Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Hadid 57:1 – Al-Hasyr 59:10

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Hadid 57:1
  2. Al-Hadid 57:2
  3. Al-Hadid 57:3
  4. Al-Hadid 57:4
  5. Al-Hadid 57:5
  6. Al-Hadid 57:6
  7. Al-Hadid 57:7
  8. Al-Hadid 57:8
  9. Al-Hadid 57:9
  10. Al-Hadid 57:10
  11. Al-Hadid 57:11
  12. Al-Hadid 57:12
  13. Al-Hadid 57:13
  14. Al-Hadid 57:14
  15. Al-Hadid 57:15
  16. Al-Hadid 57:16
  17. Al-Hadid 57:17
  18. Al-Hadid 57:18
  19. Al-Hadid 57:19
  20. Al-Hadid 57:20
  21. Al-Hadid 57:21
  22. Al-Hadid 57:22
  23. Al-Hadid 57:23
  24. Al-Hadid 57:24
  25. Al-Hadid 57:25
  26. Al-Hadid 57:26
  27. Al-Hadid 57:27
  28. Al-Hadid 57:28
  29. Al-Hadid 57:29
  30. Al-Mujadalah 58:1
  31. Al-Mujadalah 58:2
  32. Al-Mujadalah 58:3
  33. Al-Mujadalah 58:4
  34. Al-Mujadalah 58:5
  35. Al-Mujadalah 58:6
  36. Al-Mujadalah 58:7
  37. Al-Mujadalah 58:8
  38. Al-Mujadalah 58:9
  39. Al-Mujadalah 58:10
  40. Al-Mujadalah 58:11
  41. Al-Mujadalah 58:12
  42. Al-Mujadalah 58:13
  43. Al-Mujadalah 58:14
  44. Al-Mujadalah 58:15
  45. Al-Mujadalah 58:16
  46. Al-Mujadalah 58:17
  47. Al-Mujadalah 58:18
  48. Al-Mujadalah 58:19
  49. Al-Mujadalah 58:20
  50. Al-Mujadalah 58:21
  51. Al-Mujadalah 58:22
  52. Al-Hasyr 59:1
  53. Al-Hasyr 59:2
  54. Al-Hasyr 59:3
  55. Al-Hasyr 59:4
  56. Al-Hasyr 59:5
  57. Al-Hasyr 59:6
  58. Al-Hasyr 59:7
  59. Al-Hasyr 59:8
  60. Al-Hasyr 59:9
  61. Al-Hasyr 59:10

Al-Hadid 57:1

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:2

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:3

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:4

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:5

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:6

"Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi ber-tasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. KepunyaanNya-lah kera-jaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menge-tahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi, dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan. Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasuk-kan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Al-Hadid: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang keagungan dan kemulia-anNya, serta keluasan kekuasaanNya, bahwasanya ﴾ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ ﴿ "semua yang berada di langit dan yang berada di bumi," dari makhluk yang dapat berbicara hingga yang tidak dapat berbicara, dan juga benda-benda padat, bertasbih memuji Rabbnya dan menyucikan-Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya. Semuanya taat kepada Rabbnya dan tunduk kepada kekuasaanNya. Pada semua benda tersebut terlihat pengaruh-pengaruh hikmahNya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Maha-perkasa lagi Mahabijaksana." Di dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa seluruh makhluk yang ada di langit maupun di bumi me-merlukan Allah سبحانه وتعالى di berbagai kondisinya secara umum, kekuasaan dan keperkasaan Allah سبحانه وتعالى atas segala sesuatu dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى dalam mencipta dan menetapkan urusan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan kepemilikanNya yang menyeluruh seraya berfirman, ﴾ لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ ﴿ "Kepunya-anNya-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan." Maksudnya, Dia-lah yang menciptakan semua itu, Yang Memberi rizki dan Mengatur dengan kekuasaanNya. ﴾ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ﴿ "Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu." (3) ﴾ هُوَ ٱلۡأَوَّلُ ﴿ "Dia-lah Yang Awal," yang sebelumNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡأٓخِرُ ﴿ "dan Yang Akhir," yang sesudahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلظَّٰهِرُ ﴿ "Yang Zhahir," yang di atasNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَٱلۡبَاطِنُۖ ﴿ "dan Yang Bathin," yang di bawahNya tidak ada sesuatu pun, ﴾ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu," pengetahuanNya meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi, meliputi segala rahasia dan segala hal yang telah terdahulu dan yang akan terjadi kemudian. (4) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa," dimulai dari Hari Ahad dan ber-akhir pada Hari Jum'at, ﴾ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ ﴿ "kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy," bersemayam dengan cara yang sesuai dengan ke-agunganNya di atas seluruh makhlukNya. ﴾ يَعۡلَمُ مَا يَلِجُ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi," baik yang berupa biji-bijian, hewan, hujan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَخۡرُجُ مِنۡهَا ﴿ "dan apa yang keluar darinya," baik berupa tumbuh-tumbuhan, pepohonan, hewan, dan lainnya, ﴾ وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ ﴿ "dan apa yang turun dari langit," yaitu para malaikat, ruh, takdir, dan rizki, ﴾ وَمَا يَعۡرُجُ فِيهَاۖ ﴿ "dan apa yang naik kepa-danya," yaitu para malaikat, ruh, doa, amalan-amalan shalih, dan lainnya. ﴾ وَهُوَ مَعَكُمۡ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡۚ ﴿ "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada," ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama me-reka di manapun mereka berada." (Mujadilah: 7). Allah سبحانه وتعالى bersama hambaNya maksudnya adalah Allah سبحانه وتعالى selalu mengetahui dan melihat (mereka). Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membe-rikan peringatan akan adanya pembalasan atas segala perbuatan dengan berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa saja yang kalian kerjakan serta kebaikan dan keburukan yang muncul dari pekerjaan tersebut, selanjutnya kalian akan diberi balasan dan Allah سبحانه وتعالى memelihara balasan amal itu untuk kalian. (5) ﴾ لَّهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "KepunyaanNya-lah kerajaan langit dan bumi," kerajaan, makhluk, dan hamba. Allah سبحانه وتعالى mengatur semuanya sesuai dengan yang dikehendaki berupa takdir dan syariat yang berlaku berdasarkan hikmah rabbani. ﴾ وَإِلَى ٱللَّهِ تُرۡجَعُ ٱلۡأُمُورُ ﴿ "Dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan," segala pekerjaan dan perbuatan. Semua manusia akan memperlihatkan amalannya kepada Allah سبحانه وتعالى dan Allah سبحانه وتعالى membedakan antara yang buruk dan yang baik, ke-mudian orang yang berbuat baik dibalas karena kebaikannya dan yang berbuat buruk dibalas karena keburukannya. (6) ﴾ يُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَيُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۚ ﴿ "Dia-lah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam," mak-sudnya, Allah سبحانه وتعالى memasukkan siang ke dalam malam kemudian diselimuti dengan kegelapan sehingga manusia merasa aman dan tenang. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memasukkan malam ke dalam siang sehingga kegelapan yang ada di bumi pun sirna. Bumi disinari dan manusia pun bergerak melakukan pekerjaan demi kepentingan dan kehidupan mereka. Allah سبحانه وتعالى senantiasa memutar siang ke dalam malam dan malam ke dalam siang dengan adanya tambahan dan pengurangan waktu serta panjang dan pendeknya waktu, sehingga musim dan masa menjadi stabil dan berbagai kepentingan pun di-dapatkan. Mahasuci Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Mahaagung dan Mulia Allah yang memberi nikmat kepada seluruh hambaNya dengan berbagai macam nikmat yang nampak dan yang samar. ﴾ وَهُوَ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Maksud-nya, Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh isi hati makhluk di seluruh alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberikan taufik pada siapa saja yang diketahui Allah سبحانه وتعالى sebagai orang yang pantas untuk menerimanya dan me-rendahkan orang yang diketahui sebagai orang yang tidak patut menerima hidayahNya.

Al-Hadid 57:7

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkah-kanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah pada-hal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dia-lah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kemenangan). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid: 7-10). (7) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh hambaNya agar beriman padaNya, beriman kepada RasulNya dan risalah yang dibawanya. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar para hambaNya membelanja-kan harta yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan juga menjadi-kan mereka sebagai khalifah dalam menggunakan harta itu. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka untuk membelanjakan harta tersebut di jalanNya dengan memberitahukan pahala yang akan didapatkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar." Dan pahala yang paling besar adalah keridhaan Rabb mereka serta memperoleh tempat kemuliaanNya yang berisi berbagai kenikmatan abadi yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang beriman dan berjihad tersebut. (8) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab yang mendorong mereka untuk beriman dan jangan berpaling dari keimanan seraya berfirman, ﴾ وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang ber-iman." Maksudnya, apakah gerangan yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Muhammad a adalah rasul terbaik dan penyeru paling mulia yang menyeru kalian menuju Allah سبحانه وتعالى. Inilah faktor yang seharusnya mengharuskan mereka untuk segera me-menuhi seruan beliau menuju kebenaran yang dibawa beliau dan Allah سبحانه وتعالى telah mengambil perjanjian dari kalian untuk beriman, jika memang kalian adalah orang-orang yang beriman. (9) Namun demikian, meski Nabi Muhammad a bersifat lemah lembut dan begitu memperhatikan kalian, tidak cukup hanya karena seruan rasul yang sebenarnya adalah makhluk paling mulia, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menguatkannya dengan berbagai muk-jizat dan menunjukkan kalian akan kebenaran apa yang beliau bawa melalui ayat-ayat yang terang. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦٓ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dia-lah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an)" maksudnya, tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan orang-orang yang memiliki akal akan kebenaran seluruh yang beliau bawa, dan bahwasanya ia adalah kebenaran yang pasti. ﴾ لِّيُخۡرِجَكُم ﴿ "Supaya Dia mengeluarkan kamu" dengan mengutus seorang Rasul kepada kalian, serta al-Kitab dan as-Sunnah yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى di tangannya, ﴾ مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ ﴿ "dari kegelapan kepada cahaya." Maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Inilah di antara kasih sayang dan cintaNya kepada kalian, karena Dia adalah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu." (10) ﴾ وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi," maksud-nya, apa gerangan yang mencegah kalian untuk membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى yang merupakan jalan seluruh kebaikan, mengapa kalian bersikap kikir padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa pun, tapi ﴾ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah-lah yang mempu-sakai (mempunyai) langit dan bumi," dan seluruhnya akan berpindah dari tangan kalian atau dipindahkan dari kalian kemudian kepe-milikannya akan berpindah pada Pemilik sejatiNya yang Mahasuci dan Mahatinggi. Untuk itu manfaatkan harta kalian untuk berinfak selagi masih berada di tangan kalian dan gunakanlah kesempatan tersebut secara maksimal. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan perbedaan tingkat amal ber-dasarkan kondisi dan hikmah ilahiyah seraya berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ ﴿ "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu." Yang dimaksud penaklukan (kemenangan) dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah, pada saat terjadinya perjanjian antara Rasulullah a dengan kaum Quraisy yang merupakan penaklukan (kemenangan) terbesar, sehingga Islam pun tersebar luas, kaum Muslimin juga berbaur dengan orang-orang kafir untuk diseru masuk ke dalam Agama Islam tanpa adanya halangan apa pun. Kala itu tidak sedikit orang-orang masuk Islam secara bergelom-bang, sehingga Islam menjadi kuat dan besar. Sebelum terjadinya perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Muslimin sama sekali tidak mampu menyeru orang-orang untuk masuk Islam selain di tempat-tempat yang penduduknya telah masuk Islam sebelumnya seperti Madinah dan sekelilingnya. Dan sebelum ter-jadinya perjanjian Hudaibiyah ini, orang-orang yang masuk Islam yang berada di kawasan kafir mendapatkan siksaan dan merasa takut. Karena itu, orang yang masuk Islam sebelum peristiwa Hudaibiyah, membelanjakan harta serta berjihad, itu pahalanya lebih besar dari orang yang masuk Islam, berperang dan membe-lanjakan hartanya setelah peristiwa Hudaibiyah sesuai kebijakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah sebagian besar generasi pertama yang masuk Islam serta para pembesar sahabat masuk Islam sebelum penaklukan Hudaibiyah. Mengingat pembedaan pahala amal antara kedua masa terse-but bisa menimbulkan kesalahpahaman yang membuat seseorang meremehkan amalan yang pahalanya lebih kecil, Allah سبحانه وتعالى mencegah pintu kesalahpahaman tersebut seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad dan berinfak, baik sebelum maupun sesudah kemenangan Hudaibiyah, semuanya dijanjikan surga oleh Allah سبحانه وتعالى karena Allah سبحانه وتعالى bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dikerjakan. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk berinfak di jalanNya, sebab aktivitas jihad bergantung pada tersedianya dana serta harta untuk mempersiapkan jihad, seraya berfirman, ﴾ مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," yaitu infak yang baik yang diberikan secara ikhlas se-mata karena Allah سبحانه وتعالى dan demi mengharap ridhaNya yang berasal dari harta halal yang diberikan secara suka rela. Inilah di antara kemuliaan Allah سبحانه وتعالى yang menyebut infak dengan pinjaman, padahal harta yang dibelanjakan itu adalah harta Allah سبحانه وتعالى dan manusia pun milikNya. Allah سبحانه وتعالى menjanjikan pahala yang berlipat ganda padanya dan Dia-lah Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi. Pahala yang dilipatgandakan tersebut berlaku di Hari Kiamat, yaitu suatu hari yang masing-masing orang terlihat dengan jelas kefakirannya yang amat memerlukan balasan baik meski sedikit. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Hadid 57:8

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkah-kanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah pada-hal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dia-lah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kemenangan). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid: 7-10). (7) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh hambaNya agar beriman padaNya, beriman kepada RasulNya dan risalah yang dibawanya. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar para hambaNya membelanja-kan harta yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan juga menjadi-kan mereka sebagai khalifah dalam menggunakan harta itu. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka untuk membelanjakan harta tersebut di jalanNya dengan memberitahukan pahala yang akan didapatkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar." Dan pahala yang paling besar adalah keridhaan Rabb mereka serta memperoleh tempat kemuliaanNya yang berisi berbagai kenikmatan abadi yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang beriman dan berjihad tersebut. (8) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab yang mendorong mereka untuk beriman dan jangan berpaling dari keimanan seraya berfirman, ﴾ وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang ber-iman." Maksudnya, apakah gerangan yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Muhammad a adalah rasul terbaik dan penyeru paling mulia yang menyeru kalian menuju Allah سبحانه وتعالى. Inilah faktor yang seharusnya mengharuskan mereka untuk segera me-menuhi seruan beliau menuju kebenaran yang dibawa beliau dan Allah سبحانه وتعالى telah mengambil perjanjian dari kalian untuk beriman, jika memang kalian adalah orang-orang yang beriman. (9) Namun demikian, meski Nabi Muhammad a bersifat lemah lembut dan begitu memperhatikan kalian, tidak cukup hanya karena seruan rasul yang sebenarnya adalah makhluk paling mulia, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menguatkannya dengan berbagai muk-jizat dan menunjukkan kalian akan kebenaran apa yang beliau bawa melalui ayat-ayat yang terang. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦٓ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dia-lah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an)" maksudnya, tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan orang-orang yang memiliki akal akan kebenaran seluruh yang beliau bawa, dan bahwasanya ia adalah kebenaran yang pasti. ﴾ لِّيُخۡرِجَكُم ﴿ "Supaya Dia mengeluarkan kamu" dengan mengutus seorang Rasul kepada kalian, serta al-Kitab dan as-Sunnah yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى di tangannya, ﴾ مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ ﴿ "dari kegelapan kepada cahaya." Maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Inilah di antara kasih sayang dan cintaNya kepada kalian, karena Dia adalah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu." (10) ﴾ وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi," maksud-nya, apa gerangan yang mencegah kalian untuk membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى yang merupakan jalan seluruh kebaikan, mengapa kalian bersikap kikir padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa pun, tapi ﴾ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah-lah yang mempu-sakai (mempunyai) langit dan bumi," dan seluruhnya akan berpindah dari tangan kalian atau dipindahkan dari kalian kemudian kepe-milikannya akan berpindah pada Pemilik sejatiNya yang Mahasuci dan Mahatinggi. Untuk itu manfaatkan harta kalian untuk berinfak selagi masih berada di tangan kalian dan gunakanlah kesempatan tersebut secara maksimal. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan perbedaan tingkat amal ber-dasarkan kondisi dan hikmah ilahiyah seraya berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ ﴿ "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu." Yang dimaksud penaklukan (kemenangan) dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah, pada saat terjadinya perjanjian antara Rasulullah a dengan kaum Quraisy yang merupakan penaklukan (kemenangan) terbesar, sehingga Islam pun tersebar luas, kaum Muslimin juga berbaur dengan orang-orang kafir untuk diseru masuk ke dalam Agama Islam tanpa adanya halangan apa pun. Kala itu tidak sedikit orang-orang masuk Islam secara bergelom-bang, sehingga Islam menjadi kuat dan besar. Sebelum terjadinya perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Muslimin sama sekali tidak mampu menyeru orang-orang untuk masuk Islam selain di tempat-tempat yang penduduknya telah masuk Islam sebelumnya seperti Madinah dan sekelilingnya. Dan sebelum ter-jadinya perjanjian Hudaibiyah ini, orang-orang yang masuk Islam yang berada di kawasan kafir mendapatkan siksaan dan merasa takut. Karena itu, orang yang masuk Islam sebelum peristiwa Hudaibiyah, membelanjakan harta serta berjihad, itu pahalanya lebih besar dari orang yang masuk Islam, berperang dan membe-lanjakan hartanya setelah peristiwa Hudaibiyah sesuai kebijakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah sebagian besar generasi pertama yang masuk Islam serta para pembesar sahabat masuk Islam sebelum penaklukan Hudaibiyah. Mengingat pembedaan pahala amal antara kedua masa terse-but bisa menimbulkan kesalahpahaman yang membuat seseorang meremehkan amalan yang pahalanya lebih kecil, Allah سبحانه وتعالى mencegah pintu kesalahpahaman tersebut seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad dan berinfak, baik sebelum maupun sesudah kemenangan Hudaibiyah, semuanya dijanjikan surga oleh Allah سبحانه وتعالى karena Allah سبحانه وتعالى bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dikerjakan. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk berinfak di jalanNya, sebab aktivitas jihad bergantung pada tersedianya dana serta harta untuk mempersiapkan jihad, seraya berfirman, ﴾ مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," yaitu infak yang baik yang diberikan secara ikhlas se-mata karena Allah سبحانه وتعالى dan demi mengharap ridhaNya yang berasal dari harta halal yang diberikan secara suka rela. Inilah di antara kemuliaan Allah سبحانه وتعالى yang menyebut infak dengan pinjaman, padahal harta yang dibelanjakan itu adalah harta Allah سبحانه وتعالى dan manusia pun milikNya. Allah سبحانه وتعالى menjanjikan pahala yang berlipat ganda padanya dan Dia-lah Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi. Pahala yang dilipatgandakan tersebut berlaku di Hari Kiamat, yaitu suatu hari yang masing-masing orang terlihat dengan jelas kefakirannya yang amat memerlukan balasan baik meski sedikit. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Hadid 57:9

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkah-kanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah pada-hal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dia-lah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kemenangan). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid: 7-10). (7) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh hambaNya agar beriman padaNya, beriman kepada RasulNya dan risalah yang dibawanya. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar para hambaNya membelanja-kan harta yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan juga menjadi-kan mereka sebagai khalifah dalam menggunakan harta itu. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka untuk membelanjakan harta tersebut di jalanNya dengan memberitahukan pahala yang akan didapatkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar." Dan pahala yang paling besar adalah keridhaan Rabb mereka serta memperoleh tempat kemuliaanNya yang berisi berbagai kenikmatan abadi yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang beriman dan berjihad tersebut. (8) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab yang mendorong mereka untuk beriman dan jangan berpaling dari keimanan seraya berfirman, ﴾ وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang ber-iman." Maksudnya, apakah gerangan yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Muhammad a adalah rasul terbaik dan penyeru paling mulia yang menyeru kalian menuju Allah سبحانه وتعالى. Inilah faktor yang seharusnya mengharuskan mereka untuk segera me-menuhi seruan beliau menuju kebenaran yang dibawa beliau dan Allah سبحانه وتعالى telah mengambil perjanjian dari kalian untuk beriman, jika memang kalian adalah orang-orang yang beriman. (9) Namun demikian, meski Nabi Muhammad a bersifat lemah lembut dan begitu memperhatikan kalian, tidak cukup hanya karena seruan rasul yang sebenarnya adalah makhluk paling mulia, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menguatkannya dengan berbagai muk-jizat dan menunjukkan kalian akan kebenaran apa yang beliau bawa melalui ayat-ayat yang terang. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦٓ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dia-lah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an)" maksudnya, tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan orang-orang yang memiliki akal akan kebenaran seluruh yang beliau bawa, dan bahwasanya ia adalah kebenaran yang pasti. ﴾ لِّيُخۡرِجَكُم ﴿ "Supaya Dia mengeluarkan kamu" dengan mengutus seorang Rasul kepada kalian, serta al-Kitab dan as-Sunnah yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى di tangannya, ﴾ مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ ﴿ "dari kegelapan kepada cahaya." Maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Inilah di antara kasih sayang dan cintaNya kepada kalian, karena Dia adalah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu." (10) ﴾ وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi," maksud-nya, apa gerangan yang mencegah kalian untuk membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى yang merupakan jalan seluruh kebaikan, mengapa kalian bersikap kikir padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa pun, tapi ﴾ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah-lah yang mempu-sakai (mempunyai) langit dan bumi," dan seluruhnya akan berpindah dari tangan kalian atau dipindahkan dari kalian kemudian kepe-milikannya akan berpindah pada Pemilik sejatiNya yang Mahasuci dan Mahatinggi. Untuk itu manfaatkan harta kalian untuk berinfak selagi masih berada di tangan kalian dan gunakanlah kesempatan tersebut secara maksimal. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan perbedaan tingkat amal ber-dasarkan kondisi dan hikmah ilahiyah seraya berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ ﴿ "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu." Yang dimaksud penaklukan (kemenangan) dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah, pada saat terjadinya perjanjian antara Rasulullah a dengan kaum Quraisy yang merupakan penaklukan (kemenangan) terbesar, sehingga Islam pun tersebar luas, kaum Muslimin juga berbaur dengan orang-orang kafir untuk diseru masuk ke dalam Agama Islam tanpa adanya halangan apa pun. Kala itu tidak sedikit orang-orang masuk Islam secara bergelom-bang, sehingga Islam menjadi kuat dan besar. Sebelum terjadinya perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Muslimin sama sekali tidak mampu menyeru orang-orang untuk masuk Islam selain di tempat-tempat yang penduduknya telah masuk Islam sebelumnya seperti Madinah dan sekelilingnya. Dan sebelum ter-jadinya perjanjian Hudaibiyah ini, orang-orang yang masuk Islam yang berada di kawasan kafir mendapatkan siksaan dan merasa takut. Karena itu, orang yang masuk Islam sebelum peristiwa Hudaibiyah, membelanjakan harta serta berjihad, itu pahalanya lebih besar dari orang yang masuk Islam, berperang dan membe-lanjakan hartanya setelah peristiwa Hudaibiyah sesuai kebijakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah sebagian besar generasi pertama yang masuk Islam serta para pembesar sahabat masuk Islam sebelum penaklukan Hudaibiyah. Mengingat pembedaan pahala amal antara kedua masa terse-but bisa menimbulkan kesalahpahaman yang membuat seseorang meremehkan amalan yang pahalanya lebih kecil, Allah سبحانه وتعالى mencegah pintu kesalahpahaman tersebut seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad dan berinfak, baik sebelum maupun sesudah kemenangan Hudaibiyah, semuanya dijanjikan surga oleh Allah سبحانه وتعالى karena Allah سبحانه وتعالى bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dikerjakan. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk berinfak di jalanNya, sebab aktivitas jihad bergantung pada tersedianya dana serta harta untuk mempersiapkan jihad, seraya berfirman, ﴾ مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," yaitu infak yang baik yang diberikan secara ikhlas se-mata karena Allah سبحانه وتعالى dan demi mengharap ridhaNya yang berasal dari harta halal yang diberikan secara suka rela. Inilah di antara kemuliaan Allah سبحانه وتعالى yang menyebut infak dengan pinjaman, padahal harta yang dibelanjakan itu adalah harta Allah سبحانه وتعالى dan manusia pun milikNya. Allah سبحانه وتعالى menjanjikan pahala yang berlipat ganda padanya dan Dia-lah Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi. Pahala yang dilipatgandakan tersebut berlaku di Hari Kiamat, yaitu suatu hari yang masing-masing orang terlihat dengan jelas kefakirannya yang amat memerlukan balasan baik meski sedikit. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Hadid 57:10

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkah-kanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah pada-hal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dia-lah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kemenangan). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid: 7-10). (7) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh hambaNya agar beriman padaNya, beriman kepada RasulNya dan risalah yang dibawanya. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar para hambaNya membelanja-kan harta yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan juga menjadi-kan mereka sebagai khalifah dalam menggunakan harta itu. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka untuk membelanjakan harta tersebut di jalanNya dengan memberitahukan pahala yang akan didapatkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar." Dan pahala yang paling besar adalah keridhaan Rabb mereka serta memperoleh tempat kemuliaanNya yang berisi berbagai kenikmatan abadi yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang beriman dan berjihad tersebut. (8) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab yang mendorong mereka untuk beriman dan jangan berpaling dari keimanan seraya berfirman, ﴾ وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang ber-iman." Maksudnya, apakah gerangan yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Muhammad a adalah rasul terbaik dan penyeru paling mulia yang menyeru kalian menuju Allah سبحانه وتعالى. Inilah faktor yang seharusnya mengharuskan mereka untuk segera me-menuhi seruan beliau menuju kebenaran yang dibawa beliau dan Allah سبحانه وتعالى telah mengambil perjanjian dari kalian untuk beriman, jika memang kalian adalah orang-orang yang beriman. (9) Namun demikian, meski Nabi Muhammad a bersifat lemah lembut dan begitu memperhatikan kalian, tidak cukup hanya karena seruan rasul yang sebenarnya adalah makhluk paling mulia, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menguatkannya dengan berbagai muk-jizat dan menunjukkan kalian akan kebenaran apa yang beliau bawa melalui ayat-ayat yang terang. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦٓ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dia-lah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an)" maksudnya, tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan orang-orang yang memiliki akal akan kebenaran seluruh yang beliau bawa, dan bahwasanya ia adalah kebenaran yang pasti. ﴾ لِّيُخۡرِجَكُم ﴿ "Supaya Dia mengeluarkan kamu" dengan mengutus seorang Rasul kepada kalian, serta al-Kitab dan as-Sunnah yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى di tangannya, ﴾ مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ ﴿ "dari kegelapan kepada cahaya." Maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Inilah di antara kasih sayang dan cintaNya kepada kalian, karena Dia adalah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu." (10) ﴾ وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi," maksud-nya, apa gerangan yang mencegah kalian untuk membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى yang merupakan jalan seluruh kebaikan, mengapa kalian bersikap kikir padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa pun, tapi ﴾ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah-lah yang mempu-sakai (mempunyai) langit dan bumi," dan seluruhnya akan berpindah dari tangan kalian atau dipindahkan dari kalian kemudian kepe-milikannya akan berpindah pada Pemilik sejatiNya yang Mahasuci dan Mahatinggi. Untuk itu manfaatkan harta kalian untuk berinfak selagi masih berada di tangan kalian dan gunakanlah kesempatan tersebut secara maksimal. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan perbedaan tingkat amal ber-dasarkan kondisi dan hikmah ilahiyah seraya berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ ﴿ "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu." Yang dimaksud penaklukan (kemenangan) dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah, pada saat terjadinya perjanjian antara Rasulullah a dengan kaum Quraisy yang merupakan penaklukan (kemenangan) terbesar, sehingga Islam pun tersebar luas, kaum Muslimin juga berbaur dengan orang-orang kafir untuk diseru masuk ke dalam Agama Islam tanpa adanya halangan apa pun. Kala itu tidak sedikit orang-orang masuk Islam secara bergelom-bang, sehingga Islam menjadi kuat dan besar. Sebelum terjadinya perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Muslimin sama sekali tidak mampu menyeru orang-orang untuk masuk Islam selain di tempat-tempat yang penduduknya telah masuk Islam sebelumnya seperti Madinah dan sekelilingnya. Dan sebelum ter-jadinya perjanjian Hudaibiyah ini, orang-orang yang masuk Islam yang berada di kawasan kafir mendapatkan siksaan dan merasa takut. Karena itu, orang yang masuk Islam sebelum peristiwa Hudaibiyah, membelanjakan harta serta berjihad, itu pahalanya lebih besar dari orang yang masuk Islam, berperang dan membe-lanjakan hartanya setelah peristiwa Hudaibiyah sesuai kebijakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah sebagian besar generasi pertama yang masuk Islam serta para pembesar sahabat masuk Islam sebelum penaklukan Hudaibiyah. Mengingat pembedaan pahala amal antara kedua masa terse-but bisa menimbulkan kesalahpahaman yang membuat seseorang meremehkan amalan yang pahalanya lebih kecil, Allah سبحانه وتعالى mencegah pintu kesalahpahaman tersebut seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad dan berinfak, baik sebelum maupun sesudah kemenangan Hudaibiyah, semuanya dijanjikan surga oleh Allah سبحانه وتعالى karena Allah سبحانه وتعالى bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dikerjakan. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk berinfak di jalanNya, sebab aktivitas jihad bergantung pada tersedianya dana serta harta untuk mempersiapkan jihad, seraya berfirman, ﴾ مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," yaitu infak yang baik yang diberikan secara ikhlas se-mata karena Allah سبحانه وتعالى dan demi mengharap ridhaNya yang berasal dari harta halal yang diberikan secara suka rela. Inilah di antara kemuliaan Allah سبحانه وتعالى yang menyebut infak dengan pinjaman, padahal harta yang dibelanjakan itu adalah harta Allah سبحانه وتعالى dan manusia pun milikNya. Allah سبحانه وتعالى menjanjikan pahala yang berlipat ganda padanya dan Dia-lah Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi. Pahala yang dilipatgandakan tersebut berlaku di Hari Kiamat, yaitu suatu hari yang masing-masing orang terlihat dengan jelas kefakirannya yang amat memerlukan balasan baik meski sedikit. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Hadid 57:11

"Berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan nafkah-kanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah pada-hal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman. Dia-lah yang menurunkan kepada hambaNya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an) supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sesung-guhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu. Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (kemenangan). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Hadid: 7-10). (7) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan seluruh hambaNya agar beriman padaNya, beriman kepada RasulNya dan risalah yang dibawanya. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan agar para hambaNya membelanja-kan harta yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada mereka dan juga menjadi-kan mereka sebagai khalifah dalam menggunakan harta itu. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka untuk membelanjakan harta tersebut di jalanNya dengan memberitahukan pahala yang akan didapatkan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَأَنفَقُواْ لَهُمۡ أَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar." Dan pahala yang paling besar adalah keridhaan Rabb mereka serta memperoleh tempat kemuliaanNya yang berisi berbagai kenikmatan abadi yang disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang beriman dan berjihad tersebut. (8) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab yang mendorong mereka untuk beriman dan jangan berpaling dari keimanan seraya berfirman, ﴾ وَمَا لَكُمۡ لَا تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلرَّسُولُ يَدۡعُوكُمۡ لِتُؤۡمِنُواْ بِرَبِّكُمۡ وَقَدۡ أَخَذَ مِيثَٰقَكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Rabbmu. Dan sesungguhnya Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang ber-iman." Maksudnya, apakah gerangan yang menghalangi kalian untuk beriman, padahal Muhammad a adalah rasul terbaik dan penyeru paling mulia yang menyeru kalian menuju Allah سبحانه وتعالى. Inilah faktor yang seharusnya mengharuskan mereka untuk segera me-menuhi seruan beliau menuju kebenaran yang dibawa beliau dan Allah سبحانه وتعالى telah mengambil perjanjian dari kalian untuk beriman, jika memang kalian adalah orang-orang yang beriman. (9) Namun demikian, meski Nabi Muhammad a bersifat lemah lembut dan begitu memperhatikan kalian, tidak cukup hanya karena seruan rasul yang sebenarnya adalah makhluk paling mulia, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى menguatkannya dengan berbagai muk-jizat dan menunjukkan kalian akan kebenaran apa yang beliau bawa melalui ayat-ayat yang terang. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِي يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦٓ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖ ﴿ "Dia-lah yang menurunkan kepada hamba-Nya ayat-ayat yang terang (al-Qur`an)" maksudnya, tanda-tanda yang jelas yang menunjukkan orang-orang yang memiliki akal akan kebenaran seluruh yang beliau bawa, dan bahwasanya ia adalah kebenaran yang pasti. ﴾ لِّيُخۡرِجَكُم ﴿ "Supaya Dia mengeluarkan kamu" dengan mengutus seorang Rasul kepada kalian, serta al-Kitab dan as-Sunnah yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى di tangannya, ﴾ مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ ﴿ "dari kegelapan kepada cahaya." Maksudnya, dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Inilah di antara kasih sayang dan cintaNya kepada kalian, karena Dia adalah Maha Pemurah kepada seluruh hambaNya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya, ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمۡ لَرَءُوفٞ رَّحِيمٞ ﴿ "dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyantun lagi Maha Penyayang terhadapmu." (10) ﴾ وَمَا لَكُمۡ أَلَّا تُنفِقُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi," maksud-nya, apa gerangan yang mencegah kalian untuk membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى yang merupakan jalan seluruh kebaikan, mengapa kalian bersikap kikir padahal kalian sama sekali tidak memiliki apa pun, tapi ﴾ وَلِلَّهِ مِيرَٰثُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ﴿ "Allah-lah yang mempu-sakai (mempunyai) langit dan bumi," dan seluruhnya akan berpindah dari tangan kalian atau dipindahkan dari kalian kemudian kepe-milikannya akan berpindah pada Pemilik sejatiNya yang Mahasuci dan Mahatinggi. Untuk itu manfaatkan harta kalian untuk berinfak selagi masih berada di tangan kalian dan gunakanlah kesempatan tersebut secara maksimal. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan perbedaan tingkat amal ber-dasarkan kondisi dan hikmah ilahiyah seraya berfirman, ﴾ لَا يَسۡتَوِي مِنكُم مَّنۡ أَنفَقَ مِن قَبۡلِ ٱلۡفَتۡحِ وَقَٰتَلَۚ أُوْلَٰٓئِكَ أَعۡظَمُ دَرَجَةٗ مِّنَ ٱلَّذِينَ أَنفَقُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَقَٰتَلُواْۚ ﴿ "Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu." Yang dimaksud penaklukan (kemenangan) dalam ayat ini adalah perjanjian Hudaibiyah, pada saat terjadinya perjanjian antara Rasulullah a dengan kaum Quraisy yang merupakan penaklukan (kemenangan) terbesar, sehingga Islam pun tersebar luas, kaum Muslimin juga berbaur dengan orang-orang kafir untuk diseru masuk ke dalam Agama Islam tanpa adanya halangan apa pun. Kala itu tidak sedikit orang-orang masuk Islam secara bergelom-bang, sehingga Islam menjadi kuat dan besar. Sebelum terjadinya perjanjian Hudaibiyah ini, Kaum Muslimin sama sekali tidak mampu menyeru orang-orang untuk masuk Islam selain di tempat-tempat yang penduduknya telah masuk Islam sebelumnya seperti Madinah dan sekelilingnya. Dan sebelum ter-jadinya perjanjian Hudaibiyah ini, orang-orang yang masuk Islam yang berada di kawasan kafir mendapatkan siksaan dan merasa takut. Karena itu, orang yang masuk Islam sebelum peristiwa Hudaibiyah, membelanjakan harta serta berjihad, itu pahalanya lebih besar dari orang yang masuk Islam, berperang dan membe-lanjakan hartanya setelah peristiwa Hudaibiyah sesuai kebijakan Allah سبحانه وتعالى. Karena itulah sebagian besar generasi pertama yang masuk Islam serta para pembesar sahabat masuk Islam sebelum penaklukan Hudaibiyah. Mengingat pembedaan pahala amal antara kedua masa terse-but bisa menimbulkan kesalahpahaman yang membuat seseorang meremehkan amalan yang pahalanya lebih kecil, Allah سبحانه وتعالى mencegah pintu kesalahpahaman tersebut seraya berfirman, ﴾ وَكُلّٗا وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik." Maksudnya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad dan berinfak, baik sebelum maupun sesudah kemenangan Hudaibiyah, semuanya dijanjikan surga oleh Allah سبحانه وتعالى karena Allah سبحانه وتعالى bersaksi atas keimanan mereka dan menjanjikan surga bagi mereka, ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan," Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing dari kalian berdasarkan amalan yang dikerjakan. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk berinfak di jalanNya, sebab aktivitas jihad bergantung pada tersedianya dana serta harta untuk mempersiapkan jihad, seraya berfirman, ﴾ مَّن ذَا ٱلَّذِي يُقۡرِضُ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," yaitu infak yang baik yang diberikan secara ikhlas se-mata karena Allah سبحانه وتعالى dan demi mengharap ridhaNya yang berasal dari harta halal yang diberikan secara suka rela. Inilah di antara kemuliaan Allah سبحانه وتعالى yang menyebut infak dengan pinjaman, padahal harta yang dibelanjakan itu adalah harta Allah سبحانه وتعالى dan manusia pun milikNya. Allah سبحانه وتعالى menjanjikan pahala yang berlipat ganda padanya dan Dia-lah Yang Mahamulia lagi Maha Pemberi. Pahala yang dilipatgandakan tersebut berlaku di Hari Kiamat, yaitu suatu hari yang masing-masing orang terlihat dengan jelas kefakirannya yang amat memerlukan balasan baik meski sedikit. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Hadid 57:12

"(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), 'Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.' Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang ber-iman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diada-kan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Ialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hadid: 12-15). (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan keutamaan iman serta keberuntungan para pemilik keimanan pada Hari Kiamat sehingga yang lain merasa iri, ﴾ يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan pe-rempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan di atas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan ter-lihat cahayanya, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan dan sebelah kanan mereka. Di tempat yang amat mengerikan itu, ma-sing-masing orang berdasarkan keimanannya. Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan, ﴾ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar." Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. (13) Pada saat orang-orang munafik melihat orang-orang Mukmin berjalan dengan cahaya mereka, di mana cahaya orang-orang munafik kala itu padam dan mereka berada dalam kegelapan dan kebimbangan, mereka berkata pada orang-orang yang beriman, ﴾ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ ﴿ "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil seba-gian dari cahayamu," maksudnya, berjalanlah pelan-pelan dan tung-gulah kami agar kami sedikit memperoleh cahaya kalian supaya dapat kami jadikan lentera untuk berjalan di dalam kegelapan dan agar kami selamat dari siksaan. ﴾ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ ﴿ "Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)'," maksudnya, jika memang hal itu mungkin, padahal sebenarnya tidak mungkin dan mustahil. ﴾ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ ﴿ "Lalu diada-kan di antara mereka dinding," yaitu dinding yang menghalangi serta benteng yang menjaga, ﴾ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "yang mem-punyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa." Siksa itulah yang menyertai kaum munafik. (14) Orang-orang munafik pun memanggil-manggil orang-orang yang beriman, mereka berkata dengan suara rendah dan meminta belas kasih, ﴾ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ ﴿ "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu," ketika di dunia kami mengucapkan "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah سبحانه وتعالى, kami juga shalat, puasa dan mengerjakan amal seperti halnya kalian?" ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," kalian bersama-sama kami ketika di dunia dan kalian juga mengerjakan amalan yang secara zahir se-perti yang kami lakukan, hanya saja amalan kalian adalah amalan orang-orang munafik tanpa didasari iman dan niat tulus serta baik, ﴾ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu," kalian mera-gukan berita Allah سبحانه وتعالى yang seharusnya tidak diragukan, karena ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ ﴿ "kalian ditipu oleh angan-angan kosong" yang batil, di mana kalian hanya mengkhayalkan meraih apa yang diraih oleh orang-orang Mukmin padahal kalian tidak yakin, ﴾ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﴿ "se-hingga datanglah ketentuan Allah," hingga kematian pun menjemput kalian sedangkan kalian masih tetap berada dalam situasi tercela seperti itu, ﴾ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu." Yaitu setan yang menghiasi kekufuran dan keraguan pada kalian sehingga kalian merasa aman dan kalian pun percaya pada janji setan dan membenarkan kabar yang disam-paikan setan. (15) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir." An-daikan kalian menebus dengan emas sepenuh bumi dan seperti-nya juga, tentu tidak akan diterima. ﴾ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Tempat kamu ialah Neraka." Maksudnya, tempat tinggal kalian. ﴾ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Ialah tempat berlindungmu." Yang meladeni dan mengitari kalian, ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali," yaitu neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ 8 فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ 9 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ 10 نَارٌ حَامِيَةُۢ 11 ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 8-11).

Al-Hadid 57:13

"(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), 'Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.' Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang ber-iman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diada-kan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Ialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hadid: 12-15). (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan keutamaan iman serta keberuntungan para pemilik keimanan pada Hari Kiamat sehingga yang lain merasa iri, ﴾ يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan pe-rempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan di atas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan ter-lihat cahayanya, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan dan sebelah kanan mereka. Di tempat yang amat mengerikan itu, ma-sing-masing orang berdasarkan keimanannya. Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan, ﴾ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar." Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. (13) Pada saat orang-orang munafik melihat orang-orang Mukmin berjalan dengan cahaya mereka, di mana cahaya orang-orang munafik kala itu padam dan mereka berada dalam kegelapan dan kebimbangan, mereka berkata pada orang-orang yang beriman, ﴾ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ ﴿ "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil seba-gian dari cahayamu," maksudnya, berjalanlah pelan-pelan dan tung-gulah kami agar kami sedikit memperoleh cahaya kalian supaya dapat kami jadikan lentera untuk berjalan di dalam kegelapan dan agar kami selamat dari siksaan. ﴾ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ ﴿ "Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)'," maksudnya, jika memang hal itu mungkin, padahal sebenarnya tidak mungkin dan mustahil. ﴾ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ ﴿ "Lalu diada-kan di antara mereka dinding," yaitu dinding yang menghalangi serta benteng yang menjaga, ﴾ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "yang mem-punyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa." Siksa itulah yang menyertai kaum munafik. (14) Orang-orang munafik pun memanggil-manggil orang-orang yang beriman, mereka berkata dengan suara rendah dan meminta belas kasih, ﴾ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ ﴿ "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu," ketika di dunia kami mengucapkan "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah سبحانه وتعالى, kami juga shalat, puasa dan mengerjakan amal seperti halnya kalian?" ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," kalian bersama-sama kami ketika di dunia dan kalian juga mengerjakan amalan yang secara zahir se-perti yang kami lakukan, hanya saja amalan kalian adalah amalan orang-orang munafik tanpa didasari iman dan niat tulus serta baik, ﴾ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu," kalian mera-gukan berita Allah سبحانه وتعالى yang seharusnya tidak diragukan, karena ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ ﴿ "kalian ditipu oleh angan-angan kosong" yang batil, di mana kalian hanya mengkhayalkan meraih apa yang diraih oleh orang-orang Mukmin padahal kalian tidak yakin, ﴾ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﴿ "se-hingga datanglah ketentuan Allah," hingga kematian pun menjemput kalian sedangkan kalian masih tetap berada dalam situasi tercela seperti itu, ﴾ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu." Yaitu setan yang menghiasi kekufuran dan keraguan pada kalian sehingga kalian merasa aman dan kalian pun percaya pada janji setan dan membenarkan kabar yang disam-paikan setan. (15) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir." An-daikan kalian menebus dengan emas sepenuh bumi dan seperti-nya juga, tentu tidak akan diterima. ﴾ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Tempat kamu ialah Neraka." Maksudnya, tempat tinggal kalian. ﴾ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Ialah tempat berlindungmu." Yang meladeni dan mengitari kalian, ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali," yaitu neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ 8 فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ 9 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ 10 نَارٌ حَامِيَةُۢ 11 ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 8-11).

Al-Hadid 57:14

"(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), 'Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.' Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang ber-iman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diada-kan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Ialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hadid: 12-15). (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan keutamaan iman serta keberuntungan para pemilik keimanan pada Hari Kiamat sehingga yang lain merasa iri, ﴾ يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan pe-rempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan di atas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan ter-lihat cahayanya, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan dan sebelah kanan mereka. Di tempat yang amat mengerikan itu, ma-sing-masing orang berdasarkan keimanannya. Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan, ﴾ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar." Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. (13) Pada saat orang-orang munafik melihat orang-orang Mukmin berjalan dengan cahaya mereka, di mana cahaya orang-orang munafik kala itu padam dan mereka berada dalam kegelapan dan kebimbangan, mereka berkata pada orang-orang yang beriman, ﴾ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ ﴿ "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil seba-gian dari cahayamu," maksudnya, berjalanlah pelan-pelan dan tung-gulah kami agar kami sedikit memperoleh cahaya kalian supaya dapat kami jadikan lentera untuk berjalan di dalam kegelapan dan agar kami selamat dari siksaan. ﴾ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ ﴿ "Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)'," maksudnya, jika memang hal itu mungkin, padahal sebenarnya tidak mungkin dan mustahil. ﴾ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ ﴿ "Lalu diada-kan di antara mereka dinding," yaitu dinding yang menghalangi serta benteng yang menjaga, ﴾ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "yang mem-punyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa." Siksa itulah yang menyertai kaum munafik. (14) Orang-orang munafik pun memanggil-manggil orang-orang yang beriman, mereka berkata dengan suara rendah dan meminta belas kasih, ﴾ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ ﴿ "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu," ketika di dunia kami mengucapkan "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah سبحانه وتعالى, kami juga shalat, puasa dan mengerjakan amal seperti halnya kalian?" ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," kalian bersama-sama kami ketika di dunia dan kalian juga mengerjakan amalan yang secara zahir se-perti yang kami lakukan, hanya saja amalan kalian adalah amalan orang-orang munafik tanpa didasari iman dan niat tulus serta baik, ﴾ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu," kalian mera-gukan berita Allah سبحانه وتعالى yang seharusnya tidak diragukan, karena ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ ﴿ "kalian ditipu oleh angan-angan kosong" yang batil, di mana kalian hanya mengkhayalkan meraih apa yang diraih oleh orang-orang Mukmin padahal kalian tidak yakin, ﴾ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﴿ "se-hingga datanglah ketentuan Allah," hingga kematian pun menjemput kalian sedangkan kalian masih tetap berada dalam situasi tercela seperti itu, ﴾ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu." Yaitu setan yang menghiasi kekufuran dan keraguan pada kalian sehingga kalian merasa aman dan kalian pun percaya pada janji setan dan membenarkan kabar yang disam-paikan setan. (15) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir." An-daikan kalian menebus dengan emas sepenuh bumi dan seperti-nya juga, tentu tidak akan diterima. ﴾ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Tempat kamu ialah Neraka." Maksudnya, tempat tinggal kalian. ﴾ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Ialah tempat berlindungmu." Yang meladeni dan mengitari kalian, ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali," yaitu neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ 8 فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ 9 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ 10 نَارٌ حَامِيَةُۢ 11 ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 8-11).

Al-Hadid 57:15

"(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan perempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), 'Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.' Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang ber-iman, 'Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu.' Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).' Lalu diada-kan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang Mukmin) seraya berkata, 'Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?' Mereka menjawab, 'Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu. Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Ialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah seburuk-buruk tempat kembali." (Al-Hadid: 12-15). (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan keutamaan iman serta keberuntungan para pemilik keimanan pada Hari Kiamat sehingga yang lain merasa iri, ﴾ يَوۡمَ تَرَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَسۡعَىٰ نُورُهُم بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَبِأَيۡمَٰنِهِمۖ ﴿ "(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang Mukmin laki-laki dan pe-rempuan sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka." Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi, ketika matahari digulung, rembulan pun mengalami gerhana, manusia pun berada dalam kegelapan, shirath ditegakkan di atas Neraka Jahanam, pada hari itu orang-orang Mukmin, baik lelaki maupun perempuan ter-lihat cahayanya, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka, mereka pun berjalan dengan cahaya di depan dan sebelah kanan mereka. Di tempat yang amat mengerikan itu, ma-sing-masing orang berdasarkan keimanannya. Dan orang-orang yang beriman kala itu diberi kabar gembira besar seraya dikatakan, ﴾ بُشۡرَىٰكُمُ ٱلۡيَوۡمَ جَنَّٰتٞ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-su-ngai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar." Demi Allah, alangkah bergembiranya hati mereka dengan kabar gembira ini dan alangkah nikmat terasa dalam diri mereka, karena mereka memperoleh segala yang diminta dan selamat dari segala keburukan dan semua yang ditakutkan. (13) Pada saat orang-orang munafik melihat orang-orang Mukmin berjalan dengan cahaya mereka, di mana cahaya orang-orang munafik kala itu padam dan mereka berada dalam kegelapan dan kebimbangan, mereka berkata pada orang-orang yang beriman, ﴾ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ ﴿ "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil seba-gian dari cahayamu," maksudnya, berjalanlah pelan-pelan dan tung-gulah kami agar kami sedikit memperoleh cahaya kalian supaya dapat kami jadikan lentera untuk berjalan di dalam kegelapan dan agar kami selamat dari siksaan. ﴾ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورٗاۖ ﴿ "Dikatakan (kepada mereka), 'Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)'," maksudnya, jika memang hal itu mungkin, padahal sebenarnya tidak mungkin dan mustahil. ﴾ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ ﴿ "Lalu diada-kan di antara mereka dinding," yaitu dinding yang menghalangi serta benteng yang menjaga, ﴾ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ ﴿ "yang mem-punyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa." Siksa itulah yang menyertai kaum munafik. (14) Orang-orang munafik pun memanggil-manggil orang-orang yang beriman, mereka berkata dengan suara rendah dan meminta belas kasih, ﴾ أَلَمۡ نَكُن مَّعَكُمۡۖ ﴿ "Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu," ketika di dunia kami mengucapkan "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah سبحانه وتعالى, kami juga shalat, puasa dan mengerjakan amal seperti halnya kalian?" ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar'," kalian bersama-sama kami ketika di dunia dan kalian juga mengerjakan amalan yang secara zahir se-perti yang kami lakukan, hanya saja amalan kalian adalah amalan orang-orang munafik tanpa didasari iman dan niat tulus serta baik, ﴾ وَلَٰكِنَّكُمۡ فَتَنتُمۡ أَنفُسَكُمۡ وَتَرَبَّصۡتُمۡ وَٱرۡتَبۡتُمۡ ﴿ "tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu," kalian mera-gukan berita Allah سبحانه وتعالى yang seharusnya tidak diragukan, karena ﴾ وَغَرَّتۡكُمُ ٱلۡأَمَانِيُّ ﴿ "kalian ditipu oleh angan-angan kosong" yang batil, di mana kalian hanya mengkhayalkan meraih apa yang diraih oleh orang-orang Mukmin padahal kalian tidak yakin, ﴾ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﴿ "se-hingga datanglah ketentuan Allah," hingga kematian pun menjemput kalian sedangkan kalian masih tetap berada dalam situasi tercela seperti itu, ﴾ وَغَرَّكُم بِٱللَّهِ ٱلۡغَرُورُ ﴿ "dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu." Yaitu setan yang menghiasi kekufuran dan keraguan pada kalian sehingga kalian merasa aman dan kalian pun percaya pada janji setan dan membenarkan kabar yang disam-paikan setan. (15) ﴾ فَٱلۡيَوۡمَ لَا يُؤۡخَذُ مِنكُمۡ فِدۡيَةٞ وَلَا مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْۚ ﴿ "Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir." An-daikan kalian menebus dengan emas sepenuh bumi dan seperti-nya juga, tentu tidak akan diterima. ﴾ مَأۡوَىٰكُمُ ٱلنَّارُۖ ﴿ "Tempat kamu ialah Neraka." Maksudnya, tempat tinggal kalian. ﴾ هِيَ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Ialah tempat berlindungmu." Yang meladeni dan mengitari kalian, ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali," yaitu neraka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَمَّا مَنۡ خَفَّتۡ مَوَٰزِينُهُۥ 8 فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٞ 9 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا هِيَهۡ 10 نَارٌ حَامِيَةُۢ 11 ﴿ "Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas." (Al-Qari'ah: 8-11).

Al-Hadid 57:16

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka terhadap dzikrullah (al-Qur`an) dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan jangan-lah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesung-guhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." (Al-Hadid: 16-17). (16) Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi orang-orang Mukmin dan munafik di akhirat, baik lelaki maupun perempuan, hal itu menyerukan hati agar khusyu' terhadap Rabbnya serta merasa rendah karena keagunganNya. Allah سبحانه وتعالى mencela seraya mendidik orang Mukmin karena tidak mengkhusyu'kan dan me-rendahkan hati di hadapan keagunganNya seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka terhadap dzikrullah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)," maksudnya, apakah belum tiba waktunya bagi hati untuk melunak dan merasa khusyu' terhadap dzikrullah, yaitu al-Qur`an, serta taat terhadap perintah-perintah dan laranganNya dan kebenaran yang diturunkan pada Muhammad a. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mengkhusyu'kan hati kepada Allah سبحانه وتعالى secara sungguh-sungguh, mengkhusyu'kan hati terhadap al-Qur`an dan as-Sunnah serta mengingat petuah-petuah ilahiyah serta hukum-hukum syariat di setiap waktu serta mengintrospeksi diri untuk hal itu, ﴾ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ ﴿ "Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka," maksudnya, jangan menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya yang mengharuskan mereka untuk khusyu' dan taat secara total, namun mereka tidak bisa menunaikannya dengan lama bahkan masa pun berlalu, kelalaian mereka berlanjut hingga keimanan dan keyakinan mereka lenyap, ﴾ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyak-an di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." Hati setiap saat memerlukan peringatan al-Qur`an yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan berbicara dengan hikmah, tidak sepatutnya lalai dari hal itu, ka-rena lalai dari al-Qur`an dan berdzikir merupakan sebab kerasnya hati dan membekunya air mata. (17) ﴾ ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Ketahui-lah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." Karena tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى menunjukkan akal pada perintah-perintah ila-hiyah. Dzat yang kuasa menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati juga kuasa menghidupkan orang-orang mati setelah meninggal dunia kemudian diberi balasan atas amal perbuatannya. Dzat yang menghidupkan bumi dengan air hujan setelah sebelumnya mati juga kuasa menghidupkan hati yang mati dengan kebenaran yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa men-dapatkan petunjuk dari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan tidak tunduk pada peraturan-peraturan Allah سبحانه وتعالى adalah orang-orang yang tidak berakal.

Al-Hadid 57:17

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka terhadap dzikrullah (al-Qur`an) dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan jangan-lah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesung-guhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." (Al-Hadid: 16-17). (16) Pada saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kondisi orang-orang Mukmin dan munafik di akhirat, baik lelaki maupun perempuan, hal itu menyerukan hati agar khusyu' terhadap Rabbnya serta merasa rendah karena keagunganNya. Allah سبحانه وتعالى mencela seraya mendidik orang Mukmin karena tidak mengkhusyu'kan dan me-rendahkan hati di hadapan keagunganNya seraya berfirman, ﴾ أَلَمۡ يَأۡنِ لِلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَن تَخۡشَعَ قُلُوبُهُمۡ لِذِكۡرِ ٱللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka terhadap dzikrullah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)," maksudnya, apakah belum tiba waktunya bagi hati untuk melunak dan merasa khusyu' terhadap dzikrullah, yaitu al-Qur`an, serta taat terhadap perintah-perintah dan laranganNya dan kebenaran yang diturunkan pada Muhammad a. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mengkhusyu'kan hati kepada Allah سبحانه وتعالى secara sungguh-sungguh, mengkhusyu'kan hati terhadap al-Qur`an dan as-Sunnah serta mengingat petuah-petuah ilahiyah serta hukum-hukum syariat di setiap waktu serta mengintrospeksi diri untuk hal itu, ﴾ وَلَا يَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلُ فَطَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡأَمَدُ ﴿ "Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka," maksudnya, jangan menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya yang mengharuskan mereka untuk khusyu' dan taat secara total, namun mereka tidak bisa menunaikannya dengan lama bahkan masa pun berlalu, kelalaian mereka berlanjut hingga keimanan dan keyakinan mereka lenyap, ﴾ فَقَسَتۡ قُلُوبُهُمۡۖ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyak-an di antara mereka adalah orang-orang yang fasik." Hati setiap saat memerlukan peringatan al-Qur`an yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan berbicara dengan hikmah, tidak sepatutnya lalai dari hal itu, ka-rena lalai dari al-Qur`an dan berdzikir merupakan sebab kerasnya hati dan membekunya air mata. (17) ﴾ ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ﴿ "Ketahui-lah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya." Karena tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى menunjukkan akal pada perintah-perintah ila-hiyah. Dzat yang kuasa menghidupkan bumi setelah sebelumnya mati juga kuasa menghidupkan orang-orang mati setelah meninggal dunia kemudian diberi balasan atas amal perbuatannya. Dzat yang menghidupkan bumi dengan air hujan setelah sebelumnya mati juga kuasa menghidupkan hati yang mati dengan kebenaran yang diturunkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya. Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak bisa men-dapatkan petunjuk dari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan tidak tunduk pada peraturan-peraturan Allah سبحانه وتعالى adalah orang-orang yang tidak berakal.

Al-Hadid 57:18

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mereka itu orang-orang yang Shiddiqin dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan (sedangkan) orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka." (Al-Hadid: 18-19). (18) ﴾ إِنَّ ٱلۡمُصَّدِّقِينَ وَٱلۡمُصَّدِّقَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan," dengan tasydid pada kata اَلْمُصَّدِّقِيْنَ dan اَلْمُصَّدِّقَات yakni orang-orang yang banyak bersede-kah yang ditetapkan syariat dan memberikan nafkah yang baik, ﴾ وَأَقۡرَضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," dengan cara membelanjakan harta mereka untuk kebaikan yang menjadi simpanan bagi mereka di sisi Rabb mereka, ﴾ يُضَٰعَفُ لَهُمۡ ﴿ "niscaya akan dilipatgandakan," pahala kebaikan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali sampai tidak terhingga, ﴾ وَلَهُمۡ أَجۡرٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan bagi mereka pahala yang mulia," yakni, pahala yang disediakan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka di surga yang tidak diketahui oleh jiwa. (19) ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦٓ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya." Iman menurut Ahlussunnah sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah, adalah ucapan hati dan lisan serta amalan hati, lisan dan raga. Semua itu mencakup seluruh syariat agama baik yang lahir maupun yang batin. Orang-orang yang melakukan semua hal i n i ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصِّدِّيقُونَۖ ﴿ "mereka itu orang-orang yang Shiddiqin," yaitu orang yang tingkatnya di atas orang-orang Mukmin secara umum dan berada di bawah tingkatan para nabi. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلشُّهَدَآءُ عِندَ رَبِّهِمۡ لَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ وَنُورُهُمۡۖ ﴿ "Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka," sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَعَدَّهَا اللّٰهُ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus tingkat, jarak antara masing-masing tingkatan sejauh antara langit dan bumi, yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berjihad di jalanNya." Hadits ini menunjukkan tingginya tempat mereka serta de-katnya mereka dengan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan (sedangkan) orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah peng-huni-penghuni neraka." Ayat-ayat ini merangkum tingkatan-tingkatan manusia yaitu; orang-orang yang gemar bersedekah, orang-orang yang membenar-kan, para syuhada dan para penghuni Neraka Jahim. Orang-orang yang gemar bersedekah, amal terbesar mereka adalah berbuat baik terhadap sesama serta mencurahkan segala sesuatu yang berguna bagi mereka, khususnya dalam membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى. Sedangkan orang-orang yang benar (shiddiqun) adalah mereka yang menyempurnakan tingkatan-tingkatan iman, amal shalih, ilmu yang berguna dan keyakinan tulus. Para syuhada adalah mereka yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menjunjung tinggi kalimat Allah سبحانه وتعالى, mereka mencurahkan harta dan jiwa raga untuk berperang. Dan para penghuni Neraka Jahim itu adalah orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. Masih ada lagi satu golongan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surat Fathir, yaitu para muqtashidun, yaitu mereka yang menunaikan kewajiban-ke-wajiban dan menjauhi semua yang diharamkan, hanya saja mereka melakukan beberapa kekurangan dalam menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia. Tempat kembali tingkatan ini adalah surga meski ada di antara mereka yang mendapatkan hukuman terlebih dahulu sebagai balasan atas sebagian amal per-buatannya (yang buruk).

Al-Hadid 57:19

"Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, mereka itu orang-orang yang Shiddiqin dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka. Dan (sedangkan) orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka." (Al-Hadid: 18-19). (18) ﴾ إِنَّ ٱلۡمُصَّدِّقِينَ وَٱلۡمُصَّدِّقَٰتِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah, baik laki-laki maupun perempuan," dengan tasydid pada kata اَلْمُصَّدِّقِيْنَ dan اَلْمُصَّدِّقَات yakni orang-orang yang banyak bersede-kah yang ditetapkan syariat dan memberikan nafkah yang baik, ﴾ وَأَقۡرَضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik," dengan cara membelanjakan harta mereka untuk kebaikan yang menjadi simpanan bagi mereka di sisi Rabb mereka, ﴾ يُضَٰعَفُ لَهُمۡ ﴿ "niscaya akan dilipatgandakan," pahala kebaikan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali sampai tidak terhingga, ﴾ وَلَهُمۡ أَجۡرٞ كَرِيمٞ ﴿ "dan bagi mereka pahala yang mulia," yakni, pahala yang disediakan Allah سبحانه وتعالى bagi mereka di surga yang tidak diketahui oleh jiwa. (19) ﴾ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦٓ ﴿ "Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya." Iman menurut Ahlussunnah sebagaimana yang ditunjukkan oleh al-Qur`an dan as-Sunnah, adalah ucapan hati dan lisan serta amalan hati, lisan dan raga. Semua itu mencakup seluruh syariat agama baik yang lahir maupun yang batin. Orang-orang yang melakukan semua hal i n i ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصِّدِّيقُونَۖ ﴿ "mereka itu orang-orang yang Shiddiqin," yaitu orang yang tingkatnya di atas orang-orang Mukmin secara umum dan berada di bawah tingkatan para nabi. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱلشُّهَدَآءُ عِندَ رَبِّهِمۡ لَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ وَنُورُهُمۡۖ ﴿ "Dan orang-orang yang menjadi saksi di sisi Rabb mereka. Bagi mereka pahala dan cahaya mereka," sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih, إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، أَعَدَّهَا اللّٰهُ لِلْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus tingkat, jarak antara masing-masing tingkatan sejauh antara langit dan bumi, yang disediakan Allah untuk orang-orang yang berjihad di jalanNya." Hadits ini menunjukkan tingginya tempat mereka serta de-katnya mereka dengan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَحِيمِ ﴿ "Dan (sedangkan) orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah peng-huni-penghuni neraka." Ayat-ayat ini merangkum tingkatan-tingkatan manusia yaitu; orang-orang yang gemar bersedekah, orang-orang yang membenar-kan, para syuhada dan para penghuni Neraka Jahim. Orang-orang yang gemar bersedekah, amal terbesar mereka adalah berbuat baik terhadap sesama serta mencurahkan segala sesuatu yang berguna bagi mereka, khususnya dalam membelanjakan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى. Sedangkan orang-orang yang benar (shiddiqun) adalah mereka yang menyempurnakan tingkatan-tingkatan iman, amal shalih, ilmu yang berguna dan keyakinan tulus. Para syuhada adalah mereka yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menjunjung tinggi kalimat Allah سبحانه وتعالى, mereka mencurahkan harta dan jiwa raga untuk berperang. Dan para penghuni Neraka Jahim itu adalah orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى. Masih ada lagi satu golongan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam surat Fathir, yaitu para muqtashidun, yaitu mereka yang menunaikan kewajiban-ke-wajiban dan menjauhi semua yang diharamkan, hanya saja mereka melakukan beberapa kekurangan dalam menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia. Tempat kembali tingkatan ini adalah surga meski ada di antara mereka yang mendapatkan hukuman terlebih dahulu sebagai balasan atas sebagian amal per-buatannya (yang buruk).

Al-Hadid 57:20

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanaman-nya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ke-senangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (men-dapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Hadid: 20-21). (20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hakikat dunia dan seluruh isinya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kesudahan dunia dan kesudahan manusia yang menghuninya, bahwa dunia adalah ﴾ لَعِبٞ وَلَهۡوٞ ﴿ "per-mainan dan suatu yang melalaikan." Raga manusia bermain-main de-ngan dunia dan hati mereka lalai. Hal ini terjadi dan berlaku bagi mereka yang mencintai dunia. Anda melihat mereka menghabiskan sebagian besar usia mereka dengan kelalaian hati serta lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى serta lalai akan janji dan ancaman yang ada di hadapan mereka. Anda juga melihat mereka menjadikan agama sebagai permainan dan kelalaian. Lain halnya dengan orang-orang yang sadar dan bekerja untuk akhirat. Hati mereka penuh dengan dzikir, ma'rifah dan mahabbah. Mereka gunakan sebagian besar waktu mereka untuk amalan-amalan yang mendekatkan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga tidak sempat melakukan perbuatan-per-buatan yang kurang bermanfaat. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَزِينَةٞ ﴿ "perhiasan," maksudnya, berhias dalam pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, istana, penampilan, dan lainnya, ﴾ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ ﴿ "dan bermegah-megah antara kamu," maksudnya, masing-masing orang yang memiliki tiap-tiap perhiasan dunia saling membangga-banggakan diri terhadap yang lain dan selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan di bidang-nya dan yang kondisinya ternama, ﴾ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ ﴿ "serta ber-bangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak," maksudnya, ma-sing-masing ingin menjadi yang terbanyak dari segi harta dan anak dari yang lain. Ini terjadi pada mereka yang gila dunia dan merasa tenang terhadap dunia. Lain halnya orang yang mengetahui dunia dan hakikatnya. Mereka menjadikan dunia sebagai tempat berlalu, bukan dijadikan sebagai tempat tinggal. Mereka selalu berlomba-lomba dan menyaingi segala hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dengan menggunakan berbagai media yang bisa mengantarkan menuju surga, tempat kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, ketika melihat orang yang menyainginya dengan memperbanyak harta dan anak, dihadapinya dengan memperbanyak amalan-amalan shalih. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan bagi dunia yaitu seperti air hujan yang turun ke bumi dan berbaur dengan tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan juga hewan, hingga ketika bumi menampakkan keindahannya, tumbuh-tum-buhan itu pun membuat orang-orang kafir heran, tetapi lalai dari memperhatikannya, pandangan dan perhatian mereka hanya ter-tuju pada dunia. Kemudian datanglah sesuatu yang menghancur-kan tanaman tersebut atas perintah dari Allah سبحانه وتعالى hingga tanaman itu pun rusak, mengering dan kembali pada kondisi semula, seolah-olah sama sekali tidak pernah menghijau dan tidak pernah dilihat menarik. Seperti itu juga dunia, pada saat menyinari para penggila-nya, apa pun yang diinginkan selalu terpenuhi, apa pun yang di-kehendaki pasti menemukan pintunya yang terbuka, di saat seperti itu, tiba-tiba takdirnya datang dan melenyapkan semua yang ada di tangannya, melenyapkan semua kekuasaan yang dimiliki dan menghilangkan semua itu darinya. Ia pun meninggalkan dunia dengan tangan hampa. Tidak berbekal apa pun selain sehelai kain kafan. Amat celakalah orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dari angan-angannya serta tujuan dari segala usaha dan pekerja-annya. Lain halnya dengan amalan-amalan akhirat yang berguna dan disimpan untuk para pemiliknya yang akan selalu menemani hamba selamanya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ ﴿ "Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan am-punan dari Allah serta keridhaanNya." Maksudnya, hanya ada dua kemungkinan di akhirat: Siksaan pedih di Neraka Jahanam dengan belenggu, rantai dan kengeriannya bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dan puncak keinginannya sehingga berlaku sembrono dengan berbagai kemaksiatan, mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dan mengkufuri semua nikmat Allah سبحانه وتعالى, atau ampunan dari semua kesalahan dari Allah سبحانه وتعالى, penghapusan dari berbagai hukuman dan keridhaan Allah yang berhak diperoleh oleh orang yang berhak mendapatkannya, berada di tempat keridhaan bagi orang yang mengetahui hakikat dunia dan mengerahkan segenap usahanya untuk kepentingan akhirat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ﴿ "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." Maksudnya, tidak lain hanyalah kesenangan yang dinikmati dan dipakai untuk berbagai keperluan yang tidak akan menipu dan membuat tenang kecuali orang yang lemah akalnya, yaitu mereka yang tertipu oleh dunia terhadap Allah سبحانه وتعالى. (21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk berlomba-lomba menggapai ampunan, keridhaan, dan surgaNya. Hal itu bisa dicapai dengan melakukan berbagai sebab-sebab ampunan seperti taubat yang sungguh-sungguh, istighfar yang berguna, jauh dari dosa dan perantaranya, berlomba-lomba menggapai keridha-an Allah سبحانه وتعالى dengan amal shalih, berusaha terus melakukan semua amalan yang diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa ibadah secara baik, bersikap baik terhadap sesama makhluk dengan berbagai perbuatan yang berguna. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan amalan-amalan yang mewajibkan pelakunya mendapatkan semua itu seraya berfirman, ﴾ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ﴿ "Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya." Termasuk iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah seluruh pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. ﴾ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya." Maksudnya, balasan untuk kalian yang Kami jelaskan ini berupa jalan yang mengantarkan kalian menuju surga dan jalan yang mengantarkan kalian menuju neraka, dan sesungguhnya pahala Allah سبحانه وتعالى yang diberikan dengan balasan yang besar merupakan pemberian dan karunia terbesar untuk hamba-hambaNya, ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah mempunyai karunia yang besar," yang pujianNya tidak terhingga, seperti Dia memuji diriNya, lebih dari pujian seluruh makhlukNya.

Al-Hadid 57:21

"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanaman-nya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah ke-senangan yang menipu. Berlomba-lombalah kamu kepada (men-dapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Hadid: 20-21). (20) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hakikat dunia dan seluruh isinya, dan Allah سبحانه وتعالى menjelaskan kesudahan dunia dan kesudahan manusia yang menghuninya, bahwa dunia adalah ﴾ لَعِبٞ وَلَهۡوٞ ﴿ "per-mainan dan suatu yang melalaikan." Raga manusia bermain-main de-ngan dunia dan hati mereka lalai. Hal ini terjadi dan berlaku bagi mereka yang mencintai dunia. Anda melihat mereka menghabiskan sebagian besar usia mereka dengan kelalaian hati serta lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى serta lalai akan janji dan ancaman yang ada di hadapan mereka. Anda juga melihat mereka menjadikan agama sebagai permainan dan kelalaian. Lain halnya dengan orang-orang yang sadar dan bekerja untuk akhirat. Hati mereka penuh dengan dzikir, ma'rifah dan mahabbah. Mereka gunakan sebagian besar waktu mereka untuk amalan-amalan yang mendekatkan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى sehingga tidak sempat melakukan perbuatan-per-buatan yang kurang bermanfaat. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَزِينَةٞ ﴿ "perhiasan," maksudnya, berhias dalam pakaian, makanan, minuman, kendaraan, rumah, istana, penampilan, dan lainnya, ﴾ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ ﴿ "dan bermegah-megah antara kamu," maksudnya, masing-masing orang yang memiliki tiap-tiap perhiasan dunia saling membangga-banggakan diri terhadap yang lain dan selalu berusaha untuk menjadi yang terdepan di bidang-nya dan yang kondisinya ternama, ﴾ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ ﴿ "serta ber-bangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak," maksudnya, ma-sing-masing ingin menjadi yang terbanyak dari segi harta dan anak dari yang lain. Ini terjadi pada mereka yang gila dunia dan merasa tenang terhadap dunia. Lain halnya orang yang mengetahui dunia dan hakikatnya. Mereka menjadikan dunia sebagai tempat berlalu, bukan dijadikan sebagai tempat tinggal. Mereka selalu berlomba-lomba dan menyaingi segala hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dengan menggunakan berbagai media yang bisa mengantarkan menuju surga, tempat kemuliaan Allah سبحانه وتعالى, ketika melihat orang yang menyainginya dengan memperbanyak harta dan anak, dihadapinya dengan memperbanyak amalan-amalan shalih. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى membuat perumpamaan bagi dunia yaitu seperti air hujan yang turun ke bumi dan berbaur dengan tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan juga hewan, hingga ketika bumi menampakkan keindahannya, tumbuh-tum-buhan itu pun membuat orang-orang kafir heran, tetapi lalai dari memperhatikannya, pandangan dan perhatian mereka hanya ter-tuju pada dunia. Kemudian datanglah sesuatu yang menghancur-kan tanaman tersebut atas perintah dari Allah سبحانه وتعالى hingga tanaman itu pun rusak, mengering dan kembali pada kondisi semula, seolah-olah sama sekali tidak pernah menghijau dan tidak pernah dilihat menarik. Seperti itu juga dunia, pada saat menyinari para penggila-nya, apa pun yang diinginkan selalu terpenuhi, apa pun yang di-kehendaki pasti menemukan pintunya yang terbuka, di saat seperti itu, tiba-tiba takdirnya datang dan melenyapkan semua yang ada di tangannya, melenyapkan semua kekuasaan yang dimiliki dan menghilangkan semua itu darinya. Ia pun meninggalkan dunia dengan tangan hampa. Tidak berbekal apa pun selain sehelai kain kafan. Amat celakalah orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dari angan-angannya serta tujuan dari segala usaha dan pekerja-annya. Lain halnya dengan amalan-amalan akhirat yang berguna dan disimpan untuk para pemiliknya yang akan selalu menemani hamba selamanya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ ﴿ "Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan am-punan dari Allah serta keridhaanNya." Maksudnya, hanya ada dua kemungkinan di akhirat: Siksaan pedih di Neraka Jahanam dengan belenggu, rantai dan kengeriannya bagi orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan dan puncak keinginannya sehingga berlaku sembrono dengan berbagai kemaksiatan, mendustakan ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى dan mengkufuri semua nikmat Allah سبحانه وتعالى, atau ampunan dari semua kesalahan dari Allah سبحانه وتعالى, penghapusan dari berbagai hukuman dan keridhaan Allah yang berhak diperoleh oleh orang yang berhak mendapatkannya, berada di tempat keridhaan bagi orang yang mengetahui hakikat dunia dan mengerahkan segenap usahanya untuk kepentingan akhirat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ ﴿ "Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." Maksudnya, tidak lain hanyalah kesenangan yang dinikmati dan dipakai untuk berbagai keperluan yang tidak akan menipu dan membuat tenang kecuali orang yang lemah akalnya, yaitu mereka yang tertipu oleh dunia terhadap Allah سبحانه وتعالى. (21) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk berlomba-lomba menggapai ampunan, keridhaan, dan surgaNya. Hal itu bisa dicapai dengan melakukan berbagai sebab-sebab ampunan seperti taubat yang sungguh-sungguh, istighfar yang berguna, jauh dari dosa dan perantaranya, berlomba-lomba menggapai keridha-an Allah سبحانه وتعالى dengan amal shalih, berusaha terus melakukan semua amalan yang diridhai Allah سبحانه وتعالى berupa ibadah secara baik, bersikap baik terhadap sesama makhluk dengan berbagai perbuatan yang berguna. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan amalan-amalan yang mewajibkan pelakunya mendapatkan semua itu seraya berfirman, ﴾ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا كَعَرۡضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أُعِدَّتۡ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ ﴿ "Dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya." Termasuk iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah seluruh pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya. ﴾ ذَٰلِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Itulah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya." Maksudnya, balasan untuk kalian yang Kami jelaskan ini berupa jalan yang mengantarkan kalian menuju surga dan jalan yang mengantarkan kalian menuju neraka, dan sesungguhnya pahala Allah سبحانه وتعالى yang diberikan dengan balasan yang besar merupakan pemberian dan karunia terbesar untuk hamba-hambaNya, ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah mempunyai karunia yang besar," yang pujianNya tidak terhingga, seperti Dia memuji diriNya, lebih dari pujian seluruh makhlukNya.

Al-Hadid 57:22

"Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesung-guhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelas-kan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gem-bira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hadid: 22-24). (22) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan luasnya Qadha` dan QadarNya, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri," ini mencakup seluruh musibah yang menimpa makhluk, baik dan buruknya, semuanya, baik yang kecil maupun yang besar telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ini merupakan sesuatu yang besar dan agung yang tidak bisa dicerna akal, bahkan bisa mengacaukan hati orang-orang yang berakal, namun hal itu mudah bagi Allah سبحانه وتعالى. (23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hal itu kepada para hambaNya agar kaidah ini lekat di hati mereka. Agar mereka merujukkan se-mua kebaikan dan keburukan berdasarkan kaidah tersebut supaya mereka tidak merasa putus asa dan bersedih atas sesuatu yang luput dari mereka, di samping agar hati mereka tidak tamak dan memburu apa yang tidak didapatkan, karena mereka mengetahui bahwa hal itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh yang pasti berlaku dan terjadi; tidak ada cara untuk menolaknya. Tujuan lain adalah agar manusia tidak terlalu bergembira dengan bersikap sombong terhadap pemberian Allah سبحانه وتعالى, karena mereka mengetahui bahwa semua yang didapat bukan karena usaha dan daya mereka, namun didapatkan karena karunia dan pemberian Allah سبحانه وتعالى, sehingga mereka sibuk bersyukur pada Allah سبحانه وتعالى yang memberikan berbagai kenikmatan dan mencegah azab. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." Yaitu, orang angkuh, berhati keras, kasar, merasa kagum terhadap diri sendiri, membanggakan diri dengan berbagai nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dinyatakan sebagai hasil usahanya sendiri, hingga ia pun melampaui batas dan melalaikan kenikmatan-kenikmatan itu. Sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ 49 ﴿ "Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesung-guhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui." (Az-Zumar: 49). (24) ﴾ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir." Maksudnya, mereka me-madukan dua hal tercela yang masing-masing dari keduanya sudah cukup buruk, yaitu kikir dengan cara menahan hak yang wajib serta memerintahkan orang lain untuk bersikap serupa. Mereka tidak cukup hanya bersikap kikir saja hingga mereka pun meme-rintahkan orang lain untuk bersikap kikir pula dan mendorong mereka untuk bersifat tercela dengan perkataan dan perbuatan. Inilah salah satu dari bentuk berpaling dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, maka ia hanya membahayakan dirinya sendiri, sama se-kali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji," yang kekayaanNya merupakan kemestian dari DzatNya yang bagiNya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia-lah yang memberi kecukupan hamba-hambaNya dan memberi mereka makan. Maha Terpuji, yang bagiNya nama baik dan sifat sempurna, serta perbuatan baik yang berhak dipuji, disanjung, dan diagungkan.

Al-Hadid 57:23

"Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesung-guhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelas-kan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gem-bira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hadid: 22-24). (22) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan luasnya Qadha` dan QadarNya, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri," ini mencakup seluruh musibah yang menimpa makhluk, baik dan buruknya, semuanya, baik yang kecil maupun yang besar telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ini merupakan sesuatu yang besar dan agung yang tidak bisa dicerna akal, bahkan bisa mengacaukan hati orang-orang yang berakal, namun hal itu mudah bagi Allah سبحانه وتعالى. (23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hal itu kepada para hambaNya agar kaidah ini lekat di hati mereka. Agar mereka merujukkan se-mua kebaikan dan keburukan berdasarkan kaidah tersebut supaya mereka tidak merasa putus asa dan bersedih atas sesuatu yang luput dari mereka, di samping agar hati mereka tidak tamak dan memburu apa yang tidak didapatkan, karena mereka mengetahui bahwa hal itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh yang pasti berlaku dan terjadi; tidak ada cara untuk menolaknya. Tujuan lain adalah agar manusia tidak terlalu bergembira dengan bersikap sombong terhadap pemberian Allah سبحانه وتعالى, karena mereka mengetahui bahwa semua yang didapat bukan karena usaha dan daya mereka, namun didapatkan karena karunia dan pemberian Allah سبحانه وتعالى, sehingga mereka sibuk bersyukur pada Allah سبحانه وتعالى yang memberikan berbagai kenikmatan dan mencegah azab. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." Yaitu, orang angkuh, berhati keras, kasar, merasa kagum terhadap diri sendiri, membanggakan diri dengan berbagai nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dinyatakan sebagai hasil usahanya sendiri, hingga ia pun melampaui batas dan melalaikan kenikmatan-kenikmatan itu. Sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ 49 ﴿ "Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesung-guhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui." (Az-Zumar: 49). (24) ﴾ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir." Maksudnya, mereka me-madukan dua hal tercela yang masing-masing dari keduanya sudah cukup buruk, yaitu kikir dengan cara menahan hak yang wajib serta memerintahkan orang lain untuk bersikap serupa. Mereka tidak cukup hanya bersikap kikir saja hingga mereka pun meme-rintahkan orang lain untuk bersikap kikir pula dan mendorong mereka untuk bersifat tercela dengan perkataan dan perbuatan. Inilah salah satu dari bentuk berpaling dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, maka ia hanya membahayakan dirinya sendiri, sama se-kali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji," yang kekayaanNya merupakan kemestian dari DzatNya yang bagiNya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia-lah yang memberi kecukupan hamba-hambaNya dan memberi mereka makan. Maha Terpuji, yang bagiNya nama baik dan sifat sempurna, serta perbuatan baik yang berhak dipuji, disanjung, dan diagungkan.

Al-Hadid 57:24

"Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesung-guhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelas-kan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gem-bira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah), maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji." (Al-Hadid: 22-24). (22) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan luasnya Qadha` dan QadarNya, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ ﴿ "Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri," ini mencakup seluruh musibah yang menimpa makhluk, baik dan buruknya, semuanya, baik yang kecil maupun yang besar telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Ini merupakan sesuatu yang besar dan agung yang tidak bisa dicerna akal, bahkan bisa mengacaukan hati orang-orang yang berakal, namun hal itu mudah bagi Allah سبحانه وتعالى. (23) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan hal itu kepada para hambaNya agar kaidah ini lekat di hati mereka. Agar mereka merujukkan se-mua kebaikan dan keburukan berdasarkan kaidah tersebut supaya mereka tidak merasa putus asa dan bersedih atas sesuatu yang luput dari mereka, di samping agar hati mereka tidak tamak dan memburu apa yang tidak didapatkan, karena mereka mengetahui bahwa hal itu telah tertulis di Lauhul Mahfuzh yang pasti berlaku dan terjadi; tidak ada cara untuk menolaknya. Tujuan lain adalah agar manusia tidak terlalu bergembira dengan bersikap sombong terhadap pemberian Allah سبحانه وتعالى, karena mereka mengetahui bahwa semua yang didapat bukan karena usaha dan daya mereka, namun didapatkan karena karunia dan pemberian Allah سبحانه وتعالى, sehingga mereka sibuk bersyukur pada Allah سبحانه وتعالى yang memberikan berbagai kenikmatan dan mencegah azab. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ ﴿ "Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." Yaitu, orang angkuh, berhati keras, kasar, merasa kagum terhadap diri sendiri, membanggakan diri dengan berbagai nikmat Allah سبحانه وتعالى yang dinyatakan sebagai hasil usahanya sendiri, hingga ia pun melampaui batas dan melalaikan kenikmatan-kenikmatan itu. Sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۭۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ 49 ﴿ "Maka apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, 'Sesung-guhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.' Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui." (Az-Zumar: 49). (24) ﴾ ٱلَّذِينَ يَبۡخَلُونَ وَيَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبُخۡلِۗ ﴿ "(Yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir." Maksudnya, mereka me-madukan dua hal tercela yang masing-masing dari keduanya sudah cukup buruk, yaitu kikir dengan cara menahan hak yang wajib serta memerintahkan orang lain untuk bersikap serupa. Mereka tidak cukup hanya bersikap kikir saja hingga mereka pun meme-rintahkan orang lain untuk bersikap kikir pula dan mendorong mereka untuk bersifat tercela dengan perkataan dan perbuatan. Inilah salah satu dari bentuk berpaling dari ketaatan kepada Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى, maka ia hanya membahayakan dirinya sendiri, sama se-kali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji," yang kekayaanNya merupakan kemestian dari DzatNya yang bagiNya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia-lah yang memberi kecukupan hamba-hambaNya dan memberi mereka makan. Maha Terpuji, yang bagiNya nama baik dan sifat sempurna, serta perbuatan baik yang berhak dipuji, disanjung, dan diagungkan.

Al-Hadid 57:25

"Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan ber-sama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah menge-tahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya, pada-hal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik. Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dam Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik." (Al-Hadid: 25-27). (25) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata," berupa dalil, bukti, dan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran risalah yang mereka bawa, ﴾ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab." اَلْكِتَابُ di sini adalah kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh kitab yang ditu-runkan Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk untuk makhluk dan mengarah-kan mereka pada apa-apa yang berguna bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. ﴾ وَٱلۡمِيزَانَ ﴿ "Dan neraca," yakni timbangan ke-adilan terhadap perkataan dan perbuatan, dan agama yang dibawa oleh para rasul seluruhnya adil dalam hal perintah dan larangan dan juga dalam interaksi manusia dari segi pidana, qishash, hukum had, hukum waris dan lainnya. Hal itu ﴾ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." Menegakkan agama Allah سبحانه وتعالى dan mewujudkan kemaslahatan mereka yang tidak mungkin bisa dihitung. Hal ini membuktikan bahwa para rasul itu sama dalam kaidah dasar syariat, yaitu menegakkan keadilan meski bentuknya berbeda-beda sesuai kondisi dan waktu. ﴾ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ ﴿ "Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat," sebagai alat-alat perang seperti pedang, baju besi, dan lainnya, ﴾ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ ﴿ "dan berbagai manfaat bagi ma-nusia," yang manfaatnya bisa dibuktikan di berbagai jenis produksi, pekerjaan, perabotan, dan alat-alat bercocok tanam hingga hampir semua benda pasti memerlukan besi. ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "(Supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya." Agar Allah سبحانه وتعالى menguji dengan sesuatu yang diturun-kan dari al-Kitab dan besi, sehingga akan terlihat jelas siapa yang menolong para rasulNya sekalipun Allah سبحانه وتعالى tidak dilihatnya, di mana percaya terlebih dahulu lebih berguna baginya sebelum me-nyaksikan secara langsung, yang andai rasa percaya dan keimanan tidak ada, tentu tidak berguna, karena pada waktu itu keimanan amat penting. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperka-sa." Maksudnya, tidak ada yang bisa mengalahkanNya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya. Dan di antara kekuatan dan keperkasaanNya adalah menu-runkan besi yang menjadi alat-alat kekuatan. Dan di antara ke-kuatan dan keperkasaanNya, Dia mampu mengalahkan musuh-musuhNya, hanya saja Dia hendak menguji para penolongNya terhadap musuh-musuhNya agar Dia mengetahui siapakah yang menolongNya padahal Dia tidak terlihat olehnya. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyandingkan al-Kitab (kitab suci-nya) dengan besi karena dengan kedua hal tersebut Allah سبحانه وتعالى meno-long agama dan meninggikan kalimatNya. Dengan kitab suci yang di dalamnya terdapat hujjah dan bukti nyata dan pedang yang bisa mendapatkan kemenangan dengan izin Allah سبحانه وتعالى, kedua hal tersebut menegakkan keadilan yang bisa dipakai sebagai petunjuk atas hikmah serta kemuliaan Allah سبحانه وتعالى dan juga kemuliaan syariat-Nya yang disyariatkan melalui lisan para rasul. (26) Pada saat Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenabian para nabi secara umum, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus dua nabi mulia di antara mereka, yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang pada keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى mengumpulkan kenabian dan kitab. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحٗا وَإِبۡرَٰهِيمَ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab," yakni para nabi yang terdahulu dan yang datang kemudian, semuanya berasal dari ke-turunan Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام. Begitu juga semua kitab samawi, semuanya diturunkan pada keturunan kedua nabi mulia ini. ﴾ فَمِنۡهُم ﴿ "Maka di antara mereka," yaitu kaum yang kepada me-reka Kami utuskan para rasul, ﴾ مُّهۡتَدٖۖ ﴿ "ada yang menerima petunjuk," atas seruan mereka, mematuhi perintah mereka dan menjadikan arahan mereka sebagai petunjuk, ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "dan banyak di antara mereka yang fasik," yaitu melenceng dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ketaatan terhadap para rasulNya. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ 103 ﴿ "Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya." (Yusuf: 103). (27) ﴾ ثُمَّ قَفَّيۡنَا ﴿ "Kemudian Kami iringi," yakni, Kami sambung, ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيۡنَا بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ ﴿ "di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam." Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebut Nabi Isa عليه السلام, karena alur pembicaraan ini untuk orang-orang Nasrani, mereka yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَۖ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya Injil," yang termasuk salah satu kitab Allah سبحانه وتعالى yang mulia,﴾ وَجَعَلۡنَا فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأۡفَةٗ وَرَحۡمَةٗۚ ﴿ "dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang." Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنۡهُمۡ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ 82 ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhan-nya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesung-guhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). Karena itulah orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang paling berhati lunak ketika mereka masih berada di atas syariat Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا ﴿ "dan mereka mengada-adakan rahbaniy-yah." Rahbaniyyah adalah ibadah; mereka membuat-buat ibadah sendiri. Ibadah-ibadah karangan mereka itu mereka wajibkan atas diri mereka, padahal Allah سبحانه وتعالى tidak mewajibkannya atas mereka, tapi mereka sendirilah yang mewajibkannya atas diri mereka sen-diri dengan niat mendapatkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى, namun demikian ﴾ فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَاۖ ﴿ "mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya." Maksudnya, mereka tidak menunaikannya dan tidak melaksanakan hak-haknya. Dengan demikian mereka mela-kukan dua kelalaian. Mengarang-ngarang sendiri (ajaran agama) dan tidak menunaikan tugas yang mereka sendiri yang mewajib-kannya pada diri mereka. Inilah kondisi umum mereka. Namun di antara mereka ada juga yang konsisten di atas perintah Allah سبحانه وتعالى, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَـَٔاتَيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۡهُمۡ أَجۡرَهُمۡۖ ﴿ "Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahala-nya," yaitu mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad a di samping beriman kepada Nabi Isa عليه السلام, masing-masing diberi balasan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan ke-imanannya. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik."

Al-Hadid 57:26

"Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan ber-sama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah menge-tahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya, pada-hal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik. Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dam Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik." (Al-Hadid: 25-27). (25) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata," berupa dalil, bukti, dan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran risalah yang mereka bawa, ﴾ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab." اَلْكِتَابُ di sini adalah kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh kitab yang ditu-runkan Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk untuk makhluk dan mengarah-kan mereka pada apa-apa yang berguna bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. ﴾ وَٱلۡمِيزَانَ ﴿ "Dan neraca," yakni timbangan ke-adilan terhadap perkataan dan perbuatan, dan agama yang dibawa oleh para rasul seluruhnya adil dalam hal perintah dan larangan dan juga dalam interaksi manusia dari segi pidana, qishash, hukum had, hukum waris dan lainnya. Hal itu ﴾ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." Menegakkan agama Allah سبحانه وتعالى dan mewujudkan kemaslahatan mereka yang tidak mungkin bisa dihitung. Hal ini membuktikan bahwa para rasul itu sama dalam kaidah dasar syariat, yaitu menegakkan keadilan meski bentuknya berbeda-beda sesuai kondisi dan waktu. ﴾ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ ﴿ "Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat," sebagai alat-alat perang seperti pedang, baju besi, dan lainnya, ﴾ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ ﴿ "dan berbagai manfaat bagi ma-nusia," yang manfaatnya bisa dibuktikan di berbagai jenis produksi, pekerjaan, perabotan, dan alat-alat bercocok tanam hingga hampir semua benda pasti memerlukan besi. ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "(Supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya." Agar Allah سبحانه وتعالى menguji dengan sesuatu yang diturun-kan dari al-Kitab dan besi, sehingga akan terlihat jelas siapa yang menolong para rasulNya sekalipun Allah سبحانه وتعالى tidak dilihatnya, di mana percaya terlebih dahulu lebih berguna baginya sebelum me-nyaksikan secara langsung, yang andai rasa percaya dan keimanan tidak ada, tentu tidak berguna, karena pada waktu itu keimanan amat penting. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperka-sa." Maksudnya, tidak ada yang bisa mengalahkanNya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya. Dan di antara kekuatan dan keperkasaanNya adalah menu-runkan besi yang menjadi alat-alat kekuatan. Dan di antara ke-kuatan dan keperkasaanNya, Dia mampu mengalahkan musuh-musuhNya, hanya saja Dia hendak menguji para penolongNya terhadap musuh-musuhNya agar Dia mengetahui siapakah yang menolongNya padahal Dia tidak terlihat olehnya. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyandingkan al-Kitab (kitab suci-nya) dengan besi karena dengan kedua hal tersebut Allah سبحانه وتعالى meno-long agama dan meninggikan kalimatNya. Dengan kitab suci yang di dalamnya terdapat hujjah dan bukti nyata dan pedang yang bisa mendapatkan kemenangan dengan izin Allah سبحانه وتعالى, kedua hal tersebut menegakkan keadilan yang bisa dipakai sebagai petunjuk atas hikmah serta kemuliaan Allah سبحانه وتعالى dan juga kemuliaan syariat-Nya yang disyariatkan melalui lisan para rasul. (26) Pada saat Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenabian para nabi secara umum, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus dua nabi mulia di antara mereka, yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang pada keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى mengumpulkan kenabian dan kitab. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحٗا وَإِبۡرَٰهِيمَ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab," yakni para nabi yang terdahulu dan yang datang kemudian, semuanya berasal dari ke-turunan Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام. Begitu juga semua kitab samawi, semuanya diturunkan pada keturunan kedua nabi mulia ini. ﴾ فَمِنۡهُم ﴿ "Maka di antara mereka," yaitu kaum yang kepada me-reka Kami utuskan para rasul, ﴾ مُّهۡتَدٖۖ ﴿ "ada yang menerima petunjuk," atas seruan mereka, mematuhi perintah mereka dan menjadikan arahan mereka sebagai petunjuk, ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "dan banyak di antara mereka yang fasik," yaitu melenceng dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ketaatan terhadap para rasulNya. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ 103 ﴿ "Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya." (Yusuf: 103). (27) ﴾ ثُمَّ قَفَّيۡنَا ﴿ "Kemudian Kami iringi," yakni, Kami sambung, ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيۡنَا بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ ﴿ "di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam." Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebut Nabi Isa عليه السلام, karena alur pembicaraan ini untuk orang-orang Nasrani, mereka yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَۖ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya Injil," yang termasuk salah satu kitab Allah سبحانه وتعالى yang mulia,﴾ وَجَعَلۡنَا فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأۡفَةٗ وَرَحۡمَةٗۚ ﴿ "dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang." Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنۡهُمۡ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ 82 ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhan-nya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesung-guhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). Karena itulah orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang paling berhati lunak ketika mereka masih berada di atas syariat Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا ﴿ "dan mereka mengada-adakan rahbaniy-yah." Rahbaniyyah adalah ibadah; mereka membuat-buat ibadah sendiri. Ibadah-ibadah karangan mereka itu mereka wajibkan atas diri mereka, padahal Allah سبحانه وتعالى tidak mewajibkannya atas mereka, tapi mereka sendirilah yang mewajibkannya atas diri mereka sen-diri dengan niat mendapatkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى, namun demikian ﴾ فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَاۖ ﴿ "mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya." Maksudnya, mereka tidak menunaikannya dan tidak melaksanakan hak-haknya. Dengan demikian mereka mela-kukan dua kelalaian. Mengarang-ngarang sendiri (ajaran agama) dan tidak menunaikan tugas yang mereka sendiri yang mewajib-kannya pada diri mereka. Inilah kondisi umum mereka. Namun di antara mereka ada juga yang konsisten di atas perintah Allah سبحانه وتعالى, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَـَٔاتَيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۡهُمۡ أَجۡرَهُمۡۖ ﴿ "Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahala-nya," yaitu mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad a di samping beriman kepada Nabi Isa عليه السلام, masing-masing diberi balasan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan ke-imanannya. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik."

Al-Hadid 57:27

"Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan ber-sama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah menge-tahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya, pada-hal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka yang fasik. Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dam Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik." (Al-Hadid: 25-27). (25) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata," berupa dalil, bukti, dan tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran risalah yang mereka bawa, ﴾ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ ﴿ "dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab." اَلْكِتَابُ di sini adalah kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh kitab yang ditu-runkan Allah سبحانه وتعالى sebagai petunjuk untuk makhluk dan mengarah-kan mereka pada apa-apa yang berguna bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. ﴾ وَٱلۡمِيزَانَ ﴿ "Dan neraca," yakni timbangan ke-adilan terhadap perkataan dan perbuatan, dan agama yang dibawa oleh para rasul seluruhnya adil dalam hal perintah dan larangan dan juga dalam interaksi manusia dari segi pidana, qishash, hukum had, hukum waris dan lainnya. Hal itu ﴾ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِۖ ﴿ "supaya manusia dapat melaksanakan keadilan." Menegakkan agama Allah سبحانه وتعالى dan mewujudkan kemaslahatan mereka yang tidak mungkin bisa dihitung. Hal ini membuktikan bahwa para rasul itu sama dalam kaidah dasar syariat, yaitu menegakkan keadilan meski bentuknya berbeda-beda sesuai kondisi dan waktu. ﴾ وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡسٞ شَدِيدٞ ﴿ "Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat," sebagai alat-alat perang seperti pedang, baju besi, dan lainnya, ﴾ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ ﴿ "dan berbagai manfaat bagi ma-nusia," yang manfaatnya bisa dibuktikan di berbagai jenis produksi, pekerjaan, perabotan, dan alat-alat bercocok tanam hingga hampir semua benda pasti memerlukan besi. ﴾ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥ وَرُسُلَهُۥ بِٱلۡغَيۡبِۚ ﴿ "(Supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya." Agar Allah سبحانه وتعالى menguji dengan sesuatu yang diturun-kan dari al-Kitab dan besi, sehingga akan terlihat jelas siapa yang menolong para rasulNya sekalipun Allah سبحانه وتعالى tidak dilihatnya, di mana percaya terlebih dahulu lebih berguna baginya sebelum me-nyaksikan secara langsung, yang andai rasa percaya dan keimanan tidak ada, tentu tidak berguna, karena pada waktu itu keimanan amat penting. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٞ ﴿ "Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperka-sa." Maksudnya, tidak ada yang bisa mengalahkanNya dan tidak ada sesuatu pun yang luput dariNya. Dan di antara kekuatan dan keperkasaanNya adalah menu-runkan besi yang menjadi alat-alat kekuatan. Dan di antara ke-kuatan dan keperkasaanNya, Dia mampu mengalahkan musuh-musuhNya, hanya saja Dia hendak menguji para penolongNya terhadap musuh-musuhNya agar Dia mengetahui siapakah yang menolongNya padahal Dia tidak terlihat olehnya. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menyandingkan al-Kitab (kitab suci-nya) dengan besi karena dengan kedua hal tersebut Allah سبحانه وتعالى meno-long agama dan meninggikan kalimatNya. Dengan kitab suci yang di dalamnya terdapat hujjah dan bukti nyata dan pedang yang bisa mendapatkan kemenangan dengan izin Allah سبحانه وتعالى, kedua hal tersebut menegakkan keadilan yang bisa dipakai sebagai petunjuk atas hikmah serta kemuliaan Allah سبحانه وتعالى dan juga kemuliaan syariat-Nya yang disyariatkan melalui lisan para rasul. (26) Pada saat Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kenabian para nabi secara umum, Allah سبحانه وتعالى menyebutkan secara khusus dua nabi mulia di antara mereka, yaitu Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang pada keturunan mereka, Allah سبحانه وتعالى mengumpulkan kenabian dan kitab. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحٗا وَإِبۡرَٰهِيمَ وَجَعَلۡنَا فِي ذُرِّيَّتِهِمَا ٱلنُّبُوَّةَ وَٱلۡكِتَٰبَۖ ﴿ "Dan sungguh Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan pada keturunan keduanya kenabian dan al-Kitab," yakni para nabi yang terdahulu dan yang datang kemudian, semuanya berasal dari ke-turunan Nabi Nuh عليه السلام dan Nabi Ibrahim عليه السلام. Begitu juga semua kitab samawi, semuanya diturunkan pada keturunan kedua nabi mulia ini. ﴾ فَمِنۡهُم ﴿ "Maka di antara mereka," yaitu kaum yang kepada me-reka Kami utuskan para rasul, ﴾ مُّهۡتَدٖۖ ﴿ "ada yang menerima petunjuk," atas seruan mereka, mematuhi perintah mereka dan menjadikan arahan mereka sebagai petunjuk, ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "dan banyak di antara mereka yang fasik," yaitu melenceng dari ketaatan terhadap Allah سبحانه وتعالى dan ketaatan terhadap para rasulNya. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَمَآ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوۡ حَرَصۡتَ بِمُؤۡمِنِينَ 103 ﴿ "Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya." (Yusuf: 103). (27) ﴾ ثُمَّ قَفَّيۡنَا ﴿ "Kemudian Kami iringi," yakni, Kami sambung, ﴾ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيۡنَا بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ ﴿ "di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam." Allah سبحانه وتعالى secara khusus menyebut Nabi Isa عليه السلام, karena alur pembicaraan ini untuk orang-orang Nasrani, mereka yang mengklaim sebagai pengikut Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡإِنجِيلَۖ ﴿ "Dan Kami berikan kepadanya Injil," yang termasuk salah satu kitab Allah سبحانه وتعالى yang mulia,﴾ وَجَعَلۡنَا فِي قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأۡفَةٗ وَرَحۡمَةٗۚ ﴿ "dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang." Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقۡرَبَهُم مَّوَدَّةٗ لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ إِنَّا نَصَٰرَىٰۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنۡهُمۡ قِسِّيسِينَ وَرُهۡبَانٗا وَأَنَّهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ 82 ﴿ "Sungguh kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhan-nya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sungguh kamu dapati orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, 'Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.' Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesung-guhnya mereka tidak menyombongkan diri." (Al-Ma`idah: 82). Karena itulah orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang paling berhati lunak ketika mereka masih berada di atas syariat Nabi Isa عليه السلام, ﴾ وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا ﴿ "dan mereka mengada-adakan rahbaniy-yah." Rahbaniyyah adalah ibadah; mereka membuat-buat ibadah sendiri. Ibadah-ibadah karangan mereka itu mereka wajibkan atas diri mereka, padahal Allah سبحانه وتعالى tidak mewajibkannya atas mereka, tapi mereka sendirilah yang mewajibkannya atas diri mereka sen-diri dengan niat mendapatkan keridhaan Allah سبحانه وتعالى, namun demikian ﴾ فَمَا رَعَوۡهَا حَقَّ رِعَايَتِهَاۖ ﴿ "mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya." Maksudnya, mereka tidak menunaikannya dan tidak melaksanakan hak-haknya. Dengan demikian mereka mela-kukan dua kelalaian. Mengarang-ngarang sendiri (ajaran agama) dan tidak menunaikan tugas yang mereka sendiri yang mewajib-kannya pada diri mereka. Inilah kondisi umum mereka. Namun di antara mereka ada juga yang konsisten di atas perintah Allah سبحانه وتعالى, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَـَٔاتَيۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۡهُمۡ أَجۡرَهُمۡۖ ﴿ "Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahala-nya," yaitu mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad a di samping beriman kepada Nabi Isa عليه السلام, masing-masing diberi balasan oleh Allah سبحانه وتعالى berdasarkan ke-imanannya. ﴾ وَكَثِيرٞ مِّنۡهُمۡ فَٰسِقُونَ ﴿ "Dan banyak di antara mereka orang-orang yang fasik."

Al-Hadid 57:28

"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertak-walah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Allah memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian, dan men-jadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di Tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mem-punyai karunia yang besar." (Al-Hadid: 28-29). (28) Ada kemungkinan pembicaraan (pesan) ayat ini ditu-jukan kepada ahli kitab, yaitu orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Isa عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى memerintah mereka mengerjakan tuntutan keimanan mereka, yaitu bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan meninggalkan berbagai kemaksiatan serta beriman kepada RasulNya, Muhammad a. Jika mereka mau mengerjakan hal itu, maka Allah سبحانه وتعالى, memberi mereka ﴾ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ ﴿ "dua bagian dari rahmatNya." Maksudnya, dua bagian pahala, satu bagian atas keimanan mereka terhadap para nabi terdahulu dan satu bagian lain atas keimanan mereka kepada Nabi Muhammad a. Kemungkinan lain, ayat ini bersifat perintah umum yang mencakup ahli kitab dan lainnya dan inilah kemungkinan yang zahir. Allah سبحانه وتعالى memerintah semua manusia untuk beriman dan bertakwa yang mencakup seluruh bagian agama, baik secara lahir maupun batin, baik yang pokok maupun cabang-cabangnya. Jika mereka mau mengerjakan semua perintah agung ini, Allah سبحانه وتعالى pasti memberikan ﴾ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ ﴿ "dua bagian dari rahmatNya," tidak ada yang mengetahui ukuran serta sifatnya kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى semata. Satu bagian atas keimanan dan bagian lain atas ketakwaan. Atau satu bagian pahala atas pelaksanaan berbagai perintah dan satu bagian pahala lain karena meninggalkan berbagai larangan, atau kemungkinan bahwa penyebutan bentuk ganda dalam ayat ini menunjukkan pemberian pahala yang berulang. ﴾ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ نُورٗا تَمۡشُونَ بِهِۦ ﴿ "Dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan," maksudnya, memberi kalian ilmu dan cahaya yang kalian jadikan lentera untuk berjalan dalam gelapnya kebo-dohan dan agar penghuni langit dan bumi memintakan ampunan untuk kalian. ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah memiliki karunia yang besar." Sehingga banyaknya pahala yang diberikan oleh Pemilik karunia yang besar itu tidak perlu diherani; karuniaNya meliputi seluruh penghuni langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari karunia Allah سبحانه وتعالى barang sekejap mata sekalipun bahkan tidak lebih sedikit dari itu. (29) ﴾ لِّئَلَّا يَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَلَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ ﴿ "(Kami terang-kan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad)." Maksudnya, karunia dan kebaikan Kami yang Kami jelaskan kepada kalian ini adalah untuk orang yang beriman secara umum dan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى serta beriman kepada RasulNya, agar orang-orang ahli kitab mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mampu menguasai karunia Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. Maksudnya, mereka tidak bisa menahan Allah سبحانه وتعالى karena keinginan dan akal mereka yang rusak. Mereka berkata, ﴾ وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ ﴿ "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani'." (Al-Baqarah: 111). Mereka juga berangan-angan terhadap Allah سبحانه وتعالى secara tidak benar. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman terhadap Rasulullah a dan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan mendapatkan dua bagian rahmat Allah سبحانه وتعالى dan juga men-dapatkan cahaya serta ampunan, meski ahli kitab memandang rendah, supaya mereka mengetahui ﴾ وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "bahwa-sanya karunia itu adalah di Tangan Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendakiNya," berdasarkan kebijakan hikmahNya untuk memberikan karuniaNya. ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah mempunyai karunia yang besar," yang ukurannya tidak diketahui. Selesai tafsir Surat al-Hadid. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Hadid 57:29

"Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertak-walah kepada Allah dan berimanlah kepada RasulNya, niscaya Allah memberikan rahmatNya kepadamu dua bagian, dan men-jadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Kami terangkan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad), dan bahwasanya karunia itu adalah di Tangan Allah. Dia berikan karunia itu kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mem-punyai karunia yang besar." (Al-Hadid: 28-29). (28) Ada kemungkinan pembicaraan (pesan) ayat ini ditu-jukan kepada ahli kitab, yaitu orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa عليه السلام dan Nabi Isa عليه السلام. Allah سبحانه وتعالى memerintah mereka mengerjakan tuntutan keimanan mereka, yaitu bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan meninggalkan berbagai kemaksiatan serta beriman kepada RasulNya, Muhammad a. Jika mereka mau mengerjakan hal itu, maka Allah سبحانه وتعالى, memberi mereka ﴾ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ ﴿ "dua bagian dari rahmatNya." Maksudnya, dua bagian pahala, satu bagian atas keimanan mereka terhadap para nabi terdahulu dan satu bagian lain atas keimanan mereka kepada Nabi Muhammad a. Kemungkinan lain, ayat ini bersifat perintah umum yang mencakup ahli kitab dan lainnya dan inilah kemungkinan yang zahir. Allah سبحانه وتعالى memerintah semua manusia untuk beriman dan bertakwa yang mencakup seluruh bagian agama, baik secara lahir maupun batin, baik yang pokok maupun cabang-cabangnya. Jika mereka mau mengerjakan semua perintah agung ini, Allah سبحانه وتعالى pasti memberikan ﴾ كِفۡلَيۡنِ مِن رَّحۡمَتِهِۦ ﴿ "dua bagian dari rahmatNya," tidak ada yang mengetahui ukuran serta sifatnya kecuali hanya Allah سبحانه وتعالى semata. Satu bagian atas keimanan dan bagian lain atas ketakwaan. Atau satu bagian pahala atas pelaksanaan berbagai perintah dan satu bagian pahala lain karena meninggalkan berbagai larangan, atau kemungkinan bahwa penyebutan bentuk ganda dalam ayat ini menunjukkan pemberian pahala yang berulang. ﴾ وَيَجۡعَل لَّكُمۡ نُورٗا تَمۡشُونَ بِهِۦ ﴿ "Dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan," maksudnya, memberi kalian ilmu dan cahaya yang kalian jadikan lentera untuk berjalan dalam gelapnya kebo-dohan dan agar penghuni langit dan bumi memintakan ampunan untuk kalian. ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah memiliki karunia yang besar." Sehingga banyaknya pahala yang diberikan oleh Pemilik karunia yang besar itu tidak perlu diherani; karuniaNya meliputi seluruh penghuni langit dan bumi. Tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari karunia Allah سبحانه وتعالى barang sekejap mata sekalipun bahkan tidak lebih sedikit dari itu. (29) ﴾ لِّئَلَّا يَعۡلَمَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ أَلَّا يَقۡدِرُونَ عَلَىٰ شَيۡءٖ مِّن فَضۡلِ ٱللَّهِ ﴿ "(Kami terang-kan yang demikian itu) supaya ahli Kitab mengetahui bahwa mereka tiada mendapat sedikitpun akan karunia Allah (jika mereka tidak beriman kepada Muhammad)." Maksudnya, karunia dan kebaikan Kami yang Kami jelaskan kepada kalian ini adalah untuk orang yang beriman secara umum dan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى serta beriman kepada RasulNya, agar orang-orang ahli kitab mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak mampu menguasai karunia Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. Maksudnya, mereka tidak bisa menahan Allah سبحانه وتعالى karena keinginan dan akal mereka yang rusak. Mereka berkata, ﴾ وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ ﴿ "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, 'Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani'." (Al-Baqarah: 111). Mereka juga berangan-angan terhadap Allah سبحانه وتعالى secara tidak benar. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa orang-orang yang beriman terhadap Rasulullah a dan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan mendapatkan dua bagian rahmat Allah سبحانه وتعالى dan juga men-dapatkan cahaya serta ampunan, meski ahli kitab memandang rendah, supaya mereka mengetahui ﴾ وَأَنَّ ٱلۡفَضۡلَ بِيَدِ ٱللَّهِ يُؤۡتِيهِ مَن يَشَآءُۚ ﴿ "bahwa-sanya karunia itu adalah di Tangan Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendakiNya," berdasarkan kebijakan hikmahNya untuk memberikan karuniaNya. ﴾ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ ﴿ "Dan Allah mempunyai karunia yang besar," yang ukurannya tidak diketahui. Selesai tafsir Surat al-Hadid. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Mujadalah 58:1

"Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (hal-nya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (mengang-gap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak me-narik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu ber-campur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah batas-batas hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." (Al-Mujadilah: 1-4). Madaniyah (1) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seseorang dari kalangan Anshar ketika istrinya mengadukan perihalnya kepada Rasulullah a yang mengharamkan dirinya setelah sekian lama bersama dan memiliki banyak anak. Suaminya adalah orang yang sudah tua. Istrinya mengadu perihal kondisinya dan kondisi suaminya kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara berulang-ulang, lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua." Yakni, pembicaraan kalian di antara kalian berdua, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar" semua pembicaraan di seluruh waktu meski dengan keperluan yang diatur rapi, ﴾ بَصِيرٌ ﴿ "lagi Maha Meli-hat," yang bisa melihat langkah semut hitam di atas batu hitam pekat di dalam kegelapan malam. Ini merupakan pemberitahuan tentang sempurnanya penglihatan serta pendengaran Allah سبحانه وتعالى. Pandangan dan penglihatan Allah سبحانه وتعالى meliputi segala hal yang rumit dan besar sekali pun. Di dalam ayat ini juga mencakup isyarat bahwa Allah سبحانه وتعالى akan menghapus masalah yang diadukan serta menghilangkan musibahnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukumnya dan hukum yang lain secara umum seraya berfirman (dalam ayat selanjutnya), (2) ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka." Menzhihar istri adalah, seorang suami berkata kepada istrinya, "Engkau bagi-ku seperti punggung ibuku," atau wanita mahram lain selain ibu, atau dengan mengatakan, "Engkau haram bagiku." Kata-kata yang biasa digunakan ketika menzhihar istri adalah dengan menyebut "Punggung." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut zhihar seraya berfir-man, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya)." Maksudnya, bagaimana mereka mengucapkan kata-kata yang mereka sendiri tahu tidak ada kenyataannya yang menyamakan istri dengan ibu yang melahirkan mereka? Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membesarkan masalah ini serta mencelanya seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Maksudnya, perkataan keji dan dusta. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." Dari berbagai penentangan yang mereka lakukan kemudian disusul dengan taubat yang sungguh-sungguh. (3) ﴾ وَٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِن نِّسَآئِهِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan." Para ulama berbeda pendapat tentang makna "menarik kembali" dalam ayat ini. Ada yang menyatakan makna-nya adalah tekad untuk menggauli istri yang dizhihar. Yakni hanya sekedar bertekad harus menebus kaffarat yang disebutkan. Pendapat ini dikuatkan bahwa Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kaffarat sebelum ter-jadinya pergaulan suami istri sehingga penebusan kaffarat tersebut terjadi setelah adanya tekad dari suami untuk menggauli istri yang dizhihar. Pendapat lain menyatakan, maknanya adalah pergaulan suami istri yang sebenarnya. Pendapat ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan," dan yang mereka katakan hanyalah pergaulan suami istri. Berdasarkan masing-masing kedua pendapat di atas, ketika sang suami kembali, maka ia harus menebus kaffarat, yaitu: ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang budak," yang beriman sebagaimana yang dibatasi dalam ayat tentang kaffarat pembunuhan, baik lelaki maupun perempuan, dengan syarat tidak memiliki cacat yang mengganggu pekerjaan si budak, ﴾ قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۚ ﴿ "sebelum kedua suami istri itu bercampur." Maksudnya, suami harus menjauhi istrinya yang dizhihar dan tidak dicampuri sampai membayar kaffarat dengan memerdekakan seorang budak yang beriman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan pada kalian ﴾ تُوعَظُونَ بِهِۦۚ ﴿ "yang diajarkan kepada kamu," yakni Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hukumNya kepada kalian yang disertai dengan ancaman, karena makna nasihat adalah menyebutkan suatu hukum dengan disertai janji dan ancaman. Untuk itu, siapa saja yang ingin menzhihar istri-nya jika ingat hukumannya memerdekakan seorang budak, maka akan menahan diri agar tidak melakukannya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing orang berdasarkan amalnya. (4) ﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak)," yang akan dimerdekakan karena memang tidak punya atau tidak memiliki harta seharga seorang budak, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ ﴿ "maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa," untuk berpuasa, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin." Dengan cara memberikan makanan mereka sesuai makanan lazim secukupnya sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir atau dengan memberikan makanan kepada masing-masing orang miskin sebanyak satu mud gandum (mud adalah seukuran dua tangan orang dewasa) atau setengah sha' untuk selain gandum yang cukup untuk dimakan sebagaimana dikemukakan oleh pendapat lain. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan, ﴾ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya." Dengan berpegang teguh pada hukum ini dan hukum-hukum lain serta mengamalkannya karena berpegang teguh pada hukum Allah سبحانه وتعالى, dan menunaikan termasuk dari keimanan bahkan itulah yang dimaksudkan dari beriman. Dengan menunaikan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى, keimanan akan semakin sempurna dan bertambah. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan itulah batas-batas hukum Allah," yang mencegah kalian agar tidak terjatuh padanya. Wajib untuk tidak dilanggar dan di-laksanakan secara seenaknya. ﴾ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." Dalam ayat ini terkandung berbagai hukum-hukum: Pertama, kelembutan dan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya yang mengisahkan pengaduan wanita yang tertimpa musibah tersebut kemudian Allah سبحانه وتعالى menghilangkan beban dan musibah yang menimpanya. Lebih dari itu, Allah سبحانه وتعالى menghilang-kan beban semua orang yang tertimpa kasus serupa berdasarkan hikmahNya yang menyeluruh. Kedua, zhihar khusus untuk pengharaman istri karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Istri-istri mereka," dan untuk itu hukum ini tidak berlaku jika seseorang menzhihar budak wanitanya, peng-haraman terhadap budak wanita tidak disebut zhihar namun hanya pengharaman terhadap hal-hal yang baik seperti halnya makanan dan minuman. Wajib menebus kaffarat sumpah saja. Ketiga, zhihar yang dilakukan terhadap wanita yang belum dinikahi tidaklah sah karena wanita yang dizhihar tersebut belum termasuk istrinya pada saat dizhihar, sebagaimana mentalak wanita yang belum dinikahi juga tidak sah, baik apakah hal itu sudah dilakukan (tanpa syarat) ataupun dengan syarat. Keempat, zhihar hukumnya haram, karena Allah سبحانه وتعالى menye-butnya, ﴾ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Kelima, peringatan Allah سبحانه وتعالى atas hukum dan hikmahNya, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ ﴿ "Padahal tiadalah istri me-reka itu ibu-ibu mereka." Keenam, seorang suami dilarang memanggil istrinya dengan panggilan yang diharamkan seperti "Hai ibuku," "Hai saudariku," dan lainnya, karena panggilan-panggilan seperti itu menyerupai panggilan pada wanita mahram (haram dinikahi). Ketujuh, kaffarat zhihar wajib dibayar ketika suami menarik kembali ucapan zhiharnya, berdasarkan perbedaan kedua pendapat sebelumnya, dan bukan sekedar karena ucapan zhihar. Kedelapan, pembayaran kaffarat zhihar bisa berupa budak kecil atau dewasa, lelaki atau perempuan; karena ayat menyebut-nya secara mutlak. Kesembilan, kaffarat wajib ditunaikan baik memerdekakan budak atau dengan berpuasa sebelum suami mencampuri istri sebagaimana yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak seperti kaffarat yang berupa memberi makanan, suami boleh mencampuri istrinya pada saat pemberian makanan dilakukan. Kesepuluh, sepertinya hikmah wajibnya menunaikan kaffarat sebelum mencampuri istri supaya kaffarat tersebut ditunaikan. Karena seorang suami yang ingin mencampuri istrinya dan ia mengetahui hal itu tidak mungkin kecuali setelah menunaikan kaffarat, ia akan segera membayar kaffarat. Kesebelas, harus memberi makan enam puluh orang miskin, tidak boleh menyatukan jatah makanan eman puluh orang miskin kemudian dibayarkan pada satu orang miskin saja atau lebih dari itu yang kurang dari enam puluh, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "Memberi makan enam puluh orang miskin."

Al-Mujadalah 58:2

"Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (hal-nya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (mengang-gap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak me-narik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu ber-campur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah batas-batas hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." (Al-Mujadilah: 1-4). Madaniyah (1) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seseorang dari kalangan Anshar ketika istrinya mengadukan perihalnya kepada Rasulullah a yang mengharamkan dirinya setelah sekian lama bersama dan memiliki banyak anak. Suaminya adalah orang yang sudah tua. Istrinya mengadu perihal kondisinya dan kondisi suaminya kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara berulang-ulang, lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua." Yakni, pembicaraan kalian di antara kalian berdua, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar" semua pembicaraan di seluruh waktu meski dengan keperluan yang diatur rapi, ﴾ بَصِيرٌ ﴿ "lagi Maha Meli-hat," yang bisa melihat langkah semut hitam di atas batu hitam pekat di dalam kegelapan malam. Ini merupakan pemberitahuan tentang sempurnanya penglihatan serta pendengaran Allah سبحانه وتعالى. Pandangan dan penglihatan Allah سبحانه وتعالى meliputi segala hal yang rumit dan besar sekali pun. Di dalam ayat ini juga mencakup isyarat bahwa Allah سبحانه وتعالى akan menghapus masalah yang diadukan serta menghilangkan musibahnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukumnya dan hukum yang lain secara umum seraya berfirman (dalam ayat selanjutnya), (2) ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka." Menzhihar istri adalah, seorang suami berkata kepada istrinya, "Engkau bagi-ku seperti punggung ibuku," atau wanita mahram lain selain ibu, atau dengan mengatakan, "Engkau haram bagiku." Kata-kata yang biasa digunakan ketika menzhihar istri adalah dengan menyebut "Punggung." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut zhihar seraya berfir-man, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya)." Maksudnya, bagaimana mereka mengucapkan kata-kata yang mereka sendiri tahu tidak ada kenyataannya yang menyamakan istri dengan ibu yang melahirkan mereka? Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membesarkan masalah ini serta mencelanya seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Maksudnya, perkataan keji dan dusta. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." Dari berbagai penentangan yang mereka lakukan kemudian disusul dengan taubat yang sungguh-sungguh. (3) ﴾ وَٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِن نِّسَآئِهِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan." Para ulama berbeda pendapat tentang makna "menarik kembali" dalam ayat ini. Ada yang menyatakan makna-nya adalah tekad untuk menggauli istri yang dizhihar. Yakni hanya sekedar bertekad harus menebus kaffarat yang disebutkan. Pendapat ini dikuatkan bahwa Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kaffarat sebelum ter-jadinya pergaulan suami istri sehingga penebusan kaffarat tersebut terjadi setelah adanya tekad dari suami untuk menggauli istri yang dizhihar. Pendapat lain menyatakan, maknanya adalah pergaulan suami istri yang sebenarnya. Pendapat ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan," dan yang mereka katakan hanyalah pergaulan suami istri. Berdasarkan masing-masing kedua pendapat di atas, ketika sang suami kembali, maka ia harus menebus kaffarat, yaitu: ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang budak," yang beriman sebagaimana yang dibatasi dalam ayat tentang kaffarat pembunuhan, baik lelaki maupun perempuan, dengan syarat tidak memiliki cacat yang mengganggu pekerjaan si budak, ﴾ قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۚ ﴿ "sebelum kedua suami istri itu bercampur." Maksudnya, suami harus menjauhi istrinya yang dizhihar dan tidak dicampuri sampai membayar kaffarat dengan memerdekakan seorang budak yang beriman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan pada kalian ﴾ تُوعَظُونَ بِهِۦۚ ﴿ "yang diajarkan kepada kamu," yakni Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hukumNya kepada kalian yang disertai dengan ancaman, karena makna nasihat adalah menyebutkan suatu hukum dengan disertai janji dan ancaman. Untuk itu, siapa saja yang ingin menzhihar istri-nya jika ingat hukumannya memerdekakan seorang budak, maka akan menahan diri agar tidak melakukannya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing orang berdasarkan amalnya. (4) ﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak)," yang akan dimerdekakan karena memang tidak punya atau tidak memiliki harta seharga seorang budak, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ ﴿ "maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa," untuk berpuasa, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin." Dengan cara memberikan makanan mereka sesuai makanan lazim secukupnya sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir atau dengan memberikan makanan kepada masing-masing orang miskin sebanyak satu mud gandum (mud adalah seukuran dua tangan orang dewasa) atau setengah sha' untuk selain gandum yang cukup untuk dimakan sebagaimana dikemukakan oleh pendapat lain. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan, ﴾ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya." Dengan berpegang teguh pada hukum ini dan hukum-hukum lain serta mengamalkannya karena berpegang teguh pada hukum Allah سبحانه وتعالى, dan menunaikan termasuk dari keimanan bahkan itulah yang dimaksudkan dari beriman. Dengan menunaikan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى, keimanan akan semakin sempurna dan bertambah. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan itulah batas-batas hukum Allah," yang mencegah kalian agar tidak terjatuh padanya. Wajib untuk tidak dilanggar dan di-laksanakan secara seenaknya. ﴾ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." Dalam ayat ini terkandung berbagai hukum-hukum: Pertama, kelembutan dan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya yang mengisahkan pengaduan wanita yang tertimpa musibah tersebut kemudian Allah سبحانه وتعالى menghilangkan beban dan musibah yang menimpanya. Lebih dari itu, Allah سبحانه وتعالى menghilang-kan beban semua orang yang tertimpa kasus serupa berdasarkan hikmahNya yang menyeluruh. Kedua, zhihar khusus untuk pengharaman istri karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Istri-istri mereka," dan untuk itu hukum ini tidak berlaku jika seseorang menzhihar budak wanitanya, peng-haraman terhadap budak wanita tidak disebut zhihar namun hanya pengharaman terhadap hal-hal yang baik seperti halnya makanan dan minuman. Wajib menebus kaffarat sumpah saja. Ketiga, zhihar yang dilakukan terhadap wanita yang belum dinikahi tidaklah sah karena wanita yang dizhihar tersebut belum termasuk istrinya pada saat dizhihar, sebagaimana mentalak wanita yang belum dinikahi juga tidak sah, baik apakah hal itu sudah dilakukan (tanpa syarat) ataupun dengan syarat. Keempat, zhihar hukumnya haram, karena Allah سبحانه وتعالى menye-butnya, ﴾ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Kelima, peringatan Allah سبحانه وتعالى atas hukum dan hikmahNya, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ ﴿ "Padahal tiadalah istri me-reka itu ibu-ibu mereka." Keenam, seorang suami dilarang memanggil istrinya dengan panggilan yang diharamkan seperti "Hai ibuku," "Hai saudariku," dan lainnya, karena panggilan-panggilan seperti itu menyerupai panggilan pada wanita mahram (haram dinikahi). Ketujuh, kaffarat zhihar wajib dibayar ketika suami menarik kembali ucapan zhiharnya, berdasarkan perbedaan kedua pendapat sebelumnya, dan bukan sekedar karena ucapan zhihar. Kedelapan, pembayaran kaffarat zhihar bisa berupa budak kecil atau dewasa, lelaki atau perempuan; karena ayat menyebut-nya secara mutlak. Kesembilan, kaffarat wajib ditunaikan baik memerdekakan budak atau dengan berpuasa sebelum suami mencampuri istri sebagaimana yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak seperti kaffarat yang berupa memberi makanan, suami boleh mencampuri istrinya pada saat pemberian makanan dilakukan. Kesepuluh, sepertinya hikmah wajibnya menunaikan kaffarat sebelum mencampuri istri supaya kaffarat tersebut ditunaikan. Karena seorang suami yang ingin mencampuri istrinya dan ia mengetahui hal itu tidak mungkin kecuali setelah menunaikan kaffarat, ia akan segera membayar kaffarat. Kesebelas, harus memberi makan enam puluh orang miskin, tidak boleh menyatukan jatah makanan eman puluh orang miskin kemudian dibayarkan pada satu orang miskin saja atau lebih dari itu yang kurang dari enam puluh, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "Memberi makan enam puluh orang miskin."

Al-Mujadalah 58:3

"Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (hal-nya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (mengang-gap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak me-narik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu ber-campur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah batas-batas hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." (Al-Mujadilah: 1-4). Madaniyah (1) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seseorang dari kalangan Anshar ketika istrinya mengadukan perihalnya kepada Rasulullah a yang mengharamkan dirinya setelah sekian lama bersama dan memiliki banyak anak. Suaminya adalah orang yang sudah tua. Istrinya mengadu perihal kondisinya dan kondisi suaminya kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara berulang-ulang, lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua." Yakni, pembicaraan kalian di antara kalian berdua, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar" semua pembicaraan di seluruh waktu meski dengan keperluan yang diatur rapi, ﴾ بَصِيرٌ ﴿ "lagi Maha Meli-hat," yang bisa melihat langkah semut hitam di atas batu hitam pekat di dalam kegelapan malam. Ini merupakan pemberitahuan tentang sempurnanya penglihatan serta pendengaran Allah سبحانه وتعالى. Pandangan dan penglihatan Allah سبحانه وتعالى meliputi segala hal yang rumit dan besar sekali pun. Di dalam ayat ini juga mencakup isyarat bahwa Allah سبحانه وتعالى akan menghapus masalah yang diadukan serta menghilangkan musibahnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukumnya dan hukum yang lain secara umum seraya berfirman (dalam ayat selanjutnya), (2) ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka." Menzhihar istri adalah, seorang suami berkata kepada istrinya, "Engkau bagi-ku seperti punggung ibuku," atau wanita mahram lain selain ibu, atau dengan mengatakan, "Engkau haram bagiku." Kata-kata yang biasa digunakan ketika menzhihar istri adalah dengan menyebut "Punggung." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut zhihar seraya berfir-man, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya)." Maksudnya, bagaimana mereka mengucapkan kata-kata yang mereka sendiri tahu tidak ada kenyataannya yang menyamakan istri dengan ibu yang melahirkan mereka? Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membesarkan masalah ini serta mencelanya seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Maksudnya, perkataan keji dan dusta. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." Dari berbagai penentangan yang mereka lakukan kemudian disusul dengan taubat yang sungguh-sungguh. (3) ﴾ وَٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِن نِّسَآئِهِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan." Para ulama berbeda pendapat tentang makna "menarik kembali" dalam ayat ini. Ada yang menyatakan makna-nya adalah tekad untuk menggauli istri yang dizhihar. Yakni hanya sekedar bertekad harus menebus kaffarat yang disebutkan. Pendapat ini dikuatkan bahwa Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kaffarat sebelum ter-jadinya pergaulan suami istri sehingga penebusan kaffarat tersebut terjadi setelah adanya tekad dari suami untuk menggauli istri yang dizhihar. Pendapat lain menyatakan, maknanya adalah pergaulan suami istri yang sebenarnya. Pendapat ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan," dan yang mereka katakan hanyalah pergaulan suami istri. Berdasarkan masing-masing kedua pendapat di atas, ketika sang suami kembali, maka ia harus menebus kaffarat, yaitu: ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang budak," yang beriman sebagaimana yang dibatasi dalam ayat tentang kaffarat pembunuhan, baik lelaki maupun perempuan, dengan syarat tidak memiliki cacat yang mengganggu pekerjaan si budak, ﴾ قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۚ ﴿ "sebelum kedua suami istri itu bercampur." Maksudnya, suami harus menjauhi istrinya yang dizhihar dan tidak dicampuri sampai membayar kaffarat dengan memerdekakan seorang budak yang beriman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan pada kalian ﴾ تُوعَظُونَ بِهِۦۚ ﴿ "yang diajarkan kepada kamu," yakni Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hukumNya kepada kalian yang disertai dengan ancaman, karena makna nasihat adalah menyebutkan suatu hukum dengan disertai janji dan ancaman. Untuk itu, siapa saja yang ingin menzhihar istri-nya jika ingat hukumannya memerdekakan seorang budak, maka akan menahan diri agar tidak melakukannya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing orang berdasarkan amalnya. (4) ﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak)," yang akan dimerdekakan karena memang tidak punya atau tidak memiliki harta seharga seorang budak, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ ﴿ "maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa," untuk berpuasa, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin." Dengan cara memberikan makanan mereka sesuai makanan lazim secukupnya sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir atau dengan memberikan makanan kepada masing-masing orang miskin sebanyak satu mud gandum (mud adalah seukuran dua tangan orang dewasa) atau setengah sha' untuk selain gandum yang cukup untuk dimakan sebagaimana dikemukakan oleh pendapat lain. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan, ﴾ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya." Dengan berpegang teguh pada hukum ini dan hukum-hukum lain serta mengamalkannya karena berpegang teguh pada hukum Allah سبحانه وتعالى, dan menunaikan termasuk dari keimanan bahkan itulah yang dimaksudkan dari beriman. Dengan menunaikan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى, keimanan akan semakin sempurna dan bertambah. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan itulah batas-batas hukum Allah," yang mencegah kalian agar tidak terjatuh padanya. Wajib untuk tidak dilanggar dan di-laksanakan secara seenaknya. ﴾ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." Dalam ayat ini terkandung berbagai hukum-hukum: Pertama, kelembutan dan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya yang mengisahkan pengaduan wanita yang tertimpa musibah tersebut kemudian Allah سبحانه وتعالى menghilangkan beban dan musibah yang menimpanya. Lebih dari itu, Allah سبحانه وتعالى menghilang-kan beban semua orang yang tertimpa kasus serupa berdasarkan hikmahNya yang menyeluruh. Kedua, zhihar khusus untuk pengharaman istri karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Istri-istri mereka," dan untuk itu hukum ini tidak berlaku jika seseorang menzhihar budak wanitanya, peng-haraman terhadap budak wanita tidak disebut zhihar namun hanya pengharaman terhadap hal-hal yang baik seperti halnya makanan dan minuman. Wajib menebus kaffarat sumpah saja. Ketiga, zhihar yang dilakukan terhadap wanita yang belum dinikahi tidaklah sah karena wanita yang dizhihar tersebut belum termasuk istrinya pada saat dizhihar, sebagaimana mentalak wanita yang belum dinikahi juga tidak sah, baik apakah hal itu sudah dilakukan (tanpa syarat) ataupun dengan syarat. Keempat, zhihar hukumnya haram, karena Allah سبحانه وتعالى menye-butnya, ﴾ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Kelima, peringatan Allah سبحانه وتعالى atas hukum dan hikmahNya, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ ﴿ "Padahal tiadalah istri me-reka itu ibu-ibu mereka." Keenam, seorang suami dilarang memanggil istrinya dengan panggilan yang diharamkan seperti "Hai ibuku," "Hai saudariku," dan lainnya, karena panggilan-panggilan seperti itu menyerupai panggilan pada wanita mahram (haram dinikahi). Ketujuh, kaffarat zhihar wajib dibayar ketika suami menarik kembali ucapan zhiharnya, berdasarkan perbedaan kedua pendapat sebelumnya, dan bukan sekedar karena ucapan zhihar. Kedelapan, pembayaran kaffarat zhihar bisa berupa budak kecil atau dewasa, lelaki atau perempuan; karena ayat menyebut-nya secara mutlak. Kesembilan, kaffarat wajib ditunaikan baik memerdekakan budak atau dengan berpuasa sebelum suami mencampuri istri sebagaimana yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak seperti kaffarat yang berupa memberi makanan, suami boleh mencampuri istrinya pada saat pemberian makanan dilakukan. Kesepuluh, sepertinya hikmah wajibnya menunaikan kaffarat sebelum mencampuri istri supaya kaffarat tersebut ditunaikan. Karena seorang suami yang ingin mencampuri istrinya dan ia mengetahui hal itu tidak mungkin kecuali setelah menunaikan kaffarat, ia akan segera membayar kaffarat. Kesebelas, harus memberi makan enam puluh orang miskin, tidak boleh menyatukan jatah makanan eman puluh orang miskin kemudian dibayarkan pada satu orang miskin saja atau lebih dari itu yang kurang dari enam puluh, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "Memberi makan enam puluh orang miskin."

Al-Mujadalah 58:4

"Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (hal-nya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (mengang-gap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak me-narik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami istri itu ber-campur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya. Dan itulah batas-batas hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." (Al-Mujadilah: 1-4). Madaniyah (1) Ayat-ayat mulia ini turun berkenaan dengan seseorang dari kalangan Anshar ketika istrinya mengadukan perihalnya kepada Rasulullah a yang mengharamkan dirinya setelah sekian lama bersama dan memiliki banyak anak. Suaminya adalah orang yang sudah tua. Istrinya mengadu perihal kondisinya dan kondisi suaminya kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara berulang-ulang, lalu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّتِي تُجَٰدِلُكَ فِي زَوۡجِهَا وَتَشۡتَكِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسۡمَعُ تَحَاوُرَكُمَآۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mendengar perkataan yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua." Yakni, pembicaraan kalian di antara kalian berdua, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعُۢ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar" semua pembicaraan di seluruh waktu meski dengan keperluan yang diatur rapi, ﴾ بَصِيرٌ ﴿ "lagi Maha Meli-hat," yang bisa melihat langkah semut hitam di atas batu hitam pekat di dalam kegelapan malam. Ini merupakan pemberitahuan tentang sempurnanya penglihatan serta pendengaran Allah سبحانه وتعالى. Pandangan dan penglihatan Allah سبحانه وتعالى meliputi segala hal yang rumit dan besar sekali pun. Di dalam ayat ini juga mencakup isyarat bahwa Allah سبحانه وتعالى akan menghapus masalah yang diadukan serta menghilangkan musibahnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hukumnya dan hukum yang lain secara umum seraya berfirman (dalam ayat selanjutnya), (2) ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ إِنۡ أُمَّهَٰتُهُمۡ إِلَّا ٱلَّٰٓـِٔي وَلَدۡنَهُمۡۚ ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya, padahal) tiadalah istri mereka itu ibu-ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka." Menzhihar istri adalah, seorang suami berkata kepada istrinya, "Engkau bagi-ku seperti punggung ibuku," atau wanita mahram lain selain ibu, atau dengan mengatakan, "Engkau haram bagiku." Kata-kata yang biasa digunakan ketika menzhihar istri adalah dengan menyebut "Punggung." Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut zhihar seraya berfir-man, ﴾ ٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِنكُم مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Orang-orang yang menzhihar istrinya di antara kamu, (menganggap istrinya bagai ibunya)." Maksudnya, bagaimana mereka mengucapkan kata-kata yang mereka sendiri tahu tidak ada kenyataannya yang menyamakan istri dengan ibu yang melahirkan mereka? Karena itulah Allah سبحانه وتعالى membesarkan masalah ini serta mencelanya seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّهُمۡ لَيَقُولُونَ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Maksudnya, perkataan keji dan dusta. ﴾ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَعَفُوٌّ غَفُورٞ ﴿ "Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun." Dari berbagai penentangan yang mereka lakukan kemudian disusul dengan taubat yang sungguh-sungguh. (3) ﴾ وَٱلَّذِينَ يُظَٰهِرُونَ مِن نِّسَآئِهِمۡ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Dan orang-orang yang menzhihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan." Para ulama berbeda pendapat tentang makna "menarik kembali" dalam ayat ini. Ada yang menyatakan makna-nya adalah tekad untuk menggauli istri yang dizhihar. Yakni hanya sekedar bertekad harus menebus kaffarat yang disebutkan. Pendapat ini dikuatkan bahwa Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kaffarat sebelum ter-jadinya pergaulan suami istri sehingga penebusan kaffarat tersebut terjadi setelah adanya tekad dari suami untuk menggauli istri yang dizhihar. Pendapat lain menyatakan, maknanya adalah pergaulan suami istri yang sebenarnya. Pendapat ini dikuatkan oleh Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُواْ ﴿ "Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan," dan yang mereka katakan hanyalah pergaulan suami istri. Berdasarkan masing-masing kedua pendapat di atas, ketika sang suami kembali, maka ia harus menebus kaffarat, yaitu: ﴾ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ ﴿ "memerdekakan seorang budak," yang beriman sebagaimana yang dibatasi dalam ayat tentang kaffarat pembunuhan, baik lelaki maupun perempuan, dengan syarat tidak memiliki cacat yang mengganggu pekerjaan si budak, ﴾ قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۚ ﴿ "sebelum kedua suami istri itu bercampur." Maksudnya, suami harus menjauhi istrinya yang dizhihar dan tidak dicampuri sampai membayar kaffarat dengan memerdekakan seorang budak yang beriman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan pada kalian ﴾ تُوعَظُونَ بِهِۦۚ ﴿ "yang diajarkan kepada kamu," yakni Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hukumNya kepada kalian yang disertai dengan ancaman, karena makna nasihat adalah menyebutkan suatu hukum dengan disertai janji dan ancaman. Untuk itu, siapa saja yang ingin menzhihar istri-nya jika ingat hukumannya memerdekakan seorang budak, maka akan menahan diri agar tidak melakukannya. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى akan membalas masing-masing orang berdasarkan amalnya. (4) ﴾ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ ﴿ "Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak)," yang akan dimerdekakan karena memang tidak punya atau tidak memiliki harta seharga seorang budak, ﴾ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ مِن قَبۡلِ أَن يَتَمَآسَّاۖ فَمَن لَّمۡ يَسۡتَطِعۡ ﴿ "maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa," untuk berpuasa, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin." Dengan cara memberikan makanan mereka sesuai makanan lazim secukupnya sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ahli tafsir atau dengan memberikan makanan kepada masing-masing orang miskin sebanyak satu mud gandum (mud adalah seukuran dua tangan orang dewasa) atau setengah sha' untuk selain gandum yang cukup untuk dimakan sebagaimana dikemukakan oleh pendapat lain. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Demikianlah," hukum yang Kami jelaskan, ﴾ لِتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ ﴿ "supaya kamu beriman kepada Allah dan RasulNya." Dengan berpegang teguh pada hukum ini dan hukum-hukum lain serta mengamalkannya karena berpegang teguh pada hukum Allah سبحانه وتعالى, dan menunaikan termasuk dari keimanan bahkan itulah yang dimaksudkan dari beriman. Dengan menunaikan hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى, keimanan akan semakin sempurna dan bertambah. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Dan itulah batas-batas hukum Allah," yang mencegah kalian agar tidak terjatuh padanya. Wajib untuk tidak dilanggar dan di-laksanakan secara seenaknya. ﴾ وَلِلۡكَٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿ "Dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih." Dalam ayat ini terkandung berbagai hukum-hukum: Pertama, kelembutan dan perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap para hambaNya yang mengisahkan pengaduan wanita yang tertimpa musibah tersebut kemudian Allah سبحانه وتعالى menghilangkan beban dan musibah yang menimpanya. Lebih dari itu, Allah سبحانه وتعالى menghilang-kan beban semua orang yang tertimpa kasus serupa berdasarkan hikmahNya yang menyeluruh. Kedua, zhihar khusus untuk pengharaman istri karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِّن نِّسَآئِهِم ﴿ "Istri-istri mereka," dan untuk itu hukum ini tidak berlaku jika seseorang menzhihar budak wanitanya, peng-haraman terhadap budak wanita tidak disebut zhihar namun hanya pengharaman terhadap hal-hal yang baik seperti halnya makanan dan minuman. Wajib menebus kaffarat sumpah saja. Ketiga, zhihar yang dilakukan terhadap wanita yang belum dinikahi tidaklah sah karena wanita yang dizhihar tersebut belum termasuk istrinya pada saat dizhihar, sebagaimana mentalak wanita yang belum dinikahi juga tidak sah, baik apakah hal itu sudah dilakukan (tanpa syarat) ataupun dengan syarat. Keempat, zhihar hukumnya haram, karena Allah سبحانه وتعالى menye-butnya, ﴾ مُنكَرٗا مِّنَ ٱلۡقَوۡلِ وَزُورٗاۚ ﴿ "Suatu perkataan yang mungkar dan dusta." Kelima, peringatan Allah سبحانه وتعالى atas hukum dan hikmahNya, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَّا هُنَّ أُمَّهَٰتِهِمۡۖ ﴿ "Padahal tiadalah istri me-reka itu ibu-ibu mereka." Keenam, seorang suami dilarang memanggil istrinya dengan panggilan yang diharamkan seperti "Hai ibuku," "Hai saudariku," dan lainnya, karena panggilan-panggilan seperti itu menyerupai panggilan pada wanita mahram (haram dinikahi). Ketujuh, kaffarat zhihar wajib dibayar ketika suami menarik kembali ucapan zhiharnya, berdasarkan perbedaan kedua pendapat sebelumnya, dan bukan sekedar karena ucapan zhihar. Kedelapan, pembayaran kaffarat zhihar bisa berupa budak kecil atau dewasa, lelaki atau perempuan; karena ayat menyebut-nya secara mutlak. Kesembilan, kaffarat wajib ditunaikan baik memerdekakan budak atau dengan berpuasa sebelum suami mencampuri istri sebagaimana yang ditentukan oleh Allah سبحانه وتعالى, tidak seperti kaffarat yang berupa memberi makanan, suami boleh mencampuri istrinya pada saat pemberian makanan dilakukan. Kesepuluh, sepertinya hikmah wajibnya menunaikan kaffarat sebelum mencampuri istri supaya kaffarat tersebut ditunaikan. Karena seorang suami yang ingin mencampuri istrinya dan ia mengetahui hal itu tidak mungkin kecuali setelah menunaikan kaffarat, ia akan segera membayar kaffarat. Kesebelas, harus memberi makan enam puluh orang miskin, tidak boleh menyatukan jatah makanan eman puluh orang miskin kemudian dibayarkan pada satu orang miskin saja atau lebih dari itu yang kurang dari enam puluh, karena Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِطۡعَامُ سِتِّينَ مِسۡكِينٗاۚ ﴿ "Memberi makan enam puluh orang miskin."

Al-Mujadalah 58:5

"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya Kami telah menurunkan bukti-bukti yang nyata. Dan bagi orang-orang yang kafir ada siksa yang menghinakan." (Al-Mujadilah: 5). (5) Menentang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah dengan me-nyelisihi dan bermaksiat terhadap keduanya, khususnya dalam masalah-masalah yang amat buruk seperti menentang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan kekufuran serta memusuhi para kekasih Allah سبحانه وتعالى. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحَآدُّونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ كُبِتُواْ كَمَا كُبِتَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ ﴿ "Sesung-guhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka telah mendapat kehinaan." Maksudnya, mereka dilecehkan dan dihinakan sebagai-mana yang pernah dilakukan terhadap orang-orang sebelum mereka sebagai balasan serupa, mereka tidak memiliki hujjah atas Allah سبحانه وتعالى, karena Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan hujjah yang nyata kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى telah menurunkan ayat-ayat yang jelas serta bukti-bukti nyata sebagaimana menjelaskan kebenaran dan tujuan-tujuan. Siapa pun yang mengikuti dan mengerjakannya, maka dialah orang yang mendapatkan petunjuk lagi beruntung, sedangkan ﴾ وَلِلۡكَٰفِرِينَ ﴿ "bagi orang-orang yang kafir," terhadap ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى ﴾ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "ada siksa yang menghinakan." Maksudnya, menghina dan merendahkan mereka. Karena mereka bersikap sombong terhadap ayat-ayat Allah سبحانه وتعالى, maka Allah سبحانه وتعالى pun menghi-nakan dan merendahkan mereka.

Al-Mujadalah 58:6

"Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melain-kan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemu-dian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala sesuatu." (Al-Mujadilah: 6-7). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعٗا ﴿ "Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah," yakni seluruh makhluk, mereka akan bangkit dari kubur dengan cepat, kemudian mereka pun diberi balasan atas amal yang mereka kerjakan. Allah سبحانه وتعالى akan memberi-tahukan semua amal mereka, baik dan buruknya, karena Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui hal itu dan telah mencatatnya di Lauhil Mahfuzh, dan Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Padahal manusia yang mengerjakan amalan-amalan itu telah melupakannya dan tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mencatatnya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." Segala sesuatu yang nampak, yang menjadi rahasia, dan hal-hal yang samar. (7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memberitahukan luasnya penge-tahuan dan penglihatanNya atas segala yang ada di langit dan di bumi, besar dan kecilnya. Dan sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى,﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada." Yang dimaksud dengan Allah bersama mereka dalam ayat ini adalah kebersamaan ilmu dan pengetahuan terhadap hal-hal yang diperbincangkan secara diam-diam oleh manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "Sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Mujadalah 58:7

"Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah, lalu diberitakanNya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya, dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melain-kan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemu-dian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada Hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Me-ngetahui segala sesuatu." (Al-Mujadilah: 6-7). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعٗا ﴿ "Pada hari ketika mereka semuanya dibangkitkan Allah," yakni seluruh makhluk, mereka akan bangkit dari kubur dengan cepat, kemudian mereka pun diberi balasan atas amal yang mereka kerjakan. Allah سبحانه وتعالى akan memberi-tahukan semua amal mereka, baik dan buruknya, karena Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui hal itu dan telah mencatatnya di Lauhil Mahfuzh, dan Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para malaikat yang mulia untuk mencatatnya. Padahal manusia yang mengerjakan amalan-amalan itu telah melupakannya dan tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mencatatnya. ﴾ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ ﴿ "Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." Segala sesuatu yang nampak, yang menjadi rahasia, dan hal-hal yang samar. (7) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memberitahukan luasnya penge-tahuan dan penglihatanNya atas segala yang ada di langit dan di bumi, besar dan kecilnya. Dan sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى,﴾ مَا يَكُونُ مِن نَّجۡوَىٰ ثَلَٰثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمۡ وَلَا خَمۡسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمۡ وَلَآ أَدۡنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكۡثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمۡ أَيۡنَ مَا كَانُواْۖ ﴿ "tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tidak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada." Yang dimaksud dengan Allah bersama mereka dalam ayat ini adalah kebersamaan ilmu dan pengetahuan terhadap hal-hal yang diperbincangkan secara diam-diam oleh manusia, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٌ ﴿ "Sesung-guhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى berfirman,

Al-Mujadalah 58:8

"Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia kemudian mereka (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucap-kan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai-mana yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, 'Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?' Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya kamu akan dikembalikan." (Al-Mujadilah: 8-9). (8-9) ﴾ ٱلنَّجۡوَىٰ ﴿ "Pembicaraan rahasia" adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih yang membahas kebaikan atau kebu-rukan. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan orang-orang yang beriman agar membicarakan kebaikan ketika berbicara secara rahasia. Kebaikan adalah kata menyeluruh untuk seluruh kebaikan, ketaatan, menu-naikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى, hak-hak sesama manusia, takwa, dan lainnya. Dan yang dimaksud dalam ayat ini dengan penggunaan kata menyeluruh adalah agar menjauhi seluruh keharaman dan dosa. Orang Mukmin pasti menunaikan perintah ilahi ini. Tidaklah Anda melihatnya berbisik-bisik atau berbicara kecuali membahas sesuatu yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhkan mereka dari murkaNya. Adapun orang-orang durjana dan pendosa saling meman-dang rendah perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى serta berbisik-bisik dengan dosa dan permusuhan serta mendurhakai Rasulullah a, seperti halnya orang-orang munafik. Itulah kebiasaan mereka dan kondisi mereka bersama Rasulullah a. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَإِذَا جَآءُوكَ حَيَّوۡكَ بِمَا لَمۡ يُحَيِّكَ بِهِ ٱللَّهُ ﴿ "Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu." Maksudnya, mereka tidak sopan ketika memberi ucapan salam kepadamu, ﴾ وَيَقُولُونَ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan mereka me-ngatakan pada diri mereka sendiri," maksudnya, mereka merahasiakan pembicaraan yang dibeberkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui hal yang ghaib dan nyata, yaitu pembicaraan mereka, ﴾ لَوۡلَا يُعَذِّبُنَا ٱللَّهُ بِمَا نَقُولُۚ ﴿ "Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu." Maksudnya, mereka meremehkan hal itu dengan berdalih tidak disegerakannya azab dan hukuman untuk mereka dengan alasan pembicaraan mereka itu tidak terlarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan bahwa Dia memberi tangguh bukan melalaikan, ﴾ حَسۡبُهُمۡ جَهَنَّمُ يَصۡلَوۡنَهَاۖ فَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." Maksudnya, cukuplah Neraka Jahanam bagi mereka yang mencakup berbagai macam siksaan dan kesengsaraan untuk mereka; siksaan-siksaan itu meliputi dan menyakitkan mereka, dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Mereka yang disinggung tersebut adalah orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dan mengungkapkan kata-kata tersebut kepada Rasulullah a yang menurut mereka meng-inginkan kebaikan padahal mereka berdusta. Atau yang dimaksud dalam ayat ini adalah ahli kitab, yaitu orang-orang yang ketika memberi ucapan salam kepada Rasulullah a menyatakan, "As-Sammu 'alaika ya Muhammad," maksud mereka adalah "Matilah kau Muhammad!"[112]

Al-Mujadalah 58:9

"Apakah tiada kamu perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia kemudian mereka (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucap-kan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai-mana yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, 'Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?' Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwalah kepada Allah yang kepadaNya kamu akan dikembalikan." (Al-Mujadilah: 8-9). (8-9) ﴾ ٱلنَّجۡوَىٰ ﴿ "Pembicaraan rahasia" adalah pembicaraan antara dua orang atau lebih yang membahas kebaikan atau kebu-rukan. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan orang-orang yang beriman agar membicarakan kebaikan ketika berbicara secara rahasia. Kebaikan adalah kata menyeluruh untuk seluruh kebaikan, ketaatan, menu-naikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى, hak-hak sesama manusia, takwa, dan lainnya. Dan yang dimaksud dalam ayat ini dengan penggunaan kata menyeluruh adalah agar menjauhi seluruh keharaman dan dosa. Orang Mukmin pasti menunaikan perintah ilahi ini. Tidaklah Anda melihatnya berbisik-bisik atau berbicara kecuali membahas sesuatu yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan menjauhkan mereka dari murkaNya. Adapun orang-orang durjana dan pendosa saling meman-dang rendah perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى serta berbisik-bisik dengan dosa dan permusuhan serta mendurhakai Rasulullah a, seperti halnya orang-orang munafik. Itulah kebiasaan mereka dan kondisi mereka bersama Rasulullah a. Allah سبحانه وتعالى berfirman,﴾ وَإِذَا جَآءُوكَ حَيَّوۡكَ بِمَا لَمۡ يُحَيِّكَ بِهِ ٱللَّهُ ﴿ "Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagaimana yang ditentukan Allah untukmu." Maksudnya, mereka tidak sopan ketika memberi ucapan salam kepadamu, ﴾ وَيَقُولُونَ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ ﴿ "dan mereka me-ngatakan pada diri mereka sendiri," maksudnya, mereka merahasiakan pembicaraan yang dibeberkan oleh Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui hal yang ghaib dan nyata, yaitu pembicaraan mereka, ﴾ لَوۡلَا يُعَذِّبُنَا ٱللَّهُ بِمَا نَقُولُۚ ﴿ "Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu." Maksudnya, mereka meremehkan hal itu dengan berdalih tidak disegerakannya azab dan hukuman untuk mereka dengan alasan pembicaraan mereka itu tidak terlarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya menjelaskan bahwa Dia memberi tangguh bukan melalaikan, ﴾ حَسۡبُهُمۡ جَهَنَّمُ يَصۡلَوۡنَهَاۖ فَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." Maksudnya, cukuplah Neraka Jahanam bagi mereka yang mencakup berbagai macam siksaan dan kesengsaraan untuk mereka; siksaan-siksaan itu meliputi dan menyakitkan mereka, dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. Mereka yang disinggung tersebut adalah orang-orang munafik yang menampakkan keimanan dan mengungkapkan kata-kata tersebut kepada Rasulullah a yang menurut mereka meng-inginkan kebaikan padahal mereka berdusta. Atau yang dimaksud dalam ayat ini adalah ahli kitab, yaitu orang-orang yang ketika memberi ucapan salam kepada Rasulullah a menyatakan, "As-Sammu 'alaika ya Muhammad," maksud mereka adalah "Matilah kau Muhammad!"[112]

Al-Mujadalah 58:10

"Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari setan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pem-bicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah, dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal." (Al-Mujadilah: 10). (10) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا ٱلنَّجۡوَىٰ ﴿ "Sesungguhnya pembica-raan rahasia itu," maksudnya, pembicaraan rahasia yang dilakukan musuh-musuh kaum Mukminin terhadap orang-orang Mukmin untuk menipu dan mencari-cari kejelekan itu, berasal dari setan yang tipu dayanya lemah dan makarnya tidak berguna, ﴾ لِيَحۡزُنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita." Inilah tujuan dan maksud dari makar mereka. ﴾ وَلَيۡسَ بِضَآرِّهِمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah," karena Allah سبحانه وتعالى menjanjikan penjagaan dan kemenangan untuk orang-orang Mukmin atas musuh-musuh mereka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا يَحِيقُ ٱلۡمَكۡرُ ٱلسَّيِّئُ إِلَّا بِأَهۡلِهِۦۚ ﴿ "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri." (Fathir: 43). Para musuh Allah سبحانه وتعالى, RasulNya, dan orang-orang Mukmin meski memiliki makar dan rencana buruk, dampak bahayanya akan kembali pada mereka sendiri dan tidak ada sesuatu pun yang membahayakan kaum Mukminin kecuali yang telah ditakdirkan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal." Maksudnya, hendaklah orang-orang yang beriman bergantung pada Allah سبحانه وتعالى serta percaya akan janji-Nya, sebab siapa saja yang bertawakal kepada Allah سبحانه وتعالى akan diberi kecukupan; diberi kecukupan dalam agama dan dunianya.

Al-Mujadalah 58:11

"Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada-mu, 'Berlapang-lapanglah dalam majelis,' maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu,' maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadilah: 11). (11) Ini adalah ajaran dari Allah سبحانه وتعالى untuk para hambaNya yang beriman ketika mereka berada dalam majelis perkumpulan, yang sebagian dari mereka ada orang yang baru datang meminta agar tempat duduk diperluas. Termasuk bersopan santun dalam hal ini adalah dengan memberikan kelonggaran tempat baginya agar maksudnya bisa terpenuhi, bukan untuk mengganggu orang yang memberi kelonggaran tempat tersebut. Maksud saudaranya pun terpenuhi tanpa harus terganggu. Balasan itu berdasarkan jenis amal. Siapa pun yang memberi kelonggaran, maka akan diberi kelonggaran oleh Allah سبحانه وتعالى, siapa pun yang memberi keleluasaan pada saudaranya, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya keleluasaan. ﴾ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ ﴿ "Dan apabila dikatakan, 'Berdirilah kamu'," artinya, berdirilah dari tempat duduk kalian, karena adanya suatu keperluan mendesak, ﴾ فَٱنشُزُواْ ﴿ "maka berdirilah," maksudnya, segeralah berdiri agar kemaslahatan tercapai, karena melaksanakan hal seperti ini termasuk bagian dari ilmu dan iman. Allah سبحانه وتعالى akan mengangkat derajat orang yang berilmu dan beriman berdasarkan ilmu dan keimanan yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Masing-masing diberi balasan berdasarkan amal-nya. Perbuatan baik akan dibalas baik dan perbuatan buruk akan dibalas buruk. Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang keutamaan ilmu. Dan keindahan serta buah dari ilmu adalah dengan beradab dengan adab-adab ilmu serta menunaikan tuntutannya.

Al-Mujadalah 58:12

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada mem-perbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu, maka di-rikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan RasulNya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadilah: 12-13). (12) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kaum Mukminin untuk berse-dekah ketika mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah a sebagai pengajaran dan pembelajaran bagi mereka serta sebagai pengagungan terhadap Rasulullah a. Karena penghormatan ini lebih baik dan lebih suci bagi orang-orang yang beriman. Maksud-nya, dengan penghormatan dan pengagungan tersebut, kebaikan dan pahala kalian akan semakin bertambah, sehingga kalian akan memperoleh kesucian dari berbagai kotoran yang di antaranya adalah tidak adanya penghormatan dan sopan santun terhadap Rasulullah a karena terlalu banyak membicarakan masalah rahasia dengan Rasulullah a yang tidak ada manfaatnya. Ketika berbicara rahasia dengan Rasulullah a diperintahkan untuk memberikan sedekah terlebih dahulu, hal ini menjadi ukuran bagi orang yang benar-benar menginginkan ilmu dan kebaikan sehingga tidak peduli seberapa besar sedekah yang dikeluarkan. Dan bagi siapa saja yang tidak menginginkan kebaikan namun hanya bermaksud memperbanyak bicara saja, maka ia bisa menghentikan kebiasaan yang memberatkan Rasulullah a. Ketentuan ini berlaku bagi orang yang bisa memberikan sedekah, sedangkan bagi mereka yang tidak bisa memberikan sedekah, Allah سبحانه وتعالى tidak mempersempit baginya tapi Allah سبحانه وتعالى memberi kelonggaran dan membolehkan mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a tanpa harus memberi sedekah yang tidak mampu diberikan. (13) Selanjutnya, ketika Allah سبحانه وتعالى melihat adanya rasa berat hati kaum Mukminin dan kesulitan bagi mereka untuk memberi sedekah pada setiap kali mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mempermudah hal itu bagi mereka dengan tidak memberi hukuman bagi yang tidak memberi sedekah ketika mengadakan pembicaraan rahasia di hadapan Rasulullah a, namun menghormati dan mengagungkan Rasulullah a tetap seperti sedia kala, tidak dihapus hukumnya, karena hukum ini adalah sebagai pemberlakuan pada pemimpin lain setelah beliau a, bukan hanya untuk Rasulullah a saja. Yang dimaksudkan ada-lah bersopan santun di hadapan Rasulullah a serta menghormati beliau. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menunaikan bebe-rapa perintah besar yang dimaksudkan seraya berfirman, ﴾ فَإِذۡ لَمۡ تَفۡعَلُواْ ﴿ "Jika kamu tiada memperbuatnya," maksudnya, tidak ringan bagi kalian untuk memberikan sedekah, hal ini tidak cukup, karena perintah memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a tidak disyaratkan harus ringan beban-nya bagi setiap hamba, karena itulah Allah سبحانه وتعالى membatasi perintah tersebut dengan FirmanNya, ﴾ وَتَابَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan Allah telah memberi taubat kepadamu," maksudnya, memaafkan kalian dari perintah tersebut, ﴾ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "maka dirikanlah shalat," dengan rukun, syarat, serta seluruh batasan dan kewajibannya, ﴾ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan tunaikan-lah zakat," yang diwajibkan dalam harta kalian untuk diberikan pada yang berhak. Kedua ibadah tersebut merupakan pokok ibadah jasmaniah dan ibadah harta. Siapa pun yang menunaikan keduanya secara sah menurut syariat, maka telah menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman setelahnya, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya," ini adalah perintah paling menyeluruh yang mencakup perintah untuk menaati Allah dan RasulNya dengan menunaikan semua perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya serta mem-benarkan berita yang disampaikan Rasulullah a dan berhenti pada batasan-batasan syariat. Patokan dalam menunaikan perintah-perintah syariat adalah keikhlasan dan keihsanan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh perbuatan kalian. Perbuatan yang bagaimana pun juga pasti akan dibalas sesuai dengan apa yang terjadi, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya sesuai dengan apa yang ada di dalam hati manusia.

Al-Mujadalah 58:13

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul, hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada mem-perbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu, maka di-rikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan RasulNya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Mujadilah: 12-13). (12) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan kaum Mukminin untuk berse-dekah ketika mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasulullah a sebagai pengajaran dan pembelajaran bagi mereka serta sebagai pengagungan terhadap Rasulullah a. Karena penghormatan ini lebih baik dan lebih suci bagi orang-orang yang beriman. Maksud-nya, dengan penghormatan dan pengagungan tersebut, kebaikan dan pahala kalian akan semakin bertambah, sehingga kalian akan memperoleh kesucian dari berbagai kotoran yang di antaranya adalah tidak adanya penghormatan dan sopan santun terhadap Rasulullah a karena terlalu banyak membicarakan masalah rahasia dengan Rasulullah a yang tidak ada manfaatnya. Ketika berbicara rahasia dengan Rasulullah a diperintahkan untuk memberikan sedekah terlebih dahulu, hal ini menjadi ukuran bagi orang yang benar-benar menginginkan ilmu dan kebaikan sehingga tidak peduli seberapa besar sedekah yang dikeluarkan. Dan bagi siapa saja yang tidak menginginkan kebaikan namun hanya bermaksud memperbanyak bicara saja, maka ia bisa menghentikan kebiasaan yang memberatkan Rasulullah a. Ketentuan ini berlaku bagi orang yang bisa memberikan sedekah, sedangkan bagi mereka yang tidak bisa memberikan sedekah, Allah سبحانه وتعالى tidak mempersempit baginya tapi Allah سبحانه وتعالى memberi kelonggaran dan membolehkan mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a tanpa harus memberi sedekah yang tidak mampu diberikan. (13) Selanjutnya, ketika Allah سبحانه وتعالى melihat adanya rasa berat hati kaum Mukminin dan kesulitan bagi mereka untuk memberi sedekah pada setiap kali mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mempermudah hal itu bagi mereka dengan tidak memberi hukuman bagi yang tidak memberi sedekah ketika mengadakan pembicaraan rahasia di hadapan Rasulullah a, namun menghormati dan mengagungkan Rasulullah a tetap seperti sedia kala, tidak dihapus hukumnya, karena hukum ini adalah sebagai pemberlakuan pada pemimpin lain setelah beliau a, bukan hanya untuk Rasulullah a saja. Yang dimaksudkan ada-lah bersopan santun di hadapan Rasulullah a serta menghormati beliau. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menunaikan bebe-rapa perintah besar yang dimaksudkan seraya berfirman, ﴾ فَإِذۡ لَمۡ تَفۡعَلُواْ ﴿ "Jika kamu tiada memperbuatnya," maksudnya, tidak ringan bagi kalian untuk memberikan sedekah, hal ini tidak cukup, karena perintah memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan rahasia dengan Rasulullah a tidak disyaratkan harus ringan beban-nya bagi setiap hamba, karena itulah Allah سبحانه وتعالى membatasi perintah tersebut dengan FirmanNya, ﴾ وَتَابَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمۡ ﴿ "Dan Allah telah memberi taubat kepadamu," maksudnya, memaafkan kalian dari perintah tersebut, ﴾ فَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "maka dirikanlah shalat," dengan rukun, syarat, serta seluruh batasan dan kewajibannya, ﴾ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ ﴿ "dan tunaikan-lah zakat," yang diwajibkan dalam harta kalian untuk diberikan pada yang berhak. Kedua ibadah tersebut merupakan pokok ibadah jasmaniah dan ibadah harta. Siapa pun yang menunaikan keduanya secara sah menurut syariat, maka telah menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia, karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman setelahnya, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۚ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya," ini adalah perintah paling menyeluruh yang mencakup perintah untuk menaati Allah dan RasulNya dengan menunaikan semua perintah keduanya dan menjauhi larangan keduanya serta mem-benarkan berita yang disampaikan Rasulullah a dan berhenti pada batasan-batasan syariat. Patokan dalam menunaikan perintah-perintah syariat adalah keikhlasan dan keihsanan. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh perbuatan kalian. Perbuatan yang bagaimana pun juga pasti akan dibalas sesuai dengan apa yang terjadi, dan Allah سبحانه وتعالى akan membalasnya sesuai dengan apa yang ada di dalam hati manusia.

Al-Mujadalah 58:14

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:15

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:16

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:17

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:18

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:19

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan. Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibang-kitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepadaNya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepada-mu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." (Al-Mujadilah: 14-19). (14-15) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan tentang kejinya kondisi orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang menjadi-kan orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani serta lainnya yang dimurkai Allah سبحانه وتعالى sebagai pemimpin, padahal mereka itu mendapatkan laknat Allah سبحانه وتعالى secara sempurna; mereka bukan orang yang beriman dan bukan pula orang kafir, ﴾ مُّذَبۡذَبِينَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ لَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِ وَلَآ إِلَىٰ هَٰٓؤُلَآءِۚ ﴿ "Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir); tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir)." (An-Nisa`: 143). Mereka bukan orang Mukmin lahir batin, karena secara lahir mereka bersama orang-orang Mukmin, itulah sifat mereka yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى, padahal sebenarnya mereka bersumpah atas kebalikannya, yaitu mendustakan. Mereka bersumpah sebagai orang Mukmin padahal sebenarnya mereka bukan orang Mukmin. Karena itu, balasan orang-orang pengkhianat, keji dan pendusta itu adalah siksa keras yang telah disediakan Allah سبحانه وتعالى untuk mereka yang ukuran dan sifatnya tidak diketahui (oleh manusia). ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan," karena mereka melakukan perbuatan yang mengundang murka Allah سبحانه وتعالى dan mewajibkan mereka mendapatkan siksa dan laknat. (16) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka menjadikan sumpah-sumpah me-reka sebagai perisai," yakni, sebagai pelindung dan penghalang yang mereka jadikan penghalang dari cercaan Allah سبحانه وتعالى, Rasulullah a, dan kaum Mukminin. Dan karena hal itu, mereka justru mencegah diri mereka sendiri dan orang lain dari jalan Allah سبحانه وتعالى, yaitu jalan yang ditempuh oleh orang yang menggiring mereka menuju surga yang penuh kenikmatan, ﴾ فَلَهُمۡ عَذَابٞ مُّهِينٞ ﴿ "karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan," karena mereka bersikap sombong untuk beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan tunduk pada tanda-tanda kebesaran-Nya, maka Allah سبحانه وتعالى menghinakan mereka dengan azab abadi yang tidak diredakan barang sebentar sekalipun dan tidaklah mereka diberi tangguh. (17) ﴾ لَّن تُغۡنِيَ عَنۡهُمۡ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُم مِّنَ ٱللَّهِ شَيۡـًٔاۚ ﴿ "Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah." Maksudnya, tidak bisa menangkal sedikit pun siksaan terhadap mereka dan tidak bisa memberikan mereka pahala sedikit pun. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِۖ ﴿ "Mereka itulah penghuni neraka," yang kekal di dalamnya dan tidak akan keluar. ﴾ هُمۡ فِيهَا خَٰلِدُونَ ﴿ "Mereka kekal di da-lamnya." (18) Siapa pun yang hidup di atas sesuatu, ia akan mening-gal dunia di atas sesuatu itu. Karena ketika di dunia orang-orang munafik menipu kaum Mukminin dengan bersumpah bahwa me-reka adalah orang-orang Mukmin, maka pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى membangkitkan mereka semua, dan orang-orang munafik pun bersumpah seperti yang mereka lakukan (di dunia) kepada orang-orang Mukmin. Mereka mengira dengan sumpah itu ﴾ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ ﴿ "mereka akan memperoleh suatu (manfaat)." Karena kekufuran, kemu-nafikan, dan keyakinan-keyakinan batil mereka itu menancap di benak mereka sedikit demi sedikit sehingga mereka pun tertipu dan mengira bahwa mereka akan memperoleh suatu manfaat dan pahala. Mereka berdusta dalam hal itu dan sebagaimana diketahui bahwa dusta itu tidak berlaku bagi Allah سبحانه وتعالى Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (19) Inilah yang berlaku pada orang-orang munafik, mereka dikuasai oleh setan. Setan menghiasi perbuatan-perbuatan mereka dan membuat mereka lalai dari berdzikir (mengingat dan menye-but) Allah. Setan adalah musuh nyata yang hanya menginginkan keburukan bagi mereka, dan setan menyeru golongannya agar me-reka menjadi penghuni neraka. ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَٰنِ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi." Mereka rugi dari segi agama, dunia, diri, dan keluarga.

Al-Mujadalah 58:20

"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasulKu pasti menang.' Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Mujadilah: 20-21). (20-21) Ini adalah janji dan sekaligus ancaman. Ancaman bagi siapa saja yang menentang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan kekufuran dan berbagai kemaksiatan. Ia akan mendapatkan keren-dahan dan kehinaan, dan tidak ada kesudahan baik baginya, serta tidak memperoleh kemenangan. Janji bagi siapa pun yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta mengikuti ajaran yang dibawa oleh para rasul. Ia menjadi bagian dari tentara Allah سبحانه وتعالى yang men-dapatkan keberuntungan. Ia akan mendapatkan kemenangan dan pertolongan di dunia dan akhirat. Ini adalah janji yang tidak akan dipungkiri dan dirubah. Karena janji ini berasal dari Allah Yang Mahabenar, Kuat, Perkasa, yang kehendakNya tidak bisa dikalah-kan oleh apa pun.

Al-Mujadalah 58:21

"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. Allah telah menetapkan, 'Aku dan rasul-rasulKu pasti menang.' Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Mujadilah: 20-21). (20-21) Ini adalah janji dan sekaligus ancaman. Ancaman bagi siapa saja yang menentang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan kekufuran dan berbagai kemaksiatan. Ia akan mendapatkan keren-dahan dan kehinaan, dan tidak ada kesudahan baik baginya, serta tidak memperoleh kemenangan. Janji bagi siapa pun yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya serta mengikuti ajaran yang dibawa oleh para rasul. Ia menjadi bagian dari tentara Allah سبحانه وتعالى yang men-dapatkan keberuntungan. Ia akan mendapatkan kemenangan dan pertolongan di dunia dan akhirat. Ini adalah janji yang tidak akan dipungkiri dan dirubah. Karena janji ini berasal dari Allah Yang Mahabenar, Kuat, Perkasa, yang kehendakNya tidak bisa dikalah-kan oleh apa pun.

Al-Mujadalah 58:22

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan perto-longan yang datang dariNya. Dan dimasukkanNya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung." (Al-Mujadilah: 22). (22) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ ﴿ "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya," maksudnya, tidaklah menyatu antara orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan orang yang menentang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Tidaklah seorang hamba beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir dengan sebenarnya melainkan pasti melaksanakan tuntutan dan keharusan iman yaitu mencintai dan loyal terhadap orang yang beriman dan membenci orang yang tidak beriman dan yang memusuhinya meski terhadap orang yang dekat sekalipun. Inilah iman yang sebenarnya yang bermanfaat dan yang dimaksudkan. Orang yang memiliki sifat tersebut adalah ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ ﴿ "orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka." Artinya, keimanan telah ditetapkan, dikokohkan, dan ditanamkan dalam diri mereka secara kuat, yang tidak bisa ter-goncang dan terpengaruh oleh berbagai syubhat dan keraguan. Mereka adalah orang-orang yang dikuatkan oleh Allah سبحانه وتعالى,﴾ بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ ﴿ "dengan pertolongan yang datang dariNya," yakni dari wahyu, pertolongan, dan bantuan ilahi, serta kebaikan rabbani dan mereka itulah orang-orang yang memiliki kehidupan baik di akhirat. Me-reka mendapatkan surga penuh kenikmatan di tempat keabadian. Di dalamnya terdapat semua hal yang diinginkan jiwa dan dinik-mati serta dipilih oleh mata. Mereka mendapatkan kenikmatan terbesar dan terbaik, yaitu Allah سبحانه وتعالى menghalalkan keridhaanNya bagi mereka. Allah سبحانه وتعالى tidak akan murka pada mereka selamanya. Mereka ridha terhadap Rabb mereka atas berbagai macam kemu-liaan, pemberian, dan derajat tinggi yang diberikan pada mereka, karena mereka tidak melihat adanya batas di atas pemberian Allah سبحانه وتعالى itu dan tidak pula melihat adanya akhiran di bawah pemberian itu. Adapun orang yang mengira bahwa dirinya beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir, namun di samping beriman ia juga men-cintai musuh-musuh Allah سبحانه وتعالى dan menyukai orang-orang yang membuang keimanan di balik punggungnya, maka keimanannya hanyalah semu, yang tidak ada hakikatnya. Karena setiap hal harus memiliki bukti penguat. Anggapan saja tidak berguna dan orangnya tidak bisa dibenarkan. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata.[113]

Al-Hasyr 59:1

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:2

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:3

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:4

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:5

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:6

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:7

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:8

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:9

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:10

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.