Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Hasyr 59:11 – Al-Mumtahanah 60:13

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Hasyr 59:11
  2. Al-Hasyr 59:12
  3. Al-Hasyr 59:13
  4. Al-Hasyr 59:14
  5. Al-Hasyr 59:15
  6. Al-Hasyr 59:16
  7. Al-Hasyr 59:17
  8. Al-Hasyr 59:18
  9. Al-Hasyr 59:19
  10. Al-Hasyr 59:20
  11. Al-Hasyr 59:21
  12. Al-Hasyr 59:22
  13. Al-Hasyr 59:23
  14. Al-Hasyr 59:24
  15. Al-Mumtahanah 60:1
  16. Al-Mumtahanah 60:2
  17. Al-Mumtahanah 60:3
  18. Al-Mumtahanah 60:4
  19. Al-Mumtahanah 60:5
  20. Al-Mumtahanah 60:6
  21. Al-Mumtahanah 60:7
  22. Al-Mumtahanah 60:8
  23. Al-Mumtahanah 60:9
  24. Al-Mumtahanah 60:10
  25. Al-Mumtahanah 60:11
  26. Al-Mumtahanah 60:12
  27. Al-Mumtahanah 60:13

Al-Hasyr 59:11

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:12

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:13

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:14

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:15

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:16

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:17

"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah men-datangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang beriman. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Dan jikalau tidak-lah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka, benar-benar Allah akan mengazab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat azab neraka. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan RasulNya. Barang-siapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka, maka untuk menda-patkan itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya, me-reka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada me-reka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlu-kan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, 'Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang.' Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang yang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab, 'Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh ke-pada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu dipe-rangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sungguh jika mereka diperangi, niscaya me-reka tiada akan menolongnya, sungguh jika mereka menolongnya, niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan. Sesungguhnya kamu dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah. Yang demikian itu ka-rena mereka adalah kaum yang tiada mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Per-musuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecah belah. Yang de-mikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti. (Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika mereka berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu,' maka tatkala manusia itu telah kafir, ia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, ka-rena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.' Maka kesudahan keduanya, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim." (Al-Hasyr: 1-17). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Surat ini dinamakan juga Surat Bani Nadhir. Mereka adalah sekelompok besar dari Yahudi yang bermukim di pinggiran kota Madinah pada saat Nabi a diutus. Ketika Nabi a diutus dan ber-hijrah ke Madinah, mereka kafir terhadap beliau seperti kufurnya sebagian besar kalangan Yahudi. Tujuh bulan seusai perang Badar, Rasulullah a mendatangi dan berbicara dengan mereka supaya mereka mau membantu menanggung denda pembunuhan orang-orang Kilabi yang dibunuh oleh Amr bin Umaiyah adh-Dhamri, mereka berkata, "Kami akan melakukannya wahai Abu Qasim! Silahkan duduk di sini, biar kami bisa memenuhi keperluanmu." Kemudian mereka menepi satu sama lain (saling berbisik-bisik) dan setan pun membisikkan kesengsaraan yang telah ditakdirkan atas mereka. Mereka berencana membunuh Rasulullah a. Mereka berkata, "Siapa yang mau mengambil alat penggiling gandum ini dan dibawa naik ke atas lalu ditimpakan di atas kepala Muhammad hingga pecah?" Amr bin Jahhasy, orang yang paling celaka di an-tara mereka, berkata, "Aku." Sallan bin Misykam berkata padanya, "Jangan kau lakukan, demi Allah, niat kalian ini akan diberitahu-kan padanya dan hal ini bisa membatalkan perjanjian antara kita dengannya." Wahyu langsung datang kepada Rasulullah a dari Rabbnya memberitahukan niat jahat yang akan dilakukan pada beliau, ke-mudian Rasulullah a langsung pergi menuju Madinah dan ber-temu dengan para sahabat. Para sahabat berkata, "Anda pergi tapi kami tidak mengetahui kepergian Anda." Rasulullah a kemudian memberitahukan niat buruk kaum Yahudi yang akan dilakukan pada beliau. Rasulullah a kemudian mengirim para sahabat untuk mengusir kaum Yahudi dari Madinah seraya bersabda, "Jangan biarkan mereka menempati Madinah bersamaku, mereka telah kuberi tempo selama sepuluh bulan, siapa pun yang aku temui setelah (pengusiran) ini, akan aku tebas lehernya." Para sahabat pun melakukan persiapan penyerangan selama berhari-hari. Si munafik Abdullah bin Ubai bin Salul mengirim utusan untuk menemui orang-orang Yahudi seraya menyampaikan, "Jangan tinggalkan Madinah, karena aku memiliki pasukan sejumlah dua ribu orang yang akan membela kalian dan rela mati demi kalian. Bani Qurai-dhah dan sekutu kalian dari kalangan Ghathafan akan menolong kalian." Pemimpin mereka, Huyay bin Akhtab amat mengingin-kan pesan yang disampaikan padanya, selanjutnya mendatangi Rasulullah a seraya berkata, "Sesungguhnya kami tidak akan keluar dari tempat kami, silahkan kamu berbuat apa saja semau kamu." Rasulullah a pun bertakbir yang kemudian diikuti oleh para sahabat. Mereka pun pergi mendatangi kaum Yahudi, Ali bin Abi Thalib yang membawa bendera. Mereka berdiri di dekat ben-teng mereka dengan melempari tombak dan batu. Bani Quraidhah pun meninggalkan kaum Yahudi dan Abdullah bin Ubai serta sekutunya dari kalangan Ghathafan juga berkhianat. Rasulullah a lalu mengepung mereka dan menebang serta membakar pohon-pohon kurma mereka. Kaum Yahudi kemudian mengirim utusan menyampaikan pesan, "Kami akan keluar meninggalkan Madinah." Maka beliau memutuskan agar mereka keluar darinya dengan hanya membawa diri mereka, anak-anak mereka, dan apa yang mampu dibawa oleh unta-unta mereka, kecuali senjata. Dan Rasulullah a menahan harta dan senjata mereka yang tersisa. Harta fai` dari Bani Nadhir murni untuk Rasulullah a, para petugas yang beliau tetapkan, dan kepentingan-kepentingan kaum Muslimin. Rasulullah a tidak membagikan harta rampasan Bani Nadhir, karena Allah سبحانه وتعالى telah memberikan harta rampasan perang Bani Nadhir kepada Rasulullah a dan kaum Muslimin tanpa menyerang Bani Nadhir dengan kuda maupun tunggangan lain. Mereka diusir ke Khaibar dan di kalangan mereka terdapat Huyay bin Akhtab pemimpin mereka. Beliau kemudian menguasai tanah dan kawasan mereka. Rasulullah a menahan persenjataan mereka. Jumlah senjata yang didapatkan sejumlah lima puluh baju besi, lima puluh topi besi dan tiga ratus empat puluh pedang. Inilah ringkasan kisahnya sebagaimana yang disebutkan oleh ahli sejarah.[114] (1) Allah سبحانه وتعالى memulai surat ini dengan mengabarkan bahwa semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya dan memahasucikanNya dari segala sesuatu yang tidak layak bagi keluhuranNya. Semua yang ada di langit dan di bumi menyembah dan tunduk pada keagunganNya, karena Dia Mahaperkasa yang memaksa segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang bisa meng-halangiNya. Semua makhluk yang sulit tunduk tidak ada yang bisa durhaka padaNya. Mahabijaksana dalam ciptaan serta urusanNya. Tidak menciptakan sesuatu pun dengan sia-sia. Tidak mensyariat-kan sesuatu pun yang tidak ada maslahatnya dan tidak melakukan apa pun kecuali berdasarkan hikmahNya. (2) Dan di antaranya adalah pertolongan Allah سبحانه وتعالى bagi Ra-sulNya a terhadap orang-orang kafir dari Ahli Kitab Bani Nadhir ketika mereka ingkar janji terhadap Rasulullah a, maka Allah سبحانه وتعالى mengusir mereka dari tempat tinggal dan tanah air yang mereka cintai. Dan pengusiran ini adalah awal pengusiran dan eksodus yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan melalui tangan RasulNya, Muhammad a, sehingga mereka pun pergi ke Khaibar. Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa akan ada pengusiran lain bagi mereka selain pengusiran tersebut, dan sungguh telah terjadi ketika Nabi a mengusir mereka dari Khaibar, kemudian Umar رضي الله عنه juga mengusir yang tersisa dari mereka darinya. ﴾ مَا ظَنَنتُمۡ ﴿ "Kamu tiada menyangka" wahai kaum Muslimin, ﴾ أَن يَخۡرُجُواْۖ ﴿ "bahwa mereka akan keluar" dari kampung-kampung mereka, karena (adanya) benteng-benteng, pertahanan, dan kekuatan (yang mengitari mereka), ﴾ وَظَنُّوٓاْ أَنَّهُم مَّانِعَتُهُمۡ حُصُونُهُم مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan me-reka dari (siksaan) Allah," mereka merasa kagum sehingga menipu daya mereka, dan mereka beranggapan bahwa mereka tidak akan terjangkau serta tidak ada seorang pun yang dapat merobohkan pertahanan mereka. Namun takdir Allah سبحانه وتعالى ada di balik semua itu, benteng-ben-teng itu tidak berguna, dan kekuatan serta pertahanan mereka pun tidak bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَأَتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِنۡ حَيۡثُ لَمۡ يَحۡتَسِبُواْۖ ﴿ "Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka," maksudnya, dari perkara dan pintu yang tidak pernah sama sekali terbetik dalam benak mereka, di mana Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلرُّعۡبَۚ ﴿ "men-campakkan ketakutan ke dalam hati mereka," yaitu ketakutan yang sangat, yang merupakan tentara Allah paling besar yang tidak dapat dikalahkan oleh banyaknya jumlah pasukan, perlengkapan perang, kekuatan maupun keperkasaan. Perkara yang mereka sangkakan, dan yang mereka yakini bahwasanya serangan akan menimpa mereka, jika memang dapat masuk, adalah melalui ben-teng-benteng yang mereka bertahan dengannya dan itulah yang mulanya membuat mereka tenang. Namun barangsiapa yang percaya kepada selain Allah, niscaya dia akan ditelantarkan, dan barangsiapa yang bersandar kepada selain Allah, maka bencanalah yang akan dia dapatkan. Datanglah kepada mereka perkara dari langit yang turun merasuki hati mereka yang merupakan tempat keteguhan dan kesabaran, atau sebaliknya tempat ketakutan dan kelemahan. Maka Allah سبحانه وتعالى menghilangkan kekuatan dan keperkasaannya, serta menaruhkan kelemahan dan ketakutan yang tidak ada kemampuan sedikitpun bagi mereka untuk menolaknya yang akan menjadi penolong bagi mereka. Oleh karena itu Dia سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يُخۡرِبُونَ بُيُوتَهُم بِأَيۡدِيهِمۡ وَأَيۡدِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman." Yang demikian itu karena mereka telah bersepakat dengan Nabi a bahwa mereka di-bolehkan membawa barang-barang yang dapat dibawa oleh unta mereka, maka mereka mencabut bagian-bagian dari bangunan-bangunan rumah yang mereka anggap bagus, sehingga mereka menguasakan orang-orang yang beriman untuk merobohkan ru-mah-rumah mereka dan menghancurkan benteng-benteng mereka disebabkan kelaliman mereka sendiri. (Jadi) mereka sendirilah yang berbuat kesalahan atas diri mereka dan menjadi faktor terbesar untuk menghancurkan mereka. ﴾ فَٱعۡتَبِرُواْ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ﴿ "Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pela-jaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan," yakni, pandangan yang cerdas dan akal yang sempurna, karena sesungguhnya dalam hal ini terdapat pelajaran yang dengannya dapat diketahui per-buatan Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang menentang kebenaran lagi mengikuti hawa nafsu, yaitu orang-orang yang keperkasaan, kekuatan, benteng-benteng mereka, pertahanan maupun perlin-dungan kepada mereka, tidak dapat memberikan manfaat, tatkala datang perkara Allah سبحانه وتعالى, sampailah kepada mereka siksaan yang disebabkan oleh dosa-dosa mereka sendiri. Dan yang dijadikan sebagai sandaran adalah keumuman makna, bukan kekhususan sebab, sesungguhnya ayat ini menunjukkan adanya perintah un-tuk mengambil pelajaran, yaitu pelajaran bagi orang yang memiliki pandangan dengan pandangannya, mengqiyaskan sesuatu dengan sesuatu yang menyerupainya dan memikirkan apa yang terkan-dung dalam hukum-hukum berupa makna-makna dan hikmah yang merupakan tempat akal dan pikiran. Dengan demikian akal dapat sempurna, pandangan bercahaya, iman bertambah, dan tercapailah pemahaman yang hakiki. (3) Kemudian Allah تعالى mengabarkan kepada kita bahwa-sanya orang-orang Yahudi tidak mendapatkan semua hukuman yang menjadi hak mereka, dan bahwasanya Allah سبحانه وتعالى telah meri-ngankannya atas mereka. Kalaulah bukan karena Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan pengusiran yang mereka alami dan merupakan keten-tuan Allah سبحانه وتعالى yang tidak mungkin dirubah, niscaya mereka akan mendapatkan azab dan siksaan dunia yang lain. Akan tetapi, mes-kipun mereka luput dari azab pedih dunia, sesungguhnya mereka akan mendapatkan siksaan api neraka yang tidak ada yang menge-tahui kedahsyatannya melainkan hanya Allah سبحانه وتعالى. Tidaklah terbetik dalam benak mereka bahwa siksaan mereka telah selesai dan tidak ada sisa azab sedikitpun, namun apa yang telah Allah siapkan bagi mereka berupa azab di akhirat adalah lebih besar dan lebih mengerikan. (4) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," adalah karena mereka ﴾ بِأَنَّهُمۡ شَآقُّواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥۖ ﴿ "menentang Allah dan RasulNya," mereka memusuhi, memerangi dan berbuat kemaksiatan kepada keduanya. Siksaan ini adalah merupakan sunnah dan kepastian (yang Allah tetapkan) bagi siapa pun yang menentangNya. ﴾ وَمَن يُشَآقِّ ٱللَّهَ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Barangsiapa menentang Allah, maka sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya." (5) Dan ketika orang-orang Yahudi Bani Nadhir mencela Rasulullah a dan kaum Muslimin karena menebang pohon kurma serta pepohonan yang lain, dan mereka menganggap bahwa hal itu adalah merupakan tindakan pengrusakan sehingga mereka pun mencela kaum Muslimin, maka Allah تعالى mengabarkan bahwa menebang pohon kurma atau membiarkannya (tumbuh), semua itu adalah dengan izin dan perintah dari Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَلِيُخۡزِيَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik," di mana mereka telah menguasakan kalian untuk menebang dan membakar pohon kurma mereka, agar hal itu menjadi siksaan dan kehinaan bagi mereka di dunia serta kerendahan yang dengannya diketahui betapa sempurnanya kelemahan mereka sehingga tidak mampu melindungi pohon kurma mereka yang merupakan materi kekuatan mereka. Kata اَللِّيْنَةُ adalah kata yang mencakup semua jenis pohon kurma menurut kemungkinan (makna bahasa Arab) yang paling benar dan paling tepat. Inilah kondisi Bani Nadhir, maka (saksikanlah) bagaimana Allah سبحانه وتعالى menghukum mereka di dunia. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tentang siapakah yang harta dan kekayaannya berpindah ke tangan Rasulullah. Allah berfirman, ﴾ وَمَآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡهُمۡ ﴿ "Dan apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) mereka," maksudnya dari penduduk kampung ini, yaitu Bani Nadhir, ﴾ فَـ﴿ "maka," sesungguhnya kalian wahai kaum Muslimin ﴾ م آ أَوۡجَفۡتُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ خَيۡلٖ وَلَا رِكَابٖ ﴿ "tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta pun," maksudnya, kalian tidak mendatangkan ataupun mengumpulkan itu semua, artinya, kalian tidak lelah untuk men-dapatkannya, tidak mengerahkan jiwa raga kalian dan tidak juga kendaraan-kendaraan kalian, akan tetapi Allah سبحانه وتعالى memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka, sehingga harta benda tersebut mendatangi kalian dengan sangat mudahnya. Oleh karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُۥ عَلَىٰ مَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ﴿ "Tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada RasulNya terhadap siapa yang dike-hendakiNya. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." Merupakan kesempurnaan Kuasa Allah سبحانه وتعالى, bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang dapat menahannya dan tidak ada satu kekuatan pun yang berharga selain dariNya. (7) Sedangkan pengertian اَلْفَيْءُ (harta fai`) dalam istilah para ulama fikih, adalah harta orang-orang kafir yang diambil secara hak tanpa adanya peperangan, seperti halnya dengan harta-harta tersebut yang mereka tinggalkan karena takut kepada orang-orang Islam. Dinamakan Fai` karena harta tersebut kembali dari orang-orang kafir yang tidak berhak memilikinya, kepada orang-orang Islam yang lebih berhak memilikinya. Dan hukum harta fai` yang bersifat umum adalah sebagai-mana disebutkan dalam FirmanNya, ﴾ مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ ﴿ "Apa saja harta rampasan (fai`) yang diberikan Allah kepada RasulNya yang berasal dari penduduk kota-kota," secara umum, baik yang ada di masa Rasulullah a maupun setelahnya bagi pemimpin yang ber-kuasa dari kalangan umatnya sepeninggalnya,﴾ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil." Ayat ini serupa dengan ayat lain yang terdapat dalam Surat al-Anfal. Yaitu Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh seba-gai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan Ibnu sabil." (Al-Anfal: 41). Harta rampasan fai` ini dibagi untuk lima bagian; untuk Allah سبحانه وتعالى dan Rasulullah a yang dialokasikan untuk keperluan kaum Muslimin secara umum, satu bagian lainnya untuk kerabat me-reka yaitu Bani Hasyim dan Bani Muththalib di mana saja mereka berada, bagian pihak lelaki sama seperti bagian pihak perempuan. Adanya Bani Muththalib masuk dalam salah satu dari lima bagian ini bersama Bani Hasyim tanpa memasukkan Bani Abdi Manaf lainnya adalah karena mereka, Bani Muththalib bersama-sama de-ngan Bani Hasyim termasuk satu golongan ketika kaum Quraisy sepakat untuk memblokade dan memusuhi mereka, dan mereka bersatu padu menolong Rasulullah a, tidak seperti Bani Manaf lainnya. Karena itu Rasulullah a bersabda tentang Bani Abdul Muththalib,[115] إِنَّهُمْ لَمْ يُفَارِقُوْنِيْ فِيْ جَاهِلِيَّةٍ وَلَا إِسْلَامٍ. "Sesungguhnya mereka tidak meninggalkanku pada saat jahiliyah maupun di masa Islam."[116] Satu bagian lainnya diberikan untuk anak-anak yatim yang miskin. Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan oleh ayahnya pada saat belum mencapai usia baligh. Satu bagian lainnya untuk orang-orang miskin. Satu bagian sisanya untuk ibnu sabil. Ibnu Sabil adalah orang-orang asing yang kehabisan bekal ketika berada di daerah orang lain. Allah سبحانه وتعالى menetapkan ketentuan tersebut dan hanya mem-batasi harta rampasan fai` untuk golongan-golongan yang telah ditentukan itu adalah agar ﴾ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ ﴿ "supaya harta itu jangan hanya beredar," yakni beredar dan menjadi kekhususan ﴾ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ ﴿ "di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." Sebab andai Allah سبحانه وتعالى tidak menetapkan ketentuan di atas, tentu hanya orang-orang kaya saja yang akan memutarkan uang dan orang-orang lemah tidak akan mendapatkan sedikit pun, yang mana hal itu akan menimbul-kan kerusakan yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Sebagaimana dalam mengikuti perintah dan syariat Allah سبحانه وتعالى yang tidak termasuk dalam pembatasan di atas juga termasuk maslahat. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan dengan kaidah menyeluruh dan pokok yang bersifat umum. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ ﴿ "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." Ini mencakup pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, baik yang lahir mau-pun yang batin. Syariat yang dibawa oleh Rasulullah a harus dilaksanakan dan diikuti. Tidak boleh mengedepankan perkataan orang lain dari sabda beliau. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertakwa, yang dengannya hati, ruh, dunia, dan akhirat akan tegak. Dengan takwa akan diperoleh kebahagiaan abadi dan keberuntungan yang besar. Dan menyia-nyiakan takwa akan mengundang kesengsaraan dan siksaan abadi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras siksaNya" bagi siapa saja yang tidak bertakwa dan lebih mengedepankan hawa nafsu. (8-9) Allah سبحانه وتعالى kemudian menjelaskan hikmah dan sebab yang mengharuskan Allah سبحانه وتعالى memberikan harta rampasan perang untuk golongan-golongan yang ditetapkan tersebut, karena me-reka adalah orang-orang yang berhak mendapatkan pertolongan, berhak mendapatkan bagian tersebut, dan harus disegerakan untuk diberikan pada mereka. Mereka berada di antara dua hijrah. Pertama, mereka telah meninggalkan semua yang dicintai seperti rumah, negeri, orang-orang tercinta, kekasih, dan harta demi Allah dan demi menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah a. Mereka adalah orang-orang yang benar, yang berbuat sebagaimana tuntutan keimanan. Mereka membuktikan keimanan dengan amal baik serta ibadah-ibadah berat. Lain halnya orang yang mengaku beriman tapi tidak dibuktikan dengan berjihad dan berhijrah serta ibadah-ibadah lainnya. Kedua, mereka berada di kalangan kaum Anshar, Aus dan Khazraj, mereka adalah kaum yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya secara taat dan suka rela. Mereka memberikan tempat berlindung untuk Rasulullah a yang tidak mereka berikan pada kaum bangsawan maupun rakyat. Mereka menempati negeri hijrah dan iman hingga menjadi tempat orang-orang Mukmin dan kaum Muhajirin berlindung serta menjadi kediaman kaum Mus-limin dalam penjagaannya pada saat seluruh negeri adalah negeri harbi (perang), syirik, dan buruk. Para penolong Agama senantiasa berlindung ke kaum Anshar, hingga Islam menyebar dan kuat serta bertambah dan berkembang sedikit demi sedikit hingga mereka mampu membuka hati manusia dengan ilmu, iman, dan al-Qur`an, serta mampu menaklukkan berbagai negeri dengan senjata. Di antara sebagian besar sifat orang-orang yang disinggung ini a d a l a h ﴾ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ ﴿ "mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka," karena kecintaan mereka kepada Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, mereka mencintai orang-orang yang mencintaiNya dan menolong AgamaNya, ﴾ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ ﴿ "dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang di-berikan kepada mereka (orang Muhajirin)," maksudnya, mereka tidak menaruh sikap hasad terhadap kaum Muhajirin atas karunia yang diberikan Allah سبحانه وتعالى serta berbagai keutamaan dan sifat baik yang berhak mereka miliki. Ini menunjukkan bersihnya hati mereka dari sifat dengki, iri, dan hasad. Dan juga menunjukkan bahwa kaum Muhajirin lebih utama dari kaum Anshar, karena Allah سبحانه وتعالى terlebih dahulu menye-but kaum Muhajirin sebelum kaun Anshar. Allah سبحانه وتعالى juga menga-barkan bahwa kaum Anshar tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa pun yang diberikan Allah سبحانه وتعالى pada kaum Muhajirin. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karunia yang tidak diberikan pada kaum Anshar dan juga pada yang lainnya, karena mereka menyatukan antara menolong Agama Allah سبحانه وتعالى dan hijrah. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ ﴿ "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Seka-lipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." Maksudnya, di antara sifat-sifat kaum Anshar yang tidak bisa disaingi oleh yang lain dan menjadi karakteristik utama mereka adalah lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri. Sifat ini me-rupakan puncak berbagai jenis kedermaan. Yaitu mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, baik dalam hal harta maupun yang lainnya, padahal sebenarnya mereka juga memerlukannya bahkan sekalipun mereka amat memerlukannya. Sifat seperti altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain) ini hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai akhlak yang suci dan lebih mencintai Allah سبحانه وتعالى daripada mencintai keinginan diri dan berbagai kenik-matannya. Di antaranya adalah kisah seorang Anshar[117] yang menjadi penyebab turunnya ayat ini ketika lebih mengutamakan tamunya dengan memberinya makanan sementara rela membiarkan diri dan keluarganya tidur dalam keadaan lapar. Kebalikan dari altruisme adalah egoisme. Altruisme adalah sifat terpuji sedangkan egoisme adalah sifat tercela, karena terma-suk sifat-sifat kikir dan pelit. Siapa pun yang diberi karunia sifat altruisme, maka telah terjaga dari kekikiran diri.﴾ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." Menjaga kekikiran diri mencakup menjaga diri dari kekikiran dalam seluruh hal yang di-perintahkan. Sebab jika seorang hamba telah terjaga dari kekikiran dirinya, maka ia merelakan dirinya untuk menunaikan segala perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya. Pekerjaan yang dilakukan semata karena ketaatan dan ketundukan dengan kelapangan dada serta merelakan dirinya untuk menjauhi larangan Allah سبحانه وتعالى meskipun disenangi oleh jiwa, meski jiwanya menyeru dan ingin melaku-kannya. Orang yang terjaga dari kekikiran diri juga merelakan diri untuk mencurahkan harta di jalan Allah سبحانه وتعالى demi mencari keridha-anNya. Dengan demikian ia akan mendapatkan keberuntungan dan kemenangan. Lain halnya dengan orang yang tidak terjaga dari kekikiran dirinya. Bahkan diuji dengan bersifat kikir terhadap kebaikan yang justru menjadi pangkal dan asal-usul keburukan. (1 0 0 ) Kedua golongan mulia dan suci di atas adalah para sahabat yang mulia dan para imam bagi orang-orang utama. Me-reka adalah sosok yang telah meraih predikat sebagai yang terde-pan, nilai-nilai keutamaan dan sifat baik yang tidak bisa disaingi oleh orang-orang setelah mereka dan belum pernah didapat oleh orang-orang sebelum mereka. Mereka pun menjadi para pemimpin kaum Mukminin, Muslimin dan orang-orang bertakwa. Cukuplah bagi generasi setelah mereka mendapatkan kebaikan dengan ber-jalan di belakang mereka dan menjadikan petunjuk mereka sebagai pemimpin. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى menyebut generasi-generasi setelah mereka, yaitu orang-orang yang mengikuti mereka dan seluruh orang yang ada setelah mereka seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ ﴿ "Dan orang-orang yang datang sesudah mereka," yakni setelah kaum Muhajirin dan Anshar, ﴾ يَقُولُونَ ﴿ "mereka berdoa," memberi nasihat untuk diri mereka sendiri dan seluruh kaum Muslimin, ﴾ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih da-hulu dari kami." Doa ini mencakup seluruh kaum Mukminin dari kalangan sahabat pendahulu dan orang-orang sebelum dan sesu-dah mereka. Inilah di antara salah satu keutamaan iman. Orang-orang Mukmin itu saling memberi manfaat bagi sesama dan saling men-doakan satu sama lain karena kebersamaan mereka dalam iman yang mengharuskan adanya ikatan persaudaraan di antara kaum Mukminin yang di antaranya adalah dengan saling mendoakan satu sama lain dan saling mencintai satu sama lain. Karena itu, dalam doa ini Allah سبحانه وتعالى menafikan sifat dengki dari hati orang-orang yang beriman, baik yang sedikit maupun yang banyak. Karena sifat dengki tidak ada di hati, maka yang ada adalah kebalikannya, yaitu sifat saling mencintai, saling memberi pertolongan, nasihat dan lainnya untuk sesama Mukmin yang termasuk hak-hak orang yang beriman. Allah سبحانه وتعالى menyifati generasi-generasi setelah sahabat dengan keimanan, sebab perkataan orang-orang Mukmin itu, ﴾ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ﴿ "dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami," adalah dalil atas kebersamaan mereka dalam keimanan. Mereka adalah para pengikut sahabat dalam kaidah dan pondasi keimanan. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di mana sifat sempurna ini hanya terwujud pada mereka. Allah سبحانه وتعالى juga menyebutkan sifat mereka dengan mengakui dosa-dosa serta meminta ampunan dari dosa-dosa serta saling memintakan ampunan satu sama lain serta usaha keras mereka untuk melenyapkan sifat dengki dan iri dari hati mereka terhadap sesama saudara seiman. Sebab doa mereka mengharuskan hal-hal yang telah kami sebut di atas yang men-cakup rasa saling mencintai satu sama lain, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri dan memberi nasihat pada orang lain, baik ketika saudaranya ada, tidak ada, masih hidup atau sudah mati. Ayat ini menunjukkan bahwa saling mendoakan satu sama lain adalah di antara salah satu hak kaum Mukminin. Kemudian doa mereka diakhiri dengan dua nama mulia yang menunjukkan sempurnanya rahmat Allah سبحانه وتعالى dan sempurnanya kasih sayang serta kebaikanNya terhadap kaum Mukminin yang di antaranya (bahkan termasuk yang paling agung) adalah memberi taufik pada kaum Mukminin untuk saling menunaikan hak sesama dan hak-hak hamba Allah سبحانه وتعالى. Ketiga golongan tersebut adalah golongan umat ini yang ber-hak mendapatkan harta rampasan perang yang alokasinya meru-juk pada maslahat Islam. Mereka adalah kaum Muslimin dan ahli Islam. Semoga kita semua dimasukkan Allah سبحانه وتعالى dalam golongan mereka berkat karunia dan kemuliaanNya. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى heran terhadap kondisi kaum mu-nafik yang condong memberikan pertolongan dan loyalitas pada saudara-saudara mereka dari kalangan Ahli Kitab daripada me-nolong saudara-saudara mereka dari kalangan kaum Mukminin. Orang-orang munafik berkata pada orang-orang Yahudi, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا ﴿ "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu," maksudnya, kami tidak akan menaati orang yang tidak memberi pertolongan pada kalian yang akan merendahkan dan menakutkan kami. ﴾ وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "Dan jika kamu diperangi, pasti kami akan membantu kamu.' Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta" dalam janji ini yang membuat teman-teman mereka terpedaya, tidak lebih dari itu karena berdusta adalah sifat mereka. Menipu dan mengelabui sesuatu yang lekat dalam diri mereka, dan kemunafikan dan sikap pengecut adalah sifat yang selalu menyertai mereka. (12) Karena itulah Allah سبحانه وتعالى mendustakan mereka dengan FirmanNya yang diberitahukan pada orang yang menjawab sesuai dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَئِنۡ أُخۡرِجُواْ ﴿ "Sesungguhnya jika mereka diusir" dari negeri mereka, baik dengan cara pengusiran atau pengosongan, ﴾ لَا يَخۡرُجُونَ مَعَهُمۡ ﴿ "orang-orang munafik itu tiada akan keluar bersama me-reka," karena kecintaan mereka pada negeri mereka dan ketidak-sabaran mereka dalam berperang, serta tidak menepati janji, ﴾ وَلَئِن قُوتِلُواْ لَا يَنصُرُونَهُمۡ ﴿ "dan sungguh jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada akan menolong mereka," tapi mereka akan dipenuhi oleh sifat penge-cut dan kegagalan serta akan berkhianat pada teman-teman me-reka pada saat mereka diperlukan. ﴾ وَلَئِن نَّصَرُوهُمۡ ﴿ "Dan sungguh jika mereka menolongnya," andai saja demikian, ﴾ لَيُوَلُّنَّ ٱلۡأَدۡبَٰرَ ثُمَّ لَا يُنصَرُونَ ﴿ "niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan." Maksudnya, mereka akan lari dari peperangan, dan tidak memberikan pertolongan, dan mereka pun tidak mendapatkan pertolongan dari Allah سبحانه وتعالى. (13) Penyebab yang mendorong mereka melakukan hal itu adalah karena kalian wahai orang-orang yang beriman, ﴾ أَشَدُّ رَهۡبَةٗ فِي صُدُورِهِم مِّنَ ٱللَّهِۚ ﴿ "dalam hati mereka lebih ditakuti daripada Allah." Mereka lebih takut pada kalian melebihi Allah سبحانه وتعالى. Mereka lebih menguta-makan rasa takut pada makhluk yang sama sekali tidak memiliki kekuasaan atas diri sendiri dan juga atas orang lain, baik memberi manfaat atau mendatangkan mara bahaya daripada rasa takut pada Khaliq yang di TanganNya-lah kekuasaan mendatangkan mara bahaya, manfaat, memberi, dan menahan. ﴾ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tiada mengerti." Mereka tidak mengerti tingkatan berbagai hal, mereka juga tidak mengetahui hakikat segala sesuatu. Mereka tidak bisa memikirkan akibat perbuatan. Seharusnya, puncak pemahaman adalah lebih mengutamakan rasa takut, pengharapan, cinta untuk Allah dari-pada yang selainNya. Yang lain hanya sebagai pengikut saja. (14) ﴾ لَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ جَمِيعًا ﴿ "Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu," maksudnya, dalam keadaan bersatu, ﴾ إِلَّا فِي قُرٗى مُّحَصَّنَةٍ أَوۡ مِن وَرَآءِ جُدُرِۭۚ ﴿ "kecuali dalam kampung-kampung yang ber-benteng atau di balik tembok." Maksudnya, mereka tidak kuat me-merangi kalian dan tidak bertekad untuk itu kecuali ketika mereka berada di dalam kawasan-kawasan yang memiliki benteng di dalam perkampungan atau ketika mereka berada di balik tembok dan benteng. Ketika mereka berada dalam kondisi seperti itu, mereka akan mendapatkan perlindungan dan pertahanan di balik benteng dan tembok, dan bukan karena keberanian mereka. Ini termasuk celaan terbesar bagi mereka. ﴾ بَأۡسُهُم بَيۡنَهُمۡ شَدِيدٞۚ ﴿ "Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat." Maksudnya, permusuhan yang ada di antara mereka sangat hebat. Kelemahan mereka tidak terdapat pada diri dan kekuatan tapi kelemahan mereka dikarenakan lemahnya iman serta tidak adanya kesatuan di antara mereka, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تَحۡسَبُهُمۡ جَمِيعٗا ﴿ "Kalian mengira mereka itu bersatu," ketika kalian melihat mereka berkumpul dan saling bantu-membantu, ﴾ وَقُلُوبُهُمۡ شَتَّىٰۚ ﴿ "sedang hati mereka berpecah belah." Maksudnya, hati mereka saling membenci dan terpecah belah. ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang mewajibkan mereka memi-liki sifat-sifat sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ﴾ بِأَنَّهُمۡ قَوۡمٞ لَّا يَعۡقِلُونَ ﴿ "karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada me-ngerti." Maksudnya, mereka tidak memiliki akal, dan pikiran. Sebab andai mereka memiliki akal tentu lebih mengedepankan yang harus lebih dikedepankan daripada lainnya, tentu mereka tidak merela-kan hal terburuk untuk diri mereka dan tentu mereka bersatu padu. Sehingga mereka akan saling menolong satu sama lain untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Hingga mereka pun seperti layaknya orang-orang yang mendapatkan kehinaan dari kalangan ahli kitab, orang-orang yang dikalahkan oleh Allah سبحانه وتعالى melalui tangan utusanNya hingga mereka mengenyam kehinaan dalam kehidupan dunia dan tidak memberikan pertolongan pada orang yang mereka janjikan akan ditolong. (15) ﴾ كَمَثَلِ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ قَرِيبٗاۖ ﴿ "(Mereka adalah) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka," yakni kaum kafir Quraisy yang ﴾ زَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ أَعۡمَٰلَهُمۡ وَقَالَ لَا غَالِبَ لَكُمُ ٱلۡيَوۡمَ مِنَ ٱلنَّاسِ وَإِنِّي جَارٞ لَّكُمۡۖ فَلَمَّا تَرَآءَتِ ٱلۡفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكُمۡ إِنِّيٓ أَرَىٰ مَا لَا تَرَوۡنَ ﴿ "Ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, 'Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelin-dungmu.' Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, 'Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat'." (Al-Anfal: 43). Mereka pun tertipu dan menipu orang lain. Mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak bisa memberikan manfaat se-dikit pun dan tidak bisa menangkal siksaan mereka. Hingga tibalah peristiwa Badar dengan segenap kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka mengira bisa menuntaskan angan-angan mereka terhadap Rasulullah a dan kaum Mukminin. Ternyata, Allah سبحانه وتعالى memberi pertolongan pada RasulNya dan kaum Mukminin. Para pembesar dan antek-antek kaum kafir Quraisy dibunuh dan di-tawan. Ada juga yang melarikan diri. Dengan demikian, mereka merasakan akibat buruk perbuatan mereka dan ujung dari kesyi-rikan serta kekejian mereka. Ini yang berlaku di dunia, ﴾ وَلَهُمۡ ﴿ "dan bagi mereka," siksaan neraka di akhirat. (16) Perumpanaan orang-orang munafik yang menipu teman-teman mereka dari kalangan ahli kitab itu adalah ﴾ كَمَثَلِ ٱلشَّيۡطَٰنِ إِذۡ قَالَ لِلۡإِنسَٰنِ ٱكۡفُرۡ ﴿ "seperti setan ketika berkata pada manusia, 'Kafirlah kamu'." Maksudnya, setan menghias kekufuran dan menjadikannya indah untuknya serta menyerunya padanya. Ketika ia telah kufur dan mendapatkan kesengsaraan, setan tidak lagi membawa man-faat bagi mereka yang telah memalingkannya dan menyeru pada ajakannya, setan berlepas diri darinya, ﴾ قَالَ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّنكَ إِنِّيٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "dia berkata, 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam'." Maksud-nya, aku tidak memiliki kekuasaan untuk menangkal siksaan dari-mu, aku sama sekali tidak berguna bagimu. (17) ﴾ فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ ﴿ "Maka kesudahan keduanya," yaitu si penyeru (setan) dan yang diseru (manusia) yang menaatinya, ﴾ أَنَّهُمَا فِي ٱلنَّارِ خَٰلِدَيۡنِ فِيهَاۚ ﴿ "bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalam-nya." Semakna dengan yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يَدۡعُواْ حِزۡبَهُۥ لِيَكُونُواْ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 6 ﴿ "Sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya su-paya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (Fathir: 6). ﴾ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُاْ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Demikianlah balasan orang-orang yang zhalim," yaitu orang-orang yang bersekutu dalam kezhaliman dan keku-furan, meski keras dan kuatnya azab bagi mereka tidak sama. Inilah kebiasaan setan bersama dengan para penolongnya. Setan mengajak dan menunjukkan mereka dengan cara tipuan menuju segala hal yang membahayakan. Ketika mereka melakukan kesyirikan dan sebab-sebab kebinasaan, setan pun berlepas diri dari mereka. Se-mua cercaan adalah bagi orang yang menuruti setan. Karena Allah سبحانه وتعالى telah mengingatkan mereka dari setan serta memberitahukan niat dan tujuan setan. Sehingga orang yang menuruti setan padahal ia mengetahui hal itu, ia tidak lagi memiliki alasan.

Al-Hasyr 59:18

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diper-buatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-peng-huni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Al-Hasyr: 18-21). (18) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, baik di kala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Jika mereka meletakkan akhirat di hadapan mata dan sebagai kiblat hati mereka, maka mereka berkonsentrasi untuk menunaikan amalan-amalan akhirat serta berusaha dengan kuat memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarkan mereka ke surga dengan membersihkannya dari berbagai hal yang bisa memutus dan meng-halangi, yang mencegah mereka untuk mengerjakan atau mela-kukannya, jika mereka juga mengetahui bahwa ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," amalan mereka tidaklah samar bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak akan lenyap di sisi Allah سبحانه وتعالى dan tidak akan dilalaikan, maka hal itu mengharuskan mereka untuk bersungguh-sungguh dalam beramal. Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada Rabbnya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu. (19) Adalah benar-benar terhalang dari rahmat Allah سبحانه وتعالى jika ada orang yang melalaikan hal ini dan menyerupai orang-orang yang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Mereka lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hanya menuruti bagian serta kemauan diri sendiri. Mereka tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan, selamanya. Sebaliknya, Allah سبحانه وتعالى membuat mereka lalai pada kepentingan diri sendiri serta membuat mereka lalai dari manfaat-manfaatnya sehingga urusan mereka menjadi sisa-sia dan merugi di dua alam; dunia dan akhirat. Mereka juga benar-benar tertipu yang tidak mungkin lagi bisa ditanggulangi dan ditutupi kerugiannya, karena mereka adalah ﴾ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang yang fasik," yang keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb dan tenggelam dalam maksiat. (20) Lantas samakah orang yang memelihara ketakwaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta memikirkan apa yang akan dipersiapkan menghadapi Hari Akhirat esok sehingga akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan serta kehidupan yang nyaman bersama orang-orang yang dikaruniai Allah سبحانه وتعالى dari kalangan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada dan orang-orang shalih; samakah orang yang bertakwa dengan orang yang lalai, tidak mengingat Allah سبحانه وتعالى serta melalaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى sehingga ia sengsara di dunia dan berhak mendapatkan siksaan di akhirat? Golongan pertama adalah orang-orang yang beruntung sedangkan golongan kedua adalah orang-orang yang rugi. (21) Ketika Allah سبحانه وتعالى memberi penjelasan pada para hamba-Nya dan memberikan perintah serta larangan dalam KitabNya, maka ini mengharuskan mereka untuk segera menunaikan seruan dan doronganNya, meski seandainya hati mereka keras sekeras gunung yang kokoh. Karena al-Qur`an ini andai diturunkan di atas ﴾ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ ﴿ "sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Mak-sudnya, karena kesempurnaan pengaruhnya di hati, karena nasi-hat-nasihat al-Qur`an adalah nasihat paling agung secara mutlak. Berbagai perintah dan larangan al-Qur`an berisikan hikmah dan maslahat yang selalu bersamaan. Perintah dan larangannya amat mudah bagi jiwa dan raga. Jauh dari segala sesuatu yang membe-ratkan. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan, tidak ada sesuatu yang sulit dan penyimpangan di dalam al-Qur`an. Sesuai dengan segala waktu dan tempat serta cocok untuk setiap orang. Selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan untuk manusia dan menjelaskan halal dan haram dalam kitabNya untuk para hambaNya, agar mereka mau memikirkan dan mere-nungkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. Karena dengan memikir-kan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, seorang hamba akan mampu membuka berbagai perbendaharaan ilmu. Allah سبحانه وتعالى juga menjelas-kan jalan kebaikan dan keburukan bagi para hambaNya, mendo-rong untuk berakhlak dan bersifat yang baik, dan melarang manusia dari berbagai akhlak buruk. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan dan merenungkan al-Qur`an serta makna-maknanya.

Al-Hasyr 59:19

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diper-buatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-peng-huni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Al-Hasyr: 18-21). (18) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, baik di kala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Jika mereka meletakkan akhirat di hadapan mata dan sebagai kiblat hati mereka, maka mereka berkonsentrasi untuk menunaikan amalan-amalan akhirat serta berusaha dengan kuat memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarkan mereka ke surga dengan membersihkannya dari berbagai hal yang bisa memutus dan meng-halangi, yang mencegah mereka untuk mengerjakan atau mela-kukannya, jika mereka juga mengetahui bahwa ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," amalan mereka tidaklah samar bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak akan lenyap di sisi Allah سبحانه وتعالى dan tidak akan dilalaikan, maka hal itu mengharuskan mereka untuk bersungguh-sungguh dalam beramal. Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada Rabbnya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu. (19) Adalah benar-benar terhalang dari rahmat Allah سبحانه وتعالى jika ada orang yang melalaikan hal ini dan menyerupai orang-orang yang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Mereka lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hanya menuruti bagian serta kemauan diri sendiri. Mereka tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan, selamanya. Sebaliknya, Allah سبحانه وتعالى membuat mereka lalai pada kepentingan diri sendiri serta membuat mereka lalai dari manfaat-manfaatnya sehingga urusan mereka menjadi sisa-sia dan merugi di dua alam; dunia dan akhirat. Mereka juga benar-benar tertipu yang tidak mungkin lagi bisa ditanggulangi dan ditutupi kerugiannya, karena mereka adalah ﴾ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang yang fasik," yang keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb dan tenggelam dalam maksiat. (20) Lantas samakah orang yang memelihara ketakwaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta memikirkan apa yang akan dipersiapkan menghadapi Hari Akhirat esok sehingga akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan serta kehidupan yang nyaman bersama orang-orang yang dikaruniai Allah سبحانه وتعالى dari kalangan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada dan orang-orang shalih; samakah orang yang bertakwa dengan orang yang lalai, tidak mengingat Allah سبحانه وتعالى serta melalaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى sehingga ia sengsara di dunia dan berhak mendapatkan siksaan di akhirat? Golongan pertama adalah orang-orang yang beruntung sedangkan golongan kedua adalah orang-orang yang rugi. (21) Ketika Allah سبحانه وتعالى memberi penjelasan pada para hamba-Nya dan memberikan perintah serta larangan dalam KitabNya, maka ini mengharuskan mereka untuk segera menunaikan seruan dan doronganNya, meski seandainya hati mereka keras sekeras gunung yang kokoh. Karena al-Qur`an ini andai diturunkan di atas ﴾ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ ﴿ "sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Mak-sudnya, karena kesempurnaan pengaruhnya di hati, karena nasi-hat-nasihat al-Qur`an adalah nasihat paling agung secara mutlak. Berbagai perintah dan larangan al-Qur`an berisikan hikmah dan maslahat yang selalu bersamaan. Perintah dan larangannya amat mudah bagi jiwa dan raga. Jauh dari segala sesuatu yang membe-ratkan. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan, tidak ada sesuatu yang sulit dan penyimpangan di dalam al-Qur`an. Sesuai dengan segala waktu dan tempat serta cocok untuk setiap orang. Selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan untuk manusia dan menjelaskan halal dan haram dalam kitabNya untuk para hambaNya, agar mereka mau memikirkan dan mere-nungkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. Karena dengan memikir-kan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, seorang hamba akan mampu membuka berbagai perbendaharaan ilmu. Allah سبحانه وتعالى juga menjelas-kan jalan kebaikan dan keburukan bagi para hambaNya, mendo-rong untuk berakhlak dan bersifat yang baik, dan melarang manusia dari berbagai akhlak buruk. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan dan merenungkan al-Qur`an serta makna-maknanya.

Al-Hasyr 59:20

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diper-buatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-peng-huni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Al-Hasyr: 18-21). (18) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, baik di kala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Jika mereka meletakkan akhirat di hadapan mata dan sebagai kiblat hati mereka, maka mereka berkonsentrasi untuk menunaikan amalan-amalan akhirat serta berusaha dengan kuat memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarkan mereka ke surga dengan membersihkannya dari berbagai hal yang bisa memutus dan meng-halangi, yang mencegah mereka untuk mengerjakan atau mela-kukannya, jika mereka juga mengetahui bahwa ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," amalan mereka tidaklah samar bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak akan lenyap di sisi Allah سبحانه وتعالى dan tidak akan dilalaikan, maka hal itu mengharuskan mereka untuk bersungguh-sungguh dalam beramal. Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada Rabbnya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu. (19) Adalah benar-benar terhalang dari rahmat Allah سبحانه وتعالى jika ada orang yang melalaikan hal ini dan menyerupai orang-orang yang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Mereka lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hanya menuruti bagian serta kemauan diri sendiri. Mereka tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan, selamanya. Sebaliknya, Allah سبحانه وتعالى membuat mereka lalai pada kepentingan diri sendiri serta membuat mereka lalai dari manfaat-manfaatnya sehingga urusan mereka menjadi sisa-sia dan merugi di dua alam; dunia dan akhirat. Mereka juga benar-benar tertipu yang tidak mungkin lagi bisa ditanggulangi dan ditutupi kerugiannya, karena mereka adalah ﴾ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang yang fasik," yang keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb dan tenggelam dalam maksiat. (20) Lantas samakah orang yang memelihara ketakwaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta memikirkan apa yang akan dipersiapkan menghadapi Hari Akhirat esok sehingga akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan serta kehidupan yang nyaman bersama orang-orang yang dikaruniai Allah سبحانه وتعالى dari kalangan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada dan orang-orang shalih; samakah orang yang bertakwa dengan orang yang lalai, tidak mengingat Allah سبحانه وتعالى serta melalaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى sehingga ia sengsara di dunia dan berhak mendapatkan siksaan di akhirat? Golongan pertama adalah orang-orang yang beruntung sedangkan golongan kedua adalah orang-orang yang rugi. (21) Ketika Allah سبحانه وتعالى memberi penjelasan pada para hamba-Nya dan memberikan perintah serta larangan dalam KitabNya, maka ini mengharuskan mereka untuk segera menunaikan seruan dan doronganNya, meski seandainya hati mereka keras sekeras gunung yang kokoh. Karena al-Qur`an ini andai diturunkan di atas ﴾ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ ﴿ "sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Mak-sudnya, karena kesempurnaan pengaruhnya di hati, karena nasi-hat-nasihat al-Qur`an adalah nasihat paling agung secara mutlak. Berbagai perintah dan larangan al-Qur`an berisikan hikmah dan maslahat yang selalu bersamaan. Perintah dan larangannya amat mudah bagi jiwa dan raga. Jauh dari segala sesuatu yang membe-ratkan. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan, tidak ada sesuatu yang sulit dan penyimpangan di dalam al-Qur`an. Sesuai dengan segala waktu dan tempat serta cocok untuk setiap orang. Selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan untuk manusia dan menjelaskan halal dan haram dalam kitabNya untuk para hambaNya, agar mereka mau memikirkan dan mere-nungkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. Karena dengan memikir-kan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, seorang hamba akan mampu membuka berbagai perbendaharaan ilmu. Allah سبحانه وتعالى juga menjelas-kan jalan kebaikan dan keburukan bagi para hambaNya, mendo-rong untuk berakhlak dan bersifat yang baik, dan melarang manusia dari berbagai akhlak buruk. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan dan merenungkan al-Qur`an serta makna-maknanya.

Al-Hasyr 59:21

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diper-buatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidak sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-peng-huni surga itulah orang-orang yang beruntung. Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir." (Al-Hasyr: 18-21). (18) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya yang ber-iman untuk menunaikan konsekuensi iman yaitu dengan bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, baik di kala sepi maupun ramai dan di segala hal. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka untuk menjaga apa saja yang diperintahkan, baik yang berbentuk perintah, syariat, maupun batasan-batasanNya, serta memikirkan akibat baik dan buruk apa yang akan mereka dapatkan, serta apa yang mereka dapatkan dari amal perbuatan mereka yang bisa membawakan manfaat atau malapetaka bagi mereka di akhirat. Jika mereka meletakkan akhirat di hadapan mata dan sebagai kiblat hati mereka, maka mereka berkonsentrasi untuk menunaikan amalan-amalan akhirat serta berusaha dengan kuat memperbanyak amalan-amalan yang bisa menghantarkan mereka ke surga dengan membersihkannya dari berbagai hal yang bisa memutus dan meng-halangi, yang mencegah mereka untuk mengerjakan atau mela-kukannya, jika mereka juga mengetahui bahwa ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," amalan mereka tidaklah samar bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak akan lenyap di sisi Allah سبحانه وتعالى dan tidak akan dilalaikan, maka hal itu mengharuskan mereka untuk bersungguh-sungguh dalam beramal. Ayat ini adalah pangkal dalam hal muhasabah diri. Setiap orang harus selalu mengintrospeksi diri. Jika melihat adanya kekeliruan segera menyelesaikannya dengan cara melepaskan diri darinya, bertaubat secara sungguh-sungguh dan berpaling dari berbagai hal yang menghantarkan pada kekeliruan tersebut. Jika menilai dirinya bersikap sekenanya dalam menunaikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى, ia akan mengerahkan segala kemampuannya dengan meminta pertolongan pada Rabbnya untuk mengembangkan, dan menyempurnakannya, serta membandingkan antara karunia dan kebaikan Allah سبحانه وتعالى yang diberikan padanya dengan kemalasannya. Karena hal itu mengharuskannya merasa malu. (19) Adalah benar-benar terhalang dari rahmat Allah سبحانه وتعالى jika ada orang yang melalaikan hal ini dan menyerupai orang-orang yang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Mereka lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, tidak menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hanya menuruti bagian serta kemauan diri sendiri. Mereka tidak akan berhasil dan tidak akan mendapatkan, selamanya. Sebaliknya, Allah سبحانه وتعالى membuat mereka lalai pada kepentingan diri sendiri serta membuat mereka lalai dari manfaat-manfaatnya sehingga urusan mereka menjadi sisa-sia dan merugi di dua alam; dunia dan akhirat. Mereka juga benar-benar tertipu yang tidak mungkin lagi bisa ditanggulangi dan ditutupi kerugiannya, karena mereka adalah ﴾ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ ﴿ "orang-orang yang fasik," yang keluar dari jalur ketaatan terhadap Rabb dan tenggelam dalam maksiat. (20) Lantas samakah orang yang memelihara ketakwaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta memikirkan apa yang akan dipersiapkan menghadapi Hari Akhirat esok sehingga akan mendapatkan surga yang penuh kenikmatan serta kehidupan yang nyaman bersama orang-orang yang dikaruniai Allah سبحانه وتعالى dari kalangan para nabi, orang-orang jujur, para syuhada dan orang-orang shalih; samakah orang yang bertakwa dengan orang yang lalai, tidak mengingat Allah سبحانه وتعالى serta melalaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى sehingga ia sengsara di dunia dan berhak mendapatkan siksaan di akhirat? Golongan pertama adalah orang-orang yang beruntung sedangkan golongan kedua adalah orang-orang yang rugi. (21) Ketika Allah سبحانه وتعالى memberi penjelasan pada para hamba-Nya dan memberikan perintah serta larangan dalam KitabNya, maka ini mengharuskan mereka untuk segera menunaikan seruan dan doronganNya, meski seandainya hati mereka keras sekeras gunung yang kokoh. Karena al-Qur`an ini andai diturunkan di atas ﴾ عَلَىٰ جَبَلٖ لَّرَأَيۡتَهُۥ خَٰشِعٗا مُّتَصَدِّعٗا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِۚ ﴿ "sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah." Mak-sudnya, karena kesempurnaan pengaruhnya di hati, karena nasi-hat-nasihat al-Qur`an adalah nasihat paling agung secara mutlak. Berbagai perintah dan larangan al-Qur`an berisikan hikmah dan maslahat yang selalu bersamaan. Perintah dan larangannya amat mudah bagi jiwa dan raga. Jauh dari segala sesuatu yang membe-ratkan. Tidak ada kontradiksi dan pertentangan, tidak ada sesuatu yang sulit dan penyimpangan di dalam al-Qur`an. Sesuai dengan segala waktu dan tempat serta cocok untuk setiap orang. Selanjut-nya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa Dia membuat perumpamaan untuk manusia dan menjelaskan halal dan haram dalam kitabNya untuk para hambaNya, agar mereka mau memikirkan dan mere-nungkan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. Karena dengan memikir-kan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, seorang hamba akan mampu membuka berbagai perbendaharaan ilmu. Allah سبحانه وتعالى juga menjelas-kan jalan kebaikan dan keburukan bagi para hambaNya, mendo-rong untuk berakhlak dan bersifat yang baik, dan melarang manusia dari berbagai akhlak buruk. Maka tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada memikirkan dan merenungkan al-Qur`an serta makna-maknanya.

Al-Hasyr 59:22

"Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana." (Al-Hasyr: 22-24). (22) Ayat-ayat mulia ini mencakup banyak nama-nama Allah سبحانه وتعالى yang baik dan sifat-sifatNya yang luhur. Agung perihal-Nya dan indah penjelasanNya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia adalah ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah," yang dipertuhankan dan disembah yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia," karena sempurnanya keagungan Allah سبحانه وتعالى dan kebaik-anNya serta pengaturanNya yang menyeluruh. Semua tuhan se-lain Allah سبحانه وتعالى adalah batil dan sama sekali tidak berhak disembah. Karena semua tuhan selain Allah سبحانه وتعالى amat memerlukan yang lain, lemah dan kurang, yang tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri maupun untuk yang lain. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyifati DiriNya dengan keumuman ilmu yang mencakup semua hal yang tidak nampak dari makhluk dan yang nampak (yang dapat dilihat oleh para makhluk). Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan rahmatNya yang menyeluruh yang mencakup segala hal dan sampai pada setiap yang hidup. (23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulangi lagi menyebutkan keumuman ketuhanan dan kemahaesaanNya dalam ketuhanan. Allah سبحانه وتعالى adalah raja segala raja. Alam yang ada di atas dan alam yang ada di bawah, semuanya adalah milik Allah سبحانه وتعالى, semuanya memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى dan semuanya diatur oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ﴿ "Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera," maksudnya, Mahasuci dan Selamat dari berbagai aib, cela, dan segala sesuatu yang bisa mengurangi keagungan dan keluhuran. Karena kesucian itu menunjukkan bebasnya dari berbagai kekurangan serta Maha-agungNya Allah سبحانه وتعالى dalam sifat-sifat dan keluhuranNya. ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنُ ﴿ "Yang Mengaruniakan keamanan," maksudnya, Yang membenarkan para rasul dan para nabiNya dan semua yang dibawa oleh mereka dengan berbagai tanda-tanda kebesaran, penjelasan yang nyata dan pasti, serta hujjah yang jelas. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan terhalang, Dia-lah yang Maha menunduk-kan secara paksa segala sesuatu, segala sesuatu tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡجَبَّارُ ﴿ "Yang Mahakuasa," yang memaksa semua hambaNya, dan semua makhlukNya tunduk kepadaNya, yang membenahi segala yang rusak dan yang memberi kecukupan orang-orang miskin, ﴾ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ ﴿ "Yang Memiliki Segala Keagungan," yang memiliki ke-agungan dan kebesaran. Jauh dari segala aib dan kezhaliman. ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Ini adalah pemahasucian secara umum dari segala sesuatu yang disifatkan oleh orang yang menyekutukan dan me-nentangNya. (24) ﴾ هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Menciptakan" semua makhluk, ﴾ ٱلۡبَارِئُ ﴿ "Yang Mengadakan" bagi semua yang diadakan, ﴾ ٱلۡمُصَوِّرُۖ ﴿ "Yang Membentuk rupa" semua wujud. Nama-nama indah ini berkaitan dengan penciptaan, penga-turan, dan penetapan ukuran. Semua itu hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang melakukannya, tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik." Maksudnya, Dia memiliki nama-nama yang amat banyak sekali, yang tidak dapat dihitung dan diketahui melainkan Dia sendiri. Meski demikian, semua namaNya indah. Maksudnya, sifat-sifat yang sempurna bahkan menunjukkan sifat-sifat yang paling sempurna dan agung, tidak ada satu pun kekurangan pada masing-masingnya dari segala sisi. Di antara keindahannya, Allah سبحانه وتعالى menyukainya dan mencintai orang yang mencintainya serta mencintai hambaNya yang berdoa dan meminta dengan nama-nama indahNya. Dan di antara tanda kesempurnaan Allah سبحانه وتعالى adalah Dia memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat agung. Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى selamanya. Semuanya bertasbih memahasucikanNya dengan memujiNya. Mereka meminta kepa-daNya segala yang mereka perlukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karena kemuliaan dan karuniaNya sesuai rahmat dan hikmahNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." Yang tidaklah menginginkan sesuatu melainkan pasti terjadi dan tidaklah menciptakan sesuatu melainkan karena hikmah dan maslahat. Selesai tafsir Surat al-Hasyr.

Al-Hasyr 59:23

"Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana." (Al-Hasyr: 22-24). (22) Ayat-ayat mulia ini mencakup banyak nama-nama Allah سبحانه وتعالى yang baik dan sifat-sifatNya yang luhur. Agung perihal-Nya dan indah penjelasanNya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia adalah ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah," yang dipertuhankan dan disembah yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia," karena sempurnanya keagungan Allah سبحانه وتعالى dan kebaik-anNya serta pengaturanNya yang menyeluruh. Semua tuhan se-lain Allah سبحانه وتعالى adalah batil dan sama sekali tidak berhak disembah. Karena semua tuhan selain Allah سبحانه وتعالى amat memerlukan yang lain, lemah dan kurang, yang tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri maupun untuk yang lain. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyifati DiriNya dengan keumuman ilmu yang mencakup semua hal yang tidak nampak dari makhluk dan yang nampak (yang dapat dilihat oleh para makhluk). Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan rahmatNya yang menyeluruh yang mencakup segala hal dan sampai pada setiap yang hidup. (23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulangi lagi menyebutkan keumuman ketuhanan dan kemahaesaanNya dalam ketuhanan. Allah سبحانه وتعالى adalah raja segala raja. Alam yang ada di atas dan alam yang ada di bawah, semuanya adalah milik Allah سبحانه وتعالى, semuanya memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى dan semuanya diatur oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ﴿ "Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera," maksudnya, Mahasuci dan Selamat dari berbagai aib, cela, dan segala sesuatu yang bisa mengurangi keagungan dan keluhuran. Karena kesucian itu menunjukkan bebasnya dari berbagai kekurangan serta Maha-agungNya Allah سبحانه وتعالى dalam sifat-sifat dan keluhuranNya. ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنُ ﴿ "Yang Mengaruniakan keamanan," maksudnya, Yang membenarkan para rasul dan para nabiNya dan semua yang dibawa oleh mereka dengan berbagai tanda-tanda kebesaran, penjelasan yang nyata dan pasti, serta hujjah yang jelas. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan terhalang, Dia-lah yang Maha menunduk-kan secara paksa segala sesuatu, segala sesuatu tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡجَبَّارُ ﴿ "Yang Mahakuasa," yang memaksa semua hambaNya, dan semua makhlukNya tunduk kepadaNya, yang membenahi segala yang rusak dan yang memberi kecukupan orang-orang miskin, ﴾ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ ﴿ "Yang Memiliki Segala Keagungan," yang memiliki ke-agungan dan kebesaran. Jauh dari segala aib dan kezhaliman. ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Ini adalah pemahasucian secara umum dari segala sesuatu yang disifatkan oleh orang yang menyekutukan dan me-nentangNya. (24) ﴾ هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Menciptakan" semua makhluk, ﴾ ٱلۡبَارِئُ ﴿ "Yang Mengadakan" bagi semua yang diadakan, ﴾ ٱلۡمُصَوِّرُۖ ﴿ "Yang Membentuk rupa" semua wujud. Nama-nama indah ini berkaitan dengan penciptaan, penga-turan, dan penetapan ukuran. Semua itu hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang melakukannya, tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik." Maksudnya, Dia memiliki nama-nama yang amat banyak sekali, yang tidak dapat dihitung dan diketahui melainkan Dia sendiri. Meski demikian, semua namaNya indah. Maksudnya, sifat-sifat yang sempurna bahkan menunjukkan sifat-sifat yang paling sempurna dan agung, tidak ada satu pun kekurangan pada masing-masingnya dari segala sisi. Di antara keindahannya, Allah سبحانه وتعالى menyukainya dan mencintai orang yang mencintainya serta mencintai hambaNya yang berdoa dan meminta dengan nama-nama indahNya. Dan di antara tanda kesempurnaan Allah سبحانه وتعالى adalah Dia memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat agung. Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى selamanya. Semuanya bertasbih memahasucikanNya dengan memujiNya. Mereka meminta kepa-daNya segala yang mereka perlukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karena kemuliaan dan karuniaNya sesuai rahmat dan hikmahNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." Yang tidaklah menginginkan sesuatu melainkan pasti terjadi dan tidaklah menciptakan sesuatu melainkan karena hikmah dan maslahat. Selesai tafsir Surat al-Hasyr.

Al-Hasyr 59:24

"Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah Yang tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana." (Al-Hasyr: 22-24). (22) Ayat-ayat mulia ini mencakup banyak nama-nama Allah سبحانه وتعالى yang baik dan sifat-sifatNya yang luhur. Agung perihal-Nya dan indah penjelasanNya. Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa sesungguhnya Dia adalah ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "Allah," yang dipertuhankan dan disembah yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ ﴿ "tiada tuhan yang berhak disembah me-lainkan Dia," karena sempurnanya keagungan Allah سبحانه وتعالى dan kebaik-anNya serta pengaturanNya yang menyeluruh. Semua tuhan se-lain Allah سبحانه وتعالى adalah batil dan sama sekali tidak berhak disembah. Karena semua tuhan selain Allah سبحانه وتعالى amat memerlukan yang lain, lemah dan kurang, yang tidak memiliki kekuasaan atas dirinya sendiri maupun untuk yang lain. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyifati DiriNya dengan keumuman ilmu yang mencakup semua hal yang tidak nampak dari makhluk dan yang nampak (yang dapat dilihat oleh para makhluk). Allah سبحانه وتعالى juga menjelaskan rahmatNya yang menyeluruh yang mencakup segala hal dan sampai pada setiap yang hidup. (23) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengulangi lagi menyebutkan keumuman ketuhanan dan kemahaesaanNya dalam ketuhanan. Allah سبحانه وتعالى adalah raja segala raja. Alam yang ada di atas dan alam yang ada di bawah, semuanya adalah milik Allah سبحانه وتعالى, semuanya memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى dan semuanya diatur oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ﴿ "Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera," maksudnya, Mahasuci dan Selamat dari berbagai aib, cela, dan segala sesuatu yang bisa mengurangi keagungan dan keluhuran. Karena kesucian itu menunjukkan bebasnya dari berbagai kekurangan serta Maha-agungNya Allah سبحانه وتعالى dalam sifat-sifat dan keluhuranNya. ﴾ ٱلۡمُؤۡمِنُ ﴿ "Yang Mengaruniakan keamanan," maksudnya, Yang membenarkan para rasul dan para nabiNya dan semua yang dibawa oleh mereka dengan berbagai tanda-tanda kebesaran, penjelasan yang nyata dan pasti, serta hujjah yang jelas. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan terhalang, Dia-lah yang Maha menunduk-kan secara paksa segala sesuatu, segala sesuatu tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡجَبَّارُ ﴿ "Yang Mahakuasa," yang memaksa semua hambaNya, dan semua makhlukNya tunduk kepadaNya, yang membenahi segala yang rusak dan yang memberi kecukupan orang-orang miskin, ﴾ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ ﴿ "Yang Memiliki Segala Keagungan," yang memiliki ke-agungan dan kebesaran. Jauh dari segala aib dan kezhaliman. ﴾ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ﴿ "Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan." Ini adalah pemahasucian secara umum dari segala sesuatu yang disifatkan oleh orang yang menyekutukan dan me-nentangNya. (24) ﴾ هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ﴿ "Dia-lah Allah Yang Menciptakan" semua makhluk, ﴾ ٱلۡبَارِئُ ﴿ "Yang Mengadakan" bagi semua yang diadakan, ﴾ ٱلۡمُصَوِّرُۖ ﴿ "Yang Membentuk rupa" semua wujud. Nama-nama indah ini berkaitan dengan penciptaan, penga-turan, dan penetapan ukuran. Semua itu hanya Allah سبحانه وتعالى semata yang melakukannya, tidak ada satu sekutu pun yang menyertai Allah سبحانه وتعالى dalam hal itu. ﴾ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ ﴿ "Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik." Maksudnya, Dia memiliki nama-nama yang amat banyak sekali, yang tidak dapat dihitung dan diketahui melainkan Dia sendiri. Meski demikian, semua namaNya indah. Maksudnya, sifat-sifat yang sempurna bahkan menunjukkan sifat-sifat yang paling sempurna dan agung, tidak ada satu pun kekurangan pada masing-masingnya dari segala sisi. Di antara keindahannya, Allah سبحانه وتعالى menyukainya dan mencintai orang yang mencintainya serta mencintai hambaNya yang berdoa dan meminta dengan nama-nama indahNya. Dan di antara tanda kesempurnaan Allah سبحانه وتعالى adalah Dia memiliki nama-nama indah dan sifat-sifat agung. Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi memerlukan bantuan Allah سبحانه وتعالى selamanya. Semuanya bertasbih memahasucikanNya dengan memujiNya. Mereka meminta kepa-daNya segala yang mereka perlukan. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memberi mereka karena kemuliaan dan karuniaNya sesuai rahmat dan hikmahNya. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijak-sana." Yang tidaklah menginginkan sesuatu melainkan pasti terjadi dan tidaklah menciptakan sesuatu melainkan karena hikmah dan maslahat. Selesai tafsir Surat al-Hasyr.

Al-Mumtahanah 60:1

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:2

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:3

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:4

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:5

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:6

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:7

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:8

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:9

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengam-bil musuhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan juga (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang-siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan mengumbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada Hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesung-guhnya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.' Kecuali perka-taan Ibrahim kepada bapaknya, 'Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapMu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana.' Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian. Dan ba-rangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji. Mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadi-kan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al-Mumtahanah: 1-9). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." Banyak ahli tafsir n menyebutkan bahwa sebab turunnya ayat-ayat mulia dalam surat ini berkenaan dengan kisah Hatib bin Abu Balta'ah, ketika Nabi a tengah siap berperang dalam peristiwa penaklukan Makkah.[118] Hatib mengirim surat untuk kaum musyrikin Makkah memberitahukan keberangkatan Rasulullah a ke Makkah agar dengan surat itu Hatib mendapat bantuan (bagi keluarganya) di tengah mereka, dan bukan karena keraguan dan kemunafikan. Surat itu dikirim lewat seorang wanita. Nabi a diberitahukan (melalui wahyu) perihal Hatib kemudian mengirim utusan untuk menemui wanita itu sebelum sampai ke Makkah dan suratnya diambil. Nabi a pun mencela Hatib, ia pun menyampaikan alasan yang kemudian diterima oleh Nabi a. Ayat-ayat ini berisi larangan keras untuk bersikap loyal ter-hadap orang-orang kafir dari kalangan musyrik dan lainnya serta memberikan rasa kasih sayang pada mereka. Karena hal itu mena-fikan keimanan dan berseberangan dengan Agama Nabi Ibrahim, kekasih Allah, bertentangan dengan akal yang mengharuskan benar-benar mewaspadai musuh yang sama sekali tidak menyisa-kan usaha sedikit pun dalam memusuhi serta selalu memanfaatkan kesempatan untuk mencelakai musuhnya. (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman," maksudnya, lakukanlah tuntutan keimanan kalian de-ngan bersikap loyal terhadap orang yang menunaikan keimanan dan memusuhi orang yang memusuhinya, karena sesungguhnya ia adalah musuh Allah سبحانه وتعالى dan musuh orang-orang yang beriman, ﴾ لَا تَتَّخِذُواْ عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمۡ أَوۡلِيَآءَ تُلۡقُونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ ﴿ "janganlah kamu mengambil mu-suhKu dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang," maksudnya, bersegera dalam mencintai mereka dan melakukan sebab-sebabnya karena kecintaan itu jika tulus akan disertai oleh pertolongan dan sikap loyal, dengan demikian seorang hamba akan keluar dari keimanan dan termasuk dalam kalangan orang-orang kafir. Maksudnya, terpisah dari orang-orang yang beriman. Orang Mukmin yang menjadikan orang kafir sebagai penolong juga tidak memiliki harga diri, sebab bagaimana bisa menjadikan musuh se-bagai pemimpinnya yang hanya menghendaki keburukan baginya serta menentang Rabbnya dan para kekasihNya yang menghendaki kebaikan padanya dengan memerintahkan dan mendorong pada kebaikan. Di antara faktor yang menyebabkan orang Mukmin memusuhi orang-orang kafir adalah karena orang-orang kafir mengingkari kebenaran yang dibawa oleh orang-orang Mukmin. Tidak ada pembangkangan yang lebih berat dari pengingkaran seperti ini. Karena mereka telah kufur dengan pangkal agama kalian, mereka mengira bahwa kalian berada dalam kesesatan, tidak berada di atas petunjuk, padahal sebenarnya merekalah yang kafir terhadap kebenaran yang tidak ada keraguannya. Siapa pun yang menolak kebenaran, maka mustahil baginya memiliki dalil atau hujjah atas kebenaran pandangannya. Bahkan hanya dengan mengetahui ke-benaran saja sudah bisa menunjukkan batilnya pandangan orang yang menolaknya. Di antara puncak permusuhan mereka adalah ﴾ يُخۡرِجُونَ ٱلرَّسُولَ وَإِيَّاكُمۡ ﴿ "mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu," wahai orang-orang yang beriman dari kampung halaman kalian dan mengusir kalian dari negeri kalian, padahal kalian tidak bersalah selain hanya ka-rena kalian beriman ﴾ بِٱللَّهِ رَبِّكُمۡ ﴿ "kepada Allah, Rabbmu," Yang harus disembah oleh seluruh makhluk, karena Dia adalah Rabb mereka serta yang memberikan berbagai nikmat, baik yang lahir maupun yang batin. Dia-lah Allah سبحانه وتعالى. Ketika mereka berpaling dari hal ini yang merupakan kewajiban pertama dan utama sedangkan kalian menunaikannya, mereka pun memusuhi kalian dan mengusir ka-lian dari kampung halaman kalian karena keimanan. Lantas agama apa, harga diri yang mana serta akal mana yang masih tersisa bagi seorang hamba yang beriman yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, yang seperti itulah sifat mereka di setiap waktu dan tempat. Tidak ada yang menghalangi mereka dari permusuhan itu selain rasa takut atau adanya penghalang yang kuat. ﴾ إِن كُنتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِهَٰدٗا فِي سَبِيلِي وَٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِيۚ ﴿ "Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalanKu dan mencari keridhaanKu (janganlah kamu berbuat demikian)." Maksudnya, jika kalian pergi berniat untuk jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى untuk menegakkan kalimat Allah سبحانه وتعالى serta mencari ridhaNya, maka ketahuilah tuntutan hal ini dengan bersikap loyal terhadap para kekasih Allah سبحانه وتعالى dan memusuhi para musuh Allah سبحانه وتعالى, karena inilah jihad di jalan Allah سبحانه وتعالى yang paling agung dan di antara salah satu amalan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencari keridhaanNya. ﴾ تُسِرُّونَ إِلَيۡهِم بِٱلۡمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعۡلَمُ بِمَآ أَخۡفَيۡتُمۡ وَمَآ أَعۡلَنتُمۡۚ ﴿ "Kamu memberitahukan se-cara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan." Maksudnya, mengapa kalian menyembunyikan rasa kasih sayang terhadap orang-orang kafir padahal kalian me-ngetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang kalian sembunyikan dan apa yang kalian nyatakan. Meskipun hal itu tidak diketahui oleh orang-orang yang beriman tapi tidak samar bagi Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan pada hamba-hambaNya berdasarkan amalan yang diperbuat, baik dan buruknya. ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡهُ مِنكُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya," yaitu loyal terhadap orang-orang kafir setelah diperingatkan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ ﴿ "maka sungguh dia telah tersesat dari jalan yang lurus," karena ia me-nempuh jalan yang berseberangan dengan syariat, akal, dan harga diri kemanusiaan. (2) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menjelaskan hebatnya permusuhan orang-orang kafir sebagai dorongan bagi orang-orang Mukmin agar memusuhi mereka. ﴾ إِن يَثۡقَفُوكُمۡ ﴿ "Jika mereka menangkap kamu," maksudnya, bertemu dengan kalian dan berkesempatan untuk mencelakai kalian, ﴾ يَكُونُواْ لَكُمۡ أَعۡدَآءٗ ﴿ "niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu" secara nyata, ﴾ وَيَبۡسُطُوٓاْ إِلَيۡكُمۡ أَيۡدِيَهُمۡ وَأَلۡسِنَتَهُم بِٱلسُّوٓءِ ﴿ "dan meng-umbar tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu)," de-ngan cara membunuh, memukul, dan lain sebagainya, serta dengan kata-kata yang menyakiti seperti celaan dan lainnya. ﴾ وَوَدُّواْ لَوۡ تَكۡفُرُونَ ﴿ "Dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir." Inilah puncak yang mereka inginkan darimu. (3) Jika kalian beralasan bahwa kalian bersikap loyal terha-dap orang-orang kafir karena kekerabatan dan bisnis, maka ingat-lah bahwa harta dan anak-anak kalian sama sekali tidak berguna bagi kalian di hadapan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Karena itu Allah سبحانه وتعالى memperingat-kan kalian dengan keras agar tidak bersikap loyal terhadap orang-orang kafir, karena sikap seperti ini akan membahayakan kalian. (4) ﴾ قَدۡ كَانَتۡ لَكُمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿"Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu," maksudnya, panutan yang baik dan figur yang berguna bagi kalian wahai sekalian orang-orang Mukmin, ﴾ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ ﴿ "pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia," dari kalang-an orang-orang yang beriman, karena kalian diperintahkan untuk mengikuti agama Ibrahim عليه السلام yang lurus,﴾ إِذۡ قَالُواْ لِقَوۡمِهِمۡ إِنَّا بُرَءَٰٓؤُاْ مِنكُمۡ وَمِمَّا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ﴿ "ketika mereka berkata kepada kaum mereka, 'Sesungguh-nya kami berlepas diri (anti) dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah'," maksudnya, pada saat Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang beriman bersama beliau berlepas diri dari kaum mereka yang musyrik dan berlepas diri dari apa pun yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, kemudian mereka benar-benar menegaskan sikap permusuhan mereka terhadap orang-orang kafir seraya berkata, ﴾ كَفَرۡنَا بِكُمۡ وَبَدَا بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمُ ٱلۡعَدَٰوَةُ وَٱلۡبَغۡضَآءُ ﴿ "Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian," maksudnya sikap benci di hati dan lenyapnya kasih sayang serta permusuhan dengan raga. Permusuhan dan kebencian tersebut tidak terbatas waktu, tapi berlaku ﴾ أَبَدًا ﴿ "buat selama-lamanya," selama kalian tetap berada dalam kekafiran, ﴾ حَتَّىٰ تُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَحۡدَهُۥٓ ﴿ "sampai kamu beriman kepada Allah saja." Maksudnya, jika kalian beriman pada Allah سبحانه وتعالى yang Esa, sikap permusuhan dan kebencian hilang dan berubah menjadi kasih sayang dan saling tolong-menolong. Kalian wahai orang-orang yang beriman, memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersama beliau yang menu-naikan keimanan dan tauhid serta menunaikan konsekuensi-kon-sekuensi iman dan tauhid dan dalam segala hal yang dengannya mereka beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى semata. ﴾ إِلَّا ﴿ "Kecuali," dalam satu hal, yaitu ﴾ قَوۡلَ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ ﴿ "perkataan Ibrahim kepada bapaknya," Azar, si musyrik lagi kafir dan penentang, ketika diajak untuk beriman dan bertauhid namun enggan, Ibrahim berkata padanya, ﴾ لَأَسۡتَغۡفِرَنَّ لَكَ ﴿ "Sungguh aku akan memohonkan ampunan bagi kamu," namun ﴾ وَمَآ أَمۡلِكُ لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن شَيۡءٖۖ ﴿ "aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari (siksaan) Allah terhadapmu." Akan tetapi aku berdoa pada Rabbku agar dengan doaku aku tidak menjadi orang yang sengsara. Dan Anda semua wahai orang-orang yang beriman, jangan mengikuti Ibrahim dalam hal ini yang berdoa untuk orang musyrik. Kalian tidak boleh mendoakan orang-orang musyrik dengan berkata, "Kami mengikuti agama Nabi Ibrahim dalam mendoakan orang-orang musyrik, karena Allah سبحانه وتعالى menyebutkan udzur Ibrahim dalam FirmanNya, ﴾ وَمَا كَانَ ٱسۡتِغۡفَارُ إِبۡرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوۡعِدَةٖ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوّٞ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنۡهُۚ إِنَّ إِبۡرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٞ 114 ﴿ "Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapak-nya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguh-nya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun." (At-Taubah: 114). Kalian juga memiliki teladan baik pada diri Nabi Ibrahim dan orang-orang yang beriman bersamanya ketika mereka berdoa pada Allah سبحانه وتعالى, bertawakal dan kembali padaNya, mereka juga mengakui kelemahan dan kurang menunaikan kewajiban dengan sempurna, mereka berkata, ﴾ رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا ﴿ "Hanya kepada Engkaulah kami bertawakal," maksudnya, kami bergantung padaMu untuk mendapatkan apa pun yang berguna bagi kami dan menjauhi apa pun yang membahayakan kami, kami percaya padaMu wahai Rabb dalam hal itu, ﴾ وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا ﴿ "dan hanya kepada Engkau-lah kami ber-taubat," maksudnya, kami kembali pada ketaatan dan ridhaMu wahai Rabb Kami dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kami padaMu. Kami menunaikan semua hal itu. Kami berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan segala kebaikan. Kami mengetahui bahwa kepadaMu-lah kami kembali. Untuk itu kami mempersiapkan diri untuk mendatangiMu dan kami melakukan apa pun yang mendekatkan diri kami padaMu. (5) ﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir." Maksudnya, janganlah Engkau membuat mereka menguasai kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka akan memfitnah kami dan mengha-langi kami dari keimanan sehingga mereka sendiri juga terfitnah, karena jika mereka melihat diri mereka mendapatkan kemenangan, mereka akan mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka semakin kufur dan membangkang. ﴾ وَٱغۡفِرۡ لَنَا ﴿ "Dan ampunilah kami," dosa-dosa dan ke-salahan-kesalahan yang kami lakukan serta perintah-perintah yang tidak kami tunaikan secara sempurna. ﴾ رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau, Engkau-lah Yang Mahaperkasa." Maha Memaksa segala sesuatu ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana." Yang meletakkan segala sesuatu di tempatnya. Dengan keperkasaan dan kebijaksanaanMu, tolonglah kami dari musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah kekurangan-kekurangan kami. (6) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mengulang kembali dorongan agar orang-orang yang beriman mengikuti teladan Nabi Ibrahim عليه السلام dan orang-orang yang bersama beliau seraya berfirman, ﴾ لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِيهِمۡ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ ﴿ "Sungguh pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu." Teladan ini tidak mudah bagi setiap orang namun akan terasa mudah bagi orang ﴾ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَۚ ﴿ "yang meng-harap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian." Karena sesungguhnya iman dan mengharapkan pahala bisa memudahkan semua yang sulit bagi hamba, memperkecil semua yang banyak dan mengharuskannya untuk meneladani hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih dan para nabi serta rasul. Karena ia menilai dirinya amat memerlukan hal itu. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّ ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling" dari ketaatan terhadap Allah dan meneladani para rasulNya, itu hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sama sekali tidak akan membahayakan Allah سبحانه وتعالى; ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡغَنِيُّ ﴿ "sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Mahakaya," bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari berbagai segi, tidak memerlukan satu pun dari makhlukNya sama sekali, ﴾ ٱلۡحَمِيدُ ﴿ "lagi Maha Terpuji," dalam DzatNya, nama-namaNya, sifat-sifatNya dan perbuatanNya. Sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى terpuji di atas semua itu. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa permusuhan yang diperintahkan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang ber-iman terhadap orang-orang musyrik serta diperintahkan agar dilakukan ini adalah selama mereka berada di dalam kesyirikan dan kekufuran. Jika mereka beriman, hukum pun berubah sesuai penyebabnya; maksudnya, rasa cinta dengan didasari keimanan kembali. Karena itu, janganlah kalian wahai orang-orang yang ber-iman berputus asa untuk menyeru mereka kembali pada keimanan, ﴾ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجۡعَلَ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ عَادَيۡتُم مِّنۡهُم مَّوَدَّةٗۚ ﴿ "mudah-mudahan Allah menimbul-kan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka," yang disebabkan oleh kembalinya mereka pada ke-imanan. ﴾ وَٱللَّهُ قَدِيرٞۚ ﴿ "dan Allah Mahakuasa" atas segala sesuatu, yang di antaranya adalah memberikan petunjuk pada hati dan merubah-rubahnya dari satu kondisi ke kondisi lain. ﴾ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Tidak ada dosa yang karena besarnya membuatNya tidak memberi ampunan dan tidak ada aib yang karena beratnya membuatNya tidak menutupinya. ﴾ قُلۡ يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ أَسۡرَفُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُواْ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ 53 ﴿ "Katakanlah, 'Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terha-dap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'." (Az-Zumar: 53). Dalam ayat ini terdapat kabar gembira islamnya sebagian orang-orang musyrik yang pada saat itu memusuhi orang-orang Mukmin. Hal itu terjadi. Segala puji dan karunia hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata. (8) Ketika turun ayat-ayat mulia ini yang mendorong orang-orang Mukmin untuk memusuhi orang-orang kafir; terjadilah ber-bagai peperangan di antara orang Mukmin dan orang kafir dan orang-orang Mukmin melakukannya dengan sempurna. Mereka merasa berdosa karena telah menyambung kekerabatan dengan keluarganya yang musyrik, mereka mengira bahwa itu termasuk dalam larangan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى kemudian memberitahukan bahwa hal itu tidak termasuk dalam larangan seraya berfirman,﴾ لَّا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ وَلَمۡ يُخۡرِجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوٓاْ إِلَيۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ﴿ "Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung tali kekerabatan, memberi balasan baik dan berbuat adil terhadap orang-orang musyrik dari kalangan ke-rabat dan yang lainnya jika mereka tidak memerangi kalian karena agama dan tidak mengusir kalian dari kampung halaman dan negeri kalian. Kalian tidak berdosa jika menyambung tali kekera-batan dengan mereka, sebab menyambung tali kekerabatan dengan orang-orang musyrik dalam kondisi seperti ini tidak terlarang se-bagaimana Firman Allah سبحانه وتعالى tentang orang tua kafir yang memiliki anak Muslim, ﴾ وَإِن جَٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشۡرِكَ بِي مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٞ فَلَا تُطِعۡهُمَاۖ وَصَاحِبۡهُمَا فِي ٱلدُّنۡيَا مَعۡرُوفٗاۖ ﴿ "Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan sesuatu dengan Aku yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15). (9) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّمَا يَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ قَٰتَلُوكُمۡ فِي ٱلدِّينِ ﴿ "Sesungguh-nya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena Agama," maksudnya, demi agama kalian, memusuhi agama kalian dan orang yang menegakkannya, ﴾ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِيَٰرِكُمۡ وَظَٰهَرُواْ ﴿ "dan mengusir kamu dari negerimu dan mem-bantu," yakni membantu orang lain, ﴾ عَلَىٰٓ إِخۡرَاجِكُمۡ ﴿ "untuk mengusirmu." Allah سبحانه وتعالى melarang kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin kalian dengan memberikan bantuan dan sikap kasih sayang, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Adapun perbuatan baik kalian terhadap orang-orang kafir di luar koridor sikap loyalitas tidaklah terlarang, namun termasuk dalam keumuman perintah berbuat baik terhadap kerabat dan orang lain bahkan terhadap selain manusia. ﴾ وَمَن يَتَوَلَّهُمۡ ﴿ "Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan," dari kalangan kalian, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." Kezhaliman itu berdasarkan sikap menja-dikan mereka sebagai kawan. Jika hal itu dilakukan secara penuh, maka perbuatan itu adalah suatu kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dan di bawah tingkatan ini ada juga ting-katan yang besar dan yang lebih kecil dari itu.

Al-Mumtahanah 60:10

"Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang ke-imanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu menga-wini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetap-kanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepadaNya kamu beriman." (Al-Mumtahanah: 10-11). (10) Pada saat terjadi perjanjian Hudaibiyah, Nabi a meng-adakan perjanjian dengan kaum musyrik; (yang di antara isi ke-sepakatannya adalah) bahwa siapa pun yang datang bergabung dengan kaum Muslimin dalam keadaan masuk Islam harus dikem-balikan dalam barisan orang-orang musyrik. Kata-kata ini bersifat umum dan mutlak yang mencakup kalangan perempuan dan lelaki. Berkaitan dengan kalangan lelaki, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang RasulNya untuk mengembalikannya ke barisan orang-orang kafir sebagai pemenuhan atas syarat perjanjian serta penyempurna per-janjian yang termasuk perjanjian terbesar itu. Sedangkan berkaitan dengan golongan wanita, karena jika dikembalikan lagi ke barisan orang-orang kafir dapat membawa petaka besar, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan orang-orang Mukmin jika ﴾ إِذَا جَآءَكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰتٖ ﴿ "datang berhijrah kepadamu perempuan-perem-puan yang beriman," sedangkan mereka meragukan kebenaran iman wanita-wanita yang berhijrah ini, boleh diuji supaya diketahui ke-benaran iman dan sikap mereka, sebab bisa jadi keimanan mereka tidak benar namun hanya sekedar menginginkan suami, tempat tinggal, atau tujuan-tujuan duniawi lain. Jika wanita-wanita yang datang berhijrah bersifat dan bertujuan seperti ini, harus dikem-balikan lagi ke barisan orang-orang kafir untuk menepati syarat perjanjian tanpa harus menimbulkan dampak yang berbahaya. Tapi ketika diuji dan diketahui kebenaran iman mereka atau dapat diketahui kebenaran iman sebagian dari mereka tanpa ujian terlebih dahulu, maka tidak boleh dikembalikan dalam barisan orang-orang kafir, ﴾ لَا هُنَّ حِلّٞ لَّهُمۡ وَلَا هُمۡ يَحِلُّونَ لَهُنَّۖ ﴿ "mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka." Karena mengem-balikan wanita-wanita beriman ke dalam barisan orang-orang kafir berdampak bahaya berdasarkan pandangan syariat, di samping untuk memenuhi persyaratan perjanjian dengan cara mengganti-kan belanja dan mahar atau yang lain untuk kemudian diserahkan pada orang-orang kafir sebagai ganti dari wanita-wanita beriman yang berhijrah. Pada saat itu, tidak berdosa bagi orang-orang Mukmin untuk menikahi mereka meski mereka memiliki suami di negeri kafir, dengan catatan, wanita yang dinikahi harus diberi nafkah serta mahar. Karena wanita Muslimah tidak halal bagi orang kafir, maka wanita kafir juga tidak halal bagi orang Muslim untuk dinikahi selama wanita tersebut berada dalam kekafiran, bukan ahli kitab. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تُمۡسِكُواْ بِعِصَمِ ٱلۡكَوَافِرِ ﴿ "Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir," karena Allah سبحانه وتعالى melarang untuk ber-pegang pada tali perkawinan dengan wanita-wanita kafir, maka memulai untuk menikahinya lebih terlarang. ﴾ وَسۡـَٔلُواْ مَآ أَنفَقۡتُمۡ ﴿ "Dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar," hai orang-orang yang beriman, ketika istri-istri kalian murtad dan kembali lagi kepada kekafiran. Karena orang-orang kafir berhak mendapatkan kompensasi dari orang-orang Muslim karena ada wanita yang masuk Islam, kaum Muslimin juga berhak mendapatkan kompen-sasi dari orang-orang kafir jika ada wanita dari kalangan Muslimah yang murtad. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa pa-sangan suami-istri yang berlepas diri dari ikatan pernikahan harus dibayar. Maka jika ada hal-hal yang membatalkan pernikahan seperti karena penyusuan dan lainnya, maka pihak suami harus menanggung maharnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ ﴿ "Demikian-lah hukum Allah," maksudnya, hukum yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى pada kalian itu adalah hukum Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya untuk kalian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana." Allah سبحانه وتعالى mengetahui hukum yang bermanfaat bagi kalian kemudian disyariatkanNya sesuai hikmah dan kasih sayangNya. (11) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِن فَاتَكُمۡ شَيۡءٞ مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ إِلَى ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang kafir," karena murtad, ﴾ فَعَاقَبۡتُمۡ فَـَٔاتُواْ ٱلَّذِينَ ذَهَبَتۡ أَزۡوَٰجُهُم مِّثۡلَ مَآ أَنفَقُواْۚ ﴿ "lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar seba-nyak yang telah mereka bayar." Ini sebagaimana yang disebutkan sebe-lumnya, karena orang-orang kafir berhak mendapatkan kompensasi atas istri-istri mereka yang bergabung dalam barisan orang-orang Muslim. Sebaliknya, orang-orang Muslim yang kehilangan istri-istrinya karena bergabung dalam barisan orang-orang kafir juga berhak mendapatkan kompensasi dari orang-orang kafir sebagai ganti dari sejumlah uang yang pernah diberikan.﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepadaNya kamu beriman." Yakni, keimanan kalian terhadap Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kalian untuk selalu bertakwa selamanya.

Al-Mumtahanah 60:11

"Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang ke-imanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman, maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu menga-wini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetap-kanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana. Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepadaNya kamu beriman." (Al-Mumtahanah: 10-11). (10) Pada saat terjadi perjanjian Hudaibiyah, Nabi a meng-adakan perjanjian dengan kaum musyrik; (yang di antara isi ke-sepakatannya adalah) bahwa siapa pun yang datang bergabung dengan kaum Muslimin dalam keadaan masuk Islam harus dikem-balikan dalam barisan orang-orang musyrik. Kata-kata ini bersifat umum dan mutlak yang mencakup kalangan perempuan dan lelaki. Berkaitan dengan kalangan lelaki, Allah سبحانه وتعالى tidak melarang RasulNya untuk mengembalikannya ke barisan orang-orang kafir sebagai pemenuhan atas syarat perjanjian serta penyempurna per-janjian yang termasuk perjanjian terbesar itu. Sedangkan berkaitan dengan golongan wanita, karena jika dikembalikan lagi ke barisan orang-orang kafir dapat membawa petaka besar, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan orang-orang Mukmin jika ﴾ إِذَا جَآءَكُمُ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ مُهَٰجِرَٰتٖ ﴿ "datang berhijrah kepadamu perempuan-perem-puan yang beriman," sedangkan mereka meragukan kebenaran iman wanita-wanita yang berhijrah ini, boleh diuji supaya diketahui ke-benaran iman dan sikap mereka, sebab bisa jadi keimanan mereka tidak benar namun hanya sekedar menginginkan suami, tempat tinggal, atau tujuan-tujuan duniawi lain. Jika wanita-wanita yang datang berhijrah bersifat dan bertujuan seperti ini, harus dikem-balikan lagi ke barisan orang-orang kafir untuk menepati syarat perjanjian tanpa harus menimbulkan dampak yang berbahaya. Tapi ketika diuji dan diketahui kebenaran iman mereka atau dapat diketahui kebenaran iman sebagian dari mereka tanpa ujian terlebih dahulu, maka tidak boleh dikembalikan dalam barisan orang-orang kafir, ﴾ لَا هُنَّ حِلّٞ لَّهُمۡ وَلَا هُمۡ يَحِلُّونَ لَهُنَّۖ ﴿ "mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka." Karena mengem-balikan wanita-wanita beriman ke dalam barisan orang-orang kafir berdampak bahaya berdasarkan pandangan syariat, di samping untuk memenuhi persyaratan perjanjian dengan cara mengganti-kan belanja dan mahar atau yang lain untuk kemudian diserahkan pada orang-orang kafir sebagai ganti dari wanita-wanita beriman yang berhijrah. Pada saat itu, tidak berdosa bagi orang-orang Mukmin untuk menikahi mereka meski mereka memiliki suami di negeri kafir, dengan catatan, wanita yang dinikahi harus diberi nafkah serta mahar. Karena wanita Muslimah tidak halal bagi orang kafir, maka wanita kafir juga tidak halal bagi orang Muslim untuk dinikahi selama wanita tersebut berada dalam kekafiran, bukan ahli kitab. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تُمۡسِكُواْ بِعِصَمِ ٱلۡكَوَافِرِ ﴿ "Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir," karena Allah سبحانه وتعالى melarang untuk ber-pegang pada tali perkawinan dengan wanita-wanita kafir, maka memulai untuk menikahinya lebih terlarang. ﴾ وَسۡـَٔلُواْ مَآ أَنفَقۡتُمۡ ﴿ "Dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar," hai orang-orang yang beriman, ketika istri-istri kalian murtad dan kembali lagi kepada kekafiran. Karena orang-orang kafir berhak mendapatkan kompensasi dari orang-orang Muslim karena ada wanita yang masuk Islam, kaum Muslimin juga berhak mendapatkan kompen-sasi dari orang-orang kafir jika ada wanita dari kalangan Muslimah yang murtad. Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa pa-sangan suami-istri yang berlepas diri dari ikatan pernikahan harus dibayar. Maka jika ada hal-hal yang membatalkan pernikahan seperti karena penyusuan dan lainnya, maka pihak suami harus menanggung maharnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكُمۡ حُكۡمُ ٱللَّهِ ﴿ "Demikian-lah hukum Allah," maksudnya, hukum yang disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى pada kalian itu adalah hukum Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjelaskannya untuk kalian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha-bijaksana." Allah سبحانه وتعالى mengetahui hukum yang bermanfaat bagi kalian kemudian disyariatkanNya sesuai hikmah dan kasih sayangNya. (11) Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَإِن فَاتَكُمۡ شَيۡءٞ مِّنۡ أَزۡوَٰجِكُمۡ إِلَى ٱلۡكُفَّارِ ﴿ "Dan jika seseorang dari istri-istrimu lari kepada orang kafir," karena murtad, ﴾ فَعَاقَبۡتُمۡ فَـَٔاتُواْ ٱلَّذِينَ ذَهَبَتۡ أَزۡوَٰجُهُم مِّثۡلَ مَآ أَنفَقُواْۚ ﴿ "lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari istrinya itu mahar seba-nyak yang telah mereka bayar." Ini sebagaimana yang disebutkan sebe-lumnya, karena orang-orang kafir berhak mendapatkan kompensasi atas istri-istri mereka yang bergabung dalam barisan orang-orang Muslim. Sebaliknya, orang-orang Muslim yang kehilangan istri-istrinya karena bergabung dalam barisan orang-orang kafir juga berhak mendapatkan kompensasi dari orang-orang kafir sebagai ganti dari sejumlah uang yang pernah diberikan.﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepadaNya kamu beriman." Yakni, keimanan kalian terhadap Allah سبحانه وتعالى mengharuskan kalian untuk selalu bertakwa selamanya.

Al-Mumtahanah 60:12

"Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah; tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Mumtahanah: 12). (12) Syarat-syarat yang disebutkan dalam ayat ini disebut sebagai mubaya'at an-nisa' (bai'at kaum wanita) yang pernah me-reka buat agar kewajiban-kewajiban bersama antara kaum lelaki maupun perempuan ditunaikan di berbagai waktu. Adapun kaum lelaki, kewajiban-kewajiban mereka berbeda-beda sesuai kondisi, dan derajat, serta kewajiban yang harus mereka tunaikan. Nabi a menunaikan apa yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى. Jika ada kaum wanita datang berbai'at dan komit terhadap syarat-syaratnya, Rasulullah a membai'at mereka, menghibur hati mereka dan me-mintakan ampunan pada Allah سبحانه وتعالى untuk mereka dari segala ke-kurangan yang pernah mereka lakukan. Kemudian Rasulullah a memasukkan mereka ke dalam golongan kaum Mukminin, dengan syarat ﴾ عَلَىٰٓ أَن لَّا يُشۡرِكۡنَ بِٱللَّهِ شَيۡـٔٗا ﴿ "bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah," dan wajib mengesakan Allah سبحانه وتعالى semata dalam beribadah, ﴾ وَلَا يَقۡتُلۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ ﴿ "dan tidak akan membunuh anak-anaknya," seperti yang pernah dilakukan pada kaum wanita di masa jahiliyah oleh orang-orang bodoh, ﴾ وَلَا يَزۡنِينَ ﴿ "dan tidak berzina," se-bagaimana yang dulunya banyak tersebar dan dilakukan oleh para pelacur, ﴾ وَلَا يَأۡتِينَ بِبُهۡتَٰنٖ يَفۡتَرِينَهُۥ بَيۡنَ أَيۡدِيهِنَّ وَأَرۡجُلِهِنَّ ﴿ "tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka." اَلْبُهْتَانُ adalah berkata dusta atas nama orang lain, maksudnya tidak berbuat dusta yang diada-adakan, baik yang berhubungan dengan suami-suami mereka atau yang berkaitan dengan orang lain, ﴾ وَلَا يَعۡصِينَكَ فِي مَعۡرُوفٖ ﴿ "dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik," maksudnya, tidak mendurhakaimu dalam kebaikan yang kau perintahkan pada mereka, karena perintahmu adalah kebaikan, dan termasuk di antaranya mereka harus menaatimu dalam larangan untuk meratapi mayit, merobek saku baju, memu-kul-mukul muka serta mengucapkan doa-doa jahiliyah. ﴾ فَبَايِعۡهُنَّ ﴿ "Maka terimalah janji setia mereka," jika mereka komit terhadap semua hal yang telah disebutkan, ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُنَّ ٱللَّهَۚ ﴿ "dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka," dari kekurangan-kekurangan mereka dan juga sebagai pelipur lara bagi mereka. ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ ﴿ "Sesungguh-nya Allah Maha Pengampun," Yang banyak ampunanNya untuk orang-orang yang durhaka dan berbuat baik kepada para pendosa yang mau bertaubat. ﴾ رَّحِيمٞ ﴿ "Lagi Maha Penyayang," yang kasih sayangNya meliputi segala sesuatu dan kebaikanNya meliputi seluruh makhluk.

Al-Mumtahanah 60:13

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sungguh mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa." (Al-Mumtahanah: 13). (13) Maksudnya, hai orang-orang yang beriman, jika kalian benar-benar beriman kepada Rabb kalian, meniti ridhaNya dan menjauhi murkaNya, ﴾ لَا تَتَوَلَّوۡاْ قَوۡمًا غَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "janganlah kamu jadi-kan penolongmu kaum yang dimurkai Allah," yang dimurkai karena kekufuran mereka. Ini mencakup seluruh golongan orang-orang kafir. ﴾ قَدۡ يَئِسُواْ مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِ ﴿ "Sungguh mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat," maksudnya, mereka terhalang dari kebaikan akhirat, me-reka tidak mendapatkan bagian apa pun dari akhirat. Waspadalah agar jangan menjadikan mereka sebagai penolongmu, supaya kalian tidak memiliki keburukan dan kesyirikan seperti halnya mereka, sehingga kalian akan terhalang dari kebaikan akhirat seperti halnya mereka. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كَمَا يَئِسَ ٱلۡكُفَّارُ مِنۡ أَصۡحَٰبِ ٱلۡقُبُورِ ﴿ "Sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa" ketika mereka menuju negeri akhirat, menyaksikan kebenaran akhirat dan benar-benar mengetahui secara yakin bahwa mereka tidak mendapatkan bagian apa pun di akhirat. Kemungkinan makna orang-orang kafir berputus asa dari akhirat adalah karena mereka mengingkari dan mengkufurinya. Karena itu, tidaklah mengherankan jika orang-orang kafir pada saat itu menuju kemurkaan Allah سبحانه وتعالى dan siksaNya. Mereka berputus asa dari akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang mengingkari Hari Kebangkitan ketika berada di dunia merasa putus asa dari kembalinya penghuni kubur menuju Allah سبحانه وتعالى. Selesai tafsir Surat al-Mumtahanah. Wallahu a'lam.