Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Mulk 67:1 – Al-Qalam 68:52
Daftar isi
- Al-Mulk 67:1
- Al-Mulk 67:2
- Al-Mulk 67:3
- Al-Mulk 67:4
- Al-Mulk 67:5
- Al-Mulk 67:6
- Al-Mulk 67:7
- Al-Mulk 67:8
- Al-Mulk 67:9
- Al-Mulk 67:10
- Al-Mulk 67:11
- Al-Mulk 67:12
- Al-Mulk 67:13
- Al-Mulk 67:14
- Al-Mulk 67:15
- Al-Mulk 67:16
- Al-Mulk 67:17
- Al-Mulk 67:18
- Al-Mulk 67:19
- Al-Mulk 67:20
- Al-Mulk 67:21
- Al-Mulk 67:22
- Al-Mulk 67:23
- Al-Mulk 67:24
- Al-Mulk 67:25
- Al-Mulk 67:26
- Al-Mulk 67:27
- Al-Mulk 67:28
- Al-Mulk 67:29
- Al-Mulk 67:30
- Al-Qalam 68:1
- Al-Qalam 68:2
- Al-Qalam 68:3
- Al-Qalam 68:4
- Al-Qalam 68:5
- Al-Qalam 68:6
- Al-Qalam 68:7
- Al-Qalam 68:8
- Al-Qalam 68:9
- Al-Qalam 68:10
- Al-Qalam 68:11
- Al-Qalam 68:12
- Al-Qalam 68:13
- Al-Qalam 68:14
- Al-Qalam 68:15
- Al-Qalam 68:16
- Al-Qalam 68:17
- Al-Qalam 68:18
- Al-Qalam 68:19
- Al-Qalam 68:20
- Al-Qalam 68:21
- Al-Qalam 68:22
- Al-Qalam 68:23
- Al-Qalam 68:24
- Al-Qalam 68:25
- Al-Qalam 68:26
- Al-Qalam 68:27
- Al-Qalam 68:28
- Al-Qalam 68:29
- Al-Qalam 68:30
- Al-Qalam 68:31
- Al-Qalam 68:32
- Al-Qalam 68:33
- Al-Qalam 68:34
- Al-Qalam 68:35
- Al-Qalam 68:36
- Al-Qalam 68:37
- Al-Qalam 68:38
- Al-Qalam 68:39
- Al-Qalam 68:40
- Al-Qalam 68:41
- Al-Qalam 68:42
- Al-Qalam 68:43
- Al-Qalam 68:44
- Al-Qalam 68:45
- Al-Qalam 68:46
- Al-Qalam 68:47
- Al-Qalam 68:48
- Al-Qalam 68:49
- Al-Qalam 68:50
- Al-Qalam 68:51
- Al-Qalam 68:52
Al-Mulk 67:1
"Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam ke-adaan payah." (Al-Mulk: 1-4).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) ﴾ تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ ﴿ "Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan." Maksudnya, Mahaagung lagi Mahatinggi dan kebaikanNya yang menyeluruh. Di antara keagunganNya adalah kerajaan alam langit dan bumi berada di TanganNya. Dia-lah yang menciptakannya dan mengatur sekehendakNya dengan menerap-kan hukum takdir dan hukum Agama berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Di antara keagunganNya adalah KuasaNya yang sempurna atas segala sesuatu. Dengan KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى menciptakan se-luruh makhluk-makhluk besar yang ada, seperti langit dan bumi.
(2) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ ﴿ "Yang menjadikan mati dan hidup," Allah سبحانه وتعالى menakdirkan hidup dan mati untuk hamba-hambaNya,﴾ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ ﴿ "supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." Yakni, siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling benar. Allah سبحانه وتعالى menciptakan para hambaNya dan dimunculkan di alam dunia ini. Mereka diberitahu akan dipindahkan dari alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintahNya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, dan melakukan amalan baik, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya pahala yang baik di dunia dan di akhirat. Namun siapa pun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah سبحانه وتعالى, maka akan mendapatkan balasan buruk. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," Yang bagiNya seluruh ke-perkasaan, dan dengan keperkasaan itu Allah سبحانه وتعالى memaksa segala sesuatu dan seluruh makhlukNya tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "lagi Maha Pengampun," yang mengampuni orang-orang yang melaku-kan keburukan, mereka yang tidak menunaikan kewajiban secara baik dan orang-orang yang berdosa khususnya, jika mereka ber-taubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengam-puni dosa-dosa mereka meski sampai sebanyak kolong langit, Allah سبحانه وتعالى menutupi aib mereka meski sepenuh bumi.
(3) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ ﴿ "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." Maksudnya, masing-masing bersusun rapi, di mana yang satu di atas yang lain dan bukan hanya satu lapis saja. Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dengan amat baik dan sempurna. ﴾ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." Yakni cela dan keku-rangan. Karena terbebas dari kekurangan dari berbagai seginya, maka ciptaan tersebut menjadi baik, sempurna, dan serasi di ber-bagai halnya, baik dari segi warna, kondisi, ketinggian dan dengan adanya matahari, bulan, bintang yang bercahaya, bintang yang tetap berada di tempatnya dan yang berpindah. Karena kesempur-naan penciptaan langit dan bumi bisa dilihat dan diketahui, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar selalu dipandangi dan direnungkan seluruh penjurunya seraya berfirman, ﴾ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ ﴿ "Maka lihatlah berulang-ulang," maksudnya, pandanglah berulang-ulang seraya memetik pelajaran. ﴾ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ﴿ "Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang," maksudnya, apakah ada kekurangan dan ketim-pangan?
(4) ﴾ ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ ﴿ "Kemudian pandanglah sekali lagi," maksud-nya adalah dengan sering mengulang, ﴾ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ ﴿ "niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemu-kan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." Maksudnya, tidak berdaya melihat adanya ketimpangan dan keti-dakseimbangan meski berusaha dengan sekuat tenaga.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskan indahnya langit seraya berfirman;
Al-Mulk 67:2
"Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam ke-adaan payah." (Al-Mulk: 1-4).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) ﴾ تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ ﴿ "Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan." Maksudnya, Mahaagung lagi Mahatinggi dan kebaikanNya yang menyeluruh. Di antara keagunganNya adalah kerajaan alam langit dan bumi berada di TanganNya. Dia-lah yang menciptakannya dan mengatur sekehendakNya dengan menerap-kan hukum takdir dan hukum Agama berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Di antara keagunganNya adalah KuasaNya yang sempurna atas segala sesuatu. Dengan KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى menciptakan se-luruh makhluk-makhluk besar yang ada, seperti langit dan bumi.
(2) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ ﴿ "Yang menjadikan mati dan hidup," Allah سبحانه وتعالى menakdirkan hidup dan mati untuk hamba-hambaNya,﴾ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ ﴿ "supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." Yakni, siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling benar. Allah سبحانه وتعالى menciptakan para hambaNya dan dimunculkan di alam dunia ini. Mereka diberitahu akan dipindahkan dari alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintahNya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, dan melakukan amalan baik, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya pahala yang baik di dunia dan di akhirat. Namun siapa pun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah سبحانه وتعالى, maka akan mendapatkan balasan buruk. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," Yang bagiNya seluruh ke-perkasaan, dan dengan keperkasaan itu Allah سبحانه وتعالى memaksa segala sesuatu dan seluruh makhlukNya tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "lagi Maha Pengampun," yang mengampuni orang-orang yang melaku-kan keburukan, mereka yang tidak menunaikan kewajiban secara baik dan orang-orang yang berdosa khususnya, jika mereka ber-taubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengam-puni dosa-dosa mereka meski sampai sebanyak kolong langit, Allah سبحانه وتعالى menutupi aib mereka meski sepenuh bumi.
(3) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ ﴿ "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." Maksudnya, masing-masing bersusun rapi, di mana yang satu di atas yang lain dan bukan hanya satu lapis saja. Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dengan amat baik dan sempurna. ﴾ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." Yakni cela dan keku-rangan. Karena terbebas dari kekurangan dari berbagai seginya, maka ciptaan tersebut menjadi baik, sempurna, dan serasi di ber-bagai halnya, baik dari segi warna, kondisi, ketinggian dan dengan adanya matahari, bulan, bintang yang bercahaya, bintang yang tetap berada di tempatnya dan yang berpindah. Karena kesempur-naan penciptaan langit dan bumi bisa dilihat dan diketahui, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar selalu dipandangi dan direnungkan seluruh penjurunya seraya berfirman, ﴾ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ ﴿ "Maka lihatlah berulang-ulang," maksudnya, pandanglah berulang-ulang seraya memetik pelajaran. ﴾ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ﴿ "Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang," maksudnya, apakah ada kekurangan dan ketim-pangan?
(4) ﴾ ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ ﴿ "Kemudian pandanglah sekali lagi," maksud-nya adalah dengan sering mengulang, ﴾ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ ﴿ "niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemu-kan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." Maksudnya, tidak berdaya melihat adanya ketimpangan dan keti-dakseimbangan meski berusaha dengan sekuat tenaga.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskan indahnya langit seraya berfirman;
Al-Mulk 67:3
"Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam ke-adaan payah." (Al-Mulk: 1-4).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) ﴾ تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ ﴿ "Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan." Maksudnya, Mahaagung lagi Mahatinggi dan kebaikanNya yang menyeluruh. Di antara keagunganNya adalah kerajaan alam langit dan bumi berada di TanganNya. Dia-lah yang menciptakannya dan mengatur sekehendakNya dengan menerap-kan hukum takdir dan hukum Agama berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Di antara keagunganNya adalah KuasaNya yang sempurna atas segala sesuatu. Dengan KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى menciptakan se-luruh makhluk-makhluk besar yang ada, seperti langit dan bumi.
(2) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ ﴿ "Yang menjadikan mati dan hidup," Allah سبحانه وتعالى menakdirkan hidup dan mati untuk hamba-hambaNya,﴾ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ ﴿ "supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." Yakni, siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling benar. Allah سبحانه وتعالى menciptakan para hambaNya dan dimunculkan di alam dunia ini. Mereka diberitahu akan dipindahkan dari alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintahNya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, dan melakukan amalan baik, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya pahala yang baik di dunia dan di akhirat. Namun siapa pun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah سبحانه وتعالى, maka akan mendapatkan balasan buruk. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," Yang bagiNya seluruh ke-perkasaan, dan dengan keperkasaan itu Allah سبحانه وتعالى memaksa segala sesuatu dan seluruh makhlukNya tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "lagi Maha Pengampun," yang mengampuni orang-orang yang melaku-kan keburukan, mereka yang tidak menunaikan kewajiban secara baik dan orang-orang yang berdosa khususnya, jika mereka ber-taubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengam-puni dosa-dosa mereka meski sampai sebanyak kolong langit, Allah سبحانه وتعالى menutupi aib mereka meski sepenuh bumi.
(3) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ ﴿ "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." Maksudnya, masing-masing bersusun rapi, di mana yang satu di atas yang lain dan bukan hanya satu lapis saja. Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dengan amat baik dan sempurna. ﴾ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." Yakni cela dan keku-rangan. Karena terbebas dari kekurangan dari berbagai seginya, maka ciptaan tersebut menjadi baik, sempurna, dan serasi di ber-bagai halnya, baik dari segi warna, kondisi, ketinggian dan dengan adanya matahari, bulan, bintang yang bercahaya, bintang yang tetap berada di tempatnya dan yang berpindah. Karena kesempur-naan penciptaan langit dan bumi bisa dilihat dan diketahui, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar selalu dipandangi dan direnungkan seluruh penjurunya seraya berfirman, ﴾ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ ﴿ "Maka lihatlah berulang-ulang," maksudnya, pandanglah berulang-ulang seraya memetik pelajaran. ﴾ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ﴿ "Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang," maksudnya, apakah ada kekurangan dan ketim-pangan?
(4) ﴾ ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ ﴿ "Kemudian pandanglah sekali lagi," maksud-nya adalah dengan sering mengulang, ﴾ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ ﴿ "niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemu-kan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." Maksudnya, tidak berdaya melihat adanya ketimpangan dan keti-dakseimbangan meski berusaha dengan sekuat tenaga.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskan indahnya langit seraya berfirman;
Al-Mulk 67:4
"Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi, niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat, dan penglihatanmu itu pun dalam ke-adaan payah." (Al-Mulk: 1-4).
Madaniyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1) ﴾ تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ ﴿ "Mahasuci Allah Yang di TanganNya-lah segala kerajaan." Maksudnya, Mahaagung lagi Mahatinggi dan kebaikanNya yang menyeluruh. Di antara keagunganNya adalah kerajaan alam langit dan bumi berada di TanganNya. Dia-lah yang menciptakannya dan mengatur sekehendakNya dengan menerap-kan hukum takdir dan hukum Agama berdasarkan kebijaksanaan-Nya. Di antara keagunganNya adalah KuasaNya yang sempurna atas segala sesuatu. Dengan KuasaNya, Allah سبحانه وتعالى menciptakan se-luruh makhluk-makhluk besar yang ada, seperti langit dan bumi.
(2) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ ﴿ "Yang menjadikan mati dan hidup," Allah سبحانه وتعالى menakdirkan hidup dan mati untuk hamba-hambaNya,﴾ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ ﴿ "supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." Yakni, siapa yang amalannya paling ikhlas dan paling benar. Allah سبحانه وتعالى menciptakan para hambaNya dan dimunculkan di alam dunia ini. Mereka diberitahu akan dipindahkan dari alam ini. Allah سبحانه وتعالى memberlakukan berbagai perintah dan larangan untuk mereka dan diuji dengan berbagai keinginan hawa nafsu yang memalingkan mereka dari perintahNya. Barangsiapa yang tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, dan melakukan amalan baik, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya pahala yang baik di dunia dan di akhirat. Namun siapa pun yang condong pada hawa nafsunya dan tidak menghiraukan perintah Allah سبحانه وتعالى, maka akan mendapatkan balasan buruk. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia Mahaperkasa," Yang bagiNya seluruh ke-perkasaan, dan dengan keperkasaan itu Allah سبحانه وتعالى memaksa segala sesuatu dan seluruh makhlukNya tunduk padaNya, ﴾ ٱلۡغَفُورُ ﴿ "lagi Maha Pengampun," yang mengampuni orang-orang yang melaku-kan keburukan, mereka yang tidak menunaikan kewajiban secara baik dan orang-orang yang berdosa khususnya, jika mereka ber-taubat dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengam-puni dosa-dosa mereka meski sampai sebanyak kolong langit, Allah سبحانه وتعالى menutupi aib mereka meski sepenuh bumi.
(3) ﴾ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ ﴿ "Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis." Maksudnya, masing-masing bersusun rapi, di mana yang satu di atas yang lain dan bukan hanya satu lapis saja. Allah سبحانه وتعالى menciptakannya dengan amat baik dan sempurna. ﴾ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ ﴿ "Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang." Yakni cela dan keku-rangan. Karena terbebas dari kekurangan dari berbagai seginya, maka ciptaan tersebut menjadi baik, sempurna, dan serasi di ber-bagai halnya, baik dari segi warna, kondisi, ketinggian dan dengan adanya matahari, bulan, bintang yang bercahaya, bintang yang tetap berada di tempatnya dan yang berpindah. Karena kesempur-naan penciptaan langit dan bumi bisa dilihat dan diketahui, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar selalu dipandangi dan direnungkan seluruh penjurunya seraya berfirman, ﴾ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ ﴿ "Maka lihatlah berulang-ulang," maksudnya, pandanglah berulang-ulang seraya memetik pelajaran. ﴾ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ﴿ "Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang," maksudnya, apakah ada kekurangan dan ketim-pangan?
(4) ﴾ ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ ﴿ "Kemudian pandanglah sekali lagi," maksud-nya adalah dengan sering mengulang, ﴾ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ ﴿ "niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemu-kan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah." Maksudnya, tidak berdaya melihat adanya ketimpangan dan keti-dakseimbangan meski berusaha dengan sekuat tenaga.
Kemudian Allah سبحانه وتعالى menegaskan indahnya langit seraya berfirman;
Al-Mulk 67:5
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:6
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:7
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:8
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:9
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:10
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:11
"Sungguh Kami telah menghiasi langit dunia (yang dekat) dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, me-reka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak. Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?' Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.' Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.' Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala." (Al-Mulk: 5-11).
(5) Maksudnya, sungguh Kami telah m e m p e r i n d a h ﴾ ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا ﴿ "langit dunia (yang dekat)," yang kalian lihat dan meliputi kalian, ﴾ بِمَصَٰبِيحَ ﴿ "dengan bintang-bintang," yaitu bintang-bintang dengan berbagai jenis cahaya dan pantulannya. Sebab andai langit tanpa berhias bintang akan menjadi atap yang gelap yang tidak memiliki keindahan. Tapi Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai perhiasan langit, keindahan, cahaya, dan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut. Pemberitaan tentang perhiasan langit terdekat (paling bawah) dengan berbagai bintang tidak me-nafikan banyaknya bintang di tujuh langit yang lain, karena langit-langit itu bersifat transparan sehingga bintang-bintang terlihat di langit terendah meski lokasi bintang-bintang tersebut tidak terda-pat di langit tersebut. ﴾ وَجَعَلۡنَٰهَا رُجُومٗا لِّلشَّيَٰطِينِۖ ﴿ "Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan," yang ingin mencuri berita langit. Allah سبحانه وتعالى menjadikan bintang-bintang tersebut sebagai penjaga langit agar setan tidak bisa mencuri berita-berita bumi. ﴾ وَأَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ ﴿ "Dan Kami sediakan bagi mereka," yakni di akhirat, ﴾ عَذَابَ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "siksa neraka yang menyala-nyala." Karena mereka membangkang terhadap Allah سبحانه وتعالى dan menyesatkan hamba-hambaNya.
(6) Karena itu para pengikut mereka dari kalangan orang-orang kafir juga seperti mereka, Allah سبحانه وتعالى menyediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِلَّذِينَ كَفَرُواْ بِرَبِّهِمۡ عَذَابُ جَهَنَّمَۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir kepada Rabbnya, memperoleh azab Jahanam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali," yang amat menghinakan penghuninya.
(7) ﴾ إِذَآ أُلۡقُواْ فِيهَا ﴿ "Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya," de-ngan cara dihina dan direndahkan, ﴾ سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا ﴿ "mereka mendengar suara neraka yang mengerikan," yaitu suara (jeritan) keras yang me-nakutkan.
(8) ﴾ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ ٱلۡغَيۡظِۖ ﴿ "Hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah." Maksudnya, karena saling berkumpul, hampir neraka saling terpecah satu sama lain dan terputus-putus karena marah terhadap orang-orang kafir. Lantas bagaimana dugaanmu, apa yang dilakukan terhadap mereka ketika mereka dimasukkan ke dalam neraka? Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan celaan penjaga neraka ter-hadap penghuninya, ﴾ كُلَّمَآ أُلۡقِيَ فِيهَا فَوۡجٞ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَآ أَلَمۡ يَأۡتِكُمۡ نَذِيرٞ ﴿ "Setiap kali dilem-parkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang ke-pada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'" Maksudnya, de-ngan kondisi kalian seperti ini dan hak kalian mendapatkan neraka seperti ini, sepertinya kalian belum diberitahu tentang kondisi neraka dan tidak ada seorang pemberi peringatan pun yang meng-ingatkan kalian dari neraka.
(9) ﴾ قَالُواْ بَلَىٰ قَدۡ جَآءَنَا نَذِيرٞ فَكَذَّبۡنَا وَقُلۡنَا مَا نَزَّلَ ٱللَّهُ مِن شَيۡءٍ إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا فِي ضَلَٰلٖ كَبِيرٖ ﴿ "Mereka menjawab, 'Benar ada, sungguh telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'." Mereka menyatukan antara kedustaan yang bersifat khusus dan kedustaan yang bersifat umum terhadap apa pun yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى. Tidak cukup sampai di situ, mereka pun mengumandangkan kesesatan para rasul yang memberi peringatan, padahal mereka adalah para pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk. Mereka tidak hanya sesat, tapi mereka juga membesar-besarkan kesesatan. Lantas pembangkangan, kesombongan serta kezhaliman mana lagi yang bisa menandingi tindakan orang-orang kafir ini?
(10) ﴾ وَقَالُواْ ﴿ "Dan mereka berkata," mengakui tidak berhak mendapatkan petunjuk dan arahan, ﴾ لَوۡ كُنَّا نَسۡمَعُ أَوۡ نَعۡقِلُ مَا كُنَّا فِيٓ أَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ 10 ﴿ "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala ini." Mereka menafikan jalan petunjuk dari diri mereka sendiri yaitu tidak mau mendengarkan apa yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى dan dibawa oleh para rasul. Mereka juga tidak berpikir dengan akal yang seharusnya bisa membawa manfaat bagi mereka, mengakui berbagai kebenaran, lebih mengedepankan kebaikan serta menjauhi berbagai hal yang berakibat tercela. Orang-orang kafir tidak memiliki pendengaran dan akal. Lain halnya dengan orang yang memiliki keyakinan, pengetahuan, kejujuran, dan keimanan. Mereka menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil naqli. Mereka mendengarkan apa pun yang datang dari sisi Allah سبحانه وتعالى dan yang dibawa Rasulullah a untuk diketahui, dimengerti, dan diamalkan. Mereka juga menguatkan keimanan mereka dengan dalil-dalil aqli yang mem-bedakan antara petunjuk dengan kesesatan, kebaikan dengan keburukan. Ukuran keimanan mereka berdasarkan keteladanan terhadap dalil naqli dan aqli yang Allah سبحانه وتعالى berikan pada mereka. Mahasuci Allah yang mengkhususkan karuniaNya pada siapa saja yang dikehendaki dan diberikan pada hamba-hambaNya yang dikehendaki, serta merendahkan orang yang tidak layak untuk kebaikan.
(11) Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka yang masuk neraka dan mengakui kezhaliman serta pembangkangan mereka,﴾ فَٱعۡتَرَفُواْ بِذَنۢبِهِمۡ فَسُحۡقٗا لِّأَصۡحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ ﴿ "Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaan-lah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala," maksudnya, amat jauh, rugi dan sengsaralah mereka. Alangkah sengsara dan hinanya mereka karena tidak mendapatkan pahala dari Allah سبحانه وتعالى. Mereka selamanya berada di dalam siksaan neraka yang menyala-nyala yang membakar jasad mereka hingga sampai ke hati.
Al-Mulk 67:12
"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh am-punan dan pahala yang besar." (Al-Mulk: 12).
(12) Setelah menyebutkan keadaan orang-orang yang celaka dan durjana, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kondisi orang-orang baik dan berbahagia seraya berfirman, ﴾ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ ﴿ "Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka," takut kepada Allah سبحانه وتعالى dalam berbagai kondisi mereka hingga dalam keadaan tidak ada seorang pun tahu selain Allah سبحانه وتعالى, mereka tidak mendurhakaiNya dan tidak bersikap asal-asalan dalam menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ ﴿ "mereka akan memperoleh ampunan" atas dosa-dosa mereka, dan apabila Allah سبحانه وتعالى telah mengampuni dosa-dosa mereka, Allah pun melindungi me-reka dari keburukan dan siksa neraka, ﴾ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ ﴿ "dan pahala yang besar," yang disediakan oleh Allah سبحانه وتعالى bagi mereka di dalam surga, berupa kenikmatan abadi, kerajaan besar, kenikmatan-kenikmatan yang saling berkaitan, istana, kediaman tinggi, bidadari, pelayan dari anak-anak beliau, dan yang lebih besar serta lebih agung dari semua itu, adalah keridhaan Allah Yang Maha Pemurah yang di-berikan pada penghuni surga.
Al-Mulk 67:13
"Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah; se-sungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 13-14).
(13) Ini adalah permberitahuan Allah سبحانه وتعالى tentang keluasan ilmu dan FirmanNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَسِرُّواْ قَوۡلَكُمۡ أَوِ ٱجۡهَرُواْ بِهِۦٓۖ ﴿ "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah," maksudnya, sama saja bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya karena ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Yakni, Mengetahui segala niat dan kehendak hati dan lebih me-ngetahui perkataan serta perbuatan yang bisa didengar dan dilihat.
(14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman mengutarakan dalil aqli yang menunjukkan ilmuNya, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ ﴿ "Apakah Allah yang men-ciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)?" Siapa lagi yang menciptakan, menyempurnakan, dan mengindah-kan makhluk, bagaimana Dia tidak tahu yang kalian tampakkan dan kalian sembunyikan? ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Yang detil ilmu dan pengetahuanNya hingga mengetahui rahasia, isi hati, segala yang samar, dan yang ghaib. ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi." (Thaha: 7), dan di antara makna Mahahalus adalah Allah memperlakukan hamba-hamba dan orang-orang yang dikasihiNya dengan lemah lembut. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka menuju kebaikan padahal mereka tidak mera-sakan hal itu. Allah سبحانه وتعالى menjaga mereka dari keburukan padahal mereka tidak mengira, dan mengangkat mereka ke tingkatan tinggi dengan berbagai sebab yang sama sekali tidak dikira oleh manusia. Bahkan Allah سبحانه وتعالى membuat mereka merasakan berbagai hal yang tidak disukai untuk menyampaikan mereka pada harapan tertinggi dan keinginan-keinginan mulia.
Al-Mulk 67:14
"Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah; se-sungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." (Al-Mulk: 13-14).
(13) Ini adalah permberitahuan Allah سبحانه وتعالى tentang keluasan ilmu dan FirmanNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَسِرُّواْ قَوۡلَكُمۡ أَوِ ٱجۡهَرُواْ بِهِۦٓۖ ﴿ "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau tampakkanlah," maksudnya, sama saja bagi Allah سبحانه وتعالى, tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya karena ﴾ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." Yakni, Mengetahui segala niat dan kehendak hati dan lebih me-ngetahui perkataan serta perbuatan yang bisa didengar dan dilihat.
(14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman mengutarakan dalil aqli yang menunjukkan ilmuNya, ﴾ أَلَا يَعۡلَمُ مَنۡ خَلَقَ ﴿ "Apakah Allah yang men-ciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan)?" Siapa lagi yang menciptakan, menyempurnakan, dan mengindah-kan makhluk, bagaimana Dia tidak tahu yang kalian tampakkan dan kalian sembunyikan? ﴾ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui." Yang detil ilmu dan pengetahuanNya hingga mengetahui rahasia, isi hati, segala yang samar, dan yang ghaib. ﴾ وَإِن تَجۡهَرۡ بِٱلۡقَوۡلِ فَإِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلسِّرَّ وَأَخۡفَى 7 ﴿ "Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia yang telah tersembunyi." (Thaha: 7), dan di antara makna Mahahalus adalah Allah memperlakukan hamba-hamba dan orang-orang yang dikasihiNya dengan lemah lembut. Allah سبحانه وتعالى mendorong mereka menuju kebaikan padahal mereka tidak mera-sakan hal itu. Allah سبحانه وتعالى menjaga mereka dari keburukan padahal mereka tidak mengira, dan mengangkat mereka ke tingkatan tinggi dengan berbagai sebab yang sama sekali tidak dikira oleh manusia. Bahkan Allah سبحانه وتعالى membuat mereka merasakan berbagai hal yang tidak disukai untuk menyampaikan mereka pada harapan tertinggi dan keinginan-keinginan mulia.
Al-Mulk 67:15
"Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) di-bangkitkan." (Al-Mulk: 15).
(15) Maksudnya, Dia-lah yang menundukkan bumi untuk kalian agar kalian bisa mendapatkan apa pun yang kalian perlukan, seperti bercocok tanam, mendirikan bangunan, membuat jalan yang menghubungkan ke tempat yang jauh dan berbagai negara. ﴾ فَٱمۡشُواْ فِي مَنَاكِبِهَا ﴿ "Maka berjalanlah di segala penjurunya," maksudnya, untuk mencari rizki dan penghasilan, ﴾ وَكُلُواْ مِن رِّزۡقِهِۦۖ وَإِلَيۡهِ ٱلنُّشُورُ ﴿ "dan ma-kanlah sebagian dari rizkiNya. Dan hanya kepadaNya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." Maksudnya, setelah kalian berpindah dari dunia ini yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai tempat ujian dan peng-hantar menuju akhirat. Setelah kalian meninggal dunia, kalian akan dibangkitkan dan dikumpulkan menuju Allah سبحانه وتعالى untuk membalas amal perbuatan kalian, baik dan buruknya.
Al-Mulk 67:16
"Apakah kamu merasa terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu." (Al-Mulk: 16-18).
(16) Ini adalah peringatan dan ancaman bagi orang yang terus-mengurus melampaui batas dan durhaka, yang mengharus-kan mereka mendapatkan siksaan dan mengundang azab. Allah berfirman, ﴾ ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit," yaitu Allah Mahatinggi di atas makhlukNya, ﴾ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ﴿ "bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang," menggoncang kalian hingga kalian binasa dan lenyap.
(17-18) ﴾ أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ ﴿ "Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia akan mengirim-kan badai yang berbatu," yakni, azab dari langit yang menimpa kalian sebagai pembalasan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian? ﴾ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ ﴿ "Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku," maksudnya, bagaimana ancamanKu yang disampaikan oleh para rasul dan kitab-kitab sampai pada kalian. Janganlah kalian mengira amannya kalian dari siksaan dunia dan siksaan dari langit itu berguna bagi kalian. Cepat atau lambat kalian akan merasakan akibat buruk dari perbuatan kalian. Orang-orang sebelum kalian juga berdusta seperti halnya kalian, Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimanakah pengingkaran (pembalasan) Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka. Allah سبحانه وتعالى menyegerakan siksaan duniawi sebelum siksaan akhirat. Maka waspadalah agar kalian tidak ter-timpa azab yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian.
Al-Mulk 67:17
"Apakah kamu merasa terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu." (Al-Mulk: 16-18).
(16) Ini adalah peringatan dan ancaman bagi orang yang terus-mengurus melampaui batas dan durhaka, yang mengharus-kan mereka mendapatkan siksaan dan mengundang azab. Allah berfirman, ﴾ ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit," yaitu Allah Mahatinggi di atas makhlukNya, ﴾ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ﴿ "bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang," menggoncang kalian hingga kalian binasa dan lenyap.
(17-18) ﴾ أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ ﴿ "Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia akan mengirim-kan badai yang berbatu," yakni, azab dari langit yang menimpa kalian sebagai pembalasan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian? ﴾ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ ﴿ "Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku," maksudnya, bagaimana ancamanKu yang disampaikan oleh para rasul dan kitab-kitab sampai pada kalian. Janganlah kalian mengira amannya kalian dari siksaan dunia dan siksaan dari langit itu berguna bagi kalian. Cepat atau lambat kalian akan merasakan akibat buruk dari perbuatan kalian. Orang-orang sebelum kalian juga berdusta seperti halnya kalian, Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimanakah pengingkaran (pembalasan) Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka. Allah سبحانه وتعالى menyegerakan siksaan duniawi sebelum siksaan akhirat. Maka waspadalah agar kalian tidak ter-timpa azab yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian.
Al-Mulk 67:18
"Apakah kamu merasa terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang. Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatanKu. Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul-rasulNya). Maka alangkah hebatnya kemurkaanKu." (Al-Mulk: 16-18).
(16) Ini adalah peringatan dan ancaman bagi orang yang terus-mengurus melampaui batas dan durhaka, yang mengharus-kan mereka mendapatkan siksaan dan mengundang azab. Allah berfirman, ﴾ ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ ﴿ "Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di langit," yaitu Allah Mahatinggi di atas makhlukNya, ﴾ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ ﴿ "bahwa Dia menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang," menggoncang kalian hingga kalian binasa dan lenyap.
(17-18) ﴾ أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ ﴿ "Atau apakah kamu merasa aman terhadap (Allah) Yang di langit bahwa Dia akan mengirim-kan badai yang berbatu," yakni, azab dari langit yang menimpa kalian sebagai pembalasan Allah سبحانه وتعالى terhadap kalian? ﴾ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ ﴿ "Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku," maksudnya, bagaimana ancamanKu yang disampaikan oleh para rasul dan kitab-kitab sampai pada kalian. Janganlah kalian mengira amannya kalian dari siksaan dunia dan siksaan dari langit itu berguna bagi kalian. Cepat atau lambat kalian akan merasakan akibat buruk dari perbuatan kalian. Orang-orang sebelum kalian juga berdusta seperti halnya kalian, Allah سبحانه وتعالى membinasakan mereka, maka perhatikanlah bagaimanakah pengingkaran (pembalasan) Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka. Allah سبحانه وتعالى menyegerakan siksaan duniawi sebelum siksaan akhirat. Maka waspadalah agar kalian tidak ter-timpa azab yang pernah menimpa orang-orang sebelum kalian.
Al-Mulk 67:19
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemu-rah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." (Al-Mulk: 19).
(19) Ini adalah teguran dan dorongan agar memperhatikan kondisi burung yang ditundukkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menundukkan udara dan angin untuknya. Burung mengepakkan sayapnya untuk terbang dan menjaganya agar tidak jatuh ke tanah. Burung tetap bertasbih ketika berada di udara dan mengulang-ulangnya sesuai kehendak dan keperluannya. ﴾ مَا يُمۡسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحۡمَٰنُۚ ﴿ "Tidak ada yang me-nahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah." Dia-lah yang me-nundukkan langit bagi burung, anatomi tubuhnya dirancang oleh Allah سبحانه وتعالى dalam bentuk yang bisa membuatnya terbang. Siapa pun yang memperhatikan dan merenungkan kondisi burung, akan mengetahui bahwa burung itu menunjukkan kekuasaan Allah Yang Maha Pencipta serta perhatianNya. Hanya Dia semata yang berhak disembah. ﴾ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَيۡءِۭ بَصِيرٌ ﴿ "Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu." Dia-lah yang mengatur hamba-hambaNya dengan segala sesuatu yang sesuai bagi mereka sebagaimana tuntutan hikmahNya.
Al-Mulk 67:20
"Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari pada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri." (Al-Mulk: 20-21).
(20) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang-orang yang membang-kang dan lari dari perintahNya serta berpaling dari kebenaran, ﴾ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي هُوَ جُندٞ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Atau siapakah dia yang menjadi ten-tara bagimu yang akan menolongmu selain dari pada Allah Yang Maha Pemurah," maksudnya, siapakah yang akan meno-longmu dan bisa menangkal keburukan darimu jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki keburukan bagimu. Maksudnya, siapa yang bisa menolongmu dari musuh-musuhmu selain Allah Yang Maha Pemurah. Hanya Allah semata yang memberi pertolongan, yang memberi kejayaan dan kehinaan. Sedangkan lainNya dari kalangan makhluk, andai semuanya bersatu padu untuk menolong seorang hamba, tentu mereka tidak bisa membawa manfaat sedikit pun dari musuh. Terus-menerusnya orang-orang kafir dalam kekufuran padahal mereka telah mengetahui tidak ada yang bisa menolong mereka selain Allah Yang Maha Pemurah merupakan kebodohan dan bualan.
(21) ﴾ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥۚ ﴿ "Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?" Maksudnya, semua rizki berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Jika Allah سبحانه وتعالى menahan rizki dari kalian, siapa gerangan yang bisa memberikannya pada kalian? Manusia tidak mampu memberi rizki pada dirinya sendiri, lantas bagai-mana bisa memberikannya pada orang lain? Yang Maha Memberi Rizki dan Memberi Nikmat itulah yang berhak untuk disembah, bukan lainNya. Namun orang-orang kafir ﴾ لَّجُّواْ فِي عُتُوّٖ ﴿ "terus-mene-rus dalam kesombongan," kekerasan hati, dan tidak tunduk pada kebenaran, ﴾ وَنُفُورٍ ﴿ "dan menjauhkan diri," lari dari kebenaran.
Al-Mulk 67:21
"Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari pada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya? Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri." (Al-Mulk: 20-21).
(20) Allah سبحانه وتعالى berfirman untuk orang-orang yang membang-kang dan lari dari perintahNya serta berpaling dari kebenaran, ﴾ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي هُوَ جُندٞ لَّكُمۡ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ ٱلرَّحۡمَٰنِۚ ﴿ "Atau siapakah dia yang menjadi ten-tara bagimu yang akan menolongmu selain dari pada Allah Yang Maha Pemurah," maksudnya, siapakah yang akan meno-longmu dan bisa menangkal keburukan darimu jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki keburukan bagimu. Maksudnya, siapa yang bisa menolongmu dari musuh-musuhmu selain Allah Yang Maha Pemurah. Hanya Allah semata yang memberi pertolongan, yang memberi kejayaan dan kehinaan. Sedangkan lainNya dari kalangan makhluk, andai semuanya bersatu padu untuk menolong seorang hamba, tentu mereka tidak bisa membawa manfaat sedikit pun dari musuh. Terus-menerusnya orang-orang kafir dalam kekufuran padahal mereka telah mengetahui tidak ada yang bisa menolong mereka selain Allah Yang Maha Pemurah merupakan kebodohan dan bualan.
(21) ﴾ أَمَّنۡ هَٰذَا ٱلَّذِي يَرۡزُقُكُمۡ إِنۡ أَمۡسَكَ رِزۡقَهُۥۚ ﴿ "Atau siapakah dia ini yang memberi kamu rizki jika Allah menahan rizkiNya?" Maksudnya, semua rizki berasal dari Allah سبحانه وتعالى. Jika Allah سبحانه وتعالى menahan rizki dari kalian, siapa gerangan yang bisa memberikannya pada kalian? Manusia tidak mampu memberi rizki pada dirinya sendiri, lantas bagai-mana bisa memberikannya pada orang lain? Yang Maha Memberi Rizki dan Memberi Nikmat itulah yang berhak untuk disembah, bukan lainNya. Namun orang-orang kafir ﴾ لَّجُّواْ فِي عُتُوّٖ ﴿ "terus-mene-rus dalam kesombongan," kekerasan hati, dan tidak tunduk pada kebenaran, ﴾ وَنُفُورٍ ﴿ "dan menjauhkan diri," lari dari kebenaran.
Al-Mulk 67:22
"Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas muka-nya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang ber-jalan tegap di atas jalan yang lurus?" (Al-Mulk: 22).
(22) Maksudnya, manakah di antara dua orang itu yang lebih mendapatkan hidayah, orang yang bimbang di dalam kese-satan dan tenggelam dalam kekufuran, hatinya terbalik, hingga yang benar menjadi batil dan yang batil menjadi benar, ataukah orang yang mengetahui, terpengaruh, dan mengamalkan kebenaran, serta berjalan di atas jalan yang lurus dalam perkataan, perbuatan, dan di seluruh hal-ihwalnya? Hanya dengan memperhatikan kondisi kedua orang tersebut saja dapat diketahui perbedaannya; mana yang tersesat dan mana yang mendapat petunjuk. Dan kon-disi (tingkah laku) itu memberikan kesaksian lebih besar daripada perkataan.
Al-Mulk 67:23
"Katakanlah, 'Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadi-kan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.' (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepadaNya-lah kelak kamu dikumpulkan.' Dan mereka berkata, 'Kapankan da-tangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan'." (Al-Mulk: 23-26).
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengingatkan bahwa Dia semata-lah yang berhak disembah dan Dia menyeru hamba-hambaNya untuk mensyukuriNya dan mengesakanNya dalam ibadah. ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu," maksudnya, menciptakan kalian dari ketiadaan, dan tidak ada yang membantu dan meno-longNya. Ketika Allah سبحانه وتعالى menciptakan kalian, Allah سبحانه وتعالى menyem-purnakan wujud kalian dengan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Ketiga hal inilah anggota badan terbaik dan kekuatan jasmani yang paling sempurna. Tapi, meski kalian mendapatkan nikmat seperti ini ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "amat sedikit kamu bersyukur," terha-dap Allah سبحانه وتعالى. Amat sedikit yang bersyukur dan amat sedikit rasa syukur dari kalian.
(24) ﴾ قُلۡ هُوَ ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadi-kan kamu berkembang biak di muka bumi'," maksudnya, menyebarkan kalian di berbagai penjuru bumi dan menempatkan kalian di ber-bagai penjuru. Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang kalian serta mengaruniai kalian nikmat yang berguna bagi kalian. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan kalian pada Hari Kiamat. Namun ancaman pemberian balasan ini diingkari oleh mereka yang membangkang.
(25) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," seraya mendustakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapankan datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka menganggap bahwa tanda-tanda benarnya mereka adalah bahwa beliau a mengabarkan waktu terjadinya ancaman tersebut dan ini merupakan kezhaliman dan pembangkangan.
(26) ﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah," tidak diketahui oleh seorang pun dan tidak ada korelasi antara berita ini dan berita kapan kejadiannya, sebab kebenaran bisa diketahui dengan bukti-buktinya. Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas kebenaran-nya yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi mereka yang mau mendengarkan dan menyaksikannya.
Al-Mulk 67:24
"Katakanlah, 'Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadi-kan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.' (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepadaNya-lah kelak kamu dikumpulkan.' Dan mereka berkata, 'Kapankan da-tangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan'." (Al-Mulk: 23-26).
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengingatkan bahwa Dia semata-lah yang berhak disembah dan Dia menyeru hamba-hambaNya untuk mensyukuriNya dan mengesakanNya dalam ibadah. ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu," maksudnya, menciptakan kalian dari ketiadaan, dan tidak ada yang membantu dan meno-longNya. Ketika Allah سبحانه وتعالى menciptakan kalian, Allah سبحانه وتعالى menyem-purnakan wujud kalian dengan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Ketiga hal inilah anggota badan terbaik dan kekuatan jasmani yang paling sempurna. Tapi, meski kalian mendapatkan nikmat seperti ini ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "amat sedikit kamu bersyukur," terha-dap Allah سبحانه وتعالى. Amat sedikit yang bersyukur dan amat sedikit rasa syukur dari kalian.
(24) ﴾ قُلۡ هُوَ ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadi-kan kamu berkembang biak di muka bumi'," maksudnya, menyebarkan kalian di berbagai penjuru bumi dan menempatkan kalian di ber-bagai penjuru. Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang kalian serta mengaruniai kalian nikmat yang berguna bagi kalian. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan kalian pada Hari Kiamat. Namun ancaman pemberian balasan ini diingkari oleh mereka yang membangkang.
(25) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," seraya mendustakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapankan datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka menganggap bahwa tanda-tanda benarnya mereka adalah bahwa beliau a mengabarkan waktu terjadinya ancaman tersebut dan ini merupakan kezhaliman dan pembangkangan.
(26) ﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah," tidak diketahui oleh seorang pun dan tidak ada korelasi antara berita ini dan berita kapan kejadiannya, sebab kebenaran bisa diketahui dengan bukti-buktinya. Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas kebenaran-nya yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi mereka yang mau mendengarkan dan menyaksikannya.
Al-Mulk 67:25
"Katakanlah, 'Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadi-kan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.' (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepadaNya-lah kelak kamu dikumpulkan.' Dan mereka berkata, 'Kapankan da-tangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan'." (Al-Mulk: 23-26).
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengingatkan bahwa Dia semata-lah yang berhak disembah dan Dia menyeru hamba-hambaNya untuk mensyukuriNya dan mengesakanNya dalam ibadah. ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu," maksudnya, menciptakan kalian dari ketiadaan, dan tidak ada yang membantu dan meno-longNya. Ketika Allah سبحانه وتعالى menciptakan kalian, Allah سبحانه وتعالى menyem-purnakan wujud kalian dengan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Ketiga hal inilah anggota badan terbaik dan kekuatan jasmani yang paling sempurna. Tapi, meski kalian mendapatkan nikmat seperti ini ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "amat sedikit kamu bersyukur," terha-dap Allah سبحانه وتعالى. Amat sedikit yang bersyukur dan amat sedikit rasa syukur dari kalian.
(24) ﴾ قُلۡ هُوَ ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadi-kan kamu berkembang biak di muka bumi'," maksudnya, menyebarkan kalian di berbagai penjuru bumi dan menempatkan kalian di ber-bagai penjuru. Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang kalian serta mengaruniai kalian nikmat yang berguna bagi kalian. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan kalian pada Hari Kiamat. Namun ancaman pemberian balasan ini diingkari oleh mereka yang membangkang.
(25) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," seraya mendustakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapankan datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka menganggap bahwa tanda-tanda benarnya mereka adalah bahwa beliau a mengabarkan waktu terjadinya ancaman tersebut dan ini merupakan kezhaliman dan pembangkangan.
(26) ﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah," tidak diketahui oleh seorang pun dan tidak ada korelasi antara berita ini dan berita kapan kejadiannya, sebab kebenaran bisa diketahui dengan bukti-buktinya. Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas kebenaran-nya yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi mereka yang mau mendengarkan dan menyaksikannya.
Al-Mulk 67:26
"Katakanlah, 'Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadi-kan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.' (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepadaNya-lah kelak kamu dikumpulkan.' Dan mereka berkata, 'Kapankan da-tangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan'." (Al-Mulk: 23-26).
(23) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengingatkan bahwa Dia semata-lah yang berhak disembah dan Dia menyeru hamba-hambaNya untuk mensyukuriNya dan mengesakanNya dalam ibadah. ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَكُمۡ ﴿ "Dia-lah yang menciptakan kamu," maksudnya, menciptakan kalian dari ketiadaan, dan tidak ada yang membantu dan meno-longNya. Ketika Allah سبحانه وتعالى menciptakan kalian, Allah سبحانه وتعالى menyem-purnakan wujud kalian dengan pendengaran, penglihatan, dan pikiran. Ketiga hal inilah anggota badan terbaik dan kekuatan jasmani yang paling sempurna. Tapi, meski kalian mendapatkan nikmat seperti ini ﴾ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ﴿ "amat sedikit kamu bersyukur," terha-dap Allah سبحانه وتعالى. Amat sedikit yang bersyukur dan amat sedikit rasa syukur dari kalian.
(24) ﴾ قُلۡ هُوَ ٱلَّذِي ذَرَأَكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Katakanlah, 'Dia-lah yang menjadi-kan kamu berkembang biak di muka bumi'," maksudnya, menyebarkan kalian di berbagai penjuru bumi dan menempatkan kalian di ber-bagai penjuru. Allah سبحانه وتعالى memerintah dan melarang kalian serta mengaruniai kalian nikmat yang berguna bagi kalian. Kemudian setelah itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan kalian pada Hari Kiamat. Namun ancaman pemberian balasan ini diingkari oleh mereka yang membangkang.
(25) ﴾ وَيَقُولُونَ ﴿ "Dan mereka berkata," seraya mendustakan, ﴾ مَتَىٰ هَٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ﴿ "Kapankan datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar." Mereka menganggap bahwa tanda-tanda benarnya mereka adalah bahwa beliau a mengabarkan waktu terjadinya ancaman tersebut dan ini merupakan kezhaliman dan pembangkangan.
(26) ﴾ قُلۡ إِنَّمَا ٱلۡعِلۡمُ عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Sesungguhnya ilmu (tentang Hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah," tidak diketahui oleh seorang pun dan tidak ada korelasi antara berita ini dan berita kapan kejadiannya, sebab kebenaran bisa diketahui dengan bukti-buktinya. Allah سبحانه وتعالى telah menegakkan berbagai dalil dan bukti nyata atas kebenaran-nya yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun bagi mereka yang mau mendengarkan dan menyaksikannya.
Al-Mulk 67:27
"Ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikata-kan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?' Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (Al-Mulk: 27-30).
(27) Maksudnya, kedustaan orang-orang kafir dan tipuan mereka berlaku di dunia, dan ketika Hari Pembalasan tiba, tatkala mereka melihat azab ﴾ زُلۡفَةٗ ﴿ "sudah dekat," siksaan itu membuat muka orang-orang kafir itu menjadi muram, membuat mereka takut dan menggelisahkan mereka. Karena itu wajah mereka ber-ubah dan mereka pun dihina serta dicela atas kedustaan mereka. Dan dikatakan kepada mereka ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ ﴿ "Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya." Pada hari ini kalian melihat sendiri azab ini dengan mata kepala kalian. Siksaan telah terlihat jelas bagi kalian. Semua sebab telah terputus dari kalian dan yang tersisa dari kalian hanyalah merasakan azab.
(28) Karena orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, yang menolak seruannya itu menanti kematiannya seraya ragu, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk berkata pada mereka, "Jika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, ﴾ أَهۡلَكَنِيَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ ﴿ "dan Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku," hal itu tidak berguna sama sekali bagi kalian, karena kalian mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan kalian pun berhak mendapatkan siskaan, lantas siapakah yang akan melin-dungi kalian ﴾ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "dari siksa yang pedih," yang pasti terjadi pada kalian? Karena itu, usaha susah payah kalian dan keinginan keras kalian agar aku mati itu sama sekali tidak berguna bagi kalian.
(29) Di antara perkataan mereka menyatakan, bahwa me-reka berada di atas petunjuk sedangkan Rasulullah a berada di atas kesesatan. Mereka mengulang-ulang hal itu dan senantiasa seperti itu. Mereka pun berdebat dan berperang karena hal itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan NabiNya untuk memberitahu-kan tentang kondisinya dan kondisi para pengikutnya, dengan pemberitahuan itu, masing-masing orang akan terlihat jelas petun-juknya, yaitu mereka mengatakan, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ ﴿ "Kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal." Iman mencakup pembenaran batin dan amalan lahir batin. Mengingat kualitas dan kesempurnaan amalan tergantung pada tawakal, maka Allah سبحانه وتعالى mengistimewakan tawakal di antara berbagai amalan. Jika pun tidak demikian, tawakal tetap termasuk dalam keimanan dan termasuk salah satu konsekuensinya. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 23 ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal jika kalian memang orang-orang yang beriman." (Al-Ma`idah: 23). Karena seperti inilah kondisi Rasulullah a dan orang-orang yang bersamanya, kondisi yang mengharuskan mereka mendapat-kan keberuntungan dan kebahagiaan. Sedangkan kondisi para musuh Rasulullah a adalah sebaliknya. Mereka tidak memiliki keimanan dan tawakal. Dengan demikian dapat diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada di atas kese-satan yang nyata.
(30) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa hanya Dia sendiri yang memberi nikmat, khususnya air, yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai cikal bakal semua kehidupan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering'," yakni habis kerontang, ﴾ فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۭ ﴿ "maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu" yang kalian minum dan untuk memberi minum binatang ternak, pepohonan dan tanaman? Pertanyaan ini bermakna menafikan. Maksudnya, tidak ada yang mampu mengalirkan air selain Allah سبحانه وتعالى.
Selesai tafsir Surat al-Mulk. Segala puji milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Mulk 67:28
"Ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikata-kan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?' Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (Al-Mulk: 27-30).
(27) Maksudnya, kedustaan orang-orang kafir dan tipuan mereka berlaku di dunia, dan ketika Hari Pembalasan tiba, tatkala mereka melihat azab ﴾ زُلۡفَةٗ ﴿ "sudah dekat," siksaan itu membuat muka orang-orang kafir itu menjadi muram, membuat mereka takut dan menggelisahkan mereka. Karena itu wajah mereka ber-ubah dan mereka pun dihina serta dicela atas kedustaan mereka. Dan dikatakan kepada mereka ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ ﴿ "Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya." Pada hari ini kalian melihat sendiri azab ini dengan mata kepala kalian. Siksaan telah terlihat jelas bagi kalian. Semua sebab telah terputus dari kalian dan yang tersisa dari kalian hanyalah merasakan azab.
(28) Karena orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, yang menolak seruannya itu menanti kematiannya seraya ragu, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk berkata pada mereka, "Jika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, ﴾ أَهۡلَكَنِيَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ ﴿ "dan Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku," hal itu tidak berguna sama sekali bagi kalian, karena kalian mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan kalian pun berhak mendapatkan siskaan, lantas siapakah yang akan melin-dungi kalian ﴾ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "dari siksa yang pedih," yang pasti terjadi pada kalian? Karena itu, usaha susah payah kalian dan keinginan keras kalian agar aku mati itu sama sekali tidak berguna bagi kalian.
(29) Di antara perkataan mereka menyatakan, bahwa me-reka berada di atas petunjuk sedangkan Rasulullah a berada di atas kesesatan. Mereka mengulang-ulang hal itu dan senantiasa seperti itu. Mereka pun berdebat dan berperang karena hal itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan NabiNya untuk memberitahu-kan tentang kondisinya dan kondisi para pengikutnya, dengan pemberitahuan itu, masing-masing orang akan terlihat jelas petun-juknya, yaitu mereka mengatakan, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ ﴿ "Kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal." Iman mencakup pembenaran batin dan amalan lahir batin. Mengingat kualitas dan kesempurnaan amalan tergantung pada tawakal, maka Allah سبحانه وتعالى mengistimewakan tawakal di antara berbagai amalan. Jika pun tidak demikian, tawakal tetap termasuk dalam keimanan dan termasuk salah satu konsekuensinya. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 23 ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal jika kalian memang orang-orang yang beriman." (Al-Ma`idah: 23). Karena seperti inilah kondisi Rasulullah a dan orang-orang yang bersamanya, kondisi yang mengharuskan mereka mendapat-kan keberuntungan dan kebahagiaan. Sedangkan kondisi para musuh Rasulullah a adalah sebaliknya. Mereka tidak memiliki keimanan dan tawakal. Dengan demikian dapat diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada di atas kese-satan yang nyata.
(30) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa hanya Dia sendiri yang memberi nikmat, khususnya air, yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai cikal bakal semua kehidupan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering'," yakni habis kerontang, ﴾ فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۭ ﴿ "maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu" yang kalian minum dan untuk memberi minum binatang ternak, pepohonan dan tanaman? Pertanyaan ini bermakna menafikan. Maksudnya, tidak ada yang mampu mengalirkan air selain Allah سبحانه وتعالى.
Selesai tafsir Surat al-Mulk. Segala puji milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Mulk 67:29
"Ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikata-kan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?' Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (Al-Mulk: 27-30).
(27) Maksudnya, kedustaan orang-orang kafir dan tipuan mereka berlaku di dunia, dan ketika Hari Pembalasan tiba, tatkala mereka melihat azab ﴾ زُلۡفَةٗ ﴿ "sudah dekat," siksaan itu membuat muka orang-orang kafir itu menjadi muram, membuat mereka takut dan menggelisahkan mereka. Karena itu wajah mereka ber-ubah dan mereka pun dihina serta dicela atas kedustaan mereka. Dan dikatakan kepada mereka ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ ﴿ "Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya." Pada hari ini kalian melihat sendiri azab ini dengan mata kepala kalian. Siksaan telah terlihat jelas bagi kalian. Semua sebab telah terputus dari kalian dan yang tersisa dari kalian hanyalah merasakan azab.
(28) Karena orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, yang menolak seruannya itu menanti kematiannya seraya ragu, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk berkata pada mereka, "Jika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, ﴾ أَهۡلَكَنِيَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ ﴿ "dan Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku," hal itu tidak berguna sama sekali bagi kalian, karena kalian mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan kalian pun berhak mendapatkan siskaan, lantas siapakah yang akan melin-dungi kalian ﴾ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "dari siksa yang pedih," yang pasti terjadi pada kalian? Karena itu, usaha susah payah kalian dan keinginan keras kalian agar aku mati itu sama sekali tidak berguna bagi kalian.
(29) Di antara perkataan mereka menyatakan, bahwa me-reka berada di atas petunjuk sedangkan Rasulullah a berada di atas kesesatan. Mereka mengulang-ulang hal itu dan senantiasa seperti itu. Mereka pun berdebat dan berperang karena hal itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan NabiNya untuk memberitahu-kan tentang kondisinya dan kondisi para pengikutnya, dengan pemberitahuan itu, masing-masing orang akan terlihat jelas petun-juknya, yaitu mereka mengatakan, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ ﴿ "Kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal." Iman mencakup pembenaran batin dan amalan lahir batin. Mengingat kualitas dan kesempurnaan amalan tergantung pada tawakal, maka Allah سبحانه وتعالى mengistimewakan tawakal di antara berbagai amalan. Jika pun tidak demikian, tawakal tetap termasuk dalam keimanan dan termasuk salah satu konsekuensinya. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 23 ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal jika kalian memang orang-orang yang beriman." (Al-Ma`idah: 23). Karena seperti inilah kondisi Rasulullah a dan orang-orang yang bersamanya, kondisi yang mengharuskan mereka mendapat-kan keberuntungan dan kebahagiaan. Sedangkan kondisi para musuh Rasulullah a adalah sebaliknya. Mereka tidak memiliki keimanan dan tawakal. Dengan demikian dapat diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada di atas kese-satan yang nyata.
(30) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa hanya Dia sendiri yang memberi nikmat, khususnya air, yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai cikal bakal semua kehidupan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering'," yakni habis kerontang, ﴾ فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۭ ﴿ "maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu" yang kalian minum dan untuk memberi minum binatang ternak, pepohonan dan tanaman? Pertanyaan ini bermakna menafikan. Maksudnya, tidak ada yang mampu mengalirkan air selain Allah سبحانه وتعالى.
Selesai tafsir Surat al-Mulk. Segala puji milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Mulk 67:30
"Ketika mereka melihat azab (pada Hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikata-kan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?' Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata.' Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'" (Al-Mulk: 27-30).
(27) Maksudnya, kedustaan orang-orang kafir dan tipuan mereka berlaku di dunia, dan ketika Hari Pembalasan tiba, tatkala mereka melihat azab ﴾ زُلۡفَةٗ ﴿ "sudah dekat," siksaan itu membuat muka orang-orang kafir itu menjadi muram, membuat mereka takut dan menggelisahkan mereka. Karena itu wajah mereka ber-ubah dan mereka pun dihina serta dicela atas kedustaan mereka. Dan dikatakan kepada mereka ﴾ هَٰذَا ٱلَّذِي كُنتُم بِهِۦ تَدَّعُونَ ﴿ "Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya." Pada hari ini kalian melihat sendiri azab ini dengan mata kepala kalian. Siksaan telah terlihat jelas bagi kalian. Semua sebab telah terputus dari kalian dan yang tersisa dari kalian hanyalah merasakan azab.
(28) Karena orang-orang yang mendustakan Rasulullah a, yang menolak seruannya itu menanti kematiannya seraya ragu, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk berkata pada mereka, "Jika kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan, ﴾ أَهۡلَكَنِيَ ٱللَّهُ وَمَن مَّعِيَ ﴿ "dan Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama denganku," hal itu tidak berguna sama sekali bagi kalian, karena kalian mengingkari tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى dan kalian pun berhak mendapatkan siskaan, lantas siapakah yang akan melin-dungi kalian ﴾ مِنۡ عَذَابٍ أَلِيمٖ ﴿ "dari siksa yang pedih," yang pasti terjadi pada kalian? Karena itu, usaha susah payah kalian dan keinginan keras kalian agar aku mati itu sama sekali tidak berguna bagi kalian.
(29) Di antara perkataan mereka menyatakan, bahwa me-reka berada di atas petunjuk sedangkan Rasulullah a berada di atas kesesatan. Mereka mengulang-ulang hal itu dan senantiasa seperti itu. Mereka pun berdebat dan berperang karena hal itu. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan NabiNya untuk memberitahu-kan tentang kondisinya dan kondisi para pengikutnya, dengan pemberitahuan itu, masing-masing orang akan terlihat jelas petun-juknya, yaitu mereka mengatakan, ﴾ ءَامَنَّا بِهِۦ وَعَلَيۡهِ تَوَكَّلۡنَاۖ ﴿ "Kami beriman kepadaNya dan kepadaNya-lah kami bertawakal." Iman mencakup pembenaran batin dan amalan lahir batin. Mengingat kualitas dan kesempurnaan amalan tergantung pada tawakal, maka Allah سبحانه وتعالى mengistimewakan tawakal di antara berbagai amalan. Jika pun tidak demikian, tawakal tetap termasuk dalam keimanan dan termasuk salah satu konsekuensinya. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ 23 ﴿ "Dan hanya kepada Allah-lah hendaknya kalian bertawakal jika kalian memang orang-orang yang beriman." (Al-Ma`idah: 23). Karena seperti inilah kondisi Rasulullah a dan orang-orang yang bersamanya, kondisi yang mengharuskan mereka mendapat-kan keberuntungan dan kebahagiaan. Sedangkan kondisi para musuh Rasulullah a adalah sebaliknya. Mereka tidak memiliki keimanan dan tawakal. Dengan demikian dapat diketahui siapa yang berada di atas petunjuk dan siapa yang berada di atas kese-satan yang nyata.
(30) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberitahukan bahwa hanya Dia sendiri yang memberi nikmat, khususnya air, yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai cikal bakal semua kehidupan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِنۡ أَصۡبَحَ مَآؤُكُمۡ غَوۡرٗا ﴿ "Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering'," yakni habis kerontang, ﴾ فَمَن يَأۡتِيكُم بِمَآءٖ مَّعِينِۭ ﴿ "maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu" yang kalian minum dan untuk memberi minum binatang ternak, pepohonan dan tanaman? Pertanyaan ini bermakna menafikan. Maksudnya, tidak ada yang mampu mengalirkan air selain Allah سبحانه وتعالى.
Selesai tafsir Surat al-Mulk. Segala puji milik Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:1
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:2
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:3
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:4
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:5
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:6
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:7
"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan se-sungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalanNya; dan Dia-lah Yang Paling Menge-tahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Qalam: 1-7).
Makkiyah
"Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang."
(1-2) Allah سبحانه وتعالى bersumpah dengan pena yang merupakan kata benda umum (isim jenis) yang mencakup seluruh macam pena yang dipakai untuk mencatat berbagai disiplin ilmu dan dipakai untuk menulis prosa dan puisi. Pena dan perkataan apa saja yang ditulis dengan pena merupakan salah satu tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang besar, yang berhak untuk dijadikan obyek sumpah Allah سبحانه وتعالى atas terbebasnya Nabi Muhammad a dari sifat gila yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuh beliau. Sumpah Allah سبحانه وتعالى ini menafikan sifat gila yang dituduhkan itu karena nikmat dan kebaikan RabbNya, karena Dia menganugerahkan akal yang sem-purna, pandangan yang arif, dan perkataan yang fasih yang meru-pakan hal terbaik yang ditulis pena dan dicatat oleh manusia. Dan inilah kebahagiaan di dunia.
(3) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kebahagiaan Nabi Muhammad a di akhirat seraya berfirman, ﴾ وَإِنَّ لَكَ لَأَجۡرًا غَيۡرَ مَمۡنُونٖ ﴿ "Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya." Yaitu pahala besar sebagaimana yang disebutkan oleh kata nakirah (indevinite) dalam ayat ini. Pahala besar yang tidak ada putusnya, namun tetap mengalir. Hal itu dikarenakan amal shalih, akhlak yang sempurna, dan petunjuk menuju kebaikan yang dilakukan oleh Rasulullah a.
(4) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ﴿ "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." Maksud-nya, agung dan tinggi dengan budi pekerti yang dikaruniakan Allah سبحانه وتعالى kepadamu. Secara garis besar tentang akhlaknya yang agung dijelaskan oleh Ummul Mukminin, Aisyah i, ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah a, ia menjawab, كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. "Akhlaknya adalah al-Qur`an."[124] Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ 199 ﴿ "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (Al-A'raf: 199). ﴾ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ 159 ﴿ "Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu-lah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya." (Ali Imran: 159). ﴾ لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ 128 ﴿ "Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sen-diri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128). Dan ayat-ayat lain yang menunjukkan sifat-sifat mulia Rasu-lullah a dan berbagai ayat yang mendorong untuk berakhlak yang baik. Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan agung. Beliau selalu berada di puncak tertinggi pada masing-masing akhlak baik. Rasulullah a adalah sosok lembut, mudah (bergaul) dan dekat dengan orang, mendatangi undangan orang, memenuhi keperluan orang yang meminta sebagai pelipur lara orang yang meminta, beliau selalu memberi dan tidak menolak dalam keadaan gagal (tidak membawa hasil). Apabila sahabat-sahabat beliau menginginkan sesuatu dari Rasulullah a, beliau mengiyakan dan mengikuti mereka jika tidak ada halangan. Jika bertekad melaku-kan sesuatu, beliau tidak pernah memutuskan sendiri, namun berembug dengan para sahabat. Rasulullah a adalah sosok yang menerima kebaikan orang, memaafkan kesalahan orang dan selalu memperlakukan teman secara baik dan sempurna. Beliau tidak pernah bermuka kusam, tidak pernah berkata kasar, tidak bersikap dingin, tidak pernah terselip lidah, tidak pernah dendam dengan perlakuan dingin orang, namun justru dibalas dengan kebaikan dan beliau sangat penyabar, semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau.
(5-6) Karena Allah سبحانه وتعالى menempatkan Rasulullah a di posisi tertinggi dalam berbagai hal sedangkan para musuhnya menuduh sebagai orang gila dan sakit, maka Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَسَتُبۡصِرُ وَيُبۡصِرُونَ 5 بِأَييِّكُمُ ٱلۡمَفۡتُونُ 6 ﴿ "Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." Jelas sudah, Rasulullah a adalah orang yang paling lurus dan paling sempurna terhadap dirinya dan orang lain, sedangkan musuh-mu-suhnya adalah orang-orang yang paling sesat dan buruk. Mereka adalah orang-orang yang memfitnah dan menyesatkan hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى dari jalanNya. Cukuplah Allah سبحانه وتعالى yang mengetahui tentang hal itu, karena Dia-lah yang akan memberi perhitungan dan membalas segala perbuatan.
(7) ﴾ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ﴿ "Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." Dalam ayat ini terdapat ancaman untuk orang-orang zhalim, janji baik untuk mereka yang mendapatkan petunjuk, dan penjelasan tentang hikmah Allah سبحانه وتعالى yang memberi hidayah pada orang yang layak mendapatkannya, bukan pada lainnya.
Al-Qalam 68:8
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:9
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:10
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:11
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:12
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:13
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:14
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:15
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:16
"Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendusta-kan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kesana kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.' Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai(nya)." (Al-Qalam: 8-16).
(8) Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Nabi Muhammad a, ﴾ فَلَا تُطِعِ ٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)," yakni, orang-orang yang mendustakanmu dan menentang kebenaran, karena mereka adalah orang-orang yang tidak patut untuk diikuti, karena mereka hanya memerintah sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Yang mereka inginkan hanyalah kebatilan. Orang yang menaati mereka adalah orang yang mem-persembahkan marabahaya pada dirinya sendiri. Hal ini bersifat umum pada setiap pendusta dan dalam setiap ketaatan yang ber-sumber dari kebohongan, meski tekstual ayat berlaku pada masa-lah khusus, yaitu ketika orang-orang musyrik meminta Nabi a agar tidak mencela tuhan-tuhan dan agama mereka.
(9) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَدُّواْ ﴿ "Maka mereka meng-inginkan," yakni, orang-orang musyrik, ﴾ لَوۡ تُدۡهِنُ ﴿ "supaya kamu bersi-kap lunak," maksudnya, setuju terhadap sebagian keyakinan mereka, baik dengan perkataan, tindakan, maupun bersikap diam dari apa yang seharusnya dikatakan, ﴾ فَيُدۡهِنُونَ ﴿ "lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu)." Tapi tegaklah dengan perintah Allah سبحانه وتعالى dan tam-pakkan Agama Islam, karena kesempurnaan penampakan Islam adalah kebalikan dari lawannya dan mencela agama yang menen-tangnya.
(10) ﴾ وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ ﴿ "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah," yaitu orang yang sering bersumpah. Karena hal itu hanya dilakukan oleh pendusta. Dan pendusta itu adalah orang ﴾ مَّهِينٍ ﴿ "hina," yakni buruk jiwanya, kecil semangatnya, dan tidak memiliki keinginan untuk kebaikan, tapi seluruh keinginan-nya hanya untuk kepentingan syahwat dirinya yang tercela.
(11) ﴾ هَمَّازٖ ﴿ "Yang banyak mencela," yaitu banyak mencela dan menuduh orang dengan cara ghibah, mengolok-olok atau yang lainnya. ﴾ مَّشَّآءِۭ بِنَمِيمٖ ﴿ "Yang kesana kemari menghambur fitnah," maksud-nya, menyebarkan namimah (adu domba) di antara sesama manu-sia. Namimah adalah menukil perkataan sebagian orang untuk di-sampaikan pada orang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka serta menimbulkan permusuhan dan kebencian.
(12) ﴾ مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ ﴿ "Yang sangat enggan berbuat baik," yang seha-rusnya dilakukan, seperti nafkah wajib, kaffarat, zakat, dan lainnya, ﴾ مُعۡتَدٍ ﴿ "yang melampaui batas" terhadap sesama dengan cara men-zhalimi darah, harta, maupun kehormatan, ﴾ أَثِيمٍ ﴿ "lagi banyak dosa," yakni banyak dosa yang berkaitan dengan hak-hak Allah سبحانه وتعالى.
(13) ﴾ عُتُلِّۭ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang kaku kasar, selain dari itu," yakni kasar dan berperangai kaku, keras, tidak tunduk pada kebenaran. ﴾ زَنِيمٍ ﴿ "Yang terkenal kejahatannya," yaitu orang jahat yang tidak memiliki pangkal serta kesiapan untuk melakukan kebaikan namun perangainya adalah akhlak yang paling buruk dan tidak bisa diha-rapkan adanya keberuntungan darinya serta memiliki tanda-tanda keburukan yang dikenal.
(14) Kesimpulannya, Allah سبحانه وتعالى melarang untuk menaati orang-orang tukang bersumpah, pendusta, berjiwa dan berperangai buruk, khususnya perangai yang mencakup rasa ujub terhadap diri sendiri, bersikap sombong terhadap kebenaran dan sesama manusia, menghina orang lain dengan ghibah dan namimah, menu-duh orang lain, dan banyak berbuat maksiat.
(15) Ayat-ayat ini meski turun berkenaan dengan perihal sebagian orang-orang musyrik seperti al-Walid bin al-Mughirah atau lainnya,[125] berdasarkan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ أَن كَانَ ذَا مَالٖ وَبَنِينَ 14 إِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡهِ ءَايَٰتُنَا قَالَ أَسَٰطِيرُ ٱلۡأَوَّلِينَ 15 ﴿ "karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, '(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala'," yaitu disebab-kan oleh banyaknya harta dan anak, ia pun melampaui batas dan bersikap sombong terhadap kebenaran serta menolaknya ketika kebenaran itu datang padanya dan dianggap sebagai dongeng orang-orang dahulu yang bisa dipercaya dan juga bisa didustakan, tapi ayat ini bersifat umum dan berlaku pada siapa saja yang me-miliki sifat serupa, karena al-Qur`an turun untuk memberi petun-juk pada seluruh manusia, sehingga umat yang pertama dan yang terakhir masuk dalam cakupan ayat-ayat ini yang bisa saja sebagian ayat-ayat al-Qur`an turun karena sebab tertentu atau permasalahan sebagian orang, agar kaidah umum bisa terlihat jelas sehingga masalah-masalah cabang yang tercakup dalam permasalahan-permasalahan umum bisa diketahui.
(16) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam orang yang sifat-sifat-nya sesuai dengan yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى di atas akan diberi tanda ﴾ عَلَى ٱلۡخُرۡطُومِ ﴿ "di belalai(nya)," di dalam siksaan, di mana Allah akan menyiksanya secara nyata hingga menjadi tanda pada sesuatu yang paling berat baginya, yaitu wajahnya.
Al-Qalam 68:17
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:18
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:19
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:20
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:21
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:22
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:23
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:24
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:25
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:26
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:27
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:28
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:29
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:30
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:31
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:32
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:33
"Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita, lalu mereka panggil me-manggil di pagi hari, 'Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.' Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan, 'Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu.' Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal me-reka mampu (menolongnya). Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata, 'Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan), bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya).' Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka, 'Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?' Mereka mengucapkan, 'Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim.' Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela. Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas.' Mudah-mu-dahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.' Seperti itulah azab (dunia). Dan sungguh azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui." (Al-Qalam: 17-33).
(17-18) Allah سبحانه وتعالى berfirman bahwa Dia menguji orang-orang yang mendustakan dengan kebaikan, Allah سبحانه وتعالى memberi mereka tangguhan dan memberikan berbagai hal yang dikehendakiNya berupa harta, anak, umur panjang dan lainnya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, bukan karena kemuliaan mereka dalam pan-dangan Allah سبحانه وتعالى, bahkan (sebaliknya) bisa jadi merupakan penun-daan (agar mereka mengintrospeksi diri) tapi mereka tidak menya-darinya. Mereka terlena dengan semua itu, mirip dengan keadaan para penghuni surga yang sama-sama diberi berbagai kenikmatan ketika pepohonan surga berbuah, buahnya meranum dan sudah waktunya diketam, mereka memastikan semua nikmat tersebut berada di tangan dan dalam kekuasaan mereka, tidak ada sesuatu pun yang menghalangi mereka untuk semua itu. Karena itu, mereka (orang-orang kafir yang tertipu dengan kesenangan dan kenikmat-an dunia) bersumpah tanpa adanya pengecualian bahwa mereka akan mendapatkannya, sedangkan mereka tidak mengetahui bahwa Allah سبحانه وتعالى mengintai mereka, siksaan akan mereka dapatkan dengan segera.
(19-20) ﴾ فَطَافَ عَلَيۡهَا طَآئِفٞ مِّن رَّبِّكَ ﴿ "Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu," maksudnya, azab yang turun pada malam hari, ﴾ وَهُمۡ نَآئِمُونَ ﴿ "ketika mereka sedang tidur." Azab itu membi-nasakan dan melenyapkannya, ﴾ فَأَصۡبَحَتۡ كَٱلصَّرِيمِ ﴿ "maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita," yaitu seperti malam yang gelap; pohon dan buahnya telah sirna.
(21-22) Begitulah, namun mereka tidak merasakan kenya-taan pahit ini. Karena itu mereka saling memanggil satu sama lain di pagi harinya, mereka saling berkata satu sama lain, ﴾ ٱغۡدُواْ عَلَىٰ حَرۡثِكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰرِمِينَ ﴿ "Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak me-metik buahnya."
(23-24) ﴾ فَٱنطَلَقُواْ ﴿ "Maka pergilah mereka," menuju perkebunan, ﴾ وَهُمۡ يَتَخَٰفَتُونَ ﴿ "mereka saling berbisik-bisikan," di antara mereka seraya menahan hak Allah سبحانه وتعالى dengan mengatakan, ﴾ لَّا يَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكُم مِّسۡكِينٞ ﴿ "Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun yang masuk ke dalam kebunmu." Maksudnya, ketamlah sesegera mungkin sebelum orang-orang berkeliaran. Terlalu loba dan pelitnya mereka hingga mereka mengutarakan pembicaraan itu secara berbisik-bisik agar tidak didengar oleh seorang pun, supaya berita itu tidak bocor pada orang-orang miskin.
(25) ﴾ وَغَدَوۡاْ ﴿ "Dan berangkatlah mereka di pagi hari," dalam kondisi keji, kasar, dan tidak berbelas kasih seperti ini, ﴾ عَلَىٰ حَرۡدٖ قَٰدِرِينَ ﴿ "dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya)." Yakni, mereka menahan hak Allah سبحانه وتعالى yang pasti mereka mampu lakukan.
(26-27) ﴾ فَلَمَّا رَأَوۡهَا ﴿ "Tatkala mereka melihat kebun itu," dalam kondisi seperti yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى seperti malam yang gelap, ﴾ قَالُوٓاْ ﴿ "mereka berkata," karena bingung dan resah, ﴾ إِنَّا لَضَآلُّونَ ﴿ "Sesung-guhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan)," bingung tidak mengetahui kebunnya, sepertinya kebun yang lain. Ketika mereka telah memastikan kebunnya telah hangus, mereka kembali berpikir seraya berkata, ﴾ نَحۡنُ مَحۡرُومُونَ ﴿ "Bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)," yakni hasil panen kebun ini. Pada waktu itu mereka baru menyadari bahwa itu adalah hukuman.
(28) Maka ﴾ قَالَ أَوۡسَطُهُمۡ ﴿ "berkatalah seorang yang paling baik pi-kirannya di antara mereka," yaitu orang yang paling lurus dan baik, ﴾ أَلَمۡ أَقُل لَّكُمۡ لَوۡلَا تُسَبِّحُونَ ﴿ "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)," yaitu memahasucikan Allah سبحانه وتعالى dari sesuatu yang tidak layak bagiNya, di antaranya adalah kalian mengira bahwa kemampuan kalian itu berdiri sendiri. Andai kalian mengecualikan dan mengatakan, "Insya Allah," dan kalian menem-patkan kehendak kalian mengikuti kehendakNya, tentu hal ini tidak akan terjadi.
(29) Maka ﴾ قَالُواْ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِنَّا كُنَّا ظَٰلِمِينَ ﴿ "mereka mengucapkan, 'Maha-suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim'." Maksudnya, mereka sadar, hanya saja kesadaran mereka itu baru muncul setelah azab menimpa perkebunan mereka yang tentu saja tidak bisa dihilangkan. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pe-ngakuan akan kezhaliman diri mereka berguna bagi mereka agar siksaan mereka diringankan dan menjadi taubat (bagi mereka).
(30-32) Karena itulah mereka amat menyesal, ﴾ بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ يَتَلَٰوَمُونَ ﴿ "lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela" atas perbuatan yang telah mereka lakukan. ﴾ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا طَٰغِينَ ﴿ "Mereka berkata, 'Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampaui batas'," yakni melampaui batas dalam hak Allah سبحانه وتعالى dan hak sesama manusia. ﴾ عَسَىٰ رَبُّنَآ أَن يُبۡدِلَنَا خَيۡرٗا مِّنۡهَآ إِنَّآ إِلَىٰ رَبِّنَا رَٰغِبُونَ ﴿ "Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita." Mereka mengharap agar Allah سبحانه وتعالى menggantikan yang lebih baik dan mereka berjanji akan berharap dan terus me-minta pada Allah سبحانه وتعالى di dunia. Jika mereka seperti yang mereka katakan, zahirnya Allah سبحانه وتعالى menggantikan rizki yang lebih baik bagi mereka di dunia, karena orang yang berdoa dengan tulus pada Allah سبحانه وتعالى serta memohon dan mengharapNya, maka Allah سبحانه وتعالى akan mengabulkan permintaannya.
(33) Allah سبحانه وتعالى berfirman membesarkan apa yang terjadi, ﴾ كَذَٰلِكَ ٱلۡعَذَابُۖ ﴿ "Seperti itulah azab (dunia)." Yakni siksa dunia bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang mengundang azab, Allah سبحانه وتعالى akan mencabut nikmat yang menjadikannya angkuh dan lebih mengedepankan kehidupan dunia. Allah سبحانه وتعالى akan melenyapkan nikmat tersebut dari pemiliknya pada saat-saat amat diperlukan. ﴾ وَلَعَذَابُ ٱلۡأٓخِرَةِ أَكۡبَرُۚ ﴿ "Dan sungguh azab akhirat lebih besar," dari azab dunia, ﴾ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ﴿ "jika mereka mengetahui." Siapa pun yang mengetahui hal itu, maka harus menjauhi berbagai hal yang mengundang azab dan mencegah pahala.
Al-Qalam 68:34
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:35
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:36
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:37
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:38
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:39
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:40
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:41
"Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya. Maka apa-kah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau ada-kah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa di dalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu? Atau apakah kamu mem-peroleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai Hari Kiamat? Sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)? Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?' Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatang-kan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar." (Al-Qalam: 34-41).
(34-41) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan apa yang dipersiapkan bagi orang-orang yang bertakwa yang menjaga diri dari kekufuran dan berbagai kemaksiatan, berupa berbagai macam kenikmatan dan kehidupan sentosa di dekat Allah, Dzat Yang Mahamulia. Kebi-jaksanaan Allah سبحانه وتعالى tidak menyamakan antara orang-orang yang bertakwa yang menunaikan hak-hak Rabb mereka, tunduk pada perintah-perintahNya dan yang meniti ridhaNya seperti orang-orang pendosa yang larut dalam kemaksiatan, mengkufuri ayat-ayatNya, membangkang rasul-rasulNya dan memerangi para kekasihNya. Jika ada yang mengira balasan kedua golongan tersebut sama, tentu hukum yang berlaku tidak adil. Hukumnya batil dan pandangannya tidak benar. Jika para pendosa mengira demikian, mereka sama sekali tidak memiliki sandaran. Bukan kitab yang mereka pelajari dan baca yang menyebutkan bahwa mereka ada-lah penghuni surga, mereka mendapatkan apa saja yang mereka inginkan dan pilih, mereka juga tidak memiliki janji dan sumpah sempurna di sisi Allah سبحانه وتعالى pada Hari Kiamat bahwa mereka akan mendapatkan apa pun yang mereka putuskan, mereka juga tidak memiliki sekutu dan teman yang membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika mereka memiliki sekutu dan te-man, silahkan mereka datangkan jika mereka adalah orang-orang yang benar. Sebagaimana diketahui, semua hal itu tidak ada. Me-reka tidak memiliki kitab dan janji di sisi Allah سبحانه وتعالى akan mendapat-kan keselamatan, mereka juga tidak memiliki sekutu yang akan menolong mereka. Maka dapat diketahui bahwa klaim mereka batil belaka. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَلۡهُمۡ أَيُّهُم بِذَٰلِكَ زَعِيمٌ ﴿ "Tanyakanlah kepada mereka, 'Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu'." Maksudnya, siapa yang bertanggung jawab atas klaim yang jelas-jelas batil ini. Tidak akan ada seorang pun yang mau mengakui dan bertanggung jawab.
Al-Qalam 68:42
"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sungguh mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan me-reka dalam keadaan sejahtera." (Al-Qalam: 42-43).
(42-43) Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi dan nam-paklah kerisauan, goncangan serta huru-hara yang belum pernah terbayangkan, lalu Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberikan keputusan dan balasan amal perbuatan hamba-hambaNya. Allah سبحانه وتعالى menam-pakkan BetisNya Yang Mulia yang tidak serupa dengan apa pun, para manusia melihat keluhuran dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika itulah ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ ﴿ "mereka dipanggil untuk bersujud," yakni, bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka orang-orang Mukmin yang ketika di dunia bersujud pada Allah سبحانه وتعالى, bersujud dengan taat dan suka rela. Orang-orang keji dan orang-orang munafik juga ingin bersujud, namun tidak mampu merendahkan diri. Inilah balasan yang sesuai dengan amal per-buatan, karena ketika di dunia mereka diseru untuk bersujud ke-pada Allah سبحانه وتعالى, mengesakan dan menyembahNya padahal mereka tidak memiliki penghalang dan penyakit apa pun, namun mereka bersikap sombong dan enggan. Maka pada hari ini, jangan engkau menanyakan kondisi dan akibat buruk mereka. Allah سبحانه وتعالى memurkai mereka sehingga berlakulah siksaan atas mereka. Semua sebab-sebab telah terputus. Penyesalan tidak berguna lagi bagi mereka pada Hari Kiamat. Hal ini amat menakutkan hati untuk melakukan kemaksiatan dan mengharuskan bertaubat selama masih dimung-kinkan.
Al-Qalam 68:43
"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sungguh mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan me-reka dalam keadaan sejahtera." (Al-Qalam: 42-43).
(42-43) Maksudnya, ketika Hari Kiamat terjadi dan nam-paklah kerisauan, goncangan serta huru-hara yang belum pernah terbayangkan, lalu Allah سبحانه وتعالى datang untuk memberikan keputusan dan balasan amal perbuatan hamba-hambaNya. Allah سبحانه وتعالى menam-pakkan BetisNya Yang Mulia yang tidak serupa dengan apa pun, para manusia melihat keluhuran dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika itulah ﴾ يُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلسُّجُودِ ﴿ "mereka dipanggil untuk bersujud," yakni, bersujud kepada Allah سبحانه وتعالى. Maka orang-orang Mukmin yang ketika di dunia bersujud pada Allah سبحانه وتعالى, bersujud dengan taat dan suka rela. Orang-orang keji dan orang-orang munafik juga ingin bersujud, namun tidak mampu merendahkan diri. Inilah balasan yang sesuai dengan amal per-buatan, karena ketika di dunia mereka diseru untuk bersujud ke-pada Allah سبحانه وتعالى, mengesakan dan menyembahNya padahal mereka tidak memiliki penghalang dan penyakit apa pun, namun mereka bersikap sombong dan enggan. Maka pada hari ini, jangan engkau menanyakan kondisi dan akibat buruk mereka. Allah سبحانه وتعالى memurkai mereka sehingga berlakulah siksaan atas mereka. Semua sebab-sebab telah terputus. Penyesalan tidak berguna lagi bagi mereka pada Hari Kiamat. Hal ini amat menakutkan hati untuk melakukan kemaksiatan dan mengharuskan bertaubat selama masih dimung-kinkan.
Al-Qalam 68:44
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:45
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:46
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:47
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:48
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:49
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:50
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:51
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.
Al-Qalam 68:52
"Maka serahkanlah (wahai Muhammad) kepadaKu (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur`an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui. Dan Aku mem-beri tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaKu amat teguh. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang? Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetap-kan)? Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap kete-tapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam ke-adaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shalih. Dan sungguh orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Qur`an dan mereka berkata, 'Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.' Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." (Al-Qalam: 44-52).
(44-45) Maksudnya, serahkanlah kepadaKu urusan orang-orang yang mendustakan al-Qur`an yang agung, Aku-lah yang akan membalas mereka dan jangan kau minta siksaan mereka disegerakan, Kami akan menarik mereka secara berangsur-angsur (menuju kebinasaan), ﴾ مِّنۡ حَيۡثُ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "dari arah yang tidak mereka ketahui." Kami memberi keleluasaan mereka dengan harta dan anak. Kami memberi keleluasaan mereka dalam rizki dan pekerjaan, agar mereka terpedaya dan tetap berada di atas apa yang memudarat-kan mereka. Ini adalah balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan balasan tipu daya Allah سبحانه وتعالى pada musuh-musuhNya amat kokoh dan kuat. Dampak berbahaya dan siksaan mereka akan benar-benar sampai pada mereka.
(46) ﴾ أَمۡ تَسۡـَٔلُهُمۡ أَجۡرٗا فَهُم مِّن مَّغۡرَمٖ مُّثۡقَلُونَ ﴿ "Ataukah kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?" Maksudnya, tidak ada sebab yang membuat mereka lari darimu dan tidak membenar-kanmu yang mengharuskan mereka melakukan hal itu. Engkau hanyalah mengajarkan dan menyeru mereka menuju Allah سبحانه وتعالى murni karena kepentingan mereka sendiri, tanpa kau mintai upah yang membuat mereka terbebani hutang.
(47) ﴾ أَمۡ عِندَهُمُ ٱلۡغَيۡبُ فَهُمۡ يَكۡتُبُونَ ﴿ "Ataukah ada pada mereka ilmu ten-tang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)." Hal-hal ghaib yang ada pada mereka dan mereka menemukan tulisan dalam ilmu ghaib itu yang menyatakan bahwa mereka berada di atas kebenaran dan mereka memiliki pahala di sisi Allah سبحانه وتعالى. Ini adalah sesuatu yang mustahil adanya. Kondisi mereka tidak lain hanyalah orang yang membangkang dan zhalim.
(48-50) Yang tersisa hanya (engkau Muhammad) bersikap sabar atas gangguan mereka dan menahan diri dari perkataan dan tindakan yang mereka lakukan, serta tetap terus menyeru mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱصۡبِرۡ لِحُكۡمِ رَبِّكَ ﴿ "Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu," terhadap keputusan, baik syariat maupun takdir yang telah ditentukan. Keputusan tak-dir harus disikapi secara sabar atas segala sesuatu yang menyakiti, bukan dihadapi dengan kemarahan dan kesedihan. Sedangkan ketetapan syariat diterima dan ditaati secara sempurna, karena itu adalah perintah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا تَكُن كَصَاحِبِ ٱلۡحُوتِ ﴿ "Dan janganlah kamu se-perti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan," yaitu Nabi Yunus bin Matta عليه السلام. Maksudnya, jangan menyamainya dalam kondisi yang membuatnya tertahan dalam perut ikan, yaitu karena menyi-kapi kaumnya dengan kesabaran yang semestinya serta sikapnya yang meninggalkan kaumnya yang membuat Rabbnya marah. Sampai ketika Yunus naik perahu, kemudian para penumpangnya mengadakan pengundian, karena terlalu beratnya beban siapa di antara mereka yang dibuang ke laut agar beban yang ada di perahu agak ringan. Undian jatuh pada Yunus kemudian beliau dilempar ke laut dan ditelan ikan dalam kondisi mencela diri. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ إِذۡ نَادَىٰ وَهُوَ مَكۡظُومٞ ﴿ "Ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya)." Maksudnya, ketika ia berada di dalam perut ikan dan tertahan di dalamnya, atau ia berdoa dalam kondisi ber-duka dan sedih seraya berkata, ﴾ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha-suci Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya`: 87). Lalu Allah سبحانه وتعالى mengabulkan doanya. Ikan yang menelannya kemudian memuntahkannya di tanah tandus dan Yunus dalam keadaan sakit. Allah سبحانه وتعالى menumbuhkan tanaman untuknya sejenis labu. Karena itu dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ لَّوۡلَآ أَن تَدَٰرَكَهُۥ نِعۡمَةٞ مِّن رَّبِّهِۦ لَنُبِذَ بِٱلۡعَرَآءِ ﴿ "Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabb-nya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus," maksudnya, tentu akan dilemparkan ke tanah kering kerontang, ﴾ وَهُوَ مَذۡمُومٞ ﴿ "dalam keadaan tercela." Tapi Allah سبحانه وتعالى meliputinya dengan rahmat, Yunus pun dilemparkan dalam keadaan terpuji sehingga kondisinya lebih baik dari sebelumnya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱجۡتَبَٰهُ رَبُّهُۥ ﴿ "Lalu Rabbnya memilihnya," yakni, Allah سبحانه وتعالى memilihnya dan menyu-cikannya dari segala kotoran, ﴾ فَجَعَلَهُۥ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan menjadikannya ter-masuk orang-orang yang shalih," yakni, orang-orang yang perbuatan, perkataan, niat, dan kondisinya baik.
(51-52) Nabi kita, Muhammad a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersabar atas ketetapanNya dengan kesabaran yang tidak bisa ditandingi oleh seorang pun dari seluruh alam. Allah سبحانه وتعالى memberikan akibat baik bagi beliau dan juga untuk orang-orang yang bertakwa. Para musuh Nabi Muhammad a tidak berbuat apa pun selain yang mencelakai mereka sendiri, hingga (sampai pada tahap) mereka amat menginginkan untuk menggelincirkan-mu, ﴾ بِأَبۡصَٰرِهِمۡ ﴿ "dengan pandangan mereka." Maksudnya, mencederai-mu dengan pandangan-pandangan mereka, berupa sikap hasad, dengki, dan marah. Inilah puncak gangguan berupa tindakan yang mereka lakukan, tapi Allah سبحانه وتعالى menjaga dan menolongnya. Adapun gangguan berupa perkataan, mereka mengatakan apa saja tentang Muhammad a sesuai kehendak hati mereka. Sesekali mereka menyebut Muhammad a penyair dan sesekali mereka menyebut Muhammad a penyihir. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَا هُوَ إِلَّا ذِكۡرٞ لِّلۡعَٰلَمِينَ ﴿ "Dan al-Qur`an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat." Mak-sudnya, al-Qur`an agung dan peringatan bijak ini tidak lain hanya-lah merupakan peringatan untuk seluruh alam. Mereka menjadi-kannya sebagai peringatan demi kebaikan dunia dan agama mereka. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.