٗا تَجۡهَلُونَ ﴿ "tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh." Karena itulah kalian mengatakan seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sangat lancang ini. (24) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengirim siksaan besar kepada mereka berupa angin kencang yang menghancurkan dan membina-sakan mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهُ ﴿ "Maka tat-kala mereka melihat azab itu," yakni, ketika mereka melihat hukuman itu, ﴾ عَارِضٗا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ ﴿ "menuju ke lembah-lembah mereka," yakni, da-tang seperti awan yang mengarah ke lembah-lembah mereka namun mereka mengira bahwa azab yang seperti awan itu akan mengaliri sungai mereka, menyiram bibit yang mereka tanam serta akan mengisi sumur-sumur dan kolam mereka sehingga mereka bisa meminumnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "berkatalah mereka," seraya bergembira, ﴾ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَاۚ ﴿ "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." Artinya, awan ini akan menurunkan hujan untuk kami. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦۖ ﴿ "(Bukan)! bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera." Inilah perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian sendiri, karena kalian mengatakan, ﴾ فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ ﴿ "Maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar." ﴾ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ 24 تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۭ ﴿ "(Yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu" yang dilintasinya karena sangat kencang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَخَّرَهَا عَلَيۡهِمۡ سَبۡعَ لَيَالٖ وَثَمَٰنِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومٗاۖ فَتَرَى ٱلۡقَوۡمَ فِيهَا صَرۡعَىٰ كَأَنَّهُمۡ أَعۡجَازُ نَخۡلٍ خَاوِيَةٖ 7 ﴿ "Menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kamu 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tanggul-tanggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk)." (Al-Haqqah: 7). ﴾ بِأَمۡرِ رَبِّهَا ﴿ "Dengan perintah Rabbnya," yakni, dengan izin dan kehendakNya, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ لَا يُرَىٰٓ إِلَّا مَسَٰكِنُهُمۡۚ ﴿ "maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka." Binatang ternak, harta, serta diri mereka binasa semua oleh angin kencang itu. ﴾ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡمُجۡرِمِينَ ﴿ "Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa," karena kejahatan serta kezhaliman yang mereka lakukan. (26) Meskipun Allah سبحانه وتعالى telah memberikan berbagai nikmat besar, namun mereka tetap saja tidak mau mensyukurinya dan tidak mau menyebut-nyebutnya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ مَكَّنَّٰهُمۡ فِيمَآ إِن مَّكَّنَّٰكُمۡ فِيهِ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu." Yakni, Kami telah menempatkan mereka di dunia dan mereka pun mendapatkan kebaikan-kebaikannya dan bersenang-senang berdasarkan hawa nafsu mereka, Kami memberi mereka usia yang bisa diingat oleh mereka yang ingat dan bisa di-jadikan pelajaran oleh orang yang mendapatkan petunjuk. Artinya, Kami telah meneguhkan kedudukan 'Ad sebagaimana Kami me-neguhkan kedudukan kalian wahai kalian yang mendengarkan. Jangan pernah mengira bahwa kedudukan yang Kami berikan kepada kalian itu hanya khusus untuk kalian, kedudukan itu sama sekali tidak akan bisa menolak siksaan Allah سبحانه وتعالى yang akan ditim-pakan kepadamu, justru umat lain selain kalian lebih kuat kedu-dukannya daripada kalian, namun harta, anak, dan bala tentara mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka untuk menolak keputusan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَجَعَلۡنَا لَهُمۡ سَمۡعٗا وَأَبۡصَٰرٗا وَأَفۡـِٔدَةٗ ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan, dan hati," artinya, tidak ada yang kurang dalam pendengaran, penglihatan, serta hati mereka hingga dikatakan kepada mereka, "Sesungguhnya mereka itu meninggal-kan kebenaran karena kebodohan mereka serta karena mereka tidak memiliki ilmu tentang hal itu, padahal tidak ada kekurangan sedikit pun pada akal mereka, tapi pertolongan dan hidayah itu berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُمۡ سَمۡعُهُمۡ وَلَآ أَبۡصَٰرُهُمۡ وَلَآ أَفۡـِٔدَتُهُم مِّن شَيۡءٍ ﴿ "Tetapi pendengaran, penglihatan, dan hati mereka tidak berguna sedikit juapun bagi mereka," tidak sedikit dan tidak juga banyak. Hal itu dikarenakan mereka menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى yang menunjuk-kan atas keesaanNya serta hanya Allah سبحانه وتعالى yang berhak untuk di-sembah. ﴾ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ﴿ "Karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." Artinya, siksaan yang mereka dusta-kan kejadiannya itu menimpa mereka dan juga karena mereka menghina para rasul yang telah memberi peringatan pada mereka.

Al-Ahqaf 46:27

"Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai sembahan-sembahan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan sembahan-sembahan itu telah lenyap dari mereka. Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan." (Al-Ahqaf: 28). (27-28) Allah سبحانه وتعالى memperingatkan kaum musyrikin Arab dan lainnya karena Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan umat-umat pen-dusta yang berada di sekitar wilayah mereka bahkan kebanyakan umat-umat yang dibinasakan itu berada di Jazirah Arab seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lainnya. Allah سبحانه وتعالى telah mendatangkan ﴾ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "tanda-tanda kebesaran," kepada mereka dengan berbagai ragamnya, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "supaya mereka kembali (bertaubat)" dari keku-furan dan pendustaan yang mereka lakukan. Namun karena me-reka tidak mau beriman, Allah سبحانه وتعالى pun menyiksa mereka dengan siksaan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Berkuasa. Sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak membawa man-faat sedikit pun, karena itulah dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَوۡلَا نَصَرَهُمُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ قُرۡبَانًا ءَالِهَةَۢۖ ﴿ "Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai ilah untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka." Artinya, mereka mendekatkan diri mereka kepada sembahan-sembahan selain Allah سبحانه وتعالى dan mengagung-agungkannya demi mengharap agar dapat menolong mereka.﴾ بَلۡ ضَلُّواْ عَنۡهُمۡۚ ﴿ "Bahkan sembahan-sembahan itu telah lenyap dari mereka," sembahan-sembahan itu pun tidak dapat mengabulkan permintaan mereka serta tidak dapat menolong mereka. ﴾ وَذَٰلِكَ إِفۡكُهُمۡ وَمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-ada-kan," dengan berdusta yang disematkan pada diri mereka, karena mereka mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan per-buatan mereka akan menolong mereka, hingga mereka pun tersesat dan amalan mereka gugur.

Al-Ahqaf 46:28

"Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat). Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai sembahan-sembahan untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka. Bahkan sembahan-sembahan itu telah lenyap dari mereka. Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-adakan." (Al-Ahqaf: 28). (27-28) Allah سبحانه وتعالى memperingatkan kaum musyrikin Arab dan lainnya karena Allah سبحانه وتعالى telah membinasakan umat-umat pen-dusta yang berada di sekitar wilayah mereka bahkan kebanyakan umat-umat yang dibinasakan itu berada di Jazirah Arab seperti kaum 'Ad, Tsamud dan lainnya. Allah سبحانه وتعالى telah mendatangkan ﴾ ٱلۡأٓيَٰتِ ﴿ "tanda-tanda kebesaran," kepada mereka dengan berbagai ragamnya, ﴾ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ﴿ "supaya mereka kembali (bertaubat)" dari keku-furan dan pendustaan yang mereka lakukan. Namun karena me-reka tidak mau beriman, Allah سبحانه وتعالى pun menyiksa mereka dengan siksaan dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Berkuasa. Sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak membawa man-faat sedikit pun, karena itulah dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَوۡلَا نَصَرَهُمُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ قُرۡبَانًا ءَالِهَةَۢۖ ﴿ "Maka mengapa yang mereka sembah selain Allah sebagai ilah untuk mendekatkan diri (kepada Allah) tidak dapat menolong mereka." Artinya, mereka mendekatkan diri mereka kepada sembahan-sembahan selain Allah سبحانه وتعالى dan mengagung-agungkannya demi mengharap agar dapat menolong mereka.﴾ بَلۡ ضَلُّواْ عَنۡهُمۡۚ ﴿ "Bahkan sembahan-sembahan itu telah lenyap dari mereka," sembahan-sembahan itu pun tidak dapat mengabulkan permintaan mereka serta tidak dapat menolong mereka. ﴾ وَذَٰلِكَ إِفۡكُهُمۡ وَمَا كَانُواْ يَفۡتَرُونَ ﴿ "Itulah akibat kebohongan mereka dan apa yang dahulu mereka ada-ada-kan," dengan berdusta yang disematkan pada diri mereka, karena mereka mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan per-buatan mereka akan menolong mereka, hingga mereka pun tersesat dan amalan mereka gugur.

Al-Ahqaf 46:29

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang mem-benarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada ke-benaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepa-daNya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf: 29-32). (29) Allah سبحانه وتعالى mengutus RasulNya, Muhammad a, untuk semua makhluk, baik manusia maupun jin, untuk itu Muhammad a harus menyampaikan seruan kenabian dan risalah kepada selu-ruhnya. Rasulullah a secara leluasa bisa menyeru dan memberi pe-ringatan kepada manusia, sedangkan jin, dihadapkan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan kekuasaanNya dan Allah mengutus kepada Muhammad a, ﴾ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ ﴿ "serombongan jin yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan-(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)'." Arti-nya, satu sama lain memerintahkan seperti itu. ﴾ فَلَمَّا قُضِيَ ﴿ "Ketika pembacaan telah selesai," dan mereka telah memahaminya dan bacaan itu berpengaruh pada mereka, ﴾ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." Yakni, mereka memberi nasihat kepada kaumnya dan menegakkan hujjah Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Dan itu adalah pertolongan Allah تعالى untuk RasulNya a dalam menyebarkan dakwah pada golongan jin. (30) ﴾ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa'." Karena kitab Nabi Musa عليه السلام adalah asal kitab Injil serta pedoman Bani Israil dalam hukum-hukum syariat, hanya saja Injil melengkapi serta merubah beberapa hukum yang terdapat dalam Taurat, ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ ﴿ "yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya," kitab ini yang kita dengar, ﴾ إِلَى ٱلۡحَقِّ ﴿ "kepada kebenaran," yaitu kebenaran dalam setiap tuntutan dan kebaikan, ﴾ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "dan kepada jalan yang lurus." Yang menghubungkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada surgaNya yang berisi ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, hukum-hukum dunia dan hukum-hukum balasanNya. (31) Tatkala para golongan jin itu memuji al-Qur`an serta menjelaskan kedudukan dan tingkatannya, mereka menyeru kaum-nya untuk beriman kepada al-Qur`an seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah," yaitu yang tidak menyeru kepada selain Allah سبحانه وتعالى, tidak me-nyeru kalian kepada keinginan-keinginan dirinya dan hawa nafsu, ia hanya menyeru kalian kepada Rabb kalian, agar kalian menda-patkan pahala dan menghindarkan kalian dari segala keburukan dan musibah. Karena itulah mereka berkata,﴾ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan me-lepaskan kamu dari azab yang pedih." Jika Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dari siksaan pedih, maka tidak ada lagi setelahnya selain kenikmat-an, dan inilah balasan orang yang mau menerima seruan Allah سبحانه وتعالى. (32) ﴾ وَمَن لَّا يُجِبۡ دَاعِيَ ٱللَّهِ فَلَيۡسَ بِمُعۡجِزٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi," karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa lari dariNya dan tidak akan ada yang mengalahkan urusanNya. ﴾ وَلَيۡسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءُۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." Kesesatan mana lagi yang lebih nyata melebihi kesesatan orang yang telah ditun-jukkan oleh para rasul, telah sampai berita peringatan padanya dengan berbagai ayat-ayat yang jelas dan berbagai hujjah mutawatir, kemudian berpaling dan membanggakan diri.

Al-Ahqaf 46:30

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang mem-benarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada ke-benaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepa-daNya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf: 29-32). (29) Allah سبحانه وتعالى mengutus RasulNya, Muhammad a, untuk semua makhluk, baik manusia maupun jin, untuk itu Muhammad a harus menyampaikan seruan kenabian dan risalah kepada selu-ruhnya. Rasulullah a secara leluasa bisa menyeru dan memberi pe-ringatan kepada manusia, sedangkan jin, dihadapkan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan kekuasaanNya dan Allah mengutus kepada Muhammad a, ﴾ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ ﴿ "serombongan jin yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan-(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)'." Arti-nya, satu sama lain memerintahkan seperti itu. ﴾ فَلَمَّا قُضِيَ ﴿ "Ketika pembacaan telah selesai," dan mereka telah memahaminya dan bacaan itu berpengaruh pada mereka, ﴾ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." Yakni, mereka memberi nasihat kepada kaumnya dan menegakkan hujjah Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Dan itu adalah pertolongan Allah تعالى untuk RasulNya a dalam menyebarkan dakwah pada golongan jin. (30) ﴾ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa'." Karena kitab Nabi Musa عليه السلام adalah asal kitab Injil serta pedoman Bani Israil dalam hukum-hukum syariat, hanya saja Injil melengkapi serta merubah beberapa hukum yang terdapat dalam Taurat, ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ ﴿ "yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya," kitab ini yang kita dengar, ﴾ إِلَى ٱلۡحَقِّ ﴿ "kepada kebenaran," yaitu kebenaran dalam setiap tuntutan dan kebaikan, ﴾ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "dan kepada jalan yang lurus." Yang menghubungkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada surgaNya yang berisi ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, hukum-hukum dunia dan hukum-hukum balasanNya. (31) Tatkala para golongan jin itu memuji al-Qur`an serta menjelaskan kedudukan dan tingkatannya, mereka menyeru kaum-nya untuk beriman kepada al-Qur`an seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah," yaitu yang tidak menyeru kepada selain Allah سبحانه وتعالى, tidak me-nyeru kalian kepada keinginan-keinginan dirinya dan hawa nafsu, ia hanya menyeru kalian kepada Rabb kalian, agar kalian menda-patkan pahala dan menghindarkan kalian dari segala keburukan dan musibah. Karena itulah mereka berkata,﴾ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan me-lepaskan kamu dari azab yang pedih." Jika Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dari siksaan pedih, maka tidak ada lagi setelahnya selain kenikmat-an, dan inilah balasan orang yang mau menerima seruan Allah سبحانه وتعالى. (32) ﴾ وَمَن لَّا يُجِبۡ دَاعِيَ ٱللَّهِ فَلَيۡسَ بِمُعۡجِزٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi," karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa lari dariNya dan tidak akan ada yang mengalahkan urusanNya. ﴾ وَلَيۡسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءُۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." Kesesatan mana lagi yang lebih nyata melebihi kesesatan orang yang telah ditun-jukkan oleh para rasul, telah sampai berita peringatan padanya dengan berbagai ayat-ayat yang jelas dan berbagai hujjah mutawatir, kemudian berpaling dan membanggakan diri.

Al-Ahqaf 46:31

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang mem-benarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada ke-benaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepa-daNya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf: 29-32). (29) Allah سبحانه وتعالى mengutus RasulNya, Muhammad a, untuk semua makhluk, baik manusia maupun jin, untuk itu Muhammad a harus menyampaikan seruan kenabian dan risalah kepada selu-ruhnya. Rasulullah a secara leluasa bisa menyeru dan memberi pe-ringatan kepada manusia, sedangkan jin, dihadapkan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan kekuasaanNya dan Allah mengutus kepada Muhammad a, ﴾ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ ﴿ "serombongan jin yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan-(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)'." Arti-nya, satu sama lain memerintahkan seperti itu. ﴾ فَلَمَّا قُضِيَ ﴿ "Ketika pembacaan telah selesai," dan mereka telah memahaminya dan bacaan itu berpengaruh pada mereka, ﴾ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." Yakni, mereka memberi nasihat kepada kaumnya dan menegakkan hujjah Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Dan itu adalah pertolongan Allah تعالى untuk RasulNya a dalam menyebarkan dakwah pada golongan jin. (30) ﴾ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa'." Karena kitab Nabi Musa عليه السلام adalah asal kitab Injil serta pedoman Bani Israil dalam hukum-hukum syariat, hanya saja Injil melengkapi serta merubah beberapa hukum yang terdapat dalam Taurat, ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ ﴿ "yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya," kitab ini yang kita dengar, ﴾ إِلَى ٱلۡحَقِّ ﴿ "kepada kebenaran," yaitu kebenaran dalam setiap tuntutan dan kebaikan, ﴾ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "dan kepada jalan yang lurus." Yang menghubungkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada surgaNya yang berisi ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, hukum-hukum dunia dan hukum-hukum balasanNya. (31) Tatkala para golongan jin itu memuji al-Qur`an serta menjelaskan kedudukan dan tingkatannya, mereka menyeru kaum-nya untuk beriman kepada al-Qur`an seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah," yaitu yang tidak menyeru kepada selain Allah سبحانه وتعالى, tidak me-nyeru kalian kepada keinginan-keinginan dirinya dan hawa nafsu, ia hanya menyeru kalian kepada Rabb kalian, agar kalian menda-patkan pahala dan menghindarkan kalian dari segala keburukan dan musibah. Karena itulah mereka berkata,﴾ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan me-lepaskan kamu dari azab yang pedih." Jika Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dari siksaan pedih, maka tidak ada lagi setelahnya selain kenikmat-an, dan inilah balasan orang yang mau menerima seruan Allah سبحانه وتعالى. (32) ﴾ وَمَن لَّا يُجِبۡ دَاعِيَ ٱللَّهِ فَلَيۡسَ بِمُعۡجِزٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi," karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa lari dariNya dan tidak akan ada yang mengalahkan urusanNya. ﴾ وَلَيۡسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءُۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." Kesesatan mana lagi yang lebih nyata melebihi kesesatan orang yang telah ditun-jukkan oleh para rasul, telah sampai berita peringatan padanya dengan berbagai ayat-ayat yang jelas dan berbagai hujjah mutawatir, kemudian berpaling dan membanggakan diri.

Al-Ahqaf 46:32

"Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).' Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang mem-benarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada ke-benaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepa-daNya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (Al-Ahqaf: 29-32). (29) Allah سبحانه وتعالى mengutus RasulNya, Muhammad a, untuk semua makhluk, baik manusia maupun jin, untuk itu Muhammad a harus menyampaikan seruan kenabian dan risalah kepada selu-ruhnya. Rasulullah a secara leluasa bisa menyeru dan memberi pe-ringatan kepada manusia, sedangkan jin, dihadapkan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan kekuasaanNya dan Allah mengutus kepada Muhammad a, ﴾ نَفَرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوٓاْ أَنصِتُواْۖ ﴿ "serombongan jin yang mendengarkan al-Qur`an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan-(nya), mereka berkata, 'Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)'." Arti-nya, satu sama lain memerintahkan seperti itu. ﴾ فَلَمَّا قُضِيَ ﴿ "Ketika pembacaan telah selesai," dan mereka telah memahaminya dan bacaan itu berpengaruh pada mereka, ﴾ وَلَّوۡاْ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِينَ ﴿ "mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan." Yakni, mereka memberi nasihat kepada kaumnya dan menegakkan hujjah Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. Dan itu adalah pertolongan Allah تعالى untuk RasulNya a dalam menyebarkan dakwah pada golongan jin. (30) ﴾ قَالُواْ يَٰقَوۡمَنَآ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ ﴿ "Mereka berkata, 'Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Qur`an) yang telah diturunkan sesudah Musa'." Karena kitab Nabi Musa عليه السلام adalah asal kitab Injil serta pedoman Bani Israil dalam hukum-hukum syariat, hanya saja Injil melengkapi serta merubah beberapa hukum yang terdapat dalam Taurat, ﴾ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ يَهۡدِيٓ ﴿ "yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya," kitab ini yang kita dengar, ﴾ إِلَى ٱلۡحَقِّ ﴿ "kepada kebenaran," yaitu kebenaran dalam setiap tuntutan dan kebaikan, ﴾ وَإِلَىٰ طَرِيقٖ مُّسۡتَقِيمٖ ﴿ "dan kepada jalan yang lurus." Yang menghubungkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada surgaNya yang berisi ilmu tentang Allah سبحانه وتعالى, hukum-hukum dunia dan hukum-hukum balasanNya. (31) Tatkala para golongan jin itu memuji al-Qur`an serta menjelaskan kedudukan dan tingkatannya, mereka menyeru kaum-nya untuk beriman kepada al-Qur`an seraya berkata, ﴾ يَٰقَوۡمَنَآ أَجِيبُواْ دَاعِيَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah," yaitu yang tidak menyeru kepada selain Allah سبحانه وتعالى, tidak me-nyeru kalian kepada keinginan-keinginan dirinya dan hawa nafsu, ia hanya menyeru kalian kepada Rabb kalian, agar kalian menda-patkan pahala dan menghindarkan kalian dari segala keburukan dan musibah. Karena itulah mereka berkata,﴾ يَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَيُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan me-lepaskan kamu dari azab yang pedih." Jika Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dari siksaan pedih, maka tidak ada lagi setelahnya selain kenikmat-an, dan inilah balasan orang yang mau menerima seruan Allah سبحانه وتعالى. (32) ﴾ وَمَن لَّا يُجِبۡ دَاعِيَ ٱللَّهِ فَلَيۡسَ بِمُعۡجِزٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi," karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas segala sesuatu sehingga tidak ada sesuatu pun yang bisa lari dariNya dan tidak akan ada yang mengalahkan urusanNya. ﴾ وَلَيۡسَ لَهُۥ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءُۚ أُوْلَٰٓئِكَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ ﴿ "Dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." Kesesatan mana lagi yang lebih nyata melebihi kesesatan orang yang telah ditun-jukkan oleh para rasul, telah sampai berita peringatan padanya dengan berbagai ayat-ayat yang jelas dan berbagai hujjah mutawatir, kemudian berpaling dan membanggakan diri.

Al-Ahqaf 46:33

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesung-guhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya (bahkan) sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Ahqaf: 33). (33) Ini adalah hujjah Allah سبحانه وتعالى yang membuktikan bahwa Dia Kuasa mengembalikan manusia setelah kematian, yaitu dengan yang lebih mengena, yaitu ﴾ أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi," dengan kebesaran dan keluasan kedua-nya dan kesempurnaan penciptaan keduanya tanpa merasa lelah dengan hal itu dan tidak merasa payah menciptakannya, lantas bagaimana tidak mampu untuk mengembalikan kalian, setelah ke-matian kalian, dan Dia ﴾ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Mahakuasa atas segala sesuatu."

Al-Ahqaf 46:34

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, dikatakan kepada mereka, 'Bukankah (azab) ini benar?' Mereka menjawab, 'Ya benar, demi Rabb kami.' Allah ber-firman, 'Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar.' Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai ke-teguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik'." (Al-Ahqaf: 34-35). (34) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan kondisi mengerikan orang-orang kafir ketika akan dimasukkan ke dalam neraka yang dulunya mereka dustakan, mereka dicerca dan dikatakan pada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ هَٰذَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Bukankah (azab) ini benar?" Kalian sekarang telah mendatangi dan menyaksikannya secara langsung dengan mata telanjang. ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ وَرَبِّنَاۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Ya benar, demi Rabb kami'." Mereka pun mengakui dosa-dosa mereka dan kedustaan mereka terbukti jelas, ﴾ قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Allah berfirman, 'Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar'." Yaitu azab yang pasti dan langgeng sebagaimana kekufuran kalian yang menjadi sifat yang tidak terpisah (dari diri kalian). (35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk bersabar atas gangguan orang-orang yang mendustakan dan me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk tetap me-nyeru mereka kepada Allah سبحانه وتعالى serta meneladani kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati dan para pemimpin manusia, mereka adalah pemilik keteguhan hati serta tekad yang tinggi, kesabaran mereka begitu besar dan keyakinan mereka sempurna. Mereka adalah sosok manusia yang perlu diteladani dan cahaya mereka harus dijadikan petunjuk. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya kemudian bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dilakukan oleh para nabi sebelumnya, hingga para penentang saling bahu membahu menyerang bersama. Mereka semua berusaha menghalangi Rasu-lullah a agar tidak bisa berdakwah. Orang-orang musyrik melaku-kan berbagai tindakan permusuhan dan memerangi beliau sebisa mungkin. Namun Rasulullah a tetap tegar melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, tetap berdiri untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى, bersabar atas gangguan yang beliau terima hingga Allah سبحانه وتعالى meneguhkan kedudukan beliau di muka bumi dan memenang-kan agamaNya di atas seluruh agama serta memenangkan umatnya atas seluruh umat yang ada. Semoga kesejahteraan dan keselamatan tetap terlimpah untuk beliau. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ ﴿ "Maka janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." Artinya, untuk mereka yang mendus-takan dan meminta disegerakan siksanya, hal ini diucapkan karena kebodohan dan ketololan mereka. Jangan sampai kebodohan mereka membuatmu berkecil hati dan jangan sampai permintaan mereka agar disegerakan siksanya yang kau lihat itu membuatmu mendoakan keburukan bagi mereka, karena semua yang akan datang itu dekat masanya. ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "Seolah-olah mereka," pada saat ﴾ يَرَوۡنَ مَا يُوعَدُونَ لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّن نَّهَارِۭۚ ﴿ "melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari." Janganlah kesenangan sesaat mereka itu membuatmu bersedih karena mereka akan menuju azab yang ber-akibat buruk. ﴾ بَلَٰغٞۚ ﴿ "Suatu pelajaran yang cukup," yakni, dunia ini dengan berbagai kesenangan dan kenikmatannya adalah sebagai penyampai dan pendorong waktu yang akan datang sesaat lagi, atau al-Qur`an ini yang kami jelaskan kepada kalian terdapat padanya penjelasan yang nyata dan sebagian pelajaran bagi kalian serta sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Al-Qur`an adalah bekal dan pelajaran terbaik, bekal yang akan menuntun ke surga yang penuh kenikmat-an dan menjaga mereka dari siksa yang pedih. Al-Qur`an adalah bekal terbaik yang dijadikan bekal oleh manusia dan nikmat terbe-sar yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. ﴾ فَهَلۡ يُهۡلَكُ ﴿ "Maka tidak dibinasakan," dengan hukuman-h u k u m a n ﴾ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "melainkan kaum yang fasik," yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan, mereka telah keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb mereka, tidak mau menerima kebenaran yang dibawa para rasul kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى telah menyampaikan udzur dan memberikan peringatan kepada mereka setelah itu, namun karena mereka tetap mendusta-kan dan kufur, maka mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan memberikan kita penjagaan. Demikian tafsir terakhir Surat al-Ahqaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى Rabb semesta alam.

Al-Ahqaf 46:35

"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, dikatakan kepada mereka, 'Bukankah (azab) ini benar?' Mereka menjawab, 'Ya benar, demi Rabb kami.' Allah ber-firman, 'Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar.' Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai ke-teguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik'." (Al-Ahqaf: 34-35). (34) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan kondisi mengerikan orang-orang kafir ketika akan dimasukkan ke dalam neraka yang dulunya mereka dustakan, mereka dicerca dan dikatakan pada mereka, ﴾ أَلَيۡسَ هَٰذَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Bukankah (azab) ini benar?" Kalian sekarang telah mendatangi dan menyaksikannya secara langsung dengan mata telanjang. ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ وَرَبِّنَاۚ ﴿ "Mereka menjawab, 'Ya benar, demi Rabb kami'." Mereka pun mengakui dosa-dosa mereka dan kedustaan mereka terbukti jelas, ﴾ قَالَ فَذُوقُواْ ٱلۡعَذَابَ بِمَا كُنتُمۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Allah berfirman, 'Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar'." Yaitu azab yang pasti dan langgeng sebagaimana kekufuran kalian yang menjadi sifat yang tidak terpisah (dari diri kalian). (35) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk bersabar atas gangguan orang-orang yang mendustakan dan me-nentangnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk tetap me-nyeru mereka kepada Allah سبحانه وتعالى serta meneladani kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati dan para pemimpin manusia, mereka adalah pemilik keteguhan hati serta tekad yang tinggi, kesabaran mereka begitu besar dan keyakinan mereka sempurna. Mereka adalah sosok manusia yang perlu diteladani dan cahaya mereka harus dijadikan petunjuk. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya kemudian bersabar dengan kesabaran yang belum pernah dilakukan oleh para nabi sebelumnya, hingga para penentang saling bahu membahu menyerang bersama. Mereka semua berusaha menghalangi Rasu-lullah a agar tidak bisa berdakwah. Orang-orang musyrik melaku-kan berbagai tindakan permusuhan dan memerangi beliau sebisa mungkin. Namun Rasulullah a tetap tegar melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى, tetap berdiri untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى, bersabar atas gangguan yang beliau terima hingga Allah سبحانه وتعالى meneguhkan kedudukan beliau di muka bumi dan memenang-kan agamaNya di atas seluruh agama serta memenangkan umatnya atas seluruh umat yang ada. Semoga kesejahteraan dan keselamatan tetap terlimpah untuk beliau. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَا تَسۡتَعۡجِل لَّهُمۡۚ ﴿ "Maka janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka." Artinya, untuk mereka yang mendus-takan dan meminta disegerakan siksanya, hal ini diucapkan karena kebodohan dan ketololan mereka. Jangan sampai kebodohan mereka membuatmu berkecil hati dan jangan sampai permintaan mereka agar disegerakan siksanya yang kau lihat itu membuatmu mendoakan keburukan bagi mereka, karena semua yang akan datang itu dekat masanya. ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "Seolah-olah mereka," pada saat ﴾ يَرَوۡنَ مَا يُوعَدُونَ لَمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةٗ مِّن نَّهَارِۭۚ ﴿ "melihat apa yang dijanjikan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari." Janganlah kesenangan sesaat mereka itu membuatmu bersedih karena mereka akan menuju azab yang ber-akibat buruk. ﴾ بَلَٰغٞۚ ﴿ "Suatu pelajaran yang cukup," yakni, dunia ini dengan berbagai kesenangan dan kenikmatannya adalah sebagai penyampai dan pendorong waktu yang akan datang sesaat lagi, atau al-Qur`an ini yang kami jelaskan kepada kalian terdapat padanya penjelasan yang nyata dan sebagian pelajaran bagi kalian serta sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Al-Qur`an adalah bekal dan pelajaran terbaik, bekal yang akan menuntun ke surga yang penuh kenikmat-an dan menjaga mereka dari siksa yang pedih. Al-Qur`an adalah bekal terbaik yang dijadikan bekal oleh manusia dan nikmat terbe-sar yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka. ﴾ فَهَلۡ يُهۡلَكُ ﴿ "Maka tidak dibinasakan," dengan hukuman-h u k u m a n ﴾ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "melainkan kaum yang fasik," yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan, mereka telah keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb mereka, tidak mau menerima kebenaran yang dibawa para rasul kepada mereka. Allah سبحانه وتعالى telah menyampaikan udzur dan memberikan peringatan kepada mereka setelah itu, namun karena mereka tetap mendusta-kan dan kufur, maka mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan memberikan kita penjagaan. Demikian tafsir terakhir Surat al-Ahqaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى Rabb semesta alam.