Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Muhammad 47:1 – Qaf 50:45

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Muhammad 47:1
  2. Muhammad 47:2
  3. Muhammad 47:3
  4. Muhammad 47:4
  5. Muhammad 47:5
  6. Muhammad 47:6
  7. Muhammad 47:7
  8. Muhammad 47:8
  9. Muhammad 47:9
  10. Muhammad 47:10
  11. Muhammad 47:11
  12. Muhammad 47:12
  13. Muhammad 47:13
  14. Muhammad 47:14
  15. Muhammad 47:15
  16. Muhammad 47:16
  17. Muhammad 47:17
  18. Muhammad 47:18
  19. Muhammad 47:19
  20. Muhammad 47:20
  21. Muhammad 47:21
  22. Muhammad 47:22
  23. Muhammad 47:23
  24. Muhammad 47:24
  25. Muhammad 47:25
  26. Muhammad 47:26
  27. Muhammad 47:27
  28. Muhammad 47:28
  29. Muhammad 47:29
  30. Muhammad 47:30
  31. Muhammad 47:31
  32. Muhammad 47:32
  33. Muhammad 47:33
  34. Muhammad 47:34
  35. Muhammad 47:35
  36. Muhammad 47:36
  37. Muhammad 47:37
  38. Muhammad 47:38
  39. Al-Fath 48:1
  40. Al-Fath 48:2
  41. Al-Fath 48:3
  42. Al-Fath 48:4
  43. Al-Fath 48:5
  44. Al-Fath 48:6
  45. Al-Fath 48:7
  46. Al-Fath 48:8
  47. Al-Fath 48:9
  48. Al-Fath 48:10
  49. Al-Fath 48:11
  50. Al-Fath 48:12
  51. Al-Fath 48:13
  52. Al-Fath 48:14
  53. Al-Fath 48:15
  54. Al-Fath 48:16
  55. Al-Fath 48:17
  56. Al-Fath 48:18
  57. Al-Fath 48:19
  58. Al-Fath 48:20
  59. Al-Fath 48:21
  60. Al-Fath 48:22
  61. Al-Fath 48:23
  62. Al-Fath 48:24
  63. Al-Fath 48:25
  64. Al-Fath 48:26
  65. Al-Fath 48:27
  66. Al-Fath 48:28
  67. Al-Fath 48:29
  68. Al-Hujurat 49:1
  69. Al-Hujurat 49:2
  70. Al-Hujurat 49:3
  71. Al-Hujurat 49:4
  72. Al-Hujurat 49:5
  73. Al-Hujurat 49:6
  74. Al-Hujurat 49:7
  75. Al-Hujurat 49:8
  76. Al-Hujurat 49:9
  77. Al-Hujurat 49:10
  78. Al-Hujurat 49:11
  79. Al-Hujurat 49:12
  80. Al-Hujurat 49:13
  81. Al-Hujurat 49:14
  82. Al-Hujurat 49:15
  83. Al-Hujurat 49:16
  84. Al-Hujurat 49:17
  85. Al-Hujurat 49:18
  86. Qaf 50:1
  87. Qaf 50:2
  88. Qaf 50:3
  89. Qaf 50:4
  90. Qaf 50:5
  91. Qaf 50:6
  92. Qaf 50:7
  93. Qaf 50:8
  94. Qaf 50:9
  95. Qaf 50:10
  96. Qaf 50:11
  97. Qaf 50:12
  98. Qaf 50:13
  99. Qaf 50:14
  100. Qaf 50:15
  101. Qaf 50:16
  102. Qaf 50:17
  103. Qaf 50:18
  104. Qaf 50:19
  105. Qaf 50:20
  106. Qaf 50:21
  107. Qaf 50:22
  108. Qaf 50:23
  109. Qaf 50:24
  110. Qaf 50:25
  111. Qaf 50:26
  112. Qaf 50:27
  113. Qaf 50:28
  114. Qaf 50:29
  115. Qaf 50:30
  116. Qaf 50:31
  117. Qaf 50:32
  118. Qaf 50:33
  119. Qaf 50:34
  120. Qaf 50:35
  121. Qaf 50:36
  122. Qaf 50:37
  123. Qaf 50:38
  124. Qaf 50:39
  125. Qaf 50:40
  126. Qaf 50:41
  127. Qaf 50:42
  128. Qaf 50:43
  129. Qaf 50:44
  130. Qaf 50:45

Muhammad 47:1

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal shalih dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." (Muhammad: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat ini mencakup penjelasan tentang balasan bagi orang-orang yang beriman, hukuman bagi orang-orang yang durhaka, sebab dari semua itu, dan seruan untuk manusia agar mengambil pelajaran dari semua itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah." Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir dan pemimpin kesesatan, orang-orang yang menyatukan antara kekufuran terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ayat-ayatNya serta menghalangi diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu menghalangi dari keimanan yang diserukan oleh para rasul dan para pengikutnya; mereka itulah orang-orang yang, ﴾ أَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka." Artinya, dihapus dan mereka dibuat menderita karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Perbuatan-perbuatan mereka ini mencakup perbuatan yang dilakukan untuk mengelabui kebe-naran dan menipu para wali Allah سبحانه وتعالى, tapi Allah سبحانه وتعالى mengembalikan efek buruk tipu daya mereka itu pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Per-buatan-perbuatan yang mereka harapkan mendapatkan pahala itu dihapus oleh Allah سبحانه وتعالى dari mereka. Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebatilan, yaitu semua tujuan yang tidak diinginkan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى seperti menyembah berhala dan patung dan juga perbuatan-perbuatan yang bertujuan untuk menolong kebatilan, perbuatan yang dilakukan untuk men-dukung kebatilan sama-sama batil. (2) Sedangkan ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "orang-orang yang beriman," ter-hadap apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada para RasulNya secara umum dan kepada Nabi Muhammad a secara khusus, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban terhadap hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia, baik yang bersifat wajib maupun anjuran, ﴾ كَفَّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ ﴿ "Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka," yang kecil dan yang besar, dan ketika kesalahan-kesalahan mereka telah dihapus, mereka pun selamat dari azab dunia dan akhirat, ﴾ وَأَصۡلَحَ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka." Yakni, Allah سبحانه وتعالى akan memperbaiki agama, dunia, hati, dan perbuatan mereka serta memperbaiki pahala mereka dengan diperbanyak dan dibersihkan serta memperbaiki semua hal ihwal mereka. (3) Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebenaran yang lurus dan meyakininya serta semua yang dikan-dung oleh al-Qur`an yang agung ini yang berasal dari Rabb mereka yang meramu mereka dengan nikmat dan mengatur mereka dengan kelembutan. Allah سبحانه وتعالى menggembleng mereka dengan kebenaran, mereka pun mengikuti kebenaran itu hingga semua hal mereka menjadi baik. Dan karena tujuan yang dimaksudkan untuk mereka itu berhubungan dengan kebenaran yang bersumber dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakekal, Mahabenar dan Mahanyata, maka sarana akan tetap ada, dan pahalanya pun tetap mengalir. ﴾ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ أَمۡثَٰلَهُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." Seperti itulah Allah سبحانه وتعالى mem-buat perumpamaan untuk manusia yang menjelaskan orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Masing-masing dari kedua golongan tersebut diberi sifat yang bisa diketahui dan dibedakan. Semua itu adalah agar orang-orang yang binasa, binasa setelah bukti nyata datang kepadanya, dan orang-orang yang hidup juga hidup dengan bukti nyata.

Muhammad 47:2

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal shalih dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." (Muhammad: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat ini mencakup penjelasan tentang balasan bagi orang-orang yang beriman, hukuman bagi orang-orang yang durhaka, sebab dari semua itu, dan seruan untuk manusia agar mengambil pelajaran dari semua itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah." Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir dan pemimpin kesesatan, orang-orang yang menyatukan antara kekufuran terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ayat-ayatNya serta menghalangi diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu menghalangi dari keimanan yang diserukan oleh para rasul dan para pengikutnya; mereka itulah orang-orang yang, ﴾ أَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka." Artinya, dihapus dan mereka dibuat menderita karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Perbuatan-perbuatan mereka ini mencakup perbuatan yang dilakukan untuk mengelabui kebe-naran dan menipu para wali Allah سبحانه وتعالى, tapi Allah سبحانه وتعالى mengembalikan efek buruk tipu daya mereka itu pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Per-buatan-perbuatan yang mereka harapkan mendapatkan pahala itu dihapus oleh Allah سبحانه وتعالى dari mereka. Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebatilan, yaitu semua tujuan yang tidak diinginkan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى seperti menyembah berhala dan patung dan juga perbuatan-perbuatan yang bertujuan untuk menolong kebatilan, perbuatan yang dilakukan untuk men-dukung kebatilan sama-sama batil. (2) Sedangkan ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "orang-orang yang beriman," ter-hadap apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada para RasulNya secara umum dan kepada Nabi Muhammad a secara khusus, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban terhadap hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia, baik yang bersifat wajib maupun anjuran, ﴾ كَفَّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ ﴿ "Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka," yang kecil dan yang besar, dan ketika kesalahan-kesalahan mereka telah dihapus, mereka pun selamat dari azab dunia dan akhirat, ﴾ وَأَصۡلَحَ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka." Yakni, Allah سبحانه وتعالى akan memperbaiki agama, dunia, hati, dan perbuatan mereka serta memperbaiki pahala mereka dengan diperbanyak dan dibersihkan serta memperbaiki semua hal ihwal mereka. (3) Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebenaran yang lurus dan meyakininya serta semua yang dikan-dung oleh al-Qur`an yang agung ini yang berasal dari Rabb mereka yang meramu mereka dengan nikmat dan mengatur mereka dengan kelembutan. Allah سبحانه وتعالى menggembleng mereka dengan kebenaran, mereka pun mengikuti kebenaran itu hingga semua hal mereka menjadi baik. Dan karena tujuan yang dimaksudkan untuk mereka itu berhubungan dengan kebenaran yang bersumber dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakekal, Mahabenar dan Mahanyata, maka sarana akan tetap ada, dan pahalanya pun tetap mengalir. ﴾ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ أَمۡثَٰلَهُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." Seperti itulah Allah سبحانه وتعالى mem-buat perumpamaan untuk manusia yang menjelaskan orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Masing-masing dari kedua golongan tersebut diberi sifat yang bisa diketahui dan dibedakan. Semua itu adalah agar orang-orang yang binasa, binasa setelah bukti nyata datang kepadanya, dan orang-orang yang hidup juga hidup dengan bukti nyata.

Muhammad 47:3

"Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka. Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal shalih dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." (Muhammad: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat ini mencakup penjelasan tentang balasan bagi orang-orang yang beriman, hukuman bagi orang-orang yang durhaka, sebab dari semua itu, dan seruan untuk manusia agar mengambil pelajaran dari semua itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَصَدُّواْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah." Mereka adalah para pembesar orang-orang kafir dan pemimpin kesesatan, orang-orang yang menyatukan antara kekufuran terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ayat-ayatNya serta menghalangi diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu menghalangi dari keimanan yang diserukan oleh para rasul dan para pengikutnya; mereka itulah orang-orang yang, ﴾ أَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka." Artinya, dihapus dan mereka dibuat menderita karena perbuatan-perbuatan mereka sendiri. Perbuatan-perbuatan mereka ini mencakup perbuatan yang dilakukan untuk mengelabui kebe-naran dan menipu para wali Allah سبحانه وتعالى, tapi Allah سبحانه وتعالى mengembalikan efek buruk tipu daya mereka itu pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Per-buatan-perbuatan yang mereka harapkan mendapatkan pahala itu dihapus oleh Allah سبحانه وتعالى dari mereka. Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebatilan, yaitu semua tujuan yang tidak diinginkan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى seperti menyembah berhala dan patung dan juga perbuatan-perbuatan yang bertujuan untuk menolong kebatilan, perbuatan yang dilakukan untuk men-dukung kebatilan sama-sama batil. (2) Sedangkan ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "orang-orang yang beriman," ter-hadap apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada para RasulNya secara umum dan kepada Nabi Muhammad a secara khusus, ﴾ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ ﴿ "dan mengerjakan amal-amal shalih," dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban terhadap hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak manusia, baik yang bersifat wajib maupun anjuran, ﴾ كَفَّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡ ﴿ "Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka," yang kecil dan yang besar, dan ketika kesalahan-kesalahan mereka telah dihapus, mereka pun selamat dari azab dunia dan akhirat, ﴾ وَأَصۡلَحَ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka." Yakni, Allah سبحانه وتعالى akan memperbaiki agama, dunia, hati, dan perbuatan mereka serta memperbaiki pahala mereka dengan diperbanyak dan dibersihkan serta memperbaiki semua hal ihwal mereka. (3) Penyebab semua itu adalah karena mereka mengikuti kebenaran yang lurus dan meyakininya serta semua yang dikan-dung oleh al-Qur`an yang agung ini yang berasal dari Rabb mereka yang meramu mereka dengan nikmat dan mengatur mereka dengan kelembutan. Allah سبحانه وتعالى menggembleng mereka dengan kebenaran, mereka pun mengikuti kebenaran itu hingga semua hal mereka menjadi baik. Dan karena tujuan yang dimaksudkan untuk mereka itu berhubungan dengan kebenaran yang bersumber dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakekal, Mahabenar dan Mahanyata, maka sarana akan tetap ada, dan pahalanya pun tetap mengalir. ﴾ كَذَٰلِكَ يَضۡرِبُ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ أَمۡثَٰلَهُمۡ ﴿ "Demikianlah Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka." Seperti itulah Allah سبحانه وتعالى mem-buat perumpamaan untuk manusia yang menjelaskan orang-orang yang baik dan orang-orang yang jahat. Masing-masing dari kedua golongan tersebut diberi sifat yang bisa diketahui dan dibedakan. Semua itu adalah agar orang-orang yang binasa, binasa setelah bukti nyata datang kepadanya, dan orang-orang yang hidup juga hidup dengan bukti nyata.

Muhammad 47:4

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka kencangkanlah ikatan (tawanlah mereka) dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikian-lah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasa-kan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan mem-beri pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenal-kanNya kepada mereka." (Muhammad: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan petunjuk pada para hambaNya kepada kebaikan mereka serta memberikan pertolongan pada mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir," dalam peperangan, maka perangilah mereka dan tebaslah leher-leher mereka agar kalian dapat mengalahkan mereka, agar kalian dapat membasmi halangan karena keburukan mereka. Jika kalian telah melakukan hal itu dan kalian melihat para tawanan, maka lebih utama dan lebih baik ada-lah ﴾ فَشُدُّواْ ٱلۡوَثَاقَ ﴿ "kencangkanlah ikatan," yakni dengan diikat sebagai tindakan preventif agar para tawanan tidak lari, jika mereka telah diikat, maka kaum Muslimin pun merasa tenang hatinya setelah memerangi orang-orang kafir dan merasa tenang dari keburukan mereka. Ketika orang-orang kafir berada dalam tawanan kalian, maka kalian memiliki pilihan antara membebaskan mereka tanpa imbalan harta ataupun tebusan atau dibebaskan dengan tebusan dari mereka, atau ditukar oleh orang-orang kafir dengan harta atau dengan tawanan Muslim yang ada di tangan mereka. Hal ini tetap berlangsung ﴾ حَتَّىٰ تَضَعَ ٱلۡحَرۡبُ أَوۡزَارَهَاۚ ﴿ "sampai perang berhenti." Hingga perang tidak ada lagi dan kalian berada dalam gencatan senjata dan per-janjian, karena dalam setiap tempat itu ada pembahasannya sendiri dan setiap kondisi itu memiliki hukum tersendiri. Kondisi di atas hanya berlaku ketika terjadinya perang, jika ternyata pada sebagian kesempatan tidak ada peperangan karena adanya suatu sebab, maka tidak boleh terjadi serangan maupun tawanan. ﴾ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Demikianlah," hukum yang telah disebutkan ten-tang kaum Mukminin yang diuji dengan perang terhadap kaum kafir serta saling bergantinya hari di antara mereka dan juga keme-nangan yang silih berganti. ﴾ وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Apabila Allah meng-hendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka," karena sesungguh-nya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan Kuasa untuk membuat orang-orang tidak menang dalam satu peperangan pun hingga orang-orang Muslim bisa menghabisi semua orang kafir yang ada, ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ ﴿ "tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain," agar jihad berdiri, yang dengan jihad ini dapat diketahui dengan jelas kondisi hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang benar dan yang berdusta. Dan agar orang yang beriman memiliki ke-imanan yang benar, berdasarkan pengetahuan yang benar bukan karena mengikuti pihak yang menang, karena keimanan pihak yang menang adalah keimanan yang lemah yang hampir tidak bertahan ketika tertimpa berbagai musibah dan ujian. ﴾ وَٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah," akan mendapatkan pahala yang besar. Mereka adalah orang-orang yang memerangi kaum yang diperintahkan agar diperangi, agar kalimat Allah سبحانه وتعالى tinggi, mereka itulah orang-orang yang ﴾ فَلَن يُضِلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." Artinya, tidak digugurkan dan tidak dihapus, tapi diterima dan diperbanyak untuk mereka dan hasil dari amalan-amalan baik mereka itu akan nampak di dunia dan di akhirat. (5) ﴾ سَيَهۡدِيهِمۡ ﴿ "Allah akan memberi petunjuk kepada mereka," untuk menempuh jalan yang menghantarkan mereka ke surga, ﴾ وَيُصۡلِحُ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka," yakni, kondisi dan pe-rihal mereka; pahala mereka sempurna dan baik, tidak ada kotoran dan kekurangan sama sekali. (6) ﴾ وَيُدۡخِلُهُمُ ٱلۡجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمۡ ﴿ "Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkanNya kepada mereka," yakni, dikenalkan per-tama dengan diberinya rasa kerinduan pada mereka pada surga, menyebutkan sifat-sifat surga itu kepada mereka, serta menjelaskan pada mereka amalan-amalan yang bisa menyampaikan mereka pada surga yang di antaranya adalah berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga diberi pertolongan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى serta diberi semangat (dorongan) untuk menu-naikannya. Selanjutnya ketika mereka masuk surga, mereka diper-kenalkan pada rumah-rumah mereka serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna yang terdapat di dalamnya.

Muhammad 47:5

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka kencangkanlah ikatan (tawanlah mereka) dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikian-lah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasa-kan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan mem-beri pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenal-kanNya kepada mereka." (Muhammad: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan petunjuk pada para hambaNya kepada kebaikan mereka serta memberikan pertolongan pada mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir," dalam peperangan, maka perangilah mereka dan tebaslah leher-leher mereka agar kalian dapat mengalahkan mereka, agar kalian dapat membasmi halangan karena keburukan mereka. Jika kalian telah melakukan hal itu dan kalian melihat para tawanan, maka lebih utama dan lebih baik ada-lah ﴾ فَشُدُّواْ ٱلۡوَثَاقَ ﴿ "kencangkanlah ikatan," yakni dengan diikat sebagai tindakan preventif agar para tawanan tidak lari, jika mereka telah diikat, maka kaum Muslimin pun merasa tenang hatinya setelah memerangi orang-orang kafir dan merasa tenang dari keburukan mereka. Ketika orang-orang kafir berada dalam tawanan kalian, maka kalian memiliki pilihan antara membebaskan mereka tanpa imbalan harta ataupun tebusan atau dibebaskan dengan tebusan dari mereka, atau ditukar oleh orang-orang kafir dengan harta atau dengan tawanan Muslim yang ada di tangan mereka. Hal ini tetap berlangsung ﴾ حَتَّىٰ تَضَعَ ٱلۡحَرۡبُ أَوۡزَارَهَاۚ ﴿ "sampai perang berhenti." Hingga perang tidak ada lagi dan kalian berada dalam gencatan senjata dan per-janjian, karena dalam setiap tempat itu ada pembahasannya sendiri dan setiap kondisi itu memiliki hukum tersendiri. Kondisi di atas hanya berlaku ketika terjadinya perang, jika ternyata pada sebagian kesempatan tidak ada peperangan karena adanya suatu sebab, maka tidak boleh terjadi serangan maupun tawanan. ﴾ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Demikianlah," hukum yang telah disebutkan ten-tang kaum Mukminin yang diuji dengan perang terhadap kaum kafir serta saling bergantinya hari di antara mereka dan juga keme-nangan yang silih berganti. ﴾ وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Apabila Allah meng-hendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka," karena sesungguh-nya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan Kuasa untuk membuat orang-orang tidak menang dalam satu peperangan pun hingga orang-orang Muslim bisa menghabisi semua orang kafir yang ada, ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ ﴿ "tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain," agar jihad berdiri, yang dengan jihad ini dapat diketahui dengan jelas kondisi hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang benar dan yang berdusta. Dan agar orang yang beriman memiliki ke-imanan yang benar, berdasarkan pengetahuan yang benar bukan karena mengikuti pihak yang menang, karena keimanan pihak yang menang adalah keimanan yang lemah yang hampir tidak bertahan ketika tertimpa berbagai musibah dan ujian. ﴾ وَٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah," akan mendapatkan pahala yang besar. Mereka adalah orang-orang yang memerangi kaum yang diperintahkan agar diperangi, agar kalimat Allah سبحانه وتعالى tinggi, mereka itulah orang-orang yang ﴾ فَلَن يُضِلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." Artinya, tidak digugurkan dan tidak dihapus, tapi diterima dan diperbanyak untuk mereka dan hasil dari amalan-amalan baik mereka itu akan nampak di dunia dan di akhirat. (5) ﴾ سَيَهۡدِيهِمۡ ﴿ "Allah akan memberi petunjuk kepada mereka," untuk menempuh jalan yang menghantarkan mereka ke surga, ﴾ وَيُصۡلِحُ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka," yakni, kondisi dan pe-rihal mereka; pahala mereka sempurna dan baik, tidak ada kotoran dan kekurangan sama sekali. (6) ﴾ وَيُدۡخِلُهُمُ ٱلۡجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمۡ ﴿ "Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkanNya kepada mereka," yakni, dikenalkan per-tama dengan diberinya rasa kerinduan pada mereka pada surga, menyebutkan sifat-sifat surga itu kepada mereka, serta menjelaskan pada mereka amalan-amalan yang bisa menyampaikan mereka pada surga yang di antaranya adalah berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga diberi pertolongan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى serta diberi semangat (dorongan) untuk menu-naikannya. Selanjutnya ketika mereka masuk surga, mereka diper-kenalkan pada rumah-rumah mereka serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna yang terdapat di dalamnya.

Muhammad 47:6

"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka, maka kencangkanlah ikatan (tawanlah mereka) dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikian-lah, apabila Allah menghendaki, niscaya Allah akan membinasa-kan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan mem-beri pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenal-kanNya kepada mereka." (Muhammad: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan petunjuk pada para hambaNya kepada kebaikan mereka serta memberikan pertolongan pada mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَإِذَا لَقِيتُمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir," dalam peperangan, maka perangilah mereka dan tebaslah leher-leher mereka agar kalian dapat mengalahkan mereka, agar kalian dapat membasmi halangan karena keburukan mereka. Jika kalian telah melakukan hal itu dan kalian melihat para tawanan, maka lebih utama dan lebih baik ada-lah ﴾ فَشُدُّواْ ٱلۡوَثَاقَ ﴿ "kencangkanlah ikatan," yakni dengan diikat sebagai tindakan preventif agar para tawanan tidak lari, jika mereka telah diikat, maka kaum Muslimin pun merasa tenang hatinya setelah memerangi orang-orang kafir dan merasa tenang dari keburukan mereka. Ketika orang-orang kafir berada dalam tawanan kalian, maka kalian memiliki pilihan antara membebaskan mereka tanpa imbalan harta ataupun tebusan atau dibebaskan dengan tebusan dari mereka, atau ditukar oleh orang-orang kafir dengan harta atau dengan tawanan Muslim yang ada di tangan mereka. Hal ini tetap berlangsung ﴾ حَتَّىٰ تَضَعَ ٱلۡحَرۡبُ أَوۡزَارَهَاۚ ﴿ "sampai perang berhenti." Hingga perang tidak ada lagi dan kalian berada dalam gencatan senjata dan per-janjian, karena dalam setiap tempat itu ada pembahasannya sendiri dan setiap kondisi itu memiliki hukum tersendiri. Kondisi di atas hanya berlaku ketika terjadinya perang, jika ternyata pada sebagian kesempatan tidak ada peperangan karena adanya suatu sebab, maka tidak boleh terjadi serangan maupun tawanan. ﴾ ذَٰلِكَۖ ﴿ "Demikianlah," hukum yang telah disebutkan ten-tang kaum Mukminin yang diuji dengan perang terhadap kaum kafir serta saling bergantinya hari di antara mereka dan juga keme-nangan yang silih berganti. ﴾ وَلَوۡ يَشَآءُ ٱللَّهُ لَٱنتَصَرَ مِنۡهُمۡ ﴿ "Apabila Allah meng-hendaki, niscaya Allah akan membinasakan mereka," karena sesungguh-nya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan Kuasa untuk membuat orang-orang tidak menang dalam satu peperangan pun hingga orang-orang Muslim bisa menghabisi semua orang kafir yang ada, ﴾ وَلَٰكِن لِّيَبۡلُوَاْ بَعۡضَكُم بِبَعۡضٖۗ ﴿ "tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain," agar jihad berdiri, yang dengan jihad ini dapat diketahui dengan jelas kondisi hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang benar dan yang berdusta. Dan agar orang yang beriman memiliki ke-imanan yang benar, berdasarkan pengetahuan yang benar bukan karena mengikuti pihak yang menang, karena keimanan pihak yang menang adalah keimanan yang lemah yang hampir tidak bertahan ketika tertimpa berbagai musibah dan ujian. ﴾ وَٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah," akan mendapatkan pahala yang besar. Mereka adalah orang-orang yang memerangi kaum yang diperintahkan agar diperangi, agar kalimat Allah سبحانه وتعالى tinggi, mereka itulah orang-orang yang ﴾ فَلَن يُضِلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka." Artinya, tidak digugurkan dan tidak dihapus, tapi diterima dan diperbanyak untuk mereka dan hasil dari amalan-amalan baik mereka itu akan nampak di dunia dan di akhirat. (5) ﴾ سَيَهۡدِيهِمۡ ﴿ "Allah akan memberi petunjuk kepada mereka," untuk menempuh jalan yang menghantarkan mereka ke surga, ﴾ وَيُصۡلِحُ بَالَهُمۡ ﴿ "dan memperbaiki keadaan mereka," yakni, kondisi dan pe-rihal mereka; pahala mereka sempurna dan baik, tidak ada kotoran dan kekurangan sama sekali. (6) ﴾ وَيُدۡخِلُهُمُ ٱلۡجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمۡ ﴿ "Dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkanNya kepada mereka," yakni, dikenalkan per-tama dengan diberinya rasa kerinduan pada mereka pada surga, menyebutkan sifat-sifat surga itu kepada mereka, serta menjelaskan pada mereka amalan-amalan yang bisa menyampaikan mereka pada surga yang di antaranya adalah berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga diberi pertolongan untuk melaksanakan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى serta diberi semangat (dorongan) untuk menu-naikannya. Selanjutnya ketika mereka masuk surga, mereka diper-kenalkan pada rumah-rumah mereka serta berbagai kenikmatan abadi dan kehidupan sempurna yang terdapat di dalamnya.

Muhammad 47:7

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan keduduk-anmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 7-9). (7) Ini adalah perintah dari Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang beriman agar mereka menolong (membela) Allah سبحانه وتعالى dengan menegakkan AgamaNya, menyeru manusia kepadaNya serta ber-jihad melawan musuh-musuhNya yang dilakukan dengan tujuan untuk mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberikan pertolongan pada mereka dan meneguh-kan kaki mereka. Artinya hati mereka diberi kesabaran, ketenangan serta keteguhan serta membuat jasad mereka bersabar menghadapi itu, dan memberikan mereka pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Ini merupakan janji dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahamulia dan Mahabenar janjinya, siapa pun yang menolongNya dengan perkataan dan perbuatan, maka akan diberi pertolongan oleh Allah سبحانه وتعالى serta diberi kemudahan untuk mendapatkan faktor-faktor kemenangan seperti keteguhan hati dan lainnya. (8) Sedangkan orang-orang yang kufur terhadap Rabb mereka dan menolong kebatilan, maka mereka itu berada dalam kecelakaan, artinya, akibat dari perbuatan mereka serta kehinaan. ﴾ وَأَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan (Allah) menghapus amal-amal mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menggugurkan amal-amal mereka yang hendak menipu daya kebenaran dan dampak dari tipu daya itu pun kembali pada diri mereka sendiri, amal-amal mereka pun batal yang mereka kira mereka lakukan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى. (9) Penghapusan amal serta kecelakaan untuk orang-orang kafir itu disebabkan karena, ﴾ كَرِهُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah," yaitu al-Qur`an yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai perbaikan untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dan sebagai keberuntungan untuk mereka, namun mereka tidak mau meneri-manya, justru mereka murka dan benci terhadapnya, ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "maka Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka."

Muhammad 47:8

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan keduduk-anmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 7-9). (7) Ini adalah perintah dari Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang beriman agar mereka menolong (membela) Allah سبحانه وتعالى dengan menegakkan AgamaNya, menyeru manusia kepadaNya serta ber-jihad melawan musuh-musuhNya yang dilakukan dengan tujuan untuk mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberikan pertolongan pada mereka dan meneguh-kan kaki mereka. Artinya hati mereka diberi kesabaran, ketenangan serta keteguhan serta membuat jasad mereka bersabar menghadapi itu, dan memberikan mereka pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Ini merupakan janji dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahamulia dan Mahabenar janjinya, siapa pun yang menolongNya dengan perkataan dan perbuatan, maka akan diberi pertolongan oleh Allah سبحانه وتعالى serta diberi kemudahan untuk mendapatkan faktor-faktor kemenangan seperti keteguhan hati dan lainnya. (8) Sedangkan orang-orang yang kufur terhadap Rabb mereka dan menolong kebatilan, maka mereka itu berada dalam kecelakaan, artinya, akibat dari perbuatan mereka serta kehinaan. ﴾ وَأَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan (Allah) menghapus amal-amal mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menggugurkan amal-amal mereka yang hendak menipu daya kebenaran dan dampak dari tipu daya itu pun kembali pada diri mereka sendiri, amal-amal mereka pun batal yang mereka kira mereka lakukan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى. (9) Penghapusan amal serta kecelakaan untuk orang-orang kafir itu disebabkan karena, ﴾ كَرِهُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah," yaitu al-Qur`an yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai perbaikan untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dan sebagai keberuntungan untuk mereka, namun mereka tidak mau meneri-manya, justru mereka murka dan benci terhadapnya, ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "maka Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka."

Muhammad 47:9

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan keduduk-anmu. Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Qur`an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 7-9). (7) Ini adalah perintah dari Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang beriman agar mereka menolong (membela) Allah سبحانه وتعالى dengan menegakkan AgamaNya, menyeru manusia kepadaNya serta ber-jihad melawan musuh-musuhNya yang dilakukan dengan tujuan untuk mencari ridha Allah سبحانه وتعالى. Jika mereka melakukan hal itu, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberikan pertolongan pada mereka dan meneguh-kan kaki mereka. Artinya hati mereka diberi kesabaran, ketenangan serta keteguhan serta membuat jasad mereka bersabar menghadapi itu, dan memberikan mereka pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Ini merupakan janji dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahamulia dan Mahabenar janjinya, siapa pun yang menolongNya dengan perkataan dan perbuatan, maka akan diberi pertolongan oleh Allah سبحانه وتعالى serta diberi kemudahan untuk mendapatkan faktor-faktor kemenangan seperti keteguhan hati dan lainnya. (8) Sedangkan orang-orang yang kufur terhadap Rabb mereka dan menolong kebatilan, maka mereka itu berada dalam kecelakaan, artinya, akibat dari perbuatan mereka serta kehinaan. ﴾ وَأَضَلَّ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Dan (Allah) menghapus amal-amal mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menggugurkan amal-amal mereka yang hendak menipu daya kebenaran dan dampak dari tipu daya itu pun kembali pada diri mereka sendiri, amal-amal mereka pun batal yang mereka kira mereka lakukan untuk mencari keridhaan Allah سبحانه وتعالى. (9) Penghapusan amal serta kecelakaan untuk orang-orang kafir itu disebabkan karena, ﴾ كَرِهُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ ﴿ "mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah," yaitu al-Qur`an yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى sebagai perbaikan untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dan sebagai keberuntungan untuk mereka, namun mereka tidak mau meneri-manya, justru mereka murka dan benci terhadapnya, ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "maka Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka."

Muhammad 47:10

"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah menimpakan kebi-nasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesung-guhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung." (Mu-hammad: 10-11). (10) Apakah mereka yang mendustakan Rasulullah a itu tidak mengadakan perjalanan supaya, ﴾ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ ﴿ "mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka." Mereka tidak akan menemukan kesudahan, selain kesudahan yang buruk, mereka tidak menengok dan melihat melainkan sekeliling mereka telah binasa dan hancur, pendustaan serta kekufuran mereka pun semakin mengakar, sehingga Allah سبحانه وتعالى membinasakan harta dan rumah mereka. Lebih dari itu bahkan Allah سبحانه وتعالى menghancurkan amal dan tipu daya mereka. Orang-orang kafir di berbagai masa dan tempat mempunyai contoh-contoh ke-sudahan serta hukuman hina seperti ini. Sedangkan orang-orang yang beriman akan diselamatkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari siksaanNya dan diberi balasan baik yang banyak. (11) ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Yang demikian itu karena sesung-guhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman." Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dengan rahmatNya dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Allah سبحانه وتعالى memberikan balasan serta kemenangan kepada mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan karena sesungguhnya orang-orang kafir," terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka memutuskan sendiri perlindungan dari Allah سبحانه وتعالى dan menolak rahmatNya dari diri mereka, ﴾ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ﴿ "tiada mempunyai pelindung," yang menun-jukkan mereka ke jalan keselamatan dan tidak ada yang menyela-matkan mereka dari azab dan siksaan Allah سبحانه وتعالى, para pelindung mereka adalah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kesesatan; mereka itulah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Muhammad 47:11

"Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka? Allah telah menimpakan kebi-nasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu. Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesung-guhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung." (Mu-hammad: 10-11). (10) Apakah mereka yang mendustakan Rasulullah a itu tidak mengadakan perjalanan supaya, ﴾ فَيَنظُرُواْ كَيۡفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۖ ﴿ "mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka." Mereka tidak akan menemukan kesudahan, selain kesudahan yang buruk, mereka tidak menengok dan melihat melainkan sekeliling mereka telah binasa dan hancur, pendustaan serta kekufuran mereka pun semakin mengakar, sehingga Allah سبحانه وتعالى membinasakan harta dan rumah mereka. Lebih dari itu bahkan Allah سبحانه وتعالى menghancurkan amal dan tipu daya mereka. Orang-orang kafir di berbagai masa dan tempat mempunyai contoh-contoh ke-sudahan serta hukuman hina seperti ini. Sedangkan orang-orang yang beriman akan diselamatkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari siksaanNya dan diberi balasan baik yang banyak. (11) ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ مَوۡلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Yang demikian itu karena sesung-guhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman." Allah سبحانه وتعالى melindungi mereka dengan rahmatNya dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Allah سبحانه وتعالى memberikan balasan serta kemenangan kepada mereka. ﴾ وَأَنَّ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "Dan karena sesungguhnya orang-orang kafir," terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka memutuskan sendiri perlindungan dari Allah سبحانه وتعالى dan menolak rahmatNya dari diri mereka, ﴾ لَا مَوۡلَىٰ لَهُمۡ ﴿ "tiada mempunyai pelindung," yang menun-jukkan mereka ke jalan keselamatan dan tidak ada yang menyela-matkan mereka dari azab dan siksaan Allah سبحانه وتعالى, para pelindung mereka adalah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kesesatan; mereka itulah penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Muhammad 47:12

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang ber-iman dan mengerjakan amal shalih ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu ber-senang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka." (Muhammad: 12). (12) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa Dia adalah pelin-dung orang-orang yang beriman selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan apa yang akan dilakukan pada mereka di akhirat, mulai dari masuk surga yang di bawahnya mengalir berbagai sungai yang mengairi kebun-kebun penuh bunga itu serta pohon-pohon hijau nan indah yang berbuah. Masing-masing pasangan memiliki kesenangan dan masing-masing buah memiliki kenikmatan. Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa orang-orang kafir itu tidak memiliki pelindung, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa mereka diserahkan pada diri mereka sendiri, mereka pun tidak memiliki sifat sopan dan tidak memiliki sifat-sifat kemanusiaan, bahkan derajat mereka pun terhempas jauh ke bawah hingga men-jadi seperti binatang yang tidak memiliki akal dan akhlak. Sebagian besar keinginan serta tujuan mereka adalah bersenang-senang de-ngan kenikmatan dan hawa nafsu duniawi. Gerakan mereka, baik yang nampak maupun yang tidak nampak berporos di sekitar kesenangan dunia tanpa menuju pada kebaikan dan kebahagiaan. Karena itulah neraka menjadi tempat kembali mereka, yaitu tempat yang telah dipersiapkan untuk mereka, mereka tidak bisa keluar darinya dan siksaan tidak diredakan untuk mereka.

Muhammad 47:13

"Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah me-ngusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka, maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka." (Muhammad: 13). (13) Berapa banyak negeri-negeri orang yang mendustakan yang lebih kuat dari negerimu dari segi harta, anak, sekutu, ba-ngunan dan peralatan yang telah Kami hancurkan ketika mereka mendustakan para rasul Kami, berbagai petuah dan nasihat tidak mempan bagi mereka dan Kami pun tidak menemukan penolong bagi mereka. Kekuatan yang mereka miliki sama sekali tidak ber-guna untuk melindungi mereka dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Lantas bagai-mana kondisi orang-orang lemah yang ada di negerimu itu pada saat mereka mengusirmu dari negerimu, mereka mendustakan dan menentangmu, padahal engkau adalah Rasul terbaik serta yang terbaik dari seluruh manusia sejak dari yang pertama hingga yang terakhir. Bukankah mereka lebih berhak untuk dibinasakan dan disiksa daripada yang lain andai Allah سبحانه وتعالى tidak mengutus RasulNya membawa rahmat dan kesabaran terhadap semua orang kafir dan penentang?

Muhammad 47:14

"Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (setan) menja-dikan mereka memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?" (Muhammad: 14). (14) Tidaklah sama antara orang berpegang pada keterangan perintah Agama Allah سبحانه وتعالى, baik secara ilmu maupun amal, dan me-ngetahui kebenaran serta mengikutinya serta mengharapkan janji Allah سبحانه وتعالى bagi pengikut kebenaran dengan orang yang hatinya buta, yang menolak kebenaran hingga ia pun tersesat dan mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah سبحانه وتعالى meski demikian ia pun tetap berpendirian bahwa yang dipegangnya benar. Alangkah jauhnya perbedaan kedua golongan tersebut dan begitu besar per-bedaan antara keduanya, yaitu antara pengikut kebenaran dan pengikut kesesatan.

Muhammad 47:15

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan aromanya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, (apakah) sama dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?" (Muhammad: 15). (15) Artinya, perumpamaan surga yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya yang takut akan murkaNya serta meniti keridhaanNya, yakni dengan segala pernak-pernik surga yang indah itu di mana ﴾ فِيهَآ أَنۡهَٰرٞ مِّن مَّآءٍ غَيۡرِ ءَاسِنٖ ﴿ "di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan aromanya," yakni, tidak berubah (cita rasanya), tidak mengganggu kesehatan, tidak berbau, tidak asam dan tidak keruh, tapi air surga adalah air yang paling sejuk, bersih dan enak aromanya serta lezat rasanya, ﴾ وَأَنۡهَٰرٞ مِّن لَّبَنٖ لَّمۡ يَتَغَيَّرۡ طَعۡمُهُۥ ﴿ "sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya," tidak pahit dan lainnya, dan ﴾ وَأَنۡهَٰرٞ مِّنۡ خَمۡرٖ لَّذَّةٖ لِّلشَّٰرِبِينَ ﴿ "sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya," orang yang meminumnya sangat merasakan kelezatannya, tidak seperti khamar dunia yang rasanya tidak enak, membuat kepala pening dan merusak akal,﴾ وَأَنۡهَٰرٞ مِّنۡ عَسَلٖ مُّصَفّٗىۖ ﴿ "dan sungai-sungai dari madu yang disaring," dari sarang dan semua kotorannya, ﴾ وَلَهُمۡ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ﴿ "dan mereka di dalamnya mem-peroleh segala macam buah-buahan," mulai dari kurma, anggur, apel, delima, limau, buah tin dan lainnya yang tidak ada bandingnya di dunia. Semua yang mereka inginkan itu mereka dapatkan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَغۡفِرَةٞ مِّن رَّبِّهِمۡۖ ﴿ "Dan ampunan dari Rabb mereka." Semua yang mereka takutkan sirna dengan am-punan itu. Apakah golongan ini lebih baik ataukah ﴾ كَمَنۡ هُوَ خَٰلِدٞ فِي ٱلنَّارِ ﴿ "orang yang kekal dalam neraka," yang panasnya sangat membara dan azabnya berlipat-lipat, ﴾ وَسُقُواْ ﴿ "dan diberi minuman," di dalam neraka, ﴾ مَآءً حَمِيمٗا ﴿ "dengan air yang mendidih," yang sangat panas, ﴾ فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ ﴿ "sehingga memotong-motong ususnya?" Mahasuci Allah سبحانه وتعالى yang membedakan secara jauh antara kedua tempat, kedua balasan, kedua golongan orang yang beramal dan kedua perbuatan yang diperbuat.

Muhammad 47:16

"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan per-kataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka ber-kata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi), 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada me-reka (balasan) ketakwaannya." (Muhammad: 16-17). (16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Dan di antara orang-orang munafik ﴾ مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ ﴿ "ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad)," mendengarkan ucapanmu bukan bermaksud untuk menerima dan menaati, tapi hatinya berpaling dari perkataan itu, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan," yang berpura-pura memahami perkataan-mu serta yang mereka dengar yang tidak mereka sukai, ﴾ مَاذَا قَالَ ءَانِفًاۚ ﴿ "Apakah yang dikatakannya tadi?" yakni, apa yang dikatakannya barusan? Ayat ini adalah puncak celaan untuk mereka, sebab andai saja mereka benar-benar mencari kebaikan, tentu akan benar-benar memperhatikan dengan pendengaran mereka dan pasti akan di-pahami oleh hati mereka sehingga seluruh bagian tubuh mereka tunduk, hanya saja mereka itu sebaliknya, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah," yaitu Allah سبحانه وتعالى menutupnya serta menutup semua pintu kebaikan yang mungkin bisa dicapai, karena mereka menurutkan keinginan mereka, dan tidaklah mereka menginginkan kecuali kebatilan. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi orang-orang yang mendapatkan petunjuk seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ ﴿ "Dan orang-orang yang mendapat petunjuk," dengan iman serta taat dan mengikuti apa yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, ﴾ زَادَهُمۡ هُدٗى ﴿ "Allah menambah petunjuk kepada mereka," sebagai rasa terimakasih Allah سبحانه وتعالى kepada mereka atas hal itu, ﴾ وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ﴿ "dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya." Artinya, mereka diberi pertolongan untuk melakukan kebaikan dan dijaga dari keburukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan adanya dua balasan bagi orang-orang yang bertak-wa: Ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Muhammad 47:17

"Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan per-kataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka ber-kata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi), 'Apakah yang dikatakannya tadi?' Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada me-reka (balasan) ketakwaannya." (Muhammad: 16-17). (16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, "Dan di antara orang-orang munafik ﴾ مَّن يَسۡتَمِعُ إِلَيۡكَ ﴿ "ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad)," mendengarkan ucapanmu bukan bermaksud untuk menerima dan menaati, tapi hatinya berpaling dari perkataan itu, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا خَرَجُواْ مِنۡ عِندِكَ قَالُواْ لِلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ ﴿ "Sehingga apabila mereka keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan," yang berpura-pura memahami perkataan-mu serta yang mereka dengar yang tidak mereka sukai, ﴾ مَاذَا قَالَ ءَانِفًاۚ ﴿ "Apakah yang dikatakannya tadi?" yakni, apa yang dikatakannya barusan? Ayat ini adalah puncak celaan untuk mereka, sebab andai saja mereka benar-benar mencari kebaikan, tentu akan benar-benar memperhatikan dengan pendengaran mereka dan pasti akan di-pahami oleh hati mereka sehingga seluruh bagian tubuh mereka tunduk, hanya saja mereka itu sebaliknya, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah," yaitu Allah سبحانه وتعالى menutupnya serta menutup semua pintu kebaikan yang mungkin bisa dicapai, karena mereka menurutkan keinginan mereka, dan tidaklah mereka menginginkan kecuali kebatilan. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi orang-orang yang mendapatkan petunjuk seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ ﴿ "Dan orang-orang yang mendapat petunjuk," dengan iman serta taat dan mengikuti apa yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, ﴾ زَادَهُمۡ هُدٗى ﴿ "Allah menambah petunjuk kepada mereka," sebagai rasa terimakasih Allah سبحانه وتعالى kepada mereka atas hal itu, ﴾ وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ﴿ "dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya." Artinya, mereka diberi pertolongan untuk melakukan kebaikan dan dijaga dari keburukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan adanya dua balasan bagi orang-orang yang bertak-wa: Ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.

Muhammad 47:18

"Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan Hari Kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faidahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Hari Kiamat sudah datang?" (Muhammad: 18). (18) Artinya, tidaklah mereka yang mendustakan itu me-nanti ﴾ إِلَّا ٱلسَّاعَةَ أَن تَأۡتِيَهُم بَغۡتَةٗۖ ﴿ "melainkan Hari Kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba," yakni, secara begitu saja tanpa aba-aba sedangkan mereka tidak merasakan, ﴾ فَقَدۡ جَآءَ أَشۡرَاطُهَاۚ ﴿ "karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya," yakni tanda-tanda yang menunjukkan dekatnya Hari Kiamat. ﴾ فَأَنَّىٰ لَهُمۡ إِذَا جَآءَتۡهُمۡ ذِكۡرَىٰهُمۡ ﴿ "Maka apakah faidahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Hari Kiamat sudah datang?" Artinya, lantas dari manakah mereka bisa ingat dan bertaubat ketika Hari Kiamat telah datang dan ajal mereka telah terputus? Waktu untuk ingat sudah tidak ada lagi bagi mereka, mereka telah diberi usia panjang di dunia yang andai mereka bisa mengambil peringatan, tentulah mereka ingat dan peringatan telah datang kepada mereka. Dalam penjelasan ini terdapat dorongan untuk mempersiap-kan diri sebelum dijemput oleh kematian, karena kematian sese-orang itulah kiamatnya.

Muhammad 47:19

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan yang berhak di-sembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu." (Muhammad: 19). (19) Dalam ilmu harus ada pengakuan hati dan mengetahui makna yang diharuskan oleh apa yang diketahui, dan secara sem-purnanya adalah mengamalkan keharusannya. Inilah ilmu yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى, yaitu ilmu tentang memahaesakan Allah سبحانه وتعالى. Ilmu ini wajib hukumnya atas setiap orang dan tidak bisa gugur bagi siapa pun juga, bahkan semua orang sangat memerlu-kannya. Ada beberapa cara untuk mengetahui tidak ada sesembahan kecuali Allah سبحانه وتعالى; 1.     Dan ini yang paling penting, adalah merenungkan nama-nama dan sifat-sifat serta perbuatan Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan pada kesempurnaan, keagungan, serta keluhuranNya. Semua itu mengharuskan kita mencurahkan tenaga guna menuhankan dan menyembah Rabb Yang Mahasempurna, yang hanya bagiNya semua pujian, keluhuran, dan keindahan. 2.     Mengetahui bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang men-ciptakan dan mengatur, sehingga dengan demikian akan diketahui hanya Dia semata yang berhak disembah. 3.     Mengetahui bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang memberi nikmat, baik yang lahir maupun batin, baik nikmat Agama (akhirat) maupun dunia, karena hal itu mengharuskan kita untuk menggan-tungkan hati kita, mencintaiNya dan hanya menuhankanNya, yang tiada sekutu bagiNya. 4.     Apa pun yang kita lihat dan dengar tentang pahala bagi para wali Allah سبحانه وتعالى yang menegakkan tauhid seperti pertolongan, nikmat yang disegerakan, hukuman bagi para musuh-musuhnya yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, dan lainnya, karena semua itu akan mendorong kita untuk mengetahui bahwa hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang berhak atas semua bentuk ibadah. 5.     Mengetahui sifat-sifat berhala dan sekutu-sekutu yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى dan dijadikan sebagai sembahan-sem-bahan, di mana semua berhala dan sekutu itu kurang dari berbagai hal; dirinya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dan memerlukan pertolongan dari yang lain, tidak memiliki kuasa apa pun pada dirinya dan para penyembahnya, baik memberikan manfaat mau-pun mara bahaya, tidak memiliki kuasa atas kematian, kehidupan dan pembangkitan. Mereka tidak bisa memberikan pertolongan kepada para penyembahnya dan sama sekali tidak bisa memberi manfaat meski sekecil biji atom pun, baik memberikan kebaikan ataupun mencegah bahaya. Mengetahui hal ini mengharuskan kita untuk mengetahui bahwa tidak ada sembahan yang berhak disem-bah melainkan Allah سبحانه وتعالى semata, serta batilnya semua sesembahan selain Allah سبحانه وتعالى. 6.      Sesuai dan sepakatnya kitab-kitab suci Allah سبحانه وتعالى atas hal itu. 7.     Manusia-manusia khusus adalah makhluk yang paling sempurna dari segi akhlak, akal, pandangan, kebenaran, dan ilmu, mereka adalah para rasul, nabi, ulama rabbani yang menyaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang wajib disembah kecuali Allah سبحانه وتعالى. 8.     Dalil-dalil penciptaan langit serta yang terdapat di dalam-nya dan penciptaan jiwa (ufuqiyyah dan nafsiyyah) yang menunjuk-kan keesaan Allah سبحانه وتعالى merupakan dalil terbesar yang dengan bahasa yang ada menyerukan apa pun yang disematkan Allah سبحانه وتعالى dalam penciptaan tersebut, mulai dari kelembutan ciptaanNya, kesem-purnaan hikmahNya, dan keajaiban-keajaiban ciptaanNya. Itulah berbagai cara yang diserukan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada para makhluk-nya secara berulang-ulang bahwa tidak ada sesembahan yang ber-hak disembah kecuali Allah سبحانه وتعالى semata. Cara-cara itu disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam kitabnya dan diulang-ulang. Ketika seseorang me-renungkan sebagiannya, pasti akan muncul keyakinan dan ilmu tentang hal itu. Lantas bagaimana jika semua dalil-dalil tauhid dari berbagai hal terkumpul menjadi satu? Pada saat itulah keimanan seorang hamba akan semakin kokoh dan mengetahui secara yakin laksana kekokohan gunung yang tidak bisa digoncang oleh berba-gai syuhbat dan khayalan. Semakin banyak dan berulangnya keba-tilan serta syubhat hanya akan semakin menumbuh-kembangkan serta menambah kesempurnaan iman. Demikianlah, jika engkau membaca dalil agung dan hal besar, yaitu merenungkan al-Qur`an yang agung serta merenungkan ayat-ayatnya. Itulah pintu terbesar untuk mengetahui tauhid yang bisa dipahami secara terperinci dan garis besar, di mana tidak akan didapatkan pada selain al-Qur`an. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ ﴿ "Dan mohonlah ampunan bagi dosamu," yakni mintalah ampunan atas dosamu pada Allah سبحانه وتعالى de-ngan melakukan amalan yang bisa mendatangkan ampunan seperti bertaubat, berdoa agar diberi ampunan, melakukan berbagai ke-baikan yang bisa melebur kesalahan dan dosa, meninggalkan dosa, dan memaafkan orang-orang yang bersalah. ﴾ و َ ﴿ "Dan," mintakan ampunan juga ﴾ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ ﴿ "bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan," karena iman mereka, baik lelaki maupun perempuan memiliki hak, dan di antara hak mereka adalah didoa-kan agar dosanya diampuni. Karena Rasulullah a diperintahkan untuk mendoakan ampunan bagi orang-orang yang beriman yang mencakup penghapusan dosa serta hukuman dari mereka, maka diharuskan juga untuk memberikan nasihat pada mereka, membuat mereka senang terhadap kebaikan seperti halnya dirinya sendiri cinta pada kebaikan, membuat mereka membenci keburukan seperti halnya dirinya tidak menyukai keburukan, memerintahkan mereka pada sesuatu yang terdapat kebaikannya untuk mereka, melarang mereka dari apa-apa yang bisa membahayakan mereka, memaafkan keburukan serta aib mereka, berusaha untuk bersatu dengan mereka, agar hari mereka bisa saling menyatu sehingga rasa dengki yang bisa menyulut permusuhan dan perpecahan bisa lenyap dari hati mereka yang bisa memperbanyak dosa dan kemak-siatan. ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ ﴿ "Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha," yakni, gerak-gerik kalian, pergi dan kedatangan kalian ﴾ وَمَثۡوَىٰكُمۡ ﴿ "dan tempat tinggalmu," yakni di mana kalian menetap. Allah سبحانه وتعالى mengetahui kalian, baik di kala bergerak maupun diam, sehingga akan memberikan balasan untuk kalian secara sempurna.

Muhammad 47:20

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tiada di-turunkan suatu surat.' Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya me-mandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) ter-hadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluarga-an? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituli-kanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (Muhammad: 20-23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," karena ingin disegerakannya berbagai perin-tah berat, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٞۖ ﴿ "Mengapa tiada diturunkan suatu surat," yakni, ayat yang terdapat perintah perang, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ ﴿ "maka apa-bila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya," yakni, yang harus dikerjakan, ﴾ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ ﴿ "dan disebutkan di dalamnya (perintah) pe-rang," yang merupakan hal terberat bagi jiwa yang tidak akan bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki lemah iman, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati," karena mereka tidak menyukai perang karena terasa berat bagi mereka. Ayat ini sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tu-naikanlah Zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya." (An-Nisa`: 77). (20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya. Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya. (22) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang yang berpa-ling dari ketaatan terhadap Rabbnya, ia tidak berpaling menuju kebaikan melainkan menuju keburukan. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ﴿ "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." Artinya, terdapat dua hal; konsisten dalam menaati Allah سبحانه وتعالى serta menjalankan semua perintahNya dan di sanalah terdapat kebaikan, petunjuk, dan keberuntungan, atau berpaling dari hal itu serta berpaling untuk tidak menaati Allah سبحانه وتعالى, maka tidak terdapat apa pun dalam hal ini melainkan kerusakan di muka bumi, karena mengerjakan berbagai kemaksiatan dan memutuskan tali kekeluargaan. (23) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang," yakni, yang ber-buat kerusakan di muka bumi dan memutuskan tali kekeluargaan, ﴾ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dilaknati Allah," dengan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya dan mendekatkan mereka pada murkaNya, ﴾ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ﴿ "dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka tidak bisa mendengar nasihat dan petuah yang membawa manfaat bagi mereka serta tidak dapat melihatnya. Mereka memiliki telinga tetapi tidak bisa mendengar secara taat dan menerima, mereka hanya mendengar namun hanya sebagai tegaknya hujjah Allah سبحانه وتعالى. Mereka memiliki mata tetapi tidak bisa melihat berbagai pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tidak digunakan untuk menengok berbagai bukti dan penjelasan nyata.

Muhammad 47:21

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tiada di-turunkan suatu surat.' Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya me-mandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) ter-hadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluarga-an? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituli-kanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (Muhammad: 20-23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," karena ingin disegerakannya berbagai perin-tah berat, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٞۖ ﴿ "Mengapa tiada diturunkan suatu surat," yakni, ayat yang terdapat perintah perang, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ ﴿ "maka apa-bila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya," yakni, yang harus dikerjakan, ﴾ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ ﴿ "dan disebutkan di dalamnya (perintah) pe-rang," yang merupakan hal terberat bagi jiwa yang tidak akan bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki lemah iman, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati," karena mereka tidak menyukai perang karena terasa berat bagi mereka. Ayat ini sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tu-naikanlah Zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya." (An-Nisa`: 77). (20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya. Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya. (22) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang yang berpa-ling dari ketaatan terhadap Rabbnya, ia tidak berpaling menuju kebaikan melainkan menuju keburukan. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ﴿ "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." Artinya, terdapat dua hal; konsisten dalam menaati Allah سبحانه وتعالى serta menjalankan semua perintahNya dan di sanalah terdapat kebaikan, petunjuk, dan keberuntungan, atau berpaling dari hal itu serta berpaling untuk tidak menaati Allah سبحانه وتعالى, maka tidak terdapat apa pun dalam hal ini melainkan kerusakan di muka bumi, karena mengerjakan berbagai kemaksiatan dan memutuskan tali kekeluargaan. (23) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang," yakni, yang ber-buat kerusakan di muka bumi dan memutuskan tali kekeluargaan, ﴾ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dilaknati Allah," dengan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya dan mendekatkan mereka pada murkaNya, ﴾ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ﴿ "dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka tidak bisa mendengar nasihat dan petuah yang membawa manfaat bagi mereka serta tidak dapat melihatnya. Mereka memiliki telinga tetapi tidak bisa mendengar secara taat dan menerima, mereka hanya mendengar namun hanya sebagai tegaknya hujjah Allah سبحانه وتعالى. Mereka memiliki mata tetapi tidak bisa melihat berbagai pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tidak digunakan untuk menengok berbagai bukti dan penjelasan nyata.

Muhammad 47:22

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tiada di-turunkan suatu surat.' Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya me-mandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) ter-hadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluarga-an? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituli-kanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (Muhammad: 20-23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," karena ingin disegerakannya berbagai perin-tah berat, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٞۖ ﴿ "Mengapa tiada diturunkan suatu surat," yakni, ayat yang terdapat perintah perang, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ ﴿ "maka apa-bila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya," yakni, yang harus dikerjakan, ﴾ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ ﴿ "dan disebutkan di dalamnya (perintah) pe-rang," yang merupakan hal terberat bagi jiwa yang tidak akan bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki lemah iman, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati," karena mereka tidak menyukai perang karena terasa berat bagi mereka. Ayat ini sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tu-naikanlah Zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya." (An-Nisa`: 77). (20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya. Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya. (22) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang yang berpa-ling dari ketaatan terhadap Rabbnya, ia tidak berpaling menuju kebaikan melainkan menuju keburukan. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ﴿ "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." Artinya, terdapat dua hal; konsisten dalam menaati Allah سبحانه وتعالى serta menjalankan semua perintahNya dan di sanalah terdapat kebaikan, petunjuk, dan keberuntungan, atau berpaling dari hal itu serta berpaling untuk tidak menaati Allah سبحانه وتعالى, maka tidak terdapat apa pun dalam hal ini melainkan kerusakan di muka bumi, karena mengerjakan berbagai kemaksiatan dan memutuskan tali kekeluargaan. (23) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang," yakni, yang ber-buat kerusakan di muka bumi dan memutuskan tali kekeluargaan, ﴾ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dilaknati Allah," dengan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya dan mendekatkan mereka pada murkaNya, ﴾ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ﴿ "dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka tidak bisa mendengar nasihat dan petuah yang membawa manfaat bagi mereka serta tidak dapat melihatnya. Mereka memiliki telinga tetapi tidak bisa mendengar secara taat dan menerima, mereka hanya mendengar namun hanya sebagai tegaknya hujjah Allah سبحانه وتعالى. Mereka memiliki mata tetapi tidak bisa melihat berbagai pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tidak digunakan untuk menengok berbagai bukti dan penjelasan nyata.

Muhammad 47:23

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tiada di-turunkan suatu surat.' Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya me-mandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) ter-hadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka. Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluarga-an? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan dituli-kanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." (Muhammad: 20-23). (20) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَقُولُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman berkata," karena ingin disegerakannya berbagai perin-tah berat, ﴾ لَوۡلَا نُزِّلَتۡ سُورَةٞۖ ﴿ "Mengapa tiada diturunkan suatu surat," yakni, ayat yang terdapat perintah perang, ﴾ فَإِذَآ أُنزِلَتۡ سُورَةٞ مُّحۡكَمَةٞ ﴿ "maka apa-bila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya," yakni, yang harus dikerjakan, ﴾ وَذُكِرَ فِيهَا ٱلۡقِتَالُ ﴿ "dan disebutkan di dalamnya (perintah) pe-rang," yang merupakan hal terberat bagi jiwa yang tidak akan bisa dilaksanakan oleh mereka yang memiliki lemah iman, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ نَظَرَ ٱلۡمَغۡشِيِّ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ ﴿ "kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati," karena mereka tidak menyukai perang karena terasa berat bagi mereka. Ayat ini sama seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡقِتَالُ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُمۡ يَخۡشَوۡنَ ٱلنَّاسَ كَخَشۡيَةِ ٱللَّهِ أَوۡ أَشَدَّ خَشۡيَةٗۚ ﴿ "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tu-naikanlah Zakat!' Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya." (An-Nisa`: 77). (20-21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengajak mereka kepada apa yang lebih sesuai dengan kondisi mereka seraya berfirman, ﴾ فَأَوۡلَىٰ لَهُمۡ 20 طَاعَةٞ وَقَوۡلٞ مَّعۡرُوفٞۚ ﴿ "Dan lebih utama bagi mereka, taat dan mengucapkan perkataan yang baik." Artinya, lebih baik mereka mengerjakan perin-tah yang ada, yang harus dikerjakan oleh mereka serta memusat-kan perhatian mereka untuk melaksanakannya dan jangan terburu-buru mengharapkan sesuatu yang berat, supaya mereka merasa senang dengan keselamatan dan ampunan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ فَإِذَا عَزَمَ ٱلۡأَمۡرُ ﴿ "Apabila telah tetap perintah," yakni, perintah serius dan mengharuskan, maka dalam kondisi seperti ini, ﴾ صَدَقُواْ ٱللَّهَ ﴿ "mereka benar (imannya) terhadap Allah," dengan meminta pertolongan kepadaNya serta mencurahkan segenap tenaga untuk menunaikan-nya, ﴾ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡ ﴿ "niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka," daripada kondisi sebelumnya karena beberapa hal, di antaranya adalah: Pertama, seorang hamba yang kurang di berbagai halnya tidak memiliki kemampuan apa pun kecuali jika Allah سبحانه وتعالى memberi-nya pertolongan, karena itulah jangan meminta lebih dari perintah yang ada. Kedua, seorang hamba jika jiwanya bergantung pada sesuatu yang akan datang, maka amalnya akan lemah dan tidak mampu menunaikan tugasnya yang ada karena memikirkan tugas yang akan datang, sebab –dalam kaitannya dengan tugas yang ada– idealismenya telah berpindah pada yang lain di mana aktivitas seseorang itu mengikuti idealismenya. Sedangkan berkaitan dengan yang akan datang, tidaklah pe-rintah datang melainkan idealismenya telah menurun dan lemah untuk mengerjakannya sehingga tidak bisa ditolong. Ketiga, orang yang banyak memiliki berbagai angan untuk masa mendatang, padahal malas untuk mengerjakan tugas yang ada sama seperti pemimpi yang bertekad untuk mengerjakan semua tugas yang akan dihadapi pada waktu yang akan datang, sehingga orang seperti ini patut dicela karena tidak mau menunaikan tugas yang dikiranya bisa ditunaikan. Sepatutnya seorang hamba mengonsentrasikan idealisme, pikiran dan kegiatannya untuk menghadapi tugas yang ada dan menunaikan tugasnya berdasarkan kemampuan, setiap kali waktu tiba selalu dihadapi dengan semangat, idealisme tinggi yang terkonsentrasi dan tidak tercerai berai, disertai dengan me-minta pertolongan para Rabbnya dalam menghadapi semua itu. Dan orang seperti ini layak mendapatkan pertolongan di berbagai halnya. (22) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang yang berpa-ling dari ketaatan terhadap Rabbnya, ia tidak berpaling menuju kebaikan melainkan menuju keburukan. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَطِّعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ﴿ "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan." Artinya, terdapat dua hal; konsisten dalam menaati Allah سبحانه وتعالى serta menjalankan semua perintahNya dan di sanalah terdapat kebaikan, petunjuk, dan keberuntungan, atau berpaling dari hal itu serta berpaling untuk tidak menaati Allah سبحانه وتعالى, maka tidak terdapat apa pun dalam hal ini melainkan kerusakan di muka bumi, karena mengerjakan berbagai kemaksiatan dan memutuskan tali kekeluargaan. (23) ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang," yakni, yang ber-buat kerusakan di muka bumi dan memutuskan tali kekeluargaan, ﴾ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ ﴿ "dilaknati Allah," dengan menjauhkan mereka dari rahmat-Nya dan mendekatkan mereka pada murkaNya, ﴾ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ ﴿ "dan ditulikanNya telinga mereka dan dibutakanNya penglihatan mereka." Artinya, Allah سبحانه وتعالى menjadikan mereka tidak bisa mendengar nasihat dan petuah yang membawa manfaat bagi mereka serta tidak dapat melihatnya. Mereka memiliki telinga tetapi tidak bisa mendengar secara taat dan menerima, mereka hanya mendengar namun hanya sebagai tegaknya hujjah Allah سبحانه وتعالى. Mereka memiliki mata tetapi tidak bisa melihat berbagai pelajaran dan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, tidak digunakan untuk menengok berbagai bukti dan penjelasan nyata.

Muhammad 47:24

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an atau-kah hati mereka terkunci?" (Muhammad: 24). (24) Artinya, apakah mereka yang berpaling dari Kitab Allah itu tidak mau mencerna Kitab Allah tersebut serta merenungkannya dengan sebenar-benarnya? Andai mereka mau merenungkannya, tentu al-Qur`an akan menunjukkan mereka pada semua kebaikan dan mengingatkan mereka dari semua keburukan serta tentu hati mereka akan dipenuhi keimanan dan keyakinan, menyampaikan mereka pada harapan tertinggi serta karunia yang paling mahal, akan menunjukkan kepada mereka jalan yang mengantarkan me-reka kepada Allah سبحانه وتعالى, surga Allah سبحانه وتعالى serta menunjukkan mereka hal-hal yang dapat menyempurnakannya, dan sebaliknya hal-hal yang dapat merusaknya, menjelaskan kepada mereka jalan yang bisa menyampaikan ke neraka dan akan diingatkan dari segala sesuatu yang harus diwaspadai. Dengan merenungkan al-Qur`an, mereka akan mengenal Rabb mereka, nama-nama, sifat-sifat serta kebaikan Allah سبحانه وتعالى, tentu mereka akan diberi rasa rindu untuk men-dapatkan pahala yang agung serta menanamkan rasa takut dari siksaan yang menghinakan dalam diri mereka. ﴾ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ ﴿ "Ataukah hati mereka terkunci," artinya, hati mereka telah terkunci karena mereka berpaling, lalai dan menentang al-Qur`an, sampai hati mereka dikunci sehingga kebaikan tidak bisa masuk selama-nya? Dan inilah realitanya.

Muhammad 47:25

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu me-reka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,' dan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa me-reka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya, sebab itu Allah mengha-pus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 25-28). (25) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kondisi orang-orang murtad dari petunjuk dan iman dan mundur ke belakang menuju kesesatan dan kekufuran bukan berdasarkan suatu dalil yang me-nunjukkan mereka dan juga tanpa penjelasan yang nyata, namun kemurtadan mereka itu karena ajakan musuh mereka (setan), ke-batilan yang dihiasi oleh setan, sehingga terlihat baik bagi mereka serta dikte yang dilakukan setan kepada mereka. ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan memberi mereka janji dan angan-angan dan tidaklah mereka diberi janji (oleh setan) melainkan hanya tipuan (belaka)." (An-Nisa`: 120). (26) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena telah jelas petunjuk pada mereka namun mereka tidak mau menerima tapi menolaknya, dan mereka (orang-orang munafik) i t u ﴾ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ ﴿ "berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah," dari orang-orang yang menampakkan permusuh-an kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan," yakni orang-orang yang memiliki keinginan sama dengan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan kesesatan dan menempatkan mereka tetap berada pada jalur yang akan menyampaikan mereka pada kesengsaraan dan siksa abadi, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui rahasia mereka," dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى membuka kedok mereka serta dijelaskan pada hamba-hambaNya yang beriman agar tidak tertipu. (27) ﴾ فَكَيۡفَ ﴿ "Bagaimanakah," engkau melihat kondisi mereka yang buruk serta pemandangan mereka yang mengerikan,﴾ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka," yakni para malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa mereka,﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "seraya memukul muka dan punggung mereka," dengan alat pemukul secara keras. (28) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah azab yang mereka dapatkan disebabkan ﴾ بِأَنَّهُمُ ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah," seperti kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan, ﴾ وَكَرِهُواْ رِضۡوَٰنَهُۥ ﴿ "dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya," se-hingga mereka tidak memiliki kesenangan yang bisa mendekatkan mereka kepadanya. ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka," yaitu menghapuskan dan melenyapkan amal-amal mereka. Tidak seperti halnya orang-orang yang mengikuti apa pun yang mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى serta membenci segala sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaanNya, orang se-perti ini akan dihapus kesalahan-kesalahannya oleh Allah سبحانه وتعالى dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah سبحانه وتعالى.

Muhammad 47:26

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu me-reka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,' dan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa me-reka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya, sebab itu Allah mengha-pus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 25-28). (25) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kondisi orang-orang murtad dari petunjuk dan iman dan mundur ke belakang menuju kesesatan dan kekufuran bukan berdasarkan suatu dalil yang me-nunjukkan mereka dan juga tanpa penjelasan yang nyata, namun kemurtadan mereka itu karena ajakan musuh mereka (setan), ke-batilan yang dihiasi oleh setan, sehingga terlihat baik bagi mereka serta dikte yang dilakukan setan kepada mereka. ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan memberi mereka janji dan angan-angan dan tidaklah mereka diberi janji (oleh setan) melainkan hanya tipuan (belaka)." (An-Nisa`: 120). (26) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena telah jelas petunjuk pada mereka namun mereka tidak mau menerima tapi menolaknya, dan mereka (orang-orang munafik) i t u ﴾ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ ﴿ "berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah," dari orang-orang yang menampakkan permusuh-an kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan," yakni orang-orang yang memiliki keinginan sama dengan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan kesesatan dan menempatkan mereka tetap berada pada jalur yang akan menyampaikan mereka pada kesengsaraan dan siksa abadi, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui rahasia mereka," dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى membuka kedok mereka serta dijelaskan pada hamba-hambaNya yang beriman agar tidak tertipu. (27) ﴾ فَكَيۡفَ ﴿ "Bagaimanakah," engkau melihat kondisi mereka yang buruk serta pemandangan mereka yang mengerikan,﴾ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka," yakni para malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa mereka,﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "seraya memukul muka dan punggung mereka," dengan alat pemukul secara keras. (28) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah azab yang mereka dapatkan disebabkan ﴾ بِأَنَّهُمُ ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah," seperti kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan, ﴾ وَكَرِهُواْ رِضۡوَٰنَهُۥ ﴿ "dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya," se-hingga mereka tidak memiliki kesenangan yang bisa mendekatkan mereka kepadanya. ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka," yaitu menghapuskan dan melenyapkan amal-amal mereka. Tidak seperti halnya orang-orang yang mengikuti apa pun yang mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى serta membenci segala sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaanNya, orang se-perti ini akan dihapus kesalahan-kesalahannya oleh Allah سبحانه وتعالى dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah سبحانه وتعالى.

Muhammad 47:27

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu me-reka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,' dan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa me-reka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya, sebab itu Allah mengha-pus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 25-28). (25) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kondisi orang-orang murtad dari petunjuk dan iman dan mundur ke belakang menuju kesesatan dan kekufuran bukan berdasarkan suatu dalil yang me-nunjukkan mereka dan juga tanpa penjelasan yang nyata, namun kemurtadan mereka itu karena ajakan musuh mereka (setan), ke-batilan yang dihiasi oleh setan, sehingga terlihat baik bagi mereka serta dikte yang dilakukan setan kepada mereka. ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan memberi mereka janji dan angan-angan dan tidaklah mereka diberi janji (oleh setan) melainkan hanya tipuan (belaka)." (An-Nisa`: 120). (26) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena telah jelas petunjuk pada mereka namun mereka tidak mau menerima tapi menolaknya, dan mereka (orang-orang munafik) i t u ﴾ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ ﴿ "berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah," dari orang-orang yang menampakkan permusuh-an kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan," yakni orang-orang yang memiliki keinginan sama dengan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan kesesatan dan menempatkan mereka tetap berada pada jalur yang akan menyampaikan mereka pada kesengsaraan dan siksa abadi, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui rahasia mereka," dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى membuka kedok mereka serta dijelaskan pada hamba-hambaNya yang beriman agar tidak tertipu. (27) ﴾ فَكَيۡفَ ﴿ "Bagaimanakah," engkau melihat kondisi mereka yang buruk serta pemandangan mereka yang mengerikan,﴾ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka," yakni para malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa mereka,﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "seraya memukul muka dan punggung mereka," dengan alat pemukul secara keras. (28) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah azab yang mereka dapatkan disebabkan ﴾ بِأَنَّهُمُ ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah," seperti kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan, ﴾ وَكَرِهُواْ رِضۡوَٰنَهُۥ ﴿ "dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya," se-hingga mereka tidak memiliki kesenangan yang bisa mendekatkan mereka kepadanya. ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka," yaitu menghapuskan dan melenyapkan amal-amal mereka. Tidak seperti halnya orang-orang yang mengikuti apa pun yang mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى serta membenci segala sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaanNya, orang se-perti ini akan dihapus kesalahan-kesalahannya oleh Allah سبحانه وتعالى dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah سبحانه وتعالى.

Muhammad 47:28

"Sesungguhnya orang-orang yang berbalik (kepada kekafiran) setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu me-reka dan memanjangkan angan-angan mereka. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) itu berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah (orang-orang Yahudi), 'Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,' dan Allah mengetahui rahasia mereka. Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat (maut) mencabut nyawa me-reka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya, sebab itu Allah mengha-pus (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 25-28). (25) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kondisi orang-orang murtad dari petunjuk dan iman dan mundur ke belakang menuju kesesatan dan kekufuran bukan berdasarkan suatu dalil yang me-nunjukkan mereka dan juga tanpa penjelasan yang nyata, namun kemurtadan mereka itu karena ajakan musuh mereka (setan), ke-batilan yang dihiasi oleh setan, sehingga terlihat baik bagi mereka serta dikte yang dilakukan setan kepada mereka. ﴾ يَعِدُهُمۡ وَيُمَنِّيهِمۡۖ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا 120 ﴿ "Setan memberi mereka janji dan angan-angan dan tidaklah mereka diberi janji (oleh setan) melainkan hanya tipuan (belaka)." (An-Nisa`: 120). (26) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena telah jelas petunjuk pada mereka namun mereka tidak mau menerima tapi menolaknya, dan mereka (orang-orang munafik) i t u ﴾ قَالُواْ لِلَّذِينَ كَرِهُواْ مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ ﴿ "berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan Allah," dari orang-orang yang menampakkan permusuh-an kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ سَنُطِيعُكُمۡ فِي بَعۡضِ ٱلۡأَمۡرِۖ ﴿ "Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan," yakni orang-orang yang memiliki keinginan sama dengan mereka. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan kesesatan dan menempatkan mereka tetap berada pada jalur yang akan menyampaikan mereka pada kesengsaraan dan siksa abadi, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ إِسۡرَارَهُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui rahasia mereka," dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى membuka kedok mereka serta dijelaskan pada hamba-hambaNya yang beriman agar tidak tertipu. (27) ﴾ فَكَيۡفَ ﴿ "Bagaimanakah," engkau melihat kondisi mereka yang buruk serta pemandangan mereka yang mengerikan,﴾ إِذَا تَوَفَّتۡهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ﴿ "apabila malaikat (maut) mencabut nyawa mereka," yakni para malaikat yang ditugaskan untuk mencabut nyawa mereka,﴾ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُمۡ ﴿ "seraya memukul muka dan punggung mereka," dengan alat pemukul secara keras. (28) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah azab yang mereka dapatkan disebabkan ﴾ بِأَنَّهُمُ ٱتَّبَعُواْ مَآ أَسۡخَطَ ٱللَّهَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemurkaan Allah," seperti kekufuran, kefasikan, dan pembangkangan, ﴾ وَكَرِهُواْ رِضۡوَٰنَهُۥ ﴿ "dan (karena) mereka membenci (apa yang menimbulkan) keridhaanNya," se-hingga mereka tidak memiliki kesenangan yang bisa mendekatkan mereka kepadanya. ﴾ فَأَحۡبَطَ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "Sebab itu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka," yaitu menghapuskan dan melenyapkan amal-amal mereka. Tidak seperti halnya orang-orang yang mengikuti apa pun yang mendatangkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى serta membenci segala sesuatu yang bisa menimbulkan kemurkaanNya, orang se-perti ini akan dihapus kesalahan-kesalahannya oleh Allah سبحانه وتعالى dan pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah سبحانه وتعالى.

Muhammad 47:29

"Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Muhammad: 29-31). (29) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira," yakni seperti penyakit syubhat atau syahwat yang bisa mengeluarkan hati dari kondisinya yang bersih dan lurus; bahwasanya Allah سبحانه وتعالى tidak akan mencabut kedengkian dan permusuhan dari hati mereka ter-hadap Islam dan kaum Muslimin? Ini adalah dugaan yang tidak patut bagi kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى, karena Allah سبحانه وتعالى pasti membeda-kan antara orang yang benar dan orang yang dusta dengan cara diberi ujian dan berbagai musibah yang bagi siapa pun yang ke-imanannya tetap kokoh, maka dialah orang yang beriman sejati dan siapa pun yang balik ke belakang dan tidak bersabar ketika ditimpa ujian, merasa sedih serta imannya melemah, pada saat itu keluarlah kedengkian dalam hati mereka dan kemunafikannya bisa terlihat jelas. Inilah tuntutan hikmah yang ditetapkan Allah. (30) Padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَأَرَيۡنَٰكَهُمۡ فَلَعَرَفۡتَهُم بِسِيمَٰهُمۡۚ ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepa-damu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya," yakni tanda-tanda mereka semacam guratan di wajah mereka, ﴾ وَلَتَعۡرِفَنَّهُمۡ فِي لَحۡنِ ٱلۡقَوۡلِۚ ﴿ "dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka," yakni, yang disimpan di hati mereka itu pasti terlihat jelas dalam kata-kata kiasan mereka, sebab lisan adalah ruang pengenalan hati yang bisa menampakkan kebaikan atau keburukan yang tersimpan di dalam hati, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu," sehingga kalian akan dibalas atas perbuatan-perbuatan kalian itu. (31) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ujian terberat yang diberikan pada hamba-hambaNya, yaitu jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu." Artinya, Kami akan menguji keimanan dan ke-sabaran kalian, ﴾ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ﴿ "agar Kami menge-tahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu," maka barangsiapa yang menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan berjuang di jalanNya untuk menolong agamaNya dan meninggikan kalimatNya, maka dialah Mukmin sejati, dan barangsiapa yang bermalas-malasan untuk berjihad, maka itulah kekurangan yang terdapat dalam keimanan mereka.

Muhammad 47:30

"Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Muhammad: 29-31). (29) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira," yakni seperti penyakit syubhat atau syahwat yang bisa mengeluarkan hati dari kondisinya yang bersih dan lurus; bahwasanya Allah سبحانه وتعالى tidak akan mencabut kedengkian dan permusuhan dari hati mereka ter-hadap Islam dan kaum Muslimin? Ini adalah dugaan yang tidak patut bagi kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى, karena Allah سبحانه وتعالى pasti membeda-kan antara orang yang benar dan orang yang dusta dengan cara diberi ujian dan berbagai musibah yang bagi siapa pun yang ke-imanannya tetap kokoh, maka dialah orang yang beriman sejati dan siapa pun yang balik ke belakang dan tidak bersabar ketika ditimpa ujian, merasa sedih serta imannya melemah, pada saat itu keluarlah kedengkian dalam hati mereka dan kemunafikannya bisa terlihat jelas. Inilah tuntutan hikmah yang ditetapkan Allah. (30) Padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَأَرَيۡنَٰكَهُمۡ فَلَعَرَفۡتَهُم بِسِيمَٰهُمۡۚ ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepa-damu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya," yakni tanda-tanda mereka semacam guratan di wajah mereka, ﴾ وَلَتَعۡرِفَنَّهُمۡ فِي لَحۡنِ ٱلۡقَوۡلِۚ ﴿ "dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka," yakni, yang disimpan di hati mereka itu pasti terlihat jelas dalam kata-kata kiasan mereka, sebab lisan adalah ruang pengenalan hati yang bisa menampakkan kebaikan atau keburukan yang tersimpan di dalam hati, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu," sehingga kalian akan dibalas atas perbuatan-perbuatan kalian itu. (31) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ujian terberat yang diberikan pada hamba-hambaNya, yaitu jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu." Artinya, Kami akan menguji keimanan dan ke-sabaran kalian, ﴾ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ﴿ "agar Kami menge-tahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu," maka barangsiapa yang menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan berjuang di jalanNya untuk menolong agamaNya dan meninggikan kalimatNya, maka dialah Mukmin sejati, dan barangsiapa yang bermalas-malasan untuk berjihad, maka itulah kekurangan yang terdapat dalam keimanan mereka.

Muhammad 47:31

"Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu." (Muhammad: 29-31). (29) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَمۡ حَسِبَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ ﴿ "Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira," yakni seperti penyakit syubhat atau syahwat yang bisa mengeluarkan hati dari kondisinya yang bersih dan lurus; bahwasanya Allah سبحانه وتعالى tidak akan mencabut kedengkian dan permusuhan dari hati mereka ter-hadap Islam dan kaum Muslimin? Ini adalah dugaan yang tidak patut bagi kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى, karena Allah سبحانه وتعالى pasti membeda-kan antara orang yang benar dan orang yang dusta dengan cara diberi ujian dan berbagai musibah yang bagi siapa pun yang ke-imanannya tetap kokoh, maka dialah orang yang beriman sejati dan siapa pun yang balik ke belakang dan tidak bersabar ketika ditimpa ujian, merasa sedih serta imannya melemah, pada saat itu keluarlah kedengkian dalam hati mereka dan kemunafikannya bisa terlihat jelas. Inilah tuntutan hikmah yang ditetapkan Allah. (30) Padahal Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ نَشَآءُ لَأَرَيۡنَٰكَهُمۡ فَلَعَرَفۡتَهُم بِسِيمَٰهُمۡۚ ﴿ "Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepa-damu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya," yakni tanda-tanda mereka semacam guratan di wajah mereka, ﴾ وَلَتَعۡرِفَنَّهُمۡ فِي لَحۡنِ ٱلۡقَوۡلِۚ ﴿ "dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka," yakni, yang disimpan di hati mereka itu pasti terlihat jelas dalam kata-kata kiasan mereka, sebab lisan adalah ruang pengenalan hati yang bisa menampakkan kebaikan atau keburukan yang tersimpan di dalam hati, ﴾ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu," sehingga kalian akan dibalas atas perbuatan-perbuatan kalian itu. (31) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ujian terberat yang diberikan pada hamba-hambaNya, yaitu jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَنَبۡلُوَنَّكُمۡ ﴿ "Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu." Artinya, Kami akan menguji keimanan dan ke-sabaran kalian, ﴾ حَتَّىٰ نَعۡلَمَ ٱلۡمُجَٰهِدِينَ مِنكُمۡ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبۡلُوَاْ أَخۡبَارَكُمۡ ﴿ "agar Kami menge-tahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu," maka barangsiapa yang menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan berjuang di jalanNya untuk menolong agamaNya dan meninggikan kalimatNya, maka dialah Mukmin sejati, dan barangsiapa yang bermalas-malasan untuk berjihad, maka itulah kekurangan yang terdapat dalam keimanan mereka.

Muhammad 47:32

"Sesungguhnya orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah serta memusuhi rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, mereka tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikitpun. Dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka." (Muhammad: 32). (32) Ini merupakan ancaman keras bagi orang yang me-ngumpulkan semua keburukan mulai dari kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى, menghalangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى yang Allah bentangkan untuk sampai kepadaNya, ﴾ وَشَآقُّواْ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلۡهُدَىٰ ﴿ "serta me-musuhi Rasul setelah petunjuk itu jelas bagi mereka." Artinya, mereka memusuhi dan menentang petunjuk secara sengaja dan membang-kang, bukan karena ketidaktahuan dan tersesat. Mereka itu ﴾ لَن يَضُرُّواْ ٱللَّهَ شَيۡـٔٗا ﴿ "tidak dapat memberi mudarat kepada Allah sedikitpun." Permu-suhan dan penentangan mereka itu tidak akan mengurangi kekua-saan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَسَيُحۡبِطُ أَعۡمَٰلَهُمۡ ﴿ "dan Allah akan menghapuskan (pahala) amal-amal mereka." Semua usaha yang pernah mereka lakukan da-lam menolong kebatilan akan dihapus oleh Allah سبحانه وتعالى karena tidak membuahkan apa pun selain kerugian. Semua amal mereka yang diharapkan mendapatkan pahala tidak diterima Allah سبحانه وتعالى karena tidak memenuhi syarat amal yang bisa diterima.

Muhammad 47:33

"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." (Muhammad: 33). (33) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan orang-orang Mukmin dengan suatu perintah yang merupakan pelengkap segala urusan mereka dan agar kebahagiaan mereka, baik di dunia maupun di akhirat tercapai, yaitu menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya di berbagai masalah-masalah pokok Agama maupun cabang-cabangnya. Taat adalah menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi semua yang dilarang sebagaimana yang diperintahkan dengan ikhlas dan mengikuti Sunnah Rasulullah a secara sempurna. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَا تُبۡطِلُوٓاْ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu merusak-kan (pahala) amal-amalmu," mencakup larangan untuk merusak amal setelah dilakukan, seperti dengan cara selalu membicarakannya, membangga-banggakannya, serta mempublikasikannya kepada orang lain, juga berbagai kemaksiatan yang bisa menggugurkan pahala amal baik. Larangan ini juga mencakup larangan untuk merusak amalan pada waktu dilakukan dengan cara diputus atau dengan melakukan hal-hal yang bisa merusaknya. Semua hal yang bisa membatalkan shalat, puasa, haji dan lainnya termasuk dalam hal ini dan juga dilarang. Dengan ayat ini para ulama fikih berdalil atas haramnya membatalkan amalan wajib serta makruhnya membatalkan amalan sunnah tanpa alasan yang mewajibkan pembatalan tersebut. Karena Allah سبحانه وتعالى melarang kita untuk membatalkan amalan, maka larangan tersebut sebagai perintah bagi kita untuk memperbaiki serta me-nyempurnakan amalan serta menunaikannya secara layak, baik dari segi ilmu maupun praktik.

Muhammad 47:34

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamu-lah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu." (Muhammad: 34-35). (34) Ayat ini dan ayat lain yang terdapat dalam surat al-Baqarah, ﴾ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat," (Al-Baqarah: 217), adalah sebagai pembatas kemut-lakan semua nash tentang gugurnya amalan karena kekufuran. Yakni, gugurnya amal karena kekufuran dibatasi dengan kematian orang bersangkutan dalam kekufuran. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang yang kafir," terhadap Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى, rasul-rasul Allah سبحانه وتعالى, dan Hari Akhir, ﴾ وَصَدُّواْ ﴿ "dan mengha-langi" manusia ﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dari jalan Allah," dengan cara mendorong mereka agar tidak menerima kebenaran dan diajak kepada keba-tilan serta dihias-hiasi, ﴾ ثُمَّ مَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٞ ﴿ "kemudian mereka mati dalam keadaan kafir," sebelum bertaubat, ﴾ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡ ﴿ "maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka," tidak dengan syafa'at atau lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى telah memastikan azab atas mereka. Me-reka telah kehilangan pahala dan Allah سبحانه وتعالى telah mewajibkan mereka untuk kekal di dalam neraka, serta rahmat dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Menyayangi dan Maha Mengampuni telah ditutup untuk mereka. Makna tersirat dari ayat ini adalah bahwa jika mereka bertau-bat dari kekufuran sebelum ajal menjelang, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dan merahmati mereka, serta memasukkan mereka ke dalam surga, meski mereka menghabiskan usia dalam kekufuran dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى serta melaku-kan berbagai kemaksiatan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى yang membukakan pintu-pintu rahmat untuk para hambaNya dan tidak menutupnya dari seorang pun selama yang bersangkutan masih hidup dan masih mungkin bertaubat. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى Yang Mahasabar yang tidak menyegerakan siksaan bagi mereka yang durhaka, Allah سبحانه وتعالى justru mengampuni mereka dan memberi mereka rizki seolah-olah mereka tidak pernah mendurhakaiNya padahal Allah سبحانه وتعالى Kuasa untuk se-gera menyiksa mereka. (35) Selanjutnya Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَهِنُواْ ﴿ "Janganlah kamu lemah," yakni, janganlah kalian lemah untuk memerangi musuh-musuh kalian, sehingga kalian akan diliputi rasa takut, tapi hendaklah kalian bersabar, kokohkan hati, kuatkan diri kalian untuk berperang demi mengharap ridha Rabb kalian serta sebagai nasihat untuk Islam dan agar setan marah. ﴾ وَ﴿ "Dan" janganlah kalian ﴾ وَتَدۡعُوٓاْ إِلَى ﴿ "minta" berdamai dan saling membiarkan antara kalian dan musuh kalian demi mengharapkan kesenangan, ﴾ وَ﴿ "padahal," keadaannya ﴾ أ َ ن ْ ت ُ م ُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ وَٱللَّهُ مَعَكُمۡ وَلَن يَتِرَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "kamulah yang di atas dan Allah(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan me-ngurangi (pahala) amal-amalmu," yakni, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengu-rangi pahala dari amal kalian. Ketiga hal di atas masing-masingnya mewujudkan kesabaran dan menghilangkan rasa takut. Pertama, predikat mereka sebagai orang-orang yang di atas, maksudnya telah tercapai berbagai faktor kemenangan dan juga diberi janji yang benar oleh Allah سبحانه وتعالى. Seseorang tidak akan lemah kecuali jika yang bersangkutan paling rendah dari yang lain, jumlah, peralatan, serta kekuatan lebih kecil, baik internal maupun eksternal. Kedua, Allah سبحانه وتعالى bersama mereka, karena mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى akan selalu bersama orang Mukmin dengan pertolongan, kemenangan, dan pengukuhan. Hal ini akan menimbulkan kekuatan dalam hati dan membuat mereka berani maju menghadapi musuh. Ketiga, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengurangi pahala amal mereka sama sekali, justru Allah سبحانه وتعالى akan menyempurnakan dan menam-bahinya, karena kemurahanNya, khususnya bagi hamba-hambaNya yang berjihad, karena dana yang diperlukan dalam jihad itu ber-lipat-lipat. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 120 وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 121 ﴿ "Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menim-pakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu pahala amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (At-Taubah: 120-121). Manakala seseorang mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan amal dan jihadnya, maka hal itu akan menimbul-kan semangat baginya sehingga segenap usaha akan dicurahkan untuk mendapatkan pahala. Lantas bagaimana halnya jika ketiga hal tersebut terdapat dalam diri seseorang? Hal itu akan menim-bulkan dorongan semangat yang amat sempurna. Itulah cara Allah سبحانه وتعالى memberikan dorongan, kecintaan, serta penguatan hati hamba-hambaNya untuk melakukan pekerjaan yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan bagi mereka.

Muhammad 47:35

"Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. Janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamu-lah yang di atas dan Allah-(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu." (Muhammad: 34-35). (34) Ayat ini dan ayat lain yang terdapat dalam surat al-Baqarah, ﴾ وَمَن يَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَيَمُتۡ وَهُوَ كَافِرٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat," (Al-Baqarah: 217), adalah sebagai pembatas kemut-lakan semua nash tentang gugurnya amalan karena kekufuran. Yakni, gugurnya amal karena kekufuran dibatasi dengan kematian orang bersangkutan dalam kekufuran. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Sesungguh-nya orang-orang yang kafir," terhadap Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى, rasul-rasul Allah سبحانه وتعالى, dan Hari Akhir, ﴾ وَصَدُّواْ ﴿ "dan mengha-langi" manusia ﴾ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "dari jalan Allah," dengan cara mendorong mereka agar tidak menerima kebenaran dan diajak kepada keba-tilan serta dihias-hiasi, ﴾ ثُمَّ مَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٞ ﴿ "kemudian mereka mati dalam keadaan kafir," sebelum bertaubat, ﴾ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡ ﴿ "maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka," tidak dengan syafa'at atau lainnya, karena Allah سبحانه وتعالى telah memastikan azab atas mereka. Me-reka telah kehilangan pahala dan Allah سبحانه وتعالى telah mewajibkan mereka untuk kekal di dalam neraka, serta rahmat dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Menyayangi dan Maha Mengampuni telah ditutup untuk mereka. Makna tersirat dari ayat ini adalah bahwa jika mereka bertau-bat dari kekufuran sebelum ajal menjelang, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengampuni dan merahmati mereka, serta memasukkan mereka ke dalam surga, meski mereka menghabiskan usia dalam kekufuran dan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah سبحانه وتعالى serta melaku-kan berbagai kemaksiatan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى yang membukakan pintu-pintu rahmat untuk para hambaNya dan tidak menutupnya dari seorang pun selama yang bersangkutan masih hidup dan masih mungkin bertaubat. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى Yang Mahasabar yang tidak menyegerakan siksaan bagi mereka yang durhaka, Allah سبحانه وتعالى justru mengampuni mereka dan memberi mereka rizki seolah-olah mereka tidak pernah mendurhakaiNya padahal Allah سبحانه وتعالى Kuasa untuk se-gera menyiksa mereka. (35) Selanjutnya Allah تعالى berfirman, ﴾ فَلَا تَهِنُواْ ﴿ "Janganlah kamu lemah," yakni, janganlah kalian lemah untuk memerangi musuh-musuh kalian, sehingga kalian akan diliputi rasa takut, tapi hendaklah kalian bersabar, kokohkan hati, kuatkan diri kalian untuk berperang demi mengharap ridha Rabb kalian serta sebagai nasihat untuk Islam dan agar setan marah. ﴾ وَ﴿ "Dan" janganlah kalian ﴾ وَتَدۡعُوٓاْ إِلَى ﴿ "minta" berdamai dan saling membiarkan antara kalian dan musuh kalian demi mengharapkan kesenangan, ﴾ وَ﴿ "padahal," keadaannya ﴾ أ َ ن ْ ت ُ م ُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ وَٱللَّهُ مَعَكُمۡ وَلَن يَتِرَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ ﴿ "kamulah yang di atas dan Allah(pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan me-ngurangi (pahala) amal-amalmu," yakni, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengu-rangi pahala dari amal kalian. Ketiga hal di atas masing-masingnya mewujudkan kesabaran dan menghilangkan rasa takut. Pertama, predikat mereka sebagai orang-orang yang di atas, maksudnya telah tercapai berbagai faktor kemenangan dan juga diberi janji yang benar oleh Allah سبحانه وتعالى. Seseorang tidak akan lemah kecuali jika yang bersangkutan paling rendah dari yang lain, jumlah, peralatan, serta kekuatan lebih kecil, baik internal maupun eksternal. Kedua, Allah سبحانه وتعالى bersama mereka, karena mereka adalah orang-orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى akan selalu bersama orang Mukmin dengan pertolongan, kemenangan, dan pengukuhan. Hal ini akan menimbulkan kekuatan dalam hati dan membuat mereka berani maju menghadapi musuh. Ketiga, Allah سبحانه وتعالى tidak akan mengurangi pahala amal mereka sama sekali, justru Allah سبحانه وتعالى akan menyempurnakan dan menam-bahinya, karena kemurahanNya, khususnya bagi hamba-hambaNya yang berjihad, karena dana yang diperlukan dalam jihad itu ber-lipat-lipat. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ لَا يُصِيبُهُمۡ ظَمَأٞ وَلَا نَصَبٞ وَلَا مَخۡمَصَةٞ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا يَطَـُٔونَ مَوۡطِئٗا يَغِيظُ ٱلۡكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنۡ عَدُوّٖ نَّيۡلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِۦ عَمَلٞ صَٰلِحٌۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجۡرَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ 120 وَلَا يُنفِقُونَ نَفَقَةٗ صَغِيرَةٗ وَلَا كَبِيرَةٗ وَلَا يَقۡطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمۡ لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 121 ﴿ "Yang demikian itu ialah karena mereka tidaklah ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menim-pakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu pahala amal shalih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shalih pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (At-Taubah: 120-121). Manakala seseorang mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menyia-nyiakan amal dan jihadnya, maka hal itu akan menimbul-kan semangat baginya sehingga segenap usaha akan dicurahkan untuk mendapatkan pahala. Lantas bagaimana halnya jika ketiga hal tersebut terdapat dalam diri seseorang? Hal itu akan menim-bulkan dorongan semangat yang amat sempurna. Itulah cara Allah سبحانه وتعالى memberikan dorongan, kecintaan, serta penguatan hati hamba-hambaNya untuk melakukan pekerjaan yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan bagi mereka.

Muhammad 47:36

"Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan mem-berikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (Muhammad: 36-38). (36-37) Ini adalah dorongan dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya agar bersikap zuhud dalam kehidupan dunia, dengan cara memberitahukan mereka hakikat dunia, yaitu bahwa dunia adalah permainan dan senda gurau; permainan jasmaniah dan senda gurau dalam hati. Orang akan senantiasa bersenda gurau dengan harta, anak, perhiasan, kenikmatan yang didapat dari istri, makanan, minuman, tempat tinggal, tempat duduk, pemandangan dan kepemimpinan, juga bermain-main dengan berbagai aktivitas yang tidak ada gunanya, justru berporos antara kebatilan, kelalaian dan kemaksiatan, hingga menghabiskan umur dunianya dan ajal-nya tiba. Semua hal-hal duniawi akan berpaling dan meninggalkan-nya dan sedikit pun tidak akan didapatkan oleh seseorang, bahkan jelas-jelas nampak kerugiannya, terhalang dari pahala serta datang siksanya. Hal ini mengharuskan mereka yang berakal untuk ber-sikap zuhud terhadap dunia, tidak terlalu mencintai dunia serta tidak terlalu mencurahkan perhatiannya pada keduniaan. Yang harus diperhatikan adalah seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa," yakni beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Akhir, bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى yang merupakan keharusan serta tuntutan keimanan, yaitu ber-amal meniti ridhaNya secara terus menerus dan menjauhi kemak-siatan. Inilah yang bisa membawa manfaat bagi manusia dan yang seharuskan dijadikan perlombaan, diperhatikan dan diluangkan segenap usaha dalam mencarinya. Dan itulah yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari hamba-hambaNya sebagai rahmat dan kelem-butan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka agar mereka diberi balasan yang besar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ يُؤۡتِكُمۡ أُجُورَكُمۡ وَلَا يَسۡـَٔلۡكُمۡ أَمۡوَٰلَكُمۡ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-harta-mu." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak ingin membebankan sesuatu yang memberatkan kalian dan tidak ingin menyusahkan kalian dengan mengambil harta kalian sehingga kalian hidup tanpa harta atau mengurangi sesuatu yang membahayakan kalian. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن يَسۡـَٔلۡكُمُوهَا فَيُحۡفِكُمۡ تَبۡخَلُواْ وَيُخۡرِجۡ أَضۡغَٰنَكُمۡ ﴿ "Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan se-muanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedeng-kianmu," yakni, kalian menampakkan kedengkian yang ada di hati karena kalian dituntut untuk mencurahkan sesuatu yang tidak kalian senangi. (38) Dalil bahwa Allah سبحانه وتعالى, seandainya menuntut dan me-minta harta kalian berkali-kali, pasti kalian tidak akan memberi, adalah bahwa kalian ﴾ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "diajak untuk menafkah-kan (hartamu) pada jalan Allah," dalam bentuk tadi yang di situlah terdapat kebaikan kalian, baik duniawi maupun ukhrawi,﴾ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ ﴿ "maka di antara kamu ada orang yang kikir." Artinya, bagaimana seandainya Allah سبحانه وتعالى meminta dan menuntut harta kalian di luar hal yang menurut kalian tidak terdapat maslahatnya secara langsung, bukankah hal itu lebih membuatkan kalian untuk tidak memberi-kan harta? Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sen-diri." Karena itu artinya dia mencegah dirinya sendiri untuk men-dapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى dan dengan demikian ia kehilangan kebaikan yang banyak. Ia tidak berinfak pun sama sekali tidak membahayakan Allah سبحانه وتعالى, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ ﴿ "Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-(Nya)," yakni memerlukanNya di seluruh waktu dan dalam berba-gai urusan kalian. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika kamu berpaling," dari iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunaikan perintahNya, ﴾ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ﴿ "nis-caya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." Artinya, tidak seperti kalian yang ber-paling, tapi kaum ini menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta men-cintai Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa yang murtad dari kalian dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai (Allah) dan mereka mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Selesai tafsir Surat al-Qital (Muhammad). Segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9

Muhammad 47:37

"Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan mem-berikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (Muhammad: 36-38). (36-37) Ini adalah dorongan dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya agar bersikap zuhud dalam kehidupan dunia, dengan cara memberitahukan mereka hakikat dunia, yaitu bahwa dunia adalah permainan dan senda gurau; permainan jasmaniah dan senda gurau dalam hati. Orang akan senantiasa bersenda gurau dengan harta, anak, perhiasan, kenikmatan yang didapat dari istri, makanan, minuman, tempat tinggal, tempat duduk, pemandangan dan kepemimpinan, juga bermain-main dengan berbagai aktivitas yang tidak ada gunanya, justru berporos antara kebatilan, kelalaian dan kemaksiatan, hingga menghabiskan umur dunianya dan ajal-nya tiba. Semua hal-hal duniawi akan berpaling dan meninggalkan-nya dan sedikit pun tidak akan didapatkan oleh seseorang, bahkan jelas-jelas nampak kerugiannya, terhalang dari pahala serta datang siksanya. Hal ini mengharuskan mereka yang berakal untuk ber-sikap zuhud terhadap dunia, tidak terlalu mencintai dunia serta tidak terlalu mencurahkan perhatiannya pada keduniaan. Yang harus diperhatikan adalah seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa," yakni beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Akhir, bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى yang merupakan keharusan serta tuntutan keimanan, yaitu ber-amal meniti ridhaNya secara terus menerus dan menjauhi kemak-siatan. Inilah yang bisa membawa manfaat bagi manusia dan yang seharuskan dijadikan perlombaan, diperhatikan dan diluangkan segenap usaha dalam mencarinya. Dan itulah yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari hamba-hambaNya sebagai rahmat dan kelem-butan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka agar mereka diberi balasan yang besar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ يُؤۡتِكُمۡ أُجُورَكُمۡ وَلَا يَسۡـَٔلۡكُمۡ أَمۡوَٰلَكُمۡ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-harta-mu." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak ingin membebankan sesuatu yang memberatkan kalian dan tidak ingin menyusahkan kalian dengan mengambil harta kalian sehingga kalian hidup tanpa harta atau mengurangi sesuatu yang membahayakan kalian. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن يَسۡـَٔلۡكُمُوهَا فَيُحۡفِكُمۡ تَبۡخَلُواْ وَيُخۡرِجۡ أَضۡغَٰنَكُمۡ ﴿ "Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan se-muanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedeng-kianmu," yakni, kalian menampakkan kedengkian yang ada di hati karena kalian dituntut untuk mencurahkan sesuatu yang tidak kalian senangi. (38) Dalil bahwa Allah سبحانه وتعالى, seandainya menuntut dan me-minta harta kalian berkali-kali, pasti kalian tidak akan memberi, adalah bahwa kalian ﴾ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "diajak untuk menafkah-kan (hartamu) pada jalan Allah," dalam bentuk tadi yang di situlah terdapat kebaikan kalian, baik duniawi maupun ukhrawi,﴾ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ ﴿ "maka di antara kamu ada orang yang kikir." Artinya, bagaimana seandainya Allah سبحانه وتعالى meminta dan menuntut harta kalian di luar hal yang menurut kalian tidak terdapat maslahatnya secara langsung, bukankah hal itu lebih membuatkan kalian untuk tidak memberi-kan harta? Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sen-diri." Karena itu artinya dia mencegah dirinya sendiri untuk men-dapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى dan dengan demikian ia kehilangan kebaikan yang banyak. Ia tidak berinfak pun sama sekali tidak membahayakan Allah سبحانه وتعالى, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ ﴿ "Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-(Nya)," yakni memerlukanNya di seluruh waktu dan dalam berba-gai urusan kalian. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika kamu berpaling," dari iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunaikan perintahNya, ﴾ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ﴿ "nis-caya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." Artinya, tidak seperti kalian yang ber-paling, tapi kaum ini menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta men-cintai Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa yang murtad dari kalian dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai (Allah) dan mereka mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Selesai tafsir Surat al-Qital (Muhammad). Segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9

Muhammad 47:38

"Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan mem-berikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan semuanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedengkianmu. Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan(Nya); dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." (Muhammad: 36-38). (36-37) Ini adalah dorongan dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya agar bersikap zuhud dalam kehidupan dunia, dengan cara memberitahukan mereka hakikat dunia, yaitu bahwa dunia adalah permainan dan senda gurau; permainan jasmaniah dan senda gurau dalam hati. Orang akan senantiasa bersenda gurau dengan harta, anak, perhiasan, kenikmatan yang didapat dari istri, makanan, minuman, tempat tinggal, tempat duduk, pemandangan dan kepemimpinan, juga bermain-main dengan berbagai aktivitas yang tidak ada gunanya, justru berporos antara kebatilan, kelalaian dan kemaksiatan, hingga menghabiskan umur dunianya dan ajal-nya tiba. Semua hal-hal duniawi akan berpaling dan meninggalkan-nya dan sedikit pun tidak akan didapatkan oleh seseorang, bahkan jelas-jelas nampak kerugiannya, terhalang dari pahala serta datang siksanya. Hal ini mengharuskan mereka yang berakal untuk ber-sikap zuhud terhadap dunia, tidak terlalu mencintai dunia serta tidak terlalu mencurahkan perhatiannya pada keduniaan. Yang harus diperhatikan adalah seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa," yakni beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, para malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Akhir, bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى yang merupakan keharusan serta tuntutan keimanan, yaitu ber-amal meniti ridhaNya secara terus menerus dan menjauhi kemak-siatan. Inilah yang bisa membawa manfaat bagi manusia dan yang seharuskan dijadikan perlombaan, diperhatikan dan diluangkan segenap usaha dalam mencarinya. Dan itulah yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى dari hamba-hambaNya sebagai rahmat dan kelem-butan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka agar mereka diberi balasan yang besar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ يُؤۡتِكُمۡ أُجُورَكُمۡ وَلَا يَسۡـَٔلۡكُمۡ أَمۡوَٰلَكُمۡ ﴿ "Dan jika kamu beriman serta bertakwa, maka Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-harta-mu." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak ingin membebankan sesuatu yang memberatkan kalian dan tidak ingin menyusahkan kalian dengan mengambil harta kalian sehingga kalian hidup tanpa harta atau mengurangi sesuatu yang membahayakan kalian. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن يَسۡـَٔلۡكُمُوهَا فَيُحۡفِكُمۡ تَبۡخَلُواْ وَيُخۡرِجۡ أَضۡغَٰنَكُمۡ ﴿ "Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu (supaya memberikan se-muanya), niscaya kamu akan kikir dan Dia akan menampakkan kedeng-kianmu," yakni, kalian menampakkan kedengkian yang ada di hati karena kalian dituntut untuk mencurahkan sesuatu yang tidak kalian senangi. (38) Dalil bahwa Allah سبحانه وتعالى, seandainya menuntut dan me-minta harta kalian berkali-kali, pasti kalian tidak akan memberi, adalah bahwa kalian ﴾ تُدۡعَوۡنَ لِتُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ﴿ "diajak untuk menafkah-kan (hartamu) pada jalan Allah," dalam bentuk tadi yang di situlah terdapat kebaikan kalian, baik duniawi maupun ukhrawi,﴾ فَمِنكُم مَّن يَبۡخَلُۖ ﴿ "maka di antara kamu ada orang yang kikir." Artinya, bagaimana seandainya Allah سبحانه وتعالى meminta dan menuntut harta kalian di luar hal yang menurut kalian tidak terdapat maslahatnya secara langsung, bukankah hal itu lebih membuatkan kalian untuk tidak memberi-kan harta? Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَبۡخَلۡ فَإِنَّمَا يَبۡخَلُ عَن نَّفۡسِهِۦۚ ﴿ "Dan siapa yang kikir, sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sen-diri." Karena itu artinya dia mencegah dirinya sendiri untuk men-dapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى dan dengan demikian ia kehilangan kebaikan yang banyak. Ia tidak berinfak pun sama sekali tidak membahayakan Allah سبحانه وتعالى, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ ٱلۡغَنِيُّ وَأَنتُمُ ٱلۡفُقَرَآءُۚ ﴿ "Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan-(Nya)," yakni memerlukanNya di seluruh waktu dan dalam berba-gai urusan kalian. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ ﴿ "Dan jika kamu berpaling," dari iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan menunaikan perintahNya, ﴾ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم ﴿ "nis-caya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)." Artinya, tidak seperti kalian yang ber-paling, tapi kaum ini menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta men-cintai Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَن يَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِينِهِۦ فَسَوۡفَ يَأۡتِي ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ يُحِبُّهُمۡ وَيُحِبُّونَهُۥٓ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman! Barangsiapa yang murtad dari kalian dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai (Allah) dan mereka mencintaiNya." (Al-Ma`idah: 54). Selesai tafsir Surat al-Qital (Muhammad). Segala puji hanya bagi Allah semata, Rabb semesta alam. 9

Al-Fath 48:1

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu keme-nangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyem-purnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (Al-Fath: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kemenangan yang disebut di atas adalah Perjanjian Hudaibiyah yaitu ketika kaum musyrikin mencegah Rasulullah a yang hendak melaksanakan umrah sebagaimana yang tertera dalam kisah yang panjang.[90] Di akhir kisahnya Rasulullah a berdamai dengan mereka untuk tidak berperang di antara kedua belah pihak dalam waktu sepuluh tahun. Rasulullah a umrah pada tahun mendatang, bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak kaum Quraisy dipersilahkan dan bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak Rasulullah a dipersilahkan. Dampak baik dari perjanjian ini adalah ketika semua pihak saling memberi rasa aman satu sama lain, kawasan dakwah untuk agama Allah r pun semakin luas, sehingga semua orang yang ingin masuk Islam di wilayah mana pun kala itu bisa melakukannya, dan dimungkinkan bagi yang memiliki tekad bulat untuk mendalami hakikat Islam. Kemudian pada waktu itu orang-orang pun masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى secara bergelombang, dan karena itulah disebut oleh Allah سبحانه وتعالى seba-gai kemenangan dan juga kemenangan nyata, yaitu kemenangan yang jelas dan nampak. Karena yang dimaksudkan dari penaklukan negeri-negeri kaum musyrikin adalah agar Agama Allah سبحانه وتعالى tegak dan kaum Muslimin meraih kemenangan di mana hal ini tercapai dalam kemenangan tersebut. (2) Atas kemenangan itu, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beberapa hal berikutnya seraya berfirman, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Su-paya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang," hal itu disebabkan –wallahu a'lam– karena dampak baik perjanjian Hudaibiyah berupa berbagai ketaatan dan banyaknya orang yang masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى, dan juga karena kesabaran Rasulullah a dalam menanggung beban butir-butir perjanjian yang tidak akan bisa dipikul melainkan oleh rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati. Dan inilah salah satu kehebatan dan karamah Rasulullah a, yaitu dosa-dosa beliau yang telah ber-lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah سبحانه وتعالى , ﴾ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "serta menyempurnakan nikmatNya atasmu," dengan mengokoh-kan Agamamu dan memberikan kemenangan kepadamu atas musuh-musuhmu serta memperluas dakwahmu, ﴾ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," dengan jalan itu engkau mendapatkan kesenangan dan keberuntungan abadi. (3) ﴾ وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا ﴿ "Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat," yaitu pertolongan yang kuat yang dengannya Islam tidak akan tergoyahkan, justru akan diperoleh kemenangan sempurna serta menundukkan, merendahkan serta mengurangi jumlah orang-orang kafir, di samping terpenuhi dan berkembang-nya kekuatan kaum Muslimin serta banyaknya harta mereka. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dampak baik perjanjian ini atas orang-orang Mukmin seraya berfirman,

Al-Fath 48:2

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu keme-nangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyem-purnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (Al-Fath: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kemenangan yang disebut di atas adalah Perjanjian Hudaibiyah yaitu ketika kaum musyrikin mencegah Rasulullah a yang hendak melaksanakan umrah sebagaimana yang tertera dalam kisah yang panjang.[90] Di akhir kisahnya Rasulullah a berdamai dengan mereka untuk tidak berperang di antara kedua belah pihak dalam waktu sepuluh tahun. Rasulullah a umrah pada tahun mendatang, bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak kaum Quraisy dipersilahkan dan bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak Rasulullah a dipersilahkan. Dampak baik dari perjanjian ini adalah ketika semua pihak saling memberi rasa aman satu sama lain, kawasan dakwah untuk agama Allah r pun semakin luas, sehingga semua orang yang ingin masuk Islam di wilayah mana pun kala itu bisa melakukannya, dan dimungkinkan bagi yang memiliki tekad bulat untuk mendalami hakikat Islam. Kemudian pada waktu itu orang-orang pun masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى secara bergelombang, dan karena itulah disebut oleh Allah سبحانه وتعالى seba-gai kemenangan dan juga kemenangan nyata, yaitu kemenangan yang jelas dan nampak. Karena yang dimaksudkan dari penaklukan negeri-negeri kaum musyrikin adalah agar Agama Allah سبحانه وتعالى tegak dan kaum Muslimin meraih kemenangan di mana hal ini tercapai dalam kemenangan tersebut. (2) Atas kemenangan itu, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beberapa hal berikutnya seraya berfirman, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Su-paya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang," hal itu disebabkan –wallahu a'lam– karena dampak baik perjanjian Hudaibiyah berupa berbagai ketaatan dan banyaknya orang yang masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى, dan juga karena kesabaran Rasulullah a dalam menanggung beban butir-butir perjanjian yang tidak akan bisa dipikul melainkan oleh rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati. Dan inilah salah satu kehebatan dan karamah Rasulullah a, yaitu dosa-dosa beliau yang telah ber-lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah سبحانه وتعالى , ﴾ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "serta menyempurnakan nikmatNya atasmu," dengan mengokoh-kan Agamamu dan memberikan kemenangan kepadamu atas musuh-musuhmu serta memperluas dakwahmu, ﴾ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," dengan jalan itu engkau mendapatkan kesenangan dan keberuntungan abadi. (3) ﴾ وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا ﴿ "Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat," yaitu pertolongan yang kuat yang dengannya Islam tidak akan tergoyahkan, justru akan diperoleh kemenangan sempurna serta menundukkan, merendahkan serta mengurangi jumlah orang-orang kafir, di samping terpenuhi dan berkembang-nya kekuatan kaum Muslimin serta banyaknya harta mereka. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dampak baik perjanjian ini atas orang-orang Mukmin seraya berfirman,

Al-Fath 48:3

"Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu keme-nangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyem-purnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." (Al-Fath: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Kemenangan yang disebut di atas adalah Perjanjian Hudaibiyah yaitu ketika kaum musyrikin mencegah Rasulullah a yang hendak melaksanakan umrah sebagaimana yang tertera dalam kisah yang panjang.[90] Di akhir kisahnya Rasulullah a berdamai dengan mereka untuk tidak berperang di antara kedua belah pihak dalam waktu sepuluh tahun. Rasulullah a umrah pada tahun mendatang, bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak kaum Quraisy dipersilahkan dan bagi siapa pun yang ingin masuk dalam pihak Rasulullah a dipersilahkan. Dampak baik dari perjanjian ini adalah ketika semua pihak saling memberi rasa aman satu sama lain, kawasan dakwah untuk agama Allah r pun semakin luas, sehingga semua orang yang ingin masuk Islam di wilayah mana pun kala itu bisa melakukannya, dan dimungkinkan bagi yang memiliki tekad bulat untuk mendalami hakikat Islam. Kemudian pada waktu itu orang-orang pun masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى secara bergelombang, dan karena itulah disebut oleh Allah سبحانه وتعالى seba-gai kemenangan dan juga kemenangan nyata, yaitu kemenangan yang jelas dan nampak. Karena yang dimaksudkan dari penaklukan negeri-negeri kaum musyrikin adalah agar Agama Allah سبحانه وتعالى tegak dan kaum Muslimin meraih kemenangan di mana hal ini tercapai dalam kemenangan tersebut. (2) Atas kemenangan itu, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan beberapa hal berikutnya seraya berfirman, ﴾ لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ﴿ "Su-paya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang," hal itu disebabkan –wallahu a'lam– karena dampak baik perjanjian Hudaibiyah berupa berbagai ketaatan dan banyaknya orang yang masuk ke dalam Agama Allah سبحانه وتعالى, dan juga karena kesabaran Rasulullah a dalam menanggung beban butir-butir perjanjian yang tidak akan bisa dipikul melainkan oleh rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati. Dan inilah salah satu kehebatan dan karamah Rasulullah a, yaitu dosa-dosa beliau yang telah ber-lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh Allah سبحانه وتعالى , ﴾ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ ﴿ "serta menyempurnakan nikmatNya atasmu," dengan mengokoh-kan Agamamu dan memberikan kemenangan kepadamu atas musuh-musuhmu serta memperluas dakwahmu, ﴾ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus," dengan jalan itu engkau mendapatkan kesenangan dan keberuntungan abadi. (3) ﴾ وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا ﴿ "Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat," yaitu pertolongan yang kuat yang dengannya Islam tidak akan tergoyahkan, justru akan diperoleh kemenangan sempurna serta menundukkan, merendahkan serta mengurangi jumlah orang-orang kafir, di samping terpenuhi dan berkembang-nya kekuatan kaum Muslimin serta banyaknya harta mereka. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dampak baik perjanjian ini atas orang-orang Mukmin seraya berfirman,

Al-Fath 48:4

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di sam-ping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah ke-beruntungan yang besar di sisi Allah, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapatkan giliran (kebina-saan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Fath: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karuniaNya kepada kaum Mukminin dengan menurunkan ketenangan di hati mereka, kete-nangan itu berupa kedamaian serta keteguhan hati saat musibah menggetarkan serta berbagai hal berat menerpa mereka yang mengusik hati, mengganggu pikiran, dan melemahkan jiwa. Di antara nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya dalam situasi seperti ini adalah dengan meneguhkan-nya dan mengikat keteguhan tersebut di hati mereka dan menu-runkan ketenangan agar berbagai beban berat tersebut bisa mereka hadapi dengan hati yang kokoh dan jiwa yang tenang sehingga siap untuk menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى pada situasi sulit seperti itu. Dengan pertolongan itu, keimanan mereka semakin bertam-bah dan keyakinannya semakin sempurna. Para sahabat رضي الله عنهم pada saat terjadinya peristiwa antara Rasulullah a dan kaum musyrik dengan berbagai butir-butir kesepakatan yang nampaknya meren-dahkan mereka dan menghina kemampuan mereka itu, hampir membuat jiwa mereka tidak sabar, tetapi tatkala mereka meng-hadapinya dengan sabar dan mereka menguatkan diri, keimanan mereka pun semakin bertambah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi," yakni, semuanya berada dalam pengaturan kekuasaanNya, maka jangan sekali-kali orang-orang musyrik mengira bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong Agama dan NabiNya, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Bijaksana, yang kebijaksanaanNya meng-haruskan adanya pergantian kemenangan di antara manusia serta menunda kemenangan kaum Muslimin di waktu lain. (5) ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡۚ ﴿ "Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka." Inilah karunia terbesar yang diperoleh kaum Mukminin, mereka mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan diharapkan dengan masuknya mereka ke dalam surga, dan ketakutan mereka dihilang-kan dengan cara penghapusan kesalahan-kesalahan yang mereka miliki, ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ ﴿ "dan yang demikian itu," balasan yang disebutkan untuk kaum Mukminin, ﴾ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا ﴿ "di sisi Alah adalah keberun-tungan yang besar." Inilah yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap orang-orang Mukmin pada peristiwa kemenangan yang nyata itu. (6) Adapun orang-orang munafik, baik lelaki maupun perempuan dan juga orang-orang musyrik, baik lelaki maupun perempuan, akan disiksa oleh Allah سبحانه وتعالى karena kemunafikan serta kekufuran mereka dan akan memperlihatkan kepada mereka pemandangan yang mengerikan bagi mereka, karena tujuan dan maksud mereka adalah ingin merendahkan kaum Mukminin, mereka juga menyangka buruk terhadap Allah سبحانه وتعالى bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong agamaNya dan tidak meninggikan kalimat-Nya, mereka juga mengira bahwa orang-orang batil akan mengua-sai orang-orang yang benar. Ternyata Allah سبحانه وتعالى membalikkan duga-an mereka, kekalahan pun menimpa mereka. ﴾ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan Allah memurkai mereka," karena menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ وَلَعَنَهُمۡ ﴿ "dan mengutuk mereka," dengan menjauhkan mereka dari rahmatNya, ﴾ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ﴿ "serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Al-Fath 48:5

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di sam-ping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah ke-beruntungan yang besar di sisi Allah, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapatkan giliran (kebina-saan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Fath: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karuniaNya kepada kaum Mukminin dengan menurunkan ketenangan di hati mereka, kete-nangan itu berupa kedamaian serta keteguhan hati saat musibah menggetarkan serta berbagai hal berat menerpa mereka yang mengusik hati, mengganggu pikiran, dan melemahkan jiwa. Di antara nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya dalam situasi seperti ini adalah dengan meneguhkan-nya dan mengikat keteguhan tersebut di hati mereka dan menu-runkan ketenangan agar berbagai beban berat tersebut bisa mereka hadapi dengan hati yang kokoh dan jiwa yang tenang sehingga siap untuk menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى pada situasi sulit seperti itu. Dengan pertolongan itu, keimanan mereka semakin bertam-bah dan keyakinannya semakin sempurna. Para sahabat رضي الله عنهم pada saat terjadinya peristiwa antara Rasulullah a dan kaum musyrik dengan berbagai butir-butir kesepakatan yang nampaknya meren-dahkan mereka dan menghina kemampuan mereka itu, hampir membuat jiwa mereka tidak sabar, tetapi tatkala mereka meng-hadapinya dengan sabar dan mereka menguatkan diri, keimanan mereka pun semakin bertambah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi," yakni, semuanya berada dalam pengaturan kekuasaanNya, maka jangan sekali-kali orang-orang musyrik mengira bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong Agama dan NabiNya, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Bijaksana, yang kebijaksanaanNya meng-haruskan adanya pergantian kemenangan di antara manusia serta menunda kemenangan kaum Muslimin di waktu lain. (5) ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡۚ ﴿ "Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka." Inilah karunia terbesar yang diperoleh kaum Mukminin, mereka mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan diharapkan dengan masuknya mereka ke dalam surga, dan ketakutan mereka dihilang-kan dengan cara penghapusan kesalahan-kesalahan yang mereka miliki, ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ ﴿ "dan yang demikian itu," balasan yang disebutkan untuk kaum Mukminin, ﴾ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا ﴿ "di sisi Alah adalah keberun-tungan yang besar." Inilah yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap orang-orang Mukmin pada peristiwa kemenangan yang nyata itu. (6) Adapun orang-orang munafik, baik lelaki maupun perempuan dan juga orang-orang musyrik, baik lelaki maupun perempuan, akan disiksa oleh Allah سبحانه وتعالى karena kemunafikan serta kekufuran mereka dan akan memperlihatkan kepada mereka pemandangan yang mengerikan bagi mereka, karena tujuan dan maksud mereka adalah ingin merendahkan kaum Mukminin, mereka juga menyangka buruk terhadap Allah سبحانه وتعالى bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong agamaNya dan tidak meninggikan kalimat-Nya, mereka juga mengira bahwa orang-orang batil akan mengua-sai orang-orang yang benar. Ternyata Allah سبحانه وتعالى membalikkan duga-an mereka, kekalahan pun menimpa mereka. ﴾ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan Allah memurkai mereka," karena menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ وَلَعَنَهُمۡ ﴿ "dan mengutuk mereka," dengan menjauhkan mereka dari rahmatNya, ﴾ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ﴿ "serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Al-Fath 48:6

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di sam-ping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana, supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah ke-beruntungan yang besar di sisi Allah, dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapatkan giliran (kebina-saan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Fath: 4-6). (4) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karuniaNya kepada kaum Mukminin dengan menurunkan ketenangan di hati mereka, kete-nangan itu berupa kedamaian serta keteguhan hati saat musibah menggetarkan serta berbagai hal berat menerpa mereka yang mengusik hati, mengganggu pikiran, dan melemahkan jiwa. Di antara nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى yang diberikanNya kepada hamba-hambaNya dalam situasi seperti ini adalah dengan meneguhkan-nya dan mengikat keteguhan tersebut di hati mereka dan menu-runkan ketenangan agar berbagai beban berat tersebut bisa mereka hadapi dengan hati yang kokoh dan jiwa yang tenang sehingga siap untuk menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى pada situasi sulit seperti itu. Dengan pertolongan itu, keimanan mereka semakin bertam-bah dan keyakinannya semakin sempurna. Para sahabat رضي الله عنهم pada saat terjadinya peristiwa antara Rasulullah a dan kaum musyrik dengan berbagai butir-butir kesepakatan yang nampaknya meren-dahkan mereka dan menghina kemampuan mereka itu, hampir membuat jiwa mereka tidak sabar, tetapi tatkala mereka meng-hadapinya dengan sabar dan mereka menguatkan diri, keimanan mereka pun semakin bertambah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi," yakni, semuanya berada dalam pengaturan kekuasaanNya, maka jangan sekali-kali orang-orang musyrik mengira bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong Agama dan NabiNya, karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui lagi Bijaksana, yang kebijaksanaanNya meng-haruskan adanya pergantian kemenangan di antara manusia serta menunda kemenangan kaum Muslimin di waktu lain. (5) ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنۡهُمۡ سَيِّـَٔاتِهِمۡۚ ﴿ "Supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka." Inilah karunia terbesar yang diperoleh kaum Mukminin, mereka mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan diharapkan dengan masuknya mereka ke dalam surga, dan ketakutan mereka dihilang-kan dengan cara penghapusan kesalahan-kesalahan yang mereka miliki, ﴾ وَكَانَ ذَٰلِكَ ﴿ "dan yang demikian itu," balasan yang disebutkan untuk kaum Mukminin, ﴾ عِندَ ٱللَّهِ فَوۡزًا عَظِيمٗا ﴿ "di sisi Alah adalah keberun-tungan yang besar." Inilah yang dilakukan Allah سبحانه وتعالى terhadap orang-orang Mukmin pada peristiwa kemenangan yang nyata itu. (6) Adapun orang-orang munafik, baik lelaki maupun perempuan dan juga orang-orang musyrik, baik lelaki maupun perempuan, akan disiksa oleh Allah سبحانه وتعالى karena kemunafikan serta kekufuran mereka dan akan memperlihatkan kepada mereka pemandangan yang mengerikan bagi mereka, karena tujuan dan maksud mereka adalah ingin merendahkan kaum Mukminin, mereka juga menyangka buruk terhadap Allah سبحانه وتعالى bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak akan menolong agamaNya dan tidak meninggikan kalimat-Nya, mereka juga mengira bahwa orang-orang batil akan mengua-sai orang-orang yang benar. Ternyata Allah سبحانه وتعالى membalikkan duga-an mereka, kekalahan pun menimpa mereka. ﴾ وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "Dan Allah memurkai mereka," karena menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, ﴾ وَلَعَنَهُمۡ ﴿ "dan mengutuk mereka," dengan menjauhkan mereka dari rahmatNya, ﴾ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرٗا ﴿ "serta menyediakan bagi mereka Neraka Jahanam. Dan (Neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat kembali."

Al-Fath 48:7

"Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Fath: 7). (7) Allah سبحانه وتعالى mengulang-ulang memberikan kabar bahwa milikNya-lah kerajaan langit dan bumi serta semua tentara yang ada pada keduanya agar semua hamba mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah yang memberikan pertolongan dan yang memberikan kehinaan dan supaya para hamba mengetahui bahwa tentara-tentaraNya akan mendapatkan pertolongan sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلۡغَٰلِبُونَ 173 ﴿ "Dan sesungguhnya tentara kami, merekalah yang akan mendapat kemenangan." (Ash-Shaffat: 173). ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا ﴿ "Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." Maha-kuat, Maha Mengalahkan, Maha Menundukkan segala sesuatu. Meski Mahaperkasa dan Mahakuat, Allah adalah Mahabijaksana terhadap para makhlukNya. PengaturanNya berlaku sesuai dengan kebijakan hikmah dan kesempurnaanNya.

Al-Fath 48:8

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkannya, membesar-kannya, dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 8-9). (8) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu," wahai rasul yang mulia, ﴾ شَٰهِدٗا ﴿ "sebagai saksi," untuk umatmu terhadap apa yang mereka perbuat, baik dan buruknya, juga sebagai saksi atas segala ucapan dan berbagai masalah, benar dan batilnya, dan sebagai saksi untuk Allah سبحانه وتعالى atas keesaanNya dan hanya Dia se-mata yang memiliki kesempurnaan dari segala segi, ﴾ وَمُبَشِّرٗا ﴿ "dan pembawa berita gembira," bagi yang mau menaatimu dan taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan pahala duniawi, agama dan ukhrawi, dan juga pemberi peringatan bagi yang mendurhakai Allah سبحانه وتعالى dengan siksa yang disegerakan (di dunia) dan yang ditunda (diakhirkan). Di antara kesempurnaan kabar gembira dan peringatan adalah men-jelaskan amal dan akhlak yang disebutkan dalam berita gembira dan peringatan, dan Rasulullah a adalah penjelas untuk kebaikan dan keburukan, kegembiraan dan kesengsaraan, kebenaran dan kebatilan. (9) Karena itulah diteruskan dengan FirmanNya, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya." Maksudnya, karena dakwah Rasul yang disampaikan pada kalian dan ajarannya terhadap apa yang membawa manfaat bagi kalian, Kami mengutusnya agar kalian beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Ra-sulNya yang mengharuskan untuk menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dalam berbagai hal. ﴾ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ ﴿ "Menguatkannya dan membesarkannya." Artinya, supaya kalian menguatkan Rasulullah a dan mengagungkan dan memuliakannya dengan menunaikan hak-haknya sebagaimana Allah سبحانه وتعالى memberikan karunia besar kepada kalian dengan menjaga kalian, ﴾ وَتُسَبِّحُوهُ ﴿ "dan bertasbih kepadaNya," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى ﴾ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ﴿ "di waktu pagi dan petang," yakni, di permu-laan dan penghujung siang. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hak bersama antara hak Allah سبحانه وتعالى dan hak RasulNya, yaitu beriman kepada keduanya, hak yang khusus untuk Rasulullah a adalah dengan menolong dan memuliakannya, sedangkan hak yang khusus bagi Allah سبحانه وتعالى adalah dengan memahasucikanNya dengan Shalat dan lainnya.

Al-Fath 48:9

"Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkannya, membesar-kannya, dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 8-9). (8) ﴾ إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ ﴿ "Sesungguhnya Kami mengutus kamu," wahai rasul yang mulia, ﴾ شَٰهِدٗا ﴿ "sebagai saksi," untuk umatmu terhadap apa yang mereka perbuat, baik dan buruknya, juga sebagai saksi atas segala ucapan dan berbagai masalah, benar dan batilnya, dan sebagai saksi untuk Allah سبحانه وتعالى atas keesaanNya dan hanya Dia se-mata yang memiliki kesempurnaan dari segala segi, ﴾ وَمُبَشِّرٗا ﴿ "dan pembawa berita gembira," bagi yang mau menaatimu dan taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan pahala duniawi, agama dan ukhrawi, dan juga pemberi peringatan bagi yang mendurhakai Allah سبحانه وتعالى dengan siksa yang disegerakan (di dunia) dan yang ditunda (diakhirkan). Di antara kesempurnaan kabar gembira dan peringatan adalah men-jelaskan amal dan akhlak yang disebutkan dalam berita gembira dan peringatan, dan Rasulullah a adalah penjelas untuk kebaikan dan keburukan, kegembiraan dan kesengsaraan, kebenaran dan kebatilan. (9) Karena itulah diteruskan dengan FirmanNya, ﴾ لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya." Maksudnya, karena dakwah Rasul yang disampaikan pada kalian dan ajarannya terhadap apa yang membawa manfaat bagi kalian, Kami mengutusnya agar kalian beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Ra-sulNya yang mengharuskan untuk menaati Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dalam berbagai hal. ﴾ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُۚ ﴿ "Menguatkannya dan membesarkannya." Artinya, supaya kalian menguatkan Rasulullah a dan mengagungkan dan memuliakannya dengan menunaikan hak-haknya sebagaimana Allah سبحانه وتعالى memberikan karunia besar kepada kalian dengan menjaga kalian, ﴾ وَتُسَبِّحُوهُ ﴿ "dan bertasbih kepadaNya," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى ﴾ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ﴿ "di waktu pagi dan petang," yakni, di permu-laan dan penghujung siang. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hak bersama antara hak Allah سبحانه وتعالى dan hak RasulNya, yaitu beriman kepada keduanya, hak yang khusus untuk Rasulullah a adalah dengan menolong dan memuliakannya, sedangkan hak yang khusus bagi Allah سبحانه وتعالى adalah dengan memahasucikanNya dengan Shalat dan lainnya.

Al-Fath 48:10

"Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia (berbai'at) kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar." (Al-Fath: 10). (10) Bai'at yang diisyaratkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam ayat ini adalah Bai'at ar-Ridhwan, di mana para sahabat berbai'at setia kepada Rasulullah a untuk tidak lari meninggalkan beliau. Bai'at ini adalah bai'at khusus yang di antara tuntutannya adalah agar tidak lari meski hanya sedikit yang tersisa dan meski mereka ber-ada dalam kondisi boleh lari. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia (berbai'at) kepada kamu," pada dasarnya mereka ﴾ يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ ﴿ "berjanji setia (berbai'at) kepada Allah." Mereka mengadakan janji setia terhadap Allah سبحانه وتعالى, dan begitu tegasnya hal itu hingga Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Tangan Allah di atas tangan mereka." Artinya, seolah-olah mereka membai'at Allah سبحانه وتعالى dan menjabat TanganNya dalam perjanjian itu. Semua penjelasan ini sebagai penegas dan penguat serta mengharuskan mereka untuk menetapinya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ فَمَن نَّكَثَ ﴿ "Maka barangsiapa yang melanggar janjinya," dan tidak mene-pati janjinya kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦۖ ﴿ "niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri," karena akibat buruk dari pelanggaran janji itu kembali pada mereka dan hukumannya juga akan menimpa mereka. ﴾ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ ﴿ "Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah," yakni, menepati dan melaksanakan-nya secara penuh, ﴾ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمٗا ﴿ "maka Allah akan memberinya pahala yang besar," yang besarnya hanya diketahui oleh yang mem-beri.

Al-Fath 48:11

"Orang-orang Badui (Arab pedalaman) yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, 'Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.' Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik da-lam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala." (Al-Fath: 11-13). (11-13) Allah سبحانه وتعالى mencela mereka yang tidak ikut jihad ber-sama Rasulullah a dari kalangan orang-orang pedalaman (badui), mereka yang imannya lemah, di hati mereka terdapat penyakit dan berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka akan datang mengajukan alasan, yaitu alasan harta dan keluarga mereka me-nyibukkan mereka untuk pergi berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga mengharap supaya Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Mereka me-ngucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya." Karena permintaan istighfar mereka dari Rasulullah a menunjukkan pe-nyesalan mereka serta mereka mengakui dosa mereka, perbuatan mereka yang tidak mengikuti jihad itu memerlukan taubat dan istighfar. Andai saja hal itu terdapat dalam hati mereka, tentu istighfar yang dilakukan Rasulullah a bermanfaat bagi mereka, karena mereka bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, namun adanya mereka tidak ikut pergi jihad adalah karena berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, mereka mengira, ﴾ أَن لَّن يَنقَلِبَ ٱلرَّسُولُ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِلَىٰٓ أَهۡلِيهِمۡ أَبَدٗا ﴿ "bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya." Artinya, mereka akan terbunuh. Dugaan ini tetap menghiasi hati mereka, hati mereka juga tenang dengan dugaan itu hingga menguat. Hal itu disebab-kan oleh dua hal: Pertama, karena mereka adalah ﴾ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "kaum yang binasa," artinya kaum yang celaka, yang tidak ada kebaikannya. Andai saja pada diri mereka terdapat kebaikan, tentu penyakit ini tidak ter-dapat dalam hati mereka. Kedua, lemahnya keimanan serta keyakinan mereka terhadap janji Allah سبحانه وتعالى serta tidak menolong agamaNya dan menjunjung kalimatNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya," artinya, maka ia adalah orang kafir yang berhak menerima azab. ﴾ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala."

Al-Fath 48:12

"Orang-orang Badui (Arab pedalaman) yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, 'Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.' Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik da-lam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala." (Al-Fath: 11-13). (11-13) Allah سبحانه وتعالى mencela mereka yang tidak ikut jihad ber-sama Rasulullah a dari kalangan orang-orang pedalaman (badui), mereka yang imannya lemah, di hati mereka terdapat penyakit dan berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka akan datang mengajukan alasan, yaitu alasan harta dan keluarga mereka me-nyibukkan mereka untuk pergi berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga mengharap supaya Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Mereka me-ngucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya." Karena permintaan istighfar mereka dari Rasulullah a menunjukkan pe-nyesalan mereka serta mereka mengakui dosa mereka, perbuatan mereka yang tidak mengikuti jihad itu memerlukan taubat dan istighfar. Andai saja hal itu terdapat dalam hati mereka, tentu istighfar yang dilakukan Rasulullah a bermanfaat bagi mereka, karena mereka bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, namun adanya mereka tidak ikut pergi jihad adalah karena berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, mereka mengira, ﴾ أَن لَّن يَنقَلِبَ ٱلرَّسُولُ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِلَىٰٓ أَهۡلِيهِمۡ أَبَدٗا ﴿ "bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya." Artinya, mereka akan terbunuh. Dugaan ini tetap menghiasi hati mereka, hati mereka juga tenang dengan dugaan itu hingga menguat. Hal itu disebab-kan oleh dua hal: Pertama, karena mereka adalah ﴾ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "kaum yang binasa," artinya kaum yang celaka, yang tidak ada kebaikannya. Andai saja pada diri mereka terdapat kebaikan, tentu penyakit ini tidak ter-dapat dalam hati mereka. Kedua, lemahnya keimanan serta keyakinan mereka terhadap janji Allah سبحانه وتعالى serta tidak menolong agamaNya dan menjunjung kalimatNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya," artinya, maka ia adalah orang kafir yang berhak menerima azab. ﴾ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala."

Al-Fath 48:13

"Orang-orang Badui (Arab pedalaman) yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan, 'Harta dan keluarga kami telah menyibukkan kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami.' Mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya. Katakanlah, 'Maka siapakah (gerangan) yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudaratan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu.' Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Tetapi kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya dan setan telah menjadikan kamu memandang baik da-lam hatimu persangkaan itu, dan kamu telah menyangka dengan sangkaan yang buruk dan kamu menjadi kaum yang binasa. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala." (Al-Fath: 11-13). (11-13) Allah سبحانه وتعالى mencela mereka yang tidak ikut jihad ber-sama Rasulullah a dari kalangan orang-orang pedalaman (badui), mereka yang imannya lemah, di hati mereka terdapat penyakit dan berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, di mana mereka akan datang mengajukan alasan, yaitu alasan harta dan keluarga mereka me-nyibukkan mereka untuk pergi berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. Mereka juga mengharap supaya Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ ﴿ "Mereka me-ngucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya." Karena permintaan istighfar mereka dari Rasulullah a menunjukkan pe-nyesalan mereka serta mereka mengakui dosa mereka, perbuatan mereka yang tidak mengikuti jihad itu memerlukan taubat dan istighfar. Andai saja hal itu terdapat dalam hati mereka, tentu istighfar yang dilakukan Rasulullah a bermanfaat bagi mereka, karena mereka bertaubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, namun adanya mereka tidak ikut pergi jihad adalah karena berburuk sangka terhadap Allah سبحانه وتعالى, mereka mengira, ﴾ أَن لَّن يَنقَلِبَ ٱلرَّسُولُ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِلَىٰٓ أَهۡلِيهِمۡ أَبَدٗا ﴿ "bahwa Rasul dan orang-orang Mukmin sekali-kali tidak akan kembali kepada keluarga mereka selama-lamanya." Artinya, mereka akan terbunuh. Dugaan ini tetap menghiasi hati mereka, hati mereka juga tenang dengan dugaan itu hingga menguat. Hal itu disebab-kan oleh dua hal: Pertama, karena mereka adalah ﴾ قَوۡمَۢا بُورٗا ﴿ "kaum yang binasa," artinya kaum yang celaka, yang tidak ada kebaikannya. Andai saja pada diri mereka terdapat kebaikan, tentu penyakit ini tidak ter-dapat dalam hati mereka. Kedua, lemahnya keimanan serta keyakinan mereka terhadap janji Allah سبحانه وتعالى serta tidak menolong agamaNya dan menjunjung kalimatNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن لَّمۡ يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya," artinya, maka ia adalah orang kafir yang berhak menerima azab. ﴾ فَإِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَعِيرٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Kami menyediakan untuk orang-orang yang kafir neraka yang bernyala-nyala."

Al-Fath 48:14

"Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendakiNya dan meng-azab siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Fath: 14). (14) Artinya, hanya Allah سبحانه وتعالى semata Pemilik kerajaan langit dan bumi. Semua hukum takdir, syariat, dan balasan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى kepada langit dan bumi sesuai kehendakNya, karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukum balasan sebagai akibat dari hukum syariat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرُ لِمَن يَشَآءُ ﴿ "Dia memberi ampun kepada siapa yang dikehendakiNya," bagi orang yang melaksanakan perintah Allah سبحانه وتعالى,,, ﴾ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "dan mengazab siapa yang dikehendakiNya," bagi orang yang meremehkan perintah Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," artinya, itulah sifat yang melekat pada Allah سبحانه وتعالى, mem-berikan ampunan dan rahmat dan tidak pernah terlepas dariNya. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memberikan ampunan bagi para pendosa kapan pun juga, memaafkan mereka yang banyak memiliki kesalahan, menerima taubat orang-orang yang kembali padaNya, serta me-nurunkan kebaikanNya di malam dan di siang hari.

Al-Fath 48:15

"Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak ikut berperang) itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil ba-rang rampasan, 'Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu,' mereka hendak merubah janji Allah. Katakanlah, 'Janganlah kalian mengikuti kami.' Seperti itulah yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى sebe-lumnya, maka mereka akan berkata, 'Sebenarnya kalian iri pada kami,' tetapi mereka itu tidak mengerti kecuali hanya sedikit." (Al-Fath: 15). (15) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan orang-orang yang tidak pergi berjihad serta mencela mereka, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan sebagian hukuman duniawi untuk mereka yaitu bahwa Rasulullah a dan para sabahatnya ketika mendapatkan berbagai harta rampasan perang tanpa peperangan, mereka menginginkan agar disertakan, mereka berkata, ﴾ ذَرُونَا نَتَّبِعۡكُمۡۖ يُرِيدُونَ ﴿ "Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu," mereka hendak (ingin) dengan cara itu ﴾ أَن يُبَدِّلُواْ كَلَٰمَ ٱللَّهِۚ ﴿ "merubah janji Allah." karena telah memu-tuskan hukuman bagi mereka dan Allah telah mengkhususkan harta rampasan perang hanya untuk para sahabat yang beriman menurut ketentuan syariat dan takdir. ﴾ قُل ﴿ "Katakanlah" kepada mereka ﴾ لَّن تَتَّبِعُونَا كَذَٰلِكُمۡ قَالَ ٱللَّهُ مِن قَبۡلُۖ ﴿ "Janganlah kalian mengikuti kami.' Seperti itulah yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى sebelumnya." Sesungguhnya kalian terhalang untuk menda-patkan harta rampasan perang karena perbuatan dosa yang kalian lakukan terhadap diri kalian dan karena kalian tidak ikut pergi berperang pada mulanya. ﴾ فَسَيَقُولُونَ ﴿ "Maka mereka akan berkata," seraya menjawab pernyataan yang melarang mereka untuk ikut berperang tersebut, ﴾ بَلۡ تَحۡسُدُونَنَاۚ ﴿ "Sebenarnya kalian iri pada kami," terhadap harta rampasan perang, dan inilah puncak pengetahuan mereka tentang berperang. Andai mereka mengerti dan mema-hami, tentu mereka tahu bahwa penyebab yang membuat mereka terhalang untuk mendapatkan harta rampasan perang adalah karena kemaksiatan yang mereka lakukan. Orang-orang yang melakukan kemaksiatan berhak mendapatkan hukuman dunia dan akhirat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ كَانُواْ لَا يَفۡقَهُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Tetapi mereka itu tidak mengerti kecuali hanya sendikit."

Al-Fath 48:16

"Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelum-nya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.' Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 16-17). (16) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang orang-orang dari kalangan badui yang tidak turut pergi berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى, mereka mengutarakan alasan yang tidak benar dan mereka me-minta untuk turut serta berperang jika tidak disertai persenjataan dan peperangan tapi hanya untuk mendapatkan harta rampasan perang saja, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela mereka, ﴾ قُل لِّلۡمُخَلَّفِينَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ سَتُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ قَوۡمٍ أُوْلِي بَأۡسٖ شَدِيدٖ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar'." Artinya, Rasulullah a dan para penggantinya dari kalangan Khulafa` Rasyidin serta para pemimpin akan meng-ajak kalian, dan mereka itu adalah pasukan Persia dan Romawi serta orang-orang semacam mereka, ﴾ تُقَٰتِلُونَهُمۡ أَوۡ يُسۡلِمُونَۖ ﴿ "kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)," artinya, kemungkinan yang ini atau yang itu. Dan inilah realitanya, jika mereka pada saat memerangi para musuh dan dapat dikalahkan, maka kaum Muslimin tidak boleh menerima jizyah dari mereka, tapi alternatifnya adalah mereka para musuh itu masuk Islam atau dibunuh karena kekufuran mereka. Setelah kaum Muslimin ber-hasil mengalahkan mereka, mereka pun tunduk dan kehilangan kekuatan sehingga mereka harus masuk Islam atau membayar jizyah. ﴾ فَإِن تُطِيعُواْ ﴿ "Maka jika kamu patuhi (ajakan itu)," yakni, ajakan orang yang menyeru kalian memerangi musuh, ﴾ يُؤۡتِكُمُ ٱللَّهُ أَجۡرًا حَسَنٗاۖ ﴿ "niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik," yaitu balasan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya karena berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ كَمَا تَوَلَّيۡتُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Dan jika kamu berpaling seba-gaimana kamu telah berpaling sebelumnya," untuk memerangi kaum yang diserukan oleh Rasulullah a agar diperangi, ﴾ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih." Ayat ini menunjukkan keutamaan para Khulafa` Rasyidin yang menyerukan untuk memerangi kaum yang memiliki kekuatan besar, di mana seruan itu wajib untuk ditaati. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai macam udzur yang diperkenankan bagi seorang hamba untuk tidak turut berjihad, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلۡأَعۡمَىٰ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡأَعۡرَجِ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرِيضِ حَرَجٞۗ ﴿ "Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang)." Yakni, untuk tidak turut berjihad karena adanya udzur yang menghalangi mereka. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya," dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi lara-nganNya, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan-nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," di dalam surga terdapat berbagai hal yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling," dan tidak menaati Allah سبحانه وتعالى serta RasulNya, ﴾ يُعَذِّبۡهُ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." Kebahagiaan seluruhnya terletak pada menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan kesengsaraan terletak pada kemaksiatan serta menentang perintah Allah سبحانه وتعالى.

Al-Fath 48:17

"Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam). Maka jika kamu patuhi (ajakan itu), niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik dan jika kamu berpaling sebagaimana kamu telah berpaling sebelum-nya, niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih.' Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang). Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan barangsiapa yang berpaling, niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 16-17). (16) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang orang-orang dari kalangan badui yang tidak turut pergi berperang di jalan Allah سبحانه وتعالى, mereka mengutarakan alasan yang tidak benar dan mereka me-minta untuk turut serta berperang jika tidak disertai persenjataan dan peperangan tapi hanya untuk mendapatkan harta rampasan perang saja, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman mencela mereka, ﴾ قُل لِّلۡمُخَلَّفِينَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ سَتُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ قَوۡمٍ أُوْلِي بَأۡسٖ شَدِيدٖ ﴿ "Katakanlah kepada orang-orang Badui yang tertinggal, 'Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar'." Artinya, Rasulullah a dan para penggantinya dari kalangan Khulafa` Rasyidin serta para pemimpin akan meng-ajak kalian, dan mereka itu adalah pasukan Persia dan Romawi serta orang-orang semacam mereka, ﴾ تُقَٰتِلُونَهُمۡ أَوۡ يُسۡلِمُونَۖ ﴿ "kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)," artinya, kemungkinan yang ini atau yang itu. Dan inilah realitanya, jika mereka pada saat memerangi para musuh dan dapat dikalahkan, maka kaum Muslimin tidak boleh menerima jizyah dari mereka, tapi alternatifnya adalah mereka para musuh itu masuk Islam atau dibunuh karena kekufuran mereka. Setelah kaum Muslimin ber-hasil mengalahkan mereka, mereka pun tunduk dan kehilangan kekuatan sehingga mereka harus masuk Islam atau membayar jizyah. ﴾ فَإِن تُطِيعُواْ ﴿ "Maka jika kamu patuhi (ajakan itu)," yakni, ajakan orang yang menyeru kalian memerangi musuh, ﴾ يُؤۡتِكُمُ ٱللَّهُ أَجۡرًا حَسَنٗاۖ ﴿ "niscaya Allah akan memberikan kepadamu pahala yang baik," yaitu balasan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya karena berjihad di jalan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ كَمَا تَوَلَّيۡتُم مِّن قَبۡلُ ﴿ "Dan jika kamu berpaling seba-gaimana kamu telah berpaling sebelumnya," untuk memerangi kaum yang diserukan oleh Rasulullah a agar diperangi, ﴾ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazab kamu dengan azab yang pedih." Ayat ini menunjukkan keutamaan para Khulafa` Rasyidin yang menyerukan untuk memerangi kaum yang memiliki kekuatan besar, di mana seruan itu wajib untuk ditaati. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai macam udzur yang diperkenankan bagi seorang hamba untuk tidak turut berjihad, Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّيۡسَ عَلَى ٱلۡأَعۡمَىٰ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡأَعۡرَجِ حَرَجٞ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرِيضِ حَرَجٞۗ ﴿ "Tiada dosa atas orang-orang yang buta dan atas orang-orang yang pincang dan atas orang yang sakit (apabila tidak ikut berperang)." Yakni, untuk tidak turut berjihad karena adanya udzur yang menghalangi mereka. ﴾ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya," dalam melaksanakan perintahNya dan menjauhi lara-nganNya, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُۖ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkan-nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," di dalam surga terdapat berbagai hal yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling," dan tidak menaati Allah سبحانه وتعالى serta RasulNya, ﴾ يُعَذِّبۡهُ عَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "niscaya Dia akan mengazabnya dengan azab yang pedih." Kebahagiaan seluruhnya terletak pada menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan kesengsaraan terletak pada kemaksiatan serta menentang perintah Allah سبحانه وتعالى.

Al-Fath 48:18

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai'at) kepadamu di bawah pohon itu, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah men-janjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakanNya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuriNya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukanNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Fath: 18-21). (18-19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia, rahmat, serta keridhaanNya terhadap kaum Mukminin yang berbai'at setia kepada Rasulullah a dalam peristiwa pembai'atan yang membuat wajah mereka putih bersinar, dan dengan bai'at itu pun mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Penyebab bai'at ini, yaitu yang dikenal dengan Bai'at ar-Ridhwan adalah karena Allah سبحانه وتعالى ridha terhadap kaum Mukminin yang melakukan bai'at setia itu. Disebut juga bai'at orang-orang yang berada di sekitar pohon, yaitu pada saat pembicaraan antara Rasulullah a dan kaum musy-rikin berlangsung dalam perjanjian Hudaibiyah mengenai sebab kedatangan Rasulullah a ke Makkah, Rasulullah a tidak datang untuk memerangi seorang pun, Rasulullah a datang hanya untuk mengunjungi Baitullah serta untuk mengagungkannya. Kemudian Rasulullah a mengirim Utsman bin Affan ke Makkah untuk meng-utarakan tujuan kedatangan Rasulullah a. Kemudian tersiar berita bohong bahwa Utsman dibunuh. Kemudian Rasulullah a me-ngumpulkan kaum Mukminin yang turut bersama Rasulullah a yang jumlahnya sekitar seribu lima ratus orang, dan mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon untuk memerangi kaum musyrikin dan tidak akan lari hingga me-reka gugur sekalipun. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia ridha terhadap kaum Mukminin pada saat itu yang mana bai'at itu merupakan salah satu ketaatan terbesar serta ibadah paling luhur. ﴾ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengetahui keimanan mereka,﴾ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu menurunkan ketenangan atas mereka," sebagai rasa terima kasih Allah سبحانه وتعالى terhadap keimanan yang terdapat dalam diri mereka, Allah سبحانه وتعالى menambahkan petunjuk pada mereka dan Allah سبحانه وتعالى juga mengetahui kesedihan dalam benak mereka karena isi-isi perjanjian yang disyaratkan oleh kaum musyrikin terhadap Rasu-lullah a, kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ketenangan yang mem-buat hati mereka kokoh dan damai, ﴾ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ﴿ "dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Yaitu penaklukan Khaibar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, sehingga harta ram-pasannya khusus bagi mereka sebagai balasan untuk mereka dan sebagai ucapan terima kasih atas ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta menunaikan amalan yang membuatNya ridha yang dilakukan oleh kaum Mukminin, ﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ﴿ "serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Allah سبحانه وتعالى memiliki keperkasaan dan kekua-saan yang memaksa segala sesuatu. Andai Allah سبحانه وتعالى berkehendak, tentu kaum Muslimin akan dapat mengalahkan kaum kafir dalam setiap peperangan, namun Allah سبحانه وتعالى Mahabijaksana, yang menguji sebagian mereka dengan yang lain; Allah سبحانه وتعالى menguji orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang kafir. (20) ﴾ وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةٗ تَأۡخُذُونَهَا ﴿ "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil." Harta ram-pasan perang tersebut mencakup semua harta rampasan perang yang didapatkan oleh seluruh kaum Muslimin hingga Kiamat, ﴾ فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "maka disegerakanNya harta rampasan ini," yakni, harta rampasan Perang Khaibar. Janganlah kalian mengira harta ram-pasan itu hanya satu-satunya harta rampasan perang, namun masih terdapat berbagai harta rampasan perang lain setelahnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," pujilah Allah سبحانه وتعالى pada saat, ﴾ كَفَّ أَيۡدِيَ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dia menahan tangan manusia," yang mampu memerangi kalian dan berkeinginan untuk memerangi kalian, ﴾ عَنكُمۡ ﴿ "dari (membinasakan)mu." Ini meru-pakan nikmat dan keringanan yang diberikan pada kalian, ﴾ وَلِتَكُونَ ﴿ "dan agar itu," yakni harta rampasan perang ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin," yang dengan bukti itu orang-orang Mukmin dapat mengetahui benarnya berita Allah سبحانه وتعالى dan janjiNya yang haq, serta balasanNya yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى yang menakdirkan hal itu juga akan menakdirkan yang lainnya, ﴾ وَيَهۡدِيَكُمۡ ﴿ "dan agar Dia menunjuki kamu," dengan berbagai sebab yang ditetapkan pada kalian ﴾ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "kepada jalan yang lurus," berupa ilmu, iman, dan amal. (21) ﴾ وَأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-ke-menangan) yang lain," artinya, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan harta rampasan lain, ﴾ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا ﴿ "(atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat mengua-sainya," di waktu ayat ini turun, ﴾ قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَاۚ ﴿ "yang sungguh Allah telah menentukanNya." Artinya, Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas hal itu dan hal itu berada di bawah pengaturan serta kekuasaanNya yang dijanjikan kepada kalian, karena itu janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan terlak-sana karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahasempurna. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Al-Fath 48:19

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai'at) kepadamu di bawah pohon itu, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah men-janjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakanNya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuriNya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukanNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Fath: 18-21). (18-19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia, rahmat, serta keridhaanNya terhadap kaum Mukminin yang berbai'at setia kepada Rasulullah a dalam peristiwa pembai'atan yang membuat wajah mereka putih bersinar, dan dengan bai'at itu pun mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Penyebab bai'at ini, yaitu yang dikenal dengan Bai'at ar-Ridhwan adalah karena Allah سبحانه وتعالى ridha terhadap kaum Mukminin yang melakukan bai'at setia itu. Disebut juga bai'at orang-orang yang berada di sekitar pohon, yaitu pada saat pembicaraan antara Rasulullah a dan kaum musy-rikin berlangsung dalam perjanjian Hudaibiyah mengenai sebab kedatangan Rasulullah a ke Makkah, Rasulullah a tidak datang untuk memerangi seorang pun, Rasulullah a datang hanya untuk mengunjungi Baitullah serta untuk mengagungkannya. Kemudian Rasulullah a mengirim Utsman bin Affan ke Makkah untuk meng-utarakan tujuan kedatangan Rasulullah a. Kemudian tersiar berita bohong bahwa Utsman dibunuh. Kemudian Rasulullah a me-ngumpulkan kaum Mukminin yang turut bersama Rasulullah a yang jumlahnya sekitar seribu lima ratus orang, dan mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon untuk memerangi kaum musyrikin dan tidak akan lari hingga me-reka gugur sekalipun. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia ridha terhadap kaum Mukminin pada saat itu yang mana bai'at itu merupakan salah satu ketaatan terbesar serta ibadah paling luhur. ﴾ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengetahui keimanan mereka,﴾ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu menurunkan ketenangan atas mereka," sebagai rasa terima kasih Allah سبحانه وتعالى terhadap keimanan yang terdapat dalam diri mereka, Allah سبحانه وتعالى menambahkan petunjuk pada mereka dan Allah سبحانه وتعالى juga mengetahui kesedihan dalam benak mereka karena isi-isi perjanjian yang disyaratkan oleh kaum musyrikin terhadap Rasu-lullah a, kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ketenangan yang mem-buat hati mereka kokoh dan damai, ﴾ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ﴿ "dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Yaitu penaklukan Khaibar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, sehingga harta ram-pasannya khusus bagi mereka sebagai balasan untuk mereka dan sebagai ucapan terima kasih atas ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta menunaikan amalan yang membuatNya ridha yang dilakukan oleh kaum Mukminin, ﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ﴿ "serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Allah سبحانه وتعالى memiliki keperkasaan dan kekua-saan yang memaksa segala sesuatu. Andai Allah سبحانه وتعالى berkehendak, tentu kaum Muslimin akan dapat mengalahkan kaum kafir dalam setiap peperangan, namun Allah سبحانه وتعالى Mahabijaksana, yang menguji sebagian mereka dengan yang lain; Allah سبحانه وتعالى menguji orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang kafir. (20) ﴾ وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةٗ تَأۡخُذُونَهَا ﴿ "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil." Harta ram-pasan perang tersebut mencakup semua harta rampasan perang yang didapatkan oleh seluruh kaum Muslimin hingga Kiamat, ﴾ فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "maka disegerakanNya harta rampasan ini," yakni, harta rampasan Perang Khaibar. Janganlah kalian mengira harta ram-pasan itu hanya satu-satunya harta rampasan perang, namun masih terdapat berbagai harta rampasan perang lain setelahnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," pujilah Allah سبحانه وتعالى pada saat, ﴾ كَفَّ أَيۡدِيَ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dia menahan tangan manusia," yang mampu memerangi kalian dan berkeinginan untuk memerangi kalian, ﴾ عَنكُمۡ ﴿ "dari (membinasakan)mu." Ini meru-pakan nikmat dan keringanan yang diberikan pada kalian, ﴾ وَلِتَكُونَ ﴿ "dan agar itu," yakni harta rampasan perang ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin," yang dengan bukti itu orang-orang Mukmin dapat mengetahui benarnya berita Allah سبحانه وتعالى dan janjiNya yang haq, serta balasanNya yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى yang menakdirkan hal itu juga akan menakdirkan yang lainnya, ﴾ وَيَهۡدِيَكُمۡ ﴿ "dan agar Dia menunjuki kamu," dengan berbagai sebab yang ditetapkan pada kalian ﴾ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "kepada jalan yang lurus," berupa ilmu, iman, dan amal. (21) ﴾ وَأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-ke-menangan) yang lain," artinya, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan harta rampasan lain, ﴾ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا ﴿ "(atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat mengua-sainya," di waktu ayat ini turun, ﴾ قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَاۚ ﴿ "yang sungguh Allah telah menentukanNya." Artinya, Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas hal itu dan hal itu berada di bawah pengaturan serta kekuasaanNya yang dijanjikan kepada kalian, karena itu janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan terlak-sana karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahasempurna. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Al-Fath 48:20

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai'at) kepadamu di bawah pohon itu, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah men-janjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakanNya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuriNya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukanNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Fath: 18-21). (18-19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia, rahmat, serta keridhaanNya terhadap kaum Mukminin yang berbai'at setia kepada Rasulullah a dalam peristiwa pembai'atan yang membuat wajah mereka putih bersinar, dan dengan bai'at itu pun mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Penyebab bai'at ini, yaitu yang dikenal dengan Bai'at ar-Ridhwan adalah karena Allah سبحانه وتعالى ridha terhadap kaum Mukminin yang melakukan bai'at setia itu. Disebut juga bai'at orang-orang yang berada di sekitar pohon, yaitu pada saat pembicaraan antara Rasulullah a dan kaum musy-rikin berlangsung dalam perjanjian Hudaibiyah mengenai sebab kedatangan Rasulullah a ke Makkah, Rasulullah a tidak datang untuk memerangi seorang pun, Rasulullah a datang hanya untuk mengunjungi Baitullah serta untuk mengagungkannya. Kemudian Rasulullah a mengirim Utsman bin Affan ke Makkah untuk meng-utarakan tujuan kedatangan Rasulullah a. Kemudian tersiar berita bohong bahwa Utsman dibunuh. Kemudian Rasulullah a me-ngumpulkan kaum Mukminin yang turut bersama Rasulullah a yang jumlahnya sekitar seribu lima ratus orang, dan mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon untuk memerangi kaum musyrikin dan tidak akan lari hingga me-reka gugur sekalipun. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia ridha terhadap kaum Mukminin pada saat itu yang mana bai'at itu merupakan salah satu ketaatan terbesar serta ibadah paling luhur. ﴾ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengetahui keimanan mereka,﴾ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu menurunkan ketenangan atas mereka," sebagai rasa terima kasih Allah سبحانه وتعالى terhadap keimanan yang terdapat dalam diri mereka, Allah سبحانه وتعالى menambahkan petunjuk pada mereka dan Allah سبحانه وتعالى juga mengetahui kesedihan dalam benak mereka karena isi-isi perjanjian yang disyaratkan oleh kaum musyrikin terhadap Rasu-lullah a, kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ketenangan yang mem-buat hati mereka kokoh dan damai, ﴾ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ﴿ "dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Yaitu penaklukan Khaibar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, sehingga harta ram-pasannya khusus bagi mereka sebagai balasan untuk mereka dan sebagai ucapan terima kasih atas ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta menunaikan amalan yang membuatNya ridha yang dilakukan oleh kaum Mukminin, ﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ﴿ "serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Allah سبحانه وتعالى memiliki keperkasaan dan kekua-saan yang memaksa segala sesuatu. Andai Allah سبحانه وتعالى berkehendak, tentu kaum Muslimin akan dapat mengalahkan kaum kafir dalam setiap peperangan, namun Allah سبحانه وتعالى Mahabijaksana, yang menguji sebagian mereka dengan yang lain; Allah سبحانه وتعالى menguji orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang kafir. (20) ﴾ وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةٗ تَأۡخُذُونَهَا ﴿ "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil." Harta ram-pasan perang tersebut mencakup semua harta rampasan perang yang didapatkan oleh seluruh kaum Muslimin hingga Kiamat, ﴾ فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "maka disegerakanNya harta rampasan ini," yakni, harta rampasan Perang Khaibar. Janganlah kalian mengira harta ram-pasan itu hanya satu-satunya harta rampasan perang, namun masih terdapat berbagai harta rampasan perang lain setelahnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," pujilah Allah سبحانه وتعالى pada saat, ﴾ كَفَّ أَيۡدِيَ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dia menahan tangan manusia," yang mampu memerangi kalian dan berkeinginan untuk memerangi kalian, ﴾ عَنكُمۡ ﴿ "dari (membinasakan)mu." Ini meru-pakan nikmat dan keringanan yang diberikan pada kalian, ﴾ وَلِتَكُونَ ﴿ "dan agar itu," yakni harta rampasan perang ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin," yang dengan bukti itu orang-orang Mukmin dapat mengetahui benarnya berita Allah سبحانه وتعالى dan janjiNya yang haq, serta balasanNya yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى yang menakdirkan hal itu juga akan menakdirkan yang lainnya, ﴾ وَيَهۡدِيَكُمۡ ﴿ "dan agar Dia menunjuki kamu," dengan berbagai sebab yang ditetapkan pada kalian ﴾ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "kepada jalan yang lurus," berupa ilmu, iman, dan amal. (21) ﴾ وَأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-ke-menangan) yang lain," artinya, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan harta rampasan lain, ﴾ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا ﴿ "(atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat mengua-sainya," di waktu ayat ini turun, ﴾ قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَاۚ ﴿ "yang sungguh Allah telah menentukanNya." Artinya, Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas hal itu dan hal itu berada di bawah pengaturan serta kekuasaanNya yang dijanjikan kepada kalian, karena itu janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan terlak-sana karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahasempurna. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Al-Fath 48:21

"Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia (berbai'at) kepadamu di bawah pohon itu, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan mem-beri balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah men-janjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak dapat kamu ambil, maka disegerakanNya harta rampasan ini untukmu dan Dia menahan tangan manusia dari (membinasakan)mu (agar kamu mensyukuriNya) dan agar itu menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin dan agar Dia menunjuki kamu kepada jalan yang lurus. Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-kemenangan) yang lain (atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat menguasainya yang sungguh Allah telah menentukanNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Fath: 18-21). (18-19) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang karunia, rahmat, serta keridhaanNya terhadap kaum Mukminin yang berbai'at setia kepada Rasulullah a dalam peristiwa pembai'atan yang membuat wajah mereka putih bersinar, dan dengan bai'at itu pun mereka mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Penyebab bai'at ini, yaitu yang dikenal dengan Bai'at ar-Ridhwan adalah karena Allah سبحانه وتعالى ridha terhadap kaum Mukminin yang melakukan bai'at setia itu. Disebut juga bai'at orang-orang yang berada di sekitar pohon, yaitu pada saat pembicaraan antara Rasulullah a dan kaum musy-rikin berlangsung dalam perjanjian Hudaibiyah mengenai sebab kedatangan Rasulullah a ke Makkah, Rasulullah a tidak datang untuk memerangi seorang pun, Rasulullah a datang hanya untuk mengunjungi Baitullah serta untuk mengagungkannya. Kemudian Rasulullah a mengirim Utsman bin Affan ke Makkah untuk meng-utarakan tujuan kedatangan Rasulullah a. Kemudian tersiar berita bohong bahwa Utsman dibunuh. Kemudian Rasulullah a me-ngumpulkan kaum Mukminin yang turut bersama Rasulullah a yang jumlahnya sekitar seribu lima ratus orang, dan mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon untuk memerangi kaum musyrikin dan tidak akan lari hingga me-reka gugur sekalipun. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia ridha terhadap kaum Mukminin pada saat itu yang mana bai'at itu merupakan salah satu ketaatan terbesar serta ibadah paling luhur. ﴾ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ ﴿ "Maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengetahui keimanan mereka,﴾ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "lalu menurunkan ketenangan atas mereka," sebagai rasa terima kasih Allah سبحانه وتعالى terhadap keimanan yang terdapat dalam diri mereka, Allah سبحانه وتعالى menambahkan petunjuk pada mereka dan Allah سبحانه وتعالى juga mengetahui kesedihan dalam benak mereka karena isi-isi perjanjian yang disyaratkan oleh kaum musyrikin terhadap Rasu-lullah a, kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ketenangan yang mem-buat hati mereka kokoh dan damai, ﴾ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا ﴿ "dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)." Yaitu penaklukan Khaibar yang hanya diikuti oleh orang-orang yang ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah, sehingga harta ram-pasannya khusus bagi mereka sebagai balasan untuk mereka dan sebagai ucapan terima kasih atas ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta menunaikan amalan yang membuatNya ridha yang dilakukan oleh kaum Mukminin, ﴾ وَمَغَانِمَ كَثِيرَةٗ يَأۡخُذُونَهَاۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا ﴿ "serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Allah سبحانه وتعالى memiliki keperkasaan dan kekua-saan yang memaksa segala sesuatu. Andai Allah سبحانه وتعالى berkehendak, tentu kaum Muslimin akan dapat mengalahkan kaum kafir dalam setiap peperangan, namun Allah سبحانه وتعالى Mahabijaksana, yang menguji sebagian mereka dengan yang lain; Allah سبحانه وتعالى menguji orang-orang Mukmin dengan kemenangan orang kafir. (20) ﴾ وَعَدَكُمُ ٱللَّهُ مَغَانِمَ كَثِيرَةٗ تَأۡخُذُونَهَا ﴿ "Allah menjanjikan kepada kamu harta rampasan yang banyak yang dapat kamu ambil." Harta ram-pasan perang tersebut mencakup semua harta rampasan perang yang didapatkan oleh seluruh kaum Muslimin hingga Kiamat, ﴾ فَعَجَّلَ لَكُمۡ هَٰذِهِۦ ﴿ "maka disegerakanNya harta rampasan ini," yakni, harta rampasan Perang Khaibar. Janganlah kalian mengira harta ram-pasan itu hanya satu-satunya harta rampasan perang, namun masih terdapat berbagai harta rampasan perang lain setelahnya. ﴾ و َ ﴿ "Dan," pujilah Allah سبحانه وتعالى pada saat, ﴾ كَفَّ أَيۡدِيَ ٱلنَّاسِ ﴿ "Dia menahan tangan manusia," yang mampu memerangi kalian dan berkeinginan untuk memerangi kalian, ﴾ عَنكُمۡ ﴿ "dari (membinasakan)mu." Ini meru-pakan nikmat dan keringanan yang diberikan pada kalian, ﴾ وَلِتَكُونَ ﴿ "dan agar itu," yakni harta rampasan perang ﴾ ءَايَةٗ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "menjadi bukti bagi orang-orang Mukmin," yang dengan bukti itu orang-orang Mukmin dapat mengetahui benarnya berita Allah سبحانه وتعالى dan janjiNya yang haq, serta balasanNya yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman. Dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى yang menakdirkan hal itu juga akan menakdirkan yang lainnya, ﴾ وَيَهۡدِيَكُمۡ ﴿ "dan agar Dia menunjuki kamu," dengan berbagai sebab yang ditetapkan pada kalian ﴾ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا ﴿ "kepada jalan yang lurus," berupa ilmu, iman, dan amal. (21) ﴾ وَأُخۡرَىٰ ﴿ "Dan (telah menjanjikan pula kemenangan-ke-menangan) yang lain," artinya, Allah سبحانه وتعالى menjanjikan harta rampasan lain, ﴾ لَمۡ تَقۡدِرُواْ عَلَيۡهَا ﴿ "(atas negeri-negeri) yang kamu belum dapat mengua-sainya," di waktu ayat ini turun, ﴾ قَدۡ أَحَاطَ ٱللَّهُ بِهَاۚ ﴿ "yang sungguh Allah telah menentukanNya." Artinya, Allah سبحانه وتعالى Mahakuasa atas hal itu dan hal itu berada di bawah pengaturan serta kekuasaanNya yang dijanjikan kepada kalian, karena itu janji Allah سبحانه وتعالى pasti akan terlak-sana karena Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahasempurna. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٗا ﴿ "Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu."

Al-Fath 48:22

"Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pas-tilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (Al-Fath: 22-23). (22) Ini merupakan berita gembira dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya yang beriman, bahwasanya Allah سبحانه وتعالى akan mem-berikan kemenangan untuk orang-orang yang beriman terhadap para musuhnya yang kafir, dan bahwasanya jika orang-orang yang beriman menghadapi dan memerangi orang-orang kafir, ﴾ لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيّٗا ﴿ "pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung," yang dapat menjaga mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak (pula) penolong," yang dapat menolong dan membantu mereka dari serangan orang-orang Mukmin; me-reka justru akan direndahkan dan dikalahkan. (23) Hal itu merupakan sunnatullah terhadap berbagai umat sebelumnya, yaitu bahwa para tentara Allah سبحانه وتعالى pasti menang, ﴾ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗا ﴿ "dan kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu."

Al-Fath 48:23

"Dan sekiranya orang-orang kafir itu memerangi kamu, pas-tilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung dan tidak (pula) penolong. Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu." (Al-Fath: 22-23). (22) Ini merupakan berita gembira dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya yang beriman, bahwasanya Allah سبحانه وتعالى akan mem-berikan kemenangan untuk orang-orang yang beriman terhadap para musuhnya yang kafir, dan bahwasanya jika orang-orang yang beriman menghadapi dan memerangi orang-orang kafir, ﴾ لَوَلَّوُاْ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يَجِدُونَ وَلِيّٗا ﴿ "pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah) kemudian mereka tiada memperoleh pelindung," yang dapat menjaga mereka, ﴾ وَلَا نَصِيرٗا ﴿ "dan tidak (pula) penolong," yang dapat menolong dan membantu mereka dari serangan orang-orang Mukmin; me-reka justru akan direndahkan dan dikalahkan. (23) Hal itu merupakan sunnatullah terhadap berbagai umat sebelumnya, yaitu bahwa para tentara Allah سبحانه وتعالى pasti menang, ﴾ وَلَن تَجِدَ لِسُنَّةِ ٱللَّهِ تَبۡدِيلٗا ﴿ "dan kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu."

Al-Fath 48:24

"Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membina-sakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang Mukmin dan perempuan-perempuan yang Mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasa-kan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmatNya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 24-25). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan keselamatan bagi hamba-hambaNya dari keburukan kaum kafir serta peperangan mereka, di mana Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ ﴿ "Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka," yaitu para penduduk Makkah ﴾ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka," yakni, setelah kalian menga-lahkan mereka sehingga mereka berada dalam kekuasaan kalian meski tanpa perjanjian, mereka berjumlah sekitar delapan puluh orang, mereka berusaha menyusup ke dalam kaum Muslimin agar dapat mengalahkan mereka kala mereka lengah, namun mereka melihat kaum Muslimin senantiasa waspada hingga mereka pun tertangkap lalu dilepaskan dan tidak dibunuh, semua itu adalah sebagai rahmat Allah سبحانه وتعالى terhadap kaum Mukminin karena tidak membunuh para musuh itu. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas semua orang berdasarkan amalnya dan Allah سبحانه وتعالى akan mengatur kalian orang-orang yang beriman secara baik. (25) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai faktor pendorong untuk memerangi kaum kafir, yaitu kekufuran mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka menghalangi Rasulullah a dan kaum Mukminin yang turut serta untuk mengunjungi Baitullah seraya mengagungkannya dengan berhaji dan umrah, mereka juga adalah orang-orang yang m e n g h a l a n g i ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ مَعۡكُوفًا أَن يَبۡلُغَ مَحِلَّهُۥۚ ﴿ "hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya," yaitu tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang berada di Makkah, di tempat itulah semua hewan kurban umrah disem-belih, tapi orang-orang musyrik menghalanginya secara zhalim dan menentang. Semua hal inilah yang mengharuskan dan mendorong untuk memerangi kaum musyrikin. Hanya saja terdapat satu peng-halang untuk memerangi mereka, yaitu keberadaan orang-orang dari kalangan lelaki dan perempuan yang beriman yang berada di tengah kaum musyrikin. Orang-orang seperti ini tentu tidak bisa dibedakan pada saat diserang, andai saja bukan karena kalangan lelaki dan wanita yang beriman yang tidak diketahui oleh orang-orang Mukmin itu ﴾ أَن تَطَـُٔوهُمۡ ﴿ "bahwa kamu akan membunuh mereka," yakni khawatir jika kalian membunuh mereka,﴾ فَتُصِيبَكُم مِّنۡهُم مَّعَرَّةُۢ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ ﴿ "yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan-mu," (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membina-sakan mereka). Yang dimaksud dengan kesusahan dalam ayat ini adalah memerangi dan menyerang orang-orang yang beriman yang berbaur dengan orang-orang musyrik Makkah. Terdapat faidah lain dalam hal ini yaitu ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "supaya Allah mema-sukkan siapa yang dikehendakiNya," di mana Allah سبحانه وتعالى memberi karunia berupa keimanan terhadap mereka setelah sebelumnya kufur, Allah سبحانه وتعالى memberikan petunjuk kepada mereka setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, dan karena faktor inilah kalian dilarang untuk menyerang mereka. ﴾ لَوۡ تَزَيَّلُواْ ﴿ "Sekiranya mereka tidak ber-campur baur," andai mereka tidak berada di tengah-tengah kaum musyrikin, ﴾ لَعَذَّبۡنَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿ "tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih," dengan cara Kami memberi izin pada kalian orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir itu dan memberikan keme-nangan untuk kalian.

Al-Fath 48:25

"Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membina-sakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang Mukmin dan perempuan-perempuan yang Mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasa-kan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmatNya. Sekiranya mereka tidak bercampur baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih." (Al-Fath: 24-25). (24) Allah سبحانه وتعالى berfirman memberikan keselamatan bagi hamba-hambaNya dari keburukan kaum kafir serta peperangan mereka, di mana Dia berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي كَفَّ أَيۡدِيَهُمۡ ﴿ "Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka," yaitu para penduduk Makkah ﴾ عَنكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ عَنۡهُم بِبَطۡنِ مَكَّةَ مِنۢ بَعۡدِ أَنۡ أَظۡفَرَكُمۡ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Makkah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka," yakni, setelah kalian menga-lahkan mereka sehingga mereka berada dalam kekuasaan kalian meski tanpa perjanjian, mereka berjumlah sekitar delapan puluh orang, mereka berusaha menyusup ke dalam kaum Muslimin agar dapat mengalahkan mereka kala mereka lengah, namun mereka melihat kaum Muslimin senantiasa waspada hingga mereka pun tertangkap lalu dilepaskan dan tidak dibunuh, semua itu adalah sebagai rahmat Allah سبحانه وتعالى terhadap kaum Mukminin karena tidak membunuh para musuh itu. ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرًا ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas semua orang berdasarkan amalnya dan Allah سبحانه وتعالى akan mengatur kalian orang-orang yang beriman secara baik. (25) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan berbagai faktor pendorong untuk memerangi kaum kafir, yaitu kekufuran mereka terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka menghalangi Rasulullah a dan kaum Mukminin yang turut serta untuk mengunjungi Baitullah seraya mengagungkannya dengan berhaji dan umrah, mereka juga adalah orang-orang yang m e n g h a l a n g i ﴾ وَٱلۡهَدۡيَ مَعۡكُوفًا أَن يَبۡلُغَ مَحِلَّهُۥۚ ﴿ "hewan kurban sampai ke tempat (penyembelihan)nya," yaitu tertahan untuk sampai ke tempat penyembelihannya yang berada di Makkah, di tempat itulah semua hewan kurban umrah disem-belih, tapi orang-orang musyrik menghalanginya secara zhalim dan menentang. Semua hal inilah yang mengharuskan dan mendorong untuk memerangi kaum musyrikin. Hanya saja terdapat satu peng-halang untuk memerangi mereka, yaitu keberadaan orang-orang dari kalangan lelaki dan perempuan yang beriman yang berada di tengah kaum musyrikin. Orang-orang seperti ini tentu tidak bisa dibedakan pada saat diserang, andai saja bukan karena kalangan lelaki dan wanita yang beriman yang tidak diketahui oleh orang-orang Mukmin itu ﴾ أَن تَطَـُٔوهُمۡ ﴿ "bahwa kamu akan membunuh mereka," yakni khawatir jika kalian membunuh mereka,﴾ فَتُصِيبَكُم مِّنۡهُم مَّعَرَّةُۢ بِغَيۡرِ عِلۡمٖۖ ﴿ "yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan-mu," (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membina-sakan mereka). Yang dimaksud dengan kesusahan dalam ayat ini adalah memerangi dan menyerang orang-orang yang beriman yang berbaur dengan orang-orang musyrik Makkah. Terdapat faidah lain dalam hal ini yaitu ﴾ لِّيُدۡخِلَ ٱللَّهُ فِي رَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "supaya Allah mema-sukkan siapa yang dikehendakiNya," di mana Allah سبحانه وتعالى memberi karunia berupa keimanan terhadap mereka setelah sebelumnya kufur, Allah سبحانه وتعالى memberikan petunjuk kepada mereka setelah sebelumnya berada dalam kesesatan, dan karena faktor inilah kalian dilarang untuk menyerang mereka. ﴾ لَوۡ تَزَيَّلُواْ ﴿ "Sekiranya mereka tidak ber-campur baur," andai mereka tidak berada di tengah-tengah kaum musyrikin, ﴾ لَعَذَّبۡنَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡهُمۡ عَذَابًا أَلِيمًا ﴿ "tentulah Kami akan mengazab orang-orang kafir di antara mereka dengan azab yang pedih," dengan cara Kami memberi izin pada kalian orang-orang yang beriman untuk memerangi orang-orang kafir itu dan memberikan keme-nangan untuk kalian.

Al-Fath 48:26

"Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurun-kan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang Mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa dan mereka lebih berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al-Fath: 26). (26) Allah تعالى berfirman, ﴾ إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَٰهِلِيَّةِ ﴿ "Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka ke-sombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah," karena mereka menghapus tulisan "Bismillahirrahmanirrahim" serta melarang Rasulullah a dan orang-orang yang beriman untuk mendatangi Makkah pada tahun itu[91] agar orang-orang tidak mengatakan bahwa kaum Mus-limin berhasil masuk Makkah karena telah mengalahkan kaum Quraisy. Hal-hal semacam ini adalah termasuk kejahiliyahan yang tetap tertanam dalam benak mereka sehingga mendorong mereka melakukan berbagai kemaksiatan. ﴾ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَعَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang Mukmin," sehing-ga mereka tidak terpancing untuk menghadapi kaum musyrikin sebagaimana kaum musyrikin memperlakukan mereka dahulunya, tapi kaum Mukminin bersabar atas ketentuan Allah سبحانه وتعالى serta kon-sisten terhadap isi perjanjian yang berisi mengagungkan keharaman Allah سبحانه وتعالى meski apa pun yang terjadi, mereka tidak peduli terhadap perkataan dan celaan orang. ﴾ وَأَلۡزَمَهُمۡ كَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ ﴿ "Dan Allah mewa-jibkan kepada mereka kalimat takwa," yaitu kalimat La ilaha illallah serta kewajiban-kewajiban yang dituntut oleh kalimat ini, mereka diharuskan menunaikannya. Dan mereka pun menunaikannya serta konsisten dalam menunaikannya. ﴾ وَكَانُوٓاْ أَحَقَّ بِهَا ﴿ "Dan mereka lebih berhak dengan kalimat takwa itu," daripada orang lain, ﴾ وَأَهۡلَهَاۚ ﴿ "dan patut memilikinya," yakni mereka adalah orang-orang yang berhak memilikinya karena Allah سبحانه وتعالى mengetahui kebaikan yang ada dalam hati mereka, dan karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

Al-Fath 48:27

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukurnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al-Fath: 27). "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petun-juk dan agama yang haq agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Fath: 28). (27) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya." Hal ini adalah karena sebelumnya Rasulullah a bermimpi ketika berada di Madinah kemudian di-beritahukan kepada para sahabatnya, bahwa mereka akan masuk Makkah dan berthawaf di Baitullah. Namun ketika terjadi peristiwa dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut dan mereka kembali lagi ke Madinah tanpa bisa memasuki Makkah hingga mereka pun mena-nyakan hal itu kepada Rasulullah a, "Bukankah engkau pernah memberitahu kami bahwa kita akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah?" Rasulullah a menjawab, "Apakah aku memberitahukan kepada kalian bahwa itu terjadi pada tahun ini?"[92] Para sahabat menjawab, "Tidak." Rasulullah a menjawab, "Sesungguhnya kalian pasti akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah." Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya," yakni, pasti akan tejadi dan benar meski terlambatnya penjelasan hal itu tidak memburamkan hal itu, ﴾ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ ﴿ "(yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukur-nya," yakni, pada saat itu yang mengharuskan kalian untuk meng-agungkan baitul haram, menunaikan dan menyempurnakan ma-nasik dengan mencukur dan menggunting rambut tanpa disertai rasa takut. ﴾ فَعَلِمَ ﴿ "Maka Allah mengetahui" berbagai kepentingan dan manfaat, ﴾ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ ﴿ "apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu," yakni, masuk dengan keadaan seperti itu sebagai ﴾ فَتۡحٗا قَرِيبًا ﴿ "kemenangan yang dekat." (28) Mengingat peristiwa ini memperkeruh hati sebagian orang Mukmin di mana mereka tidak dapat mengetahui hikmah-nya, Allah سبحانه وتعالى pun menjelaskan hikmah dan manfaatnya dan seperti itulah halnya seluruh hukum-hukum syariat, semua hukum adalah petunjuk dan rahmat yang diberitahukan secara umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk," yaitu dengan ilmu yang bermanfaat yang bisa menyelamatkan manusia dari kesesatan serta menjelas-kan berbagai jalan yang baik dan buruk, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang haq," yaitu agama yang disifati dengan kebenaran yang berupa keadilan, kebaikan dan rahmat, semuanya adalah amal shalih yang bisa membersihkan hati, menyucikan jiwa, menumbuhkan akhlak baik dan meninggikan derajat diri, ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ ﴿ "agar dimenangkanNya," dengan membawa agama yang diembankan oleh Allah سبحانه وتعالى ﴾ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ ﴿ "terhadap semua agama," dengan hujjah dan bukti nyata yang menjadi penyebab untuk menundukkan mereka, baik dengan pe-dang dan lisan. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai saksi."

Al-Fath 48:28

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukurnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al-Fath: 27). "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petun-juk dan agama yang haq agar dimenangkanNya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (Al-Fath: 28). (27) Allah تعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesung-guhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya." Hal ini adalah karena sebelumnya Rasulullah a bermimpi ketika berada di Madinah kemudian di-beritahukan kepada para sahabatnya, bahwa mereka akan masuk Makkah dan berthawaf di Baitullah. Namun ketika terjadi peristiwa dalam perjanjian Hudaibiyah tersebut dan mereka kembali lagi ke Madinah tanpa bisa memasuki Makkah hingga mereka pun mena-nyakan hal itu kepada Rasulullah a, "Bukankah engkau pernah memberitahu kami bahwa kita akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah?" Rasulullah a menjawab, "Apakah aku memberitahukan kepada kalian bahwa itu terjadi pada tahun ini?"[92] Para sahabat menjawab, "Tidak." Rasulullah a menjawab, "Sesungguhnya kalian pasti akan mendatangi dan berthawaf di Baitullah." Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ صَدَقَ ٱللَّهُ رَسُولَهُ ٱلرُّءۡيَا بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada RasulNya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya," yakni, pasti akan tejadi dan benar meski terlambatnya penjelasan hal itu tidak memburamkan hal itu, ﴾ لَتَدۡخُلُنَّ ٱلۡمَسۡجِدَ ٱلۡحَرَامَ إِن شَآءَ ٱللَّهُ ءَامِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمۡ وَمُقَصِّرِينَ ﴿ "(yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan menguris rambut kepala dan mencukur-nya," yakni, pada saat itu yang mengharuskan kalian untuk meng-agungkan baitul haram, menunaikan dan menyempurnakan ma-nasik dengan mencukur dan menggunting rambut tanpa disertai rasa takut. ﴾ فَعَلِمَ ﴿ "Maka Allah mengetahui" berbagai kepentingan dan manfaat, ﴾ مَا لَمۡ تَعۡلَمُواْ فَجَعَلَ مِن دُونِ ذَٰلِكَ ﴿ "apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu," yakni, masuk dengan keadaan seperti itu sebagai ﴾ فَتۡحٗا قَرِيبًا ﴿ "kemenangan yang dekat." (28) Mengingat peristiwa ini memperkeruh hati sebagian orang Mukmin di mana mereka tidak dapat mengetahui hikmah-nya, Allah سبحانه وتعالى pun menjelaskan hikmah dan manfaatnya dan seperti itulah halnya seluruh hukum-hukum syariat, semua hukum adalah petunjuk dan rahmat yang diberitahukan secara umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk," yaitu dengan ilmu yang bermanfaat yang bisa menyelamatkan manusia dari kesesatan serta menjelas-kan berbagai jalan yang baik dan buruk, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan agama yang haq," yaitu agama yang disifati dengan kebenaran yang berupa keadilan, kebaikan dan rahmat, semuanya adalah amal shalih yang bisa membersihkan hati, menyucikan jiwa, menumbuhkan akhlak baik dan meninggikan derajat diri, ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ ﴿ "agar dimenangkanNya," dengan membawa agama yang diembankan oleh Allah سبحانه وتعالى ﴾ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ ﴿ "terhadap semua agama," dengan hujjah dan bukti nyata yang menjadi penyebab untuk menundukkan mereka, baik dengan pe-dang dan lisan. ﴾ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗا ﴿ "Dan cukuplah Allah sebagai saksi."

Al-Fath 48:29

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi ber-kasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka (orang-orang Muk-min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Fath: 29). (29) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang RasulNya, Muhammad a, dan para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar, bahwasanya mereka adalah sosok dengan sifat yang paling mulia dan kondisi pribadi yang paling luhur, dan mereka, ﴾ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "keras terhadap orang-orang kafir." Artinya serius dan bersungguh-sungguh dalam memusuhi orang-orang kafir serta mencurahkan segenap tenaga untuk memusuhi orang-orang kafir. Yang terlihat dari mereka hanyalah sikap keras dan tegas. Karena itulah musuh-musuh mereka menjadi takluk hingga tidak bisa menguasai orang-orang Muslim, ﴾ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ ﴿ "tetapi berkasih sayang sesama mereka," artinya, mereka saling menyayangi, mengasihi, serta saling ber-sikap lemah lembut laksana satu tubuh, menyayangi saudaranya seperti halnya menyayangi diri sendiri dan inilah interaksi mereka terhadap sesama manusia. Adapun hubungan mereka terhadap Sang Pencipta, kamu dapat menyaksikan sendiri di mana mereka ﴾ رُكَّعٗا سُجَّدٗا ﴿ "rukuk dan sujud," Allah سبحانه وتعالى menyifati mereka sebagai orang-orang yang banyak shalat, di mana rukuk dan sujud merupakan rukun shalat yang ter-besar. ﴾ يَبۡتَغُونَ ﴿ "Mereka mencari," dengan ibadah itu, ﴾ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗاۖ ﴿ "karunia Allah dan keridhaanNya." Artinya, itulah maksud dan tujuan mereka yaitu mencari keridhaan Rabb mereka serta mencapai pahalaNya. ﴾ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِۚ ﴿ "Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud." Artinya, banyak serta baiknya ibadah yang mereka lakukan itu membekas di wajah mereka hingga wajah mereka bersinar. Karena batin mereka bersinar disebabkan shalat, maka lahir mereka juga bersinar. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," yakni, yang tersebut itu ﴾ مَثَلُهُمۡ فِي ٱلتَّوۡرَىٰةِۚ ﴿ "sifat-sifat mereka dalam Taurat," artinya sifat-sifat yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى untuk mereka itu juga disebutkan dalam Taurat. Sedangkan ﴾ وَمَثَلُهُمۡ فِي ٱلۡإِنجِيلِ ﴿ "sifat-sifat mereka dalam Injil," me-reka disebut dengan sifat-sifat yang berbeda, yaitu, bahwasanya kesempurnaan pribadi mereka serta saling tolong menolong di antara mereka adalah ﴾ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُۥ فَـَٔازَرَهُۥ ﴿ "seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya," artinya mengeluarkan tunasnya hingga kuat, ﴾ فَٱسۡتَغۡلَظَ ﴿ "maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat," yaitu kuat dan kokoh, ﴾ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ ﴿ "lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya," karena sempurna, tegak, indah dan lurus. Seperti itu juga para sahabat رضي الله عنهم, mereka laksana tanaman karena bisa memba-wa manfaat bagi makhluk serta diperlukan oleh manusia. Kuatnya keimanan dan amal mereka laksana kekuatan akar dan batang tanaman. Kalangan sahabat muda serta yang terlambat masuk Islam sama seperti sahabat-sahabat senior yang telah masuk Islam terlebih dahulu. Mereka saling tolong menolong dan menguatkan dengan keimanan yang dimiliki untuk menegakkan Agama Allah سبحانه وتعالى serta menyeru manusia kepadanya laksana tanaman yang me-ngeluarkan tunasnya hingga bisa mengokohkan dan menguatkan tanaman itu. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لِيَغِيظَ بِهِمُ ٱلۡكُفَّارَۗ ﴿ "Ka-rena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir dengan (kekuatan) mereka (orang-orang Mukmin)," yakni pada saat orang-orang kafir melihat kebersamaan serta kekokohan kaum Mukminin di atas agama mereka dan pada saat orang-orang kafir berhadapan dengan kaum Mukminin dalam peperangan. ﴾ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ مِنۡهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا ﴿ "Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar," yakni, para sahabat رضي الله عنهم yang menyatukan antara iman dan amal shalih sehingga Allah سبحانه وتعالى menyatukan antara ampunan yang di antara keharusannya ada-lah terjaganya mereka dari keburukan dunia dan akhirat dengan pahala yang besar, baik dunia dan di akhirat untuk mereka. Berikut akan kami ketengahkan kisah perjanjian Hudaibiyah secara panjang lebar seperti yang disebutkan oleh Imam Syamsud-din Ibnul Qayyim dalam al-Hadi an-Nabawi, penjelasan kisah ini bisa membantu kita untuk memahami surat al-Fath, di mana Imam Syamsuddin Ibnul Qayyim menjelaskan makna serta rahasia-raha-sia yang terdapat dalam surat al-Fath. Ibnul Qayyim 5 berkata, KISAH PERJANJIAN HUDAIBIYAH[93] Nafi' berkata, "Perjanjian Hudaibiyah terjadi pada tahun ke-6 Hijriyah, bulan Dzulqa'dah," dan inilah yang benar sebagaimana yang dikemukakan oleh az-Zuhri, Qatadah, Musa bin Uqbah, Muhammad bin Ishaq dan lainnya. Hisyam bin Urwah meriwayat-kan dari ayahnya, "Rasulullah a berangkat menuju Hudaibiyah pada bulan Ramadhan, dan peristiwa Hudaibiyah terjadi pada bulan Syawwal." Dan riwayat ini keliru, sebab yang terjadi pada bulan Ramadhan adalah peristiwa penaklukan kota Makkah. Abu al-Aswad meriwayatkan dari Urwah, "Perjanjian Hudaibiyah menurut pendapat yang benar terjadi pada bulan Dzulqa'dah." Disebutkan dalam ash-Shahihain,[94] dari Anas bahwasanya Nabi a melakukan umrah sebanyak empat kali, semuanya dilakukan dalam bulan Dzulqa'dah, Anas menyebutkan bahwa di antaranya adalah Umrah Hudaibiyah ini. Rasulullah a berangkat bersama seribu lima ratus orang sahabat. Seperti inilah yang dijelaskan dalam ash-Shahihain[95] dari Jabir. Disebutkan juga dalam ash-Shahihain dari Jabir: Mereka ber-jumlah seribu empat ratus.[96] Disebutkan juga dalam ash-Shahihain bersumber dari Abdullah bin Abu Aufa, "Kami berjumlah seribu tiga ratus orang."[97] Qatadah berkata, "Aku bertanya pada Sa'id bin al-Musayyib, 'Berapa jumlah orang yang mengikuti Bai'at ar-Ridhwan?' Sa'id bin al-Musayyib menjawab, 'Seribu lima ratus.' Aku (Qatadah) berkata, 'Jabir bin Abdullah menyatakan, 'Mereka berjumlah seribu empat ratus orang.' Sa'id menjawab, 'Semoga Allah merahmatinya, ia salah, ia pernah memberitahukan kepadaku bahwa jumlah mereka adalah seribu lima ratus orang'." Aku (Ibnul Qayyim) berkata, "Dua pendapat ini adalah shahih dari Jabir, dan shahih pula riwayat bahwa para sahabat menyembelih sembilan puluh unta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ada yang bertanya padanya, 'Berapa jumlah kalian?' Jabir menjawab, 'Seribu empat ratus, penunggang kuda dan pejalan kaki.' Hatiku condong pada pendapat ini.'" Pendapat ini juga diriwayatkan dari al-Bara` bin 'Azib, Ma'qal bin Yasar, Salamah bin al-Akwa' dalam salah satu dari dua pendapat yang kuat dan al-Musayyib bin Hazn. Syu'bah meriwayatkan dari Qadatah dari Sa'id bin al-Musay-yib dari ayahnya, "Kami berjumlah seribu empat ratus orang ber-sama Rasulullah a di bawah pohon itu." Adalah sangat salah jika ada yang menyatakan mereka berjumlah tujuh ratus orang karena jumlah unta yang disembelih pada waktu itu berjumlah tujuh puluh ekor unta. Satu unta umumnya dibagi untuk tujuh atau sepuluh orang. Jumlah unta tidak menunjukkan kebenaran pendapat ini. Sebab telah disebutkan dengan jelas bahwa satu unta dalam peris-tiwa ini dibagi untuk tujuh orang. Andai tujuh puluh unta itu dibagikan untuk seluruh sahabat yang ada, tentu jumlah mereka mencapai empat ratus sembilan puluh orang. Padahal disebutkan oleh Jabir dalam hadits itu sendiri jumlah mereka mencapai seribu empat ratus orang. PASAL Ketika mereka sampai di Dzul Hulaifah, Rasulullah a me-ngalungkan tanda hewan hadyu pada hewan kurban, dan menan-dai bulu-bulunya kemudian berihram untuk umrah, selanjutnya mengutus seorang mata-mata yang berasal dari Bani Khuza'ah untuk mencari tahu tentang Quraisy. Sesampainya di dekat daerah Usfan, mata-mata Rasulullah a mendatanginya seraya berkata, "Aku melihat Ka'ab bin Lu`ai mengumpulkan berbagai kabilah untuk memerangimu dan menghalang-halangimu dari Baitullah." Nabi a meminta pendapat dari kalangan sahabat. Ada yang ber-kata, "Bagaimana pendapat engkau jika kita serang anak-anak kabi-lah mereka yang menolong mereka sehingga kita bisa membunuh mereka? Jika mereka hanya diam saja, mereka pasti kalah, jika pun mereka selamat, semoga Allah سبحانه وتعالى memotong leher mereka, atau bagaimana pendapat engkau jika kita mendatangi Baitullah dan siapa pun yang menghalangi kita perangi?" Abu Bakar berkata, "Allah dan RasulNya lebih tahu, kita hanya datang untuk berum-rah, kita tidak datang untuk memerangi seorang pun, hanya saja siapa pun yang menghalangi kita untuk mencapai Baitullah kita perangi?" Nabi a bersabda, "Kalau begitu silahkan kalian berjalan." Para sahabat pun berjalan hingga ketika sampai di sebagian jalan, Nabi a bersabda, "Sesungguhnya Khalid bin al-Walid berada di Ghamim dalam sebuah pasukan berkuda milik Quraisy (yaitu pasukan depan), ambil jalur kanan." Demi Allah, Khalid tidak merasakan kehadiran kaum Muslimin hingga berada di belakang mereka hingga pasukan Khalid pun lari seraya memberikan peri-ngatan pada kaum Quraisy. Nabi a terus berjalan hingga sampai di bukit Tsaniyah, tem-pat Khalid dan para pasukannya turun. Unta Rasulullah a lalu duduk, para sahabat berkata, "Berdiri, berdiri." Unta Rasulullah a tetap duduk. Para sahabat pun berkata, "Qaswa menderum, Qaswa menderum." Nabi a bersabda, "Tidak biasanya Qaswa menderum karena itu bukan kebiasaannya, hanya saja ia ditahan oleh yang menahan tentara gajah (Abrahah)." Selanjutnya Nabi a bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, tidaklah mereka mengajakku kepada sesuatu yang di dalamnya mereka mengagung-kan keharaman Allah melainkan mereka pasti kupenuhi." Kemu-dian Nabi a memukul untanya, lalu berdiri dan berjalan hingga mencapai ujung Hudaibiyah di sebuah sumur yang berisi sedikit air sehingga orang-orang hanya dapat mengambil sedikit saja hingga air pun habis. Orang-orang yang kehausan pun mengadu pada Nabi a, kemudian Nabi a mencabut satu anak panah dari sarung panahnya dan memerintahkan agar panah itu ditancapkan di dalam sumur itu. Ia (Jabir) berkata, "Demi Allah! Air di sumur itu mengalir dengan deras hingga semua orang kenyang sampai mereka meninggalkannya." Kaum Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi a kemudian Nabi a ingin mengutus seseorang dari kalangan sahabatnya untuk menemui kaum Quraisy. Rasulullah a memanggil Umar bin al-Khaththab untuk diutus menemui kaum Quraisy, Umar bin al-Khaththab berkata, "Wahai Rasulullah! Tidak ada seorang pun di Makkah dari kalangan Bani Ka'ab yang akan membelaku jika aku disakiti, maka utuslah Utsman bin Affan, karena di sana terdapat keluarganya dan ia akan menyampaikan apa yang engkau ingin-kan." Kemudian Rasulullah a memanggil Utsman bin Affan untuk diutus menemui kaum Quraisy. Rasulullah a bersabda, "Beritahu-kan mereka, aku tidak datang untuk berperang, aku hanya datang untuk berumrah dan serulah mereka kepada Islam." Utsman bin Affan juga diperintahkan untuk mendatangi kalangan orang-orang beriman, baik lelaki maupun perempuan yang ada di Makkah. Utsman juga diperintahkan untuk mendatangi mereka dan mem-beri kabar gembira kepada mereka dengan penaklukan kota Makkah. Utsman juga diperintahkan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa Allah سبحانه وتعالى akan memenangkan AgamaNya di Makkah hingga orang-orang yang berada di Makkah tidak perlu menyembunyikan keimanannya. Utsman pun pergi. Ia melewati kaum Quraisy di kawasan Baldah. Kaum Quraisy bertanya, "Hendak kemana kamu?" Utsman bin Affan menjawab, "Rasulullah a mengutusku untuk menyeru kalian kepada Allah dan kepada Islam, aku memberitahukan kalian bahwa kami tidak datang untuk berperang, kami datang hanya untuk berumrah." Kaum Quraisy berkata, "Kami telah mendengar ucapanmu, silahkan laksanakan keperluanmu." Aban bin Sa'id bin al-'Ash mendekatinya, dan menyambutnya, ia pun naik kuda seraya mengikutsertakan Utsman di atas kudanya. Aban bin Sa'id bin al-'Ash memberinya perlindungan dan mengantarkannya hingga tiba di Makkah. Kaum Muslimin sebelum tibanya Utsman bin Affan berkata, "Utsman telah pergi mendahului kita ke Baitullah dan berthawaf." Rasulullah a bersabda, "Aku tidak mengira ia berthawaf di Baitullah sedangkan kita tertahan di sini." Mereka berkata, "Apa yang menghalanginya wahai Rasulullah, ia telah pergi." Rasulullah a bersabda, "Itulah dugaanku, ia tidak akan berthawaf di Ka'bah hingga kita berthawaf bersamanya." Kaum Muslimin pun berbaur dengan kaum musyrikin dalam masalah perjanjian, salah seorang dari kedua kubu itu melempar seorang dari kubu lainnya hingga hampir terjadi peperangan, me-reka saling melempar tombak dan batu. Kedua kubu pun berteriak. Masing-masing dari kedua kubu menjadikan orang-orang yang ada di barisannya sebagai jaminan (sandra). Saat itu sampailah kepada Rasulullah a berita bahwa Utsman telah dibunuh. Maka Rasulullah a pun menyeru kaum Muslimin untuk berbai'at. Kaum Muslimin pun menghampiri Rasulullah a yang berada di bawah sebuah pohon, mereka pun berbai'at setia kepada Rasulullah a untuk tidak lari, Rasulullah a dengan tangannya sendiri menjabat tangan me-reka seraya bersabda, "Bai'at ini adalah untuk Utsman." Seusai berbai'at, Utsman ternyata kembali, kaum Muslimin berkata kepadanya, "Hai Abu Abdullah! Engkau telah berthawaf di Baitullah?" Utsman menjawab, "Teramat buruk dugaan kalian terhadapku, demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, andai aku berada di sana selama setahun sedangkan Rasulullah a berada di Hudaibiyah, tentu aku tidak akan berthawaf sebelum Rasulullah a berthawaf, kaum Quraisy mengajakku untuk berthawaf di Bai-tullah, tapi aku enggan." Kaum Muslimin pun berkata, "Rasulullah a adalah yang paling tahu tentang Allah dari kami dan yang paling baik prasangkanya." Umar bin Al-Khaththab menjabat tangan Rasululah untuk berbai'at kepada Rasulullah a di bawah sebatang pohon di sana, kemudian diikuti oleh semua kaum Muslimin kecuali al-Jadd bin Qais. Ma'qal bin Yasar adalah sahabat yang mengangkat dahan pohon itu agar tidak mengenai Rasulullah a. Sahabat pertama yang berbai'at kepada Rasulullah a adalah Abu Sinan al-Anshari. Salamah bin al-Akwa' berbai'at kepada Rasulullah a sebanyak tiga kali, di permulaan, di pertengahan, dan di akhir. Di saat mereka tengah berbai'at, tiba-tiba Budail bin Warqa' al-Khuza'i datang dalam sekelompok orang dari Bani Khuza'ah. Mereka adalah penyimpan berita (dan rahasia) untuk Rasulullah a dari penduduk Tihamah. Ia berkata, "Kami melihat Ka'ab bin Lu`ai dan Amir bin Lu`ai berada di sumur air Hudaibiyah, dan unta-unta gemuk serta ibu-ibu dengan anak-anaknya ikut bersama mereka, mereka ingin memerangimu dan menghalangimu dari Baitullah." Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya kami tidak da-tang untuk memerangi seorang pun, kami datang untuk berumrah, orang-orang Quraisy sendiri telah kalah dalam peperangan dan disusahkan oleh peperangan, jika mereka mau, niscaya aku beri mereka tempo waktu (di mana tidak ada perang antara kami dan mereka) hingga mereka membiarkan antara aku dan orang-orang, jika mereka mau masuk Islam sebagaimana yang dilakukan orang-orang, silahkan dan jika pun tidak, mereka telah berjumlah banyak, namun jika mereka hanya menginginkan peperangan, maka demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya, niscaya aku akan meme-rangi mereka di atas urusanku ini hingga aku mati atau Allah mewujudkan urusanNya." Budail berkata, "Akan aku sampaikan kepada mereka apa yang Anda sabdakan." Kemudian Budail pun bergegas mendatangi kaum Quraisy seraya berkata, "Aku menda-tangi kalian setelah aku bertemu dengan orang ini (yakni Nabi a), aku mendengarnya mengatakan sesuatu, jika kalian mau, akan aku sampaikan pada kalian." Orang-orang bodoh dari kalangan Quraisy berkata, "Kami tidak perlu berbicara apa pun dengannya." Adapun mereka yang berakal mengatakan, "Sampaikan apa yang kau dengar." Budail berkata, "Aku mendengarnya berkata begini dan begini." [Budail pun menyampaikan sabda Nabi a]. Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi berkata, "Orang ini telah menyampaikan tawaran yang lurus (baik) kepada kalian, maka terimalah dan biarkan aku men-datanginya." Kaum Quraisy berkata, "Silahkan engkau datangi." Urwah pun mendatangi Rasulullah a dan berbicara dengannya, Nabi a bersabda seperti yang disabdakan pada Budail. Maka ketika itu Urwah berkata, "Hai Muhammad! Bagaimana pendapatmu jika kau membinasakan kaummu, apakah engkau pernah mendengar seseorang dari kalangan Arab sebelummu yang membinasakan keluarganya sendiri? Jika pun ada, demi Allah! Tentu aku akan melihat wajah-wajah orang gembel yang berlari dan meninggal-kanmu." Abu Bakar berkata pada Urwah bin Mas'ud, "Hisap saja kelentit Latta, apakah kami akan lari meninggalkannya?" Urwah bertanya, "Siapa dia?" Kaum Muslimin menjawab, "Abu Bakar." Urwah berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di TanganNya! Andai engkau dulunya tidak memiliki jasa terhadapku, tentu aku akan membalas ucapanmu." Ia pun berbicara lagi dengan Nabi a, setiap kali berbicara ia selalu memainkan jenggot Rasulullah a, ke-tika itu al-Mughirah bin Syu'bah berada di dekat kepala Rasulullah a, ia membawa pedang sedangkan Urwah kala itu mengenakan baju besi. Acap kali Urwah hendak meraih jenggot Nabi a, al-Mughirah bin Syu'bah langsung memukul tangannya dengan ga-gang pedangnya seraya berkata, "Jauhkan tanganmu dari jenggot Rasulullah a," kemudian Urwah menegakkan kepalanya dan berkata, "Siapa dia?" Rasulullah a menjawab, "Al-Mughirah bin Syu'bah," Urwah berkata, "Hai pengkhianat! Bukankah aku dulu pernah berusaha untuk mencegah kejahatanmu?" Al-Mughirah dulunya pernah bersama sekelompok kaum musyrikin kemudian dia membunuh mereka dan harta mereka dia ambil, setelah itu al-Mughirah masuk Islam, saat itu Rasulullah a bersabda, "Berkaitan dengan Islam, maka aku bisa menerima, adapun masalah harta, maka aku tidak bertanggung jawab sedikit pun." Sepintas Urwah memandang sahabat-sahabat Rasulullah a dengan dua matanya sendiri dan demi Allah! Tidaklah Rasulullah a meludah melainkan pasti jatuh di tangan salah seorang dari sahabat-sahabatnya kemudian diusapkan ke kulit dan wajahnya, jika mereka diperintahkan, mereka segera menunaikan perintahnya, jika Rasulullah a berwudhu mereka hampir saja saling menyerang untuk mendapatkan sisa air wudhunya, jika berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah a, mereka enggan memandangnya sebagai penghormatan. Kemudian Urwah kembali pulang menuju kaumnya seraya berkata, "Hai kaum, demi Allah! Aku pernah mendatangi berbagai raja, raja Kisra, Kaisar dan Najasy, demi Allah! Aku belum pernah melihat seorang raja pun yang begitu diagungkan oleh para pengikutnya seperti yang dilakukan oleh para sahabat Muhammad yang begitu mengagungkan Muhammad. Demi Allah! Tidaklah Muhammad meludah kecuali pasti jatuh di tangan salah seorang dari mereka kemudian diusapkan ke kulit dan wajahnya, jika Muhammad memerintah sesuatu, mereka langsung menunaikannya, jika Muhammad berwudhu, mereka hampir saja berperang hanya untuk memperebutkan sisa air wudhunya, jika berbicara, mereka merendahkan suaranya di hadapan Muhammad dan tidak berani menatapnya karena memuliakan, ia telah mena-warkan langkah lurus (baik) pada kalian, maka terimalah." Seseorang dari Bani Kinanah berkata, "Biarkan aku menda-tanginya." Mereka berkata, "Datangilah dia." Ketika orang itu nampak dari kejauhan, Rasulullah a bersabda, "Dia adalah fulan, dia berasal dari kaum yang menghormati hewan kurban, maka giringlah hewan-hewan kurban itu agar kelihatan olehnya." Maka orang-orang mendekatkan hewan kurban dan kaum Muslimin berpapasan dengannya seraya mengucapkan talbiyah. Ketika lelaki itu menyaksikan pemandangan tersebut, ia berkata, "Subhanallah, tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah." Ketika ia kembali kepada teman-temannya (kaum Quraisy) ia berkata, "Aku telah menyaksikan dengan mata kepala-ku sendiri hewan-hewan kurban telah dikalungi dan diberi tanda, maka menurut saya tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah." Seseorang dari mereka yang bernama Mikraz bin Hafs ber-kata, "Biarkan aku yang mendatanginya." Mereka berkata, "Datangi-lah." Ketika Rasulullah a melihat dari kejauhan, beliau bersabda, "Orang itu adalah Mikraz, seorang jahat (durjana)." Kemudian Mikraz berbicara dengan Rasulullah a, ketika sedang berbicara, tiba-tiba datanglah Suhail bin Amr. Maka Nabi bersabda, "Allah telah memudahkan urusan kalian (dengan datangnya orang ini)." Suhail berkata, "Marilah kita laksanakan perjanjian antara kita ke dalam suatu naskah perjanjian." Rasulullah a memanggil Ali رضي الله عنه dan memerintahkan kepada-nya, "Tulislah 'Bismillahirrahmanirrahim' (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)." Tetapi Suhail memotong dan mengatakan, "Ar-Rahman, demi Allah! Aku tidak mengerti apa maksudnya, tapi tuliskan saja 'Bismikallahumma' (Dengan menyebut namaMu, ya Allah) seperti yang biasanya kalian tulis." Para sahabat menjawab, "Demi Allah! Kami tidak mau menu-lisnya kecuali dengan 'Bismillahirrahmanirrahim." Maka Rasulullah a menengahi ketegangan tersebut seraya bersabda; "Tulislah 'Bismikallahumma,'" kemudian beliau melanjutkan, "Ini adalah ke-putusan Muhammad, utusan Allah." Suhail kembali memprotes, "Demi Allah! Andai kami menge-tahui bahwa engkau adalah utusan Allah, tentu kami tidak meng-halang-halangimu untuk sampai ke Baitullah dan tentu kami tidak memerangimu, tapi tulislah 'Muhammad bin Abdullah." Rasulullah a pun bersabda; "Demi Allah! Sesungguhnya aku benar-benar utusan Allah sekalipun kalian mendustakanku, tulislah Muhammad bin Abdullah." Kemudian Rasulullah a berkata kepada Suhail, "Dengan syarat hendaklah kalian membiarkan kami mengunjungi Baitullah, kami akan berthawaf." Suhail berkata, "Demi Allah! Demi mencegah agar orang-orang Arab jangan membicarakan bahwa kami ditekan, tetapi sebaliknya hal itu dilakukan pada tahun depan (bukan saat ini)." Suhail mengajukan syarat, "Dan syarat lainnya adalah jika ada orang dari kalangan kami yang datang kepadamu, sekalipun ia memeluk agamamu, engkau harus mengembalikan-nya kepada kami." Kaum Muslimin berkata, "Subhanallah, mana mungkin dia dikembalikan pada orang-orang musyrik sedangkan dia datang dalam keadaan Muslim." Ketika mereka sedang dalam keadaan demikian, tiba-tiba datanglah Abu Jandal bin Suhail bin Amr dalam keadaan terbelenggu dengan rantai. Dia melarikan diri dari Makkah melalui jalan yang terendah hingga sampailah dia di hadapan kaum Muslimin. Suhail berkata, "Hai Muhammad, ini adalah orang pertama yang termasuk dalam perjanjian yang harus engkau tepati, engkau harus mengembalikannya (padaku)." Rasulullah a bersabda, "Kita masih belum menyelesaikan naskah perjanjian ini." Suhail bin Amr berkata, "Kalau begitu, demi Allah! Aku tidak mau berdamai denganmu atas sesuatu pun selamanya." Rasulullah a mendesak, "Kalau begitu, izinkan dia demi aku." Suhail menjawab, "Aku tidak akan mengizinkannya (untukmu)." Rasulullah a mendesak lagi, "Tidak, biarkanlah dia untukku." Suhail tetap bersikeras, "Aku tidak akan mengizinkan kau meng-ambilnya." Mikraz berkata, "Ya, kami membolehkanmu meng-ambilnya." Abu Jandal berkata, "Hai orang-orang Muslim! Apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku datang sebagai seorang Muslim, tidakkah kalian melihat apa yang telah aku alami?" Abu Jandal selama itu disiksa karena memper-tahankan Agama Allah سبحانه وتعالى. Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه mengatakan, "Demi Allah, sejak masuk Islam, aku tidak pernah ragu kecuali pada hari itu, maka aku mendatangi Rasulullah a dan bertanya, "Bukankah engkau nabi Allah yang sebenarnya?" Rasulullah a menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Bukankah kita berada di pihak yang benar dan musuh kita berada di pihak yang batil?" Rasulullah a menjawab, "Benar," Umar berkata, "Lantas mengapa kita mengalah dalam membela Agama kita?" Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, aku tidak akan mendurhakaiNya dan Dia pasti akan menolongku." Umar bertanya, "Bukankah Anda pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan thawaf?" Rasulullah a menjawab, "Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi-nya tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak," kemudian Rasulullah a bersabda, "Sesungguhnya engkau akan mengunjungi Baitullah dan berthawaf." Setelah itu, Umar mendatangi Abu Bakar dan bertanya, "Hai Abu Bakar, bukankah dia nabi Allah sebenarnya?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Bukankah kita berada di pihak yang benar sedangkan musuh kita berada di pihak yang batil?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Umar bertanya, "Lalu mengapa kita mengalah dalam membela Agama kita?" Abu Bakar merasa kesal, lalu berkata, "Hai orang, dia adalah utusan Allah dan beliau tidak akan mendurhakaiNya, Dia pasti menolongnya, maka terimalah apa yang ditetapkannya, demi Allah! Sesungguhnya dia berada pada keputusan yang benar." Umar berkata, "Bukankah dia telah berbicara kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan berthawaf?" Abu Bakar menjawab, "Benar," Abu Bakar balik ber-tanya, "Apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatangi Baitullah tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak," Abu Bakar berkata, "Sesungguhnya engkau pasti akan mendatangi Baitullah dan berthawaf." Seusai menulis isi perjanjian, Rasulullah a bersabda, "Ber-dirilah kalian dan sembelihlah hewan kurban kalian kemudian bercukurlah." Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berdiri hingga Rasulullah a mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali. Karena tidak ada seorang pun yang mau berdiri, Rasulullah a pun masuk ke tenda Ummu Salamah dan menceritakan pada-nya perlakuan yang diterima dari orang-orang, kemudian Ummu Salamah berkata, "Hai Nabi Allah! Apakah engkau menginginkan agar hal tersebut terlaksana, sekarang keluarlah dan jangan berkata sepatah kata pun kepada seorang pun sebelum engkau menyem-belih kurban dan kau panggil tukang cukur untuk mencukurmu." Rasulullah a pun keluar dari kemah dan tidak berbicara dengan siapa pun hingga melakukan apa yang telah disarankan Ummu Salamah. Beliau a menyembelih hewan kurbannya lalu memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut beliau. Ketika para sahabat melihat hal tersebut, mereka segera bangkit menuju tempat hewan kurban masing-masing lalu menyem-belihnya dan sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian hingga sebagian dari mereka hampir membunuh sebagian yang lain karena kesal. Kemudian beberapa wanita beriman mendatangi Rasulullah a. Pada saat itulah turun ayat; ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا جَآءَكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰتٖ فَٱمۡتَحِنُوهُنَّۖ ٱللَّهُ أَعۡلَمُ بِإِيمَٰنِهِنَّۖ فَإِنۡ عَلِمۡتُمُوهُنَّ مُؤۡمِنَٰتٖ فَلَا تَرۡجِعُوهُنَّ إِلَى ٱلۡكُفَّارِۖ لَا هُنَّ حِلّٞ لَّهُمۡ وَلَا هُمۡ يَحِلُّونَ لَهُنَّۖ وَءَاتُوهُم مَّآ أَنفَقُواْۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّۚ وَلَا تُمۡسِكُواْ بِعِصَمِ ٱلۡكَوَافِرِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepada-mu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir." (Al-Mumtahanah: 10). Saat itu juga Umar menceraikan dua orang istrinya karena keduanya tetap dalam kemusyrikan, kemudian salah seorangnya dinikahi Mu'awiyah bin Abu Sufyan sedangkan yang lainnya dinikahi oleh Shafwan bin Umayyah (sebelum keduanya masuk Islam. Ed. T). Ketika Rasulullah a kembali ke Madinah, Allah سبحانه وتعالى menurun-kan padanya, ﴾ إِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحٗا مُّبِينٗا 1 لِّيَغۡفِرَ لَكَ ٱللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنۢبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهُۥ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَٰطٗا مُّسۡتَقِيمٗا 2 وَيَنصُرَكَ ٱللَّهُ نَصۡرًا عَزِيزًا 3 ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepada kamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memberimu petunjuk kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak)." Sampai akhir surat. Umar bin al-Khaththab bertanya, "Apakah itu penaklukan wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Ya." Para sahabat berkata, "Selamat buatmu wahai Rasulullah, lantas bagian kami apa?" Maka Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ لِيَزۡدَادُوٓاْ إِيمَٰنٗا مَّعَ إِيمَٰنِهِمۡۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا 4 ﴿ "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." Inilah tafsir terakhir surat al-Fath. Segala puji dan nikmat hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Semoga kesejahteraan tetap terlimpahkan pada Nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya. Saya menukil dari tulisan penafsirnya sendiri 5 dan semoga Allah سبحانه وتعالى mengampuni beliau. Ia usai menulis tafsirnya pada tanggal 13 Dzulhijjah 1345 H. Semoga Allah tetap melimpahkan kesejah-teraan pada Nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya serta tetap memberikan keselamatan yang banyak hingga Hari Akhir. Amin. Ditulis oleh orang yang membutuhkan Rabbnya, Sulaiman bin Hamad al-Abdullah al-Bassam. Semoga Allah سبحانه وتعالى berkenan mengampuninya dan orang tuanya serta untuk seluruh kaum Muslimin, amin. Semoga Allah tetap melimpahkan kesejahteraan kepada nabi kita Muhammad a dan para sahabatnya serta tetap memberikan keselamatan yang banyak hingga Hari Akhir. Amin. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى yang dengan nikmatNya segala perbuatan baik terselesaikan.

Al-Hujurat 49:1

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahu-lui Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terha-dap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertak-wa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Hujurat: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Ayat ini mencakup etika terhadap Allah سبحانه وتعالى dan terhadap Rasulullah a serta mengagungkan, menghormati, dan memulia-kannya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan tuntutan keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangan-Nya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى dan mengikuti sunnah Rasulullah a dalam semua hal, agar tidak mendahului Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a menyatakan, dan tidak me-merintah apa pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a memerintah. Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal. Da-lam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah a sebelum beliau mengucapkan. Manakala Sunnah Rasulullah a telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulu-kan atas yang lainnya, tidak peduli siapa pun orangnya. (1) Allah تعالى memerintahkan untuk takwa secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib yang berkata, "Takwa itu adalah bahwa Anda mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas dasar cahaya dari Allah di mana Anda hanya berharap pahala balasan Allah, dan bahwa Anda meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah di mana Anda takut kepada azabNya. Dan Firman Allah ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Men-dengar ," yakni, semua jenis suara dan dalam semua waktu sekali-pun dalam tempat dan arah yang sama. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui," yakni apa-apa yang zahir dan apa-apa yang bersifat batin, yang telah berlalu maupun yang akan datang, yang wajib secara aqli dan juga yang mustahil dan mubah secara aqli. Dalam penyebutan dua nama Allah yang mulia ini setelah didahului dengan larangan mendahului Allah dan RasulNya, kemudian perintah untuk bertakwa kepadaNya, Allah mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah yang baik tersebut dan juga adab-adab yang bagus, serta ancaman dari lawannya. (2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras." Ini adalah adab terhadap Rasu-lullah a ketika berbicara dengan beliau. Artinya, orang yang ber-bicara dengan Rasulullah a tidak boleh meninggikan suaranya melebihi suara Rasulullah a dan tidak boleh mengeraskan suara di hadapan Rasulullah a, ketika berbicara dengan Rasulullah a suara harus dilirihkan dengan sopan, lembut seraya mengagung-kan dan memuliakan, karena Rasulullah a bukan seperti salah seorang dari kalian, untuk itu bedakanlah ketika berbicara dengan-nya sebagaimana kalian membedakan hak-haknya terhadap umat-nya, kalian wajib mencintainya dengan kecintaan di mana keimanan tidak bisa sempurna tanpanya. Karena tanpa melaksanakan hal itu dikhawatirkan akan bisa menggugurkan amalan seorang hamba sedangkan dia tidak merasa, sebagaimana beretika terhadap Rasu-lullah a juga merupakan salah satu penyebab mendapatkan pahala dan diterimanya amal. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memuji orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah a bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan bahwa orang seperti ini hatinya tengah diuji untuk ketakwa-an sehingga hasilnya bisa terlihat dengan jelas, yaitu hati mereka menjadi layak untuk bertakwa. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjanjikan ampunan bagi dosanya yang mencakup lenyapnya keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan serta bisa mendatangkan pahala besar yang sifatnya tidak diketahui kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى semata, yang mencakup didapatkannya semua hal yang diinginkan. Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى meng-uji hati dengan perintah, larangan dan ujian. Siapa pun yang terus menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى, mencari ridhaNya, menyegerakan hal itu serta mendahulukannya di atas keinginannya, maka ia akan terpilih untuk diberi ketakwaan sehingga hatinya layak untuk ber-takwa, namun siapa pun yang tidak seperti itu, maka bisa diketahui bahwa orang itu tidak layak untuk bertakwa.

Al-Hujurat 49:2

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahu-lui Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terha-dap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertak-wa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Hujurat: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Ayat ini mencakup etika terhadap Allah سبحانه وتعالى dan terhadap Rasulullah a serta mengagungkan, menghormati, dan memulia-kannya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan tuntutan keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangan-Nya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى dan mengikuti sunnah Rasulullah a dalam semua hal, agar tidak mendahului Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a menyatakan, dan tidak me-merintah apa pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a memerintah. Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal. Da-lam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah a sebelum beliau mengucapkan. Manakala Sunnah Rasulullah a telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulu-kan atas yang lainnya, tidak peduli siapa pun orangnya. (1) Allah تعالى memerintahkan untuk takwa secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib yang berkata, "Takwa itu adalah bahwa Anda mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas dasar cahaya dari Allah di mana Anda hanya berharap pahala balasan Allah, dan bahwa Anda meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah di mana Anda takut kepada azabNya. Dan Firman Allah ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Men-dengar ," yakni, semua jenis suara dan dalam semua waktu sekali-pun dalam tempat dan arah yang sama. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui," yakni apa-apa yang zahir dan apa-apa yang bersifat batin, yang telah berlalu maupun yang akan datang, yang wajib secara aqli dan juga yang mustahil dan mubah secara aqli. Dalam penyebutan dua nama Allah yang mulia ini setelah didahului dengan larangan mendahului Allah dan RasulNya, kemudian perintah untuk bertakwa kepadaNya, Allah mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah yang baik tersebut dan juga adab-adab yang bagus, serta ancaman dari lawannya. (2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras." Ini adalah adab terhadap Rasu-lullah a ketika berbicara dengan beliau. Artinya, orang yang ber-bicara dengan Rasulullah a tidak boleh meninggikan suaranya melebihi suara Rasulullah a dan tidak boleh mengeraskan suara di hadapan Rasulullah a, ketika berbicara dengan Rasulullah a suara harus dilirihkan dengan sopan, lembut seraya mengagung-kan dan memuliakan, karena Rasulullah a bukan seperti salah seorang dari kalian, untuk itu bedakanlah ketika berbicara dengan-nya sebagaimana kalian membedakan hak-haknya terhadap umat-nya, kalian wajib mencintainya dengan kecintaan di mana keimanan tidak bisa sempurna tanpanya. Karena tanpa melaksanakan hal itu dikhawatirkan akan bisa menggugurkan amalan seorang hamba sedangkan dia tidak merasa, sebagaimana beretika terhadap Rasu-lullah a juga merupakan salah satu penyebab mendapatkan pahala dan diterimanya amal. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memuji orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah a bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan bahwa orang seperti ini hatinya tengah diuji untuk ketakwa-an sehingga hasilnya bisa terlihat dengan jelas, yaitu hati mereka menjadi layak untuk bertakwa. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjanjikan ampunan bagi dosanya yang mencakup lenyapnya keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan serta bisa mendatangkan pahala besar yang sifatnya tidak diketahui kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى semata, yang mencakup didapatkannya semua hal yang diinginkan. Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى meng-uji hati dengan perintah, larangan dan ujian. Siapa pun yang terus menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى, mencari ridhaNya, menyegerakan hal itu serta mendahulukannya di atas keinginannya, maka ia akan terpilih untuk diberi ketakwaan sehingga hatinya layak untuk ber-takwa, namun siapa pun yang tidak seperti itu, maka bisa diketahui bahwa orang itu tidak layak untuk bertakwa.

Al-Hujurat 49:3

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahu-lui Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terha-dap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertak-wa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Al-Hujurat: 1-3). Madaniyyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Ayat ini mencakup etika terhadap Allah سبحانه وتعالى dan terhadap Rasulullah a serta mengagungkan, menghormati, dan memulia-kannya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman sesuai dengan tuntutan keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangan-Nya serta harus berjalan di belakang perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى dan mengikuti sunnah Rasulullah a dalam semua hal, agar tidak mendahului Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, tidak mengatakan sesuatu pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a menyatakan, dan tidak me-merintah apa pun hingga Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a memerintah. Inilah hakikat etika wajib terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dan itulah alamat kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba. Jika etika tersebut tidak dimiliki oleh seorang hamba, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan abadi dan kenikmatan kekal. Da-lam hal ini terdapat larangan keras untuk mendahului perkataan Rasulullah a sebelum beliau mengucapkan. Manakala Sunnah Rasulullah a telah jelas, maka ia wajib diikuti dan harus didahulu-kan atas yang lainnya, tidak peduli siapa pun orangnya. (1) Allah تعالى memerintahkan untuk takwa secara umum, yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Thalq bin Habib yang berkata, "Takwa itu adalah bahwa Anda mengerjakan ketaatan kepada Allah di atas dasar cahaya dari Allah di mana Anda hanya berharap pahala balasan Allah, dan bahwa Anda meninggalkan kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah di mana Anda takut kepada azabNya. Dan Firman Allah ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Men-dengar ," yakni, semua jenis suara dan dalam semua waktu sekali-pun dalam tempat dan arah yang sama. ﴾ عَلِيمٞ ﴿ "lagi Maha Mengeta-hui," yakni apa-apa yang zahir dan apa-apa yang bersifat batin, yang telah berlalu maupun yang akan datang, yang wajib secara aqli dan juga yang mustahil dan mubah secara aqli. Dalam penyebutan dua nama Allah yang mulia ini setelah didahului dengan larangan mendahului Allah dan RasulNya, kemudian perintah untuk bertakwa kepadaNya, Allah mendorong untuk melaksanakan perintah-perintah yang baik tersebut dan juga adab-adab yang bagus, serta ancaman dari lawannya. (2) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُوٓاْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata padanya dengan suara keras." Ini adalah adab terhadap Rasu-lullah a ketika berbicara dengan beliau. Artinya, orang yang ber-bicara dengan Rasulullah a tidak boleh meninggikan suaranya melebihi suara Rasulullah a dan tidak boleh mengeraskan suara di hadapan Rasulullah a, ketika berbicara dengan Rasulullah a suara harus dilirihkan dengan sopan, lembut seraya mengagung-kan dan memuliakan, karena Rasulullah a bukan seperti salah seorang dari kalian, untuk itu bedakanlah ketika berbicara dengan-nya sebagaimana kalian membedakan hak-haknya terhadap umat-nya, kalian wajib mencintainya dengan kecintaan di mana keimanan tidak bisa sempurna tanpanya. Karena tanpa melaksanakan hal itu dikhawatirkan akan bisa menggugurkan amalan seorang hamba sedangkan dia tidak merasa, sebagaimana beretika terhadap Rasu-lullah a juga merupakan salah satu penyebab mendapatkan pahala dan diterimanya amal. (3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى memuji orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah a bahwasanya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan bahwa orang seperti ini hatinya tengah diuji untuk ketakwa-an sehingga hasilnya bisa terlihat dengan jelas, yaitu hati mereka menjadi layak untuk bertakwa. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menjanjikan ampunan bagi dosanya yang mencakup lenyapnya keburukan dan hal-hal yang tidak diinginkan serta bisa mendatangkan pahala besar yang sifatnya tidak diketahui kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى semata, yang mencakup didapatkannya semua hal yang diinginkan. Di sini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى meng-uji hati dengan perintah, larangan dan ujian. Siapa pun yang terus menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى, mencari ridhaNya, menyegerakan hal itu serta mendahulukannya di atas keinginannya, maka ia akan terpilih untuk diberi ketakwaan sehingga hatinya layak untuk ber-takwa, namun siapa pun yang tidak seperti itu, maka bisa diketahui bahwa orang itu tidak layak untuk bertakwa.

Al-Hujurat 49:4

"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekira-nya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesung-guhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 4-5). (4) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan segolongan orang dari kalangan baduwi yang sifatnya disebutkan Allah سبحانه وتعالى se-bagai berwatak keras, mereka layak untuk tidak mengetahui ba-tasan-batasan yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya. Suatu ketika mereka mendatangi Rasulullah a, mereka pun bertemu dengan Rasulullah a di dalam rumahnya dan di sana ada kamar-kamar istri-istri Rasulullah a, mereka tidak bersabar dan tidak sopan hingga Rasulullah a keluar menemui, bahkan mereka me-manggil dengan suara keras, "Hai Muhammad, hai Muhammad!"[98] Maksudnya, keluarlah dan temui kami. Allah سبحانه وتعالى mencela mereka sebagai orang-orang tidak berakal yang tidak mengerti etika sopan santun terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta tidak menghormati-nya, karena di antara tanda orang berakal adalah menggunakan etika bersopan santun, etika sopan santun seseorang adalah tanda bahwa orang itu berakal dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki kebaikan padanya. (5) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ صَبَرُواْ حَتَّىٰ تَخۡرُجَ إِلَيۡهِمۡ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun atas segala dosa yang dilakukan hamba-hambaNya serta sikapnya yang tidak beradab, Maha Penyayang terhadap mereka karena tidak menyegerakan azab karena dosa-dosa yang mereka lakukan tersebut.

Al-Hujurat 49:5

"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekira-nya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesung-guhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pe-ngampun lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 4-5). (4) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan segolongan orang dari kalangan baduwi yang sifatnya disebutkan Allah سبحانه وتعالى se-bagai berwatak keras, mereka layak untuk tidak mengetahui ba-tasan-batasan yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya. Suatu ketika mereka mendatangi Rasulullah a, mereka pun bertemu dengan Rasulullah a di dalam rumahnya dan di sana ada kamar-kamar istri-istri Rasulullah a, mereka tidak bersabar dan tidak sopan hingga Rasulullah a keluar menemui, bahkan mereka me-manggil dengan suara keras, "Hai Muhammad, hai Muhammad!"[98] Maksudnya, keluarlah dan temui kami. Allah سبحانه وتعالى mencela mereka sebagai orang-orang tidak berakal yang tidak mengerti etika sopan santun terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta tidak menghormati-nya, karena di antara tanda orang berakal adalah menggunakan etika bersopan santun, etika sopan santun seseorang adalah tanda bahwa orang itu berakal dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki kebaikan padanya. (5) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ صَبَرُواْ حَتَّىٰ تَخۡرُجَ إِلَيۡهِمۡ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun atas segala dosa yang dilakukan hamba-hambaNya serta sikapnya yang tidak beradab, Maha Penyayang terhadap mereka karena tidak menyegerakan azab karena dosa-dosa yang mereka lakukan tersebut.

Al-Hujurat 49:6

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al-Hujurat: 6). (6) Ini juga merupakan adab dan sopan santun yang harus diteladani dan dilakukan oleh orang-orang yang berakal, yaitu ketika ada orang fasik membawa suatu berita, hendaklah berita itu dicek dan tidak diterima begitu saja, karena hal itu bisa menimbul-kan bahaya yang besar serta menjerumuskan dalam lembah dosa. Karena berita yang dibawa orang fasik itu jika disamakan dengan berita yang dibawa orang terpercaya dan lurus serta hukumnya dilakukan berdasarkan berita tersebut, maka hal itu akan memba-hayakan jiwa dan harta tanpa haknya disebabkan oleh berita itu yang menimbulkan penyesalan. Yang harus dilakukan ketika ada berita yang dibawa orang fasik adalah dicek dan diperjelas, jika terdapat berbagai bukti serta indikasi atas kebenaran berita itu, maka diamalkan dan dipercayai, namun jika berbagai bukti serta indikasi menunjukkan kebohongan berita itu, maka tidak boleh dilaksanakan dan harus didustakan. Di sini juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa berita orang jujur itu bisa diterima, berita pendusta ditolak, sedangkan berita orang fasik harus ditahan terlebih dahulu sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Karena itulah banyak ulama salaf yang menerima riwayat orang-orang Khawarij yang dikenal sebagai orang-orang jujur meski mereka adalah orang-orang fasik.

Al-Hujurat 49:7

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Itu adalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijak-sana." (Al-Hujurat: 7-8). (7) Artinya, hendaklah kalian mengetahui bahwa ﴾ رَسُولَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Rasulullah," ada di tengah-tengah kalian, dialah Rasul mulia, lagi baik dan berakal yang menginginkan kebaikan pada kalian, me-nasihati kalian, di mana kalian menginginkan keburukan serta kejelekan terhadap diri kalian sendiri, namun hal itu tidak sesuai dengan yang dikehendaki Rasulullah a. ﴾ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ ﴿ "Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan," tentu akan terasa berat dan membebani kalian, tapi Rasulullah a menunjukkan kalian dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan kalian cinta kepada ﴾ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ ﴿ "keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu," karena rasa cinta terhadap kebenaran serta lebih mengedepankan kebenaran yang tertanam dalam benak kalian serta tegaknya hati di atas ke-benaran dengan berbagai saksi dan dalil yang menunjukkan kebe-narannya serta diterimanya oleh hati dan fitrah serta pertolongan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada kalian agar kalian kembali kepa-daNya. Allah سبحانه وتعالى (sebaliknya) menjadikan ﴾ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ ﴿ "kamu benci kepada kekafiran dan kefasikan," yaitu dosa-dosa besar, ﴾ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ ﴿ "dan kedurhakaan," yaitu dosa-dosa kecil karena rasa benci terhadap keburukan yang ditanamkan Allah سبحانه وتعالى dalam hati kalian, kalian tidak ingin untuk melakukannya serta berbagai dalil dan saksi yang ditegakkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan rusak dan berbahaya-nya hal itu serta tidak sesuai dan tidak bisa diterima oleh fitrah, serta karena Allah سبحانه وتعالى menanamkan kebencian pada hati kalian untuk tidak menyukai hal itu. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang yang hatinya dihiasi oleh Allah سبحانه وتعالى dengan keimanan dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan keimanan itu dicintai oleh mereka dan menjadikan mereka membenci keku-furan, kefasikan, dan kedurhakaan, ﴾ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ ﴿ "orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus," yakni orang-orang yang ilmu dan amal-nya baik, tegak di atas Agama dan jalan yang lurus. Kebalikan dari mereka adalah orang-orang sesat yang di dalam hatinya diberi rasa senang terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan serta benci terhadap keimanan. Dosa yang me-reka lakukan itu adalah dosa mereka sendiri, sebab ketika mereka berbuat kefasikan, maka kefasikan itu dibentuk oleh Allah سبحانه وتعالى dalam hati mereka, ketika mereka sesat, maka Allah سبحانه وتعالى menyesatkan hati mereka, dan karena mereka tidak beriman pada kebenaran yang datang pada mereka pada pertama kalinya, maka Allah سبحانه وتعالى mem-balikkan hati mereka. (8) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعۡمَةٗۚ ﴿ "Itu adalah sebagai karu-nia dan nikmat dari Allah." Artinya, kebaikan yang mereka dapatkan itu merupakan karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, bukan karena usaha dan kekuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," yakni, Maha Mengetahui orang yang bersyukur atas nikmatNya sehingga akan diberi pertolongan untuk mendapatkannya, ber-beda dengan orang yang tidak bersyukur sehingga kenikmatan itu tidak layak untuknya sehingga karunia Allah سبحانه وتعالى pun lenyap sesuai dengan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى.

Al-Hujurat 49:8

"Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Itu adalah sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijak-sana." (Al-Hujurat: 7-8). (7) Artinya, hendaklah kalian mengetahui bahwa ﴾ رَسُولَ ٱللَّهِۚ ﴿ "Rasulullah," ada di tengah-tengah kalian, dialah Rasul mulia, lagi baik dan berakal yang menginginkan kebaikan pada kalian, me-nasihati kalian, di mana kalian menginginkan keburukan serta kejelekan terhadap diri kalian sendiri, namun hal itu tidak sesuai dengan yang dikehendaki Rasulullah a. ﴾ لَوۡ يُطِيعُكُمۡ فِي كَثِيرٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡرِ ﴿ "Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan," tentu akan terasa berat dan membebani kalian, tapi Rasulullah a menunjukkan kalian dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan kalian cinta kepada ﴾ ٱلۡإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِي قُلُوبِكُمۡ ﴿ "keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu," karena rasa cinta terhadap kebenaran serta lebih mengedepankan kebenaran yang tertanam dalam benak kalian serta tegaknya hati di atas ke-benaran dengan berbagai saksi dan dalil yang menunjukkan kebe-narannya serta diterimanya oleh hati dan fitrah serta pertolongan yang diberikan Allah سبحانه وتعالى kepada kalian agar kalian kembali kepa-daNya. Allah سبحانه وتعالى (sebaliknya) menjadikan ﴾ إِلَيۡكُمُ ٱلۡكُفۡرَ وَٱلۡفُسُوقَ ﴿ "kamu benci kepada kekafiran dan kefasikan," yaitu dosa-dosa besar, ﴾ وَٱلۡعِصۡيَانَۚ ﴿ "dan kedurhakaan," yaitu dosa-dosa kecil karena rasa benci terhadap keburukan yang ditanamkan Allah سبحانه وتعالى dalam hati kalian, kalian tidak ingin untuk melakukannya serta berbagai dalil dan saksi yang ditegakkan oleh Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan rusak dan berbahaya-nya hal itu serta tidak sesuai dan tidak bisa diterima oleh fitrah, serta karena Allah سبحانه وتعالى menanamkan kebencian pada hati kalian untuk tidak menyukai hal itu. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ ﴿ "Mereka itulah," orang-orang yang hatinya dihiasi oleh Allah سبحانه وتعالى dengan keimanan dan Allah سبحانه وتعالى menjadikan keimanan itu dicintai oleh mereka dan menjadikan mereka membenci keku-furan, kefasikan, dan kedurhakaan, ﴾ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ ﴿ "orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus," yakni orang-orang yang ilmu dan amal-nya baik, tegak di atas Agama dan jalan yang lurus. Kebalikan dari mereka adalah orang-orang sesat yang di dalam hatinya diberi rasa senang terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan serta benci terhadap keimanan. Dosa yang me-reka lakukan itu adalah dosa mereka sendiri, sebab ketika mereka berbuat kefasikan, maka kefasikan itu dibentuk oleh Allah سبحانه وتعالى dalam hati mereka, ketika mereka sesat, maka Allah سبحانه وتعالى menyesatkan hati mereka, dan karena mereka tidak beriman pada kebenaran yang datang pada mereka pada pertama kalinya, maka Allah سبحانه وتعالى mem-balikkan hati mereka. (8) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعۡمَةٗۚ ﴿ "Itu adalah sebagai karu-nia dan nikmat dari Allah." Artinya, kebaikan yang mereka dapatkan itu merupakan karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, bukan karena usaha dan kekuatan mereka. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana," yakni, Maha Mengetahui orang yang bersyukur atas nikmatNya sehingga akan diberi pertolongan untuk mendapatkannya, ber-beda dengan orang yang tidak bersyukur sehingga kenikmatan itu tidak layak untuknya sehingga karunia Allah سبحانه وتعالى pun lenyap sesuai dengan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى.

Al-Hujurat 49:9

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujurat: 9-10). (9) Ini mengandung larangan bagi orang-orang yang ber-iman untuk saling menzhalimi satu sama lain dan untuk saling menyerang satu sama lain. Jika ada dua kubu dari orang-orang beriman yang saling berperang, maka diwajibkan atas orang-orang beriman lainnya untuk melenyapkan keburukan besar ini dengan cara didamaikan serta ditengahi secara baik sehingga perdamaian bisa terwujud dan agar mereka yang saling berperang bisa menem-puh jalan yang menggiring pada perdamaian. Jika keduanya ber-damai, maka itulah yang terbaik, namun ﴾ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ ﴿ "jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." Maksudnya, kembali pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya de-ngan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan di mana yang terbesar adalah perang. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ ﴿ "Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya de-ngan adil." Ini adalah perintah untuk berdamai serta bersikap adil dalam perdamaian, sebab bisa saja perdamaian dibuat namun tidak adil, tapi dibuat secara zhalim untuk salah satu dari kedua belah pihak yang bertikai; ini bukan perdamaian yang diperin-tahkan. Untuk itu salah satu dari kedua belah pihak yang bertikai tidak boleh memperhatikan faktor kekeluargaan, etnis atau kepen-tingan-kepentingan lain yang akan menyebabkan kedua belah pihak melenceng dari keadilan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil," yakni, bersikap adil dalam memutuskan perkara di antara sesama dan di seluruh kekuasaan yang dipegang bahkan bisa dimasukkan juga dalam pengertian adilnya seseorang terhadap keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya serta adil dalam menunaikan kewa-jiban-kewajibannya. Disebutkan dalam hadits shahih, اَلْمُقْسِطُوْنَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ، الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُوْا. "Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum dan ke-luarga, serta apa-apa yang dipimpinnya."[99] (10) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." Ini adalah perjanjian yang ditunaikan Allah سبحانه وتعالى di antara sesama orang-orang yang beriman. Siapa pun orangnya yang berada di belahan timur bumi ataupun barat yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, Malaikat, kitab-kitab, rasul-rasulNya serta ber-iman kepada Hari Akhir, maka ia adalah saudara orang-orang yang beriman lainnya, persaudaraan yang mengharuskan orang-orang mencintainya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri serta tidak menyukai apa pun mengenainya sebagaimana diri me-reka sendiri tidak suka terkena hal itu. Karena itulah Rasulullah a bersabda seraya memerintahkan untuk mempererat persaudaraan keimanan, لَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَنَاجَشُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللّٰهِ إِخْوَانًا. اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ. "Janganlah kalian saling dengki, saling menghasut, saling marah dan saling membelakangi, tapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersau-dara, orang Muslim adalah saudara Muslim (lain), tidak menzhaliminya, tidak mengacuhkannya, dan tidak mendustakannya." Muttafaq 'alaih.[100] Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Nabi a, اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. "Orang Mukmin bagi Mukmin (lain) laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." Dan Rasulullah a (bersabda demikian) seraya menyatukan semua jari-jemari beliau.[101] Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memerintahkan untuk menunaikan hak-hak kaum Mukminin satu sama lain yang bisa mewujudkan persatuan, saling mencintai dan saling menyambung di antara mereka. Semua itu dimaksudkan untuk memperkokoh hak-hak sesama mereka. Untuk itu, jika terjadi peperangan di antara sesama kaum Mukminin yang bisa menyebabkan perpecahan hati, saling membenci serta saling membelakangi satu sama lain, maka hen-daklah kaum Mukminin lainnya mendamaikan saudara-saudaranya serta berusaha untuk melenyapkan kedengkian di antara mereka yang saling berperang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum serta menyebutkan kasih sayang sebagai akibat dari menunaikan ketakwaan serta hak-hak kaum Mukminin. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Supaya kamu mendapat rahmat." Jika telah mendapatkan rahmat, maka kebaikan dunia dan akhirat pun di-dapat. Hal itu menunjukkan bahwa tidak menunaikan hak-hak kaum Mukminin merupakan salah satu penyebab terbesar terha-langnya rahmat. Terdapat berbagai faidah yang dipetik dari kedua ayat ter-sebut yang tidak terdapat dalam penjelasan di atas, yaitu: Pertama, peperangan yang terjadi antara sesama kaum Mukminin menafikan persaudaraan keimanan, karena itulah berperang dengan sesama Mukmin termasuk salah satu dosa besar. Keimanan dan persau-daraan keimanan tidak hilang dengan adanya peperangan sesama Mukmin, seperti halnya dengan dosa-dosa besar lain selain syirik. Dan inilah pendapat yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Manfaat kedua, adalah wajib mendamaikan sesama Mukmin yang bertikai secara adil dan wajib memerangi pihak yang berbuat aniaya hingga mereka mau kembali pada perintah Allah سبحانه وتعالى. Jika mereka kembali pada selain perintah Allah سبحانه وتعالى seperti merujuk pada hukum yang tidak diakui oleh syariat, maka hal itu tidak diperbo-lehkan. Meski demikian, harta mereka tetap terjaga, karena Allah سبحانه وتعالى hanya menghalalkan darah mereka saja, bukan harta, pada saat mereka terus membelot.

Al-Hujurat 49:10

"Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujurat: 9-10). (9) Ini mengandung larangan bagi orang-orang yang ber-iman untuk saling menzhalimi satu sama lain dan untuk saling menyerang satu sama lain. Jika ada dua kubu dari orang-orang beriman yang saling berperang, maka diwajibkan atas orang-orang beriman lainnya untuk melenyapkan keburukan besar ini dengan cara didamaikan serta ditengahi secara baik sehingga perdamaian bisa terwujud dan agar mereka yang saling berperang bisa menem-puh jalan yang menggiring pada perdamaian. Jika keduanya ber-damai, maka itulah yang terbaik, namun ﴾ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ ﴿ "jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah." Maksudnya, kembali pada ketentuan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya de-ngan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan di mana yang terbesar adalah perang. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ ﴿ "Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya de-ngan adil." Ini adalah perintah untuk berdamai serta bersikap adil dalam perdamaian, sebab bisa saja perdamaian dibuat namun tidak adil, tapi dibuat secara zhalim untuk salah satu dari kedua belah pihak yang bertikai; ini bukan perdamaian yang diperin-tahkan. Untuk itu salah satu dari kedua belah pihak yang bertikai tidak boleh memperhatikan faktor kekeluargaan, etnis atau kepen-tingan-kepentingan lain yang akan menyebabkan kedua belah pihak melenceng dari keadilan. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil," yakni, bersikap adil dalam memutuskan perkara di antara sesama dan di seluruh kekuasaan yang dipegang bahkan bisa dimasukkan juga dalam pengertian adilnya seseorang terhadap keluarga dan orang-orang yang menjadi tanggungannya serta adil dalam menunaikan kewa-jiban-kewajibannya. Disebutkan dalam hadits shahih, اَلْمُقْسِطُوْنَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُوْرٍ، الَّذِيْنَ يَعْدِلُوْنَ فِيْ حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَمَا وَلُوْا. "Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, yaitu orang-orang yang adil dalam hukum dan ke-luarga, serta apa-apa yang dipimpinnya."[99] (10) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara." Ini adalah perjanjian yang ditunaikan Allah سبحانه وتعالى di antara sesama orang-orang yang beriman. Siapa pun orangnya yang berada di belahan timur bumi ataupun barat yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, Malaikat, kitab-kitab, rasul-rasulNya serta ber-iman kepada Hari Akhir, maka ia adalah saudara orang-orang yang beriman lainnya, persaudaraan yang mengharuskan orang-orang mencintainya sebagaimana mereka mencintai diri mereka sendiri serta tidak menyukai apa pun mengenainya sebagaimana diri me-reka sendiri tidak suka terkena hal itu. Karena itulah Rasulullah a bersabda seraya memerintahkan untuk mempererat persaudaraan keimanan, لَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَنَاجَشُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللّٰهِ إِخْوَانًا. اَلْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ. "Janganlah kalian saling dengki, saling menghasut, saling marah dan saling membelakangi, tapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersau-dara, orang Muslim adalah saudara Muslim (lain), tidak menzhaliminya, tidak mengacuhkannya, dan tidak mendustakannya." Muttafaq 'alaih.[100] Disebutkan dalam ash-Shahihain dari Nabi a, اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. "Orang Mukmin bagi Mukmin (lain) laksana bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." Dan Rasulullah a (bersabda demikian) seraya menyatukan semua jari-jemari beliau.[101] Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya memerintahkan untuk menunaikan hak-hak kaum Mukminin satu sama lain yang bisa mewujudkan persatuan, saling mencintai dan saling menyambung di antara mereka. Semua itu dimaksudkan untuk memperkokoh hak-hak sesama mereka. Untuk itu, jika terjadi peperangan di antara sesama kaum Mukminin yang bisa menyebabkan perpecahan hati, saling membenci serta saling membelakangi satu sama lain, maka hen-daklah kaum Mukminin lainnya mendamaikan saudara-saudaranya serta berusaha untuk melenyapkan kedengkian di antara mereka yang saling berperang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk bertakwa secara umum serta menyebutkan kasih sayang sebagai akibat dari menunaikan ketakwaan serta hak-hak kaum Mukminin. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ ﴿ "Supaya kamu mendapat rahmat." Jika telah mendapatkan rahmat, maka kebaikan dunia dan akhirat pun di-dapat. Hal itu menunjukkan bahwa tidak menunaikan hak-hak kaum Mukminin merupakan salah satu penyebab terbesar terha-langnya rahmat. Terdapat berbagai faidah yang dipetik dari kedua ayat ter-sebut yang tidak terdapat dalam penjelasan di atas, yaitu: Pertama, peperangan yang terjadi antara sesama kaum Mukminin menafikan persaudaraan keimanan, karena itulah berperang dengan sesama Mukmin termasuk salah satu dosa besar. Keimanan dan persau-daraan keimanan tidak hilang dengan adanya peperangan sesama Mukmin, seperti halnya dengan dosa-dosa besar lain selain syirik. Dan inilah pendapat yang dianut oleh Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Manfaat kedua, adalah wajib mendamaikan sesama Mukmin yang bertikai secara adil dan wajib memerangi pihak yang berbuat aniaya hingga mereka mau kembali pada perintah Allah سبحانه وتعالى. Jika mereka kembali pada selain perintah Allah سبحانه وتعالى seperti merujuk pada hukum yang tidak diakui oleh syariat, maka hal itu tidak diperbo-lehkan. Meski demikian, harta mereka tetap terjaga, karena Allah سبحانه وتعالى hanya menghalalkan darah mereka saja, bukan harta, pada saat mereka terus membelot.

Al-Hujurat 49:11

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum meng-olok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Hujurat: 11). (11) Ini juga merupakan hak-hak di antara sesama kaum Mukminin, yaitu agar ﴾ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ ﴿ "janganlah suatu kaum meng-olok-olokkan kaum yang lain," dengan perkataan, ucapan, maupun perbuatan yang menunjukkan sikap menghina sesama saudara Muslim, karena hal itu haram dan tidak diperbolehkan. Menghina menunjukkan rasa kagum pihak yang menghina terhadap dirinya sendiri yang bisa saja pihak yang dihina lebih baik dari yang meng-hina dan itulah yang lazim terjadi, sebab penghinaan itu hanya dilakukan oleh orang yang hatinya dipenuhi akhlak-akhlak tidak baik dan tercela, jauh dari akhlak-akhlak yang baik, karena itulah Rasulullah a bersabda, بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ. "Cukuplah sebagai keburukan pada seseorang bahwa dia menghina saudaranya sesama Muslim."[102] Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ ﴿ "Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri," artinya, janganlah kalian saling men-cela. اَللَّمْزُ adalah mencela dengan perkataan, sedangkan اَلْهَمْزُ adalah mencela dengan perbuatan. Keduanya terlarang dan haram serta diancam akan dimasukkan ke dalam neraka bagi yang melakukan-nya. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ 1 ﴿ "Celakalah bagi orang yang menghina dengan perkataan dan meng-hina dengan perbuatan." (Al-Humazah: 1). Seorang Muslim disebut sebagai diri bagi saudaranya karena orang-orang yang beriman itu seharusnya seperti itu kondisinya, laksana satu tubuh (satu diri), jika ada seorang Mukmin yang menghina saudaranya, maka hal itu mengharuskan yang lain untuk menghinanya juga, sehingga dialah yang menyebabkannya. ﴾ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ ﴿ "Dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." Artinya, janganlah salah satu dari kalian menghina saudaranya dan jangan memberinya julukan yang tidak disukai. Inilah yang disebutkan sebagai pemberian julukan tidak baik sedangkan pemberian julukan yang terpuji tidak termasuk dalam ayat ini. ﴾ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ ﴿ "Seburuk-buruk panggilan ialah (pang-gilan) yang buruk sesudah iman." Maksudnya, perbuatan yang paling buruk adalah merubah keimanan dan pengamalan syariat yang di antaranya mengharuskan kita untuk mengerjakan perintah dan menjauhi larangan dengan nama yang tidak baik serta berbuat durhaka yaitu yang disebut sebagai اَلتَّنَابُزُ (saling memberikan ju-lukan yang tidak baik). ﴾ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Inilah yang wajib dila-kukan oleh setiap hamba, yaitu bertaubat kepada Allah سبحانه وتعالى serta membebaskan diri dari tanggungan hak saudaranya dengan cara meminta dihalalkan serta memohon ampunan dan memuji yang bersangkutan sebagai kompensasi atas celaan yang dilakukan terhadapnya. ﴾ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim," terdapat dua golongan manusia; zhalim terhadap dirinya tapi tidak bertaubat dan orang yang bertaubat yang mendapatkan keberuntungan. Tidak ada golongan yang lain.

Al-Hujurat 49:12

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertak-walah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (Al-Hujurat: 12). (12) Allah سبحانه وتعالى melarang banyak berprasangka tidak baik ter-hadap orang-orang Mukmin, karena ﴾ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٞۖ ﴿ "sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa," seperti praduga yang jauh dari kenyataan dan tidak ada indikasinya, seperti juga prasangka buruk yang diikuti dengan perkataan dan perbuatan yang diharamkan. Prasangka buruk yang tetap berada di hati seseorang tidak hanya cukup sampai disitu saja bagi yang bersangkutan, bahkan akan mendorongnya untuk mengatakan yang tidak seharusnya dan mengerjakan yang tidak sepatutnya yang di dalam hal itu juga tercakup berburuk sangka, membenci dan memusuhi saudara sesama Mukmin yang seharusnya tidak demikian. ﴾ وَلَا تَجَسَّسُواْ ﴿ "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain," yakni, janganlah kalian mengorek kesalahan kaum Muslimin dan jangan mencari-carinya, biarkan orang Muslim tetap berada pada kondisinya sendiri dan gunakanlah cara melalaikan kekeli-ruannya yang jika dikuak akan nampak sesuatu yang tidak sepa-tutnya. ﴾ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ ﴿ "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain," ghibah sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi a adalah, ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، وَلَوْ كَانَ فِيْهِ. "Engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai saudaramu meski hal itu benar terdapat pada dirinya."[103] Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan perumpamaan agar kita menjauhi ghibah seraya berfirman, ﴾ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن يَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتٗا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ "Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudara-nya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya." Ghibah itu laksana memakan daging bangkai saudaranya sendiri yang sangat tidak disukai oleh jiwa karena ghibah yang dilakukan. Karena kalian tidak ingin memakan daging saudara sendiri khu-susnya yang sudah tidak ada nyawanya, maka hendaklah kalian jangan melakukan ghibah dan memakan dagingnya hidup-hidup. ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." Maha Pene-rima Taubat, yakni yang memberi izin hambaNya untuk bertaubat dan diberi pertolongan untuk bertaubat kemudian taubatnya dite-rima, Maha Penyayang terhadap hamba-hambaNya karena diseru-kan kepada sesuatu yang membawa manfaat bagi mereka serta menerima taubat mereka. Di dalam ayat ini terdapat peringatan keras dari melakukan ghibah, karena ghibah tergolong dosa besar di mana Allah سبحانه وتعالى menyamakannya dengan memakan daging bangkai, yang mana memakan bangkai adalah termasuk dosa besar.

Al-Hujurat 49:13

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al-Hujurat: 13). (13) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia menciptakan anak cucu Adam dari asal-usul dan diri yang satu, semua ketu-runan Adam berasal dari lelaki dan perempuan yang silsilah semua-nya merujuk pada Adam dan Hawa. Allah سبحانه وتعالى mengembangbiakkan dari keduanya lelaki dan perempuan yang banyak, mereka kemu-dian disebar dan dijadikan ﴾ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ ﴿ "berbangsa-bangsa dan bersuku-suku," yakni suku-suku yang besar dan kecil. Yang demikian itu bertujuan agar mereka saling mengenal satu sama lain, sebab andai masing-masing orang menyendiri, tentu tidak akan tercapai tujuan saling mengenal satu sama lain yang bisa menimbulkan saling tolong-menolong, bahu-membahu, saling mewarisi satu sama lain serta menunaikan hak-hak kerabat. Adanya manusia dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bertujuan agar berbagai hal positif tersebut bisa terwujud yang bergantung pada proses saling mengenal satu sama lain serta pemaduan nasab. Namun ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa. Orang yang paling mulia di antara sesama adalah yang paling bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang ke-turunannya paling terpandang (karena level sosial). Dan mengenai semua itu Allah سبحانه وتعالى ﴾ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ﴿ "Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa di antara mereka yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى baik secara lahir maupun batin serta siapa di antara me-reka yang tidak menunaikannya, baik secara lahir maupun batin. Masing-masing akan diberi balasan yang sesuai. Di dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mengetahui nasab itu diharuskan secara syariat, karena Allah سبحانه وتعالى menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku itu de-ngan tujuan demikian.

Al-Hujurat 49:14

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'. Se-sungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Jangan-lah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hujurat: 14-18). (14-18) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perkataan orang-orang Arab badui. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam di masa Rasulullah a tanpa disertai pengetahuan dan tidak me-nunaikan kewajiban dan tuntutan keimanan, meski demikian me-reka mengklaim seraya berkata, ﴾ ءَامَنَّاۖ ﴿ "Kami telah beriman," dengan keimanan yang sempurna yang memenuhi semua perkaranya. Inilah maksud dari perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan RasulNya untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman'." Artinya, janganlah kalian mengklaim kedudukan iman yang sempurna pada diri kalian, baik secara lahir maupun batin, ﴾ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا ﴿ "tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk'," yaitu telah masuk dalam Islam dan cukupkan pada batas itu, ﴾ و َ ﴿ "dan," penyebab hal itu adalah karena ﴾ ل َ م ّ َ ا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Kalian hanya baru masuk Islam karena takut atau mengharap sesuatu dan lainnya yang menjadi penyebab keimanan kalian, karena itulah pancaran keimanan belum merasuk ke dalam hati kalian. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu," yakni pada waktu kalian mengutarakan pembi-caraan ini. Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang hal ihwal mereka setelah itu, sebab tidak sedikit dari mereka yang diberi keimanan hakiki oleh Allah سبحانه وتعالى serta berjihad di jalanNya, ﴾ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya," dengan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, ﴾ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu." Yakni, tidak menguranginya sebesar biji atom pun, justru Allah سبحانه وتعالى akan me-nyempurnakannya untuk kalian sehingga kalian tidak akan kehi-langan pahala amalan yang besar maupun yang kecil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun terhadap orang yang bertau-bat dan kembali padaNya serta Maha Penyayang padanya karena taubatnya diterima. (15) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," yakni secara hakiki, i a l a h ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan jihad di jalan-Nya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta me-nunaikan syariat-syariat Allah سبحانه وتعالى itu, tentu sudah pasti telah ber-jihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah سبحانه وتعالى men-syaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang benar," yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pe-ngakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adalah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuan-nya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى semata. Maka penegasan atau pena-fian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah سبحانه وتعالى terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah سبحانه وتعالى. (16) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?'" Ini mencakup segala sesuatu termasuk keimanan, kekufuran, kebaikan, dan keburukan. Semua itu diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى dan akan mem-berikan balasannya, balasan baik akan diberikan pada amalan baik dan balasan buruk diberikan pada amalan buruk. (17) Ini merupakan kondisi orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak. Pengakuan tersebut dilakukan adaka-lanya untuk mengajari Allah سبحانه وتعالى, padahal Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, adakalanya juga pengakuan itu dimaksudkan seba-gai karunia atas RasulNya dan mereka telah mencurahkan segala sesuatu dan menyumbangkan segala sesuatu yang bukan untuk kepentingan akhiratnya, namun untuk hal-hal keduniaan. Penga-kuan ini adalah basa-basi yang tidak baik serta kebanggaan yang tidak sepatutnya dibanggakan pada RasulNya, karena sesung-guhnya karunia dan pemberian itu milik Allah سبحانه وتعالى semata, karena Allah سبحانه وتعالى lah yang memberikan karunia kepada mereka dengan menciptakan mereka, memberi rizki dan berbagai nikmat baik yang nampak maupun tidak, oleh karena itu pemberian karunia berupa petunjuk agama Islam dan keimanan merupakan karunia yang terbesar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (18) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengeta-hui apa yang ghaib di langit dan di bumi," yakni hal-hal yang tidak nampak yang ada di langit dan di bumi, yang tidak dapat dilihat oleh makhluk seperti apa yang terdapat dalam gelombang samu-dera serta kesunyian di dalamnya, semua yang ditutupi oleh malam dan disembunyikan oleh siang, Allah mengetahui setiap tetesan hujan, jumlah pasir, apa pun yang tersimpan dalam dada serta hal-hal yang tidak nampak. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengeta-huinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59). ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu ker-jakan," dan akan menghitung semua amal kalian dan akan disem-purnakan serta akan dibalas sesuai tuntutan rahmatNya yang luas dan hikmahNya yang tinggi. Atas pertolongan, karunia dan kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, tafsir surat al-Hujurat ini dapat diselesaikan. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Hujurat 49:15

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'. Se-sungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Jangan-lah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hujurat: 14-18). (14-18) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perkataan orang-orang Arab badui. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam di masa Rasulullah a tanpa disertai pengetahuan dan tidak me-nunaikan kewajiban dan tuntutan keimanan, meski demikian me-reka mengklaim seraya berkata, ﴾ ءَامَنَّاۖ ﴿ "Kami telah beriman," dengan keimanan yang sempurna yang memenuhi semua perkaranya. Inilah maksud dari perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan RasulNya untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman'." Artinya, janganlah kalian mengklaim kedudukan iman yang sempurna pada diri kalian, baik secara lahir maupun batin, ﴾ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا ﴿ "tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk'," yaitu telah masuk dalam Islam dan cukupkan pada batas itu, ﴾ و َ ﴿ "dan," penyebab hal itu adalah karena ﴾ ل َ م ّ َ ا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Kalian hanya baru masuk Islam karena takut atau mengharap sesuatu dan lainnya yang menjadi penyebab keimanan kalian, karena itulah pancaran keimanan belum merasuk ke dalam hati kalian. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu," yakni pada waktu kalian mengutarakan pembi-caraan ini. Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang hal ihwal mereka setelah itu, sebab tidak sedikit dari mereka yang diberi keimanan hakiki oleh Allah سبحانه وتعالى serta berjihad di jalanNya, ﴾ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya," dengan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, ﴾ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu." Yakni, tidak menguranginya sebesar biji atom pun, justru Allah سبحانه وتعالى akan me-nyempurnakannya untuk kalian sehingga kalian tidak akan kehi-langan pahala amalan yang besar maupun yang kecil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun terhadap orang yang bertau-bat dan kembali padaNya serta Maha Penyayang padanya karena taubatnya diterima. (15) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," yakni secara hakiki, i a l a h ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan jihad di jalan-Nya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta me-nunaikan syariat-syariat Allah سبحانه وتعالى itu, tentu sudah pasti telah ber-jihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah سبحانه وتعالى men-syaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang benar," yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pe-ngakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adalah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuan-nya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى semata. Maka penegasan atau pena-fian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah سبحانه وتعالى terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah سبحانه وتعالى. (16) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?'" Ini mencakup segala sesuatu termasuk keimanan, kekufuran, kebaikan, dan keburukan. Semua itu diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى dan akan mem-berikan balasannya, balasan baik akan diberikan pada amalan baik dan balasan buruk diberikan pada amalan buruk. (17) Ini merupakan kondisi orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak. Pengakuan tersebut dilakukan adaka-lanya untuk mengajari Allah سبحانه وتعالى, padahal Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, adakalanya juga pengakuan itu dimaksudkan seba-gai karunia atas RasulNya dan mereka telah mencurahkan segala sesuatu dan menyumbangkan segala sesuatu yang bukan untuk kepentingan akhiratnya, namun untuk hal-hal keduniaan. Penga-kuan ini adalah basa-basi yang tidak baik serta kebanggaan yang tidak sepatutnya dibanggakan pada RasulNya, karena sesung-guhnya karunia dan pemberian itu milik Allah سبحانه وتعالى semata, karena Allah سبحانه وتعالى lah yang memberikan karunia kepada mereka dengan menciptakan mereka, memberi rizki dan berbagai nikmat baik yang nampak maupun tidak, oleh karena itu pemberian karunia berupa petunjuk agama Islam dan keimanan merupakan karunia yang terbesar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (18) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengeta-hui apa yang ghaib di langit dan di bumi," yakni hal-hal yang tidak nampak yang ada di langit dan di bumi, yang tidak dapat dilihat oleh makhluk seperti apa yang terdapat dalam gelombang samu-dera serta kesunyian di dalamnya, semua yang ditutupi oleh malam dan disembunyikan oleh siang, Allah mengetahui setiap tetesan hujan, jumlah pasir, apa pun yang tersimpan dalam dada serta hal-hal yang tidak nampak. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengeta-huinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59). ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu ker-jakan," dan akan menghitung semua amal kalian dan akan disem-purnakan serta akan dibalas sesuai tuntutan rahmatNya yang luas dan hikmahNya yang tinggi. Atas pertolongan, karunia dan kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, tafsir surat al-Hujurat ini dapat diselesaikan. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Hujurat 49:16

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'. Se-sungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Jangan-lah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hujurat: 14-18). (14-18) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perkataan orang-orang Arab badui. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam di masa Rasulullah a tanpa disertai pengetahuan dan tidak me-nunaikan kewajiban dan tuntutan keimanan, meski demikian me-reka mengklaim seraya berkata, ﴾ ءَامَنَّاۖ ﴿ "Kami telah beriman," dengan keimanan yang sempurna yang memenuhi semua perkaranya. Inilah maksud dari perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan RasulNya untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman'." Artinya, janganlah kalian mengklaim kedudukan iman yang sempurna pada diri kalian, baik secara lahir maupun batin, ﴾ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا ﴿ "tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk'," yaitu telah masuk dalam Islam dan cukupkan pada batas itu, ﴾ و َ ﴿ "dan," penyebab hal itu adalah karena ﴾ ل َ م ّ َ ا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Kalian hanya baru masuk Islam karena takut atau mengharap sesuatu dan lainnya yang menjadi penyebab keimanan kalian, karena itulah pancaran keimanan belum merasuk ke dalam hati kalian. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu," yakni pada waktu kalian mengutarakan pembi-caraan ini. Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang hal ihwal mereka setelah itu, sebab tidak sedikit dari mereka yang diberi keimanan hakiki oleh Allah سبحانه وتعالى serta berjihad di jalanNya, ﴾ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya," dengan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, ﴾ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu." Yakni, tidak menguranginya sebesar biji atom pun, justru Allah سبحانه وتعالى akan me-nyempurnakannya untuk kalian sehingga kalian tidak akan kehi-langan pahala amalan yang besar maupun yang kecil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun terhadap orang yang bertau-bat dan kembali padaNya serta Maha Penyayang padanya karena taubatnya diterima. (15) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," yakni secara hakiki, i a l a h ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan jihad di jalan-Nya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta me-nunaikan syariat-syariat Allah سبحانه وتعالى itu, tentu sudah pasti telah ber-jihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah سبحانه وتعالى men-syaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang benar," yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pe-ngakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adalah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuan-nya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى semata. Maka penegasan atau pena-fian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah سبحانه وتعالى terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah سبحانه وتعالى. (16) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?'" Ini mencakup segala sesuatu termasuk keimanan, kekufuran, kebaikan, dan keburukan. Semua itu diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى dan akan mem-berikan balasannya, balasan baik akan diberikan pada amalan baik dan balasan buruk diberikan pada amalan buruk. (17) Ini merupakan kondisi orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak. Pengakuan tersebut dilakukan adaka-lanya untuk mengajari Allah سبحانه وتعالى, padahal Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, adakalanya juga pengakuan itu dimaksudkan seba-gai karunia atas RasulNya dan mereka telah mencurahkan segala sesuatu dan menyumbangkan segala sesuatu yang bukan untuk kepentingan akhiratnya, namun untuk hal-hal keduniaan. Penga-kuan ini adalah basa-basi yang tidak baik serta kebanggaan yang tidak sepatutnya dibanggakan pada RasulNya, karena sesung-guhnya karunia dan pemberian itu milik Allah سبحانه وتعالى semata, karena Allah سبحانه وتعالى lah yang memberikan karunia kepada mereka dengan menciptakan mereka, memberi rizki dan berbagai nikmat baik yang nampak maupun tidak, oleh karena itu pemberian karunia berupa petunjuk agama Islam dan keimanan merupakan karunia yang terbesar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (18) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengeta-hui apa yang ghaib di langit dan di bumi," yakni hal-hal yang tidak nampak yang ada di langit dan di bumi, yang tidak dapat dilihat oleh makhluk seperti apa yang terdapat dalam gelombang samu-dera serta kesunyian di dalamnya, semua yang ditutupi oleh malam dan disembunyikan oleh siang, Allah mengetahui setiap tetesan hujan, jumlah pasir, apa pun yang tersimpan dalam dada serta hal-hal yang tidak nampak. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengeta-huinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59). ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu ker-jakan," dan akan menghitung semua amal kalian dan akan disem-purnakan serta akan dibalas sesuai tuntutan rahmatNya yang luas dan hikmahNya yang tinggi. Atas pertolongan, karunia dan kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, tafsir surat al-Hujurat ini dapat diselesaikan. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Hujurat 49:17

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'. Se-sungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Jangan-lah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hujurat: 14-18). (14-18) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perkataan orang-orang Arab badui. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam di masa Rasulullah a tanpa disertai pengetahuan dan tidak me-nunaikan kewajiban dan tuntutan keimanan, meski demikian me-reka mengklaim seraya berkata, ﴾ ءَامَنَّاۖ ﴿ "Kami telah beriman," dengan keimanan yang sempurna yang memenuhi semua perkaranya. Inilah maksud dari perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan RasulNya untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman'." Artinya, janganlah kalian mengklaim kedudukan iman yang sempurna pada diri kalian, baik secara lahir maupun batin, ﴾ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا ﴿ "tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk'," yaitu telah masuk dalam Islam dan cukupkan pada batas itu, ﴾ و َ ﴿ "dan," penyebab hal itu adalah karena ﴾ ل َ م ّ َ ا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Kalian hanya baru masuk Islam karena takut atau mengharap sesuatu dan lainnya yang menjadi penyebab keimanan kalian, karena itulah pancaran keimanan belum merasuk ke dalam hati kalian. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu," yakni pada waktu kalian mengutarakan pembi-caraan ini. Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang hal ihwal mereka setelah itu, sebab tidak sedikit dari mereka yang diberi keimanan hakiki oleh Allah سبحانه وتعالى serta berjihad di jalanNya, ﴾ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya," dengan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, ﴾ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu." Yakni, tidak menguranginya sebesar biji atom pun, justru Allah سبحانه وتعالى akan me-nyempurnakannya untuk kalian sehingga kalian tidak akan kehi-langan pahala amalan yang besar maupun yang kecil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun terhadap orang yang bertau-bat dan kembali padaNya serta Maha Penyayang padanya karena taubatnya diterima. (15) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," yakni secara hakiki, i a l a h ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan jihad di jalan-Nya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta me-nunaikan syariat-syariat Allah سبحانه وتعالى itu, tentu sudah pasti telah ber-jihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah سبحانه وتعالى men-syaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang benar," yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pe-ngakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adalah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuan-nya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى semata. Maka penegasan atau pena-fian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah سبحانه وتعالى terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah سبحانه وتعالى. (16) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?'" Ini mencakup segala sesuatu termasuk keimanan, kekufuran, kebaikan, dan keburukan. Semua itu diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى dan akan mem-berikan balasannya, balasan baik akan diberikan pada amalan baik dan balasan buruk diberikan pada amalan buruk. (17) Ini merupakan kondisi orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak. Pengakuan tersebut dilakukan adaka-lanya untuk mengajari Allah سبحانه وتعالى, padahal Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, adakalanya juga pengakuan itu dimaksudkan seba-gai karunia atas RasulNya dan mereka telah mencurahkan segala sesuatu dan menyumbangkan segala sesuatu yang bukan untuk kepentingan akhiratnya, namun untuk hal-hal keduniaan. Penga-kuan ini adalah basa-basi yang tidak baik serta kebanggaan yang tidak sepatutnya dibanggakan pada RasulNya, karena sesung-guhnya karunia dan pemberian itu milik Allah سبحانه وتعالى semata, karena Allah سبحانه وتعالى lah yang memberikan karunia kepada mereka dengan menciptakan mereka, memberi rizki dan berbagai nikmat baik yang nampak maupun tidak, oleh karena itu pemberian karunia berupa petunjuk agama Islam dan keimanan merupakan karunia yang terbesar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (18) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengeta-hui apa yang ghaib di langit dan di bumi," yakni hal-hal yang tidak nampak yang ada di langit dan di bumi, yang tidak dapat dilihat oleh makhluk seperti apa yang terdapat dalam gelombang samu-dera serta kesunyian di dalamnya, semua yang ditutupi oleh malam dan disembunyikan oleh siang, Allah mengetahui setiap tetesan hujan, jumlah pasir, apa pun yang tersimpan dalam dada serta hal-hal yang tidak nampak. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengeta-huinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59). ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu ker-jakan," dan akan menghitung semua amal kalian dan akan disem-purnakan serta akan dibalas sesuai tuntutan rahmatNya yang luas dan hikmahNya yang tinggi. Atas pertolongan, karunia dan kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, tafsir surat al-Hujurat ini dapat diselesaikan. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Hujurat 49:18

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, 'Kami telah beriman.' Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman, tetapi kata-kanlah, 'Kami telah tunduk,' karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'. Se-sungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.' Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Jangan-lah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi, dan Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Hujurat: 14-18). (14-18) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang perkataan orang-orang Arab badui. Mereka adalah orang-orang yang masuk Islam di masa Rasulullah a tanpa disertai pengetahuan dan tidak me-nunaikan kewajiban dan tuntutan keimanan, meski demikian me-reka mengklaim seraya berkata, ﴾ ءَامَنَّاۖ ﴿ "Kami telah beriman," dengan keimanan yang sempurna yang memenuhi semua perkaranya. Inilah maksud dari perkataan mereka. Maka Allah memerintahkan RasulNya untuk membantah mereka, ﴾ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Kamu belum beriman'." Artinya, janganlah kalian mengklaim kedudukan iman yang sempurna pada diri kalian, baik secara lahir maupun batin, ﴾ وَلَٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا ﴿ "tetapi katakanlah, 'Kami telah tunduk'," yaitu telah masuk dalam Islam dan cukupkan pada batas itu, ﴾ و َ ﴿ "dan," penyebab hal itu adalah karena ﴾ ل َ م ّ َ ا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu." Kalian hanya baru masuk Islam karena takut atau mengharap sesuatu dan lainnya yang menjadi penyebab keimanan kalian, karena itulah pancaran keimanan belum merasuk ke dalam hati kalian. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَٰنُ فِي قُلُوبِكُمۡۖ ﴿ "Iman itu belum masuk ke dalam hatimu," yakni pada waktu kalian mengutarakan pembi-caraan ini. Dalam ayat ini terdapat isyarat tentang hal ihwal mereka setelah itu, sebab tidak sedikit dari mereka yang diberi keimanan hakiki oleh Allah سبحانه وتعالى serta berjihad di jalanNya, ﴾ وَإِن تُطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "dan jika kamu taat kepada Allah dan RasulNya," dengan mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan, ﴾ لَا يَلِتۡكُم مِّنۡ أَعۡمَٰلِكُمۡ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu." Yakni, tidak menguranginya sebesar biji atom pun, justru Allah سبحانه وتعالى akan me-nyempurnakannya untuk kalian sehingga kalian tidak akan kehi-langan pahala amalan yang besar maupun yang kecil. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Yakni, Maha Pengampun terhadap orang yang bertau-bat dan kembali padaNya serta Maha Penyayang padanya karena taubatnya diterima. (15) ﴾ إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman," yakni secara hakiki, i a l a h ﴾ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ﴿ "orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah." Yakni, orang yang menyatukan antara keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan jihad di jalan-Nya; sebab orang yang menegakkan jihad terhadap kaum kafir itu menunjukkan kesempurnaan imannya di dalam hati. Sebab orang yang memerangi kaum kafir atas nama Islam dan iman serta me-nunaikan syariat-syariat Allah سبحانه وتعالى itu, tentu sudah pasti telah ber-jihad terhadap dirinya sendiri. Orang yang tidak mampu berjihad menunjukkan kelemahan imannya. Dalam beriman, Allah سبحانه وتعالى men-syaratkan tidak adanya keraguan, karena iman yang bermanfaat itu adalah tekad bulat dan keyakinan terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى untuk beriman padaNya yang tidak disertai dengan keraguan sedikit pun. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ﴿ "Mereka itulah orang-orang yang benar," yakni, orang-orang yang membuktikan keimanan mereka dengan perbuatan-perbuatan baik. Kejujuran adalah pe-ngakuan besar terhadap segala hal yang diakui, dan orang yang jujur memerlukan hujjah dan bukti, dan bukti terbesar adalah klaim keimanan yang merupakan pusat kebahagiaan dan kemenangan abadi, maka siapa pun yang mengaku beriman dan mengerjakan kewajiban serta keharusan iman, maka ia adalah orang jujur dan Mukmin sejati. Sebaliknya orang yang tidak demikian halnya dapat diketahui bahwa pengakuannya tidak benar, sehingga pengakuan-nya tidak berguna sama sekali, sebab keimanan dalam hati itu hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى semata. Maka penegasan atau pena-fian keimanan (di sini) adalah tindakan yang mengajari Allah سبحانه وتعالى terhadap sesuatu yang ada di dalam hati dan ini merupakan etika dan dugaan yang tidak baik terhadap Allah سبحانه وتعالى. (16) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَتُعَلِّمُونَ ٱللَّهَ بِدِينِكُمۡ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ﴿ "Katakanlah (kepada mereka), 'Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu?'" Ini mencakup segala sesuatu termasuk keimanan, kekufuran, kebaikan, dan keburukan. Semua itu diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى dan akan mem-berikan balasannya, balasan baik akan diberikan pada amalan baik dan balasan buruk diberikan pada amalan buruk. (17) Ini merupakan kondisi orang yang mengaku beriman padahal sebenarnya tidak. Pengakuan tersebut dilakukan adaka-lanya untuk mengajari Allah سبحانه وتعالى, padahal Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui segala sesuatu, adakalanya juga pengakuan itu dimaksudkan seba-gai karunia atas RasulNya dan mereka telah mencurahkan segala sesuatu dan menyumbangkan segala sesuatu yang bukan untuk kepentingan akhiratnya, namun untuk hal-hal keduniaan. Penga-kuan ini adalah basa-basi yang tidak baik serta kebanggaan yang tidak sepatutnya dibanggakan pada RasulNya, karena sesung-guhnya karunia dan pemberian itu milik Allah سبحانه وتعالى semata, karena Allah سبحانه وتعالى lah yang memberikan karunia kepada mereka dengan menciptakan mereka, memberi rizki dan berbagai nikmat baik yang nampak maupun tidak, oleh karena itu pemberian karunia berupa petunjuk agama Islam dan keimanan merupakan karunia yang terbesar. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَمُنُّونَ عَلَيۡكَ أَنۡ أَسۡلَمُواْۖ قُل لَّا تَمُنُّواْ عَلَيَّ إِسۡلَٰمَكُمۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيۡكُمۡ أَنۡ هَدَىٰكُمۡ لِلۡإِيمَٰنِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Mereka telah merasa memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, 'Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar'." (18) ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ غَيۡبَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah mengeta-hui apa yang ghaib di langit dan di bumi," yakni hal-hal yang tidak nampak yang ada di langit dan di bumi, yang tidak dapat dilihat oleh makhluk seperti apa yang terdapat dalam gelombang samu-dera serta kesunyian di dalamnya, semua yang ditutupi oleh malam dan disembunyikan oleh siang, Allah mengetahui setiap tetesan hujan, jumlah pasir, apa pun yang tersimpan dalam dada serta hal-hal yang tidak nampak. ﴾ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٖ فِي ظُلُمَٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٖ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengeta-huinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (Al-An'am: 59). ﴾ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu ker-jakan," dan akan menghitung semua amal kalian dan akan disem-purnakan serta akan dibalas sesuai tuntutan rahmatNya yang luas dan hikmahNya yang tinggi. Atas pertolongan, karunia dan kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, tafsir surat al-Hujurat ini dapat diselesaikan. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Qaf 50:1

"Qaf. Demi al-Qur`an yang sangat mulia. (Mereka tidak me-nerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.' Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihan-curkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)'." (Qaf: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan, ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ ﴿ "Demi al-Qur`an yang sangat mulia," maksudnya, yang bermakna amat luas, agung kandungannya, banyak sisinya, banyak berkahnya, penunjuk kepada kebaikan yang agung serta mulia, sifatnya luas dan agung dan kalam yang paling benar yang dengannya al-Qur`an disifati, yang mencakup ilmu orang-orang yang pertama hingga terakhir, yang mencakup sempurnanya kefasihan, kata-kata yang paling agung dan makna-maknanya yang umum dan indah. (2) Hal ini mengharuskan untuk diikuti serta dipatuhi se-cara cepat serta bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karuniaNya, hanya saja kebanyakan manusia tidak memuliakan nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ عَجِبُوٓاْ ﴿ "(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang," yakni, mereka yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ﴿ "karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri," yakni, memberi peringatan kepada mereka akan sesuatu yang membahayakan mereka dan memerintahkan mereka pada yang bermanfaat untuk mereka. Dan pembawa berita ancaman itu (Rasulullah a) berasal dari kalangan mereka yang memungkinkan bagi mereka untuk menemuinya serta mengetahui hal-ihwal serta kebenarannya, namun mereka tercengang terhadap urusan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, bahkan orang yang me-ngerti dan memahami orang yang tercengang pun ikut tercengang, ﴾ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka berkatalah orang-orang kafir," yakni, orang-orang yang diseret oleh kekufuran serta kedustaan merka meski kecer-dasan dan pandangan mereka tidak ada kekurangannya,﴾ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ﴿ "Ini adalah suatu yang amat ajaib," yakni, sesuatu yang aneh. Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan alasan mengapa mereka merasa heran, Allah سبحانه وتعالى berfirman (tentang ucapan mereka), ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ ﴿ "Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin." Mereka menyamakan Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Mahasempurna dari segala hal, dengan kuasa manusia yang memerlukan pertolongan dan lemah dalam berbagai hal. Mereka menyamakan orang bodoh yang tidak me-ngetahui apa pun, dengan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui ﴾ مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "apa yang dihancurkan oleh bumi," berupa jasad-jasad mereka selama mereka berada di alam barzakh. Dan Allah سبحانه وتعالى telah mencatat semua yang terjadi pada mereka, baik ketika mereka hidup maupun setelah mati, itulah catatan di sisi Allah سبحانه وتعالى yang terjaga dari perubahan dan penggan-tian. Ini adalah sebagai bukti sempurnanya ilmu Allah سبحانه وتعالى yang hanya Dia semata yang mengetahui segala sesuatu, Dia mampu untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.

Qaf 50:2

"Qaf. Demi al-Qur`an yang sangat mulia. (Mereka tidak me-nerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.' Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihan-curkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)'." (Qaf: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan, ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ ﴿ "Demi al-Qur`an yang sangat mulia," maksudnya, yang bermakna amat luas, agung kandungannya, banyak sisinya, banyak berkahnya, penunjuk kepada kebaikan yang agung serta mulia, sifatnya luas dan agung dan kalam yang paling benar yang dengannya al-Qur`an disifati, yang mencakup ilmu orang-orang yang pertama hingga terakhir, yang mencakup sempurnanya kefasihan, kata-kata yang paling agung dan makna-maknanya yang umum dan indah. (2) Hal ini mengharuskan untuk diikuti serta dipatuhi se-cara cepat serta bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karuniaNya, hanya saja kebanyakan manusia tidak memuliakan nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ عَجِبُوٓاْ ﴿ "(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang," yakni, mereka yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ﴿ "karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri," yakni, memberi peringatan kepada mereka akan sesuatu yang membahayakan mereka dan memerintahkan mereka pada yang bermanfaat untuk mereka. Dan pembawa berita ancaman itu (Rasulullah a) berasal dari kalangan mereka yang memungkinkan bagi mereka untuk menemuinya serta mengetahui hal-ihwal serta kebenarannya, namun mereka tercengang terhadap urusan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, bahkan orang yang me-ngerti dan memahami orang yang tercengang pun ikut tercengang, ﴾ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka berkatalah orang-orang kafir," yakni, orang-orang yang diseret oleh kekufuran serta kedustaan merka meski kecer-dasan dan pandangan mereka tidak ada kekurangannya,﴾ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ﴿ "Ini adalah suatu yang amat ajaib," yakni, sesuatu yang aneh. Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan alasan mengapa mereka merasa heran, Allah سبحانه وتعالى berfirman (tentang ucapan mereka), ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ ﴿ "Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin." Mereka menyamakan Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Mahasempurna dari segala hal, dengan kuasa manusia yang memerlukan pertolongan dan lemah dalam berbagai hal. Mereka menyamakan orang bodoh yang tidak me-ngetahui apa pun, dengan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui ﴾ مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "apa yang dihancurkan oleh bumi," berupa jasad-jasad mereka selama mereka berada di alam barzakh. Dan Allah سبحانه وتعالى telah mencatat semua yang terjadi pada mereka, baik ketika mereka hidup maupun setelah mati, itulah catatan di sisi Allah سبحانه وتعالى yang terjaga dari perubahan dan penggan-tian. Ini adalah sebagai bukti sempurnanya ilmu Allah سبحانه وتعالى yang hanya Dia semata yang mengetahui segala sesuatu, Dia mampu untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.

Qaf 50:3

"Qaf. Demi al-Qur`an yang sangat mulia. (Mereka tidak me-nerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.' Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihan-curkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)'." (Qaf: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan, ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ ﴿ "Demi al-Qur`an yang sangat mulia," maksudnya, yang bermakna amat luas, agung kandungannya, banyak sisinya, banyak berkahnya, penunjuk kepada kebaikan yang agung serta mulia, sifatnya luas dan agung dan kalam yang paling benar yang dengannya al-Qur`an disifati, yang mencakup ilmu orang-orang yang pertama hingga terakhir, yang mencakup sempurnanya kefasihan, kata-kata yang paling agung dan makna-maknanya yang umum dan indah. (2) Hal ini mengharuskan untuk diikuti serta dipatuhi se-cara cepat serta bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karuniaNya, hanya saja kebanyakan manusia tidak memuliakan nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ عَجِبُوٓاْ ﴿ "(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang," yakni, mereka yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ﴿ "karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri," yakni, memberi peringatan kepada mereka akan sesuatu yang membahayakan mereka dan memerintahkan mereka pada yang bermanfaat untuk mereka. Dan pembawa berita ancaman itu (Rasulullah a) berasal dari kalangan mereka yang memungkinkan bagi mereka untuk menemuinya serta mengetahui hal-ihwal serta kebenarannya, namun mereka tercengang terhadap urusan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, bahkan orang yang me-ngerti dan memahami orang yang tercengang pun ikut tercengang, ﴾ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka berkatalah orang-orang kafir," yakni, orang-orang yang diseret oleh kekufuran serta kedustaan merka meski kecer-dasan dan pandangan mereka tidak ada kekurangannya,﴾ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ﴿ "Ini adalah suatu yang amat ajaib," yakni, sesuatu yang aneh. Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan alasan mengapa mereka merasa heran, Allah سبحانه وتعالى berfirman (tentang ucapan mereka), ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ ﴿ "Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin." Mereka menyamakan Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Mahasempurna dari segala hal, dengan kuasa manusia yang memerlukan pertolongan dan lemah dalam berbagai hal. Mereka menyamakan orang bodoh yang tidak me-ngetahui apa pun, dengan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui ﴾ مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "apa yang dihancurkan oleh bumi," berupa jasad-jasad mereka selama mereka berada di alam barzakh. Dan Allah سبحانه وتعالى telah mencatat semua yang terjadi pada mereka, baik ketika mereka hidup maupun setelah mati, itulah catatan di sisi Allah سبحانه وتعالى yang terjaga dari perubahan dan penggan-tian. Ini adalah sebagai bukti sempurnanya ilmu Allah سبحانه وتعالى yang hanya Dia semata yang mengetahui segala sesuatu, Dia mampu untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.

Qaf 50:4

"Qaf. Demi al-Qur`an yang sangat mulia. (Mereka tidak me-nerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, 'Ini adalah suatu yang amat ajaib. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.' Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihan-curkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh mereka), dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat)'." (Qaf: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan, ﴾ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ ﴿ "Demi al-Qur`an yang sangat mulia," maksudnya, yang bermakna amat luas, agung kandungannya, banyak sisinya, banyak berkahnya, penunjuk kepada kebaikan yang agung serta mulia, sifatnya luas dan agung dan kalam yang paling benar yang dengannya al-Qur`an disifati, yang mencakup ilmu orang-orang yang pertama hingga terakhir, yang mencakup sempurnanya kefasihan, kata-kata yang paling agung dan makna-maknanya yang umum dan indah. (2) Hal ini mengharuskan untuk diikuti serta dipatuhi se-cara cepat serta bersyukur kepada Allah سبحانه وتعالى atas karuniaNya, hanya saja kebanyakan manusia tidak memuliakan nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى dengan sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ بَلۡ عَجِبُوٓاْ ﴿ "(Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang," yakni, mereka yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ﴿ "karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri," yakni, memberi peringatan kepada mereka akan sesuatu yang membahayakan mereka dan memerintahkan mereka pada yang bermanfaat untuk mereka. Dan pembawa berita ancaman itu (Rasulullah a) berasal dari kalangan mereka yang memungkinkan bagi mereka untuk menemuinya serta mengetahui hal-ihwal serta kebenarannya, namun mereka tercengang terhadap urusan yang tidak seharusnya diperlakukan seperti itu, bahkan orang yang me-ngerti dan memahami orang yang tercengang pun ikut tercengang, ﴾ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "maka berkatalah orang-orang kafir," yakni, orang-orang yang diseret oleh kekufuran serta kedustaan merka meski kecer-dasan dan pandangan mereka tidak ada kekurangannya,﴾ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ ﴿ "Ini adalah suatu yang amat ajaib," yakni, sesuatu yang aneh. Orang-orang yang berada dalam rasa heran ini kemungkinan berada di antara dua hal; adakalanya mereka benar dalam rasa heran itu dan hal itu menunjukkan puncak kebodohan mereka serta lemahnya akal mereka, sama seperti orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang berakal, seperti pengecut yang merasa kagum ketika bertemu dengan pasukan berkuda, seperti orang pelit yang merasa aneh terhadap sikap derma orang derma-wan, lantas bahaya apa yang bisa menyamai keheranan orang yang kondisinya seperti ini? Tidaklah rasa heran orang seperti itu me-lainkan itu adalah sebagian indikasi yang menunjukkan kebodohan serta kezhalimannya. Kemungkinan kedua adalah adakalanya me-reka yang merasa heran itu karena mereka mengetahui kesalahan mereka dalam perasaan tersebut dan tindakan ini termasuk kezha-liman terbesar dan paling keji. (3-4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan alasan mengapa mereka merasa heran, Allah سبحانه وتعالى berfirman (tentang ucapan mereka), ﴾ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ ﴿ "Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi), itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin." Mereka menyamakan Kuasa Allah سبحانه وتعالى yang Mahakuasa atas segala sesuatu dan Mahasempurna dari segala hal, dengan kuasa manusia yang memerlukan pertolongan dan lemah dalam berbagai hal. Mereka menyamakan orang bodoh yang tidak me-ngetahui apa pun, dengan Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, yang mengetahui ﴾ مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ ﴿ "apa yang dihancurkan oleh bumi," berupa jasad-jasad mereka selama mereka berada di alam barzakh. Dan Allah سبحانه وتعالى telah mencatat semua yang terjadi pada mereka, baik ketika mereka hidup maupun setelah mati, itulah catatan di sisi Allah سبحانه وتعالى yang terjaga dari perubahan dan penggan-tian. Ini adalah sebagai bukti sempurnanya ilmu Allah سبحانه وتعالى yang hanya Dia semata yang mengetahui segala sesuatu, Dia mampu untuk menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati.

Qaf 50:5

"Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau." (Qaf: 5). (5) Maksudnya, ﴾ بَلۡ ﴿ "sebenarnya," perkataan yang mereka ucapkan itu hanyalah merupakan (bentuk) pembangkangan serta pendustaan mereka terhadap kebenaran yang merupakan tingkat kejujuran yang paling tinggi, ﴾ لَمَّا جَآءَهُمۡ فَهُمۡ فِيٓ أَمۡرٖ مَّرِيجٍ ﴿ "tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau," yakni, kacau dan campur aduk. Mereka tidak menetapkan atas sesuatu pun dan tidak ada ketetapan sama sekali, terkadang mereka berkata kepadamu, "Sesungguhnya engkau adalah tukang sihir," terkadang, "Engkau adalah orang gila," terkadang, "Engkau adalah penyair." Dan mereka juga menjadikan al-Qur`an sebagai bahan olok-olokan. Masing-masing yang dikatakan itu berdasarkan pan-dangannya yang rusak. Dan memang seperti itulah kondisi semua orang yang mendustakan kebenaran, ia berada dalam kekacauan, tidak mengetahui sisi yang tepat. Sehingga engkau akan bisa me-lihat semua sikapnya saling kontradiksi dan dusta. Sebagaimana orang yang mengikuti kebenaran serta membenarkannya memiliki keteguhan dan lurus jalannya. Perbuatannya membenarkan per-kataannya.

Qaf 50:6

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:7

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:8

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:9

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:10

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:11

"Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasi-nya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaat-nya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebang-kitan." (Qaf: 6-11). (6) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang yang mendustakan serta mencela mereka, Allah سبحانه وتعالى menyerukan mereka untuk merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di atas langit agar mereka bisa mengambil pelajaran dan petunjuk kepada apa yang didasarkan olehnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَلَمۡ يَنظُرُوٓاْ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَوۡقَهُمۡ ﴿ "Maka apakah mereka tidak melihat kepada langit yang ada di atas mereka." Artinya, perenungan itu tidak memerlukan usaha keras serta perjalanan berat tapi perenungan itu benar-benar mu-dah, sehingga mereka bisa memperhatikan, ﴾ كَيۡفَ بَنَيۡنَٰهَا ﴿ "bagaimana Kami meninggikannya," berbentuk langit, semua sisinya lurus, kokoh bangunannya, dihiasi dengan bintang yang tetap berada di tempat-nya serta meteor yang melesat dari satu ufuk ke ufuk lainnya, di-buat dengan bentuk yang paling sempurna, engkau tidak melihat adanya cacat, cela dan kerusakan padanya. Allah سبحانه وتعالى menjadikannya sebagai atap bagi penduduk bumi serta meletakkan di dalamnya berbagai kepentingan vital. (7) Dan agar mereka memperhatikan bumi bagaimanakah Kami membentangkan serta meluaskannya hingga memungkinkan semua yang hidup untuk menempatinya serta bersiap-siap me-ngumpulkan seluruh kepentingannya. Allah سبحانه وتعالى juga mengokohkan bumi dengan gunung-gunung agar aman dari guncangan dan ge-lombang, ﴾ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ﴿ "dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata." Artinya, dari seluruh jenis tanaman yang membuat orang-orang yang memandangnya senang dan kagum, membuat orang yang memandang tanaman-tanaman itu senang dan untuk dimakan oleh manusia, bintang ternak mereka, serta untuk berbagai kepentingan mereka. (8-11) Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebutkan berbagai kebun dari berbagai manfaat tersebut, kebun yang mencakup berbagai jenis buah-buahan lezat seperti anggur, delima, lemon, apel dan jenis buah-buahan lainnya, terdapat juga pohon kurma yang tinggi, yang manfaatnya untuk waktu yang panjang, tinggi menjulang ke langit hingga tingginya tidak bisa dicapai oleh berbagai pohon lain, dari mayangnya keluar buah sebagai rizki untuk para hamba sebagai makanan, lauk dan buah yang bisa dimakan dan disimpan untuk mereka dan bintang ternak mereka. Begitu juga yang dike-luarkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui hujan serta pengaruhnya yang berupa sungai yang ada di permukaan bumi yang di bawahnya terdapat ﴾ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ﴿ "biji-biji tanaman yang diketam," yang berupa gandum, jagung, beras, jewawut dan lainnya. Memandang dan merenungkan semua hal itu adalah, ﴾ تَبۡصِرَةٗ ﴿ "untuk menjadi pelajaran," yang bisa membuka mata hati orang yang diliputi kebodohan dan ﴾ وَذِكۡرَىٰ ﴿ "peringatan," yang dijadikan sebagai peringatan yang berguna di dunia dan akhirat, dijadikan sebagai peringatan terhadap berita yang disampaikan Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Namun hal itu tidak berlaku bagi semua orang, ia hanya berlaku bagi, ﴾ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ﴿ "tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)." Menghadap kepadaNya dengan rasa cinta, takut, pengharapan serta terkabulnya doanya. Adapun orang-orang yang mendustakan atau berpaling itu, maka ayat-ayat dan berbagai peringatan tidaklah berguna bagi orang-orang yang tidak beriman. Kesimpulannya, semua penciptaan menawan, kekuatan dan kekokohan merupakan bukti kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى. Semua keindahan, kerapian, keelokan bentuk serta ciptaan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Dzat yang paling bijaksana, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Semua manfaat dan kepentingan untuk para hamba merupakan bukti kasih sayang Allah سبحانه وتعالى yang meliputi segala sesuatu, kemuliaanNya meliputi semua makhluk hidup. Semua keagungan bentuk serta rapinya peraturan merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى adalah Maha Esa, yang tidak memiliki sekutu sama sekali, Dia-lah Dzat yang semua bentuk ibadah, ketundukan, dan kecintaan hanya ditujukan padaNya. Bumi yang dihidupkan setelah sebelumnya mati dan gersang merupakan bukti bahwa Allah سبحانه وتعالى Kuasa menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati, agar Allah سبحانه وتعالى bisa memberikan balasan atas mereka, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ ﴿ "Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (kembali nanti)." Setelah mereka diingatkan dengan berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah سبحانه وتعالى yang ada di langit dan bumi, setelah ditakut-takuti dengan siksaan yang menimpa berbagai umat sebelumnya agar mereka tidak terus menerus mendustakan sehingga akan tertimpa sebagaimana yang pernah menimpa saudara-saudara mereka yang juga mendustakan, Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Qaf 50:12

"Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, kaum 'Ad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru." (Qaf: 12-15). (12-14) Orang-orang dari kalangan beberapa umat sebe-lum mereka telah mendustakan para rasul mereka yang mulia dan para nabi mereka yang agung seperti Nabi Nuh عليه السلام yang didusta-kan oleh kaumnya, kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih عليه السلام, kaum 'Ad yang mendustakan Nabi Hud عليه السلام, kaum Nabi Luth عليه السلام yang mendustakannya, kaum Aikah yang mendustakan Nabi Syu'aib عليه السلام, kaum Tubba' (para raja Yaman pada masa lalu sebelum Islam) juga mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, hanya saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberitahukan kepada kita siapakah para rasul yang diutus ke kaum Tubba' itu dan siapakah Tubba' itu, karena –wallahu a'lam- hal itu sudah masyhur di kalangan bangsa Arab, khususnya peristiwa-peristiwa besar seperti ini. Mereka semua mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka sehingga mereka pantas me-nerima ancaman serta hukuman dari Allah سبحانه وتعالى. Kalian wahai orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, tidaklah lebih baik dari mereka, para rasul mereka juga tidak lebih mulia di sisi Allah سبحانه وتعالى dari rasul kalian. Untuk itu waspadalah terhadap kejahatan mereka agar kalian tidak tertimpa azab yang menimpa mereka. (15) Kemudian Allah سبحانه وتعالى beristidlal dengan penciptaan per-tama untuk penciptaan yang lain (kebangkitan kembali nanti). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka dari ketiadaan, Allah سبحانه وتعالى juga akan mengembalikan mereka lagi setelah mereka mati dan setelah mereka menjadi bangkai yang hancur. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَعَيِينَا ﴿ "Maka apakah Kami letih," apakah Kami lemah dan tidak mampu, ﴾ بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ ﴿ "dengan penciptaan yang pertama," tidaklah demikian halnya. Kami tidak lemah dan letih untuk hal itu dan mereka sendiri pun tidak meragukan hal itu, hanya saja ﴾ هُمۡ فِي لَبۡسٖ مِّنۡ خَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang pencip-taan yang baru (nanti itu)." Inilah yang membuat mereka ragu dan tidak jelas halnya, padahal sebenarnya tidak ada tempat bagi ke-tidakjelasan, sebab mengembalikan itu tentu lebih mudah daripada memulai, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Rum: 27).

Qaf 50:13

"Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, kaum 'Ad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru." (Qaf: 12-15). (12-14) Orang-orang dari kalangan beberapa umat sebe-lum mereka telah mendustakan para rasul mereka yang mulia dan para nabi mereka yang agung seperti Nabi Nuh عليه السلام yang didusta-kan oleh kaumnya, kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih عليه السلام, kaum 'Ad yang mendustakan Nabi Hud عليه السلام, kaum Nabi Luth عليه السلام yang mendustakannya, kaum Aikah yang mendustakan Nabi Syu'aib عليه السلام, kaum Tubba' (para raja Yaman pada masa lalu sebelum Islam) juga mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, hanya saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberitahukan kepada kita siapakah para rasul yang diutus ke kaum Tubba' itu dan siapakah Tubba' itu, karena –wallahu a'lam- hal itu sudah masyhur di kalangan bangsa Arab, khususnya peristiwa-peristiwa besar seperti ini. Mereka semua mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka sehingga mereka pantas me-nerima ancaman serta hukuman dari Allah سبحانه وتعالى. Kalian wahai orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, tidaklah lebih baik dari mereka, para rasul mereka juga tidak lebih mulia di sisi Allah سبحانه وتعالى dari rasul kalian. Untuk itu waspadalah terhadap kejahatan mereka agar kalian tidak tertimpa azab yang menimpa mereka. (15) Kemudian Allah سبحانه وتعالى beristidlal dengan penciptaan per-tama untuk penciptaan yang lain (kebangkitan kembali nanti). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka dari ketiadaan, Allah سبحانه وتعالى juga akan mengembalikan mereka lagi setelah mereka mati dan setelah mereka menjadi bangkai yang hancur. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَعَيِينَا ﴿ "Maka apakah Kami letih," apakah Kami lemah dan tidak mampu, ﴾ بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ ﴿ "dengan penciptaan yang pertama," tidaklah demikian halnya. Kami tidak lemah dan letih untuk hal itu dan mereka sendiri pun tidak meragukan hal itu, hanya saja ﴾ هُمۡ فِي لَبۡسٖ مِّنۡ خَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang pencip-taan yang baru (nanti itu)." Inilah yang membuat mereka ragu dan tidak jelas halnya, padahal sebenarnya tidak ada tempat bagi ke-tidakjelasan, sebab mengembalikan itu tentu lebih mudah daripada memulai, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Rum: 27).

Qaf 50:14

"Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, kaum 'Ad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru." (Qaf: 12-15). (12-14) Orang-orang dari kalangan beberapa umat sebe-lum mereka telah mendustakan para rasul mereka yang mulia dan para nabi mereka yang agung seperti Nabi Nuh عليه السلام yang didusta-kan oleh kaumnya, kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih عليه السلام, kaum 'Ad yang mendustakan Nabi Hud عليه السلام, kaum Nabi Luth عليه السلام yang mendustakannya, kaum Aikah yang mendustakan Nabi Syu'aib عليه السلام, kaum Tubba' (para raja Yaman pada masa lalu sebelum Islam) juga mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, hanya saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberitahukan kepada kita siapakah para rasul yang diutus ke kaum Tubba' itu dan siapakah Tubba' itu, karena –wallahu a'lam- hal itu sudah masyhur di kalangan bangsa Arab, khususnya peristiwa-peristiwa besar seperti ini. Mereka semua mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka sehingga mereka pantas me-nerima ancaman serta hukuman dari Allah سبحانه وتعالى. Kalian wahai orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, tidaklah lebih baik dari mereka, para rasul mereka juga tidak lebih mulia di sisi Allah سبحانه وتعالى dari rasul kalian. Untuk itu waspadalah terhadap kejahatan mereka agar kalian tidak tertimpa azab yang menimpa mereka. (15) Kemudian Allah سبحانه وتعالى beristidlal dengan penciptaan per-tama untuk penciptaan yang lain (kebangkitan kembali nanti). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka dari ketiadaan, Allah سبحانه وتعالى juga akan mengembalikan mereka lagi setelah mereka mati dan setelah mereka menjadi bangkai yang hancur. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَعَيِينَا ﴿ "Maka apakah Kami letih," apakah Kami lemah dan tidak mampu, ﴾ بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ ﴿ "dengan penciptaan yang pertama," tidaklah demikian halnya. Kami tidak lemah dan letih untuk hal itu dan mereka sendiri pun tidak meragukan hal itu, hanya saja ﴾ هُمۡ فِي لَبۡسٖ مِّنۡ خَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang pencip-taan yang baru (nanti itu)." Inilah yang membuat mereka ragu dan tidak jelas halnya, padahal sebenarnya tidak ada tempat bagi ke-tidakjelasan, sebab mengembalikan itu tentu lebih mudah daripada memulai, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Rum: 27).

Qaf 50:15

"Sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, kaum 'Ad, kaum Fir'aun dan kaum Luth, dan penduduk Aikah serta kaum Tubba'. Semuanya telah mendustakan rasul-rasul, maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru." (Qaf: 12-15). (12-14) Orang-orang dari kalangan beberapa umat sebe-lum mereka telah mendustakan para rasul mereka yang mulia dan para nabi mereka yang agung seperti Nabi Nuh عليه السلام yang didusta-kan oleh kaumnya, kaum Tsamud yang mendustakan Nabi Shalih عليه السلام, kaum 'Ad yang mendustakan Nabi Hud عليه السلام, kaum Nabi Luth عليه السلام yang mendustakannya, kaum Aikah yang mendustakan Nabi Syu'aib عليه السلام, kaum Tubba' (para raja Yaman pada masa lalu sebelum Islam) juga mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka, hanya saja Allah سبحانه وتعالى tidak memberitahukan kepada kita siapakah para rasul yang diutus ke kaum Tubba' itu dan siapakah Tubba' itu, karena –wallahu a'lam- hal itu sudah masyhur di kalangan bangsa Arab, khususnya peristiwa-peristiwa besar seperti ini. Mereka semua mendustakan para rasul yang diutus oleh Allah سبحانه وتعالى kepada mereka sehingga mereka pantas me-nerima ancaman serta hukuman dari Allah سبحانه وتعالى. Kalian wahai orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, tidaklah lebih baik dari mereka, para rasul mereka juga tidak lebih mulia di sisi Allah سبحانه وتعالى dari rasul kalian. Untuk itu waspadalah terhadap kejahatan mereka agar kalian tidak tertimpa azab yang menimpa mereka. (15) Kemudian Allah سبحانه وتعالى beristidlal dengan penciptaan per-tama untuk penciptaan yang lain (kebangkitan kembali nanti). Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى menciptakan mereka dari ketiadaan, Allah سبحانه وتعالى juga akan mengembalikan mereka lagi setelah mereka mati dan setelah mereka menjadi bangkai yang hancur. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَفَعَيِينَا ﴿ "Maka apakah Kami letih," apakah Kami lemah dan tidak mampu, ﴾ بِٱلۡخَلۡقِ ٱلۡأَوَّلِۚ ﴿ "dengan penciptaan yang pertama," tidaklah demikian halnya. Kami tidak lemah dan letih untuk hal itu dan mereka sendiri pun tidak meragukan hal itu, hanya saja ﴾ هُمۡ فِي لَبۡسٖ مِّنۡ خَلۡقٖ جَدِيدٖ ﴿ "sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang pencip-taan yang baru (nanti itu)." Inilah yang membuat mereka ragu dan tidak jelas halnya, padahal sebenarnya tidak ada tempat bagi ke-tidakjelasan, sebab mengembalikan itu tentu lebih mudah daripada memulai, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِۚ ﴿ "Dan Dia-lah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemu-dian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya." (Rum: 27).

Qaf 50:16

"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan menge-tahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat ke-padanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 16-18). (16) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia-lah semata yang menciptakan jenis manusia, baik lelaki maupun perempuan, Dia yang mengetahui hal-ihwal manusia serta rahasia mereka dan bisikan jiwa mereka, dan sesungguhnya Dia ﴾ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ﴿ "lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," yang merupakan sesuatu yang terdekat pada manusia yaitu urat saraf yang tersimpan di balik urat lehernya. Hal ini menyeru manusia untuk selalu mura-qabah terhadap Pencipta yang mengetahui hati dan batinnya, yang lebih dekat kepadanya dalam berbagai keadaannya sehingga manu-sia akan merasa malu ketika Allah سبحانه وتعالى melihatnya melakukan yang dilarang atau tidak melaksanakan yang diperintahkan. (17) Begitu juga manusia harus menempatkan para malaikat mulia yang menulis semua amalnya di dalam pikirannya, para ma-laikat dimuliakan dan dihormati dan selalu waspada untuk tidak berbuat atau berkata sesuatu yang dicatat yang tidak diridhai oleh Rabb semesta alam. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ ﴿ "Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya," yakni men-catat semua amal manusia, satu berada ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "di sebelah kanan," yang mencatat segala amal baik, dan lainnya ﴾ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ ﴿ "di sebelah kiri," yang mencatat seluruh amal buruk, masing-masing dari kedua malaikat itu terikat untuk tugas tersebut, disiapkan untuk tugasnya yang dipersiapkan untuknya dan tetap senantiasa melakukan tugas itu. (18) ﴾ مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ ﴿ "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan," baik ataupun buruk ﴾ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ﴿ "melainkan ada di dekatnya ma-laikat pengawas yang selalu hadir," yakni selalu mengawasinya dan menyaksikan hal ihwalnya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12).

Qaf 50:17

"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan menge-tahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat ke-padanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 16-18). (16) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia-lah semata yang menciptakan jenis manusia, baik lelaki maupun perempuan, Dia yang mengetahui hal-ihwal manusia serta rahasia mereka dan bisikan jiwa mereka, dan sesungguhnya Dia ﴾ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ﴿ "lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," yang merupakan sesuatu yang terdekat pada manusia yaitu urat saraf yang tersimpan di balik urat lehernya. Hal ini menyeru manusia untuk selalu mura-qabah terhadap Pencipta yang mengetahui hati dan batinnya, yang lebih dekat kepadanya dalam berbagai keadaannya sehingga manu-sia akan merasa malu ketika Allah سبحانه وتعالى melihatnya melakukan yang dilarang atau tidak melaksanakan yang diperintahkan. (17) Begitu juga manusia harus menempatkan para malaikat mulia yang menulis semua amalnya di dalam pikirannya, para ma-laikat dimuliakan dan dihormati dan selalu waspada untuk tidak berbuat atau berkata sesuatu yang dicatat yang tidak diridhai oleh Rabb semesta alam. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ ﴿ "Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya," yakni men-catat semua amal manusia, satu berada ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "di sebelah kanan," yang mencatat segala amal baik, dan lainnya ﴾ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ ﴿ "di sebelah kiri," yang mencatat seluruh amal buruk, masing-masing dari kedua malaikat itu terikat untuk tugas tersebut, disiapkan untuk tugasnya yang dipersiapkan untuknya dan tetap senantiasa melakukan tugas itu. (18) ﴾ مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ ﴿ "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan," baik ataupun buruk ﴾ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ﴿ "melainkan ada di dekatnya ma-laikat pengawas yang selalu hadir," yakni selalu mengawasinya dan menyaksikan hal ihwalnya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12).

Qaf 50:18

"Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan menge-tahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat ke-padanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 16-18). (16) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia-lah semata yang menciptakan jenis manusia, baik lelaki maupun perempuan, Dia yang mengetahui hal-ihwal manusia serta rahasia mereka dan bisikan jiwa mereka, dan sesungguhnya Dia ﴾ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنۡ حَبۡلِ ٱلۡوَرِيدِ ﴿ "lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya," yang merupakan sesuatu yang terdekat pada manusia yaitu urat saraf yang tersimpan di balik urat lehernya. Hal ini menyeru manusia untuk selalu mura-qabah terhadap Pencipta yang mengetahui hati dan batinnya, yang lebih dekat kepadanya dalam berbagai keadaannya sehingga manu-sia akan merasa malu ketika Allah سبحانه وتعالى melihatnya melakukan yang dilarang atau tidak melaksanakan yang diperintahkan. (17) Begitu juga manusia harus menempatkan para malaikat mulia yang menulis semua amalnya di dalam pikirannya, para ma-laikat dimuliakan dan dihormati dan selalu waspada untuk tidak berbuat atau berkata sesuatu yang dicatat yang tidak diridhai oleh Rabb semesta alam. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ ﴿ "Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya," yakni men-catat semua amal manusia, satu berada ﴾ عَنِ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "di sebelah kanan," yang mencatat segala amal baik, dan lainnya ﴾ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ ﴿ "di sebelah kiri," yang mencatat seluruh amal buruk, masing-masing dari kedua malaikat itu terikat untuk tugas tersebut, disiapkan untuk tugasnya yang dipersiapkan untuknya dan tetap senantiasa melakukan tugas itu. (18) ﴾ مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ ﴿ "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan," baik ataupun buruk ﴾ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ﴿ "melainkan ada di dekatnya ma-laikat pengawas yang selalu hadir," yakni selalu mengawasinya dan menyaksikan hal ihwalnya, seperti yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ 10 كِرَامٗا كَٰتِبِينَ 11 يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ 12 ﴿ "Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerja-kan." (Al-Infithar: 10-12).

Qaf 50:19

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itu-lah yang kamu selalu lari dari padanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang ma-laikat saksi. Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaf: 19-22). (19) Artinya, orang yang lari serta mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى ini didatangi oleh ﴾ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "sakaratul maut yang se-benar-benarnya," yang tidak bisa ditolak dan dihindari.﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ﴿ "Itulah yang kamu selalu lari dari padanya," yang kau hindari dan lari darinya. (20) ﴾ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡوَعِيدِ ﴿ "Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman," hari di mana orang-orang zhalim akan menuai ancaman Allah سبحانه وتعالى berupa azab, hari di mana orang-orang yang beriman akan menuai janji Allah سبحانه وتعالى berupa pahala. (21) ﴾ وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّعَهَا سَآئِقٞ ﴿ "Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring," yang akan menggiringnya ke tempat pemberhentian pada Hari Kiamat, sehingga setiap diri tidak mungkin untuk tidak mendatangi tempat itu, ﴾ وَشَهِيدٞ ﴿ "dan seorang malaikat saksi," yang akan memberikan kesaksian tentang semua amalnya, baik dan buruknya. Ini menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya dan Allah سبحانه وتعالى menjaga amal-amalnya kemudian dibalas secara adil. (22) Ini merupakan masalah yang harus diperhatikan oleh para hamba, tapi kebanyakan manusia lalai, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كُنتَ فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini." Artinya, dikatakan pada orang yang berpaling dan mendustakan Hari Kiamat. Perkataan ini sebagai celaan dan penghinaan, kalian dulunya mendustakan Hari Kiamat dan tidak mau beramal untuk Hari Kiamat, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka" s e k a r a n g ﴾ كَشَفۡنَا عَنكَ غِطَآءَكَ ﴿ "Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu," yang menutupi hatimu, dulu kalian banyak terlelap dan terus menerus berpaling, ﴾ فَبَصَرُكَ ٱلۡيَوۡمَ حَدِيدٞ ﴿ "maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam," yakni melihat berbagai macam azab yang membuat-nya takut. Penafsiran lain, atau ini adalah pembicaraan Allah سبحانه وتعالى untuk hambaNya yang ketika berada di dunia melalaikan tujuan mengapa dia diciptakan. Tapi pada Hari Kiamat orang itu menjadi waspada dan kantuknya lenyap di saat-saat di mana semua yang telah ditinggalkan tidak mungkin bisa dikejar lagi. Semua ini me-rupakan ancaman Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya serta penyam-paian berita menakutkan dengan menyebutkan balasan yang di-terima mereka yang mendustakan pada hari yang amat besar itu.

Qaf 50:20

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itu-lah yang kamu selalu lari dari padanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang ma-laikat saksi. Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaf: 19-22). (19) Artinya, orang yang lari serta mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى ini didatangi oleh ﴾ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "sakaratul maut yang se-benar-benarnya," yang tidak bisa ditolak dan dihindari.﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ﴿ "Itulah yang kamu selalu lari dari padanya," yang kau hindari dan lari darinya. (20) ﴾ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡوَعِيدِ ﴿ "Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman," hari di mana orang-orang zhalim akan menuai ancaman Allah سبحانه وتعالى berupa azab, hari di mana orang-orang yang beriman akan menuai janji Allah سبحانه وتعالى berupa pahala. (21) ﴾ وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّعَهَا سَآئِقٞ ﴿ "Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring," yang akan menggiringnya ke tempat pemberhentian pada Hari Kiamat, sehingga setiap diri tidak mungkin untuk tidak mendatangi tempat itu, ﴾ وَشَهِيدٞ ﴿ "dan seorang malaikat saksi," yang akan memberikan kesaksian tentang semua amalnya, baik dan buruknya. Ini menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya dan Allah سبحانه وتعالى menjaga amal-amalnya kemudian dibalas secara adil. (22) Ini merupakan masalah yang harus diperhatikan oleh para hamba, tapi kebanyakan manusia lalai, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كُنتَ فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini." Artinya, dikatakan pada orang yang berpaling dan mendustakan Hari Kiamat. Perkataan ini sebagai celaan dan penghinaan, kalian dulunya mendustakan Hari Kiamat dan tidak mau beramal untuk Hari Kiamat, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka" s e k a r a n g ﴾ كَشَفۡنَا عَنكَ غِطَآءَكَ ﴿ "Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu," yang menutupi hatimu, dulu kalian banyak terlelap dan terus menerus berpaling, ﴾ فَبَصَرُكَ ٱلۡيَوۡمَ حَدِيدٞ ﴿ "maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam," yakni melihat berbagai macam azab yang membuat-nya takut. Penafsiran lain, atau ini adalah pembicaraan Allah سبحانه وتعالى untuk hambaNya yang ketika berada di dunia melalaikan tujuan mengapa dia diciptakan. Tapi pada Hari Kiamat orang itu menjadi waspada dan kantuknya lenyap di saat-saat di mana semua yang telah ditinggalkan tidak mungkin bisa dikejar lagi. Semua ini me-rupakan ancaman Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya serta penyam-paian berita menakutkan dengan menyebutkan balasan yang di-terima mereka yang mendustakan pada hari yang amat besar itu.

Qaf 50:21

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itu-lah yang kamu selalu lari dari padanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang ma-laikat saksi. Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaf: 19-22). (19) Artinya, orang yang lari serta mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى ini didatangi oleh ﴾ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "sakaratul maut yang se-benar-benarnya," yang tidak bisa ditolak dan dihindari.﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ﴿ "Itulah yang kamu selalu lari dari padanya," yang kau hindari dan lari darinya. (20) ﴾ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡوَعِيدِ ﴿ "Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman," hari di mana orang-orang zhalim akan menuai ancaman Allah سبحانه وتعالى berupa azab, hari di mana orang-orang yang beriman akan menuai janji Allah سبحانه وتعالى berupa pahala. (21) ﴾ وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّعَهَا سَآئِقٞ ﴿ "Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring," yang akan menggiringnya ke tempat pemberhentian pada Hari Kiamat, sehingga setiap diri tidak mungkin untuk tidak mendatangi tempat itu, ﴾ وَشَهِيدٞ ﴿ "dan seorang malaikat saksi," yang akan memberikan kesaksian tentang semua amalnya, baik dan buruknya. Ini menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya dan Allah سبحانه وتعالى menjaga amal-amalnya kemudian dibalas secara adil. (22) Ini merupakan masalah yang harus diperhatikan oleh para hamba, tapi kebanyakan manusia lalai, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كُنتَ فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini." Artinya, dikatakan pada orang yang berpaling dan mendustakan Hari Kiamat. Perkataan ini sebagai celaan dan penghinaan, kalian dulunya mendustakan Hari Kiamat dan tidak mau beramal untuk Hari Kiamat, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka" s e k a r a n g ﴾ كَشَفۡنَا عَنكَ غِطَآءَكَ ﴿ "Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu," yang menutupi hatimu, dulu kalian banyak terlelap dan terus menerus berpaling, ﴾ فَبَصَرُكَ ٱلۡيَوۡمَ حَدِيدٞ ﴿ "maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam," yakni melihat berbagai macam azab yang membuat-nya takut. Penafsiran lain, atau ini adalah pembicaraan Allah سبحانه وتعالى untuk hambaNya yang ketika berada di dunia melalaikan tujuan mengapa dia diciptakan. Tapi pada Hari Kiamat orang itu menjadi waspada dan kantuknya lenyap di saat-saat di mana semua yang telah ditinggalkan tidak mungkin bisa dikejar lagi. Semua ini me-rupakan ancaman Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya serta penyam-paian berita menakutkan dengan menyebutkan balasan yang di-terima mereka yang mendustakan pada hari yang amat besar itu.

Qaf 50:22

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itu-lah yang kamu selalu lari dari padanya. Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang ma-laikat saksi. Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam." (Qaf: 19-22). (19) Artinya, orang yang lari serta mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى ini didatangi oleh ﴾ سَكۡرَةُ ٱلۡمَوۡتِ بِٱلۡحَقِّۖ ﴿ "sakaratul maut yang se-benar-benarnya," yang tidak bisa ditolak dan dihindari.﴾ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنۡهُ تَحِيدُ ﴿ "Itulah yang kamu selalu lari dari padanya," yang kau hindari dan lari darinya. (20) ﴾ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِۚ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡوَعِيدِ ﴿ "Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman," hari di mana orang-orang zhalim akan menuai ancaman Allah سبحانه وتعالى berupa azab, hari di mana orang-orang yang beriman akan menuai janji Allah سبحانه وتعالى berupa pahala. (21) ﴾ وَجَآءَتۡ كُلُّ نَفۡسٖ مَّعَهَا سَآئِقٞ ﴿ "Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring," yang akan menggiringnya ke tempat pemberhentian pada Hari Kiamat, sehingga setiap diri tidak mungkin untuk tidak mendatangi tempat itu, ﴾ وَشَهِيدٞ ﴿ "dan seorang malaikat saksi," yang akan memberikan kesaksian tentang semua amalnya, baik dan buruknya. Ini menunjukkan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya dan Allah سبحانه وتعالى menjaga amal-amalnya kemudian dibalas secara adil. (22) Ini merupakan masalah yang harus diperhatikan oleh para hamba, tapi kebanyakan manusia lalai, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّقَدۡ كُنتَ فِي غَفۡلَةٖ مِّنۡ هَٰذَا ﴿ "Sungguh kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini." Artinya, dikatakan pada orang yang berpaling dan mendustakan Hari Kiamat. Perkataan ini sebagai celaan dan penghinaan, kalian dulunya mendustakan Hari Kiamat dan tidak mau beramal untuk Hari Kiamat, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka" s e k a r a n g ﴾ كَشَفۡنَا عَنكَ غِطَآءَكَ ﴿ "Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu," yang menutupi hatimu, dulu kalian banyak terlelap dan terus menerus berpaling, ﴾ فَبَصَرُكَ ٱلۡيَوۡمَ حَدِيدٞ ﴿ "maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam," yakni melihat berbagai macam azab yang membuat-nya takut. Penafsiran lain, atau ini adalah pembicaraan Allah سبحانه وتعالى untuk hambaNya yang ketika berada di dunia melalaikan tujuan mengapa dia diciptakan. Tapi pada Hari Kiamat orang itu menjadi waspada dan kantuknya lenyap di saat-saat di mana semua yang telah ditinggalkan tidak mungkin bisa dikejar lagi. Semua ini me-rupakan ancaman Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya serta penyam-paian berita menakutkan dengan menyebutkan balasan yang di-terima mereka yang mendustakan pada hari yang amat besar itu.

Qaf 50:23

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:24

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:25

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:26

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:27

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:28

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:29

"Dan yang menyertai dia berkata, 'Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.' Allah berfirman, 'Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat enggan melakukan kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.' Yang me-nyertai dia berkata (pula), 'Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkan-nya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.' Allah berfirman, 'Janganlah kamu bertengkar di hadapanKu, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.' Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambaKu'." (Qaf: 23-29). (23) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Dan yang menyertai dia berkata," yakni malaikat yang menyertai orang yang mendustakan dan berpaling. Mereka adalah para malaikat yang ditugaskan Allah سبحانه وتعالى untuk menjaganya dan mencatat amalnya, catatan dan amalnya itu akan diperlihatkan pada Hari Kiamat. Malaikat itu berkata, ﴾ هَٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ ﴿ "Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku," yaitu aku telah memperlihatkan tugasku untuk menjaganya dan menca-tat amalnya. (24) Kemudian orang itu pun dibalas amalnya dan dikata-kan bagi orang yang berhak masuk neraka, ﴾ أَلۡقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٖ ﴿ "Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala," yakni, mereka yang banyak kufurnya serta menentang ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat maksiat, lancang dalam melakukan berbagai keharaman dan dosa. (25) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan melakukan kebajikan," yakni, mencegah kebaikan yang ada di dekatnya, di mana yang paling agung adalah beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab-kitab Allah سبحانه وتعالى dan para rasulNya, enggan melakukan kebajikan pada harta dan dirinya, ﴾ مُعۡتَدٖ ﴿ "melanggar batas," terhadap hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى, banyak berbuat dosa ﴾ مُّرِيبٍ ﴿ "lagi ragu-ragu," meragukan janji dan ancaman Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak memiliki keimanan dan kebaikan bahkan Allah سبحانه وتعالى menyifatinya dengan kekufuran, pem-bangkangan, ragu, pelit, menjadikan sesembahan-sesembahan lain selain Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah. (26) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ٱلَّذِي جَعَلَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ ﴿ "Yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah," yakni menyembah selain Allah سبحانه وتعالى di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى; sesembahan itu tidak bisa membahayakan dirinya dan tidak pula dapat membawa manfaat, tidak bisa mematikan dan tidak bisa menghidupkan dan tidak pula bisa membangkitkan. ﴾ فَأَلۡقِيَاهُ ﴿ "Maka lemparkanlah dia," wahai dua malaikat yang menyertainya, ﴾ فِي ٱلۡعَذَابِ ٱلشَّدِيدِ ﴿ "ke dalam siksaan yang sangat," yaitu siksaan yang paling besar, paling berat, dan paling keji. (27) ﴾ قَالَ قَرِينُهُۥ ﴿ "Yang menyertai dia berkata (pula)," yakni setan yang berlepas diri darinya yang membawa dosa-dosanya,﴾ رَبَّنَا مَآ أَطۡغَيۡتُهُۥ ﴿ "Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya," karena aku tidak memiliki kekuasaan, hujjah, dan juga penjelasan atasnya, ﴾ وَلَٰكِن كَانَ فِي ضَلَٰلِۭ بَعِيدٖ ﴿ "tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh," dia sen-dirilah yang tersesat dan jauh dari kebenaran berdasarkan pilihan-nya sendiri, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى lainnya, ﴾ وَقَالَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لَمَّا قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ إِنَّ ٱللَّهَ وَعَدَكُمۡ وَعۡدَ ٱلۡحَقِّ وَوَعَدتُّكُمۡ فَأَخۡلَفۡتُكُمۡۖ ﴿ "Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, 'Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya'." (Ibra-him: 22). (28) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjawab perdebatan di antara mereka, ﴾ لَا تَخۡتَصِمُواْ لَدَيَّ ﴿ "Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku," artinya, perdebatan kalian di hadapanKu tidak ada gunanya, ﴾ وَ﴿ "padahal," karena sesungguhnya Aku ﴾ قَدۡ قَدَّمۡتُ إِلَيۡكُم بِٱلۡوَعِيدِ ﴿ "telah memberikan ancaman kepadamu." Artinya, para rasulKu telah men-datangimu dengan berbagai ayat yang menjelaskan dan hujjah serta bukti yang nyata, hujjahKu telah tegak pada kalian sehingga alasan kalian sama sekali tidak berguna, engkau telah memberikan amal-amal yang telah engkau lakukan kepadaKu yang harus diberi balasan. (29) ﴾ مَا يُبَدَّلُ ٱلۡقَوۡلُ لَدَيَّ ﴿ "Keputusan di sisiKu tidak dapat diubah." Artinya, Allah سبحانه وتعالى tidak mungkin memungkiri apa yang difirman-kan dan diberitakanNya, sebab tidak ada yang perkataannya paling benar selain Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَمَآ أَنَا۠ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ ﴿ "Dan Aku sekali-kali tidak meng-aniaya hamba-hambaKu." Aku membalas mereka sesuai dengan amalan mereka baik dan buruknya, kejelekan mereka tidak ditam-bah sedikit pun dan kebaikan mereka tidak dikurangi sedikit pun.

Qaf 50:30

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:31

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:32

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:33

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:34

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:35

"(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami berta-nya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?' Dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?' Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturanNya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat. (Dikatakan kepada penghuni surga), 'Masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan.' Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahan(nya)." (Qaf: 30-35). (30) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti para hamba-Nya, ﴾ يَوۡمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمۡتَلَأۡتِ ﴿ "(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahanam, 'Apakah kamu sudah penuh?'" Demi-kian itu karena terlalu banyaknya yang dilemparkan ke dalamnya, ﴾ وَتَقُولُ هَلۡ مِن مَّزِيدٖ ﴿ "dia menjawab, 'Masih adakah tambahan?'" Artinya, Neraka Jahanam terus meminta agar ditambah dari kalangan orang-orang yang berdosa dan pendurhaka, dengan marah terhadap orang-orang kafir, Allah سبحانه وتعالى telah menjanjikan Jahanam akan penuh sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 119 ﴿ "Sungguh Aku akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia seluruhnya." (Hud: 119). Hingga Rabb Pemilik Keperkasaan meletakkan KakiNya Yang Mulia (Yang Mahasuci dari Keserupaan) dan melebarkan pojok masing-masing, Neraka Jahanam berkata, "Cukup, cukup, aku sudah cukup dan penuh."[104] (31) ﴾ وَأُزۡلِفَتِ ٱلۡجَنَّةُ ﴿ "Dan didekatkanlah surga itu," artinya, surga itu didekatkan sehingga bisa disaksikan dan dilihat kenikmatan abadi serta kesenangan yang ada di dalamnya. Surga didekatkan hanya untuk hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang bertakwa padaNya, yang meninggalkan kesyirikan besar dan kecil, yang melaksanakan pe-rintah-perintah Rabb mereka serta tunduk dan patuh kepadaNya. (32) Dan dikatakan kepada mereka seraya diberi ucapan selamat, ﴾ هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٖ ﴿ "Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) bagi setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi me-melihara (semua peraturan-peraturanNya)." Artinya, surga ini serta berbagai kesenangan yang diinginkan jiwa dan dipandang nikmat oleh mata yang ada di dalamnya itu adalah yang dijanjikan Allah سبحانه وتعالى kepada setiap orang yang kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, kembali ke-padaNya di segala waktu, mengingatNya, mencintaiNya, meminta pertolongan, berdoa, takut dan berharap kepadaNya. ﴾ حَفِيظٖ ﴿ "Men-jaga," yaitu menjaga apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى, melaksana-kan dengan ikhlas serta sempurna untuk Allah سبحانه وتعالى semata dan men-jaga batasan-batasan Allah سبحانه وتعالى. (33) ﴾ مَّنۡ خَشِيَ ٱلرَّحۡمَٰنَ ﴿ "(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah," artinya, takut kepadaNya karena mengenal Rabb-nya, mengharap rahmatNya serta senantiasa takut terhadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak berada di hadapan orang. Dan inilah rasa takut yang sebenarnya. Sedangkan rasa takut di hadapan dan dalam pandangan orang, maka rasa takut itu adalah riya` dan sum'ah yang tidak menunjukkan rasa takut. Rasa takut yang membawa manfaat adalah rasa takut, baik di kala sendirian maupun ketika bersama orang lain. Kemungkinan maksud ayat ini juga adalah takut ter-hadap Allah سبحانه وتعالى meski tidak terlihat oleh mata seperti halnya yang dimaksud dengan beriman kepada yang ghaib. Ghaib adalah keba-likan dari nyata, karena iman dan rasa takut adalah sesuatu yang vital bukan alternatif karena bisa menentukan azab, kemudian ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang dan inilah yang nampak. ﴾ وَجَآءَ بِقَلۡبٖ مُّنِيبٍ ﴿ "Dan ia datang dengan hati yang kembali," ia disifati dengan kembali kepada Penolongnya serta tertarik oleh berbagai faktor pendorong menuju keridhaanNya. (34) Dikatakan kepada mereka yang bertakwa dan berbakti, ﴾ ٱدۡخُلُوهَا بِسَلَٰمٖۖ ﴿ "Masukilah surga itu dengan aman," masuk disertai de-ngan keselamatan dari segala bahaya dan keburukan, aman dari seluruh hal yang tidak diinginkan, kenikmatan mereka tidak pernah terputus, tidak terkotori dan tidak ada habisnya. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُلُودِ ﴿ "Itu-lah hari kekekalan," tidak bisa lenyap, tidak ada kematian dan tidak ada sesuatu pun yang bisa mengotorinya. (35) ﴾ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ فِيهَا ﴿ "Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki," artinya, semua yang berkaitan dengan kehendak mereka akan didapatkan di dalam surga. ﴾ وَلَدَيۡنَا ﴿ "Dan pada sisi Kami," di samping itu ﴾ مَزِيدٞ ﴿ "ada tambahan(nya)," yaitu pahala yang dibentangkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. Dan yang lebih agung serta besar dari semua kenikmatan tersebut adalah memandang WajahNya Yang Mulia, mendengarkan Firman-Nya, menikmati berdekatan denganNya. Kita memohon karunia-Nya ini.

Qaf 50:36

"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf: 36-37). (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti kaum musy-rikin yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّن قَرۡنٍ ﴿ "Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum me-reka," yakni, umat-umat yang banyak, ﴾ هُمۡ أَشَدُّ مِنۡهُم بَطۡشٗا ﴿ "yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini," artinya, lebih kuat dan lebih kuat bekas karyanya di atas muka bumi ini, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَنَقَّبُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Mereka menjelajah di beberapa negeri," mereka pernah membangun benteng yang kokoh, rumah yang tinggi menjulang, menanam pohon, membuat sungai, berco-cok tanam, memakmurkan sekaligus menghancurkan, ketika me-reka mendustakan utusan Allah سبحانه وتعالى serta menentang ayat-ayatNya, Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan azab yang pedih dan berat. ﴾ هَلۡ مِن مَّحِيصٍ ﴿ "Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?" Artinya, tidak ada tempat bagi mereka untuk lari dari azab Allah سبحانه وتعالى ketika azab itu datang kepada mereka dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan mereka. Kekuatan, harta, dan anak-anak mereka sama sekali tidak berguna. (37) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati," yakni hati yang agung, hidup, cerdas, dan suci. Apabila ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang, hati mengingat dan memanfa-atkannya sehingga nilainya semakin naik. Begitu juga orang yang mendengarkan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى untuk dijadikan petunjuk hati, ﴾ شَهِيدٞ ﴿ "sedang dia menyaksikannya," yaitu ada, ini juga memiliki peringatan, nasihat, pengobat, dan petunjuk. Adapun orang yang berpaling dan tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, maka semua itu tidak berguna sama sekali, sebab hatinya tidak bisa me-nerima, sehingga hikmah Allah سبحانه وتعالى tidak bisa memberikan hidayah pada orang yang memiliki sifat seperti itu.

Qaf 50:37

"Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (Qaf: 36-37). (36) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menakut-nakuti kaum musy-rikin yang mendustakan Rasulullah a, ﴾ وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّن قَرۡنٍ ﴿ "Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum me-reka," yakni, umat-umat yang banyak, ﴾ هُمۡ أَشَدُّ مِنۡهُم بَطۡشٗا ﴿ "yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini," artinya, lebih kuat dan lebih kuat bekas karyanya di atas muka bumi ini, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَنَقَّبُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ﴿ "Mereka menjelajah di beberapa negeri," mereka pernah membangun benteng yang kokoh, rumah yang tinggi menjulang, menanam pohon, membuat sungai, berco-cok tanam, memakmurkan sekaligus menghancurkan, ketika me-reka mendustakan utusan Allah سبحانه وتعالى serta menentang ayat-ayatNya, Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka dengan azab yang pedih dan berat. ﴾ هَلۡ مِن مَّحِيصٍ ﴿ "Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?" Artinya, tidak ada tempat bagi mereka untuk lari dari azab Allah سبحانه وتعالى ketika azab itu datang kepada mereka dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan mereka. Kekuatan, harta, dan anak-anak mereka sama sekali tidak berguna. (37) ﴾ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ ﴿ "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati," yakni hati yang agung, hidup, cerdas, dan suci. Apabila ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى datang, hati mengingat dan memanfa-atkannya sehingga nilainya semakin naik. Begitu juga orang yang mendengarkan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى untuk dijadikan petunjuk hati, ﴾ شَهِيدٞ ﴿ "sedang dia menyaksikannya," yaitu ada, ini juga memiliki peringatan, nasihat, pengobat, dan petunjuk. Adapun orang yang berpaling dan tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, maka semua itu tidak berguna sama sekali, sebab hatinya tidak bisa me-nerima, sehingga hikmah Allah سبحانه وتعالى tidak bisa memberikan hidayah pada orang yang memiliki sifat seperti itu.

Qaf 50:38

"Dan sungguh telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertas-bihlah kamu kepadaNya di malam hari dan setiap selesai shalat." (Qaf: 38-40). (38) Ini adalah pemberitahuan Allah سبحانه وتعالى tentang KuasaNya yang Mahaagung serta kehendakNya yang pasti terlaksana, yang dengan itu Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk terbesar y a i t u ﴾ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at tanpa lelah dan letih. Allah سبحانه وتعالى yang menciptakan langit dan bumi segitu besar dan luasnya tentu lebih mampu untuk menghi-dupkan manusia yang telah mati. (39-40) ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan," yakni yang mencelamu dan mendustakan risalah yang kau bawa, sibukkan dirimu dengan ketaatan terhadap Rabbmu dan bertasbihlah di permulaan siang dan di penghujung-nya dan pada waktu malam hari serta setiap selesai shalat, karena mengingat Allah سبحانه وتعالى bisa membawa pelipur untuk jiwa, melegakan jiwa, dan meringankan beban untuk bersabar.

Qaf 50:39

"Dan sungguh telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertas-bihlah kamu kepadaNya di malam hari dan setiap selesai shalat." (Qaf: 38-40). (38) Ini adalah pemberitahuan Allah سبحانه وتعالى tentang KuasaNya yang Mahaagung serta kehendakNya yang pasti terlaksana, yang dengan itu Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk terbesar y a i t u ﴾ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at tanpa lelah dan letih. Allah سبحانه وتعالى yang menciptakan langit dan bumi segitu besar dan luasnya tentu lebih mampu untuk menghi-dupkan manusia yang telah mati. (39-40) ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan," yakni yang mencelamu dan mendustakan risalah yang kau bawa, sibukkan dirimu dengan ketaatan terhadap Rabbmu dan bertasbihlah di permulaan siang dan di penghujung-nya dan pada waktu malam hari serta setiap selesai shalat, karena mengingat Allah سبحانه وتعالى bisa membawa pelipur untuk jiwa, melegakan jiwa, dan meringankan beban untuk bersabar.

Qaf 50:40

"Dan sungguh telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit-pun tidak ditimpa keletihan. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertas-bihlah kamu kepadaNya di malam hari dan setiap selesai shalat." (Qaf: 38-40). (38) Ini adalah pemberitahuan Allah سبحانه وتعالى tentang KuasaNya yang Mahaagung serta kehendakNya yang pasti terlaksana, yang dengan itu Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk terbesar y a i t u ﴾ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan berakhir pada Hari Jum'at tanpa lelah dan letih. Allah سبحانه وتعالى yang menciptakan langit dan bumi segitu besar dan luasnya tentu lebih mampu untuk menghi-dupkan manusia yang telah mati. (39-40) ﴾ فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan," yakni yang mencelamu dan mendustakan risalah yang kau bawa, sibukkan dirimu dengan ketaatan terhadap Rabbmu dan bertasbihlah di permulaan siang dan di penghujung-nya dan pada waktu malam hari serta setiap selesai shalat, karena mengingat Allah سبحانه وتعالى bisa membawa pelipur untuk jiwa, melegakan jiwa, dan meringankan beban untuk bersabar.

Qaf 50:41

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka men-dengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu." (Qaf: 41-45). (41) ﴾ وَٱسۡتَمِعۡ ﴿ "Dan dengarkanlah," dengan hatimu seruan ma-laikat yang menyeru, dia adalah malaikat Israfil عليه السلام ketika meniup sangkakala, ﴾ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "dari tempat yang dekat," yaitu di bumi. (42) ﴾ يَوۡمَ يَسۡمَعُونَ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan," di mana semua makhluk bisa mendengarnya, ﴾ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "teriakan" yang mengusik dan membuat takut ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dengan sebe-nar-benarnya," yang tidak ada keraguan dan tidak perlu diperdebat-kan. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُرُوجِ ﴿ "Itulah hari keluar" dari kubur, yang hanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bisa melakukannya. (43-44) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِۦ وَنُمِيتُ وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ 43 يَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلۡأَرۡضُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka," menam-pakkan semua manusia ﴾ سِرَاعٗاۚ ﴿ "dengan cepat," di mana mereka bersegera memenuhi panggilan yang memanggil mereka untuk menuju tempat pemberhentian pada Hari Kiamat. ﴾ ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami," arti-nya, mudah bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada kelelahan dalam melakukan-nya dan tidak ada beban. (45) ﴾ نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ﴿ "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan," hinaan yang mereka katakan kepadamu yang mem-buatmu sedih. Jika Kami mengetahui hal itu, maka engkau juga mengetahui bagaimana Kami memperhatikanmu dan memudah-kan segala urusanmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu, maka bergembiralah hatimu, tenangkan jiwamu dan hendaknya engkau mengetahui bahwa Kami menyayangimu dan mencintai jiwamu. Yang hanya bisa kau lakukan adalah menanti janji Allah سبحانه وتعالى dan meneladani para rasul-rasul ulul azmi, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka," yakni menguasai mereka. ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 7 ﴿ "Engkau hanyalah pemberi peringatan dan setiap kaum itu ada yang memberi petunjuk." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ "Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu," peringatan adalah sesuatu yang menancap di akal dan fitrah berupa rasa cinta terhadap kebaikan, mengutamakan serta melakukan kebaikan, membenci keburukan dan menjauhinya. Mereka yang bisa memanfaatkan peringatan Allah سبحانه وتعالى adalah yang takut akan ancamanNya, sedangkan orang yang tidak takut terha-dap ancaman Allah سبحانه وتعالى dan tidak beriman kepadaNya, maka man-faat dari peringatan tersebut adalah penegakan hujjah padanya agar tidak beralasan belum datang rasul pembawa berita gembira dan ancaman. Akhir tafsir Surat Qaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, dari permulaan, akhir, lahir dan batin.

Qaf 50:42

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka men-dengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu." (Qaf: 41-45). (41) ﴾ وَٱسۡتَمِعۡ ﴿ "Dan dengarkanlah," dengan hatimu seruan ma-laikat yang menyeru, dia adalah malaikat Israfil عليه السلام ketika meniup sangkakala, ﴾ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "dari tempat yang dekat," yaitu di bumi. (42) ﴾ يَوۡمَ يَسۡمَعُونَ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan," di mana semua makhluk bisa mendengarnya, ﴾ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "teriakan" yang mengusik dan membuat takut ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dengan sebe-nar-benarnya," yang tidak ada keraguan dan tidak perlu diperdebat-kan. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُرُوجِ ﴿ "Itulah hari keluar" dari kubur, yang hanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bisa melakukannya. (43-44) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِۦ وَنُمِيتُ وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ 43 يَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلۡأَرۡضُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka," menam-pakkan semua manusia ﴾ سِرَاعٗاۚ ﴿ "dengan cepat," di mana mereka bersegera memenuhi panggilan yang memanggil mereka untuk menuju tempat pemberhentian pada Hari Kiamat. ﴾ ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami," arti-nya, mudah bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada kelelahan dalam melakukan-nya dan tidak ada beban. (45) ﴾ نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ﴿ "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan," hinaan yang mereka katakan kepadamu yang mem-buatmu sedih. Jika Kami mengetahui hal itu, maka engkau juga mengetahui bagaimana Kami memperhatikanmu dan memudah-kan segala urusanmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu, maka bergembiralah hatimu, tenangkan jiwamu dan hendaknya engkau mengetahui bahwa Kami menyayangimu dan mencintai jiwamu. Yang hanya bisa kau lakukan adalah menanti janji Allah سبحانه وتعالى dan meneladani para rasul-rasul ulul azmi, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka," yakni menguasai mereka. ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 7 ﴿ "Engkau hanyalah pemberi peringatan dan setiap kaum itu ada yang memberi petunjuk." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ "Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu," peringatan adalah sesuatu yang menancap di akal dan fitrah berupa rasa cinta terhadap kebaikan, mengutamakan serta melakukan kebaikan, membenci keburukan dan menjauhinya. Mereka yang bisa memanfaatkan peringatan Allah سبحانه وتعالى adalah yang takut akan ancamanNya, sedangkan orang yang tidak takut terha-dap ancaman Allah سبحانه وتعالى dan tidak beriman kepadaNya, maka man-faat dari peringatan tersebut adalah penegakan hujjah padanya agar tidak beralasan belum datang rasul pembawa berita gembira dan ancaman. Akhir tafsir Surat Qaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, dari permulaan, akhir, lahir dan batin.

Qaf 50:43

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka men-dengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu." (Qaf: 41-45). (41) ﴾ وَٱسۡتَمِعۡ ﴿ "Dan dengarkanlah," dengan hatimu seruan ma-laikat yang menyeru, dia adalah malaikat Israfil عليه السلام ketika meniup sangkakala, ﴾ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "dari tempat yang dekat," yaitu di bumi. (42) ﴾ يَوۡمَ يَسۡمَعُونَ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan," di mana semua makhluk bisa mendengarnya, ﴾ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "teriakan" yang mengusik dan membuat takut ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dengan sebe-nar-benarnya," yang tidak ada keraguan dan tidak perlu diperdebat-kan. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُرُوجِ ﴿ "Itulah hari keluar" dari kubur, yang hanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bisa melakukannya. (43-44) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِۦ وَنُمِيتُ وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ 43 يَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلۡأَرۡضُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka," menam-pakkan semua manusia ﴾ سِرَاعٗاۚ ﴿ "dengan cepat," di mana mereka bersegera memenuhi panggilan yang memanggil mereka untuk menuju tempat pemberhentian pada Hari Kiamat. ﴾ ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami," arti-nya, mudah bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada kelelahan dalam melakukan-nya dan tidak ada beban. (45) ﴾ نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ﴿ "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan," hinaan yang mereka katakan kepadamu yang mem-buatmu sedih. Jika Kami mengetahui hal itu, maka engkau juga mengetahui bagaimana Kami memperhatikanmu dan memudah-kan segala urusanmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu, maka bergembiralah hatimu, tenangkan jiwamu dan hendaknya engkau mengetahui bahwa Kami menyayangimu dan mencintai jiwamu. Yang hanya bisa kau lakukan adalah menanti janji Allah سبحانه وتعالى dan meneladani para rasul-rasul ulul azmi, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka," yakni menguasai mereka. ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 7 ﴿ "Engkau hanyalah pemberi peringatan dan setiap kaum itu ada yang memberi petunjuk." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ "Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu," peringatan adalah sesuatu yang menancap di akal dan fitrah berupa rasa cinta terhadap kebaikan, mengutamakan serta melakukan kebaikan, membenci keburukan dan menjauhinya. Mereka yang bisa memanfaatkan peringatan Allah سبحانه وتعالى adalah yang takut akan ancamanNya, sedangkan orang yang tidak takut terha-dap ancaman Allah سبحانه وتعالى dan tidak beriman kepadaNya, maka man-faat dari peringatan tersebut adalah penegakan hujjah padanya agar tidak beralasan belum datang rasul pembawa berita gembira dan ancaman. Akhir tafsir Surat Qaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, dari permulaan, akhir, lahir dan batin.

Qaf 50:44

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka men-dengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu." (Qaf: 41-45). (41) ﴾ وَٱسۡتَمِعۡ ﴿ "Dan dengarkanlah," dengan hatimu seruan ma-laikat yang menyeru, dia adalah malaikat Israfil عليه السلام ketika meniup sangkakala, ﴾ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "dari tempat yang dekat," yaitu di bumi. (42) ﴾ يَوۡمَ يَسۡمَعُونَ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan," di mana semua makhluk bisa mendengarnya, ﴾ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "teriakan" yang mengusik dan membuat takut ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dengan sebe-nar-benarnya," yang tidak ada keraguan dan tidak perlu diperdebat-kan. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُرُوجِ ﴿ "Itulah hari keluar" dari kubur, yang hanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bisa melakukannya. (43-44) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِۦ وَنُمِيتُ وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ 43 يَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلۡأَرۡضُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka," menam-pakkan semua manusia ﴾ سِرَاعٗاۚ ﴿ "dengan cepat," di mana mereka bersegera memenuhi panggilan yang memanggil mereka untuk menuju tempat pemberhentian pada Hari Kiamat. ﴾ ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami," arti-nya, mudah bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada kelelahan dalam melakukan-nya dan tidak ada beban. (45) ﴾ نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ﴿ "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan," hinaan yang mereka katakan kepadamu yang mem-buatmu sedih. Jika Kami mengetahui hal itu, maka engkau juga mengetahui bagaimana Kami memperhatikanmu dan memudah-kan segala urusanmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu, maka bergembiralah hatimu, tenangkan jiwamu dan hendaknya engkau mengetahui bahwa Kami menyayangimu dan mencintai jiwamu. Yang hanya bisa kau lakukan adalah menanti janji Allah سبحانه وتعالى dan meneladani para rasul-rasul ulul azmi, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka," yakni menguasai mereka. ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 7 ﴿ "Engkau hanyalah pemberi peringatan dan setiap kaum itu ada yang memberi petunjuk." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ "Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu," peringatan adalah sesuatu yang menancap di akal dan fitrah berupa rasa cinta terhadap kebaikan, mengutamakan serta melakukan kebaikan, membenci keburukan dan menjauhinya. Mereka yang bisa memanfaatkan peringatan Allah سبحانه وتعالى adalah yang takut akan ancamanNya, sedangkan orang yang tidak takut terha-dap ancaman Allah سبحانه وتعالى dan tidak beriman kepadaNya, maka man-faat dari peringatan tersebut adalah penegakan hujjah padanya agar tidak beralasan belum datang rasul pembawa berita gembira dan ancaman. Akhir tafsir Surat Qaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, dari permulaan, akhir, lahir dan batin.

Qaf 50:45

"Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka men-dengar teriakan dengan sebenar-benarnya, itulah hari keluar (dari kubur). Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka (lalu mereka keluar) dengan cepat. Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu." (Qaf: 41-45). (41) ﴾ وَٱسۡتَمِعۡ ﴿ "Dan dengarkanlah," dengan hatimu seruan ma-laikat yang menyeru, dia adalah malaikat Israfil عليه السلام ketika meniup sangkakala, ﴾ مِن مَّكَانٖ قَرِيبٖ ﴿ "dari tempat yang dekat," yaitu di bumi. (42) ﴾ يَوۡمَ يَسۡمَعُونَ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "(Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan," di mana semua makhluk bisa mendengarnya, ﴾ ٱلصَّيۡحَةَ ﴿ "teriakan" yang mengusik dan membuat takut ﴾ بِٱلۡحَقِّۚ ﴿ "dengan sebe-nar-benarnya," yang tidak ada keraguan dan tidak perlu diperdebat-kan. ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلۡخُرُوجِ ﴿ "Itulah hari keluar" dari kubur, yang hanya Allah سبحانه وتعالى Yang Mahakuasa atas segala sesuatu yang bisa melakukannya. (43-44) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا نَحۡنُ نُحۡيِۦ وَنُمِيتُ وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ 43 يَوۡمَ تَشَقَّقُ ٱلۡأَرۡضُ عَنۡهُمۡ ﴿ "Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). (Yaitu) pada hari bumi terbelah-belah menampakkan mereka," menam-pakkan semua manusia ﴾ سِرَاعٗاۚ ﴿ "dengan cepat," di mana mereka bersegera memenuhi panggilan yang memanggil mereka untuk menuju tempat pemberhentian pada Hari Kiamat. ﴾ ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami," arti-nya, mudah bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada kelelahan dalam melakukan-nya dan tidak ada beban. (45) ﴾ نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ﴿ "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan," hinaan yang mereka katakan kepadamu yang mem-buatmu sedih. Jika Kami mengetahui hal itu, maka engkau juga mengetahui bagaimana Kami memperhatikanmu dan memudah-kan segala urusanmu serta menolongmu atas musuh-musuhmu, maka bergembiralah hatimu, tenangkan jiwamu dan hendaknya engkau mengetahui bahwa Kami menyayangimu dan mencintai jiwamu. Yang hanya bisa kau lakukan adalah menanti janji Allah سبحانه وتعالى dan meneladani para rasul-rasul ulul azmi, ﴾ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ ﴿ "Dan kamu sekali-kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka," yakni menguasai mereka. ﴾ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرٞۖ وَلِكُلِّ قَوۡمٍ هَادٍ 7 ﴿ "Engkau hanyalah pemberi peringatan dan setiap kaum itu ada yang memberi petunjuk." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ ﴿ "Maka berilah peringatan dengan al-Qur`an ini orang yang takut kepada ancamanKu," peringatan adalah sesuatu yang menancap di akal dan fitrah berupa rasa cinta terhadap kebaikan, mengutamakan serta melakukan kebaikan, membenci keburukan dan menjauhinya. Mereka yang bisa memanfaatkan peringatan Allah سبحانه وتعالى adalah yang takut akan ancamanNya, sedangkan orang yang tidak takut terha-dap ancaman Allah سبحانه وتعالى dan tidak beriman kepadaNya, maka man-faat dari peringatan tersebut adalah penegakan hujjah padanya agar tidak beralasan belum datang rasul pembawa berita gembira dan ancaman. Akhir tafsir Surat Qaf. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata, dari permulaan, akhir, lahir dan batin.