Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — As-Saff 61:1 – At-Tahrim 66:12

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. As-Saff 61:1
  2. As-Saff 61:2
  3. As-Saff 61:3
  4. As-Saff 61:4
  5. As-Saff 61:5
  6. As-Saff 61:6
  7. As-Saff 61:7
  8. As-Saff 61:8
  9. As-Saff 61:9
  10. As-Saff 61:10
  11. As-Saff 61:11
  12. As-Saff 61:12
  13. As-Saff 61:13
  14. As-Saff 61:14
  15. Al-Jumu'ah 62:1
  16. Al-Jumu'ah 62:2
  17. Al-Jumu'ah 62:3
  18. Al-Jumu'ah 62:4
  19. Al-Jumu'ah 62:5
  20. Al-Jumu'ah 62:6
  21. Al-Jumu'ah 62:7
  22. Al-Jumu'ah 62:8
  23. Al-Jumu'ah 62:9
  24. Al-Jumu'ah 62:10
  25. Al-Jumu'ah 62:11
  26. Al-Munafiqun 63:1
  27. Al-Munafiqun 63:2
  28. Al-Munafiqun 63:3
  29. Al-Munafiqun 63:4
  30. Al-Munafiqun 63:5
  31. Al-Munafiqun 63:6
  32. Al-Munafiqun 63:7
  33. Al-Munafiqun 63:8
  34. Al-Munafiqun 63:9
  35. Al-Munafiqun 63:10
  36. Al-Munafiqun 63:11
  37. At-Tagabun 64:1
  38. At-Tagabun 64:2
  39. At-Tagabun 64:3
  40. At-Tagabun 64:4
  41. At-Tagabun 64:5
  42. At-Tagabun 64:6
  43. At-Tagabun 64:7
  44. At-Tagabun 64:8
  45. At-Tagabun 64:9
  46. At-Tagabun 64:10
  47. At-Tagabun 64:11
  48. At-Tagabun 64:12
  49. At-Tagabun 64:13
  50. At-Tagabun 64:14
  51. At-Tagabun 64:15
  52. At-Tagabun 64:16
  53. At-Tagabun 64:17
  54. At-Tagabun 64:18
  55. At-Talaq 65:1
  56. At-Talaq 65:2
  57. At-Talaq 65:3
  58. At-Talaq 65:4
  59. At-Talaq 65:5
  60. At-Talaq 65:6
  61. At-Talaq 65:7
  62. At-Talaq 65:8
  63. At-Talaq 65:9
  64. At-Talaq 65:10
  65. At-Talaq 65:11
  66. At-Talaq 65:12
  67. At-Tahrim 66:1
  68. At-Tahrim 66:2
  69. At-Tahrim 66:3
  70. At-Tahrim 66:4
  71. At-Tahrim 66:5
  72. At-Tahrim 66:6
  73. At-Tahrim 66:7
  74. At-Tahrim 66:8
  75. At-Tahrim 66:9
  76. At-Tahrim 66:10
  77. At-Tahrim 66:11
  78. At-Tahrim 66:12

As-Saff 61:1

"Bertasbih bagi Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu menga-takan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerja-kan." (Ash-Shaf: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini adalah penjelasan tentang keagungan dan keperka-saan Allah سبحانه وتعالى, segala sesuatu tunduk padaNya. Seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan memuji, menyembah, dan meminta segala kebutuhan kepada Rabb mereka. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memaksa segala sesuatu dengan keperkasaan dan KuasaNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," dalam penciptaan dan perintahNya. (2-3) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat," mak-sudnya, mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorongnya, dan boleh jadi kalian memuji-muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan? Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian? Lantas apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman? Bukankah amat besar murka Allah سبحانه وتعالى pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakan? Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya menjadi orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 44 ﴿ "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berpikir?" (Al-Baqarah: 44). Nabi Syu'aib عليه السلام berkata kepada kaumnya, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu darinya." (Hud: 88).

As-Saff 61:2

"Bertasbih bagi Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu menga-takan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerja-kan." (Ash-Shaf: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini adalah penjelasan tentang keagungan dan keperka-saan Allah سبحانه وتعالى, segala sesuatu tunduk padaNya. Seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan memuji, menyembah, dan meminta segala kebutuhan kepada Rabb mereka. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memaksa segala sesuatu dengan keperkasaan dan KuasaNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," dalam penciptaan dan perintahNya. (2-3) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat," mak-sudnya, mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorongnya, dan boleh jadi kalian memuji-muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan? Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian? Lantas apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman? Bukankah amat besar murka Allah سبحانه وتعالى pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakan? Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya menjadi orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 44 ﴿ "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berpikir?" (Al-Baqarah: 44). Nabi Syu'aib عليه السلام berkata kepada kaumnya, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu darinya." (Hud: 88).

As-Saff 61:3

"Bertasbih bagi Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Maha-bijaksana. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu menga-takan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerja-kan." (Ash-Shaf: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini adalah penjelasan tentang keagungan dan keperka-saan Allah سبحانه وتعالى, segala sesuatu tunduk padaNya. Seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan memuji, menyembah, dan meminta segala kebutuhan kepada Rabb mereka. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa," Yang memaksa segala sesuatu dengan keperkasaan dan KuasaNya, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," dalam penciptaan dan perintahNya. (2-3) ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفۡعَلُونَ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat," mak-sudnya, mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorongnya, dan boleh jadi kalian memuji-muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan? Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian? Lantas apakah kondisi tercela seperti ini pantas bagi orang-orang yang beriman? Bukankah amat besar murka Allah سبحانه وتعالى pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dikerjakan? Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya menjadi orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ 44 ﴿ "Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab, maka tidakkah kamu berpikir?" (Al-Baqarah: 44). Nabi Syu'aib عليه السلام berkata kepada kaumnya, ﴾ وَمَآ أُرِيدُ أَنۡ أُخَالِفَكُمۡ إِلَىٰ مَآ أَنۡهَىٰكُمۡ عَنۡهُۚ ﴿ "Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu darinya." (Hud: 88).

As-Saff 61:4

"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka se-perti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaf: 4). (4) Ini merupakan dorongan motivasi dari Allah سبحانه وتعالى untuk hamba-hambaNya agar berjihad di jalanNya dan sebagai penga-jaran bagi mereka apa yang harus dikerjakan. Yaitu, mereka harus berbaris dalam jihad secara sejajar dan lurus tanpa adanya celah dalam barisan. Barisan-barisan mereka harus teratur sehingga akan tercapai kesetaraan di antara mujahidin, saling memperkuat dan menimbulkan rasa takut bagi musuh serta saling menggiatkan satu sama lain. Karena itu, ketika Rasulullah a menghadiri peperangan, beliau menata para sahabat dalam beberapa barisan serta mengatur mereka dalam berbagai posisi, agar masing-masing tidak mengan-dalkan pada yang lain, tapi masing-masing kelompok berkonsen-trasi di posisinya dan menunaikan tugasnya. Dengan cara seperti ini, pekerjaan bisa tuntas dan kesempurnaan bisa didapatkan.

As-Saff 61:5

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedang kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu?' Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." (Ash-Shaf: 5). (5) ﴾ وَإِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِۦ ﴿ "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya," seraya mencela mereka atas perbuatan yang mereka lakukan dan menegur dengan keras atas penyiksaan yang mereka lakukan padahal mereka mengetahui bahwa Nabi Musa عليه السلام adalah utusan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰقَوۡمِ لِمَ تُؤۡذُونَنِي ﴿ "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku," dengan perkataan dan perbuatan, ﴾ وَقَد تَّعۡلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡۖ ﴿ "sedang kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu?" Hak seorang rasul adalah dimuliakan, diagungkan dan semua perintah dan hukumnya dilaksanakan segera. Adapun menyakiti utusan Allah سبحانه وتعالى yang kebaikannya terhadap manusia melebihi segala bentuk kebaikan setelah kebaikan Allah سبحانه وتعالى, adalah puncak sikap tidak tahu malu, sembrono dan menyimpang dari jalan yang lurus yang telah mereka ketahui dan mereka tinggalkan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَلَمَّا زَاغُوٓاْ ﴿ "Maka tatkala mereka ber-paling," maksudnya, berpaling dari kebenaran sesuai keinginan mereka, ﴾ أَزَاغَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمۡۚ ﴿ "Allah memalingkan hati mereka," sebagai hu-kuman bagi mereka atas penyimpangan yang mereka pilih untuk diri mereka dan keridhaan mereka pada penyimpangan itu. Allah سبحانه وتعالى tidak memberi pertolongan pada mereka untuk mendapatkan petunjuk, karena mereka tidak layak mendapatkan kebaikan. Yang layak bagi mereka hanyalah keburukan. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." Maksudnya, orang-orang yang sifat kefasikan terus menempel pada dirinya, dan mereka tidak memiliki niat untuk mencari petunjuk. Ayat mulia ini menunjukkan bahwa kesesatan manusia yang digariskan Allah سبحانه وتعالى bukanlah suatu kezhaliman Allah سبحانه وتعالى dan bukan hujjah manusia atas Allah سبحانه وتعالى. Kesesatan itu timbul disebabkan oleh mereka sendiri. Mereka menutup diri dari pintu hidayah, padahal sebenarnya mereka mengetahui. Allah سبحانه وتعالى pun membalas mereka dengan kesesatan dan penyimpangan, serta dirubah-rubahnya hati mereka, sebagai hukuman bagi mereka dan sebagai keadilan Allah سبحانه وتعالى terhadap mereka. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَنُقَلِّبُ أَفۡـِٔدَتَهُمۡ وَأَبۡصَٰرَهُمۡ كَمَا لَمۡ يُؤۡمِنُواْ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَنَذَرُهُمۡ فِي طُغۡيَٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ 110 ﴿ "Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Qur`an) pada per-mulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat." (Al-An'am: 110).

As-Saff 61:6

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membe-narkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang meng-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyem-purnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaf: 6-9). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan pembangkangan Bani Israil dahulu yang diseru oleh Nabi Isa bin Maryam عليه السلام. Isa berkata pada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم ﴿ "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu," maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengutus-ku untuk menyeru kalian pada kebaikan dan melarang kalian dari keburukan, dan Allah سبحانه وتعالى mengukuhkanku dengan berbagai bukti nyata yang menunjukkan kebenaran kerasulanku. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," mak-sudnya, aku datang membawa kitab seperti yang pernah dibawa Nabi Musa yaitu kitab Taurat dan berbagai syariat-syariat samawi. Andai aku hanya mengaku-aku sebagai nabi, tentu aku tidak membawa seperti yang dibawa para rasul. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Mem-benarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," di samping itu kitab Taurat juga telah memberitahukan kabar gembira tentangku dan aku pun datang dan diutus sebagai pembenar Taurat, ﴾ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ ﴿ "dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datang-nya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)," yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththa-lib, nabi dari keturunan Bani Hasyim. Nabi Isa عليه السلام adalah seorang nabi layaknya nabi-nabi lain, membenarkan nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan kedatangan nabi berikutnya. Tidak seperti orang-orang yang berdusta yang amat menentang para nabi dari segi sifat, akhlak, perintah dan larangan. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم ﴿ "Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka," yakni Nabi Muhammad a yang diberitakan oleh Isa عليه السلام sebelumnya, ﴾ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "dengan mem-bawa bukti-bukti yang nyata," yaitu bukti-bukti jelas yang menunjuk-kan bahwa dialah yang diberitakan oleh Nabi Isa عليه السلام dan dialah utusan Allah سبحانه وتعالى sebenarnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," menentang dan mendustakan kebenaran, ﴾ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah sihir yang nyata." Ini benar-benar aneh. Seorang rasul yang kerasulannya telah di-ketahui dengan jelas melebihi terangnya matahari di siang hari dianggap sebagai seorang penyihir yang nyata sihirnya. Apakah ada kehinaan yang lebih besar dari ini? Dan apakah ada kedustaan yang lebih besar dari ini yang menafikan berita kerasulan dan me-negaskan sesuatu yang amat mustahil bagi Nabi Muhammad a? (7) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah," dengan pen-dustaan seperti ini atau sikap lainnya yang tidak ada udzurnya dan hujjahnya telah runtuh, karena ﴾ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ ﴿ "dia diajak kepada agama Islam," dan berbagai bukti nyata telah dijelaskan padanya. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang senantiasa tegak berada dalam kezhaliman. Nasihat dan bukti nyata tidak bisa menyelamatkan mereka, khu-susnya mereka yang menentang kebenaran untuk ditolak demi memenangkan kebatilan. (8) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka, ﴾ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka," maksudnya, dengan berbagai per-kataan busuk yang mereka kemukakan yang menolak kebenaran yang sebenarnya tidak ada wujudnya, namun semakin membuat orang yang tahu lebih memahami bahwa ia berada di atas kebatilan. ﴾ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى menjamin akan memenangkan AgamaNya, menyempurnakan kebenaran yang dibawa oleh para rasulNya, dan menampakkan cahayaNya di berbagai penjuru, meski orang-orang kafir membencinya. Karena kebencian, mereka mencurahkan segala daya upaya agar bisa me-madamkan cahaya Allah سبحانه وتعالى, tapi mereka pasti kalah. Mereka tidak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan matahari dengan cara meniup dengan mulutnya. Tujuan mereka tidak tercapai dan akal mereka tidak terbebas dari kekurangan dan celaan. (9) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab muncul dan menangnya agama Islam, baik secara indrawi (konkret) maupun maknawi, seraya berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar," yakni, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, dengan ilmu yang menunjukkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada tempat kemulia-anNya dan menunjukkan kepada amal dan akhlak yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan Agama yang benar," yaitu agama yang dipeluk dan dipakai untuk menyembah Rabb semesta alam. Itulah agama kebenaran dan kejujuran yang tidak terdapat kekurangan dan aib yang bisa menyebabkannya dicela. Perintah-perintah agama Islam merupakan hidangan hati, ruh, dan kenya-manan raga. Meninggalkan larangan-larangan agama adalah keselamatan dari keburukan dan kerusakan. Petunjuk dan agama kebenaran yang dibawa oleh Nabi a merupakan bukti terbesar atas kebenarannya. Agama itu adalah bukti nyata yang tetap bertahan selama waktu masih ada. Orang berakal yang semakin memikirkan agama Islam akan semakin berbahagia dan mengetahui. ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ﴿ "Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama," mak-sudnya, agar Islam mengungguli seluruh agama dengan berbagai hujjah dan bukti nyata dan memenangkan para penegak Islam, baik dengan pedang maupun tombak. Sifat ini tetap lekat dalam agama Islam di segala waktu. Tidak bisa dikalahkan dan diban-tah oleh siapa pun, sehingga Islam tetap mendapatkan keme-nangan dan keperkasaan. Adapun para pemeluknya, jika mereka menegakkannya dan menjadikannya sebagai lentera dan petunjuk dalam berbagai kepentingan mereka, baik kepentingan dunia mau-pun akhirat, maka tidak ada yang dapat menentangnya, mereka pasti menang di atas para pemeluk agama-agama lain. Namun jika mereka menyia-nyiakan Islam dan hanya sekedar memeluk saja, maka hal itu tidak berguna bagi mereka. Tindakan mereka yang menyia-nyiakan agama Islam ini menjadi penyebab musuh mampu menguasai mereka. Siapa pun yang banyak mempelajari sejarah dan merenungkan kondisi awal kaum Muslimin dan juga lainnya pasti tahu. 9

As-Saff 61:7

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membe-narkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang meng-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyem-purnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaf: 6-9). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan pembangkangan Bani Israil dahulu yang diseru oleh Nabi Isa bin Maryam عليه السلام. Isa berkata pada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم ﴿ "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu," maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengutus-ku untuk menyeru kalian pada kebaikan dan melarang kalian dari keburukan, dan Allah سبحانه وتعالى mengukuhkanku dengan berbagai bukti nyata yang menunjukkan kebenaran kerasulanku. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," mak-sudnya, aku datang membawa kitab seperti yang pernah dibawa Nabi Musa yaitu kitab Taurat dan berbagai syariat-syariat samawi. Andai aku hanya mengaku-aku sebagai nabi, tentu aku tidak membawa seperti yang dibawa para rasul. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Mem-benarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," di samping itu kitab Taurat juga telah memberitahukan kabar gembira tentangku dan aku pun datang dan diutus sebagai pembenar Taurat, ﴾ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ ﴿ "dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datang-nya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)," yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththa-lib, nabi dari keturunan Bani Hasyim. Nabi Isa عليه السلام adalah seorang nabi layaknya nabi-nabi lain, membenarkan nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan kedatangan nabi berikutnya. Tidak seperti orang-orang yang berdusta yang amat menentang para nabi dari segi sifat, akhlak, perintah dan larangan. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم ﴿ "Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka," yakni Nabi Muhammad a yang diberitakan oleh Isa عليه السلام sebelumnya, ﴾ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "dengan mem-bawa bukti-bukti yang nyata," yaitu bukti-bukti jelas yang menunjuk-kan bahwa dialah yang diberitakan oleh Nabi Isa عليه السلام dan dialah utusan Allah سبحانه وتعالى sebenarnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," menentang dan mendustakan kebenaran, ﴾ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah sihir yang nyata." Ini benar-benar aneh. Seorang rasul yang kerasulannya telah di-ketahui dengan jelas melebihi terangnya matahari di siang hari dianggap sebagai seorang penyihir yang nyata sihirnya. Apakah ada kehinaan yang lebih besar dari ini? Dan apakah ada kedustaan yang lebih besar dari ini yang menafikan berita kerasulan dan me-negaskan sesuatu yang amat mustahil bagi Nabi Muhammad a? (7) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah," dengan pen-dustaan seperti ini atau sikap lainnya yang tidak ada udzurnya dan hujjahnya telah runtuh, karena ﴾ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ ﴿ "dia diajak kepada agama Islam," dan berbagai bukti nyata telah dijelaskan padanya. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang senantiasa tegak berada dalam kezhaliman. Nasihat dan bukti nyata tidak bisa menyelamatkan mereka, khu-susnya mereka yang menentang kebenaran untuk ditolak demi memenangkan kebatilan. (8) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka, ﴾ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka," maksudnya, dengan berbagai per-kataan busuk yang mereka kemukakan yang menolak kebenaran yang sebenarnya tidak ada wujudnya, namun semakin membuat orang yang tahu lebih memahami bahwa ia berada di atas kebatilan. ﴾ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى menjamin akan memenangkan AgamaNya, menyempurnakan kebenaran yang dibawa oleh para rasulNya, dan menampakkan cahayaNya di berbagai penjuru, meski orang-orang kafir membencinya. Karena kebencian, mereka mencurahkan segala daya upaya agar bisa me-madamkan cahaya Allah سبحانه وتعالى, tapi mereka pasti kalah. Mereka tidak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan matahari dengan cara meniup dengan mulutnya. Tujuan mereka tidak tercapai dan akal mereka tidak terbebas dari kekurangan dan celaan. (9) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab muncul dan menangnya agama Islam, baik secara indrawi (konkret) maupun maknawi, seraya berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar," yakni, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, dengan ilmu yang menunjukkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada tempat kemulia-anNya dan menunjukkan kepada amal dan akhlak yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan Agama yang benar," yaitu agama yang dipeluk dan dipakai untuk menyembah Rabb semesta alam. Itulah agama kebenaran dan kejujuran yang tidak terdapat kekurangan dan aib yang bisa menyebabkannya dicela. Perintah-perintah agama Islam merupakan hidangan hati, ruh, dan kenya-manan raga. Meninggalkan larangan-larangan agama adalah keselamatan dari keburukan dan kerusakan. Petunjuk dan agama kebenaran yang dibawa oleh Nabi a merupakan bukti terbesar atas kebenarannya. Agama itu adalah bukti nyata yang tetap bertahan selama waktu masih ada. Orang berakal yang semakin memikirkan agama Islam akan semakin berbahagia dan mengetahui. ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ﴿ "Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama," mak-sudnya, agar Islam mengungguli seluruh agama dengan berbagai hujjah dan bukti nyata dan memenangkan para penegak Islam, baik dengan pedang maupun tombak. Sifat ini tetap lekat dalam agama Islam di segala waktu. Tidak bisa dikalahkan dan diban-tah oleh siapa pun, sehingga Islam tetap mendapatkan keme-nangan dan keperkasaan. Adapun para pemeluknya, jika mereka menegakkannya dan menjadikannya sebagai lentera dan petunjuk dalam berbagai kepentingan mereka, baik kepentingan dunia mau-pun akhirat, maka tidak ada yang dapat menentangnya, mereka pasti menang di atas para pemeluk agama-agama lain. Namun jika mereka menyia-nyiakan Islam dan hanya sekedar memeluk saja, maka hal itu tidak berguna bagi mereka. Tindakan mereka yang menyia-nyiakan agama Islam ini menjadi penyebab musuh mampu menguasai mereka. Siapa pun yang banyak mempelajari sejarah dan merenungkan kondisi awal kaum Muslimin dan juga lainnya pasti tahu. 9

As-Saff 61:8

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membe-narkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang meng-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyem-purnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaf: 6-9). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan pembangkangan Bani Israil dahulu yang diseru oleh Nabi Isa bin Maryam عليه السلام. Isa berkata pada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم ﴿ "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu," maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengutus-ku untuk menyeru kalian pada kebaikan dan melarang kalian dari keburukan, dan Allah سبحانه وتعالى mengukuhkanku dengan berbagai bukti nyata yang menunjukkan kebenaran kerasulanku. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," mak-sudnya, aku datang membawa kitab seperti yang pernah dibawa Nabi Musa yaitu kitab Taurat dan berbagai syariat-syariat samawi. Andai aku hanya mengaku-aku sebagai nabi, tentu aku tidak membawa seperti yang dibawa para rasul. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Mem-benarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," di samping itu kitab Taurat juga telah memberitahukan kabar gembira tentangku dan aku pun datang dan diutus sebagai pembenar Taurat, ﴾ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ ﴿ "dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datang-nya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)," yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththa-lib, nabi dari keturunan Bani Hasyim. Nabi Isa عليه السلام adalah seorang nabi layaknya nabi-nabi lain, membenarkan nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan kedatangan nabi berikutnya. Tidak seperti orang-orang yang berdusta yang amat menentang para nabi dari segi sifat, akhlak, perintah dan larangan. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم ﴿ "Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka," yakni Nabi Muhammad a yang diberitakan oleh Isa عليه السلام sebelumnya, ﴾ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "dengan mem-bawa bukti-bukti yang nyata," yaitu bukti-bukti jelas yang menunjuk-kan bahwa dialah yang diberitakan oleh Nabi Isa عليه السلام dan dialah utusan Allah سبحانه وتعالى sebenarnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," menentang dan mendustakan kebenaran, ﴾ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah sihir yang nyata." Ini benar-benar aneh. Seorang rasul yang kerasulannya telah di-ketahui dengan jelas melebihi terangnya matahari di siang hari dianggap sebagai seorang penyihir yang nyata sihirnya. Apakah ada kehinaan yang lebih besar dari ini? Dan apakah ada kedustaan yang lebih besar dari ini yang menafikan berita kerasulan dan me-negaskan sesuatu yang amat mustahil bagi Nabi Muhammad a? (7) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah," dengan pen-dustaan seperti ini atau sikap lainnya yang tidak ada udzurnya dan hujjahnya telah runtuh, karena ﴾ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ ﴿ "dia diajak kepada agama Islam," dan berbagai bukti nyata telah dijelaskan padanya. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang senantiasa tegak berada dalam kezhaliman. Nasihat dan bukti nyata tidak bisa menyelamatkan mereka, khu-susnya mereka yang menentang kebenaran untuk ditolak demi memenangkan kebatilan. (8) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka, ﴾ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka," maksudnya, dengan berbagai per-kataan busuk yang mereka kemukakan yang menolak kebenaran yang sebenarnya tidak ada wujudnya, namun semakin membuat orang yang tahu lebih memahami bahwa ia berada di atas kebatilan. ﴾ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى menjamin akan memenangkan AgamaNya, menyempurnakan kebenaran yang dibawa oleh para rasulNya, dan menampakkan cahayaNya di berbagai penjuru, meski orang-orang kafir membencinya. Karena kebencian, mereka mencurahkan segala daya upaya agar bisa me-madamkan cahaya Allah سبحانه وتعالى, tapi mereka pasti kalah. Mereka tidak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan matahari dengan cara meniup dengan mulutnya. Tujuan mereka tidak tercapai dan akal mereka tidak terbebas dari kekurangan dan celaan. (9) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab muncul dan menangnya agama Islam, baik secara indrawi (konkret) maupun maknawi, seraya berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar," yakni, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, dengan ilmu yang menunjukkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada tempat kemulia-anNya dan menunjukkan kepada amal dan akhlak yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan Agama yang benar," yaitu agama yang dipeluk dan dipakai untuk menyembah Rabb semesta alam. Itulah agama kebenaran dan kejujuran yang tidak terdapat kekurangan dan aib yang bisa menyebabkannya dicela. Perintah-perintah agama Islam merupakan hidangan hati, ruh, dan kenya-manan raga. Meninggalkan larangan-larangan agama adalah keselamatan dari keburukan dan kerusakan. Petunjuk dan agama kebenaran yang dibawa oleh Nabi a merupakan bukti terbesar atas kebenarannya. Agama itu adalah bukti nyata yang tetap bertahan selama waktu masih ada. Orang berakal yang semakin memikirkan agama Islam akan semakin berbahagia dan mengetahui. ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ﴿ "Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama," mak-sudnya, agar Islam mengungguli seluruh agama dengan berbagai hujjah dan bukti nyata dan memenangkan para penegak Islam, baik dengan pedang maupun tombak. Sifat ini tetap lekat dalam agama Islam di segala waktu. Tidak bisa dikalahkan dan diban-tah oleh siapa pun, sehingga Islam tetap mendapatkan keme-nangan dan keperkasaan. Adapun para pemeluknya, jika mereka menegakkannya dan menjadikannya sebagai lentera dan petunjuk dalam berbagai kepentingan mereka, baik kepentingan dunia mau-pun akhirat, maka tidak ada yang dapat menentangnya, mereka pasti menang di atas para pemeluk agama-agama lain. Namun jika mereka menyia-nyiakan Islam dan hanya sekedar memeluk saja, maka hal itu tidak berguna bagi mereka. Tindakan mereka yang menyia-nyiakan agama Islam ini menjadi penyebab musuh mampu menguasai mereka. Siapa pun yang banyak mempelajari sejarah dan merenungkan kondisi awal kaum Muslimin dan juga lainnya pasti tahu. 9

As-Saff 61:9

"Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, 'Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membe-narkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).' Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, 'Ini adalah sihir yang nyata.' Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang meng-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (Agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyem-purnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci." (Ash-Shaf: 6-9). (6) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengabarkan pembangkangan Bani Israil dahulu yang diseru oleh Nabi Isa bin Maryam عليه السلام. Isa berkata pada mereka, ﴾ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم ﴿ "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu," maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mengutus-ku untuk menyeru kalian pada kebaikan dan melarang kalian dari keburukan, dan Allah سبحانه وتعالى mengukuhkanku dengan berbagai bukti nyata yang menunjukkan kebenaran kerasulanku. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," mak-sudnya, aku datang membawa kitab seperti yang pernah dibawa Nabi Musa yaitu kitab Taurat dan berbagai syariat-syariat samawi. Andai aku hanya mengaku-aku sebagai nabi, tentu aku tidak membawa seperti yang dibawa para rasul. ﴾ مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ ﴿ "Mem-benarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat," di samping itu kitab Taurat juga telah memberitahukan kabar gembira tentangku dan aku pun datang dan diutus sebagai pembenar Taurat, ﴾ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ ﴿ "dan aku juga memberi kabar gembira dengan (datang-nya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)," yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththa-lib, nabi dari keturunan Bani Hasyim. Nabi Isa عليه السلام adalah seorang nabi layaknya nabi-nabi lain, membenarkan nabi sebelumnya dan memberi kabar gembira akan kedatangan nabi berikutnya. Tidak seperti orang-orang yang berdusta yang amat menentang para nabi dari segi sifat, akhlak, perintah dan larangan. ﴾ فَلَمَّا جَآءَهُم ﴿ "Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka," yakni Nabi Muhammad a yang diberitakan oleh Isa عليه السلام sebelumnya, ﴾ بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "dengan mem-bawa bukti-bukti yang nyata," yaitu bukti-bukti jelas yang menunjuk-kan bahwa dialah yang diberitakan oleh Nabi Isa عليه السلام dan dialah utusan Allah سبحانه وتعالى sebenarnya, ﴾ قَالُواْ ﴿ "mereka berkata," menentang dan mendustakan kebenaran, ﴾ هَٰذَا سِحۡرٞ مُّبِينٞ ﴿ "Ini adalah sihir yang nyata." Ini benar-benar aneh. Seorang rasul yang kerasulannya telah di-ketahui dengan jelas melebihi terangnya matahari di siang hari dianggap sebagai seorang penyihir yang nyata sihirnya. Apakah ada kehinaan yang lebih besar dari ini? Dan apakah ada kedustaan yang lebih besar dari ini yang menafikan berita kerasulan dan me-negaskan sesuatu yang amat mustahil bagi Nabi Muhammad a? (7) ﴾ وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ ﴿ "Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah," dengan pen-dustaan seperti ini atau sikap lainnya yang tidak ada udzurnya dan hujjahnya telah runtuh, karena ﴾ وَهُوَ يُدۡعَىٰٓ إِلَى ٱلۡإِسۡلَٰمِۚ ﴿ "dia diajak kepada agama Islam," dan berbagai bukti nyata telah dijelaskan padanya. ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim," yang senantiasa tegak berada dalam kezhaliman. Nasihat dan bukti nyata tidak bisa menyelamatkan mereka, khu-susnya mereka yang menentang kebenaran untuk ditolak demi memenangkan kebatilan. (8) Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka, ﴾ يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ ﴿ "Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka," maksudnya, dengan berbagai per-kataan busuk yang mereka kemukakan yang menolak kebenaran yang sebenarnya tidak ada wujudnya, namun semakin membuat orang yang tahu lebih memahami bahwa ia berada di atas kebatilan. ﴾ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ﴿ "Dan Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir benci." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى menjamin akan memenangkan AgamaNya, menyempurnakan kebenaran yang dibawa oleh para rasulNya, dan menampakkan cahayaNya di berbagai penjuru, meski orang-orang kafir membencinya. Karena kebencian, mereka mencurahkan segala daya upaya agar bisa me-madamkan cahaya Allah سبحانه وتعالى, tapi mereka pasti kalah. Mereka tidak ubahnya seperti orang yang ingin memadamkan matahari dengan cara meniup dengan mulutnya. Tujuan mereka tidak tercapai dan akal mereka tidak terbebas dari kekurangan dan celaan. (9) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab muncul dan menangnya agama Islam, baik secara indrawi (konkret) maupun maknawi, seraya berfirman, ﴾ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan Agama yang benar," yakni, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, dengan ilmu yang menunjukkan kepada Allah سبحانه وتعالى dan kepada tempat kemulia-anNya dan menunjukkan kepada amal dan akhlak yang baik serta kebaikan dunia dan akhirat, ﴾ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ ﴿ "dan Agama yang benar," yaitu agama yang dipeluk dan dipakai untuk menyembah Rabb semesta alam. Itulah agama kebenaran dan kejujuran yang tidak terdapat kekurangan dan aib yang bisa menyebabkannya dicela. Perintah-perintah agama Islam merupakan hidangan hati, ruh, dan kenya-manan raga. Meninggalkan larangan-larangan agama adalah keselamatan dari keburukan dan kerusakan. Petunjuk dan agama kebenaran yang dibawa oleh Nabi a merupakan bukti terbesar atas kebenarannya. Agama itu adalah bukti nyata yang tetap bertahan selama waktu masih ada. Orang berakal yang semakin memikirkan agama Islam akan semakin berbahagia dan mengetahui. ﴾ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ﴿ "Agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama," mak-sudnya, agar Islam mengungguli seluruh agama dengan berbagai hujjah dan bukti nyata dan memenangkan para penegak Islam, baik dengan pedang maupun tombak. Sifat ini tetap lekat dalam agama Islam di segala waktu. Tidak bisa dikalahkan dan diban-tah oleh siapa pun, sehingga Islam tetap mendapatkan keme-nangan dan keperkasaan. Adapun para pemeluknya, jika mereka menegakkannya dan menjadikannya sebagai lentera dan petunjuk dalam berbagai kepentingan mereka, baik kepentingan dunia mau-pun akhirat, maka tidak ada yang dapat menentangnya, mereka pasti menang di atas para pemeluk agama-agama lain. Namun jika mereka menyia-nyiakan Islam dan hanya sekedar memeluk saja, maka hal itu tidak berguna bagi mereka. Tindakan mereka yang menyia-nyiakan agama Islam ini menjadi penyebab musuh mampu menguasai mereka. Siapa pun yang banyak mempelajari sejarah dan merenungkan kondisi awal kaum Muslimin dan juga lainnya pasti tahu. 9

As-Saff 61:10

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjuk-kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberun-tungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah peno-long penolong agama Allah!,' lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan ke-kuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaf: 10-14). (10) Ini adalah wasiat, petunjuk, dan arahan dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah di antara para pemurah terhadap para hamba-hambaNya yang beriman, kepada bisnis terbesar, tuntutan paling luhur dan tujuan paling tinggi, yang jika didapat, akan menyela-matkan dari azab yang pedih dan mendapatkan kenikmatan abadi. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kata penawaran yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang yang bersabar dan yang berakal. (11) Seolah-olah ada yang bertanya, "Transaksi apa yang ni-lainya sedemikian besar?" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya," sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan cara membenarkannya yang mengharuskan untuk diamalkan oleh anggota badan. Dan yang paling utama adalah berjihad di jalanNya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ﴿ "Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu," dengan mencurahkan diri dan nyawa kalian untuk menyerang musuh Islam dengan maksud untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى dan meninggikan kalimatNya. Kalian mengeluarkan dana semampu kalian untuk tujuan itu meski hal itu tidak disukai dan terasa berat bagi jiwa, tapi jihad ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." Dalam jihad terdapat kebaikan dunia seperti kemenangan dari musuh, kemuliaan yang menafikan kerendahan, keleluasaan rizki, dan ke-lapangan dada. Sedangkan kebaikan akhirat adalah mendapatkan pahala Allah سبحانه وتعالى dan selamat dari siksaNya. (12) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala di akhirat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu," mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, karena beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan berjihad di jalanNya bisa menghapus dosa meski dosa besar. ﴾ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," mak-sudnya, di bawah tempat tinggal, istana, ruangan kamar, dan pe-pohonannya mengalir sungai-sungai yang bersumber dari air yang rasa, aroma, dan warnanya tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari khamar nikmat untuk me-reka yang meminumnya, dan sungai dari madu murni, dan mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan. ﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di Surga 'Adn." Maksudnya, mencakup segala kebaikan berupa ketinggian, indah-nya bangunan dan perhiasan, hingga para penghuni kamar peng-huni surga tertinggi dapat dilihat oleh seluruh penduduk surga, laksana bintang gemerlap yang dapat dilihat di ufuk langit timur dan barat. Bahkan bangunan surga ada yang berasal dari batu bata emas, ada juga yang berbatu bata perak dan marmernya terbuat dari mutiara dan mutu manikam. Sebagian rumah di surga terbuat dari mutiara dengan berbagai warna-warni. Karena begitu cerah-nya, sisi dalam dapat dilihat dari luar dan sebaliknya. Di dalam surga terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat dilukis-kan oleh siapa pun dan tidak pernah terlintas di hati satu makhluk pun dari seluruh alam. Mereka tidak akan bisa mengangankannya hingga mereka melihatnya, menikmati keindahannya, dan menye-jukkan mata mereka. Dalam kondisi seperti itu andai Allah سبحانه وتعالى tidak menciptakan penghuni surga secara sempurna dan tidak kekal, tentu hampir saja mereka mati karena terlalu bahagia. Mahasuci Dzat yang tidak ada satu pun makhlukNya yang bisa menghitung pujian untukNya. Tapi Dia adalah seperti yang Dia puji DiriNya sendiri dan di atas pu-jian seluruh makhluk. Mahasuci Allah Yang Mahaluhur lagi Indah yang menciptakan tempat kenikmatan. Menciptakan keluhuran dan keindahan di dalamnya yang membuat akal semua makhluk terpana dan tertarik hatinya. Mahatinggi Allah Yang bagiNya hikmah sempurna yang seandainya memperlihatkan surga pada para hambaNya hingga mereka melihat apa saja yang terdapat di dalamnya, tentu tidak ada seorang pun yang akan ketinggalan dan tentu tidak ada seorang pun yang mau hidup di dunia yang kenikmatannya dicampuri kepedihan dan kesenangannya dicam-puri kesengsaraan. Surga tersebut dinamakan 'Adn karena peng-huninya menempatinya dan tidak keluar selamanya, serta tidak ingin mencari ganti. Itulah balasan besar dan pahala yang indah yang merupakan suatu keberuntungan besar tanpa tandingan. Dan inilah balasan akhirat. (13) Adapun pahala duniawi untuk transaksi ini disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ ﴿ "Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai," yakni, terdapat hal lain yang kalian peroleh yang kalian sukai yaitu, ﴾ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "pertolongan dari Allah" untuk kalian atas musuh-musuh kalian. Dengan kemenangan itu kalian mendapatkan kejayaan dan kesenangan, ﴾ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ ﴿ "dan kemenangan yang dekat (waktunya)." Dengan kemenangan ini kawasan Islam se-makin meluas dan rizki yang luas pun didapat. Ini adalah balasan bagi orang-orang Mukmin yang berjihad. Adapun kaum Mukminin yang tidak berjihad manakala yang lainnya berjihad, Allah سبحانه وتعالى tidak membuat mereka berputus asa dari karunia dan kebaikanNya, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." Maksudnya, dengan pahala yang langsung di dunia dan tertunda di akhirat. Masing-masing men-dapatkan pahala berdasarkan keimanannya, meski mereka tidak mencapai tingkatan para mujahid yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana yang disabdakan Nabi a, مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. فَعَجِبَ لَهَا أَبُوْ سَعِيْدٍ فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَعَادَهَا مَا عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Barangsiapa yang rela Allah menjadi Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka wajib baginya surga." Abu Sa'id al-Khudri (perawi hadits ini) merasa takjub seraya berkata, "Ulangi lagi untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah a pun mengulanginya untuknya kemudian bersabda, "Dan lainnya, seorang hamba diangkat dengannya seratus tingkat di surga, antara masing-masing tingkatan sejarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (HR. Muslim).[119] (14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah," yaitu dengan perkataan dan perbuatan dengan cara mene-gakkan agama Allah سبحانه وتعالى serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain dan memerangi mereka yang menentang dan menolak-nya dengan raga dan harta. Memerangi orang yang menolong kebatilan yang dikiranya sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. Termasuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى adalah mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya serta memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mendorong orang-orang yang beriman agar meneladani orang-orang shalih sebelumnya seraya berfirman, ﴾ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'" Mak-sudnya, Nabi Isa عليه السلام berkata kepada mereka seraya mengingatkan siapa yang menolongnya dan tegak bersamanya untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, masuk dan keluar bersamaku. Para pengikut-pengikutnya yang setia bersegera dan berkata, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Kamilah penolong-penolong agama Allah!" Nabi Isa عليه السلام pun menunaikan pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan menolong agamaNya bersama penolong-peno-longnya yang setia. ﴾ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Maka segolongan dari Bani Israil beriman," karena seruan Nabi Isa dan penolong-penolongnya yang setia, ﴾ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ ﴿ "dan segolongan (yang lain) kafir," dari kalangan mereka dengan tidak tunduk pada seruan Isa dan para penolong-nya. Kemudian orang-orang Mukmin memerangi orang-orang kafir, ﴾ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ ﴿ "maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka," maksudnya, Kami kuatkan mereka dan Kami memberikan kemenangan bagi mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ﴿ "lalu mereka menjadi orang-orang yang menang" atas mereka dan menundukkan mereka. Dan kalian wahai umat Muhammad! Jadilah penolong Allah سبحانه وتعالى dan penyeru agamaNya, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan menolong kalian seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى menolong orang-orang sebelum kalian dan me-menangkan kalian dari musuh-musuh kalian. Selesailah tafsir Surat ash-Shaf. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى se-mata, Rabb semesta alam.

As-Saff 61:11

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjuk-kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberun-tungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah peno-long penolong agama Allah!,' lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan ke-kuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaf: 10-14). (10) Ini adalah wasiat, petunjuk, dan arahan dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah di antara para pemurah terhadap para hamba-hambaNya yang beriman, kepada bisnis terbesar, tuntutan paling luhur dan tujuan paling tinggi, yang jika didapat, akan menyela-matkan dari azab yang pedih dan mendapatkan kenikmatan abadi. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kata penawaran yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang yang bersabar dan yang berakal. (11) Seolah-olah ada yang bertanya, "Transaksi apa yang ni-lainya sedemikian besar?" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya," sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan cara membenarkannya yang mengharuskan untuk diamalkan oleh anggota badan. Dan yang paling utama adalah berjihad di jalanNya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ﴿ "Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu," dengan mencurahkan diri dan nyawa kalian untuk menyerang musuh Islam dengan maksud untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى dan meninggikan kalimatNya. Kalian mengeluarkan dana semampu kalian untuk tujuan itu meski hal itu tidak disukai dan terasa berat bagi jiwa, tapi jihad ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." Dalam jihad terdapat kebaikan dunia seperti kemenangan dari musuh, kemuliaan yang menafikan kerendahan, keleluasaan rizki, dan ke-lapangan dada. Sedangkan kebaikan akhirat adalah mendapatkan pahala Allah سبحانه وتعالى dan selamat dari siksaNya. (12) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala di akhirat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu," mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, karena beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan berjihad di jalanNya bisa menghapus dosa meski dosa besar. ﴾ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," mak-sudnya, di bawah tempat tinggal, istana, ruangan kamar, dan pe-pohonannya mengalir sungai-sungai yang bersumber dari air yang rasa, aroma, dan warnanya tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari khamar nikmat untuk me-reka yang meminumnya, dan sungai dari madu murni, dan mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan. ﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di Surga 'Adn." Maksudnya, mencakup segala kebaikan berupa ketinggian, indah-nya bangunan dan perhiasan, hingga para penghuni kamar peng-huni surga tertinggi dapat dilihat oleh seluruh penduduk surga, laksana bintang gemerlap yang dapat dilihat di ufuk langit timur dan barat. Bahkan bangunan surga ada yang berasal dari batu bata emas, ada juga yang berbatu bata perak dan marmernya terbuat dari mutiara dan mutu manikam. Sebagian rumah di surga terbuat dari mutiara dengan berbagai warna-warni. Karena begitu cerah-nya, sisi dalam dapat dilihat dari luar dan sebaliknya. Di dalam surga terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat dilukis-kan oleh siapa pun dan tidak pernah terlintas di hati satu makhluk pun dari seluruh alam. Mereka tidak akan bisa mengangankannya hingga mereka melihatnya, menikmati keindahannya, dan menye-jukkan mata mereka. Dalam kondisi seperti itu andai Allah سبحانه وتعالى tidak menciptakan penghuni surga secara sempurna dan tidak kekal, tentu hampir saja mereka mati karena terlalu bahagia. Mahasuci Dzat yang tidak ada satu pun makhlukNya yang bisa menghitung pujian untukNya. Tapi Dia adalah seperti yang Dia puji DiriNya sendiri dan di atas pu-jian seluruh makhluk. Mahasuci Allah Yang Mahaluhur lagi Indah yang menciptakan tempat kenikmatan. Menciptakan keluhuran dan keindahan di dalamnya yang membuat akal semua makhluk terpana dan tertarik hatinya. Mahatinggi Allah Yang bagiNya hikmah sempurna yang seandainya memperlihatkan surga pada para hambaNya hingga mereka melihat apa saja yang terdapat di dalamnya, tentu tidak ada seorang pun yang akan ketinggalan dan tentu tidak ada seorang pun yang mau hidup di dunia yang kenikmatannya dicampuri kepedihan dan kesenangannya dicam-puri kesengsaraan. Surga tersebut dinamakan 'Adn karena peng-huninya menempatinya dan tidak keluar selamanya, serta tidak ingin mencari ganti. Itulah balasan besar dan pahala yang indah yang merupakan suatu keberuntungan besar tanpa tandingan. Dan inilah balasan akhirat. (13) Adapun pahala duniawi untuk transaksi ini disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ ﴿ "Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai," yakni, terdapat hal lain yang kalian peroleh yang kalian sukai yaitu, ﴾ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "pertolongan dari Allah" untuk kalian atas musuh-musuh kalian. Dengan kemenangan itu kalian mendapatkan kejayaan dan kesenangan, ﴾ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ ﴿ "dan kemenangan yang dekat (waktunya)." Dengan kemenangan ini kawasan Islam se-makin meluas dan rizki yang luas pun didapat. Ini adalah balasan bagi orang-orang Mukmin yang berjihad. Adapun kaum Mukminin yang tidak berjihad manakala yang lainnya berjihad, Allah سبحانه وتعالى tidak membuat mereka berputus asa dari karunia dan kebaikanNya, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." Maksudnya, dengan pahala yang langsung di dunia dan tertunda di akhirat. Masing-masing men-dapatkan pahala berdasarkan keimanannya, meski mereka tidak mencapai tingkatan para mujahid yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana yang disabdakan Nabi a, مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. فَعَجِبَ لَهَا أَبُوْ سَعِيْدٍ فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَعَادَهَا مَا عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Barangsiapa yang rela Allah menjadi Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka wajib baginya surga." Abu Sa'id al-Khudri (perawi hadits ini) merasa takjub seraya berkata, "Ulangi lagi untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah a pun mengulanginya untuknya kemudian bersabda, "Dan lainnya, seorang hamba diangkat dengannya seratus tingkat di surga, antara masing-masing tingkatan sejarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (HR. Muslim).[119] (14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah," yaitu dengan perkataan dan perbuatan dengan cara mene-gakkan agama Allah سبحانه وتعالى serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain dan memerangi mereka yang menentang dan menolak-nya dengan raga dan harta. Memerangi orang yang menolong kebatilan yang dikiranya sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. Termasuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى adalah mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya serta memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mendorong orang-orang yang beriman agar meneladani orang-orang shalih sebelumnya seraya berfirman, ﴾ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'" Mak-sudnya, Nabi Isa عليه السلام berkata kepada mereka seraya mengingatkan siapa yang menolongnya dan tegak bersamanya untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, masuk dan keluar bersamaku. Para pengikut-pengikutnya yang setia bersegera dan berkata, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Kamilah penolong-penolong agama Allah!" Nabi Isa عليه السلام pun menunaikan pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan menolong agamaNya bersama penolong-peno-longnya yang setia. ﴾ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Maka segolongan dari Bani Israil beriman," karena seruan Nabi Isa dan penolong-penolongnya yang setia, ﴾ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ ﴿ "dan segolongan (yang lain) kafir," dari kalangan mereka dengan tidak tunduk pada seruan Isa dan para penolong-nya. Kemudian orang-orang Mukmin memerangi orang-orang kafir, ﴾ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ ﴿ "maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka," maksudnya, Kami kuatkan mereka dan Kami memberikan kemenangan bagi mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ﴿ "lalu mereka menjadi orang-orang yang menang" atas mereka dan menundukkan mereka. Dan kalian wahai umat Muhammad! Jadilah penolong Allah سبحانه وتعالى dan penyeru agamaNya, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan menolong kalian seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى menolong orang-orang sebelum kalian dan me-menangkan kalian dari musuh-musuh kalian. Selesailah tafsir Surat ash-Shaf. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى se-mata, Rabb semesta alam.

As-Saff 61:12

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjuk-kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberun-tungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah peno-long penolong agama Allah!,' lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan ke-kuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaf: 10-14). (10) Ini adalah wasiat, petunjuk, dan arahan dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah di antara para pemurah terhadap para hamba-hambaNya yang beriman, kepada bisnis terbesar, tuntutan paling luhur dan tujuan paling tinggi, yang jika didapat, akan menyela-matkan dari azab yang pedih dan mendapatkan kenikmatan abadi. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kata penawaran yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang yang bersabar dan yang berakal. (11) Seolah-olah ada yang bertanya, "Transaksi apa yang ni-lainya sedemikian besar?" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya," sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan cara membenarkannya yang mengharuskan untuk diamalkan oleh anggota badan. Dan yang paling utama adalah berjihad di jalanNya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ﴿ "Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu," dengan mencurahkan diri dan nyawa kalian untuk menyerang musuh Islam dengan maksud untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى dan meninggikan kalimatNya. Kalian mengeluarkan dana semampu kalian untuk tujuan itu meski hal itu tidak disukai dan terasa berat bagi jiwa, tapi jihad ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." Dalam jihad terdapat kebaikan dunia seperti kemenangan dari musuh, kemuliaan yang menafikan kerendahan, keleluasaan rizki, dan ke-lapangan dada. Sedangkan kebaikan akhirat adalah mendapatkan pahala Allah سبحانه وتعالى dan selamat dari siksaNya. (12) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala di akhirat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu," mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, karena beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan berjihad di jalanNya bisa menghapus dosa meski dosa besar. ﴾ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," mak-sudnya, di bawah tempat tinggal, istana, ruangan kamar, dan pe-pohonannya mengalir sungai-sungai yang bersumber dari air yang rasa, aroma, dan warnanya tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari khamar nikmat untuk me-reka yang meminumnya, dan sungai dari madu murni, dan mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan. ﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di Surga 'Adn." Maksudnya, mencakup segala kebaikan berupa ketinggian, indah-nya bangunan dan perhiasan, hingga para penghuni kamar peng-huni surga tertinggi dapat dilihat oleh seluruh penduduk surga, laksana bintang gemerlap yang dapat dilihat di ufuk langit timur dan barat. Bahkan bangunan surga ada yang berasal dari batu bata emas, ada juga yang berbatu bata perak dan marmernya terbuat dari mutiara dan mutu manikam. Sebagian rumah di surga terbuat dari mutiara dengan berbagai warna-warni. Karena begitu cerah-nya, sisi dalam dapat dilihat dari luar dan sebaliknya. Di dalam surga terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat dilukis-kan oleh siapa pun dan tidak pernah terlintas di hati satu makhluk pun dari seluruh alam. Mereka tidak akan bisa mengangankannya hingga mereka melihatnya, menikmati keindahannya, dan menye-jukkan mata mereka. Dalam kondisi seperti itu andai Allah سبحانه وتعالى tidak menciptakan penghuni surga secara sempurna dan tidak kekal, tentu hampir saja mereka mati karena terlalu bahagia. Mahasuci Dzat yang tidak ada satu pun makhlukNya yang bisa menghitung pujian untukNya. Tapi Dia adalah seperti yang Dia puji DiriNya sendiri dan di atas pu-jian seluruh makhluk. Mahasuci Allah Yang Mahaluhur lagi Indah yang menciptakan tempat kenikmatan. Menciptakan keluhuran dan keindahan di dalamnya yang membuat akal semua makhluk terpana dan tertarik hatinya. Mahatinggi Allah Yang bagiNya hikmah sempurna yang seandainya memperlihatkan surga pada para hambaNya hingga mereka melihat apa saja yang terdapat di dalamnya, tentu tidak ada seorang pun yang akan ketinggalan dan tentu tidak ada seorang pun yang mau hidup di dunia yang kenikmatannya dicampuri kepedihan dan kesenangannya dicam-puri kesengsaraan. Surga tersebut dinamakan 'Adn karena peng-huninya menempatinya dan tidak keluar selamanya, serta tidak ingin mencari ganti. Itulah balasan besar dan pahala yang indah yang merupakan suatu keberuntungan besar tanpa tandingan. Dan inilah balasan akhirat. (13) Adapun pahala duniawi untuk transaksi ini disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ ﴿ "Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai," yakni, terdapat hal lain yang kalian peroleh yang kalian sukai yaitu, ﴾ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "pertolongan dari Allah" untuk kalian atas musuh-musuh kalian. Dengan kemenangan itu kalian mendapatkan kejayaan dan kesenangan, ﴾ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ ﴿ "dan kemenangan yang dekat (waktunya)." Dengan kemenangan ini kawasan Islam se-makin meluas dan rizki yang luas pun didapat. Ini adalah balasan bagi orang-orang Mukmin yang berjihad. Adapun kaum Mukminin yang tidak berjihad manakala yang lainnya berjihad, Allah سبحانه وتعالى tidak membuat mereka berputus asa dari karunia dan kebaikanNya, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." Maksudnya, dengan pahala yang langsung di dunia dan tertunda di akhirat. Masing-masing men-dapatkan pahala berdasarkan keimanannya, meski mereka tidak mencapai tingkatan para mujahid yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana yang disabdakan Nabi a, مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. فَعَجِبَ لَهَا أَبُوْ سَعِيْدٍ فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَعَادَهَا مَا عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Barangsiapa yang rela Allah menjadi Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka wajib baginya surga." Abu Sa'id al-Khudri (perawi hadits ini) merasa takjub seraya berkata, "Ulangi lagi untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah a pun mengulanginya untuknya kemudian bersabda, "Dan lainnya, seorang hamba diangkat dengannya seratus tingkat di surga, antara masing-masing tingkatan sejarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (HR. Muslim).[119] (14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah," yaitu dengan perkataan dan perbuatan dengan cara mene-gakkan agama Allah سبحانه وتعالى serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain dan memerangi mereka yang menentang dan menolak-nya dengan raga dan harta. Memerangi orang yang menolong kebatilan yang dikiranya sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. Termasuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى adalah mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya serta memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mendorong orang-orang yang beriman agar meneladani orang-orang shalih sebelumnya seraya berfirman, ﴾ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'" Mak-sudnya, Nabi Isa عليه السلام berkata kepada mereka seraya mengingatkan siapa yang menolongnya dan tegak bersamanya untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, masuk dan keluar bersamaku. Para pengikut-pengikutnya yang setia bersegera dan berkata, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Kamilah penolong-penolong agama Allah!" Nabi Isa عليه السلام pun menunaikan pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan menolong agamaNya bersama penolong-peno-longnya yang setia. ﴾ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Maka segolongan dari Bani Israil beriman," karena seruan Nabi Isa dan penolong-penolongnya yang setia, ﴾ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ ﴿ "dan segolongan (yang lain) kafir," dari kalangan mereka dengan tidak tunduk pada seruan Isa dan para penolong-nya. Kemudian orang-orang Mukmin memerangi orang-orang kafir, ﴾ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ ﴿ "maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka," maksudnya, Kami kuatkan mereka dan Kami memberikan kemenangan bagi mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ﴿ "lalu mereka menjadi orang-orang yang menang" atas mereka dan menundukkan mereka. Dan kalian wahai umat Muhammad! Jadilah penolong Allah سبحانه وتعالى dan penyeru agamaNya, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan menolong kalian seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى menolong orang-orang sebelum kalian dan me-menangkan kalian dari musuh-musuh kalian. Selesailah tafsir Surat ash-Shaf. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى se-mata, Rabb semesta alam.

As-Saff 61:13

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjuk-kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberun-tungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah peno-long penolong agama Allah!,' lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan ke-kuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaf: 10-14). (10) Ini adalah wasiat, petunjuk, dan arahan dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah di antara para pemurah terhadap para hamba-hambaNya yang beriman, kepada bisnis terbesar, tuntutan paling luhur dan tujuan paling tinggi, yang jika didapat, akan menyela-matkan dari azab yang pedih dan mendapatkan kenikmatan abadi. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kata penawaran yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang yang bersabar dan yang berakal. (11) Seolah-olah ada yang bertanya, "Transaksi apa yang ni-lainya sedemikian besar?" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya," sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan cara membenarkannya yang mengharuskan untuk diamalkan oleh anggota badan. Dan yang paling utama adalah berjihad di jalanNya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ﴿ "Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu," dengan mencurahkan diri dan nyawa kalian untuk menyerang musuh Islam dengan maksud untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى dan meninggikan kalimatNya. Kalian mengeluarkan dana semampu kalian untuk tujuan itu meski hal itu tidak disukai dan terasa berat bagi jiwa, tapi jihad ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." Dalam jihad terdapat kebaikan dunia seperti kemenangan dari musuh, kemuliaan yang menafikan kerendahan, keleluasaan rizki, dan ke-lapangan dada. Sedangkan kebaikan akhirat adalah mendapatkan pahala Allah سبحانه وتعالى dan selamat dari siksaNya. (12) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala di akhirat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu," mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, karena beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan berjihad di jalanNya bisa menghapus dosa meski dosa besar. ﴾ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," mak-sudnya, di bawah tempat tinggal, istana, ruangan kamar, dan pe-pohonannya mengalir sungai-sungai yang bersumber dari air yang rasa, aroma, dan warnanya tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari khamar nikmat untuk me-reka yang meminumnya, dan sungai dari madu murni, dan mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan. ﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di Surga 'Adn." Maksudnya, mencakup segala kebaikan berupa ketinggian, indah-nya bangunan dan perhiasan, hingga para penghuni kamar peng-huni surga tertinggi dapat dilihat oleh seluruh penduduk surga, laksana bintang gemerlap yang dapat dilihat di ufuk langit timur dan barat. Bahkan bangunan surga ada yang berasal dari batu bata emas, ada juga yang berbatu bata perak dan marmernya terbuat dari mutiara dan mutu manikam. Sebagian rumah di surga terbuat dari mutiara dengan berbagai warna-warni. Karena begitu cerah-nya, sisi dalam dapat dilihat dari luar dan sebaliknya. Di dalam surga terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat dilukis-kan oleh siapa pun dan tidak pernah terlintas di hati satu makhluk pun dari seluruh alam. Mereka tidak akan bisa mengangankannya hingga mereka melihatnya, menikmati keindahannya, dan menye-jukkan mata mereka. Dalam kondisi seperti itu andai Allah سبحانه وتعالى tidak menciptakan penghuni surga secara sempurna dan tidak kekal, tentu hampir saja mereka mati karena terlalu bahagia. Mahasuci Dzat yang tidak ada satu pun makhlukNya yang bisa menghitung pujian untukNya. Tapi Dia adalah seperti yang Dia puji DiriNya sendiri dan di atas pu-jian seluruh makhluk. Mahasuci Allah Yang Mahaluhur lagi Indah yang menciptakan tempat kenikmatan. Menciptakan keluhuran dan keindahan di dalamnya yang membuat akal semua makhluk terpana dan tertarik hatinya. Mahatinggi Allah Yang bagiNya hikmah sempurna yang seandainya memperlihatkan surga pada para hambaNya hingga mereka melihat apa saja yang terdapat di dalamnya, tentu tidak ada seorang pun yang akan ketinggalan dan tentu tidak ada seorang pun yang mau hidup di dunia yang kenikmatannya dicampuri kepedihan dan kesenangannya dicam-puri kesengsaraan. Surga tersebut dinamakan 'Adn karena peng-huninya menempatinya dan tidak keluar selamanya, serta tidak ingin mencari ganti. Itulah balasan besar dan pahala yang indah yang merupakan suatu keberuntungan besar tanpa tandingan. Dan inilah balasan akhirat. (13) Adapun pahala duniawi untuk transaksi ini disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ ﴿ "Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai," yakni, terdapat hal lain yang kalian peroleh yang kalian sukai yaitu, ﴾ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "pertolongan dari Allah" untuk kalian atas musuh-musuh kalian. Dengan kemenangan itu kalian mendapatkan kejayaan dan kesenangan, ﴾ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ ﴿ "dan kemenangan yang dekat (waktunya)." Dengan kemenangan ini kawasan Islam se-makin meluas dan rizki yang luas pun didapat. Ini adalah balasan bagi orang-orang Mukmin yang berjihad. Adapun kaum Mukminin yang tidak berjihad manakala yang lainnya berjihad, Allah سبحانه وتعالى tidak membuat mereka berputus asa dari karunia dan kebaikanNya, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." Maksudnya, dengan pahala yang langsung di dunia dan tertunda di akhirat. Masing-masing men-dapatkan pahala berdasarkan keimanannya, meski mereka tidak mencapai tingkatan para mujahid yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana yang disabdakan Nabi a, مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. فَعَجِبَ لَهَا أَبُوْ سَعِيْدٍ فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَعَادَهَا مَا عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Barangsiapa yang rela Allah menjadi Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka wajib baginya surga." Abu Sa'id al-Khudri (perawi hadits ini) merasa takjub seraya berkata, "Ulangi lagi untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah a pun mengulanginya untuknya kemudian bersabda, "Dan lainnya, seorang hamba diangkat dengannya seratus tingkat di surga, antara masing-masing tingkatan sejarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (HR. Muslim).[119] (14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah," yaitu dengan perkataan dan perbuatan dengan cara mene-gakkan agama Allah سبحانه وتعالى serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain dan memerangi mereka yang menentang dan menolak-nya dengan raga dan harta. Memerangi orang yang menolong kebatilan yang dikiranya sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. Termasuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى adalah mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya serta memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mendorong orang-orang yang beriman agar meneladani orang-orang shalih sebelumnya seraya berfirman, ﴾ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'" Mak-sudnya, Nabi Isa عليه السلام berkata kepada mereka seraya mengingatkan siapa yang menolongnya dan tegak bersamanya untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, masuk dan keluar bersamaku. Para pengikut-pengikutnya yang setia bersegera dan berkata, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Kamilah penolong-penolong agama Allah!" Nabi Isa عليه السلام pun menunaikan pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan menolong agamaNya bersama penolong-peno-longnya yang setia. ﴾ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Maka segolongan dari Bani Israil beriman," karena seruan Nabi Isa dan penolong-penolongnya yang setia, ﴾ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ ﴿ "dan segolongan (yang lain) kafir," dari kalangan mereka dengan tidak tunduk pada seruan Isa dan para penolong-nya. Kemudian orang-orang Mukmin memerangi orang-orang kafir, ﴾ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ ﴿ "maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka," maksudnya, Kami kuatkan mereka dan Kami memberikan kemenangan bagi mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ﴿ "lalu mereka menjadi orang-orang yang menang" atas mereka dan menundukkan mereka. Dan kalian wahai umat Muhammad! Jadilah penolong Allah سبحانه وتعالى dan penyeru agamaNya, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan menolong kalian seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى menolong orang-orang sebelum kalian dan me-menangkan kalian dari musuh-musuh kalian. Selesailah tafsir Surat ash-Shaf. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى se-mata, Rabb semesta alam.

As-Saff 61:14

"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjuk-kan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberun-tungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (wak-tunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah, sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?' Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, 'Kamilah peno-long penolong agama Allah!,' lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan ke-kuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang." (Ash-Shaf: 10-14). (10) Ini adalah wasiat, petunjuk, dan arahan dari Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Pemurah di antara para pemurah terhadap para hamba-hambaNya yang beriman, kepada bisnis terbesar, tuntutan paling luhur dan tujuan paling tinggi, yang jika didapat, akan menyela-matkan dari azab yang pedih dan mendapatkan kenikmatan abadi. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kata penawaran yang menunjukkan bahwa hal ini adalah sesuatu yang diinginkan oleh orang yang bersabar dan yang berakal. (11) Seolah-olah ada yang bertanya, "Transaksi apa yang ni-lainya sedemikian besar?" Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ﴿ "(Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya," sebagaimana diketahui bahwa keimanan yang sempurna adalah membenarkan dengan bulat terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى dengan cara membenarkannya yang mengharuskan untuk diamalkan oleh anggota badan. Dan yang paling utama adalah berjihad di jalanNya, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَتُجَٰهِدُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡۚ ﴿ "Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu," dengan mencurahkan diri dan nyawa kalian untuk menyerang musuh Islam dengan maksud untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى dan meninggikan kalimatNya. Kalian mengeluarkan dana semampu kalian untuk tujuan itu meski hal itu tidak disukai dan terasa berat bagi jiwa, tapi jihad ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya." Dalam jihad terdapat kebaikan dunia seperti kemenangan dari musuh, kemuliaan yang menafikan kerendahan, keleluasaan rizki, dan ke-lapangan dada. Sedangkan kebaikan akhirat adalah mendapatkan pahala Allah سبحانه وتعالى dan selamat dari siksaNya. (12) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pahala di akhirat seraya berfirman, ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ ﴿ "Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu," mencakup dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar, karena beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan berjihad di jalanNya bisa menghapus dosa meski dosa besar. ﴾ وَيُدۡخِلۡكُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "Dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," mak-sudnya, di bawah tempat tinggal, istana, ruangan kamar, dan pe-pohonannya mengalir sungai-sungai yang bersumber dari air yang rasa, aroma, dan warnanya tidak berubah, sungai-sungai dari susu yang rasanya tidak berubah, sungai dari khamar nikmat untuk me-reka yang meminumnya, dan sungai dari madu murni, dan mereka mendapatkan berbagai macam buah-buahan. ﴾ وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةٗ فِي جَنَّٰتِ عَدۡنٖۚ ﴿ "Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di Surga 'Adn." Maksudnya, mencakup segala kebaikan berupa ketinggian, indah-nya bangunan dan perhiasan, hingga para penghuni kamar peng-huni surga tertinggi dapat dilihat oleh seluruh penduduk surga, laksana bintang gemerlap yang dapat dilihat di ufuk langit timur dan barat. Bahkan bangunan surga ada yang berasal dari batu bata emas, ada juga yang berbatu bata perak dan marmernya terbuat dari mutiara dan mutu manikam. Sebagian rumah di surga terbuat dari mutiara dengan berbagai warna-warni. Karena begitu cerah-nya, sisi dalam dapat dilihat dari luar dan sebaliknya. Di dalam surga terdapat kebaikan dan keindahan yang tidak dapat dilukis-kan oleh siapa pun dan tidak pernah terlintas di hati satu makhluk pun dari seluruh alam. Mereka tidak akan bisa mengangankannya hingga mereka melihatnya, menikmati keindahannya, dan menye-jukkan mata mereka. Dalam kondisi seperti itu andai Allah سبحانه وتعالى tidak menciptakan penghuni surga secara sempurna dan tidak kekal, tentu hampir saja mereka mati karena terlalu bahagia. Mahasuci Dzat yang tidak ada satu pun makhlukNya yang bisa menghitung pujian untukNya. Tapi Dia adalah seperti yang Dia puji DiriNya sendiri dan di atas pu-jian seluruh makhluk. Mahasuci Allah Yang Mahaluhur lagi Indah yang menciptakan tempat kenikmatan. Menciptakan keluhuran dan keindahan di dalamnya yang membuat akal semua makhluk terpana dan tertarik hatinya. Mahatinggi Allah Yang bagiNya hikmah sempurna yang seandainya memperlihatkan surga pada para hambaNya hingga mereka melihat apa saja yang terdapat di dalamnya, tentu tidak ada seorang pun yang akan ketinggalan dan tentu tidak ada seorang pun yang mau hidup di dunia yang kenikmatannya dicampuri kepedihan dan kesenangannya dicam-puri kesengsaraan. Surga tersebut dinamakan 'Adn karena peng-huninya menempatinya dan tidak keluar selamanya, serta tidak ingin mencari ganti. Itulah balasan besar dan pahala yang indah yang merupakan suatu keberuntungan besar tanpa tandingan. Dan inilah balasan akhirat. (13) Adapun pahala duniawi untuk transaksi ini disebutkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ ﴿ "Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai," yakni, terdapat hal lain yang kalian peroleh yang kalian sukai yaitu, ﴾ نَصۡرٞ مِّنَ ٱللَّهِ ﴿ "pertolongan dari Allah" untuk kalian atas musuh-musuh kalian. Dengan kemenangan itu kalian mendapatkan kejayaan dan kesenangan, ﴾ وَفَتۡحٞ قَرِيبٞۗ ﴿ "dan kemenangan yang dekat (waktunya)." Dengan kemenangan ini kawasan Islam se-makin meluas dan rizki yang luas pun didapat. Ini adalah balasan bagi orang-orang Mukmin yang berjihad. Adapun kaum Mukminin yang tidak berjihad manakala yang lainnya berjihad, Allah سبحانه وتعالى tidak membuat mereka berputus asa dari karunia dan kebaikanNya, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman." Maksudnya, dengan pahala yang langsung di dunia dan tertunda di akhirat. Masing-masing men-dapatkan pahala berdasarkan keimanannya, meski mereka tidak mencapai tingkatan para mujahid yang berjuang di jalan Allah سبحانه وتعالى, sebagaimana yang disabdakan Nabi a, مَنْ رَضِيَ بِاللّٰهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلًا، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ. فَعَجِبَ لَهَا أَبُوْ سَعِيْدٍ فَقَالَ: أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، فَأَعَادَهَا مَا عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ، مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، قَالَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ. "Barangsiapa yang rela Allah menjadi Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul, maka wajib baginya surga." Abu Sa'id al-Khudri (perawi hadits ini) merasa takjub seraya berkata, "Ulangi lagi untukku wahai Rasulullah!" Rasulullah a pun mengulanginya untuknya kemudian bersabda, "Dan lainnya, seorang hamba diangkat dengannya seratus tingkat di surga, antara masing-masing tingkatan sejarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Rasulullah a menjawab, "Jihad di jalan Allah, jihad di jalan Allah." (HR. Muslim).[119] (14) Kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah," yaitu dengan perkataan dan perbuatan dengan cara mene-gakkan agama Allah سبحانه وتعالى serta gigih dalam menyebarkannya pada orang lain dan memerangi mereka yang menentang dan menolak-nya dengan raga dan harta. Memerangi orang yang menolong kebatilan yang dikiranya sebagai ilmu dan menolak kebenaran dengan cara meruntuhkan hujjahnya dan waspada terhadapnya. Termasuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى adalah mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya dan mendorong orang lain untuk mempelajari kitab Allah سبحانه وتعالى dan Sunnah RasulNya serta mengajarkannya serta memerintahkan kebaikan dan men-cegah kemungkaran. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى mendorong orang-orang yang beriman agar meneladani orang-orang shalih sebelumnya seraya berfirman, ﴾ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ ﴿ "Sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, 'Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?'" Mak-sudnya, Nabi Isa عليه السلام berkata kepada mereka seraya mengingatkan siapa yang menolongnya dan tegak bersamanya untuk menolong agama Allah سبحانه وتعالى, masuk dan keluar bersamaku. Para pengikut-pengikutnya yang setia bersegera dan berkata, ﴾ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ ﴿ "Kamilah penolong-penolong agama Allah!" Nabi Isa عليه السلام pun menunaikan pe-rintah Allah سبحانه وتعالى dan menolong agamaNya bersama penolong-peno-longnya yang setia. ﴾ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ ﴿ "Maka segolongan dari Bani Israil beriman," karena seruan Nabi Isa dan penolong-penolongnya yang setia, ﴾ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ ﴿ "dan segolongan (yang lain) kafir," dari kalangan mereka dengan tidak tunduk pada seruan Isa dan para penolong-nya. Kemudian orang-orang Mukmin memerangi orang-orang kafir, ﴾ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ ﴿ "maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka," maksudnya, Kami kuatkan mereka dan Kami memberikan kemenangan bagi mereka atas musuh-musuh mereka, ﴾ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ ﴿ "lalu mereka menjadi orang-orang yang menang" atas mereka dan menundukkan mereka. Dan kalian wahai umat Muhammad! Jadilah penolong Allah سبحانه وتعالى dan penyeru agamaNya, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan menolong kalian seba-gaimana Allah سبحانه وتعالى menolong orang-orang sebelum kalian dan me-menangkan kalian dari musuh-musuh kalian. Selesailah tafsir Surat ash-Shaf. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى se-mata, Rabb semesta alam.

Al-Jumu'ah 62:1

"Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Raja Yang Mahasuci, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Al-Jumu'ah: 1). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) ﴾ ٱلۡمَلِكِ ٱلۡقُدُّوسِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ ﴿ "Raja Yang Mahasuci, Yang Mahaper-kasa lagi Mahabijaksana." Maksudnya, seluruh yang ada di langit dan di bumi memahasucikan Allah سبحانه وتعالى, tunduk pada perintahNya dan menuhankanNya. Karena Dia adalah Yang Mahasempurna dan Maharaja, yang milikNya-lah kerajaan langit dan bumi. Semuanya adalah milik Allah سبحانه وتعالى, berada dalam pengaturanNya. Mahasuci lagi Mahaagung, Yang suci dari segala kekurangan dan cela. Mahaper-kasa lagi menundukkan secara paksa segala sesuatu. Mahabijaksana pada makhluk dan perintahNya. Sifat-sifat agung ini menyerukan penyembahan Allah سبحانه وتعالى semata, yang tidak ada sekutu bagiNya.

Al-Jumu'ah 62:2

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf se-orang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Demikianlah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Jumu'ah: 2-4). (2) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا ﴿ "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul,"yang dimaksud kaum buta huruf adalah kaum yang tidak memiliki kitab suci dan tidak ada jejak kerasulan, baik dari kalangan Arab maupun yang bukan mereka, yang bukan kalangan ahli kitab. Allah سبحانه وتعالى memberikan ujian besar pada mereka yang melebihi karunia kalangan lainnya, karena me-reka tidak memiliki ilmu dan kebaikan. Mereka sebelumnya berada dalam ﴾ ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "kesesatan yang nyata." Dengan menyembah patung, pohon, dan batu, dan beretika seperti binatang buas pemangsa, di mana yang kuat di antara mereka memakan yang lemah. Mereka berada di puncak kebodohan terhadap ilmu para nabi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengutus seorang rasul di kalangan mereka. mereka mengetahui nasab, sifat-sifatnya yang baik serta kejujurannya, dan Allah سبحانه وتعالى menurunkan Kitab suciNya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "yang memba-cakan ayat-ayatNya kepada mereka," yang pasti dan mengharuskan beriman dan meyakini, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡ ﴿ "dan menyucikan mereka," dengan menjelaskan dan mendorong mereka pada sifat-sifat utama serta mencegah mereka dari akhlak-akhlak tercela, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah." Maksudnya, ilmu al-Qur`an dan as-Sunnah yang mencakup seluruh ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Setelah pembelajaran dan penyucian itu, mereka menjadi manusia paling berilmu bahkan mereka ada-lah pemimpin ahlul ilmi dan agama, manusia paling berakhlak mulia dan paling baik petunjuk dan jalannya. Mereka menjadikan diri mereka sebagai petunjuk dan memberi petunjuk pada orang lain sehingga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang men-dapatkan petunjuk dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Merupakan nikmat yang paling sempurna dan karunia terbesar, karena Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka rasul tersebut. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "Dan (juga) ke-pada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan me-reka." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada kalangan lain selain mereka. Yaitu, kalangan yang tidak buta huruf yang datang setelah mereka dan juga dari kalangan ahli kitab, ﴾ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "yang belum berhubungan dengan mereka," yaitu orang yang bertemu dan langsung mendapatkan dakwah Rasulullah a. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi keutamaan. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi masa. Yang jelas, kedua makna tersebut benar, karena manusia yang didatangkan seorang utusan di tengah-tengah mereka, mereka menyaksikan dan langsung ber-hadapan dengan dakwah rasul tersebut akan mendapatkan ber-bagai keistimewaan dan keutamaan yang tidak mungkin disaingi oleh seorang pun selain mereka. (4) Ini adalah salah satu keperkasaan dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى yang tidak membiarkan hamba-hambaNya begitu saja. Tapi Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul yang memerintah dan melarang mereka. Itu adalah salah satu karunia agung dari Allah سبحانه وتعالى yang diberikan pada siapa saja yang dikehendaki. Karuna diutusnya seorang rasul lebih besar daripada nikmat kesehatan jasmani dan luasnya rizki bagi mereka. Tidak ada yang lebih baik dari kenikmatan agama yang merupakan sumber keberuntungan dan kebahagiaan abadi.

Al-Jumu'ah 62:3

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf se-orang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Demikianlah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Jumu'ah: 2-4). (2) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا ﴿ "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul,"yang dimaksud kaum buta huruf adalah kaum yang tidak memiliki kitab suci dan tidak ada jejak kerasulan, baik dari kalangan Arab maupun yang bukan mereka, yang bukan kalangan ahli kitab. Allah سبحانه وتعالى memberikan ujian besar pada mereka yang melebihi karunia kalangan lainnya, karena me-reka tidak memiliki ilmu dan kebaikan. Mereka sebelumnya berada dalam ﴾ ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "kesesatan yang nyata." Dengan menyembah patung, pohon, dan batu, dan beretika seperti binatang buas pemangsa, di mana yang kuat di antara mereka memakan yang lemah. Mereka berada di puncak kebodohan terhadap ilmu para nabi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengutus seorang rasul di kalangan mereka. mereka mengetahui nasab, sifat-sifatnya yang baik serta kejujurannya, dan Allah سبحانه وتعالى menurunkan Kitab suciNya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "yang memba-cakan ayat-ayatNya kepada mereka," yang pasti dan mengharuskan beriman dan meyakini, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡ ﴿ "dan menyucikan mereka," dengan menjelaskan dan mendorong mereka pada sifat-sifat utama serta mencegah mereka dari akhlak-akhlak tercela, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah." Maksudnya, ilmu al-Qur`an dan as-Sunnah yang mencakup seluruh ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Setelah pembelajaran dan penyucian itu, mereka menjadi manusia paling berilmu bahkan mereka ada-lah pemimpin ahlul ilmi dan agama, manusia paling berakhlak mulia dan paling baik petunjuk dan jalannya. Mereka menjadikan diri mereka sebagai petunjuk dan memberi petunjuk pada orang lain sehingga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang men-dapatkan petunjuk dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Merupakan nikmat yang paling sempurna dan karunia terbesar, karena Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka rasul tersebut. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "Dan (juga) ke-pada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan me-reka." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada kalangan lain selain mereka. Yaitu, kalangan yang tidak buta huruf yang datang setelah mereka dan juga dari kalangan ahli kitab, ﴾ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "yang belum berhubungan dengan mereka," yaitu orang yang bertemu dan langsung mendapatkan dakwah Rasulullah a. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi keutamaan. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi masa. Yang jelas, kedua makna tersebut benar, karena manusia yang didatangkan seorang utusan di tengah-tengah mereka, mereka menyaksikan dan langsung ber-hadapan dengan dakwah rasul tersebut akan mendapatkan ber-bagai keistimewaan dan keutamaan yang tidak mungkin disaingi oleh seorang pun selain mereka. (4) Ini adalah salah satu keperkasaan dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى yang tidak membiarkan hamba-hambaNya begitu saja. Tapi Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul yang memerintah dan melarang mereka. Itu adalah salah satu karunia agung dari Allah سبحانه وتعالى yang diberikan pada siapa saja yang dikehendaki. Karuna diutusnya seorang rasul lebih besar daripada nikmat kesehatan jasmani dan luasnya rizki bagi mereka. Tidak ada yang lebih baik dari kenikmatan agama yang merupakan sumber keberuntungan dan kebahagiaan abadi.

Al-Jumu'ah 62:4

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf se-orang Rasul di antara mereka, yang membacakan aya-ayatNya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sungguh mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Demikianlah karunia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah mempunyai karunia yang besar." (Al-Jumu'ah: 2-4). (2) ﴾ هُوَ ٱلَّذِي بَعَثَ فِي ٱلۡأُمِّيِّـۧنَ رَسُولٗا ﴿ "Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul,"yang dimaksud kaum buta huruf adalah kaum yang tidak memiliki kitab suci dan tidak ada jejak kerasulan, baik dari kalangan Arab maupun yang bukan mereka, yang bukan kalangan ahli kitab. Allah سبحانه وتعالى memberikan ujian besar pada mereka yang melebihi karunia kalangan lainnya, karena me-reka tidak memiliki ilmu dan kebaikan. Mereka sebelumnya berada dalam ﴾ ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ﴿ "kesesatan yang nyata." Dengan menyembah patung, pohon, dan batu, dan beretika seperti binatang buas pemangsa, di mana yang kuat di antara mereka memakan yang lemah. Mereka berada di puncak kebodohan terhadap ilmu para nabi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengutus seorang rasul di kalangan mereka. mereka mengetahui nasab, sifat-sifatnya yang baik serta kejujurannya, dan Allah سبحانه وتعالى menurunkan Kitab suciNya, ﴾ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ ﴿ "yang memba-cakan ayat-ayatNya kepada mereka," yang pasti dan mengharuskan beriman dan meyakini, ﴾ وَيُزَكِّيهِمۡ ﴿ "dan menyucikan mereka," dengan menjelaskan dan mendorong mereka pada sifat-sifat utama serta mencegah mereka dari akhlak-akhlak tercela, ﴾ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ ﴿ "dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah." Maksudnya, ilmu al-Qur`an dan as-Sunnah yang mencakup seluruh ilmu orang-orang terdahulu dan terkemudian. Setelah pembelajaran dan penyucian itu, mereka menjadi manusia paling berilmu bahkan mereka ada-lah pemimpin ahlul ilmi dan agama, manusia paling berakhlak mulia dan paling baik petunjuk dan jalannya. Mereka menjadikan diri mereka sebagai petunjuk dan memberi petunjuk pada orang lain sehingga mereka menjadi pemimpin orang-orang yang men-dapatkan petunjuk dan pemimpin orang-orang yang bertakwa. Merupakan nikmat yang paling sempurna dan karunia terbesar, karena Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka rasul tersebut. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَءَاخَرِينَ مِنۡهُمۡ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "Dan (juga) ke-pada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan me-reka." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi karunia pada kalangan lain selain mereka. Yaitu, kalangan yang tidak buta huruf yang datang setelah mereka dan juga dari kalangan ahli kitab, ﴾ لَمَّا يَلۡحَقُواْ بِهِمۡۚ ﴿ "yang belum berhubungan dengan mereka," yaitu orang yang bertemu dan langsung mendapatkan dakwah Rasulullah a. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi keutamaan. Kemungkinan lain, mereka belum bertemu dari segi masa. Yang jelas, kedua makna tersebut benar, karena manusia yang didatangkan seorang utusan di tengah-tengah mereka, mereka menyaksikan dan langsung ber-hadapan dengan dakwah rasul tersebut akan mendapatkan ber-bagai keistimewaan dan keutamaan yang tidak mungkin disaingi oleh seorang pun selain mereka. (4) Ini adalah salah satu keperkasaan dan kebijaksanaan Allah سبحانه وتعالى yang tidak membiarkan hamba-hambaNya begitu saja. Tapi Allah سبحانه وتعالى mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul yang memerintah dan melarang mereka. Itu adalah salah satu karunia agung dari Allah سبحانه وتعالى yang diberikan pada siapa saja yang dikehendaki. Karuna diutusnya seorang rasul lebih besar daripada nikmat kesehatan jasmani dan luasnya rizki bagi mereka. Tidak ada yang lebih baik dari kenikmatan agama yang merupakan sumber keberuntungan dan kebahagiaan abadi.

Al-Jumu'ah 62:5

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perum-pamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. Katakanlah, 'Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu men-dakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bu-kan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan keja-hatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim. Ka-takanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Jumu'ah: 5-8). (5) Ketika menyebutkan nikmatNya yang diberikan pada umat ini, umat yang di tengah-tengahnya diutus seorang nabi yang tidak bisa baca-tulis, serta berbagai keistimewaan dan sifat baik yang diberikan yang tidak bisa didapatkan oleh umat yang lain padahal mereka adalah umat yang tidak tahu baca-tulis, umat yang mengungguli orang-orang dahulu dan terkemudian hingga ahli kitab yang mengira bahwa mereka adalah ulama rabbani dan para pendeta yang terdahulu. Selanjutnya Allah menyebutkan, bahwa orang-orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan juga Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang dipe-rintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. Mereka tidak ubahnya seperti keledai yang membawa barang berupa kitab-kitab ilmu di atas punggungnya. Bisakah keledai memanfaatkan kitab-kitab yang dibawa di atas punggungnya itu? Apakah karena sebab itu mereka berhak mendapatkan keutamaan? Ataukah jatah mereka hanya sekedar membawa saja. Inilah perum-pamaan ulama ahli kitab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengajarkan isi Taurat, yang di antara perintah terbesar dan ter-agungnya adalah mengikuti Muhammad a serta kabar gembira bagi orang yang beriman dengan al-Qur`an yang dibawanya. Orang yang sifatnya seperti ini tidak bisa memanfaatkan Taurat melain-kan hanya kerugian dan tegaknya hujjah atas diri mereka sendiri. Perumpamaan ini persis seperti kondisi mereka. ﴾ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu." Yang menunjukkan atas kebenaran rasul kita dan kebenaran yang dibawanya, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim." Maksudnya, tidak menunjukkan mereka pada maslahat-maslahat mereka selama ke-zhaliman dan pembangkangan masih lekat sebagai sifat mereka. (6) Di antara kezhaliman dan pembangkangan Yahudi ada-lah mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, namun mereka mengklaim berada di atas kebenaran. Mereka juga mengklaim bahwa hanya merekalah para kekasih Allah سبحانه وتعالى, bukan kaum lain. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk berkata kepada mereka, ﴾ إِن زَعَمۡتُمۡ أَنَّكُمۡ أَوۡلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ ٱلۡمَوۡتَ ﴿ "Jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu." Ini adalah perintah yang ringan, sebab seandainya mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak ter-diam menghadapi tantangan seperti ini yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai bukti atas kebenaran mereka. Jika mereka benar-benar mengharapkan kematian berarti mereka benar, namun jika tidak, berarti mereka dusta belaka. (7) Ketika mereka tidak mengharapkan kematian padahal mereka mengetahui hal itu, mereka pun mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan dan mereka juga mengetahui ketidakbe-narannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا يَتَمَنَّوۡنَهُۥٓ أَبَدَۢا بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sen-diri)." Maksudnya, karena dosa dan kemaksiatan yang membuat mereka merasa takut dari kematian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim." Tidak mungkin kezhaliman mereka samar bagi Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. (8) Begitulah, meski mereka tidak mengharapkan kematian karena perbuatan yang mereka lakukan bahkan mereka akan lari dari kematian sejauh mungkin, tapi hal itu tidak bisa menyelamat-kan mereka, karena kematian pasti menemui mereka karena telah ditentukan dan dituliskan oleh Allah سبحانه وتعالى pada para hambaNya. Kemudian setelah kematian dan sempurnanya ajal, semua manu-sia dikembalikan pada Hari Kiamat menuju Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata kemudian akan memberi-tahukan amal perbuatan mereka, baik dan buruknya, sedikit dan banyaknya.

Al-Jumu'ah 62:6

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perum-pamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. Katakanlah, 'Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu men-dakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bu-kan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan keja-hatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim. Ka-takanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Jumu'ah: 5-8). (5) Ketika menyebutkan nikmatNya yang diberikan pada umat ini, umat yang di tengah-tengahnya diutus seorang nabi yang tidak bisa baca-tulis, serta berbagai keistimewaan dan sifat baik yang diberikan yang tidak bisa didapatkan oleh umat yang lain padahal mereka adalah umat yang tidak tahu baca-tulis, umat yang mengungguli orang-orang dahulu dan terkemudian hingga ahli kitab yang mengira bahwa mereka adalah ulama rabbani dan para pendeta yang terdahulu. Selanjutnya Allah menyebutkan, bahwa orang-orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan juga Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang dipe-rintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. Mereka tidak ubahnya seperti keledai yang membawa barang berupa kitab-kitab ilmu di atas punggungnya. Bisakah keledai memanfaatkan kitab-kitab yang dibawa di atas punggungnya itu? Apakah karena sebab itu mereka berhak mendapatkan keutamaan? Ataukah jatah mereka hanya sekedar membawa saja. Inilah perum-pamaan ulama ahli kitab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengajarkan isi Taurat, yang di antara perintah terbesar dan ter-agungnya adalah mengikuti Muhammad a serta kabar gembira bagi orang yang beriman dengan al-Qur`an yang dibawanya. Orang yang sifatnya seperti ini tidak bisa memanfaatkan Taurat melain-kan hanya kerugian dan tegaknya hujjah atas diri mereka sendiri. Perumpamaan ini persis seperti kondisi mereka. ﴾ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu." Yang menunjukkan atas kebenaran rasul kita dan kebenaran yang dibawanya, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim." Maksudnya, tidak menunjukkan mereka pada maslahat-maslahat mereka selama ke-zhaliman dan pembangkangan masih lekat sebagai sifat mereka. (6) Di antara kezhaliman dan pembangkangan Yahudi ada-lah mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, namun mereka mengklaim berada di atas kebenaran. Mereka juga mengklaim bahwa hanya merekalah para kekasih Allah سبحانه وتعالى, bukan kaum lain. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk berkata kepada mereka, ﴾ إِن زَعَمۡتُمۡ أَنَّكُمۡ أَوۡلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ ٱلۡمَوۡتَ ﴿ "Jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu." Ini adalah perintah yang ringan, sebab seandainya mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak ter-diam menghadapi tantangan seperti ini yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai bukti atas kebenaran mereka. Jika mereka benar-benar mengharapkan kematian berarti mereka benar, namun jika tidak, berarti mereka dusta belaka. (7) Ketika mereka tidak mengharapkan kematian padahal mereka mengetahui hal itu, mereka pun mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan dan mereka juga mengetahui ketidakbe-narannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا يَتَمَنَّوۡنَهُۥٓ أَبَدَۢا بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sen-diri)." Maksudnya, karena dosa dan kemaksiatan yang membuat mereka merasa takut dari kematian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim." Tidak mungkin kezhaliman mereka samar bagi Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. (8) Begitulah, meski mereka tidak mengharapkan kematian karena perbuatan yang mereka lakukan bahkan mereka akan lari dari kematian sejauh mungkin, tapi hal itu tidak bisa menyelamat-kan mereka, karena kematian pasti menemui mereka karena telah ditentukan dan dituliskan oleh Allah سبحانه وتعالى pada para hambaNya. Kemudian setelah kematian dan sempurnanya ajal, semua manu-sia dikembalikan pada Hari Kiamat menuju Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata kemudian akan memberi-tahukan amal perbuatan mereka, baik dan buruknya, sedikit dan banyaknya.

Al-Jumu'ah 62:7

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perum-pamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. Katakanlah, 'Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu men-dakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bu-kan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan keja-hatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim. Ka-takanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Jumu'ah: 5-8). (5) Ketika menyebutkan nikmatNya yang diberikan pada umat ini, umat yang di tengah-tengahnya diutus seorang nabi yang tidak bisa baca-tulis, serta berbagai keistimewaan dan sifat baik yang diberikan yang tidak bisa didapatkan oleh umat yang lain padahal mereka adalah umat yang tidak tahu baca-tulis, umat yang mengungguli orang-orang dahulu dan terkemudian hingga ahli kitab yang mengira bahwa mereka adalah ulama rabbani dan para pendeta yang terdahulu. Selanjutnya Allah menyebutkan, bahwa orang-orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan juga Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang dipe-rintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. Mereka tidak ubahnya seperti keledai yang membawa barang berupa kitab-kitab ilmu di atas punggungnya. Bisakah keledai memanfaatkan kitab-kitab yang dibawa di atas punggungnya itu? Apakah karena sebab itu mereka berhak mendapatkan keutamaan? Ataukah jatah mereka hanya sekedar membawa saja. Inilah perum-pamaan ulama ahli kitab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengajarkan isi Taurat, yang di antara perintah terbesar dan ter-agungnya adalah mengikuti Muhammad a serta kabar gembira bagi orang yang beriman dengan al-Qur`an yang dibawanya. Orang yang sifatnya seperti ini tidak bisa memanfaatkan Taurat melain-kan hanya kerugian dan tegaknya hujjah atas diri mereka sendiri. Perumpamaan ini persis seperti kondisi mereka. ﴾ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu." Yang menunjukkan atas kebenaran rasul kita dan kebenaran yang dibawanya, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim." Maksudnya, tidak menunjukkan mereka pada maslahat-maslahat mereka selama ke-zhaliman dan pembangkangan masih lekat sebagai sifat mereka. (6) Di antara kezhaliman dan pembangkangan Yahudi ada-lah mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, namun mereka mengklaim berada di atas kebenaran. Mereka juga mengklaim bahwa hanya merekalah para kekasih Allah سبحانه وتعالى, bukan kaum lain. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk berkata kepada mereka, ﴾ إِن زَعَمۡتُمۡ أَنَّكُمۡ أَوۡلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ ٱلۡمَوۡتَ ﴿ "Jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu." Ini adalah perintah yang ringan, sebab seandainya mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak ter-diam menghadapi tantangan seperti ini yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai bukti atas kebenaran mereka. Jika mereka benar-benar mengharapkan kematian berarti mereka benar, namun jika tidak, berarti mereka dusta belaka. (7) Ketika mereka tidak mengharapkan kematian padahal mereka mengetahui hal itu, mereka pun mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan dan mereka juga mengetahui ketidakbe-narannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا يَتَمَنَّوۡنَهُۥٓ أَبَدَۢا بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sen-diri)." Maksudnya, karena dosa dan kemaksiatan yang membuat mereka merasa takut dari kematian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim." Tidak mungkin kezhaliman mereka samar bagi Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. (8) Begitulah, meski mereka tidak mengharapkan kematian karena perbuatan yang mereka lakukan bahkan mereka akan lari dari kematian sejauh mungkin, tapi hal itu tidak bisa menyelamat-kan mereka, karena kematian pasti menemui mereka karena telah ditentukan dan dituliskan oleh Allah سبحانه وتعالى pada para hambaNya. Kemudian setelah kematian dan sempurnanya ajal, semua manu-sia dikembalikan pada Hari Kiamat menuju Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata kemudian akan memberi-tahukan amal perbuatan mereka, baik dan buruknya, sedikit dan banyaknya.

Al-Jumu'ah 62:8

"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perum-pamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim. Katakanlah, 'Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu men-dakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bu-kan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.' Mereka tiada akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya disebabkan keja-hatan yang telah mereka perbuat dengan tangan mereka sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim. Ka-takanlah, 'Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'." (Al-Jumu'ah: 5-8). (5) Ketika menyebutkan nikmatNya yang diberikan pada umat ini, umat yang di tengah-tengahnya diutus seorang nabi yang tidak bisa baca-tulis, serta berbagai keistimewaan dan sifat baik yang diberikan yang tidak bisa didapatkan oleh umat yang lain padahal mereka adalah umat yang tidak tahu baca-tulis, umat yang mengungguli orang-orang dahulu dan terkemudian hingga ahli kitab yang mengira bahwa mereka adalah ulama rabbani dan para pendeta yang terdahulu. Selanjutnya Allah menyebutkan, bahwa orang-orang yang membawa kitab Taurat dari kalangan Yahudi dan juga Nasrani dan diperintahkan agar dipelajari dan diamalkan namun mereka tidak membawa dan menunaikan apa yang dipe-rintahkan. Dengan demikian mereka tidak memiliki keutamaan. Mereka tidak ubahnya seperti keledai yang membawa barang berupa kitab-kitab ilmu di atas punggungnya. Bisakah keledai memanfaatkan kitab-kitab yang dibawa di atas punggungnya itu? Apakah karena sebab itu mereka berhak mendapatkan keutamaan? Ataukah jatah mereka hanya sekedar membawa saja. Inilah perum-pamaan ulama ahli kitab. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengajarkan isi Taurat, yang di antara perintah terbesar dan ter-agungnya adalah mengikuti Muhammad a serta kabar gembira bagi orang yang beriman dengan al-Qur`an yang dibawanya. Orang yang sifatnya seperti ini tidak bisa memanfaatkan Taurat melain-kan hanya kerugian dan tegaknya hujjah atas diri mereka sendiri. Perumpamaan ini persis seperti kondisi mereka. ﴾ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ ﴿ "Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu." Yang menunjukkan atas kebenaran rasul kita dan kebenaran yang dibawanya, ﴾ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim." Maksudnya, tidak menunjukkan mereka pada maslahat-maslahat mereka selama ke-zhaliman dan pembangkangan masih lekat sebagai sifat mereka. (6) Di antara kezhaliman dan pembangkangan Yahudi ada-lah mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan, namun mereka mengklaim berada di atas kebenaran. Mereka juga mengklaim bahwa hanya merekalah para kekasih Allah سبحانه وتعالى, bukan kaum lain. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk berkata kepada mereka, ﴾ إِن زَعَمۡتُمۡ أَنَّكُمۡ أَوۡلِيَآءُ لِلَّهِ مِن دُونِ ٱلنَّاسِ فَتَمَنَّوُاْ ٱلۡمَوۡتَ ﴿ "Jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu." Ini adalah perintah yang ringan, sebab seandainya mereka mengetahui bahwa mereka berada di atas kebenaran, tentu mereka tidak ter-diam menghadapi tantangan seperti ini yang dijadikan Allah سبحانه وتعالى sebagai bukti atas kebenaran mereka. Jika mereka benar-benar mengharapkan kematian berarti mereka benar, namun jika tidak, berarti mereka dusta belaka. (7) Ketika mereka tidak mengharapkan kematian padahal mereka mengetahui hal itu, mereka pun mengetahui bahwa mereka berada di atas kebatilan dan mereka juga mengetahui ketidakbe-narannya. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَا يَتَمَنَّوۡنَهُۥٓ أَبَدَۢا بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengharapkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sen-diri)." Maksudnya, karena dosa dan kemaksiatan yang membuat mereka merasa takut dari kematian. ﴾ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui akan orang-orang yang zhalim." Tidak mungkin kezhaliman mereka samar bagi Allah سبحانه وتعالى sedikit pun. (8) Begitulah, meski mereka tidak mengharapkan kematian karena perbuatan yang mereka lakukan bahkan mereka akan lari dari kematian sejauh mungkin, tapi hal itu tidak bisa menyelamat-kan mereka, karena kematian pasti menemui mereka karena telah ditentukan dan dituliskan oleh Allah سبحانه وتعالى pada para hambaNya. Kemudian setelah kematian dan sempurnanya ajal, semua manu-sia dikembalikan pada Hari Kiamat menuju Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata kemudian akan memberi-tahukan amal perbuatan mereka, baik dan buruknya, sedikit dan banyaknya.

Al-Jumu'ah 62:9

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menu-naikan shalat pada Hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunai-kan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,' dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." (Al-Jumu'ah: 9-11). (9) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar meng-hadiri dan bersegera menunaikan Shalat Jum'at setelah diserukan. Yang dimaksud bersegera dalam ayat ini adalah segera menunaikan-nya, memperhatikan dan menjadikannya sebagai puncak kesibuk-annya, bukan dengan berlarian mendatangi tempat shalat yang justru dilarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ﴿ "Dan tinggalkanlah jual beli." Maksudnya, tinggalkan jual beli ketika kalian diseru untuk Shalat Jum'at dan bersegeralah menuju Shalat Jum'at, karena ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu me-ngetahui." Yang di sisi Allah سبحانه وتعالى itu lebih baik dan lebih kekal dan siapa pun yang lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat, maka sungguh dia merugi dengan kerugian sebenarnya padahal dia mengira akan mendatangkan keuntungan. (10) Perintah untuk meninggalkan jual beli ini berlaku se-lama shalat berlangsung, dan ﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi," untuk mencari rizki dan berbagai perdagangan. Karena sibuk dengan berdagang merupakan penyebab orang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan supaya banyak mengingatNya agar hal itu bisa dihindari seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ﴿ "Dan ingatlah Allah banyak-banyak," maksudnya ketika kalian berdiri, duduk, dan berbaring, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "supaya kamu beruntung." Karena banyak mengingat Allah سبحانه وتعالى merupakan sebab keberuntungan terbesar. (11) ﴾ وَإِذَا رَأَوۡاْ تِجَٰرَةً أَوۡ لَهۡوًا ٱنفَضُّوٓاْ إِلَيۡهَا ﴿ "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya," maksudnya, mereka keluar dari masjid karena amat menginginkan sesuatu yang melalaikan itu dan karena perdagangan itu dengan meninggalkan kebaikan, ﴾ وَتَرَكُوكَ قَآئِمٗاۚ ﴿ "dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)," yakni ketika engkau sedang berkhutbah di hadapan banyak orang. Peristiwa ini terjadi pada Hari Jum'at ketika Nabi a tengah berkhutbah di hadapan orang-orang, datang-lah kafilah perdagangan di kota Madinah. Ketika orang-orang yang berada di masjid mendengar kedatangan kafilah itu, mereka pun pergi meninggalkan masjid[120] dan meninggalkan Nabi a ketika sedang berkhutbah, karena bersegera ingin mendapatkan sesuatu yang tidak pantas mereka lakukan serta tidak beradab. ﴾ قُلۡ مَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah'," berupa pahala bagi orang yang konsisten dalam kebaikan serta menyabarkan dirinya dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خَيۡرٞ مِّنَ ٱللَّهۡوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِۚ ﴿ "adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan," yang meski sebagian tujuannya terpe-nuhi tapi itu hanya sedikit dan membuat orang tidak mendapatkan pahala akhirat. Bersabar dalam melakukan ketaatan tidak menye-babkan orang tidak kebagian rizki, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." Siapa pun yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Terdapat beberapa inti sari dari ayat-ayat di atas; Pertama, Shalat Jum'at adalah kewajiban seluruh orang-orang Mukmin laki-laki. Mereka wajib bersegera menunaikan serta mem-perhatikannya. Kedua, dua khutbah pada Hari Jum'at adalah wajib dan wajib dihadiri. Karena kata اَلذِّكْرُ (mengingat) dalam ayat di atas ditafsir-kan sebagai dua khutbah. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar orang-orang yang beriman datang segera untuk mendengarkannya. Ketiga, disyariatkan serta diperintahkannya adzan Jum'at. Keempat, larangan dan haramnya berjual beli setelah adzan Jum'at (berkumandang) karena hal itu bisa melalaikan kewajiban dan mempersibuk diri sehingga tidak bisa menunaikannya. Hal itu menunjukkan, bahwa segala sesuatu meski asalnya mubah yang jika dilakukan bisa melalaikan dari kewajiban, maka sesuatu itu tidak boleh dilakukan pada waktu itu. Kelima, perintah untuk mendatangi dua khutbah Jum'at dan celaan bagi orang yang tidak mendatanginya. Termasuk wajib dalam hal ini adalah diam mendengarkan dua khutbah. Keenam, seseorang yang hendak menghadiri ibadah pada waktu jiwanya mendorong agar mendatangi pekerjaan-pekerjaan yang melalaikan, perdagangan dan kepentingan-kepentingan hawa nafsu harus mengingat kebaikan-kebaikan di sisi Allah سبحانه وتعالى dan harus lebih mengedepankan ridha Allah سبحانه وتعالى daripada hawa nafsunya. Selesai tafsir Surat al-Jumu'ah berkat karunia dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam.

Al-Jumu'ah 62:10

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menu-naikan shalat pada Hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunai-kan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,' dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." (Al-Jumu'ah: 9-11). (9) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar meng-hadiri dan bersegera menunaikan Shalat Jum'at setelah diserukan. Yang dimaksud bersegera dalam ayat ini adalah segera menunaikan-nya, memperhatikan dan menjadikannya sebagai puncak kesibuk-annya, bukan dengan berlarian mendatangi tempat shalat yang justru dilarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ﴿ "Dan tinggalkanlah jual beli." Maksudnya, tinggalkan jual beli ketika kalian diseru untuk Shalat Jum'at dan bersegeralah menuju Shalat Jum'at, karena ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu me-ngetahui." Yang di sisi Allah سبحانه وتعالى itu lebih baik dan lebih kekal dan siapa pun yang lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat, maka sungguh dia merugi dengan kerugian sebenarnya padahal dia mengira akan mendatangkan keuntungan. (10) Perintah untuk meninggalkan jual beli ini berlaku se-lama shalat berlangsung, dan ﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi," untuk mencari rizki dan berbagai perdagangan. Karena sibuk dengan berdagang merupakan penyebab orang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan supaya banyak mengingatNya agar hal itu bisa dihindari seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ﴿ "Dan ingatlah Allah banyak-banyak," maksudnya ketika kalian berdiri, duduk, dan berbaring, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "supaya kamu beruntung." Karena banyak mengingat Allah سبحانه وتعالى merupakan sebab keberuntungan terbesar. (11) ﴾ وَإِذَا رَأَوۡاْ تِجَٰرَةً أَوۡ لَهۡوًا ٱنفَضُّوٓاْ إِلَيۡهَا ﴿ "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya," maksudnya, mereka keluar dari masjid karena amat menginginkan sesuatu yang melalaikan itu dan karena perdagangan itu dengan meninggalkan kebaikan, ﴾ وَتَرَكُوكَ قَآئِمٗاۚ ﴿ "dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)," yakni ketika engkau sedang berkhutbah di hadapan banyak orang. Peristiwa ini terjadi pada Hari Jum'at ketika Nabi a tengah berkhutbah di hadapan orang-orang, datang-lah kafilah perdagangan di kota Madinah. Ketika orang-orang yang berada di masjid mendengar kedatangan kafilah itu, mereka pun pergi meninggalkan masjid[120] dan meninggalkan Nabi a ketika sedang berkhutbah, karena bersegera ingin mendapatkan sesuatu yang tidak pantas mereka lakukan serta tidak beradab. ﴾ قُلۡ مَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah'," berupa pahala bagi orang yang konsisten dalam kebaikan serta menyabarkan dirinya dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خَيۡرٞ مِّنَ ٱللَّهۡوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِۚ ﴿ "adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan," yang meski sebagian tujuannya terpe-nuhi tapi itu hanya sedikit dan membuat orang tidak mendapatkan pahala akhirat. Bersabar dalam melakukan ketaatan tidak menye-babkan orang tidak kebagian rizki, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." Siapa pun yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Terdapat beberapa inti sari dari ayat-ayat di atas; Pertama, Shalat Jum'at adalah kewajiban seluruh orang-orang Mukmin laki-laki. Mereka wajib bersegera menunaikan serta mem-perhatikannya. Kedua, dua khutbah pada Hari Jum'at adalah wajib dan wajib dihadiri. Karena kata اَلذِّكْرُ (mengingat) dalam ayat di atas ditafsir-kan sebagai dua khutbah. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar orang-orang yang beriman datang segera untuk mendengarkannya. Ketiga, disyariatkan serta diperintahkannya adzan Jum'at. Keempat, larangan dan haramnya berjual beli setelah adzan Jum'at (berkumandang) karena hal itu bisa melalaikan kewajiban dan mempersibuk diri sehingga tidak bisa menunaikannya. Hal itu menunjukkan, bahwa segala sesuatu meski asalnya mubah yang jika dilakukan bisa melalaikan dari kewajiban, maka sesuatu itu tidak boleh dilakukan pada waktu itu. Kelima, perintah untuk mendatangi dua khutbah Jum'at dan celaan bagi orang yang tidak mendatanginya. Termasuk wajib dalam hal ini adalah diam mendengarkan dua khutbah. Keenam, seseorang yang hendak menghadiri ibadah pada waktu jiwanya mendorong agar mendatangi pekerjaan-pekerjaan yang melalaikan, perdagangan dan kepentingan-kepentingan hawa nafsu harus mengingat kebaikan-kebaikan di sisi Allah سبحانه وتعالى dan harus lebih mengedepankan ridha Allah سبحانه وتعالى daripada hawa nafsunya. Selesai tafsir Surat al-Jumu'ah berkat karunia dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam.

Al-Jumu'ah 62:11

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menu-naikan shalat pada Hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunai-kan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan,' dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." (Al-Jumu'ah: 9-11). (9) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar meng-hadiri dan bersegera menunaikan Shalat Jum'at setelah diserukan. Yang dimaksud bersegera dalam ayat ini adalah segera menunaikan-nya, memperhatikan dan menjadikannya sebagai puncak kesibuk-annya, bukan dengan berlarian mendatangi tempat shalat yang justru dilarang. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ﴿ "Dan tinggalkanlah jual beli." Maksudnya, tinggalkan jual beli ketika kalian diseru untuk Shalat Jum'at dan bersegeralah menuju Shalat Jum'at, karena ﴾ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ﴿ "yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu me-ngetahui." Yang di sisi Allah سبحانه وتعالى itu lebih baik dan lebih kekal dan siapa pun yang lebih mengutamakan dunia dari pada akhirat, maka sungguh dia merugi dengan kerugian sebenarnya padahal dia mengira akan mendatangkan keuntungan. (10) Perintah untuk meninggalkan jual beli ini berlaku se-lama shalat berlangsung, dan ﴾ فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi," untuk mencari rizki dan berbagai perdagangan. Karena sibuk dengan berdagang merupakan penyebab orang melalaikan Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan supaya banyak mengingatNya agar hal itu bisa dihindari seraya berfirman, ﴾ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ﴿ "Dan ingatlah Allah banyak-banyak," maksudnya ketika kalian berdiri, duduk, dan berbaring, ﴾ لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ﴿ "supaya kamu beruntung." Karena banyak mengingat Allah سبحانه وتعالى merupakan sebab keberuntungan terbesar. (11) ﴾ وَإِذَا رَأَوۡاْ تِجَٰرَةً أَوۡ لَهۡوًا ٱنفَضُّوٓاْ إِلَيۡهَا ﴿ "Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya," maksudnya, mereka keluar dari masjid karena amat menginginkan sesuatu yang melalaikan itu dan karena perdagangan itu dengan meninggalkan kebaikan, ﴾ وَتَرَكُوكَ قَآئِمٗاۚ ﴿ "dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah)," yakni ketika engkau sedang berkhutbah di hadapan banyak orang. Peristiwa ini terjadi pada Hari Jum'at ketika Nabi a tengah berkhutbah di hadapan orang-orang, datang-lah kafilah perdagangan di kota Madinah. Ketika orang-orang yang berada di masjid mendengar kedatangan kafilah itu, mereka pun pergi meninggalkan masjid[120] dan meninggalkan Nabi a ketika sedang berkhutbah, karena bersegera ingin mendapatkan sesuatu yang tidak pantas mereka lakukan serta tidak beradab. ﴾ قُلۡ مَا عِندَ ٱللَّهِ ﴿ "Katakanlah, 'Apa yang di sisi Allah'," berupa pahala bagi orang yang konsisten dalam kebaikan serta menyabarkan dirinya dalam menyembah Allah سبحانه وتعالى, ﴾ خَيۡرٞ مِّنَ ٱللَّهۡوِ وَمِنَ ٱلتِّجَٰرَةِۚ ﴿ "adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan," yang meski sebagian tujuannya terpe-nuhi tapi itu hanya sedikit dan membuat orang tidak mendapatkan pahala akhirat. Bersabar dalam melakukan ketaatan tidak menye-babkan orang tidak kebagian rizki, ﴾ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ ﴿ "dan Allah sebaik-baik Pemberi rizki." Siapa pun yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberi rizki dari arah yang tidak diduga-duga. Terdapat beberapa inti sari dari ayat-ayat di atas; Pertama, Shalat Jum'at adalah kewajiban seluruh orang-orang Mukmin laki-laki. Mereka wajib bersegera menunaikan serta mem-perhatikannya. Kedua, dua khutbah pada Hari Jum'at adalah wajib dan wajib dihadiri. Karena kata اَلذِّكْرُ (mengingat) dalam ayat di atas ditafsir-kan sebagai dua khutbah. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar orang-orang yang beriman datang segera untuk mendengarkannya. Ketiga, disyariatkan serta diperintahkannya adzan Jum'at. Keempat, larangan dan haramnya berjual beli setelah adzan Jum'at (berkumandang) karena hal itu bisa melalaikan kewajiban dan mempersibuk diri sehingga tidak bisa menunaikannya. Hal itu menunjukkan, bahwa segala sesuatu meski asalnya mubah yang jika dilakukan bisa melalaikan dari kewajiban, maka sesuatu itu tidak boleh dilakukan pada waktu itu. Kelima, perintah untuk mendatangi dua khutbah Jum'at dan celaan bagi orang yang tidak mendatanginya. Termasuk wajib dalam hal ini adalah diam mendengarkan dua khutbah. Keenam, seseorang yang hendak menghadiri ibadah pada waktu jiwanya mendorong agar mendatangi pekerjaan-pekerjaan yang melalaikan, perdagangan dan kepentingan-kepentingan hawa nafsu harus mengingat kebaikan-kebaikan di sisi Allah سبحانه وتعالى dan harus lebih mengedepankan ridha Allah سبحانه وتعالى daripada hawa nafsunya. Selesai tafsir Surat al-Jumu'ah berkat karunia dan pertolongan Allah سبحانه وتعالى. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata, Rabb semesta alam.

Al-Munafiqun 63:1

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:2

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:3

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:4

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:5

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:6

"Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, 'Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.' Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguh-nya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka meng-halangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mende-ngarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang ter-sandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras di-tujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenar-an)? Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu,' mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri. Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Al-Munafiqun: 1-6). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ketika Nabi a tiba di Madinah, Islam menyebar dan menguat, sekelompok orang dari kalangan suku Aus dan Khazraj menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran agar wibawa mereka tetap ada, darah mereka terjaga dan harta mereka aman. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat mereka yang dapat diketahui agar semua hamba mewaspadai dan mengetahui mereka secara pasti seraya berfirman, ﴾ إِذَا جَآءَكَ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ قَالُواْ ﴿ "Apabila orang-orang mu-nafik datang kepadamu, mereka berkata," seraya mendustakan ﴾ نَشۡهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ ٱللَّهِۗ ﴿ "Kami bersaksi bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah." Kesaksian orang-orang munafik ini adalah sebagai kedus-taan dan kemunafikan padahal mereka tidak perlu bersaksi untuk menegaskan RasulNya karena sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى ﴾ يَعۡلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُۥ وَٱللَّهُ يَشۡهَدُ إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَكَٰذِبُونَ ﴿ "mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar RasulNya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta," dalam perkataan dan pengakuan mereka, serta perkataan yang mereka ucapkan itu bukan yang sebenarnya. (2) ﴾ ٱتَّخَذُوٓاْ أَيۡمَٰنَهُمۡ جُنَّةٗ ﴿ "Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai," yakni, sebagai tameng yang mereka jadikan sebagai penghalang agar tidak disebut sebagai munafik, mereka mengha-langi diri mereka dari jalan Allah سبحانه وتعالى dan menghalangi orang lain yang statusnya tidak jelas. ﴾ إِنَّهُمۡ سَآءَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ﴿ "Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan." Karena menampakkan ke-imanan, menyembunyikan kekufuran dan mereka bersumpah atas hal itu serta menyatakan kedustaan mereka. (3) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yang dihiasi oleh kemuna-fikan, ﴾ أَنَّهُم ﴿ "adalah karena sesungguhnya mereka," tidak tetap dalam keimanan, namun ﴾ ءَامَنُواْ ثُمَّ كَفَرُواْ فَطُبِعَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ ﴿ "telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati," di mana hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan selamanya. ﴾ فَهُمۡ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Karena itu mereka tidak dapat mengerti." Tidak mengerti apa yang bisa membawa manfaat bagi mereka dan tidak memahami apa yang bisa menda-tangkan maslahat bagi mereka. (4) ﴾ وَإِذَا رَأَيۡتَهُمۡ تُعۡجِبُكَ أَجۡسَامُهُمۡۖ ﴿ "Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum," karena kekar dan kuat-nya, ﴾ وَإِن يَقُولُواْ تَسۡمَعۡ لِقَوۡلِهِمۡۖ ﴿ "dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka," maksudnya, karena kepandaian mereka dalam berbicara, engkau merasa enak mendengar perkataan mereka. Per-kataan dan penampilan tubuh mereka membuat kalian kagum. Tapi di balik itu tidak ada akhlak baik dan petunjuk baik sama sekali, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَأَنَّهُمۡ خُشُبٞ مُّسَنَّدَةٞۖ ﴿ "Mereka seakan-akan kayu yang tersandar," yang tidak ada manfaatnya dan hanya menim-bulkan mudarat. ﴾ يَحۡسَبُونَ كُلَّ صَيۡحَةٍ عَلَيۡهِمۡۚ ﴿ "Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka." Hal itu disebabkan ka-rena sifat pengecut, takut, lemah dan ragunya hati mereka, mereka khawatir rahasia mereka terbongkar. Mereka itu adalah ﴾ ٱلۡعَدُوُّ ﴿ "musuh" yang sebenarnya, karena musuh yang nampak dan bisa dibedakan itu lebih ringan daripada musuh yang tidak dapat di-rasakan keberadaannya. Musuh semacam ini adalah penipu dan pembuat makar. Ia mengira sebagai penolong padahal ia adalah musuh yang nyata. ﴾ فَٱحۡذَرۡهُمۡۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُۖ أَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ ﴿ "Maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)." Maksudnya bagaimanakah me-reka bisa dipalingkan dari agama Islam setelah bukti-bukti nyata kokoh, setelah tanda-tandanya tegas terhadap kekafiran yang hanya membuahkan kerugian dan kesengsaraan bagi mereka. (5) ﴾ وَإِذَا قِيلَ ﴿ "Dan apabila dikatakan kepada mereka," kepada orang-orang munafik, ﴾ تَعَالَوۡاْ يَسۡتَغۡفِرۡ لَكُمۡ رَسُولُ ٱللَّهِ ﴿ "Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu," dari apa pun yang mereka lakukan agar kondisi mereka membaik dan amal mereka dapat di-terima, mereka benar-benar enggan untuk itu dan ﴾ لَوَّوۡاْ رُءُوسَهُمۡ ﴿ "mem-buang muka mereka," karena enggan meminta doa dari Rasulullah a. ﴾ وَرَأَيۡتَهُمۡ يَصُدُّونَ ﴿ "Dan kamu lihat mereka berpaling" dari kebenaran, karena kebencian mereka terhadap kebenaran itu, ﴾ وَهُم مُّسۡتَكۡبِرُونَ ﴿ "sedang mereka menyombongkan diri" untuk mengikutinya disertai dengki dan membangkang. Inilah kondisi mereka ketika diajak untuk meminta didoakan oleh Rasulullah a. (6) Inilah di antara kelembutan dan anugerah kehormatan Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya, karena orang-orang munafik tidak mendatangi Rasulullah a untuk dimintakan ampunan, karena ﴾ سَوَآءٌ عَلَيۡهِمۡ ﴿ "sama saja bagi mereka," apakah engkau memintakan ampunan untuk mereka atau tidak ﴾ لَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka." Hal itu disebabkan karena mereka adalah kaum fasik, keluar dari jalur ketaatan, lebih memilih ke-kufuran daripada keimanan. Karena itu permintaan ampunan Rasulullah a, andai Rasulullah a memintakan ampunan untuk mereka, tidak berguna sama sekali. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ ٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ أَوۡ لَا تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ إِن تَسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ سَبۡعِينَ مَرَّةٗ فَلَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَهُمۡۚ ﴿ "Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohon-kan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohon-kan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun bagi mereka." (At-Taubah: 80). ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ ﴿ "Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."

Al-Munafiqun 63:7

"Merekalah orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), 'Janganlah kamu memberikan infak kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).' Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata, 'Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.' Padahal kekuatan itu hanya-lah milik Allah, milik RasulNya, dan milik orang-orang muk'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 7-8). (7) Ini adalah di antara kerasnya permusuhan mereka ter-hadap Nabi a dan kaum Muslimin, ketika mereka melihat persa-tuan para sahabat dan segeranya mereka melakukan apa pun yang membuat Rasulullah a ridha. Mereka berkata dengan dugaan keliru, ﴾ لَا تُنفِقُواْ عَلَىٰ مَنۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّواْۗ ﴿ "Janganlah kamu memberi-kan infak kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)," karena mereka me-ngira, andai bukan karena harta orang-orang munafik dan dana yang mereka berikan, tentu mereka tidak bersatu padu dalam me-nolong Agama Allah سبحانه وتعالى. Inilah hal paling aneh dari orang-orang munafik. Mereka membuat dugaan seperti itu padahal mereka adalah orang yang paling getol dalam mencela Agama Islam dan menyakiti kaum Muslimin. Dugaan seperti ini hanya diucapkan oleh orang yang tidak mengerti hal sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah pernyataan mereka, ﴾ وَلِلَّهِ خَزَآئِنُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi." Allah سبحانه وتعالى memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki, me-nahan rizki dari siapa saja yang dikehendaki, memudahkan sebab-sebab rizki untuk siapa saja yang dikehendaki dan mempersulit sebab-sebab rizki untuk siapa saja yang dikehendaki. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami." Karena itu-lah mereka mengucapkan perkataan seperti itu yang pengertiannya adalah perbendaharaan rizki berada di tangan mereka dan ada di bawah kehendak mereka. (8) ﴾ يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعۡنَآ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ ﴿ "Mereka berkata, ''Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya'.'" Ini terjadi pada saat Perang al-Muraisi, ketika beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar terlibat adu mulut yang mengusik perasaan. Saat itu kemunafikan mereka nampak dan jelaslah apa yang tersem-bunyi di hati mereka. Pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubai bin Salul, berkata, "Perumpamaan kami dengan mereka –maksud-nya kaum Muhajirin– tidak lain adalah seperti orang yang berkata, 'Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu.'" Dan dia juga berkata, "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya," karena mengira bahwa dia dan teman-temannya dari kalangan munafik adalah orang-orang kuat dan Rasulullah a serta orang-orang yang bersamanya adalah kalangan lemah, padahal sebenar-nya perkataan si munafik itu terbalik. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik RasulNya, dan milik orang-orang Mukmin." Merekalah yang kuat sedangkan orang-orang munafik serta teman-teman mereka adalah orang-orang lemah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui" hal itu. Karena itu mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang kuat dengan kebatilan yang ada pada diri mereka.

Al-Munafiqun 63:8

"Merekalah orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar), 'Janganlah kamu memberikan infak kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).' Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. Mereka berkata, 'Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya.' Padahal kekuatan itu hanya-lah milik Allah, milik RasulNya, dan milik orang-orang muk'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui." (Al-Munafiqun: 7-8). (7) Ini adalah di antara kerasnya permusuhan mereka ter-hadap Nabi a dan kaum Muslimin, ketika mereka melihat persa-tuan para sahabat dan segeranya mereka melakukan apa pun yang membuat Rasulullah a ridha. Mereka berkata dengan dugaan keliru, ﴾ لَا تُنفِقُواْ عَلَىٰ مَنۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّواْۗ ﴿ "Janganlah kamu memberi-kan infak kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah)," karena mereka me-ngira, andai bukan karena harta orang-orang munafik dan dana yang mereka berikan, tentu mereka tidak bersatu padu dalam me-nolong Agama Allah سبحانه وتعالى. Inilah hal paling aneh dari orang-orang munafik. Mereka membuat dugaan seperti itu padahal mereka adalah orang yang paling getol dalam mencela Agama Islam dan menyakiti kaum Muslimin. Dugaan seperti ini hanya diucapkan oleh orang yang tidak mengerti hal sebenarnya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman seraya membantah pernyataan mereka, ﴾ وَلِلَّهِ خَزَآئِنُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi." Allah سبحانه وتعالى memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki, me-nahan rizki dari siapa saja yang dikehendaki, memudahkan sebab-sebab rizki untuk siapa saja yang dikehendaki dan mempersulit sebab-sebab rizki untuk siapa saja yang dikehendaki. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَفۡقَهُونَ ﴿ "Tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami." Karena itu-lah mereka mengucapkan perkataan seperti itu yang pengertiannya adalah perbendaharaan rizki berada di tangan mereka dan ada di bawah kehendak mereka. (8) ﴾ يَقُولُونَ لَئِن رَّجَعۡنَآ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ لَيُخۡرِجَنَّ ٱلۡأَعَزُّ مِنۡهَا ٱلۡأَذَلَّۚ ﴿ "Mereka berkata, ''Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya'.'" Ini terjadi pada saat Perang al-Muraisi, ketika beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan Anshar terlibat adu mulut yang mengusik perasaan. Saat itu kemunafikan mereka nampak dan jelaslah apa yang tersem-bunyi di hati mereka. Pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubai bin Salul, berkata, "Perumpamaan kami dengan mereka –maksud-nya kaum Muhajirin– tidak lain adalah seperti orang yang berkata, 'Gemukkanlah anjingmu, niscaya ia akan memakanmu.'" Dan dia juga berkata, "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah darinya," karena mengira bahwa dia dan teman-temannya dari kalangan munafik adalah orang-orang kuat dan Rasulullah a serta orang-orang yang bersamanya adalah kalangan lemah, padahal sebenar-nya perkataan si munafik itu terbalik. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfir-man, ﴾ وَلِلَّهِ ٱلۡعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ ﴿ "Padahal kekuatan itu hanyalah milik Allah, milik RasulNya, dan milik orang-orang Mukmin." Merekalah yang kuat sedangkan orang-orang munafik serta teman-teman mereka adalah orang-orang lemah. ﴾ وَلَٰكِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ لَا يَعۡلَمُونَ ﴿ "Tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui" hal itu. Karena itu mereka mengira bahwa mereka adalah orang-orang kuat dengan kebatilan yang ada pada diri mereka.

Al-Munafiqun 63:9

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang-siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafi-qun: 9-11). (9) Selanjutnya Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar banyak-banyak mengingatNya karena di dalam dzikir itu terdapat keberuntungan, laba dan kebaikan yang banyak. Allah سبحانه وتعالى juga melarang hamba-hambaNya yang beriman agar tidak dipersibuk oleh harta dan anak sehingga lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, karena kebanyakan jiwa manusia itu terbentuk untuk mencintai harta dan anak sehingga lebih dikedepankan daripada mengingat Allah سبحانه وتعالى yang akan menimbulkan kerugian besar. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat demikian," yakni, dilalaikan oleh harta dan anaknya dari mengingat Allah سبحانه وتعالى ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang rugi." Untuk kebahagiaan abadi dan nikmat yang kekal, karena mereka lebih mengedepankan kefanaan daripada keabadian. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ 28 ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya se-bagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). (10) Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu." Nafkah ini men-cakup nafkah wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah untuk istri, budak dan lainnya, serta nafkah sunnah seperti nafkah untuk berbagai kemaslahatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu," agar hal itu memberitahukan bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan nafkah yang memberatkan hamba-hambaNya. Untuk itu, mereka hendaknya mensyukuri karunia yang didapatkan dengan berbagi kepada saudara-saudaranya yang me-merlukan uluran tangan. Segeralah lakukan hal itu sebelum maut datang menjemput, karena ketika kematian datang, manusia tidak mungkin sedikit pun bisa melakukan kebaikan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ ﴿ "Sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata," seraya menyesali perbuatan yang seharusnya bisa dilakukan di saat-saat masih bisa dilakukan dan hal itu mustahil, ﴾ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat," agar aku bisa melakukan apa yang tidak sempat aku kerja-kan, ﴾ فَأَصَّدَّقَ ﴿ "yang menyebabkan aku dapat bersedekah," dari hartaku yang bisa menyelamatkanku dari azab dan menyebabkan aku ber-hak mendapatkan pahala yang besar, ﴾ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan aku ter-masuk orang-orang yang shalih," dengan mengerjakan perintah-pe-rintah dan menjauhi seluruh larangan, termasuk melakukan haji dan lainnya. (11) Ini adalah permintaan dan harapan hampa yang wak-tunya telah berlalu dan tidak mungkin bisa dilakukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kema-tiannya" yang telah dipastikan, ﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," yang baik dan yang buruk. Allah سبحانه وتعالى akan membalas kalian berdasarkan pengetahuanNya tentang niat dan amal kalian. Selesai tafsir Surat al-Munafiqun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Munafiqun 63:10

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang-siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafi-qun: 9-11). (9) Selanjutnya Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar banyak-banyak mengingatNya karena di dalam dzikir itu terdapat keberuntungan, laba dan kebaikan yang banyak. Allah سبحانه وتعالى juga melarang hamba-hambaNya yang beriman agar tidak dipersibuk oleh harta dan anak sehingga lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, karena kebanyakan jiwa manusia itu terbentuk untuk mencintai harta dan anak sehingga lebih dikedepankan daripada mengingat Allah سبحانه وتعالى yang akan menimbulkan kerugian besar. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat demikian," yakni, dilalaikan oleh harta dan anaknya dari mengingat Allah سبحانه وتعالى ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang rugi." Untuk kebahagiaan abadi dan nikmat yang kekal, karena mereka lebih mengedepankan kefanaan daripada keabadian. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ 28 ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya se-bagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). (10) Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu." Nafkah ini men-cakup nafkah wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah untuk istri, budak dan lainnya, serta nafkah sunnah seperti nafkah untuk berbagai kemaslahatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu," agar hal itu memberitahukan bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan nafkah yang memberatkan hamba-hambaNya. Untuk itu, mereka hendaknya mensyukuri karunia yang didapatkan dengan berbagi kepada saudara-saudaranya yang me-merlukan uluran tangan. Segeralah lakukan hal itu sebelum maut datang menjemput, karena ketika kematian datang, manusia tidak mungkin sedikit pun bisa melakukan kebaikan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ ﴿ "Sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata," seraya menyesali perbuatan yang seharusnya bisa dilakukan di saat-saat masih bisa dilakukan dan hal itu mustahil, ﴾ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat," agar aku bisa melakukan apa yang tidak sempat aku kerja-kan, ﴾ فَأَصَّدَّقَ ﴿ "yang menyebabkan aku dapat bersedekah," dari hartaku yang bisa menyelamatkanku dari azab dan menyebabkan aku ber-hak mendapatkan pahala yang besar, ﴾ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan aku ter-masuk orang-orang yang shalih," dengan mengerjakan perintah-pe-rintah dan menjauhi seluruh larangan, termasuk melakukan haji dan lainnya. (11) Ini adalah permintaan dan harapan hampa yang wak-tunya telah berlalu dan tidak mungkin bisa dilakukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kema-tiannya" yang telah dipastikan, ﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," yang baik dan yang buruk. Allah سبحانه وتعالى akan membalas kalian berdasarkan pengetahuanNya tentang niat dan amal kalian. Selesai tafsir Surat al-Munafiqun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Munafiqun 63:11

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang-siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, 'Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.' Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al-Munafi-qun: 9-11). (9) Selanjutnya Allah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman agar banyak-banyak mengingatNya karena di dalam dzikir itu terdapat keberuntungan, laba dan kebaikan yang banyak. Allah سبحانه وتعالى juga melarang hamba-hambaNya yang beriman agar tidak dipersibuk oleh harta dan anak sehingga lalai untuk mengingat Allah سبحانه وتعالى, karena kebanyakan jiwa manusia itu terbentuk untuk mencintai harta dan anak sehingga lebih dikedepankan daripada mengingat Allah سبحانه وتعالى yang akan menimbulkan kerugian besar. Ka-rena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ﴿ "Barangsiapa yang berbuat demikian," yakni, dilalaikan oleh harta dan anaknya dari mengingat Allah سبحانه وتعالى ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang rugi." Untuk kebahagiaan abadi dan nikmat yang kekal, karena mereka lebih mengedepankan kefanaan daripada keabadian. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ 28 ﴿ "Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya se-bagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28). (10) Firman Allah تعالى, ﴾ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu." Nafkah ini men-cakup nafkah wajib seperti zakat, kaffarat, nafkah untuk istri, budak dan lainnya, serta nafkah sunnah seperti nafkah untuk berbagai kemaslahatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم ﴿ "Sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu," agar hal itu memberitahukan bahwa Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan nafkah yang memberatkan hamba-hambaNya. Untuk itu, mereka hendaknya mensyukuri karunia yang didapatkan dengan berbagi kepada saudara-saudaranya yang me-merlukan uluran tangan. Segeralah lakukan hal itu sebelum maut datang menjemput, karena ketika kematian datang, manusia tidak mungkin sedikit pun bisa melakukan kebaikan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ ﴿ "Sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata," seraya menyesali perbuatan yang seharusnya bisa dilakukan di saat-saat masih bisa dilakukan dan hal itu mustahil, ﴾ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ ﴿ "Ya Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat," agar aku bisa melakukan apa yang tidak sempat aku kerja-kan, ﴾ فَأَصَّدَّقَ ﴿ "yang menyebabkan aku dapat bersedekah," dari hartaku yang bisa menyelamatkanku dari azab dan menyebabkan aku ber-hak mendapatkan pahala yang besar, ﴾ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ ﴿ "dan aku ter-masuk orang-orang yang shalih," dengan mengerjakan perintah-pe-rintah dan menjauhi seluruh larangan, termasuk melakukan haji dan lainnya. (11) Ini adalah permintaan dan harapan hampa yang wak-tunya telah berlalu dan tidak mungkin bisa dilakukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ ﴿ "Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kema-tiannya" yang telah dipastikan, ﴾ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," yang baik dan yang buruk. Allah سبحانه وتعالى akan membalas kalian berdasarkan pengetahuanNya tentang niat dan amal kalian. Selesai tafsir Surat al-Munafiqun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Tagabun 64:1

"Bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu, dan hanya kepadaNya-lah kembali(mu). Dia menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan me-ngetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat mulia ini mencakup jumlah besar sifat-sifat agung Allah Yang Maha Pencipta. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesem-purnaan ketuhananNya, luasnya kekayaanNya, semua makhluk memerlukanNya, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya, seluruh kerajaan hanya milik Allah سبحانه وتعالى, tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari kekuasaanNya, segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Pujian atas sifat-sifat ke-sempurnaan yang Dia miliki. Pujian atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Pujian atas hukum-hukum yang disyariatkan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan. KekuasaanNya menyeluruh, yang tidak satu makhluk pun terlepas darinya. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendakNya. (2) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa Dia menciptakan manu-sia. Di antara mereka ada yang dijadikan sebagai orang Mukmin dan kafir. Keimanan dan kekafiran mereka seluruhnya berdasar-kan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang menghendaki hal itu dari mereka dengan memberikan kemampuan dan kemauan yang memungkinkan mereka melakukan apa pun yang mereka kehendaki, berupa perintah dan larangan. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (3) Setelah menyebutkan penciptaan manusia yang diperin-tah dan dilarang, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan makhluk-makhluk lain seraya berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi," maksudnya, menciptakan bentuk keduanya serta seluruh yang terdapat pada keduanya secara baik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan (tujuan) yang benar," maksudnya, dengan hikmah dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡۖ ﴿ "Dia membentuk rupa-mu dan dibaguskannya rupamu itu," dan ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Manusia adalah makhluk dengan bentuk yang paling baik dan pemandangan yang paling indah. ﴾ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan hanya ke-padaNya-lah kembali(mu)." Maksudnya, tempat kembali pada Hari Kiamat. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan atas keimanan dan keku-furan kalian dan meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang diberikan pada kalian, apakah kalian mensyukurinya atau tidak? (4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ilmuNya yang luas seraya berfirman, ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi," maksudnya, mengetahui segala yang rahasia dan yang nyata, yang ghaib dan yang nampak, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan mengetahui apa yang kamu rahasia-kan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Maksudnya, mengetahui segala rahasia baik, rahasia buruk, niat yang baik dan niat yang buruk yang ada di dalam hati, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui isi hati, maka sebagai orang yang ber-akal dan memiliki mata hati harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh menjaga sisi batinnya dari berbagai akhlak tercela dan hendaknya berakhlak yang baik.

At-Tagabun 64:2

"Bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu, dan hanya kepadaNya-lah kembali(mu). Dia menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan me-ngetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat mulia ini mencakup jumlah besar sifat-sifat agung Allah Yang Maha Pencipta. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesem-purnaan ketuhananNya, luasnya kekayaanNya, semua makhluk memerlukanNya, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya, seluruh kerajaan hanya milik Allah سبحانه وتعالى, tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari kekuasaanNya, segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Pujian atas sifat-sifat ke-sempurnaan yang Dia miliki. Pujian atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Pujian atas hukum-hukum yang disyariatkan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan. KekuasaanNya menyeluruh, yang tidak satu makhluk pun terlepas darinya. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendakNya. (2) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa Dia menciptakan manu-sia. Di antara mereka ada yang dijadikan sebagai orang Mukmin dan kafir. Keimanan dan kekafiran mereka seluruhnya berdasar-kan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang menghendaki hal itu dari mereka dengan memberikan kemampuan dan kemauan yang memungkinkan mereka melakukan apa pun yang mereka kehendaki, berupa perintah dan larangan. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (3) Setelah menyebutkan penciptaan manusia yang diperin-tah dan dilarang, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan makhluk-makhluk lain seraya berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi," maksudnya, menciptakan bentuk keduanya serta seluruh yang terdapat pada keduanya secara baik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan (tujuan) yang benar," maksudnya, dengan hikmah dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡۖ ﴿ "Dia membentuk rupa-mu dan dibaguskannya rupamu itu," dan ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Manusia adalah makhluk dengan bentuk yang paling baik dan pemandangan yang paling indah. ﴾ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan hanya ke-padaNya-lah kembali(mu)." Maksudnya, tempat kembali pada Hari Kiamat. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan atas keimanan dan keku-furan kalian dan meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang diberikan pada kalian, apakah kalian mensyukurinya atau tidak? (4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ilmuNya yang luas seraya berfirman, ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi," maksudnya, mengetahui segala yang rahasia dan yang nyata, yang ghaib dan yang nampak, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan mengetahui apa yang kamu rahasia-kan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Maksudnya, mengetahui segala rahasia baik, rahasia buruk, niat yang baik dan niat yang buruk yang ada di dalam hati, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui isi hati, maka sebagai orang yang ber-akal dan memiliki mata hati harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh menjaga sisi batinnya dari berbagai akhlak tercela dan hendaknya berakhlak yang baik.

At-Tagabun 64:3

"Bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu, dan hanya kepadaNya-lah kembali(mu). Dia menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan me-ngetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat mulia ini mencakup jumlah besar sifat-sifat agung Allah Yang Maha Pencipta. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesem-purnaan ketuhananNya, luasnya kekayaanNya, semua makhluk memerlukanNya, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya, seluruh kerajaan hanya milik Allah سبحانه وتعالى, tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari kekuasaanNya, segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Pujian atas sifat-sifat ke-sempurnaan yang Dia miliki. Pujian atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Pujian atas hukum-hukum yang disyariatkan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan. KekuasaanNya menyeluruh, yang tidak satu makhluk pun terlepas darinya. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendakNya. (2) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa Dia menciptakan manu-sia. Di antara mereka ada yang dijadikan sebagai orang Mukmin dan kafir. Keimanan dan kekafiran mereka seluruhnya berdasar-kan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang menghendaki hal itu dari mereka dengan memberikan kemampuan dan kemauan yang memungkinkan mereka melakukan apa pun yang mereka kehendaki, berupa perintah dan larangan. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (3) Setelah menyebutkan penciptaan manusia yang diperin-tah dan dilarang, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan makhluk-makhluk lain seraya berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi," maksudnya, menciptakan bentuk keduanya serta seluruh yang terdapat pada keduanya secara baik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan (tujuan) yang benar," maksudnya, dengan hikmah dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡۖ ﴿ "Dia membentuk rupa-mu dan dibaguskannya rupamu itu," dan ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Manusia adalah makhluk dengan bentuk yang paling baik dan pemandangan yang paling indah. ﴾ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan hanya ke-padaNya-lah kembali(mu)." Maksudnya, tempat kembali pada Hari Kiamat. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan atas keimanan dan keku-furan kalian dan meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang diberikan pada kalian, apakah kalian mensyukurinya atau tidak? (4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ilmuNya yang luas seraya berfirman, ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi," maksudnya, mengetahui segala yang rahasia dan yang nyata, yang ghaib dan yang nampak, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan mengetahui apa yang kamu rahasia-kan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Maksudnya, mengetahui segala rahasia baik, rahasia buruk, niat yang baik dan niat yang buruk yang ada di dalam hati, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui isi hati, maka sebagai orang yang ber-akal dan memiliki mata hati harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh menjaga sisi batinnya dari berbagai akhlak tercela dan hendaknya berakhlak yang baik.

At-Tagabun 64:4

"Bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah-lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian-pujian; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang beriman. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia membentuk rupamu dan dibaguskanNya rupamu itu, dan hanya kepadaNya-lah kembali(mu). Dia menge-tahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan me-ngetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (At-Taghabun: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ayat-ayat mulia ini mencakup jumlah besar sifat-sifat agung Allah Yang Maha Pencipta. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan kesem-purnaan ketuhananNya, luasnya kekayaanNya, semua makhluk memerlukanNya, semua makhluk yang ada di langit dan di bumi bertasbih memuji Rabbnya, seluruh kerajaan hanya milik Allah سبحانه وتعالى, tidak ada satu makhluk pun yang terlepas dari kekuasaanNya, segala puji hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata. Pujian atas sifat-sifat ke-sempurnaan yang Dia miliki. Pujian atas segala sesuatu yang Dia ciptakan. Pujian atas hukum-hukum yang disyariatkan dan nikmat-nikmat yang dikaruniakan. KekuasaanNya menyeluruh, yang tidak satu makhluk pun terlepas darinya. Tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kehendakNya. (2) Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa Dia menciptakan manu-sia. Di antara mereka ada yang dijadikan sebagai orang Mukmin dan kafir. Keimanan dan kekafiran mereka seluruhnya berdasar-kan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Dia-lah yang menghendaki hal itu dari mereka dengan memberikan kemampuan dan kemauan yang memungkinkan mereka melakukan apa pun yang mereka kehendaki, berupa perintah dan larangan. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٌ ﴿ "Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (3) Setelah menyebutkan penciptaan manusia yang diperin-tah dan dilarang, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan makhluk-makhluk lain seraya berfirman, ﴾ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ ﴿ "Dia menciptakan langit dan bumi," maksudnya, menciptakan bentuk keduanya serta seluruh yang terdapat pada keduanya secara baik, ﴾ بِٱلۡحَقِّ ﴿ "dengan (tujuan) yang benar," maksudnya, dengan hikmah dan tujuan yang dimaksudkan oleh Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَصَوَّرَكُمۡ فَأَحۡسَنَ صُوَرَكُمۡۖ ﴿ "Dia membentuk rupa-mu dan dibaguskannya rupamu itu," dan ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيمٖ 4 ﴿ "Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (At-Tin: 4). Manusia adalah makhluk dengan bentuk yang paling baik dan pemandangan yang paling indah. ﴾ وَإِلَيۡهِ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "Dan hanya ke-padaNya-lah kembali(mu)." Maksudnya, tempat kembali pada Hari Kiamat. Allah سبحانه وتعالى akan memberi balasan atas keimanan dan keku-furan kalian dan meminta pertanggungjawaban atas nikmat yang diberikan pada kalian, apakah kalian mensyukurinya atau tidak? (4) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan ilmuNya yang luas seraya berfirman, ﴾ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi," maksudnya, mengetahui segala yang rahasia dan yang nyata, yang ghaib dan yang nampak, ﴾ وَيَعۡلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعۡلِنُونَۚ وَٱللَّهُ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ ﴿ "dan mengetahui apa yang kamu rahasia-kan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati." Maksudnya, mengetahui segala rahasia baik, rahasia buruk, niat yang baik dan niat yang buruk yang ada di dalam hati, karena Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui isi hati, maka sebagai orang yang ber-akal dan memiliki mata hati harus berusaha keras dan bersungguh-sungguh menjaga sisi batinnya dari berbagai akhlak tercela dan hendaknya berakhlak yang baik.

At-Tagabun 64:5

"Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka (membawa) kete-rangan-keterangan lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?' Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha-kaya lagi Maha Terpuji." (At-Taghabun: 5-6). (5) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifatNya yang sem-purna dan agung, yang dengan sifat-sifat tersebut Allah سبحانه وتعالى bisa diketahui dan disembah, segala usaha dicurahkan demi mencari ridhaNya dan menjauhi murkaNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan apa yang Dia lakukan terhadap umat-umat terdahulu dan masa-masa yang telah berlalu. Di mana orang-orang yang datang kemudian senantiasa membicarakan mereka dan mengisahkan tentang orang-orang shalih. Ketika para rasul mendatangi mereka dengan kebenaran, mereka mendustakan para rasul itu dan me-nentang. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menimpakan akibat buruk perbuatan mereka di dunia dan juga kehinaan. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Dan mereka mem-peroleh azab yang pedih"di akhirat. (6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab siksaan tersebut seraya berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, siksaan dan aki-bat buruk yang Kami timpakan pada mereka ﴾ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأۡتِيهِمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan," yakni tanda-tanda kebe-saran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, yang menunjukkan kebenaran dan keba-tilan, namun mereka bersikap sombong terhadap para rasul mereka seraya berkata, ﴾ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا ﴿ "Apakah manusia yang akan memberi pe-tunjuk kepada kami," maksudnya, mereka tidak memiliki keutamaan atas kami, lantas karena apa Allah سبحانه وتعالى memberikan keistimewaan pada mereka dan tidak memberikannya pada kami? Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى dalam surat lain, ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ 11 ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanya-lah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya'." (Ibrahim: 11). Mereka menahan karunia dan pemberian Allah سبحانه وتعالى untuk para nabi supaya mereka tidak menjadi utusan Allah سبحانه وتعالى kepada manusia. Mereka bersikap sombong untuk menaati para rasul. Mereka pun diuji dengan penyembahan patung, batu, dan lainnya. ﴾ فَكَفَرُواْ ﴿ "Lalu mereka ingkar" terhadap Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَتَوَلَّواْۖ ﴿ "dan berpaling" dari ketaatan-Nya, ﴾ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ ﴿ "dan Allah tidak memerlukan (mereka)."Allah سبحانه وتعالى tidak menghiraukan mereka, dan kesesatan mereka sama sekali tidak membahayakan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ﴿ "Dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah Yang Mahakaya, bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari segala hal, Terpuji dalam perkata-an, perbuatan, dan sifat-sifatNya.

At-Tagabun 64:6

"Apakah belum datang kepadamu (hai orang-orang kafir) berita orang-orang kafir dahulu? Maka mereka telah merasakan akibat yang buruk dari perbuatan mereka dan mereka memperoleh azab yang pedih. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka (membawa) kete-rangan-keterangan lalu mereka berkata, 'Apakah manusia yang akan memberi petunjuk kepada kami?' Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). Dan Allah Maha-kaya lagi Maha Terpuji." (At-Taghabun: 5-6). (5) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifatNya yang sem-purna dan agung, yang dengan sifat-sifat tersebut Allah سبحانه وتعالى bisa diketahui dan disembah, segala usaha dicurahkan demi mencari ridhaNya dan menjauhi murkaNya, selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menye-butkan apa yang Dia lakukan terhadap umat-umat terdahulu dan masa-masa yang telah berlalu. Di mana orang-orang yang datang kemudian senantiasa membicarakan mereka dan mengisahkan tentang orang-orang shalih. Ketika para rasul mendatangi mereka dengan kebenaran, mereka mendustakan para rasul itu dan me-nentang. Kemudian Allah سبحانه وتعالى menimpakan akibat buruk perbuatan mereka di dunia dan juga kehinaan. ﴾ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ﴿ "Dan mereka mem-peroleh azab yang pedih"di akhirat. (6) Karena itu Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebab siksaan tersebut seraya berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Yang demikian itu," yakni, siksaan dan aki-bat buruk yang Kami timpakan pada mereka ﴾ بِأَنَّهُۥ كَانَت تَّأۡتِيهِمۡ رُسُلُهُم بِٱلۡبَيِّنَٰتِ ﴿ "adalah karena sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-Rasul mereka (membawa) keterangan-keterangan," yakni tanda-tanda kebe-saran Allah سبحانه وتعالى yang jelas, yang menunjukkan kebenaran dan keba-tilan, namun mereka bersikap sombong terhadap para rasul mereka seraya berkata, ﴾ أَبَشَرٞ يَهۡدُونَنَا ﴿ "Apakah manusia yang akan memberi pe-tunjuk kepada kami," maksudnya, mereka tidak memiliki keutamaan atas kami, lantas karena apa Allah سبحانه وتعالى memberikan keistimewaan pada mereka dan tidak memberikannya pada kami? Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى dalam surat lain, ﴾ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ 11 ﴿ "Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanya-lah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberikan karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambaNya'." (Ibrahim: 11). Mereka menahan karunia dan pemberian Allah سبحانه وتعالى untuk para nabi supaya mereka tidak menjadi utusan Allah سبحانه وتعالى kepada manusia. Mereka bersikap sombong untuk menaati para rasul. Mereka pun diuji dengan penyembahan patung, batu, dan lainnya. ﴾ فَكَفَرُواْ ﴿ "Lalu mereka ingkar" terhadap Allah سبحانه وتعالى ﴾ وَتَوَلَّواْۖ ﴿ "dan berpaling" dari ketaatan-Nya, ﴾ وَّٱسۡتَغۡنَى ٱللَّهُۚ ﴿ "dan Allah tidak memerlukan (mereka)."Allah سبحانه وتعالى tidak menghiraukan mereka, dan kesesatan mereka sama sekali tidak membahayakan Allah سبحانه وتعالى. ﴾ وَٱللَّهُ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ﴿ "Dan Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji." Maksudnya, Dia-lah Yang Mahakaya, bagiNya kekayaan yang sempurna dan mutlak dari segala hal, Terpuji dalam perkata-an, perbuatan, dan sifat-sifatNya.

At-Tagabun 64:7

"Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.' Yang de-mikian itu adalah mudah bagi Allah." (At-Taghabun: 7). (7) Allah سبحانه وتعالى memberitahukan tentang pembangkangan orang-orang kafir, dugaan batil, serta pendustaan mereka terhadap Hari Kebangkitan yang tanpa didasari ilmu, tanpa petunjuk, dan kitab yang menerangi. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan makh-lukNya yang paling mulia agar bersumpah terhadap Rabbnya akan adanya Hari Kebangkitan, pembalasan amal-amal buruk orang-orang kafir, serta kedustaan mereka terhadap kebenaran. ﴾ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ ﴿ "Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." Karena kebangkitan itu meski berat dan tidak bisa dilakukan oleh makhluk, sebab andai seluruh kekuatan mereka berkumpul untuk menghidupkan satu orang saja yang mati, tentu mereka tidak mampu melakukannya, sedangkan bagi Allah سبحانه وتعالى, jika Dia menghendaki sesuatu hanya dengan berfirman, "Jadilah," maka jadilah sesuatu itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخۡرَىٰ فَإِذَا هُمۡ قِيَامٞ يَنظُرُونَ 68 ﴿ "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangka-kala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)." (Az-Zumar: 68).

At-Tagabun 64:8

"Maka berimanlah kamu kepada Allah dan RasulNya dan kepada cahaya (al-Qur`an) yang telah Kami turunkan, Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (At-Taghabun: 8). (8) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan keingkaran orang yang memungkiri Hari Kebangkitan dan hal itu mewajibkan mereka kufur terhadap Allah سبحانه وتعالى dan tanda-tanda kebesaranNya, selan-jutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan apa yang bisa membentengi diri dari kesengsaraan dan kebinasaan yaitu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, RasulNya, dan KitabNya yang disebut Allah سبحانه وتعالى sebagai cahaya, karena cahaya adalah kebalikan dari kegelapan. Hukum, syariat, dan kabar yang terdapat di dalam kitab yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى adalah cahaya yang bisa dijadikan petunjuk dalam kelamnya ke-bodohan yang amat gelap gulita, bisa dijadikan petunjuk dalam kegelapan malam. Petunjuk selain kitab Allah سبحانه وتعالى banyak dampak bahayanya daripada manfaatnya. Keburukannya lebih banyak daripada kebaikannya. Bahkan tidak ada kebaikan dan manfaat pada petunjuk selain kitab Allah سبحانه وتعالى kecuali yang sesuai dengan yang dibawa Rasul. Keimanan terhadap Allah سبحانه وتعالى, Rasul dan Kitab-Nya mengharuskan keteguhan sempurna dan keyakinan yang benar dan diamalkan sesuai dengan tuntutan pembenaran tersebut dengan melakukan perintah-perintah dan menjauhi larangan-la-rangan. ﴾ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ﴿ "Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan," di mana Allah سبحانه وتعالى akan membalas amal baik dan amal buruk kalian.

At-Tagabun 64:9

"(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari ditam-pakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal shalih, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalam-nya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (At-Taghabun: 9-10). (9) Maksudnya, ingatlah hari di mana pada hari itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir. Allah سبحانه وتعالى memberhentikan mereka di tempat pem-berhentian yang mengerikan dan agung. Allah سبحانه وتعالى akan memberi-tahukan apa pun yang mereka lakukan. Pada hari itu nampaklah perbedaan dan pengumpulan antara manusia. Ada yang diangkat ke tingkat tinggi di kamar-kamar atas dan tempat tinggal yang tinggi yang mencakup berbagai macam kenikmatan dan keinginan. Ada juga yang ditempatkan di tempat yang paling rendah. Tempat kesedihan, duka, dan siksaan yang dahsyat. Hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan yang mereka persembahkan untuk diri mereka sendiri selama hidup mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلتَّغَابُنِۗ ﴿ "Inilah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan," mak-sudnya, pada hari itu nampak kesalahan-kesalahan dan perbeda-an-perbedaan antara manusia. Hari itu orang-orang Mukmin yang fasik merugi dan orang-orang yang berdosa diketahui bahwa me-reka bukan apa-apa dan mereka adalah orang-orang yang merugi. Seolah-olah dikatakan, "Dengan apa keberuntungan, kesengsaraan, nikmat dan azab bisa didapatkan?" Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penye-bab semua hal itu seraya berfirman, ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah," dengan keimanan yang sempurna yang mencakup seluruh hal yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى agar diimani, ﴾ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," berupa amalan-amalan wajib dan sunnah dengan menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," di dalamnya terda-pat apa pun yang diinginkan jiwa, dipandang nikmat oleh mata, dipilih oleh ruh, diinginkan hati dan puncak segala yang diingin-kan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (10) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami," maksudnya, kufur terhadapnya tanpa dilandasi dasar syar'i maupun akal, bahkan dalil-dalil dan penje-lasan-penjelasan itu datang kepada mereka, namun mereka men-dustakan dan menentangnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." Karena neraka itu menca-kup segala keburukan, kengerian, kesengsaraan, dan siksa.

At-Tagabun 64:10

"(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab), itulah hari ditam-pakkannya kesalahan-kesalahan. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal shalih, niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar. Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalam-nya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (At-Taghabun: 9-10). (9) Maksudnya, ingatlah hari di mana pada hari itu Allah سبحانه وتعالى akan mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang terakhir. Allah سبحانه وتعالى memberhentikan mereka di tempat pem-berhentian yang mengerikan dan agung. Allah سبحانه وتعالى akan memberi-tahukan apa pun yang mereka lakukan. Pada hari itu nampaklah perbedaan dan pengumpulan antara manusia. Ada yang diangkat ke tingkat tinggi di kamar-kamar atas dan tempat tinggal yang tinggi yang mencakup berbagai macam kenikmatan dan keinginan. Ada juga yang ditempatkan di tempat yang paling rendah. Tempat kesedihan, duka, dan siksaan yang dahsyat. Hal itu disebabkan oleh perbuatan-perbuatan yang mereka persembahkan untuk diri mereka sendiri selama hidup mereka. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَٰلِكَ يَوۡمُ ٱلتَّغَابُنِۗ ﴿ "Inilah hari ditampakkannya kesalahan-kesalahan," mak-sudnya, pada hari itu nampak kesalahan-kesalahan dan perbeda-an-perbedaan antara manusia. Hari itu orang-orang Mukmin yang fasik merugi dan orang-orang yang berdosa diketahui bahwa me-reka bukan apa-apa dan mereka adalah orang-orang yang merugi. Seolah-olah dikatakan, "Dengan apa keberuntungan, kesengsaraan, nikmat dan azab bisa didapatkan?" Allah سبحانه وتعالى menyebutkan penye-bab semua hal itu seraya berfirman, ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah," dengan keimanan yang sempurna yang mencakup seluruh hal yang diperintahkan Allah سبحانه وتعالى agar diimani, ﴾ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "dan mengerjakan amal shalih," berupa amalan-amalan wajib dan sunnah dengan menunaikan hak-hak Allah سبحانه وتعالى dan hak-hak sesama manusia, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," di dalamnya terda-pat apa pun yang diinginkan jiwa, dipandang nikmat oleh mata, dipilih oleh ruh, diinginkan hati dan puncak segala yang diingin-kan. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keberuntungan yang besar." (10) ﴾ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِـَٔايَٰتِنَآ ﴿ "Dan orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami," maksudnya, kufur terhadapnya tanpa dilandasi dasar syar'i maupun akal, bahkan dalil-dalil dan penje-lasan-penjelasan itu datang kepada mereka, namun mereka men-dustakan dan menentangnya, ﴾ أُوْلَٰٓئِكَ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ خَٰلِدِينَ فِيهَاۖ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "mereka itulah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." Karena neraka itu menca-kup segala keburukan, kengerian, kesengsaraan, dan siksa.

At-Tagabun 64:11

"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguh-nya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dia-lah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Dan hendaklah orang-orang yang Muk-min bertawakal kepada Allah saja." (At-Taghabun: 11-13). (11) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." Ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. Semua yang menimpa manusia berdasarkan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui hal itu sebelumnya, penaNya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hik-mahNya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah ma-nusia menunaikan tugasnya dalam hal Qadha` dan Qadar ataukah tidak? Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika per-caya bahwa semua yang menimpanya berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah سبحانه وتعالى akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petun-juk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disim-pan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Pembalasan kelak. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 10 ﴿ "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicu-kupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10). Dari sini dapat diketahui, bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى pada saat tertimpa musibah karena tidak mema-hami takdir dan ketentuan Allah سبحانه وتعالى namun hanya terbatas pada sebab-sebabnya saja, maka ia telah dihinakan, dan Allah-pun me-nyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba telah diserahkan pada dirinya sendiri padahal jiwa manusia itu hanya bisa berkeluh kesah dan bersedih, maka hal itu merupa-kan siksaan yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum siksaan akhirat nanti karena tidak menunaikan kewajiban bersabar. Inilah yang berkaitan dengan Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya," yakni ketika tertimpa musibah. Adapun yang berkaitan dengan keumuman tekstual ayat, Allah سبحانه وتعالى membe-ritahukan bahwa setiap orang yang beriman (maksudnya, dengan keimanan sesuai yang diperintahkan yaitu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab, rasul, Hari Akhir, dan takdir, baik dan buruk-nya) dan membuktikan kebenaran imannya dengan menunaikan tuntutan-tuntutan serta kewajiban-kewajiban iman, faktor yang dilakukan oleh seorang hamba seperti ini merupakan faktor ter-besar hidayah Allah سبحانه وتعالى dalam perkataan, perbuatan, dan di segala halnya, dan juga dalam ilmu dan amalnya. Ini adalah balasan ter-baik yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Seba-gaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى ketika memberi-tahukan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Asal mula keteguhan adalah keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinannya ketika tertimpa berbagai musibah. Firman Allah سبحانه وتعالى yang dimaksud adalah, ﴾ يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (Ibra-him: 27). Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka. (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۚ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul," maksudnya, dalam menunai-kan perintah dan menjauhi larangan keduanya. Karena menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah pusat kebahagiaan dan tanda-tanda keberuntungan. ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu berpaling," dari menaati Allah سبحانه وتعالى dan menaati Rasul, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." Maksudnya, menyampaikan apa yang diutus-kan untuk kalian secara jelas dan gamblang sehingga hujjah telah tegak untuk kalian. Rasul tidak berkuasa memberikan petunjuk pada kalian dan sama sekali tidak berkuasa menghisab amal kalian. Perhitungan amal kalian atas ketaatan kalian terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, apakah kalian menunaikan hal itu atau tidak, sepenuh-nya dilakukan oleh Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (13) ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "(Dia-lah) Allah," Yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Maksudnya, Dia-lah yang berhak disembah dan dituhankan. Semua sesembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hendaklah orang-orang yang Mukmin bertawakal kepada Allah saja." Maksudnya, hendaklah orang-orang yang beriman bergantung pada Allah سبحانه وتعالى dalam segala hal yang menimpa mereka dan apa pun yang ingin mereka laku-kan, karena tidak ada satu pun hal yang berlaku kecuali atas izin Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada cara untuk itu kecuali dengan bergantung pada Allah سبحانه وتعالى. Ketergantungan seseorang terhadap Allah سبحانه وتعالى tidak berlaku secara sempurna hingga ia memperbaiki sangkaannya ter-hadap Rabbnya serta percaya sepenuh hati bahwa Allah-lah yang akan mencukupi urusan yang disandarkan padaNya. Ukuran lemah dan kuatnya tawakal seorang hamba ditentukan oleh kadar keimanannya.

At-Tagabun 64:12

"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguh-nya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dia-lah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Dan hendaklah orang-orang yang Muk-min bertawakal kepada Allah saja." (At-Taghabun: 11-13). (11) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." Ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. Semua yang menimpa manusia berdasarkan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui hal itu sebelumnya, penaNya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hik-mahNya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah ma-nusia menunaikan tugasnya dalam hal Qadha` dan Qadar ataukah tidak? Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika per-caya bahwa semua yang menimpanya berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah سبحانه وتعالى akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petun-juk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disim-pan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Pembalasan kelak. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 10 ﴿ "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicu-kupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10). Dari sini dapat diketahui, bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى pada saat tertimpa musibah karena tidak mema-hami takdir dan ketentuan Allah سبحانه وتعالى namun hanya terbatas pada sebab-sebabnya saja, maka ia telah dihinakan, dan Allah-pun me-nyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba telah diserahkan pada dirinya sendiri padahal jiwa manusia itu hanya bisa berkeluh kesah dan bersedih, maka hal itu merupa-kan siksaan yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum siksaan akhirat nanti karena tidak menunaikan kewajiban bersabar. Inilah yang berkaitan dengan Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya," yakni ketika tertimpa musibah. Adapun yang berkaitan dengan keumuman tekstual ayat, Allah سبحانه وتعالى membe-ritahukan bahwa setiap orang yang beriman (maksudnya, dengan keimanan sesuai yang diperintahkan yaitu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab, rasul, Hari Akhir, dan takdir, baik dan buruk-nya) dan membuktikan kebenaran imannya dengan menunaikan tuntutan-tuntutan serta kewajiban-kewajiban iman, faktor yang dilakukan oleh seorang hamba seperti ini merupakan faktor ter-besar hidayah Allah سبحانه وتعالى dalam perkataan, perbuatan, dan di segala halnya, dan juga dalam ilmu dan amalnya. Ini adalah balasan ter-baik yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Seba-gaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى ketika memberi-tahukan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Asal mula keteguhan adalah keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinannya ketika tertimpa berbagai musibah. Firman Allah سبحانه وتعالى yang dimaksud adalah, ﴾ يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (Ibra-him: 27). Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka. (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۚ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul," maksudnya, dalam menunai-kan perintah dan menjauhi larangan keduanya. Karena menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah pusat kebahagiaan dan tanda-tanda keberuntungan. ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu berpaling," dari menaati Allah سبحانه وتعالى dan menaati Rasul, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." Maksudnya, menyampaikan apa yang diutus-kan untuk kalian secara jelas dan gamblang sehingga hujjah telah tegak untuk kalian. Rasul tidak berkuasa memberikan petunjuk pada kalian dan sama sekali tidak berkuasa menghisab amal kalian. Perhitungan amal kalian atas ketaatan kalian terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, apakah kalian menunaikan hal itu atau tidak, sepenuh-nya dilakukan oleh Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (13) ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "(Dia-lah) Allah," Yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Maksudnya, Dia-lah yang berhak disembah dan dituhankan. Semua sesembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hendaklah orang-orang yang Mukmin bertawakal kepada Allah saja." Maksudnya, hendaklah orang-orang yang beriman bergantung pada Allah سبحانه وتعالى dalam segala hal yang menimpa mereka dan apa pun yang ingin mereka laku-kan, karena tidak ada satu pun hal yang berlaku kecuali atas izin Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada cara untuk itu kecuali dengan bergantung pada Allah سبحانه وتعالى. Ketergantungan seseorang terhadap Allah سبحانه وتعالى tidak berlaku secara sempurna hingga ia memperbaiki sangkaannya ter-hadap Rabbnya serta percaya sepenuh hati bahwa Allah-lah yang akan mencukupi urusan yang disandarkan padaNya. Ukuran lemah dan kuatnya tawakal seorang hamba ditentukan oleh kadar keimanannya.

At-Tagabun 64:13

"Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguh-nya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. (Dia-lah) Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia. Dan hendaklah orang-orang yang Muk-min bertawakal kepada Allah saja." (At-Taghabun: 11-13). (11) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ ﴿ "Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah." Ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. Semua yang menimpa manusia berdasarkan Qadha` dan Qadar Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui hal itu sebelumnya, penaNya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hik-mahNya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah ma-nusia menunaikan tugasnya dalam hal Qadha` dan Qadar ataukah tidak? Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika per-caya bahwa semua yang menimpanya berasal dari sisi Allah سبحانه وتعالى, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah سبحانه وتعالى akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petun-juk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disim-pan Allah سبحانه وتعالى pada Hari Pembalasan kelak. Ini sejalan dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ 10 ﴿ "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicu-kupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar: 10). Dari sini dapat diketahui, bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى pada saat tertimpa musibah karena tidak mema-hami takdir dan ketentuan Allah سبحانه وتعالى namun hanya terbatas pada sebab-sebabnya saja, maka ia telah dihinakan, dan Allah-pun me-nyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Apabila seorang hamba telah diserahkan pada dirinya sendiri padahal jiwa manusia itu hanya bisa berkeluh kesah dan bersedih, maka hal itu merupa-kan siksaan yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum siksaan akhirat nanti karena tidak menunaikan kewajiban bersabar. Inilah yang berkaitan dengan Firman Allah تعالى, ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ ﴿ "Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya," yakni ketika tertimpa musibah. Adapun yang berkaitan dengan keumuman tekstual ayat, Allah سبحانه وتعالى membe-ritahukan bahwa setiap orang yang beriman (maksudnya, dengan keimanan sesuai yang diperintahkan yaitu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, malaikat, kitab, rasul, Hari Akhir, dan takdir, baik dan buruk-nya) dan membuktikan kebenaran imannya dengan menunaikan tuntutan-tuntutan serta kewajiban-kewajiban iman, faktor yang dilakukan oleh seorang hamba seperti ini merupakan faktor ter-besar hidayah Allah سبحانه وتعالى dalam perkataan, perbuatan, dan di segala halnya, dan juga dalam ilmu dan amalnya. Ini adalah balasan ter-baik yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Seba-gaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى ketika memberi-tahukan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Asal mula keteguhan adalah keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinannya ketika tertimpa berbagai musibah. Firman Allah سبحانه وتعالى yang dimaksud adalah, ﴾ يُثَبِّتُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱلۡقَوۡلِ ٱلثَّابِتِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِۖ ﴿ "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (Ibra-him: 27). Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka. (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَۚ ﴿ "Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul," maksudnya, dalam menunai-kan perintah dan menjauhi larangan keduanya. Karena menaati perintah Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya adalah pusat kebahagiaan dan tanda-tanda keberuntungan. ﴾ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ ﴿ "Jika kamu berpaling," dari menaati Allah سبحانه وتعالى dan menaati Rasul, ﴾ فَإِنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ ﴿ "maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang." Maksudnya, menyampaikan apa yang diutus-kan untuk kalian secara jelas dan gamblang sehingga hujjah telah tegak untuk kalian. Rasul tidak berkuasa memberikan petunjuk pada kalian dan sama sekali tidak berkuasa menghisab amal kalian. Perhitungan amal kalian atas ketaatan kalian terhadap Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya, apakah kalian menunaikan hal itu atau tidak, sepenuh-nya dilakukan oleh Allah Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. (13) ﴾ ٱللَّهُ ﴿ "(Dia-lah) Allah," Yang ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia." Maksudnya, Dia-lah yang berhak disembah dan dituhankan. Semua sesembahan selainNya adalah batil. ﴾ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Dan hendaklah orang-orang yang Mukmin bertawakal kepada Allah saja." Maksudnya, hendaklah orang-orang yang beriman bergantung pada Allah سبحانه وتعالى dalam segala hal yang menimpa mereka dan apa pun yang ingin mereka laku-kan, karena tidak ada satu pun hal yang berlaku kecuali atas izin Allah سبحانه وتعالى dan tidak ada cara untuk itu kecuali dengan bergantung pada Allah سبحانه وتعالى. Ketergantungan seseorang terhadap Allah سبحانه وتعالى tidak berlaku secara sempurna hingga ia memperbaiki sangkaannya ter-hadap Rabbnya serta percaya sepenuh hati bahwa Allah-lah yang akan mencukupi urusan yang disandarkan padaNya. Ukuran lemah dan kuatnya tawakal seorang hamba ditentukan oleh kadar keimanannya.

At-Tagabun 64:14

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu me-maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taghabun: 14-15). (14-15) Ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang yang beriman agar tidak terpedaya oleh istri dan anak, karena sebagian dari mereka itu adalah musuh. Dan musuh itu (hakikat-nya) adalah orang yang menghendaki kejelekan bagi kalian. Tugas kalian adalah bersikap waspada dari orang yang sifatnya seperti ini. Jiwa diciptakan dengan tabiat mencintai istri dan anak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memberikan nasihat untuk para hambaNya agar mem-batasi rasa cintanya yang tunduk pada kemauan istri dan anak itu, karena di dalamnya terdapat larangan syar'i. Allah سبحانه وتعالى juga mendo-rong para hambaNya agar menunaikan perintah-perintahNya dan agar lebih mengedepankan ridhaNya, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki pahala yang besar yang mencakup berbagai cita-cita tinggi dan kecintaan-kecintaan yang mahal. Allah سبحانه وتعالى juga mendorong agar para hamba-hambaNya lebih mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana dan akan lenyap ini. Mengingat larangan untuk menuruti kemauan istri dan anak yang bisa membawa dampak buruk dan peringatan dari hal itu mungkin disalahpahami seba-gian orang yang memahami harus bersikap kasar terhadap istri dan anak dan menghukum mereka, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka agar waspada serta memaafkan mereka, karena dalam hal ini ter-dapat berbagai maslahat yang tidak terhitung jumlahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Karena balasan itu berdasarkan amal. Siapa pun yang memberi maaf, maka dia diberi maaf oleh Allah سبحانه وتعالى. Siapa yang tidak marah, maka Allah سبحانه وتعالى tidak akan memurkainya. Siapa pun yang menunaikan amalan-amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan menunaikan amalan-amalan yang disukai oleh sesama serta berguna bagi mereka, maka akan mendapatkan cinta Allah سبحانه وتعالى dan cinta hamba-hambaNya. Dan Allah سبحانه وتعالى akan menata rapi masalah-masalah hidupnya.

At-Tagabun 64:15

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu me-maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Se-sungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (At-Taghabun: 14-15). (14-15) Ini adalah peringatan dari Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang yang beriman agar tidak terpedaya oleh istri dan anak, karena sebagian dari mereka itu adalah musuh. Dan musuh itu (hakikat-nya) adalah orang yang menghendaki kejelekan bagi kalian. Tugas kalian adalah bersikap waspada dari orang yang sifatnya seperti ini. Jiwa diciptakan dengan tabiat mencintai istri dan anak. Karena itu Allah سبحانه وتعالى memberikan nasihat untuk para hambaNya agar mem-batasi rasa cintanya yang tunduk pada kemauan istri dan anak itu, karena di dalamnya terdapat larangan syar'i. Allah سبحانه وتعالى juga mendo-rong para hambaNya agar menunaikan perintah-perintahNya dan agar lebih mengedepankan ridhaNya, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki pahala yang besar yang mencakup berbagai cita-cita tinggi dan kecintaan-kecintaan yang mahal. Allah سبحانه وتعالى juga mendorong agar para hamba-hambaNya lebih mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana dan akan lenyap ini. Mengingat larangan untuk menuruti kemauan istri dan anak yang bisa membawa dampak buruk dan peringatan dari hal itu mungkin disalahpahami seba-gian orang yang memahami harus bersikap kasar terhadap istri dan anak dan menghukum mereka, Allah سبحانه وتعالى memerintahkan mereka agar waspada serta memaafkan mereka, karena dalam hal ini ter-dapat berbagai maslahat yang tidak terhitung jumlahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِن تَعۡفُواْ وَتَصۡفَحُواْ وَتَغۡفِرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ﴿ "Dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Karena balasan itu berdasarkan amal. Siapa pun yang memberi maaf, maka dia diberi maaf oleh Allah سبحانه وتعالى. Siapa yang tidak marah, maka Allah سبحانه وتعالى tidak akan memurkainya. Siapa pun yang menunaikan amalan-amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan menunaikan amalan-amalan yang disukai oleh sesama serta berguna bagi mereka, maka akan mendapatkan cinta Allah سبحانه وتعالى dan cinta hamba-hambaNya. Dan Allah سبحانه وتعالى akan menata rapi masalah-masalah hidupnya.

At-Tagabun 64:16

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesang-gupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berun-tung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (At-Taghabun: 16-18). 0(16) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah سبحانه وتعالى membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedang-kan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi a, إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. "Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka tu-naikanlah ia semampu kalian."[121] Kaidah syariah ini mencakup cabang-cabang masalah yang tidak terhitung jumlahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱسۡمَعُواْ ﴿ "Dan de-ngarlah," maksudnya, dengarkan nasihat Allah سبحانه وتعالى dan syariat yang diberlakukan pada kalian berupa hukum-hukum. Lakukan dan taatlah padaNya, ﴾ وَأَطِيعُواْ ﴿ "serta taatlah," pada Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya pada semua gerak-gerik kalian, ﴾ وَأَنفِقُواْ ﴿ "dan nafkahkanlah," berupa nafkah-nafkah syar'i yang wajib dan yang sunnah, niscaya amal baik kalian itu berguna bagi kalian di dunia dan di akhirat, karena seluruh kebaikan itu terletak pada menunaikan semua perintah Allah سبحانه وتعالى, menerima nasihat-nasihatNya dan tunduk pada syariatNya, dan (sebaliknya) seluruh keburukan itu terletak pada pembangkangan perintah Allah سبحانه وتعالى. Namun ada bencana yang menahan orang untuk menunaikan nafkah yang diperintahkan, yaitu sifat kikir yang banyak terdapat dalam watak manusia. Sifat ini membuat orang mencintai harta dan amat tidak menyukai untuk dikeluarkan dari tangannya. Untuk itu, siapa pun yang dijaga Allah سبحانه وتعالى ﴾ شُحَّ نَفۡسِهِۦ ﴿ "dari kekikiran dirinya," dengan mengizinkan dirinya untuk memberikan nafkah yang ber-manfaat baginya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." Karena mereka mendapatkan apa yang diingin-kan dan selamat dari yang ditakutkan. Lebih dari itu, sepertinya ini mencakup seluruh yang diperintahkan dan yang dilarang. Jika jiwa seseorang bersifat kikir dan tidak tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, serta tidak mau mengeluarkan hartanya, maka ia tidak akan beruntung tapi akan mendapatkan kerugian di dunia dan di akhirat. Dan jika jiwanya lapang dan tenang terhadap syariat Allah سبحانه وتعالى ka-rena ingin mencari keridhaanNya, maka tidak terdapat pengha-lang antara jiwanya dan perintah yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى selain pengetahuannya akan perintah tersebut bahwa hal itu mendatang-kan ridha Allah سبحانه وتعالى. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kebe-runtungan, keberhasilan, dan benar-benar akan mendapatkan kemenangan. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi dorongan untuk berinfak seraya berfirman, ﴾ إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik." Pinjaman yang baik adalah semua nafkah yang berasal dari harta halal yang diberikan oleh seseorang karena mengharap bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى dan mengalokasikannya pada tempatnya, ﴾ يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ ﴿ "niscaya Allah melipatgandakan (pembalasan-nya) kepadamu," pahala nafkah adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan sampai berlipat-lipat lagi, ﴾ وَ﴿ "dan," di samping dilipatgandakan, Dia ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ ﴿ "mengampuni kamu." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi ampunan dosa bagi kalian karena infak dan sedekah. Allah سبحانه وتعالى menghapus kesalahan dan dosa dengan sedekah dan kebaikan-kebaikan. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kesalahan-kesalahan. ﴾ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun." Tidak langsung memberi hukuman bagi orang yang durhaka kepadaNya, tapi diberi tang-guhan, namun tidak dilalaikan. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan (dosa-dosa) usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu pun makhluk yang melata, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu." (Fathir: 45). Allah سبحانه وتعالى Maha Membalas kebaikan, menerima amalan kecil hamba-hambaNya namun diberi balasan yang besar. Allah سبحانه وتعالى mem-beri balasan baik bagi hambaNya yang rela menanggung beban berat dan berbagai taklif (beban syariat) yang berat karenaNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah سبحانه وتعالى, niscaya akan diberi ganti yang lebih baik oleh Allah سبحانه وتعالى. (18) ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata." Maksudnya, tidak ada satu pun rahasia manusia yang tidak nampak bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah سبحانه وتعالى dan juga segala makhluk yang mereka saksikan. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan tidak tertahan, Yang Maha Memaksa segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," pada makhluk dan perintahNya, Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Selesai tafsir Surat at-Taghabun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Tagabun 64:17

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesang-gupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berun-tung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (At-Taghabun: 16-18). 0(16) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah سبحانه وتعالى membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedang-kan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi a, إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. "Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka tu-naikanlah ia semampu kalian."[121] Kaidah syariah ini mencakup cabang-cabang masalah yang tidak terhitung jumlahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱسۡمَعُواْ ﴿ "Dan de-ngarlah," maksudnya, dengarkan nasihat Allah سبحانه وتعالى dan syariat yang diberlakukan pada kalian berupa hukum-hukum. Lakukan dan taatlah padaNya, ﴾ وَأَطِيعُواْ ﴿ "serta taatlah," pada Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya pada semua gerak-gerik kalian, ﴾ وَأَنفِقُواْ ﴿ "dan nafkahkanlah," berupa nafkah-nafkah syar'i yang wajib dan yang sunnah, niscaya amal baik kalian itu berguna bagi kalian di dunia dan di akhirat, karena seluruh kebaikan itu terletak pada menunaikan semua perintah Allah سبحانه وتعالى, menerima nasihat-nasihatNya dan tunduk pada syariatNya, dan (sebaliknya) seluruh keburukan itu terletak pada pembangkangan perintah Allah سبحانه وتعالى. Namun ada bencana yang menahan orang untuk menunaikan nafkah yang diperintahkan, yaitu sifat kikir yang banyak terdapat dalam watak manusia. Sifat ini membuat orang mencintai harta dan amat tidak menyukai untuk dikeluarkan dari tangannya. Untuk itu, siapa pun yang dijaga Allah سبحانه وتعالى ﴾ شُحَّ نَفۡسِهِۦ ﴿ "dari kekikiran dirinya," dengan mengizinkan dirinya untuk memberikan nafkah yang ber-manfaat baginya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." Karena mereka mendapatkan apa yang diingin-kan dan selamat dari yang ditakutkan. Lebih dari itu, sepertinya ini mencakup seluruh yang diperintahkan dan yang dilarang. Jika jiwa seseorang bersifat kikir dan tidak tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, serta tidak mau mengeluarkan hartanya, maka ia tidak akan beruntung tapi akan mendapatkan kerugian di dunia dan di akhirat. Dan jika jiwanya lapang dan tenang terhadap syariat Allah سبحانه وتعالى ka-rena ingin mencari keridhaanNya, maka tidak terdapat pengha-lang antara jiwanya dan perintah yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى selain pengetahuannya akan perintah tersebut bahwa hal itu mendatang-kan ridha Allah سبحانه وتعالى. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kebe-runtungan, keberhasilan, dan benar-benar akan mendapatkan kemenangan. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi dorongan untuk berinfak seraya berfirman, ﴾ إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik." Pinjaman yang baik adalah semua nafkah yang berasal dari harta halal yang diberikan oleh seseorang karena mengharap bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى dan mengalokasikannya pada tempatnya, ﴾ يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ ﴿ "niscaya Allah melipatgandakan (pembalasan-nya) kepadamu," pahala nafkah adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan sampai berlipat-lipat lagi, ﴾ وَ﴿ "dan," di samping dilipatgandakan, Dia ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ ﴿ "mengampuni kamu." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi ampunan dosa bagi kalian karena infak dan sedekah. Allah سبحانه وتعالى menghapus kesalahan dan dosa dengan sedekah dan kebaikan-kebaikan. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kesalahan-kesalahan. ﴾ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun." Tidak langsung memberi hukuman bagi orang yang durhaka kepadaNya, tapi diberi tang-guhan, namun tidak dilalaikan. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan (dosa-dosa) usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu pun makhluk yang melata, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu." (Fathir: 45). Allah سبحانه وتعالى Maha Membalas kebaikan, menerima amalan kecil hamba-hambaNya namun diberi balasan yang besar. Allah سبحانه وتعالى mem-beri balasan baik bagi hambaNya yang rela menanggung beban berat dan berbagai taklif (beban syariat) yang berat karenaNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah سبحانه وتعالى, niscaya akan diberi ganti yang lebih baik oleh Allah سبحانه وتعالى. (18) ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata." Maksudnya, tidak ada satu pun rahasia manusia yang tidak nampak bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah سبحانه وتعالى dan juga segala makhluk yang mereka saksikan. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan tidak tertahan, Yang Maha Memaksa segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," pada makhluk dan perintahNya, Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Selesai tafsir Surat at-Taghabun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Tagabun 64:18

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesang-gupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang berun-tung. Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipatgandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun. Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (At-Taghabun: 16-18). 0(16) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan para hambaNya agar bertakwa padaNya, yaitu dengan menunaikan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Allah سبحانه وتعالى membatasi hal itu dengan kadar kemampuan dan kesanggupan. Ayat ini menunjukkan bahwa kewajiban yang tidak mampu dilakukan oleh seorang hamba menjadi gugur. Jika seorang hamba mampu menunaikan sebagian kewajiban dan tidak mampu menunaikan kewajiban lainnya, maka ia cukup menunaikan kewajiban yang mampu dia lakukan, sedang-kan kewajiban lainnya yang tidak mampu dilakukan menjadi gugur. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi a, إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ، فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ. "Jika aku memerintahkan kalian dengan suatu perintah, maka tu-naikanlah ia semampu kalian."[121] Kaidah syariah ini mencakup cabang-cabang masalah yang tidak terhitung jumlahnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱسۡمَعُواْ ﴿ "Dan de-ngarlah," maksudnya, dengarkan nasihat Allah سبحانه وتعالى dan syariat yang diberlakukan pada kalian berupa hukum-hukum. Lakukan dan taatlah padaNya, ﴾ وَأَطِيعُواْ ﴿ "serta taatlah," pada Allah سبحانه وتعالى dan Rasul-Nya pada semua gerak-gerik kalian, ﴾ وَأَنفِقُواْ ﴿ "dan nafkahkanlah," berupa nafkah-nafkah syar'i yang wajib dan yang sunnah, niscaya amal baik kalian itu berguna bagi kalian di dunia dan di akhirat, karena seluruh kebaikan itu terletak pada menunaikan semua perintah Allah سبحانه وتعالى, menerima nasihat-nasihatNya dan tunduk pada syariatNya, dan (sebaliknya) seluruh keburukan itu terletak pada pembangkangan perintah Allah سبحانه وتعالى. Namun ada bencana yang menahan orang untuk menunaikan nafkah yang diperintahkan, yaitu sifat kikir yang banyak terdapat dalam watak manusia. Sifat ini membuat orang mencintai harta dan amat tidak menyukai untuk dikeluarkan dari tangannya. Untuk itu, siapa pun yang dijaga Allah سبحانه وتعالى ﴾ شُحَّ نَفۡسِهِۦ ﴿ "dari kekikiran dirinya," dengan mengizinkan dirinya untuk memberikan nafkah yang ber-manfaat baginya, ﴾ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ﴿ "maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." Karena mereka mendapatkan apa yang diingin-kan dan selamat dari yang ditakutkan. Lebih dari itu, sepertinya ini mencakup seluruh yang diperintahkan dan yang dilarang. Jika jiwa seseorang bersifat kikir dan tidak tunduk pada perintah Allah سبحانه وتعالى, serta tidak mau mengeluarkan hartanya, maka ia tidak akan beruntung tapi akan mendapatkan kerugian di dunia dan di akhirat. Dan jika jiwanya lapang dan tenang terhadap syariat Allah سبحانه وتعالى ka-rena ingin mencari keridhaanNya, maka tidak terdapat pengha-lang antara jiwanya dan perintah yang dibebankan Allah سبحانه وتعالى selain pengetahuannya akan perintah tersebut bahwa hal itu mendatang-kan ridha Allah سبحانه وتعالى. Dengan demikian, ia akan mendapatkan kebe-runtungan, keberhasilan, dan benar-benar akan mendapatkan kemenangan. (17) Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memberi dorongan untuk berinfak seraya berfirman, ﴾ إِن تُقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗا ﴿ "Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik." Pinjaman yang baik adalah semua nafkah yang berasal dari harta halal yang diberikan oleh seseorang karena mengharap bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى dan mengalokasikannya pada tempatnya, ﴾ يُضَٰعِفۡهُ لَكُمۡ ﴿ "niscaya Allah melipatgandakan (pembalasan-nya) kepadamu," pahala nafkah adalah sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan sampai berlipat-lipat lagi, ﴾ وَ﴿ "dan," di samping dilipatgandakan, Dia ﴾ يَغۡفِرۡ لَكُمۡۚ ﴿ "mengampuni kamu." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi ampunan dosa bagi kalian karena infak dan sedekah. Allah سبحانه وتعالى menghapus kesalahan dan dosa dengan sedekah dan kebaikan-kebaikan. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu bisa menghapus kesalahan-kesalahan. ﴾ وَٱللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ ﴿ "Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun." Tidak langsung memberi hukuman bagi orang yang durhaka kepadaNya, tapi diberi tang-guhan, namun tidak dilalaikan. ﴾ وَلَوۡ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِمَا كَسَبُواْ مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهۡرِهَا مِن دَآبَّةٖ وَلَٰكِن يُؤَخِّرُهُمۡ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗىۖ ﴿ "Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan (dosa-dosa) usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu pun makhluk yang melata, akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu." (Fathir: 45). Allah سبحانه وتعالى Maha Membalas kebaikan, menerima amalan kecil hamba-hambaNya namun diberi balasan yang besar. Allah سبحانه وتعالى mem-beri balasan baik bagi hambaNya yang rela menanggung beban berat dan berbagai taklif (beban syariat) yang berat karenaNya. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah سبحانه وتعالى, niscaya akan diberi ganti yang lebih baik oleh Allah سبحانه وتعالى. (18) ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ ﴿ "Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata." Maksudnya, tidak ada satu pun rahasia manusia yang tidak nampak bagi Allah سبحانه وتعالى. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah سبحانه وتعالى dan juga segala makhluk yang mereka saksikan. ﴾ ٱلۡعَزِيزُ ﴿ "Yang Mahaperkasa," yang tidak terkalahkan dan tidak tertahan, Yang Maha Memaksa segala sesuatu, ﴾ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "lagi Mahabijaksana," pada makhluk dan perintahNya, Yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Selesai tafsir Surat at-Taghabun. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Talaq 65:1

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (di-izinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui, barang-kali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya, maka rujukilah me-reka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan per-saksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikian-lah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nis-caya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengajak bicara Nabi Muhammad a dan kaum Mukminin, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ ﴿ "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu," maksudnya, jika engkau ingin menceraikan mereka, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka," carilah alasan syar'i ketika mencerai mereka, jangan langsung mencerai hanya disebabkan tidak mengindahkan perintah Allah سبحانه وتعالى, tapi ﴾ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ﴿ "hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya," maksudnya, pada waktu iddah mereka, yaitu, dengan cara menceraikan istri ketika ia sedang suci dan belum dicampuri selama masa suci itu. Talak inilah yang iddahnya dapat diketahui dengan jelas. Lain hal-nya ketika dicerai pada waktu haid. Haid tersebut tidak terhitung dalam masa talak sehingga masa iddahnya memanjang karenanya. Begitu juga jika dicerai ketika istri sedang suci namun sudah di-campuri, sebab dimungkinkan istrinya hamil. Di samping itu tidak jelas dari manakah ia mulai masa iddah. Dan Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan untuk menghitung masa iddah. Patokannya adalah haid jika wanita yang dicerai dalam keadaan haid. Karena menghitung iddah dalam masa itu merupakan penunaian hak Allah سبحانه وتعالى, hak suami yang menceraikan, hak lelaki lain yang akan menikahinya, hak wanita yang dicerai untuk mendapatkan nafkah dan hak-hak lain-nya. Jika iddahnya telah diketahui secara pasti, maka keadaannya juga bisa diketahui, serta hak-hak yang akan didapatkan si wanita yang dicerai serta apa yang akan didapatkan dari mantan suaminya. Perintah untuk menghitung iddah ini ditujukan pada suami dan istri jika memang termasuk mukallaf (sudah terbebani kewajiban beribadah), jika belum baligh, maka yang bertugas menghitung iddah adalah walinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ رَبَّكُمۡۖ ﴿ "Serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu," di segala urusan kalian dan takutlah padaNya dalam hak istri yang dicerai. Maka ﴾ لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ ﴿ "janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka," selama masa iddah, tapi biarkan ia berada di rumah tempat suaminya menceraikannya. ﴾ وَلَا يَخۡرُجۡنَ ﴿ "Dan janganlah mereka (diizinkan) keluar," maksudnya, mereka tidak boleh keluar dari rumahnya. Berkaitan dengan la-rangan mengeluarkan wanita yang dicerai dari rumahnya, karena hak menempati merupakan kewajiban yang harus ditanggung suami hingga masa iddahnya selesai. Hak menempati rumah meru-pakan salah satu dari beberapa haknya. Sedangkan larangan bagi wanita yang dicerai untuk keluar rumah adalah karena hal itu menyia-nyiakan hak suami dan tidak adanya tanggungjawab pihak suami. Larangan untuk mengeluarkan istri yang dicerai dari rumah dan larangan bagi istri yang dicerai keluar rumah ini berlaku hingga masa iddah selesai. ﴾ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ ﴿ "Kecuali kalau mereka menger-jakan perbuatan keji yang terang." Maksudnya, dengan sesuatu yang tercela dan jelas yang mengharuskannya untuk diusir karena kebe-radaannya di dalam rumah menimbulkan dampak berbahaya bagi keluarga seperti mengeluarkan kata-kata dan perbuatan keji. Dalam kondisi seperti ini, suami dibolehkan mengusir istri yang dicerai itu karena dia sendirilah yang menyebabkannya diusir. Adapun tujuan dari penempatan istri yang dicerai di dalam rumah suami yang menceraikannya selama masa iddah adalah sebagai pelipur lara dan sebagai tindakan lemah lembut baginya. Dia sendirilah yang menimbulkan dampak berbahaya bagi dirinya sendiri. Hukum ini berlaku bagi wanita yang cerai raj'i (yang boleh rujuk) selama masa iddah. Adapun wanita yang dicerai ba`in (yang tidak boleh rujuk), maka tidak ada hak tinggal yang wajib. Karena hak tinggal itu berkaitan dengan hak nafkah. Dan nafkah itu hanya wajib dibe-rikan pada wanita yang dicerai raj'i, bukan ba`in. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Itulah hukum-hukum Allah," yang ditentukan pada hamba-hambaNya, disyariatkan untuk mereka, diperintahkan agar dilaksanakan dan diindahkan. ﴾ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah," dengan tidak diindahkan tapi malah diterjang atau tidak ditunaikan secara baik, ﴾ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ ﴿ "maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri." Me-rugikan haknya dan menyia-nyiakan bagiannya dengan tidak me-nuruti hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى yang merupakan kebaikan dunia akhirat. ﴾ لَا تَدۡرِي لَعَلَّ ٱللَّهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ أَمۡرٗا ﴿ "Kamu tidak mengetahui, barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan iddah dan membatasi talak dengan iddah tersebut karena beberapa hikmah besar, di antaranya agar Allah سبحانه وتعالى memberikan rasa kasih sayang dan cinta dalam hati suami yang menceraikan istrinya sehingga ia menarik kembali talaknya kemu-dian melanjutkan lagi kehidupan bersama. Hal ini bisa terjadi selama masa iddah. Atau bisa jadi karena si suami mentalaknya karena suatu sebab kemudian sebab itu hilang selama masa iddah kemu-dian rujuk kembali, karena sebab talak sudah tidak ada. Di antara hikmah iddah lainnya adalah diketahuinya kekosongan rahim istri yang dicerai dari bibit suaminya. (2) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ ﴿ "Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya," maksudnya, jika mereka telah men-dekati akhir iddahnya karena seandainya ketika iddah mereka telah usai, tentu suaminya tidak lagi memiliki pilihan antara merujuk atau melepas, ﴾ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ ﴿ "maka rujukilah mereka dengan baik," dengan cara pergaulan yang baik dan indah, bukan dengan cara yang membahayakan atau menghendaki keburukan dan ingin me-nahannya, karena merujuk dengan cara seperti ini tidak dibolehkan, ﴾ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ ﴿ "atau lepaskanlah mereka dengan baik," perpisahan yang tidak terlarang, tanpa adanya celaan, permusuhan, intimidasi atas pihak wanita agar sebagian hartanya bisa diambil, ﴾ وَأَشۡهِدُواْ ﴿ "dan persaksikanlah," atas talak dan rujuk tersebut, ﴾ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu," yaitu dua lelaki Muslim yang adil. Karena dalam persaksian yang disebutkan bisa menutup pintu sengketa kedua belah pihak, serta bisa menghindari adanya sesuatu yang disembunyikan yang seharusnya diberitahu-kan. ﴾ وَأَقِيمُواْ ﴿ "Dan hendaklah kamu tegakkan," wahai para saksi, ﴾ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ﴿ "kesaksian itu karena Allah." Maksudnya, tunaikan kesak-sian itu dengan benar, tanpa adanya tambahan dan pengurangan. Niatkanlah karena Allah سبحانه وتعالى ketika menunaikan kesaksian jangan bertendensi kekeluargaan terhadap keluarga atau faktor persaha-batan terhadap teman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum dan batasan-batasan yang Kami sebutkan pada kalian, ﴾ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ﴿ "diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat." Karena iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir meng-haruskan orangnya untuk mengindahkan arahan dan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى serta lebih mengedepankan akhirat dengan melakukan amalan-amalan shalih sebisa mungkin. Lain halnya dengan orang yang tidak memiliki keimanan di hatinya; ia tidak mempedulikan keburukan yang dilakukan dan tidak mengagungkan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى, karena tidak adanya keimanan (dalam hatinya) yang mendorong kepada hal itu. Karena talak kadang terjadi dalam situasi sulit, bencana, dan kekacauan, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar bertakwa kepada-Nya. Allah سبحانه وتعالى berjanji bagi siapa saja yang bertakwa padaNya dalam hal talak atau lainnya akan diberi solusi. Jika seseorang mentalak istrinya, maka harus dilakukan sesuai peraturan syariat, yaitu de-ngan cara menjatuhkan satu talak ketika istri tidak dalam keadaan haid dan tidak dalam keadaan suci namun telah dicampuri. Hal itu tidaklah mempersempit masalahnya, namun Allah سبحانه وتعالى justru akan memberi kelapangan dan keleluasaan, seperti rujuk kembali ketika sang suami menyesal telah mentalak istrinya. Ayat di atas meski dalam tekstual talak dan cerai, namun kontekstual berlaku secara umum. Maksudnya, siapa pun yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan meniti ridhaNya dalam berbagai kondisi, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya balasan pahala di dunia dan di akhirat. Di antara balasanNya secara garis besar adalah diberikannya pintu keluar dari berbagai kondisi sulit dan susah. Sebagaimana orang yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberikan celah dan pintu keluar, sebaliknya, siapa pun yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan jatuh dalam rantai dan belenggu yang tidak akan mampu terlepas dan keluar dari ikatannya. Mari terapkan hal ini dalam masalah talak. Seseorang yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan menjatuhkan talak yang diharamkan seperti talak tiga sekaligus dan lainnya. Karena itu, ia pasti akan sangat menye-sal dan tidak mungkin bisa didapat kembali dan tidak bisa keluar dari permasalahannya. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ﴿ "Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi rizki bagi orang yang bertakwa dari arah yang tidak di-sangka dan dirasa. ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah," dalam urusan agama dan dunianya dengan bergan-tung sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى dengan maksud untuk menda-patkan apa-apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudarat, serta percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى, bahwa ia akan diberi kemudahan, ﴾ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ﴿ "niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaper-kasa lagi Penyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu. Hanya saja mungkin hikmah ilahi meng-haruskan pemberian itu ditunda sampai waktu yang tepat bagi hamba yang bersangkutan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)-Nya." Maksudnya, keputusan dan ketetapanNya pasti berlaku, hanya saja Allah سبحانه وتعالى menciptakan ﴾ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ﴿ "ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." Yaitu, waktu dan ketentuan yang tidak akan terlam-paui dan kurang darinya.

At-Talaq 65:2

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (di-izinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui, barang-kali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya, maka rujukilah me-reka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan per-saksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikian-lah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nis-caya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengajak bicara Nabi Muhammad a dan kaum Mukminin, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ ﴿ "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu," maksudnya, jika engkau ingin menceraikan mereka, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka," carilah alasan syar'i ketika mencerai mereka, jangan langsung mencerai hanya disebabkan tidak mengindahkan perintah Allah سبحانه وتعالى, tapi ﴾ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ﴿ "hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya," maksudnya, pada waktu iddah mereka, yaitu, dengan cara menceraikan istri ketika ia sedang suci dan belum dicampuri selama masa suci itu. Talak inilah yang iddahnya dapat diketahui dengan jelas. Lain hal-nya ketika dicerai pada waktu haid. Haid tersebut tidak terhitung dalam masa talak sehingga masa iddahnya memanjang karenanya. Begitu juga jika dicerai ketika istri sedang suci namun sudah di-campuri, sebab dimungkinkan istrinya hamil. Di samping itu tidak jelas dari manakah ia mulai masa iddah. Dan Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan untuk menghitung masa iddah. Patokannya adalah haid jika wanita yang dicerai dalam keadaan haid. Karena menghitung iddah dalam masa itu merupakan penunaian hak Allah سبحانه وتعالى, hak suami yang menceraikan, hak lelaki lain yang akan menikahinya, hak wanita yang dicerai untuk mendapatkan nafkah dan hak-hak lain-nya. Jika iddahnya telah diketahui secara pasti, maka keadaannya juga bisa diketahui, serta hak-hak yang akan didapatkan si wanita yang dicerai serta apa yang akan didapatkan dari mantan suaminya. Perintah untuk menghitung iddah ini ditujukan pada suami dan istri jika memang termasuk mukallaf (sudah terbebani kewajiban beribadah), jika belum baligh, maka yang bertugas menghitung iddah adalah walinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ رَبَّكُمۡۖ ﴿ "Serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu," di segala urusan kalian dan takutlah padaNya dalam hak istri yang dicerai. Maka ﴾ لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ ﴿ "janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka," selama masa iddah, tapi biarkan ia berada di rumah tempat suaminya menceraikannya. ﴾ وَلَا يَخۡرُجۡنَ ﴿ "Dan janganlah mereka (diizinkan) keluar," maksudnya, mereka tidak boleh keluar dari rumahnya. Berkaitan dengan la-rangan mengeluarkan wanita yang dicerai dari rumahnya, karena hak menempati merupakan kewajiban yang harus ditanggung suami hingga masa iddahnya selesai. Hak menempati rumah meru-pakan salah satu dari beberapa haknya. Sedangkan larangan bagi wanita yang dicerai untuk keluar rumah adalah karena hal itu menyia-nyiakan hak suami dan tidak adanya tanggungjawab pihak suami. Larangan untuk mengeluarkan istri yang dicerai dari rumah dan larangan bagi istri yang dicerai keluar rumah ini berlaku hingga masa iddah selesai. ﴾ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ ﴿ "Kecuali kalau mereka menger-jakan perbuatan keji yang terang." Maksudnya, dengan sesuatu yang tercela dan jelas yang mengharuskannya untuk diusir karena kebe-radaannya di dalam rumah menimbulkan dampak berbahaya bagi keluarga seperti mengeluarkan kata-kata dan perbuatan keji. Dalam kondisi seperti ini, suami dibolehkan mengusir istri yang dicerai itu karena dia sendirilah yang menyebabkannya diusir. Adapun tujuan dari penempatan istri yang dicerai di dalam rumah suami yang menceraikannya selama masa iddah adalah sebagai pelipur lara dan sebagai tindakan lemah lembut baginya. Dia sendirilah yang menimbulkan dampak berbahaya bagi dirinya sendiri. Hukum ini berlaku bagi wanita yang cerai raj'i (yang boleh rujuk) selama masa iddah. Adapun wanita yang dicerai ba`in (yang tidak boleh rujuk), maka tidak ada hak tinggal yang wajib. Karena hak tinggal itu berkaitan dengan hak nafkah. Dan nafkah itu hanya wajib dibe-rikan pada wanita yang dicerai raj'i, bukan ba`in. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Itulah hukum-hukum Allah," yang ditentukan pada hamba-hambaNya, disyariatkan untuk mereka, diperintahkan agar dilaksanakan dan diindahkan. ﴾ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah," dengan tidak diindahkan tapi malah diterjang atau tidak ditunaikan secara baik, ﴾ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ ﴿ "maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri." Me-rugikan haknya dan menyia-nyiakan bagiannya dengan tidak me-nuruti hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى yang merupakan kebaikan dunia akhirat. ﴾ لَا تَدۡرِي لَعَلَّ ٱللَّهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ أَمۡرٗا ﴿ "Kamu tidak mengetahui, barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan iddah dan membatasi talak dengan iddah tersebut karena beberapa hikmah besar, di antaranya agar Allah سبحانه وتعالى memberikan rasa kasih sayang dan cinta dalam hati suami yang menceraikan istrinya sehingga ia menarik kembali talaknya kemu-dian melanjutkan lagi kehidupan bersama. Hal ini bisa terjadi selama masa iddah. Atau bisa jadi karena si suami mentalaknya karena suatu sebab kemudian sebab itu hilang selama masa iddah kemu-dian rujuk kembali, karena sebab talak sudah tidak ada. Di antara hikmah iddah lainnya adalah diketahuinya kekosongan rahim istri yang dicerai dari bibit suaminya. (2) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ ﴿ "Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya," maksudnya, jika mereka telah men-dekati akhir iddahnya karena seandainya ketika iddah mereka telah usai, tentu suaminya tidak lagi memiliki pilihan antara merujuk atau melepas, ﴾ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ ﴿ "maka rujukilah mereka dengan baik," dengan cara pergaulan yang baik dan indah, bukan dengan cara yang membahayakan atau menghendaki keburukan dan ingin me-nahannya, karena merujuk dengan cara seperti ini tidak dibolehkan, ﴾ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ ﴿ "atau lepaskanlah mereka dengan baik," perpisahan yang tidak terlarang, tanpa adanya celaan, permusuhan, intimidasi atas pihak wanita agar sebagian hartanya bisa diambil, ﴾ وَأَشۡهِدُواْ ﴿ "dan persaksikanlah," atas talak dan rujuk tersebut, ﴾ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu," yaitu dua lelaki Muslim yang adil. Karena dalam persaksian yang disebutkan bisa menutup pintu sengketa kedua belah pihak, serta bisa menghindari adanya sesuatu yang disembunyikan yang seharusnya diberitahu-kan. ﴾ وَأَقِيمُواْ ﴿ "Dan hendaklah kamu tegakkan," wahai para saksi, ﴾ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ﴿ "kesaksian itu karena Allah." Maksudnya, tunaikan kesak-sian itu dengan benar, tanpa adanya tambahan dan pengurangan. Niatkanlah karena Allah سبحانه وتعالى ketika menunaikan kesaksian jangan bertendensi kekeluargaan terhadap keluarga atau faktor persaha-batan terhadap teman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum dan batasan-batasan yang Kami sebutkan pada kalian, ﴾ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ﴿ "diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat." Karena iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir meng-haruskan orangnya untuk mengindahkan arahan dan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى serta lebih mengedepankan akhirat dengan melakukan amalan-amalan shalih sebisa mungkin. Lain halnya dengan orang yang tidak memiliki keimanan di hatinya; ia tidak mempedulikan keburukan yang dilakukan dan tidak mengagungkan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى, karena tidak adanya keimanan (dalam hatinya) yang mendorong kepada hal itu. Karena talak kadang terjadi dalam situasi sulit, bencana, dan kekacauan, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar bertakwa kepada-Nya. Allah سبحانه وتعالى berjanji bagi siapa saja yang bertakwa padaNya dalam hal talak atau lainnya akan diberi solusi. Jika seseorang mentalak istrinya, maka harus dilakukan sesuai peraturan syariat, yaitu de-ngan cara menjatuhkan satu talak ketika istri tidak dalam keadaan haid dan tidak dalam keadaan suci namun telah dicampuri. Hal itu tidaklah mempersempit masalahnya, namun Allah سبحانه وتعالى justru akan memberi kelapangan dan keleluasaan, seperti rujuk kembali ketika sang suami menyesal telah mentalak istrinya. Ayat di atas meski dalam tekstual talak dan cerai, namun kontekstual berlaku secara umum. Maksudnya, siapa pun yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan meniti ridhaNya dalam berbagai kondisi, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya balasan pahala di dunia dan di akhirat. Di antara balasanNya secara garis besar adalah diberikannya pintu keluar dari berbagai kondisi sulit dan susah. Sebagaimana orang yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberikan celah dan pintu keluar, sebaliknya, siapa pun yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan jatuh dalam rantai dan belenggu yang tidak akan mampu terlepas dan keluar dari ikatannya. Mari terapkan hal ini dalam masalah talak. Seseorang yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan menjatuhkan talak yang diharamkan seperti talak tiga sekaligus dan lainnya. Karena itu, ia pasti akan sangat menye-sal dan tidak mungkin bisa didapat kembali dan tidak bisa keluar dari permasalahannya. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ﴿ "Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi rizki bagi orang yang bertakwa dari arah yang tidak di-sangka dan dirasa. ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah," dalam urusan agama dan dunianya dengan bergan-tung sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى dengan maksud untuk menda-patkan apa-apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudarat, serta percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى, bahwa ia akan diberi kemudahan, ﴾ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ﴿ "niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaper-kasa lagi Penyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu. Hanya saja mungkin hikmah ilahi meng-haruskan pemberian itu ditunda sampai waktu yang tepat bagi hamba yang bersangkutan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)-Nya." Maksudnya, keputusan dan ketetapanNya pasti berlaku, hanya saja Allah سبحانه وتعالى menciptakan ﴾ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ﴿ "ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." Yaitu, waktu dan ketentuan yang tidak akan terlam-paui dan kurang darinya.

At-Talaq 65:3

"Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (di-izinkan) keluar kecuali kalau mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang. Itulah hukum-hukum Allah, dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui, barang-kali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru. Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya, maka rujukilah me-reka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan per-saksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikian-lah diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nis-caya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (Ath-Thalaq: 1-3). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Allah سبحانه وتعالى berfirman mengajak bicara Nabi Muhammad a dan kaum Mukminin, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ إِذَا طَلَّقۡتُمُ ٱلنِّسَآءَ ﴿ "Hai Nabi, apabila kamu menceraikan istri-istrimu," maksudnya, jika engkau ingin menceraikan mereka, ﴾ ف َ ـ ﴿ "maka," carilah alasan syar'i ketika mencerai mereka, jangan langsung mencerai hanya disebabkan tidak mengindahkan perintah Allah سبحانه وتعالى, tapi ﴾ فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ ﴿ "hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya," maksudnya, pada waktu iddah mereka, yaitu, dengan cara menceraikan istri ketika ia sedang suci dan belum dicampuri selama masa suci itu. Talak inilah yang iddahnya dapat diketahui dengan jelas. Lain hal-nya ketika dicerai pada waktu haid. Haid tersebut tidak terhitung dalam masa talak sehingga masa iddahnya memanjang karenanya. Begitu juga jika dicerai ketika istri sedang suci namun sudah di-campuri, sebab dimungkinkan istrinya hamil. Di samping itu tidak jelas dari manakah ia mulai masa iddah. Dan Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan untuk menghitung masa iddah. Patokannya adalah haid jika wanita yang dicerai dalam keadaan haid. Karena menghitung iddah dalam masa itu merupakan penunaian hak Allah سبحانه وتعالى, hak suami yang menceraikan, hak lelaki lain yang akan menikahinya, hak wanita yang dicerai untuk mendapatkan nafkah dan hak-hak lain-nya. Jika iddahnya telah diketahui secara pasti, maka keadaannya juga bisa diketahui, serta hak-hak yang akan didapatkan si wanita yang dicerai serta apa yang akan didapatkan dari mantan suaminya. Perintah untuk menghitung iddah ini ditujukan pada suami dan istri jika memang termasuk mukallaf (sudah terbebani kewajiban beribadah), jika belum baligh, maka yang bertugas menghitung iddah adalah walinya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ رَبَّكُمۡۖ ﴿ "Serta bertakwalah kepada Allah, Rabbmu," di segala urusan kalian dan takutlah padaNya dalam hak istri yang dicerai. Maka ﴾ لَا تُخۡرِجُوهُنَّ مِنۢ بُيُوتِهِنَّ ﴿ "janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka," selama masa iddah, tapi biarkan ia berada di rumah tempat suaminya menceraikannya. ﴾ وَلَا يَخۡرُجۡنَ ﴿ "Dan janganlah mereka (diizinkan) keluar," maksudnya, mereka tidak boleh keluar dari rumahnya. Berkaitan dengan la-rangan mengeluarkan wanita yang dicerai dari rumahnya, karena hak menempati merupakan kewajiban yang harus ditanggung suami hingga masa iddahnya selesai. Hak menempati rumah meru-pakan salah satu dari beberapa haknya. Sedangkan larangan bagi wanita yang dicerai untuk keluar rumah adalah karena hal itu menyia-nyiakan hak suami dan tidak adanya tanggungjawab pihak suami. Larangan untuk mengeluarkan istri yang dicerai dari rumah dan larangan bagi istri yang dicerai keluar rumah ini berlaku hingga masa iddah selesai. ﴾ إِلَّآ أَن يَأۡتِينَ بِفَٰحِشَةٖ مُّبَيِّنَةٖۚ ﴿ "Kecuali kalau mereka menger-jakan perbuatan keji yang terang." Maksudnya, dengan sesuatu yang tercela dan jelas yang mengharuskannya untuk diusir karena kebe-radaannya di dalam rumah menimbulkan dampak berbahaya bagi keluarga seperti mengeluarkan kata-kata dan perbuatan keji. Dalam kondisi seperti ini, suami dibolehkan mengusir istri yang dicerai itu karena dia sendirilah yang menyebabkannya diusir. Adapun tujuan dari penempatan istri yang dicerai di dalam rumah suami yang menceraikannya selama masa iddah adalah sebagai pelipur lara dan sebagai tindakan lemah lembut baginya. Dia sendirilah yang menimbulkan dampak berbahaya bagi dirinya sendiri. Hukum ini berlaku bagi wanita yang cerai raj'i (yang boleh rujuk) selama masa iddah. Adapun wanita yang dicerai ba`in (yang tidak boleh rujuk), maka tidak ada hak tinggal yang wajib. Karena hak tinggal itu berkaitan dengan hak nafkah. Dan nafkah itu hanya wajib dibe-rikan pada wanita yang dicerai raj'i, bukan ba`in. ﴾ وَتِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِۚ ﴿ "Itulah hukum-hukum Allah," yang ditentukan pada hamba-hambaNya, disyariatkan untuk mereka, diperintahkan agar dilaksanakan dan diindahkan. ﴾ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah," dengan tidak diindahkan tapi malah diterjang atau tidak ditunaikan secara baik, ﴾ فَقَدۡ ظَلَمَ نَفۡسَهُۥۚ ﴿ "maka sungguh dia telah berbuat zhalim terhadap dirinya sendiri." Me-rugikan haknya dan menyia-nyiakan bagiannya dengan tidak me-nuruti hukum-hukum Allah سبحانه وتعالى yang merupakan kebaikan dunia akhirat. ﴾ لَا تَدۡرِي لَعَلَّ ٱللَّهَ يُحۡدِثُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ أَمۡرٗا ﴿ "Kamu tidak mengetahui, barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan iddah dan membatasi talak dengan iddah tersebut karena beberapa hikmah besar, di antaranya agar Allah سبحانه وتعالى memberikan rasa kasih sayang dan cinta dalam hati suami yang menceraikan istrinya sehingga ia menarik kembali talaknya kemu-dian melanjutkan lagi kehidupan bersama. Hal ini bisa terjadi selama masa iddah. Atau bisa jadi karena si suami mentalaknya karena suatu sebab kemudian sebab itu hilang selama masa iddah kemu-dian rujuk kembali, karena sebab talak sudah tidak ada. Di antara hikmah iddah lainnya adalah diketahuinya kekosongan rahim istri yang dicerai dari bibit suaminya. (2) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِذَا بَلَغۡنَ أَجَلَهُنَّ ﴿ "Apabila mereka telah sampai masa (akhir iddah)nya," maksudnya, jika mereka telah men-dekati akhir iddahnya karena seandainya ketika iddah mereka telah usai, tentu suaminya tidak lagi memiliki pilihan antara merujuk atau melepas, ﴾ فَأَمۡسِكُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٍ ﴿ "maka rujukilah mereka dengan baik," dengan cara pergaulan yang baik dan indah, bukan dengan cara yang membahayakan atau menghendaki keburukan dan ingin me-nahannya, karena merujuk dengan cara seperti ini tidak dibolehkan, ﴾ أَوۡ فَارِقُوهُنَّ بِمَعۡرُوفٖ ﴿ "atau lepaskanlah mereka dengan baik," perpisahan yang tidak terlarang, tanpa adanya celaan, permusuhan, intimidasi atas pihak wanita agar sebagian hartanya bisa diambil, ﴾ وَأَشۡهِدُواْ ﴿ "dan persaksikanlah," atas talak dan rujuk tersebut, ﴾ ذَوَيۡ عَدۡلٖ مِّنكُمۡ ﴿ "dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu," yaitu dua lelaki Muslim yang adil. Karena dalam persaksian yang disebutkan bisa menutup pintu sengketa kedua belah pihak, serta bisa menghindari adanya sesuatu yang disembunyikan yang seharusnya diberitahu-kan. ﴾ وَأَقِيمُواْ ﴿ "Dan hendaklah kamu tegakkan," wahai para saksi, ﴾ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِۚ ﴿ "kesaksian itu karena Allah." Maksudnya, tunaikan kesak-sian itu dengan benar, tanpa adanya tambahan dan pengurangan. Niatkanlah karena Allah سبحانه وتعالى ketika menunaikan kesaksian jangan bertendensi kekeluargaan terhadap keluarga atau faktor persaha-batan terhadap teman. ﴾ ذَٰلِكُمۡ ﴿ "Demikianlah," hukum dan batasan-batasan yang Kami sebutkan pada kalian, ﴾ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ﴿ "diberi pelajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat." Karena iman kepada Allah سبحانه وتعالى dan Hari Akhir meng-haruskan orangnya untuk mengindahkan arahan dan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى serta lebih mengedepankan akhirat dengan melakukan amalan-amalan shalih sebisa mungkin. Lain halnya dengan orang yang tidak memiliki keimanan di hatinya; ia tidak mempedulikan keburukan yang dilakukan dan tidak mengagungkan nasihat-nasi-hat Allah سبحانه وتعالى, karena tidak adanya keimanan (dalam hatinya) yang mendorong kepada hal itu. Karena talak kadang terjadi dalam situasi sulit, bencana, dan kekacauan, maka Allah سبحانه وتعالى memerintahkan agar bertakwa kepada-Nya. Allah سبحانه وتعالى berjanji bagi siapa saja yang bertakwa padaNya dalam hal talak atau lainnya akan diberi solusi. Jika seseorang mentalak istrinya, maka harus dilakukan sesuai peraturan syariat, yaitu de-ngan cara menjatuhkan satu talak ketika istri tidak dalam keadaan haid dan tidak dalam keadaan suci namun telah dicampuri. Hal itu tidaklah mempersempit masalahnya, namun Allah سبحانه وتعالى justru akan memberi kelapangan dan keleluasaan, seperti rujuk kembali ketika sang suami menyesal telah mentalak istrinya. Ayat di atas meski dalam tekstual talak dan cerai, namun kontekstual berlaku secara umum. Maksudnya, siapa pun yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى dan meniti ridhaNya dalam berbagai kondisi, maka Allah سبحانه وتعالى akan memberinya balasan pahala di dunia dan di akhirat. Di antara balasanNya secara garis besar adalah diberikannya pintu keluar dari berbagai kondisi sulit dan susah. Sebagaimana orang yang bertakwa pada Allah سبحانه وتعالى akan diberikan celah dan pintu keluar, sebaliknya, siapa pun yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan jatuh dalam rantai dan belenggu yang tidak akan mampu terlepas dan keluar dari ikatannya. Mari terapkan hal ini dalam masalah talak. Seseorang yang tidak bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى akan menjatuhkan talak yang diharamkan seperti talak tiga sekaligus dan lainnya. Karena itu, ia pasti akan sangat menye-sal dan tidak mungkin bisa didapat kembali dan tidak bisa keluar dari permasalahannya. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ ﴿ "Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى memberi rizki bagi orang yang bertakwa dari arah yang tidak di-sangka dan dirasa. ﴾ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ ﴿ "Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah," dalam urusan agama dan dunianya dengan bergan-tung sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى dengan maksud untuk menda-patkan apa-apa yang bermanfaat dan menghindari apa-apa yang mudarat, serta percaya sepenuhnya kepada Allah سبحانه وتعالى, bahwa ia akan diberi kemudahan, ﴾ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ ﴿ "niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaper-kasa lagi Penyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu. Hanya saja mungkin hikmah ilahi meng-haruskan pemberian itu ditunda sampai waktu yang tepat bagi hamba yang bersangkutan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ ﴿ "Sesungguhnya Allah pasti mewujudkan urusan (yang dikehendaki)-Nya." Maksudnya, keputusan dan ketetapanNya pasti berlaku, hanya saja Allah سبحانه وتعالى menciptakan ﴾ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ﴿ "ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." Yaitu, waktu dan ketentuan yang tidak akan terlam-paui dan kurang darinya.

At-Talaq 65:4

"Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di an-tara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perem-puan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa ke-pada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatganda-kan pahala baginya." (Ath-Thalaq: 4-5). (4) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa talak yang diperin-tahkan menjadi iddah bagi wanita, Allah سبحانه وتعالى kemudian menyebutkan masa iddah seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّٰٓـِٔي يَئِسۡنَ مِنَ ٱلۡمَحِيضِ مِن نِّسَآئِكُمۡ ﴿ "Dan perem-puan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perem-puanmu," karena sudah tidak haid lagi disebabkan usia tua atau lainnya yang tidak bisa diharapkan kembali lagi haidnya, maka iddah wanita seperti ini adalah tiga bulan, satu bulannya dijadikan sebagai padanan satu kali masa haid. ﴾ وَٱلَّٰٓـِٔي لَمۡ يَحِضۡنَۚ ﴿ "Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid," yakni wanita-wanita kecil yang belum haid atau wanita-wanita baligh yang sama sekali tidak haid, mereka sama seperti wanita-wanita yang sudah menopause, masa iddah mereka selama tiga bulan. Adapun wanita-wanita yang haid, maka masa iddahnya adalah sebagaimana yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَٱلۡمُطَلَّقَٰتُ يَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَٰثَةَ قُرُوٓءٖۚ ﴿ "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru`." (Al-Baqarah: 228). Dan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأُوْلَٰتُ ٱلۡأَحۡمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ ﴿ "Dan perem-puan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai me-reka melahirkan kandungannya," yakni sampai melahirkan bayi yang ada dalam kandungannya, baik yang berisi satu bayi atau lebih. Dalam hal ini, bulan dan lainnya tidak menjadi patokan. ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." Maksudnya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, maka urusannya akan dipermudah dan segala yang sulit akan digam-pangkan. (5) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," maksudnya, hukum yang dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada kalian itu merupakan ﴾ أَمۡرُ ٱللَّهِ أَنزَلَهُۥٓ إِلَيۡكُمۡۚ ﴿ "perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu," agar kalian mencontohnya dan mengagungkannya. ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." Maksudnya, terhindar dari marabahaya dan mendapatkan apa yang diinginkan.

At-Talaq 65:5

"Dan perempuan-perempuan yang putus asa dari haid di an-tara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perem-puan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa ke-pada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. Itulah perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatganda-kan pahala baginya." (Ath-Thalaq: 4-5). (4) Setelah Allah سبحانه وتعالى menyebutkan bahwa talak yang diperin-tahkan menjadi iddah bagi wanita, Allah سبحانه وتعالى kemudian menyebutkan masa iddah seraya berfirman, ﴾ وَٱلَّٰٓـِٔي يَئِسۡنَ مِنَ ٱلۡمَحِيضِ مِن نِّسَآئِكُمۡ ﴿ "Dan perem-puan-perempuan yang putus asa dari haid di antara perempuan-perem-puanmu," karena sudah tidak haid lagi disebabkan usia tua atau lainnya yang tidak bisa diharapkan kembali lagi haidnya, maka iddah wanita seperti ini adalah tiga bulan, satu bulannya dijadikan sebagai padanan satu kali masa haid. ﴾ وَٱلَّٰٓـِٔي لَمۡ يَحِضۡنَۚ ﴿ "Dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid," yakni wanita-wanita kecil yang belum haid atau wanita-wanita baligh yang sama sekali tidak haid, mereka sama seperti wanita-wanita yang sudah menopause, masa iddah mereka selama tiga bulan. Adapun wanita-wanita yang haid, maka masa iddahnya adalah sebagaimana yang disebutkan Allah سبحانه وتعالى dalam FirmanNya, ﴾ وَٱلۡمُطَلَّقَٰتُ يَتَرَبَّصۡنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلَٰثَةَ قُرُوٓءٖۚ ﴿ "Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru`." (Al-Baqarah: 228). Dan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَأُوْلَٰتُ ٱلۡأَحۡمَالِ أَجَلُهُنَّ أَن يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ ﴿ "Dan perem-puan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai me-reka melahirkan kandungannya," yakni sampai melahirkan bayi yang ada dalam kandungannya, baik yang berisi satu bayi atau lebih. Dalam hal ini, bulan dan lainnya tidak menjadi patokan. ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." Maksudnya, barangsiapa yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, maka urusannya akan dipermudah dan segala yang sulit akan digam-pangkan. (5) ﴾ ذَٰلِكَ ﴿ "Itulah," maksudnya, hukum yang dijelaskan oleh Allah سبحانه وتعالى kepada kalian itu merupakan ﴾ أَمۡرُ ٱللَّهِ أَنزَلَهُۥٓ إِلَيۡكُمۡۚ ﴿ "perintah Allah yang diturunkanNya kepada kamu," agar kalian mencontohnya dan mengagungkannya. ﴾ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يُكَفِّرۡ عَنۡهُ سَيِّـَٔاتِهِۦ وَيُعۡظِمۡ لَهُۥٓ أَجۡرًا ﴿ "Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." Maksudnya, terhindar dari marabahaya dan mendapatkan apa yang diinginkan.

At-Talaq 65:6

"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikan-lah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui ke-sulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuk-nya. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Ath-Thalaq: 6-7). (6) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah سبحانه وتعالى melarang mengusir wanita-wanita yang dicerai dari rumah. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk menempatkan mereka di tempat-tempat tinggal (yang layak) dengan cara yang baik, yaitu tempat yang mirip dengan rumah yang pernah ditinggali sesuai dengan ukuran kondisi suami. ﴾ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُواْ عَلَيۡهِنَّۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menyusah-kan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka," maksudnya, jangan menyakiti mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan ketika kalian menempatkan mereka di rumah yang membuat mereka jemu sehingga mereka keluar dari rumah sebelum masa iddah selesai, karena dengan demikian, kalian sama saja dengan meng-usir mereka. Kesimpulannya, tidak boleh mengeluarkan (mengusir) me-reka dan mereka juga dilarang keluar meninggalkan rumah. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan para suami yang menceraikan istrinya agar menempatkan mereka di rumah dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan dampak mudarat maupun memberatkan. Masalah ini sepenuhnya dikembalikan pada kebiasaan (suatu masyarakat). ﴾ وَإِن كُنَّ أُوْلَٰتِ حَمۡلٖ فَأَنفِقُواْ عَلَيۡهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ ﴿ "Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin." Hal itu dikarenakan janin yang ada di dalam kandungannya, jika yang bersangkutan dicerai ba`in. Dan nafkah berlaku untuknya dan untuk janinnya jika yang ber-sangkutan dicerai raj'i. Batas memberikan nafkah adalah sampai melahirkan. Jika wanita-wanita yang dicerai telah melahirkan, maka apa-kah harus menyusui atau tidak, ﴾ فَإِنۡ أَرۡضَعۡنَ لَكُمۡ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ﴿ "kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikanlah ke-pada mereka upahnya," dengan menyebutkan bilangan nafkah untuk mereka jika memang disebutkan, dan jika tidak disebutkan, maka disesuaikan dengan upah umum yang berlaku. ﴾ وَأۡتَمِرُواْ بَيۡنَكُم بِمَعۡرُوفٖۖ ﴿ "Dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik," maksudnya, hendaklah masing-masing dari pasangan suami-istri dan lainnya menyuruh dengan cara yang baik, yaitu semua hal yang terdapat maslahat dan manfaatnya di dunia dan di akhirat. Karena melalaikan hal ini (yaitu memerintah dengan cara yang baik) berdampak bahaya yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Di samping itu, dalam hal memerintah dengan cara yang baik juga terkandung prinsip saling membantu dalam kebaik-an dan takwa. Sehubungan dengan hal ini, pasangan suami istri yang berpisah pada masa iddah khususnya bagi yang sudah mem-punyai anak pada umumnya disertai pertengkaran tentang nafkah untuk pihak istri yang dicerai dan juga nafkah untuk anaknya di samping perceraian yang umumnya terjadi dengan disertai keben-cian. Pertengkaran akan amat dipengaruhi oleh sikap benci masing-masing pihak. Oleh karena itu, masing-masing dari suami maupun istri diperintahkan untuk saling bergaul dengan cara yang baik serta menjauhi pertentangan dan perpecahan, Allah سبحانه وتعالى memberi nasihat demikian. ﴾ وَإِن تَعَاسَرۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu menemui kesulitan," karena kedua suami-istri tidak sepakat untuk menyusukan anak, ﴾ فَسَتُرۡضِعُ لَهُۥٓ أُخۡرَىٰ ﴿ "maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya," yakni selain istrinya yang dicerai. ﴾ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ ﴿ "Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut." (Al-Baqarah: 233). Hal ini berlaku jika si anak mau disusui oleh wanita lain. Dan jika si anak hanya mau disusui oleh ibunya, maka ia mau tidak mau harus menyusuinya. Ia wajib menyusuinya dan boleh dipaksa jika enggan dan berhak mendapatkan upah umumnya jika kedua belah pihak (suami istri) tidak sepakat menentukan upah penyusuannya. Ketetapan ini bersumber dari ayat ini secara kontekstual (makna). Seorang anak ketika masih berada di dalam perut ibunya selama masa hamil tidak bisa keluar dari perut. Pada masa ini Allah سبحانه وتعالى menentukan nafkahnya wajib ditanggung oleh ayah si anak. Ketika lahir dan bisa mendapatkan makanan dari ibunya (melalui air susunya) atau dari wanita lain, Allah سبحانه وتعالى memberikan dua alternatif; jika si anak hanya mau menyusu dari air susu ibunya, maka keten-tuannya seperti yang berlaku ketika masih hamil dan ibunya wajib menyusui agar bayinya kuat. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menentukan nafkah berdasarkan kondisi suami seraya berfirman, ﴾ لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٖ مِّن سَعَتِهِۦۖ ﴿ "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya." Maksud-nya, orang yang kaya harus memberi nafkah sesuai ukuran kesang-gupannya, dan bukan memberi nafkah layaknya orang miskin. ﴾ وَمَن قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡيُنفِقۡ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya," yakni rizkinya disusahkan. ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ ﴿ "Allah tidak memi-kulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah beri-kan kepadanya." Ini sesuai dengan hikmah dan rahmat ilahi, karena menempatkan sesuatu sesuai ukurannya dan memberi keringanan bagi orang yang tidak punya. Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan apa pun melainkan sesuai dengan rizki yang diberikan. Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan kepada jiwa kecuali sebatas kesanggupannya dalam hal nafkah dan lainnya. ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا ﴿ "Allah kelak akan memberikan kelapangan se-sudah kesempitan." Ini adalah kabar gembira bagi mereka yang ku-rang mampu. Allah سبحانه وتعالى akan menghilangkan kesukaran dan beban berat mereka, karena dalam setiap kesusahan itu pasti terdapat kemudahan dan kesulitan itu pasti dibarengi kemudahan.

At-Talaq 65:7

"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikan-lah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui ke-sulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuk-nya. Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Ath-Thalaq: 6-7). (6) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah سبحانه وتعالى melarang mengusir wanita-wanita yang dicerai dari rumah. Dalam ayat ini terdapat perintah untuk menempatkan mereka di tempat-tempat tinggal (yang layak) dengan cara yang baik, yaitu tempat yang mirip dengan rumah yang pernah ditinggali sesuai dengan ukuran kondisi suami. ﴾ وَلَا تُضَآرُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُواْ عَلَيۡهِنَّۚ ﴿ "Dan janganlah kamu menyusah-kan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka," maksudnya, jangan menyakiti mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan ketika kalian menempatkan mereka di rumah yang membuat mereka jemu sehingga mereka keluar dari rumah sebelum masa iddah selesai, karena dengan demikian, kalian sama saja dengan meng-usir mereka. Kesimpulannya, tidak boleh mengeluarkan (mengusir) me-reka dan mereka juga dilarang keluar meninggalkan rumah. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan para suami yang menceraikan istrinya agar menempatkan mereka di rumah dengan cara yang baik dan tidak menimbulkan dampak mudarat maupun memberatkan. Masalah ini sepenuhnya dikembalikan pada kebiasaan (suatu masyarakat). ﴾ وَإِن كُنَّ أُوْلَٰتِ حَمۡلٖ فَأَنفِقُواْ عَلَيۡهِنَّ حَتَّىٰ يَضَعۡنَ حَمۡلَهُنَّۚ ﴿ "Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka itu nafkahnya hingga mereka bersalin." Hal itu dikarenakan janin yang ada di dalam kandungannya, jika yang bersangkutan dicerai ba`in. Dan nafkah berlaku untuknya dan untuk janinnya jika yang ber-sangkutan dicerai raj'i. Batas memberikan nafkah adalah sampai melahirkan. Jika wanita-wanita yang dicerai telah melahirkan, maka apa-kah harus menyusui atau tidak, ﴾ فَإِنۡ أَرۡضَعۡنَ لَكُمۡ فَـَٔاتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ﴿ "kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikanlah ke-pada mereka upahnya," dengan menyebutkan bilangan nafkah untuk mereka jika memang disebutkan, dan jika tidak disebutkan, maka disesuaikan dengan upah umum yang berlaku. ﴾ وَأۡتَمِرُواْ بَيۡنَكُم بِمَعۡرُوفٖۖ ﴿ "Dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik," maksudnya, hendaklah masing-masing dari pasangan suami-istri dan lainnya menyuruh dengan cara yang baik, yaitu semua hal yang terdapat maslahat dan manfaatnya di dunia dan di akhirat. Karena melalaikan hal ini (yaitu memerintah dengan cara yang baik) berdampak bahaya yang hanya diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى. Di samping itu, dalam hal memerintah dengan cara yang baik juga terkandung prinsip saling membantu dalam kebaik-an dan takwa. Sehubungan dengan hal ini, pasangan suami istri yang berpisah pada masa iddah khususnya bagi yang sudah mem-punyai anak pada umumnya disertai pertengkaran tentang nafkah untuk pihak istri yang dicerai dan juga nafkah untuk anaknya di samping perceraian yang umumnya terjadi dengan disertai keben-cian. Pertengkaran akan amat dipengaruhi oleh sikap benci masing-masing pihak. Oleh karena itu, masing-masing dari suami maupun istri diperintahkan untuk saling bergaul dengan cara yang baik serta menjauhi pertentangan dan perpecahan, Allah سبحانه وتعالى memberi nasihat demikian. ﴾ وَإِن تَعَاسَرۡتُمۡ ﴿ "Dan jika kamu menemui kesulitan," karena kedua suami-istri tidak sepakat untuk menyusukan anak, ﴾ فَسَتُرۡضِعُ لَهُۥٓ أُخۡرَىٰ ﴿ "maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya," yakni selain istrinya yang dicerai. ﴾ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ ﴿ "Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut." (Al-Baqarah: 233). Hal ini berlaku jika si anak mau disusui oleh wanita lain. Dan jika si anak hanya mau disusui oleh ibunya, maka ia mau tidak mau harus menyusuinya. Ia wajib menyusuinya dan boleh dipaksa jika enggan dan berhak mendapatkan upah umumnya jika kedua belah pihak (suami istri) tidak sepakat menentukan upah penyusuannya. Ketetapan ini bersumber dari ayat ini secara kontekstual (makna). Seorang anak ketika masih berada di dalam perut ibunya selama masa hamil tidak bisa keluar dari perut. Pada masa ini Allah سبحانه وتعالى menentukan nafkahnya wajib ditanggung oleh ayah si anak. Ketika lahir dan bisa mendapatkan makanan dari ibunya (melalui air susunya) atau dari wanita lain, Allah سبحانه وتعالى memberikan dua alternatif; jika si anak hanya mau menyusu dari air susu ibunya, maka keten-tuannya seperti yang berlaku ketika masih hamil dan ibunya wajib menyusui agar bayinya kuat. (7) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menentukan nafkah berdasarkan kondisi suami seraya berfirman, ﴾ لِيُنفِقۡ ذُو سَعَةٖ مِّن سَعَتِهِۦۖ ﴿ "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya." Maksud-nya, orang yang kaya harus memberi nafkah sesuai ukuran kesang-gupannya, dan bukan memberi nafkah layaknya orang miskin. ﴾ وَمَن قُدِرَ عَلَيۡهِ رِزۡقُهُۥ فَلۡيُنفِقۡ مِمَّآ ءَاتَىٰهُ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya," yakni rizkinya disusahkan. ﴾ لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا مَآ ءَاتَىٰهَاۚ ﴿ "Allah tidak memi-kulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah beri-kan kepadanya." Ini sesuai dengan hikmah dan rahmat ilahi, karena menempatkan sesuatu sesuai ukurannya dan memberi keringanan bagi orang yang tidak punya. Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan apa pun melainkan sesuai dengan rizki yang diberikan. Allah سبحانه وتعالى tidak membebankan kepada jiwa kecuali sebatas kesanggupannya dalam hal nafkah dan lainnya. ﴾ سَيَجۡعَلُ ٱللَّهُ بَعۡدَ عُسۡرٖ يُسۡرٗا ﴿ "Allah kelak akan memberikan kelapangan se-sudah kesempitan." Ini adalah kabar gembira bagi mereka yang ku-rang mampu. Allah سبحانه وتعالى akan menghilangkan kesukaran dan beban berat mereka, karena dalam setiap kesusahan itu pasti terdapat kemudahan dan kesulitan itu pasti dibarengi kemudahan.

At-Talaq 65:8

"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurha-kai perintah Rabb mereka dan Rasul-rasulNya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan me-reka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Se-sungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rizki yang baik kepadanya. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 8-12). (8-10) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang mendurhakai para rasul. Banyaknya jumlah me-reka dan besarnya kekuatan mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka ketika perhitungan amal yang amat dahsyat dan siksaan yang pedih datang. Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka karena perbuatan mereka yang buruk. Di samping siksaan dunia, Allah سبحانه وتعالى juga me-nyiapkan siksa yang dahsyat bagi mereka kelak di Hari Akhir. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal," maksudnya, wahai orang-orang yang berakal yang bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, dan Dia-lah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka mendustakan para rasul. Orang-orang setelah mereka juga sama. Tidak ada perbedaan antara kedua golongan tersebut. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman dengan kitabNya yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad a, agar mengeluarkan manusia dari gelapnya kebo-dohan, kekufuran, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan. Di antara manusia ada yang beriman kepadanya dan ada juga yang tidak beriman. ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih," baik yang wajib maupun yang sunnah, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ قَدۡ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزۡقًا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah mem-berikan rizki yang baik kepadanya." Maksudnya, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (12) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada pada kedua-nya, tujuh bumi dan apa saja yang ada padanya dan yang ada di antara masing-masing tingkatannya. Allah سبحانه وتعالى menurunkan perintah yang berupa syariat dan hukum-hukum duniawi yang diwahyu-kan kepada para rasulNya sebagai peringatan dan nasihat untuk manusia. Begitu juga dengan undang-undang alam dan takdir yang mengatur seluruh makhluk. Semua itu bertujuan agar manusia mengetahui keluasan KuasaNya atas segala sesuatu. Semuanya berada dalam jangkauan ilmuNya. Jika manusia mengetahui nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang suci, mereka akan menyembah, mencintai, dan menunaikan hakNya. Dan inilah tujuan yang dimaksudkan dari penciptaan dan diturunkannya perintah (syariat dan hukum); yaitu mengenal dan menyembah Allah سبحانه وتعالى. Hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih yang mendapatkan taufik menunaikannya, sedangkan orang-orang zhalim berpaling darinya. Selesai tafsir Surat ath-Thalaq. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Talaq 65:9

"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurha-kai perintah Rabb mereka dan Rasul-rasulNya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan me-reka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Se-sungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rizki yang baik kepadanya. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 8-12). (8-10) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang mendurhakai para rasul. Banyaknya jumlah me-reka dan besarnya kekuatan mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka ketika perhitungan amal yang amat dahsyat dan siksaan yang pedih datang. Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka karena perbuatan mereka yang buruk. Di samping siksaan dunia, Allah سبحانه وتعالى juga me-nyiapkan siksa yang dahsyat bagi mereka kelak di Hari Akhir. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal," maksudnya, wahai orang-orang yang berakal yang bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, dan Dia-lah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka mendustakan para rasul. Orang-orang setelah mereka juga sama. Tidak ada perbedaan antara kedua golongan tersebut. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman dengan kitabNya yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad a, agar mengeluarkan manusia dari gelapnya kebo-dohan, kekufuran, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan. Di antara manusia ada yang beriman kepadanya dan ada juga yang tidak beriman. ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih," baik yang wajib maupun yang sunnah, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ قَدۡ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزۡقًا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah mem-berikan rizki yang baik kepadanya." Maksudnya, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (12) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada pada kedua-nya, tujuh bumi dan apa saja yang ada padanya dan yang ada di antara masing-masing tingkatannya. Allah سبحانه وتعالى menurunkan perintah yang berupa syariat dan hukum-hukum duniawi yang diwahyu-kan kepada para rasulNya sebagai peringatan dan nasihat untuk manusia. Begitu juga dengan undang-undang alam dan takdir yang mengatur seluruh makhluk. Semua itu bertujuan agar manusia mengetahui keluasan KuasaNya atas segala sesuatu. Semuanya berada dalam jangkauan ilmuNya. Jika manusia mengetahui nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang suci, mereka akan menyembah, mencintai, dan menunaikan hakNya. Dan inilah tujuan yang dimaksudkan dari penciptaan dan diturunkannya perintah (syariat dan hukum); yaitu mengenal dan menyembah Allah سبحانه وتعالى. Hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih yang mendapatkan taufik menunaikannya, sedangkan orang-orang zhalim berpaling darinya. Selesai tafsir Surat ath-Thalaq. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Talaq 65:10

"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurha-kai perintah Rabb mereka dan Rasul-rasulNya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan me-reka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Se-sungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rizki yang baik kepadanya. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 8-12). (8-10) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang mendurhakai para rasul. Banyaknya jumlah me-reka dan besarnya kekuatan mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka ketika perhitungan amal yang amat dahsyat dan siksaan yang pedih datang. Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka karena perbuatan mereka yang buruk. Di samping siksaan dunia, Allah سبحانه وتعالى juga me-nyiapkan siksa yang dahsyat bagi mereka kelak di Hari Akhir. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal," maksudnya, wahai orang-orang yang berakal yang bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, dan Dia-lah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka mendustakan para rasul. Orang-orang setelah mereka juga sama. Tidak ada perbedaan antara kedua golongan tersebut. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman dengan kitabNya yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad a, agar mengeluarkan manusia dari gelapnya kebo-dohan, kekufuran, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan. Di antara manusia ada yang beriman kepadanya dan ada juga yang tidak beriman. ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih," baik yang wajib maupun yang sunnah, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ قَدۡ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزۡقًا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah mem-berikan rizki yang baik kepadanya." Maksudnya, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (12) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada pada kedua-nya, tujuh bumi dan apa saja yang ada padanya dan yang ada di antara masing-masing tingkatannya. Allah سبحانه وتعالى menurunkan perintah yang berupa syariat dan hukum-hukum duniawi yang diwahyu-kan kepada para rasulNya sebagai peringatan dan nasihat untuk manusia. Begitu juga dengan undang-undang alam dan takdir yang mengatur seluruh makhluk. Semua itu bertujuan agar manusia mengetahui keluasan KuasaNya atas segala sesuatu. Semuanya berada dalam jangkauan ilmuNya. Jika manusia mengetahui nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang suci, mereka akan menyembah, mencintai, dan menunaikan hakNya. Dan inilah tujuan yang dimaksudkan dari penciptaan dan diturunkannya perintah (syariat dan hukum); yaitu mengenal dan menyembah Allah سبحانه وتعالى. Hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih yang mendapatkan taufik menunaikannya, sedangkan orang-orang zhalim berpaling darinya. Selesai tafsir Surat ath-Thalaq. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Talaq 65:11

"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurha-kai perintah Rabb mereka dan Rasul-rasulNya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan me-reka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Se-sungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rizki yang baik kepadanya. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 8-12). (8-10) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang mendurhakai para rasul. Banyaknya jumlah me-reka dan besarnya kekuatan mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka ketika perhitungan amal yang amat dahsyat dan siksaan yang pedih datang. Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka karena perbuatan mereka yang buruk. Di samping siksaan dunia, Allah سبحانه وتعالى juga me-nyiapkan siksa yang dahsyat bagi mereka kelak di Hari Akhir. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal," maksudnya, wahai orang-orang yang berakal yang bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, dan Dia-lah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka mendustakan para rasul. Orang-orang setelah mereka juga sama. Tidak ada perbedaan antara kedua golongan tersebut. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman dengan kitabNya yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad a, agar mengeluarkan manusia dari gelapnya kebo-dohan, kekufuran, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan. Di antara manusia ada yang beriman kepadanya dan ada juga yang tidak beriman. ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih," baik yang wajib maupun yang sunnah, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ قَدۡ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزۡقًا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah mem-berikan rizki yang baik kepadanya." Maksudnya, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (12) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada pada kedua-nya, tujuh bumi dan apa saja yang ada padanya dan yang ada di antara masing-masing tingkatannya. Allah سبحانه وتعالى menurunkan perintah yang berupa syariat dan hukum-hukum duniawi yang diwahyu-kan kepada para rasulNya sebagai peringatan dan nasihat untuk manusia. Begitu juga dengan undang-undang alam dan takdir yang mengatur seluruh makhluk. Semua itu bertujuan agar manusia mengetahui keluasan KuasaNya atas segala sesuatu. Semuanya berada dalam jangkauan ilmuNya. Jika manusia mengetahui nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang suci, mereka akan menyembah, mencintai, dan menunaikan hakNya. Dan inilah tujuan yang dimaksudkan dari penciptaan dan diturunkannya perintah (syariat dan hukum); yaitu mengenal dan menyembah Allah سبحانه وتعالى. Hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih yang mendapatkan taufik menunaikannya, sedangkan orang-orang zhalim berpaling darinya. Selesai tafsir Surat ath-Thalaq. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Talaq 65:12

"Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang mendurha-kai perintah Rabb mereka dan Rasul-rasulNya, maka Kami hisab penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan me-reka adalah kerugian yang besar. Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Se-sungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rizki yang baik kepadanya. Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa-sanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah, ilmuNya benar-benar meliputi segala sesuatu." (Ath-Thalaq: 8-12). (8-10) Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia membinasakan umat-umat yang mendurhakai para rasul. Banyaknya jumlah me-reka dan besarnya kekuatan mereka sama sekali tidak berguna bagi mereka ketika perhitungan amal yang amat dahsyat dan siksaan yang pedih datang. Allah سبحانه وتعالى menyiksa mereka karena perbuatan mereka yang buruk. Di samping siksaan dunia, Allah سبحانه وتعالى juga me-nyiapkan siksa yang dahsyat bagi mereka kelak di Hari Akhir. ﴾ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ يَٰٓأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ﴿ "Maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal," maksudnya, wahai orang-orang yang berakal yang bisa memahami tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى, dan Dia-lah yang telah membinasakan umat-umat terdahulu karena mereka mendustakan para rasul. Orang-orang setelah mereka juga sama. Tidak ada perbedaan antara kedua golongan tersebut. (11) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman dengan kitabNya yang diturunkan kepada RasulNya, Muhammad a, agar mengeluarkan manusia dari gelapnya kebo-dohan, kekufuran, dan kemaksiatan menuju cahaya ilmu, iman, dan ketaatan. Di antara manusia ada yang beriman kepadanya dan ada juga yang tidak beriman. ﴾ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعۡمَلۡ صَٰلِحٗا ﴿ "Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang shalih," baik yang wajib maupun yang sunnah, ﴾ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ﴿ "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai," yang di dalamnya terdapat kenikmatan abadi yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di benak manusia. ﴾ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ قَدۡ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزۡقًا ﴿ "Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah mem-berikan rizki yang baik kepadanya." Maksudnya, siapa pun yang tidak beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, maka mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (12) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh yang ada pada kedua-nya, tujuh bumi dan apa saja yang ada padanya dan yang ada di antara masing-masing tingkatannya. Allah سبحانه وتعالى menurunkan perintah yang berupa syariat dan hukum-hukum duniawi yang diwahyu-kan kepada para rasulNya sebagai peringatan dan nasihat untuk manusia. Begitu juga dengan undang-undang alam dan takdir yang mengatur seluruh makhluk. Semua itu bertujuan agar manusia mengetahui keluasan KuasaNya atas segala sesuatu. Semuanya berada dalam jangkauan ilmuNya. Jika manusia mengetahui nama-namaNya yang indah dan sifat-sifatNya yang suci, mereka akan menyembah, mencintai, dan menunaikan hakNya. Dan inilah tujuan yang dimaksudkan dari penciptaan dan diturunkannya perintah (syariat dan hukum); yaitu mengenal dan menyembah Allah سبحانه وتعالى. Hamba-hamba Allah سبحانه وتعالى yang shalih yang mendapatkan taufik menunaikannya, sedangkan orang-orang zhalim berpaling darinya. Selesai tafsir Surat ath-Thalaq. Segala puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

At-Tahrim 66:1

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pem-bicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembica-raan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, 'Siapa-kah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk mene-rima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepa-danya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 1-5). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini merupakan teguran Allah سبحانه وتعالى untuk Nabi Muhammad a ketika mengharamkan Mariyah atau meminum madu atas diri-nya demi menjaga perasaan sebagian istrinya dalam kisah yang masyhur.[122] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat-ayat ini. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ﴿ "Hai Nabi," maksudnya, wahai Nabi yang diberi karunia oleh Allah سبحانه وتعالى berupa kenabian, kerasulan, dan wahyu, ﴾ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "me-ngapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu." Yakni, mengapa engkau mengharamkan kebaikan-kebaikan yang diberi-kan Allah سبحانه وتعالى padamu dan umatmu. ﴾ تَبۡتَغِي ﴿ "Kamu mencari," dengan pengharaman itu ﴾ مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini adalah pene-gasan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni RasulNya, menghapus teguran, dan menyayangi beliau. (2) Pengharaman yang bersumber dari Nabi Muhammad a itu menjadi sebab disyariatkannya hukum secara umum untuk seluruh umat, kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu," dan ini berlaku pada sumpah kaum Mukminin secara umum. Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan dan menentukan ke-tetapan yang bisa menghapus sumpah kalian sebelum dilanggar serta tebusan yang harus ditunaikan apabila sumpah itu dilanggar. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 87 وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 88 لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." (Al-Ma`idah: 87-89). Setiap orang yang mengharamkan sesuatu yang halal, baik berupa makanan, minuman ataupun sahaya wanita maupun ber-sumpah atas nama Allah سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kemudian dilanggar, maka harus membayar kaffarat seperti tersebut di atas. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dan Allah adalah Pelindungmu," yakni yang melindungi segala urusanmu dan mendidikmu dengan baik dalam urusan Agama dan duniamu serta segala sesuatu yang bisa menghindarkanmu dari keburukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mewa-jibkanmu untuk melepaskan dirimu dari sumpah itu agar tanggung jawabmu menjadi bebas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." IlmuNya meliputi lahir dan batinmu. Dia Maha-bijaksana terhadap seluruh makhluk dan menguasainya. Karena itu Dia mensyariatkan hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi kalian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِيُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثٗا ﴿ "Dan ingat-lah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa." Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa istri yang dimaksud adalah Hafshah, Ummul Mukminin i. Rasulullah a membisikkan suatu rahasia padanya dan diperintah-kan agar tidak diberitahukan pada siapa pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia itu kepada Aisyah i dan Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan hal itu kepada Rasulullah a. Kemudian Rasulullah a memberitahukan pada Hafshah sebagian yang dikatakannya dan menyembunyikan sebagian lainnya, karena sifat mulia dan kesa-baran Rasulullah a. Hafshah bertanya, ﴾ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَاۖ ﴿ "Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu," yakni kabar yang tidak kami sebarkan itu? ﴾ قَالَ نَبَّأَنِيَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." Yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dia mengetahui yang rahasia dan yang samar. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ ﴿ "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)," pembicaraan ini diarahkan pada kedua istri mulia Rasulullah a, Hafshah dan Aisyah p, yang menjadi sebab Rasulullah a mengharamkan dirinya dari sesuatu yang dia senangi. Allah سبحانه وتعالى menawarkan taubat untuk keduanya serta menegur keduanya atas peristiwa itu seraya memberitahukan pada keduanya bahwa hati keduanya telah condong pada sikap yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menjaga diri, sopan dan menghormati Rasulullah a serta agar tidak membebani Rasulullah a. ﴾ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi," maksudnya, saling bahu-membahu untuk membebani Rasulullah a dan hal ini terus kalian berdua lakukan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿ "maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik, dan selain itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula." Maksudnya, semuanya adalah penolong yang akan membelanya. Siapa saja yang memiliki penolong seperti mereka itu, maka dialah yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan, sedangkan yang lain meski memusuhinya tetap akan kalah. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah a, pemimpin para rasul, karena Allah Yang Maha Pencipta menjadikan DiriNya dan makh-luk-makhlukNya yang istimewa menjadi penolong Rasulullah a. Dalam hal ini juga terdapat peringatan yang jelas untuk kedua istri mulia tersebut. (5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam keduanya dengan se-suatu yang amat memberatkan bagi para istri yaitu talak yang me-rupakan hal terbesar bagi mereka seraya berfirman, ﴾ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ ﴿ "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu." Maksudnya, janganlah kalian menyusahkan Nabi a, sebab andai dia menceraikan kalian, hal itu tidak akan membuatnya susah dan dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kalian. Karena Allah سبحانه وتعالى akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kalian dari segi agama dan kecantikan. Hal ini dikaitkan de-ngan sesuatu, yang jika sesuatu itu tidak ada atau tidak terjadi, maka hal tersebut tidak berlaku. Maksudnya, Rasulullah a tidak menceraikan keduanya, sebab andai keduanya dicerai, tentu Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan sifat-sifat baik kedua istri tersebut yang me-madukan antara Islam dengan menunaikan syariat-syariat yang zahir, keimanan dengan menunaikan syariat-syariat batin seperti akidah-akidah dan amalan hati dan senantiasa taat. ﴾ تَٰٓئِبَٰتٍ ﴿ "Yang bertaubat," dari segala sesuatu yang tidak disenangi Allah سبحانه وتعالى. Kedua istri mulia Rasulullah a tersebut disifati sebagai sosok yang menu-naikan amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan bertaubat dari amalan yang tidak disukai Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ﴿ "Yang janda dan yang pera-wan." Maksudnya, ada yang janda dan ada yang perawan, agar Rasulullah a bisa memilih apa pun yang beliau senangi. Ketika keduanya mendengar ancaman dan didikan ini, mereka langsung melakukan amalan yang membuat Rasulullah a ridha. Sifat tersebut di atas cocok dan berlaku pada kedua istri mulia Rasulullah a ini sehingga mereka berdua adalah wanita-wanita Mukmin terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu me-milihkan kondisi dan keputusan terbaik bagi Rasulullah a. Karena Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuk Rasulullah a agar tetap mempertahan-kan istri-istrinya, hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah istri-istri paling baik dan paling sempurna.

At-Tahrim 66:2

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pem-bicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembica-raan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, 'Siapa-kah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk mene-rima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepa-danya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 1-5). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini merupakan teguran Allah سبحانه وتعالى untuk Nabi Muhammad a ketika mengharamkan Mariyah atau meminum madu atas diri-nya demi menjaga perasaan sebagian istrinya dalam kisah yang masyhur.[122] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat-ayat ini. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ﴿ "Hai Nabi," maksudnya, wahai Nabi yang diberi karunia oleh Allah سبحانه وتعالى berupa kenabian, kerasulan, dan wahyu, ﴾ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "me-ngapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu." Yakni, mengapa engkau mengharamkan kebaikan-kebaikan yang diberi-kan Allah سبحانه وتعالى padamu dan umatmu. ﴾ تَبۡتَغِي ﴿ "Kamu mencari," dengan pengharaman itu ﴾ مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini adalah pene-gasan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni RasulNya, menghapus teguran, dan menyayangi beliau. (2) Pengharaman yang bersumber dari Nabi Muhammad a itu menjadi sebab disyariatkannya hukum secara umum untuk seluruh umat, kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu," dan ini berlaku pada sumpah kaum Mukminin secara umum. Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan dan menentukan ke-tetapan yang bisa menghapus sumpah kalian sebelum dilanggar serta tebusan yang harus ditunaikan apabila sumpah itu dilanggar. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 87 وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 88 لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." (Al-Ma`idah: 87-89). Setiap orang yang mengharamkan sesuatu yang halal, baik berupa makanan, minuman ataupun sahaya wanita maupun ber-sumpah atas nama Allah سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kemudian dilanggar, maka harus membayar kaffarat seperti tersebut di atas. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dan Allah adalah Pelindungmu," yakni yang melindungi segala urusanmu dan mendidikmu dengan baik dalam urusan Agama dan duniamu serta segala sesuatu yang bisa menghindarkanmu dari keburukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mewa-jibkanmu untuk melepaskan dirimu dari sumpah itu agar tanggung jawabmu menjadi bebas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." IlmuNya meliputi lahir dan batinmu. Dia Maha-bijaksana terhadap seluruh makhluk dan menguasainya. Karena itu Dia mensyariatkan hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi kalian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِيُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثٗا ﴿ "Dan ingat-lah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa." Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa istri yang dimaksud adalah Hafshah, Ummul Mukminin i. Rasulullah a membisikkan suatu rahasia padanya dan diperintah-kan agar tidak diberitahukan pada siapa pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia itu kepada Aisyah i dan Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan hal itu kepada Rasulullah a. Kemudian Rasulullah a memberitahukan pada Hafshah sebagian yang dikatakannya dan menyembunyikan sebagian lainnya, karena sifat mulia dan kesa-baran Rasulullah a. Hafshah bertanya, ﴾ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَاۖ ﴿ "Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu," yakni kabar yang tidak kami sebarkan itu? ﴾ قَالَ نَبَّأَنِيَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." Yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dia mengetahui yang rahasia dan yang samar. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ ﴿ "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)," pembicaraan ini diarahkan pada kedua istri mulia Rasulullah a, Hafshah dan Aisyah p, yang menjadi sebab Rasulullah a mengharamkan dirinya dari sesuatu yang dia senangi. Allah سبحانه وتعالى menawarkan taubat untuk keduanya serta menegur keduanya atas peristiwa itu seraya memberitahukan pada keduanya bahwa hati keduanya telah condong pada sikap yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menjaga diri, sopan dan menghormati Rasulullah a serta agar tidak membebani Rasulullah a. ﴾ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi," maksudnya, saling bahu-membahu untuk membebani Rasulullah a dan hal ini terus kalian berdua lakukan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿ "maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik, dan selain itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula." Maksudnya, semuanya adalah penolong yang akan membelanya. Siapa saja yang memiliki penolong seperti mereka itu, maka dialah yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan, sedangkan yang lain meski memusuhinya tetap akan kalah. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah a, pemimpin para rasul, karena Allah Yang Maha Pencipta menjadikan DiriNya dan makh-luk-makhlukNya yang istimewa menjadi penolong Rasulullah a. Dalam hal ini juga terdapat peringatan yang jelas untuk kedua istri mulia tersebut. (5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam keduanya dengan se-suatu yang amat memberatkan bagi para istri yaitu talak yang me-rupakan hal terbesar bagi mereka seraya berfirman, ﴾ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ ﴿ "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu." Maksudnya, janganlah kalian menyusahkan Nabi a, sebab andai dia menceraikan kalian, hal itu tidak akan membuatnya susah dan dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kalian. Karena Allah سبحانه وتعالى akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kalian dari segi agama dan kecantikan. Hal ini dikaitkan de-ngan sesuatu, yang jika sesuatu itu tidak ada atau tidak terjadi, maka hal tersebut tidak berlaku. Maksudnya, Rasulullah a tidak menceraikan keduanya, sebab andai keduanya dicerai, tentu Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan sifat-sifat baik kedua istri tersebut yang me-madukan antara Islam dengan menunaikan syariat-syariat yang zahir, keimanan dengan menunaikan syariat-syariat batin seperti akidah-akidah dan amalan hati dan senantiasa taat. ﴾ تَٰٓئِبَٰتٍ ﴿ "Yang bertaubat," dari segala sesuatu yang tidak disenangi Allah سبحانه وتعالى. Kedua istri mulia Rasulullah a tersebut disifati sebagai sosok yang menu-naikan amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan bertaubat dari amalan yang tidak disukai Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ﴿ "Yang janda dan yang pera-wan." Maksudnya, ada yang janda dan ada yang perawan, agar Rasulullah a bisa memilih apa pun yang beliau senangi. Ketika keduanya mendengar ancaman dan didikan ini, mereka langsung melakukan amalan yang membuat Rasulullah a ridha. Sifat tersebut di atas cocok dan berlaku pada kedua istri mulia Rasulullah a ini sehingga mereka berdua adalah wanita-wanita Mukmin terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu me-milihkan kondisi dan keputusan terbaik bagi Rasulullah a. Karena Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuk Rasulullah a agar tetap mempertahan-kan istri-istrinya, hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah istri-istri paling baik dan paling sempurna.

At-Tahrim 66:3

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pem-bicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembica-raan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, 'Siapa-kah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk mene-rima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepa-danya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 1-5). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini merupakan teguran Allah سبحانه وتعالى untuk Nabi Muhammad a ketika mengharamkan Mariyah atau meminum madu atas diri-nya demi menjaga perasaan sebagian istrinya dalam kisah yang masyhur.[122] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat-ayat ini. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ﴿ "Hai Nabi," maksudnya, wahai Nabi yang diberi karunia oleh Allah سبحانه وتعالى berupa kenabian, kerasulan, dan wahyu, ﴾ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "me-ngapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu." Yakni, mengapa engkau mengharamkan kebaikan-kebaikan yang diberi-kan Allah سبحانه وتعالى padamu dan umatmu. ﴾ تَبۡتَغِي ﴿ "Kamu mencari," dengan pengharaman itu ﴾ مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini adalah pene-gasan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni RasulNya, menghapus teguran, dan menyayangi beliau. (2) Pengharaman yang bersumber dari Nabi Muhammad a itu menjadi sebab disyariatkannya hukum secara umum untuk seluruh umat, kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu," dan ini berlaku pada sumpah kaum Mukminin secara umum. Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan dan menentukan ke-tetapan yang bisa menghapus sumpah kalian sebelum dilanggar serta tebusan yang harus ditunaikan apabila sumpah itu dilanggar. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 87 وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 88 لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." (Al-Ma`idah: 87-89). Setiap orang yang mengharamkan sesuatu yang halal, baik berupa makanan, minuman ataupun sahaya wanita maupun ber-sumpah atas nama Allah سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kemudian dilanggar, maka harus membayar kaffarat seperti tersebut di atas. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dan Allah adalah Pelindungmu," yakni yang melindungi segala urusanmu dan mendidikmu dengan baik dalam urusan Agama dan duniamu serta segala sesuatu yang bisa menghindarkanmu dari keburukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mewa-jibkanmu untuk melepaskan dirimu dari sumpah itu agar tanggung jawabmu menjadi bebas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." IlmuNya meliputi lahir dan batinmu. Dia Maha-bijaksana terhadap seluruh makhluk dan menguasainya. Karena itu Dia mensyariatkan hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi kalian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِيُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثٗا ﴿ "Dan ingat-lah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa." Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa istri yang dimaksud adalah Hafshah, Ummul Mukminin i. Rasulullah a membisikkan suatu rahasia padanya dan diperintah-kan agar tidak diberitahukan pada siapa pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia itu kepada Aisyah i dan Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan hal itu kepada Rasulullah a. Kemudian Rasulullah a memberitahukan pada Hafshah sebagian yang dikatakannya dan menyembunyikan sebagian lainnya, karena sifat mulia dan kesa-baran Rasulullah a. Hafshah bertanya, ﴾ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَاۖ ﴿ "Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu," yakni kabar yang tidak kami sebarkan itu? ﴾ قَالَ نَبَّأَنِيَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." Yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dia mengetahui yang rahasia dan yang samar. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ ﴿ "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)," pembicaraan ini diarahkan pada kedua istri mulia Rasulullah a, Hafshah dan Aisyah p, yang menjadi sebab Rasulullah a mengharamkan dirinya dari sesuatu yang dia senangi. Allah سبحانه وتعالى menawarkan taubat untuk keduanya serta menegur keduanya atas peristiwa itu seraya memberitahukan pada keduanya bahwa hati keduanya telah condong pada sikap yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menjaga diri, sopan dan menghormati Rasulullah a serta agar tidak membebani Rasulullah a. ﴾ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi," maksudnya, saling bahu-membahu untuk membebani Rasulullah a dan hal ini terus kalian berdua lakukan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿ "maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik, dan selain itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula." Maksudnya, semuanya adalah penolong yang akan membelanya. Siapa saja yang memiliki penolong seperti mereka itu, maka dialah yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan, sedangkan yang lain meski memusuhinya tetap akan kalah. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah a, pemimpin para rasul, karena Allah Yang Maha Pencipta menjadikan DiriNya dan makh-luk-makhlukNya yang istimewa menjadi penolong Rasulullah a. Dalam hal ini juga terdapat peringatan yang jelas untuk kedua istri mulia tersebut. (5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam keduanya dengan se-suatu yang amat memberatkan bagi para istri yaitu talak yang me-rupakan hal terbesar bagi mereka seraya berfirman, ﴾ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ ﴿ "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu." Maksudnya, janganlah kalian menyusahkan Nabi a, sebab andai dia menceraikan kalian, hal itu tidak akan membuatnya susah dan dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kalian. Karena Allah سبحانه وتعالى akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kalian dari segi agama dan kecantikan. Hal ini dikaitkan de-ngan sesuatu, yang jika sesuatu itu tidak ada atau tidak terjadi, maka hal tersebut tidak berlaku. Maksudnya, Rasulullah a tidak menceraikan keduanya, sebab andai keduanya dicerai, tentu Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan sifat-sifat baik kedua istri tersebut yang me-madukan antara Islam dengan menunaikan syariat-syariat yang zahir, keimanan dengan menunaikan syariat-syariat batin seperti akidah-akidah dan amalan hati dan senantiasa taat. ﴾ تَٰٓئِبَٰتٍ ﴿ "Yang bertaubat," dari segala sesuatu yang tidak disenangi Allah سبحانه وتعالى. Kedua istri mulia Rasulullah a tersebut disifati sebagai sosok yang menu-naikan amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan bertaubat dari amalan yang tidak disukai Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ﴿ "Yang janda dan yang pera-wan." Maksudnya, ada yang janda dan ada yang perawan, agar Rasulullah a bisa memilih apa pun yang beliau senangi. Ketika keduanya mendengar ancaman dan didikan ini, mereka langsung melakukan amalan yang membuat Rasulullah a ridha. Sifat tersebut di atas cocok dan berlaku pada kedua istri mulia Rasulullah a ini sehingga mereka berdua adalah wanita-wanita Mukmin terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu me-milihkan kondisi dan keputusan terbaik bagi Rasulullah a. Karena Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuk Rasulullah a agar tetap mempertahan-kan istri-istrinya, hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah istri-istri paling baik dan paling sempurna.

At-Tahrim 66:4

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pem-bicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembica-raan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, 'Siapa-kah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk mene-rima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepa-danya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 1-5). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini merupakan teguran Allah سبحانه وتعالى untuk Nabi Muhammad a ketika mengharamkan Mariyah atau meminum madu atas diri-nya demi menjaga perasaan sebagian istrinya dalam kisah yang masyhur.[122] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat-ayat ini. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ﴿ "Hai Nabi," maksudnya, wahai Nabi yang diberi karunia oleh Allah سبحانه وتعالى berupa kenabian, kerasulan, dan wahyu, ﴾ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "me-ngapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu." Yakni, mengapa engkau mengharamkan kebaikan-kebaikan yang diberi-kan Allah سبحانه وتعالى padamu dan umatmu. ﴾ تَبۡتَغِي ﴿ "Kamu mencari," dengan pengharaman itu ﴾ مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini adalah pene-gasan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni RasulNya, menghapus teguran, dan menyayangi beliau. (2) Pengharaman yang bersumber dari Nabi Muhammad a itu menjadi sebab disyariatkannya hukum secara umum untuk seluruh umat, kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu," dan ini berlaku pada sumpah kaum Mukminin secara umum. Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan dan menentukan ke-tetapan yang bisa menghapus sumpah kalian sebelum dilanggar serta tebusan yang harus ditunaikan apabila sumpah itu dilanggar. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 87 وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 88 لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." (Al-Ma`idah: 87-89). Setiap orang yang mengharamkan sesuatu yang halal, baik berupa makanan, minuman ataupun sahaya wanita maupun ber-sumpah atas nama Allah سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kemudian dilanggar, maka harus membayar kaffarat seperti tersebut di atas. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dan Allah adalah Pelindungmu," yakni yang melindungi segala urusanmu dan mendidikmu dengan baik dalam urusan Agama dan duniamu serta segala sesuatu yang bisa menghindarkanmu dari keburukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mewa-jibkanmu untuk melepaskan dirimu dari sumpah itu agar tanggung jawabmu menjadi bebas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." IlmuNya meliputi lahir dan batinmu. Dia Maha-bijaksana terhadap seluruh makhluk dan menguasainya. Karena itu Dia mensyariatkan hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi kalian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِيُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثٗا ﴿ "Dan ingat-lah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa." Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa istri yang dimaksud adalah Hafshah, Ummul Mukminin i. Rasulullah a membisikkan suatu rahasia padanya dan diperintah-kan agar tidak diberitahukan pada siapa pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia itu kepada Aisyah i dan Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan hal itu kepada Rasulullah a. Kemudian Rasulullah a memberitahukan pada Hafshah sebagian yang dikatakannya dan menyembunyikan sebagian lainnya, karena sifat mulia dan kesa-baran Rasulullah a. Hafshah bertanya, ﴾ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَاۖ ﴿ "Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu," yakni kabar yang tidak kami sebarkan itu? ﴾ قَالَ نَبَّأَنِيَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." Yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dia mengetahui yang rahasia dan yang samar. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ ﴿ "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)," pembicaraan ini diarahkan pada kedua istri mulia Rasulullah a, Hafshah dan Aisyah p, yang menjadi sebab Rasulullah a mengharamkan dirinya dari sesuatu yang dia senangi. Allah سبحانه وتعالى menawarkan taubat untuk keduanya serta menegur keduanya atas peristiwa itu seraya memberitahukan pada keduanya bahwa hati keduanya telah condong pada sikap yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menjaga diri, sopan dan menghormati Rasulullah a serta agar tidak membebani Rasulullah a. ﴾ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi," maksudnya, saling bahu-membahu untuk membebani Rasulullah a dan hal ini terus kalian berdua lakukan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿ "maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik, dan selain itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula." Maksudnya, semuanya adalah penolong yang akan membelanya. Siapa saja yang memiliki penolong seperti mereka itu, maka dialah yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan, sedangkan yang lain meski memusuhinya tetap akan kalah. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah a, pemimpin para rasul, karena Allah Yang Maha Pencipta menjadikan DiriNya dan makh-luk-makhlukNya yang istimewa menjadi penolong Rasulullah a. Dalam hal ini juga terdapat peringatan yang jelas untuk kedua istri mulia tersebut. (5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam keduanya dengan se-suatu yang amat memberatkan bagi para istri yaitu talak yang me-rupakan hal terbesar bagi mereka seraya berfirman, ﴾ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ ﴿ "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu." Maksudnya, janganlah kalian menyusahkan Nabi a, sebab andai dia menceraikan kalian, hal itu tidak akan membuatnya susah dan dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kalian. Karena Allah سبحانه وتعالى akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kalian dari segi agama dan kecantikan. Hal ini dikaitkan de-ngan sesuatu, yang jika sesuatu itu tidak ada atau tidak terjadi, maka hal tersebut tidak berlaku. Maksudnya, Rasulullah a tidak menceraikan keduanya, sebab andai keduanya dicerai, tentu Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan sifat-sifat baik kedua istri tersebut yang me-madukan antara Islam dengan menunaikan syariat-syariat yang zahir, keimanan dengan menunaikan syariat-syariat batin seperti akidah-akidah dan amalan hati dan senantiasa taat. ﴾ تَٰٓئِبَٰتٍ ﴿ "Yang bertaubat," dari segala sesuatu yang tidak disenangi Allah سبحانه وتعالى. Kedua istri mulia Rasulullah a tersebut disifati sebagai sosok yang menu-naikan amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan bertaubat dari amalan yang tidak disukai Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ﴿ "Yang janda dan yang pera-wan." Maksudnya, ada yang janda dan ada yang perawan, agar Rasulullah a bisa memilih apa pun yang beliau senangi. Ketika keduanya mendengar ancaman dan didikan ini, mereka langsung melakukan amalan yang membuat Rasulullah a ridha. Sifat tersebut di atas cocok dan berlaku pada kedua istri mulia Rasulullah a ini sehingga mereka berdua adalah wanita-wanita Mukmin terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu me-milihkan kondisi dan keputusan terbaik bagi Rasulullah a. Karena Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuk Rasulullah a agar tetap mempertahan-kan istri-istrinya, hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah istri-istri paling baik dan paling sempurna.

At-Tahrim 66:5

"Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada Aisyah), dan Allah memberitahukan hal itu (semua pem-bicaraan antara Hafshah dengan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembica-raan (antara Hafshah dan Aisyah) lalu Hafshah bertanya, 'Siapa-kah yang memberitahukan hal ini kepadamu?' Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.' Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk mene-rima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepa-danya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan." (At-Tahrim: 1-5). Madaniyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Ini merupakan teguran Allah سبحانه وتعالى untuk Nabi Muhammad a ketika mengharamkan Mariyah atau meminum madu atas diri-nya demi menjaga perasaan sebagian istrinya dalam kisah yang masyhur.[122] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menurunkan ayat-ayat ini. ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِيُّ ﴿ "Hai Nabi," maksudnya, wahai Nabi yang diberi karunia oleh Allah سبحانه وتعالى berupa kenabian, kerasulan, dan wahyu, ﴾ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكَۖ ﴿ "me-ngapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu." Yakni, mengapa engkau mengharamkan kebaikan-kebaikan yang diberi-kan Allah سبحانه وتعالى padamu dan umatmu. ﴾ تَبۡتَغِي ﴿ "Kamu mencari," dengan pengharaman itu ﴾ مَرۡضَاتَ أَزۡوَٰجِكَۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ﴿ "kesenangan hati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Ini adalah pene-gasan bahwa Allah سبحانه وتعالى mengampuni RasulNya, menghapus teguran, dan menyayangi beliau. (2) Pengharaman yang bersumber dari Nabi Muhammad a itu menjadi sebab disyariatkannya hukum secara umum untuk seluruh umat, kemudian Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قَدۡ فَرَضَ ٱللَّهُ لَكُمۡ تَحِلَّةَ أَيۡمَٰنِكُمۡۚ ﴿ "Sungguh Allah telah mewajibkan kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu," dan ini berlaku pada sumpah kaum Mukminin secara umum. Maksudnya, Allah سبحانه وتعالى mensyariatkan dan menentukan ke-tetapan yang bisa menghapus sumpah kalian sebelum dilanggar serta tebusan yang harus ditunaikan apabila sumpah itu dilanggar. Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُحَرِّمُواْ طَيِّبَٰتِ مَآ أَحَلَّ ٱللَّهُ لَكُمۡ وَلَا تَعۡتَدُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُعۡتَدِينَ 87 وَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلٗا طَيِّبٗاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤۡمِنُونَ 88 لَا يُؤَاخِذُكُمُ ٱللَّهُ بِٱللَّغۡوِ فِيٓ أَيۡمَٰنِكُمۡ وَلَٰكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ ٱلۡأَيۡمَٰنَۖ فَكَفَّٰرَتُهُۥٓ إِطۡعَامُ عَشَرَةِ مَسَٰكِينَ مِنۡ أَوۡسَطِ مَا تُطۡعِمُونَ أَهۡلِيكُمۡ أَوۡ كِسۡوَتُهُمۡ أَوۡ تَحۡرِيرُ رَقَبَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ ثَلَٰثَةِ أَيَّامٖۚ ذَٰلِكَ كَفَّٰرَةُ إِذَا حَلَفۡتُمۡۚ ﴿ "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya adalah puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar)." (Al-Ma`idah: 87-89). Setiap orang yang mengharamkan sesuatu yang halal, baik berupa makanan, minuman ataupun sahaya wanita maupun ber-sumpah atas nama Allah سبحانه وتعالى untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu kemudian dilanggar, maka harus membayar kaffarat seperti tersebut di atas. Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَٱللَّهُ مَوۡلَىٰكُمۡۖ ﴿ "Dan Allah adalah Pelindungmu," yakni yang melindungi segala urusanmu dan mendidikmu dengan baik dalam urusan Agama dan duniamu serta segala sesuatu yang bisa menghindarkanmu dari keburukan. Karena itu Allah سبحانه وتعالى mewa-jibkanmu untuk melepaskan dirimu dari sumpah itu agar tanggung jawabmu menjadi bebas. ﴾ وَهُوَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡحَكِيمُ ﴿ "Dan Dia Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." IlmuNya meliputi lahir dan batinmu. Dia Maha-bijaksana terhadap seluruh makhluk dan menguasainya. Karena itu Dia mensyariatkan hukum-hukum yang Dia ketahui sesuai dengan kemaslahatan dan kondisi kalian. (3) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَإِذۡ أَسَرَّ ٱلنَّبِيُّ إِلَىٰ بَعۡضِ أَزۡوَٰجِهِۦ حَدِيثٗا ﴿ "Dan ingat-lah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya suatu peristiwa." Kebanyakan ahli tafsir menyatakan bahwa istri yang dimaksud adalah Hafshah, Ummul Mukminin i. Rasulullah a membisikkan suatu rahasia padanya dan diperintah-kan agar tidak diberitahukan pada siapa pun. Ternyata Hafshah menceritakan rahasia itu kepada Aisyah i dan Allah سبحانه وتعالى memberi-tahukan hal itu kepada Rasulullah a. Kemudian Rasulullah a memberitahukan pada Hafshah sebagian yang dikatakannya dan menyembunyikan sebagian lainnya, karena sifat mulia dan kesa-baran Rasulullah a. Hafshah bertanya, ﴾ مَنۡ أَنۢبَأَكَ هَٰذَاۖ ﴿ "Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu," yakni kabar yang tidak kami sebarkan itu? ﴾ قَالَ نَبَّأَنِيَ ٱلۡعَلِيمُ ٱلۡخَبِيرُ ﴿ "Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." Yang tidak ada sesuatu pun yang samar bagiNya. Dia mengetahui yang rahasia dan yang samar. (4) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدۡ صَغَتۡ قُلُوبُكُمَاۖ ﴿ "Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan)," pembicaraan ini diarahkan pada kedua istri mulia Rasulullah a, Hafshah dan Aisyah p, yang menjadi sebab Rasulullah a mengharamkan dirinya dari sesuatu yang dia senangi. Allah سبحانه وتعالى menawarkan taubat untuk keduanya serta menegur keduanya atas peristiwa itu seraya memberitahukan pada keduanya bahwa hati keduanya telah condong pada sikap yang seharusnya mereka lakukan, yaitu menjaga diri, sopan dan menghormati Rasulullah a serta agar tidak membebani Rasulullah a. ﴾ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيۡهِ ﴿ "Dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusah-kan Nabi," maksudnya, saling bahu-membahu untuk membebani Rasulullah a dan hal ini terus kalian berdua lakukan, ﴾ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوۡلَىٰهُ وَجِبۡرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَعۡدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ ﴿ "maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik, dan selain itu malaikat-malaikat lain adalah penolongnya pula." Maksudnya, semuanya adalah penolong yang akan membelanya. Siapa saja yang memiliki penolong seperti mereka itu, maka dialah yang mendapatkan pertolongan dan kemenangan, sedangkan yang lain meski memusuhinya tetap akan kalah. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Rasulullah a, pemimpin para rasul, karena Allah Yang Maha Pencipta menjadikan DiriNya dan makh-luk-makhlukNya yang istimewa menjadi penolong Rasulullah a. Dalam hal ini juga terdapat peringatan yang jelas untuk kedua istri mulia tersebut. (5) Kemudian Allah سبحانه وتعالى mengancam keduanya dengan se-suatu yang amat memberatkan bagi para istri yaitu talak yang me-rupakan hal terbesar bagi mereka seraya berfirman, ﴾ عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبۡدِلَهُۥٓ أَزۡوَٰجًا خَيۡرٗا مِّنكُنَّ ﴿ "Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Rabbnya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu." Maksudnya, janganlah kalian menyusahkan Nabi a, sebab andai dia menceraikan kalian, hal itu tidak akan membuatnya susah dan dia tidak melakukan tindakan yang membahayakan kalian. Karena Allah سبحانه وتعالى akan memberinya ganti istri-istri yang lebih baik dari kalian dari segi agama dan kecantikan. Hal ini dikaitkan de-ngan sesuatu, yang jika sesuatu itu tidak ada atau tidak terjadi, maka hal tersebut tidak berlaku. Maksudnya, Rasulullah a tidak menceraikan keduanya, sebab andai keduanya dicerai, tentu Allah سبحانه وتعالى tidak menyebutkan sifat-sifat baik kedua istri tersebut yang me-madukan antara Islam dengan menunaikan syariat-syariat yang zahir, keimanan dengan menunaikan syariat-syariat batin seperti akidah-akidah dan amalan hati dan senantiasa taat. ﴾ تَٰٓئِبَٰتٍ ﴿ "Yang bertaubat," dari segala sesuatu yang tidak disenangi Allah سبحانه وتعالى. Kedua istri mulia Rasulullah a tersebut disifati sebagai sosok yang menu-naikan amalan yang disukai Allah سبحانه وتعالى dan bertaubat dari amalan yang tidak disukai Allah سبحانه وتعالى. ﴾ ثَيِّبَٰتٖ وَأَبۡكَارٗا ﴿ "Yang janda dan yang pera-wan." Maksudnya, ada yang janda dan ada yang perawan, agar Rasulullah a bisa memilih apa pun yang beliau senangi. Ketika keduanya mendengar ancaman dan didikan ini, mereka langsung melakukan amalan yang membuat Rasulullah a ridha. Sifat tersebut di atas cocok dan berlaku pada kedua istri mulia Rasulullah a ini sehingga mereka berdua adalah wanita-wanita Mukmin terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa Allah سبحانه وتعالى selalu me-milihkan kondisi dan keputusan terbaik bagi Rasulullah a. Karena Allah سبحانه وتعالى memilihkan untuk Rasulullah a agar tetap mempertahan-kan istri-istrinya, hal itu menunjukkan bahwa mereka adalah istri-istri paling baik dan paling sempurna.

At-Tahrim 66:6

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintah-kan." (At-Tahrim: 6). (6) Maksudnya, hai orang yang diberi karunia berupa ke-imanan oleh Allah سبحانه وتعالى, tunaikanlah tuntutan dan syarat keimanan. Maka ﴾ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا ﴿ "peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka," yang memiliki ciri-ciri mengerikan. Menjaga diri dengan menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى dan menjauhi laranganNya serta bertaubat dari perbuatan yang membuat Allah سبحانه وتعالى murka dan meng-undang azab serta menjaga keluarga dan anak-anak dengan cara mendidik, mengajarkan serta memaksa mereka untuk menunaikan perintah-perintah Allah سبحانه وتعالى. Seorang hamba tidak akan selamat hingga menunaikan perintah Allah سبحانه وتعالى terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya seperti istri dan anak, serta yang lainnya yang berada di bawah kekuasaannya. Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifat-sifat neraka seperti itu agar hamba-hambaNya tidak menyepelekan perintah-perintahNya. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ ﴿ "Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." Ini semakna dengan Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 ﴿ "Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, ada-lah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya." (Al-Anbiya`: 98). ﴾ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ ﴿ "Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras," maksudnya, watak mereka keras, gertakan mereka amat keras, suara mereka menakutkan apa pun yang mereka lihat, menyiksa penghuni neraka dengan kekuatan mereka dan mereka melakukan perintah Allah سبحانه وتعالى yang mengharuskan menyiksa pen-duduk neraka dengan sekeras-kerasnya.﴾ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ﴿ "Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Dalam ayat ini juga terdapat pujian bagi para malaikat mulia, kepatuhan mereka terhadap perintah Allah سبحانه وتعالى, dan ketaatan mereka dalam segala sesuatu yang diperintahkan pada mereka.

At-Tahrim 66:7

"Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan udzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan." (At-Tahrim: 7). (7) Penghuni neraka pada Hari Kiamat dicela sedemikian rupa, dikatakan pada mereka, ﴾ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَا تَعۡتَذِرُواْ ٱلۡيَوۡمَۖ ﴿ "Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan udzur pada hari ini," karena waktu mengemukakan udzur sudah tidak ada dan sudah tidak lagi berguna. Yang tersisa sekarang hanyalah pembalasan atas amal perbuatan. Yang kalian persembahkan hanyalah kekufuran terhadap Allah سبحانه وتعالى, mendustakan tanda-tanda kebesaranNya, dan memerangi para rasul serta para kekasih Allah سبحانه وتعالى.

At-Tahrim 66:8

"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka meman-car di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka menga-takan, 'Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas se-gala sesuatu'." (At-Tahrim: 8). (8) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan untuk bertaubat dengan sung-guh-sungguh dalam ayat ini, menjanjikan penghapusan kesalahan-kesalahan, dimasukkan ke dalam surga dan mendapatkan kebe-runtungan dan kemenangan pada saat orang-orang yang beriman berjalan dengan cahaya keimanan pada Hari Kiamat. Mereka me-nikmati rizki dan kenikmatan. Mereka berbelas kasih pada orang-orang munafik ketika cahaya mereka dipadamkan. Orang-orang Mukmin meminta agar cahaya mereka disempurnakan. Allah سبحانه وتعالى mengabulkan permintaan mereka dan Allah سبحانه وتعالى mengantarkan mereka beserta cahaya dan keyakinan yang ada pada diri mereka menuju surga penuh kenikmatan dan berada di dekat Rabb Yang Mahamulia. Ini semua adalah buah dari taubat yang sungguh-sungguh. Dan yang dimaksudkan adalah taubat secara umum, mencakup seluruh dosa yang dilakukan oleh hamba Allah سبحانه وتعالى yang hanya dilakukan semata-mata mengharap bertemu dengan Allah سبحانه وتعالى serta berada dekat denganNya. Taubat terus menerus dilakukan di seluruh hal-ihwalnya.

At-Tahrim 66:9

"Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah Neraka Jahanam, dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." (At-Tahrim: 9). (9) Allah سبحانه وتعالى memerintahkan NabiNya a, untuk memerangi orang-orang kafir dan munafik serta bersikap kasar terhadap me-reka pada saat memerangi mereka. Ini mencakup berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik dengan menegakkan hujjah, me-nyeru mereka dengan tutur kata yang baik, meruntuhkan berbagai kebatilan yang ada pada mereka serta memerangi dengan senjata bagi yang tidak menerima seruan Allah سبحانه وتعالى dan tidak tunduk pada hukumNya. Orang seperti ini harus diperangi dan diperlakukan secara kasar. Tingkatan pertama harus dengan menggunakan cara yang baik. Orang-orang kafir dan munafik ketika di dunia menda-patkan siksaan berupa kekuasaan RasulNya atas mereka serta ke-kuasaan golongan Allah سبحانه وتعالى atas mereka dan mereka juga diperangi. Di akhirat mereka mendapatkan siksa neraka, ﴾ وَبِئۡسَ ٱلۡمَصِيرُ ﴿ "dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali." Ke tempat itulah semua orang sengsara dan rugi kembali.

At-Tahrim 66:10

"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpama-an bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).' Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman, ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatan-nya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.' Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya; dan dia ter-masuk orang-orang yang taat." (At-Tahrim: 10-12). (10) Kedua perumpamaan ini dibuat oleh Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir adalah untuk menjelaskan kepada mereka bahwa hubungan dan kedekatan orang kafir dengan orang Mukmin sama sekali tidak berguna dan hubungan antara orang Mukmin dan orang kafir sama sekali tidak memudaratkannya apabila orang bersangkutan tetap menunaikan kewajibannya. Sepertinya dalam ayat ini terdapat isyarat dan pe-ringatan untuk para istri-istri Rasulullah a dari kemaksiatan, dan bahwa hubungan mereka dengan Rasulullah a tidak akan berguna bagi mereka jika mereka menyakiti beliau, seraya berfirman, ﴾ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٖ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٖۖ كَانَتَا ﴿ "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya," maksudnya, kedua wanita itu, ﴾ تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ ﴿ "berada di bawah penga-wasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami," yaitu Nabi Nuh dan Nabi Luth عليهما السلام, ﴾ فَخَانَتَاهُمَا ﴿ "lalu kedua istri itu ber-khianat kepada kedua suaminya" di dalam agama, karena keduanya tidak memeluk agama suami masing-masing. Dan inilah yang dimaksud dengan pengkhianatan sebenar-nya, bukan pengkhianatan nasab maupun hubungan suami-istri, karena tidak ada satu pun istri nabi yang membangkang. Dan Allah سبحانه وتعالى tidak menjadikan seorang pun istri nabi melakukan kekejian. ﴾ فَلَمۡ يُغۡنِيَا ﴿ "Maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu," yaitu Nuh dan Luth عليهما السلام, ﴾ عَنۡهُمَا ﴿ "mereka berdua," yakni kedua istrinya, ﴾ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗا وَقِيلَ ﴿ "sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya)," yakni kepada kedua istrinya, ﴾ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ ﴿ "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (11) ﴾ وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman," namanya Asia binti Muzahim i, ﴾ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim'." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya sebagai sosok beriman, tunduk pada Rabbnya dan memohon permintaan tertinggi, yaitu masuk surga dan berada di dekat Rabb Yang Mahamulia serta memohon agar diselamatkan dari fitnah Fir'aun serta perbuatan-perbuatan busuk-nya serta fitnah semua orang yang zhalim. Dan Allah سبحانه وتعالى mengabul-kan permintaannya. Asia pun hidup dalam keimanan sempurna dan kokoh, serta selamat dari berbagai fitnah. Karena itu Rasulullah a bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Banyak dari kalangan lelaki yang sempurna, dan yang sempurna dari kalangan wanita hanya Maryam binti Imran, Asia binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita laksana keutamaan daging yang dibungkus adonan gandum (yang meru-pakan makanan paling berkelas kala itu) atas seluruh makanan."[123] (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya," yaitu menjaga-nya dari kekejian karena kesempurnaan agama, penjagaan diri, dan kesuciannya, ﴾ فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا ﴿ "maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami," di mana Jibril عليه السلام me-niupkan ruh ke kerah bajunya dan tiupan itu sampai ke Maryam kemudian dari situ lahirlah Nabi Isa عليه السلام, sosok rasul mulia dan pemimpin besar. ﴾ وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ ﴿ "Dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya." Maryam memiliki sifat berilmu dan berpengetahuan, karena membenarkan kalimat Allah سبحانه وتعالى men-cakup Firman-firman agama dan takdir, sedangkan membenarkan kitab-kitabNya mengharuskan adanya pengetahuan yang bisa me-munculkan sikap pembenaran. Kedua hal ini tidak bisa dilakukan tanpa ilmu dan amal. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ ﴿ "Dan dia termasuk orang-orang yang taat," yaitu orang yang senantiasa taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan rasa takut dan khusyu.' Kesempurnaan amal inilah sifat Maryam. Dia adalah sosok yang membenarkan. Dan orang yang membenarkan itu memiliki kesempurnaan ilmu dan amal. Selesai tafsir Surat at-Tahrim. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى.

At-Tahrim 66:11

"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpama-an bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).' Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman, ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatan-nya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.' Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya; dan dia ter-masuk orang-orang yang taat." (At-Tahrim: 10-12). (10) Kedua perumpamaan ini dibuat oleh Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir adalah untuk menjelaskan kepada mereka bahwa hubungan dan kedekatan orang kafir dengan orang Mukmin sama sekali tidak berguna dan hubungan antara orang Mukmin dan orang kafir sama sekali tidak memudaratkannya apabila orang bersangkutan tetap menunaikan kewajibannya. Sepertinya dalam ayat ini terdapat isyarat dan pe-ringatan untuk para istri-istri Rasulullah a dari kemaksiatan, dan bahwa hubungan mereka dengan Rasulullah a tidak akan berguna bagi mereka jika mereka menyakiti beliau, seraya berfirman, ﴾ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٖ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٖۖ كَانَتَا ﴿ "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya," maksudnya, kedua wanita itu, ﴾ تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ ﴿ "berada di bawah penga-wasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami," yaitu Nabi Nuh dan Nabi Luth عليهما السلام, ﴾ فَخَانَتَاهُمَا ﴿ "lalu kedua istri itu ber-khianat kepada kedua suaminya" di dalam agama, karena keduanya tidak memeluk agama suami masing-masing. Dan inilah yang dimaksud dengan pengkhianatan sebenar-nya, bukan pengkhianatan nasab maupun hubungan suami-istri, karena tidak ada satu pun istri nabi yang membangkang. Dan Allah سبحانه وتعالى tidak menjadikan seorang pun istri nabi melakukan kekejian. ﴾ فَلَمۡ يُغۡنِيَا ﴿ "Maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu," yaitu Nuh dan Luth عليهما السلام, ﴾ عَنۡهُمَا ﴿ "mereka berdua," yakni kedua istrinya, ﴾ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗا وَقِيلَ ﴿ "sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya)," yakni kepada kedua istrinya, ﴾ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ ﴿ "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (11) ﴾ وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman," namanya Asia binti Muzahim i, ﴾ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim'." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya sebagai sosok beriman, tunduk pada Rabbnya dan memohon permintaan tertinggi, yaitu masuk surga dan berada di dekat Rabb Yang Mahamulia serta memohon agar diselamatkan dari fitnah Fir'aun serta perbuatan-perbuatan busuk-nya serta fitnah semua orang yang zhalim. Dan Allah سبحانه وتعالى mengabul-kan permintaannya. Asia pun hidup dalam keimanan sempurna dan kokoh, serta selamat dari berbagai fitnah. Karena itu Rasulullah a bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Banyak dari kalangan lelaki yang sempurna, dan yang sempurna dari kalangan wanita hanya Maryam binti Imran, Asia binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita laksana keutamaan daging yang dibungkus adonan gandum (yang meru-pakan makanan paling berkelas kala itu) atas seluruh makanan."[123] (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya," yaitu menjaga-nya dari kekejian karena kesempurnaan agama, penjagaan diri, dan kesuciannya, ﴾ فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا ﴿ "maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami," di mana Jibril عليه السلام me-niupkan ruh ke kerah bajunya dan tiupan itu sampai ke Maryam kemudian dari situ lahirlah Nabi Isa عليه السلام, sosok rasul mulia dan pemimpin besar. ﴾ وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ ﴿ "Dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya." Maryam memiliki sifat berilmu dan berpengetahuan, karena membenarkan kalimat Allah سبحانه وتعالى men-cakup Firman-firman agama dan takdir, sedangkan membenarkan kitab-kitabNya mengharuskan adanya pengetahuan yang bisa me-munculkan sikap pembenaran. Kedua hal ini tidak bisa dilakukan tanpa ilmu dan amal. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ ﴿ "Dan dia termasuk orang-orang yang taat," yaitu orang yang senantiasa taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan rasa takut dan khusyu.' Kesempurnaan amal inilah sifat Maryam. Dia adalah sosok yang membenarkan. Dan orang yang membenarkan itu memiliki kesempurnaan ilmu dan amal. Selesai tafsir Surat at-Tahrim. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى.

At-Tahrim 66:12

"Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpama-an bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya), 'Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).' Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman, ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatan-nya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.' Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami; dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya; dan dia ter-masuk orang-orang yang taat." (At-Tahrim: 10-12). (10) Kedua perumpamaan ini dibuat oleh Allah سبحانه وتعالى untuk orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir adalah untuk menjelaskan kepada mereka bahwa hubungan dan kedekatan orang kafir dengan orang Mukmin sama sekali tidak berguna dan hubungan antara orang Mukmin dan orang kafir sama sekali tidak memudaratkannya apabila orang bersangkutan tetap menunaikan kewajibannya. Sepertinya dalam ayat ini terdapat isyarat dan pe-ringatan untuk para istri-istri Rasulullah a dari kemaksiatan, dan bahwa hubungan mereka dengan Rasulullah a tidak akan berguna bagi mereka jika mereka menyakiti beliau, seraya berfirman, ﴾ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱمۡرَأَتَ نُوحٖ وَٱمۡرَأَتَ لُوطٖۖ كَانَتَا ﴿ "Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya," maksudnya, kedua wanita itu, ﴾ تَحۡتَ عَبۡدَيۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَٰلِحَيۡنِ ﴿ "berada di bawah penga-wasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami," yaitu Nabi Nuh dan Nabi Luth عليهما السلام, ﴾ فَخَانَتَاهُمَا ﴿ "lalu kedua istri itu ber-khianat kepada kedua suaminya" di dalam agama, karena keduanya tidak memeluk agama suami masing-masing. Dan inilah yang dimaksud dengan pengkhianatan sebenar-nya, bukan pengkhianatan nasab maupun hubungan suami-istri, karena tidak ada satu pun istri nabi yang membangkang. Dan Allah سبحانه وتعالى tidak menjadikan seorang pun istri nabi melakukan kekejian. ﴾ فَلَمۡ يُغۡنِيَا ﴿ "Maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu," yaitu Nuh dan Luth عليهما السلام, ﴾ عَنۡهُمَا ﴿ "mereka berdua," yakni kedua istrinya, ﴾ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡـٔٗا وَقِيلَ ﴿ "sedikitpun dari (siksa) Allah, dan dikatakan (kepada keduanya)," yakni kepada kedua istrinya, ﴾ ٱدۡخُلَا ٱلنَّارَ مَعَ ٱلدَّٰخِلِينَ ﴿ "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)." (11) ﴾ وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ ﴿ "Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang yang beriman," namanya Asia binti Muzahim i, ﴾ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ﴿ "ketika ia berkata, 'Ya Rabbku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim'." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sifatnya sebagai sosok beriman, tunduk pada Rabbnya dan memohon permintaan tertinggi, yaitu masuk surga dan berada di dekat Rabb Yang Mahamulia serta memohon agar diselamatkan dari fitnah Fir'aun serta perbuatan-perbuatan busuk-nya serta fitnah semua orang yang zhalim. Dan Allah سبحانه وتعالى mengabul-kan permintaannya. Asia pun hidup dalam keimanan sempurna dan kokoh, serta selamat dari berbagai fitnah. Karena itu Rasulullah a bersabda, كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيْرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَآسِيَةُ بِنْتُ مُزَاحِمٍ، وَخَدِيْجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ، وَفَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيْدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ. "Banyak dari kalangan lelaki yang sempurna, dan yang sempurna dari kalangan wanita hanya Maryam binti Imran, Asia binti Muzahim dan Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Aisyah atas seluruh wanita laksana keutamaan daging yang dibungkus adonan gandum (yang meru-pakan makanan paling berkelas kala itu) atas seluruh makanan."[123] (12) Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَمَرۡيَمَ ٱبۡنَتَ عِمۡرَٰنَ ٱلَّتِيٓ أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا ﴿ "Dan Maryam putri Imran yang memelihara kehormatannya," yaitu menjaga-nya dari kekejian karena kesempurnaan agama, penjagaan diri, dan kesuciannya, ﴾ فَنَفَخۡنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا ﴿ "maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami," di mana Jibril عليه السلام me-niupkan ruh ke kerah bajunya dan tiupan itu sampai ke Maryam kemudian dari situ lahirlah Nabi Isa عليه السلام, sosok rasul mulia dan pemimpin besar. ﴾ وَصَدَّقَتۡ بِكَلِمَٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ ﴿ "Dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-kitabNya." Maryam memiliki sifat berilmu dan berpengetahuan, karena membenarkan kalimat Allah سبحانه وتعالى men-cakup Firman-firman agama dan takdir, sedangkan membenarkan kitab-kitabNya mengharuskan adanya pengetahuan yang bisa me-munculkan sikap pembenaran. Kedua hal ini tidak bisa dilakukan tanpa ilmu dan amal. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَكَانَتۡ مِنَ ٱلۡقَٰنِتِينَ ﴿ "Dan dia termasuk orang-orang yang taat," yaitu orang yang senantiasa taat kepada Allah سبحانه وتعالى dengan rasa takut dan khusyu.' Kesempurnaan amal inilah sifat Maryam. Dia adalah sosok yang membenarkan. Dan orang yang membenarkan itu memiliki kesempurnaan ilmu dan amal. Selesai tafsir Surat at-Tahrim. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى.