Lafzullah

Tafsir As-Saadi - Indonesian — Al-Jinn 72:1 – Al-Muddassir 74:50

Penulis / sumber: Tafsir As-Saadi - Indonesian

Daftar isi
  1. Al-Jinn 72:1
  2. Al-Jinn 72:2
  3. Al-Jinn 72:3
  4. Al-Jinn 72:4
  5. Al-Jinn 72:5
  6. Al-Jinn 72:6
  7. Al-Jinn 72:7
  8. Al-Jinn 72:8
  9. Al-Jinn 72:9
  10. Al-Jinn 72:10
  11. Al-Jinn 72:12
  12. Al-Jinn 72:13
  13. Al-Jinn 72:14
  14. Al-Jinn 72:15
  15. Al-Jinn 72:16
  16. Al-Jinn 72:17
  17. Al-Jinn 72:18
  18. Al-Jinn 72:19
  19. Al-Jinn 72:20
  20. Al-Jinn 72:21
  21. Al-Jinn 72:22
  22. Al-Jinn 72:23
  23. Al-Jinn 72:24
  24. Al-Jinn 72:25
  25. Al-Jinn 72:26
  26. Al-Jinn 72:27
  27. Al-Jinn 72:28
  28. Al-Muzzammil 73:1
  29. Al-Muzzammil 73:2
  30. Al-Muzzammil 73:3
  31. Al-Muzzammil 73:4
  32. Al-Muzzammil 73:5
  33. Al-Muzzammil 73:6
  34. Al-Muzzammil 73:7
  35. Al-Muzzammil 73:8
  36. Al-Muzzammil 73:9
  37. Al-Muzzammil 73:10
  38. Al-Muzzammil 73:11
  39. Al-Muzzammil 73:12
  40. Al-Muzzammil 73:13
  41. Al-Muzzammil 73:14
  42. Al-Muzzammil 73:15
  43. Al-Muzzammil 73:16
  44. Al-Muzzammil 73:17
  45. Al-Muzzammil 73:18
  46. Al-Muzzammil 73:19
  47. Al-Muzzammil 73:20
  48. Al-Muddassir 74:1
  49. Al-Muddassir 74:2
  50. Al-Muddassir 74:3
  51. Al-Muddassir 74:4
  52. Al-Muddassir 74:5
  53. Al-Muddassir 74:6
  54. Al-Muddassir 74:7
  55. Al-Muddassir 74:8
  56. Al-Muddassir 74:9
  57. Al-Muddassir 74:10
  58. Al-Muddassir 74:11
  59. Al-Muddassir 74:12
  60. Al-Muddassir 74:13
  61. Al-Muddassir 74:14
  62. Al-Muddassir 74:15
  63. Al-Muddassir 74:16
  64. Al-Muddassir 74:17
  65. Al-Muddassir 74:18
  66. Al-Muddassir 74:19
  67. Al-Muddassir 74:20
  68. Al-Muddassir 74:21
  69. Al-Muddassir 74:22
  70. Al-Muddassir 74:23
  71. Al-Muddassir 74:24
  72. Al-Muddassir 74:25
  73. Al-Muddassir 74:26
  74. Al-Muddassir 74:27
  75. Al-Muddassir 74:28
  76. Al-Muddassir 74:29
  77. Al-Muddassir 74:30
  78. Al-Muddassir 74:31
  79. Al-Muddassir 74:32
  80. Al-Muddassir 74:33
  81. Al-Muddassir 74:34
  82. Al-Muddassir 74:35
  83. Al-Muddassir 74:36
  84. Al-Muddassir 74:37
  85. Al-Muddassir 74:38
  86. Al-Muddassir 74:39
  87. Al-Muddassir 74:40
  88. Al-Muddassir 74:41
  89. Al-Muddassir 74:42
  90. Al-Muddassir 74:43
  91. Al-Muddassir 74:44
  92. Al-Muddassir 74:45
  93. Al-Muddassir 74:46
  94. Al-Muddassir 74:47
  95. Al-Muddassir 74:48
  96. Al-Muddassir 74:49
  97. Al-Muddassir 74:50

Al-Jinn 72:1

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepada-ku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami, dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah'." (Al-Jin: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah," wahai Rasul kepada ma-nusia, ﴾ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ ﴿ "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an)." Allah سبحانه وتعالى mengalih-kan mereka kepada RasulNya untuk mendengarkan tanda-tanda kebesaranNya agar hujjah tegak atas mereka, agar nikmat sem-purna atas mereka dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk mengisahkan berita tentang jin tersebut kepada manusia. Yaitu ketika mereka mendekat kepada beliau, lalu mereka berkata, "Diamlah kalian." Ketika mereka menyimak dengan seksama, mereka memahami makna-maknanya dan hakikat-hakikatnya merasuk ke dalam hati mereka, ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا ﴿ "lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan'," yakni, salah satu keajaiban tinggi dan tuntutan luhur. (2) ﴾ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ﴿ "(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar." Petunjuk adalah kata umum untuk segala sesuatu yang mengarahkan manusia pada kebaikan dunia dan Agama mereka. ﴾ فَـَٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ﴿ "Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami." Me-reka menyatukan antara keimanan yang mencakup seluruh amal baik dengan ketakwaan yang mencakup meninggalkan keburukan. Mereka menjadikan faktor yang mendorong mereka pada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan yang mereka kerjakan berkat petunjuk-petunjuk al-Qur`an serta segala sesuatu yang mencakup berbagai kemaslahatan, faidah, dan meninggal-kan bahaya. Hal itu merupakan tanda-tanda kebesaran dan hujjah pasti bagi orang yang menjadikannya sebagai cahaya dan petunjuk. Iman yang berguna dan membuahkan berbagai kebaikan ini terba-ngun di atas hidayah al-Qur`an. Tidak seperti keimanan pengikut tradisi dan persaudaraan, karena keimanan seperti ini adalah iman ikut-ikutan di bawah bahaya syubhat dan berbagai macam peng-halang. (3) ﴾ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا ﴿ "Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami," yakni, luhur keagunganNya dan suci nama-namaNya. ﴾ مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ﴿ "Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak." Mereka me-ngetahui kemuliaan dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan mereka atas batilnya orang yang mengira bahwa Allah memiliki pendamping (istri) dan anak, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki keagungan dan keluruhan, setiap sifatNya sempurna. Sedangkan memiliki pasangan dan anak menafikan hal itu, karena bertentangan dengan sempurnanya keesaanNya (yang tidak memerlukan yang lain). (4) ﴾ وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا ﴿ "Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah," yakni, perkataan lalim dari kebenaran dan menerjang batas. Yang menyebabkan hal itu adalah kebodohan dan kelemahan akalnya, sebab andai yang bersangkutan teguh dan tenang, pasti ia memahami apa yang diucapkan.

Al-Jinn 72:2

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepada-ku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami, dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah'." (Al-Jin: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah," wahai Rasul kepada ma-nusia, ﴾ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ ﴿ "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an)." Allah سبحانه وتعالى mengalih-kan mereka kepada RasulNya untuk mendengarkan tanda-tanda kebesaranNya agar hujjah tegak atas mereka, agar nikmat sem-purna atas mereka dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk mengisahkan berita tentang jin tersebut kepada manusia. Yaitu ketika mereka mendekat kepada beliau, lalu mereka berkata, "Diamlah kalian." Ketika mereka menyimak dengan seksama, mereka memahami makna-maknanya dan hakikat-hakikatnya merasuk ke dalam hati mereka, ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا ﴿ "lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan'," yakni, salah satu keajaiban tinggi dan tuntutan luhur. (2) ﴾ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ﴿ "(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar." Petunjuk adalah kata umum untuk segala sesuatu yang mengarahkan manusia pada kebaikan dunia dan Agama mereka. ﴾ فَـَٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ﴿ "Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami." Me-reka menyatukan antara keimanan yang mencakup seluruh amal baik dengan ketakwaan yang mencakup meninggalkan keburukan. Mereka menjadikan faktor yang mendorong mereka pada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan yang mereka kerjakan berkat petunjuk-petunjuk al-Qur`an serta segala sesuatu yang mencakup berbagai kemaslahatan, faidah, dan meninggal-kan bahaya. Hal itu merupakan tanda-tanda kebesaran dan hujjah pasti bagi orang yang menjadikannya sebagai cahaya dan petunjuk. Iman yang berguna dan membuahkan berbagai kebaikan ini terba-ngun di atas hidayah al-Qur`an. Tidak seperti keimanan pengikut tradisi dan persaudaraan, karena keimanan seperti ini adalah iman ikut-ikutan di bawah bahaya syubhat dan berbagai macam peng-halang. (3) ﴾ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا ﴿ "Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami," yakni, luhur keagunganNya dan suci nama-namaNya. ﴾ مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ﴿ "Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak." Mereka me-ngetahui kemuliaan dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan mereka atas batilnya orang yang mengira bahwa Allah memiliki pendamping (istri) dan anak, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki keagungan dan keluruhan, setiap sifatNya sempurna. Sedangkan memiliki pasangan dan anak menafikan hal itu, karena bertentangan dengan sempurnanya keesaanNya (yang tidak memerlukan yang lain). (4) ﴾ وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا ﴿ "Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah," yakni, perkataan lalim dari kebenaran dan menerjang batas. Yang menyebabkan hal itu adalah kebodohan dan kelemahan akalnya, sebab andai yang bersangkutan teguh dan tenang, pasti ia memahami apa yang diucapkan.

Al-Jinn 72:3

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepada-ku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami, dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah'." (Al-Jin: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah," wahai Rasul kepada ma-nusia, ﴾ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ ﴿ "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an)." Allah سبحانه وتعالى mengalih-kan mereka kepada RasulNya untuk mendengarkan tanda-tanda kebesaranNya agar hujjah tegak atas mereka, agar nikmat sem-purna atas mereka dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk mengisahkan berita tentang jin tersebut kepada manusia. Yaitu ketika mereka mendekat kepada beliau, lalu mereka berkata, "Diamlah kalian." Ketika mereka menyimak dengan seksama, mereka memahami makna-maknanya dan hakikat-hakikatnya merasuk ke dalam hati mereka, ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا ﴿ "lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan'," yakni, salah satu keajaiban tinggi dan tuntutan luhur. (2) ﴾ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ﴿ "(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar." Petunjuk adalah kata umum untuk segala sesuatu yang mengarahkan manusia pada kebaikan dunia dan Agama mereka. ﴾ فَـَٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ﴿ "Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami." Me-reka menyatukan antara keimanan yang mencakup seluruh amal baik dengan ketakwaan yang mencakup meninggalkan keburukan. Mereka menjadikan faktor yang mendorong mereka pada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan yang mereka kerjakan berkat petunjuk-petunjuk al-Qur`an serta segala sesuatu yang mencakup berbagai kemaslahatan, faidah, dan meninggal-kan bahaya. Hal itu merupakan tanda-tanda kebesaran dan hujjah pasti bagi orang yang menjadikannya sebagai cahaya dan petunjuk. Iman yang berguna dan membuahkan berbagai kebaikan ini terba-ngun di atas hidayah al-Qur`an. Tidak seperti keimanan pengikut tradisi dan persaudaraan, karena keimanan seperti ini adalah iman ikut-ikutan di bawah bahaya syubhat dan berbagai macam peng-halang. (3) ﴾ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا ﴿ "Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami," yakni, luhur keagunganNya dan suci nama-namaNya. ﴾ مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ﴿ "Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak." Mereka me-ngetahui kemuliaan dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan mereka atas batilnya orang yang mengira bahwa Allah memiliki pendamping (istri) dan anak, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki keagungan dan keluruhan, setiap sifatNya sempurna. Sedangkan memiliki pasangan dan anak menafikan hal itu, karena bertentangan dengan sempurnanya keesaanNya (yang tidak memerlukan yang lain). (4) ﴾ وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا ﴿ "Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah," yakni, perkataan lalim dari kebenaran dan menerjang batas. Yang menyebabkan hal itu adalah kebodohan dan kelemahan akalnya, sebab andai yang bersangkutan teguh dan tenang, pasti ia memahami apa yang diucapkan.

Al-Jinn 72:4

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Telah diwahyukan kepada-ku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an), lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami, dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami, Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak. Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah'." (Al-Jin: 1-4). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1) Maksudnya, ﴾ قُلۡ ﴿ "katakanlah," wahai Rasul kepada ma-nusia, ﴾ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ ٱسۡتَمَعَ نَفَرٞ مِّنَ ٱلۡجِنِّ ﴿ "Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur`an)." Allah سبحانه وتعالى mengalih-kan mereka kepada RasulNya untuk mendengarkan tanda-tanda kebesaranNya agar hujjah tegak atas mereka, agar nikmat sem-purna atas mereka dan agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya untuk mengisahkan berita tentang jin tersebut kepada manusia. Yaitu ketika mereka mendekat kepada beliau, lalu mereka berkata, "Diamlah kalian." Ketika mereka menyimak dengan seksama, mereka memahami makna-maknanya dan hakikat-hakikatnya merasuk ke dalam hati mereka, ﴾ فَقَالُوٓاْ إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا ﴿ "lalu mereka berkata, 'Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur`an yang menakjubkan'," yakni, salah satu keajaiban tinggi dan tuntutan luhur. (2) ﴾ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ﴿ "(Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar." Petunjuk adalah kata umum untuk segala sesuatu yang mengarahkan manusia pada kebaikan dunia dan Agama mereka. ﴾ فَـَٔامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ﴿ "Lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami." Me-reka menyatukan antara keimanan yang mencakup seluruh amal baik dengan ketakwaan yang mencakup meninggalkan keburukan. Mereka menjadikan faktor yang mendorong mereka pada keimanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan keimanan yang mereka kerjakan berkat petunjuk-petunjuk al-Qur`an serta segala sesuatu yang mencakup berbagai kemaslahatan, faidah, dan meninggal-kan bahaya. Hal itu merupakan tanda-tanda kebesaran dan hujjah pasti bagi orang yang menjadikannya sebagai cahaya dan petunjuk. Iman yang berguna dan membuahkan berbagai kebaikan ini terba-ngun di atas hidayah al-Qur`an. Tidak seperti keimanan pengikut tradisi dan persaudaraan, karena keimanan seperti ini adalah iman ikut-ikutan di bawah bahaya syubhat dan berbagai macam peng-halang. (3) ﴾ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا ﴿ "Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Rabb kami," yakni, luhur keagunganNya dan suci nama-namaNya. ﴾ مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ﴿ "Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak." Mereka me-ngetahui kemuliaan dan keagungan Allah سبحانه وتعالى yang menunjukkan mereka atas batilnya orang yang mengira bahwa Allah memiliki pendamping (istri) dan anak, karena Allah سبحانه وتعالى memiliki keagungan dan keluruhan, setiap sifatNya sempurna. Sedangkan memiliki pasangan dan anak menafikan hal itu, karena bertentangan dengan sempurnanya keesaanNya (yang tidak memerlukan yang lain). (4) ﴾ وَأَنَّهُۥ كَانَ يَقُولُ سَفِيهُنَا عَلَى ٱللَّهِ شَطَطٗا ﴿ "Dan bahwasanya, orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang me-lampaui batas terhadap Allah," yakni, perkataan lalim dari kebenaran dan menerjang batas. Yang menyebabkan hal itu adalah kebodohan dan kelemahan akalnya, sebab andai yang bersangkutan teguh dan tenang, pasti ia memahami apa yang diucapkan.

Al-Jinn 72:5

"Dan kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta atas nama Allah." (Al-Jin: 5). (5) Maksudnya, kami sebelumnya tertipu. Dan yang menipu kami adalah para penguasa dan pemimpin dari kalangan jin dan manusia. Kami berbaik sangka pada mereka dan kami mengira mereka tidak akan berani berdusta atas nama Allah سبحانه وتعالى, karena itu-lah kami mengikuti mereka sebelumnya. Maka pada hari ini, karena kebenaran telah jelas bagi kami, kami mengikuti Nabi Muhammad a, kami taat pada beliau dan kami tidak mempedulikan perkataan siapa pun yang bertentangan dengan petunjuk.

Al-Jinn 72:6

"Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan." (Al-Jin: 6). (6) Maksudnya, orang-orang biasa meminta perlindungan pada jin ketika merasa takut dan gentar. Mereka menyembahnya sehingga manusia semakin membuat jin bersalah karena melam-paui batas dan takabbur ketika jin melihat manusia menyembah dan meminta perlindungan pada mereka. Kemungkinan kata ganti kembali pada ﴾ ٱلۡجِنِّ ﴿ "jin," artinya jin semakin menambah takut manusia ketika melihat manusia meminta perlindungan pada mereka agar mendorong mereka untuk berlin-dung pada jin dan berpegang teguh di atas cara itu. Itulah sebab-nya, dulu bila ada seseorang melintasi lembah yang menakutkan, ia berkata, "Aku berlindung pada penguasa lembah ini dari oknum-oknum bodoh dari kaumnya."

Al-Jinn 72:7

"Dan bahwa mereka (jin) menyangka sebagaimana persang-kaan kamu (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun, dan bahwa kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapati-nya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan bahwa kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi seka-rang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)." (Al-Jin: 7-9). (7) Maksudnya, ketika mereka mengingkari Hari Kebang-kitan, mereka melakukan kesyirikan dan tindakan yang melampaui batas. (8-9) ﴾ وَأَنَّا لَمَسۡنَا ٱلسَّمَآءَ ﴿ "Dan bahwa kami telah mencoba mengeta-hui (rahasia) langit," yakni, mendatanginya dan kami mencobanya, ﴾ فَوَجَدۡنَٰهَا مُلِئَتۡ حَرَسٗا شَدِيدٗا ﴿ "maka kami mendapatinya penuh dengan pen-jagaan yang kuat," untuk bisa mencapai tepi dan mendekatinya sekalipun, ﴾ وَشُهُبٗا ﴿ "dan panah-panah api" dilemparkan pada jin yang mencuri pendengaran. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan kami sebelumnya. Dulu kami mampu untuk mencapai berita langit, dan ﴾ كُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمۡعِۖ ﴿ "kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya)," sehingga kami pun banyak menukil berita-berita langit. ﴾ فَمَن يَسۡتَمِعِ ٱلۡأٓنَ يَجِدۡ لَهُۥ شِهَابٗا رَّصَدٗا ﴿ "Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengar-kan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)," yakni mengintai dan siap untuk membinasakan dan membakarnya. Dan ini merupakan sesuatu yang besar dan berita yang agung. Mereka memastikan bahwa Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu kejadian besar di muka bumi, baik kejadian buruk ataupun baik. Karena itu para jin itu berkata, (10) Maksudnya, pasti ini atau itu yang akan terjadi karena mereka melihat adanya perubahan besar. Mereka mengetahui bahwa hal ini dikehendaki dan akan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى di atas muka bumi dengan kepintaran mereka. Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang etika sopan santun mereka ketika mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah سبحانه وتعالى sedangkan mereka tidak menyebutkan subyek keburukan sebagai wujud etika terhadap Allah سبحانه وتعالى.

Al-Jinn 72:8

"Dan bahwa mereka (jin) menyangka sebagaimana persang-kaan kamu (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun, dan bahwa kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapati-nya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan bahwa kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi seka-rang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)." (Al-Jin: 7-9). (7) Maksudnya, ketika mereka mengingkari Hari Kebang-kitan, mereka melakukan kesyirikan dan tindakan yang melampaui batas. (8-9) ﴾ وَأَنَّا لَمَسۡنَا ٱلسَّمَآءَ ﴿ "Dan bahwa kami telah mencoba mengeta-hui (rahasia) langit," yakni, mendatanginya dan kami mencobanya, ﴾ فَوَجَدۡنَٰهَا مُلِئَتۡ حَرَسٗا شَدِيدٗا ﴿ "maka kami mendapatinya penuh dengan pen-jagaan yang kuat," untuk bisa mencapai tepi dan mendekatinya sekalipun, ﴾ وَشُهُبٗا ﴿ "dan panah-panah api" dilemparkan pada jin yang mencuri pendengaran. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan kami sebelumnya. Dulu kami mampu untuk mencapai berita langit, dan ﴾ كُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمۡعِۖ ﴿ "kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya)," sehingga kami pun banyak menukil berita-berita langit. ﴾ فَمَن يَسۡتَمِعِ ٱلۡأٓنَ يَجِدۡ لَهُۥ شِهَابٗا رَّصَدٗا ﴿ "Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengar-kan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)," yakni mengintai dan siap untuk membinasakan dan membakarnya. Dan ini merupakan sesuatu yang besar dan berita yang agung. Mereka memastikan bahwa Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu kejadian besar di muka bumi, baik kejadian buruk ataupun baik. Karena itu para jin itu berkata, (10) Maksudnya, pasti ini atau itu yang akan terjadi karena mereka melihat adanya perubahan besar. Mereka mengetahui bahwa hal ini dikehendaki dan akan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى di atas muka bumi dengan kepintaran mereka. Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang etika sopan santun mereka ketika mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah سبحانه وتعالى sedangkan mereka tidak menyebutkan subyek keburukan sebagai wujud etika terhadap Allah سبحانه وتعالى.

Al-Jinn 72:9

"Dan bahwa mereka (jin) menyangka sebagaimana persang-kaan kamu (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun, dan bahwa kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapati-nya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan bahwa kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi seka-rang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)." (Al-Jin: 7-9). (7) Maksudnya, ketika mereka mengingkari Hari Kebang-kitan, mereka melakukan kesyirikan dan tindakan yang melampaui batas. (8-9) ﴾ وَأَنَّا لَمَسۡنَا ٱلسَّمَآءَ ﴿ "Dan bahwa kami telah mencoba mengeta-hui (rahasia) langit," yakni, mendatanginya dan kami mencobanya, ﴾ فَوَجَدۡنَٰهَا مُلِئَتۡ حَرَسٗا شَدِيدٗا ﴿ "maka kami mendapatinya penuh dengan pen-jagaan yang kuat," untuk bisa mencapai tepi dan mendekatinya sekalipun, ﴾ وَشُهُبٗا ﴿ "dan panah-panah api" dilemparkan pada jin yang mencuri pendengaran. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan kami sebelumnya. Dulu kami mampu untuk mencapai berita langit, dan ﴾ كُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمۡعِۖ ﴿ "kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya)," sehingga kami pun banyak menukil berita-berita langit. ﴾ فَمَن يَسۡتَمِعِ ٱلۡأٓنَ يَجِدۡ لَهُۥ شِهَابٗا رَّصَدٗا ﴿ "Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengar-kan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)," yakni mengintai dan siap untuk membinasakan dan membakarnya. Dan ini merupakan sesuatu yang besar dan berita yang agung. Mereka memastikan bahwa Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu kejadian besar di muka bumi, baik kejadian buruk ataupun baik. Karena itu para jin itu berkata, (10) Maksudnya, pasti ini atau itu yang akan terjadi karena mereka melihat adanya perubahan besar. Mereka mengetahui bahwa hal ini dikehendaki dan akan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى di atas muka bumi dengan kepintaran mereka. Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang etika sopan santun mereka ketika mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah سبحانه وتعالى sedangkan mereka tidak menyebutkan subyek keburukan sebagai wujud etika terhadap Allah سبحانه وتعالى.

Al-Jinn 72:10

"Dan bahwa mereka (jin) menyangka sebagaimana persang-kaan kamu (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun, dan bahwa kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapati-nya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan bahwa kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi seka-rang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)." (Al-Jin: 7-9). (7) Maksudnya, ketika mereka mengingkari Hari Kebang-kitan, mereka melakukan kesyirikan dan tindakan yang melampaui batas. (8-9) ﴾ وَأَنَّا لَمَسۡنَا ٱلسَّمَآءَ ﴿ "Dan bahwa kami telah mencoba mengeta-hui (rahasia) langit," yakni, mendatanginya dan kami mencobanya, ﴾ فَوَجَدۡنَٰهَا مُلِئَتۡ حَرَسٗا شَدِيدٗا ﴿ "maka kami mendapatinya penuh dengan pen-jagaan yang kuat," untuk bisa mencapai tepi dan mendekatinya sekalipun, ﴾ وَشُهُبٗا ﴿ "dan panah-panah api" dilemparkan pada jin yang mencuri pendengaran. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan kami sebelumnya. Dulu kami mampu untuk mencapai berita langit, dan ﴾ كُنَّا نَقۡعُدُ مِنۡهَا مَقَٰعِدَ لِلسَّمۡعِۖ ﴿ "kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya)," sehingga kami pun banyak menukil berita-berita langit. ﴾ فَمَن يَسۡتَمِعِ ٱلۡأٓنَ يَجِدۡ لَهُۥ شِهَابٗا رَّصَدٗا ﴿ "Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengar-kan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)," yakni mengintai dan siap untuk membinasakan dan membakarnya. Dan ini merupakan sesuatu yang besar dan berita yang agung. Mereka memastikan bahwa Allah سبحانه وتعالى menghendaki suatu kejadian besar di muka bumi, baik kejadian buruk ataupun baik. Karena itu para jin itu berkata, (10) Maksudnya, pasti ini atau itu yang akan terjadi karena mereka melihat adanya perubahan besar. Mereka mengetahui bahwa hal ini dikehendaki dan akan diberlakukan Allah سبحانه وتعالى di atas muka bumi dengan kepintaran mereka. Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang etika sopan santun mereka ketika mereka menyandarkan kebaikan kepada Allah سبحانه وتعالى sedangkan mereka tidak menyebutkan subyek keburukan sebagai wujud etika terhadap Allah سبحانه وتعالى.

Al-Jinn 72:12

"Dan kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)Nya dengan lari. Dan kami tatkala mendengarkan petunjuk (al-Qur`an) ter-sebut, kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (Al-Jin: 12-14). (12) Maksudnya, dan bahwasanya kami saat sekarang ini, telah jelas bagi kami akan sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى dan lemah-nya kami. Ubun-ubun kami berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu sekali-kali kami tidak akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah سبحانه وتعالى di muka bumi, sekali-kali pula tidak dapat melepaskan diri dariNya dan menguasakan berbagai sebab untuk dapat lari serta terlepas dari KuasaNya. Tidak ada tempat berlindung kecuali kepadaNya. (13) ﴾ وَأَنَّا لَمَّا سَمِعۡنَا ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan kami tatkala mendengarkan petun-juk (al-Qur`an) tersebut," yakni, al-Qur`an yang mulia yang menun-jukkan ke jalan yang lurus, kami mengetahui petunjuknya, mem-pengaruhi hati kami dan kami beriman padanya. Selanjutnya para jin menyebutkan apa yang mendorong orang beriman, ﴾ فَمَن يُؤۡمِنۢ بِرَبِّهِۦ فَلَا يَخَافُ بَخۡسٗا وَلَا رَهَقٗا ﴿ "Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan," yakni, siapa pun yang beriman kepadaNya de-ngan benar, pahalanya tidak akan dikurangi dan tidak akan disakiti oleh apa pun. Ketika selamat dari keburukan, ia mendapatkan ke-baikan. Iman adalah faktor yang mendorong untuk mendapatkan berbagai kebaikan dan menafikan segala keburukan. (14) ﴾ وَأَنَّا مِنَّا ٱلۡمُسۡلِمُونَ وَمِنَّا ٱلۡقَٰسِطُونَۖ ﴿ "Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebe-naran," yakni lalim dan menyimpang dari jalan yang haq, ﴾ فَمَنۡ أَسۡلَمَ فَأُوْلَٰٓئِكَ تَحَرَّوۡاْ رَشَدٗا ﴿ "barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus," artinya mereka menempuh jalan lurus yang menghantarkan mereka ke surga dengan segala kenikmatannya.

Al-Jinn 72:13

"Dan kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)Nya dengan lari. Dan kami tatkala mendengarkan petunjuk (al-Qur`an) ter-sebut, kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (Al-Jin: 12-14). (12) Maksudnya, dan bahwasanya kami saat sekarang ini, telah jelas bagi kami akan sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى dan lemah-nya kami. Ubun-ubun kami berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu sekali-kali kami tidak akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah سبحانه وتعالى di muka bumi, sekali-kali pula tidak dapat melepaskan diri dariNya dan menguasakan berbagai sebab untuk dapat lari serta terlepas dari KuasaNya. Tidak ada tempat berlindung kecuali kepadaNya. (13) ﴾ وَأَنَّا لَمَّا سَمِعۡنَا ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan kami tatkala mendengarkan petun-juk (al-Qur`an) tersebut," yakni, al-Qur`an yang mulia yang menun-jukkan ke jalan yang lurus, kami mengetahui petunjuknya, mem-pengaruhi hati kami dan kami beriman padanya. Selanjutnya para jin menyebutkan apa yang mendorong orang beriman, ﴾ فَمَن يُؤۡمِنۢ بِرَبِّهِۦ فَلَا يَخَافُ بَخۡسٗا وَلَا رَهَقٗا ﴿ "Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan," yakni, siapa pun yang beriman kepadaNya de-ngan benar, pahalanya tidak akan dikurangi dan tidak akan disakiti oleh apa pun. Ketika selamat dari keburukan, ia mendapatkan ke-baikan. Iman adalah faktor yang mendorong untuk mendapatkan berbagai kebaikan dan menafikan segala keburukan. (14) ﴾ وَأَنَّا مِنَّا ٱلۡمُسۡلِمُونَ وَمِنَّا ٱلۡقَٰسِطُونَۖ ﴿ "Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebe-naran," yakni lalim dan menyimpang dari jalan yang haq, ﴾ فَمَنۡ أَسۡلَمَ فَأُوْلَٰٓئِكَ تَحَرَّوۡاْ رَشَدٗا ﴿ "barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus," artinya mereka menempuh jalan lurus yang menghantarkan mereka ke surga dengan segala kenikmatannya.

Al-Jinn 72:14

"Dan kami mengetahui, bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (dari)Nya dengan lari. Dan kami tatkala mendengarkan petunjuk (al-Qur`an) ter-sebut, kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus." (Al-Jin: 12-14). (12) Maksudnya, dan bahwasanya kami saat sekarang ini, telah jelas bagi kami akan sempurnanya Kuasa Allah سبحانه وتعالى dan lemah-nya kami. Ubun-ubun kami berada di Tangan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu sekali-kali kami tidak akan dapat melepaskan diri dari kekuasaan Allah سبحانه وتعالى di muka bumi, sekali-kali pula tidak dapat melepaskan diri dariNya dan menguasakan berbagai sebab untuk dapat lari serta terlepas dari KuasaNya. Tidak ada tempat berlindung kecuali kepadaNya. (13) ﴾ وَأَنَّا لَمَّا سَمِعۡنَا ٱلۡهُدَىٰٓ ﴿ "Dan kami tatkala mendengarkan petun-juk (al-Qur`an) tersebut," yakni, al-Qur`an yang mulia yang menun-jukkan ke jalan yang lurus, kami mengetahui petunjuknya, mem-pengaruhi hati kami dan kami beriman padanya. Selanjutnya para jin menyebutkan apa yang mendorong orang beriman, ﴾ فَمَن يُؤۡمِنۢ بِرَبِّهِۦ فَلَا يَخَافُ بَخۡسٗا وَلَا رَهَقٗا ﴿ "Barangsiapa beriman kepada Rabbnya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan," yakni, siapa pun yang beriman kepadaNya de-ngan benar, pahalanya tidak akan dikurangi dan tidak akan disakiti oleh apa pun. Ketika selamat dari keburukan, ia mendapatkan ke-baikan. Iman adalah faktor yang mendorong untuk mendapatkan berbagai kebaikan dan menafikan segala keburukan. (14) ﴾ وَأَنَّا مِنَّا ٱلۡمُسۡلِمُونَ وَمِنَّا ٱلۡقَٰسِطُونَۖ ﴿ "Dan di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebe-naran," yakni lalim dan menyimpang dari jalan yang haq, ﴾ فَمَنۡ أَسۡلَمَ فَأُوْلَٰٓئِكَ تَحَرَّوۡاْ رَشَدٗا ﴿ "barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus," artinya mereka menempuh jalan lurus yang menghantarkan mereka ke surga dengan segala kenikmatannya.

Al-Jinn 72:15

"Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam. Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang ber-paling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat." (Al-Jin: 15-17). (15-17) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡقَٰسِطُونَ فَكَانُواْ لِجَهَنَّمَ حَطَبٗا ﴿ "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam." Hal itu sebagai balasan atas amal perbuatan mereka dan bukan kezhaliman Allah سبحانه وتعالى, sebab sesungguhnya, ﴾ وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ﴿ "jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)," yakni, lezat dan luas (banyak). Tidak ada yang menghalangi mereka dari hal itu selain kezhaliman dan permusuhan mereka. ﴾ لِّنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ ﴿ "Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya," yakni, agar Kami menguji mereka di dalamnya agar terlihat jelas siapa yang benar dan siapa yang ber-dusta. ﴾ وَمَن يُعۡرِضۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِۦ يَسۡلُكۡهُ عَذَابٗا صَعَدٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat," yakni barangsiapa yang berpaling dari peringatan Allah سبحانه وتعالى yaitu (yang tertuang dalam) KitabNya dan tidak mengikuti-nya, justru melalaikannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam siksaan yang amat berat.

Al-Jinn 72:16

"Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam. Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang ber-paling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat." (Al-Jin: 15-17). (15-17) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡقَٰسِطُونَ فَكَانُواْ لِجَهَنَّمَ حَطَبٗا ﴿ "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam." Hal itu sebagai balasan atas amal perbuatan mereka dan bukan kezhaliman Allah سبحانه وتعالى, sebab sesungguhnya, ﴾ وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ﴿ "jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)," yakni, lezat dan luas (banyak). Tidak ada yang menghalangi mereka dari hal itu selain kezhaliman dan permusuhan mereka. ﴾ لِّنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ ﴿ "Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya," yakni, agar Kami menguji mereka di dalamnya agar terlihat jelas siapa yang benar dan siapa yang ber-dusta. ﴾ وَمَن يُعۡرِضۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِۦ يَسۡلُكۡهُ عَذَابٗا صَعَدٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat," yakni barangsiapa yang berpaling dari peringatan Allah سبحانه وتعالى yaitu (yang tertuang dalam) KitabNya dan tidak mengikuti-nya, justru melalaikannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam siksaan yang amat berat.

Al-Jinn 72:17

"Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam. Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang ber-paling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat." (Al-Jin: 15-17). (15-17) ﴾ وَأَمَّا ٱلۡقَٰسِطُونَ فَكَانُواْ لِجَهَنَّمَ حَطَبٗا ﴿ "Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu (bahan bakar) bagi Neraka Jahanam." Hal itu sebagai balasan atas amal perbuatan mereka dan bukan kezhaliman Allah سبحانه وتعالى, sebab sesungguhnya, ﴾ وَأَلَّوِ ٱسۡتَقَٰمُواْ عَلَى ٱلطَّرِيقَةِ لَأَسۡقَيۡنَٰهُم مَّآءً غَدَقٗا ﴿ "jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak)," yakni, lezat dan luas (banyak). Tidak ada yang menghalangi mereka dari hal itu selain kezhaliman dan permusuhan mereka. ﴾ لِّنَفۡتِنَهُمۡ فِيهِۚ ﴿ "Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya," yakni, agar Kami menguji mereka di dalamnya agar terlihat jelas siapa yang benar dan siapa yang ber-dusta. ﴾ وَمَن يُعۡرِضۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِۦ يَسۡلُكۡهُ عَذَابٗا صَعَدٗا ﴿ "Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Rabbnya, niscaya akan dimasukkanNya ke dalam azab yang amat berat," yakni barangsiapa yang berpaling dari peringatan Allah سبحانه وتعالى yaitu (yang tertuang dalam) KitabNya dan tidak mengikuti-nya, justru melalaikannya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam siksaan yang amat berat.

Al-Jinn 72:18

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:19

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:20

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:21

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:22

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:23

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:24

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:25

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:26

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:27

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Jinn 72:28

"Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah, maka janganlah kamu berdoa kepada seseorang pun (di dalamnya) di samping (berdoa kepada) Allah. Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya (me-ngerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak-mendesak menge-rumuninya. Katakanlah, 'Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun denganNya.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan se-suatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu ke-manfaatan.' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku sekali-kali tiada se-orang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya. Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya.' Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, me-reka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, maka mereka akan mengetahui siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya. Katakanlah, 'Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu, masa yang panjang.' (Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak mem-perlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia menga-dakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa rasul-rasul itu sungguh telah me-nyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu-persatu." (Al-Jin: 18-28). (18) ﴾ وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا ﴿ "Dan bahwasanya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah." Yakni, tidak doa ibadah dan bukan pula doa permohonan karena masjid-masjid adalah tempat paling agung untuk beribadah yang dibangun di atas keikhlasan karena Allah سبحانه وتعالى semata serta tunduk pada ke-agungan dan keperkasaanNya. (19) ﴾ وَأَنَّهُۥ لَمَّا قَامَ عَبۡدُ ٱللَّهِ يَدۡعُوهُ ﴿ "Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembahNya," memohon dan menyembah-Nya serta membaca al-Qur`an, karena terlalu banyaknya mereka, ﴾ كَادُواْ يَكُونُونَ عَلَيۡهِ لِبَدٗا ﴿ "hampir saja jin-jin itu desak-mendesak mengerumuni-nya," yakni saling berdesakan untuk mendengarkan petunjuk yang ada di dalamnya. (20) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka wahai rasul, seraya menjelaskan hakikat apa yang kau serukan, ﴾ إِنَّمَآ أَدۡعُواْ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِهِۦٓ أَحَدٗا ﴿ "Sesungguhnya aku hanya berdoa kepada Rabbmu dan aku tidak mem-persekutukan sesuatu pun denganNya." Yakni, aku mengesakanNya semata, yang tidak ada sekutu bagiNya. Aku berlepas diri dari segala sekutu dan berhala, serta segala sesuatu yang dijadikan se-sembahan oleh kaum musyrikin selain Allah سبحانه وتعالى. (21-22) ﴾ قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا ﴿ "Katakanlah, 'Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan'." Yakni, aku hanyalah seorang hamba, aku tidak memiliki kuasa untuk mengatur dan bertindak atas segala sesuatu pun. ﴾ قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ ﴿ "Katakanlah, 'Sesung-guhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah'," yakni, tidak ada seorang pun yang bisa aku mintai perlindungan yang bisa menyelamatkanku dari siksaan Allah سبحانه وتعالى. Bila seorang rasul yang merupakan manusia terbaik tidak kuasa menimpakan bahaya dan memberi manfaat serta tidak bisa me-nangkal sesuatu keburukan dari Allah سبحانه وتعالى jika memang dikehen-daki, maka orang yang bukan rasul tentu lebih tidak bisa, ﴾ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا ﴿ "dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain dariNya," yakni tempat perlindungan dan memohon pertolongan. (23) ﴾ إِلَّا بَلَٰغٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِسَٰلَٰتِهِۦۚ ﴿ "Akan tetapi (aku hanya) menyampaikan (peringatan) dari Allah dan risalahNya," aku tidak memiliki keistime-waan atas manusia selain hanya karena Allah سبحانه وتعالى mengkhususkanku untuk menyampaikan risalah-risalahNya dan mendakwahi para hambaNya kepada Allah. Dengan demikian, tegaklah hujjah atas manusia. ﴾ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَإِنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ﴿ "Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yang di-maksud adalah maksiat kekufuran sebagaimana dibatasi oleh nash-nash tegas lainnya. Sedangkan kemaksiatan saja tidaklah membuat pelakunya kekal di dalam neraka sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits Nabi a, serta berdasarkan ijma' as-Salaf ash-Shalih dan para imam umat ini. (24) ﴾ حَتَّىٰٓ إِذَا رَأَوۡاْ مَا يُوعَدُونَ ﴿ "Sehingga apabila mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka," yakni menyaksikan dengan mata kepala dan memastikan akan menimpa mereka, ﴾ فَسَيَعۡلَمُونَ ﴿ "maka mereka akan mengetahui," pada saat itu dengan sebenar-benarnya, ﴾ مَنۡ أَضۡعَفُ نَاصِرٗا وَأَقَلُّ عَدَدٗا 24 ﴿ "siapakah yang lebih lemah penolongnya dan lebih sedikit bilangannya," ketika tidak ditolong oleh yang lain bah-kan dirinya sendiri tidak mendapatkan pertolongan kala mereka digiring seorang demi seorang sebagaimana mereka diciptakan pertama kalinya. (25-26) ﴾ قُلۡ ﴿ "Katakanlah" kepada mereka bila mereka ber-tanya padamu tentang kapankah terjadinya ancaman itu, ﴾ إِنۡ أَدۡرِيٓ أَقَرِيبٞ مَّا تُوعَدُونَ أَمۡ يَجۡعَلُ لَهُۥ رَبِّيٓ أَمَدًا ﴿ "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Rabbku menjadikan bagi (keda-tangan) azab itu, masa yang panjang," yakni, jarak waktu yang pan-jang. Pengetahuan mengenai hal itu hanya ada di sisi Allah سبحانه وتعالى. ﴾ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ﴿ "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu," hanya Allah سبحانه وتعالى sendiri yang mengetahui isi hati, rahasia, dan hal-hal ghaib. (27) ﴾ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٖ ﴿ "Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya," Allah سبحانه وتعالى memberitahunya sesuai tuntutan hikmahNya untuk memberitahukan, sebab rasul tidak seperti manusia lainnya. Allah سبحانه وتعالى meneguhkan mereka dengan penguat yang tidak diberikan pada orang lain dan Allah سبحانه وتعالى menjaga wahyu yang disampaikan padanya hingga para rasul bisa menyampaikannya pada manusia dengan sebenarnya tanpa didekati oleh para setan sehingga mereka me-ngurangi atau menambahi wahyu. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدٗا ﴿ "Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya," menjaganya berdasarkan perintah Allah سبحانه وتعالى. (28) ﴾ لِّيَعۡلَمَ ﴿ "Supaya Dia mengetahui" dengan hal itu, ﴾ أَن قَدۡ أَبۡلَغُواْ رِسَٰلَٰتِ رَبِّهِمۡ ﴿ "bahwa rasul-rasul itu sungguh telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya," dengan menjadikan sebab-sebab pada mereka, ﴾ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيۡهِمۡ ﴿ "sedang (sebenarnya) ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka," yakni apa saja yang ada pada mereka dan apa pun yang mereka rahasiakan dan tampakkan, ﴾ وَأَحۡصَىٰ كُلَّ شَيۡءٍ عَدَدَۢا ﴿ "dan Dia meng-hitung segala sesuatu satu-persatu." Dalam surat ini terdapat beberapa faidah: Pertama: Keberadaan jin dan mereka adalah makhluk mu-kallaf yang juga diperintah dan dilarang, serta akan diberi balasan atas perbuatan mereka sebagaimana disebutkan secara jelas dalam surat ini dan surat lain. Kedua: Rasulullah a juga diutus kepada bangsa jin sebagai-mana beliau juga diutus kepada manusia. Allah سبحانه وتعالى mengalihkan segolongan jin untuk mendengarkan wahyu yang disampaikan padanya dan agar mereka menyampaikannya pada kaum mereka. Ketiga: Kecerdasan jin serta kemampuan mereka mengetahui kebenaran, dan bahwa yang mendorong mereka untuk beriman adalah petunjuk al-Qur`an dan etika baik dalam berbicara yang mereka wujudkan. Keempat: Perhatian Allah سبحانه وتعالى terhadap RasulNya a dan penjagaanNya atas wahyu yang dibawa. Ketika berita kenabian Rasulullah a dimulai, langit dijaga oleh bintang-bintang, para setan lari dari tempat mereka dan terhalang untuk mengintai. Dengan al-Qur`an, Allah سبحانه وتعالى merahmati penduduk bumi dengan rahmat yang tidak terkira dan Allah سبحانه وتعالى menghendaki petunjuk pada mereka. Allah سبحانه وتعالى hendak menampakkan sebagian dari AgamaNya, syariat dan ma'rifat tentangNya yang dapat menggelorakan hati, yang membuat orang-orang berakal gembira, dan syiar-syiar Islam nam-pak dan para penyembah patung serta berhala terpuruk. Kelima: Begitu semangatnya para jin untuk mendengarkan al-Qur`an dari Rasulullah a serta berkerumunnya mereka untuk itu. Keenam: Surat ini mencakup perintah bertauhid, larangan menyekutukan Allah سبحانه وتعالى, penjelasan tentang kondisi makhluk, tidak seorang pun berhak disembah sekecil apa pun, karena Rasulullah Muhammad a sendiri tidak kuasa untuk menolong dan memba-hayakan seorang pun, bahkan tidak kuasa atas dirinya sendiri, se-hingga dapat diketahui bahwa seluruh manusia juga sama. Adalah salah dan zhalim menjadikan orang yang sifatnya seperti ini seba-gai sembahan-sembahan lain. Ketujuh: Pengetahuan-pengetahuan ghaib hanya diketahui Allah سبحانه وتعالى semata. Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang yang diridhai dan dikhususkan untuk mengetahui sebagian darinya. Selesai tafsir Surat al-Jin. Segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Al-Muzzammil 73:1

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:2

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:3

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:4

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:5

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:6

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:7

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:8

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:9

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:10

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:11

"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya), (yaitu) seper-duanya atau kurangilah darinya sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan. Sesung-guhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Rabbmu, dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan. (Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia seba-gai pelindung. Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar." (Al-Muzzammil: 1-11). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-5) Al-Muzzammil adalah orang yang menutupi badannya dengan baju semakna dengan kata al-Muddatstsir. Hal ini terjadi pada Rasulullah a ketika Allah سبحانه وتعالى memuliakan beliau dengan risalah. Allah سبحانه وتعالى memulainya dengan menurunkan wahyu dengan mengutus Jibril menemui beliau. Rasulullah a melihat sesuatu yang belum pernah beliau lihat sebelumnya dan tidak ada yang mampu bertahan atasnya melainkan hanya para rasul. Pada saat itu Rasulullah a gemetar kala melihat Jibril عليه السلام. Kemudian Rasulullah a pulang kepada istri beliau dan berkata, "Selimutilah aku, seli-mutilah aku." Rasulullah a menggigil ketakutan. Setelah itu da-tanglah Jibril dan berkata, "Bacalah!" Rasulullah a menjawab, "Aku tidak bisa membaca." Jibril memeluk erat beliau hingga Rasulullah a kelelahan, Jibril mengajarkan bacaan padanya lalu Rasulullah a pun membaca.[127] Kemudian Allah سبحانه وتعالى menganugerahkan keteguhan padanya dan memberinya wahyu hingga mencapai tingkat yang belum pernah dicapai oleh para rasul sebelumnya. Subhanallah! Alangkah besar-nya perbedaan antara permulaan kenabian dan akhirannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman kepada Rasulullah a dengan menyebut-kan sifat seperti ini yang dilihat pada beliau pada saat pertama kali. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a dengan berbagai ibadah yang berkaitan denganNya. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk bersabar atas gangguan kaumnya lalu memerintahkan untuk tegar dengan perintahNya dan mengumumkan dakwah beliau kepada Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintah beliau dengan ibadah yang paling mulia, yaitu shalat pada waktu yang paling mantap dan utama (qiyamul lail). Di antara rahmat Allah سبحانه وتعالى, Dia tidak memerintahkan Rasulullah a untuk menghidupkan seluruh malam dengan shalat, tapi Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمِ ٱلَّيۡلَ إِلَّا قَلِيلٗا ﴿ "Bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (darinya)." Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menentukannya, ﴾ نِّصۡفَهُۥٓ أَوِ ٱنقُصۡ مِنۡهُ ﴿ "(Yaitu) seperduanya atau kurangilah darinya," yakni dari se-perdua, ﴾ قَلِيلًا ﴿ "sedikit," misalnya sepertiganya, ﴾ أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ ﴿ "atau lebih dari seperdua itu," lebih dari seperdua seukuran dua pertiga malam, ﴾ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ﴿ "dan bacalah al-Qur`an itu dengan perlahan-lahan," karena membaca al-Qur`an dengan perlahan bisa mendatangkan perenungan, pemikiran, bisa menggerakkan kalbu, beribadah dengan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى serta bersiap-siaga secara sempurna untuk itu. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّا سَنُلۡقِي عَلَيۡكَ قَوۡلٗا ثَقِيلًا ﴿ "Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat," yakni, Kami akan mewahyukan al-Qur`an yang berat ini padamu. Yang dimaksud dengan berat adalah makna-maknanya yang agung, sifat-sifatnya yang luhur. Untuk itu, sesuatu yang sifatnya seperti ini layak di-persiapkan, dibaca secara perlahan, serta merenungkan apa yang tercakup di dalamnya. (6) Kemudian Allah سبحانه وتعالى menyebutkan hikmah dalam perin-tah qiyamul lail seraya berfirman, ﴾ إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ ﴿ "Sesungguhnya bangun di waktu malam," yakni, shalat pada waktu malam setelah tidur, ﴾ هِيَ أَشَدُّ وَطۡـٔٗا وَأَقۡوَمُ قِيلًا ﴿ "adalah lebih tepat (untuk khusyu') dan bacaan di waktu itu lebih berkesan," yakni, lebih dekat mencapai maksud al-Qur`an sehingga sesuai dengan hati dan lisan, beban menjadi ringan, apa yang diucapkan bisa dipahami, dan urusannya menjadi lurus. (7) Tidak seperti di siang hari, karena di waktu siang mak-sud-maksud ini tidak bisa dicapai. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ إِنَّ لَكَ فِي ٱلنَّهَارِ سَبۡحٗا طَوِيلٗا ﴿ "Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)," yakni, untuk memenuhi kebutuhan dan penghidupan yang menyebabkan hati sibuk dengan yang lain, tidak konsentrasi secara sempurna. (8) ﴾ وَٱذۡكُرِ ٱسۡمَ رَبِّكَ ﴿ "Sebutlah nama Rabbmu," mencakup berbagai macam dzikir, ﴾ وَتَبَتَّلۡ إِلَيۡهِ تَبۡتِيلٗا ﴿ "dan beribadahlah kepadaNya dengan penuh ketekunan," yakni konsentrasi padaNya, sebab konsentrasi dan kembali kepada Allah سبحانه وتعالى adalah terputusnya hati dari seluruh makhluk dan penuh kecintaan terhadap Allah سبحانه وتعالى serta segala se-suatu yang bisa mendekatkan padaNya dan pada ridhaNya. (9) ﴾ رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ ﴿ "(Dia-lah) Rabb masyriq dan maghrib," ini adalah isim jenis yang mencakup seluruh arah timur dan barat. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb seluruh timur dan barat serta segala cahaya yang ada padanya serta segala sesuatu yang menjadi maslahat miliknya dari alam atas dan alam bawah. Allah سبحانه وتعالى adalah Rabb segala sesuatu, Pencipta dan Pengaturnya. ﴾ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ﴿ "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia," yakni, tidak ada yang berhak disembah selain WajahNya Yang Agung Yang berhak diistimewa-kan dan dicintai, diagungkan dan dimuliakan, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ﴿ "Maka ambillah Dia sebagai pelindung," yakni Penjaga dan Pengatur untuk segala urusanmu. (10) Pada saat Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk shalat secara khusus dan berdzikir secara umum di mana hal ter-sebut akan memberikan kemampuan kuat bagi seorang hamba untuk memikul beban dan pekerjaan berat, Allah سبحانه وتعالى memerintah-kan Rasulullah a untuk bersabar atas perkataan yang diucapkan oleh para penentang dan mereka yang mencelanya dan mencela risalah yang beliau bawa serta diperintahkan untuk terus menjalan-kan perintah Allah سبحانه وتعالى yang tidak dapat ditahan dan dihadang oleh siapa pun. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan beliau untuk meninggalkan mereka secara baik-baik. Itulah cara menjauhi orang sekiranya ada maslahatnya dan tidak ada gangguannya. Rasulullah a bahkan memperlakukan mereka dengan meninggalkan dan berpaling dari perkataan-perkataan yang menyakiti. Allah سبحانه وتعالى juga memerintahkan beliau untuk mendebat mereka dengan cara yang baik. (11) ﴾ وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ ﴿ "Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terha-dap orang-orang yang mendustakan itu," yakni, tinggalkan antara Aku dengan mereka. Aku akan membalas mereka, meski Aku memberi mereka waktu, bukan berarti Aku melalaikan mereka. Allah سبحانه وتعالى ber-firman, ﴾ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ ﴿ "Orang-orang yang mempunyai kemewahan," yakni para pemilik kenikmatan dan kekayaan yang bertindak melampaui batas pada saat Allah سبحانه وتعالى memperluas rizki mereka dan melapang-kan mereka berkat karuniaNya seperti disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ كـَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ 6 أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ 7 ﴿ "Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup." (Al-Alaq: 6-7). Allah kemudian mengancam mereka dengan azab yang ada di sisiNya dengan berfirman,

Al-Muzzammil 73:12

"Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyum-bat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan." (Al-Muzzammil: 12-14). (12-13) Maksudnya, sesungguhnya di sisi Kami terdapat ﴾ أَنكَالٗا ﴿ "belenggu-belenggu yang berat," siksa yang berat yang Kami jadikan siksaan bagi orang yang terus menerus berada di atas apa yang membuat murka Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحِيمٗا ﴿ "dan neraka yang bernyala-nyala," yaitu api yang berkobar, ﴾ وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ ﴿ "dan makanan yang menyumbat di kerongkongan," karena pahit, buruk, amat tidak enak, dan berbau busuk, ﴾ وَعَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "dan azab yang pedih," yang menyakit-kan dan mengerikan. (14) Hal itu akan terjadi ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلۡأَرۡضُ وَٱلۡجِبَالُ ﴿ "pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan," karena huru-hara dahsyat, ﴾ وَكَانَتِ ٱلۡجِبَالُ كَثِيبٗا مَّهِيلًا ﴿ "dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan," yakni seperti pasir berhamburan kemudian terhempas setelah itu sehingga menjadi seperti debu yang berserakan.

Al-Muzzammil 73:13

"Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyum-bat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan." (Al-Muzzammil: 12-14). (12-13) Maksudnya, sesungguhnya di sisi Kami terdapat ﴾ أَنكَالٗا ﴿ "belenggu-belenggu yang berat," siksa yang berat yang Kami jadikan siksaan bagi orang yang terus menerus berada di atas apa yang membuat murka Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحِيمٗا ﴿ "dan neraka yang bernyala-nyala," yaitu api yang berkobar, ﴾ وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ ﴿ "dan makanan yang menyumbat di kerongkongan," karena pahit, buruk, amat tidak enak, dan berbau busuk, ﴾ وَعَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "dan azab yang pedih," yang menyakit-kan dan mengerikan. (14) Hal itu akan terjadi ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلۡأَرۡضُ وَٱلۡجِبَالُ ﴿ "pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan," karena huru-hara dahsyat, ﴾ وَكَانَتِ ٱلۡجِبَالُ كَثِيبٗا مَّهِيلًا ﴿ "dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan," yakni seperti pasir berhamburan kemudian terhempas setelah itu sehingga menjadi seperti debu yang berserakan.

Al-Muzzammil 73:14

"Sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyum-bat di kerongkongan dan azab yang pedih. Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan." (Al-Muzzammil: 12-14). (12-13) Maksudnya, sesungguhnya di sisi Kami terdapat ﴾ أَنكَالٗا ﴿ "belenggu-belenggu yang berat," siksa yang berat yang Kami jadikan siksaan bagi orang yang terus menerus berada di atas apa yang membuat murka Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَجَحِيمٗا ﴿ "dan neraka yang bernyala-nyala," yaitu api yang berkobar, ﴾ وَطَعَامٗا ذَا غُصَّةٖ ﴿ "dan makanan yang menyumbat di kerongkongan," karena pahit, buruk, amat tidak enak, dan berbau busuk, ﴾ وَعَذَابًا أَلِيمٗا ﴿ "dan azab yang pedih," yang menyakit-kan dan mengerikan. (14) Hal itu akan terjadi ﴾ يَوۡمَ تَرۡجُفُ ٱلۡأَرۡضُ وَٱلۡجِبَالُ ﴿ "pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan," karena huru-hara dahsyat, ﴾ وَكَانَتِ ٱلۡجِبَالُ كَثِيبٗا مَّهِيلًا ﴿ "dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan pasir yang beterbangan," yakni seperti pasir berhamburan kemudian terhempas setelah itu sehingga menjadi seperti debu yang berserakan.

Al-Muzzammil 73:15

"Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang-orang kafir Makkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadap-mu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat." (Al-Muzzammil: 15-16). (15-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, bahwa pujilah Rabb kalian atas diutusnya seorang nabi `ummi berbangsa Arab ini yang memberi kabar gembira dan peringatan serta sebagai saksi atas perbuatan umatnya. Janganlah kalian kufur dan mendurhakai Rasul kalian sehingga kalian seperti Fir'aun ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Musa bin Imran, Musa عليه السلام menyerunya kepada Allah سبحانه وتعالى dan memerintahkan-nya untuk bertauhid, tapi Fir'aun tidak membenarkannya, justru malah mendurhakainya, kemudian Allah سبحانه وتعالى menyiksanya ﴾ أَخۡذٗا وَبِيلٗا ﴿ "dengan siksaan yang berat," yaitu berat dan dahsyat.

Al-Muzzammil 73:16

"Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang-orang kafir Makkah) seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadap-mu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang Rasul kepada Fir'aun. Maka Fir'aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat." (Al-Muzzammil: 15-16). (15-16) Allah سبحانه وتعالى berfirman, bahwa pujilah Rabb kalian atas diutusnya seorang nabi `ummi berbangsa Arab ini yang memberi kabar gembira dan peringatan serta sebagai saksi atas perbuatan umatnya. Janganlah kalian kufur dan mendurhakai Rasul kalian sehingga kalian seperti Fir'aun ketika Allah سبحانه وتعالى mengutus Musa bin Imran, Musa عليه السلام menyerunya kepada Allah سبحانه وتعالى dan memerintahkan-nya untuk bertauhid, tapi Fir'aun tidak membenarkannya, justru malah mendurhakainya, kemudian Allah سبحانه وتعالى menyiksanya ﴾ أَخۡذٗا وَبِيلٗا ﴿ "dengan siksaan yang berat," yaitu berat dan dahsyat.

Al-Muzzammil 73:17

"Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu oleh Allah. Adalah janjiNya itu pasti terlaksana." (Al-Muzzammil: 17-18). (17-18) Maksudnya, bagaimana kalian bisa selamat pada Hari Kiamat, hari yang urusannya amat menakutkan dan besar bahayanya yang membuat anak-anak menjadi beruban dan mele-lehkan benda-benda padat yang besar, langit terpecah dan bintang-bintangnya bertebaran. ﴾ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَفۡعُولًا ﴿ "Adalah janjiNya itu pasti ter-laksana," pasti terjadi dan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Al-Muzzammil 73:18

"Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban. Langit (pun) menjadi pecah belah pada hari itu oleh Allah. Adalah janjiNya itu pasti terlaksana." (Al-Muzzammil: 17-18). (17-18) Maksudnya, bagaimana kalian bisa selamat pada Hari Kiamat, hari yang urusannya amat menakutkan dan besar bahayanya yang membuat anak-anak menjadi beruban dan mele-lehkan benda-benda padat yang besar, langit terpecah dan bintang-bintangnya bertebaran. ﴾ كَانَ وَعۡدُهُۥ مَفۡعُولًا ﴿ "Adalah janjiNya itu pasti ter-laksana," pasti terjadi dan tidak ada yang bisa menghalanginya.

Al-Muzzammil 73:19

"Sesungguhnya ini adalah suatu peringatan, maka barang-siapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang me-nyampaikannya) kepada Rabbnya." (Al-Muzzammil: 19). (19) Maksudnya, sesungguhnya nasihat yang diberitahukan Allah سبحانه وتعالى tentang keadaan-keadaan Hari Kiamat serta huru-haranya ini adalah sebagai peringatan yang mengingatkan orang-orang bertakwa serta sebagai peringatan bagi orang-orang yang beriman, ﴾ فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ سَبِيلًا ﴿ "maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan (yang menyampaikannya) kepada Rabbnya," yakni, sebagai jalan yang menghubungkan padaNya dengan cara meng-ikuti syariatNya, karena Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan syariatNya secara jelas. Dalam hal ini terdapat dalil bahwa Allah telah membuat manusia mampu melakukan perbuatan-perbuatan mereka, tidak seperti yang dikatakan oleh Jabriyah yang menyatakan bahwa per-buatan manusia berlaku di luar kehendak mereka. Hal ini berten-tangan dengan dalil naqli dan dalil aqli.

Al-Muzzammil 73:20

"Sesungguhnya Rabbmu mengetahui bahwasanya kamu ber-diri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi ke-ringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur`an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur`an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Muzzammil: 20). (20) Di permulaan surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasul-Nya untuk shalat di seperdua malam, dua pertiga atau sepertiga-nya. Dan hukum asalnya, bahwa Rasulullah a adalah teladan bagi umatnya dalam hukum-hukum. Dan di tempat ini Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa Rasulullah a menunaikan perintah tersebut dan juga segolongan dari orang-orang yang beriman. Mengingat penentuan waktu pelaksanaan shalat malam berat bagi orang, maka Allah سبحانه وتعالى mengabarkan bahwa Dia amat memudahkannya seraya berfirman, ﴾ وَٱللَّهُ يُقَدِّرُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ ﴿ "Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang," yakni, mengetahui ukuran keduanya, mengetahui apa yang berlalu dan yang masih tersisa dari keduanya. ﴾ عَلِمَ أَن لَّن تُحۡصُوهُ ﴿ "Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu," artinya, kalian tidak akan mengetahui ukurannya secara tepat, tidak kurang dan tidak lebih, karena hal itu akan menuntut sikap waspada dan beban yang lebih. ﴾ فَٱقۡرَءُواْ مَا تَيَسَّرَ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِۚ ﴿ "Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur`an," yakni, yang kalian bisa dan yang tidak berat bagimu. Karena itu orang yang shalat malam diperintahkan untuk tetap shalat selama masih kuat. Kemudian bila lelah, malas atau mengantuk, hendak-lah beristirahat agar bisa melaksanakan shalat dengan tenang dan nyaman. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menyebutkan sebagian sebab yang sesuai untuk meringankan, ﴾ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرۡضَىٰ ﴿ "Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit," berat bagi mereka untuk menjalankan shalat di seperdua, sepertiga atau dua pertiga malam terakhir. Untuk itu, orang yang sakit hendaklah shalat sebatas kemampuannya. Dalam shalat malam tidak diperintahkan berdiri bila hal itu terasa memberatkan. Bahkan bila shalat sunnah terasa berat, boleh ditinggalkan dan yang bersangkutan tetap mendapat-kan pahala seperti ketika mengerjakannya pada saat masih sehat. ﴾ وَءَاخَرُونَ يَضۡرِبُونَ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَبۡتَغُونَ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ ﴿ "Dan orang-orang lainnya berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah," yakni, Allah سبحانه وتعالى mengeta-hui bahwa di antara kalian ada yang bepergian untuk urusan per-dagangan demi mencukupi diri agar tidak membebani orang lain dan menahan diri untuk tidak meminta-minta. Kondisi orang yang bepergian cocok untuk diberi keringanan. Karena itu orang yang bepergian, shalat wajibnya diberi keringanan. Ia dibolehkan untuk menjamak dua shalat dalam satu waktu dan menqashar shalat yang empat rakaat. ﴾ وَءَاخَرُونَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ فَٱقۡرَءُواْ مَا تَيَسَّرَ مِنۡهُۚ ﴿ "Dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur`an." Allah سبحانه وتعالى menyebutkan dua keringanan; keringanan bagi orang sehat dan tidak bepergian untuk menjaga vitalitasnya tanpa harus memaksakan diri menentukan waktu shalat malam tapi cukup mencari waktu shalat yang utama, yaitu sepertiga malam terakhir setelah seperdua pertama. Yang kedua adalah keringanan bagi orang sakit, orang yang bepergian, baik untuk urusan perdagangan atau ibadah seperti jihad, haji atau yang lainnya. Yang bersangkutan juga mesti memelihara sesuatu yang tidak membebaninya. Karena itu, segala puja dan puji hanya bagi Allah سبحانه وتعالى semata yang tidak membuat kerumitan dalam Agama bagi kita, sebaliknya Allah سبحانه وتعالى mempermudah syariatNya serta memperhatikan kondisi-kondisi manusia serta kepentingan Agama, raga, dan dunia mereka. Kemudian Allah سبحانه وتعالى memerintahkan hamba-hambaNya untuk dua ibadah yang merupakan induk dan inti dari ibadah; yaitu mendirikan shalat yang Agama tidak bisa tegak tanpanya dan me-nunaikan zakat yang merupakan bukti keimanan. Dengan zakat, kesetaraan antara orang-orang fakir miskin bisa terpenuhi. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ ﴿ "Dan dirikanlah shalat," yakni, dengan rukun-rukunnya, batasan-batasannya, syarat-syaratnya dan seluruh penyempurna-penyempurnanya. ﴾ وَأَقۡرِضُواْ ٱللَّهَ قَرۡضًا حَسَنٗاۚ ﴿ "Dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik," yakni, murni demi meng-harap Wajah Allah سبحانه وتعالى dengan niat tulus dan teguh dari hati serta dengan harta yang baik. Pinjaman baik ini mencakup sedekah wajib dan sunnah. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى menganjurkan untuk mengerjakan per-buatan baik secara umum seraya berfirman, ﴾ وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٖ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرٗا وَأَعۡظَمَ أَجۡرٗاۚ ﴿ "Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya," kebaikan itu pahalanya sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali dan bahkan hingga berli-pat-lipat. Perlu diketahui, kebaikan seberat biji atom dalam dunia ini sebanding dengan berlipat-lipat nilai dunia serta segala apa pun yang ada di atasnya serta apa pun yang terdapat di negeri penuh nikmat abadi berupa kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan-ke-senangan. Kebaikan dunia ini merupakan bahan kebaikan di negeri keabadian, benih, asal dan asasnya. Alangkah ruginya waktu-waktu yang berlalu dalam kelalaian dan alangkah ruginya waktu yang berlalu tanpa amal baik. Alangkah ruginya hati yang tidak terpengaruh oleh petuah Penciptanya dan tidak berbekas seruan rindu Dzat Yang Maha Pengasih padanya ketimbang kasihnya terhadap dirinya sendiri. Segala puji hanya bagiMu ya Allah سبحانه وتعالى, kepadaMu-lah tempat mengadu, padaMu kami mohon pertolongan, tidak ada daya dan kekuatan selain dariMu. ﴾ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمُۢ ﴿ "Dan mohonlah ampunan kepada Allah; se-sungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." Di dalam perintah istighfar setelah dorongan berbuat ketaatan dan kebaikan terdapat faidah besar, sebab manusia itu mungkin tidak melakukan perintah secara sempurna, yang mungkin tidak dikerjakan sama sekali atau dikerjakan tapi tidak sempurna. Untuk itu manusia di-perintahkan untuk menutupi kekurangan di atas dengan beristigh-far. Manusia selalu berbuat dosa di malam dan di siang hari, bila tidak direngkuh dengan rahmat dan maghfirah Allah سبحانه وتعالى, tentu binasa. Selesai tafsir Surat al-Muzzammil. Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:1

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:2

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:3

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:4

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:5

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:6

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:7

"Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringat-an! Dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan jangan-lah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabar-lah." (Al-Muddatstsir: 1-7). Makkiyah "Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang." (1-2) Telah dijelaskan sebelumnya bahwa al-Muzzammil dan al-Muddatstsir maknanya sama. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan RasulNya a untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى dengan ibadah-ibadah pendek dan panjang. Dalam surat sebelumnya dijelaskan perintah Allah سبحانه وتعالى untuk ibadah-ibadah utama yang pendek pada RasulNya serta perintah bersabar terha-dap gangguan kaumnya, dan dalam surat ini Allah سبحانه وتعالى memerintah-kannya untuk memberitahukan seruannya dan tegas menyampai-kan peringatan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ قُمۡ ﴿ "Bangunlah," yakni dengan sungguh-sunggah dan giat, ﴾ فَأَنذِرۡ ﴿ "lalu berilah peringatan" kepada manusia dengan perkataan dan perbuatan yang bisa menyampai-kan pada tujuan serta menjelaskan kondisi apa-apa yang diperingat-kan darinya agar hal itu lebih mendorong untuk ditinggalkan. (3) ﴾ وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ﴿ "Dan Rabbmu agungkanlah," yakni, agungkan-lah Dia dengan bertauhid dan jadikanlah Allah سبحانه وتعالى sebagai tujuan-mu dalam memberi peringatan dan agar para hamba mengagung-kanNya dan beribadah menyembahNya. (4) ﴾ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ﴿ "Dan pakaianmu bersihkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan pakaian adalah seluruh perbuatan Rasu-lullah a dan maksud membersihkannya adalah memurnikannya, tulus melaksanakannya, dilakukan secara sempurna dan menafi-kannya dari berbagai hal yang bisa membatalkan, merusak dan mengurangi pahalanya, seperti syirik, riya`, nifak, ujub, takabur, lalai dan lain sebagainya yang diperintahkan untuk ditinggalkan dalam beribadah menyembah Allah سبحانه وتعالى. Perintah ini juga mencakup perintah untuk menyucikan baju dari najis karena hal itu adalah termasuk salah satu penyempurna kebersihan amal, khususnya dalam Shalat sebagaimana yang dinyatakan oleh kebanyakan ulama bahwa menghilangkan najis merupakan salah satu syarat shalat. Bisa juga yang dimaksud dengan baju adalah baju yang kita kenal. Artinya, Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikannya dari seluruh najis di seluruh waktu, khususnya ketika masuk waktu Shalat. (5) Bila Rasulullah a diperintahkan untuk menyucikan lahiriah, maka kesucian lahiriah adalah bagian dari kesempurnaan kesucian batin. ﴾ وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ ﴿ "Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah." Kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah patung dan berhala yang disembah di samping menyembah Allah سبحانه وتعالى. Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah a untuk meninggalkannya dan melepaskan diri darinya dan dari segala sesuatu yang dinis-batkan padanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan kemungkinan yang dimaksud dengan اَلرُّجْزُ adalah seluruh perbuatan buruk, baik yang lahir maupun yang batin. Sehingga perintah ini adalah perintah bagi Rasulullah a untuk meninggalkan seluruh dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik yang lahir maupun yang batin, dan dalam hal ini termasuk syirik dan dosa-dosa lain. (6) ﴾ وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ ﴿ "Dan janganlah kamu memberi (dengan mak-sud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak," yaitu janganlah engkau berharap pada manusia atas nikmat-nikmat dunia dan akhirat yang kau berikan sehingga kau meminta lebih atas pemberian itu dan kau melihat adanya keutamaan dirimu atas mereka. Tapi berbuat baiklah kepada manusia selagi kau mampu dan harapkan pahalamu dari Allah سبحانه وتعالى dan sikapilah orang yang kau perlakukan baik dan yang lain secara sama. Ada yang menyatakan bahwa maknanya, janganlah engkau memberi apa pun pada seseorang, dan engkau ingin orang itu mem-beri balasan lebih banyak untukmu, dan berarti ini khusus untuk Nabi a. (7) ﴾ وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ 7 ﴿ "Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah," dan berharaplah pahala Allah سبحانه وتعالى dengan kesabaranmu itu dan niatkanlah untuk Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah a melaksanakan perintah Rabbnya dan bersegera menunaikannya. Rasulullah a memberikan peringatan pada manu-sia dan menjelaskan tuntutan-tuntutan ilahi pada mereka disertai dengan ayat-ayat yang jelas. Rasulullah a mengagungkan Allah سبحانه وتعالى dan menyeru manusia agar mengagungkanNya, membersihkan perbuatan-perbuatan lahir dan batin dari segala keburukan, me-ninggalkan segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه وتعالى dan yang disembah bersama Allah سبحانه وتعالى berupa patung dan keburukan beserta para penganutnya. Rasulullah a memiliki pemberian agung pada manusia setelah karunia Allah سبحانه وتعالى tanpa mengharapkan balasan atau kata terima kasih dari mereka. Rasulullah a bersabar demi Rabbnya dengan kesabaran paling sempurna, bersabar dalam melakukan ketaatan, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan, bersabar atas takdirNya yang menyakitkan, hingga Rasulullah a mengungguli para rasul lain yang juga memiliki keteguhan hati. Semoga kesejahteraan dan keselamatan selalu tercurah bagi beliau dan seluruh sahabat beliau.

Al-Muddassir 74:8

"Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit bagi orang-orang kafir lagi tidak mu-dah." (Al-Muddatstsir: 8-10). (8-10) Yaitu bila sangkakala ditiup untuk bangkit dari kubur, semua manusia dikumpulkan untuk dibangkitkan, ﴾ فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ ﴿ "maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit," karena banyaknya huru hara dan kedahsyatannya, ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ﴿ "bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah," karena mereka telah putus asa dari berbagai kebaikan dan yakin akan binasa. Kontekstualnya, hari itu mudah bagi orang-orang yang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'."

Al-Muddassir 74:9

"Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit bagi orang-orang kafir lagi tidak mu-dah." (Al-Muddatstsir: 8-10). (8-10) Yaitu bila sangkakala ditiup untuk bangkit dari kubur, semua manusia dikumpulkan untuk dibangkitkan, ﴾ فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ ﴿ "maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit," karena banyaknya huru hara dan kedahsyatannya, ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ﴿ "bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah," karena mereka telah putus asa dari berbagai kebaikan dan yakin akan binasa. Kontekstualnya, hari itu mudah bagi orang-orang yang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'."

Al-Muddassir 74:10

"Apabila ditiup sangkakala, maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit bagi orang-orang kafir lagi tidak mu-dah." (Al-Muddatstsir: 8-10). (8-10) Yaitu bila sangkakala ditiup untuk bangkit dari kubur, semua manusia dikumpulkan untuk dibangkitkan, ﴾ فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ ﴿ "maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sulit," karena banyaknya huru hara dan kedahsyatannya, ﴾ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ﴿ "bagi orang-orang kafir lagi tidak mudah," karena mereka telah putus asa dari berbagai kebaikan dan yakin akan binasa. Kontekstualnya, hari itu mudah bagi orang-orang yang beriman sebagaimana yang difirmankan Allah سبحانه وتعالى, ﴾ يَقُولُ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا يَوۡمٌ عَسِرٞ ﴿ "Orang-orang kafir berkata, 'Ini adalah hari yang sulit'."

Al-Muddassir 74:11

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:12

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:13

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:14

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:15

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:16

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:17

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:18

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:19

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:20

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:21

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:22

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:23

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:24

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:25

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:26

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:27

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:28

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:29

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:30

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:31

"Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kula-pangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapang-nya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagai-manakah dia menetapkan, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar. Tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu. Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. (Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Dan tiada Kami jadikan pen-jaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami men-jadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan.' Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manu-sia." (Al-Muddatstsir: 11-31). (11-30) Ayat-ayat ini turun berkenaan dengan al-Walid bin al-Mughirah yang sengit menentang kebenaran,[128] yang menantang Allah سبحانه وتعالى dan RasulNya dengan peperangan dan menyelisihi. Allah سبحانه وتعالى amat mencelanya dengan celaan yang tidak pernah dialamatkan pada yang lain. Ini adalah balasan bagi semua orang yang menen-tang dan mencampakkan kebenaran. Orang seperti ini pasti men-dapatkan kehinaan di dunia dan siksaan akhirat jauh lebih meng-hinakan. Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ ذَرۡنِي وَمَنۡ خَلَقۡتُ وَحِيدٗا ﴿ "Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian," yakni, yang Aku ciptakan sendirian tanpa harta, keluarga, dan lainnya yang senantiasa Aku jaga dan Aku beri. Aku jadikan, ﴾ لَهُۥ مَالٗا مَّمۡدُودٗا ﴿ "bagi-nya harta benda yang banyak," yakni harta yang berlimpah, ﴾ وَ﴿ "dan," Aku jadikan untuknya ﴾ بَنِينَ ﴿ "anak-anak," yakni anak-anak lelaki, ﴾ شُهُودٗا ﴿ "yang selalu bersama dia," yaitu selalu ada bersamanya. Dengan anak-anak itu ia bersenang-senang, dengan mereka juga ia meme-nuhi kebutuhan-kebutuhannya dan mendapatkan pertolongan, ﴾ وَمَهَّدتُّ لَهُۥ تَمۡهِيدٗا ﴿ "dan Ku-lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya," yakni, Aku berikan padanya dunia dan sebab-sebabnya ketika semua keinginannya terpenuhi dan semua yang dikehendaki diperoleh. ﴾ ثُمَّ ﴿ "Kemudian," dengan berbagai nikmat dan pemberian ini, ﴾ يَطۡمَعُ أَنۡ أَزِيدَ ﴿ "dia ingin sekali supaya Aku menam-bahnya," yakni ia ingin untuk mendapatkan nikmat akhirat sebagai-mana ia mendapatkan kenikmatan dunia. ﴾ كـَلَّآۖ ﴿ "Sekali-kali tidak (akan Aku tambah)," yakni, tidak seperti yang ia dambakan, tapi se-baliknya justru berseberangan dengan apa yang diinginkan. Hal itu ﴾ إِنَّهُۥ كَانَ لِأٓيَٰتِنَا عَنِيدٗا ﴿ "karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (al-Qur`an)." Ia mengetahui (kebenaran)nya, tapi kemu-dian mengingkarinya. Ayat-ayat mengajaknya pada kebenaran tapi ia tidak mau tunduk padanya. Ia tidak cukup hanya berpaling dari ayat-ayat al-Qur`an, tapi ia memeranginya dan berusaha untuk membatalkannya. Karena itulah Allah سبحانه وتعالى berfirman tentangnya, ﴾ إِنَّهُۥ فَكَّرَ ﴿ "Sesungguhnya dia telah memikirkan," dalam dirinya, ﴾ وَقَدَّرَ ﴿ "dan menetapkan (apa yang ditetapkannya)," apa yang di pikirannya agar bisa mengucapkan perkataan yang membatalkan al-Qur`an, ﴾ فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 19 ثُمَّ قُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ 20 ﴿ "maka celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan," karena ia memikirkan suatu hal yang berada di luar kemampuan-nya dan berharap bisa mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dida-patkan oleh dia sendiri dan orang-orang sepertinya. ﴾ ثُمَّ نَظَرَ ﴿ "Kemu-dian dia memikirkan" perkataannya. ﴾ ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ ﴿ "Sesudah itu dia ber-masam muka dan merengut," pada wajah dan penampilan luarnya sebagai sikap lari dari kebenaran dan membencinya. ﴾ ثُمَّ أَدۡبَرَ وَٱسۡتَكۡبَرَ ﴿ "Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri," sebagai akibat dari usaha pikiran, tindakan, dan perkataannya. ﴾ فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ 24 إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ 25 ﴿ "Lalu dia berkata, '(al-Qur`an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'," yakni, bukan Firman Allah, tapi perkataan manusia. Di samping itu bukan perkataan manusia terbaik tapi perkataan orang-orang buruk dan keji yang diucapkan oleh pendusta lagi penyihir. Celakalah dia, alangkah jauhnya dia dari kebenaran dan alangkah dekatnya dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana terlintas di otak dan terbayang oleh nurani siapa pun orang yang menyatakan Firman paling luhur dan agung, Firman Rabb Yang Mahamulia, Luhur dan Agung menyerupai perkataan makhluk-makhluk yang miskin dan serba kurang? Atau bagaimanakah si pendusta lagi pembangkang ini berani mengung-kapkan sifat seperti itu pada Firman Allah سبحانه وتعالى? Tidak ada yang ber-hak dia dapatkan melainkan azab yang dahsyat. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ 28 ﴿ "Aku akan mema-sukkannya ke dalam Saqar, tahukah kamu apa (Neraka) Saqar itu, Saqar itu tidak meninggalkan dan tidak membiarkan," yakni, tidak meninggal-kan kedahsyatan maupun orang yang disiksa sedikit pun kecuali pasti mengenainya, ﴾ لَوَّاحَةٞ لِّلۡبَشَرِ ﴿ "(Neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia," membakar mereka dalam siksaan dan membuat mereka gemetar karena amat panas. ﴾ عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ﴿ "Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)," dari kalangan malaikat yang menjaganya. Mereka kejam dan bengis. Mereka tidak mendurhakai Allah سبحانه وتعالى ter-hadap apa yang diperintahkan dan mereka melakukan apa yang diperintahkan. (31) ﴾ وَمَا جَعَلۡنَآ أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ ﴿ "Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat," karena mereka kokoh dan kuat, ﴾ وَمَا جَعَلۡنَا عِدَّتَهُمۡ إِلَّا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ ﴿ "dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk menjadi cobaan bagi orang-orang kafir." Kemung-kinan yang dimaksudkan adalah kecuali untuk menyiksa mereka di akhirat dan untuk menambahkan azab mereka. Azab juga disebut fitnah sebagaimana Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ يَوۡمَ هُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ يُفۡتَنُونَ 13 ﴿ "Pada hari mereka difitnah (disiksa) di atas neraka." (Adz-Dzariyat: 13). Kemungkinan lain yang dimaksudkan adalah sesungguhnya berita yang Kami sampaikan kepadamu tentang jumlah mereka itu tidak lain supaya Kami mengetahui siapa yang membenarkan dan siapa yang mendustakan. Hal ini ditunjukkan oleh ayat selan-jutnya, ﴾ لِيَسۡتَيۡقِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَيَزۡدَادَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِيمَٰنٗا وَلَا يَرۡتَابَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ ﴿ "Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi al-Kitab dan orang-orang Mukmin itu tidak ragu-ragu," yakni, agar keraguan hilang dari mereka. Tujuan-tujuan agung ini diperhatikan oleh mereka yang berakal. Tujuan-tujuan yang dimaksudkan adalah usaha untuk yakin dan bertambah iman di setiap waktu dan dalam berba-gai permasalahan-permasalahan Agama dan menangkal keraguan dan dugaan-dugaan keliru yang menghadang kebenaran, menjadi-kan wahyu yang diturunkan Allah سبحانه وتعالى pada RasulNya sebagai pe-wujud tujuan-tujuan agung ini dan untuk membedakan manakah orang-orang yang benar dan orang-orang yang berdusta. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ وَلِيَقُولَ ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٞ ﴿ "Dan supaya berkata orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit," yakni, ragu, syubhat dan nifak, ﴾ وَٱلۡكَٰفِرُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۚ ﴿ "dan orang-orang kafir (mengatakan), 'Apa-kah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai perumpamaan'." Perkataan ini diucapkan karena ragu dan kekufuran mereka ter-hadap tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى. keduanya adalah petunjuk Allah سبحانه وتعالى bagi siapa saja yang diberi hidayah oleh Allah سبحانه وتعالى dan sebagai kesesatan bagi siapa saja yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى. Karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ ٱللَّهُ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ ﴿ "Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya." Maka siapa pun yang diberi pe-tunjuk oleh Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai rahmat untuknya serta sebagai penambah keimanan dan agamanya. Dan siapa pun yang disesatkan Allah سبحانه وتعالى, Allah سبحانه وتعالى menjadikan wahyu yang diturunkan pada RasulNya sebagai penambah penderitaan baginya, sebagai kegamangan dan kegelapan baginya. Berita yang diwahyukan Allah سبحانه وتعالى kepada RasulNya wajib diterima, karena ﴾ وَمَا يَعۡلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَۚ ﴿ "tidak ada yang mengetahui tentara Rabbmu melainkan Dia sendiri," dari kalangan malaikat dan lainnya. Karena kalian tidak mengetahui tentaraNya dan kalian diberitahu mengenai itu oleh Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Melihat, kalian harus membenarkan beritaNya tanpa ragu. ﴾ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡبَشَرِ ﴿ "Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia," yakni, dan ti-daklah nasihat dan peringatan ini dimaksudkan untuk kesia-siaan dan main-main, tapi dimaksudkan sebagai peringatan bagi manu-sia terhadap apa pun yang berguna bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya dan sebagai peringatan terhadap apa pun yang membahayakan mereka sehingga mereka tinggalkan.

Al-Muddassir 74:32

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:33

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:34

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:35

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:36

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:37

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:38

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:39

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:40

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:41

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:42

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:43

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:44

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:45

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:46

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:47

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:48

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:49

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.

Al-Muddassir 74:50

"Sekali-kali tidak, demi bulan, dan malam ketika telah ber-lalu, dan Shubuh apabila mulai terang. Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, 'Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?' Mereka menjawab, 'Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang-orang miskin, dan kami membicarakan hal-hal yang batil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan Hari Pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.' Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at. Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah), seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. Bahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepa-danya lembaran-lembaran yang terbuka? Sekali-kali tidak. Sebe-narnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat. Sekali-kali tidak demikian halnya. Sesungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun." (Al-Muddatstsir: 32-56). (32-34) ﴾ كـَلَّا ﴿ "Sekali-kali tidak," di sini bermakna sebenar-nya atau bermakna sebagai pembukaan. Selanjutnya Allah سبحانه وتعالى ber-sumpah dengan bulan dan dengan malam pada saat berlalu serta dengan siang pada saat mulai terang karena dalam semua hal ter-sebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang agung yang menunjukkan atas sempurnanya Kuasa, Kebijaksanaan, luasnya kekuasaan dan menyeluruhnya rahmat serta pengetahuanNya. (35-37) Obyek yang disumpahkan Allah سبحانه وتعالى adalah Firman-Nya, ﴾ إِنَّهَا لَإِحۡدَى ٱلۡكُبَرِ ﴿ "Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar," yaitu sesungguhnya neraka adalah salah satu ben-cana besar dan penting. Karena Kami telah memberitahukannya kepada kalian dan kalian mengetahuinya, maka siapa saja di antara kalian yang mau, silahkan melaksanakan amalan yang mendekat-kannya pada Allah سبحانه وتعالى dan mendekatkan pada keridhaanNya serta memasukkannya pada negeri kemuliaanNya. Dan siapa yang mau, silahkan mengesampingkan tujuan penciptaannya dan apa pun yang dicintai dan diridhai Allah سبحانه وتعالى dan sebaliknya mengerjakan kemaksiatan-kemaksiatan dan mendekatkannya pada Neraka Jahanam, sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah سبحانه وتعالى, ﴾ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ﴿ "Dan katakanlah, 'Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir'." (Al-Kahfi: 29). (38-48) ﴾ كُلُّ نَفۡسِۭ بِمَا كَسَبَتۡ رَهِينَةٌ ﴿ "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya," atas perbuatan-perbuatan buruk dan jelek. Ia bertanggung jawab atasnya. Perbuatan buruknya meng-haruskannya dibelenggu di lehernya dan mengharuskannya men-dapatkan azab, ﴾ إِلَّآ أَصۡحَٰبَ ٱلۡيَمِينِ ﴿ "kecuali golongan kanan," karena sesung-guhnya mereka tidak tergadai tapi mereka terlepas dan bergembira, ﴾ فِي جَنَّٰتٖ يَتَسَآءَلُونَ 40 عَنِ ٱلۡمُجۡرِمِينَ 41 ﴿ "berada di dalam surga, mereka tanya me-nanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa," yakni, berada di dalam surga, mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan. Sempurnalah kenyamanan dan keamanan hingga mereka saling berhadap-hadapan dan bertanya satu sama lain, dan percakapan mereka sampai pada pertanyaan tentang orang-orang yang berdosa, bagaimana keadaan mereka, apakah mereka telah mendapatkan apa yang diancamkan Allah سبحانه وتعالى pada mereka? Sebagian mereka berkata kepada yang lain, Apakah kalian melihat mereka? Mereka pun melihat orang-orang berdosa berada di tengah-tengah Neraka Jahim dalam keadaan tersiksa. Para penduduk surga bertanya pada mereka, ﴾ مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ﴿ "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)," yakni, apa yang membuatmu masuk ke dalamnya, karena dosa apa kalian mendapatkan neraka? Mereka menjawab, ﴾ قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ 43 وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ 44 ﴿ "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin," tidak ada keikhlasan untuk Allah سبحانه وتعالى Yang disembah, tidak memberi kebaikan dan manfaat bagi orang yang membutuhkan, ﴾ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ ٱلۡخَآئِضِينَ ﴿ "dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya," yakni kami membicarakan yang batil dan kami jadikan sebagai pembantah kebenaran, ﴾ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوۡمِ ٱلدِّينِ ﴿ "dan kami mendustakan Hari Pembalasan." Inilah pengaruh dari pembicaraan tentang kebatilan; yaitu mendustakan kebenaran, dan siapakah yang lebih berhak dari Yang Maha Haq pada hari itu? Tempat balasan amal perbuatan dan tegaknya kerajaan Allah سبحانه وتعالى dan hukumNya yang adil pada seluruh makhluk. Dan kami terus menurus berada di atas langkah batil ini, ﴾ حَتَّىٰٓ أَتَىٰنَا ٱلۡيَقِينُ ﴿ "hingga datang kepada kami kematian." اَلْيَقِيْنُ (dalam ayat) bermakna kematian. Pada saat mereka mati di atas kekufuran, berbagai usaha tidak berguna kala itu dan pintu harapan tertutup di hadapan wajah mereka, ﴾ فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ ﴿ "maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at," karena orang-orang yang memberi syafa'at hanya bisa memberi pada orang yang diridhai Allah سبحانه وتعالى, sedangkan orang-orang kafir itu, perbuatannya tidak diridhai Allah سبحانه وتعالى. (49-53) Saat Allah سبحانه وتعالى menjelaskan akibat orang-orang yang menentang dan menjelaskan apa yang Allah سبحانه وتعالى lakukan pada mereka, Allah سبحانه وتعالى melanjutkannya dengan celaan terhadap orang-orang yang ada seraya berfirman, ﴾ فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ﴿ "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)," meng-halangi dan melalaikannya, ﴾ كَأَنَّهُمۡ ﴿ "seakan-akan mereka itu," karena amat kencangnya lari dari kebenaran ﴾ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ﴿ "keledai liar yang lari terkejut," yakni keledai liar lari, yang masing-masing membuat lari yang lain sehingga lari mereka semakin kencang, ﴾ فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ﴿ "lari dari singa," yakni dari pemburu, pemanah yang mengingin-kannya atau dari singa dan lainnya. Ini adalah cara berpaling dari kebenaran yang paling dahsyat. Di samping lari dan berpaling seperti ini, mereka mengklaim beberapa hal besar, ﴾ كُلُّ ﴿ "masing-masing" dari mereka ﴾ مِّنۡهُمۡ أَن يُؤۡتَىٰ صُحُفٗا مُّنَشَّرَةٗ ﴿ "berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka," turun dari langit padanya dan mengklaim bahwa tidak akan ada yang tunduk kepada kebe-naran kecuali dengan lembaran-lembaran itu. Mereka berdusta. Andai pun seluruh tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى tiba, niscaya mereka tidak akan beriman hingga mereka mendapatkan siksaan yang pedih. Sebab mereka telah kedatangan tanda-tanda kebesaran Allah سبحانه وتعالى yang jelas yang menjelaskan kebenaran. Andai pada diri mereka terdapat kebaikan, pasti mereka beriman, karena itu Allah سبحانه وتعالى berfirman, ﴾ كـَلَّاۖ ﴿ "Sekali-kali tidak," yakni, Kami tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka hanya ingin memperlemah dengan permintaan itu, ﴾ بَل لَّا يَخَافُونَ ٱلۡأٓخِرَةَ ﴿ "bahkan sebenarnya mereka tidak takut kepada negeri akhirat," sebab andai mereka takut pada Hari Akhirat, tentu apa yang menimpa mereka tidak berlaku. (54-56) ﴾ كـَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ﴿ "Sekali-kali tidak demikian halnya. Se-sungguhnya al-Qur`an itu adalah peringatan." Kata ganti dalam ayat ini kemungkinan merujuk kepada surat atau segala sesuatu yang terdapat dalam nasihat ini. ﴾ فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ﴿ "Maka barangsiapa meng-hendaki, niscaya dia mengambil pelajaran darinya (al-Qur`an)," karena al-Qur`an telah menjelaskan jalan lurus dan petunjuk. ﴾ وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ ﴿ "Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya kecuali (jika) Allah menghendakinya," karena sesungguhnya kehendak Allah سبحانه وتعالى berlaku secara umum. Tidak ada satu kejadian pun, baik kecil atau besar yang luput dari kehendak Allah سبحانه وتعالى. Di sini terdapat bantahan bagi Qadariyah yang memasukkan perbuatan manusia di bawah kehendak Allah سبحانه وتعالى sekaligus sebagai bantahan bagi Jabariyah yang mengira bahwa manusia tidak memiliki kehendak dan perbuatan secara hakiki, tapi semuanya dipaksa untuk dilaku-kan. Dalam ayat ini Allah سبحانه وتعالى menegaskan adanya kehendak hakiki dan nyata bagi manusia. Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehendak manusia sebagai pengikut kehendakNya. ﴾ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ﴿ "Dia (Allah) adalah Rabb Yang patut (kita) bertakwa kepadaNya dan berhak memberi ampun," yakni, Dia patut ditakuti dan disembah, karena hanya Dia-lah Tuhan yang sepatutnya disembah dan patut untuk memberi ampunan pada siapa saja yang bertakwa padaNya dan mencari ridhaNya. Selesai tafsir Surat al-Muddatstsir. Segala puji dan karunia hanya milik Allah سبحانه وتعالى semata.